Posts Tagged ‘Nationalism
Timmy ‘Turangga Seta’ Hartadi : Not Just Something, Nuswantara is Everything
Sebenarnya apa tujuan Timm dan kawan-kawan Turangga Seta (TS) ketika mengeluarkan data-data yang ada? Kalau sekedar memapar kegilang-gemilangan Nusantara, rasanya sih hampir semua buku sejarah dan peninggalan yang ada udah cukup menjawab. Ada yang krusial?
MPR: Semangat Antikorupsi, Lagu Indonesia Raya Harus Dinyanyikan Utuh
Jakarta Wakil Ketua MPR Hadjriyanto Y Tohari mendukung agar lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan utuh. Ini sebagai strategi antikorupsi.
Lirik yang mengandung makna kebangsaan selama ini sebagian tidak dinyanyikan.
Menurut Hadjri, diperlukan strategi kebudayaan untuk memperbaiki bangsa ini sehingga menjadi bangsa yang tidak koruptif seperti sekarang ini. Salah satu strategi kebudayaan tersebut adalah melalui pendidikan karakter. Pendidikan karakter itu tujuannya adalah menanamkan etika yang tangguh dan membangun rasa cinta bangsa (kesadaran patriotisme).
“Kesadaran seperti itu bisa dibangkitkan melalui berbagai cara. Salah satunya adalah melalui menyanyikan lagu kebangsaan secara berulang-ulang. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya memiliki peran yang sangat besar. Sayang sekali lagu yang sangat bagus dan komprehensif itu hanya biasa dinyanyikan stansa pertama saja,” kata Hadjri kepada detikcom, Sabtu (4/8/2012).
Menurut Hadjri, stansa pertama memang cukup bagus karena mendorong nasionalisme. Namun stansa kedua syairnya sangat menggugah kesadaran jiwa, hati, dan budi.
“Kemuliaan jiwa, hati, dan budi pekerti ini kan mutlak pentingnya. Bahkan budi pekerti itu merupakan qondistio sine qua none bagi bagi bangsa ini untuk maju!,” kata Hadjri.
Berikut bunyi stansa kedua lagu Indonesia Raya:
suburlah tanahnya
suburlah jiwanya
bangsanya rakyatnya
semuanya
sadarlah hatinya
sadarlah budinya
untuk Indonesia Raya.
“Bangsa ini sekarang memiliki cacat jiwa dan budi pekerti: menyukai perilaku koruptif! Apalagi pejabat-pejabatnya: sangat koruptif. Korupsi bahkan sudah menjadi hobi-nya. Berarti bangsa ini telah kehilangan jiwa, hati, dan budi. Walhasil, bangsa tanpa hati dan budi. Apalagi pejabat-pejabatnya! Saya ikut mengusulkan agar Lagu Indonesia Raya ini dinyanyikan secara lengkap dengan seluruh stansanya. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ini nisacaya akan mampu menggugah hati dan budi bangsa ini!,” tegas Hadjri.
(van/aan)
- Wamenag Nasaruddin: Proyek Alquran di Kemenag Tanggung Jawab Menteri
- 5 Pengacara Kondang yang Biasa Tangani Kasus Korupsi
- MA Bebaskan Edison karena Tidak Terbukti Korupsi Rp 10 Juta
- Menag: M Jasin Kekuatan Baru untuk Kemenag yang Bersih & Transparan
Ki Bagus Hadikusumo Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Jakarta Kalangan pemuda Muhammadiyah mendesak agar pemerintah menepatkan Ki Bagus Hadikusumo sebagai pahlawan nasional. Jasa-jasanya saat perjuangan kemerdekaan Indonesia sudah tak perlu diragukan lagi.
Salah satu elemen yang mendesak adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Mereka berharap, Ki Bagus Hadikusumo bisa berdiri sejajar dengan para tokoh BPUPKI lainnya yang sudah lebih dulul mendapat gelar pahlawan.
“Yang salah satunya ulama besar Muhammadiyah yang hampir terlupakan yaitu Ki Bagus hadikusumuo yang menjadi salah seorang anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI),” kata Sekjen DPP IMM, Fahman Habibi dalam rilis, Jumat (3/8/2012).
“Beliau juga yang ikut merumuskan dasar negara bersama Ki Hajar dewantara dan Muhammad Hatta, Ir Soekarno Muhammad Yamin, Mr AA Maramis R Otto Iskandar dinata, Mas Soetarjo Kartohadikoesoemo dan KH Wahid Hasyim,” sambungnya.
Diskusi soal pentingnya gelar itu bagi Ki Bagus Hadikusumo juga sudah digelar. Sejumlah tokoh pun setuju bahwa Ki Bagus Hadikusumo seharusnya mendapat gelar pahlawan.
“Sehubungan dengan akan datangnya momen besar yaitu peringatan proklamasi kemerdekaan RI pada tanggal 17 agustus Nanti yang juga bertepatan dengan momen bulan suci Ramadhan maka kami atas Nama DEWAN PIMPINAN PUSAT IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH meminta kepada pemerintah Republik Indonesia untuk segera memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada KI Bagus Hadikusumo,” tegas Fahman.
“Karena beliau bukan hanya tokoh pemersatu umat Islam namun juga sebagai pemersatu bangsa,” lanjutnya.
Ki Bagus Hadikusumo (lahir di Jogjakarta, 24 November 1890 – meninggal di Jakarta, 4 November 1954 pada umur 63 tahun) adalah seorang tokoh BPUPKI. Ia dilahirkan di kampung Kauman dengan nama R. Hidayat pada 11 Rabi’ul Akhir 1308 H (24 November 1890).
Selanjutnya Ki Bagus pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadijah (1926), dan Ketua PP Muhammadiyah (1942-1953). Ia sempat pula aktif mendirikan perkumpulan sandiwara dengan nama Setambul. Selain itu, bersama kawan-kawannya ia mendirikan klub bernama Kauman Voetbal Club (KVC), yang kelak dikenal dengan nama Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW).
Semasa menjadi pemimpin Muhammadiyah, ia termasuk dalam anggota BPUPKI dan PPKI. Ki Bagus Hadikusumo sangat besar peranannya dalam perumusan Muqadimah UUD 1945 dengan memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan. Pokok-pokok pikirannya dengan memberikan landasan-landasan itu dalam Muqaddimah UUD 1945 itu disetujui oleh semua anggota PPKI.
(mad/mad)

Lirik asli (1928) INDONESIA RAJA
Tanah toempah darahkoe,
Disanalah akoe berdiri,
Mendjaga Pandoe Iboekoe.
-
- Indonesia kebangsaankoe,
- Kebangsaan tanah airkoe,
- Marilah kita berseroe:
- “Indonesia Bersatoe”.
Hidoeplah neg’rikoe,
Bangsakoe, djiwakoe, semoea,
Bangoenlah rajatnja,
Bangoenlah badannja,
Oentoek Indonesia Raja.
Tanah kita jang kaja,
Disanalah akoe hidoep,
Oentoek s’lama-lamanja.
-
- Indonesia, tanah poesaka,
- Poesaka kita semoea,
- Marilah kita mendoa:
- “Indonesia Bahagia”.
Soeboerlah djiwanja,
Bangsanja, rajatnja, semoeanja,
Sedarlah hatinja,
Sedarlah boedinja,
Oentoek Indonesia Raja.
Bagi kita disini,
Disanalah kita berdiri,
Mendjaga Iboe sedjati.
-
- Indonesia, tanah berseri,
- Tanah jang terkoetjintai,
- Marilah kita berdjandji:
- “Indonesia Bersatoe”
S’lamatlah poet’ranja,
Poelaoenja, laoetnja, semoea,
Madjoelah neg’rinja,
Madjoelah Pandoenja,
Oentoek Indonesia Raja.
Moelia, Moelia,
Tanahkoe, neg’rikoe jang koetjinta.
Indones’, Indones’,
Moelia, Moelia,
Hidoeplah Indonesia Raja
dengerkan di : http://www.youtube.com/watch?v=7Bxdb7pfxM0
BpkBangsa&IbuPertiwi
Diterbitkan : 8 Maret 2012 – 2:52pm | Oleh Joss Wibisono (Foto: Tropenmuseum)
Apa syaratnya supaya seseorang bisa diangkat sebagai bapak bangsa, dan mungkinkah kaum perempuan juga memperoleh sebutan terhormat ini?
Kita punya sederetan nama orang-orang yang kita sebut bapak bangsa. Mereka memang bapak-bapak yang berjasa bukan hanya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, tetapi sebelum itu juga menggagasnya, berpikir untuk mendirikan bangsa yang merdeka dari belenggu penjajahan.
Tentu saja pantas ditanya mengapa hanya ada istilah “bapak bangsa”? Di manapun juga tidak kurang kaum perempuan yang berperan bagi bangsanya. Mengapa tidak ada istilah ibu bangsa? Dan itu bukan cuma dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa-bahasa asing kata bapak tetap digunakan.
Misalnya bahasa Inggris menyebut bapak bangsa sebagai founding fathers, bahasa Belanda vader des vaderlands.
Tidak ramah perempuan
Istilah bapak bangsa, founding fathers dan vader des vaderlands, jelas tidak ramah bagi kaum perempuan. Peran mereka tidak diakui, baik itu di masa lampau, masa kini apalagi di masa depan. Dan itu bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di negara-negara lain yang menggunakan istilah sepadan dengan bapak bangsa.
Kata bapak jelas berasal mula dari keluarga, ada bapak, ibu dan anak. Awalnya, bapak juga sering disebut kepala keluarga. Bisalah dipastikan ketika bapak dikaitkan dengan masalah negara, seperti dalam bapak bangsa, maka itu hanya merupakan urusan kaum bapak.
Lebih lagi, istilah bapak bangsa tampaknya juga ciptaan kaum pria.
Harus diakui sebutan bapak sebagai kepala keluarga berlangsung dalam keluarga yang patriakat, yang mementingkan peran Bapak. Di Minangkabau misalnya ada keluarga yang matriakat, yang mementingkan ibu.
Di sana bapak tampaknya bukan kepala keluarga, walaupun harus diakui dari Minangkabau tidak muncul tokoh perempuan yang mendampingi Bung Hatta, Bung Sjahrir atau Tan Malaka dalam memperjuangkan Indonesia merdeka.
Tidak punya ibu bangsa, kita ternyata punya ibu pertiwi, selain ibu kota atau ibu jari, tentunya. Bisa jadi ibu pertiwilah pasangan bapak bangsa. Ibu pertiwi tampaknya berkisar pada wilayah sebuah negeri, sedangkan bapak bangsa menunjuk pada bangunan politik sebuah negara. Dengan kata lain bapak bangsa tidak mungkin ada tanpa ibu pertiwi.
Berdarah campuran
Di antara sederetan nama yang ada dalam deretan bapak bangsa itu, nyaris tidak ada pria Belandanya. Sebagian besar adalah kaum inlanders, bumiputra. Kalaupun ada non-bumiputra, paling banter dia orang Indo yang berdarah campuran Belanda Indonesia.
Salah satunya adalah Ernest Douwes Dekker, yang bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Suryaningrat pada akhir tahun 1911 di Bandoeng mendirikan de Indische Partij. Inilah partai politik pertama di Nusantara yang sekaligus juga bertujuan tegas: kemerdekaan Indonesia.
Ernest Douwes Dekker juga memimpin De Expres, organ Indische Partij. Pada tanggal 13 Juli 1913 koran ini menerbitkan tulisan terkenal Soewardi Suryaningrat berjudul, “Als ik eens Nederlander was” artinya “seandainya saja aku ini orang Belanda”.
Inilah tulisan seorang bumiputra pertama yang, dalam bahasa Belanda sempurna, mempertanyakan legitimasi kekuasaan kolonial Belanda di Nusantara.
Akibatnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda, dan memang andil Ernest Douwes Dekker memperjuangkan Indonesia merdeka tidaklah kecil. Yang mungkin paling penting, walaupun berdarah Indo, Douwes Dekker tidak pernah menjadi bagian birokrasi kolonial Belanda. Ia selalu berdiri di luar penguasa kolonial, bahkan mati-matian menentangnya.
Sebagai penghormatan, nama Douwes Dekker terpampang sebagai nama salah satu jalan paling sibuk kota Bandung. Jalan Setiabudi diambil dari Setiabudi Danudirdja, nama Indonesia Ernest Douwes Dekker.
Isapan jempol
Betapa mata ini terbelalak membaca kolom ilmuwan Belanda Robert Dijkgraaf yang diumumkan oleh harian NRC Handelsblad 18 Februari 2012. Di situ Presiden KNAW, yaitu Akademi Ilmu Pengetahuan Belanda ini datang dengan sebuah nama baru yang disebutnya “vader des vaderlands” orang Indonesia.
Orang ini bernama Hendrik Kern hidup antara 1833 sampai 1917 dengan jabatan terakhir direktur Akademi Ilmu Pengetahuan di Batavia.
Dijkgraaf menulis: jasa Hendrik Kern yang pakar bahasa-bahasa Timur (termasuk bahasa Jawa kuno), adalah menunjukkan bahwa Nusantara yang terberai dalam 17 ribu pulau itu tetap merupakan kesatuan alami dalam segi bahasa.
Pendapat seperti inilah yang menurut Dijkgraaf menyebabkan kita mengangkat Hendrik Kern sebagai bapak bangsa.
Apa sebenarnya upaya Hendrik Kern untuk memerdekakan negeri kelahirannya? Mungkinkah dia anggota partai politik pertama Nusantara yang didirikan enam tahun sebelum dia tutup usia?
Sulit memastikannya, apalagi karena sebagai pemimpin Akademi Ilmu Pengetahuan di Batavia Hendrik Kern jelas tidak berseberangan dengan penguasa kolonial. Bahkan dia sepenuhnya berkarier dalam birokrasi kolonial.
Dengan kata lain bisa saja dia berpendapat Nusantara merupakan kesatuan alami, tapi pendapat seperti ini tidak akan membuat Hendrik Kern menjadi bapak bangsa Indonesia. Yang penting apa yang dilakukannya setelah berpendirian seperti itu, adakah dia memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang jelas-jelas tidak merupakan kesatuan alami dengan Belanda?
Melihat kariernya dalam birokrasi kolonial, patut diragukan Hendrik Kern juga menghendaki kemerdekaan Indonesia.
Entah dari mana Robert Dijkgraaf mendapat informasi bahwa Hendrik Kern telah memperoleh kehormatan sebagai bapak bangsa Indonesia. Menulis kolom memang lain dari menulis karya ilmiah, karena dalam menulis kolom seseorang tidak perlu menyebut sumbernya. Jadi juga tidak perlu disebut kalau sumber itu adalah isapan jempol belaka.
© Foto: NRC Handelsblad – http://www.ranesi.nl
Surah “Al Hujuraat” # 49, Verse # 13
|
Pak Fernando juga menyinggung tentang kebebasan beragama merupakan HAM yang sudah diakui oleh dunia internasional, namun hanya sebatas hitam di atas putih dan prakteknya diabaikan. Pak Fernando pun mengangkat sebuah contoh lunturnya persaudaraan hanya dikarenakan ‘kita berbeda’ dan kesedihan yang mendalam harus dirasakan oleh seorang anak sekolah yang selalu dijauhkan oleh teman-temannya karena agamanya bukan merupakan salah satu dari agama yang diakui.
Dalam hal ini, saya mau menambahkan bahwa praktek toleransi beragama di negara ini bukan hanya menimbulkan rasa kesedihan bagi penganut agama yang tidak diakui di negara ini, bahkan kesedihan yang berkepanjangan akibat tekanan pemerintah dan publik kepada penganut agama yang berusaha menjalankan ajaran agamanya secara menyeluruh dan sempurna.
Pernahkah pembaca menyadari bahwa sangat banyak wanita Muslim yang dihambat untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya hanya karena wanita Muslim tersebut memakai pakaian muslimah?
Suatu saat —awal tahun 2001— saya pernah mengikuti testing di salah satu perusahaan asing (Prancis), saya pun lulus testing tertulis dan akademik dengan nilai tertinggi, tiba saat wawancara salah satu pertanyaan yang diajukan bersediakah saya melepaskan pakaian muslimah saya, karena di perusahaan tersebut tidak menerima karyawan yang berpakaian muslimah.
Dan itu bukanlah satu-satunya pengalaman saya, si kesempatan lain masih di tahun yang sama saya dipanggil oleh perusahaan asing (Amerika Serikat) dan lagi-lagi saat wawancara saya diminta untuk melepaskan pakaian muslimah saya. Bahkan anehnya saat mencantumkan pasfoto di ijazahpun seorang muslimah dipersulit jika pasfotonya memakai pakaian Muslim —kerudung.
Saat saya lulus perguruan tinggi pihak tata usaha pun meminta saya untuk membuat surat pernyataan karena saya mencantumkan pasfoto yang berkerudung, begitu juga halnya saat saya lulus akta mengajar dari salah satu perguruan tinggi Islam. Inikah toleransi beragama? Maka tidak berlebihan jika saya akhirnya mengambil kesimpulan bahwa faham toleransi beragama yang ada saat ini menghambat penganut agama menjalankan agamanya dengan benar, sempurna dan menyeluruh. Bahkan toleransi beragama mengkerdilkan ajaran agama, terutama ajaran agama Islam.
Mari juga kita membuka mata, maraknya pembongkaran mesjid di kota ini dengan alasan pembangunan ataupun ekonomi, pada dasarnya sudah tidak menghargai orang-orang yang beragama! Padahal penduduk kota Medan masih mayoritas penganut agama Islam! Masihkah kita mengagungkan-agungkan toleransi beragama ataupun kebebasan beragama dalam persfektif sekuler ini?
Faham Sekuler dan Kebenaran Mutlak
Pak Fernando juga menyinggung bahwa praktek toleransi beragama di negara ini bersifat ambivalen. Menurut saya, selama prakteknya masih berlandaskan faham sekuler maka toleransi akan selalu bersifat ambivalen. Bahkan hampir semua hal dalam faham sekuler itu bersifat ambivalen. Mengapa bisa demikian? Karena faham sekuler tidak memiliki kebenaran mutlak, kebaikan mutlak, kejahatan mutlak, dan lain sebagainya.
Itu disebabkan sekuler tidak memiliki standar yang jelas. Sebagai contoh standard miskin saja tidak jelas, begitu juga halnya dengan standar kaya. Seseorang bisa dikatakan kaya jika dia memiliki mobil walaupun dengan cara kredit, tapi bisa pula orang tersebut dinilai tidak kaya karena mobilnya masih kredit. Begitu juga halnya dengan standar kebenaran yang saya istilahkan dengan kebenaran mutlak.
Lihat kasus kriminal yang ada di negara ini bingung untuk mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. Sebagai contoh kasus korupsi yang menimpa Nazaruddin, awalnya Nazaruddin dipandang sangat bersalah namun belakangan Nazaruddin seperti pahlawan pembongkar pelaku korupsi di tubuh partainya, demikian juga halnya dengan kasus yang menimpa Antasari, Susno Djuadi, dan lain sebagainya. Akhirnya kebenaran itu sangat tergantung kepada pihak yang berkuasa dan kepentingan penguasa, serta kemahiran insane media memutar balikkan fakta!
Toleransi Beragama dalam Pandangan Islam
Jika ada seseorang yang mengatakan sedang berupaya mengubah negara ini menjadi negara Islam, suatu negara yang memiliki pemerintah yang menerapkan aturan Islam secara menyeluruh dan sempurna, maka komentar pertama adalah bahwa hal itu tidak mungkin terwujud karena negara ini bukan negara Islam.
Komentar berikutnya, jika hal itu terwujud bagaimana dengan nasib rakyat yang tidak beragama Islam, apa mereka akan dipaksa masuk Islam? Komentar konyol berikutnya bahwa tidak mau jika negara ini diubah menjadi negara Islam, karena negara Islam itu merupaka negara yang kejam yang suka memotong tangan orang, merajam orang, mencambuk orang, dan gambaran lain yang menakutkan.
Komentar terakhir ini saya katakan konyol, karena Islam hanya memotong tangan pencuri, hanya merajam pezina dan mencambuk peminum khamar dan pelaku kriminal lainnya. ***
Penulis adalah Anggota DPD I Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Sumut.
http://www.sinarharapan.co.id/content/read/istiqlal-simbol-toleransi-beragama/
18.02.2012 11:52
Istiqlal
Penulis : Saiful Rizal
Tidak afdol agaknya jika umat muslim datang ke Jakarta tetapi tidak menyempatkan diri salat di Masjid Istiqlal. Karena itu tidak heran jika pada musim liburan sekolah banyak warga di luar Jakarta menyempatkan diri mengunjungi Masjid Istiqlal. Masjid ini tercatat sebagai masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Namun di balik kemegahan measjid ini, terbesit simbol kerukunan antarumat beraga di negeri ini. Masjid Istiqlal letaknya berhadapan dengan Gereja Katedral; hanya dipisahkan jalan raya yang lebarnya tidak sampai 100 meter.
Bahkan, berdirinya Masjid Istiqlal memiliki sejarah tersendiri tentang bukti nyata kerukunan umat beragama. Frederich Silaban, arsitek yang membuat desain Masjid Istiqlal ternyata beragama Kristen kelahiran Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912.
Ia adalah anak dari pasangan suami istri Jonas Silaban Nariaboru. Frederich adalah salah satu lulusan terbaik dari Academie van Bouwkunst Amsterdam tahun 1950. Selain membuat desain Masjid Istiqlal ia juga merancang kompleks Gelanggang Olahraga Senayan.
Ide untuk mendirikan Masjid Istiqlal bermula pada 1953 dari beberapa ulama. Mereka mencetuskan ide untuk mendirikan masjid megah yang akan menjadi kebanggaan warga Jakarta sebagai Ibu Kota dan juga rakyat Indonesia secara keseluruhan.
Mereka adalah KH Wahid Hasyim, Menteri Agama RI pertama, yang melontarkan ide pembangunan masjid itu bersama H Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan Ir Sofwan beserta sekitar 200-an orang tokoh Islam pimpinan KH Taufiqorrahman. Ide itu kemudian diwujudkan dengan membentuk Yayasan Masjid Istiqlal.
Pada 7 Desember 1954, didirikan Yayasan Masjid Istiqlal yang diketuai H Tjokroaminoto untuk mewujudkan ide pembangunan masjid nasional tersebut. Gedung Deca Park di Lapangan Merdeka (kini Jalan Medan Merdeka Utara di Taman Museum Nasional) menjadi saksi bisu atas dibentuknya Yayasan Masjid Istiqlal.
Nama Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang berarti ‘merdeka’ sebagai simbol dari rasa syukur bangsa Indonesia atas kemerdekaan yang diberikan oleh Allah SAW. Presiden pertama RI Soekarno menyambut baik ide tersebut dan mendukung berdirinya Yayasan Masjid Istiqlal, lalu membentuk Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal (PPMI).
Penentuan lokasi masjid sempat menimbulkan perdebatan antara Bung Karno dan Bung Hatta yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI.
Bung Karno mengusulkan lokasi di atas bekas benteng Belanda Frederick Hendrik dengan Taman Wilhelmina yang dibangun oleh Gubernur Jenderal van Den Bosch pada 1834 yang terletak di antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral, dan Jalan Veteran.
Sementara itu, Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunan masjid terletak di tengah-tengah umatnya, yaitu di Jalan MH Thamrin yang pada saat itu di sekitarnya banyak dikelilingi kampung. Selain itu, ia juga menganggap pembongkaran benteng Belanda tersebut akan memakan dana yang tidak sedikit.
Namun akhirnya Soekarno memutuskan untuk membangun di lahan bekas benteng Belanda karena di seberangnya telah berdiri Gereja Katedral untuk memperlihatkan kerukunan dan keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia. Setahun sebelumnya, Soekarno menyanggupi untuk membantu pembangunan masjid, bahkan memimpin sendiri penjurian sayembara desain maket masjid.
Setelah melalui beberapa kali sidang, di Istana Negara dan Istana Bogor, dewan juri yang terdiri dari Prof Ir Rooseno, Ir H Djuanda, Prof Ir Suwardi, Hamka, H Abubakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.
Pada 1955, Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal mengadakan sayembara rancangan gambar atau arsitektur Masjid Istiqlal yang jurinya diketuai oleh Presiden Soekarno dengan hadiah berupa uang sebesar Rp 75.000 serta emas murni seberat 75 gram. Sebanyak 27 peserta mengikuti sayembara tersebut.
Setelah melalui proses panjang, akhirnya dewan juri memutuskan lima peserta sebagai pemenangnya. Mereka adalah Frederich Silaban dengan desain yang berjudul “Ketuhanan”, R Utoyo dengan desain berjudul “Istigfar”, Hans Gronewegen dengan desain berjudul “Salam”, tim mahasiswa ITB dengan desain berjudul “Ilham”, tim mahasiswa ITB lainnya yang berjudul “Katulistiwa”, serta dari NV Associatie yang bertemakan “Lima Arab”.
Obama Mampir
Frederich Silaban, arsitek yang ditetapkan sebagai pemenang oleh dewan juri untuk membangun masjid di atas lahan seluas kurang lebih 10 hektare itu adalah seseorang yang beragama Kristen Protestan.
Guna menyempurnakan rancangan Masjid Istiqlal tersebut, Frederich Silaban mempelajari tata cara dan aturan orang muslim melaksanakan salat dan berdoa selama kurang lebih tiga bulan.
Selain itu, ia juga mempelajari banyak pustaka mengenai masjid-masjid di dunia. Akhirnya setelah 17 tahun masa pembangunan masjid tersebut, pada 22 Februari 1978, Presiden Soeharto meresmikan masjid terbesar se-Asia Tenggara ini.
Sejak diresmikan, dua tempat ibadah yang memiliki nilai sejarah bagi bangsa ini menjadi simbol keharmonisan antarumat beragama di Indonesia. Tidak hanya sebuah simbol, nilai toleransi dua tempat ibadah beda agama itu mewujudkan nyata dalam praktik dan saling menopang kegiatan keagamaan masing-masing.
Salah satunya, bila ada kegiatan di salah satu tempat ibadah, mereka biasa berbagi tempat parkir. Selain itu, meskipun di waktu yang bersamaan sedang dilaksanakan kegiatan keagamaan, antartempat ibadah itu tidak saling mengganggu dan terganggu.
Selain selalu ramai dikunjungi umatnya masing-masing, Presiden negara-negara sahabat juga pernah menyempatkan waktu singgah untuk melihat langsung simbol kerukunan beragama di Indonesia.
Bahkan, dalam rangkaian kunjungan ke Indonesia, pada Oktober 2011, Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengunjungi Masjid Istiqlal. Dia tidak berpidato di sana, tapi melihat-lihat masjid terbesar di Asia Tenggara ini.
Dalam kunjungan singkat itu Obama diajak melihat beduk raksasa berukuran 1,5 x 2 meter dipandu oleh imam besar Masjid Istiqlal KH Ali Mustofa Ya`qub. Presiden Obama dan Ibu Negara berada di Masjid Istiqlal kurang lebih 30 menit.
Bila presiden negara tetangga saja mengagumi tingginya toleransi beragama di Indonesia, mengapa kita harus merusaknya dan selalu berupaya mendominasi kelompok lain.
Apa yang membuat pimpinan FPI ditolak di Kalimantan Tengah? Kita tidak tahu persis. Tetapi ada hal yang bisa kita lihat dari aksi penolakan ini sebagai sebuah pesan. Dikalangan masyarakat Dayak yang menolak kehadiran FPI mereka mengatakan tidak menginginkan FPI hadir di Kalteng dengan alasan kerukunan umat beragama jangan sampai pecah di Kalteng.
Kalteng selama ini hidup rukun, baik Islam dan Kristen serta agama yang lain hidup damai dan berdampingan sebagai satu keluarga besar. Ini menjadi modal dasar dalam pembangunan Kalteng. Mengingat di negara kita konflik sosial sering terjadi hanya karena dipicu oleh hal yang spele. Kalteng menjadi miniatur betapa sesungguhnya kerukunan itu bisa tercapai jika semua menahan diri dan saling menghargai.
Gerakan anarkisme beberapa Ormas menjadi pelajaran yang sangat berharga di negara ini. Betapa hukum kita tidak punya wibawa lagi. Kalau sudah sebuah Ormas lebih hebat dari institusi hukum resmi seperti Polri, TNI, Jaksa ini sangat membayakan kehidupan masyarakat. Ormas bisa saja bertindak sesuai dengan hukum mereka.
Bagaimana menciptakan hukum yang berwibawa agar jangan tunduk pada kepentingan sekelompok orang tentu menjadi PR bagi pemerintah. Untuk itu wibawa negara dengan menegakkan hukum yang tegak harus dilakukan agar tidak terjadi kerusuhan dan konflik mengatasnamakan Ormas.
Aksi penolakan kehadiran Front Pembela Islam (FPI) di Kalimantan Tengah jadi bahasan Rapat Pimpinan Agama dan Organisasi Masyarakat di Kalimantan Tengah, Senin, 13 Februari 2012. “Hasilnya, rapat yang berlangsung di Aula Jayang Tingang, Palangkaraya, itu menghasilkan sejumlah pernyataan penolakan,” kata Achmad Diran, Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, di Palangkaraya, Senin, 13 Februari 2012.
Terlepas daripada itu penolakan Ketua FPI di Kalteng bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Penolakan itu bukan pada aspek sentimen belaka. Tetapi atas dasar menciptakan kerukunan diantara umat yang berbeda. Menurut Diran, pernyataan penolakan itu didasarkan sejumlah hal. Pertama, semua pimpinan agama, pimpinan Ormas dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kalimantan Tengah, menyatakan bahwa penolakan pelantikan FPI tersebut tidak ada kaitannya dengan agama dan suku.
Kedua, agar kejadian itu tidak terulang kembali dan semua pihak wajib bersama-sama menjaga kebersamaan dan ketenteraman serta kerukunan umat beragama dan memelihara tri kerukunan umat beragama sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ketiga, sepakat menyatakan masalah tersebut telah selesai dan semua pihak siap untuk kembali menciptakan kondisi Kalimantan Tengah yang rukun dan damai. Keempat, hindari upaya adu domba dalam masyarakat dan tindak tegas pelakunya sesuai dengan hukum yang berlaku. Kelima, tingkatkan persatuan dan kesatuan dengan semangat huma betang di Bumi Tambun Bungai Bumi Pancasila Kalteng,” kata Achmad Diran.
Pernyataan sikap tersebut, ia mengatakan, dibuat untuk diketahui dan dilaksanakan secara bersama-sama demi keutuhan dan kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Sumber TEMPO: 12 Februari 2012).
Keberlangsungan NKRI sekarang ini dalam pertaruhan. Banyak kasus yang berbau identitas atas nama agama dan suku menguak kepermukaan. Banyak sekelompok orang mengatasnamakan agama memaksakan kehendaknya tanpa mengedepankan dialog dan saling mengharagi kultur yang berbeda.
Potensi konflik mengatasnamakan suku dan agama harus diredam agar jangan pecah menjadi konflik yang bersifat horizontal. Indonesia adalah sebuah negara yang terbentuk atas dasar keberagaman suku, agama dan identitas lainnya. Semua itu disatukan oleh empat pilar berbangsa dan bernegara yang terus disesuaikan oleh pemerintah, DPR, MPR dan juga para rohaniawan. Empat pilar berbangsa tersebut adalah, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan keberagaman.
Jika keempat pilar berbangsa ini dielaborasi dengan kesejahteraan masyarakat maka bisa dipastikan konflik itu kadarnya sangat rendah. Masalahnya adalah kondisi masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, frustrasi yang sangat tinggi, pengangguran, kesenjangan ekonomi, konflik tanah yang selalu berujung pada kemenenagan pemilik modal dan korupsi pejabat membuat masyarakat frustrasi dan bertindak radikal.
Saat yang bersamaan sosialisasi empat pilar kebangsaan hanya pada tingkat wacana dan tidak bisa terlembaga dengan baik dalam bentuk riil yang nyata. Masyarakat banyak membentuk Ormas sebagai tempat mengadu dan melakukan tindakan yang anarkis dengan alasan ketidakmampuan pemerintah. Pada satu sisi bisa kita terima. Tinggal bagaimana pemerintah mampu mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran, serta korupsi agar ormas ini bisa tertib dan menjadi mitra kerja pemerintah. Disatu sisi pimpinan Ormas harus mampu menyadari empat pilar kebangsaan itu harus dijaga. Janganlah memaksakan kehendak kepada orang lain, bahkan cenderung anarkis.
Toleransi harus dijaga, perbedaan adalah anugerah yang harus kita terima. Dengan berbeda potensi banyak terbangun. Penolakan FPI Di Kalteng memberikan kita sebuah pesan bahwa bahwa kedepan semua Ormas harus menjaga empat pilar kebangsaan itu. Pemerintah pun perlu instropeksi diri dengan membangun wibawa. Wibawa bisa terbangun apabila peemrintah mampu menjadi pengayom masyarakat, menegakkan hukum. Dengan demikian kasus penolakan FPI di Kalteng tidak akan terjadi lagi. Mari menjaga pilar kebangsaan untuk keberlangsungan hidup berbangsa.
Penulis adalah Dosen FIS UNIMED Medan/Pimpinan PKMI I Medan.
Wacana
Membangun Kembali Nasionalisme
- Oleh Saratri Wilonoyudho
TEGAKNYA nasionalisme Indonesia perlu dipertanyakan lebih serius. meski secara administratif negara kita masih tegak, benarkah rohnya masih ada? Masih mandiri secara politik, ekonomi, dan kebudayaan? Lihat saja sumber daya alam negeri ini juga sudah masuk perangkap penjajahan baru, baik melalui kekuatan pasar gobal maupun lewat modus lain. Utang luar negeri yang luar biasa besar sesungguhnya merupakan petunjuk kuat bahwa kita belum benar-benar merdeka.
Rakyat berada dalam suasana terjajah. Kalau dahulu hanya rempah-rempah yang dikuasai VOC, kini nyaris semua kehidupan kita dikuasai asing. Bangsa ini belum merdeka secara hakiki, apalagi jika dikaitkan dengan cita-cita pendiri negeri ini, yakni melindungi segenap tumpah darah dan memajukan kesejahteraan umum. Dalam soal perlindungan TKI saja, bangsa ini kalah dari Filipina. Demikian pula dalam soal ledakan gas, rakyat belum terlindungi dengan baik.
Singkatnya negara belum mampu melindungi tumpah darahnya sendiri. Padahal Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908 yang dicanangkan oleh Dokter Wahidin Soedirohoesodo dan kawan-kawan tiada lain adalah tekad mendirikan sebuah nation dan hasilnya NKRI dengan kekuatan yang terletak sebagaimana diungkapkan pada Pembukaan UUD 1945.
Dulu bangsa kita berada pada inlander Belanda, sekarang inlander Amerika dan bangsa asing lainnya. Kita hanya ikut apa yang didesain bangsa lain, tidak punya orisinalitas diri. Kita terseret pada set up global, yang sebenarnya telah dimulai sejak revolusi industri di Prancis, lalu liberalisme, dan kapitalisme.
Manajemen SDM
Sesungguhnya kita adalah bangsa besar. Rasanya tak habis-habisnya stok anak genius di negeri ini. Baru saja 5 siswa Indonesia merebut 4 medali emas Olimpiade Fisika Internasional yang diikuti 82 negara. Hampir tiap tahun siswa di negeri ini unjuk gigi dalam prestasi ilmiah tingkat internasional. Di tengah-tengah kemerosotan mutu berbagai bidang kehidupan, kenyataan ini memunculkan secercah harapan baru. Ketika dalam kompetisi sepak bola kita terus kalah, badminton kalah, SEA Games juga merosot jauh, alhamdulilah siswa yang tergabung dalam olimpiade sains (fisika, kimia, matematika, dan biologi) tingkat internasional, beramai-ramai menyumbangkan medali emas, perak, dan perunggu.
Rasanya tidak ada negara di dunia ini yang kekayaan alam, flora, fauna, dan biodiversivitas lainnya sekaya negeri ini. Demikian pula tidak ada negara di dunia yang memiliki jumlah bahasa, suku bangsa, dan adat kebudayaan selengkap Indonesia.
Pertanyaannya kini, mengapa bakat alam luar biasa itu kini tidak menampakkan hasilnya untuk perbaikan kehidupan di bidang sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya ? Mengapa baru soal sepele seperti tabung gas meledak atau jalanan macet kita tidak menampakkan kreativitasnya? Apa guna anak-anak jenius yang terus dikirim belajar ke luar negeri?
Jawabannya adalah kita tidak memiliki program yang jelas untuk memanajemen SDM bermutu tersebut. Di negeri ini hanya orang yang memiliki kelihaian kedekatan dengan pusat-pusat kekuasaan yang dapat berkembang, dan ini terjadi di segala lini, termasuk di kantor-kantor pemerintahan, bahkan di kampus perguruan tinggi.
Mari kita kaji siapa sebenarnya situs-situs di Sangiran atau di Boyolali itu? Pada masa lalu Gadjah Mada berhasil mempersatukan Tanah Air sampai Thailand dan Madagaskar. Kata Cak Nun yang kita sebut Jawa bukan hanya sekadar suku, tetapi kita semua, yang lebih besar satuannya. Suku Jawa adalah satu induk besar atau gen besar yang justru lebih tua dari Arab dan Yahudi.
Malah sekarang digembar-gemborkan ada Kebangkitan Nasional 100 tahun. Pertanyaannya siapa yang akan bangkit? Siapa subjeknya? Ini yang perlu dicari terlebih dahulu, sebab jika tidak tahu subjeknya, tidak mungkin bisa bangkit. Dalam kapitalisme, hal yang dihancurkan oleh desain global adalah nilai keluarga dan nilai agama. Kita didesain oleh sekelompok orang yang menguasai kita, agar kapitalis mereka tetap lancar.
Mari lewat momentum Kebangkitan Nasional ini kita bulatkan tekad, memerdekakan bangsa ini dalam arti sebenarnya. Untuk ini sebuah revolusi sosial diperlukan. (10)
— Saratri Wilonoyudho, staf pengajar Universitas Negeri Semarang, anggota Dewan Riset Daerah Jawa Tengah
Kebangsaan : Aku Cinta Indonesia
Selasa, 02/11/2010 13:11 WIB
Aku Cinta Indonesia (ACI)
Operasi Anti Teroris dan Dikejar Orang Utan
Nita Rachmawati – detikNews

Jakarta – Menegangkan dan mendebarkan perjalanan yang dirasakan salah seorang peserta Aku Cinta Indonesia (ACI) detikcom Saiful Azhar. Pertama ia harus bongkar muat barang bawaan karena razia anti teroris, dan kemudian dikejar-kejar orang utan.
Ketika berada di perbatasan Sumatera Utara-Aceh bersama rekannya Achmad Alkatiri, Ipul dan pemandu yang mendampinginya bertemu polisi yang sedang melakukan razia anti teroris. Mereka pun harus melakoni pemeriksaan, termasuk membongkar barang-barang bawaannya.
“Masa mau masuk ke wilayah sendiri saja harus diperiksa sih. Katanya untuk mengantisipasi teroris. Mungkin karena aku bawa tas gede kali ya, makanya dikira teroris,” ujar Ipul ketika dihubungi detikcom, Selasa (2/11/2010).
“Semua yang ada di dalam tas saya dikeluarkan, berantakan deh jadinya. Mana isinya banyak. Harus repacking lagi deh. Mendebarkan sekaligus menegangkan sih, karena berurusan dengan polisi,” aku pria asal Jakarta itu.
Meski demikian, ada juga pengalaman yang membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal apabila mengingatnya. Ketika berada di Bukit Lawang, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, tempat konservasi orang utan. Ipul bersama yang lainnya dikejar-kejar orang utan. Saat berusaha lari menyelamatkan diri sambil ketakutan, kepala Ipul terbentur dahan.
“Kebetulan kita bertemu dengan orang utan yang paling galak di sana. Orang utan itu memang galak kalau melihat manusia. Kata pengurus di sana, dia seperti itu karena menyangka bahwa manusia telah membunuh anaknya. Dulu anaknya mati di pelukannya. Dia dipisahin paksa sama anaknya yang sudah mati. Soalnya bangkai anaknya yang sudah bau sama dia dibawa-bawa dan digendong-gendong,” papar Ipul.
“Pengalaman itu gak akan aku lupakan deh,” simpulnya.
Pengalaman para peserta ACI dapat dilihat di Jurnal Petualang ACI.
Program Aku Cinta Indonesia ini didukung penuh oleh XL, Sinarmas, Nexian, Garuda Indonesia, dan Optik Seis.
(lom/lom)
Baca Juga :

Selasa, 02/11/2010 11:12 WIB
Aku Cinta Indonesia (ACI)
Ditampar Negeri Sendiri
Nita Rachmawati – detikNews

Jakarta – Dengan mengikuti program Aku Cinta Indonesia (ACI) detikcom, Achmad Alkatiri bermimpi mendapatkan pengalaman indah dalam hidupnya. Namun penjelajahannya ke Sumatera Utara menyuguhkan ironi yang dinilainya sebagai tamparan bagi orang Indonesia.
“Menurut gue, acara ACI sebenarnya acara yang mewujudkan mimpi banyak orang. Banyak orang-orang Indonesia mempunyai mimpi yang sama, yaitu menjelajahi Indonesia tak terkecuali gue,” ujar Achmad, ketika dihubungi detikcom, Selasa (2/11/2010).
Namun pelajaran berharga didapatkan Mad ketika bertemu dengan Muhammad Bangkaru, orang yang sangat berjasa bagi Indonesia karena membuat konservasi penyu di Pulau Bangkaru, Kepulauan Banyak.
“Serasa di tampar gue pas dengar dari pengurus konservasi, kalau di sini gak ada satu pun sukarelawan dari Indonesia. Mereka berasal dari luar, seperti Belgia misalnya. Gila ya, orang luar saja mau kontribusi buat Indonesia,” tuturnya.
“Ternyata mereka mencintai Indonesia lebih dari kita. Apalagi ada yang ingin tinggal di Indonesia karena ingin lebih dekat sama alam Indonesia,” sambungnya.
Mad berharap, kegiatan seperti ACI lebih gencar lagi diselenggarakan. Pengalaman yang didapatkan, dinilainya akan sangat efektif mengajarkan nilai-nilai positif bagi para petualang juga masyarakat luas yang mengikuti jurnal yang mereka tulis.
“Karena lewat ACI tidak hanya mewujudkan impian semua orang, tapi juga dapat meningkatkan rasa nasionalisme semakin tinggi. Tentunya gue makin cinta, Indonesia negara yang kaya dan kita harus menjaganya,” sambung Mad.
“Orang luar saja mau kontribusi buat Indonesia, kenapa kita gak ada yang mau? Setelah gue melihat yang seperti ini, ada keinginan dalam hati untuk jadi sukarelawan,” simpulnya.
Pengalaman para peserta ACI dapat dilihat di Jurnal Petualang ACI.
Program Aku Cinta Indonesia ini didukung penuh oleh XL, Sinarmas, Nexian, Garuda Indonesia, dan Optik Seis.
(lom/lom)
Baca Juga :
Baca Juga :
- Aku Cinta Indonesia (ACI)
Masjid Tua Wapauwe Terbuat Dari - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Mahar dengan Kepala Manusia - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Laut Lepas di Pintu Kota Ambon - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Minum Kopi Toraja di Pasar Hewan
Baca Juga :
- Aku Cinta Indonesia (ACI)
Antara Indonesia-Timor Leste di Jembatan Air Mata - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Body Rafting di Sungai Embaloh - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Bulan Madu di ‘Pulau Pribadi’ - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Romantisme Pantai Lampu Satu di Merauke
Baca Juga :
- Aku Cinta Indonesia (ACI)
Endro Petualang ACI Berenang Bersama Hiu Paus di Nabire - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Petualang ACI Jadi ‘Raja’ di Desa Boti - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Sumur Tua di Pantai Mansinam - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Anyaman Rotan Khas Dayak Tetap Unik dan Halus
Baca Juga :
- Aku Cinta Indonesia (ACI)
Rumah Pohon Suku Korowai - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Potong Jari atau Telinga Kiri, Simbol Kesedihan Orang Wamena - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Layang-layang Daun dari Muna - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Raja Ampat, Impian yang Menjadi Kenyataan
Baca Juga :
- Aku Cinta Indonesia (ACI)
Sarang Semut di Hutan Wisata Baning - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Perahu Batu di Desa Sangliat Dol - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Pantai Batu Lamampu, Keindahan di Perbatasan - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Orangutan di Gunung Palung, Dilindungi Tetapi Liar

Baca Juga :
- Aku Cinta Indonesia (ACI)
Mengincar Sisa-sisa Peninggalan Belanda di Maluku - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Penyu di Pantai Indah Gili Trawangan - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Membilang 1.000 Tiang Masjid - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Memacu Adrenalin di Sungai Ayung
Baca Juga :
- Aku Cinta Indonesia (ACI)
Mencoba Keberuntungan di Pagoda Cinta Kasih Sayang - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Sunset di Balik Awan Beruang Madu Sungai Wain - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Menangkap Air di Desa Anggaduber - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Mengejar Pesona Sunset di Bukit Malimbu
Baca Juga :
- Aku Cinta Indonesia (ACI)
Sayur Kecemcem dan Urap Paku dari Tenganan - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Tertinggal Pesawat, Bertemu Teman Lama - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Tato Mentawai, Tato Tertua di Dunia - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Bakonsu, Saksi Bisu Ritual Potong Kepala
Baca Juga :
- Aku Cinta Indonesia (ACI)
Orang Utan di Tanjung Puting - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Lulur Belerang dari Pancuran Pitu - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Dilarang Pakai Sabun, Atre Pilih Tak Mandi - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Senja di Kebun Rumput Laut Timbis
Baca Juga :
- Aku Cinta Indonesia (ACI)
Datang Disambut Durian, Pulang Pun Bawa Durian - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Suku Sasak Bayan Bertahan di Tengah Kemajuan Zaman - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Oleh-oleh dari Pasar Bambu Kuning - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Hari Terakhir di 7 Pulau dan 6 Jembatan

Baca Juga :
- Aku Cinta Indonesia (ACI)
Cantiknya Pura Ulu Danu di Danau Bratan - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Bikin Opak di Rumah Penduduk - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Naik Gunung Lalu Snorkeling di Anak Krakatau - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Dee dan Anshar Dikelilingi Kelelawar di Gua Akbar
Baca Juga :
- Aku Cinta Indonesia (ACI)
Berselancar di Pulau Ular - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Tahu Gejrot di Museum Linggarjati - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Rayuan Pulau Semak dari Ujung Jakarta - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Surga di Pulau Menjangan
Baca Juga :
- Aku Cinta Indonesia (ACI)
Pesona Laut Lepas dari Jembatan Suramadu - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Bertukar Souvenir Khas Daerah - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Tari Topeng Indramayu Sambut Peserta ACI - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Mencari yang Belum Terkenal
Baca Juga :
- Aku Cinta Indonesia (ACI)
Mistis di Balik Sejarah Soekarno-Hatta - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Petualang Jawa Bali Segera Meluncur - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Wisata Kabupaten Siak - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Gulai Itiak Lado Mudo & Nasi Kapau
Baca Juga :
- Aku Cinta Indonesia (ACI)
Napak Tilas Laskar Pelangi - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Tak Pernah Tidur di Perjalanan - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Diarak Naik Ojek Kaisar dan Teh ‘Obeng’ di Pulau Lingga - Aku Cinta Indonesia (ACI)
Anti dan Nonadita Jadi Penambang di Sawahlunto

Baca Juga :
Sekitar seribu orang berkumpul di depan kantor Persatuan Suku Asli Kalimantan (Pusaka) di Kota Tarakan, Kalimantan Timur. Banyak yang membawa senjata tajam berupa samurai, tombak, dan parang. Ketegangan ini dilatari persoalan antarindividu tapi kemudian dikompori jadi antaretnis.
JAKARTA, KOMPAS.com - Romo Franz Magnis-Suseno SJ, rohaniwan dan cendikiawan sosial, mengatakan jika rasa kebangsaan itu mati, bangsa dan negara Indonesia akan hancur.
“Soalnya, yang mempersatukan ratusan etnik, suku dan komunitas, penganut beberapa agama, yang hidup di atas ribuan pulau kita, hanyalah kebangsaan Indonesia. Tak ada yang lain,” katanya ketika menjadi pembicara pada Seminar Nasional yang diselenggarakan Partai Golkar (PG), di Jakarta, Sabtu (16/10/2010) malam.
Seminar bertajuk “Penataan Sistem Politik untuk Memperkokoh Nasionalisme dan Demokrasi Indonesia” ini digelar guna menyemarakkan HUT ke-46 partai berlambang pohon beringin tersebut, yang berlangsung di Aula DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat. Di hadapan lebih 200 peserta dari berbagai latar, baik itu kalangan muda maupun politisi senior, Romo Franz Magnis-Suseno mengawali pemaparannya berjudul “Indonesia dan Nasionalismenya” dengan mengulas Pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945.
“Di sana Bung Karno menempatkan ’nasionalisme’ di nomor satu dari deretan lima nilai Pancasila. Soekarno tahu mengapa,” ujarnya. Yakni, lanjutnya, hanya karena kesadaran “kita ini satu bangsa, yakni bangsa Indoensia”, sehingga masyarakat sedemikian aneka ragam yang hidup di Kepulauan Nusantara, antara Asia dan Australia atau Oseania, bisa menjadi satu Indonesia.
“Tegasnya, bagi Bung Karno, Nasionalisme adalah cinta sepenuh hati kepada Indonesia, dan rasa bangga bahwa ’kita orang Indonesia”. Inilah suatu rasa persatuan di antara orang-orang yang sedemikian berbeda, yang terbangun dalam sebuah sejarah penderitaan karena penjajahan dan perjuangan pembebasan bersama selama ratusan tahun,” ujarnya.
Sekarang, menurutnya, setelah 65 tahun kemudian, banyak orang bertanya: Apakah kebangsaan Indonesia masih berarti sesuatu bagi bangsa kita? “Lebih dari itu, muncul juga pertanyaan, apakah kenyataan bahwa kita ini Orang Indonesia masih dapat menggerakkan sesuatu dalam hati kita? Padahal, bagi Soekarno, kebangsaan merupakan sila paling inti, paling berharga dalam Pancasila,” katanya.
Dan bagi Romo Franz Magnis-Suseno, “hanya karena kebangsaan inilah, sehingga bangsa Indonesia ada”.
Selain Romo Franz Magnis-Suseno, juga tampil antara lain cendikiawan muslim Azyumardi Azra (dengan makalahnya “Nasionalisme, Etnisitas, dan Agama di Indonesia: Dinamika Hubungan Antar Masyarakat dan Negara”), Letjen TNI Pur Agus Widjojo (dengan makalah “Masalah Pertahanan dalam Era Nasionalisme Modern”), Ketua Program Pascasarjana Ilmu Politik FISIP UI, Dr Valina Singka Subekti, MSi (“Aspek-aspek Perbaikan Sistem Politik Indonesia”) dan Dr Pratikno dari UGM (“Memperdalam Demokrsi, Mengefektifkan Pemerintahan”).
“Kegiatan ini merupakan salah satu agenda utama HUT, selain Rapimnas Pertama,” kata Wakil Ketua Umum DPP PG, Theo L Sambuaga, usai mendampingi Ketua Umum DPP PG, Aburizal Bakrie membuka resmi rangkaian perayaan hari jadi partai Golkar.
KENEGARAWANAN

Kenegarawanan dapat diartikan sebagai berjiwa darma bakti demi kepentingan Negara yang dapat dikenali berdasarkan kinerja kasat lahir dan bathin terkait unsur2 kepemimpinan, kerakyatan dan kebangsaan yang melekat pada diri yang bersangkutan.
Tolok ukur kepemimpinan salah satunya dapat diturunkan dari sifat2 kepemimpinan dari Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama yang dikodefikasi oleh Mpu Tantular yakni : (1) YA WIJINA (bijaksana penuh hikmah dalam menghadapi berbagai macam kesukaran, sehingga akhirnya selalu berhasil menciptakan ketenteraman); (2) YA MATRIWIRA (pembela Negara yang berani tiada taranya, bela diri – bela bangsa – bela negara); (3) WICAKSARENG KARSA (bijaksana dalam segala tindakan, kebijaksanaannya senantiasa terpancar dalam setiap perhitungan dan tindakan, baik ketika menghadapi lawan maupun kawan, bangsawan ataupun rakyat jelata atau wong cilik); (4) NATANGWAN (memperoleh kepercayaan karena rasa tanggung jawabnya yang besar sekali dan selalu menjunjung tinggi kepercayaan yang dilimpahkan); (5) SATYA BHAKTY APRABHU (bersifat setia dengan hati yang tulus-ikhlas kepada Negara, setia dan bakti telah mendarah daging dalam hidupnya, sehingga segenap pikiran dan tenaganya dilimpahkan buat mewujudkan kebesaran Negara); (6) WAGNI WAK (pandai berpidato dan berdiplomasi mempertahankan atau meyakinkan sesuatu); (7) SARJAWOPASAMA (murah hati, berbudi pekerti baik, berhati emas, bermuka manis dan penyabar, sifat ini pada umumnya hanya ditemukan pada ahli2 politik serta diplomat ulung); (8) TAN HALANA (selalu tampak gembira walaupun didalam dirinya sedang gundah ataupun terluka); (9) DHIROTSAKA (terus menerus bekerja rajin dan sungguh2); (10) DWIYACITTA (mau mendengarkan pendapat orang lain dan mau bermusyawarah); (11) TAN SATRISNA (tidak mempunyai pamrih pribadi untuk menikmati kesenangan yang bersifat gairah dan birahi); (12) SIH SAMSTABHUANA (menyayangi seluruh dunia serta alam semesta); (13) GINONG PRADITIRA (selalu mengerjakan yang baik dan membuang yang buruk serta selalu mawas diri); (14) SUMANTRI (menjadi pegawai yang jujur, baik dan sempurna, serta berkelakuan santun); (15) ANARSAKEN MUSUH (bertindak memusnahkan lawan, tetapi senantiasa menjalankan politik kasih sayang, namun tak gentar menghadapi musuh yang mengganggu kedaulatan dan integritas Negara).
Adapun tolok ukur kerakyatan dapat dijabarkan dari sila ke-4 Pancasila yakni Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dalam konteks ini, peristiwa anggota TNI menyampaikan pendapat di ruang publik seharusnya syah2 saja sebagai urun rembug anak buah kepada bapak buah dalam rangka keberhasilan menggapai sasaran taktis strategis non-kombatan, bukan sebagai kritik kepada komandan kombatan, mempertimbangkan bahwa sejarah TNI adalah anak kandung rakyat bercikal bakal Badan Keamanan Rakyat 23 Agustus 1945.
Sedangkan tolok ukur kebangsaan dapat dirujuk pada sila ke-3 Pancasila yaitu Persatuan Indonesia. Dalam konteks ini, peristiwa insiden berdarah 12 September 2010 di Bekasi, misalnya, perlu didalami lanjut akar permasalahan sosiologisnya, karena pemicunya belum tentu akibat ketidakrukunan antar umat beragama tapi boleh jadi akibat disharmoni kehidupan bemasyarakat antar unsur2 pembentuk setempat (faktor2 lokalitas).
Bagaimanapun, kepemimpinan, kerakyatan dan kebangsaan adalah dasar2 kenegarawanan bagi setiap warga yang berkehendak ataupun diamanatkan menjadi pimpinan/pejabat Negara termasuk yang bergeser dengan berdalih sebagai pekerja politik di parlemen.
Jakarta, 13 September 2010
Pandji R Hadinoto / Dewan Pakar PKPI / www.jakarta45.wordpress.com
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA–Kolonel Penerbang Adjie Suradji menyerahkan sepenuhnya kebijakan kontroversi tulisannya di sebuah harian nasional kepada TNI Angkatan Udara, termasuk sanksi pemecatan.Dihubungi di Jakarta, Selasa, ia mengatakan, “Saya serahkan kepada institusi Angkatan Udara. Mau dipensiunkan pun saya enggak masalah.”
Adjie dalam perbincangan sangat singkat, juga mengakui, dirinya tengah tersangkut masalah hukum dengan institusi tempatnya bernaung selama ini. Ia mengaku sudah mendapat teguran dari TNI Angkatan Udara. Namun, ia tidak mengurai lebih jauh soal teguran yang diterimanya.
Sebelumnya, tulisan Adjie di sebuah harian nasional bertajuk “Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan”, pada 6 September 2010 membuat institusi TNI berang.Tindakan perwira menengah itu dinilai melanggar kode etik karena melakukan kritik terbuka terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang notabene adalah Panglima Tertinggi TNI.
Mabes TNI Angkatan Udara menegaskan, ide, pemikiran Kolonel Pnb Adjie Suradji tentang kritikan terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bukan opini institusi melainkan pribadi yang bersangkutan.
Juru Bicara TNI Angkatan Udara, Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro, menyatakan bahwa TNI Angkatan Udara memegang teguh UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI.”Khususnya Pasal 2 yang memuat tentang jati diri, dimana salah satu klausulnya menyatakan bahwa TNI dilarang berpolitik praktis,” katanya.
Jakarta (ANTARA) – Anggota Komisi I DPR RI Fayakhun Andriadi menilai Malaysia kini semakin mendikte Indonesia dalam penyelesaian koordinat perbatasan kedua negara dengan cara melakukan diplomasi yang memerlukan waktu yang lama.
“Penyelesaian titik koordinat batas wilayah RI-Malaysia melalui jalur diplomasi akan memakan waktu lama dan membutuhkan kemampuan diplomasi yang kuat,” kata salah satu anggota Fraksi Partai Golkar (FPG) ini kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Sayangnya, menurut Fayakhun Andriadi, kekuatan diplomasi Indonesia tidak tergambar atau tercermin dengan baik saat pertemuan di Kota Kinabalu, Malaysia, 6 September lalu.
“Padahal, yang dinantikan oleh jutaan warga Indonesia yang sudah geram dengan `insiden Tanjung Berakit` (penangkapan tiga petugas KKP di perairan dekat Pulau Bintan, Provinsi Kepri), adalah, kejelasan soal pengakuan Malaysia atas wilayah arsipelago Indonesia berdasarkan Hukum Internasional atau UNCLOS,” katanya.
Mengacu kepada UNCLOS yang merupakan salah satu produk PBB, Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia secara langsung mendapat pengakuan atas 12 mil laut dari batas landas kontinennya, serta 200 mil laut zona ekonomi ekslusif (ZEE).
Anehnya, Malaysia yang sebagian besar daratannya tersambung dengan benua Asia, mau menyatakan diri pula sebagai negara kepulauan secara sepihak, sehingga mengklaim batas-batas wilayah buatan sendiri.
Tidak Jelas
Fayakhun Andriadi mengatakan, hasil yang dilakukan oleh Menteri Luar Negeri RI Martiy Natalegawa hanyalah lahirnya kesepakatan kedua pihak untuk sepakat menghindari peristiwa seperti insiden 13 Agustus 2010 tersebut.
Juga, lanjutnya, Marty Natalegawa dengan bangga mengungkapkan akan ada tiga pertemuan lagi selang empat bulan ke depan, tanpa target yang jelas soal penuntasan titik koordinat tapal batas kedua negara.
“Pertemuan bernama `joint commission for bilateral cooperation` (JCBC) RI-Malaysia di Kinabalu itu tidak mampu membuat tetangga yang melecehkan tiga petugas Kemeneritan Kelautan Perikanan (KKP) kita minta maaf.
Fayakhun Andriadi berpendapat, diplomasi kita semakin lemah di mata Malaysia.









Recent Comments