Posts Tagged ‘Heritage

17
Mar
12

IndoHeritage : Al Qur’an Tertua Sudah Terbakar

Alquran ‘Tertua’ Sudah Terbakar

 

 

Saat pertama diturunkan, Alquran tidaklah berbentuk buku seperti yang terlihat saat ini. Malaikat Jibril menyampaikan Alquran kepada Nabi Muhammad SAW dalam bentuk pesan yang tidak tertulis. Lalu para sahabat yang hidup di zaman itulah yang menyimpan pesan-pesan Alquran dengan menghapalnya.
Pada masa kekhalifahan Usman bin Affan, sekitar pertengahan abad ke-7, para penghapal Alquran mulai meninggal dunia. Dari sinilah kemudian terpikir untuk menjadikan Alquran dalam bentuk tertulis. Dari sinilah asal mula kehadiran Alquran berbentuk buku.
Khalifah Usman sendiri sempat membuat Alquran tulisan tangan untuk mengadikan Kitab Suci umat Islam tersebut agar bisa diketahui oleh generasi berikutnya. Tapi di manakah Alquran tulisan tangan Usman bin Affan itu tersimpan? Sebuah berita di surat kabar terbitan India, Times of India, pernah memuat berita soal itu.
Menurut berita Time of India yang terbit Juli 2004, Alquran berbentuk buku yang tertua di dunia ini tersimpan di salah satu sekolah Islam berkurikulum modern yang juga tertua di dunia di Kashmir.  Sekolah ini didirikan oleh organisasi umat Islam bernama Anjuman e-Nasratul Islam pada tahun 1903.
Keberadaan sekolah tersebut memiliki makna yang sangat penting bagi warga Kashmir. Masyarakat setempat menganggapnya sebagai penggagas munculnya pemikiran modern di kalangan Muslim Kashmir yang selama ini terkungkung dogma-dogma agama.  Sekolah tersebut menjadi lembaga studi Islam yang sangat memajukan pelajaran bahasa Inggris dan sains.
Sayang sekali, Alquran berbentuk buku yang paling tua di dunia itu hangus menjadi arang seiring dengan musibah kebakaran yang menimpa sekolah tersebut pada Juli 2004. Alquran itu mulanya tersimpan di perpustakaan sekolah. Saat terjadi kebarakan, seluruh bagian perpustakaan hangus terbakar. Bersama Alquran tertua itu juga ikut terbakar sekitar 30 ribu judul buku-buku kuno.
Kabarnya, kebakaran terjadi akibat sabotase yang diduga berkait dengan konflik Kashmir berkepanjangan yang sudah berlangsung sejak 1989. Konflik terjadi antara kelompok yang menginginkan Kashmir merdeka atau bergabung dengan Pakistan dan tentara India yang menginginkan wilayah tersebut tetap menjadi bagian dari negeri ‘Bollywood’ itu.
Posted in:

Popular Posts

 

08
Feb
12

Fauna : Fosil Spons Namibia, Hewan Pertama Dunia

Fosil Spons Namibia

AFPAFP – Sel, 7 Feb 2012
Fosil Spons Namibia Merupakan Hewan Pertama di Dunia

Johannesburg (AFP/ANTARA) – Para ilmuwan yang melakukan penggalian di taman nasional Namibia telah menemukan fosil seperti spons yang mereka katakan merupakan hewan pertama, sebuah penemuan yang akan mendorong munculnya kembali kehidupan satwa jutaan tahun yang lalu.

Fosil berbentuk makhluk kecil itu ditemukan di Etosha National Park Namibia dan di berbagai situs lainnya di seluruh negeri dalam bebatuan yang berusia 760 dan 550 juta tahun, sebuah tim beranggotakan 10 peneliti internasional, hal ini diungkapkan dalam sebuah makalah yang diterbitkan South African Journal of Science.

Itu berarti hewan, yang sebelumnya diperkirakan muncul 600 juta hingga 650 juta tahun yang lalu, telah muncul 100 juta hingga 150 juta tahun sebelumnya, kata para penulis.

Hal itu juga berarti gumpalan berongga – berukuran setitik debu dan tertutup lubang yang memungkinkan cairan lolos dan keluar dari tubuh mereka – merupakan nenek moyang kita, kata rekan penulis Tony Prave, seorang ahli geologi di University of St Andrews di Skotlandia.

“Jika kita melihat silsilah keluarga dan proyek mundur anda akan menjumpai apa yang disebut kelompok induk, nenek moyang semua hewan, maka ya, ini akan menjadi nenek moyang kita paling awal,” ujarnya pada AFP.

Prave mengatakan bukti fosil bahwa hewan tersebut muncul 760 juta tahun yang lalu cocok dengan hipotesis genetika yang melihatnya melalui “jam molekuler “, sebuah alat untuk mengukur usia suatu spesies dengan melihat persentase perbedaan antara DNA miliknya dan dari spesies lain.

“Aspek ini agak memuaskan, setidaknya secara intelektual, melalui kesepakatan secara luas yakni genetika memberi tahu kita melalui jam molekuler ketika kita melihat bentuk pertama multi-selular kehidupan,” ujarnya.

Hiu Paus Raksasa

Seekor hiu paus raksasa terdampar di pinggir pantai dekat pelabuhan di perkampungan nelayan di Karachi, Pakistan, 7 Februari. Hiu ini kemudian dijual seharga 1,7 juta PKR atau Rp 167,27 juta menurut media setempat.

18 dari 11
  1. Residents gather as a whale shark is pulled from the water by cranes after it was found dead at Karachi
  2. Staff of Karachi fisheries lift a carcass of  whale shark in Karachi, Pakistan on Tuesday, Feb 7, 2012. The 40-feet whale was found dead near Karachi in the Arabian Sea. (AP Photo)
  3. People surround a carcass of a whale shark in Karachi, Pakistan on Tuesday, Feb 7, 2012. The 40-foot whale was found dead near Karachi in the Arabian Sea. (AP Photo/Shakil Adil)
  4. People surround a carcass of  whale shark in Karachi, Pakistan on Tuesday, Feb 7, 2012. The 40-foot whale was found dead near Karachi in the Arabian Sea. (AP Photo/Shakil Adil)
  5. A man stands on a dead whale shark before it was pulled from the water by cranes as residents gather at Karachi
  6. People look at a carcass of whale shark in Karachi, Pakistan on Tuesday, Feb 7, 2012. The 40-foot whale was found dead near Karachi in the Arabian Sea. (AP Photo)
  7. Residents gather as a whale shark is pulled from the water by cranes after it was found dead at Karachi
  8. Residents gather as a whale shark is pulled from the water by cranes after it was found dead at Karachi

Reuters logo Foto oleh AKHTAR SOOMRO/REUTERS

09
Nov
11

Warisan Adiluhung : Kepemimpinan Rajah Kalacakra

Saturday, March 12, 2011

Gagasan kepemimpinan dalam RAJAH KALACAKRA

Terdapat gagasan mengenai pegangan seorang pemimpin dalam Rajah Kalacakra.Rajah, berarti tulisan rahasia, kala artinya waktu, dan cakra berarti perputaran.Rajah Kalacakra berarti bacaan / ayat rahasia yang dapat mengatasi perputaran waktu. Waktu demikian cepat berubah, karena itu seorang pemimpin yang memiliki pegangan Rajah Kalacakra akan mampu menyesuaikan dan mengatasi gejolak jaman.
Lirik mantra Rajah Kalacakra berbunyi :
Yamaraja – Jaramaya, Penyerang jadi Pengasih
Menjadi pemimpin bukan untuk semena-mena terhadap anak buahnya, tapi sebaliknya mampu mampu mengayomi dan melindungi anak buah dalam kerangka kasih. Seorang pemimpin hendaknya mampu menguasai berbagai hal yang tak kelihatan (tersamar/maya) demi keselamatan negara / rakyat / anak buah.
Yamarani – Niramaya, Keburukan jadi Jauh
Dalam mendekati hal-hal yang maya tersebut perlu hati-hati. Hal yang maya termasuk di dalamnya setan yang sangat berbahaya sering menggoda pemimpin. Seorang pemimpin yang mampu menaklukkan setan, berarti mampu menaklukkan hawa nafsunya. Setan yang mewujud dalam hawa nafsu adalah musuh tersamar seorang pemimpin.
Yasilapa – Palasiya, Kelaparan jadi Makanan
Pemimpin perlu menyadari bahwa lapar itu dapat mengakibatkan kejahatan (degsiya). Sebaliknya, pemimpin juga harus berani malasiya (menindak tegas) siapa saja yang berbuat kejahatan.
Yamiroda – Daromiya, Pemaksa jadi Pembebas
Seorang pemimpin hendaknya tidak memaksakan kehendak pada rakyatnya, sebaliknya ia harus berani memberikan kebebasan berekspresi baik dalam hal mengemukakan pendapat, beribadah maupun berkelompok.
Yadayuda – Dayudaya, Perang jadi Damai
Pemimpin harus mampu mengatur strategi untuk menyusun kekuatan jika terjadi marabahaya. Keselamatan harus diutamakan. Ia harus berdiri tegak, tak terkotori urusan politik. Dalam mengatur strategi, harus mengutamakan usaha damai agar tidak menimbulkan korban dan kerusakan yang lebih besar.
Yaciyasa – Cayasiya, Celaka jadi Sehat Sejahtera
Tak dapat dielakkan, bahwa bencana maupun kecelakaan mungkin saja terjadi. Maka dari itu, melalui kebijakan-kebijakannya, seorang pemimpin hendaknya dapat mengubah situasi rakyatnya yang sedang dirundung kemalangan karena bencana, menjadi sehat sejahtera seperti sedia kala.
Yamidosa – Sadomiya, Perusak jadi Pembangun

Membangun, tidak hanya dalam hal bentuk fisik negara, tetapi sekaligus akhlak dan sikap mental rakyat. Seorang pemimpin harus dapat membebaskan rakyat dari perbuatan dosa. Pemimpin perlu memikirkan strategi untuk memberantas perjudian, kemaksiatan, narkoba, korupsi, yang dapat membuat rakyatnya lupa akan Allah, Shang Hyang Amurba Gesang.

Dipun kirim dening Dendy wanci 2:27 AM
Perangan : 
Suraosipun :
09
Nov
11

Warisan Adiluhung : Ngelmu Rasa

Saturday, November 20, 2010

Ngelmu Rasa

Ngelmu rasa (ilmu rasa) Jawa yang tertinggi dan terbesar adalah ilmu tentang Ketuhanan. Ilmu rasa ini merupakan pencarian terus-menerus terhadap kegaiban Tuhan. Jika orang Jawa mampu menemukan Tuhan seakan dirinya sedang mencapai pencerahan batin. Hal ini dinyatakan oleh Jayengwesthi dengan menyitir perkataan para ahli wirid sebagai berikut :
Ujaring wong ahli wirid,
gegedhening raseki,
tan kaya rasane ngelmu,
tokite mangkonoa,
 mutung-mutung marang ngelmi,
amal tama mrih metu mangunahira
(Serat Centhini, V 350, 153 d-i)
Dari tembang tersebut tampak bahwa ilmu Ketuhanan merupakan keindahan tertinggi. Penemuan ilmu ini akan menyebabkan manusia lebih tenang hidupnya. Manusia akan mendapatkan mangunah (keistimewaan) tertentu setelah menguasai ilmu Ketuhanan. Karenanya, ilmu ini diyakini oleh orang Jawa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang dikenal dengan “ngelmu kasampurnan”.
Ilmu kesempurnaan itu juga disebut ilmu kasepuhan (ilmu tua). Ilmu kasepuhan juga disebutbengat. Orang Jawa yang menempuh laku batin harus menguasai ilmu ini secara lancar dan hafal. Dengan cara mengulang-ulang (anetah) pada empat hal yakni syari’at, tarekat, hakikat, makrifat. Hal itu diajarkan oleh Syeh Amongraga kepada Tambangraras sebagai berikut :
Lah kawruhana den ira,
mungguh lakune kang bengat,
kudu pinrih lobok lanyah,
lanyahe kudu anetah,
saking patang prakaranya,
sarengat ing wiridira,
lawan tarekating wirid,
miwah kakekating wirid,
tuwin makripat wiridan.
(Serat Centhini, VII: 368, 25-26a)
Ilmu rasa juga berkaitan dengan bagaimana mendapatkan ilmu. Penerima ilmu harus berupaya agar menjaga dan mengembangkannya. Dengan kata lain, ajaran yang baik itu akan menghasilkan kebaikan bila orangnya baik/bijaksana. Konsep demikian merupakan filsafat ilmu Jawa yang fundamental.
Hal itu dinyatakan dalam bentuk perumpamaan biji kacang. Biar biji kacang itu baik, bila ditanam pada batu tanpa tanah maka akan menjadi kering / tidak hidup, seperti kutipan berikut :
Wuruk iku kang menangka wiji,
kang winuruk umpamane papan,
pama kacang lan kedhele,
Sinebarna ing watu,
yen watune datanpa siti,
kodanan kepanasen,
pasthi nora thukul,
lamun sira wicaksana,
tingalira sirnakna ngaranireki,
dadi tingaling suksma.
(Serat Centhini IV: 280, 28h. 105)
Dari kutipan di atas terkandung pesan tentang sikap hidup Jawa bahwa mencari / menuntut ilmu harus berbekalkan tekad yang mantab. Filsafat demikian disebutkan “golek geni adedamar” atau “golek banyu apikulan warih”. Ilmu rasa hanya bisa dicapai dengan cara :eneng (diam), ening (menjernihkan pikiran), enung (merenungkan akan Tuhan), dan nir ing budi (mengosongkan pikiran). Orang demikian akan menemukan Tuhan dan akan menjadi manusia sempurna atau sejati.
Dalam kehidupan sekarang, ilmu rasa sering dilakukan dengan cara menyepi atau bertapa (mesu raga, cipta dan rasa).
Dipun kirim dening Dendy wanci 8:34 AM
Perangan : 
Suraosipun :
09
Nov
11

Warisan Adiluhung : Jangka Jayabaya

Friday, November 19, 2010

Pembagian Jaman Menurut Jayabaya

Indonesia atau Nuswantara ini, dahulu dikenal dunia sebagai bangsa yang besar dan terhormat. Orang luar bilang Nuswantara adalah jamrud khatulistiwa karena disamping Negara kita ini kaya akan hasil bumi juga merupakan Negara yang luar biasa megah dan indah. Bahkan di dalam pewayangan Nuswantara ini dulu diberikan istilah berbahasa kawi/Jawa kuno, yaitu :

Negara kang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerto raharja. Artinya dalam bahasa Indonesia kurang lebih yaitu : luas berwibawa yang terdiri atas daratan dan pegunungan, subur makmur, rapi tentram, damai dan sejahtera. Sehingga tidak sedikit negara-negara yang dengan sukarela bergabung dibawah naungan bangsa kita. Hal ini tentu saja tidak lepas peranan dari leluhur-leluhur kita yang beradat budaya dan berakhlak tinggi. Disamping
bisa mengatur kondisi negara sedemikian makmur, leluhur kita juga bahkan bisa mengetahui kejadian yang akan terjadi di masa depan dan menuliskannya ke dalam karya sastra. Hal ini bertujuan sebagai panduan atau bekal anak cucunya nanti supaya lebih berhati-hati menjalani roda kehidupan. Akan tetapi penulisannya tidak secara langsung menggambarkan kejadian di masa mendatang, melainkan menggunakan perlambang sehingga kita harus jeli untuk dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan perlambang itu tadi. Digunakannya perlambang karena secara etika tidaklah sopan apabila manusia mendahului takdir, artinya mendahului Tuhan yang Maha Wenang.
Pembagian Jaman Menurut Jawa
Salah satu leluhur kita yang menuliskan kejadian masa depan adalah Maharaja di kerajaan Dahana Pura bergelar Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya dalam karyanya Jayabaya Pranitiradya dan Jayabaya Pranitiwakyo. Sering juga disebut Jangka Jayabaya atau Ramalan Jayabaya. Leluhur lainnya adalah R. Ng. Ranggawarsita yang menyusun kejadian mendatang ke dalam tembangtembang. Antara lain Jaka Lodang, Serat Kalatidha, Sabdatama, dll. Akan tetapi sejak runtuhnya Majapahit dan berdirinya Demak, banyak buku-buku, lontar-lontar kuno dan karya-karya sastra leluhur kita yang dibakar dan
dimusnahkan. Ada juga yang dijual atau dibawa paksa oleh Belanda pada masa penjajahan. Akibatnya kita sekarang jadi kurang memahami atau bahkan nol pengetahuan tentang sejarah Nusantara ini. Untuk itulah disini akan diuraikan sejarah Nusantara sejak berdirinya kerajaan pertama kali hingga saat ini, serta pembagian jaman dari adanya bumi hingga akhir jaman nanti, guna menambah wawasan bagi kita yang peduli dengan sejarah nenek moyang kita.
Jaman dari awal adanya bumi hingga jaman akhir (kiamat) dibagi atas 3 Jaman Besar [trikali], setiap Jaman Besar dibagi atas 7 Jaman Sedang [saptakala], dan setiap Jaman Sedang dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala]. Trikali atau 3 jaman besar itu terdiri dari masing-masing Jaman Besar berusia 700 Tahun Surya, jadi total usia bumi adalah 2.100 Tahun Surya :
1. Kali Swara – jaman penuh suara alam
2. Kali Yoga – jaman pertengahan
3. Kali Sangara – jaman akhir
Tahun Surya tidak sama dengan perhitungan Tahun Masehi ataupun Tahun Jawa, dalam 1 Tahun Masehi terdiri dari Skema Pembagian Jaman dan Perhitungan Tahun Surya 365 hari, sedangkan dalam 1 Tahun Jawa terdiri dari 354 hari. Tahun Surya menggunakan perhitungan dari wuku [Tahun Pawukon] yang perhitungannya dibuat oleh Sanghyang Wisnu, sebuah perhitungan awal mula yang dibuat oleh dewa. Dalam kalender Pawukon terdiri dari 30 Wuku, di mana masing-masing Wuku berusia 7 hari, jadi dalam 1 Tahun Pawukon terdiri dari 210 hari. Setiap tujuh kali putaran tahun Pawukon yang total berjumlah 1.470 hari, itulah yang disebut dengan 1 Tahun Surya, jadi 1 Tahun Surya sama dengan 7 kali Tahun Pawukon, atau setara dengan sekitar 4 Tahun Masehi.
Konversi perhitungan tahun tepatnya adalah sebagai berikut :
1 Tahun Surya = 7 Tahun Pawukon = 4,027 Tahun Masehi = 4,153 Tahun Jawa, atau setara dengan 1.470 hari.
1 Jaman Sedang Kala = 100 Tahun Surya = 700 Tahun Pawukon = 402,7 Tahun Masehi = 415,3 Tahun Jawa, atau setara dengan 147.000 hari.
1 Jaman Besar Kali = 7 Jaman sedang Kala = 700 Tahun Surya = 4.900 Tahun Pawukon = 2.818,9 Tahun Masehi = 2.907,1 Tahun Jawa, atau setara dengan 1.029.000 hari.
Jangka Jayabaya yang berusia triKali atau 3 Jaman Besar Kali = 21 Jaman Sedang Kala = 2.100 Tahun Surya = 14.700 Tahun Pawukon = 8.456,7 Tahun Masehi = 8.721,3 Tahun Jawa, atau setara dengan 3.087.000 hari.
BUMI
2 KALI [Jaman Besar]
700 tahun Surya
100 tahun Surya
100 tahun Surya
100 tahun Surya
100 tahun Surya
100 tahun Surya
100 tahun Surya
100 tahun Surya
3 KALI [Jaman Besar]
700 tahun Surya
1 KALI [Jaman Besar]
700 tahun Surya
1. KALA [Jaman Sedang]
2. KALA [Jaman Sedang]
3. KALA [Jaman Sedang]
4. KALA [Jaman Sedang]
5. KALA [Jaman Sedang]
6. KALA [Jaman Sedang]
7. KALA [Jaman Sedang]
33-34 tahun Surya
33-34 tahun Surya
33-34 tahun Surya
1. MANGSA KALA [Jaman Kecil]
2. MANGSA KALA [Jaman Kecil]
3. MANGSA KALA [Jaman Kecil]
PEMBAGIAN JAMAN
1. Kali Swara (jaman penuh suara alam). Dibagi atas 7 Jaman Sedang (saptakala), yaitu :
1.1. Kala Kukila (burung). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
1.1.1 Mangsa Kala Pakreti (mengerti)
1.1.2 Mangsa Kala Pramana (waspada)
1.1.3 Mangsa Kala Pramawa (terang)
1.2. Kala Budha (mulai munculnya kerajaan). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
1.2.1 Mangsa Kala Murti (kekuasaan)
1.2.2 Mangsa Kala Samsreti (peraturan)
1.2.3 Mangsa Kala Mataya(manunggal dengan Sang Pencipta)
1.3. Kala Brawa (berani/menyala). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
1.3.1 Mangsa Kala Wedha (pengetahuan)
1.3.2 Mangsa Kala Arcana (tempat sembahyang)
1.3.3 Mangsa Kala Wiruca (meninggal)
1.4. Kala Tirta (air bah). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
1.4.1 Mangsa Kala Raksaka (kepentingan)
1.4.2 Mangsa Kala Walkali (tamak)
1.4.3 Mangsa Kala Rancana (percobaan)
1.5. Kala Rwabara (keajaiban). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
1.5.1 Mangsa Kala Sancaya (pergaulan)
1.5.2 Mangsa Kala Byatara (kekuasaan)
1.5.3 Mangsa Kala Swanida (pangkat)
1.6. Kala Rwabawa (ramai). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
1.6.1 Mangsa Kala Wibawa (pengaruh)
1.6.2 Mangsa Kala Prabawa (kekuatan)
1.6.3 Mangsa Kala Manubawa (sarasehan/pertemuan)
1.7. Kala Purwa (permulaan). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
1.7.1 Mangsa Kala Jati (sejati)
1.7.2 Mangsa Kala Wakya (penurut)
1.7.3 Mangsa Kala Mayana (tempat para maya/ hyang)
2. Kali Yoga (jaman pertengahan). Dibagi atas 7 Jaman Sedang (saptakala), yaitu :
2.1. Kala Brata (bertapa). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
2.1.4 Mangsa Kala Yudha (perang)
2.1.5 Mangsa Kala Wahya (saat/waktu)
2.1.6 Mangsa Kala Wahana (kendaraan)
2.2. Kala Dwara (pintu). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
2.2.1 Mangsa Kala Sambada (sesuai/ sepadan)
2.2.2 Mangsa Kala Sambawa (ajaib)
2.2.3 Mangsa Kala Sangkara (nafsu amarah)
2.3. Kala Dwapara (para dewa). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
2.3.1 Mangsa Kala Mangkara (ragu-ragu)
2.3.2 Mangsa Kala Caruka (perebutan)
2.3.3 Mangsa Kala Mangandra (perselisihan)
2.4. Kala Praniti (teliti) Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
2.4.1 Mangsa Kala Paringga (pemberian/kesayangan)
2.4.2 Mangsa Kala Daraka (sabar)
2.4.3 Mangsa Kala Wiyaka (pandai)
2.5. Kala Teteka (pendatang). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
2.5.1 Mangsa Kala Sayaga (bersiap-siap)
2.5.2 Mangsa Kala Prawasa (memaksa)
2.5.3 Mangsa Kala Bandawala (perang)
2.6. Kala Wisesa (sangat berkuasa). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
2.6.1 Mangsa Kala Mapurusa (sentosa)
2.6.2 Mangsa Kala Nisditya (punahnya raksasa)
2.6.3 Mangsa Kala Kindaka (bencana)
2.7. Kala Wisaya (fitnah). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
2.7.1 Mangsa Kala Paeka (fitnah)
2.7.2 Mangsa Kala Ambondan (pemberontakan)
2.7.3 Mangsa Kala Aningkal (menendang)
3. Kali Sangara (jaman akhir). Dibagi atas 7 Jaman Sedang (saptakala), yaitu :
3.1. Kala Jangga (pujangga). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
3.1.1 Mangsa Kala Jahaya (keluhuran)
3.1.2 Mangsa Kala Warida (kerahasiaan)
3.1.3 Mangsa Kala Kawati (mempersatukan)
3.2. Kala Sakti (kuasa). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
3.2.1 Mangsa Kala Girinata (Syiwa)
3.2.2 Mangsa Kala Wisudda (pengangkatan)
3.2.3 Mangsa Kala Kridawa (perselisihan)
3.3. Kala Jaya. Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
3.3.1 Mangsa Kala Srenggya (angkuh)
3.3.2 Mangsa Kala Rerewa (gangguan)
3.3.3 Mangsa Kala Nisata (tidak sopan)
3.4. Kala Bendu (hukuman/musibah). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
3.4.1 Mangsa Kala Artati (uang/materi)
3.4.2 Mangsa Kala Nistana (tempat nista)
3.4.3 Mangsa Kala Justya (kejahatan)
3.5. Kala Suba (pujian). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
3.5.1 Mangsa Kala Wibawa (berwibawa/berpengaruh)
3.5.2 Mangsa Kala Saeka (bersatu)
3.5.3 Mangsa Kala Sentosa (sentosa)
3.6. Kala Sumbaga (terkenal). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
3.6.1 Mangsa Kala Andana (memberi)
3.6.2 Mangsa Kala Karena (kesenangan)
3.6.3 Mangsa Kala Sriyana (tempat yang indah)
3.7. Kala Surata (menjelang jaman akhir). Dibagi atas 3 Jaman Kecil (mangsa kala) :
3.7.1 Mangsa Kala Daramana (luas)
3.7.2 Mangsa Kala Watara (sederhana)
3.7.3 Mangsa Kala Isaka (pegangan)
Berikut adalah uraian tentang pembagian jaman disertai dengan silsilah Kerajaan-kerajaan besar di Jawa pada jaman Kali Swara, Kali Yoga, dan Kali Sangara.
1. KALI SWARA
1.1. Kala Kukila
1.1.a Keling
1.1.b Purwadumadi
1.1.c Purwacarita
1.1.d Magadha
1.1.e Gilingwesi
1.1.f Sadha Keling
1.2. Kala Budha
1.2.a Gilingwesi
1.2.b Medang Agung
1.2.c Medang Prawa
1.2.d Medang Gili
1.2.e Medang Gana
1.2.f Medang Pura
1.2.g Medang Gora
1.2.h Medang Sewanda
1.3. Kala Brawa
1.3.a Medang Sewanda
1.3.b Medang kamulyan
1.3.c Medang Gili
1.4. Kala Tirta
1.4.a Purwa Carita
1.4.b Gilingwesi
1.4.c Medang Gele
1.5. Kala Rwabara
1.5.a Gilingwesi
1.5.b Medang Kamulyan
1.5.c Purwa Carita
1.5.d Wirata
1.5.e Gilingwesi
1.6. Kala Rwabawa
1.6.a Gilingwesi
1.6.b Purwacarita
1.6.c Wirata Anyar
1.7. Kala Purwa
1.7.a Wirata Kulon (Matsyapati)
1.7.b Hastina Pura
2. KALI YOGA
2.1. Kala Brata
2.1.a Hastina Pura
2.2. Kala Dwara
2.2.a Hastina Pura
2.2.b Malawapati
2.2.c Dahana Pura
2.2.d Mulwapati
2.2.e Kertanegara
2.3. Kala Dwapara
2.3.a Pengging
2.3.b Galuh
2.3.c Prambanan
2.3.d Medang Nimrata
2.3.e Grejitawati
2.4. Kala Praniti
2.4.a Purwacarita
2.4.b Mojopura
2.4.c Pengging
2.4.d Kanyuruhan
2.4.e Kuripan
2.4.f Kedhiri
2.4.g Jenggala
2.4.h Singasari
2.5. Kala Teteka
2.5.a Kedhiri
2.5.b Galuh
2.5.c Magada
2.5.d Pengging
2.6. Kala Wisesa
2.6.a Pengging
2.6.b Kedhiri
2.6.c Mojopait (Majapahit)
2.7. Kala Wisaya
2.7.a Mojopait
2.7.b Demak
2.7.c Giri
3. KALA SANGARA
3.1. Kala Jangga
3.1.a Pajang
3.1.b Mataram
3.2. Kala Sakti
3.2.a Mataram
3.2.b Kartasura
3.3. Kala Jaya
3.3.a Kartasura
3.3.b Surakarta
3.3.c Ngayogyakarta
3.4. Kala Bendu
3.4.a Surakarta
3.4.b Ngayogyakarta
3.4.c Indonesia (Republik)
Sumber : Sri Kameswara Dharma Iswara Madu Sudana Wartanindita Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya Raja Dahana Pura, titisan Sanghyang Wisnu, seperti yang diceritakan oleh Eyang Sepuh, di-sari-kan oleh Ki Mayangga Seta, disempurnakan dan ditulis ulang oleh Ki Atma Sasratama Jati.
Dipun kirim dening Dendy wanci 8:20 AM
Perangan : 
Suraosipun :
09
Nov
11

Warisan Adiluhung : Mikul Dhuwur Mendhem Jero

Mikul Dhuwur

Mendhem Jero

Mikul dhuwur, mendhem jero (Indonesia: “memikul tinggi-tinggi, memendam dalam-dalam”) – jasa seorang pemimpin atau orang tua harus dijunjung tinggi sedangkan kesalahannya harus ditutupi.

Mikul Dhuwur Mendem Jero – Sebuah Peribahasa Kekayaan Bangsa*

2 May 2008 at 05:40 (Budaya) ()

2 Mei, hari lahirnya Ki Hajar Dewantoro, diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Kali ini, saya ingin berbagi mengenai budaya kita. Suatu warisan nilai-nilai yang seharusnya kita didikkan pada diri kita dan pada generasi penerus kita. Sekali lagi, saya ingin mengupas peribahasa. Salah satu peribahasa yang menjadi bagian dari 14 prinsip filosofi jawa.

Tiap peribahasa ini memiliki makna yg dalam. Tp apakah tiap peribahasa itu bisa dimaknai sesuai dengan zamannya? Atau bahkan maknanya bisa berubah, tergantung siapa yang memberi tafsiran? Bagaimana menurut Anda?

Saya yakin akan seru kalau kita berbicara ttg ini: witing trisno jalaran soko kulino. Tp kali ini saya mau membahas dulu apa makna yg ada dalam peribahasa Jawa: “mikul dhuwur “mendem jero”. Salah satu dari 14 prinsip filosofi jawa.

Menurut buku pepak boso jowo dan sapolo boso (ini bukan kitab suci orang Jawa kuno, ini buku pegangan untuk pelajaran Bhs Daerah Jawa saat masih SD-SMP :grin: ) adalah menghormati pemimpin atau keluarga dengan mengenang jasanya dan menutupi keburukannya. Jadi orang Jawa dengan “mikul dhuwur” mendem jero-nya berusaha menanamkan nilai betapa pentingnya menjaga nama baik keluarga, kelompok, atau pun bangsanya.

Mikul Dhuwur

Frasa “mikul dhuwur” arti konotasinya kira-kira memikul/menjunjung setinggi-tingginya. Makna yang terkandung di dalamnya adalah hendaknya setiap anggota keluarga- suku, bangsa, atau jenis kumpulan manusia lainnya- menjunjung tinggi–setinggi-tinggnya nama baik kelompok di muka umum. Hal ini bisa diartikan dengan mengekspos dan menghormati keunggulan-keunggulan kelompok di depan khalayak ramai.

Konotasi Positif
Konsep “mikul dhuwur” seperti di atas rupanya juga dipake oleh negara-negara dalam lingkup hubungan luar negeri mereka. Ambil contoh Indonesia dengan “Visit Indonesia 2008″ atau Malaysia dengan jargon “Malaysia truly Asia”. Itu contoh politik luar negeri dua bangsa rumpun melayu dalam bidang pariwisata.

Contoh lain di bidang pendidikan. Di kampus saya pernah tertempel dua poster promosi keunggulan Pendidikan Tinggi di Jerman dan Prancis. Bahkan Uni Eropa secara umum juga tidak mau kalah dalam menerapkan prinsip “mikul dhuwur” ini. Mereka menawarkan program beasiswa Erasmus Mundus untuk negara-negara berkembang–termasuk Indonesia. Penerima beasiswa ini akan mendapatkan donasi pendidikan sebanyak 21.000 euro setahun (woowww…). Mereka juga akan belajar minimal di dua negara uni eropa. Hakikatnya tetap, yaitu uni eropa (atau Ukhuwah Al Airupiah dalam bahasa Ust. Musholi :grin: ) ingin menunjukkan pada dunia bahwa mereka memiliki tingkat pendidikan yang bagus, kesolidan yg tak diragukan, dan kepedulian yang luar biasa terhadap pendidikan.

Penerapan prinsip “mikul dhuwur” pada bidang pendidikan yang lain contohnya adalah gembar-gembor promosi beasiswa pemerintah Jepang yang bernama Monbukagakusho. Detailnya silakan cari sendiri. Hehehe…

Konotasi Negatif
Mikul dhuwur” juga diterapkan dalam bidang perfilman. Contohnya tiap seri film Rambo (jadi ingat Rambo IV yang sadis :sad: ). Apapun lawannya, berapapun jumlahnya, hollywood dengan Rambo-nya ingin menunjukkan bahwa Amerika adalah bangsa yang perkasa. Kita juga bisa melihat hal sejenis di berbagai film hollywood.

Kita coba kembali ke masa lalu. Di kala Soviet masih pantas disebut berjaya. Di kala itu pula dua adikuasa mencoba me-”mikul dhuwur” ketenaran kekuatannya. Adu uji coba rudal antara USSR dan USA bukan hal yg aneh waktu itu. Ingat pula siapa yg pertama kali mengeksplorasi ruang angkasa?! Ya… seorang kosmonot Soviet. Sebuah usaha dari pemerintah Soviet untuk me-”mikul dhuwur” martabat bangsanya.

Amerika Serikat tak mau kalah. Bila Soviet menjelajahi langit, maka Amerika menjelajahi bawah laut… yang kala itu sama misteriusnya dengan ruang angkasa. Tujuannya pun sama, “mikul dhuwur” bangsanya.

Ribuan contoh akan kita temukan tentang usaha suatu negara untuk menjunjung tinggi martabat rakyat atau pemimpinnya. Tentu masih ingat dengan gelar Pemimpin Besar Revolusi, Bapak Pembangunan, Panglima Besar, dll. Bahkan tujuan pembuatan Curiculum Vitae pun adalah untuk “mikul dhuwur” di pemilik CV.

Dan… orang Jawa membahasakan itu semua dalam frasa “mikul dhuwur“. (mungkin di budaya lain prinsip seperti ini juga ada, hanya saja saya tidak tahu).

Mendem Jero

Beralih ke pasangan “mikul dhuwur“. Frasa “mendem jero” kira-kira arti konotasinya memendam/mengubur sedalam-dalamnya. Memendam/menutupi segala keburukan, aib, dan kelemahan. Dalam konotasi positif, “mendem jero” dimaknai sebagai usaha untuk menjaga nama baik keluarga, orang tua, masyarakat, atau jenis kelompok manusia lainnya.

Mendem jero” dalam konotasi negatif bisa dimaknai menutupi kekurangan yang seharusnya diketahui orang (yang seharusnya transparan).

Berbincang mengenai tutup-menutup keburukan, saya jadi teringat istilah ghibah. Saya yakin banyak yg tau apa itu ghibah. Ghibah dalam bahasa Jawa artinya ngrasani. Dalam bahasa Indonesia bisa diartikan membicarakan keburukan orang. Dalam kaidah bahasa Arab, ghibah itu tidak sekedar membicarakan keburukan orang. Disebut ghibah ketika orang yang dibicarakan tidak mau keburukannya diketahui orang lain atau tujuan pembicaraan tersebut bukan untuk mencari solusi.

Oleh karena itu, bukan disebut ghibah bila membicarakan orang yang bangga dengan keburukannya (agul ku payung butut kata orang Sunda) atau setidaknya tidak malu akan keburukan tersebut. Atau bila kita membahas keburukan tersebut untuk mencari solusi.

Kembali ke “mendem jero“. Prinsip “mendem jero” mengajarkan pada kita menutupi aib yang kita miliki. Di mana aib tersebut memang tak perlu diketahui orang lain. Misalnya mungkin Anda (bukan saya… hehe :mrgreen: ) masih suka ngompol pada umur setua ini. Aib tersebut tak perlu diketahui orang lain. Apa lagi ditulis di CV :mrgreen: . Membohongi masyarakat kah??! Tentu tidak. Kita tidak berbohong. Kita hanya tidak mengatakan seluruh kenyataan. Toh kenyataan tersebut tidak “merugikan” siapa pun.

Jadi teringat email dari seorang saudara perempuan di milis csui05 kemarin. Email tentang “keharusan” menutupi aib. Email tersebut menyebutkan bahwa Rosulullah (semoga sholawat dan salam tetap tercurah pada beliau) berwasiat kepada Saidina Ali bin Abi Tholib ra. Dalam wasiat tersebut (pada salah satu bagiannya) Rosulullah SAW mengatakan bahwa ada 3 ciri orang yang JUJUR:
1. Merahasiakan ibadahnya.
2. Merahasiakan sedekahnya.
3. Merahasiakan ujiannya yang menimpa kepadanya.
Catatan penulis : Karena orang jujur kemungkinan kecil menerima adzab maka keburukan-keburukan yang dimilikinya merupakan bagian dari ujian. Dan… sanad dari hadist tersebut tidak dicantumkan. Jadi meskipun (menurut saya) makna dari hadist tersebut luar biasa, hadist tersebut tidak bisa dijadikan dasar hukum untuk mengambil keputusan.

Inti dari menutup aib (mendem jero) adalah jangan ceritakan keburukan (kita, teman, keluarga) pada orang lain yang tidak berkepentingan dengan hal tersebut. Salah satu dua contoh yang berkepentingan di sini misalnya orang yang kita yakin bisa memberi solusi terhadap aib tersebut atau kepada orang yang akan kita pinang untuk jadi pasangan hidup(kan terus terang luar dalam… :grin: ).

Mikul dhuwur mendem jero“. Adalah salah satu produk bangsa kita yang mengajarkan untuk menjunjung tinggi kehormatan dengan mengemukakan keunggulan dan menutupi keburukan. Saya yakin bahwa di setiap akar budaya suku manapun di Indonesia pasti tersimpan nilai-nilai yang luar biasa. Adakah yang mau berbagi ilmu tentang nilai-nilai itu??

Nah, kalau begitu. Mulai sekarang mari kita “mikul dhuwur “mendem jero” marang bansane” — menjunjung tinggi kehormatan bangsa kita-Indonesia. Saatnya tunjukkan pada dunia bahwa kita memang bangsa yang besar. Ok…!

Wassalamualaikum wr wb.

*Mulai ditulis saat nungguin demo mahasiswa DPBO, diperbaiki di sela-sela tugas PPL dan diakhir saat menunggu sholat Jumat.

Nur Tjahjadi

Bebas Berekspresi, Kebebasan Akademik, Bebas yang bertanggung jawab…

Mikul Dhuwur

Mendhem Jero

OPINI | 17 May 2011 | 17:10


Mikul dhuwur mendhem jero, inilah filsafat Jawa yang  disalah artikan oleh Orde Reformasi.  Mikul dhuwur artinya menjunjung tinggi para pendahulu, keluarga, kelompok, partai dan sebagainya.  Mendhem jero artinya mengubur dalam-dalam kesalahan masa lalu (Orde Baru).  Itu sebabnya, setelah 13 tahun berkuasanya Orde Reformasi, tidak ada perubahan yang signifikan dibandingkan  kepemimpinan di jaman  Orde Baru.  Budaya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) andalan Orde Baru diwariskan dengan baik oleh Orde reformasi.  Orang2 yang terjerat kejahatan korupsi semakin banyak, akibat filsafat mikul dhuwur mendhem jero.  Semakin banyak kasus korupsi terungkap bukannya membuat pelakunya sadar, malah menularkan orang lain berbuat serupa, inikah pengejewantahan filsafat ini.

Saya yakin, filsafat milkul dhuwur mendhem jero bukan dimaksudkan supaya orde reformasi mengikuti jejak pendahulunya (Orde Baru) untuk ber KKN-ria.  Tetapi, kenyataannya banyak orang salah kaprah dalam pengaplikasian filsafat ini.   Koruptor dibiarkan melarikan diri ke luar negeri, karena mau mikul dhuwur dan mendhem jero si koruptor.  Penjahat dipenjarakan dengan ruangan mewah ber AC mirip hotel berbintang lima fasilitasnya.  Karena penjahat dan koruptor itu adalah dari partai yang sama, dari keluarga dekat, bekas teman seperjuangan, maka kesalahannya ditutupi (mendhem jero)  dan kebaikannya digembar gemborkan (mikul dhuwur).

Pers bebas menyuarakan kebenaran, tetapi demi mikul dhuwur mendhem jero, budaya KKN masih tetap eksis di bumi yang tanahnya kaya raya, tetapi rakyatnya compang camping ini.  Perbaikan sistem pemerintahan cuma ada perubahan pada pilpres (pemilihan presiden) secara langsung, demikian juga pilkada (pemilihan kepala daerah) baik tingkat satu dan dua,  rakyat boleh memilih langsung pemimpin yang diidolakannya.  Tetapi, akibat mikul dhuwur mendhem jero, baik pilpres atau pilkada di setiap daerah selalu diwarnai dengan kecurangan.

Kalau di jaman Orde Baru pemilihan presiden tidak ada korupsinya, karena semua anggota DPR/MPR yang memilih presiden telah dikondisikan agar pak Harto yang akan terpilih.  Anggota DPR dan MPR juga dipilih atas restu sang bos.  Jadi gaji tak perlu  besar2 tak mengapa, sebab tak ada money politik.  tetapi sekarang, setiap anggota DPR yang akan jadi anggota yang terpilih, harus setor sekian milyar.  Akibatnya, setelah terpilih jadi anggota DPR kerjanya hanya jalan2 ke luar negeri, cari proyek, tidur saat sidang, yang penting kejar setoran dulu deh.

Begitukah cara mengaplikasikan filsafat “mikul dhuwur mendhem jero ?  Kita harus mengubah cara berpikir kita jika demikian cara mengaplikasikan filsafat jawa itu. Koruptor harus dihukum yang berat supaya orang tidak mau lagi melakukan kesalahan yang sama.  Pelaku kejahatan harus dihukum yang setimpal, bukannya diberi kemewahan di dalam sel tahanan.

HM Soeharto

Mikul Dhuwur

Mendhem Jero

TOKOH UTAMA 03: Sikap Pak Harto, menjunjung tinggi dan menghargai orang tua, tercermin tatkala menghadapi masalah Bung Karno.

Ini merupakan sikapnya sebagai anak petani yang berlatar belakang budaya Jawa dan menjiwai setiap tutur kata
dan tindakannya. Adik kandungnya satu ibu, H. Probosutedjo menuturkan khusus kepada wartawan Majalah TokohIndonesia.
Di dalam pandangan Pak Probo, dari semula tidak ada keinginan Pak Harto menjadi Presiden. Barangkali itu sudah kehendak Tuhan. Dalam G-30-S/PKI (dinihari 1 Oktober 1965), Pak Harto tidak diculik, itu juga sudah kehendak Tuhan.
Pak Harto—waktu itu Pangkostrad—satu-satunya jenderal yang berani mengambil tindakan, mengambil-alih pimpinan Angkatan Darat (AD). Padahal jenderal AD masih banyak. A.H. Nasution pangkatnya lebih tinggi. Kemudian Umar Wirahadikusumah, pangkatnya sama dengan Pak Harto (Letnan Jenderal). Ibrahim Adjie, juga banyak lainnya. Pak Harto mengusulkan Nasution, tetapi banyak jenderal lain tidak setuju, karena Pak Nas masih sakit dan trauma, baru saja lolos dari penculikan.
“Tetapi kenapa Pak Harto yang tampil?” Soalnya, Pak Harto melihat yang lain-lain menunggu, tidak ada yang mau bertindak. Akhirnya, Pak Harto memanggil dan menghubungi kolega-koleganya bahwa kejadian tersebut, tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang yang beragama, pasti para pelakunya orang-orang yang tidak beragama.
Semua panglima ditelepon oleh Pak Harto bahwa keadaannya gawat (tujuh jenderal AD diculik dan dibunuh), tetapi saat itu belum ada niat memimpin AD. Pak Harto terpaksa mengambil alih karena tidak ada lagi yang memimpin AD setelah Jenderal Ahmad Yani diculik dan dibunuh.
Pak Harto, dinihari 1 Oktober 1965, mencari Bung Karno yang tidak diketahui sedang ada di mana. Hanya setelah Pak Harto mengeluarkan seruan bahwa semua petinggi negara harus melapor ke Kostrad, ajudan Bung Karno, Kolonel Bambang Widjanarko melapor bahwa Bung Karno ada di Halim Perdanakusuma.
Karena Bung Karno ada di Halim, Pak Harto kaget, “koq ada di Halim?” Sedangkan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) baru saja melacak bahwa para jenderal yang hilang dibawa ke arah Halim. Kenapa Bung Karno ada di sana? Pak Harto kemudian meminta Bung Karno kembali ke Istana. Bung Karno setuju, kembali ke Istana.
Pak Harto, menurut Pak Probo, dari dulu tidak punya cita-cita menjadi pemimpin bangsa ini. Untuk mendukung anggapannya, Pak Probo bertutur kilas balik. Ketika pangkatnya masih saja letnan kolonel, Pak Harto hampir putus asa. Ia mau berhenti dari militer. Karena pangkatnya tidak naik-naik, dari 1947 sampai 1954, tetap Letkol, Pak Harto ingin mengundurkan diri.
Pak Harto bicara kepada Bu Harto (istrinya): “Kita begini-begini saja, tidak ada penghargaan. Kita beli taksi saja, saya mau jadi supir taksi.” Lantas dijawab oleh Bu Harto: “Dulu waktu melamar saya kan nggak jadi mau jadi supir taksi.” Tertawa… ha…ha…ha…!
“Ini betul kejadian,” kata Pak Probo. Pak Harto pasrah, biarlah terus jadi Letkol, yang lain-lain juga begitu. Baru tahun 1956, Pak Harto diangkat menjadi Kepala Staf Kodam Diponegoro, tahun 1958 jadi Panglima Kodam Diponegoro.
Kemudian, orang-orang PKI menuduh Pak Harto korupsi ketika menjadi Panglima Kodam Diponegoro. Tuduhan itu disebarluaskan oleh orang PKI, namanya Sunaryo, Komandan CPM di Jawa Tengah. Pak Harto dilaporkan sampai ke pusat, ke Gatot Subroto dan A H Nasution. Kemudian Pak Harto diberhentikan dari Pangdam Diponegoro (1959) sebelum waktunya. Lalu Pak Harto mengikuti Seskoad tahun 1960, pangkatnya naik jadi Brigadir Jenderal.

Bung Karno Marah
Sewaktu Pak Harto mengambil alih pimpinan AD, Bung Karno tidak setuju. Bung Karno marah-marah, Pak Harto dikatakan koppig, keras kepala. “Kenapa tidak minta izin sama saya. Yang menentukan Panglima saya, bukan mengambil alih sendiri begitu,” hardik Bung Karno.
Lantas Pak Harto dibela oleh Panglima AL, Mulyadi: “Pimpinan AD, Pak Yani, sudah gugur diculik. Pembantu-pembantu yang lain tidak ada. Tidak ada yang berani mengambil alih pimpinan AD. Sebenarnya kita harus menghargai Pak Harto.”
Karena Bung Karno marah, Pak Harto tidak diperkenankan menjadi Panglima AD. Lalu Bung Karno mengangkat Letjen Pranoto Reksosamudra. Kalau begitu, kata Pak Harto kepada Bung Karno, “saya tidak bertanggung jawab atas keamanan dan ketertiban. Lantas Bung Karno seketika itu juga menunjuk Pak Harto sebagai Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib).
Ternyata kemudian, Pranoto tidak disetujui oleh para perwira tinggi AD, akhirnya dicabut, dan Bung Karno mengangkat Pak Harto menjadi Panglima AD. Sejak itu, Pak Harto meminta keterangan yang sebenarnya dari Bung Karno tentang peran PKI. “PKI jelas berkhianat pada republik. Yang menculik kolega saya, tujuh jenderal, adalah Untung di bawah pimpinan Latief yang PKI. Jadi PKI harus dibubarkan,” kata Pak Harto kepada Bung Karno.
Bung Karno tidak mau. Kalau Bung Karno waktu itu mau membubarkan PKI, ia mungkin masih tetap jadi presiden. MPRS mungkin tidak menolak pertanggungjawabannya. “Paling-paling Bung Karno digoyang oleh rakyat, dan Pak Harto pasti melindungi,” kata Pak Probo.
Pak Harto sangat kecewa karena Bung Karno tidak mau berbicara apalagi menyalahkan PKI. Kenapa Bung Karno selalu melindungi PKI, kenapa tidak mau membuka yang sebenarnya. Siapa dalang pembunuhan tujuh jenderal. Tidak mungkin kalau tidak didalangi. Akhirnya Bung Karno tidak marah lagi. Tetapi ia sering bertanya.
Suatu kali, pada sidang kabinet, Pak Harto merenung sendiri, ia hanya dikawal ajudan. Lantas Bung Karno mendatangi Pak Harto, bertanya dalam bahasa Jawa: “Har, aku iki arep ko apake?” (Har, aku ini akan kau apakan).
“Pak saya ini kan anak petani. Anak tani itu kepandaiannya cuma, sok nek gede biso mikul duwur mendem jero. (Artinya, memikul jenazah tinggi-tinggi dan menguburnya dalam-dalam).
“Opo bener koe iku ngono.” (Apa benar kamu itu begitu).
“Ya, boleh dibuktikan Pak. Saya tidak ingin apa-apa, Cuma kejahatan itu harus dibongkar.”
Pak Harto hanya meminta Bung Karno membongkar siapa yang mendalangi pembunuhan tujuh jenderal. Lantas terjadi dialog antara Bung Karno dan Pak Harto. “Nasakom (nasional, agama, komunis) telah saya jual kepada dunia melalui PBB dan saya termasuk pemimpin dunia. Kalau PKI dibubarkan akan hilang muka saya sebagai pemimpin dunia,” kata Bung Karno.
“Ya, tapi PKI sudah berkhianat, bagaimana memelihara orang yang sudah begini? Pak, kita berjuang untuk rakyat. Rakyat menuntut bubarkan PKI. Maksud baik Bapak merangkul PKI, tetapi ternyata PKI telah berkhianat,” ujar Pak Harto.
Dalam kesempatan lain, Pak Harto kembali menyampaikan tuntutan rakyat untuk membubarkan PKI yang sudah dua kali melakukan pemberontakan. Namun Bung Karno bersikeras: “Kau selalu mendesak saya untuk bubarkan PKI. Saya minta bubarkan KAMI dan Front Pancasila, tidak dilakukan,”
Pak Harto menjawab tegas, tetapi tetap dengan rasa hormat: “Tidak bisa Pak. KAMI dan Front Pancasila itulah yang mendukung dan membela Pancasila.”
“Ya, sudahlah nanti saja.” Jawaban Bung Karno tidak membuat persoalan G-30-S/PKI jelas dan selesai.
Menurut Pak Probo, mikul duwur yang dimaksudkan Pak Harto adalah menjunjung tinggi ajaran Bung Karno. Kenyataannya, setelah menjadi pejabat presiden dan presiden, Pak Harto benar-benar menjunjung tinggi ajaran dan warisan Bung Karno, Pancasila dan UUD 1945, yang dijadikan dasar negara. Mendem jero, artinya, rahasia dari orang tua tidak dibuka.
Kemudian Pak Harto menerima Surat Perintah 11 Maret 1966 untuk mengamankan situasi dan ajaran-ajaran Bung Karno.
Dengan alasan itu, Pak Harto tidak mau mengusut lagi siapa sebenarnya yang ada di belakang pemberontakan PKI.

Sebenarnya, menurut perkiraan Pak Probo, Bung Karno tahu. Karena menjelang G-30-S/PKI, malamnya (tanggal 30 September) ada seminar teknologi di Istora Senayan yang diselenggarakan Ir. Hartoyo. Bung Karno hadir di seminar tersebut. Dari situ Bung Karno tidak kembali ke Istana, tetapi langsung ke Halim. Probo mengutip keterangan ajudan Bung Karno, Bambang Wijanarko.
Lantaran Pak Harto sudah bilang mikul duwur, mau menjunjung tinggi ajaran-ajaran Bung Karno, dan mendem jero, tidak akan membongkar rahasianya. Pak Harto tidak mau mengadili Bung Karno, meskipun banyak tuntutan untuk mengadilinya. Bung Karno hanya diasingkan di Wisma Yaso.
Sidang Istimewa MPRS Maret 1967, meminta pertanggungjawaban Bung Karno. Bung Karno hanya bicara tentang Nasakom, Resopim dan lain-lain, tetapi tidak menyinggung G-30-S/PKI. MPRS tidak bisa terima.
Kemudian diadakan sidang sekali lagi, Maret 1968. Jawaban Bung Karno begitu lagi. Akhirnya, MPRS mengukuhkan Pak Harto sebagai Presiden RI Kedua.
Kemudian diselenggarakan Pemilu 1971. MPR hasil Pemilu 1971 memilih kembali Pak Harto menjadi Presiden, dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjadi Wakil Presiden. Pak Harto tetap konsisten mikul duwur, mendem jero. Dia tidak mau memenuhi tuntutan massa untuk mengadili Bung Karno. Dia mencegah Bung Karno di Mahmilubkan. Karena Bung Karno telah meletakkan fondasi sebuah negara merdeka yang dipersatukan oleh Pancasila. Pak Harto menerjemahkan ideologi dan dasar negara itu dalam kehidupan nyata. ►mti/sh

***Majalah Tokoh Indonesia

 

 

Tuesday, May 17, 2011

MIKUL DHUWUR, MENDHEM JERO

Mikul dhuwur, artinya memikul tinggi-tinggi. Arti etimologisnya adalah, bahwa seorang anak berkewajiban mengharumkan nama ayah dan ibu serta martabat keluarganya. Menghindari perbuatan tercela dan selalu berbuat mulia adalah usaha anak dalam rangka mikul dhuwur nama baik orang tuanya. Menjadi pelajar yang pintar atau mahasiswa yang cerdas, menghias diri dengan sopan santun dan ramah tamah, berprestasi dan sukses adalah wujud dari perilaku yang menyenangkan hati orang tua.
Mendhem tidak sama dengan mendem/mabuk, seperti mendem kecubung atau alkohol, tetapi mendhem berarti mengubur. Jero artinya dalam. Mendhem jeromaknanya mengubur dalam-dalam keburukan dan kelemahan orang tua, serta aib keluarga. Sedapat-dapatnya, anak harus menutupi apa yang menjadi rahasia keluarga.
Dalam lingkup yang lebih luas, seorang pemimpin yang sedang memerintah sebaiknya dapat menyembunyikan kekurangan pemimpin terdahulu. Dengan demikian tidak terjadi saling dendam. Menjelek-jelekkan pemimpin pendahulu sama saja dengan melestarikan dendam dan permusuhan. Prinsip mendhem jerosangat mulia bila diterapkan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bernegara. Potret buram dan kenangan buruk akan segera terhapus dan dapat menimbulkan rasa optimisme baru.
Dipun kirim dening Dendy wanci 3:50 AM

Kawruh Jowo, RABU, 04 FEBRUARI 2009

Mikul Dhuwur Mendhem Jero

harafiah : Memikul tinggi memendam dalam
Mikul : Memikul
Dhuwur : Tinggi
Mendhem : Memendam, menanam
Jero : Dalam

Arti yang tersirat :
Menjunjung tinggi kehormatan orang tua. Ungkapan ini mengharapkan setiap anak wajib menjunjung tinggi kehormatan orang tua atau menjaga nama baik orang tua.

Nilai apa yang diajarkan:
Ungkapan ini mengandung nilai pendidikan yang intinya mendorong anak agar berbakti dan menghormati orang tuanya. Aib dan cela orang tua harus dilindungi agar orang lain tidak mengetahui. Lebih – lebih jangan sampai si anak menyebabkan aib dan cela bagi orang tuanya tersebar luas kepada orang lain.

Dalam adat yang berlaku, bila orang tua meninggal, anak – anaknyalah yang pertama – tama wajib mengusung petih jenasahnya serta bertanggungjawab secara menyeluruh terhadap proses penguburannya. Usungan diharapkan dapat dipikul setinggi mungkin agar tidak tersangkut pagar/tanaman lain. Inilah maksud ungkapan “dipikul dhuwur”. Kemudian jenasah harus dikubur sedalam mungkin agar tidak mudah dibongkar atau dimakan binatang buas atau juga jangan sampai bau busuk keluar mengganggu orang lain.

Maka dalam kehidupan di masyarakat diharapkan setiap orang berusaha senantiasa menjaga nama baik atau kehormatan orang tuanya. Harapannya si anak dapat hidup sukses sehingga nama orang tua juga akan ikut terangkat “mikul dhuwur mendhem jero”.

Ungkapan yang bermakna hampir sama :
Nyuwargaake wong tuwo artinya membahagiaakan orang tua.

Oleh: A. Mustofa BisriDi tempat saya ada kebiasaan dalam upacara pemberangkatan jenazah muslim, seorang yang mewakili keluarga almarhum berbicara kepada para pelayat, memohonkan maaf untuk almarhum.

Itu memang sangat diperhatikan oleh keluarga yang sangat mencintai dan menghormati anggotanya yang meninggal. Menurut keyakinan mereka, hal ini sangat penting. Karena ada hadis yang menjelaskan betapa gawatnya kesalahan antar manusia apabila tidak diselesaikan sewaktu masih hidup. Dalam hadis yang bersumber dari shahabat Abu Hurairairah r.a riwayat imam Bukhari misalnya, Nabi Muhammad SAW berpesan, “Barangsiapa mempunyai tanggungan (kesalahan yang merugikan) kepada saudaranya, baik mengenai kehormatannya atau yang lain, hendaklah dimintakan halal sekarang juga, sebelum dinar dan dirham (/uang) tidak laku….”

“Sebagai manusia biasa, almarhum dalam pergaulan dengan bapak-bapak, ibu-ibu, dan para pelayat sekalian selama hidupnya pasti mempunyai kesalahan. Karena itu kami, atas nama keluarga, dengan kerendahan hati memohon sudilah kiranya bapak-bapak, ibu-ibu, dan para hadiirin semua memaafkannya.” Antara lain begitulah kira-kira pidato wakil keluarga. Bagi keluarga yang berhati-hati dan sangat mencintai almarhum yang meninggal, biasanya kata-kata permohonan maaf itu ditambah dengan memohon penyelesaian kalau-kalau ada urusan yang menyangkut hak Adam: “Apabila ada kesalahan almarhum yang berkaitan dengan hak Adami, utang-piutang, atau yang lain, jika bapak-bapak, ibu-ibu, dan saudara-saudara sekalian berkenan mengikhlaskan dan membebaskannya, keluarga menghaturkan banyak-banyak terimakasih. Namun apabila tidak, bapak-bapak, ibu-ibu, dan saudara-saudara sekalian dapat menghubungi keluarga dan ahli waris untuk penyelesaiannya.”

Di akherat uang tidak laku. Tidak bisa untuk menebus. Tidak bisa untuk ganti rugi. Tidak bisa untuk menyogok. Pesan hadis di atas — wallahu a’lam–: mumpung masih di dunia, belum di akherat, hendaklah kita menyelesaikan masalah kita dengan sesama. Sebab jika tidak masalah itu akan menjadi ganjalan kelak di akherat. Dalam hadis sahih yang lain, digambarkan betapa bangkrutnya seorang ahli ibadah –ahli salat, puasa, dll—gara-gara kelakuannya yang buruk terhadap sesama manusia. Suka mencaci , memukul, menuduh, melukai, memakan harta sesama. Pahala-pahala ibadah yang diharapkannya dapat mengantarkannya ke sorga, habis digunakan untuk ‘menebus’ kesalahan-kesalahannya terhadap sesama. Karena besarnya tanggungan kesalahan dan kelalimannya itu, malah menjerumuskannya ke neraka. Na’udzu billah min dzaalik.

Hal itu berlaku untuk kita dan tentu saja untuk orang-orang yang kita cintai. Orangtua, suami/istri, anak, kekasih, dan siapa saja yang tidak kita kehendaki celaka kelak di akherat. Artinya, apabila kita ingin ke sorga, tentu sekaligus kita ingin orang-orang yang kita cintai juga bersama-sama kita di sorga. Seorang ibu yang mengaku mencintai anaknya tentu ingin berbahagia bersama-sama anaknya dan tidak ingin anaknya celaka. Maka sungguh tidak bisa dimengerti apabila ada orangtua yang mengaku mencintai anaknya tapi membiarkan si anak itu kesasar di neraka. Demikian pula sebaliknya; seorang anak yang menyintai dan ingin mengangkat martabat orangtuanya, yang dalam istilah Jawa ingin mikul dhuwur mendhem jero, tentu tidak ingin orangtuanya bahagia di dunia yang fana ini saja tapi celaka di akheratnya. Anak yang mencintai dan berbakti kepada orangtuanya pasti ingin orangtuanya bahagia di dunia dan terutama di akherat.

Bahkan muslim yang baik ingin saudara-saudaranya selamat dan bahagia bersamanya terutama di kehidupan kekal kelak di akherat. Itulah sebabnya muslim yang baik terus beramar-makruf-nahi-mungkar.

08
Nov
11

Warisan Adiluhung : Manunggaling Kawula Lan Gusti

Sabtu, 01 Januari 2011

MANUNGGALING KAWULA LAN GUSTI

Oleh: Kiai Ganjel
Masuk surga itu baik, tapi bukan yang terbaik.
Masuk Surga adalah sama saja menginginkan harta Tuhan.
Yang terbaik adalah Manunggaling Kawula Lan Gusti, itulah cita-cita Jawa. Kemanunggalan adalah Pusat segala-galanya, karena sudah Manunggal dengan Allah yang merupakan segala-galanya.
Dalam tahap kemanunggalan dengan Allah, peranan utama pada manusia dalam hal ini pengorbanan untuk Allah adalah Kemerdekaan Kita
Manunggal bukan berarti hilang atau lenyap
- karena Roh adalah pribadi yang bebas, cerminnya dapat dilihat dari Kemauan dengan pantulan Perasaan.
- Roh itu diciptakan abadi
Manunggal dalam beberapa hal:
1. Manunggal Karsa adalah kemauan / kehendak
2. Manunggal Karya adalah kerja / proses / aktivitas
3. Manunggal Rasa adalah Perasaan
Dalam hal yang lebih sederhana adalah kemanunggalan dapat dicapai jika kita Melaksanakan sesuai dengan panggilan kita.
Tujuan Kemanunggalan adalah
Agar kita mencapai atau menjadi jati diri yang Sejati / yang sebenarnya.
Cara untuk cepat Manunggal dengan Allah
1. Sendiko: selalu meng”Iya”kan dan setia. Tidak diikuti dengan kata “TAPI”
2. Nyuwun dawuh : Mohon perintah
Kedua sikap ini bisa kita capai kalau kita Pasrah / Sumeleh pada Allah.
Sikap yang terbaik menurut cara pandang Kristen, didalam Injil Markus 12:30 ; “Kasihlah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, jiwa ragamu, akal budimu, kekuatanmu”.
Itulah Sumeleh yang benar.
Rumusan dari Kemanunggalan itu adalah Jawa itu sendiri yaitu yang berkesatuan ukuran dan keserasihan.
Dengan mengerti dan melaksanakan Jawa itu sendiri, maka akan terjadi kemanunggalan.
Didalam Gantharwa, Kemanunggalan adalah jika kita menjadi Gantharwa yang sebenarnya adalah Siap menolong orang lain yang bercita-cita untuk manunggal dengan Allah.
Secara Injil, kemanunggalan adalah : “Mencintai Allah dengan melaksanakan perintah-perintahNYA, maka Allah akan datang dan tinggal didalam kita.
MEMAHAMI : “MANUNGGALING KAWULA GUSTI” May 27, ’07 9:36 PM
untuk semuanya
Kategori: Lainnya
Bahan-bahan:
Berikut saya nukilkan sebagian dari artikel Kejawen yang berjudul : Menggapai Wahyu Dyatmiko karya Ki Sondang Mandaliuntuk menambah pengetahuan kita.Dalam ajaran Kejawen ada istilah “Manunggaling Kawula Gusti”. Hal ini sering diartikan bahwa menyatunya manusia (kawula) dengan Tuhan (Gusti). Anggapan bahwa Gusti sebagai personifikasi Tuhan kurang tepat. Gusti (Pangeran, Ingsun) yang dimaksud adalah personifikasi dari Dzat Urip (Kesejatian Hidup), derivate (emanasi, pancaran, tajali) Tuhan.Hal ini bisa dilihat dari “Wirid 8 Pangkat Kejawen”:Wejangan panetepan santosaning pangandel, yaiku bubuka-ning kawruh manunggaling kawula-gusti sing amangsit pikukuh anngone bisa angandel (yakin) menawa urip pribadi kayektene rinasuk dening dzate Pangeran (Dzat Urip, Sejating Urip). Pangeran iku ya jumenenge urip kita pribadi sing sejati. Roroning atunggal, sing sinebut ya sing anebut. Dene pangertene utusan iku cahya kita pribadi, karana cahya kita iku dadi panengeraning Pageran. Dununge mangkene : “Sayekti temen kabeh tumeka marang sira utusaning Pangeran metu saka awakira, mungguh utusan iku nyembadani barang saciptanira, yen angandel yekti antuk sih pangapuraning Pangeran”. Menawa bisa nampa pituduh sing mangkene diarah awas ing panggalih, ya urip kita pribadi iki jumenenging nugraha lan kanugrahan. Nugraha iku gusti, kanugrahan iku kawula. Tunggaal tanpa wangenan ana ing badan kita pribadi.Terjemahannya :Ajaran pemantapan keyakinan, yaitu pembukanya kawruh (ilmu) “Manunggaling Kawula Gusti” yang memberikan wangsit (petunjuk) keteguhan untuk bisa yakin bahwa hidup kita pribadi sesungguhnya dirasuki Dzatnya Pangeran Pangeran (Dzat Urip, Sejatining Urip). Pangeran itu bertahtanya pada hidup kita yang sejati. Dwitunggal (roroning atunggal) yang disebut dan yang menyebut. Sedangkan pengertian utusan itu cahaya hidup kita pribadi, karena cahaya hidup kita itu menjadi pertanda adanya Pangeran. Maksudnya : “Sesungguhnya nyata semua datang kepada kamu utusan Pangeran (memancar) keluar dari dirimu sendiri. Sebenarnya utusan itu mencukupi semua yang kamu inginkan, kalau percaya pasti mendapatkan pengampunan dari Pangeran”. Bila bias menerima petunjuk yang seperti ini supaya awas dan hati-hati, ya hidup kita ini bertahtanya nugraha dan anugrah. Nugraha itu gusti (tuan) sedang anugrah itu kawula (abdi). Bersatu tanpa batas pemisah dalam badan kita sendiri.******Jadi menurut pemahaman saya pribadi, bahwa yang dimaksud dengan kawula itu adalah jiwa kita dan yang dimaksud dengan Gusti itu adalah Ruh kita. Mengenai pengertian jiwa dan ruh bisa dibaca pada artikel yang saya posting sebelumnya yaitu : Definisi Jiwa dan RuhLalu bagaimana jiwa dan ruh bisa menyatu? Hal ini perlu pemahaman yang mendalam. Karena sewaktu meninggal Ruh langsung kembali kepada Allah, sedangkan jiwa mempertanggung jawabkan perbuatannya.Petunjuk
Irdy – Bontang

Sebelumnya: Definisi Jiwa dan Ruh
Selanjutnya : Hal-hal Yang Menghalangi Ma’rifatullah

Kamis, 27 Desember 2007

Manunggaling Kawula Lan GUSTI, Sebuah Ajaran Ataukah Keyakinan….. ?

Perjalanan Empat Tahap Menuju Manusia Sempurna oleh Bima

Tulisan ini saya ringkas dari beberapa buku, yang paling banyak bersumber dari cerita tentang sosok salah satu Tokoh Pandawa Lima, yang berjudul Bima dan Dewaruci dalam buku (Serat Dewa Ruci).

Karena sosok Bima alias Wrekudoro atau Bratoseno ketika mencari tirta pawitra dalam cerita Dewaruci secara filosofis melambangkan bagaimana manusia harus menjalani perjalanan batin guna menemukan identitas dirinya atau pencarian sangkan paraning dumadi “asal dan tujuan hidup manusia“ atau manunggaling kawula Gusti.

Dan pada cerita atau kisah ini termuat tentang sebuah Konsepsi manusia disebutkan bahwa ia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Konsepsi Tuhan disebutkan bahwa Ia Yang Awal dan Yang Akhir, Hidup dan Yang Menghidupkan, Mahatahu, dan Mahabesar. Yang disebutkan bahwa Tuhan itu Ia tan kena kinaya ngapa atau tidak dapat dikatakan dengan apa pun. Dan Jalan menuju Tuhan yang ditempuh oleh Bima dalam menuju manusia sempurna disebutkan melalui empat tahap, yaitu: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. (dalam bahasa Jawa sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa).

Kisah tokoh utama Bima dalam menuju manusia sempurna dalam teks wayang Dewaruci secara filosofis melambangkan bagaimana manusia harus mengalami perjalanan batin untuk menemukan identitas dirinya. Peursen (1976:68) menamakan proses ini sebagai “identifikasi diri”, sedangkan Frans Dahler dan Julius Chandra menyebutnya dengan proses “individuasi” (1984:128).

Proses pencarian untuk menemukan identitas diri ini sesuai dengan hadis nabi yang berbunyi Man ‘arafa nafsahu faqad rabbahu. Barang siapa mengenal dirinya niscaya dia akan mengenal Tuhannya. Hal ini dalam cerita Dewaruci terdapat pada Pupuh V Dhandhanggula di-bait ke-49 yang berbunyi Telas wulangnya Sang Dewaruci, Wrekudara ing tyas datan kewran, wus wruh mring gamane dhewe, … dan Habis wejangan dari Sang Dewaruci. Maka Wrekudara dalam hatinya tidak ragu dan sudah tahu terhadap jalan dirinya …(Marsono, 1976:107).

Nilai Filosofis Perjalanan Empat Tahap Menuju Manusia Sempurna oleh Bima

Kisah tokoh Wrekudara dalam menuju manusia sempurna pada cerita Dewaruci dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat Dalam bahasa Jawa disebut: laku raga, laku budi, laku manah, dan laku rasa. (Mangoewidjaja, 1928:44; Ciptoprawiro, 1986:71).

Atau menurut ajaran Mangkunegara IV seperti disebutkan dalam Wedhatama (1979:19-23), empat tahap laku ini disebut: sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa.

Tahap Pertama; Nilai Filosofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan Syariat

Syariat dalam bahasa Jawa disebut sarengat atau laku raga, sembah raga adalah tahap laku perjalanan menuju manusia sempurna yang paling rendah, yaitu dengan mengerjakan amalan-amalan badaniah atau lahiriah dari segela hukum agama. Amalan-amalan itu menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya.

Di samping amalan-amalan seperti itu, dalam kaitan hubungan manusia dengan manusia, orang yang menjalani syariat, di antaranya kepada orang tua, guru, pimpinan, dan raja, ia hormat serta taat. Segala perintahnya dilaksanakaannya. Dalam pergaulan ia bersikap jujur, lemah lembut, sabar, kasih-mengasihi, dan beramal saleh.

Bagian-bagian cerita Dewaruci yang secara filosofis berkaitan dengan tahap syariat adalah sebagai berikut.

Nilai Filosofis Bima Taat kepada Guru; Tokoh Bima dalam cerita Dewaruci diamanatkan bahwa sebagai murid ia demikian taat. Sewaktu ia dicegah oleh saudara-saudaranya agar tidak menjalankan perintah gurunya, Pendeta Durna, ia tidak menghiraukan. Ia segera pergi meninggalkan saudara-saudaranya di kerajaan guna mencari tirta pawitra. Taat menjalankan perintah guru secara filosofis adalah sebagai realisasi salah satu tahap syariat.

Nilai Filosofis Bima Hormat kepada Guru; Selain taat tokoh Bima juga sangat hormat kepada gurunya. Ia selalu bersembah bakti kepada gurunya. Dalam berkomunikasi dengan kedua gurunya, Pendeta Durna dan Dewaruci, ia selalu menggunakan ragam Krama. Pernyataan rasa hormat dengan bersembah bakti dan penggunaaan ragam Krama kepada gurunya ini secara filosofis merupakan realisasi sebagian laku syariat.

Tahap Kedua Nilai Filosofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan Tarekat

Tarekat dalam bahasa Jawa laku budi, sembah cipta adalah tahap perjalanan menuju manusia sempurna yang lebih maju. Dalam tahap ini kesadaran hakikat tingkah laku dan amalan-amalan badaniah pada tahap pertama diinsyafi lebih dalam dan ditingkatkan. (Mulder, 1983:24). Amalan yang dilakukan pada tahap ini lebih banyak menyangkut hubungan dengan Tuhan daripada hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Pada tingkatan ini penempuh hidup menuju manusia sempurna akan menyesali terhadap segala dosa yang dilakukan, melepaskan segala pekerjaan yang maksiat, dan bertobat. Kepada gurunya ia berserah diri sebagai mayat dan menyimpan ajarannya terhadap orang lain. Dalam melakukan salat, tidak hanya salat wajib saja yang dilakukan. Ia menambah lebih banyak salat sunat, lebih banyak berdoa, berdikir, dan menetapkan ingatannya hanya kepada Tuhan. Dalam menjalankan puasa, tidak hanya puasa wajib yang dilakukan. Ia lebih banyak mengurangi makan, lebih banyak berjaga malam, lebih banyak diam, hidup menyendiri dalam persepian, dan melakukan khalwat. Ia berpakaian sederhana dan hidup mengembara sebagai fakir.

Bagian-bagian cerita Dewaruci yang menyatakan sebagian tahap tarekat di antaranya terdapat pada pupuh II Pangkur bait 29-30. Diamanatkan dalam teks ini bahwa Bima kepada gurunya berserah diri sebagai mayat. Sehabis berperang melawan Raksasa Rukmuka dan Rukmakala di Gunung Candramuka Hutan Tikbrasara, Bima kembali kepada Pendeta Durna. Air suci tidak didapat. Ia menanyakan di mana tempat tirta pawitra yang sesungguhnya. Pendeta Durna menjawab, “Tempatnya berada di tengah samudra”. Mendengar jawaban itu Bima tidak putus asa dan tidak gentar. Ia menjawab, “Jangankan di tengah samudra, di atas surga atau di dasar bumi sampai lapis tujuh pun ia tidak akan takut menjalankan perintah Sang Pendeta”. Ia segera berangkat ke tengah samudra. Semua kerabat Pandawa menangis mencegah tetapi tidak dihiraukan. Keadaan Bima yeng berserah diri jiwa raga secara penuh kepada guru ini secara filosofis merupakan realisasi sebagian tahap laku tarekat.

Tahap Ketiga Nilai Filosofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan Hakikat

Hakikat (Jawa laku manah, sembah jiwa) adalah tahap perjalanan yang sempurna. Pencapaian tahap ini diperoleh dengan mengenal Tuhan lewat dirinya, di antaranya dengan salat, berdoa, berdikir, atau menyebut nama Tuhan secara terus-menerus (bdk. Zahri, 1984:88). Amalan yang dilakukan pada tahap ini semata-mata menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan. Hidupnya yang lahir ditinggalkan dan melaksanakan hidupnya yang batin (Muder, 1983:24). Dengan cara demikian maka tirai yang merintangi hamba dengan Tuhan akan tersingkap. Tirai yang memisahkan hamba dengan Tuhan adalah hawa nafsu kebendaan. Setelah tirai tersingkap, hamba akan merasakan bahwa diri hamba dan alam itu tidak ada, yang ada hanyalah “Yang Ada”, Yang Awal tidak ada permulaan dan Yang Akhir tidak berkesudahan.

Dalam keadaan demikian, hamba menjadi betul-betul dekat dengan Tuhan. Hamba dapat mengenal Tuhan dan melihat-Nya dengan mata hatinya. Rohani mencapai kesempurnaan. Jasmani takluk kepada rohani. Karena jasmani takluk kepada rohani maka tidak ada rasa sakit, tidak ada susah, tidak ada miskin, dan juga maut tidak ada. Nyaman sakit, senang susah, kaya miskin, semua ini merupakan wujud ciptaan Tuhan yang berasal dari Tuhan.

Segala sesuatu milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya, manusia hanya mendaku saja. Maut merupakan perpindahan rohani dari sangkar kecil kepada kebebasan yang luas, mencari Tuhan, kekasihnya. Mati atau maut adalah alamat cinta yang sejati (Aceh, 1987:67).

Tahap ini biasa disebut keadaan mati dalam hidup dan hidup dalam kematian. Saat tercapainya tingkatan hakikat terjadi dalam suasana yang terang benderng gemerlapan dalam rasa lupa-lupa ingat, antara sadar dan tidak sadar. Dalam keadaan seperti ini muncul Nyala Sejati atau Nur Ilahi (Mulyono, 1978:126).

Sebagian tahap hakikat yang dilakukan atau dialami oleh tokoh Bima, di antaranya ialah: mengenal Tuhan lewat dirinya, mengalami dan melihat dalam suasana alam kosong, dan melihat berbagai macam cahaya (pancamaya, empat warna cahaya, sinar tunggal berwarna delapan, dan benda bagaikan boneka gading yang bersinar).

Nilai Filosofis Bima Mulai Melihat Dirinya

Setelah Bima menjalankan banyak laku maka hatinya menjadi bersih. Dengan hati yang bersih ini ia kemudian dapat melihat Tuhannya lewat dirinya. Penglihatan atas diri Bima ini dilambangkan dengan masuknya tokoh utama ini ke dalam badan Dewaruci.

Bima masuk ke dalam badan Dewaruci melalui “telinga kiri”. Menurut hadis, di antaranya Al-Buchari, telinga mengandung unsur Ketuhanan. Bisikan Ilahi, wahyu, dan ilham pada umumnya diterima melalui “telinga kanan”. Dari telinga ini terus ke hati sanubari. Secara filosofis dalam masyarakat Jawa, “kiri” berarti ‘buruk, jelek, jahat, tidak jujur’, dan “kanan” berarti ‘baik (dalam arti yang luas)’. Masuk melalui “telinga kiri” berarti bahwa sebelum mencapai kesempurnaan Bima hatinya belum bersih (bdk. Seno-Sastroamidjojo, 1967:45-46).

Setelah Bima masuk dalam badan Dewaruci, ia kemudian melihat berhadapan dengan dewa kerdil yang bentuk dan rupanya sama dengan Bima sewaktu kecil. Dewa kerdil yang bentuk dan rupanya sama dengan Bima waktu muda itu adalah Dewaruci; penjelmaan Yang Mahakuasa sendiri (bdk. Magnis-Suseno, 1984:115). Bima berhadapan dengan Dewaruci yang juga merupakan dirinya dalam bentuk dewa kerdil. Kisah Bima masuk dalam badan Dewaruci ini secara filosofis melambangkan bahwa Bima mulai berusaha untuk mengenali dirinya sendiri. Dengan memandang Tuhannya di alam kehidupan yang kekal, Bima telah mulai memperoleh kebahagiaan (bdk. Mulyono, 1982:133). Pengenalan diri lewat simbol yang demikian secara filosofis sebagai realisasi bahwa Bima telah mencapai tahap hakikat.

Nilai Filosofis Bima Mengalami dan Melihat dalam Suasasa Alam Kosong

Bima setelah masuk dalam badan dewaruci melihat dan merasakan bahwa dirinya tidak melihat apa-apa. Yang ia lihat hanyalah kekosongan pandangan yang jauh tidak terhingga. Ke mana pun ia berjalan yang ia lihat hanya angkasa kosong, dan samudra yang luas yang tidak bertepi. Keadaan yang tidak bersisi, tiada lagi kanan kiri, tiada lagi muka belakang, tiada lagi atas bawah, pada ruang yang tidak terbatas dan bertepi menyiratkan bahwa Bima telah memperoleh perasaan batiniahnya. Dia telah lenyap sama sekali dari dirinya, dalam keadaan kebakaan Allah semata. Segalanya telah hancur lebur kecuali wujud yang mutlak. Dalam keadaan seperti ini manusia menjadi fana ke dalam Tuhan (Simuh, 1983:312). Segala yang Ilahi dan yang alami walaupun kecil jasmaninya telah terhimpun menjadi satu, manunggal (Daudy, 1983:188). Zat Tuhan telah berada pada diri hambabnya (Simuh, 1983:311), Bima telah sampai pada tataran hakikat. Disebutkan bahwa Bima karena merasakan tidak melihat apa-apa, ia sangat bingung. Tiba-tiba ia melihat dengan jelas

Dewaruci bersinar kelihatan cahayanya. Lalu ia melihat dan merasakan arah mata angin, utara, selatan, timur, barat, atas dan bawah, serta melihat matahari. Keadaan mengetahui arah mata angin ini menyiratkan bahwa ia telah kembali dalam keadaan sadar. Sebelumnya ia dalam keadaan tidak sadar karena tidak merasakan dan tidak melihat arah mata angin. Merasakan dalam keadaan sadar dan tidak sadar dalam rasa lupa-lupa ingat menyiratkan bahwa Bima secara filosofis telah sampai pada tataran hakikat.

Setelah mengalami suasana alam kosong antara sadar dan tidak sadar, ia melihat berbagai macam cahaya. Cahaya yang dilihatnya itu ialah: pancamaya, sinar tunggal berwarna delapan, empat warna cahaya, dan benda bagaikan boneka gading yang bersinar. Hal melihat berbagai macam cahaya seperti itu secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah sampai pada tataran hakikat. Ia telah menemukan Tuhannya

Nilai Filosofis Bima Melihat Pancamaya

Tokoh utama Bima disebutkan melihat pancamaya. Pancamaya adalah cahaya yang melambangkan hati yang sejati, inti badan. Ia menuntun kepada sifat utama. Itulah sesungguhnya sifat. Oleh Dewaruci, Bima disuruh memperlihatkan dan merenungkan cahaya itu dalam hati, agar supaya ia tidak tersesat hidupnya. Hal-hal yang menyesatkan hidup dilambangkan dengan tiga macam warna cahaya, yaitu: merah, hitam, dan kuning.

Nilai Filosofis Bima Melihat Empat Warna Cahaya

Bima disebutkan melihat empat warna cahaya, yaitu: hitam, merah, kuning, dan putih. Isi dunia sarat dengan tiga warna yang pertama. Ketiga warna yang pertama itu pengurung laku, penghalang cipta karsa menuju keselamatan, musuhnya dengan bertapa. Barang siapa tidak terjerat oleh ketiga hal itu, ia akan selamat, bisa manunggal, akan bertemu dengan Tuhannya. Oleh karena itu, perangai terhadap masing-masing warna itu hendaklah perlu diketahui.

Yang hitam lebih perkasa, perbuatannya marah, mengumbar hawa nafsu, menghalangi dan menutup kepada hal yang tidak baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang tidak baik, iri hati dan dengki keluar dari sini. Hal ini menutup (membuat buntu) kepada hati yang selalu ingat dan waspada. Yang kuning pekerjaannya menghalangi kepada semua cipta yang mengarah menuju kebaikan dan keselamatan. Oleh Sri Mulyono (1982:39) nafsu yang muncul dari warna hitam disebut aluamah, yang dari warna merah disebut amarah, dan yang muncul dari warna kuning disebut sufiah. Nafsu aluamah amarah, dan sufiah merupakan selubung atau penghalang untuk bertemu dengan Tuhannya.

Hanya yang putih yang nyata. Hati tenang tidak macam-macam, hanya satu yaitu menuju keutamaan dan keselamatan. Namun, yang putih ini hanya sendiri, tiada berteman sehingga selalu kalah. Jika bisa menguasai yang tiga hal, yaitu yang merah, hitam, dan kuning, manunggalnya hamba dengan Tuhan terjadi dengan sendirinya; sempurna hidupnya.

Nilai Filosofis Bima Melihat Sinar Tunggal Berwarna Delapan

Bima dalam badan Dewaruci selain melihat pancamaya melihat urub siji wolu kang warni ‘sinar tunggal berwarna delapan’. Disebutkan bahwa sinar tunggal berwarna delapan adalah “Sesungguhnya Warna”, itulah Yang Tunggal. Seluiruh warna juga berada pada Bima. Demikian pula seluruh isi bumi tergambar pada badan Bima. Dunia kecil, mikrokosmos, dan dunia besar, makrokosmos, isinya tidak ada bedanya. Jika warna-warna yang ada di dunia itu hilang, maka seluruh warna akan menjadi tidak ada, kosong, terkumpul kembali kepada warna yang sejati, Yang Tunggal.

Nilai Filosofis Bima Melihat Benda bagaikan Boneka Gading yang Bersinar

Bima dalam badan Dewaruci di samping melihat pancamaya, empat warna cahaya, sinar tunggal berwarna delapan, ia melihat benda bagaikan boneka hading yang bersinar. Itu adalah Pramana, secara filosofis melambangkan Roh. Pramana ‘Roh’ kedudukannya dibabtasi oleh jasad. Dalam teks diumpamakan bagaikan lebah tabuhan. Di dalamnya terdapat anak lebah yang menggantung menghadap ke bawah. Akibatnya mereka tidak tahu terhadap kenyataan yang ada di atasnya (Hadiwijono, 1983:40).
Tahap Ke-empat Nilai Filisofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan Makrifat

Makrifat dalam bahasa Jawa laku rasa, sembah rasa adalah perjalanan menuju manusia sempurna yang paling tinggi. Secara harfiah makrifat berarti pengetahuan atau mengetahui sesuatu dengan seyakin-yakinnya (Aceh, 1987:67). Dalam tasawuf, makrifat berarti mengenal langsung atau mengetahui langsung tentang Tuhan dengan sebenar-benarnya atas wahyu atau petunjuk-Nya (Nicholson, 1975:71), yang meliputi zat dan sifatnya. Pencapaian tataran ini diperoleh lewat tataran tarekat, yaitu ditandai dengan mulai tersingkapnya tirai yang menutup hati yang merintangi manusia dengan Tuhannya. Setelah tirai tersingkap maka manusia akan merasakan bahwa diri manusia dan alam tidak ada, yang ada hanya Yang Ada. Dalam hal seperti ini zat Tuhan telah masuk menjadi satu pada manusia. Manusia telah merealisasikan kesatuannya dengan Yang Ilahi. Keadaan ini tidak dapat diterangkan (Nicholson, 1975:148) (Jawa tan kena kinaya ngapa) (Mulyono, 1982:47), yang dirasakan hanyalah indah (Zahri, 1984:89). Dan disinilah pada masyarakat Jawa hal ini disebut dengan istilah manunggaling kawula Gusti, pamoring kawula Gusti, jumbuhing kawula Gusti, warangka manjing curiga curiga manjing warangka.

Pada titik ini manusia tidak akan diombang-ambingkan oleh suka duka dunia. Ia akan berseri bagaikan bulan purnama menyinari bumi, membuat dunia menjadi indah. Di dunia ia menjadi wakil Tuhan (wakiling Gusti), menjalankan kewajiban-kewajiban-Nya dan memberi inspirasi kepada manusia yang lain (de Jong, 1976:69; Mulder, 1983:25). Ia mampu mendengar, merasa, dan melihat apa yang tidak dapat dikerjakan oleh manusia yang masih diselubingi oleh kebendaan, syahwat, dan segala kesibukan dunia yang fana ini (Aceh, 1987:70). Tindakan diri manusia semata-mata menjadi laku karena Tuhan (Subagya, 1976:85).

Keadaan yang dialami oleh Bima yang mencerminkan bahwa dirinya telah mencapai tahap makrifat, di antaranya ia merasakan: keadaan dirinya dengan Tuhannya bagaikan air dengan ombak, nikmat dan bermanfaat, segala yang dimaksud olehnya tercapai, hidup dan mati tidak ada bedanya, serta berseri bagaikan sinar bulan purnama menyinari bumi.

Nilai Filosofis Hamba (Bima) dengan Tuhan bagaikan Air dengan Ombak

Wujud “Yang Sesungguhnya”, yang meliputi segala yang ada di dunia, yang hidup tidak ada yang menghidupi, yang tidak terikat oleh waktu, yaitu Yang Ada telah berada pada Bima, telah menunggal menjadi satu. Jika telah manunggal penglihatan dan pendengaran Bima menjadi penglihatan dan pendengaran-Nya (bdk. Nicholson, 1975:100-1001). Badan lahir dan badan batin Suksma telah ada pada Bima, hamba dengan Tuhan bagaikan api dengan asapnya, bagaikan air dengan ombak, bagaikan minyak di atas air susu. Namun, bagaimana pun juga hamba dengan zat Tuhannya tetap berbeda (Nicholson, 1975:158-159). Yang mendekati kesamaan hanyalah dalam sifatnya. Dalam keadaan manunggal manusia memiliki sifat-sifat Ilahi (Hadiwijono, 1983:94).

Perumpamaan manusia dalam keadaan yang sempurna dengan Tuhannya, bagaikan air dengan ombak ada kesamaannya dengan yang terdapat dalam kepercayaan agama Siwa. Dalam agama Siwa kesatuan antara hamba dengan dewa Siwa disebutkan seperti kesatuan air dengan laut, sehingga keduanya tidak dapat dibedakan lagi. Tubuh Sang Yogin yang telah mencapai kalepasan segera akan berubah menjadi tubuh dewa Siwa. Ia akan mendapatkan sifat-sifat yang sama dengan sifat dewa Siwa (Hadiwijono, 1983:45).

Nilai Filosofis Bima Merasakan Nikmat dan Bermanfaat

Bima setelah manunggal dengan Tuhannya tidak merasakan rasa khawatir, tidak berniat makan dan tidur, tidak merasakan lapar dan mengantuk, tidak merasakan kesulitan, hanya nikmat yang memberi berkah karena segala yang dimaksud dapat tercapai. Hal ini menyebabkan Bima ingin manunggal terus. Ia telah memperoleh kebahagiaan nikmat rahmat yang terkandung pada kejadian dunia dan akhirat. Sinar Ilahi yang melahirkan kenikmatan jasmani dan kebahagian rohani telah ada pada Bima. Oleh kaum filsafat, itulah yang disebut surga (Hamka, 1984:139). Keadaan ini secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah mencapai tahap makrifat.

Nilai Filosofis Segala yang Dimaksud oleh Bima Tercapai

Segala yang menjadi niat hatinya terkabul, apa yang dimaksud tercapai, dan apa yang dicipta akan datang, jika hamba telah bisa manunggal dengan Tuhannya. Segala yang dimaksud oleh Bima telah tercapai. Keadaan ini secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah mencapai tataran makrifat.

Segala yang diniatkan oleh hamba yang tercapai ini kadang-kadang bertentangan dengan hukum alam sehingga menjadi suatu keajaiban. Keajaiban itu dapat terjadi sewaktu hamba dalam kendali Ilahi (Nicholson, 1975:132). Ada dua macam keajaiban, yang pertama yang dilakukan oleh para wali disebut keramat dan yang kedua keajaiban yang dilakukan oleh para nabi disebut mukjizat (Nicholson, 1975:129).

Nilai Filosofis Bima Merasakan Bahwa Hidup dan Mati Tidak Ada Bedanya

Hidup dan mati tidak ada bedanya karena dalam hidup di dunia hendaklah manusia dapat mengendalikan atau mematikan nafsu yang tidak baik dalam dalam kematian manusia akan kembnali menjadi satu dengan Tuhannya. Mati merupakan perpindahan rohani dari sangkar kecil menuju kepada kebebasan yang luas, kembali kepada-Nya. Dalam kematian raga nafsu yang tidak sempurna dan yang menutupi kesempurnaan akan rusak. Yang tinggal hanyalah Suksma. Ia kemudian bebas merdeka sesuai kehendaknya kembali manunggal kepada Yang Kekal (Marsono, 1997:799). Keadaan bahwa hidup dan mati tidak ada bedanya secara filosofis melambangkan bahwa tokoh Bima telah mencapai tahap makrifat.

Nilai Filosofis Hati Bima Terang bagaikan Bunga yang Sedang Mekar

Bima setelah mengetahui, menghayati, dan mengalami manunggal sempurna dengan Tuhannya karena mendapatkan wejangan dari Dewaruci, ia hatinga terang bagaikan kuncup bunga yang sedang mekar. Dewaruci kemudian musnah. Bima kembali kepada alam dunia semula. Ia naik ke darat kembali ke Ngamarta. Keadaan hati yang terang benderang bagaikan kuncup bunga yang sedang mekar secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah mencapai tahap makrifat.


Kesimpulan

Dari uraian dan pemaparan ketiga tulisan diatas adalah menuju manusia sempurna itu melalui empat tahap perilaku yaitu memahami, mengerti dan menjiwai akan syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat (dalam bahasa Jawa sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa).

Ke-empat tahap perilaku tersebut digambarkan oleh tokoh wayang bernama Bima alias Wrekurdara alias Brotoseno dalan pencarian jatidiri dan upaya penyatuan dirinya dengan Tuhan-nya dalam serat Dewa Ruci. Untuk bisa menjadi manusia yang sempurna haruslah bisa meliwati tahap Syariat (dengan mengerjakan amalan-amalan badaniah atau lahiriah dari segela hukum agama.) setelah mampu dan bisa melakukan itu semua maka akan menuju tahapan ke-dua yaitu Tarekat (kesadaran hakikat tingkah laku dan amalan-amalan badaniah pada tahap pertama diinsyafi lebih dalam dan ditingkatkan); maka selanjutnya akan berada pada tahap ke-tiga dimana manusia berupaya untuk bisa menggapai Hakikat yaitu (dengan mengenal Tuhan lewat dirinya, di antaranya dengan salat, berdoa, berdikir, atau menyebut nama Tuhan secara terus-menerus) dan pada akhirnya akan sempurnalah sebagai manusia jika sudah pada tataran Makrifat dimana (mengenal langsung atau mengetahui langsung tentang Tuhan dengan sebenar-benarnya atas wahyu atau petunjuk-Nya); pada tataran ini ditandai dengan dengan mulai tersingkapnya tirai yang menutup hati yang merintangi manusia dengan Tuhannya. Setelah tirai tersingkap maka manusia akan merasakan bahwa diri manusia dan alam tidak ada, yang ada hanya Yang Ada. Dalam hal seperti ini zat Tuhan telah masuk menjadi satu pada manusia. Dan disinilah pada masyarakat Jawa hal ini disebut dengan istilah manunggaling kawula Gusti, pamoring kawula Gusti, jumbuhing kawula Gusti, warangka manjing curiga curiga manjing warangka.

Sebuah bentuk dan perilaku secara total dalam penyerahan diri seorang hamba pada Pecinta-Nya, yang ada hanya melayani Tuhannya, dengan terus bertafakur, beribadah dan berdoa serta mengagungkannya dan meninggalkan keduniawian.

Badan lahir dan badan batin Suksma telah ada pada Bima, hamba dengan Tuhan bagaikan api dengan asapnya, bagaikan air dengan ombak, bagaikan minyak di atas air susu. Namun, bagaimana pun juga hamba dengan zat Tuhannya tetap berbeda (Nicholson, 1975:158-159). Yang mendekati kesamaan hanyalah dalam sifatnya. Dalam keadaan manunggal manusia memiliki sifat-sifat Ilahi (Hadiwijono, 1983:94).

Demikian tulisan yang sederhana ini semoga bermanfaat dan terima kasih. Adanya komentar dan tambahan akan menjadikan tulisan ini makin sempurna.

Manunggaling

Posted by Agama Saturday, July 24th, 2010   1,977 views Print Artikel Ini Print Artikel Ini

Manunggaling Kawula lan Gusti

Dalam literature dan khasanah jawa cukup dikenal seorang tokoh Islam yaitu Syekh Siti Djenar, yang sangat kontroversi dengan pahamnya Wihdatul Wujud atau Manunggaling Kawula lan Gusti.

Suatu pemahaman yang saat itu telah melampaui batas pemahaman yang berlaku, wujud dari pemahaman yang perlu dikaji hingga saat ini.

Banyak pihak yang mengkaitkan pemahaman ini dengan pemahaman sebelumnya yang dinyatakan oleh Al-Halaj jauh sebelumnya

Sangat menarik untuk ditelusuri kembali sehingga tercapai suatu pemahaman yang sesungguhnya/holistik/konfrehensif.

Manunggaling kawula lan Gusti adalah bentuk pemahaman dimanusia bersatu dengan TUHAN-nya.

Kembali kita ingat bahwasannya manusia adalah “Herritage/Turunan” dari Allah Aja Wajalla.

Salah satu dasarnya adalah ayat yang mengatakan bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan mengikuti fitrah-NYA. Seperti apa fitrah Allah maka seperti itu pulalah fitrah manusia yang melekat semenjak dia diciptakan /dilahir di dunia ini.

Qs Ar-Ruum (30) ayat 30:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama, fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Paham yang sungguh-sungguh sulit untuk dimengerti saat itu dan mungkin juga saat ini.

Kebersatuan antara manusia dengan TUHAN-nya, suatu paham yang memang benar-benar gila atau paham yang memang benar-benar apa adanya.

Kita semua tahu bahwa Allah adalah pencipta sedang manusia adalah manusia ciptaannya yang karena telah ditiupkan RUH-NYA sehingga manusia itu HIDUP..

Dalam Al-Quran dijelaskan secara gamblang bahwa TUHAN:

- Berbeda dari seluruh makhluk yang ada di semesta alam

- Tidak melahirkan dan dilahirkan

- Tidak makan dan tidak tidur

- Mengetahui segala sesuatu baik dihati, digunung, laut dan sebagainya

Dari dasar keterangan diatas cukup jelas bahwa TUHAN berbeda dengan ciptaan, sehingga paham manunggaling kawula lan gusti cukup membuat banyak persepsi yang terbentuk.

Kita coba belajar untuk bisa sampai pada kajian yang mendekati pemahaman yang sesungguhnya tanpa menimbulkan perdebatan yang berkelanjutan.

Untuk bisa memahaminya mungkin penjelasan yang bisa mendekati dengan perumpamaan yang bisa diterima akal/pikiran kita

Semisal kita ambil satu cangkir air hangat dengan satu sendok gula pasir.

Kita meng-andaikan air putih itu Allah sedangkan gula adalah manusia, dalam satu sendok gula terdapat unsur air yang terkandung didalamnya.

Jika satu sendok gula dicampurkan dengan satu cangkir air, kemudian kita aduk sehingga gula benar-benar terlarut dalam satu cangkir air, dapatkah kita memisahkan gula itu dari air.

Mungkin itulah gambaran dari paham Manunggaling Kawula lan gusti.

Jika perumpamaan ini masih juga sulit untuk dimengerti, mungkin gambaran berikut bisa lebih menggambarkan secara terperinci.

Pernahkan anda sedih yang sesedih-sedihnya, pernahkah anda gembira segembira-gembiranya, pernahkah anda marah semarah-marahnya adakah suatu kalimat yang yang tepat/sesuai/pas yang bisa anda ungkapkan dalam bahasa yang anda gunakan …??

Mungkin tiada satupun kalimat yang mampu untuk menggambarkan perasaan anda tersebut.

Toh… ujung-ujung-nya badan anda yang merasakan dan berinteraksi dengan mengeluarkan air mata.

Apakah orang lain tahu disaat anda menitikkan air mata…. karena bahagia..??, sedih..??, atau marah….??

Itulah kedekatan yang coba dilukiskan oleh seorang Syekh Siti Djenar tentang rasa dan apa yang dialami tentang bagaimana perasaan dekat dengan TUHAN-nya.

Karena TUHAN itu dekat sehingga tak salah dalam Al-Quran di sebutkan bagaimana dekatnya TUHAN dengan Manusia:

Qs. Al-Baqarah (2) 186:

Dan apabila hamba-hambaKU bertanya kepadamu tentang AKU, maka (jawablah) bahwasannya AKU dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang do’a apabila ia memohon kepadaKU, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) KU dan hendaklah mereka beriman kepadaKU agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Makna dekat adalah makna kedekatan seorang Manusia kepada TUHAN-nya dalam kadar kedekatan secara kualitas…. Bukan dzat.

Ada 5 jenis kedekatan yang dituliskan dalam Al-Quran, sehingga kita dapat memahaminya.

1.  Meliputi

Dalam banyak ayat Allah mengatakan bahwa Dzat, Ilmu, Rahmat dan Kekuasaannyameliputi segala sesuatu dan menunjuk kepada eksistensi Tunggal.

Ketika Allah mengatakan salah satu sifatNya meliputi makhlukNya, maka sebenarnya seluruh sifat-sifat yang lain juga meliputi makhlukNya.

Jadi makna meliputi memberikan persepsi sebagai kedekatan makhluk Tuhannya atau sebaliknya, tetapi kedekatan yang bersifat UNIVERSAL

2. Bersama

Kata dekat yang memiliki makna lebih khusus adalah “BERSAMA”, Kata yang digunakan adalah ma’ash shabiriin(bersama orang-orang yang sabar), ma’akum, ma’ana, ma’ahum (bersamamu, bersamaKu, bersama mereka) dan sebagainya.

Lebih khusus dibandingkan dengan meliputi.

Karena itu penggunaan kata “bersama” ini langsung dikaitkan dengan objeknya

Ada semacam perhatian khusus ketika Allah mengatakan

“ AKU bersama orang-orang yang sabar”

Seakan-akan DIA ingin menegaskan bahwa Allah akan memberikan pembelaan dan melindungi orang-orang yang sabar.

Qs. Al-Baqarah (2) ayat 153:

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) Shalat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar

3. Dekat ( QARIB )

Tingkat berikutnya lagi adalah “dekat” alias Qarib.

Ini adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan kedekatan secara lebih emosiona

Dibanyak ayat Allah menggambarkan kedekatanNYA dengan kata “Qarib”

Qs. Al-Baqarah (2) ayat 186:

Dan apabila hamba-hambaKU bertanya kepadamu tentang AKU, maka (jawablah) bahwasannya AKU dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang do’a apabila ia memohon kepadaKU, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) KU dan hendaklah mereka beriman kepadaKU agar mereka selalu berada dalam kebenaran

Qs Al-A’raf (7) ayat 56:

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).

Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

4. Disisinya

Istilah lain untuk menggambarkan kedekatan makhluk dengan Allah adalah “indallah”.

Indallah dikaitkan dengan kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya, biasanya menggambarkan posisi yang tinggi

Qs. Ali-Imran (3) ayat 169:

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki

Diantara hamba-hamba yang didekatkan disisi Allah itu adalah para pejuang yang mati syahid, yang mengorbankan hidupnya untuk mengabdi dijalan Allah. Melakukan syiar agama untuk kemajuan umat.

Ada beberapa tingkat kualitas seiring dengan kualitas pengabdian dan amalannya. Sehingga Allah mengatakan bahwa kedudukan mereka itu bertingkat-tingkat disisi Allah.

Allah mengampuni dosa dan kesalahan mereka, dan mereka memperoleh balasan yang baik disisinya. Mereka diberi derajat yang tinggi disisiNya.

Qs. Ali-Imran (3) ayat 163:

(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat disisi Allah, dan Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan

Qs Shaad (38) ayat 25:

Maka kami ampuni baginya kesalahannya itu, dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi kami dan tempat kembali yang baik

5. Berserah diri

Dan tingkatan kedekatan yang paling tinggi adalah berserah diri kepada Allah (Muslimuun).

Inilah suatu tingkatan dimana ego seseorang sudah sedemikian rendahnya, dan yang muncul hanya ego Allah saja.

Dirinya telah lebur kedalam Diri Allah, Sifat-sifatnya juga telah lebur dalam sifat Allah, kehendaknya telah luluh kedalam kehendak Allah

Itulah yang didalam hadis Qudsi dikatakan bahwa orang-orang yang demikian itu “ Melihat dengan pengelihatan Allah, mendengar dengan pendengaran Allah, dan seluruh langkah perbuatannya dilambari oleh ilmu-ilmu Allah

Dari keterangan-keterangan tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa paham Manunggaling kawula lan gusti ada ujud dari rasa kedekatan Syekh Siti Djenar secara kualitas yang tertinggi dimana pada saat itu segala ucap, laku, pikirnya bukan didasarkan lagi pada ego dirinya melainkan atas dasar dari  sang pemilik yaitu Allah SWT.

Suatu ungkapan rasa yang indah namun jika salah menafsirkan dapat membuat suatu pertentangan atau mungkin juga kesesatan.

Ini adalah bentuk rangsangan kepada tiap-tiap diri untuk selalu berusaha mendekat secara kualitas kepada TUHAN-nya

« Awal Adalah Akhir | Depan | Sangkan Paraning Dumadi »

Manunggaling Kawula Gusti

Aku ini adalah diriMu
Jiwa ini adalah jiwaMu

Rindu ini adalah rinduMu
Darah ini adalah darahMu

itu katanya syair Dewa

Coba kita kembali ke Layer 0

Bagian manakah dari dirimu yang bukan dariNya?

Tapi jangan kotori Nur Ilahi dengan bejatnya nafsumu

Karna itu sucikanlah,
dan tegapkan langkah,
untuk menuju status,
Manunggaling Kawula Gusti

Ditulis oleh Aryo Sanjaya pada September 8, 2005 7:00 PM

Manunggaling Kawula lan Gusti PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Komaruddin Hidayat
Jumat, 08 Januari 2010 17:59
DALAM dunia tasawuf dikenal istilah manunggaling kawula lan gusti. Istilah ini berarti suasana batin seorang hamba yang merasa sangat cinta dan dekat dengan Tuhan sehingga dia merasa lebur dan menyatu dengan Tuhan.Ibarat leburnya gula dan air, menyatunya api dan besi, yang di antara keduanya bisa dibedakan, tetapi tidak bisa lagi dipisahkan.Ketika besi telah menjadi merah karena dibakar api, besi dan api telah menyatu. Siapa menyentuh api, akan terkena besi dan siapa yang memegang besi akan tersentuh api. Logika itu juga dikenal dalam teori kepemimpinan Jawa bahwa pemerintahan akan menjadi baik, tenteram, dan makmur kalau hati penguasa dan rakyat telah menyatu, berada dalam gelombang sama. Di pihak lain, rakyat mesti mampu menyelami apa yang menjadi kehendak raja atau gusti, lalu sepenuh hati menuruti titah sang raja.Ketika aspirasi rakyat sama dengan kehendak pemimpin,terjadilah kesatuan hati,kesatuan langkah. Dalam era demokrasi, formula yang lebih tepat adalah manunggaling gusti lan kawula,bukannya kawula lan gusti.Di sini yang lebih aktif adalah pihak penguasa dengan mampu menyelami dan memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan rakyatnya.Popularitas dan wibawa seorang pemimpin akan bertahan selama mampu menyelami, memahami, dan menampung aspirasi rakyatnya.Seorang penguasa akan efektif memimpin selama dicintai rakyatnya dan cinta akan tumbuh dari prestasi sang pemimpin yang disertai ketulusan dalam memajukan masyarakatnya.Fenomena sosial yang muncul akhir-akhir ini mengindikasikan keadaansebaliknya. Banyakpemimpin politik awalnya bersusah payah membangun citra agar populer di mata rakyat.Berbagai upaya dilakukan, sejak dari memasang iklan dirinyaditelevisi, fotonya terpampangdi baliho,rajin bersilaturahmi sampai memberi bantuan agar berhasil menduduki jabatan politik dalam birokrasi negara,parpol atau ormas. Namun, setelah berhasil, para kawula atau rakyat yang menjadi pilar pendukung dan penyangganya lalu ditinggalkan sehingga terputus hubungan kasih sayang, kepercayaan, komunikasi gagasan, dan kerja sama antara penguasa dan rakyat,antara gusti lan kawula, antara pemimpin dan konstituennya.Pemimpin model ini pasti tidak akan tahan lama. Dia adalah pemimpin kontraktual yang potensial merusak iklim dan kultur politik. Orang bisa jadi tidak akan percaya kepada parpol atau pemerintah gara-gara kecewa terhadap oknum atau pribadi pemimpinnya. Pasang surut dan timbul tenggelamnya parpol dalam panggung politik sebagian disebabkan oleh kekecewaan rakyat pada perilaku pimpinannya.Namun di balik kebisingan politik dan kekecewaan rakyat,di sana terdapat proses pembelajaran dan pendewasaan rakyat yang sangat signifikan,yaitu bagaimana rakyat merespons isu politik dan menilai aktor-aktornya.Akhir-akhir ini, masyarakat tidak mudah diprovokasi untuk melakukan demonstrasi mengecam dan melawan pemerintah tanpa alasan dan bukti yang meyakinkan karena rakyat semakin kritis.Siapa kelompok demonstran yang rasional, emosional, dan mungkin bayaran,rakyat memiliki cara pandang mandiri. Begitu pun dengan banyaknya panggung televisi, berbagai pikiran masyarakat akan tersalur dan terwakili melalui berbagai program dan figur yang tampil.Situasi ini juga merupakan pendidikan politik yang sangat signifikan bagi masyarakat dan mampu meredam kemarahan karena pikiran dan perasaannya telah terwakili.Salah satu kelemahan dari komunikasi visual dalam masyarakat modern adalah kita cenderung menyandarkan pada media massa untuk mengenal pribadi para tokoh, sementara para tokoh sangat sadar bagaimana membangun citranya melalui pemberitaan media massa. Oleh karena itu, seorang selebritas adakalanya naik daun dan menjadi populer berkat dukungan media massa dan suatu saat mendadak turundrastispamornya jugaolehpemberitaan media massa.Dengan kata lain, di situ tidak tercapai kondisi manunggaling gusti lan kawula.Dalam masyarakat modern yang relasi antarwarganya cenderung impersonal dan atomik, ditambah lagi peran media massa sering membuat sensasi, sering kali kita dibuat ragu bahkan bingung untuk menilai seseorang dan isu yang tengah hangat karena memang tidak memiliki data yang akurat. Jadi, ada benarnya rumusan nasihat benefit of the doubt, berilah ruang keraguan untuk menilai sesuatu atau seseorang agar tidak terjadi penyesalan.Ada untungnya bersikap ragu dan menunda penilaian terhadap hal-hal yang kita tidak tahu persis.(*)
06
Jan
11

Candi Muarojambi Diusulkan Masuk Warisan Dunia Unesco

Blogspot

Candi Muarojambi Diusulkan Masuk Warisan Dunia Unesco

Candi Muarojambi

REPUBLIKA.CO.ID, JAMBI– Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) akan mengupayakan bantuan untuk mengembangkan situs Candi Muarojambi, meski sudah dikelola oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

“Mungkin ini (candi Muarojambi) bisa kita ajukan ke UNESCO, karena ini merupakan situs yang cukup penting di tingkat internasional. Kita upayakan untuk mengembangkan situs candi Muarojambi,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Armida Alisjahbana, di Jambi, Kamis.

Situs Percandian Muaro Jambi merupakan satu kawasan komplek pusat pendidikan Agama Budha.
Menurut dia, semua pihak harus memelihara kelestarian Candi Muarojambi yang merupakan salah satu warisan budaya masa lampau yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai lokasi pariwisata.

Situs Percandian Muaro Jambi terletak di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Dari Kota Jambi, situs ini lebih kurang berjarak 40 kilometer dan dapat ditempuh melalui jalan darat atau sungai dengan waktu tempuh sekitar satu jam.

Lokasi situs terbentang sepanjang 7,5 kilometer di sepanjang tepian aliran Sungai Batanghari. Pada beberapa titik tepian Batanghari terdapat kanal-kanal kuno atau sungai buatan yang menghubungkan Sungai Batanghari dengan kawasan situs.

Melalui kanal kuno yang melingkari kawasan situs inilah pada masa lalu deretan kompleks bangunan candi dapat dicapai lokasinya. Situs Percandian Muaro Jambi seluas 2062 hektare, telah ditemukan sedikitnya 82 reruntuhan bangunan kuno yang terbuat dari struktur bata.

Ketujuh kompleks bangunan candi itu adalah Candi Gumpung, Candi Tinggi I, Candi Tinggi II, Candi Kembar Batu, Candi Astano, Candi Gedong I dan Gedong II, serta Candi Kedaton.

Di samping itu beberapa bagian kanal kuno dan kolam-kolam kuno telah dilakukan normalisasi yang semula tertutup vegetasi tanaman air saat ini telah dibersihkan, seperti Kanal Kuno Sungai Jambi dan Kolam Telago Rajo.

Red: Stevy Maradona
Sumber: Antara

11
Dec
10

Kebudayaan : Pariwisata Warisan Budaya [WISDOM 2010, Yogyakarta]

Rabu, 08/12/2010 17:47 WIB
Pariwisata Warisan Budaya Makin Diminati Masyarakat Dunia
Bagus Kurniawan – detikNews

Yogyakarta – Sektor pariwisata merupakan industri perdagangan jasa terbesar di dunia saat ini yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Beberapa negara menjadikan pariwisata sebagai sumber penghasilan utama.

Hal itu disampikan pakar pariwisata Alistair G Speirs di sela-sela acara World Conference on Culture, Education and Science (WISDOM) 2010, di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) di Bulaksumur, Yogyakarta.

“Industri jasa pariwisata saat ini terus tumbuh dan semakin diminati masyarakat global. Tumbuhnya industri pariwisata ini disebabkan semakin bertambahnya pariwisata museum dan berbagai jenis warisan budaya,” katanya.

Dia mengusulkan agar setiap daerah untuk mempertahankan kekayaan heritage atau warisan budaya sebagai salah satu daya tarik wisata. Sebab kebanyakan turis akan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menikmati pengalaman berkunjung ke berbagai warisan budaya.

Menurut dia, salah satu tujuan wisata dari berbagai dunia yang sudah dikemas dengan kualitas yang sangat baik diantaranya wisata Candi Borobudur dan Bali. Borobudur memberikan pengalaman mengesankan bagi pengunjungnya.

“Sedangkan Bali, memiliki daya tarik yang sangat luar biasa. Sangat eksotis sekali,” ungkap pendiri Phoenix Communications ini.

Dia mengatakan Bali dan Borobudur merupakan dua lokasi dari dari 115 tempat yang paling sering dikunjungi wisatawan dunia. Yang lainnya, seperti Chiang Mai di Thailand, Tembok Raksasa di China, Hue di Vietnam, Kyoto di Jepang dan Rajashtan, India.

Manurutnya, masih banyak warisan budaya lainnya yang bisa dipromosikan kepada wisatawan. Oleh karena itu perlu adanya paket wisata sebagai alternatif tujuan pariwisata. Ia mencontohkan, seperti  Singapura yang tidak memiliki warisan budaya namun menawarkan paket wisata belanja modern.

“Thailand juga sama dengan menawarkan paket belajar dan plesir ke Thailand melalui program Amazing Thailand,” katanya.

Acara WISDOM 2010, Rabu (8/12/2010) secara resmi ditutup oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, Ir Jero Wacik di Graha Sabha Pramana, UGM. Deklarasi dan hasil seminar kemudian diserahterimakan secara simbolis dari Rektor UGM, Prof Ir Sudjarwadi, MEng PhD kepada Jero Wacik. Mantan Menteri
Pariwisata, Pos & Telekomuniasi, Joop Ave berkesempatan menyampaikan hasil kesimpulan perhelatan ini dalam bentuk Conference Reflection.

Deklarasi WISDOM 2010 ini akan disampaikan langsung oleh Jero Wacik kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono sebagai rekomendasi penyelenggaraan World Culture Forum 2012 (WCF 2012) di Bali. WCF merupakan gagasan dan inisiatif dari Presiden SBY untuk menjadikan forum ini sebagai pasangan World Economic Forum (WEC) di Davos, Swiss.

Pada penghujung acara peserta diajak melawat beberapa desa yang terkena erupsi Merapi dalam “Post-Merapi Eruption Social Program”. Mereka mengunjungi dusun-dusun di Desa Umbulharjo dan Kepuharjo Cangkringan.

Program ini bertujuan untuk memberi kesempatan bagi para peserta WISDOM 2010 untuk memahami “The Spirit of Merapi” yang menjadi akar kearifan lokal yang telah ada dalam masyarakat sekitar Merapi selama berabad-abad. Kunjungan tersebut juga menunjukkan kepada para peserta WISDOM 2010, bagaimana kearifan lokal berperan sebagai sumber daya alam untuk menjaga Merapi dan penduduk di sekitarnya.

(bgs/fay)

03
Jan
10

Historia : Hotel Des Indes, Batavia

Republika, Sabtu, 02 Januari 2010 pukul 09:01:00

Hotel Des Indes

Oleh:  Alwi Shahab, wartawan Republika

Dalam acara  Plesiran Tempo Doeloe yang diikuti lebih seribu peserta, Ahad lalu, banyak yang menyayangkan Hotel Des Indes yang sangat bersejarah seperti terlihat dalam foto itu digusur dan dijadikan pusat perbelanjaan Duta Merlin.

Hotel yang paling megah di Batavia pada masa Belanda digusur pada 1971. Hotel yang terletak di kawasan Harmoni, tepatnya Jl Gajah Mada, pernah berfungsi sebagai tempat perjamuan negara Hindia Belanda dan tamu-tamu negara sebelum dibangunnya Hotel Indonesia di Jalan Thamrin pada 1962.

Kompleks Hotel Des Indes, yang berbatasan dengan Bank Tabungan Negara (BTN) di Jalan Jaga Monyet (kini Jl Suryopranoto) dan Chaulanweg (kini Jl Hasyim Ashari), pernah didatangi kepala-kepala negara peserta Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 1955. Meski KAA berlangsung di Bandung, sebagian dari mereka tinggal di Hotel Des Indes Jakarta, demikian pula saat KIAA (Konferensi Islam Asia-Afrika).

Foto yang diabadikan pada 1930-an ini merupakan gedung baru Hotel Des Indes yang dirancang AIA Bureau dan selesai dibangun pada Maret 1930. Hotel yang telah beberapa kali mengalami perubahan ini didirikan pada abad ke-19 di atas tanah seluas 3,1 hektare. Ketika dibongkar pada 1971, hotel ini berusia 161 tahun. Sampai tahun 1960-an, Hotel Des Indes memfasilitasi acara-acara perkawinan masyarakat golongan atas. Berbagai pesta keramaian berlangsung di sini.

Walaupun dirancang dengan gaya arsitektur lebih modern, menurut Nadia Purwestri, direktur eksekutif Pusat Dokumentasi Arsitektur, bangunan ini tetap mempunyai teras yang lebar dan jendela-jendela besar sebagai ventilasi udara. Hal ini membuat ruang dalam tetap sejuk walaupun di luar panas.

Pada abad ke-19, saat jamuan-jamuan makan, termasuk makan malam, selalu disediakan es yang kala itu masih merupakan barang yang sangat mewah. Warga Barat yang umumnya tidak tahan terhadap udara panas selalu menyediakan es saat makan dan minum. Pada pertengahan abad ke-19, untuk meminum es, seseorang harus mendatangkannya dari Boston, AS. Orang Jakarta menyebutnya es batu yang sampai awal tahun 1960-an dijual di warung-warung Cina dan pedagang minuman di tepi jalan.

Dalam mengimpor es, diperlukan waktu hampir setengah tahun perjalanan dari Boston ke Batavia. Untuk pertama kalinya, kapal bermuatan es dari Boston berlabuh di Ceylon (Sri Lanka) pada April 1840. Lalu, mengapa harus mengimpor es ke nusantara?

Pada waktu itu, orang belum mengenal lemari es. Untuk mendinginkan minuman, orang menggunakan  koelbak , semacam peti yang dilapis timah hitam. Di dalamnya, diisi air dan  salpeter (semacam sendawa atau anorganik kimia). Untuk menghidangkan minuman dingin, orang membungkus botol minuman dengan kain dingin. Pabrik es baru pertama kali dibangun pemerintah pad tahun 1870 di Prapatan, Jakarta Pusat. Kemudian, di Petojo, Jakarta Pusat. Sampai awal 1970-an, kulkas merupakan barang mewah di Jakarta dan jarang yang memilikinya.




Blog Stats

  • 1,269,499 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers