26
Mar
09

Menuju TRIHITA KARANA

Suara Pembaruan, 25 Maret 2009

Menuju “Trihita Karana”

Oleh I Ketut Bantas ,

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia, DKI Jakarta.

Pada 26 Maret 2009, umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1931, hari raya keagamaan yang sarat makna. Nyepi merupakan tradisi yang selalu diapre-siasi sesuai dengan kondisi nyata yang dihadapi saat itu, yang dalam bahasa agama Hindu disebut dengan istilah desa, kala, dan patra, yang artinya tempat, waktu, dan keadaan.

Tahun ini, kehidupan kita masih diselimuti suasana keprihatinan, seperti bencana alam dan krisis global yang mendera seluruh dunia, yang berdampak pada pemutusan hubungan kerja massal. Dalam kondisi prihatin itu, umat Hindu Indonesia merayakan Nyepi, memasuki tahun Saka yang baru, yang tentunya penuh harapan adanya perbaikan di segala segi kehidupan.

Adalah Raja Kaniska I yang menghayati secara mendalam tentang makna kehidupan, terutama nilai-nilai kemanusiaan yang menyangkut toleransi, kerukunan, dan persaudaraan sejati antarsesama warga dari berbagai suku, yang pada waktu itu menghuni kawasan Asia Selatan. Dinobatkan menjadi raja pada Minggu, 21 Maret 79, beliau menyadari bahwa selama permusuhan dibalas dengan permusuhan, kekerasan tidak akan pernah berhenti.

Itulah sebabnya perjuangan bangsanya dialihkan ke arah perjuangan kesejahteraan dengan mengedepankan nilai-nilai budaya yang luhur.

Kearifan yang bersumber pada ajaran kitab suci Veda itu diartikulasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Tanggal penobatannya ditetapkan menjadi tahun Saka, yang kemudian berkembang sampai ke Indonesia.

Dalam pustaka Bhagawadgita Bab IV sloka 10, dinyatakan bahwa pada jaman dahulu Tuhan mencipta manusia bersama bakti persembahan-Nya, dan bersabda, “Dengan ini engkau akan berkembang biak dan terimalah dunia ini sebagai kamadhuk.” Kamadhuk artinya yang dapat memenuhi segala keinginan.

Dunia sebagai kamadhuk, yang digambarkan sebagai sapi perahan. Maknanya adalah susunya boleh diperah, tetapi sapinya harus selalu dirawat. Demikian pula dengan dunia atau alam ini boleh dieksploitasi, tetapi juga harus selalu dirawat dan dilestarikan.

Tercipta Hubungan

Sejak penciptaan itu, terjalinlah hubungan manusia dan Tuhan sebagai penguasa alam semesta. Sejak dititahkan untuk berkembang, manusia pun berkembang merambah seluruh pelosok dunia. Sejak itu timbul hubungan manusia dengan manusia. Demikian pula sejak dunia ini sebagai kamadhuk dihadiahkan kepada manusia, terjadilah hubungan manusia dengan alam. Hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam, melahirkan kearifan lokal yang disebut Trihita Karana.

Hubungan manusia dengan Tuhan dijalin dengan upaya selalu mendekatkan diri kepada-Nya, dengan cara melaksanakan persembahyangan atau pemujaan sebagaimana diamanatkan dalam Bhagawadgita III sloka II. Oleh karena itu pujalah Tuhan, semoga Tuhan memberkati engkau. Dengan pujaanmu, engkau mencapai kebijaksanaan tertinggi.

Hubungan manusia dengan sesamanya hendaknya dengan menyadari diri sebagai sahabat dari sesama manusia, baik dalam hubungan sesama agama, antarsuku, ras, dan antaragama. Tidak perlu memandang perbedaan asal usul maupun budaya, kita semua adalah teman dari semua ciptaan Tuhan, karena berasal dari pencipta yang sama serta diisi dan digerakkan oleh sumber hidup yang sama pula. Pandang memandanglah sebagai sahabat, demikian ditegaskan dalam Yajur Veda XXXVI.18.

Melestarikan Alam

Alam semesta, khususnya dunia ini, adalah tempat di mana kita hidup. Ia memberi apa yang kita butuhkan. Oleh karena itu, alam lingkungan hendaknya jangan hanya dimanfaatkan, tetapi juga ada upaya pelestarian. Bhagawadgita III.14 mengamanatkan demikian, “Karena makanan makhluk (menjadi) hidup, karena hujan tumbuhan (menjadi) hidup, karena persembahan hujan turun, dan persembahan lahir dari kerja.”

Dalam merayakan Nyepi selalu diawali upacara melis atau melasti, yaitu pemujaan di laut atau sumber air. Makna penting dari upacara ini adalah pelestarian sumber air. Laut adalah sumber air terbesar. Uapnya menghasilkan mendung. Karena ditahan oleh hutan atau gunung mendung menghasilkan hujan. Air hujan diserap dan mengalir lagi menuju laut.

Dalam perjalanan menuju laut inilah, air memberikan kesejahteraan dan kemakmuran terhadap manusia. Tetapi kalau manusia tidak memberlakukan air dengan baik, ia bisa berubah menjadi pembawa bencana.

Selanjutnya, dilakukan upacara Tawur atau upacara Caru, berupa bakti persembahan terhadap alam semesta. Dalam ajaran Hindu, alam semesta ini terjadi dari perpaduan lima unsur yang disebut Panca Maha Bhuta, terdiri dari unsur tanah (pertiwi), unsur air (apah) unsur api (teja), unsur angin (bayu), dan unsur eter yaitu unsur alam yang paling halus perekat dari semuanya. Dalam upacara Caru ini, dimohonkan ke hadapan Tuhan agar perpaduan kelima unsur itu selalu harmonis. Jika tidak harmonis dapat mendatangkan bencana.

Upacara yang paling khas dalam perayaan tahun baru Saka ini adalah Nyepi atau sipeng, dengan melaksanakan catur brata Nyepi, yaitu amati ghni atau mematikan api kosmik untuk menghidupkan api spiritual yang ada di dalam diri, amati karya atau enghentikan kegiatan kerja untuk mencari makna dan hakikat kerja yang sesungguhnya. Selanjutnya amati lelungaan, artinya tidak bepergian mengikuti keinginan nafsu, serta amati lelanguan, atau tidak bersuka ria agar menemukan kesadaran.

Hakikat dari catur brata ini adalah pengendalian diri, untuk mendapatkan kesadaran hidup yang sesungguhnya, kesadaran yang sulit dirasakan dalam kesibukan sehari-hari. Kesadaran ini akan menuntun peningkatan sraddha (takwa) kepada Tuhan. Sraddha jangan diartikan sebatas pemujaan atau upacara ritual di altar pemujaan, tetapi hendaknya dikembangkan pada upaya-upaya lain yang mencakup upaya kesejahteraan umat manusia.

Setelah melaksanakan catur brata, esok harinya dilanjutkan dengan ngembak ghni, yakni kembali pada kehidupan seperti biasa. Ngembak ghni artinya menghidupkan api, diawali dengan Dharma Santi, yaitu berbagi suasana kedamaian dengan mengucapkan doa keselamatan dan permohonan maaf kepada handai taulan. Roda kehidupan baru di awal tahun Saka telah digulirkan kembali.

Perayaan tahun baru Saka kali ini mengusung tema “Melalui Brata Nyepi Tahun Saka 1931, Kita Tingkatkan Sraddha dan Bakti Serta Kebersamaan Dalam Melaksanakan Dharma Agama dan Dharma Negara.” Sebagai umat Hindu, ia wajib mengamalkan ajaran agama sesuai tuntunan Veda. Sebagai warga negara, wajib tunduk dan patuh kepada segenap peraturan yang berlaku. Itulah mengapa, umat Hindu hendaknya juga berpartisipasi dalam pemilu nanti.

Selamat Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1931. Semoga semua memperoleh kebahagiaan. Semoga semua memperoleh kedamaian. Semoga semua melihat kebajikan. Semoga semua penderitaan meninggalkan kita. Semoga kedamaian selalu bersama kita. *


1 Response to “Menuju TRIHITA KARANA”


  1. January 26, 2011 at 3:16 pm

    Kalau para pejabat mengamalkan ajaran tri hita karana maka pasti hidup masyarakat damai, dan tidak ada banjir bandang


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 4,028,404 hits

Archives

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: