Posts Tagged ‘Historical



31
Dec
10

Otomotif : VW Karmann Ghia Milik Ir Soekarno

Presiden Soekarno Pemilik Pertama VW Karmann Ghia?

Sabtu, 25 Desember 2010 06:28 WIB |
 

karmann ghia (flicker.com)

Jakarta (ANTARA News) – Presiden pertama RI, Soekarno, konon merupakan pemilik pertama di Asia untuk VW Karmann Ghia.

“Mobil ini di Asia pertama kali yang pakai Bung Karno,” kata Denny F Kusuma dari VW Club Indonesia yang mengikutsertakan VW Karmann Ghia di Ajang OICC Show 2010 di Balai Kartini,Jakarta.

Menurut dia Bung Karno memiliki dua Karmann Ghia convertible (atap terbuka) yang diberikan kepada putranya Guruh dan Guntur. Kini, mobil itu sudah berpindah tangan dan dimiliki oleh seorang yang berdomisili di Bintaro Tangerang.

Denny mengaku mengetahui hal itu dari STNK mobil yang masih menggunakan nama Ir. Soekarno dan hingga kini pemiliknya enggan melepas mobil bersejarah itu.

Mobil VW Karmann Ghia pertama kali diproduksi tahun 1956 sedangkan yang STNK-nya atas nama Ir Soekarno buatan tahun 1958.

VW bekerja sama membuat mobil bersama dua orang bernama Karmann (asal Jerman) dan Ghia (Asal Italia).

Menurut Denny, Karmann Ghia jarang ditemui di Indonesia karenanya banyak diburu. Selain tipe convertible yang kini nilainya sekitar Rp300 juta, ada juga versi hard top (atap tertutup) yang kini berharga 175 juta .

Ia menjelaskan, perawatan Karmann Ghia murah karena hanya butuh melakukan tune up dan ganti oli mesin dengan biaya Rp275 ribu.
(Yud/A038/BRT)

GO GREEN

Jaguar Tenaga Listrik Pamer …Jakarta (ANTARA News)  – Jaguar C-X75, super car bertenaga listrik dengan top speed …

Hybrid Rusia Lebih Canggih …“Demam” teknologi hybrid untuk kendaraan sudah sampai ke Rusia. Seorang miliuner negara …

VW Gelar Jambore Libatkan …Sekitar 1000 kendaraan Volkswagen dari berbagai tipe dan 2000 anggota klub Volkswagen …

“Insight” Mobil Hybrid …Perang Mobil hybrid antara Toyota Prius dan Honda Insight tak pernah benar-benar …

30
Dec
10

Khazanah : Sejarah Awal Mula Kewajiban Zakat

Sejarah Awal Mula Kewajiban Zakat

Kamis, 23 Desember 2010, 20:13 WIB

>

Sejarah Awal Mula Kewajiban Zakat

Zakat. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Kewajiban yang dikenal sebagai zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Namun, permasalahan zakat tidak bisa dipisahkan dari usaha dan penghasilan masyarakat. Demikian juga pada zaman Nabi Muhammad SAW.

Dalam buku 125 Masalah Zakat karya Al-Furqon Hasbi disebutkan bahwa awal Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, zakat belum dijalankan. Pada waktu itu, Nabi SAW, para sahabatnya, dan segenap kaum muhajirin (orang-orang Islam Quraisy yang hijrah dari Makkah ke Madinah) masih disibukkan dengan cara menjalankan usaha untuk menghidupi diri dan keluarganya di tempat baru tersebut. Selain itu, tidak semua orang mempunyai perekonomian yang cukup — kecuali Utsman bin Affan — karena semua harta benda dan kekayaan yang mereka miliki ditinggal di Makkah.

Kalangan anshar (orang-orang Madinah yang menyambut dan membantu Nabi dan para sahabatnya yang hijrah dari Makkah) memang telah menyambut dengan bantuan dan keramah-tamahan yang luar biasa. Meskipun demikian, mereka tidak mau membebani orang lain. Itulah sebabnya mereka bekerja keras demi kehidupan yang baik. Mereka beranggapan pula bahwa tangan di atas lebih utama daripada tangan di bawah.

Keahlian orang-orang muhajirin adalah berdagang. Pada suatu hari, Sa’ad bin Ar-Rabi’ menawarkan hartanya kepada Abdurrahman bin Auf, tetapi Abdurrahman menolaknya. Ia hanya minta ditunjukkan jalan ke pasar. Di sanalah ia mulai berdagang mentega dan keju. Dalam waktu tidak lama, berkat kecakapannya berdagang, ia menjadi kaya kembali. Bahkan, sudah mempunyai kafilah-kafilah yang pergi dan pulang membawa dagangannya.

Selain Abdurrahman, orang-orang muhajirin lainnya banyak juga yang melakukan hal serupa. Kelihaian orang-orang Makkah dalam berdagang ini membuat orang-orang di luar Makkah berkata, ”Dengan perdagangan itu, ia dapat mengubah pasir sahara menjadi emas.”

Perhatian orang-orang Makkah pada perdagangan ini diungkapkan dalam Alqur’an pada ayat-ayat yang mengandung kata-kata tijarah: ”Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat). (QS An-Nur:37)

Tidak semua orang muhajirin mencari nafkah dengan berdagang. Sebagian dari mereka ada yang menggarap tanah milik orang-orang anshar. Tidak sedikit pula yang mengalami kesulitan dan kesukaran dalam hidupnya. Akan tetapi, mereka tetap berusaha mencari nafkah sendiri karena tidak ingin menjadi beban orang lain. Misalnya, Abu Hurairah.

Kemudian Rasulullah SAW menyediakan bagi mereka yang kesulitan hidupnya sebuah shuffa (bagian masjid yang beratap) sebagai tempat tinggal mereka. Oleh karena itu, mereka disebut Ahlush Shuffa (penghuni shuffa). Belanja (gaji) para Ahlush Shuffa ini berasal dari harta kaum Muslimin, baik dari kalangan muhajirin maupun anshar yang berkecukupan.

Setelah keadaan perekonomian kaum Muslimin mulai mapan dan pelaksanaan tugas-tugas agama dijalankan secara berkesinambungan, pelaksanaan zakat sesuai dengan hukumnya pun mulai dijalankan. Di Yatsrib (Madinah) inilah Islam mulai menemukan kekuatannya.

Disyariatkan

Ayat-ayat Alqur’an yang mengingatkan orang mukmin agar mengeluarkan sebagian harta kekayaannya untuk orang-orang miskin diwahyukan kepada Rasulullah SAW ketika beliau masih tinggal di Makkah. Perintah tersebut pada awalnya masih sekedar sebagai anjuran, sebagaimana wahyu Allah SWT dalam surat Ar-Rum ayat 39: ”Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)”.

Namun menurut pendapat mayoritas ulama, zakat mulai disyariatkan pada tahun ke-2 Hijriah. Di tahun tersebut zakat fitrah diwajibkan pada bulan Ramadhan, sedangkan zakat mal diwajibkan pada bulan berikutnya, Syawal. Jadi, mula-mula diwajibkan zakat fitrah kemudian zakat mal atau kekayaan.

Firman Allah SWT surat Al-Mu’minun ayat 4: ”Dan orang yang menunaikan zakat”. Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan zakat dalam ayat di atas adalah zakat mal atau kekayaan meskipun ayat itu turun di Makkah. Padahal, zakat itu sendiri diwajibkan di Madinah pada tahun ke-2 Hijriah. Fakta ini menunjukkan bahwa kewajiban zakat pertama kali diturunkan saat Nabi SAW menetap di Makkah, sedangkan ketentuan nisabnya mulai ditetapkan setelah Beliau hijrah ke Madinah.

Setelah hijrah ke Madinah, Nabi SAW menerima wahyu berikut ini, ”Dan dirikanlah shalat serta tunaikanlah zakat. Dan apa-apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan” (QS Al-Baqarah: 110). Berbeda dengan ayat sebelumnya, kewajiban zakat dalam ayat ini diungkapkan sebagai sebuah perintah, dan bukan sekedar anjuran.

Mengenai kewajiban zakat ini ilmuwan Muslim ternama, Ibnu Katsir, mengungkapkan, ”Zakat ditetapkan di Madinah pada abad kedua hijriyah. Tampaknya, zakat yang ditetapkan di Madinah merupakan zakat dengan nilai dan jumlah kewajiban yang khusus, sedangkan zakat yang ada sebelum periode ini, yang dibicarakan di Makkah, merupakan kewajiban perseorangan semata”.

Sayid Sabiq menerangkan bahwa zakat pada permulaan Islam diwajibkan secara mutlak. Kewajiban zakat ini tidak dibatasi harta yang diwajibkan untuk dizakati dan ketentuan kadar zakatnya. Semua itu diserahkan pada kesadaran dan kemurahan kaum Muslimin. Akan tetapi, mulai tahun kedua setelah hijrah — menurut keterangan yang masyhur — ditetapkan besar dan jumlah setiap jenis harta serta dijelaskan secara teperinci.

Menjelang tahun ke-2 Hijriah, Rasulullah SAW telah memberi batasan mengenai aturan-aturan dasar, bentuk-bentuk harta yang wajib dizakati, siapa yang harus membayar zakat, dan siapa yang berhak menerima zakat. Dan, sejak saat itu zakat telah berkembang dari sebuah praktik sukarela menjadi kewajiban sosial keagamaan yang dilembagakan yang diharapkan dipenuhi oleh setiap Muslim yang hartanya telah mencapai nisab, jumlah minimum kekayaan yang wajib dizakati.

Red: Siwi Tri Puji B
Rep: Nidia Zuraya

11
Dec
10

Kesejarahan : Pyramid Benar-benar Ada di Indonesia

Pyramid Benar-Benar Ada di Indonesia

lokasi: Home / Berita / Jejak Candi-Candi / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 07/12/2010 | 19:49 WIB Pyramid Benar-Benar Ada di Indonesia

Pyramid adalah bangunan yang berbentuk Limas segi empat, dalam sejarah peradaban dunia Pyramid yang terbesar saat ini yang diakui dunia ada di Mesir dengan adanya 3 Pyramid besar, Pyramid tertinggi yang ada di Mesir adalah 146 meter. Namun ada cerita ganjil di candi Penataran yang menunjukkan adanya kedatangan orang Mesir ke Nuswantara.

Gambar diatas merupakan salah satu dari Gambar yang ada di relief di Candi Penataran. Pada Gambar itu terlihat 3 orang Mesir sedang menyembah . Latar belakang gambar menunjukkan adanya bangunan yang seperti taman sari. Taman sari yang seperti itu hanya ada di Indonesia, jadi jelas bahwa ke tiga orang Mesir ini datang untuk menyembah dan belajar dari leluhur Nuswantara di masa lalu. Sebagai Pembanding di bawah ini adalah gambar orang Mesir dengan pakaiannya di masa lalu.

Gambar tutup kepala orang diatas juga sangat mirip dengan tutup kepala orang mesir. Sehingga dapat di simpulkan bahwa relief yang tergambar di candi Penataran bukanlah gambar yang bercerita tentang Ramayana tetapi menunjukkan kedatangan orang Mesir ke Nuswantara untuk takluk dan belajar dari negri ini. Sehingga kalau ada  kedatangan orang-orang Mesir ke Nuswantara tentunya bangunan yang ada di Mesir pasti mencontoh bangunan yang ada di Nuswantara ini.

Berdasarkan data relief dan batu tulis yang ada di candi Penataran kami mencurigai ada nama 5 wilayah di tanah Jawa ini yang mungkin ada bangunan yang ditiru oleh orang-orang Mesir. Pembacaan prasasti kami menggunakan inscripsi sendiri sehingga terbaca 5 nama wilayah tempat belajarnya bangsa asing yang ada di pulau Jawa ini, karena kalau kami mengikuti hasil terjemahan resmi dari department sejarah dan purbakala kami tidak menemukan apa-apa. Berbekal data tersebut kami berangkat menuju 2 daerah yang di maksud, karena 2 nama itu masih belum berubah. Sehingga mempermudah kami melakukan pencarian.

Dengan menggunakan asumsi seluruh bangunan besar ditimbun oleh leluhur, maka untuk bangunan seperti Pyramid pasti ada beberapa Pyramid yang bentuknya sangat jelas terlihat walaupun sudah tertimbun. Ciri khas Pyramid tertimbunnya akan terlihat dari  ke empat rusuknya dan keempat sisi miringnya kalau penimbunannya tidak dalam. Nmanun kalau penimbunannya cukup dalam maka akan tampak seperti gunung biasa. Asumsi yang lain adalah karena leluhur kita yang mengajari orang-orang Mesir maka bangunan di Nuswantara ini pastilah lebih besar dari bangunan yang ada di Mesir sendiri.

Data perjalanan yang kami lakukan di Jawa Barat terlihat benar sesuai dengan nama daerah yang nama dan cirri-ciri wilayahnya tertulis di relief yang ada di candi penataran. Oleh Team Turonggo Seto

07
Dec
10

Khazanah : Mesjid Quba, Madinah

Selasa, 07/12/2010 14:41 WIB
Laporan dari Arab Saudi
Masjid Quba, Batu Batanya Dipikul Nabi Muhammad Sendiri
Iin Yumiyanti – detikNews


Masjid Quba (Iin/detikcom)

Jakarta – Di Madinah ada banyak tempat bersejarah yang penting untuk diziarahi. Salah satunya Masjid Quba. Inilah masjid yang batu batanya dipikul Nabi Muhammad SAW sendiri.

Masjid Quba terletak di perkampungan Quba, kira-kira 3 kilometer dari arah selatan Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz (AMAA). Mengunjungi masjid ini, dari kejauhan akan terlihat empat menara putih tinggi menjulang. Setelah dekat terlihat pohon kurma mengelilingi masjid.

Masjid Quba memang berbeda dengan masjid-masjid lainnya di Madinah. Masjid Nabawi dan masjid lainnya di Madinah nyaris tidak memiliki taman depan yang ditumbuhi tanaman. Namun Masjid Quba memiliki taman depan dan belakang dengan pohon-pohon kurma yang rindang. Di depan masjid bahkan ada air mancur. Masjid ini berdiri di atas tanah seluas 5.035 meter persegi.

Kami, wartawan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) tiba di Masjid Quba saat azan Zuhur berkumandang. Memasuki masjid, ruang salat sudah penuh jamaah. Bahkan jamaah perempuan sudah meluber sampai keluar.

Quba memang selalu menjadi tujuan ziarah para jamaah haji, tidak heran bila masjid ini selalu padat. Ada sebuah riwayat Nabi Muhammad menyatakan  bila mengunjungi Masjid Quba untuk salat pahalanya sama dengan melakukan umrah. Riwayat tersebut hingga kini masih tertempel di dinding luar Masjid Quba.

Masjid Quba dibangun pada hari Senin, 8 Rabiul Awwal atau 23 September 622 Masehi. Saat itu Nabi dalam perjalanan hijrah dari Makkah menuju Madinah. Dalam perjalanan hijrah, Nabi yang tiba di perkampungan Quba tinggal selama empat hari bersama Bani Amru bin Auf di rumah Kalthum bin Al Hadm.

Di hari pertama di perkampungan Quba, Nabi membangun masjid. Inilah masjid pertama yang dibangun pemimpinyang paling dicintai umat Islam. Nabi, seperti diriwayatkan As Syimus binti An Nu’man, memikul batu-bata sendiri sehingga bongkok tubuhnya.

Tubuh Nabi saat itu sampai penuh debu dan pasir. Tapi Nabi tidak mau para sahabat mengambil beban yang dibawanya. Ia meminta para sahabat agar membawa bahan-bahan bangunan yang lain. Setelah membangun masjid, Nabi mengimami
salat secara terbuka bersama para sahabat di Masjid Quba.

Semasa hidupnya, Nabi selalu pergi ke Masjid Quba setiap hari Sabtu, Senin dan Kamis. Setelah Nabi wafat, para sahabat selalu menziarahi masjid ini dan melakukan salat di dalamnya.

(iy/nwk)

16
Nov
10

Kesejarahan : Mekah 1885 Dalam Bidikan Snouck Hurgronye

Mekah 1885

Senin, 15 November 2010 | 13:20 WIB
Mekah 1885 Dalam Bidikan Snouck Hurgronje

Mekah di tahun 1885. (cnn)

TEMPO Interaktif, Dubai -Kita mengenalnya sebagai penasihat Kerajaan Belanda dalam Perang Aceh. Berkat pengetahuan detil tentang Islam, Christiaan Snouck Hurgronje membantu negaranya melumpuhkan perlawanan Pasukan Bumi Rencong yang telah berlangsung 40 tahun, pada 1913. Dia membuat lebih dari 1.400 tulisan tentang situasi Aceh, nasionalisme, serta posisi Islam di Nusantara.

Pengetahuan itu tidak diperoleh Hurgronje, 1857-1936, dari sekadar membaca buku di kampusnya, Universitas Leiden, Belanda. Dia fasih berbahasa Arab dan menghabiskan lima bulan di Mekah pada 1885. Mempelajari ajaran Nabi Muhammad dari sumbernya, membuat hati Hurgronje tersentuh dan masuk Islam.
Hurgronje juga mengabadikan kehidupan Mekkah lewat kamera, lengkap dengan rekaman suara. Seperti lansekap Kabah dan Masjid Al-Haram, perkampungan penduduk, makam istri Rasul, Siti Maimuna, serta foto pembesar bersama budak-budaknya.
Jepretan yang dianggap sebagai foto tertua yang menggambarkan situasi Tanah Suci ini dipamerkan di Galeri The Empty Quarter di Dubai, Uni Emirat Arab sampai 9 Desember mendatang. “Usahanya untuk mendapatkan gambar-gambar ini luar biasa,” kata Direktur Galeri tersebut, Elie Domit, seperti dikutip CNN, Senin (15/11)
Dia mengatakan kamera Hurgronje beratnya 40 kilogram. Dia juga harus membawa seabrek bahan kimia untuk menghasilkan gambar yang bernuansa sephia itu, dan mengolahnya langsung di lokasi. “Belum lagi alat perekam,” kata Domit. Hurgronje menggunakan alat yang baru diciptakan Thomas Alfa Edison berupa silinder lilin untuk merekam suara.
Sayang, niat Hurgronje untuk naik haji terhalang. Dia diusir pemerintah setempat karena tuduhan pencurian benda bersejarah, sebelum sempat mengenakan pakaian ihram.
CNN | REZA M
15
Nov
10

Sosial Budaya : Istilah Batak Dikonstruksi Jerman Dan Belanda

Senin, 15/11/2010 01:11 WIB
Batak Sebagai Nama Etnik Dikonstruksi Jerman dan Belanda
Khairul Ikhwan – detikNews

 

Medan – Nama Batak sebagai identitas etnik ternyata tidak berasal dari orang Batak sendiri, tapi diciptakan atau dikonstruksi para musafir barat. Hal ini kemudian dikukuhkan misionaris Jerman yang datang ke tanah Batak sejak tahun 1860-an. Simpulan ini dikemukakan sejarahwan Unversitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari yang baru usai melakukan penelitian di Jerman.

Di Jerman, sejarahwan bergelar doktor ini memeriksa arsip-arsip yang ada di Wuppertal, Jerman. Dalam sumber-sumber lisan dan tertulis, terutama di dalam pustaha, atau tulisan tangan asli Batak, tidak ditemukan kata Batak untuk menyebut diri sebagai orang atau etnik Batak. Jadi dengan demikian nama Batak tidak asli berasal dari dalam kebudayaan Batak, tetapi diciptakan dan diberikan dari luar.

“Kata Batak awalnya diambil para musafir yang menjelajah ke wilayah Pulau Sumatera dari para penduduk pesisir untuk menyebut kelompok etnik yang berada di pegunungan dengan nama bata. Tapi nama yang diberikan penduduk pesisir ini berkonotasi negatif bahkan cenderung menghina untuk menyebut penduduk pegunungan itu sebagai kurang beradab, liar, dan tinggal di hutan,” kata Ichwan Azhari di Medan, Minggu (14/11/2010).

Dalam penelitiannya yang dimulai sejak September lalu, selain memeriksa arsip-arsip di Jerman, Ichwan juga melengkapi datanya dengan mendatangi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde atau the Royal Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) di Belanda. Dia juga mewawancari sejumlah pakar ahli Batak di Belanda dan Jerman seperti Johan Angerler dan Lothar Schreiner.

Hasilnya, pada sumber-sumber manuskrip Melayu klasik yang ditelusurinya, seperti manuskrip abad 17 koleksi Leiden, memang ditemukan kata Batak di kalangan orang Melayu di Malaysia, tetapi sebagai label untuk penduduk yang tinggal di rimba pedalaman semenanjung Malaka. Dalam manuskrip itu, saat Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511, Puteri Gunung Ledang yang sangat dihina dan direndahkan oleh teks ini, melarikan diri ke hulu sungai dan dalam teks itu disebut, “… masuk ke dalam hutan rimba yang amat besar hampir dengan negeri Batak. Maka diambil oleh segala menteri Batak itu, dirajakannya Puteri Gunung Ledang itu dalam negeri Batak itu.”

Tidak hanya di Malaysia, di Filipina juga penduduk pesisir menyebut penduduk pedalaman dengan streotip atau label negatif sebagai Batak. Untuk itu menurut Ichwan, cukup punya alasan dan tidak mengherankan kalau peneliti Batak terkenal asal Belanda bernama Van der Tuuk pernah risau
dan mengingatkan para misionaris Jerman agar tidak menggunakan nama Batak untuk nama etnik karena imej negatif yang terkandung pada kata itu.

“Di Malaysia dan Filipina penduduk yang diberi label Batak tidak mau menggunakan label merendahkan itu menjadi nama etnik mereka. Di Sumatera Utara label itu terus dipakai karena peran misionaris Jerman dan pemerintah kolonial Belanda yang memberi konstruksi dan makna baru atas kata itu,” katanya.

Disebutkan Ichwan, para misionaris itu sendiri awalnya ragu-ragu menggunakan kata Batak sebagai nama etnik, karena kata Batak tidak dikenal oleh orang Batak itu sendiri ketika para misionaris datang dan melakukan penelitian awal. Para misionaris awalnya menggunakan kata bata sebagai satu kesatuan dengan lander, jadi bata lander yang berarti tanah Batak, merupakan suatu nama yang lebih menunjuk ke kawasan geografis dan bukan kawasan budaya atau suku.

Di arsip misionaris yang menyimpan sekitar 100 ribu dokumen berisi informasi penting berkaitan dengan aktivitas dan pemikiran di tanah Batak sejak pertengahan abad ke-19 itu, Ichwan menemukan dan meneliti
puluhan peta, baik peta bata lander yang dibuat peneliti Jerman Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn, maupun peta-peta lain sebelum dan setelah peta Junghuhn dibuat.

“Peta-peta itu memperlihatkan adanya kebingungan para musafir barat dan misionaris Jerman untuk meletakkan dan mengkonstruksi secara pas sebuah kata Batak dari luar untuk diberikan kepada nama satu kelompok etnik yang heterogen yang sesungguhnya tidak mengenal kata ini dalam warisan sejarahnya,” tukas Ichwan.

Dalam peta-peta kuno itu, kata bata lander hanya digunakan sebagai judul peta tapi di dalamnya hanya nampak lebih besar dari judulnya nama-nama seperti Toba, Silindung, Rajah, Pac Pac, Karo, dan tidak ada nama batak sama sekali. Dalam salah satu peta kata Batak di dalam peta digunakan sebagai pembatas kawasan Aceh dengan Minangkabau.

Kebingungan para misionaris Jerman untuk mengkonstruksi kata Batak sebagai nama suku juga nampak dari satu temuan Ichwan terhadap peta misionaris Jerman sendiri yang sama sekali tidak menggunakan judul bata lander sebagai judul peta dan membuang semua kata Batak yang ada dalam edisi penerbitan peta itu di dalam laporan tahunan misionaris. Padahal sebelumnya mereka telah menggunakan kata Batak itu.

Kata Batak yang semula nama ejekan negatif penduduk pesisir kepada penduduk pedalaman, kemudian menjadi nama kawasan geografis penduduk dataran tinggi Sumatera Utara yang heterogen dan memiliki nama-namanya sendiri pada awal abad 20, bergeser menjadi nama etnik dan sebagai nama identitas yang terus mengalami perubahan.

“Setelah misionaris Jerman berhasil menggunakan nama Batak sebagai nama etnik, pihak pemerintah Belanda juga menggunakan konsep Jerman itu dalam pengembangan dan perluasan basis-basis kolonialisme mereka. Nama Batak juga digunakan sebagai nama etnik para elit yang bermukim di Tapanuli Selatan yang beragama Islam,” tukasnya.

(rul/rdf)

15
Nov
10

Kesejarahan : Brimob 65 tahun bersuasana Kerajaan Majapahit

Minggu, 14/11/2010 17:35 WIB
Suasana Kerajaan Majapahit Warnai HUT ke 65 Brimob
Rois Jajeli – detikSurabaya


Foto: Rois Jajeli

Surabaya – Peringatan HUT ke 65 Korps Brimob di Jawa Timur berbeda dengan tahun sebelumnya. Meski sederhana, tamu undangan upacara disuguhi berbagai atraksi dari personel Brimob dan Bhayangkari Polda Jatim.

Dalam atraksi tersebut, menggambarkan suasana kehidupan di masa Majapahit. Namun, juga diselipkan keterampilan anggota Brimob dan Bhayangkari seperti tari panah, tameng, kerusuhan massa di jaman kerajaan Majapahit. Dalam kerusuhan itu, digambarkan perusuh yang menunggang kuda, digantikan dengan anggota Brimob yang mengendarai sepeda motor trail.

Dalam kerusuhan itu, pasukan Brimob datang dan mengembalikan situasi kembali kondusif. Juga menggambarkan keterampialn anggota Brimob yang mengevakuasi raja, dan menghalau serta menindak pelaku kerusuhan.

Selain menggambarkan situasi kerajaan dicampuradukan dengan keterampilan anggota Brimob, juga ada atraksi merpatih putih dan skill pecah belah beton dan besi.

Atraksi tersebut, mendapatkan sambutan dari para Undanga dari pejabat TNI Polri, pensiunan Brimob, Kapolres jajaran Polda Jatim dan undangan lainnya.

“Memang dari awal sampai akhir full atraction,” kata Kasat Brimob Polda Jatim Kombes Pol Restu Mulya Budiyanto kepada wartawan, usai upacara di mapolda, Jalan Ahmad Yani, Minggu (14/11/2010).

Restu mengatakan, atraksi yang diselingi dengan suasana kerajaan Majapahit, menginginkan personel Brimob Polda Jatim dapat memahami tentang sejarah Kerajaan Majapahit. Dan diharapkan, Brimob dapat meneladani spirit dan mempunyai mental seperti Patih Gajah Mada.

“Kita kolaborasi dengan kemampuan teknis dan skill Brimob dengan jalannya sejarah itu. Oh pasukan dulu itu sering berlatih, berlatih dan berlatih, diawasi dan dikontrol. Dan dekat dengan masyarakat,” jelasnya.

Sementara Kapolda Jatim Irjen Pol Badrodin Haiti menegaskan, kemampuan anggota Brimob harus dipelihara, seperti menjadi pasukan anti teror, penjinak bahan peledak (jihandak), SAR, Resmob, gerilya, penanganan konflik atau kerusuhan, pengawalan.

“Kemampuan harus dipelihara, disiplin harus dipelihara dan kebanggaan harus dipelihara,” jelasnya.

Selain menampilkan atraksi, dalam uapcara HUT Brimob yang bertemakan ‘Dengan postur korps Brimob Polri siap melaksanakan quick wins Brimob Nusantara dalam rangka mendukung reformasi birokrasi Polri untuk menjaga Kamdagri’, juga menghadirkan kendaraan taktis seperti Water Canon, Baracuda, APC 14, APC 10, Mobil Gegana dan kendaraan taktis lainnya.

(roi/fat)




Blog Stats

  • 2,251,970 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers