25
Aug
09

Kenegaraan : Rahasia Negara dan Negara Rahasia

SUARA PEMBARUAN

ZOOM2009-08-25Rahasia Negara dan Negara Rahasia
Budi Kleden

Salah satu persoalan utama yang dihadapi Jerman setelah unifikasi adalah masalah rahasia negara. Selama lebih dari 30 tahun di bawah rezim komunis, banyak warga DDR (Jerman Timur) direkrut untuk menjadi mata-mata. Mereka bertugas mengamati sikap dan mencatat perkembangan pikiran sesama warga yang harus dilaporkan kepada kementerian keamanan negara atau Staatssicherheit (Stasi). Akibatnya, banyak aktivis dibunuh, sejumlah tokoh politik ditangkap dan para warga hidup dalam alam ketidakbebasan.

Setelah unifikasi, Stasi digunakan sebagai pengertian umum untuk para mata-mata itu. Mereka menjadi semacam musuh bersama para warga. Tampaknya, kebencian terhadap para mata-mata ini melebihi kemarahan terhadap fungsionaris partai dan aparat pemerintah. Musuh yang jelas teridentifikasi sejak awal memang dibenci, dan ketika kebencian tidak dapat diungkapkan karena ketidakberdayaan, yang tersisa adalah dendam.

Stasi di Jerman dibentuk sebagai wadah untuk mengamankan negara dari para warga yang dipandang berbahaya. Keamanan negara tidak hanya diancam oleh kekuasaan negara asing tetapi juga oleh warga negara sendiri. Kelompok warga yang paling potensial dilihat sebagai ancaman adalah para ilmuwan, jurnalis, seniman, aktivis sosial dan tokoh politik. Alasannya, adalah bahwa mereka ini dianggap mempunyai jaringan dengan luar negeri, khususnya negara-negara Barat. Ketika negara harus membentengi diri dari pengaruh luar negeri, maka warga seperti ini memang dipandang berbahaya.

Pengalaman Jerman ini menunjukkan bahaya ekstrem yang bisa terjadi dengan rahasia negara. Rahasia negara mengandung dua sisi. Yang pertama dapat disebut sebagai sisi konservatif. Maksudnya, aparat negara diperbolehkan menjaga informasi tertentu dari konsumsi publik. Namun, dimensi konservatif ini serentak membuka kemungkinan untuk melindungi semua jenis kejahatan dari kelompok tertentu karena disebut sebagai rahasia negara. Rahasia negara menjadi semacam kunci rahasia yang mengamankan pelanggaran mereka. Dimensi konservatif dalam pengertian ini tentu saja dikehendaki dan didukung para pelaku kejahatan terhadap negara, seperti para koruptor dan pelanggar HAM berat. Dalam sejarahnya bangsa ini sudah harus mengalami instrumentalisasi hukum seperti ini. Sebab itu, para legislator mesti dikawal agar tidak terjebak dalam konspirasi dengan kelompok ini justru pada akhir masa tugasnya.

Panoptisme negara

Persoalan juga muncul ketika kita berhadapan dengan sisi kedua yakni dimensi progresif dari rahasia negara. Yang dimaksudkan adalah legitimasi bagi aparat negara untuk secara rahasia mencari dan mengumpulkan informasi yang dinilainya penting bagi keamanan negara. Tanpa pembatasan yang sangat jelas dan tegas, tiga masalah dapat muncul dari legitimasi ini.

Pertama, intervensi ke dalam hidup pribadi warga. Negara tidak lagi hanya mengatur ruang publik. Tugas negara tidak lagi hanya terbatas pada res publica, hal-hal umum yang berkaitan langsung dengan kehidupan bersama. Dengan legitimasi untuk memburu informasi, aparat negara diperbolehkan turut mendengar pembicaraan pribadi dan menengok ke dalam kamar pribadi warga. Negara yang mendapat legitimasi seperti ini dapat perlahan berubah menjadi monster berbahaya dan yang ditakuti.

Kedua, rapuhnya jaminan kerahasiaan. Informasi telah menjadi kekuatan politik dan ekonomis yang sangat penting. Memiliki informasi yang banyak membuka peluang kekuasaan dan kekayaan. Setelah informasi dikumpulkan secara rahasia, apakah terjamin bahwa informasi itu pun tetap dirahasiakan? Kemungkinan untuk menyalahgunakan informasi untuk memeras orang, menekan lawan politik dan menghancurkan karier seorang terbuka lebar.

Ketiga, panoptisme yang memenjarakan. Michel Foucault, filsuf postmodern Prancis, berbicara tentang kejamnya panoptisme dalam penjara-penjara modern. Pendirian menara pengawas yang dipasang dengan teropong pemantau memberi kesan kepada para tawanan bahwa mereka diamati setiap saat dan pada setiap jengkal. Mereka dipaksa hidup dalam bayangan bahwa dirinya terus diawasi dari menara, entah teropong pemantau itu berfungsi atau tidak.

Salah satu tekad reformasi adalah good governance yang menjadi juga tujuan pemerintah sekarang. Termasuk dalam ciri sebuah pemerintahan yang baik adalah transparansi. Ironinya, di tengah perjuangan untuk mewujudkan good governance itu kita berhadapan dengan sebuah rancangan undang-undang yang hendak mengarah ke sebuah negara rahasia. Atas nama rahasia negara, perlahan muncul negara rahasia. Negara rahasia adalah negara yang menutup akses informasi penting bagi para warganya. Kepemilikan informasi-informasi penting hanya dibenarkan untuk sejumlah kecil lembaga dan orang. Keputusan-keputusan vital diambil hanya oleh para elite. Negara rahasia sebenarnya adalah nama lain dari negara diktatoris.

Di dalam negara rahasia, hidup para warga tidak lagi menjadi rahasia di hadapan negara. Negara dilegitimasi untuk mengamati dan meregistrasi semua yang dinilainya membahayakan kemapanannya. Namun, bersamaan dengan itu, negara justru menjadi rahasia besar di hadapan warga. Negara membatasi akses bagi para warga untuk mengetahui informasi yang sudah dikumpulkannya. Karena informasi adalah salah satu ekspresi kekuasaan dan kedaulatan, maka para warga di dalam negara seperti bukanlah warga yang berdaulat.

Dosen pada STFK Ledalero, Maumere, Flores


0 Responses to “Kenegaraan : Rahasia Negara dan Negara Rahasia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 4,028,373 hits

Archives

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: