Posts Tagged ‘Nationalism

13
Oct
12

Kebudayaan : Ketoprak Kebangsaan, Solo

Kupas Masalah Bangsa dalam Alur Ketoprak

Jumat, 12 Oktober 2012 17:12 WIB | Ika Yuniati/JIBI/SOLOPOS |
Penampilan siswa SMK Negeri 8 dalam pentas ketoprak dengan lakon Sahid Sunan Kalijaga di Auditorium sekolah, Kamis (11/10/2012) malam.(JIBI/SOLOPOS/Sunaryo Haryo Bayu)

Pentas Ketoprak Sabda Budaya berjudul Sahid Sunan Kalijaga, Kamis (11/10/2012), di Auditorium SMKN 8 Solo dibuka dengan adegan percakapan sejumlah rakyat di Dusun Sawalan. Kisah yang mengangkat tentang keteguhan Sunan Kalijaga atau Raden Sahid menjaga amanah itu lalu dilanjutkan hingga berakhir pada adegan ke tiga belas saat Sunan Kalijaga bertemu dengan para santri-santrinya.
Menyadur kisah tentang sejarah Sunan Kalijaga yang juga membawa misi keagamaan, pentas ketoprak yang diperankan sebanyak 25 murid kelas X, XI dan XII SMK N 8 Solo ini juga sarat unsur religi. Seperti adegan ketika Sahid tengah membaca Al-Quran dan saat  ia berdakwah kepada masyarakat di sejumlah wilayah yang ia singgahi.
Tak hanya sarat pesan religi, pentas ketoprak malam itu juga berisi sejumlah sindiran terhadap petinggi bangsa yang mereka nilai mulai menyelewengkan amanah. Petinggi-petinggi bangsa mulai kekurangan sosok yang benar-benar mau menggagas kondisi negaranya. “Hla karena itu saya gambarkan lewat si Sahit. Seorang pemuda yang berniat menghancurkan semua pejabat yang tak sehat di wilayahnya,” ucap sang sutradara, Sarmadi Sabdho Utomo saat berbincang dengan Solopos.com, seusai pentas, Kamis malam.
Ketoprak yang seluruhnya memberikan gambaran tentang perjalanan Sahit menjadi Wali Songo itu digelar selama hampir dua jam. Diiringi alunan gamelan yang juga ditabuh murid SMA setempat, pentas malam itu ditonton ratusan  pasang mata yang hadir. Termasuk orangtua murid dan warga sekitar sekolahan.
Samardhi yang juga sebagau guru pedhalangan ini menguraikan sebelum pentas di auditorium sekolahnya, para siswa yang tergabung dalam Kethoprak Sabda Budaya ini juga pernah tampil dengan judul yang sama di Joglo Sriwedari. “Pentas di sekolahnya sendiri, agar siswa bisa lebih semangat dan sebagai apresiasi untuk mereka,” ucapnya.
04
Aug
12

Peradaban : Nuswantara is Everything

http://jakarta45.files.wordpress.com/2011/12/jakarta-452.png?w=637&h=609&h=609

Timmy ‘Turangga Seta’ Hartadi : Not Just Something, Nuswantara is Everything

 
Teks & Wawancara : Cin Hapsari Tomoidjojo
Foto : Istimewa
 
Timm, gimana kabar soal piramida, Atlantis dan penelusuran Nusantara? Sudah sejauh apa perkembangannya?
Perkembangannya sudah lebih jauh dan sangat luas. Hanya saja, maaf, belum bisa dibuka secara detail ke umum dulu. Sekali lagi maaf. Sebagai gambaran kasar yang bisa dijelaskan adalah,
Piramida menurut bacaan TS (Turangga Seta-red) adalah sebuah Gedhong Pusaka dan Sanggar Pamujan, dan bangunan tersebut ada dalam sebuah kompleks kraton yang maha luas, jadi tidak terbatas hanya bangunan dengan bentuk Piramida saja, ada menara-menara-nya, Puri Agung-nya, Istana Balekambang-nya, pangkalan untuk armada perangnya, dll.
Dari pointing awal dengan ratusan koordinat letak Piramida di Nuswantara yang kita data, pada akhir tahun 2010 kita buka dua koordinat saja, sudah bergulir ke tarik-menarik berbagai pihak yang kadang jauh dari ekspektasi TS yang hanya semata untuk kembalinya pride bangsa kita. Ada penolakan luar biasa, ada tekanan sangat tinggi dan banyak hal lain yang berusaha mencegah pembuktian ini terkuak atau malah mungkin berbalik untuk mengklaimnya. Hal-hal tersebut tidak membuat TS surut, kita tetap akan membuka sejarah peradaban bangsa kita yang selama ini masih tersamarkan.
Pada saat kita meng-ekspose Piramida Lalakon yang berada di Soreang Kabupaten Bandung, banyak pihak yang menghubungkannya dengan peradaban Atlantis. Padahal tinggalan Piramida Lalakon itu terjadi pada masa Kerajaan induk Magadha yang usianya jauh lebih tua dari Atlantis dan sifatnya lebih besar dari Atlantis yang berstatus Kadipaten.
Atlantis sendiri sangat superior pada masanya dan saat ini kita lagi mempelajari beberapa konversi teknologi yang masih dapat dibaca sandi alamnya :-)


Sebenarnya apa tujuan Timm dan kawan-kawan Turangga Seta (TS) ketika mengeluarkan data-data yang ada? Kalau sekedar memapar kegilang-gemilangan Nusantara, rasanya sih hampir semua buku sejarah dan peninggalan yang ada udah cukup menjawab. Ada yang krusial?
Semua buku sejarah resmi yang ada tidak cukup menggambarkan kegilang-gemilangan Nuswantara, banyak hal yang tidak diungkap, banyak lagi yang sengaja dihilangkan dan sebagian besar malah sudah digeser ke mitos. Itu semua harus dikembalikan tatanannya ke yang sebenarnya terjadi. Selama 500 tahun terakhir ini telah terjadi konspirasi luar biasa secara sistemik untuk menggeser sejarah peradaban Nuswantara. Kita lebih suka memakai istilah peradaban ‘Purbaraya’ Nuswantara (bukan purbakala seperti sebutan para ahli sejarah resmi yang terkesan berbau primitif). Suka tidak disukai, siap tidak siap, secara garis alam semuanya akan kembali ke jalur yang semestinya. Nah, kita hanya mencoba menginisiasi akan seperti apakah bakalnya Nuswantara itu di masa-masa yang akan datang, andaikata itu semua bukan untuk kita, maka generasi muda di bawah kita yang berhak menjalaninya harus paham seperti apakah hebat dan megahnya para leluhur bangsa kita dahulu.
Tapi, kenapa ‘baru’ sekarang?
Setiap ruang pasti ada isinya, setiap masa pasti ada peristiwanya, ini bisa digambarkan semacam ‘timer’ yang sudah dimulai masa ‘countdown’-nya. Ada masing-masing peran dalam masing-masing peradaban yang saling berbeda tetapi saling mendukung dan meneruskan. Kita hanya menerima ‘estafet’ dari beberapa peletak jangka sebelumnya, dan bukankah mendingan ‘sekarang’ daripada tidak sama sekali.
Timm, aslinya sejak kapan sih tertarik dengan Nusantara, khususnya Jawa dan seluruh wacana yang mengitarinya? Ini menarik, sebab bagaimanapun kita gak bisa menafikkan kenyataan kalau Timmy berangkat dari kultur Cina dan, katakanlah, sebenarnya juga mewakili generasi yang hilang…
Sudah sejak kecil, sih …masih teringat pada saat SMP dan mendapat pelajaran sejarah bangsa kita, yang katanya hebat seperti Majapahit hanya dituliskan dalam beberapa lembar buku. Banyak lagi fase kerajaan lain bahkan hanya tertuliskan dalam sebuah alinea saja …di mana letak kebesarannya kalau sejarah resmi hanya menukilkan sedikit kisahnya. Dari situlah saya merasa ada banyak kejanggalan-kejanggalan. Dari titik itu saya kemudian mencoba mencari serpihan-serpihan yang mungkin terlewatkan atau sengaja dilewatkan …mencoba mencari benang merah dari semua kejanggalan tersebut, yang ketemu ternyata malah banyak fakta kebesaran Nuswantara ini yang dikerdilkan …pencarian panjang itu akhirnya terkerucut bersama sedulur-sedulur TS yang mungkin mempunyai akar kegelisahan yang sama, dan dari situlah kemudian kita berhasil menyusun silsilah sejarah panjang peradaban Nuswantara ini.
Soal kultur mungkin itu tidak terlalu penting buat saya, saya lahir di Indonesia …dan di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung …toh, dalam penciptaan semesta sebetulnya kita semua mempunyai ujung awal yang hanya satu.
Kita sudah dengar polemik yang ditimbulkan dari wacana ataupun berbagai bentuk pengetahuan yang ditawarkan Timmy dan kawan-kawan TS. Bisa cerita, titik perbedaan antara wacana umum yang berkembang saat ini dengan apa yang disampaikan Timmy dan kawan-kawan TS?
Mungkin perbedaannya adalah metode kita mendapatkan informasinya. Kita selaras dengan tanah di mana sejarah ini dibuat, kita belajar sejarah dari tanah ini sendiri dan dari leluhur bangsa ini sendiri, dan semua itu tidak akan didapatkan dari literasi resmi yang kebanyakan babonnya disusun oleh para peneliti asing, para peneliti yang tidak mempunyai ikatan emosional dengan peradaban lokal sini. Petunjuk yang kita dapatkan kita buktikan secara langsung di lapangan, dan dari situlah kita dapat menelusuri banyaknya kemegahan Nuswantara yang masih utuh karena selama ini hanya disamarkan (secara fisik).
Aktifitas yang kita lakukan dibilang oleh banyak banyak pihak adalah tidak ilmiah dan tidak akademis :-) …maaf, kita berusaha mengungkap sejarah peradaban Nuswantara ini tidak untuk berburu gelar atau status, tidak bolehkah atau adakah larangan bagi seorang anak cucu mengungkapkan kehebatan dan tinggalan dari kakek moyangnya sendiri ?
Kelompok terbesar manakah yang paling menolak kehadiran wacana baru ini?
Tanpa menyebut nama, pada dasarnya ada dua macam penolakan. Yang pertama adalah yang pro status-quo, yang tidak rela atau tidak siap menghadapi bahwa ternyata sejarah peradaban Nuswantara ini adalah salah semua, yang tidak rela sejarah sekarang berganti dengan kenyataan bahwa ternyata Nuswantara itu 1000 x lipat lebih hebat dari apa yang selama ini tertuliskan. Yang kedua adalah kelompok yang mungkin mempunyai visi yang sama, tetapi misinya berbeda, yang pasti buat mereka asal jangan TS yang mengungkapnya karena tidak akademis dan ilmiah …haha…
Pengetahuan seringkali berkait dengan kekuasaan. Mereka yang berkuasa pada gilirannya menentukan jalannya sejarah yang dibangun melalui corak wacana yang mendukung metode kepemimpinan mereka. Gimana Timmy dan kawan-kawan TS melihat ini?
Setiap satu masa pemerintahan pasti akan ada yang disingkirkan dan menjadi musuh dari pemerintahan itu, sementara dalam masa yang sama juga akan menghasilkan generasi yang kritis, cenderung ke rebel, dan mereka membutuhkan ikon untuk menunjukkan bentuk anti kemapanan mereka. Tiba saat generasi yang kritis itu menjadi penguasa pemerintahan berikutnya, maka akan ada re-ikon baru dan cenderung menghakimi masa pemerintahan sebelumnya, begitulah seterusnya …jadi semacam lingkaran setan yang penuh dengan dendam lama dan puja puji baru.
Pada saat hampir semua sistem monarki berganti, maka diinstallah sistem yang baru, yang lebih liberal, sangat demokrasi dan mengedepankan hak asasi manusia. Atas nama demokrasi, maka sebuah regulasi harus dimusyawarahkan, akibatnya semua data rahasia negara dapat dengan mudah dicari di internet :-) . Bahkan, sekarang seorang penjahat besarpun akan menuntut hak asasi manusianya, tanpa disadari semua standar pengaturan negara menjadi kendor, downgrade ! …ternyata bangsa ini masih membutuhkan absolutisme, tentunya dari seorang pemimpin yang berkarakter,  paham tentang nation building dan direstui oleh alam semesta. Kita masih menantikan itu …
Lalu metode pendidikan macam apakah yang diusung Timmy dan kawan-kawan TS untuk mensosialisasikan ide, pengetahuan dan gagasan yang ada? Sejauh apa persiapannya kini?
Memberikan pemahaman, pembuktian di lapangan dan bergerak untuk mengungkapkannya.
Ada beberapa paparan hasil penelitian dan tulisan yang sudah beredar di jaringan sosmed dan youtube, terbentuk juga kelompok-kelompok simpatisan di seluruh pelosok Nuswantara, dari skala pemahaman komunitas kecil mulai melebar ke komunitas antar wilayah, dan semua menemukan banyak hal menarik di zona-nya masing-masing. Putaran ini tidak bisa dihentikan karena berakar pada kecintaan terhadap Nuswantara ini.
Kita tidak mempersiapkan apa-apa, karena semua proses mengalir sesuai dengan nafas alam ini sendiri. Hambatan dan godaan memang sangat banyak seiring dengan meningkatnya proses kita, tetapi mengawal garis alam itu memang tidak ada kalahnya, kok :-)
Ada chloe yang paling mudah untuk memahami apa yang Timmy dan kawan-kawan tawarkan?
Untuk mengetahui sejarah peradaban Purbaraya Nuswantara; belajarlah dari tanah sendiri, belajarlah dari Leluhur Nuswantara sendiri, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Syaratnya apa aja? Harus tirakat, dll?
Kita bukan aliran ataupun padepokan, hanya komunitas besar pecinta sejarah Nuswantara. Syarat utamanya adalah harus dimulai dengan kerangka berpikir bahwa ‘Peradaban Nuswantara ini begitu luas, megah dan luhur”. Cukup dari situ dulu maka semua sastra alam akan dapat terbaca dan tuntunan akan berjalan dengan sendirinya.
Not just something, NUSWANTARA is everything !!! …terjemahan bebasnya dalam bahasa Jawa sehari-hari adalah : Nuswantara kuwi ora ono opo-opo, mergo opo-opo ono !!!
Kedepan, apa lagi yang akan Timm dan kawan-kawan TS buka?
Banyak hal, termasuk mengaplikasikan teknologi purbaraya leluhur kita, tapi maaf untuk saat ini belum dapat disebutkan dulu.
Timmy Hartadi, mengusung favorite quotations “Suradira Jayaningrat, Swuh Kabrasta den Pangastuti, Jaya Jaya Wijayanti …Wijaya Nuswantara!” Lulus dari Institut Seni Indonesia, Yogyakarta dan bergelut di begitu banyak komunitas, diantaranya Indonesia Support; Yayasan Turangga Seta; Laku Becik | Doing Good; cre8, creative support system; Gedebook | Get The Book; Digital Culture; World Music Forum; seekandsave.
04
Aug
12

Kenegarawanan : Indonesia Raya Anti Korupsi & Pahlawan Nasional

Sabtu, 04/08/2012 13:48 WIB

MPR: Semangat Antikorupsi, Lagu Indonesia Raya Harus Dinyanyikan Utuh

Elvan Dany Sutrisno – detikNews
Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda

Jakarta Wakil Ketua MPR Hadjriyanto Y Tohari mendukung agar lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan utuh. Ini sebagai strategi antikorupsi.

Lirik yang mengandung makna kebangsaan selama ini sebagian tidak dinyanyikan.

Menurut Hadjri, diperlukan strategi kebudayaan untuk memperbaiki bangsa ini sehingga menjadi bangsa yang tidak koruptif seperti sekarang ini. Salah satu strategi kebudayaan tersebut adalah melalui pendidikan karakter. Pendidikan karakter itu tujuannya adalah menanamkan etika yang tangguh dan membangun rasa cinta bangsa (kesadaran patriotisme).

“Kesadaran seperti itu bisa dibangkitkan melalui berbagai cara. Salah satunya adalah melalui menyanyikan lagu kebangsaan secara berulang-ulang. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya memiliki peran yang sangat besar. Sayang sekali lagu yang sangat bagus dan komprehensif itu hanya biasa dinyanyikan stansa pertama saja,” kata Hadjri kepada detikcom, Sabtu (4/8/2012).

Menurut Hadjri, stansa pertama memang cukup bagus karena mendorong nasionalisme. Namun stansa kedua syairnya sangat menggugah kesadaran jiwa, hati, dan budi.

“Kemuliaan jiwa, hati, dan budi pekerti ini kan mutlak pentingnya. Bahkan budi pekerti itu merupakan qondistio sine qua none bagi bagi bangsa ini untuk maju!,” kata Hadjri.

Berikut bunyi stansa kedua lagu Indonesia Raya:

suburlah tanahnya
suburlah jiwanya
bangsanya rakyatnya
semuanya
sadarlah hatinya
sadarlah budinya
untuk Indonesia Raya.

“Bangsa ini sekarang memiliki cacat jiwa dan budi pekerti: menyukai perilaku koruptif! Apalagi pejabat-pejabatnya: sangat koruptif. Korupsi bahkan sudah menjadi hobi-nya. Berarti bangsa ini telah kehilangan jiwa, hati, dan budi. Walhasil, bangsa tanpa hati dan budi. Apalagi pejabat-pejabatnya! Saya ikut mengusulkan agar Lagu Indonesia Raya ini dinyanyikan secara lengkap dengan seluruh stansanya. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ini nisacaya akan mampu menggugah hati dan budi bangsa ini!,” tegas Hadjri.

(van/aan)

Baca Juga

 

Sabtu, 04/08/2012 02:29 WIB

Ki Bagus Hadikusumo Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Rachmadin Ismail – detikNews
Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda

dok. Muhammadiyah

Jakarta Kalangan pemuda Muhammadiyah mendesak agar pemerintah menepatkan Ki Bagus Hadikusumo sebagai pahlawan nasional. Jasa-jasanya saat perjuangan kemerdekaan Indonesia sudah tak perlu diragukan lagi.

Salah satu elemen yang mendesak adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Mereka berharap, Ki Bagus Hadikusumo bisa berdiri sejajar dengan para tokoh BPUPKI lainnya yang sudah lebih dulul mendapat gelar pahlawan.

“Yang salah satunya ulama besar Muhammadiyah yang hampir terlupakan yaitu Ki Bagus hadikusumuo yang menjadi salah seorang anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI),” kata Sekjen DPP IMM, Fahman Habibi dalam rilis, Jumat (3/8/2012).

“Beliau juga yang ikut merumuskan dasar negara bersama Ki Hajar dewantara dan Muhammad Hatta, Ir Soekarno Muhammad Yamin, Mr AA Maramis R Otto Iskandar dinata, Mas Soetarjo Kartohadikoesoemo dan KH Wahid Hasyim,” sambungnya.

Diskusi soal pentingnya gelar itu bagi Ki Bagus Hadikusumo juga sudah digelar. Sejumlah tokoh pun setuju bahwa Ki Bagus Hadikusumo seharusnya mendapat gelar pahlawan.

“Sehubungan dengan akan datangnya momen besar yaitu peringatan proklamasi kemerdekaan RI pada tanggal 17 agustus Nanti yang juga bertepatan dengan momen bulan suci Ramadhan maka kami atas Nama DEWAN PIMPINAN PUSAT IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH meminta kepada pemerintah Republik Indonesia untuk segera memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada KI Bagus Hadikusumo,” tegas Fahman.

“Karena beliau bukan hanya tokoh pemersatu umat Islam namun juga sebagai pemersatu bangsa,” lanjutnya.

Ki Bagus Hadikusumo (lahir di Jogjakarta, 24 November 1890 – meninggal di Jakarta, 4 November 1954 pada umur 63 tahun) adalah seorang tokoh BPUPKI. Ia dilahirkan di kampung Kauman dengan nama R. Hidayat pada 11 Rabi’ul Akhir 1308 H (24 November 1890).

Selanjutnya Ki Bagus pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadijah (1926), dan Ketua PP Muhammadiyah (1942-1953). Ia sempat pula aktif mendirikan perkumpulan sandiwara dengan nama Setambul. Selain itu, bersama kawan-kawannya ia mendirikan klub bernama Kauman Voetbal Club (KVC), yang kelak dikenal dengan nama Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW).

Semasa menjadi pemimpin Muhammadiyah, ia termasuk dalam anggota BPUPKI dan PPKI. Ki Bagus Hadikusumo sangat besar peranannya dalam perumusan Muqadimah UUD 1945 dengan memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan. Pokok-pokok pikirannya dengan memberikan landasan-landasan itu dalam Muqaddimah UUD 1945 itu disetujui oleh semua anggota PPKI.

(mad/mad)

05
May
12

Lagu Kebangsaan : Lirik Asli (1928) Indonesia Raya

 

Lirik asli (1928) INDONESIA RAJA

Indonesia, tanah airkoe,
Tanah toempah darahkoe,
Disanalah akoe berdiri,
Mendjaga Pandoe Iboekoe.
Indonesia kebangsaankoe,
Kebangsaan tanah airkoe,
Marilah kita berseroe:
“Indonesia Bersatoe”.
Hidoeplah tanahkoe,
Hidoeplah neg’rikoe,
Bangsakoe, djiwakoe, semoea,
Bangoenlah rajatnja,
Bangoenlah badannja,
Oentoek Indonesia Raja.
Indonesia, tanah jang moelia,
Tanah kita jang kaja,
Disanalah akoe hidoep,
Oentoek s’lama-lamanja.
Indonesia, tanah poesaka,
Poesaka kita semoea,
Marilah kita mendoa:
“Indonesia Bahagia”.
Soeboerlah tanahnja,
Soeboerlah djiwanja,
Bangsanja, rajatnja, semoeanja,
Sedarlah hatinja,
Sedarlah boedinja,
Oentoek Indonesia Raja.
Indonesia, tanah jang soetji,
Bagi kita disini,
Disanalah kita berdiri,
Mendjaga Iboe sedjati.
Indonesia, tanah berseri,
Tanah jang terkoetjintai,
Marilah kita berdjandji:
“Indonesia Bersatoe”
S’lamatlah rajatnja,
S’lamatlah poet’ranja,
Poelaoenja, laoetnja, semoea,
Madjoelah neg’rinja,
Madjoelah Pandoenja,
Oentoek Indonesia Raja.
Refrain 

Indones’, Indones’,
Moelia, Moelia,
Tanahkoe, neg’rikoe jang koetjinta.
Indones’, Indones’,
Moelia, Moelia,
Hidoeplah Indonesia Raja

dengerkan di : http://www.youtube.com/watch?v=7Bxdb7pfxM0

10
Mar
12

Kebangsaan : Bapak Bangsa dan Ibu Pertiwi

Avatar Joss Wibisono
Hilversum, Belanda
Bapak Bangsa dan Ibu Pertiwi
Hilversum, Belanda

BpkBangsa&IbuPertiwi

Diterbitkan : 8 Maret 2012 – 2:52pm | Oleh Joss Wibisono (Foto: Tropenmuseum)

Apa syaratnya supaya seseorang bisa diangkat sebagai bapak bangsa, dan mungkinkah kaum perempuan juga memperoleh sebutan terhormat ini?

Kita punya sederetan nama orang-orang yang kita sebut bapak bangsa. Mereka memang bapak-bapak yang berjasa bukan hanya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, tetapi sebelum itu juga menggagasnya, berpikir untuk mendirikan bangsa yang merdeka dari belenggu penjajahan.

Tentu saja pantas ditanya mengapa hanya ada istilah “bapak bangsa”? Di manapun juga tidak kurang kaum perempuan yang berperan bagi bangsanya. Mengapa tidak ada istilah ibu bangsa? Dan itu bukan cuma dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa-bahasa asing kata bapak tetap digunakan.

Misalnya bahasa Inggris menyebut bapak bangsa sebagai founding fathers, bahasa Belanda vader des vaderlands.

Tidak ramah perempuan
Istilah bapak bangsa, founding fathers dan vader des vaderlands, jelas tidak ramah bagi kaum perempuan. Peran mereka tidak diakui, baik itu di masa lampau, masa kini apalagi di masa depan. Dan itu bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di negara-negara lain yang menggunakan istilah sepadan dengan bapak bangsa.

Kata bapak jelas berasal mula dari keluarga, ada bapak, ibu dan anak. Awalnya, bapak juga sering disebut kepala keluarga. Bisalah dipastikan ketika bapak dikaitkan dengan masalah negara, seperti dalam bapak bangsa, maka itu hanya merupakan urusan kaum bapak.

Lebih lagi, istilah bapak bangsa tampaknya juga ciptaan kaum pria.

Harus diakui sebutan bapak sebagai kepala keluarga berlangsung dalam keluarga yang patriakat, yang mementingkan peran Bapak. Di Minangkabau misalnya ada keluarga yang matriakat, yang mementingkan ibu.

Di sana bapak tampaknya bukan kepala keluarga, walaupun harus diakui dari Minangkabau tidak muncul tokoh perempuan yang mendampingi Bung Hatta, Bung Sjahrir atau Tan Malaka dalam memperjuangkan Indonesia merdeka.

Tidak punya ibu bangsa, kita ternyata punya ibu pertiwi, selain ibu kota atau ibu jari, tentunya. Bisa jadi ibu pertiwilah pasangan bapak bangsa. Ibu pertiwi tampaknya berkisar pada wilayah sebuah negeri, sedangkan bapak bangsa menunjuk pada bangunan politik sebuah negara. Dengan kata lain bapak bangsa tidak mungkin ada tanpa ibu pertiwi.

Berdarah campuran
Di antara sederetan nama yang ada dalam deretan bapak bangsa itu, nyaris tidak ada pria Belandanya. Sebagian besar adalah kaum inlanders, bumiputra. Kalaupun ada non-bumiputra, paling banter dia orang Indo yang berdarah campuran Belanda Indonesia.

Salah satunya adalah Ernest Douwes Dekker, yang bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Suryaningrat pada akhir tahun 1911 di Bandoeng mendirikan de Indische Partij. Inilah partai politik pertama di Nusantara yang sekaligus juga bertujuan tegas: kemerdekaan Indonesia.

Ernest Douwes Dekker juga memimpin De Expres, organ Indische Partij. Pada tanggal 13 Juli 1913 koran ini menerbitkan tulisan terkenal Soewardi Suryaningrat berjudul, “Als ik eens Nederlander was” artinya “seandainya saja aku ini orang Belanda”.

Inilah tulisan seorang bumiputra pertama yang, dalam bahasa Belanda sempurna, mempertanyakan legitimasi kekuasaan kolonial Belanda di Nusantara.

Akibatnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda, dan memang andil Ernest Douwes Dekker memperjuangkan Indonesia merdeka tidaklah kecil. Yang mungkin paling penting, walaupun berdarah Indo, Douwes Dekker tidak pernah menjadi bagian birokrasi kolonial Belanda. Ia selalu berdiri di luar penguasa kolonial, bahkan mati-matian menentangnya.

Sebagai penghormatan, nama Douwes Dekker terpampang sebagai nama salah satu jalan paling sibuk kota Bandung. Jalan Setiabudi diambil dari Setiabudi Danudirdja, nama Indonesia Ernest Douwes Dekker.

Isapan jempol
Betapa mata ini terbelalak membaca kolom ilmuwan Belanda Robert Dijkgraaf yang diumumkan oleh harian NRC Handelsblad 18 Februari 2012. Di situ Presiden KNAW, yaitu Akademi Ilmu Pengetahuan Belanda ini datang dengan sebuah nama baru yang disebutnya “vader des vaderlands” orang Indonesia.

Orang ini bernama Hendrik Kern hidup antara 1833 sampai 1917 dengan jabatan terakhir direktur Akademi Ilmu Pengetahuan di Batavia.

Dijkgraaf menulis: jasa Hendrik Kern yang pakar bahasa-bahasa Timur (termasuk bahasa Jawa kuno), adalah menunjukkan bahwa Nusantara yang terberai dalam 17 ribu pulau itu tetap merupakan kesatuan alami dalam segi bahasa.

Pendapat seperti inilah yang menurut Dijkgraaf menyebabkan kita mengangkat Hendrik Kern sebagai bapak bangsa.

Apa sebenarnya upaya Hendrik Kern untuk memerdekakan negeri kelahirannya? Mungkinkah dia anggota partai politik pertama Nusantara yang didirikan enam tahun sebelum dia tutup usia?

Sulit memastikannya, apalagi karena sebagai pemimpin Akademi Ilmu Pengetahuan di Batavia Hendrik Kern jelas tidak berseberangan dengan penguasa kolonial. Bahkan dia sepenuhnya berkarier dalam birokrasi kolonial.

Dengan kata lain bisa saja dia berpendapat Nusantara merupakan kesatuan alami, tapi pendapat seperti ini tidak akan membuat Hendrik Kern menjadi bapak bangsa Indonesia. Yang penting apa yang dilakukannya setelah berpendirian seperti itu, adakah dia memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang jelas-jelas tidak merupakan kesatuan alami dengan Belanda?

Melihat kariernya dalam birokrasi kolonial, patut diragukan Hendrik Kern juga menghendaki kemerdekaan Indonesia.

Entah dari mana Robert Dijkgraaf mendapat informasi bahwa Hendrik Kern telah memperoleh kehormatan sebagai bapak bangsa Indonesia. Menulis kolom memang lain dari menulis karya ilmiah, karena dalam menulis kolom seseorang tidak perlu menyebut sumbernya. Jadi juga tidak perlu disebut kalau sumber itu adalah isapan jempol belaka.

20
Feb
12

Persatuan : Bertoleransi dalam Beragama

PENEGAK KONSTITUSI PROKLAMASI 1945

Apakah tidak sebaiknya dibiarkan kepada Yang Maha segala Kuasa untuk menentukan dari pada ribut di bumi?

Surah “Al Hujuraat” # 49, Verse # 13

“O mankind! We created you from a single (pair) of a male and a female,
And made you into nations and tribes, that ye may know each other
(Not that ye despise each other). Verily the most honoured of you in the sight
of Allah is (he who is) the most righteous of you. And Allah has full knowledge and is well-acquainted (with all things).”
Oleh : Honriani Nst,S.T.
Judul di atas hampir mirip dengan judul sebuah opini yang terbit di harian ini pada hari Kamis 2 Februari 2012 dengan judul Dilema Bertoleransi dalam Beragama tulisan Bapak Fernando Sihotang. Memang sengaja dibuat mirip, karena tulisan ini untuk menanggapi opini tersebut dengan harapan kita bisa melihat tentang praktek kebebasan beragama dan toleransi beragama yang diagung-agungkan di negara ini sangat jauh dari yang diharapkan dan sangat bersifat diskriminasi baik bagi kalangan minoritas maupun mayoritas, dan bisa menerima secara jujur bahwa pernah ada praktek toleransi beragama yang tinggi dalam sejarah peradaban manusia.
Namun sayang peradaban yang saya maksud sengaja disembunyikan dari generasi bangsa ini, sehingga tidak pernah masuk dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Maka sesuatu yang wajar jika banyak generasi bangsa ini yang tidak familiar dengan peradaban yang saya maksud. Ironisnya lagi, sadar atau tidak sadar praktek toleransi beragama yang diterapkan di negara ini menghambat penganut agama-termasuk agama mayoritas-untuk menjalankan agamanya secara menyeluruh dan sempurna!Dilema Bertoleransi dalam BeragamaYang dapat saya tangkap dari opini Pak Fernando, beliau mulai opininya dengan menceritakan temannya yang emosional menanggapi kasus penyegelan Gereja GKI Yasmin Bogor, berharap pemerintah menyelesaikan kasus tersebut dan di kesempatan lain temannya malah menuntut agar pemerintah membubarkan kepercayaan-kepercayaan yang tidak diakui di Indonesia. (Harian Analisa, 2 Februari 2012).Dua kondisi yang kontradiktif tentang kebebasan beragama jika dilihat dengan kacamata kebebasan beragama perfektif sekuler. Mengapa saya katakan demikian? Karena dalam faham sekuler yang dimaksudkan dengan kebebasan beragama adalah setiap individu boleh beragama dan boleh tidak beragama, bahkan boleh menghina agamanya ataupun agama lain, dan negara dilarang ikut campur dalam urusan agama ini, karena dalam faham sekuler masalah agama termasuk ke dalam masalah privat. Maka jangan heran jika di negara ini pun kita dilarang menyinggung SARA —suku, agama, dan ras—, misalkan dalam suatu perkenalan kurang etis menanyakan agama seseorang.Akhirnya seorang Muslim bisa enggan menunjukkan keislamannya sehingga sesuatu yang wajar banyak wanita Muslim tapi tidak mengenakan pakaian muslimah —jilbab dan kerudung—, begitu juga halnya dengan penganut budha-hanya memakai pakaian khas Buddha di rumah-rumah ibadah saja, namun jika di kehidupan umum mereka pun akan menanggalkan pakaian tersebut, hal sama terjadi juga pada penganut agama yang lain.

Pak Fernando juga menyinggung tentang kebebasan beragama merupakan HAM yang sudah diakui oleh dunia internasional, namun hanya sebatas hitam di atas putih dan prakteknya diabaikan. Pak Fernando pun mengangkat sebuah contoh lunturnya persaudaraan hanya dikarenakan ‘kita berbeda’ dan kesedihan yang mendalam harus dirasakan oleh seorang anak sekolah yang selalu dijauhkan oleh teman-temannya karena agamanya bukan merupakan salah satu dari agama yang diakui.

Dalam hal ini, saya mau menambahkan bahwa praktek toleransi beragama di negara ini bukan hanya menimbulkan rasa kesedihan bagi penganut agama yang tidak diakui di negara ini, bahkan kesedihan yang berkepanjangan akibat tekanan pemerintah dan publik kepada penganut agama yang berusaha menjalankan ajaran agamanya secara menyeluruh dan sempurna.

Pernahkah pembaca menyadari bahwa sangat banyak wanita Muslim yang dihambat untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya hanya karena wanita Muslim tersebut memakai pakaian muslimah?

Suatu saat —awal tahun 2001— saya pernah mengikuti testing di salah satu perusahaan asing (Prancis), saya pun lulus testing tertulis dan akademik dengan nilai tertinggi, tiba saat wawancara salah satu pertanyaan yang diajukan bersediakah saya melepaskan pakaian muslimah saya, karena di perusahaan tersebut tidak menerima karyawan yang berpakaian muslimah.

Dan itu bukanlah satu-satunya pengalaman saya, si kesempatan lain masih di tahun yang sama saya dipanggil oleh perusahaan asing (Amerika Serikat) dan lagi-lagi saat wawancara saya diminta untuk melepaskan pakaian muslimah saya. Bahkan anehnya saat mencantumkan pasfoto di ijazahpun seorang muslimah dipersulit jika pasfotonya memakai pakaian Muslim —kerudung.

Saat saya lulus perguruan tinggi pihak tata usaha pun meminta saya untuk membuat surat pernyataan karena saya mencantumkan pasfoto yang berkerudung, begitu juga halnya saat saya lulus akta mengajar dari salah satu perguruan tinggi Islam. Inikah toleransi beragama? Maka tidak berlebihan jika saya akhirnya mengambil kesimpulan bahwa faham toleransi beragama yang ada saat ini menghambat penganut agama menjalankan agamanya dengan benar, sempurna dan menyeluruh. Bahkan toleransi beragama mengkerdilkan ajaran agama, terutama ajaran agama Islam.

Mari juga kita membuka mata, maraknya pembongkaran mesjid di kota ini dengan alasan pembangunan ataupun ekonomi, pada dasarnya sudah tidak menghargai orang-orang yang beragama! Padahal penduduk kota Medan masih mayoritas penganut agama Islam! Masihkah kita mengagungkan-agungkan toleransi beragama ataupun kebebasan beragama dalam persfektif sekuler ini?

Faham Sekuler dan Kebenaran Mutlak

Pak Fernando juga menyinggung bahwa praktek toleransi beragama di negara ini bersifat ambivalen. Menurut saya, selama prakteknya masih berlandaskan faham sekuler maka toleransi akan selalu bersifat ambivalen. Bahkan hampir semua hal dalam faham sekuler itu bersifat ambivalen. Mengapa bisa demikian? Karena faham sekuler tidak memiliki kebenaran mutlak, kebaikan mutlak, kejahatan mutlak, dan lain sebagainya.

Itu disebabkan sekuler tidak memiliki standar yang jelas. Sebagai contoh standard miskin saja tidak jelas, begitu juga halnya dengan standar kaya. Seseorang bisa dikatakan kaya jika dia memiliki mobil walaupun dengan cara kredit, tapi bisa pula orang tersebut dinilai tidak kaya karena mobilnya masih kredit. Begitu juga halnya dengan standar kebenaran yang saya istilahkan dengan kebenaran mutlak.

Lihat kasus kriminal yang ada di negara ini bingung untuk mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. Sebagai contoh kasus korupsi yang menimpa Nazaruddin, awalnya Nazaruddin dipandang sangat bersalah namun belakangan Nazaruddin seperti pahlawan pembongkar pelaku korupsi di tubuh partainya, demikian juga halnya dengan kasus yang menimpa Antasari, Susno Djuadi, dan lain sebagainya. Akhirnya kebenaran itu sangat tergantung kepada pihak yang berkuasa dan kepentingan penguasa, serta kemahiran insane media memutar balikkan fakta!

Toleransi Beragama dalam Pandangan Islam

Jika ada seseorang yang mengatakan sedang berupaya mengubah negara ini menjadi negara Islam, suatu negara yang memiliki pemerintah yang menerapkan aturan Islam secara menyeluruh dan sempurna, maka komentar pertama adalah bahwa hal itu tidak mungkin terwujud karena negara ini bukan negara Islam.

Komentar berikutnya, jika hal itu terwujud bagaimana dengan nasib rakyat yang tidak beragama Islam, apa mereka akan dipaksa masuk Islam? Komentar konyol berikutnya bahwa tidak mau jika negara ini diubah menjadi negara Islam, karena negara Islam itu merupaka negara yang kejam yang suka memotong tangan orang, merajam orang, mencambuk orang, dan gambaran lain yang menakutkan.

Komentar terakhir ini saya katakan konyol, karena Islam hanya memotong tangan pencuri, hanya merajam pezina dan mencambuk peminum khamar dan pelaku kriminal lainnya. ***

Penulis adalah Anggota DPD I Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Sumut.

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/istiqlal-simbol-toleransi-beragama/

18.02.2012 11:52

Istiqlal

Penulis : Saiful Rizal

(foto:dok/SH)Istiqlal, Simbol Toleransi Beragama

Tidak afdol agaknya jika umat muslim datang ke Jakarta tetapi tidak menyempatkan diri salat di Masjid Istiqlal. Karena itu tidak heran jika pada musim liburan sekolah banyak warga di luar Jakarta menyempatkan diri mengunjungi Masjid Istiqlal. Masjid ini tercatat sebagai masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Namun di balik kemegahan measjid ini, terbesit simbol kerukunan antarumat beraga di negeri ini. Masjid Istiqlal letaknya berhadapan dengan Gereja Katedral; hanya dipisahkan jalan raya yang lebarnya tidak sampai 100 meter.

Bahkan, berdirinya Masjid Istiqlal memiliki sejarah tersendiri tentang bukti nyata kerukunan umat beragama. Frederich Silaban, arsitek yang membuat desain Masjid Istiqlal ternyata beragama Kristen kelahiran Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912.

Ia adalah anak dari pasangan suami istri Jonas Silaban Nariaboru. Frederich adalah salah satu lulusan terbaik dari Academie van Bouwkunst Amsterdam tahun 1950. Selain membuat desain Masjid Istiqlal ia juga merancang kompleks Gelanggang Olahraga Senayan.

Ide untuk mendirikan Masjid Istiqlal bermula pada 1953 dari beberapa ulama. Mereka mencetuskan ide untuk mendirikan masjid megah yang akan menjadi kebanggaan warga Jakarta sebagai Ibu Kota dan juga rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Mereka adalah KH Wahid Hasyim, Menteri Agama RI pertama, yang melontarkan ide pembangunan masjid itu bersama H Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan Ir Sofwan beserta sekitar 200-an orang tokoh Islam pimpinan KH Taufiqorrahman. Ide itu kemudian diwujudkan dengan membentuk Yayasan Masjid Istiqlal.

Pada 7 Desember 1954, didirikan Yayasan Masjid Istiqlal yang diketuai H Tjokroaminoto untuk mewujudkan ide pembangunan masjid nasional tersebut. Gedung Deca Park di Lapangan Merdeka (kini Jalan Medan Merdeka Utara di Taman Museum Nasional) menjadi saksi bisu atas dibentuknya Yayasan Masjid Istiqlal.

Nama Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang berarti ‘merdeka’ sebagai simbol dari rasa syukur bangsa Indonesia atas kemerdekaan yang diberikan oleh Allah SAW. Presiden pertama RI Soekarno menyambut baik ide tersebut dan mendukung berdirinya Yayasan Masjid Istiqlal, lalu membentuk Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal (PPMI).

Penentuan lokasi masjid sempat menimbulkan perdebatan antara Bung Karno dan Bung Hatta yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI.

Bung Karno mengusulkan lokasi di atas bekas benteng Belanda Frederick Hendrik dengan Taman Wilhelmina yang dibangun oleh Gubernur Jenderal van Den Bosch pada 1834 yang terletak di antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral, dan Jalan Veteran.

Sementara itu, Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunan masjid terletak di tengah-tengah umatnya, yaitu di Jalan MH Thamrin yang pada saat itu di sekitarnya banyak dikelilingi kampung. Selain itu, ia juga menganggap pembongkaran benteng Belanda tersebut akan memakan dana yang tidak sedikit.

Namun akhirnya Soekarno memutuskan untuk membangun di lahan bekas benteng Belanda karena di seberangnya telah berdiri Gereja Katedral untuk memperlihatkan kerukunan dan keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia. Setahun sebelumnya, Soekarno menyanggupi untuk membantu pembangunan masjid, bahkan memimpin sendiri penjurian sayembara desain maket masjid.

Setelah melalui beberapa kali sidang, di Istana Negara dan Istana Bogor, dewan juri yang terdiri dari Prof Ir Rooseno, Ir H Djuanda, Prof Ir Suwardi, Hamka, H Abubakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.

Pada 1955, Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal mengadakan sayembara rancangan gambar atau arsitektur Masjid Istiqlal yang jurinya diketuai oleh Presiden Soekarno dengan hadiah berupa uang sebesar Rp 75.000 serta emas murni seberat 75 gram. Sebanyak 27 peserta mengikuti sayembara tersebut.

Setelah melalui proses panjang, akhirnya dewan juri memutuskan lima peserta sebagai pemenangnya. Mereka adalah Frederich Silaban dengan desain yang berjudul “Ketuhanan”, R Utoyo dengan desain berjudul “Istigfar”, Hans Gronewegen dengan desain berjudul “Salam”, tim mahasiswa ITB dengan desain berjudul “Ilham”, tim mahasiswa ITB lainnya yang berjudul “Katulistiwa”, serta dari NV Associatie yang bertemakan “Lima Arab”.

Obama Mampir

Frederich Silaban, arsitek yang ditetapkan sebagai pemenang oleh dewan juri untuk membangun masjid di atas lahan seluas kurang lebih 10 hektare itu adalah seseorang yang beragama Kristen Protestan.

Guna menyempurnakan rancangan Masjid Istiqlal tersebut, Frederich Silaban mempelajari tata cara dan aturan orang muslim melaksanakan salat dan berdoa selama kurang lebih tiga bulan.

Selain itu, ia juga mempelajari banyak pustaka mengenai masjid-masjid di dunia. Akhirnya setelah 17 tahun masa pembangunan masjid tersebut, pada 22 Februari 1978, Presiden Soeharto meresmikan masjid terbesar se-Asia Tenggara ini.

Sejak diresmikan, dua tempat ibadah yang memiliki nilai sejarah bagi bangsa ini menjadi simbol keharmonisan antarumat beragama di Indonesia. Tidak hanya sebuah simbol, nilai toleransi dua tempat ibadah beda agama itu mewujudkan nyata dalam praktik dan saling menopang kegiatan keagamaan masing-masing.

Salah satunya, bila ada kegiatan di salah satu tempat ibadah, mereka biasa berbagi tempat parkir. Selain itu, meskipun di waktu yang bersamaan sedang dilaksanakan kegiatan keagamaan, antartempat ibadah itu tidak saling mengganggu dan terganggu.

Selain selalu ramai dikunjungi umatnya masing-masing, Presiden negara-negara sahabat juga pernah menyempatkan waktu singgah untuk melihat langsung simbol kerukunan beragama di Indonesia.

Bahkan, dalam rangkaian kunjungan ke Indonesia, pada Oktober 2011, Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengunjungi Masjid Istiqlal. Dia tidak berpidato di sana, tapi melihat-lihat masjid terbesar di Asia Tenggara ini.

Dalam kunjungan singkat itu Obama diajak melihat beduk raksasa berukuran 1,5 x 2 meter dipandu oleh imam besar Masjid Istiqlal KH Ali Mustofa Ya`qub. Presiden Obama dan Ibu Negara berada di Masjid Istiqlal kurang lebih 30 menit.

Bila presiden negara tetangga saja mengagumi tingginya toleransi beragama di Indonesia, mengapa kita harus merusaknya dan selalu berupaya mendominasi kelompok lain.

Oleh : Drs. Osberth Sinaga, M.Si.
Habib Riziq pimpinan Front Pembela Islam (FPI) ditolak oleh masyarakat Kalimantan Tengah untuk menginjakkan kaki di Propinsi yang mayoritas orang Dayak tersebut. Sekitar 700 ratusan masyarakat Kalteng sempat menguasai Bandara di Kalteng dan kemudian pesawat yang membawa Habib riziq dialihkan ke Banjarmasin demi kenyamanan.

Apa yang membuat pimpinan FPI ditolak di Kalimantan Tengah? Kita tidak tahu persis. Tetapi ada hal yang bisa kita lihat dari aksi penolakan ini sebagai sebuah pesan. Dikalangan masyarakat Dayak yang menolak kehadiran FPI mereka mengatakan tidak menginginkan FPI hadir di Kalteng dengan alasan kerukunan umat beragama jangan sampai pecah di Kalteng.

Kalteng selama ini hidup rukun, baik Islam dan Kristen serta agama yang lain hidup damai dan berdampingan sebagai satu keluarga besar. Ini menjadi modal dasar dalam pembangunan Kalteng. Mengingat di negara kita konflik sosial sering terjadi hanya karena dipicu oleh hal yang spele. Kalteng menjadi miniatur betapa sesungguhnya kerukunan itu bisa tercapai jika semua menahan diri dan saling menghargai.

Gerakan anarkisme beberapa Ormas menjadi pelajaran yang sangat berharga di negara ini. Betapa hukum kita tidak punya wibawa lagi. Kalau sudah sebuah Ormas lebih hebat dari institusi hukum resmi seperti Polri, TNI, Jaksa ini sangat membayakan kehidupan masyarakat. Ormas bisa saja bertindak sesuai dengan hukum mereka.

Bagaimana menciptakan hukum yang berwibawa agar jangan tunduk pada kepentingan sekelompok orang tentu menjadi PR bagi pemerintah. Untuk itu wibawa negara dengan menegakkan hukum yang tegak harus dilakukan agar tidak terjadi kerusuhan dan konflik mengatasnamakan Ormas.

Aksi penolakan kehadiran Front Pembela Islam (FPI) di Kalimantan Tengah jadi bahasan Rapat Pimpinan Agama dan Organisasi Masyarakat di Kalimantan Tengah, Senin, 13 Februari 2012. “Hasilnya, rapat yang berlangsung di Aula Jayang Tingang, Palangkaraya, itu menghasilkan sejumlah pernyataan penolakan,” kata Achmad Diran, Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, di Palangkaraya, Senin, 13 Februari 2012.

Terlepas daripada itu penolakan Ketua FPI di Kalteng bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Penolakan itu bukan pada aspek sentimen belaka. Tetapi atas dasar menciptakan kerukunan diantara umat yang berbeda. Menurut Diran, pernyataan penolakan itu didasarkan sejumlah hal. Pertama, semua pimpinan agama, pimpinan Ormas dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kalimantan Tengah, menyatakan bahwa penolakan pelantikan FPI tersebut tidak ada kaitannya dengan agama dan suku.

Kedua, agar kejadian itu tidak terulang kembali dan semua pihak wajib bersama-sama menjaga kebersamaan dan ketenteraman serta kerukunan umat beragama dan memelihara tri kerukunan umat beragama sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ketiga, sepakat menyatakan masalah tersebut telah selesai dan semua pihak siap untuk kembali menciptakan kondisi Kalimantan Tengah yang rukun dan damai. Keempat, hindari upaya adu domba dalam masyarakat dan tindak tegas pelakunya sesuai dengan hukum yang berlaku. Kelima, tingkatkan persatuan dan kesatuan dengan semangat huma betang di Bumi Tambun Bungai Bumi Pancasila Kalteng,” kata Achmad Diran.

Pernyataan sikap tersebut, ia mengatakan, dibuat untuk diketahui dan dilaksanakan secara bersama-sama demi keutuhan dan kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Sumber TEMPO: 12 Februari 2012).

Keberlangsungan NKRI sekarang ini dalam pertaruhan. Banyak kasus yang berbau identitas atas nama agama dan suku menguak kepermukaan. Banyak sekelompok orang mengatasnamakan agama memaksakan kehendaknya tanpa mengedepankan dialog dan saling mengharagi kultur yang berbeda.

Potensi konflik mengatasnamakan suku dan agama harus diredam agar jangan pecah menjadi konflik yang bersifat horizontal. Indonesia adalah sebuah negara yang terbentuk atas dasar keberagaman suku, agama dan identitas lainnya. Semua itu disatukan oleh empat pilar berbangsa dan bernegara yang terus disesuaikan oleh pemerintah, DPR, MPR dan juga para rohaniawan. Empat pilar berbangsa tersebut adalah, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan keberagaman.

Jika keempat pilar berbangsa ini dielaborasi dengan kesejahteraan masyarakat maka bisa dipastikan konflik itu kadarnya sangat rendah. Masalahnya adalah kondisi masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, frustrasi yang sangat tinggi, pengangguran, kesenjangan ekonomi, konflik tanah yang selalu berujung pada kemenenagan pemilik modal dan korupsi pejabat membuat masyarakat frustrasi dan bertindak radikal.

Saat yang bersamaan sosialisasi empat pilar kebangsaan hanya pada tingkat wacana dan tidak bisa terlembaga dengan baik dalam bentuk riil yang nyata. Masyarakat banyak membentuk Ormas sebagai tempat mengadu dan melakukan tindakan yang anarkis dengan alasan ketidakmampuan pemerintah. Pada satu sisi bisa kita terima. Tinggal bagaimana pemerintah mampu mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran, serta korupsi agar ormas ini bisa tertib dan menjadi mitra kerja pemerintah. Disatu sisi pimpinan Ormas harus mampu menyadari empat pilar kebangsaan itu harus dijaga. Janganlah memaksakan kehendak kepada orang lain, bahkan cenderung anarkis.

Toleransi harus dijaga, perbedaan adalah anugerah yang harus kita terima. Dengan berbeda potensi banyak terbangun. Penolakan FPI Di Kalteng memberikan kita sebuah pesan bahwa bahwa kedepan semua Ormas harus menjaga empat pilar kebangsaan itu. Pemerintah pun perlu instropeksi diri dengan membangun wibawa. Wibawa bisa terbangun apabila peemrintah mampu menjadi pengayom masyarakat, menegakkan hukum. Dengan demikian kasus penolakan FPI di Kalteng tidak akan terjadi lagi. Mari menjaga pilar kebangsaan untuk keberlangsungan hidup berbangsa.

Penulis adalah Dosen FIS UNIMED Medan/Pimpinan PKMI I Medan.

19
May
11

Kenegarawanan : Membangun Kembali Nasionalisme

Pelajaran Pancasila Dihapus? Ini Jawaban Anggota DPR

Wacana

19 Mei 2011

Membangun Kembali Nasionalisme

  • Oleh Saratri Wilonoyudho

TEGAKNYA nasionalisme Indonesia perlu dipertanyakan lebih serius. meski secara administratif negara kita masih tegak, benarkah rohnya masih ada? Masih mandiri secara politik, ekonomi, dan kebudayaan? Lihat saja sumber daya alam negeri ini juga sudah masuk perangkap penjajahan baru, baik melalui kekuatan pasar gobal maupun lewat modus lain. Utang luar negeri yang luar biasa besar sesungguhnya merupakan petunjuk kuat bahwa kita belum benar-benar merdeka.

Rakyat berada dalam suasana terjajah. Kalau dahulu hanya rempah-rempah yang dikuasai VOC, kini nyaris semua kehidupan kita dikuasai asing. Bangsa ini belum merdeka secara hakiki, apalagi jika dikaitkan dengan cita-cita pendiri negeri ini, yakni melindungi segenap tumpah darah dan memajukan kesejahteraan umum. Dalam soal perlindungan TKI saja, bangsa ini kalah dari Filipina. Demikian pula dalam soal ledakan gas, rakyat belum terlindungi dengan baik.

Singkatnya negara belum mampu melindungi tumpah darahnya sendiri. Padahal Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908 yang dicanangkan oleh Dokter Wahidin Soedirohoesodo dan kawan-kawan tiada lain adalah tekad mendirikan sebuah nation dan hasilnya NKRI dengan kekuatan yang terletak sebagaimana diungkapkan pada Pembukaan UUD 1945.

Dulu bangsa kita berada pada inlander Belanda, sekarang inlander Amerika dan bangsa asing lainnya. Kita hanya ikut apa yang didesain bangsa lain, tidak punya orisinalitas diri.  Kita terseret pada set up global, yang sebenarnya telah dimulai sejak revolusi industri di Prancis, lalu liberalisme, dan kapitalisme.

Manajemen SDM

Sesungguhnya kita adalah bangsa besar. Rasanya tak habis-habisnya stok anak genius di negeri ini. Baru saja 5 siswa Indonesia merebut 4 medali emas Olimpiade Fisika Internasional yang diikuti 82 negara. Hampir tiap tahun siswa di negeri ini unjuk gigi dalam prestasi ilmiah tingkat internasional. Di tengah-tengah kemerosotan mutu berbagai bidang kehidupan, kenyataan ini memunculkan secercah harapan baru. Ketika dalam kompetisi sepak bola kita terus kalah, badminton kalah, SEA Games juga merosot jauh, alhamdulilah siswa yang tergabung dalam olimpiade sains (fisika, kimia, matematika, dan biologi) tingkat internasional, beramai-ramai menyumbangkan medali emas, perak, dan perunggu.

Rasanya tidak ada negara di dunia ini yang kekayaan alam, flora, fauna, dan biodiversivitas lainnya sekaya negeri ini. Demikian pula tidak ada negara di dunia yang memiliki jumlah bahasa, suku bangsa, dan adat kebudayaan selengkap Indonesia.

Pertanyaannya kini, mengapa bakat alam luar biasa itu kini tidak menampakkan hasilnya untuk perbaikan kehidupan di bidang sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya ? Mengapa baru soal sepele seperti tabung gas meledak atau jalanan macet kita tidak menampakkan kreativitasnya? Apa guna anak-anak jenius yang terus dikirim belajar ke luar negeri?

Jawabannya adalah kita tidak memiliki program yang jelas untuk memanajemen SDM  bermutu tersebut. Di negeri ini hanya orang yang memiliki kelihaian kedekatan dengan pusat-pusat kekuasaan yang dapat berkembang, dan ini terjadi di segala lini, termasuk di kantor-kantor pemerintahan, bahkan di kampus perguruan tinggi.

Mari kita kaji siapa sebenarnya situs-situs di Sangiran atau di  Boyolali itu? Pada masa lalu Gadjah Mada berhasil mempersatukan Tanah Air sampai Thailand dan Madagaskar. Kata Cak Nun yang kita sebut Jawa bukan hanya sekadar suku, tetapi kita semua, yang lebih besar satuannya. Suku Jawa adalah satu induk besar atau gen besar yang justru lebih tua dari Arab dan Yahudi.

Malah sekarang digembar-gemborkan ada Kebangkitan Nasional 100 tahun. Pertanyaannya siapa yang akan bangkit? Siapa subjeknya? Ini yang perlu dicari terlebih dahulu, sebab jika tidak tahu subjeknya, tidak mungkin bisa bangkit. Dalam kapitalisme, hal yang dihancurkan oleh desain global adalah nilai keluarga dan nilai agama. Kita didesain oleh sekelompok orang yang menguasai kita, agar kapitalis mereka tetap lancar.

Mari lewat momentum Kebangkitan Nasional ini kita bulatkan tekad, memerdekakan bangsa ini dalam arti sebenarnya. Untuk ini sebuah revolusi sosial diperlukan. (10)

— Saratri Wilonoyudho, staf pengajar Universitas Negeri Semarang, anggota Dewan Riset Daerah Jawa Tengah

02
Nov
10

Kebangsaan : Aku Cinta Indonesia

Selasa, 02/11/2010 13:11 WIB
Aku Cinta Indonesia (ACI)
Operasi Anti Teroris dan Dikejar Orang Utan
Nita Rachmawati – detikNews


Jakarta – Menegangkan dan mendebarkan perjalanan yang dirasakan salah seorang peserta Aku Cinta Indonesia (ACI) detikcom Saiful Azhar. Pertama ia harus bongkar muat barang bawaan karena razia anti teroris, dan kemudian dikejar-kejar orang utan.

Ketika berada di perbatasan Sumatera Utara-Aceh bersama rekannya Achmad Alkatiri, Ipul dan pemandu yang mendampinginya bertemu polisi yang sedang melakukan razia anti teroris. Mereka pun harus melakoni pemeriksaan, termasuk membongkar barang-barang bawaannya.

“Masa mau masuk ke wilayah sendiri saja harus diperiksa sih. Katanya untuk mengantisipasi teroris. Mungkin karena aku bawa tas gede kali ya, makanya dikira teroris,” ujar Ipul ketika dihubungi detikcom, Selasa (2/11/2010).

“Semua yang ada di dalam tas saya dikeluarkan, berantakan deh jadinya. Mana isinya banyak. Harus repacking lagi deh. Mendebarkan sekaligus menegangkan sih, karena berurusan dengan polisi,” aku pria asal Jakarta itu.

Meski demikian, ada juga pengalaman yang membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal apabila mengingatnya. Ketika berada di Bukit Lawang, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, tempat konservasi orang utan. Ipul bersama yang lainnya dikejar-kejar orang utan. Saat berusaha lari menyelamatkan diri sambil ketakutan, kepala Ipul terbentur dahan.

“Kebetulan kita bertemu dengan orang utan yang paling galak di sana. Orang utan itu memang galak kalau melihat manusia. Kata pengurus di sana, dia seperti itu karena menyangka bahwa manusia telah membunuh anaknya. Dulu anaknya mati di pelukannya. Dia dipisahin paksa sama anaknya yang sudah mati. Soalnya bangkai anaknya yang sudah bau sama dia dibawa-bawa dan digendong-gendong,” papar Ipul.

“Pengalaman itu gak akan aku lupakan deh,” simpulnya.

Pengalaman para peserta ACI dapat dilihat di Jurnal Petualang ACI.

Program Aku Cinta Indonesia ini didukung penuh oleh XL, Sinarmas, Nexian, Garuda Indonesia, dan Optik Seis.

(lom/lom)

 

Selasa, 02/11/2010 11:12 WIB
Aku Cinta Indonesia (ACI)
Ditampar Negeri Sendiri
Nita Rachmawati – detikNews


Jakarta – Dengan mengikuti program Aku Cinta Indonesia (ACI) detikcom, Achmad Alkatiri bermimpi mendapatkan pengalaman indah dalam hidupnya. Namun penjelajahannya ke Sumatera Utara menyuguhkan ironi yang dinilainya sebagai tamparan bagi orang Indonesia.

“Menurut gue, acara ACI sebenarnya acara yang mewujudkan mimpi banyak orang. Banyak orang-orang Indonesia mempunyai mimpi yang sama, yaitu menjelajahi Indonesia tak terkecuali gue,” ujar Achmad, ketika dihubungi detikcom, Selasa (2/11/2010).

Namun pelajaran berharga didapatkan Mad ketika bertemu dengan Muhammad Bangkaru, orang yang sangat berjasa bagi Indonesia karena membuat konservasi penyu di Pulau Bangkaru, Kepulauan Banyak.

“Serasa di tampar gue pas dengar dari pengurus konservasi, kalau  di sini gak ada satu pun sukarelawan dari Indonesia. Mereka berasal dari luar, seperti Belgia misalnya. Gila ya, orang luar saja mau kontribusi buat Indonesia,” tuturnya.

“Ternyata mereka mencintai Indonesia lebih dari kita. Apalagi ada yang ingin tinggal di Indonesia karena ingin lebih dekat sama alam Indonesia,” sambungnya.

Mad berharap, kegiatan seperti ACI lebih gencar lagi diselenggarakan. Pengalaman yang didapatkan, dinilainya akan sangat efektif mengajarkan nilai-nilai positif bagi para petualang juga masyarakat luas yang mengikuti jurnal yang mereka tulis.

“Karena lewat ACI tidak hanya mewujudkan impian semua orang, tapi juga dapat meningkatkan rasa nasionalisme semakin tinggi. Tentunya gue makin cinta, Indonesia negara yang kaya dan kita harus menjaganya,” sambung Mad.

“Orang luar saja mau kontribusi buat Indonesia, kenapa kita gak ada yang mau? Setelah gue melihat yang seperti ini, ada keinginan dalam hati untuk jadi sukarelawan,” simpulnya.

Pengalaman para peserta ACI dapat dilihat di Jurnal Petualang ACI.

Program Aku Cinta Indonesia ini didukung penuh oleh XL, Sinarmas, Nexian, Garuda Indonesia, dan Optik Seis.

(lom/lom)

Baca Juga :

Baca Juga :

Baca Juga :

Baca Juga :

Baca Juga :


Baca Juga :

Baca Juga :

Baca Juga :

Baca Juga :

Baca Juga :


Baca Juga :

Baca Juga :

Baca Juga :

Baca Juga :

Baca Juga :


Baca Juga :

17
Oct
10

Kebangsaan : Indikasi Kehancuran Indonesia

Romo Franz Magnis-Suseno SJ
Indikasi Kehancuran Indonesia
Minggu, 17 Oktober 2010 | 03:47 WIB

Tribun Kaltim/Niko Ruru

Sekitar seribu orang berkumpul di depan kantor Persatuan Suku Asli Kalimantan (Pusaka) di Kota Tarakan, Kalimantan Timur. Banyak yang membawa senjata tajam berupa samurai, tombak, dan parang. Ketegangan ini dilatari persoalan antarindividu tapi kemudian dikompori jadi antaretnis.

JAKARTA, KOMPAS.com - Romo Franz Magnis-Suseno SJ, rohaniwan dan cendikiawan sosial, mengatakan jika rasa kebangsaan itu mati, bangsa dan negara Indonesia akan hancur.

“Soalnya, yang mempersatukan ratusan etnik, suku dan komunitas, penganut beberapa agama, yang hidup di atas ribuan pulau kita, hanyalah kebangsaan Indonesia. Tak ada yang lain,” katanya ketika menjadi pembicara pada Seminar Nasional yang diselenggarakan Partai Golkar (PG), di Jakarta, Sabtu (16/10/2010) malam.

Seminar bertajuk “Penataan Sistem Politik untuk Memperkokoh Nasionalisme dan Demokrasi Indonesia” ini digelar guna menyemarakkan HUT ke-46 partai berlambang pohon beringin tersebut, yang berlangsung di Aula DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat.  Di hadapan lebih 200 peserta dari berbagai latar, baik itu kalangan muda maupun politisi senior, Romo Franz Magnis-Suseno mengawali pemaparannya berjudul “Indonesia dan Nasionalismenya” dengan mengulas Pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945.

“Di sana Bung Karno menempatkan ’nasionalisme’ di nomor satu dari deretan lima nilai Pancasila. Soekarno tahu mengapa,” ujarnya. Yakni, lanjutnya, hanya karena kesadaran “kita ini satu bangsa, yakni bangsa Indoensia”, sehingga masyarakat sedemikian aneka ragam yang hidup di Kepulauan Nusantara, antara Asia dan Australia atau Oseania, bisa menjadi satu Indonesia.

“Tegasnya, bagi Bung Karno, Nasionalisme adalah cinta sepenuh hati kepada Indonesia, dan rasa bangga bahwa ’kita orang Indonesia”. Inilah suatu rasa persatuan di antara orang-orang yang sedemikian berbeda, yang terbangun dalam sebuah sejarah penderitaan karena penjajahan dan perjuangan pembebasan bersama selama ratusan tahun,” ujarnya.

Sekarang, menurutnya, setelah 65 tahun kemudian, banyak orang bertanya: Apakah kebangsaan Indonesia masih berarti sesuatu bagi bangsa kita? “Lebih dari itu, muncul juga pertanyaan, apakah kenyataan bahwa kita ini Orang Indonesia masih dapat menggerakkan sesuatu dalam hati kita? Padahal, bagi Soekarno, kebangsaan merupakan sila paling inti, paling berharga dalam Pancasila,” katanya.

Dan bagi Romo Franz Magnis-Suseno, “hanya karena kebangsaan inilah, sehingga bangsa Indonesia ada”.

Selain Romo Franz Magnis-Suseno, juga tampil antara lain cendikiawan muslim Azyumardi Azra (dengan makalahnya “Nasionalisme, Etnisitas, dan Agama di Indonesia: Dinamika Hubungan Antar Masyarakat dan Negara”), Letjen TNI Pur Agus Widjojo (dengan makalah “Masalah Pertahanan dalam Era Nasionalisme Modern”), Ketua Program Pascasarjana Ilmu Politik FISIP UI, Dr Valina Singka Subekti, MSi (“Aspek-aspek Perbaikan Sistem Politik Indonesia”) dan Dr Pratikno dari UGM (“Memperdalam Demokrsi, Mengefektifkan Pemerintahan”).

“Kegiatan ini merupakan salah satu agenda utama HUT, selain Rapimnas Pertama,” kata Wakil Ketua Umum DPP PG, Theo L Sambuaga, usai mendampingi Ketua Umum DPP PG, Aburizal Bakrie membuka resmi rangkaian perayaan hari jadi partai Golkar.

13
Sep
10

Kenegarawanan : Kepemimpinan, Kerakyatan, Kebangsaan

KENEGARAWANAN

Kenegarawanan dapat diartikan sebagai berjiwa darma bakti demi kepentingan Negara yang dapat dikenali berdasarkan kinerja kasat lahir dan bathin terkait unsur2 kepemimpinan, kerakyatan dan kebangsaan yang melekat pada diri yang bersangkutan.

Tolok ukur kepemimpinan salah satunya dapat diturunkan dari sifat2 kepemimpinan dari Mahapatih Gajah Mada dalam Negara Kertagama yang dikodefikasi oleh Mpu Tantular yakni : (1) YA WIJINA (bijaksana penuh hikmah dalam menghadapi berbagai macam kesukaran, sehingga akhirnya selalu berhasil menciptakan ketenteraman); (2) YA MATRIWIRA (pembela Negara yang berani tiada taranya, bela diri – bela bangsa – bela negara); (3) WICAKSARENG KARSA (bijaksana dalam segala tindakan, kebijaksanaannya senantiasa terpancar dalam setiap perhitungan dan tindakan, baik ketika menghadapi lawan maupun kawan, bangsawan ataupun rakyat jelata atau wong cilik); (4) NATANGWAN (memperoleh kepercayaan karena rasa tanggung jawabnya yang besar sekali dan selalu menjunjung tinggi kepercayaan yang dilimpahkan); (5) SATYA BHAKTY APRABHU (bersifat setia dengan hati yang tulus-ikhlas kepada Negara, setia dan bakti telah mendarah daging dalam hidupnya, sehingga segenap pikiran dan tenaganya dilimpahkan buat mewujudkan kebesaran Negara); (6) WAGNI WAK (pandai berpidato dan berdiplomasi mempertahankan atau meyakinkan sesuatu); (7) SARJAWOPASAMA (murah hati, berbudi pekerti baik, berhati emas, bermuka manis dan penyabar, sifat ini pada umumnya hanya ditemukan pada ahli2 politik serta diplomat ulung); (8) TAN HALANA (selalu tampak gembira walaupun didalam dirinya sedang gundah ataupun terluka); (9) DHIROTSAKA (terus menerus bekerja rajin dan sungguh2); (10) DWIYACITTA (mau mendengarkan pendapat orang lain dan mau bermusyawarah); (11) TAN SATRISNA (tidak mempunyai pamrih pribadi untuk menikmati kesenangan yang bersifat gairah dan birahi); (12) SIH SAMSTABHUANA (menyayangi seluruh dunia serta alam semesta); (13) GINONG PRADITIRA (selalu mengerjakan yang baik dan membuang yang buruk serta selalu mawas diri); (14) SUMANTRI (menjadi pegawai yang jujur, baik dan sempurna, serta berkelakuan santun); (15) ANARSAKEN MUSUH (bertindak memusnahkan lawan, tetapi senantiasa menjalankan politik kasih sayang, namun tak gentar menghadapi musuh yang mengganggu kedaulatan dan integritas Negara).

Adapun tolok ukur kerakyatan dapat dijabarkan dari sila ke-4 Pancasila yakni Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dalam konteks ini, peristiwa anggota TNI menyampaikan pendapat di ruang publik seharusnya syah2 saja sebagai urun rembug anak buah kepada bapak buah dalam rangka keberhasilan menggapai sasaran taktis strategis non-kombatan, bukan sebagai kritik kepada komandan kombatan, mempertimbangkan bahwa sejarah TNI adalah anak kandung rakyat bercikal bakal Badan Keamanan Rakyat 23 Agustus 1945.

Sedangkan tolok ukur kebangsaan dapat dirujuk pada sila ke-3 Pancasila yaitu Persatuan Indonesia. Dalam konteks ini, peristiwa insiden berdarah 12 September 2010 di Bekasi, misalnya, perlu didalami lanjut akar permasalahan sosiologisnya, karena pemicunya belum tentu akibat ketidakrukunan antar umat beragama tapi boleh jadi akibat disharmoni kehidupan bemasyarakat antar unsur2 pembentuk setempat (faktor2 lokalitas).

Bagaimanapun, kepemimpinan, kerakyatan dan kebangsaan adalah dasar2 kenegarawanan bagi setiap warga yang berkehendak ataupun diamanatkan menjadi pimpinan/pejabat Negara termasuk yang bergeser dengan berdalih sebagai pekerja politik di parlemen.

Jakarta, 13 September 2010

Pandji R Hadinoto / Dewan Pakar PKPI / www.jakarta45.wordpress.com

Kolonel Adjie

Republika

Kolonel Adjie : Dipensiunkan ? Nggak Masalah

Republika – Rabu, 8 September
Kolonel Adjie: Dipensiunkan? Nggak Masalah

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA–Kolonel Penerbang Adjie Suradji menyerahkan sepenuhnya kebijakan kontroversi tulisannya di sebuah harian nasional kepada TNI Angkatan Udara, termasuk sanksi pemecatan.Dihubungi di Jakarta, Selasa, ia mengatakan, “Saya serahkan kepada institusi Angkatan Udara. Mau dipensiunkan pun saya enggak masalah.”

Adjie dalam perbincangan sangat singkat, juga mengakui, dirinya tengah tersangkut masalah hukum dengan institusi tempatnya bernaung selama ini. Ia mengaku sudah mendapat teguran dari TNI Angkatan Udara. Namun, ia tidak mengurai lebih jauh soal teguran yang diterimanya.

Sebelumnya, tulisan Adjie di sebuah harian nasional bertajuk “Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan”, pada 6 September 2010 membuat institusi TNI berang.Tindakan perwira menengah itu dinilai melanggar kode etik karena melakukan kritik terbuka terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang notabene adalah Panglima Tertinggi TNI.

Mabes TNI Angkatan Udara menegaskan, ide, pemikiran Kolonel Pnb Adjie Suradji tentang kritikan terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bukan opini institusi melainkan pribadi yang bersangkutan.

Juru Bicara TNI Angkatan Udara, Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro, menyatakan bahwa TNI Angkatan Udara memegang teguh UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI.”Khususnya Pasal 2 yang memuat tentang jati diri, dimana salah satu klausulnya menyatakan bahwa TNI dilarang berpolitik praktis,” katanya.

Malaysia Dikte

Antara

Antara
Anggota DPR: Malaysia Dikte Indonesia Soal Perbatasan

Jakarta (ANTARA) – Anggota Komisi I DPR RI Fayakhun Andriadi menilai Malaysia kini semakin mendikte Indonesia dalam penyelesaian koordinat perbatasan kedua negara dengan cara melakukan diplomasi yang memerlukan waktu yang lama.

“Penyelesaian titik koordinat batas wilayah RI-Malaysia melalui jalur diplomasi akan memakan waktu lama dan membutuhkan kemampuan diplomasi yang kuat,” kata salah satu anggota Fraksi Partai Golkar (FPG) ini kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Sayangnya, menurut Fayakhun Andriadi, kekuatan diplomasi Indonesia tidak tergambar atau tercermin dengan baik saat pertemuan di Kota Kinabalu, Malaysia, 6 September lalu.

“Padahal, yang dinantikan oleh jutaan warga Indonesia yang sudah geram dengan `insiden Tanjung Berakit` (penangkapan tiga petugas KKP di perairan dekat Pulau Bintan, Provinsi Kepri), adalah, kejelasan soal pengakuan Malaysia atas wilayah arsipelago Indonesia berdasarkan Hukum Internasional atau UNCLOS,” katanya.

Mengacu kepada UNCLOS yang merupakan salah satu produk PBB, Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia secara langsung mendapat pengakuan atas 12 mil laut dari batas landas kontinennya, serta 200 mil laut zona ekonomi ekslusif (ZEE).

Anehnya, Malaysia yang sebagian besar daratannya tersambung dengan benua Asia, mau menyatakan diri pula sebagai negara kepulauan secara sepihak, sehingga mengklaim batas-batas wilayah buatan sendiri.

Tidak Jelas

Fayakhun Andriadi mengatakan, hasil yang dilakukan oleh Menteri Luar Negeri RI Martiy Natalegawa hanyalah lahirnya kesepakatan kedua pihak untuk sepakat menghindari peristiwa seperti insiden 13 Agustus 2010 tersebut.

Juga, lanjutnya, Marty Natalegawa dengan bangga mengungkapkan akan ada tiga pertemuan lagi selang empat bulan ke depan, tanpa target yang jelas soal penuntasan titik koordinat tapal batas kedua negara.

“Pertemuan bernama `joint commission for bilateral cooperation` (JCBC) RI-Malaysia di Kinabalu itu tidak mampu membuat tetangga yang melecehkan tiga petugas Kemeneritan Kelautan Perikanan (KKP) kita minta maaf.

Fayakhun Andriadi berpendapat, diplomasi kita semakin lemah di mata Malaysia.




Blog Stats

  • 1,671,279 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 68 other followers