Posts Tagged ‘Nation & Character Building



29
Aug
11

Kepemimpinan : QS Kebangsaan

QS KEBANGSAAN

Posted by ⋅ 7 Agustus 2007 ⋅

KEBANGSAAN MENURUT AL QUR’AN
Oleh: Prof. Dr. M. Quraish Shihab

“Kebangsaan” terbentuk dari kata “bangsa” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai kesatuan orang-orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya, serta berpemerintahan sendiri. Sedangkan “kebangsaan” diartikan sebagai “ciri-ciri” yang menandai golongan bangsa.
Para pakar berbeda pendapat tentang unsur-unsur yang harus terpenuhi untuk menamai suatu kelompok manusia sebagai bangsa. Demikian pula mereka berbeda pendapat tentang ciri-ciri yang mutlak harus terpenuhi guna terwujudnya sebuah bangsa atau kebangsaan. Hal ini merupakan kesulitan tersendiri dalam upaya memahami pandangan Al Qur’an tentang paham kebangsaan.
Di sisi lain, paham kebangsaan-pada dasarnya- belum dikenal pada masa turunnya Al Qur’an. Paham ini baru muncul dan berkembang di Eropa sejak akhir abad ke 18 dan dari sana menyebar ke seluruh dunia Islam.
Memang, keterikatan kepada tanah tumpah darah, adat istiadat leluhur, serta penguasa setempat telah menghiasi jiwa umat manusia sejak dahulu kala, tetapi paham kebangsaan (nasionalisme) dengan pengertiannya yang lumrah dewasa ini baru dikenal pada akhir abad ke 18.
Yang pertama kali memperkenalkan paham kebangsaan kepada umat Islam adalah Napoleon pada saat ekspedisinya ke Mesir. Lantas, setelah revolusi 1789 Perancis menjadi salah satu negara besar yang berusaha melebarkan sayapnya. Mesir yang ketika itu dikuasai oleh para Mamluk dan berada di bawah naungan kekhalifahan Utsmani, merupakan salah satu wilayah yang diincarnya. Walaupun penguasa-penguasa Mesir itu beragama Islam, tetapi mereka berasal dari keturunan orang-orang Turki. Napoleon mempergunakan sisi ini untuk memisahkan orang-orang Mesir dan menjauhkan mereka dari penguasa dengan menyatakan bahwa orang-orang Mamluk adalah orang asing yang tinggal di Mesir. Dalam maklumatnya, Napoleon memperkenalkan istilah Al-Ummat Al Misriyyah, sehingga ketika itu istilah baru ini mendampingi istilah yang selama ini telah amat dikenal, yaitu Al Ummah Al Islamiyah.
Al Ummah Al Misriyah dipahami dalam arti bangsa Mesir. Pada perkembangan selanjutnya lahirlah ummah lain atau bangsa-bangsa lain.
Untuk memahami wawasan Al Qur’an tentang paham kebangsaan, salah satu pertanyaan yang muncul adalah “kata apakah yang sebenarnya dipergunakan Al Qur’an untuk menunjukkan konsep bangsa atau kebangsaan? Apakah sya’b, qaum atau ummah?”
Kata qaum dan qaumiyah sering dipahami dengan arti bangsa dan kebangsaan. Kebangsaan Arab dinyatakan oleh orang-orang Arab dewasa ini dengan istilah Al Qaumiyah Al ‘Arabiyah. Sebelumnya, pusat Bahasa Arab Mesir pada tahun 1960, dalam buku Mu’jam Al Wasith menerjemahkan “bangsa” dengan kata ummah.
Kata sya’b juga diterjemahkan sebagai “bangsa” seperti ditemukan dalam terjemahan Al Qur’an yang disusun oleh Departemen Agama RI, yaitu ketika menafsirkan surat Al Hujurat: 13.
Mestikah untuk mendukung atau menolak paham kebangsaan, kata qaum yang ditemukan dalam Al Qur’an sebanyak 322 kali itu ditoleh? Dapatkah dikatakan bahwa pengulangan yang sedemikian banyak, merupakan bukti bahwa Al Qur’an mendukung paham kebangsaan? Bukankah para Nabi menyeru masyarakatnya dengan “Ya Qaumi” (wahai kaumku/bangsaku), walaupun mereka tidak beriman kepada ajarannya?
Di sisi lain, dapatkah dibenarkan pandangan sebagian orang yang bermaksud mempertentangkan Islam dengan paham kebangsaan, dengan menyatakan bahwa Allah Ta’ala dalam Al Qur’an memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyeru masyarakat tidak dengan kata qaumi, tetapi “ ya ayyuhan nas” (wahai seluruh manusia), serta menyeru kepada masyarakat yang mengikutinya dengan “ya ayyuhal ladzina amanu?” Benarkah dalam Al Qur’an tidak ditemukan bahwa nabi Muhammad menggunakan kata qaum untuk menunjuk kepada masyarakatnya, seperti yang ditulis sebagian orang?
Hemat penulis, untuk menemukan wawasan Al Qur’an tentang paham kebangsaan, tidak cukup sekedar menoleh kepada kata-kata tersebut yang digunakan Al Qur’an, karena pengertian semantiknya dapat berbeda pengertian yang dikandung oleh kata bangsa atau kebangsaan. Kata sayyarah yang ditemukan dalam Al Qur’an misalnya, masih digunakan dewasa ini, meskipun maknanya sekarang telah berubah menjadi mobil. Makna ini tentunya berbeda dengan maksud Al Qur’an ketika menceritakan ucapan saudara-saudara Nabi Yusuf yang membuangnya ke dalam sumur dengan harapan dipunggut oleh sayyarah yakni kafilah atau rombongan musafir (QS. Yusuf 10).
Paham kebangsaan sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Al Qur’an dan sunnah. Bahkan semua unsur yang melahirkan paham tersebut, inklusif dalam ajaran Al Qur’an, sehingga seorang muslim yang baik pastilah seorang anggota suatu bangsa yang baik. Kalau anggota suatu bangsa terdiri dari beragam agama atau anggota masyarakat terdiri dari berbagai bangsa, hendaknya mereka dapat menghayati firman-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 148:
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblat (arah yang ditujunya), dia menghadap ke arah itu. Maka berlomba-lombalah kamu (melakukan) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian. Sesungguhnya Allah Maha kuasa atas segala sesuatu”

Berbicara menyangkut wawasan Al-Qur’an tentang “Karakter Bangsa Yang Unggul” terlebih dahulu perlu digarisbawahi dua hal. Pertama, di dalam Al-Qur’an tidak ditemukan uraian bahkan kata menyangkut bangsa, karena kata bangsa dalam pengertian modern, belum dikenal pada masa turunnya Al-Qur’an. Faham kebangsaan baru popular di Eropa pada abad XVIII dan baru dikenal oleh umat Islam setelah kehadiran Napoleon ke Mesir tahun 1798 M.

Ketika itu Napoleon bermaksud menyingkirkan kekuasaan Mamâlîk dan untuk itu ia mengatakan bahwa Mamâlîk adalah orang-orang Turki yang berbeda asal keturunannya dengan orang-orang Mesir. Di sana dan ketika itulah dipopulerkan istilah Al-Ummah Al-Mashriah, bangsa Mesir.

Kedua, kendati uraian tentang kebangsaan tidak ditemukan dalam Al-Qur’an, namun itu bukan berarti Al-Qur’an menentang faham kebangsaan, karena betapapun berbeda-beda pendapat para pakar tentang unsur-unsur yang harus terpenuhi untuk lahirnya satu bangsa, namun tidak ada satu unsurpun yang disebut-sebut sebagai unsur kebangsaan, yang dimungkiri atau bertentangan dengan tuntunan Al-Qur’an.

Pilihan kata أمّة (ummat, dalam bahasa Indonesia umat) untuk menunjuk bangsa –-seperti dikemukakan di atas– tidaklah meleset, karena kata itu menurut Ar-râgib Al-Asfahany (508 H/1108 M) digunakan menunjuk semua kelompok yang dihimpun oleh sesuatu, seperti agama yang sama, waktu atau tempat yang sama, baik penghimpunannya secara terpaksa, maupun atas kehendak mereka. Dan seperti diketahui untuk lahirnya satu bangsa diperlukan adanya sekian banyak kesamaan yang terhimpun pada satu kelompok manusia, misalnya kesamaan cita-cita, sejarah, wilayah, dan boleh jadi juga bahasa, asal usul dan lain-lain.

Kata umat dalam arti bangsa juga menjadi pilihan Ensiklopedia Filsafat yang ditulis oleh sejumlah Akademisi Rusia dan yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab oleh Samir Karam, Beirut, 1974 M.

Ali Syariâti dalam bukunya Al-Ummah Wa Al-Imamah menguraikan secara panjang lebar perbedaan beberapa istilah yang digunakan untuk menunjuk himpunan manusia, seperti nation, qabîlah, sya’b, qaum, dan lain-lain dan pada akhirnya ia menilai bahwa kata ummat lebih istimewa dan lebih tepat dibandingkan dengan kata -kata tersebut. Pakar ini mendefinisikan kata umat sebagai “himpunan manusiawi yang seluruh anggotanya menuju satu arah yang sama, bahu membahu guna bergerak secara dinamis menuju tujuan yang mereka harapkan, di bawah kepemimpinan bersama”.

Atas dasar uraian di atas kita dapat berupaya menggali pandangan Al-Qur’an tentang karakter bangsa yang unggul bertitik tolak dari kata أمّة (ummat). Tentu saja kita juga dapat meraba persoalan tersebut melalui ayat-ayat yang berbicara dalam konteks tuntunan Allah kepada kaum mukminin, atau kepada keluarga bahkan kepada individu-individu muslim –karena benih lahirnya satu bangsa atau sel intinya adalah mereka, namun titik berat uraian ini akan mengarah pada ayat-ayat yang berbicara tentang umat.

Ummat dan Ciri-cirinya

Kata امة ummat terambil dari kata أمّ amma, يؤمّ yaummu yang berarti menuju, menumpu dan meneladani. Dari akar kata yang sama lahir antara lain kata ام um yang berarti ibu dan إمام imâm yakni pemimpin, karena keduanya menjadi teladan, tumpuan pandangan dan harapan.

Dalam Al-Qur’an kata ummat ditemukan terulang dalam bentuk tunggal sebanyak lima puluh dua kali, dan dalam bentuk jamak sebanyak dua belas kali. Ad-Dâmighâny yang hidup pada abad XI H. menyebut sembilan arti untuk kata ummat, yaitu, 1) ‘Ushbah/kelompok, 2) (Millat/ cara dan gaya hidup, 3) tahun-tahun yang panjang (waktu yang panjang), 4) kaum, 5) pemimpin, 6) generasi lalu, 7) ummat Nabi Muhammad saw (umat Islam), 8) orang-orang kafir secara khusus, dan 9) Makhluk (yang dihimpun oleh adanya persamaan antar mereka).

Kita bisa berbeda pendapat tentang makna-makna di atas, namun yang jelas adalah Q.S. Yusuf [12]: 45 menggunakan kata ummat untuk arti waktu, dan Q.S. Az-Zuhruf [43]: 22 dalam arti jalan, atau gaya dan cara hidup. Sedang Q.S. Al-Baqarah [2]: 213, hemat penulis, menggunakannya dalam arti kelompok manusia dalam kedudukan mereka sebagai makhluk sosial. Selanjutnya gabungan dari firman-Nya yang menamai Nabi Ibrahim sebagai ummat (Q.S. An-Nahl [16] 120) sama makna dan kandungannya dengan kata imâm yakni pemimpin sebagai ditegaskan oleh Q.S. Al-Baqarah [2]: 124. Benang merah yang menggabungkan makna-makna di atas adalah “himpunan”.

Dari sini kita dapat berkata, pada kata أمّة ummat terselip makna-makna yang cukup dalam. Ia mengandung arti gerak dinamis, arah, karena tidak ada arti satu jalan kalau tidak ada arah yang dituju dan jalan yang dilalui, dan tentu saja perjalanan guna mencapai kejayaan umat memerlukan waktu yang tidak singkat sebagaimana diisyaratkan oleh salah satu makna umat serta pemimpin baik seorang atau sekelompok orang yang memiliki sifat-sifat terpuji dan dengan gaya kepemimpinan serta cara hidup sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh anggota masyarakat bangsa itu. Yang paling wajar dari seluruh umat manusia dinamai umat adalah umat Nabi Muhammad saw yang memang telah disiapkan Allah untuk menjadi Khaira Ummat (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 110).

Kata ummat, dengan kelenturan, keluesan dan aneka makna di atas memberi isyarat bahwa Al-Qur’an dapat menampung perbedaan kelompok-kelompok umat, betapapun kecil jumlah mereka, selama perbedaan itu tidak mengakibakan perbedaan arah, atau dengan kata lain selama mereka Berbhinneka Tunggal Ika. Hakikat ini diisyaratkan antara lain oleh Firman-Nya :

ولا تكونوا كالذين تفرقوا واختلفوا من بعد ما جاءهم البينات وأولئك لهم عذاب عظيم

Dan janganlah kamu menjadi serupa dengan orang-orang yang berkelompok-kelompok dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.

Firman-Nya sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka, dipahami oleh banyak ulama berkaitan dengan kata berselisih bukan dengan kata berkelompok, dan ini berarti bahwa perselisihan itu berkaitan dengan prinsip-prinsip ajaran agama. Adapun yang dimaksud dengan berkelompok-kelompok, maka ia dapat dipahami dalam arti perbedaan dalam badan dan organisasi. Memang perbedaan dalam badan dan organisasi dapat menimbulkan perselesihan walaupun tidak mutlak dari lahirnya aneka organisasi lahir pula perselisihan dalam prinsip dan tujuan.

Jika demikian ayat ini tidak melarang ummat untuk berkelompok, atau berbeda pendapat, yang dilarangnya adalah berkelompok dan berselisih dalam tujuan. Adapun perbedaan yang bukan pada prinsip atau tidak berkaitan dengan tujuan, maka yang demikian itu dapat ditoleransi bahkan tidak mungkin dihindari. Rasul saw sendiri mengakuinya bahkan Allah menegaskan bahwa yang demikian itu adalah kehendak-Nya jua. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepada Kamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. (Q.S Al-Maidah [5]: 48).

Karakter Bangsa Yang Unggul Menurut Al-Qur’an

Jumat, 10 Juni 2011 04:00 |

Beberapa Karakter Bangsa yang Unggul

Sebelum menguraikan beberapa karakter bangsa yang unggul, terlebih dahulu perlu digarisbawahi bahwa karakter terpuji sulit untuk dibatasi dan karena itu tentu uraian ini tidak dapat mengungkap semua ciri dan karakter bangsa yang unggul. Namun demikian, di bawah ini penulis upayakan untuk menghidangkan sebagian yang terpenting di antaranya yaitu:

1. Kemantapan persatuannya

Di atas telah dikemukakan benang merah yang menghimpun semua makna-makna ummat yaitu keterhimpunan. Tanpa keterhimpunan, maka umat tidak dapat tegak bahkan mustahil akan wujud, jangankan dalam kenyataan, dalam ide bahasa pun tidak! Dari sini kita dapat berkata bahwa satu bangsa yang terpecah belah tidaklah dapat tegar dan sebaliknya syarat pertama dan utama untuk keunggulan satu bangsa adalah kemantapan persatuannya.

Itu sebabnya sehingga Al-Qur’an mengingatkan perlunya kesatuan dan persatuan antara lain dengan firman-Nya :

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Q.S. Al-Anfal [8]:46).

Persatuan dan kesatuan tersebut tidak harus melebur perbedaan agama atau suku yang hidup di tengah satu bangsa. Ini dapat terlihat antara lain dalam naskah Perjanjian Nabi Muhammad saw dengan orang-orang Yahudi ketika beliau baru saja tiba di kota Madinah. Salah satu butir perjanjian itu berbunyi :

و إن يهود بني عوف أمة مع المؤمنبن لليهود دينهم وللمسلمين دينهم

Dan sesungguhnya orang-orang Yahudi dari Bany ‘Auf merupakan satu umat bersama orang-orang mukmin. Bagi orang-orang Yahudi agama mereka dan bagi orang-orang muslim agama mereka (juga)

2. Adanya nilai-nilai luhur yang disepakati

Guna memantapkan bahkan mewujudkan persatuan dan kesatuan itu, diperlukan nilai-nilai yang menjadi pandangan hidup bangsa dan menjadi pegangan bersama.

Dalam konteks ini Al-Qur’an menegaskan bahwa

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (Q.S. Al An’am [6]: 108)

Dari ayat di atas terlihat bahwa setiap ummat mempunyai nilai-nilai yang mereka anggap indah dan baik. Atas dasar nilai-nilai itulah mereka bersatu, mengarah dan melakukan aktivitas dan atas dasarnya pula mereka menilai pandangan pihak lain, apakah dapat mereka terima atau mereka tolak. Dengan kata lain, nilai-nilai itu merupakan filter bagi apapun yang datang dari luar komunitas mereka. Perlu digarisbawahi bahwa apapun nilai yang mereka anut, nilai-nilai itu harus mereka sepakati. Semakin luas kesepakatan, semakin mantap dan kuat pula persatuan dan semakin besar peluang bagi unggulnya karakter bangsa. Karena jika mereka tidak sepakati, maka akan lahir perpecahan dalam masyarakat.

Di sisi lain substansi nilai yang mereka sepakti itu tidak harus merupakan nilai yang baik, seperti terlihat pada konteks uraian ayat di atas, tetapi yang penting adalah pandangan tersebut mereka sepakati. Memang harus diakui bahwa semakin luhur dan agung nilai-nilai itu semakin mantap dan langgeng persatuan. Semakin jauh kedepan visi masyarakat bangsa semakin kokoh pula mereka. Dari sini Tauhid dan Kepercayaan tentang kehidupan setelah kehidupan dunia merupakan hal yang amat penting dalam karakter bangsa yang unggul. Bisa saja satu bangsa mencapai kejayaan dalam kehidupan dunia, tetapi bila visinya terbatas, maka akan lahir kejenuhan yang menjadikan mereka mandek, lalu sedikit demi sedikit kehilangan motivasi dan hancur berantakan. Q.S. Al-Isra’ [17]: 18-19 menyatakan:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُوراً

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang, maka Kami segerakan baginya di sini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (Q.S.Al-Isra’ [17]: 18)

Yang menghendaki kehidupan dunia saja, akan sangat terbatas visinya dan ini menjadikan usahanya pun terbatas sampai pada visi duniawi saja. Dia tidak lagi akan menaman benih, jika ia ketahui bahwa esok kiamat tiba, tetapi yang visinya jauh, akan tetap bekerja dan bekerja serta memperoleh hasil walau ia sadar bahwa besok akan terjadi kiamat, karena pandangannya tidak terbatas pada dunia ini, dan karena dia yakin bahwa hasil upayanya akan diperolehnya di akhirat nanti. Yang menghendaki kehidupan duniawi, bukan hanya terhenti upayanya bahkan akan bosan hidup, jika ia merasa bahwa apa yang diharapkannya telah tercapai. Bukankah ia hanya mencari kenikmatan duniawi, sedang kini semua telah diperolehnya?

Adapun yang menghendaki kehidupan akhirat, maka dia tidak pernah akan berhenti berusaha serta meningkatkan upaya dari saat ke saat, karena betapapun kenikmatan duniawi telah dicapainya, pandangannya tidak terhenti di sini. Ia melihat jauh ke depan, yakni kehidupan sesudah hidup dunia ini.

Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa salah satu karakter bangsa yang unggul adalah bangsa yang memiliki pandangan hidup berdasar nilai-nilai luhur yang langgeng.

3. Kerja keras, displin dan penghargaan kepada waktu

Perintah Al-Qur’an kepada umat manusia agar beramal shaleh serta pujian terhadap mereka yang aktif melakukannya demikian juga penghargaan kepada waktu bukanlah satu hal yang perlu dibuktikan. Ayat Al-Isra’ yang dikutip di atas dilanjutkan dengan menyatakan:

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usaha mereka disyukuri (Q.S. Al-Isra’ [17]: 19).

Yang usaha mereka disyukuri yakni yang terpuji adalah yang visinya jauh ke depan mencapai akhirat, percaya kepada Allah dan keniscayaan akhirat serta berusaha secara bersungguh-sungguh.

Kata سعي sa’â pada mulanya berarti berjalan dengan cepat, lalu berkembang sehingga digunakan dalam arti usaha sungguh-sungguh. Dengan demikian ayat ini menggarisbawahi perlunya kesungguhan dalam berusaha guna meraih apa yang dikehendaki dan dicita-citakan.

Yang menghendaki kehidupan akhirat haruslah berusaha dengan penuh kesungguhan dan harus pula dibarengi dengan iman yang mantap, sambil memenuhi segala konsekwensinya, karena iman bukan sekedar ucapan, tetapi dia adalah sesuatu yang mantap dalam hati dan dibuktikan oleh pengamalan.

Di sini dapat dimengerti mengapa pesan-Nya kepada setiap pribadi :

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

Maksudnya: Maka apabila engkau telah selesai yakni sedang berada di dalam keluangan setelah tadinya engkau sibuk maka bekerjalah dengan sungguh-sungguh hingga engkau letih atau hingga tegak dan nyata suatu persoalan baru dan hanya kepada Tuhanmu saja, tidak kepada siapapun selain-Nya, hendaknya engkau berharap dan berkeinginan penuh guna memperoleh bantuan-Nya dalam menghadapi setiap kesulitan serta melalukan satu aktivitas.

Seseorang yang telah memenuhi waktunya dengan pekerjaan, kemudian ia menyelesaikan pekerjaan tersebut, maka jarak waktu antara selesainya pekerjaan pertama dan dimulainya pekerjaan selanjutnya dinamai فراغ farâg.

Ayat di atas memberi petunjuk antara lain bahwa seseorang harus selalu memiliki kesibukan positif. Bila telah berakhir suatu pekerjaan, ia harus memulai lagi dengan pekerjaan yang lain, dan dengan waktunya selalu terisi.

4. Kepedulian yang tinggi

Firman Allah dalam Q.S. Ali Imran [3]: 110 menegaskan sebab keunggulan umat Nabi Muhammad saw dengan firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ( الآية(

Kamu adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah

Ayat di atas menggarisbawahi keunggulan umat Islam disebabkan oleh kepedulian mereka terhadap masyarakat secara umum, sehingga mereka tampil melakukan kontrol sosial, menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran disertai keimanan kepada Allah. Kepedulian itu bukan saja berkaitan dengan pemahaman dan penerapan serta pembelaan terhadap nilai-nilai agama yang bersifat universal yang dijelaskan oleh ayat di atas dengan kata al-khair, tetapi nilai-nilai budaya masyarakat yang tidak bertentangang dengan nilai-nilai al-Khair. Kepedulian juga mencakup pemenuhan kebutuhan pokok anggota masyarakat lemah. Kepedulian ini tidak hanya terbatas pada orang-orang yang mampu, tetapi mencakup semua anggota masyarakat. Q.S. Al-Ma’un [107]: 1-2 menegaskan bahwa yang menghardik anak yatim dan yang tidak menganjurkan pemberian pangan kepada orang miskin adalah orang yang mendustakan agama/hari kemudian.

Ayat tersebut menggunakan kata يَحُضُّ (Yahudhdhu/menganjurkan) untuk mengisyaratkan bahwa mereka yang tidak memiliki kelebihan apapun tetap dituntut paling sedikit berperan sebagai penganjur pemberian pangan. Peranan ini dapat dilakukan oleh siapapun selama mereka merasakan penderitaan orang lain. Ayat di atas tidak memberi peluang sekecil apapun bagi setiap orang untuk tidak berpartisipasi dan meraskan betapa kepedulian harus menjadi ciri karakter umat yang unggul. Dari sini dapat dimengerti sabda Nabi Muhammad saw:

من لم يهتم بأمرالمسلمين فليس منهم

Siapa yang tidak peduli urusan umat Islam maka ia bukanlah bagian dari mereka.

Dalam konteks ini banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menuntun umat Islam untuk bahu membahu saling ingat mengingatkan tentang kebenaran, kesabaran, ketabahan dan kasih antar mereka. (Baca misalnya Q.S. Al-Ashr, dan Al-Balad).

5. Moderasi dan Keterbukaan

Umat Islam dinamai Al-Qur’an sebagai ummat(an) wasathan. Allah berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Demikian itu Kami jadikan kamu ummatan Wasathan agar kamu menjadi saksi/disaksikan oleh manusia dan Rasul menjadi saksi atasmu /disaksikan olehmu. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 143).

Kata wasath pada mulanya berarti segala yang baik sesuai objeknya. Sementara pakar berpendapat bahwa yang baik berada pada posisi antara dua ekstrem. Keberanian adalah pertengahan antara sifat ceroboh dan takut, Kedermawanan, pertengahan antara sikap boros dan kikir. Kesucian adalah pertenghan antara kedurhakaan yang diakibatkan oleh dorongan nafsu yang menggebu dan impotensi. Dari sini kata wasath berkembang maknanya menjadi “tengah” dan dari sini pula yang menghadapi dua pihak berseteru dituntut untuk menjadi wasith (wasit) dengan berada pada posisi tengah, dengan berlaku adil.

Karakter umat yang terpilih dan unggul adalah moderasi Lâ Syarqiyyah Wa lâ Garbîyah, Tidak di Timur dan Tidak di Barat. Posisi ini membawa mereka tidak seperti ummat yang dibawa hanyut oleh materialisme, tidak pula mengantarnya membumbung tinggi ke alam rohani, sehingga tidak lagi berpijak di bumi. Posisi tengah menjadikan mereka mampu memadukan rohani dan jasmani, material dan spiritual dalam segala sikap dan aktivitas mereka.

Wasathîyat (moderasi/posisi tengah ) mengundang ummat Islam berinteraksi, berdialog dan terbuka dengan semua pihak yang berbeda dalam agama, budaya, peradaban) karena bagaimana mereka dapat menjadi saksi atau berlaku adil jika mereka tertutup atau menutup diri dari lingkungan dan perkembangan global?

Keterbukaan ini menjadikan bangsa dapat menerima yang baik dan bermanfaat dari siapapun, dan menolak yang buruk melalui filter pandangan hidupnya. Karena itu pula nabi saw bersabda :

الحكمة ضالة المؤمن أنآ وجدها فهوأحق بها

Hikmah (amal ilmiah dan ilmu amaliyah) adalah barang hilang miliki sang mukmin, dimana ia menemukannya, maka dia lebih berhak atasnya”.

Keunggulan masyarakat Islam masa lampau, antara lain karena keterbukaan mereka menerima apa yang baik dari manapun datangnya. Q.S. Az-Zumar [39]: 18 memuji sekelompok manusia yang dinamainya Ulul Albâb dengan firman-Nya:

فَبَشِّرْ عِبَادِ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

Maka gembirakanlah hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti dengan sungguh-sungguh apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tunjuki dan mereka itulah Ulu Al-Albâb.

Yang dimaksud dengan mendengar perkatan adalah segala macam ucapan, yang baik dan yang tidak baik. Mereka mendengarkan semuanya lalu memilah-milah, dan mengambil serta mengamalkan yang baik bahkan yang terbaik tanpa menghiraukan dari manapun sumbernya. Ini serupa dengan tuntunan :

أنظر الى المقال ولا تنظر الى من قال

“Lihatlah kepada (kandungan ) ucapan dan jangan lihat siapa pengucapnya”.

Kalimat ”mengikuti dengan sungguh-sungguh apa yang paling baik di antaranya” mengisyaratkan karakter mereka. Seseorang yang menyukai kebaikan dan tertarik kepada kecantikan akan semakin tertarik setiap bertambah kebaikan itu. Jika ia menghadapi dua hal, yang satu baik dan yang lainnya buruk, maka ia akan cenderung kepada yang baik, dan apabila ia menemukan satu baik dan yang satu lainnya lebih baik, maka ia akan mengarah kepada yang lebih baik.

Dengan demikian, keterangan ayat di atas yang menyatakan bahwa mereka mengikuti secara sungguh-sungguh yang terbaik menunjukkan bahwa perangai/karakter mereka telah terbentuk sedemikan rupa sehingga mereka selalu mengejar kebenaran dan terus menerus menginginkan yang baik bahkan yang terbaik. dimana dan siapapun yang memaparkannya

Karakter inilah yang menjadikan satu bangsa maju dan berkembang, dan karena itu kita dapat berkata bahwa karakter satu bangsa yang unggul adalah yang selalu mendambakan kemajuan dan perkembangan serta berusaha mewujudkannya. Dalam konteks ini Al-Quran antara lain melukiskan pengikut- pengikut Nabi Muhammad saw:

كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

Seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya lalu ia menguatkannya lalu tegak lurus di atas pokoknya; menyenangkan hati penanam-penanamnya. ( Q.S. Al-fath [48]: 29).

6. Kesediaan berkorban

Dalam QS. Al-Baqarah [2]: 213 Allah berfirman:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ

Manusia adalah umat yang satu. Lalu Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.

Ayat ini antara lain berbicara tentang kesatuan umat. Kesatuan itu dilukiskan ayat di atas dengan kata kâna yang pada ayat dimaksudkan bukan dalam arti telah terjadi dahulu tetapi dalam arti Tsubut yakni kemantapan dan kesinambungan keadaan sejak dahulu hingga kini. Dengan kata lain manusia sejak dahulu hingga kini merupakan satu kesatuan kemanusaian yang tidak dapat dipisahkan, karena manusia, secara orang-perorang tidak dapat berdiri sendiri. Kebutuhan seorang manusia tidak dapat dipenuhi kecuali dengan kerja sama semua pihak. Manusia adalah makhluk sosial, mereka harus bekerja sama dan topang menopang demi mencapai kebahagiaan dan kesejahteraannya.

Manusia di samping memiliki banyak kebutuhan yang tidak terpenuhi tanpa kerja sama, juga memiliki ego yang selalu menuntut agar kebutuhannya bahkan keinginannya dipenuhi semua dan terlebih dahulu. Hal ini dapat menimbulkan perselisihan dan permusuhan. Guna menghindari hal itu, setiap orang harus mengorbankan –sedikit atau banyak– dari tuntutan egonya guna kepentingan pihak lain, bahkan untuk kepentingan sendiri demi meraih ketenteraman. Pengorbanan inilah benih dari lahirnya akhlak mulia. Nah jika demikian, tanpa pengorbanan atau tanpa akhlak mulia masyarakat bangsa tidak dapat tegak. Dari sini sungguh tepat kalimat bersayap Buya Hamka: “Tegak rumah karena sendi, Runtuh budi rumah binasa. Sendi bangsa adalah budi, Runtuh budi runtulah bangsa.”

Demikian juga ungkapan Ahmad Syauqi penyair kenamaan Mesir:

إنما الأمم الأخلاق مابقيت فإن هموا ذهبت أخلاقهم ذهبوا

Eksistensi bangsa-bangsa terpelihara selama akhlak mereka terpelihara. Kalau akhlak mereka runtuh, runtuh pula mereka itu.

Akhlak atau nilai-nilai moral merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan satu bangsa. Dalam surah Al-Balad (negeri) Allah SWT menyebut tiga kelompok umat manusia, dengan hasil pembangunan yang mengagumkan.

Pertama Kaum Âd, yang bermukim di kota Iram serta dilukiskan oleh surah tersebut sebagai memiliki bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah diciptakan yakni dibangun bangunan kota sepertinya di negeri-negeri lain?

Kedua Tsamud yang memiliki kemahiran dalam bidang seni sehingga mampu memahat gunung dengan sangat mengagumkan. Yang ketika Kaum Fir’aun yang memiliki kemampuan teknologi yang demikian mengagumkan antara lain kemampuan mereka membangun piramid-piramid yang demikianm kokoh dan indah. Ketiga kelompok masyarakat itu binasa karena keruntuhan akhlak mereka, kendati mereka maju dalam bidang material.

7. Ketegaran serta keteguhan menghadapi aneka rayuan dan tantangan

Q.S. An-Nahl [16]: 92 menyatakan:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَى مِنْ أُمَّةٍ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُون

Dan janganlah kamu menjadi seperti seorang wanita yang mengurai tenunannya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai; kamu menjadikan sumpah kamu sebagai penyebab kerusakan di antara kamu disebabkan adanya satu umat yang lebih banyak dari umat yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengannya. Dan pasti di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepada kamu apa yang dahulu kamu perselisihkan.

Tuntutan di atas ditempatkan Allah sesudah memerintahkan menepati janji dan memenuhi sumpah. Ayat ini melarang secara tegas membatalkannya sambil mengilustrasikan keburukan pembatalan itu. Memang penegasan tentang perlunya menepati janji merupakan sendi utama tegaknya masyarakat, sehingga menjadi karakter terpuji bagi seseorang dan suatu komunitas. Sifat dan karakter itulah yang memelihara kepercayaan berinteraksi anggota masyarakat. Bila kepercayaan itu hilang, bahkan memudar, maka akan lahir kecurigaan yang merupakan benih kehancuran masyarakat.

Ayat di atas menyebut kata ummat sebanyak dua kali. Banyak pakar tafsir memahami ayat ini berbicara tentang kelakukan sementara suku pada masa Jahiliah. Mereka (namailah pihak pertama) mengikat janji atau sumpah dengan salah satu suku yang lain (pihak kedua), tetapi kemudian pihak pertama itu menemukan suku yang lain lagi (pihak ketiga) yang lebih kuat dan lebih banyak anggota dan hartanya atau lebih tinggi kedudukan sosialnya daripada pihak kedua. Nah, disini pihak pertama membatalkan sumpah dan janjinya karena pihak ketiga lebih menguntungkan mereka.

Dalam konteks ajaran Islam, ayat ini mengingatkan kaum muslimin agar jangan memihak kelompok musyrik atau musuh Islam, karena mereka lebih banyak dan lebih kaya daripada kelompok muslimin sendiri. Tuntunan ini berarti masyarakat harus tegar, tidak mengorbankan harga dirinya atau nilai-nilai yang dianutnya untuk meraih kepentingan duniawi. Bangsa yang berkarakter unggul tidak akan bertekuk lutut menghadapi tantangan apapun kendati mereka secara fisik telah terkalahkan. Makna ini antara lain terbaca melalui pesan Allah SWT kepada kaum muslimin sesaat setelah kekalahan mereka dalam perang Uhud. Ketika itu turun antara lain firman-Nya:

ولا تهنوا ولا تحزنوا وأنتم الأعلون إن كنتم مؤمنين

Maksudnya: Janganlah kamu melemah, (menghadapi tantangan apapun), dan jangan (pula) kamu bersedih hati (akibat kekalahan yang kamu alami dalam perang Uhud, atau peristiwa lain yang serupa, tetapi tegar dan tabahlah). Bagaimana kamu akan melemah, tidak tegar atau larut dalam kesedihan, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya di sisi Allah di dunia dan di akhirat dan paling unggul), jika (benar-benar) kamu orang-orang mukmin (yang telah mantap keimanan dalam hatinya). Q.S. Ali ‘Imran [3]: 139.

Penutup

Demikian tujuh karakter yang penulis pilih sebagai karakter terpenting bagi satu bangsa atau kelompok yang unggul. Tentu rentetan karakter yang disebut di atas masih dapat berlanjut, namun hemat penulis apa yang dikemukan itu sudah cukup memadai untuk menjadi indikator bagi karakter bangsa yang unggul. Demikian. Wa Allah A’lam. (ptiq.ac.id)

Oleh M. Quraish Shihab

Bismillaahirrohmaanirrohiim
Atas Berkat Rohmat Alloh Yang Maha Kuasa

CINTA TANAH AIR ADALAH PERINTAH ALLOH SWT.
( Oleh; Aku Shiddiq )

Persamaan sejarah muncul sebagai unsur kebangsaan karena unsur ini merupakan salah satu yang terpenting demi menyatukan perasaan, pikiran, dan langkah-langkah masyarakat. Sejarah menjadi penting karena umat, bangsa, dan kelompok dapat melihat dampak positif atau negatif dari pengalaman masa lalu, kemudian mengambil pelajaran dari sejarah untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik dan sejahtera. Sejarah yang gemilang dari suatu kelompok akan dibanggakan anggota kelompok serta keturunannya, demikian pula sebaliknya. Al Qur-an sangat menonjol dalam menguraikan peristiwa sejarah. Bahkan tujuan utama dari uraian sejarahnya adalah guna mengambil i’tibar (pelajaran), guna menentukan langkah berikutnya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa unsur kesejarahan sejalan dengan ajaran Al-Quran. Sehingga kalau unsur ini dijadikan salah satu faktor lahirnya paham kebangsaan, hal ini inklusif didalam ajaran Al Qur-an, selama uraian kesejarahan itu diarahkan untuk mencapai kebaikan, kerukunan, kesejahteraan dan kemaslahatan.

Didalam Kitab Suci Al Qur-an terdapat hukum-hukum Alloh yang bertujuan untuk mengatur kehidupan umat manusia dan cinta akan tanah airnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk dapat hidup bahagia, rukun, tentram, damai, makmur, sejahtera dan lain-lain. Mari kita lihat hukum-hukum Alloh sebagai berikut :

1. PERINTAH ALLOH SWT. UNTUK SALING KENAL MENGENAL
“Hai manusia, sesungguhnya KAMI menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku (bermacam-macam bahasa, bermacam-macam budaya) supaya kamu saling kenal mengenal (saling bersahabat ,saling hormat menghormati, kasih mengasihi, sayang menyayangi, tolong menolong dll.). Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Alloh ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS.49:13).

Jadi sudah sangat jelas dan sangat gamblang sekali bagi seorang muslim yang mau berfikir, merenung, menginsyafi dan melaksanakan hukum Alloh diatas, jelaslah bahwa Alloh menciptakan bermacam-macam bangsa, bermacam-macam suku, bermacam-macam bahasa, bermacam-macam budaya, bermacam-macam keluarga, bermacam-macam individu manusia adalah bertujuan agar satu sama lain saling kenal mengenal, saling belajar, saling bersahabat, saling berdagang, saling kasih mengasihi, saling sayang menyayangi, saling tolong menolong, saling hormat menghormati kepada masing-masing budaya, bahasa dan keyakinan (Yahudi, Nasrani, Budha, Islam dll.) dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sejahtera, damai, makmur dan bijaksana.

2. PERINTAH ALLOH SWT. UNTUK SALING BERSAHABAT
Orang-orang muslim wajib bersahabat dengan orang-orang non muslim menurut Alloh SWT. Melaksanakan perintah Alloh (QS.58:11 dan QS.49:13) agar bisa mengolah pemberian-pemberian Alloh dengan baik (QS.57:25).
“Mudah-mudahan Alloh menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi diantara mereka. Dan Alloh adalah Maha Kuasa. Dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS.60:7).

3. PERINTAH ALLOH SWT. TENTANG KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya” (QS 8:30).

Tanah air bukanlah milik pribadi, golongan atau agama tertentu. dia adalah milik setiap warga negaranya. Oleh karenanya tidak diperkenankan bagi seseorang mendoktrin yang lainnya, apalagi dalam urusan agama dan keyakinan. Harus bisa menampung semua hal dalam naungan satu tanah air.
Tanah air mengajarimu bahasa, memberikan kebudayaan, menumbuh kembangkan dirimu sesuai kebiasaan dan adat, menanamkan dalam dirimu nilai dan tatanannya.
Seorang anak dilahirkan dalam keadaan suci, ia menghabiskan beberapa tahun pertamanya dalam asuhan keluarga, kemudian datang peran tempat tinggal melanjutkan misi kedua orang tua mengajar, mendidik dan membuat mereka beretika. Peran tempat tinggal tidak kalah penting dengan peran keluarga, bahkan merupakan sebuah proses kelanjutan, semenjak anak memasuki sekolah lalu lulus kuliah, kemudian menemukan profesi yang cocok untuknya, semua proses tersebut amat erat hubungannya dengan tempat tinggal anak-anak lainnya secara simbiosis aktif dan mutualisme. Keadaan ini akan terus berlanjut sepanjang kehidupan, apa yang menyengsarakan negrinya akan menyengsarakan dirinya dan sebaliknya. Sambung menyambung antara generasi nenek moyang dan setelahnya tetap ada melintasi kekayaan dan kebudayaan tanah air yang pada umumnya mempunyai corak tersendiri yang membedakannya dengan kebudayaan tempat lain. Adapun perubahan, pencerahan dan keterbukaan terhadap kebudayaan lain terjadi karena adanya interaksi media dan kebudayaan lain, hal itu bisa berlangsung cepat atau lambat.

4. PERINTAH ALLOH SWT. UNTUK CINTA TANAH AIR
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian” (QS.2:126)

Nabi Ibrohim berdo’a untuk tanah airnya :
1) Menjadi negeri yang aman sentosa.
2) Penduduknya Dilimpahi rizqi.
3) Penduduknya Iman kepada Allah dan hari akhir.
Ini menunjukkan Nabi Ibrohim adalah seseorang yang begitu mendalam Cintanya akan tanah airnya.

Rasa kebangsaan tidak dapat dinyatakan adanya tanpa dibuktikan oleh patriotisme dan cinta tanah air. Cinta tanah air tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Agama, bahkan inklusif didalam ajaran Al Qur-an dan praktek Nabi Muhammad SAW. Hal ini bukan sekadar dibuktikan melalui Hadits Nabi Muhammad SAW.

“Hubbul Wathan minal Iman (Cinta tanah air adalah bagian dari iman)”.

Melainkan justru dibuktikan dalam praktek Nabi Muhammad SAW., baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat. Ketika Rasulullah SAW. berhijrah ke Madinah, Beliau Sholat menghadap ke Bait Al Maqdis tetapi setelah enam belas bulan rupanya Beliau rindu kepada Makkah dan Ka’bah, karena merupakan kiblat leluhurnya dan kebanggaan orang-orang Arab. Begitu tulis Al-Qasimi dalam tafsirnya. Wajah Beliau berbolak-balik menengadah ke langit, bermohon agar kiblat diarahkan ke Makkah, maka Alloh merestui keinginan ini dengan menurunkan firman-Nya:

“Sungguh Kami (senang) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjid Al-Haram” (QS 2:144).

Cinta Beliau kepada tanah tumpah darahnya tampak pula ketika meninggalkan kota Makkah dan berhijrah ke Madinah. Sambil menengok ke kota Makkah beliau berucap:
“Demi Alloh, sesungguhnya engkau adalah bumi Alloh yang paling aku cintai, seandainya bukan yang bertempat tinggal disini mengusirku, niscaya aku tidak akan meninggalkannya”.

Sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW. pun demikian, sampai-sampai Nabi Muhammad SAW. bermohon kepada Alloh:
“Wahai Allah, cintakanlah kota Madinah kepada kami, sebagaimana engkau mencintakan kota Makkah kepada kami, bahkan lebih” (HR Bukhari, Malik dan Ahmad).

Memang, cinta kepada tanah tumpah darah merupakan naluri manusia, dan karena itu pula Nabi Muhammad SAW. menjadikan salah satu tolak ukur kebahagiaan adalah “diperolehnya rezeki dari tanah tumpah darah”.
Sungguh benar ungkapan;
“hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih senang di negeri sendiri.”.
Bahkan Rasululloh SAW. mengatakan bahwa orang yang gugur karena membela keluarga, mempertahankan harta dan negeri sendiri dinilai sebagai syahid sebagaimana yang gugur membela ajaran Agama, bahkan Al Qur-an menggandengkan pembelaan Agama dan pembelaan negara dalam firman-Nya:

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik, dan memberi sebagian hartamu (berbuat adil) kepada orang yang tidak memerangi kamu karena agama, dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Alloh hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama, mengusir kamu dari negerimu, dan membantu orang lain mengusirmu” (QS 60:8-9).

5. PERINTAH ALLOH SWT. UNTUK MENGIKUTI JEJAKNYA NABI IBROHIM
Kita umat Islam diperintah mengikuti millah (jejak) Ibrohim :

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”.

Dan diantara millah Nabi Ibrohim adalah CINTA TANAH AIR.

6. PERINTAH ALLOH SWT. UNTUK BERBUAT KEBAIKAN
Pikiran dan perasaan satu kelompok atau umat tercermin antara lain dalam adat istiadatnya, dalam konteks ini kita dapat merujuk perintah Alloh dalam Al Qur-an antara lain:

“Hendaklah ada sekelompok diantara kamu yang mengajak kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar”(QS Ali ‘Imran 3:104).

“Jadilah engkau pemaaf; titahkanlah yang ‘urf (adat kebiasaan yang baik), dan berpalinglah dari orang yang jahil” (QS Al-A’raf 7:199).

Kata ‘urf dan ma’ruf pada ayat-ayat itu mengacu kepada kebiasaan dan adat istiadat yang tidak bertentangan dengan al-khair, yakni prinsip-prinsip ajaran Islam. Rincian dan penjabaran kebaikan dapat beragam sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat. Sehingga sangat mungkin suatu masyarakat berbeda pandangan dengan masyarakat lain. Apabila rincian maupun penjabaran itu tidak bertentangan dengan prinsip ajaran agama, maka itulah yang dinamai ‘urf/ma’ruf.
Pakar-pakar hukum menetapkan bahwa adat kebiasaan dalam suatu masyarakat selama tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Islam dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan hukum (al-adat muhakkimah). Demikian ketentuan yang mereka tetapkan setelah menghimpun sekian banyak rincian argumentasi keagamaan.

7. LARANGAN ALLOH SWT. UNTUK TIDAK BERBUAT DISKRIMINASI
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Alloh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum (yahudi, nasrani) mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS.5:8).

Berlaku adil artinya tidak boleh diskriminasi antara orang muslim dan non muslim. Duduk sama rendah tegak sama tinggi. Kalau dalam satu negeri terdapat orang-orang non Islam yang baik-baik maka mereka juga bisa menjadi pemimpin, atau menjadi seorang mentri dalam kabinet. Umat Islam tidak boleh memperlakukan diskriminasi, misalnya karena dia seorang Nasrani maka dia tidak diberi jabatan dalam pemerintahan sedangkan ilmunya memenuhi persyaratan untuk menjadi mentri atau pemimpin.
Jadi tidak ada diskriminasi antara hamba-hamba Alloh yang baik-baik walaupun berbeda keyakinan. Terasa sangat indah sekali apabila hukum Alloh ini benar-benar dijalankan oleh hambaNYA. Sehingga umat manusia dapat hidup damai dan saling bantu membantu dan saling berlomba lomba berbuat kebaikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

8. SEMUA AGAMA MENYEMBAH HANYA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA (AGAMA TAUHID).
Sesungguhnya agama Alloh adalah satu, yaitu agama ber-Tuhan Yang Maha Esa atau ber-Tauhid, inilah penjelasan dari Alloh kepada Nabi Ibrahim.

“Sesungguhnya (Agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua (Yahudi, Nasrani dan Muslim) Agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku”. (QS 21:92. QS.23:52).

Jadi semua Agama itu adalah Agama yang Tauhid. Menyembah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan sudah menjadi kewajiban bagi bangsa Indonesia yang sudah memiliki dasar Negara Republik Indonesia (PANCASILA) yang sesuai dengan ajaran Al Qur-an ini, untuk bersyukur, melaksanakan dan menjaganya dengan sekuat tenaga agar tidak sampai dirubah oleh sekelompok orang yang ingin merubahnya dengan pandangan lain. Dan wajib disyukuri untuk dijalankan bahwa tatanan hukum Negeri INDONESIA tercinta ini (UUD ’45) juga sesuai dengan ajaran Al Qur-an.

Dari uraian hukum-hukum Alloh diatas terlihat bahwa paham kebangsaan sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Al Qur-an dan Sunnah. Bahkan semua unsur yang melahirkan paham tersebut inklusif dalam ajaran Al Qur-an, sehingga seorang Muslim yang baik pastilah seorang anggota suatu bangsa yang baik. Kalau anggota suatu bangsa terdiri dari beragam agama, atau anggota masyarakat terdiri dari berbagai bangsa, hendaknya mereka dapat menghayati, menginsyafi, menyadari firman Alloh dalam Al Qur-an;

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblat (arah yang ditujunya), dia menghadap ke arah itu. Maka berlomba-lombalah kamu (melakukan) kebaikan dimana saja kamu berada pasti Alloh akan mengumpulkan kamu sekalian. Sesungguhnya Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:148).

Sekiranya setiap muslim mau berfikir, merenung, menginsyafi dan melaksanakan hukum-hukum Alloh diatas maka terjadilah Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang penuh kedamaian dan kesejahteraan, karena Alloh akan menurunkan rezeki yang berlimpah kepada orang yang mengikuti perintah-perintah Alloh dengan sempurna (Orang-orang bertaqwa) lihat (QS.65:2-3).

Semoga penjelasan yang singkat ini tentang bermasyarakat dengan umat non Islam berdasarkan hukum-hukum Alloh ada manfa’atnya bagi umat muslim di Indonesia. Kalau benar itu datang dari Alloh hendaklah dita’ati untuk dijalankan dan kalau salah itu datang dari saya yang lemah, mohon dima’afkan dan dikoreksi.
Yaa Alloh yaa Tuhan kami, lapangkanlah untuk kami dada kami, mudahkanlah setiap urusan-urusan kami, dan bukalah buhul-buhul lidah kami agar setiap kata yang kami ucapkan mudah dimengerti dan disenangi oleh para pembaca, kepada siapa lagi kami bermohon yaa Alloh kalau bukanlah kepada Mu Yang Maha Berkuasa dilangit dan dibumi ini. Amin.

Marilah kita menuju masyarakat yang bermanfa’at di dunia berarti bermanfa’at di akhirat. kita bersama-sama berdo’a, berpikir dan berikhtiar untuk Kejayaan Negeri INDONESIA RAYA tercinta ini, Bhinneka Tunggal Ika.

Satu Nusa, satu Bangsa, satu Bahasa
INDONESIA

Alhamdulillaahirobbil ‘Aalamiin.

Wawasan Kebangsaan untuk Menuju Negara yang “Baldatun Toyyibatun wa Robbun Ghoffur”

Jumat, Juli 24, 2009 | Diposkan oleh Ahmad Fauzi
Oleh : Abi Mursalat”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al A’raaf, 7:96)Pembukaan
Di panggung sejarah sudah banyak kita lihat bagaimana timbul-tenggelamnya peradaban suatu bangsa. Ada saatnya suatu kaum / bangsa menjadi jaya raya berkuasa, namun beberapa generasi kemudian “gulung tikar” hilang bagai ditelan bumi. Namun tidak sedikit pula kaum yang berabad-abad tertindas, kemudian bisa berubah menjadi bangsa yang merdeka. Namun kemudian merosot kembali menjadi sengsara, bahkan tertindas oleh bangsa yang lebih kuat.

Penemuan prasasti Ebla (2500 SM) oleh para arkeolog di Timur Tengah pada 1975, merupakan salah satu bukti bahwa kisah yang dituliskan dalam Al-Qur’an itu betul-betul terjadi. Bukan merupakan dongeng bagi anak-anak menjelang tidur. Sebagaimana dijelaskan dalam Surat Yusuf, (yang artinya) : “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS Yusuf, 12:111)

Wawasan Kebangsaan
Ir. Sukarno, penggali Pancasila yang menjadi dasar falsafah bangsa Indonesia, menyebutkan bahwa bangsa (nation) merupakan sekumpulan masyarakat yang hidup bersama di suatu wilayah (geopolitik) yang memiliki kesamaan sejarah dan cita-cita bersama. Kemudian dalam usahanya untuk menyatukan bangsa kita yang terdiri dari berbagai ragam suku bangsa, budaya, dan kepercayaan, dibuatlah semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, dan Pancasila sebagai landasan dasar dalam berbangsa dan bernegara.

Setelah melalui berbagai perdebatan dan pertimbangan dari para pendiri bangsa, ditetapkanlah sila pertama adalah KeTuhanan Yang Maha Esa. Ini menunjukkan bahwa bangsa kita mengakui superioritas Tuhan, yang menciptakan, mengendalikan dan berkuasa penuh terhadap manusia. Hal itu sesuai dengan berbagai ayat dalam Al-Qur’an, antara lain pada Surat 112 (Al-Ikhlas) dan Surat 2 (Al Baqarah), yang artinya : “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.” (QS Al-Ikhlas, 112:1) “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Baqarah, 2:163). “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah, 2:21-22)

Mohammad Hatta pernah mengatakan, bahwa sulit memperoleh kriteria yang tepat apa yang menentukan bangsa. Bangsa bukanlah didasarkan pada kesamaan asal, persamaan bahasa dan persamaan agama saja. Bangsa ditentukan oleh sebuah keinsyafan sebagai suatu persekutuan yang tersusun jadi satu. Yaitu keinsyafan yang terbit karena percaya atas persamaan nasib dan tujuan. Keinsyafan yang bertambah besar oleh karena sama seperuntungan, malang yang sama diderita, mujur yang sama didapat, oleh karena jasa bersama dan kesengsaraan bersama. Pendeknya karena peringatan kepada riwayat bersama yang tertanam dalam hati dan otak.

Namun apa yang kita lihat akhir-akhir ini sungguh amat memprihatinkan. Kebersamaan dan kerukunan sebagai dasar wawasan kebangsaan terus-menerus mulai tergerus. Dis-integrasi terjadi dimana-mana, dalam berbagai skala. Baik yang kecil maupun besar: perkelahian antar kelompok, kampung, suku, bahkan mengatasnamakan agama. Ada juga daerah yang ingin merdeka, melepaskan diri dari NKRI. Semuanya mengarah pada perpecahan bangsa yang sungguh mengkawatirkan.

Kalau masalah kebangsaan ini tidak segera kita atasi bersama, mungkin tak lama lagi bangsa ini hanya tinggal nama. Negerinya terpecah belah, budayanya terjajah, tidak ada lagi kesenian daerah. Dan mungkin saja anak-cucu kita malu mengaku pernah dilahirkan di Indonesia. Sungguh tragis.
“Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” (QS Yunus, 10:19)

Pelajaran dari Al-Qur’an
Gambaran sebuah negeri yang subur makmur dan aman seperti yang dilukiskan dalam Al-Qur’an, Surat Saba’ (34). Negeri Saba’ yang dibangun di selatan jazirah Arab pada abad ke-11 SM, adalah sebuah peradaban besar. Naskah tertua yang ditemukan arkeolog, menyatakan keberadaan Kaum Saba adalah catatan tahunan dari zaman raja Assyria, Sargon II.

Saba’, adalah negeri yang melakukan kegiatan perniagaan, dan sejumlah jalur perdagangan terpenting di utara Arab ada dalam kekuasaannya. Penduduk Saba’ terkenal dalam sejarah sebagai bangsa berperadaban tinggi. Prasasti dari para penguasa Saba’ seringkali berbicara tentang “perbaikan”, “pembiayaan”, “pembangunan”. Dan kemudian mereka populer menjadi contoh negeri yang : “Baldatun Toyyibatun wa Robbun Ghoffur”.
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda kekuasaan Tuhan di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang dianugerahkan Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. Negerimu adalah negeri yang baik dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS Saba’, 34:15)

Saba’ adalah nama suatu kabilah dari kabilah-kabilah Arab yang tinggal di wilayah Yaman. Mereka mendirikan kerajaan yang terkenal dengan nama kerajaan Sabaiyyah, ibu kotanya Ma’rib. Negeri itu dapat membangun suatu bendungan raksasa, yang bernama Bendungan Ma’rib (tinggi 16 meter, lebar 60 meter, dan panjang 620 meter). Bendungan itu menghubungkan 2 dataran, sehingga selama 1500 tahun negeri Saba’ subur, makmur dan aman sentosa. Reruntuhan bendungan itu sampai kini masih bisa dilihat, menjadi bukti penting adanya kemajuan teknologi kaum Saba’ pada waktu itu.
“Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan aman.” (QS Saba’ / 34:18)

Namun rupanya kemewahan dan kemakmuran itu menyebabkan kaum Saba’ lupa dan ingkar kepada Allah yang telah melimpahkan nikmat kepada mereka. Dan mereka mengingkari pula seruan Rasul, bahkan mereka menyembah matahari. Padahal Ratu Saba’ pernah tunduk kepada ajaran Nabi Sulaiman As. Namun kemudian beberapa generasi berikutnya mulai ingkar, dan kembali menyembah matahari. Karena itulah Allah menimpakan kepada mereka adzab berupa banjir besar yang ditimbulkan oleh runtuhnya bendungan Ma’rib (542 SM). Seluruh negeri diratakan oleh banjir dahsyat. Perkebunan anggur dan kebun-kebun kaum Saba’ tiba-tiba lenyap terbenam air. Kemudian negeri Saba’ menjadi kering dan kerajaan mereka hancur-lebur. Kaum Saba’ pun tercerai-berai. Mereka tinggalkan rumah-rumah mereka dan mengungsi ke wilayah utara Arabia, Mekkah dan Syria.
“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi pohon-pohon yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab yang demikian itu, melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS Saba’, 34:16-17)

Kembali Kepada Tuhan YME
Sebagian dari tanda-tanda hukuman Tuhan sudah kita lihat bersama menimpa negeri tercinta ini. Berbagai macam bencana yang menelan ribuan korban, bahkan sampai kini masih berlangsung di Sidoarjo dan berbagai daerah lainnya. Perpecahan yang terus terjadi tak berkesudahan, baik antar masyarakat bawah maupun di antara kaum elit dan pimpinan negeri. Bencana yang datang dari atas dan bawah itu, baik di alam maupun strata sosial, persis dengan yang telah dilukiskan dalam Al-Qur’an, surat Al-An’am :
“Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan yang saling bertentangan, dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahaminya.” (QS Al-An’am, 6:65)

Melihat tanda-tanda yang sudah diberikan Tuhan seperti itu, tak ada hal lain yang bisa kita lakukan agar selamat, selain kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena semua itu sebagai peringatan, bahkan hukuman kepada kita yang telah mulai melalaikan perintah Tuhan. Maka yang bisa menolong kita hanyalah Tuhan semata. Bukan yang lainnya. Sebelum semuanya menjadi terlambat, marilah kita berusaha bersama.
“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar-Ra’d, 13:11)

Walau pun mayoritas penduduk NKRI adalah Islam, bukan berarti negara ini harus berazaskan Islam. Bentuk negara kesatuan itu sudah merupakan keputusan final. Hal itu sudah difikirkan para pendiri bangsa sebelum negeri ini merdeka. Hasilnya dirumuskan dalam Piagam Jakarta, yang kemudian menjadi Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, dengan menghilangkan beberapa kata saja. Yakni “dengan mewajibakan menjalankan Syari’ah Islam bagi pemeluknya”. Keputusan itulah yang terbaik bagi bangsa yang terdiri dari berbagai macam kepercayaan. Nabi pun tidak pernah diperintah untuk memaksa orang untuk memeluk agama Islam. Dia hanya diutus untuk memberitakan kabar gembira, yang bisa membimbing manusia dari jaman kegelapan (jahiliyah) ke alam yang terang benderang (Nur Ilahi).
“Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah, 2:256)

Tujuan utama negeri ini adalah melindungi segenap warga dan tanah air, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut menjaga ketertiban dunia. Tugas itu bukan hanya beban pemerintah saja, tapi kita semua wajib berusaha, sesuai dengan kemampuan. Kalau hanya menggantungkan kepada pemerintah saja, bisa berakibat fatal, karena seperti kita ketahui tidak semua aparat bisa dipercaya. Bahkan banyak di antaranya yang terlibat KKN dan berbagai tindak pidana lainnya. Walau mereka ada yang terbebas dari penjara, namun Tuhan Yang Maha Adil akan meminta pertanggungan jawab mereka di akhirat.
“Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar, agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.” (QS Al-An’aam, 6:123). “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,” (QS Al-Muddatstsir, 74:38). “dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab.” (QS Az Zukhruf, 43:44).

Hendaknya usaha mulia itu dimulai dari diri kita masing-masing, sekeluarga. Mari kita mulai gerakan mendekatkan diri kepada Ilahi. Kita atur kehidupan dan penghidupan kita, agar selaras dengan ajaran Tuhan. Kita bimbing anak-anak untuk mengenal tanah air, baik geografinya, sukubangsa, seni budaya, dsb. Kita sadarkan bahwa cinta tanah air itu merupakan bagian dari iman. Dan ketaatan kepada imam maupun ulil amri yang beriman merupakan perintah dari Tuhan.
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa’, 4:59)

Mengenai perbedaan fisik, baik warna kulit, suku, bahasa, seni budaya, agama dsb. itu merupakan fitrah. Justru menjadi asset bangsa yang mirip pelangi, indah dipandang dan membawa kesuburan. Perbedaan itu bukanlah hal yang perlu dipertentangkan. Bahkan rasa kesukuan, kedaerahan itu sudah dilebur dengan dikumandangkannya “Sumpah Pemuda” dibarengi dengan alunan Indonesia Raya, jauh hari sebelum negeri ini merdeka.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujuraat, 49:13)

Dan yang perlu terus diupayakan adalah bagaimana supaya Pancasila itu betul-betul menjadi nyata dalam kehidupan berbangsa, bernegara maupun dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya sebagai jimat ideologi saja, yang diletakkan di lemari kaca, indah dipandang, tapi tidak diamalkan. Soal bagaimana kita harus merealisasikan Pancasila, Bung Karno berkata : “Tidak ada satu Weltanschauung dapat menjadi kenyataan – menjadi realiteit – jika tidak dengan perjuangan! Janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya, ialah perjuangan, perjuangan dan sekali lagi perjuangan! Marilah kita sama-sama berjuang. Marilah kita sama-sama bangga menjadi orang Indonesia !”

Penutup
Untuk mencapai negri yang memenuhi kriteria “Baldatun Toyyibatun wa Robbun Ghoffur”, yang dalam pewayangan digambarkan sebagai “Gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharjo”, bukanlah suatu hal yang mudah. Namun perlu diperjuangkan, agar bangsa kita tidak tenggelam ditelan sejarah. Sebagaimana dialami oleh bangsa-bangsa terdahulu. Sebab selain kebahagiaan di akhirat, di dunia pun kita diperintah untuk mencarinya sekuat tenaga.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi; dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu; dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al-Qashash, 28:77)

Sebagai elemen bangsa yang terkecil, keluarga kita haruslah terus dibina dan dipelihara dengan sebaik-baiknya. Agar terus dipupuk iman dan amal sholeh anak kita sejak muda, sehingga rasa bahagia muncul di tengah-tengah keluarga. Kita sebagai kepala keluarga, kepala lingkungan, kepala kantor, kepala usaha, dst. sesuai kapasitasnya, wajib mendidik dan membina anggota keluarganya. Dan dengan pimpinan yang beriman serta amanah, diharapkan negeri ini mendapat ampunan dari Tuhan, dihindarkan dari berbagai malapetaka, menuju negri yang aman sejahtera.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka,” (QS At-Tahrim, 66:6). “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat yang baik itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS Thaahaa, 20:132)

Kebangsaan
Manusia dan Masyarakat
Pemahaman dan Tafsir Al-Quran

DAFTAR ISI
» Wawasan Kebangsaan dalam Al-Quran
» Apakah yang dimaksud Paham Kebangsaan

» Referensi

Kebangsaan terbentuk dari kata “bangsa” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai “kesatuan orang-orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa dan sejarahnya, serta berpemerintahan sendiri.” Sedangkan kebangsaan diartikan sebagai “ciri-ciri yang menandai golongan bangsa.”

Para pakar berbeda pendapat tentang unsur-unsur yang harus terpenuhi untuk menamai suatu kelompok manusia sebagai bangsa. Demikian pula mereka berbeda pendapat tentang ciri-ciri yang mutlak harus terpenuhi guna terwujudnya sebuah bangsa atau kebangsaan. Hal ini merupakan kesulitan tersendiri di dalam upaya memahami pandangan Al-Quran tentang paham kebangsaan.

Di sisi lain, paham kebangsaan –pada dasarnya– belum dikenal pada masa turunnya Al-Quran. Paham ini baru muncul dan berkembang di Eropa sejak akhir abad ke-18, dan dari sana menyebar ke seluruh dunia Islam.

Memang, keterikatan kepada tanah tumpah darah, adat istiadat leluhur, serta penguasa setempat telah menghiasi jiwa umat manusia sejak dahulu kala, tetapi paham kebangsaan (nasionalisme) dengan pengertiannya yang lumrah dewasa ini baru dikenal pada akhir abad ke-18.

Yang pertama kali memperkenalkan paham kebangsaan kepada umat Islam adalah Napoleon pada saat ekspedisinya ke Mesir. Lantas, seperti telah diketahui, setelah Revolusi 1789, Perancis menjadi salah satu negara besar yang berusaha melebarkan sayapnya. Mesir yang ketika itu dikuasai oleh para Mamluk dan berada di bawah naungan kekhalifahan Utsmani, merupakan salah satu wilayah yang diincarnya. Walaupun penguasa-penguasa Mesir itu beragama Islam, tetapi mereka berasal dari keturunan orang-orang Turki. Napoleon mempergunakan sisi ini untuk memisahkan orang-orang Mesir dan menjauhkan mereka dari penguasa dengan menyatakan bahwa orang-orang Mamluk adalah orang asing yang tinggal di Mesir. Dalam maklumatnya, Napoleon memperkenalkan istilah Al-Ummat Al-Mishriyah, sehingga ketika itu istilah baru ini mendampingi istilah yang selama ini telah amat dikenal, yaitu Al-Ummah Al-Islamiyah

Al-Ummah Al-Mishriyah dipahami dalam arti bangsa Mesir. Pada perkembangan selanjutnya lahirlah ummah lain, atau bangsa-bangsa lain.

WAWASAN KEBANGSAAN DALAM AL-QURAN

Untuk memahami wawasan Al-Quran tentang paham kebangsaan, salah satu pertanyaan yang dapat muncul adalah, “Kata apakah yang sebenarnya dipergunakan oleh Al-Quran untuk menunjukkan konsep bangsa atau kebangsaan? Apakah sya’b, qaum, atau ummah?”

Kata qaum dan qaumiyah sering dipahami dengan arti bangsa dan kebangsaan. Kebangsaan Arab dinyatakan oleh orang-orang Arab dewasa ini dengan istilah Al-Qaumiyah Al-’Arabiyah. Sebelumnya, Pusat Bahasa Arab Mesir pada 1960, dalam buku Mu’jam Al-Wasith menerjemahkan “bangsa” dengan kata ummah.

Kata sya’b juga diterjemahkan sebagai “bangsa” seperti ditemukan dalam terjemahan Al-Quran yang disusun oleh Departemen Agama RI, yaitu ketika menafsirkan surat Al-Hujurat (49): 13.

Apakah untuk memahami wawasan Al-Quran tentang paham kebangsaan perlu merujuk kepada ayat-ayat yang menggunakan kata-kata tersebut, sebagaimana ditempuh oleh sebagian orang selama ini? Misalnya, dengan menunjukkan Al-Quran surat Al-Hujurat (49): 13 yang bisa diterjemahkan:

Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telahi menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat (49): 13)

Apakah dari ayat ini, nampak bahwa Islam mendukung paham kebangsaan karena Allah telah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa?

Mestikah untuk mendukung atau menolak paham kebangsaan, kata qaum yang ditemukan dalam Al-Quran sebanyak 322 kali itu ditoleh? Dapatkah dikatakan bahwa pengulangan yang sedemikian banyak, merupakan bukti bahwa Al-Quran mendukung paham kebangsaan? Bukankah para Nabi menyeru masyarakatnya dengan, “Ya Qaumi” (Wahai kaumku/bangsaku), walaupun mereka tidak beriman kepada ajarannya? (Perhatikan misalnya Al-Quran surat Hud (11): 63, 64, 78, 84, dan lain-lain!).

Di sisi lain, dapatkah dibenarkan pandangan sebagian orang yang bermaksud mempertentangkan Islam dengan paham kebangsaan, dengan menyatakan bahwa Allah SWT dalam Al-Quran memerintahkan Nabi saw untuk menyeru masyarakat tidak dengan kata qaumi, tetapi, “Ya ayyuhan nas” (wahai seluruh manusia), serta menyeru kepada masyarakat yang mengikutinya dengan “Ya ayyuhal ladzina ‘amanu?” Benarkah dalam Al-Quran tidak ditemukan bahwa Nabi Muhammad saw menggunakan kata qaum untuk menunjuk kepada masyarakatnya, seperti yang ditulis sebagian orang?

Catatan : Pernyataan terakhir ini dapat dipastikan tidak benar, karena dalam Al-Quran surat Al-Furqan (25): 30 secara tegas dinyatakan, bahwa Rasulullah saw mengeluh kepada Allah, dengan mengatakan, “Sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang tidak diacuhkan.”

Menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab untuk menemukan wawasan Al-Quran tentang paham kebangsaan, tidak cukup sekadar menoleh kepada kata-kata tersebut yang digunakan oleh Al-Quran, karena pengertian semantiknya dapat berbeda dengan pengertian yang dikandung oleh kata bangsa atau kebangsaan. Kata sayyarah yang ditemukan dalam Al-Quran misalnya, masih digunakan dewasa ini, meskipun maknanya sekarang telah berubah menjadi mobil. Makna ini tentunya berbeda dengan maksud Al-Quran ketika menceritakan ucapan saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. yang membuangnya ke dalam sumur dengan harapan dipungut oleh sayyarah yakni kafilah atau rombongan musafir. (Baca QS Yusuf [12]: 10).
Kata qaum misalnya, pada mulanya terambil dari kata qiyam yang berarti “berdiri atau bangkit”. Kata qaum agaknya dipergunakan untuk menunjukkan sekumpulan manusia yang bangkit untuk berperang membela sesuatu. Karena itu, kata ini pada awalnya hanya digunakan untuk lelaki, bukan perempuan seperti dalam firman Allah:

Janganlah satu qaum (kumpulan lelaki) mengejek qaum (kumpulan lelaki) yang lain. Jangan pula (kumpulan perempuan) mengejek (kumpulan) perempuan yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diejek) lebih baik daripada mereka (yang mengejek) (QS Al-Hujurat [49]: 11).

Kata sya’b, yang hanya sekali ditemukan dalam Al-Quran, itu pun berbentuk plural, dan pada mulanya mempunyai dua makna, cabang dan rumpun. Pakar bahasa Abu ‘Ubaidah –seperti dikutip oleh At-Tabarsi dalam tafsirnya– memahami kata sya’b dengan arti kelompok non-Arab, sama dengan qabilah untuk suku-suku Arab.

Betapapun, kedua kata yang disebutkan tadi, dan kata-kata lainnya, tidak menunjukkan arti bangsa sebagaimana yang dimaksud pada istilah masa kini.

Hal yang dikemukakan ini, tidak lantas menjadikan surat Al-Hujurat yang diajukan tertolak sebagai argumentasi pandangan kebangsaan yang direstui Al-Quran. Hanya saja, cara pembuktiannya tidak sekadar menyatakan bahwa kata sya’b sama dengan bangsa atau kebangsaan.

APAKAH YANG DIMAKSUD PAHAM KEBANGSAAN

Apakah yang dimaksud dengan paham kebangsaan? Sungguh banyak pendapat yang berbeda satu dengan yang lain. Demikian pula dengan pertanyaan yang muncul disertai jawaban yang beragam, misalnya:

Apakah mutlak adanya kebangsaan, kesamaan asal keturunan, atau bahasa? Apakah yang dimaksud dengan keturunan dan bahasa? Apakah kebangsaan merupakan persamaan ras, emosi, sejarah, dan cita-cita meraih masa depan? Unsur-unsur apakah yang mendukung terciptanya kebangsaan? Dan masih ada sekian banyak pertanyaan lain. Sehingga mungkin benar pula pendapat yang menyatakan bahwa paham kebangsaan adalah sesuatu yang bersifat abstrak, tidak dapat disentuh; bagaikan listrik, hanya diketahui gejala dan bukti keberadaannya, namun bukan unsur-unsurnya.

Pertanyaan yang antara lain ingin dimunculkan adalah “Apakah unsur-unsur tersebut dapat diterima, didukung, atau bahkan inklusif di dalam ajaran Al-Quran? Dapatkah Al-Quran menerima wadah yang menghimpun keseluruhan unsur tersebut tanpa mempertimbangkan kesatuan agama? Berikut ini akan dijelaskan beberapa konsep yang mendasari paham kebangsaan.

1. Kesatuan/Persatuan

Tidak dapat disangkal bahwa Al-Quran memerintahkan persatuan dan kesatuan. Sebagaimana secara jelas pula Al-Quran menyatakan bahwa

“Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu” (QS Al-Anbiya’ [2l]: 92, dan Al-Mu’minun [23]: 52).

Pertanyaan yang dapat saja muncul berkaitan dengan ayat ini adalah:
a) Apakah ayat ini dan semacamnya mengharuskan penyatuan seluruh umat Islam dalam satu wadah kenegaraan?
b) Kalau tidak, apakah dibenarkan adanya persatuan/kesatuan yang diikat oleh unsur-unsur yang disebutkan di atas, yakni persamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarah?

Yang harus dipahami pertama kali adalah pengertian dan penggunaan Al-Quran terhadap kata ummat. Kata ini terulang 51 kali dalam Al-Quran, dengan makna yang berbeda-beda.

Ar-Raghib Al-Isfahani –pakar bahasa yang menyusun kamus Al-Quran Al-Mufradat fi Ghanb Al-Quran– menjelaskan bahwa ummat adalah “kelompok yang dihimpun oleh sesuatu, baik persamaan agama, waktu, atau tempat, baik pengelompokan itu secara terpaksa maupun atas kehendak sendiri.”
Memang, tidak hanya manusia yang berkelompok dinamakan umat, bahkan binatang pun demikian.

Dan tiadalah binatang-binatang melata yang ada yang di bumi, tiada juga burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, kecuali umat-umat seperti kamu … (QS Al-An’am [6]: 38).

Jumlah anggota suatu umat tidak dijelaskan oleh Al-Quran. Ada yang berpendapat minimal empat puluh atau seratus orang. Tetapi, sekali lagi Al-Quran pun menggunakan kata umat bahkan untuk seseorang yang memiliki sekian banyak keistimewaan atau jasa, yang biasanya hanya dimiliki oleh banyak orang. Nabi Ibrahim a.s. misalnya disebut sebagai umat oleh Al-Quran surat An-Nahl (16): 20 karena alasan itu.

Sesungguhnya Ibrahim adalah umat (tokoh yang dapat dijadikan teladan) lagi patuh kepada Allah, hanif dan tidak pernah termasuk orang yang mempersekutukan (Tuhan) (QS An-Nahl [16]: 120).

Kalau demikian, dapat dikatakan bahwa makna kata umat dalam Al-Quran sangat lentur, dan mudah menyesuaikan diri. Tidak ada batas minimal atau maksimal untuk suatu persatuan. Yang membatasi hanyalah bahasa, yang tidak menyebutkan adanya persatuan tunggal.

Di sisi lain, dalam Al-Quran ternyata ditemukan sembilan kali kata ummat yang digandengkan dengan kata wahidah, sebagai sifat umat. Tidak sekali pun Al-Quran menggunakan istilah Wahdat Al-Ummah atau Tauhid Al-Ummah (Kesatuan/ penyatuan umat). Karena itu, sungguh tepat analisis Mahmud Hamdi Zaqzuq, mantan Dekan Fakultas Ushuluddin Al-Azhar Mesir, yang disampaikan pada pertemuan Cendekiawan Muslim di Aljazair 1409 H/ 1988 M, bahwa Al-Quran menekankan sifat umat yang satu, dan bukan pada penyatuan umat, ini juga berarti bahwa yang pokok adalah persatuan, bukan penyatuan.

Perlu pula digarisbawahi, bahwa makna umat dalam konteks tersebut adalah pemeluk agama Islam. Sehingga ayat tersebut pada hakikatnya menyatakan bahwa agama umat Islam adalah agama yang satu dalam prinsip-prinsip (ushul)-nya, tiada perbedaan dalam akidahnya, walaupun dapat berbeda-beda dalam rincian (furu’) ajarannya. Artinya, kitab suci ini mengakui kebhinekaan dalam ketunggalan.
Ini juga sejalan dengan kehendak Ilahi, antara lain yang dinyatakan-Nya dalam Al-Quran surat Al-Ma-idah (5): 48:

Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja). (Al-Ma-idah (5): 48)

Tetapi itu tidak dikehendaki-Nya. Sebagaimana terpahami dari perandaian kata lauw, yang oleh para ulama dinamai harf imtina’ limtina’, atau dengan kata lain, mengandung arti kemustahilan.
Kalau demikian, tidak dapat dibuktikan bahwa Al-Quran menuntut penyatuan umat Islam seluruh dunia pada satu wadah persatuan saja, dan tidak dapat dibuktikan bahwa Al-Quran menolak paham kebangsaan. Yang terjadi justru Al-Quran menjelaskan sebaliknya.

Jamaluddin Al-Afghani, yang dikenal sebagai penyeru persatuan Islam (Liga Islam atau Pan-Islamisme), menegaskan bahwa idenya itu bukan menuntut agar umat Islam berada di bawah satu kekuasaan, tetapi hendaknya mereka mengarah kepada satu tujuan, serta saling membantu untuk menjaga keberadaan masing-masing.

Janganlah kamu menjadi seperti mereka yang berkelompok-kelompok dan berselisih, setelah datang penjelasan kepada mereka … (QS Ali ‘Imran [3]: 105).

Kalimat “dan berselisih” digandengkan dengan “berkelompok” untuk mengisyaratkan bahwa yang terlarang adalah pengelompokan yang mengakibatkan perselisihan.
Kesatuan umat Islam tidak berarti dileburnya segala perbedaan, atau ditolaknya segala ciri/sifat yang dimiliki oleh perorangan, kelompok, asal keturunan, atau bangsa.

Kelenturan kandungan makna ummat seperti yang dikemukakan terdahulu mendukung pandangan ini. Sekaligus membuktikan bahwa dalam banyak hal Al-Quran hanya mengamanatkan nilai-nilai umum dan menyerahkan kepada masyarakat manusia untuk menyesuaikan diri dengan nilai-nilai umum itu. Ini merupakan salah satu keistimewaan Al-Quran dan salah satu faktor kesesuaiannya dengan setiap waktu dan tempat.

Dengan demikian, terjawablah pertanyaan pertama itu yakni Al-Quran tidak mengharuskan penyatuan seluruh umat Islam ke dalam satu wadah kenegaraan. Sistem kekhalifahan –yang dikenal sampai masa kekhalifahan Utsmaniyah– hanya merupakan salah satu bentuk yang dapat dibenarkan, tetapi bukan satu-satunya bentuk baku yang ditetapkan. Oleh sebab itu, jika perkembangan pemikiran manusia atau kebutuhan masyarakat menuntut bentuk lain, hal itu dibenarkan pula oleh Islam, selama nilai-nilai yang diamanatkan maupun unsur-unsur perekatnya tidak bertentangan dengan Islam.

2. Asal Keturunan

Tanpa mempersoalkan perbedaan makna dan pandangan para pakar tentang kemutlakan unsur “persamaan keturunan”, dalam hal kebangsaan, atau melihat kenyataan bahwa tiada satu bangsa yang hidup pada masa kini yang semua anggota masyarakatnya berasal dari keturunan yang sama, tanpa mempersoalkan itu semua dapat ditegaskan bahwa salah satu tujuan kehadiran agama adalah memelihara keturunan. Syariat perkawinan dengan syarat dan rukun-rukunnya, siapa yang boleh dan tidak boleh dikawini dan sebagainya, merupakan salah satu cara Al-Quran untuk memelihara keturunan.

Al-Quran menegaskan bahwa Allah SWT menciptakan manusia dari satu keturunan dan bersuku-suku (demikian juga rumpun dan ras manusia), agar mereka saling mengenal potensi masing-masing dan memanfaatkannya semaksimal mungkin.
Ini berarti bahwa Al-Quran merestui pengelompokan berdasarkan keturunan, selama tidak menimbulkan perpecahan, bahkan mendukungnya demi mencapai kemaslahatan bersama.
Dari beberapa ayat Al-Quran, dapat ditarik pembenaran hal ini, atau paling tidak “tiada penolakan” terhadapnya. Misalnya dalam Al-Quran surat Al-A’raf (7): 160:

Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masing menjadi umat, dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka memancarlah darinya dua belas mata air… (QS. Al-A’raf (7): 160)

Rasul Muhammad saw sendiri pernah diperintahkan oleh Al-Quran surat AsyS-yu’ara’ ayat 214 agar memberi peringatan kepada kerabat dekatnya. Hal itu menunjukkan bahwa penggabungan diri ke dalam satu wadah kekerabatan dapat disetujui oleh Al-Quran, apalagi menggabungkan diri pada wadah yang lebih besar semacam kebangsaan.
Piagam Madinah (Kitabun Nabi) yang diprakarsai oleh Rasulullah saw ketika beliau baru tiba di Madinah yang berisi ketentuan/kesepakatan yang mengikat masyarakat Madinah justru mengelompokkan anggotanya pada suku-suku tertentu, dan masing-masing dinamai ummat. Kemudian, mereka yang berbeda agama itu bersepakat menjalin persatuan ketika membela kota Madinah dari serangan musuh.

Nabi Luth a.s. sebagaimana dikemukakan Al-Quran, mengeluh karena kaum atau bangsanya tidak menerima dakwahnya. Ia mengeluh sambil berkata:

Seandainya aku mempunyai kekuatan denganmu, atau kalau aku dapat berlindung niscaya aku lakukan (QS Hud [11]: 80).

Yang dimaksud dengan “kekuatan” adalah pembela dan pembantu, yang dimaksud dengan perlindungan adalah keluarga dan anggota masyarakat atau bangsa.

Rasulullah saw sendiri dalam perjuangan di Makkah, justru mendapat pembelaan dari keluarga besar beliau, baik yang percaya maupun yang tidak. Dan ketika terjadi pemboikotan dari penduduk Makkah, mereka memboikot Nabi dan keluarga besar Bani Hasyim. Abu Thalib yang bukan anggota masyarakat Muslim ketika itu dengan tegas berkata, “Demi Allah’ kami tidak akan menyerahkannya (Nabi Muhammad saw) sampai yang terakhir dari kami gugur.”

Sejalan dengan kenyataan di atas Nabi saw pernah khutbah dengan menyatakan: “Sebaik-baik kamu adalah pembela keluarga besarnya selama (pembelaannya) bukan dosa” (HR Abu Daud melalui sahabat Suraqah bin Malik).
Hanya saja pengelompokan dalam suku bangsa tidak boleh menyebabkan fanatisme buta, apalagi menimbulkan sikap superioritas, dan pelecehan. Rasulullah saw mengistilahkan hal itu dengan al-’ashabiyah.

Bukanlah dari kelompok kita yang mengajak kepada ‘ashabiyyah, bukan juga yang berperang atas dasar ‘ashabiyah, bukan juga yang mati dengan keadaan (mendukung) ‘ashabiyyah (HR Abu Daud dari sahabat Jubair bin Muth’im).
Rasulullah saw menggunakan ungkapan yang populer di kalangan orang-orang Arab sebelum Islam, “Unshur akhaka zhalim(an) au mazhlum(an)” (Belalah saudaramu yang menganiaya atau dianiaya), sambil menjelaskan bahwa pembelaan terhadap orang yang melakukan penganiayaan adalah dengan mencegahnya melakukan penganiayaan (HR Bukhari melalui Anas bin Malik).

Walaupun Al-Quran mengakui adanya kelompok suku, namun Al-Quran juga mengisyaratkan bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan sifat dapat digabungkan ke dalam satu wadah. Iblis yang dalam Al-Quran surat Al-Kahf (18): 50 dinyatakan dari jenis jin. Sesungguhnya ia (Iblis) adalah dari jenis Jin, dimasukkan Allah dalam kelompok malaikat yang diperintahkan sujud kepada Adam. Karena, ketika itu, Iblis begitu taat beragama, tidak kalah dari ketaatan para malaikat. Itu sebabnya walaupun yang diperintah untuk sujud kepada Adam adalah para malaikat (QS Al-A’raf [7]: 11) tetapi Iblis yang dari kelompok jin yang telah bergabung dengan malaikat itu termasuk diperintah, karenanya ketika enggan ia dikecam dan dikutuk Tuhan.
Dalam konteks paham kebangsaan, Rasulullah saw memasukkan sahabatnya Salman, Suhaib, dan Bilal yang masing-masing berasal dari Persia, Romawi, dan Habasyah (Etiopia) ke dalam kelompok orang Arab.
Ibnu ‘Asakir dalam tarikhnya meriwayatkan, ketika sebagian sahabat meremehkan ketiga orang tersebut, Nabi saw bersabda: “Kearaban yang melekat dalam diri kalian bukan disebabkan karena ayah dan tidak pula karena ibu, tetapi karena bahasa, sehingga siapapun yang berbahasa Arab, dia adalah orang Arab”.

Bahkan Salman Al-Farisi dinyatakan Nabi sebagai “minna Ahl Al-Bait (dari kelompok kita [Ahl Al-Bait]), karena beliau begitu dekat secara pribadi kepada Nabi dan keluarganya, serta memiliki pandangan hidup yang sama dengan Ahl Al-Bait.
Keterikatan kepada asal keturunan sama sekali tidak terhalangi oleh agama, bahkan inklusif di dalam ajarannya. Bukankah Al-Quran dalam surat Al-Ahzab ayat 5 memerintahkan untuk memelihara keturunan dan memerintahkan untuk menyebut nama seseorang bergandengan dengan nama orang tuanya?

Panggillah mereka (anak-anak angkat) dengan (menggandengkan namanya dengan nama) bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah (QS Al-Ahzab [33]: 5).

3. Bahasa

Al-Quran menegaskan dalam surat Al-Rum (30):

Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya, adalah penciptaan langit dan bumi, dan berlain-lainan bahasamu, dan warna kulitmu …

Al-Quran demikian menghargai bahasa dan keragamannya, bahkan mengakui penggunaan bahasa lisan yang beragam.
Perlu ditandaskan bahwa dalam konteks pembicaraan tentang paham kebangsaan, Al-Quran amat menghargai bahasa, sampai-sampai seperti yang disabdakan Nabi saw, “Al-Quran diturunkan dalam tujuh bahasa” (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad dengan riwayat yang berbeda-beda tetapi dengan makna yang sama).

Pengertian “tujuh bahasa” antara lain adalah, tujuh dialek. Menurut sekian keterangan, ayat-ayat Al-Quran diturunkan dengan dialek suku Quraisy, tetapi dialek ini –ketika Al-Quran turun– belum populer untuk seluruh anggota masyarakat. Sehingga apabila ada yang mengeluh tentang sulitnya pengucapan atau pengertian makna kata yang digunakan oleh ayat tertentu, Allah menurunkan wahyu lagi yang berbeda kata-katanya agar menjadi mudah dibaca dan dimengerti. Sebagai contoh dalam Al-Quran surat Al-Dukhan (44): 43-44 yang berbunyi, Inna syajarat al-zaqqum tha’amul atsim, pernah diturunkan dengan mengganti kata atsim dengan fajir, kemudian turun lagi dengan kata al-laim. Setelah bahasa suku Quraisy populer di kalangan seluruh masyarakat, maka atas inisiatif Utsman bin Affan (khalifah ketiga) bacaan disatukan kembali sebagaimana tercantum dalam mushaf yang dibaca dewasa ini.

Pengertian lain dari hadis tersebut adalah Al-Quran menggunakan kosa kata dari tujuh (baca: banyak) bahasa, seperti bahasa Romawi, Persia, dan Ibrani, misalnya kata-kata: zamharir, sijjil, qirthas, kafur, dan lain-lain.
Untuk menghargai perbedaan bahasa dan dialek, Nabi saw tidak jarang menggunakan dialek mitra bicaranya. Semua itu menunjukkan betapa Al-Quran dan Nabi saw sangat menghargai keragaman bahasa dan dialek. Bukankah seperti yang dikemukakan tadi, Allah menjadikan keragaman itu bukti keesaan dan kemahakuasaan-Nya?

Nah, bagaimana kaitan bahasa dan kebangsaan? Tadi telah dikemukakan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir berkaitan dengan Salman, Bilal, dan Suhaib. Pada hakikatnya, bahasa memang bukan digunakan sekadar untuk menyampaikan tujuan pembicaraan dan yang diucapkan oleh lidah. Bukankah sering seseorang berbicara dengan dirinya sendiri? Bukankah ada pula yang berpikir dengan suara keras. Kalimat-kalimat yang dipikirkan dan didendangkan itu merupakan upaya menyatakan pikiran dan perasaan seseorang? Di sini bahasa merupakan jembatan penyalur perasaan dan pikiran.

Karena itu pula kesatuan bahasa mendukung kesatuan pikiran. Masyarakat yang memelihara bahasanya dapat memeliara identitasnya, sekaligus menjadi bukti keberadaannya. Itulah sebabnya mengapa para penjajah sering berusaha menghapus bahasa anak negeri yang dijajahnya dengan bahasa sang penjajah.
Al-Quran menuntut setiap pembicara agar hanya mengucapkan hal yang diyakini, dirasakan, serta sesuai dengan kenyataan. Karena itu, tidak jarang Kitab Suci ini menggunakan kata qala atau yaqulu (dia berkata, dalam arti meyakini).,

Salah satu sifat Ibadur Rahman (hamba-hamba Allah yang baik) yang dijelaskan dalam surat Al-Furqan (25): 65 adalah:

Mereka yang berkata, “Jauhkanlah siksa jahanam dari kami”. Sesungguhnya azab-Nya adalah kebinasaan yang kekal

Ucapan ini bukan sekadar dengan lidah atau permohonan, melainkan peringatan sikap, keyakinan dan perasaan mereka, karena kalau sekadar permohonan, apalah keistimewaannya? Bukankah semua orang dapat bermohon seperti itu? Karena itu tidak menyimpang jika dinyatakan bahwa bahasa pada hakikatnya berfungsi menyatakan perasaan pikiran, keyakinan, dan sikap pengucapnya.

Dalam konteks paham kebangsaan, bahasa pikiran, dan perasaan, jauh lebih penting ketimbang bahasa lisan, sekalipun bukan berarti mengabaikan bahasa lisan, karena sekali lagi ditekankan bahwa bahasa lisan adalah jembatan perasaan.

Bahasa, saat dijadikan sebagai perekat dan unsur kesatuan umat, dapat diakui oleh Al-Quran, bahkan inklusif dalam ajarannya. Bahasa dan keragamannya merupakan salah satu bukti keesaan dan kebesaran Allah. Hanya saja harus diperhatikan bahwa dari bahasa harus lahir kesatuan pikiran dan perasaan, bukan sekadar alat menyampaikan informasi.

4. Adat Istiadat

Pikiran dan perasaan satu kelompok/umat tercermin antara lain dalam adat istiadatnya.
Dalam konteks ini, kita dapat merujuk perintah Al-Quran antara lain:

Hendaklah ada sekelompok di antara kamu yang mengajak kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar (QS Ali ‘Imran [3]: 104)
Jadilah engkau pemaaf; titahkanlah yang ‘urf (adat kebiasaan yang baik), dan berpalinglah dari orang yang jahil (QS Al-A’raf [7]: 199).

Kata ‘urf dan ma’ruf pada ayat-ayat itu mengacu kepada kebiasaan dan adat istiadat yang tidak bertentangan dengan al-khair, yakni prinsip-prinsip ajaran Islam.

Rincian dan penjabaran kebaikan dapat beragam sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat. Sehingga, sangat mungkin suatu masyarakat berbeda pandangan dengan masyarakat lain. Apabila rincian maupun penjabaran itu tidak bertentangan dengan prinsip ajaran agama, maka itulah yang dinamai ‘urf/ma’ruf.

Imam Bukhari meriwayatkan, bahwa suatu ketika Aisyah mengawinkan seorang gadis yatim kerabatnya kepada seorang pemuda dari kelompok Anshar (penduduk kota Madinah). Nabi yang tidak mendengar nyanyian pada acara itu, berkata kepada Aisyah, “Apakah tidak ada permainan/nyanyian? Karena orang-orang Anshar senang mendengarkan nyanyian …” Demikian, Nabi saw menghargai adat-kebiasaan masyarakat Anshar.

Pakar-pakar hukum menetapkan bahwa adat kebiasaan dalam suatu masyarakat selama tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Islam, dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan hukum (al-adat muhakkimah). Demikian ketentuan yang mereka tetapkan setelah menghimpun sekian banyak rincian argumentasi keagamaan.

5. Sejarah

Agaknya, persamaan sejarah muncul sebagai unsur kebangsaan karena unsur ini merupakan salah satu yang terpenting demi menyatukan perasaan, pikiran, dan langkah-langkah masyarakat. Sejarah menjadi penting, karena umat, bangsa, dan kelompok dapat melihat dampak positif atau negatif pengalaman masa lalu, kemudian mengambil pelajaran dari sejarah, untuk melangkah ke masa depan. Sejarah yang gemilang dari suatu kelompok akan dibanggakan anggota kelompok serta keturunannya, demikian pula sebaliknya.

Al-Quran sangat menonjol dalam menguraikan peristiwa sejarah. Bahkan tujuan utama dari uraian sejarahnya adalah guna mengambil i’tibar (pelajaran), guna menentukan langkah berikutnya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa unsur kesejarahan sejalan dengan ajaran Al-Quran. Sehingga kalau unsur ini dijadikan salah satu faktor lahirnya paham kebangsaan, hal ini inklusif di dalam ajaran Al-Quran, selama uraian kesejarahan itu diarahkan untuk mencapai kebaikan dan kemaslahatan

6. Cinta Tanah Air

Rasa kebangsaan tidak dapat dinyatakan adanya, tanpa dibuktikan oleh patriotisme dan cinta tanah air.
Cinta tanah air tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama, bahkan inklusif di dalam ajaran Al-Quran dan praktek Nabi Muhammad saw.

Hal ini bukan sekadar dibuktikan melalui ungkapan populer yang dinilai oleh sebagian orang sebagai hadis Nabi saw, Hubbul wathan minal iman (Cinta tanah air adalah bagian dari iman), melainkan justru dibuktikan dalam praktek Nabi Muhammad saw, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat.

Ketika Rasulullah saw berhijrah ke Madinah, beliau shalat menghadap ke Bait Al-Maqdis. Tetapi, setelah enam belas bulan, rupanya beliau rindu kepada Makkah dan Ka’bah, karena merupakan kiblat leluhurnya dan kebanggaan orang-orang Arab. Begitu tulis Al-Qasimi dalam tafsirnya. Wajah beliau berbolak-balik menengadah ke langit, bermohon agar kiblat diarahkan ke Makkah, maka Allah merestui keinginan ini dengan menurunkan firman-Nya:

Sungguh Kami (senang) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjid Al-Haram… (QS Al-Baqarah [2]: 144).

Cinta beliau kepada tanah tumpah darahnya tampak pula ketika meninggalkan kota Makkah dan berhijrah ke Madinah. Sambil menengok ke kota Makkah beliau berucap: “Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah bumi Allah yang paling aku cintai, seandainya bukan yang bertempat tinggal di sini mengusirku, niscaya aku tidak akan meninggalkannya”.

Sahabat-sahabat Nabi saw pun demikian, sampai-sampai Nabi saw bermohon kepada Allah: “Wahai Allah, cintakanlah kota Madinah kepada kami, sebagaimana engkau mencintakan kota Makkah kepada kami, bahkan lebih.” (HR Bukhari, Malik dan Ahmad).

Memang, cinta kepada tanah tumpah darah merupakan naluri manusia, dan karena itu pula Nabi saw menjadikan salah satu tolok ukur kebahagiaan adalah “diperolehnya rezeki dari tanah tumpah darah”. Sungguh benar ungkapan, “hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih senang di negeri sendiri.”

Bahkan Rasulullah saw mengatakan bahwa orang yang gugur karena membela keluarga, mempertahankan harta, dan negeri sendiri dinilai sebagai syahid sebagaimana yang gugur membela ajaran agama. Bahkan Al-Quran menggandengkan pembelaan agama dan pembelaan negara dalam firman-Nya:

Allah tidak melarang kamu berbuat baik, dan memberi sebagian hartamu (berbuat adil) kepada orang yang tidak memerangi kamu karena agama, dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama, mengusir kamu dari negerimu, dan membantu orang lain mengusirmu (QS Al-Mumtahanah [60]: 8-9).

Dari uraian di atas terlihat bahwa paham kebangsaan sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan Sunnah.

Bahkan semua unsur yang melahirkan paham tersebut, inklusif dalam ajaran Al-Quran, sehingga seorang Muslim yang baik pastilah seorang anggota suatu bangsa yang baik. Kalau anggota suatu bangsa terdiri dari beragam agama, atau anggota masyarakat terdiri dari berbagai bangsa, hendaknya mereka dapat menghayati firman-Nya dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 148:

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblat (arah yang ditujunya), dia menghadap ke arah itu. Maka berlomba-lombalah kamu (melakukan) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Referensi
  • Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA., Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Penerbit Mizan, Bandung, 1997.
  • Dr. Syauqi Abu Khalil, Atlas Al-Quran, Membuktikan Kebenaran Fakta Sejarah yang Disampaikan Al-Qur’an secara Akurat disertai Peta dan Foto, Dar al-Fikr Damaskus, Almahira Jakarta, 2008.
  • Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Dr. Ahmad Qodri Abdillah Azizy, MA, Dr. A. Chaeruddin, SH., etc. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2008, Editor : Prof. Dr. Taufik Abdullah, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. H. Ahmad Sukardja, MA.
  • Sami bin Abdullah bin Ahmad al-Maghluts, Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul, Mendalami Nilai-nilai Kehidupan yang Dijalani Para Utusan Allah, Obeikan Riyadh, Almahira Jakarta, 2008.
  • Tim DISBINTALAD (Drs. A. Nazri Adlany, Drs. Hanafi Tamam, Drs. A. Faruq Nasution), Al-Quran Terjemah Indonesia, Penerbit PT. Sari Agung, Jakarta, 2004
  • Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Al-Quran, Syaamil Al-Quran Terjemah Per-Kata, Syaamil International, 2007.
  • alquran.bahagia.us, keislaman.com, dunia-islam.com, Al-Quran web, PT. Gilland Ganesha, 2008.
  • Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Mutiara Hadist Shahih Bukhari Muslim, PT. Bina Ilmu, 1979.
  • Al-Hafizh Zaki Al-Din ‘Abd Al-’Azhum Al Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, dan PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2008.
  • M. Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 2008.
  • Al-Bayan, Shahih Bukhari Muslim, Jabal, Bandung, 2008.
  • Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 1999.

Wawasan Al-Qur’an oleh Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

KEBANGSAAN                                               (1/3)

"Kebangsaan" terbentuk dari kata  "bangsa"  yang  dalam  Kamus
Besar    Bahasa   Indonesia,   diartikan   sebagai   "kesatuan
orang-orang yang bersamaan asal keturunan,  adat,  bahasa  dan
sejarahnya,    serta   berpemerintahan   sendõri."   Sedangkan
kebangsaan diartikan sebagai "ciri-ciri yang menandai golongan
bangsa."

Para  pakar  berbeda  pendapat  tentang unsur-unsur yang harus
terpenuhi untuk menamai suatu kelompok manusia sebagai bangsa.
Demikian  pula  mereka berbeda pendapat tentang ciri-ciri yang
mutlak harus terpenuLi guna  terwujudnya  sebuah  bangsa  atau
kebangsaan.  Hal  ini  merupakan kesulitan tersendiri di dalam
upaya memahami pandangan Al-Quran tentang paham kebangsaan.

Di sisi lain, paham kebangsaan --pada dasarnya-- belum dikenal
pada  masa  turunnya  Al-Quran.  Paham  ini  baru  muncul  dan
berkembang di Eropa sejak akhir  abad  ke-18,  dan  dari  sana
menyebar ke seluruh dunia Islam.

Memang,  keterikatan  kepada tanah tumpah darah, adat istiadat
leluhur, serta penguasa setempat  telah  menghiasi  jiwa  umat
manusia   sejak   dahulu   kala,   tetapi   paham   kebangsaan
(nasionalisme) dengan pengertiannya  yang  lumrah  dewasa  ini
baru dikenal pada akhir abad ke-18.

Yang  pertama kali memperkenalkan paham kebangsaan kepada umat
Islam adalah Napoleon pada saat ekspedisinya ke Mesir. Lantas,
seperti  telah  diketahui,  setelah  Revolusi  1789,  Perancis
menjadi salah  satu  negara  besar  yang  berusaha  melebarkan
sayapnya.  Mesir yang ketika itu dikuasai oleh para Mamluk dan
berada di bawah naungan kekhalifahan Utsmani, merupakan  salah
satu wilayah yang diincarnya. Walaupun penguasa-penguasa Mesir
itu beragama  Islam,  tetapi  mereka  berasal  dari  keturunan
orang-orang  Turki.  Napoleon  mempergunakan  sisi  ini  untuk
memisahkan  orang-orang  Mesir  dan  menjauhkan  mereka   dari
penguasa  dengan  menyatakan  bahwa  orang-orang Mamluk adalah
orang asing yang tinggal di Mesir. Dalam maklumatnya, Napoleon
memperkenalkan  istilah Al-Ummat Al-Mishriyah, sehingga ketika
itu istilah baru ini mendampingi istilah yang selama ini telah
amat dikenal, yaitu Al-Ummah Al-Islamiyah

Al-Ummah  Al-Mishriyah  dipahami dalam arti bangsa Mesir. Pada
perkembangan   selanjutnya   lahirlah   ummah    lain,    atau
bangsa-bangsa lain.

MENEMUKAN WAWASAN KEBANGSAAN DALAM AL-QURAN

Untuk  memahami  wawasan  Al-Quran  tentang  paham kebangsaan,
salah satu pertanyaan yang dapat muncul adalah,  "Kata  apakah
yang   sebenarnya  dipergunakan  oleh  kitab  suci  itu  untuk
menunjukkan konsep bangsa atau kebangsaan? Apakah sya'b, qaum,
atau ummah?"

Kata  qaum dan qaumiyah sering dipahami dengan arti bangsa dan
kebangsaan. Kebangsaan Arab dinyatakan oleh  orang-orang  Arab
dewasa    ini   dengan   istilah   Al-Qaumiyah   Al-'Arabiyah.
Sebelumnya, Pusat Bahasa Arab  Mesir  pada  1960,  dalam  buku
Mu'jam Al-Wasith menerjemahkan "bangsa" dengan kata ummah.

Kata   sya'b   juga  diterjemahkan  sebagai  "bangsa"  seperti
ditemukan  dalam  terjemahan  Al-Quran   yang   disusun   oleh
Departemen Agama RI, yaitu ketika menafsirkan surat Al-Hujurat
(49): 13.

Apakah  untuk  memahami   wawasan   Al-Quran   tentang   paham
kebangsaan  perlu  merujuk  kepada  ayat-ayat yang menggunakan
kata-kata tersebut, sebagaimana ditempuh oleh  sebagian  orang
selama   ini?  Misalnya,  dengan  menunjukkan  Al-Quran  surat
Al-Hujurat (49): 13 yang bisa diterjemahkan:

     Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telahi
     menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang
     perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa
     dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal.
     Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi
     Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah
     Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Apakah dari ayat  ini,  nampak  bahwa  Islam  mendukung  paham
kebangsaan karena Allah telah menciptakan manusia bersuku-suku
dan berbangsa-bangsa?

Mestikah untuk mendukung atau menolak paham  kebangsaan,  kata
qaum  yang  ditemukan  dalam  Al-Quran  sebanyak  322 kali itu
ditoleh? Dapatkah dikatakan bahwa pengulangan yang  sedemikian
banyak,   merupakan   bukti  bahwa  Al-Quran  mendukung  paham
kebangasaan? Bukankah para Nabi menyeru masyarakatnya  dengan,
"Ya  Qaumi"  (Wahai  kaumku/bangsaku),  walaupun  mereka tidak
beriman kepada ajarannya? (Perhatikan misalnya Al-Quran  surat
Hud (11): 63, 64, 78, 84, dan lain-lain!).

Di  sisi  lain,  dapatkah  dibenarkan pandangan sebagian orang
yang bermaksud mempertentangkan Islam dengan paham kebangsaan,
dengan    menyatakan   bahwa   Allah   Swt.   dalam   Al-Quran
memerintahkan Nabi Saw. untuk menyeru masyarakat tidak  dengan
kata  qaumi, tetapi, "Ya ayyuhan nas" (wahai seluruh manusia),
serta menyeru kepada masyarakat yang mengikutinya  dengan  "Ya
ayyuhal   ladzina   'amanu?"  Benarkah  dalam  Al-Quran  tidak
ditemukan bahwa Nabi Muhammad Saw. menggunakan kata qaum untuk
menunjuk  kepada  masyarakatnya, seperti yang ditulis sebagian
orang? [1]

Catatan kaki:

 [1] Pernyataan terakhir ini dapat dipastikan tidak
     benar, karena dalam Al-Quran surat Al-Furqan (25): 30
     secara tegas dinyatakan, bahwa Rasulullah saw.
     mengeluh kepada Allah, dengan mengatakan,
     "Sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini sesuatu
     yang tidak diacuhkan."

Hemat penulis untuk menemukan wawasan Al-Quran  tentang  paham
kebangsaan,  tidak  cukup  sekadar  menoleh  kepada  kata-kata
tersebut  yang  digunakan  oleh  Al-Quran,  karena  pengertian
semantiknya  dapat  berbeda  dengan  pengertian yang dikandung
oleh kata bangsa atau kebangsaan. Kata sayyarah yang ditemukan
dalam  Al-Quran misalnya, masih digunakan dewasa ini, meskipun
maknanya sekarang  telah  berubah  menjadi  mobil.  Makna  ini
tentunya  berbeda  dengan  maksud Al-Quran ketika menceritakan
ucapan saudara-saudara Nabi Yusuf  a.s.  yang  membuangnya  ke
dalam  sumur  dengan  harapan  dipungut  oleh  sayyarah  yakni
kafilah atau rombongan musafir. (Baca QS Yusuf [12]: 10).

Kata qaum misalnya, pada mulanya terambil dari kata qiyam yang
berarti "berdiri atau bangkit". Kata qaum agaknya dipergunakan
untuk  menunjukkan  sekumpulan  manusia  yang  bangkit   untuk
berperang  membela  sesuatu. Karena itu, kata ini pada awalnya
hanya digunakan untuk lelaki, bukan  perempuan  seperti  dalam
firman Allah:

     Janganlah satu qaum (kumpulan lelaki) mengejek qaum
     (kumpulan lelaki) yang lain. Jangan pula (kumpulan
     perempuan) mengejek (kumpulan) perempuan yang lain,
     karena boleh jadi mereka (yang diejek) lebih baik
     daripada mereka (yang mengejek) (QS Al-Hujurat [49]:
     11).

Kata sya'b, yang hanya sekali ditemukan  dalam  Al-Quran,  itu
pun  berbentuk  plural,  dan pada mulanya mempunyai dua makna,
cabang dan rumpun. Pakar bahasa Abu 'Ubaidah --seperti dikutip
oleh  At-Tabarsi  dalam tafsirnya-- memahami kata sya'b dengan
arti kelompok non-Arab, sama dengan  qabilah  untuk  suku-suku
Arab.

Betapapun,  kedua  kata  yang  disebutkan  tadi, dan kata-kata
lainnya,  tidak  menunjukkan  arti  bangsa  sebagaimana   yang
dimaksud pada istilah masa kini.

Hal  yang  dikemukakan  ini,  tidak  lantas  menjadikan  surat
Al-Hujurat  yang   diajukan   tertolak   sebagai   argumentasi
pandangan  kebangsaan yang direstui Al-Quran. Hanya saja, cara
pembuktiannya tidak sekadar menyatakan bahwa kata  sya'b  sama
dengan bangsa atau kebangsaan.

APAKAH YANG DIMAKSUD PAHAM KEBANGSAAN?

Apakah yang dimaksud dengan paham kebangsaan?  Sungguh  banyak
pendapat  yang  berbeda  satu  dengan yang lain. Demikian pula
dengan pertanyaan yang muncul disertai jawaban  yang  beragam,
misalnya:

Apakah mutlak adanya kebangsaan, kesamann asal keturunan, atau
bahasa? Apakah yang  dimaksud  dengan  keturunan  dan  bahasa?
Apakah kebangsaan merupakan persamaan ras, emosi, sejarah, dan
cita-cita meraih masa depan? Unsur-unsur apakah yang mendukung
terciptanya kebangsaan? Dan masih ada sekian banyak pertanyaan
lain. Sehingga mungkin benar  pula  pendapat  yang  menyatakan
bahwa  paham  kebangsaan adalah sesuatu yang bersifat abstrak,
tidak dapat disentuh; bagaikan listrik, hanya diketahui gejala
dan bukti keberadaannya, namun bukan unsur-unsurnya.

Pertanyaan  yang  antara lain ingin dimunculkan adalah "Apakah
unsur-unsur tersebut dapat  diterima,  didukung,  atau  bahkan
inklusif  di dalam ajaran Al-Quran? Dapatkah Al-Quran menerima
wadah  yang  menghimpun  keseluruhan  unsur   tersebut   tanpa
mempertimbangkan  kesatuan  agama? Berikut ini akan dijekaskan
beberapa konsep yang mendasari paham kebangsaan.

1. Kesatuan/Persatuan

Tidak dapat disangkal bahwa Al-Quran  memerintahkan  persatuan
dan  kesatuan.  Sebagaimana  secara  jelas pula Kitab suci ini
menyatakan bahwa "Sesungguhnya umatmu  ini  adalah  umat  yang
satu" (QS Al-Anbiya' [2l]: 92, dan Al-Mu'minun [23]: 52).

Pertanyaan  yang  dapat  saja muncul berkaitan dengan ayat ini
adalah:

  a) Apakah ayat ini dan semacamnya mengharuskan
     penyatuan seluruh umat Islam dalam satu wadah
     kenegaraan?

  b) Kalau tidak, apakah dibenarkan adanya
     persatuan/kesatuan yang diikat oleh unsur-unsur yang
     disebutkan di atas, yakni persamaan asal keturunan,
     adat, bahasa, dan sejarah?

Yang  harus  dipahami  pertama  kali  adalah  pengertian   dan
penggunaan  Al-Quran terhadap kata ummat. Kata ini terulang 51
kali dalam Al-Quran, dengan makna yang berbeda-beda.

Ar-Raghib  Al-Isfahani  --pakar  bahasa  yang  menyusun  kamus
Al-Quran  Al-Mufradat  fi  Ghanb  Al-Quran-- menjelaskan bahwa
ummat  adalah  "kelompok  yang  dihimpun  oleh  sesuatu,  baik
persamaan  agama,  waktu,  atau tempat, baik pengelompokan itu
secara terpaksa maupun atas kehendak sendiri."

Memang, tidak hanya manusia yang berkelompok  dinamakan  umat,
bahkan binatang pun demikian.

     Dan tiadalah binatang-binatang melata yang ada yang di
     bumi, tiada juga burung-burung yang terbang dengan
     kedua sayapnya, kecuali umat-umat seperti kamu ... (0S
     Al-An'am [6]: 38).

Jumlah anggota suatu umat tidak dijelaskan oleh Al-Quran.  Ada
yang  berpendapat  minimal  empat  puluh  atau  seratus orang.
Tetapi, sekali lagi Al-Quran pun menggunakan kata umat  bahkan
untuk  seseorang yang memiliki sekian banyak keistimewaan atau
jasa, yang biasanya hanya dimiliki  oleh  banyak  orang.  Nabi
Ibrahim a.s. misalnya disebut sebagai umat oleh Al-Quran surat
An-Nahl (16): 20 karena alasan itu.

     Sesungguhnya Ibrahim adalah umat (tokoh yang dapat
     dijadikan teladan) lagi patuh kepada Allah, hanif dan
     tidak pernah termasuk orang yang mempersekutukan
     (Tuhan) (QS An-Nahl [16]: 120).

Kalau demikian, dapat dikatakan bahwa makna  kata  umat  dalam
Al-Quran sangat lentur, dan mudah menyesuaikan diri. Tidak ada
batas  minimal  atau  maksimal  untuk  suatu  persatuan.  Yang
membatasi  hanyalah  bahasa,  yang  tidak  menyebutkan  adanya
persatuan tunggal.

----------------                              (bersambung 2/3)
WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net
KEBANGSAAN                                               (3/3)

Pengertian  lain   dari   hadis   tersebut   adalah   Al-Quran
menggunakan  kosa  kata  dari  tujuh  (baca:  banyak)  bahasa,
seperti bahasa Romawi, Persia, dan Ibrani, misalnya kata-kata:
zamharir, sijjil, qirthas, kafur, dan lain-lain.

Untuk  menghargai perbedaan bahasa dan dialek, Nabi Saw. tidak
jarang  menggunakan  dialek   mitra   bicaranya.   Semua   itu
menunjukkan  betapa  Al-Quran  dan Nabi Saw. sangat menghargai
keragaman bahasa dan dialek. Bukankah seperti yang dikemukakan
tadi,   Allah  menjadikan  keragaman  itu  bukti  keesaan  dan
kemahakuasaan-Nya?

Nah,  bagaimana  kaitan  bahasa  dan  kebangsaan?  Tadi  telah
dikemukakan   hadis   yang   diriwayatkan  oleh  Ibnu  'Asakir
berkaitan dengan Salman, Bilal, dan Suhaib.  Pada  hakikatnya,
bahasa  memang  bukan  digunakan  sekadar  untuk  menyampaikan
tujuan pembicaraan dan yang  diucapkan  oleh  lidah.  Bukankah
sering  seseorang  berbicara  dengan dirinya sendiri? Bukankah
ada pula yang berpikir  dengan  suara  keras.  Kalimat-kalimat
yang   dipikirkan   dan   didendangkan   itu  merupakan  upaya
menyatakan pikiran dan  perasaan  seseorang?  Di  sini  bahasa
merupakan jembatan penyalur perasaan dan pikiran.

Karena  itu  pula  kesatuan bahasa mendukung kesatuan pikiran.
Masyarakat   yang   memelihara   bahasanya   dapat   memeliara
identitasnya,  sekaligus  menjadi  bukti keberadaannya. Itulah
sebabnya  mengapa  para  penjajah  sering  berusaha  menghapus
bahasa   anak   negeri  yang  dijajahnya  dengan  bahasa  sang
penjajah.

Al-Quran menuntut setiap pembicara agar hanya mengucapkan  hal
yang  diyakini,  dirasakan,  serta  sesuai  dengan  kenyataan.
Karena itu, tidak jarang Kitab Suci ini menggunakan kata  qala
atau  yaqulu  (dia  berkata,  dalam  arti  meyakini),  seperti
misalnya dalam surat Al-Baqarah (2): 116:

     Mereka berkata, "Allah mengambil anak". Mahasuci
     Allah, dengan arti mereka meyakini bahwa Allah
     mempunyai anak.

Salah satu sifat Ibadur Rahman (hamba-hamba Allah  yang  baik)
yang dijelaskan dalam surat Al-Furqan (25): 65 adalah:

     Mereka yang berkata, "Jauhkanlah siksa jahanam dari
     kami". Sesungguhnya azab-Nya adalah kebinasaan yang
     kekal

Ucapan  ini  bukan  sekadar  dengan  lidah  atau   permohonan,
melainkan  peringatan  sikap,  keyakinan  dan perasaan mereka,
karena  kalau  sekadar  permohonan,  apalah   keistimewaannya?
Bukankah  semua  orang  dapat bermohon seperti itu? Karena itu
tidak menyimpang jika dinyatakan bahwa bahasa pada  hakikatnya
berfungsi  menyatakan  perasaan  pikiran, keyakinan, dan sikap
pengucapnya.

Dalam konteks paham kebangsaan, bahasa pikiran, dan  perasaan,
jauh  lebih  penting  ketimbang  bahasa lisan, sekalipun bukan
berarti  mengabaikan  bahasa   lisan,   karena   sekali   lagi
ditekankan bahwa bahasa lisan adalah jembatan perasaan.

Orang-orang  Yahudi  yang bahasanya satu, yaitu bahasa Ibrani,
dikecam oleh Al-Quran dalam surat  Al-Hasyr  ayat  14,  dengan
menyatakan:

     Engkau menduga mereka bersatu, padahal hati mereka
     berkeping-keping.

Atas dasar semua itu, terlihat bahwa  bahasa,  saat  dijadikan
sebagai  perekat  dan  unsur  kesatuan umat, dapat diakui oleh
Al-Quran,  bahkan  inklusif  dalam   ajarannya.   Bahasa   dan
keragamannya  merupakan salah satu bukti keesaan dan kebesaran
Allah. Hanya saja harus diperhatikan bahwa dari  bahasa  harus
lahir  kesatuan  pikiran  dan  perasaan,  bukan  sekadar  alat
menyampaikan informasi.

4. Adat Istiadat

Pikiran dan perasaan satu kelompok/umat tercermin antara  lain
dalam adat istiadatnya.

Dalam konteks ini, kita dapat merujuk perintah Al-Quran antara
lain:

     Hendaklah ada sekelompok di antara kamu yang mengajak
     kepada kebaikan, memerintahkan yang ma'ruf dan
     mencegah yang mungkar (QS Ali 'Imran [3]: 104)

     Jadilah engkau pemaaf; titahkanlah yang 'urf (adat
     kebiasaan yang baik), dan berpalinglah dari orang yang
     jahil (QS Al-A'raf [7]: 199).

Kata  'urf  dan  ma'ruf  pada  ayat-ayat  itu  mengacu  kepada
kebiasaan  dan  adat  istiadat  yang tidak bertentangan dengan
al-khair, yakni prinsip-prinsip ajaran Islam.

Rincian dan penjabaran kebaikan dapat  beragam  sesuai  dengan
kondisi dan situasi masyarakat. Sehingga, sangat mungkin suatu
masyarakat berbeda pandangan dengan masyarakat  lain.  Apabila
rincian   maupun  penjabaran  itu  tidak  bertentangan  dengan
prinsip ajaran agama, maka itulah yang dinamai 'urf/ma'ruf.

Imam  Bukhari  meriwayatkan,   bahwa   suatu   ketika   Aisyah
mengawinkan  seorang  gadis  yatim  kerabatnya  kepada seorang
pemuda dari kelompok Anshar (penduduk kota Madinah). Nabi yang
tidak  mendengar  nyanyian  pada  acara  itu,  berkata  kepada
Aisyah,   "Apakah   tidak   ada   permainan/nyanyian?   Karena
orang-orang Anshar senang mendengarkan nyanyian ..." Demikian,
Nabi Saw. menghargai adat-kebiasaan masyarakat Anshar.

Pakar-pakar hukum menetapkan bahwa adat kebiasaan dalam  suatu
masyarakat  selama  tidak  bertentangan  dengan prinsip ajaran
Islam, dapat dijadikan sebagai salah satu  pertimbangan  hukum
(al-adat  muhakkimah). Demikian ketentuan yang mereka tetapkan
setelah   menghimpun   sekian   banyak   rincian   argumentasi
keagamaan.

5. Sejarah

Agaknya,  persamaan  sejarah  muncul  sebagai unsur kebangsaan
karena unsur ini merupakan salah  satu  yang  terpenting  demi
menyatukan  perasaan, pikiran, dan langkah-langkah masyarakat.
Sejarah menjadi penting, karena  umat,  bangsa,  dan  kelompok
dapat  melihat  dampak  positif  atau  negatif pengalaman masa
lalu,  kemudian  mengambil  pelajaran  dari   sejarah,   untuk
melangkah  ke  masa  depan.  Sejarah  yang gemilang dari suatu
kelompok akan dibanggakan anggota kelompok serta keturunannya,
demikian pula sebaliknya.

Al-Quran  sangat menonjol dalam menguraikan peristiwa sejarah.
Bahkan  tujuan  utama  dari  uraian  sejarahnya  adalah   guna
mengambil   i'tibar   (pelajaran),   guna  menentukan  langkah
berikutnya.  Secara  singkat  dapat  dikatakan   bahwa   unsur
kesejarahan  sejalan  dengan  ajaran  Al-Quran. Sehingga kalau
unsur  ini  dijadikan  salah  satu   faktor   lahirnya   paham
kebangsaan,  hal ini inklusif di dalam ajaran Al-Quran, selama
uraian kesejarahan itu diarahkan untuk mencapai  kebaikan  dan
kemaslahatan

6. Cinta Tanah Air

Rasa   kebangsaan   tidak   dapat   dinyatakan  adanya,  tanpa
dibuktikan oleh patriotisme dan cinta tanah air.

Cinta tanah  air  tidak  bertentangan  dengan  prinsip-prinsip
agama,  bahkan  inklusif  di dalam ajaran Al-Quran dan praktek
Nabi Muhammad Saw.

Hal ini bukan sekadar dibuktikan melalui ungkapan populer yang
dinilai  oleh  sebagian  orang sebagai hadis Nabi Saw., Hubbul
wathan minal iman (Cinta tanah air adalah bagian  dari  iman),
melainkan  justru dibuktikan dalam praktek Nabi Muhammad Saw.,
baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat.

Ketika Rasulullah Saw. berhijrah  ke  Madinah,  beliau  shalat
menghadap ke Bait Al-Maqdis. Tetapi, setelah enam belas bulan,
rupanya  beliau  rindu  kepada  Makkah  dan   Ka'bah,   karena
merupakan  kiblat  leluhurnya dan kebanggaan orang-orang Arab.
Begitu  tulis  Al-Qasimi   dalam   tafsirnya.   Wajah   beliau
berbolak-balik  menengadah  ke  langit,  bermohon  agar kiblat
diarahkan ke Makkah, maka Allah merestui keinginan ini  dengan
menurunkan firman-Nya:

     Sungguh Kami (senang) melihat wajahmu menengadah ke
     langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke
     kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah
     Masjid Al-Haram... (QS Al-Baqarah [2]: 144).

Cinta beliau kepada tanah tumpah darahnya tampak  pula  ketika
meninggalkan  kota  Makkah  dan  berhijrah  ke Madinah. Sambil
menengok ke kota Makkah beliau berucap:

     Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah bumi Allah yang
     paling aku cintai, seandainya bukan yang bertempat
     tinggal di sini mengusirku, niscaya aku tidak akan
     meninggalkannya.

Sahabat-sahabat Nabi Saw.  pun  demikian,  sampai-sampai  Nabi
Saw. bermohon kepada Allah:

     Wahai Allah, cintakanlah kota Madinah kepada kami,
     sebagaimana engkau mencintakan kota Makkah kepada
     kami, bahkan lebih (HR Bukhari, Malik dan Ahmad).

Memang, cinta  kepada  tanah  tumpah  darah  merupakan  naluri
manusia,  dan  karena itu pula Nabi Saw. menjadikan salah satu
tolok ukur kebahagiaan adalah "diperolehnya rezeki dari  tanah
tumpah  darah".  Sungguh benar ungkapan, "hujan emas di negeri
orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih  senang  di  negeri
sendiri."

Bahkan  Rasulullah  Saw.  mengatakan  bahwa  orang  yang gugur
karena membela  keluarga,  mempertahankan  harta,  dan  negeri
sendiri  dinilai sebagai syahid sebagaimana yang gugur membela
ajaran agama. Bahkan Al-Quran menggandengkan  pembelaan  agama
dan pembelaan negara dalam firman-Nya:

     Allah tidak melarang kamu berbuat baik, dan memberi
     sebagian hartamu (berbuat adil) kepada orang yang
     tidak memerangi kamu karena agama, dan tidak pula
     mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah
     menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya
     Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu
     orang-orang yang memerangi kamu karena agama, mengusir
     kamu dari negerimu, dan membantu orang lain mengusirmu
     (QS Al-Mumtahanah [60]: 8-9).

                              ***

Dari uraian di  atas  terlihat  bahwa  paham  kebangsaan  sama
sekali tidak bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan Sunnah.

Bahkan  semua  unsur  yang melahirkan paham tersebut, inklusif
dalam ajaran  Al-Quran,  sehingga  seorang  Muslim  yang  baik
pastilah seorang anggota suatu bangsa yang baik. Kalau anggota
suatu  bangsa  terdiri  dari  beragam  agama,   atau   anggota
masyarakat  terdiri  dari  berbagai  bangsa,  hendaknya mereka
dapat menghayati firman-Nya dalam  Al-Quran  surat  Al-Baqarah
ayat 148:

     Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblat (arah yang
     ditujunya), dia menghadap ke arah itu. Maka
     berlomba-lombalah kamu (melakukan) kebaikan. Di mana
     saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu
     sekalian. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala
     sesuatu.[]

----------------
WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net
29
Aug
11

Ketuhanan Yang Maha Esa : Hafal Nama Surah Al Qur’an

CARA MUDAH MENGHAFAL NAMA SURAH AL QUR’AN

Maret 24, 2007 oleh radeezblog

Cara Mudah Menghafal Nama Surah Al Qur’an

LANGKAH – LANGKAH ATAU METODA

I. Menghafal nama – nama Surah dengan metoda cerita.
Metoda yang penulis buat ini sebenarnya terinspirasi dari metoda Quantum Learning melalui pelatihan yang telah diikuti. Prinsipnya
bagaimana belajar itu mudah dan menyenangkan. Dan tidak ada salahnya kita gunakan dalam proses mengenal Al-Qur’an dari sisi-sisi tertentu.
Salah satunya adalah menghafal nama – nama surah dalam Al-Qur’an.
Mulai saat ini anda diajak untuk mengenal nama-nama surah dalam Al-Qur’an. Anda akan dibawa keluar dari zona nyaman menuju satu
pengalaman baru yang mengasyikkan. Membuat anda sadar dan melek dari mitos – mitos yang menyesatkan tentang ghuluw atau bahkan ekstrim yang terlalu jauh menyimpang dalam mensikapi keutamaan Al-Qur’an. Al-Qur’an dianggap sebagai suatu yang mistik. Padahal sebenarnya Al-Qur’an itu mu’jizat. Al-Qur’an memiliki hayawiyyah atau dinamis penuh makna.
Dan metoda berikut ini merupakan salah satu pensikapan dinamis dan unik. Bisa dinikmati manfaatnya bagi setiap muslim yang ingin lebih akrab bermu’ayasyah ma’l qur’an dari sisi nama-nama surahnya yang berjumlah 114 surah. Karena itu cobalah metoda ini;
a. Cara menghafal
Dalam metoda cerita ini pendekatannya melalui arti atau terjemah dari nama surah yang berbahasa Arab. Yang perlu diperhatikan di sini adalah bukan kebenaran ceritanya tetapi bagaimana anda bisa menghafal dan mengingat nama – nama surah dalam Al-Qur’an dengan mudah, karena cerita ini bersifat imajinatif bukan hakiki.
Cerita berikut dibuat bersifat penggalan – penggalan (per sepuluh surah kecuali surah yang ke-91 – 99 dan ke-100 sampai terakhir). Hal
ini akan membantu anda mempermudah dalam menghafal dan mengingat kembali nama – nama Surah dalam Al-Qur’an. Ingat yang dihafal bukan ceritanya tetapi alur cerita nama – nama surah Al-Qur’an (dalam terjemah) yang tertulis dengan huruf tebal dan kapital. Seperti;
PEMBUKAAN, SAPI BETINA dan seterusnya.

Praktisnya adalah sebagai berikut;
1. Bacalah cerita tersebut (misalnya cerita I; 1-10) sambil tersenyum.
2. Boleh dibaca dalam hati atau dengan suara. Perhatikan pada kata -
kata bercetak   tebal dan berikan tekanan bunyi yang berbeda dari kata
yang tidak bercetak tebal.
3. Bayangkan anda sendiri sedang manjadi pelaku atau terlibat langsung
dalam alur cerita tersebut. Kalau bisa sambil membayangkan dan
gerakkan anggota tubuh anda sebagai bentuk kreasi dari imajinasi anda.
4. Tulis ulang kata – kata yang bercetak tebal sesuai yang anda ingat
saja, lalu cocokkan dan urutkan sesuai urutannya.
5. Setelah anda berhasil menulis ulang kata – kata yang bercetak
tebal, dengan melihat kata – kata tersebut cobalah anda
mengulang(mengingat ) kembali alur ceritanya tanpa harus sama persis.
6. Berikutnya anda melihat grafik kata – kata yang bercetak tebal dan
bacalah dalam bahasa Arabnya. Ingat jangan dihafal terlebih dahulu
teks arab yang ditulis dengan huruf latin tersebut (hal tersebut akan
dibahasa tersendiri).

b. Cara Mengingat ulang
Bila anda lupa dengan nama surah tertentu, misalnya saja anda lupa
dengan nama Surah ke-13, maka langsung saja anda mengingat -ingat alur
cerita tersebut. Dimulai dari urutan surah yang ke-11 yaitu HUD. Maka
anda akan teringat bahwa HUD dan YUSUF disambar PETIR. Secara otomatis
dalam hitungan menit atau bahkan detik, anda akan dengan cepat
mengingatnya kembali bahwa surat yang ke-13 adalah Surah PETIR (yang
Bahasa Arabnya AR RA’D). Menyenangkan bukan?

Selamat mencoba dan menikmati. Semoga anda benar – benar puas.

c. Tekhnis Menghafal

Berikut ini teknis dan cara menghafal nama – nama surah dengan metoda
cerita yang dibagi dalam 11 bagian (cerita) agar memudahkan kita dalam
penguasaan maksimal dan cepat.

Cerita I; (Surah 1 – 10)
Aku membaca Al-Qur’an dimulai dengan PEMBUKAAN. Kebetulan waktu itu
tetanggaku sedang memotong SAPI BETINA untuk KELUARGA IMRAN yang punya
anak wanita bernama AN NISA. Ia lapar makan HIDANGAN, sisanya ia
berikan untuk BINATANG TERNAK yang berkandang di TEMPAT-TEMPAT YANG
TINGGI, di sana dibagikan HARTA RAMPASAN PERANG yang dilakukan setelah
TAUBAT seperti taubatnya YUNUS

NO KRONOLOGI CERITA

1 PEMBUKAAN – AL-FATIHAH
2 SAPI BETINA – AL-BAQOROH
3 KELUARGA IMRAN – ALI IMRON
4 AN NISA (WANITA) – AN NISA
5 HIDANGAN – AL MAIDAH
6 BINATANG TERNAK – AL AN ‘AM
7 TEMPAT-TEMPAT YANG TINGGI – AL A’ ROF
8 HARTA RAMPASAN PERANG – AL ANFAL
9 TAUBAT – AT TAUBAH
10 YUNUS -YUNUS

Cerita II; (Surah 11 – 20)
HUD dan YUSUF disambar PETIR sementara itu IBRAHIM sedang berada di
PEGUNUNGAN HIJR tempat dimana LEBAH memulai PERJALANAN MALAM menuju ke
GUA tempat bersembunyinya MARYAM dan TOHA.

NO KRONOLOGI CERITA

11 HUD – HUD
12 YUSUF-YUSUF
13 PETIR – AR RA’D
14 IBRAHIM -IBRAHIM
15 PEGUNUNGAN HIJR – AL HIJR
16 LEBAH – AN NAHL
17 PERJALANAN MALAM – AL ISRO
18 GUA – AL KAHFI
19 MARYAM – MARYAM
20 TOHA – TOHA

Cerita III; (Surah 21 – 30)
PARA NABI pergi HAJI diikuti oleh ORANG-ORANG BERIMAN berpakain putih
- putih sehingga laksana CAHAYA yang menjadi PEMBEDA ANTARA YANG BENAR
DAN BATHIL seperti ceritanya PARA PENYAIR tentang SEMUT dalam buku
KISAH -KISAH dan juga tentang LABA-LABA yang menyerang BANGSA ROMAWI.

NO KRONOLOGI CERITA
21 PARA NABI – AL ANBIYA
22 HAJI – AL HAJJ
23 ORANG – ORANG BERIMAN-AL MU’MINUN
24 CAHAYA – AN NUR
25 PEMBEDA ANTARA YANG BENAR DAN BATHIL – AL FURQON
26 PARA PENYAIR – ASY SYU ‘ARO
27 SEMUT-AN NAML
28 KISAH-KISAH – AL QOSHOSH
29 LABA-LABA – AL ‘ANKABUT
30 BANGSA ROMAWI – AR RUM

Cerita IV; (Surah 31 – 40)
LUKMAN tidak berSUJUD di kaki GOLONGAN YANG BERSEKUTU dengan KAUM
SABA’ yang tidak beriman kepada Yang Maha PENCIPTA. Sementara itu
YASIN menyiapkan orang YANG BERSHAF – SHAF membentuk huruf SHOD dengan
ROMBONGAN – ROMBONGAN untuk memohon kepada YANG PENGAMPUN dari
kesalahan.

NO KRONOLOGI CERITA
31 LUKMAN – LUQMAN
32 SUJUD – AS SAJDAH
33 GOLONGAN YANG BERSEKUTU – AL AHZAB
34 KAUM SABA’ – SABA’
35 PENCIPTA – FATHIR
36 YASIN – YASIN
37 YANG BERSHAF-SHAF – ASH SHOOFFAT
38 SHOD – SHOD
39 ROMBONGAN-ROMBONGAN – AZ ZUMAR
40 YANG PENGAMPUN – GHOFIR

Cerita V; (Surah 41 – 50)
YANG DIJELASKAN dalam MUSYAWARAH itu tentang hukum PERHIASAN bukan
tentang KABUT membawa orang YANG BERLUTUT di BUKIT – BUKIT PASIR, saat
MUHAMMAD mendapat KEMENANGAN ditandai dengan KAMAR – KAMAR bertuliskan
huruf QOF.

NO KRONOLOGI CERITA
41 YANG DIJELASKAN – FUSHSHILAT
42 MUSYAWARAH – ASY SYURA
43 PERHIASAN – AZ ZUKHRUF
44 KABUT – AD DUKHAN
45 YANG BERLUTUT – AL JATSIYAH
46 BUKIT-BUKIT PASIR – AL AHQOF
47 MUHAMMAD – MUHAMMAD
48 KEMENANGAN – AL FATH
49 KAMAR-KAMAR – AL HUJURAT
50 QOF – QOF

Cerita VI; (Surah 51 – 60)
ANGIN YANG MENERBANGKAN menghembus ke BUKIT saat BINTANG dan BULAN
bersinar sebagai bukti kuasa YANG MAHA PEMURAH yang akan mendatangkan
HARI KIAMAT menghancurkan BESI pada saat WANITA YANG MENGAJUKAN
GUGATAN mengalami PENGUSIRAN sebagaimana menimpa PEREMPUAN YANG DIUJI.

NO KRONOLOGI CERITA
51 ANGIN YANG MENERBANGKAN – ADZ DZARIYAT
52 BUKIT – ATH THUR
53 BINTANG – AN NAJM
54 BULAN – AL QOMAR
55 YANG MAHA PEMURAH – AR RAHMAN
56 HARI KIAMAT – AL WAQI ‘AH
57 BESI – AL HADID
58 WANITA YANG MENGAJUKAN GUGATAN – AL MUJADILAH
59 PENGUSIRAN – AL HASYR
60 PEREMPUAN YANG DIUJI – AL MUMTAHANAH

Cerita VII; (Surah 61 – 70)
BARISAN orang beriman pada HARI JUM’AT berbeda dengan ORANG – ORANG
MUNAFIK saat HARI DITAMPAKAN KESALAHAN – KESALAHAN orang yang suka
TALAK dalam pernikahan dan Allah MENGHARAMKAN pelimpahan KERAJAAN
secara tertulis dengan PENA pada HARI KIAMAT yang tidak ada lagi
TEMPAT – TEMPAT NAIK bagi amal sholih.

NO KRONOLOGI CERITA
61 BARISAN – ASH SHOF
62 HARI JUM’AT – AL JUMU’AH
63 ORANG-ORANG MUNAFIK – AL MUNAFIQUN
64 HARI DITAMPAKAN KESALAHAN-KESALAHAN – AL TAGHOBUN
65 TALAK – ATH THOLAQ
66 MENGHARAMKAN – AT TAHRIM
67 KERAJAAN – AL MULK
68 PENA – AL QOLAM
69 HARI KIAMAT – AL HAAQQAH
70 TEMPAT-TEMPAT NAIK – AL MA ‘ARIJ

Cerita VIII; (Surah 71 – 80)
NUH diganggu JIN saat ORANG YANG BERSELIMUT dan ORANG YANG BERKEMUL
tertidur pulas tidak menyadari datangnya KIAMAT ketika MANUSIA
didatangkan MALAIKAT YANG DIUTUS menyampaikan BERITA BESAR tentang
kematian yang dibawa MALAIKAT – MALAIKAT YANG MENCABUT nyawa sedangkan
IA BERMUKA MASAM.

NO KRONOLOGI CERITA
71 NUH – NUH
72 JIN – AL JINN
73 ORANG YANG BERSELIMUT – AL MUZAMMIL
74 ORANG YANG BERKEMUL – AL MUDATSTSIR
75 KIAMAT – AL QIYAMAH
76 MANUSIA – AL INSAN
77 MALAIKAT YANG DIUTUS – AL MURSALAT
78 BERITA BESAR – AN NABA’
79 MALAIKAT-MALAIKAT YANG MENCABUT – AN NAZI ‘AT
80 IA BERMUKA MASAM – ‘ABASA

Cerita IX; (Surah 81 – 90)
Gempa MENGGULUNG bumi hingga TERBELAH dan ORANG-ORANG YANG CURANG pun
ikut TERBELAH hancur lebur menjadi GUGUSAN BINTANG diantaranya bintang
YANG DATANG DI MALAM HARI atas kuasa YANG PALING TINGGI pada HARI
PEMBALASAN tidak akan muncul FAJAR di NEGERI manapun.

NO KRONOLOGI CERITA
81 MENGGULUNG – AT TAKWIR
82 TERBELAH – AL INFITHOR
83 ORANG-ORANG YANG CURANG – AL MUTHOFFIFIN
84 TERBELAH – AL INSYIQOQ
85 GUGUSAN BINTANG – AL BURUJ
86 YANG DATANG DI MALAM HARI – ATH THORIQ
87 YANG PALING TINGGI – AL A ‘LA
88 HARI PEMBALASAN – AL GHOSYIYAH
89 FAJAR – AL FAJR
90 NEGERI – AL BALAD

Cerita X; (Surah 91 – 99)
MATAHARI tenggelam saat MALAM tiba hingga datang WAKTU DHUHA Allah
MELAPANGKAN rizki dan menumbuhkan BUAH TIN untuk manusia yang berasal
dari SEGUMPAL DARAH tanpa KEMULIAAN sedikit pun sebagai BUKTI akan
terjadi KEGONCANGAN dunia.

NO KRONOLOGI CERITA
91 MATAHARI – ASY SYAMS
92 MALAM – AL LAIL
93 WAKTU DHUHA – ADH DHUHA
94 MELAPANGKAN – AL INSYIROH
95 BUAH TIN – AT TIN
96 SEGUMPAL DARAH – AL ‘ALAQ
97 KEMULIAAN – AL QODR
98 BUKTI – AL BAYYINAH
99 KEGONCANGAN – AZ ZALZALAH

Cerita XI; (Surah 100 – 114)
KUDA PERANG YANG BERLARI KENCANG pada HARI KIAMAT tidak lagi untuk
BERMEGAH – MEGAHAN pada MASA itu si PENGUMPAT diinjak – injak GAJAH
milik SUKU QURAISY tanpa menyisakan BARANG – BARANG YANG BERGUNA
sedikit pun, apalagi NI’MAT YANG BANYAK semuanya pergi dari
ORANG-ORANG KAFIR tanpa mendapat PERTOLONGAN dari GEJOLAK API yang
membakar karena tidak MEMURNIKAN KEESAAN ALLAH yang sejak WAKTU SUBUH
semua MANUSIA telah melaksankannya.

NO KRONOLOGI CERITA
100 KUDA PERANG YANG BERLARI KENCANG – AL ‘ADIYAT
101 HARI KIAMAT – AL QORI ‘AH
102 BERMEGAH-MEGAHAN – AT TAKATSUR
103 MASA – AL ‘ASHR
104 PENGUMPAT – AL HUMAZAH
105 GAJAH – AL FI-L
106 SUKU QURAISY – QURAISY
107 BARANG-BARANG YANG BERGUNA – AL MA ‘UN
108 NI’MAT YANG BANYAK – AL KAUTSAR
109 ORANG-ORANG KAFIR – AL KAFIRUN
110 PERTOLONGAN – AN NASHR
111 GEJOLAK API – AL LAHAB
112 MEMURNIKAN KEESAAN ALLAH – AL IKHLASH
113 WAKTU SUBUH – AL FALAQ
114 MANUSIA – AN NAAS

smg bermanfaat, amiin.

Saiful A+ Dwi W

28
Aug
11

Sejarah : Anak Didik Haji Oemar Said Cokroaminoto

28 Ramadhan 1432 H / 28 Agustus 2011

Cinta Kartosoewirjo

M. Fachry

Kamis, 18 Agustus 2011 10:22:13

Kisah Cinta Kartosoewirjo : Dewi Siti Kaltsum, sosok wanita tegar dibalik Sang Imam

Di balik pasangan yang hebat ada cinta yang kuat. Mungkin itulah kalimat yang pas bagi pasangan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dan Dewi Siti Kaltsum. Dua sejoli yang mengalami pasang surut dalam penegakan Darul Islam puluhan tahun silam. Kisahnya menjadi epik bagi anak cucu Islam kelak puluhan tahun mendatang. Iya sebuah cerita cinta dari Malangbong, Garut, Jawa Barat, untuk cahaya Islam di bumi Indonesia.

Perkenalan Kartosoewirjo dengan Dewi Siti Kaltsum terjadi saat pimpinan Darul Islam tersebut tengah mampir ke Malangbong, Garut, tahun 1928. Kebetulan Ayahanda Dewi adalah Ardiwisastra, salah seorang Ulama, Ajengan, dan Tokoh Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) ternama di Garut. Niat Kartosoewirjo menyambangi kediaman Ardiwisastra semata-mata mengumpukan dana bagi keberangkatan KH. Agoes Salim ke Belanda demi berdiplomasi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Dewi, kembang Malangbong yang kala itu tengah mengarungi masa dewasa, melihat sosok laki-laki yang berbeda mengetuk pintu rumahnya. “Siapa ia?” tanya Dewi dalam hatinya. Laki-laki itu bagi Dewi tidak seperti laki-laki pada umumnya. Kartosoewirjo pandai bicara, namun bukan gombal. Pengetahuannya tentang Islam pun tidak datar. Orang yang mendatangi ayahnya pasti bukan orang sembarangan.

Kala itu, Kartosoewirjo tengah menjabat Sekretaris Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Pada Desember 1927, Kartosoewirjo terpilih sebagai Sekretaris Umum Partai Sarekat Islam Indonesia-sebelumnya masih bernama Partij Sjarikat Islam Hindia Timoer. Sejak itu, ia banyak melakukan perjalanan ke cabang-cabang Sarekat Islam di seluruh Nusantara.

Dewi pun mulai tahu aktivitas Kartosoewirjo yang penuh dengan dunia gerakan. Maklum saat itu Dewi mulai berkecimpung dalam bidang penuh resiko tersebut. Darah pergerakan turun dari sang ayah yang terkenal gigih melawan Belanda dengan semangat perlawanan Islam terhadap Imperialisme Barat.

Dewi amat terkesan dengan sikap hidup sang ayah. Pada usia delapan tahun, ibunya sudah mengajaknya berjalan kaki belasan kilometer ke Tarogong, Garut, untuk menengok ayahnya yang ditahan Belanda. Dan itu amat membekas dalam hatinya.

Ardiwisastra ditahan Belanda karena bersama sejumlah ajengan memelopori pembangkangan terhadap perintah Belanda, yang mewajibkan penjualan padi hanya kepada pemerintah Hindia Belanda. Pada 1916, Belanda menembak mati Haji Sanusi, tokoh berpengaruh di Cimareme, Garut. Terjadi pula penangkapan secara besar-besaran terhadap para ajengan, termasuk Ardiwisastra dan santri-santrinya.

Setahun setelah pertemuan itu, pada April 1929, Kartosoewirjo resmi menikahi Dewi di Malangbong. Ardiwisastra, sang mertua sendiri, sama sekali tidak melihat sang menantu dari fisik. Akhlak dan kejujuranlah yang tampaknya membuat Ardiwisastra menjodohkannya dengan sang putri yang kala itu menjadi kembang desa di Malangbong.

“Apakah calon menantunya tampan atau buruk muka tidak penting,” kata Ardiwisastra kepada Pinardi, penulis buku Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo terbitan 1964.

Rupanya Dewi pun mengakui hal serupa. Secara jujur, ia tidak menjadikan wajah sebagai prasyarat pinangan sang Imam diterima, “Kalau disebut karena cinta, Bapak itu sebetulnya orangnya (mukanya) kan jelek,” tutur Dewi lugu kepada majalah Tempo, tahun 1983.

Rupanya Dewi tidak salah pilih. Ia mengaku mendapatkan selaksa cinta yang tinggi dari suaminya. Laki-laki soleh yang menyerahkan segala hidupnya demi Islam. Laki-laki penuh sahaja yang dikenal sebagai biduk kasihnya sepanjang masa. Dengarlah tuturan Dewi berikut ini:

“Aku memang tidak salah pilih. Disinilah aku mulai mengenal dan belajar tentang sikap dan sifat suamiku. Ia ternyata seorang laki-laki yang penuh tanggung jawab pada keluarganya dan menyayangiku. Ia tak segan–segan memperkenalkanku, istrinya yang dari kampung dengan kawan-kawan seperjuangannya yang terpelajar dan terhormat.

“Bahkan dua bulan setelah kami berada di Jakarta, mungkin atas prakarsa teman-temannya, perkawinan kami dirayakan di rumah Pak Cokroaminoto. Aku ingat benar pesta yang sederhana tapi amat mengesankan itu ber-langsung pada tanggal 12 Zulhijjah. “

Sebagai seorang aktivis partai dengan jabatan Sekjen PSII waktu itu, hari-hari
Kartosoewirjo sangatlah sibuk. Namun demikian, kepentingan keluarga tak pernah diabaikannya. Ia faham posisinya sebagai kepala keluarga yang dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Oleh istrinya, Kartosoewirjo dikenal sebagai seorang lelaki yang tinggi akhlaknya, suami yang sangat santun pada sang istri dan penuh kasih sayang pada anak-anaknya. Ini pernah diutarakannya Dewi sendiri yang menuturkan kisahnya kepada Tatang Sumarsono, yang dimuat bersambung di suatu majalah Amanah.

Pada perkembangannya, kecintaan dan keikhlasan Dewi terhadap suaminya betul-betul diuji saat mengarungi perjuangan. Dewi, anak kyai itu, berkembang menjadi istri diluar pada umumnya. Jika para pribumi yang menikah dengan Meneer Belanda biasa menikmati pesta pora beserta alunan nada. Dewi harus ikut bergerilya menghindari kejaran tentara Indonesia.

Jika para kembang Desa memilih hidup berdiam diri atas kondisi yang ada, bersama suami, Dewi malah keluar-masuk hutan demi tegaknya Syariat Islam di bumi Nusantara. Dewi sudah menasbihkan diri untuk bertahan diliputi rasa takut semata-mata pengabdian besar seorang istri terhadap sang suami.

Lantas, apakah kunci yang membuat Dewi bisa mempertahankan cintanya kepada Kartosoewirjo meski hidup dan mati adalah dua kata yang dekat kepadanya? Yang mau hidup penuh kesederhanaan walau sang ayah terkenal sebagai ningrat di Jawa Barat? Adalah pendidikan agama yang menjadi kunci kekuatan Dewi untuk tidak mengeluh dan tetap sabar meski hidup penuh kesederhanaan.

“Akibatnya, kami memang tak punya rumah tetap, pindah dari rumah sewa ke rumah sewa lainnya. Tapi aku sendiri tidak mengeluh. Sebagai istri yang mendapat pendidikan agama cukup lekat dari orangtua, kuterima segalanya dengan rasa syukur. Karena itulah, boleh jadi kehidupan keluarga kami berjalan tenang, kalau tidak dikatakan bahagia.” Aku Dewi.

Bersama Kartoesowirjo, Dewi melahirkan 12 anak. Lima di antaranya meninggal. Tiga anak terakhir: Ika Kartika, Komalasari, dan Sardjono, lahir di tengah hutan. Anak-anak yang lain lahir di rumah.

Mereka: si sulung Tati yang meninggal ketika masih bayi, Tjukup yang tertembak dan meninggal pada 1951 di hutan pada usia 16 tahun, Dodo Muhammad Darda, Rochmat (meninggal pada usia 10 tahun karena sakit), Sholeh yang meninggal ketika bayi, Tahmid, Abdullah (meninggal saat bayi), Tjutju yang lumpuh, dan Danti.

Sebagai perempuan, Dewi mulanya takut hidup di hutan. Kala itu Dewi sudah menggendong Danti yang baru berusia 40 hari. Dewi sempat berpikir tentang masa depan anak-anaknya. Gurat kesedihan mulai timbul dalam sekat wajahnya meratapi impian tak sesuai kenyataan. Namun, sosok Kartosoewirjo lah yang setia berada disampingnya, untuk menghibur, meyakinkan, dan “menggenggam kuat jemari di tangannya”. Dan Dewi langsung merasa tenteram.

Sebelum menjalani eksekusi mati, Kartosoewirjo sempat berwasiat di hadapan istri dan anak-anaknya di sebuah rumah tahanan militer di Jakarta. Menurut Dewi, saat itu Kartosoewirjo antara lain berkata tidak akan ada lagi perjuangan seperti ini sampai seribu tahun mendatang. Dewi menitikkan air mata. Kartosoewirjo, yang mencoba tabah, akhirnya meleleh. Perlahan-lahan, dia mengusap kedua matanya.

Betapa besar cinta Kartosoewirjo kepada istrinya. Ia menangis di depan istrinya, bukan ia kalah terhadap rezim sekuler yang mencoba membunuhnya, bukan jua menyesal atas perjuangannya yang meski meminta taruhan nyawa, namun air mata itu adalah bukti cinta Kartosoewirjo yang besar kepada sang istri, ya kembang Malangbong yang senantiasa menemaninya meski hidup penuh onak dan duri.

Air mata Dewi semakin jatuh. Ia menangis sejadi-jadinya. Rasa bangga bercampur haru meliputi hatinya karena memiliki sosok suami seperti Kartosoewirjo yang tetap meyakinkannya tentang arti cinta sebenarnya: Cinta kepada Allahuta’ala, karena dunia hanyalah persinggahan sementara.

Cinta mereka akhirnya harus usai, cinta Dewi kepada suaminya mesti dipisahkan timah panas ketika aparat keamanan menangkap Kartosoewirjo setelah melalui perburuan panjang di wilayah Gunung Rakutak di Jawa Barat dan menghukum matinya pada September 1962.

Dewi pun menyusul cinta sejatinya itu pada tahun 1998. Lahir pada 1913, Dewi wafat dalam usia 85 tahun. Bersebelahan dengan makam Dewi adalah kuburan Raden Rubu Asiyah, ibundanya, perempuan menak asal Keraton Sumedang, Jawa Barat.

Namun pepatah “cinta sejati akan dibawa sampai mati” memang betul adanya. Di pemakaman ini Kartosoewirjo masih memendam cinta, cintanya kepada sang istri yang telah menemaninya puluhan tahun baik suka maupun duka. “Bapak ingin jenazahnya dekat dengan keluarga Malangbong,” kata Sardjono, anak bungsu Kartosoewirjo.

Inilah kisah cinta sejati yang tertutup di tengah pemberitaan miring tentang NII pasca dibonceng oleh NII KW IX.. Semoga Allah mempertemukan mereka kembali di jannah kelak. Allahuma amin. Allahua’lam. (pz)

Oleh Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi
__________________________________________________
Referensi:
Kekasih Orang Pergerakan, dalam Majalah Tempo, Kartosoewirjo: Mimpi Negara Islam. Edisi 16-22 Agustus 2010.
Irfan S. Awwas, Trilogi Kepemimpinan NII, (Yogyakarta: Uswah, 2009)
Irfan S. Awwas, Riwayat Pendidikan Kartosoewirjo.

Source : shoutussalam.org

28
Aug
11

Krisis Libya : Pemberontak didukung Nato Kuasai Tripoli

Gerilyawan Libya

Minggu, 28 Agustus 2011 04:49 WIB |

Gerilyawan Libya Berjuang Pulihkan Layanan Umum

Tripoli (ANTARA News/AFP) – Gerilyawan Libya pada Sabtu mengatakan mereka bekerja keras untuk memulihkan layanan dasar di Tripoli, lima hari setelah mereka menduduki markas Muamar Gaddafi di ibu kota.

“Kami memiliki 30.000 ton bahan bakar untuk didistribusikan ke masyarakat mulai hari ini,” kata juru bicara Dewan Transisi Nasional (NTC), Mahmud Shammam.

Ditambahkannya, para gerilyawan juga akan menyediakan gas untuk memasak dalama waktu 48 jam dan bekerja untuk memulihkan fasilitas penyulingan Zawiyah.

Keterangan tersebut muncul setelah jumpa pers pertama NTC sejak mengumumkan bahwa mereka memindahkan markasnya dari Benghazi, di bagian timur Libya, ke ibu kota itu.

“Tripoli berada di bawah kendali ketat kediktatoran selama 42 tahun. Kami mulai dari titik nol dalam situasi ini. Jangan tanya keajaiban tetapi kami janji untuk mencoba membuat masa sulit ini sesingkat mungkin,” kata Shammam.

Ia menyerukan semua pekerja sektor minyak dan swasta untuk kembali bekerja membantu memulihkan layanan masyarakat di ibu kota.

Tripoli menghadapi kekurangan pasokan listrik, air dan bahan bakar yang telah mengganggu kehidupan setiap hari dan memukul sektor kesehatan.

Osama al-Abed, wakil ketua dewan Tripoli yang baru dibentuk, mengatakan embargo yang diberlakukan atas rezim Gaddafi juga telah mengganggu pembangkit listrik, yang beroperasi dengan menggunakan bahan bakar. Pada gilirannya, pasokan air pun akan terganggu, tambahnya.

“Ketika kami datang ke Tripoli tak ada cadangan bahan bakar,” kata Abed.

Dia mengatakan bahwa timnya, yang akan berkantor di kotapraja Tripoli setelah diperbaiki, telah membentuk gugus tugas untuk layanan berbeda dan akan segera meluncurkan laman berisi berbagai program yang bisa diakses oleh warga.

Listrik di ibu kota hilang selama beberapa jam sehari. Banyak distrik tak memiliki air, sedangkan yang lainnya hanya mempunyai air bawah tanah yang tak bisa diminum. Harga makanan dan bensin — ketika didapat — mencekik leher.

“Ada banyak tantangan dan Dewan Tripoli melakukan apa saja yang bisa diperbuat,” ujar Abed.

Kuasai Bandara

Para gerilyawan juga mengatakan mereka telah menguasai bandar udara Tripoli pada Sabtu dan telah membersihkan satu distrik yang dikuasai pasukan yang setia kepada Gaddafi tapi masih mengkhawatirkan para penembak jitu di lapangan terbang.

“Kami menguasai bandara keseluruhan,” kata panglima gerilyawan Bashir al-Taibi kepada AFP.

Para gerilyawan mengatakan mereka juga telah mengambil alih distrik Qasr ben Gheshir setelah operasi pembersihan di sekitar bandara internasional itu, yang dilancarkan pagi hari untuk memukul pasukan loyalis yang masih ada di sekitarnya.

Mereka menambahkan masih waspada setelah pasukan itu menembakkan roket dan mortir yang menghancurkan tiga pesawat sipil di tempat parkir bandara.

Di sekitar Qasr ben Gheshir, kerumunan warga yang bersuka cita merayakan pembebasan distrik itu dan menyanyikan, “Hey, hey, hey, Gaddafi sudah pergi selamanya,” kata seorang koresponden AFP.

“Semalam (Jumat), sekitar 60-80 mobil dari batalion Khamis Gaddafi,” salah seorang putera diktator itu meninggalkan kawasan itu dan “melarikan diri ke Bani Walid,” satu kota dekat Sirte, kampung halaman Gaddafi, kata Mokhtar Lakhtar, yang memimpin operasi itu.

“Ini bukan taktik mundur tetapi benar-benar kabur,” tambahnya.

Banyak orang di distrik itu membenarkan keberangkatan konvoi kendaraan para loyalis Gaddafi, yang membawa pick up dengan senjata-senjata berat termasuk sepasang peluru kendali besar sejenis Scud.

(Uu.M016)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2011

 

Minggu, 28/08/2011 08:49 WIB

Rudal Panggul

Prayitno Ramelan – detikNews

Rudal Panggul Khadafi di Pasar Gelap


Jakarta – Sebuah informasi yang cukup mengejutkan dari perang di Libya, menjelaskan bahwa setelah pejuang pemberontak menguasai sekitar 90 persen wilayah Libya, kini di pasar gelap telah beredar penjualan rudal panggul yang dulu dimiliki pasukan Khadafi. Deplu AS hari Kamis (25/8) menyatakan bahwa bahan baku untuk membuat senjata nuklir, senjata kimia yang mematikan dalam posisi aman.

Penjelasan dimaksud untuk menetralisir kekhawatiran publik apabila senjata pemusnah masal tersebut jatuh ketangan teroris. Menlu Hillary Clinton menyatakan bahwa Dewan Transisi Nasional mempunyai kewajiban dan tanggung jawab, agar stok senjata Libya tidak jatuh ketangan yang salah dan diharapkan mempunyai sikap yang tegas terhadap ekstrimisme kekerasan.

Yang dikhawatirkan Deplu AS, ribuan rudal panggul, sekitar 15.000-25.000 buah, nasib dan keberadaannya belum jelas. Bahkan Deplu mengeritik pejabat intelijen dan ahli kontra terorisme yang dinilainya lambat dalam bekerja. Harga rudal panggul tersebut pasarannya jatuh dan dijual murah di black market, tetapi belum ada bukti jaringan Al-Qaeda kini telah membelinya.

Pemerintah AS telah mengesampingkan pemikiran mengirimkan pasukan ke Libya, termasuk meningkatkan team CIA dan kontraktor CIA (pelaksana lapangan) untuk mencari keberadaan senjata-senjata eks militer Libya. Pihak intelijen dan komunitas diplomatik AS menyatakan agar keberadaan rudal eks Libya perlu dilacak lebih serius dan hati-hati.

Para penasihat militer dari Inggris, Italia, Prancis dan Qatar selama hanya memberikan informasi intelijen kepada pemberontak dan data sasaran kepada bomber dari NATO saat melakukan serangan di Libya. Sementara intelijen militer AS lebih bergantung kepada pesawat mata-mata tanpa awak, satelit dan informan intelijen dalam melacak lokasi gudang senjata pasukan Khadafi. Pertempuran di Lybia nampaknya tidak akan akan mudah selesai dan bahkan bisa menimbulkan masalah baru bagi AS dan sekutunya terkait dengan senjata-senjata tersebut.

Di masa jayanya, pemimpin Libya, Kolonel Muammar Khadafi memiliki pasukan sekitar 76.000 tentara dan 40.000 tentara paramiliter. Dia juga memiliki alutsista berupa 260 pesawat tempur (25 sebagian besar MIG dan 23S), 650 tank, 2.300 artileri dan lebih dari 100 helikopter. Sebagian besar pesawat tempurnya adalah bekas Uni Soviet tahun 70-an. Rata-rata sudah tertinggal teknologi, termasuk sumber daya manusia, juga pemeliharaan yang buruk. Senjata unggulan terutama anti pesawat terbang di awaki oleh personil dari Syria, Korea dan Eropa Timur. Prajurit Libya diketahui tidak berkemampuan dalam menangani senjata berteknologi tinggi.

Saat serangan udara dan laut AS dan NATO berlangsung, diketahui banyak personil militer Libya yang melarikan diri. Bahkan bagian Timur Libya telah jatuh ke tangan pemberontak tanpa pertempuran. Oleh karena itu, pihak Deplu AS sangat mengkhawatirkan keberadaan rudal panggul yang diawaki tentara sewaan, dan bukan tidak mungkin mereka memanfaatkan situasi dengan melepas ke pasar gelap. Kira-kira itu alasannya. Itulah salah satu informasi intelijen yang sangat diperhitungkan dan dikhawatirkan oleh pejabat intelijen AS.

Dalam perang sepuluh tahun di Afghanistan, dari 29 Helli Chinook yang jatuh, tercatat 10 buah jatuh karena ditembak dengan RPG. Jadi bisa dibayangkan apabila kelompok teroris Al Qaeda musuh bebuyutan AS sempat memiliki sebagian rudal tersebut, ancaman terhadap pasukan AS dikawasan Timur Tengah akan sangat berbahaya. Bahkan juga mereka dapat melakukan serangan terhadap negara-negara di sekitar Libya. Menakutkan memang akibat perang di Libya.

*) Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan adalah pengamat intelijen. Untuk artikel lainnya kunjungi http://ramalanintelijen.net

(vit/vit)

 

Malaysia ttg Libya

Sabtu, 27 Agustus 2011 11:10 WIB |

Malaysia Akui Oposisi Libya

Pemimpin LIbya Muammar Gaddafi tidak diketahui keberadaannya hingga kini, sedangkan musuhnya dari NTC terus mendapatkan pengakuan internasional segera setelah mereka menguasai Tripoli (REUTERS/Desmond Boylan/djo/11)

Malaysia bersama dengan suara-suara internasional menyerukan pasukan Gaddafi menyerahkan pilihan-pilihan kepada mayoritas rakyat Libya”

Berita Terkait
  • Pemberontak 30 km dari kota kediaman Gaddafi

    Minggu, 28 Agustus 2011 18:56 WIB

    Seorang komandan pemberontak Libya pada hari Minggu mengatakan pasukan mereka berada 30 kilometer barat Sirte, kota kediaman dan pangkalan Muamar Gaddafi..

  • Konvoi kendaraan lapis baja dari Libya masuki Aljazair

    Minggu, 28 Agustus 2011 03:23 WIB

    Satu konvoi enam kendaraan lapis baja yang mungkin membawa para pejabat Libya, dan bahkan orang kuat Muamar Gaddafi dari Libya memasuki Aljazair, Jumat, kata kantor berita resmi Mesir, mengutip satu sumber pemberontak Libya..

  • Pemberontak Libya janjikan pengadilan bagi Gaddafi

    Minggu, 28 Agustus 2011 01:17 WIB

    Pemimpin pemberontak Libya Mustafa Ahmed Jalil berjanji, Sabtu, bahwa Muamar Gaddafi dan para pejabat rezimnya akan mendapat pengadilan yang adil..

  • OKI kutuk serangan di Kompleks PBB di Nigeria

    Sabtu, 27 Agustus 2011 21:12 WIB

    Organisasi Konferensi Islam (OKI), Sabtu, mengutuk serangan bunuh diri di kompleks PBB di ibu kota Nigeria yang menewaskan 19 orang sebagai melawan prinsip-prinsip Islam..

  • Gaddafi ke Algeria pakai kendaraan anti-peluru?

    Sabtu, 27 Agustus 2011 14:13 WIB

    Satu iring-iringan terdiri dari enam kendaraan Mercedes telah melintas dari Libya ke Algeria, tulis kantor berita resmi Mesir, MENA, mengutip sumber pemberontak..

  • Inggris bom bunker Gaddafi di Sirte

    Sabtu, 27 Agustus 2011 13:37 WIB

    Pesawat-pesawat tempur Inggris membom sebuah bunker di kota kelahiran Moamer Gaddafi Sirte sedang para pemberontak bersiap menyerang kota itu, salah satu tempat persembunyian terakhir penting rezim di timur Tripoli..

  • Guatemala sepakat ekstradisi mantan presiden ke AS

    Sabtu, 27 Agustus 2011 12:40 WIB

    Mahkamah Konstitusi Guatemala pada Jumat meratifikasi ekstradisi mantan presiden Alfonso Portillo ke Amerika Serikat, di mana dia menghadapi tuduhan pencucian uang..

  • Malaysia akui oposisi Libya

    Sabtu, 27 Agustus 2011 11:10 WIB

    Malaysia mengakui otoritas gerilyawan Libya ketika rezim pemimpin Muamar Gaddafi jatuh..

  • Uni Afrika tak akui oposisi Libya

    Sabtu, 27 Agustus 2011 10:41 WIB

    Uni Afrika, Sabtu WIB, tak bersedia mengakui pemerintah oposisi Libya, Dewan Peralihan Nasional (NTC), padahal pemerintah Muamar Gaddafi mulai ambruk.  Uni Afrika malah menyerukan pembentukan pemerintah peralihan yang melibatkan semua pihak..

28
Aug
11

Kepemimpinan : QS Anti Korupsi

Gerakan Anti Korupsi 9/12 Cocok sama arti Surat Attaubah 9 Ayat 12


Hari ini Hari Anti Korupsi se-dunia ternyata cocok dengan QS: At-Taubah (9):12Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.
QS. at-Taubah (9) : 12klo selama ini agan menggembargemborkan anti korupsi, maka didalam Qur’an ada gerakan anti korupsimohon maaf klojangan di klo bisa kasih maaf agan2 ini posting pertama ane di

Al-Qur’an Sebagai Inspirasi Gerakan Anti-Korupsi

Posted in | 2:33 PM

Oleh Muhammad Subhan Setowara *

INDONESIA kini berhadapan dengan sebuah masalah paling krusial dalam kasus korupsi. Ia tidak saja menjadi kendala struktural, namun lebih dari itu. Karena masalah struktural tadi, korupsi telah membudaya (nation culture), menjadi bagian yang tak terpisahkan dari realitas birokrasi kita.

Gerakan pemberantasan memang telah banyak dilakukan. Bahkan beragam metode dan model gerakan telah digalakkan. Mulai dari gerakan moral-kultural, politis-struktural, maupun pembaharuan substansi perundang-undangan. Tapi korupsi tak urung usai, ia senantiasa menyelinap dalam setiap sendi kehidupan kita: ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan agama.

Tentu saja, sebagai bentuk kepedulian moral, agama harus tetap diikutkan untuk masalah yang satu ini. Karena, kita masih berkeyakinan bahwa saat ini, kualitas moral politisi sesungguhnya punya pengaruh yang sangat signifikan dalam membuka pintu-pintu terjadinya praktik korupsi. Pada level inilah, agama perlu menjadi moral guardian (benteng moral) untuk mengawal aktivitas politik penganutnya agar tidak terjebak pada pengingkatan amanah.

Pada sisi yang berbeda, realitas kaum pinggiran yang kini semakin memprihatinkan dalam kehidupan bangsa kita, juga merupakan tanggung tanggung jawab agama. Sungguh argumen reflektif Hassan Hanafi perlu kita hadirkan di sini. Bagi Hanafi, walaupun Islam meneguhkan adanya konsep ummah wahidah dalam Islam, namun secara empiris kaum muslimin terbagi dalam dua kelompok, yakni umat yang kaya dan umat yang miskin. Jika semakin hari semakin lebar jarak itu, maka di sinilah, agama telah kehilangan vitalitasnya sebagai agen kemanusiaan (humanity agency).

Sangat tegas. Banyak ayat dalam al-Quran yang memberi argumen bahwa dalam setiap harta yang dimiliki manusia, senantiasa ada hak yang tersurat. Dan hak itu, jelas bukan miliknya (Qs. Al-Maarij, 70: 24-25). Dengan ungkapan yang berbeda, Allah ingin memberi ketegasan, bahwa sesungguhnya seorang manusia harus menafkah atas harta yang dikuasai (Qs. Al-Hadid, 57: 7). Lalu, jika korupsi dilakukan, bukankah itu merupakan pengingkaran akbar atas amanah kebendaan yang tengah dititipkan pada manusia. Hanya saja, ini sekadar menjadi kesadaran kultural, tidak punya daya paksa struktural, sehingga sang koruptor menjadi tak bergeming.

Begitulah, sesungguhnya memang sudah saatnya al-Quran tidak lagi diletakkan sebagai kesadaran normatif yang hanya bergerak pada wilayah kultural. Ia juga harus mampu menyelinap dalam perbaikan pada ruang-ruang struktural. Dan itu artinya, al-Quran juga sesungguhnya bisa menjadi landasan teoritik yang bisa dipakai untuk melakukan pembebasan kemanusiaan, bahkan untuk masalah seperti korupsi.

Perspektif Qurani

Al-Quran mempunyai kekuatan untuk membentuk budaya masyarakat. Untuk konteks Indonesia, sesungguhnya kebanyakan masyarakat kita, khususnya kaum pinggiran meletakkan agama sebagai kekuatan spiritual. Al-Quran memiliki impetus emosional yang dapat menggerakkan umat Islam untuk bersikap sesuai dengan ajaran yang dikandungnya. Hanya saja, yang patut disayangkan, doktrin-doktrin normatif yang tertuang dalam al-Quran itu, bagi kebanyakan umatnya tidak mempunyai dimensi sosial dan intelektual yang kuat dalam membendung realitas kemungkaran yang terjadi.

Asumsi ini jelas perlu diperbaharui. Islam bukanlah teologi eskapistik yang mengamini umatnya untuk larut dalam buaian spiritual, sehingga lupa akan tanggung jawab sosialnya. Jika ditelaah lebih jauh, al-Quran mempunyai perangkat teoritis yang bisa dipakai untuk membentuk ragam manifes ketidakadilan sosial.

Terkait korupsi, bagi saya al-Quran tidak saja mampu membentuk kesadaran moral manusia untuk tidak rakus memakan harta rakyat. Al-Quran juga punya perangkat teoritis untuk memberantas korupsi. Dalam banyak ayat, seringkali terdapat penegasan akan tesis Lord Acton bahwa kekuasaan itu cenderung korup (power tends to corrupt). Dan al-Quran, tidak saja menghadirkan penegasan itu, ia juga sekaligus melarang umat Islam untuk memilih kaum penindas jadi penguasa (Qs. An-Naml: 34, Al-Kahfi: 71, Saba: 34-35, Al-Zuhruf: 23, Al-Isra: 16, Hud: 27). Namun jika mereka terlanjur berkuasa, maka perlu dilakukan oposisi melawan hegemoni kaum penindas itu (Qs. Al-Hujurat: 9).

Di sinilah, dalam Al-Quran juga sempat disinggung bahwa kaum tertindas perlu menjadi pemimpin di bumi ini (Al-Shaff: 5, Al-Anfal: 137). Jika dipahami secara kontekstual, dapat dimengerti bahwa sifat-sifat seorang pemimpin seharusnya bukan sosok yang korup, namun profil populis yang dekat dengan rakyat, dan mencintai mereka.

Gerakan oposisi terhadap penguasa yang korup bahkan diyakini sebagai jihad fi sabilillah (Al-Nisa: 75) yang juga merupakan agenda para rasul (Al-Anfal: 157). Di sinilah praksis pembelaan terhadap kaum lemah perlu dilakukan. Dengan demikian, boleh dibilang bahwa ruang ketakwaan tidak saja dilihat melalui ibadah ritual serta kepuasan spiritual yang telah diraih, namun lebih dari itu, yang terpenting adalah bagaimana seseorang dapat bermanfaat bagi orang lain. Maka membela kaum lemah juga merupakan bagian dari karakter insan takwa (Qs. Al-Baqarah: 197, Ali Imran: 134, Al-Insan: 8-9, Al-Maarij: 24, Al-Dzariyat: 19). Bahkan sangat mungkin, iman pada level inilah yang justru lebih penting.

Korupsi sebagai bagian dari monopoli dan konsentrasi kekuasaan juga disinggung oleh al-Quran, seraya mengutuknya (Qs. Al-Hasyr: 7). Pada sisi inilah, secara radikal kemudian al-Quran “begitu berani” mengklaim orang yang (mushally) sebagai pendusta agama jika ia tidak memiliki keperpihakan pada anak yatim (Qs. Al-Maun: 1-7). Dan tudingan celaka, bagi umat Islam yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya tanpa ada kesadaran nurani (inner conscious) untuk mewujudkan kesejahteraan sosial (social welfare) (Qs. Al-Humazah: 1-9).

Korupsi, juga merupakan bentuk paling nyata dalam membentuk prahara sosial. Dalam surat Al-Fajr: 15-20, pernah disebutkan bahwa masalah sosial yang terjadi disebabkan oleh empat hal: yakni 1) sikap ahumanis: yakni tidak memuliakan anak yatim, 2) sikap asosial: tidak memberi makan orang miskin, 3) sikap monopilistik: memakan warisan (kekayaan) alam dengan rakus, 4) sikap hedonis: mencintai harta benda secara berlebihan. Dilihat dari empat kategori itu, korupsi masuk dalam setiap sendi itu.

Korupsi benar-benar telah membunuh rasa kemanusiaan kita. Tentu saja amat menyedihkan, jika seorang politisi beragama Islam menggunakan jabatannya untuk melakukan korupsi. Jika itu terjadi, berarti dia telah meletakkan al-Qur’an hanya sebagai hiasan kata-kata. Dari sinilah, keberimanan masyarakat oleh al-Quran perlu dipandu untuk menghidupkan kembali rasa kemanusiaan kita, melalui pembaharuan struktural, dan tidak hanya dorongan moral. Al-Qur’an harus menjadi inspirasi dan pelopor untuk melakukan gerakan pembebasan, termasuk dalam memberantas korupsi

* Penulis adalah mahasiswa Fakultas Agama Islam UMM dan mantan aktivis Lembaga Dakwah Kampus Jamaah AR Fachruddin (LDK-JF).

QS Jihad Anti Korupsi

Submitted by keeper on Tue, 2011-08-16 10:15
Alquran dan Jihad Antikorupsi

Umat Islam tidak boleh hanya berpangku tangan melihat korupsi yang makin menggurita dan terus meningkat di negeri ini

ALQURAN adalah simbol transformasi umat Islam. Ia menggerakkan perubahan radikal secara individu dan sosial. Menurut Fazlur Rahman (1979), Alquran sarat pesan moral, keadilan sosial, dan ekonomi. Perintah membaca yang kali pertama datang adalah bukti nyata revolusi intelektual Alquran yang dikumandangkan secara terbuka. Menurut Quraish Shihab (2007), membaca merupakan jalan yang mengantar manusia mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna. Dilanjutkan dengan revolusi sosial dan spiritual dengan perintah berjuang menumpas kemungkaran dan mengagungkan Tuhan (QS Al-Muddatstsir 74:1-5).

Melihat implikasi ini maka wajar kalau keberadaan Islam ditentang oleh kaum borjuis yang selama ini menindas kalangan lemah tertindas. Menurut Asghar Ali Engineer (1993), kalimat Laa ilaaha illallah muhammadun rasulullah (Tiada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah) adalah simbol revolusi teologis dan sosial.

Alquran tidak turun di ruang hampa, tanpa ada nilai relevansi dan aktualitasnya. Menurut Nurcholish Madjid (2000), Alquran turun untuk merespons, menjawab, dan menuntun manusia dalam kehidupannya. Nuzulul Quran tiap 17 Ramadan diperingati umat Islam adalah momentum strategis untuk membangkitkan elan vital Alquran dalam melakukan transformasi radikal dalam bidang sosial politik yang menjadi sebab hancurnya bangsa tercinta ini, khususnya korupsi.

Korupsi adalah perbuatan zalim yang sangat dilarang dalam Alquran (QS Al-Furqan:25:19). Menurut Ali As-Shobuni (1970), zalim adalah menggunakan hak orang lain secara semena-mena, tanpa aturan atau melewati batas. Menurut Ibn al-Jauzi sebagaimana dikutip As-Shobuni, zalim mengandung dua makna, mengambil hak orang lain secara semena-mena, dan menentang serta mendurhakai Allah secara demonstratif.  Zalim biasanya dialami orang lemah yang tidak mampu menolong dirinya sendiri (Ali As-Shobuni, Min Kunuz as-Sunnah, 1970:51).

Tamak Harta
Korupsi jelas mengambil hak rakyat yang dianggap kalangan atas sebagai masyarakat bodoh dan dungu, karena tidak bisa mengambil haknya secara adil dan tegas. Korupsi juga mencuri uang negara yang seharusnya digunakan untuk menyejahterakan rakyat. Alquran memberikan hukuman tegas kepada pencuri secara individu maupun kolektif dan mereka juga harus mengembalikan uang yang dicuri (Wahbah Zuhaili, 2009:530-538).

Korupsi yang dilakukan penguasa adalah dosa yang sangat besar karena mereka menurut Alquran   mengemban tanggung jawab untuk menegakkan keadilan tanpa diskriminasi demi kesejahteraan rakyat (QS An-Nisa’ 4:58), namun kenyataannya justru menyengsarakan rakyat. Adil adalah menyampaikan bagian kepada yang berhak dengan jalan yang paling dekat (Wahbah Zuhaili, 2009:134). Korupsi lahir dari sifat tamak harta yang dilarang dalam Alquran. Maka benar pesan Mahatma Gandi bahwa dunia ini cukup untuk semua orang kecuali satu orang yang tamak, karena mereka tidak pernah puas terhadap apa yang ada sehingga melakukan segala cara untuk menambah terus-menerus. Alquran mengancam orang-orang yang tiap hari terus menumpuk harta, menghitung, dan menganggap harta bisa membuatnya abadi, dengan melemparnya di neraka Huthamah yang membakar sampai hati (QS Al-Humazah 104:1-7).

Umat Islam sebagai mayoritas harus tampil sebagai aktor pemberantas korupsi dengan aktif menyuarakan amar makruf nahi mungkar tanpa pandang bulu. Korupsi adalah kemungkaran nyata yang harus diberantas. Dalam hadis masyhur disebutkan bahwa jihad paling utama adalah menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang lalim. Umat Islam tidak boleh hanya berpangku tangan melihat korupsi yang makin menggurita dan terus meningkat di negeri ini. (10)

Jamal Ma’mur, dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah Pati, mahasiswa S-3 Islamic Studies IAIN Walisongo Semarang
Tulisan ini disalin dari Suara Merdeka, 16 Agustus 2011

Jumat, 11 Februari 2011

Spirit Anti-Korupsi dalam Al-Qur’anMeski bukan negara agama, Indonesia adalah negara berpopulasi terbesar kelima di dunia dengan penduduk mayoritas beragama Islam. Lebih kurang 90 persen rakyat Indonesia beragama Islam. Setiap musim haji, calon jemaah haji asal Indonesia menempati jumlah terbesar dari negara-negara lain di mana pun. Belum lama ini, ada data terbaru bahwa penghafal al-Quran Indonesia juga menempati jumlah terbesar di seluruh dunia.

Namun demikian, apakah kuantitas yang demikian besar itu berbanding lurus dengan tingkat etika yang tinggi pula? Jawabannya: tidak selalu. Buktinya, dalam konteks Asia Tenggara, Indonesia justru tercatat sebagai negara dengan tingkat korupsi yang paling tinggi alias nomor wahid. Di Indonesia, korupsi telah sedemikian menggurita, sehingga seakan-akan menjadi budaya. Dari hulu ke hilir, dari atas ke bawah, korupsi tak ubahnya telah menjadi “denyut nadi” bangsa. Ini berarti, dalam konteks Indonesia, kuantitas umat beragama justru sama sekali tidak berbanding dengan kualitas keberagamaan (baca: kedalaman praktik keagamaan). Benar bahwa secara kuantitas negeri ini adalah terbesar dalam hal penduduk Muslim, akan tetapi, buktinya, tingkat korupsinya juga menduduki posisi puncak. Dari data ini, suka atau tidak suka kita harus menerima sebuah kesimpulan umum, bahwa karena penduduk mayoritasnya adalah Muslim, maka di Indonesia para koruptornya sebagian besar adalah Muslim.

***

Ada banyak pengertian tentang korupsi. Tetapi ada satu definisi umum, bahwa korupsi adalah perbuatan memperkaya diri sendiri atau kelompok (berarti ada korupsi berjamaah) dengan cara menyimpangkan harta kekayaan negara. Definisi ini pula yang penulis maksud dalam tulisan ini.

Tiga alasan

Selanjutnya, secara umum ada sejumlah alasan kenapa seseorang melakukan tindakan korupsi (penyimpangan kekayaan negara), antara lain: Pertama, karena faktor ekonomi. Artinya, seseorang melakukan korupsi disebabkan keterdesakan ekonomi yang menghimpitnya. Ia tidak punya uang, padahal ia butuh untuk menutupi keperluannya yang mendesak. Maka ia pun korups. Keterdesakan tersebut bisa terjadi dalam dua kondisi sebagai berikut: 1) Barangkali ia seorang pejabat, karyawan, atau pegawai yang miskin, sehingga ia sering kekurangan untuk mencukupi keperluan hidup sehari-hari yang pokok. Untuk mencukupinya, ia pun korups. Atau, 2) ia sesungguhnya seseorang yang kaya, yang kebutuhan pokoknya sudah terpenuhi, akan tetapi ia perlu lebih banyak uang lagi untuk menutupi kebutuhan-kebutuhan sekunder seperti kendaraan pribadi, rumah mewah, pendidikan tinggi, gaya hidup, dsb yang mungkin dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya yang menuntut demikian. Untuk mencukupinya, ia pun korups.

Kedua, karena faktor budaya. Dalam artian, seseorang melakukan korupsi karena budaya yang hidup dan berkembang di sekelilingnya, di kantor tempat di mana ia bekerja, adalah budaya korupsi. Ia terpengaruh oleh lingkungannya. Di kantornya, hal ihwal penyimpangan uang negara alias korupsi, melalui aneka trik dan tips, sudah menjadi rahasia umum. Dengan kata lain, korupsi telah menjadi sesuatu yang lumrah, normal, bahkan sebuah bahkan kelaziman kerja. Siapa yang tidak ikut dalam arus tersebut, akan terpinggirkan, dijauhi oleh lingkungan. Atau, malah lebih parahnya lagi, tidak akan mendapat jatah “kue” meski dalam kadar kecil sekalipun. Pendek kata, siapa yang tidak ikut korups, akan jatuh, hancur, dan sengsara lahir dan batin. Maka demi alasan tepaslira, tenggangrasa, ewuh-pekewuh, ia pun ikut-ikutan dalam budaya korupsi tersebut. Lebih parah lagi, ia ikut tenggelam dalam arus korupsi semata-mata demi alasan takut tidak dapat jatah “kue”, khawatir tidak bisa ikut merasakan kenikmatan material yang sudah dianggap lazim dan lumrah di lingkungan tersebut.

Ketiga, karena faktor lemahnya sistem dan pengawasan. Inilah yang umum terjadi. Seseorang tergoda untuk bertindak korups, karena sistem yang berlaku di tempat dia bekerja memungkinkannya untuk bertindak menyimpang. Sebenarnya dia mungkin tidak begitu terdesak oleh kebutuhan hidup dan sejenisnya, akan tetapi lemah sistem yang berlaku pada pekerjaan yang ia hadapi memberinya peluang untuk korupsi, maka ia pun mengambil peluang tersebut. Dengan kata lain, niat (korupsi) sebenarnya tidak ada, tetapi kesempatan memberinya peluang. Ditambah lagi, tidak ada pengawasan yang memadai (monitoring, evaluasi, dsb) terhadap sistem tersebut. Sistem yang lemah, sejatinya, bisa diperlengkapi dengan pengawasan yang ketat, untuk mencegah terjadinya praktik korupsi. Jika sistem lemah, pengawasan juga rapuh, kondisi seperti ini jelas akan menjadi lahan basah korupsi. Sebab kondisi demikian jelas akan menggoda atau menstimulasi pikiran jahat banyak orang untuk bertindak menyimpang.

***

Lantas, apakah Islam, sebagai agama, tidak memiliki kerangka acuan moral yang mencegah terjadinya praktik korupsi? Persisnya, bukankah umat Islam memiliki al-Quran sebagai kitab suci? Apakah kitab suci tersebut tidak mengandung piwulang yang bisa menjadi inspirasi dalam rangka mencegah praktik-praktik korupsi? jawabannya, tentu saja: ada. Sebab, al-Quran, sebagaimana kitab-kitab suci yang lain, adalah spirit bagi pembangunan peradaban yang lebih baik untuk umatnya. Kandungan al-Quran adalah kritik sosial untuk membenahi segala bentuk ketimpangan yang terjadi di masyarakat. Jadi, pastilah ada di dalam al-Quran spirit anti korupsi. Yang jadi soal, apakah umat mengetahui, memahami, atau lebih dari itu mampu menghayatinya atau tidak di dalam lapangan kehidupan yang mereka jalani.

Konsep Musabaqah

Menurut hemat penulis, spirit al-Quran tentang pencegahan korupsi secara substansial terletak pada satu konsep yang sangat filosofis, yakni tentang musabaqah (perlombaan), bisa juga disebut istibaqah ataupun musara’ah (secara substansial artinya sama saja). Rujukan konsep ini begitu banyak di dalam al-Quran, di antaranya QS yang menyatakan bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk menguji siapa di antara kita yang terbaik amalnya (liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalan) [QS al-Mulk: 2]; bahwa Allah menciptakan jin dan manusia tidak lain hanya agar mereka beribadah kepada-Nya (wama khalaqtul-jinna wal-insa illa liya’buduni) [QS al-Dzariyat: 56]; bahwa hendaknya kita berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan (fastabiqul-khairat)[QS al-Baqarah: 148]; bahwa kita musti berlomba-lomba menuju ampunan dan surga Allah Swt (wa sari’u ila maghfiratin min rabbikum wa jannah…) [QS al-Baqarah: 133], dan masih banyak lagi ayat lainnya.

Konsep musabaqah—setidaknya dengan merujuk pada keterangan dalam ketiga ayat di atas—mengandung pengertian kurang lebih sbb: Bahwa Allah menciptakan manusia karena suatu tujuan, yakni agar manusia beribadah kepada-Nya sekaligus menguji siapa di antara kita (manusia) yang terbaik. Ini berarti, hidup ini adalah ajang untuk berlomba-lomba mencari perkenan (ridha) Allah Swt. Pemenang dalam perlombaan tersebut adalah mereka yang bisa meraih ridha Allah itu. Dalam ungkapan al-Quran yang lain, para pemenang itu disebut dengan istilah al-muttaqun (orang-orang yang bertakwa). Sebab, kata Allah, bahwa yang paling di antara kita di sisi Allah adalah yang paling takwa (inna akramakum ‘inda-Allahi atqakum) [QS al-Hujurat: 13]. Lantas, apa takwa itu? Takwa adalah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Dengan demikian, menjadi jelas di sini konsep musabaqah (perlombaan) itu, bahwa cakupannya berkisar pada dua hal saja: menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Pemenang adalah mereka yang bisa menjalankan perintah dan mejauhi larangan-Nya, sedangan pecundang adalah yang sebaliknya: melanggar larangan Allah dan mengabaikan titah-Nya.

Hemat penulis, jika dihayati dengan setulus hati oleh setiap insan Muslim, konsep musabaqah ini sangatlah signifikan dan urgens untuk mencegah kecenderungan tindak atau praktik korupsi (menyimpang) yang diakibatkan oleh tiga faktor seperti disebut di paragraf-paragraf sebelumnya. Penjelasannya kurang lebih sbb: Pertama, ketika seseorang menghayati bahwa hidup ini, bahwa kerja ini, atau aktivitas apa pun, adalah perlombaan (musabaqah), maka ia akan memilih berlaku jujur daripada bertindak korups (menyimpang) ketika bekerja. Sebab, dengan jujur berarti ia telah menggapai ridha (perkenan) Allah, yang dengan begitu ia menjadi pemenang di hadapan-Nya. Karena yang jadi tujuan utama adalah ridha Allah, ia tak peduli meski harus hidup miskin, meski tidak bermewah-mewah ala kelas menengah, asal dia tidak melanggar larangan Allah. Baginya, keterhimpitan ekonomi, hidup secara bersahaja dan sederhana, itu semua lebih utama daripada kaya dan bermewah-mewah karena hasil mencuri uang negara (korupsi). Baginya, orang yang mencari kekayaan dengan alasan apa pun (entah karena keterdesakan ekonomi, tuntutan gaya hidup, dsb) dengan jalan korupsi, meski secara lahiriah mereka sukses, jaya, menang, tetapi sesungguhnya di hadapan Allah mereka adalah orang-orang yang kalah di dalam perlombaan, pecundang, karena cara mereka tidak mendapat perkenan di sisi-Nya.

Kedua, ketika seseorang menghayati bahwa hidup ini adalah arena perlombaan (musabaqah) menuju perkenan-Nya, maka ia tidak mau tenggelam dalam budaya yang berkembang di sekelilingnya, sekuat dan sebesar apa pun arusnya. Alih-alih, ia malah menciptakan budaya tanding. Jika berada dalam sebuah tempat atau situasi kerja yang korups, ia tidak terbawa-bawa dalam praktik korupsi, serta tidak peduli jika orang-orang di lingkungan tersebut mencibirnya sebagai orang yang tidak bisa menyesuaikan diri (baca: ikut tradisi korups di tempat tersebut). Karena baginya hidup atau kerja ini adalah musabaqah (pertandingan) menuju perkenan (ridha) Tuhan, maka dengan tidak tenggelam dalam arus budaya korupsi itu, justru ia merasa sangat berbangga hati karena merasa dirinya sebagai satu-satunya pemenang di arena tersebut dan semua orang selain dia adalah pecundang di hadapan Allah Swt. Ia tak ambil pusing meski lingkungan tempat kerjanya mencibir, mengucilkan, memarginalkan dirinya—gara-gara dia tidak ambil bagian dalam praktik massal korupsi, asalkan jangan sampai dia serasa dikucilkan oleh Allah karena telah melanggar ajaran-Nya (dengan bertindak korups). Cibiran, olokan, dan pengucilan, baginya ibarat aral atau kerikil tajam yang menghadang jalan, yang jika tak kuat menghadapi justru akan mengganggu perjalanannya menuju sukses sebagai pemenang di hadapan-Nya.

Ketiga, manakala seseorang memandang bahwa hidup ini adalah ajang musabaqah (perlombaan) menuju perkenan (ridha) Allah, maka ia tak pernah memiliki niat untuk menggunakan kesempatan dalam kesempitan terkait dengan lemahnya sistem dan pengawasan di tempat dia bekerja. Ia menyadari, bahwa sebuah sistem mungkin sangat berpotensi tidak sempurna alias kurang, karena merupakan produk manusia. Dan adalah manusiawi, ketika buatan manusia itu mengandung kelemahan dan kekurangan. Tetapi sembari itu ia menyadari ada sistem yang sempurna dan absolut, yakni pengawasan Allah, Zat yang Mahatahu atas semua tindak tanduk kita. Kesadaran inilah yang menuntunnya untuk, minimal, tidak berbuat menyimpang (korups) meskipun kelemahan sistem memungkinkan untuk itu, atau, maksimal, secara mandiri memperbaiki sistem tersebut agar bisa mengikis peluang-peluang praktik korups setidaknya bagi dia sendiri atau syukur-syukur berlaku juga bagi orang lain lingkungan kerjanya. Kesemua itulah jalan baginya untuk benar-benar menjadi pemenang menuju ridha (perkenan) Allah.

Selain itu, soal pengawasan, dia menyadari betul bahwa hal itu penting juga untuk pemantauan dan evaluasi hasil kerja, atau secara khusus mencegah terjadinya praktik korupsi. Namun demikian, bagi seseorang yang secara batin telah menghayati bahwa hidup ini, kerja ini, adalah sebagai musabaqah (perlombaan) menuju ridha Allah, ada atau tidak pengawasan (tentu saja dari manusia) menjadi tidak begitu signifikan, meski secara prosedural adalah hal yang pokok. Karena hidup ini adalah perlombaan menuju ridha Allah, maka bagi dia sesungguhnya Allah-lah sebagai pengawas dan penilai utama; saban harinya, setiap detik dan setiap saat, di mana pun berada, ia selalu merasa setiap pekerjaan yang dilakukannya berada dalam pengawasan dan penilaian Tuhan. Penilaian dan pengawasan manusia memang perlu dan penting, akan tetapi jauh lebih penting penilaian dan pengawasan Allah. Dengan keyakinan seperti itulah ia akan selalu sadar dan ter jaga untuk tidak melakukan tindak-tanduk penyimpangan (baca: korups) dalam kondisi apa pun, baik darurat ataupun normal, karena jika demikian Tuhan pasti akan mencoretnya dari daftar manusia-manusia pemenang dalam perlombaan menuju perkenan (ridha)-Nya.

Penutup

Satu benang merah yang bisa dijumput di sini, bahwa dalam konteks keberagamaan, keinsafan batin merupakan salah satu modal dasar untuk membangun etika sosial yang luhur. Penghayatan yang tulus atas konsep musabaqah (perlombaan) kiranya bisa menjadi filter diri yang tangguh, karena terinternalisasi dalam kesadaran moral-keagamaan yang terdalam, terhujam di dalam sanubari pribadi insan beriman (Muslim, Mukmin). Jika kesadaran seperti ini sudah terbentuk, terbangun dengan baik—padahal kesadaran adalah pusat pengendalian perilaku manusia (baik atau buruk)—maka ini kemungkinan besar akan sangat efektif untuk mencegah seseorang melakukan praktik-praktik penyimpangan (misalnya: korupsi). Orang yang memiliki kesadaran seperti ini telah memiliki suatu konsep diri, pemahaman spiritual, bahwa kelak di akhirat Allah tidak akan meminta pertanggungjawaban pada kondisi sosial ekonomi, kebutuhan pribadi (gaya hidup), budaya, lingkungan, sistem, atau setan sekalipun, yang (bisa dianggap) menjadi penyebab tindak korupsi. Allah hanya akan meminta pertanggungjawaban atas korupsi itu an-sich, bukan apa yang ada di balik tindakan korupsi. Karena, yang dimintai pertanggungjawaban adalah diri, jiwa (nafs), bukan tetek bengek yang lain. Wallahu a’lam.[]
(Sabrur Rohim, MSI, alumnus PPWI 1994)

Menangkal Korupsi Menurut Perspektif Al-Qur’an

21 01 2009

Oleh: Ja’afar Usman Al-Qari

korupsi1

Korupsi sesungguhnya merupakan nama keren dari mencuri, dan mencuri menurut istilah bahasa arab “sarakah” (menyembunyikan sesuatu yang bukan miliknya) dan di dalam KUHP disebutkan bahwa mencuri adalah memindahkan sesuatu dari tempat semula ke tempat lain yang bukan miliknya. Perilaku korupsi bisa juga iindikasikan dari berbagai perspektif atau pendekatan. Tindakan korupsi menurut perspektif keadilan atau pendekatan hukum misalnya mengatakan bahwa korupsi adalah mengambil bagian yang bukan menjadi haknya.

Korupsi adalah mengambil secara tidak jujur perbendaharaan milik publik atau barang yang diadakan dari pajak yang dibayarkan masyarakat untuk kepentingan memperkaya dirinya sendiri. Korupsi adalah tingkah laku yang menyimpang dari tugas-tugas resmi yang secara sengaja dilakukan sendiri atau bersama-sama untuk memperoleh keuntungan berupa status, kekayaan atau uang untuk perorangan, keluarga dekat atau kelompok sendiri.

Pendekatan atau perspektif orang awam dengan lugas mengatakan menggelapkan uang kantor, menyalahgunakan wewenangnya untuk menerima suap, menikmati gaji buta tanpa bekerja secara serius adalah tindakan korupsi. Bisa saja hal itu dikatakan untuk menjelaskan hal yang kita benci dan akan kita jinakkan. Sanksi bagi pencuri dalam agama kan sudah jelas. Namun perlu disadari bahwa untuk menghilangkan korupsi bukanlah perkara gampang karena ia telah berurat berakar dan menjalar kemana-mana terutama di negeri kita ini. Bangsa dari sebuah negara dengan tingkat keberagamaan (religiusitas) nya ternyata tidak bisa dijadikan sebagai ukuran. Karena ternyata, negara yang dikenal sangat religius seperti Indonesia, dalam beberapa survei justru meraih rekor yang sangat tinggi dalam urusan korupsi. Sebaliknya, sejumlah negara sekuler yang abai pada agama, justru berhasil menekan tingkat korupsi hingga pada tingkatan yang paling minim. Padahal, jika merujuk doktrin-doktrin normatif agama yang amat ideal (dalam hal ini Islam), Indonesia –sebagai negara dengan populasi muslim paling besar di dunia– tidak sepantasnya menduduki peringkat negara terkorup. Pertanyaannya, mengapa hal itu bisa terjadi?

Jawabannya, karena tidak adanya hubungan antara agama dengan tingkat korupsi, masalah korupsi mungkin lebih bersifat karikatural. Boleh dikatakan, bahwa terdapat dua kelompok orang yang bersih dari korupsi. Pertama, orang yang betul-betul takut dengan hukum Tuhan. Tapi kelompok pertama ini sedikit sekali jumlahnya. Kedua, khususnya di negeri yang sekuler, motif tidak korupsi bukan karena takut kepada Tuhan, tapi lebih bersifat rasionalis saja. Misalnya, kalau mereka menyuap polisi, mereka sadar itu akan menghancurkan tatanan hukum. Kalau mengambil hak orang lain, mereka sadar akan menyengsarakan banyak orang. Walaupun penulis sepakat dengan Teten Masduki yang berkesimpulan bahwa korupsi bisa dikategorikan sebagai perbuatan syirik, tapi sifatnya sosial.

Kesadaran sosial, semacam penghargaan terhadap hak orang lain, sedikitnya akan mampu mengerem untuk melakukan perbuatan korupsi. Jika mereka sadar betul kalau korupsi akan menilap hak orang. Mereka sadar kalau korupsi akan merusak sistem ekonomi, dengan merusak sistim perekonomian maka negara akan hancur. Islam kan sebenarnya menanamkan kesadaran seperti itu. Pada hakikatnya Islam dilahirkan untuk membebaskan manusia dari pelbagai bentuk perbudakan dan eksploitasi.

Jadi sebenarnya, Islam datang untuk memerangi sistem ketidakadilan. Tindak korupsi tentu termasuk hal yang harus diperangi Islam karena dapat menimbulkan masalah besar. Korupsi dapat menghancurkan apa saja, walau ada pihak yang menyebut soal ini tidak berkaitan dengan soal agama. Itu karena mereka sudah merasa sangat mengerti bagaimana cara bertaubatnya.Yang jelas, mungkin praktik agama kita yang pemaknaannya keliru, karena lebih menekankan hal-hal yang bersifat ritual. Makanya, kadang sedikit aneh jika melihat orang-orang yang getol shalat sampai hitam jidatnya, tapi dalam kehidupan sosial justru menolelir tindak-tindak korupsi.

Untuk konteks Indonesia, ketika sistem hukum dan sistim sosial tidak mendukung, maka keteladanan tokoh masyarakat akan berperan sangat penting dalam memberantas korupsi. Jadi harus dimulai dari diri sendiri. Untuk pola hubungan masyarakat yang masih sangat dipengaruhi community leader (pemimpin kelompok) faktor keteladanan memang harus lebih ditonjolkan. Sayangnya, sentimen sosial kaum muslim terhadap isu-isu seperti korupsi, dan problem-problem sosial lainnya yang bersinggungan langsung dengan kita, nampaknya kurang bersemangat untuk mendapatkan perhatian dibandingkan dengan sentimen persaudaraan sesama muslim seperti dengan Palestina ataupun Irak yang sangat luar biasa. Semua energi bisa dilibatkan dan sedia dikerahkan. Padahal menurut sejarah, perhatian pertama Nabi Muhammad dalam dakwahnya terletak pada usaha perbaikan sistem sosial.

Untuk itu, cita-cita untuk menjadi Indonesia baru, membutuhkan ekstra kerja keras dalam menangani permasalahan yang sangat krusial ini, yang segera harus dicarikan jalan keluarnya untuk menangkal agar tidak lagi bangsa ini dihantui dengan berbagai kasus korupsi. Karena kalau kita perhatikan bahwa permasalahan korupsi tidak saja menjadi kendala struktural, namun lebih dari itu. Karena masalah struktural tadi, korupsi telah membudaya (nation culture), menjadi bagian yang tak terpisahkan dari realitas birokrasi kita. Gerakan pemberantasan memang telah banyak dilakukan. Bahkan beragam metode dan model gerakan telah digalakkan. Mulai dari gerakan moral-kultural, politis-struktural, maupun pembaharuan substansi perundang-undangan. Tapi korupsi tak urung usai, ia senantiasa menyelinap dalam setiap sendi kehidupan kita: ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan agama.

Bangsa ini perlu banyak belajar dan merenung untuk menghargai bahwa korupsi merugikan orang banyak yang telah bekerja keras dan berlaku jujur, tindakan korupsi tidak menghargai fitrah manusia yang diilhamkan kepadanya untuk cinta kepada kebaikan, dengan begitu kita semua sedang belajar untuk hidup lebih lurus.

Tentu saja, sebagai bentuk kepedulian moral, agama harus tetap diikutkan untuk masalah yang satu ini. Karena, kita masih berkeyakinan bahwa saat ini, kwalitas moral politisi sesungguhnya punya pengaruh yang sangat signifikan dalam membuka pintu-pintu terjadinya praktik korupsi. Pada level inilah, agama perlu menjadi moral guardian (benteng moral) untuk mengawal aktivitas politik penganutnya agar tidak terjebak pada pengingkaran amanah.

Makanya diperlukan pemaknaan kembali atas agama. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara soal kemiskinan. Dan korupsi itu jelas dampaknya menimbulkan kemiskinan.

Pada sisi yang berbeda, realitas kaum pinggiran yang kini semakin memprihatinkan dalam kehidupan bangsa kita, juga merupakan tanggung jawab agama. Sungguh argumen reflektif Hassan Hanafi perlu kita hadirkan di sini. Bagi Hanafi, walaupun Islam meneguhkan adanya konsep ummatan wahidatan dalam Islam, namun secara empiris kaum muslimin terbagi dalam dua kelompok, yakni umat yang kaya dan umat yang miskin. Jika semakin hari semakin lebar jarak itu, maka di sinilah, agama telah kehilangan vitalitasnya sebagai agen kemanusiaan (humanity agency).

Beberapa ayat dalam al-Quran yang memberi argumen cukup tegas bahwa dalam setiap harta yang dimiliki manusia, senantiasa ada hak yang tersurat. Dan hak itu, jelas bukan miliknya (Qs. Al-Maarij [70]: 24-25). Dengan ungkapan yang berbeda, Allah ingin memberi ketegasan, bahwa sesungguhnya seorang manusia harus menafkahkan atas harta yang dikuasai (Qs. Al-Hadid [57]: 7). Lalu, jika korupsi dilakukan, bukankah itu merupakan pengingkaran besar atas amanah kebendaan yang dititipkan pada manusia. Hanya saja, ini sekadar menjadi kesadaran kultural, tidak punya daya paksa struktural, sehingga sang koruptor menjadi tak bergeming.

Sesungguhnya memang sudah saatnya al-Quran tidak lagi diletakkan sebagai kesadaran normatif yang hanya bergerak pada wilayah kultural. Ia juga harus mampu menyelinap dalam perbaikan pada ruang-ruang struktural. Dan itu artinya, al-Quran juga sesungguhnya bisa menjadi landasan teoritik yang bisa dipakai untuk melakukan pembebasan kemanusiaan, bahkan untuk masalah seperti korupsi.

Al-Quran mempunyai kekuatan untuk membentuk budaya masyarakat. Al-Quran memiliki impetus emosional yang dapat menggerakkan umat Islam untuk bersikap sesuai dengan ajaran yang dikandungnya. Hanya saja, yang patut disayangkan, doktrin-doktrin normatif yang tertuang dalam al-Quran itu, bagi kebanyakan umatnya tidak mempunyai dimensi sosial dan intelektual yang kuat dalam membendung realitas kemungkaran yang terjadi.Asumsi ini jelas perlu diperbaharui. Islam bukanlah teologi eskapistik yang mengamini umatnya untuk larut dalam buaian spiritual, sehingga lupa akan tanggung jawab sosialnya. Jika ditelaah lebih jauh, al-Quran mempunyai perangkat teoritis yang bisa dipakai untuk membentuk ragam manifes ketidakadilan sosial.

Terkait korupsi, bagi saya al-Quran tidak saja mampu membentuk kesadaran moral manusia untuk tidak rakus memakan harta rakyat. Al-Quran juga punya perangkat teoritis untuk memberantas korupsi. Dalam banyak ayat, seringkali terdapat penegasan akan tesis Lord Acton bahwa kekuasaan itu cenderung korup (power tends to corrupt). Dan al-Quran, tidak saja menghadirkan penegasan itu, ia juga sekaligus melarang umat Islam untuk memilih kaum penindas jadi penguasa (Qs. An-Naml: 34, Al-Kahfi: 71, Saba: 34-35, Al-Zuhruf: 23, Al-Isra: 16, Hud: 27). Namun jika mereka terlanjur berkuasa, maka perlu dilakukan oposisi melawan hegemoni kaum penindas itu (Qs. Al-Hujurat: 9).

Demikian itulah, kenapa di dalam Al-Quran juga sempat disinggung bahwa kaum tertindas perlu menjadi pemimpin di bumi ini (Al-Shaff: 5, Al-Anfal: 137). Jika dipahami secara kontekstual, dapat dimengerti bahwa sifat-sifat seorang pemimpin seharusnya bukan sosok yang korup, namun profil populis yang dekat dengan rakyat, dan mencintai mereka. Gerakan oposisi terhadap penguasa yang korup bahkan diyakini sebagai jihad fi sabilillah (Al-Nisa: 75) yang juga merupakan agenda para rasul (Al-Anfal: 157). Di sinilah praksis pembelaan terhadap kaum lemah perlu dilakukan. Dengan demikian, boleh dibilang bahwa ruang ketakwaan tidak saja dilihat melalui ibadah ritual serta kepuasan spiritual yang telah diraih, namun lebih dari itu, yang terpenting adalah bagaimana seseorang dapat bermanfaat bagi orang lain. Maka membela kaum lemah juga merupakan bagian dari karakter insan takwa (Qs. Al-Baqarah: 197, Ali Imran: 134, Al-Insan: 8-9, Al-Maarij: 24, Al-Dzariyat: 19). Bahkan sangat mungkin, iman pada level inilah yang justru lebih penting.

Korupsi sebagai bagian dari monopoli dan konsentrasi kekuasaan juga disinggung oleh al-Quran, seraya mengutuknya (Qs. Al-Hasyr: 7). Pada sisi inilah, secara radikal kemudian al-Quran “begitu berani” mengklaim orang yang (mushally) sebagai pendusta agama jika ia tidak memiliki keperpihakan pada anak yatim (Qs. Al-Maun: 1-7). Dan tudingan celaka, bagi umat Islam yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya tanpa ada kesadaran nurani (inner conscious) untuk mewujudkan kesejahteraan sosial (social welfare) (Qs. Al-Humazah: 1-9).

Dari sinilah, keberimanan masyarakat oleh al-Quran perlu dipandu untuk menghidupkan kembali rasa kemanusiaan kita, melalui pembaharuan struktural, dan tidak hanya dorongan moral. Al-Qur’an harus menjadi inspirasi dan pelopor untuk melakukan gerakan pembebasan, termasuk dalam memberantas korupsi. Wallahu ‘alam.

undefined

AGAMA PASTI ANTI KORUPSI

Korupsi sebenarnya menjadi fenomena seluruh masyarakat di dunia ini. Secara  historis, korupsi  terjadi semenjak masyarakat kuno telah memiliki sistem kolektivitas yang terkait dengan ekonomi dan pelayanan sosial. Masyarakat Yunani Kuno, Persia Kuno, Cina Kuno dan sebagainya telah mengenal cara yang kemudian di era sekarang disebut korupsi.

Korupsi dapat dilihat secara bahasa (etimologis) dan istilah (terminologis).  Secara etimologis korupsi berasal dari kata korup yang berarti buruk, rusak dan busuk. Korupsi ini berasal dari kata latin corrumpere dan corruptio yang berarti penyuapan dan corruptore yang berarti merusak. Di dalam bahasa Inggris disebut corruption atau corrupt.   Di  dalam bahasa Belanda disebut corruptie atau korruptie.  Di  dalam bahasa Indonesia disebut korupsi.

Di dalam bahasa Arab disebut rishwah atau uang suap. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dinyatakan : “Allah melaknat orang yang memberi suap, penerima suap, dan broker suap yang menjadi penghubung di antara keduanya”.  Korupsi dapat dinisbahkan dengan tindakan melakukan penyuapan yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Memberikan suap berarti melakukan korupsi.

Di dalam pengertian tindakan merusak, maka korupsi dikaitkan dengan istilah fasad.  Didalam Al-Qur’an (QS. 7: 55) Allah berfirman: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya”. Di dalam Al-Qur’an (QS. 7:85) Allah berfirman: “janganlah kamu menipu manusia sedikitpun dan janganlah berbuat kerusakan sesudah sebelumnya Tuhan memperbaikinya”. Melakukan korupsi berarti merusak atau menodai terhadap kejujuran atau merusak proses yang seharusnya berlangsung dengan cara memberikan sesuatu untuk mencapai tujuan sesuatu.

Di dalam konteks khianat disebut ghulul. Di dalam Al-Qur’an (QS: 161) Allah berfirman: “Tidaklah mungkin seorang Nabi melakukan ghulul (berkhianat) dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang melakukan ghulul dalam harta rampasan perang, maka pada hari kiamat ia akan datang dengan membawa apa yang telah dikhianatinya itu…”  merusak kesepakatan atau merusak proses yang seharusnya dijunjung tinggi untuk mencapai tujuan juga dapat disebut sebagai korupsi.

Secara fenomenologis, bahwa unsur penting di dalam korupsi adalah pencurian dan penipuan. Menilik konsepsi Al-Qur’an tentang rishwah, maka nampak bahwa korupsi tentunya sudah ada gejala seperti itu semenjak Nabi Muhammad saw. Korupsi adalah fenonena dunia, artinya bahwa ketika Rasulullah menyampaikan misi kenabiannya, maka di wilayah Arab tentunya juga sudah terdapat praktik-praktik kehidupan seperti rishwah, ghulul dan fasad di atas. Secara logika semiotik saja dapat dipastikan bahwa setiap bahasa yang muncul dan menjadi wacana pastilah ada fenomena yang seperti itu.

Jika Islam sudah memberikan ajarannya tentang rishwah atau suap berarti bahwa tradisi rishwah juga merupakan kenyataan empiris di wilayah Arab ketika itu. Sebagai sebuah kawasan dengan sistem kekabilahan pada masing-masing regionnya, maka sangat dimungkinkan terjadinya berbagai praktik rishwah, yang di belahan wilayah lain disebut sebagei upeti dari masyarakat kepada penguasa. Praktik ini tentunya merupakan bentuk pemberian timbal balik, yaitu masyarakat memberikan hadiah kepada pimpinannya sebagai lambang kesetiaan dan kepatuhan, dan di sisi lain pemimpin memberikan jaminan keamanan dan ketenteraman.

Di dalam agama dipastikan akan terdapat ajaran tentang  amanah atau dapat dipercaya. Nabi Muhammad saw juga merupakan contoh bagaimana amanah tersebut dijunjung tinggi secara implementatif. Sehingga Nabi Muhammad saw adalah teladan atau dapat dipercaya yang diberi gelar al-Amin. Ketika Beliau dipercaya oleh Khadijah berdagang maka Beliau terapkan konsep amanah dalam perdagangan itu. Tak satupun beliau menyelewengkan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Nabi Muhammad saw juga menerapkan prinsip shiddiq atau kejujuran. Di dalam prinsip kejujuran maka seseorang tidak akan melakukan pengkhianatan, tidak merusak perjanjian atau kesepakatan yang sudah ada dan benar dan tidak melakukan penyuapan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Seseorang harus jujur di dalam perkataan dan tindakannya. Korupsi dalam banyak hal adalah tindakan yang menyeleweng dari kejujuran. Misalnya untuk mempercepat proses maka seseorang melakukan cara tertentu agar proses dapat diperpendek.

Agar korupsi dapat dicegah dan diberantas, maka yang sangat penting juga menciptakan sistem yang dapat  menjamin keamanahan dan keshiddiqan tersebut dapat berlangsung. Sistem ini dapat terjadi jika terdapat sistem keterbukaan atau tranparansi. Transparan di dalam proses dan transparan di dalam hasil. Yang kita lihat sekarang ini adalah lemah di dalam proses dan lemah di dalam hasil sebab transparansinya juga lemah. Maka agar negeri kita tercinta ini bisa meraup kesejahteraan yang salah satu di antaranya disebabkan oleh ketiadaan korupsi, maka diperlukan sistem yang menjamin terjadinya kejujuran, kepercayaan dan transparansi.

Wallahu a’lam bi al shawab.

ISLAM harus terdepan dalam Anti Korupsi
12 Desember 2009
Beberapa upaya telah ditempuh untuk membrantas korupsi , saat ini dilakukan oleh beberapa institusi:  Tim Tastipikor (Tindak Pidana Korupsi),  KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi),  Kepolisian, Kejaksaan, BPKP, Lembaga non-pemerintah: Media massa Organisasi massa (mis: ICW). Sesungguhnya bila dibandingkan dengan Era Orde Baru, pada Zaman Reformasi ini pemberantasan korupsi  di Indonesia sudah sangat berkembang, namun hingga kini  hasilnya belum menunjukkan titik terang, mungkin karena sumber oknum korupsi justru berada di dalam institusi penegak hukum (Kepolisian dan Kejaksaan). Hal itu yang membikin pemberantasan korupsi susah diuraikan. Mungkin yang paling tepat pemberantasan korupsi itu dimulai dari diri sendiri.

Tanggal 9 Desember telah ditetapkan sebagai hari anti korupsi  se dunia. Sebagai orang muslim harus menanggapi sebagai aksi gerakan moral yang cukup baik untuk memulai mengetuk pada diri sendiri, dan terus menjaga kebenciannya terhadap korupsi.

Di dalam diri harus ditanamkan betul-betul  bahwa korupsi itu pertanggung jawaban  diakherat nanti itu sangat berat, dan dalam hati sorang mukmin harus dipatrikan kebenciannya terhadap korupsi, sebagaimana bencinya bila dicampakkan ke neraka .

Karena korupsi itu akan merusak tatanan akhlak bangsa , maka seharusnya seorang muslim secara terus menerus menasehatkan kepada diri sendiri, kelurga dan bangsa ini untuk berjihad melawan korupsi. Sudah menjadi pemahaman orang banyak bahwa korupsi di Indonesia ini sudah menjadi penyakit kronis. Dalam seluruh penelitian perbandingan korupsi antar negara, Indonesia selalu menempati posisi paling rendah.

Karena korupsi di Indonesia berkembang secara sistemik, sehingga masyarakat Indonesia (mungkin termasuk orang muslim) menganggap bahwa  korupsi bukan lagi merupakan suatu pelanggaran hukum, melainkan sekedar suatu kebiasaan.  Dengan demikian mata hati bangsa ini seolah-olah buta karena tidak bisa membedakan korupsi itu benar atau salah, padahal umat Islam hampir 88%  dari penduduk di Indonesia, yang seharusnya mengenal betul bahwa korupsi suatu kesalahan besar.

Berdasarkan penilaian Lembaga Dunia, justru Negara yang tidak terkorupsi itu malah Negara Denmark yang menurut catatannya Negara Ateis. Oleh karena itu mengacu pada penilaian Lembaga Dunia itu, maka tidak  ada kaitan antara agama seseorang dengan korupsi. Bagaimana dengan Orang Islam yang diciptakan terbaik ditengah-tengah masyarakat dunia, kok masih ada yang melakukan korupsi?.

Islam itu bukan identitas lho, tapi Islam itu Din (tuntunan hidup di dunia) yang harus diikuti umatnya. Dengan demikian walaupun ada orang mempunyai identitas islam kalau korupsi berarti belum sempurna memenuhi tuntunan Din islam. Menurut aturannya memeluk Din Islam ini harus kafah, sehingga sebagai umat islam yang kuat dan baik mari memberantas korupsi dengan sungguh-sungguh dimulai dari diri sendiri mudah-mudahan berpengaruh luas terhadap Bangsa Indonesia yang mayoritas umat islam. Sudah saatnya umat islam menjadi garda paling depan dalam anti korupsi.

Pada hari ANTI KORUPSI  ini mari kita renungkan kembali ayat -ayat Al-Quran sebagai berikut:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.  (QS.3 : 110)

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.  (QS.3 : 104)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS : 2 : 208)

Semoga bermanfaat

http://rumaljawi.blogsopt.com

Tersurat di Al-Qur’an

| Dec 09, 2009 |

Subhanallah, Peringatan Hari Korupsi 9 Desember, Tersurat di Al-Qur’an

Korupsi di negeri kita benar-benar sudah sangat parah karena sudah jadi kerak yang susah sekali di kikis, hampis semua sistem tatanan bernegara kita sampai saat ini masih terjadi praktek-praktek penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan yang merugikan kepentingan negara dan rakyat satu negara hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan tertentu.

Al-Quran Surat ke-9 (At-Taubah) ayat ke 12

Bukan hanya di Indonesia, di seluruh dunia korupsi menjadi penyakit yang sangat berbahaya dalam kehidupan manusia. Karena kerugiannya bukan hanya bersifat material namun juga rusaknya moral serta akhlak dimana manusia yang bersangkutan tidak bisa menjaga amanah yang telah dipercayakan padanya untuk di kelola dan dipegang. Korupsi bukan hanya dilakukan oleh seorang bos atau pemimpin, namun mulai dari kelas pegawai rendahan sekalipun sudah terjangkiti.

Entah apakah ini suatu kebetulan atau memang Allah sudah mengingatkan kita semua termasuk semua pemimpin umat dan pemimpin negara, pemimpin golongan,  pemimpin apapun yang ada untuk tetap menjaga amanah. Menjaga janji dan sumpah yang telah diucapkan.  Mari sejenak kita merenungkan ayat Al-Quran dibawah ini  Surat ke 9 Al-Quran yaitu Surat At-Taubah Ayat Ke-12  yang artinya:

[9:12] Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.

Coba kita renungkan dan cerna maksud ayat diatas, apakah maksud Allah dalam ayat tersebut? ini mungkin bisa menjadi bahan refleksi serta koreksi bagi kita semua, karena kita semua hakekatnya adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas amanah yang telah dipercayakan padanya. Kita coba untuk memberantas korupsi dari diri kita masing-masing kita cegah korupsi dari diri kita lingkungan kita. Semoga Allah Tuhan semesta alam memberikan berkah dan kebaikan bagi negeri yang sesungguhnya kaya raya ini.

Sesungguhnya ini semua adalah tanda dan perintah Allah pada kita semua yang beriman pada-Nya untuk melaksanakan dan menjaga amanah itu. Wallahualam bi shawab

KORUPSI : Pandangan dan Sikap Islam

Kamis, 01 Januari 2004 00:00 Marzuki Wahid

“Tidak ada penyebab ketidakadilan

dan kekejaman yang lebih besar daripada korupsi,

karena penyuapan menghancurkan baik iman maupun negara.”

Sari Mehmed Pasha

“Hai orang-orang beriman,

janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara batil,

kecuali dengan cara perniagaan yang berlaku

dengan suka sama suka di antara kamu…”

al-Qur’an, Surat an-Nisâ’: 29

Salah satu kenyataan yang secara sadar dinilai buruk dan merusak, tetapi berulang kali dilakukan oleh banyak orang di negeri ini adalah “ korupsi ”. Bukan tidak mau menghindar dan bertobat, melainkan jika tidak melakukannya rasanya tidak wajar dan tidak memperoleh tambahan yang berarti dari yang dilakukannya. Ini yang sering kali dijadikan alasan oleh “para koruptor” bahwa korupsi itu bukan karena tindakan yang kotor melainkan sistem birokrasi dan sistem pemerintahan kita mengkondisikan para birokrat, politisi, dan semua yang bersentuhan dengan sistem itu untuk korupsi. Artinya “korupsi” di negeri ini bukan lagi soal moral dan hukum semata, melainkan adalah persoalan sistemikstruktural yang telah mengakar sedemikian rupa.

Hal lain yang menyebabkan korupsi tumbuh-subur di negeri ini adalah lemahnya penegakan hukum (law enforcement). Hingga hari ini, belum ada koruptor meskipun jelas diketahui khalayak dihukum setimpal dengan perbuatannya. Kalaupun ada yang dihukum (masih bisa dihitung jari) dirasa oleh masyarakat masih belum adil. Selain aturan hukum tentang korupsi tidak tegas, juga aparat penegak hukumnya masih bisa dipermainkan dan ditukar-tukaruntuk tidak mengatakan “dibeli”.

Oleh karenanya bisa dipahami jika keterpurukan Indonesia ke dalam multikrisis ini dinilai oleh banyak pihak akibat korupsi yang terus menerus dilakukan ke semua alokasi keuangan, termasuk ke dalam alokasi dana bantuan presiden (banpres) dan dana-dana non-bugeter lainnya. Tetapi dengan mencoba memahami ini, tidak berarti kita membiarkan korupsi sebagai sesuatu yang wajar. Tulisan berikut tak bermaksud menawarkan “jalan keluar” atas kompleksitas soal korupsi, melainkan sekadar ingin menyodorkan pandangan-tegas Islam atas korupsi. Pandangan ini rasanya penting dikemukakan ke hadapan publik selain ingin menunjukkan ketegasan Islam anti korupsi, juga menyadarkan umat Islam sendiri karena tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar koruptor-koruptor di negeri ini adalah beragama Islam.

Apa itu Korupsi?
Sebelum mengkajinya lebih jauh, harus clear dulu makna dan tipologi korupsi. Kata “korupsi” berasal dari bahasa Latin corruptio (Fockema Andreae: 1951) atau corruptus (Webster Student Dictionary: 1960). Secara harfiah, korupsi berarti kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, dan penyimpangan dari kesucian. Meskipun kurang tepat, korupsi seringkali disamakan sengan suap (risywah), yakni sebagai “perangsang (seorang pejabat pemerintah) berdasarkan itikad buruk (seperti suapan) agar ia melakukan pelanggaran kewajibannya (abuse of power).” Suapan sendiri diartikan sebagai “hadiah, penghargaan, pemberian atau keistimewaan yang dianugerahkan atau dijanjikan dengan tujuan merusak pertimbangan atau tingkah laku, terutama dari seorang dalam kedudukan terpercaya (sebagai pejabat pemerintah).” Dalam kitab Hâsyiah Ibn ‘Abidin, suapan (risywah) dipahami sebagai sesuatu yang diberikan seseorang kepada hakim, pejabat pemerintah atau lainnya supaya orang itu mendapatkan kepastian hukum atau memperoleh keinginannya.

Dalam konteks untuk memperoleh kebebasan politik, prakarsa perorangan, transparansi, dan perlindungan hak-hak warga negara terhadap otoritas negara yang otoriter, Syed Hussein Alatas dalam Corruption Its Nature, Causes and Functions membedakan tujuh tipologi korupsi yang berkembang selama ini. Pertama, transactive corruption, yakni korupsi yang menunjukkan adanya kesepakatan timbal-balik antara pihak penyuap dan penerima suap demi keuntungan kedua belah pihak dan dengan aktif diusahakan tercapainya keuntungan ini oleh kedua-duanya.

Tipologi ini umumnya melibatkan dunia usaha dan pemerintah atau masyarakat dan pemerintah. Kedua, extortive corruption (korupsi yang memeras), yakni pihak pemberi dipaksa untuk menyuap agar mencegah kerugian yang sedang mengancam dirinya, kepentingannya, dan hal-hal yang dihargainya. Ketiga, investive corruption, yakni korupsi dalam bentuk pemberian barang atau jasa tanpa ada pertalian langsung dengan keuntungan tertentu, selain keuntungan yang dibanyangkan akan diperoleh di masa yang akan datang. Tipe keempat adalah supportive corruption, korupsi yang secara tidak langsung menyangkut uang atau imbalan langsung dalam bentuk lain untuk melindungi dan memperkuat korupsi yang sudah ada. Kelima, nepostistic corruption, yakni korupsi yang menunjukkan tidak sahnya teman atau sanak famili untuk memegang jabatan dalam pemerintahan atau perilaku yang memberi tindakan yang mengutamakan dalam bentuk uang atau lainnya kepada teman atau sanak famili secara bertentangan dengan norma dan aturan yang berlaku. Keenam, defensive corruption, yakni perilaku korban korupsi dengan pemerasan untuk mempertahankan diri. George L. Yaney menjelaskan bahwa pada abad 18 dan 19, para petani Rusia menyuap para pejabat untuk melindungi kepentingan mereka. Tipe ini bukan pelaku korupsi, karena perbuatan orang yang diperas bukanlah korupsi. Hanya perbuatan pelaku yang memeras sajalah yang disebut korupsi. Terakhir, autogenic corruption adalah korupsi yang tidak melibatkan orang lain dan pelakunya hanya seorang diri.

Pada esensinya korupsi adalah pencurian melalui penipuan dalam situasi yang mengkhianati kepercayaan. Jika kita pegangi pengertian ini, maka tradisi korupsi telah merambah ke seluruh dimensi kehidupan manusia secara sistematis, sehingga masalah korupsi merupakan masalah yang bersifat lintas-sistemik dan melekat pada semua sistem sosial, baik sistem feodalisme, kapitalisme, komunisme, maupun sosialisme.

Pandangan dan Sikap Islam
Pandangan dan sikap Islam terhadap korupsi sangat tegas: haram dan melarang. Banyak argumen mengapa korupsi dilarang keras dalam Islam. Selain karena secara prinsip bertentangan dengan misi sosial Islam yang ingin menegakkan keadilan sosial dan kemaslahatan semesta (iqâmat al-’adâlah alijtimâ’iyyah wa al-mashlahat al-’âmmah), korupsi juga dinilai sebagai tindakan pengkhianatan dari amanat yang diterima dan pengrusakan yang serius terhadap bangunan sistem yang akuntabel. Oleh karena itu, baik al- Qur’an, al-Hadits maupun ijmâ’ al- ‘ulamâ menunjukkan pelarangannya secara tegas (sharih).

Dalam al-Qur’an, misalnya, dinyatakan: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan cara batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (cara berbuat) dosa padahal kamu mengetahui.” Dalam ayat yang lain disebutkan: “Hai orangorang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara batil, kecuali dengan cara perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu…” Sedangkan dalam al-Hadits lebih konkret lagi, dinyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Allah melaknati penyuap dan penerima suap dalam proses hukum.” Dalam redaksi lain, dinyatakan: “Rasulullah SAW melaknati penyuap, penerima suap, dan perantara dari keduanya.” Kemudian dalam kesempatan yang berbeda, Rasulullah SAW bersabda: “penyuap dan penerima suap itu masuk ke neraka.”

Dalam sejarah, baik para sahabat Nabi, generasi sesudahnya (tabi’in), maupun para ulama periode sesudahnya, semuanya bersepakat tanpa khilaf atas keharaman korupsi, baik bagi penyuap, penerima suap maupun perantaranya. Meski ada perbedaan sedikit mengenai kriteria kecenderungan mendekati korupsi sebab implikasi yang ditimbulkannya, tetapi prinsip dasar hukum korupsi adalah haram dan dilarang.

Ini artinya, secara mendasar, Islam memang sangat anti korupsi. Yang dilarang dalam Islam bukan saja perilaku korupnya, melainkan juga pada setiap pihak yang ikut terlibat dalam kerangka terjadinya tindakan korupsi itu. Bahkan kasus manipulasi dan pemerasan juga dilarang secara tegas, dan masuk dalam tindakan korupsi. Ibn Qudamah dalam al-Mughnî menjelaskan bahwa “memakan makanan haram” itu identik dengan korupsi. Zamakhsyari dalam tafsir al-Kasysyaf juga menyebut hal yang sama. Umar Ibn Khaththab berkata: “menyuap seorang hakim” adalah tindakan korupsi.

Dalam sejarah Islam sering dikutip kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, salah seorang Khalifah Bani Umayyah, sebagai prototipe Muslim anti korupsi. Umar bin Abdul Aziz adalah figur extra-ordernary, suatu figur unik di tengah-tengah para pemimpin yang korup dalam komunitas istana. Ia sangat ketat mempertimbangkan dan memilahmilah antara fasilitas negara dengan fasilitas pribadi dan keluarga. Keduanya tidak pernah dan tidak boleh dipertukarkan (changeble). “Pada suatu malam, Khalifah Umar bin Abdul Aziz berada di kamar istana melakukan sesuatu berkaitan dengan urusan negara. Tiba-tiba salah seorang anaknya mengetuk pintu ingin menemui bapaknya. Sebeum masuk, ditanya oleh Khalifah, “Ada apa Anda malam-malam ke sini?” “Ada yang ingin dibicarakan dengan bapak”, jawab anaknya. “Urusan keluarga atau urusan negara?” tanya balik Khalifah. “Urusan keluarga,” tegas anaknya. Seketika itu, Khalifah mematikan lampu kamarnya dan mempersilakan anaknya masuk. “Lho, kok lampunya dimatikan,” tanya anaknya sambil keheranan. “Ini lampu negara, sementara kita mau membicarakan urusan keluarga, karena itu tidak boleh menggunakan fasilitas negara,” demikian jawab Kh alifah. Sang anakpun mengiyakannya.

Itulah sekelumit cerita tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam upayanya untuk menegakkan good qovernance, melalui sikap-sikap yang akuntabel dan menghindari pemanfaatan fasilitas negara untuk kepentingan diri, kelompok, dan keluarganya. Adakah pemimpin sekarang seperti Umar bin Abdul Aziz?

*) Penulis adalah Sekretaris Dewan Kebijakan Fahmina-institute Cirebon

  Sumber: Blakasuta Ed. 6 (2004)

Minggu, 28/08/2011 10:27 WIB

Berantas Korupsi

Said Zainal Abidin – detikNews
Pemberantasan Korupsi Butuh Kreativitas dan Kesabaran
Jakarta - Pemberantasan korupsi telah menjadi pekerjaan besar dan membutuhkan waktu yang panjang. Namun dengan segala ketekunan dan dukungan rakyat yang tak pernah putus, tak ada hambatan yang tak akan dapat ditembus. Selain itu, dibutuhkan juga kreatifitas dan kesabaran untuk dapat bekerja secara terus menerus.Pertama, kita membutuhkan kreativitas, karena kita berhadapan dengan perkembangan teknologi dan kelihaian dari para koruptor serta para pembelanya. Repotnya, kreatifitas dalam pemberantasan korupsi selalu harus mengindahkan batasan ketentuan peraturan perundang-undangan yang resmi, sementara para koruptor dapat berakrobat sesuka hati tanpa melihat batasan peraturan yang ada.

Kedua, semua orang tahu, bahwa pemberantasan korupsi harus berhadapan dengan kekuasaan dan kekayaan yang besar. Dimana saja didunia, tindak pidana korupsi didukung oleh kekuatan pendanaan yang besar. Hampir semua koruptor terdiri dari orang-orang kaya. Dengan kata lain, yang melakukan korupsi itu adalah orang-orang kaya, bukan orang miskin. Sepanjang sejarah pemberantasan korupsi, belum pernah ditemukan ada korupsi yang dilakukan oleh orang miskin. Paling-paling mereka hanya menjadi alat atau suruhan dari orang kaya.

Ketiga, koruptor itu memiliki kekuasaan. Maka itu ada istilah bahwa kekuasaan itu cenderung mendorong orang untuk korupsi, makin besar kekuasaan makin besar dorongan untuk melakukan korupsi (power tend to corrupt, the more powerful the more tend to corrupt and absolute power corrupt absolutely).

Kekuasaan itu bermacam-macam. Ada yang berbentuk kekuasaan politik, kekuatan keuangan maupun dalam bentuk kekuatan phisik. Uniknya, masing-masing kekuatan itu cenderung saling melengkapi dan menciptakan. Pada tahap awal, tindak pidana korupsi membutuhkan dukungan kekuatan politik dari pihakm lain. Begitu pula sebaliknya.

Untuk mendapatkan kekuasaan politik perlu dukungan kekayaan. Pada tahap selanjutnya, masing-masing pihak berusahan untuk melengkapi diri dengan memiliki sendiri kedua kekuasaan atau kekuatan itu sekaligus. Karena itu, penguasa (pemilik kekuasaan politik) cenderung berhasrat menjadi kaya. Sebaliknya, pengusaha ingin membeli kekuasaaan atau menjadi penguasa. Selanjutnya kedua kekuatan atau kekuasan yang telah terhimpun itu saling mendukung untuk menjadi lebih besar dan lebih besar lagi.

Keempat, sebagai konsekwensi dari perpaduan kekuatan itu, setiap tindak pidana korupsi, di manapun di dunia ini, selalu didukung atau dibela oleh para pengacara yang lihai, yang harganya bermiliar-miliar rupiah. Yakni, mereka yang dapat memutihkan yang hitam dan menghitamkan yang putih. Mereka sangat lihai melihat dan mencari lobang-lobang atau celah-celah hukum dan kebijakan yang kurang rapi dan kurang hati-hati dalam perumusannya. Dinegara-negara tertentu, lubang-lubang itu memang sengaja dibuat.

Kelima, waktu untuk memberantas korupsi selalu terbatas. Keadaan ini disebabkan karena rakyat yang menderita akibat dari korupsi dan karena itu mendukung upaya pemberantasan korupsi, tidak sabar menunggu lebih lama. Mereka menghendaki pemberantasan korupsi dilakukan dengan bahasa rakyat. Yakni dengan cara sikat saja. Sementara koruptor selalu bertindak dengan perhitungan dan persiapan yang cukup lama yang didukung perpaduan kekuasaan atau kekuatan itu.

Di Indonesia, korupsi itu telah berurat berakar. Susunannya sudah berlapis-lapis. Muncul ke permukaan secara bergelombang. Susul menyusul tidak habis-habisnya. Bagaikan gelombang laut yang menghempas pantai secara beruntun. Habis satu, datang yang baru secara berkelanjutan.

Rakyat yang menderita beteriak dan berdemontrasi setiap hari didepan Kantor KPK. Mereka berdemonstrasi untuk memberi dukungan. Tetapi, hanya itu yang dapat mereka lakukan, karena pada umumnya para pendukung upaya pemberantasan korupsi (KPK) adalah orang-orang miskin yang tak memiliki kekayaan, apalagi kekuasaan politik.

Di samping itu banyak juga para intelektual yang mempunyai hati dan keinsafan terhadap akibat yang akan timbul terhadap nasib bangsa ini di masa depan, jika korupsi tidak dapat segera dituntaskan sampai ke akar-akarnya.

Sebab itu, apa yang diperlukan adalah, pertama, kreatifitas dari segenap pihak, baik dari mereka yang berada dalam lembaga resmi seperti KPK dan PPATK dan lain-lain, maupun dari mereka yang selalu memberi dukungan dengan pikiran-pikiran yang brilian tanpa henti dan para pelapor dari seluruh pelosok Tanah Air.

Kedua, kesabaran untuk secara terus menerus bergerak dan berupaya sampai tuntas. Percayalah, bahwa Allah SWT selalu berada dipihak yang benar. Insya Allah, dalam waktu yang tidak akan terlalu lama lagi, semua korupsi akan dapat disapu bersih di Indonesia.

*) Said Zainal Abidin adalah ahli majanemen pembangunan daerah (regional development management) dan kebijakan publik, guru besar STIA LAN. Sekarang sebagai penasihat KPK.

(vit/vit)

27
Aug
11

Hikmah : Mudik Berkah Bernilai Ibadah

ANTARA/Yusran Uccang

Mudik Berkah Bernilai Ibadah: Begini Etika Bepergian ala Rasulullah

Dua calon penumpang mengangkat barangnya saat akan naik ke KM Labobar di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, Sulsel, Sabtu (20/8). Memasuki H-10, jumlah pemudik di Makassar masih sepi dan diperkirakan pemudik membludak pada H-5 hingga H-2.

Mudik Berkah Ibadah

Jumat, 26 Agustus 2011 03:00 WIB
Mudik Berkah Bernilai Ibadah : Begini Etika Bepergian ala Rasulullah

Oleh Ahmad Nurarifin

Tak terasa lebaran tinggal menghitung hari. Tradisi umat Muslim Indonesia, adalah ‘menggenapkan’ Ramadhan dengan mudik; kembali ke kampung halaman untuk bersilaturahim dengan keluarga dan handai taulan.

Mudik mempunyai makna sebagai salah satu wujud rasa cinta-kasih pada keluarga di rumah/kampung halaman. Setidaknya setahun sekali, tali silaturahim kembali dijalin. Menjalin silaturahim, adalah anjuran dalam Islam.

Sudah selayaknya bagi pemudik yang notabene adalah pemeluk agama Islam mengambil contoh cara bepergian yang dilakukan sumber panutannya, Rasulullah SAW. Ada beberapa catatanpenting mengenai bagaimana etika/akhlak Rasulullah ketika bepergian.

1. Berangkat pada hari Senin dan Kamis pada waktu Dhuha

Dalam buku Rasulullah, Manusia Tanpa Cela , dijelaskan,  apabila hendak pergi menuju tempat yang jauh, Rasulullah SAW selalu memilih hari Senin atau Kamis, dan lebih dianjurkan pada hari kamis. Hal  ini sesuai hadist beliau, Dari Ka’bbin Malik Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah pergi menuju perang Tabuk pada hari Kamis, dan Beliau menyukai bepergian pada hari Kamis.” (Muttafaqqun ‘alaih)

2. Membaca doa ketika menaiki kendaraan
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya jika Rasulullah menaiki kendaraan ketika hendak bepergian, Beliau bertakbir sebanyaktiga kali, kemudian berdoa: “Maha Suci Dzat yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami dahulu tidak mampumenguasainya. Dan sesungguhnya kepada Rabb kamilah, kami akan kembali. Ya, Allah! Kami mohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebajikan dan takwa, serta amal yang Engkau ridhai.Ya, Allah! Mudahkanlah perjalanan kami ini, serta dekatkanlah jarak perjalanan kami. Ya, Allah! Engkaulah teman dalam perjalanan, dan penjaga keluarga yang kami tinggal.

3.    Disunnahkan tidak sendirian dan memilih ketua rombongan

Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya darikakeknya Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Orang yang bepergian sendirian adalah (bersama) setan. Dan orang yang bepergian berdua adalah (bersama) dua sethan.Sedangkan orang yang berpergian bertiga adalah rombongan musafir (yang tidak dihampiri setan).” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi dan Nasa’i, dengan sanad-sanad yang shahih)

4.    Disunnahkan memperbanyak doa, karena pada saat itu doa dikabulkan

Dari Abu HurairahRadhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullahbersabda,”Tiga jenis doa yang dikabulkan dan tidak diragukanlagi, (yaitu) doa orang yang dizhalimi, doa orang yang bepergiandan orang tua (ayah) yang mendoakan (kejelekan) atas anaknya.” (HR Abu DawuddanTirmidzi, Hasan)

5.    Disunnahkan shalat dua rakaat di masjid terdekat sebelum mendatangi rumah

Dari Ka’ab bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya jika Rasulullah datang dari perjalanan, Beliau mendatangi masjid dan shalat dua rakaat. (Muttafaqqun ‘alaih)

6.    Wanita diharamkan bepergian tanpa disertai mahramnya

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah bersabda,”Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bepergian dalam jarak sehari semalam, kecuali disertai mahramnya.” (Muttafaqqun ‘alaih).

Penulis adalah sahabat Republika Online yang tengah bekerja di Arab Saudi

27
Aug
11

Kepemimpinan QS : Pemimpin Ideal Menurut Al Qur’an

Pemimpin Ideal Menurut Qur’an

In OPINI on Februari 2, 2010 at 12:00 am
Oleh H. MG Hadi Sutjipto *)
SEPANJANG tahun 2010 ini, Jawa Timur akan menjadi arena suksesi pergantian pimpinan daerah tingkat dua, Kabupaten dan Kotamadya terbanyak di tingkat nasional. Sebanyak 18 daerah tingkat dua teragendakan akan menggelar Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) sebagai aplikasi pesta demokrasi yang sesungguhnya. Ini karena nasib para peserta bursa calon pimpinan daerah ada di tangan warga daerah penyelenggara Pilkada.
Tak pelak lagi, citra setiap masyarakat sedikit terdongkrak. Mereka menjadi sasaran serbu rayuan para peserta bursa calon pimpinan daerah. Sosok yang sebelumnya tak pernah sekalipun menengok, memikirkan, atau berempati pada masyarakat, secara tiba-tiba berbalik 180 derajat. Menjadi sosok yang penuh perhatian pada masyarakat.
Teknik yang mereka tebarkan biasanya sangat klise dan tendensius. Bermodal sedikit ‘angpao’ rupiah, paket sembako, atau lainnya sebagai pintu gerbang mendekati masyarakat, satu dan lain peserta akan adu kecerdikan membual dan menebar rayuan. Rata-rata mereka berjanji akan memperbaiki nasib masyarakat yang didekati jika saja diberi kesempatan berbentuk dukungan suara saat penyelenggaraan Pilkada.
Bagaimana saat calon tersebut benar-benar sukses. Mengantongi dukungan suara mayoritas, sehingga tahta pimpinan daerah berhasil digenggamnya. Jawabannya hanyalah Wallahu a’lam Bish-showwab… Pemimpin pilihan masyarakat itu mungkin saja ingat dan memenuhi janji yang ditebarkan semasa kampanye. Namun, bukan tidak mungkin untuk ingkar janji dengan berpura-pura lupa dan mabuk keberhasilan, sehingga menganggap angin lalu pada semua janji yang ditebarkan selama kampanye.
Karena itu, senyampang Pilkada beum diselenggarakan dan masyarakat belum kembali menjadi korban kampanye, maka perlu kiranya konsep berfikir mereka dalam memilih calon pimpinan daerahnya sedikit digeser. Masyarakat tidak perlu lagi memilih seorang calon pemimpin yang dalam kampanyenya getol menebar rayuan. Sebab pemimpin demikian biasanya akan ingkar terhadap janji-janjinya, karena banyaknya janji yang ditebarkan tidak mungkin dapat tepenuhi dalam 5 tahun memimpin sebuah daerah.
Lalu calon pemimpin bagaimana yang layak mendapat dukungan? Calon pemimpin yang layak mendapat dukungan sesungguhnya sudah digariskan dalam setiap agama. Dengan kondisi masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam, maka bukan sebuah sikap yang berlebihan jika Al-Quran sebagai kitab suci kaum muslim dijadikan sebagai sebuah pertimbangan utama dalam memilih seorang pemimpin yang ideal.
DARI BELAKANG
Pemimpin ideal yang layak mendapat dukungan, digariskan Quran hanyalah pemimpin yang memiliki karakter seorang Khalifah, Imam, Malik, dan Ulil Amri. Sebab empat istilah untuk menyebut pemimpin sebagaimana termaktub dalam Quran itu, sesungguhnya merupakan pernik-pernik pesan yang ingin disampaikan Allah SWT lewat firman-Nya untuk umat manusia dalam memilih pemimpinnya.
Allah menunjukkan, bahwa masyarakat hendaknya memilih pemimpin yang berkarakter Khalifah sebagaimana dalam Surat Al-Baqoroh ayat 30 dan Shad ayat 26. Kata Khalifah dalam bentuk Mufrod (tunggal), menurut Quraish Shihab dalam buku “Membumikan Alquran” terbitan Mizan, disebut sebanyak dua kali. Sedangkan dalam bentuk jamak (plural), alquran menggunakan dua bentuk. Pertama kata khalaif yang terulang sebanyak empat kali. Dan kata Khulafa’ yang ditulis sebanyak tiga kali. Semua kata kata tersebut berakar dari kata Khulafa’ yang pada awalnya berarti “ Di belakang “.
Dari pengertian ini, kata Khalifah seringkali diartikan sebagai “ Pengganti “, karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya, demikian tulis Quraish Shihab.
Sedangkan isi Al-Baqoroh ayat 30 yang menunjukkan tentang yang menyebut pemimpin dengan istilah Khalifah adalah:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi. Mereka berkata : ”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? ”Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Adapun dalam Shad ayat 26, istilah Khalifah kembali tersebut sebagai berikut:
Hai Dawud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu Khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.
Berdasaran Surat Al-Baqoroh dan Surat Shad itu, Allah telah meminta umat manusia untuk memilih pemimpin dengan latar belakang yang steril dari perilaku membuat kerusakan di atas bumi, tidak menumpahkan darah, berbuat adil, dan tidak mengikuti hawa nafsu. Artinya, berdasarkan ayat ayat di atas, seorang pemimpin ideal sebaiknya adalah mereka yang memiliki sikap mental yang tersebut di atas.
KESEMPURNAAN ILMU
Bagaimanakah dengan kecerdasan intelektual, apakah ikut berperan dalam menentukan idealitas seorang pemimpin? Dalam surat yang sama, Surat Al-Baqoroh dan Surat Shaad, Allah berfirman:
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama nama (benda benda) seluruhnya …. (QS. Al-Baqoroh ayat 31)
Dan kami kuatkan kerajaannya dan kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. (QS. Shad ayat 20)
Pada catatan kaki Al-Quran dan terjemahnya terbitan Mujamma’ Al Malik Fahd, Saudi Arabia, yang dimaksud hikmah di dalam surat Shaad di atas adalah kenabian, kesempurnaan ilmu, dan ketelitian amal perbuatan.
Dua ayat di atas yang masih berbicara tentang kepribadian nabi Adam dan Nabi Dawud sebagai Khalifah jelas sekali menegaskan akan kemampuan intelektualnnya. Dengan kata lain, pemimpin ideal menurut ayat-ayat ini, disamping memiliki kemampuan emosional dan sikap mental yang baik, juga harus memiliki kecerdasan intelektual yang mumpuni.
Sedangkan calon pemimpin yang layak didukung dan dipilih harus memiliki karakter Imam. Menurut Al Tabrasi dalam kitab tafsirnya, seperti dikutip Quraish Shihab, mempunyai makna yang sama dengan Khalifah. Hanya saja, kata ini di pakai untuk makna keteladanan, karena ia berasal dari sebuah kata yang mengandung arti depan. Berbeda dengan kata Khalifah yang pada awalnya berarti belakang.
Kata Imam dalam Al-Quran disebut sebanyak tujuh kali dengan makna yang berbeda beda. Akan tetapi, kesemuanya itu bermuara pada satu makna sesuatu yang di tuju atau di teladani. Yang lebih mendekati pengertian yang sesuai dengan arti pemimpin adalah surat Al-Baqoroh ayat 124 dan Al-Furqon ayat 74 yang artinya:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman : “ Sesungguhnya aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh manusia “. Ibrahim berkata : “ (Dan saya mohon juga) dari keturunanku “. Allah berfirman : “ Janjiku (ini) tidak mengenai orang orang yang dzalim “. (QS. Al-Baqoroh ayat 124)
Dan orang orang yang berkata : “ Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami Imam bagi orang orang yang bertaqwa. (QS. Al-Furqon ayat 74)
MEREBUT TAHTA
Dari gambaran dua ayat itu, muncul satu pemahaman bahwa seorang Imam (pemimpin) terbiasa untuk meneruskan dan mewariskan kepemimpinannya kepada anak cucu. Istilah politik mengungkapkannya dengan sebutan Monarki.
Pada surat Al-Baqoroh ayat 124, nabi Ibrahim sebagai seorang Imam (pemimpin), ingin sekali meneruskan dan mewariskan kepemimpinannya kepada anak cucu. Itu dibuktikan dengan permohonannya kepada Alllah SWT dengan kalimat “ (Dan saya mohon juga) dari keturunanku “. Surat Al-Furqon ayat 74 pun kelihatannya tidak jauh berbeda. Ayat itu berisi permohonan seseorang untuk melanggengkan kepemimpinannya kepada anak cucu dan golongannya sendiri. Hanya saja sistem monarki atau sumber dan pusat kepemimpinan yang selalu berkisar pada golongan tertentu, nampaknya diberi syarat oleh Allah dengan “ Janjiku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim “. Ungkapan ini menunjukkan, bahwa sifat dzalim atau tidak dapat berbuat adil merupakan watak yang tidak dimaui oleh Tuhan dalam melestarikan, melanggengkan dan merebut tahta kepemimpinan.
Sebenarnya masih ada lagi istilah istilah alquran yang dapat kita masukkan ke dalam pengertian pemimpin, seperti Malik dan Ulul Amri. Untuk mengeksplor dua kata diatas, dibutuhkan penelitan yang lebih mendetail.
Dengan tidak mengurangi pemikiran yang berkembang di masyarakat dan teori teori kepemimpinan yang ada, ayat ayat alquran yang kami sampaikan dapat disimpulkan sebagai berikut: Pertama, Pemimpin ideal menurut alquran adalah mereka yang memilki sikap emosional yang terkendali, sikap mental yang mapan, dan kecerdasan intelelektual yang mumpuni. Tidak berbuat kerusakan di bumi, tidak menumpahkan darah, berbuat adil, dan tidak menuruti hawa nafsu adalah ungkapan ungkapan Al-Quran dalam menjabarkan hal tersebut.
Sedangkan yang kedua, pemimpin ideal adalah seseorang yang terpilih tidak sekedar karena gen (keturunan), tetapi lebih banyak karena kemampuan diri sendiri, dan Kepemimpinan tidak dapat diturunkan kepada anak cucu.
Dari isi tiga ayat Surat Al-Baqoroh, dua ayat Surat Shad, dan satu ayat Surat Al-Furqon itu, sesungguhnya masyarakat daerah di Jawa Timur dan luar daerah lainnya secara tersurat sudah memiliki pedoman dalam memilih pemimpin masing-masing daerahnya. Sehingga calon pemimpin yang memiliki latar belakang pengrusak dalam arti sesungguhnya atau pun simbolik, berwatak dzalim, miskin rasa adil dan bijaksana, serta jauh dari siap ketaqwaannya pada Allah SWT hendaknya tidak dipilih dan didukung. Pasalnya calon pemimpin yang demikian telah dipastikan Allah akan membuat kerugian pada daerah dan masyarakat yang dipimpinnya.
Sebaliknya jika masyarakat suatu daerah itu tak mengindahkan garis demarkasi sosok pemimpin sebagaimana difirmankn Allah dalam Al-Quran, maka besiap saja pada saatnya nanti Allah akan memberikan sebuah peristiwa memperihatinkan atau tragedi, yang berfungsi sebagai sebuah peringatan Illahi akan kesalahan yang dilakukan umat manusia sebuah daerah atau negara.
*) Penulis adalah Ketua Takmir Masjid Agung, Sidoarjo, yang kini siap maju dalam Pemilukada Sidoarjo 2010 sebagai Calon Wakil Bupati
Pemimpin dalam Pandangan al-Qur’an

Nadirsyah Hosen


Ada dua ayat al-Qur’an yang menggunakan kata Khalifah. Pertama, Qs al-Baqarah: 30, “Inni ja’il fi al-ardh khalifah,” dan kedua, QS al-Shad: 26, “Ya Dawud Inna ja’alnaka khalifah fi al-ardh.”. Dr. M. Quraish Shihab menjelaskanbahwa (1) kata khalifah digunakan oleh al-Qur’an untuk siapa yang diberi kekuasaan mengelola wilayah, baik luas maupun terbatas. Dalam hal ini Daud mengelola wilayah Palestina, sedangkan Adam secara potensial atau aktual diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan; (2) Bahwa seorang khalifah berpotensi, bahkan secara aktual, dapat melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu. Karena itu baik Adam maupun Daud diberi peringatan agar tidak mengikuti hawa nafsu (lihat QS 20:16 dan QS 38: 26).Menarik untuk diperbandingkan bahwa pengangkatan Adam sebagai khalifah dijelaskan Allah dalam bentuk tunggal inni (sesungguhnya Aku) Sedangkan pengangkatan Daud dijelaskan dengan menggunakan kata inna (sesungguhnya Kami). Jikalau benar kaidah yang mengatakan bahwa penggunaan bentuk plural, selain berarti li ta’zhim, juga bisa bermakna mengandung keterlibatan pihak lain bersama Allah dalam pekerjaan yang ditunjuk-Nya, maka ini berarti bahwa dalam pengangkatan Daud sebagai khalifah terdapat keterlibatan pihak lain selain Allah, yakni masyarakat. Adapun Adam dipilih langsung oleh Allah, tanpa unsur keterlibatan pihak lain.Sejarah mencatat bahwa Daud bukan saja Nabi tetapi juga penguasa kerajaan (“Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmahS.QS. 38: 20). Allah mengisyaratkan bahwa Daud bukan saja dipilih oleh Allah tetapi juga diangkat oleh masyarakat. Pada titik ini penafsiran Imam al-Mawardi, terhadap ayat QS. 4:58, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,” patut dikedepankan. Imam al-Mawardi, pengarang al-Ahkam al-Sulthaniyah, menjelaskan bahwa karena ada yang memberi amanah dan ada yang menerima amanah, maka terjalinlah hubungan sosial diantara kedua belah pihak. Ratusan tahun setelah Imam Al-Mawardi wafat, barulah muncul di Barat teori kontrak sosial yang sebenarnya embrionya telah dimulai oleh penafsiran al-Mawardi.Oleh karena itu, dalam pandangan al-Qur’an, pemimpin yang diangkat oleh masyarakat sebenarnya berada pada posisi menerima amanah, sedangkan masyarakat sebagai pemberi amanah. Tentu saja, ajaran agama mengatur bahwa penerima amanah, pada saatnya nanti, harus mempertanggungjawabkan amanahnya kepada si pemberi amanah, yaitu pada “pengadilan” masyarakat di dunia, dan “pengadilan” Allah swt di Padang Mahsyar nanti.Berkenaan dengan pemberian amanah, ada satu ayat yang cukup menyentak kita: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” QS 33: 72

Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam at-Tafsir al-Munir menjelaskan bahwa amanah yang dimaksud adalah ketaatan dalam menjalankan kewajiban (taklif) syar’i, seperti sholat, puasa dan lainnya. Lebih jauh Az-Zuhaili menafsirkan bahwa kata amanah dalam ayat di atas juga mencakup amanah terhadap harta, menjaga kemaluan, menjaga pendengaran, penglihatan, lisan batin, tangan dan langkah kaki. Kegagalan menerima amanah ini (akibat manusia itu amat zalim dan amat bodoh) akan mengakibatkan manusia terbagi menjadi tiga golongan (sebagaimana diisyaratkan oleh ayat selanjutnya QS 33: 73): pertama, munafikin, yaitu sebagaimana digambarkan dalam hadis: kalau berkata selalu berdusta; kalau berjanji selalu ingkar; dan kalau diberi amanah berlaku khianat (Musnad Ahmad, Hadis Nomor: 6583); kedua, golongan musyrikin, yaitu golongan yang baik tersembunyi maupun terang-terangan telah berlaku syirik dan menentang Rasul; ketiga Mu’minun, yang dalam ayat ini digambarkan sebagai mereka yang diterima taubatnya.

Tampaknya amanah keagamaaan yang dibebankan kepada manusia itu sedemikian berat; apatah lagi ditambah amanah keduniawian berupa kekuasaan.

Sudah jelas bahwa dua golongan pertama, munafik dan musyrik, bukan saja gagal menerima amanah keagamaan namun harus dipandang tidak juga layak menerima amanah keduniawian. Perhatikan firman Allah berikut ini : “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.”

Tinggal satu golongan lagi yang layak menerima dan menjalankan amanah, yaitu golongan mu’min. Namun mengapa Allah mengisyaratkan Mu’min yang layak menerima amanah itu sebagai Mu’min yang diterima tobatnya? Rupanya, Allah tahu bahwa seorang pemimpin tidak bebas dari kesalahan. Adam dan Daud yang disebut sebagai khalifah ternyata juga sempat melakukan perbuatan tercela. Namun mereka segera bertaubat (lihat Qs 7: 23 dan Qs 38: 25). Jadi, carilah pemimpin yang bersedia dikoreksi, bersedia mengakui kesalahan, bersedia memperbaiki kesalahannya, dan gemar mengucapkan isitighfar pada Allah swt. sebagai wujud kehinaan dan kerendahan diri ketika berhadapan dengan Dzat Yang Maha Agung.

Apakah kriteria itu sudah cukup? Allah mengingatkan Daud dalam QS 38: 26, “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” Allah sebagai pemberi amanah dari “langit” menentukan bahwa pemimpin itu harus menegakkan hukum (law enforcement) dan keadilan serta menghindarkan diri dari mengikuti hawa nafsu. Tanpa keadilan, yang berlaku adalah “hukum rimba”: siapa yang kuat(mungkin harus dibaca: siapa yang punya pasukan), maka dialah yang menang. Hawa nafsu adalah godaan terus menerus didalam diri kita yang selalu mengajak kita untuk menyimpang dari kebenaran. Hawa nafsu jugalah yang membawa penguasa terus memperkaya diri sementara rakyat makan tiwul.

Apakah semua itu sudah cukup? Dengarkan tuntutan penduduk “bumi” yang juga telah memberi amanah kepada Daud (Qs 38: 22), “Berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus (Wahdina ila sawa`i al-shirat).” Pesan dari “langit” akan keadilan dan kebenaran rupanya juga cocok dengan kebutuhan penduduk “bumi”. Namun ada satu tambahan, yaitu, masyarakat juga menuntut pemimpin untuk memberi petunjuk kepada yang dipimpin akan sawa’i al-shirat. Kalau kita kembali merujuk pada Imam al-Mawardi, dalam al-Nukat wa al-’Uyun, pemberi amanah menuntut pemimpin untuk memberi petunjuk kepada tujuan atau maksud-maksud yang benar. Ini berarti pemimpin tidak boleh memberi informasi yang keliru, plin-plan, bahkan juga tidak boleh menyembunyikan informasi yang benar, layak, pantas dan harus diketahui oleh masyarakat. Pemimpin juga harus menjadi teladan agar yang dipimpin merasa yakin bahwa pemimpin tidak pernah berniat mencelakakan masyarakat. Sebelum menunjuki jalan yang lurus, pemimpin harus “meluruskan” dirinya terlebih dahulu.

Dr. Quraish Shihab menganggap ayat berikut ini cukup pantas ditelaah dan dijalankan oleh para pemimpin sebagai mewakili sebagian besar ayat lain yang berbicara tentang tugas-tugas seorang khalifah. “(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan (QS 22: 41).” Beliau memberi keterangan: “Mendirikan sholat merupakan gambaran dari hubungan yang baik dengan Allah, sedangkan menunaikan zakat merupakan gambaran dari keharmonisan hubungan dengan sesama manusia. Ma’ruf adalah suatu istilah yang berkaitan dengan segala sesuatu yang dianggap baik oleh agama, akal dan budaya, dan sebaliknya dengan Munkar. Dari gabungan itu semua, seseorang yang diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah, ia berkewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang hubungannya dengan Allah baik, kehidupan masyarakatnya harmonius, dan agama, akal dan budayanya terpelihara.”

Adakah pemimpin seperti itu? Bukankah sejarah telah mencatat sejumlah pemimpin yang berlumuran darah dan dihujat rakyat akibat berlaku zalim? Yang jarang diketahui orang, sejarah juga mencatat kisah berikut ini:

“Raja Anusyirwan sedang berburu. Dia memasuki sebidang kebun dalam keadaan yang sangat haus. Baginda melihat banyak pohon delima. Kepada anak penunggu kebun, raja berkata, “Berikan kepadaku sebutir delima.” Delima itu ternyata sangat manis dan airnya yang lezat keluar melimpah. Raja begitu terkesan sehingga terlintas dibenaknya untuk menguasai kebun itu. Pada kali yang kedua, dia meminta lagi sebutir delima. Namun kali ini rasanya kecut. Raja keheranan sambil berkata pada si penjaga kebun,”Mengapa rasanya jadi begini?” Sang penjaga kebun menjawab, “Mungkin ada raja di negeri ini yang bermaksud berbuat zalim. Karena niat jeleknya maka delima ini menjadi kecut.” Raja terkejut, dan beristighfar dalam hatinya. Tak lama kemudian, raja meminta lagi sebutir delima. Kali ini rasanya menjadi kembali nikmat seperti butir yang pertama.”

Al-Qur’an telah menuntun kita untuk memberi amanah kepada pemimpin yang menjalankan agamanya dengan baik, mengakkan hukum dan keadilan, berpegang pada kebenaran, lekas bertobat bila keliru, memberi informasi yang benar pada rakyatnya, tidak menurutkan hawa nafsu dan selalu membina hubungan baik kepada Allah dan masyarakat. Pemimpin yang seperti ini akan menyebarkan berkah disekelilingnya. Sebaliknya, kegagalan memilih pemimpin yang sesuai dengan nilai normatif Qur’ani, bukan saja menebar musibah di kalangan manusia, namun akan membuat buah yang manis menjadi kecut, tanah yang subur menjadi kering, dan keberkahan menjadi hilang.

Wa Allahu A’lam bi al-Shawab
*) Dibacakan pada Pengajian Bulanan Al-Hikmah, UNE, Armidale, NSW pada Sabtu 6 Maret 1999 oleh Nadirsyah Hosen.

al-Maraji’ : 1. Al-Nukat wa al-’Uyun li al-Imam al-Mawardi; 2. Al-Tafsir An-Nur li Wahbah Az-Zuhaili; 3. Musnad Ahmad li al-Imam Ahmad bin Hanbal; 4. Dr. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Bandung, Mizan, 1992; 5. Jalaluddin Rakhmat, Reformasi Sufistik, Bandung, Pustaka Hidayah, 1998; 6. Al-Ahkam al-Sulthaniyah li al-Imam al-Mawardi []


Nadirsyah Hosen adalah dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
 

Kepemimpinan Dalam Al-Qur’an (1)

Tafsir Fi Zhilalil Qur”an

undefinedbersama Sayyid Qutb

Rabu, 15/04/2009 12:23 WIB | Arsip | Cetak

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (58) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58-59)

Ini merupakan tema penting yang dikupas dalam pelajaran ini, selain penjelasan tentang tugas umat Islam di muka bumi. Tema tersebut adalah menetapkan prinsip-prinsip keadilan dan etika di atas dasar-dasar manhaj Allah yang lurus dan bersih.

Sebelumnya kami telah menjelaskannya secara global, maka mari kita memasuki nash-nash secara rinci.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (an-Nisa: 58)

Inilah tugas-tugas komunitas muslim dan etika mereka: menyampaikan amanah kepada yang berhak dan memutuskan perkara di antara manusia dengan adil; sesuai manhaj dan instruksi Allah.

Berbagai amanah berawal dari amanah terbesar. Amanah yang disematkan Allah pada fitrah manusia. Langit, bumi dan gunung-gunung saja menolak amanah tersebt. Bahkan mereka gentar terhadapnya. Tetapi manusia berani memikulnya. Itulah amanah hidayah, ma’rifat dan iman kepada Allah atas dasar keinginan yang bebas, usaha dan orientasi. Inilah amanah fitrah insani secara khusus. Sedangkan segala sesuatu selain manusia itu diberi insting oleh Allah untuk beriman kepada-Nya, menemukan jalan-Nya, mengenal-Nya, beribadah dan menaati-Nya.

Allah meniscayaka untuk menaati aturan-Nya tanpa disertai jerih payah, tanpa ada maksud, kehendak, dan tujuan. Hanya manusia saja yang diserahi tugas untuk mendayagunakan fitrah, akal, pengetahuan, kehendak, orientasi, dan jerih payahnya untuk sampai kepada Allah, dan sudah barang tentu dengan bantuan dari Allah: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami.” (al-’Ankabut: 29) Inilah amanah yang dipikul manusia, dan inilah amanah pertama yang harus ditunaikannya.

Dari amanah terbesar inilah lahir seluruh amanah yang diperintahkan Allah untuk dilaksanakan.
Di antara amanah-amanah tersebut adalah: amanah kesaksian terhadap agama ini. Kesaksian yang pertama adalah kesaksian dalam hati, dengan melakukan mujahadatun-nafs hingga mampu menerjemahkannya dalam kehidupan sehari-hari. Terjemah yang hidup dalam perasaan dan perilakunya, hingga manusia dapat melihat bentuk iman di dalam jiwa, lalu mereka mengatakan, “Betapa indah dan bersihnya iman ketika ia mewarnai jiwa seseorang dengan akhlak dan kesempurnaan seperti ini!” Dengan demikian, kesaksian terhadap agama di dalam diri itu memengaruhi orang lain.

Yang kedua adalah kesaksian dengan mengajak orang lain untuk mengikuti Islam, menjelaskan keutamaan dan keistimewaannya—setelah mengejawantahkan keutamaan dan keistimewaan ini dalam diri dai. Karena seorang mukmin tidak cukup menyampaikan kesaksian terhadap iman dalam dirinya, apabila ia tidak mengajak orang lain untuk mengikutinya. Ia belum menjalankan amanah dakwah, tabhligh, dan penyampaikan informasi, yang merupakan salah satu dari sekian banyak amanah. Di susul dengan kesaksian terhadap agama dengan berusaha menancapkannya di bumi sebagai manhaj bagi komunitas yang beriman dan manhaj bagi seluruh umat manusia. Yaitu usaha dengan segenap sarana yang dimiliki individu dan jama’ah. Karena mengaplikasikan manhaj ini dalam kehidupan manusia merupakan amanah terbesar, sesudah amanah iman itu sendiri..Tidak ada satu individu atau kelompok pun yang terbebas dari beban amanah ini. Dari sini, “jihad itu terus berlangsung hingga hari Kiamat”, untuk menunaikan salah satu amanah..

Di antara amanah-amanah tersebut adalah amanah interaksi dengan sesama manusia dan mengembalikan amanah kepada mereka: amanah mu’amalah dan titipan materi, amanah nasihat kepada pemimpin dan rakyat, amanah membangun generasi, amanah memelihara kehormatan dan harta benda jama’ah, serta hal-hal yang dijadikan manhaj robbani sebagai kewajiban dan tugas dalam setiap ruang kehidupan secara keseluruhan..Inilah amanah-amanah yang Allah perintahkan untuk dilaksanakan, dan dikemukakan nash secara global tersebut.

Mengenai memutuskan perkara di antara manusia dengan adil, nash menyebut keadilan yang menjangkau semua manusia, bukan keadilan di antara sesama orang Islam, dan bukan keadilan di antara sesama Ahli Kitab. Keadilan adalah hak setiap manusia dalam kapasitasnya sebagai “manusia”. Label “manusia” inilah yang mengimplikasikan hak keadilan dalam manhaj Robbani, dan label inilah yang mempertemukan semua manusia: baik mukmin atau kafir, kawan atau lawan, hitam atau putih, Arab atau non-Arab.

Umat Islam berdiri membuat keputusan di antara manusia dengan adil—ketika ia memegang otoritas atas urusan mereka. Keadilan inilah yang belum pernah dikenal umat manusia sama sekali—dalam bentuknya yang demikian—kecuali di tangan Islam, kecuali dalam pemerintahan umat Islam, dan kecuali pada masa kepemimpinan Islam. Keadilan ini hilang sebelum dan sesudah kepemimpinan tersebut. Umat manusia sama sekali tidak merasakan keadilan dalam bentuk mulia seperti ini, yang diberikan kepada semua manusia karena mereka adalah “manusia”, bukan karena label tambahan lain di luar label yang menjadi milik bersama umat manusia ini!

Itulah dasar pemerintahan dalam Islam. Sebagaimana amanah—dengan setiap indikasinya—merupakan dasar kehidupan dalam masyarakat Islami.

Lainnya (Arsip)

Kepemimpinan dalam Alquran (4)

Tafsir Fi Zhilalil Qur”an

undefinedbersama Sayyid Qutb

Kamis, 07/05/2009 11:04 WIB | Arsip | Cetak

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (58) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58-59)

“Jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.”

Itulah ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasul, dan kepada Ulil Amri yang beriman dan menjalankan syari’at Allah dan Sunnah Rasul. Lalu perkara-perkara yang diperselisihkan itu dikembalikan kepada Allah dan Rasul. Semua ini adalah syarat iman kepada Allah dan Hari Akhir. Sebagaimana ia merupakan tuntutan iman kepada Allah dan Hari Akhir. Jadi, tidak ada iman sama sekali manakala syarat ini tidak terpenuhi. Tidak ada iman, dan pada gilirannya dampaknya yang pasti pun tidak mengikuti.

Setelah nash ini meletakkan masalah pada posisi kondisionalnya, maka sekali lagi nash menghadirkannya dalam bentuk “nasihat” dan motivasi, seperti yang dilakukannya terhadap perintah menunaikan amanah dan berlaku adil, yang kemudian disusul dengan nasihat dan motivasi.

“Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Yang demikian itu lebih baik bagi Anda, dan lebih baik akibatnya. Lebih baik di dunia, juga lebih baik di akhirat. Lebih baik akibatnya di dunia, juga lebih baik akibatnya di akhirat. Jadi, bukan hanya menggapai ridha Allah dan pahala akhirat—dan itu merupakan berkara yang sangat, tetapi mengikuti manhaj itu juga dapat mewujudkan kebaikan dunia dan akibat yang baik bagi individu dan jama’ah di kehidupan yang dekat ini.

Sesungguhnya manhaj ini berarti “seseorang” menikmati kelebihan-kelebihan manhaj yang diletakkan Allah baginya. Allah yang Maha Menciptakan, Mahabijaksana, Maha Mengetahui, Maha Melihat, Maha Mengenal. Manhaj yang terbebas dari kebodohan, hawa nafsu, kelemahan, dan syahwat manusia. Manhaj yang tidak mengandung nepotisme kepada satu individu, satu kelompok, satu bangsa, satu ras, satu generasi. Karena Allah adalah Rabb bagi semua orang. Allah Subhanah tidak terkontaminasi oleh keinginan memihak kepada satu individu, atau satu strata sosial, atau satu bangsa, atau satu ras, atau satu generasi.

Inilah manhaj yang di antara keistimewaannya adalah dibuat oleh yang menciptakan manusia, yang mengetahui hakikat fitrahnya dan kebutuhan-kebutuhan yang hakiki bagi fitrah ini. Sebagaimana Dia mengetahui seluk-beluk jiwanya, sarana-sarana untuk berbicara kepadanya dan memperbaikinya. Sehingga manusia tidak terjebak dalam kebingunan saat mencari manhaj yang sesuai, dan Allah swt. tidak membebani manusia dengan harga dari uji coba-uji coba yang keras. Sementara mereka terjebak dalam kebingunan tanpa petunjuk!

Cukuplah bagi mereka melakukan uji coba dalam bidang kreasi dan inovasi material sesuka hari, karena bidang tersebut sangat luas bagi akal manusia. Dan cukuplah bagi akal mereka untuk berusaha menerapkan manhaj ini, dan mengetahui letak-letak analogi dan ijtihad mengenai hal-hal yang diperselisihkan akal.

Inilah manhaj yang di antara keistimewaan adalah dibuat oleh Pencipta alam semesta tempat manusia tinggal. Jadi, Dia menjamin untuk manusia manhaj yang kaidah-kaidahnya sesuai dengan hukum alam. Sehingga manusia tidak perlu berkonflik dengan hukum alam, tetapi justeru berdampingan dengannya dan memanfaatkannya. Manhaj memberinya petunjuk tentang semua ini dan melindunginya.

Inilah manhaj yang di antara keistimewaannya adalah—selain memberinya petunjuk dan melindunginya—manhaj ini juga memuliakannya dan memberi ruang bagi akalnya untuk bekerja di dalam manhaj. Yaitu ruang ijtihad untuk memahami nash-nash yang ada, disusul dengan ijtihad untuk mengembalikan masalah yang tidak diredaksikan kepada nash-nash atau kepada prinsip-prinsip umum agama ini. Dan selain itu ada ruang yang orisinil bagi akal manusia, yaitu ruang penelitian ilmiah terhadap alam semesta dan ruang kreasi dan inovasi material.

“Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Sehabis menetapkan kaidah universal ini dalam syarat iman dan batasan Islam, juga dalam aturan pokok umat Islam, dan manhaj penetapan syari’at dan prinsip-prinsipnya, maka konteks beralih kepada orang-orang yang menyimpang dari kaidah ini, kemudian sesudah itu mereka mengklaim sebagai orang yang beriman! Padahal mereka melanggar syarat iman dan batasan Islam, karena mereka ingin bermahkamah kepada selain syari’at Allah, yaitu kepada Thaghut, padahal mereka diperintahkan untuk mengingkarinya.

Konteks beralih kepada mereka untuk memandang aneh sikap mereka. Juga untuk mengingatkan mereka dan orang-orang seperti mereka tentang keinginan setan untuk menyesatkan mereka. Konteks mendeskripsikan kondisi mereka ketika diajak mengikuti Allah dan Rasul-Nya lalu mereka menolak. Penolakan ini dianggap sebagai sikap hipokrit. Sebagaimana konteks menganggap keinginan mereka untuk bermahkamah kepada thaghut sebagai tindakan keluar dari iman—bahkan sejak awal dianggap tidak masuk ke dalamnya. Sebagaimana konteks menjelaskan alasan-alasan mereka yang lemah dan palsu untuk mengikuti langkah yang aneh ini, ketika bencana dan musibah ditimpakan pada mereka. Meski demikian, Rasulullah saw diinstruksikan untuk menasihati mereka. Dan penggal ini ditutup dengan penjelasan tentang tujuan Allah mengutus para Rasul.

Lainnya (Arsip)

QS Kepemimpinan



Kepemimpinan Menurut Al-Qur’an

Dalam suasana kepemimpinan yang tak jelas arahnya, tak jelas aturan
dan kreterianya, maka perlulah kita menyimak kembali petunjuk-petunjuk
dari Al-Qur’an. Paling tidak, mengambil aspirasi dari Al-Qur’an dan
tuntunan Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa).

Dalam suasana yang tak menentu ini, bisa jadi kursi kepemimpinan
mengantarkan kita pada kejahilan dan kesengsaraan, kezaliman dan
penindasan, kefakiran dan kemiskinan, kemaksiatan dan kehinaan, dan
lainnya. Mengapa tidak? Karena seorang pemimpin pemegang kendali gerak
kemana rakyat dan bangsa akan digulirkan, ke barat atau ke timur, ke
jurang atau kemuliaan, kesengsaraan atau kebahagiaan.

Kaidah rasional menjelaskan bahwa kepatuhan umat pada pemimpin yang
zalim akan menyebaban mereka digiring pada kesengsaraan dan kehinaan.
Ini telah dibuktikan dalam sepanjang sejarah manusia, dan akan
berulang pada kehidupan manusia berikutnya. Al-Qur’an menyebutkan,
kenyataan inilah yang menyebabkan turunnya bala’ dan malapetaka, dan
Allah swt layak menurunkan azab pada umat manusia.

Seorang pemimpin yang zalim, menyengsarakan kehidupan rakyat secara
lahir dan batin, ia dan para pendukung serta pemilihnya telah berada
pada titik murka Allah swt yang dosanya tak terampuni kecuali ia mampu
dan telah menghibur jerit-tangis batin rakyatnya, membahagiakan
kesengsaraan mereka; mengentaskan mereka dari kemiskinan dan
kefakiran, menyelamatkan mereka dari lembah kehinaan dan kemaksiatan
karena kemiskinan. Belum lagi dosa dan penentangan yang secara
langsung diarahkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah,
kepemimpinan adalah puncak segalanya: puncak kemuliaan sekaligus
puncak kehinaan, puncak keutamaan dan sekaligus puncak dosa.

Kepemimpinan dalam Al-Qur’an disebutkan dengan istilah Imamah,
pemimpin dengan istilah imam. Al-Qur’an mengkaitkan kepemimpinan
dengan hidayah dan pemberian petunjuk pada kebenaran. Seorang pemimpin
tidak boleh melakukan kezaliman, dan tidak pernah melakukan kezaliman
dalam segala tingkat kezaliman: kezaliman dalam keilmuan dan
perbuatan, kezaliman dalam mengambil keputusan dan aplikasinya.

Seorang pemimpin harus mengatahui keadaan umatnya, merasakan langsung
penderitaan mereka. Seorang pemimpin harus melebihi umatnya dalam
segala hal: keilmuan dan perbuatan, pengabdian dan ibadah, keberanian
dan keutamaan, sifat dan prilaku, dan lainnya.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa seorang pemimpin tidak pantas mendapat
petunjuk dari umatnya, seorang pemimpin harus berpengetahuan dan
memperoleh petunjuk sebelum umatnya. Bahkan Al-Qur’an menegaskan
seorang pemimpin harus mendapat petunjuk langsung dari Allah swt,
tidak boleh mendapat petunjuk dari orang lain atau umatnya.

Pemimpin dalam pandangan Al-Qur’an sebenarnya adalah pilihan Allah
swt, bukan pilihan dan kesepakatan manusia sebagaimana yang dipahami
dan dijadikan pijakan oleh umumnya umat Islam. Pilihan manusia membuka
pintu yang lebar untuk memasuki kesalahan dan kezaliman. Selain itu,
kesepakatan manusia tidak menutup kemungkinan bersepakat pada
perbuatan dosa, kemaksiatan dan kezaliman. Hal ini telah banyak
terbukti dalam sepanjang sejarah manusia.

Jika kita mau menengok pada Al-Qur’an, di situ jelas bahwa
kepemimpinan adalah puncak dari segalanya, kedudukan yang paling mulia
dan paling agung. Kedudukan ini dikaruniakan oleh Allah swt setelah
mendapat bermacam ujian yang berat dalam kehidupan. Mari kita kaji
ayat Al-Qur’an yang mengkisahkan penganugerahan kepemimpinan (imamah)
pada nabi Ibrahim (as). Allah swt berfirman:

وَ إِذِ ابْتَلى إِبْرَهِيمَ رَبُّهُ بِكلِمَتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ
إِنى جَاعِلُك لِلنَّاسِ إِمَاماً قَالَ وَ مِن ذُرِّيَّتى قَالَ لا
يَنَالُ عَهْدِى الظلِمِينَ‏

“Ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat,
lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ’Sesungguhnya Aku akan
menjadikanmu imam bagi seluruh manusia’. Ibrahim berkata: ‘(Saya mohon
juga) dari keturunanku’. Allah berfirman: ‘Janji-Ku ini tidak akan
mengenai orang-orang yang zalim’.” (Al-Baqarah: 124)

Berdasarkan kandungan makna ayat ini dan ayat-ayat lain yang berkait
dengannya dapatlah disimpulkan sebagai berikut:
Pertama: Kedudukan Imamah dikaruniakan oleh kepada nabi Ibrahim (as)
setelah ia diuji oleh Allah dengan bermacam ujian, antara lain
mendapat keturunan pada usia yang sangat tua, pengorbanan puteranya,
menghadapi kezaliman Namrud, dan lainnya.
Kedua: Kedudukan imamah dikaruniakan oleh kenabiannya, tidak
berbarengan.
Ketiga: Imamah bukan Nubuwah
Keempat: Doa nabi Ibrahim (as) sehubungan dengan pelanjut Imamah hanya
untuk keturunannya, mereka yang tidak pernah melakukan kezaliman.
Kelima: Imamah adalah kedudukan mulia yang telah ditetapkan oleh
wahyu.
Keenam: Imam harus ma’shum dengan ‘ishmah (penjagaan) Ilahi.
Ketujuh: Bumi tidak akan teratur tanpa seorang imam pembawa kebenaran
yang sejati.
Kedelapan: Imam adalah pilihan Allah, bukan hasil pilihan dan
kesepakatan manusia.
Kesembilan: Perbuatan manusia disaksikan langsung oleh ilmu sejati
Imam.
Kesepuluh: Imam harus mengetahui kebutuhan-kebutuhan manusia dalam
kehidupan dan spiritualnya.
Kesebelas: Tidak ada seorang pun yang dapat melebihi keutamaan-
keutamaan imam.
Kedua belas: seorang imam harus ma’shum, terjaga dari salah dan dosa.

Menurut ilmu logika tentang kezaliman manusia terbagi menjadi empat
golongan:
1. Orang yang berbuat kezaliman sepanjang hidupnya.
2. Orang yang tidak pernah berbuat kezaliman sepanjang hidupnya.
3. Orang yang berbuat kezaliman pada awal-awal hidupnya, tetapi tidak
pada akhir-akhir hidupnya.
4. Orang yang tidak berbuat kezaliman pada awal-awal hidupnya, tetapi
berbuat kezaliman pada akhir-akhir hidupnya.

Jadi doa nabi Ibrahim (as) tentang imamah hanya untuk keturunannya
yang tidak pernah berbuat kezaliman. Karena dengan kemuliaannya nabi
Ibrahim (as) tidak memohonkan kedudukan yang mulia untuk keturunannya
pada golongan pertama dan keempat. Adapun untuk golongan yang ketiga
telah ditiadakan oleh ayat-ayat yang berkait dengan petunjuk langsung.
Adapun mereka yang tidak memiliki garis keturunan dari nabi Ibrahim
(as) tidak termasuk ke dalam orang-orang yang didoakan dalam ayat ini,
dan tidak akan mampu meneruskan Imamah nabi Ibrahim (as).

Kesimpulan ini disarikan dari tafsir Al-Mizan, penjelasan secara lebih
detail klik di sini:
http://tafsirtematis.wordpress.com

Wassalam
Syamsuri Rifai

Foto tempat2 bersejarah Islami, Asbabun Nuzul ayat2 pilihan, hadis2
pilihan, amalan Praktis, bermacam2 shalat sunnah, doa-doa pilihan, dan
artikel-artikel Islami, klik di sini:
http://syamsuri149.wordpress.com
http://shalatdoa.blogspot.com

Kajian tafsir tematik:
http://tafsirtematis.wordpress.com

Audio musik2 ruhani (mp3), dilengkapi tek syair dan terjemahan, klik
di sini:
http://syamsuri149.multiply.com

Amalan praktis, Adab2 dan doa2 pilihan haji dan umroh dilengkapi tek
arab, bacaan tek latin dan terjemahan, klik di sini:
http://almushthafa.blogspot.com

Milis artikel2 Islami, macam2 shalat sunnah, amalan2 praktis dan doa-
doa pilihan serta eBooknya, klik di sini:
http://groups.google.com/group/keluarga-bahagia
http://groups.yahoo.com/group/Shalat-Doa

Milis Feng Shui Islami, rahasia huruf dan angka, nama dan kelahiran,
rumus2 penting lainnya, dan doa2 khusus, klik di sini:
http://groups.google.co.id/group/feng-shui-islami

Etika Timbal-balik Antara Pemimpin & Bawahan Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah yang Shahih

14/3/2007 | 26 Safar 1428 H |

Oleh: Aba AbduLLAAH


Kirim Print

Assalamu ‘alaykum,

Segala puji adalah hanya layak bagi ALLAH, kami memuji-NYA, meminta pertolongan kepada-NYA & meminta ampunan, dan kami berlindung dari keburukan hawa nafsu kami dan dari kejelekan amal-amal kami, barangsiapa diberi hidayah oleh ALLAH maka tiada yang dapat menyesatkannya & barangsiapa yang disesatkan ALLAH maka tiada yang dapat memberinya hidayah…

Dan kami bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali ALLAH, Yang Maha Esa & tiada sekutu bagi-NYA, dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah Nabi & rasul-NYA. Kamipun bersaksi sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabuLLAAH & sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi SAW, dan seburuk-buruk urusan adalah yang dibuat-buat, dan semua yang dibuat-buat itu adalah bid’ah & semua bid’ah adalah sesat & semua kesesatan adalah di neraka…

Ikhwah wa akhwat fiLLAAH a’anakumuLLAAHa jami’an,

Menyambut mulai masuknya sebagian du’at ke marhalah daulah & makin banyaknya ikhwah wa akhwat yang menduduki posisi-posisi penting dalam pemerintahan (baik eksekutif maupun legislatif), dan semakin hari semakin banyak amanah kekuasaan yang diujikan oleh ALLAH SWT untuk dipegang oleh para du’at dari harakah ini, maka ada beberapa dhawabith kepemimpinan Islam yang merupakan ashalah da’wah kita, yang hendaknya selalu dijaga & diperhatikan..

Agar dijadikan sebagai Ma’alim Fi Thariq (Rambu-rambu dalam Perjalanan), demikian kata Sayyid Quthb -ja’alahuLLAAHu syahidan- atau sebagai Nurun ‘ala Darb (Cahaya dalam Perjalanan), demikian kata Syaikh Ibni Baaz -rahimahuLLAAH-; sehingga kita tidak menjadi ghurur (lupa diri), ataupun terjadi tamyi’ (pengenceran) terhadap nilai-nilai dakwah ini saat mengemban amanah memimpin ummat ini insya ALLAH, aamiin ya RABB…

Oleh sebab itu ana berusaha membuat tulisan ini untuk mencoba menjelaskan secara singkat Etika Kepemimpinan dalam Islam, serta Etika yang Saling Timbal-Balik, apa yang harus dilakukan & dipenuhi oleh seorang qiyadah (baik qiyadah dakwah maupun qiyadatul ummah), dan apa saja yang wajib dipenuhi oleh seorang jundiyyah (baik junudu dakwah maupun junudu daulah), sehingga mudah-mudahan kita selalu berada di dalam jalur yang benar & berhak mengharapkan ridha ALLAH & Jannah kelak, sebagai pemimpin ummat yang adil yang paling pertama akan diberi naungan oleh ALLAH SWT di yaumil Mahsyar kelak, aamiin ya RABB…

Wa ufawwidhu amrii ilALLAAH innaLLAAHa bashiirun bil ‘Ibaad,

Abi AbduLLAAH

AL-ADAAB AL-MUTABAADILAH BAYNA AL-QIYAADAH WAL JUNDIYYAH FII DHAU’IL KITAABI WAS SUNNAH

(Etika Timbal-balik Antara Pemimpin & Bawahan Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah yang Shahih)

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya di Hari Kiamat kelak.[1]”

1. KEPEMIMPINAN DALAM LUGHAH:

a. Imam: Asal katanya ‘Amama’ karena ia: Berada di depan (amam), mengasuh (ummah), menyempurnakan (atammah), menenangkan (yanamma). Berkata Imam Al-Jauhary : Imam adalah orang yang memberi petunjuk (yuqtada)[2].

b. Amir: Yang memberi perintah (seperti dalam ayat : Amarna mutrafiha), juga sesuatu yang mengagumkan (seperti dalam ayat : laqad ji’ta syai’an imra)[3].

c. Waliyy: Dekat, akrab (Jalasa mimma yali=duduk dengan orang didekatnya); tempat memberikan loyalitas (ALLAHumma man waliya min amri ummati)[4].

d. Qadah/qiyadah: Penggiring ternak, orang yang memberi petunjuk, pemandu atau penunjuk jalan[5].

e. Khalifah: Para fuqaha’ mendefinisikannya sbg suatu kepemimpinan umum yg mencakup urusan keduniaan & keagamaan, sbgm yg dilakukan oleh Nabi SAW yg wajib dipatuhi oleh seluruh ummat Islam. Menurut Imam Al-Mawardi sama dengan al-Imamah, karena inilah asal dari kepemimpinan di masa Nabi SAW, yaitu untuk memimpin agama & keduniaan[6]. Menurut Ibnu Khaldun yaitu penanggungjawab umum dimana seluruh urusan kemaslahatan syari’at baik ukhrawiyyah maupun dunyawiyyah kembali kepadanya[7].

2. KEPEMIMPINAN DALAM AL-QUR’AN:

a. Memiliki Loyalitas yang Mutlak: “Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi Pemimpinnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.[8]”

b. Kuat & Amanah: “Berkata salah seorang diantara anaknya (Syu’aib) : Wahai ayahanda, jadikanlah ia sebagai pegawai, karena sebaik-baik pegawai adalah yang kuat lagi bisa dipercaya.[9]”

c. Sehat & Berilmu: “…Sesungguhnya ALLAH SWT telah memilihnya (Thalut) sebagai rajamu, karena ia memiliki kekuatan fisik dan berilmu. Sesungguhnya ALLAH memberikan kekuasaan-NYA kepada siapa yang dikehendaki-NYA, sesungguhnya IA Maha Luas (ilmu-NYA) lagi Maha Mengetahui.[10]”

d. Merupakan Ujian ALLAH SWT: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: Sesungguhnya AKU akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata: (Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zhalim.[11]“

e. Merupakan Tanda Ketaqwaan: “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.[12]”

3. KEPEMIMPINAN DALAM AS-SUNNAH:

a. Jujur dan Tidak Menipu: Nabi SAW melaknat pemimpin yang dipercaya untuk mengurus urusan ummat lalu ia malah menipu atau menyengsarakan mereka, sebagaimana dalam sabdanya SAW : “Ya ALLAH, siapa saja yang diberikan kekuasaan untuk mengurusi ummatku lalu ia menyengsarakan mereka, maka persulitlah ia. Dan siapa saja yang diberi kekuasaan lalu ia mempermudah mereka, maka mudahkanlah ia.[13]” Dan Islam menyatakan bahwa pemimpin yang tidak memperhatikan kebutuhan, kedukaan dan kemiskinan ummat maka ALLAH SWT tidak akan memperhatikan kebutuhan, kedukaan dan kemiskinannya pada Hari Kiamat kelak[14].

b. Adil & Amanah: Islam menempatkan pemimpin yang adil dan amanah dalam derajat manusia yang tertinggi, yang memperoleh berbagai penghargaan dan kehormatan. Diantaranya ia termasuk kelompok pertama yang dinaungi oleh ALLAH SWT diantara 7 kelompok utama yang dinaungi-NYA pada Hari Kiamat kelak[15]; Iapun akan berada di atas mimbar dari cahaya nanti di Hari Kiamat[16]; Dan pemimpin yang demikianlah yang akan senantiasa dicintai dan didoakan oleh rakyatnya karena kebijaksanaannya memimpin rakyatnya[17]; Sehingga dalam salah satu haditsnya, nabi SAW sampai menyatakan bahwa pemimpin yang demikian termasuk 3- golongan manusia yang paling utama dan paling berhak masuk Jannah, disamping orang yang lembut dan penyayang pada keluarganya dan orang miskin yang menjaga dirinya dari meminta-minta[18].

c. Tidak Wajib Taat pada Pemimpin yang Memerintahkan Maksiat: Oleh karena itu di dalam Islam pemimpin yang memiliki sifat-sifat sebagaimana disebutkan diataslah yang berhak dan wajib untuk ditaati (Tafsir QS An-Nisaa’, 4:59), syarat taat pada pemimpin dalam ayat tersebut adalah mu’allaq/tergantung pada apakah ia taat pada ALLAH SWT dan Rasul SAW atau tidak, dimana cirinya adalah ia senantiasa kembali kepada ALLAH SWT dan rasul-NYA SAW jika terjadi perbedaan pendapat ataupun perselisihan) dan bukan pemimpin yang memiliki sifat sebaliknya, jika ia memiliki sifat sebaliknya maka tidak wajib sama sekali untuk didengar dan ditaati[19].

d. Tidak ada Batasan Ras/Kebangsaan: Tentang siapa pemimpin itu Islam tidak membatasi ia dari ras dan kelompok apapun, asal mengikuti dan menegakkan syariat maka wajib ditaati, sekalipun ia adalah seorang yang berkulit sangat hitam yang kepalanya bagaikan kismis (saking hitamnya)[20]. Kendatipun demikian, afdhal memilih pemimpin disesuaikan dengan suku/kebangsaan rakyat yg dipimpinnya[21].

e. Pemimpin Wajib Memilih Bawahan yang Jujur: Seorang pemimpin yang adil tentunya akan memilih pembantu-pembantu, wakil-wakil dan menteri-menteri yang adil pula. Tidak mungkin seorang yang baik (tanpa keterpaksaan) akan mengangkat atau memilih wakil dan menteri yang merupakan para musuh ALLAH SWT, seperti para koruptor, kaum oportunis apalagi para kolaborator asing[22]. Benarlah pernyataan pemimpin abadi kita nabi Muhammad SAW : “Jika ALLAH SWT menghendaki kebaikan kepada seorang penguasa, maka IA akan memberikan untuknya menteri-menteri yang jujur, (yaitu) yang jika ia khilaf maka selalu mengingatkan dan jika ia ingat maka selalu dibantu/didorong. Dan jika ALLAH SWT menghendaki keburukan kepada seorang penguasa, maka IA akan memberikan untuknya para menteri yang jahat. Jika penguasa itu lupa, maka tidak diingatkan dan jika ia ingat maka tidak didorong/dibantu.[23]”

4. KEWAJIBAN TAAT PADA PEMIMPIN YANG ISLAMI:

a. Wajib Taat pada Pemimpin yang Islami: Bersabda Nabi SAW : “Barangsiapa yg taat kepadaku maka ia telah taat kepada ALLAH, dan barangsiapa yg tidak taat kepadaku maka berarti tidak taat kepada ALLAH. Barangsiapa yg taat kepada Pimpinan (yg nyunnah) maka berarti ia telah taat kepadaku, dan barangsiapa yg tidak taat kepada pimpinan (yg nyunnah) maka berarti ia telah tidak taat kepadaku.[24]”

b. Ketaatan tersebut tetap Berlaku Walaupun Di Satu Sisi Seolah Mengorbankan Kepentingan sebagian Rakyatnya: Dari Abu Hunaidah, Wa’il bin Hajar ra berkata : Bertanya Salmah bin Yazid al-Ju’fiy pd Rasulullah SAW : Wahai Nabi Allah … bgm pendptmu jk ada seorg pemimpin yg selalu meminta ketaatan dari kami tapi tidak memberikan hak kami, apa yg anda perintahkan pd kami ? Maka Rasulullah SAW memalingkan wajahnya, mk Salmah bertanya lagi yg kedua kali, maka jawab Rasulullah SAW : Dengarlah oleh kalian semua dan taatilah ia, karena bagi kalian pahala ketaatan kalian dan baginya dosa ketidakadilannya.[25]”

c. Dosanya Memisahkan Diri dari Ketaatan pada Pimpinan yang Islami: Bersabda Nabi SAW : “Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan, maka ia kelak akan bertemu dengan ALLAH SWT tanpa dapat mengemukakan argumentasi apapun.[26]” Dalam hadits lainnya: “Barangsiapa meninggalkan ketaatan lalu memisahkan dirinya dari Jama’ah lalu ia meninggal maka ia mati Jahiliyyah.[27]” Perhatikan baik-baik dalam hadits tersebut disebutkan Al-Jama’ah, yg maksudnya Jama’ah Islam, bukan sembarang pemerintahan, (lihat pula judul bab pada takhrij hadits tersebut di dalam Shahih Muslim).

5. BENTUK-BENTUK KETAATAN:

a. Mendengarkan dan memahami perintah dengan sebaik-baiknya, memohon penjelasan sampai jelas kemudian melaksanakannya dengan tidak menunda-nunda dan dengan sebaik-sebaiknya. Lihat kisah Ali bin Abi Thalib ra dalam perang Khaibar dalam Shahih Bukhari[28].

b. Melipatgandakan kesabaran saat melaksanakan perintah tersebut, ikhlas dan tidak menguranginya atau menambahinya sedikitpun. Lihat kisah Jundub bin Makits al-Juhni saat dalam Sariyah[29].

c. Melaksanakan dengan segera perintah tersebut, walaupun tidak sesuai dengan pendapatnya atau berbeda dengan keinginannya, lihat kisah Hudzaifah bin Yaman saat perang Ahzab[30].

d. Saling memberi dan menerima nasihat. Lihat kisah Umar bin Khattab ra saat perjanjian Hudhaibiyyah dengan Nabi SAW & Abubakar ra[31].

e. Meminta izin dalam setiap urusan pentingnya atau sebelum mengambil keputusannya[32].

WaLLAAHu a’lamu bish Shawaab…

Catatan Kaki:

[1] HR Bukhari, XXII/43 no. 6605; Muslim, IX/352 no. 3408

[2] Lisanul Arab, Ibnu Manzhur, XII/22

[3] Lisanul Arab, III/370

[4] Ash-Shihah fil Lughah, Al-Jauhary, I/22

[5] Al-Qamus Al-Fiqhi, I/388

[6] Al-Ahkam as-Sulthaniyyah, Al-Mawardi, hal.3

[7] Al-Muqaddimmah, Ibnu Khaldun, hal.180

[8] QS Al-Maidah, 5/55-56

[9] QS Al-Qashshash, 28/26

[10] QS Al-Baqarah, 2/247

[11] QS Al-Baqarah, 2/124

[12] QS Al-Furqan, 25/74

[13] HR Muslim no. 1828

[14] HR Abu Daud no. 2948; Tirmidzi no. 1332; al-Hakim IV/93-94; menurut Imam al-Mundziri sanad-nya shahih karena ada syahid dari hadits Muadz ra yang diriwayatkan oleh Ahmad V/238-239.

[15] HR Bukhari II/119 dan 124; Muslim no. 1031

[16] HR Muslim no. 1827; Nasa’i VIII/221; Ahmad II/160

[17] HR Muslim no. 1855

[18] HR Muslim no. 2865

[19] Bukhari XIII/109; Muslim no. 1839; Abu Daud no. 2626; Tirmidzi no. 1707; Nasa’i VII/160

[20] HR Bukhari XIII/108

[21] HR Bukhari, XXII/44, bab Al-Umara’u min Quraisy; Muslim, IX/333-338

[22] QS Al-Mumtahanah, 60:1

[23] HR Abu Daud no. 2932, dengan sanad yang baik menurut syarat Muslim; juga Nasa’i VII/159 dengan sanad yang shahih

[24] HR Bukhari, kitab al-Jihad, bab Yuqatilu min Wara’il Imam, juz-IV, hal.61

[25] HR Muslim, bab Fi Tha’atil Umara’ wa in Mana’u, IX/384

[26] HR Muslim, IX/393

[27] HR Muslim, kitab al-Imarah, bab Wujub Mulazamatin Jama’atil Muslimin ‘Inda Zhuhuril Fitan, juz-III hal.1476

[28] Fathul Bari’ , Ibnu Hajar, IV/57,58; V/22,23,171

[29] Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, IV/222,223

[30] Shahih Muslim, III/1414, 1415; Musnad Ahmad, V/392,393

[31] Sirah Nabawiyyah, Ibnu Katsir , III/218, 319

[32] QS An-Nur, 24/62

Naskah Terkait Sebelumnya:

Dipublikasikan pada 14/3/2007 / 26 Safar 1428 H, dalam rubrik Tsaqafah Islamiyah.

27
Aug
11

Krisis Libya : Runtuhnya Rezim Khadafi

Gaddafi Dikepung

Sabtu, 27 Agustus 2011 02:08 WIB |

Pemberontak Kepung Gaddafi dan Pembantunya

Tripoli (ANTARA News) – Seorang menteri di Dewan Transisi Nasional Libya (NTC) mengatakan, Jumat, pasukan pemberontak mengepung sebuah daerah Tripoli dimana Muammar Gaddafi dan rombongannya bersembunyi.

Pemberontak mengawasi keberadaan orang-orang itu sebelum berusaha menangkap mereka, katanya.

“Daerah tempat ia kini berada telah dikepung,” kata Menteri Kehakiman Mohammed al-Alagi kepada Reuters. “Pemberontak mengawasi daerah itu dan sedang mengurusnya.”

Alagi, seorang pengacara yang mengatakan ia datang ke Tripoli untuk membentuk “otoritas hukum” baru, menolak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai keberadaan Gaddafi.

Sejumlah pejabat lain pemberontak mengatakan, mereka yakin tokoh kuat Libya yang telah jatuh itu bersembunyi di daerah Abu Salim di Tripoli selatan — sebuah daerah yang dilanda bentrokan-bentrokan dalam beberapa hari ini.

Pemberontak menyatakan sebelumnya pekan ini bahwa mereka berpendapat Gaddafi telah tersudut, namun laporan-laporan ini kemudian terbukti tidak tepat atau terlalu dini.

Pemimpin Libya yang berkuasa puluhan tahun itu kini menjadi buronan, hidup atau mati.

Para pengusaha Libya menawarkan hadiah dua juta dinar (1,67 juta dolar) bagi penangkapan Muammar Gaddafi, hidup atau mati, kata ketua kelompok pemberontak Dewan Transisi Nasional (NTC), Rabu.

“NTC mendukung prakarsa pengusaha yang menawarkan hadiah dua juta dinar bagi penangkapan Muammar Gaddafi, hidup atau mati,” kata ketua NTC Mustafa Abdel Jalil pada jumpa pers di Benghazi.

Abdel Jalil, mantan menteri kehakiman Gaddafi yang membelot setelah meletusnya pemberontakan pada pertengahan Februari, juga menawarkan amnesti kepada “anggota-anggota lingkaran dekat (Gaddafi) yang membunuhnya atau menangkapnya”.

“Gaddafi telah memainkan politik adu domba di daerah-daerah ini dengan mengatakan kepada penduduk bahwa pemberontak akan datang dan mengambil wanita serta uang mereka. Mereka tidak boleh mempercayai kebohongan yang dibuat penguasa kejam ini,” katanya.

Gaddafi, yang keberadaannya hingga kini tidak diketahui, menawarkan hadiah bagi penangkapan Abdel Jalil pada Maret, setelah ia bergabung dengan pemberontak di markas mereka di Benghazi, Libya timur.

Gaddafi (68) adalah pemimpin terlama di dunia Arab dan telah berkuasa selama empat dasawarsa. Gaddafi bersikeras akan tetap berkuasa meski ia ditentang banyak pihak.

Negara-negara besar yang dipelopori AS, Prancis dan Inggris membantu mengucilkan Gaddafi dan memutuskan pendanaan dan pemasokan senjata bagi pemerintahnya, sambil mendukung dewan pemberontak dengan tawaran-tawaran bantuan.

NTC, yang mengatur permasalahan kawasan timur yang dikuasai pemberontak, sejauh ini melobi keras untuk pengakuan diplomatik dan perolehan dana untuk mempertahankan perjuangan berbulan-bulan dengan tujuan mendongkel pemimpin Libya Muammar Gaddafi.

Kelompok pemberontak telah memasuki Tripoli dan kejatuhan rejim Gaddafi di ambang pintu.

Aktivis pro-demokrasi di sejumlah negara Arab, termasuk Libya, terinspirasi oleh pemberontakan di Tunisia dan Mesir yang berhasil menumbangkan pemerintah yang telah berkuasa puluhan tahun. (M014/K004)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2011

  • Pemberontak siapkan pertempuran terakhir di Libya barat

    Jumat, 26 Agustus 2011 18:51 WIB

    Kaum pemberontak bersiap Jumat untuk apa yang mereka perkirakan sebagai pertempuran besar terakhir di Libya bagian barat — mematahkan kepungan tentara Moamer Gaddafi terhadap kota Zuwarah dan membuka jalan Tripoli-Tunisia..

  • Pemerintah Pantai Gading akui Dewan Transisi Nasional Libya

    Jumat, 26 Agustus 2011 15:56 WIB

    Menteri Luar Negeri Pantai Gading Daniel Kablan Duncan Kamis mengumumkan keputusan pemerintahnya untuk mengakui Dewan Transisi Nasional (NTC) sebagai “wakil sah rakyat Libya dan bertanggungjawab membimbing transisi politik di Libya.” Duncan mengatakan bahwa pemerintahnya telah meminta NTC ….

  • Gerilyawan: bentrokan tewaskan lebih dari 20.000 orang di Libya

    Jumat, 26 Agustus 2011 07:11 WIB

    Lebih dari 20.000 orang telah tewas di Libya, sejak konflik meletus pada Februari di negara Afrika Utara itu, kata pemimpin gerilyawan Mustafa Abdel Jalil, Kamis (25/8)..

  • Chavez : kedutaan Venezuela di Tripoli dirampok

    Kamis, 25 Agustus 2011 22:14 WIB

    Presiden Venezuela Hugo Chavez pada Rabu menyatakan kedutaan Venezuela di Tripoli diserang dan benar-benar dirampok serta menuntut bahwa duta besar dan pegawainya dilindungi..

  • Pemberontak Libya upayakan bantuan lima miliar dolar

    Kamis, 25 Agustus 2011 20:45 WIB

    Dewan Transisi Nasional (NTC) pemberontak Libya mengupayakan lima miliar dolar sebagai bantuan darurat dari aset-aset Libya yang dibekukan pada pertemuan dengan perwakilan asing Rabu, kata delegasi NTC..

  • Pasukan pro-gaddafi kepung Zuwarah

    Kamis, 25 Agustus 2011 09:40 WIB

    Pasukan yang setia kepada pemimpin Libya Muamar Gaddafi mengepung kota kecil yang dikuasai pemberontak, Zuwarah, di sebelah barat Tripoli, kata beberapa komandan pemberontak Rabu (24/8)..

  • Wartawan asing akhirnya dibebaskan

    Kamis, 25 Agustus 2011 09:25 WIB

    Semua wartawan asing yang diperangkap di hotel Rixos di ibu kota Libya, Tripoli, dibebaskan pada Rabu (24/8), dan tak seorang pun cedera, demikian laporan media..

  • KBRI Tunis evakuasi WNI dari Tripoli

    Kamis, 25 Agustus 2011 09:16 WIB

    Tim Evakuasi KBRI Tunis yang bertugas memantau perkembangan keadaan di Libya dan membantu evakuasi WNI telah berhasil menghubungi beberapa TKW yang berada di Libya, setelah beberapa waktu sebelumnya kontak dengan TKW terputus..

Qadafi Terkepung

Sabtu, 27 Agustus 2011 03:01 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, TRIPOLI– Seorang menteri di Dewan Transisi Nasional Libya (NTC) mengatakan, Jumat, pasukan pemberontak mengepung sebuah daerah Tripoli. Di tempat ini mereka mengklaim Muammar Gaddafi dan rombongannya bersembunyi.

Pemberontak mengawasi keberadaan orang-orang itu sebelum berusaha menangkap mereka, katanya. “Daerah tempat ia kini berada telah dikepung,” kata Menteri Kehakiman Mohammed al-Alagi. “Pemberontak mengawasi daerah itu dan sedang mengurusnya.”

Alagi, seorang pengacara yang mengatakan ia datang ke Tripoli untuk membentuk “otoritas hukum” baru, menolak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai keberadaan Gaddafi.

Sejumlah pejabat lain pemberontak mengatakan, mereka yakin tokoh kuat Libya yang telah jatuh itu bersembunyi di daerah Abu Salim di Tripoli selatan — sebuah daerah yang dilanda bentrokan-bentrokan dalam beberapa hari ini.

Pemberontak menyatakan sebelumnya pekan ini bahwa mereka berpendapat Gaddafi telah tersudut, namun laporan-laporan ini kemudian terbukti tidak tepat atau terlalu dini. Pemimpin Libya yang berkuasa puluhan tahun itu kini menjadi buronan, hidup atau mati.

Para pengusaha Libya menawarkan hadiah dua juta dinar (1,67 juta dolar) bagi penangkapan Muammar Gaddafi, hidup atau mati, kata ketua kelompok pemberontak Dewan Transisi Nasional (NTC), Rabu.

Gaddafi, yang keberadaannya hingga kini tidak diketahui, menawarkan hadiah bagi penangkapan Abdel Jalil pada Maret, setelah ia bergabung dengan pemberontak di markas mereka di Benghazi, Libya timur.

Gaddafi (68) adalah pemimpin terlama di dunia Arab dan telah berkuasa selama empat dasawarsa. Gaddafi bersikeras akan tetap berkuasa meski ia ditentang banyak pihak.

Redaktur: Stevy Maradona
Sumber: Antara

Jumat, 26/08/2011 17:20 WIB

Vila Khadafi

Novi Christiastuti Adiputri – detikNews

Villa Supermewah Khadafi Berisi 40 Kamar, Warga Libya Marah


dailymail.co.uk Benghazi – Setelah kediaman Muammar Khadafi di Tripoli dikuasai pemberontak, kediaman lain milik diktator 72 tahun ini tak luput dari amuk warga Libya. Terungkap kemewahan berlebihan dalam vila Khadafi di Kota Benghazi.

Selama ini warga Libya tak pernah mengetahui seperti apa persisnya kondisi di dalam kediaman pemimpinnya selama 4 dekade ini. Kini, seminggu setelah penjaga kediaman Khadafi di Bukit Al Bayda, Benghazi, melarikan diri, warga pun menyambangi ‘istana’ tersebut. Demikian seperti dilansir dailymail.co.uk, Jumat (26/8/2011).

Sebuah vila megah yang memiliki 40 kamar, lengkap dengan kolam renang, lapangan basket dan taman hijau yang luas terletak di atas bukit dengan udara sejuk cukup menggambarkan ketenangan tempat peristirahatan milik Khadafi ini. Sungguh berbeda dengan suasana kacau balau yang ada di sebagian besar wilayah Libya.

Halaman yang luas dengan pemandangan laut mengingatkan akan suasana pedesaan di Inggris. Terlebih dengan adanya pepohonan, semak-semak, dan padang rumput hijau yang luas ditambah hembusan angin dan kicauan burung.

Sungguh miris jika dibandingkan dengan kondisi rakyat Libya yang ada di luar kediaman ini. Sebagian besar warga Libya bahkan tak memiliki tempat tinggal yang layak. Warga yang menyambangi vila Khadafi pun melampiaskan amarahnya dengan menjarah barang-barang yang ada dan membakar sejumlah ruangan.

Kondisi vila Khadafi ini pun porak-poranda seperti dirampok habis-habisan. Berbagai perabotan mewah milik Khadafi hancur, perapian mewah dengan motif emas dan tembaga hangus, lampu hias mewah juga rusak terkena kebakaran.

Tak hanya itu, di halaman kediaman mewah ini juga terdapat bunker bawah tanah. Dengan pintu masuk setebal 99 cm yang antiledakan, terdapat terowongan bawah tanah beserta kamar-kamar dan gua-gua penyimpanan berbagai peralatan.

Bunker ini tak kalah mewah, di mana terdapat 7 kamar tidur yang 3 di antaranya kamar suite sekelas hotel, serta sebuah dapur yang luas. Bunker ini memiliki segalanya untuk mempertahankan hidup selama berbulan-bulan, terputus dari dunia luar.

Dalam satu ruangan bahkan terdapat meja pijat dengan alas yang empuk. Bahkan, di kamar mandi utama terdapat sebuah bathub dengan tombol-tombol khusus, yang dimungkinkan untuk memanggil pelayan.

Bunker ini juga dilengkapi dengan sistem pendukung kehidupan yang sangat canggih. Lengkap dengan adanya pembangkit listrik dan alat penyaring udara yang dirancang memasok udara segar di dalam bunker tersebut, bahkan dalam kondisi terkena senjata kimia sekali pun.

Tak lupa, terdapat juga lorong-lorong untuk melarikan diri yang ada di sepanjang terowongan bawah tanah, mengarah ke segala penjuru wilayah pedesaan di pinggiran Libya.

Melihat hal ini untuk pertama kalinya, sejumlah warga Libya memiliki beragam tanggapan. Seorang mahasiswa bernama Abdul Karim (22) mengaku marah melihat betapa borosnya Khadafi selama ini.

“Bayangkan jika dia menghabiskan uang yang sama bagi rakyat, untuk pembangunan rumah dan sekolah. Melihat hal ini membuatku marah, ketika begitu banyak orang-orang di luar sana tidak memiliki rumah yang layak,” ujarnya.

Sementara itu, seorang insinyur bernama Taha Arabia (58) hampir menitikkan air mata melihat semua ini. “Saya tidak percaya, saya bisa berdiri di sini melihat semua ini. Tidak ada seorang pun yang bisa mendekati tempat ini, apalagi melihat isinya. Dia hidup mewah, sedangkan rakyatnya hidup di selokan. Kita tidak punya apa pun,” kecamnya.

(nvc/nrl)

Baca Juga

Jumat, 26/08/2011 12:46 WIB

Bunker Khadafi

Novi Christiastuti Adiputri – detikNews

Bunker Khadafi Full AC, Dilengkapi Logistik Makanan & Masker Anti Gas


Foto: BBC Tripoli – Pasukan pemberontak mengklaim berhasil menguasai markas pesembunyian Muammar Khadafi di Tripoli, Libya. Mereka bahkan berhasil menerobos bunker rahasia Khadafi di Bab al-Azizia dan menemukan labirin terowongan bawah tanah.

Demikian seperti dilansir dailymail.co.uk, Jumat (26/8/2011). Pasukan pemberontak besenjata, berhasil menerobos masuk ke dalam terowongan bawah tanah yang menghubungkan markas persembunyian Khadafi. Dengan bersenjatakan AK47, mereka mendobrak pintu, merubuhkan dinding terowongan yang dilengkapi pendingin ruangan tersebut.

Di sepanjang terowongan yang berbentuk seperti labirin tersebut, para pemberontak berhasil menemukan bunker-bunker yang berisi berbagai macam barang, seperti logistik makanan, tempat tidur plus kasur dan masker anti gas. Dari kondisi bunker, nampaknya Khadafi telah lebih dulu melarikan diri melalui terowongan tersebut.

Dalam setiap bunker dilengkapi pendingin ruangan dan saluran telepon. Diduga tempat ini menjadi tempat perencanaan aksi Khadafi selama krisis Libya berlangung.

Dalam tayangan yang disiarkan Al Jazeera, terlihat para pemberontak yang bergerak hati-hati menerobos terowongan tersebut di kegelapan. Mereka membuka pintu-pintu bunker yang berat dan menemukan berbagai ventilasi di setiap sudut terowongan.

Menariknya, para pemberontak dan warga Libya tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menjarah berbagai barang-barang lain yang ditemukan dari dalam bunker tersebut. Barang-barang yang dijarah sangat bermacam. Mulai dari barang keseharian seperti sepeda olahraga, sepeda anak-anak, karpet, mainan dan boneka, hingga sebuah truk pelontar roket yang juga ditemukan di dalam bunker Khadafi tersebut.

Pada Kamis (25/8) malam waktu setempat, pasukan pemberontak berusaha keras untuk menemukan Khadafi yang kini menjadi orang paling dicari di Libya itu. Selain di markas Bab al-Azizia, pemberontak juga berhasil mengepung kompleks apartemen di wilayah Abu Salim, yang diyakini menjadi tempat persembunyian Khadafi dan anak-anaknya.

Sekitar 1.000 personel pemberontak bersenjata sempat terlibat baku tembak dengan pasukan loyalis Khadafi di kompleks tersebut. Tiga gedung pun terbakar dalam aksi baku tembak tersebut. Sembilan anggota pasukan loyalis Khadafi dan belasan anggota pasukan pemberontak pun tewas. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan Khadafi dan keluarganya di kompleks tersebut.

Al Jazeera bahkan melaporkan bahwa semalam pasukan pemberontak berhasil menguasai markas Badan Intelijen Libya. Sejumlah dokumen penting dan rahasia berhasil didapatkan dan diamankan.

(nvc/nrl)

26
Aug
11

Kepemimpinan : QS Lingkungan Hidup

QS Lingkungan Hidup

Peduli Memakmurkan Bumi (Mamuyu Hayuning Bawono)

QS (11) : 61

Dia menciptakan kami dari tanah dan menjadikan kamu memakmurkannya

QS (26) : 183

Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan

QS (7) : 56

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memper-baikinya

Peduli Kebumian

QS (41) : 9-10,

Katakanlah : “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adalah sekutu2 bagi-Nya ? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam” Dan dia menciptakan di bumi itu gunung2 yang kokoh diatasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan2 (penghuni2) nya dalam empat masa sesuai bagi segala yang memerlukannya.

QS (78) : 6-7,

Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan ? Dan gunung2 sebagai pasak ?

QS (31) : 10,

Dan Dia meletakkan gunung2 di permukaan bumi supaya bumi itu tidak menggoncangkan kamu

QS (79) : 29-30,

Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya

QS (27) : 88

Dan kamu lihat gunung2 itu, kamu sangka dia tetap ditempatnya, padahal dia (gunung2 itu) berjalan seperti jalannya mendung.

Peduli Tata Air Bumi

QS (24) : 43,

Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian Ia menggabungkan diantara awan2 itu, kemudian Ia menjadikannya ber-tumpuk2, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah2-nya, dan Allah juga menurunkan (butiran2) es dari langit, yaitu dari gumpalan2 awan seperti gunung2, maka ditimpakan-Nya (butir2-an) es itu kepada siapa yang dikehendakiNya dan dipalingkan dari siapa yang dikehendakiNya. Kilauan kilat awan itu hampir2 menghilangkan penglihatanmu.

QS (39) : 21,

Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah menurunkan air dari langit, kemudian dimasukkan-Nya di sumber2 dalam bumi kemudian ditumbuhkanNya dengan air tanaman yang ber-macam2 warnyanya

QS (56) : 68-69,

Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya ?

QS (25) : 53,

Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir berdampingan, yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit, dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.

QS (55) :19-20,

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing2

QS (35) : 12,

Dan tiada sama dua lautan. Yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dari masing2 lautan itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu pakai, dan pada masing2-nya kamu lihat kapal2 berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur

QS (42) : 32

Dan di antara tanda2 kekuasaan-Nya ialah kapal2 yang berlayar di laut seperti gunung2

Peduli Atmosfeer Bumi

QS (6) : 125

Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, se-olah2 ia sedang mendaki langit

QS (21) : 32

Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda2 (kekuasaan) Allah yang terdapat padanya

QS (22) : 65

Dan Ia menahan benda2 langit agar tidak menimpa bumi kecuali dengan izin-Nya

QS (56) : 4-6

Apabila bumi digoncangkan se-dahsyat2-nya dan gunung2 dihancurkan selumat-nya, maka jadilah ia dengan yang beterbangan

QS (14) : 48

Pada hari itu bumi diganti dengan yang lain, begitu pula langit; dan mereka semua menghadapi Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa

QS (69) : 13-16

Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan bumi serta gunung2 diangkat lalu dibenturkan mereka sekali bentur. Maka datanglah kejadian yang dahsyat, dan terbelahlah langit karena pada hari itu langit menjadi lemah

QS (82) : 1-5

Apabila langit terbelah dan apabila komet2 berjatuhan, dan apabila samudera menjadi meluap, dan apabila yang terpendam terbongkar ke luar, maka tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah didahulukannya dan apa yang dilalaikannya

QS (99) : 1-3

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat) dan bumi mengeluarkan bebannya yang berat dikandungnya) dan manusia bertanya : Mengapa bumi (jadi begini) ?

QS (75) : 6-12

Ia bertanya : Bilakah hari kiamat itu ? Maka apabila mata terbelalak (ketakutan) dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata : Kemana tempat lari. Se-kali2 tidak ! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.

QS (39) : 68-69

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang berada di langit dan di bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba2 bangkitlah mereka menunggu (putusan masing2). Dan terang benderanglah bumi dengan cahaya Tuhannya, dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing2) dan didatangkanlah para Nabi dan saksi2, dan diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan

Peduli Tanah

QS (23) : 18

Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran tertentu

QS (13) : 4

Dan di bumi terdapat bidang2 tanah yang berlainan meskipun berdampingan, dan ada kebun2 anggur, dan ladang2 yang ditebari biji2 dan pohon palma yang tumbuh dari akar tunggang atau berlainan, diairi dengan air yang sama tetapi sebagian Kami jadikan lebih untuk dimakan dari yang lain

Jakarta Selatan, 25 Agustus 2011

Pustaka Majelis KAUMAN

Pandji R Hadinoto / HP : 0817 983 4545

Browse posts similar to yours:

Bab 7
Ayat-ayat al-Qur’an tentang Kelestarian Lingkungan

A. Surat Ar Rum [30] ayat 41-42 tentang Larangan Membuat Kerusakan di Muka Bumi

Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah : Adakanlah perjalanandimuka bumi dan perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS Ar Rum : 41-42)
Isi kandungan
Selain untuk beribadah kepada Allah, manusia juga diciptakan sebagai khalifah dimuka bumi. Sebagai khalifah, manusia memiliki tugas untuk memanfaatkan, mengelola dan memelihara alam semesta. Allah telah menciptakan alam semesta untuk kepentingan dan kesejahteraan semua makhluk-Nya, khususnya manusia.
Keserakahan dan perlakuan buruk sebagian manusia terhadap alam dapat menyengsarakan manusia itu sendiri. Tanah longsor, banjir, kekeringan, tata ruang daerah yang tidak karuan dan udara serta air yang tercemar adalah buah kelakuan manusia yang justru merugikan manusia dan makhluk hidup lainnya.
Islam mengajarkan agar umat manusia senantiasa menjaga lingkungan. Hal ini seringkali tercermin dalam beberapa pelaksanaan ibadah, seperti ketika menunaikan ibadah haji. Dalam haji, umat Islam dilarang menebang pohon-pohon dan membunuh binatang. Apabila larangan itu dilanggar maka ia berdosa dan diharuskan membayar denda (dam). Lebih dari itu Allah SWT melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi
Tentang memelihara dan melestarikan lingkungan hidup, banyak upaya yang bisa dilakukan, misalnya rehabilitasi SDA berupa hutan, tanah dan air yang rusak perlu ditingkatkan lagi. Dalam lingkungan ini program penyelamatan hutan, tanah dan air perlu dilanjutkan dan disempurnakan. Pendayagunaan daerah pantai, wilayah laut dan kawasan udara perlu dilanjutkan dan makin ditingkatkan tanpa merusak mutu dan kelestarian lingkungan hidup.
B. Surah Al A’raf [7] Ayat 56-58 tentang Peduli Lingkungan

Artinya : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahma Nya (hujan) hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu. Maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami)bagi orang-orang yang bersyukur.” (QS Al A’raf : 56-58)
Isi Kandungan
Bumi sebagai tempat tinggal dan tempat hidup manusia dan makhluk Allah lainnya sudah dijadikan Allah dengan penuh rahmat-Nya. Gunung-gunung, lembah-lembah, sungai-sungai, lautan, daratan dan lain-lain semua itu diciptakan Allah untuk diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh manusia, bukan sebaliknya dirusak dan dibinasakan
Hanya saja ada sebagian kaum yang berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka tidak hanya merusak sesuatu yang berupa materi atau benda, melainkan juga berupa sikap, perbuatan tercela atau maksiat serta perbuatan jahiliyah lainnya. Akan tetapi, untuk menutupi keburukan tersebut sering kali mereka menganggap diri mereka sebagai kaum yang melakukan perbaikan di muka bumi, padahal justru merekalah yang berbuat kerusakan di muka bumi
Allah SWT melarang umat manusia berbuat kerusakan dimuka bumi karena Dia telah menjadikan manusia sebagai khalifahnya. Larangan berbuat kerusakan ini mencakup semua bidang, termasuk dalam hal muamalah, seperti mengganggu penghidupan dan sumber-sumber penghidupan orang lain (lihat QS Al Qasas : 4).
Allah menegasakan bahwa salah satu karunia besar yang dilimpahkan kepada hamba-Nya ialah Dia menggerakkan angin sebagai tanda kedatangan rahmat-Nya. Angin yang membawa awan tebal, dihalau ke negeri yang kering dan telah rusak tanamannya karena tidak ada air, sumur yang menjadi kering karena tidak ada hujan, dan kepada penduduk yang menderita lapar dan haus. Lalu Dia menurunkan hujan yang lebat di negeri itu sehingga negeri yang hampir mati tersebut menjadi subur kembali dan penuh berisi air. Dengan demikian, Dia telah menghidupkan penduduk tersebut dengan penuh kecukupan dan hasil tanaman-tanaman yang berlimpah ruah.

C. Surat Sad [38] Ayat 27 tentang Perbedaan Amalan Orang Beriman dengan Orang Kafir

Artinya : “Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS Sad : 27 )
Isi kandungan
Allah SWT menjelaskan bahwa dia menjadikan langit, bumi dan makhluk apa saja yang berada diantaranya tidak sia-sia. Langit dengan segala bintang yang menghiasi, matahari yang memancarkan sinarnya di waktu siang, dan bulan yang menampakkan bentuknya yang berubah-ubah dari malam kemalam serta bumi tempat tinggal manusia, baik yang tampak dipermukaannya maupun yang tersimpan didalamnya, sangat besar artinya bagi kehidupan manusia. Kesemuanya itu diciptakan Allah atas kekuasaan dan kehendak-Nya sebagai rahmat yang tak ternilai harganya.
Allah memberikan pertanyaan pada manusia. Apakah sama orang yang beriman dan beramal saleh dengan orang yang berbuat kerusakan di muka bumi dan juga apakah sama antara orang yang bertakwa dengan orang yang berbuat maksiat? Allah SWT menjelaskan bahwa diantara kebijakan Allah ialah tidak akan menganggap sama para hamba-Nya yang melakukan kebaikan dengan orang-orang yang terjerumus di lembah kenistaan. Allah SWT menjelaskan bahwa tidak patutlah bagi zat-Nya dengan segala keagungan-Nya, menganggap sama antara hamba-hamba-Nya yang beriman dan melakukan kebaikan dengan orang-orang yang mengingkari keesaan-Nya lagi memperturutkan hawa nafsu.
Mereka ini tidak mau mengikuti keesaan Allah, kebenaran wahyu, terjadinya hari kebangkitan dan hari pembalasan. Oleh karena itu, mereka jauh dari rahmat Allah sebagai akibat dari melanggar larangan-larangan-Nya. Mereka tidak meyakini bahwa mereka akan dibangkitkan kembali dari dalam kuburnya dan akan dihimpun dipadang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sehingga mereka berani zalim terhadap lingkungannya.
Allah menciptakan langit dan bumi dengan sebenar-benarnya hanya untuk kepentingan manusia. Manusia diciptakan-Nya untuk menjadi khalifah di muka bumi ini sehingga wajib untuk menjaga apa yang telah dikaruniakan Allah SWT.

Al-Quran dan As-Sunnah Tentang Lingkungan Hidup

September 19, 2006

Written by dkmfahutan

21 Comments

Pendahuluan
Pendidikan yang baru dan termasuk paling penting pada masa sekarang ialah pendidikan lingkungan. Pendidikan tersebut berkaitan dengan pengetahuan lingkungan di sekitar manusia dan menjaga berbagai unsurnya yang dapat mendatangkan ancaman kehancuran, pencemaran, atau perusakan.

Pendidikan lingkungan telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Abu Darda’ ra. pernah menjelaskan bahwa di tempat belajar yang diasuh oleh Rasulullah SAW telah diajarkan tentang pentingnya bercocok tanam dan menanam pepohonan serta pentingnya usaha mengubah tanah yang tandus menjadi kebun yang subur. Perbuatan tersebut akan mendatangkan pahala yang besar di sisi Allah SWT dan bekerja untuk memakmurkan bumi adalah termasuk ibadah kepada Allah SWT.[1]

Pendidikan lingkungan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW berdasarkan wahyu, sehingga banyak kita jumpai ayat-ayat ilmiah Al-Qur’an dan As Sunnah yang membahas tentang lingkungan. Pesan-pesan Al-Qur’an mengenai lingkungan sangat jelas dan prospektif. Ada beberapa tentang lingkungan dalam Al-Qur’an, antara lain : lingkungan sebagai suatu sistem, tanggung jawab manusia untuk memelihara lingkungan hidup, larangan merusak lingkungan, sumber daya vital dan problematikanya, peringatan mengenai kerusakan lingkungan hidup yang terjadi karena ulah tangan manusia dan pengelolaan yang mengabaikan petunjuk Allah serta solusi pengelolaan lingkungan[2].

Adapun As-Sunnah lebih banyak menjelaskan lingkungan hidup secara rinci dan detail. Karena Al-Qur’an hanya meletakkan dasar dan prinsipnya secara global, sedangkan As-Sunnah berfungsi menerangkan dan menjelaskannya dalam bentuk hukum-hukum, pengarahan pada hal-hal tertentu dan berbagai penjelasan yang lebih rinci.

1. Lingkungan Sebagai Suatu Sistem
Suatu sistem terdiri atas komponen-komponen yang bekerja secara teratur sebagai suatu kesatuan. Atau seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. [3] Lingkungan terdiri atas unsur biotik (manusia, hewan, dan tumbuhan) dan abiotik (udara, air, tanah, iklim dan lainnya). Allah SWT berfirman :

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakannya pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.” (QS. 15 : 19-20)

Hal ini senada dengan pengertian lingkungan hidup, yaitu sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang menentukan perikehidupan serta kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya.[4] Atau bisa juga dikatakan sebagai suatu sistem kehidupan dimana terdapat campur tangan manusia terhadap tatanan ekosistem.

2.Pembangunan Lingkungan Hidup
Lingkungan hidup sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan manusia guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Allah SWT berfirman :

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. 67 : 15)

Akan tetapi, lingkungan hidup sebagai sumber daya mempunyai regenerasi dan asimilasi yang terbatas. Selama eksploitasi atau penggunaannya di bawah batas daya regenerasi atau asimilasi, maka sumber daya terbaharui dapat digunakan secara lestari. Akan tetapi apabila batas itu dilampaui, sumber daya akan mengalami kerusakan dan fungsinya sebagai faktor produksi dan konsumsi atau sarana pelayanan akan mengalami gangguan.[5]

Oleh karena itu, pembangunan lingkungan hidup pada hakekatnya untuk pengubahan lingkungan hidup, yakni mengurangi resiko lingkungan dan atau memperbesar manfaat lingkungan. Sehingga manusia mempunyai tanggung jawab untuk memelihara dan memakmurkan alam sekitarnya. Allah SWT berfirman :

“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata : “Hai kaumku, sembalah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) dan lagi memperkenankan (do’a hamba-Nya).” (QS. 11 : 61)

Upaya memelihara dan memakmurkan tersebut bertujuan untuk melestarikan daya dukung lingkungan yang dapat menopang secara berkelanjutan pertumbuhan dan perkembangan yang kita usahakan dalam pembangunan. Walaupun lingkungan berubah, kita usahakan agar tetap pada kondisi yang mampu untuk menopang secara terus-menerus pertumbuhan dan perkembangan, sehingga kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita dapat terjamin pada tingkat mutu hidup yang makin baik. Konsep pembangunan ini lebih terkenal dengan pembangunan lingkungan berkelanjutan.[6]

Tujuan tersebut dapat dicapai apabila manusia tidak membuat kerusakan di bumi, sebagaimana firman Allah SWT :
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya Allah amat dekat kepada orang yang berbuat baik.” (QS. 7 : 56)

Berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita tentang beberapa hal, diantaranya agar melakukan penghijauan, melestarikan kekayaan hewani dan hayati, dan lain sebagainya.
“Barangsiapa yang memotong pohon Sidrah maka Allah akan meluruskan kepalanya tepat ke dalam neraka.” (HR. Abu Daud dalam Sunannya)
“Barangsiapa di anatara orang Islam yang menanam tanaman maka hasil tanamannya yang dimakan akan menjadi sedekahnya, dan hasil tanaman yang dicuri akan menjadi sedekah. Dan barangsiapa yang merusak tanamannya, maka akan menjadi sedekahnya sampai hari Kiamat.” (HR. Muslim)

 ”Setiap orang yang membunuh burung pipit atau binatang yang lebih besar dari burung pipit tanpa ada kepentingan yang jelas, dia akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah.” Ditanyakan kepada Nabi :  “Wahai Rasulullah, apa kepentingan itu ?” Rasulullah menjawab : “Apabila burung itu disembelih untuk dimakan, dan tidak memotong kepalanya kemudian dilempar begitu saja.”[7]

3. Sumber Daya Vital dan Problematikanya
Manusia telah sedikit banyak berhasil mengatur kehidupannya sendiri (birth control maupun death control) dan sekarang dituntut untuk mengupayakan berlangsungnya proses pengaturan yang normal dari alam dan lingkungan agar selalu dalam keseimbangan. Khususnya yang menyangkut lahan (tanah), air dan udara, karena ketiga unsur tersebut merupakan sumber daya yang sangat penting bagi manusia.

Sumber Daya Lahan atau Tanah
Manusia berasal dari tanah dan hidup dari dan di atas tanah. Hubungan antara manusia dan tanah sangat erat. Kelangsungan hidup manusia diantaranya tergantung dari tanah dan sebaliknya, tanahpun memerlukan perlindungan manusia untuk eksistensinya sebagai tanah yang memiliki fungsi.[8] Allah SWT berfirman :

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuhan-tumbuhan yang baik? Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan Allah. Dan kebanyakan mereka tidak Beriman.” (QS. 26 : 7-8)

Dengan lahan itu manusia bisa membuat tempat tinggal, bercocok tanam, dan melakukan aktivitas lainnya.

Namun, pemandangan ironis di Indonesia terlihat cukup mencolok diantaranya penebangan hutan untuk ekspor (tanpa diikuti upaya peremajaan yang memadai) dan perluasan kota yang melebar, mencaplok tanah-tanah subur pedesaan. Polis berkembang menjadi metropolis untuk kemudian membengkak menjadi megapolis (beberapa kota besar luluh jadi satu) dan Ecumenopolis (negara kota). Akhirnya salah satu nanti akan menjadi Necropolis (kota mayat).[9]

Penebangan hutan tanpa diikuti peremajaan kembali menyebabkan rusaknya tanah perbukitan sehingga terjadi bencana tanah longsor. Apalagi adanya kebakaran hutan di Indonesia semakin menyebabkan rusaknya ekologi hutan. Padahal keberadaan hutan sangat berguna bagi keseimbangan hidrologik dan klimatologik, termasuk sebagai tempat berlindungannya binatang.[10]

Adanya pembangunan tata ruang yang kurang baik, seperti pembangunan kota dan perumahan, menyebabkan semakin sempitnya lahan pertanian yang subur. Selain itu, juga terjadi kerusakan tingkat kesuburan tanah yang disebabkan pemakaian teknologi kimiawi yang over dosis. Dan bahkan pemakaian pupuk kimiawi tersebut merusak ekosistem pertanian, diantaranya semakin resistensi dan resurjensinya hama dan penyakit tanaman. Sehingga hasil produksi pertanian pun menurun yang akhirnya berdampak pada kehidupan sosial-ekonomi penduduk.

Melihat kenyataan tersebut, mestinya perkara konservasi tanah dan lahan sudah merupakan suatu keharusan, condition sine qua non, demi berlangsungnya kehidupan manusia. Usaha yang dapat dilakukan antara lain reboisasi, perencanaan tata ruang yang baik (lahan subur untuk pertanian dan lahan tandus untuk industri atau bangunan), dan penerapan sistem pertanian yang ramah lingkungan (pertanian organik atau lestari).

Sumber Daya Air
Selain lahan atau tanah, yang tak kalah pentingnya adalah air. “Everything originated in the water. Everything is sustained by water”. Manusia membutuhkan air untuk hidupnya, karena dua pertiga tubuh manusia terdiri dari air. Allah SWT berfirman : “Dan Kami beri minum kamu dengan air tawar ?” (QS. 77 : 27). Dan bahkan tanpa air seluruh gerak kehidupan akan terhenti.

Yang ironis adalah bahwa kekeringan datang silih berganti dengan banjir. Pada suatu saat kita kekurangan air, tapi pada saat yang lain justru kelebihan air. Mestinya manusia bisa mengatur sedemikian hingga sepanjang waktu bisa cukupan air (tidak kurang dan tidak lebih). Hal itu sebenarnya telah ditunjukkan oleh alam dalam bentuk siklus hidrologis dari air yang berlangsung terus menerus, volume air yang dikandungnya tetap, hanya bentuknya yang berubah. Allah SWT berfirman : “Demi langit yang mengandung hujan (raj’i)” (QS. 86 : 11). Kata Raj’i berarti “kembali”. Hujan dinamakan raj’i dalam ayat ini, karena hujan itu berasal dari uap air yang naik dari bumi (baik dari air laut, danau, sungai dan lainnya) ke udara, kemudian turun ke bumi sebagai hujan, kemudian kembali ke atas, dan dari atas kembali ke bumi dan begitulah seterusnya. Atau terkenal dengan siklus hidrologik.

Kisah perjalanan air yang urut dan runtut itu telah memberikan kontribusi yang sangat vital pada daur kehidupan dan pembaharuan sumber daya alam. Namun manusia melakukan sesuatu yang menyebabkan terhambatnya siklus hidrologi tersebut. Manusia membuat saluran drainase dengan lapisan semen yang kedap air dan mengecor jalan dengan semen, sehingga air mengalir cepat ke laut dan mengingkari fungsinya sebagai pemberi kehidupan (life giving role). Dan menipislah persediaan air tanah.
Sungai-sungai yang dulu sebagai organisme yang mampu memamah biak benda-benda yang dibuang kedalamnya dan memberikan pasokan air bersih yang memadai untuk kehidupan. Sekarang sungai-sungai tersebut lebih berwujud berupa tempat pembuangan sampah yang terbuka, dijejali dengan limbah industri dan buangan rumah tangga yang tidak mungkin lagi atau tidak mudah dicerna guna menghasilkan air yang sedikit bersih sekalipun.

Kerusakan lingkungan pada ekosistem pantai yakni rusaknya hutan bakau (mangrove) di tepi pantai, seperti di Cilacap, dan rusaknya terumbu karang. Padahal hutan bakau dan terumbu karang sangat berfungsi bagi keseimbangan dan keberlangsungan ekosistem pesisir dan lautan, rantai makanan, melindungi abrasi laut dan keberlanjutan sumber daya lautan.[11]

Sumber Daya Udara
Selain kedua sumber daya tersebut di atas, ciptaan Allah SWT yang tidak kalah penting tetapi sering terlupakan atau disepelekan adalah udara. Padahal tanpa udara takkan pernah ada kehidupan. Tanpa udara bersih takkan diperoleh kehidupan sehat. Setiap hari rata-rata manusia menarik napas 26.000 kali berkisar antara 18 sampai 22 kali setiap menitnya.
Pentingnya udara sering diabaikan terutama karena sampai kini kita masih bisa memperolehnya tanpa harus mengeluarkan biaya. Padahal di Tokyo saat ini mulai dijual udara bersih (oksigen) dalam tabung. Suatu kejutan pertama yang menyadarkan manusia akan bahaya udara kotor terjadi di Inggris pada tahun 1952 yang dikenal dengan “The Great London Smog” yang menyebabkan sekitar 4000 jiwa melayang dan sejumlah besar penduduk menderita penyakit bronkitis, jantung dan berbagai penyakit pernapasan lainnya. Bahkan bangunan, lukisan, patung atau monumenpun hancur, karena asap dan gas mobil.

Polusi udara juga terjadi di Yogyakarta akibat konsumsi bahan bakar yang terus meningkat. Konsumsi tertinggi dari kendaraan bermotor (konsumsi bahan bakar solar dan bensin mencapai 170.000 liter pada tahun 1990-1991) dan kedua bahan bakar rumah tangga (rata-rata 84.000 liter). Hal itu menyebabkan CO2 dan timbal (Pb) melewati ambang batas yang diperkenankan. Ambang batas timbal (Pb) yang diperkenankan hanya 0,03 ug/l, kini rata-rata diatas 0,09 ug/l di beberapa tempat, seperti Kantor Pos Besar, Bunderan, Jl. Jend. Sudirman, dan Gedungkuning.[12] Begitu juga di Jakarta, dari kendaraan umum, 765.000 atau 60 % mengeluarkan gas buang diatas ambang batas baku mutu. Artinya setiap menit selalu keluar kandungan racun dari knalpot mobil itu, sulfur oksida, nitrogen oksida, dan timbal (Pb). Konsentrasi timbal di udara mencapai 1,7-3,5 mirogram per meterkubik dan pada 2005 mencapai 1,8-3,6 mikrogram per meterkubik. Padahal jumlah kendaraan roda empat di Jakarta mencapai 9,1 juta (1.274.000 berstatus kendaraan umum).[13]

Upaya yang bisa di tempuh antara lain : memperluas kawasan hijau (hutan kota), pemakaian bahan bakar akrab lingkungan (BBL), knalpot dipasang filter, dan mengurangi pemakaian kendaraan pribadi.

4.      Kerusakan Lingkungan
Manusia telah diperingatkan Allah SWT dan Rasul-Nya agar jangan melakukan kerusakan di bumi, akan tetapi manusia mengingkarinya. Allah SWT berfirman : “Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS. 2 : 11). Keingkaran mereka disebabkan karena keserakahan mereka dan mereka mengingkari petunjuk Allah SWT dalam mengelola bumi ini. Sehingga terjadilah bencana alam dan kerusakan di bumi karena ulah tangan manusia. Allah SWT berfirman :

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Katakanlah : “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. 30 : 41-42).

Di samping adanya problematika ketiga sumber daya vital di atas, Otto Soemarwoto membagi kerusakan lingkungan yang mengancam kehidupan bumi menjadi dua, yaitu kerusakan yang bersifat regional (seperti hujan asam) dan yang bersifat global (seperti pemanasan global, kepunahan jenis, dan kerusakan lapisan ozon di stratosfer).

Hujan asam disebabkan oleh pencemaran udara yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, yaitu gas bumi, minyak bumi dan batu bara. Pembakaran itu menghasilkan gas oksida belerang dan oksida nitrogen. Kedua jenis itu dalam udara mengalami reaksi kimia dan berubah menjadi asam (berturut-turut menjadi asam sulfat dan asam nitrat). Asam yang langsung mengenai bumi disebut deposisi kering dan asam yang terbawa hujan yang turun ke bumi disebut desposisi basah. Keduanya disebut hujan asam. Hujan asam menyebabkan kematian organisme air sungai dan danau serta kerusakan hutan dan bangunan.

Pemanasan global (global warning) adalah peristiwa naiknya intensitas efek rumah kaca (ERK) yang terjadi karena adanya gas dalam atmosfer yang menyerap sinar panas (sinar inframerah) yang dipancarkan bumi. Gas itu disebut gas rumah kaca (GRK). Dengan penyerapan itu sinar panas terperangkap sehingga naiklah suhu permukaan bumi.

Seandainya tidak ada GRK dan karena itu tidak ada ERK, suhu permukaan bumi rata-rata hanya -18oC saja, terlalu dingin bagi kehidupan makhluk. Dengan adanya ERK suhu bumi adalah rata-rata 15oC, sehingga ERK sangat berguna bagi kehidupan di bumi. Akan tetapi, akhir-akhir ini semakin naiknya kadar GRK dalam atmosfer, yaitu CO2 dan beberapa gas lain (seperti CO2, CH4, dan N2O) menyebabkan naiknya intensitas ERK, sehingga suhu permukaan bumi akan naik pula. Inilah yang disebut global warning.
Berbagai dampak negatif pemanasan global, yaitu menyebabkan perubahan iklim sedunia (perubahan curah hujan), naiknya frekuensi maupun intensitas badai (seperti di Banglades dan Filipina semakin menderita), dan bertambahnya volume air laut dan melelehnya es abadi di pegunungan dan kutub. Hal itu juga menyebabkan keringnya tanah dan kekeringan yang berdampak negatif terhadap pertanian dan perikanan.
Bertambahnya volume air laut, maka permukaan laut akan naik. Dengan laju kenaikan kadar GRK seperti sekarang diperkirakan pada sekitar 2030 suhu akan naik 1,5-4,5oC. Kenaikan suhu ini menyebabkan naiknya permukaan laut 25-140 cm. Dampak naiknya permukaan laut yakni tergenangnya daerah pantai, tambak, sawah dan kota yang rendah seperti Jakarta, Surabaya, dan Semarang serta beberapa pulau di Indonesia. Kenaikan permukaan laut juga menyebabkan laju erosi pantai. Untuk kenaikan permukaan laut 1 cm, garis pantai akan mundur 1m, sehingga kenaikan permukaan laut 25-140 cm, garis pantai mundur 25-140 m.

Kepunahan jenis berarti hilangnya sumber daya gen yang mengurangi kemampuan kita dalam pembangunan pertanian, perikanan, peternakan, dan kehutanan. Penyebabnya antara lain karena adanya hujan asam dan penyusutan luas hutan, serta penggunaan sistem monokultur atau varietas unggul sehingga varietas lokal hilang, seperti varietas padi lokal yang hampir sirna.

Ozon ialah senyawa kimia yang terdiri atas tiga atom oksigen. Di lapisan atmosfer yang rendah ia mengganggu kesehatan dan di lapisan atas atmosfer ia melindungi makhluk hidup dari sinar ultraviolet yang dipancarkan matahari. Apabila kadar ozon di stratosfer berkurang, kadar sinar ultraviolet yang sampai ke bumi bertambah. Maka resiko untuk mengidap penyakit kanker kulit, katarak dan menurunnya kekebalan tubuh akan meningkat. Penurunan kadar ozon disebabkan karena rusaknya ozon oleh segolongan zat kimia yang disebut clorofuorokarbon yang banyak digunakan dalam industri dan kehidupan kita, seperti gas freon (pendingin AC dan almari es), gas pendorong dalam aerosal (parfum, hairspray, dan zat racun hama) dan lainnya.

Bila kita tetap saja berkeras kepala menjejalkan gas rumah kaca ke atmosfer, sebelum akhir abad mendatang pasti akan terjadi perubahan iklim yang tak terduga, banyak angin ribut dan angin topan, air laut meredam pulau-pulau berdataran rendah, disamping munculnya padang pasir baru karena bumi yang makin panas.

Upaya nyata yang perlu dilakukan untuk menghindari bencana itu antara lain dengan menggunakan energi secara efisien, mengembangkan sumber energi baru dan aman, mencegah terjadinya kebakaran dan penggundulan hutan atau penebangan pohon secara besar-besaran, menanam pepohonan baru, menggalakan penggunaan transportasi umum. Atau kampanye besar-besaran untuk mengurangi penggunaan traktor, diesel, lemari es, kaleng semprot, AC dan lain-lain. Langkah ini mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan. Namun hal itu tetap harus dilakukan, seperti yang dicetuskan oleh Gurmit Singh : “Global warning on global warming demands global action”. Peringatan global terhadap pemanasan global menuntut adanya tindakan global.

5. Solusi Pengelolaan Lingkungan
Proses kerusakan lingkungan berjalan secara progresif dan membuat lingkungan tidak nyaman bagi manusia, bahkan jika terus berjalan akan dapat membuatnya tidak sesuai lagi untuk kehidupan kita. Itu semua karena ulah tangan manusia sendiri, sehingga bencananya juga akan menimpa manusia itu sendiri QS. 30 : 41-42.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pendekatan yang dapat kita lakukan diantaranya dengan pengembangan Sumber Daya Manusia yang handal, pembangunan lingkungan berkelanjutan, dan kembali kepada petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya dalam pengelolaan lingkungan hidup. Adapun syarat SDM handal antara lain SDM sadar akan lingkungan dan berpandangan holistis, sadar hukum, dan mempunyai komitmen terhadap lingkungan.

Kita diajarkan untuk hidup serasi dengan alam sekitar kita, dengan sesama manusia dan dengan Allah SWT. Allah berfirman : “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmatan lil’alamiin” (QS. 21 : 107). Pandangan hidup ini mencerminkan pandangan yang holistis terhadap kehidupan kita, yaitu bahwa manusia adalah bagian dari lingkungan tempat hidupnya. Dalam pandangan ini sistem sosial manusia bersama dengan sistem biogeofisik membentuk satu kesatuan yang disebut ekosistem sosiobiogeofisik, sehingga manusia merupakan bagian dari ekosistem tempat hidupnya dan bukannya hidup diluarnya. Oleh karenanya, keselamatan dan kesejahteraan manusia tergantung dari keutuhan ekosistem tempat hidupnya. Jika terjadi kerusakan pada ekosistemnya, manusia akan menderita. Karena itu walaupun biogeofisik merupakan sumberdaya bagi manusia, namun pemanfaatannya untuk kebutuhan hidupnya dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi kerusakan pada ekosistem. Dengan begitu manusia akan sadar terhadap hukum yang mengatur lingkungan hidup dari Allah SWT dan komitmen terhadap masalah-masalah lingkungan hidup.

Pandangan holistik juga berarti bahwa semua permasalahan kerusakan dan pengelolaan lingkungan hidup harus menjadi tanggung jawab oleh semua pihak (pemerintah, LSM, masyarakat, maupun orang perorang) dan semua wilayah (baik lokal, regional, nasional, maupun internasional). Atau dalam konsep Partai Keadilan, lingkungan hidup harus dikelola secara integral, global dan universal menuju prosperity dan sustainability.[14]

Kesimpulan, bahwa ini adalah alasan yang mungkin mengapa Allah menyebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an tentang petingnya lingkungan hidup dan cara-cara Islami dalam mengelola dunia ini. Kualitas lingkungan hidup sebagai indikator pembangunan dan ajaran Islam sebagai teknologi untuk mengelola dunia jelas merupakan pesan strategis dari Allah SWT untuk diwujudkan dengan sungguh-sungguh oleh setiap muslim.


[1] Yusuf Al Qaradlawi, Dr. 1997. Fiqih Peradaban : Sunnah Sebagai Paradigma Ilmu Pengetahuan. Surabaya. Dunia Ilmu. Hal.183

[2] Abdul Majid bin Aziz Al-Qur’an Zindani (et. Al-Qur’an.). 1997. Mujizat Al-Qur’an dan As-Sunnah Tentang IPTEK. Jakarta. Gema Insani Press. Hal. 194.

[3] Depdikbud. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka. Hal. 849.

[4] Undang-Undang No. 4 Tahun 1982.

[5] Otto Soemarwoto. 1997. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta. Djambatan. Hal. 59.

[6] Bruce Mitchell, dkk. 2000. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.

[7] Imam Ahmad, al-Nasa’i, al-Darami, dan Imam al-Hakim meriwayatkan dan al-Hakim menganggap sahih hadits tersebut dari Abdullah bin Amr Ra.

[8] Moh. Soerjani, dkk. 1987. Lingkungan : Sumberdaya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. Jakarta. UI-Press. Hal. 39.

[9] Eko Budihardjo, Prof. Ir. MSc. 1997. Lingkungan Binaan dan Tata Ruang Kota. Yogyakarta. Andi Offset. Hal. 26-27

[10] Lihat Kompas, 18 Januari 2001. Hal. 8, 18.

[11] Widi Agus Pratikno, dkk. 1997. Perencanaan Fasilitas Pantai dan Laut. Yogyakarta. BPFE. Hal. 10-12.

[12] Kedaulatan Rakyat. Minggu, 16 April 2000. Tahun LV Nomor 197. Hal. 8.

[13] Republika. Minggu, 23 April 2000. Nomor 103 Tahun Ke-8. Hal. 1.

[14] ______. 1999. Visi Pembangunan IPTEK dan Lingkungan Hidup Partai Keadilan : Kesejahteraan, Kemandirian dan Kesinambungan. Jakarta. Departemen IPTEK-Lingkungan Hidup. Hal. 23.

Posted by: syaunarahman | January 4, 2011

Stndar Kompetensi : Memahami Ayat-ayat Al Qur’an tentang Perintah Menjaga Lingkungan Hidup. (Modul PAI Kelas XI Semester 4) Kelas : PM1 & 2, MM, dan TP 4

Menjaga Kelestarian Lingkungan

clip_image001

Allah swt mengangkat manusia sebagai khalifah di bumi yang diberi tugas untuk memelihara dan melestarikan alam ini, sehingga akan tercapai kemakmuran dan kebahagiaan bagi umat manusia itu sendiri. Manusia dilarang merusak alam dan lingkungannya karena akan berakibat merugikan bagi umat manusia serta alam dan lingkungannya.

Ajaran agama hendaknya dilaksanakan dan diamalkan dengan sebaik-baiknya. Jika ajaran agama diamalkan oleh setiap pribadi muslim, tidak akan terjadi kerusakan alam dimana-mana yang dapat merusak ekosistem sebagaimana dapat kita lihat dan kita rasakan pada akhir-akhir ini. Terjadinya bencana alam dimana-mana, panas bumi yang meningkat, musim yang tidak beraturan, dan masih banyak peristiwa lain yang menimpa dan merugikan penghuni bumi ini.

A. AL-QUR’AN SURAH AR-RUM AYAT 41-42

1. Membaca

Bacalah Q.S. Ar-Rum ayat 41-42 berikut dengan bacaan yang benar!

image

Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Q.S. Ar Rum (30) : 41-42

2. Tulislah lafal terjemahan kata dari :

: telah nampak, telah timbul                             : ulah tangan, manusia

: kerusakan                                                        : agar mereka merasakan

: di darat                                                            : sebagian yang

: dan di laut                                                       : perbuatan mereka

: dengan sebab apa                                            : agar, supaya mereka

: yang telah dilakukan                                        : kembali

: berjalanlah kamu sekalian                                : yang telah lalu

: perhatikanlah oleh kalian                                  : kebanyakan mereka

: akibat, kesudahan

3. Penerapan ilmu tajwid Q.S. Ar-Rum ayat 41-42

No Lafal Keterangan
1.2.3.4.5.

6.

               imageimageimageimageimage

image

dinamakan bacaan izhar qamariyah (“Al” qamariyah) sebab alif lam ( ال ) berhadapan dengan huruf qamariyah, yaitu fa’ (ف )dibaca mad asli atau mad tabi’i sebab ada huruf alif (ا ) terletak sesudah fathahdibaca idgam syamsiyah (“AL” syamsiyah) sebab huruf alif lam ( ال ) berhadapan dengan salah satu huruf syamsiyah, yaitu huruf nun( ن )mad tabi’i disebabkan ada huruf ya’ mati ( ﻱْ ) terletak sesudah harakat kasrah. Panjang bacaan 2 hurufhukum bacaannya ialah mad ‘arid lis sukun, sebab ada satu huruf terletak sesudah mad tabi’i dan dibaca waqaf (berhenti). Panjang bacaan 2 harakat

dibaca ikhfa’ haqiqi, sebab ada nun sukun ( ﻥْ ) bertemu dengan salah satu huruf ikhfa’ yaitu qaf ( ق ). Cara membacanya samar-samar

4. Kandungan Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41-42

Kerusakan di bumi ini terjadi hanyalah karena tangan-tangan jahil manusia, sehingga terjadi banyak musibah dan bencana dimana-mana. Misalnya: banjir, angin tornado, gempa bumi, tsunami dan sebagainya, yang banyak menelan korban. Oleh karena kebanyakan manusia tidak mengindahkan ayat-ayat Allah swt.

Kerusakan yang terjadi dapat dikelompokkan menjadi lima bidang, yaitu:

a. Kerusakan dalam bidang akidah atau keimanan. (Q.S. Al-Baqarah : 8 dan Q.S. Al-Hujurat : 14-15.

b. Kerusakan di bidang mental dan kecerdasan manusia (intelektual) (Q.S. Al-Hajj : 8-10).

Manusia yang terganggu mentalnya dengan ciri-ciri :

· Berbuat zalim dan bodoh (Q.S. An Naml : 14)

· Tidak mendengar petunjuk ( Q.S. Al Qashash : 56)

· Tindakannya ragu-ragu (Q.S. 11)

· Tidak kritis, selalu pasrah dan selalu menerima (Q.S. Al Maidah : 104)

· Terpengaruh dengan ilmu atau budaya lain yang merusak (Q.S. Al An’aam : 116)

Sedangkan anusia yang terganggu intelektualnya dengan ciri-ciri :

· Suka kepada dongeng atau hal-hal yang berbau mistik (Q.S. Al An’aam : 25)

· Tidak pernah mengkaji Al Qur’an (Q.S. Yunus : 39)

· Tidak menerima Al Qur’an sebagai pedoman (Q.S. Al Maidah : 48-50)

· Mudah terpengaruh lingkungan (Q.S. Al Furqaan : 27 dan 30)

· Tidak mau melihat fakta (Q.S. Yunus : 29)

c. Kerusakan di bidang pembinaan dalam kehidupan keluarga.(Q.S. An-Nur : 58-60).

d. Kerusakan harkat dan martabat manusia.( Q.S. Al-Baqarah : 195)

e. Kerusakan dalam bidang material dan sumber daya alam.( Q.S. Al-Qashash : 77).

Beberapa contoh lain mengenai penyalahgunaan sumber-sumber alam dapat disebutkan sebagai berikut ;

a. Perusakan tanah pertanian dan lautan

b. Pencemaran udara dan sumber-sumber air

c. Pengurasan hasil-hasil tambang

d. Penggundulan dan pembakaran hutan-hutan

e. Tidak adanya perlindungan terhadap binatang-binatang

f. Pembangunan kota dan pemukiman tidak pada tempatnya.

Di antara isi pokok kandungan yang lain dari pemahaman ayat tersebut :

a. Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah di muka bumi memiliki kewajiban mengelola, memelihara dan memanfaatkan alam yang telah Allah ciptakan untuk kepentingan dan kesejahteraan seluruh makhluk Allah.

b. Ketidak pedulian terhadap sumber daya alam mengakibatkan kerusakan lingkungan yang memperihatinkan manusia itu sendiri

c. Kerusakan alam baik di darat maupun di laut adalah akibat ulah tangan manusia itu sendiri

d. Islam melalui pemahaman ayat Al Qur’an pengerusakan lingkungan, karena untuk menjamin kesejahteraan hidup manusia membutuhkan keserasian ekosistem

5. Sikap dan perilaku yang mencerminkan Q.S. Ar-Rum ayat 41-42

a. Cinta lingkungan alam sekitar

b. Selalu menjaga dan memelihara kelestraian alam

c. Tidak merusak habitat alam

d. Tidak melakukan pencemaran lingkungan hidup

e. Cinta kebersihan lingkungan

f. Bumi serta isinya merupakan ciptaan Allah yang diperuntukkan bagi kesejahteraan manusia tugas manusia adalah menjaga alam semesta agar tetap dalam keadaan baik dan lestari.

g. Sumber alam yang ada merupakan anugrah yang datangnya dari Allah swt, ada yang tidak dapat diperbaharui, seperti barang tambang, dan ada pula yang dapat diperbaharui. Bila manusia tidak memiliki kepedulian pada sumber alam tersebut, semuanya akan punah seperti banyak fakta yang sudah diungkapkan para ilmuwan.

h. Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Allah swt telah memberi peringatan dengan beragam kisah manusia yang sudah berbuat ker usakan dan dampaknya dapat dibuktikan.

i. Peduli dan menjaga kelestarian lingkungan mulai yang terkecil (rumah tangga, sekolah) sampai yang lebih luas (RT, RW, kampong, desa, dan seterusnya).

j. Senantiasa memelihara tatanan non fisik, misalnya ajaran agama, norma dan adat istiadat setempat sehingga tercapai kebahagiaan hakiki (jasmani dan rohani).

B. AL-QUR’AN SURAH AL-ARAF’ AYAT 56-58

1. Membaca

Bacalah Q.S. Al-A’raf ayat 56-58 berikut dengan bacaan yang benar!

image

Artinya : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerh yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya yang tumbuh merana. Demikianlah kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (Q.S. Al-A’raf (7) : 56-58)

2. Tulislah lafal terjemahan kata dari :

                          : dan janganlah                                       : mendung, tebal, berat

: kamu berbuat kerusakan                      : Kami halau dia

: memperbaikinya                                   : untuk berbagai daerah/tanah/negara

: dan berdoalah kepada-Nya                    : mati, tandus

: perasaan takut                                      : kami keluarkan dengai air hujan

: penuh pengharapan                              : buah-buahan

: dekat                                                    : kamu mengambil pelajaran

: orang-orang yang berbuat baik            : yang baik

: mengutus, mengirim, meniupkan                           : tanaman-tanamannya

: angin                                                                      : tidak baik, buruk

: pembawa berita yang menggembirakan                   : kerdil/merana

: sebelum kedatatangan, di hadapan                         : Kami jelasakan

: membawa                                                                : bersyukur

: awan

3. Penerapan ilmu tajwid dalam Surah Al-A’raf ayat 56-58, isilah lafalnya.

No Lafal Nama Bacaan Cara Membaca Sebab/Karena
1.2.3.4.5.

6.

Mad tabi’iQalqalah sugraIdgam bigunahIdgam bigunahIqlab

Mad ‘arid lis sukun

Panjang 2 harakatMemantul ringanMasuk/melebur dengan mendengungMasuk/melebur dengan mendengungMembaca membalik atau mengubah bunyi dari n ke m = “ranba” menjadi ramba

Membaca panjang 2- 6 harakat dan berhenti/wakaf

Ada wawu sukun( )Ada huruf qalqalah berharakat sukun asli ( )Ada tanwin ( ) bertemu dengan huruf idgam bigunah yaitu wawu( )Ada tanwin ( ) bertemu huruf idgam bigunah yaitu mim( )Ada tanwin ( ) bertemu huruf iqlab yaitu ba’ ( )

Ada satu huruf sesudah mad tabi’i dan dibaca waqaf

4. Kandungan Q.S. Al-A’raf ayat 56-58

a. Allah swt menjelaskan bahwa Dialah Sang Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya, sekaligus pula yang memelihara dan mengaturnya.

b. Allah-lah yang memberikan rezeki kepada semua makhluk-Nya di bumi ini. Dialah pemberi kehidupan dan yang menghidupkan kembali di akhirat kelak. (Q.S. Muhammad :15-16).

c. Allah menciptakan bumi ini dalam keadaan baik dan sempurna. Adapun kerusakan-kerusakan yang terjadi yang berakibat petaka, musibah, serta bencana alam dan sebagainya hanyalah karena ulah tangan manusia itu sendiri.

d. Allah swt menerangkan bahwa Dia yang mengirimkan angin kesegala penjuru, memberi kabar gembira akan datangnya musin penghujan dengan turunnya hujan, tumbuh-tumbuhan yang telah layu, kering, tandus bahkan hamper mati, akan kembali subur kemudian akan menghasilkan bemacam-macam buah-buhan yang sangat berguna bagi manusia.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari dan Muslim, dan Nasai dari Abu Musa Al Asy’ary. Dia berkata: Rasulullah SAW bersabda : Perumpamaan ilmu dan petunjuk yang akan aku diutus untuk menyampaikannya adalah seperti hujan lebat yang menimpa bumi. Maka ada di antara tanah itu yang bersih (subur) dan dapat menerima hujan itu, lalu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput yang banyak. Tetapi, ada pula di antaranya tanah yang lekang (keras) yang tidak meresapi air hujan itu dan tidak menumbuhkan sesuatu apa pun. Tanah itu dapat menahan air (mengumpulkannya) sehingga manusia dapat mengambil manfaat dari air itu, maka dapat minum, mengairi, bercocok tanam. Tanah-tanah yang beraneka ragam itu adalah perumpamaan bagi orang yang dapat memahami agama Allah. Lalu ia mendapat manfaat dari petunjuk-petunjuk itu dan mengajarkannya kepada manusia, dan perumpamaan pula bagi orang-orang yang tidak memedulikannya dan tidak mau menerima petunjuk itu. Nabi Muhammad SAW memberikan predikat (julukan) Al Hadi (orang yang memberi manfaat untuk dirinya, orang yang dapat memahami agama Allah untuk dirinya dan mengamalkannya) dan Al Muhtadi (orang yang dapat manfaat untuk dirinya dengan memahami agama Allah dan memberikan manfaat kepada orang lain), dan memberikan predikat Al Jahid kepada golongan ketiga yang tiada manfaat untuk dirinya dengan tidak mau memahami agama Allah dan tidak dapat memberikan manfaat untuk orang lain.

Kesimpulan Q.S. Al A’raaf : 56-58 :

1. Larangan berbuat kerusakan di muka bumi karena bumi sudah diciptakan baik untuk manusia

2. Perintah berdo’a kepada Allah dengan rasa takut (tidak diterima) dan penuh harap (agar diterima)

3. Allah SWT telah memberikan rahmat berupa angin yang membawa awan menjadi hujan

4. Dengan air hujan Allah menumbuhkan beraneka ragam tumbuhan

5. Allah Maha Kuasa dalam menciptakan tanah yang subur dan yang tandus

5. Sikap dan perilaku yang mencerminkan Q.S. Al-A’raf ayat 56-58

a. Tidak suka berbuat kerusakan

b. Rajin berdoa kepada Allah

c. Gemar berbuat kebaikan

d. Selalu mengambil pelajaran (i’tibar) dari peristiwa alam

e. Selalu bersyukur kepada Allah

f. Manusia memperoleh kebutuhan hidupnya di bumi. Manusia sebagai khalifah-Nya diharapkan dapat menjaga dengan baik supaya bumi tidak rusak yang merugikan manusia itu sendiri.

g. Peduli terhadap kelestarian alam, berbuat sesuatu disertai rasa tanggung jawab, serta banyak berdoa kepada Allah swt dengan rasa takut (khawatir tidak diterima) dan berharap (agar doanya dikabulkan), sehingga terhindar dari perbuatan yang tidak baik apalagi merugikan pihak lain.

h. Senantiasa berhati-hati dalam kehidupan di bumi, karena sekecil apapun yang dibuat, kelak akan diminta tanggung jawabnya di akhirat.

i. Berupaya meningkatkan pemahaman agama Allah yang benar agar mampu memberi manfaat kepada orang lain seperti contoh tanam-tanam tumbuh subur dan berbuah yang memberi manfaat.

C. AL-QUR’AN SURAH SAD AYAT 27

1. Membaca

Bacalah Q.S. Sad ayat 27 berikut dengan bacaan yang benar!

image

Artinya : ”Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka”. (Q.S. Sad (38):27)

2. Tulislah lafal terjemahan kata dari :

: dan tidak

: kami ciptakan

: dan apa-apa daiantara keduanya

: sia-sia, tanpa hikmah

: sangkaan

: bagi orang-orang yang

: dari azab neraka

: pantaskah kami jadikan

: seperti orang-orang yang membuat kerusakan

: seperti orang-orang yang berdosa

3. Penerapan ilmu tajwid dalam Q.S. Sad ayat 27, isilah lafalnya.

No Lafal Nama Bacaan Cara Membaca Sebab/Karena
1.2.3.4.5. Mad wajib muttasilMad layinTanda waqaf aulaMad layinMad ‘arid lis sukun Panjang 5-6 harakatMembaca lunak (… ai)lebih baik waqaf (berhenti)Membaca lunak (… ai)panjang 4-6 harakat Ada hamzah sesudah mad tabi’iAda ya’sukun (mati)sesudah fathah-Ada ya’ sukun (mati) sesudah fathah

Mad tabi’i bertemu satu huruf dibaca waqaf

4. Kandungan Q.S. Sad ayat 27

a. Alam semesta diciptakan oleh Allah swt sangat banyak manfaatnya bagi umat manusia. Sesuai Q.S. Al-Baqarah ayat 164. Seluruh kebutuhan manusia telah disediakan oleh Allah swt dan bagaimana manusia dapat memanfaatkan sebesar-besarnya untuk manusia itu sendiri di muka bumi ini.

b. Manusia diciptakan Allah hanya untuk menyembah dan mengabdi kepada-Nya, melestarikan lingkungan dengan cara menjaga, merawat, tidak merusaknya merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada Allah swt.

c. Orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt tidak akan diperlakukan oleh Allah sama dengan orang-orang yang durhaka dan kafir terhadap-Nya.

5. Sikap dan perilaku yang mencerminkan Q.S. Sad ayat 27

a. Dapat mengambil hikmah dari penciptaan alam semesta

b. Selalu beriman kepada Allah

c. Suka beramal soleh

d. Tidak berbuat kerusakan

e. Orang yang beriman akan menjaga lingkungan

f. Seseorang akan bertambah kuat imannya apabila mau berpikir dan merenung tentang keberadaan alam semesta ini serta segala isinya termasuk dirinya. Sesuai Q.S. Ali-Imran ayat 190 dan 191.

g. Orang yang beriman akan memanfaatkan seluruh isi alam ini dengan sebaik-baiknya dan berusaha untuk memelihara, melestarikan, serta menjaga dari kerusakan. Sesuai Q.S. Fatir ayat 27-28.

h. Orang yang beriman kepada Allah swt akan tumbuh kesadaran untuk selalu berbuat baik dan beramal tanpa ada rasa terpaksa. Sesuai Q.S. Fatir ayat 19-22.

D. Penerapan Sikap dan Perilaku

Beberapa perilaku yang dapat diterapkan berkaitan dengan menjaga kelestarian lingkungan hidup, antara lain sebagai berikut :

1. Tidak membuang sampah sembarangan

2. Memilah dan memilih sampah yang dapat didaur ulang dengan yang tidak

3. Menanam pohon agar lingkungan menjadi hijau dan segar

4. Tidak suka membunuh hewan sembarangan karena bisa merusak ekosistem

5. Berhemat dalam memakai peralatan dan bahan baker

6. Tidak membuat polusi terhadap udara

7. Hemat dalam menggunakan listrik dan air bersih

8. Mulai melakukan pola sehat dan dimulai dari diri sendiri

9. Gemar mencari cara yang hemat dan tepat guna serta memberitahukan kepada lingkungan sekitar

10. Sering mencari informasi mengenai cara menjaga lingkungan yang baik, khususnya pada lembaga yang berkompeten

11. Menyadari bahwa melestarikan lingkungan adalah tanggung jawab kita semua sehingga menjadi rahmat bagi seluruh alam.

TUGAS KEGIATAN BELAJAR 1

Diskusikan bersama teman sekelompok belajarmu, kemudian hasilnya kamu tulis pada selembar kertas!

1. Apakah yang pernah dilakukan jika melihat orang membuang sampah di sungai atau di parit?

2. Apa yang kamu lakukan, jika kamu melihat orang memotong tanaman perindang untuk memberi makan hewan ternak piaraannya?

TES FORMATIF 1

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan benar!

1. Sebutkan nama hukum bacaan sesuai kaidah ilmu tajwid serta berikan alasan apa sebabnya pada lafal yang bergaris bawah dalam ayat berikut!

image

Jawab: …………………………………………………………………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

2. Apa nama tanda-tanda waqaf berikut!

a.b.c.d. e.f.g.h.

Jawab: …………………………………………………………………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

3. Apakah yang menyebabkan manusia sering membuat kerusakan di bumi maupun di laut ?

4. Tulislah dari ayat-ayat di atas pada hukum bacaan :

a. Ikhfa Syafawi

b. Idzhar Syafawi

c. Qalqalah Shugra

d. Mad Iwadl

e. Tafkhim

f. Iqlab

g. Mad Jaiz Munfashil

h. Idgham Bighunnah

i. Mad Wajib Muttashil

j. Mad Shilah Qashiroh

Be the first to like this post.

Posted in Uncategorized

PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BERBASIS TEKNO-RELIGIUS
Written by Administrator
Saturday, 01 January 2011 03:48
Pemanfaatan dan pemeliharaan lingkungan hidup merupakan pembicaraan pokok di dalam ajaran islam. Ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi membicarakan hal tersebut dari berbagai aspek mulai dari penciptaan bumi sebagai lingkungan hidup, tujuan pen-ciptaannya, cara pengelolaan dan pemeliharaannya, isyarat mengenai bekal yang diperlukan dalam melakukan pemanfaatan dan hal-hal lain yang terkait.

Bumi Sebagai Lingkungan Hidup

Wawasan tentang lingkungan hidup di dalam Islam me-nunjukkan banyak persamaan dengan wawasan lingkungan dalam bahasan sains dan tekhnologi. Hal ini dapat dilihat dari subtansi lingkungan hidup sendiri dalam dua kajian tersebut. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia lingkungan didefenisikan dengan semua yang memengaruhi pertumbuhan manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan (Dep. Pendidikan dan Kebudayaan, 1995: 596). Hal ini senada dengan makna kata ardh, yang digunakan di dalam al-Qur’an. Ibrahim Anis (1972:14) menyatakan bahwa al-ardh artinya bumi dan bagian-bagian yang ada di dalamnya. Kemudian sejumlah kata kunci yang kerap diketemukan sebagai isu utama dalam pembahasan lingkungan seperti lapisan ozon, flora, fauna, dan lain-lain juga ditemukan padanannya di dalam al-Qur’an seperti “al-sama” (langit), a-dabbah atau al-an’am (binatang), dan al-nabatat (tumbuh-tumbuhan). Sejumlah kata kunci tersebut dan kata kunci lainnya merupakan gerbang masuk untuk menelusuri ajaran islam tentang lingkungan hidup.

Penjelasan mengenai lingkungan di dalam al-Qur’an tidak me-letakkan bagian-bagian bumi itu sebagai unsur yang terpisah satu sama lain. Al-Qur’an justru meletakkannya sebagai unsur yang saling berinteraksi dan saling memengaruhi. Meskipun dalam kontek interaksi tersebut, manusia tampak dominan dan tampil sebagai subyek namun pada hakekatnya manusia hanyalah satu unsur yang menempati posisi yang sama dengan unsur lainnya.  Karena itu, tidak menutup kemungkinan mereka mendapatkan feed back yang buruk bahkan akan menjadi korban manakala mela-kukan hal yang tidak bersahabat dalam berinteraksi dengan alam. Pandangn demikian juga ditegaskan oleh penganut teori lingkungan ecocentris, “segala sesuatu di bumi ini berpusat pada lingkungan dan berdasarkan atas hukum alam”. Teori ini menempatkan ma-nusia sebagai salah satu komponen alam yang sama dan sederajat dengan komponen alam lainnya. Selain aliran tersebut kita juga mengenal aliran tekhnocentris, yakni satu kelompok yang ber-pandangan bahwa manusialah pusat dari alam sehingga seharusnya alam melayani kebutuhan manusia. Alam adalah barang netral, untuk mengambil tujuan dan manfaat maka diperlukan aplikasi dari rasionalitas dan niali-nilai kebebasan, tekhnik ilmiah dan manajerial serta profesionalitas dalam memperlakukan alam (Arimbi: Makalah). Terlepas dari kebenaran dua aliran di atas, pesan al-Qur’an mengenai lingkungan seperti yang akan kita jelaskan kemudian, akan tetap aktual, pesan untuk berinteraksi dengan alam secara etis.

Ajaran al-Qur’an mengenai lingkungan hidup juga selaras dengan kebijakan pemerintah. Pasal 1 Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup tidak melihat lingkungan hidup sebagai entitas yang terpisah-pisah, tetapi mengesankan hubungan harmonis bahkan kesatuan semua unsur demi terciptanya kesejahteraan. Undang-undang yang dimaksud mendefenisikan lingkungan hidup sebagai berikut:

“kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, yang mempengaruhi kelangsungan prikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain (Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997) .”

Al-Qur’an menekankan bahwa bumi (lingkungan hidup) diciptakan untuk manusia. Fungsinya antara lain sebagai tempat menetap dan sumber penghidupan. Kedua fungsi tersebut disebut-kan dengan jelas pada Q.S. al-A‘râf, 7:10 dan 24. Ayat pada Q.S. al-A‘râf, 7: 24 menyebutkan fungsi bumi sebagai lingkungan hidup bagi manusia. Hal ini dapat dipahami dari kata mustaqarran yang secara harfiah berarti tempat tingal. Tidak ada perbedaan pendapat ulama dalam hal ini. Berdasarkan ayat ini, kita memahami bahwa pada hakekatnya semua manusia mempunyai hak yang sama untuk berdiam di bumi. Bukan hanya itu, ayat yang sama juga menyebutkan fungsi lain dari bumi, yakni sebagai mata’. Kata ini lazim diterjemahkan dengan “perhiasan”, namun demikian nuansa yang dikandungnya tidak terbatas pada perhiasan dalam arti asesoris. Kata mata’ juga berarti sesuatu yang dapat memberi keindahan atau  manfaat yang dapat dinikmati dalam waktu tertentu. Quraish Shihab (2000: 157) mengartikan kata mata‘ dengan kesenangan hidup yang bersifat sementara.

Kemudian, QS. 7:10 menjelaskan bahwa Allah menjadikan bumi itu sebagai sumber kehidupan (maâyisy) bagi manusia. Menurut al-Maraghi (1963: 108) maâyisy artinya segala yang me-nunjang kehidupan jasmani dan rohani berupa makanan, minuman, pakaian dan selainnya, baik yang dapat dikomsumsi secara langsung (instant) maupun yang membutuhkan usaha atau proses seperlunya.

Al-Qur’an tidak membatasi fungsi bumi pada generasi ter-tentu. Kedua ayat di atas menjelaskan tujuan penciptaan bumi untuk manusia dengan menggunakan ungkapan plural (untuk kalian). Bagian ini menegaskan bahwa setiap manusia dari generasi ke generasi mempunyai hak yang sama untuk menempati bumi dan memanfaatkan fasilitas di dalamnya. Dalam menafsirkan ini, Abd. Muin Salim (1990: 33) menyatakan, bahwa Adam dan anak cucunya diberi hak asasi untuk mendiami bumi dan kewenangan untuk memanfaatkan fasilitas yang disediakan Allah. Lanjutan ayat me-negaskan sebagai tempat tinggal manusia “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan” (Q.S. al-A‘râf, 7: 25). Penekanan yang demikian kita temukan pada konvensi internasional tentang konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development), yakni  “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengganggu kebutuhan generasi yang akan datang”. Konsep ini mulai dikembangkan pada tahun 1987 dan mencapai kematangan pada pertemuan internasional di Rio de Jeneiro – Brazil tahun 1992 (Arimbi:Makalah).

Pengalaman sehari-hari, nampaknya tidak selalu selaras dengan apa yang diungkapkan al-Qur’an tentang fungsi bumi dan segala isinya, juga dengan kebijakan nasional dan internasional. Ini dapat dicontohkan dengan air sebagai pendukung utama kehidupan (QS. 2: 164; 6: 99; 16: 5-8). Pentingnya air tentu tidak terbantahkan karena pada kenyataannya semua makhluk hidup tidak akan mampu bertahan tanpa dengan air. Karenanya, sepanjang per-nyataan al-Qur’an, air selalu disebutkan sebagai nikmat kecuali dalam kisah Nabi Nuh as. dan para pengikutnya. Pertanyaannya, jika demikian mengapa air kerap menjadi bencana bagi manusia?

Terhadap pertanyaan ini al-Qur’an menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi karena ulah manusia sendiri, yakni tidak menu-naikan amanah untuk mengelola bumi dengan baik. Jawaban yang diberikan oleh para pakar lingkungan menegaskan hal itu lewat uraian tentang kerusakan lingkungan dimana-mana yang berujung pada ketidakseimbangan alam karena pembangunan yang dilakukan tidak didasarkan atas analisis dampak lingkungan dengan baik. Di kota besar, pembangunan gedung dilakukan tanpa peduli akan keseimbangan antara area tangkap dan area serap. Area parkir dilapisi aspal, taman yang kelihatan hijau pun dilapisi dengan beton, saluran air (kanal) dibuat seminimal mungkin. Akibatnya, hujan yang menurut al-Qur’an diturunkan dengan kadar sesuai dengan kebutuhan, tidak dapat terserap dengan baik sehingga meluap ke mana-mana. Kemudian di pedesaan, kita melihat praktek penebangan hutan secara liar, tanpa diimbangi dengan upaya penghijauan. Akibatnya, tanah longsor pada musim hujan, dan kesulitan air bersih pada musim kemarau.

Tugas Memakmurkan Bumi

Al-Qur’an menyatakan bahwa bumi diciptakan untuk meme-nuhi kebutuhan manusia. Pernyataan ini sangat selaras dengan kenyataan yang kita saksikan mengenai pemanfaatan kekayaan alam oleh manusia. Tumbuhan-tumbuhan dimanfaatkan untuk me-menuhi kebutuhan akan pangan, papan, sandang dan pakan untuk ternak (QS. 79: 31-33; 80: 24-32; 32: 27; 20: 53-54.), disamping sebagai unsur utama dari keindahan alam yang memenuhi kebutuhan manusia akan pemandangan dan lingkungan yang sehat (QS. 22: 5; 27: 60; 50: 7). Demikian pula binatang, selain sebagai bahan pangan, dan sandang (QS. 6: 142; 40: 79, 6: 66), juga digunakan sebagai kendaraan (QS. 16: 7-8; 23: 22). Untuk semua itu, Allah mengisyaratkan kewajiban manusia merefleksikan keka-guman terhadap sang pencipta sekaligus mensyukurinya “Tuhan kami, tiada yang sia-sia dari segala apa yang Engkau ciptakan”(QS. 3:191).

Perhatian manusia seharusnya tidak berhenti pada fungsi dan upaya pemanfaatan bumi untuk dirinya. Bumi sebagai nikmat tidak hanya ditujukan kepada generasi tertentu, melainkan untuk semua manusia dari generasi ke generasi. Karenanya, di samping berhak memanfaatkannya, manusia mempunyai kewajiban untuk melakukan pemeliharaan agar tetap lestari untuk diwariskan ke-pada generasi berikutnya. Dalam kontek ini, manusia menempati posisi khalifah yang mengemban amanah untuk memakmurkan bumi. Mereka harus memikirkan cara pemanfaatan lingkungan se-kaligus pelestariannya “memenuhi kebutuhan sekarang dengan mengeksploitasi alam tanpa mengganggu hak generasi mendatang”.

Posisi manusia sebagai khalifah dengan tugas memak-murkan bumi terungkap pada QS. 2: 30; 38: 26; 11: 61. Berda-sarkan ayat-ayat dimaksud, para ulama menjelaskan tugas manusia dengan konsep istikhlaaf dan isti’maar. Kedua konsep ini saling terkait, yang pertama merujuk pada subyek yang melaksanakan tugas, sedangkan yang kedua merujuk pada pekerjaan (tugas) yang harus dijalankan. Gabungan keduanya dapat kita rangkai dalam kalimat pendek “manusia adalah wakil Tuhan untuk memakmurkan bumi”.

Khalifah artinya pihak yang mewakili pemberi wewenang untuk melaksanakan tugasnya. Dalam kontek pembicaraan ini, khalifah berarti pihak yang menerima amanah dari Allah untuk mewakili diri-Nya untuk mengurus bumi. Secara eksplisit kedua ayat di atas menyebutkan dua figur khalifah, yakni Adam as. dan Nabi Shaleh as. Meski demikian, tugas sebagai khalifah tidak terbatas pada manusia pilihan yang disebutkan namanya secara langsung. Manusia tanpa terkecuali adalah khalifah. Hal ini dikuatkan oleh ayat kedua yang menyatakan semua manusia mengemban tugas untuk memakmurkan bumi. Ayat yang dimaksud menggunakan redaksi umum, karena itu para ulama sepakat bahwa pihak yang mendapatkan tugas untuk memakmurkan bumi adalah manusia secara keseluruhan.

Kata ista’mara berarti memakmurkan, artinya mengolah bumi sehingga beralih menjadi suatu tempat dan kondisi yang me-mungkinkan manfaatnya dapat dipetik seperti membangun pemu-kiman untuk dihuni, mesjid untuk tempat ibadah, tanah untuk pertanian, taman untuk dipetik buahnya dan rekreasi. Kata ini muncul empat kali di dalam al-Qur’an, semuanya merujuk pada manusia sebagai subyeknya. Perbedaannya hanya terletak pada obyeknya, dua diantaranya meletakkan bumi sebagai obyek, dan dua yang lainnya dalam kontek memakmurkan masjid. Hal ini menarik, sebab di dalam satu ayat, Allah justru menyebutkan bahwa semua bagian bumi ini adalah tempat bersujud bagi manusia. Ini semakin menegaskan bahwa upaya memakmurkan bumi tidak terbatas pada aspek material semata, tetapi juga memer-hatikan aspek spiritual secara simultan.

Kaitannya dengan tugas untuk memakmurkan bumi, Allah mengisyaratkan potensi penyimpangan yang dapat dilakukan oleh manusia. Pada rangkaian ayat yang menyebut Nabi Adam as. sebagai khalifah, hal itu terungkap lewat sanggahan malaikat bahwa manusia yang terpilih menjadi khalifah, berpotensi melakukan pertumpahan darah, sementara pada ayat yang menyebutkan Nabi Shaleh as. sebagai khalifah, isyarat itu terliha pada perintah untuk memohon ampun dan bertobat. Pada QS. Shad, 38: 26 dinyatakan bahwa penyimpangan itu karena adanya godaan sehingga manusia mengikuti hawa nafsunya. Potensi penyimpangan ini terbuka untuk berkembang menjadi aktual karena bumi sebagai obyeknya adalah passif dan bebas nilai (Kadir Gassing).

Untuk itu, Allah membekali manusia dengan akal disamping keberadaan wahyu. Wujudnya adalah mengelola lingkungan dengan bekal iman dan tekhnologi. Meski tidak secara eksplisit, namun keharusan integrasi keduanya secara seimbang dalam pengelolaan lingkungan dapat dipahami dari isyarat-isyarat implisit yang disebutkan di dalam ayat. Menarik untuk dikaji bahwa ayat-ayat al-Qur’an yang menyebutkan bumi sebagai nikmat secara konsisten menekankan aspek spritual. Pada awal Surah al-Fatihah, misalnya, Allah swt. merangkai kepantasan segala rasa terima kasih pada-Nya dengan eksistensi-Nya sebagai pencipta sekaligus pemelihara alam semesta. Kemudian, ayat yang mengenalkan bumi sebagai ham-paran ditutup dengan sebuah larangan agar manusia tidak menjadikan sesuatu apapun sebagai tandingan bagi-Nya. Ayat yang menegaskan bumi sebagai penghidupan ditutup dengan keharusan untuk bersyukur. Ayat-ayat seperti ini dapat dipahami bahwa pada hakekatnya nilai-nilai spritual harus diintegrasikan dalam mengelola alam. Intinya adalah menciptakan interaksi dengan lingkungan dalam bentuk hubungan mutualisme, mengambil sekaligus memberi manfaat dari dan kepada lingkungan.

Urgensi integrasi nilai-nilai spritualitas dalam mengelola lingkungan hidup disampaikan Allah lewat pemaparan kisah-kisah umat masa lampau seperti kisah umat Nabi Nuh, Hud, Luth dan Shaleh. Penuturan al-Qur’an mengenai hal ini semuanya meng-gambarkan pengingkaran mereka terhadap spritualitas yang disampaikan oleh Rasul yang diutus kepada mereka. Karenanya, dalam interaksi mereka dengan lingkungan kering dari nilai-nilai spiritual. Akibatnya mereka semua hancur oleh alam itu sendiri. Umat Nabi Nuh hancur karena banjir, umat Nabi Daud binasa karena angin kencang, umat Nabi Shaleh hancur karena suara petir dan halilintar yang mematikan.

Kemudian pesan pentingnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi dalam mengelola lingkungan muncul pada kontek penciptaan Adam sebagai khalifah. Al-Qur’an menggambarkan bahwa Nabi Adam as. Yang dilantik sebagai khalifah memiliki seperangkat ilmu tentang nama-nama seluruh benda. Hal ini dengan tegas diungkapkan pada redaksi wa ‘allama Adama al-asmâ’a kullahâ. Pesan ini dapat dipahami secara kontekstual bahwa untuk menjadi khalifah yang baik, manusia harus membekali dirinya dengan pengetahuan, mengikuti perkembangan sain dan tekhnologi yang begitu dinamis.

3. Pemanfaatan Lingkungan Hidup               

Hukum asal memanfaatkan bumi adalah mubah (boleh). Cara dan tujuan pemanfaatan yang dilakukan oleh manusia kemudian memungkinkan hukum asal tersebut berubah menjadi wajib atau haram. Pemanfatan dan pengelolaan bumi yang berdampak pada kerusakan, pencemaran, atau merugikan pihak lain mengalihkan status hukum dari mubâh menjadi terlarang (haram). Sebaliknya, bila eksploitasi sumberdaya alam dilakukan untuk memenuhi suatu kewajiban seperti untuk memberi nafkah keluarga dengan tetap menjaga kelestarian serta dampak negatifnya, maka hukum yang asalnya mubah, dapat berubah menjadi wajib.

Pengelolaan lingkungan hidup harus didasarkan pada ketauhidan, yakni keyakinan bahwa Allah swt. adalah Pencipta, Pemelihara, dan Pendidik alam semesta (rabb al-alamîn). Kong-kritnya, dalam pengelolaan lingkungan harus selaras dengan pesan-pesan ilahiah. Kondisi bumi dan segala isinya yang passif dan siap-olah, bukan alasan bagi manusia untuk melakukan pengelolaan lingkungan semaunya. Manusia harus selalu menyadari bahwa apapun yang ia lakukan tidak ada yang luput dari pengetahuan Allah, dan kerusakan sekecil apapun yang dilakukan harus dipertanggungjawabkan di kelak kemudian hari.

Pengelolaan lingkungan hidup di dalam ajaran Islam tergambar pada dua pesan kunci, yakni perintah untuk melakukan perbaikan (al-islah) dan larangan untuk melakukan kerusakan (al-ifsad). Kedua pesan ini berlaku untuk semua jenis spesies yang ada di bumi (hewan, tumbuh-tumbuhan, dan materi lainnya). Perbaikan (ishlah) artinya kegiatan yang melestarikan kondisi bumi, dan meningkatkan manfaatnya bagi manusia dan makhluk lainnya. Sementara kerusakan (al-ifsad) adalah segala bentuk kegiatan yang mengancam kelestarian lingkungan dan atau meyebabkan berku-rangnya fungsi alam terhadap kehidupan makhluk hidup di dunia.

Secara praktis, pesan-pesan tersebut terwujud dalam kehi-dupan Nabi dan para sahabatnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa nabi menetapkan area yang disebut dengan naqi dan hima sebagai kawasan konservasi, sama dengan cagar alam saat ini. Ibn Wahhab berpendapat bahwa yang dikatakan naqî‘ dalam bahasa Arab adalah tempat yang menjadi sumber air. Imam al-Syaukani menjelaskan bahwa naqî‘ yang berada di luar kota Madinah disebut demikian karena di sana terdapat sumber (genangan) air dan pa-dang rumput yang dilindungi oleh Nabi dan digunakan sebagai tempat menggembalakan hewan ternak (Rusli, 1999: 196).

Perintah untuk menyiapkan padang gembala menunjukkan kesadaran Rasulullah atas pentingnya konservasi tumbuh-tumbuhan. Hal ini dikuatkan sejumlah sabdanya yang berisi anjuran untuk menanam pohon sekaligus janji  pahala bagi pela-kunya. Kemudian dalam bentuk larangan Rasulullah menyatakan bahwa merusak tumbuh-tumbuhan adalah pekerjaan orang-orang munafiq.

Dewasa ini, kelestarian lingkungan harus menjadi perhatian semua pihak. Temuan tekhnologi dalam bentuk alat, bahan, dan cara tentu saja abash untuk digunakan dan diterapkan, namun dengan catatan selama tidak mengancam kelestarian lingkungan itu sendiri. Hal ini harus ditekankan karena dalam waktu yang relatif lama, pengelolaan lingkungan oleh masyarakat industri dengan menggunakan bahan, alat, dan tekhnologi yang canggih tidak melihat sesuatu kecuali pengaruh tekhnologi itu terhadap kemu-dahan melakukan eksplorasi/eksploitasi dengan tingkat produk-tifitas yang tinggi. Padahal di satu sisi melahirkan dampak negatif yang luar biasa, yakni mengancam kehidupan ummat manusia. Penggunaan DDT misalnya di satu sisi meningkatkan produksi pertanian, namun di sisi lain menyebabkan hilangnya spesies-spesies tertentu yang tentu saja mempunyai kontribusi tersendiri dalam kontek keseimbangan ekologi dan ekosistem (Carson: 1962). Kesadaran seperti inilah kemudian yang melahirkan upaya serius dalam penanganan lingkungan sejak dekade 1960 – 1970-an, yang tertuang dalam berbagai kebijakan-kebijakan internasional. Di antara kebijakan – kebijakan internasional tersebut, yang juga telah diratifikasi oleh pemerintah RI adalah Deklarasi Rio de Jeneiro dan agenda 21, Konvensi Keanekaragaman Hayati/Undang-undang No. 5 Tahun 1994, Konvensi Perubahan Iklim/Undang-undang No. 6 Tahun 1994, Konvensi PBB tentang kelautan/Undang-undang No. 17 Tahun 1985, Konvensi Perdagangan Internasional tentang spesies langka/Kepres No. 43 Tahun 1978, Konvensi Perlindungan Lahan Basah/Kepres No 48 tahun 1991, dan Konvensi lapisan Ozon/ Kepres No 23 tahun 1992.

Kesimpulan

Pemeliharaan lingkungan hidup merupakan prioritas di dalam ajaran islam. Penelusuran terhadap al-Qur’an dan hadis bahkan menunjukkan bahwa islam mempunyai konsep yang komprehensif mengenai hal tersebut melalui penjelasan tentang fungsi bumi dan segala isinya bagi manusia, tugas manusia sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi, urgensi iman dan teknologi (tekhnorelegius) dalam mengelola bumi serta sejumlah perintah untuk melakukan ishlah sekaligus larangan melakukan ifsad. Bahkan, pengelolaan lingkungan telah dipraktekkan oleh Nabi dan para sahabatnya dengan menetapkan kawasan-kawasan tertentu sebagai cagar alam.

 

Last Updated on Saturday, 01 January 2011 08:23

Pentingnya Pengetahuan dan Pendidikan Menurut al-Qur’an

Selasa, 01 Februari 2011 13:50 |||

Pendidikan memiliki peran penting pada era sekarang ini. Karena tanpa melalui pendidikan proses transformasi dan aktualisasi pengetahuan moderen sulit untuk diwujudkan. Demikian halnya dengan sains sebagai bentuk pengetahuan ilmiah dalam pencapaiannya harus melalui proses pendidikan yang ilmiah pula. Yaitu melalui metodologi dan kerangka keilmuan yang teruji. Karena tanpa melalui proses ini pengetahuan yang didapat tidak dapat dikatakan ilmiah.

Dalam Islam pendidikan tidak hanya dilaksanakan dalam batasan waktu tertentu saja, melainkan dilakukan sepanjang usia (long life education). Islam memotivasi pemeluknya untuk selalu meningkatkan kualitas keilmuan dan pengetahuan. Tua atau muda, pria atau wanita, miskin atau kaya mendapatkan porsi sama dalam pandangan Islam dalam kewajiban untuk menuntut ilmu (pendidikan). Bukan hanya pengetahuan yang terkait urusan ukhrowi saja yang ditekankan oleh Islam, melainkan pengetahuan yang terkait dengan urusan duniawi juga. Karena tidak mungkin manusia mencapai kebahagiaan hari kelak tanpa melalui jalan kehidupan dunia ini.

Islam juga menekankan akan pentingnya membaca, menelaah, meneliti segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini. Membaca, menelaah, meneliti hanya bisa dilakukan oleh manusia, karena hanya manusia makhluk yang memiliki akal dan hati. Selanjutnya dengan kelebihan akal dan hati, manusia mampu memahami fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya, termasuk pengetahuan. Dan sebagai implikasinya kelestarian dan keseimbangan alam harus dijaga sebagai bentuk pengejawantahan tugas manusia sebagai khalifah fil ardh.

Dalam makalah ini akan dipaparkan pandangan Islam tentang pendidikan, pemerolehan pengetahuan (pendidikan), dan arah tujuan pemanfaatan pendidikan.

Pendidikan Menurut al-Qur’an

al-Qur’an telah berkali-kali menjelaskan akan pentingnya pengetahuan. Tanpa pengetahuan niscaya kehidupan manusia akan menjadi sengsara. Tidak hanya itu, al-Qur’an bahkan memposisikan manusia yang memiliki pengetahuan pada derajat yang tinggi. al-Qur’an surat al-Mujadalah ayat 11 menyebutkan:

…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…”.

al-Qur’an juga telah memperingatkan manusia agar mencari ilmu pengetahuan, sebagaimana dalam al-Qur’an surat at-Taubah ayat 122 disebutkan:

Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.

Dari sini dapat dipahami bahwa betapa pentingnya pengetahuan bagi kelangsungan hidup manusia. Karena dengan pengetahuan manusia akan mengetahui apa yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, yang membawa manfaat dan yang membawa madharat.

Dalam sebuah sabda Nabi saw. dijelaskan:

Mencari ilmu adalah kewajiban setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa Islam mewajibkan kepada seluruh pemeluknya untuk mendapatkan pengetahuan. Yaitu, kewajiban bagi mereka untuk menuntut ilmu pengetahuan.

Islam menekankan akan pentingnya pengetahuan dalam kehidupan manusia. Karena tanpa pengetahuan niscaya manusia akan berjalan mengarungi kehidupan ini bagaikan orang tersesat, yang implikasinya akan membuat manusia semakin terlunta-lunta kelak di hari akhirat.

Imam Syafi’i pernah menyatakan:

Barangsiapa menginginkan dunia, maka harus dengan ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, maka harus dengan ilmu. Dan barangsiapa menginginkan keduanya, maka harus dengan ilmu”.

Dari sini, sudah seyogyanya manusia selalu berusaha untuk menambah kualitas ilmu pengetahuan dengan terus berusaha mencarinya hingga akhir hayat.

Dalam al-Qur’an surat Thahaa ayat 114 disebutkan:

Katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan’.”

Pemerolehan Pengetahuan dan Objeknya (Proses Pendidikan)

Pendidikan Islam memiliki karakteristik yang berkenaan dengan cara memperoleh dan mengembangkan pengetahuan serta pengalaman. Anggapan dasarnya ialah setiap manusia dilahirkan dengan membawa fitrah serta dibekali dengan berbagai potensi dan kemampuan yang berbeda dari manusia lainnya. Dengan bekal itu kemudian dia belajar: mula-mula melalui hal yang dapat diindra dengan menggunakan panca indranya sebagai jendela pengetahuan; selanjutnya bertahap dari hal-hal yang dapat diindra kepada yang abstrak, dan dari yang dapat dilihat kepada yang dapat difahami. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam teori empirisme dan positivisme dalam filsafat. Dalam firman Allah Q.s. an-Nahl ayat 78 disebutkan:

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur”.[1]

Dengan pendengaran, penglihatan dan hati, manusia dapat memahami dan mengerti pengetahuan yang disampaikan kepadanya, bahkan manusia mampu menaklukkan semua makhluk sesuai dengan kehendak dan kekuasaannya. Dalam al-Qur’an surat al-Jatsiyah ayat 13 disebutkan:

Dan dia menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”.

Namun, pada dasarnya proses pemerolehan pengetahuan adalah dimulai dengan membaca, sebagaimana dalam al-Qur’an surat al-‘Alaq ayat 1-5:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan (1), Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2). Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah (3), Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (4), Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5)”.

Dalam pandangan Quraish Shihab kata Iqra’ terambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca teks tertulis maupun tidak.

Wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena al-Qur’an menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut bismi Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak. Alhasil, objek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.[2]

Sebagaimana dalam al-Qur’an surat Yunus ayat 101 disebutkan:

Katakanlah: ‘Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi”.

Al-Qur’an membimbing manusia agar selalu memperhatikan dan menelaah alam sekitarnya. Karena dari lingkungan ini manusia juga bisa belajar dan memperoleh pengetahuan.

Dalam al-Qur’an surat asy-Syu’ara ayat 7 juga disebutkan:

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?”.

Demikianlah, al-Qur’an secara dini menggarisbawahi pentingnya “membaca” dan keharusan adanya keikhlasan serta kepandaian memilih bahan bacaan yang tepat.[3]

Namun, pengetahuan tidak hanya terbatas pada apa yang dapat diindra saja. Pengetahuan juga meliputi berbagai hal yang tidak dapat diindra. Sebagaimana tertuang dalam al-Qur’an surat Al-Haqqah ayat 38-39:

Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat (38). Dan dengan apa yang tidak kamu lihat (39)”.

Dengan demikian, objek ilmu meliputi materi dan nonmateri, fenomena dan nonfenomena, bahkan ada wujud yang jangankan dilihat, diketahui oleh manusia pun tidak. Dalam al-Qur’an surat Al-Nahl ayat 8 disebutkan:

Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya”.[4]

Sebagaimana telah dipaparkan di atas, dalam pengetahuan manusia tidak hanya sebatas apa yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup manusia, namun juga semua pengetahuan yang dapat menyelamatkannya di akhirat kelak.

Islam mengehendaki pengetahuan yang benar-benar dapat membantu mencapai kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia. Yaitu pengetahuan terkait urusan duniawi dan ukhrowi, yang dapat menjamin kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia di dunia dan di akhirat.

Pengetahuan duniawi adalah berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan urusan kehidupan manusia di dunia ini. Baik pengetahuan moderen maupun pengetahuan klasik. Atau lumrahnya disebut dengan pengetahuan umum. Sedangkan pengetahuan ukhrowi adalah berbagai pengetahuan yang mendukung terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia kelak di akhirat. Pengetahuan ini meliputi berbagai pengetahuan tentang perbaikan pola perilaku manusia, yang meliputi pola interaksi manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Atau biasa disebut dengan pengetahuan agama.

Pengetahuan umum (duniawi) tidak dapat diabaikan begitu saja, karena sulit bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hari kelak tanpa melalui kehidupan dunia ini yang mana dalam menjalani kehidupan dunia ini pun harus mengetahui ilmunya. Demikian halnya dengan pengetahuan agama (ukhrowi), manusia tanpa pengetahuan agama niscaya kehidupannya akan menjadi hampa tanpa tujuan. Karena kebahagiaan di dunia akan menjadi sia-sia ketika kelak di akhirat menjadi nista.

Islam selalu mengajarkan agar manusia menjaga keseimbangan, baik keseimbangan dhohir maupun batin, keseimbangan dunia dan akhirat. Dalam Qs. Al-Mulk ayat 3 disebutkan:

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang! Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”.

Dalam al-Qur’an surat ar-Ra’d ayat 8 juga disebutkan:

Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ukuran”.

Dari sini dapat dipahami bahwa Allah selalu menciptakan segala sesuatu dalam keadaan seimbang, tidak berat sebelah. Demikian halnya dalam penciptaan manusia. Manusia juga tercipta dalam keadaan seimbang. Dari keseimbangan penciptaannya, manusia diharapkan mampu menciptakan keseimbangan diri, lingkungan dan alam semesta. Karena hanya manusia yang mampu melakukannya sebagai bentuk dari kekhalifahan manusia di muka bumi.

Dalam al-Qur’an surat al-Qashash ayat 77 disebutkan:

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Manusia tidak dianjurkan oleh Islam hanya mencari pengetahuan yang hanya berorientasi pada urusan akhirat saja. Akan tetapi, manusia diharapkan tidak melupakan pengetahuan tentang urusan dunia. Meskipun kehidupan dunia ini hanyalah sebuah permainan dan senda gurau belaka, atau hanyalah sebuah sandiwara raksasa yang diciptakan oleh Tuhan semesta alam. Namun, pada dasarnya manusia diharapkan mampu menjaga keseimbangan dirinya dalam menjalani realita kehidupan ini, termasuk dalam mencari pengetahuan.

Al-Qur’an surat al-An’aam ayat 32 menyebutkan:

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”.

Islam menghendaki agar pemeluknya mempelajari pengetahuan yang dipandang perlu bagi kelangsungan hidupnya di dunia dan di akhirat kelak. Dalam al-Qur’an surat al-Baqoroh ayat 201 disebutkan:

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Kebaikan (hasanah) dalam bentuk apapun tanpa didasari ilmu, niscaya tidak akan terwujud. Baik berupa kebaikan duniawi yang berupa kesejahteraan, ketenteraman, kemakmuran dan lain sebagainya. Apalagi kebaikan di akhirat tidak akan tercapai tanpa adanya pengetahuan yang memadai. Karena segala bentuk keinginan dan cita-cita tidak akan terwujud tanpa adanya usaha dan pengetahuan untuk mencapai keinginan dan cita-cita itu sendiri.

Pemanfaatan Pengetahuan (Orientasi Pendidikan)

Manusia memiliki potensi untuk mengetahui, memahami apa yang ada di alam semesta ini. Serta mampu mengkorelasikan antara fenomena yang satu dan fenomena yang lainnya. Karena hanya manusia yang disamping diberi kelebihan indera, manusia juga diberi kelebihan akal. Yang dengan inderanya dia mampu memahami apa yang tampak dan dengan hatinya dia mampu memahami apa yang tidak nampak. Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 31 disebutkan:

Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya”.

Yang dimaksud nama-nama pada ayat tersebut adalah sifat, ciri, dan hukum sesuatu. Ini berarti manusia berpotensi mengetahui rahasia alam raya.

Adanya potensi itu, dan tersedianya lahan yang diciptakan Allah, serta ketidakmampuan alam raya membangkang terhadap perintah dan hukum-hukum Tuhan, menjadikan ilmuwan dapat memperoleh kepastian mengenai hukum-hukum alam. Karenanya, semua itu mengantarkan manusia berpotensi untuk memanfaatkan alam yang telah ditundukkan Tuhan.[5]

Namun, di sisi lain manusia juga memiliki nafsu yang cenderung mendorong manusia untuk menuruti keinginannya. Nafsu jika tidak terkontrol maka yang terjadi adalah keinginan yang tiada akhirnya. Nafsu juga tidak jarang menjerumuskan manusia dalam lembah kenistaan. Dalam al-Qur’an surat Yusuf ayat 53 disebutkan:

Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”.

al-Qur’an menandaskan bahwa umat Islam adalah umat terbaik, yang mampu menciptakan lingkungan yang baik, kondusif, yang bermanfaat bagi seluruh alam. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Dalam al-Qur’an surat Ali Imron ayat 110 disebutkan:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”.

Sabda Nabi saw.:

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat”.

Pisau akan sangat berguna ketika digunakan oleh orang yang berpikiran positif dan ahli dalam menggunakan pisau. Sebaliknya, ketika pisau digunakan oleh orang yang berpikiran negatif, niscaya bukan kemanfaatan dan kemaslahatan yang akan dihasilkan dari pisau itu, melainkan kemadharatan.

Demikian halnya dengan pengetahuan, ketika penggunaannya bertujuan untuk mencapai kemanfaatan niscaya pengetahuan itu pun akan bermanfaat. Namun sebaliknya, ketika pengunaan pengetahuan digunakan untuk kemadharatan, maka kemadharatan itulah yang akan didapat.

Ilmu pengetahuan adalah sebuah hubungan antara pancaindera, akal dan wahyu. Dengan pancaindera dan akal (hati), manusia bisa menilai sebuah kebenaran (etika) dan keindahan (estetika). Karena dua hal ini adalah piranti utama bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan. Namun, disamping memiliki kelebihan, kedua piranti ini memiliki kekurangan. Sehingga keduanya masih membutuhkan penolong untuk menunjukkan tentang hakikat suatu kebenaran, yaitu wahyu. Dan dengan wahyu manusia dapat memahami posisinya sebagai khalifah fil ardh.[6]

Wahyu yang diturunkan kepada manusia tidak hanya berisikan perintah dan larangan saja, akan tetapi lebih dari itu al-Qur’an juga membahas tentang bagaimana seharusnya hidup dan menghargai kehidupan. Dan tidak terlepas juga di dalam al-Qur’an dikaji tentang sains dan teknologi sehingga tidaklah berlebihan jika kita menyebutnya sebagai kitab sains dan medis[7].

Namun, berbagai bentuk kemajuan sains dan teknologi serta ilmu pengetahuan tanpa didasari tujuan yang benar, niscaya hanya akan menjadi sebuah bumerang yang menghancurkan kehidupan manusia. Karena tidak jarang saat ini manusia malah mengalami kejenuhan, kehampaan jiwa, hedonisme, materialisme bahkan dekadensi moral yang tidak jarang pula implikasinya merugikan diri mereka sendiri bahkan lingkungan sekitar. Padahal dengan adanya kemajuan sains dan teknologi kehidupan manusia diharapkan menjadi lebih mudah, efisien, instan, yang bukan malah menimbulkan tekanan jiwa dan kerusakan lingkungan.

Dalam Islam telah digariskan aturan-aturan moral penggunaan pengetahuan. Apapun pengetahuan itu, baik kesyariatan maupun lainnya, teoritis maupun praktis, ibarat pisau bermata dua yang dapat digunakan pemiliknya untuk berlaku munafik dan berkuasa atau berbuat kebaikan dan mengabdi kepada kepentingan umat manusia. Pengetahuan tentang atom umpamanya, dapat digunakan untuk tujuan-tujuan perdamaian dan kemanusiaan, tapi dapat pula digunakan untuk menghancurkan kebudayaan manusia melalui senjata-senjata nuklir.[8]

Al-Qur’an juga telah menegaskan bahwa kerusakan di muka bumi adalah akibat dari ulah manusia sendiri. Dalam al-Qur’an surat ar-Rum ayat 41 disebutkan:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia”.

Manusia adalah makhluk yang memiliki tanggung jawab, yaitu tanggung jawab menjadi khalifah fil ardh. Kekhalifahan manusia adalah salah satu bentuk dari ta’abbud-nya kepada sang Khalik. Sedangkan ta’abbud adalah tugas pokok dari penciptaan manusia, sekaligus menggali, mengatur, menjaga dan memelihara alam semesta ini. Sebagaimana telah dijelaskan dalam al-Qur’an surat adz-Dzariyat ayat 56:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Dalam al-Qur’an surat al-A’raf ayat 85 disebutkan:

Sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman“.

Pemanfaatan pengetahuan harus ditujukan untuk mendapatkan kemanfaatan dari pengetahuan itu sendiri, menjaga keseimbangan alam semesta ini dengan melestari-kan kehidupan manusia dan alam sekitarnya, yang sekaligus sebuah aplikasi dari tugas kekhalifahan manusia di muka bumi. Dan pemanfaatan pengetahuan adalah bertujuan untuk ta’abbud kepada Allah swt., Tuhan semesta alam. Wallahu a’lam.

Kesimpulan

Dari deskripsi singkat di atas, dapat dipahami bahwa al-Qur’an telah memberikan rambu-rambu yang jelas kepada kita tentang konsep pendidikan yang komperehensif. Yaitu pendidikan yang tidak hanya berorientasi untuk kepentingan hidup di dunia saja, akan tetapi juga berorientasi untuk keberhasilan hidup di akhirat kelak. Karena kehidupan dunia ini adalah jembatan untuk menuju kehidupan sebenarnya, yaitu kehidupan di akhirat.

Manusia sebagai insan kamil dilengkapi dua piranti penting untuk memperoleh pengetahuan, yaitu akal dan hati. Yang dengan dua piranti ini manusia mampu memahami “bacaan” yang ada di sekitarnya. Fenomena maupun nomena yang mampu untuk ditelaahnya. Karena hanya manusia makhluk yang diberi kelebihan ini.

Pengetahuan yang telah didapat manusia sudah seyogyanya diorientasikan untuk kepentingan seluruh umat manusia. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia seluruhnya. Namun, tidak boleh dilupakan bahwa manusia juga hidup berdampingan dengan lingkungan, sehingga tidak bisa serta merta kemajuan pengetahuan pengetahuan dan teknologi malah menghancurkan dan merusak keseimbangan alam. Karena sudah menjadi tugas manusia untuk melestarikan alam ini sebagai pengejawantahan kekhalifahan manusia sekaligus bentuk ta’abbudnya kepada Allah swt. (HSR Blog)

Daftar Pustaka

Ahmad, al-Hajj, Yusuf. al-Qur’an Kitab Sains dan Medis. Terj. Kamran Asad Irsyadi. Grafindo Khazanah Ilmu. Jakarta. 2003.

al-Qardawi, Yusuf. Sunnah, Ilmu Pengetahuan dan Peradaban. Terj. Abad Badruzzaman. PT. Tiara Wacana. Yogyakarta. 2001.

Aly, Noer, Hery & Suparta, Munzier. Pendidikan Islam Kini dan Mendatang. CV. Triasco. Jakarta. 2003.

Habib, Zainal. Islamisasi Sains. UIN-Malang Press. Malang. 2007.

Shihab, Quraish, M. Membumikan al-Qur’an. Mizan. Bandung. 2004.

_______________. Wawasan al-Qur’an. Mizan. Bandung. 2001.

Zainuddin, M. Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam. Lintas Pustaka. Jakarta. 2006.


[1]Hery Noer Aly & Munzier Suparta, Pendidikan Islam Kini dan Mendatang, (Jakarta: CV. Triasco, 2003), h. 109.

[2]M. Qusraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2001), h. 433.

[3]________________, Membumikan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2004), h. 168.

[4]M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2001), h. 436.

[5]Ibid, h. 442.

[6]Lihat Yusuf al-Qardawi, Sunnah, Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, terj. Abad Badruzzaman, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 2001), h. 117-121.

[7]Lihat Yusuf al-Hajj Ahmad, al-Qur’an Kitab Sains dan Medis, terj. Kamran Asad Irsyadi, (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2003), cet.II.

[8]Hery Noer Aly & Munzier Suparta, op.cit., h. 109-110. Bandingkan dengan Zainal Habib, Islamisasi Sains, (Malang: UIN-Malang Press, 2007), h. 14-18.

Al Qur’an Kitab Suci

OPINI | 13 October 2010 | 10:07 830 13 Nihil


Al Qur’an Memang Kitab Suci

Al Qur’anul Karim adalah Firman Allah SWT yang diturunkan melalui Malaikat Jibril as kepada Nabi Muhammad SAW , merupakan Kitab Suci Umat Islam, wahyu pertama pada QS Al Alaq ayat 1-5 dan sampai dengan QS Al Maidah ayat 3, sebagai ayat yang terakhir . Ayat pertama QS Al Alaq turun pada bulan Ramadhan saat Nabi Muhammad berusia 40 tahun atau pada 611 M. Al Qur’an diturunkan dalam waktu 12 tahun, terbagi 10 tahun di Madinah dan 2 tahun di Mekkah . Ayat terakhir QS Al Maidah ayat 3 turun pada hari Jum’at saat Rasullullah melaksanakan Haji Wada’ (haji terakhir). Keseluruhan Al Qur’an terdiri dari 30 Juz dan 114 Surat. Sampai detik ini pengucapan ayat per ayat (baca huruf per huruf) tidak berbeda dan dibaca persis sama seperti di sampaikan Malaikat Jibril kepada Baginda Nabi Muhammad dan selanjutnya dituturkan Nabi Muhammad kepada para shahabat pada waktu itu,semua Ayat Al Qur’an itu merupakan Wahyu Allah dan terjamin kemurniannya. Allah sendiri berfirman di dalamnya pada Surat Al Baqarah “Dzaalikal kitaabu laa raiba fiih hudallil muttaqiin” artinya “kitab Al Qur’an ini tidak ada keraguan pada isinya petunjuk bagi orang yang takwa” . Di lain Surat yaitu pada Surat Al Hijr 9 “ Innaa nahnu nazzalnadz dzikra wa inna lahuu lahaafizhuun” artinya “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur’an, dan Kami pulalah yang memeliharanya”.

Saudara-saudaraku, seiman dan seakidah, tidak bisa dipungkiri bahwa Al Qur’an adalah kitab Suci, yang sudah teruji selama lebih 1400 tahun, dan akan teruji sepanjang masa, atas Janji Allah SWT sendiri sebagai pencipta Al Qur’an dan seluruh alam semesta. Kita perhatikan, tidak ada kitab satupun di seluruh muka bumi ini yang dihafal oleh puluhan ribu umat, bahkan jutaan kecuali Kitab Suci Al Qur’an. Umat Islam yang menjadi panji-panji keaslian dan kemurnian Al Qur’an.Terbukti dibacakannya Al Qur’an pada shalat berjamaah di Masjidil Haram, baik pada waktu shalat fardhlu/wajib atau sunnah Tharawih lengkap 30 Juz, didengar dan disimak oleh seluruh umat Islam di dunia. Tidak akan sanggup siapapun memalsukannya, dengan cara apapun pasti akan ketahuan oleh Umat Islam yang mengamalkan sebagai bacaan pedoman hidup sepanjang masa. Secara tegas dimengerti bahwa tidak ada kitab suci lain yang dihafal oleh manusia kecuali Al Qur’anul Karim.

Al Qur’an dibaca dan dipahami maknanya di setiap surau, musholla, masjid, pesantren, Madrasah/sekolah, di rumah umat muslim di seluruh permukaan bumi, ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan tempat ibadah selalu mengumandangkan Al Qur’an yang penuh berkah di dalamnya. Ini tidak lain adalah bukti bahwa Al Qur’an masih eksis dan terus eksis di seluruh penjuru dunia.

Berikut penulis ingin menyampaikan tinjauan Al Qur’an dari berbagai aspek Ilmu Pengetahuan (Sciences) , bahkan Hukum dan Sosial Kemasyarakatan. Sejarah telah dan yang akan membuktikan bahwa Al Qur’an adalah benar-benar Wahyu Allah SWT, bukan karangan siapapun, Nabi Muhammad adalah sebagai penyampai atau perantara agar wahyu ini sampai kepada umat manusia di seluruh muka bumi.

Al Qur’an ditinjau dari sisi Hukum.

Hukum dalam ajaran Agama Islam dikenal dengan istilah Syariat, yang berarti peraturan atau hukum-hukum yang diturunkan Allah, melalui RasulNya yang mulia,untuk umat manusia, agar manusia keluar dari kegelapan menuju jalan terang, dan mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus. Jika Syariat yang dimaksud ditujukan bagi Umat Islam ini menunjuk kepada peraturan atau hukum-hukum yang diturunkan Allah, melalui Rasul Muhammad SAW, baik berupa Al Qur’an maupun Sunnah Nabi yang berupa perkataan, perbuatan, ketetapan Nabi Muhammad SAW. Jadi jelas bahwa Al Qur’an memuat aspek-aspek hukum bagi ketentraman kehidupan makhluk Allah terutama manusia. Bahkan 90 % dari ayat-ayat Al Qur’an adalah yang berkaitan atau mengatur interaksi antara manusia dengan sesamanya dan mahkluk lainnya, sedangkan 10 % saja yang berkaitan antara manusia dengan Allah SWT.

Sisi hukum merupakan aspek yang fundamental bagi keabsahan suatu panduan dalam kehidupan makhluk yang bernama manusia. Jika suatu produk hukum itu gagal dipertanggung jawabkan keabsahannya, maka segala pembahasan maupun perwujudan pelaksanaannya menjadi tidah sah pula. Al Qur’an sebagai Kitab Suci yang mengandung Produk hukum dari Allah bersifat mutlak kebenarannya, adapun hukum manusia, secara substansial tidak boleh berseberangan nilai kebenarannya terhadap nilai kebenaran pada hukum Allah, Sang Pemilik Hukum itu sendiri.

Sedangkan Hukum Islam/ Syariat Islam sekaligus hukum Allah dibagi menjadi 3 bagian yaitu :

1. Ilmu Tauhid : yaitu peraturan atau hukum-hukum yang berkaitan dengan keimanan, yang tidak boleh diragukan oleh umat Islam, karena merupakan rukun Iman itu sendiri; antara lain : Iman kepada Allah SWT, iman kepada Rasul-rasul Allah, Iman kepada Malaikat Allah, Iman kepada Kitab-kitab Allah (Zabul,Taurat dan Injil), Iman kepada hari Akhir, Iman kepada Qadha dan Qadar. Jumlah ayat Al Qur’an yang memuat dan menjelaskannya sekitar 10% dan kebanyakan turun di Mekkah, dikenal dengan ayat Makkiyah.

2. Ilmu Akhlak/Budi pekerti yang luhur : peraturan atau hukum-hukum yang berhubungan dengan pendidikan dan penyempurnaan budi pekerti itu sendiri; bagaimana memenuhi janji, tugas dan tanggung jawab, moral, etika,dan seterusnya, kebanyakan turun di Madinah, dikenal dengan ayat Madinniyah.

3. Ilmu Fiqih : yaitu ilmu yang mengatur hubungan manusia dengan Allah sebagai Pencipta, manusia dengan sesama manusia. Untuk yang mengatur hubungan manusia dengan Allah disebut Ibadah, sedang manusia dengan sesama disebut muamalah (berdagang, bertetangga, pergaulan suami istri, berkeluarga, dan seterusnya), kebanyakan turun di Madinah.

Banyak Ayat di Al Qur’an yang membicarakan tentang aspek Hukum bagi kehidupan umat manusia , seperti : kedudukan manusia sebagai makhluk Allah , hak waris dan martabat wanita, pencatatan hutang piutang, prinsip /tata cara aturan berdagang, kewajiban seorang Kepala rumah tangga , tanggung jawab pemimpin, aturan kesusilaan /kemasyarakatan dan seterusnya. Tentu saja Al Qur’an tidak menjabarkan semua hal Hukum menjadi mendetail atau terperinci di dalamnya apalagi ke hal yang bersifat teknis hukum. Mengapa demikian karena Al Qur’an bukan hanya membahas tentang hukum saja. Bahkan Al Qur’an sendiri mengandung mengajarkan pemahaman filsafat hukum itu sendiri.

Di dalam Al Qur’an juga termuat aturan/hukum yang berhubungan dengan makhluk selain manusia, yaitu hewan bahkan lingkungan. Issue lingkungan menjadi masalah mengemuka dan menimbulkan aspek hukum yang baru pada tatanan berbangsa di muka bumi. Kita lihat seperti Protokol Tokyo, Ratifikasi tentang penanggulangan pemanasan global (Global Warming) di Belgia pada Mei 2010 ini dan seterusnya. Al Qur’an sangat layak menjadi acuan substansi hukum bagi umat manusia, karena Al Qur’an bersifat universal dan nilai-nilai kebenarannya bersifat pasti atau absolute.

Menurut disiplin Ilmu hukum, Ilmu hukum itu sendiri dibedakan menjadi ilmu tentang

1. Norma (normwissenschafii),

2. Pengertian hukum (begriffenwissenschafii) dan

3. Kenyataan hukum (tatsach enwissenschaft).

Ilmu tentang norma antara lain membahas tentang perumusan norma hukum, apa yang dimaksud dengan norma hukum abstract dan konkrit, isi dan sifat norma hukum, essensialia norma hukum, tugas dan kegunaan norma hukum, pernyataan dan tanda pernyataan norma hukum, penyimpangan terhadap norma hukum,dan keberlakuan norma hukum.

Selajutnya ilmu pengertian hukum antara lain membahas tentang apa yang dimaksud masyarakat hukum, subyek hukum, object hukum, hak dan kewajiban, peristiwa hukum, dan hubungan hukum. Kedua jenis ilmu ini disebut dengan ilmu tentang dogmatic hukum. Ciri dogmatic hukum tersebut adalah teoritis rasional dengan menggunakan logika deduktif.

Sedang ilmu tentang kenyataan hukum antara lain : Sosiologi Hukum, Anthropologi Hukum, Psikologi Hukum, Perbandingan Hukum dan Sejarah Hukum. Sosiologi Hukum mempelajari secara empiris dan analitis hubungan timbal balik antara hukum sebagai gejala dengan gejala-gejala sosial lainnya.

Para pemikir Ilmu hukum Islam mendasarkan pemikirannya pada Agama Islam, yang bermuara pada Wahyu Allah, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, dan juga berdasarkan hadits NabiMuhammad SAW. Sumber Hukum Islam mulai dari Al Qur’an, Hadits Nabi, Ijma’ (kesepakatan-kesepakatan yang disetujui para ulama) dan Qiyas (persamaan atau analogi) . Sebagai pemikir , Imam Syafii telah mengolah hukum –hukum Islam secara sistematis yang kemudian dikenal sebagai Mazhab Syafii. Hukum Islam meliputi seluruh aspek kehidupan dan merupakan hukum yang ideal bagi pemeluknya. Hukum positif boleh dibuat dan diterapkan selama senafas dengan hukum Allah, karena pada dasarnya semua hokum positif yang secara substansial mengandung kebenaran maka akan relevan dengan hukum Allah / Syariat Islam.

Berikut sebagian dari banyak Surat atau Ayat-ayat Al Qur’an yang bermuatan hukum, baik norma, pengertian, kenyataan hukum.

QS Alfatihah ayat 1-7:

1. Bismillaahir Rahmaanir Rahiim (Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang).

2. Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin (segala puji kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam).

3. Arrahmaanir Rahiim (Yang Maha Pengasih dan Penyayang).

4. Maaliki yaumiddiin (Yang menguasai Hari Pembalasan).

5. Iyyaaka na’ budu wa iyyaaka nasta’iin (Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan kepada Engkau pulalah kami memohon pertolongan).

6. Ihdinashshiraathal mustaqiim (Pimpinlah kami kepada jalan yang lurus).

7. Shirathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladhdhaalliin (Yaitu ke jalan mereka , yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula ke jalan orang yang sesat

Pembahasan atas Surat Al Fatihah tersebut :

Ayat 1 : Norma hukum terkandung dalam kata “Dengan Nama Allah” dengan gelar/atribut sang “Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, gelar yang diberikan sebagai Pemilik hukum itu sendiri atas semua ciptaanNya yaitu alam dan seisinya, termasuk manusia. Bahwa Pencipta tak sama kedudukannya dengan ciptaan. Ciptaan harus tunduk akan hukum dari Pencipta. Allah memiliki nama-nama yang indah yang bersesuaian Sifat-sifat Dzat Allah sebagai Rab (Penguasa Alam Semesta) yang dikenal dengan Asma’ul Husna.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, menjelaskan bahwa Allah dengan segala kuasanya dan dengan sifat Rahman RahimNya akan mengurus segenap alam semesta dan seisinya .

Ayat 2 : Segala Puji kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam.

Makna Pengertian Hukum disini adalah Tuhan sebagai Pemilik hukum , kewajiban mentaati hukum ada pada manusia. Penegasan posisi masing-masing, antara Pencipta dan makhluk yang diciptakan.

Ayat 3 : Maha Pengasih dan Penyayang.

Sebagai Sifat sang Pencipta yang memiliki hukum itu sendiri.

Ayat 4 : Yang Menguasai Hari Pembalasan.

Sebagai Maha Hakim, Hakim di atas segalanya, yang berhak menjalankan/pemilik otoritas hukum atas ciptaannya, umat manusia dan segenap alam semesta.

Ayat 5 : Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan kepada Engkau pulalah kami memohon pertolongan.

Kembali menjelaskan posisi Allah sebagai pemilik hukum dan manusia sebagai pelaksana hukum, sang pelaku kehidupan, dan harus menyembah/ beribadah serta dengan berhajat memohon pertolongan kepada Allah, karena manusia adalah makhluk yang lemah yang selalu bergantung kepadaNya.

Ayat 6. Pimpinlah kami kepada jalan yang lurus.

Permohonan manusia agar mendapat jalan yang tidak melanggar hukum, disini manusia mengakui bahwa makhluk harus mempunyai pengertian terhadap hukum yang harus ditaati, berada di jalan yang lurus atau kebenaran di dalam menjalankan kehidupan yang sesuai hukum Allah.

Ayat 7. Yaitu ke jalan mereka, yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan-jalan orang yang Engkau murkai, dan bukan pula ke jalan orang yang sesat.

Menjelaskan manusia yang mengetahui kegunaan norma hukum, sehingga memilih jalannya orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, dan bukan jalan orang yang sesat.

QS Al Maidah ayat 3 ;

Al yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matii wa radhiitu lakumul islaama diinaa. (Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat Ku dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agamamu)

Pembahasan : Ayat ini merupakan jaminan dari Allah akan kesempurnaan Agama Islam (baca Hukum Islam), dan sebagai wahyu terakhir kepada junjungan Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT. Dengan demikian hukum Islam yang sempurna akan menjadi nikmat bagi hidup dan perikehidupan manusia. Sehingga kehidupan manusia (bac a umat Islam) akan selalu diridhai Allah karena bisa menjalankan syariat Islam dengan sempurna.

Surat Al Baqarah 180 ;

Kutiba ‘alaikum idzaa hadhara ahadakumul mautu in taraka khairanil washiyyatu liwaalidaini wal aqrabiina bil ma’ruufi haqqan ‘alal muttaqiin

( Diwajibkan kepadamu, jika seseorang diantaramu telah mendekati kematian, itupun jika diduga meninggalkan harta yang banyak, supaya berwasiat untuk ibu bapaknya dan kerabatnya menurut yang sepantasnya sesuai dengan peraturan agama . Ini adalah kewajiban atas orang-orang bertaqwa).

QS Al Maidah 106 ;

Yaa ayyuhalladziina aamanuu syahaadatu bainikum idzaa hadhara ahadakumul mautu hiinal washiyyatits naani dzawaa ‘adlim minkum au aakharaani min ghairikum in antum dharabtum fil ardhi fa ashaabatkum mushibatul maut, tahbisuunahumaa mim ba’dishshalaati fayuqsimaanii billaahi inir tabtum laa nasytarii bihii tsamanawwa lau kaana dzaa qurbaa wa laa naktumu syahaadatallaahi innaa idzallaminal aatsimiin

( Hai orang-orang yang beriman ! Bila salah seorang diantara kamu merasa telah dekat kematian, adakanlah persaksian pada waktu berwasiat. Saksi menurut syariat, ialah dua orang yang jujur dari kalanganmu atau dua orang lain di luar kalanganmu, jika kamu dalam perjalanan, dimana kamu telah dekat menghadapi kematian. Namun tangguhkanlah kesaksian keduanya sampai selesai shalat. Andaikata kamu ragukan kejujuran keduanya, hendaklah keduanya bersumpah dengan nama Allah : Demi Allah, kami tidak akan mengambil keuntungan apa-apa dengan sumpah ini, walaupun dia keluarga

Pembahasan : Ke dua ayat di atas ini (QS Al Baqarah 180 dan Al Maidah 106) menandakan betapa pentingnya aspek hukum bagi suatu wasiat atau pesan atas hak waris, dan harus disertai 2 orang saksi yang bisa dipercaya dan dibawah sumpah. Persyaratan saksi yang benar-benar bisa dipercaya ini digunakan dalam pelaksanaan hukum positif di seluruh dunia.

-QS An Nisaa’ ; Wa’budullaaha wa laa tusyrikuu bihii syaiawwa bil waalidaini ihsaanaw wa bidzil qurbaa wal yataama wal masaakiini wal jaaril dzil qurbaa wal jaaril junubi washshabihii bil jambi wab nissabiili wa maa malakat aimaanakum. Innallaaha laa yuhibbu man kaana mukhtaalan fakhuuraa.

(Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan apapun juga. Dan berbaktilah kepada kedua orang ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang miskin, tetangga yang dekat dan yang jauh, teman sejawat, orang-orang yang dalam perjalanan, dan hamba sahaya yang berada dalam kekuasaanmu. Sesungguhnya Allah tidak menyenangi orang-orang yang sombong dalam gerak-geriknya lagi sombong dalam ucapannya.)

Ayat tersebut mencakup semua hubungan baik manusia dengan Allah, manusia dengan sesama yaitu orang tua (sebagai urutan pertama dan utama) di dalam strata sosial masyarakat yang akan selalu sejalan dengan nafas hubungan yang sangat istemewa antara anak dan orang tua. Disamping kewajiban untuk berbuat baik kepada saudara, kerabat bahkan kepada pegawai atau hamba sahaya sampai pada masyarakat luas.

QS Al Baqarah 179 ;

Wa lakum fil qishaashi hayaatuy yaa ulil albaabi la’allakum tattaquun

(bagimu hukum qishash itu, berarti ketentraman hidup, renungkanlah hai orang-orang yang mengerti. Semoga kamu menjadi orang-orang yang takwa).

Hukum Qishash; yaitu membunuh dihukum dengan dibunuh pula, nyawa dibayar dengan nyawa, disini terlihat akan adanya jaminan ketentraman bagi umat manusia, karena orang tidak akan dengan mudah menghilangkan nyawa orang lain karena balasannya adalah hukuman mati.

QS Al Baqarah 183 ;

Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikummushshiyaamu kamaa kutiba ‘alalladziina min qablikum la’allakum tattaquun

( Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atasmu berpuasa , sebagaimana puasa itu telah diwajibkan juga atas orang-orang sebelummu semoga kamu menjadi orang yang takwa).

Pembahasan : Ayat ini sangat jelas agar umat Islam mencapai derajat yang paling tinggi di sisi sang Pencipta, yaitu muttaqiin, takwa, setelah manusia bisa menjalankan syariat Islam dengan sempurna, menuju kepada mengalahkan super ego yaitu hawa nafsu, karena hawa nafsu yang tak terkendali merupan lawan dari fitrah /naluri manusia yang suci.

QS Al Hujurat 13,

Yaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min dzakariw wa unstaa wa ja’alnaakum syu’uubaw wa qaabaa ila lita’aarafuu, inna akramakum ‘indallaahi atqaakum, innal laaha ‘aliimun khabiir

(hai manusia ! Kami menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Yang teramat mulia di antara kamu di sisi Allah, ialah orang yang lebih bertaqwa. Sesungguhya Allah Maha Mengetahui dan Mengenal.

Pembahasan : Ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa manusia berasal dari satu Ayah dan Ibu, dan Allah tidak membeda-bedakan diantara mereka (bangsa yang satu dengan lainnya), kecuali ada satu patokan yang dipakai untuk menilai yaitu hukum Allah. Takwa disini merupakan perwujudan dari sikap, tingkah laku manusia yang sejalan dengan hukum Allah sendiri. Landasan keadilan dijunjung tinggi atas status yang sama dimata hukum.

QS Yasiin Ayat 78

Wa dharaba laanaa matsalaw wa nasiya khalqah, qaala may yuhyil ‘izhaama wa hiya ramiim.

( Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami sambil melupakan penciptaannya semula. Ia bertanya : “Siapa pulakah yang dapat menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah hancur ?”

QS Yasiin Ayat 79

Qul yuhyii halladzii an sya ahaa awwala marrah, wa huwa bikulli khalqin ‘aliim.

Jawablah : “Yang dapat menghidupkannya kembali, ialah Tuhan yang telah menciptakannya dahulu untuk yang pertama kalinya, Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.

Pembahasan : QS Yasiin ayat 78 dan 79 ini merupakan jawaban atas pertanyaan kaum kafirin , yang menunjukkan bahwa Allah sanggup menciptakan dari setetes air mani/sperma dan menjadikan manusia yang sempurna sebagai ciptaan atas sanggahan dari kaum kafirin, bahwa Allah tidak ada yang mampu membangkitkan manusia yang sudah hancur lebur, tulangnya berserakan menjadi manusia utuh lagi. Jawaban Allah dalam ayat ini menggunakan hukum logika bahwa jika Allah bisa menciptakan pada awalnya, maka Allah bisa menciptakan kembali pada akhirnya.

QS Al Maidah 106 ;

Yaa ayyuhalladziina aamanuu syahaadatu bainikum idzaa hadhara ahadakumul mautu hiinal washiyyatits naani dzawaa ‘adlim minkum au aakharaani min ghairikum in antum dharabtum fil ardhi fa ashaabatkum mushibatul maut, tahbisuunahumaa mim ba’dishshalaati fayuqsimaanii billaahi inir tabtum laa nasytarii bihii tsamanawwa lau kaana dzaa qurbaa wa laa naktumu syahaadatallaahi innaa idzallaminal aatsimiin

( Hai orang-orang yang beriman ! Bila salah seorang diantara kamu merasa telah dekat kematian, adakanlah persaksian pada waktu berwasiat. Saksi menurut syariat, ialah dua orang yang jujur dari kalanganmu atau dua orang lain di luar kalanganmu, jika kamu dalam perjalanan, dimana kamu telah dekat menghadapi kematian. Namun tangguhkanlah kesaksian keduanya sampai selesai shalat. Andaikata kamu ragukan kejujuran keduanya, hendaklah keduanya bersumpah dengan nama Allah : Demi Allah, kami tidak akan mengambil keuntungan apa-apa dengan sumpah ini, walaupun dia keluarga kami yang terdekat. Dan kamipun tidak akan menyembunyikan kesaksian yang telah diwajibkan Allah. Bila kami memaksakan, tentulah kami terbilang orang yang berdosa).

Pembahasan : Ayat tersebut di atas menekankan aspek kejujuran merupakan aspek yang fundamental bagi penegakan hukum di muka bumi. Tanpa ada kejujuran mustahil akan ada keadilan, dan segala upaya penegakan hukum akan menjadi mandul atau sia-sia.

Kiranya demikianlah sekelumit penjelasan yang berkaitan dengan aspek hukum dari Kitab Suci Al Qur’an, dan sangat mungkin terlalu jauh dari memadai dari nilai-nilai aspek hukum yang terkandung pada Al Qur’anul Karim yang begitu sempurna. Semoga Allah mengampuni akan segala kekurangan saya sebagai penulis yang sangat terbatas pengetahuannya. Semoga bermanfaat.

Salam,

Hario Adji Pamungkas

23
Aug
11

Sunnah dan Sains : Keseimbangan Tubuh

pegahoul.deviantart.com

Sunnah dan Sains: Keseimbangan Tubuh

Tubuh manusia (ilustrasi)

Keseimbangan Tubuh

Selasa, 23 Agustus 2011 10:56 WIB
Sunnah dan Sains : Keseimbangan Tubuh

Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal

Rasulullah SAW telah menegaskan dalam sabda-sabdanya tentang masalah keseimbangan biologi terhadap tubuh yaitu melalui tidak berlebih-lebihan dalam makan dan minum. Karena manusia harus menyeimbangkan porsi makan, minum dan oksigen (napas).

Karena yang demikian itu merupakan prasarat memperoleh keseimbangan biologis untuk menjaga vitalitas dan sinergi tubuh, maka makanan adalah keharusan agar tersedot oleh sel-sel tubuh untuk dilakukan proses asimilasi. Agar proses asimilasi ini berjalan optimal dibutuhkan air, karena proses asimilasi ini (merubah komposisi makanan yang menyatu kepada komposisi makanan yang terpecah-pecah) tidak akan sempurna kecuali berada di tengah-tengah cairan.

Kemudian akhir proses assimilasi akan terkemas dalam bentuk energi. Dan hal ini tidak akan terjadi kecuali jika berada dalam oksigen yang digunakan oleh sel-sel dalam proses oksidasi makanan untuk memperoleh energi yang cukup untuk mempertahankan vitalitas hidup. Jadi, keberadaan makanan, air dan oksigen sangat urgen untuk vitalitas hidup manusia, serta mesti adanya pendistribusian yang teratur terhadap ketiga komponen ini.

Dan perlu dijelaskan bahwa penambahan porsi makan menyebabkan pertambahan berat tubuh, yang akan memudahkan terjangkit penyakit rasa nyeri dipersendian dan penyakit perut.

Secara teori agar manusia terhindar dari rasa nyeri di persendian seyognyalah ia menurunkan berat badan dari ukuran tinggi badan kira-kira 100, atau dalam teori matematika jika kita rumuskan tinggi badan itu dengan 100 + N cm, maka tinggi badan ini harus seimbang dengan N kg.

Maka jika berat badan melebihi dari N kg, maka manusia akan mudah terhinggap rasa nyeri di persendian. Artinya, jika tingga badan manusia mencapai 180 cm (100 + 80 cm), maka idealnya berat badan harus mencapai 80 kg. Jika berat badan melebihi 80 kg maka persendian akan mudah terserang penyakit.

Jadi mesti adanya aturan distribusi dan asimilasi makanan, minuman dan oksigen. Dan inilah yang ditegaskan oleh ilmu pengetahuan modern dengan peralatan yang canggih dan teliti, serta setelah kemajuan ilmu sel, biokimia dan lain sebagainya dari ilmu-ilmu biologi dan biokimia.

Dan segala sesuatu yang telah ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern sesuai dengan sabda Rasulullah SAW sejak 14 abad yang lalu. “Dan hendaklah anak cucu Adam tidak memenuhi perutnya dengan kejelekan, maka jika tidak mampu untuk berbuat maka 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk minuman dan 1/3 untuk napas.” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Hakim)

Beliau bersabda, “Kami adalah kaum yang tidak makan kecuali jika terasa lapar dan jika kami makan maka kami tidak kenyang.”

Sabda ini beliau lontarkan sejak 14 abad silam, sedangkan beliau seorang yang ummi, tidak mampu membaca dan menulis. Dan tak seorang pun pada masa itu yang mengetahui tentang ilmu sel, biokimia atau asimilasi makanan!

Itu adalah perkataan yang terlontar dengan kebenaran pengucap, dan beliau benar-benar utusan Allah SWT.

Redaktur: cr01
Sumber: Ensiklopedi Petunjuk Sains dalam Alquran dan Sunnah



Blog Stats

  • 2,098,769 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 113 other followers