Posts Tagged ‘Ring of Fire

27
Oct
09

Lingkungan : Danau Kelimutu Berubah Jadi Satu Warna

Danau Kelimutu Berubah Jadi Satu Warna
Danau Tiwu Nua Muri Koo Fai (kiri) dan Danau Tiwu Ata Polo, Kamis (15/10). Dua dari tiga kawah Danau Kelimutu di Kabupaten Ende, Pulau Flores, NTT, telah berubah menjadi satu warna, hijau muda. Perubahan warna ini diawali Danau Tiwu Ata Polo pada Desember 2008.

Selasa, 27 Oktober 2009 | 03:08 WIB

KUPANG, KOMPAS.com–Danau tiga warna Kelimutu yang terletak di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) kini berubah menjadi satu warna, yakni hijau, dari warna aslinya merah, putih dan biru.

“Perubahan warna ini menunjukan tanda-tanda kurang baik,” kata Ketua Aliansi Masyarakat Adat Kelimutu, Nikolaus Ruma yang dihubungi dari Kupang, Minggu.

Ia mengatakan, terdapat tiga danau yang terletak di Desa Woloara, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende yang letaknya berdampingan dan masing-masing diberi nama Tiwu Ata Polo, Tiwu Ata Mbupu dan Tiwu Ko`ofai Nuwa Muri.

Dia mengatakan, masyarakat yang bermukim di sekitar danau kelimutu meyakini perubahan warna air Danau Kelimutu tersebut sebagai tanda bakal terjadi perubahan alam yang luar biasa yang harus diwaspadai.

“Ini merupakan tanda yang bisa membawa malapetaka besar bagi masyarakat di Indonesia,” katanya.

Saat ini, katanya, warga disekitar danua Kelimutu sudah mulai cemas dengan adanya perubahan warna danau tersebut.

Keyakinan ini didasari pada pengalaman pada 1992 silam, seiring dengan perubahan warna danau tersebut, terjadi gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores yang menelan banyak korban jiwa.

“Perubahan warna danau ini pernah terjadi sebelumnya dan secara mendadak,” katanya.

Dari tiga danau tersebut, katanya, danau yang berwarna biru, jarang berubah warna, sehingga kekhawatiran bakal terjadi bencana yang menelan korban jiwa.

Kekhawatiran akan terjadi bencana ini, tambahnya, bukan saja terjadi di wilayah Pulau Flores, tetapi Indonesia, karena keajaiban dunia ini ada di Indonesia.

Seiring perubahan warna danau tersebut pada lima hari lalu, lanjutnya, terjadi gempa yang mengguncang Saumlaki, sehingga perlu diwaspadai adanya peristiwa selanjutnya.(*)
JY

Editor: jodhi
Sumber : Ant

25
Oct
09

Bencana Alam : Gempa Bumi Tektonik Enam Kali

TEMPO Interaktif, Jakarta – Sekurangnya enam kali gempa menguncang wilayah Indonesia sepanjang hari ini, Minggu (25/10). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BKMG) mencatat, gempa terjadi sejak pukul 03.54 WIB dini hari hingga 12.00 WIB siang tadi.

“Pergerakan teknonik masih aktif baik di lempeng Euroasia, Australia maupun lempeng Pasifik,” ujar Kepala Unit Gempa BKMG, Wandono melalui sambungan telepon.

Gempa pertama terjadi pada pukul 03.54 WIB. Di 174 kilometer Barat Daya Waingapu, Nusa Tengara dengan kekuatan 6,1 skala richter. Gempa susulan di lokasi yang sama dengan kekuatan 5.5 skala richter terjadi pukul 04.04 WIB.

Selang tiga jam, guncangan gempa terjadi di 151 km Barat daya Tual Maluku dengan kekuatan 5,3 skala richter pada 07.35 WIB. Berlanjut dengan gempa kekuatan 5 skala richter di 69 km Tenggara Siberut Mentawai Sumatera Barat pada 08.50 WIB.

Kemudian pada 09.25 WIB, gempa 5,2 skala richter terjadi di 106 km Timur Laut Bitung Sulawesi Utara. Dan terakhir pada 12.00 siang hari, gempa 5 skala richter mengguncang 228 km Barat Laut Samulaki Maluku.

Wandono menambahkan aktivitas ini terjadi konstan dengan pergeseran lempeng bumi sebesar enam hingga tujuh cm pertahun. “Hanya dalam proses pergerakannya tidak semuanya mulus. Pengumpulan energi sudah mendekati batas kemampuan sehingga terjadi gempa tektonik,” jelasnya.

Hingga kini BKMG belum bisa memperkirakan sampai kapan aktivitas guncangan gempa tersebut akan terus terjadi. “Kami belum bisa memperkirakan, belum ada metode yang bisa mendeteksi,” tambahnya.

BKMG telah menyiapkan media komunikasi seperti sms, fax, radio internet bahkan melalui layanan twitter di
http://twitter. com/infogempabmg untuk menyiarkan informasi gempa.
“Masyarakat diharapkan selalu siap siaga karena gempa belum bisa diprediksi dan dapat terjadi kapan saja,” kata Wandono.

Upaya Prediksi Gempa
Senin, 26 Oktober 2009 | 08:18 WIB

Yuni Ikawati

KOMPAS.com – Fenomena kegempaan telah terjadi sejak permukaan Bumi ini terbentuk. Untuk memahaminya, dikembangkan seismologi—bagian dari ilmu kebumian. Namun, hingga kini gempa belum juga dapat diperkirakan sehingga selalu mengancam kehidupan di atasnya. Riset pun terus berjalan.

Awal pekan lalu muncul rumor akan terjadi gempa berkekuatan 8,5 skala Richter pada Sabtu, 24 Oktober 2009. Guncangannya disebutkan mengarah ke Jakarta.

Berita yang disebutkan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) itu telah dibantah Kepala BMKG, 19 Oktober. Isu ini tidak mempunyai dasar ilmiah yang jelas karena gempa tektonik belum bisa diprediksi secara ilmiah.

Kenyataannya pada tanggal itu Jakarta ”aman-aman” saja. Meski terjadi gempa pada pagi hari (pukul 10.09 WIB), skalanya hanya 5,1 SR dan hanya sedikit menggoyang Sukabumi.

Lalu ada gempa lagi pada malam harinya (21.40 WIB) di Laut Banda. Gempa tergolong kuat (7,3 SR) dengan pusat ada pada jarak 209 kilometer barat laut Saumlaki, Maluku. Karena pusat gempanya dalam, guncangannya terasa hingga ke Ambon dan Merauke.

Sejauh ini ilmu kebumian yang dikuasai manusia baru sebatas merekam gempa yang terjadi, baik waktu, lokasi, maupun intensitasnya. Belum ada teknik prediksi gempa yang tergolong maju dan teruji secara ilmiah.

Namun, upaya rintisan ke arah itu terus dilakukan. Salah satu teknik pemantauan menggunakan gelombang elektromagnet (EM) yang terpancar dari perut Bumi. Penelitian ini telah lama dirintis Varotsos, pakar geofisika dari Universitas Athena, Yunani, pada tahun 1884.

Menurut dia, teknik ini memiliki prospek yang baik untuk memperkirakan gempa. Karena tingkat kesuksesannya dalam memprediksi gempa ketika itu sudah mencapai 63 persen.

Melihat prospek itu, beberapa negara maju, di antaranya Jepang dan Taiwan—yang kerap diguncang gempa—seperti halnya Indonesia, belakangan ini gencar melakukan pengembangan teknik ini, tidak hanya untuk mengamati sebaran EM di lapisan litosfer Bumi, tetapi juga di atmosfer hingga ionosfer.

Gelombang EM digunakan untuk mengindikasikan terjadinya gempa karena percepatan gerakan lempeng dan magma akibat perubahan formasi bebatuan di perut Bumi menimbulkan lonjakan gelombang elektromagnet. Anomali ini terlihat sebelum gempa terjadi.

Menggali ilmu pemantauan gempa dari dua negara itu, Djedi S Widarto, peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, beberapa waktu lalu mengungkapkan hasil risetnya di Liwa, daerah di pesisir barat perbatasan Lampung-Bengkulu yang diguncang gempa dahsyat beberapa tahun lalu.

Pertanda munculnya gempa tektonik dapat diketahui dua hingga lima hari sebelum kejadian, ditunjukkan adanya anomali gelombang elektromagnet di permukaan Bumi. ”Ada lonjakan elektromagnetik sekitar 5 milivolt sebelum terjadi gempa besar di daerah itu,” urainya. Penyimpangan ini bahkan terpantau di lapisan ionosfer yang berada 300 hingga 400 kilometer di atas permukaan Bumi.

”Dengan berkembangnya teknik sensor dan instrumentasi, pemantauan anomali elektromagnetik dalam 5-10 tahun mendatang dapat digunakan sebagai parameter untuk memprediksi gempa tektonik,” ujar Djedi, doktor geofisika dari Kyoto University.

Akibat pergerakan lempeng, terjadi rekahan yang memengaruhi gaya berat dan mineral magnetis di dalam Bumi sehingga mengganggu kestabilan gaya medan elektromagnetik. ”Gangguan ini bisa sampai radius 400 kilometer di atas permukaan Bumi, pada lapisan ionosfer,” ujar Djedi, yang menyelesaikan riset itu di Institute of Space Science National Central University, Taiwan.

Sementara itu, peneliti dari Lapan, Sarmoko Saroso, yang melakukan penelitian anomali elektromagnetik di institut yang sama, memperoleh data adanya anomali EM ketika terjadi gempa Aceh, 26 Desember 2004 lalu. Data tersebut terekam pada waktu yang bersamaan di empat stasiun global positioning system (GPS), yaitu di Medan, Singapura, Myanmar, dan India.

Pascagempa Aceh para pakar dari kedua negara tersebut sepakat menjalin kerja sama riset lebih lanjut melibatkan lembaga penelitian di Indonesia, yaitu LIPI dan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional.

Pengukuran elektromagnetik dilakukan dengan menggunakan jaringan GPS, selain alat magnetometer, sensor elektroda geolistrik, dan teropong korona. Sistem ini dilengkapi dengan alat telemetri untuk data secara real time. Penelitian di Liwa tahun 2005 itu mendeteksi lonjakan gelombang elektromagnetik sebagai pertanda gempa tektonik berkekuatan 5,2 SR, 12 hari sebelum kejadian.

Asperitas

Selain teknik pengukuran gelombang elektromagnet itu, Jepang mulai meneliti asperitas (asperity), yaitu tingkat kekasaran permukaan lempeng di zona subduksi dengan sistem seismograf. ”Dengan mengetahui kekasaran permukaan, dapat diketahui terjadinya perlambatan gerak penunjaman hingga akhirnya ”terkunci” dan kemudian lepas atau menggelosor,” tutur Eko Yulianto, yang meraih doktor geologinya dari Universitas Hokkaido, Jepang.

Yoshiko Yamanaka dan Masayuki Kikuchi dari Institut Riset Gempa Bumi Universitas Tokyo meneliti karakteristik kekasaran permukaan (asperity) lempeng, dengan mempelajari sumber kegempaan di daerah antarlempeng atau zona subduksi di lepas pantai Distrik Tohoku, timur laut Jepang.

Penelitian yang dipublikasikan tahun 2003 ini berdasarkan data seismik regional selama lebih dari 70 tahun lalu. Mereka menemukan tiga kategori pola distribusi asperitas lempeng di Tohoku, dibedakan pada tingkat kekasaran dan kegempaan yang ditimbulkannya.

Editor: wsn
Sumber : Kompas Cetak

20
Oct
09

Bencana Alam : Gempa 4,7 SR, Tasikmalaya dan Garut

Gempa 4,7 SR

Selasa, 20 Oktober 2009 | 21:46 WIB

TEMPO Interaktif, Garut – Warga Kabupaten Garut dan Tasikmalaya, Jawa Barat, kembali merasakan goncangan gempa, Selasa (20/10). Namun belum ada laporan kerusakan. Situs Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebutkan, gempa berkekuatan 4,7 skala ritcher ini terjadi 19.01 tadi.

Pusat gempa diperkirakan terjadi di laut berjarak 108 kilometer sebelah selatan Tasikmalaya. Gempa terjadi pada kedalaman 25 kilometer. Gempa ini dirasakan juga di Pangandaran, Tasikmalaya, Ciamis, Cisompet.

Cecep warga Perumahan Aksa Jaya, Kelurahan Sambong Jaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, menyatakan gempa terjadi sekitar pukul 19.00 WIB. Goncangannya berlangsung sekitar lima detik.

Saat kejadian dirinya sedang tiduran di lantai. Namun tiba-tiba terasa goyangan. Awalnya dia tidak mengira itu gempa. “Saya mengira kursi bergoyang, tapi setelah liat ke bawah saya sedang di lantai. Barulah saya sadar dan langsurng lari ke luar,” ujarnya.

Hal sama pun dirasakan warga kabupaten Garut yang berada dipesisir pantai selatan. Mereka langsung berhamburan ke luar rumah saat merasakan goncangan gempa.”Setiap ada goncangan warga sudah sensitif dan langsung lari ke tempat yang aman,” ujar Camat Pameungpeuk Jujun Juhana saat dihubungi melalui telpon selulernya.

Namun goncangan gempa tidak berlangsung lama. Kekuatannya pun tidak sebesr gempa pada 2 September lalu. Saat ini warga pun telah kembali ke rumahnya masing-masing.

Getaran gempa yang dirasakan warga Tasik dan Garut itu terdeteksi Pos Pengamatan Gunung api Guntur, Garut dengan kekuatan guncangan diperkirakan I-II MMI (Modified Merchantile Intensity).

“Getarannya akan dirasakan oleh sebagian orang saja dan diprediksi tidak akan menimbulkan keruakan bangunan,” Ujar Petugas Pos Gunung Guntur, Nana Rohana. Menurutnya, goncangan gempa pun tidak mempengaruhi aktivitas kegempaan gunung Guntur.

SIGIT ZULMUNIR

20
Oct
09

Bencana Alam : Gempa 5,3 SR di Sumatera Barat

Selasa, 20/10/2009 00:07 WIB
Gempa 5,3 SR Goyang Sumbar
Khairul Ikhwan – detikNews


Ilustrasi

Padang – Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) kembali digoyang gempa bumi. Terakhir, gempa berkekuatan 5,3 SR mengguncang wilayah yang sedang dalam proses rehabilitasi pasca gempa tersebut.

Informasi yang diperoleh detikcom dari Badan Meteorologi. Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Senin (19/10/2009), gempa terakhir terjadi sekitar pukul 23.35 WIB.

Titik pusat gempa berada di 1.87 LS-100.20 BT atau Barat Daya Painan, Sumbar.

Gempa terjadi di kedalaman 20 Km. Hingga kini belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa. Tidak ada peringatan terjadinya gelombang tsunami setelah gempa. (irw/her)

 

Selasa, 20/10/2009 00:28 WIB
Gempa 5,3 SR di Sumbar
Panik, Tamu Hotel Bunda Berhamburan

Khairul Ikhwan – detikNews


Ilustrasi

Jakarta – Sumatera Barat (Sumbar) kembali diguncang gempa. Meski tidak sebesar gempa kemarin, namun gempa kali ini cukup membuat warga panik.

“Ada getaran waktu saya lagi tidur. Saya langsung lari keluar,” ujar salah seorang reporter TV, Ahmad Zulfikar, di Hotel Bunda, Jl Bundo Kanduang, Kota Padang, Sumatera Barat, Selasa (20/10/2009).

Hotel tempat Ahmad menginap tersebut hanya berjarak 50 meter dari Hotel Ambacang. Hotel Ambacang runtuh akibat gempa 7,9 SR yang menggetarkan bumi minang pada 30 September lalu.

Dikatakan dia, gempa terakhir membuat seluruh pengunjung hotel berhamburan keluar. Mereka takut jika kejadian beberapa waktu lalu terulang kembali di hotel yang kini mereka sewa.

Informasi yang diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) gempa tersebut berkuatan 5,3 SR dan terjadi sekitar pukul 23.35 WIB. Titik pusat gempa berada di 1.87 LS-102 BT atau 70 KM Barat Daya Painan, Sumbar dengan kedalaman 20 KM. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. (her/irw)

19
Oct
09

Bencana Alam : Gempa SumUt dan Dili Timor Leste

Gempa 5,2 SR

By Republika Newsroom
Senin, 19 Oktober 2009 pukul 07:30:00

BANDARLAMPUNG–Gempa berkekuatan 5,2 Skala Richter (SR) berpusat pada 80 kilometer Barat Daya Tanahbala, Sumatra Utara (Sumut), Senin pukul 06:29 WIB. Laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang terpantau dari Bandarlampung, juga menyebutkan gempa berada di 1,03 Lintang Selatan-97,98 Bujur Timur, dengan kedalaman 16 kilometer dan tidak berpotensi tsunami.

Pusat gempa juga berada pada 102 kilometer Barat Laut Siberutmentawai, Sumatra Barat, 109 Barat Daya Tanahmasa, Sumatra Utara, 227 kilometer Barat Laut Sipuramentawai, Sumatra Barat, dan 241 kilometer Barat Daya Pariaman, Sumatra Barat. ant/taq

Gempa 5,6 SR

By Republika Newsroom
Senin, 19 Oktober 2009 pukul 07:25:00

BANDARLAMPUNG–Gempa berkekuatan 5,6 Skala Richter (SR) berpusat pada 142 kilometer Timur Laut Dili-Timor Leste, Senin pukul 00:21 WIB.  Laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyebutkan, gempa tersebut berada di 7,34 Lintang Selatan-125,93 Bujur Timur, dan tidak berpotensi tsunami.

Pusat gempa juga berada pada 408 kilometer Timur Laut Kupang, NTT, 424 kilometer Tenggara Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, 480 kilometer Barat Daya Ambon, Maluku, dan 505 Timur Laut Ende, NTT. ant/taq

Gempa Dili

By Republika Newsroom
Senin, 19 Oktober 2009 pukul 09:04:00
Gempa Dili Tak Dirasakan Warga NTT

KUPANG–Gempa berkekuatan 5,6 Skala Richter (SR) yang berpusat pada 142 kilometer Timur Laut Dili, Timor Leste, Senin pukul 00:21 WIB, tidak dirasakan getarannya oleh warga Nusa Tenggara Timur (NTT) karena pada saat kejadian, sebagian besar warga sedang tidur lelap.”Gempa dengan kekuatan tersebut paling tidak dirasakan warga di Kabupaten Belu, Kupang dan Timor Tengah Utara (TTU) yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste, namun hingga kini belum ada laporan dari masyarakat,” kata Kepala Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Haryanto di Kupang, Senin (19/10).

Ia menyebutkan, gempa tersebut berada di 7,34 Lintang Selatan-125,93 Bujur Timur dan tidak berpotensi tsunami. Pusat gempa juga berada pada 408 kilometer Timur Laut Kupang, NTT, 424 kilometer Tenggara Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, 480 kilometer Barat Daya Ambon, Maluku, dan 505 Timur Laut Ende, NTT.

Gempa bumi serupa juga terjadi tanggal 19 Oktober 2009 pukul 06:29:12 WIB dengan lokasi 1.03 LS – 97.98 Bujur Timur dengan kekuatan 5.2 SR pada kedalaman 16 Km dengan lokasi 80 kilometer Barat Daya tanah Bala Sumatera Utara (Sumut). “Tidak ada korban harta benda dan jiwa pada gempa tersebut,” katanya.

Ia menegaskan, pertemuan lempengan bumi di Indonesia seperti Pulau Sumatra dan Jawa sering menimbulkan gempa-gempa tektonik berkekuatan besar sehingga tidak jarang menimbulkan korban jiwa dan harta benda. “Misalnya pertemuan lempeng Hindia dengan lempeng Euroasia di wilayah Indonesia terdapat di kawasan barat Pulau Sumatera dan jalurnya menuju Selatan Pulau Jawa hingga masuk laut Banda dan bertemu lempeng pasifik,” katanya.

Dikatakan, jalur lempengan bumi ini terus bergerak ke Selatan Pulau Jawa kemudian berputar ke Laut Banda, bertemu lempeng Pasifik dan bergerak ke Pulau Seram Bagian Utara sampai ke Ternate, Provinsi (Maluku Utara) dan bertemu lempeng Filipina dan Autralia. Disebutkan perbatasan pertemuan lempengan bumi dari tiga komponen yang saling mengunci itu terjadi di laut Banda. “Karena saling mengunci, maka sering kali di situ terjadi gempa-gempa tektonik tapi jaraknya sangat dalam di bawah laut, namun tidak menutup kemungkinan sewaktu-waktu bisa terjadi gempa dangkal,” katanya.

Ia mengatakan, hingga saat ini para ahli di Indonesia atau di dunia sekalipun belum dapat memprediksi atau memastikan waktu kapan akan terjadi gempa bumi, seperti yang di Pulau Sumatra, akhir September lalu dan hari ini di Dili dan Sumut. “Prediksi gempa bumi masih dalam taraf penelitian. Parameter prediksi adalah lokasi, besarnya dan waktunya. Perkiraan lokasi dan besarnya gempa dapat saja dilakukan, namun tantangan yang paling sulit adalah menjawab kapan gempa tersebut terjadi,” katanya. ant/taq

16
Oct
09

Bencana Alam : Gempa 6,4 SR, Ujung Kulon, Banten

Jumat, 16/10/2009 20:39 WIB
Gempa 6,4 SR
6 Rumah dan 1 Sekolah Rusak di Kecamatan Sumur

Aprizal Rahmatullah – detikNews


 

Jakarta – Gempa berkekuatan 6,4 Skala Richter (SR) yang berpusat di sebelah barat Ujung Kulon, Banten menyebabkan beberapa rumah rusak. Di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten, 6 rumah dan 1 sekolah mengalami retak-retak.

“6 rumah penduduk retak dan jebol. Ada juga SMA 16 Sumur 3 ruangannya retak,” kata Kapolsek Sumur AKP M Yusuf kepada detikcom, Jumat (16/10/2009).

Kecamatan Sumur adalah daerah paling dekat dengan Ujung Kulon. Lokasinya paling ujung dari Kabupaten Pandeglang.

Menurut Yusuf, getaran gempa sangat terasa sekali di Kecamatan Sumur. Saat kejadian, warga banyak yang panik dan berhamburan ke luar rumah untuk mencari tempat perlindungan.

“Tapi mereka akhirnya kembali tenang ke rumahnya masing-masing,” ungkapnya.

Yusuf menjelaskan, hingga saat ini pihak kepolisian belum mendapat laporan tentang adanya korban akibat gempa. “Nihil, mudah-mudahan tidak ada,” tandasnya.

Sebelumnya, gempa 6,4 SR terjadi di sebelah barat Ujung Kulon, Banten. Gempa ini terasa hingga Jakarta, Bandung, Bogor hingga Sukabumi.

(ape/ape)

Gempa 6,4 Sr 

Gempa Berkekuatan 6,4 SR Guncang Beberapa Daerah

Antara – Sabtu, Oktober 17

Jakarta (ANTARA) – Gempa berkekuatan 6,4 Skala Richter dirasakan di beberapa daerah di Lampung dan Banten pada Jumat pukul 16:52 WIB.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di beberapa tempat yakni 42 kilometer Barat Laut Ujung Kulon (Banten), 128 km Barat Daya Kalianda (Lampung), 137 kilometer Barat Daya Merak (Banten), 151 kilometer Barat Daya Tanjung Karang (Lampung) dan 186 kilometer Barat Daya Metro (Lampung).

Gempa yang berpusat di Ujung Kulon terasa di Jakarta pada III-IV Modified Mercally Intensity (MMI), Ujung Kulon IV-V MMI, Sukabumi III-IV MMI, Banten III-IV MMI, Cisarua III-IV MMI dan Depok II-III MMI.

Getaran gempa membuat orang-orang yang bekerja di bangunan tinggi di Jakarta keluar dari gedung dan berkerumun di halaman depan gedung.

Sebagian panik. “Aduh, gempa ya! Bagaimana ini,” kata seorang ibu yang ketika ada getaran gempa berada di lantai 20 Wisma ANTARA, Jakarta Pusat, sambil tergopoh-gopoh turun di melalui tangga darurat.

Pekerja yang berkantor gedung tinggi lain di Jakarta Pusat dan kawasan Kuningan pun sebagian besar juga turun dan berkumpul di halaman gedung sampai getaran gempa tak lagi terasa.

Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman menyarankan, orang-orang yang berada di dalam gedung bertingkat ketika gempa berusaha mencari bagian bangunan yang konstruksinya kuat.

“Sebaiknya berlindung dengan merapat ke bagian bangunan yang strukturnya kuat. Yang paling kuat adalah konstruksi lift. Selain itu dinding atau tiang yang besar. Hindari berada di tengah ruangan tanpa penyangga,” katanya saat memberikan sambutan pada halal bil halal anggota Gabungan Pengusaha Jamu di Hotel Sahid Jakarta, Kamis (15/10) malam.

GEMPA UJUNG KULON
Potensi Gempa Besar Terkurangi

Sabtu, 17 Oktober 2009 | 03:22 WIB

Jakarta, Kompas – Gempa tektonik yang berpusat di Ujung Kulon, Jumat (16/10) sore, mengurangi risiko terjadinya gempa besar setelah gempa Tasikmalaya, 4 September, dan Padang, 30 September. Gempa yang terjadi kemarin sore pada pukul 16.52 berkekuatan 6,4 skala Richter dan berpusat 42 kilometer barat laut Ujung Kulon, Provinsi Banten. Pusat gempa di laut dengan kedalaman sekitar 10 kilometer.

”Dari sifat kedangkalan pusat gempa tersebut, diperkirakan sebagai rangkaian gerak Sesar Sumatera. Gempa tersebut diharapkan mengurangi potensi gempa besar berikutnya karena energi Sesar Sumatera telah terlepas sebagian,” kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Mineral Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Yusuf Surachman, Jumat.

Sejumlah ahli mengkhawatirkan, gempa berkekuatan hingga 8,9 skala Richter masih berpotensi terjadi di wilayah Sumatera, setelah terjadi gempa di Padang. Namun, beberapa gempa yang terjadi di jalur Sesar Sumatera akhir-akhir ini diharapkan mereduksi energi potensi gempa yang lebih besar.

Kepala Pusat Gempa dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Fauzi mengatakan, pusat gempa tepatnya berada di 6,79 Lintang Selatan dan 105,1 Bujur Timur.

”Episentrum ini berada di zona subduksi atau penunjaman lempeng Indo-Australia terhadap Eurasia,” kata Fauzi.

Intensitas gempa ini dirasakan di Ujung Kulon dalam skala 4 MMI hingga 5 MMI (modified mercally intensity). Sementara kegempaan dengan intensitas 3-4 MMI dirasakan penduduk di Lampung, Banten, dan Jakarta. Adapun di Depok dan Bandung intensitas gempa 2-3 MMI.

Gempa susulan muncul pada pukul 17.01, tetapi kekuatannya jauh berkurang, hanya 4,9 skala Richter.

Aktivitas tinggi

Seperti halnya pesisir barat Sumatera, daerah laut selatan Pulau Jawa tergolong memiliki aktivitas kegempaan yang tinggi. Hal ini terjadi akibat desakan lempeng Indo-Australia yang relatif kuat, 5 hingga 7 sentimeter per tahun. ”Bagian selatan Selat Sunda juga dilewati terusan Sesar Semangko,” kata Yusuf.

Secara terpisah, guru besar dan ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung, Sri Widiyantoro, mengatakan, meskipun gempa tersebut mendekati Pulau Jawa, sistem ini tidak menyambung dengan sesar yang terdekat, yaitu Sesar Cimandir yang terbentang mulai dari sekitar Sukabumi.

”Sejauh ini, untuk memprediksi potensi gempa berikutnya memang masih belum bisa dilakukan,” kata Widiyantoro.

Gempa yang dirasakan di Jakarta juga membuat panik sejumlah warga. Karyawan di sejumlah perkantoran di Jakarta langsung keluar meninggalkan gedung begitu terasa guncangan.

Hal serupa dilakukan warga di Sukabumi, Bandung, dan Lampung. Warga yang berada di dalam rumah dengan panik segera keluar rumah.

Di Kabupaten Serang dan Pandeglang, Provinsi Banten, kerasnya guncangan gempa terlihat dari goyangan tiang listrik. Kabel-kabel yang membentang antartiang listrik pun turut bergoyang-goyang cukup lama.

Kepala Kepolisian Sektor Sumur, Pandeglang, Ajun Komisaris M Yusuf menuturkan, beberapa saat setelah gempa terjadi, ia terus mengumpulkan informasi dari para kepala desa mengenai laporan dampak gempa.

Hingga pukul 18.00, pihaknya belum mendapat laporan adanya kerusakan rumah atau korban jiwa di tujuh desa yang masuk wilayahnya.

”Kami terus memonitor dampak gempa yang terjadi sore tadi,” ujar M Yusuf. (YUN/NAW/CAS/HLN/THY)

 

Negara dan Korban Bencana

KOMPAS, Sabtu, 17 Oktober 2009 | 02:52 WIB

Oleh Paulinus Yan Olla

Gempa yang mengguncang Sumatera Barat menelan lebih dari 1.000 korban. Namun, upaya membantu korban berjalan lamban dan tidak sistematis (Kompas, 12/10).

Korban mempertanyakan tanggung jawab para pengambil kebijakan publik dan kehadiran negara di tengah mereka.

Berita bencana alam datang susul-menyusul dari Jawa Barat, Sumatera Barat, Jambi, Vietnam, Filipina, Jepang, dan Italia. Kenyataan itu tidak sepatutnya menjadi alasan untuk meremehkan, melalaikan, atau melihat derita korban sebagai hal lumrah. Bencana alam datang tak terduga, tetapi upaya pertolongan menampakkan kualitas dan intensitas tanggung jawab setiap pemerintahan.

Tanah longsor yang menghantam Messina, Italia selatan, menewaskan 26 korban. Pemerintah Italia segera mengumumkan hari berkabung nasional, diiringi upacara penguburan para korban secara kenegaraan dan ditayangkan di TV secara nasional (Corriere della Sera, 8/8). Pemerintah Italia juga berjanji membangun rumah bagi para korban, serupa dengan korban gempa wilayah L’Aquila yang kini setiap pekan menerima dari pemerintahnya 300-400 rumah siap pakai.

Gambaran berbeda

Apa yang terjadi di lembah Gunung Tigo memperlihatkan gambaran berbeda. Keputusan dan kerelaan keluarga korban untuk membiarkan lokasi bencana menjadi kuburan massal menimbulkan rasa gundah. Ia menampakkan ketidakberdayaan, ketidaksiapan negara menghadapi bencana. Para korban yang selamat masih didera derita batin karena sanak keluarganya yang meninggal dikuburkan dengan cara tidak lazim sesuai adat dan agama (Kompas, 7/10). Harapan keluarga untuk sebuah penguburan secara layak dijawab dengan kebijakan pragmatis, parsial, dan absen kepekaan akan nilai kemanusiaan. Solidaritas negara dengan korban terkesan seakan absen.

Lembah Gunung Tigo perlu menjadi peringatan bahwa bangsa ini perlu lebih banyak belajar bertanggung jawab. Alih-alih mengumumkan kabung nasional, para wakil rakyat justru terbenam dalam pesta pelantikan mewah, elite partai politik berebutan kursi kekuasaan dengan hamburan uang seratus juta hingga satu miliar rupiah per satu suara. Yang kita saksikan di lembah Gunung Tigo adalah bangsa yang kehilangan visi.

Problem besar bangsa ini adalah kecenderungan untuk segera mengaitkan bencana alam dengan ”kutukan Tuhan” atau menerimanya sebagai nasib yang tak terelakkan. Sikap yang kemudian tumbuh menghadapi bencana adalah kepasrahan akan nasib serta minimnya inisiatif. Di sini berkembang secara tak disadari sikap deterministis yang meremehkan serta mengabaikan kemampuan manusia membuat pilihan dalam tindakannya.

Visi moral

Dalam kehidupan bangsa ini, kiranya masih absen apa yang disebut Sacks sebagai ”visi moral”, yang berfungsi bagai kompas pemandu arah tingkah laku saat situasi yang dihadapi (baca: bencana) seakan tak terkendali. Dalam visi moral itu, ada ide dasar ”tanggung jawab”.

Sikap pasif, serba menerima, diubah dengan mengundang manusia menggunakan kemampuan memilihnya untuk membangun masa depan. Kemampuan memilih dan bertanggung jawab secara moral atas tindakannya menjadi pandangan atas hakikat manusia yang diyakini dalam agama Yahudi, Kristen, maupun Islam (Jonathan Sacks, The Dignity of Difference, 2007). Dalam alur pemikiran demikian, manusia (negara) tidak seharusnya membiarkan rakyatnya menerima nasib di tengah bencana yang menimpa. Dengan segala sumber yang dimilikinya, negara mempunyai kemampuan untuk memilih dan mewujudkan tanggung jawabnya terhadap para korban bencana.

Proses evakuasi yang lambat, distribusi bantuan yang tidak merata, data korban simpang siur, kepanikan dan ketidaksiapan aparat di lapangan memperlihatkan betapa lemahnya sistem perencanaan penanganan korban bencana di negeri ini. Dinantikan respons politis yang komprehensif dan urgen, tetapi tidak hanya reaktif agar negeri rawan bencana ini tidak gagap setiap menghadapi bencana.

Bencana alam akan selalu terjadi, tetapi negara sebesar Indonesia seharusnya tidak dikuasai sikap deterministis. Perlu diusir cara pemikiran yang meremehkan kemampuan manusia sebagai makhluk yang dapat memilih karena ia merupakan hasil dari apa yang diputuskannya. Pemerintah tidak perlu kehilangan kendali dan tanggung jawab atas akibat bencana yang terjadi.

Keberpihakan pada para korban seharusnya tampak dalam kemampuan pemerintah melakukan pilihan-pilihan cerdas, memerangi sikap pasif, mati rasa atau cuci tangan di hadapan derita warganya. Hiruk pikuk pembentukan kabinet hendaknya tidak meninggalkan para korban bencana seakan yatim piatu!

Paulinus Yan Olla MSF Rohaniwan; Lulusan Program Doktoral Universitas Pontificio Istituto di Spiritualità Teresianum, Roma; Bekerja dalam Dewan Kongregasi MSF di Roma, Italia

16
Oct
09

Bencana Alam : Rentetan Gempa Akan Serang Sumatera 30 Tahun

Rentetan Gempa Akan Serang Sumatera 30 Tahun
Jumat, 16 Oktober 2009 | 14:43 WIB

SINGAPURA, KOMPAS.com –  Rentetan gempa bumi diperkirakan akan menyerang Pulau Sumatera dalam waktu 30 tahun ini dan klimaknya memicu tsunami. Pakar gempa menyatakan, gempa dahsyat yang diprediksi akan terjadi akan jauh lebih kuat daripada gempa bumi 7,6 skala richter (SR) di Padang beberapa waktu lalu.

Hal tersebut dikatakan Kepala Observatorium Bumi Singapura, Kerry Sieh, yang selama ini menjadi salah satu pakar gempa yang intensif meneliti kegempaan Sumatera.

Dia mengatakan, gempa besar berikutnya akan berlangsung lebih dari enam kali lipat gempa berkekuatan 7,6 SR melanda Sumatera Barat, pada 30 September, yang meratakan kota Padang.

“Kami memperkirakan kekuatannya sekitar 8,8, bisa dikatakan lebih atau kurang 0,1 (skala magnitud),” ujar Sieh, profesor Amerika pada sebuah presentasi di Universitas Teknologi Nanyang, baru-baru ini.

Dia mengatakan, jika gempa Sumatera bulan lalu berlangsung sekitar 45 detik, gempa tersebut bisa berlangsung selama 5 menit.

Dikatakan, berdasarkan sejarah gempa bumi dari analisis geologis yang mempelajari lapisan terumbu karang dari daerah sekitar, gempa bulan lalu hanyalah sebuah awal. Seperti tekanan di bawah patahan yang menggulung lonjakan, Sieh mengatakan gempa akhir-akhir ini memiliki efek yang sangat kecil dalam mengurangi desakan yang akan melepaskan energi yang terpendam dalam 30 tahun mendatang.

“Jika kamu mempunyai anak, kamu perlu mengajarkan bahwa anak tersebut akan mengalami gempa bumi dan tsunami,” tambahnya.


M14-09

16
Oct
09

Bencana Alam : Gempa dan Tanda Kiamat

REPUBLIKA, Jumat, 16 Oktober 2009 pukul 01:40:00

Gempa,TandaKiamat

Hepi Andi Bastoni
(Penulis Buku)

Gempa kembali mengguncang Indonesia. Kali ini wilayah Sumatra Barat dan sekitarnya yang dilanda. Gempa berkekuatan 7,6 pada Skala Richter itu menggoyang Kota Padang dan sekitarnya pada pukul 17.15 WIB (30/9). Dalam dekade terakhir, guncangan gempa di wilayah Sumatra Barat ini seperti melengkapi tragedi-tragedi sebelumnya. Dimulai dari tragedi Aceh (26/12/2004), Yogyakarta (27/5/2006), Pangandaran (17/7/2006), dan Tasikmalaya (2/9/2009).

Memang, rentetan musibah ini bisa dilihat dari berbagai sudut. Dari sisi bahwa kita seorang Muslim yang tak mungkin melepaskan segala hal dengan kekuasaan Allah, tentu harus melihatnya dengan kacamata khusus. Bahwa, musibah ini merupakan teguran agar kita sadar untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Terlepas dari itu, jika kita telusuri sejarah, kita menemukan banyak nash yang ”memprediksi” akan terjadinya peristiwa ini. Ternyata, jauh-jauh hari Nabi Muhammad SAW telah mengabarkan kepada kita akan terjadinya banyak gempa. Dan, itu bagian dari tanda dekatnya kedatangan hari kiamat!

Dikisahkan, seorang shahabat Nabi SAW, Abdullah bin Hawalah, sedang duduk bersama para shahabat lainnya. Setelah menyampaikan beberapa ucapannya, Rasulullah SAW meletakkan tangannya di atas kepala Abdullah bin Hawalah. Hal ini biasa beliau lakukan untuk menarik perhatian para shahabatnya. Ada kalanya beliau meletakkan telapak tangannya di atas paha atau bahu para shahabatnya seraya mengulangi sabdanya hingga tiga kali.

Abdullah bin Hawalah menyadari Rasulullah SAW akan menyampaikan sesuatu yang amat penting. Ia harus menyimaknya dengan baik. Rasulullah SAW pun segera bersabda, ”Wahai putra Hawalah! Jika engkau melihat perselisihan telah terjadi di Tanah Suci, maka telah dekat terjadinya gempa-gempa bumi, bala bencana, dan perkara-perkara yang besar, dan hari kiamat pada waktu itu lebih dekat kepada manusia daripada kedua tanganku ini ke kepalamu.”

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya ini terdapat juga dalam Mustadrak al-Hakim. Al-Hakim mengatakan, isnad hadis ini sahih. Namun, Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Perkataan al-Hakim ini diperkuat oleh adz-Dzahabi. Al-Albani mensahihkannya dalam Shahih al-Jami’ush Shagir (6/263, hadis no 7715).

Hadis senada diriwayatkan dari Abu Hurairah. Rasulullah SAW bersabda, Takkan datang kiamat sehingga banyak terjadi gempa bumi (HR Bukhari, Kitab Al-Fitan 13: 81-82).

Dalam Fathul Bari (13/87), Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan, Telah banyak terjadi gempa bumi di negara-negara bagian utara, timur, dan barat. Tapi yang dimaksud hadis ini adalah gempa bumi secara merata dan terus-menerus.

Sabda Rasulullah SAW 14 abad lalu itu seolah menyentakkan kesadaran kita. Bahwa kiamat benar-benar makin mendekat. Beragam musibah, di antaranya gempa bumi makin merajalela.

Secara logika ini amat bisa dipahami. Bumi tak ubahnya seperti benda ciptaan Allah lainnya. Ia seperti benda yang jika digunakan terus-menerus, apalagi tanpa dibarengi dengan usaha perbaikan, akan cepat rusak. Kondisi alam yang kini kita nikmati tak sebaik dulu. Udara yang kini kita hirup tak sesegar saat kita masih kecil dulu, apalagi jika dibandingkan dengan ratusan atau ribuan tahun lalu.

Usia bumi makin menua. Manusia yang diberikan kepercayaan untuk memanfaatkan dan memakmurkannya, ternyata telah melakukan kerusakan. Isi perut bumi dikeruk, permukaannya dijarah, ekosistem laut dirusak, bebukitan yang sebelumnya anggun diselimuti hijaunya hutan, kini gundul. Air sungai yang sebelumya mengalir bening, kini tak lagi jernih. Kita kehausan di tengah limpahan air.

Allah menggambarkan kondisi ini dalam firman-Nya, Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS ar-Ruum: 41).

Bumi benar-benar makin tua. Alam telah kehilangan keseimbangan.
Rasulullah SAW menandai tuanya usia bumi dengan maraknya beragam musibah.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di atas, Rasulullah sepertinya ingin menjelaskan, jika beragam musibah sudah datang, yang di antaranya ditandai dengan beruntunnya gempa bumi, maka waspadalah kiamat makin dekat.

Kini isyarat sabda Rasulullah SAW tersebut mulai menunjukkan kenyataan. Gempa bukan satu-satunya gejala yang menandai tuanya usia bumi. Sejak beberapa tahun lalu, (29/5/2006), sebuah sumur gas yang sedang dieksplorasi di Kecamatan Porong, menyemburkan lumpur panas-beracun.

”Judulnya rakus,” kata seorang ahli perminyakan, mengomentari kelakuan PT Lapindo Brantas yang sudah tahu ada lapisan lumpur masif tapi memaksakan alatnya untuk menjangkau kandungan gas ratusan meter di bawah lumpur itu.

Tim gabungan pusat-pusat kehebatan teknologi manusia Indonesia menyimpulkan, lumpur itu berasal dari pegunungan lumpur (mud mountain) yang ada di bawah Porong. Pegunungan itu lebarnya 20 km dan panjangnya 200 km. Puncak pegunungan lumpur itu berkisar antara 600-1.000 meter di bawah permukaan tanah Porong. Tak ada profesor geologi manapun di Indonesia yang tahu kapan lumpur itu akan berhenti menyembur.

Pertama kali meluap, hasil pengeboran Lapindo itu memuntahkan lumpur sebesar 5.000 meter kubik per hari. Pada akhir tahun ini, diperkirakan volume banjir lumpur akan melebihi 10 juta meter kubik. Dua kali lebih banyak dari volume kubah larva puncak Merapi.

Kabarnya juga, setelah diteliti, usia lumpur panas dan beracun itu lebih tua daripada usia Pulau Jawa yang sudah jutaan tahun. Hebatnya lagi, ternyata pegunungan lumpur seperti di Porong, Sidoarjo, ini masih terdapat lagi di enam titik lain yang tersebar di seluruh Jawa Timur.

Kita sudah dilibas tsunami di Aceh, juga di Pangandaran. Kita sudah digentarkan Merapi, juga dihajar gempa di Yogya-Klaten. Kita sudah digelontori banjir bandang dan longsor mengerikan di Sinjai, tak ketinggalan di Jember. Di Tasik, juga gempa  melanda diikuti longsor di Cianjur.

Semua musibah itu benar-benar datang spontan. Sebentar dan sesudahnya kita lupa. Bangsa ini tak ubahnya ”murid Sekolah Luar Biasa (SLB)” yang harus diberi pelajaran agak pelan dan lama, dengan terapi khusus. Bukan dengan tsunami yang datang cepat dan usai segera atau seperti air bah yang segera hilang dalam sekejap.

Maka, lumpur panas disemburkan pelan-pelan melahap kebanggaan-kebanggaan kita, sampai kita tersungkur bersujud. Dunia makin tua. Tanda-tanda ketuaan itu makin nyata. Kiamat makin mendekat. Lalu, mengapa kita masih ragu bertaubat?

08
Oct
09

Bencana Alam : Gempa Belum Bisa Diprediksi [BMKG]

BMKG: Gempa Belum Bisa Diprediksi Waktu dan Tanggalnya

Gempa berkekuatan 7,6 SR mengguncang wilayah Sumatera Barat, Rabu (30/9) pukul 17.16 WIB. Gempa berpusat 57 km Barat Daya Pariaman di kedalaman 71 km.

Rabu, 7 Oktober 2009 | 18:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Hingga saat ini belum ada teknologi yang mengetahui secara pasti mengenai waktu dan tempat gempa. Untuk itu, masyarakat tak perlu panik jika ada pihak yang mengaku mengetahui hal tersebut. Demikian dikatakan Fauzi, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, terkait maraknya pihak yang mengaku mempunyai informasi mengenai daerah yang akan dilanda gempa.

“Tidak benar kalau ada yang mengatakan akan terjadi gempa di daerah A pada waktu B,” ujarnya pada Rabu (7/10) di Jakarta. Fauzi mengatakan, yang hanya dapat dilakukan adalah memberi peringatan dini mengenai waktu gempa. Dengan begitu, masyarakat sudah mempersiapkan diri jika gempa melanda pada waktu tertentu.

Selain peringatan dini, lanjutnya, masyarakat juga harus mengetahui daerah mana saja yang rawan gempa. Daerah rawan gempa di Indonesia terbagi dalam enam wilayah. Daerah yang paling rawan terkena gempa adalah pantai barat Sumatera, selatan Jawa, selatan Nusa Tenggara Timur, utara Papua, dan Sulawesi.

“Masyarakat yang berada di sana harus selalu siap dengan kemungkinan terjadi gempa karena daerah-daerah itu adalah wilayah aktif gempa,” kata dia.

Selanjutnya, Fauzi menyayangkan tindakan beberapa media yang salah mengutip dengan memberikan informasi mengenai waktu dan tanggal akan terjadi gempa. “Saat diwawancara, saya bilang kemungkinan. Tapi sewaktu keluar, kata ‘mungkin’ itu dihilangkan sehingga kesannya pasti. Padahal, tidak begitu maksudnya,” sesal dia.

Lebih jauh ia mengatakan, setelah suatu daerah diguncang oleh gempa yang berkekuatan besar, gempa-gempa susulan akan terjadi. Namun, masyarakat tidak perlu khawatir karena biasanya gempa-gempa susulan tidak sebesar gempa sebelumnya. Seperti yang terjadi di Padang dan sekitarnya, gempa pertama berkekuatan 7,6 skala Richter, setelah itu gempa selanjutnya di bawah 5 skala Richter.

RDI
 

06
Oct
09

Bencana Alam : Saatnya Memahami Gempa dan Tsunami

Suara Pembaruan

2009-10-06 Saatnya Memahami Gempa dan Tsunami

Amir
Belum hilang ingatan kita pada gempa 7,3 skala richter (SR) di Tasikmalaya (12/9), gempa dahsyat kembali mengguncang wilayah Indonesia. Kota Padang dan Pariaman (30/9) dihantam gempa dengan kekuatan 7,6 SR dan satu hari berikutnya (1/10) gempa 7,0 SR mengguncang Jambi. Akhir-akhir ini, berbagai wilayah Indonesia diguncang gempa. Hal tersebut seakan menguatkan pendapat kalau bumi pertiwi ini dalam selimut bencana. Memang, Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng besar (triple junction plate convergence), yakni Eurasia, Samudera Pasifik, dan Indo-Australia. Ini artinya wilayah Indonesia rawan bencana gempa dan tsunami.

Masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir yang menghadap langsung dengan Samudra Hindia harus selalu waspada. Apalagi, hingga kini dunia ilmu pengetahuan masih belum mampu menduga kapan dan di mana gempa akan terjadi. Maka tidak ada cara lain, kecuali menyiapkan mitigasi yang andal. Mitigasi merupakan langkah terbaik untuk mengurangi risiko dan kerugian akibat bencana.

Bila merujuk pada buku Hidup Akrab dengan Gempa dan Tsunami yang ditulis Subandono Diposaptono dan Budiman, mitigasi bisa dilakukan secara fisik dan nonfisik. Secara fisik (struktural) ada dua, yaitu secara alami seperti terumbu karang, mangrove, vegetasi pantai, sand dunes; juga bisa secara buatan, seperti break water, tembok laut, shelter, rumah tahan gempa dan tsunami, dan lainnya. Sementara mitigasi nonfisik (nonstruktural) seperti pembuatan peta rawan bencana, sistem peringatan dini, sosialisasi, pelatihan/penyuluhan, simulasi (drill), building code, dan lainnya.

Bila melihat kerusakan akibat gempa di Padang sungguh sangat dahsyat. Ini artinya mitigasi belum berjalan baik. Sebenarnya, sifat gempa adalah tidak membunuh secara langsung. Berbeda dengan tsunami. Rata-rata korban gempa Padang adalah tertimpa bangunan dan tanah longsor. Berarti kesalahan pada manusia yang tidak menerapkan mitigasi dengan benar.

Rentetan gempa di Padang dan Jambi tentu harus menjadi pelajaran. Lalu, apa hikmah dari semua musibah tersebut? Ada beberapa pelajaran yang perlu kita petik dari kejadian bencana gempa selama ini. Pertama, pemerintah harus menjamin setiap bangunan menggunakan kontruksi tahan gempa. Hal ini untuk melindungi keselamatan warga, sesuai yang diamanatkan UUD 45 yaitu melindungi segenap tumpah darah Indonesia.

Caranya, persyaratan kontruksi tahan gempa dimasukkan dalam perangkat hukum (peraturan perundang-undangan atau daerah) di mana menjadi kebijakan yang mengikat. Kedua, membangun masyarakat yang sadar bencana. Masyarakat yang sadar bencana tentu masyarakat itu harus paham dulu dengan pengetahuan bencana. Inilah yang menjadi tugas bersama bagaimana memasyarakatkan pengetahuan bencana. Permasalahannya, pengetahuan tentang bencana khususnya gempa dan tsunami belum membumi di masyarakat kita. Padahal, kita tahu, hampir 60 persen masyarakat kita tinggal di wilayah pesisir.

Ada pelajaran berharga dari kasus gempa Yogya dan Klaten pada 27 Mei 2006 lalu. Pagi itu, pukul 05.53 WIB, warga Klaten dikagetkan dengan gempa 5,9 SR. Getarannya sangat kuat. Anehnya, isu tsunami yang dihembuskan orang tidak bertanggung jawab ditanggapi serius warga. Maka tak ayal, harta benda yang ditinggalkan pun hilang. Pelajaran ini menguatkan pengetahuan yang minim tentang bencana. Ini terjadi pada warga Klaten, seperti dituturkan Undi Arum, warga Jabung Wetan RT 01 RW 07 Kecamatan Ganti Warno, Klaten, kepada penulis, baru-baru ini. Padahal kita tahu lokasi Klaten jauh dari laut. Belum lagi masih terhalang oleh gunung yang tinggi di wilayah Gunung Kidul. Ini bukti pengetahuan bencana belum memasyarakat.

Secara ilmiah tanda-tanda tsunami sudah jelas, yaitu kekuatan gempa di atas 6,5 SR, pusat gempa dangkal berada kurang dari 60 km dari permukaan laut, dan terjadi deformasi vertikal lebih 2 m pada dasar laut. Tsunami baru terjadi bila salah satu atau ketiga syarat tersebut terpenuhi, dan didahului air laut surut mendadak.

Ketiga, pengetahuan bencana dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Pemahaman yang terpatri pada anak-anak dari sekolahnya akan selalu diingat sampai ia dewasa. Ini artinya, anak didik merupakan sasaran strategis dalam rangka membumikan pengetahuan bencana. Di sini guru juga memegang peranan sangat penting.

Kisah gadis asal Inggris, Tilly Smith yang berjasa menyelamatkan para turis dari amukan tsunami di Pantai Maikhao, Phuket, Thailand adalah buktinya. Seperti dimuat dalam koran Sun, Inggris pada 26 Desember 2004 gadis berusia 10 tahun tersebut sedang berlibur di pantai, tiba-tiba melihat air laut surut mendadak. Ia ingat betul pesan guru geografinya; jika air mendadak surut itu tanda tsunami bakal terjadi. Lalu disampaikanlah informasi itu kepada ibunya dan para turis lainnya untuk segera meninggalkan pantai. Akhirnya Tilly, ibunya serta para turis selamat dari terjangan tsunami. Karena jasanya, gadis asal Inggris tersebut dijuluki “malaikat pantai”. Kejadian tersebut merupakan bukti betapa informasi bencana di sekolah sangat bermanfaat bagi anak-anak bahkan dapat menyelamatkan orang lain.

Penulis adalah pemerhati masalah bencana alam dan lingkungan, alumnus IPB




Blog Stats

  • 2,101,910 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 114 other followers