Posts Tagged ‘History

11
Apr
12

Sejarah : kisah kapal pesiar Titanic

Kisah Hantu Titanic

Oleh Yahoo! News | Yahoo! News
Lima Kisah Hantu dari Titanic

Oleh Victoria Leigh Miller, Yahoo! Contributor Network

15 April menandai 100 tahun tenggelamnya RMS Titanic. Meski cerita tragis soal kapal pesiar mewah ini sudah sering jadi berita utama, ada cerita-cerita lain yang muncul dari Titanic, kisah-kisah hantu. Berikut adalah kisah-kisah seram dari Titanic.

* Setelah tragedi Titanic, tim SAR menemukan 328 korban Titanic dan untuk sementara mengevakuasi jasad mereka ke Rumah Rias Jenazah Snow & Co di Halifax, Nova Scotia. Menurut majalah Encompass, rumah rias jenazah tersebut kini menjadi restoran Five Fisherman, dan katrol yang digunakan untuk mengangkut jenazah para korban Titanic ke bagian atas gedung masih ada di atap ruang penyimpanan wine. Kini, berbagai peristiwa aneh seperti gelas terbang dari lemari atau alat makan yang jatuh ke lantai meski tidak ada orang di sekitarnya, sering terjadi di restoran tersebut. Manajer Gary MacDonald bilang, “Kamu harus menghormati mereka atau mereka akan mengganggu.”

* Pada 2008, Jurnal Atlanta Constitusion menerbitkan sebuah cerita tentang Akuarium Georgia setelah pameran “Titanic Aquatic” di sana. Beberapa relawan pameran tersebut melaporkan kejadian aneh saat bekerja di acara yang menampilkan ratusan artifak Titanic. Staf akuarium kemudian membawa paranormal penyelidik yang kemudian menyimpulkan bahwa pameran Titanic tersebut memang merupakan tempat hunian makhluk halus.

* Menurut San Francisco Chronicle, pada 1990an, seorang pria San Francisco bernama Jaime Rodriguez mengatakan ia dihantui arwah. Kemudian ia baru mengetahui bahwa seorang penumpang Titanic pernah tinggal di apartemennya. Tetapi si penumpang tersebut, Dr Henry Washington Dodge bukanlah seorang pahlawan. Dr Dodge mengaku ia mempersilakan perempuan dan anak-anak untuk ikut naik ke sekoci yang menyelamatkan istri dan anak laki-lakinya, tapi kemudian ia sendiri ikut naik ke sekoci tersebut dan mendapat sorotan publik akibat perilakunya itu. Setelah menerima tuntutan hukum dan kerugian keuangan, Dodge menjadi depresi dan bunuh diri di apartemennya di San Francisco pada 1919. Hantunya kemudian muncul di apartemennya itu setiap musim panas setiap tahun, dan selalu di tempat yang sama.

* Sosialita legendaris Margaret “Molly” Brown selamat dari tenggelamnya Titanic, tapi bekas rumahnya di Denver adalah tempat terjadinya hal-hal aneh. Menurut blog Mysterious Colorado, peristiwa-peristiwa yang bersifat paranormal terjadi secara rutin di Museum Rumah Molly Brown di Denver, termasuk gangguan pada perabot dan penampakan hantu Molly Brown serta suaminya James Joseph Brown. Penampakan ibu Molly di jendela atas rumah juga pernah terjadi, begitu juga dengan munculnya bau-bau tembakau Tuan Brown dan parfum favorit istrinya yang beraroma mawar.

* Menurut Daily Mail, rumah kelahiran kapten Titanic di Inggris juga memiliki sejarah misteri. Rumah masa kecil Kapten Edward John Smith diwarnai banjir-banjir misterius dan angin dingin yang muncul tiba-tiba, selain juga penampakan hantu.

19
Aug
09

Khazanah : Evliya Celebi Petualang Muslim di Era Turki Usmani

REPUBLIKA, Selasa, 18 Agustus 2009 pukul 01:04:00

Evliya Celebi

April 1640, Evliya mulai melakukan perjalanan pertamanya keluar dari kota Istanbul. Dia pergi menuju Bursa atau Pursa, sebuah kota di Barat Laut Turki bersama sahabatnya.

Hampir seluruh belahan dunia telah dijelajahinya. Selama 40 tahun, Evliya Celebi melanglang buana ke berbagai penjuru dunia. Tak heran, jika Evliya ditabalkan sebagai petualang hebat dari Kekhalifahan Turki Usmani. Hasil petualangannya ke berbagai negara itu dituliskannya dalam sebuah buku perjalanan berjudul Seyahatname.

Evliya terlahir pada 25 Maret 1611 di Istanbul, Turki. Ayahnya adalah tukang emas yang mengabdikan diri untuk seorang penguasa Turki Usmani bernama Dervis Mehmed Zilli. Meski Evliya terlahir di Istanbul, kedua orangtuanya berasal dari Kutahya.

Dedikasi sang ayah untuk Kekhalifahan Turki Usmani membuat Evliya bisa mengenyam pendidikan yang sangat baik, dari kecil hingga remaja. Setamat sekolah dasar, di Kekhalifahan Turki Usmani, Evliya lalu melanjutkan studinya ke madrasah, yaitu sekolah yang berbasis pendidikan Islam selama tujuh tahun.

Di sela-sela masa studinya di madrasah, Evliya biasa membantu ayahnya bekerja di bengkel kerajinannya. Di tempat tersebut, sang ayah mengajarkannya berbagai macam keterampilan dan kesenian Turki, seperti, tezhip ( cara mendekorasi sampul buku dengan lukisan dan sepuhan emas), khat (cara menulis indah serta nakis (seni mendekorasi tembok dan langit-langit ruangan).

Evliya memiliki semangat belajar yang sangat tinggi. Ia mau belajar dari siapapun. Evliya belajar bahasa Yunani dari pekerja yang magang di bengkel kerajinan ayahnya. Empat tahun kemudian, Evliya belajar di Enderun, yakni, tempat belajar dan training bagi orang-orang yang akan bekerja di Kekhalifahan Turki Usmani.

Begitu lulus dari Enderun, Evliya menjadi pengawal Kaisar Murad IV pada 1636 dengan bantuan pamannya Melek Ahmed Pasa. Sejak kecil, Evliya terobsesi untuk berpetualang dan melakukan perjalanan jauh. Pasalnya ayahnya selalu bercerita tentang petualangannya yang menakjubkan selama melakukan perjalanan dan melayani para sultan, termasuk Sulaiman yang Agung.

Suatu ketika, Evliya bermimpi bertemu dengan Nabi SAW, dalam sebuah kumpulan jamaah yang sangat banyak di Masjid Ahi Celebidi Istambul. Ia sangat senang bisa bertemu dengan Nabi. Mimpi itu juga yang semakin membuatnya bersemangat untuk segera melakukan petualangan.

Bahkan, dia memilih hidup dengan berbagai macam petualangan. Evliya berobsesi juga menulis dan menceritakan berbagai macam hal yang akan dilihat dan ditemuinya dalam perjalanan panjangnya. Setelah bermimpi bertemu Nabi SAW, Evliya meminta nasihat kepada seorang Syeikh yang terkenal tentang keinginannya yang menggebu-gebu untuk segera melakukan perjalanan.

Syeikh tersebut menyarankannya untuk memulai perjalanan di sekitar kota Istanbul terlebih dulu. Setelah mendapatkan petuah yang cu kup, Evliya memulai perjalanannya yang pertama kali di sekitar Istanbul. Dia menulis dan menceritakan berbagai macam objek yang dia lihat dan datangi seperti berbagai macam bangunan, pasar, tokotoko, musik, literatur, festival, aga ma, serta adat-istiadat, serta kebudayaan.

Baru pada April 1640, dia mulai melakukan perjalanan pertamanya keluar dari kota Istanbul. Dia pergi menuju Bursa atau Pursa, sebuah kota di Barat Laut Turki bersama sahabatnya. Setelah melakukan petualangan ke kota itu, semangatnya untuk melakukan perjalanan panjang di seluruh kekuasaan Turki Usmani dan luar negeri kian menggebu.

Evliya terkadang menemani para petinggi kekaisaran menuju daerah-daerah pedesaan yang terpencil, kadang melakukan perjalanan dengan misi yang ditugaskan dari Sultan, dan kadang juga ikut melakukan peperangan. Setelah melakukan perjalanan ke Izmit, Evliya pergi ke Trabzon di sebuah pantai di Laut Hitam menemani Ketenci Omer Pasa yang akan bertemu dengan Gubernur Izmit. Selama tinggal di Izmit, dia menyaksikan kegagalan tentara Turki Usmani menaklukan Kastil Azov.

Setelah itu, dia pindah ke Crimea dan menghabiskan musim dingin di tempat tersebut. Evliya baru kembali ke Istanbul, setelah Turki Usmani berhasil menaklukan Kastil Azov. Pada 1645, dia bersama tentara Turki Usmani menaklukan Pulau Kreta dan kembali ke Istanbul untuk beristirahat selama empat tahun.

Lalu dia mulai melakukan perjalanan lagi menuju Anatolia, mengunjungi Azerbaijan dan Georgia, bersama tentara Turki Usmani menaklukan para pemimpin lokal wilayah tersebut. Dia juga melakukan perjalanan ke Gumushane, sebuah provinsi di timur laut Turki.

Setelah menghabiskan musim dingin di Erzurum, Evliya ditugasi mengantarkan pesan kepada pemberontak Vardar Ali Pasa oleh penguasa Turki Usmani untuk membuat perjanjian damai. Ketika mengantarkan pesan tersebut, Evliya tersesat akibat badai salju yang hebat. Untunglah dia, bisa menemui sejumlah pemimpin pemberontak lainnya.

Pengalaman itu dikisahkannya dalam sebuah catatan tentang pemberontakan Vardar Ali Pasa secara komprehensif. Antara 1648-1650, Evliya melakukan perjalanan ke Damaskus. Dari perjalanan ini, dia melakukan eksplorasi lebih dalam mengenai negara Suriah dan Palestina. Lalu dia kembali ke Istanbul. Ia lalu menemani pamannya, Melek Ahmed Pasa untuk bertemu dengan perdana menteri.

Evliya paham betul berbabai intrik politik yang tengah terjadi di Kekhalifahan Turki Usmani. Selama menemani perdana menteri, Evliya memiliki kesempatan mengunjungi Balkan antara 1651-1653. Sekembalinya dari Balkan, dia mengunjungi Anatolia bagian timur dan Iran. Dia menghabiskan waktu dengan Sekte Yezidis yang percaya bahwa Ali adalah Tuhan dalam bentuk manusia. Dia mengetahui banyak informasi mengenai sekte sesat tersebut.

Setelah itu, dia melakukan perjalanan lagi dengan pamannya Melek Ahmed Pasa menuju Bosnia. Lalu, pada1660, dia mengikuti ekspedisi yang dipimpin oleh Kose Ali Pasa. Selama ekspedisi tersebut, dia melakukan eksplorasi ke Albania, Bohemia dan wilayah sekitarnya.

Setelah menghabiskan musim dingin di Belgrade, dia kembali ke Istanbul. Lalu dia bergabung dengan pasukan Fazil Ahmed Pasa menyerang Austria. Selama masa ekspedisi, Evliya juga mengunjungi Swedia dan Belanda. Kemudian dia kembali lagi ke Balkan untuk mengunjungi Edirne, Komotini dan Salonika.

Ia lalu melanjutkan perjalanannya ke Pulau Kreta di Yunani. Ia menyaksikan kehebatan tentara Turki Usmani. Setelah itu, ia mengunjungi pantai Adriatik melalui Albania dan kembali ke Istanbul pada 1670.

Merasa berdosa karena belum pernah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, Makkah, Evliya kembali ke Istanbul untuk mempersiapkan perjalanannya yang terakhir. Dia menuju Makkah melalui bagian barat Anatolia, kemudian melewati Scio dan Rhodes, melewati selatan Anatolia dan bergabung dengan jamaah haji di Suriah. Ia pun berhasil menunaikan rukun Islam ke lima itu.

Seusai menunaikan ibadah haji di Makkah, dia menuju Mesir melalui terusan Suez bersama jamaah haji Mesir. Kemudian menuju Sudan dan Ethiopia, ia tinggal di sana cukup lama. Namun tidak ada catatan sejarah di mana sang petualang menghembuskan nafas terakhirnya.

Ada dua perkiraan, yakni di Mesir atau di Istanbul. Meski begitu, kiprah dan dedikasinya sebagai seorang petualang Muslim di zaman kejayaan Turki Usmani hingga kini masih tetap dikenang. dyah ratna meta novia.


SEYAHATNAME Kisah Perjalanan Sang Petualang

Seyahatname berarti sebuah buku perjalanan. Ini merupakan karya besar Evliya Celebi. Dalam buku tersebut, dia menuliskan dan menceritakan berbagai macam pengalamannya. Seyahatname terdiri dari 10 volume yang menggambarkan secara detail beragam pengalaman yang dialami Evliya diwilayahwilayah yang dikunjunginya.

Dia menuliskan tentang komunitas , gaya hidup, bahasa, maupun budaya orang-orang di wilayah tersebut. Buku tersebut merupakan catatan yang komprehensif untuk menggambarkan kehidupan pada abad ke-17 M. Evliya mampu menggambarkan objek-objek yang dilihatnya secara mendetail dan menarik.

Selain itu, Evliya menuliskan bukunya dengan cara sederhana, sehingga mudah dipahami orang awam. Dia tidak khawatir dengan kesalahan tata bahasa, asalkan yang membacanya paham.

Seyahatnamesangat baik dalam menggambarkan hubungan Kekhalifahan Turki Usmani dengan negara-negara lain. Buku tersebut, merupakan sumber informasi yang berharga pasalnya buku tersebut mencakup pengetahuan tentang budaya, sejarah, geografi, cerita rakyat, bahasa, sosiologi, arsitektur, dan ekonomi.

Evliya tidak hanya menuliskan apa yang dia lihat dan dengar saja. Tetapi, dia juga berusaha menggambarkan kemajuan umat manusia di setiap bidang pada masa itu. Dia menuliskan tentang berbagai macam bangunan-bangunan penting seperti kerajaan, kastil, benteng, maupun masjid.

Dia juga menuliskan biografi orang-orang yang penting dan terkenal, karakter bangsa di setiap wilayah yang dikunjungi, juga kepercayaankepercayaan mereka. Buku Seyahatnamevolume I hingga VIII diterbitkan pada 1896-1928 dalam bahasa Arab.

Sedangkan volume IX dan X Seyahatnamedipublikasikann pada 1935-1938 dalam bahasa Latin. Seyahatnamejuga dialihbahasakan ke bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, Hungaria, Romania, Bulgaria, Serbia, Yunani, Armenia dan bahasa-bahasa asing lainnya. Ada sebuah rumor bahwa Evliya juga membuat buku keduanya yang berjudul Sakaname.

Namun buku tersebut hingga saat ini belum ditemukan keberadaannya. Evliya juga menuliskan sejumlah kata-kata asli dari setiap wilayah yang dia kunjungi selama melakukan perjalanan. Dia juga menuliskan 30 dialek bahasa Turki dan 30 katalog bahasa asing lainnya di buku Seyahatname.

Dia sempat menuliskan persamaan antara bahasa Persia dengan bahasa Jerman. Dalam buku tersebut dia mendeskripsikan berbagai macam bahasa Kaukasia, Tsakonian, Kudish, dan Ubykh. dya

07
Aug
09

Nostalgia : Kehidupan Indo 1920-an di Batavia

REPUBLIKA, Minggu, 02 Agustus 2009 pukul 01:33:00

Indo Batavia

Nostalgia
Oleh Alwi Shahab

Pada tahun  1920-an  dimulai sejak dibukanya Terus Suez (1869)  Batavia mengalami perkembangan pesat. Baik dalam jumlah penduduk karena beroperasinya perusahaan-perusahaan besar, maupun makin meningkatnya kedatangan warga Eropa.

Di sekitar Weltevreden muncul hunian-hunian baru, seperti Tanah Abang, Gondangdia, Meester Cornelis, dan Menteng. Di tempat-tempat ini orang membangun rumah di pinggir jalan dan dinaungi pohon-pohon rindang.

Rumah-rumah yang dibangun itu tidak seperti di Kota Lama (Oud Batavia, Jakarta Kota, Pasar Ikan), dekat ke jalan dan bertingkat dua, tetapi berupa rumah-rumah modern seperti di Eropa: satu tingkat, luas dan sejuk. Satu gejala baru pada arsitektur ialah pavilyun yang setengah terpisah dari rumah besar untuk anggota keluarga, rekan kerja atau untuk disewakan.

Sekonyong-konyong Weltevreden mempunyai gereja-gereja baru — tapi masjid dilarang dibangun di jalan-jalan raya  sekolah, klab malam dan teater. Pendeknya, seperti diitulis Willard A Hanna dalam Hikayat Jakarta semua ciri khas Eropa yang modern.

Dan, di daerah pedalaman Batavia, di daerah Priangan yang indah dan produktif, dibangun perkebunan-perkebunan yang luas serta rumah-rumah tinggal para manejernya, yang keindahannya melebihi hampir semua rumah di  Nieuw  Batavia , yang secara meyakinkan mengembalikan gelar ‘Ratu dari Timur’, yang terkait dengan  Oud Batavia (kota tua), tulis Hanna.

Warga Belanda, khususnya Indo yang sudah tinggal lebih awal di Batavia, hidup dengan gaya pribumi. Di kediamannya, sebelum matahari terbit dan ketika udara masih dingin, tukang kebun menyapu halaman dengan sapu lidi. Sementara seorang pembantu menyibukkan diri di sumur menimba air.

Sampai 1960-an, rumah-rumah di Jakarta memiliki sumur. Sumur mulai menghilang sejak perusahaan daerah air minum (PDAM) mendistribusikan air bersih sampai ke kampung-kampung.

Dalam buku  Recalling the Indies , Joost Cote dan Loes Westerbeek (ediotr), menggambarkan kehidupan sebuah rumah tangga Indo di Batavia. Sebelum pukul 05.00 atau 06.00 pimpinan keluarga muncul di beranda depan untuk menikmati kopi tubruk pertamanya dan mengisap rokok.  Dia masih memakai  slaapbroek (pakaian tidur).

Sementara, keluarga lainnya mulai ribut di belakang rumah. Mandi, bertengkar dan makan. Sarapan yang disajikan sekitar pukul enam adalah bubur, roti dan biskuit dengan selai atau keju di sebuah kaleng.

Setelah sarapan anggota keluarga pergi ke arah berbeda. Sementara sang tante yang tinggal di keluarga ini pergi dengan sebuah delman. Setelah sang ibu pergi, anak-anak pergi ke sekolah dengan sebuah  dokar atau sepeda.

Sementara, si ayah punya mobil sendiri untuk mengantarnya ke kantor melalui jalan-jalan sempit di dalam kota. Dia tidak akan pulang sampai pukul empat sore. Sekitar pukul 12.00 dia dikirimi sebuah rantang berisi nasi, sayur, ikan dan kerupuk.

Setelah anak-anak dan suaminya meninggalkan rumah, nyonya rumah yang masih mengenakan kimono berjalan-jalan menuju kebun memetik beberapa tangkai bunga melati dan cempaka. Pada saat demikian ia memberikan isntruksi kepada  koki untuk pergi ke pasar membeli sayuran, tempe dan cabe.

Anak-anak akan tiba dari sekolah sekitar pukul 13.00. Setelah melepaskan sepatunya, mandi dan memakai baju yang bagus, mereka duduk rapi untuk menyantap sepiring nasi dan sambel goreng tempe. Pakaian yang dikenakan orang di rumah sangat berbeda dengan yang mereka pakai saat bepergian.

Sarong kabay, sarung batik dan kebaya putih menjadi norma bagi perempuan Eropa. Sarung kebaya dan pakaian tidur tetap dipelihara, namun dibatasi dipakai di rumah. Di luar rumah memakai pakaian Barat. Di dalam rumah pria memakai  piyama . Sementara ibu-ibu Belanda terutama para Indo mengenakan kimono atau jas rumah ( hoskut ).

Pada sore hari di antara anggota keluarga pergi ke luar rumah untuk rekreasi atau mencari udara segar. Peristiwa yang menyenangkan adalah saat acara pelelangan barang-barang warga Belanda yang akan meninggalkan Nusantara.

Pelelangan adalah peristiwa yang sangat menyenangkan, kesempatan bagus untuk bertemu dan ngobrol dengan teman. Olahraga adalah pengisi waktu lainnya. Lapangan olahraga didominasi atlet-atlet Indo. Sementara ada yang menyukai pergi ke kolam renang yang mulai banyak terdapat di Batavia.

Sementara para ibu sangat suka berbelanja di Weltevreden di waktu senja, untuk keliling mengunjungi toko-toko busana di Noordwijk (kini Jalan Juanda). Mereka akan membeli kosmetik dan barang-barang  renik serta melihat-lihat desain terbaru di Bonafaas (sekitar Noorwijk dan Rijswijk).

Tujuan utama  shopping mereka adalah toko  The Little Fashion House dan  Versteeg Fashion Emporium untuk memperoleh pakaian wanita yang mewah yang koleksinya langsung dari pusat mode di Paris.

Pada masa sebelum Perang Dunia II itu, jazz Amerika adalah gaya musik paling populer. Pengaruh jazz datang langsung dari Amerika dan koloni Amerika: Pilipina. Musisi jazz Pilipina pertama, yang dipanggil Milanese, datang ke Batavia pada 1928. Beberapa diantaranya menetap.

Musik Hawai juga sangat populer. Idola utamanya adalah grup band Batavia yang digemari dan populer,  The Silver King dan  Brown’s Sugar Babies yang bermain di restoran-restoran besar atau di Hotel der Nederlanden (kini menjadi Gedung Bina Graha tempat kegiatan presiden). Demikian secuil kehidupan para Indis sebelum perang di Batavia seperti diceritakan Pamela Pattyanama dalam  Recalling the Indies .

06
Aug
09

Khazanah : As Miliki Ikatan Tua dengan Islam

AS – Islam

By Republika Newsroom
Rabu, 05 Agustus 2009 pukul 18:24:00

AS Miliki Ikatan Tua dengan IslamCHARTAONLINE.COMArabian Night

Bila mendengar berita dan hujatan di tahun-tahun terkahir, orang cenderung menganggap hubungan antara Abang Sam dengan Dunia Muslim adalah buruk permanen. Kekerasan dan polemik membakar akibat serangan teroris 11 September dan perang di Irak dan Afghanistan memang membuat sulit untuk berpikir sebaliknya.

Padahal, jika mau melihat panduan sejarah intelektual, dulu, ada masa di mana tidak ada bangsa Barat yang begitu positif terlibat dengan peradaban Islam seperti yang dilakukan Amerika Serikat (AS).

Beberapa contoh berikut memperjernih sejarah hubungan antara AS dan Islam. Sebuah negara Islam, Kerajaan Maroko, adalah yang pertama mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Amerika Serikat, demikian pula yang disampaikan oleh Presiden Obama dalam pidato di Kairo. Kemudian pada 1778, George Washington dan Sultan Mohmmmed III dari Maroko meneken perjanjian persahabatan untuk melindungi semua alat angkut membawa “Bendera Amerika” dari pencoleng.

Menilai dari puisi, drama, dan novel-novel yang ditulis pada awal tahun republik Amerika terbentuk, pertemuan pertama dengan sebuah bangsa bermayoritas Muslim itu menjadi landasan bagi Amerika untuk mulai secara bertahap melakukan dialog rutin dengan Muslim dan Arab.

‘Algerine Captive’ karya Royall Tyler, dianggap sebagai novel tertua kedua di Amerika, adalah satu contoh utama. Ditulis pada 1779, Algerine Captive bertutur tentang seorang dokter yang ditangkap oleh pencoleng Muslim Barbar, lalu dijual ke perbudakan di Aljeria. Karakter utama, Dr. Updike Underhill, menghabiskan beberapa tahun dalam penangkapan sebelum memperoleh kebebasan dan kembali pulang ke Amerika.

Selang dua abad tidak pernah dicetak, tiba-tiba novel kembali dibangkitkan, sayang dengan ironi. Ia dicetak ulang pada 2002 untuk memberi latar belakang sejarah tragedi 11 September. Menanggapi, itu seorang kritikus menulis di sampul buku, bahwa novel menggambarkan benturan budaya dan diplomatik tanah basah, tidak mirip yang ada antara AS dan bangsa-bangsa Muslim saat ini.

Benar, ketegangan atmosfer novel mengusung komparasi dua budaya, cocok bila seseorang hendak membandingkan kriminal abad ke-18 dengan terorisme modern. Namun, bila dilihat lebih seksama, novel menyajikan referensi sebagai penolakan, bukan dukungan terhadap retorika benturan-peradaban. Dramatisasi naratif terhadap konflik politik dengan Islam, hanyalah untuk mengimajinasikan cara mengatasi masalah.

Royall mengubah kisah penangkapan karakter utama menjadi perjalanan dan pencarian ilmu pengetahuan mendebarkan. Bermacam dialog awal tokoh protagonis novel tentang obrolan bertopik perbudakan Amerika, peralihan agama, praduga dan paradigma buruk dengan imam, penangkap dan warga Algeria, memunculkan semangat besar mengungkap budaya Islam. Tokoh utama pun mempromosikan keyakinan Kristiani yang ia peluk.

Royal Tyler telah membuka jalan kepada lebih banyak penulis tersohor lain,–pionir di Renaisans Amerika–untuk melebarkan pengetahuan peradaban mereka terhadap budaya Islam. Washington Irving, menulis sebuah buku tentang Rasul Muhammad. Edgar Allan Poe mengukir cerita menggoda tentang Arabian Night.

Lalu ada Herman Melville, yang menjatuhkan perhatian luar biasa pada teks-teks Arab di dalam karya klasik Moby-Dick. Dalam dongengnya ia memiliki karakter utama termasuk Ishmael dan sang teman, Queequeg, yang berpuasa saat Ramadhan serta Fedallah orang Persia.

Pada 1850, Arabian Night menjadi begitu populer di dunia imajinasi Amerika, sehingga Harriet Beecher Stowe, figur utama lain di babak pencerahan Amerika, lewat kotbahnya berhasil memaksa para orang tua di AS mendongengkan cerita seribu satu malam Syahrazade, kepada anak-anak, untuk menanam nilai estetika dan penghormatan terhadap perbedaan sejak dini.

Mengacu pada Al Qur’an, hadis dan perilaku Rasul Muhammad dan sahabat adalah praktik umum di kalangan Pendiri negara, penulis, penyair, mulai Benjamin Franklin dan Thomas Jefferson hingga Ralph Waldo Emerson dan Walt Whitman. Emerson, bapak transendentalisme Amerika, menggambarkan Al Qur’an sebagai kerajaan kehendak dan kemauan.

Ia mendorong pembaca Amerika untuk melihat nabi “Mahomet”, Ali, dan Umar sebagai model inspirasi keseimbangan kuat yang dibekali “suara pikiran di dalam suara tubuh”. Meski transendentalisme dipasarkan dalam label budaya Amerika, Emerson mengakui jika itu adalah produk Timur, filosofi Sufi, asli dari puisi-puisi Persia yang ia baca dan ia alih bahasakan.

Hubungan itu kini mulai masuk babak baru. Untuk memahami bahwa tradisi masa lalu Amerika jauh lebih toleran terhadap perbedaan ketimbang yang cenderung dipikirkan saat ini, seharusnya mampu mengantarkan dialog, ada beda antara teroris yang beraksi atas nama islam dan ideologi konservatif  yang menunggu dengan tangan terbuka. Sebagian besar sejarah membuktikan, hubungan AS dan dunia Muslim penuh perdamaian. (philadelphia inquirer/itz)

05
Aug
09

Khazanah : Sumbangan Saintis Muslim dalam Geometri

Geometri

By Republika Newsroom
Selasa, 04 Agustus 2009 pukul 17:29:00

Sumbangan Saintis Muslim dalam Geometri

Geometri merupakan salah satu cabang dalam ilmu matematika. Ilmu Geometri secara harfiah berarti pengukuran tentang bumi, yakni ilmu yang mempelajari hubungan di dalam ruang. Sejatinya, ilmu geometri sudah dipelajari peradaban  Mesir Kuno, masyarakat Lembah Sungai Indus dan Babilonia.

Peradaban-peradaban kuno ini diketahui memiliki keahlian dalam drainase rawa, irigasi, pengendalian banjir dan pendirian bangunan-bagunan besar. Kebanyakan geometri Mesir kuno dan Babilonia terbatas hanya pada perhitungan panjang segmen-segmen garis, luas, dan volume.

Di era kekhalifahan Islam, para saintis Muslim pun turut mengembangkan geometri. Bahkan, pada era abad pertengahan, geometri dikuasai para matematikus Muslim. Tak heran jika peradaban Islam turut memberi kontribusi penting bagi pengembangan cabang ilmu matematika modern itu.

Pencapaian peradaban Islam di era keemasan dalam bidang geometri sungguh sangat menakjubkan. Betapa tidak.  Para peneliti di Amerika Serikat (AS) menemukan fakta bahwa di abad ke-15 M, para cendekiawan Muslim telah menggunakan pola geometris mirip kristal. Padahal, pakar matematika modern saja baru menemukan pla desain geometri itu pada abad ke-20 M.

Menurut studi yang diterbitkan dalam Jurnal Science itu, para matematikus Muslim di era keemasan telah memperlihatkan satu terobosan penting dalam bidang matematika dan desain seni pada abad ke-12 M. “Ini amat mengagumkan,” tutur Peter Lu, peneliti dari Harvard, AS seperti dikutip  BBC .

Peter Lu mengungkapkan, para matemetikus dan desainer Muslim di era kekhalifahan telah mamapu membuat desain dinding, lantai dan langit-langit dengan menggunakan tegel yang mencerminkan pemakaian rumus matematika yang begitu canggih. ”Teori itu baru ditemukan 20 atau 30 tahun lalu,” ungkapnya.

Desain dalam seni Islam menggunakan aturan geometri dengan bentuk mirip kristal yang menggunakan bentuk poligon simetris untuk menciptakan satu pola. Hingga saat ini, pandangan umum yang beredar adalah pola rumit berbentuk bintang dan poligon dalam desain seni Islam dicapai dengan menggunakan garis zigzag yang digambar dengan mistar dan kompas.

“Anda bisa melihat perkembangan desain geometis yang canggih ini. Jadi mereka mulai dengan pola desain yang sederhana, dan lama-lama menjadi lebih kompleks,” tambah Peter Lu. Penemuan Peter Lu itu membuktikan bahwa peradaban Islam telah mampu mencapai kemajuan yang luar biasa dalam bidang geometri.

Lantas bagaimana  matematikus Islam mengembangkan geometri? Pada abad ke-9 M, matematikus Muslim bernama Khawarizmi telah mengembangkan geometri. Awalnya,  ilmu geometri dipelajari sang matematikus terkemuka dari  buku berjudul  The Elements karya Euklid. Ia pun kemudian mengembangkan geometri dan menemukan beragam hal yang baru dalam studi tentang hubungan di dalam ruang.

Al-Khawarizmi menciptakan istilah  secans dan  tangens dalam penyelidikan trigonometri dan astronomi. Dia juga menemukan Sistem Nomor yang sangat penting bagi sistem nomor  modern. Dalam Sistem Nomor itu, al-Khawarizmi memuat istilah Cosinus, Sinus dan Tangen untuk menyelesaikan persamaan trigonometri, teorema segitiga sama kaki, perhitungan luas segitiga, segi empat maupun perhitungan luas lingkaran dalam geometri.

Penelitian al-Khawarizmi dianggap sebagai  sebuah revolusi besar dalam dunia matematika. Dia menghubungkan konsep-konsep geometri dari matematika Yunani kuno ke dalam konsep baru. Penelitian-penelitian al-Khawarizmi menghasilkan sebuah teori gabungan yang memungkinkan bilangan rasional/irasional, besaran-besaran geometri diperlakukan sebagai objek-objek aljabar.

Penelitian al-Khawarizmi memungkinkan dilakukannya aplikasi sistematis dari aljabar. Sebagai contoh, aplikasi aritmetika ke aljabar dan sebaliknya, aljabar terhadap trigonometri dan sebaliknya, aljabar terhadap teori bilangan, aljabar terhadap geometri dan sebaliknya. Penelitian-penelitian ini mendasari terciptanya aljabar polinom, analisis kombinatorik, analisis numerik, solusi numerik dari persamaan, teori bilangan, dan konstruksi geometri dari persamaan.

Konsep geometri dalam matematika yang diperkenalkan oleh al-Khawarizmi juga sangat penting dalam bidang astronomi. Pasalnya Astronomi merupakan ilmu yang mengkaji tentang bintang-bintang termasuk kedudukan, pergerakan, dan penafsiran yang berkaitan dengan bintang. Guna menghitung kedudukan bintang terhadap bumi membutuhkan perhitungan geometri.

Ilmuwan Muslim lainnya yang berjasa mengembangkan geometri adalah Thabit Ibnu Qurra. Matematikus Muslim yang dikenal dengan panggilan  Thebit itu juga merupakan salah seorang ilmuwan Muslim terkemuka di bidang Geometri.  Dia melakukan penemuan penting di bidang matematika seperti kalkulus integral, trigonometri, geometri analitik, maupun geometri non-Eucledian.

Salah satu karya Thabit yang fenomenal di bidang geometri adalah bukunya yang berjudul  The composition of Ratios ( Komposisi rasio). Dalam buku tersebut, Thabit mengaplikasikan antara aritmatika dengan rasio kuantitas geometri. Pemikiran ini, jauh melampaui penemuan ilmuwan Yunani kuno dalam bidang geometri.

Sumbangan Thabit terhadap geometri lainnya yakni, pengembangan geometri terhadap teori Pitagoras di mana dia mengembangkannya dari segi tiga siku-siku khusus ke seluruh segi tiga siku-siku. Thabit juga mempelajari geometri untuk mendukung penemuannya terhadap kurva yang dibutuhkan untuk membentuk bayangan matahari.

Selain itu,  ilmuwan Muslim lainnya yang berjasa mengembangkan geometri adalah Ibnu al-Haitham. Dalam bidang geometri, Ibnu al-Haitham mengembangkan analitis geometri yang menghubungkan geometri dengan aljabar. Selain itu, dia juga memperkenalkan konsep gerakan dan transformasi dalam geometri.

Teori Ibnu al-Haitham dalam bidang persegi merupakan teori yang pertama kali dalam geometri eliptik dan geometri hiperbolis. Teori ini dianggap sebagai tanda munculnya geometri non- Euclidean. Karya-karya Ibn al-Haitham itu mempengaruhi karya para ahli geometri Persia seperti Nasir al-Din al Tusi dan Omar Khayyam.

Namun pengaruh Ibn al-Haytham tidak hanya terhenti di wilayah Asia saja. Sejumlah ahli geometri Eropa seperti Gersonides, Witelo, Giovanni Girolamo Saccheri, serta John Wallis pun terpengaruh pemikiran al-Haitham. Salah satu karyanya yang terkemuka dalam ilmu geometri adalah  Kitab al-Tahlil wa al’Tarkib.

Cendekiawan Muslim lainnya yang berjasa mengembangkan geometri adalah Abu NasrNasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau  biasa disebut Abu Nasr Mansur. Ia merupakana salah satu ahli geometri yang mendalami spherical geometri (geometri yang berhubungan dengan astronomi). Spherical geometri ini sangat penting untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sulit di dalam astonomi Islam.

Umat Islam perlu menentukan waktu yang tepat untuk shalat,  Ramadhan, serta hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Dengan bantuan spherical geometri, kini umat Muslimbisa memperkirakan waktu-waktu tersebut dengan mudah. Itulah salah satu warisan ilmu Abu Nasr Mansur bagi kita saat ini.

Para Pengembang Geometri

* Al-Khawarizmi

Ia dilahirkan di Bukhara dan hidup pada awal pertengahan abad ke-9 M. Dia merupakan cendekiawan Islam yang berpengetahuan luas. Dia tidak hanya ahli di bidang geometri tetapi sejumlah ilmu lainnya seperti bidang falsafah, logika, aritmatika, musik, kimia, maupun sejarah Islam.

Ketika masih muda, al-Khawarizmi bekerja di bawah pemerintahan Khalifah al-Ma’mun di  Bait al-Hikmah di Baghdad. Dia juga bekerja dalam sebuah observatori guna mempelajari matematika dan astronomi di era kekuasaan Dinasti Abbasiyah.

Al-Khawarizmi juga dipercaya untuk memimpin perpustakaan Khalifah al-Ma’mun. Sejawaran Sains George Sarton mengatakan, “Pencapaian-pencapaian yang tertinggi telah diperoleh oleh orang-orang Timur (maksudnya adalah Al-Khawarizmi).”

* Thabit Ibn Qurra
Thabit lahir di Harran, Mesopotamia yang sekarang merupakan wilayah Turki. Thabit belajar di  Bait al-Hikmah yang berada di kota  Baghdad. Di pusat keunggulan sains Islam pada era Dinasti Abbasiyah itu, Thabit mempelajari berbagai bidang keilmuan termasuk geometri, astronomi, astrologi, mekanik, pengobatan, mau[un filsafat.

Thabit berbahasa Syiria, namun dia juga mahir berbahasa Yunani. Dia banyak melakukan penerjemahan karya-karya ilmuwan Barat seperti Apollonius, Archimedes, Euclid, dan Ptolemy. Thabit juga dekat dengan Kalifah Abbasiyah Al-Mu’tadid yang memerintah pada tahun 892–902 M.

* Ibnu al-Haitham

Ibnu Haytham lahir di Basra pada tahun 965 M. Para ilmuwan Barat menyebut Haitham sebagai Alhazen. Dia mulai pendidikannya di Basrah sebelum dilantik menjadi pegawai pemerintah di kota kelahirannya tersebut. Namun tak lama kemudian, dia memutuskan untuk pindah ke Baghdad.

Kecintaannya kepada ilmu dan rasa hausnya akan pengalaman membuatnya pergi ke Mesir. Ketika berada di Mesir, Haytham mendalami ilmu matematika dan falak. Haitham tidak hanya ahli dalam bidang geometri, tetapi juga dalam bidang falak, pengobatan, maupun filsat. Dia banyak pula melakukan penyelidikan mengenai cahaya dan memberikan inspirasi bagi para ilmuwan Barat seperti astronom Jerman Johannes Kepler dalm menciptakan mikroskop maupun teleskop.

* Abu Nasr
Abu Nasr merupakan ahli geometri yang lahir di Gilan, Persia. Ia anak dari keluarga penguasa Khwarizmi yang hidup antara tahun 960-1036 M. Dia juga murid dari ahli matematika Abu’l Wafa dan teman baik ahli matematika muslim Al-Biruni. Dia dan Biruni sering melakukan kolaborasi yang penting bagi perkembangan matematika.  dya/hri

04
Aug
09

Hikmah : Pelajaran dari Suku Quraisy

REPUBLIKA, Selasa, 04 Agustus 2009 pukul 00:07:00

Suku Quraisy

Oleh Taufik Damas

Dalam sejarah perjuangan Rasulullah SAW, tercatat nama Umarah ibn al-Walid ibn al-Mughirah. Ia adalah seorang pemuda yang tampan dan menarik.
Terdapat kisah yang patut disimak menyangkut pemuda ini. Orang-orang kafir Quraisy telah memilihnya untuk ditukar dengan Rasulullah SAW karena keistimewaan fisiknya itu.

Orang-orang kafir Quraisy merasa terancam dengan dakwah Rasulullah SAW. Mereka melakukan berbagai cara untuk menghentikannya. Bujukan, hinaan, hingga penyiksaan telah mereka lakukan terhadap Nabi SAW dan para pengikutnya.

Hingga suatu hari mereka datang kepada Abu Thalib, paman Nabi SAW, hendak menukar Rasulullah SAW dengan Umarah. Mereka menyerahkan Umarah kepada Abu Thalib dan Abu Thalib menyerahkan Rasulullah SAW kepada mereka.

Mereka berharap Abu Thalib mengangkat Umarah sebagai anak angkatnya menggantikan Rasulullah SAW. Dan, mereka membawa Rasulullah SAW untuk kemudian dibunuh.

Mendengar tawaran itu, Abu Thalib terkejut. Ia pun menolak seraya berkata, ”Tidak mungkin aku menyerahkan Muhammad SAW untuk kalian bunuh, sementara kalian menyerahkan Umarah untuk aku jadikan anak.” Salah satu tokoh Quraisy yang ikut mengajukan tawaran ini adalah al-Walid ibn al-Mughirah, ayah kandung Umarah sendiri.

Berkenaan dengan siasat yang tidak manusiawi itu, Allah SWT menurunkan wahyu yang mengecam mereka. Firman Allah SWT tentang orang-orang kafir yang mendustakan agama Allah SWT termaktub dalam Alquran surah Almuddatstsir (74): 11-30.

Mengapa kaum Quraisy sampai membuat penawaran yang tidak masuk akal itu? Apakah mereka berpikir Abu Thalib akan menerimanya karena akan mendapatkan Umarah yang tampan dan lebih muda dari Rasulullah SAW?
Apa pun pertimbangan mereka, tawaran itu adalah bukti kepanikan di hadapan sebuah kebenaran yang tidak dapat mereka bendung. Kebencian terhadap kebenaran melahirkan sikap panik dan penderitaan berkepanjangan bagi pelakunya. Apa pun akan mereka lakukan untuk meredamnya.

Dalam banyak kasus, kepanikan mendorong orang melakukan tindakan destruktif yang merugikan banyak orang. Harapan mendapatkan keuntungan, yang datang justru kerugian. Inilah yang dialami oleh kaum Quraisy ketika mereka menentang kebenaran risalah yang dibawa Rasulullah SAW.

Di zaman sekarang, yang menghalangi sebagian orang untuk menerima kebenaran adalah keserakahan ekonomi dan politik. Mereka tidak segan menjadikan agama sebagai alat mengeruk keuntungan pribadi hingga nilai-nilai luhur agama terabaikan.

Sejarah kaum Quraisy menunjukkan bahwa siapa pun yang menentang atau menodai kebenaran pasti akan kalah dan menjadi pesakitan.

03
Aug
09

Khazanah : Sumbangan Saintis Muslim dalam Geometri

REPUBLIKA, Senin, 03 Agustus 2009 pukul 01:24:00

Geometri merupakan salah satu cabang dalam ilmu matematika. Ilmu Geometri secara harfiah berarti pengukuran tentang bumi, yakni ilmu yang mempelajari hubungan di dalam ruang. Sejatinya, ilmu geometri sudah dipelajari peradaban  Mesir Kuno, masyarakat Lembah Sungai Indus dan Babilonia.

Peradaban-peradaban kuno ini diketahui memiliki keahlian dalam drainase rawa, irigasi, pengendalian banjir dan pendirian bangunan-bagunan besar. Kebanyakan geometri Mesir kuno dan Babilonia terbatas hanya pada perhitungan panjang segmen-segmen garis, luas, dan volume.

Di era kekhalifahan Islam, para saintis Muslim pun turut mengembangkan geometri. Bahkan, pada era abad pertengahan, geometri dikuasai para matematikus Muslim. Tak heran jika peradaban Islam turut memberi kontribusi penting bagi pengembangan cabang ilmu matematika modern itu.

Pencapaian peradaban Islam di era keemasan dalam bidang geometri sungguh sangat menakjubkan. Betapa tidak.  Para peneliti di Amerika Serikat (AS) menemukan fakta bahwa di abad ke-15 M, para cendekiawan Muslim telah menggunakan pola geometris mirip kristal. Padahal, pakar matematika modern saja baru menemukan pla desain geometri itu pada abad ke-20 M.

Menurut studi yang diterbitkan dalam Jurnal Science itu, para matematikus Muslim di era keemasan telah memperlihatkan satu terobosan penting dalam bidang matematika dan desain seni pada abad ke-12 M. “Ini amat mengagumkan,” tutur Peter Lu, peneliti dari Harvard, AS seperti dikutip  BBC .

Peter Lu mengungkapkan, para matemetikus dan desainer Muslim di era kekhalifahan telah mamapu membuat desain dinding, lantai dan langit-langit dengan menggunakan tegel yang mencerminkan pemakaian rumus matematika yang begitu canggih. ”Teori itu baru ditemukan 20 atau 30 tahun lalu,” ungkapnya.

Desain dalam seni Islam menggunakan aturan geometri dengan bentuk mirip kristal yang menggunakan bentuk poligon simetris untuk menciptakan satu pola. Hingga saat ini, pandangan umum yang beredar adalah pola rumit berbentuk bintang dan poligon dalam desain seni Islam dicapai dengan menggunakan garis zigzag yang digambar dengan mistar dan kompas.

“Anda bisa melihat perkembangan desain geometis yang canggih ini. Jadi mereka mulai dengan pola desain yang sederhana, dan lama-lama menjadi lebih kompleks,” tambah Peter Lu. Penemuan Peter Lu itu membuktikan bahwa peradaban Islam telah mampu mencapai kemajuan yang luar biasa dalam bidang geometri.

Lantas bagaimana  matematikus Islam mengembangkan geometri? Pada abad ke-9 M, matematikus Muslim bernama Khawarizmi telah mengembangkan geometri. Awalnya,  ilmu geometri dipelajari sang matematikus terkemuka dari  buku berjudul  The Elements karya Euklid. Ia pun kemudian mengembangkan geometri dan menemukan beragam hal yang baru dalam studi tentang hubungan di dalam ruang.

Al-Khawarizmi menciptakan istilah  secans dan  tangens dalam penyelidikan trigonometri dan astronomi. Dia juga menemukan Sistem Nomor yang sangat penting bagi sistem nomor  modern. Dalam Sistem Nomor itu, al-Khawarizmi memuat istilah Cosinus, Sinus dan Tangen untuk menyelesaikan persamaan trigonometri, teorema segitiga sama kaki, perhitungan luas segitiga, segi empat maupun perhitungan luas lingkaran dalam geometri.

Penelitian al-Khawarizmi dianggap sebagai  sebuah revolusi besar dalam dunia matematika. Dia menghubungkan konsep-konsep geometri dari matematika Yunani kuno ke dalam konsep baru. Penelitian-penelitian al-Khawarizmi menghasilkan sebuah teori gabungan yang memungkinkan bilangan rasional/irasional, besaran-besaran geometri diperlakukan sebagai objek-objek aljabar.

Penelitian al-Khawarizmi memungkinkan dilakukannya aplikasi sistematis dari aljabar. Sebagai contoh, aplikasi aritmetika ke aljabar dan sebaliknya, aljabar terhadap trigonometri dan sebaliknya, aljabar terhadap teori bilangan, aljabar terhadap geometri dan sebaliknya. Penelitian-penelitian ini mendasari terciptanya aljabar polinom, analisis kombinatorik, analisis numerik, solusi numerik dari persamaan, teori bilangan, dan konstruksi geometri dari persamaan.

Konsep geometri dalam matematika yang diperkenalkan oleh al-Khawarizmi juga sangat penting dalam bidang astronomi. Pasalnya Astronomi merupakan ilmu yang mengkaji tentang bintang-bintang termasuk kedudukan, pergerakan, dan penafsiran yang berkaitan dengan bintang. Guna menghitung kedudukan bintang terhadap bumi membutuhkan perhitungan geometri.

Ilmuwan Muslim lainnya yang berjasa mengembangkan geometri adalah Thabit Ibnu Qurra. Matematikus Muslim yang dikenal dengan panggilan  Thebit itu juga merupakan salah seorang ilmuwan Muslim terkemuka di bidang Geometri.  Dia melakukan penemuan penting di bidang matematika seperti kalkulus integral, trigonometri, geometri analitik, maupun geometri non-Eucledian.

Salah satu karya Thabit yang fenomenal di bidang geometri adalah bukunya yang berjudul  The composition of Ratios ( Komposisi rasio). Dalam buku tersebut, Thabit mengaplikasikan antara aritmatika dengan rasio kuantitas geometri. Pemikiran ini, jauh melampaui penemuan ilmuwan Yunani kuno dalam bidang geometri.

Sumbangan Thabit terhadap geometri lainnya yakni, pengembangan geometri terhadap teori Pitagoras di mana dia mengembangkannya dari segi tiga siku-siku khusus ke seluruh segi tiga siku-siku. Thabit juga mempelajari geometri untuk mendukung penemuannya terhadap kurva yang dibutuhkan untuk membentuk bayangan matahari.

Selain itu,  ilmuwan Muslim lainnya yang berjasa mengembangkan geometri adalah Ibnu al-Haitham. Dalam bidang geometri, Ibnu al-Haitham mengembangkan analitis geometri yang menghubungkan geometri dengan aljabar. Selain itu, dia juga memperkenalkan konsep gerakan dan transformasi dalam geometri.

Teori Ibnu al-Haitham dalam bidang persegi merupakan teori yang pertama kali dalam geometri eliptik dan geometri hiperbolis. Teori ini dianggap sebagai tanda munculnya geometri non- Euclidean. Karya-karya Ibn al-Haitham itu mempengaruhi karya para ahli geometri Persia seperti Nasir al-Din al Tusi dan Omar Khayyam.

Namun pengaruh Ibn al-Haytham tidak hanya terhenti di wilayah Asia saja. Sejumlah ahli geometri Eropa seperti Gersonides, Witelo, Giovanni Girolamo Saccheri, serta John Wallis pun terpengaruh pemikiran al-Haitham. Salah satu karyanya yang terkemuka dalam ilmu geometri adalah  Kitab al-Tahlil wa al’Tarkib.

Cendekiawan Muslim lainnya yang berjasa mengembangkan geometri adalah Abu NasrNasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau  biasa disebut Abu Nasr Mansur. Ia merupakana salah satu ahli geometri yang mendalami spherical geometri (geometri yang berhubungan dengan astronomi). Spherical geometri ini sangat penting untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sulit di dalam astonomi Islam.

Umat Islam perlu menentukan waktu yang tepat untuk shalat,  Ramadhan, serta hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Dengan bantuan spherical geometri, kini umat Muslimbisa memperkirakan waktu-waktu tersebut dengan mudah. Itulah salah satu warisan ilmu Abu Nasr Mansur bagi kita saat ini. Dyah Ratna Meta Novia/hri

Para Pengembang Geometri

* Al-Khawarizmi
Ia dilahirkan di Bukhara dan hidup pada awal pertengahan abad ke-9 M. Dia merupakan cendekiawan Islam yang berpengetahuan luas. Dia tidak hanya ahli di bidang geometri tetapi sejumlah ilmu lainnya seperti bidang falsafah, logika, aritmatika, musik, kimia, maupun sejarah Islam.

Ketika masih muda, al-Khawarizmi bekerja di bawah pemerintahan Khalifah al-Ma’mun di  Bait al-Hikmah di Baghdad. Dia juga bekerja dalam sebuah observatori guna mempelajari matematika dan astronomi di era kekuasaan Dinasti Abbasiyah.

Al-Khawarizmi juga dipercaya untuk memimpin perpustakaan Khalifah al-Ma’mun. Sejawaran Sains George Sarton mengatakan, “Pencapaian-pencapaian yang tertinggi telah diperoleh oleh orang-orang Timur (maksudnya adalah Al-Khawarizmi).”

* Thabit Ibn Qurra
Thabit lahir di Harran, Mesopotamia yang sekarang merupakan wilayah Turki. Thabit belajar di  Bait al-Hikmah yang berada di kota  Baghdad. Di pusat keunggulan sains Islam pada era Dinasti Abbasiyah itu, Thabit mempelajari berbagai bidang keilmuan termasuk geometri, astronomi, astrologi, mekanik, pengobatan, mau[un filsafat.

Thabit berbahasa Syiria, namun dia juga mahir berbahasa Yunani. Dia banyak melakukan penerjemahan karya-karya ilmuwan Barat seperti Apollonius, Archimedes, Euclid, dan Ptolemy. Thabit juga dekat dengan Kalifah Abbasiyah Al-Mu’tadid yang memerintah pada tahun 892–902 M.

* Ibnu al-Haitham

Ibnu Haytham lahir di Basra pada tahun 965 M. Para ilmuwan Barat menyebut Haitham sebagai Alhazen. Dia mulai pendidikannya di Basrah sebelum dilantik menjadi pegawai pemerintah di kota kelahirannya tersebut. Namun tak lama kemudian, dia memutuskan untuk pindah ke Baghdad.

Kecintaannya kepada ilmu dan rasa hausnya akan pengalaman membuatnya pergi ke Mesir. Ketika berada di Mesir, Haytham mendalami ilmu matematika dan falak. Haitham tidak hanya ahli dalam bidang geometri, tetapi juga dalam bidang falak, pengobatan, maupun filsat. Dia banyak pula melakukan penyelidikan mengenai cahaya dan memberikan inspirasi bagi para ilmuwan Barat seperti astronom Jerman Johannes Kepler dalm menciptakan mikroskop maupun teleskop.

* Abu Nasr
Abu Nasr merupakan ahli geometri yang lahir di Gilan, Persia. Ia anak dari keluarga penguasa Khwarizmi yang hidup antara tahun 960-1036 M. Dia juga murid dari ahli matematika Abu’l Wafa dan teman baik ahli matematika muslim Al-Biruni. Dia dan Biruni sering melakukan kolaborasi yang penting bagi perkembangan matematika.  dya

02
Aug
09

Wisata Sejarah : Che, Ikon Revolusi di Dunia Kapitalis

02/08/2009 – 08:27
Che, Ikon Revolusi di Dunia Kapitalis
Nusantara HK Mulkan
Ernesto Che Guevara
(Istimewa)

INILAH.COM, Havana – Kisah hidup Ernesto Che Guevara memang telah melegenda selama puluhan tahun. Namun, tak seorang pun tahu siapa sebenarnya orang yang harus ‘bertanggung jawab’ atas tersebarnya foto diri pria brewok bertatap mata tajam yang mengenakan seragam militer lengkap dengan baretnya itu. Apalagi, foto itu ternyata adalah foto yang paling banyak direproduksi di seluruh dunia.

Rasanya saat ini tidak ada yang tidak mengenal wajah Che Guevara. Foto dan gambarnya kini bisa ditemui di berbagai produk industri, mulai dari kaus oblong, stiker, hingga bak truk, dan mikrolet. Bahkan, sudah umum jika kita melihat wajah Benyamin S atau Mbah Surip yang dimontase dengan penampilan tokoh revolusioner berdarah Argentina ini.

Generasi sekarang ini mungkin lebih beruntung dibandingkan anak-anak muda yang hidup di era Orde Baru. Anak-anak muda di era Orde Baru mungkin sangat jarang mengenal wajah yang terkenal dengan moto Hasta La Victoria Siempre (Berjuang mencapai kemenangan) itu.

Sejumlah aktivis, terutama aktivis kiri saat itu, biasanya secara sembunyi-sembunyi memproduksi kaus ataupun posternya. Di dalam rumah-rumah kos atau kontrakan, mereka biasanya mendiskusikan ide-ide revolusinya.

Barulah di era 1990-an, mereka mulai secara terbuka mengenakan kaus bergambar Che, baik untuk kuliah ataupun berdemonstrasi. Bahkan, kaus mereka seolah menjadi ‘seragam’ wajib mereka saat berunjukvrasa menentang rezim Orde Baru.

Kini, wajah pria yang fotonya dapat ditemui dalam berbagai ragam itu seolah menjadi barang yang ‘pasaran’. Bahkan, tak jarang seseorang yang mengenakan kaus bergambar Che tidak tahu siapa tokoh revolusioner yang menjadi menteri industri pertama Kuba itu.

Tokoh revolusi ini seolah tenggelam dalam berbagai industri kapitalisme. Wajahnya bahkan terpampang di sejumlah iklan tanpa kejelasan apakah memberikan royalti kepada si pembuat foto asli Che berjudul Guerrillero Heroico (Gerilya heroik) itu.

Padahal, dalam sebuah diskusi yang dilakukan beberapa fotografer dari berbagai negara, pernah disepakati bahwa foto Che Guevara itu adalah foto yang paling banyak direproduksi di seluruh dunia. Diperkirakan sudah miliaran kopi foto itu beredar dalam berbagai bentuk.

Sementara, Alberto Korda, sang fotografer tidak pernah menyadari jika hasil jepretannya itu kini telah menjadi simbol ikon abad ke-20. Korda mengambil gambar foto legendaris itu pada sebuah acara pemakaman 136 warga Kuba yang tewas di sebuah kapal yang meledak di Pelabuhan Kuba pada 1960.

Di upacara yang digelar di Havana itu, Che tampil sebagai salah satu menteri. Sosoknya saat itu agaknya tenggelam dengan popularitas Presiden Kuba Fidel Castro yang memimpin seremoni. Sehingga, Korda yang saat itu bekerja sebagai fotografer harian Revolution hanya mengambil dua frame gambar Che.

Negatif foto itu, seperti diakui Korda, bahkan sempat tercecer karena dia tidak menyimpannya dengan rapi. Barulah saat Che terbunuh di Bolivia, pada 1967, Korda kelabakan. Dia sibuk mencari negatif foto itu. Sebab, sejumlah koran Eropa membutuhkannya.

Sehingga, saat menemukan negatif foto itu, dia langsung menjualnya ke beberapa agensi berita. Foto itu akhirnya terpublikasi secara luas dan direproduksi oleh berbagai media. Bahkan, direproduksi dalam berbagai bentuk dan rupa hingga kini.

Nama Korda akhirnya terdongkrak drastis. Harga foto-foto hasil jepretannya terus melambung tinggi hingga kini. Bahkan, harga cetakan asli foto Che Guevara yang tengah menatap lurus ke depan itu dikabarkan terjual ribuan dolar.

Namun, hal ini ternyata tidak membuat Korda menjadi seorang miliuner. Padahal jika dihitung, industri kapitalisme yang telah menggunakan haknya sebagai pencipta foto itu mungkin tidak terhingga besarnya.

Korda memang dikabarkan sempat mengantongi uang dalam jumlah cukup besar saat dia memenangkan kasus hak cipta di pengadilan London pada 2000 lalu. Dia menggugat sebuah iklan minuman Vodka di London yang menggunakan foto Che.

Walau tidak dijeaskan jumlahnya, uang itu dikabarkan tidak dikantonginya. Sebab, dia menyumbangkannya ke sebuah yayasan sosial di Kuba.

Apakah Che Guevara menjadi pahlawan Kuba? Tidak juga. Orang pun tampaknya tidak peduli dengan sosok Che Guevara yang digambarkan penentang kapitalisme, namun justru menjadi korban industri kaum kapitalis.

Mungkin cara cucu Che, Lydia Guevara, bisa dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap hal itu. Dia tidak melakukan revolusi bersenjata, tapi dengan pose seksi. Dia melepaskan pakaiannya dengan dada hanya ditutupi wortel yang disusun layaknya peluru.

Bedanya, jika sang kakek berjuang untuk revolusi sosialis, kini Lydia Guevara berjuang demi perlindungan hewan. Wuih! [P1]

01
Aug
09

Bandar Jakarta : Noodwijk Kawasan Para Bule

REPUBLIKA, Sabtu, 01 Agustus 2009 pukul 01:01:00

Noordwijk

Oleh: Alwi Shahab, wartawan Republika

Noordwijk (kini Jalan Juanda), Jakarta Pusat, yang diabadikan pada 1920, keadaannya sangat kontras dengan sekarang ini. Delman atau sado merupakan kendaraan utama ketika itu. Lihatlah seorang bule berseragam putih–pakaian  governement ketika itu–dengan santainya menyusuri jalan raya tanpa takut kecelakaan.

Di sebelah kanan, seorang pribumi dengan santai tengah melenggang di jalan raya. Kala itu, karena belum banyak kendaraan bermotor (mogil) yang nongol, jalan raya Juanda sangat lengang. Di sebelah kanan foto, di tepi Ciliwung terlihat pompa bensin untuk mobil yang jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.

Cobalah mendatangi Jalan Juanda sekarang ini. Kemacetan sudah tidak ketolongan lagi dan pada musim kemarau panasnya bukan main. Padahal, pada  tempo doeloe kawasan ini sangat sejuk dengan pepohonan di kiri kanan jalan raya. Foto yang diabadikan dari perapatan Harmoni di mana Noordwijk dan Risjwijk (kini Jl Veteran) dibatasi oleh kanal sodetan Kali Ciliwung melalui Pasar Baru, Gunung Sahari, hingga ke Laut Jawa.

Tampak jembatan Harmoni yang hingga kini masih kita dapati. Di kiri tampak pertokoan yang menjadi tempat perbelanjaan dan hiburan para warga Barat. Di seberang Noordwijk terdapat Risjwijk (kini Jalan Veteran). Keduanya merupakan kawasan elite Belanda di Batavia.

Di samping pertokoan, perhotelan, dan bioskop, terdapat sejumlah rumah makan yang menghidangkan masakan Eropa. Adanya gedung Harmoni (kini tempat parkir gedung Sekretariat Negara) menambah keindahan kawasan ini. Tidak heran pada masa Letnan Gubernur Sir Thomas Raffles (Inggris), kedua kawasan yang saling bersebrangan dan sebagian Molenvliet (Jalan Hayam Wuruk dan Jl Gajah Mada), menetapkan sebagai kawasan Eropa.

Dengan mengusir dan menggusur warga Betawi dan toko-toko milik keturunan Cina dari kawasan ini, termasuk sebuah pemakaman umum, Raffles sendiri kemudian membangun kediamannya di Risjwijk yang kini menjadi gedung Bina Graha tempat kerja presiden. Sekalipun dia lebih senang di daerah peranginan?  Buitenzorg (Bogor). Dahulu, di Noordwijk terdapat sebuah taman yang pada malam hari, terutama malam Minggu, dipenuhi oleh pria dan wanita berpakaian Eropa saling bermesraan diterangi rembulan dan lampu-lampu taman yang indah.

Di Noordwijk hingga kini masih kita jumpai  klooster Ursulin yang diresmikan pada 1 Agustus 1856. Sebuah  klooster Katolik lainnya dibangun di samping Kantor Pos Pasar Baru dengan nama yang sama. Pada masa VOC (1619-1799), Belanda dengan sangat mencolok melakukan diskiriminasi terhadap agama. Melarang dibangunnya tempat peribadatan Katolik di Hindia Belanda. Baru pada 8 Mei 1807, Louis Bonaparte, adik Napoleon Bonaparte, yang menaklukkan Nederland, membolehkan dibangunnya tempat peribadatan Katolik.

Tapi, tetap tidak memperbolehkan membangun masjid di jalan-jalan raya Batavia. Karenanya, setelah kemerdekaan, Bung Karno dan Bung Hatta serta pemuka Islam bertekad membangun Masjid Istiqlal (Kemerdekaan) di bekas benteng Belanda.

01
Aug
09

Kelautan : Belajar Sejarah Maritim

REPUBLIKA, Sabtu, 01 Agustus 2009 pukul 01:44:00

Sejarah Maritim

Kejayaan maritim bangsa Indonesia yang meredup perlu dihidupkan kembali.

Musim liburan sudah usai. Terminal 1C di Bandara Soekarno Hatta pun kelihatan lengang. Waktu baru menunjukkan pukul 07.45 WIB. Namun, tepat di depan <I>counter<I> Riau Airlines, ada keramaian tersendiri. Sekelompok anak-anak muda berjaket biru tua sibuk berfoto-foto. ”Ntar di- tag ya,” kata salah satu dari mereka.Anak-anak muda berjaket biru tua itu merupakan rombongan Arung Sejarah Bahari (Ajari) 4. Mereka adalah peserta acara lawatan sejarah yang akan merasakan pengalaman menyusuri jalur utama pelayaran dan perdagangan di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada 21-25 Juli 2009.

Pesawat yang mengangkut rombongan tiba di Bandara Tanjung Pinang setelah menempuh perjalanan 90 menit dari Cengkareng. Hawa panas yang menyergap tidak menyurutkan semangat mahasiswa peserta Ajari. Selat Malaka, laut yang memisahkan bagian kanan atas pulau Sumatra dengan Malaysia dan Singapura, tercatat sebagai jalur pelayaran tertua dan terpadat dalam sejarah lalu lintas kapal dunia. Dan, pusat kerajaan Melayu dahulu terpusat di Riau-Pahang-Lingga-Johor.

Karena itulah acara yang diprakarsai Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata ini memilih Kepri. Direktur Geografi Sejarah, Endjat Djaenuderajat, mengatakan bahwa kejayaan maritim bangsa Indonesia yang meredup perlu dihidupkan kembali. Terlebih dua per tiga dari Indonesia merupakan laut.”Caranya dengan mengajak generasi muda menengok kejayaan maritim lampau,” ujarnya. Mau tahu acara seru sejarah maritim zaman dulu?  Yuuk, mari

* Sungai Carang

Di Tanjung Pinang, mahasiswa dibawa naik kapal menyusuri Sungai Carang. Dari sungai ini, Riau bermula. Pada tahun 1600-an, Sultan Abdul Jalil memerintahkan pembukaan negeri baru di hulu sungai Carang. Pembukaan itu berdampak pada timbulnya perdagangan, kehidupan sosial, juga politik. Hingga pada 1722 kerajaan Riau berdiri di sana. Maraknya perdagangan tercatat dalam surat Gubernur Thomas Silcher ke Batavia yang bercerita tentang banyaknya kapal yang berlabuh di sana.

* Pulau Penyengat

Dulu, pulau ini yang berfungsi sebagai pusat pertahanan kerajaan dari ancaman luar. Kepri juga penting karena akar rumput bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Dari sinilah bahasa itu menyebar lalu berubah menjadi  lingua franca bangsa Indonesia. Gubernur Kepri, Ismeth Abdullah, mengatakan bahwa Selat Malaka adalah tempat bertemunya pelaut dunia. Di masa modern, pulau-pulau di Kepri menjadi penting karena bila tak diperhatikan bukan tidak mungkin Malaysia mengancam kedaulatan pulau-pulau terluar itu. Wah, jangan sampai  dong

* Pulau Lingga
Setelah menghabiskan dua malam di Tanjung Pinang, rombongan beranjak ke Pulau Lingga. Perjalanan ditempuh dengan kapal feri selama 4,5 jam. Dulu, Pulau Lingga merupakan bagian dari dinasti Kerajaan Riau. Pada awal abad ke-19 ketika Selat Malaka dijajah Inggris dan Belanda, timbul perjanjian London yang membagi wilayah Riau dan Lingga di bawah Belanda dan Johor, Pahang, Singapura di bawah Inggris. Di Lingga terdapat sisa-sisa pertahanan terhadap Belanda. Ini dia bukti kalau sedari dulu orang Indonesia, termasuk yang di pelosok pulau sekalipun,  nggak pernah mau dijajah.

* Batam

Lawatan sejarah berakhir di Batam. Di Pulau Galang yang terletak di Pulau Batam, rombongan melihat tempat pengungsi Vietnam ditampung pada tahun 1970-an. Malamnya, seluruh rombongan menyantap makan malam bermenu  seafood yang khas dari Batam. Sedap…

Selama lima hari mahasiswa sudah belajar sejarah, melihat kebudayaan setempat, juga menampilkan kebudayaan dari daerahnya masing-masing. Mahasiswi dari Bali kebagian menampilkan tari sekar jagat di hadapan penduduk pulau Lingga. Begitu juga dengan mahasiswi dari Maluku yang menari dengan alat musik tifa. Sabtu malam (25/7) seluruh rombongan dan panitia juga  Republika tiba di Jakarta. Pegal-pegal, tapi sangat berkesan. Belajar sejarah Kepri sekaligus berkenalan dengan adat Melayu. Dan, yang paling penting, bisa lihat langsung kalau Indonesia ternyata sangat luas. Sejarahnya pun sangat menarik. Luar biasa  deh !!  ind


Potret Indonesia Mini

Sebanyak 74 mahasiswa dari Sabang sampai Merauke menjadi peserta Ajari 4 tahun ini. Ibarat Bhinneka Tunggal Ika, meski berbeda suku dan pulau, semuanya kompak dan penuh kebersamaan. Ini dia potret Indonesia mini di Kepri. Lidah yang tidak biasa mencicipi menu Melayu atau kepala yang mendadak pusing akibat terombang-ambing ombak pas naik kapal terlupakan dengan serunya bergaul dengan mahasiswa lainnya. Yuk, simak apa kata mereka tentang acara ini.  ind


‘Ingin Tambah Kenal Laut’

Dian AP Korwa (21 tahun)
Universitas Cenderawasih Jurusan IPS Program Studi Pendidikan Sejarah

Saya jadi makin cinta laut gara-gara acara ini. Di Papua memang banyak laut, tapi rasa memiliki saya kurang. Sekarang saya merasa punya motivasi, termasuk menulis skripsi yang berkaitan dengan sejarah bahari Papua. Contoh lain yang kecil adalah jangan buang sampah di laut. Saya juga jadi terpikir untuk memaksimalkan potensi laut.

Padahal, rumah saya di Biak, Papua, dekat pantai. Waktu SD, kami piknik ke pantai main polo air. Laut penting pula karena bisa menjadi sumber mata pencaharian. Contohnya, ayah saya yang bekerja di bidang itu. Meski lima hari belum cukup untuk belajar sejarah peradaban bahari di Kepri, ini tetap menjadi  spirit untuk melakukan hal yang sama di Papua. Saya jadi ingin bisa menulis buku tentang sejarah maritim Papua. Buat adik-adik kecil, saya mau mengenalkan laut sama mereka. Kalau mereka dari dini menganggap laut lebih serius, pasti potensi laut di Papua minimal bisa seimbang seperti cinta masyarakat Kepri terhadap lautnya.

Mau Selalu Keep in Touch

Parmawati (21 tahun)
Sekolah Teknologi Indonesia, Tanjung Pinang, Kepri

Seorang teman telepon mengabari tentang acara ini. Karena disuruh menulis makalah supaya bisa ikut, maka saya bikin tulisan yang bertema integritas suku laut. Menurut saya, acara Ajari 4 ini  excellent . Selain belajar budaya, saya juga bisa menambah teman dari seluruh Indonesia.

Otomatis rasa kecintaan saya terhadap laut dan Tanah Air jadi makin tinggi. Gara-gara acara ini, saya pun makin tahu sejarah Kepri secara menyeluruh. Ini mudah-mudahan melancarkan niat saya yang mau ikut pertukaran pelajar Asean ke Jepang. Memang masih calon, Insya Allah berkat pengetahuan dari Ajari saya bisa dapat program itu ya.Mudah-mudahan koneksi saya dengan semua teman mahasiswa yang ikut acara ini selalu ada. Saya  sih maunya kita bisa selalu  keep in touch . Mau di dunia maya dan di dunia nyata, semoga bisa selalu  nyambung .

‘Teman ‘Facebook’ se-Tanah Air’

Yohanes Kean (22 tahun)
Universitas Nusa Cendana Jurusan Pendidikan Sejarah NTT

Meski mendaftar paling terakhir ternyata saya bisa mewakili NTT di Ajari 4. Kalau acara ini saya ketahui dari pengumuman yang ditempel di kampus. Syaratnya memang harus menulis makalah, punya IP di atas 3, dan bisa berenang. Makalah yang saya tulis berjudul ‘Menelusuri Sejarah Kemaritiman Selat Malaka’.

Ajari menyenangkan karena saya bisa bertemu dengan orang se-Indonesia. Lihat kebudayaan lain selalu menarik buat saya. Apalagi, saya belum pernah ke Kepri sebelumnya. Bergaul dengan orang se-Indonesia membuat saya merasa beda. Rasanya lebih kaya. Teman saya di  facebook juga langsung bertambah. Jadi dari se-Tanah Air.

Tahun depan Ajari mau ke NTT. Saya siap membantu panitia menjadi tuan rumah. Di Lamalera, NTT, kebudayaannya beda lagi. Kalau di Kepri kita belajar budaya Melayu, di NTT kita belajar soal pengaruh budaya Portugis di Indonesia. Kalau bisa tahun depan peserta Ajari datang dari ke-33 provinsi di Indonesia. Biar makin seru dan ramai.




Blog Stats

  • 1,701,582 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 72 other followers