Posts Tagged ‘Earthquake



09
Sep
09

Bencana Alam : Tolitoli Diguncang Gempa 6,0 SR

Gempa 6,0 SR Tolitoli

By Republika Newsroom
Rabu, 09 September 2009 pukul 06:30:00

Tolitoli Diguncang Gempa 6,0 SRPTBG.SULTENG.GO.IDPeta Kabupaten Tolitoli

JAKARTA–Gempa kembali terjadi di tanah air. Kali ini sebuah gempa berkekuatan 6.0 pada skala ritcher terjadi di Tolitoli, Sulawesi Tengah pada pukul 01:51 WIB dengan Pusat gempa terletak di 27 km Barat Laut Tolitoli. Pusat gempa berada pada 1.28 Lintang Utara – 120.74 Bujur Timur, dengan kedalaman 12 km.

Menurut pihak Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geosfisika (BMKG), gempa yang terjadi di garis pantai Tolitoli tidak berpotensi memicu tsunami.

Berdasarkan laporan kantor daerah BMKG, Intensitas gempa yang dirasakan warga Tolitoli sekitar empat hingga lima MMI (Modified Mercalli Intensity), sedangkan intensitas gempa di Poso sekitar dua hinga tiga MMI.

Sementara itu, menurut staf BMKG pusat, Bayu, gempa di Tolitoli ini diakibatkan oleh adanya pergeseran lempeng laut Filipina dan Euroasia. ant/c06/rin

Gempa Terasa di Palu

By Republika Newsroom
Rabu, 09 September 2009 pukul 06:36:00

PALU–Gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, Rabu dini hari (9/9), terasa hingga ke Kota Palu yang berjarak lebih 400 kilometer (km) oleh sejumlah warga setempat. Sejumlah warga Palu yang sebagian besar tertidur lelap itu keluar dari rumahnya karena merasa takut. Getaran gempa tersebut terasa sekitar 30 detik.

Hendra, warga Palu, mengaku terkejut dengan adanya getaran yang terjadi di kamar kos yang ditempatinya. Dia pun segera keluar kamar karena khawatir sesuatu akan menimpa dirinya. “Saya takut kalau terjadi apa-apa,” kata pria yang sedang begadang menunggu waktu sahur ini.

Seperti dilansir situs Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) gempa bumi itu berkekuatan 6,0 Skala Richter dengan kedalaman 12 km, dan berlokasi di 27 km Barat Laut Kabupaten Tolitoli.

Pusat gempa sendiri terletak pada 1.28 Lintang Utara dan 120,74 Bujur Timur. Gempa bumi yang terjadi pada pukul 02.51 Wita. ant/c06/rin

08
Sep
09

Bencana Alam : Gempa 5,3 SR Guncang NAD

Gempa 5,3 SR di NAD

By Republika Newsroom
Selasa, 08 September 2009 pukul 11:46:00

BANDARLAMPUNG–Gempa tektonik berkekuatan 5,3 skala Richter (SR) terjadi pukul 10.39 WIB di 5,34 Lintang Utara-93,14 Bujur Timur pada 243 km Barat Daya Banda Aceh, Nangroe Aceh Darussalam (NAD).

Laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Selasa, menyebutkan kedalaman gempa 132 kilometer dan tidak berpotensi tsunami.

Pusat gempa juga berada pada 249 kilometer Barat Daya Sabang-NAS, 313 kilometer Barat Daya Sigli-NAD, 356 kilometer Barat Laut Meulaboh-NAD, dan 395 kilometer Barat Laut Bireun-NAD. ant/taq

08
Sep
09

Bencana Alam : Riset Gempa Selat Sunda Diintensifkan

LAPAN PAMENGPEUK/MOEDJI SOEJATNO
Kompleks perumahan karyawan di stasiun peluncuran roket Lapan Pamengpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat, porak poranda dilanda gempa yang terjadi Rabu (2/9).

GEMPA JAWA BARAT
Riset Gempa Selat Sunda Diintensifkan

KOMPAS, Selasa, 8 September 2009 | 03:54 WIB

Jakarta, Kompas  – Gempa 7,5 skala Richter yang menerjang Jawa Barat, Rabu (2/9), mengingatkan akan ancaman yang lebih dahsyat. Sejarah mencatat, gempa di atas 8 skala Richter pernah melanda Selat Sunda tahun 1908 sehingga menimbulkan kerusakan di Anyer sampai Jakarta. Untuk memahami pola dan periode kegempaan, akan dilakukan penelitian intensif dengan beberapa metode survei geologi.

Berkaitan dengan hal itu, Danny Hilman, pakar geologi dari Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Senin, mengemukakan, akan dilakukan pemasangan jejaring antena global positioning system (GPS) di Selat Sunda dan selatan Jabar dalam jarak lebih rapat.

Proyek itu dilakukan LIPI bekerja sama dengan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). Dari hasil pemantauan, akan dilakukan penelitian dan analisis detail hingga tahu pola kegempaan.

”Kerja sama dengan semua pihak untuk riset dengan sistem GPS ini tetap terbuka untuk semua pihak,” ujar Kepala Bidang Geodinamika Bakosurtanal Cecep Subarya.

Penelitian pergerakan tanah menggunakan jejaring GPS dilakukan peneliti Bakosurtanal sejak tahun 1989. Hasilnya menunjukkan adanya daerah ”terkunci” atau tidak ada pergerakan relatif terhadap daerah sekitarnya yang bergerak 65 mm per tahun di selatan Lampung, tepatnya di Krui, Lampung.

Cecep yang juga Sekretaris Jenderal International Union Geodesy and Geophysics untuk Indonesia mengatakan, saat ini di kawasan Selat Sunda dan Jabar telah terpasang 14 stasiun atau antena referensi GPS, satu di antaranya milik Jerman.

Hasil analisis data GPS menunjukkan, tidak terjadi pergerakan berarti akibat gempa pada Rabu lalu karena gempa bersumber dari lempeng intra (intraplate) atau di bagian lempeng Eurasia sendiri, bukan di zona pertemuan lempeng (interplate). Hal ini ditunjukkan oleh lokasi episenter yang dalam dan dampaknya meluas di Pulau Jawa.

Subduksi melengkung

Meluasnya efek kegempaan yang terjadi pada Rabu lalu, menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Fauzi, disebabkan subduksi yang melengkung atau cenderung mengarah dari barat daya ke timur laut. Hal ini menyebabkan intensitas kegempaannya meluas hampir ke seluruh Jawa, bahkan hingga ke Bali.

Selama ini diketahui subduksi lempeng di selatan Selat Sunda dan Jabar mengarah dari selatan ke utara. ”Subduksi yang terjadi di sekitar Selat Sunda bergerak memutar searah jarum jam,” ujarnya.

Di selatan Selat Sunda terjadi peregangan atau dilatasi. Sementara di selatan Banten mengalami kompresi-penekanan. Hal ini dikuatkan Cecep bahwa kawasan itu mengalami rotasi dengan kecepatan 20 mm hingga 30 mm per tahun.

Danny menambahkan, melihat topografi daerah itu, sulit dilakukan penelitian pola kegempaan dan tsunami dengan memantau terumbu karang karena tak ditemukan pulau yang dekat dengan zona subduksi. Hal yang mungkin dilakukan adalah memasang alat GPS di dasar laut. Namun, teknologi itu merupakan teknologi frontier yang baru dirintis Jepang. ”Bila diterapkan, biayanya masih sangat mahal,” lanjutnya. (YUN)

08
Sep
09

Bencana Alam : Gempa Yogyakarta Terkait dengan Gempa di Jawa Barat

Gempa Yogyakarta Terkait dengan Gempa di Jawa Barat
Selasa, 8 September 2009 | 00:31 WIB

WONOSARI, KOMPAS - Gempa berkekuatan 6,8 skala Richter yang  mengguncang wilayah DI Yogyakarta, Senin (7/9) malam dirasakan hingga Jawa Timur maupun Jawa Barat. Gempa berpusat di Samudera Indonesia dengan kedalaman 35 kilometer di Tenggara, Kota Wonosari, Gunung Kidul. Sejauh ini, gempa tidak menimbulkan kerusakan.

Posisi gempa terletak pada 10,33 Lintang Selatan dan 110,62 Bujur Timur. Guncangan gempa yang tercatat terjadi pukul 23.12 WIB ini menimbulkan getaran yang cukup kuat. Namun mayoritas warga tetap terlelap dalam tidur. Hanya sebagian kecil dari warga di Kota Wonosari yang lari ke luar rumah.

Badan Meteorologi dan Geofisika atau BMG DI Yogyakarta menerima laporan bahwa gempa turut dirasakan hingga Jawa Timur dan Jawa Barat. Gempa ini dipastikan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Menurut Kepala Seksi Observasi BMG DIY Bambang Subadio, gempa ini tetap terkait erat dengan gempa yang sebelumnya terjadi dan menimbulkan kerusakan di Jawa Barat. Hingga berita ini diturunkan, kondisi laut selatan tetap tenang dan polisi terus berpatroli di wilayah selatan Gunung Kidul.

Gempa 6,8 SR Yogja

By Republika Newsroom
Selasa, 08 September 2009 pukul 01:56:00

BANDUNG–Gempa dengan kekuatan 6,8 Skala Richter kembali terjadi sekitar pukul 23.12 WIB di lokasi 10,33 Lintang Selatan hingga 110,62 Bujur Timur, tepatnya di 263 Kilometer Tenggara Wonosari, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kendati belum bisa dipastikan berpotensi tsunami, namun warga diminta tetap waspada.

Observer Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung, Pepen Supendi mengatakan gempa susulan mungkin saja terjadi, namun warga diharapkan tenang dan terus waspada. Pepen mengaku belum bisa memastikan apakah gempa yang berada di kedalaman 35 Kilometer dari permukaan laut itu berpotensi tsunami. “Sedang kita analisis,” tukasnya, Senin (7/9).

Guncangan gempa terasa hingga ke Tasikmalaya, Jawa Barat. Sehingga korban gempa Rabu (2/9) lalu, yang tengah tidur di tenda pengungsian Kantor Kecamatan Cigalontang, Tasikmalaya langsung terbangun, dan berhamburan keluar. “Kita masih trauma dengan gempa,” Kata Andi Insan. c14/pur

Gempa Yogya

By Republika Newsroom
Selasa, 08 September 2009 pukul 02:19:00

YOGYAKARTA — Gempa berkekuatan 6,8 SR yang mengguncang Yogyakarta pukul 23:12:24 WIB Senin (7/9), sama jenisnya dengan gempa di Tasikmalaya pekan lalu. Hal tersebut di tuturkan staf obversasi BMG Yogyakarta, Mujianto kepada Republika (8/9).

“Gempa di Yogya kali ini sejenis dengan gempa di Tasikmalaya. Berupa gempa teknonik, yang disebabkan pertemuan lempengan,” jelas Mujianto. Menurut Mujianto, gempa tidak berpotensi timbulkan tsunami. “Gempa tersebut tidak berpotensi tstunami. Kecil kemungkinannya akan ada gempa susulan,” terangnya.

Gempa berpusat di 263 kilometer Tenggara Wonosari, Yogyakarta, tepatnya berada di 10.33 LS-110.62 BT dengan kedalaman 35 KM. “Gempa juga dapat dirasakan di Bantul, Gunung Kidul, Cilacap, Karang Kates, Pacitan, Madiun, Jawa Timur hingga Bali,” kata Mujianto.c06/pur

Pasca Gempa

By Republika Newsroom
Selasa, 08 September 2009 pukul 02:32:00

YOGYAKARTA — Pasca gempa yang mengguncang DIY pukul 23:12:24 WIB, situasi di Daerah Istimewa Yogyakarta kembali tenang. Hal tersebut berdasarkan keterangan dari salah seorang petugas piket di Polres DIY yang tidak menyebutkan namanya kepada Republika (8/9).

Dari keterangan tersebut juga diketahui gempa terjadi kurang lebih selama 1 menit. “Gempa dirasakan kurang lebih selama 1 menit. Waktu terjadi gempa warga panik, tapi sekarang sudah kembali tenang,” jelasnya. Meski hanya terjadi selama 1 menit, getarannya sangat terasa.

Sampai sejauh ini, belum ada laporan dari warga tentang adanya korban jiwa ataupun kerusakan bangunan akibat gempa. “Belum ada laporan korban dan kerusakan bangunan,” jelasnya. c06/pur

Warga Pacitan Siaga

By Republika Newsroom
Selasa, 08 September 2009 pukul 02:39:00

PACITAN — Pasca gempa yang terjadi sekitar pukul 23.12 WIB, Senin (7/9) malam di Yogyakarta, warga Pacitan, Jawa Timur yang terbangun dari tidurnya, kini dalam posisi berjaga-jaga bila datang gempa susulan.

“Setelah tadi ada gempa, sebagian besar warga keluar dari rumah. Kami menunggu jika ada gempa susulan. Terlebih apabila tsunami akan menerjang Pacitan,” ujar Sukirman, staf satpol PP, Kecamatan Pacitan.

Lanjutnya, kepanikan sempat melanda warga Pacitan. Selama 15 menit warga menunggu kehadiran gempa susulan. “Namun, ternyata gempa susulan tidak ada. Akhirnya warga kembali masuk ke rumah. Tetapi masih ada beberapa warga yang tetap berjaga-jaga,” tukas Sukirman.

Saat terjadi gempa, Sukirman mengaku sedang berada di mushola. Menurutnya, guncangan gempa terjadi sekitar lima sampai enam menit lamanya. “Guncangannya masih besaran yang kemarin,” tegasnya.

Kata Sukirman, hingga detik ini, di Kelurahan Pucang Sewu, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, tempat ia berada sekarang ini, belum terlihat adanya kerusakan yang diakibatkan gempa. c08/pur

06
Sep
09

Bencana Alam : Gempa dengan Varietas Baru di Selatan Jawa

Sabtu, 05/09/2009 09:41 WIB
Gempa dengan Varietas Baru di Selatan Jawa
Dr Irwan Meilano – suaraPembaca


Jakarta – Pada tanggal 2 September 2009 terjadi gempa dengan magnitude 7.3 (SR) atau 7.0 (Mw) selatan Jawa Barat. Lokasi sumber berjarak 200 km Barat Laut dari lokasi gempa tsunami pada Juli 2006. Getaran gempa dapat dirasakan sampai area yang cukip jauh (Bandung, Jakarta, dan beberapa kota di Jawa Tengah) dari sumbernya.

Mekanisme gempa Jawa Selatan yaitu sesar menaik (thrust) dengan sudut kemiringan 50 derajat. Dengan arah bidang sumber gempa sebesar 55 derajat dari utara. Luas dari bidang gempa yaitu 45 x 20 km dengan pergeseran pada bidang gempa sebesar 1.2 m. Gempa ini tidak menghasilkan tsunami walaupun mekanismenya adalah sesar menaik karena kedalaman sumber gempa yang cukup dalam 50 km.

Karakterisasi gempa pada tanggal 2 September 2009 ini memiliki karakter yang berbeda dengan gempa tsunami Juli 2006 (gempa Pangandaran). Sebagai akibat dari tunjaman lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Asia maka terkumpul energi pada bidang kontak tersebut.

Gempa Pangandaran dan juga gempa besar lainnya yang pernah terjadi di selatan Jawa (misal gempa-tsunami Pacitan 1994) juga terjadi pada bidang kontak antar lempeng (interplate earthquake). Tetapi, gempa pada tahun 2009 ini memiliki karakter yang berbeda dan mungkin merupakan varietas baru dari kegempaan di Jawa. Yaitu, gempa di dalam lempeng (intraplate) dan bukan pada bidang kontak lempeng. Gempa ini sangat penting untuk dipelajari karena memiliki implikasi tektonik serta mitigasi bencana gempa di Jawa Barat.

Mengapa gempa ini dikategorikan sebagai gempa di dalam bidang subduksi (intraplate)
dikarenakan:

Pertama, sudut arah dari tunjaman lempeng. Sudut arah ketika lempeng Indo-Australia menghujam lempeng Asia pada umumnya di selatan Jawa yaitu sebesar 110 derajat. Dan, kegempaan besar dengan mekanisme sesar menaik di wilayah selatan Jawa juga memiliki sudut arah kira-kira 110 derajat.

Sedangkan gempa ini memiliki sudut arah yang tidak sejajar dengan arah dari tunjaman lempeng, dan juga juga dengan gempa pada umumnya pada wilayah ini. Sudut arah dari gempa ini yaitu sebesar 50 derajat.

Kedua, kemiringan bidang gempa. Kemirangan bidang gempa dengan mekanisme sesar naik (thrust) di selatan Jawa pada umumnya mengikuti suatu jalur yang diberi nama sebagai benioff zone. Dan, rata-rata sudut kemiringannya yaitu 20 derajat atau lebih kecil. Tergantung pada lokasinya. Tetapi, gempa pada 2 September 2009 ini memiliki kemiringan sebesar 55 derajat sehingga memotong bidang lempeng.

Dapat disimpulkan bahwa gempa pada 2 September 2009 memiliki pola yang berbeda dengan gempa besar yang pernah tercatat di selatan Jawa. Walaupun gempa ini masih terdapat pada zona subduksi tetapi tidak berlokasi pada bidang kontak antar lempeng (interplate). Gempa ini terjadi di dalam lempeng sendiri (intraplate earthquake).

Studi mengenai gempa ini sangatlah penting karena sangat mungkin bahwa kejadian gempa ini  membawa pesan bahwa Pulau Jawa berpotensi untuk mengalami gempa di dalam lempeng (intraplate) di masa mendatang.

Dr Irwan Meilano
Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung.

(msh/msh)

05
Sep
09

Bencana Alam : Potensi Gempa dari Lempeng Samudra

Potensi Gempa

Sabtu, 5 September 2009 04:54 WIB | Artikel | Pumpunan | Dibaca 955 kali

Masduki Attamami

Potensi Gempa Dari Lempeng Samudra
Sejumlah warga dan aparat keamanan melakukan pencarian korban di daerah bencana tanah longsor akibat guncangan gempa di Desa Cikangkareng Kecamatan Cibinong Kabupaten Cianjur Selatan, Jawa Barat, Jumat (4/9). (ANTARA/Widodo S. Jusuf)

Yogyakarta (ANTARA News) – Potensi gempa dari lempeng samudra masih menjadi kajian para ahli sepanjang zaman. Kajian itu di antaranya di Indonesia yang selama ini meneliti pergeseran lempeng Indo-Australia dan Eurasia.

Gempa bumi tektonik berkekuatan 7,3 skala Richter (SR) di laut selatan Jawa Barat atau di Samudra Hindia, Rabu (2/9) pukul 14.55 WIB dengan pusat gempa 104 km di barat daya Tasikmalaya, terjadi akibat penunjaman lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia.

Pusat gempa berada di koordinat 8.24 Lintang Selatan (LS) – 107.32 Bujur Timur (BT) dengan kedalaman 30 kilometer.

Menurut pakar tsunami, Budi Waluyo, penunjaman lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia selama ini terus terjadi sampai sekarang.

“Jika batuan pada lempeng Eurasia kuat menahan, terkumpul energi besar. Apabila suatu saat tak kuat menahan, energi tersebut lepas dan menjadi sumber kekuatan gempa,” kata Kepala Stasiun Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta itu.

Ia mengatakan dari penunjaman lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia, terjadi pergeseran rata-rata tujuh sentimeter setiap tahun.

Menurut Budi, Samudra Hindia termasuk laut selatan Jawa merupakan kawasan rawan tsunami.

Ia menyebutkan akibat gempa tektonik berkekuatan 6,8 SR di laut selatan Jawa pada 17 Juli 2006 pukul 15.19.73 WIB terjadi tsunami yang melanda pantai selatan itu.

Tsunami terjadi pada pukul 15.39.45 WIB, atau sekitar 20 menit setelah gempa. Ketinggian gelombang tsunami bervariasi antara satu hingga 3,5 meter, dan rambahan 75 – 500 meter.

Pusat gempa saat itu berada di koordinat 9.295 LS – 107.347 BT pada kedalaman delapan kilometer.

Koordinat 9.295 LS – 107.347 BT tersebut berada dekat dengan pusat gempa Tasikmalaya, Rabu (2/9) pukul 14.55 WIB di koordinat 8.24 LS – 107.32 BT dengan kedalaman 30 kilometer.

Berdasarkan hasil survei lapangan setelah terjadi gempa tektonik berkekuatan 6,8 SR di laut selatan Jawa pada 17 Juli 2006 pukul 15.19.73 WIB yang kemudian terjadi tsunami, terekam data tsunami melanda beberapa lokasi di sepanjang pantai selatan tersebut.

Survei lapangan dengan menggunakan GPS (Global Positioning System) dan pengukuran jejak ketinggian serta jejak jarak rambahan, terekam data setelah gempa terjadi tsunami di beberapa lokasi di pantai selatan Jawa mulai dari Kebumen, Cilacap hingga Pangandaran.

Bahkan, menurut Budi Waluyo, tsunami yang terjadi saat itu sampai ke pantai Sadeng, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Memang ketika itu tidak sampai diberitakan media massa, sehingga tidak banyak diketahui masyarakat bahwa pantai Sadeng dilanda tsunami,” katanya.

Oleh karena itu, ia mengingatkan warga pantai selatan Jawa selalu waspada terhadap kemungkinan terjadi gempa di Samudra Hindia dengan kekuatan besar dan pusat gempa dangkal, karena berpotensi menyebabkan tsunami.

Terkait dengan gempa di laut selatan Jawa Barat, Rabu, 2 September 2009 pukul 14.55 WIB yang pusat gempanya di 104 km barat daya Tasikmalaya itu, BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini bahaya tsunami.

Namun, setengah jam kemudian BMKG mencabut peringatan dini itu, karena tidak terjadi tsunami.

Gerak sesar naik

Dari analisa terhadap gempa tektonik berkekuatan 6,8 SR di laut selatan Jawa pada 17 Juli 2006 pukul 15.19.73 WIB yang kemudian terjadi tsunami, berdasarkan posisi pusat gempa saat itu, dan kedalaman serta mekanisme fokal, diperkirakan telah terjadi mekanisme gerak sesar naik di dasar samudra dengan patahan berarah U 270 derajat – 300 derajat T, dan kemiringan sekitar 7 derajat ke utara.

Patahan tersebut kemungkinan besar berhubungan dengan pergerakan dan runtuhan dari prisma akresi yang dipicu oleh penunjaman lempeng Indo-Australia.

Patahan itu menyebabkan terjadinya dislokasi masa batuan, yang kemudian mendorong sejumlah besar volume air laut, sehingga membentuk gelombang pasang yang bergerak secara radikal menjauhi pusat gempa.

Berdasarkan hasil pengukuran ketinggian dan rambahan tsunami di beberapa lokasi, terlihat kecenderungan terjadi penguatan amplitudo (atenuasi) gelombang tsunami di teluk-teluk yang langsung menghadap laut lepas.

Keberadaan paparan pantai dengan kedalaman air relatif dangkal kemungkinan menyebabkan pecahnya gelombang tsunami pada saat menghantam pantai, sehingga menimbulkan kerusakan parah sampai radius 100 – 300 meter dari titik pasang tertinggi.

Rekaman data lapangan di sepanjang wilayah bencana menunjukkan pantai Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat terlanda tsunami paling berat.

Pantai Pangandaran bagian barat relatif mengalami kerusakan lebih parah akibat terjangan gelombang pasang, jika dibandingkan Pantai Pangandaran bagian timur.

Keberadaan Semenanjung Pananjung relatif melindungi Pantai Pangandaran bagian timur dari terjangan gelombang pasang.

Pada saat kejadian, gelombang pasang yang menghantam Semenanjung Pananjung dipantulkan, sehingga bergerak menuju Pantai Pangandaran bagian barat dengan ketinggian sekitar dua meter pada jarak sekitar 200 meter dari garis pantai.

Berdasarkan data ketinggian dan rambahan tsunami, diharapkan ada interpretasi tentang zona-zona rawan, dan ini sebagai masukan bagi penataan kembali tata ruang di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa.

Bukan rambatan Sumatra

Pakar Geologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Afnimar mengatakan gempa Tasikmalaya, Jabar berkekuatan 7,3 SR, Rabu (2/9) pukul 14.55 WIB bukan merupakan rambatan gempa dari Siberut, Sumatra Barat pada pagi harinya, Rabu pukul 09.08 WIB.

“Gempa Sumatra memicu gempa di Jawa, secara saintifik tidak masuk akal, karena lokasinya terlalu jauh,” kata Afnimar.

Menurut dia, semua kawasan di sepanjang pantai barat Sumatra hingga pantai selatan Jawa sampai pantai selatan Nusa Tenggara berpotensi terjadi gempa, karena terletak di tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia.

Artinya, kata dia, masing-masing lokasi di kawasan itu memiliki zona gempa sendiri-sendiri yang tidak saling terkait antara zona satu dengan zona lainnya.

“Kebetulan saja terjadi dua gempa yang dirasakan dalam satu hari,” katanya.

Ia mengatakan gempa tersebut terjadi jika di suatu lokasi terdapat akumulasi energi yang sudah tidak bisa ditahan lagi oleh titik tersebut.

“Gempa itu bisa saja memicu gempa susulan di sekitarnya, tetapi masih tetap di zona yang sama,” katanya.

Namun, Afnimar sependapat bahwa suatu gempa yang besar bisa saja dirasakan hingga ke lokasi yang sangat jauh, misalnya gempa yang berpusat di 104 barat daya Tasikmalaya itu juga dirasakan oleh penduduk Denpasar, Bali.

“Gempa tersebut getarannya bisa saja dirasakan hingga ke seluruh dunia, apabila gempanya sangat besar. Kalau gempa Tasikmalaya, tentu saja tidak akan bisa dirasakan di Amerika Serikat, karena terlalu jauh,” katanya.

Menurut BMKG, gempa Tasikmalaya pada Rabu 2 September 2009 itu terasa di Jakarta sebesar IV modified mercalli intensity (MMI).

Pada III-IV MMI gempa dirasakan semua orang, IV-V MMI gempa dirasakan semua orang tanpa ada kerusakan bangunan, dan MMI V-VI gempa mengakibatkan kerusakan bangunan.

Sedangkan dari Bandung dilaporkan guncangan sekitar II-III MMI, II-III MMI di Tangerang , II MMI di Tegal, V-VI MMI di Puncak, IV-V MMI di Depok, II-III MMI di Subang, VI MMI di Sukabumi, III MMI di Cibinong, IV-V MMI di Purwokerto, II MMI di Klaten, III MMI di Bekasi, II MMI di Wonosari (Gunungkidul), II-III MMI di Denpasar. (*)

COPYRIGHT © 2009

05
Sep
09

Bencana Alam : Pasca Gempa, Lumpur Putih Pekat dan Retakan

Sabtu, 05/09/2009 11:03 WIB
Gempa 7,3 SR
Semburan Lumpur Ditemukan di Kampung Pasir Gede
Rachmadin Ismail – detikNews


Tasikmalaya – Semburan lumpur berwarna pekat putih terjadi di Kampung Pasir Gede, Desa Sukahening, Tasikmalaya, Jawa Barat. Semburan lumpur itu terjadi menyusul gempa 7,3 skala richter yang berpusat di Tasikmalaya.

Semburan lumpur itu ditemukan di pekarangan milik Edi Rushendi. Genangan lumpur kini mencapai 2 meter dengan lebar 5 meter x 8 meter. Namun, tidak sampai menggenangi rumah warga sekitarnya karena terhalang bukit kecil.

“Setelah gempa di wilayah itu, keluar air semacam lumpur yang berwarna pekat putih. Oleh warga sekitar dipercaya terjadi karena gempa,” kata Asisten I Sekda Kabupaten Tasikmalaya, JJ Suhendi.

Hal ini disampaikan Suhendi di kantornya, Pemkab Tasikmalaya, Kampung Pasir Gede,Desa Sukahening, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmaya, Jawa Barat, Sabtu (5/9/2009).

Berdasarkan ceritanya penduduk, kata dia, dahulu sebelum Gunung Galunggung meletus lumpur semacam ini juga pernah muncul.

“Sekarang juga muncul dan jumlahnya terus bertambah. Tetapi, volume lumpurnya kadang besar, kadang tiba-tiba mengecil,” ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, tim dari Pusat Nitigasi Bencana dari Fakultas Teknik Sipil ITB telah diterjunkan untuk meneliti cairan tersebut.

“Lumpur itu di Yogyakarta juga pernah terjadi. Biasanya muncul setelah gempa. Tetapi, jenis cairannya apa belum bisa dipastikan. Saya diteliti dulu,” kata seorang peneliti, I Wayan Sengara.
(aan/djo)

Sabtu, 05/09/2009 10:38 WIB
Gempa 7,3 SR
Kaki Gunung Galunggung Retak, Longsor Mengancam
Rachmadin Ismail – detikNews


Tasikmalaya – Kaki Gunung Galunggung retak akibat gempa berkekuatan 7,3 scala richter (SR) yang berpusat di Tasikmalaya, Jawa Barat. Warga sekitar diminta mewaspadai bahaya longsor.

“Tetapi dikhawatirkan kalau itu retak akan terjadi longsor,” kata Kepala Posko Pengamatan Gunung Galunggung, Heri Supartono, saat dihubungi detikcom, Sabtu (5/9/2009).

Oleh karena itu, kata Heri, masyarakat untuk sementara ini menghindari wilayah tersebut agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Karena, longsor itu bisa datang kapan saja, tidak bisa diprediksi,” ujarnya.

Banyak pemukiman penduduk di kaki Gunung Galunggung. Penduduk kini masih bertahan dan tetap melakukan aktivitasnya.

Kaki Gunung Galunggung retak sepanjangnya sekitar 300 meter. Sementara lebarnya hanya sekitar 0,5 centimeter. Aktivitas Gunung Galunggung tidak terpengaruh.

(aan/djo)

05
Sep
09

Bencana Alam : Gempa Tasikmalaya Terasa Sampai Bali

Gempa Tasikmalaya Terasa Sampai Bali
Rabu, 2 September 2009 | 16:01 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com – Gempa berkekuatan 7,3 Richter yang berpusat di 142 kilometer sebelah barat daya Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (2/9) pukul 14.55 WIB juga dirasakan di Pulau Bali. Menurut data BMKG Wilayah III Denpasar, intensitas gempa di Bali termasuk dalam skala II Modified Mercally Intensity (MMI).

“Getaran gempa itu dirasakan seperti halnya ketika ada truk yang melintas di depan kita. Dan, sejauh ini memang tidak ada laporan adanya kerusakan, kata Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar,” Endro Tjahjono.

Gempa terasa beberapa lama, khususnya di gedung-gedung bertingkat. Sejumlah warga maupun karyawan yang bekerja di lantai dua terkejut. Lampu-lampu gantung bergoyang untuk beberapa saat. Demikian juga air mineral di dispenser bergoyang akibat getaran gempa.

“Terasa cukup kuat dan terjadi hampir setengah menit. Kami terkejut dan beranjak dari meja kerja bersama beberapa rekan,” kata Yurison, karyawan swasta di seputar Renon.

Endro menyatakan, intensitas gempa di Bali sama dengan yang dirasakan di sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat, seperti Tegal dan Subang. Intensitas gempa tinggi dirasakan di kawasan Puncak, Bogor, dan Sukabumi yakni hingga 6 MMI.


Robertus Benny Dwi K.,Ayu Sulistyowati

04
Sep
09

Bencana Alam : Tiga Gempa Hebat yang Goyang Batavia

Tiga Gempa Hebat yang Goyang Batavia
Gang Torong hingga kini masih digunakan untuk nama gang di kawasan Petak Sembilan, Jakarta Barat. Nama gang itu diyakini bermula dari adanya sebuah menara (toren) untuk observatorium yang didirikan Johan Maurits Mohr. Ketika rumah sekaligus observatorium Mohr masih berdiri bagaikan menara (toren), kawasan ini bernama Torenlaan. Toren dilafalkan warga lokal sebagai torong jadilah Gang Torong. Bekas-bekas observatorium itu sudah ratusan tahun lalu lenyap.
Kamis, 3 September 2009 | 15:52 WIB

SELASA (2/9), Jakarta diguncang gempa untuk kesekian kali. Jakarta sudah akrab dengan gempa sejak sekian abad lalu. Meski catatan gempa yang pernah terjadi di Batavia tak mudah ditemukan, setidaknya ada beberapa catatan sejarah yang sering menyebut tiga gempa hebat yang pernah menggoyang Batavia.

Warta Kota pernah menyebutkan satu di antaranya, yaitu gempa di tahun 1780 dalam kaitan dengan sejarah Observatorium Mohr, observatorium pertama di Batavia pada 1765 yang dibangun Johan Maurits Mohr. Robert H van Gent, dalam makalah berjudul Observations of the 1761 and 1769 Transits of Venus from Batavia (Dutch East Indies), menyebutkan, pada 1780 gempa bumi mengguncang Batavia dan, salah satunya, memorakporandakan Observatorium Mohr.

Lahan bekas letak observatorium itu kini ada di sebuah gang bernama Gang Torong di Jalan Kemenangan Raya (Petak Sembilan), Jakarta Barat.

Jauh sebelum itu, yaitu pada 4 dan 5 November 1699, ternyata Batavia juga sudah dikoyak gempa yang memorakporandakan kota. Gedung-gedung hancur, sistem persediaan air pun ikut kacau. Willard Hanna dalam buku Hikayat Jakarta menuliskan, gereja yang pernah berlokasi di mana Museum Wayang kini berdiri, juga hancur karena gempa.

Hanna juga mencatat, gempa kala itu diikuti letusan gunung berapi dan hujan abu hingga aliran Sungai Ciliwung penuh lumpur. Catatan gempa besar lainnya di Batavia adalah tahun 1883 ketika Gunung Krakatau meletus. Meski demikian secara tersebar dan tanpa keterangan jelas disebut pula gempa lain di tahun 1833 dan 1903.

Sementara itu kegiatan pengamatan meteorologi pertama di Batavia sudah dilakukan 1 Januari 1758 tapi pengamatan teratur meteorologi dan geofisika dimulai tahun 1866 dengan berdirinya Observatorium Magnet dan Meteorologi (OMM) atau Koninklijk Magnetisch en Meteorologisch Observatoriu (KMMO).

Dalam buku A History of Science in The Netherlands: Survey, Themes, and Reference, yang diedit oleh van Berkel, van Helden, dan Palm, disebutkan, Pieter Adriaan Bergsma, sarjana di bidang geologi, ditugaskan melakukan penelitian meteorologi dan geomagnetic di Batavia sampai kemudian Bergsma menjadi pimpinan di KMMO.  Tugas utamanya melakukan penelitian iklim dan peramalan cuaca jangka panjang untuk usaha pengembangan pertanian khususnya perkebunan milik Belanda di Indonesia.

Dalam perjalanan, nama lembaga itu kemudian berubah-ubah. Di zaman Jepang menjadi Kisho Kauso Kusho dan setelah kemerdekaan lembaga ini dipecah menjadi dua, yaitu Biro Meteorologi di Yogyakarta yang khusus bertugas mengumpulkan informasi untuk kepentingan militer, dan Jawatan Meteorologi dan Geofisika di Jakarta, yang berada di bawah Kementrian Pekerjaan Umum dan Perhubungan.

Tugas Jawatan Meteorologi dan Geofisika adalah mengumpulkan informasi meteorologi dan geofisika lainnya. Sejak tahun 1951 Indonesia menjadi anggota World Meteorological Organization (WMO). Pada tahun 1955 Jawatan Meteorologi dan Geofisika berubah statusnya menjadi Lembaga Meteorologi dan Geofisika, dan kemudian pada tahun 1980 menjadi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) di bawah Departemen  Perhubungan. Kegiatan meteorologi dan geofisika yang pada awalnya hanya terbatas pada pengamatan cuaca atau hujan saja, kemudian meningkat dan mencakup berbagai kegiatan pengamatan medan magnet, seismik, dan meteorologi untuk bermacam-macam keperluan.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

04
Sep
09

Bencana Alam : Gempa 5,6 SR Guncang Ujungkulon

Gempa 5,6 SR, Guncang Ujungkulon
Jumat, 4 September 2009 | 08:52 WIB

UJUNGKULON, KOMPAS.com - Gempa berkekuatan 5,6 Skala Richter (SR) mengguncang wilayah Ujungkulon, Jabar, terjadi pukul 07.52 WIB, dirasakan cukup kuat di Provinsi Banten dan sekitar.

Informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Jumat (4/8), gempa berkekuatan 5,6 SR itu terjadi pada episentrum 6.52 Lintang Selatan LS) dan 104.68 Bujur Timur (BT) ber kedalaman 15 Km, dengan pusat gempa 95 Km Barat Laut Ujungkulon, Jabar.

Sebelumnya gempa berkekuatan yang sama juga terjadi pada pukul 23.58 WIB, Kamis, di Papua Barat. Gempa berkekuatan 5,6 SR di Papua Barat itu terjadi pada episentrum 4.69 LS dan 134.10 BT berkedalaman 48 Km, dengan pusat gempa 119 Km Tenggara Kaimanu Papua Barat.

Masyarakat di Provinsi Jabar sampai saat ini masih mewaspadai gempa susulan setelah gempa besar berkekuatan 7,3 SR, Rabu, yang banyak menelan korban jiwa dan ribuan rumah warga rusak di wilayah itu.

Gempa berkekuatan 7,3 SR itu getarannya sampai ke Bengkulu dan sempat mencemaskan warga Bengkulu yang pernah dilanda gempa 7,3 SR pada tahun 2000 dan 7,9 SR pada September 2007.


BNJ
Sumber : Antara




Blog Stats

  • 2,099,486 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 113 other followers