Posts Tagged ‘Patriotism

14
Aug
11

Patriotisme : Mengusir Belanda dari Ambarawa

Kisah Pelaku Perang Kemerdekaan 1945 ; Mengusir Belanda dari Ambarawa
13/08/2011 08:57:58 BELANDA ingkar janji. Tidak mematuhi gencatan senjata, 2 November 1945 di Magelang Ambarawa. Masyarakat mendambakan lepas dari penjajahan dan ingin merdeka seperti yang telah diproklamirkan Bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1945 yang lalu. Apalagi selalu dikompori “Radio Pembrontak” Surabaya yang di-relay RRI setiap malam menyiarkan orasi “Jenderal Pembrontak – Bung Tomo”, yang menggebu-gebu dan terus membakar semangat jiwa generasi muda kita agar berjuang secara total untuk menghadapi penjajah Belanda sampai titik darah terakhir. Ambarawa jadi bergolak. Semua penduduk laki-laki, perempuan, tua muda bersatu padu bangkit menghadapi penjajah dengan semboyan, “Lebih baik mati dari pada dijajah kembali!” Kota Ambarawa yang kecil itu “dikepung wakul” dari tiga jurusan: timur, selatan dan barat oleh TKR (Tentara Keamanan Rakyat), Hisbullah, APS (Angkatan Perang Sabil), Laskar Rakyat dan beberapa kesatuan kelaskaran. Semua “saiyeg-saekapraya” bertempur menghadapi tentara Belanda yang dibantu Sekutu, kita dibawah komando seorang bekas Dai- Danchoo (Komandan Batalyon Tentara PETA) dari Kroya Cilacap Banyumas yang kemudian karena keberhasilannya oleh pemerintah diangkat menjadi Panglima Tentara, yang sekarang lebih kita kenal dengan nama Panglima Besar Jenderal Soedirman. Serangan umum yang terdahsyat ketika itu terjadi pada hari Rabu tanggal 21 November 1945 lalu diberi tetenger “Palagan Ambarawa. Sabtu 17 November 1945 kami berangkat ke Ambarawa. Kompi kami hanya Seksi III (seksiku) yang diberangkatkan dan akan digabungkan dengan pasukan dari Batalyon 17 yang menempati gedung STM Jetisharjo dan berlokasi di depan asrama kami. Setelah makan siang kami berangkat bersama pasukan Batalyon 17 diangkut dengan beberapa truk menuju Magelang, kemudian ganti naik kereta api dan berhenti di Stasiun Bedono. Setelah makan dan minum yang telah disediakan oleh petugas logistik pos Bedono, kami berangkat menuju lokasi yang ditentukan dengan berjalan kaki, cukup melelahkan karena mengangkat dua buah mitraliur berkaki tiga yang masing-masing dipikul tiga orang dan sebentar-sebentar diadakan pergantian pemikulnya. Pukul 20.00 WIB pasukan kami tiba di lokasi yang telah ditentukan. Medannya berupa tanah pegunungan yang miring ke barat, ditumbuhi beberapa rumpun bambu dan pepohonan yang daunnya meranggas seperti daerah gersang. Sekitar 300 meter ke selatan terdapat sebuah parit kering memanjang ke barat. Di bawah terdapat sebuah belik (semacam sumur). Di atas belik tadi ada punthukan yang ditumbuhi pohon besar dan dari sanalah mata airnya. Ketika itu Bulan Besar (Bulan Jawa) tanggal 12, oleh karena itu rembulan sedang berada di atas kami dengan suasana yang tidak gelap gulita. Pagi harinya Minggu 18 November bersama dua orang pengawal aku mengontrol lokasi dan area sekitarnya serta menempatkan posisi kedua mitraliur kami biar gampang sewaktu-waktu digunakan. Sepucuk senjata otomatis laras pendek selalu menempel di pinggangku, stengun hadiah kenang-kenangan di pertempuran Magelang. Mudah-mudahan nantinya menjadi ‘senjata makan tuan’, karena asalnya dari tentara Belanda yang tewas dan pelurunya akan kukirimkan kepada tentara Belanda lagi. Ambarawa sudah dikepung dari tiga penjuru. Pusat komando dirahasiakan tempatnya. Instruksi atau informasi dikirim lewat kurir secara estafet dari sektor satu ke sektor yang lain (tidak menggunakan HP seperti sekarang). Senin 19 November baru pukul 09.00 WIB dari utara datang tiga buah pesawat terbang Belanda jenis mustang atau yang dikenal “si cocor merah” menghujani tembakan zik-zak dengan peluru 12,7 mm yang bermaksud menggiring pasukan kami supaya ke arah timur dimana telah menghadang pasukan Belanda dengan kawalan panserwagen. Anak-anak kuperintahkan tidak usah berlari, berdiri saja menempel pepohonan dari atas tak akan kelihatan. Ternyata peluru tiu hanya dihambur-hamburkan percuma dan anak buahku tetap masih utuh. Tiba-tiba di timur terjadi tembak-menembak yang ramai sekali. Pasukan kami kusiapkan menunggu instruksi dari pos komando dan datanglah kurir membawa pesan agar pasukanku segera melibatkan diri. Pasukan kubagi dua yang sebagian di selatan dipimpin Serma Sujasmin dan sisanya di utara aku pimpin sendiri, terus turun mengarah ke timur yang dilindungi dua mitraliur yang dipegang oleh Darmo Onthel di utara dan Darmo Chungking di selatan. Namanya Sudarmo Komandan Regu I, oleh kawannya dijuluki Darmo Onthel, ceritanya ketika melucuti senjata tentara Jepang di Kotabaru Yogyakarta 7 Oktober 1945 mereka mengibarkan bendera putih tanda menyerah, tetapi ketika para pemuda berbondong-bondong hendak masuk ke asrama mereka, prajurit Jepang memberondong pasukan kita dan Darmo dapat menangkap salah seorang lalu disembelih dengan samurainya opsir Jepang itu sendiri. Sedang Darmo yang lain adalah Komandan Regu II tubuhnya berkulit kuning dengan wajah seperti China lalu dijuluki Darmo Chungking. Setelah menerima perintah itu pasukan kami terus bergerak maju merayap ke depan yang dilindungi tembakan mitraliur kedua Darmo tadi. Tidak beberapa lama pasukan kami sudah terlibat tembak-menembak dengan tentara Belanda yang di belakangnya dilindungi oleh sebuah panserwagen. Pertempuran menjadi seru karena bukan hanya pasukan kami sendiri, melainkan dari sisi selatan dan timur ikut juga terlibat tembak-menembak seru. Tiba-tiba panserwagen itu dikrutug peluru mortir dan tembakan meriam dari timur daya oleh pasukan Kavaleri/Infanteri Magelang (?) dan paserwagen itu terbakar kemudian tentara Belanda mundur ke utara. Karena sudah terjadi pertempuran yang frontal tentu saja pesawat terbang Belanda tadi pagi itu tidak dapat membantu pasukannya, takut menembak kawan sendiri. Ketika sedang sibuk-sibuknya bertempur, dari belakang datang seorang prajurit melaporkan bahwa Suhandi dari Regu III tertembak tembus pipi kanan kiri mulutnya menyemburkan darah. Kuambil sarungku dari ransel di punggungku dan kulepas kain segitiga yang melingkar di leherku terus kuberikan kepada prajurit itu dengan perintah,” Balut pipinya untuk mengurangi pendarahan, lilitkan sarung itu di kedua ketiaknya pada posisi terlentang, seret ke arah parit sana, di sana lebih aman, dapat digendong ke pos palang merah.” “Siap pak!” jawabnya terus merangkak menuju Suhandi berada. Setengah jam kemudian pertempuran sudah mereda, “Mo, lindungi aku. Aku akan mengontrol sekitar panserwagen itu,” perintahku kepada Darmo, terus berlari terbungkuk-bungkuk menuju bangkai panserwagen yang masih terbakar itu. Stengun di pinggang selalu siap menghadapi segala kemungkinan dan aku mengontrol sekeliling. Terlihat dua orang serdadu Belanda tergeletak di dekat bangkai panserwagen, mungkin tak sempat dibawa mundur oleh pasukannya. Dua pucuk senjata yang terletak di sampingnya begitu juga topi bajanya kuambil menjadi suvenir seksi pasukanku dan ketika aku kembali ke induk pasukan anak-anak sedang makan. Aku mendapat jatah sebuah pisang rebus dan sebuah bungkusan daun jati, setelah kubuka ternyata berisi dua potong singkong rebus. Darmo melapor, kata tobang (pengantar makanan) nasinya belum datang, yang ini baru emlik-emlik (makanan kecil) kiriman dari dapur lain. Kuambil termos air di ransel lalu dua potong singkong rebus dan sebuah pisang kapok rebus itu kusantap uenaak sekali, dasar dari pagi perutku belum terisi apa-apa. Setelah minum air termos, termosnya kuberikan kepada anak-anak dan sebentar saja airnya ludes. Pukul 17.00 WIB rasanya sudah aman, pasukan terus kutarik mundur kembali ke posisi semula. Selasa tanggal 20 November pagi-pagi aku telah mendapat informasi dari pos komando yang mempunyai radio-telegrafi, yang katanya dari Jakarta sudah dikirim bantuan tentara Belanda yang diangkut dengan kapal laut ke pelabuhan Semarang. Tentu saja hari ini pasukan tentara Belanda di Ambarawa akan menjadi kuat baik personel atau persenjataannya. Benar, pagi itu pasukan kita mulai bergerak (termasuk pasukan kami) menduduki Ambarawa bagian selatan dan pada pukul 11.00 WIB pasukan Belanda yang dibantu tentara Sekutu mulai menyerang kedudukan kami. Pertempuran sengit mulai berkobar. Dan ketika baru bertempur satu jam kaki kananku tertembak. Sepatu boot yang baru saja kuterima jebol. Sambil mengerang kesakitan, Darmo kuperintahkan melepas tali sepatuku untuk mengikat daerah mata kaki guna memperlambat jalannya darah dan aku berpesan tanggung jawab pimpinan kuserahkan Serma Sujasmin, begitu juga senjata-senjata serta dua buah topi baja kuserahkan sebagai inventaris pasukan kita. Seperti Suhandi aku diseret oleh salah seorang prajurit (lupa namanya) di bawa ke pos palang merah. Sore hari itu juga aku bersama yang lain luka-luka dan gugur dibawa ke Yogyakarta. Yang gugur dibawa ke BPKKP Sayidan dan yang luka-luka dibawa ke Rumah Sakit Petronella (sekarang RS Bethesda). Hari Rabu tanggal 21 November 1945 (pertempuran yang paling dahsyat ketika kaki kananku yang tertembak dan sedang dirawat, aku mendengar kabar bahwa anak buahku Sarno anggota Regu 4 gugur dan dimakamkan di TMP Semaki. Ketika rombongan kami berziarah pada saat menghadapi Muscab LVRI Kabupaten Kulonprogo Mei 2005, kucari pusarannya tidak ketemu, mungkin sudah dipindah ke lain tempat, karena tempat itu (seingatku) sekarang jadi bangunan Pusara Panglima Besar Jenderal Soedirman. Di sebelah utara pusara beliau masih ada batu nisan almarhum Sulari anggota Seksi II yang gugur di pertempuran Kaliwungu. Teringat kata dr Kasmolo ketika itu, “bersyukurlah kepada Tuhan. Coba andaikata peluru itu bergeser 3 cm saja ke kanan, telapak kakiku harus diamputasi.” q-g/c-(3270-2011). Soehari Ws, Pejuang Angkatan 45 Kulur, Temon, Kulonprogo (0274) 7498224.

Cetak Berita
Kirim ke teman

11
Nov
09

Kepahlawanan Arek Suroboyo 10 Nopember 1945

Suara Pembaruan

ZOOM2009-11-10Pahlawan Hati Nurani Rakyat
Josef Purnama Widyat madja

Enam puluh empat tahun lalu, tepatnya 10 November 1945, Bung Tomo bersama arek Suroboyo dengan gagah berani melawan tentara sekutu. Pada hari itu, tidak ada pilihan lain bagi arek Suroboyo bersama rakyat Indonesia kecuali merdeka atau mati. Tidak seorang pun berpikir untuk kepentingan dan memperkaya diri sendiri. Itulah sebabnya mengapa perjuangan arek Suroboyo mengilhami pemimpin nasional menjadikan pertempuran Surabaya sebagai hari pahlawan.

Kepahlawanan arek Surobyo dan rakyat Indonesia bukan semata-mata kepahlawanan dari mereka yang memiliki senjata canggih dan pasukan terlatih, juga kepahlawanan dari rakyat yang memiliki hati nurani. Hati nurani ini tak bisa dibeli dan diganti dengan durian yang bisa membuat mabuk dan lupa diri. Berbekal hati nurani rakyat berani melawan musuh yang memiliki senjata yang lebih canggih dan tentara yang terlatih. Hati nurani rakyatlah yang kita peringati sebagai Hari Pahlawan saat ini.

Kepahlawanan rakyat Indonesia dalam era Reformasi pada 1998 sekali lagi tidak diperankan oleh mereka yang membawa bedil dan menyandang jabatan tinggi. Tapi, justru dari buruh, tani, mahasiswa, pengacara, dan budayawan yang menjadi korban tirani. Tidak sedikit aktivis meringkuk dalam bui oleh pengadilan yang tak bersih. Bedil dan bui telah menelan korban manusia yang menyuarakan hati nurani. Pahlawan reformasi yang mati dalam tragedi Trisakti atau Semanggi sampai saat ini belum bisa menerima keadilan semestinya. Reformasi Indonesia tidak ditandai kepahlawanan mereka yang memiliki senjata dan jabatan di Istana atau Senayan. Kepahlawanan dalam reformasi sesungguhnya adalah kepahlawanan dari rakyat dan mahasiswa yang masih memiliki hati nurani untuk membebaskan Ibu Pertiwi dari penindasan tirani.

Sebelas tahun setelah reformasi di tengah peringatan Hari Pahlawan, rakyat Indonesia menyaksikan sekali lagi perang hati nurani yang disajikan oleh media televisi dan cetak. Semangat reformasi untuk memperbarui diri kian memudar di antara penegak hukum karena tergerus oleh keserakahan harta. Budayawan Romo Mangunwijaya pernah memperingatkan bahwa reformasi yang terjadi tahun 1998 baru sekadar tambal sulam dan pergantian orang. Belum menyentuh perubahan hati nurani dan nilai kemanusiaan.

Yang dibutuhkan Indonesia, menurut Romo Mangun, adalah transformasi yang mampu mengubah mental budaya dan tatanan sosial dalam segala bidang. Keadilan tidak bisa diharapkan tanpa transformasi tatanan nilai dan praktik hukum yang bisa dibeli.. Dan transformasi ini yang tidak terjadi setelah sebelas tahun reformasi. Perang hati nurani terjadi di sidang Makamah Konstitusi, Tim 8 dan DPR. Adegan tayangan televisi yang kita saksikan merupakan bukti bahwa reformasi yang berjalan baru merupakan slogan dan belum kenyataan.

Bisa Diatur

Kriminalisasi bisa diatur dan keadilan dijualbelikan. Perseteruan bukannya terjadi antara penegak hukum pemberantas korupsi melawan koruptor pelaku korupsi. Perseteruan justru terjadi di antara sesama penegak hukum yang mendapat mandat dan biaya dari rakyat untuk memberantas korupsi. Sesama penegak hukum seyogianya bekerja sama untuk mengusut korupsi yang merugikan uang rakyat, bukannya berantam sendiri dan memberikan kesan salah satu pihak telah dibeli oleh pelaku korupsi.

Pertarungan sesungguhnya bukan pertarungan antarinstitusi, tapi pertarungan hati nurani dari penjabat yang duduk dalam institusi. Bukan pertarungan antara lembaga KPK dan Polri karena keduanya mendapat mandat dari konstitusi. Sesungguhnya pertarungan itu terjadi adalah pertarungan antara KPK (Komunitas Pemberantasan Korupsi) melawan KPK (Konspirasi Pembela Korupsi). Komunitas Pemberantas Korupsi dan Konspirasi Pembela Korupsi bisa saja berada dalam diri KPK (Komisi Pemberantas Korupsi), Polri, kejaksaan, tim 8, Makamah Konstitusi, media, lembaga DPR, dan sebagainya. Baik dalam lembaga yang dicap jahat maupun lembaga yang dicap bersih, keduanya bisa terdapat orang yang memiliki hati nurani serta orang yang memiliki jiwa korupsi.

Sebelas tahun setelah reformasi, lembaga perwakilan rakyat yang dipilih rakyat malah ditinggalkan rakyat karena dianggap tidak lagi memiliki hati nurani. Curahan hati rakyat setelah sebelas tahun reformasi disalurkan dalam bentuk parlemen jalanan dan facebook bukan ke Senayan. Rakyat tidak ingin menyaksikan pengadilan kasus korupsi akan mengulang korban seperti yang terjadi dalam kasus Sum Kuning, Sengkon-Karta, Pak De dan Dice.

Era reformasi merupakan kesempatan baik bagi setiap orang untuk menjadi pahlawan hati nurani, di mana kebenaran dan keadilan dijunjung tinggi, bukannya hukum prosedural dan kata-kata mati yang didewakan. Dalam kampanyenya Presiden SBY dikenal sebagai presiden yang santun, penuh pesona, dan memiliki susila yang tinggi untuk memberantas korupsi. Di tengah peringatan Hari Pahlawan, rakyat menagih janji agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bisa memenuhi janji dan membuktikan diri menjadi pahlawan hati nurani yang akan diingat sejarah Ibu Pertiwi.

Penulis adalah pengamat sosial budaya dan pembangunan

10
Nov
09

Kenegaraan : Kehilangan Indonesia, Timbul Bencana

Kehilangan Indonesia, Timbul Bencana

Selasa, 10 November 2009 | 02:35 WIB

Indonesia adalah negeri para pejuang, bukannya negeri para begundal. Itulah sebabnya setiap tahun kita memperingati Hari Pahlawan. Dalam ungkapan Bung Hatta, ”Bagi kami, Indonesia menyatakan suatu tujuan politik karena dia melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air pada masa depan dan untuk mewujudkannya, setiap orang Indonesia akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”

Berjuang, ”berusaha dengan segala tenaga dan kemampuan” itulah urat nadi keindonesiaan, yang membuat ia ada dan melangsungkan keberadaannya. Tekad perjuangan ini bukanlah retorika kosong dari suatu politik pencitraan, melainkan didarahi oleh pengalaman keterjajahan, ketertindasan, dan penderitaan yang membuat para pendiri bangsa memiliki penghayatan yang dalam tentang arti keadilan dan komitmen yang kuat untuk mewujudkannya.

Itulah sebabnya, dalam Pancasila, kata ”keadilan” ditonjolkan dengan menempatkannya di dua sila sekaligus. Pada sila kedua, keadilan dijadikan landasan nilai perjuangan; pada sila kelima, keadilan itu dijadikan tujuan perjuangan.

Dengan itu, para pendiri bangsa mewariskan kepada kita alasan (landasan) dan tujuan perjuangan kebangsaan. Sedemikian terangnya alasan, isi, dan haluan perjuangan keindonesiaan itu sehingga seorang ahli sejarah, Rutger, menyatakan, ”Dari semua negara di Asia Tenggara, Indonesia-lah yang dalam konstitusinya pertama-tama dan paling tegas memberikan latar psikologis yang sesungguhnya dari perjuangan revolusi melawan penjajahan. Dalam filsafat negaranya, Pancasila, dilukiskannya alasan dan tujuan secara lebih mendalam dari revolusi itu.”

Jika Indonesia ada karena perjuangan dan komitmen luhur menegakkan cita-cita kemanusiaan dan keadilan, Indonesia terancam karam seiring dengan pemudaran tekad kejuangan dan komitmen keadilan.

Indonesia telah lolos dari berbagai ujian kemelaratan dan penderitaan sejauh masih ada semangat perjuangan dan solidaritas kemanusiaan. Namun, daya hidup dan karakter keindonesiaan justru goyah saat ketamakan dan kezaliman kuasa menari di atas penderitaan rakyat banyak. Kemiskinan memang membuat bangsa ini tidak memiliki banyak hal, tetapi keserakahan membuat bangsa ini kehilangan segalanya.

Kehilangan terbesar dari bangsa ini bukanlah kemerosotan pertumbuhan ekonomi, melainkan kehilangan harga diri, yang membuat para abdi negara lebih rela menjadi pelayan cukong ketimbang pelayan rakyat.

”Aib terbesar,” kata Juvenalis, ”ketika kamu lebih mementingkan kehidupan ketimbang harga diri, sementara demi kehidupan itu sendiri engkau telah kehilangan prinsip-prinsip kehidupan.”

Pintu masuk korupsi

Kehilangan harga diri menjadi pintu masuk bagi keberanian korupsi. Adapun korupsi dari pejabat tinggi merupakan sumber pembusukan moral dan komitmen keadilan. Dalam peribahasa Latin dikatakan, corruptio optima pessima, pembusukan moral (korupsi) dari orang yang tertinggi kedudukannya adalah yang paling buruk.

Pembusukan moral negara terjadi ketika lembaga kepolisian dan kejaksaan yang mestinya menegakkan hukum justru menjadi manipulator hukum; lembaga parlemen yang mestinya mengontrol pemerintah justru menjadi juru stempelnya; birokrasi yang mestinya melayani rakyat justru menjadi sarang para penyamun dan makelar proyek; kepala negara yang mestinya menegakkan ”kebajikan dan keadilan tertinggi” (summon bonum) di atas formalitas hukum justru mengalah pada kerangkeng prosedural dalam kerangka keseimbangan kekuasaan; dan akan lebih gawat lagi jika pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi pun menggunakan institusinya untuk tujuan korupsi.

Pembusukan moral negara ini akan sempurna bilamana para pejabat dan institusi kenegaraan menyalahgunakan fungsinya dalam rangka melayani kepentingan para sindikat partikelir.

Sekitar setengah abad yang lalu, Bung Hatta mewanti-wanti agar negara ini tidak jatuh ke tangan sindikalisme yang akan membuat Republikanisme ini tersungkur di bawah kendali mafioso. Malangnya, drama demi drama yang dipertontonkan para pejabat publik dalam kaitan dengan masalah korupsi akhir-akhir ini mendekati kekhawatiran Bapak Bangsa itu bahwa Republik ini terjerembab oleh ”sindikalisme buaya yahud”.

Situasi kegentingan ini harus menjadi panggilan sejarah baru pada Hari Pahlawan. Bahwa kita semua terancam ”kehilangan Indonesia”. Hal ini mengingatkan kita pada pernyataan Perdana Menteri Belanda Hendrik Colijn sekitar tahun 1938.

Ketika menanggapi petisi Soetardjo, anggota parlemen Hindia Belanda, yang menuntut kemerdekaan Indonesia, Colijn mengatakan, ”Indie verloren rampspoed geboren (Kehilangan Indonesia, timbul bencana).”

Dengan tekad kejuangan dan komitmen keadilan, Indonesia pun merdeka, yang menimbulkan kehilangan dan bencana besar bagi Belanda. Namun, dengan redupnya daya juang dan komitmen keadilan yang menjadi roh keindonesiaan, kini giliran bangsa sendiri terancam kehilangan Indonesia.

Kehilangan Indonesia akan merupakan suatu bencana besar atas rontoknya cita-cita besar mewujudkan bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Indonesia memanggil, ”Save our nation!” Kepahlawanan tampak ketika dalam dada yang kecil ada keberanian besar. Kepengecutan juga tampak ketika dalam dada yang besar tersembul keberanian kecil. Berani karena benar, takut karena salah. Itulah jiwa kepahlawanan yang harus digelorakan kembali.

Yudi Latif Pemikir Kenegaraan dan Keagamaan

10
Nov
09

Kepahlawanan : Pattimura Dihukum Mati Belanda

Pattimura, Pahlawan asal Maluku yang Dihukum Mati Belanda
Senin, 9 November 2009 | 21:51 WIB

AMBON, KOMPAS.com – Pattimura patut diteladani dan jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Maluku dan Indonesia perlu diperingati pada hari Pahlawan, kata salah seorang cucu keturunan Pattimura, Marcellina Matulessy.

“Pattimura telah berjuang untuk kemerdekaan Maluku dan Indonesia. Ia patut dikenang saat hari Pahlawan dan jiwa kepahlawanannya harus menjadi teladan bagi generasi muda,” katanya di Ambon, Senin.

Menurut Marcellina, Thomas Matulessy atau yang lebih dikenal dengan nama Kapitan (panglima perang) Pattimura adalah putera Maluku yang berjuang melawan penjajah Belanda, hingga akhirnya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati di Benteng Niuew Victoria pada tahun 1817 saat usianya baru 34 tahun.

Wanita berusia 56 tahun itu mengatakan, semangat kakek buyutnya itu patut dijadikan teladan bagi generasi muda untuk ikut membangun bangsa dan negara agar lebih maju dan makmur di masa datang.

Ia juga mengatakan, saat ini penjajahan oleh bangsa asing sudah tidak ada, tetapi belum seluruh warga bangsa Indonesia merdeka akibat penindasan modern, yang dilakukan sebagian warga bangsa sendiri yang tidak bertanggung jawab.

“Generasi sekarang harus mencontoh perjuangan para pahlawan dengan cara ikut menciptakan kesejahteraan bangsa, dan bukan sebaliknya merampas hak dari orang lain yang berarti merampas kemerdekaannya,” katanya.

Marcellina lebih jauh berpendapat, nilai-nilai kepahlawanan masyarakat Maluku yang sekarang tidak seperti pada jaman kakek nenek dan orang tuanya, yang menganggap peringatan hari Pahlawan sebagai sesuatu yang sakral dan pantas untuk diperingati sebagai salah satu bentuk ungkapan terima kasih atas jasa-jasa mereka.

“Masyarakat sekarang lebih menganggap peringatan hari Pahlawan sebagai formalitas saja, bukan dari maknanya. Kalau tak ada mereka maka kita tidak mungkin bisa menghirup udara kemerdekaan,” katanya.

Dukung SBY
Marcellina mengakui dirinya sangat mendukung kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena telah terbukti sangat memperhatikan masyarakat kecil. Meski demikian, ia berharap pemerintahan SBY Jilid II lebih memperhatikan anak cucu dan keturunan dari para pahlawan.

“Semoga SBY tetap memperhatikan rakyat kecil, juga kesejahteraan dari keturunan pahlawan Indonesia, tanpa mereka negara ini tak akan pernah ada,” ujar Marcellina.

Sementara itu, Alberth Matulessy (23), keponakan dari Marcellina Matulessy, mengatakan dirinya sebagai keturunan Pattimura tidak ingin mempermalukan pahlawan tersebut. Karena itu, sejak masih di bangku pendidikan ia meneladani “kerja keras” Pattimura dalam berjuang meraih kemerdekaan dengan cara giat belajar demi mencapai cita-cita.

“Saya meneladani perjuangannya dengan belajar keras untuk bisa lebih maju,” katanya.

Alberth adalah polisi yang bertugas di Polres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease. Sebelumnya ia berprofesi sebagai vokalis band indie di kota Ambon. Alberth meninggalkan band tersebut, karena sebagai abdi negara ia ingin seperti Pattimura memberikan yang terbaik bagi Tanah Air.

Dalam kenangan Alberth,  moyangnya, Thomas Matulessy lahir di Negeri Haria, Porto, Pulau Saparua, Maluku pada 8 Juni 1783. Kapitan Pattimura dan rekan- rekannya seperti Said Perintah, Anthony Reebhok, Paulus Tiahahu dan putrinya Christina Martha Tiahahu menyerang benteng Duurstede di Saparua pada 15 Mei 1817.

Semua warga Belanda, termasuk Residen van de Berg dibunuh, kecuali anak lelakinya berumur lima tahun yang diselamatkan dan diberi nama van de Berg van Saparua.

Kapitan Pattimura ditangkap pada 12 Nopember 1817. Pahlawan nasional ini terpengaruh bujuk rayu dari penjajah Belanda sehingga pada akhirnya dihukum mati  di depan Benteng Niuew Victoria 16 Nopember 1817.


KSP

Editor: ksp

Sumber : Antara

03
Nov
09

Kepahlawanan : John Lie, Pejuang Berkaliber Nasional

Suara Pembaruan

ZOOM2009-11-03John Lie, Pejuang Berkaliber Nasional

Eddie Kusuma

Tanggal 10 November sudah di ambang pintu, hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, yakni Hari Pahlawan. Lazimnya pada setiap Hari Pahlawan ditetapkan para pejuang yang berjasa luar biasa kepada bangsa dan negara menjadi pahlawan nasional. Pada 2008, empat pejuang dianugerahi tanda kehormatan pahlawan nasional. Salah satu di antaranya adalah Bung Tomo, pejuang arek Suroboyo, yang mempertahankan kemerdekaan RI

Pada Hari Pahlawan 2009 ini, diharapkan juga ada pejuang yang dianugerahi gelar pahlawan nasional. Dan siapakah pejuang itu, baru bisa diketahui beberapa hari menjelang hari H, yakni 10 November 2009. Saat itulah disematkan tanda kepahlawanan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa-jasa pahlawannya. John Lie alias Jahja Daniel Dharma, prajurit TNI AL dengan pangkat terakhir Laksamana Muda Laut, pernah diusulkan oleh LPK Indonesia Bersatu, yang dipimpin oleh Didi Dawis, sebagai pahlawan nasional pada 2008. Namun, keinginan itu belum berhasil, karena persyaratan administrasi yang belum lengkap. Pada 2009 ini, LPK Indonesia Bersatu kembali mengajukan usul dan menyerahkan pengusulannya langsung kepada Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah SE, pada April 2009. Apakah hasil penelitian Tim Pembina Pahlawan Pusat yang diketuai oleh Menteri Sosial dapat meloloskan John Lie menjadi pahlawan nasional pada tahun ini? Tentu ini sangat diharapkan banyak kalangan, terutama oleh warga TNI pada umumnya, TNI AL khususnya, serta masyarakat Manado dan komunitas Tionghoa Indonesia.

Jika memang pejuang John Lie berhasil mendapat anugerah sebagai pahlawan nasional, berarti John Lie adalah pejuang ke-3 prajurit TNI AL yang mendapat anugerah pahlawan nasional setelah pendahulunya, Yos Sudarso dan RE Martadinata. Bagi masyarakat Manado, penghargaan demikian tentu akan menjadi kebanggaan. Sedangkan, komunitas Tionghoa Indonesia akan berbahagia karena John Lie adalah seorang putra terbaik bangsa Indonesia yang berdarah Tionghoa

LPK Indonesia Bersatu, ormas yang bergerak dalam kegiatan pengkajian masalah kebangsaan, juga tengah mempersiapkan data dan dokumen pejuang tersohor Letjen KKO Ali Sadikin untuk diajukan sebagai pahlawan nasional pada 2010, setelah memenuhi segala prosedur.

Ranjau Laut

John Lie adalah pejuang berkaliber nasional, bahkan transnasional, bukan pejuang daerah. Keliru orang yang berpendapat John Lie pejuang sebuah daerah, karena sikap dan tindak perjuangannya yang luar biasa menunjukkan nilai kepahlawanan. Ia bertindak melampaui tugas yang diemban seorang warga negara, yakni pada November 1945 sampai 1948, berada di Selat Malaka dan sekitarnya serta di Cilacap dengan membuat ranjau laut. Ia pernah bertugas di Manado, antara lain, menumpas PRRI/Parmesta, RMS, dan operasi militer lainnya. Perjuangan ini dilakukan setelah adanya pengakuan kedaulatan RI secara de facto dan de jure dari Hindia Belanda melalui hasil KMB

Berdasarkan nilai-nilai strategis perjuangan John Lie di Selat Malaka dan sekitarnya pada masa itu, yakni di Aceh Tamiang, Labuhan Bilik (Sumut), dan Singapura, LPK Indonesia Bersatu berkesimpulan John Lie adalah pejuang nasional, bahkan transnasional yang layak menjadi pahlawan nasional,

LPK Indonesia Bersatu mengajukan John Lie sebagai pahlawan nasional setelah mendapat dukungan dan pengusulan dari Gubernur DKI Jakarta, dengan alasan ketika memulai perjuangan, John Lie mendarat pertama kali di Tanjung Priok Jakarta. Kemudian, setelah berjuang John Lie menjalankan tugas prajurit TNI AL di Jakarta hingga meninggal dunia di Ibukota dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sedang dukungan dan pengusulan dari Gubernur Sulawesi Utara karena John Lie adalah putra kelahiran Manado, walau pada saat perjuangannya mempertahankan kemerdekaan NKRI (1945-1948) dia tidak berada di Manado. Kemudian, Gubernur Sumatera Utara mengajukan dan mendukung John Lie sebagai pahlawan nasional, karena senjata yang diselundupkannya kepada para pejuang Indonesia dibawa melalui Pelabuhan Labuhan Bilik, Labuhan Batu, Sumut.

Pengajuan John Lie menjadi pahlawan nasional didukung oleh Kasal Laksamana Tedjo Edhie P, mantan bawahan dan terakhir menjadi atasannya Laksamana (Purn) Sudomo, Letjen R Soeprapto, pimpinan Dewan Harian Nasional 45, Letjen HBL Mantiri, Legiun Veteran RI, DPR, dan DPRD Sumatera Utara, Sulut, DKI Jakarta, 30 ormas lainnya di Jakarta, Sulut, dan Sumut, serta tokoh-tokoh lainnya. Kita berharap John Lie dapat dianugerahi gelar pahlawanan nasional pada Hari Pahlawan 2009. Merdeka

Penulis adalah Ketua Lembaga Sakti, Doktor Ilmu Politik Unpad

28
Oct
09

28 Oktober 1928 Jalan Menuju Revolusi Kemerdekaan

28 Oktober 1928 Sumpah Pemuda
dan jalan menuju Revolusi Kemerdekaan

Hendrikus Colijn mantan Menteri Urusan Daerah Jajahan, kemudian Perdana Menteri Belanda. Veteran perang Aceh dan bekas ajudan Gubernur Jenderal van Heutz. Sekitar tahun 1927 – 1928, pernah mengeluarkan pamflet yang menyebut Kesatuan Indonesia sebagai suatu konsep kosong. Katanya, masing-masing pulau dan daerah Indonesia ini adalah etnis yang terpisah-pisah sehingga masa depan jajahan ini tak mungkin tanpa dibagi dalam wilayah-wilayah.[1]

Bukan suatu kebetulan, bahwa pernyataan Colijn tersebut memunculkan Kongres Pemuda yang kedua pada tgl 28 Oktober 1928 di Batavia, dimana diikrarkan Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa. Peristiwa ini kita kenang sebagai hari Sumpah Pemuda.

Sejak tahun 1915 telah berdiri sejumlah besar organisasi kepemudaan bersifat kedaerahan, seperti Tri Koro Darmo yang kemudian menjadi Jong Java (1915), Jong Sumatranen Bond (1917), Jong Islamieten bond (1924), Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon, Sekar Rukun dan Pemuda Kaum Betawi. Namun semua organisasi tersebut bersifat kedaerahan dan kelompok khusus. Yang mungkin sedikit berbeda adalah Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang berdiri setelah selesai Kongres Pemuda I pada tahun 1926. PPPI merupakan wadah pemuda nasionalis radikal non kedaerahan. Tokoh-tokohnya adalah Sigit [2], Soegondo Djojopoespito, Suwirjo, S. Reksodipoetro, Muhammad Yamin, A. K Gani, Tamzil, Soenarko, Soemanang, dan Amir Sjarifudin. Atas prakarsa PPPI kongres ke II diadakan.

Dalam penerbitan P.I (koran Pemoeda Indonesia) no 8 tahun 1928, terdapat artikel dengan judul “KERAPATAN PEMOEDA-PEMOEDA INDONESIA”. Disitu dijelaskan :
sebagaimana yang telah diwartakan dalam P.I no.6 dan 7, di Jacatra telah diadakan kerapatan besar Pemoeda-pemoeda Indonesia pada tanggal 27 dan 28 Oktober. Pimpinan kerapatan ialah terdiri dari wakil-wakil, Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia, Pemoeda Indonesia, Pemoeda Soematera, Jong Java, Jong Celebes, Jong Batak Pemoeda Kaum Betawi, Jong Islamieten Bond (JIB) dan Sekar Roekoen. Selanjutnya juga diberitakan bahwa kerapatan dikunjungi beratus-ratus orang, dimana bagi siapa yang menyaksikan sendiri akan berbesar hati karena pemoeda-pemoeda kita bukan baru mencita-citakan saja, tapi telah tegak berdiri dipusat persatuan dan kebangsaan . Dalam kesempatan inipun telah diperdengarkan untuk pertama kali kepada umum oleh Pemoeda W.R.Soepratman, lagu INDONESIA RAJA [3]
Dalam POETOESAN CONGRES PEMOEDA-PEMOEDI INDONESIA, tercatat bahwa Poetra dan Poetri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia. Poetra dan Poetri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Poetra dan Poetri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sebagai realisasi penyatuan ini, pada tanggal 31 Desember 1930 jam 12 malam, Jong Java, Perhimpunan Pemoeda Indonesia, Jong Celebes, Pemoeda Soematra (awalnya bernama Jong Sumatranen Bond) telah berfusi menjadi satu dan membentuk Perkoempoelan “INDONESIA MOEDA”.

Para anggota panitia Kongres Pemuda ke II [4] terdiri dari pemuda-pemudi Indonesia yang dikemudian hari amat berperan dalam gerakan pemuda yang memperjuangkan kebangsaan dan kemerdekaan. Diantaranya terdapat nama, Soegondo Djojopoespito dari PPPI (ketua), Djoko Marsaid dari Jong Java (wakil ketua), Muhammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond (Sekretaris), Amir Sjarifudin dari Jong Sumatranen Bond (bendahara), Djohan Mu.Tjai dari Jong Islamieten Bond. Kontjosoengkoeno dari P.I, Senduk dari Jong Celebes, J.Lemeina dari Jong Ambon dan Rohyani dari Pemoeda Kaum Betawi. Panitia didukung tokoh-tokoh senior seperti Mr.Sartono, Mr.Muh Nazif, A.I.Z Mononutu, Mr.Soenario. Dalam kongres ikut berbicara tokoh-tokoh besar kebangsaan lainnya seperti S. Mangoensarkoro, Ki Hadjar Dewantoro dan Djokosarwono .

Hadir sebagai undangan sekitar 750 orang dimana terdapat nama-nama yang kemudian terkenal seperti Kartakusumah (PNI Bandung), Abdulrachman (B.O Jakarta), Karto Soewirjo (P.B Sarekat Islam), Muh. Roem, Soewirjo, Sumanang, Masdani, Anwari, Tamzil, AK Gani, Kasman Singodimedjo, Saerun (wartawan Keng Po), WR Supratman. Dari Volksraad yang hadir adalah Soerjono dan Soekawati dan dari pihak Pemerintah Hindia Belanda yang hadir adalah Dr.Pyper dan Van der Plas [5].

Jelas bahwa kongres pemuda ke II dimana diikrarkan Sumpah Pemuda bukan pekerjaan dalam sedikit waktu saja, dan terang juga bukan hasil usaha dari beberapa gelintir orang saja[6]. Hal ini merupakan perjuangan panjang sejak Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908. Bahkan ada sebuah peristiwa lainnya yaitu ketika tahun 1904 Dr A,Rivai lulus ujian dokter sebagai Nederland Arts di Utrecht Belanda, pupus sudahlah anggapan jelek bahwa bangsa Indonesia itu “Laksheid”. Kata ini amat sakit didengar karena berarti pemalas, tidak punya kemauan bekerja atau berbuat sesuatu.

Setelah Indonesia muda terbentuk, berarti pemuda Indonesia memiliki organisasi kepemudaan nasional yang solid, kuat dan bercita-cita menuju kemerdekaan yang lebih pasti. Anggota IM terdiri dari semua pemuda seperti anak-anak SLP, SLA, sekolah khusus, kejuruan sederajat dan mahasiswa. Sejak tahun 1931 kongres demi kongres diadakan sehingga lebih menampakkan eksistensinya. Nyatanya memang IM tidak berafiliasi dengan partai politik.

Sejarah kemudian membuktikan bahwa modal kejuangan diatas amat penting artinya pasca penjajahan Jepang (1942-1945), dimana api Revolusi Kemerdekaan mulai dinyalakan dengan kesadaran adanya kesatuan dan persatuan kebangsaan yang bermotifkan pantang untuk dijajah kembali oleh kekuatan asing apapun bentuknya. Proklamasi Kemerdekaan mengawali “Revolusi Pemoeda”, dan berahir ketika penjajah terahir di Indonesia yaitu Imperium Belanda menyatakan pengakuannya pada Kemerdekaan Republik Indonesia Serikat pada tanggal 27 Desember 1949. Tidak sampai 1 tahun kemudian, RIS bubar dan Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk kembali pada tanggal 17 Agustus 1950.

Foot Note

  1. H.Colijn. Koloniale vraagstukken van heden en morgen.Amsterdam : De Standard. 1928, hal 59-60. Pernyataan ini amat sakit buat hati para pemuda. Soekarno dan Sjahrir segera bereaksi. Dikatakannya : Usaha untuk kembali memisahkan orang Indonesia satu sama lain sebagai orang Jawa, orang Sunda, atau orang Sumatera adalah suatu rekayasa jahat, divide et impera, suatu muslihat yang khas Colijnialism
  2. Sigit ketua pertema dan Soegono ketua kedua.
  3. Koran P.I.no.8 tahun 1928.
  4. Kongres kedua diadakan pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1928. Resminya ada 3 kali rapat. Yang pertama dan kedua pada tanggal 27 Oktober 1928, mengambil tempat di gedung Katholieke Jongelingen Bond dan gedung Oost Java Bioskop. Yang terahir pada tanggal 28 Oktober 1928, minggu malam senin bertempat di gedung Indonesisch Clubgebouw (IC), Kramat 106 Jakarta.
  5. Yayasan Gedung Bersejarah, 45 tahun Sumpah Pemuda, 1974, hal 59-60
  6. Hanifah Abu, renungan tentang sumpah pemuda.dalam Bunga rampai Soempah Pemoeda. Balai Pustaka.
Sumpah Pemuda Sumpah Pemuda merupakan sumpah setia hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia atau dikenal dengan Kongres Pemuda II, dibacakan pada 28 Oktober 1928. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai “Hari Sumpah Pemuda”.

ISI
PERTAMA
. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.

KEDOEA
. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.

KETIGA
. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Kongres Pemuda II
Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, ketua PPI Soegondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.

Peserta
Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond.

Museum
Di Gedung Sekretariat PPI di Jalan Kramat Raya 106, tempat diputuskannya rencana Kongres Pemuda Kedua saat ini dijadikan Museum Sumpah Pemuda.

Link :
  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Pemuda
  2. http://sejarahkita.blogspot.com/2006/03/sumpah-pemuda-dan-jalan-menuju.html
  3. http://www.museumsumpahpemuda.go.id/
  4. http://www.wisatanet.com/travel_wisataku.php?kode=1&id=53
28
Oct
09

Nasionalisme : NeoPatriotisme [Sumpah Pemuda 2009]

Neopatriotisme

KOMPAS, Rabu, 28 Oktober 2009 | 04:31 WIB

William Chang

Di tengah badai sosial yang tak menentu, patriotisme hitam acap kali muncul dengan wajah anarki, xenofobia, penyisiran terhadap orang asing, dan teriakan ”ganyang-ganyangan”. Bagaimanakah merancang sebuah neopatriotisme pada sebuah bangsa?

Ternyata, kepicikan dan keangkuhan primordial cenderung melahirkan patriotisme hitam. ”Benar atau salah, tetap patriaku.” Mental antikritik dalam paham ini membentuk watak defensif. Bahkan, kritik konstruktif pun dianggap cambuk, bukan langkah perbaikan. Ulah A Hitler termasuk wujud patriotisme hitam.

Penolakan kritik-kritik konstruktif termasuk salah satu ciri khas patriotisme hitam yang menganggap diri superior dan serba berkecukupan. Harga diri terlampau tinggi. Sikap saling tergantung dan kerja sama antarbangsa tak dirasa penting.

Patriotisme lebih mengandalkan desakan emosional dan sentimental dalam memecahkan isu-isu kebangsaan. Rasionalitas berbangsa diungkap melalui aneka seruan dan aksi-aksi sesaat yang biasanya merebut simpati massa. Pemaknaan patriotisme masih sebatas dimensi fisis. Kedangkalan paham patriotisme bisa mengerdilkan sosialitas sebuah bangsa.

Patriotisme sebagai kebajikan

Proses degradasi makna patriotisme terjadi pada abad ke-19 dan ke-20. Langgam sastra kalangan peminat karya McGuffey (abad ke-19) menelaah patriotisme sebagai kebajikan yang bisa dicapai melalui jerih payah manusia. Kebajikan pada hakikatnya ada di tengah dan tidak jatuh pada salah ekstremisme. Kesetiaan kepada Tanah Air tecermin dari gaya hidup dan pengambilan keputusan penting di Tanah Air.

Setelah Perang Dunia II, terutama sejak 1960-an, patriotisme cenderung ke arah kejahatan (vice) imoral. Perbedaan ideologi, filsafat hidup, dan cara pandang menghambat keserasian kerja sama antarbangsa. Sikap saling curiga, cemburu, dan pengotak- ngotakan mewarnai hidup berbangsa. Konflik dan pergesekan sosial meretakkan hubungan individual dan sosial. Perbenturan sosial kerap memicu kekacauan sosial.

Sebagai kebajikan, patriotisme merupakan salah satu wujud kecintaan dan kesetiaan pada bangsa tertentu. Peduli dan tanggung jawab atas keadaan dan kemajuan Tanah Air termasuk dimensi konstitutif patriotisme. Keunikan, kekuatan, dan prestasi Tanah Air tetap dipelihara. Moralitas dan kearifan lokal sebuah bangsa dijunjung sehingga kepribadian bangsa itu disegani dunia (A MacIntyre, Is Patriotism a Virtue?, 2003, 286-300).

Kebaruan dalam (neo)patriotisme

Umumnya diskursus tentang neopatriotisme terpaut konteks lokalitas, nasionalitas, dan internasionalitas yang memuat kerumitan sosial, ekonomi, politik, geografi sebuah bangsa. Rentetan ideologi (konstruktif maupun destruktif) merembes ke seluruh Tanah Air. Orientasi berbangsa mulai membias.

Dampak primordialisme dan sektarianisme seputar masalah etnis, budaya, dan agama menjadi agenda khusus neopatriotisme. Doktrin asing yang subversif bisa secara sistematis dan strategis memadamkan roh persaudaraan, kerukunan, dan kesatuan bangsa. Komitmen seorang patriot selalu diuji. Tak tersangkalkan pentingnya EWS untuk mendeteksi setiap gerakan sosial supaya cita-cita dasar bangsa kita tidak disingkirkan.

Kebaruan patriotisme ini tak hanya sebatas kesatuan Tanah Air, bangsa, dan bahasa (bandingkan Sumpah Pemuda, 28/10/1928), tetapi mencakup komitmen integral pada idealisme, ideologi, visi, dan semangat bangsa sejak kemerdekaan. Kebaruan patriotisme ini berupa sebuah kelanjutan konsensus dan komitmen nasional yang memasuki dimensi kerohanian bangsa.

Persaudaraan bangsa tidak lagi semata- mata ditentukan dimensi primordialitas (garis keturunan darah atau bahasa daerah), tetapi oleh kesetiaan pada semangat perjuangan dan cita-cita pembentukan negara kita seperti yang diilhami Sumpah Pemuda.

Dalam cahaya Sumpah Pemuda, semestinya kita meninjau ulang tanggung jawab utama negara yang menjamin kesejahteraan rakyat sesuai asas keadilan, melindungi dan menyelamatkan semua anak bangsa. Kepekaan sosial para pemegang kuasa tampak dalam kesetiakawanan sosial dengan segenap lapisan masyarakat. Tanah-air dan isi perut patria (hutan, tambang, kelautan) tidak lagi diperjualbelikan sesuka hati atau dieksploitasi tanpa mengingat hak generasi mendatang. Peningkatan profesionalitas putra/putri bangsa dalam semua sektor hidup sosial, termasuk cita-cita utama neoapatriotisme. Bagaimanakah patria kita sanggup tampil sebagai negara hukum yang sejahtera, kuat, bersih, berwibawa, dan tidak dibodohi ideologi-ideologi asing yang menyesatkan dan menghancurkan?

(Ke)Indonesia(an) yang raya amat dipengaruhi sumpah nenek moyang tahun 1928 dan mengubah paradigma putra-putri bangsa dalam proses lebih mencintai dan setia kepada Tanah Air dalam sepak terjang harian. Mengapa masih banyak rakyat yang cenderung belanja, berobat, dan ”selamatkan” duit di luar negeri? Bukankah negara telah dibanjiri mal, supermarket, rumah sakit, dan bank-bank? Bagaimana Susilo Bambang YudhoyonoBoediono (staf menteri, segenap penegak hukum, dan aparat pemerintah di Jakarta dan daerah) sanggup membangkitkan dan meningkatkan rasa kepercayaan rakyat dan dunia atas kekuatan RI?

William Chang Ketua Program Pascasarjana STT Pastor Bonus

Sumpah (untuk) Pemuda

KOMPAS, Rabu, 28 Oktober 2009 | 04:31 WIB

Fadly Rahman

Delapan puluh satu tahun silam, tepatnya pada 28 Oktober, para pemuda Indonesia bersumpah untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu: Indonesia.

Mereka adalah para pemuda yang gelisah akan nasib Tanah Air-nya. Kegelisahan mereka itulah rahim yang melahirkan bayi Indonesia.

Politik etis

Sebelum ikrar—yang kini dikenal sebagai Sumpah Pemuda itu—dicetuskan, tindak tanduk para pemuda awal abad ke-20 begitu menegangkan Pemerintah Hindia Belanda. Aktivitas politik para pemuda menghadapi pengawasan ketat melalui Politieke Inlichtingen Dienst (PID, semacam dinas intelijen politik Hindia Belanda). Tulisan bernapas politik hingga rapat perkumpulan pribumi mendapat sensor.

Pemerintah Hindia Belanda harus menelan ludahnya sendiri. Pasalnya, salah satu poin kebijakan politik etis pemerintah adalah mengembangkan pendidikan di tanah jajahan. Hal ini berdampak buruk bagi keamanan dan ketertiban Hindia. Para pemuda yang mengenyam pendidikan Barat, yang sebelumnya diharapkan menjadi tenaga terdidik untuk ditempatkan di kantor-kantor pemerintah, justru kian menyadari kebangsaannya dan menuntut kemerdekaan. Mereka sadar, menjadi abdi pemerintah berarti kian meneguhkan eksistensi politik kolonial.

Selain itu, embrio kebangsaan yang semula muncul dari organisasi bersifat kedaerahan, seperti Boedi Oetomo (1908) serta sederet perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Minahasa, dan Jong Batak, terkikis keinginan untuk bersatu. Mereka sadar, para agen kolonial memecah belah pribumi dengan menanamkan identitas etnik. Tujuannya, agar tidak terjadi persatuan di tanah koloni. Kesadaran pemuda ini, sebagaimana disebut filsuf Ernest Renant, merupakan hasrat hidup bersama.

Rajin membaca

Hasrat para pemuda itu dilandasi pendidikan sebagai senjata untuk menekuk kolonialisme Belanda. Ungkapan ”pengetahuan adalah kekuatan” yang disuarakan Francis Bacon nyata dinikmati para pemuda semisal Soekarno, Moh Hatta, Sutan Sjahrir, dan Moh Yamin. Penguasaan mereka terhadap bahasa asing membuat mereka rajin membaca karya-karya besar.

Sjahrir yang membaca Immanuel Kant, Karl Marx, John Stuart Mill, hingga Ortega Y Gasset membawanya pada benang merah, ”Timur makin memerlukan ilmu pengetahuan dan rasionalisme Barat, Timur tidak lagi memerlukan mistisisme dan kepasrahan yang membuatnya menderita”.

Di tangan pemuda, bekal pengetahuan dan rasionalisme Barat yang mereka pelajari itu benar-benar menjadi bumerang bagi kolonialisme Belanda di Indonesia, seperti terjadi di tanah jajahan lain (misal Gandhi di India, Jose Rizal di Filipina, dan Sun Yat Sen di China).

Tidak ada dan tidak perlu ada kekuatan fisik dan senjata. Para pemuda menyadari, aneka gerakan sosial tidak terorganisasi yang banyak terjadi pada masa-masa sebelumnya, akhirnya tumpas di tangan militer kolonial. ”Senjata” pemuda pada masanya adalah pemikiran yang lahir dari ujung-ujung pena.

Seperti diucap ”bunga akhir abad ke-19”, Kartini, melalui kumpulan surat yang dibukukan Door Duisternis tot Licht, ”banyak, segalanya dapat diambil dari diri kita, tetapi bukan pena saya. Pena tetap milik saya dan saya akan berlatih dengan rajin menggunakan senjata itu; Saya dapat menyeret dengan pena saya, jika mencelupnya dalam darah jantung saya.” Ketajaman pikiran yang dimiliki Kartini terus merambat hingga awal abad ke- 20, saat kepekaan dan kemelékan para pemuda/pemudi terhadap isu-isu politik kolonial di dalam dan luar negeri kian terasah.

Suatu saat, Hatta muda menulis esai, Hindania! Esai itu bertutur tentang seorang janda kaya bernama Hindania. Ia menyesal menikah dengan Wollandia. Suami barunya itu mengeruk habis harta Hindania. Alegori dalam esai Hatta itu membuat pemerintah gelisah dan tak mengira seorang pribumi muda mampu menulis sarkasme seperti itu.

Tak cukup dengan pena. Para pemuda mengorganisasi diri melalui berbagai perkumpulan politik, hal yang mengingatkan pada apa yang diteriakkan seorang orator terhadap Jurgis dalam penutup novel Upton Sinclair, The Jungle: ”Organize! Organize! Organize!” Hanya dengan konsolidasi politik yang terorganisasi, jalan menggapai persatuan terwujud. Bisa dibayangkan saat senjata pena anak muda Indonesia kian tajam oleh pertemuan antarpemikiran rekan sebaya.

Melalui organisasi, mereka yang semula membuka album Indonesia. Bermula saat perkumpulan Indische Vereniging (1908) dibangun para mahasiswa Indonesia di Belanda, anak-anak muda kian intens terlibat persoalan politik.

Wilayah Hindia yang pernah disebut oleh George Samuel Windsor Earl dengan Indu-nesian (1850), Indonesians oleh James Richardson Logan (1863), dan Adolf Bastian dengan Indonesien (1884), mulai dikukuhkan secara politik oleh para pemuda pada awal abad ke-20, mengganti kata Indische yang dirasa berkonotasi labelisasi buatan kolonial dengan nama: Indonesia. Maka, nama Indische Vereniging berubah menjadi Perhimpunan Indonesia (1922); disusul organisasi lain seperti Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (1926), Partai Nasional Indonesia (1928), dan Indonesia Muda (1930).

Mereka adalah para pemuda yang tercerabut dari masa-masa yang—semestinya—mengalami keingarbingaran hedonisme lazimnya jiwa-jiwa muda. Sungguh mereka ”tidak normal”. Saat anak-anak muda berdansa-dansi di societeit, mereka berjibaku dengan buku dan pena, memikirkan sebuah bangsa yang dicita-citakan, kelak. Semestinya, pemuda yang hidup masa kini, iri dengan jiwa-jiwa muda seperti itu seraya membayangkan: andai kita hidup sezaman dengan mereka.

Delapan puluh satu tahun silam, para pemuda bersumpah untuk bangsanya. Kini, bagaimana rupa kegelisahan kita memikirkan bangsa ini; atau giliran kita bersumpah untuk menjaga sumpah para pemuda itu, mereka yang telah mewariskan sebuah bangsa bernama: Indonesia.

Fadly Rahman Pengajar di Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran

Egoisme Kedaerahan

By Republika Newsroom
Rabu, 28 Oktober 2009 pukul 08:49:00
Sumpah Pemuda Momentum Tinggalkan Egoisme Kedaerahan

MEDAN–Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tahun oleh bangsa ini diharapkan mampu menjadi momentum untuk meninggalkan egois kedaerahan terutama bagai generasi muda. “Wawasan kedaerahan itu perlu untuk tetap melestarikan khasanah budaya bangsa, namun jangan sampai muncul egoisme kedaerahan yang pada akhirnya akan memecah bangsa ini,” kata sejarahwan Universitas Negeri Medan (Unimed) Dr. Phill Ichwan Azhari di Medan, Rabu (28/10).

Ia mengatakan, melalui peringatan Sumpah Pemuda ini para siswa harus dimotivasi untuk lebih mencintai dan menjiwai semangat perjuangan, persatuan, dan kebersamaan yang terkandung dalam Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober merupakan bekal utama bagi bangsa Indonesia untuk mencetak generasi muda yang plural dan berjiwa nasionalisme demi tetap menjaga keutuhan NKRI.

Pemuda Indonesia, khususnya kalangan pelajar harus mampu mengambil peran signifikan dalam merespons sejumlah persoalan yang tengah dihadapi bangsa. Untuk itu, pemuda haruslah memiliki akhlak mulia, sehat, cerdas, terampil berprestasi, dan berdaya saing serta berkomitmen untuk memajukan bangsa, dan negaranya. “Penting untuk diingat, karena hal tersebut merupakan manifestasi dari hakekat, semangat, dan jiwa Sumpah Pemuda, terutama untuk terus menjaga keutuhan NKRI,” katanya.

Menurut dia, upaya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap semangat dan jiwa Sumpah Pemuda, sangat penting dilakukan sejak dini. Karena saat ini kecintaan generasi muda terhadap Sumpah Pemuda dinilai semakin memudar. Hal ini ditandai dengan semakin maraknya kekerasan di kalangan remaja, tawuran yang kian kerap terjadi, hilangnya rasa hormat kepada orang lebih tua yang diakui sebagai buah reformasi yang harus terus dikawal, agar tidak kebablasan. “Dialog-dialog antar pemuda juga harus sering digelar dengan harapan dari dialog tersebut akan semakin tumbuh subur dan berkembang pemahaman dan kecintaan generasi muda terhadap Sumpah Pemuda,” katanya. ant/taq

SUMPAH PEMUDA
Parpol Harus Berubah demi Kaum Muda

Rabu, 28 Oktober 2009 | 02:59 WIB

Jakarta, Kompas – Sejumlah aktivis organisasi kemahasiswaan menilai dunia politik kurang menjanjikan bagi kalangan muda sehingga minat mereka rendah terhadap politik. Namun, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng optimistis minat kalangan muda terhadap politik akan tumbuh seiring dengan konsolidasi partai politik yang kini tengah berbenah diri.

”Butuh waktu sampai partai politik sendiri berbenah, menampilkan orang-orang yang unggul, yang bisa memberikan partisipasi dalam kepemimpinan dalam pemerintahan,” ujar Andi Mallarangeng saat ditemui di Jakarta, Selasa (27/10).

Politik, dunia hitam

Meski demikian, optimisme itu dibayang-bayangi oleh berbagai pendapat penuh kritik dan pandangan agak pesimistis. Ketua Program Studi Doktor Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Hamdi Muluk, misalnya, mengatakan, khusus di Indonesia, rendahnya minat generasi muda terhadap persoalan politik merupakan akibat tak adanya kepercayaan bahwa politik Indonesia sudah benar, bisa dipercaya, dan terbebas dari politik uang. Perilaku politisi juga dianggap masih jauh dari standar moral yang berlaku. Karena itu, politik masih dianggap sebagai dunia hitam.

Munculnya anggapan negatif tentang politik itu dinilai Hamdi sebagai kesalahan partai politik yang gagal dalam melakukan kaderisasi. Jika seseorang ingin berkiprah dalam politik, tidak ada jaminan bahwa karier mereka akan berjalan sesuai mekanisme yang ada. Sistem jenjang karier di partai politik tidak pernah jelas karena partai sering kali mengambil kader-kader di luar partai yang memiliki uang atau popularitas tinggi untuk menduduki jabatan politik di lembaga legislatif.

Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Arip Mustopha di Jakarta, kemarin, juga mengatakan, minat mahasiswa untuk berorganisasi, baik dalam organisasi kemahasiswaan di dalam maupun di luar kampus, cenderung menurun. Kondisi itu membuat mereka kesulitan mencari kader-kader baru. Akibatnya, jumlah kader baru HMI setiap tahun turun 10 persen sampai 20 persen.

Arip mengatakan, berorganisasi diidentikkan dengan berpolitik, sedangkan politik dicitrakan dengan kekuasaan, arogansi, korupsi, hingga kepentingan kelompok. Kondisi itulah yang membuat mahasiswa enggan berorganisasi.

Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Rendra Falentino menambahkan, mahasiswa sebenarnya masih memiliki perhatian terhadap peristiwa politik dan persoalan kebangsaan. Namun, akibat tekanan pendidikan dan pengaruh globalisasi yang menyebarkan budaya konsumtif, mereka tidak terlalu tertarik dengan dunia politik.

Baik Arip maupun Rendra menyatakan, penurunan jumlah kader itu umumnya terjadi di kampus-kampus perguruan tinggi negeri. Kondisi sebaliknya justru terjadi di perguruan tinggi swasta yang justru mengalami peningkatan jumlah peminat organisasi kemahasiswaan ekstrakampus tersebut.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat yang juga Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golongan Karya, Hajriyanto Y Thohari, mempertajam kesalahan partai politik yang membuat kaum muda menyingkir dari dunia politik. Ia mengatakan, perekrutan pengurus partai juga sangat politis. Perekrutan pengurus didasarkan atas dukungan yang pernah diberikan kepada pimpinan partai saat pencalonan, bukan atas pertimbangan kualitas.

Menurut Hajriyanto, pimpinan partai saat ini umumnya adalah pimpinan organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan sekitar 20 tahun lalu. Namun, dialektika antara pimpinan partai dan organisasi yang dahulu membesarkannya sering kali terputus. Ia menekankan, mahasiswa dan pemuda menilai partai tidak bisa memberikan harapan akan nasib mereka ke depan. Sebaliknya, partai hanya mendekati kelompok mahasiswa dan pemuda secara insidental, yaitu saat dibutuhkan saja yang biasanya dilakukan menjelang pemilu.

Hajriyanto mengakui hampir semua partai politik tidak memiliki visi kepemudaan. Pimpinan partai saat ini juga tidak mampu mengartikulasikan pandangan politik mereka, baik melalui tulisan maupun literal. Hal itu membuat para mahasiswa dan pemuda tidak bisa menilai manfaat menjadi anggota partai.

”Jika kondisi ini terus terjadi, masa depan demokrasi Indonesia adalah demokrasi tanpa partai politik. Demokrasi Indonesia akan dikuasai oleh institusi-institusi di luar partai politik. Hal ini tentu akan janggal karena partai politik adalah salah satu pilar demokrasi,” ujarnya.

Achmadudin Rajab, mahasiswa semester IX Fakultas Hukum Universitas Indonesia, tidak melihat partai politik sebagai sumber kesalahan kurangnya minat kaum muda terhadap dunia politik. Menurut dia, fokus pada bidang studi membuat waktu kaum muda kampus abai terhadap dunia politik.

Rajab mengatakan, mahasiswa yang memiliki kesibukan lain di luar studi, baik untuk berorganisasi maupun bekerja, umumnya mengalami keterlambatan penyelesaian studi. Hal ini terjadi karena mereka harus membagi waktu, perhatian, dan tanggung jawab antara studi yang mereka tempuh dan kegiatan di luar studi.

Ancaman demokrasi

Peneliti Lembaga Survei Indonesia, Burhanudin Muhtadi, mengatakan, fenomena semakin banyaknya pemuda yang apolitis itu terjadi bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.

Semakin turunnya minat pemuda terhadap masalah politik, kata Burhanudin, merupakan lampu merah untuk demokrasi di Indonesia. Pemuda dibutuhkan untuk kaderisasi partai politik. Tanpa pemuda, partai politik akan dikuasai oleh kelompok tua. Akibatnya, kebijakan hanya ditentukan oleh elite partai politik sehingga cenderung oligarkis. Pemerintahan oligarki yang dijalankan oleh sekelompok orang tertentu akan mengancam demokrasi. (MZW/NTA/DAY)

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Sejumlah veteran pejuang kemerdekaan menyanyikan lagu Indonesia Raya saat berziarah ke makam pahlawan nasional WR Soepratman di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (27/10). Ziarah dilakukan untuk mengenang WR Soepratman sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya yang pertama kali dikumandangkan pada Kongres Pemuda Indonesia, 28 Oktober 1928, yang kini diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

SUMPAH PEMUDA
Berharap kepada Generasi Pembaru

Rabu, 28 Oktober 2009 | 02:58 WIB

Bagaimana memaknai gerakan Sumpah Pemuda 1928 merupakan tema yang berulang setiap tahun. Namun, setiap kali pula terasa relevan. Sejarah negeri ini memperlihatkan bahwa komitmen ”satu tumpah darah, satu bangsa, satu bahasa” harus terus-menerus dirawat dan dimaknai.

Setidaknya, kita tetap disadarkan bahwa baru satu dasawarsa lalu bangsa ini diguncang konflik antaretnis, antaragama, yang merebak dari ujung barat ke timur Nusantara. Tragedi itu membukakan mata, betapa fondasi persatuan kita masih bisa digoyang, masih bisa diprovokasi.

Oleh karena itu, mari berkaca kembali kepada gerakan 1928. Kaum muda saat itu mampu berpikir melampaui zamannya, sekaligus mampu mengatasi tantangan riil pada masanya, yaitu sekat-sekat etnis dan bahasa.

Kita pun kini berharap banyak kepada kaum muda karena merekalah manusia masa depan. Seperti kutipan kata-kata bijak Khalil Gibran: ”Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tetapi bukan jiwa mereka. Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah bisa kau kunjungi meski dalam mimpi.”

Mengamati hasil jajak pendapat Kompas (26/10) tentang kaum muda Indonesia, terungkap temuan menarik. Saat ini telah muncul satu generasi muda di masyarakat perkotaan Indonesia yang sangat melek dengan perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi.

Mereka juga optimistis menghadapi masa depan dan memberikan atribusi terhadap generasi mereka sebagai ”sukses, mandiri, dan produktif”.

Hasil polling itu di satu sisi membangkitkan harapan. Pada era globalisasi saat batas negara tersamarkan, generasi muda Indonesia sudah merasa menjadi

”warga dunia” yang memiliki idiom khas, di antaranya melek teknologi. Mereka juga siap untuk berkompetisi di tataran internasional.

Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran, seperti juga yang tecermin dalam hasil polling tersebut, kaum muda ini apolitis. Mereka tidak berminat menjadi anggota partai politik ataupun DPR.

Apakah sikap apolitis itu berbanding lurus dengan apatisme terhadap permasalahan bangsa? Semoga tidak. Karena bila sekadar tidak mau menjadi anggota partai politik atau DPR, mungkin kesalahan bukan pada kaum muda. Baik partai politik maupun DPR ikut berkontribusi dalam memunculkan citra yang negatif.

Terkait itu, Kompas mulai hari ini menurunkan 28 tokoh muda yang disepakati telah memberikan inspirasi di bidang politik, hukum, dan HAM.

Mereka berasal dari kalangan partai politik, akademisi, maupun lembaga swadaya masyarakat dan berusia maksimal 50 tahun pada 2014. Semoga pemikiran yang mereka tawarkan dapat memberikan inspirasi yang membawa manfaat lebih luas bagi masyarakat. (MYR)

7 Resolusi Sumpah Pemuda 2008 = Pondasi Rumah NKRI

Dialog Lintas Generasi 80 Tahun Soempah Pemoeda 2008 bertempat di Auditorium LPMJ (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Jakarta), Pulogadung telah memberikan bekal bagi capaian Indonesia Digdaya 2045 tentang keberadaan 7 strategi kebijakan dasar sebagai sumber kehancuran bangsa Indonesia meliputi (1) Memperlemah Negara Kesatuan Republik Indonesia, (2) Menghapus Ideologi Pancasila, (3) Menempatkan Uang sebagai Dewa, (4) Menghapus Rasa Cinta Tanah Air, (5) Menciptakan Sistem Multi Partai, (6) Menumbuhkan Sekulerisme, (7) Membentuk Tata Dunia Baru [Tahun 2015 Indonesia Pecah, ISBN 978-979-15527-1-4].

Mencermati ungkapan tahun 2015 sebagai sasaran akhir konspirator, maka itu berarti selang 7 tahun setelah tahun 2008 ini., atau ketika 70 Tahun Indonesia Merdeka.

Sehingga menjadi tepat sekali ungkapan bahwa 7 Resolusi Sumpah Pemuda 2008 (7RSP2008) adalah bentuk benteng strategik terhadap skenario global itu.

Ke-7 RSP2008 itu adalah (1) Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, (2) Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, (3) Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbahasa persatuan, bahasa Indonesia, (4) Kami putra dan putri Indonesia mengaku berideologi yang satu, Pancasila, (5) Kami putra dan putri Indonesia mengaku berkonstitusi yang satu, Undang-Undang Dasar 1945; (6) Kami putra dan putri Indonesia mengaku bernegara yang satu, Negara Kesatuan Republik Indonesia, (7) Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbendera persatuan bangsa, Bendera Merah Putih.

Artinya, 7 RSP2008 itu dapat diberlakukan sebagai perkuatan Pondasi Rumah NKRI dan sekaligus bekal bagi Presiden ke-7 NKRI, agar supaya tidak mudah digoyah oleh kekuatan2 “soft war” pihak konspirator.

Adapun penangkal taktis operasional lainnya adalah dengan pemberdayaan Strategi Ketahanan Bangsa (StraHanSa) dalam keseharian kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yakni (1) Keagamaan Tidak Rawan, (2) Ideologi Tidak Retak, (3) Sosial Politik Tidak Resah, (4) Sosial Ekonomi Tidak Ganas, (5) Sosial Budaya Tidak Pudar, (6) HanKamNas Tidak Lengah, (7) Ekologi (Lingkungan) Tidak Gersang, terutama dalam mewaspadai 7 Penyebab 2015 Indonesia Pecah yaitu (1) Siklus Tujuh Abad, 70 Tahun, (2) Kehilangan Figur Pemersatu, (3) Pertengkaran Sesama Anak Bangsa, (4) Konspirasi Global, (5) Nusantara bukan Indonesia, (6) Jayakarta bukan Jakarta, (7) Kalah PilPres 2014 bikin Negara Baru [ISBN 978-9797-15527-1-4].

Akhirulkata, keberdayaan rakyat Indonesia bersatu adalah kekuatan penangkal yang handal bagi NKRI menghadapi ragam ancaman, gangguan, hambatan, tantangan.

Jakarta, 27 Oktober 2008

Dr Ir Pandji R. Hadinoto, MH / eMail : nasionalis45@yahoo.com

Rabu, 28/10/2009 18:08 WIB
Mengembalikan Semangat Sumpah Pemuda
Napak “Tilas Gerakan 1928″

Taufiq Suryo Nugroho – suaraPembaca


Jakarta – Dahulu seorang Soekarno pernah mengatakan “berilah aku sepuluh orang pemuda” maka aku akan merubah dunia”. Pemimpin besar yang lain pun pernah mengatakan “setiap aku menemui masalah yang kucari adalah pemuda”. Itulah kata-kata Umar bin Khattab.

Pemuda memang selalu menjadi penggerak sebuah perubahan. Untuk memenangkan sebuah pemikiran baru, memenangkan sebuah perubahan, memang diperlukan keyakinan yang kuat akan pemikiran itu. Keikhlasan, siap berkorban untuk membelanya, dan beramal untuk mewujudkannya. Dan keempat ciri itu adalah karakteristik yang dipunyai oleh pemuda. Bukan yang lainnya.

Sejarah negeri ini pun telah membuktikannya. Pemuda selalu menjadi titik tolak sebuah perubahan bagi bangsa. Negeri ini telah melahirkan generasi-generasi yang telah menuntaskan peran sejarahnya.

Ada generasi 1928 yang mempelopori persatuan nasional dalam simbol tanah air, kebangsaan, dan bahasa persatuan melalui sumpah pemuda yang melegenda. Ada generasi 1945 yang memproklamasikan dan mempelopori kemerdekaan negeri ini. Generasi 1966 yang menyelamatkan negeri ini dari ideologi Komunis yang menghancurkan. Terakhir generasi 1998 yang mengakhiri era yang penuh kebusukan selama 32 tahun lebih.

Oleh karena itu lebih daripada hanya menjadikan peristiwa-peristiwa sejarah itu sebagai simbol-simbol atau coretan-coretan yang menghiasi buku pelajaran sejarah kita, yang lebih penting adalah mengambil semangat perubahan dan anti-stagnansi dari para pendahulu kita itu. Walaupun zaman tak lagi sama tantangan yang dihadapi berbeda, potensi yang dipunyai berbeda, tetapi semangat untuk bergerak itu harus tetap ada.

Jiwa yang menolak untuk tetap diam melihat sesuatu yang salah harus terus terjaga. Jiwa yang terus menginginkan perubahan menuju ke arah yang lebih baik harus terus dipelihara.

Hal pertama yang harus dilakukan untuk mengembalikan semangat itu adalah dengan merevitalisasi semangat kepemudaan. Menggali makna-makna gerakan pemuda, dan menyesuaikan tantangan kekinian dan kedisinian. Nah, “Gerakan 1928″ dengan sumpah pemudanya mempunyai karakteristik yang khas.

Pada saat itu Indonesia masih diselimuti awan penjajahan. Masih dikungkung oleh sekat-sekat pulau dan suku. Namun, “Gerakan 1928″ mampu melawan itu semua, dan melahirkan sumpah yang fenomenal, Sumpah Pemuda. Sumpah yang membulatkan tekad untuk mempersatukan Indonesia yang berbeda-beda menjadi satu bangsa yang berdaulat. Dari sinilah cikal bakal persatuan Indonesia dan semangat untuk memerdekakan diri dari cengkraman penjajah.

Karakteristik yang menarik lainnya adalah bahwa gerakan ini diprakarsai oleh kaum intelektual muda. Belanda yang saat itu menjalankan politik etis dan mengirimkan beberapa putra pribumi untuk belajar ke negeri mereka harus menelan kenyataan pahit. Kaum pribumi yang tadinya diharapkan dapat menjadi alat bantu legitimasi Belanda atas Indonesia malah berbalik menjadi penyemangat bangsanya untuk memerdekakan diri dari Belanda. Mereka menjadi inti gerakan melawan penjajah Belanda saat itu dan mencoba untuk mempersatukan Indonesia melawan penjajah.

Selain itu “Gerakan 1928″ berhasil mengeliminasi perbedaan-perbedaan yang ada dan mampu menyamakan tujuan dan visinya. Saat itu pada saat teknologi informasi masih sangat sederhana dan komunikasi yang dibangun tidak dapat sesering saat ini “Gerakan 1928″ mampu menyatukan diri di antara perbedaan-perbedaan yang ada.

Mereka mampu menyatukan wadah gerakan kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Cilebe dalam wadah yang jauh lebih besar dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI). Perhimpunan inilah yang akhirnya memprakarasi Kongres Pemuda Kedua yang melahirkan Sumpah Pemuda.

“Gerakan 1928″ juga berhasil dalam membuat “karya nyata” bagi Bangsa Indonesia saat itu. Pada saat itu ketika awan penjajahan masih menyelimuti Nusantara dan rakyat Indonesia disekat oleh batas-batas kedaerahan, ide, dan  semangat untuk menyatukan Indonesia benar-benar suatu karya yang sangat fenomenal. Saat itu untuk pertama kalinya diperkenalkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan ketika itu pula untuk pertama kalinya diperdengarkan lagu “INDONESIA” karangan Wage Rudolf Supratman.

“Gerakan 1928″ kemudian juga mencontohkan bahwa untuk membangun Indonesia ini yang diperlukan bukanlah seorang pemimpin impian ataupun presiden idaman. Yang diperlukan oleh Indonesia saat ini adalah suatu tim impian yang terdiri dari orang-orang yang mempuyai visi yang jelas untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik dan bermartabat.

Seperti ketika itu, para Anggota Panitia Kongres Pemuda Kedua itu terdiri dari pemuda Indonesia dari berbagai kalangan yang menyadari penting membentuk satu kekuatan dalam satu tim. Di antara para pemuda itu terdapat nama, Soegondo Djojopoespito dari PPPI (ketua), Djoko Marsaid dari Jong Java (wakil ketua), Muhammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond (Sekretaris), Amir Sjarifudin dari Jong Sumatranen Bond (bendahara), Djohan Mu Tjai dari Jong Islamieten Bond.

Kontjosoengkoeno dari PI, Senduk dari Jong Celebes, J Lemeina dari Jong Ambon, dan Rohyani dari Pemoeda Kaum Betawi. Panitia didukung tokoh-tokoh senior seperti Mr Sartono, Mr Muh Nazif, AIZ Mononutu, serta Mr Soenario. Hadir pula  sebagai undangan sekitar 750 orang di mana terdapat nama-nama yang kemudian terkenal seperti Kartakusumah (PNI Bandung), Abdulrachman (BO Jakarta), Karto Soewirjo (PB Sarekat Islam), Muh Roem, Soewirjo, Sumanang, Masdani, Anwari, Tamzil, AK Gani, Kasman Singodimedjo, Saerun (wartawan Keng Po), WR Supratman.

Dari nama-nama yang hadir jelas bahwa Kongres Pemuda Kedua di mana diikrarkan Sumpah Pemuda bukan pekerjaan dalam sedikit waktu saja, dan terang juga bukan hasil usaha dari beberapa gelintir orang saja.

Marilah kita semua, para pemuda Indonesia, yang menginginkan agar negeri ini dapat tersenyum, menggelorakan semangat pemuda sekali lagi, kini tibalah masa kita untuk dapat mengambil peran sejarah itu. Kata kunci yang “Generasi 1928″ wariskan untuk perjuangan kita ke depan adalah jangan pernah terkekang oleh keterbatasan. Teruslah belajar, bersatulah, dan berkaryalah sekecil apa pun itu.

Semoga dengan semangat kita yang terus dipelihara, dengan tekad yang selalu digelorakan, dengan niat yang ikhlas, dan dengan amal yang nyata, Indonesia mampu menatap masa depannya dengan seyuman bahkan tawa kebahagiaan.

Taufiq Suryo Nugroho
15007031

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil ITB Angkatan 2007.

(msh/msh)

Baca juga :

Suara Pembaruan

2009-10-28Sumpah Pemuda Alami Pendangkalan Makna
[JAKARTA] Sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Taufik Abdullah menilai, Sumpah Pemuda mulai mengalami pendangkalan makna. Salah satu penyebabnya adalah sebagian besar masyarakat mulai kehilangan semangat kekuatan dalam keberagaman.

“Para pemimpin bangsa ini seharusnya menyadari bahwa sumpah pemuda merupakan momen simbolik paling penting dalam perjalanan bangsa selain proklamasi kemerdekaan. Saat itu, semangat persatuan begitu kuat. Semangat para pemuda dari berbagai daerah, suku, dan agama ingin bersatu. Mereka ingin merdeka,” katanya, kepada SP, di Jakarta, Rabu (28/10).

Taufik melanjutkan, kemerdekaan merupakan proses imajinatif yang sangat kreatif dari pemuda bangsa. “Itu diwujudkan dalam bingkai keberagaman untuk meraih cita-cita luhur bangsa ini. Makanya, cita-cita itu ditegaskan kembali dalam pembukaan UUD 1945,” katanya.

Lawan Ideologi Pemecah

Senada dengan itu, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Azis Syamsuddin sebelumnya, Selasa (27/10) mengatakan, semangat Sumpah Pemuda harus terus dipelihara dan ditingkatkan untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dan negara. Kalau dulu, semangat Sumpah Pemuda dikobarkan untuk melawan penjajah, sekarang semangat tersebut harus terus digelorakan untuk melawan kemiskinan, korupsi, ketidakadilan, dan ideologi-ideologi yang bisa memecah persatuan bangsa dan negara.

Dia menilai, mulai mengendurnya semangat Sumpah Pemuda belakangan ini disebabkan makin minimnya pendidikan kebangsaan yang diajarkan di sekolah. Dunia pendidikan sekarang terutama pendidikan dasar dan menengah kata Azis, sudah makin meninggalkan ajaran pendidikan budi pekerti serta pendidikan nasionalisme dan patriotisme. Bahkan, lanjutnya, banyak sekolah sudah tidak melaksanakan upacara bendera pada hari Senin dan hari-hari besar nasional. Akibatnya, banyak anak-anak sekarang saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya tidak dengan sikap yang baik dan banyak dari mereka juga tidak tahu apa isi dari Pancasila yang menjadi dasar negara. “Ini problem serius yang harus segera dicari solusinya. Pemerintah harus segera mengkaji ulang kurikulum pendidikan yang sudah tidak lagi memberi porsi penting lagi tentang kebangsaan dan rasa cinta kepada Tanah Air,” tandas anggota Komisi III DPR ini.

Sementara itu, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Mennegpora) Andi Alfian Mallarangeng menegaskan, semangat Sumpah Pemuda yang dibangun oleh pemuda-pemuda pada 1928 atau 81 tahun silam sekarang ini harus ditanamkan melalui kegiatan kepanduan atau pramuka. Hal itu disampaikan Andi seusai memberikan penghargaan kepada sepuluh pemuda berprestasi di kantor Kemennegpora, Jakarta, Selasa (27/10).

Andi menegaskan, dalam kegiatan kepanduan orang dididik untuk bertoleransi, bersikap sosial, mandiri, disiplin, egaliter, religi, dan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa.

Ketua DPD KNPI Papua Rivai Darus kepada SP, Rabu (28/10) mengimbau agar pemuda di Papua tidak berpikir primordial, tetapi harus berjiwa nasionalis. Namun, juga memikirkan masa depan agar Papua bisa setara dengan daerah-daerah lain di Indonesia.

Senada dengan itu, fungsionaris DPD KNPI Provinsi Papua Agripa Wally menambahkan, secara objektif perlu kita akui bahwa fenomena adanya jiwa nasionalisme Pemuda Indonesia menjadi pudar terlihat dari pergeseran nilai budaya bangsa Indonesia. Karena itu, semangat Sumpah Pemuda harus terus ditumbuhkan. [W-12/M-17/W-6/155/154]

Suara Pembaruan

ZOOM2009-10-28Mitologi Politik Kaum Muda
Em Lukman Hakim
Tak terasa hampir seabad Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 berlalu. Kala itu, kaum muda dari seluruh pelosok Indonesia mengikrarkan tiga sumpah: bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, ”Indonesia”. Itulah karya monumental kaum muda, bahkan diyakini sebagai cikal-bakal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Setelah sekian lama terpendam, kekuatan kaum muda muncul kembali. Terpilihnya Barack Husein Obama sebagai presiden kulit warna pertama di Amerika Serikat, menandai kesanggupan kaum muda untuk menghadirkan tatanan kebangsaan yang diharapkan. Di Indonesia, beberapa nama pemuda turut muncul menjelang pemilihan presiden yang lalu. Pada masa pemilihan legislatif, partai politik saling berlomba untuk memiliki calon legislatif (caleg) termuda. Fakta menyiratkan situasi di mana “demam” kaum muda dalam wajah baru politik Indonesia telah dimulai. Selamat datang di dunia politik kaum muda Indonesia!

Sekalipun Partai Demokrat (Amerika), kala itu, menampilkan sosok muda seperti Barack Obama dan Partai Republik mengimbanginya dengan sosok serupa, Sarah McPalin, sosok “muda” tidak mandek sekadar simbol yang bisa dijual tanpa isi. Pada berbagai pemberitaan, Obama harus bekerja keras menampilkan ide-ide segar untuk mengimbangi lawan politiknya, John Sydney McCain. Ketika krisis menghampiri AS, kedua calon presiden itu terlibat adu argumen dalam beberapa kesempatan. Di situlah terlihat sosok Obama yang brilian dan tangguh.

Namun, lagi-lagi, debat terbuka tersebut bukan tentang Obama yang mewakili kaum muda dan McCain yang mewakili golongan tua. Debat itu adalah tentang ide baru yang akan menentukan masa depan rakyat AS selanjutnya. Ide segar yang brilian menggumam lancar dari bibir Obama. Tidak saja pendukung Partai Demokrat yang bangga, loyalis Partai Republik terang-terangan mengalihkan dukungan pada Obama.

Berbeda dengan proses dan rasionalitas politik AS, Indonesia masih berkutat soal tua-muda. Nyaris tidak ada ide segar yang ditawarkan, baik oleh mereka yang diklaim golongan tua maupun mereka yang merasa dirinya muda. Perdebatan politik yang ditayangkan di berbagai media elektronik hanya menawarkan jargon dan jualan tampang. Yang lebih tragis, kalangan muda Indonesia terjebak dalam euforia sejarah kaum muda. Benar bahwa Sumpah Pemuda, sesuai namanya, digagas oleh Soegondo (Jong Jawa) M Yamin (Jong-Sumatranen Bond), Amir Sjarifuddin (Jong-Batak), Djohan M Tjai (Jong-Islamieten Bond), Katjasoengkono (Pemoeda Indonesia), Senduk (Jong-Celebes), J. Leimena (Jong-Ambon), dan Rohjani (Pemoeda Betawi) yang semua masih tergolong sangat muda.

Benar bahwa para pendiri bangsa ini tergolong muda ketika membentang simpul tali revolusi kemerdekaan. Benar bahwa banyak pemimpin dunia yang menyejarah ketika usianya belum genap tiga puluh tahun. Tapi, semua itu belum cukup untuk menghiasi baju kebesaran politik yang bisa dikenakan kaum muda untuk bisa meyakinkan rakyat Indonesia.

Kini, dengan segala kerendahan hati, harus saya katakan, perdebatan tua-muda berdasar usia harus diakhiri, bila negeri ini masih mendambakan setetes perubahan. Bila tidak, kaum muda Indonesia hanya akan menjadi pemimpin kelas opini, yang hanya sanggup menyesaki pemberitaan dan kolom iklan media, atau paling banter dipampang dalam baliho-baliho ukuran besar di pinggir jalan.

Ide Segar

Untuk mengubah mitos menjadi makna, para pemuda Indonesia perlu bekerja ekstrakeras untuk kemudian menampilkan gagasan-gagasan segar. Seperti Obama, yang memulai kariernya di tempat kumuh di jantung kota AS, memberikan advokasi kepada kaum miskin kota, sebelum akhirnya mengantarkannya menjadi senator dan calon presiden.

Melalui ide-ide segar dalam beberapa buku yang belakangan terungkap menjadi pedoman wajib pendiri bangsa ini pada masa revolusi, Tan Malaka-Sutan Sjahrir pernah diberi wasiat oleh Soekarno-Hatta untuk menjadi pengganti mereka. Bahkan, dalam beberapa pidatonya, Bung Karno berkali-kali menyatakan, berikan aku satu pemuda akan kuguncang Indonesia, dan berikan aku sepuluh pemuda akan kuguncang dunia. Tentu, pemuda-pemuda yang dimaksud Bung Karno adalah pemuda sekaliber Tan Malaka dan Sutan Sjahrir.

Di sinilah peran orang tua, lebih tepatnya generasi yang pernah muda, dibutuhkan. Yakni, bagaimana mereka memiliki kesanggupan untuk menemani kaum muda memasuki dimensi hidup yang lebih kompleks. Bila mereka tidak memiliki kesanggupan, setidaknya jangan mencibir.

Dewan penasihat atau sejenisnya dalam jajaran struktur kepartaian di Indonesia merupakan tempat yang cukup strategis bagi golongan yang pernah muda untuk menjadi pembimbing setia bagi kaum muda menapaki karier politik yang lebih tinggi.

Membimbing bukan menghalangi, mengarahkan dengan tidak menganggap kaum muda sebagai pesaing. Dengan be- gitu, konflik kepartaian tidak akan men- jadi pemandangan keseharian yang memalukan.

Inilah cara baru mengharmonisasikan konflik tua-muda yang kian menghangat. Melalui kerja keras untuk menghadirkan ide segar dan tindakan cepat, kaum muda, tanpa diurut berdasarkan silsilah keluarga, diberi ruang untuk membuktikan jati dirinya sebagai pemuda sesungguhnya.

Penulis adalah mahasiswa Program S-3 Ilmu Sosial Unair

 

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Penari memeriahkan pawai Gelora Sumpah Pemuda 2009 di Alun-alun Utara Yogyakarta, Rabu (28/10). Pawai dengan sekitar 3.000 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan perwakilan berbagai elemen masyarakat itu mengajak kaum muda agar giat meningkatkan prestasi berlandaskan semangat Sumpah Pemuda.

27
Oct
09

Patriotisme : Antisipasi Pudarnya Nasionalisme Pemuda

Suara Pembaruan

ZOOM2009-10-27Antisipasi Pudarnya Nasionalisme Pemuda
Peringatan Hari Sumpah Pemuda

ANTARA/Puspa Perwitasari

Seorang pekerja membersihkan diorama di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta Pusat, Senin (26/10). Peringatan Sumpah Pemuda ke-81 pada 28 Oktober mendatang menjadi momentum bagi seluruh elemen bangsa untuk mengenang kembali tekad pemuda Indonesia yang mengikrarkan komitmen persatuan dan kesatuan Indonesia.

[JAKARTA] Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Ungkapan itu tampaknya sudah mulai dilupakan oleh generasi penerus setelah 64 tahun kemerdekaan Indonesia. Kepedulian terhadap sejarah kini menjadi pudar seiring dengan perkembangan zaman.

Begitu juga menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh setiap tanggal 28 Oktober. Peringatan perjuangan para pemuda dari seluruh pelosok Indonesia yang kala itu berjuang merebut kemerdekaan, kini ditandai oleh pudarnya makna perjuangan para pemuda.

Demikian disampaikan oleh Kepala Museum Sumpah Pemuda, Agus Nugroho, kepada SP, di Jakarta, Selasa (27/10). Menurutnya, kunjungan para pelajar dan mahasiwa yang merupakan refleksi generasi elite angkatan 28 (generasi pelopor sumpah pemuda) dirasa sangat kurang.

“Kepedulian terhadap Hari Sumpah Pemuda semestinya sudah mulai terlihat, dari antusiasme para pemuda mengetahui sejarah di Museum Sumpah Pemuda. Namun, tampaknya dari tahun ke tahun, antusiasme tersebut memudar dan kunjungan pun mulai sedikit,” katanya.

Kunjungan ke Museum Sumpah Pemuda, kata Agus, lebih banyak dilakukan oleh para pelajar yang mendapat tugas dari sekolah. Hanya sebagian kecil pelajar dan mahasiswa yang datang karena kesadaran pada perjuangan generasi terdahulu.

Agus juga menambahkan, padahal setiap tahunnya Museum Sumpah Pemuda selalu mereformasi diri agar menarik para pengunjung, terutama para pelajar dan mahasiswa. Letak museum yang dekat dengan beberapa kampus dan sekolah, ternyata juga tidak mendongkrak jumlah pengunjung setiap hari.

Pada 2009, Museum Sumpah Pemuda menargetkan jumlah pengunjung mencapai 12.000 orang atau 1.000 orang per bulan, setelah pada 2008 pengunjung hanya mencapai 10.500 orang. Namun, target tersebut diperkirakan tidak akan tercapai, karena hingga Oktober, jumlah pengunjung masih berkisar 8.000 orang.

“Dengan harga tiket yang sangat murah, yakni 750 rupiah untuk dewasa dan 250 rupiah untuk anak-anak, jumlah kunjungan dirasa masih sedikit. Pada Hari Sumpah Pemuda, kami malah memberlakukan tarif gratis agar pengunjung meningkat,” tambahnya.

Refleksi AK Gani

Sementara itu, menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda, besok, Rabu (28/10), Museum Sumpah Pemuda akan melaksanakan upacara yang akan dihadiri oleh Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Ke-budayaan dan Pariwisata, Hari Untoro Drajat. Di samping itu, akan ada pameran tentang salah satu anggota kongres angkatan 28 yang memproklamasikan Sumpah Pemuda.

“Kami akan mengusung tokoh kongres serta anggota Komisi Besar Indonesia Muda (KBIM) Adnan Kapau Gani. Dia adalah seorang pemuda yang berprofesi sebagai dokter kala itu, yang berjuang untuk rakyat miskin,” ujar Durahman, Kepala Preparasi dan Konservasi Museum Sumpah Pemuda. [FLS]

2009-10-27Revitalisasi Semangat Sumpah Pemuda dengan Keteladanan
[JAKARTA] Pemuda itu selalu membutuhkan keteladanan. Kalau pemimpinnya memberikan teladan yang baik, termasuk untuk menjaga keindonesiaan, pemudanya akan setia. Karena itu, semangat Sumpah Pemuda 1928 perlu direvitalisasi dengan keteladanan pemimpin di segala tingkatan melalui kebijakan-kebijakan dan tindakannya.

Hal itu dikemukakan pengamat pendidikan Darmaningtyas, kepada SP, di Jakarta, Selasa (27/10) menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Darmaningtyas mengatakan, selain revitalisasi melalui keteladanan, semangat Sumpah Pemuda harus ditanamkan dan ditumbuhkan melalui pembenahan arah pendidikan nasional.

Persoalannya, katanya, arah pendidikan nasional Indonesia berjalan tanpa falsafah yang jelas. Kacaunya dunia pendidikan nasional disebabkan oleh tidak adanya landasan falsafah yang mendasari praksis pendidikan di lapangan. Landasan falsafah pendidikan yang dimaksudkan adalah visi bersama yang mampu mempertemukan berbagai pemikiran tentang praksis pendidikan nasional.

Kealpaan falsafah ini, telah mereduksi perbincangan tentang masalah pendidikan yang terjebak pada persoalan bersifat teknis metodologis. Dia juga menilai, kesalahan terbesar pemerintah dalam hal pengembangan pendidikan adalah terlalu kuatnya intervensi politis, sehingga dunia pendidikan bergantung pada interes politik kelompok penguasa.

Dia melanjutkan, untuk dapat melaksanakan paradigma pendidikan, generasi muda harus mendapatkan pendidikan nilai yang di dalamnya ada agama, ideologi, budaya bangsa, pendidikan karakter, serta politik kebangsaan. Pendidikan yang berkarakter itu menekankan tiga komponen karakter yang baik, yaitu pengetahuan tentang moral, perasaan tentang moral, dan perbuatan bermoral.

Kegagalan

Dia mengingatkan, semua hal baik itu bakal sia-sia jika tidak dibarengi dengan pendidikan politik bagi generasi muda. Dengan pendidikan politik, bisa diperoleh generasi yang berkepribadian utuh, berketerampilan, sekaligus memiliki kesadaran yang tinggi sebagai warga negara.

Dia menegaskan, besarnya pengaruh ormas keagamaan dan partai politik tertentu yang telah menunggangi sektor pendidikan untuk kepentingan kekuasaan dapat dijadikan salah satu alasan gagalnya program pendidikan. Politisasi pendidikan dalam bentuk regulasi kebijakan di daerah dalam bentuk peraturan daerah yang cenderung diskriminatif dan jauh dari semangat pluralisme harus dihentikan.

“Sungguh memprihatinkan kalau para elite kita tidak mencermati atau pura-pura tidak tahu dengan fenomena pendidikan nasional, yang sudah melenceng ke arah politisasi untuk kepentingan kelompok tertentu. Kalau visi pendidikan nasional tidak lagi membentuk karakter keindonesiaan, ke depan sulit mengharapkan generasi muda bangsa memiliki semangat nasionalisme, seperti dirintis para pendiri bangsa ini.

Oleh karena itu, setiap kebijakan pendidikan nasional haruslah selalu mengarah pada tujuan bersama bangsa ini yang pluralis, bukan menuju hegemoni mayoritas kelompok atau kepentingan ideologi tertentu.

Sementara itu, Direktur Institut for Education Reform Paramadina Utomo Dananjaya di tempat terpisah mengatakan, pemuda Indonesia masih memiliki semangat nasionalis, salah satunya dengan menghargai kebinekaan sebagai ciri khas bangsa. Meskipun diakui, akhir-akhir ini bangsa Indonesia terganggu oleh gerakan transnasional, dengan paham antipluralisme dan intoleransinya. Namun, jumlah kelompok yang sektarian ini sangat sedikit, bila dibanding dengan pemuda yang pluralis. [W-12/D-13]

Sumpah Pemuda di Reboan
Selasa, 27 Oktober 2009 | 02:10 WIB

Adalah kita yang tak bisa lepas dari lingkungan kita. Negeri ini tengah banyak mengajarkan kita pada suatu karakter kita sebagai bangsa Indonesia. Jika diibaratkan tubuh, kita adalah satu tubuh. Jika di Tasik, Jambi, Padang, Pariaman, Bau-Bau, Manokwari, dan beberapa daerah lainnya tengah dilanda gempa, sudah sepatutnya kita yang di Jakarta turut merasakan sakit yang sama, berempati, dan guyub.

Demikian pula dengan adanya pemerintahan baru, yang bisa mendatangkan harapan, kecemasan, kewaspadaan dan lainnya, kita juga seharusnya bisa memperlihatkan karakter kita sebagai bangsa Indonesia yang selalu mengutamakan musyawarah dan mufakat.

Selain itu pula, di bulan Oktober ini, kita juga kembali diingatkan untuk memperbaiki ikrar kita satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Dan untuk merefleksi bagaimana bahasa Indonesia berkembang menjadi salah satu bahasa yang di beberapa negara mulai diminati untuk dipelajari, di Reboan 28 Oktober nanti akan dihadirkan seorang Gerson Poyk, dia yang dikenal sebagai sastrawan dan juga ahli dalam bahasa Indonesia.

Menjadi satu tubuh, tentu tidak melupakan keragaman budaya yang kita miliki. Bahkan kita harus menjaga dan melestarikan. Salah satu bentuk kesenian yang sudah mulai jarang dipertunjukkan adalah tari ngremo dan parikan. Ngremo adalah pembukaan untuk kesenian teater Ludruk dari Jawa Timur. Sedangkan parikan adalah pantun berbahasa Jawa.

Di reboan mendatang ada beberapa kolaborasi penyair dari beragam daerah. Seperti Ponco, Hari dan Sandi, yang datang dari Yogyakarta. Dan beberapa penyair muda lainnya seperti Pringadi Abdi yang sedang kuliah di Palembang.

Di sisi musik, ada sebuah band yang menyuarakan semangat cinta damai bernama Filo, yang terdiri dari Arya (gitar), Rangga (bass, keyboard), Demmy (vocal, gitar), Eriel (drum).

Band tersebut juga akan berkolaborasi dengan Akmal Nasery Basral yang kali ini mencoba keahliannya yang lain selain menulis novel dan cerpen serta puisi.

Penampil lainnya adalah seorang penulis yang juga aktivis hak-hak wanita, Mariana Amiruddin yang saat ini sedang mempersiapkan novelnya yang berjudul “Penembak Jarak Jauh”. Petikan novel itu akan dibacakan sang penulis di Rebaon.

Reboan juga sering memperkenalkan buku yang baru terbit, baik karya penulis lama atau baru pertama kalinya menerbitkan bukunya. Kali ini Jodhi Yudono, salah seorang blogger Kompasiana, dengan bukunya berjudul “Mbah Surip We Love You Full”. Buku setebal 145 halaman dan diterbitkan Grasindo ini merupakan buku yang paling mampu meraba jeroan Mbah Surip dibanding buku-buku Mbah Surip lainnya yang pernah terbit beberapa saat setelah seniman berambut rasta ini meninggal dunia. Tidak aneh, karena Jodhi yang kini bertugas sebagai jurnalis Kompas.com, adalah teman dekat Mbah Surip, baik dalam berkesenian maupun dalam bersosialisasi.

Dengan keragaman seperti itu, maka tema yang diusung oleh Reboan kali ini adalah : Saudaraku Berk/gabung. (*)
JY

Editor: jodhi

Dokumen Otentik SP

By Republika Newsroom
Selasa, 27 Oktober 2009 pukul 18:45:00
Tidak Ada Dokumen Otentik Tentang Sumpah Pemuda

 

MEDAN–Sumpah pemuda yang diperingati setiap tahun oleh bangsa ini ternyata tidak memiliki dokumen dan bukti sejarah otentik, yang ada adalah keputusan rapat pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

“Berdasarkan data yang ada, tidak pernah ada satu baris pun ditulis kata Sumpah Pemuda dan para pemuda juga tidak sedang melakukan sumpah saat itu,” kata Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed) Dr Phil Ichwan Azhari, di Medan, Selasa.

Ia mengatakan, berdasarkan catatan dan dokumen sejarah diketahui bahwa hari Sumpah Pemuda yang diperingati sebagai peristiwa nasional, merupakan suatu hasil rekontruksi dari para “Bapak Pembangun Bangsa” ini yang didasarkan pada ideologi-ideologi dari generasi yang berbeda.

“Dalam arti bahwa peristiwa 28 Oktober 1928, yang diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda adalah rekontruksi simbol yang sengaja dibentuk kemudian setelah sekian lama peristiwa tersebut berlalu, yaitu adanya pembelokan kata `Poetoesan Congres` menjadi kata `Sumpah Pemuda`, ” katanya.

Lebih lanjut Ichwan mengatakan, apabila teks asli hasil kongres pemuda 28 Oktober 1928 diteliti maka tidak akan ditemukan kata sumpah pemuda melainkan Poetoesan Congres.

Menurut dia, hal tersebut dilakukan sebagai cara Soekarno untuk memberi peringatan keras kepada dalang gerakan separatis yang mulai muncul menentang keutuhan Bangsa Indonesia.

Dalam arti bahwa, pembelokan kata “Poetoesan Congres” menjadi kata “Sumpah Pemuda” ditujukan dan digunakan sebagai senjata ideologi terhadap pihak separatis yang dinyatakan melanggar sumpah pemuda tahun 1928.

Sebagaimana diketahui, lanjutnya, bahwa pada tanggal 28 Oktober 1954, Presiden Soekarno dan Muhammad Yamin membuka Kongres Bahasa Indonesia yang kedua di Medan, dan Yamin dalam kapasitasnya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kabinet Ali Sastroamijoyo memberikan pidato pembukaan.

Pada saat itu, Soekarno dan Yamin, sedang membangun simbol yang menjadi bagian dari susunan ideologi sebuah bangsa dan negara, dimana pilihannya jatuh pada tanggal 28 Oktober 1928 dan saat itu pula kata “Poetoesan Congres” dibelokkan menjadi “Sumpah Pemuda”.

Sejak saat itu yakni tahun 1954, tanggal 28 Oktober dianggap sebagai hari kelahiran sumpah pemuda untuk pertama kalinya. “Dengan kata lain bahwa Kongres Bahasa Indonesia kedua di Medan tahun 1954 itu, telah menjadi awal yang menganggap tanggal 28 Oktober 1928 sebagai hari kelahiran Sumpah Pemuda,” katanya.

Staf peneliti Pussis Unimed, Erond Damanik, mengatakan, pada intinya pembelokan kata Poetoesan Congres menjadi Sumpah Pemuda adalah sebagai upaya untuk membentuk kesadaran nasional atas kemerdekaan bangsa ini.

Namun demikian, tidak semestinya peristiwa tersebut melahirkan kontroversi baru dalam pembelajaran sejarah nasional Indonesia yang sudah semestinya mendapat penjelasan yang baik dalam pembelajaran sejarah Indonesia. “Ini berarti bahwa perlu dilakukan pengkajian dan penelitian komprehensif sehingga peristiwa 28 Oktober 1928 tersebut dapat dipahami secara detail dan benar,”katanya. ant/ahi

26
Oct
09

Menyongsong hari Sumpah Pemuda [Nurdiana, Nasional-List.Com]

Nurdiana:

LANTANGKAN  DENDANG

MEMBELA  INDONESIA

Menyongsong hari

Sumpah Pemuda.

Di cakrawala gemerlapan Bimasakti,

bintang dan bulan pun jadi saksi,

maha jelita masa remaja,

hidup memateri jasa abadi,

langgeng tersimpan dalam sejarah,

di biru-dalam Laut Banda,

di hijau-tinggi Gunung Kerinci,

terpendam di arus Sungai Musi,

berkilau di riak Danau Maninjau,

bergema di alun Danau Toba

tersebar di ribuan pulau,

kisah mulia pemuda bangsa.

Dalam sejarah:

betapa jaya Gajahmada,

berikrar tumpahkan Sumpah Palapa:

idamkan kesatuan Nusantara.

Di awal abad duapuluh:

masa bergolak pancaroba,

bagai Krakatau muntahkan lahar,

tampil pemuda generasi baru,

penuh damba impian mulia,

dari terpencar jadi bersatu,

bersumpah setia satu cita,

membidani lahirnya bangsa.

Satu nusa, Satu bangsa, Satu bahasa:

INDONESIA,

buka halaman sejarah baru,

untuk merdeka melangkah maju.

Perwira ksatria pemuda pejuang,

pantang menyerah menentang penjajah,

tumpahan darah pahlawan korban,

berbuahkan INDONESIA merdeka.

Menakjubkan dan mempesona,

Untaian Zamrud Khatulistiwa,

bertabur wangi mawar melati,

berhias cemara hijau abadi.

Dari Timur sampai ke Barat,

bersatu padu seluruh rakyat,

hidup selaras seperasaan,

satu hati sepenanggungan.

Jelita wanita pakai kebaya,

bersarung batik bersanggul anggun,

merdu gamelan suling kecapi,

indah Serimpi dan tari Seudati.

Kerling mata penari Bali,

molek gadis bersolek manis,

lenggok lenggang Gambang Semarang,

nyamankan hati nikmat dipandang.

Seronok kroncong salueng talempong,

Rantak Kudo Randai si Marantang,

kaba panjang dendang rang Minang,

Manortor rang Batak sambil berdendang.

Riuh gemuruh Tari Barongsai,

petasan dibakar diarak ramai,

nyaman indah irama kasidah,

diiringi rebana bertalu merdu.

Tepak Tilu tarian Sunda,

Tari Lenso lenggokkan badan,

girang berjoget rang Jakarta,

bangga bangsa kaya budaya.

Mpu Tantular yang bijaksana,

wariskan Bhinneka Tunggal Ika,

berbeda, satu jua,

lambang persatuan INDONESIA.

Kini saatnya,

perlu dibela,

janganlah rela,

budaya kita,

jadi budaya,

negeri onta.

Di kala terpuruk buatan orba,

bangkitkan lagi remaja ksatria,

buka mata lawan pembodohan,

selamatkan pusaka para pahlawan,

bela kesatuan dan kepribadian,

dari ancaman pemerosotan.

Berdendang kita berdendang,

bela warisan pahlawan bangsa,

INDONESIA jadi gemilang,

berkat hikmat Sumpah Pemuda.

25 Oktober 2009.

22
Sep
09

Patriotisme : Rapat Raksasa di Tambaksari, Surabaya, 21Sep45

lusi_d@rantar.de , NASIONAL-LIST, 21 September 2009

Dalam proses pengkonsolidasian Republik Indonesia yang masih muda banyak peristiwa-peristiwa catatan sejarah yang dialami pada awal kemerdekaan kita. Kalau di Jakarta kita mengenal ada Rapat Raksasa di Lapangan IKADA pada tanggal 19 September 1945 dan di Surabaya terjadilah Rapat Raksasa di Lapangan Tambaksari pada tanggal 21 September 1945. Jaman itu istilah rapat akbar belum dikenal rakyat.
Yang populer waktu itu istilah rapat raksasa atau rapat samodera.
Sekarang kita masih beruntung bisa mendapat cerita langsung dari Pak Soemarsono, usia 88 tahun, salah seorang yang punya peranan utama dalam penyelenggarakan Rapat Samodera itu dan sekaligus harapan dari salah seorang pelopor kemerdekaan kita ini kepada generasi muda.

Saya kutipkan bagian yang mengenai Rapat Samodera Tambaksari dari buku yang berjudul : Revolusi Agustus, diterbitkan oleh Hasta Mitra, 2008, Jakarta.

———— ——— ——— ——–

RAPAT RAKSASA di LAPANGAN TAMBAKSARI SURABAYA

Sebelum tanggal 19 September 1945 di Surabaya datang Aidit dari Jakarta menemui saya. Kami ada hubungan dalam perjuangan, karena waktu itu saya juga turut dalam gerakan pemuda proklamasi. Dalam pertemuan itu dia minta supaya di Surabaya juga diadakan momen aksi, dengan menyelenggarakan Rapat Samudra pada tanggal 19 September 1945. Dalam mempersiapkan rapat raksasa 19 September 1945 ini saya clash dengan Roeslan Abdulgani. Pada waktu itu Roeslan Abdulgani masih pimpinan Angkatan Muda Indonesia di Surabaya, lengkap dengan para pengurusnya termasuk Bambang Kaslan, Supardi, Isman, Oetomo, Soetomo. Roeslan Abdulgani mengatakan, bahwa dia tidak setuju momen aksi itu. Jadi maksud Roeslan Abdulgani bukan dengan jalan begitu, sebab bisa clash dengan Jepang, lain waktu saja nanti dilihat situasinya, sekarang situasinya dianggap tidak favorable. Begitulah pendapat Roeslan Abdulgani yang kami dengar dari Chaerul Saleh. Mendengar sikap Roeslan Abdulgani itu kami memang terbakar: “Mari kita demonstrasi ke tempat Roeslan Abdulgani rame-rame”. Kemudian Roeslan Widjajasastra, saya, Rambe, anak-anak muda lalu datang berame-rame ke tempat Roeslan Abdulgani. Waktu itu Roeslan Abdulgani sedang mengadakan rapat di gedung SMA dengan para pengurusnya. Kami masuk ruangan itu dan Roeslan Widjajasastra sambil kakinya dinaikkan di meja berkata: “Adakan rapat raksasa, ini tidak bisa ditolak oleh pengurus saja, kami menghendaki diadakan rapat raksasa, kami dari bawah!” Roeslan Abdulgani tidak menjawab apa-apa. Tetapi secara kebetulan pada tanggal 19 September 1945 itu terjadi Insiden Bendera di Jalan Tunjungan itu. Itulah sebabnya mengapa momen rapat raksasa yang mestinya 19 September 1945 itu digeser menjadi tanggal 21 September 1945. Kampanyenya dari mulut ke mulut, memakai corong saja: “Ayo rapat samudra di Tambaksari, rapat samudra di Lapangan Tambaksari!” Yang datang di Tambaksari itu ratusanribu orang tumplek-blek – membeludak, belum pernah ada rapat sebesar itu.
Kepada wartawan-wartawan yang ada di situ lalu saya tanya : “Kira-kira ada berapa orang yang datang di Rapat Umum ini?”. “Yah…paling tidak 150-ribu”, jawabnya. Jumlah sekian pada waktu itu sudah besar sekali. Seratus limapuluh ribu di Tambaksari itu! Rapat raksasa di Tambaksari itu diakhiri dengan mengikrarkan semboyan kebulatan tekad “Merdeka atau Mati!”.
Dalam rapat raksasa di Tambaksari itu mana Roeslan Abdulgani berani muncul?  Dia tidak ada. Yang bicara pada waktu itu Roeslan Widjajasastra, dia bilang pada saya: “Bung, biar saya yang bicara dulu, kalau ditembak oleh  Jepang biar saya yang di tembak dulu.Bung sudah punya istri.”
Memang, Roeslan Widjajasastra lalu naik mimbar dan bicara dia:  “Supaya kita dukung kemerdekaan kita hidup atau mati! Berani mati untuk kemerdekaan!”
Lalu datang pada saya Sapia, dia pimpinan Pemuda Indonesia Maluku -PIM, dulu pernah ikut dalam pemberontakan Kapal Zeven-Provincien, dia bilang: “Bolehkah saya bicara, saya bekas pemberontak kapal Zeven-Provincien?
“Ya, boleh saja” jawab saya. Dia naik ke mimbar dan bicara dengan penuh agitasi.
Pada akhirnya saya yang bicara. Saya masih ingat Pancasila, pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, pada waktu itu terkenal dengan istilah Lima K.

Yang kesatu yaitu Ketuhanan, kedua Keadilan, yang kemudian jadi Kemanusiaan yang adil dan beradab, ketiga Kebangsaan, keempat Kemerdekaan, kelima Keadilan Sosial; ini standar.

Belakangan Bung Karno juga menyebut seperti yang saya serukan di Tambaksari dulu, yaitu:
“Lima Sila ini kalau disatukan menjadi kepal, menjadi tinju untuk meninju imperialis, lawan-lawan bejat, lawan-lawan kemerdekaan, penjajah yang menjajah Indonesia. Ini kepal rakyat Indonesia yang bersatu!”. Wah… saya mendapat sambutan keplokan – tepuk tangan gemuruh – iya itu yang membakar semangat rakyat.

Pada zaman penjajahan, kalau Bung Karno bicara bisa membangkitkan semangat rakyat dan sekarang ini untuk melawan musuh-musuh kemerdekaan, untuk memperoleh pemerintahan yang baik, perlu massa, perlu membangkitkan massa. Jadi pemudalah yang bisa melaksanakan revolutionaire geest – jiwa revolusioner, revolutionaire wil – keinginan berrevolusi dan revolutionaire daad – melaksanakan revolusi itu – sebagai satu kesatuan. Kalau kita yang tua-tua ini revolutionaire wil-nya masih ada, tetapi revolutionaire daad fisiknya sudah lemes! Lha itu perlunya pemuda. Waktu saya diundang oleh kawan-kawan di Eropa untuk menyampaikan pengalaman, saya ditanya oleh anak saya: “Bapak
nanti, apa kiranya yang akan dibicarakan di sana?” “Ya kalau saya ditanya mengenai fakta-fakta sejarah, ya apa adanya, tanpa catatan.
Karena memori saya masih fit, masih segar, saya akan bicara semua yang saya ingat.” “Keinginan apa yang akan disampaikan kepada mereka?” tanya anak saya lagi. “Wah saya menginginkan dan ingin menyampaikan kepada pemuda-pemuda jangan sampai menjadi rusak karena masalah narkotika.
Sebab saya lihat pemuda-pemuda sekarang ini rusak, akibat kebudayaan imperialis ini”. Itulah penjelasan saya padanya. Narkotik di Australia tiap empat pemuda satu kena, di Indonesia tiga pemuda satu kena narkotik. Kalau sudah kena narkotik wah.. ini… mana ngerti untuk menanggapi cita-cita, karena sakit. Ini saya ingat perang candu Tiongkok. Akibat perang candu, imperialis berhasil masuk Tiongkok. Bukan satu imperialis tetapi beberapa imperialis sekaligus menjajah Tiongkok. Dan sekarang narkotik ini membikin pemuda kita rusak. Tetapi bukan narkotik saja, saya lihat itu pemuda yang istilahnya Bung Karno dengan musik ngak-ngik-ngok – hingar-bingar – yang bisanya hanya jingkrak-jingkrak kayak begitu sudah merasuk ke perorangan, tidak ada cita-cita kemasyarakatan, lupa akan cita-cita bersama kepentingan bangsa. Tetapi sekarang ini bukan pemuda saja, elit juga sama. Coba lihat saja mereka yang memerintah, apa DPR, apa menterinya, apa pegawai-pegawai tingginya di sana, mana yang memikirkan kepentingan rakyat. Yang dipikirkan bagaimana memperkaya diri. Bobrok moralnya! Lha kalau mempunyai pemerintah yang elitnya kayak begitu, aparatnya begitu, jenderal-jenderalny a juga begitu, kerjanya sibuk memperkaya diri apa yang mau diharapkan dari satu pemerintah yang begitu? Pemuda-pemuda yang masih segar, masih fresh, masih bersih, masih jernih musti bangkit. Dalam hal ini saya ingin mengajukan kampanye untuk melawan itu narkotik, melawan semua yang datangnya dari kebudayaan imperialis untuk menanamkan jiwa perjuangan revolutionaire geest, revolutionaire wil, revolutionaire daad. Dulu di Surabaya waktu saya bicara di Tambaksari mendapat sambutan yang hangat, saya teriak-teriak begitu dan mereka itu benar bersemangat sekali waktu itu.

Setelah saya ngomong seperti itu, lalu ditanya lagi oleh anak saya: “Apakah itu tidak untuk menyenangkan bapak saja?”. Jadi waktu saya ditanya oleh anak saya, itu saya jawab, bahwa saya akan mendorong untuk melakukan kampanye bagaimana membangkitkan revolutionaire geest, revolutionaire wil, revolutionaire daad, artinya bukan saya saja. Kalau saya kan hanya tenaga satu orang, tetapi akan dilakukan oleh siapa saja yang sekarang ada pengertian yang bersambung dengan saya. Marilah kita berkampanye –untuk membangkitkan bagaimana pemuda bangkit berjuang!




Blog Stats

  • 2,006,319 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers