Posts Tagged ‘Patriotism



17
Aug
09

Nasionalisme : Panjat Pinang Meriahkan HUT RI

GB
Para peserta lomba berusaha memanjat pohon pinang yang telah diolesi oli atau pelicin lainnya.
Senin 17/08/2009 15:40 WIB

Foto News

Panjat Pinang HUT RI

Fotografer – Andi Saputra

Lomba panjat pinang di Pantai Carnaval Ancol Jakarta disambut antusias oleh warga dan para pengunjung, Senin (17/8). Mereka berebut memanjat pohon tersebut untuk mengambil hadiah yang digantung di atas pohon.

Foto Lain:

  • Fotolain
  • Fotolain
  • Fotolain
  • Fotolain
  • Fotolain
17
Aug
09

Nasionalisme : Upacara Detik-detik Proklamasi

GB
Pengibaran Sang Saka Merah Putih berlangsung khidmat. Pasukan Paskibraka pun sukses menjalankan tugasnya. (Cahyo Budi Sasmito).
Senin 17/08/2009 14:17 WIB

Foto News

Upacara Proklamasi

Fotografer – Pool

Presiden SBY dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menghadiri upacara peringatan Detik-detik Proklamasi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8). Meski sempat ada ancaman bom, pelaksanaan upacara ini berjalan lancar.

Foto Lain:

  • Fotolain
  • Fotolain
  • Fotolain
  • Fotolain
17
Aug
09

Nasionalisme : Upacara HUT Ke-64 RI di Istana Merdeka

GB
Paskibraka membawa membawa Sang Saka Merah Putih yang akan dikibarkan.
Senin 17/08/2009 13:53 WIB

Foto News

Upacara HUT RI

Fotografer – Anwar Khumaini

Upacara peringatan HUT ke-64 RI digelar di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8). Ratusan peserta upacara bendera menghadiri peringatan ini.

Foto Lain:

  • Fotolain
  • Fotolain
  • Fotolain
17
Aug
09

Nasionalisme : Upacara Penurunan Sang Merah Putih

GB
Seorang anggota Paskibraka menyerahkan bendera Merah Putih kepada Presiden SBY. Abror Rizki/Setpres.
Senin 17/08/2009 19:21 WIB, detik.com

Foto News

Sang Merah Putih

Fotografer – Pool

Upacara penurunan bendera merah putih di Istana Merdeka, Jakarta, diikuti ribuan tamu undangan, Senin (17/8). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertindak sebagai pembina upacara.

Foto Lain:

  • Fotolain
  • Fotolain
  • Fotolain
17
Aug
09

Nasionalisme : Penurunan Bendera Bawah Laut Oleh TNI AL

Bendera Bawah Laut

Liputan 6

Liputan 6 – Selasa, Agustus 18
Penurunan Bendera Bawah Laut Oleh TNI AL

Liputan6.com, Manado: Upacara penurunan bendera Merah Putih dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-64 Republik Indonesia di perairan Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, Senin (17/8) sore, hanya dilakukan tim teknis TNI Angkatan Laut. Sementara para penyelam yang pagi tadi ikut upacara pengibaran bendera di dasar laut telah naik ke darat.

Upacara sebelumnya diikuti oleh 2.486 peserta, dengan catatan pria berumur 69 tahun sebagai peserta tertua. Ini merupakan bagian dari International Sail Bunaken. Dalam ajang ini, Indonesia berhasil memecahkan tiga rekor dunia sekaligus. Rekor penyelaman massal, pelajaran menyelam bawah laut dengan peserta terbanyak, serta upacara bendera di dasar laut dengan jumlah peserta terbanyak. Piagam pemecahan ketiga rekor tersebut diserahkan malam nanti.

Ajang peringatan HUT RI dan pemecahan rekor dunia bawah laut ini disiarkan langsung oleh SCTV. Saksikan selengkapnya berita ini dalam video.(JUM/LUC)

17
Aug
09

Nasionalisme : Karikatur Raksasa Anti Neolib Warnai Peringatan HUT RI Ke-64

Senin, 17/08/2009 16:34 WIB
Karikatur Raksasa Anti Neolib Warnai Peringatan HUT RI ke-64
Andi Saputra – detikNews


Jakarta – Suasana depan Kantor PDI di Jl Diponegoro, Menteng, Jakarta siang ini tampak berbeda. Sebuah karikatur raksasa tampak berdiri tegak sebagai ungkapan ikut memeriahkan HUT RI ke-64 yang jatuh pada hari ini, 17 Agustus.

Karikatur yang dikerjakan hanya 1 malam oleh seniman Jogja Leonard Eko Wahyu Widhyatmoko, seniman Jakarta Yudi Supriyadi itu menggambarkan penolakan aliran dan paham Neo Liberal dengan pasar bebasnya.

“Ini adalah salah satu bentuk perlawanan, supaya masyarakat tahu, kondisi negeri kita,” kata Eko kepada detikcom di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Senin, (17/8/2009).

Dalam karikatur sebesar 4×9 meter itu, nampak Presiden SBY menaiki jeep sambil mengatakan ‘Merdeka’ dengan bendera KPU dibelakang mobilnya. Lalu mobil itu menarik roda penderek, ada tangga Pemilu 2009, yang dinaiki warga Amerika Serikat (AS).

selain itu karikatur seragam dengan simbol tuan besar AS yang berpose meraih lomba panjat pinang disampingnya. Di puncak pinang tersebut ada hadiah Papua, Sulawesi, Kalimantan dan Jawa. “Kami membuatnya dari jam 10 malam sampai tadi pagi jam 7-an,” tambahnya.

Karikatur besar ini, lanjut Eko, terinsiparasi oleh prilaku para politisi yang hanya mementingkan kelompoknya daripada bangsa dan negera. “Kita harusnya merenung. Kondisi Indonesia sekarang miris melihat pemimpin bangsa yang merebut kekuasaan, yang berebut ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sebagainya,” pungkasnya.
(asp/yid)

17
Aug
09

Nasionalisme : Makna Kemerdekaan Bagi Para Veteran Pejuang 45

Veteran Pejuang45

detikcom

Makna Kemerdekaan Bagi Para Veteran Pejuang 45

Perayaan hari kemerdekaan setiap tanggal 17 Agustus bukan sesuatu yang datang begitu saja. Kemerdekaan Indonesia diraih dengan usaha dan perjuangan keras dari para pahlawan dan pejuang saat itu. Bagaimana kata para pejuang veteran merasakan makna kemerdekaan yang mereka perjuangkan saat itu, apakah sudah tercapai?

“Secara umum kita sudah merasakan kemerdekaan. Tapi makmurnya belum,” kata Wahyono, salah seorang veteran yang diundang Presiden SBY untuk memperingati HUT Ke-64 Republik Indonesia di Istana Merdeka, Senin (17/8/2009).

Ungkapan Wahyono bukan tak beralasan. Menurutnya, meski saat ini Indonesia telah bebas dari cengkraman bangsa asing, namun kemakmuran masih dirasa belum merata untuk semua rakyat. Masih banyak warga Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Termasuk para veteran sendiri yang masih banyak yang belum sejahtera.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Jadi harus dihargai pahlawan bangsa,” ujarnya datar.

Termasuk memperhatikan nasib veteran dalam hal memperoleh kemakmuran? “Iya,” jawab pria yang sudah uzur ini mantap.

Lain Wahyono, lain Benny John Torey. Pejuang Trikora yang ikut memperjuangkan Papua kembali ke pangkuan ibu pertiwi ini menganggap cita-cita para pahlawan saat ini sudah tercapai. Satu hal yang dia pinta, generasi muda harus melanjutkan cita-cita para pejuang.

“Untuk pemuda-pemuda, bagaimana supaya harus mengikuti langkah-langkah perintis kemerdekaan,” tantang Benny kepada para pemuda.

Benny bercerita, saat berjuang membebaskan Papua dari cengkeraman Belanda, dirinya bersama para pahlawan lain saat itu hanya mempunyai satu tekad, yakni bebas dari penjajahan. Saat kemerdekaan itu telah diraih, satu hal yang harus dilakukan, mempertahankan kemerdekaa itu selama-lamanya.

Sementara itu, salah seorang pejuang Trikora lain yang sebenarnya tidak diundang tetapi ikut Benny, mengungkapkan kegembiraannya atas prestasi yang selama ini telah diraih oleh Indonesia. Kepada para penerus bangsa, dia berharap agar mengisi kemerdekaan ini dengan berkarya. “Jangan gontok-gontokan lagi,” sindirnya.

17
Aug
09

Nasionalisme : Kisah Pengibar Sang Saka 1945

Pengibar SangSaka45

Liputan 6

Liputan 6 – Senin, Agustus 17
Kisah Pengibar Sang Saka 1945

Liputan6.com, Jakarta: Merah Putih tak akan berkibar 64 tahun yang lalu tanpa peran petugas pengibarnya. Jika sudah demikian, tak akan pula bangsa ini menikmati kemerdekaannya.Tidak banyak yang mengenal sosok pengibar Sang Saka Merah Putih saat dibacakannya teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945. Padahal, fotonya mudah ditemui di berbagai buku sejarah. Pria bercelana pendek itu tak lain Ilyas Karim.

Ilyas kini aktif sebagai Ketua Yayasan Pejuang Siliwangi Indonesia, sebuah perkumpulan veteran, merupakan satu-satunya saksi sejarah detik-detik proklamasi yang masih hidup.

Kehidupan Ilyas yang pernah andil dalam berbagai misi penumpasan pemberontakan kurang mendapat perhatian pemerintah. Ia memang tidak mencari pengakuan penuh, tapi sudah seharusnya pengakuan diberikan pada pria yang juga menjadi bagian misi perdamaian Garuda II di Kongo, 1961 silam. “Dia (pemerintah) tahu, kami berjuang,” ujar Ilyas kecewa.

Meski demikian, Letnan Kolonel Purnawirawan ini tak ingin menuntut banyak. Ilyas hanya ingin menghabiskan masa tuanya dengan melihat kemerdekaan rakyat Indonesia. Ia berharap, generasi muda mau menghargai perjuangan para pahlawan dengan mengisi hidup lebih baik lagi. Berita selengkapnya simak di video.(OMI/AND)

16
Aug
09

Nasionalisme : Momentum Tingkatkan Nasionalisme

Banyak Momentum Bisa Dimanfaatkan untuk Tingkatkan Nasionalisme

MEDIA INDONESIA, Minggu, 16 Agustus 2009 13:03 WIB     

MAGELANG–MI: Berbagai momentum harus dimanfaatkan untuk penanaman nasionalisme bagi generasi muda agar jati diri mereka sebagai warga NKRI tetap kukuh di tengah dinamika perubahan zaman, kata budayawan Magelang KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf).

\\”Sekarang ini kita harus memanfaatkan momentum, sekecil apa pun, untuk menanamkan nasionalisme, terutama kepada generasi muda agar mampu menghadapi berbagai tantangan zaman yang kompleks,\\” katanya di sela Jalan Santai Merah Putih Bareng Gus Yusuf, di Magelang, Minggu (16/8).

Bangsa Indonesia saat ini, kata Gus Yusuf yang juga pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, berada di kancah kepentingan Barat yang identik dengan Amerika Serikat dan Timur yang identik dengan Timur Tengah.

Ia menjelaskan, posisi masyarakat Indonesia saat ini berada di antara tarik-menarik kepentingan tersebut.

\\”Bangsa Indonesia dengan mayoritas umat Islamnya berada di tengah tarikan besar liberalisme Barat, kebebasan, dan di sisi lain muncul radikalisme dari Timur Tengah yang juga mencari pengaruh kuat,\\” katanya.

Ia mengemukakan pentingnya bangsa Indonesia tetap berada di tengah-tengah kepentingan itu dengan cara menguatkan jati diri sebagai bagian dari NKRI.

\\”Mempertahankan NKRI, tetap jadi orang Islam Indonesia seperti yang diperjuangkan oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) secara turun temurun,\\” katanya.

Para kiai, katanya, secara turun temurun mengajarkan kepada umat bahwa cinta terhadap Tanah Air sebagai salah satu wujud iman yang kuat.

Ia mencontohkan tentang berbagai momentum yang bisa dimanfaatkan untuk penanaman nasionalisme generasi muda antara lain olahraga, pendidikan, dan pengajian.

\\”Tradisi NU seperti tahlilan, dan \\\’yasinan\\\’ bukan sekadar ritual keagamaan tetapi juga ruh Islam Indonesia untuk menjaga NKRI,\\” katanya.

Jalan santai yang diikuti sekitar 11 ribu warga baik dari Magelang maupun sejumlah daerah di sekitar Magelang, termasuk Wakil Bupati Magelang, Zaenal Arifin, itu digelar dalam rangka peringatan HUT ke-64 RI dengan menempuh jarak sekitar 3,5 kilometer di sekitar Ponpes API Tegalrejo.

Masyarakat di berbagai tempat di Magelang hingga sekitar pukul 11:00 WIB terlihat menyiapkan perayaan HUT ke-64 RI yang antara lain tirakat \\”Malam Tujuhbelasan\\”, berbagai lomba untuk anak-anak dan orang dewasa, pembuatan panggung hiburan, dan kerja bakti membersihkan lingkungan masing-masing.

\\”Malam nanti (16/8) kami melakukan tirakatan diikuti seluruh warga, ibu-ibu sedang menyiapkan tumpeng, kami juga menggelar berbagai lomba,\\” kata Ketua RT 26 RW 10 Perumahan Griya Kharisma Indah, Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Khalimi.

Beberapa sesepuh warga setempat, katanya, saat tirakatan mendapat jatah secara bergiliran untuk menyampaikan nasihat terutama kepada generasi muda terkait pentingnya memantapkan semangat nasionalisme dan meningkatkan kerukunan hidup antarwarga. (Ant/OL-04)

13
Aug
09

Nasionalisme : Bendera Merah Putih

Bendera MERAH PUTIH yang tak laku…

ilmu76 ilmu76

POLITIKANA.COM , 13 Agustus 2009

Sama seperti tahun-tahun lalu, pedagang musiman selalu mahir mencari keberuntungan, mencari sesuatu untuk dijual agar laku. Termasuk menjelang hari peringatan HUT kemerdekaan negeri ini, mereka seakan berlomba menjajakan bendera merah putih dalam berbagai ukuran, dari ukuran yang sangat kecil sekali hingga sebesar kain kafan dipajang dihampir setiap sisi jalan ada juga yang dijajakan dipersimpangan lampu merah. Sambil menyelam minum air, sambil ngamen jual bendera.

Tapi agaknya tahun ini tahun yang paling kurang beruntung. Setidaknya bagi pedagang musiman itu. Mereka mengeluhkan pasaran yang begitu sepi. Tak ada yang tertarik lagi melihat bendera merah putih. Kalaupun ada, itu hanya beberapa saja, tak memenuhi target setoran.

Ada apa gerangan? Pikir mereka. Apakah rakyat sudah tak cinta lagi dengan negeri ini, sehingga sekedar untuk memiliki bendera pusaka pun tak berminat lagi. Biasanya seminggu sebelum perayaan HUT RI ramai pembeli. Setiap kendaraan bermotor sejak dari roda dua hingga roda tak berbilang memajang merah putih sehingga kendaraan terkesan tambah gagah, meski pengendaranya sudah reot keriput. “Kok bisa ya?” gumam mereka.

Ya bisalah… sekarang hidup mereka tambah susah. Apalagi dikampung-kampung sana yang tak terjangkau sorotan kamera TV. Jangankan untuk membeli bendera, sekedar membeli ikan asin aja susah. Jangankan untuk memajang merah putih dikendaraan, bayar kreditnya aja kembang kempes ngelunasinya.

Lagian, kalau bendera pusaka sering-sering dilihat bisa berlinang air mata, sedih rasanya, bisa-bisa sakit hati. Rakyat harus cinta dengan negeri ini, tapi cinta mereka tak berbalas. Ibarat seseorang yang mabuk asmara, sementara yang dimabukin tenang-tenang saja. Memanglah “Cinta buah Kelapa”, “Awak terlalu cinta, orang yang dicinta tak apa-apa”

Bagaimana bisa cinta mereka terhadap negeri ini dapat terbalaskan, kalau rakyat hanya bisa melihat kekayaan negeri yang melimpah ruah, namun mereka tak punya kesempatan untuk memegang apalagi menikmatinya. Mereka hanya bisa melihat di TV hutang Indonesia yang setiap saat terus bertambah, sementara mereka tak pernah tahu apakah hutang-hutang itu untuk kesejahteraan mereka. Mereka melihat para pembesar berebut kuasa, berdalih memperjuangkan nasib mereka, padahal sedikitpun rakyat tak merasa diperjuangkan. Mereka tetap saja seperti apa adanya, tak terpengaruh ada atau tiadanya pemimpin mereka, ada atau tiadanya bendera mereka.

Rakyat miskin rela meninggalkan kerja mereka demi pemilu tempo hari, padahal mereka sadar betul kalau berhenti kerja berhenti pula dapur berasap. Mereka tetap melakukannya, karena masih cinta Indonesia, cinta perubahan. Padahal orang-orang yang mereka pilih belum tentu memiliki cinta terhadap bangsa sebesar cinta mereka. Kalaupun ‘katanya’ cinta, itu lantaran ada maunya. ‘mau berkuasa’.!!

Jadi kalau pedagang mengeluhkan bendera merah putih banyak yang tak laku, rakyat hanya bilang, “Itu derita lho..”, derita kami biarlah kami sendiri yang memikirkannya. Rakyat tak hendak lagi terlalu berharap kepada siapapun….

Tak perlulah menunjukkan rasa cinta terhadap Indonesia dengan membawa Merah Putih kemana-mana. Jangankan kita rakyat jelata, jangan-jangan para penguasa di sana pun tak pernah memajang bendera pusaka dengan tangannya sendiri setiap pagi. Palingan pembantu mereka yang dikerahkan secara bergantian….

Rakyat tetap cinta Indonesia…. M E R D E K A !!!




Blog Stats

  • 1,999,775 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers