Puncak Aktivitas Matahari Tahun 2013
Rabu, 16 Desember 2009 | 05:27 WIB
Jakarta, Kompas – Hasil pengamatan Matahari sejak tahun 2000 menunjukkan jumlah bintik Matahari cenderung menurun hingga mencapai tingkat terendah tahun 2009. Namun, tahun depan diperkirakan mulai terjadi peningkatan kejadian bintik Matahari hingga mencapai puncaknya pada tahun 2013.
Hal ini dipresentasikan Kepala Bidang Matahari dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Clara Yono Yatini, dalam forum komunikasi kehumasan instansi pemerintah bertema ”Fenomena 2012”, di Jakarta, Selasa (15/12).
Sri Kaloka Prabotosari, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan, menambahkan, saat ini Matahari sedang berada pada awal siklus ke-24. ”Menurut perhitungan, puncak siklus terjadi pada sekitar tahun 2012-2013. Saat itu terjadi flare yang sangat besar,” ujarnya.
Munculnya prediksi Lapan, yang dikuatkan dengan data dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), menggugurkan prakiraan tahun lalu yang menyebutkan bahwa puncak bintik Matahari terjadi tahun 2012.
Meski demikian, lanjut Clara, aktivitas Matahari yang mengancam magnet dan lingkungan ionosfer dan atmosfer Bumi bukan hanya berupa bintik Matahari, melainkan ada fenomena lain, seperti flare, lontaran massa korona (corona mass ejection/CME), badai Matahari, dan partikel energetik.
Gangguan komunikasi
Hasil pengamatan sejak tahun 2000, ketika bintik Matahari mengalami penurunan, gangguan cuaca antariksa justru terjadi karena munculnya fenomena tersebut, yaitu pada tahun 2000, 2003, dan tahun 2005.
Gangguan pada tahun-tahun tersebut antara lain mengakibatkan gangguan komunikasi satelit dan blackout atau padamnya jaringan listrik di beberapa negara. ”Oleh karena itu, pemantauan dan antisipasi menjelang puncak aktivitas Matahari harus terus dilakukan,” katanya.
Bintik hitam Matahari mencapai jumlah tertinggi pada tahun 2013 hingga 90 buah. Namun, prediksi sumber lain menyebutkan 170 buah, sama dengan kejadian tahun 2000.
Di daerah bintik hitam itu terjadi puntiran garis medan magnet Matahari. Ini berpotensi menimbulkan flare atau ledakan di permukaan Matahari akibat terbukanya kumparan medan magnet. Selain melepaskan partikel berenergi tinggi, flare juga memancarkan radiasi gelombang elektromagnetik dan menimbulkan badai Matahari. (YUN)
Peneliti Lapan :
Fenomena 2012 Siklus 11 Tahunan
Kamis, 10 Desember 2009 05:31 WIB | Iptek | Sains |

Lapan/ilustrasi (ANTARA)
Jakarta (ANTARA News) – Seorang peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyatakan fenomena meningkatnya aktivitas matahari yang menurut ramalan suku Maya terjadi pada 2012 tidak perlu dikhawatirkan apalagi dihubungkan dengan hari kiamat.
Peneliti astronomi dan astrofisik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang baru saja dikukuhkan sebagai profesor riset Indonesia Dr Thomas Djamaluddin Msc, Rabu, menyatakan tidak ada yang istimewa dari fenomena alam 2012 itu karena hanya siklus 11 tahunan meningkatnya aktivitas matahari.
“Fenomena 2012 yang menghebohkan masyarakat lebih banyak berawal dari ramalan suku Maya, bukan berasal dari alasan ilmiah. Kalau kemudian memang ada fenomena 2012 alasan ilmiahnya apa? Tapi yang lebih banyak diungkapkan justru bukan sainsnya,” kata Thomas usai dikukuhkan sebagai profesor riset di kantor Lapan Jakarta.
Menurut Thomas, fenomena aktivitas puncak matahari sebelumnya diperkirakan terjadi pada 2011, namun titik minimumnya bergeser sehingga diperkirakan terjadi pada 2012. Namun, sekarang pun ada pergeseran lagi sehingga kemungkinan terjadi pada 2013.
Secara alamiah, tegas Thomas, tidak ada yang istimewa karena itu merupakan siklus 11 tahunan. “Terakhir terjadi pada 1989 kemudian pada 2000, dan nanti 2012 atau 2013 akan terjadi lagi.”
Orang kemudian mengkhawatirkan terjadi badai matahari, padahal tidak akan ada badai matahari dahyat yang menimbulkan dampak parah.
Badai matahari pada dasarnya adalah fenomena bumi yang sering terjadi bukan saja saat aktivitas matahari mencapai puncak, tetapi saat aktivitas mulai naik hingga turun lagi tetap ada badai matahari.
Artinya memang frekuensi kejadiannya lebih banyak pada saat puncak. Tetapi, menurut Thomas, kekuatan terbesarnya belum tentu pada saat puncak. Sering kali yang paling kuat justru setelah puncak.
“Katakan puncak yang lalu terjadi di 2000, tetapi aktivitas matahari yang paling besar, yang paling kuat justru terjadi pada 2003,” katanya.
Perbincangan fenomena aktivitas matahari ini juga berkembang, yang kemudian dikaitkan lagi dengan seolah-olah akan ada tumbukan komet.
“Itu juga secara astronomi tidak ada buktinya. Tidak ada informasi atau perkiraan akan ada komet besar yang menabrak bumi pada 2012. Kemudian ada lagi yang memperkirakan ada planet Nibiru, padahal planet Nibiru tidak dikenal dalam astronomi,” jelas Thomas.
Berbagai perbincangan mengenai fenomena 2012, seperti seolah-olah berdasarkan teori astronomi ada asteroit besar yang akan menghantam bumi, sama sekali tidak punya dasar atau tidak ada alasan astronominya.
“Jadi pada dasarnya kekhawatiran 2012 lebih banyak terkait dengan penafsiran ramalan suku Maya, dan oleh ketua suku Maya sendiri sudah menyatakan bahwa 2012 bukan akhir dan itu hanyalah pergantian item kalender yang biasa,” kata dia.
Menurut Thomas, dampak dari badai matahari yang ditimbulkan dari percikan partikel matahari dan menimbulkan medan magnit itu selama ini hanya berdampak pada keberadaan satelit di orbit dan terhadap transformer fasilitas jaringan listrik.
Badai matahari dapat menimbulkan induksi ke fasilitas jaringan listrik sehingga terjadi kelebihan beban dan bisa menyebabkan trafo meledak atau terbakar.
Sampah Antariksa
Dalam orasi ilmiahnya pada pengukuhannya sebagai profesor riset bersama Dr Ir Chunaeni Latief Msc, Thomas juga menyatakan bahwa wilayah Indonesia yang dilalui garis ekuator cukup panjang rentan menjadi tempat jatuhnya sampah antariksa yang sekarang kian banyak.
“Sampah antariksa semakin lama semakin banyak. Yang terpantau oleh sistem jaringan pemantau internasional ada sekitar 13 ribu lebih dan ancamannya bisa mengganggu satelit aktif. Dan salah satunya pernah, sampah antariksa bekas satelit Rusia menabrak satelit aktif karena semakin banyak satelit di antariksa kemungkinan bertabrakan semakin besar,” katanya.
Indonesia yang berada di garis ekuator memiliki kemungkinan lebih besar untuk terkena risiko jatuhnya sampah antariksa dibanding kawasan lain. Oleh karena itu Indonesia harus selalu waspada karena berada pada wilayah yang sering dilalui orbit satelit.
Hal itu harus menjadi perhatian Lapan dalam memberikan pelayanan informasi potensi bahaya benda jatuh dari antariksa sehingga kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dapat dinetraliskan, demikian Thomas Djamaluddin.
Bersama Thomas, peneliti Lapan Dr Ir Chunaeni Latief Msc juga dikukuhkan sebagai profesor riset dalam bidang Opto Elektronika dan Aplikasi Laser. Dalam orasinya ia lebih mencermati kandungan dan efek emisi gas rumah kaca (CO2) dan pemanfaatan instumensi Satklim LPN-1A untuk penelitiannya yang bermanfaat bagi dunia penerbangan, dan kajian pemanasan global.(*)
COPYRIGHT © 2009
LAPORAN IPTEK
Bumi Makin Panas, Bumi Direkayasa
Kompas, Rabu, 16 Desember 2009 | 05:15 WIB
Oleh NINOK LEKSONO
Dari Konferensi Perubahan Iklim PBB yang alot di Kopenhagen, Denmark, kemarin di harian ini kita membaca berita berjudul ”Cuaca Ekstrem Bencana 2009”. Disebutkan di sana, dari semua bencana alam yang terjadi sepanjang tahun 2009, lebih dari tiga perempatnya terkait dengan cuaca ekstrem (Kompas, 15/12).
Di harian International Herald Tribune (11/12), mantan Perdana Menteri Portugal yang kini Komisioner Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR), Antonio Guterres, juga menulis, ”Gempa bumi, siklon, tsunami, banjir, dan tanah longsor merupakan bencana alam yang frekuensinya lipat dua dalam dua dekade terakhir.” Selain frekuensinya meningkat, katastrofi tersebut juga bertambah intensitasnya, meningkat daya penghancuran serta ancamannya terhadap kehidupan manusia. Pada tahun 2008 saja, sekitar 36 juta orang tiba-tiba harus tergusur oleh fenomena alam ini.
Menurut Guterres, meskipun angka yang disebut di atas sudah amat besar, itu masih amat kecil bila dibandingkan dengan jumlah orang yang keamanannya, juga sumber penghidupannya, terus-menerus dirongrong oleh konsekuensi jangka panjang perubahan iklim. Konsekuensi yang dimaksud berupa kekeringan, pola curah hujan yang semakin sulit diramalkan, degradasi dan desertifikasi (penggurunan) tanah, erosi pantai, dan salinifikasi (makin asinnya air tanah).
Skenario yang akan mengikuti situasi tersebut adalah meningkatnya potensi konflik di dalam dan antarnegara. Itu akan terjadi ketika berbagai komunitas berebut sumber daya yang semakin langka, seperti air segar dan lahan pertanian.
Sedikit melihat lebih jauh ke masa depan, rakyat di negara kecil dan berpermukaan rendah akan menghadapi prospek negaranya runtuh berhadapan dengan naiknya laut; kebangsaan, kultur, dan identitasnya pun akan tenggelam.
Ketika hari demi hari kita merasakan cuaca semakin panas, suka atau tidak kita pun mengakui, pemanasan global itu sudah menjadi realitas hidup di sekeliling kita, dengan segenap potensi dampaknya yang amat mencengkam.
Merekayasa Bumi
Dalam konteks ini, masuk akal kalau harapan terhadap Konferensi Kopenhagen atau COP-15 sangat besar. Para pemimpin dunia diseru untuk mendorong dicapainya kesepakatan baru untuk pengurangan emisi karbon.
Sementara waktu terus berjalan, kini sudah muncul pertanyaan yang mengusik. Misalnya saja, apa yang terjadi kalau kesepakatan pengurangan emisi yang dicapai di Kopenhagen tidak memadai? Atau lebih jauh lagi, apa yang akan terjadi kalau target yang disepakati tidak dijalankan? Atau, apa yang akan terjadi seandainya kita dihadapkan dengan krisis ekologi dalam satu-dua dasawarsa ke depan?
Dalam kaitan inilah para ilmuwan mulai menyinggung kemungkinan dilakukannya perekayasaan Bumi atau geoenjiniring (geo-engineering). Pilihan ini mengemuka ketika sejumlah pihak menyangsikan hasil di Kopenhagen.
Salah seorang ilmuwan yang menyusun laporan ini, John Shepard, dari Universitas Southampton, Inggris, mengaku, dia merasa ngeri sendiri membayangkan manusia harus melakukan geoenjiniring. Meski demikian, intervensi teknologi dalam skala besar-besaran ini perlu dilakukan bila memang tidak ada kesepakatan pengurangan emisi karbon.
Seperti dilaporkan Claudia Ciobanu dari Inter-Press Service (JP, 13/12), pada dasarnya geoenjiniring adalah campur tangan dalam skala besar pada sistem iklim bumi.
Dua tipe
Pada saat sekarang ini, proses merekayasa bumi ini bisa dibagi dalam dua macam. Yang pertama adalah penghilangan CO (carbon dioxide removal/CDR), yang dilakukan melalui fertilisasi besi samudra, penggunaan pohon buatan. CDR dapat dilakukan secara lokal dan risikonya dinilai kecil.
Pilihan kedua dikenal sebagai manajemen radiasi matahari (solar radiation management/SRM). Ini dilakukan dengan memantulkan sinar matahari untuk mengurangi pemanasan global dengan menggunakan, misalnya, cermin di angkasa, penyemprotan aerosol di atmosfer, atau penguatan awan.
Metode yang kedua ini tidak mengurangi gas-gas rumah kaca dan juga tidak akan menanggulangi konsekuensi emisi, seperti pengasaman (asidifikasi) laut. Namun, ia dipandang sebagai solusi yang bisa dilakukan dengan cepat. Hanya saja, para ilmuwan mengaku, mereka khawatir dengan efek SRM yang tak teramalkan, khususnya terhadap pola cuaca dan ekosistem.
Dalam kaitan ini, fisikawan Jason Blackstock dari Center for International Governance Innovation melihat geoenjiniring sebagai ”judi yang amat tak pasti, yang tak ingin kami lakukan”.
Dengan melihat risiko yang ada, Blackstock, sebagaimana Shepard, berkeyakinan bahwa pengurangan emisi tetap merupakan prioritas, (karena cara ini yang) paling aman dan lebih bisa diramalkan (hasilnya).
Kemajuan sains dan teknologi memang membawa umat manusia pada peluang untuk menanggulangi krisis yang dihadapinya.
Dalam hal geoenjiniring, risikonya sungguh tidak main-main. Bila cermin pemantul panas matahari dipasang, lalu suhu global turun, sementara ada timbunan karbon dioksida miliaran ton di atmosfer, apa yang akan terjadi dengan pola cuaca? Apa yang akan terjadi pada makhluk hidup? Sulit diramalkan.
Tampak bahwa merekayasa Bumi juga membuat manusia berhadapan dengan ketidakpastian. Alih-alih mendapatkan solusi, manusia justru bisa berhadapan dengan problem baru yang tidak kalah mengerikan.
Dalam perspektif inilah kita semua wajib mendesak para perunding di Kopenhagen untuk mencapai kesepakatan pengurangan emisi karbon. Bahkan, bukan kesepakatan biasa, tetapi kesepakatan dengan target memadai.
Cuaca Ekstrem Bencana 2009
Selasa, 15 Desember 2009 | 09:44 WIB
Kopenhagen, Kompas – Dari semua bencana alam yang terjadi sepanjang tahun 2009, lebih dari tiga perempatnya terkait dengan cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem juga bertanggung jawab atas penderitaan 55 juta jiwa di seluruh dunia.
Demikian laporan yang diluncurkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Belgia bekerja sama dengan Centre for Research on the Epidemiology of Disasters (CRED) berdasarkan data 1 Januari 2009 hingga November 2009.
”Cuaca ekstrem menjadi isu penting yang harus diperhatikan,” kata Wakil Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana Margaretha Wahlstrom dalam jumpa pers, Senin (14/12).
Dari 245 bencana pada tahun 2009, 224 di antaranya terkait cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem bertanggung jawab atas 55 juta jiwa dari 58 juta korban bencana alam, di mana 7.000 orang (dari 8.900 jiwa) di antaranya tewas.
Cuaca ekstrem juga menyebabkan kerugian sebesar 15 miliar dollar AS dari total kerugian akibat bencana alam sebesar 19 miliar dollar AS.
Dari banjir, 11 juta jiwa terkena dampak sepanjang tahun 2009— turun dibandingkan dengan tahun 2008 (45 juta) dan tahun 2007 (178 juta). ”Dari sisi jumlah menurun. Namun, cuaca ekstrem akan tetap menjadi ancaman serius. Lebih dari setengah mengancam penduduk kawasan pesisir,” katanya.
Menurut Direktur CRED Debarati Guha Sapir, data cuaca ekstrem itu belum memasukkan angka korban yang disebabkan kekeringan. ”Secara statistik sulit ditemukan,” katanya. Di Afrika, jumlah dampak kekeringan sangat besar, belum lagi dampak ikutannya. Di Kenya, misalnya, 3,8 juta jiwa butuh bantuan makanan. Dampak tidak kalah serius menerjang kawasan Amerika Tengah, Kolombia, dan Sahel barat yang terserang kekeringan.
Tidak bisa dicegah
Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Michael Jarraud mengatakan, badai tropis, hujan ekstrem, dan kekeringan tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ”Yang bisa dilakukan adalah memprediksikan datangnya sehingga bisa mengurangi dampak buruknya,” katanya. Namun, tidak semua negara memiliki kemampuan teknologi dan ahli untuk itu. Berdasarkan data WMO tahun 2006, sekitar 60 persen dari 189 anggota WMO kemampuannya terbatas.
Dari berbagai kawasan, Asia adalah kawasan paling rentan banjir dan badai. Antara Januari dan November 2009, 48 juta jiwa terkena dampak cuaca ekstrem. Sebagian besar penduduk Asia tinggal di kawasan pesisir. (GESIT ARIYANTO dari Kopenhagen, Denmark)
Matahari dan Pemanasan Bumi Saling Menguatkan
Kompas, Selasa, 15 Desember 2009 | 10:44 WIB
Geneva, Senin – Terjangan radiasi Matahari lebih dari 60 tahun lalu telah menyebabkan lapisan es di puncak gunung di Swiss meleleh lebih cepat daripada saat ini walaupun sekarang pun terekam ada kenaikan temperatur. Demikian hasil penelitian sejumlah ilmuwan yang dipaparkan pada Senin (14/12).
Penelitian mereka tentang dampak radiasi Matahari pada gletser Alpen membawa pada ”penemuan mengejutkan”. Penemuan tersebut adalah pada tahun 1940-an, terutama pada musim panas 1947, volume es yang meleleh adalah terbanyak sejak diukur dari 95 tahun lalu.
Penelitian yang dilakukan Zurich’s Federal Institute of Technology (ETHZ) ini juga mencatat kenaikan temperatur yang mempercepat proses melelehnya es pada tingkat yang tak terduga sebagai akibat pemanasan global. ”Yang baru adalah paradoks tersebut dapat dijelaskan dengan adanya radiasi,” ujar Matthias Huss, salah seorang peneliti.
Penelitian tersebut dipublikasikan dalam Geophysical Research Letters sebagai laporan dari penelitian besar yang dilakukan terkait dampak perubahan iklim dan peran radiasi Matahari dalam model iklim.
Dari penelitian ditemukan bahwa level radiasi Matahari pada tahun 1940-an adalah 8 persen lebih tinggi daripada radiasi rata-rata. Hal itu mengakibatkan salju meleleh sekitar 4 persen. (AFP/ISW)
Recent Comments