Posts Tagged ‘Historical



11
Dec
10

Kesejarahan : Pyramid Benar-benar Ada di Indonesia

Pyramid Benar-Benar Ada di Indonesia

lokasi: Home / Berita / Jejak Candi-Candi / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 07/12/2010 | 19:49 WIB Pyramid Benar-Benar Ada di Indonesia

Pyramid adalah bangunan yang berbentuk Limas segi empat, dalam sejarah peradaban dunia Pyramid yang terbesar saat ini yang diakui dunia ada di Mesir dengan adanya 3 Pyramid besar, Pyramid tertinggi yang ada di Mesir adalah 146 meter. Namun ada cerita ganjil di candi Penataran yang menunjukkan adanya kedatangan orang Mesir ke Nuswantara.

Gambar diatas merupakan salah satu dari Gambar yang ada di relief di Candi Penataran. Pada Gambar itu terlihat 3 orang Mesir sedang menyembah . Latar belakang gambar menunjukkan adanya bangunan yang seperti taman sari. Taman sari yang seperti itu hanya ada di Indonesia, jadi jelas bahwa ke tiga orang Mesir ini datang untuk menyembah dan belajar dari leluhur Nuswantara di masa lalu. Sebagai Pembanding di bawah ini adalah gambar orang Mesir dengan pakaiannya di masa lalu.

Gambar tutup kepala orang diatas juga sangat mirip dengan tutup kepala orang mesir. Sehingga dapat di simpulkan bahwa relief yang tergambar di candi Penataran bukanlah gambar yang bercerita tentang Ramayana tetapi menunjukkan kedatangan orang Mesir ke Nuswantara untuk takluk dan belajar dari negri ini. Sehingga kalau ada  kedatangan orang-orang Mesir ke Nuswantara tentunya bangunan yang ada di Mesir pasti mencontoh bangunan yang ada di Nuswantara ini.

Berdasarkan data relief dan batu tulis yang ada di candi Penataran kami mencurigai ada nama 5 wilayah di tanah Jawa ini yang mungkin ada bangunan yang ditiru oleh orang-orang Mesir. Pembacaan prasasti kami menggunakan inscripsi sendiri sehingga terbaca 5 nama wilayah tempat belajarnya bangsa asing yang ada di pulau Jawa ini, karena kalau kami mengikuti hasil terjemahan resmi dari department sejarah dan purbakala kami tidak menemukan apa-apa. Berbekal data tersebut kami berangkat menuju 2 daerah yang di maksud, karena 2 nama itu masih belum berubah. Sehingga mempermudah kami melakukan pencarian.

Dengan menggunakan asumsi seluruh bangunan besar ditimbun oleh leluhur, maka untuk bangunan seperti Pyramid pasti ada beberapa Pyramid yang bentuknya sangat jelas terlihat walaupun sudah tertimbun. Ciri khas Pyramid tertimbunnya akan terlihat dari  ke empat rusuknya dan keempat sisi miringnya kalau penimbunannya tidak dalam. Nmanun kalau penimbunannya cukup dalam maka akan tampak seperti gunung biasa. Asumsi yang lain adalah karena leluhur kita yang mengajari orang-orang Mesir maka bangunan di Nuswantara ini pastilah lebih besar dari bangunan yang ada di Mesir sendiri.

Data perjalanan yang kami lakukan di Jawa Barat terlihat benar sesuai dengan nama daerah yang nama dan cirri-ciri wilayahnya tertulis di relief yang ada di candi penataran. Oleh Team Turonggo Seto

07
Dec
10

Khazanah : Mesjid Quba, Madinah

Selasa, 07/12/2010 14:41 WIB
Laporan dari Arab Saudi
Masjid Quba, Batu Batanya Dipikul Nabi Muhammad Sendiri
Iin Yumiyanti – detikNews


Masjid Quba (Iin/detikcom)

Jakarta – Di Madinah ada banyak tempat bersejarah yang penting untuk diziarahi. Salah satunya Masjid Quba. Inilah masjid yang batu batanya dipikul Nabi Muhammad SAW sendiri.

Masjid Quba terletak di perkampungan Quba, kira-kira 3 kilometer dari arah selatan Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz (AMAA). Mengunjungi masjid ini, dari kejauhan akan terlihat empat menara putih tinggi menjulang. Setelah dekat terlihat pohon kurma mengelilingi masjid.

