Posts Tagged ‘Historical



20
Feb
10

Historia : Wisata Tempo Doeloe

Inilah salah satu pemandangan kota lama Semarang. Gereja Blenduk akan terlihat dari sudut manapun.

Plesiran ke Little Nederland, Semarang

Artikel Terkait:

Pradaningrum Mijarto Inilah salah satu pemandangan kota lama Semarang. Gereja Blenduk akan terlihat dari sudut manapun. Senin, 15 Februari 2010 | 14:20 WIB

KOMPAS.COM – Libur panjang di akhir pekan masih dua pekan lagi, saat itu bertepatan pula dengan perayaan Cap Go Meh. Barangkali Semarang bisa jadi alternatif tujuan wisata, termasuk wisata ke Pecinan, tentunya. Semarang, Little Holland, atau Little Nederland, punya banyak daya tarik. Kota lama beserta bangunan bersejarah, Pecinan, dan kuliner legendaris bagaikan magnet yang sulit ditolak.

Arsitektur bangunan di kawasan Kota Lama Semarang beragam. Ada Gereja Blenduk (Nederlandsch Indische Kerk) bikinan 1750 dengan atap kubah yang dipugar pada 1894. Di hadapan gereja ini berdiri gedung karya Thomas Karsten di tahun 1916 yang kini menjadi gedung Asuransi Jiwasraya. Tak lupa bangunan Stasiun Tawang yang mencoba tetep bertahan dari terjangan rob. Tambahan lagi, Pasar Semawis yang menghidupkan Pecinan.

Liem Thian Joe, dalam Riwayat Semarang, menyebutkan, kehidupan di Pecinan Lor yang kini bernama Gang Warung, di masa silam adalah pusat perhubungan. Ke sebelah barat bisa berhubungan dengan kampung pribumi yang sekarang jadi Kampung Kranggan dan Pasar Semarang (kini Pasar Damaran). Sementara ke arah utara melintasi kali berhubungan dengan apa yang kini dikenal sebagai Petudungan, Pandean, Jerukkingkit, Ambengan, dll.

Dalam buku itu ia juga mengisahkan asal usul Pasar Johar. Di tahun 1860, pasar ini merupakan bagian dari alun-alun, di bagian tepi sebelah timur yang berbatasan dengan jalan, tumbuh pohon johar atau mahoni. Pohon itu bikin teduh, sehingga banyak orang senang berteduh di sana. Lama-lama-pasar-pasar kecil pun tumbuh di bawah pohon ini. Pasar kecil ini pun berkembang dan membesar. Pada 1865 bagian alun-alun ini telah jadi pasar dengan pohon johar yang jug masih berdiri. Maka jadilah nama pasar itu, Pasar Johar. Pembesar kota kemudian membangun los dan pohon johar pun ditebang. Tapi tetap saja nama pasar itu, Pasar Johar.

Seperti juga Gereja Blenduk, Pasar Johan adalah kreasi Thomas Karsten. Karsten tak berhenti sampai di Pasar Johar. Karya lain, sebut saja Lawang Sewu, gedung yang kini jadi kantor Asuransi Jiwasraya, dan Perkampungan Mlaten.

Pada literatur lain disebutkan, struktur Little Nederland selesai dibangun pada tahun 1741 dan merupakan kawasan untuk orang Belanda. Di sini pernah ada perkantoran, hotel, perumahan, dan bangunan perdagangan lainnya dengan ikon Gereja Blenduk.

Semarang Tempo Dulu: Teori Desain Kawasan Bersejarah yang ditulis Wijanarko menyebutkan juga, Kampung Kauman, Pecinan, Kampung Melayu, dan Little Nederland mengelilingi apa yang dinamakan kota lama Semarang. Yang layak disebut Kota Lama Semarang harusnya adalah Kanjengan. Namun kompleks Kanjengan serta alun-alunnya sudah tak ada, hanya tersisa Masjid Agung Kauman. Sementara apa yang disebut Little Nederland adalah kawasan di sekitar Gereja Blenduk dengan berbagai gaya bangunan.

Semarang memang sangat menarik untuk ditelusuri. Selain urusan mata, yaitu terkait sejarah kota dan bangunan bersejarah, maka urusan perut juga tak boleh terlewatkan. Pasar Semawis di Pecinan layak dikunjungi. Deretan warung kaki lima yang pastinya bikin lupa diri siap unjuk rasa.

Belum lagi resto legendaris, Toko Oen, yang juga layak disambangi. Meskipun Toko Oen berawal di Yogyakarta pada 1922, namun kemudian si empunya toko, Liem Gien Nio memutuskan Semarang sebagai cabang pertama di tahun 1936. Toko Oen tak hanya jadi cabang pertama tapi juga jadi resto pertama di Semarang. Penganan ala Eropa hingga sekarang masih dipertahankan, antara lain es krim.

Dalam rangka mengenal Semarang dan Cap Go Meh, Komunitas Sahabat Museum menggelar Plesiran Tempo Doeloe ke Little Nederland pada 26-28 Februari. Biaya Rp 1,5 juta/orang antara lain untuk transportasi menggunakan kereta api; menginap di hotel tua; dan naik loko uap di Ambarawa sekaligus Museum Ambarawa.

“Kita akan ditemani Pak Prianto, ahli sejarah dari Universitas Diponegoro. Kita juga akan lihat stasiun pertama di Semarang, dipandu Pak Tjahjono. Pastinya enggak ketinggalan ke Pecinan, kelenteng, dan ngerasain kuliner legendaris Semarang,” kata Ketua Komunitas Sahabat Museum Adep Purnama.

Ia juga mengatakan, peserta akan diberi tempat di hotel bersejarah, Hotel Bellevue. Hotel bergaya art deco ini dibangun pada 1919 dimiliki oleh Van Demen Wars. Kemudian sejak 1961  nama hotel berubah jadi Hotel Candi Baru. Untuk mendaftar atau mengetahui informasi lebih detil, ia bisa dihubungi di adep@cbn.net.id.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Nasi Jamblang, Daun Jati Dan Seabrek Lauk

Dian Anditya Mutiara Inilah nasi jamblang yang beken di Cirebon. Keunikannya ada pada daun jati pembungkus nasi serta beragam lauk yang siap dilahap bersama nasi. Senin, 15 Februari 2010 | 14:17 WIB

KOMPAS.COM – Rasanya ada yang kurang bila datang ke kota Cirebon tanpa mencicipi nasi jamblang. Saat memasuki kota itu, dengan mudah kita bisa temui jajaran warung yang menjual nasi yang dibungkus dengan daun jati itu.

Berdasarkan data dari buku kuliner khas Cirebon, ada sekitar 300 penjual nasi atau sega jamblang, baik yang mangkal (warung) maupun yang dijajakan keliling. Nama Jamblang berasal dari nama daerah di sebelah barat kota Cirebon tempat asal pedagang makanan ini. Ciri khas makanan ini adalah penggunaan daun jati sebagai bungkus nasi. Makanan disajikan secara prasmanan.

Menu yang tersedia antara lain sambal goreng (yang agak manis), tahu sayur, paru, semur hati atau daging, perkedel, sate kentang, telur dadar/telur goreng, telur masak sambal goreng, semur ikan, ikan asin, tahu dan tempe serta tidak ketinggalan ‘blakutak’, sejenis cumi-cumi yang dimasak bersama tintanya.

Awalnya nasi jamblang ini dibuat untuk para pekerja paksa di zaman Belanda yang sedang membangun jalan raya Daendels dari Anyer ke Panarukan yang melewati wilayah Kabupaten Cirebon, tepatnya di Desa Kasugengan. Sega Jamblang saat itu dibungkus dengan daun jati, mengingat bila dibungkus dengan daun pisang kurang tahan lama sedangkan dengan daun jati bisa tahan lama dan tetap terasa pulen. Hal ini karena daun jati memiliki pori-pori yang membantu nasi tetap terjaga kualitasnya meskipun disimpan dalam waktu lama. Uniknya, akan lebih nikmat dimakan secara tradisional dengan ‘sendok jari’ dan alas nasi beserta lauk pauknya tetap menggunakan daun jati.

Sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa pada nasinya, hanya nasi putih biasa yang harus didinginkan terlebih dahulu beberapa jam, baru setelah itu dibungkus dengan daun jati. Ukuran nasinya tidak terlalu banyak, hanya segenggaman tangan orang dewasa.  “Kalau dibungkus pada saat panas akan membuat nasi berubah menjadi merah. itu yang kita tidak mau. Biasanya setelah nasi matang, langsung dikipas dan diangin-anginkan dan hal ini bisa membuat nasi tahan lama,” jelas Umar (40), pengelola Warung Nasi Jamblang Mang Dul yang ada di Jalan Ciptomangunkusumo, Cirebon.

Warung Nasi Mang Dul ini menjadi salah satu tempat favorit bagi orang Cirebon dan para pendatang dari luar kota yang ingin mencicipi nasi jamblang. Setiap hari, sekitar pukul 06.00-08.00  pasti orang berjubel tengah menikmati nasi jamblang sebagai sarapan pagi. “Nanti ramai lagi sekitar jam makan siang,” tutur Umar.

Sejak sang ayah, Abdul Rojak, meninggal pada tahun 1994, maka namanya diabadikan sebagai nama warung. Sejak tahun 1968 sang ayah sudah berjualan nasi jamblang dengan cara dipikul dan berkeliling kota Cirebon. “Dulu Bapak cuma menjual sekitar 50 bungkus sehari,” Umar mengenang. Setelah mendapat bantuan kredit dari salah satu bank, Mang Dul bisa mangkal di dekat kolam renang dan Stadion Gunungsari yang kini menjadi pusat perbelanjaan Grage Mal.

Saat sang ayah berjualan, lauk pauknya tidak sebanyak sekarang. Dulu hanya ada sembilan macam, di antaranya tahu, tempe, daging, ati, oncom, sambal merah. Saat ini jumlah lauknya ada 20 macam. Harga lauknya berkisar Rp 800-Rp 6.000. Meski sambalnya berwarna merah, sama sekali tidak pedas. Karena terbuat dari cabai merah besar lalu diiris tipis-tipis, bawang merah, serai, lengkuas  dan ditumis dengan minyak. Hanya makan dengan sambal saja, bisa tambah nasi berkali-kali.

Selain Warung Mang Dul, masih di sekitar Grage Mal, di Jalan Tentara Pelajar, juga berjajar warung nasi jamblang serupa yang buka 24 jam. Ada sekitar enam warung tenda. Lauk pauk yang dijual pun beraneka ragam.

Warung itu juga menjual makanan kecil seperti keripik, jajanan, buah-buahan yang dijual satuan. Para pedagang ini rata-rata juga sudah berjualan puluhan tahun.

“Dulunya para pedagang disini mangkalnya di areal kolam renang (Grage Mal_Red). Kalau di sini ramainya siang dan malam hari. Biasanya para penjaga toko dan pekerja malam cari makan di sini,” ujar Titin Kartini (57). Untuk mempersiapkan semua lauk pauk, ia mempekerjakan empat tukang masak. Selain Titin, anak pertamanya pun turut membuka warung yang sama disebelahnya.

Percaya konsumen

Tidak mudah memasak bermacam lauk dalam sehari, apalagi dengan permintaan yang begitu banyak. Untuk itu di Warung Mang Dul diterapkan sistem masak dalam dua shift. Pada pagi hari masak mulai pukul 09.00-19.00, lalu malam hari masak mulai pukul 19.00-07.00. Untuk itu ada enam juru masak yang membantunya.

“Memang kami masak tidak pernah berhenti. Karena selain untuk di sini, kami masih punya empat outlet lagi yang ada di aal,” jelasnya.

Meski permintaan banyak, namun tidak membuat Umar sembarangan memasak makanan. Ia mengaku, sangat ketat dalam pengawasan makanan.”Jangan sampai pelanggan komplain, karena kita hanya memikirkan kejar setoran. Kalau seperti ini kami bisa ditinggal pelanggan,” kata anak keempat dari lima bersaudara ini.

Untuk memenuhi kebutuhan daun jati, persediaan didatangkan dari daerah Majalengka atau Subang, karena di sana terdapat hutan produktif  jati. Untuk menjaga kesegaran daun tersebut,  daun jati harus baru setiap hari. Yang dipilih adalah daun jadi berusia dua minggu, yang masih lentur sehingga tidak robek saat digunakan sebagai bungkus nasi.

Setiap hari Umar memasak satu kuintal beras sedangkan di akhir pekan kalau akhir pekan bisa dua kali lipat. Dari rekaman bukti bon yang ada di kasir, dalam sehari pengunjung warung ini bisa mencapai 1.000 orang.

Warung Nasi Jamblang Mang Dul bisa bertahan karena rasa kepercayaan kepada para pelagganan. Pada saat mengambil lauk, konsumen diperbolehkan memilih dan mengambil sendiri lauk pauk yang diinginkan. Para pelayan hanya melayani pengambilan nasi saja atau melayani orang yang ingin membawa pulang nasi jamblang. Jadi ketika akan membayar, konsumen tinggal menyebutkan lauk pauk apa saja yang telah disantap.

“Ini juga pesan mendiang Bapak, bahwa kita harus percaya kepada konsumen. Dan kami pun harus selalu berpikir positif,” tandas Umar.

Warta Kota Dian Anditya M

15
Feb
10

Historia : Mengenang Tempo Doeloe

Contry WordPressContry WordPress

Monumen Rawagede untuk mengenang korban pembantaian Peristiwa Rawagede tahun 1947 dan 1948

Napak Tilas Karawang-Bekasi dengan Sepeda Tua

Sabtu, 13 Februari 2010 | 14:45 WIB

KOMPAS.COM – Sembilan Desember 1947. Rawagede membara. Rawagede menangis. Rawagede berdarah. Empat Oktober 1948, Rawagede kembali berantakan. Kemudian, dari tangan si “Binatang Jalang” lahirlah sebuah puisi yang menggetarkan bahkan hingga detik ini. Karawang-Bekasi, begitu sang penyair memberi judul pada puisinya itu. Rawagede, Karawang, kini masih berdiri tegar. Puisi untuk mengenang tulang-tulang yang berserakan di Karawang-Bekasi, tulang-tulang hasil pembantaian tentara NICA Belanda.

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi, tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi. Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, terbayang kami maju dan mendegap hati? Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi. Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak. Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu. Kenang, kenanglah kami. Kami sudah coba apa yang kami bisa. Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa Kami cuma tulang-tulang berserakan. Tapi adalah kepunyaanmu. Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan…”

Demikianlah beberapa bait puisi karya Chairil Anwar yang lahir di tahun 1948, lahir sebagai perwakilan dari jeritan, kepedihan, kesakitan, kehilangan kerabat korban, bahkan jiwa-jiwa korban itu sendiri. Lahir untuk mengenang ribuan jiwa yang melayang dan tubuh yang terkubur antara Karawang-Bekasi.

Rawagede di masa revolusi fisik, adalah markas gabungan pejuang kemerdekaan. Desa ini dipilih karena letak yang strategis, Karawang-Rengasdengklok. Sebagai peringatan atas peristiwa di Rawagede, sebuah monumen dibangun, Monumen Rawagede di Desa Balongsari, Karawang. Selain itu, ada beberapa gedung bersejarah terkait masa revolusi di Karawang-Bekasi seperti Gedung Joang 45 di Tambun, dan Gedung Tinggi Tambun.

Tapi Karawang-Bekasi tak hanya soal perjuangan. Karawang-Bekasi punya kisah yang panjang, jauh sebelum ada peristiwa Rawagede, yaitu sejarah terbentuknya Karawang dan Bekasi.

Bekasi di masa silam dikenal dengan nama Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri sebagai ibu kota Kerajaan Tarumanagara (358-669). Luas Kerajaan ini mencakup wilayah Bekasi, Sunda Kelapa, Depok, Cibinong, Bogor hingga ke wilayah Sungai Cimanuk di Indramayu. Situs pemkot Bekasi menjelaskan, letak Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri sebagai ibu kota Tarumanagara adalah di wilayah Bekasi sekarang. Dayeuh Sundasembawa inilah daerah asal Maharaja Tarusbawa (669-723) pendiri Kerajaan Sunda dan seterusnya menurunkan raja-raja Sunda sampai generasi ke-40 yaitu Ratu Ragumulya (1567-1579 M), Raja Kerajaan Sunda (disebut pula Kerajaan Pajajaran) yang terakhir.

Empat prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Kebantenan ditemukan di Bekasi. Keempat prasasti ini merupakan keputusan dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, Jayadewa 1482-1521) yang ditulis dalam lima lembar lempeng tembaga. Sejak abad ke-5 pada masa Kerajaan Tarumanagara, abad ke-8 Kerajaan Galuh, dan Kerajaan Pajajaran pada abad ke 14, Bekasi menjadi wilayah kekuasaan karena merupakan salah satu daerah strategis, yakni sebagai penghubung antara pelabuhan Sunda Kelapa (Jakarta).

Sementara itu Karawang sudah ada sejak abad 15. Catatan sejarah milik Pemkab Karawang menyebutkan, agama Islam masuk ke Karawang dibawa oleh Syeikh Hasanudin bin Yusup Idofi dari Champa yang terkenal dengan sebutan Syeikh Quro. Pada masa itu daerah Karawang sebagian besar masih merupakan hutan belantara dan berawa-rawa.

Keberadaan Karawang telah dikenal sejak Kerajaan Pajajaran karena merupakan jalur lalu lintas penghubung Kerajaan Pakuan Pajajaran dengan Galuh Pakuan yang berpusat di daerah Ciamis. Pada waktu itu luas wilayah Kabupaten Karawang meliputi Bekasi, Purwakarta, Subang, dan Karawang sendiri .

Untuk mengenang peristiwa Karawang-Bekasi, sekaligus merayakan HUT kedua Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI)  pusat, HUT pertama KOSTI Jabodetabek dan Karawang, KOSTI Jabodetabek dan Karawang menggelar “Napak Tilas Pangkal Perdjoengan Karawang-Bekasi” pada 20 Februari. Acara ini akan berisi napak tilas Karawang-Bekasi sepanjang sekitar 45 km menggunakan sepeda ontel.

Selain itu akan ada penanaman pohon pelindung, pameran sepeda antik, klithikan ontel, pentas seni dan budaya, serta pemecahan rekor MURI untuk parade ontel terpanjang sedunia. Acara tersebut dipusatkan di Lapangan Karang Pawitan, Karawang, mulai pukul 09.00 hingga sore hari.

“Juga ada konvoi ontel, 2.000 sepeda tua dari Karawang ke Bekasi. Kita mulai sekitar pukul 3 sore dari Karawang dari depan Islamic Center, diperkirakan finish pukul 8 malam di balai kota Bekasi. Konvoi ini juga akan diikuti Wali Kota Jakarta Selatan, Bupati Indramayu, dan juga pejabat-pejabat Karawang dan Bekasi,” ujar Acep Suganda, salah satu panitia.

Ia menambahkan, Andi Malarangeng dijadwalkan melepas konvoi sepeda Karawang-Bekasi itu.

Konvoi itu terbagi dalam tiga etape, Karawang-Cikarang, Cikarang-Tambun, dan Tambun-Bekasi. Peserta ditarik bayaran Rp 25.000/orang. Untuk informasi dan pendaftaran, lanjut Acep, bisa ke Gedung Juang 45 Tambun di Jalan Diponegoro, Bekasi atau Kompleks Stadion Singa Perbangsa di Jalan Ahmad Yani, Karawang. “Atau bisa juga langsung ke panitia lewat telepon atau SMS,” imbuhnya. Antara lain Oki di 08128 821 1992 dan Taufik di 021 7061 2008.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Toneel Melajoe: Miss Riboet dan Dardanella
Sri panggung Dardanella, Miss Dja, yang akhirnya menjadi istri Piedro dan menetap di AS
Warta Kota, Sabtu, 13 Februari 2010 | 13:10 WIB

BEBERAPA waktu lalu komedi stamboel hingga anak wayang sudah pernah disinggung dalam sejarah seni panggung tontonan di Hindia Belanda khususnya di Batavia. Itu di abad 19 hingga awal abad 20. Berbagai rombongan komedi stamboel bermunculan setelah August Mahieu mendirikan rombongan komedi stamboel pertama di Surabaya. Di kemudian hari, rombongan opera ini silih berganti mengisi panggung di Jawa dan Sumatera. Hingga tahun 1925, rombongan opera yang beken adalah Union Dhalia Opera pimpinan Tengku Katam.

Katam sudah mendapatkan dua medali emas dari Vereeneging Peranakan Jawa di Padang, Medan, dan Schouwburg Thalia di Batavia. Yang disebut belakangan itu, tak lain adalah gedung pertunjukan yang sering dikunjungi stambul. Letak gedung itu di mulut Mangga Besar. Selepas masa Tengku Katam, mulailah nama Miss Riboet Orion – di bawah Tio Tek Djin – muncul.

Di tangan pemuda Tionghoa inilah kemudian repertoar opera komedi stambul mulai berubah. Apalagi Tek Djin dibantu wartawan, sekaligus pengarang, Nyoo Cheong Seng yang bikin sederhana jumlah babak yang ditampilkan. Bahkan ia membuat repertoar baru dengan suasana masa itu, sebut saja Saidja, Gagak Solo, Tengkorak, Gagak Lodra, dan Panji Semirang. Demikian ungkap Misbach Yusa Biran dalam Sejarah Film 1900-1950.

Sementara itu Matthew Isaac Cohen dalam The Komedie Stamboel: popular theater in colonial Indonesia 1891-1903 menjelaskan, Miss Riboet Orion dan Nyoo Cheong Seng membawa nafas baru dalam tontonan panggung di Hindia Belanda pada periode 1920-an hingga 1930-an. Pertunjukan Miss Riboet bukan lagi komedi stamboel melainkan Toneel Melajoe, atau Drama Melayu.  Rombongan ini membuat perbedaan besar dengan menitikberatkan pada jalan cerita dengan selingan musik di antara  adegan.

Tak lama setelah Miss Riboet naik daun, muncul The Malay Opera Dardanella pimpinan A Piedro. Dua rombongan tonil ini mencetak sukses besar, namun demikian, Miss Riboet tak terkalahkan. Ia bahkan menjadi bintang rekaman. Sementara Dardanella menjadi babak penting munculnya teater moderen Indonesia.

Dardanella menjadi batu loncatan seniman gaek Indonesia, Tan Tjeng Bok. Piedro yang biasa melakukan pertunjukan sebelum film dimulai, menggaet Tjeng Bok yang kala itu sedang naik daun sebagai penyanyi keroncong. Tjeng Bok yang punya nama kecil Item akhirnya tercebur ke dunia panggung manakala Piedro memintanya untuk menjadi bintang dalam cerita ala Amerika seperti The Thief of Bagdad, Mark of Zoro, dan The Three Musketers.

Selain Tan Tjeng Bok, panggung Dardanella kemudian melahirkan bintang-bintang Ferry Kock, Dewi Dja, Riboet II, dan Astaman. Piedro menciptakan kisah moderen buat para bintang tersebut seperti Annie van Mendoet, Roos van Serang, dan Rentjong Atjeh.

Berkat kemampuan Nyoo Cheong Seng membuat publikasi, maka Miss Riboet Orion makin berjaya demikian pula Dardanella yang terbantu wartawan Andjar Asmara. Toneel Melajoe pun jadi babak baru perjalanan seni panggung Indonesia menyurut di akhir 1930, saat dunia panggung drama, sandiwara berubah arah menjadi dunia film.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Thaucang, Kwa-Thaucang, dan Plaatgramophone
Kucir thaucang
Warta Kota, Sabtu, 13 Februari 2010 | 12:16 WIB

TIO Tek Hong, pria Tionghoa peranakan biasa kelahiran Pasar Baru yang sudah mengirup udara Batavia sejak 7 Januari 1877. Ia bukanlah siapa-siapa, sebelum akhirnya meluncurkan karya kisah kenangan, Kenang-kenangan: Riwajat-hidup Saja dan Keadaan di Djakarta dari Tahun 1882 sampai Sekarang. Karya itu terbit tahun 1959. Melalui karya itu, ia seperti mengizinkan generasi di masa kini bahkan mendatang, meminjam matanya untuk melihat Jakarta di abad 19 hingga pertengahan abad 20. Lebih tepat lagi, menengok bagaimana warga Tionghoa peranakan menjalani hidup di masa itu.

Masa kecil Tek Hong dihabiskan layaknya anak lain, bermain di sungai, mengadu gundu, dll. Di masa kecilnya, ia menggambarkan, kali yang mengalir di Pasar Baru sebagai kali favoritnya untuk berenang hingga ke Gunung Sahari. Tak hanya Batavia yang diceritakan Tek Hong, tapi juga sebagain Jawa, kota-kota di mana ia pernah singgah berlibur.

Ada satu kisah yang menarik ihwal perbedaan warga Tionghoa peranakan di Surabaya dan Betawi di tahun 1905. Menurut Tek Hong, Tionghoa peranakan di Surabaya mengungguli Tionghoa di Betawi dalam banyak hal. Sebut saja dalam hal berupaya, berusaha sehingga di Surabaya ia kagum bisa bertemu pemimpin muda yang sudah punya toko besar. Kaum pria Tionghoa di Surabaya sudah mengenakan jas buka dan dasi serta pandai berbahasa Tionghoa dalam dialek Hokkian. Pada saat yang sama di Batavia, pria Tionghoa masih memakai baju tuikhim (baju tanpa kerah) dan celana komperang. Di baju tuikhim itu ada kantong titou yang biasa untuk menyelipkan kuncir rambut (thaucang).

Thaucang adalah rambut di bagian belakang kepala anak laki-laki yang dipelihara dalam bentuk bundar. Bundaran itu diberi nama serabi. Sejak usia 10 tahun anak laki-laki memelihara “serabi” tadi dan jika rambut “serabi” sudah panjang, rambut itu dikepang menggunakan sutera kuncir berwarna merah.

Tradisi thaucang, menurut Tek Hong, dimulai tatkala orang Manchu menduduki Tiongkok pada 1644. Kaisar Manchu mewajibkan orang Tiongkok memakai thaucang, mengenakan pakaian yang ujung lengannya berupa kaki kuda sehingga saat berlutut orang-orang ini bagaikan kuda. Sebuah penghinaan. Jadi thaucang sejatinya adalah sebuah penghinaan tapi kemudian menjadi tradisi yang bertahan selama tiga abad. Di Batavia, tulis Tek Hong, potong thaucang terjadi pada 1911.

Kwa-thaucang atau potong thaucang terjadi setelah terbentuk perkumpulan Tiong Hoa Bin Kok pada 1911. Sebelumnya sudah ada pesan dari Peking bahwa memotong kuncir tidak diizinkan tapi tidak dilarang.

Tio Tek Hong tak lupa menceritakan perihal pas jalan yang berlaku bagi orang asing. Ini menyulitkan karena warga selain Eropa diwajibkan membawa pas jalan jika bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Maka warga Tionghoa terpelajar minta persamaan hak dengan warga Belanda, setelah dapat persamaan, di zaman Belanda mereka kembali menjadi “Tionghoa” karena takut diganyang Jepang.

Ia juga terkenal dengan plaatgramophone. Pasalnya, di tahun 1902 bersama saudaranya, tio Tek Tjoe, ia membuka toko di Pasar Baru dengan nama NV Tio Tek Hong. Mulai tahun 1904 toko ini sudah mendatangkan phonograph memakai rol lilin dan setahun kemudian plaatgramophone dari toko Tio Tek Hong sudah mengisi ruang-ruang se-Indonesia memperdengarkan lagu-lagu Melayu, keroncong, stambul, dan lain sebagainya.

Barangkali, menjelang Imlek, ada yang ingin bernostalgia ke Pasar Baru? Masih banyak bangunan lama, toko lama dari zaman Tio Tek Hong. Sebut saja Toko Lie Ie Seng, toko peralatan kantor dan tulis menulis; Toko Sin Lie Seng, toko sepatu tenar di masanya; Toko Jamu Nyonya Meneer; dan Toko Kompak yang adalah bekas toko Tio Tek Hong. Selain toko dan bangunan tua, di Pasar Baru ini terdapat satu kelenteng tua yang mungkin kurang beken dibandingkan beberapa vihara lain di kawasan Kota Tua, Kelenteng atau Vihara Sin Tek Bio.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Melayang di Jurang Sambil Dengar Kisah Misteri Terowongan Sasaksaat

Warta Kota/Celestinus Trias HPWarta Kota/Celestinus Trias HP

Goa (terowongan) Sasaksaat di Padalarang yang panjang 950 meter
Warta Kota, Sabtu, 13 Februari 2010 | 11:54 WIB

DALAM perjalanan rombongan Heritage Trip Jakarta-Bandung yang diadakan PT Kereta Api (Persero) – PT KA (Persero) – tak hanya bangunan di Kota Bandung bisa dinikmati. Di sepanjang perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, pemandangan bangunan tua sudah bisa disaksikan, seperti Stasiun Transmisi Cikampek, Stasiun Lemahabang, Cikampek, dan Karawang, yang dibangun sejak tahun 1894.

“Yang saya pernah tahu dari pelajaran sejarah, di Lemahabang, Karawang, dan Cikampek jadi lokasi perlindungan setelah tempat-tempat itu direbut oleh pejuang Indonesia dari Belanda. Jalur ini juga penting pada zaman itu sampai sekarang karena untuk jalur angkutan logistik pangan dan perang. Sekarang pun jadi jalur untuk angkutan batubara ke sejumlah industri di Karawang, Bekasi, dan Cikampek,” kata Shirley, salah satu pehobi cagar budaya, yang ikut dalam perjalanan tersebut.

Rute Jakarta-Bandung dengan jalur kereta api sepanjang 151 km, ditempuh selama tiga jam. Rugi jika di sepanjang perjalanan itu Anda melewatkan pemandangan. Sebut saja  pemandangan alam yang indah ketika sudah memasuki wilayah Cikampek, Karawang, dan Bandung,  hamparan sawah nan hijau betul-betul menyegarkan mata.

Selama perjalanan rute ini, coba sekali-sekali perhatikan setidaknya tiga jembatan baja yaitu di Ciganea, Cisomang, dan Cikubang. Boleh jadi penumpang kereta api takjub lantaran jembatan-jambatan dengan empat pilar utama terbuat dari baja ini masih kokoh berdiri padahal ini adalah sisa karya ahli Belanda yang membangun jalur tersebut pada abad 19, tahun 1869. Hanya bagian-bagian kecil di jembatan itu yang masih perlu perbaikan, seperti parsial atau penghubung antara rangka baja utama.

Jalur kereta dengan menggunakan jembatan ini dibangun oleh perusahaan kereta terkenal milik Pemerintah Belanda bernama Staatspoorweg Maatschappij (SS) – Jawatan Kereta Api di masa Hindia Belanda. Sebenarnya seluruh jembatan yang dibangun oleh SS di sepanjang jalur Jakarta-Bandung, lintas Cikampek dan Sukabumi, mencapai 400 unit. Namun, yang paling menakjubkan hanya ada tiga. Pasalnya, jembatan ini dibangun di atas jurang menganga dengan ketinggian 72 m dan masing-masing panjangnya mencapai 300 m.

Jalur kereta di atas jurang ini adalah bagian yang menakjubkan karena dari dalam kereta, tubuh kita terasa seperti melayang. “Ya, itu karena sepanjang jalur kereta ini di sisinya tidak dipasangi pagar. Jadi, dari jendela kereta bisa langsung melihat kondisi jurang yang sebenarnya. Indah, karena ada hamparan sawah dan sungai,” ujar Kepala Pusat Pelestarian Benda dan Aset Bersejarah PT KA, Ella Ubaidi. Perlu diingat, untuk merasakan kenikmatan bagai melayang ketika kereta api melintas jembatan di atas jurang, cukup dari dalam kereta saja. Jangan coba-coba untuk melihat dengan membuka pintu di gerbong, karena terpaan angin kencang di ketinggian lumayan membuat tubuh bergetar. Apalagi jika penumpang punya masalah pada ketinggian sehingga limbung dan bisa jadi malah jatuh. Jadi nikmati saja pemandangan yang ada dari dalam kereta api.

Terowongan Sasaksaat
Jalur kereta api Jakarta-Bandung, lintas Cikampek dan Karawang, ini punya satu titik lokasi yang jadi banyak perbincangan. Lokasi ini disebut-sebut menyimpan kisah mistis dan misteri. Ada berbagai versi kisah tentang lokasi tersebut.

Nama tempat ini adalah Terowongan Sasaksaat, berada di antara Purwakarta dan Padalarang. Terowongan yang pernah disebut goa oleh penduduk Kampung Cipicung, Desa Sumurbandung, Kabupaten Bandung, ini memunculkan nuansa mistis karena setiap tanggal 17 Agustus selalu diberi sesajen berupa seekor domba. Menurut keyakinan penduduk, tumbal sesajen itu untuk menolak bala.

Apa latarbelakangnya? Dari kisah dan cerita yang beredar, terowongan sepanjang 950 m dengan dinding tebal mirip benteng perang itu sudah memakan banyak korban. Tapi bukan karena kecelakaan kereta, melainkan pekerja yang membangun terowongan itu antara tahun 1902-1903.  Banyak pekerja yang tewas lantaran tidak tahan siksaan kerja rodi dan banyak pula yang sakit. Konon,  jenazah mereka dikuburkan di sekitar terowongan tersebut.

“Saya pernah mendengar cerita dari warga sekitar terowongan itu, pernah sesekali terdengar seperti orang merintih kesakitan atau suara seperti benturan pacul ke batu dan tanah. Suara itu kabarnya bukan hanya terjadi pada malam hari, tetapi juga siang hari. Mungkin itu yang dinilai sebagai hal mistis dan misteri. Tapi, masih banyak cerita lain, dulu ada kereta yang mogok dan ada kereta Belanda berisi tentara yang diserang pejuang Indonesia,  semuanya mati. Ceritanya, pejuang Indonesia menjebak tentara Belanda di dalam terowongan lantaran tembok beton terowongan itu tidak bisa dihancurkan oleh bom,” ungkap Taufik, peserta perjalanan yang kelahiran Bandung.

Namun, dibalik semua kengerian akan cerita mistis dan misteri yang ada, terowongan ini tetap merupakan bagian sejarah yang patut dipelihara untuk generasi penerus. Meski mistis, terowongan ini dibangun dengan ketelitian yang tinggi, karena tingkat kesulitan tanah perbukitan di daerah tersebut. Paling tidak ada hitungan kemiringan dan kelokan 16-25 derajat, juga ada sedikit menanjak, sehingga terowongan beton ini bisa dibangun sesuai bentuk bukit-bukit di daerah itu. Jadi, jangan melihat mistisnya saja, tetapi perhatikan juga bahwa di masa lebih dari 100 tahun lalu, Belanda sudah membangun dengan cara canggih.
WARTA KOTA Celestinus Trias HP.

12
Feb
10

Historia : Jelang Imlek dan Cap Go Meh

Tiap tahun pada waktu dekat Sin Chia (Tahun Baru Tionghoa) nyonya-nyonya rumah sibuk membersihkan rumah, mengecat pintu dan jendela-jendela dan mengapur tembok. Tante-tante saya repot menyuruh pelayan-pelayan menumbuk ketan akan dibuat Kue Satu, yang dicetak di cetakan kayu,” demikian kenangan yang dituliskan Tio Tek Hong dalam Keadaan Jakarta Tempo Doeloe: Sebuah Kenangan 1882-1959.

Ia ingat sekali, bersama adik-adiknya, selalu menantikan hasil cetakan kue satu yang dianggap buruk oleh para tante. Cetakan kue satu yang tidak bagus tak akan disuguhkan buat tamu, tapi dibagikan ke Tio dan adik-adiknya. Tak ketinggalan, “Baju dan celana baru dari sutera, disebut phangsi, yang hitam outiu dan yang putih pehtiu, bahkan sutera kuncir (thaucang) diganti yang baru,” tambah Tio.

Kembang api serta petasan juga tak lepas dari kenangan Tio kecil. Mercon, katanya, dibeli saudara tuanya untuk memeriahkan malam tahun baru dan hari raya Imlek. Selain melakukan paychia (memberi selamat tahun baru) kepada mereka yang lebih tua, ada hal yang paling dinantikan yaitu angpau (amplop berwarna merah berisi uang).

Kenangan tentang Sin Chia, Imlek, atau tahun baru Tionghoa, tak hanya milik Tio Tek Hong. Firman Lubis menyatakan, di awal 1950-an warga Tionghoa masih merayakan Imlek dengan meriah, kue keranjang ikut memeriahkan toko dan warung milik warga Tionghoa. “Kami juga sering mendapat kiriman kue keranjang dari tetangga atau kenalan orangtua saya,” begitu Firman menulis dalam Jakarta 1950-an: Kenangan Semasa Remaja. Rumah dan tempat usaha warga Tionghoa dihiasi berbagai ornament seperti lampion, pemain barongsai juga unjuk kebolehan di tempat keramaian atau berkeliling. Demikian juga pemusik tanjidor yang, umumnya dimainkan orang Betawi, berkeliling ke rumah atau tempat usaha orang Tionghoa untuk mendapat angpao.

Sementara itu, James Danandjaja dalam Folklor Tionghoa menuliskan sebuah kepercayaan warga Tionghoa menjelang Imlek. Yaitu tentang Dewa Dapur. Bukan hanya Tio Tek Hong yang dalam kenangan menjelang Imlek menyebutkan soal bebersih rumah. Pasalnya bersih-bersih rumah menjelang Imlek itu memang harus dilakukan karena sudah jadi kepercayaan warga Tionghoa bahwa sepekan menjelang Imlek, Dewa Dapur akan berangkat ke Langit/Tuhan untuk melaporkan semua peristiwa di dunia di tahun yang lewat. Agar laporan sang dewa kepada Tuhan, baik atau berbau hal-hal manis, maka pada bibir Dewa Dapur – kertas merah bergambar rupa Dewa Dapur yang biasanya digantungkan di tembok dapur – dioleskan madu.

Kehidupan bebas merayakan tradisi dan budaya Tionghoa ini sempat terhenti mulai akhir 1950 dan berlanjut hingga almarhum Kyai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden RI ke-4 pada tahun 1999. Kini, setelah hari raya Imlek bahkan sudah diakui sebagai hari libur nasional, perayaan menjelang Imlek hingga habis masanya nanti, yang disambut dengan perayaan Cap Go Meh, menjadi salah satu atraksi wisata budaya yang selalu dinantikan warga, tak hanya Tionghoa.

Sekian puluh tahun yang hilang akibat tekanan politik pada masyarakat Tionghoa sejak 11 tahun belakangan kembali hadir, seperti ingin menggantikan ribuan hari yang hilang ketika warga Tionghoa seakan “dilarang” menjadi Tionghoa. Warga dari suku lain pun menjadi “buta” akan tradisi dan budaya yang menarik milik suku ini.

Untunglah ada seorang dengan pandangan yang jauh ke depan seperti Gus Dur. Kekayaan dan keragaman budaya Jakarta pun menjadi makin lengkap dengan berbagai festival, hari raya, dan perayaan yang tumbuh dari tradisi di tanah Tiongkok. Pecinan Jakarta pun ikut semarak dengan peragaaan barongsai, nuansa warna merah, kelenteng yang berdandan, berbagai makanan khas Imlek, dan masih banyak lagi.

Jelajah malam

Sebagai cara ikut bersukacita, Komunitas Jelajah Budaya (KJB) menggelar acara Jelajah Malam: Tahun Baru Imlek di Pecinan pada Sabtu 13 Februari 2010 mulai pk 17.00. Menurut Kartum Setiawan, ketua KJB, ongkos jalan-jalan ini Rp 80.000/peserta. “Bisa menghubungi nomor 0817 9940 173 atau ke kartum_boy@yahoo.com, “ tandasnya.

Perjalanan ini menyusuri kawasan Pecinan, melihat suasana malam tahun baru Imlek, melihat kesibukan klenteng berusia ratusan tahun, gedung-gedung tua, dan tentunya nuansa dan suasana Pecinan itu sendiri.

Dari catatan Warta Kota, Klenteng Jin De Yuan (Kim Tek Ie) di Petak Sembilan dibangun pada 1650 oleh Letnan Tionghoa Guo Xun Guan (Kwee Hoen) untuk menghormati Guan Yin (Kwan Im). Selain itu ada Klenteng Toa Se Bio di Jalan Kemenangan, masih di Petak Sembilan, dan dari klenteng inilah setiap perayaan Cap Go Meh akan digelar acara Gotong Toapehkong, sebuah tradisi yang sempat terhenti sejak akhir 1950.

Masih dari catatan Warta Kota, tak jauh dari sini Kim Tek Ie (Dharma Bhakti) ada gang bernama Gang Torong, sebuah gang yang diberi nama atas dasar keberadaan observatorium pertama di Batavia, Observatorium Mohr yang dibangun 1765 dan kelar pada 1768. Johan Maurits Mohr adalah pendeta yang punya minat besar pada bidang astronomi. Lokasi asli observatorium itu di Jalan Kemenangan Raya dan nama Gang Torong masih digunakan untuk nama gang yang dipercaya sebagai lokasi menuju rumah Mohr yang sekaligus adalah peneropongan bintang milik.

Pada masa ketika rumah sekaligus observatorium Mohr masih berdiri bagaikan menara (toren), kawasan ini bernama Torenlaan. Toren dilafalkan warga lokal sebagai torong jadilah Gang Torong. Johannes Rach, pelukis Jerman,  merekam situasi kawasan di sekitar observatorium Mohr. Yaitu bahwa letaknya tak jauh, persisnya di sebelah kanan belakang, dari Klenteng Kim Tek Ie. Lokasi bangunan Mohr itu kini berubah menjadi perkampungan padat di dalam gang.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

10
Feb
10

Historia : Kenangan Properti Tempo Doeloe

Masjid Merah Panjunan, Masjid dari Lima Abad Silam

Dian Anditya MutiaraDian Anditya Mutiara

Inilah Masjid Merah Panjunan di Cirebon yang usianya sudah lebih dari lima abad. Masjid ini berawal dari mushala.
Senin, 8 Februari 2010 | 15:39 WIB

KOMPAS.com — Dilihat dari luar, Masjid Merah Panjunan sangat menarik perhatian, terutama bagi orang yang baru pertama kali datang ke Cirebon, Jawa Barat. Warna merah bata mendominasi keseluruhan bangunan yang didirikan pada tahun 1480 ini.

Masjid Merah Panjunan terletak di Kampung Panjunan, kampung pembuat jun atau keramik porselen. Bangunan ini didirikan oleh Pangeran Panjunan yang adalah murid Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Songo (Sembilan Wali), penyebar Islam di Jawa.

Dalam sebuah catatan sejarah yang mengacu pada Babad Tjerbon, nama asli Pangeran Panjunan adalah Maulana Abdul Rahman. Dia memimpin sekelompok imigran Arab dari Baghdad. Sang pangeran dan keluarganya mencari nafkah dari membuat keramik. Sampai sekarang, anak keturunannya masih memelihara tradisi kerajinan keramik itu, meski kini lebih untuk tujuan spiritual ketimbang komersial.

Catatan tersebut juga menyatakan, selain untuk tempat beribadah, masjid ini juga dipakai Wali Songo untuk berkoordinasi dalam menyiarkan agama Islam di daerah Cirebon dan sekitarnya. Masjid yang konon dibikin hanya dalam waktu semalam ini lebih mirip surau karena ukurannya kecil. Kemeriahan memuncak pada Ramadhan, ketika orang, baik dari dalam maupun luar kota, berburu takjil, hidangan buka puasa, berupa gahwa alias kopi jahe khas Arab.

Akan banyak orang bertanya-tanya mengapa di masjid ini juga penuh dengan ornamen bernuansa Tionghoa. Misalnya, piring-piring porselen asli Tiongkok yang menghias penghias dinding. Ada sebuah legenda bahwa keramik Tiongkok itu merupakan bagian dari hadiah kaisar China ketika Sunan Gunung Jati menikahi putri sang kaisar yang bernama Tan Hong Tien Nio. Adanya hubungan dengan Tiongkok sejak zaman Wali Songo itu juga ditunjukkan dengan keberadaan Vihara Dewi Welas Asih, sebuah wihara kuno dengan dominasi warna merah yang berdiri tak jauh dari masjid.

Perpaduan Arab dan Tiongkok ini tak lain terjadi karena Cirebon, yang pernah bernama Caruban pada masa silam, adalah kota pelabuhan. Lantaran lokasi masjid itu di kawasan perdagangan, sungguh tak aneh jika Masjid Merah—semula mushala Al-Athyah— tumbuh dengan berbagai pengaruh, seperti juga semua keraton yang ada di Cirebon.

Bangunan lama mushala itu berukuran 40 meter persegi saja, kemudian dibangun menjadi berukuran 150 meter persegi karena menjadi masjid. Pada tahun 1949, Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati) membangun pagar Kutaosod dari bata merah setebal 40 cm dengan tinggi 1,5 m untuk mengelilingi kawasan masjid.

Keunikan lain dari struktur bangunan adalah bagian atap yang menggunakan genteng tanah warna hitam dan hingga kini masih dijaga keasliannya. Namun sayangnya, beberapa keramik yang ada di tembok pagar ada yang sudah dicukil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, terutama yang ada pada bagian pagar temboknya.

Pada salah satu sisi masjid terdapat sebuah makam yang diberi pagar, tetapi tidak jelas makam siapa. Menurut pengurus masjid, Nasruddin (35), ada dua versi, versi pertama ada yang mengatakan seorang yang cukup disegani di daerah Pajunan, sementara versi lain mengatakan, yang dikuburkan di tempat itu adalah benda-benda yang pernah dipakai untuk membangun masjid. “Kami sendiri tidak pernah membongkar makam tersebut. Pendiri masjid ini tidak dimakamkan di sini,” ungkapnya.

Di sini bisa kita temui sumur sedalam setidaknya tiga setengah meter yang menjadi sumber mata air untuk keperluan masjid dan masyarakat di sekitarnya.

Akulturasi budaya

Dalam berbagai tulisan sejarah, dijelaskan bahwa proses akulturasi di Indonesia sudah terjadi semenjak masa pra-Islam, yaitu Buddha dan Hindu. Agama Hindu datang ke Indonesia dibawa oleh bangsa India. Setelah itu, datanglah agama Islam. Agama-agama tersebut kemudian bertemu dan mengadakan kontak secara terus-menerus. Akhirnya, terjadilah akulturasi di antara ketiga agama tersebut.

Wujud akulturasi tersebut dapat dilihat dari unsur budaya yang ada pada arsitektur Masjid Merah Panjunan.  Unsur budaya Islam terlihat dari fisik dan fungsi masjid, terlihat pada mimbar, mihrab, tempat wudhu, dan beberapa ragam hias kaligrafi yang terlihat di tiang dan blandar.

Unsur budaya Jawa terlihat pada arsitektur masjid ini, yaitu dengan adanya tajug dan limasan. Sementara itu, pengaruh dari China adalah penggunaan beberapa keramik produksi Tiongkok untuk hiasan tempel, dan penggunaan bahan sirap seperti pada bangunan khas China.

Makna-makna filosofis dan simbol-simbol di Masjid Merah Panjunan merupakan pengaruh Hindu. Tentu saja kemudian makna filosofis dan simbol itu disesuaikan dengan ajaran Islam. (WARTA KOTA – Dian Anditya Mutiara)
DAM

Dian Anditya MutiaraDian Anditya Mutiara

Salah satu pedagang bubur sup ayam yang masih bertahan, Bubur Sop Ayam Mang Djohar di Cirebon.

KOMPAS.COM – Bubur Sop Ayam, begitulah nama resminya. Penulisan kata sup masih memakai “sop”. Pertama kali mendengar nama itu mungkin membuat orang bertanya-tanya, apakah bubur itu dimakan dengan kuah sup ayam?

Sepertinya memang agak aneh. Pada umumnya orang hanya mengenal bubur nasi yang biasa ditaburi ayam, kadang kedelai bawang goreng, dan daun bawang seledri. Bubur “unik” itu merupakan salah satu makanan khas Cirebon, Jawa Barat, yang mungkin jarang ditemui di daerah lain. Bahan dasar bumbunya hampir sama dengan bubur ayam biasa namun beda bumbu.

Dalam penyajiannya, makanan ini diberi kuah bening dari sari kaldu ayam, lalu diberi tambahan soun, irisan kol, tauco, kacang kedelai, kentang dan tambahan kerupuk kanji yang sudah diremukkan. Perpaduan ini mirip dengan soto dan kuahnya juga dirasakan sepintas seperti soto. Paling enak bila disantap dengan kuah yang masih panas, ditambah dengan cabai bubuk yang menjadi ciri khasnya.

Bubur sup ayam ini bisa untuk sarapan atau makan malam. Selain mengenyangkan perut, bubur ini dapat membuat badan hangat dan berkeringat. Ampuh juga sebagai obat penolak masuk angin dan sebagai penambah ketahanan saat harus bekerja hingga larut malam (begadang).

Tapi di Cirebon, bubur sup ini sepertinya hampir menghilang dari peredaran. Ketika Warta Kota mencari bubur ini agak kesulitan juga. Warga setempat mengatakan, pedagang bubur sup sudah jarang. Kebanyakan, pedagang yang masih bertahan adalah mereka yang meneruskan usaha orangtuanya.

Bubur Sop Ayam Muhamad Djohar, salah satunya. Ia mulai berjualan sejak tahun 1959. Kini digantikan oleh anak keempat, Aminah (41) ,yang berjualan di Jalan Siliwangi. Aminah menuturkan, sebelumnya sang ayah sempat berjualan di Jalan Kartini  dengan kedai sederhana. Selain bubur, ia juga menjual es campur. Maka dulu lebih sering dikenal sebagai Bubur Mang Djohar Panas Dingin.

“Memang dulu Bapak jualan es serut. Biasanya orang paling suka pas siang, makan bubur terus minum es. Makanya dibilang panas dingin,” tuturnya.

Namun sepeninggalan sang ayah dan karena keterbatasan tenaga, maka kini Aminah hanya menyediakan bubur sup. Apalagi ia harus berjualan dari pagi sampai malam, tenaga akan terkuras hanya dengan membuat bubur.

Awalnya Aminah tidak tahu cara membuat bubur tersebut, tetapi karena sering memperhatikan pembantunya memasak akhirnya ia bisa membuat sendiri. Karena sejak dulu pun yang memasak bubur bukan ayah maupun ibunya, tetapi pembantu.

Dengan dibantu saudaranya, biasanya dia akan bergantian jualan di warung yang sangat sederhana tersebut. Yang unik adalah sambal cair yang terbuat dari campuran cabai bubuk, gula pasir, dan minyak goreng. Harga semangkuk bubur sup ayam ini Rp 8.000.

Karena sudah cukup lama, maka pelanggannya pun juga bervariasi, hingga sampai tiga generasi. Tay Seng (61), warga Pakaliman, mengaku kerap kali makan bubur sup tersebut sejak generasi pertama yang berjualan. Dari segi rasa menurutnya tidaklah berubah banyak.

“Saya suka dengan bubur ini karena bisa membuat badan hangat. Buburnya yang agak padat ini bila dibawa pulang tidak akan mencair. Tetapi saya lebih suka makan di tempat, karena kalau sudah dibawa pulang, rasanya jadi kurang enak,” ungkapnya.

Ia menyayangkan bila makanan seperti ini sampai hilang dari peredaran. Tay Seng pun mengakui, kini sudah kesulitan menemukan bubur sup ayam di wilayah Cirebon. Ia berharap kedepan, masih ada generasi muda yang mau melestarikan kuliner ini. (WARTA KOTA – Dian Anditya Mutiara)

Alamat warung Bubur Sop Ayam:


Bubur Sop Ayam Mang Djohar, Cirebon

Jalan Raya Siliwangi (seberang Bank CIMB Niaga)
Buka: 09.00-22.00

Bubur Sop Ayam M Kapo
Jalan Raya Gunung Sari, Cirebon
Buka: 17.00-23.00
DAM,Dian Anditya M

Rumah Dayang Sumbi milik PT Kereta Api (Persero)sedang dalam proses pemugaran. Rumah ini dibangun pertama pada 2 Maret 1927.
Dari Si Tedi hingga Dayang Sumbi Celestinus Trias HP Rumah Dayang Sumbi milik PT Kereta Api (Persero)sedang dalam proses pemugaran. Rumah ini dibangun pertama pada 2 Maret 1927.
Senin, 8 Februari 2010 | 15:30 WIB

KOMPAS.COM-Menelusuri jalur kereta api (KA) Jakarta-Bandung sungguh mengasyikkan. Bukan hanya pemandangan alam yang asri tapi juga bangunan tua yang menarik. Boleh jadi masih banyak yang belum tahu bahwa jalur tersebut menyimpan beberapa bangunan yang memiliki kisah panjang.

Mengetahui ada hal menarik yang bisa “dijual” sebagai produk wisata, pihak PT Kereta Api (Persero) – PT KA (Persero) – tahun ini mulai mempersiapkan sejumlah bangunan yang dari abad 18 dan 19 di jalur itu sebagai lokasi wisata sejarah. Untuk memperkenalkan aset PT KA yang bernilai sejarah itu, beberapa waktu lalu PT KA mengadakan Heritage Trip Jakarta-Bandung untuk banyak pihak, termasuk wartawan.

Dari sekian banyak bangunan bersejarah yang ada di jalur tersebut, ada satu yang sudah siap yaitu kantor pusat PT KA di Jalan Perintis Kemerdekaan, Cikapundung, Bandung, Jawa Barat. Bangunan yang dibangun tahun 1869 itu, sudah mulai diubah bak museum. Bangunan itu dipugar sehingga detil gaya yang menunjukkan usia dan keunikan arsitektur bangunan kantor itu tampak.

Sebagai penanda, di pintu masuk ke kantor pusat PT KA ini dipajang satu lokomotif tua berwarna hitam legam, TD 1002.  Lokomotif bikinan Belanda tahun 1926 itu terakhir digunakan tahun 1970 dan pernah berjasa mengangkut segala jenis bahan pangan di wilayah Jawa Barat (dulu disebut wilayah Priangan).

Tedi, demikian nama loko yang pernah jadi penarik gerbong manusia dengan rute Rengasdengklok-Karawang-Wadas-Cikampek-Cilamaya. Tak pelak lokomotif itu jadi perhatian banyak orang karena baru kali itu kantor pusat PT KA memamerkan lokomotif tua. “Ini memang sebagai bagian untuk menarik perhatian. Namun, selain ini masih banyak lagi yang bisa jadi daya tarik sejarah. Seluruh bagian gedung kantor kereta api ini adalah bangunan tua peninggalan Belanda. Usianya sudah 100 tahun lebih dan memang sudah kami catatkan sebagai benda cagar budaya, yang patut dan harus dilestarikan,” kata Ella Ubaidi, Kepala Pusat Pelestarian Benda dan Aset Bersejarah PT KA.

Untuk sementara, pengunjung hanya boleh menikmati bangunan bersejarah tersebut pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu.

Memasuki kantor yang seabad lalu dijadikan kantor kereta api oleh pemerintah Hindia Belanda kita bisa menyaksikan sebuah ruangan besar yang khas Eropa, atap tinggi dan berukir, yang digunakan untuk menerima tamu dan rapat.

Sejumlah bangunan lain di kompleks kantor pusat itu juga menarik, salah satunya gedung administrasi dan operasional PT KA saat ini, di mana dahulu merupakan bangunan untuk menyimpan arsip. Sebagai kantor arsip, maka bangunan tersebut tahan api. Ketebalan tembok adalah 30 cm dengan  pintu dan jendela baja murni setebal 12 cm.

Seperti pada bangunan Eropa, khususnya Belanda, yang lain, bangunan ini juga memiliki ruang bawah tanah (bunker). “Sebenarnya di bahwa lantai ini ada bunker yang digunakan sebagai gudang dan perlindungan saat perang,” ungkap Sukendar Mulya, salah satu pejabat internal PT KA. Sayang, PT KA tak mengantisipasi keinginan wartawan untuk melihat bunker di kedalaman tujuh meter itu.

Satu lagi bangunan tua milik PT KA di Kota Bandung, yaitu Rumah Dayang Sumbi. Diberi nama demikian karena rumah itu terletak di Jalan Dayang Sumbi, Dago. Rumah ini dibangun tahun 1927 menjadi tempat tinggal seorang juragan tanah dan perkebunan teh berdarah Belanda. Namun, selanjutnya rumah seluas 700 m2, yang tidak jauh dari lokasi wisata belanja Dago dan kampus ITB ini, dijadikan rumah untuk pejabat kereta api pada zaman tersebut.

Kini bangunan itu masih dalam proses pemugaran. Plakat yang menyatakan bahwa peletakan batu pertama dilakukan oleh Ernst Gerard Oscar Kelling pada 2 Maret 1927 masih dipertahankan.

PT KA juga akan menyiapkan satu lagi bangunan bersejarah yang akan dijadikan obyek wisata sejarah, yaitu 21 bangunan gudang di Jalan Sukabumi, Cikudapateuh, Bandung. Karena baru akan dipersiapkan, maka rombongan trip dari Jakarta sekali lagi hanya bisa penasaran, tak  bisa melongok isi gudang dan sebelumnya tak bisa melihat bunker.

Menurut PT KA, dalam gudang itu masih tersimpan persediaan onderdil kereta api dan alat komunikasi zaman baheula. Meski belum jadi atraksi wisata, areal gudang itu sudah acapkali jadi lokasi pemotretan dan syuting film. Gudang yang dibangun pada 1907 ini dulu luasnya 42 hektar, menyambung hingga Balai Yasa (bengkel kereta api) dan Stasiun Kiaracondong. Kini sebagian lahan itu sudah jadi rumah warga. (WARTA KOTA – Celestinus Trias HP)
WARTA KOTA Celestinus Trias HP.

06
Feb
10

PEPORA : Kenangan Kepemimpinan Gus Dur

Sabtu, 06/02/2010 17:52 WIB
Diskusi 40 Hari Wafatnya Gus Dur Didemo
Tamam Mubarrok – detikSurabaya


Foto: Tamam Mubarrok

Surabaya – Acara diskusi memperingati 40 hari wafatnya KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur diwarnai demo. Demo yang dilakukan belasan orang ini menutup mulut dengan lakban.

Mereka melakukan demo ini dengan alasan diskusi bertema “Membedah Pemikiran Gus Dur” ditunggangi kepentingan politik dan mendompleng kebesaran Gus Dur.

“Seminar ini digunakan kelompok Muhaimin untuk mendongkrak kepentingannya. Padahal selama ini, Muhaimin Iskandar telah mengkhianati Gus Dur dan menyakiti warga NU,” kata salah satu pengunjuk rasa, Maskuri di sela-sela aksinya di depan Masjid Ulil Albab Kompleks Ponpes Tebuireng, Sabtu (6/2/2010).

Rencananya, diskusi itu dihadiri dua menter yakni Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal yakni Helmy Faisal Zaini dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar .

Meski didemo, namun diskusi yang mendatangkan pengamat politik, Kacung Marijan, Sastro Al Ngatawi dan Jhonson Panjaitan tidak terpengaruh dan berjalan lancar.
(fat/fat)

Baca juga :


06
Feb
10

Historia : Kunjungan Wisata Kota Tua

Tahun Kunjung Museum, Keliling Museum, dan Perlindungan Bangunan Bersejarah  Artikel Terkait:

Pradaningrum Mijarto Contoh bangunan bersejarah di Kalibesar Timur, kawasan Kota Tua Jakarta, yang bisa dihidupkan menjadi atraksi wisata Rabu, 3 Februari 2010 | 15:03 WIB

Akhir pekan ini, selain ajakan Komunitas Historia Indonesia menjelajah Cirebon dan Komunitas Sahabat Museum membatik di Museum Tekstil sambil mengenal Tanahabang, ada banyak alternatif lain bisa dikemas sendiri. Misalnya, keliling ke beberapa museum di Jakarta. Sekadar mengingatkan, tahun ini Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menetapkan sebagai tahun dimulainya Gerakan Nasional Cinta Museum melalui Tahun Kunjung Museum (TKM) 2010. Program itu akan terus berlangsung hingga 2014 dengan berbagai agenda penting seperti pembenahan museum.

Memang, TKM 2010 dilempar ke masyarakat pada akhir tahun lalu sehingga gaungnya bisa dibilang tak ada. Masih banyak pertanyaan tentang apa itu TKM 2010, museum mana yang diunggulkan, apa yang bisa dilihat. Atau malah pernyataan kaget, “Oh, tahun kunjung museum?  Apa itu?” Begitulah, selalu saja terkesan terburu-buru dan tanpa sosialisasi, publikasi yang menyeluruh sehingga bukan hanya masyarakat yang bertanya-tanya, bahkan pihak museum sendiri terkesan belum atau tidak siap.

Di Jakarta, ada lebih dari 60 museum yang bisa disambangi. Jika ingin jalan-jalan di Kota Tua, di sana ada enam museum, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum Sejarah Jakarta, Museum Bahari, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik. Di satu kawasan ini saja, ada banyak yang bisa ditelusuri, misalnya Kalibesar, Pelabuhan Sunda Kelapa, Stasiun Beos, tak ketinggalan, gedung-gedung bersejarah di sana. Kini, pengunjung Kota Tua juga sudah bisa punya pilihan beristirahat, selain di Kafe Batavia, bisa juga di Kafe Gazebo dengan beberapa warung makan tempo dulu, termasuk Es Krim Ragusa.

Bicara soal museum dan bangunan bersejarah, memasuki TKM 2010 ada dua peristiwa penghancuran gedung bersejarah di Pangkalpinang dan Salatiga. Bioskop Hebe/Banteng dari tahun 1917 di Pangkalpinang – serta dua bioskop tua lainnya dan pabrik es – sedangkan di Salatiga mutilasi bangunan eks kodim yang sudah berusia 100 tahun. Semua dihancurkan demi pusat perbelanjaan. Untungnya, bangunan eks kodim di Salatiga bisa dihentikan dan upaya hukum terus berlanjut sementara di Pangkalpinang, Hebe sudah tak ada lagi.

Bangunan bersejarah, jika direvitalisasi dan difungsikan kembali dapat juga menjadi museum kecil terkait sejarah gedung. Gedung Hebe, bisa menjadi museum kecil tentang perkembangan perfileman di Pangkalpinang, atau Bangka Belitung secara luas. Di Salatiga, gedung eks kodim bisa jadi apapun, misalnya, restoran atau gedung kesenian. Bangunan itu sendiri sudah merupakan kumpulan kisah yang jika dilengkapi dengan koleksi sejarah yang pernah dilewati bangunan ini, tentu menjadi layaknya museum kecil-kecilan yang menjadikan restoran, gedung kesenian – apapun – itu punya nilai tambah.

Pada akhirnya, jika bangunan bersejarah bisa dihidupkan lagi, bukannya malah diratakan dengan tanah, bisa menjadi atraksi tersendiri di luar museum. Karena pada dasarnya baik museum maupun bangunan bersejarah adalah pusaka budaya yang menurut Peter Howard dalam buku Heritage: Management, Interpretation, Identity adalah segala sesuatu yang ingin diselamatkan orang, termasuk budaya material maupun alam. Manajemen warisan/pusaka budaya tak hanya museum,karena menurut Howard, tiap orang juga punya latar belakang kehidupan yang bisa jadi warisan tersendiri.

Peninggalan orang per orang pun masuk dalam katagori heritage. Terserah pada keluarga mereka apakah akan menyimpan dan memelihara kenangan atas, katakan, kakek atau nenek mereka. Baik itu dalam bentuk petuah, buku harian, koleksi buku, etos kerja, mobil tua, bangunan. Intinya, tegas Howard, pusaka budaya (heritage) adalah untuk semua manusia.

Ini ada sekadar contoh, khususnya bagi para pemegang kuasa dari lingkup yang paling kecil sampai yang tertinggi, khususnya mereka yang baru saja menghancurkan bangunan bsersejarah, dan barangkali mereka yang berencana membantai identitas kota. Di Inggris, ada satu area di wilayah West Midlands, Worcestershire, memiliki museum yang cukup unik. Namanya Museum Avoncroft, Museum Bangunan Bersejarah. Di lahan terbuka seluas 15 hektar itu, mereka membangun kembali bangunan bersejarah yang dihancurkan.

Pengunjung bisa masuk ke gedung dari berbagai periode, misalnya ke gedung Tudor dari abad 16 termasuk Rumah Saudagar dari Bromsgrove (Merchant’s House from Bromsgrove), bangunan abad 19 termasuk Toll Keeper’s House, termasuk windmill kincir angin yang digunakan dalam pertanian tradisional. Dari abad 20 ada gerobak mewah milik Edward VIII.

Museum ini berdiri 1964 tapi baru dibuka pada 1967. Keberadaan museum ini dipicu oleh kegagalan upaya mencegah penghancuran bangunan yang masuk dalam daftar  bangunan bersejarah di Bromsgrove. Yang masih tersisa dari puing bangunan Tudor, dipulihkan dan direkonstruksi kembali. Luar biasa, bukan?

Akhir pekan ini, selain ajakan Komunitas Historia Indonesia menjelajah Cirebon dan Komunitas Sahabat Museum membatik di Museum Tekstil sambil mengenal Tanahabang, ada banyak alternatif lain bisa dikemas sendiri. Misalnya, keliling ke beberapa museum di Jakarta. Sekadar mengingatkan, tahun ini Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menetapkan sebagai tahun dimulainya Gerakan Nasional Cinta Museum melalui Tahun Kunjung Museum (TKM) 2010. Program itu akan terus berlangsung hingga 2014 dengan berbagai agenda penting seperti pembenahan museum.

Memang, TKM 2010 dilempar ke masyarakat pada akhir tahun lalu sehingga gaungnya bisa dibilang tak ada. Masih banyak pertanyaan tentang apa itu TKM 2010, museum mana yang diunggulkan, apa yang bisa dilihat. Atau malah pernyataan kaget, “Oh, tahun kunjung museum?  Apa itu?” Begitulah, selalu saja terkesan terburu-buru dan tanpa sosialisasi, publikasi yang menyeluruh sehingga bukan hanya masyarakat yang bertanya-tanya, bahkan pihak museum sendiri terkesan belum atau tidak siap.

Di Jakarta, ada lebih dari 60 museum yang bisa disambangi. Jika ingin jalan-jalan di Kota Tua, di sana ada enam museum, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum Sejarah Jakarta, Museum Bahari, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik. Di satu kawasan ini saja, ada banyak yang bisa ditelusuri, misalnya Kalibesar, Pelabuhan Sunda Kelapa, Stasiun Beos, tak ketinggalan, gedung-gedung bersejarah di sana. Kini, pengunjung Kota Tua juga sudah bisa punya pilihan beristirahat, selain di Kafe Batavia, bisa juga di Kafe Gazebo dengan beberapa warung makan tempo dulu, termasuk Es Krim Ragusa.

Bicara soal museum dan bangunan bersejarah, memasuki TKM 2010 ada dua peristiwa penghancuran gedung bersejarah di Pangkalpinang dan Salatiga. Bioskop Hebe/Banteng dari tahun 1917 di Pangkalpinang – serta dua bioskop tua lainnya dan pabrik es – sedangkan di Salatiga mutilasi bangunan eks kodim yang sudah berusia 100 tahun. Semua dihancurkan demi pusat perbelanjaan. Untungnya, bangunan eks kodim di Salatiga bisa dihentikan dan upaya hukum terus berlanjut sementara di Pangkalpinang, Hebe sudah tak ada lagi.

Bangunan bersejarah, jika direvitalisasi dan difungsikan kembali dapat juga menjadi museum kecil terkait sejarah gedung. Gedung Hebe, bisa menjadi museum kecil tentang perkembangan perfileman di Pangkalpinang, atau Bangka Belitung secara luas. Di Salatiga, gedung eks kodim bisa jadi apapun, misalnya, restoran atau gedung kesenian. Bangunan itu sendiri sudah merupakan kumpulan kisah yang jika dilengkapi dengan koleksi sejarah yang pernah dilewati bangunan ini, tentu menjadi layaknya museum kecil-kecilan yang menjadikan restoran, gedung kesenian – apapun – itu punya nilai tambah.

Pada akhirnya, jika bangunan bersejarah bisa dihidupkan lagi, bukannya malah diratakan dengan tanah, bisa menjadi atraksi tersendiri di luar museum. Karena pada dasarnya baik museum maupun bangunan bersejarah adalah pusaka budaya yang menurut Peter Howard dalam buku Heritage: Management, Interpretation, Identity adalah segala sesuatu yang ingin diselamatkan orang, termasuk budaya material maupun alam. Manajemen warisan/pusaka budaya tak hanya museum, karena menurut Howard, tiap orang juga punya latar belakang kehidupan yang bisa jadi warisan tersendiri.

Peninggalan orang per orang pun masuk dalam katagori heritage. Terserah pada keluarga mereka apakah akan menyimpan dan memelihara kenangan atas, katakan, kakek atau nenek mereka. Baik itu dalam bentuk petuah, buku harian, koleksi buku, etos kerja, mobil tua, bangunan. Intinya, tegas Howard, pusaka budaya (heritage) adalah untuk semua manusia.

Ini ada sekadar contoh, khususnya bagi para pemegang kuasa dari lingkup yang paling kecil sampai yang tertinggi, khususnya mereka yang baru saja menghancurkan bangunan bsersejarah, dan barangkali mereka yang berencana membantai identitas kota. Di Inggris, ada satu area di wilayah West Midlands, Worcestershire, memiliki museum yang cukup unik. Namanya Museum Avoncroft, Museum Bangunan Bersejarah. Di lahan terbuka seluas 15 hektar itu, mereka membangun kembali bangunan bersejarah yang dihancurkan.

Pengunjung bisa masuk ke gedung dari berbagai periode, misalnya ke gedung Tudor dari abad 16 termasuk Rumah Saudagar dari Bromsgrove (Merchant’s House from Bromsgrove), bangunan abad 19 termasuk Toll Keeper’s House, termasuk windmill kincir angin yang digunakan dalam pertanian tradisional. Dari abad 20 ada gerobak mewah milik Edward VIII.

Museum ini berdiri 1964 tapi baru dibuka pada 1967. Keberadaan museum ini dipicu oleh kegagalan upaya mencegah penghancuran bangunan yang masuk dalam daftar  bangunan bersejarah di Bromsgrove. Yang masih tersisa dari puing bangunan Tudor, dipulihkan dan direkonstruksi kembali. Luar biasa, bukan?
PRA

Salah satu contoh anak wayang dari Kampung Tangki yang melegenda, Tan Tjeng Bok

Anak Wayang di Kampung Tangki

Masih ingat August Mahieu dengan Komedie Stamboel? Mahieu bagai trend setter di Jawa. Ia membuat orang lain meniru tontonan panggung ala Komedie Stamboel atau dkenal sebagai Komedie Bangsawan. Padahal, Mahieu meniru pula dari pertunjukan Abdul Muluk. Banyak orang bilang, Abdul Muluk pun meniru pertunjukan serupa asal Iran. Sepanjang sejarah pergerakan manusia, tentu saja perihal tiru meniru, adaptasi, kolaborasi, percampuran, penggabungan, atau pengaruh  unsur seni dan budaya tak terelakkan.

Mahieu membius masyarakat di Hindia Belanda dan merangsang seniman lain mendirikan komedi alias pertunjukan. Sebut saja Komedie Opera Samboel, Opera Sri Permata, Opera Bangsawan, dan Indra Bangsawan. Tak seperti rombongan Mahieu yang berisi pemain Indo Jawa, rombongan baru tersebut menggunakan pemain yang seluruhnya pribumi. Meski demikian, cita rasa Mahieu tak ditinggalkan, yaitu penampilan dansa tango, kabaret, tablo, waltz, polka, dengan kostum ala bangsawan, pangeran, ratu, putri, pokoknya yang berbau barat. Itu sebabnya Komedie Stamboel dan ikutannya disebut Komedie Bangsawan.

Demikianlah tontonan tersebut menghibur banyak hati wong cilik di masa itu, abad 19. Alun-alun kota seringkali jadi panggung besar bagi rombongan komedi tersebut. Penontonnya? Beragam. Tapi kebanyakan ya wong cilik tadi. Bahkan kuli perkebunan ingin dihibur rombongan tersebut, demikian Misbach Yusa Biran dalam Sejarah Film 1900-1950:Bikin Film di Jawa.

Repertoar-repertoar campuran dari Baghdad, Eropa, India, mereka mainkan tanpa menggunakan naskah. Hanya garis besarnya saja yang dipahami para pemain. Mereka tak kenal naskah panggung, semua percakapan tak lain hanylah improvisasi. Apa pasal? Para pemain itu umumnya buta huruf.

Itu juga barangkali, kenapa pertunjukan rombongan komedi tersebut tak mengubah repertoar atau membuat sendiri kisah ala mereka. Hingga akhirnya muncullah Tio Tek Djien dengan Miss Riboet Orion dan Piedro dengan Dardanella. Dua rombongan besar ini menelurkan berbagai kisah karangan mereka sendiri dengan kepiawaian Andjar Asmara dan Nyoo Cheong Seng.

Perkembangan rombongan komedi ini menentukan perjalanan kesenian bangsa ini terutama dalam hal perfilman. Dari rombongan komedi ini kemudian muncul istilah anak wayang mengikuti istilah yang berkembang di tanah Malaka, di mana Mahieu mencontoh penampilan Abdul Muluk. Istilah tersebut biasa digunakan oleh awak rombongan itu. Pertunjukan mereka disebut wayang panggung.

Kehidupan manusia panggung, anak-anak wayang, adalah kehidupan yang terdiri dari pemain dalam satu rombongan. Mereka hidup, makan, minum. tidur, bermain, bercanda, bermain di satu rumah atau kampung untuk kemudian bermain bersama di atas panggung, begitu selalu. Misbach menuliskan, jika sedang ikut pertunjukan keliling, mereka tinggal di satu rumah kongsi – bangunan kosong yang disewa pemilik rombongan. Ini menyebabkan mereka tak bergaul dengan manusia lain selain manusia dalam rombongan itu yang rata-rata buta huruf. Pemain komedi dibayar harian, mereka seringkali harus bekerja tambahan jika pertunjukan di satu kota sepi penonton.

Di Batavia, anak wayang dikumpulkan di kawasan bernama Tangki, di daerah Mangga Dua. Di tahun 1920-an, berdiri Malayan Opera. Anak wayang Malayan Opera inilah yang kebanyakan tinggal di Tangki. Pada 1950, di mana kampung ini kemudian dijejali seniman, muncul sebutan Tangkiwood – seperti Hollywood.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Mengungkap Bunker di Bawah Jalan Kalibesar Timur

Bunker di bawah gedung Rotterdam Llyod ini diperkirakan untuk menyimpan barang berharga

KOMPAS.COM – Sejarah Jakarta tak bisa lepas dari keberadaan bunker (ruang bawah tanah). Bunker-bunker ini tersebar di bawah tanah Jakarta. Tak hanya di kawasan Kota Tua, atau Tanjungpriuk, data yang ada menyebutkan kawasan Kramat, Kebon Sirih, hingga Meester Cornelis pun menyimpan bekas bunker di bawahnya. Ketika saya mendengar kabar ada satu lagi bunker di kawasan Kota Tua, tentu ini menjadi penggenap data tentang keberadaan bunker di bawah tanah Jakarta.

Mencari sejarah bunker di Batavia, tak seperti mencari kisah tentang bagaimana Batavia dibangun. Kisah tentang bunker, seperti keberadaan bunker itu sendiri, berada jauh terselip di dalam terbitan-terbitan, baik majalah ataupun koran yang terbit di Belanda. Tak masalah, yang penting ada sedikit data, kemudian menelusuri fakta di lapangan. Maka sekali lagi, setelah bunker di bawah Stasiun Tanjungpriuk, bunker di depan Museum Sejarah Jakarta (MSJ), kini bunker lain terkuak sedikit.

Bunker yang baru kemarin saya jenguk, berbeda dengan dua bunker lain. Bunker di bawah Jalan Kalibesar Timur (di masa lampau kawasan ini disebut Pasar Pisang) ini dalam kondisi seperti ruang-ruang perkantoran atau ruang penyimpanan barang berharga. Pintu-pintu besi pernah menjadi penjaga ruang bawah tanah ini. Ada beberapa ruangan yang terbilang luas di bunker ini. Namun tentu penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui apakah bunker ini punya koneksi ke bunker lain di kawasan itu, apakah bunker ini hanya sebagai penyimpan barang berharga, atau juga sebagai ruang perlindungan manusia.

Di masa antara 1937-1942, Perang Dunia (PD) II, Pemerintah Belanda mengharuskan seluruh bangunan pemerintah membangun bunker. Selain sebagai penyimpan barang berharga, juga sebagai perlindungan saat PD II itu. Namun demikian, ternyata warga Belanda juga melengkapi rumah mereka dengan bunker. Itu terungkap dalam bukti-bukti berupa foto dan sebuah kisah khusus tentang bunker dalam majalah d’Orient. Maka bentuk dan peruntukan bunker pun jadi beragam. Untuk mengungkap keberadaan bunker, lagi-lagi ini perlu penelitian.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua, Candrian Attahiyyat, menyatakan, tahun ini sudah ada anggaran untuk melakukan penggalian. Boleh jadi, salah satunya adalah mengungkap keberadaan bunker di kawasan Kota Tua. “Kita belum bisa menentukan apakah bunker itu hanya untuk menyimpan barang berharga atau juga untuk perlindungan. Harus diteliti lebih dalam dari sisi arkeologi. Kalau ternyata ada lubang udara, itu berarti bunker itu berfungsi juga untuk bersembunyi,” tandasnya.

Ia menambahkan, ciri-ciri bunker di kawasan tersebut, seperti yang sudah diinventarisir UPT Kota Tua, meskipun belum ada upaya pengecekan, adalah berada di bawah tangga. Demikian pula bunker yang masih menyisakan air setinggi mata kaki di bawah gedung Rotterdam Lloyd ini. Bunker dengan tinggi sekitar empat meter tersebut dalam keadaan gelap gulita, untuk turun ke bunker itu, orang tak akan menyangka sebab pintu masuknya sudah tertutup dengan timbunan kayu, rontokan tembok, dan seng.

Sejarah bangunan milik perusahaan pelayaran Rotterdam Lloyd tak terungkap banyak. Setidaknya ada tahun yang menyatakan pembangunan gedung yaitu 1938.

Semoga keberadaan bunker di bangunan tua tak lantas menjadi kesempatan bagi pengejar untung belaka, dunia hiburan, yang hanya akan mengangkat hal mistis. Tak ada yang mistis di gedung tua, di dalam bunker, atau peninggalan apapun. Yang ada adalah sejarah panjang yang berhimpun, berimpitan dan menantang untuk segera diungkap
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Bunker di bawah gedung Rotterdam Lloyd yang akan segera diteliti oleh UPT Kota Tua

Shelter dan Bunker di Batavia Pradaningrum MijartoMajalah dOrient

Artikel Terkait:

Pradaningrum Mijarto

Bunker di bawah gedung Rotterdam Lloyd yang akan segera diteliti oleh UPT Kota Tua

Kamis, 4 Februari 2010 | 21:30 WIB

KOMPAS.COM – Gedung Internationale Credit en Handelsvereeniging Rotterdam, sebuah gedung cantik dengan dua menara. Gedung itu kini milik PT Tjipta Niaga. Memandang gedung bikinan tahun 1913 dari Jalan Kali Besar Barat, bikin penggemar foto tak akan melepas kesempatan mengambil bayang bangunan yang memantul dari kumpulan air di Kali Besar. Menurut sebuah penelitian tentang beberapa gedung di kawasan Kota Tua, gedung  itu adalah gedung keempat di Batavia yang dirancang Biro Arsitek ed Cuypers en Hulswit. Gedung ini memanjang dari barat ke timur, menghadap ke kanal Kali Besar persis di Jalan Kali Besar Timur.

Rotterdam Internatio, begitu nama kecil gedung tersebut adalah perusahaan lima besar yang bergerak di bidang perbankan dan perkebunan. Perusahaan ini antara lain melakukan pembelian sewa-menyewa kapal, juga membuka kredit-kredit dan deposito. Meski tampak depan kelihatan masih kokoh, bagian dalam gedung ini, khususnya bagian atap, sudah hancur.

Bangunan luas ini mempunyai teras pada bagian barat sedangkan pada sisi selatannya tidak berteras. Lantai dasar gedung ini digunakan kantor Rotterdamsche Lloyd (de Lloyd). Di masa lalu, pintu masuk de Lloyd berada di sudut Kali Besar Timur dan Jalan Teh (kini Jalan Kali Besar Timur 4). Sedangkan pintu masuk Rotterdam Internatio  ada di tengah-tengah dinding depan menghadap Jalan Teh. Pintu pada bangunan ini hanya terdapat di lantai bawah. Semua tembok dipancang di atas beton bertulang dibangun dari pasir batu kapur. Kedua lantai gedung tersebut dan semua pilar serta tangga utama dibangun dengan beton bertulang. Pelaksanaan pekerjaan beton bertulang dikerjakan oleh subbiro Weltevreden dari “Hollandsche Maatschappij”.

Tangga dan lobi atas dibuat sedikit lebih mewah. Anak-anak tangga dilapisi dengan batu keras yang diminyaki yang sama seperti marmer hitam yang dipoles dan pemasoknya adalah Firma D Weegewijs di Amsterdam. Lampu-lampu atas di lobi dihiasi dengan kaca pada jendela timah yang di dalamnya terdapat berbagai emblem dan tanda pengenal keturunan, kota, atau negara sebagai dekorasi keseluruhannya dibuat oleh Firma Lindeman & Schooneveld di Amsterdam. Pegangan sepanjang tangga utama dibuat dari kuningan, dipasok oleh NV Fabriek dari Bronswerken v/h Becht & Dyserink di Amsterdam. Sementara pintu brankas dan kunci-kunci pintu dipasok oleh NV Lips, pabrik kunci dan lemari brankas di Dordrecht.

Tentu saja semua itu tak banyak tersisa. Kini yang ada hanya pemandangan gedung yang terbengkalai terlalu lama menanti ambruk, khususnya karena atap dan bagian atas gedung sudah sangat hancur. Dari kisah gedung dan data bahwa gedung ini mempunyai lemari brankas,  bisa diperkirakan, bunker yang ada di bawah gedung tersebut, khususnya di bawah tangga kantor de Lloyd, kemungkinan adalah tempat menyimpan lemari brankas.

Tentu saja, sekali lagi, masih perlu penelitian yang menyeluruh. Menyingkap, mengungkap keberadaan bunker di kawasan Kota Tua sudah merupakan tugas dinas terkait, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI dalam hal ini melalui tangan mereka di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua. Hendaknya jangan sampai terjadi anggaran penelitian untuk mengungkap potongan sejarah Jakarta, digunakan secara diam-diam.

Penelitian, penemuan, penggalian, hendaknya dibuka agar khalayak tahu. Katakan, sebuah penggalian di Pulau Onrust yang baru dilakukan akhir tahun lalu dengan biaya tak sedikit, hendaknya diketahui publik. Oleh karenanya, penelitian bunker di Kota Tua hendaknya juga bisa diakses publik.

Belum ada data tentang keberadaan tempat penampungan untuk berlindung dan ruang bawah tanah di Batavia.

Shelter dan bunker

Majalah d’Orient, terbit dalam bahasa Belanda sekitar akhir 1930 dan awal 1940, lebih memilih membahas shelter. Majalah ini membahas tentang pentingnya shelter atau tempat penampungan dan perlindungan, menjelaskan bagaimana bentuk ruang perlindungan tersebut, di mana saja di Batavia ini yang tercatat kala itu sedang membangun shelter yang dibiayai oleh pemerintah. Dari contoh yang diperlihatkan, ruang perlindungan itu dibikin di luar bangunan utama, tak seperti bunker yang biasanya ada di dalam bangunan utama.

Disebutkan pula, ruang perlindungan tersebut juga harus bisa melindungi warga dari bahaya bom. Di perumahan warga Belanda, ruang penampungan untuk perlindungan itu biasanya ada di bawah halaman depan rumah mereka. Bentuk ruang perlindungan ini terkadang tak menarik dan tak sesuai standar keamanan karena dibikin dengan biaya yang murah, dan terkadang malah harus dihancurkan. Pasalnya, saat pembuatan, mereka tak berkonsultasi dengan ahli. Shelter yang aman, hendaknya dibikin dari beton, dengan perhitungan ketebalan antartembok, serta ketingggian yang aman.

Dalam keterangan lain tentang shelter dan bunker disebutkan, sejak sekitar tahun 1920-an, penampungan untuk perlindungan warga sipil terhadap serangan udara yang dibikin di bawah tanah terus bertubrukan dengan kepentingan perlindungan di atas tanah. Yaitu terhadap serangan gas. Desain yang pas belum ditemukan sehingga penampungan untuk berlindung dari serangan bom udara itu hanya berupa semacam parit, di kemudian hari dinding parit pelindung dibkin dari beton namun akhirnya baja dinilai lebih baik.

Warga Eropa khususnya Jerman sudah terbiasa membangun rumah atau apartemen lengkap dengan ruang bawah tanah untuk perlindungan. Semua sudah disiapkan agar manusia aman di sana selama serangan udara, termasuk ada jendela dan perlengkapan hidup lainnya.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

01
Feb
10

Historia : Rumah Candu dan Benteng Willem

Bangunan Cagar Budaya
Rumah Candu di Lasem di Konservasi

Senin, 1 Februari 2010 | 12:09 WIB

LASEM, KOMPAS – Bangunan kuno bekas gudang candu di Desa Soditan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, yang dibangun sekitar tahun 1.800-an dikonservasi. Bangunan berupa rumah berarsitektur Tiongkok itu menyimpan bukti-bukti perdagangan candu dan kejayaan pelabuhan internasional di Sungai Lasem.

Bangunan yang dikelilingi tembok besar tersebut berada di lahan seluas 5.500 meter persegi. Bangunan itu terdiri dari rumah induk di bagian depan dan rumah tempat tinggal serta gudang di bagian belakang.

Di rumah induk berubin merah terdapat altar atau meja abu dari jati berukiran khas Tiongkok. Di bangunan itu juga terdapat sumur sedalam sekitar 1,5 meter yang menyambung ke selokan bawah tanah menuju Sungai Lasem.

Rumah yang berfungsi sebagai tempat tinggal merupakan rumah bertingkat dua berlantai kayu jati. Di depan rumah itu terdapat jangkar baja berukuran sekitar 2 meter yang diduga dari salah satu kapal Laksamana Cheng Ho.

Di kompleks bangunan itu terdapat pula makam keluarga. Makam itu berciri khas siang gong (satu kuburan dua liang lahat) dengan hiasan relief, patung anjing langit, dan dua buah tiang berujung kuncup teratai.

Generasi keenam pemilik rumah itu, Subagyo (48), Sabtu (30/1) di Lasem, mengatakan, renovasi sudah berlangsung selama 40 hari dan ditargetkan selesai sebelum Imlek. Fokus konservasi senilai Rp 150 juta itu adalah bangunan depan. Biaya konservasi seluruhnya dari Subagyo.

“Kalau ada rezeki, saya akan melanjutkan konservasi rumah belakang. Rencananya, saya akan menjadikan rumah itu sebagai salah satu contoh rumah budaya Tiongkok di Lasem,” kata Subagyo yang berencana menggali sejarah rumah itu yang hampir tak terlacak lagi.

Menurut Subagyo, kerusakan terparah bangunan itu terletak pada konstruksi kayu. Banyak kayu yang keropos dan lapuk sehingga harus diganti atau didempul dengan bubuk kayu sisa penggergajian yang dicampur lem epoxy.

Sejarawan Lasem Slamet Widjaja mengemukakan, bangunan itu mempunyai nilai sejarah dan arsitektural tinggi. Setidaknya, sumur yang terletak di dalam bangunan induk menjadi bukti penting yang masih tersisa dari sejarah perdagangan candu di Lasem.

“Dahulu candu masuk ke Lasem melalui (menggunakan alat transportasi) perahu kecil. Perahu itu masuk ke gorong-gorong yang tembus dengan rumah-rumah pengusaha China,” kata dia. (HEN)

Benteng Willem
Revitalisasi Sangat Lambat

Senin, 1 Februari 2010 | 11:58 WIB

SEMARANG, KOMPAS – Sejumlah pemerhati benda cagar budaya menilai, proses revitalisasi Benteng Willem Ungaran di Kabupaten Semarang sangat lambat. Padahal, kondisi bangunan yang berusia lebih dari 200 tahun itu akan terus memburuk apabila tidak segera mendapat penanganan memadai.

Ketua Paguyuban Peduli Cagar Budaya Ratu Sima Kabupaten Semarang Sutikno, Jumat (29/1), mengatakan, sudah lebih dari dua tahun rencana konservasi benteng itu digulirkan. Namun, dia menilai belum ada keseriusan dari Pemerintah Kabupaten Semarang untuk intensif berkoordinasi dengan Polres Semarang maupun Mabes Polri untuk membahas status benteng itu.

Pemerintah Kabupaten Semarang pada tahun anggaran 2008 mengalokasikan anggaran revitalisasi fisik tahap pertama sebesar Rp 1,53 miliar. Namun, dana ini akhirnya dikembalikan ke kas daerah karena muncul klaim benteng tersebut milik Polres Semarang. Padahal, pemkab Semarang pada 2007 memberikan tali asih kepada sejumlah penghuni benteng itu.

Dalam perencanaan revitalisasi, benteng yang diyakini pernah menjadi tempat transit Pangeran Diponegoro ini sempat diwacanakan menjadi museum dan pusat kesenian. Pada tahun anggaran 2009 maupun 2010, pos anggaran untuk revitalisasi itu tidak juga muncul karena DPRD tidak mau ambil risiko karena belum ada kepastian soal status bangunan itu.

Secara terpisah, Kepala Seksi Kesejarahan dan Kepurbakalaan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Semarang Etty Dwi Lestari mengatakan, Pemkab Semarang masih terus berupaya menjalin komunikasi dengan Polres Semarang. Terdapat sejumlah pilihan soal status kepemilikan bangunan itu, misalnya hibah atau pengelolaan bersama. (gal)

28
Jan
10

Khazanah : Teladan Islami

Abu’l-Barakat al-Baghdadi
Republika, Selasa, 26 Januari 2010, 19:00 WIB
ALMOSUL.ORG

Mosul Lama

Kitab al-Mu’tabar menjadi karya fenomenal Barakat yang berisi esai-esai tentang filsafat dan sains.

Abu’l-Barakat al-Baghdadi dikenal sebagai seorang dokter dan filsuf. Ia dikenal pula sebagai seorang saintis. Nama lengkapnya, Hibat-Allah ibn Ali ibn Malka Abu’l-Barakat al-Baghdadi. Ia pun memiliki nama julukan, Awhad al-Zaman atau orang ternama pada zamannya.

Julukan ini diyakini terkait dengan profesi Barakat sebagai seorang dokter. Sebab, ia merupakan dokternya para khalifah Baghdad, tempat ia tinggal. Ia juga dokter langganan para sultan dari Dinasti Seljuk. Selain melakukan praktik kedokteran, ia juga mengajar tentang kedokteran.

Barakat memiliki sejumlah murid kedokteran. Ia tak hanya dikenal dengan julukannya Awhad al-Zaman, tapi juga memiliki reputasi luas karena karya fenomenalnya yang berjudul Al Kitab al Mu’tabar.

Karya ini berisi esai-esai Barakat tentang filsafat. Dalam esainya itu, ia menguraikan konsep-konsep dasar tentang filsafat alam dengan analisis yang tajam. Kitab ini disusun saat ia mencapai usianya yang matang.

Kitab al-Mu’tabar berisi refleksi-refleksi filosofis Barakat yang dilakukannya dari waktu ke waktu. Terutama, mengenai logika, fisika, ilmu pengetahuan alam, dan metafisika. Ia mengutip pula Kitab al-Shifa yang ditulis cendekiawan Muslim ternama, Ibnu Sina.

Bahkan, dalam beberapa bagian bukunya, Barakat mengutip sepenuhnya kalimat Ibnu Sina. Namun, ia pun menyanggah pemikiran Ibnu Sina dan menguraikan alasan tak sependapat pemikirannya dengan Ibnu Sina tersebut.

Barakat mengenalkan ide-ide alternatif yang menarik. Dan, ide tersebut mengantarkan gaungnya pada perkembangan fisika modern. Seperti, idenya mengenai gerak dan konsep tentang waktu. Pada 1938, seorang ilmuwan, Shlomo Pines, menaruh perhatian besar pada ide inovatif Barakat itu.

Pemikiran Barakat tentang gerak, di antaranya mengenai gerakan proyektil, yang memiliki kaitan dengan perkembangan teknologi pada beberapa abad kemudian. Ini bermula dari perbincangan mengenai bubuk mesiu yang ditemukan di Cina.

Bubuk mesiu tersebut menjadi sangat populer dalam perang Eropa pada abad ke-15. Bubuk ini digunakan pihak-pihak yang bertikai dalam peperangan untuk mendorong proyektil besar, guna menghantam tembok-tembok pertahanan kota yang mereka serang.

Pada pertengahan abad ke-16, para pakar senjata di Eropa mulai mencari cara lain untuk meningkatkan daya jangkau kekuatan artileri mereka. Ada sisi lain dari perkembangan itu yang menjadi sebuah polemik dalam bidang sains.

Sebab, ternyata gerak proyektil yang didorong bubuk mesiu itu tak sesuai dengan konteks doktrin gerak yang diusung oleh Aristoteles. Dalam konteks ini, berdasarkan hukum gerak Aristoteles mestinya proyektil yang dilontarkan jatuh langsung ke tanah.

Pada kenyataannya, proyektil itu justru tak langsung jatuh ke tanah saat terlontar dari selongsong meriam. Sebaliknya, benda tersebut bergerak mengikuti sebuah lintasan melengkung. Bahkan, para pendukung Aristoteles yang paling setia pun melihat cacat doktrin itu.

Kritik terhadap konsep gerak yang diusung Aristoteles, sebenarnya bermunculan sebelum abad ke-15. Banyak cendekiawan termasuk cendekiawan  Muslim melontarkan kritik terhadap doktrin gerak Aristoteles.

Misalnya, Joannes Philoponus yang lebih dikenal sebagai John the Grammarian. Kritik itu lalu dikembangkan lebih jauh oleh cendekiawan Muslim Ibnu Sina, Barakat, dan Ibnu Bajja dari Andalusia pada abad ke-12.

Dalam konteks ini, Barakat menyatakan ada tenaga dorong dari meriam untuk melontarkan proyektil. Hingga proyektil itu terdorong dan mencapai jarak tertentu. Bukan seperti yang dilontarkan oleh Aristoteles bahwa proyektil akan langsung jatuh ke bumi.

Hal itu tak akan terjadi, kata Aristoteles, jika ada penggerak yang berhubungan dengan objek yang sedang bergerak. Saat penggerak tak ada, objek itu akan langsung jatuh ke bumi. Pada kenyataannya, proyektil itu tak langsung jatuh, tapi bergerak meniti garis lengkung.

Konsep yang diajukan oleh Barakat dan Ibnu Sina mengenai gerakan proyektil ini, kemudian menjadi acuan pula bagi pengembangan konsep dorongan dan momentum. Terutama, pada pemikiran yang dikembangkan Galileo Galilei pada abad ke-17.

Pemikiran lain Barakat adalah mengenai akselerasi atau percepatan. Ia mengatakan, percepatan gerak benda jatuh disebabkan adanya gaya gravitasi yang menghasilkan kecenderungan alami benda tersebut untuk jatuh.

Konsep pemikiran Barakat digunakan untuk mengantisipasi hukum dasar mekanika klasik. Ia juga menjelaskan, percepatan yang dialami benda berat yang jatuh merupakan kecenderungan alami. Pemikiran dia ini mendorong lahirnya hukum dasar dinamika modern.

Paling tidak melalui pemikiran-pemikiran itu, Barakat telah menyumbangkan banyak ide baru mengenai fisika yang berkaitan dengan gerak. Selain mengemukakan hukum percepatan, dia juga menyatakan gerak itu relatif.

Dalam Kitab al-Mu’tabar, Barakat memberi perhatian atas kondisi yang saling memengaruhi antara kata-kata dan konsep. Misalnya, ia mengembangkan teori inovatifnya tentang waktu. Ini terlontar setelah ia menemukan sebuah kesimpulan.

Menurut Barakat, kata waktu yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari merupakan sebuah konsep fundamental. Ia mengatakan, waktu merupakan sebuah entitas. Ia menegaskan pula bahwa waktu adalah ukuran sesuatu yang terjadi bukan ukuran gerak seperti kata Aristoteles.

Barakat memiliki pula kontribusi pemikiran dalam bidang psikologi. Ia membahas tentang kesadaran diri. Hal ini pernah pula diangkat oleh Ibnu Sina, terutama yang berkaitan dengan kegiatan ini. Namun, Barakat melakukan kajian lebih dalam.

Kehidupan Barakat
Barakat hidup di abad ke-11 hingga abad ke-12. Ia lahir di Balad, sebuah kota di wilayah Tigris, dekat Mosul, Irak. Ia dilahirkan di sebuah keluarga Yahudi. Laman Muslimheritage dan Wikipedia, mengungkapkan, akhirnya Barakat memutuskan untuk memeluk Islam.

Saat menjalani profesinya sebagai seorang dokter, Barakat memiliki saingan berat, yaitu seorang dokter Kristen bernama Ibn al-Tilmidh. Di sisi lain, ia pun memiliki teman karib bernama Ishaq bin Ibrahim bin Erza yang menulis sebuah buku berisi kata-kata sanjungan terhadapnya.

Ibn Abi-Usyabi’a in juga menulis sebuah karya yang berisi sejumlah anekdot dan ungkapan, serta daftar sejumlah karya Barakat dalam bidang kedokteran. Ini dianggap sebagai sebuah karya biografi tentang Barakat yang lengkap.


Setumpuk Karya Barakat

Harus diakui, karya fenomenal Abu’l-Barakat al-Baghdadi adalah Kitab al-Mu’tabar. Karya ini berisikan beragam pemikiran Barakat dalam sejumlah bidang, terutama filsafat dan sains. Namun, ada sejumlah karya lain yang ditulis Barakat.

Di antaranya adalah karya dalam bidang kedokteran. Barakat memang dikenal pula sebagai seorang dokter. Karyanya dalam bidang kedokteran adalah risalah mengenai farmakologi yang berjudul Sifat Barsha’tha, dan berisi resep obat-obatan dari India.

Terdapat tiga salinan karya tersebut yang tersimpan di perpustakaan Turki. Selain itu, ada risalah lain tentang farmakologi yang ditulis oleh Barakat, yaitu risalah yang ia beri judul Tiryaq Amir al-Arwah.

Salinan karya tersebut tersimpan di Perpustakaan Kitapsaraydi Manisa, Turki. Ada pula risalah lain mengenai pemikiran intelektual yang berjudul Maqala fi’l-’Aql. Karya tersebut disimpan di perpustakaan di Iran dan Leipzig, Jerman.

Ada pula risalah Barakat yang diberi judul Risala fi Sabab Zuhur al-Kawa-kib Laylan wa Khafa’iha Naharan. Dalam risalahnya ini, ia menjelaskan mengapa bintang bisa terlihat di langit pada malam hari. Karya ini ditulis untuk menjawab pertanyaan Sultan Muhammad Tapar.

Manuskrip tentang karyanya itu disimpan di perpustakaan di Berlin, Jerman, dan Hiderabad, Pakistan. Juga, ada risalah mengenai kajian astronomi soal piring universal. Risalah ini berjudul Risala fi al-Amal bi al-Safiha al-Afaqiyyah.

Naskah risalah itu tersimpan di perpustakaan di Nidge, Turki.
Redaksi – Reporter

Red: Taqi
Reporter: Dyah Ratna Meta Novi
Perkembangan Percetakan di Dunia Islam
Republika, Rabu, 27 Januari 2010, 16:26 WIB

Pada masa Dinasti Fatimiyah, percetakan mulai mengalami perkembangan.

Pencetakan sebuah manuskrip memiliki sejarah panjang. Ini tak semata terkait dengan mesin cetak yang ditemukan Johannas Gutenberg. Namun, lebih memiliki kaitan dengan kegiatan percetakan yang telah dilakukan lama sebelumnya. Termasuk, perkembangannya di dunia Islam.

Menurut Dr Geoffrey Roper, seorang konsultan perpustakaan yang bekerja dengan Institute for the Study of Muslim Civilisations, London, Inggris, Gutenberg diakui sebagai orang pertama yang menemukan mesin cetak.

Namun, menurut Roper, aktivitas mencetak, yaitu membuat sejumlah salinan dari sebuah teks dengan memindahkannya dari satu permukaan ke permukaan lainnya, khususnya kertas, yang telah berusia lebih tua dibandingkan penemuan mesin cetak Gutenberg.

Orang-orang Cina telah melakukannya sekitar abad ke-4. Cetakan teks tertua yang diketahui berangka tahun 868 Masehi, yaitu Diamond Sutra. Ini merupakan sebuah terjemahan teks Buddha berbahasa Cina yang tersimpan di British Library.

Namun, hal yang tak banyak terekspos adalah sekitar 100 tahun kemudian, Arab Muslim juga memiliki kemampuan mencetak teks. Termasuk, lembaran Alquran. Ini berawal dari langkah Muslim untuk mempelajari kemampuan pembuatan kertas dari Cina.

Lalu, umat Islam mengembangkan kemampuan itu di seluruh wilayah Islam. Hal ini memicu tumbuh berkembangnya produksi manuskrip-manuskrip teks. Pada masa awal perkembangan kekuasaan Islam, manuskrip tak dibuat secara massal dan tak pula didistribusikan untuk masyarakat.

Kala itu, manuskrip yang ada berisikan penjelasan tentang shalat, doa-doa, intisari Alquran, dan asmaul husna yang sangat dikenal oleh Muslim. Apa pun tingkat sosialnya, baik Muslim yang kaya, miskin, terdidik, maupun berpendidikan rendah.

Kemudian, baru pada kekuasaan Dinasti Fatimiyah di Mesir, teknik cetak manuskrip di atas kertas berkembang. Mereka mencetak manuskrip secara massal. Kemudian, manuskrip-manuskrip hasil cetakan itu dibagikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sejumlah cetakan manuskrip itu ditemukan para arkeolog saat dilakukan penggalian di Fustat atau Kairo lama. Menurut Roper yang dikutip laman Muslimheritage, cetakan manuskrip tersebut diyakini berasal dari abad ke-10.

Cetakan manuskrip sejenis ditemukan juga di sejumlah tempat lainnya di Mesir. Rope mengungkapkan, iklim kering di Mesir telah membantu menyelamatkan manuskrip itu sehingga tak membuatnya menjadi rusak.

Pada periode kekuasaan Dinasti Mamluk, yang berlangsung pada abad ke-13 hingga abad ke-16, ditemukan sejumlah cetakan tulisan Arab dengan beragam gaya, di antaranya adalah Kufi. Perkembangan kegiatan percetakan di dunia Islam berlangsung hingga 500 tahun.

Sejumlah hasil cetak manuskrip yang dihasilkan di dunia Islam masih bertahan. Paling tidak, ada 60 sampel manuskrip yang tersisa dan tersebar di Eropa, museum dan perpustakaan di Amerika Serikat (AS), serta ada di Mesir dalam jumlah yang tak diketahui secara pasti.

Ada pula cetakan manuskrip yang berasal dari Afghanistan atau Iran. Terungkap pula bahwa hanya sedikit referensi yang mengungkapkan alat percetakan yang digunakan pada masa Islam. Referensi yang ada di antaranya adalah puisi-puisi Arab pada abad ke-10 dan ke-14.

Puisi itu menggambarkan bahwa alat percetakan pada masa itu dibuat pada sebuah pelat yang diukir dengan huruf-huruf. Ada pula yang mengungkapkan, alat percetakan dibuat pada blok kayu dengan huruf-huruf seperti gaya huruf Cina.

Tak diketahui pula, apakah kegiatan percetakan di dunia Islam memberikan pengaruh pada aktivitas yang sama di Eropa. Tak ada bukti yang menunjukkan adanya pengaruh itu. Namun, kemungkinan adanya pengaruh memang tak bisa dinafikan.

Terutama, cetakan manuskrip Eropa yang bergaya cetakan blok. Ada kemungkinan bahasa Italia tarocchi memiliki arti kartu tarot, yang termasuk artefak awal cetak blok di Eropa, berasal dari istilah Arab.

Namun, memang harus diakui, ini merupakan teori spekulatif yang perlu  dibuktikan lebih lanjut. Perlu banyak bukti untuk mengambil kesimpulan terkait hal tersebut. Di sisi lain, ada fakta bahwa percetakan buku dalam bahasa Arab muncul di Eropa, khususnya Italia.

Percetakan ini dilakukan secara sporadis yang berlangsung sebelum 1514 Masehi. Seorang dari Venezia yang bernama Gregorio de Gregori menerbitkan buku berjudul Book of Hours atau Kitab Salat al-Sawa’i untuk dikirimkan ke komunitas Kristen di Suriah.

Sayangnya, cetakan huruf kurang bagus, bahkan hampir tak bisa dibaca. Bagaimanapun, langkah Gregorio itu merupakan upaya yang berani untuk mencoba mencetak buku dengan abjad Arab. Ada juga nama Robert Granjon,  desainer dari Prancis yang terkait dengan dunia percetakan.

Granjon berusaha merancang alat percetakan seperti yang ada di dunia Islam. Ia berupaya mencetak buku dalam bahasa Arab sebab saat itu buku-buku berbahasa Arab cukup banyak diminati. Pada masa selanjutnya, Kardinal de Medici pun ikut berkecimpung dalam bidang ini.

Medici mencari seorang yang mahir berbahasa oriental untuk mengawasi operasi percetakkan buku. Akhirnya, ia bertemu Giovan Battista Raimondi, seorang filsuf, ahli matematika, dan ahli kimia. Hal terpenting, ia memiliki kompetensi yang berkaitan dengan percetakan Arab.

Selama melancong ke Timur, Raimondi telah belajar bahasa Arab, Turki, dan Persia. Selain itu, ia pun mengumpulkan tata bahasa dan kamus bahasa-bahasa tersebut. Dia juga mempunyai pengalaman yang banyak dalam menerjemahkan buku-buku dari bahasa Yunani dan bahasa Arab.

Untuk membuat percetakan bergaya Arab, Raimondi menyewa beberapa bangunan di Piazza del Monte d’Oro di Roma. Dia memerintahkan para pegawaianya untuk mempersiapkan tinta, kertas, dan bahan lain yang diperlukan.

Cetakan teks-teks akhirnya dibuat melalui alat cetak yang bernama Domenico Basa. Buku pertama yang berhasil dicetak adalah Precationum, yakni sebuah buku doa-doa Arab Kristen. Mereka juga mencetak buku sejarah karya Abu al-Abbas Ahmad ibn Khalil al-Salihi.

Buku tersebut berjudul The Book of the Garden of the Wonders of the World.

Muteferrika dan Percetakan di Turki

Saat masa kekuasaan Turki Utsmani, upaya untuk mewujudkan percetakan juga muncul. Ada sebuah nama yang berkontribusi dalam terwujudnya kegiatan tersebut, yaitu Ibrahim Muteferrika. Lelaki kelahiran 1647 Masehi ini merupakan seorang prajurit, ilmuwan, diplomat, dan penulis.

Kala masih belia, ia menyaksikan kegagalan yang pernah dialami oleh tentara Turki di suatu masa saat melakukan pengepungan di Vienna. Kemudian, ia menyadari bahwa itu menjadi pertanda penurunan kekuatan militer Turki. Banyak hal yang menyebabkan penurunan ini.

Namun, Muteferrika menyimpulkan, perlu inovasi untuk meningkatkan kekuatan tentara Turki. Termasuk, harus mengadopsi inovasi yang dilakukan oleh tentara Eropa. Hal itu harus dilakukan. Jika tidak, tentara Turki tak akan mampu meningkatkan kemampuannya.

Akibatnya, tentara Turki tak akan memiliki daya untuk mempertahankan kekuasaan Turki. Berpijak pada kenyataan itulah, ia memikirkan bagaimana membangun sebuah percetakan. Tujuannya, menyebarkan ide-ide ilmiah tentang kekuatan militer.

Dalam pandangan Muteferrika, penyebaran ide itu harus dilakukan secara cepat dan masif. Ia lalu mendorong penerjemahan teks-teks dari Eropa yang kemudian dicetak secara massal. Sayangnya, konservatisme pemerintah Turki saat itu menghadang ide Muteferrika.

Namun, Muteferrika tak patah arang. Ia mencari dukungan dari karibnya, yaitu Chelebi Mehmed Pasha Yirmisekiz, dan anaknya Sa’id yang pada 1721 baru kembali dari misi diplomatik ke Paris. Keduanya memiliki pandangan maju dan dibalut keinginan untuk melakukan perubahan.

Mereka juga mengagumi kemajuan yang terjadi di Paris, termasuk percetakan. Dengan bantuan mereka, akhirnya Wazir Agung Ibrahim Pasha mendorong Muteferrika membuat sebuah petisi kepada Sultan Ahmed III yang menjelaskan pentingnya percetakan.

Muteferrika pun memenuhinya. Ia membuat penjelasan perinci yang berjudul Wasilat al-Tiba’a atau The Utility of Printing. Dalam pembukaannya, ia mengingatkan pentingnya melestarikan hukum negara dan kesulitan untuk melakukannya.

Menurut Muteferrika, orang-orang kuno menuliskan dan mengabadikan hukum mereka pada tablet atau menuliskannya pada lembaran kulit. Namun, tablet atau perangkat lainnya yang digunakan untuk menuliskan hukum itu tak bisa selalu terlindungi.

Kekuasaan negara juga tak selalu bisa melindunginya, terutama dalam suasana perang. Muteferrika kemudian mencontohkan peristiwa penghancuran buku yang dilakukan oleh Genghis Khan dan Hulagu Khan, para penakluk Mongol pada abad ke-12.

Mereka menghancurkan kekuasaan Dinasti Abbasiyah, membakar atau merusak semua karya seni dan ilmu yang terdokumentasikan dalam bentuk buku. Saat Sultan Ahmed III menerima petisi itu, ia mengonsultasikan hal itu kepada seorang mufti yang bernama Shaikh Abd Allah.

Sang mufti yang ahli dalam hukum Islam itu memandang tak ada masalah usulan pembangunan percetakan itu. Akhirnya, setelah mendapat jawaban dari sang mufti, Sultan Ahmed III mengizinkan pendirian percetakan.
Redaksi – Reporter

Red: taqi
Reporter: Dyah Ratna Meta Novi
Mulla Sadra : Berbicara tentang Jiwa
Republika, Kamis, 28 Januari 2010, 16:52 WIB

Bagi Sadra, jiwa merupakan substansi.

Jiwa, menarik minat Sadr ad-Din Muhammad Shirazi. Cendekiawan Muslim, yang lebih dikenal dengan nama Mulla Sadra ini, membahas tentang jiwa dalam kajian filsafat yang ia tekuni. Dan, dalam bidang ini, ia menuliskan karya penting. Salah satunya, Al-Hikmah al-Muta’aliyyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arba’ah .

Dr Kholid Al Walid, pengajar di Islamic College, Jakarta, dalam Seminar ”Nasional Filsafat dan Mistitisme Islam, Ibnu Arabi dan Mulla Sadra,” di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 16 Januari 2010 lalu, mengatakan, Sadra membahas soal jiwa dalam satu jilid penuh bukunya itu. Buku tersebut terdiri atas delapan jilid.

Dalam karyanya itu, Sadra menyodorkan serangkaian bukti tentang keberadaan jiwa. Ia mengatakan, wujud  mumkin merupakan wujud paling utama dan tidak ada kesia-siaan dalam penciptaannya atau dikenal dengan istilah  Imkan al-Asryaf wa ‘Adam Abatsiah Khalq al-Mumkinan . Ia pun memberikan penjelasan mengenai hal ini.

Ketika Allah SWT menciptakan makhluk-makhluk-Nya, Dia memulainya dengan  penciptaan zat yang paling utama dan sempurna. Zat pertama yang diciptakan, ungkap Sadra, memiliki kualitas yang tak terbatas karena kedekatannya dengan Sang Pencipta dan merupakan ciptaan yang pertama.

Sedangkan zat berikutnya, memiliki tingkat kesempurnaan yang sama dengan zat yang pertama. Namun, kualitasnya di bawah zat yang pertama itu. Sadra pun menyatakan, proses aktualisasi potensi menjadi aksi merupakan proses penyempurnaan wujud. Ini menunjukkan bahwa setiap bentuk wujud tak sia-sia diciptakan.

Menurut Sadra, hal ini hanya bisa terjadi jiwa pada wujud  mumkin tersebut dan terdapat elemen yang menggerakkan aktualisasi, yakni jiwa. Ia pun melontarkan bukti lainnya mengenai keberadaan jiwa. Dalam hal ini, ia membicarakan tentang efek dari materi. Misalnya, tentang indera yang bisa mempersepsi apa yang terdapat di sekitarnya.

Pun, mengenai indera yang bisa mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya. Menurut dia, hal ini hanya bisa terjadi jika ada jiwa. Sebab, jika ada materi, tapi tidak memiliki jiwa, materi tersebut tidak mungkin bisa mempersepsikan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Sadra menyampaikan pula hal penting lainnya mengenai keberadaan jiwa. Menurut dia, kehidupan adalah jiwa atau  al-Hayah Hiya al-Nafs . Terkait hal ini, ia mengatakan, berbagai macam makhluk memiliki indera dan mampu mempersepsi berbagai macam gambaran. Sehingga, makhluk tersebut bisa disebut sebagai makhluk hidup.

Indera yang mempunyai kemampuan untuk mempersepsikan berbagai macam objek itu, ungkap Sadra, berasal dari tiga kemungkinan, yakni sumber utama yang disebut jiwa, fisik yang mempunyai jiwa, atau fisik. Namun, ia menegaskan, kemampuan indera untuk mempersepsikan berbagai objek itu bersumber dari jiwa.

Di sisi lain, Sadra menolak pendapat yang menyatakan bahwa kemampuan indera untuk mempersepsikan objek berasal dari fisik yang mempunyai jiwa. Sebab, fisik sendiri dikendalikan oleh jiwa sehingga jiwalah yang sebenarnya mampu mempersepsikan objek-objek itu. Pandangan bahwa kemampuan indera mempersepsi objek disebabkan fisik, juga ditentang.

Sebab, kata Sadra, fisik itu tidak akan hidup tanpa ada jiwa. Dalam membahas masalah ini, Sadra memberikan contoh. Sebuah perahu, kata dia, akan memberikan manfaat tertentu bagi manusia. Ini terwujud jika ada yang mendayung atau mengendalikannya, yaitu manusia. Tanpa ada orang yang mendayungnya, perahu itu akan kehilangan makna.

Menurut Sadra, perahu itu menjadi materi yang tak bermanfaat. Dengan demikian, bentuk fisik membutuhkan sesuatu yang lain selain dari dirinya. Lebih lanjut, ia melihat jiwa sebagai substansi. Artinya, beragam efek, seperti tumbuh, bergerak, dan berkembang biak pada manusia ataupun binatang disebabkan oleh apa yang ada dalam dirinya.

Namun, diri yang berada di dalam makhluk hidup tersebut bukanlah raga materi melainkan jiwa. Segala bentuk yang menjadi lokus dan sandaran bagi sesuatu adalah substansi. Dan, Sadra menyimpulkan bahwa jiwa adalah substansi. Ia menambahkan pula, terjadinya jiwa bersamaan dengan terbentuknya fisik.

Raga dan jiwa
Sadra menjelaskan, baik jiwa maupun materi pada awalnya, sama-sama berawal dari materi. Materi itu terdiri atas dua unsur, yakni forma dan materi dasar. Lalu, dalam perkembangannya, forma berubah menjadi jiwa dan materi dasar berubah menjadi fisik. Pandangan Sadra ini berbeda dengan pandangan para filsuf sebelumnya.

Sebab, para filsuf itu menganggap bahwa jiwa terlebih dahulu diciptakan, baru setelah itu fisik diciptakan lalu keduanya bersatu dan saling berkaitan. Namun, Sadra juga memiliki pandangan yang hampir sama dengan para filsuf lainnya. Ini soal keterkaitan antara raga dan jiwa.

Para filsuf Muslim menyatakan, jiwa akan tetap hidup meskipun raga telah hancur. Hal itu terjadi karena jiwa bersifat transenden dan tidak bergantung pada raga kecuali sebagai identitas bagi dirinya. Keberadaan jiwa itu menjadi lokus bagi keberadaan raga, namun tidak sebaliknya.

Seorang filsuf yang juga dokter, Ibnu Sina, mengatakan, sesungguhnya jiwa tidaklah mengalami kematian dengan matinya raga. Bahkan, kata dia, jiwa tidak mengalami kehancuran sedikit pun. Tanpa adanya jiwa, raga tak bisa dibangkitkan. Kebangkitan akan terjadi jika jiwa itu ada. Sadra juga memiliki pandangan serupa.

Sadra berpendapat, jiwa tidak mungkin mengalami kehancuran sebab potensi tersebut bukanlah substansi jiwa. Menurutnya, sesuatu yang mempunyai potensi kehancuran adalah sesuatu yang bisa hancur dan itu adalah materi. Sedangkan jiwa, itu merupakan substansi yang bersifat transenden. Sehingga, jiwa tidak mungkin mengalami kehancuran.

Ikatan antara jiwa dan raga, ujar Sadra, merupakan ikatan keharusan atau  luzumiyyah . Keterikatan keduanya adalah keterikatan keharusan, seperti ikatan antara materi dan forma. Dalam pandangan dia, raga membutuhkan jiwa secara mutlak dalam aktualisasinya. Sedangkan jiwa, memerlukan raga dari segi keberadaan personalitas dan identitasnya.

Oleh karena itu, Sadra menyimpulkan, posisi raga hanya sebagai reseptif, penerima. Ketergantungan raga terhadap jiwa, ujar dia, adalah ketergantungan mutlak. Ketergantungan ini tak akan lenyap selama jiwa bersamanya dan tidak akan ada, jika jiwa tidak ada.

Kisah Mulla Sadra

Mulla Sadra lahir di Shiraz, Iran, pada 1571 Masehi. Pada 1591, ia pindah ke Qazvin, lalu ke Isfahan pada 1597. Hal ini dilakukan dalam rangka untuk menimba ilmu dalam bidang filsafat dan teologi. Ia memiliki banyak guru, di antaranya adalah Mir Damad.

Sadra menuntaskan pendidikannya di Isfahan yang merupakan pusat intelektual dan kebudayaan termuka pada masa itu. Beberapa waktu kemudian, ia menghasilkan sejumlah karya. Di antaranya adalah  Asfar atau  Perjalanan .

Karya tersebut berisi sebagian besar filsafatnya yang dipengaruhi oleh pemikiran pribadinya selama ia menyepi di Kahak, sebuah desa dekat Qom, Iran. Ia pun kemudian menjelma menjadi seorang filsuf yang memiliki pemikiran-pemikiran gemilang.

Sadra pun mampu menyerap pemikiran sejumlah filsuf ternama, kemudian mengelaborasinya. Ia mengkaji pemikiran filsafat Ibnu Sina, filsafat iluminasi yang diusung Shihab al-Din al-Suhrawardi, dan metafisika sufi yang dilontarkan Ibnu Arabi.

Setelah lama meninggalkan kampung halamannya, seorang gubernur dari Provinsi Fars meminta Sadra untuk kembali ke Shiraz. Ia pun memenuhi permintaan tersebut. Ia diminta untuk mengajar. Kemudian, ia mengajarkan ilmunya kepada banyak murid.

Namun, saat terakhir masa hidupnya, Sadra ditakdirkan tak berada di Shiraz. Mengutip laman  muslimphilosophy , maut menjemputnya ketika ia berada di Basra, Irak. Ia lalu dimakamkan di Najaf. Ia mengembuskan napas terakhir saat dalam perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji.
Redaksi – Reporter

Red: taqi
Reporter: Dyah Ratna Meta Novi
28
Jan
10

Historia : Cerita-cerita Tempo Doeloe

‘Naar Boven’ ke Tanahabang, Jangan Lupa Membatik
Kamis, 28 Januari 2010 | 11:51 WIB

LORD George Macartney, sempat mampir ke Batavia di sekitar akhir abad 18, tepatnya di tahun 1793. Ia bahkan sempat menikmati pesta yang luar biasa mewah, anggur Madera (Madeira) – anggur beken asal Portugis – pun tak henti dituang bagi duta pertama Inggris untuk China itu. Pergelaran wayang China dan atraksi kembang api yang bagaikan letusan gunung api menambah meriah suasana. Dan pastinya, yang tak terlewatkan, dansa dansi sampai pagi.

Demikian sepenggal kisah Lord Macartney di Batavia, dalam rangka menuju China. Rangkaian kegiatan di Batavia ditulis Macartney dalam sebuah jurnal. Jurnal itu ditulis ulang oleh Junus Nur Arif dalam Kisah Jakarta Tempo Doeloe. Ketika kapal Lion, kapal yang ditumpangi Macartney mendekat ke daratan, pejabat Belanda pun sibuk menyambut. Pesta hingga subuh itu digelar di rumah kediaman seorang anggota dewan Belanda, Wiegerman. Kediaman Wiegerman berada di luar Kota Batavia, di kawasan yang disebut udik, bernama Tebanang, De Nabang, atau Tanahabang. Dari Batavia ke Tenabang, orang biasa menyebut, naar boven.

Dalam beberapa referensi tentang sejarah Tanahabang, nama Tanahabang mulai muncul di abad 17. Diduga, nama itu berasal dari tentara Mataram yang datang menyerbu VOC di Batavia tahun 1628.  Di dataran berbukit bertanah merah dan berawa itulah pangkalan tentara Mataram. Kawasan ini di masa itu juga masih menjadi kebun teh, melati, kacang, sirih, jahe. Kawasan ini juga dialiri Kali Krukut. Di masa itu yang namanya Tanahabang meliputi hingga kawasan Weltevreden, Molenvliet West sampai Rijswijk.

Sebuah foto dari tahun 1875, koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal en Volkenkunde/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Carribbean Studies)  atau Lembaga Studi Asia Tenggara dan Karibia Kerajaan Belanda, menunjukkan gardu penjagaan yang berbentuk seperti kotak lengkap dengan dua nama di pojok kiri dan kanan atas yaitu Tanahabang dan Rijswijk. Di masa itu, rumah gardu memang dibangun pada jarak-jarak tertentu.

Referensi lain menyebutkan, nama Tanahabang resmi digunakan setelah Jawatan Kereta Api membangun stasiun kereta api di tahun 1890. Stasiun itu kemudian diberi nama Tanahabang, bukan Tenabang (dari De Nabang, nama sejenis pohon yang banyak tumbuh di daerah itu) seperti yang selalau disebutkan warga kala itu.

Kawasan luas itu memerlukan lalulintas penghubung, yaitu kanal. Satu nama yang tak bisa dilupakan dalam pembuatan kanal di Batavia adalah Kapitan China Phoa Bing Gam. Pada 1648 ia menggali terusan di Molenvliet sampai ke Kali Ciliwung di sisi timur, ke barat hingga ke ujung Kebon Sirih – kini got yang mengalir di sepanjang Jalan Tanah Abang Timur/Abdul Muis.

Tak hanya urusan kanal, Bing Ham juga mengupayakan perkebunan tebu dan pengolahan gula. Dari sinilah muncul pula pabrik arak. Dalam Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia, Bondan Kanumoyoso mencatat,  di Batavia ada dua perusahaan dagang milik Belanda yang memproduksi minuman beralkohol (arak), RF Van der Mark dengan pabrik minuman mengandung alkohol (Batavia Arak Maatschappij) dan Handels Vereeniging dengan pabrik Oost-Indie minuman beralkohol (Arak Fabriek Aparak).

Kisah tentang Tanahabang pastinya lumayan bertumpuk. Ada satu kisah tentang sebuah gedung yang semula dimiliki warga Prancis dan kemudian beberapa kali berpindah tangan. Tahun 1942, bangunan dengan halaman luas itu dibeli Dr Karel Christian Cruq dari tangan seorang konsul Turki. Di masa revolusi, rumah itu dijadikan markas Badan Keamanan Rakyat (BKR). Pada 1947, rumah itu dibeli seorang pengusaha bernama Lie Soin Phin yang kemudian dikontrakkan ke Departemen Sosial. Tahun 1952 Depsos justru membelinya dan bulan Oktober 1975 diserahkan ke Pemda DKI untuk dijadikan museum. Museum yang di bagian depannya masih saja dihiasi pedangang kaki lima, dan berada di kawasan kumuh di Jalan Petamburan, itu tak lain adalah Museum Tekstil.

Di sini, pengunjung bisa melihat koleksi alat tenun nonmesin yang dibuat tahun 1927 dan gedogan (alat tenun tradisional) serta beragam koleksi kain batik, ikat, kain tradisional, lukisan tangan, dan prada. Selain itu tersimpan pula Bendera Kraton asal Cirebon buatan tahun 1776 yang merupakan panji kebesaran Kesultanan Cirebon dan kain adat asal Bali dari abad ke -19. Kain ini disebut juga Geringsing Wayang Kebo, merupakan kain tenun yang pembuatannya paling rumit karena menggunakan teknik ikat ganda. Teknik ini adalah teknik langka yang hanya ada di sedikit negara.

Sri Susuhunan Pakubuwono XII menyumbangkan kain motif batik bernama Tumurun Srinarendra (kelahiran raja). Dibuat oleh almarhum Hardjonegoro untuk dikenakan sendiri pada perayaan ulangtahun Sunan Solo. Tak ketinggalan koleksi baju perang Irian Jaya berbahan rotan dan serat alam. Teknik pembuatan dianyam. Baju ini digunakan sebagai busana suku di Papua untuk melindungi dada dari serangan benda tajam. Di museum ini pengunjung juga bisa belajar membatik.

Sabtu pagi 30 Januari 2010, Komunitas Sahabat Museum (Batmus) akan menggelar Plesiran Tempo Doeloe ke tempat ini. Dengan biaya Rp 75.000/orang, peserta bisa menjajal kemampuan membatik. Tak hanya itu, menurut Ketua Batmus, Ade Purnama, kegiatan itu juga akan diisi dengan pengetahuan tentang riwayat Tanahabang, kisah perjalanan batik nusantara, dan tentu saja menengok koleksi museum ini. Peserta juga bsia mencicipi makanan serta minuman khas Betawi seperti bir pletok dan jajanan khas lainnya. Menurut Ade, peserta yang ingin mendaftar bisa menghubunginya di email: adep@cbn.net.id.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Komedie Stamboel, Antara Opera, Wong Cilik, dan Kerusuhan
Ini merupakan contoh iklan pementasan Genoveva di Malang yang diambil dari buku Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa oleh Misbach Yusa Biran.
Rabu, 27 Januari 2010 | 16:58 WIB

KOMPAS.com — Ada satu hal yang jadi fokus perbincangan saya dan rekan, via pesan pendek, dua pekan belakangan, yaitu mencari tanggal yang tepat untuk menonton pementasan Teater Koma pada Februari mendatang. Hal lain adalah surat elektronik atau surel yang dikirim seorang rekan dari negeri seberang. Entah kenapa, karena surel yang sudah dikirim tahun lalu itu, tiba-tiba saya teringat lagi kala sedang membaca kisah Sie Jin Kwie (SJK). Kisah itulah yang akan dipentaskan Teater Koma pada 5-21 Februari. Saya buka lagi surel itu, “Saya baca sejarah kesenian panggung negerimu, menarik, ya. Komedie Stamboel masa kolonial.”

Ia, produser seni panggung di beberapa klub kecil di Eropa, seperti Amsterdam, Brussels, Athens, Helsinki, menyatakan bahwa buku itu membuatnya ingin mampir ke Indonesia, melihat sisa-sisa Komedie Stamboel. Hah, remah-remahnya pun sudah tak terlihat. Begitu pikir saya. Bahkan, buku yang ia baca tak dijual di Indonesia.

Dalam tulisan saya pada akhir pekan lalu, saya sedikit menyebut Prinsen Park di Manggabesar. Kini lokasi itu dikenal dengan nama Lokasari. Sebuah nama yang langsung menimbulkan kesan negatif. Padahal tak ada nama kawasan dan tempat yang boleh dihakimi sebagai tempat negatif. Itu kan berpulang ke masing-masing pribadi. Mau ikut dalam irama penghiburan ala Manggabesar silakan, ala Kemang silakan, ala ngumpet-ngumpet sok alim silakan. Asal tak perlu tunjuk hidung orang lain.

Kembali ke Komedie Stamboel dan kaitan dengan Prinsen Park, Manggabesar.  Komedie di sini tak lantas berarti komedi, kisah lucu. Komedie di sini artinya pertunjukan. Sebelum masuk ke komedie stamboel, baiklah kita mundur sedikit. Di akhir abad ke-19, tontonan panggung yang begitu digemari warga kelas bawah adalah tiruan opera yang disisipi adegan hiburan. Dalam beberapa babak, tontonan itu diisi lawak, lagu, tarian.

Komedie Stamboel pertama kali muncul di kota pelabuhan, Surabaya, pada 1891. Pelopornya adalah seorang Indo bernama August Mahieu. Si Indo berbekal kepiawaian bernyanyi, sedangkan urusan dana dipegang Yap Goan Thay, begitu Misbach Yusa Biran memulai kisah dalam Sejarah Film 1900 – 1930: Bikin Film di Jawa. Lantas dari mana nama stambul? Kisahnya begini, anggota kelompok Mahieu senang mengenakan topi warna merah, topi tradisional Turki, dengan semacam kucir di bagian atas. Orang di Hindia Belanda mengucapkan ibu kota Turki, Istanbul, sebagai Stambul, maka jadilah kelompok komedi Mahieu disebut Komedie Stamboel.

Mahieu mengambil pola pertunjukan Abdul Muluk di Semenanjung Malaka. Abdul Muluk sendiri meniru pertunjukan dari Iran. Maka dari itu, pementasan 1001 Malam pun jadi begitu beken. Selain 1001 Malam, kisah Hamlet, karya Multatuli De Bruide daar Booven pun ikut dipentaskan. Komedie Stamboel ini menaklukkan hati masyarakat seantero Hindia Belanda bahkan hingga ke tanah Singapura.
Rombongan pertunjukan panggung pun bertumbuhan. Tren pementasan Stamboel pun jadi patokan. Sebut saja Genoveva, Aladin dan Lampu Ajaib, dan karya-karya Shakespear seperti The Merchant of Venesia dan Hamlet.

Dalam buku yang dibaca rekan saya, seperti tersebut di atas, The Komedie Stamboel: The Popular Theater in Colonial Indonesia 1891-1903 yang ternyata karya seorang pria beristrikan perempuan Jawa, disebutkan bahwa tur rombongan Mahieu tak hanya ke Singapura, tetapi juga ke Aceh, Medan, Deli, Padang, dan daerah-daerah lain di Sumatera. Setelah pembatalan tur Sumatera karena kondisi cuaca, rombongan Stamboel kembali ke Batavia dan menyewa sebuah rumah sebagai penampungan para pemain.

Matthew Isaac Cohen, sang penulis, menyebutkan bahwa rumah itu ada di Gang Pinang di area bernama Pesayuran, dan mendapat izin untuk tampil selama dua bulan di Manggabesar. Dalam periode 30 Maret-24 Mei 1894, Komedie Stamboel menangguk untung besar, sebuah sukses mengantongi pemasukan bersih sebesar 10.000 gulden. Meskipun lagi-lagi kondisi cuaca yang buruk, hujan mendera membuat beberapa repertoar batal ditampilkan, tahun 1894 itu bagi Mahieu dan rombongan merupakan tahun sukses. Mereka juga mementaskan Badarel Dunia atau The World Star. Cohen tak lupa mencatat kejadian saat Komedie Stamboel manggung, khususnya di Manggabesar.

Demikian kira-kira Cohen menulis, “Khalayak ramai sungguh tersedot oleh Komedie Stamboel, alhasil kerumunan itu jadi sulit diatur. Warga Belanda  menggoda paksa seorang istri dari pria Tionghoa. Perkelahian pun pecah saat rombongan Mahieu memainkan Sahir Zaman. Polisi sampai harus turun tangan menggeret pria Tionghoa, memanggil andong, kereta pengangkut untuk membawa pria tadi pulang ke rumah.

Di ujung lain, seorang sinyo yang beken di antara pengendara andong/sado memulai perkelahian. Pekerja seks bersama bos mereka berkumpul di dekat tenda panggung. Sementara itu, serdadu mabuk nan sombong diikat di sado yang ada di luar teater. Itu sebagai lelucon, jelas saja penonton malah jadi khawatir.

Rupanya sejak abad lalu, kerusuhan seperti itu sudah ada. Kini bahkan dunia olahraga, khususnya sepakbola, tak pernah lepas dari kelakuan bonek yang hanya berani jika beramai-ramai, berani saat dipengaruhi pil atau minuman keras. Berani merusak, berani mati, tapi tidak berani bertanggung jawab. Sebuah masalah sosial yang perlu segera ditangani.

Pertunjukan panggung ini pada akhirnya melahirkan beberapa rombongan lain yang punya nama pada tahun 1920-an, termasuk Komedie Stamboel Dardanela, Miss Tjitjih, Tjahaja Timoer, hingga Srimulat setelah Indonesia merdeka.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Si Docang yang Nyaris Hilang
Selasa, 26 Januari 2010 | 17:37 WIB

KULINER di Kota Cirebon sangat kaya, tidak hanya empal gentong atau nasi jamblang. Ada satu makanan yang bisa dikatakan hampir “punah” ditelan kemajuan zaman dan perkembangan makanan siap saji. Masyarakat menyebutnya Docang.

Docang adalah makanan khas Cirebon, yang merupakan perpaduan lontong, daun singkong, tauge, dan krupuk putih yang diguyur dengan sayur dage atau tempe gembus yang dihancurkan. Kemudian dikombinasikan dengan parutan kelapa muda.Bila yang membuat kurang terampil, maka hanya akan menghasilkan rasa pahit.

Makanan ini mempunyai rasa khas yang gurih dan nikmat apabila disajikan dalam keadaan panas atau hangat. Sedangkan harga relatif terjangkau semua kalangan.

Biasanya docang disantap untuk mengisi perut di pagi hari. Pada umumnya masyarakat Cirebon dan sekitarnya membeli makanan tersebut sebelum berangkat kerja. Kalau kesiangan sedikit saja, bisa-bisa tidak kebagian. Rata-rata pedagang menjual Docang mulai pukul 06.00 -10.00. Menurut beberapa pedagang docang yang ditemui Warta Kota di Cirebon belum lama ini, kebanyakan mereka meneruskan usaha orangtua. Bisa dikatakan usaha turun temurun.

Seperti  yang dilakukan Mang Toha (73). Pria itu sudah berjualan di Gang Rotan I, Karang Getas, Cirebon sejak tahun 1972. Dia mengaku meneruskan usaha sang ayah yang sudah berjualan sejak 1950 di tempat yang sama. Tak mengherankan jika pelanggannya saat ini sudah tiga generasi.

Menurut Mang Toha, docang itu singkatan dari kacang dibodo (dibacem), atau yang dimaksud adalah tempe bungkil. Pembuatan kuah cukup sederhana, gabungan dari kaldu, tempe bungkil dan oncom, salam, serai, jahe, ketumbar, bawang merah dan bawang putih, serta garam.

Setiap hari Mang Toha harus mengayuh sepedanya sejauh 10 kilometer dari Karang Tengah, Plered menuju Karang Getas dengan membawa dua keranjang rotan. Satu keranjang berisi kuali besar kuah docang sedangkan satu keranjang lagi berisi sayuran, lontong dan bumbu-bumbu lain.

Sesampainya di tempat, semua disiapkan. Kuah dage ditambah bumbu merah, seperti cabai yang dihaluskan. Setelah itu barulah ditambahkan bumbu penyedap. Untuk menghindari basi maka kelapa setengah tua diparut di lokasi jualan.

Sejak dahulu tempat berjualan Mang Toha tidak berubah, sama persis dengan peninggalan sang ayah. Tepat di ujung Gang Rotan I. Bagi mereka yang ingin makan di tempat, disediakan meja dan kursi kayu panjang di selasar gang.

Ibrahim (68), salah satu pelanggan setia docang Mang Toha, mengaku sudah sejak generasi pertama menggemari docang. “Dari segi bahan tidak ada perubahan, hanya rasanya yang agak berbeda. Sekarang pakai vetsin di dalam kuahnya, kalu dulu tidak,” ujar Ibrahim yang ditemui usai sarapan docang.

Setiap hari, Mang Toha menggelar dagangan mulai pukul 07.30 sampai habis. Tidak tentu waktunya. Jika pembeli ramai, hanya dalam waktu dua jam dagangannya ludes. Seporsi docang Mang Toha dijual seharga Rp 5.000.

Sejarah
Di balik kelezatan makanan ini, rupanya ada sedikit sejarah pada zaman dahulu. Tepatnya pada zaman para wali. Ketika para wali ini menyebarkan agama Islam ke pelosok Jawa, muncullah Pangeran Rengganis yang mempunyai niat untuk membunuh para wali dengan docang. Dialah yang pertama kali membuat docang dan menghidangkannya ke tengah-tengah para wali yang sedang berkumpul di Masjid Sang Cipta Rasa, Keraton Kasepuhan Cirebon. Di kalangan masyarakat Cirebon terdapat tradisi menyantap docang setiap menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Di Kota Cirebon pedagang docang dapat ditemui di beberapa tempat, misalnya di alun-alun Keraton Kasepuhan, di Pasar Kanoman, di Jalan Fatahillah (kantor Telkom Plered), dan bagi pengunjung dari luar Kota Cirebon dapat dengan mudah menemukannya yaitu di Jalan Tentara Pelajar tak jauh dari Grage Mall. (Dian Anditya Mutiara)

Dari Prinsen Straat ke Prinsen Park
Sabtu, 23 Januari 2010 | 14:25 WIB

PERNAH dengar nama Prinsen Park? Kini namanya menjadi Lokasari, Mangga Besar, Jakarta Barat. Prinsen Park tak ada hubungan dengan Prinsen Straat. Itu juga jika Anda sekalian pernah dengar ada nama jalan tersebut. Prinsen Straat, Prince Street, kini menjadi Jalan Cengkeh, Jakarta Barat. Jalan Cengkeh berada di lingkaran utama kawasan Kota Tua Jakarta.

Dari Prinsen Straat, akan terlihat Amsterdam Poort (Amsterdam Gate) di kejauhan. Di tahun 1867, fotografer  Jacobus Anthonie Meesen mengabadikan Prinsen Straat dengan Gerbang Amsterdam di kejauhan. Ia mengambil gambar dari titik pertemuan Prinsen Straat, Pasar Pisang, dan Leeuwinnen Straat (kini Jalan Cengkeh, Jalan Kalibesar Timur 3, dan Jalan Kunir). Posisi Gerbang Amsterdam berhadap-hadapan dengan stadhuis atau balai kota yang kini menjadi Museum Sejarah Jakarta (MSJ).

Pendatang dari Eropa yang mengunjungi Batavia melalui laut sebelum 1885 –  ketika Tanjungpriok selesai dibangun – akan berlabuh di pelabuhan Sunda Kelapa dan melintas di sepanjang sisi selatan Prinsen Straat. Mereka akan terus melaju ke arah selatan menuju Weltevreden. Di tahun 1860-an jalan ini merupakan salah satu jalanan sibuk dengan kegiatan bisnis dan perdagangan, khususnya di siang hari. Di malam hari kawasan ini sepi karena para pekerja yang kebanyakan orang Eropa memilih tinggal di “kota atas”, Weltevreden.

Hingga abad 20, kawasan Prinsen Straat atau Jalan Cengkeh berisi berbagai kantor, gudang, dan bangunan bisnis milik bangsa Eropa.

Gerbang Amsterdam, demikian ditulis Scott Merrllees dalam Batavia in The Nineteenth Century Photograhps, merupakan satu-satunya peninggalan dari Kastil Batavia yang dihancurkan  Daendels pada sekitar 1808-1809. Gerbang itu merupakan pintu masuk Kastil Batavia sisi selatan dan terletak di sisi utara dari stadhuis. Amsterdam Poort pertama kali dibangun pada abad 17. Sampai abad 19, gerbang ini terus mengalami perubahan. Misalnya, di zaman Gubernur Jenderal GW Baron van Imhoff yang berkuasa pada 1743-1750, gerbang itu berganti gaya menjadi Rococo.

Di abad 18 itu juga, sayap gerbang berbentuk melengkung yang dihubungkan dengan bangunan yang membentuk bagian benteng. Ketika Daendels menghancurkan kastil, hanya gerbang ini yang selamat. Pada 1840-an gerbang itu dibangun kembali dengan patung Mars dan Minerva yang dipasang di sisi kiri dan kanan gerbang bagaikan sepasang penjaga.

Lain kisah dengan Prinsen Park yang adalah tempat hiburan beken pada masanya. Di lokasi yang kurang lebih seperti pasar mala mini, ada bioskop, restoran, tempat nonton komedi stamboel, dll.

Sayangnya kemudian Prinsen Park dilebur menjadi kawasan Lokasari yang meskipun ingin mencoba mirip dengan Prinsen Park, tetap saja yang muncul adalah kesan hiburan “remang-remang”. Kumpulan kuliner di sana bisa dibilang oke tapi tempat hiburannya, apalagi di malam hari, sudah tak lagi bisa menampung anak-anak atau orang dewasa yang ingin menonton kesenian. Kesenian dalam arti yang sebenarnya, tentu saja.

Bagaimanapun, tempat-tempat tadi layak jadi alternatif jalan-jalan murah di akhir pekan ini. Berharap saja udara sedikit bersahabat.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Menonton Opera di (GKJ) Schouwburg

KITLVKITLV

Bangunan yang sekarang menjadi Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) dan jembatan di atas Sungai Ciliwung tahun 1880.
Sabtu, 23 Januari 2010 | 13:06 WIB

DEKORASI teater ini sungguh luar biasa untuk pe-hobi teater. Kostumnya juga sesuai dengan iklim panas, sungguh sesuatu yang enak dipandang. Orkestra pun terlihat komplet. Para pemain terlihat piawai meski kadang membebaskan diri dari peran mereka, yang lain cukup memperlihatkan bahwa mereka hanyalah pencinta teater. Bagaimanapun, tak bisa dihindari, para pemain pria harus memerankan perempuan….”

Kira-kira demikian pendapat seorang dokter yang biasa bertugas di kapal, dr Strehler, yang pada 1828 berkunjung ke Batavia. Ia menyempatkan menghibur diri di Stadsschouwburg atau Komedie Gebouw atau kemudian menjadi Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).

Sebelum kedatangan Thomas Stamford Raffles, dalam hal ini tentara Inggris, Batavia tak memiliki gedung kesenian. Akhirnya, tentara yang bosan dan biasa dijejali penampilan teater di negaranya membangun sebuah teater sangat sederhana dari bambu. Itu terjadi pada tahun 1814 di area yang kemudian disebut Waterlooplein. Sayangnya, Inggris tak bertahan lama di Batavia, Hindia Belanda. Pada 1816, saat Belanda kembali, gedung ini tetap digunakan sebagai gedung teater dengan penampilan pertama pada 21 April 1817.

Pemerintah Belanda kemudian sadar, ada banyak penampil yang perlu dipentaskan. Tentu gedung teater dari bambu itu tak layak. Maka dari itu, pemerintah pun mendonasikan sebidang tanah di ujung jalan yang kemudian menjadi Post Weg (Jalan Pos) dan Komedie Buurt (Jalan Gedung Kesenian). Tak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan dana sebesar 9.000 gulden untuk membangun gedung kesenian yang lebih layak. Dana itu belum ditambah dari urunan warga sebesar 43.600 gulden.

Kontraktor Tionghoa dipilih untuk membangun gedung teater senilai 22.000 gulden. Interior gedung tersebut menyedot 36.000 gulden. Ada kekurangan 6.000 gulden yang tertutup melalui pinjaman, demikian ditulis Scott Merrillees dalam Batavia in Nineteenth Century Photographs.

Gedung teater (Schouwburg) Batavia yang baru siap digunakan pada Oktober 1821. Pada saat bersamaan, Batavia masih mengalami wabah kolera yang dimulai sekitar Mei. Namun, minat seni dan kesenian tak bisa menunggu, maka Othello karya Shakespeare pun tetap dimainkan pada 7 Desember 1821. Pertunjukan itu merupakan pentas pertama di Schouwburg.

Seperti kata dr Strehler, pemain pria terpaksa memainkan peran sebagai perempuan, itu memang terjadi karena bangsa Eropa di Hindia Belanda memang lebih banyak pria. Bahasa yang digunakan juga bahasa Eropa. Maka sungguh sulit mencari pemain lokal perempuan yang sanggup menggunakan bahasa tak hanya Belanda dan atau Inggris.

Kedatangan rombongan teater Perancis pada 1835 ke Batavia dengan aktris yang sesungguhnya membuat sukses pertama yang selalu dikenang. Minard, sang pemimpin teater Perancis, bahkan kembali lagi setahun kemudian. Kali ini ia menawarkan opera pada warga Batavia. Tentu saja opera itu sukses besar. Hal itu seperti memberi pertanda kuatnya pengaruh Perancis dalam kehidupan warga di Batavia sepanjang abad ke-19.

Meski demikian, gedung teater ini kemudian juga mengalami kesulitan pada 1848 dan terulang lagi pada 1892, ketika waktu itu tak ada pemasukan yang layak sehingga pemerintah mengambil alih manajemen Schouwburg. Pada 1911, Pemerintah Kota Batavia mengambil alih manajemen gedung teater tersebut.

Di abad ke-20, gedung teater itu mengalami banyak perubahan, termasuk pernah menjadi bioskop khusus untuk film China dan masa-masa terbengkalai saat dibiarkan rusak sampai akhirnya dipugar pada 1980-an. Fungsinya dikembalikan menjadi gedung teater, gedung kesenian pada 1986, kemudian dikenal dengan nama Gedung Kesenian.

Pada gedung yang pada hari Kamis (21/1/2010) dihebohkan terbakar, sudah tak ada lagi patung di bawah bidang lengkung antar-dinding. Untung saja, kecelakaan kemarin cepat tertangani. Meski korsleting dari blower AC bisa segera ditangani,  bisa saja gedung ini hangus atau rusak jika pengamanan gedung ini dilakukan ala kadarnya.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

20
Jan
10

Historia : Kenangan Tempo Doeloe

Di Meester Cornelis, Cornelis Senen Bersua Daendels

Tropenmuseum

Foto sebuah sekolah militer di kawasan Meester Cornelis sekarang Jatinegara. Tidak ada keterangan di mana dan jadi apa bekas sekolah militer itu saat ini.
Rabu, 13 Januari 2010 | 15:32 WIB

CORNELIS Senen dan HW Daendels “berpapasan” di Meester Cornelis pada saat pembuatan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg). Itu terjadi sekitar awal abad 19, kira-kira 1808. Cornelis Senen tiba dari Banda ke Batavia sekitar tahun 1620-an dan sekitar 30 tahun kemudian ia diberi hak membuka hutan di tepi Sungai Ciliwung. Di kemudian hari nama kawasan itu menjadi Meester Cornelis dan kini Jatinegara. Di masa kolonial, daerah Meester Cornelis berjarak sekitar 15 km ke arah selatan dari Batavia.

Sang meester tentu tak pernah tahu jika di kemudian hari seorang bernama Daendels, yang diutus Napoleon – saat menguasai Belanda – menjadi gubernur jenderal di Hindia Belanda, akan menembus hutan di kawasan itu untuk memenuhi ambisi, membuat jalan sepanjang 1.000 km dari Anyer ke Panarukan. Sebuah jalan yang memudahkan pasukannya bergerak cepat, jalan demi memudahkan transportasi. Tapi bukan hanya jalan yang ia bikin tapi juga sekolah militer Meester Cornelis dan benteng Meester Cornelis.

Jalan Raya Pos menghubungkan kota-kota, antara lain Anyer, Serang, Tangerang, Jakarta, Bogor, Sukabumi terus hingga ke Pemalang, Kudus, Sidoarjo, sampai Panarukan. Meskipun sebenarnya, tak seluruh 1.000 km jalan itu dibangun Daendels karena sebagian jalan itu merupakan jalan desa yang sudah dibikin Sultan Agung untuk menyerang Batavia pada abad 17.

Ruas Anyer-Cilegon, ruas jalan pertama, dari Cilegon mengarah ke Banten Lama, Serang, Tangerang kemudian masuk Batavia, kini jalur yang dilalui Jalan Raya Pos menjadi Daan Mogot, Pangeran Tubagus Angke, Gajah Mada dan Hayam Wuruk sampai Harmoni. Dari Harmoni berlanjut ke Monas, Gambir, Lapangan Banteng. Selanjutnya melewati Senen, Matraman, Meester Cornelis/Jatinegara, lanjut ke Buitenzorg/Bogor.

Di dalam foto atau lukisan yang kebanyakan tersimpan rapi dalam arsip di Belanda, pada jalur Daendels itu selalu ditampilkan  pos-pos jaga atau Belanda menyebut gardoe. Memang setiap jarak 30-40 km akan ada gardu tempat di mana kuda pembawa kereta pos berganti dan beristirahat. Lama-kelamaan di kawasan gardu itu tumbuh menjadi sebuah desa. Sebuah foto dari tahun 1800-an terlihat hutan di kiri kanan jalan, terlihat pula hutan baru dibabat, dengan dua jalur trem dan sebuah gardu pos di salah satu ujungnya. Dalam keterangan foto disebutkan, foto itu diambil di Meester Cornelis dengan arah menuju Kota dan melewati Matraman.

Sayangnya, peninggalan budaya di kawasan seputar Meester Cornelis, kita sebut saja Jatineraga, juga peninggalan lain sepanjang Senen, Matraman, Salemba, hingga ke Kampung Melayu, juga di Cawang, Cipinang, Bekasi, intinya di kawasan yang dulu masuk Meester Cornelis, lebih banyak yang sudah terkubur tanpa jejak. Sulit sekali mencari data di mana benteng Meester Cornelis dulu berada, kecuali bahwa ia berada di dekat Sungai Ciliwung, lantas ke mana sekolah militer Meester Cornelis kini?

Tak banyak yang tersisa, dan itu pun dalam kondisi yang sudah tak berbentuk atau paling tidak kumuh, siap roboh. Untuk kawasan Jatinegara, masih ada beberapa gedung kuno yang sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya seperti gedung SMPN 14 jakarta, Stasiun Kereta Api Jatinegara, gedung eks Kodim 0505, Gereja Koinonia di seberang kompleks militer Urip Sumohardjo, dan Pasar Lama Jatinegara.

Jika belum punya rencana untuk Minggu 17 Januari 2010, Komunitas Historia Indonesia (KHI) mengajak warga ikut menyusur sejarah Jatinegara, melihat bagaimana Cornelis Senen “bersua” Daendels. Seperti biasa, wisata sejarah ini dimulai pagi hari dengan membayar Rp 75.000. Ketua KHI Asep Kambali mengatakan, calon peserta bisa mengghubungi kantor sekretariat KHI  di Pejompongan atau melalui telepon di 021 37002345 atau di 0813 81046351.

Naik Lori Berusia Dua Abad
Selasa, 19 Januari 2010 | 16:51 WIB

DI Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah, ada satu lokasi pelesiran yang masih mempertahankan peninggalan dari abad 19. Tasikmadoe, namanya. Kawasan Pabrik Gula Tasikmadoe, demikian lengkapnya, sebuah pabrik yang sudah ada sejak 1870. Pabrik gula ini didirikan oleh Mangkunegara IV dan semula diberi nama Pabrik Gula Sudokuro. Seperti pabrik-pabrik gula di seluruh Indonesia, yang punya sejarah panjang, mereka seperti memasuki masa senja kala karena berat bersaing dengan produk gula impor yang diproses dengan modern dan harga di pasaran juga lebih murah.

Baik Pabrik Gula Tasikmadoe dan pabrik gula lain yang masih beroperasi, sebisa mungkin pihak pabrik menghidupkan wisata pabrik gula lengkap dengan lori pembawa tebu. Di sini, wisata itu diberi nama Agrowisata Sondokoro yang memanfaatkan lingkungan pabrik gula menjadi daya tarik wisata.

Bangunan utama pabrik bertuliskan PG TASIKMADOE. Jika ingin melihat kesibukan pabrik ini maka periode Mei-Oktober adalah waktu yang tepat, yaitu pada saat musim giling atau musim panen tebu. Pabrik ini masih menggunakan  mesin produksi Machinefabriek Gebr Stork & Co 1926 . Pada masa musim giling, pabrik ini tak hanya menggiling tebu tapi juga memasak, mencampur, dan mengkristalkan cairan tebu menjadi gula.

Di lokasi agrowisata bernama Sondokoro  ini loko tebu, loko uap berbahan bakar bal (ampas tebu) dibikin di seputaran tahun 1913, semisal produk Orenstein & Koppel Arthur Koppel AG Berlin-Germany. Sementara lorinya, diproduksi sebuah pabrik lori di Kota Dortmund, Jerman, antara tahun 1820-1850. Tak hanya spoor teboe yang bisa jadi pilihan wisata di sini. Ada bermacam lainnya termasuk melihat proses pembuatan gula.

Karena naik lori yang usianya sudah ratusan tahun, maka jalannya pun pelan. Kecepatan loko penarik lori tidak akan lebih dari 10 km per jam. Ini juga membuat pengunjung puas melihat kondisi pabrik gula yang meskipun dibangun pada masa kompeni, tapi masih beroperasi hingga abad milenium ini.

“Sampai saat ini memang masih beroperasi. Cuma, karena persediaan tebu untuk diolah jadi gula tinggal sedikit, pabrik ini hanya mengolah tebu menjadi gula pada bulan Mei hingga Oktober setiap tahun. Jadi, lahan ini juga dimanfaatkan untuk wisata,” kata Sutardji, salah satu pengawas wisata lori.

Untuk naik lori tua ada dua pilihan. Pilihan pertama lori trayek keliling halaman pabrik dan lori yang keliling masuk ke dalam pabrik. Untuk trayek keliling pabrik Rp 4.000/orang, sedang yang masuk ke dalam pabrik Rp 6.000/orang. Selain melihat pabrik gula yang usianya sudah sepuh itu, kita juga bisa menyaksikan gerbong tua peninggalan KGPAA Mangkoenagoro IV buatan tahun 1853. Konon, gerbong tersebut digunakan Raja Surakarta untuk jalan-jalan melihat pabrik gula. Pada zaman itu terdapat jalur kereta khusus dari Surakarta (Solo) ke lokasi pabrik gula, yang hanya digunakan untuk raja.

Terapi ikan mujair
Usai menikmati pabrik gula dan lori, pengunjung bisa melanjutkan dengan terapi ikan mujair. Tentu masih di lokasi agrowisata ini. Lokasi terapi ikan mujair ini teduh karena rimbunan pohon jati dan pinus. Untuk sampai ke lokasi ini pengunjung bisa menggunakan angkutan umum maupun kendaraan pribadi. Jaraknya lebih kurang 30 km dari Kota Solo dan 15 KM dari Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Tarifnya sangat murah. Cukup dengan uang Rp 3.000/orang(ditambah Rp 3.000 untuk masuk kawasan wisata), sudah bisa menikmati terapi itu selama seharian dari mulai lokasi itu buka sekitar pukul 08.00 sampai pukul 17.00. Tapi ingat jangan keenakan tidur, karena jika lokasi ditutup maka kita akan terkunci di dalamnya.

Lokasi terapi ikan mujair itu dibangun dengan bentuk kolam beralur bak sungai kecil, dengan air yang mengalir. Di sepanjang pinggir kolam dibangun tempat untuk duduk dengan sedikit rumput hijau untuk memanjakan mata. Tapi, jangan sekali-sekali menghentakkan kaki yang sudah terendam air, karena ikan-ikan akan kabur ketakutan dan akan memakan waktu lagi untuk bikin mereka berkumpul.

Tempat terapi ikan mujair ini dibangun tahun 2006 atau setahun setelah kawasan Wisata Sondokoro didirikan di tahun 2005. Tempat ini ada dalam areal Pabrik Gula Tasikmadoe. Lokasi ini juga tidak lepas dari nuansa mistis karena terdapat dua makam kyai yang jadi lokasi petilasan, yaitu Kyai Sondo dan Kyai Koro. Luas wilayah Wisata Sondokoro dan wisata pabrik gula ini 22 hektar. (Celestinus Trias HP)

Caruban Nagari, Menengok Cirebon di Masa Silam

KITLVKITLV

Gunung Cermai dengan latar depan jalan utama yang menghubungkan Cirebon Kuningan, dilihat dari arah timur laut. Gambar diambil sekitar tahun 1920.
Selasa, 19 Januari 2010 | 16:30 WIB

PANORAMA Hindia Belanda yang bergunung-gunung, berbukit, ditambah hamparan sawah hijau menguning menjadi salah satu hal yang membuat warga Belanda terkagum-kagum. Lukisan alam itu banyak mengisi album keluarga Belanda yang pernah menjalani hidup di salah satu tempat di Nusantara ini.

Sebut saja WG Peekema asal Den Haag dan Nyonya Fisser-Schefer dari Hilversum. Nyonya Peekema menyimpan foto panorama Gunung Ciremai di tahun 1920. Dalam koleksi foto tua di KITLV  (Koninklijk Instituut voor Taal en Volkenkunde/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Carribbean studies) atau  Lembaga Studi Asia Tenggara dan Karibia Kerajaan Belanda, hasil jepretan Peekema diberi nama De Tjermai met op de voorgrond de grote weg tussen Cheribon en Koeningan, gezien vanuit het noordoosten (Gunung Cermai dengan latar depan jalan utama yang menghubungkan Cirebon – Kuningan, dilihat dari arah timur laut). Gambar diambil sekitar tahun 1920.

Sementara Fisser-Schefer mengambil pemandangan Cirebon dengan Gunung Ciremai pada 1938. Fotonya lebih menggambarkan suasana kota Cirebon yang berhadapan dengan Gununng Ciremai.

Gunung Ceremai atau Ciremai masuk dalam tiga wilayah kabupaten di Jawa Barat, yaitu Cirebon, Kuningan, dan Majalengka.  Gunung api ini adalah gunung tertinggi di Jawa Barat dan memang bisa dinikmati siapapun yang melintas jalur pantura di sekitar Cirebon. Menurut Thomas Stamford Raffles dalam History of Java yang terbit pada 1817, gunung itu merupakan tempat Raden Tanduran melakukan upacara penebusan dosa. Raden Tanduran tak lain pendiri Kerajaan Majapahit pada 1221. Raffles menyebut Gunung Chermai sebagai sebuah gunung di Cheribon.

Dalam kisah tentang asal muasal Cirebon dikatakan, Cirebon berasal dari bahasa Sunda, Cai dan Rebon, air dan udang. Kisah lain menyebutkan, Cirebon berasal dari kata Sarumban kemudian berubah menjadi Caruban atau campuran karena Cirebon sebagai kota pelabuhan menjadi tempat bercampurnya suku Jawa, Sunda, Arab, Melayu, dan China. Caruban berubah lagi menjadi Carbon, Cerbon, dan Cirebon. Kota ini berdiri sekitar 1440-an.

Sementara itu Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels mengisahkan, Cirebon muncul dalam sejarah Indonesia sejak masuknya Islam yang dibawa pedagang pribumi. Di masa Hindu, peranan Cirebon kurang penting. Cirebon tak bisa lepas dari kisah Sunan Gunungjati alias Syeh Maulana. Pram mengingat tahun 1946  yang diharapkan tak terulang lagi di mana gaji sebagai letnan dua hanya diterima separuh dari yang ditetapkan pemerintah. Korupsi sudah mulai merajalela, begitu kata Pram.

Sejak tahun 1678, di bawah perlindungan Banten, Kasultanan Cirebon terbagi tiga, yaitu pertama Kesultanan Kasepuhan, dirajai Pangeran Martawijaya, dikenal dengan Sultan Sepuh I. Kedua Kesultanan Kanoman, dikepalai oleh Pangeran Kertawijaya atau beken sebagai Sultan Anom I dan ketiga Panembahan yang dikepalai Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Cirebon I.

Kota Cirebon tumbuh perlahan-lahan, demikian catatan Nina H Lubis dalam Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat,  pada tahun 1858, di Cirebon terdapat 5 toko eceran dua perusahaan dagang. Pada tahun 1865, tercatat ekspor gula sejumlah 200.000 pikulan (kuintal), dan pada tahun 1868 ada tiga perusahaan Batavia yang bergerak di bidang perdagangan gula membuka cabang di Cirebon. Pada tahun 1877 Cirebon sudah memiliki pabrik es. Pipa air minum yang menghubungkan sumur-sumur artesis dengan perumahan dibangun pada tahun 1877.

Bagi yang tertarik menengok peninggalan Cirebon dan Kuningan, Komunitas Historia Indonesia bekerja sama dengan Cirebon Heritage Society – Kendi Pertula, Pemerintah Kota Cirebon, Pemerintah Kabupaten Cirebon, dan Pemerintah Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat akan menggelar Caruban Nagari Heritage Trails: Menelusuri Sejarah, Menguak Jejak Warisan Budaya Caruban Nagari.

Cirebon dan kisah panjangnya tak lepas dari sejarah kota-kota di dekatnya, seperti Kuningan dan Indramayu. Bagaimana kini kondisi makam Sunan Gunungjati, Karesidenan Cirebon, balai kota Cirebon, panorama kota Cirebon dari menara Masjid At-taqwa, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Goa Sunyaragi petilasan para Sultan Cirebon, dan kemudian Kampung Budaya Cigugur di Kuningan? Itu bisa kita lihat langsung bersama rombongan, tentunya.

Menurut Asep Kambali, peserta antara lain akan dibawa ke gedung-gedung besejarah, makam keramat, kampung budaya, kawasan megalitikum, kota tua, bendungan dan kawasan pemandian keramat yang ada di kawasan Caruban Nagari , Cirebon, Indramayu, dan Kuningan. Antara lain, tempat-tempat yang sudah tertulis di atas. Acara ini digelar 30 dan 31 Januari 2010 dengan biaya Rp 550.000/orang. Yang tertarik, silakan SMS ke Rika di  0858.8563.7567.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Mengenal Perbankan Masa Lalu
Sabtu, 16 Januari 2010 | 16:10 WIB

KOMPAS.com — Beberapa nama bank dari masa Batavia boleh jadi sudah sering disebut-sebut. Nama-nama bank seperti De Javasche Bank (kini Museum Bank Indonesia); Nederlandsche Handles Maatschappij-NHM (kini Museum Bank Mandiri); Chartered Bank of  India, Australia, and China (eks Bank Bumi Daya);  Hongkong & Shanghai Banking Corporation – Kantor Pajak Tambora; dan Nederlandsche Indische Escompto Maatschappij – eks Bank Dagang Negara. Lantas bagaimana dengan De Post Paar Bank, De Algemene Volkscrediet Bank, atau Nationale Handle Bank?

De Post Paar Bank menjadi Bank Tabungan Pos tahun 1950 kemudian menjadi Bank Negara Indonesia (BNI) Unit V dan terakhir menjadi Bank Tabungan Negara (BTN) pada 1968. De Algemene Volkscrediet Bank tak lain adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Ekspor Impor (Bank Eksim) kemudian menjadi BNI Unit II untuk kemudian pada 1968 berdiri sendiri sendiri menjadi dua bank, BRI dan Bank Eksim. Nationale Handle Bank semula bernama Nederlandsche Indische Handels Bank (NIHB) kemudian menjadi BNI Unit IV dan pada 1968 menjadi Bank Bumi Daya (BBD) bersama dengan Chartered Bank of  India, Australia, dan China.

Dilihat dari sejarah perbankan di atas, lembaga perbankan yang kita kenal saat ini merupakan warisan sistem perbankan masa kolonial. Meski kini beberapa bank menjadi satu menggunakan nama yang lain, warisan itu tetap saja melekat.

Pada awalnya perbankan hanya berfungsi sebagai lembaga yang membantu pemerintah dalam penyaluran keuangan, terutama dalam sektor perdagangan. Selain mempunyai sistem kerja yang rapi, bangunan sebuah bank juga menentukan nasabah yang akan menitipkan uang dan atau barang berharga yang disimpan.

Bank tak hanya mempunyai gedung yang megah dan arsitektur yang indah, tetapi juga mempunyai sebuah ruang kluis (safe deposit) dengan dinding yang tebal, pintu berukuran sangat besar, kuat, dan kokoh dengan sistem kunci kombinasi. Bahkan, ruangan ini bersifat sangat rahasia sehingga tidak dicantumkan dalam denah bangunan. Jauh sebelum ada kluis, kasir bank merantai kotak uang pada kakinya pada saat tidur agar uang tak dicuri.

“Kalau ada pencuri masuk bank, sulit keluar karena bangunan bank masa lalu penuh ruang dan lorong. Bisa tersesat, apalagi orang yang baru pertama kali masuk. Jadi memang, Belanda sudah memerhatikan keamanan dan kenyamanan bangunan bank, itu semua supaya nasabah merasa aman,” tutur Kartum Setiawan, Ketua Komunitas Jelajah Budaya, dalam perbincangan di kawasan Kota Tua Jakarta beberapa waktu lalu.

Kini sisa bangunan perbankan masih bisa dilihat di kawasan bersejarah Kota Tua, baik yang masih aktif digunakan untuk kantor bank hasil nasionalisasi, maupun digunakan sebagai museum yang memamerkan rangkaian sejarah bank-bank pendahulunya.

Sekadar gambaran, gedung eks De Escompto Bank berarsitektur Indische terletak di pojok pertemuan Jalan Pintu Besar Utara dan Jalan Bank. Menempati lahan seluas 3.010 meter persegi, aset ini mlik Bank Mandiri. Bangunan cagar budaya ini awal mulanya merupakan Kantor Pusat De Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij di Batavia, yang dibeli tahun 1902.

Gedung kantor bank memiliki luas lantai seluruhnya 6.729 meter persegi. Gedung ini  menghadap ke Jalan Pintu Besar Utara terdiri atas dua lantai dibangun tahun 1904 dan mulai digunakan tahun 1905. Di dinding atas gedung ini terdapat ornamen lambang-lambang kota Hindia Belanda, seperti Surabaya, Batavia, dan Semarang, juga terdapat lambang kerajaan Belanda dan kota Amsterdam. Konstruksi utama bangunan ini beton bertulang dan menggunakan atap genteng tanah liat produksi Tan Liok Tiauw, Batavia dan Tijanting Plered SS Wall.

Sementara itu, di sudut Jalan Kalibesar Barat tak jauh dari De Javasche Bank (Museum Bank Indonesia), berdiri gagah gedung berkubah dari tahun 1920-an. Ini adalah gedung Chartered Bank, kini aset Bank Mandiri. Di bagian dalam gedung yang di zaman Belanda merupakan bank terkemuka ini terdapat lukisan patri menggambarkan orang sedang bekerja. Sebut saja orang menumbuk padi, pergi ke pasar, dan membawa getah karet. Kaca patri ini dibuat oleh J Sabel’s en Co yang pusatnya di Haarlem, Belanda. Di sini, kita juga bisa jumpai prasasti peletakan batu pertama yang di situ tertulis 27 Pebruari 1921.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Berkaca pada Cinta Siti Nurbaya
Sabtu, 16 Januari 2010 | 15:36 WIB

KOMPAS.com — Pernikahan terpaksa yang dialami Siti Nurbaya, tokoh utama dalam buku Siti Nurbaya karya Marah Rusli, sering kali menjadi olok-olok bagi perempuan yang dijodohkan orangtuanya saat ini. Namun, apakah benar Siti Nurbaya dijodohkan atau dipaksa orangtua untuk menikah dengan saudagar kaya yang berhati jahat?

Aku tahu Nur, bahwa engkau tidak suka kepada Datuk Maringgih,” kata ayahku pada malam itu kepadaku. “Pertama umurnya telah tua, kedua karena rupanya tak elok, ketiga karena tabiatnya yang keji” Selanjutnya sang ayah berkata, “Aku tahu hatimu pada Samsu dan hatinya kepadamu. Aku pun tiada lain, melainkan itulah yang aku cita-citakan dan kuharapkan siang dan malam, yakni akan melihat engkau duduk bersama-sama dengan Samsu kelak, karena ialah jodohmu yang sebanding dengan engkau…Nurbaya, sekali-kali aku tiada berniat, hendak memaksa engkau. Jika tak sudi engkau, sudahlah, tak mengapa. Biarlah harta yang masih ada ini hilang ataupun aku masuk penjara sekalipun, asal jangan bertambah-tambah pula duka citamu…”

Cuplikan di atas memperlihatkan penderitaan ayah Siti Nurbaya, Baginda Sulaiman, saat meminta kesediaan anaknya untuk membantu keluarga mereka keluar dari cengkraman jahat Datuk Maringgih. Sang ayah membujuk Nur untuk membantu mereka karena keinginannya untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi istri dan anaknya jauh lebih besar dari kesedihannya jika melihat keluarganya jatuh di lubang kemiskinan.

Dalam buku yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1922 itu, diceritakan bahwa pada awalnya Nur memang tidak bersedia diminta sang ayah untuk menikahi Datuk Maringgih demi menolong keluarga. Namun, akhirnya Nur bersedia menikah karena tidak tahan melihat sang ayah digiring oleh petugas Belanda. Hal itu bisa terlihat dari sebait cuplikan ini, “…Tatkala kulihat ayahku akan dibawa ke dalam penjara, sebagai seorang penjahat yang bersalah besar, gelaplah mataku dan hilanglah pikiranku dan dengan tiada kuketahui, keluarlah aku, lalu berteriak, “Jangan dipenjarakan ayahku! Biarlah aku menjadi istri Datuk Maringgih!”…

Dari cuplikan-cuplikan di atas, jelas sekali terlihat sebuah perbedaan besar antara dijodohkan, dipaksa, dan terpaksa. Di novel itu, Baginda Sulaiman memang meminta Siti Nurbaya untuk menikah agar bisa membantu dirinya lepas dari jeratan licik Datuk Maringgih, tetapi ia tidak ingin Nur hidup dalam penderitaan karena menikahi Datuk Maringgih. Keputusan akhir tetap diberikan kepada Nur.

Marah Rusli, sastrawan yang juga dokter hewan ini, pun menceritakan betapa beban yang harus ditanggung Siti Nurbaya sangat besar. Rasa cintanya pada kekasih hati, Syamsul Bahri, membuatnya sempat menolak keinginan sang ayah. Namun, meski Baginda Sulaiman menerima keputusan Nur, besarnya rasa cinta Nur kepada orangtua menyebabkan ia merubah keputusan, yaitu persis saat ia melihat sang ayah hendak dibawa ke penjara.

Di masa itu, perjodohan merupakan hal yang wajar. Marah Rusli membalut budaya masyarakat dengan konflik yang sangat menarik. Tak aneh jika kisah ini masih membekas di benak pembaca. Bahkan menjadi olok-olok bagi mereka yang menikah berdasarkan perjodohan. Novel Marah Rusli ini memang bertujuan membebaskan perempuan dari perkawinan yang tidak didasarkan oleh rasa cinta.

Keberadaan novel yang paling tenar di antara novel karya Balai Pustaka lainnya ini mau tidak mau membobol budaya perjodohan yang masih kuat di dalam masyarakat Indonesia. Persoalan yang dikemukakan Marah Rusli dalam karya-karyanya bukan lagi istana-sentris dan hal-hal bersifat fantasi belaka, melainkan gambaran realita masyarakat pada masa itu.

Novel berbalut kisah cinta dan pengorbanan seorang perempuan pada masa itu membuat cerita Siti Nurbaya menjadi kuat. Melalui buah tangannya, dokter hewan itu ingin menyampaikan gagasan tentang kekolotan di kalangan bangsawan yang merugikan, kearifan hidup pada zaman pembaharuan, corak perkawinan ideal, keburukan poligami, serta masalah hubungan laki-laki dan perempuan. Marah Rusli juga seolah-olah ingin menyampaikan reformasi sosial dan mencita-citakan perkawinan tanpa paksaan. (WIK)

Hebe, Menanti Ketegasan Pemerintah Pusat

KITLVIstimewa

Foto lama dari KITLV tahun 1925 ini memperlihatkan Borsumij, gudang perusahaan dagang Borneos Sumatra Maatschappij. Bagian atas gedung ini mirip dengan bagian atas Hebe.
Kamis, 14 Januari 2010 | 17:31 WIB
Demi pembangunan Bangka Trade Centre, pemerintah kota Pangkalpinang akan meruntuhkan bekas gedung bioskop dari tahun 1917 dan bernilai sejarah tinggi.

DEWI Kawula Muda (Goddess of Youth) Yunani  dipilih menjadi nama sebuah gedung bioskop di Pangkalpinang.  Di kalangan penggemar komik Marvel, nama Hebe juga mengingatkan komik tentang Hebe, istri Hercules, yang ciamik membuat bir ambrosia yang beken dalam mitologi Yunani itu. Entah kenapa nama bioskop tertua di Bangka Belitung itu diberi nama sesuai dengan nama putri Zeus dan Hera yang ternyata adalah jagoan meracik minuman buat para dewa dewi di Gunung Olympus. Hebe kemudian dikenal pula dengan nama Banteng, Bioskop Banteng, di zaman Soekarno.

Gedung  yang selama ini telantar itu ada di kawasan bernama Pasar Pembangunan. Keberadaan gedung itu kini sedang di ujung tanduk.  Alih-alih merevitalisasi  eks Bioskop Banteng,  Pemerintah Kota Pangkalpinang di  bawah Wali Kota Zulkarnain Karim memilih segera merobohkan bangunan tersebut pada 20 Januari nanti.  Itu dilakukan demi pembangunan Bangka Trade Centre (BTC).

Hebe, didirikan pada 1917 oleh seorang mayor China, Majoor titulair der Chineesen Oen Kheng Boe. Seperti gelar-gelar Majoor di masa kolonial, ia adalah pemimpin komunitas Tionghoa. Karena sejarah Pangkalpinang yang penuh dengan tambang timah dengan pekerja yang berasal dari China,  Siam, dan Melayu, maka peninggalan berupa bangunan di kota ini kebanyakan berarsitektur gabungan antara China, Eropa, dan Melayu meski paling kuat adalah pengaruh China dan Eropa. Termasuk  di dalamnya, Hebe. Karena ada Hebe alias Banteng, maka kawasan di sekitar itu semula disebut sebagai kawasan Hebe/Banteng.

Menurut Melly Suwandhani, salah satu keturunan Oen Kheng Boe, gedung itu dibangun setelah sekolah Tionghoa THHK (Zhung Hua Hui Guan) berdiri pada 1907. Pembangunan itu atas bantuan Jenderal China Li Xie-he yang, konon, tiba di Pulau Bangka dan membantu warga Tionghoa perantauan.  Diperkirakan, keberadaan gedung Hebe juga atas bantuan Li Xie-he yang memang gencar membantu perkembangan pendidikan dan budaya warga di Bangka.

“Sekolah THHK  umurnya 100 tahun lebih tapi sudah enggak ada.  Memang di satu kawasan itu ada sekolah, klenteng, pasar, lengkap. Tapi kalau Hebe jadi dirobohkan, apakah klenteng masih aka nada? Pasar kan akan berubah jadi BTC. Pokoknya mal besar dan modern, deh. Dan yang saya dengar, gedung Hebe itu jadi penghambat karena belum dirobohkan, jadi pembangunan BTC terhambat karena rencana itu sudah sejak 2007,” papar Melly sambil menambahkan, Hebe sempat jadi gudang Borsumij (Borneo Sumatra Handel Maatschappij) di masa malaise. Menurut data KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde),  pada tahun 1925 ada gudang Borsumij di Pangkalpinang dan pada foto itu terlihat tampak depan  bangunan yang arsitekturnya sangat mirip dengan Hebe. KITLV memberi judul  Opslagplaats van de Borneo Sumatra Handel Maatschappij (Borsumij) te Pangkalpinang (gudang Borsumij di Pangkalpinang).

Setelah melihat foto tersebut, Melly yakin bahwa itu adalah gedung yang dibangun buyutnya. Nama dan angka yang tertera pada dinding atas bagian depan, yang tertulis dalam karakter China, sama dengan bangunan yang kini akan dieksekusi.

Intinya, sejarah bangunan ini panjang, juga tentu saja menjadi identitas kota, kekayaan kota ini, sebagai obat anti lupa akan sejarah kota ini. Tapi Wali Kota Zulkarnain rupanya punya keputusan lain, ia mantap tetap akan membongkar bangunan ini, tak peduli alasannya.

Surat dari Jakarta
Dari Jakarta, Direktur Peninggalan Purbakala Dirjen Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Junus Satrio Atmodjo sudah mengirimkan surat permohonan pembatalan pembongkaran kepada tuan Wali Kota. Surat tertanggal 31 Desember 2009 itu antara lain berbunyi, Banteng punya nilai penting dalam sejarah budaya Pangkalpinang dan wajib dilestarikan sebagai warisan budaya sesuai UU No 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (BCB) dan Peraturan Bersama Menteri Budpar dan Menteri Dalam Negeri No 42 tahun 2009 dan Nomor 40 tahun 2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Kewajiban Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Melestarikan Kebudayaan.
Sebelumnya, November 2008 sudah ada surat dari Yoeseof Budi Ariyanto, kasubdit konservasi Dirjen Sejarah dan Purbakala Kementrian Budpar kepada gubernur Bangka Belitung bahwa situs itu sudah dalam proses menjadi BCB.

Sebagai tambahan, dalam jumpa pers akhir tahun pada 30 Desember 2009, Menteri Budpar Jero Wacik mengakui pihaknya lalai memperhatikan persoalan budaya termasuk persoalan BCB, oleh karena itu mulai tahun ini persoalan tesebut akan jadi sama penting dengan hal-hal terkait pariwisata.

Ngotot

Persda Network, Bangka Pos, kembali menyiarkan berita tentang Zulkarnain yang menegaskan, tetap akan membongkar pada 20 Januari nanti. Alasannya, hak guna bangunan bioskop sudah berakhir tahun 1980, bioskop atas nama NV Meby (kini PT Meby) sudah tak beroperasi, PT Meby sudah kehilangan haknya di atas tanah negara itu.

“Kenapa orang-orang ribut, lahan itu dikuasai pemda, kok,” tandas Zulkarnain seperti dikutip Bangka Pos. Pernyataan itu dilontarkan setelah batas waktu tim kajian teknis kelar melakukan penelitian terhadap Hebe pada 8 Januari 2010. Hasilnya, Hebe tak layak dipertahankan dan harus dirobohkan. Pasar kumuh, bangunan telantar, kawasan jorok jadi alasan Zulkarnain menyulap Hebe jadi bagian pusat belanja modern seluas dua hektar. Pusat belanja setinggi 10 lantai itu juga bekerjasama dengan Hotel Four Seasons Jakarta.

Jika tak ada tindakan tegas dari pusat, maka 20 Januari kita akan kembali melihat kuburan massal identitas kota, bagian sejarah kota Pangkalpinang termasuk Bioskop Garuda, Surya, dan pabrik es yang akan dihancurkan oleh Zulkarnain. Tentu saja ini akan jadi preseden buruk karena kota-kota lain bisa dipastikan akan mengikuti.

Ketika sang menteri sudah mengakui kelalaiannya dan ingin membayar itu semua dengan perhatian pada pusaka budaya, lantas bagaimana bisa kepala daerah di Pangkalpinang malah akan melabrak UU, peraturan, dengan kacamata kuda.

Biarpun tersisa satu dinding pun, itu layak dipertahankan sebagai tonggak, penanda, pengingat akan sejarah kota itu. Dalam UU No 5 tahun 1992 tentang BCB tertulis pemerintah bertanggungjawab memelihara dan mempertahankan pusaka budaya, dalam hal ini BCB. Jika ditelantarkan oleh pemiliknya, maka pemerintah tak lantas berhak merobohkan tapi sebaliknya, sesuai dengan kalimat pembuka UU itu, mempertahankan dan memelihara sebagai kekayaan budaya bangsa yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Oleh karena itu perlu dilindungi dan dilestarikan demi pemupukan kesadaran jatidiri bangsa dan kepentingan nasional.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto




Blog Stats

  • 2,006,241 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers