Posts Tagged ‘Education

11
Jan
13

Pendidikan : Anak Cuek dan Egosentris ?

Updated: Fri, 11 Jan 2013 08:44:28 GMT

Anak Sekarang Lebih Cuek dan Egosentris. Mengapa?



Anak Sekarang Lebih Cuek dan Egosentris. Mengapa?

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Saat ini, banyak orang tua banyak mengeluhkan anak sekarang lebih cuek, cenderung egosentris, emosional, dan kurang hormat pada orang tua. Anak-anak sekarang juga enggan mengenali budaya sendiri, apalagi bahasa daerah.

Menurut Psikolog Klinis Anak Dr Indria Laksmi Gamayanti, MSi hal ini terjadi karena model pendidikan saat ini berorientasi Barat atau mengikuti trend internasional. Di samping itu, dia menambahkan, dengan model pendidikan yang ada sekarang, orang tua juga sering mengeluhkan dampak negatifnya , misalnya kurikulum terlalu padat dan berat.

Tidak jarang, orang tua ikut sibuk ketika anak ujian atau ada tugas sekolah. Beratnya beban pendidikan yang harus dihadapi, juga membuat anak kelelahan baik secara fisik maupun psikis.

Karena itu, Indria yang juga Ketua Ikatan Psikologi Klinis ini mengatakan, mempersiapkan masa depan bangsa Indonesia sebenarnya bisa dimulai dari bahasa. Jangan ajarkan bahasa asing sejak dini pada anak.

Menurutnya, bahasa bukanlah sekedar alat berkomunikasi. “Bahasa yang diajarkan sejak dini akan ikut membentuk karakter anak seperti pola pikir, pola rasa pola perilaku dari seorang anak,”ungkap Dosen Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UGM ini.

sebetulnya, kata dia, tidak terlalu sulit mengembalikan lagi pelajaran bahasa daerah sesuai dengan wilayah geografisnya. Selain itu bahasa Indonesia yang diajarkan harus digunakan secara aktif mulai dari tingkat TK sampai dengan SD.

“Suku lain yang bertempat tinggal di wilayah tersebut, harus menghormati dan ikut mempelajari dan bahkan menguasai bahasa daerah setempat. Jangan mengajarkan bahasa asing apapun di tingkat TK dan SD,” ujarnya.

23
Dec
11

Pendidikan : Kontribusi Sistem Pendidikan Terhadap Perilaku Koruptif

Kolom

Perilaku Koruptif

Joni Ariansyah – detikNews

Jumat, 23/12/2011 09:00 WIB

 Kontribusi Sistem Pendidikan Terhadap Perilaku Koruptif
Jakarta - Sungguh terkejut mendengar berita baru-baru ini yang mengatakan bahwa 50 persen PNS telah melakukan tindakan korupsi. Kabar tersebut terkait dengan temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang dilaporkan oleh wakil ketua PPATK Agus Santoso di sela-sela seminar Nasional di Jakarta mengenai tindak pidana pencucian uang.Dia mengatakan bahwa sebanyak 50 persen PNS muda melakukan pencucian uang dengan memasukkan uang negara ke dalam rekening pribadi, bahkan terdapat 10 PNS muda golongan IIIB yang berusia 28 tahun-an yang memiliki rekening miliaran rupiah. Setiap menjelang akhir tahun, secara bersama-sama PNS di Indonesia baik dari pusat maupun daerah terutama bendahara proyek mengirimkan sebagian uang negara ke rekening istri dan anaknya serta orang tuanya. Sungguh sangat menyedihkan melihat fenomena ini.Dengan dalih bahwa langkah tersebut dilakukan sebagai pengamanan uang negara dikarenakan akan tutup buku, sedangkan proyek belum selesai dilakukan, tetap saja hal te rsebut tidak dibenarkan. Bahkan praktik semacam ini merupakan tindakan korupsi. Pelaku bisa dijerat dengan pasal tentang tindak pidana pencucian uang (TPPU). Ironisnya, mengapa kasus ini lambat ditindaklanjuti, padahal beberapa temuan sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu.Menteri keuangan menjelaskan bahwa temuan PPATK tersebut diindikasikan berasal dari PNS muda yang berasal dari daerah dikarenakan tidak memiliki sistem administrasi keuangan yang baik, sedangkan untuk yang di pusat sudah dilakukan minimalisasi, bahkan sudah 7 triliun uang negara diselamatkan dari 6.000 rekening tidak jelas yang terdapat di pusat. Lalu mengapa hal tersebut tidak diproses secara hukum, bahkan baru dikatakan jika ada temuan rekening yang tidak jelas kembali barulah akan diproses secara hukum, sungguh memperlihatkan tidak adanya sanksi bagi pemilik-pemilik rekening tersebut.Satu hal yang semakin menyakitkan hati rakyat adalah bahwa keluarga dalam hal ini adalah istri dan anak pelaku turut andil dalam praktik ini. Di mana fungsi seorang istri dan anak yang bisa mengingatkan dan mencegah kesalahan dari kepala keluarga tersebut. Dikatakan pula oleh Agus Santoso bahwa korupsi sampai saat ini menjadi laporan terbanyak dari kejahatan awal tindak pidana pencucian uang. Korupsi ini terjadi merata, dari barat sampai timur, utara sampai selatan. Betapa korupsi di negara kita sudah sangat mengerikan.Kesalahan Sistem Pendidikan KitaTentunya ada kesalahan-kesalahan yang menyebabkan hal ini terjadi. Sebagaimana teori sebab akibat ataupun terdapat dalam peribahasa ada asap ada api. Salah satu kesalahan yang menyebabkan perilaku korupsi di Indonesia saat ini ‘menggurita’ adalah sistem pendidikan yang ada di negara ini. Betapa banyak orang-orang yang berorientasi profit ketika menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Tentu hal tersebut tidak salah, namun hal tersebut menjadi salah ketika dijadikan tujuan utama. Akibatnya, seseorang yang telah menempuh pendidikan tinggi tidak ubahnya seperti orang yang ‘balas dendam’ disebabkan karena uang yang sudah dikeluarkan semasa ia menempuh proses pendidikan. Padahal sebenarnya keuntungan finansial tersebut merupakan turunan atau efek dari apa yang ia dapatkan yaitu ilmu.

Harus diakui bahwa fenomena ini terjadi karena haluan pendidikan kita yang cenderung kapitalis. Bagaimana mahasiswa-mahasiswa kita dijejali dengan teori-teori ekonomi kapitalis yang mengajarkan untuk me ncari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya. Sehingga jangan heran dengan indikasi kasus korupsi PNS di atas.

Manusia akan mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang dengan cepat tanpa harus berkorban banyak, akibatnya korupsi dilakukan. Ilmu ekonomi yang diajarkan saat ini seakan kembali mengulang kesalahan Ricardian atau yang lebih dikenal dengan kejahatan Ricardian. Pada saat itu, sebagian ekonom menganggap bahwa pengembangan model-model matematik dalam ilmu ekonomi yang dikembangan David Ricardo (1772-1823) sebagai metodologi abstrak atau ekonomi papan tulis. Metodologi berdasarkan penalaran deduktif yang sangat matematis tanpa mengacu pada sejarah, sosiologi dan filsafat.

Ironisnya, sebenarnya hal ini sudah disadari oleh guru-guru kita. Sudah banyak disadari oleh profesor-profesor ekonomi dari berbagai universitas di negara kita. Tetapi kesadaran hanyalah kesadaran. Usaha untuk mengarahkan mahasiswanya agar menyadari hal tersebut bisa dikatakan sangat minim, bahkan tidak sama sekali. Hal tersebut mungkin dikarenakan lebih kepada sikap tidak mau ambil pusing, padahal guru-guru kita tersebut sebenarnya mampu.

Maka di sinilah peran dari para pendidik untuk dapat mengarahkan para didikannya untuk dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang harus diambil dan mana yang harus dibuang. Sehingga proses pencerdasan generasi bangsa yang akan menjadi calon-calon pemimpin dapat mengimplementasikan ilmunya demi kemajuan rakyat, bukan sebaliknya mengeruk harta dengan membabi buta demi kepentingan pribadi dan golongan.

Selain sistem pendidikan ekonomi di atas yang berperan dalam terjadinya tindakan korupsi, maka kesalahan sistem pendidikan agama yang terjadi di negara ini juga memiliki peran besar. Waktu untuk mata pelajaran agama yang diberikan di sekolah-sekolah di negara ini amatlah minim, hanya dua jam dari total mata pelajaran yang ada. Anak-anak kita dijejali dengan pelajaran-pelajaran umum tanpa menyeimbangkan dengan pelajaran agama yang semestinya dapat ‘meredam’ kejadian-kejadian yang mungkin salah pada pelajaran lain. Sehingga hal tersebut memungkinkan terjadinya sekulerisasi, yaitu memisahkan antara Tuhan dan dunia.

Orang mudah melakukan tindakan korupsi akibat dari pemisahan antara Tuhan dan dunia tersebut. Ia merasa tidak bersalah dan merasa tidak akan ada pertanggungjawaban kepada siapa pun mengenai tindakannya tersebut. Di sini kita dapat melihat bahwa tidak adanya pengingatan-pengingatan oleh pendidik kita melalui mata pelajaran agama tentang kemungkinan-kemungkinan kesalahan yang ditemui ketika proses pembelajaran mata pelajaran lain. Walaupun sebenarnya hal tersebut dapat diintegrasikan dengan baik, antara pelajaran agama pelajaran umum lainnya, tapi tidak banyak yang melakukan ini.

Mengembalikan Titah Pendidikan di Indonesia

Setelah kita menyadari akan hal tersebut, maka yang harus kita lakukan sekarang adalah bersegeralah sebelum terlambat. Mari kita buang kesombongan atau kecongkakan dalam diri, sehingga kita dapat belajar dari orang-orang sederhana yang sebenarnya memiliki kebahagiaan yang luar biasa dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki kelebihan dari segi harta.

Untuk para pendidik di perguruan tinggi, marilah arahkan calon-calon pemimpin bangsa itu untuk memiliki integritas kepada bangsanya. Bahwa dalam kehidupan ini kebahagiaan tidak selalu diukur dari banyaknya harta, tetapi bagaimana ia melalui proses yang benar dalam mendapatkan harta tersebut.

Mari menanamkan keyakinan dalam diri bahwa orientasi ilmu yang bermanfaat dapat memberikan turunan-turunan yang setimpal, termasuk dalam harta kekayaan. Untuk para pendidik di sekolah-sekolah dasar, menegah dan umum, marilah menyeimbangkan proporsi pembelajaran seluruh mata pelajaran dengan pelajaran agama. Sehingga kita menyediakan bibit -bibit unggul dalam mencetak calon-calon pemimpin bangsa ke depan.

*) Joni Ariansyah adalah dosen Stiper Kutai Timur. Penulis saat ini sedang menempuh sekolah pasca sarjana Ekonomi Sumber Daya Lingkungan Institut Pertanian Bogor.

(vit/vit)

Audit Forensik BPK

Elvan Dany Sutrisno – detikNews

Jumat, 23/12/2011 17:52 WIB

 Anis Matta : KPK Perlu Telusuri Nama-nama Baru di Audit Forensik Century
Jakarta - Wakil Ketua DPR Anis Matta menilai KPK perlu menelusuri nama-nama baru yang muncul dalam audit forensik kasus Century. Timwas akan mengawasi proses hukum dalam kasus ini.”Sebenarnya kita tidak bisa melakukan penilaian puas atau tidak puas. Temuan-temuan ini bisa dijadikan bahan untuk KPK. Ada banyak disitu saya kira. Disamping 13 temuan itu, ada 2 informasi yang di bawah itu sudah bisa dipakai oleh KPK. Bisa ditindaklanjuti oleh KPK,” tutur Anis Matta.Hal ini disampaikan Anis usai menerima laporan audit forensik kasus Century di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (23/12/2011).Temuan yang menonjol, menurut Anis, menyangkut nama-nama baru yang disebut menerima aliran dana Century. “Temuan-temuan baru di dalam laporan ini tidak terlalu signifikan kecuali yang mengarah ke beberapa nama itu,”tuturnya.Pimpinan DPR selanjutnya akan menyerahkan audit BPK ke Timwas Century. Ada kemungkinan Timwas meminta audit lanjutan BPK.”Nanti akan diserahkan ke Timwas awal masa sidang ini. Teman-teman di timwas yang akan verifikasi. Dan baru mereka akan menentukan sikap apakah mereka akan meminta audit lanjutan atau tidak,”paparnya.

Anis mengatakan kekhawatiran mengenai adanya fakta-fakta yang dibonsai. Menurutnya apabila masih ada fakta yang masih bisa dikejar maka bisa dilakukan audit lanjutan.

“Kekhawatiran itu ada. Karena itu nanti dari hasil verifikasi terhadap kendala-kendala yang disebutkan BPK itu yang akan menentukan. Apa masih mungkin ada fakta-fakta yang bisa ditemukan, seandainya kita melakukan audit lanjutan,”tandasnya.

Hasil audit forensik Century oleh BPK semakin memperkuat adanya aliran-aliran dana Century yang tak wajar kepada beberapa orang. Selain politisi PDIP Emir Moeis, disebut juga nama Hartanto Edhie Wibowo, yang tak lain adalah adik kandung Ibu Ani Yudhoyono. Tapi, Hartanto membantah hal ini.

Hartanto saat ini menjadi anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat. Dalam dokumen audit forensik BPK dia disebut dengan inisial HEW. Selain nama HEW, juga disebut nama istrinya dengan inisial SKS. Penelusuran wartawan SKS adalah Satya Kumala Sari.

Dalam dokumen audit forensik yang beredar di kalangan wartawan, Jumat (23/12/2011) nama Hartanto disebut dalam temuan ke 12. Hasil audit BPK Menyebut Hartanto dan Satya Kumala Sari menjadi nasabah Bank Century sejak Januari 2007.

Disebutkan dalam dokumen itu, ada penyetoran tunai, melalui aplikasi pengiriman uang atas nama Satya yang dilakukan di Bank Century cabang Pondok Indah ke rekening Hartanto di BCA Cabang Times Square di Cibubur pada 25 Januari 2007 sebesar Rp 452 juta.

Penyetoran dengan metode yang sama juga dilakukan pada 30 Juli 2007 sebesar Rp 368 juta, serta BII Cabang Mangga Dua pada 22 November 2007 sebesar Rp 469 juta.

Namun, dalam dokumen itu dijelaskan pula, bantahan Hartanto dan Satya terkait transaksi itu. Kepada BPK, keduanya mengaku tidak pernah melakukan penukaran valas dan penyetoran pada tanggal-tanggal tersebut melalui siapa pun ke rekening Hartanto di BII dan BCA melalui Bank Century.

Meski demikian, BPK berkesimpulan transaksi Hartanto dan Satya Kumala Sari itu patut diduga tidak wajar. “BPK berkesimpulan, bahwa transaksi transfer dari sdr HEW dan sdri SKS di Bank Century ke rekening sdr HEW di BII dan BCA patut diduga tidak wajar. Karena AFR petugas Bank Century, menyatakan tidak pernah menerima fisik valas dari Sdr SKS dan Sdr HEW untuk ditukarkan ke rupiah. BPK belum menemukan sumber dana valas yang ditukarkan,” demikian kesimpulan BPK yang tercantum dokumen itu.

(nal/nal)

Baca Juga

  • Jumat, 23/12/2011 17:43 WIB
    Marzuki Alie akan Klarifikasi Ipar SBY Soal Aliran Century
  • Jumat, 23/12/2011 17:43 WIB
    Anis Matta: BPK Perlu Audit Lanjutan Kasus Century
  • Jumat, 23/12/2011 17:32 WIB
    DPR Belum Puas, BPK Diminta Lanjutkan Audit Kasus Century
  • Jumat, 23/12/2011 17:10 WIB
    DPR Kecewa, Audit Forensik Century Jauh dari Impian
  • Jumat, 23/12/2011 16:50 WIB
    Ditanya Hasil Audit Forensik Century, Ketua BPK: Kami Hanya Koki
  • Jumat, 23/12/2011 16:38 WIB
    Ini Jawaban BPK Mengapa Audit Century Tak Sebut Sri Mulyani & Boediono
  • Jumat, 23/12/2011 16:38 WIB
    Ini Dia 13 Temuan Penting BPK Soal Audit Forensik Century
  • Jumat, 23/12/2011 16:16 WIB
    BPK Akan Setorkan Hasil Audit Forensik ke KPK
  • Jumat, 23/12/2011 15:56 WIB
    Ramadhan Pohan Tak Tahu Ada Aliran Uang Rp 100 M ke Jurnas
  • Jumat, 23/12/2011 15:53 WIB
    Marzuki Cs Pertanyakan Penyerahan Audit Forensik Century Lebih Cepat
  • Jumat, 23/12/2011 15:52 WIB
    Jurnas Terima Rp 100 M, Tapi BPK Tak Temukan Hubungan Terkait Century
  • Jumat, 23/12/2011 15:49 WIB
    BPK Telusuri Bocornya Audit Forensik Century
  • Jumat, 23/12/2011 15:17 WIB
    Dua Informasi Tambahan BPK Jadi Sorotan Pimpinan DPR
  • Jumat, 23/12/2011 15:15 WIB
    Aliran Uang Century ke Adik Ani Yudhoyono Diduga Tidak Wajar
  • Jumat, 23/12/2011 14:44 WIB
    Audit Forensik Century Harus Membuka Masalah yang Masih Samar
  • Jumat, 23/12/2011 14:37 WIB
    BPK Serahkan Audit Forensik Kasus Century ke DPR
  • Jumat, 23/12/2011 14:10 WIB
    Ketua BPK: Tak Ada Intervensi Dalam Audit Forensik Century
  • Jumat, 23/12/2011 13:49 WIB
    Ini Dia Hambatan BPK Dalam Audit Forensik Century
  • Jumat, 23/12/2011 13:28 WIB
    Anas: Jangan Caci Maki Audit Forensik Century BPK
  • Jumat, 23/12/2011 13:04 WIB
    Audit Century, PDIP Akan Minta Klarifikasi Emir Moeis
  • Jumat, 23/12/2011 12:55 WIB
    Usai Sidang Kabinet di Bogor, Dahlan Iskan Naik KRL Lagi
  • Jumat, 23/12/2011 12:26 WIB
    Audit Forensik Century, PDIP: BPK yang Mulai, BPK yang Mengakhiri!
  • Jumat, 23/12/2011 11:48 WIB
    Disebut di Audit Century, Emir Moeis: Saya Investasi Dana
  • Jumat, 23/12/2011 11:46 WIB
    PDIP: Audit Forensik Century BPK Jauh dari Harapan
  • Jumat, 23/12/2011 11:13 WIB
    Marzuki: Jangan Ragukan Audit Forensik Century BPK!
  • Jumat, 23/12/2011 11:02 WIB
    Demokrat Berkepentingan Terhadap Hasil Audit Forensik Century
  • Jumat, 23/12/2011 10:53 WIB
    SBY: Ada Sejumlah Isu di 2011 yang Belum Diselesaikan Tuntas
  • Jumat, 23/12/2011 10:37 WIB
    SBY: Birokrasi, Infrastruktur dan Korupsi Jadi Penghalang Pembangunan
  • Jumat, 23/12/2011 10:36 WIB
    Audit Forensik BPK Harapan Terakhir Timwas Century
  • Jumat, 23/12/2011 08:24 WIB
    BPK Serahkan Audit Forensik ke DPR Siang Ini

Kekuatan ‘Siluman’

Minggu, 25 Desember 2011 15:34 WIB
Ada Kekuatan ‘Siluman’ di Balik Audit Century

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Audit Forensik BPK terkait skandal Bank Century diduga ditunggangi kekuatan yang belum teridentifikasi atau ‘siluman’. Hal ini mengakibatkan hasil audit tidak mampu membuktikan adanya aliran dana ke korporat atau individu yang dengan sengaja ingin membangkrutkan negara.

“Kami tidak akan tinggal diam,” tegas anggota Tim Pengawas Bank Century dari PDIP, Hendrawan Supratikno, saat dihubungi, Ahad (25/12).

Kekuatan tersebut, ia memperkirakan melibatkan politisi, pejabat negara, dan pemodal atau perusahaan. Hendrawan menyebut kekuatan ini sebagai korporatokrasi.

Ia menilai, oknum politisi berperan untuk melakukan lobi dengan pejabat negara agar audit forensik tidak sampai membuktikan adanya pelanggaran hukum sehingga hasilnya tidak memuaskan. Sehingga dana triliunan rupiah yang lenyap begitu saja menjadi tidak jelas juntrungannya.

“Ini berbahaya, negara nantinya menjadi tidak mampu menegakkan hukum,” katanya mengingatkan.

Oknum pejabat negara, lanjut Hendrawan, juga berperan untuk menutupi skandal besar ini. Mereka ‘disumpal’ mulutnya agar tidak bernyanyi, untuk tidak menyebutkan siapa atau lembaga apa yang menikmati gelontoran dana skandal besar ini.

Sementara pihak perusahaan atau pemodal, ungkap dia, jelas berkepentingan untuk pencitraan bahwa perusahaan harus tetap berjalan. Jika penegakkan hukum dilakukan maka perusahaan akan mandek dan tidak dapat memutar modal.

“Korporatokrasi bekerjasama dengan saling menguntungkan, namun jelas merugikan rakyat,” imbuhnya.

Karena itu, ia mengataka, mereka sangat dirasakan bermain dalam membuat konspirasi membelokkan hasil audit tersebut. Hal ini dinilainya tidak bisa dibiarkan.

Pihaknya akan mendalami laporan audit forensik BPK, sebab laporan itu dinilainya tidak memuaskan, karena diduga kurang komprehensif. Lebih parah lagi, dia menilai ada kejanggalan mendasar dalam pelaksanaan audit ini.

“Saya mendengar pelaksana audit ini tidak bersertifikat kompetensi audit forensik. Ini memalukan,” paparnya.

Bagaimana bisa auditor non forensik melakukan audit forensik. Menurutnya, hal ini jelas membuat penilaian terhadap audit BPK bermasalah.

Redaktur: Djibril Muhammad
Reporter: Erdy Nasrul
09
Nov
11

Pendidikan : Bangsa Indonesia Kalah Kreatif

 

Mengapa bangsa Indonesia kalah kreatif dari negara-negara maju


Sebenarnya ini adalah ringkasan dari buku Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland yang berjudul “Why Asians Are Less Creative Than Westerners”(Mengapa bangsa Asia kalah kreatif dari negara-negara barat), tapi berhubung saya tinggal di Indonesia dan lebih mengenal Indonesia, maka saya mengganti judulnya, karena saya merasa bahwa bangsa Indonesia memiliki ciri-ciri yang paling mirip seperti yang tertulis dalam buku itu.

1. Bagi kebanyakan orang Indonesia, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, pengacara, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk memiliki banyak kekayaan.

2. Bagi orang Indonesia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada cara memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai ceritera, novel, sinetron atau film yang bertema orangmiskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku korupsi pun ditolerir/diterima sebagai sesuatu yang wajar.

3. Bagi orang Indonesia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban”, bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT, dll, semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya, bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus rumus tersebut.

4. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Indonesia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit-sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun).

5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Indonesia bisa jadi juara dalam Olympiade Fisika dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Indonesia yang memenangkan Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.

6. Orang Indonesia takut salah dan takut kalah. Akibatnya, sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.

7. Bagi kebanyakan bangsa Indonesia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.

8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir, peserta akan mengerumuni guru/narasumber untuk meminta penjelasan tambahan.

Dalam bukunya, Prof.Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sebagai berikut:
1. Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya, bukan karena kekayaannya. Percuma bangga naik haji atau membangun mesjid atau pesantren, tapi duitnya dari hasil korupsi

2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya.

3. Jangan jejali murid dengan banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban untuk X x Y harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya.

4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan passion (rasa cinta)-nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang.

5. Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. Ayo bertanya!

6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dengan bangga kalau kita tidak tahu!

7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan. Sebagai orang tua, kita bertanggungjawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan mensupportnya.

26
Apr
10

PEPORA : 9 Butir Inteligensia Ganda

Konsep ‘Multiple Intelligences’ menyediakan kesempatan pada anak untuk mengembangkan bakat emasnya sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Mari pahami konsepnya!

Kalau ada banyak jalan menuju Roma, begitu juga jalan menuju kecerdasan. Ada banyak cara untuk menjadi cerdas. Kalau ada banyak cara, berarti ada banyak tanda pula untuk melihat kecerdasan anak. Tanda itu bukan hanya dapat dilihat dari prestasi akademiknya di sekolah, atau mengikutkan anak kedalam tes intelejensia.

Anak-anak dapat memperlihatkan kecerdasannya lewat banyak cara. Cara itu misalnya melalui kata-kata, angka, musik, gambar, kegiatan fisk (kemampuan motorik) atau lewat cara sosial-emosional. Itu karena, menurut Thomas Armstrong, Ph.D, periset kecerdasan anak dan penulis buku ‘In Their Own Way : Discovering and Encouraging Your Child’s Multiple Intelligences’, semua anak terlahir cerdas dan berbakat. Kalaupun ada yang tampak tak menonjol, itu karena beberapa anak menunjukkan bakatnya lebih lambat dibanding anak lain.

Karenanya, banyak hasil-hasil riset kecerdasan anak menyarankan para orangtua untuk memberi banyak pengalaman dan stimulasi kepada anak. Stimulasi dan sensasi pengalaman yang intens itu berguna untuk segera membangkitkan kecerdasan anak. Jadi tak ada lagi istilah ‘anak menunjukkan bakat lebih lambat’. Fakta-fakta riset itulah yang kemudian oleh Prof. Howard Gardner, seorang psikolog dan pakar ilmu saraf dari Universitas Harvard, AS tahun 1983 dikristalkan ke dalam konsep teori kecerdasan yang disebutnya ‘Multiple Intelligences’ atau Kecerdasan Majemuk/Ganda.

Tidak Satu Parameter

Menurut Gardner, manusia itu, siapa saja–kecuali cacat atau punya kelainan otak—sedikitnya memiliki 9 kecerdasan. Kecerdasan manusia, saat ini tak hanya dapat diukur dari kepandaiannya menguasai matematika atau menggunakan bahasa. Ada banyak kecerdasan yang dapat diidentifikasi di dalam diri manusia. Coba bagaimana Mam & Pap menentukan siapa yang cerdas dalam pertanyaan berikut : “Siapa yang paling cerdas di lapangan sepakbola, apakah David Beckham atau Albert Einstein?” Juga, “Siapa yang cerdas di panggung musik, apakah Krisdayanti atau Susi Susanti?”. Mereka cerdas di bidangnya masing-masing. Kita tak bisa menggunakan satu parameter untuk membandingkan kecerdasan mereka.

Dalam buku terbarunya, ‘Intelligence Reframed : Multiple Intelligence for The 21st Century’ (1999), Howard Gardner, menjelaskan 9 kecerdasan yang tersimpan dalam otak manusia. Konsep kecerdasan ganda ini, bila dipahami dengan baik, akan membuat semua orangtua memandang potensi anak lebih positif. Terlebih lagi, para orangtua (guru) pun dapat menyiapkan sebuah lingkungan yang menyenangkan dan memberdayakan di rumah (di sekolah).

Bahan Sederhana

‘Ruang kelas’ terbesar untuk belajar sebenarnya sudah tersedia. Ya, dunia adalah ruang belajar itu. Untuk mengembangkan kecerdasan unik anak-anak lewat konsep ini, yang dibutuhkan sebenarnya sudah tersedia di lingkungan sekitar. Di sekolah, anak bisa diajak keluar kelas untuk mengamati setiap fenomena yang terjadi di dunia nyata. Sementara di rumah, anak bisa memanfaatkan benda-benda dan materi di sekitar rumah. Mam & Pap tak perlu membelikan alat belajar maupun mainan yang mahal.

Konsep Multiple Intelligences juga mengajarkan kepada anak bahwa mereka bisa belajar apapun yang mereka ingin ketahui. Apapun yang ingin diktehauinya itu dapat ditemui di dalam kehidupan nyata yang dapat mereka alami sendiri. Sementara, bagi orangtua maupun guru, yang dibutuhkan hanya kreatifitas dan kepekaan untuk mengasah kemampuan anak. Baik Mam & Pap maupun guru juga harus mau berpikir terbuka, keluar dari paradigma tradisional.

Soal manfaat lingkungan untuk membantu proses belajar ini, sudah diteliti lho oleh beberapa orang peneliti kegiatan belajar. Ada Vernon A. Magnesen tahun 1983 dan sekelompok peneliti seperti Bobbi DePorter; Mark Reardon, dan Sarah tahun 2000. Mereka menjelaskan bahwa kita sebenarnya mendapat pengetahuan dari apa yang kita baca (10%), dari apa yang kita dengar (20%), dari apa yang kita lihat (30%), dari apa yang kita lihat dan dengar (50%), dari apa yang kita katakan (70%) dan dari apa yang kita katakan dan lakukan (90%).

Nah dari situ terlihat bukan, dari aktivitas seperti apa kita lebih banyak mendapatkan pengetahuan? Ya, dari yang kita lihat dan dengar serta dari paraktik yang kita lakukan. Belajar dengan menggunakan teori kecerdasan ganda bukan cuma menegaskan “it’s how smart they are” tapi “It’s how they are smart!” Bukan ‘seberapa pintar anak’ tapi ‘bagaimana mereka bisa menjadi pintar’. n

9 Kecerdasan Ganda yang Dimiliki Anak

1. VISUAL/SPATIAL (Cerdas Gambar/Picture Smart)

Anak belajar secara visual dan mengumpulkan ide-ide. Mereka lebih berpikir secara konsep (holistik) untuk memahami sesuatu. Kemampuan untuk melihat ‘sesuatu’ di dalam kepalanya itu mampu membuat dirinya pandai memecahkan masalah atau berkreasi.

2. VERBAL/LINGUISTIC (Cerdas Kata/Word Smart)

Anak belajar lewat kata-kata yang terucap atau tertulis. Kecerdasan ini selalu mendapat tempat (unggul) dalam lingkungan belajar di kelas dan tes-tes gaya lama.

3. MATHEMATICAL/LOGICAL (CerdasLogika-Mateamatik/Logic Smart)

Anak senang belajar melalui cara argumentasi dan penyelesaian masalah. Kecerdasan ini juga pas ditampilkan di dalam kelas.

4. BODILY/KINESTHETIC (Cerdas Tubuh/Body Smart)

Anak belajar melalui interaksi dengan satu lingkungan tertentu. Kecerdasan ini tak sepenuhnya bisa dianggap sebagai cerminan dari anak yang terlihat ‘sangat aktif’. Kecerdasan ini lebih senang berada di lingkungan dimana ia bisa memahamisesuatu lewat pengalaman nyata.

5. MUSICAL/RHYTHMIC (Cerdas Musik/Music Smart)

Anak senang dengan pola-pola, ritmik, dan tentunya musik. Termasuk, bukan hanya pola belajar auditori tapi juga mempelajari sesuatu lewat indetifikasi menggunakan panca indera.

6. INTRAPERSONAL (Cerdas Diri/Self Smart)

Anak belajar melalui perasaan, nilai-nilai dan sikap.
7. INTERPERSONAL (Cerdas Bergaul/People Smart)

Anak belajar lewat interaksi dengan orang lain. Kecerdasan ini mengutamakan kolaborasi dan kerjasama dengan orang lain.

8. NATURALIST (Cerdas Alam/Nature Smart)Anak senang belajar dengan cara pengklasifikasian, pengkategorian, dan urutan. Bukan hanya menyenangi sesuatu yang natural, tapi juga senang menyenangi hal-hal yang rumit.

9. EXISTENTIAL (Cerdas Makna/Existence Smart)

Anak belajar sesuatu dengan melihat ‘gambaran besar’, “Mengapa kita di sini?” “Untuk apa kita di sini?” “Bagaimana posisiku dalam keluarga, sekolah dan kawan-kawan?”. Kecerdasan ini selalu mencari koneksi-koneksi antar dunia dengan kebutuhan untuk belajar.

Multiple Intelligence
Oleh: Charlotte Priatna, SPd

Tidak ada anak bodoh, temukan kecerdasannya!

Apakah Kecerdasan Itu?

  • Kecerdasan bukanlah sesuatu yang bersifat tetap
  • Ia bagaikan kumpulan kemampuan atau ketrampilan yang dapat ditumbuhkan dan dikembangkan
  • Kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan suatu masalah; kemampuan untuk menciptakan masalah baru untuk dipecahkan; kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan suatu pelayanan yang berharga dalam suatu kebudayaan masyarakat (Howard Gardner)
Tidak ada anak yang bodoh atau pintar, yang ada adalah anak yang menonjol dalam salah satu atau beberapa jenis kecerdasan.

Multiple Intelligences
Melalui pengenalan akan Multiple Intelligences, kita dapat mempelajari kekuatan / kelemahan anak dan memberikan mereka peluang untuk belajar melalui kelebihan-kelebihannya.

Tujuan: anak memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi dunia, bekerja dengan ketrampilan sendiri dan mengembangkan kemampuannya sendiri.

Kecerdasan Linguistik

  • Mampu membaca, mengerti apa yang dibaca.
  • Mampu mendengar dengan baik dan memberikan respons dalam suatu komunikasi verbal.
  • Mampu menirukan suara, mempelajari bahasa asing, mampu membaca karya orang lain.
  • Mampu menulis dan berbicara secara efektif.
  • Tertarik pada karya jurnalism, berdebat, pandai menyampaikan cerita atau melakukan perbaikan pada karya tulis.
  • Mampu belajar melalui pendengaran, bahan bacaan, tulisan dan melalui diskusi, ataupun debat.
  • Peka terhadap arti kata, urutan, ritme dan intonasi kata yang diucapkan.
  • Memiliki perbendaharaan kata yang luas, suka puisi, dan permainan kata.

Profesi: pustakawan, editor, penerjemah, jurnalis, tenaga bantuan hukum, pengacara, sekretaris, guru bahasa, orator, pembawa acara di radio / TV, dan sebagainya.

Kecerdasan Logika – Matematika

  • Mengenal dan mengerti konsep jumlah, waktu dan prinsip sebab-akibat.
  • Mampu mengamati objek dan mengerti fungsi dari objek tersebut.
  • Pandai dalam pemecahan masalah yang menuntut pemikiran logis.
  • Menikmati pekerjaan yang berhubungan dengan kalkulus, pemograman komputer, metode riset.
  • Berpikir secara matematis dengan mengumpulkan bukti-bukti, membuat hipotesis, merumuskan dan membangun argumentasi kuat.
  • Tertarik dengan karir di bidang teknologi, mesin, teknik, akuntansi, dan hukum.
  • Menggunakan simbol-simbol abstrak untuk menjelaskan konsep dan objek yang konkret.

Profesi: auditor, akuntan, ilmuwan, ahli statistik, analisis / programer komputer, ahli ekonomi, teknisi, guru IPA / Fisika, dan sebagainya.

Kecerdasan Intrapersonal

  • Mengenal emosi diri sendiri dan orang lain, serta mampu menyalurkan pikiran dan perasaan.
  • Termotivasi dalam mengejar tujuan hidup.
  • Mampu bekerja mandiri, mengembangkan kemampuan belajar yang berkelanjutan dan mau meningkatkan diri.
  • Mengembangkan konsep diri dengan baik.
  • Tertarik sebagai konselor, pelatih, filsuf, psikolog atau di jalur spiritual.
  • Tertarik pada arti hidup, tujuan hidup dan relevansinya dengan keadaaan saat ini.
  • Mampu menyelami / mengerti kerumitan dan kondisi manusia.

Profesi: ahli psikologi, ulama, ahli terapi, konselor, ahli teknologi, perencana program, pengusaha, dan sebagainya.

Kecerdasan Interpersonal

  • Memiliki interaksi yang baik dengan orang lain, pandai menjalin hubungan sosial.
  • Mampu merasakan perasaan, pikiran, tingkah laku, dan harapan orang lain.
  • Memiliki kemampuan untuk memahami orang lain dan berkomunikasi dengan efektif, baik secara verbal maupun non-verbal.
  • Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kelompok yang berbeda, mampu menerima umpan balik yang disampaikan orang lain, dan mampu bekerja sama dengan orang lain.
  • Mampu berempati dan mau mengerti orang lain.
  • Mau melihat sudut pandang orang lain.
  • Menciptakan dan mempertahankan sinergi.

Profesi: administrator, manager, kepala sekolah, pekerja bagian personalia / humas, penengah, ahli sosiologi, ahli antropologi, ahli psikologi, tenaga penjualan, direktur sosial, CEO, dan sebagainya.

Kecerdasan Musikal

  • Menyukai banyak jenis alat musik dan selalu tertarik untuk memainkan alat musik.
  • Mudah mengingat lirik lagu dan peka terhadap suara-suara.
  • Mengerti nuansa dan emosi yang terkandung dalam sebuah lagu.
  • Senang mengumpulkan lagu, baik CD, kaset, atau lirik lagu.
  • Mampu menciptakan komposisi musik.
  • Senang improvisasi dan bermain dengan suara.
  • Menyukai dan mampu bernyanyi.
  • Tertarik untuk terjun dan menekuni musik, baik sebagai penyanyi atau pemusik.
  • Mampu menganalisis / mengkritik suatu musik.

Profesi: DJ, musikus, pembuat instrumen, tukang stem piano, ahli terapi musik, penulis lagu, insinyur studio musik, dirigen orkestra, penyanyi, guru musik, penulis lirik lagu, dan sebagainya.

Kecerdasan Visual – Spasial

  • Senang mencoret-coret, menggambar, melukis dan membuat patung.
  • Senang belajar dengan grafik, peta, diagram, atau alat bantu visual lainnya.
  • Kaya akan khayalan, imaginasi dan kreatif.
  • Menyukai poster, gambar, film dan presentasi visual lainnya.
  • Pandai main puzzle, mazes dan tugas-lugas lain yang berkaitan dengan manipulasi.
  • Belajar dengan mengamati, melihat, mengenali wajah, objek, bentuk, dan warna.
  • Menggunakan bantuan gambar untuk membantu proses mengingat.

Profesi: insinyur, surveyor, arsitek, perencana kota, seniman grafis, desainer interior, fotografer, guru kesenian, pilot, pematung, dan sebagainya.

Kecerdasan Kinestetik – Jasmani

  • Merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan dalam menggunakan tubuh kita secara trampil untuk mengungkapkan ide, pemikiran, perasaan, dan mampu bekerja dengan baik dalam menangani objek.
  • Memiliki kontrol pada gerakan keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak.
  • Menyukai pengalaman belajar yang nyata seperti field trip, role play, permainan yang menggunakan fisik.
  • Senang menari, olahraga dan mengerti hidup sehat.
  • Suka menyentuh, memegang atau bermain dengan apa yang sedang dipelajari.
  • Suka belajar dengan terlibat secara langsung, ingatannya kuat terhadap apa yang dialami atau dilihat.

Profesi: ahli terapi fisik, ahli bedah, penari, aktor, model, ahli mekanik / montir, tukang bangunan, pengrajin, penjahit, penata tari, atlet profesional, dan sebagainya.

Kecerdasan Naturalis

  • Suka mengamati, mengenali, berinteraksi, dan peduli dengan objek alam, tanaman atau hewan.
  • Antusias akan lingkungan alam dan lingkungan manusia.
  • Mampu mengenali pola di antara spesies.
  • Senang berkarir di bidang biologi, ekologi, kimia, atau botani.
  • Senang memelihara tanaman, hewan.
  • Suka menggunakan teleskop, komputer, binocular, mikroskop untuk mempelajari suatu organisme.
  • Senang mempelajari siklus kehidupan flora dan fauna.
  • Senang melakukan aktivitas outdoor, seperti: mendaki gunung, scuba diving (menyelam).

Profesi: dokter hewan, ahli botani, ahli biologi, pendaki gunung, pengurus organisasi lingkungan hidup, kolektor fauna / flora, penjaga museum zoologi / botani dan kebun binatang, dan sebagainya.

Kita semua berbeda karena kita semua memiliki kombinasi kepandaian yang berbeda. Bila kita mampu mengenalinya, saya kira kita akan mempunyai setidaknya sebuah kesempatan yang bagus untuk mengatasi berbagai masalah yang kita hadapi di dunia. – Howard Gardner


Lembar Test:
Test Multiple Intelligence
Observasi Multiple Intelligence

12
Oct
09

Indeks Pembangunan Manusia : Antara Bantuan dan Investasi Sosial

Antara Bantuan dan Investasi Sosial

KOMPAS, Senin, 12 Oktober 2009 | 02:45 WIB

Oleh Razali Ritonga

Laporan Pembangunan Manusia tahun 2009 yang diluncurkan di Bangkok tanggal 5 Oktober menyebutkan bahwa peringkat pembangunan manusia Indonesia berada di urutan ke-111 dari 182 negara. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya (laporan 2007/2008), peringkat pembangunan manusia Indonesia mengalami penurunan. Adapun posisi Indonesia pada tahun lalu berada di peringkat ke-107 dari 177 negara.

Penurunan peringkat pembangunan manusia Indonesia pada tahun 2009 dibandingkan dengan tahun lalu juga dialami sejumlah negara ASEAN lainnya, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Adapun peringkat Singapura turun dari 23 ke 25, Malaysia dari 63 ke 66, Thailand dari 78 ke 87, Filipina dari 90 ke 105, dan Vietnam dari 105 ke 116.

Meski mengalami penurunan peringkat, dari besaran indeks, sejumlah negara ASEAN itu mengalami kenaikan. Untuk Indonesia, misalnya, besaran indeksnya mengalami kenaikan dari 0,728 tahun 2007/2008 menjadi 0,734 tahun 2009. Namun, celakanya kenaikan besaran indeks pembangunan manusia Indonesia kalah cepat dibandingkan dengan besaran kenaikan indeks pembangunan mayoritas negara secara global.

Dikhawatirkan, jika Indonesia tidak melakukan akselerasi pembangunan manusia, pada tahun-tahun mendatang peringkat pembangunan manusia di Tanah Air akan semakin turun dan kian tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain yang akselerasi pembangunan manusianya tinggi.

Anggaran minim

Akselerasi pembangunan manusia diperkirakan bisa dipercepat jika didukung oleh anggaran yang memadai untuk membiayai pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Diperkirakan, semakin besar porsi anggaran yang dikucurkan, semakin cepat akselerasi pembangunan manusianya. Namun, celakanya porsi anggaran yang dikucurkan terbilang minim dan penggunaannya belum optimal.

Dari tiga dimensi yang mendasari pembangunan manusia, yakni pendidikan, kesehatan, dan daya beli, hanya anggaran pendidikan yang terbilang memadai. Diketahui, dalam dua tahun terakhir anggaran pendidikan telah mencapai 20 persen. Meski demikian, tidak sedikit kalangan yang mengkritisi karena anggaran pendidikan sebesar itu masih menanggung beban untuk membiayai kegiatan administrasi pendidikan.

Sementara untuk aspek kesehatan, dana yang dikucurkan terbilang amat kecil. Tercatat, dana yang dikucurkan hanya sebesar 2,8 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, padahal standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan sebesar 15 persen (Kompas, 6/1/2009). Selain kecil, sasarannya belum menjangkau semua kelompok rentan karena terkendala kelengkapan administrasi, seperti surat keterangan domisili, kartu tanda penduduk, dan/atau kartu keluarga.

Selanjutnya dana yang dikucurkan untuk pemberdayaan masyarakat dalam rangka untuk meningkatkan daya beli, seperti paket stimulus ekonomi, tidak berjalan optimal. Hal ini tecermin dari daya serap terhadap paket stimulus ekonomi itu yang masih terbilang rendah. Kecilnya daya serap terhadap kucuran pinjaman yang disediakan pemerintah itu ditengarai karena ketidaktahuan masyarakat akan pemanfaatannya dan kekhawatiran akan ketidakmampuan dalam pengembaliannya.

Bahkan, kucuran anggaran yang bersifat direct, seperti bantuan langsung tunai, raskin, dan askeskin, dan yang bersifat indirect, seperti kucuran kredit usaha mikro dan kecil untuk pemberdayaan masyarakat pada tahun 2010, belum jelas nasibnya. Untuk raskin, misalnya, belum ada kepastian apakah akan tetap diberikan selama setahun dengan jumlah 15 kilogram per keluarga miskin (Kompas, 29/9/2009).

Soal ”mindset”

Ditengarai, kecilnya porsi anggaran yang dikucurkan untuk pembangunan manusia karena kekeliruan dalam cara pandang (mindset). Kucuran dana untuk pembangunan manusia kerap dipersepsikan sebagai bantuan sosial. Padahal, secara faktual kucuran dana itu bersifat investasi sosial.

Anggaran sosial dipersepsikan sebagai bantuan karena menganggap dana yang dikucurkan akan habis tanpa ada pengembalian secara ekonomi. Padahal, setiap sen yang dikucurkan untuk pembangunan sosial akan bersifat investasi yang disertai dengan pengembalian (return on investment).

Contoh sederhana tentang hal ini dapat dicermati dari kucuran dana untuk kesehatan. Diketahui, aspek kesehatan sangat bertalian dengan produktivitas, khususnya tenaga kerja di negara-negara berkembang yang banyak mengandalkan fisik. Secara individu, investasi kesehatan tidak hanya menentukan kemampuan bekerja, tetapi juga hidup dan mati seseorang. Sementara secara nasional, investasi kesehatan menentukan besarnya pengembalian yang ternyata besarnya amat menakjubkan. Berdasarkan perkiraan WHO (2004), rasio antara investasi dan pengembaliannya bisa mencapai lima berbanding satu (5:1).

Maka, investasi kesehatan sebagai salah satu aspek pembangunan manusia tidak hanya akan meningkatkan kualitas hidup yang direpresentasikan dengan meningkatnya angka umur harapan hidup akibat naiknya derajat kesehatan, tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Secara keseluruhan, keterkaitan antara investasi sosial untuk pembangunan manusia dan pertumbuhan ekonomi dapat bersifat saling menguatkan (mutually reinforcing). Jika keterkaitan di antara keduanya sangat kuat, keduanya akan saling berkontribusi. Namun, sebaliknya, jika keterkaitannya lemah, keduanya akan bersifat saling menghancurkan (mutually stifling).

Absennya pembangunan manusia akan menjadi beban ekonomi yang besar untuk mengatasi lemahnya kondisi penduduk akibat kebodohan, penyakit, dan kepapaan (Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa/UNDP, 1996). Maka, atas dasar itu, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono mendatang kiranya perlu meningkatkan pembangunan manusia, yaitu dengan mengalokasikan anggaran minimal setara dengan pembangunan ekonomi. Diyakini hal itu bisa dilakukan mengingat anggaran yang dikucurkan untuk pembangunan manusia juga bersifat investasi dan bukan bersifat bantuan.

Kekeliruan mindset yang menganggap anggaran pembangunan manusia sebagai bantuan umumnya akan termanifestasi sebagai residu atau sisa setelah anggaran lainnya terpenuhi sehingga porsi anggaran yang dialokasikan akan kecil. Padahal, anggaran untuk pembangunan manusia bersifat investasi yang memerlukan anggaran besar sehingga bisa berfungsi ganda; meningkatkan kualitas hidup penduduk dan pertumbuhan ekonomi.

Razali Ritonga Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah

12
Oct
09

Kenegaraan : Peta Jalan Kemajuan China

http://www.analisad aily.com/ index.php? option=com_ content&view=article&id=31325:melihat- sekilas-peta- jalan-kemajuan- china-&catid=78:umum&Itemid=131

Melihat Sekilas Peta Jalan Kemajuan China Cetak Email
Oleh : Hidayat Banjar

Setiap pagi anak saya yang masih kelas 5 SD membawa tas besar, isinya buku-buku pelajaran. Sesekali saya mencandainya: “Vanni (nama anak saya itu) dengan beban berat seperti ini, dapat dipastikan kelak kau akan bungkuk, sementara belum dapat dipastikan kau akan cerdas.”

“Buku-buku ini harus dibawa, Ayah. Semuanya dipelajari di sekolah,” jawabnya. Saya prihatin melihat anak saya itu, yang juga dialami anak-anak Indonesia lain.

Padahal, yang diharapkan orangtua ketika anaknya tamat SD sederhana saja: bisa membaca, menulis dan berhitung. Ya, tambahannya adalah budi pekerti. Lalu untuk apa pelajaran sebanyak itu?

Yang jadi pertanyaan, apakah layak siswa SD mata pelajarannya berjumlah 11 hingga 13. Bahkan ada beberapa sekolah menerapkan 15 mata pelajaran untuk siswa SD?

Di SMA sederajat juga begitu. Siswa “dipaksa” menguasai 13 – 20 mata pelajaran. Betapa beratnya beban siswa-siswi kita? Apakah pihak yang berwenang menangani pendidikan menganggap anak-anak Indonesia supermen atau superwomen?

Ilustrasi dan pertanyaan-pertanya an di atas saya ajukan sehubungan dengan kemajuan China yang salah satunya adalah mereformasi dunia pendidikan. Melihat kemajuan China (dengan jumlah penduduk 1,3 miliar) demikian signifikan sejak 1980-an, kita perlu belajar, hal-hal apa yang melatarbelakanginya .

Rata-rata 10 Persen

Kemajuan ekonomi China rata-rata tumbuh 10 persen sejak 1980-an. China menjadi super power baru yang secara geopolitik berpotensi menjadi “ancaman” negara-negara industri maju.

Jika ada pendapat mengatakan bahwa Indonesia tidak punya kekuatan sama sekali, itu berlebihan. Kita bukanlah bangsa yang bodoh dan malas.

Bukti terakhir, seperti peran Indonesia di G-20, menunjukkan kita sudah punya “sesuatu” yang bisa dipelihara dan didayagunakan di kemudian hari. Namun, pendapat bahwa China lebih maju dari Indonesia memang tidak terbantahkan. Justru itu, kemajuan China bisa dijadikan pelajaran berharga guna memacu kemajuan Indonesia.

Ada tiga hal mendasar dan penting yang ditanamkan dan diterapkan China hingga mencapai kemajuan seperti sekarang. Pertama soal kepercayaan diri, kedua prioritas pendidikan, dan ketiga peta jalan ke depan. Ketiga hal mendasar ini secara konsisten dan simultan terus diimplementasikan China dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kepercayaan diri adalah satu sifat yang dibangun dan dikembangkan Mao Zedong sejak awal 1930-an hingga 1970-an. Percaya diri itu dibangun sebagai jawaban atas “penghinaan seratus tahun” (bainian guochi) sebelumnya oleh bangsa-bangsa Barat dan Jepang sejak Perang Candu 1840-1949.

Dasar pendidikan, dijalankan para pemimpin China sejak Mao. Menurut Gang Guo (2007), selama Revolusi Kebudayaan, jumlah siswa masuk sekolah dasar meningkat separuh, sekolah menengah pertama naik empat kali lipat, dan sekolah menengah meningkat 14 kali lipat. Memang ada perdebatan terkait kualitas pendidikan. Namun Mao memberi dasar distribusi yang lebih merata sumber daya manusia.

Pendidikan Karakter

Deng Zioping pada 1978 mengatakan, “Bila China ingin memodernisasi pertanian, industri, dan pertahanan, yang harus dimodernisasi lebih dulu adalah sains dan teknologi serta menjadikannya kekuatan produktif.” Pada 1985, Deng menegaskan pentingnya pendidikan karakter, dan orientasi hapalan dianggap “membunuh” karakter anak. Setelah itu, guru dan kaum profesional amat dihargai.

Presiden Jiang Zemin pada 2000 mengumpulkan semua pemimpin China untuk membahas bagaimana mengurangi beban pelajaran siswa melalui adopsi sistem pendidikan yang patut secara umur dan menyenangkan, serta mengembangkan semua aspek dimensi manusia, kognitif, karakter, estetika, dan fisik.

Dibandingkan dengan bangsa kita, kepercayaan diri bangsa China lebih kuat karena dasar yang dibangun Mao dan capaian-capaian kasatmata, seperti olimpiade dan kemajuan ekonominya.

Namun, pelan tapi pasti, bangsa Indonesia sebenarnya mulai percaya diri. Keberhasilan mempraktikkan demokrasi dan kemajuan ekonomi setelah krisis akhir 1990-an mulai menjadikan kita dihargai negara-negara lain. Buktinya, dalam GDP, Indonesia berada di nomor 16 dan menjadi anggota G-20 yang mulai disegani anggota lain. Momentum untuk kepercayaan diri ini perlu dijaga, dipelihara dan diapresiasi.

Kendati terlambat, bangsa kita telah mengakui pentingnya pendidikan sebagai fundamen bangunan bangsa. Hal itu terbukti dengan anggaran 20 persen untuk pendidikan. Kendati implementasinya belum sempurna dan konsepnya belum kuat sehingga terkesan sibuk menghabiskan anggaran, keputusan politik bangsa bahwa pendidikan harus diprioritaskan sudah berada di jalur yang benar.

Mau Berubah

Masalahnya, apakah kita mau berubah? Sedangkan alam saja terus berubah seusai perjalanan waktu.

Yang jadi pertanyaan, apakah layak siswa SD mata pelajarannya berjumlah 11 hingga 13, bahkan ada beberapa sekolah menerapkan 15 mata pelajaran untuk siswa SD? Yang menjadi pertanyaan lagi, apakah efektif dan efisien siswa SMA sederajat mata pelajarannya 13 – 20?

Jika mau berubah, tak mustahil dalam waktu 20 tahun ke depan, kita akan membuktikan bangsa ini lebih kuat bersaing di antara bangsa-bangsa lain. Konsep pembangunan pendidikan harus lebih mendasar dan terarah sehingga alokasi dana 20 persen bisa dimanfaatkan secara efektif dan efisien.

Pada 2005, Pusat Penelitian Modernisasi China menerbitkan peta jalan Modernisasi China untuk abad ke-21. Isinya: tahun 2025 produk domestik bruto (GDP) China menyamai Jepang. Tahun 2050 China jadi negara maju secara moderen. Tahun 2080 China menjadi negara maju, sama dengan AS. Tahun 2100 China menjadi negara paling maju di dunia, melampaui AS. Atas dasar peta jalan itu, China bergerak menuju masyarakat yang lebih baik secara bersama (xiaokang).

Sesuai Kebutuhan

Grand design pendidikan kita seyogianya dirancang untuk kepentingan serta kebutuhan rakyat kebanyakan, bukan untuk kepentingan elit politik sebagai program pencitraan diri.

Menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) pendidikan dibagi ke dalam tiga katagori: informal adalah pendidikan di rumah tangga; formal merupakan pendidikan yang berjenjang dari SD hingga perguruan tinggi; sedangkan nonformal adalah pendidikan luar sekolah seperti life skill.

Sebenarnya, life skill juga dapat diperoleh dari pendidikan formal. Sayangnya, kini Indonesia tidak lagi menerapkan pendidikan vokasi di SLTP sejak beberapa tahun yang lampau. Pendidikan vokasi di Indonesia, dimulai sejak SLTA dengan nama SMK. Sayangnya lagi, pelajaran di SMK juga lebih mengedepankan teori daripada praktik.

Disarankan pula, tiap jenjang pendidikan vokasi menerapkan 70 persen praktik dan 30 persen teori. Jangan terbalik. Jika 70 persen teori dan 30 persen praktik, kita sudah lihat dan rasakan sendiri betapa tamatan-tamatan SMK kita banyak yang tidak kompeten di bidangnya.

Setelah tamat SD, orangtua mengukur kemampuan kocek serta kebutuhannya untuk kelanjutan pendidikan anak-anak mereka. Bila orangtua yang berprofesi petani, sangat boleh jadi kebutuhan mereka, anak-anak dapat mengembangkan usaha pertanian ke arah yang lebih baik serta menyejahterakan. Maka pendidikan selanjutnya tentu ke arah itu. Begitu juga dengan kaum nelayan (tradisional) sangat mungkin berharap, anak-anaknya dapat lebih meningkatkan hasil tangkapan (hasil laut), juga harga jual yang layak dan lainnya.

Sayangnya, saat ini di Indonesia tidak ada lagi pendidikan pertanian, kelautan, otomotif, komputer dan lain sebagainya untuk tingkat SLTP. Siswa harus belajar dulu tiga tahun di SLTP (SMP), baru dapat memasuki pendidikan vokasi di SMK. Bukankah hal ini akan memperbesar biaya atau pengeluaran? Ironisnya lagi, setelah tamat SMK, siswa-siswi kita pun sepertinya belum memiliki apa yang disebut life skill.***

Penulis adalah peminat masalah sosial budaya. Menetap di Medan.

04
Oct
09

Kegempaan : Pendidikan Mendesak

Kegempaan

By Republika Newsroom
Sabtu, 03 Oktober 2009 pukul 21:41:00

BENGKULU — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menilai negara rawan gempa seperti Indonesia perlu memasukkan mata pelajaran tentang gempa ke dalam kurikulum sekolah sehingga seluruh masyarakat mengetahui cara mengantisipasi gempa secara dini. Jika masuk kurikulum sekolah, pelajaran gempa akan diberikan secara sistematis terutama pemahaman dasar mengenai negara yang rawan gempa, kata Koordinator BMKG Provinsi Bengkulu Fahmiza didampingi Staf Teknisi BMKG, Edi Warsudi di Bengkulu, Sabtu.

Menurutnya, apabila masyarakat Indonesia sudah mengetahui dan menyadari bahwa negara rawan gempa, mereka tidak menjadi panik dan ketakutan ketika terjadi gempa, melainkan mencari upaya menyelamatkan diri karena hal ini sudah didapatkan di sekolah.

Jepang sebagai negara rawan gempa, katanya, tiga bulan sekali melakukan simulasi gempa. Bangunan di Jepang semua sudah disiapkan untuk tahan menghadapi gempa. Dengan demikian korban akibat gempa dapat diminimalkan.

Gempa tidak dapat ditolak atau dihalangi. Lempengan penyebab gempa akan terus bergerak selagi bumi masih ada.
Pergerakan lempengan terjadi, katanya, karena dua sebab, yaitu karena putaran bumi berevolusi maupun berrevolusi. Kedua karena ada aktivitas magma di perut bumi.

“Yang bisa dilakukan hanyalah menyiapkan diri dengan APELL yaitu Awarenes and Preparadness for Emergencies at Local Level artinya kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi bahaya pada tingkat lokal,” katanya.

Masing-masing keluarga, katanya, harus menyiapkan anggota keluarganya berada pada lokasi aman pada saat terjadi gempa. Di tingkat rukun tetangga (RT) menyiapkan warga satu RT tersebut tentang bagaimana cara menyelamatkan diri, dan ke mana harus mengungsi. Di tingkat kelurahan juga ada pedoman umum bagaimana seharusnya menyelamatkan diri dan menyampaikan keberadaan masing-masing kepada pihak koordinator di tingkat kelurahan sehingga semua dapat diperhatikan. Pada tingkat kecamatan dan kabupaten kota sudah ada petunjuk pengamanan diri sesuai jenjangnya, sehingga masyarakat menjadi tenang dan nyaman.n ant/tri




Blog Stats

  • 2,261,409 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers