21
May
09

Kearifan Lokal : Cageur, Bageur, Bener, Singer, Pinter

Dari: Asep Indra Kurniawan <asepindrak@gmail. com>
Topik: Kearifan Lokal
Kepada: IA-ITB@yahoogroups. com
Tanggal: Rabu, 20 Mei, 2009, 1:53 AM
Hari minggu lalu sy sempat menghadiri diskusi bulanan di Yayasan Hanjuang Bodas, Bogor yang diketuai oleh Kang Eman Sulaeman, menarik sekali yang disampaikan oleh Kang Eman mengenai pentingnya revitalisasi ethos / watak budaya lokal untuk memperkaya budaya nasional bangsa kita. Sebelumnya Kang Eman menyampaikan tentang ini pada Kongres Kebudayaan di Bogor.

Watak tersebut terdapat pada kata Cageur, Bageur, Bener, Singer, dan Pinter.. Menariknya kata- kata Pinter = Pandai (Cerdas) ternyata berada pada urutan terakhir. Tentunya cara meresapinya dengan memahami artinya.

Cageur, yakni harus sehat jasmani dan rohani, sehat berpikir, sehat berpendapat, sehat lahir dan batin, sehat moral, sehat berbuat dan bertindak, sehat berprasangka atau menjauhkan sifat suudzonisme.

Bageur yaitu baik hati, sayang kepada sesama, banyak memberi pendapat dan kaidah moril terpuji ataupun materi, tidak pelit, tidak emosional, baik hati, penolong dan ikhlas menjalankan serta mengamalkan, bukan hanya dibaca atau diucapkan saja.

Bener yaitu tidak bohong, tidak asal-asalan dalam mengerjakan tugas pekerjaan, amanah, lurus menjalankan agama, benar dalam memimpin, berdagang, tidak memalsu atau mengurangi timbangan, dan tidak merusak alam..

Singer, yaitu penuh mawas diri bukan was-was, mengerti pada setiap tugas, mendahulukan orang lain sebelum pribadi, pandai menghargai pendapat yang lain, penuh kasih sayang, tidak cepat marah jika dikritik tetapi diresapi makna esensinya.

Pinter, yaitu pandai ilmu dunia dan akhirat, mengerti ilmu agama sampai ke dasarnya, luas jangkauan ilmu dunia dan akhirat walau berbeda keyakinan, pandai menyesuaikan diri dengan sesama, pandai mengemukakan dan membereskan masalah pelik dengan bijaksana, dan tidak merasa pintar sendiri sambil menyudutkan orang lain.

Bahkan menurut Kang Eman sendiri arti kata Sunda itu sendiri sangat luhur, yakni cahaya, cemerlang, putih, atau bersih. Makna dari kata Sunda itu tak hanya ditampilkan dalam penampilan, tapi juga didalami dalam hati. Kebersihan hati sangat penting karena tentunya garbage in garbage out, apabila hati bersih pikiran pun jadi jernih perbuatan pun lebih banyak kontribusi positif yang dihasilkan untuk masyarakat luas. Oleh karenanya sangat baiklah kiranya apabila para pemimpin kita melaksanakan ethos yang “Nyunda” tersebut.

Kearifan lainnya adalah dari makna kata Bogor yang artinya adalah pohon Kawung atau Aren dimana pohon tersebut memiliki simbol bahwa hidup itu harus senantiasa bermanfaat untuk masyarakat luas. Pohon Aren setiap jengkal pohonnya memiliki manfaat dari mulai lahangnya yang bisa dipakai untuk membuat gula aren, daunnya yang bisa dipakai atap rumah atau bisa juga dikampung mah dipakai untuk kertas rokok udud daun kawung istilahnya mah, biji nya bisa dimakan dibikin kolang kaling, ijuknya bisa dipakai untuk atap rumah organik, batangnya bisa dipakai untuk tiang rumah, dan lainnya. Barangkali konsep inilah yang kemudian inspirasi yang dipakai untuk Pramuka? Namun pohonnya pohon kelapa ;. Namun sepertinya pendidikan saat ini mah kurang mempromosikan pramuka ya. Slogan ITB seperti disampaikan oleh Pak Hari urutannya adalah Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater barangkali sejalan dengan makna tersebut diharapkan para lulusan ITB dapat berkontribusi secara positif kepada Bangsa (masyarakat luas) baru setelah itu kepada almamater (organisasi) malah tidak ada kata pribadi (jang ka imah) ya ? Sehingga jangan sampai Slogan ITB itu justru terkotori oleh ulah para alumninya misalnya yang terkait dengan urusan lumpur Lapindo, dan lainnya. Sy kira seluruh bangsa menghujatnya. Oleh karenanya sy kira salah satu program IA ITB seharusnya adalah mencari alumni-2 yang telah melaksanakan slogan tersebut secara kaffah. Siapa saja yang telah berkontribusi kepada masyarakat luas untuk membangun bangsa ini. Barangkali bisa dibuat semacam “Ganesha Award” tentunya hal tersebut dapat menjadi motivator kepada yang lainnya untuk dapat berkontribusi juga kepada kemanusiaan. Hal ini akan juga meningkatkan citra ITB sebagai perguruan tinggi yang menjungjung tinggi moral / etika sehingga tentunya makin banyak lagi yang tertarik untuk kuliah di ITB.

Terkait dengan Pohon Kawung/Aren/ Bogor program Gerindra cukup baik dengan berencana mengembangkan potensi pohon ini, barangkali perlu penelitian lebih lanjut untuk mengembangkannya baik itu untuk masalah pangan maupun untuk energi. Salah satu kelemahan pohon kawung adalah budidayanya yang secara alami masih dibudidayakan oleh careuh / musang. Seperti halnya kopi luwak yang justru diproses oleh perut musang. Gula aren, berdasarkan penelitian ternyata rendah kalori sehingga baik untuk mencegah penyakit diabetes maupun untuk program diet. Orang tua kita jaman dahulu senang sekali nyeruput kopi dicampur dengan gula aren, oleh karenanya barangkali jaman dahulu mah jarang sekali yang terkena berbagai macam penyakit. Sekarang mah justru pemanis yang dikonsumsi adalah pemanis buatan yang umumnya terbuat dari aspartame (made in USA) yang apabila dikonsumsi secara terus menerus dapat berbahaya untuk tubuh terutama otak.

Harapan sy kedepan Presiden Indonesia berikutnya harus memiliki program- program yang mengembangkan potensi lokal tersebut seperti Gula Aren Made In “US”Urang Sunda Vs Pemanis Arpartame buatan US Amrik. Sehingga gula aren jangan hanya dikonsumsi oleh orang tadjir-2 yang nongkrong di StarBuck yang mengkonsumsi Grande Caramel Machiato atau hotel-2 dengan sebutan brown sugar-nya tetapi juga digunakan oleh masyarakat luas walaupun hanya untuk teman meneguk CapTeko Machiato :).

Harapan sy untuk Ketua IA ITB tentunya bisa membawa citra Alumni ITB semakin positif di mata masyarakat. Jangan sampai kita malah malu menjadi alumni ITB karena “trade mark” di masyarakat justru negatif, dikenal sebagai perusak lingkungan (LUSI), pelepas Timor Timur dari Indonesia, tukang korupsi, dan lain sebagainya.

Salam Ngopi Sambil Kongres = Ngawangkong Teu Beres-2,
New KAsep Van Buitenzorg

Advertisements

1 Response to “Kearifan Lokal : Cageur, Bageur, Bener, Singer, Pinter”


  1. December 29, 2011 at 4:17 pm

    Manfaat besar jika bisa menerapkannya buat diri kita… Cageur, Bageur, Bener, Singer, tur Pinter seperti yang dipesankan kedua orang tua saya…

    Nice posting, semoga semua orang memiliki kepribadian seperti itu…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,597,869 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Advertisements

%d bloggers like this: