13
Nov
08

29 April 1945 Pintu Kemerdekaan Republik Indonesia

 

Menjelang tanggal 29 April 2006 adalah cukup bijaksana bila kita napak tilas tanggal 29 April 1945 yaitu saat terbentuknya Badan Oentoek Menjelidiki Oesaha-oesaha Persiapan Kemerdekaan yang boleh dianggap sebagai terbukanya Pintu Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Peristiwa hukum itu sesungguhnya muncul didahului oleh Pengoemoeman Saikoo Sikikan tanggal 1 Maret 1945, dan kemudian tercatat eskalasi patriotik seperti persidangan tanggal 28 Mei s/d 1 Juni 1945 (waktu yang disepakati sebagai hari lahirnya Pancasila), masa reses tanggal 2 Juni s/d 9 Juli 1945, persidangan tanggal 10 Juli s./d 17 Juli 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) terbentuk 7 Agustus 1945, Rapat GABI 15 dan 16 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, persidangan PPKI tanggal 18, 19, 20 dan 22 Agustus 1945, selengkapnya dapat dibaca dari Prosiding ICDI45, 19 Desember 2005.

 

Kurun waktu tahun 1945 tersebut diatas adalah dibawah bayang2 kurun waktu kekalahan Jepang sebagai penguasa Asia Timur Raya sejak 1942 dan kemenangan Sekutu di Pasifik dipimpin Douglas McArthur yang kini ternyata justru masih menyisakan Doktrin MacArthur tentang pembagian 3 (tiga) wilayah penguasaan di Indonesia yakni Malesian Region (Sumatera dan Kalimantan), Melanesian Region (Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Papua) dan Service Center (Jawa, Madura, Bali) [Tabloid Cita-cita, Oktober 2005] bahkan lalu dikembangkan oleh Rand Corporation menjadi 8 (delapan) wilayah penguasaan yakni Timor Timur, Aceh, Maluku, Papua, Kalimantan Timur, Riau, Bali dan sisanya Indonesia [Tabloid Intelijen No. 4 Th III/2006/21April-4Mei]. Adapun tantangan, ancaman, gangguan dan hambatan kala itu yang harus dihadapi oleh para pejuang angkatan 1945 adalah upaya rekolonialisasi pemerintah Belanda atas Indonesia dengan membonceng tentara Sekutu.

 

Dalam konteks kekinian, adalah menjadi pertanyaan mendasar, dalam kurun waktu yang sama di tahun 2006 ini, apakah kita juga mewarisi eskalasi patriotik itu ? Jawabannya bisa pro & kon, namun kalau dicermati beberapa peristiwa hukum yang terjadi misalnya sejak Juni 2005 sampai dengan Maret 2006 yaitu kurun waktu dimana perburuan Blok Cepu oleh pihak asing diakomodasi, kemudian dilanjutkan oleh penolakan Revisi UU Ketenagakerjaan oleh stakeholder utama yaitu barisan pekerja, barangkali tampaknya kini saatnya dirasakan perlu secara dinamis dan pro-aktif kita segarkan kembali Kehidupan Keagamaan agar Tidak Rawan, Kehidupan Ideologis agar Tidak Retak, Kehidupan Sosial Politik agar Tidak Resah, Kehidupan Sosial Budaya agar Tidak Pudar, Kehidupan Sosial Ekonomi agar Tidak Ganas (yang kuat makan yang lemah), Kehidupan HanKamNas agar Tidak Lengah dan Kehidupan Ekologis agar Tidak Gersang [JSNK45 Sebagai Roh Negarawan, LetJen TNI (Purn) H. R. Soeprapto, Ketua Umum DHN45, 19 Desember 2005].

 

Ber-turut2 kita alami misalnya berbagai musibah kemanusiaan sejak 2004 bahkan rangkaian bencana alam, menyusul Gunung Merapi di Jawa Tengah 2006, apa ini ada hubungan alamiah dengan ExxonMobil sebagai Lead Operator Blok Cepu di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, atau lebih jauh lagi, apa karena banyak anak bangsa dan warga negara yang lupa dan/atau bahkan abaikan amanat “Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya [Pembukaan UUD 1945]” ? Memang dalam kehidupan manusia, bagaimanapun juga, tidak akan bisa terlepas dari ragam faktor2 pengaruh irasional alamiah disamping faktor2 rasional duniawiah. Kombinasi keduanya mengisyaratkan manusia untuk senantiasa tunduk kepada kekuasaan Ilahi. Namun satu hal, platform berbangsa dan bernegara seharusnya tidak boleh bergeser sedikitpun daripada ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia ini diproklamasikan, agar dengan demikian Rakhmat dan Ridhloi Allah Yang Maha Kuasa senantiasa dapat kita harapkan, apalagi ketika diberi amanah oleh rakyat untuk berlakon sebagai pemimpinnya. Amanat lain Pembukaan UUD 1945 yaitu “merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur” seyogjanya dimaknai sebagai satu kesatuan maksud dan tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi Indonesia, ketimbang misalnya “aman, adil dan sejahtera” yang seolah secara sengaja mengabaikan kemerdekaan, kebersatuan dan kedaulatan. Ini bukan lalu tiba pada situasi dan kondisi sakral atau tidak, tetapi lebih kepada sikap berbangsa dan bernegara yang sehat. Karena bagaimanapun, keadilan dan kesejahteraan itu tidaklah mungkin dibangun tanpa adanya kemerdekaan, kebersatuan dan kedaulatan. Refleksi hal ini dapat ditunjukkan oleh situasi dan kondisi kekinian yaitu makro ekonomi secara kasat mata katanya OK tapi kok mikro ekonomi di lapangan dirasakan terpuruk ? Keseimbangan tidak terjadi dan lalu “politik terpaksa” lewat utang luar negeri diakomodasi kembali saat besaran utang luar negeri 60% PDB. Ini mengingatkan kita kepada model “politik paksa” oleh VOC di abad ke 17 – 18 tempo doeloe. Pertanyaannya adalah apakah memang ketidakseimbangan itu bisa terjadi sebagai buah rekayasa/kesengajaan atau buah kelalaian atau kombinasi keduanya ? Ya, memang boleh saja berdalih harga minyak dunia meroket diatas USD 70 per barrel bahkan bisa sampai USD 100 per barrel. Namun, apakah hal ini juga bukan karena bagian dari kelalaian misalnya perundang-undangan kita telah dengan sadar menghilangkan Garis-garis Besar Haluan Negara hanya karena lembaga tertinggi negara sudah tidak eksis, sehingga strategi politik pembangunan lalu jadi sekedar disandarkan pada janji2 kampanye para kandidat eksekutif setiap 5 tahun kepemiluan semata ? Jangan2 penurunan produksi MiGas adalah cerminan dari situasi ini, yang tadinya berperan sebagai unggulan solusi strategis sekarang berbalik arah malahan jadi unggulan masalah strategik, sehingga membebani APBN dan mengalahkan kebutuhan2 pembiayaan bagi kepentingan rakyat seperti kesehatan dan pendidikan serta pemberdayaan ekonomi kerakyatan, termasuk menggusur diam2 Pasal-33 UUD 1945 tentang Perekonomian Nasional menjadi Perekonomian Global ? Atau daulat rakyat menjadi daulat pasar ? Sehingga dalam konteks Indonesia, seharusnya yang dikembangkan adalah sikap kepemimpinan Nasionalis Religius Negarawan Pejuang Kerakyatan.

 

Ditengah ragam kekinian tentang tantangan ancaman gangguan dan hambatan tersebut diatas, upaya penguatan karakter anak bangsa ibaratnya satu kebutuhan “back to basic” antara lain melalui penguatan kembali tekad budaya kejuangan bangsa, Mari Bersama Kita Bisa Kawal 9 (sembilan) Pusaka Negara Kesatuan Republik Indonesia yakni (1) Bendera Sang Saka Merah Putih, (2) Sesanti Bhinneka Tunggal Ika, (3) Soempah Pemoeda 1928, (4) Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 1928, (5) Pancasila, (6) Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, (7) Undang Undang Dasar 1945, (8) Wawasan Nusantara, (9) Jiwa, Semangat dan Nilai-nilai Kejuangan (JSNK) 45;

 

Sosialisasi gerakan budaya kejuangan anak bangsa menjadi relevan bahkan jadi kebutuhan guna mengantisipasi situasi dan kondisi kekinian melalui pembinaaan Roh Kenegarawanan yang siap bela tanah air berbasis Jiwa, Semangat, Nilai-nilai Kejuangan (JSNK) 45 sebagai warisan sosial budaya politik kebangsaan Indonesia yang berkembang secara bertahap : Periode-1 Masa sebelum Pergerakan Nasional (abad-3 M s/d abad-15 M), Periode-2 Masa Pergerakan Nasional (abad-16 M s/d tahun 1945), Periode-3 Masa Proklamasi dan Perang Kemerdekaan (tahun 1945 s/d tahun 1949), Periode-4 Masa Perjuangan Mengisi Kemerdekaan (tahun 1950 s/d kini), dengan rumusan sebagai berikut :

Jiwa 45 : Sumber kehidupan bagi perjuangan bangsa Indonesia yang merupakan kekuatan batin dalam merebut kemerdekaan, menegakkan kedaulatan rakyat serta mengisi dan mempertahankannya, Semangat 45 : Dorongan dan manifestasi dinamis dari Jiwa 45 yang membangkitkan kemauan untuk berjuang merebut kemerdekaan bangsa, menegakkan kedaulatan rakyat serta mengisi dan mempertahan-kannya, Nilai-nilai 45 : Nilai-nilai yang merupakan perwujudan Jiwa dan Semangat 45 Bersifat konseptual yang menjadi keyakinan, keinginan dan tujuan bersama bangsa Indonesia dengan segala keefektifan yang mempengaruhi tindak perbuatan Bangsa dalam merebut kemerdekaan , menegakkan kedaulatan rakyat serta mengisi dan mempertahankannya; dengan pemahaman sebagai berikut :

Nilai-nilai dasar : Semua nilai yang terdapat dalam setiap Sila dari Pancasila, Semua nilai yang terdapat dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Semua nilai yang terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945 terlebih Pembukaan UUUD 1945, Nilai-nilai operasional : Nilai-nilai yang lahir dan berkembang dalam perjuangan bangsa Indonesia selama ini dan merupakan dasar yang kokoh dan daya dorong mental spiritual yang kuat dalam setiap tahap perjuangan Bangsa seterusnya untuk mencapai Tujuan Nasional Akhir seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 serta untuk mempertahankan dan mengamankan semua hasil yang tercapai dalam perjuangan tersebut adalah sebagai berikut :

 

(1) Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) Jiwa dan Semangat Merdeka, (3) Nasionalisme, (4)

Patriotisme, (5) Rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka, (6) Pantang mundur dan tidak kenal Menyerah, (7) Persatuan dan Kesatuan, (8) Anti Penjajah dan Penjajahan, (9) Percaya kepada diri sendiri dan atau percaya kepada kekuatan dan kemampuan sendiri, (10) Percaya kepada hari depan yang gemilang dari bangsanya, (11) Idealisme kejuangan yang tinggi, (12) Berani, rela dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan Negara, (13) Kepahlawanan, (14) Sepi ing pamrih rame ing gawe, (15) Kesetiakawanan, senasib sepenanggungan dan kebersamaan, (16) Disiplin yang tinggi, (17) Ulet dan tabah menghadapi segala macam ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan

 

Akhirulkata, mari Bersama Kita Bisa Bina Budaya Kejuangan Anak Bangsa Indonesia melalui revitalisasi Roh Kenegarawanan berdasarkan Jiwa, Semangat dan Nilai2 Kejuangan 45 yang telah terbukti khasiatnya dan oleh karenanya kedepan dapat diberlakukan sebagai adiluhung, ditengah ragam ketidakpastian berbangsa dan bernegara akibat ragam tekanan politik “globalisasi” oleh adidaya, menuju masyarakat Indonesia yang Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur.

 

Jakarta, 21 April 2006

 

Ikatan Cendekiawan Demokrat Indonesia 45,

 

DR Ir Pandji R. Hadinoto, MH

SekJen / eMail : icdi45@yahoo.com

 

Advertisements

0 Responses to “29 April 1945 Pintu Kemerdekaan Republik Indonesia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,213,849 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: