Posts Tagged ‘Environmental

23
Mar
13

Lingkungan : Earth Hour Perangi Climate Change

PBB Peringati “Earth Hour” Guna Soroti Perlunya Perangi Perubahan Iklim

AntaraAntara 

PBB, New York (ANTARA/Xinhua-OANA) – PBB berencana ikut dalam memperingati “Earth Hour” pada Sabtu dengan memadamkan listrik di semua kantornya di seluruh dunia selama satu jam, kata Juru Bicara PBB Martin Nesirky di Markas PBB, New York, Jumat (22/3).

“Bergabung dengan jutaan orang di seluruh dunia yang memperingati `Earth Hour`, sekretaris jenderal mengatakan PBB akan ikut dengan tekad kuat untuk melakukan tindakan sehubungan dengan perubahan iklim,” kata Nesirky dalam satu taklimat harian di Markas PBB, New York. Ia merujuk kepada Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon.

Ban “mengatakan pemerintah, pengusaha dan masyarakat sipil, semuanya, memiliki peran untuk dimainkan untuk mewujudkan jawaban yang masuk akal bagi dunia yang lebih bersih, lebih hijau,” kata juru bicara PBB tersebut sebagaimana dikutip Xinhua –yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu.

“Earth Hour”, yang diluncurkan pada 2007 di Australia oleh Dana Seluruh Dunia bagi Alam (WWF), kelompok pelestarian alam global, menyeru rakyat, organisasi dan kota besar untuk mematikan lampu yang tidak penting selama satu jam mulai pukul 20.30 waktu setempat.

Itu adalah tahun keempat PBB bergabung dengan ratusan juta orang di seluruh dunia untuk mematikan lampu.

Kegiatan “Earth Hour” berlangsung rata-rata satu pekan setelah 21 Maret –ketika malam dan siang sama lamanya di kedua belahan Bumi, untuk memastikan keadaan akan gelap di mana saja di seluruh dunia pada pukul 20.30.(tp)

16
Feb
13

Lingkungan : Hujan Meteor di Rusia Tengah

Hujan Meteor Timbulkan Kepanikan di Rusia Tengah

Yahoo! News via Space.com

AntaraAntara – Jum, 15 Feb 2013

Moskow (AFP/ANTARA) – Hujan meteor turun di Rusia tengah pada Jumat, memicu kepanikan saat puing-puing benda angkasa berjatuhan dan meledak di udara, menerbangkan jendela dan menyebabkan beberapa orang terluka.

“Sebuah meteorit yang hancur di atas Ural (pegunungan di Rusia tengah), sebagian besar terbakar di atmosfer yang lebih rendah,” kata kantor lokal kementerian keadaan darurat nasional dalam sebuah pernyataan.

Meteor hits central Russia, 400 hurtA meteor crashes into the Urals in central Russia, injuring 400 people authorities say. Lily Grimes reports.

“Fragmen dari meteorit itu mencapai Bumi, jatuh di daerah yang jarang penduduknya di wilayah Chelyabinsk,” katanya.

“Menurut informasi awal, empat orang terluka terkena pecahan kaca,” katanya.

“Pada pukul 11.00 waktu setempat kami menerima banyak panggilan darurat, pemadaman listrik, dan luka-luka,” menurut pernyataan pemerintah lokal yang dikutip Interfax.(dh/pt)

Untuk berita terbaru, ikuti Yahoo! Indonesia di Twitter dan Facebook

Berita Lainnya

Meteor Jatuh di Rusia, Lebih dari 200 Anak Terluka

TEMPO.COTEMPO.CO – 

TEMPO.CO, Yekaterinburg – Kementerian Kesehatan di Provinsi Chelyabinsk, Rusia, mencatat 985 orang yang terluka akibat terkena pecahan meteor yang jatuh di sebuah danau di kota Chebarkul, Provinsi Chelyabinsk, Rusia, Jumat, 15 Februari 2013 sekitar pukul 9.30 pagi. Lebih dari 200 korban adalah anak-anak. Mayoritas korban menderita luka gores.

Dari 43 orang yang mendapat perawatan khusus, 13 di antaranya adalah anak-anak. Dua orang dewasa hingga saat ini masih dalam kondisi kritis. Korban terbanyak ada di kota Chelyabinsk dengan jumlah 655 orang, Kopeisk (130), Korkino (70), Emanzhelinsk (51), dan Etkul (20). Meteor juga merusak sedikitnya 154 bangunan, 93 di antaranya adalah rumah sakit dan poliklinik. “Meteor juga merusak 10 panti asuhan dan lima panti jompo. Kaca-kacanya pecah,” ujar Perwakilan Kementerian Sosial di Wilayah Chelyabinsk Olga Kucherina seperti dilaporkan Ural KP.

Administrator Kota Chelyabinsk Sergey Davydov menyatakan bahwa pemerintah akan menanggung semua biaya kerusakan bangunan yang terjadi akibat meteor tersebut. Beberapa sekolah yang mengalami kerusakan terpaksa menutup sebagian ruang kelasnya untuk proses perbaikan, namun kegiatan belajar akan tetap berlangsung. Proses perbaikan tersebut ditargetkan selesai minggu depan.

Sementara itu, empat warga Indonesia yang tinggal di Kota Yekaterinburg, sekitar 250 kilometer sebelah utara Chelyabinsk, berada dalam kondisi baik. “Saya seharian ada di asrama. Aman-aman saja di sini. Tidak lihat meteor itu secara langsung. Hanya tahu beritanya dari Internet,” kata Muhamad Zainun Najib, mahasiswa Indonesia di Universitas Federal Ural, Yekaterinburg.

GABRIEL TITIYOGA (YEKATERINBURG)

08
Feb
13

Lingkungan : 24 Situ DAS Cisadane-Ciliwung Menghilang

MetroLayanan publik

24 Situ DAS Cisadane-Ciliwung Menghilang  

Derasnya aliran sungai Ciliwung dikawasan Manggarai, Jakarta, Selasa (15/1). Hujan yang mengguyur Jakarta dan Bogor, mengakibatkan meluapnya air sungai Ciliwung sehingga merendam ratusan rumah dibantaran sungai. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

Jum’at, 08 Februari 2013 | 14:17 WIB

24 Situ DAS Cisadane-Ciliwung Menghilang

TEMPO.CO, Jakarta – Jumlah situ di daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung dan Cisadane turun dari 204 situ menjadi 180 situ.

Hasil inventarisasi Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum menunjukkan pada 2007 lalu, DAS Ciliwung dan Cisadene berjumlah 204 situ. Sebanyak 24 situ yang sudah beralih fungsi.

“Pengalihfungsian terjadi akibat pengurukan untuk berbagai keperluan, seperti perumahan dan lainnya,” kata Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Mohamad Hasan, dalam rilisnya Kamis, 7 Februari 2013.

Padahal, kata Hasan, situ merupakan daerah resapan air sehingga seharusnya tidak boleh dihuni. Ia menjelaskan, 50 meter dari bibir situ di luar kota dan 15 meter untuk situ yang berada di dalam kota, tidak boleh dihuni.

Beberapa kasus pengalihfungsian situ terjadi akibat penerbitan izin pembangunan di sekitar situ oleh pemerintah daerah. Salah satu kasus pengalihfungsian situ yang ia catat terjadi di Situ Antap, Kota Tangerang Selatan. Situ Antap sedikit demi sedikit terkikis karena diuruk oleh pengembang.

“Kami berkoordinasi dan membuat kesepakatan dengan pemerintah daerah setempat dan Badan Pertanahan Nasional. Karena pengembang tersebut sudah memiliki sertifikat lahan,” kata Hasan. (Baca: Titik-titik Luapan Kali Ciliwung)

Sedangkan dari perspektif Kementerian Pekerjaan Umum sebagai pengelola sumber daya air, walau pengembang sudah memiliki sertifikat kepemilikan lahan, situ harus tetap berfungsi untuk konservasi air dan tidak boleh dibangun. (Baca: Kampung Pulo Kembali Banjir Capai 2 meter)

RAFIKA AULIA

Berita Lainnya:

Kampung Pulo Kembali Banjir Capai 2 meter

 

27
Jan
13

Lingkungan : Gletser Andes Mencair Terlalu Cepat

Gletser Andes Mencair Terlalu Cepat

Yahoo! News

Oleh | Yahoo! News – Jum, 25 Jan 2013

Oleh Stephanie Pappas, Penulis Senior LiveScience | LiveScience.com

Gletser di Pegunungan Andes melemah pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam tiga puluh tahun terakhir.

Kesimpulan tersebut diambil berdasarkan rincian penelitian terbaru yang menggabungkan penelitian di lapangan dengan foto satelit dan udara, catatan sejarah dan masa inti es yang diambil dari gletser. Kondisi tersebut lebih buruk di Andes dibandingkan rata-rata menyusutnya gletser di seluruh dunia, demikian laporan para peneliti pada 22 Januari dalam jurnal “The Cryosphere”.

Foto: LiveScience (Giulia Curatola, Philipps-Universität Marburg, distributed by the EGU)”Gletser di Tropical Andes telah menghilang rata-rata antara 30-50 persen (tergantung pada rentang pegunungan) dari permukaannya sejak akhir 70-an,” menurut pengamatan peneliti Antoine Rabatel, ilmuwan dari Laboratory for Glaciology and Environmental Geophysics di Grenoble, Prancis, dalam sebuah email kepada LiveScience.

Gletser sensitif
Pegunungan Andes di Amerika Selatan adalah tempat 99 persen gletser tropis, yakni sungai es permanen di ketinggian yang cukup tinggi, yang tidak akan terpengaruh oleh jenis suhu sejuk yang biasanya ada di daerah tropis. Meski demikian, Rabatel mengatakan, gletser sangat sensitif terhadap perubahan iklim, karena ada sedikit musim daerah tropis.

“Gletser di Andes tropis bereaksi keras dan lebih cepat daripada gletser lain di Bumi untuk setiap perubahan kondisi iklim,” katanya.

Untuk mengumpulkan cerita dari gletser selama berabad-abad lalu, Rabatel dan rekan-rekannya menggunakan data berbeda. Catatan sejarah dari permukim awal menunjukkan batas-batas gletser, seperti halnya data inti es yang diambil dengan cara pengeboran ke dalam lapisan es tahunan yang membentuk gletser.

Bahkan lumut (organsisme simbiosis yang berasal dari jamur dan ganggang atau bakteri) yang bertahan hidup pada bebatuan, atau moraine, yang terbentuk di sekitar gletser memiliki kisah yang menarik. Peneliti dapat menggunakan lumut tersebut untuk menentukan berapa lama batu tertutup dan terbebas dari es.

Foto udara pada 1950-an dan pencitraan satelit dari era 1970-an juga melacak gerakan gletser. Akhirnya, pengamatan berbasis darat dan langsung dilakukan pada banyak gletser sejak 1990-an.

Pelemahan Gletser
Semua data mengungkapkan kisah es yang mencair. Gletser Andes mencapai luas maksimal dalam zaman Little Ice Age, sebuah periode pendinginan yang berlangsung dari sekitar abad 16 hingga 19. Di daerah tropis luar Peru dan Bolivia, gletser mencapai titik maksimal mereka pada 1600-an, menurut temuan para peneliti. Gletser tertinggi Andean mencapai maksimal pada 1730-an atau sekitar itu, sedangkan gletser elevasi yang lebih rendah mencapai puncaknya sekitar 1830-an.

Sejak itu, gletser secara bertahap melemah, dengan periode mencair yang cepat pada 1800-an dan yang kedua, jauh lebih besar, di periode pencairan yang cepat dalam tiga dekade terakhir. Sejak 1970-an, gletser mengikuti pola periode pencairan yang lebih cepat dalam jarak dua sampai tiga tahun, di antara pelemahan  yang lebih lambat dan sesekali bertambah (atau tumbuh). Rata-rata keseluruhan adalah negatif secara permanen selama 50 tahun terakhir, tulis para peneliti.

Rata-rata es yang menghilang antara 30-50 persen bervariasi dari gletser ke gletser, tutur Rabatel. Beberapa gletser kecil benar-benar telah menghilang, seperti gletser Chacaltaya di Bolivia, yang dulunya resor ski tertinggi di dunia, namun menghilang pada 2009.

Gletser dengan ketinggian yang lebih rendah dari 5400 meter di atas permukaan laut mencair dua kali lebih cepat dari gletser yang lebih tinggi. Gletser-gletser rendah ini, yang membentuk mayoritas gletser Andes, diperkirakan akan punah dalam beberapa tahun atau dekade ke depan, tutur Rabatel.

Curah hujan di wilayah tersebut tidak berubah, menurut temuan para peneliti, namun suhu meningkat hampir 0,2 derajat Fahrenheit (0,1 derajat Celsius) per dekade selama 70 tahun terakhir. Hal itu berarti panas atmosfer membuat gletser melemah.

Hilangnya gletser yang terus meningkat adalah masalah utama bagi masyarakat yang tinggal di daerah barat Andes yang kering, tutur Rabatel.

“Pasokan air dari rangkaian pegunungan gletser yang tinggi penting untuk konsumsi pertanian dan domestik, serta untuk pembangkit listrik tenaga air,” tulisnya.

Untuk berita terbaru, ikuti Yahoo! Indonesia di Twitter dan Facebook

Berita Lainnya

Tujuh Resolusi untuk Bumi yang Lebih Baik

Yahoo! News

Oleh | Yahoo! News – Sel, 15 Jan 2013

Oleh Douglas Main, Staf Penulis OurAmazingPlanet | LiveScience.com

Tahun 2013 telah tiba, dan semua orang sibuk membuat (atau mungkin sudah melanggar?) resolusi tahun baru mereka. Alam beristirahat selama beberapa menit dari jadwal sibuknya untuk berbagi ide tentang cara memperbaiki situasi di planet kita dengan beberapa resolusi di tahun baru yang harus ditempuh oleh umat manusia.

Berikut adalah tujuh resolusi penting untuk Bumi di 2013:

1. Mencegah kepunahan spesies
Bumi sedang berada di tengah krisis kepunahan besar, yang terbesar sejak lenyapnya dinosaurus 65 juta tahun lalu. Laporan yang dibuat oleh sebuah kelompok konservasi World Wildlife Fund menyebutkan, tingkat keanekaragaman hayati dunia juga turun sebesar 30 persen sejak 1970-an. United Nations Environment Program memperkirakan bahwa 150-200 spesies punah setiap hari. Ini sekitar 10-100 kali lipat tingkat kepunahan alami.

Salah satu masalah yang dihadapi spesies yang terancam punah, khususnya di negara-negara berkembang, adalah perburuan. Sebagian perburuan tersebut didorong oleh permintaan akan beberapa bagian tubuh hewan untuk obat tradisional.

Sebagai contoh, Reuters melaporkan sebanyak 633 ekor badak dibunuh di Afrika Selatan pada 2012. Bandingkan dengan jumlah 448 ekor badak yang mati pada 2011 dan 13 yang mati pada 2007. Perburuan merupakan penyebab utama kepunahan banyak hewan, termasuk badak Jawa di Vietnam pada 2010.

Pada akhirnya, hilangnya keanekaragaman hayati akan mengganggu hidup Anda, karena manusia merupakan bagian dari jaringan kehidupan. Setiap spesies melayani fungsi tertentu yang tidak dapat sepenuhnya tergantikan jika ada yang punah.

2. Melestarikan hutan hujan
Hutan hujan adalah waduk penting yang terdiri dari tanaman, hewan dan mikroba. Hutan hujan adalah tempat tinggal arthropoda (kelompok yang mencakup serangga, arakhnida dan krustasea, dan semua hewan yang memiliki eksoskeleton yang keras). Arthropoda adalah kelompok hewan yang paling beragam di dunia dan melakukan segala macam peran penting dalam lingkungan mereka, mulai dari memakan kotoran hingga melakukan penyerbukan bunga.

Hutan hujan juga terdiri dari tanaman yang bisa membantu manusia, termasuk kina yang bisa dijadikan obat anti-malaria yang awalnya ditemukan di pohon kina Amazon. Sangatlah membahayakan saat kehilangan kekayaan alam semacam itu, terlebih sebelum kita sempat menemukannya.

Hutan juga menyediakan planet kita dengan pasokan oksigen yang sangat besar. Meskipun demikian, dari tahun 2000 hingga 2010, misalnya, sekitar 240.000 kilometer persegi hutan hujan Amazon rusak. Area tersebut kira-kira seluas Inggris.

3. Melindungi wilayah dengan keanekaragaman hayati yang tinggi
Tidak semua wilayah diciptakan sama. Beberapa tempat tertentu sebaiknya tidak diganggu, seperti wilayah yang menjadi habitat bagi spesies langka.

Contohnya adalah Madagaskar, yang merupakan satu-satunya tempat tinggal lemur dan banyak makhluk hidup lainnya. Namun hutan dan habitat padang rumput di lepas pantai Afrika tersebut hancur dengan cepat. Madagaskar telah kehilangan setidaknya 90 persen dari jumlah cakupan hutan aslinya.

Keindahan alam lainnya adalah Filipina, yang memiliki salah satu tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di planet ini, namun terancam oleh penggundulan hutan dan pembangunan. Sebuah ekspedisi terbaru menemukan bahwa lebih dari 300 spesies merupakan penemuan yang baru bagi ilmu pengetahuan, termasuk hiu yang hidup di laut dalam yang bisa mengembang ketika merasa terancam. Namun spesies tersebut berada dalam ancaman terkait aktivitas manusia.

4. Mengurangi gas rumah kaca dan membatasi perubahan iklim
Manusia adalah makhluk yang banyak menggunakan gas, bahan bakar fosil dan meningkatkan konsentrasi karbon dioksida, metana, dan perangkap gas panas lainnya di atmosfer. Banyak peneliti iklim memperkirakan bahwa konsentrasi karbon dioksida di atmosfer harus dibatasi hingga 350 ppm untuk menghindari suhu panas, gelombang panas, kekeringan, naiknya permukaan laut, dan kepunahan.

Konsentrasi karbondioksida saat ini hampir 393 ppm dan meningkat sekitar 2 ppm per tahun, seperti yang diungkap Mauna Loa Observatory di Hawaii. Untuk menghindari dampak terburuk pemanasan global, manusia perlu segera menemukan sumber energi alternatif.

Dampak terburuk pemanasan global dapat dilihat di Kutub Utara dan Antartika, karena fenomena yang disebut amplifikasi kutub. Banyak wilayah di Arktik yang menghangat hingga 1,7 derajat Celcius selama 30 tahun terakhir. Arktik menjadi wilayah yang memanas lebih cepat daripada bagian belahan Bumi lainnya dan menjadi suatu pertanda bahwa pemanasan global memang benar terjadi.

Kutub juga merupakan rumah bagi hewan yang luar biasa seperti beruang kutub dan penguin, yang sensitif terhadap perubahan lingkungan. Belum lagi fakta bahwa wilayah tersebut menyimpan air beku dalam jumlah yang besar. Jika mencair, es itu akan membuat sebagian besar wilayah perkotaan dunia saat ini berada di bawah permukaan laut.

5. Mengatasi pencemaran air
Manusia benar-benar melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri. Meskipun langkah besar telah ditempuh di Amerika Serikat, Eropa dan negara lain, namun pencemaran air tetap saja menjadi masalah besar dan terus berkembang di seluruh belahan dunia, termasuk Cina, Asia selatan dan Afrika.

Selain kerusakan yang sangat jelas yaitu  pencemaran air minum dan polusi dari limbah pertanian, hal lain yang terjadi saat pencemaran tersebut mencapai lautan adalah bahwa pencemaran akan menciptakan wilayah yang disebut zona mati.

Zona mati terbentuk karena ganggang berkembang dengan pesat dan mengonsumsi semua oksigen di wilayah tersebut hingga akhirnya spesies lain mati karena kehabisan oksigen.

6. Mengelola penangkapan ikan lebih baik dan menekan perburuan hiu
Teknik perburuan ikan yang menyebabkan kematian ikan, penyu dan mamalia laut yang terlalu banyak, sering terjadi ketika hewan-hewan tersebut tidak ditargetkan oleh nelayan. Hal terburuk dari teknik semacam itu adalah penggunaan jaring besar (termasuk jala dan pukat, yang menangkap apapun yang berada di jalur mereka) dan memancing dengan teknik longline, saat ratusan hingga ribuan kait dipasang hingga bermil-mil di belakang perahu.

Panjang rata-rata longline di Teluk Meksiko membentang hingga 48 kilometer, dan lebih dari setengah dari tuna dan ikan todak yang tertangkap dilemparkan kembali, sebagian besar sudah mati, seperti yang diungkapkan kelompok Pew Environment.

Perburuan hiu juga telah meningkat secara dramatis, terutama karena meningkatnya permintaan untuk sup sirip ikan hiu di Cina, suatu zat yang telah terbukti berulang kali mengandung racun. Sebanyak 73 juta hiu dibunuh setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan ini. Ekosistem laut tergantung pada predator ini untuk menjaga rantai kehidupan tetap seimbang.

7. Mengurangi konsumsi

Yang satu ini cukup sederhana, yaitu mengurangi konsumsi. Penggunaan kembali bahan bekas mungkin adalah tindakan yang bagus. Hal ini bisa berarti perubahan yang sederhana seperti penggunaan kembali tas belanja, sehingga mengurangi kebutuhan akan plastik dan kertas.

Banyak barang-barang lain yang juga tidak perlu dibuang hanya karena mereka sudah kuno. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa sebagian besar peralatan yang dibuang masih berfungsi dengan baik. Selain itu, tingkatkan efisiensi energi dengan membuat dan membeli mobil yang lebih baik, seperti kendaraan hibrida atau listrik yang didukung oleh sumber-sumber daya yang dapat diperbarui.

Anda juga dapat melakukan hal-hal sederhana seperti mematikan lampu dan peralatan elektronik lainnya, menggunakan termostat yang bisa diprogram dan mengganti filter udara AC.

Menggunakan lebih sedikit plastik juga merupakan langkah yang baik. Sumber daya bumi terbatas, dan jika manusia tidak lebih berhati-hati, maka kerusakan Bumi akan menjadi semakin jelas.

26
Nov
12

Flora : Beda Rafflesia dengan Bunga Bangkai

Ini Dia Beda Rafflesia dan Bunga Bangkai

img

Tunas kuncup Amorphopallus titanium (Desi/detiktravel)

  • gb
  • gb

Bogor – Sadar atau tidak selama ini, banyak traveler menganggap bunga bangkai dan Rafflesia adalah sejenis. Ternyata, keduanya merupakan bunga yang berbeda, baik bentuk maupun jenisnya!

Bunga bangkai menjadi salah satu daya tarik wisatawan berkunjung ke Kebun Raya Bogor. Tapi hati-hati jangan sampai salah kaprah. Di sini ada dua jenis bunga bangkai, yaitu Rafflesia dan Amorphophallus titanum.

“Dua bunga ini beda dari bentuk, ukuran dan jenis,” ucap Kepala Kebun Raya Bogor, Mustaid Siregar dalam konfrensi pers menjelang mekarnya bunga bangkai Amorphophallus titanum di Kebun Raya Bogor, Sabtu (24/11/2012).

Di Kebun Raya Bogor, untuk Rafflesia baru memiliki Rafflesia patma. Sedangkan untuk bunga bangkai ada 9 umbi atau bibit bunga bangkai yang hidup.

Rafflesia patma memiliki bentuk seperti Rafflesia arnoldi di Bengkulu hanya saja ukurannya lebih kecil. Sedangkan bunga bangkai Amorphophallus titanum, batang, daun, dan lidah atau spandek yang menjulang ke atas.

Selain bentuk, beda dengan patma, bunga bangkai ini bukanlah parasit yang menumpang di tumbuhan lain. Bunga bangkai Amorphophallus titanum adalah tumbuhan sejati yang memiliki umbi, batang dan daun sehingga dapat menyuplai makanannya sendiri. Namun, kedua bunga ini sama-sama beraroma tak sedap seperti bangkai.

“Karena parasit, Rafflesia patma tidak mempunyai batang dan daun sendiri atau numpang di tanaman lain yang disebut inang. Sedangkan bunga bangkai ini tumbuhan sejati,” tutur Koordinator tim peneliti Amorphopallus titanum di Kebun Raya Bogor, Dian Latifah.

Dian menambahkan, pertumbuhan Rafflesia tidak bisa diprediksikan dan memakan waktu yang sangat lama untuk menjadi bunga. Lama kuncup sampai mekar bisa memakan waktu sekitar 34 jam. Beda dengan Amorphophallus titanum yang bisa diamati perkembangannya. Kalau bunga bangkai bisa mekar hanya dalam waktu 24 jam.

“Rafflesia bisa tumbuh tergantung inangnya dan tidak bisa ditentukan. Kalau bunga bangkai ada sekitar 3 bunga yang mekar,” imbuhnya.

Satu lagi, meskipun sama-sama bau bangkai Amorphophallus titanum baunya lebih menyengat. Bahkan kalau cuaca mendukung bisa mengeluarkan asap yang sangat bau.

Oleh sebab itu, mekarnya bunga bangkai pada waktu yang berdekatan dengan bunga Rafflesia patma diharapkan bisa membuat masyarakat dan wisatawan lebih memahami perbedaan di antara keduanya.

“Jadi, Jangan sampai ada kesalahan lagi. Kami harap pulang dari sini wisatawan bisa dapat ilmu pengetahuan,” tutup Mustaid.

04
Oct
12

Flora : 393 Tumbuhan di Indonesia Terancam Punah

393 Tumbuhan di Indonesia Terancam Punah

Rabu, 3 Oktober 2012 | 14:12

Griya Anggrek Kebun Raya Bogor. [SP/Ari Supriyanti Rikin] Griya Anggrek Kebun Raya Bogor. [SP/Ari Supriyanti Rikin]

[BOGOR] Indonesia berada pada peringkat ke empat bersama Brazil sebagai negara dengan jumlah tumbuhan terancam punah tertinggi di dunia. Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN) tahun 2012 sekitar 393 jenis tumbuhan dalam ancaman kepunahan.

Jumlah ini meningkat 1,7 persen dibandingkan kondisi pada tahun 2010. Catatan para ilmuwan menyebut peningkatan jumlah jenis tumbuhan yang terancam keepunahannya dipengaruhi oleh kondisi di Indonesia seperti alih fungsi lahan dan invasi spesies. Keadaan ini pun kemudian menuntut perhatian dan strategi global dalam upaya konservasi tumbuhan Indonesia.

Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bambang Prasetya mengatakan isu konservasi menjadi perhatian masyarakat dunia sejak konvensi internasional mengenai keanekaragaman hayati atau Convention on Biological Diversity (CBD) di KTT Bumi, Rio de Janeiro 1992.
Keterlibatan Indonesia dalam konvensi internasional ini merupakan upaya pelestarian keanekaragaman hayati yang terancam punah. “Jumlah tumbuhan yang terancam punah sebesar 1,7 persen telah menimbulkan kekhawatiran. Oleh karena itu diperlukan sebuah instrumen yang dapat mengakomodir upaya konservasi tumbuhan secara komprehensif dan terintegrasi mulai tingkat ekosistem sampai tingkat genetik.” katanya di sela focus group discussion, Strategi Global untuk Konservasi Tumbuhan, di Kebun Raya Bogor, Rabu (3/10).

Terkait konservasi yang terintegrasi, Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor LIPI Mustaid Siregar mengungkapkan dalam membangun GSPC perlu koordinasi data dan terbangunnya jejaring antar stakeholder terkait.

Dalam laporan pertama kemajuan implementasi GSPC di regional Asia menunjukan bahwa pencapaian target-target GSPC di Indonesia dinilai masih sedikit kemajuannya. Menurut Mustaid, rendahnya kemajuan ini terjadi karena kurang terpusatnya data capaian target dari semua pihak terkait.

“Hingga tahun 2010 seharusnya sudah sekitar 60 persen jenis tanaman yang terancam punah sudah dikonservasi secara exsitu dari target pencapai 75 persen di tahun 2020. Namun kebun raya baru mengkonservasi sekitar 21,5 persen,” ucapnya.

Untuk itu ia berharap, kementerian yang memiliki program konservasi, kebun raya daerah dan pemerintah daerah bisa bekerja sama meningkatkan konservasi. Senada dengan itu Bambang berharap adanya dukungan anggaran untuk mempercepat dan mematangkan identifikasi.

Lebih lanjut Mustaid menjelaskan kurangnya taksonom yang bisa mengindentifikasi menjadi kendala proses identifikasi dalam upaya konservasi. Jumlah kekayaan biodiversity di Indonesia juga belum pasti jumlahnya, dari 7.849 jenis tumbuhan berhasil terindentifikasi dan dikonservasi di empat kebun raya di Indonesia. Sedangkan 6.658 jenis lainya belum teridentifikasi.

Sementara itu terkait jenis tumbuhan yang terancam punah dan sudah tidak ditemukan di alam tetapi berhasil dikonservasi antaraa lain mangga kasturi yang wangi dan rasanya enak endemik Kalimantan Selatan, jenis-jenis meranti, keluarga (family) anggrek, kantong semar, jenis palem dan paku-pakuan. [R-15]

01
Oct
12

Lingkungan : ESDM Harus Tunduk Kepada UU 32/2009

PENEGAK KONSTITUSI PROKLAMASI 1945

Siaran Pers JATAM

ESDM Harus Tunduk Kepada UU 32/2009

Sekitar 70 persen Kerusakan Lingkungan Indonesia, disebabkan oleh operasi pertambangan. Tak hanya itu, industri ekstraktif ini dengan mudah melabrak dan mengakali berbagai aturan yang bertentangan dengan kepentingannya, termasuk UU 32/2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup (PPLH). Bahkan UU 32/2009 dianggap sebagai penghambat investasi. Tak heran, UU ini terus diabaikan dan pelan-pelan dipreteli kekuatanya.Bagi ESDM, UU PPLH tak sejalan dengan jiwa eksploitatif serta keserakahan industri pertambangan. Seolah-olah UU PPLH hanyalah sekumpulan pasal-pasal dikertas yang tak perlu ditaati.Hampir 34 persen daratan Indonesia telah diserahkan pada korporasi lewat10.235 ijin pertambangan mineral dan batubara (minerba). Itu belum termasuk ijin perkebunan skalabesar, wilayah kerja migas, panas bumi dan tambang galian C. Kawasan pesisir dan laut juga tidak luputdari eksploitasi,lebih 16 titik reklamasi, penambangan pasir, pasir besi dan menjadi tempatpembuangan limbah tailing Newmont dan Freeport.Demikian juga hutan kita, setidaknya 3,97 juta hektar kawasan lindung terancam pertambangan, tak luput keanekaragaman hayati di dalamnya. Tak hanya hutan, sungai kita pun dikorbankan. Jumlah daerah aliran sungai (DAS) yang rusak parah meningkat dalam sepuluh tahun terakhir. Sekitar 4.000 DAS yang ada di Indonesia sebanyak 108 DAS mengalami rusak parah.ESDM melakukan pembiaran atas kehancuran ini. Dibayar dengan kematian warga, kerusakan lahan dan berubahnya pola ekonomi masyarakat. Maka melihat kondisi inilah JATAM menuntut secara tegas :1. ESDM harus tunduk kepada UU No 32/2009 dan tidak mengintervensi kepada Kementrian Lingkungan Hidup2. Segera hentikan ijin usaha pertambangan dan evaluasi perusahaan penjahat lingkungan.3. Tutup segera tambang di wilayah hutan untuk menahan laju daya rusak tambang.CP : Harris Balubun (081287692113)

Priyo Pamungkas Kustiadi
08561903417Media Communication and Outreach
Jaringan Advokasi Tambang

14
Sep
12

Lingkungan : Mangrove pelindung pesisir pantai

7 September 2012

Laporan:

Mangrove melindungi pemukiman pesisir terhadap gelombang angin

Ede, Belanda – Sebuah laporan terbaru oleh The Nature Conservancy dan Wetlands International membuktikan bahwa hutan mangrove melindungi pemukiman pesisir terhadap dan gelombang angin ekstrem. Hutan mangrove dengan ketebalan mangrove minimal 100 meter mengurangi tinggi gelombang sebanyak 66% sehingga dapat mencegah banjir dan kerusakan infrastruktur pesisir. Dengan semakin banyaknya pemukiman pesisir di Indonesia yang rentan terhadap dampak dari gelombang, organisasi-organisasi ini mengatakan pengelolaan mangrove perlu diperhatikan dan masuk dalam kebijakan adaptasi perubahan iklim dan upaya pengurangan risiko bencana untuk daerah pesisir di seluruh dunia.

Populasi penduduk di daerah pesisir sangat rentan terhadap dampak dari peristiwa ekstrim seperti badai dan angin topan. Lahan basah pesisir seperti hutan mangrove sangat berkontribusi pada keamanan, ketahanan pangan dan pendapatan puluhan juta orang di seluruh daerah tropis, termasuk di Indonesia. Laporan terbaru dari oleh LSM Internasional The Nature Conservancy (TNC) dan Wetlands International (WI) menyatukan penelitian ilmiah terbaru dari para ahli konstruksi dan ekologi mengenai perlindungan pantai terhadap gelombang angin. Laporan ini menyimpulkan bahwa “mangrove dengan ketebalam minimual 100 meter dapat mengurangi ketinggian gelombang angin: tinggi gelombang dapat berkurang antara 13 sampai 66%”.

Penulis Anna McIvor (TNC): “Gelombang paling cepat berkurang ketika mereka melewati hambatan dengan kepadatan yang lebih besar. Ini berarti bahwa mangrove dengan akar napas meredam gelombang di perairan dangkal lebih cepat daripada mangrove yang tidak memiliki akar napas”. Dia menambahkan bahwa “pada kedalaman air yang lebih besar, gelombang dapat melewati akar napas, tapi kemudian cabang-cabang yang lebih rendah memiliki fungsi yang sama.” Laporan ini menguraikan bahwa kemiringan pantai dan ketinggian gelombang juga mempengaruhi tingkat pengurangan gelombang oleh mangrove.

Walaupun sabuk mangrove yang sempit masih dapat mengurangi pengaruh gelombang angin, namun untuk perlindungan terhadap gelombang badai dibutuhkan area mangrove yang lebih besar. Selain itu, hutan mangrove menyediakan banyak servis ekosistem penting lainnya, seperti kayu, sumber pangan, daerah perlindungan untuk perikanan dan penyerapan karbon, sehingga habitat mangrove yang luas harus dipertahankan atau dipulihkan dilokasi yang masih memungkinkan.

Wetlands International telah memiliki lebih dari satu dekade pengalaman dalam melindungi dan memulihkan hutan mangrove di Indonesia. Direktur Wetlands International Indonesia Program Nyoman Suryadiputra telah melihat langsung kesimpulan dari laporan ini: ” desa-desa pesisir di Aceh dan Jawa Tengah sekarang mendapatkan perlindungan yang lebih besar karena mangrove yang kita restorasi bersama”.

Mangrove untuk perlindungan pesisir

Untuk memperkuat peran hutan mangrove untuk perlindungan di pesisir, hutan mangrove harus dikelola dengan tepat. Laporan ini menunjukan bahwa ahli konstruksi pesisir sudah mulai melakukan pemodelan bagaimana gelombang mengalir melalui mangrove untuk memahami tingkat perlindungan yang diberikan dan bagaimana untuk meningkatkan peran tersebut. Pengelolaan yang tepat meliputi perlindungan kawasan mangrove yang masih alami, dan restorasi atau penanaman mangrove di daerah terdegradasi atau rusak, di mana kondisi setempat telah terbukti dapat mendukung pembentukan bibit mangrove baru. Laporan ini lebih lanjut menunjukkan bahwa hutan mangrove yang lebat, termasuk spesies dengan akar napas dapat memberikan tingkat perlindungan tertinggi terhadap gelombang angin.

Wetlands International Indonesia Program saat ini bekerja di provinsi Nusa Tenggara dan Jawa untuk mengembangkan daerah buffer hijau mangrove untuk melindungi wilayah pesisir.Bersama masyarakat setempat saat ini telah lebih dari setengah juta pohon mangrove ditaman. “Mangrove adalah cara terbaik dan termurah untuk melindungi wilayah pesisir. Kita perlu melindungi dan memulihkan infrastruktur alami seperti ini di seluruh Indonesia” himbau Nyoman Suryadiputra.

Penelitian lebih lanjut

Dengan adanya bukti bahwa mangrove dapat meredam gelombang angin, Anna McIvor mengatakan masih ada kebutuhan mendesak untuk lebih memahami peran ekosistem dalam perlindungan pesisir seperti terhadap tsunami, kenaikan muka laut dan erosi. Dengan laporan teknis pertama ini, The Nature Conservancy dan Wetlands International akan meluncurkan serangkaian makalah teknis yang akan membahas topik-topik tersebut.

Contact:

Vera Coelho

Communications and Advocacy Officer

Vera.coelho@wetlands.orgFemke Tonneijck

Mangrove Capital Project Manager

Femke.tonneijck@wetlands.orgTel.

+31 318 660910NOTES:

Report details:

McIvor, A.L., Möller, I., Spencer, T. and Spalding. M. (2012) Reduction of wind and swell waves by mangroves. Natural Coastal Protection Series: Report 1. Cambridge Coastal Research Unit Working Paper 40. Published by The Nature Conservancy and Wetlands International. 27 pages. ISSN 2050-7941.

URL:

http://www.naturalcoastalprotection.org/documents/reduction-of-wind-and-swell-waves-by-mangrovesMangrove work by Wetlands InternationaI:

http://www.wetlands.org/Whatwedo/Mangrovesforcoastalresilience/tabid/174/Default.aspxMangrove work by TNC:

http://coastalresilience.org/Ringkasan Eksekutif

Populasi penduduk di daerah pesisir sangat rentan terhadap dampak dari peristiwa ekstrim seperti badai dan angin topan, dan tekanan-tekanan tersebut dapat diperburuk oleh pengaruh perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut. Ekosistem pesisir seperti hutan mangrove semakin sering dipromosikan dan digunakan sebagai alat dalam strategi pertahanan pesisir. Namun, masih ada kebutuhan mendesak untuk lebih memahami bagaimana peran ekosistem dalam perlindungan pantai. Laporan ini berfokus pada hutan mangrove dan peran mereka dalam mengurangi dampak angin dan gelombang. Hutan mangrove biasanya ditemukan di pantai dengan energi gelombang yang kecil, tetapi mangrove terkadang terkena gelombang besar pada waktu badai, topan dan periode angin kencang. Gelombang besar dapat menyebabkan banjir dan kerusakan infrastruktur pesisir. Dengan mengurangi energi dan tinggi gelombang, mangrove berpotensi berpotensi dapat mengurangi kerusakan akibat gelombang tersebut.

Semua bukti menunjukkan bahwa mangrove dapat mengurangi ketinggian gelombang: tinggi gelombang dapat dikurangi antara 13 sampai 66% dengan ketebalan mangrove 100 m. Tingkat pengurangan tertinggi tinggi gelombang per satuan jarak terjadi dekat tepi mangrove, dimana gelombang memulai perjalanannya melalui mangrove.

Terdapat sejumlah karakteristik mangrove yang mempengaruhi laju pengurangan tinggi gelombang persatuan jarak, terutama struktur fisik dari pohon. Gelombang semakin cepat berkurang ketika melewati kepadatan hambatan yang lebih besar . Bakau dengan akar napas akan menipiskan gelombang di perairan dangkal lebih cepat daripada mangrove yang tidak memiliki akar napas. Pada kedalaman air yang lebih besar, gelombang dapat melewati di atas akar udara, tetapi cabang-cabang yang rendah dapat berfungsi yang sama dengan akar napas. Kemiringan pantai dan ketinggian gelombang juga mempengaruhi tingkat pengurangan gelombang melalui mangrove.

Untuk memahami tingkat perlindungan yang diberikan oleh hutan mangrove, dan untuk merencanakan bagaimana untuk meningkatkan tingkat perlindungan tersebut, perjalanan gelombang melalui mangrove telah dimodelkan secara numerik menggunakan pemodelan gelombang standar yang digunakan oleh para insinyur pesisir disebut SWAN (Simulasi WAvesNearshore) (Suzuki et al., 2011), serta model yang dikembangkan khusus untuk gelombang di hutan bakau disebut WAPROMAN (WAvePROpagation di Hutan Mangrove) (Vo-Luong dan Massel, 2008). Model ini dapat memprediksi tingkat atenuasi gelombang dengan memasukan karakteristik mangrove, parameter gelombang dan informasi batimetri lokal dan topografi. Sebuah model statistik juga telah dikembangkan untuk mengeksplorasi hubungan antara beberapa standar pengukuran hutan (tinggi pohon, kerapatan pohon dan penutupan kanopi) dan atenuasi gelombang dengan jarak (Bao, 2011). Model ini telah mampu memprediksi pengurangan gelombang dalam mangrove di Vietnam di mana model ini dikembangkan, dan dapat digunakan untuk menentukan lebar sabuk mangrove yang diperlukan untuk memberikan tingkat standar perlindungan dari gelombang.

Walaupun, ada konfirmasi umum bahwa mangrove dapat meredam gelombang, namun penelitian telah difokuskan pada gelombang kecil (tinggi gelombang <70 cm), dan ada kebutuhan untuk mengukur redaman angin dan gelombang lebih besar terkait dengan kedalaman air yang lebih besar, yang mungkin terjadi selama badai. Lebih banyak dataset juga dibutuhkan untuk menguji validitas model yang ada untuk kondisi gelombang yang berbeda dan di daerah dengan berbagai jenis hutan mangrove dan topografi yang berbeda.

13
Sep
12

Lingkungan : Save The Forest, Save The Earth

Save The Forest, Save The Earth

Melalui lembaran sederhana ini, kami mengundang kawan-kawan Jatamers, dalam aksi ” Selamatkan Hutan, Selamatkan Bumi” dari ancaman Kapitalis ekstraktif. Dilaksanakan hari Rabu tanggal 12 September 2012. Star kantor Jatam Sulteng, sasaran Kantor Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah.

Pernyataan Sikap

Pengalihfungsian sektor kehutanan ke sektor pertambangan akhir-akhir ini semakin marak terjadi. Di Kabupaten Tolitoli, terdapat 23 Izin Usaha Pertambangan (IUP) masuk dalam kawasan hutan. Seperti yang dikatakan oleh Kepala Dinas Pertambangan Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Tolitoli, Budhi Kathiandgo, bahwa sebagian lokasi pertambangan di 23 areal izin pertambangan Kabupaten Tolitoli yang siap dikelola oleh para investor tambang ternyata masuk dalam kawasan hutan.

Pihaknya sudah mengajukan permohonan alih fungsi hutan ke Kementrian Kehutanan. Namun celakanya, Dinas Kehutanan Kabupaten Tolitoli, tidak mengetahui luas lahan Izin Pertambangan yang masuk di kawasan hutan tersebut (Media Alkhairaat 4/9).

Hal ini sangat rancu tentunya, pemerintah Daerah Kabupaten Tolitoli berani mengeluarkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) di areal hutan, namun belum memiliki Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH). Bahkan masih dalam tahap pengajuan izin ke Kemenhut. Padahal dalam kawasan hutan yang tidak memiliki izin pengalihfungsian hutan dari menteri Kehutanan, adalah tindakan pelanggaran hukum sebagaimana diatur dalan UU No. 41 Tahun 1999 Jo Tentang Kehutanan. Dalam hal ini, harus ada tindakan tegas dalam penegakan hukum berupa pemberian sanksi hukum terhadap pihak yang terlibat dalam upaya-upaya pengalihfungsian kawasan hutan tanpa melalui prosedur yang benar.

Sesuai dengan Pasal 134 ayat (2) UU No. 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara, kegiatan usaha pertambangan tidak dapat dilaksanakan pada tempat yang dilarang untuk melakukan kegiatan usaha pertambangan sebelum memperoleh izin dari instansi Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Lebih tegas, Pasal 50 ayat (3) huruf g jo. Pasal 38 ayat (3) UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, mengatur bahwa setiap orang dilarang melakukan kegiatan penyelidikan umum atau eksplorasi atau eksploitasi bahan tambang di dalam kawasan hutan, tanpa melalui pemberian Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) yang diterbitkan oleh Menteri Kehutanan dengan mempertimbangkan batasan luas dan jangka waktu tertentu serta kelestarian lingkungan.

Perusahaan tersebut antara lain adalah PT. Indonesia Eka Risti Alfa, PT. Tunas Kasih, PT Andhika Bhakti, PT. Inti Cemerlang, PT. Promistis, PT. Sumber Mas, dan PT. Era Moreco. Beberapa perusahaan tambang tersebut, adalah anak perusahaan dari PT Sulawesi Molybdenum Managemen, yang akan mengeruk habis Molybdenum, tembaga dan lain sebagainya di wilayah Kecamatan Dondo Kabupaten Tolitoli. Total penggunahan lahan areal konsesi seluruh IUP tersebut seluas 39.005 Hektar. Sebagian besar izin tersebut berada dalam wilayah Cagar Alam Tinombala yang ditetapkan dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 339/Kpts-II/1999 tanggal 24 Mei 1999 dengan luas 37.106,12 ha.

Sementara itu, kawasan hutan di Kecamatan Dondo mencakup; Hutan Lindung 15.888,0 Ha, Hutan Produksi 23.833,00 Ha, Hutan Konservasi 4.158,00 ha, Hutan Rakyat 1.208,0 Ha, Hutan Suaka 2.215,00 Ha. Sementara itu dalam wilayah konsesi perusahaan terdapat Cagar Alam Tinombala yang ditetapkan dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 339/Kpts-II/1999 tanggal 24 Mei 1999 dengan luas 37.106,12 ha.

Hal demikian adalah sebagai bentuk resiko industri ekstraktif meningkat menjadi ancaman dan mara bahaya terhadap syarat kebelanjutan manusia dan alam sekitarnya. Sebab lokasi IUP perusahaan tambang tersebut yang saat ini proses destruktif-nya sedang dipimpin oleh Sulawesi Molybdenum Management (SMM) memiliki impact aktivitas ekstraktif yang akan meniadakan syarat objektif kehidupan masyarakat setempat. Kepentingan banyak spesies selain manusia, sebagai daerah resapan air atau watercatcment area. Air itu mengalir sebagai deposito pokok bagi kebutuhan kehidupan seluruh rakyat di Kecamatan Dondo. Haruskah kita korbankan semua itu hanya bagi satu “spesies pemusnah” bernama Kapitalis? (Jatam Sulteng 2012).

Maka dari itu kami Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Sulteng, menyatakan sikap sebagai berikut:

Mendesak Dinas Kehutanan Provinsi Sulteng dan Dinas Kehutanan Kabupaten Tolitoli untuk memeriksa dugaan pelanggaran hukum tersebut;

Tolak aktifitas Ekplorasi maupun Eksploitasi Perusahaan Tambang di Kecamatan Dondo, Toli-Toli;

Pemerintah harus segera mencabut Izin Usaha Pertambangan (IUP) perusahaan tambang di Kecamatan Dondo Kabupaten Tolitoli.

Palu, 11, September 2012

Koordinator Aksi
Alkiyat J Dariseh

11
Apr
12

IndoGreenWay : Berdamai dengan Banjir

Kolom

Berdamai dg Banjir

Adjie Pamungkas – detikNews

Senin, 09/04/2012 17:10 WIB

Berdamai dengan Banjir Ala Tai Chi Master

Jakarta Musim hujan datang, banjir pun menghadang para warga kota. Acara tahunan bagi para wartawan peliput berita. Kenduri tahunan bagi sebagian para politisi penebar pesona. Dosa tahunan bagi pengelola kota yang sibuk menyalahkan curah hujan, sungai meluap dan permukaan air laut naik.Curah hujan, air sungai dan air laut itu sudah ada sejak bumi ini terbentuk, bermetamorfosa dan akan terus berevolusi. Proses alam ini dimulai jauh sebelum warga Betawi menempati Jakarta, jauh sebelum pembangunan pamurbaya (pantai timur Surabaya) dan jauh sebelum orang Indonesia pertama menggunduli hutan-hutan pantai selatan Jawa. Dengan kemajuan ilmu, semua itu sudah jelas ukurannya, jelas siklusnya dan jelas penambahan setiap tahun akibat perubahan iklim global.Tapi, kenapa setiap ada kelebihan curah hujan, kelebihan air di sungai dan kelebihan air di laut sekitar manusia selalu heboh, merasa tersakiti dan merasa dizalimi oleh alam? Manusia pun dengan congkak mengatakan ini pembawa bencana, harus dienyahkan! Kecongkakan ini pun diejawantahkan dalam bentuk-bentuk rekayasa alam seperti reklamasi, normalisasi, biopori dan lain sebagainya. Kecongkakan ini pun telah menjadi budaya atas nama industrialisasi dan modernisasi. Manusia pun menabuh genderang perang sesombong-sombongnya lagu pengurangan bencana sebagai akibat kecongkakan mereka sendiri.

Kawan, bertobatlah. Bertobatlah pada Penguasa dan Pencipta curah hujan, air sungai dan air laut. Dia pencipta yang maha sempurna. Tentu, tidak mungkin menciptakan barang setengah jadi atau BS (below standard). Dia menciptakan semuanya berpasangan. Dia menciptakan semuanya pada keseimbangan dan keharmonisan. Keseimbangan dan keharmonisan juga lah yang menjadi prinsip dasar Tai Chi dalam mengalahkan lawan petarung secara mematikan.

Prinsip keseimbangan dan keharmonisan itu menjadi kerangka pikir dalam Tai Chi. Prinsip itu kemudian menjadi sumber inspirasi tarian-tarian mematikan lawan. Dia lentur tapi keras, dia menghindar tapi juga menyerang. Kerangka fikir inilah yang seharusnya mulai diubah pada masyarakat kita terhadap bencana. Tren bencana di dunia yang dilansir oleh EMDAT pun sudah menunjukkan bahwa dunia semakin akan sering dikunjungi oleh bencana-lebih sering dan lebih tinggi skalanya. Tidak mungkin dikurangi sehingga pengurangan bencana menjadi bagian dari mission impossible.

Oleh karenanya, mulailah berpikir bahwa ketika ada bencana atau tidak ada bencana, kehidupan kita harusnya tidak banyak terganggu. Artinya, kita harus hidup harmoni dengan banjir dan kita harus menyeimbangkan kemampuan kita menanggung beban bencana dengan membagi resiko. Jika tidak bisa, lebih baik kita tinggalkan tanah yang sudah dikunjungi banjir ratusan tahun sebelumnya secara periodik, yaitu: daerah-daerah hilir ataupun tanah-tanah alluvial sebagai hasil proses sedimentasi jangka panjang.

Layaknya Tai Chi, perubahan satu komponen akan mempengaruhi keseimbangan komponen lainnya. Ketika Sang Pencipta sudah menciptakan hutan sebagai penampung sementara air hujan. Janganlah kita kurangi daya tampungnya dengan alasan pembangunan. Sejak SD selalu diajarkan untuk tidak menggunduli hutan, tapi apa lacur, negeri ini terlalu banyak teori yang tidak berevolusi menjadi praksis. Stop penggundulan hutan! Saatnya reboisasi! Hukum maksimal para pe-illegal logging! Gugatlah para aparat yang senang membuat aktivitas berlebih di tengah hutan! Di sisi lain, makmurkan kabupaten di hulu sungai, berilah mereka kompensasi atas keterbatasan lahan mereka. Daripada uang dihabiskan untuk biaya pengerukan sungai, apakah tidak lebih baik untuk menjaga agar tidak ada erosi berlebihan di hulu?

Seorang Tai Chi master mengalahkan lawan dengan mengalirkan energinya, bukan dengan mematahkan energi lawan. Begitu juga dengan air, ia pasti mengalir dari atas ke bawah melalui sungai. Berilah ruang kepada sungai untuk bereskpresi. Ekspresi sungai itu berwujud pada pindah-pindahnya aliran sungai, berkelok-keloknya wujud sungai dan kadang-kadang meluapkan airnya. Pemberian ruang itu artinya mengalirkan energi air itu sendiri. Pengekangan kebebasan berekspresi akan menimbulkan dampak fatal karena energi air akan mengumpul dan tiba-tiba dilepaskan.

Ini bukan sikap genit dari sungai tapi semua materi hasil ciptaan-Nya memerlukan ruang ekspresi termasuk manusia sendiri. Bangsa ini sudah mengerti bagaimana rasa dikekang kebebasannya selama 32 tahun lamanya dan direbut hak-haknya selama 3,5 abad lamanya. Jadi tidak logis jika kita mendukung pengekangan ekspresi sungai dan air. Tidak logis, jika kita mendukung sempadan diduduki. Tidak masuk akal, jika kita membiarkan sungai semakin mengecil bahkan buntu. Tidak sopan, jika kita membiarkan penyumbatan sungai dengan sampah. Dan tidak manusiawi, jika kita mengekang sungai dengan menentukan kemana sungai tersebut harus mengalir. Dengan pengekangan itu, sama saja mendorong kita untuk terus maju menuju pintu kematian kita sendiri.

Kawan, kita sekarang berada di perahu yang sama bernama daerah aliran sungai. Melubangi perahu hanya untuk mendapatkan air layaknya kawan kita yang terus menebangi pepohanan di kawasan hulu atas nama pembangunan. Janganlah begitu, bekerja samalah wahai orang gunung dengan anak pantai, aturlah mekanisme disinsentif-insentif atas pengorbanan orang gunung di hulu. Dan, berdamailah dengan banjir.

*) Adjie Pamungkas adalah dosen perencanaan wilayah dan kota dari ITS, kandidat doktor dari RMIT, Australia. Email: adjieku@gmail.com

(vit/vit)

Baca Juga

47 Resep IndoGreenWay

www.hdindonesia.com/gabung.asp?id=indogreenway


REFERENSI DARI KITAB-KITAB SUCI

TENTANG PRODUK PERLEBAHAN

AL-QUR’AN

Q.S An-Nahl ayat 68-69

(68) Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah “Buatlah sarang2 di bukit2, di pohon2 kayu, dan di tempat yang dibikin manusia”

(69) Kemudian makanlah dari tiap2 (macam) buah2an dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (MADU) yang ber-macam2 warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar2 terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang2 yang memikirkannya.

TRI PITAKA

Dalam ajaran agama Buddha ada 5 jenis obat yang bisa dikonsumsi oleh para bhikkhu setelah makan siang, salah satunya adalah MADU.

VINAYA PITAKA, Mahavagga VI.208 15-10

Beberapa jenis obat yang dipakai oleh bhikku yang sakit adalah…MADU

Dalam Artharvaveda XII.3.44

MADU dicampur dengan mentega yang dijernihkan (disajikan kepada tamu menyehatkan)

Dalam Artharvaveda II.3.1

Minumlah ghee (mentega yang dimurnikan), MADU dan susu baik untuk kesehatan.

ALKITAB

Dalam Amsal 16 : 24

Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang MADU, manis bagi hati dan obat bagi tulang2.

Dalam Amsal 24 : 13

Anakku, makanlah MADU, sebab itu baik dan tetesan MADU manis untuk langit2 mulutmu.

AYURVEDA

Ayurveda atau “ilmu tentang kehidupan” yang berakar dari budaya India yang menggabungkan konsep alami dan herbal untuk penyembuhan penyakit dan telah dipraktekkan 4000 tahun Sebelum Masehi.

Ayurveda mempunyai bagian penting yaitu Rasayana yang secara sederhana berarti sesuatu yang mengembalikan orang ke keadaan muda secara fisik dan mental.

Di berbagai ramuan Rasayana yang 100% terdiri dari bahan alami, MADU merupakan komponen yang penting. Disebutkan bahwa Rasayana disiapkan dengan MADU dan ghee (mentega yang dimurnikan) karena potensi dan preservasi herbal secara permanen terikat pada MADU dan ghee.

http://citizennews.suaramerdeka.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1528

Meniru Lebah

Ditulis Oleh Aminuddin bin Halimi
22-01-2012,
Terkadang orang beragama Islam tetapi tidak tahu apa itu Islam. Dan tidak pernah menanyakan dirinya “Aku ini Islam kebetulan (beneran) atau sungguh-sungguh”. Lalu, Islam yang sungguh-sungguh itu seperti apa? Apa hanya menjalani hidup ini seperti apa adanya, bak air mengalir? Padahal ia diberi kebebasan memilih dan diberi akal lagi, yang maha dahsyat.Jika ia mau berpikir lebih jauh, ia tidak mau kalah kedudukannya dari binatang, apalagi lebih rendah posisinya dari hewan yang tidak berakal. Sungguh amat tidak pantas. Padahal ada binatang yang baik yang dapat dijadikan contoh oleh manusia, yaitu lebah. Lebah, karena kebaikannya, diabadikan di dalam Alqur’an sebagai salah satu nama surat, yaitu surat “An-Nahl”.

Lebah tidak mau makan kecuali memakan makanan yang baik-baik, yaitu sari-sari bunga yang harum dari tumbuh-tumbuhan yang berserakan di muka bumi. Orang-orang yang ingin selamat, sehat, bahagia dan berumur panjang, dalam hal ini umat Islam, tentu tidak mau mengkonsumsi kecuali makanan yang halal, bergizi dan baik.

Persoalan makanan yang amat vital bagi kesehatan tubuh, sudah tidak menjadi perhatian bagi berbagai kalangan.  Kalangan anak-anak lebih menyukai makanan instan, mie instan, pop mie, chikky, makanan ringan produk pabrik yang dikemas indah-indah dan menarik. Sementara tidak menyukai sayuran dan buah-buahan.

Kalangan pemuda dan remaja lebih menyukai makanan produk luar, agar kelihatan keren, di KFC, CFC, Donking Donut, Make Donald, atau mie ayam, bakso yang mangkal di pinggir-pinggir jalan yang kebersihannya belum tentu terjamin. Demikian pula aspek halal dan haram masih perlu diteliti. Ada isu bahwa bakso dicampur dengan formalin, atau daging babi, atau daging tikus.

Di kalangan orang-orang tua yang sudah mulai rentan dengan berbagai penyakit, semestinya mereka harus lebih berhati-hati, tetapi tidak jarang mereka memilih makanan yang enak-enak, kepiting, swike, seafoods, sate kambing, merokok, minum kopi, minum minuman keras, yang jelas-jelas membahayakan kesehatan mereka.

Lebah beterbangan menjelajahi alam tumbuh-tunbuhan dan hutan belantara dengan ketajaman mata, telinga dan hidung. Ia memilih singgah di tempat-indah dan harum bersama kupu-kupu dan kumbang. Dengan kebebasannya, seharusnya orang Islam memilih tempat tinggal yang baik, lingkungan orang-orang baik, lingkungan bersih, indah dan harum. Mencari rizki di tempat-tempat yang baik, melalui etika yang baik, bukan di lokasi yang remang-remang, kotor, apalagi gelap. Belajar dan mendidik anaknya juga di sekolah-sekolah yang Islami dan favorit. Berolahraga di tempat-tempat yang bersih dari maksiat.

Demikian pula berlibur dan bergaul, selektif mencari tempat wisata yang steril dari kemaksiatan. Tidak boleh keliru dalam memilih teman atau kawan, apalagi teman hidup (jodoh) untuk sepanjang hayat. Sebab tidak sedikit orang kaya jatuh miskin dan orang mulia jatuh hina karena bergaul dengan orang-orang buruk, orang-orang jahat yang senantiasa mencari mangsa.

Ketika lebah singgah di cabang atau ranting pohon, ia tidak sampai sempal atau putus cabang dan ranting pohon itu. Orang Islam, ketika mengunjungi suatu tempat yang gersang atau yang ramai, ia tidak  membuat onar  dan resah tempat yang dikunjunginya. Justru sebaliknya memberi kesejukan, kenyamanan dan kemanfaatan kepada sebesar-besar umat sesuai missi Islam “Rahmatan lil Alamin”.

Lebah melalui madu yang dihasilkannya, menyimpan makanan untuk persiapan hari esok bagi kawan-kawan atau komunitas lebah, di samping untuk pengobatan makhluk lain bernama manusia. Orang Islam kalau tidak mau kalah dengan lebah harus beramal jariyah untuk kemanfaatan generasi yang lebih luas. Misalnya : menanam pohon jati untuk keturunan yang akan datang, menanam investasi untuk kegiatan-kegiatan ibadah atau jihad di jalan Allah, menyediakan lahan luas untuk pembangunan pondok pesantren, pendidikan bermutu, dll. Artinya, umat Islam itu harus visioner, memiliki visi ke depan yang jelas dan panjang, untuk kemajuan bangsa dan umat manusia di masa yang akan datang.

Alquran menyatakan bahwa lebah beterbangan menjelajahi flora dan fauna dengan penuh kerendahan. Meskipun lebah mempunyai senjata ampuh berupa sengatan yang luar biasa. Lebah tidak lantas semena-mena menyengat semua makhluk yang dijumpainya. Ia tidak sombong, tidak dumeh. Tidak seperti manusia, pandai silat sedikit, sudah suka mengajak bertarung dan bertengkar, membuat geng-geng, lalu tawuran. Alangkah indah dan nikmatnya hidup ini, manakala manusia dengan sesama manusia berkawan, bergaul, bekerja sama, saling membantu dengan penuh kerendahan, saling menghargai dan saling menghormati.

Komunitas lebah sebagai sebuah organisasi besar amat mengagumkan dan sangat menakjubkan, belum pernah mendengar lebah bertengkar dengan lebah. Lebah mengadakan demontrasi menuntuk hak sama tentang madu. Pembagian tugas yang begitu rapi, tidak pernah dilanggar atau berebutan. Ada yang bertugas menjadi tentara, sebagai benteng pengamanan. Ada yang bertugas mencari makanan, ada yang bertugas membuat rumah dan ada yang bertugas melanjutkan keturunan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ternyata lebah lebih cerdik daripada manusia.

www.hdindonesia.com/gabung.asp?id=indogreenway


Opini 19 Pakar HD

Persembahan Bagi Kesehatan Masyarakat

Profil 19 Produk IndoGreenWay




Blog Stats

  • 1,674,181 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ki Joko Deleg on Keuangan : Green Hilton Memori…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 68 other followers