Posts Tagged ‘Civilization

25
Aug
14

Peradaban : Revolusi Mental Trilogi 17845

Revolusi Mental Trilogi 17845

Minggu, 24 Agustus 2014 – 18:46 WIB

Dr Ir Pandji R Hadinoto MH

Suara Pembaca:
Revolusi Mental Trilogi 17845

Tahap Transisi Pemerintahan dari Presiden RI No.6 ke Presiden RI No.7 seyogjanya dijalani bangsa Indonesia bersemangatkan Revolusi Mental TRILOGI 17845 guna mendasari tekad Politik TRISAKTI (Politik Berdaulat, Ekonomi Berdikari, Budaya Berkepribadian)

Sejarah mencatat bahwa 23 Agustus 2014 adalah tahun ke-69 dari Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang terbentuk 23 Agustus 1945 dan sebenarnya bisa dimaknai sebagai faktor (1) wujud daripada kelembagaan Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 / Roh Indonesia Merdeka terbukti kemudian beriwayat cikal bakal kelahiran ber-turut2 Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Republik Indonesia (TRI) lalu Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Spirit BKR itu kemudian juga mendorong faktor (2) spontanitas rakyat mendukung Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 dengan berrapat raksasa seperti di lapangan Tambaksari Surabaya pada 18 September 1945 dan di lapangan IKADA, Gambir Jakarta (sekarang lapangan MoNas) pada 19 September 1945.

Dalam konteks proses transisi Presidensiil sekarang ini, maka kedua peristiwa rapat raksasa itu relevan dirujuk sebagai faktor (3) penguat persatuan dan kesatuan warga Indonesia mendukung “kepemimpinan” pemerintahan dan negara saat itu sekaligus faktor ekspresi sikap kegotongroyongan Pancasila warga saat gebyar hajatan rapat raksasa dibawah tekanan ketidakpastian.

Oleh karena itu maka kebersamaan Presiden No. 6 dan Presiden No. 7 peringati peristiwa Tambaksari Surabaya 18 September 1945 dan IKADA Jakarta 19 September 1945 itu adalah momentum penting bagi penguatan transisi pemerintahan terkini dan sekaligus dimaknai sebagai wakili faktor-faktor budaya TRILOGI 17845.

Kini budaya TRILOGI 17845 itu dipahami juga sebagai kumpulan ke-17 butir Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 / Roh Indonesia Merdeka + ke-8 butir Kepemimpinan Hastabrata + ke-45 butir Pengamalan Pancasila Tap MPRRI No XVIII/1998.

Semoga 19 September 2014 yang akan datang bisa jadi tonggak sejarah Revolusi Mental TRILOGI 17845 dan diserukan serta dipublikasikan bagi kepentingan umum.

Jakarta, 24 Agustus 2014
Dr Ir Pandji R Hadinoto MH, Nasionalis Pancasila
PARRINDO – Parlemen Rakyat Indonesia

BERITA LAINNYA
Berita Terkini
Minggu, 24 Agustus 2014 22:31 WIB
Iran Tembak Jatuh Pesawat Tak Berawak Terbaru
Minggu, 24 Agustus 2014 20:13 WIB
Putusan MK Timbulkan Luka yang Tak Bisa Diobati
Minggu, 24 Agustus 2014 18:46 WIB
Revolusi Mental Trilogi 17845
Minggu, 24 Agustus 2014 17:54 WIB
Dampak Putusan MK, Suara Buruh Bisa Diwakili Mandor
Minggu, 24 Agustus 2014 15:29 WIB
Israel Rontokkan Apartemen Gaza

Inilah Kejanggalan Hakim MK yang Punya Waktu Hanya 14 Hari

Minggu, 24 Agustus 2014 – 16:37 WIB

Jakarta – Koordinator Forum Advokat Pengawal Konstitusi, Petrus Selestinus, mempertanyakan kejanggalan putusan hakim Mahkamah Konstitusi (MK) yang hanya memiliki waktu dalam 14 hari tetapi wajib memeriksa semua bukti dalam gugatan Prabowo-Hatta yang jumlahnya segudang lebih.

 

“Waktu sidang yang terbatas hanya 14 hari membuat majelis hakim MK menjadi terbelenggu, tersandera, bahkan hilang kebebasannya dalam memutuskan perkara hasil Pilpres 2014. Ditambah lagi jadwal pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih tersisa kurang dari dua bulan,” ungkap Petrus dalam keterangan persnya, Minggu (24/8/2014).

Seperti diketahui, Tim Hukum Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dalam permohonan tertulisnya ke MK menggugat keputusan KPU RI yang memenangkan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden terpilih, karena ditemukan dugaan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan penyelenggara Pemilu secara terstruktur, sistematis, dan masif.

Menurut Petrus, selama 10 hari bersidang, hakim-hakim konstitusi hanya berputar pada persoalan mendengarkan pembacaan permohonan/gugatan, perbaikan gugatan, menerima jawaban Termohon dan Pihak Terkait, kemudian mendengarkan keterangan Saksi Pemohon, Termohon dan Pihak Terkait, yang jumlahnya ratusan orang dari ribuan saksi yang disiapkan, termasuk menerima foto copy bukti-bukti tertulis yang jumlahnya ribuan dokumen.

“Pertanyaannya kapan hakim-hakim MK membaca, mencermati, memverifikasi bukti-bukti yang jumlahnya ribuah foto copy antara Pemohon, Termohon dan Pihak Terkait,” bebernya.

Apabila melihat ke belakang tentang sejarah peradilan untuk sengketa politik, khususnya ketika era Orde Baru seiring dengan dilahirkannya UU Peradilan Tata Usaha Negara pada tahun 1986, urai dia, maka di dalam salah satu pasal dari UU itu mengecualikan enam Keputusan PTUN yang tidak boleh digugat, termasuk Keputusan KPU tentang Hasil Pemilu.

“Tradisi hukum yang bersifat otoriter sebagai realisasi dari kekuasaan otoriter Orde Baru itu terjelma juga di dalam rumusan UU yang seharusnya melindungi hak-hak politk rakyat,” ungkapnya pula.

Sementara, lanjut dia, dari Pemilu ke Pemilu terdapat fakta sosial dan fakta hukum bahwa penyelenggaraan Pemilu selalu tidak jujur, curang dan terdapat sikap serta perilaku tidak adil dari KPU terhadap peserta Pemilu/Partai Politik (Golkar, PDI dan PPP).

Hegemoni Golkar di era Orba yang tanpa batas telah runtuh dengan lahirnya era reformasi kemudian lahirlah Mahkamah Konstiusi yang salah satu fungsi dasarnya adalah mengadili sengketa Pemilu. Ternyata, fungsi Lembaga Peradilan MK terkait sengketa Pemilu inipun beda-beda tipis dengan kekuasan PTUN yang secara tegas melarang Keputusan KPU digugat ke Peradilan TUN.

“Mengapa beda-beda tipis? karena meskipun MK membukakan pintu untuk menggugat Keputusan KPU tentang hasil Pemilu ke MK, akan tetapi dengan jarak waktu yang hanya 14 hari sidang, kapan hakim MK memiliki keleluasaan, kebebasan dan kesungguhan untuk memeriksa dan mengadili sengketa Pemilu berdasarkan prinsip-prinsip hukum yang berlaku,” paparnya mempertanyakan.

“Bukankah 14 hari sidang itu sebetulnya hanya untuk dua kali beracara yaitu membaca gugatan dan memperbaiki gugatan bagi persidangan sengketa bidang lain di MK maupun di lembaga peradilan lainnya,” tambahnya.(ram)

BERITA LAINNYA

Berita Terkini
Minggu, 24 Agustus 2014 22:31 WIB
Iran Tembak Jatuh Pesawat Tak Berawak Terbaru
Minggu, 24 Agustus 2014 20:13 WIB
Putusan MK Timbulkan Luka yang Tak Bisa Diobati
Minggu, 24 Agustus 2014 18:46 WIB
Revolusi Mental Trilogi 17845
Minggu, 24 Agustus 2014 17:54 WIB
Dampak Putusan MK, Suara Buruh Bisa Diwakili Mandor
Minggu, 24 Agustus 2014 15:29 WIB
Israel Rontokkan Apartemen Gaza

Sumber Berita: http://www.edisinews.com


http://edisinews.com/berita-inilah-kejanggalan-hakim-mk-yang-punya-waktu-hanya-14-hari.html#ixzz3BOFUbNeI

 

2014-08-23 18:07 GMT+02:00 Adi Hidayat <adihidayat375@yahoo.com>:

Jokowi Tidak Boleh Dilantik, Berdasar UU Prabowo Harus Dilantik Sebagai Presiden RI

http://assets.kompasiana.com/statics/files/14025633181859464179.jpg

Jokowi tidak bisa dilantik jadi Presiden RI, jika dia masih menjabat sebagai Gubernur DKI. Maka dia harus mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur DKI. Pengunduran diri itu harus mendapat persetujuan dari sidang paripurna DPRD DKI. Hal ini berdasar pasal 29 UU nomor 32 tahun 2004 tentang pemerntahan daerah,

Jika pengunduran dirinya ditolak oleh DPRD DKI, maka otomatis Jokowi harus di-diskualifikasi sebagai Calon Presiden RI. Jadi meskipun Mahkamah Konstitusi (MK) telah memenangkan Jokowi, akan tetapi karena pengunduran diri Jokowi ditolak oleh DPRD DKI, sedangkan bedasar UU, Presiden tidak boleh merangkap jabatan sebagai Gubernur,  maka Jokowi tidak boleh dilantik sebagai Presiden RI.

Hal ini dmungkinkan, karena DPRD DKI yang baru, yang akan dilantik pada 25 Agustus 2014, jumlah anggota DPRD DKI dari koalisi “kurus” pendukung Jokowi hanya mempunyai 50 kursi. Sedangkan untu mendapat persetujuan dari DPRD DKI, dibutuhkan minimal 63 kursi anggota DPRD DKI.

Maka koalisi permanen “merah putih” sebagaimana dikemukakan oleh Prabowo adalah koalisi yang kompak mulai dari pusat sampai di daerah, maka sebagai koalisi yang menjaga kedaulatan NKRI, tentu akan menolak pengunduran diri Jokowi dari jabatannya sebagai Gubernur DKI.

Saat pengunduran diri Jokowi sudah ditolak oleh sidang paripurna DPRD DKI, maka berdasar UU Jokowi tidak boleh dilantik sebagai Presiden, meskipun mendapat suara terbanyak pada pilpres 2014, Dan harus di-diskualifikasi. Otomatis Presiden terpilih adalah peserta pilpres 2014 yang mendapat suara terbanyak berikutnya, yakni pasangan Prabowo Subianto – Hatta Radjasa.

Maka sangat tepat langkah dari tim hukum pasangan Prabowo – Hatta yang mengadukan permasalahan hukum sekitar pilpres 2014 pada DPR RI. Dan hal ini disambut baik oleh rakyat yang dalam hal ini dilakukan oleh para anggota DPR RI yang akan membentuk Pansus berkaitan dengan Pilpres 2014.Selain itu, tim  Prabowo – Hatta, juga mengadukan & menggugat persoalan sengketa pilpres ke POLRI, Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN), Mahkamah Agung (MA) dan Pengadilan Negeri di Jakarta.

Seperti yang disampaikan oleh tim koalisi merah putih, dalam pilpres 2014 ini bukan soal kalah atau menang. Selain untuk menjunjung tinggi hukum dan peraturan yang ada, juga perlu dipertimbangkan siapa yang pantas & layak memimpin RI sebagai Presiden. Saat ini yang pantas menjadi Presiden hanyalah Prabowo Subianto, karena merupakan sosok yang berwibawa.

PARODI – Pendukung Prabowo Untuk Daulat Indonesia
D. Koesoema Poetra


Sumber: http://wartajawatimur.blogspot.com/2014/08/jokowi-tidak-boleh-dilantik-berdasar-uu.html

Jokowi Siapkan Pengadilan HAM Adhoc

 Senin, 25 Agustus 2014
alt

JAKARTA- Masyarakat dari para keluarga korban pelanggaran Hak Azasi Manusia tidak perlu ragu dengan komitmen Joko Widodo (Jokowi) –Jusuf Kalla. Khususnya yang menyangkut Hendropriyono.
 Hal ini disampaikan  anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Eva Kusuma Sundari kepada Bergelora.com di Jakarta Senin (25/8) menjawab berbagai pertanyaan soal keterlibatan Mantan Kepala Badan Intelejen Nasional itu dalam dugaan kasus-kasus HAM berat.
“Ada atau tidak Hendropriyono, soal penyelesaian kasus-kasus HAM sudah ada dalam visi-misi dan misi Jokowi-JK. Salah satu penyelesaiannya adalah dengan pembentukan pengadilan HAM Adhoc. Sudah ada sejak paparan depat capres awal,” ujarnya.
Bahkan menurut Eva Sundari, pengadilan HAM Adhoc tersebut sudah ada dalam program strategis dan rencana aksi pemerintahan Jokowi yang akan datang.
Baca Lanjut:
__._,_.___

Posted by: Demi Tanah Air <demitanahair@yahoo.com>

http://www.tempo.co/read/news/2014/08/24/063601821/Jokowi-Mau-Buat-Pengadilan-HAM-Ad-Hoc-Komnas-HAM-Ini-yang-Kami-Tunggu

Minggu, 24 Agustus 2014 | 06:45 WIB

Jokowi Mau Buat Pengadilan HAM Ad Hoc, Komnas HAM: Ini yang Kami Tunggu

Jokowi Mau           Buat Pengadilan HAM Ad Hoc, Komnas HAM: Ini yang Kami Tunggu            

Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia berunjuk rasa di kawasan Monas, Jakarta, Senin (10/11). IKOHI menuntut pemerintah membentuk pengadilan Ad Hoc untuk penghilangan paksa 1997/1998 dan menuntaskan kasus pelanggaran ham di Indonesia. TEMPO/Puspa

TEMPO.CO, Jakarta – Komisi Nasional dan Hak Asasi Manusia mendukung rencana presiden terpilih Joko Widodo yang akan membentuk pengadilan HAM ad hoc. Anggota Komnas HAM, Roichatul Aswidah, mengatakan ada tujuh kasus pelanggaran HAM berat yang harus diselesaikan pemerintah.

“Ini yang sudah lama kami tunggu,” ujarnya ketika dihubungi, Sabtu, 23 Agustus 2014. Hingga kini, kata Roichatul, Komnas HAM belum dihubungi tim Jokowi terkait dengan rencana penerbitan peraturan pemerintah pengganti undang-undang tentang hak asasi manusia, khususnya membentuk pengadilan HAM ad hoc itu.

Ketujuh kasus yang telah diselidiki Komnas HAM antara lain kasus Trisakti Semanggi 1 dan 2, kerusuhan Mei 1998, kasus Talangsari, kasus penghilangan orang secara paksa 1998-1999, kasus pembunuhan misterius, Tragedi 1965, dan kasus Wasior di Wamena. Menurut Roichatul, secara prosedural, yang paling siap untuk diperiksa di pengadilan HAM ad hoc adalah kasus penghilangan orang secara paksa.

Alasannya, panitia khusus DPR pada 2009 lalu sudah merekomendasikan kasus tersebut kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk diperiksa di depan pengadilan HAM ad hoc. “Dari hasil penyelidikan Komnas HAM, penghilangan orang secara paksa indikasi pelakunya satuan Kopassus,” ujar Roichatul.

Dia enggan membeberkan nama-nama yang diduga terlibat dalam kasus tersebut. Roichatul beralasan terganjal ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Hak Asasi Manusia. “Kami sudah ada nama-namanya. Kejaksaan Agung yang berhak menetapkan sebagai tersangka. Kami tunduk kepada hasil penyidikan Kejagung,” ujarnya.

Roichatul mengklaim berkas penyelidikan ketujuh kasus tersebut sudah lengkap. Hanya, pada Juni lalu, dikembalikan oleh Kejagung lantaran ada perbedaan persepsi soal kewenangan masing-masing. Karena itu, Roichatul dan tim akan membahas lagi tujuh kasus yang dikembalikan Kejaksaan Agung pada pekan ini. “Bagaimana Komnas dan Kejagung akan mencari titik temu. Kami berjanji usai pemilihan presiden untuk menyelesaikannya,” katanya.

Tujuh kasus itu, menurut Roichatul, tak semuanya diselesaikan dengan pengadilan HAM ad hoc. Untuk kasus Wasior, ujar dia, karena terjadi di atas tahun 2000 maka diselesaikan melalui pengadilan HAM permanen. Sedangkan untuk Tragedi 1965, Komnas HAM merekomendasikan dua cara, yakni dengan pengadilan HAM ad hoc atau penyelesaian non-yudisial.

LINDA TRIANITA

Ketua Bawaslu: Sebaiknya Satu Lembaga Peradilan Pemilu

Jakarta (Antara) – Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Muhammad menyatakan perlu penyatuan lembaga peradilan tentang pemilu agar tidak terjadi tumpang tindih dan multitafsir.

“Banyak lembaga peradilan yang memutus perkara pemilu sehingga dimungkinkan adanya multitafsir,” kata Muhammad saat menjadi pembicara dalam Diskusi Publik “Rekomendasi Perbaikan Penyelenggaraan Pemilu” oleh Pusat Studi Hukum Publik di Jakarta, Senin.

Dia mengungkapkan di Indonesia banyak lembaga yang diberi kewenangan memutus perkara pemilu, yakni Mahkamah Konstitusi, Dewan kehormatan Penyelenggara Pemilu, Bawaslu dan Pengadilan Tata Usaha Negara.

Dia mencontohkan kasus pembukaan kotak suara yang dilakukan oleh KPU dalam Pemilu Presiden terjadi dua putusan berbeda antara MK dan DKPP.

“MK justru mengapresiasi pembukaan suara itu, sedangkan DKPP memberikan peringatan keras terhadap komisioner KPU,” kata Muhammad.

Untuk itu, lanjutnya, pihaknya berharap perlu ada satu lembaga peradilan yang khusus memutus perkara pemilu.

Sementara pembicara lainnya, untuk memperbaiki penyelenggaraan pemilu tidak cukup memperbaiki peraturan peraturan pemilu, namun perlu ada penyatuan enam UU yang mengatur pemilu.

Didik mengungkapkan enam UU yang mengatur pemilu ini justru membuat kekosongan hukum dan tumpang tindih serta memunculkan putusan berbeda dalam pelaksanaan pemilu.

Keenam UU yang mengatur pemilu itu adalah UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah yang mengatur pelaksanaan Pilkada, UU Nomor 8 tahun 2008 tentang Perubahan UU Pemda, UU Nomor 12 tahun 2008 tentang Perubahan Kedua UU Pemda, UU nomor 42 tahun 2008 tentang Pilpres, UU Nomor 15 tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu dan UU Nomor 8 tahun 2012 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD.

“Hanya dengan cara itu (penyatuan UU Pemilu) kita lebih komprehensif mengatur pemilu,” kata Didik.

Dia juga lebih menekankan penyatuan UU tentang pemilu adalah UU Pemilu Legislatif dan UU Pilpres karena putusan MK yang menyatukan pelaksanaan Pemilu legislatif dan pilpres.

Hal yang sama juga diungkapkan Komisioner KPU Yuri Ardyantoro yang menyatakan beberapa peraturan yang multitafsir sehingga membuat komisioner harus memilih.

“Jadi penyelenggara pemilu harus betul-betul tidak hanya menguasai hal teknis, tetapi juga harus paham `orinal intens` (dari peraturan yang ada),” kata Yuri.

Dia mengatakan bahwa pihaknya harus memahami banyaknya peraturan yang tumpang tindih, dimana satu pasal dengan pasal lain yang bertabrakan.(rr)

20
Jun
14

Peradaban : Leluhur Manusia Indonesia

0b028-panji-711132-715717

http://m.news.viva.co.id/news/read/512481-leluhur-manusia-indonesia

Leluhur Manusia Indonesia

Ada kerangka manusia berusia ribuan tahun di sejumlah gua nusantara.

Arfi Bambani Amri, Amal Nur Ngazis, Erick Tanjung, Aji YK Putra
(Palembang), Ochi April (Yogyakarta) | Jum’at, 13 Juni 2014, 23:31 WIB

Halaman ini berisi infografik dengan animasi flash, anda bisa melihatnya di
PC dengan browser yang sudah terinstal flash player

VIVAnews – Perlu berjalan kaki tiga jam mencapai Gua Harimau di Desa Padang
Bindu, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Dari dusun terdekat,
menanjak ke bukit, melintasi anak sungai sebelum bertemu ratusan anak
tangga.

Di akhir anak tangga, persis di depan sebuah gua yang menganga selebar 50
meter, terpancang sebuah plang bertuliskan, “Situs Gua Harimau. Situs ini
sedang dalam penelitian Pusat Arkeologi Nasional”.

Hanya tiga meter di belakang plang ini, terdapat dua lubang galian yang
dipagari kawat. Lubang galian yang terbesar berbentuk huruf L, dengan
panjang lebih dari 5 meter.

Saat dilihat lebih dekat, terdapat beberapa kerangka manusia yang terbujur
berjejer. Juga ada beberapa lokasi yang ditutupi dengan kotak-kotak
berbungkus terpal plastik. Mereka adalah hasil ekskavasi Tim Peneliti Pusat
Arkeologi Nasional sejak 2008 lalu.

Dulu, masyarakat takut mendekati gua ini. Seperti namanya, konon tempat
persembunyian harimau. Roli Chandra, juru kunci Gua Harimau, menceritakan,
gua ini juga pernah jadi tempat persembunyian warga saat penjajahan Belanda.

“Gua ini bisa menembus ke Gua Putri, dengan melintasi mulut gua sekitar 45
menit sampai ke atas,” ujar ayah tiga anak ini. Namun Tim Peneliti Arkenas
belum melakukan ekskavasi di Gua Putri.

Sejak tim peneliti berulang kali ke gua ini, masyarakat pun mulai berani
mendekat. Warga pun mulai menjadikan lahan sekitar gua untuk bercocok tanam
karet dan kopi.

“Dulunya ini hanya hutan lebat. Mau membuka lahan sebagai perkebunan pun
warga takut. Baru sekarang warga berani,” kata pria berusia 29 tahun itu.

Gua yang terletak 300 kilometer barat daya Ibu Kota Sumatera Selatan,
Palembang, ini menjadi sasaran riset arkeologi setelah pada 2008 silam
ditemukan lukisan gua. Ini lukisan gua pertama ditemukan di Pulau Sumatera.

Situs Gua Harimau

Lukisan di dinding Gua Harimau. (Foto: VIVAnews/Aji YK Putra)

Motifnya pun unik, seperti songket, kain khas Sumatera Selatan. “Beberapa
bulan kemudian, dilakukan penggalian dan ditemukan beberapa fosil,” kata
Roli yang ikut mendampingi peneliti sejak saat itu.

Dua Lapis

Dalam 5 tahun penelitian, Arkenas menemukan 76 kerangka manusia kuno
terkubur di Gua Harimau itu. Ada dua lapis tanah tempat kerangka ditemukan.

Di lapis pertama, kurang lebih 1 meter, ditemukan 72 kerangka yang
terbujur. Ketika digali lebih dalam, sampai ke 1,8 meter, ditemukan empat
kerangka dalam keadaan meringkuk, bukan terbujur lurus.

“Rentang usia keduanya itu antara 5.000 sampai 3.000 tahun. Kerangka bagian
atas lebih muda dari kerangka yang di bawah,” ujar Dyah Pratiningtyas,
salah satu peneliti Arkenas, menjelaskan soal penemuan itu.

Arkenas, lanjut Dyah, masih berupaya mengetahui apakah kerangka yang lebih
muda dan lebih tua ini berasal dari peradaban atau ras yang sama.

Spekulasi sementara, kerangka yang lebih tua adalah ras Austromelanesoid,
sementara yang lebih muda adalah Mongoloid. Arkenas sudah mengirimkan
spesimen gen mereka ke Lembaga Eijkman di Jakarta yang bisa mengekstraksi
DNA.

Hasil tes DNA atas sampel kerangka itu bisa mengungkap lebih jelas tabir
asal-usul kerangka individu itu. “Saya berpikir hasil DNA itu bisa kita
pakai untuk mencari relasi tersebut. Kalau yang dari Eijkman itu berhasil
membaca sinyal segala macam, kira-kira mereka dari mana, apakah mereka
orang lokal, apakah mereka pendatang baru kita bisa menjawab,” tambah dia.

Arkenas juga menyatakan masih ada kerangka manusia kuno yang lebih tua dari
usia kerangka manusia di Gua Harimau ini. Kerangka manusia di gua dekat
Gunung Sewu di selatan Yogyakarta berusia kisaran 10 ribu tahun.

Namun temuan kerangka manusia di Gua Harimau ini memiliki keunikan
dibanding temuan komunitas manusia di gua-gua Pulau Jawa, yang biasanya
hanya beberapa kerangka saja.

“Kita ada yang lebih banyak lagi, seperti di Gilimanuk, Bali sampai 200
individu, tapi dia di pesisir dan terbuka (open site), tidak di dalam gua.
Ini (Gua Harimau), saya pikir mungkin lebih dari 100 kalau dibuka semua,”

katanya.

Gua Harimau bukan satu-satunya gua di Sumatera tempat ditemukannya kerangka
manusia kuno. Di ujung utara Sumatera, tepatnya di Loyang Mendale dan Ujung
Karang, Kabayakan, Aceh Tengah, pada 2011 lalu, tim arkeolog Sumatera Utara
juga menemukan kerangka manusia kuno.

Usia kerangka mencapai 5.000 tahun, lebih tua dari bukti migrasi manusia
kuno di Sulawesi yang dianggap sebagai awal manusia Indonesia. Temuan
kerangka di situs Sulawesi berusia lebih muda, diperkirakan 3.580 tahun
lalu.

Kerangka di Loyang Mendale ini ditemukan terkubur dengan posisi kaki
terlipat. Di dekat kerangka, tim peneliti menemukan sejumlah artefak yang
sama dengan yang ditemukan di Thailand.

Ketua Tim Arkeologi Sumatera Utara, I Ketut Wiradiyana, menyatakan,
berdasarkan pemeriksaan DNA, kerangka itu diketahui berasal dari ras
Mongoloid dengan budaya Austronesia. Ketut menduga adanya perpaduan budaya
antara ras Mongoloid dengan budaya Austronesia yang datang dari utara
dengan ras Australomelanesoid yang berbudaya Hoabin saat mendatangi kawasan
tersebut.

Salah satu bukti kuat perpaduan budaya itu ada pada budaya menguburkan
orang mati dengan posisi melipat atau terlihat meringkuk. Kebiasaan melipat

itu, kata Ketut merupakan ciri budaya Hoabin yang kerap mendiami daerah
dataran rendah, pesisir. Tradisi jenazah dilipat ini masih tampak pada
sejumlah suku di Papua.

“Ini semakin menguatkan kemungkinan adanya jalur migrasi lain yang lebih
tua dari pada jalur migrasi dari Sulawesi seperti yang kita kenal selama
ini,” katanya. Dugaan itu makin kuat dengan temuan sejumlah kapak lonjong
dan gerabah poles merah. Kedua benda itu selama ini identik dengan kawasan
Indonesia bagian timur, di antaranya Sulawesi, Maluku dan Papua.

Perjalanan Panjang

Temuan itu kembali menghangatkan debat asal muasal manusia Indonesia. Teori
yang tak terbantahkan adalah semua manusia (Homo sapiens) di muka bumi
bernenek moyang dari Afrika atau dikenal sebagai Teori Out of Africa.

Situs Gua Harimau

Goa Harimau menjadi perhatian serius arkelog dunia. Foto: VIVAnews/Aji YK
Putra

Sebelum Gunung Toba meletus sekitar 74 ribu tahun yang lalu, Homo sapiens
telah tiba di Nusantara yang mana saat itu Sumatera, Jawa dan Kalimantan
masih merupakan bagian dari anak benua Asia atau dikenal sebagai Sundaland.
Setelah Toba meletus, sebagian besar populasi Homo sapiens punah.

Stephen Oppenheimer, genetikawan dari Inggris, menyebutkan terjadi bottle
neck populasi manusia saat itu, tersisa sedikit di Nusantara dan Afrika
sendiri. Jumlahnya sekitar 10.000 orang.

Orang-orang yang tersisa di Nusantara ini yang kemudian sekitar 50.000
tahun yang lalu, kawin-mawin dengan Homo denisova, hominid yang baru 2011
ini diketahui keberadaannya. Gen Denisova ini menetap antara 4-6 persen di
gen orang Melanesia yang kini menetap di Papua, Australia dan kepulauan di
Pasifik.

Fakta soal Melanesia sebagai penghuni pertama Nusantara ini tidak ada
perdebatan. Perdebatannya adalah, gelombang manusia berikutnya, yang
berbahasa rumpun Austronesia di mana Bahasa Melayu merupakan cabang
utamanya.

Teori Out of Yunan menyatakan, Austronesia ini berasal dari Yunan di China
Selatan. Arkeolog I Ketut Wiradiyana, salah satu pendukung teori ini.

Dia menyatakan besar kemungkinan migrasi manusia berasal dari China bagian
Selatan yang turun menuju kawasan Thailand, sebelum akhirnya menetap di
sebelah barat Indonesia atau di kawasan Aceh Tengah. “Seperti yang
diketahui, ras Mongoloid memang berasal dari daerah Cina bagian Selatan,”
katanya.

Sementara teori Out of Taiwan menyebutkan nenek moyang penutur Austronesia
ini berasal dari Formosa, nama lain dari Taiwan. Teori ini berlandaskan
pada temuan kesamaan bahasa dan budaya.

Di Taiwan terdapat tiga etnik asli yang berbahasa rumpun Austronesia serta
memiliki budaya tembikar dan cocok tanam yang sama. Teori ini disokong oleh
arkeolog senior dari Australian National University, Peter Bellwood.

Namun peneliti lain mengungkapkan justru manusia Indonesia merupakan moyang
manusia kawasan atau regional Asia Tenggara, saat paparan Sunda masih satu
anak benua besar. Teori Out of Sundaland ini dipelopori genetikawan asal
Inggris, Stephen Oppenheimer [Baca Wawancara dengan VIVAnews].

Oppenheimer menemukan, terjadi penyebaran drastis genetika sekitar 8.000
tahun yang lalu ke sekitar pulau-pulau di Nusantara. Kurun 8.000 tahun yang
lalu ini, menurut Oppenheimer, seiring dengan akhir zaman es yang ditandai
dengan tenggelamnya Sundaland.

“Bellwood berteori bahwa orang-orang datang dari Taiwan, menyebar di
Indonesia dan Filipina dan membunuh semua orang di daerah itu. Saya
membantah teori itu. Sebab yang terjadi sesungguhnya adalah sebaliknya.
Orang-orang Taiwan berasal dari sini,” kata Oppenheimer.

Namun kubu arkeologi belum bisa menerima argumentasi genetika ini. Wakil
Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerjasama
Fakultas Ilmu Budaya UGM, Dr. Daud Aris Tanudirjo, mengatakan mengatakan
dalam konteks persebaran moyang manusia Indonesia, lebih condong dengan
skema Out of Taiwan. Leluhur muncul dari Taiwan kemudian menyebar ke
Kalimantan, Sulawesi dan kemudian ke Sumatera dan Jawa.

“Tapi kalau dibilang (Sundaland) sebagai lokasi persebaran saya kira kurang
begitu tepat,” tuturnya. Sejumlah penemuan kerangka ras Mongoloid pun, kata
Daud, belum ada yang setua yang ditemukan di Taiwan.

“Sementara ini yang saya ikuti adalah penemuan terbaru bahwa asal-usul
orang Indonesia berasal dari Taiwan. Dan saya kira dengan adanya penemuan
terbaru di Liang Domeh, Pulau Matsu Taiwan, semakin menguatkan jika fosil
di Taiwan adalah yang tertua,” jelas dia.?

Dyah, peneliti dari Arkenas, menyatakan, untuk membangun sebuah teori
arkeologi, tidak hanya butuh satu bukti artefak saja. “Perlu banyak data
untuk bentuk suatu hipotesa. Kalau baru satu titik, itu baru asumsi. Belum
bisa dikatakan hipotesa, dibutuhkan bukti lain untuk mendukung temuan ini,”
jelasnya.

Peta Genetika Indonesia

Namun arkeolog membuka diri pada genetika sebagai jalan menelusuri
asal-usul. Deputi Direktur Lembaga Eijkman Jakarta Herawati Sudoyo
menyatakan lembaganya bekerjasama dengan Pusat Arkeologi Nasional meneliti
gen kerangka manusia kuno yang ditemukan arkeolog di sejumlah tempat di
Indonesia.

Peneliti mengambil sampel DNA mitokondria yang merupakan warisan dari ibu
kepada anak dan kromosom Y yang diwariskan dari ayah. Menurut Herawati,
penelitian menggunakan mitokondria dan kromosom Y ini memiliki kelemahan
yakni sulit melihat adanya percampuran gen. Percampuran gen bisa diteliti
dengan riset otosom atau riset menyeluruh atas genetika seseorang.

Meski demikian, Herawati mengatakan studi gen dari sisi mitokondria akan
membuka informasi mutasi gen saat manusia bermigrasi. Hera menjelaskan
perjalanan migrasi, yang berbeda lingkungan dan kehidupan, akan menambah
motif gen pada manusia itu.

Jadi tak heran, kata dia, jika ditemukan adanya percampuran atau haplotipe,
dari Asia daratan masuk ke Formosa dan dilanjutkan turun ke wilayah
Indonesia.

Situs Gua Harimau
Arkeolog meneliti genetika untuk mengetahui asal-usul Fosil. Foto:
VIVAnews/Aji YK Putra

Eijkman, kata Herawati, mengumpulkan hampir seluruh sampel genetika etnis
yang ada di Indonesia. Ia mengatakan studi gen tidak akan berhenti sampai
proses pemetaan. Tetap akan dilakukan untuk meneliti lebih detail dan lebih
khusus tiap suku bangsa.

Dalam peta gen orang Indonesia yang sudah terpetakan, secara ringkas tampak
adanya pola migrasi manusia dari Barat ke Timur bagian Indonesia. Pola ini
ditandai dengan warna tertentu. “Dari peta DNA-nya terlihat, misalnya
wilayah Papua itu hijau muda, genetika sukunya kelihatan. Totally semua
hijau,” ujar Hera.

Sementara di belahan barat Indonesia, umumnya hijau tua. Pengecualian di
wilayah Sumatera Barat, terdapat pola dua gen berbeda yaitu hijau tua dan
hijau muda sekaligus.

Total, Eijkman menemukan 32 klaster genetika manusia Indonesia yang secara
umum terbagi atas tiga kelompok besar. Pertama, kelompok genetika Melayu,
Minang, Jawa, Kalimantan; kedua, kelompok Makassar, Sumba, Minahasa; dan
ketiga, kelompok Papua dan Alor. Kemudian terdapat juga kelompok kecil yang
terpisah jauh dan diperkirakan lebih tua dari dua kelompok pertama yakni
Nias-Mentawai.

Pembuktian gen manusia Indonesia juga makin menantang setelah ditemukannya
gen Homo denisovan, yang kerangkanya ditemukan di Siberia, Rusia, pada gen
orang Melanesia yang kini menghuni Papua dan Australia.

Herawati mengakui adanya temuan gen Denosivan itu namun peneliti Eijkman
sejauh ini belum menemukan hasil yang signifikan. Sejauh ini, Eijkman sudah
mengonfirmasi, ada kawin-mawin Homo sapiens dengan Homo neandertal.

“Perkawinan Homo Neandertal dengan manusia biasa memang ada. Kebetulan kami
tengah bekerjasama dengan peneliti yang mengerjakan Neandertal,” ujar
Herawati.

Pada masa depan, lanjut dia, pemetaan gen bukan saja bermanfaat untuk
melacak asal-usul, namun juga untuk mendukung kesehatan masyarakat. Hera
mengatakan nantinya gen dapat digunakan untuk alat prediksi kecenderungan
penyakit yang berkembang pada berbagai populasi masyarakat di Indonesia.

Dia mencontohkan, penyakit turunan yang umum melanda orang Indonesia yaitu
talasemia. Meski tidak menjadi pencegah sepenuhnya bagi penderita
Talasemia, namun setidaknya peta gen itu bisa menjadi panduan untuk
pencegahan. (ren)

Kontributor VIVA.co.id Budi Satria turut melaporkan dari Medan

05
Dec
13

Peradaban : 11 Kota Teknologi Hebat Di Asia

11 kota teknologi paling hebat di Asia

 

startup-cities-map-315x206

Asia masih sangat muda dan segar dalam hal teknologi, jadi ekosistem teknologi di benua ini baru saja terbentuk. Secara ekonomi, Asia baru bertumbuh cepat sejak beberapa dekade lalu. Sedangkan di barat, ekosistem ini telah dibangun sejak lama dan kita telah mengetahui beberapa nama besar dan wilayah penting seperti Silicon Valley, New York, London, Paris, dan lainnya. Siapa yang tahu Asia? Benua ini sangat besar, dan sulit untuk memutuskan di mana harus memulai mempelajari benua ini. Jadi, kami bertemu dan berbincang dengan blogger, investor, dan entrepreneur di seluruh Asia untuk meminta mereka berbagi sedikit tentang ekosistem startup di kota dan negara mereka masing-masing. Dan berikut adalah 11 ekosistem startup di seluruh Asia.

1. Singapura.
2. Tokyo, Jepang.
3. Beijing, dan Shanghai, China.
4. Kuala Lumpur, Malaysia.
5. Taipei, Taiwan.
6. Hong Kong, China.
7. Seoul, Korea Selatan.
8. Jakarta, Indonesia.
9. Bangkok, Thailand.
10. Hanoi dan kota Ho Chi Minh, Vietnam.
11. Manila, Filipina.
12. India.
13. Pakistan.
14. Kontributor.

Singapura

singapore-680x382Darius Cheung: Singapura adalah tujuan pertama di Asia bagi sebagian besar orang barat. Negara ini sering disebut sebagai tempat terbaik untuk hidup di dunia dan diperkirakan akan menyalip Swiss sebagai negara pinggir laut terkaya pada tahun 2020. Dengan kata lain, Singapura adalah negara kaya dan mempunyai infrastruktur bagus termasuk sistem pemerintahan, hukum, dan keuangan yang stabil, bersih, dan efisien, ditambah lagi dengan adanya jaringan transportasi dan IT yang solid, tenaga kerja yang terdidik, masyarakat multikultural yang mampu berbahasa Inggris, dan masih banyak lagi. Meski Singapura mempunyai populasi kecil yaitu hanya lima juta orang, negara ini memiliki tingkat penetrasi internet, mobile, dan smartphone yang kuat, dengan memiliki ARPU sebesar USD 40, dan pasar e-commerce yang bernilai USD 2 miliar dan terus bertumbuh.

Singapura mungkin memiliki ekosistem startup yang paling berkembang di Asia, dengan munculnya banyak startup pada berbagai tahap. Negara ini juga mempunyai akselerator yang sangat aktif seperti JFDI dan banyak pendanaan awal dialirkan sebagai bagian dari skema pendanaan NRF TIS dari pemerintah. Selain itu, ada banyak angel investor seperti co-founder Skype Toivo Annus (yang telah berinvestasi di startup Singapura seperti Coda, Luxola, Redmart, Referral Candy, ADZ, dan Garena).

Singapura adalah titik berkumpulnya startup di Asia dan menjadi launchpad bagi entrepreneur lokal dan juga entrepreneur asing untuk membangun bisnis di negara ini. Singapura memiliki banyak perusahaan lokal (SGCarMart, HungryGoWhere, dll) dan internasional (JobsCentral, Brandtology, TenCube, dll.) yang sudah exit dalam beberapa tahun terakhir, dan juga perusahaan yang sedang berkembang seperti PropertyGuru dan Reebonz.

Meskipun demikian, potensi Singapura sebagai pusat startup di Asia Tenggara terancam oleh aturan imigrasi yang ketat, birokrasi pemerintahan yang terlalu tegas, dan xenophobia yang dialami masyarakatnya. Apalagi dengan munculnya kota-kota terdekat dengan talenta dan pasar domestik yang besar, Singapura harus lebih agresif dan berani mengambil risiko untuk memperkuat posisinya sebagai kota startup.

Tokyo, Jepang

tokyoAnh-Minh Do: Jepang merupakan salah satu pasar yang cukup ‘dewasa’ dan berpengaruh di kawasan ini. Pusat segala aktivitasnya berada di Tokyo. Tapi masa dimana perusahaan besar seperti Hitachi, Sony, Fujitsu, and Panasonic muncul sebagai bintang baru telah berlalu, dan sekarang banyak muncul perusahaan baru seperti GREE, DeNA, dan Rakuten yang mulai berpengaruh dan bergerak secara global. Kalau kalian ingin mendapatkan gambaran singkat ekosistem startup Jepang, silakan kunjungi situs rekan kami di TheBridge dan Anda akan melihat ekosistem bisnis, VC, dan inkubator yang segar.

Selain kesuksesan besar dari startupnya, sistem pendidikan di Jepang sangat mendukung, dengan adanya inkubator seperti Open Network Lab. Anda dapat melihat daftar lengkap inkubator dan akselerator di Jepang di sini.

Di sisi lain, masalah yang dihadapi startup Jepang cukup sulit: kultur yang berisiko rendah, harga sewa yang mahal, dan ekosistem yang kecil. Tapi terlepas dari hal ini, Jepang mendapat kesuksesan besar dan pemerintahnya sangat mendukung startup dengan membantu menyediakan inkubator yang jumlahnya sekitar 300 di seluruh negara ini.

Beijing dan Shanghai, China

beijing-680x382Steven Millward: China mungkin mempunyai industri web yang mapan, tapi negara tersebut masih sulit dijamah untuk startup China. Tidak seperti Singapura, pemerintah China kurang mendukung ekosistem startup, dan terdapat banyak perusahaan web di sana yang dengan mudah dan cepat bisa meniru produk utama para startup. Bahkan, lebih besar kemungkinan startup Anda ditiru daripada diakuisisi. Saat ini, aplikasi pemesanan taksi sedang bermunculan – tapi kemudian otoritas mulai mengatur atau bahkan melarang aplikasi ini di beberapa kota. Apa lagi yang startup bisa lakukan? Tidak ada.

Sisi baiknya, ada ekosistem startup yang luar biasa mulai dari startup tahap ide hingga yang sudah memiliki pendanaan besar. Acara startup seperti Startup Weekend dan Barcamp sangat sering diselenggarakan di kota seperti Beijing, Shenzhen, dan Shanghai. Akan bagus jika kompetisi startup juga diselenggarakan (seperti TechCrunch Disrupt atau acara Startup Asia kami) untuk memberi startup lokal dorongan visibilitas, seperti dorongan finansial untuk pemenang. Acara tahunan GMIC Beijing sudah melakukan hal ini, tapi lebih banyak presentasi dan kompetisi tentunya akan semakin bagus.

Terkait pendanaan, banyak pihak yang tertarik untuk melakukan investasi di China. Bidang e-commerce tampaknya mendapat ketertarikan yang terbesar, dengan banyaknya perusahaan seperti Sequoia Ventures, GGV Capital, hingga Bluerun Ventures dari California tertarik pada e-store yang inovatif. Ranah sosial menjadi area yang paling sulit – sulit untuk dimonetasi tapi mudah untuk ditiru – bagi semua orang (kecuali beberapa orang yang beruntung). Dengan nilai e-commerce di China yang mencapai USD 177 miliar pada tahun 2013, tidak heran jika banyak startup yang ingin mencoba ranah bisnis negara ini.

Terkait inkubasi dan akselerasi, Innovation Works yang didirikan oleh Lee Kaifu adalah yang terbesar, dengan menginkubasi lebih dari 50 startup yang diperkirakan berharga senilai lebih dari USD 600 juta.

Innovation Works dapat memberikan pendanaan seri A dan juga pendanaan tahap awal. Selain itu, ada Tisiwi di Hangzhou, dan Chinaccelerator di Dalian.

Kuala Lumpur, Malaysia

kuala-lumpurToni Yew: Dengan adanya usaha yang dilakukan pemerintah Malaysia di bawah Barisan Nasional untuk bersama-sama mendorong Malaysia sebagai negara yang memiliki pendapatan tinggi, teknologi akan berperan penting di Economic Transformation Program (ETP) yang dicanangkan oleh PM keenam Malaysia, Najib Razak.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, startup telah menerima bantuan pendanaan yang tersedia melalui banyak skema yang dibuat oleh agensi pemerintahan dan juga VC swasta. Salah satu contohnya adalah dana Cradle, dimana bantuan disediakan melalui dana komersialisasi yang disalurkan ke program technopreneur program mentor. Ada juga program untuk UKM yang menyediakan dana yang cocok, selain dana tahap tahap awal yang konvensional.

Selain dana tahap awal yang konvensional, kompetisi developer juga dibuat, dimana teknopreneur akan beradu satu sama lain dan ide dan konsep yang menang akan menerima dana dan kontrak dari perusahaan teknologi tertentu. Pada dasarnya, kompetisi ini mirip dengan hackathon plus inkubasi. Kompetisi ini dilakukan dengan banyak universitas yang menyediakan fasilitas bagi startup yang berminat. Dulunya, korporasi dan perusahaan telekomunikasilah yang menyelenggarakan acara ini.

Salah satu dari banyak startup sukses terbaru di Malaysia adalah TeratoTech yang memenangkan banyak penghargaan untuk desain dan spesialisasi aplikasi mobile untuk iOS dan Android.

Secara keseluruhan, ekosistem startup di negara ini cukup menjanjikan dengan bantuan yang tersedia bagi teknopreneur yang ingin menjadikan Malaysia sebagai tempat masa depannya.

Taipei, Taiwan

taipei-680x147Jamie C. Lin: Taipei merupakan salah satu ekosistem startup yang paling menggeliat di Asia. Ada mailing list Startup Digest Taipei dimana orang-orang membuat post tentang acara startup, dan Anda melihat workshop, forum, dan meetup diadakan di sepanjang minggu. Di Stop by Meet yang diselenggarakan oleh majalah Business Next, atau TO Mixer oleh TechOrange, dua dari acara startup terkenal di Taipei, Anda bisa melihat ratusan founder yang dengan semangat bertukar ide startup mereka. Acara demo juga sering diselenggarakan. IDEAS Show yang diselenggarakan oleh Institute of Information Industry dan Meet Conference oleh Business Next diadakan tiap tahun dan diikuti oleh puluhan startup.

Sementara startup internet yang lebih sukses seperti Lativ, Gamesofa, Mayuki, PubGame, i-Part, dan Bahamut menjalankan bisnis mereka dengan puluhan hingga ratusan karyawan dan menghasilkan angka penjualan senilai puluhan juta dolar, startup kecil memulai perusahaannya hanya dengan beberapa founder di co-working space atau akselerator startup. IEH adalah co -working space terkemuka di negara ini dengan menampung lebih dari 20 startup, sedangkan akselerator AppWorks menampung lebih dari 50 startup.

Terkait investasi, investor yang aktif adalah CyberAgent Ventures, AppWorks Ventures, CID Group, dan TMI Holdings. Para VC lokal mengalirkan dana hampir USD 100 juta untuk ekosistem teknologi di negara ini setiap tahunnya, mendanai 30 sampai 50 startup mulai dari pendanaan tahap awal hingga pendanaan pada tahap pra-IPO.

Peraturan terkait perusahaan dan keamanan yang tidak diperbaharui, kurangnya pemahaman pemerintah Taiwan terhadap bisnis berbasis internet, dan kegagalan mengenali web sebagai platform industri penting dan strategis bisa menghambat startup lokal dan para founder.

Di Taiwan, layanan solusi pembayaran pihak ketiga yang sebanding dengan PayPal atau Alipay belum bisa dioperasikan, dan ini dapat menghambat kemampuan e-commerce dan industri konten digital untuk mengumpulkan uang dan juga melindungi penjual dan pembeli dari penipuan. Pemerintah Taiwan juga mewajibkan tujuh hari kebijakan pengembalian untuk e-commerce dan produk konten digital yang dijual oleh retailer online. Tujuh hari mungkin terlalu lama untuk game mobile atau e-book yang akan “dicoba” sebelum calon pembeli memutuskan apakah mereka ingin mengembalikannya, tapi mungkin terlalu pendek untuk produk fisik – seperti Zappos yang menawarkan 360 hari pengembalian untuk sepatu yang dijualnya. Aturan yang kaku seperti ini menunjukkan kurangnya pemahaman pemerintah Taiwan terhadap bisnis berbasis internet. Dan di Taiwan, sebagian besar founder startup berurusan dengan pemerintah daerah terkait berbagai masalah, yang akhirnya memperlambat perkembangan startup di Taiwan.

Hong Kong, China

hong-kong-680x453Rafael Wong Chi Hao dan Casey Lau: Menurut Forbes, Hong Kong dinilai sebagai salah satu dari empat pusat dunia teknologi yang layak untuk diamati setelah Silicon Valley dan New York. Terlepas dari kurangnya ekosistem startup di Hongkong, fokus ekonomi Hong Kong yang cenderung ke industri tradisional seperti real estate, kurangnya investor teknologi, dan kurangnya bakat ilmu komputer dari lulusan universitas lokal, budaya startup Hong Kong sedang memanas.

Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, co-working space seperti CoCoon, The Hive Hong Kong, The Good Lab, dan BootHK bermunculan untuk memfasilitasi pakar teknologi asing. Inkubator startup seperti Startup Weekend, AcceleratorHK, Make A Difference Venture Fellows Program, the Hong Kong Science and Technology Park Incubation Program, dan StartupsHK mencoba membawa Hong Kong menuju arah yang tepat dalam mempromosikan entrepreneurship.

Selanjutnya, tentu saja, Hong Kong harus mengembangkan ekosistem entrepreneurship yang sehat untuk ditinggali startup dan investor, dengan demikian industri startup akan tumbuh secara alami. Jadi pertanyaan besarnya adalah ‘bagaimana’?

Seoul, Korea Selatan

seoul-680x382John Kim: ekosistem startup Korea Selatan telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa dalam lima tahun terakhir, tidak hanya bagi perusahaan tapi juga akselerator dan VC. Melihat sekilas ekosistem startup di negara ini, ada dua alasan utama yang mendorong pertumbuhan tersebut.

Pertama, bermunculannya startup yang sukses telah menarik perhatian masyarakat dan menginspirasi entrepreneur muda. Forbes membuat daftar orang terkaya di Korea, dan daftar tersebut kebanyakan didominasi oleh founder perusahaan game miliaran dollar. Perusahaan seperti TicketMonster, Kakao (pembuat KakaoTalk) dan Coupang telah menunjukkan kekuatan tidak hanya dalam segi finansial, tapi juga menembus segmen masyarakat yang lebih luas dengan produk mereka. Tahun lalu, pengaruh komunitas startup semakin melekat di benak publik ketika Ahn Chul Soo, pendiri perusahaan anti-virus Ahnlab, ingin menduduki kursi tertinggi pemerintahan.

Kedua, pemerintah Korea telah menunjukkan dukungan yang luar biasa kepada komunitas startup, sebuah tren yang tampaknya akan terus berlanjut setelah pemilihan presiden baru-baru ini. Ahn pada akhirnya kalah, dan Korea memilih presiden perempuan pertamanya, Park Geun Hye, yang berjanji meningkatkan pendanaan perusahaan dalam kampanyenya.

Takut gagal dan karakteristik budaya lain di perusahaan Korea bisa menjadi hambatan untuk berkembang secara global, dan ini menjadi tantangan bagi startup Korea. Tapi konglomerat seperti Samsung, perusahaan game seperti Nexon, dan band K-pop seperti Big Bang telah mengalami hambatan serupa sebelum akhirnya berhasil memperkenalkan nama Korea di seluruh dunia. Dengan adanya startup yang sukses dan dukungan dari pemerintah, kita bisa melihat hal yang sama juga akan terjadi pada para founder startup.

Jakarta, Indonesia

jakarta-680x300Aulia “Ollie” Halimatussadiah: Ketika saya berada di konferensi teknologi, seseorang bertanya apakah startup saya telah menghasilkan uang. Saya menjawab, “Tentu. Jika tidak, saya tidak akan bisa membiayainya!” Hal ini juga menjelaskan bahwa di Indonesia, masih banyak startup yang mandiri. Kami menggunakan uang pribadi sebagai pendanaan awal, lalu kami membangun startup dan harus menghasilkan uang dari hari pertama untuk bertahan. Tidak ada dana dari pemerintah untuk startup, jadi startup di Indonesia kebanyakan praktis, seperti e-commerce, travel, dan logistik. Inovasi adalah sesuatu yang kami pikirkan belakangan.

Pada tahun 2010, sekitar sekitar 30 founder startup berkumpul di Starbucks untuk mendiskusikan startup mereka dan secara mengejutkan ini adalah momentum paling penting bagi ekosistem startup di Indonesia. Pertemuan ini menjadi reguler dengan topik yang spesifik; karena dimulai dari Twitter, organisasi ini diberi nama #StartupLokal. Natali Ardianto, Nuniek Tirta dan saya sendiri mengorganisir pertemuan ini setiap bulannya. Sekarang ada lebih dari 200 orang yang hadir di tiap meetup dan ribuan orang berlangganan ke mailing list kami.

Ini adalah saat yang bagus bagi startup di Indonesia karena secara politik negara ini stabil dan kebebasan berpendapatnya dijunjung tinggi, taraf hidup masyarakat kelas menengah mulai meningkat (45 juta orang di Indonesia mempunyai daya beli yang tinggi), tingkat penetrasi mobile yang sangat tinggi (orang Indonesia rata-rata memiliki lebih dari dua handphone); kami juga punya pengguna Facebook dan Twitter yang aktif. Aset terpenting kami adalah lebih dari 60 persen dari 240 juta penduduk Indonesia berumur di bawah 35 tahun dengan rata-rata berusia 28 tahun dan tersebar di lebih dari 17.000 pulau di Indonesia. Ini adalah negara yang mempunyai banyak ruang untuk dijelajahi dan banyak masalah untuk dipecahkan, yang berarti banyak kesempatan bagi para entrepreneur.

Semakin banyak investor dari seluruh dunia datang ke Indonesia dan juga semakin banyak inkubator tersedia, dan mereka siap untuk berinvestasi. Tapi kebanyakan dari mereka menemui kesulitan untuk menemukan startup yang mempunyai mimpi satu juta dolar. Jadi, PR bagi startup di Indonesia sekarang adalah mengubah pola pikir yang biasa, bermimpi tinggi, dan berpikir global.

Sudah ada beberapa investor di Indonesia saat ini, seperti Merah Putih Incubator, GDP Venture, East Ventures, GREE Ventures, Grupara, Ideosource, dan CyberAgent Ventures.

Bangkok, Thailand

bangkok-680x510Prathan Thananart: Ledakan ekosistem startup di Bangkok tahun lalu dapat dikarakteristikkan dengan tiga tren yang berkaitan. Pertama adalah momentum yang dibangun oleh acara teknologi sejak beberapa tahun terakhir melalui BarCamp, Mobile Monday, dan Startup Weekend. Event dan cerita sukses ini dibagikan oleh entrepreneur lokal maupun asing.

Kedua, mulai bermunculannya co-working space menarik untuk diamati. Saat ini ada beberapa co-working space yang bagus di seluruh bangkok, dan mereka membantu menghubungkan entrepreneur dengan developer dan freelancer di industri ini.

Yang terakhir, munculnya VC dan kelompok angel bisnis, termasuk ekspansi dari perusahaan yang berbasis di negara Asia lain. Salah satu yang paling menonjol adalah InVent milik Intouch yang juga mengoperasikan perusahaan telekomunikasi terbesar di Thailand, dan Ardent Capital milik investor Ensogo yang dijual ke LivingSocial.

Kelemahan ekosistem startup di negara ini adalah kurangnya keberagaman. Terakhir saya cek ada lebih dari 10 perusahaan bersaing dalam aplikasi loyalti, dan tiruan group buying yang tak terhitung jumlahnya. Seiring semakin dewasanya ekosistem di negara ini, sebagian energi tersebut akan disalurkan ke ranah yang kurang mendapat perhatian. Sebagaimana Tel Aviv, yang terkenal dengan kemacetan lalu lintas, melahirkan Waze, sebuah aplikasi navigator dengan data lalu lintas yang di-crowdsource.

Bangkok adalah rumah bagi jutaan pemilik smartphone dan lebih dari 18 juta pengguna media sosial dari pengguna web yang berjumlah 25 juta. Dan seiring tumbuhnya generasi digital native yakni populasi yang lebih muda, pasti akan ada banyak ide baru terkait bagaimana orang-orang berbelanja, bepergian, dan tetap terhubung.

Hanoi dan kota Ho Chi Minh, Vietnam

hanoi-680x381Anh Minh-Do: Saya sudah sering menulis tentang Hanoi dan kota Ho Chi Minh, tapi mari kita lihat ekosistem startup Vietnam secara umum. DFJ Vina Capital dan IDG Ventures tampaknya akan perlahan-lahan menarik diri dari startup teknologi dan mengganti strategi mereka menjadi lebih seperti inkubator, sementara CyberAgent Ventures, perusahaan VC asal Jepang baru yang sangat aktif di negara ini, telah membuat beberapa investasi yang menarik.

Maju ke arah global belum menjadi rencana startup Vietnam sampai saat ini. Tentu saja, beberapa startup menengah seperti Appota dan GHN berencana ke luar pasar domestik di masa depan. Mereka memusatkan sebagian besar kekuatan mereka pada pengembangan model bisnis yang kuat di negara ini. Ironisnya, model startup yang umum di Vietnam adalah model yang bersubsidi, dimana sebuah perusahaan teknologi akan mengambil kontrak asing untuk membiayai operasi mereka dan kemudian membangun tim produk dengan pendapatannya. Hal ini membuat startup tidak perlu mencari dana dari investor, tetapi terkadang hal ini bisa menghambat inovasi produk yang sesungguhnya.

Poin-poin tersebut menggarisbawahi kunci ekosistem startup di Vietnam yang berpusat di Hanoi dan kota Ho Chi Minh City, kisah sukses yang praktis dan menjual akan berguna untuk mendorong pertumbuhan di masa depan.

Manila, Filipina

manila-680x355Tidak ada hal yang lebih menarik daripada menjadikan produk atau layanan teknologi Anda sebagai startup di Filipina.

Munculnya investor tahap awal termasuk Kickstart yang telah berinvestasi di enam startup dengan nilai pendanaan mulai dari USD 30.000 sampai USD 120.000; Kickstart secara total telah berinvestasi di 17 startup; juga terdapat Launchgarage yang merupakan kolaborasi antara Kickstart dengan Jay Fajardo dari Proudcloud. Ada juga Ideaspace yang telah berinvestasi di 10 startup dengan nilai pendanaan masing-masing USD 12.500. Kemudian ada SeedAsia yang merupakan pemain baru dalam ranah ini dan sedang menargetkan beberapa startup di negara ini.

Beberapa perusahaan telah mencari pendanaan secara global untuk beroperasi di Manila. Beberapa di antaranya adalah Kalibbr dan Payroll Hero serta beberapa perusahaan dari Silicon Valley yang berkeliaran di Manila.

Ada juga komunitas yang aktif di Facebook seperti StartupPH, ditambah dengan beberapa meetup seperti Roofcamp, Open Coffee Wednesday, Founder’s Drink, dan MobileMonday – dan acara ini diselenggarakan hampir setiap bulan. Ada juga berbagai acara startup seperti Startup Weekend, AngelHack, dan developer bootcamp yang diselenggarakan hampir tiap minggu untuk setiap bahasa yang tersedia di web dari Globe Labs untuk Developer Network SMART. Kedua perusahaan ini memberikan pelatihan gratis dan kamp-kamp pendidikan pada praktek dan entrepreneurship terbaik.

Dengan populasi stabil yang mendekati 100 juta dan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan kelas menengah, Filipina mungkin adalah pasar dengan penduduk berbahasa Inggris terbesar di Asia selain India! Ketahanan ekonomi Filipina selama krisis keuangan tahun 1997 dan 2008 adalah bukti bahwa negara ini punya fundamental yang luar biasa, dan pada akhirnya muncul sebagai tiga peningkatan di peringkat investasi oleh JCRA, S&P, dan Fitch.

Tapi ada tantangan besar. Seperti kebanyakan pasar Asia, terdapat kesenjangan antara investor tahap awal dan seri A di Filipina yang membatasi jumlah exit.

Visibilitas e-commerce masih berada dalam tahap awal karena perlunya menjembatani transisi dari uang kertas ke kartu kredit ke e-payment online – kurang dari 10 persen dari total penduduk memiliki kartu kredit. Pemerintah masih mengatur semua bisnis e-commerce dengan proses birokrasi rumit yang sama sekali tidak business friendly bagi para pengusaha atau investor.

Hal ini mungkin terjadi karena ekosistem startup Filipina cenderung masih sangat muda. Keberhasilan perusahaan yang baru diinkubasi juga akan sangat menentukan kredibilitas pasar Filipina untuk bersaing secara global (atau di kawasan Asia Tenggara).

Meskipun demikian, masa depan Filipina terlihat cerah dengan munculnya tokoh-tokoh besar lokal yang memasuki ekosistem startup, kembalinya talenta Filipina untuk berpartisipasi baik dalam ekosistem startup maupun dalam membangun produk yang bisa membantu memecahkan tantangan pasar yang mereka layani! Filipina adalah negara yang memiliki ekonomi yang tumbuh menggeliat dimana inovasi dan tantangan sosial berpadu melalui teknologi.

India

india-680x364Mukund Mohan: Satu hal yang mengejutkan kebanyakan orang asing tentang ekosistem startup di India adalah betapa beragamnya ekosistem startup di negara ini. Entrepreneur di negara ini rata-rata berusia mulai dari 21 tahun dan masih berkuliah hingga eksekutif berusia 61 tahun. Rata-rata entrepreneur teknologi India adalah pria berusia 30 tahun ke atas, dengan beberapa latar belakang teknologi, meskipun tidak harus dalam pengembangan produk, berfokus pada membangun sebuah produk yang sebagian besar mencoba untuk memecahkan masalah lokal (India).

Rata-rata sekitar 970 entitas produk teknologi lahir setiap tahun di India dan hanya sekitar 380 yang benar-benar membangun entitasnya sebagai perusahaan. Tingkat mortalitasnya cukup tinggi, dengan lebih dari 60 persen dari “entitas” melakukan pivot atau akan dibiarkan terbengkalai dalam waktu 12 sampai 18 bulan. Setiap tahunnya, terdapat jumlah kelahiran yang sama untuk entitas layanan (konsultasi) di ranah teknologi, tapi mereka cenderung bertahan lebih lama.

Startup di India bervariasi, 61 persen di antaranya berorientasi bisnis dan sekitar 39 persen berfokus pada aplikasi konsumen seperti aplikasi mobile, jejaring sosial, dan e-commerce. Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi peningkatan besar di ranah e-commerce. Berkat pengguna internet yang bertumbuh (sekitar 100 juta orang, dengan 15 juta aktif membeli barang dan jasa secara online), tingginya penetrasi broadband (lebih dari 10 juta koneksi) dan meningkatnya jumlah handphone (lebih dari 800 juta koneksi). Tidak ada waktu yang lebih baik untuk memulai perusahaan teknologi di India daripada sekarang.

Keadaan ekosistem investor juga meningkat. Dari sekitar 43 VC aktif pada tahun 2006, yang berinvestasi di sekitar 73 perusahaan setiap tahunnya, saat ini ada lebih dari 80 jaringan angel investor, seed fund, akselerator dan dana tahap awal, dan lebih dari 153 perusahaan mendapatkan beberapa bentuk pendanaan institusional setiap tahun .

Ada tiga tantangan utama yang dihadapi ekosistem teknologi India yang tidak bisa diperbaiki dalam waktu singkat. Yang pertama adalah kurangnya exit, kedua adalah kurangnya angel investor dan mentor, dan ketiga adalah sifat takut mengambil risiko yang melekat pada masyarakat kelas menengah India.

Rasa optimis dalam diri saya mengatakan bahwa masalah tersebut, meskipun struktural, akan berubah selama lima sampai sepuluh tahun ke depan dan relatif mudah untuk dipecahkan mengingat sifat dinamis yang dimiliki para pengusaha India.

Didorong oleh keberhasilan orang India di Silicon Valley dan fakta bahwa mereka membangun 43 persen dari semua produk startup di wilayah Bay, saya benar-benar yakin bahwa metrik dan tren akan bertumbuh 300 persen hingga 500 persen untuk startup dan kisah sukses akan mulai bermunculan dalam lima tahun ke depan.

Pakistan

pakistan-karachiEkosistem startup di Pakistan menggeliat sejak tahun 2012. Lahore, Karachi, dan Islamabad, tiga kota terbesar disana, telah menjadi rumah bagi startup di Pakistan dan entrepreneur muda untuk meluncurkan proyek-proyek menarik.

Sebelumnya, startup Pakistan telah mulai menarik perhatian dengan memenangkan beragam kompetisi yang diselenggarakan di tahun 2010 dan 2011. Tim dari Pakistan memenangkan tujuh medali perak di Asia Pacific ICT Awards 2010 yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, dan pada tahun 2011 berhasil membawa pulang dua medali emas pada kategori e-logistics dan e-health, dan juga 5 medali perak.

Pada tahun 2012, universitas seperti LUMS memantik semangat para entrepreneur muda dengan menyelenggarakan Startup Weekend untuk pertama kalinya di tahun 2012 dan 2013. Hal ini dimaksudkan untuk memotivasi mereka untuk maju ke depan dan menunjukkan bakat mereka kepada dunia.

Perusahaan seperti Microsoft dan Google juga tertarik akan kawasan ini. Microsoft menyelenggarakan Windows Phone Hackathon di Lahore awal tahun ini.

Disamping itu, pemerintah Pakistan sangat mendukung siswa dan entrepreneur muda. Dengan inkubator teknologi seperti Plan9 dan beragam kesempatan pendanaan dari P@SHa dan PITB – entrepreneur sekarang punya kesempatan pendanaan yang lebih baik dibanding dulu.

Kekuatan: Kita bisa menyimpulkan bahwa startup di Pakistan mempunyai masa depan yang cerah dan ada banyak organisasi lokal yang mendukung entrepreneur web potensial. Startups.pk berisi banyak startup yang diluncurkan di Pakistan. Kebanyakan populasi di Pakistan berisi anak muda dengan 70 persen berusia di bawah 30 tahun!


Kontributor

Terima kasih banyak kepada para kontributor yang telah membagikan gambaran tentang ekosistem startup mereka:

Darius Cheung dulunya adalah founder TenCube dan seorang investor di JFDI, TIS Funds Neoteny Labs, dan Golden Gate Ventures.

Tony Yew adalah blogger dan secretary general dari Blog House Malaysia.

Prathan Thananart adalah seorang entrepreneur startup yang membangun Page365.

John Kim adalah Managing Partner di Amasia Associates dan juga Board Director di Choson Exchange.

Rafael Wong Chi Hao adalah seorang event organizer dan blogger berbasis di Hong Kong, yang juga sering terlibat di berbagai acara seperti TEDxHongKong.

Casey Lau adalah community developer dan juga katalis Soft Layer di Hongkong.

Aulia “Ollie” Halimatussadiah adalah penulis 25 buku yang juga merupakan co-founder toko buku online Kutukutubuku dan platform self-publishing online pertama di Indonesia, NulisBuku.

Mukund Mohan adalah CEO-in-residence di Microsoft Accelerator. Ia membangun dan menjual BuzzGain kepada Meltwater pada Januari 2010. Sebelumnya ia membangun dan menjual dua startup Silicon Valley.

Mohsin Khawaja adalah seorang marketer internet. Tahun ini ia berpartisipasi di LUMS startup weekend 2013 dan membuat startup bernama TravelPakistan yang bertujuan untuk mempromosikan pariwisata lokal dan internasional di Pakistan.

 

19
Oct
13

Sejarah : Situs Gunung Padang berusia lebih dari 10000 SM

Riset Geologi Menguak Fakta Mencengangkan tentang Gunung Padang

 

  • Penulis :
  • Yunanto Wiji Utomo
  • Rabu, 16 Oktober 2013 | 19:49 WIB

 

Batu situs Megalitikum Gunung Padang yang dikelilingi keindahan alam pegunungan di kawasan Cianjur, Jawa Barat, Jumat (15/3/2013). Gunung padang merupakan situs pra-sejarah peninggalan Megalitikum yang berupa punden berundak yang terdiri dari susunan batuan andesit yang umurnya diperkirakan jauh lebih tua daripada piramida mesir sekitar 10.000 tahun sebelum masehi. | KOMPAS IMAGES/ANDREAN KRISTIANTO

 

Sebelumnya, telah diduga bahwa Gunung Padang menyimpan bangunan tua. Bangunan tersebut berupa punden berundak, lebih besar dan lebih tua dari piramida Giza di Mesir. Riset ini, menurut tim, membuktikan bahwa bangunan yang dimaksud itu benar-benar ada.

Danny Hilman Natawidjaja, geolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang termasuk dalam tim riset, mengungkapkan, temuan tersebut dibuat berdasarkan analisis georadar, geolistrik, pengeboran, serta tomografi yang dilakukan hingga Juli 2013.

Pada dasarnya metode tomografi adalah pemindaian dengan menggunakan bantuan gelombang suara. Lewat cara ini, tim bisa mengetahui karakteristik lapisan batuan serta struktur buatan yang mungkin ada di dalam tanah.

“Prinsipnya, tomografi menganalisis berdasarkan kecepatan rambat suara. Kalau di zona yang padat, suara akan bergerak cepat. Sementara kalau di daerah yang kosong atau tidak padat, suara bergerak lebih lambat,” kata Danny.

Berdasarkan analisis tomografi, tim menemukan adanya zona dengan kecepatan rambat suara yang sangat lambat. Keberadaan zona tersebut, menurut Danny dan tim, menunjukkan adanya rongga di bawah situs Gunung Padang.

“Jadi memang dari tomografi terlihat ada rongga dan dinding-dindingnya,” kata Danny saat dihubungi Kompas.com, Rabu (16/10/2013). Rongga itulah yang kemudian dikatakan sebagai ruangan dari bangunan buatan manusia.

Hasil pengeboran, analisis geolistrik, dan georadar memperkuat hasil analisis tomografi. Pada pengeboran hingga kedalaman 10 meter, tim menjumpai water loss, di mana ketika dibor, air langsung mengalir dan meresap di dalam tanah.

“Biasanya, kalau dibor, air akan keluar kembali, tetapi ini tidak. Air langsung menghilang. Nah, ini menunjukkan kalau memang air mengalir ke suatu tempat, menunjukkan adanya ruangan di bawahnya,” papar Danny.

Danny yang juga banyak meneliti tentang kegempaan di Sumatera dan Jawa Barat menjelaskan, volume air yang hilang mencapai 32.000 liter. Ia memperkirakan, air mengalir ke ruangan yang volumenya mencapai 32 meter kubik.

Selama penelitian geologis, Danny dan tim juga menemukan lapisan tanah di antara lapisan batuan dan dikatakan bukan merupakan hasil pelapukan. Tanah sengaja dikumpulkan sebagai lapisan bangunan.

“Kalau hasil pelapukan, tanahnya biasanya ada gradasi. Ada yang sudah lapuk sempurna sampai yang belum lapuk. Kalau ini tidak. Seragam. Jadi lapisan tanah itu bukan hasil pelapukan,” urai Danny.

Dari pengeboran di beberapa titik, tim mengambil sampel karbon. Analisis karbon mengungkap bangunan yang dideteksi dengan analisis geologi itu diperkirakan berasal dari masa 9.000 SM atau bahkan lebih tua.

Menanggapi temuan tersebut, Awang Harun Satyana, geolog senior dari ESDM, mengungkapkan bahwa metode dan hasil penelitian mungkin sudah tepat. “Tapi, hasil itu multitafsir. Satu data, geolog bisa menafsirkan berbeda-beda,” katanya.

Awang menuturkan, adanya zona dengan kecepatan suara rendah serta water loss yang besar tidak selalu menunjukkan adanya ruangan buatan manusia, bisa saja hanya petunjuk akan fenomena alam tertentu.

Wilayah Gunung Padang adalah zona vulkanik. Batuan terbentuk dari lava. Dalam prosesnya, sangat lazim pembekuan batuan tidak seragam. Hasil tomografi bisa merujuk pada lava yang belum benar-benar membeku.

Di sisi lain, bisa jadi zona dengan kecepatan suara rendah memang sebuah ruangan. Namun, belum tentu ruangan itu buatan manusia. “Jadi bisa saja itu hanya sebuah gua. Itu kan alami,” jelas Awang.

Sementara water loss tidak selalu terjadi karena adanya rongga di bawah permukaan. Water loss besar bisa terjadi bila batuan bersifat porous (memiliki pori-pori besar dan banyak) sehingga air mudah “hilang”.

Ali Akbar, arkeolog dari Universitas Indonesia yang menjadi pemimpin tim riset, mengatakan bahwa pihaknya akan terus meneliti lagi. Penanggalan karbon juga menjadi fokus utama riset. Tim akan memastikan bahwa penanggalan tepat karena angka hasil penanggalan di luar dugaan.

 

Editor : Wisnubrata

 

02
Oct
13

Kebudayaan : Peradaban Maritim Indonesia

 

MENGUNGKAP BUDAYA LUHUR NUSANTARA

MENUJU PERADABAN MARITIM INDONESIA

 

 

LATAR BELAKANG

Dalam sejarah modern bangsa ini sebagai republik, mungkin baru belakangan ini tema maritim atau kelautan sebagai identitas orisinal atau primordial dari bangsa Indonesia, atau suku-sukubangsa di Nusantara, ramai dibicarakan banyak kalangan, terutama kalangan atas dan menengah. Secara sosial mereka memiliki tingkat pendidikan cukup atau lebih dari cukup. Mereka memiliki kepedulian (concern) dan waktu-lebih untuk memberi perhatian kepada persoalan-persoalan di luar dirinya, persoalan yang menyangkut masyarakat sekitar dan negerinya sendiri.

Cukup ramainya perbincangan di atas mungkin disebabkan oleh setidaknya lima hal. Pertama, masyarakat tampaknya kian bertambah kecewa dengan perkembangan mutakhir kehidupan bangsa ini, terutama karena lemah dan minimnya kerja negara dalam menjalankan amanah rakyat sebagaimana tertuang dalam konstitusi (UUD 45). Sebagian orang melihat kehidupan rakyat tidaklah bergerak pesat menuju ideal-ideal yang dibayangkan oleh ideologi kita, tapi justru mundur atau merusak fundamen kebangsaan yang dipercaya telah dibangun dan disemen dengan kuat oleh ideologi itu.

Kedua, kekecewaan di atas membuat sebagian masyarakat, terutama kelas menengah dan sebagian kaum elit, mempertimbangkan atau meninjau kembali pada pilihan-pilihan sistemik yang kita praksiskan dalam kehidupan bernegara, berpolitik, berekonomi, berhukum, dan seterusnya. Sebuah pertimbangan yang diambil lantaran ketidakpuasan pada cara pemerintah, sebagai pelaksana kerja (eksekutif) negara lebih banyak ditujukan pada kemaslahatan, keuntungan atau penimbunan profit (sosial, politik, ekonomi, kultural) diri mereka sendiri (elit), bukan untuk kesejahteraan umum atau keadilan sosial sebagaimana tersebut dalam sila terakhir dasar negara.

Ketiga, muncul sebuah kesadaran tentang buruknya kerja pemerintah di atas karena terlampau dipengaruhi, didominasi, bahkan dikuasai oleh paradigma bernegara yang diimpor dari luar (oksidental khususnya, seperti negara-negara Eropa Barat dan Amerika Tengah dan Utara). Pengaruh itu sesungguhnya telah ada sejak ratusan tahun lalu namun menjadi sangat kuat dan massif akhir-akhir ini berkat arus keras globalisasi yang memanfaatkan perkembangan canggih teknologi komunikasi, informasi, dan transportasi yang mereka miliki. Notabene, arus keras itu sebenarnya berlandaskan metode berpikir (filsafat dan epsitemologi) yang berkarakter kontinental alias daratan.

Keempat, maka akhirnya, berlandas kesadaran baru tersebut kita “menemukan kembali” realitas historis, geografis hingga ideologis kita –sebagaimana termaktub dalam konstitusi, dasar negara, dan buah pemikiran para founding fathers and mothers—yang sesungguhnya berbasis pada peradaban maritim atau kelautan. Sebuah pilahan, atau katakanlah saudara kembar dari adab kontinental/daratan yang sejak awal mula kebudayaan sudah menjadi mitra tanding (sparring partner), bahkan kompetitor yang berhadap-hadapan secara diametral hampir di seluruh dimensinya.

Akibatnya, kelima, bermunculanlah banyak buah pikiran –dalam bentuk risalah, monografi, jurnal dan buku-buku, juga berbagai kolokium dan simposium—yang mengangkat masalah kemaritiman sebagai identitas yang “tersembunyi” atau “disembunyikan” dari diri kita. Hanya, hampir semua buah pikiran atau wacana itu belum berhasil meneguhkan secara adekuat tentang apa yang disebut dengan (adab) kelautan itu, dengan seluruh dimensi kehidupan yang mengisinya. Data-data masih terasa sumir, bahkan dipertanyakan oleh kalangan ilmiah dalam dan luar negeri, juga analisis atau kesimpulan-kesimpulan tentatif atau hipotesisnya masih disusun secara spekulatif sehingga tampak obskur, eklektik, dan mengambang.

 

MENGUNGKAP ADAB MARITIM

Berdasarkan berbagai hal yang telah dikemukakan di atas, Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) memandang perlu dan berinisiatif menyelenggarakan studi / kajian yang ketat dan serius untuk membahas persoalan-persoalan di atas, khususnya pada persoalan kemaritiman, sehingga bisa dimulai terbitnya buah pikiran (intelektual) yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara akademis maupun historis. Niat tersebut diwujudkan dengan menyelenggarakan semacam serial diskusi di mana akan dibahas beberapa segi atau dimensi utama dari hidup dan adab maritim yang pernah dan masih ada di negeri ini.

Sebuah usaha yang lebih tepat disebut menemukan kembali / menyingkap (rediscovering) Indonesia dalam adab kelautan sebagai identitas primordial atau purbanya, tanpa meninggalkan pengakuan dunia terhadap budaya pertanian nusantara yang telah berkembang demikian canggih pada zamannya. Menguji sejauh mana ia nyata dan ilusifnya, bermanfaat atau tidaknya. Keberanian jiwa, kebersihan hati, dan keterbukaan pikiran menjadi prakondisi yang tak terelakkan harus dimiliki oleh semua kalangan yang terlibat dalam usaha ini.

Berbagai kalangan ahli akan diminta mengisi serial diskusi ini dengan visi dan idenya tentang eksistensi adab maritim di masing-masing bidang kepakarannya, seraya menengarai apakah bidang-bidang itu memang menunjukkan sebuah keunggulan atau justru kelemahan, serta apakah ia bisa dieksplorasi menjadi kekuatan yang mampu menjawab pertanyaan atau persoalan-persoalan kontemporer yang dihadapi negeri ini.

KERANGKA PIKIR

Adalah sebuah fakta, ketika bangsa Eropa mampu menyeberangi lautan “hanya” sejauh 60 mil ke kepulauan Kreta pada 8.000 tahun BP (Before Present), bangsa Nusantara 60.000 tahun BP sudah mengisi benua kosong yang bernama Australia. Pada 35.000 tahun BP, bangsa Nusantara telah menyeberangi samudera (Hindia), yang tentu saja belum ada satu pun bangsa di atas bumi ini dapat melakukannya saat itu, untuk menempati tanah-tanah pinggiran laut di Selatan India, Madagaskar bahkan Afrika bagian Timur Jauh. Sehingga beberapa ahli menengarai, bangsa Zanj (yang menjadi pendahulu dari bangsa Arzania, Zanzibar atau Tanzania) sebenarnya adalah manusia Afro-Indonesia.

            Perjalanan bangsa Eropa menyeberangi lautan bahkan baru dimulai pada akhir abad 15 setelah Spanyol mampu menundukkan Cordoba. Kapal yang digunakan Spanyol yang dipimpin oleh Columbus tahun 1492 hanya memiliki kapasitas sekitar 30 penumpang (Kong Yuanzhi, 2005). Teknologi kapal Eropa ini seperti teknologi kapal Mongol tahun 1292 memiliki kapasitas sekitar 30 penumpang (W.P. Groeneveldt, 2009). Teknologi kapal Eropa dan Mongol ini sangat jauh di bawah teknologi kapal bangsa Kun Lun pada abad ke-3 yang memiliki kapasitas 600 penumpang (Daud Aris Tanudirdjo, 2010). Bangsa Kun Lun adalah bangsa Jawa, karena bangsa Jawa merupakan satu-satunya bangsa yang melakukan kontak perdagangan pertama dengan Cina (W.P. Groeneveldt, 2009), mendahului bangsa lain di Nusantara.

Hal yang sama dengan sebuah sukubangsa Nusantara yang bernama “Lapitan”, di antara Maluku dan kepala burung Papua, sebagai bangsa awal dengan adab maritim yang cukup lanjut, setidaknya ditandai oleh kemampuan mereka melintasi samudera lainnya (Pasifik) untuk terus berlayar ke Timur, puluhan ribu mil, dan menyemaikan benih kebudayaan lokal di kepulauan Fiji, pulau Paskah (pulau paling terpencil di dunia), dan pada akhirnya Hawaii, serta pulau-pulau besar di Selandia Baru.

Tidak heran jika banyak spekulasi -–yang sebenarnya berbasis data cukup kuat—menyatakan bangsa-bangsa pribumi seperti Aborigin (Australia), Maori (Selandia Baru), atau yang ada di kepulauan Polinesia hingga suku bangsa yang membangun Hedgestone di pulau Paskah berasal dari negeri ini (perhatikan: hedgestone yang membuat bingung para ahli hingga hari ini disebut oleh penduduk lokalnya dengan istilah “Matatenga”, sebuah istilah yang dekat sekali dengan berbagai kepercayaan purba di Nusantara).

Semua itu menjadi dasar yang memperkuat beberapa konstatasi dari sebagian arkeolog kelautan yang menyatakan, hingga 2500 BP lautan di dua pertiga dunia dikuasai oleh maskapai-maskapai dari para pelaut Nusantara. Bahkan mungkin lebih dari itu. Mengingat adanya temuan persamaan kebudayaan dalam hal ini musik dan beberapa tanaman pangan antara bangsa Afrika dan Nusantara (Robert Dick-Reid, 2008), juga mengingat bangsa-bangsa Arab dan India dikenal tidak memiliki sejarah pelayaran yang berteknologi tinggi —bahkan ditegaskan oleh para ahli, bangsa Arya yang menguasai India sejak abad 19 sebagai bangsa yang “sama sekali tidak pernah mengenal laut”— bukanlah hal yang spekulatif untuk mengatakan pelayaran atau perantauan para pedagang atau penyebar agama di kedua bangsa besar itu sebenarnya “menumpang” atau “menyewa” jasa maskapai-maskapai yang berasal dari Nusantara (Robert Dick-Reid, 2008). Terlebih sebagaimana informasi kedatangan Portugis awal dari Duarte Barosa (Paul Michel Munoz, 2009) dan Tome Pires (Armando Cortesao, 1967) yang menyebutkan bahwa hingga abad ke-16, Jawa merupakan pedagang utama yang mengelola perdagangan dari Aden hingga Cina. Oleh Duarte Barosa, Jawa juga dicatat memproduksi kapal, senjata, logam mulia, sutera dan mengelola pertanian secara besar-besaran.

Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara, terutama Sumatera dan Jawa dengan Cina juga diakui oleh sejarawan G.R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari jazirah arab dengan para pedagang dari wilayah asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri arab dengan Nusantara pada saat itu. “Keadilan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi”,tulis Tibbetts. Jadi peta perdagangan saat itu, terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China. Aebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M, hanya berbeda 15 tahun setelah Rasullullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasullulah berdagwah terang-terangan kepada bangsa Arab, di sebuah pesisir pantai sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya. Hal ini makin diperkuat, misalnya, oleh bukti-bukti baru yang menunjukkan bagaimana komunitas muslim sudah terbangun sejak masa kerasulan Muhammad saw. Para ahli banyak menegaskan, misal saja, pada tahun 625 kota Barus sudah diisi oleh komunitas muslim dan bangsa-bangsa lain, di bawah perlindungan raja-raja Sriwijaya, (PLPG Sertifikasi Guru Rayon 9 Universitas Negeri Jakarta, 2012),  Kita pun sama tahu bagaiman Raja Sri Indrawarman menulis surat (yang aslinya ada di London) kepada Raja Umar bin Abdul Aziz dari dinasti Muawiyah untuk mengirim ustadz-ustadznya mengajarkan Islam di negeri maritim itu, (Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, 1994). Sang Raja dan anak yang menggantikannya kemudian masuk Islam, walau agama itu tidak bisa menjadi agama negara karena protes yang dilancarkan para biarawan Buddha yang dominan di saat itu. Atau persahabatan antara Yazid bin Muawiyah putra dari pendiri dinasti Muawiyah dengan Jawa (Irawan Djoko Nugroho, 2011).

Semua itu tentu saja bukan data yang obskur untuk mendukung bagaimana pelaut-pelaut Nusantara bukan hanya telah mengembangkan teknologi tinggi dalam dunia pelayaran, lima melineum bahkan lebih dari bangsa Viking yang dibanggakan bangsa Eropa. Bahwa pernyataan Nabi yang menyatakan “belajarlah hingga ke negeri Cina” tentu saja bukan karena Nabi pernah ke Cina. Namun karena ia berdagang di 18 kota bandar (dari 20 kota dagang yang paling sering ia kunjungi), di mana ia berkesempatan bertemu dengan para pedagang dan pelayar Nusantara. Beberapa ahli seperti Mansyur Suryanegara atau Nuchbatuddar memang membuktikan bagaimana para pelaut Indonesia sudah berdagang dengan Nabi sebelum masa kerasulannya. Dan GR Tibbetts (1956) pun menegaskan, “Nusantara adalah tempat singgah para pedagang Arab yang hendak ke Cina sejak abad 5 Masehi (dengan menumpang maskapai pelayaran Nusantara)”. Dalam ripta prasasti atau prasasti yang ditulis di atas daun lontar yaitu Prasasti Nagarakrtagama (1365 M), Arab yang dalam bahasa Jawa Kuno disebut Yawana dicatat sebagai mitra ‘negara sahabat’. Cina dan India (Vijayanagara) bersama Asia Tenggara dan Nusantara dicatat sebagai wilayah yang disatukan dalam kerajaan Majapahit.

Tentu masih cukup banyak data keras (hasil riset berbagai disiplin) yang memper-lihatkan bagaimana di masa lalu, sekurangnya sejak 5.000 tahun BP hingga 1600 M, telah berkembang semacam kebudayaan di berbagai sukubangsa yang mengisi kepulauan terbesar di dunia ini, dengan satu ciri, tanda, atau identitas yang kuat dan melekat pada kelautan. Sebuah kenyataan yang mampu melahirkan satu-satunya suku bangsa dalam sejarah manusia di muka bumi ini yang hidup, berkembang, berbudaya, dan mati seluruh-nya di laut: bangsa Bajau (Bajo, Wajo, dll sebutannya).

Riwayat yang dikisahkan oleh C. Ptolemeus (70 M), yang kemudian dikutip lagi oleh Dennys Lombard (1970), bahwa pada tahun 2100 BP dikirim sebuah kapal ekspedisi raksasa yang berisi penuh hasil bumi dan binatang-binatang khas Nusantara berangkat ke Afrika untuk ditukarkan dengan budak, menandakan adanya tingkat budaya (ekonomi) yang cukup tinggi masa itu di kepulauan ini. Dalam prasasti Garaman 1053 M, para budak ini, misalnya dari Jenggi (Zanzibar), masih dicatat dipekerjakan di Jawa (Ani Triastanti, 2007). Pada tahun 1381 M, Jawa juga dicatat sejarah dinasti Ming masih mempekerjakan budak hitam di kapal menuju Cina (W.P. Groeneveldt, 2009). Hal itu pun menjadi indikasi yang kuat bagaimana cara bahkan sistem hidup bernegara, berpolitik hingga bergaul antar-bangsa (internasional) sudah terbangun dengan baik di negeri ini.

Oleh karena itu, penting sekali bila kita saat ini berusaha untuk mengidentifikasi sedapat mungkin, dimensi-dimensi budaya maritim apa yang dahulu telah berkembang jauh sehingga menempatkan Nusantara menjadi wilayah yang penting bahkan vital dalam arus migrasi manusia di masa purba. Migrasi yang tentu saja juga terjadi dalam dimensi sosial, ekonomi, politik, hukum, kultural, dan seterusnya.

 

DISKUSI PANEL SERIAL

Sebagai ahli waris dari peradaban maritim itu, tentu telah menjadi kewajiban historis kita untuk mengetahui, mendalami, menemukan kembali (rediscovering) kekuatan-kekuatan adab maritim kita, yang barangkali masih cukup liat dan adekuat untuk men-jawab persoalan-persoalan kontemporer sebagaimana pernah dibuktikan nenek moyang kita dahulu. Untuk itulah, serial diskusi yang berbentuk panel ini diselenggarakan untuk sekurangnya memulai proses penyingkapan kembali kenyataan kelautan dalam diri kita. Kenyataan primordial yang ternyata tidak bisa kita lepas, lucuti, dan khianati dengan cara beralih pada adab kontinental/daratan sebagaimana kita pelajari, internalisasi (sejak bayi) dan kita praktikkan saat ini. Kenyataan yang membuat realitas kita cukup menyedihkan karena situasi patetik: menjadi skizofren secara kultural.

Diskusi Panel Serial YSNB ini akan mengupas beberapa tema utama yang berkait dengan kemaritiman itu, dengan sebuah proses yang dimulai dari “identifikasi”, semacam eksplorasi dalam riset, untuk menemukan butir atau dasar-dasar utama tegaknya sebuah disiplin budaya dalam peradaban itu. Tema-tema itu meliputi hal-hal sebagai berikut.

            1.        Nilai-nilai luhur (utama) dalam kebudayaan maritim yang meneguhkan jati diri/esksitensi atau kepribadian seorang manusia.

            2.        Logos atau logika dasar dari cara berpikir manusia/kebudayaan maritim yang berkembang di seantero Nusantara ini (yang mungkin dapat diperbandingkan dengan hal sama yang berkembang di adab kontinental/ oksidental). Mungkin dapat ditelusuri juga kosmologi dan ontologi (untuk memakai istilah filsafat Eropa) budaya maritim. Dan kemudian bagaimana “ilmu” pun berkembang dalam adab ini, yang diseminasi atau model pewarisannya mungkin berbeda dengan dunia ilmu (akademik) dalam sejarah kontinental.

            3.        Teknologi dan ekonomi kelautan serta etos dan etika yang berkembang dalam wira-wira usaha yang pernah ada.

            4.        Hubungan interdependensial (berkait juga dengan kosmologinya) masyarakat maritim dengan dunia di sekitarnya (lingkungan), yang dalam tingkat tertentu juga menyentuh masalah-masalah yang spiritual-transendental. Juga termasuk di dalamnya bagaimana budaya maritim menghadapi potensi SDA-nya, baik untuk kebutuhan dasar hingga kebutuhan energi.

            5.        Sistem kemasyarakatan dalam budaya maritim, yang tidak hanya menyentuh pola relasional antara anggota-anggotanya, tapi juga bagaimana ia menjalankan fungsi-fungsi yang dalam bahasa modern (oksidental) disebut politik, hukum, dsb.

            6.        Ekspresi artistik yang khas dalam budaya maritim tentu saja sangat berbeda dengan apa yang ada dan berkembang di dunia Barat (kontinental), sebagaimana pernah dikonstatasi oleh Denys Lombard bahwa kesenian di Nusantara seluruhnya dicabut dari akarnya oleh seni-seni modern.

            7.        Hubungan mancanegara atau diplomasi internasional, baik dalam dimensi politik, militer, ekonomi, kesenian dan sebagainya yang dahulu pernah berkembang di kerajaan-kerajaan maritim, sejak Salakanegara, Majapahit, Sriwijaya, Pasai hingga Ternate. Benarkah misalnya pola okupasi wilayah yang terjadi pada masa Sriwijaya dan Majapahit serupa dengan kolonialisasi yang dilakukan bangsa-bangsa daratan?

            8.        Bagaimana pula budaya maritim menghadapi perilaku deviatif yang mendestruksi orde sebuah masyarakat (seperti: kriminalitas, pelacuran, madat/narkoba, hingga korupsi) yang dilakukan oleh sebagian masyarakatnya. Adakah ia diterima sebagai “kewajaran” kebudayaan atau dinegasi atau dinafikan secara total sebagaimana terjadi dalam sejarah peradaban Eropa Barat.

            9.        Bagaimana kemudian kebudayaan dari adab maritim itu bersinergi dengan adab “daratan” yang secara alamiah juga dimiliki oleh masyarakat-masyarakat pedalaman di pulau-pulau besar, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi atau Papua. Adakah semacam hibridasi di antara keduanya, sehingga melahirkan sebuah sintesis kebudayaan di belahan/wilayah tertentu kepulauan ini. Setidaknya sebelum invasi kultural terjadi pertama kali oleh bangsa daratan yang diwakili oleh bangsa Arya/India.

          10.        Akhirnya, sebagai sebuah negeri dengan realitas geografisnya yang didominasi laut, Nusantara atau Indonesia di masa kini juga dilimpahi bonus demografis, berupa jumlah penduduk yang cukup besar hingga pada masa kini ia menempati posisi negara kelima terbesar dari jumlah dan kepadatan penduduknya. Bagaimana kultur dan adab maritim menghadapi persoalan kependudukan itu, memproyeksikannya ke masa depan, sebagaimana yang hari ini menjadi tantangan besar karena penggandaan jumlah penduduk semakin pendek rentang waktu yang dibutuhkannya. Apakah ia akan menjadi bonus yang menguntungkan atau justru azab yang mencelakakan?

         11.        Strategi  Teknologi Pertahanan Dan Keamanan Berbasis Maritim.

Sejarah kejayaan kerajaan-kerajaan maritim di Nusantara mulai dari Sriwijaya ,Samodera Pasai hingga Majapahit, Banten atau Gowa dan Ternate, sangat dikenal kemampuannya dalam mempertahankan diri dari infiltrasi kekuatan asing baik yang berasal dari luar (Cina, Portugis, Belanda, dsb), termasuk konflik dengan kerajaan-kerajaan maritim lainnya dikawasan ini. Bagaimana sebebarnya strategi juga teknologi pertahanan dan keamanan yang berbasis pada laut atau perairan terjadi secara praktis dan konseptual pada masa itu.

          12.        Risalah atau rekomendasi apa yang bisa dihasilkan dari proses identifikasi abstrak/intelektual di atas, untuk diajukan kepada bangsa ini, pada pemerintah khususnya, dan pada generasi nanti seharusnya. Mungkin belum bisa didapatkan hasil yang cukup adekuat, namun setidaknya ia menjadi awal yang cukup komprehensif untuk menemukan kembali (rediscovering) setengah dari realitas diri dan hidup kita. Sebuah hasil yang pasti sangat berarti, setidaknya di tengah kerisauan, disorientasi, dislokasi atau “galau” yang terjadi di generasi masa kini.

Narasumber : Yayasan Suluh Nusantara Bakti

31
Jul
13

Peradaban : Republik Laskar

Republik Laskar

Pada masa revolusi, milisi atau paramiliter sering mengatasnamakan revolusi. Pada masa Orde Baru, nama Pancasila dan “NKRI Harga Mati” yang digunakan. Pada masa reformasi, banyak yang membawa-bawa nama Islam.

Apa persamaannya? Milisi atau paramiliter di tiga masa itu sama-sama (walau tak selalu) didirikan atau dibentuk militer, dipersenjatai atau mempersenjatai diri, dan akhirnya cenderung kebal hukum.

Legitimasi “moral” yang mereka miliki, atas nama revolusi atau Pancasila atau Islam, membuat mereka memiliki kewibawaan yang meneror.

Tentu saja ada banyak kategori milisi. Ada yang memang dibentuk sebagai pasukan cadangan resmi tentara yang biasanya direkrut lewat wajib militer. Tetapi yang ingin saya bicarakan kali ini kebanyakan adalah milisi yang “tidak resmi” atau bukan dibentuk oleh negara. Kendati, seperti yang akan saya tunjukkan, “resmi” atau “tidak resmi” sering kali jadi perkara sumir di Indonesia

Di Indonesia, istilah “laskar” sebenarnya lebih populer ketimbang sebutan “milisi”. Istilah “laskar” itu juga lebih lentur untuk mengakomodasi tendensi-tendensi militeristik yang tidak terang-terangan menenteng senjata api.

Istilah “laskar” ini sudah populer sejak masa revolusi. Saat itu, hampir di setiap kota terdapat laskar yang dibentuk secara organis, biasanya oleh para pemimpin lokal yang berpengaruh. Di Bandung ada Barisang Tangan Merah, Barisan Merah Putih, dll. Di sekitar Jakarta ada Laskar Hitam, Laskar Ubel-ubel, dll. Hal yang sama terjadi di kota-kota lain, terutama kota-kota besar yang jadi kancah utama revolusi.

Ada juga laskar-laskar yang dibentuk dengan skala yang lebih serius, terutama oleh organisasi-organisasi politik utama saat itu. Partai Sosialis yang dibentuk Amir Sjarifuddin, misalnya, punya organisasi pemuda bernama Pesindo yang sangat kuat, berdisiplin dan juga bersenjata lengkap (terutama karena Amir dua kali menjabat sebagai Menteri Pertahanan).

Tidak semua laskar ini punya disiplin dalam mematuhi perintah pemerintah RI. Sangat banyak dan sangat biasa laskar-laskar itu bergerak semaunya, saling bertempur satu sama lain. Dan atas nama revolusi, banyak sekali rakyat Indonesia sendiri yang menjadi korban keganasan mereka.

Hampir semua literatur yang membahas fase revolusi (1945-1949) tak pernah absen menyebut keberadaan laskar-laskar milisi ini. Tak hanya buku hasil sejarah, karya-karya sastra terbaik Indonesia juga banyak mengabadikan hal ini. Sebut saja: “Burung-burung Manyar” Romo Mangun, “Senja di Jakarta” Mochtar Lubis atau “Percikan Revolusi + Subuh” Pramoedya Ananta Toer.

Pada masa kepemimpinan Sukarno di era Demokrasi Terpimpin, milisi-milisi ini banyak dibentuk oleh partai-partai politik saat itu — melanjutkan yang memang sudah terjadi pada masa revolusi. Beberapa di antaranya bahkan memang sudah berdiri sejak masa revolusi.

Milisi di era Sukarno semakin menguat setelah Indonesia mengkampanyekan konfrontasi melawan Malaysia. Banyak sekali pemuda yang direkrut atau bahkan sukarela mendaftarkan diri untuk dilatih dan dikirim ke perbatasan Malaysia di Kalimantan.

Menjelang peristiwa berdarah 30 September 1965, Partai Komunis Indonesia bahkan gigih berupaya menggolkan Angkatan ke-5 di mana buruh dan tani akan dipersenjatai.

Puncak dari fase ini dimulai dengan terbunuhnya para jenderal di Lubang Buaya. Kebetulan di sekitar itu ada lokasi pelatihan militer Angkatan ke-5 yang terutama menggunakan fasilitas dan pelatihan dari Angkatan Udara yang saat itu memang dekat dengan PKI.

Setelah itu, dimulailah pembantaian ratusan ribu bahkan jutaan orang yang diduga PKI (“diduga”, karena memang tidak melalui proses peradilan). Militer Indonesia tentu saja menjadi bagian terpenting pembantaian ini — atau penumpasan dalam istilah resmi Orde Baru. Tapi selain militer, milisi adalah ujung tombak pembantaian orang-orang yang diduga PKI ini.

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, misalnya, Banser dan GP Anshor menjadi salah satu pelaku pembantaian, tentu saja dengan restu dan sokongan dari para kyai. Di Bali, milisi-milisi yang dilatih dan disokong tentara, terutama dari sayap Partai Nasional Indonesia, juga melakukan hal yang sama.

Seperti di Jawa Timur, mereka melakukannya dengan sokongan spiritual dari pemimpin Hindu di sana. Sedihnya, banyak dari mereka kemudian balik dibantai oleh tentara yang ingin menghilangkan jejak keterlibatan.

Pemuda Pancasila juga melakukannya. Seperti yang bisa kita saksikan lewat film luar biasa “The Act of Killing”, mereka dengan buas memburu dan membantai orang yang diduga PKI di Medan.

Di tempat lain, hal serupa terjadi. Dengan sokongan dan kepastian kebal hukum yang diberikan tentara, milisi-milisi ini dengan buas memburu dan membantai siapa saja yang diduga PKI. Bukan sekali-dua terjadi salah eksekusi. Atau, bahkan, itu sebenarnya bukan salah eksekusi, tapi memang disengaja dengan membawa-bawa urusan pribadi ke “urusan nasional” ini.

Dalih yang dipakai adalah menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila, juga dalih bahwa melawan musuh negara berarti juga musuh agama. Nasionalisme dan agama, pada fase ini, benar-benar menjadi kombinasi mematikan yang tidak alang kepalang buasnya.

Pada masa Orde Baru, milisi-milisi ini banyak yang kemudian “bersalin rupa” menjadi lebih lembut, tidak terang-terangan lagi mengeksekusi dan membantai. Yang mereka lakukan selanjutnya, guna menghidupi diri sendiri, adalah memeras sampai menjadi beking usaha-usaha ilegal.

Lagi-lagi Anda hanya perlu menonton film “The Act of Killing” untuk melihat bagaimana Pemuda Pancasila dengan terang-terangan memalak toko-toko orang Cina di Medan.

Tapi Orde Baru juga melakukan hal serupa seperti yang terjadi di era Sukarno. Negara membentuk milisi di wilayah-wilayah konflik seperti Irian Jaya, Timor Timur dan juga Aceh. Nama-nama sangar seperti Eurico Guterres sampai Hercules adalah alumni generasi ini. Hercules, misalnya, “dibawa” oleh Prabowo (yang kini hendak jadi presiden) ke Jakarta dan sejak itulah namanya mencuat dalam dunia gangster ibu kota.

Memasuki era reformasi, kebiasaan buruk negara dan tentara dalam membentuk milisi, baik resmi maupun tidak, terus berlanjut.

Pam Swakarsa, misalnya, muncul di era kepemimpinan Habibie dan saat Wiranto (yang juga hendak jadi presiden) menjabat sebagai menteri pertahanan. Front Pembela Islam [FPI] lahir dari perkembangan terbaru saat itu ketika Pam Swakarsa dibentuk untuk melawan kekuatan kritis yang menolak kepemimpinan Habibie.

Tapi FPI bukan satu-satunya. Muncul juga Gerakan Pemuda Ka’bah yang di Jogja banyak melakukan razia seperti halnya FPI. Ada juga Laskar Jihad yang dikirim ke tengah konflik di Ambon. Belum lagi kemunculan organisasi paramiliter bentukan partai-partai politik. Atau bahkan organisasi-organisasi yang berdasarkan afiliasi kedaerahan.

FPI adalah anak kandung tradisi panjang negara yang doyan membentuk, memelihara atau membiarkan lahirnya milisi, paramiliter, laskar-laskar dan organisasi-organisasi yang doyan meneror. Sebab, apa pun dalihnya, demi revolusi atau demi Pancasila atau demi Islam, semuanya dicirikan oleh hal yang sama: kekerasan.

Dan di hadapan tradisi panjang seperti itu, apa yang bisa kita harapkan dari seorang presiden yang rajin mengetwit?

Berita Lainnya

  • Ombudsman Rekomendasikan Pemecatan Kalapas
  • Usai Tabrak Pohon, Mutmainah Terjepit Angkot
    mampu menjadikan republik ini bebas dari korupsi. sama saja seperti memberi barang kepada tangan kera.
    Republik Para Koruptor

    Moh Yamin | Senin, 29 Juli 2013 – 16:42:22 WIB

    : 126

    (Dok/new-pakistan.com)
    Ketidakseriusan SBY dalam memberantas korupsi sudah mengarah pada suasana chaos.
    Peneliti Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Rimawan Pradityo menyebut ada ketidakadilan penjatuhan hukuman kepada koruptor. Berdasarkan penelitiannya terhadap 1.365 putusan kasus korupsi sejak 2001 hingga 2012, banyak hukuman untuk koruptor tidak sebanding dengan kerugian negara yang diakibatkannya. Menurut Rimawan, dari semua kasus dalam penelitian itu, nilai kerugian negara secara eksplisit akibat korupsi tercatat Rp 168,19 triliun. Namun, hukuman finansial yang dibebankan kepada koruptor hanya Rp 15,09 triliun atau 8,97 persen. Selain itu, para koruptor hanya dihukum rata-rata 64,77 persen dari tuntutan jaksa (Media Indonesia, 25/07).

    Oleh karenanya, uang rakyat benar-benar terus dihabisi para elite negeri ini yang sudah tidak memiliki hati nurani kerakyatan dan kebangsaan. Bila kas negara seharusnya dipergunakan sebesar-besar untuk kemakmuran rakyat di jagat negeri ini dari Sabang sampai Merauke, ternyata uang negara tersebut dialirkan ke pundi-pundi para pejabat negara. Ironisnya, banyak elite negeri kita selalu berkelit bila disebut telah menghabiskan uang rakyat tersebut. Dengan segala macam retorika politik, mereka kemudian mencoba lari dari kenyataan politik tersebut.

    Imbasnya, negara pun berada dalam kondisi sekarat. Rakyat pun demikian. Apabila mereka harus mendapatkan bantuan kesejahteraan dalam bentuk multi-pembangunan demi masa depan yang lebih baik, itu pun merupakan sebuah kemustahilan. Persoalannya kemudian adalah mengapa kebiasaan memakan uang rakyat atau korupsi sedemikian terus melanda bangsa ini? Apa yang membuat elite negeri ini sangat rakus, serakah dan tamak, tidak memedulikan kepentingan bangsa di atas segala-galanya? Padahal, mereka sudah digaji oleh rakyat, mendapatkan banyak fasilitas supermewah dan sejenisnya. Itulah sebuah persoalan mendasar yang kemudian menjadikan bangsa ini tidak bisa maju. Kemajuan bangsa dalam segala aspek kehidupan mengalami kemandekan sangat luar biasa.

    Ketika uang negara hanya dihabiskan oleh sejumlah kelompok tertentu yang memiliki tujuan kerdil dan sempit, ini pun akan merugikan bangsa dan negara. Segala bentuk program yang dimuarakan demi peningkatan kehidupan bangsa yang lebih dinamis dan konstruktif ke depan kemudian ibarat menegakkan benang basah. Menuju bangsa yang benar-benar maju pun sangat tidak mungkin terjadi. Justru, keterbelakangan kehidupan bangsa dalam segala aspek menjadi sebuah realitas tak terbantahkan. Kemiskinan ekonomi yang merata di tengah kehidupan rakyat menjadi sebuah keniscayaan. Mereka dipastikan sangat susah menikmati hidup. Banyak anak negeri kemudian harus menderita gizi buruk sebab tidak memperoleh pelayanan kesehatan dan lain seterusnya.

    Mentalitas
    Diakui maupun tidak, sesungguhnya perilaku elite negeri ini yang sangat mementingkan perut diri sendiri merupakan sebuah akar persoalannya. Mentalitas yang mereka bangun, bentuk dan jalankan adalah bagaimana memperkaya diri sendiri dan golongan, sedangkan memikirkan persoalan rakyat diabaikan dengan sedemikian rupa. Tidak ada kepedulian politik sangat tinggi dalam memperjuangkan hak hidup rakyat di atas segala-galanya. Segala persoalan kepentingan politik yang menyangkut kekuasaan dan jabatan bagi diri sendiri dan kelompoknya sangat dominan terjadi. Ada satu sikap politik destruktif untuk membunuh hajat hidup orang banyak yang seharusnya wajib menjadi prioritas program di antara yang lain untuk dikerjakan. Atas kondisi sedemikian, di sinilah letak kemunculan praktik korupsi yang sangat rentan terjadi.

    Elite negeri pun saling melakukan konspirasi politik bagaimana harus menguras habis uang rakyat. Segala bentuk program yang dilakukan demi pembangunan kemudian direkayasa dengan sedemikian rupa. Penggelembungan (mark up) dana pun dilakukan dengan sedemikian cantik, rapi dan sistematis. Bahkan, sejumlah pihak di luar pemerintahan pun bisa ikut serta dalam mark up dana selama itu menguntungkan banyak pihak yang terlibat di dalamnya. Ini merupakan sebuah ironisitas. Ternyata, apa yang selama ini dikerjakan para pejabat kita hanyalah mencari keuntungan politik sepihak. Upaya dan komitmen diri agar bisa menyelamatkan bangsa dari keterbelakangan kemudian gagal dijalankan dengan sedemikian rupa. Ada sebuah ketidakseriusan politik yang digelar ketika menunaikan tanggung jawab dan wewenangnya sebagai pejabat negara.
    Akhirnya, rakyat pun menjadi pihak yang sangat dirugikan. Rakyat semakin hidup miskin dan terus-menerus berada dalam lubang penderitaan hidup, sedangkan elite negeri kita dan para kroninya kian hidup kaya. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah mengapa para koruptor sangat susah diringkus dan dipenjara? Sekali lagi, itu sangat berada di pundak nakhoda kapal, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), apakah ia berani dan tegas dalam menindak para koruptor? Realitas politik membuktikan, SBY sebetulnya sudah mengalami kemunduran volume kehendak dan kemauan politik dalam upaya pemberantasan korupsi.
    Dalam jilid pertama pemerintahannya, masyarakat sangat memberikan acungan jempol atas prestasi yang telah dicapainya, walaupun di sana sini masih membutuhkan banyak perbaikan. Di jilid kedua pemerintahannya saat ini, SBY secara telanjang bulat menunjukkan bahwa ia sangat lamban dan lembek dalam melakukan pemberantasan korupsi guna menjebloskan para koruptor ke jeruji penjara. Mengadili para koruptor sangat tidak serius dan tidak memiliki semangat antikorupsi yang berapi-api.

    Dentang Perubahan
    Kini bola liar mengenai mandeknya pengusutan tuntas atas segala bentuk korupsi yang telah memakan uang rakyat dengan jumlah sangat besar tersebut sudah masuk ke seluruh lini publik, tidak hanya kalangan elite lapis atas, namun juga di akar rumput. Persoalan mengenai ketidakseriusan SBY dalam memberantas korupsi sudah mengarah pada suasana chaos. Ada wacana yang berkembang di tengah masyarakat bahwa pemerintahan SBY sudah tidak dapat dipercaya guna melakukan pemberantasan korupsi. Stigma buruk pemerintahan SBY yang justru memberikan perlindungan kepada para koruptor kemudian menjadi satu wacana baru.

    Apakah SBY sangat peka terhadap wacana politik tersebut? Inilah tantangan baru SBY yang harus segera dijawabnya. Secara tegas, sebagai seorang presiden yang mendapat mandat politik untuk kedua kalinya, ia harus mampu menjadikan republik ini bebas dari korupsi. Sekecil apa pun tindakan korupsi harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Rakyat jangan sampai dikecewakan. Apabila Perdana Menteri China Zou Ronji pernah bertutur akan menyediakan 100 peti mati bagi para koruptor dan salah satu peti mati tersebut diperuntukkan bagi dirinya sendiri andaikan dia tersangkut tindakan korupsi, maka semangat antikorupsi sedemikian sangat penting dijalankan di negeri ini.

    Penulis adalah dosen dan peneliti di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.

    Sumber : Sinar Harapan
01
May
13

Aksara Nusantara : Tambahan Tentang Hanacaraka

KARTU NAMA 4545 2(2)
Aksara Jawa (Bali, Sunda, Madura, Lombok) ini jelas merupakan kreasi manusia Jawa, sehingga urutan bunyi dalam penempatan aksara mengandung makna perjalanan hidup atau proses penyempurnaan kehidupan.
hana caraka (ada utusan)
data(ng) sawala (datang untuk bertengkar)
padha jayanya (sama-sama jayanya)
maga bathanga (menjadi bangkai)
Makna ini jika dilihat dari segi akibat orang bertengkar. Tetapi bila membacanya dibalik seperti surya atau candra sengkala, maka dimulai melalui jalan (maga, marga)  mbathang, hasilnya adalah sama-sama jayanya. Bila semua menang, maka data sawala alias tak ada pertentangan, dan akhirnya hana caraka alias terwujudlam manusia sebagai utusan Hyang.
Aksara permulaan ha dang akhir nga, bisa dibunyikan “hong..”, yang senada dengan bunyi aum (Om…, atau Ong dalam bahasa Punjabi). Bunyi Hong adalah proses alfa-omega, awal dan akhir, di alam keberadaan ini. Ini menunjukkan bahwa manusia Jawa punya kreasi yang luar biasa. Namun, manusia Jawa kalau sudah nJawani, tak ingin dikenal atau diketahui lagi “siapa-nya”.
Ini berbeda dengan Panini, seorang siswa Weda (Rig Veda) pada abad V sM. Dia menganalisis bahasa Sanskerta secara gramatikanya, yang hasilnya adalah gramatika paling lengkap yang tertua di dunia ini. Dari sini Panini bisa mengangkat budaya Hindia menjadi pusat budaya dunia, sehingga bahasa-bahasa Indo-Arya (Indo-Iran), dan bahasa Semit dianggap turunan dari bahasa Sanskerta (bahasa agung, dewata, sempurna), lalu dipaksakan pula bahwa bahasa Melanisia juga turunannya.
Tetapi, kalau kita memperhatikan penulisannya, Sanskerta yang ditulis dengan aksara Dewanagari, Punjabi, Gurka, Gujarat, Benggali dan semua yang ada di anak benua India, bersifat menggantung; dan ini lain dengan corak Jawa yang cuma 20 aksara dan berdiri di atas garis. Demi penyempurnaan huruf Jawa, diberi aksara pasangan yang juga 20, lalu atas kreasi Jawa yang tak mau dikenal, dibuatkan 8 aksara Murdha yang sekaligus ada 8 aksara pasangannya.
Ayo… kita telusuri kembali makna Jawa untuk membangkitkan kualitas unggul kembali.
Pamit dulu, untuk mengajar di Bekasi. Nanti malam baru kembali.
Suwun,
Achmad Chodjim
Tambahan informasi bab Hanacaraka. seperti tersebut dibawah ini.
Nuwun;

Ki Demang

Gambar sisip 1



Blog Stats

  • 2,252,082 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers