Posts Tagged ‘Ring of Fire

27
Oct
09

Lingkungan : Danau Kelimutu Berubah Jadi Satu Warna

Danau Kelimutu Berubah Jadi Satu Warna
Danau Tiwu Nua Muri Koo Fai (kiri) dan Danau Tiwu Ata Polo, Kamis (15/10). Dua dari tiga kawah Danau Kelimutu di Kabupaten Ende, Pulau Flores, NTT, telah berubah menjadi satu warna, hijau muda. Perubahan warna ini diawali Danau Tiwu Ata Polo pada Desember 2008.

Selasa, 27 Oktober 2009 | 03:08 WIB

KUPANG, KOMPAS.com–Danau tiga warna Kelimutu yang terletak di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) kini berubah menjadi satu warna, yakni hijau, dari warna aslinya merah, putih dan biru.

“Perubahan warna ini menunjukan tanda-tanda kurang baik,” kata Ketua Aliansi Masyarakat Adat Kelimutu, Nikolaus Ruma yang dihubungi dari Kupang, Minggu.

Ia mengatakan, terdapat tiga danau yang terletak di Desa Woloara, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende yang letaknya berdampingan dan masing-masing diberi nama Tiwu Ata Polo, Tiwu Ata Mbupu dan Tiwu Ko`ofai Nuwa Muri.

Dia mengatakan, masyarakat yang bermukim di sekitar danau kelimutu meyakini perubahan warna air Danau Kelimutu tersebut sebagai tanda bakal terjadi perubahan alam yang luar biasa yang harus diwaspadai.

“Ini merupakan tanda yang bisa membawa malapetaka besar bagi masyarakat di Indonesia,” katanya.

Saat ini, katanya, warga disekitar danua Kelimutu sudah mulai cemas dengan adanya perubahan warna danau tersebut.

Keyakinan ini didasari pada pengalaman pada 1992 silam, seiring dengan perubahan warna danau tersebut, terjadi gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores yang menelan banyak korban jiwa.

“Perubahan warna danau ini pernah terjadi sebelumnya dan secara mendadak,” katanya.

Dari tiga danau tersebut, katanya, danau yang berwarna biru, jarang berubah warna, sehingga kekhawatiran bakal terjadi bencana yang menelan korban jiwa.

Kekhawatiran akan terjadi bencana ini, tambahnya, bukan saja terjadi di wilayah Pulau Flores, tetapi Indonesia, karena keajaiban dunia ini ada di Indonesia.

Seiring perubahan warna danau tersebut pada lima hari lalu, lanjutnya, terjadi gempa yang mengguncang Saumlaki, sehingga perlu diwaspadai adanya peristiwa selanjutnya.(*)
JY

Editor: jodhi
Sumber : Ant

25
Oct
09

Bencana Alam : Gempa Bumi Tektonik Enam Kali

TEMPO Interaktif, Jakarta – Sekurangnya enam kali gempa menguncang wilayah Indonesia sepanjang hari ini, Minggu (25/10). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BKMG) mencatat, gempa terjadi sejak pukul 03.54 WIB dini hari hingga 12.00 WIB siang tadi.

“Pergerakan teknonik masih aktif baik di lempeng Euroasia, Australia maupun lempeng Pasifik,” ujar Kepala Unit Gempa BKMG, Wandono melalui sambungan telepon.

Gempa pertama terjadi pada pukul 03.54 WIB. Di 174 kilometer Barat Daya Waingapu, Nusa Tengara dengan kekuatan 6,1 skala richter. Gempa susulan di lokasi yang sama dengan kekuatan 5.5 skala richter terjadi pukul 04.04 WIB.

Selang tiga jam, guncangan gempa terjadi di 151 km Barat daya Tual Maluku dengan kekuatan 5,3 skala richter pada 07.35 WIB. Berlanjut dengan gempa kekuatan 5 skala richter di 69 km Tenggara Siberut Mentawai Sumatera Barat pada 08.50 WIB.

Kemudian pada 09.25 WIB, gempa 5,2 skala richter terjadi di 106 km Timur Laut Bitung Sulawesi Utara. Dan terakhir pada 12.00 siang hari, gempa 5 skala richter mengguncang 228 km Barat Laut Samulaki Maluku.

Wandono menambahkan aktivitas ini terjadi konstan dengan pergeseran lempeng bumi sebesar enam hingga tujuh cm pertahun. “Hanya dalam proses pergerakannya tidak semuanya mulus. Pengumpulan energi sudah mendekati batas kemampuan sehingga terjadi gempa tektonik,” jelasnya.

Hingga kini BKMG belum bisa memperkirakan sampai kapan aktivitas guncangan gempa tersebut akan terus terjadi. “Kami belum bisa memperkirakan, belum ada metode yang bisa mendeteksi,” tambahnya.

BKMG telah menyiapkan media komunikasi seperti sms, fax, radio internet bahkan melalui layanan twitter di
http://twitter. com/infogempabmg untuk menyiarkan informasi gempa.
“Masyarakat diharapkan selalu siap siaga karena gempa belum bisa diprediksi dan dapat terjadi kapan saja,” kata Wandono.

Upaya Prediksi Gempa
Senin, 26 Oktober 2009 | 08:18 WIB

Yuni Ikawati

KOMPAS.com – Fenomena kegempaan telah terjadi sejak permukaan Bumi ini terbentuk. Untuk memahaminya, dikembangkan seismologi—bagian dari ilmu kebumian. Namun, hingga kini gempa belum juga dapat diperkirakan sehingga selalu mengancam kehidupan di atasnya. Riset pun terus berjalan.

Awal pekan lalu muncul rumor akan terjadi gempa berkekuatan 8,5 skala Richter pada Sabtu, 24 Oktober 2009. Guncangannya disebutkan mengarah ke Jakarta.

Berita yang disebutkan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) itu telah dibantah Kepala BMKG, 19 Oktober. Isu ini tidak mempunyai dasar ilmiah yang jelas karena gempa tektonik belum bisa diprediksi secara ilmiah.

Kenyataannya pada tanggal itu Jakarta ”aman-aman” saja. Meski terjadi gempa pada pagi hari (pukul 10.09 WIB), skalanya hanya 5,1 SR dan hanya sedikit menggoyang Sukabumi.

Lalu ada gempa lagi pada malam harinya (21.40 WIB) di Laut Banda. Gempa tergolong kuat (7,3 SR) dengan pusat ada pada jarak 209 kilometer barat laut Saumlaki, Maluku. Karena pusat gempanya dalam, guncangannya terasa hingga ke Ambon dan Merauke.

Sejauh ini ilmu kebumian yang dikuasai manusia baru sebatas merekam gempa yang terjadi, baik waktu, lokasi, maupun intensitasnya. Belum ada teknik prediksi gempa yang tergolong maju dan teruji secara ilmiah.

Namun, upaya rintisan ke arah itu terus dilakukan. Salah satu teknik pemantauan menggunakan gelombang elektromagnet (EM) yang terpancar dari perut Bumi. Penelitian ini telah lama dirintis Varotsos, pakar geofisika dari Universitas Athena, Yunani, pada tahun 1884.

Menurut dia, teknik ini memiliki prospek yang baik untuk memperkirakan gempa. Karena tingkat kesuksesannya dalam memprediksi gempa ketika itu sudah mencapai 63 persen.

Melihat prospek itu, beberapa negara maju, di antaranya Jepang dan Taiwan—yang kerap diguncang gempa—seperti halnya Indonesia, belakangan ini gencar melakukan pengembangan teknik ini, tidak hanya untuk mengamati sebaran EM di lapisan litosfer Bumi, tetapi juga di atmosfer hingga ionosfer.

Gelombang EM digunakan untuk mengindikasikan terjadinya gempa karena percepatan gerakan lempeng dan magma akibat perubahan formasi bebatuan di perut Bumi menimbulkan lonjakan gelombang elektromagnet. Anomali ini terlihat sebelum gempa terjadi.

Menggali ilmu pemantauan gempa dari dua negara itu, Djedi S Widarto, peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, beberapa waktu lalu mengungkapkan hasil risetnya di Liwa, daerah di pesisir barat perbatasan Lampung-Bengkulu yang diguncang gempa dahsyat beberapa tahun lalu.

Pertanda munculnya gempa tektonik dapat diketahui dua hingga lima hari sebelum kejadian, ditunjukkan adanya anomali gelombang elektromagnet di permukaan Bumi. ”Ada lonjakan elektromagnetik sekitar 5 milivolt sebelum terjadi gempa besar di daerah itu,” urainya. Penyimpangan ini bahkan terpantau di lapisan ionosfer yang berada 300 hingga 400 kilometer di atas permukaan Bumi.

”Dengan berkembangnya teknik sensor dan instrumentasi, pemantauan anomali elektromagnetik dalam 5-10 tahun mendatang dapat digunakan sebagai parameter untuk memprediksi gempa tektonik,” ujar Djedi, doktor geofisika dari Kyoto University.

Akibat pergerakan lempeng, terjadi rekahan yang memengaruhi gaya berat dan mineral magnetis di dalam Bumi sehingga mengganggu kestabilan gaya medan elektromagnetik. ”Gangguan ini bisa sampai radius 400 kilometer di atas permukaan Bumi, pada lapisan ionosfer,” ujar Djedi, yang menyelesaikan riset itu di Institute of Space Science National Central University, Taiwan.

Sementara itu, peneliti dari Lapan, Sarmoko Saroso, yang melakukan penelitian anomali elektromagnetik di institut yang sama, memperoleh data adanya anomali EM ketika terjadi gempa Aceh, 26 Desember 2004 lalu. Data tersebut terekam pada waktu yang bersamaan di empat stasiun global positioning system (GPS), yaitu di Medan, Singapura, Myanmar, dan India.

Pascagempa Aceh para pakar dari kedua negara tersebut sepakat menjalin kerja sama riset lebih lanjut melibatkan lembaga penelitian di Indonesia, yaitu LIPI dan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional.

Pengukuran elektromagnetik dilakukan dengan menggunakan jaringan GPS, selain alat magnetometer, sensor elektroda geolistrik, dan teropong korona. Sistem ini dilengkapi dengan alat telemetri untuk data secara real time. Penelitian di Liwa tahun 2005 itu mendeteksi lonjakan gelombang elektromagnetik sebagai pertanda gempa tektonik berkekuatan 5,2 SR, 12 hari sebelum kejadian.

Asperitas

Selain teknik pengukuran gelombang elektromagnet itu, Jepang mulai meneliti asperitas (asperity), yaitu tingkat kekasaran permukaan lempeng di zona subduksi dengan sistem seismograf. ”Dengan mengetahui kekasaran permukaan, dapat diketahui terjadinya perlambatan gerak penunjaman hingga akhirnya ”terkunci” dan kemudian lepas atau menggelosor,” tutur Eko Yulianto, yang meraih doktor geologinya dari Universitas Hokkaido, Jepang.

Yoshiko Yamanaka dan Masayuki Kikuchi dari Institut Riset Gempa Bumi Universitas Tokyo meneliti karakteristik kekasaran permukaan (asperity) lempeng, dengan mempelajari sumber kegempaan di daerah antarlempeng atau zona subduksi di lepas pantai Distrik Tohoku, timur laut Jepang.

Penelitian yang dipublikasikan tahun 2003 ini berdasarkan data seismik regional selama lebih dari 70 tahun lalu. Mereka menemukan tiga kategori pola distribusi asperitas lempeng di Tohoku, dibedakan pada tingkat kekasaran dan kegempaan yang ditimbulkannya.

Editor: wsn
Sumber : Kompas Cetak

20
Oct
09

Bencana Alam : Gempa 4,7 SR, Tasikmalaya dan Garut

Gempa 4,7 SR

Selasa, 20 Oktober 2009 | 21:46 WIB

TEMPO Interaktif, Garut – Warga Kabupaten Garut dan Tasikmalaya, Jawa Barat, kembali merasakan goncangan gempa, Selasa (20/10). Namun belum ada laporan kerusakan. Situs Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebutkan, gempa berkekuatan 4,7 skala ritcher ini terjadi 19.01 tadi.

Pusat gempa diperkirakan terjadi di laut berjarak 108 kilometer sebelah selatan Tasikmalaya. Gempa terjadi pada kedalaman 25 kilometer. Gempa ini dirasakan juga di Pangandaran, Tasikmalaya, Ciamis, Cisompet.

Cecep warga Perumahan Aksa Jaya, Kelurahan Sambong Jaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, menyatakan gempa terjadi sekitar pukul 19.00 WIB. Goncangannya berlangsung sekitar lima detik.

Saat kejadian dirinya sedang tiduran di lantai. Namun tiba-tiba terasa goyangan. Awalnya dia tidak mengira itu gempa. “Saya mengira kursi bergoyang, tapi setelah liat ke bawah saya sedang di lantai. Barulah saya sadar dan langsurng lari ke luar,” ujarnya.

Hal sama pun dirasakan warga kabupaten Garut yang berada dipesisir pantai selatan. Mereka langsung berhamburan ke luar rumah saat merasakan goncangan gempa.”Setiap ada goncangan warga sudah sensitif dan langsung lari ke tempat yang aman,” ujar Camat Pameungpeuk Jujun Juhana saat dihubungi melalui telpon selulernya.

Namun goncangan gempa tidak berlangsung lama. Kekuatannya pun tidak sebesr gempa pada 2 September lalu. Saat ini warga pun telah kembali ke rumahnya masing-masing.

Getaran gempa yang dirasakan warga Tasik dan Garut itu terdeteksi Pos Pengamatan Gunung api Guntur, Garut dengan kekuatan guncangan diperkirakan I-II MMI (Modified Merchantile Intensity).

“Getarannya akan dirasakan oleh sebagian orang saja dan diprediksi tidak akan menimbulkan keruakan bangunan,” Ujar Petugas Pos Gunung Guntur, Nana Rohana. Menurutnya, goncangan gempa pun tidak mempengaruhi aktivitas kegempaan gunung Guntur.

SIGIT ZULMUNIR

20
Oct
09

Bencana Alam : Gempa 5,3 SR di Sumatera Barat

Selasa, 20/10/2009 00:07 WIB
Gempa 5,3 SR Goyang Sumbar
Khairul Ikhwan – detikNews


Ilustrasi

Padang – Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) kembali digoyang gempa bumi. Terakhir, gempa berkekuatan 5,3 SR mengguncang wilayah yang sedang dalam proses rehabilitasi pasca gempa tersebut.

Informasi yang diperoleh detikcom dari Badan Meteorologi. Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Senin (19/10/2009), gempa terakhir terjadi sekitar pukul 23.35 WIB.

Titik pusat gempa berada di 1.87 LS-100.20 BT atau Barat Daya Painan, Sumbar.

Gempa terjadi di kedalaman 20 Km. Hingga kini belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa. Tidak ada peringatan terjadinya gelombang tsunami setelah gempa. (irw/her)

 

Selasa, 20/10/2009 00:28 WIB
Gempa 5,3 SR di Sumbar
Panik, Tamu Hotel Bunda Berhamburan

Khairul Ikhwan – detikNews


Ilustrasi

Jakarta – Sumatera Barat (Sumbar) kembali diguncang gempa. Meski tidak sebesar gempa kemarin, namun gempa kali ini cukup membuat warga panik.

“Ada getaran waktu saya lagi tidur. Saya langsung lari keluar,” ujar salah seorang reporter TV, Ahmad Zulfikar, di Hotel Bunda, Jl Bundo Kanduang, Kota Padang, Sumatera Barat, Selasa (20/10/2009).

Hotel tempat Ahmad menginap tersebut hanya berjarak 50 meter dari Hotel Ambacang. Hotel Ambacang runtuh akibat gempa 7,9 SR yang menggetarkan bumi minang pada 30 September lalu.

Dikatakan dia, gempa terakhir membuat seluruh pengunjung hotel berhamburan keluar. Mereka takut jika kejadian beberapa waktu lalu terulang kembali di hotel yang kini mereka sewa.

Informasi yang diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) gempa tersebut berkuatan 5,3 SR dan terjadi sekitar pukul 23.35 WIB. Titik pusat gempa berada di 1.87 LS-102 BT atau 70 KM Barat Daya Painan, Sumbar dengan kedalaman 20 KM. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. (her/irw)

19
Oct
09

Bencana Alam : Gempa SumUt dan Dili Timor Leste

Gempa 5,2 SR

By Republika Newsroom
Senin, 19 Oktober 2009 pukul 07:30:00

BANDARLAMPUNG–Gempa berkekuatan 5,2 Skala Richter (SR) berpusat pada 80 kilometer Barat Daya Tanahbala, Sumatra Utara (Sumut), Senin pukul 06:29 WIB. Laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang terpantau dari Bandarlampung, juga menyebutkan gempa berada di 1,03 Lintang Selatan-97,98 Bujur Timur, dengan kedalaman 16 kilometer dan tidak berpotensi tsunami.

Pusat gempa juga berada pada 102 kilometer Barat Laut Siberutmentawai, Sumatra Barat, 109 Barat Daya Tanahmasa, Sumatra Utara, 227 kilometer Barat Laut Sipuramentawai, Sumatra Barat, dan 241 kilometer Barat Daya Pariaman, Sumatra Barat. ant/taq

Gempa 5,6 SR

By Republika Newsroom
Senin, 19 Oktober 2009 pukul 07:25:00

BANDARLAMPUNG–Gempa berkekuatan 5,6 Skala Richter (SR) berpusat pada 142 kilometer Timur Laut Dili-Timor Leste, Senin pukul 00:21 WIB.  Laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyebutkan, gempa tersebut berada di 7,34 Lintang Selatan-125,93 Bujur Timur, dan tidak berpotensi tsunami.

Pusat gempa juga berada pada 408 kilometer Timur Laut Kupang, NTT, 424 kilometer Tenggara Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, 480 kilometer Barat Daya Ambon, Maluku, dan 505 Timur Laut Ende, NTT. ant/taq

Gempa Dili

By Republika Newsroom
Senin, 19 Oktober 2009 pukul 09:04:00
Gempa Dili Tak Dirasakan Warga NTT

KUPANG–Gempa berkekuatan 5,6 Skala Richter (SR) yang berpusat pada 142 kilometer Timur Laut Dili, Timor Leste, Senin pukul 00:21 WIB, tidak dirasakan getarannya oleh warga Nusa Tenggara Timur (NTT) karena pada saat kejadian, sebagian besar warga sedang tidur lelap.”Gempa dengan kekuatan tersebut paling tidak dirasakan warga di Kabupaten Belu, Kupang dan Timor Tengah Utara (TTU) yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste, namun hingga kini belum ada laporan dari masyarakat,” kata Kepala Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Haryanto di Kupang, Senin (19/10).

Ia menyebutkan, gempa tersebut berada di 7,34 Lintang Selatan-125,93 Bujur Timur dan tidak berpotensi tsunami. Pusat gempa juga berada pada 408 kilometer Timur Laut Kupang, NTT, 424 kilometer Tenggara Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, 480 kilometer Barat Daya Ambon, Maluku, dan 505 Timur Laut Ende, NTT.

Gempa bumi serupa juga terjadi tanggal 19 Oktober 2009 pukul 06:29:12 WIB dengan lokasi 1.03 LS – 97.98 Bujur Timur dengan kekuatan 5.2 SR pada kedalaman 16 Km dengan lokasi 80 kilometer Barat Daya tanah Bala Sumatera Utara (Sumut). “Tidak ada korban harta benda dan jiwa pada gempa tersebut,” katanya.

Ia menegaskan, pertemuan lempengan bumi di Indonesia seperti Pulau Sumatra dan Jawa sering menimbulkan gempa-gempa tektonik berkekuatan besar sehingga tidak jarang menimbulkan korban jiwa dan harta benda. “Misalnya pertemuan lempeng Hindia dengan lempeng Euroasia di wilayah Indonesia terdapat di kawasan barat Pulau Sumatera dan jalurnya menuju Selatan Pulau Jawa hingga masuk laut Banda dan bertemu lempeng pasifik,” katanya.

Dikatakan, jalur lempengan bumi ini terus bergerak ke Selatan Pulau Jawa kemudian berputar ke Laut Banda, bertemu lempeng Pasifik dan bergerak ke Pulau Seram Bagian Utara sampai ke Ternate, Provinsi (Maluku Utara) dan bertemu lempeng Filipina dan Autralia. Disebutkan perbatasan pertemuan lempengan bumi dari tiga komponen yang saling mengunci itu terjadi di laut Banda. “Karena saling mengunci, maka sering kali di situ terjadi gempa-gempa tektonik tapi jaraknya sangat dalam di bawah laut, namun tidak menutup kemungkinan sewaktu-waktu bisa terjadi gempa dangkal,” katanya.

Ia mengatakan, hingga saat ini para ahli di Indonesia atau di dunia sekalipun belum dapat memprediksi atau memastikan waktu kapan akan terjadi gempa bumi, seperti yang di Pulau Sumatra, akhir September lalu dan hari ini di Dili dan Sumut. “Prediksi gempa bumi masih dalam taraf penelitian. Parameter prediksi adalah lokasi, besarnya dan waktunya. Perkiraan lokasi dan besarnya gempa dapat saja dilakukan, namun tantangan yang paling sulit adalah menjawab kapan gempa tersebut terjadi,” katanya. ant/taq

16
Oct
09

Bencana Alam : Gempa 6,4 SR, Ujung Kulon, Banten

Jumat, 16/10/2009 20:39 WIB
Gempa 6,4 SR
6 Rumah dan 1 Sekolah Rusak di Kecamatan Sumur

Aprizal Rahmatullah – detikNews


 

Jakarta – Gempa berkekuatan 6,4 Skala Richter (SR) yang berpusat di sebelah barat Ujung Kulon, Banten menyebabkan beberapa rumah rusak. Di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten, 6 rumah dan 1 sekolah mengalami retak-retak.

“6 rumah penduduk retak dan jebol. Ada juga SMA 16 Sumur 3 ruangannya retak,” kata Kapolsek Sumur AKP M Yusuf kepada detikcom, Jumat (16/10/2009).

Kecamatan Sumur adalah daerah paling dekat dengan Ujung Kulon. Lokasinya paling ujung dari Kabupaten Pandeglang.

Menurut Yusuf, getaran gempa sangat terasa sekali di Kecamatan Sumur. Saat kejadian, warga banyak yang panik dan berhamburan ke luar rumah untuk mencari tempat perlindungan.

“Tapi mereka akhirnya kembali tenang ke rumahnya masing-masing,” ungkapnya.

Yusuf menjelaskan, hingga saat ini pihak kepolisian belum mendapat laporan tentang adanya korban akibat gempa. “Nihil, mudah-mudahan tidak ada,” tandasnya.

Sebelumnya, gempa 6,4 SR terjadi di sebelah barat Ujung Kulon, Banten. Gempa ini terasa hingga Jakarta, Bandung, Bogor hingga Sukabumi.

(ape/ape)

Gempa 6,4 Sr 

Gempa Berkekuatan 6,4 SR Guncang Beberapa Daerah

Antara – Sabtu, Oktober 17

Jakarta (ANTARA) – Gempa berkekuatan 6,4 Skala Richter dirasakan di beberapa daerah di Lampung dan Banten pada Jumat pukul 16:52 WIB.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di beberapa tempat yakni 42 kilometer Barat Laut Ujung Kulon (Banten), 128 km Barat Daya Kalianda (Lampung), 137 kilometer Barat Daya Merak (Banten), 151 kilometer Barat Daya Tanjung Karang (Lampung) dan 186 kilometer Barat Daya Metro (Lampung).

Gempa yang berpusat di Ujung Kulon terasa di Jakarta pada III-IV Modified Mercally Intensity (MMI), Ujung Kulon IV-V MMI, Sukabumi III-IV MMI, Banten III-IV MMI, Cisarua III-IV MMI dan Depok II-III MMI.

Getaran gempa membuat orang-orang yang bekerja di bangunan tinggi di Jakarta keluar dari gedung dan berkerumun di halaman depan gedung.

Sebagian panik. “Aduh, gempa ya! Bagaimana ini,” kata seorang ibu yang ketika ada getaran gempa berada di lantai 20 Wisma ANTARA, Jakarta Pusat, sambil tergopoh-gopoh turun di melalui tangga darurat.

Pekerja yang berkantor gedung tinggi lain di Jakarta Pusat dan kawasan Kuningan pun sebagian besar juga turun dan berkumpul di halaman gedung sampai getaran gempa tak lagi terasa.

Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman menyarankan, orang-orang yang berada di dalam gedung bertingkat ketika gempa berusaha mencari bagian bangunan yang konstruksinya kuat.

“Sebaiknya berlindung dengan merapat ke bagian bangunan yang strukturnya kuat. Yang paling kuat adalah konstruksi lift. Selain itu dinding atau tiang yang besar. Hindari berada di tengah ruangan tanpa penyangga,” katanya saat memberikan sambutan pada halal bil halal anggota Gabungan Pengusaha Jamu di Hotel Sahid Jakarta, Kamis (15/10) malam.

GEMPA UJUNG KULON
Potensi Gempa Besar Terkurangi

Sabtu, 17 Oktober 2009 | 03:22 WIB

Jakarta, Kompas – Gempa tektonik yang berpusat di Ujung Kulon, Jumat (16/10) sore, mengurangi risiko terjadinya gempa besar setelah gempa Tasikmalaya, 4 September, dan Padang, 30 September. Gempa yang terjadi kemarin sore pada pukul 16.52 berkekuatan 6,4 skala Richter dan berpusat 42 kilometer barat laut Ujung Kulon, Provinsi Banten. Pusat gempa di laut dengan kedalaman sekitar 10 kilometer.

”Dari sifat kedangkalan pusat gempa tersebut, diperkirakan sebagai rangkaian gerak Sesar Sumatera. Gempa tersebut diharapkan mengurangi potensi gempa besar berikutnya karena energi Sesar Sumatera telah terlepas sebagian,” kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Mineral Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Yusuf Surachman, Jumat.

Sejumlah ahli mengkhawatirkan, gempa berkekuatan hingga 8,9 skala Richter masih berpotensi terjadi di wilayah Sumatera, setelah terjadi gempa di Padang. Namun, beberapa gempa yang terjadi di jalur Sesar Sumatera akhir-akhir ini diharapkan mereduksi energi potensi gempa yang lebih besar.

Kepala Pusat Gempa dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Fauzi mengatakan, pusat gempa tepatnya berada di 6,79 Lintang Selatan dan 105,1 Bujur Timur.

”Episentrum ini berada di zona subduksi atau penunjaman lempeng Indo-Australia terhadap Eurasia,” kata Fauzi.

Intensitas gempa ini dirasakan di Ujung Kulon dalam skala 4 MMI hingga 5 MMI (modified mercally intensity). Sementara kegempaan dengan intensitas 3-4 MMI dirasakan penduduk di Lampung, Banten, dan Jakarta. Adapun di Depok dan Bandung intensitas gempa 2-3 MMI.

Gempa susulan muncul pada pukul 17.01, tetapi kekuatannya jauh berkurang, hanya 4,9 skala Richter.

Aktivitas tinggi

Seperti halnya pesisir barat Sumatera, daerah laut selatan Pulau Jawa tergolong memiliki aktivitas kegempaan yang tinggi. Hal ini terjadi akibat desakan lempeng Indo-Australia yang relatif kuat, 5 hingga 7 sentimeter per tahun. ”Bagian selatan Selat Sunda juga dilewati terusan Sesar Semangko,” kata Yusuf.

Secara terpisah, guru besar dan ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung, Sri Widiyantoro, mengatakan, meskipun gempa tersebut mendekati Pulau Jawa, sistem ini tidak menyambung dengan sesar yang terdekat, yaitu Sesar Cimandir yang terbentang mulai dari sekitar Sukabumi.

”Sejauh ini, untuk memprediksi potensi gempa berikutnya memang masih belum bisa dilakukan,” kata Widiyantoro.

Gempa yang dirasakan di Jakarta juga membuat panik sejumlah warga. Karyawan di sejumlah perkantoran di Jakarta langsung keluar meninggalkan gedung begitu terasa guncangan.

Hal serupa dilakukan warga di Sukabumi, Bandung, dan Lampung. Warga yang berada di dalam rumah dengan panik segera keluar rumah.

Di Kabupaten Serang dan Pandeglang, Provinsi Banten, kerasnya guncangan gempa terlihat dari goyangan tiang listrik. Kabel-kabel yang membentang antartiang listrik pun turut bergoyang-goyang cukup lama.

Kepala Kepolisian Sektor Sumur, Pandeglang, Ajun Komisaris M Yusuf menuturkan, beberapa saat setelah gempa terjadi, ia terus mengumpulkan informasi dari para kepala desa mengenai laporan dampak gempa.

Hingga pukul 18.00, pihaknya belum mendapat laporan adanya kerusakan rumah atau korban jiwa di tujuh desa yang masuk wilayahnya.

”Kami terus memonitor dampak gempa yang terjadi sore tadi,” ujar M Yusuf. (YUN/NAW/CAS/HLN/THY)

 

Negara dan Korban Bencana

KOMPAS, Sabtu, 17 Oktober 2009 | 02:52 WIB

Oleh Paulinus Yan Olla

Gempa yang mengguncang Sumatera Barat menelan lebih dari 1.000 korban. Namun, upaya membantu korban berjalan lamban dan tidak sistematis (Kompas, 12/10).

Korban mempertanyakan tanggung jawab para pengambil kebijakan publik dan kehadiran negara di tengah mereka.

Berita bencana alam datang susul-menyusul dari Jawa Barat, Sumatera Barat, Jambi, Vietnam, Filipina, Jepang, dan Italia. Kenyataan itu tidak sepatutnya menjadi alasan untuk meremehkan, melalaikan, atau melihat derita korban sebagai hal lumrah. Bencana alam datang tak terduga, tetapi upaya pertolongan menampakkan kualitas dan intensitas tanggung jawab setiap pemerintahan.

Tanah longsor yang menghantam Messina, Italia selatan, menewaskan 26 korban. Pemerintah Italia segera mengumumkan hari berkabung nasional, diiringi upacara penguburan para korban secara kenegaraan dan ditayangkan di TV secara nasional (Corriere della Sera, 8/8). Pemerintah Italia juga berjanji membangun rumah bagi para korban, serupa dengan korban gempa wilayah L’Aquila yang kini setiap pekan menerima dari pemerintahnya 300-400 rumah siap pakai.

Gambaran berbeda

Apa yang terjadi di lembah Gunung Tigo memperlihatkan gambaran berbeda. Keputusan dan kerelaan keluarga korban untuk membiarkan lokasi bencana menjadi kuburan massal menimbulkan rasa gundah. Ia menampakkan ketidakberdayaan, ketidaksiapan negara menghadapi bencana. Para korban yang selamat masih didera derita batin karena sanak keluarganya yang meninggal dikuburkan dengan cara tidak lazim sesuai adat dan agama (Kompas, 7/10). Harapan keluarga untuk sebuah penguburan secara layak dijawab dengan kebijakan pragmatis, parsial, dan absen kepekaan akan nilai kemanusiaan. Solidaritas negara dengan korban terkesan seakan absen.

Lembah Gunung Tigo perlu menjadi peringatan bahwa bangsa ini perlu lebih banyak belajar bertanggung jawab. Alih-alih mengumumkan kabung nasional, para wakil rakyat justru terbenam dalam pesta pelantikan mewah, elite partai politik berebutan kursi kekuasaan dengan hamburan uang seratus juta hingga satu miliar rupiah per satu suara. Yang kita saksikan di lembah Gunung Tigo adalah bangsa yang kehilangan visi.

Problem besar bangsa ini adalah kecenderungan untuk segera mengaitkan bencana alam dengan ”kutukan Tuhan” atau menerimanya sebagai nasib yang tak terelakkan. Sikap yang kemudian tumbuh menghadapi bencana adalah kepasrahan akan nasib serta minimnya inisiatif. Di sini berkembang secara tak disadari sikap deterministis yang meremehkan serta mengabaikan kemampuan manusia membuat pilihan dalam tindakannya.

Visi moral

Dalam kehidupan bangsa ini, kiranya masih absen apa yang disebut Sacks sebagai ”visi moral”, yang berfungsi bagai kompas pemandu arah tingkah laku saat situasi yang dihadapi (baca: bencana) seakan tak terkendali. Dalam visi moral itu, ada ide dasar ”tanggung jawab”.

Sikap pasif, serba menerima, diubah dengan mengundang manusia menggunakan kemampuan memilihnya untuk membangun masa depan. Kemampuan memilih dan bertanggung jawab secara moral atas tindakannya menjadi pandangan atas hakikat manusia yang diyakini dalam agama Yahudi, Kristen, maupun Islam (Jonathan Sacks, The Dignity of Difference, 2007). Dalam alur pemikiran demikian, manusia (negara) tidak seharusnya membiarkan rakyatnya menerima nasib di tengah bencana yang menimpa. Dengan segala sumber yang dimilikinya, negara mempunyai kemampuan untuk memilih dan mewujudkan tanggung jawabnya terhadap para korban bencana.

Proses evakuasi yang lambat, distribusi bantuan yang tidak merata, data korban simpang siur, kepanikan dan ketidaksiapan aparat di lapangan memperlihatkan betapa lemahnya sistem perencanaan penanganan korban bencana di negeri ini. Dinantikan respons politis yang komprehensif dan urgen, tetapi tidak hanya reaktif agar negeri rawan bencana ini tidak gagap setiap menghadapi bencana.

Bencana alam akan selalu terjadi, tetapi negara sebesar Indonesia seharusnya tidak dikuasai sikap deterministis. Perlu diusir cara pemikiran yang meremehkan kemampuan manusia sebagai makhluk yang dapat memilih karena ia merupakan hasil dari apa yang diputuskannya. Pemerintah tidak perlu kehilangan kendali dan tanggung jawab atas akibat bencana yang terjadi.

Keberpihakan pada para korban seharusnya tampak dalam kemampuan pemerintah melakukan pilihan-pilihan cerdas, memerangi sikap pasif, mati rasa atau cuci tangan di hadapan derita warganya. Hiruk pikuk pembentukan kabinet hendaknya tidak meninggalkan para korban bencana seakan yatim piatu!

Paulinus Yan Olla MSF Rohaniwan; Lulusan Program Doktoral Universitas Pontificio Istituto di Spiritualità Teresianum, Roma; Bekerja dalam Dewan Kongregasi MSF di Roma, Italia

16
Oct
09

Bencana Alam : Rentetan Gempa Akan Serang Sumatera 30 Tahun

Rentetan Gempa Akan Serang Sumatera 30 Tahun
Jumat, 16 Oktober 2009 | 14:43 WIB

SINGAPURA, KOMPAS.com –  Rentetan gempa bumi diperkirakan akan menyerang Pulau Sumatera dalam waktu 30 tahun ini dan klimaknya memicu tsunami. Pakar gempa menyatakan, gempa dahsyat yang diprediksi akan terjadi akan jauh lebih kuat daripada gempa bumi 7,6 skala richter (SR) di Padang beberapa waktu lalu.

Hal tersebut dikatakan Kepala Observatorium Bumi Singapura, Kerry Sieh, yang selama ini menjadi salah satu pakar gempa yang intensif meneliti kegempaan Sumatera.

Dia mengatakan, gempa besar berikutnya akan berlangsung lebih dari enam kali lipat gempa berkekuatan 7,6 SR melanda Sumatera Barat, pada 30 September, yang meratakan kota Padang.

“Kami memperkirakan kekuatannya sekitar 8,8, bisa dikatakan lebih atau kurang 0,1 (skala magnitud),” ujar Sieh, profesor Amerika pada sebuah presentasi di Universitas Teknologi Nanyang, baru-baru ini.

Dia mengatakan, jika gempa Sumatera bulan lalu berlangsung sekitar 45 detik, gempa tersebut bisa berlangsung selama 5 menit.

Dikatakan, berdasarkan sejarah gempa bumi dari analisis geologis yang mempelajari lapisan terumbu karang dari daerah sekitar, gempa bulan lalu hanyalah sebuah awal. Seperti tekanan di bawah patahan yang menggulung lonjakan, Sieh mengatakan gempa akhir-akhir ini memiliki efek yang sangat kecil dalam mengurangi desakan yang akan melepaskan energi yang terpendam dalam 30 tahun mendatang.

“Jika kamu mempunyai anak, kamu perlu mengajarkan bahwa anak tersebut akan mengalami gempa bumi dan tsunami,” tambahnya.


M14-09




Blog Stats

  • 2,154,920 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 118 other followers