Masjid Quba memang berbeda dengan masjid-masjid lainnya di Madinah. Masjid Nabawi dan masjid lainnya di Madinah nyaris tidak memiliki taman depan yang ditumbuhi tanaman. Namun Masjid Quba memiliki taman depan dan belakang dengan pohon-pohon kurma yang rindang. Di depan masjid bahkan ada air mancur. Masjid ini berdiri di atas tanah seluas 5.035 meter persegi.

Kami, wartawan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) tiba di Masjid Quba saat azan Zuhur berkumandang. Memasuki masjid, ruang salat sudah penuh jamaah. Bahkan jamaah perempuan sudah meluber sampai keluar.

Quba memang selalu menjadi tujuan ziarah para jamaah haji, tidak heran bila masjid ini selalu padat. Ada sebuah riwayat Nabi Muhammad menyatakan  bila mengunjungi Masjid Quba untuk salat pahalanya sama dengan melakukan umrah. Riwayat tersebut hingga kini masih tertempel di dinding luar Masjid Quba.

Masjid Quba dibangun pada hari Senin, 8 Rabiul Awwal atau 23 September 622 Masehi. Saat itu Nabi dalam perjalanan hijrah dari Makkah menuju Madinah. Dalam perjalanan hijrah, Nabi yang tiba di perkampungan Quba tinggal selama empat hari bersama Bani Amru bin Auf di rumah Kalthum bin Al Hadm.

Di hari pertama di perkampungan Quba, Nabi membangun masjid. Inilah masjid pertama yang dibangun pemimpinyang paling dicintai umat Islam. Nabi, seperti diriwayatkan As Syimus binti An Nu’man, memikul batu-bata sendiri sehingga bongkok tubuhnya.

Tubuh Nabi saat itu sampai penuh debu dan pasir. Tapi Nabi tidak mau para sahabat mengambil beban yang dibawanya. Ia meminta para sahabat agar membawa bahan-bahan bangunan yang lain. Setelah membangun masjid, Nabi mengimami
salat secara terbuka bersama para sahabat di Masjid Quba.

Semasa hidupnya, Nabi selalu pergi ke Masjid Quba setiap hari Sabtu, Senin dan Kamis. Setelah Nabi wafat, para sahabat selalu menziarahi masjid ini dan melakukan salat di dalamnya.

(iy/nwk)

16
Nov
10

Kesejarahan : Mekah 1885 Dalam Bidikan Snouck Hurgronye

Mekah 1885

Senin, 15 November 2010 | 13:20 WIB
Mekah 1885 Dalam Bidikan Snouck Hurgronje

Mekah di tahun 1885. (cnn)

TEMPO Interaktif, Dubai -Kita mengenalnya sebagai penasihat Kerajaan Belanda dalam Perang Aceh. Berkat pengetahuan detil tentang Islam, Christiaan Snouck Hurgronje membantu negaranya melumpuhkan perlawanan Pasukan Bumi Rencong yang telah berlangsung 40 tahun, pada 1913. Dia membuat lebih dari 1.400 tulisan tentang situasi Aceh, nasionalisme, serta posisi Islam di Nusantara.

Pengetahuan itu tidak diperoleh Hurgronje, 1857-1936, dari sekadar membaca buku di kampusnya, Universitas Leiden, Belanda. Dia fasih berbahasa Arab dan menghabiskan lima bulan di Mekah pada 1885. Mempelajari ajaran Nabi Muhammad dari sumbernya, membuat hati Hurgronje tersentuh dan masuk Islam.
Hurgronje juga mengabadikan kehidupan Mekkah lewat kamera, lengkap dengan rekaman suara. Seperti lansekap Kabah dan Masjid Al-Haram, perkampungan penduduk, makam istri Rasul, Siti Maimuna, serta foto pembesar bersama budak-budaknya.
Jepretan yang dianggap sebagai foto tertua yang menggambarkan situasi Tanah Suci ini dipamerkan di Galeri The Empty Quarter di Dubai, Uni Emirat Arab sampai 9 Desember mendatang. “Usahanya untuk mendapatkan gambar-gambar ini luar biasa,” kata Direktur Galeri tersebut, Elie Domit, seperti dikutip CNN, Senin (15/11)
Dia mengatakan kamera Hurgronje beratnya 40 kilogram. Dia juga harus membawa seabrek bahan kimia untuk menghasilkan gambar yang bernuansa sephia itu, dan mengolahnya langsung di lokasi. “Belum lagi alat perekam,” kata Domit. Hurgronje menggunakan alat yang baru diciptakan Thomas Alfa Edison berupa silinder lilin untuk merekam suara.
Sayang, niat Hurgronje untuk naik haji terhalang. Dia diusir pemerintah setempat karena tuduhan pencurian benda bersejarah, sebelum sempat mengenakan pakaian ihram.
CNN | REZA M
15
Nov
10

Sosial Budaya : Istilah Batak Dikonstruksi Jerman Dan Belanda

Senin, 15/11/2010 01:11 WIB
Batak Sebagai Nama Etnik Dikonstruksi Jerman dan Belanda
Khairul Ikhwan – detikNews

 

Medan – Nama Batak sebagai identitas etnik ternyata tidak berasal dari orang Batak sendiri, tapi diciptakan atau dikonstruksi para musafir barat. Hal ini kemudian dikukuhkan misionaris Jerman yang datang ke tanah Batak sejak tahun 1860-an. Simpulan ini dikemukakan sejarahwan Unversitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari yang baru usai melakukan penelitian di Jerman.

Di Jerman, sejarahwan bergelar doktor ini memeriksa arsip-arsip yang ada di Wuppertal, Jerman. Dalam sumber-sumber lisan dan tertulis, terutama di dalam pustaha, atau tulisan tangan asli Batak, tidak ditemukan kata Batak untuk menyebut diri sebagai orang atau etnik Batak. Jadi dengan demikian nama Batak tidak asli berasal dari dalam kebudayaan Batak, tetapi diciptakan dan diberikan dari luar.

“Kata Batak awalnya diambil para musafir yang menjelajah ke wilayah Pulau Sumatera dari para penduduk pesisir untuk menyebut kelompok etnik yang berada di pegunungan dengan nama bata. Tapi nama yang diberikan penduduk pesisir ini berkonotasi negatif bahkan cenderung menghina untuk menyebut penduduk pegunungan itu sebagai kurang beradab, liar, dan tinggal di hutan,” kata Ichwan Azhari di Medan, Minggu (14/11/2010).

Dalam penelitiannya yang dimulai sejak September lalu, selain memeriksa arsip-arsip di Jerman, Ichwan juga melengkapi datanya dengan mendatangi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde atau the Royal Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) di Belanda. Dia juga mewawancari sejumlah pakar ahli Batak di Belanda dan Jerman seperti Johan Angerler dan Lothar Schreiner.

Hasilnya, pada sumber-sumber manuskrip Melayu klasik yang ditelusurinya, seperti manuskrip abad 17 koleksi Leiden, memang ditemukan kata Batak di kalangan orang Melayu di Malaysia, tetapi sebagai label untuk penduduk yang tinggal di rimba pedalaman semenanjung Malaka. Dalam manuskrip itu, saat Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511, Puteri Gunung Ledang yang sangat dihina dan direndahkan oleh teks ini, melarikan diri ke hulu sungai dan dalam teks itu disebut, “… masuk ke dalam hutan rimba yang amat besar hampir dengan negeri Batak. Maka diambil oleh segala menteri Batak itu, dirajakannya Puteri Gunung Ledang itu dalam negeri Batak itu.”

Tidak hanya di Malaysia, di Filipina juga penduduk pesisir menyebut penduduk pedalaman dengan streotip atau label negatif sebagai Batak. Untuk itu menurut Ichwan, cukup punya alasan dan tidak mengherankan kalau peneliti Batak terkenal asal Belanda bernama Van der Tuuk pernah risau
dan mengingatkan para misionaris Jerman agar tidak menggunakan nama Batak untuk nama etnik karena imej negatif yang terkandung pada kata itu.

“Di Malaysia dan Filipina penduduk yang diberi label Batak tidak mau menggunakan label merendahkan itu menjadi nama etnik mereka. Di Sumatera Utara label itu terus dipakai karena peran misionaris Jerman dan pemerintah kolonial Belanda yang memberi konstruksi dan makna baru atas kata itu,” katanya.

Disebutkan Ichwan, para misionaris itu sendiri awalnya ragu-ragu menggunakan kata Batak sebagai nama etnik, karena kata Batak tidak dikenal oleh orang Batak itu sendiri ketika para misionaris datang dan melakukan penelitian awal. Para misionaris awalnya menggunakan kata bata sebagai satu kesatuan dengan lander, jadi bata lander yang berarti tanah Batak, merupakan suatu nama yang lebih menunjuk ke kawasan geografis dan bukan kawasan budaya atau suku.

Di arsip misionaris yang menyimpan sekitar 100 ribu dokumen berisi informasi penting berkaitan dengan aktivitas dan pemikiran di tanah Batak sejak pertengahan abad ke-19 itu, Ichwan menemukan dan meneliti
puluhan peta, baik peta bata lander yang dibuat peneliti Jerman Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn, maupun peta-peta lain sebelum dan setelah peta Junghuhn dibuat.

“Peta-peta itu memperlihatkan adanya kebingungan para musafir barat dan misionaris Jerman untuk meletakkan dan mengkonstruksi secara pas sebuah kata Batak dari luar untuk diberikan kepada nama satu kelompok etnik yang heterogen yang sesungguhnya tidak mengenal kata ini dalam warisan sejarahnya,” tukas Ichwan.

Dalam peta-peta kuno itu, kata bata lander hanya digunakan sebagai judul peta tapi di dalamnya hanya nampak lebih besar dari judulnya nama-nama seperti Toba, Silindung, Rajah, Pac Pac, Karo, dan tidak ada nama batak sama sekali. Dalam salah satu peta kata Batak di dalam peta digunakan sebagai pembatas kawasan Aceh dengan Minangkabau.

Kebingungan para misionaris Jerman untuk mengkonstruksi kata Batak sebagai nama suku juga nampak dari satu temuan Ichwan terhadap peta misionaris Jerman sendiri yang sama sekali tidak menggunakan judul bata lander sebagai judul peta dan membuang semua kata Batak yang ada dalam edisi penerbitan peta itu di dalam laporan tahunan misionaris. Padahal sebelumnya mereka telah menggunakan kata Batak itu.

Kata Batak yang semula nama ejekan negatif penduduk pesisir kepada penduduk pedalaman, kemudian menjadi nama kawasan geografis penduduk dataran tinggi Sumatera Utara yang heterogen dan memiliki nama-namanya sendiri pada awal abad 20, bergeser menjadi nama etnik dan sebagai nama identitas yang terus mengalami perubahan.

“Setelah misionaris Jerman berhasil menggunakan nama Batak sebagai nama etnik, pihak pemerintah Belanda juga menggunakan konsep Jerman itu dalam pengembangan dan perluasan basis-basis kolonialisme mereka. Nama Batak juga digunakan sebagai nama etnik para elit yang bermukim di Tapanuli Selatan yang beragama Islam,” tukasnya.

(rul/rdf)

15
Nov
10

Kesejarahan : Brimob 65 tahun bersuasana Kerajaan Majapahit

Minggu, 14/11/2010 17:35 WIB
Suasana Kerajaan Majapahit Warnai HUT ke 65 Brimob
Rois Jajeli – detikSurabaya


Foto: Rois Jajeli

Surabaya – Peringatan HUT ke 65 Korps Brimob di Jawa Timur berbeda dengan tahun sebelumnya. Meski sederhana, tamu undangan upacara disuguhi berbagai atraksi dari personel Brimob dan Bhayangkari Polda Jatim.

Dalam atraksi tersebut, menggambarkan suasana kehidupan di masa Majapahit. Namun, juga diselipkan keterampilan anggota Brimob dan Bhayangkari seperti tari panah, tameng, kerusuhan massa di jaman kerajaan Majapahit. Dalam kerusuhan itu, digambarkan perusuh yang menunggang kuda, digantikan dengan anggota Brimob yang mengendarai sepeda motor trail.

Dalam kerusuhan itu, pasukan Brimob datang dan mengembalikan situasi kembali kondusif. Juga menggambarkan keterampialn anggota Brimob yang mengevakuasi raja, dan menghalau serta menindak pelaku kerusuhan.

Selain menggambarkan situasi kerajaan dicampuradukan dengan keterampilan anggota Brimob, juga ada atraksi merpatih putih dan skill pecah belah beton dan besi.

Atraksi tersebut, mendapatkan sambutan dari para Undanga dari pejabat TNI Polri, pensiunan Brimob, Kapolres jajaran Polda Jatim dan undangan lainnya.

“Memang dari awal sampai akhir full atraction,” kata Kasat Brimob Polda Jatim Kombes Pol Restu Mulya Budiyanto kepada wartawan, usai upacara di mapolda, Jalan Ahmad Yani, Minggu (14/11/2010).

Restu mengatakan, atraksi yang diselingi dengan suasana kerajaan Majapahit, menginginkan personel Brimob Polda Jatim dapat memahami tentang sejarah Kerajaan Majapahit. Dan diharapkan, Brimob dapat meneladani spirit dan mempunyai mental seperti Patih Gajah Mada.

“Kita kolaborasi dengan kemampuan teknis dan skill Brimob dengan jalannya sejarah itu. Oh pasukan dulu itu sering berlatih, berlatih dan berlatih, diawasi dan dikontrol. Dan dekat dengan masyarakat,” jelasnya.

Sementara Kapolda Jatim Irjen Pol Badrodin Haiti menegaskan, kemampuan anggota Brimob harus dipelihara, seperti menjadi pasukan anti teror, penjinak bahan peledak (jihandak), SAR, Resmob, gerilya, penanganan konflik atau kerusuhan, pengawalan.

“Kemampuan harus dipelihara, disiplin harus dipelihara dan kebanggaan harus dipelihara,” jelasnya.

Selain menampilkan atraksi, dalam uapcara HUT Brimob yang bertemakan ‘Dengan postur korps Brimob Polri siap melaksanakan quick wins Brimob Nusantara dalam rangka mendukung reformasi birokrasi Polri untuk menjaga Kamdagri’, juga menghadirkan kendaraan taktis seperti Water Canon, Baracuda, APC 14, APC 10, Mobil Gegana dan kendaraan taktis lainnya.

(roi/fat)

14
Nov
10

Kesejarahan : Dua Mesjid Suci, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Dua Masjid Suci

Liputan 6

Liputan 6
Merangkai Sejarah Dua Masjid Suci

Liputan6.com, Mekkah: Tahukah Anda dua masjid suci di Tanah Arab, yakni Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah tenyata berubah rupa dari masa ke masa Dalam rangkaian foto dan artefak asli berusia ratusan tahun, purwarupa keduanya terekam di ruang eksebisi masjid suci di Mekah, Arab Saudi.

Kedua masjid memiliki ciri khas menara yang berbeda. Bisa dilihat pula tangga menuju pintu Kabah era 1240 Hijriah atau tahun 1819 yang berbahan kayu berlapis emas. Tangga memang dibutuhkan karena pintu Kabah terletak dua seperempat meter dari permukaan tanah. Ada pula penutup maqam atau tempat berdirinya Nabi Ibrahim, juga dari abad ke-19.

Di sudut lain, dipajang bagian-bagian bangunan Masjid Nabawi, termasuk pembatas antara tempat salat dengan makam Nabi Muhammad. Meski suci, tak berarti disakralkan dan tetap tersentuh pemugaran. Pembaruan bangunan masjid berlangsung hampir di setiap masa pemerintahan yang berbeda.

Pengunjung sendiri terbantu merangkai sejarah kedua masjid melalui penataan koleksi yang runut dan bercerita. Sayangnya, ini bukan sembarang museum. Anda harus mengajukan permohonan kunjungan untuk melihat langsung kisah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.(ADO)

07
Nov
10

Kepemimpinan : Prof Dr Soetopo, Pahlawan 10Nop45, Perintis Pembentukan Universitas Gajahmada, 20 Mei 1949

Pembentukan

Ditilik dari sejarahnya, Universitas Gadjah Mada merupakan penggabungan dan pendirian kembali dari berbagai balai pendidikan, sekolah tinggi, perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta, Klaten dan Surakarta.

Nama Gadjah Mada berawal dari dibentuknya Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada yang terdiri dari Fakultas Hukum dan Fakultas Kesusasteraan. Pendirian diumumkan di Gedung KNI Malioboro pada tanggal 3 Maret 1946 oleh Mr. Boediarto, Ir. Marsito, Prof. Dr. Prijono, Mr. Soenario, Dr. Soleiman, Dr. Buntaran dan Dr. Soeharto.

Sejak 4 Januari 1946 Soekarno dan Hatta memindahkan ibukota Republik Indonesia ke Yogyakarta. Dengan maraknya pertempuran antara pejuang kemerdekaan dan Sekutu serta NICA di Jakarta dan Bandung, maka Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung ikut pindah ke Yogyakarta. Pada tanggal 17 Februari 1946, Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung dihidupkan kembali di Yogyakarta dengan para pengajarnya antara lain Prof. Ir. Rooseno dan Prof. Ir. Wreksodhiningrat.

Lembaga pendidikan lain yang berdiri pada waktu yang hampir bersamaan adalah Perguruan Tinggi Kedokteran (berdiri 5 Maret 1946), Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan (berdiri 20 September 1946), Sekolah Tinggi Farmasi (berdiri 27 September 1946), dan Perguruan Tinggi Pertanian (berdiri 27 September 1946) yang kesemuanya berada di Klaten, sekitar 20 kilometer dari Yogyakarta.

Institut Pasteur di Bandung sejak 1 September 1945, turut pula dipindahkan ke Klaten dengan laboratorium di Rumah Sakit Tegalyoso. Salah seorang yang berperan dalam pemindahan ini adalah Prof. Dr. M. Sardjito yang kelak menjadi Rektor Universitas Gadjah Mada yang pertama. Kehidupan kampus di Klaten semakin ramai dengan berdirinya Fakultas Kedokteran Gigi pada awal 1948.

Pada awal Mei 1948, Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan mendirikan Akademi Ilmu Politik di Yogyakarta atas usul Kementerian Dalam Negeri untuk mendidik calon-calon pegawai Departemen Dalam Negeri, Departemen Luar Negeri dan Departemen Penerangan. Akademi ini awalnya dipimpin oleh Prof. Djokosoetono, S.H. Sayangnya akademi ini tidak berumur panjang, setelah pemberontakan PKI Madiun meletus, September 1948, akademi ini ditinggalkan para mahasiswanya yang ikut menumpas pemberontakan sehingga akademi ini ditutup.

Selanjutnya pada 1 November 1948 didirikan Balai Pendidikan Ahli Hukum di Surakarta, sebagai hasil kerja sama Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dengan Kementerian Kehakiman. Bersamaan dengan itu Panitia Pendirian Perguruan Tinggi Swasta di Surakarta, yaitu Drs. Notonagoro, S.H., Koesoemadi, S.H. dan Hardjono, S.H. di Surakarta merencanakan mendirikan Sekolah Tinggi Hukum Negeri. Demi efisiensi, Panitia mengusulkan penggabungan Balai Pendidikan Ahli Hukum ke dalam Sekolah Tinggi Hukum Negeri yang akhirnya disetujui dan disahkan oleh Peraturan Pemerintah No. 73 tahun 1948.

Serangan Belanda ke ibukota Republik Indonesia di Yogyakarta dalam rangka Agresi Militer Belanda II melumpuhkan semua kegiatan belajar mengajar di Yogyakarta, Klaten dan Surakarta dan semua perguruan tinggi tersebut terpaksa ditutup dan para mahasiswa ikut berjuang.

Setelah serangan Belanda, wilayah Republik Indonesia menjadi semakin sempit. Pada tanggal 20 Mei 1949, diadakan rapat Panitia Perguruan Tinggi, di Pendopo Kepatihan Yogyakarta yang dipimpin oleh Prof. Dr. Soetopo, dengan anggota rapat antara lain, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Prof. Dr. M. Sardjito, Prof. Dr. Prijono, Prof. Ir. Wreksodhiningrat, Prof. Ir. Harjono, Prof. Sugardo dan Slamet Soetikno, S.H. Salah satu hasil rapat adalah pendirian perguruan kembali di wilayah republik yang masih tersisa, yaitu Yogyakarta. Disepakati Prof. Ir. Wreksodhiningrat, Prof. Dr. Prijono, Prof. Ir. Harjono dan Prof. Dr. M. Sardjito akan berusaha keras mewujudkannya. Kesulitan utama saat itu adalah tidak adanya ruangan untuk kuliah. Namun Sri Sultan Hamengkubuwono IX bersedia meminjamkan ruangan keraton dan beberapa gedung di sekitarnya.

Tanggal 1 November 1949, di Kompleks Peguruan Tinggi Kadipaten, Yogyakarta, berdiri kembali Fakultas Kedokteran Gigi dan Farmasi, Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran. Pembukaan ketiga fakultas ini dihadiri oleh Presiden Soekarno. Pada upacara pembukaan diadakan sebuah renungan bagi para dosen dan mahasiswa yang telah gugur dalam peperangan melawan Belanda, yaitu: Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, Ir. Notokoesoemo, Roewito, Asmono, Hardjito dan Wurjanto.

Tanggal 2 November 1949, Fakultas Teknik, Akademi Ilmu Politik serta Fakultas Hukum dan Fakultas Kesusasteraan yang berada di bawah naungan Yayasan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada ikut diresmikan.

Tanggal 3 Desember 1949 dibuka Fakultas Hukum di Yogyakarta dengan pimpinan Prof. Drs. Notonagoro, S.H.. Fakultas ini merupakan pindahan Sekolah Tinggi Hukum Negeri Solo.

Akhirnya tanggal 19 Desember 1949, lahirlah Universitas Gadjah Mada dengan enam fakultas. Menurut Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949, keenam fakultas tersebut adalah:

  1. Fakultas Teknik (di dalamnya termasuk Akademi Ilmu Ukur dan Akademi Pendidikan Guru Bagian Ilmu Alam dan Ilmu Pasti);
  2. Fakultas Kedokteran, yang di dalamnya termasuk bagian Farmasi, bagian Kedokteran Gigi dan Akademi Pendidikan Guru bagian Kimia dan limu Hayat;
  3. Fakultas Pertanian di dalamya ada Akademi Pertanian dan Kehutanan;
  4. Fakultas Kedokteran Hewan;
  5. Fakultas Hukum, yang di dalamnya termasuk Akademi Keahlian Hukum, Keahlian Ekonomi dan Notariat, Akademi Ilmu Politik dan Akademi Pendidikan Guru Bagian Tatanegara, Ekonomi dan Sosiologi;
  6. Fakultas Sastra dan Filsafat, yang di dalamnya termasuk Akademi Pendidikan Guru bagian Sastra.

Sebagai Rektor yang pertama (Presiden) ditetapkan Prof. Dr. M. Sardjito. Pada saat yang sama juga ditetapkan Senat UGM dan Dewan Kurator UGM. Dewan Kurator UGM terdiri dari Ketua Kehormatan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dan Ketua adalah Sri Paku Alam VIII, seorang wakil ketua dan anggota.

Rabu, 03/11/2010 08:40 WIB
Refleksi Kepemimpinan
Dedy Irawan – detikNews


Jakarta – Betapa sering kita menyaksikan bahwa apa yang disebut dengan kepemimpinan itu ternyata tidaklah bergantung kepada posisi atau jabatan seseorang. Kepala keluarga yang kurang mampu membina anak-anaknya, guru kelas yang tak dipatuhi para siswanya, ketua partai yang imbauannya tak dihiraukan konstituen, pemuka agama yang khutbahnya dianggap angin lalu oleh umat, direktur perusahaan yang setiap hari hanya memarahi dan mengancam anak buah, hingga jenderal yang tak piawai saat memberikan arahan, merupakan berbagai gambaran mengenai fenomena yang jamak ini. Bahkan ada pula kepala negara yang sebelum masa jabatannya berakhir, didesak untuk mengundurkan diri oleh rakyatnya sendiri walau terpilih secara sah konstitusional.

Padahal, bukankah semestinya dengan menyandang posisi pimpinan maka seseorang akan lebih mudah dalam memimpin orang lain? Bukankah dengan status yang disandangnya itu maka pengaruh yang diberikan kepada para pengikutnya akan menjadi lebih kuat? Hal ini ternyata tak selalu dapat berjalan demikian karena kepemimpinan itu sendiri tidaklah identik dengan sebuah posisi pimpinan, leadership is not a headship. Albert Einstein, Bunda Teresa, Konosuke Matsushita, Hasyim Asy’ari, Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr., dan banyak lagi tokoh pemimpin dunia lainnya di berbagai bidang, menjadi bukti yang nyata bahwa sesungguhnya pengaruh atas orang banyak dapat diperoleh walau tanpa jabatan penting kenegaraan sekalipun. Visi, integritas, keberanian, kepedulian, kebijaksanaan, semangat, komitmen, dan ketulusan, adalah kunci utama keberhasilan mereka di dalam memimpin, achievement of goals through voluntary followership.

Para tokoh pemimpin dunia tersebut tidaklah menunggu saat yang tepat untuk bertindak. Mereka tidak menunggu kaya, populer, atau berkuasa dahulu baru kemudian mewujudkan perubahan. Mereka tidak bersembunyi di menara gading melainkan hadir di tengah masyarakat. Mereka rela berkorban. Mereka memiliki pendirian teguh dan standar etika yang tinggi. Mereka juga para komunikator yang ulung akan pemikirannya. Mereka tekun membangun kapasitas kepemimpinannya dengan menghadapi kesulitan demi kesulitan. Mereka mengambil tanggung jawab untuk berperan semaksimal mungkin semasa hidupnya. Dan dengan menjalani hal-hal antara lain demikianlah, maka secara alamiah para informal leaders akan dapat bertransformasi menjadi para world class leaders. Kepemimpinan yang telah mereka bangunpun menjadi lebih lengkap saat mereka pada akhirnya mengemban amanat sebagai pemimpin formal di masyarakat. Hal yang kemudian membuat kisah kepemimpinan mereka menjadi inspirasi sepanjang zaman. Meminjam istilah Paulo Coelho dalam karyanya The Alchemist, mereka telah menuliskan legenda pribadinya sebagai karya dan teladan yang amat bernilai bagi generasi sesudahnya.

Walaupun memang tak dapat dipungkiri bahwa kepemimpinan itu sendiri bersifat kontekstual, sehingga pemimpin yang dibutuhkan sebuah organisasi politik akan berbeda dengan organisasi pendidikan, keagamaan, bisnis, militer, kelompok tani, para artis, atau bahkan organisasi mafia, namun sifat dasar kepemimpinan tidaklah jauh berbeda satu dengan yang lainnya. Masyarakat manapun senantiasa membutuhkan sosok pemimpin dan panutan, terlebih lagi dalam menghadapi masa-masa sulit.

Kepemimpinan juga merupakan key success factor dari proses perubahan yang besar. Para pengikutpun akan dengan sukarela mendukung terjadinya suatu perubahan mengikuti kepemimpinan yang kuat. Hal mana yang keberhasilan pengembangannya dalam tinjauan para ahli di berbagai institusi terkemuka, antara lain Harvard University atau McKinsey Inc., tidaklah dibedakan oleh faktor jenis kelamin, IQ, status sosial ekonomi, agama, ataupun ras seseorang. Kepemimpinan yang kuat dapat dijalankan oleh semua orang baik mereka yang berkepribadian ekstrovert maupun introvert.

Kepemimpinan yang kuat pula akan dapat mengendalikan jalannya sistem. Walau tengah berada di dalam sistem yang sudah terbangun secara buruk sekalipun, seorang pemimpin yang kuat tidak akan dengan mudah untuk dapat terpengaruh. Begitupun sebaliknya, seberapapun bagusnya sebuah sistem dalam berbagai bentuk peraturan dan kebijakan yang berfungsi sebagai enabler di masyarakat, jika berada di tangan pemimpin yang tidak kuat, hanyalah merupakan kesia-siaan belaka. Betapa banyak produk UU yang dimiliki oleh suatu negara, namun tak kunjung terasa manfaatnya oleh rakyat bila tak dijalankan dengan sungguh-sungguh oleh mereka yang berwenang.

Sedang di tingkat perusahaan seringkali pula kita dengar, bahwa perencanaan strategis yang sangat baik haruslah diikuti dengan eksekusi terhadap pelaksanaannya, yang tak lain adalah kepemimpinan. Bahkan tak jarang pula kita amati bahwa seiring pergantian kepemimpinan, para pengikut kadang kala merindukan sosok pemimpinnya yang terdahulu, karena pemimpin yang saat ini sedang menjabat kurang terasa kepemimpinannya, walaupun dalam hal ini tak ada perubahan aturan main sama sekali. Hal ini tak lain dikarenakan setiap orang memiliki ciri khas kepemimpinannya masing-masing yang memberi dampak dan jejak berbeda kepada para pengikutnya.

Kepemimpinan adalah driver dari sebuah proses perubahan. Kepemimpinanlah yang mampu mengubah zaman jahiliyah menjadi peradaban madaniyah dalam sejarah penyebaran agama. Kepemimpinanlah yang menjadi kunci bagi terciptanya perdamaian atau peperangan dunia. Kepemimpinanlah pula yang dapat menentukan masa depan negara serta organisasi manapun. Dan kepemimpinan pulalah yang mampu menyukseskan penyelamatan fenomenal 33 penambang Chile pertengahan Oktober lalu, baik dari para penambang itu sendiri maupun para tim penyelamat.

Pada hakikatnya, kita semua merupakan pemimpin di muka bumi ini. Sembari terutama saya mengingatkan diri saya sendiri, apapun profesi, job title, serta kesibukan kita sehari-hari saat ini, marilah kita jalankan kepemimpinan kita di semua tingkat kehidupan secara maksimal dan dengan sebaik-baiknya. Apalagi, jika secara struktural formal saat ini diri kita merupakan pimpinan yang menjadi tumpuan harapan bagi begitu banyak orang. Sungguh, tiada seorang pun yang tahu kapan ‘saat’ yang telah ditentukan itu akan tiba. Namun semoga, jikalau esok pun adalah waktunya, kita tak menyimpan sesal dan berserah dengan kelapangan jiwa. Kepemimpinan kita, hidup kita, adalah sebuah legenda.

*) Dedy Irawan, pemerhati manajemen, tinggal di Jakarta. Memiliki pengalaman profesional di Accor, Arbe, AstraZeneca, Recapital.

(vit/vit)




Blog Stats

  • 2,152,064 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 118 other followers