Posts Tagged ‘Earthquake



01
Oct
09

Bencana Alam : Gempa 7,0 SR Guncang Bengkulu dan Jambi

Giliran Gempa 7,0 SR Guncang Bengkulu dan Jambi

Pusat gempa 7,0 SR yang terjadi Kamis (1/10) di dekat Jambi dan Bengkulu.

Kamis, 1 Oktober 2009 | 09:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Gempa berkekuatan 7,0 SR kembali mengguncang wilayah Sumatera. Kali ini pusat gempa dekat Bengkulu dan Jambi.

Gempa tersebut terjadi Kamis (1/10) pukul 08.52 dan berpusat 46 km tenggara Sungaipenuh, Jambi, atau 54 km Mukomuko, Bengkulu. Pusat gempa tepatnya di koordinat 2,44 Lintang Selatan dan 101,59 Bujur Timur.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Pusatnya di darat pada kedalaman 10 kilometer.

WAH

19
Sep
09

Bencana Alam : Gempa Bumi di Bali dan Maluku Utara

Bali Terguncang Gempa, Warga Panik
Ilustrasi Kulit Bumi Retak

Sabtu, 19 September 2009 | 06:54 WIB

BADUNG, KOMPAS.com – Sekitar pukul 07.05 Wita, warga Bali berhamburan keluar rumah karena adanya gempa. Mereka merasakan gempa dua kali dengan skala keras dibandingkan pada 2 September lalu.

Sejumlah warga memukul kentongan sebagai tanda waspada adanya gempa. Berdasarkan keterangan dari BMKG Denpasar, gempa berkekuatan 6,4 SR di 101 km tenggara Nusa Dua dengan kedalaman 34 km.

Namun, belum ada laporan adanya kerusakan materi. Hanya saja beberapa barang ringan di almari misalnya sempat jatuh. Anak sekolah berhamburan dan beberapa di antaranya diinfokan diliburkan.


AYS
Gempa 6,4 Skala Richter di Maluku Utara

Sabtu, 19 September 2009 | 06:27 WIB

BANDARLAMPUNG , KOMPAS.com – Gempa berkekuatan 6,4 Skala Richter (SR)terjadi di perairan Maluku Utara pada Sabtu, pukul 01.34 WIB, dan pusat gempa itu berada di 117 kilometer Barat Laut Ternate-Maluku Utara.

Laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Sabtu (19/9), menyebutkan, gempa yang berlokasi pada 1,80 Lintang Utara-127,10 Bujur Timur, dan kedalaman 91 kilometer itu, tidak berpotensi tsunami.

Pusat gempa juga berada pada 215 kilometer Timur Laut Bitung-Sulawesi Utara, 249 kilometer Tenggara Melonguane-Sulawesi Utara, 253 kilometer Timur Laut Manado-Sulawesi Utara, dan 269 kilometer Tenggara Tahuna-Sulawesi Utara.

Sumber : Antara

18
Sep
09

Bencana Alam : Longsor Cikangkareng, Bukan Sekedar Gempa Bumi

Longsor Cikangkareng

Senin, 7 September 2009 21:50 WIB | Artikel | Pumpunan |

Jafar M. Sidik

Longsor Cikangkareng, Bukan Sekadar Gempa Bumi
Batu-batu raksasa menutupi areal seluas 5 hektare menyusul gempa bumi 7,3 skala richter pada 2 September 2009, puluhan orang terkubur hidup-hidup di Kampung Babakan Caringin, Cikangkareng, Cianjur, Jawa Barat, 07-09-09. ((ANTARA/Jafar))

Cianjur (ANTARA News) – Apa jadinya jika batu-batu raksasa seukuran kulkas dua pintu atau minubus yang beratnya berton-ton jatuh dari bukit setinggi 200an meter dan berjarak sekitar 300 meter dari Anda, mengejar dengan kecepatan yang lebih cepat dari kemampuan Anda berlari?

Tak perlu dijawab memang.

Tetapi bagi warga kampung Babakan Caringin, Desa Cikangkareng, Kecamatan Cibinong, Cianjur, peristiwa itu bukanlah gambaran khayali pikiran. Merekalah yang menjadi korban keberingasan bencana alam Rabu pekan lalu.

Batu-batu raksasa yang semula terbenam dan direkatkan satu sama lain dalam sebuah rangkaian bukit itu ambrol, begitu gempa bumi 2 September berkekuatan 7,3 skala richter mengguncang paruh selatan Jawa Barat. Cikangkareng dan Cibinong berada di pinggir selatan terjauh provinsi itu.

Bagaikan hasil ledakan sebuah dinamit, bukit di pinggir kampung itu memuntahkan batu-batu besar dalam hitungan detik, berhamburan menghujam, meratakan dan mengubur puluhan rumah, sekaligus membenamkan hidup-hidup puluhan orang yang kebanyakan orang tua, anak-anak, dan wanita.

Padahal, tidak seperti bencana Situ Gintung dan Longsor Girimukti yang terjadi malam hari beberapa bulan sebelumnya, longsor hebat di Cikangkareng itu terjadi siang hari, beberapa detik setelah gempa Jabar mengguncang bumi, Rabu pukul 14.55 WIB pekan lalu.

“Suaranya bagaikan guntur, saya lihat batu besar-besar `racleng`. Saya berlari sekencang mungkin ke arah selatan,” kata Samsudin, 45 tahun, warga Kampung Pamoyanan, yang rumahnya hanya berjarak 200 meter dari berhentinya gerakan masif batu-batu raksasa itu.

“Racleng” merupakan kata bahasa sunda yang berarti bergerak sporadis dalam kecepatan tinggi.

Sampai Minggu (6/9) malam, 40an orang warga dua desa yang berbatasan itu terkubur oleh ribuan ton batu raksasa yang diperkirakan menutupi areal seluas lima hektare.

“41 orang masih terkubur, sedangkan 29 orang meninggal dunia,” kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah Cianjur Supardan mengonfirmasikan statistik terakhir longsor batu cadas akibat gempa bumi di daerah itu, Minggu.

Korban tewas terbaru yang ditemukan hari Minggu itu adalah perempuan berusia 35 tahun bernama Nuryani, warga Kampung Babakan Caringin, setelah sehari sebelumnya tim penyelamat menemukan dua mayat sekaligus, yaitu seorang ibu dalam kondisi memeluk bayi berusia tiga bulanan.

Tebing

Korban tertimbun memang terus dicari sampai tujuh hari setelah bencana, sesuai ketentuan UU penanganan bencana, namun tim penyelamat mengaku sulit menemukan lagi korban, mengingat batu-batu raksasa menutupi situs bencana dengan ketinggian hampir enam meter. Kalau pun ditemukan, kondisi mayat sudah tidak utuh lagi.

“Ada yang cuma hidungnya, tangannya, kakinya. Saya bahkan tidak kuat melihatnya lama-lama,” kata Supardan.

Pencarian difokuskan di sebuah rawa, yang diyakini tempat sebagian korban terkubur, karena mencari di bawah tumpukan batu sangatlah kecil kemungkinannya, kendati alat-alat berat dikerahkan ke sana.

“Kebanyakan korban ditemukan di sini, tadi pagi saja satu korban lagi ditemukan di sini,” kata Isfar Marja, seorang relawan dari tim yang dikoordinasi sebuah parpol besar di Cianjur.

Kampung Babakan Caringin dan sekitarnya berada di barat rangkaian bukit berbentuk segitiga siku-siku. Bagian timur bukit itu selamat dari reruntuhan batu karena reliefnya landai 45 derajat, tidak seperti di sisi barat.

Karena menempati kawasan bertebing, maka desa itu disebut Cikangkareng yang diambil dari kata “kangkareng” yang berarti tebing batu.

Di punggung dan puncak bukit merentang jalan berkelok yang tampaknya hanya truk-truk pengangkut kayu dan hasil-hasil perkebunan rakyat yang sering lewat sehingga jalan beraspal seadanya itu rusak, tinggal bebatuan.

Hanya beberapa depa dari puncak bukit yang ambrol itu, berdiri sebuah bukit lain yang kondisinya gundul, seperti banyak ditemui di kawasan selatan Cianjur.

Namun, mengutip Kepala Dinas Kehutanan dan Konservasi Tanah Kabupaten Cianjur Ma`mun Ibrahim, lahan sekitar situs bencana bukan lahan kritis.

Ma`mun enggan mengomentari keluhan sejumlah kalangan, termasuk warga sekitar bencana, bahwa longsor bebatuan raksasa itu ada hubungannya dengan kondisi bukit yang memang sudah rentan. “Itu akibat gempa bumi kok, tidak ada hubungannya dengan kondisi lahan,” katanya berkilah.

Labil

Boleh jadi Ma`mun benar. Gempa bumi memang kuat mengguncang Cianjur dan sekitarnya, tetapi getaran gempa bumi sangat mungkin adalah puncak dari ketidakmampuan bukit segitiga siku-siku itu dalam menyangga bebannya karena tumpukan batu raksasa di dalamnya sudah tidak bisa lagi direkat oleh tanah, akibat berkurangnya resapan air.

“Kondisi tanah di daerah situ memang labil. Kami sudah lama memperkirakan bukti itu akan ambruk, sebelum gempa bumi terjadi,” kata Bahrudin Ali, Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan (PSDAP) Kabupaten Cianjur atau dulu dikenal Bina Marga.

Ironisnya, posisi bukit runtuh itu terdapat pada hampir semua daerah di Jawa Barat, sementara kawasan mukim seperti Desa Cikangkareng bukanlah satu-satunya di provinsi ini, atau bahkan di seluruh Indonesia. Kawasan-kawasan seperti ini umum rawan bencana.

Mungkin karena alasan itu, pemerintah Provinsi Jawa Barat enggan menyetujui eksploitasi masif daerah selatan Jawa Barat, karena di samping mengancam keselamatan budaya setempat, juga dikhawatirkan merusak lingkungan, mengingat eksploitasi bisnis di daerah kerap tanpa kendali, tanpa mempertimbangkan harmoni alam.

Lebih jauh, gempa disusul longsor cadas di Cikangkareng mengajarkan orang mengenai kewajiban untuk berhati-hati mengelola alam, karena aktivitas ekonomi yang hanya hirau pada untung, laba dan pencapaian materil, telah berulangkali menyengsarakan masyarakat.

Tanah merah yang sudah renggang makin keropos ikatannya karena serapan air merenggang akibat hutan-hutan digunduli, dan saat bersamaan truk-truk menggetarkan tanah yang sudah keropos itu, sehingga gempa bumi mungkin bukan satu-satunya faktor pemicu tragedi di Cikangkareng.

Buktinya, gempa Rabu itu memang besar, tetapi rumah-rumah di selatan Cianjur, dari Sindang Barang sampai Sukanagara, kokoh berdiri. Bahkan, sebagian besar rumah di Desa Pamoyanan yang hanya sepelemparan batu dari Kampung Babakan Caringin, Desa Cikangkareng, umumnya tegak berdiri, karena ada di dataran landai dan agak jauh dari bukit runtuh.

Cikangkareng mungkin merupakan satu dari ratusan longsor hebat yang acap dianggap mululu bencana alam tetapi sesungguhnya ada andil tangan kotor manusia di dalamnya.

Maka kemudian, bencana itu seolah mengajarkan pada kita bahwa elok-eloklah mengelola alam, berhati-hatilah beradministrasi lingkungan, dan pahamilah alam laksana anatomi tubuh.

“Satu bagian sakit, sakitlah seluruh tubuh,” kata enviromentalis James Lovelock yang kesohor dengan Hipotesis Gaia-nya.
(*)

COPYRIGHT © 2009

14
Sep
09

Kearifan Lokal : Hindarkan Warga Adat dari Dampak Gempa

KOMPAS/A HANDOKO
Anak-anak Kampung Dukuh, Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengikuti pengajian di Madrasah, Sabtu (12/9) pagi. Selama bulan Ramadhan, anak-anak dari desa adat ini rutin mengikuti pengajian pada pagi hari.

KEARIFAN LOKAL
Hindarkan Warga Adat dari Dampak Gempa

KOMPAS, Senin, 14 September 2009 | 05:37 WIB

Oleh A Handoko

Sutarman (64) sedang duduk di ruang tengah ketika tiba-tiba rumahnya berayun-ayun. Sadar terjadi gempa, lelaki tua warga adat Kampung Dukuh, Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, itu langsung keluar rumah.

”Dari luar, semua rumah saya lihat juga berayun naik-turun selama sekitar satu menit,” tutur Sutarman, Sabtu (12/9), menceritakan gempa yang terjadi pada Rabu lalu. Rumah-rumah panggung di Kampung Dukuh masih tetap berayun setelah gempa berhenti, tetapi tidak lama.

”Namun, tidak ada satu rumah pun yang rusak setelah gempa itu. Padahal, gempa itu menurut saya sudah besar,” kata Sutarman. Struktur bangunan rumah di Kampung Dukuh yang terdiri dari sambungan kayu-kayu memang membuat bangunan tetap kokoh berdiri walaupun terjadi gempa. Bangunan rumah masih terus berayun setelah gempa, tetapi itu hanya konsekuensi dari struktur bangunan yang mengaitkan satu kayu dengan kayu lainnya.

Hal yang kontras terlihat di sekitar Kampung Dukuh. Tak sedikit rumah bertembok bata di Kecamatan Cikelet rusak. Kalaupun rumah tidak roboh, temboknya retak-retak. Di Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, belasan keluarga harus meninggalkan rumah dan tinggal di tenda darurat di pinggir jalan karena rumah mereka ambruk atau tak bisa dihuni lagi.

Kuncen (juru kunci) Kampung Dukuh, Lukman Hakim, mengatakan, kerangka rumah warga adat memang hanya menggunakan kayu dengan dinding anyaman bambu serta atap anyaman ilalang.

”Itu adalah tradisi turun-temurun Kampung Dukuh. Warga adat yang masih mau tinggal di wilayah adat hanya boleh membangun rumah seperti itu,” kata juru kunci ke-14 Kampung Dukuh itu.

Secara turun-temurun diajarkan pula, rumah panggung dengan tulang kayu, dinding anyaman bambu, dan atap anyaman ilalang itu merupakan cara warga adat untuk hidup sederhana.

”Bentuk dan tipe rumah di sini hampir sama. Itu mengajarkan kepada kami untuk tidak saling iri karena semua sama sederhananya. Di dalam rumah juga tidak banyak isinya,” tutur Lukman.

Di Kampung Dukuh terdapat sekitar 40 rumah dengan jumlah warga sekitar 300 jiwa. Rumah- rumah itu dibangun searah menghadap ke timur dengan atap mengarah ke utara dan selatan. Hanya pintu-pintu yang boleh dibuat di arah mana saja.

Kearifan lokal yang sudah dipegang warga adat sejak tahun 1689 itu ternyata tak saja mengajarkan kesederhanaan hidup bagi masyarakat, tetapi juga menghindarkan mereka dari dampak gempa.

Di tempat lain, gempa telah menewaskan puluhan orang dan merusakkan puluhan ribu rumah.

Kepala Pusat Mitigasi Bencana Institut Teknologi Bandung I Wayan Sengara mengatakan, memang sangat masuk akal kalau rumah warga Kampung Dukuh tak rusak ketika terjadi gempa.

”Rumah panggung dengan dinding anyaman bambu dan atap ilalang memang ringan sehingga ketika terjadi gempa, rumah itu lebih sedikit menyerap getaran dibandingkan dengan rumah tembok,” kata Wayan.

Rusaknya rumah tembok, ujar Wayan, selain karena lebih berat, juga karena konstruksi tidak bagus.

”Rumah tembok yang roboh karena gempa umumnya tidak memiliki ikatan-ikatan beton bertulang. Kalaupun ada ikatan- ikatan, cara mengikatnya tidak betul,” ujar Wayan.

Bagi wilayah pedesaan dengan kultur warga yang sederhana, rumah panggung masih cocok. Untuk wilayah perkotaan yang lebih modern, konsep rumah panggung sulit diimplementasikan.

”Jadi, di wilayah perkotaan yang termasuk daerah rawan gempa, seperti Jawa Barat, tidak jadi soal warga membangun rumah bertembok asal konstruksinya pas, pasti aman. Para arsitektur bisa membantu,” kata Wayan.

13
Sep
09

Bencana Alam : Kegempaan Selat Sunda

KEGEMPAAN
Selat Sunda dan Jembatan

KOMPAS, Sabtu, 12 September 2009 | 03:44 WIB

Seusai gempa tektonik yang menerjang selatan Jawa Barat (Rabu, 2/9), kepanikan justru melanda penduduk pesisir Banten beberapa hari sesudahnya, akibat beredarnya isu tsunami. Kepanikan mungkin tidak akan terjadi jika masyarakat setempat memahami perilaku geologi Selat Sunda. Yuni Ikawati

Belakangan ini perhatian banyak orang tengah mengarah ke Selat Sunda. Bukan hanya karena akan ada rencana pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Namun, perhatian menjadi kian kuat setelah terungkap potensi kegempaan berkekuatan lebih dari 8 skala Richter yang berdasarkan pada data sejarah kegempaan tahun 1908.

Melihat intensitas gempa sebesar itu, kemudian muncul pertanyaan apa dan di manakah sumber gempa tersebut?

Untuk menemukan jawabannya, beberapa penelitian telah dilakukan sejak tahun 1983. Pada tahun itu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan survei geologi bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Perancis (CNRS).

”Penelitian itu mencakup daratan dan lautan hingga ke Samudra Hindia,” urai Deputi Ilmu Kebumian LIPI Hery Haryono, yang saat itu menjadi ketua tim peneliti dari Indonesia.

Kerja sama Indonesia-Perancis bidang riset geologi-geofisika di Selat Sunda tersebut memakan waktu 10 tahun (1983-1993). Promotornya adalah Prof MT Zen—guru besar ITB, yang saat itu juga adalah Deputi Kepala BPPT dan Asisten Menneg Ristek—dan Prof X Le Pichon, ilmuwan Perancis yang terkenal dengan bukunya, Plate Tectonics.

Kerja sama riset ini juga melibatkan BPPT, Lemigas, PPGL-ESDM, ITB, UGM, Institut Kelautan Perancis (CNEXO), Lembaga Riset Seberang Lautan (ORSTOM), CNRS, dan beberapa universitas di Perancis.

Penelitian ini untuk pertama kalinya menggunakan kapal riset Indonesia, yaitu KR Baruna Jaya 3. Ekspedisi di laut mencakup survei seismik, aliran arus panas air laut, gaya berat bumi, medan magnetik, dan pemetaan dasar laut. Adapun di darat dilakukan penelitian tektonik aktif dengan pendekatan geologi ataupun seismologi.

Fokus penelitian kegempaan diarahkan pada segmen Semangko di Lampung. Dari data seismologi kemudian dibuat jejaring seismik yang melingkari Selat Sunda. Selain itu, dilakukan penelitian terumbu karang, untuk melihat jejak tsunami pada masa lalu.

Riset di Selat Sunda berangkat dari hipotesis bahwa kawasan itu berada di zona transisi subduksi normal Jawa ke subduksi miring Sumatera sehingga menghasilkan Selat Sunda dengan rezim tektonik ekstensi atau melebar. ”Terbukanya” Selat Sunda ini bersamaan dengan terbukanya Laut Andaman. Keduanya dihubungkan oleh Patahan Sumatera, jelas Hery yang juga menjadi Wakil Ketua International Union Geodesy dan Geology (IUGG) untuk Indonesia.

Hipotesis lain adalah Patahan Sumatera menerus ke Selat Sunda dan menerus hingga Palung Jawa. Selat Sunda terbuka akibat pergerakan lempeng busur luar Sumatera (Sumatera forearc plate) ke arah barat laut.

Lempeng mikro ini di timur dibatasi Patahan Sumatera, di barat oleh Palung Sumatera. Paper ini ditulis oleh Huchon dan X Le Pichon serta dimuat di jurnal Geology pada tahun 1984.

Hasil penelitian

Dari penelitian seismik tersebut tampak jelas bahwa Selat Sunda mengalami penurunan. Selain itu, tampak rezim ekstensi–sesuai hipotesis-dengan arah barat laut–tenggara.

Dari model gravitasi dilakukan rekonstruksi pembukaan Selat Sunda yang dimulai sejak 13 juta tahun yang lalu, kemudian makin cepat 10 juta tahun lalu, dan makin cepat lagi sekitar 5 juta tahun lalu.

Pergerakan atau perpindahan maksimum yang terjadi sejak 5 juta tahun lalu mencapai 50 km hingga 70 km. Jika diambil rata-rata pergerakan itu, kecepatannya sekitar 7 cm per tahun.

Dari studi perambatan gelombang gempa diketahui adanya beberapa kantong magma di kedalaman 3 km-9 km dan terdapat reservoir yang terletak lebih dalam, yaitu 20 km lebih.

”Kini studi semacam ini bisa dilakukan secara lebih detail dengan menggunakan teknik tomografi. Saya ingin ini bisa dilakukan lagi,” urai Hery, mantan Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI.

Dari gravitasi, khususnya di kompleks Krakatau, diperoleh model kaldera kolaps yang bisa jadi memicu tsunami tahun 1883. Menurut peneliti paleogeologi kelautan LIPI, Wahjoe S Hantoro, saat itu terjadi tsunami setinggi 30 meter di Merak, sedangkan di Jakarta mencapai ketinggian 2 meter.

Penelitian ini juga mengonfirmasi hipotesis tentang adanya terusan Patahan Semangko hingga ke palung atau subduksi di selatan Jawa Barat.

Penemuan Yusuf Surachman dari Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT pada tahun 2002 menguatkan temuan ini.

Busur luar Sumatera

Dari Selat Sunda penelitian bergeser ke busur luar Sumatera, tempat pulau-pulau Enggano, Mentawai, dan Nias berada. Pada pelayaran tahun 1991 inilah ditemukan Patahan Mentawai.

Sementara itu, penelitian pergerakan daratan di Selat Sunda menggunakan jejaring stasiun global positioning system (GPS), baik di Lampung, Banten, maupun Jawa Barat, yang dilakukan Kepala Pusat Geodinamika Bakosurtanal Cecep Subarya memperjelas adanya pembukaan selat tersebut di wilayah selatan.

Bagian utara Sesar Semangko berputar searah jarum jam, sedangkan di sisi Banten berputar melawan jarum jam. Bagian selatan Sesar Semangko, yaitu di daerah Krui Lampung, terkunci.

Hal ini bisa memberi sedikit gambaran pola kegempaan yang kompleks di kawasan Selat Sunda. Hal ini mestinya dapat menjadi patokan dalam pembangunan infrastruktur, termasuk jembatan, yang rencananya akan dibangun untuk menghubungkan dua pulau: Jawa dan Sumatera.

11
Sep
09

Bencana Alam : ParPol dan Rumor Politis

SUARA PEMBARUAN

ZOOM2009-09-11Bencana, Parpol, dan Rumor Politis
Anita Retno Lestari

Bencana berupa gempa, tanah longsor, banjir, dan kekeringan bertubi-tubi melanda berbagai daerah di Tanah Air. Dan setiap terjadi bencana, yang paling repot adalah Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah dalam membantu korban. Sedangkan sejumlah partai politik (parpol) seolah-olah bersembunyi entah di mana. Padahal, setiap parpol memiliki pengurus dan anggota yang tersebar di (hampir) semua pelosok daerah.

Biasanya, parpol-parpol hanya sibuk menolong korban bencana jika kejadiannya pada saat menjelang pemilu, karena punya kepentingan kampanye. Seperti ketika terjadi bencana bobolnya Situ Gintung, Tangerang, menjelang pemilu lalu, banyak parpol bermunculan menggalang posko bantuan dengan mengibarkan bendera parpol masing-masing.

Seharusnya, potensi parpol ditunjukkan kepada publik pada saat banyak rakyat menjadi korban bencana, bukan hanya menjelang kampanye. Dalam hal ini, banyak hal sebenarnya bisa dilakukan parpol-parpol terhadap korban bencana. Misalnya, membentuk posko-posko bantuan serta menjadi komando regu relawan yang direkrut dari satgas-satgasnya.

Sangat naif jika parpol terkesan tidak terlalu peduli pada korban bencana dengan dalih tidak ingin mempolitisasi tragedi. Sebab, dalam dunia politik, setiap hal yang berkaitan dengan rakyat boleh saja dipolitisasi asalkan untuk kepentingan rakyat. Tidak ada yang perlu ditabukan jika ada parpol yang memanfaatkan momentum tragedy, seperti terjadinya bencana untuk membangun citra dan memupuk kekuatan politiknya dengan menggalang kesetiakawanan atau solidaritas publik.

Oleh karena itu, selayaknya setiap parpol justru berlomba-lomba menunjukkan kekuatannya membantu korban bencana. Demi membangun citra dan memupuk kekuatan politik untuk pemilu-pemilu pendatang, setiap parpol tak perlu malu-malu atau kikuk melakukan “kampanye simpatik” di daerah bencana. Hal ini jauh lebih baik daripada sembunyi saat banyak rakyat memerlukan bantuan.

Kini, saatnya setiap parpol menjadi pengayom dan penghibur rakyat yang tertimpa. Betapa rakyat akan gembira jika, misalnya, sejumlah ketua parpol berduyun-duyun ke lokasi bencana dengan membawa bantuan materi dan tenaga. Bagi pihak-pihak yang alergi politik, tak perlu melontarkan komentar atau teguran terhadap parpol-parpol yang peduli korban bencana. Jangan lagi menuduh melakukan politisasi tragedi, karena setiap parpol sebenarnya memang dibangun dari simpati dari rakyat untuk rakyat. Sebaliknya, sangat ironis jika parpol selalu sembunyi saat banyak rakyat tertimpa bencana.

Rumor Politis

Jika memang ada yang menolak politisasi bencana, selayaknya ditujukan kepada sejumlah pihak yang mencoba-coba menggiring rakyat untuk mempercayai klenik. Misalnya, belakangan muncul rumor politis bahwa bencana melanda negeri ini bertubi-tubi karena rakyat telah memilih Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla (SBY-JK) sebagai presiden dan wakil presiden.

Rumor politis tersebut, pada saat ini, harus ditepis agar jangan berkembang menjadi sentimen politis yang merusak kesetiakawanan sosial yang berlandaskan universalisme. Layak diduga, rumor politis tersebut sengaja dihembuskan untuk memecah-belah Bangsa Indonesia yang seharusnya bersatu padu menghadapi bencana tanpa peduli sekat-sekat politis, teologis, dan sosiologis. Apa pun alasannya, rumor politis tersebut juga tidak layak untuk didiskusikan. Misalnya, karena alasan spiritualisme atau mistik maka ada yang berusaha mengkajinya dengan tujuan untuk menganggapnya benar dan layak dipercaya. Sebab, dalam terminologi agama manapun, bencana-bencana yang menimpa sejumlah daerah selayaknya dipandang sebagai musibah. Dalam hal ini, setiap musibah bisa merengggut korban dari kalangan mana pun dan bisa terjadi kapan saja.

Bagi masyarakat Jawa, misalnya, munculnya rumor politis tersebut bisa segera mengingatkan akan permainan logika yang dikenal dengan sebutan othak-athik-gathuk. Permainan logika ini sejak dulu berkembang di tengah masyarakat yang sering mewarnai percakapan di warung-warung kopi. Dalam permainan logika ini, setiap orang bisa berasumsi dan berargumentasi dengan semangat bercanda, sehingga tidak ada yang perlu mempercayainya.

Dengan demikian, tanpa bermaksud membela SBY-JK, kita memang tidak perlu mempercayai rumor politis tersebut. Dan karena dampaknya bisa merusak kesetiakawanan sosial yang bersifat universal, semua pihak layak untuk tidak mengembangkannya menjadi wacana politik yang dapat memicu polemik yang kontraproduktif. Dan jika ternyata ada elite politik yang mencoba menjadikan rumor politis tersebut menjadi wacana publik, layak diingatkan bahwa hal itu merupakan tindakan yang tidak relevan pada saat banyak rakyat membutuhkan uluran tangan dari mana saja.

Bagi siapa pun yang mencoba menganggap rumor politis tersebut sebagai sebuah realitas, karena muncul dari sebuah survei, angket atau penelitian ilmiah, layak diingatkan bahwa hal semacam itu selayaknya tidak perlu dilakukan, karena tidak memiliki relevansi dengan pembangunan bangsa dan negara. Dan sungguh sangat banal jika permainan othak-athik-gathuk dipilih oleh sejumlah pihak pada saat banyak rakyat menderita.

Penulis adalah Direktur Lembaga Studi Humaniora

10
Sep
09

Bencana Alam : Potensi Gempa di Selat Malaka Terabaikan

BENCANA ALAM
Potensi Gempa di Selat Malaka Terabaikan

Kamis, 10 September 2009 | 02:57 WIB

Medan, Kompas – Potensi ancaman gempa bumi terhadap wilayah Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam yang bersumber di Selat Malaka cenderung diabaikan.

Potensi gempa bumi dari Selat Malaka bersumber pada jalur Patahan Mergui yang merupakan bagian dari jalur Patahan Sagaing dari Myanmar.

Menurut Ketua Dewan Pakar Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatera Utara (Sumut) Jonathan Tarigan, selama ini ancaman gempa bumi terhadap wilayah Sumut dan Aceh cenderung hanya dilihat dari dua sumber, yakni Jalur Megathrust Nias-Mentawai dan Jalur Patahan Sumatera (Renun-Toru-Angkola).

”Padahal, ada sumber potensi gempa lain yang dari Patahan Mergui pada Cekungan Mergui Sumatera Utara di Selat Malaka. Ini juga kadang luput dari pengamatan ahli geologi. Patahan Mergui ini berlanjut ke Bohorok hingga ke Nias Selatan,” ujar Jonathan, awal pekan ini.

Menurut dia, terdapat rekam gempa bumi yang bersumber dari Patahan Mergui, yakni gempa bumi 7,7 skala Richter di Nias Selatan pada tahun 1935 dan gempa bumi 7,2 skala Richter di Bohorok/Renun tahun 1936.

Indikasi kegempaan tektonikdi Cekungan Mergui, lanjut Jonathan, adalah terjadinya anomali gravitasi Bumi.

”Ini artinya ada gravitasi negatif, di mana terjadi kecenderungan terjadinya amblesan bumi. Ini dapat menimbulkan potensi gelombang tsunami dan guncangan gempa bumi yang mengancam kawasan Pantai Timur Sumut dan Aceh, serta kota-kota di kawasan ini, seperti Medan, Binjai, Langsa, dan Banda Aceh,” kata Jonathan.

”Jika ada pergerakan lempeng Samudra Hindia, terutama dari sebelah Selatan Selat Malaka, ini bisa memicu terjadinya gempa tektonik di Patahan Mergui,” katanya. (BIL)




Blog Stats

  • 2,301,058 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 129 other followers