Posts Tagged ‘State Borderline

18
Jun
12

Prasarana : Jalan Perbatasan Kalimantan 1.755 Kilometer

Pemerintah Butuh Rp 7,5 Triliun Bangun Jalan Perbatasan Kalimantan

Zulfi Suhendra – detikfinance
Senin, 18/06/2012 18:17 WIB

Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) membutuhkan alokasi dana Rp 7,5 Triliun untuk menyelesaikan poryek perbatasan di Kalimantan dengan Negara Malaysia. Jalan di kawasan perbatasan saat ini yang sudah dibangun kurang dari seperempatnya dari total yang akan dibangun.

Kepala Pusat Komunikasi Kementerian PU Waskito Pandu menyebutkan proyek ini merupakan prioritas dari Kementerian PU, dan masih membutuhkan dana sebesar Rp 7,5 triliun.

“Perbatasan ini merupakan prioritas kami. Dananya kurang Rp 7,5 Triliun lagi untuk menyelesaikannya. Pembangunannya kan bertahap, tapi untuk keseluruhannya kita butuh dana Rp 7,5 Triliun lagi,” ungkap Pandu kepada wartawan di kantornya, Senin (18/6/12).

Pandu menyebutkan, proyek jalan perbatasan ini akan melintang sepanjang 1.755 km dari Temajuk di Sambas, Kalimantan Barat, hingga Simang Garis di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur.

“Lebar jalannya 6 meter, panjangnya sampai 1.755 km dari Temajok Kalbar sampai Simang Garis Kaltim,” tambahnya.

Sampai saat ini, jalan perbatasan itu baru rampung sekitar 400 km, namun itupun masih belum memenuhi standard kelayakan jalan. “Hasil rapat kemarin itu sekitar 400 Km yang sudah selesai tapi masih belum memenuhi standar, trase-nya masih nggak karuan,” ungkap Pandu.

Selain itu, Kementerian Pekerjaan Umum pun membangun proyek jalan akses menuju ke jalan paralel perbatasan ini yaitu akses ke Entikong, Nanga Badau, Aruk, Jagoi dan Jasa.

(zul/hen)

Baca Juga
19
Jun
09

Pareto: Emas Hitam di Ujung Timur Laut Kalimantan

REPUBLIKA, Rabu, 17 Juni 2009 pukul 01:47:00

Lihatlah peta Kalimantan Timur. Tengok ujung utaratimur yang berbatasan dengan Malaysia. Di situ ada pulau dengan kota yang bernama Tarakan. Di seputaran Tarakan itu tersimpan miliaran barel minyak dan gas di perut buminya.

Kapan minyak mulai ditemukan di daerah itu? Menurut beberapa sumber, pada 1896 perusahaan minyak milik kolonial Belanda, BPM (Bataavishe Petroleum Maatchapij) menemukan potensi sumber minyak di Pulau Tarakan. Tak lama kemudian, pada 1922, perusahaan yang sama menemukan lapangan terbesar pertama bernama Bunyu.

Di cekungan Tarakan saja sudah ditemukan sejumlah minyak dan gas yang setara dengan satu miliar barel minyak. Tak pelak, banyak perusahaan minyak, baik lokal maupun asing, yang berlombalomba mengeksplorasi wilayah yang kaya dengan emas hitam ini.

Di Blok Bunyu, misalnya. Saat itu sekitar 1967, Indonesia memberikan kontrak kerja ke Total Indonesie. Setelah itu dilakukan kotrak lagi dengan British Petroleum (BP untuk wilayah Blok North East Kalimantan Offshore pada 1970). Disusul Hudson Bunyu yang juga memperoleh lapangan minyak di Blok Bunyu pada 1985.

Eksplorasi minyak dan gas pada tahap selanjutnya bukan hanya di cekungan Tarakan saja, tapi sudah mulai menjorok ke laut yang lebih dalam (deep water area). Di situ ditemukan minyak di wilayah Bukat dan Ambalat (blok wilayah Indonesia yang sedang diincar Malaysia).

ENI Ltd, misalnya, sudah mengoperasikan lapangan di Blok Bukat sejak 1988. Di blok ini ENI sudah menemukan minyak di lapangan Aster dan lapangan Tulip.

Jumlah total minyak dan gas yang sudah diketemukan di dua lapangan itu di atas 250 MMBOE (million barrel oil equivalen) atau setara dengan 250 juta barel minyak.

ENI Ltd juga memegang Blok Bulungan. Mereka sudah mulai melakukan akuisisi seismik di tempat tersebut pada Juli 2008. Akuisisi seismik dilakukan untuk mendapatkan gambaran bawah permukaan bumi, sekaligus untuk mengetahui apakah ada kandungan minyak dan gas atau tidak di bawah laut.

Sementara, untuk Bengara II saat ini sedang dilakukan pemetaan seismik. Continental Geopetro Bengara II sudah siap melakukan kerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk mengeksplorasi minyak dan gas yang kandungannya cukup besar di blok ini.

Di kawasan ini ada 14 blok migas. Entah berapa persisnya cadangan minyak dan gas di kawasan itu. Tapi yang jelas ada miliaran barel minyak dan belasan atau mungkin triliunan kaki kubik gas yang ada di perut buminya.

Wilayah Ambalat yang sedang coba direbut Malaysia sebetulnya hanya sebagian dari kekayaan minyak kita yang itupun hanya di ujung Timur Laut Kalimantan.   nif

19
Jun
09

Pareto : Minyak versus Harga Diri

REPUBLIKA, Rabu, 17 Juni 2009 pukul 01:54:00

Anif Punto Utomo (Wartawan Republika)


Minyak yang berlimpah membuat Malaysia tergiur menguasai Ambalat.

Ambalat kembali memanas. Kapal perang Malaysia belasan kali memprovokasi dengan masuk ke wilayah Indonesia di perairan Ambalat. Radio kemunikasi mereka matikan, sehingga tentara kita terpaksa mengusir secara fisik, dengan kapal. Ini bukan kali pertama Malaysia mengintimidasi Indonesia dalam kasus Ambalat. Sekitar empat tahun silam, Malaysia juga melakukan hal serupa. Masuk perairan Indonesia, dan keluar setelah diusir.

Permasalahannya adalah Indonesia dan Malaysia sama-sama mengklaim wilayah Ambalat. Indonesia merasa berhak atas Ambalat karena sesuai konsep Wawasan Nusantara yang sudah disahkan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), Blok Ambalat masuk wilayah Indonesia. Konsep tersebut masuk dalam satu bab tersendiri dalam UNCLOS (UN Convention on the Law of The Sea) pada 1982. Dengan begitu kekuatan hukum atas batas tersebut sudah tak terbantahkan lantaran sudah diakui badan dunia.

Bagaimana Malaysia? Mereka membuat batas sendiri yang memasukkan sebagian wilayah Ambalat menjadi wilayah Malaysia. Memang, pengajuan itu dilakukan pada 1979, tiga tahun sebelum Wawasan Nusantara disahkan. Tapi begitu disahkan PBB, logikanya tak ada lagi perdebatan.

Malaysia makin percaya diri dengan batas itu ketika berhasil merebut Pulau Sipadan dan Ligitan dari tangan kita, 17 Desember 2002. Kedua pulau legendaris itu menjadi modal untuk memorakporandakan batas yang telah diklaim Indonesia. Karena dengan kemenangan itu seolah batas wilayah yang dibikin sendiri Malaysia itu menjadi sah.

Perundingan antara Indonesia dan Malaysia sudah 23 kali dilakukan, tidak juga membuahkan hasil. Indonesia tetap pada klaim yang sudah disahkan PBB, sementara Malaysia tetap berkukuh bahwa batas yang mereka bikin sendiri tanpa pengesahan dari badan internasional, itu adalah yang benar. Mengapa Malaysia ngotot memasukkan Ambalat ke wilayahnya?

Minyak! Sejarah menunjukkan bahwa konflik yang terjadi di berbagai belahan bumi ini disebabkan karena perebutan minyak. Konflik di Timur Tengah menjadi contoh klasik bagaimana minyak menjadi ‘tokoh sentral’ yang melibatkan negara lain, terutama Amerika Serikat. Penyerangan AS ke Irak, baik saat Perang Teluk 1991 maupun 2005 kemarin adalah demi minyak.

Jadi karena minyak yang diperkirakan berlimpah itulah yang membuat Malaysia tergiur untuk menguasai Ambalat. Kalau cuma lautan, mereka tidak perlu mengklaim wilayah itu sebagai miliknya. Emas hitam itu telah menggoda Malaysia untuk mengeruk kekayaan di Ambalat.

Ambalat secara teritori dibagi menjadi dua blok, yaitu Blok Ambalat dan Blok East Ambalat. Di kedua blok itu tersimpan potensi gas dan minyak yang sangat besar. Menurut pakar geologi dari lembaga konsultan Exploration Think Tank Indonesia, (ETTI) Andang Bachtiar, satu titik tambang di Ambalat menyimpan cadangan potensial 764 juta barel minyak dan 1,4 triliun kaki kubik gas. ”Itu baru satu titik, padahal ada sembilan titik yang ada di Ambalat,” ungkapnya.

Sejauh ini oleh Pemerintah Indonesia, pengelolaan blok tersebut diberikan kepada kontraktor asing. Blok Ambalat dikelola oleh ENI Ambalat Ltd, kontraktor dari Italia mulai 1999.

Sedangkan, Blok East Ambalat dikelola Unocal yang penandatangan kontrak bagi hasil (production sharing contract/PSC) dilakukan 12 Desember 2004, dengan komitmen eksplorasi 1,5 juta dolar AS dan bonus penandatanganan sebesar 100 ribu dolar AS.

Pada Agustus 2005, Unocal diakuisisi oleh Chevron dengan nilai 67 miliar dolar AS. Sejak itu pemegang konsesi Ambalat Timur adalah Chevron. Meskipun blok tersebut sudah dikapling kontraktor yang telah teken kontrak dengan Pemerintah Indonesia, Malaysia tak peduli. Mereka juga memberikan konsesi kepada Shell dan Petronas Carigali untuk menyedot minyak dari Ambalat.

Shell sebelumnya pernah mengoperasikan Ambalat lewat konsesi yang diberikan Pemerintah Indonesia. Tapi lapangan itu terus dikembalikan karena gagal, setelah melakukan pengeboran sumur Bouganville-1. Kini mereka datang lagi untuk blok yang sama (overlap), bedanya sekarang Shell ‘mewakili’ Malaysia.

Malaysia menamakan Blok Ambalat itu dengan ND-6 dan ND-7. Blok ND-6 tumpang tindih dengan Blok East Ambalat, sedangkan ND-7 tumpang tindih dengan Blok Ambalat. Shell ditunjuk mengelola ladang minyak di ND-6 dan Petronas Carigali untuk Blok ND-7. Kapan? 16 Februari 2005.

Sejak Malaysia memberikan konsesi kepada Shell dan Petronas itulah kemudian Ambalat memanas. Karena beberapa pekan setelah itu, awal Maret 2005 Malaysia mulai melakukan provokasi. Kapal perang mereka mondarmandir di perairan Ambalat, bahkan kadang masuk ke wilayah Indonesia. Begitu pula pesawat angkatan udara mereka.

Kini, empat tahun setelah itu, Malaysia kembali melakukan pola yang sama, memprovokasi. Barangkali mereka hanya ingin menaikkan posisi tawar. Provokasi mereka itu tak lain untuk mengusik warga dunia dengan memberi pesan bahwa masih ada persoalan perbatasan di Ambalat.

Target Malaysia yang paling terlihat adalah menikmati gurihnya minyak di Ambalat, sehingga kalaupun hasil akhirnya adalah pengelolaan bersama, itu sudah keuntungan yang luar biasa. Dari tidak memiliki apa-apa menjadi memperoleh sesuatu. Hanya saja Malaysia untung, kita yang buntung.

Karena itu benar kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro, ”Tidak ada pengelolaan bersama, Ambalat milik kita.” Saatnya untuk tegas kepada Negeri Jiran yang sering membuat kita gerah itu. Bagi Indonesia, soal Ambalat bukan saja masalah minyak, tetapi lebih pada harga diri sebuah bangsa.




Blog Stats

  • 2,251,183 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers