Posts Tagged ‘Tourism



06
Feb
11

Flora Fauna : Vote Komodo, Wonderful Indonesia

rss feed

 

  • 60 Paus Terdampar di Selandia BaruJumat, 04 Februari 2011 18:58 WIB

    Sebanyak 60 ikan paus terdampar di pantai Golden Bay, tepi Pulau Selandia Baru Selatan, demikian menurut pejabat konservasi pada Jumat..

  • Hah! Komodo Terancam Ditangguhkan Sebagai Finalis New 7 WondersSelasa, 01 Februari 2011 22:29 WIB

    ‘The New7Wonders Foundation’, lembaga internasional yang tengah menyelenggarakan pemilihan tujuh keajaiban dunia, secara mengejutkan mengumumkan pada Senin (31/1, akan menangguhkan ‘Taman Nasional Komodo’ sebagai salah satu finalis Tujuh Keajaiban Dunia pada 7 Februari mendatang..

  • Presiden Pilih Komodo Sebagai Tujuh Keajaiban DuniaSelasa, 01 Februari 2011 20:47 WIB

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan memilih Komodo (Varanus Komodoensis), sebagai salah satu finalis tujuh keajaiban dunia melalui jaringan internet new7wonders pada peringatan Hari Pers Nasional ke-65 di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada 9 Februari 2011..

  • Komodo Peringkat Sepuluh, Perlu DukunganSelasa, 01 Februari 2011 16:53 WIB

    Binatang raksasa Komodo (varanus comodoensis), penghuni Taman Nasional Komodo (TNK), pada akhir Januari 2011 hanya menempati peringkat sepuluh dalam memperebutkan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia..

  • Gajah Sumatra di Bengkulu Makin TerisolasiSelasa, 01 Februari 2011 11:55 WIB

    Puluhan Gajah Sumatra (Elephas maximus) yang hidup di Hutan Produksi Terbatas fungsi khusus Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat Kabupaten Bengkulu Utara, makin terisolasi akibat perambahan liar..

  • Warga Cemas Harimau Masuki PerkampunganSelasa, 01 Februari 2011 03:13 WIB

    Warga Kampung Lua Timbalun, Kelurahan Bungus Timur, Kecamatan Bungus Taluak Kabung, Kota Padang, Sumatera Barat mulai merasa cemas karena harimau Sumatera memasuki perkampungan penduduk..

  • Harimau Terkam Dua Ternak Milik WargaSenin, 31 Januari 2011 20:08 WIB

    Seekor harimau Sumatera menerkam dua ekor ternak milik warga Kampung Lua Timbalun Kelurahan Bungus Timur, Kecamatan Bungus Taluak Kabung, Kota Padang, Sumatera Barat..

  • Dirjen: Penataan Taman Nasional Gunung Merapi Diprioritaskan Sabtu, 29 Januari 2011 22:42 WIB

    Penataan Taman Nasional Gunung Merapi menjadi prioritas pada 2011, kata Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan Darori..

  • Bunga Raflesia Mekar Sabtu, 29 Januari 2011 15:32 WIB

    Satu bunga raflesia (Raflesia arnoldi), tengah mekar di kawasan Hutan Lindung Rindu Hati Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu..

  • Iwan Fals Meriahkan Tanam Sejuta PohonSabtu, 29 Januari 2011 10:49 WIB

    Penyanyi legendaris yang terkenal mencipta lagu-lagu bertema lingkungan dan kritik sosial, Iwan Fals, pagi ini turut penanaman satu juta pohon yang serentak dilakukan di seluruh Kalimantan Timur yang seremoninya dilakukan Gubernur Awang Faroek Ishak di Komplek Stadion Utama Palaran..

04
Feb
11

Pariwisata : Vote Komodo dan Wonderful Indonesia vs New7Wonder

Kamis, 03/02/2011 21:19 WIB
Kronologi Polemik Pulau Komodo Versi New7Wonder
Hery Winarno – detikNews


Ilustrasi komodo (Ari S/ detikcom)

Jakarta – Pulau Komodo kembali menjadi perhatian saat Yayasan New7Wonders mengancam akan mengeliminasi salah satu lokasi eksotik di Indonesia itu. Lalu bagaimana penjelasan dari panitia New7Wonders, terkait dieliminasinya pulau Komodo dari New7Wonders.

Berikut alasan New7Wonders mengenai akan dieliminasinya pulau Komodo, dari rilis yang diterima detikcom, Kamis (3/22/2011). Rilis tersebut disampaikan langsung Kepala Komunikasi New7Wonders, Eamonn Fitzgerald. Berikut kronologis tersebut versi New7Wonders.

Uraian Kronologis

Tahun 2009: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar) RI membuat dan menyampaikan berbagai peryataan publik bahwa RI ingin menjadi Tuan Rumah Penganugerahan dan penyelenggaraan Deklarasi Pemenang 7 Keajaiban Alam Dunia yang baru.

Pebruari 2010: Kembudpar mengundang Direktur Yayasan N7W untuk meminta saran dan panduan bagaimana menyelenggarakan kampanye Vote Komodo agar sukses menjadi salah satu 7Keajaiban Alam Dunia.

Jasa konsultasi ini diberikan oleh N7W tanpa imbalan apapun kecuali biaya tuan rumah menjamu. Saat konsultasi berlangsung Kemenbudpar juga menyampaikan pernyataan publik bahwa Indonesia tertarik juga untuk menjadi tuan rumah dan penyelenggara event dimaksud.

Direktur N7W diundang untuk menyajikan persyaratan utama (termasuk parameter investasi umum) dari peluang Deklarasi Pemenang 7 Keajaiban di kantor Kembudpar.

Pebruari/Maret 2010: N7W mengirim berbagai dokumen dan persyaratan untuk menjadi Tuan Rumah dan Penyelenggara event dimaksud.

Pada saat ini kami mendapat informasi bahwa usulan redaksi KEPPRES Panitia Nasional Vote Komodo dan Event Penganugerahan dimaksud yang diajukan Kemenbudpar bulan Januari perlu disempurnakan. Hingga awal Oktober saat N7W diminta hadir di kantor Menko Perekonomian RI dalam rangka rapat seluruh stakeholder tentang Vote Komodo dan Penyelenggaraan Event dimaksud ternyata disampaikan oleh pejabat dari Sekretaris Kabinet yang juga hadir bahwa surat dimaksud belum ditindak lanjuti oleh Kemenbudpar.

April dan Mei 2010: Tidak ada kemajuan yang berarti

Juni 2010: Kemenbudpar kembali mengundang Direktur N7W untuk melakukan peninjauan tempat-tempat penyelenggaraan di Jakarta.

Tempat yang dikunjungi adalah Monas, Taman Mini, Ancol, dan Kebun Binatang Ragunan.

Pada kesempatan terpisah Direktur N7W juga bertemu dengan pihak swasta yang juga hadir saat rapat konsultasi bulan Pebruari 2010. Pihak swasta ini adalah Konsorsium I atau Private Consortium 1 (PC1). Hadirnya pengusaha swasta memang dihimbau pemerintah sendiri agar tercipta kemitraan yang sering dikenal sebagai PPP atau Partnership Public & Private Sectors. Pertemuan dengan pihak swasta ini dimaksudkan agar peran swasta dapat digalakkan untuk mendukung baik Vote Komodo maupun penyelenggaraan event dimaksud.

Juli 2010: Direktur N7W kembali ke Jakarta untuk mematangkan perencanaan dan peluang kerjasama dengan PC 1.

N7W menegaskan bahwa PC1 harus bekerja sama dengan Pemerintah dan tokoh masyarakat yang berpengaruh untuk mensukseskan kegiatan dimaksud.

Pada bulan yang sama Presiden N7W juga mengunjungi stand atau paviliun Indonesia di Shanghai World Expo dimana dengan sangat kentara dan menarik, terpampang promosi Vote Komodo. Pada saat ini pula Kemenbudpar menegaskan sekali lagi akan keinginan Indonesia menjadi tuan rumah event dimaksud diatas.

Agustus 2010: Kegiatan agak meredup karena Ramadhan.

Namun PC 1 datang kekantor Kemenbudpar dan menyampaikan usulan investasi dan benefit serta strategi untuk memenangkan Komodo dan penyelenggaraan event Deklarasi. PC 1 bertemu dengan Direktur Jendral dan 2 orang Direktur terkait serta beberapa pejabat eselon 3 lainnya.

Pada saat ini PC 1 mengajak sebuah Yayasan yang dalam hal ini disebut sebagai Konsorsium Swasta II atau Private Consortium 2 (PC2) yang bergerak dibidang pendidikan yang juga memiliki potensi untuk mensukses kegiatan dimaksud.

September 2010: Kemenbudpar menyampaikan surat formal yang menegaskan keinginan Indonesia untuk menjadi tuan rumah event dimaksud sekaligus melakukan kerjasama dengan pihak konsorsium PC 1 dan PC 2.

Surat Konfirmasi ini menjadi landasan tegas bagi N7W untuk yakin bahwa Indonesia memang berniat dan bertekad untuk menjadi tuan rumah.

Sejak itu maka komunikasi antar semua pihak terutama dengan PC 1 dan N7W menjadi semakin sering dan akhirnya landasan dan rancangan kerjasamanya terbentuk termasuk aspek komersial dan logistiknya serta bagaimana mengikut-sertakan peran pengusaha swasta dan BUMN.

Pada saat yang sama, secara internal N7W Direktur mengajukan usulan kepada dewan pimpinan N7W agar Jakarta Indonesia mendapat prioritas sebagai tuan rumah penyelenggaraan penganugerahan 7 Keajaiban Alam Dunia yang baru.

Oktober 2010: Pada tanggal 1 Oktober Direktur N7W hadir pada pertemuan yang diprakarsai oleh Kantor Menko Perekonomian RI untuk membahas masalah Vote Komodo dan strategi Tuan Rumah untuk menjadi Penyelenggara event Deklarasi dimaksud. Lepas pertemuan ini diadakan jumpa pers dan beberapa pesan penting yang disampaikan oleh Pejabat Kemenbudpar adalah angka investasi yang harus dikeluarkan Indonesia sebagai tuan rumah. Hal lain yang penting dibahas pada pertemuan ini adalah rancangan Keppres Panitia Nasional Vote Komodo dan Ketuan-Rumahan Indonesia karena sejak rancangan surat Keppres dikembalikan oleh kantor Menteri Sekretaris Kabinet bulan Maret sebelumnya hingga pertemuan 1 Oktober 2010 itu belum ada tindak-lanjut dari Kemenbudpar.

Pada minggu ketiga Presiden N7W datang ke Jakarta bersama Direkturnya untuk meninjau beberapa lokasi yang ditawarkan untuk venue penyelenggaraan event dimaksud serta mendapatkan pengalaman langsung tentang Jakarta dan masyarakatnya termasuk fasilitas-fasilitas lainnya seperti hotel, dan berbagai logistik yang dibutuhkan termasuk urusan broadcasting dan produksi.

Pada kunjungan ini PC 1 melaporkan kepada Kemenbudpar agar memimpin dan menyambut kunjungan Presiden N7W ini namun karena satu dan lain hal Kemenbudpar tidak aktif menjamu dan memanfaatkan kehadiran Presiden N7W ini kecuali undangan singkat kekantor Kemenbudpar di hari terakhir kunjungan Presiden N7W. PC 1 yang menutup semua biaya jamuan selama delegasi Presiden N7W yang berjumlah 3 orang (bersama direktur produksinya dan direktur pengembangan usahanya). Menurut salah seorang eksekutif PC 1 hal ini tidak menjadi masalah karena dalam konteks ini semua rakyat Indonesia adalah Duta bangsanya karena ini menyangkut aset bangsa yang tiada ternilai serta untuk menghormati tamu penting yang merupakan budaya bangsa yang menempatkan dan menjamu tamunya.

Presiden N7W sangat terkesan dengan Jakarta dan Indonesia. Maka mulai saat inilah maka N7W yakin bahwa Jakarta Indonesia tepat sebagai tuan rumah event dimaksud.

Untuk itu maka tindak lanjut yang konkrit adalah kesepakatan antara PC1 dan N7W dicapai yang bertujuan untuk mengatur diumumkannya Jakarta Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan Penganugerahan dan Deklarasi Pemenang 7Keajaiban Alam Dunia Yang Baru yaitu tepat 1 (satu) tahun sebelum diselenggarakannya event dimaksud yaitu pada tanggal 11.11.10.

Nopember 2010: Kemenbudpar sama sekali tidak memberi tanggapan terhadap surat laporan kepada Kemenbudpar tentang persiapan pengumuman deklarasi tanggal 11.11.10 dimaksud. Tidak adanya tanggapan ini diartikan oleh PC1 sebagai penolakan kerjasama yang disampaikan Kemenbudpar sendiri pada suratnya kepada N7W bulan September 2010.

Yang sangat ironis adalah pada tanggal 23 Nopember 2010 saat Direktur N7W ada di Jakarta, Kemenbudpar menyelenggarakan pertemuan terbatas dengan beberapa pengusaha dalam rangka menggalanga Vote Komodo dan dukungan Penyelenggaraan Event Deklarasi TIDAK MENGUNDANG Direktur dimaksud.

Namun Direktur N7W tidak mempermasalahkannya dan mengusulkan agar diadakan pertemuan tanggal 22 Nopember 2010. Pejabatnya ini kemudian menyarankan agar pertemuan diadakan pada tanggal 6 Desember 2010.

Semua preseden ini sama sekali tidak merefleksikan keinginan Indonesia atau barangkali dalam hal ini hanya Pejabat Kemenbudpar dimaksud untuk menindak-lanjuti komitmen dan seruannya pada berbagai kesempatan baik melalui media mauun melalui korespondensi surat resmi kepada N7W.

PC 1 meminta kepada N7W untuk menunda pengumuman dimaksud karena kurang tepat jika tidak dipandu oleh pemerintah sebagai mandataris rakyat Indonesia.

Desember 2010: PC 1 akhirnya dengan tegas menyampaikan bahwa mereka tidak sanggup meneruskan prakarsa ini jika pemerintah tidak mendukungnya, karena tidak tepat jika hanya pihak swasta yang tampil dipanggung Vote Komodo dan Event Akbar dimaksud. Apalagi ini berurusan dengan aset bangsa dan seluruh rakyat Indonesia. Semua perencanaan yang mendasari keikut-sertaan PC 1 adalah dalam rangka menyiapkan panggungnya kepada rakyat dan pemerintah disatu sisi dan merajut kemitraan bisnisnya dengan berbagai pihak yang ternyata banyak yang tertarik. Ketidak-mampuan PC1 meneruskan prakarsa ini juga karena mitra-mitra usaha PC1 ingin mendapatkan kepastian dari pemerintah juga karena ini menyangkut legitimasi investasi mereka serta gaung dari event dan kegiatan ini sangat penting memasyarakat secara nasional. Dengan pernyataan ketidak sanggupan PC1 maka kontrak dengan N7W pada hari Senin 6 Desember 2010 dibatalkan.

Dengan dibatalkannya kontrak dengan PC 1 oleh N7W. PC 2 menawarkan diri dan menyanggupi untuk meneruskan kontrak PC 1 yang dibatalkan. Maka pada hari Kamis, 9 Desember 2010, N7W menunjuk PC 2 untuk melanjutkan kontrak PC1 yang telah dibatalkan dengan syarat dan kondisi yang sama seperti dengan PC 1.

PC 2 menjanjikan dua elemen penting untuk meneruskan kontrak dengan PC 1 yaitu a. Dukungan Resmi Pemerintah terhadap penyelenggaraan Penganugerahan dan Deklarasi 7Keajaiban Dunia Yang Baru di Jakarta; dan b. Dukungan finansial yaitu berupa talangan pembayaran sebagian dari License Fee yang sebenarnya sudah jatuh tempo kepada N7W untuk membeli hak penyelenggaraan event dimaksud. Dengan kontrak antara PC 2 dan N7W inilah maka seluruh landasan kerjasama dan kesepakatan para pihak dibangun.

Menindak-lanjuti peran PC 2 maka PC 2 dan N7W maka dibulan Desember ini memohon kepada Kemenbudpar untuk bertemu dan berembug mencari solusi yang sama-sama saling menguntungkan. Sekali lagi permohonan ini tidak ditanggapi Kemenbudpar.

Pada tanggal 29 Desember 2010, Wakil Presiden RI bersama Menbudpar, Menhut dan beberapa Menteri dan Pejabat tinggi lainnya mengunjungi Taman Nasional Komodo dan Wapres ikut Vote Komodo melalui http://www.n7w.com.

Dua hari kemudian, Kemenbudpar meluncurkan seruan dan slogan Brand Pariwisata Indonesia yang baru yaitu WONDERFUL INDONESIA menggantikan Visit Indonesia. Menilik dari kesamaannya kata kunci 7Wonder, Komodo, dan Wonderful Indonesia maka 7Wonders jelas merupakan asosiasi brand pariwisata ini. Kemenbudpar tampil pada talkshow di TV One dan menyatakan niatnya untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan event dimaksud.

Jurang antara apa yang disampaikan Kemenbudpar, eksploitasi nama dan brand N7W dalam Vote Komodo dan Kenyataan yang harus dihadapi N7W sebagai Pemegang Hak Voting dan Penyelenggaraan Deklarasi Pemenang 7 Keajaiban Dunia sangatlah bertentangan bahkan membingungkan. Pernyataan demi pernyataan disampaikan kepada publik namun tidak pernah ada tindak lanjut yang konkrit. Dan dukungan sektor swasta yang sangat strategis juga tidak diacuhkan oleh Kemenbudpar.

PC 2 memohon agar N7W ”menekan” Kemenbudpar setidaknya ”memaksa” agar diadakan pertemuan dengan mereka, Kemenbudpar dan N7W segera. Tekanan N7W juga perlu menegaskan bahwa perilaku Kemenbudpar dapat mengancam status Komodo sebagai finalis dan keikut-sertaan Komodo selanjutnya dalam kontes Pemilihan 7Keajaiban Alam Dunia Yang Baru.

Pada saat ini PC2 juga gagal memenuhi kewajiban awal yang telah lampau tenggat waktunya yaitu 23 Desember 2010.

Januari 2010: Akhirnya pada awal Januari 2011 Kemenbudpar setuju untuk bertemu dengan PC 2. PC 2 terpaksi mencari alternatif jalur strategis lain karena Kemenbudpar tegas mengatakan mereka tidak akan koperatif.

Kondisi ini memaksa N7W untuk melakukan perjalanan tanggap darurat ke Jakarta dan akhirnya bertemu dengan Kemenbudar, dan PC 2. Kesan pertama yang ditemukan N7W pada pertemuan ini jelas bahwa Kemenbudpar sama sekali belum memperoleh kemajuan apapun dalam menindak-lanjuti pernyataan dan komitmennya kepada publik. Sejak saat inilah maka isu tentang ditangguhkannya status Komodo sebagai finalis telah mewacana.

Seminggu setelah pertemuan dengan Kemenbudpar (9 Januari 2011) tenggat waktu yang diberikan kepada PC 2 untk menyelesaikan kewajibannya dan komitmennya yaitu tanggal 24 Januari 2010 telah lewat dan tidak membawa hasil, maka Surat Pemberitahuan ditangguhkannya status Komodo telah dikirim oleh N7W kepada Kemenbudpar.

Dengan semangat resolusi dan solusi maka N7W menyampaikan kepada kedua pihak (Kemenbudpar dan PC 2) cara-cara menuju solusi yang dapat diberdayakan. N7W memberi waktu 1 (satu) minggu lagi yaitu tanggal 31 Januari 2011 agar Pemerintah dengan TEGAS mengukuhkan niatnya untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Penganugerahan dan Deklarasi Pemenang 7Keajaiban Dunia yang baru dan PC2 menyelesaikan kewajiban komersilnya. Jika sampai batas waktu ini kedua hal tersebut tidak dicapai maka N7W dengan terpaksa akan mulai menangguhkan status Komodo sebagai finalis N7W of Nature.

Hormat saya

Eamonn Fitzgerald
Kepala Komunikasi
New7Wonders (her/gah)

11
Dec
10

Kebudayaan : Pariwisata Warisan Budaya [WISDOM 2010, Yogyakarta]

Rabu, 08/12/2010 17:47 WIB
Pariwisata Warisan Budaya Makin Diminati Masyarakat Dunia
Bagus Kurniawan – detikNews

Yogyakarta – Sektor pariwisata merupakan industri perdagangan jasa terbesar di dunia saat ini yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Beberapa negara menjadikan pariwisata sebagai sumber penghasilan utama.

Hal itu disampikan pakar pariwisata Alistair G Speirs di sela-sela acara World Conference on Culture, Education and Science (WISDOM) 2010, di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) di Bulaksumur, Yogyakarta.

“Industri jasa pariwisata saat ini terus tumbuh dan semakin diminati masyarakat global. Tumbuhnya industri pariwisata ini disebabkan semakin bertambahnya pariwisata museum dan berbagai jenis warisan budaya,” katanya.

Dia mengusulkan agar setiap daerah untuk mempertahankan kekayaan heritage atau warisan budaya sebagai salah satu daya tarik wisata. Sebab kebanyakan turis akan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menikmati pengalaman berkunjung ke berbagai warisan budaya.

Menurut dia, salah satu tujuan wisata dari berbagai dunia yang sudah dikemas dengan kualitas yang sangat baik diantaranya wisata Candi Borobudur dan Bali. Borobudur memberikan pengalaman mengesankan bagi pengunjungnya.

“Sedangkan Bali, memiliki daya tarik yang sangat luar biasa. Sangat eksotis sekali,” ungkap pendiri Phoenix Communications ini.

Dia mengatakan Bali dan Borobudur merupakan dua lokasi dari dari 115 tempat yang paling sering dikunjungi wisatawan dunia. Yang lainnya, seperti Chiang Mai di Thailand, Tembok Raksasa di China, Hue di Vietnam, Kyoto di Jepang dan Rajashtan, India.

Manurutnya, masih banyak warisan budaya lainnya yang bisa dipromosikan kepada wisatawan. Oleh karena itu perlu adanya paket wisata sebagai alternatif tujuan pariwisata. Ia mencontohkan, seperti  Singapura yang tidak memiliki warisan budaya namun menawarkan paket wisata belanja modern.

“Thailand juga sama dengan menawarkan paket belajar dan plesir ke Thailand melalui program Amazing Thailand,” katanya.

Acara WISDOM 2010, Rabu (8/12/2010) secara resmi ditutup oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, Ir Jero Wacik di Graha Sabha Pramana, UGM. Deklarasi dan hasil seminar kemudian diserahterimakan secara simbolis dari Rektor UGM, Prof Ir Sudjarwadi, MEng PhD kepada Jero Wacik. Mantan Menteri
Pariwisata, Pos & Telekomuniasi, Joop Ave berkesempatan menyampaikan hasil kesimpulan perhelatan ini dalam bentuk Conference Reflection.

Deklarasi WISDOM 2010 ini akan disampaikan langsung oleh Jero Wacik kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono sebagai rekomendasi penyelenggaraan World Culture Forum 2012 (WCF 2012) di Bali. WCF merupakan gagasan dan inisiatif dari Presiden SBY untuk menjadikan forum ini sebagai pasangan World Economic Forum (WEC) di Davos, Swiss.

Pada penghujung acara peserta diajak melawat beberapa desa yang terkena erupsi Merapi dalam “Post-Merapi Eruption Social Program”. Mereka mengunjungi dusun-dusun di Desa Umbulharjo dan Kepuharjo Cangkringan.

Program ini bertujuan untuk memberi kesempatan bagi para peserta WISDOM 2010 untuk memahami “The Spirit of Merapi” yang menjadi akar kearifan lokal yang telah ada dalam masyarakat sekitar Merapi selama berabad-abad. Kunjungan tersebut juga menunjukkan kepada para peserta WISDOM 2010, bagaimana kearifan lokal berperan sebagai sumber daya alam untuk menjaga Merapi dan penduduk di sekitarnya.

(bgs/fay)

27
Nov
10

Kepariwisataan : Komodo Jadi Tema Wisata Nasional 2011

Komodo

Jumat, 26 November 2010 18:25 WIB | Hiburan | Seni/Teater/Budaya |
KeMenBudPar : Komodo Jadi Tema Wisata Nasional 2011
Kemenbudpar: Komodo Jadi Tema Wisata Nasional 2011

Jakarta (ANTARA News) – Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) menyatakan akan menjadikan Komodo sebagai tema wisata nasional 2011. “Tahun depan kita akan jadikan Komodo sebagai tema utama pariwisata kita,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal Pemasaran Kemenbudpar, Noviendi Makalam, di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan, dengan menjadikan Komodo sebagai tema wisata nasional, maka semua event acara yang terkait dengan pariwisata akan dikemas dengan tema Komodo.

Pihaknya menyatakan akan terus mempromosikan Komodo sebagai salah satu calon keajaiban dunia baru versi alam yang segera diumumkan pada 11 November 2011.

“Tahun depan kita akan all out untuk mempromosikan Komodo termasuk menjadikannya tema dari berbagai event yang akan digelar tahun depan,” katanya.

Taman Nasional Komodo menjadi salah satu nominee New Seven Wonders of Nature bersama 28 finalis lain di berbagai dunia. Sebelumnya TN Komodo berhasil menyisihkan 426 nominee dari 223 negara lain di seluruh dunia.

Panitia acara tersebut menargetkan 1 miliar voter dari seluruh dunia dan hasilnya akan diumumkan pada 11 November 2011.

Noviendi mengatakan, TN Komodo harus bersaing dengan sejumlah kompetitor berat di antaranya Sungai Amazon, Black Forest di Jerman, Grand Canyon, Great Barrier Reef di Australia, Bay of Fandy, Cliff of Moher Island, Dead Sea, El Yungue, Jeju Island di Korea, Kilimanjaro di Tanzania, Maldives, Masurian Lake District, Uluru di Australia, Yushan di China Taipei, Vesuvius di Italia, Table Mountain di Afrika Selatan, Butina di Arab Saudi, dan Sundarban.

Sementara itu, Dirjen Pemasaran Kemenbudpar, Sapta Nirwandar, pada kesempatan yang sama mengatakan, Indonesia juga telah mengikuti bidding untuk menjadi tuan rumah pengumuman “new seven wonders of nature”.

“Pada intinya jika kita berhasil memenangkan Komodo maka dampaknya akan sangat besar bagi pariwisata Indonesia secara keseluruhan di antaranya dari sisi citra sekaligus menjadikan Komodo sebagai kawasan wisata berbasis alam yang dikenal dunia,” katanya.

Dengan hanya menjadi nominee saja seperti saat ini, pihaknya mencatat telah terjadi peningkatan jumlah wisatawan yang datang ke TN Komodo.

“Sekarang sudah mulai banyak wisatawan datang ke Labuan Bajo, dan jumlah hotel juga semakin bertambah. Kami berharap ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal,” katanya.(*)
(T.H016/R009)

COPYRIGHT © 2010

27
May
10

Historia : Kapal Layar Spirit Majapahit

Kapal Layar Majapahit Selesai Akhir Mei

Selasa, 25 Mei 2010 15:59 WIB | Peristiwa | Unik |
Sumenep (ANTARA News) – Pembuatan kapal layar “Spirit Majapahit” yang dikerjakan perajin asal Desa Slopeng, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, diperkirakan selesai pada akhir bulan Mei 2010.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Dinbudparpora) Sumenep, M. Nasir, Selasa, menjelaskan, saat ini, pengerjaan kapal layar “Spirit Majapahit” mencapai 80 persen lebih.

“Kalau tak ada kendala, pembuatan kapal layar yang merupakan kerja sama Yayasan Majapahit di Jepang dan pemerintah Indonesia ini akan tuntas pada akhir bulan Mei ini,” ucapnya di Sumenep.

Setelah selesai, kapal layar tersebut akan diujicobakan di Perairan Slopeng sebelum dilepas secara resmi untuk berangkat ke Jakarta.

“Pemberangkatkan kapal layar `Spirit Majapahit` dari Pantai Slopeng ke Jakarta direncanakan dilepas oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI pada bulan Juni 2010. Untuk tanggal pastinya, menunggu konfirmasi,” paparnya.

Setelah tiba di Jakarta, kata Nasir, kapal layar tersebut langsung dipersiapkan untuk berlayar ke delapan negara.

“Sesuai rencana pula, pemberangkatan kapal layar `Spirit Majapahit` dari Jakarta dalam rangka keliling delapan negara akan dilepas oleh Presiden RI. Untuk waktunya juga menunggu konformasi,” ujarnya menuturkan.

Kapal layar “Spirit Majapahit” dibuat tanpa mesin dan hanya menggunakan layar yang mengandalkan kekuatan angin untuk mengarungi lautan.

Ada pun ukuran kapal layar tersebut adalah panjang 20 meter, lebar 4 meter, dan tinggi 2,75 meter

.

+++++

Majapahit Tidak Menguasai Seluruh Nusantara

Minggu, 16 Mei 2010 23:11 WIB | Peristiwa | Umum |
Jakarta (ANTARA News) – Kerajaan terbesar Indonesia Majapahit ternyata tidak menguasai seluruh Nusantara apalagi kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia, Filipina dan Siam Selatan (Thailand).

“Tidak seperti apa yang ada di buku-buku pelajaran selama ini, daerah-daerah di Nusantara merupakan daerah merdeka dan berkedaulatan bukan daerah kekuasaan Majapahit,” kata arkeolog Hasan Djafar  yang juga penulis buku “Masa Akhir Majapahit” pada diskusi bertajuk “Majapahit: Masa Awal, Pencapaian, dan Masa Akhir” di  LKBN ANTARA akhir pekan lalu.

Kekuasaan Majapahit, katanya, hanya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura dan Bali dan saat itu ada kerajaan kuat juga di Nusantara yaitu kerajaan Melayu.

Kerajaan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya saat itu hanya sebuah kerajaan adikuasa dan disegani kerajaan-kerajaan sekitar bukan karena daerah jajahannya.

“Majapahit hanya sebuah kerajaan yang dihormati kerajaan-kerajaan sekitar karena kesuksesannya mengolah perekonomian dan menjadi contoh kerajaan-kerajaan sekitar dan saat itu Majapahit terkenal akan negara agraris ekonomis dan maritim,” katanya.

Majapahit disegani kerajaan sekitar karena mampu menjaga keamanan dan kestabilisan regional dan memiliki pengaruh luas di Nusantara. Majapahit juga mempunyai kerjasama dengan Kerajaan Melayu yang dipimpin oleh Raja Adityawarman yang beribukota di Dharmawangsa (Sumatra Barat).

“Majapahit sebagai kerajaan adi kuasa berkewajiban melindungi daerah-daerah di Nusantara demi kelangsungan kerjasama regional,” katanya.

Majapahit pun kerap melakukan perdagangan dengan daerah-daerah sekitar seperti Banda, Ternate, Ambon, Banjarmasin dan Malaka.

“Pernah ada pertukaran prasasti bernama Amoghapasa antara kedua kerajaan sebagai simbol bentuk kerjasama,” kata Hasan Djafar yang juga ahli epigrafi dan sejarah kuno Indonesia.

Djafar juga mengemukakan pemahaman salah selama ini yang menyebutkan berbagai kerajaan lain di Nusantara memberikan upeti atau pajak ke Majapahit.  “Kerajaan-kerajaan itu hanya memberikan hadiah bukan upeti dan wajar kerajaan memberikan hadiah ke negara kuat saat itu,” katanya.

Ketika ditanya kebenaran sumpah amukti palapa yang dikumandangkan Gadjah Mada ketika dilantik Ratu Majapahit Tribhuwana Tunggadewi menjadi Patih Majapahit bahwa ia tidak akan memakan buah palapa sebelum menguasai nusantara.

“Itu juga salah penafsiran, mukti palapa bukan makan buah palapa tapi saya tidak akan bahagia sebelum  menyatukan nusantara,” katanya.

“Namun itu masih menjadi perdebatan hingga sekarang karena Gadjah Mada hanya memadamkan pemberontakan di Bali dan Dompo (Sumbawa),” katanya menambahkan.

Kerajaan Majapahit sebagai salah satu kerajaan besar pada zaman Hindu-Budha yang berkembang sejak tahun 1293 – 1519 mencapai puncak perkembangannya pada abad ke-14 pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk yang bergelar Sri Rajasanagara.

Kisah kerajaan Majapahit terdapat dalam kitab Pararaton dalam bahasa Kawi dan kitab Nagarakertagama dalam bahasa Jawa Kuno.

Sejak zaman keemasannya kerajaan Majapahit memiliki 21 daerah yaitu Daha (Kediri), Jagaraga, Kahuripan (Jangala, Jiwana), Tanjunpura, Pajan, Kembanjenar, Wenker, Kabalan, Tumapel (Sinhasari, Senguruh), Sinhapura, Matahun, Wirabhumi, Kelin, Kalingapura, Pandansalas, Paguhan, Pamotan, Mataram, Lasem, Pakembanan dan Pawwanawwan.
(adm/B010)

02
May
10

Kepariwisataan : Cowboys in Paradise

Kontroversi Film Gigolo Kuta

Tokoh Masyarakat Ubud Merasa Dicatut Rabu, 28 April 2010 | 17:04 WIB

TERKAIT:

DENPASAR, KOMPAS.com — Salah seorang tokoh atau narasumber yang terekam dalam film Cowboys in Paradise yang juga tokoh masyarakat Ubud, Ketut Suardana, mengaku tidak mengetahui ia bersama istrinya dicatut dalam film yang menggambarkan kehidupan gigolo di Bali tersebut.

“Saat itu Amit Virmani datang bersama teman saya yang bernama Mark Uliseas kemudian dikenalkan kepada saya. Amit Virmani lalu meminta komentar saya soal HIV/AIDS di Bali,” ujar Ketut Suardana yang ditemui Kompas.com di kediamannya di Ubud, Gianyar. “Karena saya peduli terhadap bahaya AIDS di Bali, saya pun bersedia diwawancara. Saya jelaskan soal HIV sesuai kapasitas saya dan referensi dari dokter dan aktivis LSM,” tambah Suardana yang juga Ketua Forum Peduli Ubud ini.

Dalam cuplikan Cowboys in Paradise yang beredar di YouTube, tampak Ketut Suardana bersama istrinya, Janet De Neefe, muncul beberapa detik memberi sedikit komentar dalam film tersebut. Suardana baru mengetahui bahwa dirinya berada dalam film gigolo tersebut setelah mendapat pesan singkat dari temannya.

“Saya di-SMS teman. Pak, kok ada di film itu (Cowboys in Paradise). Saya pun langsung kaget,” kata pria yang juga aktif dalam pembinaan sepak bola di Bali ini.

Meski namanya dicatut tanpa izin, pria berusia 51 tahun ini tetap tenang dan tampak santai menjawab pertanyaan dari wartawan Kompas.com. “Saya tidak merasa bersalah, dia enggak izin sama saya. Kalau ada apa-apa, yang harus bertanggung jawab kan Amit Virmani,” ungkap Suardana.

Cowboys in Paradise
3 Aktor Kuta Akan Polisikan Amit Virmani
Kamis, 29 April 2010 | 14:38 WIB
facebook.com/cowboysinparadise
Relasi anak-anak pantai di Kuta, Bali, dengan para cewek bule, sesuatu yang jamak sejak dulu, tapi jadi geger karena film indie Amit Virmani, Cowboys in Paradise.

DENPASAR.KOMPAS.com — Setelah dijemput tim Buru Sergap Ditreskrim Polda Bali di tempat kerjanya di Pantai Kuta, Bali, tiga pemain film indie Cowboys in Paradise kini menjalani pemeriksaan tim penyidik Polda Bali, Kamis (29/4/2010).

Mereka adalah Rosnam Efendik alias Fendi (29), Sugiarto alias Argo (29), dan Suwarno alias Arnold (29). Setibanya di Polda Bali, ketiganya langsung digiring ke Ruang Satuan Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Ditreskrim Polda Bali.

Pemeriksaan dipimpin oleh Kasat Tipiter Kompol Ida Bagus Megeng. “Pemeriksaan masih berlangsung, mereka sebagai saksi,” ujar Kabid Humas Polda Bali Kombes Gede Sugianyar Dwi Putra di Polda Bali.

Adapun kesaksian ketiganya terkait dengan kemungkinan pelanggaran Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1992 tentang Film Pasal 41 Ayat 1 yang mengancam penjara minimal setahun dan denda Rp 40 juta bagi usaha perfilman tanpa izin.

Ketiga pemain tersebut mengaku menjadi korban dan hanya dimanfaatkan oleh sutradara Cowboys in Paradise, Amit Virmani. Itu sebabnya, mereka juga berencana melaporkan Amit Virmani ke polisi.

“Jadi, saya merasa ditipu dan akan melaporkan Amit Virmani ke polisi,” ujar Argo yang di film tersebut beradegan sedang dipijat oleh cewek bule. “Kalau mereka mau melapor, silakan saja, itu hak mereka,” kata Sugianyar.

“Cowboys in Paradise” Jiplakan? Rabu, 28 April 2010 | 21:04 WIB facebook.com/cowboysinparadise Relasi anak-anak pantai di Kuta, Bali, dengan para cewek bule, sesuatu yang jamak sejak dulu, tapi jadi geger karena film indie Amit Virmani. TERKAIT:

DENPASAR, KOMPAS.com — Pengakuan sutradara Amit Virmani tentang inspirasi pembuatan film Cowboys in Paradise berasal dari bocah yang bercita-cita jadi gigolo tampaknya perlu dipertanyakan. Dari pengakuan seorang tokoh Ubud yang dicatut dalam film kontroversial tersebut, karya seperti itu sudah pernah dibuat oleh rekan Virmani yang bernama Mark Ulyseas dalam bentuk tulisan di sebuah majalah lokal Bali.

“Mark Ulyseas teman saya yang mengenalkan saya kepada Amit Virmani adalah yang pertama menulis Kuta cowboy tahun 2007 lalu dan dimuat pada sebuah majalah lokal di Bali,” terang Ketut Suardana kepada Kompas.com di kediamannya, di Ubud, Gianyar, Bali, Rabu (28/4/2010).

Suardana menambahkan, Ulyseas merupakan seorang penulis andal yang karyanya kerap dimuat di beberapa media di Bali. Ulyseas merupakan teman dekat Suardana yang juga keturunan India seperti Virmani. Ulyseas-lah orang yang pertama kali mempertemukan Suardana dengan Virmani.

Ketut Suardana cukup dekat dengan dunia penulis baik lokal maupun asing karena istrinya, Janet De Neefe, merupakan seorang penulis dan juga penggagas sekaligus Direktur Ubud Writers and Readers Festival, festival tahunan yang menyajikan program sastra dan budaya. (C4-10)

Kontroversi film gigolo
Ibu Pemain “Cowboys” Menderita Stroke
Sabtu, 1 Mei 2010 | 14:46 WIB
facebook.com/cowboysinparadise
Amit Virmani dengan kamera videonya ketika merekam anak-anak pantai di Kuta, Bali, yang kemudian dirangkai jadi film indie berjudul Cowboys in Paradise dan bikin geger.

DENPASAR, KOMPAS.com — Gara-gara melihat anaknya muncul di film Cowboys in Paradise, ibu salah seorang anak pantai pemain cowboys mengalami stroke. Rudi, sang anak, dalam cuplikan film kontroversial tersebut beradegan menjelaskan arti kata saya cinta kamu dalam tiga bahasa, yakni Jerman, Belanda, dan Inggris, sambil menunjuk bendera negara tersebut.

Ibu saya sakit di Malang, pas bicara di telepon dia cuma bisa bilang a-i-u-e aja.
– Rudi

Sesaat sebelum diperiksa Polda Bali, Sabtu (1/5/2010) pagi tadi, pria gondrong ini sempat curhat kepada wartawan dan menceritakan bahwa orangtuanya menghubunginya melalui telepon genggam. “Ibu saya sakit di Malang, pas bicara di telepon dia cuma bisa bilang a-i-u-e aja,” ujar Rudi.

Mendengar kabar tersebut, Rudi pun langsung bergegas pulang ke Malang untuk menjenguk ibunya. Setelah mendapat telepon dari Polda Bali untuk dimintai keterangan terkait film tersebut, kemarin Rudi langsung berangkat lagi ke Bali. “Saya baru tadi pagi datang dari Jawa,” kata Rudi.

Saat pengambilan gambar Cowboys in Paradise, Rudi mengaku saat itu Amit Virmani yang baru saja dikenalnya tiba-tiba datang ke kos untuk mengambil gambar. “Waktu itu saya lagi sakit panas, terus Amit datang bawa kamera,” cerita Rudi.

“Saya dipaksa direkam disuruh nunjuk-nunjuk bendera yang ada di kamar saya, ya namanya diminta tamu saya mau aja,” imbuhnya.

Pria berusia 33 tahun yang sehari-harinya bekerja menyewakan papan selancar ini tidak pernah menyangka bahwa rekaman itu akan dipergunakan dalam film gigolo. “Saya enggak tahu kok tiba-tiba jadi begini, pusing kepala saya,” ujarnya sambil menggaruk-garuk rambut gondrongnya.

Aparat Jemput (Lagi) Dua “Cowboy”
Jumat, 30 April 2010 | 11:43 WIB

facebook.com/cowboysinparadise

Relasi anak-anak pantai di Kuta, Bali, dengan para cewek bule, sesuatu yang jamak sejak dulu, tapi jadi geger karena film indie Amit Virmani.

TERKAIT:

KUTA, KOMPAS.com Pihak Direktorat Reserse Kriminal Polda Bali kembali memeriksa dua pemain film Cowboys in Paradise, setelah sehari sebelumnya tiga pemain lainnya, yakni Arnold, Fendi dan Argo, diperiksa polda Bali terkait keterlibatan mereka dalam film kontroversial tersebut.

Dua pria yang diketahui bernama Bima dan Denis itu dijemput pada Jumat (30/4/2010) sekitar pukul 11.30 Wita untuk dimintai keterangan. “Tadi ada dua petugas Polda datang untuk menjemput dua pemain Cowboys in Paradise,” ujar Wakil Ketua Satgas Pantai Kuta Wayan Sirna.

“Polda sudah koordinasi dengan satgas dan kami tadi sudah mengumpulkan mereka di satgas,” tambah Sirna.

Dalam adegan film garapan sutradara Amit Virmani tersebut, salah satu dari mereka tampak sedang bermain bola dengan wanita asing di pinggir pantai. Keduanya kini menjalani pemeriksaan di Ditreskrim Polda Bali dan status mereka masih sebatas saksi. (C4-10)

Sutradara “Gigolo” Terancam Dibui
Kamis, 29 April 2010 | 11:29 WIB

facebook.com/cowboysinparadise

Relasi anak-anak pantai di Kuta, Bali, dengan para cewek bule, sesuatu yang jamak sejak dulu, tapi jadi geger karena film indie Amit Virmani.

TERKAIT:

DENPASAR, KOMPAS.com Pihak Kepolisian Daerah Bali terus melakukan penyidikan terkait film Cowboys in Paradise, yang dinilai telah meresahkan dan memperburuk citra Bali.

Dari hasil penyelidikan sementara diperoleh fakta bahwa sutradara Cowboys in Paradise, Amit Virmani, telah membuat film tanpa izin.

“Setelah koordinasi dengan intel dan unsur terkait lainnya, sementara, film tersebut tidak ada izin pengambilan gambar dan dapat dijerat Undang-Undang Perfilman,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Bali Kombes (Pol) Gede Sugianya, saat ditemui hari Kamis (29/4/2010).

Dalam Undang-Undang Perfilman Nomor 8 Tahun 1992 Pasal 41 ayat 1 disebutkan bahwa barang siapa yang membuat usaha film tanpa izin dapat dipidana penjara selama 1 tahun atau denda Rp 40 juta.

“Selain melanggar Undang-Undang Perfilman, dia juga melanggar keimigrasian karena hanya memiliki visa on arrival, tapi melakukan aktivitas pembuatan film tanpa izin,” tambah Sugianyar.

Saat ini Polda Bali telah membentuk tim khusus untuk mengusut kasus ini karena film tersebut dianggap telah meresahkan masyarakat Bali. (C4-10)

Kontroversi Cowboys in Paradise
Tim Khusus Dibentuk Usut Film Gigolo
Kamis, 29 April 2010 | 10:03 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com – Kontroversi pemutaran film “Cowboys in Paradise” yang menimbulkan kemarahan masyarakat Bali menjadi perhatian serius Kapolda Bali Irjen Pol Sutisna. Untuk menyelidiki kasus ini Kapolda Bali telah membentuk sebuah tim khusus.

“Bapak Kapolda sudah membentuk tim khusus yang diketuai Ditreskrim (Direktorat Reserse Kriminal). Dalam tim ini diharapkan untuk segera mengambil langkah penyelidikan dan secepatnya mengetahui delik atau unsur-unsur yang dilanggar,” Ujar Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Gede Sugianyar di kantornya, Kamis (29/04/2010).

“Dalam tim ini juga dilibatkan Transnational Crime Coordinate Team (TNCT) untuk mendalami penyebaran video tersebut,” tambah mantan Kapolres Balikpapan tersebut.

Sejauh ini tim penyidik telah meminta keterangan kepada para pemain anak pantai yang terlibat dalam film tersebut dan nantinya akan dikembangkan dengan pemanggilan resmi sebagai saksi.

26
Apr
10

Historia : Masakan Jawa, Buitenzorg, KA Parahyangan, Nasi Lengko Cirebon

Nostalgia Masakan Jawa Plus Mainan Tempo Dulu

Lilis SetyaningsihLilis Setyaningsih

Jajanan tempo dulu dalam kaleng khas yang juga dari masa dulu bisa ditemui di Restoran Goela Djawa.
Senin, 26 April 2010 | 12:33 WIB

KOMPAS.com — Panas akibat teriknya sinar matahari siang pada Sabtu (10/4) langsung sirna ketika memasuki Restoran Goela Djawa. Bukan hanya karena pendingin udara atau kipas angin, tapi lebih karena mata dan lidah jadi terasa ‘sejuk’ berkat hidangan yang ada di sana. Ketika pintu restoran yang berada di Jalan RS Fatmawati Raya No 19 & 69 Jakarta Selatan itu dibuka, sajian makanan Jawa bisa langsung terlihat secara prasmanan di meja. Sekitar 30 menu, termasuk nasi kucing, langsung terlihat mata.

Belum sempat duduk,  mata kembali melihat deretan penganan serta mainan tempo doeloe yang membuat ingatan kembali ke masa belasan atau puluhan tahun silam, saat masih kanak-kanak. Ada permen payung, cokelat cap ayam jago, permen Davos, permen susu gambar sapi berwarna oranye, kue kancing, dan masih banyak lagi penganan tempo doeloe yang membuat tergiur untuk mencicipinya lagi. Terlebih dikemas dalam toples warna-warni berbentuk seperti tempat kerupuk.

Harga bervariasi. Pengunjung bisa melihat harga yang tertera dalam kemasannya. Jika dibandingkan zaman dulu, harga sekarang memang lebih mahal, namun sebanding dengan ‘nilai nostalgia’ untuk mencicipi lagi penganan yang sudah ‘nyaris’ punah itu.
Tidak ketinggalan aneka permainan untuk anak kecil zaman dulu. Ada bekel dengan bijinya yang terbuat dari besi (sekarang bijinya sudah diganti plastik), congklak dari kayu dengan biji yang terbuat dari kerang (sekarang biji congklaknya kebanyakan terbuat dari plastik), perahu kelotok, kuda lumping, halma. Dan tak lupa teko lurik serta termos warna merah yang legendaris itu. Semua bisa dibeli.

Masih belum cukup, ada pedagang keliling es puding, cendol, atau kue apem yang sekarang tidak mudah dicari. Itu semua merupakan pengalaman kuliner yang coba disajikan di Restoran Goela Djawa.

Pemilik Goela Djawa, Velia Febrianti (25), memang masih pemain baru dalam dunia kuliner. Namun kesukaannya kepada makanan Indonesia membuat hati serta insting bisnisnya tergerak untuk menyajikan makanan tradisional di wilayah Fatmawati.

“Kebetulan saya tinggal di sekitar sini. Usaha laundry juga ada di sini. Kayaknya sudah sampai bosan makan di sekitar sini, karena sudah dicoba semua. Nah, kita lihat ada peluang untuk menyajikan makanan tradisional, khususnya Jawa,” kata Velia yang bersama temannya Jerry (27) berpatungan membuka Restoran Goela Djawa.

Alasan Velia memilih makanan Jawa, karena ia sendiri berasal dari  Kebumen, Jawa Tengah, sehingga sudah paham mengenai cita rasa  makanan dari Jawa. Walaupun tidak turun langsung menangani dapur, sarjana ekonomi dari  Universitas Parahyangan, Bandung, ini menyeleksi sendiri koki di restorannya dan mencicipi hasil kreasi sang koki. Kesukaannya menyambangi restoran dan kegemarannya makan membuat lidahnya terbiasa merasakan makanan lezat.

Kreasi sendiri
Menu yang disajikanpun biasanya unik dan sudah pasti njawani. Ada juga yang hasil kreasi sendiri. Misalnya nasi rawon bakar. Nasi yang sudah dibumbu rawon dibungkus seperti nasi timbel lalu dibakar, harganya Rp 17.500. Ada juga nasi gandul dari Pati, nasi lengko dari Cirebon, nasi liwet dari Solo, kupat tahu dari Semarang, dan bakmi jawa (rebus, goreng, nyemek) yang harganya rata-rata Rp 17.000. Selain itu juga ada brongkos, asem-asem, oseng buncis, soun goreng.

Tak ketinggalan nasi kucing. Seporsi nasi kucing (lauknya bisa pilih tempe, tahu, kepala ayam goreng bacem, ceker ayam, atau sate usus) dihargai Rp 3.000. Harga ini tidak terlalu mahal ketimbang di pinggir jalan yang harganya berkisar Rp 2.000.

Selama sebulan masa promosi, hingga 10 Mei 2010, pengunjung akan mendapatkan potongan harga 20 persen. Pengunjung tetap bisa mendapat potongan harga 10 persen jika membawa 5 buah buku yang akan disumbangkan ke organisasi nirlaba Vidya Sanggraha.

“Kita tidak ingin hanya komersial saja, tapi juga ada nilai sosialnya di Goela Djawa,” kata Velia. Ia sengaja memilih nama Goela Djawa karena identik dengan Jawa dan manis, walaupun letak restorannya berada di pelataran SPBU Petronas yang identik dengan negara tetangga.
“Ini hanya sekedar memilih lokasi. Saya tidak ingin restoran ini di ruko sehingga menyulitkan ibu-ibu naik tangga. Kebetulan dapat lokasinya di sini,” tukas mantan karyawan Astra yang memilih menjadi wirausaha ini.  Hmmm …
Warta Kota Lilis Setyaningsih

Van Kleine Boom Naar Buitenzorg Via Meester Cornelis
Senin, 26 April 2010 | 09:45 WIB

KOMPAS.com — Pembangunan jalur kereta api Batavia-Buitenzorg dimulai pada 15 Oktober 1869. Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, P Myers, hadir dalam upacara dimulainya pembangunan jalur tersebut. Perusahaan yang membangun jalur itu, tak lain adalah Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), yang dinilai berhasil setelah membangun jalur kereta api pertama Semarang-Tanggung pada 1864-1867. Sebagai pemimpin pembangunan rel kereta api tak lain adalah JP Bordes.

Seperti telah ditulis pada artikel sebelum ini, sebetulnya pembangunan jalur kereta api Batavia-Buitenzorg sudah diusulkan jauh sebelum akhirnya jalur Samarang-Tangoeng dibangun. Dalam buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia jilid I disebutkan, Gubernur Jenderal Rochussen sudah mengusulkan agar pemerintah membangun jalur tersebut. Usul itu disampaikan kepada pemerintah Kerajaan Belanda pada 1846. Rochussen mempertimbangkan pentingnya jalur Batavia-Buitenzorg yang merupakan jalur pengangkut hasil kopi dan teh selain juga sebagai pusat pemerintahan kolonial.

Namun karena keuangan negara belum kuat, maka usul tadi ditolak. Pemerintah Belanda memutuskan pembangunan dikerjakan swasta. Dari hasil penelitian tim Kerajaan Belanda, jalur Batavia-Buitenzorg terbilang rawan, khususnya rawan terhadap perlawanan dari para tuan tanah.

Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya NISM mendapat konsesi pemasangan rel di jalur antar-wilayah di Batavia Lama dan Baru, serta Batavia-Buitenzorg pada 1864. Tapi baru bisa mulai dikerjakan pada 1869 dan memerlukan waktu selama empat tahun untuk menyelesaikan jalur sepanjang 58.506 m (sekitar 59 km). Jalur itu terdiri dari, jalur Batavia-Buitenzorg sepanjang sekitar 56 km, sekitar satu kilometer jalur simpangan ke Meester Cornelis (Jatinegara), sekitar dua kilometer jalur simpangan ke Kleine Boom (kini Pasar Ikan).

Pembangunan jalur ini mengalami kendala karena masalah keuangan NISM. Tahun 1870 proyek ini sempat macet, yaitu pada pengerjaan gelombang pertama. Pekerjaan ini dimulai 15 Oktober 1869 – Februari 1870 di mana selama kurun waktu itu jalur sepanjang 7.590 m untuk bagian Kleine Boom,  Meester Cornelis sejauh 13.087 m, dan jalur sepanjang 18.730 m untuk bagian Bogor selesai dikerjakan.

Pekerjaan kedua baru bisa dilaksanakan pada Juni 1870 sampai juni 1871, yaitu jalur di Bogor sepanjang sekitar 9.270 m. Selanjutnya, pada Juni 1871 hingga Januari 1873 barulah seluruh proyek pembangunan jalur kereta api Batavia-Buitenzorg selesai, termasuk jalur Weltevreden-Meester Cornelis Passer (Stasiun Bukit duri)-Buitenzorg.

Dalam beberapa buku tentang perkeretaapin Indonesia yang kebanyakan bersumber dari buku-buku berbahasa Belanda seperti Spoorwegstationsweg Op Java karangan Michiel van Ballegoijen de Jong, De Stroomactie Op Java en Sumatera karya JJG Oegema, Het Indische Spoor In Oorlogstijd bikinan Jan de Bruin, secara terpisah-pisah disebutkan perjalanan sejarah kereta api di Batavia hingga ke seluruh Pulau Jawa.

Di sepanjang lintasan Batavia-Buitenzorg yang membentang sepanjang hampir 60 km itu berdiri 15 stasiun. Stasiun paling ujung di Batavia Lama adalah Stasiun Kleine Boom (Pasar Ikan), kemudian kereta akan berhenti di Stasiun Batavia (Batavia Hoofdstastion) yang dulu lokasinya di sebelah Museum Seni Rupa dan Keramik sekarang ini. Stasiun selanjutnya adalah Sawah Besar, Noordwijk (Pintu Air), Weltevreden (Gambir), Pegangsaan, Meester Cornelis Passer, Pasar Minggu, Lenteng Agung, Pondok Tjina, Depok, Citajam, Bojong Gedeh, Tjilebut, dan Buitenzorg (Bogor).

Moda transportasi kereta api di Batavia dan sekitarnya makin berkembang setelah jalur Batavia – Buitenzorg resmi dibuka pada 1873. Jumlah penduduk bertambah, kepertluan akan jalur untuk mengangkut barang pun bertambah, khususnya di dekat pelabuhan. Stasiun Kleine Boom, temasuk pelabuhannya, makin lama makin tak layak untuk bongkar muat. Maka pelabuhan di Pasar Ikan, Pelabuhan Sunda Kelapa, itu pun dipindah ke Tanjungpriuk.

Sejalan dengan pembangunan pelabuhan baru, maka jalur kereta api ke Tanjungpriuk pun ikut dibangun, yaitu pada 1877. Kali ini pelaksanannya adalah Staatsspoorwegen (SS) milik pemerintah Belanda.

Adalah Bataviasche Ooster-Spoorweg Maatschappij (BOS) yang kemudian tertarik menanamkan modal pada bisnis pengembangan jalur kereta api di Batavia, khususnya bagian timur Batavia yaitu Batavia-Krawang. Pada tahun 1887 jalur Batavia-Bekasi sepanjang 27 km selesai dibangun. Jalur ini melewati Stasiun Kemayoran, Pasar Senen, Jati, Meester Cornelis, Klender, dan Bekasi.

Tiga tahun berikutnya, jalur Bekasi-Cikarang kelar dan Cikarang-Kedungede selesai pada 1891. Seperti kisah NISM, BOS pun terengah-engah soal dana. Akhirnya pemerintah Belanda memberi bantuan dana pada BOS untuk menyelesaikan jalur hingga Krawang, tapi setelah itu, pengelolaannya diserahkan kepada SS. Jalur Batavia-Krawang baru bisa selasai secara total pada 1898.

Staatsspoorwegen (SS) pun makin bersemangat membangun jalur kereta api baru di lingkaran Batavia dan kawasan sekitarnya. Pemerintah Belanda memberi konsesi pada SS untuk membuat jalur kereta api di barat Batavia (tepatnya dari Kampung Bandan) yaitu Batavia-Anjer Kidoel  bercabang di Doeri-Tangerang. Seperti pada pembangunan jalur kereta api sebelumnya, pengadaan jalur Batavia—Anjer dikerjakan bertahap.

Tahap Kampung Bandan – Doeri – Tangerang kelar pada 2 Januari 1899. Tahap kedua dari Doeri – Rangkasbetoeng terpenuhi pada 1 Oktober 1899, Rangkasbetoeng-Serang terhubung pada 1 Juli 1900 dan Serang-Anjer Kidoel selesai pada 20 Desember 1900. Jalur Tjilegon-Merak baru ada pada 1914, sebelum itu, lintas Rangkasbetoeng-Laboehan pun dibangun, sementara lintas Krawang-Tjikampek-Poerwakarta-Padalarang sudah beroperasi pada 1906.

Dari jalur lintas kereta api antarkota, Belanda juga mengembangkan jalur trem di Batavia dan kota-kota lain di Jawa.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Lika-liku Jalur KA Batavia-Bandoeng
Jumat, 23 April 2010 | 09:49 WIB

KOMPAS.com — Penelusuran tentang perkembangan dan kematian jalur kereta api Jakarta-Bandung bisa dilihat pula dalam buku Het Indische Spoor in Oorlogstijd bikinan Jan de Bruin. Dalam buku itu terpampang peta-peta yang menunjukkan perkembangan jalur kereta api di Jawa dan Madura. Tahun 1888, tampak jalur kereta api dari Batavia-Tjitjalengka. Di situ tampak pula jalur di ujung utara Jakarta, yaitu Tanjungpriok dan juga jalur Batavia-Bekasi.

Sebelas tahun kemudian, jalur kereta api itu sudah bertambah lagi, yaitu Batavia-Tangerang, Batavia-Rangkasbitoeng, Batavia-Krawang, di antara Buitenzorg (Bogor) dan Padalarang (sebelum masuk Bandung), ada penambahan Tjandjoer. Jalur yang semula berhenti di Tjitjalengka berlanjut ke Tjibatoe hingga Garoet bahkan akhirnya menghubungkan Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Tahun 1888, jalur Batavia berhenti di Tjitjalengka, sedangkan di Jawa Tengah, bermula dari Samarang (Semarang), berhenti hingga Tjilatjap.

Peta tersebut juga menunjukkan batas-batas jalur kereta api berdasarkan periode perusahaan kereta api yang membangun. Di jalur kereta api Batavia-Buitenzorg tertulis NIS alias Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij. Perusahaan kereta api swasta ini mulai membangun jalur Batavia-Buitenzorg pada 15 Oktober 1869. Perusahaan ini pula yang pertama kali membangun jalur kereta api di Semarang.

Sekadar catatan, pembangunan jalur kereta api memang tidak dimulai dari Batavia, tetapi dari Jawa Tengah, yang justru bukan pusat pemerintahan Hindia Belanda. Alasannya adalah, jalur kereta api diperlukan untuk mengangkut hasil bumi, seperti kayu, tembakau, kopi, dan gula.

Alasan lain adalah karena ada usul agar pembangunan jalur rel Batavia-Buitenzorg dilakukan oleh pemerintah, bukan swasta. Namun karena keuangan negara belum kuat, usul itu ditolak. Dalam buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia jilid I disebutkan, Gubernur Jenderal Rochussen yang mengusulkan agar pemerintah membangun jalur tersebut.

Usul itu disampaikan kepada Pemerintah Kerajaan Belanda pada 1846. Rochussen mempertimbangkan bahwa jalur Batavia-Buitenzorg juga merupakan jalur pengangkut hasil kopi dan teh selain juga sebagai pusat pemerintahan kolonial.

Dari hasil penelitian tim Kerajaan Belanda, jalur Batavia-Buitenzorg terbilang rawan, khususnya rawan terhadap perlawanan dari para tuan tanah. Akhirnya jalur itu terealisasi pada 1869 dan memerlukan waktu selama empat tahun untuk menyelesaikan jalur sepanjang 58.506 m (sekitar 58 km).

Namun, jalur tersebut juga kemudian menjadi batu loncatan untuk melanjutkan jalur kereta api hingga ke tanah Parahyangan karena di kawasan itu lebih memerlukan alat pengangkut hasil bumi berupa kina, kopi, dan teh.

Kembali ke NIS atau NISM yang kemudian menyerah pada masalah keuangan, dan pembangunan diambil alih oleh Staatsspoorwegen (SS) atau Perusahaan Kereta Api Negara, jalur Buitenzorg ke Parahyangan dibangun oleh SS. Pembangunan prasarana kereta api berupa jembatan dan terowongan di jalur ini sudah menggunakan teknologi maju pada masa itu. Alam Parahyangan yang berupa pegunungan dan lembah nan curam itulah yang memaksa Belanda menerapkan teknologi canggih.

Jaringan rel kereta api milik SS di Pulau Jawa dibagi dua lijn atau jalur barat dan timur. Lijn barat membentang dari Bogor-Yogyakarta. Jalur barat milik SS ditandai dengan pembukaan jalur Buitenzorg-Tjitjoeroeg pada 1881. Secara total, lintas Buitenzorg-Bandoeng-Tjitjalengka dibuka SS pada 10 September 1884, sementara lintas Tjitjalengka-Garoet pada 1886, dan Tjitjalengka-Tjilatjap pada 1894.

Pada tahun 1900, SS juga membeli lintas Batavia-Krawang sepanjang 63 km yang selesai dibangun pada 1898 oleh perusahaan swasta bernama Bataviasche Ooster-Spoorweg Maatschappiji (BOS).

Pada akhir 1900, Pemerintah Kolonial Belanda memutuskan, jalur rel Krawang menuju Tjikampek ke Padalarang di lintasan Buitenzorg-Bandoeng-Djokdja bisa dibangun. Jalur rel sepanjang hampir 100 km itu setengahnya harus menembus pegunungan karena melintas di kawasan Parahyangan. Jalur itu kelar pada 1906.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Menjelajah Buitenzorg, tak Hanya Kebun Raya

KITLV

Beginilah pemandangan yang bisa dilihat dari Hotel Bellevue di Buitenzorg. Panorama Gunung Salak dan Sungai Cisadane ini diambil di sekitar tahun 1901.
Kamis, 22 April 2010 | 15:25 WIB

KOMPAS.com — Buitenzorg (Bogor), kota yang diunggulkan sebagai kota pelesir, setidaknya sejak awal abad 19.  Kota itu selalu dibisikkan oleh warga, khususnya Belanda, kepada para pelancong yang tiba di Batavia. Di awal abad 19, di beberapa wilayah Batavia memang terlihat kumuh. Belum lagi udara panas dan, tak ketinggalan, nyamuk. Kondisi tersebut jauh berbeda dengan kondisi Buitenzorg, tetangga Batavia, yang lebih pas menjadi kota wisata. Selain Nederlandsche Plantetuin te Buitenzorg alias Kebun Raya Bogor, Paleis Buitenzorg (Istana Bogor), panorama Gunung Salak juga jadi andalan.

Keindahan Gunung Salak dan Sungai Cisadane bahkan bisa dinikmati langsung dari kamar sebuah hotel beken bernama Hotel Bellevue. Sementara hotel mewah lainnya, Hotel Binnenhof, tak kalah top karena hotel ini menampung tamu elit Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Hotel yang dibangun pada 1856 itu kini menjadi Hotel Salak The Heritage.

Kisah pelancong yang mengunjungi Buitenzorg di abad 19 dipaparkan dalam Buitenzorg, Kota Terindah di Jawa: Catatan Perjalanan dari Tahun 1860-1930) yang ditulis Ahmad Baehaqie. Buku kecil itu merupakan upaya Kampung Bogor, sebuah komunitas warga pecinta Bogor yang ingin agar sejarah kota itu tak tergerus zaman.

“Sore hari sekitar pukul 16.30 adalah waktu terbaik melakukan perjalanan ke Buitenzorg dari Stasiun Weltevreden (kini Stasiun Gambir) yang riuh oleh calon penumpang dan pengantar. Pelancong asing kebanyakan memilih duduk di kelas utama,” demikian pelancong anonim itu membuat catatan harian yang kemudian dikutip Baehaqie. Selanjutnya, catatan itu menggambarkan pelayanan dan fasilitas kereta Batavia – Buitenzorg tersebut.

Perjalanan Batavia – Buitenzorg semakin mudah sejak jalur kereta api yang menghubungkan kedua kota itu resmi digunakan. Sebelumnya, alat transportasi menuju dan dari ke dua kota tersebut hanya bisa menggunakan kuda.

Di luar jendela ditutupi dengan kayu tebal untuk menahan sengatan sinar matahari, lapisan kulit tebal menutupi kursi berukuran besar, dindingnya berwarna putih dan biru diselingi lukisan Mauve dan Mesdag. Mejanya sungguh nyaman, dengan rak di atas kepala dan kamar ganti berfunitur indah. Kelas dua memiliki layanan hampir mirip dengan kelas satu, namun lebih banyak penumpang. Kelas tiga berupa sebuah gerbong panjang tanpa penyekat dan berbangku tanpa sandaran, sessak ditempati oleh penduduk lokal,” begitu tulis si pelancong yang kagum dengan sistem keamanan kereta tersebut karena semua barang bawaan penumpang terjaga dengan baik.

Menurutnya, keadaan kamar kecil kereta tersebut lebih baik dibandingkan kereta api cepat di Inggris. Tentu saja itu semua gambaran di abad lampau.

Selain suasana di dalam, sang pelancong juga menggambarkan pemandangan yang bisa dinikmati sepanjang perjalanan. “Melalui jendela kereta api, tampak persawahan, perkebunan tebu, pisang, dan jagung. Sekali-sekali saat kereta api sedikit berkelok, kita bisa melihat pegunungan di kejauhan. Mengagumkan,” tutur si pelancong sambil menambahkan, kereta api hanya berhenti sekali dan tiba di Buitenzorg dalam waktu satu jam 20 menit. Dan penumpang pun disambut hujan di Kota Hujan, Buitenzorg.

Di kota ini, sang pelancong pun menjelajah kota, sejak dari pasar di dekat stasiun, hingga hotel-hotel ternama, Istana Bogor, dan pastinya Kebun Raya Bogor.

Untuk melihat bagaimana kondisi kereta api Jakarta – Bogor kini, sekaligus juga menyambangi lokasi dan gedung bersejarah di Kota Bogor seperti yang pernah didatangi si pelancong, Komunitas Jelajah Budaya (KJB) menggelar Jelajah Kota Toea: Batavia – Buitenzorg pada Minggu 25 April 2010.
“Buitenzorg itu artinya ‘tanpa kecemasan’, akhirnya kampung itu menjadi kota. Gubernur Jenderal van Imhoff  jatuh cinta pada kawasan ini dan mengembangkannya menjadi area pertanian dan peristirahatan. Sampai akhirnya dibangun lembaga penelitian s’Lands Plantentuin te Buitenzorg atau Kebun Raya Bogor. Kita mau mencoba melihat kembali perjalanan Jakarta – Bogor di masa silam, naik kereta api. Kemudian mengelilingi Kota Angkot itu,” kata Kartum Setiawan, ketua KJB.

Rute yang akan dilewati antara lain Stasiun Bogor, Taman Topi, Katedral Bogor, Hotel Salak, sisi luar Istana Bogor, dan tentu saja Kebun Raya Bogor. “Kita bikin tiga tititk keberangkatan, ada dari Museum Bank Mandiri, Stasiun Gondangdia, dan Stasiun UI. Biayanya Rp 80.000/orang. Calon peserta bisa hubungi nomor HP 0817 9940 173  atau  021 99 700 131. Bisa juga via email ke: kartum_boy@yahoo.com,” ujarnya.

WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Vlugge Vier, Parahijangan, dan KA Parahyangan
Panorama di jalur Jakarta-Bandung yang bisa dinikmati dari atas kereta api.
Kamis, 22 April 2010 | 10:45 WIB

KOMPAS.com  – Beberapa waktu lalu, Pusat Pelestarian Benda dan Aset Bersejarah PT Kereta Api (Persero) mengajak beberapa pihak terkait wisata, termasuk wartawan, untuk melihat betapa berharganya jalur Jakarta-Bandung dan betapa kaya akan sejarah. Divisi tersebut memang memperkenalkan jenis wisata baru,  Heritage Railway Trip. Tapi tidak menggunakan KA Parahyangan, melainkan KA Argo Gede dengan tarif Rp 100.000/orang PP.

Jika selama puluhan tahun penumpang kereta Jakarta-Bandung tak sadar bahwa jalur tersebut adalah jalur bersejarah, maka melalui wisata sejarah kereta api itu, PT KA ingin menyadarkan warga pada nilai sejarah jalur tersebut. Meskipun, tentunya, warga yang ingin ber-wisata murah meriah menggunakan KA Parahyangan hanya punya kesempatan hingga sebelum 27 April ini.

Pertengahan abad 19, Bandung masih berupa desa terpencil di pedalaman Tatar Sunda Parahyangan. Padahal kawasan itu adalah penghasil kina dan teh. Transportasi menuju kawasan Bandung yang berkelok-kelok, begitu sulit ditempuh.

Namun dengan dimulainya pembangunan jalur kereta api di Semarang pada 10 Agustus 1867, maka jalur kereta api Batavia-Parahyangan pun ikut dibangun, yaitu pada 16 Mei 1884. Khususnya untuk mengangkut barang, demikian dikisahkan Widoyoko, salah satu anggota Indonesian Railway Preservation Society (IRPS).

Sepuluh tahun kemudian, dibangun pula jalur kereta api Jakarta-Surabaya melalui Bandung.  Jalur Jakarta-Bandung menjadi favorit warga Belanda karena pemandangan alam dan hawa yang sejuk. Dari sekadar kota persinggahan, Bandung jadi kota tujuan wisata bahkan tempat tinggal.

Karena menjadi jalur favorit warga Belanda, kereta api yang mengangkut para noni, tuan, mevrouw, dan meneer, pun menggunakan loko uap C28 yang pada saat itu menjadi lokomotif tercepat dengan kecekapatan 90 km/jam.

Pemerintah kolonial mengoperasikan KA Vlugge Vier, yang adalah kereta ekspres Jakarta-Bandung dan sungguh elit di zaman itu. Vlugge Vier sekelas dengan Eendasche Express. Jika Vlugge Vier kemudian menjadi Parahijangan dan kemudian KA Parahyangan, maka Eendashce Express menjadi KA Bima. Nama Parahijangan berubah menjadi KA Parahyangan di awal 1970-an.

Kereta api ini kemudian melanjutkan perjalanan di masa kolonial, melintas sepanjang 151 km. Jalur ini melintasi beberapa pemandangan menarik dan bersejarah. Sebut saja Terowongan Sasaksaat sepanjang 950 m. Terowongan yang dibangun di awal abad 20 ini menembus Bukit Cidepong dan ribuan orang harus tewas dalam kerja rodi tersebut.

Selain itu ada pula jembatan yang dilalui kereta tersebut. Jembatan di lintas Purwakarta hingga Padalarang itu adalah Ciganea, Cisomang, dan Cikubang dengan Sungai Cikubang. Jembatan sepanjang 300 m dengan empat pilar baja seberat sekitar 110 ton menghiasi Jembatan Cikubang.

Demikian pula Jembatan Ciganea dan Cisomang yang panjangnya 220-an meter dan menjulang di ketinggian 72 m. Pastinya sebuah pemandangan cantik sekaligus bersejarah, bahwa di abad 19 Belanda, dengan keringat bangsa ini, sudah mampu membangun jembatan di perbukitan, menghubungkan jurang di antara perbukitan Parahyangan.

Tahun 1995, PT KA meluncurkan KA Argo Gede jurusan Jakarta-Bandung. Kereta ini sebagai kereta eksekutif andalan PT KA. Maka KA Parahyangan pun mulai kembang kempis. Sepuluh tahun kemudian Tol Cipularang beroperasi. Setelah lima tahun tol itu beroperasi akhirnya perjalanan “Vlugge Vier”pun harus berhenti total pada 27 April mendatang.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Satu Lagi Layanan KA Harus Mati
Rabu, 21 April 2010 | 14:12 WIB

KOMPAS.com Selamat jalan “Parahyangan”, demikian kalimat itu meluncur dari mulut banyak orang. Tentu orang ini begitu terikat dengan “Parahyangan”. Parahyangan di sini maksudnya bukan Tatar Sunda Parahyangan, melainkan Kereta Api Parahyangan jurusan Jakarta-Bandung PP. Dalam waktu kurang dari dua pekan lagi, jalur Jakarta-Bandung yang sudah lebih dari 40 tahun lalu dilayani KA Parahyangan akan ditutup total.

Sejak Tol Cipularang dibuka sekitar lima tahun lalu, KA Parahyangan makin tenggelam. Meski harga tiket bisnis sudah didiskon hingga Rp 20.000, lebih banyak gerbong kosong yang harus jadi tanggungan PT Kereta Api (Persero) yang merugi hingga Rp 36 miliar per tahun. Maka dari itu, PT KA pun tetap melihat jalur ini tak lagi menguntungkan sehingga perlu ditutup.

Tol Cipularang dan menjamurnya travel Jakarta-Bandung PP yang makin menjemput calon pelanggan, dengan waktu tempuh yang makin pendek, menjadi idola baru komuter Jakarta-Bandung dan Bandung-Jakarta. “Padahal dari sisi harga, lebih mahal dibandingkan kereta,” ujar Ketua Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Aditya Dwi Laksana, menjawab Warta Kota, beberapa waktu lalu.

Aditya tentu menyayangkan keputusan PT KA yang langsung menghentikan pengoperasian kereta legendaris tersebut. “(KA) Parahyangan itu punya historis sendiri. Kereta itu mengalami masa jaya pada akhir 1980-an dan awal tahun 1990-an, sampai ada Tol Cipularang. Setelah itu, yang saya lihat, sudah ada berbagai langkah yang diambil pihak direksi, sampai mendiskon harga tiket bisnis secara besar-besaran. Namun, tetap saja, hal itu tidak mencapai okupansi yang diperlukan untuk menutup biaya operasi. Harusnya paling tidak 80 persen okupansi, tetapi ini hanya 50 persen. Jadi, direksi menetapkan untuk menutup jalur itu, diganti KA Argo Gede,” paparnya.

Tentu saja penggemar KA Parahyangan tetap ada. Maka dari itu, sebaiknya PT KA tidak menutup secara total, tapi bertahap, misalnya dengan mengurangi frekuensi. Jika awalnya lima kali sehari, misalnya, maka kini menjadi hanya tiga kali. Bisa pula dengan hanya mengoperasikannya pada akhir pekan (Jumat, Sabtu, dan Minggu) serta Senin ketika jumlah orang ke Bandung dan Jakarta biasanya meningkat.

Terkait keberadaan Tol Cipularang, menurut Aditya, sebenarnya yang terkena dampak tak hanya KA Parahyangan, tapi juga bus antarkota Jakarta-Bandung. Pembangunan jalan tol seperti Cipularang, menghubungkan kota, pada akhirnya juga akan menambah kisah jalur kereta api yang mati.

“Ini akan memperlihatkan bahwa transportasi yang di negara maju makin berkembang, di Indonesia makin banyak yang mati. Moda itu kalah oleh moda lain karena pembangunan jalur dan jalan yang tidak mempertimbangkan jalur transportasi kereta api yang sudah ada sejak zaman Belanda,” tutur Aditya.

Demikianlah jika pemerintah tak punya political will dalam upaya mengembangkan moda transportasi ramah lingkungan, massal, dan terjangkau kantong masyarakat.

Padahal tak lama berselang, PT KA, dalam hal ini divisi Pelestarian Benda dan Aset Bersejarah, baru saja memperkenalkan pada khalayak tentang wisata sejarah sepanjang jalur Jakarta-Bandung menggunakan KA Parahyangan. “Memang, wisata itu bisa diganti oleh KA Argo Gede, tapi secara finansial kan tidak tergantikan. Harga tiket Parahyangan dan Argo Gede kan berbeda jauh,” tambah Aditya.

Harapan pengguna kereta api tentu saja bahwa jalur kereta api dan kereta api-nya bisa bertambah maju dan berkembang, bukannya malah makin banyak kisah memilukan, yaitu jalur mati dan stasiun mati. Tengok saja, sudah berapa banyak jalur dan stasiun mati karena PT KA merugi gara-gara masyarakat tergila-gila pada moda lain, kendaraan umum, yang bisa menaikkan dan menurunkan penumpang seenaknya? Di beberapa daerah, moda itu bahkan jadi biang kemacetan.

Pada tahun 1980-an, kereta api di Pulau Jawa mulai ditinggalkan penumpang dengan masuknya colt, begitu penumpang menyebut. Padahal maksudnya angkutan umum atau angkutan kota (angkot). Hanya, pada tahun 1980-an, entah siapa yang memasok mobil bermerek Colt ke pelosok Jawa, mengubah pola masyarakat dalam bertransportasi dan itu tak hanya terjadi di Pulau Jawa. Maka dari itu, satu demi satu, layanan kereta api pun dihentikan, jalur pun jadi dead railway, dan demikian pula stasiun. Di otak warga desa, colt adalah angkutan modern yang lebih enak.

Padahal, di negara maju mana pun di dunia ini, transportasi modern itu adalah kereta api; bukan colt, bukan angkot, bukan metromini, bukan kopaja, bukan bus yang semuanya sudah tak laik jalan karena menyebarkan asap gelap. Tindakan ini sangat tidak Go Green dan juga bikin jalanan di desa makin padat dengan akibat udara jadi makin kotor.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Nasi Lengko, Pecel ala Cirebon
Jumat, 16 April 2010 | 07:59 WIB

KOMPAS.com — Cirebon tidak hanya punya hidangan khas nasi jamblang. Saat berkunjung atau sekadar melintas kota di pesisir utara Jawa itu, cicipilah nasi lengko. Meski sama-sama berbahan dasar nasi, penyajian dan lauk lengko berbeda dengan jambalng.

Memang agak sulit menemukan penjual nasi lengko. Salah satunya di Jalan Pagongan, Cirebon. Warung milik H Barno itu sudah 13 tahun berdiri. Meski hanya warung, daya tampungnya mencapai 100 pengunjung.

Nasi lengko sebenarnya mirip dengan nasi pecel. Isinya berupa nasi yang di atasnya diberi irisan kecil timun, taoge, daun bawang, irisan tempe, dan tahu. Kemudian disiram dengan bumbu kacang yang lumayan pedas beserta taburan bawang goreng dan irisan daun kucai.

Rasanya kurang lengkap bila menikmati nasi lengko ini tanpa sate kambing. Untuk itulah di warung ini pun menyediakan sate kambing yang begitu empuk dan tanpa bau prengus kambing. Rahasia daging yang begitu empuk tersebut adalah karena yang dipilih adalah kambing muda berusia satu tahun. Dalam sehari warung ini membutuhkan sekitar 30-40 kg daging kambing.

Kelezatan nasi lengko sebenarnya ditentukan oleh rasa pedas sambalnya. Namun bagi yang tidak suka pedas, jangan khawatir. Tuang kecap di atas sambal sesuai selera. Rasa kecap manis bercampur sambal dijamin lezat di lidah. Lebih afdol lagi bila disantap bersama kerupuk.

Barno menuturkan, sewaktu kakak iparnya berjualan dulu, malah sempat nasi lengko ini dilengkapi juga dengan cabai bubuk dan nasinya juga dibungkus dengan daun jati. Namun ternyata untuk saat ini konsumen kurang menyukai rasa dari cabai bubuk tersebut.

Lantas apa sebenarnya rahasia nasi lengko. “Semuanya dikerjakan secara tradisional,” jelas Barno. Untuk menanak nasi, ia menggunakan kayu bakar. Untuk menggoreng tahu atau tempe digunakan anglo (kompor tradisional) yang menggunakan arang.

Sistem memasak secara tradisional ini, diakui Barno, cukup merepotkan tapi hal itu dilakukan demi mempertahankan rasa. Selain itu, tempenya didatangkan dari Wanasaba, Kabupaten Cirebon, yang khusus membuat tempe untuk nasi lengko yang berbentuk kotak-kotak kubus kecil sepanjang 4 cm.

Satu porsi nasi lengko harganya Rp 7.000, sedangkan sate kambing muda Rp 20.000 per sepuluh tusuk. Uniknya lagi, warug nasi ini juga menyediakan es duren, mirip dengan es puter, rasanya lembut ditambah lagi dengan buah durennya yang masih utuh.

Warisan orangtua
Dalam menjalankan usaha, Barno (55), dibantu istrinya Hj Yayah Rukiyah (52). Layaknya usaha profesional, mereka tinggal mengendalikan manajemen. Sang pemilik warung ini lebih suka bekerja di belakang layar. “Sudah ada pegawai yang ngurusi. Kami lebih suka memotong daging begini saja,” tutur Barno saat menunggui istrinya memotong-motong daging kambing.

Yayah mengisahkan, usaha nasi lengko itu diwarisi dari ayah mertuanya, H Sardi. Sejak tahun 1968, Sardi sudah jualan nasi lengko. Dulu, ia berjualan keliling di kawasan Pagongan. “Setelah beliau sudah tua dan tak kuat berkeliling lagi, kami meneruskan usaha ini,” tutur ibu lima anak ini.

Awalnya memang hanya ikut-ikutan membantu kakak iparnya yang menjual nasi lengko. Setelah memiliki modal, Barno mendirikan warung nasi lengko sendiri. Kini sehari ia harus menyediakan 40 kg beras untuk melayani para pelanggannya atau sekitar 400 porsi.

Bedanya, Barno tidak keliling memikul dagangan. Ia memilih menggelar dagangannya di emperan toko di Pagongan. Ternyata, berjualan secara menetap banyak untungnya. Pelanggannya tak susah mencari. Peminat pun semakin banyak. “Apalagi, saat itu belum ada orang yang jual nasi lengko di sini,” jelas Yayah.

Oleh karena pembelinya semakin banyak, Yayah dan Barno tergerak ingin memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumennya. Tahun 1987, mereka menyewa kios yang ditempati sampai sekarang. “Agar orang mudah mencari, sengaja kios dicat dengan warna kuning menyala. Tapi kami tetap mempertahankan gerobak sebagai wadah dagangan,” ujar Yayah.

Dikatakan Yayah, kini ayah mertuanya sudah tiada. Terkadang, ibu mertuanya yang tinggal di Desa Megu, Plered, ikut membantu. “Bila mendapat pesanan orang yang punya hajat pesta, ibu mertua ikut menyiapkan dagangan,” ucapnya.

Dengan membuka warung khusus nasi lengko, Yayah dan Barno sudah ikut memasyarakatkan hidangan khas Kota Udang itu. Mereka pun berharap nasi lengko semakin dikenal masyarakat luas. Itu sebabnya, mereka tak keberatan bila karyawannya menyatakan ingin keluar dan membuka usaha yang sama. “Enggak apa-apa. Rezeki orang berbeda-beda,” komentar Yayah.

Warung nasi lengko Pak Barno buka sejak pukul 06.00 hingga pukul 20.00. Sehari-hari pembelinya tak pernah berhenti. “Paling ramai Minggu pagi. Biasanya orang habis olahraga lalu mencari sarapan ke mari,” katanya.

Nasi Lengko H Barno
Jalan Pagongan No. 15 B
Cirebon
Telepon (0231) 210064
Buka: 06.00-20.00




Blog Stats

  • 2,302,830 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 130 other followers