Posts Tagged ‘Heroism

23
Apr
14

Kepahlawanan : Mengenal Profil Bung Tomo

Mengenal Lebih Dekat Profil Bung Tomo

Written By Bung Tomo Award on 9/26/2013 | 06:28

Biografi dan profil bung tomo

Biografi dan profil bung tomo – Sutomo (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 3 Oktober 1920 – meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi, 7 Oktober 1981 pada umur 61 tahun)[1] lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat sebagai Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Ia mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di Malang. Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Ayahnya adalah seorang serba bisa. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer.

Masa muda

Sutomo dibesarkan di rumah yang sangat menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh semangat. Ia suka bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Pada usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO, Sutomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus. Sutomo kemudian bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Belakangan Sutomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya. Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Sebelum pendudukan Jepang pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia.

Perjuangan

Sutomo pernah menjadi seorang jurnalis yang sukses. Kemudian ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial. Ketika ia terpilih pada 1944 untuk menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru yang disponsori Jepang, hampir tak seorang pun yang mengenal dia. Namun semua ini mempersiapkan Sutomo untuk peranannya yang sangat penting, ketika pada Oktober dan November 1945, ia berusaha membangkitkan semangat rakyat sementara Surabaya diserang habis-habisan oleh tentara-tentara NICA. Sutomo terutama sekali dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan emosi. Meskipun Indonesia kalah dalam pertempuran 10 November itu, kejadian ini tetap dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Indonesia.

Biodata Bung Tomo

Nama : Sutomo
Nama Panggilan : Bung Tomo
Tanggal lahir : 03 Oktober 1920
Tempat Lahir : Surabaya Jawa Timur
Meninggal : Padang Arafah, Arab Saudi
Pendidikan : MULO
HBS
Gelar Pahlawan : Pahlawan Nasional sejak 2 November 2008
Organisasi dan karir :

KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia)
Gerakan Rakyat Baru
Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956
anggota DPR pada 1956-1959 yang mewakili Partai Rakyat Indonesia

Demikan artikel biografi dan profil bung tomo. Semoga bermanfaat.

Sumber : infobiografi.com

05
Mar
14

Kepahlawanan : Seabad RM Djajeng Pratomo

Dia berkampanye memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, bergerilya-kota melawan Nazi-Jerman, serta membela kemerdekaaan Indonesia saat agresi Belanda.

OLEH: ABOEPRIJADI SANTOSO, KONTRIBUTOR/AMSTERDAM
Dibaca: 2505 | Dimuat: 24 Februari 2014

RADEN Mas Djajeng Pratomo genap seabad pada 22 Februari 2014. Hidup mandiri di apartemen di desa ‘t Zand di ujung utara Belanda, Djajeng lama tersisih dari perhatian media di Belanda maupun Indonesia.

Dia lahir di Bagan Siapi-api, kota pasar ikan di pantai timur Sumatra, putra sulung Dr Djajengpratomo dari Pakualaman Yogyakarta.

Ayahnya, Djajengpratomo, mengenyam sekolah kedokteran yang diperuntukkan bagi kaum ningrat, STOVIA, di Batavia. Dia salah satu alumnus pertamanya. Asal-usulnya yang memberinya privilese pendidikan itulah yang justru membuat dirinya insyaf akan status diri dan patrianya sebagai bagian dari sistem negeri jajahan. Ini melahirkan aspirasi kebangsaan dan mendorongnya ikut gerakan nasionalis pimpinan Dr Soetomo.

Djajengpratomo mempelopori pelayanan kesehatan di klinik di Bagan Siapi-api. Berkat perannya –dia mahir berbahasa Tionghoa untuk melayani mayoritas penduduk yang asal Tionghoa– namanya diabadikan pada rumahsakit lokal: RSUD Dr Pratomo.

Djajeng Pratomo –semula namanya Amirool Koesno, kemudian digantinya dengan nama ayahnya– bernasib hampir serupa. Seperti ayahnya, privilese yang memungkinkannya masuk sekolah menengah Koning Willem II School di Batavia membuat dirinya sadar sebagai anak jajahan. Menyusul adiknya, Gondho Pratomo, Djajeng pada 1935 bertolak ke Belanda untuk melanjutkan studi kedokteran di Leiden.

Justru di Belanda Djajeng menemukan budaya aslinya. Dia menggemari, mempelajari, dan mementaskan tari Jawa melalui kelompok seni tari De Insulinde.

Tahun 1930-an adalah tahun krisis. Naziisme-Hitler berkuasa di Jerman dan mengguncang Eropa. Djajeng menjadi anggota Perhimpunan Indonesia (PI), sebuah klub sosial mahasiswa Indonesia di Belanda yang didirikan pada 1922 dan kemudian berkembang jadi organ politik kebangsaan yang gigih melawan kekuatan fasis. (Baca: Perhimpunan Indonesia, Wahana Perjuangan)

Nama Djajeng tak terpisahkan dari Stijntje ‘Stennie’ Gret, gadis Schiedam yang dijumpainya di sebuah toko buku pada 1937. Stennie meminati perkembangan di Hindia dan tertarik pada seni tari Jawa. Bersama Djajeng, yang kemudian jadi suaminya, keduanya menjadi mitra di bidang budaya sekaligus sekutu politik.

Dasawarsa 1930-an merupakan hari-hari bahagia mereka. Dua sejoli ini sering menikmati pergelaran jazz di teater prestisius Pschorr di Coolsingel, Rotterdam, dan De Insulinde mementaskan tarian Jawa oleh Djajeng di Koloniaal Instituut van de Tropen di Amsterdam. Di mana ada Djajeng, di situ ada Stennie. Juga ketika De Insulinde mementaskan tari di London untuk menghimpun dana guna membantu Tiongkok yang kala itu diduduki tentara Jepang.

Tahun 1940-an menjadi masa bergolak yang penuh tragik. Di bawah pendudukan Nazi, PI jadi ilegal. Polisi Jerman memburu para aktivisnya. Pada 1943 Djajeng dan Stennie ditahan di kamp Vught. Tahun berikutnya mereka dikirim ke kamp maut Nazi di Ravenbruck dan Dachau di Jerman.

“Di Dachau,” Djajeng berkisah, “saya melihat tumpukan mayat setiap hari.” Sebagai tenaga kerja paksa untuk pabrik pesawat terbang Messerschmitt, setiap hari dia menyaksikan orang digantung mati. Jika ada peluang, Djajeng mencoba menyelamatkan tawanan, tutur salah seorang yang diselamatkannya. Sementara di kamp Ravenbruck, Stennie mencat-hitam rambut para tawanan perempuan agar tampak muda ketika penguasa kamp memerintahkan untuk membinasakan para tawanan jompo.

Selamat dari derita kamp, Djajeng dan Stennie dibebaskan tentara Sekutu namun baru bertemu kembali pada September 1945, sebulan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Mereka lalu menikah sebagai warga negara Indonesia pada Februari 1946 dan melanjutkan pekerjaan politik untuk membela kemerdekaan Indonesia.

Ketika Belanda melancarkan agresi militer I pada Juli 1947, PI menggelar protes massal di Concertgebouw, Amsterdam. Kampanye membela kemerdekaan Indonesia membawa mereka ke Eropa Timur. Di Praha, Djajeng dan kawan-kawannya turun ke jalan dan dengan bangga mengibarkan bendera Merah-Putih ketika dia memimpin delegasi Indonesia di World Federation of Democratic Youth. Kampanye itu bahkan berlanjut sampai Serajewo dan kota kota lain di Yugoslavia. Kembali ke Belanda, mereka bergerak di bawah tanah selagi pecah perang kemerdekaan di Indonesia.

Djajeng dan Stennie dua kali berencana pulang ke Indonesia, namun membatalkannya. Kali pertama karena agresi militer I dan kali kedua karena terjadi pembantaian 1965-1966. Lalu, dengan alasan pragmatis, mereka beralih ke kewarganegaraan Belanda pada 1975. Akhirnya, setelah kurun enam dasawarsa, Djajeng dan Stennie sempat menginjakkan kaki di Indonesia.

Kembali di Belanda, Djajeng tetap aktif politik di front internasional, dan baru berhenti ketika Stennie jatuh sakit dan meninggal pada 2010.

Djajeng, Stennie, dan kamerad-kameradnya tergolong generasi yang meyakini bahwa sejarah selalu bergerak maju. Dengan begitu mereka merumuskan idealisme dan kekuatan politiknya berdasarkan solidaritas internasional. Kini mereka hidup di dunia yang telah berubah radikal. Namun perubahan itu tidaklah seperti yang mereka bayangkan dan proyeksikan.

Meski begitu, Djajeng tak merasa kecewa. Dia masih mencintai Indonesia, dengan seni tari, musik gamelan, serta kulinernya. Djajeng kini tak mampu lagi berbahasa Indonesia. Namun, dengan semangat internasionalnya, idealisme kepatriotan dan aksi-aksi perjuangannya, Djajeng Pratomo adalah salah satu patriot istimewa Indonesia.

*) Dengan terima kasih atas perantaraan Ny. Marjati Pratomo

++++

http://historia.co.id/artikel/modern/1345/Majalah-Historia/Perhimpunan_Indonesia,_Wahana_Perjuangan

SEABAD RM DJAJENG PRATOMO

Perhimpunan Indonesia, Wahana Perjuangan

Perkumpulan anak bangsa pertama di Negeri Belanda yang memakai nama Indonesia.

image
OLEH: ABOEPRIJADI SANTOSO, KONTRIBUTOR/AMSTERDAM
Dibaca: 953 | Dimuat: 24 Februari 2014

PERHIMPUNAN Indonesia (PI) menempati posisi unik dalam sejarah. Ia adalah perkumpulan anak bangsa yang pertama kali menyandang nama Indonesia untuk menunjukkan aspirasi kemerdekaan.

PI (1924), semula bernama Indische Vereeniging dan didirikan pada 1908, mulanya perkumpulan mahasiswa biasa. Namun ia berubah jadi radikal sejak Nazi-Hitler berkuasa di Jerman pada 1933, kemudian menggetarkan Eropa, dan menduduki Belanda pada 1940. PI berkembang menjadi organ politik yang gigih dan efektif. Ia menggalang mahasiswa-mahasiswa Indonesia agar bersatu melawan fasisme.

Sepanjang kurun menuju 1940, mereka bersekutu dengan kelompok-kelompok perlawanan Belanda di sekitar media Vrij Nederland,De WaarheidHet Parool, dan De Vrije Katheder, membantu mencetak koran-koran tersebut secara ilegal, karena mereka bertekad menempatkan perjuangan melawan fasisme sebagai agenda utama.

Pada akhir 1930-an hingga 1940-an, PI aktif dalam kegiatan politik kaum perlawanan anti-Nazi: mengerahkan, merekrut, dan mengorganisasi sesama mahasiswa, menyebarkan pamflet, serta melindungi dan menyembunyikan orang-orang yang menjadi sasaran Nazi –kaum Yahudi dan lain-lain.

Dalam edisi khusus Jubileum (HUT ke-30) majalah Indonesia Merdeka, pimpinan PI menyatakan: “Agresi fasis tahun-tahun belakangan ini mengancam Belanda maupun Indonesia. (Dalam kondisi itu) kerjasama antara rakyat Indonesia dengan gerakan nasionalnya dan Belanda yang demokratis, atas dasar kesetaraan dan saling-menghargai, merupakan satu-satunya jalan untuk membebaskan kedua rakyat negeri tersebut dari bahaya yang mengancam mereka. (Karena) rakyat tidak dapat memenuhi kewajibannya tanpa adanya hak-hak demokratis mereka, maka Perhimpunan Indonesia bercita-cita menuju perombakan yang demokratis berdasarkan kesetaraan di bidang ekonomi, politik dan militer.”

Jadi, PI memandang kerjasama kedua bangsa dan rakyat (Belanda dan Indonesia) sebagai kerjasama “menyelamatkan kemanusiaan” dari kekejaman Nazi. Dengan demikian, PI menunjuk bahwa tujuan “Indonesia merdeka” hanya dapat dicapai dengan memerangi fasisme. Namun seruan Perhimpunan Indonesia mengenai kerjasama itu ditampik begitu saja oleh pemerintah Belanda.

Maka, bagi PI, masalah yang utama adalah menyadarkan sesama Indonesia di Belanda maupun di Indonesia agar terlibat dalam perjuangan melawan fasisme. Seruan ini bukan hanya ditujukan kepada para mahasiswa Indonesia yang kebanyakan berada di Leiden, kota yang menjadi markas PI, tetapi juga pelaut-pelaut Indonesia yang bekerja pada perusahaan-perusahaan kapal Belanda di Rotterdam. Akibat pendudukan Jerman, pekerja Indonesia di perusahaan Rotterdamse Lloyd menganggur dan mereka inilah yang mendapat penyuluhan politik oleh para mahasiswa dari PI cabang Rotterdam.

Paling kurang lima anggota PI menjadi korban Nazi: Djajeng dan adiknya, Gondho, jadi pekerja-paksa di kamp Dachau meski akhirnya selamat; tiga orang tewas di kamp; dan Irawan Surjono tewas ditembak polisi Nazi (SS) ketika mengangkut pamflet di Leiden.

Sementara itu, PI juga cemas akan simpati yang berkembang di Indonesia terhadap peran Jepang. Menurut pimpinan PI, rakyat Indonesia harus menyadari bahwa industrialisasi yang dijalankan Jepang berarti pula ekspansi kekuatan fasis ke selatan, termasuk Indonesia.

Karena itu, isu tentang hubungan Sukarno dengan tentara pendudukan Jepang menimbulkan dilema. Djajeng dalam hal ini masih mempercayai Sukarno, karena dia menyadari bahwa Belanda berkepentingan untuk mendiskreditkan pemimpin Indonesia sebagai “boneka Jepang”.

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, PI memutuskan bahwa sebagian besar anggotanya kembali ke tanah air; belakangan sebagian dari mereka tewas menyusul Peristiwa Madiun (1948). Sebagian lainnya, termasuk Djajeng, tetap berada di Belanda untuk memimpin majalah PI, yang berganti nama menjadi Indonesie, dan melanjutkan kegiatan politik. Djajeng sempat bertugas mewakili Kementerian Penerangan Republik Indonesia di Belanda.

Dengan riwayatnya yang heroik sekaligus bersetiakawan internasional, perjalanan PI selaku wahana politik Indonesia mencerminkan sebuah era yang sarat perubahan dan tantangan fundamental –bagi Eropa maupun bagi Indonesia sebagai suatu bangsa baru.

Sabtu, 01 Maret 2014 | 11:40 WIB

Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 )

TEMPO.CO, Amsterdam, Belanda – Perlawanan terhadap fasisme Jerman pada 1940-an melibatkan beberapa aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda. Mereka saat itu juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah seorang aktivis itu bernama Djajeng Pratomo. Ia tinggal di Belanda. Djajeng pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Dachau, Muenchen. Kamp Dachau disebut-sebut kamp konsentrasi Nazi yang paling kejam dan banal.

Di kamp ini terdapat banyak fasilitas penyiksaan seperti ruang gas, rumah krematorium dengan tungku pembakaran mayat dan alat siksa beraliran listrik. Ribuan mayat ditumpuk tiap hari sehingga orang harus menggunakan tangga untuk meletakkan mayat di bagian teratas.

Djajeng pada 22 Februari lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Di usianya yang seabad itu, Lea Pamungkas dari Tempo menggali kisah aktivitasnya di Perhimpunan Indonesia dan bagaimana ia bertahan untuk hidup di Kamp Konsetrasi Dachau. Berikut tulisan pertama dari lima tulisan yang disajikan disini.

Nama Djajeng tak dikenal dalam sejarah Indonesia. Tapi dia salah satu saksi hidup perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia tapi juga saksi hidup kekejaman tentara Nazi.

Djajeng lahir di Bagansiapiapi, Sumatera Utara pada 22 Februari 1914. Anak Pasangan Raden Mas Pratomo- Raden Pratomo dan Raden Sujatilah. Lahir dengan nama Amirool Koesno. Ayahnya keturunan Keraton Pakualaman Yogyakarta.

Dialah lulusan pertama dokter Jawa dari sekolah bergengsi School toto Opleiding van Inlandsche Artsen-STOVIA, sebuah pendidikan untuk Dokter Pribumi. Dr Pratomo pindah ke Bagansiapiapi untuk memimpin sebuah poliklinik pada 1911 hingga meninggal pada 1939. Namannya diabadikan untuk nama rumah sakit umum daerah di Jalan Pahlawan Nomor 13, Kabupaten Rokan Hilir, Riau.

Amirool kecil pindah ke Medan pada usia 7 tahun untuk masuk sekolah dasar. Dia meneruskan sekolah menengah di Yogyakarta dan HBS di Koning Willem School, Jakarta. Semua siswa dan gurunya Belanda tulen atau Indo. “Seingat saya hanya ada satu guru Indo,” ujarnya.

Setelah lulus dia meneruskan pendidikan ke Medische School, sekolah kedokteran di Belanda dan sang ayah mengirimnya ke Leiden. Adiknya, terlebih dulu sudah sampai di Belanda. Hanya setahun di Leiden, dia pindah ke Economische Hogeschool-sekolah tinggi ekonomi di Rotterdam. Adiknya pun mengikuti jejaknya pada 1940.

Sabtu, 01 Maret 2014 | 15:43 WIB

Ketika Djajeng Pratomo Ketemu Gret (2)

TEMPO.CO, Jakarta -Perlawanan terhadap fasisme Jerman pada 1940-an melibatkan beberapa aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda. Mereka saat itu juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah seorang aktivis itu bernama Djajeng Pratomo. Ia tinggal di Belanda. Djajeng pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Dachau, Muenchen. Kamp Dachau disebut-sebut kamp konsentrasi Nazi yang paling kejam dan banal.  (Baca: Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 )

Di kamp ini terdapat banyak fasilitas penyiksaan seperti ruang gas, rumah krematorium dengan tungku pembakaran mayat dan alat siksa beraliran listrik. Ribuan mayat ditumpuk tiap hari sehingga orang harus menggunakan tangga untuk meletakkan mayat di bagian teratas.

Djajeng pada 22 Februari lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Di usianya yang seabad itu, Lea Pamungkas dari Tempo menggali kisah aktivitasnya di Perhimpunan Indonesia dan bagaimana ia bertahan untuk hidup di Kamp Konsetrasi Dachau. Berikut tulisan kedua dari lima tulisan yang disajikan disini.

Satu hari di toko buku di Rotterdam, Belanda, sepasang mata Djajeng tertarik pada satu sosok gadis yang sedang melihat buku-buku tentang Indonesia. “Kami berdiri bersebelahan di depan etalase yang dipenuhi buku tentang Indonesia,” kata Djajeng. (Baca: Djajeng, Pintar Menari (Bagian 3)

Saat gadis itu berlalu dari toko buku itu, Djajeng  mengikuti hingga jembatan dan mengajak berkenalan. Stintje Gret yang saat itu berusia 18 tahun, menyambut perkenalan itu. Stennie, sapaan untuk Stintje Gret,  adalah penari balet dan tertarik pada tarian Jawa. Setelah pertemuan itu, hubungan keduanya semakin erat sebagai sepasang kekasih.

Aktivitas Djajeng memperjuangkan kemerdekaan Indonesia mendapat simpati dari koran Partai Komunis Belanda De Waarheid. Stennie mendukung perjuangan Djajeng. Namun, tidak mudah bagi Djajeng dalam menjalankan aktivitasnya. Untuk mengurangi resiko atas aktivitas bawah tanahnya, Djajeng dipindahkan ke Den Haag.

Sayangnya alamatnya diketahui Sicherheits Dienst atau tentara Nazi setelah menangkap Stennie sebelumnya. Rumah Djajeng digerebek pada 18 Januari 1943. Djajeng dan rekannya, Moen Soendaroe ditangkap dan dijebloskan ke Kamp Konsentrasi Vught di Belanda Bagian Selatan.

Djajeng kemudian dipindahkan  ke Dachau, Moen ke Kamp Neuengamme di Hamburg.  Stennie ditahan di Vught lalu dipindah ke Kamp Ravensbruck. Tak lama kemudian Stennie dibebaskan. Begitu juga dengan Djajeng.

Djajeng kemudian menjadi Pemimpin Redaksi Indonesia, sementara Stennie membentuk sebuah komite melawan pendudukan Belanda atas Indonesia. Dia tetap tinggal di Belanda dan diperbantukan di Kementerian Penerangan. Mereka berdua banyak terlibat dalam demonstrasi melawan pengiriman pasukan Belanda ke Indonesia.

Pada 1947, keduanya menghadiri Wereldjeugfestival, Festival Pemuda Sedunia, di Praha. Mereka membawa bendera Indonesia yang baru dua tahun merdeka .Mereka pun melanjutkan perjalanan diplomasi budaya ke beberapa kota di Yugoslavia.

LEA PAMUNGKAS | DIAN YULIASTUTI

Baca Kisah Djajeng Pratama lainnya
Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 )  
Kisah Djajeng Pratomo dengan Gret (Bagian 2)
Djajeng, Pintar Menari (Bagian 3)  
Tahanan 69053 Pengangkut Mayat (Bagian 4)
Cara Djajeng Menyelamatkan Diri (Bagian 5) 

Sabtu, 01 Maret 2014 | 16:38 WIB

Djajeng, Pintar Menari (Bagian 3)

TEMPO.CO, Jakarta -Perlawanan terhadap fasisme Jerman pada 1940-an melibatkan beberapa aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda. Mereka saat itu juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah seorang aktivis itu bernama Djajeng Pratomo. Ia tinggal di Belanda. Djajeng pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Dachau, Muenchen. Kamp Dachau disebut-sebut kamp konsentrasi Nazi yang paling kejam dan banal.

Di kamp ini terdapat banyak fasilitas penyiksaan seperti ruang gas, rumah krematorium dengan tungku pembakaran mayat dan alat siksa beraliran listrik. Ribuan mayat ditumpuk tiap hari sehingga orang harus menggunakan tangga untuk meletakkan mayat di bagian teratas.

Djajeng pada 22 Februari lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Di usianya yang seabad itu, Lea Pamungkas dari Tempo menggali kisah aktivitasnya di Perhimpunan Indonesia dan bagaimana ia bertahan untuk hidup di Kamp Konsetrasi Dachau. Berikut tulisan ketiga dari lima tulisan yang disajikan disini. (Baca: Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 ) 

Dibalik aktivitas politik yang penuh resiko, Djajeng Pratomo punya bakat seni yang baik. Ia pandai menari dan bergamin gamelan. “Saya juga main musik keroncong,” kata Djajeng. Ia mengatakan semua bakat seninya diasah sejak tinggal di Belanda.

Mantan pemimpin Redaksi Indonesia yang aktif mensosialisasikan kemerdekaan Indonesia di Eropa bercerita keterlibatannya di Perhimpunan Indonesia justru berawal dari kegiatan seni. Dia menari dan menabuh gamelan di kelompok musik Insulinde milik Kaoem Muda Indonesia- organisasi pekerja Indonesia di Belanda.Pendapatan dari Insulinde ini menyumbang banyak untuk kegiatan Perhimpunan Indonesia.

Djajeng sering terlibat program Roekoen Peladjar Indonesia. Organisasi ini bekerja sama dengan para pekerja kapal, pekerja restoran bahkan para jongos dan babu asal Indonesia. (Baca: Sejoli Berjuang untuk Indonesia (Bagian 2)

Bersama Roekoen Pelajar Indonesia, Djajeng  memamerkan tarian di London, Inggris, pada 1939. Kegiatan ini untuk mendanai rakyat Cina melawan fasisme Jepang. Mereka juga dikontrak Institut Kolonial-cikal bakalah Yayasan Tropen. Penontonnya bisa menembus angka seribu. Acara seni yang mereka gelar dapat  menghasilkan pendapatan yang lumayan besar hingga institut itu mendapat keuntungan 500 gulden.

Setelah Jerman berkuasa di Belanda,  Djajeng terus bergerak dengan menyebarkan penerbitan bawah tanah.Sedangkan aktivitas  Insulinde terpaksa dihentikan.

 

Djajeng dan Tahanan 69053 Pengangkut Mayat (4)

TEMPO.CO, Jakarta -Perlawanan terhadap fasisme Jerman pada 1940-an melibatkan beberapa aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda. Mereka saat itu juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah seorang aktivis itu bernama Djajeng Pratomo Ia tinggal di Belanda. Djajeng pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Dachau, Muenchen. Kamp Dachau disebut-sebut kamp konsentrasi Nazi yang paling kejam dan banal.   (baca: Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( 1 )  )

Kepada Lea Pamungkas dari Tempo, ia  berkisah aktivitasnya di Perhimpunan Indonesia dan bagaimana ia bertahan untuk hidup di Kamp Konsentrasi Dachau. Berikut tulisan keempat dari lima tulisan yang disajikan disini.

Pada 18 Januari 1943, rumah Djajeng Pratomo dan rekannya sesama mahasiswa Moen Soendaroe digerebek oleh Sicherheits Dients (tentara Nazi). Kekasihnya Stintje Gret atau Stennie sudah lebih dulu ditangkap. Djajeng diangkut dengan truk ke  Kamp Vaught. Ia  kemudian dijebloskan ke  Kamp Konsentrasi Dachau. Saat itu musim dingin mengamuk menebarkan dingin yang menggigit tulang. 

Djajeng tahanan Kamp Dachau bernomor 69053. Di kamp, Djajeng tak hanya menjalani kerja paksa, tapi juga dipaksa melihat cara Tentara Nazi-Schutztaffel (SS)–Satuan Keamanan Nazi–menggantung para tahanan. Sejak didirikan pada 1933, kamp ini dipakai sebagai sarana proyek pelatihan mental tentara SS untuk menjadi SS-Totenkopverbände (SS-TV) atau Satuan Tengkorak. “Saya diwajibkan bekerja di pabrik pesawat terbang Messerschmit, tapi kemudian saya dipindah ke bagian lain,” ujarnya tentang pekerjaannya di kamp. 

Djajeng yang berlatar belakang pendidikan ilmu kedokteran  dijadikan perawat para tahanan di Blok 7 bagian barak rumah sakit. Barak-barak kayu dibikin panjang berjajar tanpa pemanas ruangan. Setiap kali masuk barak, para tahanan diharuskan bertelanjang kaki.

Di dalam kamp ini, tak kurang dari 200 ribu orang dari pelbagai penjuru Eropa pernah ditahan–31 ribu di antaranya tewas. Dari 2.068 orang yang berasal dari Belanda, 477 orang di antaranya meninggal.(baca:Kisah Djajeng Pratomo dengan Gret (Bagian 2))

Bersama seorang dokter dari Perancis, Djajeng menangani para tahanan yang terkena penyakit menular. Ketika epidemi tifus terjadi, awalnya hanya Blok 7 yang digunakan untuk merawat para pasien. Namun, saking banyaknya orang yang sakit, akhirnya barak-barak lain pun digunakan. “Kami betul-betul kepayahan,” ujarnya. Untunglah datang seorang dokter lain yang sangat berpengalaman dengan penyakit tifus, Dr Kovalenko. Kovalenko adalah dokter tentara Rusia yang menjadi tawanan.

Selain merawat tahanan, Djajeng juga harus mengangkut mayat ke totenkamer, kamar mayat. Djajeng melakukan bersama seorang pemuda Rusia berusia 15 tahun. Setiap hari semakin banyak yang diangkut.“ Kami harus terus mengangkat mayat itu satu per satu. Akhirnya kami terpaksa menumpuknya di jalanan,” ujarnya. “Tumpukan mayat itu  semakin hari semakin tinggi. Sampai-sampai kami harus memakai tangga.”

Mayat-mayat tersebut kemudian dibawa untuk dibakar di krematorium yang letaknya terpencil dari lokasi barak dan sel tahanan. Tubuh-tubuh itu dibakar di atas tungku dengan cerobong asap yang tidak pernah berhenti mengepulkan bau manusia. Di lokasi tersebut dibangun juga kamar gas yang digunakan untuk mengeksekusi para tahanan secara massal. Mereka juga mati karena menjadi korban kelinci percobaan dari pelbagai penelitian bakteri para ilmuwan Nazi dan korban latihan tembak Tentara SS-TV.

DIAN YULIASTUTI

Berita Terkait:
Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 )
Sejoli Berjuang untuk Indonesia (Bagian 2)
Djajeng, Pintar Menari (Bagian 3)

 

http://m.tempo.co/read/news/2014/03/01/117558612/Cara-Djajeng–Selamatkan-Diri-dari-Kamp-Nazi—5

 

Sabtu, 01 Maret 2014 | 18:08 WIB

Cara Djajeng Selamatkan Diri dari Kamp Nazi ( 5)

TEMPO.CO, Jakarta –Perlawanan terhadap fasisme Jerman pada 1940-an melibatkan beberapa aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda. Mereka saat itu juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah seorang aktivis itu bernama Djajeng Pratomo. Ia tinggal di Belanda. Djajeng pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Dachau, Muenchen. Kamp Dachau disebut-sebut kamp konsentrasi Nazi yang paling kejam dan banal. (baca: Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 ) )

Djajeng pada 22 Februari lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Di usianya yang seabad itu, Lea Pamungkas dari Tempo  menggali kisah aktivitasnya di Perhimpunan Indonesia dan bagaimana ia bertahan untuk hidup di Kamp Konsentrasi Dachau. Berikut bagian terakhir dari tulisan ini.

Tak mudah bagi Djajeng dan para perawat lain bertahan hidup dari eksekusi tentara Nazi. Mereka harus pintar-pintar mencari akal lolos dari maut. Djajeng memanipulasi nomor kartu identitas tahanan miliknya.Ketika seorang tahanan harus menjalani eksekusi, para perawat akan mengambil nomor kartu identitas yang tergantung di kaki tubuh tahanan yang sudah jadi mayat. Lalu, Djajeng dan teman-teman sesama tahanan menukar kartu identitas mayat dengan kartu identitas mereka.“Jika tentara SS datang, kami serahkan kartu yang sudah ditukar itu dan mengatakan dia sudah mati,” kata Djajeng.(baca: Kisah Djajeng Pratomo dengan Gret (Bagian 2))

Nasib baik berpihak pada Djajeng dan tahanan lainnya. Malam 28 April 1945 terdengar dentuman meriam yang suaranya semakin lama semakin dekat ke arah Kamp Dachau. Djajeng Pratomo mendengar bocoran informasi bahwa 32 ribu orang yang masih berada di kamp Dachau tak boleh seorang pun dibiarkan hidup bila pasukan Amerika datang.

Keesokan harinya, Djajeng bersama sejumlah tahanan lainnya berlari menyelamatkan diri ke lapangan tempat apel meski masih terdengar bunyi tembakan dimana-mana. Tentara Amerika Serikat menyelamatkannya para tahanan termasuk Djajeng.

Belakangan,seorang tahanan Kamp Dachau bernama Mirdamat Seidov asal Baku, Azerbaizan, mencarinya. Pada 1958, Seidov mengirim surat ke Majalah Negeri Sovjet, majalah berbahasa Indonesia di Rusia. Dalam surat yang dimuat pada edisi 22 November 1958 Seidov mengucapkan terima kasih kepada Djajeng yang pernah menyelamatkan hidupnya di Kamp Dachau. (baca: Tahanan 69053 Pengangkut Mayat (Bagian 4))

Ceritanya, pada saat pembebasan para tahanan oleh pasukan Amerika, komite-komite nasional didirikan untuk mencatat para tahanan yang masih hidup. Sedangkan yang sakit masuk ke kamp karatina Palang Merah. Seidov masuk ke kamp karatina. Saat itu,  Djajeng yang fasih berbahasa Inggris ikut dalam komite mengkoordinasi persediaan makanan, obat-obatan, pakaian, dan barang-barang yang dibutuhkan kamp karantina.

Kisah hidupnya itu  masih membekas dalam benak Djajeng.“Sampai hari ini saya masih sering bermimpi buruk dan tiba-tiba terbangun dari tidur.” 

DIAN YULIASTUTI

Baca Kisah Djajeng Pratama lainnya
Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 )  
Kisah Djajeng Pratomo dengan Gret (Bagian 2)
Djajeng, Pintar Menari (Bagian 3)  
Tahanan 69053 Pengangkut Mayat (Bagian 4)
Cara Djajeng Menyelamatkan Diri (Bagian 5)

28
Oct
12

Kepahlawanan : Pertempuran Heroik 10 Nopember 1945

http://jakarta45.files.wordpress.com/2012/02/pkp-1945-_033.jpg?w=655

IBRAHIM ISA – Bahan Referensi Sejarah

Sabtu, 27 Oktober 2012

——————————————————————————

Sepuluh November 2012, bulan depan adalah HARI PAHLAWAN! Bangsa kita, pemerintah Republik Indonesia sejak 1945, memperingati Hari Pahlawan 10 November, saat dimulainya perang perlawanan terhadap tentara pendudukan Inggris yang bertindak atas nama Sekutu, dan embel-embelnya tentara Belanda yang menamakan dirinya NICA.

Perlawanan heroik yang dilakukan oleh para pemuda kita yang baru saja terorganisasi dalam TKR, Tentara Keamanan , bersama-sama dengan para gerilyawan dari pelbagai organisasi pelajar dan mahasiswa pejuang Republik Indonesia dan kekuatan-kekuatan rakyat yang berinisiatif menggabungkan diri dengan PERANG KEMERDEKAAN di Surabaya itu, berakhir dengan didudukinya kota heroik Surabya oleh tentara pendudukan Inggris, ditarik mundurnya ke luar kota semua kekuatan bersenjata Indonesia, serta pengungsian puluhan ribu rakyat Surabaya ke daerah kekuasaan Republik Indonesia di Jawa Timur.

NAMUN, Perlawanan ini, Perang Kemerdekaan yang berskala paling besar yang dilancarkan bangsa Indonesia , menghadapi kekuatan musuh yang bersenjata modern, dan yang didukung oleh angakatan udaranya, dan angkatan lautnya, —- telah menyulut lebih lanjut serta mengobarkan dan memperkokoh semangat REVOLUSI KEMERDEKAAN kita. Di segi lain Pertempuran Surabaya menunjukkan serta meyakikan dunia internasional, bahwa REPUBLIK INDONESIA, yang diproklamasikan oleh Sukarno-Hatta, — bukan republik boneka Jepang, bahwa Sukarno-Hatta bukan kolaborator antek-Jepang, tetapi adalah kekuatan poitik dan bersenjata riil bangsa Indonesia yang bersatu-padu untuk MEMBELA KEMERDEKAANNYA.

* * *

Ratusan bahkan ribuan tulisan dan literatur telah bermunculan sejak saat itu mengenai PERTEMPURAN SURABAYA. Merupakan bahan referensi berharga dalam penulisan sejarah bangsa kita.

Di bawah ini dipublikasikan  tulisan yang diambil dari Ensikopledia Bebas WIKIPEDIA. Ada baiknya untuk dijadikan salah satu bahan referensi sejarah dalam penulisan sejarah kita.
* * *
Peristiwa 10 November

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Pertempuran Surabaya
Bagian dari Perang Kemerdekaan Indonesia
Tentara India Britania menembaki penembak runduk Indonesia di balik tank Indonesia yang terguling dalam pertempuran di Surabaya, November 1945.
Tanggal 27 Oktober20 November, 1945
Lokasi Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Hasil Inggris menguasai Surabaya
Pihak yang terlibat
 Indonesia  Britania Raya
 Belanda
Komandan
Bung Tomo Brigjen A. W. S. Mallaby †
Mayjen Robert Mansergh
Kekuatan
20,000 tentara
100,000 sukarelawan[1]
30,000 (puncak)[1]
didukung tank, pesawat tempur, dan kapal perang
Korban
6,000[2] – 16,000[1] tewas 600[3] – 2,000[1] tewa

Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal http://id.wikipedia.org/wiki/10_November” target=”_blank” rel=”nofollow”>10 November 1945 di Kota Surabaya, http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur” target=”_blank” rel=”nofollow”>Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme. [2]

Kronologi penyebab peristiwa

Kedatangan Tentara Jepang ke Indonesia

Tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian tanggal 8 Maret 1942, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perjanjian_Kalijati&action=edit&redlink=1″ target=”_blank” rel=”nofollow”>Perjanjian Kalijati. Setelah penyerahan tanpa syarat tesebut, Indonesia secara resmi diduduki oleh Jepang.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya http://id.wikipedia.org/wiki/Bom_atom” target=”_blank” rel=”nofollow”>bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada bulan Agustus 1945. Dalam kekosongan kekuasaan asing tersebut, Soekarno kemudian memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal http://id.wikipedia.org/wiki/17_Agustus” target=”_blank” rel=”nofollow”>17 Agustus 1945.

Kedatangan Tentara Inggris & Belanda

Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada tanggal http://id.wikipedia.org/wiki/25_Oktober” target=”_blank” rel=”nofollow”>25 Oktober 1945. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.

Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Insiden Hotel Yamato
Hotel Oranye di Surabaya tahun 1911.

Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal http://id.wikipedia.org/wiki/31_Agustus” target=”_blank” rel=”nofollow”>31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai http://id.wikipedia.org/wiki/1_September” target=”_blank” rel=”nofollow”>1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.

Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=W.V.Ch._Ploegman&action=edit&redlink=1″ target=”_blank” rel=”nofollow”>W.V.Ch. Ploegman pada sore hari tanggal http://id.wikipedia.org/wiki/18_September” target=”_blank” rel=”nofollow”>18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.

Pengibaran bendera Indonesia setelah bendera belanda berhasil disobek warna birunya di hotel Yamato

Tak lama setelah mengumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Soedirman_%28politikus%29&action=edit&redlink=1″ target=”_blank” rel=”nofollow”>Soedirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dai_Nippon_Surabaya_Syu&action=edit&redlink=1″ target=”_blank” rel=”nofollow”>Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Soedirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Koesno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.

Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal http://id.wikipedia.org/wiki/27_Oktober” target=”_blank” rel=”nofollow”>27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris . Serangan-serangan kecil tersebut di kemudian hari berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak Indonesia dan Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi.

Kematian Brigadir Jenderal Mallaby

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Aubertin Mallaby

Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby

Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal http://id.wikipedia.org/wiki/29_Oktober” target=”_blank” rel=”nofollow”>29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur” target=”_blank” rel=”nofollow”>Jawa Timur), pada http://id.wikipedia.org/wiki/30_Oktober” target=”_blank” rel=”nofollow”>30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil tersebut terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali. Kematian Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum http://id.wikipedia.org/wiki/10_November” target=”_blank” rel=”nofollow”>10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA.

Perdebatan tentang pihak penyebab baku tembak

Mobil Buick Brigadir Jenderal Mallaby yang meledak di dekat Gedung Internatio dan Jembatan Merah Surabaya

Tom Driberg, seorang Anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh Inggris (Labour Party). Pada http://id.wikipedia.org/wiki/20_Februari” target=”_blank” rel=”nofollow”>20 Februari 1946, dalam perdebatan di Parlemen Inggris (House of Commons) meragukan bahwa baku tembak ini dimulai oleh pasukan pihak Indonesia. Dia menyampaikan bahwa peristiwa baku tembak ini disinyalir kuat timbul karena kesalahpahaman 20 anggota pasukan India pimpinan Mallaby yang memulai baku tembak tersebut tidak mengetahui bahwa gencatan senjata sedang berlaku karena mereka terputus dari kontak dan telekomunikasi. Berikut kutipan dari Tom Driberg:

“… Sekitar 20 orang (serdadu) India (milik Inggris), di sebuah bangunan di sisi lain alun-alun, telah terputus dari komunikasi lewat telepon dan tidak tahu tentang gencatan senjata. Mereka menembak secara sporadis pada massa (Indonesia). Brigadir Mallaby keluar dari diskusi (gencatan senjata), berjalan lurus ke arah kerumunan, dengan keberanian besar, dan berteriak kepada serdadu India untuk menghentikan tembakan. Mereka patuh kepadanya. Mungkin setengah jam kemudian, massa di alun-alun menjadi bergolak lagi. Brigadir Mallaby, pada titik tertentu dalam diskusi, memerintahkan serdadu India untuk menembak lagi. Mereka melepaskan tembakan dengan dua senapan Bren dan massa bubar dan lari untuk berlindung; kemudian pecah pertempuran lagi dengan sungguh gencar. Jelas bahwa ketika Brigadir Mallaby memberi perintah untuk membuka tembakan lagi, perundingan gencatan senjata sebenarnya telah pecah, setidaknya secara lokal. Dua puluh menit sampai setengah jam setelah itu, ia (Mallaby) sayangnya tewas dalam mobilnya-meskipun (kita) tidak benar-benar yakin apakah ia dibunuh oleh orang Indonesia yang mendekati mobilnya; yang meledak bersamaan dengan serangan terhadap dirinya (Mallaby). Saya pikir ini tidak dapat dituduh sebagai pembunuhan licik… karena informasi saya dapat secepatnya dari saksi mata, yaitu seorang perwira Inggris yang benar-benar ada di tempat kejadian pada saat itu, yang niat jujurnya saya tak punya alasan untuk pertanyakan … ” [4]

10 NOVEMBER 1945
Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya, Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan / milisi. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat TKR juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.

Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang.

Inggris kemudian membombardir kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan tersebut, baik meninggal maupun terluka.

Bung Tomo di Surabaya, salah satu pemimpin revolusioner Indonesia yang paling dihormati. Foto terkenal ini bagi banyak orang yang terlibat dalam Revolusi Nasional Indonesia mewakili jiwa perjuangan revolusi utama Indonesia saat itu.[5]

Di luar dugaan pihak Inggris yang menduga bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat seperti pelopor muda http://id.wikipedia.org/wiki/Bung_Tomo” target=”_blank” rel=”nofollow”>Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris.

Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) shingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung lama, dari hari ke hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.

Setidaknya 6,000 – 16,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. [2]. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 – 2000 tentara. [3] Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.

Referensi

  1. ^ a b c d The Battle of Surabaya, Indonesian Heritage.
  2. ^ a b c Ricklefs (1991), p. 217.
  3. ^ a b Woodburn Kirby, S (17 Oktober 1965). The War Against Japan Vol. V. London: HMSO. ISBN 0-333-57689-6.
  4. ^ Batara R. Hutagalung: “10 November ’45. Mengapa Inggris Membom Surabaya?” Penerbit Millenium, Jakarta Oktober 2001, cetakan xvi, 472 halaman
  5. ^ Frederick, William H. (April 1982). “In Memoriam: Sutomo” ([Latar belakang hari Pahlawan di yulian.firdaus.or.id
  6. (Indonesia) Menghayati arti penting Hari Pahlawan di annabelle.aumars.perso.sfr.fr oleh A. Umar Said.
  7. (Indonesia) Beberapa artikel tentang hari pahlawan di opini.wordpress.com
25
Jul
12

Lagu Kejuangan : Darah Rakyat 19 September 1945

http://jakarta45.files.wordpress.com/2011/12/jakarta-452.png?w=637&h=609&h=609

DARAH RAKYAT
Lagu Darah Rakyat cukup terkenal pada masa revolusi kemerdekaan Republik Indonesia. Sebulan setelah proklamasi, 19 September 1945, lagu ini dinyanyikan dalam “demonstrasi” di Lapangan Ikada (kini Lapangan Monas, Jakarta).

http://www.youtube.com/watch?v=0rjmTv53Ark

18
Dec
11

Kepahlawanan : Sungkono Muda dan Pertempuran Surabaya 1945

13.12.2011 14:06

Pertempuran Surabaya 1945,

Sungkono Muda dan Pidato yang Menentukan

Penulis : Dr Francis Palmos*

 

BUKU SEJARAH – Gubernur Jawa Timur (Jatim) Soekarwo (kiri) menerima buku sejarah pahlawan catatan warga Australia Francis Palmos (kanan), usai pelaksanaan upacara Peringatan Hari Pahlawan, di Monumen Tugu Pahlawan, Surabaya, Jatim, Kamis 10 November.(foto:dok/antaranews.com)

Kebanyakan anak muda dan pembaca generasi yang lebih tua mungkin tidak mengetahui bahwa dua dari sejumlah pidato terbaik, yang paling penting dalam sejarah Republik Indonesia itu dibuat pada sore dan malam hari Jumat tanggal 9 November 1945. Yang pertama dibuat oleh Kolonel Sungkono muda.

Buku-buku sejarah memberi tahu kita tentang pidato Bung Karno muda di pengadilan Bandung, Indonesia Menggugat, di hari-hari sebelum kemerdekaan. Pidato ini pada akhirnya membawanya ke penjara dan membuatnya diasingkan beberapa kali.

Mereka juga mengetahui pidato singkat Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, di Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jalan Proklamasi), Jakarta. Namun, yang tidak disadari kebanyakan anak muda Indonesia: Proklamasi hanyalah kemerdekaan di atas kertas. Kenyataannya tidak ada kemerdekaan di Jakarta.

Sekutu mengendalikan Jakarta (mereka masih menyebutnya Batavia), Bogor, Bandung, Cirebon, Medan, dan Semarang. Surabaya adalah satu-satunya kota yang bebas dari pengawasan Sekutu, sejak 22 Agustus sampai akhir November 1945.

Para arek Surabaya ini berhasil mengalahkan Jepang, mencopot mereka dari jabatan administrasi, mengambil 90 persen senjata mereka, dan mengontrol media, komunikasi, kereta api dan transportasi jalan, listrik, gas dan air, serta rumah sakit. Mereka menempatkan tentara Jepang di kamp-kamp untuk dikirim pulang dan tentara Jepang yang menolak akan dibunuh.

Inggris membuat kesalahan dengan menduduki Surabaya pada 27–28 Oktober. Pada 28–29 Oktober pasukan arek Surabaya bersama warga lain menyerang tentara Inggris dan memecah belah mereka, membunuh beberapa ratus tentara Inggris, dan menggiring tentara Inggris kembali ke kapal mereka.

Tujuan Inggris adalah untuk mendirikan pemerintahan NICA. Jika mereka bisa menguasai Surabaya dengan cepat, seluruh Nusantara yang tadinya melawan akan menjadi koloni Belanda di Hindia Belanda.

Secara diam-diam Inggris membangun kekuatan kembali, membawa kapal perang, tank, pengebom, dan ribuan pasukan pendukung. Mereka mengeluarkan ultimatum untuk rakyat Surabaya agar menyerahkan senjata mereka pada malam 8 November, atau menghadapi serangan besar. Kali ini, Inggris jauh lebih siap untuk serangan yang kedua kalinya.

Pidato Sungkono

Yang pertama dari pidato singkat tetapi hebat itu adalah pidato yang disampaikan Kolonel Sungkono. Pada Jumat sore 9 November, di Jalan Pregolan No 4, dengan suara bulat dia terpilih sebagai Panglima Angkatan Pertahanan Surabaya.

Pidatonya di hadapan ribuan arek Surabaya muda dan anak buahnya di Unit 66 pada malam serangan Inggris di Surabaya merupakan pidato yang bersejarah. Anak buahnya berperang menghadapi tentara Inggris terbaik yang memiliki senjata dan alat komunikasi modern.

Sementara itu, anak buahnya hanya maju ke medan laga dengan senapan mesin ringan, senapan laras panjang, granat, dan beberapa tank lama, serta bambu runcing. Bagi seorang militer yang serius, ini mungkin waktunya untuk menyerah.

Sebaliknya, Sungkono justru mengatakan: “Saudara-saudara, saya ingin mempertahankan Kota Surabaya… Surabaya tidak bisa kita lepaskan dari bahaya ini. Kalau saudara-saudara mau meninggalkan kota, saya juga tidak menahan; tapi saya akan mempertahankan kota sendiri…”
Semua anak buahnya tetap tinggal untuk berperang.

Mantan Jenderal Suhario, yang waktu itu masih mahasiswa berusia 24 tahun dan turut serta dalam pengepungan Polisi Rahasia Kempetai, mengenang sikap Sungkono malam itu:

“Seperti biasanya malam itu Sungkono tetap bersikap tenang selama melakukan inspeksi persiapan pertahanan. Dia datang ke markas saya di tengah malam, bersama dengan Kretarto dan tiga perwira. Dia bertanya, ‘Apakah kamu siap?’

Saya menjawab: ‘Ya! Siap!’

Itu saja! Kami tidak ambil pusing! Tidak ada lagi yang bisa kami katakan. Kami siap. Dia kemudian pergi ke kegelapan malam. Sungkono pergi mengelilingi kota malam itu, (memeriksa semua unit) menanyakan apakah mereka sudah siap. “

Tak perlu lagi banyak bicara. Ini adalah masalah merdeka atau mati. Jadi apakah yang akan dihadapi para pejuang Surabaya yang menyebut diri mereka Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di bawah komando Sungkono, dalam menghadapi invasi besar-besaran oleh tentara Inggris yang telah dipersiapkan matang? Kemungkinannya, baik Inggris maupun para perwira Belanda akan berkata, “Surabaya akan bertekuk lutut pada hari pertama!”

Surabaya bertahan selama lebih dari 20 hari. Setelah lima hari, Surabaya menjadi perhatian dunia. Setelah 10 hari dana Inggris terkuras habis, dan korban perang di pihak Inggris sangat banyak. Tekanan internasional terhadap Belanda dan keberatan dari India menyebabkan Inggris mendesak Belanda untuk berunding dengan Republik Indonesia.

Surabaya telah menyelamatkan Republik Indonesia. Benar, Sungkono dan anak buahnya akhirnya harus menarik diri ke perdesaan di Jawa Timur di akhir bulan, tetapi pada saat itu Surabaya dan Republik Indonesia sudah dikenal di seluruh dunia.

14.12.2011 13:55

Pertempuran Surabaya 1945 (2)

Lebih Baik Hancur daripada Dijajah Lagi

Penulis : Dr Francis Palmos*

Tidak ada peristiwa dalam 66 tahun Republik Indonesia yang memiliki pengaruh lebih besar daripada pidato Gubernur Suryo di radio Surabaya, Jumat, 9 November 1945, pukul 22.00.

Suryo menyerukan agar warga Surabaya berjuang, jangan menyerah. Jika Surabaya jatuh, Republik Indonesia yang baru berdiri akan jatuh, atau kemerdekaan akan tertunda selama beberapa dekade.

Tekad Suryo menunjukkan kualitas Churchillian, memberitahukan warganya dengan penuh kejujuran bahwa memperjuangkan kemerdekaan sangat mahal harganya. Sebelum matahari terbenam pada esok harinya, ia memperhitungkan serangan militer Inggris akan membunuh dan melukai ribuan warga Surabaya.

Para pemimpin Troika di Surabaya, Dul Arnowo, Residen Sudirman, dan Gubernur Suryo, menyayangkan keputusan pusat.

Presiden Sukarno dan kabinetnya di Jakarta tidak bersedia bertanggung jawab untuk mengambil keputusan, dengan pertimbangan jika Surabaya tidak menyerah, akan terjadi kematian dan kehancuran yang sangat besar. Jakarta memberikan seluruh kekuasaan pada warga Surabaya sendiri untuk memutuskan.

Ruslan Abdulgani muda, sekretaris pemimpin Troika, kemudian mempertanyakan: “Keputusan macam apa itu dari Jakarta? Tentu saja kami akan memilih untuk melawan! (Jika tidak, Republik Indonesia yang baru berdiri akan jatuh).”

Menjelang malam, ratusan orang mulai berkumpul di sekitar stasiun radio, menunggu pidato Gubernur. Semua radio di Surabaya bebas dari segel sensor Kempetai; dinyalakan di berbagai kampung.

Sebelumnya Bung Tomo telah berpidato, tetapi pidatonya dinilai kurang penting dibandingkan pidato Suryo. Ketika Suryo mulai berbicara, setengah juta warga Surabaya yang merasa khawatir, mendengarkan pidatonya. Mereka bersiap mendengar berita buruk. Itulah saat yang disebut “menjelang datangnya badai”.

Badai yang datang bukanlah angin, melainkan pasukan Inggris, tentara terbaik dan paling berpengalaman di Asia, yang baru saja mengalahkan Jepang di Burma. Mereka sedang mempersiapkan sebuah serangan berskala besar jika Surabaya tidak menyerah.

Mereka juga mengancam akan menembak mati arek Surabaya yang membawa senjata. Secara tak langsung ini adalah pernyataan balas dendam atas kekalahan memalukan dalam pertempuran 27-29 Oktober, dan penembakan terhadap Brigadir Mallaby.

Jadi, pada Jumat malam itu, setelah berkonsultasi dengan rekan-rekannya, Residen Sudirman, Dul Arnowo, dan Komandan Pasukan Pertahanan Sungkono, Suryo diam-diam menyusup ke dalam Studio RRI dan menyampaikan salah satu pidato yang paling penting dan emosional dalam sejarah Indonesia.

“Saudara-saudara sekalian,

Pucuk pimpinan kita di Jakarta telah mengusahakan akan membereskan peristiwa di Surabaya pada hari ini. Tetapi sayang sekali, sia-sia belaka, sehingga kesemuanya diserahkan kepada kebijaksanaan kita di Surabaya sendiri.

Semua usaha kita untuk berunding senantiasa gagal. Untuk mempertahankan kedaulatan negara kita, maka kita harus menegakkan dan meneguhkan tekad kita yang satu, yakni berani menghadapi segala kemungkinan.

Berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita ialah: Lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris kita akan memegang teguh sikap ini. Kita tetap menolak ultimatum itu.

Dalam menghadapi segala kemungkinan besok pagi, mari kita semua memelihara persatuan yang bulat antara pemerintah, rakyat, TKR, polisi dan semua badan-badan perjuangan pemuda dan rakyat kita.

Mari kita sekarang memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa, semoga kita sekalian mendapat kekuatan lahir batin serta rahmat dan taufik dalam perjuangan.

Selamat berjuang!

Serangan Besar-besaran

Itu adalah pidato yang luar biasa, di mana sang Gubernur dengan tenang mengatakan bahwa hampir 1 juta warga Surabaya akan diserang pada esok pagi pukul 06.00, dan ada begitu banyak orang yang mendengarkan pidato ini.

Bahkan Suryo sendiri, yang mungkin tidak akan bisa bertahan hidup untuk melihat matahari terbenam Sabtu 10 November, berani menghadapi segala kemungkinan.

Esok paginya, Inggris meluncurkan serangan besar-besaran di darat, laut, dan udara, memulai pertempuran di Surabaya.

Banyak sejarah tertulis mengenai pertempuran ini mengingatkan kita bahwa Inggris diperkirakan akan menyapu bersih arek Surabaya dan dengan sangat cepat akan mengembalikan pendudukan Belanda. Namun warga Surabaya mampu berjuang selama 20 hari, sebelum akhirnya mundur ke selatan, setelah jatuhnya Gunungsari.

Ini adalah pertempuran yang mengubah sejarah, tidak hanya bagi Republik Indonesia yang baru berdiri, tetapi juga bagi seluruh wilayah, terutama berpengaruh di India dan Indo-China. Surabaya menjadi berita utama dunia, dan Inggris secara bijaksana kemudian menekan Belanda untuk berunding dengan Republik Indonesia.

Namun Gubernur Suryo tidak hanya cukup ditulis karena bakat kepemimpinannya yang luar biasa. Keputusan Sukarno memilih Suryo adalah tindakan jenius, mengingat selalu tidak jelas apakah gubernur di masa depan ini adalah orang yang tepat menduduki jabatan itu.

Namun aksi massa oleh pemuda arek Surabaya memberinya keyakinan dalam bernegosiasi dengan Inggris. Ia pun jelas-jelas mengungguli para jenderal Inggris di meja perundingan, sebagaimana yang terungkap dalam studi saya, Surabaya 1945: Teritori Suci.

Ruslan Abdulgani muda sangat menjunjung tinggi tim Troika yang terdiri dari Suryo, Sudirman, dan Dul Arnowo, karena masa depan politik Republik Indonesia bergantung pada mereka.

Sungkono dan rekannya dari Pasukan Pertahanan bekerja sama sangat baik dengan Troika dan Ruslan (yang berbicara untuk Republik Indonesia sebagai anggota Biro Kontak dengan Inggris).

Hubungan kerja sama adalah alasan mendasar bagi keberhasilan Republik Indonesia yang telah cukup lama berjuang, agar perjuangan mereka mendapat perhatian dunia.

15.12.2011 13:40

Pertempuran Surabaya 1945 (3)

Saat Sukarno Memutuskan untuk Diam

Penulis : Francis Palmos*

Pada Jumat malam bersejarah, 9 November, Presiden pertama Republik Indonesia, yang masih tertatih-tatih, pulang ke rumah dengan hati gundah.

Sukarno telah memutuskan untuk tidak berpidato, atau membuat sebuah keputusan, dan itu bukan hal yang biasa, karena ia salah satu dari orator paling karismatik dan menentukan di Asia Tenggara.

Kali ini ia memutuskan untuk tidak berbicara, tidak memberi perintah terkait serangan besar Inggris ke Surabaya, di mana Gubernur Jawa Timur Suryo menunggu.

Rakyat Surabaya setia pada presiden, tetapi mereka putus asa menanti persetujuan formalnya untuk menolak ultimatum Inggris. Inggris meminta pasukan Surabaya menyerahkan senjata-senjata mereka dan menghukum para pejuang Surabaya yang menyerang dan membunuh ratusan tentara Inggris ketika berusaha menduduki kota pada 27–29 Oktober 1945.

Inggris, sejak kekalahan itu, meningkatkan tekanan untuk menghancurkan Surabaya. Dua skuadron tempur—pengebom, kapal-kapal untuk menembakkan kanon dari lepas pantai, dan ribuan tentara dari bagian Asia Tenggara yang lain siap menyerang kota itu.

Jika Sukarno memerintahkan mereka menerima ultimatum tersebut—yang berarti menyerah—Republik yang baru berdiri ini akan selesai dalam waktu yang tidak lama. Inggris segera mendudukkan kembali pemerintahan sipil Belanda, NICA.

Surabaya adalah satu-satunya teritori independen Republik baru yang masih tersisa. Pasukan asing, Inggris, dan Belanda menggunakan Jepang dan bersama-sama ketiganya meredam kerusuhan di Bandung dan Semarang dan menguasai kota-kota lain, termasuk Jakarta, Bogor, dan Medan.

Jika Surabaya jatuh, Republik baru ini tidak akan memiliki wilayah merdeka lainnya. Dunia luar masih menyebut Indonesia Hindia Timur Belanda, dan para wartawan asing menggunakan nama Batavia, bukan Jakarta. Republik baru ini akan berada dalam bahaya atau menghilang dari pandangan.

Di sisi lain, jika Presiden memerintahkan Gubernur Suryo bertempur, Inggris akan melihatnya sebagai tindakan memusuhi dan memperlakukannya sebagai musuh.

Sukarno dan Hatta berada di Jakarta, dalam pengawasan Komando Pasukan Sekutu. Sukarno dan Hatta telah berada dalam ancaman penahanan, karena Belanda telah memaksa mereka untuk ditahan.

Gencatan Senjata

Sukarno sendiri telah membantu Inggris, pada 30 Oktober, dengan menyepakati menggunakan pengaruhnya untuk gencatan senjata. Inggris menggunakan masa itu untuk menyelamatkan para tentara yang terjebak, yang juga akan tewas seandainya Presiden tidak campur tangan.

Dari momen kedatangan mereka, Inggris yang mewakili Pasukan Sekutu telah mengeluarkan maklumat mereka berada di Hindia Timur Belanda untuk menerima penyerahan diri Jepang, mengamankan ribuan tahanan dan tahanan perang, dan mendudukkan kembali pemerintahan sipil NICA Belanda, untuk memulai Mark II dari Hindia Timur Belanda.

Tetapi Inggris menduduki kota itu, melanggar kesepakatan pertama dengan Gubernur Suryo. Surabaya memberontak. Mereka mengambil alih senjata-senjata tentara Jepang dan dengan brutal menghentikan tentara Inggris yang hendak menduduki Surabaya.

Sejak sekitar 22 Augustus 1945, Surabaya telah bebas, dan pada Jumat 9 November, Inggris menuntut mereka menyerahkan senjata dan kemerdekaan mereka.

Troika pemimpin Republik: Gubernur Suryo, Residen Sudirman, dan Dul Arnowo, yang didukung Kolonel Sungkono, tahu mereka dalam posisi menguntungkan, tetapi juga berharap menerima restu dari presiden mereka.

Irna HN Hadi Soewito, dalam bukunya Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan, mengatakan bahwa Kolonel Sungkono tahu betul Inggris mengawali pembicaraan damai karena rakyat Surabaya telah menyudutkan dan bahkan bisa membasmi mereka.

Brigade ke-49 yang beranggotakan 6.000 prajurit terjebak dan dengan mudah bisa dihabiskan seluruhnya oleh pasukan arek Surabaya, yang berjumlah sekitar 20.000—pejuang bersenjata, dan mungkin sekitar 120.000 pejuang jalanan, yang membawa pedang, bambu runcing, dan senjata ringan.

Semangat para arek Surabaya tinggi; mereka siap mati demi mempertahankan kemerdekaan mereka. Pasukan India-Inggris, meskipun memiliki pengalaman dan kualitas tempur yang besar, tidak punya motivasi untuk bertempur; mayoritas tentara India tidak ingin bertempur melawan orang muslim. Gencatan senjata diberlakukan untuk keuntungan Inggris.

Jika Presiden Sukarno memiliki strategi militer, ia akan tinggal di Surabaya, dan memimpin revolusi fisik dari sana. Namun selama hidupnya ia menghindari pertempuran fisik (meskipun pidato-pidatonya berapi-api), dan ia kembali ke Ibu Kota.

Kabinet barunya adalah satu satu “negosiasi” yang menuntut kehadirannya di Jakarta, meskipun ia dan Hatta di bawah ancaman Belanda, yang menyebut para pejuang kemerdekaan “bajingan” (brigands).

16.12.2011 13:54

Pertempuran Surabaya 1945 (4-Habis)

Diam Adalah Satu-satunya Jalan

Penulis : Francis Palmos

Kekuasaan dan pidato karismatik Sukarno adalah senjata utama, baik dalam membentuk Republik maupun dalam mempertahankannya. Saya menjadi saksi dan penerjemah untuk beberapa pidato 17 Agustusnya yang menakjubkan, di hadapan jutaan penyimak.

Hingga jatuh sakit pada 1960-an dan kehilangan kompas politiknya, ia menjadi kunci untuk mempersatukan kepulauan yang sangat kaya secara geografis, suku, bahasa dan budayanya.

Namun untuk sekali saja pada petang 9 November 1945, Sukarno tidak mampu menggunakan karismanya. Ia memutuskan tidak membuat sebuah keputusan. Ia memercayai kesetiaan Gubernur Suryo, di Surabaya.

Mantan Menteri dan Veteran Surabaya Ruslan Abdulgani, dalam Seratus Hari di Surabaya yang Menggemparkan Indonesia edisi VI tahun 1995, mengatakan, kelompok kepemimpinan secara keseluruhan kecewa karena Sukarno tidak memerintahkan rakyat Surabaya untuk bertempur. “Tentu saja, kami bertempur!” kata Ruslan, “Jawaban macam apa itu?”

Sebuah komentar yang bahkan lebih kuat dari mantan Jenderal Suhario Padmodiwiryo, pada adikarya Yayasan Obor tahun 1995, Memoar Hario Kecik, mengatakan, itu adalah “kesalahan terbesar” Presiden. Dari sudut pandang pemikir militer, ia benar. Namun, saya tidak sepenuhnya setuju dengan Hario atau Ruslan, dua-duanya veteran, dan akan saya jelaskan alasannya.

Para pembaca sekarang akan dengan mudah melihat posisi sulit apa yang dialami Presiden Sukarno. Jika ia memerintahkan penduduk Surabaya menolak ultimatum, Inggris pada akhirnya akan menang, karena mereka bisa memanggil seluruh pasukan dari Asia Tenggara.

Di sisi lain, jika Sukarno memerintahkan Surabaya menyerah, kemudian nyala api kehidupan yang sangat kecil dari Republik baru ini akan padam, karena Surabaya satu-satunya wilayah merdeka yang masih tersisa. Ini adalah situasi “kalah-kalah”.

Ia membalikkannya menjadi sebuah situasi “menang” dengan menyerahkan tanggung jawab ke Suryo. Bisakah hasilnya akan keliru? Ya, ia harus memercayai Suryo untuk mengambil keputusan yang benar, yaitu bertempur. Jika tidak, Republik ini akan hancur atau setidaknya kemerdekaannya tertunda hingga berpuluh-puluh tahun kemudian.

Posisi saya sebagai sejarawan sangat jelas: saya percaya Sukarno membuat sebuah keputusan yang sangat bijak. Diam adalah satu-satunya jalan. Saya merasa yakin bahwa Jumat 9 November adalah salah satu malam-malam terlara dalam kepemimpinannya.

Saya yakin ia tahu warga Surabaya akan mengorbankan nyawa mereka dalam pertempuran di hari berikutnya. Lagi pula ia adalah bagian dari arek itu sendiri.

Ia harus percaya rakyat Surabaya tidak akan jatuh dengan cepat. Jika mereka bertahan dalam waktu yang lama, Sukarno pasti tahu itu akan mengorbankan begitu banyak nyawa tentara dan begitu besar kerugian finansial Inggris, sehingga mereka berharap segera pergi.

Itulah tepatnya yang terjadi. Inggris, setelah 20 hari bertempur, memutuskan memberi tekanan terhadap Belanda untuk berbicara dengan para pemimpin Republik. Inggris lelah untuk “melakukan pekerjaan kotor” untuk Belanda.

Bertahun-tahun kemudian, ada banyak simpati bagi tentara Inggris yang masih mempertaruhkan dan kehilangan nyawa mereka, sepuluh minggu setelah perang berakhir dan sangat ingin pulang.

Kesedihan Sukarno

Apakah Sukarno menulis kalimat-kalimat yang dibacakan Mr Subarjo atas namanya saat menelepon Suryo ke Surabaya? Kita tak tahu. Namun Mr Subarjo mengatakan kepada Gubernur Suryo bahwa presiden: “Menjerahkan kebidjaksanaan kepada Gubernor dan bertanggung jawab sepenuhnya.”

Sukarno pulang ke tempat tinggalnya pada Jumat malam 9 November dengan kesedihan besar, dan mungkin tidak tidur sama sekali. Ia pasti tahu hanya segelintir rakyat Surabaya yang bisa tidur malam itu, dan pasti, seperti Suryo, ia tahu bahwa ribuan orang tidak akan hidup saat matahari terbit hari berikutnya.

Para pembaca juga harus tahu bahwa Sukarno pada 1945 bukanlah pemimpin yang penuh humor dan bijak seperti ia sebelum perang, meskipun pernah dipenjara, dibuang dan dilarang berbicara oleh Belanda, dan ketika mereka mengingatnya dari hari-hari kemenangannya pada 1950-an.

Penerbit Merdeka Burhanuddin Mohammad Diah, yang tidak selalu menjadi pendukung Sukarno, mengatakan kepada saya pada sebuah konferensi yang membicarakan pendudukan Jepang di Asia Tenggara, di Saigon 1988, bahwa Sukarno secara umum tidak pernah senang selama pendudukan Jepang, jarang tertawa, dan ia tahu bahwa orang Jepang bermuka masem (“asam” dan tak punya humor) dan oleh karena itu ia tidak pernah leluasa dengan mereka.

Perkawinannya dengan seorang perempuan Jepang pada 1960-an juga tak membawa banyak perubahan.

Ketika pejuang Surabaya bertahan selama lima hari, kemudian sepuluh hari, kemudian 20 hari, Sukarno dan para pemimpin Republik lain menarik kekuatan dari semangat dan pengorbanan mereka, dan merasa jauh lebih yakin dalam memenangi kedaulatan.

Pertempuran itu menarik perhatian dunia ke Surabaya dan Republik. Dari malam itu, Sukarno berutang pada Suryo, Arnowo, Sudirman, Sungkono, dan rakyat Surabaya untuk sisa kehidupan politiknya.

*Penulis adalah sejarawan, mantan wartawan, penulis buku Sacred Territory.

11
Dec
11

Kejoangan : Sondang Hutagalung, Sarjana Kehormatan UBK

Sarjana Kehormatan

TRIBUNnews.comOleh Danang Setiaji Prabowo | TRIBUNnews.com

Sarjana Kehormatan Diberikan Sebagai Penghargaan Sosial

Konten Terkait

  • Sarjana Kehormatan Diberikan Sebagai Penghargaan SosialPerbesar Foto
  • Sarjana Kehormatan Diberikan Sebagai Penghargaan Sosial

Berita Nasional Lainnya


Laporan Danang Setiaji
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketua Dewan Kurator Universitas Bung Karno (UBK), Rahmawati Soekarnoputri, mengungkapkan gelar Sarjana Kehormatan yang diberikan kepada almarhum Sondang Hutagalung sebagai bentuk penghormatan seperti pahlawan.

“Karena Sondang bukan militer, jadi kita berikan gelar Sarjana Kehormatan karena dia dinobatkan sebagai patriot. Banyak aspirasi yang kita terima, untuk memberinya penghargaan secara sosial,” terang Rahma, Minggu (11/12/2011) usai acara penghormatan kepada Sondang di UBK.

Rahma pun berpendapat bahwa Sondang merupakan mahasiswa yang cerdas sekaligus aktivis kampus, namun tidak ugal-ugalan. “Dia dasarnya jelas, anak yang cerdas dan tidak ugal-ugalan. Dia sudah skripsi, dan belum sempat diwisuda,” tambahnya. Dari teman-teman kampusnya, Sondang dikenal sebagai aktivis kampus yang suka membantu orang miskin dan petani saat melakukan aksi turun ke jalan.

Seperti diberitakan, jenazah Sondang Hutagalung yang merupakan korban bakar diri sudah diberangkatkan ke TPU Pondok Kelapa Jakarta Timur untuk dimakamkan. Acara kebaktian untuk Sondang telah dilaksanakan pada pagi hari di RSCM, diikuti oleh keluarga, kerabat, serta para mahasiswa yang ikut bersimpati.

Kakak Sondang

Tribunnews.com – Minggu, 11 Desember 2011 14:35 WIB
Kakak Sondang : Saya Ucapkan Terimakasih

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Theresia Felisiani

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Selesai upacara pemakaman Sondang Hutagagung, Minggu siang (11/12/2011) di TPU Pondok Kelapa Jaktim, kakak dari Sondang, Bob Hutagalung mengucapkan terimakasih pada semua pihak.

“Saya mengucapkan terimakasih pada semua pihak. Terimakasih pada Gereja Bethani Indonesia, atas pelayanannya mulai dari pelepasan jenazah hingga pemakaman, terimakasih pada yayasan dan rekan-rekan UBK,” ucap Bob Hutagalung usai prosesi pemakaman Sondang.

Bob juga mengucapkan terimakasih pada para awak media, rekan-rekan Sondang mulai dari Sondang menjalani perawatan di RSCM hingga dimakamkan di TPU Pondok Kelapa dan kepada pihak RSCM.

“Tak lupa saya mengucapkan terimakasih pada pihak RSCM, yang telah memberikan perawatan dan pelayanan bagi adik saya. Dan saya sendiri menyaksikan saat jantung Sondang di kejut, namun tetap tidak bisa tertolong,” terang Bob Hutagalung.

Sondang merupakan korban sekaligus pelaku aksi bakar diri di depan istana negara, Rabu (7/12/2011). Meskipun nyawanya masih bisa diselamatkan, tetapi akibat 97 persen tubuhnya mengalami luka bakar, ia hanya bisa bertahan di RSCM selama tiga hari.
Siang tadi jenazah Sondang sudah dimakamkan di TPU Pondok Kelapa Jaktim.

Caption : Bob Hutagalung (yang memegang TOA ) mengucapkan terimakasih pada berbagai pihak usai prosesi pemakaman adiknya Sondang Hutagalung Minggu (11/12/2011) di TPU Pondok Kelapa Jakarta Timur

Penulis: Theresia Felisiani  |  Editor: Gusti Sawabi

Jenazah Sondang

TRIBUNnews.comOleh Wahyu Aji | TRIBUNnews.com

Konten Terkait

Berita Nasional Lainnya

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Wahyu Aji

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Jenazah pelaku aksi bakar diri di depan istana negara, Sondang Hutagalung (22), diarak mulai dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) ke Universitas Bung Karno (UBK), Minggu (11/12/2011).

Sehabis kebaktian di ruang jenazah RSCM pukul 09.20 WIB, mahasiswa UBK berprestasi ini akhirnya diarak melewati Jalan Diponegoro depan RSCM, melewati Jalan Raden Saleh dan berakhir di kampusnya sebelum diistirahatkan di pusaran terakhirnya, TPU Pondok Kelapa.

Sebelumnya sempat terjadi ketegangan di tengah-tengah duka keluarga Sondang Hutagalung (22) di kamar jenazah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, tempat jenazah Sondang disemayamkan, Sabtu (10/12/2011).

Teman-teman Sondang mendesak keluarga supaya jenazah Sondang disemayamkan di Univesitas Bung Karno (UBK) sebagai bentuk penghormatan terakhir.

Namun, pihak keluarga tidak mau jenazah anaknya disemayamkan di UBK. Meskipun begitu, teman-teman Sondang tetap berharap bila korban aksi bakar diri tersebut di semayamkan di UBK.

Akhirnya setelah melalui diskusi dan dirembukkan jenazah Sondang sebelum dimakamkan akan dibawa ke UBK untuk mendapatkan penghormatan terakhir dari para sahabat dari UBK, dan aktivis lainnya.

Berita Lainnya

Aksi Bakar Diri

TRIBUNnews.comOleh Rachmat Hidayat | TRIBUNnews.com
Aksi Bakar Diri di Istana disebabkan Kegagalan SBY

Konten Terkait

Berita Nasional Lainnya

TRIBUNNEWS.COM JAKARTA – Pemerintah tidak boleh mengabaikan berbagai fakta sosial di tengah-tengah masyarakat. Maraknya aksi kriminalitas seperti perampokan dan pembunuhan. Hingga peristiwa mengenaskan seperti bunuh diri karena kesulitan ekonomi.

“Terjadinya aksi bakar diri di depan Istana negara adalah peringatan serius kepada presiden SBY-Boediono dan jajaran pemerintahannya, bahwa kemiskinan yang semakin meluas telah berada pada tahap mengkhawatirkan di level masyarakat, seperti bertindak nekad karena kehilangan harapan hidup,” ujar Ketua DPN Repdem, Masinton Pasaribu, Kamis (08/12/2011).

Masinton menandaskan, laporan pemerintah menurunnya kemiskinan berbanding terbalik dengan kenyataan dan harapannya rakyat. Ini, katanya lagi, disebabkan karena pemerintahan SBY-Boediono dengan menteri-menterinya terlalu mementingkan pencitraan semu.

Kerap kedepankan kebohongan kepada rakyat ketimbang melakukan kerja-kerja kongkrit dan nyata untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Dan meluasnya kemiskinan dan mengguritanya praktek korupsi di tubuh pemerintahan SBY-Boediono.

“Serta pemberantasan korupsi tebang pilih yang tidak menyentuh kasus-kasus korupsi besar yang melibatkan lingkar kekuasaan seperti kasus bail out bank century, kasus pengadaan gerbong kereta api, kasus Hambalang dan suap sesmenpora yang melibatkan pengurus partainya SBY, Belum lagi kasus mafia pajak, dan lain-lain yang melahirkan frustrasi dan ketidak percayaan rakyat kepada pemerintahan SBY-Boediono,” tandas Masinton Pasaribu.

Berita Lainnya

Presiden Berduka

RepublikaRepublika
Presiden Turut Berduka Atas Kematian Sondang

Konten Terkait

  • Staf Khusus Presiden RI Bidang Komunikasi Politik Daniel SparinggaPerbesar Foto
  • Staf Khusus Presiden RI Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparingga

Berita Nasional Lainnya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut berduka atas meninggalnya mahasiswa Universitas Bung karno (UBK) Sondang Hutagalung (22 tahun) pada Sabtu (10/12) sore kemarin.

“Presiden SBY sangat berduka dan berbagi kesedihan dengan orang tua dan saudara-saudaranya,” ujar Staf Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparringa, dalam pesan singkatnya Ahad (11/12).

Menurut Daniel tidak ada cara yang mudah untuk mengatakan perasaan terdalam tentang peristiwa itu. Namun, pihaknya yakin ada ribuan pesan yang ditinggalkan terkait kematian Sondang. “Hendaknya kita mengambil apa yang menjadi bagian kita,” jelasnya.

Sebelumnya Sondang secara mengejutkan melakukan aksi bakar diri pada Rabu (7/12) lalu di depan Istana Medeka.

Setelah menjalani perawatan di RSCM selama 3 hari, Ia pun menghembuskan nafas terakhirnya akibat luka bakar parah yang dideritanya mencapai 98 persen.

Universitas Bung Karno (UBK) turut berkabung pasca kematiannya. Ratusan mahasiswa, rekan serta beberapa staf pengajar UBK turut menyemayamkan jenazah Sondang. Hingga kini belum diketahui pasti motif Sondang melakukan aksi bakar diri.

Berita Lainnya

Ibunda Sondang

Tribunnews.com – Minggu, 11 Desember 2011 01:34 WIB
Ibunda : Sondang, Siapa Lagi Akan Ambil Uban Mamakmu ini

Laporan wartawan Tribunnews.com, Andri Malau

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Jenazah pelaku aksi bakar diri, Sondang Hutagalung kini telah dimandikan dan dipakaikan pakaian.

Berbaring kaku dalam peti mayat di rumah duka RSCM, Jakarta, Minggu (11/12/2011) dini hari.

Sahabat-sahabat Sondang memenuhi ruang yang dijadikan tempat persemayamannya. Lagu Gugur Bunga melantun memenuhi ruang tersebut.

Di tengah lantunan lagu-lagu yang biasa didengar saat aksi demo, kini juga mendaras di sekitar peti jenasah Sondang.

Saur Dame Br Sipahutar, sang bunda dan keluarga pun sejurus tiba di ruangan yang sudah dipenuhi sahabat sang anak.

Saat kakinya melangkah, pandangan Dame langsung terarah ke foto Sondang yang berada di meja di kaki peti Sondang.

“Pergilah kau anakku. Lihatlah mamakmu ini,” demikian lirih kata sang bunda.

Tak kuasa dirinya menahan segunung sedih, tangis kehilangan sang bunda pun pecah. Seakan ia tak menyangka kepergian anak bungsunya cepat.

“Sondang, anakku. Kalau mamak tidur siapa lagi yang akan ambil uban mamakmu ini,” andung-andung (ratap sedih) Dame meraung tangis.

Anggota keluarganya pun mencoba menenangkan dan meminta Dame duduk. Namun, kesedihan bunda yang selama 9 bulan mengandung, dan membesarkannya meluap.

“Tega kau Sondang, anakku baik-baik pergi. Gantengnya kau anakku Sondang. Kenapa begini Sondang, apa yang ada dipikiranmu Sondang, anakku,” ceracau sedihnya.

Tangis Dame pun membawa kesedihan pada anggota keluarganya dan sahabat-sahabat Sondang.

Penulis: Srihandriatmo Malau  |  Editor: Anwar Sadat Guna
Nasional Populer

Teriak Turunkan SBY

Tribunnews.com – Kamis, 8 Desember 2011 01:12 WIB
JarKam : Sebelum Bakar Diri Dia Teriak Turunkan SBY
Jarkam: Sebelum Bakar Diri Dia Teriak Turunkan SBY

TRIBUNNEWS.COM
Massa dari Jarkam berdemo di depan Istana Negara untuk solidaritas aksi bakar diri, Kamis (8/12/2011).

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Massa dari Jaringan Kampus (Jarkam) akan menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Presiden, Jakarta Kamis (8/12/2011). Unjuk rasa diklaim sebagai bentuk solidaritas korban bakar diri di depan Istana Presiden (7/12) petang.

Hal tersebut disampaikan Kordinator Aksi, Jati kepada wartawan di depan Istana Presiden (8/12/2011) dini hari.

“Ini adalah bentuk solidaritas kami kepada korban bakar diri sore tadi,” ujar Jati kepada wartawan.

Sebelum membakar diri, pria tersebut kata Jati telah berteriak turunkan Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY). Info tersebut diklaim Jati karena ada seorang anggota Jarkam yang sempat berada di lokasi kejadian sebelum pembakaran diri tersebut dilakukan.

“Ada anggota kami yang mendengar dan melihat korban tersebut sebelum membakar dirinya telah berteriak untuk turunkan SBY,” ujar Jati.

“Kami sudah lelah mendengar, melihat dan menyaksikan banyaknya korban berjatuhan karena ulang SBY-Boediono. Untuk itu kami meminta agar mereka turun sekarang juga,” ucap Jati kepada wartawan.

Penulis: Edwin Firdaus  |  Editor: Prawira Maulana

Puluhan buruh siap bakar diri

Tanggal : 12 Dec 2011
Sumber : Harian Terbit

JAKARTA – Aksi nekad bakar diri karena kecewa dengan pemerintahan SBY mengatasi kemiskinan dan menghabisi koruptor bakal berlanjut. Setelah Sondang Hutagalung, mahasiswa Universitas Bung Karno, puluhan aktivis pembela rakyat tengah siap-siap untuk melakukan aksi tersebut dalam waktu dekat. Mereka siap jadi martir lewat bom bunuh diri.

Demikian pengakuan sejumlah tokoh dan aktivis kepada Harian Terbit di Jakarta, Senin (12/12). Hal ini dibernarkan aktivis Petisi 28, Harsya M dan Indro Tjahyono, keduanya mengaku mendengar puluhan aktivis tengah bersiap melakukan aksi yang sama. Alasannya, mereka kecewa dengan pemerintahan SBY yang tidak prorakyat tapi pro kepada koruptor.

Di samping itu, lanjut Indro, saat ini banyak yang sudah tidak lagi memikirkan dirinya atau rela mengorbankan nyawanya untuk menjadi martir. “Daripada hidup susah di negeri sendiri, apalagi setiap hari menyaksikan penderitaan rakyat, saya kira akan banyak aktivis dan orang-orang biasa yang nekat bunuh diri demi kesejahteraan rakyat,” ujar Indro.

Hartsa Mashihul juga membenarkan akan ada puluhan aktivis buruh yang siap melakukan aksi bakar diri seperti yang dilakukan Sondang. Hal itu dilakukan merupakan bentuk kekecewaan dan protes kegagalan SBY memberangus korupsi dan kemiskinan.

“Saya dengar mereka akan melakukan aksi gila karena selama ini SBY buta dengan matanya dan telinganya tuli. Aksi yang dilakukan selama ini tidak didengar dan tidak digubrisnya, sehingga mereka mau mengorbankan diri dan jiwanya dengan membakar diri. Ada juga yang mau melakukan aksi bom bunuh diri,” kata Hartsa.

Namun, Hartsa dan Indro lebih setuju dengan tidak membakar diri. Untuk menggulingkan SBY, ujar keduanya, lebih baik dilakukan dengan cara mencegat mobilnya di tengah jalan dan menduduki Istana.

Kecewa
Secara terpisah, psikolog Mintarsih A Latief menjelaskan, di tengah kebingungan mencari jalan keluar atas masalah bangsa yang makin parah, diperkirakan banyak orang yang akan mengikuti jejak Sondang.

“Sama seperti Sondang, mereka akan mengirimkan pesan tragedi bahwa negara dianggap tak lagi bisa diandalkan karena tak mampu menyelesaikan masalah bangsa. Pemimpin negara, terutama presiden, dinilai gagal mengelola negara dan tak bisa mengatasi penderitaan rakyat,” kata Mintarsih.

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia Nining Elitos mengemukakan, aksi yang dilakukan Sondang merupakan bentuk kekecewaan gerakan rakyat atas pemerintahan SBY yang sudah tidak peduli dan berpihak kepada rakyat.

“Pemerintah dan DPR selama ini telah merampok uang rakyat dan pihak pengusaha mengambil sumber daya alam Indonesia. Aksi bakar diri itu merupakan suatu kewajaran. Kaum buruh akan terus melakukan aksi kekecewaan terhadap pemerintah. Aksi bakar diri lebih efektif untuk melawan pemerintah,” papar Nining.

Patriot perubahan
Sementara itu, Dewan Penyantun Universitas Bung Karno, Dr Rizal Ramli mengatakan, aksi bakar diri Sondang merupakan wujud kegeraman seorang warga atas ketidakmampuan pemerintahan SBY-Boediono mengentaskan kemiskinan dan memberantas korupsi.

Rizal berharap dengan aksi Sondang yang berujung pada kematian itu, menjadi pelajaran bagi pemerintah untuk bisa memerhatikan rakyat kecil.

Menurutnya, Sondang adalah ahasiswa yang memiliki cita-cita mulia. “Bapaknya seorang sopir taksi. Dia berani mengorbankan diri untuk cita-cita perubahan untuk Indonesia bisa lebih baik. Setiap perjuangan ada pengorbanannya, banyak pahlawan seperti Bung Karno, mengorbankan jiwa raga. Reformasi 98, adik-adik mahasiswa dan terjadi perubahan, kami ingin menyatakan, bahwa Sondang a-dalah patriot perubahan,” kata Rizal Ramli di Auditorium Universitas Bung Karno, Jakarta Pusat, Minggu (11/12).

Dia menambahkan, Sondang bukanlah mahasiswa yang bodoh. “Mengucapkan bela sungkawa, saya terharu, prestasinya bagus. IPKnya 3,7,” tukas-nya dihubungi Senin pagi.

Rizal meminta agar perjuangan Mahasiswa tidak berhenti sampai di sini. “Kita lanjutkan perjuangan, untuk Indonesia yang lebih jaya dan hebat,” tandasnya.

Civitas akademika Universitas Bung Karno (UBK), Ahad (11/12), memberi penghormatan terakhir kepada Sondang. Setelah aksi bakar diri yang menghanguskan hampir seluruh tubuhnya, Rabu silam, Sondang meninggal Sabtu kemarin, tepat di saat masyarakat penggiat hak asasi manusia memeringati Hari HAM Sedunia.

Aksi ini ditanggapi Sekretaris Kabinet Dipo Alam. “Aksi Sondang tidak ditirukan oleh pemuda atau mahasiswa lain. Saya menyesalkan aksi mahasiswa UBK itu. Itu cara berjuang yang keliru. Pemuda berjuang harus berani hidup. bukan berani mati,” kata mantan Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia di era Presiden Soeharto itu.
(junaedi/dodo)

21
Nov
11

Kenegarawanan : Pemberontak Jadi Pahlawan

Senin, 21/11/2011 09:26 WIB

Pemberontak Jadi Pahlawan

M. Rizal – detikNews
 Dipenjara Soekarno, Dicekal Soeharto


Jakarta – Hidup Sjafruddin Prawiranegara memang bak balada. Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) ini tentu saja seorang pahlawan bagi bangsanya. Tapi ia menjadi korban kezaliman penguasa sebelum akhirnya dengan sangat terlambat diakui kepahlawanannya.

Tidak bisa ditampik jasa Sjafruddin dalam mempertahankan kedaulatan NKRI sangatlah besar. Tapi untuk menetapkan lelaki hebat ini sebagai pahlawan nasional tidak gampang. Nama Sjafruddin diajukan hingga tiga kali sebelum akhirnya ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 8 November 2011 oleh Presiden SBY. Awalnya Sjafruddin diusulkan pada 2007, lalu diusulkan lagi pada 2009. Dan baru pengusulan pada 2011 berhasil.

Pembahasan gelar pahlawan untuk Sjafruddin alot sebab terkait cap ia menjadi pemberontak dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Sjafruddin menjadi perdana menteri gerakan yang ditumpas oleh Soekarno itu.

PRRI lahir dari kerumitan persoalan Indonesia sebagai negara yang masih sangat muda. PRRI ingin mengingatkan Soekarno yang dianggap sewenang-wenang. Saat itu republik memang dalam kondisi yang sulit. Kemiskinan menerjang semua daerah di Indonesia. Tapi Soekarno justru sibuk membangun proyek-proyek mercusuar seperti Monumen Nasional (Monas), Masjid Istiqlal, dan Stadion Gelora Senayan di Jakarta.

Sikap Soekarno tidak disukai panglima-panglima militer yang ada di daerah. Apalagi Soekarno terlalu dekat dengan PKI yang tidak disukai oleh kelompok Islam dan nasionalis. Panglima-panglima militer di daerah mulai mengadakan gerakan.

Sejumlah politisi di Jakarta juga sudah mulai bergerak. Wakil Presiden Muhammad Hatta, tokoh politisi dari Partai Sosialis Indonesia (PSI) Sumitro Djojohadikusumo dan tokoh Partai Masyumi Muhammad Natsir turut dalam rapat-rapat rahasia bersama tokoh PRRI dan tokoh Persatuan Rakyat Semesta (Permesta) Vence Sumual.

“Jadi PRRI dibentuk tahun 1958, Permesta itu tahun 1957. Karena merasa satu ideologi dan tujuan kenapa sering disebut PRRI/Permesta,” jelas kerabat Sjafruddin, Nadjmudin Busro, yang juga sejarahwan asal Banten itu.

PRRI ini dibentuk oleh Panglima Divisi Banteng, Kolonel Ahmad Husein dan sejumlah stafnya, seperti Kolonel Simbolon, bersama sejumlah politisi seperti Muhammad Natsir, Sumitro Djojohadikusumo, M Hatta di Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Pada tanggal 10 Februari 1958, PRRI melalui RRI Padang mengeluarkan pernyataan ‘Piagam Jakarta’ yang berisi sejumlah tuntutan yang ditujukan pada Soekarno agar kembali kepada kedudukan yang konstitusional menghapus segala akibat dan tindakan yang melanggar UUD 1945 serta membuktikan kesediaannya itu dengan kata dan perbuatan.

PRRI mengultimatum dalam tempo 5 x 24 jam Kabinet Juanda pemerintahan Soekarno harus diserahkan ke Kabinet Hatta dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, serta meminta Soekarno menjauhi PKI.

Saat itu Soekarno yang sedang berada di Tokyo, Jepang pun menolak tuntutan PRRI. Mendapat penolakan Soekarno, PRRI membalas dengan mengumumkan pendirian pemerintahan tandingan yaitu PRRI lengkap dengan kabinetnya. Kabinet yang diumumkan pada tanggal 15 Februari 1958 itu terdiri dari Sjafruddin sebagai Perdana Mentri dan Mentri Keuangan. M Simbolon sebagai Mentri Luar Negri. Burhanudin Harahap sebagai Mentri Pertahanan dan mentri kehakiman dan Dr. Sumitro Djojohadikusumo sebagai Mentri Perhubungan/Pelayaran

“Ultimatum ini membuat Soekarno marah dan langsung membuat Operasi 17 Agustus yang dipimpin oleh Jenderal Abdul Haris Nasution untuk memberantas PRRI,” terang Nadjmudin.

Sjafruddin menyerahkan diri kepada ibu pertiwi setelah Soekarno mengumumkan amnesti bagi para pendukung PRRI untuk menyerahkan diri sebelum 5 Oktober 1961. Namun balasannya setelah menyerah Sjafruddin dijebloskan ke penjara dan dibui selama 3,5 tahun.

“Sjafruddin ini orang jujur. Saat turun gunung dia juga menyerahkan 29 kg emas milik PRRI kepada AH Nasution,” kata Nadjmudin.

Emas ini digunakan PRRI sebagai modal untuk perang karena saat PRRI itu, Sjafruddin menjadi Gubernur Bank Sentral. Meski pernah dijebloskan ke penjara, presiden PDRI ini tidak dendam pada Soekarno. Ketika PKI hancur dan Soekarno akan disidang di Mahkamah Militer Luar Biasa, Sjafruddin-lah yang membela Soekarno.

“Dia sempat berkata kalau sampai Soekarno diadili, akulah orang yang akan membelanya,” jelas Nadjmudin.

PRRI bukanlah gesekan pertama Sjafruddin dengan Soekarno. Saat masih menjadi Ketua PDRI, ia pun berbeda pendapat dengan Soekarno dalam menyikapi perundingan Roem – Van Royen.

Sikap Sjafruddin dan didukung Soedirman berpendapat seharusnya PDRI yang berunding dengan Belanda, bukan Soekarno yang saat itu menjadi tawanan. Namun kala itu, gesekan antara para pemimpin RI tidak sampai menjadi perpecahan. Gesekan selesai dengan lebih mengedepankan persatuan bangsa daripada ego masing-masing.

Setelah bebas dari penjara, Sjafruddin memilih jalur dakwah dan mananggalkan panggung politik. Ia menjadi Ketua Korps Mubalig Indonesia (KMI) pada tahun 1985. Meski di jalur dakwah, pria bersahaja ini tetap kritis terhadap pemerintahan.

Pada masa Soeharto, Sjafruddin juga mengalami pencekalan. Ia dilarang menjadi khatib salat Idul Fitri 1404 atau 1980 terkait isi kotbahnya yang banyak berisi politik. Khutbah Sjafruddin berjudul ‘Kembali Pada Pancasila dan UUD 1945′ akan diakukan di Masjid Al A’raf, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Pada tanggal 15 Februari 1989, Sjafruddin wafat. Sang Presiden terlupakan ini wafat pada umur 77 tahun dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Kini, dengan diberikan gelar pahlawan nasional kepada Sjafruddin, maka pengikut dan pendukung PRRI semestinya juga diberi label yang sama. Sebab, pendukung dan pengikut PRRI yang dicap pemberotak oleh pemerintahan Soekarno dipicu persoalan perbedaan pandangan politik dan ideologi.

Pemerintah sendiri, khususnya Kementerian Pertahanan (Kemenhan) juga menilai persoalan PRRI menjadi lebih clear dengan pemberian penghargaan pahlawan kepada Sjafruddin. Diakui Kemenhan, selama ini ada paradigma, baik pemerintah maupun TNI bahwa PRRI adalah suatu gerakan pemberontakan atau pengkhianatan.

Kini disadari PRRI memberontak karena memang situasi saat itu memaksa mereka melakukan itu. Mereka memberontak karena ingin mengoreksi keadaan. “Jadi saat ini kita positif memandang persoalan PRRI ini terjadi karena ada perbedaan pandangan atau pendapat,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhan Brigjen TNI Hartind Asrin kepada detik+.

(iy/vit)

Senin, 21/11/2011 10:00 WIB

Pemberontak Jadi Pahlawan

Jejak Sjafruddin

M. Rizal – detikNews
Kehilangan Jejak Sjafruddin di Anyer


Jakarta – Masyarakat Banten banyak yang terheran-heran Sjafruddin Prawiranegara diangkat sebagai pahlawan nasional atas usul Pemerintah Banten. Banyak warga Banten beranggapan Sjafruddin merupakan orang Minangkabau, Sumatera.

Sesungguhnya pria yang akhirnya ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 8 November 2011 ini kelahiran Banten. Sjafruddin lahir di Anyer Kidul, Serang, Banten pada 28 Februari 1911.

Ayah Sjafruddin Raden Arsjad Prawiraatmadja, keturunan Sultan Banten. Sang ibu, Nur Aini binti Mas Abidin Mangundiwirya, anak pejabat pangreh praja Banten.

Meski demikian, anggapan Sjafruddin merupakan orang Minang tidak terlalu salah. Kakek buyut pria yang biasa dipanggil Kuding itu, Sutan Alamintan yang berasal dari lingkungan Kerajaan Pagaruyung Minang.

Sutan Alamintan mengorganisasi rakyat melawan Belanda dalam Perang Paderi. Perang Paderi ini terkenal dengan pemimpinnya Tuanku Imam Bonjol. Setelah ditangkap Belanda Sutan Alamintan dibuang ke Banten.

“Sutan Alam Intan adalah orang pertama yang datang ke Anyer, Banten karena dibuang setelah ditangkap Belanda,” kata ahli sejarah Nadjamudin Busro. Nadjamudin menikah dengan keponakan Sjafruddin.

Sutan Alam Intan ini lalu menikah dengan seorang wanita bangsawan keturunan Kasultaan Banten. Dari hasil pernikahannya itu lalu lahirlah kakek Sjafruddin.

Dari keluarganya, darah Sjafrudin memang darah pejuang. Tidak cuma sang kakek yang melawan Belanda. Saat Sjafruddin berumur 12 tahun, sang ayah yang merupakan seorang jaksa juga dibuang ke Kediri, Jawa Timur, karena dianggap memihak pribumi.

Raden Arsjad sebagai pejabat pemerintah Belanda menolak duduk bersila di lantai saat memberi laporan kepada pejabat Belanda. Duduk bersila dan memakai bahasa Sunda halus saat itu sudah menjadi aturan baku bagi pejabat pribumi bila berhadapan dengan penguasa Belanda. Namun Arsjad menentang aturan tersebut.

Saat sang ayah dibuang ke Kediri, Sjafrudin pun mengikutinya. Dengan begitu, masa hidup presiden kedua RI yang memimpin 207 hari Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) ini tidak banyak dilewatkan di Banten. Tidak mengherankan bila kita akan kesulitan untuk menemukan jejak Sjafruddin di kota Jawara tersebut.

“Di sini tidak dikenal. Lah dia saja belajar Islam bukan di Banten, tapi belajar Islam di Sumatera Barat sampai dewasa dan memimpin PDRI dan PRRI saat itu,” terang Nadjmudin.

Tidak mengherankan bila pemberian gelar pahlawan nasional kepada Sjafruddin pun mengejutkan masyarakat Banten. Mayoritas masyarakat Banten baru mengetahui bila pria yang memimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) ini merupakan orang Banten.

“Ketika ada pemberian gelar pahlawan itu banyak juga masyarakat kaget ada orang Banten (Safruddin) mendapatkan gelar itu,” kata pengamat politik dan pengajar di FISIP Universitas Tirtayasa Serang, Gandung Ismanto.

Sejumlah pegawai di Kelurahan Cikoneng, Anyer Kidul, Serang misalnya banyak yang tidak tahu sosok Sjafruddin. Pegawai lainnya mengatakan baru tahu soal Sjafruddin setelah membaca berita soal penghargaan pahlawan nasional.

“Karenanya apresiasi masyarakat Banten atas penghargaan ini kurang begitu disambut meriah, kecuali keluarga sendiri, keturunan Kasultanan Banten, masyarat elitnya atau pemerintah daerah Banten sendiri,” ungkap Gandung.

Hanya saja, sejak adanya pemberitaan pemberian gelar pahlawan nasional itu, tidak sedikit masyarakat Banten saat ini mencari tahu informasi soal sosok Sjafruddin. “Selama ini memori orang Banten lebih hafal dengan legenda soal Kasultanan Banten dan yang lainnya. Nah, sekarang mereka tahu ada putra Banten yang mendapatkan gelar pahlawan nasional, justru ini membangkitkan dan menambah semangat tersendiri,” ujar Gandung.

Selain itu, ketidaktahuan masyarakat juga diakibatkan lamanya sosok Sjafruddin dilupakan dalam sejarah kemerdekaan RI. Kehidupannya semakin dikucilkan dari ruang publik ketika dijebloskan penjara dengan cap pemberontak karena terlibat Pemerintah Revolusioner RI (PRRI) oleh Presiden Soekarno.

Bahkan, ketika Presiden Soeharto pun sosok yang satu ini pun dianggap musuh, karena sering mengkritisi kebijakan Orde Baru. Pada Juli 1980, Sjafruddin bersama AM Fatwa, dan Bung Tomo, dilarang memberikan khutbah Idul Fitri dengan alasan kutbah mereka bisa memancin emosi masyarakat. Khutbah Sjafruddin berjudul ‘Kembali Pada Pancasila dan UUD 1945′ isinya 80 persen soal politik.

Hingga kini belum diketahui langkah Pemerintah Provinsi Banten dalam menyambut pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada putra asal Banten ini. “Ibu (Ratu Atut Chosiyah) sedang di Jakarta mengikuti rapat,” kata salah satu ajudan Gubernur Banten, kepada detik+.

Sementara staf Humas Pemprov Banten bernama Ferry mengakui, Gubernur Banten memang akan membuat kebijakan tersendiri terkait pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Sjafruddin. “Tapi Gubernur sedang tidak ada di sini. Beliau masih ada tugas ke Jakarta. Yang jelas kita bergembira akhirnya ada putra Banten yang menjadi pahlawan nasional,” terangnya.

(iy/vit)

Senin, 14/11/2011 08:58 WIB

Pemberontak Jadi Pahlawan

Presiden 207 Hari

M. Rizal – detikNews
Balada Presiden 207 Hari


Jakarta – Pagi masih sangat muda, semuda Republik Indonesia. Saat itu RI baru berusia 2 tahunan. Namun sepagi itu, Yogyakarta sudah diberondong bom. Saat itu, 19 Desember 1948, jam baru menunjuk pukul 05.30 WIB, tapi langit ibukota Indonesia itu sudah dipenuhi pesawat-pesawat pembom Belanda.

Pesawat-pesawat itu menyerang lapangan terbang Maguwo. Setelah 1 jam membombardir bom, pesawat menurunkan pasukan payung mereka untuk menduduki Maguwo dan menyerbu Yogya.

Serangan Belanda yang tiba-tiba membuat Kepresiden sangat mencekam. Di antara raungan pesawat dan dentuman bom, kabinet segera menggelar rapat darurat. Hadir Presiden Soekarno, Perdana Menteri Mohamad Hatta, Menteri Negara Sultan Hamenku Buwono, Menlu Agus Salim, Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Ali Sastroamidjojo, Menteri Pekerjaan Umum Ir Laoh dan Kepala Sekretaris Presiden A G Pringgodigdo.

Rapat memutuskan pembentukan Pemerintahan Darurat RI (PDRI) yang dikepalai Sjafruddin Prawiranegara. Keputusan ini untuk mengantisipasi pendudukan Belanda.

Sjafruddin sendiri tengah berada di Sumatera. Sebulan sebelumnya, sebagai menteri kemakmuran, ia ditugaskan Bung Hatta untuk membenahi kesejahteraan rakyat di Sumatera Tengah.

Pembentukan PDRI disertai dengan ketegasan selama pemerintah RI tidak bisa menjalankan fungsi dan tugasnya karena tertawan oleh Belanda maka pemerintah daruratlah yang harus meneruskannya.

Menteri Perhubungan Ir Djuanda ditugaskan untuk segera menyampaikan keputusan itu kepada Sjafruddin dengan telegram. Namun kabar ini tidak pernah sampai pada Sjafruddin.

Hari itu pula, dengan cepat Yogya bisa dikuasai Belanda. Sore hari setelah menguasai Kepresiden, Belanda pun menawan Soekarno, Hatta dan sejumlah menteri. Tiga hari setelah ditahan, pada 22 Desember, mereka dibuang ke Pulau Bangka.

Pada hari yang sama dini hari, sekitar pukul 03.40 WIB, Sjafruddin mengumumkan berdirinya PDRI. Pengumuman dilakukan pagi buta di tengah perkebunan teh Halabang, Sumatera.

Dalam pengumuman itu, Sjafrudin menyebut dirinya sebagai ketua PDRI merangkap menteri pertahanan, menteri penerangan dan menteri luar negeri adinterim.

Kemudian Wakil Ketua Teuku Mohamad Hassan merangkap menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dan Menteri Agama. Letnan Jenderal Sudirman sebagai Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) , Komisaris Besar Polisi Umar Said sebagai Kepala Jawatan Kepolisian Negara.

Sebelum pengumuman itu, terjadi perdebatan soal jabatan Sjafruddin. Pertemuan itu antara lain dihadiri Koordinator Kemakmuran untuk Sumatera Abdul Latief, Koordinator Perhubungan untuk Sumatera Indracahya, Komisaris Negara urusan Keuangan Lukman Hakim, Direktur BNI Abdul Karim, Komisaris Besar Polisi Umar Said, Komodor Udara Suyono.

Para tokoh yang hadir menginginkan Sjafruddin disebut sebagai presiden PDRI, tapi pria kelahiran Banten itu menolaknya karena untuk menghindarkan kemungkinan dugaan makar. Maklum mandat dari Soekarno dan Hatta untuk membentuk PDRI tidak pernah sampai kepada Sjafruddin.

Setelah disepakati jabatan Sjafrudin sebagai ketua, pembentukan PDRI dan kabinet diumumkan dengan dipancarluaskan langsung oleh stasiun radio darurat RPDRI yang dikawal anak buah Komodor Udara Suyono.

Dua hari setelah mendeklarasikan PDRI, 24 Desember 1948, Sjafruddin berpidato di radio AURI memberitahukan bangsa Indonesia tidak akan menyerah meskipun Soekarno dan Hatta sudah ditahan Belanda.

“Belanda mengira bahwa dengan ditawannya pemimpin tertinggi kita, pemimpin-pemimpin lain akan putus asa. Negara RI tidak tergantung pada Soekarno-Hatta, sekalipun kedua pemimpin itu sangat berharga bagi kita. Patah Tumbuh hilang berganti,” kata Sjafruddin.

Kepada seluruh angkatan perang negara RI, Sjafruddin menyerukan perlawanan habis-habisan kepada Belanda. “Kami serukan bertempurlah, gempurlah Belanda di mana saja dan dengan apa saja mereka dapat dibasmi. Jangan letakkan senjata atau menghentikan tembak menembak kalau belum ada perintah dari pemerintah yang kami pimpin,” tegas Sjafruddin.

Setelah pidato pertama lewat radio itu, Syafruddin dan kabinetnya harus mengungsi lagi. Mereka harus mengungsi lagi agar tidak tertangkap karena Belanda bisa mengecek gelombang radio untuk menemukan keberadaan mereka. Menjelang subuh, rombongan berkumpul di depan rumah kediaman Sjafrudin. Mereka akan menuju Pekanbaru.

Rombongan yang terdiri sekitar 20 orang harus menembus rimba belantara, yang tentu saat itu masih banyak dihuni binatang buas. Tidak hanya terancam terkaman binatang buas, rombongan juga harus menyelamatkan diri dari berondongan bom.

Selain itu juga medan yang sulit juga membahayakan keselamatan mereka. Pernah suatu ketika, jep yang ditumpangi Sjafruddin terbalik karena kondisi jalan sangat buruk dan penuh lumpur. Kacamata Sjafruddin pecah dan tubuhnya terbalut lumpur. Untung ia tidak apa-apa.

Sjafruddin memimpin PDRI selama 6 bulan atau 207 hari. Karena dipimpin dari dalam hutan, oleh Belanda PDRI sering diplesetkan sebagai Pemerintah Dari Rimba RI. Perang terhadap Belanda tidak saja dilakukan secara fisik, perang juga dilakukan lewat radio dan diplomasi. Setiap mengungsi peralatan radio yang berfungsi mengumumkan kebijakan dan pidato Sjafruddin turut serta.

Melalui siaran Radio Sumba Raya dan Radio Angkatan Udara saat itu, Sjafruddin mengatakan pemerintahan RI masih ada. Karena Belanda mengatakan RI sudah jatuh, dibalas Sjafruddin RI tidak jatuh.

“Belanda balas kalau tidak jatuh kenapa pemerintahan ada di hutan. Dijawab Safruddin, walau pemerintahan ada di hutan tapi masih berada di dalam negeri sendiri,” terang Najamudin Busro, kerabat Sjafruddin yang kini menjadi ahli sejarah Banten.

PDRI juga memimpin diplomasi di luar negeri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sjafrudin sebagai Ketua PDRI menunjuk AA Maramis yang sudah ada di luar negeri sebelum agresi militer Belanda menjadi Menteri Luar Negeri dalam pengasingan. Bersama-sama dengan Dr Sudarsono sebagai wakil RI di India, mereka memperjuangkan NKRI lewat konferensi di New Delhi.

“Hal itu menguntungkan sekali karena kedua pejabat itu bisa memberi keterangan selengkap-lengkapnya, kepada Nehru tentang keadaan Indonesia,” tulis Ali Sastro Amidjojo dalam bukunya ‘Tonggak-Tonggak di Perjalananku’.

Resolusi konferensi New Delhi meminta Dewan Keamanan PBB supaya membebaskan semua anggota pemerintah Indonesia Selain itu juga, meminta Belanda segera menarik pasukannya dari Yogyakarta dan mengembalikan Yogya yang didudukinya kepada RI.

Berkat konferensi New Delhi, dunia internasional menekan Belanda. Akhirnya pada 7 Mei 1949, Belanda terpaksa menandatangani Perjanjian Roem-Van Royen. Inti perjanjian yakni menyetujui penarikan mundur pasukan Belanda dari Yogya.

Soekarno dan Hatta yang ditahan di Bangka dibebaskan dan kembali ke Yogya pada 6 Juli. Sementara Sjafrudin, kembali ke Yogya pada 13 Juli 1949 dan langsung menyerahkan mandatnya kepada Wakil Presiden/Perdana Menteri Mohammad Hatta.

***

Meski memiliki jasa sangat besar, Sjafruddin merupakan orang yang rendah hati. Ia tidak pernah merasa tindakannya memimpin PDRI merupakan hal yang luar biasa.

“Saya ini seorang manusia biasa. I’m only doing my job. Apa yang dilakukan di PDRI itu sesuatu yang biasa-biasa saja,” kata Sjafruddin seperti diungkap putranya, Farid Prawiranegara saat memperingati 100 Tahun Sjafruddin Prawiranegara, pada 28 Februari 2011.

Sjafruddin meninggal pada 15 Februari 1989 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Sebelum meninggal, ia pernah dijebloskan ke penjara oleh Presiden Soekarno dengan tudingan melakukan pemberontakan PRRI. Ia juga menjadi musuh Presiden Soeharto karena terus bersikap kritis.

Pada 8 November 2011, setelah perdebatan panjang soal cap pemberontak pada Sjafruddin terkait PRRI, akhirnya pria luar biasa ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Tulisan detik+ selanjutnya: laporan khusus Pemberontak Jadi Pahlawan yang lain yaitu ‘Dipenjarakan Soekarno, Dicekal Soeharto‘ dan ‘Kehilangan Jejak Sjafruddin di Anyer‘ serta laporan khusus berjudul ‘Melawan Seribu Hakim Nakal‘ bisa anda dapatkan di detiKios for Ipad yang tersedia di apple store.

(iy/iy)

 




Blog Stats

  • 2,209,262 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 121 other followers