19
Sep
09

Hikmah : Menjadi Fitri, Meninggalkan Korupsi

REPUBLIKA, Sabtu, 19 September 2009 pukul 01:25:00

Fitri & Korupsi

Muhammadun AS
(Peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies).

Momentum Idul Fitri 1430 H menjadi catatan penting bagi bangsa Indonesia untuk berbenah di tengah lilitan krisis yang tak kunjung usai. Kembali kepada fitrah adalah manifestasi terbangunnya basis spiritualitas yang memancarkan cahaya kebenaran dan kesucian dalam menjalani perilaku kehidupan. Sosok yang fitri menjadi cahaya penerang kehidupan karena Tuhan akan selalu menyertainya dalam setiap gerak nafas dalam memperjuangkan nilai ketuhanan dan nilai kemanusiaan. Sosok yang fitri mampu menjalani takwa yang profetik. Dalam arti, selalu kreatif menjalankan prinsip, proaktif menggerakkan perubahan, dan tulus dalam memperjuangkan harapan masa depan. Dalam tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa fitrah adalah ketetapan yang telah dicapkan oleh Allah atas sebuah agama yang hanif (millah ibrahim).

Kehanifan Ibrahim adalah fitrah yang total dalam pengabdian ketuhanan (al-fitrah al-salimah). Allah menciptakan makhluknya secara fitri berdasarkan makrifat-Nya dan untuk menauhidkan-Nya. Dan, ciptaan Allah yang fitri akan selalu patuh karena persaksiannya yang tunduk total kepada Allah. Dalam sebuah perjanjian suci (al-mu’ahadah al-fithriyyah), manusia menyatakan diri ketundukkannya untuk menauhidkan-Nya.

Fitrah yang diciptakan Allah tidak mungkin bisa tergantikan. Fitrah Allah sudah masuk sublim dalam hati nurani manusia. Kalau terjadi pergeseran fitrah, itu adalah ulah manusia sendiri yang mengubah kefitrian yang telah diberikan Allah kepadanya. Nabi Muhammad telah bersabda bahwa setiap yang dilahirkan selalu lahir dalam fitrah Islam: total pasrah mengabdi kepada Tuhan (kullu mauludin yuladu ala fitrati al-islam).

Setiap bayi yang lahir menyimpan energi fitrah yangs suci, yang akan memandu gerak kehidupan manusia di setiap saat dan setiap waktu.
Sayang, energi fitrah kadang ‘ditelantarkan’ dan tidak dioptimalkan oleh manusia sendiri. Justru, manusia melalaikannya sehingga kefitrian yang sudah menancap kerap bergeser, tidak memandu gerak langkah kehidupan manusia. Akhirnya, tidak sedikit manusia yang terjerumus dalam berbagai kubangan kenistaan, manusia teralienasi dari basis spiritualitasnya sendiri, dan manusia akhirnya jatuh dari titik autentisitas yang suci dan bersih. Jadilah gerak hidup yang dijalani penuh kebimbangan (al-syak) dan keraguan (al-roib).

Idul fitri adalah kembali kepada fitrah (awal) yang telah ditancapkan Allah dalam perjanjian suci (al-mu’ahadah al-fithriyyah). Tidak salah kalau ulama memaknai Idul Fitri sebagai makin meningkatnya tingkat ketakwaan, bukan dengan konsumerisme yang melonjak. Hari raya bukanlah mereka yang baru pakaiannya, tetapi hari raya adalah mereka yang ketaatannya bertambah (laisa al-idu liman libasuhu al-jadid, walakinna al-idu liman tha’atuhu tazidu).

Meninggalkan korupsi
Jiwa fitri bagi bangsa Indonesia saat ini sangat tepat bila dioperasionalisasikan dalam upaya meninggalkan korupsi. Dengan demikian, yang patut berhari raya, dalam konteks bangsa Indonesia, adalah mereka yang sanggup dan tegar meninggalkan korupsi. Kefitrian yang dihasilkan dari ‘tapabrata’ puasa sebulan penuh adalah dengan wujud makin runtuhnya kantong-kantong korupsi birokrasi. Kalau masih bercokol sebiji hasrat korupsi, layak diragukan puasanya dan kefitrian dalam Idul Fitri kali ini.

Penegasan untuk meninggalkan korupsi sangat penting disuarakan umat Islam dalam rangka makin mempercepat bangsa Indonesia menuju autentisitas diri yang bersih, kreatif, dan progresif. Perjanjian suci dengan Tuhan terhadap kefitrian akan sangat ternoda autentisitasnya bila manusia terjebak dalam jerat korupsi. Karena, korupsi telah membutakan hati nurani yang menjadi poros perputaran nilai ilahi. Kalau poros nilai ilahi sudah tak berfungsi atau mati fungsinya, sekujur tubuh manusia hanya dihinggapi nalar dan hasrat despotik dalam merengkuh gerak hidup yang sebenarnya sia-sia.
Despotisme nafsu manusia selalu membuka jalan keruntuhan diri. Despotisme nafsu juga selalu mengajak manusia untuk keluar dari orbit ilahi, menuju orbit syaithoni, sehingga gerak langkah hidup hanya memburu kepuasan nafsu.

Nalar koruptif adalah tamsil bahwa gerak nafsu manusia selalu dijejali kuasa despotik. Nalar koruptif selalu menginginkan kuasa dirinya untuk mengeruk uang negara. Tak peduli apakah rakyat miskin sedang dililit ketertinggalan dan kelaparan. Tak peduli akan kesejahteraan kaum marginal yang selalu kandas di tengah jalan. Yang terjejal dalam kuasa nafsu adalah menumpuk harta sebanyak-banyaknya demi kepuasan hegemoni nafsu yang bersorak ria dengan berbagai penindasan dan keserakahan.

Kefitrian sudah tergantikan dengan nalar koruptif. Perjanjian suci manusia dengan Tuhannya sudah dikhianati sendiri. Perjanjian suci sudah ditinggalkan karena manusia membuat perjanjian baru dengan kuasa nafsu untuk selalu berbuat despotik. Kesucian perkataan dan tindakan tidak berlaku bagi kaum koruptif. Kesucian sudah dibuang jauh-jauh karena hanya mempersulit laju korupsi di berbagai lini kehidupan.

Momentum Idul Fitri 1430 H harus menjadi koreksi total bangsa Indonesia, khususnya kaum elitenya, untuk menata harapan bangsa yang cerah tanpa tragedi korupsi. Kefitrian yang kembali setelah puasa sebulan penuh harus menjadi starting point dalam membabat habis praktik koruptif. Jadilan Idul Fitri sebagai monumen besar dalam menggagalkan kejahatan koruptif sehingga hati nurani yang telah melakukan perjanjian suci dengan Tuhan selalu menyertai dalam setiap perwujudan gerak hidup.

Renungan Idul Fitri
Idul Fitri dan Asketisme Sosial

KOMPAS, Sabtu, 19 September 2009 | 02:51 WIB

Oleh HM Amin Abdullah

Salah satu hari besar Islam yang paling fenomenal dan monumental adalah Idul Fitri. Secara asketis, Idul Fitri sering disebut sebagai momen penyucian diri kembali pada sifat fitri setiap manusia.

Namun, perayaan yang bersifat masif, serentak, dan penuh sukacita itu justru telah menggeser Idul Fitri dari makna transendennya. Di sini, Idul Fitri tidak lagi bermakna perayaan kemenangan dari ritual olah batin dan fisik sebagai laku asketis selama sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Idul Fitri telah masuk perangkap semiotika dalam berbagai dimensi kehidupan sosial dan kebudayaan kontemporer.

Secara sosial, Idul Fitri merupakan saat paling ditunggu-tunggu setiap orang, bahkan oleh narapidana yang berharap mendapat remisi. Idul Fitri juga mampu menggerakkan arus besar migrasi masyarakat urban, bahkan perputaran keuangan saat mudik, berlangsung secara masif sebagai suatu ritual sosial.

Tidak hanya itu, secara subtil Idul Fitri mampu mendorong pejabat membuka hati dan pintu rumahnya untuk saling memberi maaf kepada sesama dan kaum papa, dan kini menjadi tren silaturahim massal. Sedangkan dalam kebudayaan kontemporer, Idul Fitri menjadi ajang munculnya berbagai kebudayaan populer melalui penampakan tren busana yang selalu berganti setiap Lebaran atau hadirnya berbagai ragam musik dan jenis hiburan religius.

Pendek kata, Idul Fitri bukan saja sarat makna asketistik-spiritualistik yang bersifat transenden, tetapi benar-benar tumpah dalam bentangan luas fenomena sosial. Meski demikian, justru di sinilah letak paradoks makna Idul Fitri. Jika secara asketis Idul Fitri bermakna penyucian diri yang dirayakan setiap tahun, mengapa bangsa yang mayoritas berpenduduk Muslim ini belum beranjak ke arah penyucian diri sebagai sebuah bangsa?

Nafsu libidinal

Sebagai bangsa yang religius secara jujur harus mengakui, segala dimensi kehidupan kita masih menunjukkan nafsu libidinal yang tinggi terhadap segala bentuk kebutuhan materiil dan imateriil. Dalam sektor politik misalnya, nafsu libidinal imateriil itu mewujud dalam praktik pencitraan atau pembentukan pesona tiada henti sehingga yang tersaji hanya kepalsuan-kepalsuan. Demikian juga dalam sektor sosial. Nafsu libidinal menampakkan bentuknya dalam konsumsi gengsi dan corak mode tingkat tinggi sehingga mampu menstrukturisasi kelas masyarakat.

Sementara dalam sektor agama, nafsu libidinal justru gamblang terlihat dalam berbagai simulasi religius sehingga yang muncul adalah spiritualisme artifisial yang semu penuh kepura-puraan. Puncak nafsu libidinal material secara nyata dapat dilihat dalam berbagai praktik korupsi yang belakangan kian merajalela menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Nafsu libidinal seakan menyumbat saraf sensitivitas sosial kita. Kita tidak lagi menjadi peka terhadap penderitaan orang lain seperti fakir miskin, korban gempa, atau siapa pun yang kurang beruntung pada perayaan Idul Fitri tahun ini. Kepedulian terhadap sesama seakan selesai dan berhenti seiring ditunaikannya kewajiban membayar zakat fitrah pada malam Idul Fitri. Kesalehan individual yang dibentuk dalam Ramadhan tidak meluber dalam bentuk kesalehan sosial.

Padahal, kesalehan individual seharusnya berdiri sebangun dengan kesalehan sosial. Ketimpangan itu dimungkinkan terjadi karena puasa yang dijalankan bersifat seremonial religius sebatas menahan haus dan lapar. Jika benar, mungkin tepat sinyalemen Nabi bahwa banyak orang berpuasa, tetapi tidak memperoleh apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga, karena intisari dan hikmah puasa belum menyentuh kesadaran paling dalam umat dan belum mampu membentuk pribadi manusia beragama/beriman yang matang, utuh, tangguh, yang dapat mempertautkan kesalehan individu, kesalehan sosial, dan kesalehan lingkungan dalam kehidupan luas.

Ritus peralihan

Falsafah ibadah puasa menegaskan perlunya dilakukan ”turun mesin” kejiwaan selama sebulan dalam setiap tahun. ”Turun mesin” merupakan proses meneliti, memeriksa onderdil dan hal-hal yang rusak, serta memperbaiki total.

Saat turun mesin, tidak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi. Semua harus transparan, akuntabel, rela diperiksa, dikoreksi, dan diperbaiki. Semua peralatan dibongkar, dicek, dan diperiksa satu per satu lalu dilakukan perbaikan.

Karena itu, kegunaan praktis ibadah puasa adalah sebagai titik balik perubahan dan ritus peralihan. Berubah dan beralih dari satu keadaan ke keadaan lain yang lebih baik sehingga terbentuk kepribadian yang memiliki cara pandang yang inspiratif (membawa ide-ide segar), inovatif (mampu memperbaiki dan memperbarui), kreatif (mampu menciptakan pilihan baru), dan transformatif (dapat mengubah) dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Di sinilah makna keberagamaan yang sehat mewujud karena memiliki kemampuan membawa perubahan hidup yang dinamis, menggugah, dan imperatif.

Terbentuknya cara berpikir, mentalitas, cara pandang, pandangan dunia, dan etos keagamaan baru setelah mengalami turun mesin sebulan adalah bagian tak terpisahkan dan termasuk tujuan utama disyariatkan ibadah puasa. Laisa al-’id liman labisa al-jadid, wa lakinna al-’idu liman taqwa hu yazid (Hari raya Idul Fitri bukan bagi orang-orang yang mengenakan baju baru, tetapi bagi orang-orang yang takwanya bertambah). Yakni bagi mereka yang mempunyai kemauan, semangat, dan etos untuk terus memperbaiki kehidupan pribadi, keluarga, dan sosial-kemasyarakatan, sosial-politik, berbangsa dan bernegara dengan landasan keagamaan yang otentik.

Nilai-nilai yang mendasar dan tujuan pokok ini sering tidak tampak di permukaan karena tertindih semangat dan sibuknya orang menyiapkan hal-hal terkait puasa berupa sahur dan berbuka pada bulan Ramadhan. Mudah-mudahan dengan mengenal tujuan syar’iy ibadah puasa, umat Islam selalu dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup keagamaan sehari-hari dalam masa sebelas bulan mendatang.

HM Amin Abdullah Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

REPUBLIKA, Kamis, 17 September 2009 pukul 01:10:00

Membela Tuhan

Oleh Azyumardi Azra

Apakah Tuhan perlu dibela? Bagi banyak orang beriman dalam agama mana pun, Tuhan mestilah dibela meski Tuhan sendiri, karena Ia adalah Zat Yang Mahakuasa, sebenarnya tidak perlu dibela siapa pun. Tuhan Mahakuasa dengan sendiriNya. Namun, Karen Armstrong lewat karya terbarunya The Case for God: What Religion Really Means (London: The Bodley Head, 2009) juga membela Tuhan dengan melihat apa sebenarnya makna agama.

Armstrong melalui karya ini membela Tuhan dan agama, terutama dari dekapan kaum fundamentalis dan skeptisisme orang-orang ateis. Hemat saya, pembelaan tersebut sangat tepat waktu ketika di berbagai penjuru dunia, banyak kalangan umat beragama mengalami antusiasme keagamaan menyala-nyala yang menimbulkan berbagai dampak politik, sosial, dan ekonomi. Pada saat yang sama, skeptisisme dan nihilisme terhadap Tuhan dan agama juga meningkat sebagai respons terhadap perkembangan keagamaan semacam itu.

Agama dan bahkan Tuhan memang pernah kehilangan tempatnya dalam masyarakat Eropa sejak 1960-an. Teolog Amerika Harvey Cox pada 1965 menerbitkan buku The Secular City yang menyimpulkan bahwa Tuhan telah mati. Karena itu, agama harus berpusat pada kemanusiaan daripada ketuhanan. Sebagian kalangan Barat melihat perkembangan ini sebagai ‘gelombang baru’ sekularisme yang merupakan puncak dari ‘Pencerahan’ (Enlightenment); sementara sebagian lain memandangnya sebagai awal dari masa ‘Pascamodernitas’.

Namun, sejak akhir 1970-an, gelombang berbalik; di mana-mana terjadi kebangkitan kembali agama yang disebut Armstrong sangat dramatis, termasuk ketika Ayatullah Khomeini yang sebelumnya tidak dikenal berhasil menumbangkan Shah Iran, Muhammad Reza Pahlevi, pada 1978. Sementara itu, di Israel, bentuk baru Zionisme keagamaan sangat agresif menemukan momentum di kancah politik Israel. Sedangkan, di AS, pendeta Jerry Falwell mendirikan Moral Majority pada 1979, mendesak kaum fundamentalis Protestan untuk lebih terlibat dalam politik guna menghadapi tantangan dan agenda humanisme sekuler.

Fundamentalisme agama dalam pandangan Armstrong memunculkan religiositas militan, yang dapat tumbuh di lingkungan umat beragama di negara bangsa mana pun: bisa di negara-negara Barat yang memiliki riwayat sekularisme yang panjang dan bisa juga di negara-negara kawasan lain yang secara ketat memisahkan agama dan politik, namun pada saat yang sama mengadopsi ideologi-ideologi sekuler yang bermusuhan dengan agama. Namun, di tengah meningkatnya fundamentalisme agama yang membuat negara dan rezim-rezim penguasa terdesak, kedua belah pihak–kaum fundamentalis dan penguasa sekuler–menyeret agama ke pangkuan masing-masing. Kedua pihak ini terlibat dalam kontestasi yang sangat intens dalam memperebutkan simbolisme agama dan bahkan Tuhan.

Meski negara dan penguasa mencoba mengakomodasi agama, ini belum cukup bagi kaum fundamentalis yang tetap merasa terancam dominasi dan hegemoni negara. Karena itu, kaum fundamentalis, seperti fundamentalis Prostestan di AS, cenderung mengambil sikap kian keras dalam berbagai kehidupan sosial keagamaan yang mereka anggap telah bangkrut sebagai akibat negara dan pemerintahan sekuler. Kaum fundamentalis Protestan meyakini, doktrin keimanan mereka yang paling benar, yang merupakan ekspresi final kebenaran, dan yang harus ditegakkan dengan cara apa pun, termasuk kekerasan dan terorisme.

Namun, Armstrong mengingatkan, sikap banyak orang Barat yang menganggap Islam secara inheren fundamentalis tidak cocok dengan demokrasi dan kebebasan (freedom) dan secara kronis kecanduan kekerasan itu adalah keliru. Islam merupakan agama terakhir dari tiga monoteis yang terjangkit fundamentalisme, persisnya setelah kekalahan negara-negara Arab dalam perang enam hari melawan Israel pada 1967. Kebijakan negara-negara Barat yang tidak adil dengan segera mempercepat pertumbuhan fundamentalisme Islam di Timur Tengah. Konflik dan kekerasan yang berlanjut di Timur Tengah hanya membuat fundamentalisme tetap bertahan, bahkan bisa menemukan momentumnya dari waktu ke waktu.

Apa saran Armstrong menghadapi gejala fundamentalisme di kalangan kaum Muslim? Menurut dia, melakukan generalisasi dan kutukan sewenang-wenang terhadap Islam tidak akan memperbaiki keadaan. Menyalahkan Islam memang mudah dan sederhana, tetapi jelas hanya bakal kontraproduktif. Karena itu, yang perlu adalah meneliti sumber-sumber penyebab kemunculan fundamentalisme dan radikalisme. Kemudian, melakukan perubahan, misalnya dalam kebijakan luar negeri negara-negara Barat.

Dengan demikian, membela Tuhan antara lain bermakna ‘membebaskan’ Tuhan dari klaim-klaim kelompok keagamaan untuk kepentingan-kepentingan tertentu pula. Tuhan terlalu kompleks dan rumit untuk dikerangkakan dalam konsep, persepsi, dan pemahaman tertentu. Kita manusia, tulis Arsmtrong, hanya memiliki ide yang sangat terbatas mengenai Tuhan.

Karen Armstrong memberikan perspektif kepada kita agar melihat masalah-masalah tentang Tuhan dan agama secara lebih bijak. Bagi umat Muslim, pemahaman tentang Tuhan seyogianya berpijak pada kerangka yang telah diletakkan jumhur ulama dalam ilmu tauhid. Penafsiran spekulatif tentang Tuhan bukan hanya dapat menimbulkan perdebatan yang tidak ada ujung, seperti pernah terjadi di antara para mutakallimun, tapi itu juga membingungkan.

REPUBLIKA, Kamis, 17 September 2009 pukul 01:17:00

Hilal

ANDAI HILAL BISA BICARA

H Ahmad Izzuddin
(Anggota Badan Hisab Rukyat Pusat)

Hampir setiap menjelang akhir Ramadhan, masyarakat Muslim awam selalu mempertanyakan: kapan akhir Ramadhan yang berarti kapan hari rayanya? Pertanyaan wajar ini selalu muncul karena di Indonesia sering kali terjadi perbedaan pelaksanaan Hari Raya 1 Syawal (Idul Fitri) oleh umat Islam sendiri. Tidak seperti pelaksanaan hari raya agama lain, yaitu Natal, Waisak, Nyepi, dan sebagainya, yang tidak pernah terjadi perbedaan pelaksanaan hari rayanya. Menariknya, perbedaan pelaksanaan hari raya umat Islam sekarang ini tidak hanya berbeda pada satu hari, bahkan berhari-hari. Tanda-tanda perbedaan pelaksanaan hari raya sekarang ini (Idul Fitri 1430 H) tampak pada perbedaan awal puasa Ramadhan, kemarin. Sebagaimana pemberitaan media cetak dan elektronik, umat Islam ada yang mulai puasa Ramadhan 1430 H pada Kamis, 20 Agustus 2009. Bahkan, ada yang mulai pada Jumat, 21 Agustus atau yang mulai pada Ahad, 23 Agustus 2009. Namun, mayoritas umat Islam Indonesia (keputusan pemerintah sama dengan ketetapan Muhammadiyah dan Ikhbar Nahdlatul Ulama) memulai puasa Ramadhan pada hari Sabtu, 22 Agustus 2009.

Kelompok pemahaman
Pijakan hukum Islam terkait bagaimana penentuan 1 Syawal sebenarnya telah ada pada hadis Nabi SAW dengan sangat jelas. Salah satunya adalah hadis riwayat Bukhari Muslim, “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Bila tertutup oleh awan, sempurnakanlah bilangan Syaban menjadi 30 hari.”

Namun demikian, dalam realitas, pemahaman hadis tersebut memiliki perbedaan interpretasi. Ada yang memahami bahwa rukyat itu harus benar-benar melihat hilal (bulan tanggal satu) yang melahirkan kelompok rukyat dan ada yang memahami bahwa rukyat cukup dengan memperhitungkan posisi hilal dalam makna dapat dilihat (yang melahirkan kelompok hisab).

Perbedaan pemahaman terhadap hadis tersebut banyak terjadi di kalangan umat Islam Indonesia. Di samping kelompok pemahaman hisab dan kelompok pemahaman rukyat, terdapat kelompok-kelompok yang lain, seperti kelompok rukyat global, kelompok Islam kejawen, kelompok Tarekat Naksabandi, dan kelompok An-Nadir Goa Makassar. Pemerintah pada dasarnya telah berusaha untuk menyatukan pemahaman hisab rukyat dalam formula hisab imkanurrukyah. Namun, dalam tataran praktis, dulu pada zaman sebelum reformasi, sering terbawa nuansa politik. Karena, dalam penetapannya, pijakannya sering kali tidak berdasarkan pada kebenaran ilmiah yang objektif. Sehingga, kemunculan aliran imkanurrukyah produk pemerintah bukan menyatukan, namun menambah runyam dan membingungkan.

Bagaimana tidak membingungkan, ketika muncul perbedaan dalam penetapan awal-akhir Ramadhan, walaupun pemerintah sudah memfasilitasi penyatuan dalam bentuk sidang isbat yang diikuti oleh semua pihak yang terkait, termasuk dari ormas-ormas Islam; dari masing-masing ormas tersebut tetap saja mengeluarkan keputusannya (apa pun istilahnya–apa itu hanya dengan istilah instruksi atau ikhbar–tetap saja keputusan namanya). Kemunculan keputusan liar itu kiranya tidak dapat disalahkan begitu saja. Pemerintah yang mestinya memegang kendali putusan dalam sidang isbat ternyata lebih mengedepankan kemaslahatan politik pemerintah, yang mestinya harus mengedepankan kebenaran ilmiah yang objektif.

Namun, hal itu berbeda dengan keputusan pemerintah setelah reformasi sekarang ini, di mana Badan Hisab Rukyat yang dibentuk pemerintah telah berusaha memberikan keputusan berdasarkan kebenaran ilmiah yang objektif. Kasus keputusan pemerintah itu terlihat melalui penolakan kabar yang menyaksikan hilal dari Gebang Sampang Madura pada penetapan 1 Syawal 1427 H berdasarkan hisab, pada saat itu hilal masih di bawah dua derajat (di bawah standar imkanurrukyah yang dipegang pemerintah).

Keterpaduan hisab rukyat
Kalau dicermati secara saksama, ternyata perbedaan penentuan awal Syawal dilatarbelakangi oleh dua hal. Pertama, perbedaan hasil ijtihad para ulama fikih dalam masalah penetapan awal bulan Ramadhan dan Syawal. Ada aliran rukyat, seperti Imam Romli dan Al-Khatib Asy-Syaibani, yang menyatakan, jika rukyat berbeda denga penghitungan hisab, yang diterima adalah kesaksian rukyat karena hisab diabaikan oleh syariat (Nihayah Al Muhtaj III: 351). Kemudian, ada aliran hisab, seperti Imam As-Subkhy, Imam Ibbady, dan Imam Qalyuby, yang berpendapat, jika ada orang yang menyaksikan hilal, sedangkan menurut perhitungan hisab tidak mungkin dirukyat, kesaksian itu harus ditolak (I’anatut Tholibin II: 261). Lalu, ada aliran moderat, seperti Imam Ibnu Hajar, yang menyatakan bahwa syahadat atau rukyat dapat ditolak jika ahli hisab sepakat (ittifaq). Namun, jika tidak terjadi ittifaq, rukyat tidak dapat ditolak (Tuhfah Al Mulhaj III: 382).

Kedua, perbedaan tingkat pemahaman sosial. Bagi masyarakat yang sudah modern, mereka bersifat terbuka, objektif, dan selektif dalam berpikir. Berbeda halnya dengan masyarakat tradisional yang notebene bersifat isolatif dan fanatik karena dapat terpengaruh pemikiran produk fikih baru, termasuk dalam hal hisab rukyat.

Padahal, jika kita telah secara serius dan tajam, semestinya keterpaduan penggunaan hisab yang akurat, seperti menggunakan hisab hakiki kontemporer, semacam Al Manak Nautika dan Jeam Meeus serta Ephemeris dan rukyat, sangat perlu dalam menentukan awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijjah. Karena, dengan hisab yang akurat, dapat diprediksikan lebih dini tentang jatuhnya awal bulan tersebut. Sedangkan, rukyat sebagai pembuktian kebenaran hisab. Sehingga, antara hisab dan rukyat itu bagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya serta saling melekat dan menguatkan. Dalam term hukum, dapat dibahasakan hisab sebagai keterangan saksi, di mana hisab yang akurat diperlukan untuk panduan pelaksanaan rukyat yang benar, sedangkan eksistensi rukyat adalah sebagai alat bukti kebenaran hisab. Yang berarti, hisab itu sebagai kebenaran hipotesis yang perlu verifikasi dengan kebenaran empiris, yakni observasi atau rukyatul hilal, mengingat baik hisab maupun rukyat yang dituju adalah satu, yakni hilal (bulan tanggal satu). Oleh karena itu, seandainya hilal (bulan tanggal satu) bisa ngomong, penentuan 1 Syawal sudah tidak ada masalah.

Namun, dalam permasalahan fikih sosial, seperti awal penetapan bulan Ramadhan ini, keputusan yang bijaksana sebaiknya ada di pemerintah melalui menteri agama berdasarkan khidah hukmul hakim ilzamun wayarfaul khilaf. Oleh karena itu, jika pemerintah telah menetapkan dan memutuskan, baik berdasarkan hisab maupun laporan kesaksian rukyat, seluruh masyarakat Indonesia seharusnya mematuhinya (berdasarkan pemahaman kitab Hasyiah Syarwani III: 376, Al Fiqh ala Madzahibil Arba’ah I: 433-435).

REPUBLIKA, Selasa, 15 September 2009 pukul 01:00:00

Kalender Hijriah

KALENDER HIJRIAH TERPADU
Susiknan Azhari
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Berbagai tulisan menyebutkan bahwa pada 2009 tidak terjadi Lebaran ganda. Pernyataan ini tidak salah jika dikaitkan antara Pemerintah, Muhammadiyah, dan NU. Namun, dalam realitasnya tampaknya tahun ini akan terjadi perbedaan Idul Fitri.

Setidak-tidaknya kelompok An-Nadzir dan Tariqat Naqsabandiyah akan berlebaran lebih awal karena mereka memulai puasa pada Kamis 20 Agustus 2009. Artinya, mereka berpuasa lebih awal dua hari dibandingkan mayoritas umat Islam Indonesia. Begitu pula Libya akan berlebaran lebih awal pada 19 September 2009 karena menggunakan teori ijtima’ qabla al-fajr (The Jamahiriya, 5 September 2009).

Perbedaan ini muncul sebetulnya bukan karena persoalan hisab rukyat semata. Tetapi, ada persoalan fundamental yang tidak disadari oleh umat Islam, yaitu belum adanya kalender hijriah terpadu yang dapat digunakan secara bersama-sama. Selama kalender hijriah terpadu belum terwujud, perbedaan Lebaran akan senantiasa muncul di permukaan. Oleh karena itu, tulisan ini berusaha menguraikan tentang kalender hijriah di Indonesia dan kemungkinannya membangun kalender hijriah terpadu ke depan.

Kalender Hijriah
Selama ini perhatian masyarakat Muslim Indonesia tentang awal bulan kalender hijriah lebih terfokus pada bulan Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah. Apalagi jika dimungkinkan akan muncul perbedaan di kalangan ormas dan pemerintah.

Pertemuan-pertemuan dilakukan secara maraton untuk menghindari terjadinya perbedaan dalam menetapkan awal bulan kamariah tersebut, khususnya awal Syawal. Dalam QS At-Taubah ayat 36 dinyatakan bahwa dalam satu tahun terdapat dua belas bulan, yaitu Muharam, Safar, Rabiul awal, Rabiul akhir, Jumadil awal, Jumadil akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah.

Seyogianya hadis-hadis rukyat tidak dipahami secara parsial, tetapi perlu melibatkan hadis-hadis lain yang berkaitan dengan kalender hijriah, seperti hadis tentang ayyamul bidh atau hari-hari putih. Rasulullah SAW telah memberi kriteria tentang hari-hari putih, yaitu hari ke-13, 14, dan 15. Selama ini kalender hijriah masih bersifat lokal.

Di Indonesia ada beberapa kalender hijriah yang berkembang, seperti Kalender Muhammadiyah, Almanak PB NU, Alamanak Menara Kudus, Taqwim Standar Indonesia, dan Almanak Persis. Masing-masing kalender memiliki kriteria untuk menentukan awal bulan kamariah. Kalender Muhammadiyah menggunakan teori wujudul hilal secara konsisten untuk menentukan awal bulan sejak Muharam sampai Zulhijah.

Sementara itu, Almanak Persis menggunakan teori imkanur rukyat untuk menentukan awal bulan sejak Muharam sampai Zulhijah. Di sisi lain, Almanak NU menggunakan imkanur rukyat (Muharam-Sya’ban), sedangkan untuk menentukan awal Ramadhan dan Syawal menunggu hasil rukyatul hilal. Begitu pula Taqwim Standar Indonesia menggunakan imkanur rukyat (Muharam-Syakban), sedangkan untuk menentukan awal Ramadhan dan Syawal menunggu hasil sidang Isbat.

Dalam sistem kalender hijriah mengharuskan adanya kepastian (Muharam sampai Zulhijah) yang dikonstruksi dari hasil pemahaman terhadap nas dan sains. Bila tidak ada kepastian, kalender tersebut akan mengalami kekacauan.

Kasus An-Nadzir dan Tariqat Naqsyabandiyah merupakan contoh konkret dalam membuat kalender hijriah tidak terstruktur dan komprehensif.

Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah dan anggota dewan terpilih memikirkan dan merumuskan kalender hijriah Indonesia dengan mempertautkan aspek syar’i dan sains yang dapat diterima semua pihak tanpa ada perasaan menang kalah.

Pada dasarnya kebersaamaan Idul Fitri tidak menjamin kebersaman Idul Adha di suatu negeri bila kalender hijriah yang digunakan bersifat lokal. Memperhatikan kondisi ini, pada akhir 1970-an Mohammad Ilyas salah seorang astronom Muslim Malaysia menawarkan gagasan tentang perlunya Kalender Islam Internasional. Ia menggagas konsep “garis qamari antar bangsa” atau biasa diistilahkan International Lunar Date Line (ILDL). Menurut Baharrudin Zainal dari segi kajian astronomi, khususnya berkaitan dengan teori visibiltas hilal, Ilyas adalah satu-satunya ilmuwan Muslim yang berada pada tahap yang sama dengan McNally (London), Le Roy Dogget (Washington), Bradley E Schaefer (NASA), dan Bruin. Bagi Ilyas, persoalan kalender hijriah tidak semata-mata persoalan sains, tapi perlu melibatkan kekuatan politik. Ilyas (1997) mengatakan, “… dunia Islam memerlukan seorang Julian untuk menyatukan takwimnya ….”

Gagasan Ilyas ini kemudian direspons oleh para ahli di dunia Islam, pertemuan-pertemuan berskala nasional maupun internasional diselenggarakan dalam rangka mewujudkan kalender hijriah terpadu. Muhammadiyah sebagai pelopor pengguna hisab di Indonesia juga tidak ketinggalan.

Pada 22-24 Sya’ban 1428/4-6 September 2007 diselenggarakan simposium internasional bertajuk “Towards A Unified International Islamic Calendar”. Kulminasi dari kesadaran ini direfleksikan dalam “Temu Pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam” di Rabat, Maroko, 15-16 Syawal 1429 H/15-16 Oktober 2008.

Dalam pertemuan ini disepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan kamariah di kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan kamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat.

Selanjutnya, hasil Temu Pakar II tersebut menegaskan syarat-syarat kalender hijriah internasional dan tentang usulan empat kalender untuk diseleksi menjadi kalender hijriah internasional.

Empat kalender yang diusulkan adalah (1) Kalender al-Husain Diallo. Menurut Syamsul Anwar, Diallo membuat kaidah kalender sebagai berikut: apabila ijtima’ (konjungsi) terjadi sebelum zawal di Makkah, Timur Tengah dan sekitarnya serta kawasan yang hari itu dapat melihat hilal (yaitu kawasan sebelah barat Timur Tengah) memasuki bulan baru.

Diallo tidak menjelaskan batasan kawasan Timur Tengah dan sekitarnya secara pasti dan tidak menjelaskan bagaimana dengan kawasan timur sejak dari Garis Tanggal Internasional hingga ke batas Timur Tengah dan sekitarnya apakah juga ikut mulai bulan baru? Lebih lanjut, menurut Diallo, apabila ijtima’ terjadi sesudah zawal di Makkah, bulan baru dimulai lusa untuk seluruh dunia. (2) Kalender Libya.

Perhitungan awal bulan dalam Kalender Libya menggunakan hisab hakiki dengan kriteria ijtima’ qabla-al-fajr di perbatasan sebelah timur Libya.

Artinya, apabila di perbatasan paling timur Libya terjadi ijtima’ sebelum fajar, seluruh Libya memasuki bulan baru pada hari itu.

Apabila di perbatasan tersebut ijtima’ terjadi sesudah fajar, bulan kamariah baru dimulai pada fajar berikutnya. Kalender ini menganut paham bahwa hari dimulai pada waktu fajar, bukan saat terbenamnya matahari seperti yang dianut oleh jumhur kaum Muslimin. Salah seorang tokoh Indonesia yang mengembangkan teori ini adalah Moh Djindar Tamimiy (1342/1923-1416/1996), sekretaris jenderal Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (3) Kalender Ummul Qura. Kalender Ummul Qura merupakan kalender resmi Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, dipersiapkan dan disusun oleh Pusat Ilmu dan Teknologi Raja Abdul Aziz (KACST).

Kalender ini didasarkan pada beberapa prinsip, yaitu pertama, menggunakan Makkah sebagai markaz perhitungan kalender. Prinsip kedua, dalam menetapkan awal bulan kamariah adalah bahwa ketika matahari tenggelam di Kota Makkah sesudah ijtima’, Bulan belum tenggelam.

Jadi, prinsip kedua ini meliputi kriteria: (a) telah terjadi ijtima’ (konjungsi), (b) ijtima’ terjadi sebelum matahari tenggelam (ijtima’ qabla al-ghurub), dan (c) Matahari tenggelam terlebih dahulu dibandingkan Bulan (moonset after sunset). Teori ini mirip dengan wujudul hilal yang digunakan Muhammadiyah dalam pembuatan kalender hijriah. (4) Kalender Hijriah Terpadu.

Konseptor awalnya adalah Jamaluddin Abdur Raziq, mantan direktur Institut Pos dan Telekomunikasi Maroko dan kini menjadi wakil ketua Asosiasi Astronom Maroko (Association Marocaine d’Astronomie/AMAS). Ia berambisi untuk menyatukan seluruh dunia dalam satu tanggal untuk satu hari

REPUBLIKA, Senin, 14 September 2009 pukul 01:13:00

Prosesi Mudik

DIMENSI SPIRITUAL dalam PROSESI MUDIK

Oleh Thomas Koten
(pengamat sosial)

Gerak eksodus mudik kembali berlangsung. Dan seperti biasanya, terlihat prosesi mudik ini begitu fenomenal. Para pemudik, dalam jumlah jutaan mengerumuni terminal bus, stasiun KA, juga pelabuhan laut dan udara. Mereka tidak peduli dengan rasa sakit dan lelah yang dialami. Karena dalam benak mereka hanya terbersit kata, mudik.

Mudik, secara harafiah berarti pergi ke udik. Dan kini, dalam perjalanan sejarahnya, mudik telah menjadi bagian dari prosesi perjalanan besar, ramai, dan meriah ke suatu tempat yang dianggap paling dasar dari petualangan hidup dari masyarakat modern yang disebut udik. Udik, sering diibaratkan sebagai bagian paling hulu di sungai nun jauh di dalam, di daerah-daerah pegunungan <I>sono<I>, tempat pembudayaan budaya-tradisi kehidupan umat manusia mulai ditumbuhkembangkan. Dari udik itu pulalah tertanam ‘sumber kehidupan’ sekaligus ‘sumber kerinduan’ yang dibatinkan oleh setiap manusia, khususnya manusia-manusia pada zaman modern di perkotaan yang telah mengalami transformasi sosok.

Dalam hal ini, masyarakat modern, seperti Jakarta, yang sering mengalami kendala psikologis dan sosiologis serta kekosongan humanistik-batiniah-ruhaniah sebagai masyarakat metropolitan yang telah mengalami transformasi sosok tersebut, merasa tercambuk untuk mudik agar bisa meraih kembali kunci ‘psikoanalistik humanistik’ meminjam Erich Fromm- yang salah satunya adalah dengan cara menghidupkan kembali ‘kultur kekerabatan’ yang dalam Islam disebut bersilaturahim.

Karena itulah, para pemudik menjadi tidak peduli dengan banyaknya energi yang harus dikeluarkan, seperti harus antre berhari-hari untuk bisa mendapatkan tiket dan dalam perjalanan harus melewati medan yang berat serta tingginya risiko yang harus dihadapi, seperti kecelakaan dan kriminalitas. Mereka pun yakin bahwa dengan bersilaturahim di kampung halaman bersama anggota keluarga dan handai taulan setelah mengalami pendadaran puasa, mereka akan menemukan kembali jati dirinya dan menimba kembali semangat dan kekuatan baru untuk menjadi ‘penangkal’ dan ‘senjata’ dalam menghadapi realitas kerasnya persaingan dalam kehidupan ini.

Dimensi spiritual
Oleh karena itu, dalam peradaban modern ini, mudik perlu dimaknai sebagai sebuah prosesi spiritual. Sebab, dari balik prosesi mudik itu sebenarnya dalam alam keruhanian bergema keinginan manusia untuk menoleh ke belakang mencari akar spiritual peradaban yang terabaikan. Dan juga dalam kehidupan manusia selalu menyembul pertanyaan eksistensial kemanusiaan, yaitu bagaimana membangun suatu kerangka pemikiran sebagai basis keutuhan peradaban baru dalam menyelaraskan fisik-jasmaniah dengan kebutuhan akan spiritual-ruhaniah sesuai dengan prinsip dualitas manusia; jasmani dan ruhani.

Hanya orang-orang berimanlah yang sanggup menempatkan prinsip dualitas; badan-ruh-tubuh-jiwa pada porsi yang sebenarnya. Sebab, dalam ‘peziarah’ iman sebagai epistemologi kehidupan, akan memberikan kemampuan kepada siapa saja yang berusaha secara maksimal untuk meningkatkan kualitas hidup atau mutu prosesi hidup menuju Sang Khalik. Orang semacam ini, menurut filsuf modern Rene Descartes, orang bukan hanya mampu melihat jiwa di dalam seluruh prosesi dirinya, tetapi juga hakikat Allah. Karena, dalam seluruh prosesi hidup manusia kaum beriman, tidak lebih daripada ziarah menapaki tangga menuju tingkat yang lebih tinggi-sempurna untuk memperoleh kesejatian diri hingga mendapatkan kesempurnaan bersama Sang Khalik.

Maka, dalam hal ini prosesi mudik sebenarnya juga merupakan peristiwa transformasi spiritual dari peziarahan kaum beriman dalam mewujudkan solidaritasnya terhadap sesama manusia yang dibelenggu oleh kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan di tengah peradaban modern. Spiritualitas mudik mengingatkan kita akan keluhuran manusia yang masih memiliki semangat asal yang sekaligus mendorong kita dalam mewujudkan nilai-nilai yang bersifat transenden untuk menghindari segala belenggu hedonisme-materialisme yang tercipta di tengah peradaban modern.

Tampaknya para pemudik cukup menghayati prosesi mudik sebagai sebuah perjalanan spiritual, yakni kembali ke udik untuk menimba semangat religiositasnya di arena sosial yang masih dikepung aneka kesulitan. Karenanya dalam pergerakan ekstra massal dengan jangkauan geografis yang kolosal tersebut, para pemudik selalu tidak memedulikan kalkulasi penalaran ekonomi, seperti uang dan sarana transportasi. Yang terpenting dari mereka adalah masing-masing saling membatinkan keruhanian sekaligus menjadi pilar peradaban, kemudian menjadi pijar-pijar yang memercikkan keputusan-keputusan hidup yang menjadi penuntun hidup selanjutnya pascamudik.

Prosesi mudik juga hakikatnya memiliki dimensi sosial. Sebab, apa pun bobot aktivitas spiritual-keruhanian, ia hanya akan memiliki makna dalam konteks sosial. Di sinilah implementasi dari aktivitas mudik seperti Lebaran mendapat tempat, sosok, dan hakikatnya. Artinya, apa pun dimensi spiritual di dalamnya, ia harus ditransformasikan dalam dimensi sosial dan budaya agar kebahagiaan religius dapat dirasakan, baik secara etik maupun moral.

Bahwasanya dalam prosesi mudik itu, semua orang tanpa pandang status sosial, ekonomi, dan politik, memiliki kesempatan yang sama untuk kembali ke pusat-pusat kehidupan tradisional, ke titik-titik pijak dasar kemanusiaan di suatu tempat yang bernama udik. Dalam kebersamaan tanpa perbedaan status sosial ini, prosesi mudik dapat dijadikan sebagai momentum yang penting, semacam introspeksi diri untuk mencari peran baru dalam membantu memecahkan masalah-masalah kemanusiaan.

Dari situ pulalah dapat tercipta suatu ruang keharmonisan kita dalam masyarakat plural tanpa ada lagi sekat-sekat egoisme-egoposentrisme dan blok-blok psikologis, pranata-pranata, dan tata sosial yang selama ini sangat membedakan antara individu dan kelompok yang satu dengan yang lain. Karena memang dalam birokrasi kantor dan sistem-sistem sosial lainnya, yang sebenarnya manusia sanggup dan seharusnya dapat saling ‘mengikat’ dan saling menghormati satu sama lain dalam pola tatanan yang kolektif, namun sering kali tidak sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan sejati, yakni kebersamaan.

Oleh karena itu, sangat diharapkan, dari cahaya terang-benderang Idul Fitri, yang diperoleh lewat perjuangan dalam ujian pendadaran puasa dan ditambah lagi dengan spirit prosesi mudik, dapat menjadi area pelahiran kembali ‘manusia-manusia baru’ dalam diri para pemudik dan menjadi titik tolak baru bagi kehidupan kemanusiaannya, ‘tubuh dan jiwa, badan dan ruh’.
Dengan demikian, proses mudik Lebaran ber-Idul Fitri itu sendiri niscaya akan menjadikan para pemudik atau para peraya-perayanya untuk mampu melihat bahwa di balik kehidupan riil sosial, masih terbentang luas kepincangan sosial, ekonomi, politik, serta bisa terbuka kerudung nuraninya untuk ikut membenahi moralitas bangsa kita yang masih berkarat.

REPUBLIKA, Jumat, 18 September 2009 pukul 01:15:00

Maaf

MAAF YANG MEMBANGKITKAN

Oleh: Zaim Uchrowi

Lebaran tinggal dua hari lagi. Sebagaimana lazimnya, hari itu akan terwarnai dengan maaf. “Mohon maaf lahir batin,” begitu yang biasa tertera di kartu Lebaran.

Boleh saja kartu Lebaran tergantikan oleh pesan singkat atau SMS. Juga, momentum mengucapkan maaf pun sudah banyak yang bergeser ke menjelang puasa.

Namun, kata ‘maaf’ tetap merupakan bagian dari Lebaran. Bukan Idul Fitri bila tanpa diisi dengan kata ‘maaf’.

Berbagai acara halal bihalal yang biasa digelar beberapa hari setelah Idul Fitri akan menunjukkan itu. Begitu penting maaf hingga agama merasa perlu menggarisbawahinya dengan tebal. Islam mengajarkan umatnya untuk menuntut balas secara sepadan. Namun, lebih dari itu, Alquran menyebut bahwa ‘memaafkan lebih baik’ ketimbang menuntut balas. Sebaliknya, dari diri sendiri, meminta maaf bukan saja merupakan keutamaan, melainkan juga keharusan. Ketika kita berbuat dosa yang terkait dengan menyakiti orang lain, secara teoretis, Allah SWT tak memaafkan dosa itu seberapa pun kita bertaubat sebelum kita meminta maaf kepada orang yang kita zalimi.

Kita ingat bahwa sejarah mengajarkan peristiwa dramatis di masa Rasulullah SAW menyangkut maaf. Peristiwa itu melibatkan Alqamah, seorang sahabat salih, yang sekarat berkepanjangan. Namun, ajal tak kunjung menjemput. Pasalnya, ia telah melukai hati ibunya dan ia belum mendapat maaf atas itu. Sampai Rasulullah meminta ibu itu untuk memaafkan sang anak. Bila tidak, sang anak akan dibakar untuk ‘menebus dosanya’.

Peristiwa itu mengingatkan, bukan saja begitu penting bagi anak untuk terus berbakti pada orang tua, tetapi Juga tentang begitu besar nilai maaf bagi kehidupan ini. Dalam riwayat itu, maaf yang terjadi dan bukan pembakaran.
Memaafkan sepertinya merupakan kebaikan hati kita terhadap orang lain.

Pemaafan itu diawali dengan posisi bahwa orang lain telah berbuat salah dan kita menjadi korbannya. Seolah Kebaikan hati kitalah yang membuatnya tak menggunakan hak untuk membalas kesalahan itu agar mereka–yang telah berbuat salah–ganti yang mejadi korban. Seolah kebaikan hati kitalah, kesalahan itu ‘diterima’ dan tak diungkit-ungkit lagi. Dengan memaafkan, posisi kita tampak lebih tinggi dibanding mereka yang kita maafkan.

Sebenarnya, kepentingan terbesar memaafkan adalah buat diri sendiri. Bukan buat orang lain yang kita anggap salah. Ketika kita menganggap seseorang bersalah terhadap diri kita, orang atau kesalahan itu segera menyita perhatian kita. Bukan tidak mungkin malah mendominasi pikiran kita. Seolah orang atau persoalan itu begitu menentukannya dalam nasib kita sehingga layak untuk mendapat porsi perhatian yang begitu besar.  Padahal, bisa jadi persoalan itu tak penting-penting amat dalam memengaruhi kehidupan kita. Tapi, urusan itu telah menggeser berbagai urusan lain yang sebenarnya lebih berharga untuk kita perhatikan. Kita biarkan diri kita terkuasai oleh kesalahan orang dan bukan oleh agenda prioritas sendiri.

Dengan demikian, memaafkan adalah membebaskan diri sendiri dari beban-beban tidak penting itu. Memaafkan adalah membersihkan diri dari amarah, dari dendam, dan juga mengingat-ingat kesalahan orang lain. Hanya ketika telah terbebas dari beban-beban itu dan hanya ketika telah bersih dari ‘kotoran-kotoran’ itu, setiap pribadi akan menjadi dirinya sendiri secara murni.

Pribadi-pribadi itulah yang kembali ke jati dirinya yang sejati dan yang juga dapat disebut berada pada posisi fitri. Menjadi bersih dan tanpa beban merupakan modal terpenting buat bangkit untuk menjadi pribadi yang sukses dunia akhirat. Jadi, memaafkan akan membangkitkan diri kita sendiri dan bukan orang lain.

Kebangkitan diri akan lebih tinggi lagi bila kita minta maaf. Setiap kita tak mungkin tanpa salah. Keberanian mengakui salah dan minta maaf atas salah merupakan sebuah jihad besar melawan ego sendiri.

Apalagi bila harus minta maaf pada mereka yang berposisi ‘lebih rendah’ dibanding diri kita. Namun, jika itu kita lakukan, berarti kita mau membersihkan kerak-kerak beban yang paling lekat pada tubuh ini hingga beban-beban itu sepenuhnya hilang dan diri sendiri benar-benar bersih.  Idul Fitri ini merupakan momentum tepat untuk menjadikan diri kita sebagai pribadi yang gemar minta maaf dan memaafkan. Dengan begitu, kita menjadi pribadi yang akan kembali bangkit buat merengkuh dunia. Maaf, ya.

Advertisements

1 Response to “Hikmah : Menjadi Fitri, Meninggalkan Korupsi”


  1. September 23, 2009 at 7:25 am

    FYI…..Plaxico Burress The NFL Footbal Player Begins Prison Sentence Today!
    Not that I have anything against the guy but finally these athletes might start to get it….You CAN’T just do anything you want and get away with it. If I get caught with a gun, I would have to do time too.

    Just my 2 cents…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,597,869 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Advertisements

%d bloggers like this: