26
Mar
09

Perdamaian Demi Kebahagiaan

KOMPAS, Rabu, 25 Maret 2009 | 04:28 WIB
Oleh RAKA SANTERI

Pada tahun 77 Masehi, Maharaja Kaniska I di India tercenung. Penguasa dari dinasti Kusana ini berpikir: setelah musuh-musuh dapat ditaklukkan dan kekuasaan dapat direbut, apakah arti kemasyhuran dalam hidup bila selalu diwarnai dendam dan diancam oleh pemberontakan? Adakah yang lebih indah dalam hidup ini selain kedamaian, seperti yang telah ditunjukkan oleh musuh-musuhnya dari suku bangsa Saka?

Raja Kaniska pun semakin yakin bahwa tidak ada kebahagiaan tanpa kedamaian. Dan, kedamaian baru bisa tercipta bila tidak ada lagi kekerasan. Maka, Raja Kaniska memutuskan untuk mengakhiri peperangan dan menciptakan perdamaian selama hidupnya melalui diplomasi budaya. Minggu, 21 Maret 78, Raja menetapkan kalender sistem Saka menjadi sistem tahun kerajaan. Tampaknya keputusan itu diambil untuk menghargai suku Saka.

Penetapan tahun Saka ini kemudian tersebar sampai ke Dvipantara (Indonesia) yang oleh masyarakat Hindu di Bali ditetapkan sebagai hari raya Nyepi. Perayaan Nyepi tahun baru Saka 1931 jatuh pada 26 Maret 2009.

Dengan demikian, perayaan tahun baru Saka pada hakikatnya adalah peneguhan tekad untuk menegakkan perdamaian. Tidak akan ada capaian yang dapat dibanggakan tanpa melewati jalan damai, jalan yang dilandasi kebenaran. Lebih-lebih pada saat kita memasuki tahun pemilu seperti sekarang ini. Suasana damai jelas sangat diperlukan oleh bangsa ini, betapa pun dinamisnya manuver-manuver politik dilakukan.

Masyarakat Bali sendiri sudah bertekad menjadikan pemilu tahun ini sebagai sebuah atraksi budaya yang dapat meredakan ketegangan-ketegangan ciptaan para elite politik yang sedang berebut kekuasaan. Di kalangan masyarakat sudah lama beredar guyonan ”jika para elite menenggak minuman keras, mengapa rakyat kecil yang disuruh mabuk?”

Damai, itulah inti Nyepi. Damai yang kita butuhkan sekarang mungkin berbeda dengan damai yang dibangun pada zaman Raja Kaniska I. Pada zaman itu damai lebih banyak berarti tidak ada peperangan. Tetapi sekarang kedamaian yang kita cita-citakan jauh lebih dalam dan luas. Bukan hanya tidak ada kekerasan berupa perang, tetapi juga tidak ada ”kekerasan” lain berupa kemiskinan, penyakit, pemaksaan kehendak, dendam, dominasi budaya kelompok, penghinaan, ketidakadilan, pembabatan hutan dan kerusakan lingkungan, serta kekerasan lahir dan batin lainnya.

Oleh karena itu, masyarakat Hindu merayakan tahun baru Saka dengan berbagai prosesi dan pantangan. Semuanya menyimbolkan sesuatu. Upacara melasti, yaitu prosesi ke laut sebelum Nyepi, menyimbolkan usaha menghilangkan penderitaan dan kekotoran batin manusia. Damai tidak akan pernah tercapai jika penderitaan rakyat masih merajalela dan kekotoran pikiran masih menguasai hidup manusia. Damai juga tidak bisa terwujud bila tidak ada keseimbangan dalam hidup ini.

Segala sesuatu memiliki nilai positif dan negatif, memiliki sisi baik dan buruk. Rwa bhineda (dua hal yang berbeda) akan selalu ada. Keadaan demikian menuntut kita untuk menilai segala sesuatu secara obyektif, berimbang, dan dengan itikad baik. Jangan meracuni rakyat dengan pandangan satu sisi, suatu pandangan yang seolah-olah dianggap ”sah” dalam dunia politik menjelang pemilu seperti sekarang ini.

Umat Hindu menyimbolkan keseimbangan itu dalam wujud caru atau tawur, yang dilakukan sehari menjelang Nyepi. Di samping menyimbolkan keseimbangan, caru juga menyimbolkan bahwa sesungguhnya tidak ada yang sepenuhnya ”jelek” di dunia ini kalau kita pandai mengelolanya. Secara teologis, para pandita Hindu melakukan pengelolaan itu dalam proses nyomia, mengubah kekuatan jelek menjadi kekuatan baik.

Introspeksi diri

Tetapi, perdamaian adalah sebuah proses dinamis. Perdamaian tidak pernah berhenti pada suatu kondisi. Maka, untuk menjaga perdamaian, kita diharapkan senantiasa waspada pada perkembangan, terutama gejolak yang terjadi. Umat Hindu melakukan pengelolaan itu dengan terlebih dahulu menoleh ke dalam dirinya sendiri.

Secara fisik, ada empat hal yang dilakukan, disebut catur brata penyepian. Ke-4 hal itu adalah melaksanakan puasa serta tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan. Dalam keadaan seperti itulah umat Hindu diharapkan melakukan meditasi, berdialog dengan hati nuraninya sendiri serta memohon ampunan dan bimbingan Tuhan.

Kitab suci Bhagawadgita IV.39 menyebutkan, ”Ia yang memiliki keyakinan kuat dan memusatkan pikirannya kepada-Ku, mengendalikan indrianya, akan mendapatkan kebijaksanaan. Setelah itu ia akan mencapai puncak keheningan jiwa”. Umat Hindu meyakini, jika seseorang telah dekat dengan Tuhan, tangan Tuhan akan turut membimbing melalui usaha manusia itu sendiri, mengatasi segala rintangan.

RAKA SANTERI Wartawan; Tinggal di Denpasar


0 Responses to “Perdamaian Demi Kebahagiaan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 4,028,373 hits

Archives

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: