Posts Tagged ‘Civilization

20
Jun
14

Peradaban : Leluhur Manusia Indonesia

0b028-panji-711132-715717

http://m.news.viva.co.id/news/read/512481-leluhur-manusia-indonesia

Leluhur Manusia Indonesia

Ada kerangka manusia berusia ribuan tahun di sejumlah gua nusantara.

Arfi Bambani Amri, Amal Nur Ngazis, Erick Tanjung, Aji YK Putra
(Palembang), Ochi April (Yogyakarta) | Jum’at, 13 Juni 2014, 23:31 WIB

Halaman ini berisi infografik dengan animasi flash, anda bisa melihatnya di
PC dengan browser yang sudah terinstal flash player

VIVAnews – Perlu berjalan kaki tiga jam mencapai Gua Harimau di Desa Padang
Bindu, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Dari dusun terdekat,
menanjak ke bukit, melintasi anak sungai sebelum bertemu ratusan anak
tangga.

Di akhir anak tangga, persis di depan sebuah gua yang menganga selebar 50
meter, terpancang sebuah plang bertuliskan, “Situs Gua Harimau. Situs ini
sedang dalam penelitian Pusat Arkeologi Nasional”.

Hanya tiga meter di belakang plang ini, terdapat dua lubang galian yang
dipagari kawat. Lubang galian yang terbesar berbentuk huruf L, dengan
panjang lebih dari 5 meter.

Saat dilihat lebih dekat, terdapat beberapa kerangka manusia yang terbujur
berjejer. Juga ada beberapa lokasi yang ditutupi dengan kotak-kotak
berbungkus terpal plastik. Mereka adalah hasil ekskavasi Tim Peneliti Pusat
Arkeologi Nasional sejak 2008 lalu.

Dulu, masyarakat takut mendekati gua ini. Seperti namanya, konon tempat
persembunyian harimau. Roli Chandra, juru kunci Gua Harimau, menceritakan,
gua ini juga pernah jadi tempat persembunyian warga saat penjajahan Belanda.

“Gua ini bisa menembus ke Gua Putri, dengan melintasi mulut gua sekitar 45
menit sampai ke atas,” ujar ayah tiga anak ini. Namun Tim Peneliti Arkenas
belum melakukan ekskavasi di Gua Putri.

Sejak tim peneliti berulang kali ke gua ini, masyarakat pun mulai berani
mendekat. Warga pun mulai menjadikan lahan sekitar gua untuk bercocok tanam
karet dan kopi.

“Dulunya ini hanya hutan lebat. Mau membuka lahan sebagai perkebunan pun
warga takut. Baru sekarang warga berani,” kata pria berusia 29 tahun itu.

Gua yang terletak 300 kilometer barat daya Ibu Kota Sumatera Selatan,
Palembang, ini menjadi sasaran riset arkeologi setelah pada 2008 silam
ditemukan lukisan gua. Ini lukisan gua pertama ditemukan di Pulau Sumatera.

Situs Gua Harimau

Lukisan di dinding Gua Harimau. (Foto: VIVAnews/Aji YK Putra)

Motifnya pun unik, seperti songket, kain khas Sumatera Selatan. “Beberapa
bulan kemudian, dilakukan penggalian dan ditemukan beberapa fosil,” kata
Roli yang ikut mendampingi peneliti sejak saat itu.

Dua Lapis

Dalam 5 tahun penelitian, Arkenas menemukan 76 kerangka manusia kuno
terkubur di Gua Harimau itu. Ada dua lapis tanah tempat kerangka ditemukan.

Di lapis pertama, kurang lebih 1 meter, ditemukan 72 kerangka yang
terbujur. Ketika digali lebih dalam, sampai ke 1,8 meter, ditemukan empat
kerangka dalam keadaan meringkuk, bukan terbujur lurus.

“Rentang usia keduanya itu antara 5.000 sampai 3.000 tahun. Kerangka bagian
atas lebih muda dari kerangka yang di bawah,” ujar Dyah Pratiningtyas,
salah satu peneliti Arkenas, menjelaskan soal penemuan itu.

Arkenas, lanjut Dyah, masih berupaya mengetahui apakah kerangka yang lebih
muda dan lebih tua ini berasal dari peradaban atau ras yang sama.

Spekulasi sementara, kerangka yang lebih tua adalah ras Austromelanesoid,
sementara yang lebih muda adalah Mongoloid. Arkenas sudah mengirimkan
spesimen gen mereka ke Lembaga Eijkman di Jakarta yang bisa mengekstraksi
DNA.

Hasil tes DNA atas sampel kerangka itu bisa mengungkap lebih jelas tabir
asal-usul kerangka individu itu. “Saya berpikir hasil DNA itu bisa kita
pakai untuk mencari relasi tersebut. Kalau yang dari Eijkman itu berhasil
membaca sinyal segala macam, kira-kira mereka dari mana, apakah mereka
orang lokal, apakah mereka pendatang baru kita bisa menjawab,” tambah dia.

Arkenas juga menyatakan masih ada kerangka manusia kuno yang lebih tua dari
usia kerangka manusia di Gua Harimau ini. Kerangka manusia di gua dekat
Gunung Sewu di selatan Yogyakarta berusia kisaran 10 ribu tahun.

Namun temuan kerangka manusia di Gua Harimau ini memiliki keunikan
dibanding temuan komunitas manusia di gua-gua Pulau Jawa, yang biasanya
hanya beberapa kerangka saja.

“Kita ada yang lebih banyak lagi, seperti di Gilimanuk, Bali sampai 200
individu, tapi dia di pesisir dan terbuka (open site), tidak di dalam gua.
Ini (Gua Harimau), saya pikir mungkin lebih dari 100 kalau dibuka semua,”

katanya.

Gua Harimau bukan satu-satunya gua di Sumatera tempat ditemukannya kerangka
manusia kuno. Di ujung utara Sumatera, tepatnya di Loyang Mendale dan Ujung
Karang, Kabayakan, Aceh Tengah, pada 2011 lalu, tim arkeolog Sumatera Utara
juga menemukan kerangka manusia kuno.

Usia kerangka mencapai 5.000 tahun, lebih tua dari bukti migrasi manusia
kuno di Sulawesi yang dianggap sebagai awal manusia Indonesia. Temuan
kerangka di situs Sulawesi berusia lebih muda, diperkirakan 3.580 tahun
lalu.

Kerangka di Loyang Mendale ini ditemukan terkubur dengan posisi kaki
terlipat. Di dekat kerangka, tim peneliti menemukan sejumlah artefak yang
sama dengan yang ditemukan di Thailand.

Ketua Tim Arkeologi Sumatera Utara, I Ketut Wiradiyana, menyatakan,
berdasarkan pemeriksaan DNA, kerangka itu diketahui berasal dari ras
Mongoloid dengan budaya Austronesia. Ketut menduga adanya perpaduan budaya
antara ras Mongoloid dengan budaya Austronesia yang datang dari utara
dengan ras Australomelanesoid yang berbudaya Hoabin saat mendatangi kawasan
tersebut.

Salah satu bukti kuat perpaduan budaya itu ada pada budaya menguburkan
orang mati dengan posisi melipat atau terlihat meringkuk. Kebiasaan melipat

itu, kata Ketut merupakan ciri budaya Hoabin yang kerap mendiami daerah
dataran rendah, pesisir. Tradisi jenazah dilipat ini masih tampak pada
sejumlah suku di Papua.

“Ini semakin menguatkan kemungkinan adanya jalur migrasi lain yang lebih
tua dari pada jalur migrasi dari Sulawesi seperti yang kita kenal selama
ini,” katanya. Dugaan itu makin kuat dengan temuan sejumlah kapak lonjong
dan gerabah poles merah. Kedua benda itu selama ini identik dengan kawasan
Indonesia bagian timur, di antaranya Sulawesi, Maluku dan Papua.

Perjalanan Panjang

Temuan itu kembali menghangatkan debat asal muasal manusia Indonesia. Teori
yang tak terbantahkan adalah semua manusia (Homo sapiens) di muka bumi
bernenek moyang dari Afrika atau dikenal sebagai Teori Out of Africa.

Situs Gua Harimau

Goa Harimau menjadi perhatian serius arkelog dunia. Foto: VIVAnews/Aji YK
Putra

Sebelum Gunung Toba meletus sekitar 74 ribu tahun yang lalu, Homo sapiens
telah tiba di Nusantara yang mana saat itu Sumatera, Jawa dan Kalimantan
masih merupakan bagian dari anak benua Asia atau dikenal sebagai Sundaland.
Setelah Toba meletus, sebagian besar populasi Homo sapiens punah.

Stephen Oppenheimer, genetikawan dari Inggris, menyebutkan terjadi bottle
neck populasi manusia saat itu, tersisa sedikit di Nusantara dan Afrika
sendiri. Jumlahnya sekitar 10.000 orang.

Orang-orang yang tersisa di Nusantara ini yang kemudian sekitar 50.000
tahun yang lalu, kawin-mawin dengan Homo denisova, hominid yang baru 2011
ini diketahui keberadaannya. Gen Denisova ini menetap antara 4-6 persen di
gen orang Melanesia yang kini menetap di Papua, Australia dan kepulauan di
Pasifik.

Fakta soal Melanesia sebagai penghuni pertama Nusantara ini tidak ada
perdebatan. Perdebatannya adalah, gelombang manusia berikutnya, yang
berbahasa rumpun Austronesia di mana Bahasa Melayu merupakan cabang
utamanya.

Teori Out of Yunan menyatakan, Austronesia ini berasal dari Yunan di China
Selatan. Arkeolog I Ketut Wiradiyana, salah satu pendukung teori ini.

Dia menyatakan besar kemungkinan migrasi manusia berasal dari China bagian
Selatan yang turun menuju kawasan Thailand, sebelum akhirnya menetap di
sebelah barat Indonesia atau di kawasan Aceh Tengah. “Seperti yang
diketahui, ras Mongoloid memang berasal dari daerah Cina bagian Selatan,”
katanya.

Sementara teori Out of Taiwan menyebutkan nenek moyang penutur Austronesia
ini berasal dari Formosa, nama lain dari Taiwan. Teori ini berlandaskan
pada temuan kesamaan bahasa dan budaya.

Di Taiwan terdapat tiga etnik asli yang berbahasa rumpun Austronesia serta
memiliki budaya tembikar dan cocok tanam yang sama. Teori ini disokong oleh
arkeolog senior dari Australian National University, Peter Bellwood.

Namun peneliti lain mengungkapkan justru manusia Indonesia merupakan moyang
manusia kawasan atau regional Asia Tenggara, saat paparan Sunda masih satu
anak benua besar. Teori Out of Sundaland ini dipelopori genetikawan asal
Inggris, Stephen Oppenheimer [Baca Wawancara dengan VIVAnews].

Oppenheimer menemukan, terjadi penyebaran drastis genetika sekitar 8.000
tahun yang lalu ke sekitar pulau-pulau di Nusantara. Kurun 8.000 tahun yang
lalu ini, menurut Oppenheimer, seiring dengan akhir zaman es yang ditandai
dengan tenggelamnya Sundaland.

“Bellwood berteori bahwa orang-orang datang dari Taiwan, menyebar di
Indonesia dan Filipina dan membunuh semua orang di daerah itu. Saya
membantah teori itu. Sebab yang terjadi sesungguhnya adalah sebaliknya.
Orang-orang Taiwan berasal dari sini,” kata Oppenheimer.

Namun kubu arkeologi belum bisa menerima argumentasi genetika ini. Wakil
Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerjasama
Fakultas Ilmu Budaya UGM, Dr. Daud Aris Tanudirjo, mengatakan mengatakan
dalam konteks persebaran moyang manusia Indonesia, lebih condong dengan
skema Out of Taiwan. Leluhur muncul dari Taiwan kemudian menyebar ke
Kalimantan, Sulawesi dan kemudian ke Sumatera dan Jawa.

“Tapi kalau dibilang (Sundaland) sebagai lokasi persebaran saya kira kurang
begitu tepat,” tuturnya. Sejumlah penemuan kerangka ras Mongoloid pun, kata
Daud, belum ada yang setua yang ditemukan di Taiwan.

“Sementara ini yang saya ikuti adalah penemuan terbaru bahwa asal-usul
orang Indonesia berasal dari Taiwan. Dan saya kira dengan adanya penemuan
terbaru di Liang Domeh, Pulau Matsu Taiwan, semakin menguatkan jika fosil
di Taiwan adalah yang tertua,” jelas dia.?

Dyah, peneliti dari Arkenas, menyatakan, untuk membangun sebuah teori
arkeologi, tidak hanya butuh satu bukti artefak saja. “Perlu banyak data
untuk bentuk suatu hipotesa. Kalau baru satu titik, itu baru asumsi. Belum
bisa dikatakan hipotesa, dibutuhkan bukti lain untuk mendukung temuan ini,”
jelasnya.

Peta Genetika Indonesia

Namun arkeolog membuka diri pada genetika sebagai jalan menelusuri
asal-usul. Deputi Direktur Lembaga Eijkman Jakarta Herawati Sudoyo
menyatakan lembaganya bekerjasama dengan Pusat Arkeologi Nasional meneliti
gen kerangka manusia kuno yang ditemukan arkeolog di sejumlah tempat di
Indonesia.

Peneliti mengambil sampel DNA mitokondria yang merupakan warisan dari ibu
kepada anak dan kromosom Y yang diwariskan dari ayah. Menurut Herawati,
penelitian menggunakan mitokondria dan kromosom Y ini memiliki kelemahan
yakni sulit melihat adanya percampuran gen. Percampuran gen bisa diteliti
dengan riset otosom atau riset menyeluruh atas genetika seseorang.

Meski demikian, Herawati mengatakan studi gen dari sisi mitokondria akan
membuka informasi mutasi gen saat manusia bermigrasi. Hera menjelaskan
perjalanan migrasi, yang berbeda lingkungan dan kehidupan, akan menambah
motif gen pada manusia itu.

Jadi tak heran, kata dia, jika ditemukan adanya percampuran atau haplotipe,
dari Asia daratan masuk ke Formosa dan dilanjutkan turun ke wilayah
Indonesia.

Situs Gua Harimau
Arkeolog meneliti genetika untuk mengetahui asal-usul Fosil. Foto:
VIVAnews/Aji YK Putra

Eijkman, kata Herawati, mengumpulkan hampir seluruh sampel genetika etnis
yang ada di Indonesia. Ia mengatakan studi gen tidak akan berhenti sampai
proses pemetaan. Tetap akan dilakukan untuk meneliti lebih detail dan lebih
khusus tiap suku bangsa.

Dalam peta gen orang Indonesia yang sudah terpetakan, secara ringkas tampak
adanya pola migrasi manusia dari Barat ke Timur bagian Indonesia. Pola ini
ditandai dengan warna tertentu. “Dari peta DNA-nya terlihat, misalnya
wilayah Papua itu hijau muda, genetika sukunya kelihatan. Totally semua
hijau,” ujar Hera.

Sementara di belahan barat Indonesia, umumnya hijau tua. Pengecualian di
wilayah Sumatera Barat, terdapat pola dua gen berbeda yaitu hijau tua dan
hijau muda sekaligus.

Total, Eijkman menemukan 32 klaster genetika manusia Indonesia yang secara
umum terbagi atas tiga kelompok besar. Pertama, kelompok genetika Melayu,
Minang, Jawa, Kalimantan; kedua, kelompok Makassar, Sumba, Minahasa; dan
ketiga, kelompok Papua dan Alor. Kemudian terdapat juga kelompok kecil yang
terpisah jauh dan diperkirakan lebih tua dari dua kelompok pertama yakni
Nias-Mentawai.

Pembuktian gen manusia Indonesia juga makin menantang setelah ditemukannya
gen Homo denisovan, yang kerangkanya ditemukan di Siberia, Rusia, pada gen
orang Melanesia yang kini menghuni Papua dan Australia.

Herawati mengakui adanya temuan gen Denosivan itu namun peneliti Eijkman
sejauh ini belum menemukan hasil yang signifikan. Sejauh ini, Eijkman sudah
mengonfirmasi, ada kawin-mawin Homo sapiens dengan Homo neandertal.

“Perkawinan Homo Neandertal dengan manusia biasa memang ada. Kebetulan kami
tengah bekerjasama dengan peneliti yang mengerjakan Neandertal,” ujar
Herawati.

Pada masa depan, lanjut dia, pemetaan gen bukan saja bermanfaat untuk
melacak asal-usul, namun juga untuk mendukung kesehatan masyarakat. Hera
mengatakan nantinya gen dapat digunakan untuk alat prediksi kecenderungan
penyakit yang berkembang pada berbagai populasi masyarakat di Indonesia.

Dia mencontohkan, penyakit turunan yang umum melanda orang Indonesia yaitu
talasemia. Meski tidak menjadi pencegah sepenuhnya bagi penderita
Talasemia, namun setidaknya peta gen itu bisa menjadi panduan untuk
pencegahan. (ren)

Kontributor VIVA.co.id Budi Satria turut melaporkan dari Medan

05
Dec
13

Peradaban : 11 Kota Teknologi Hebat Di Asia

11 kota teknologi paling hebat di Asia

 

startup-cities-map-315x206

Asia masih sangat muda dan segar dalam hal teknologi, jadi ekosistem teknologi di benua ini baru saja terbentuk. Secara ekonomi, Asia baru bertumbuh cepat sejak beberapa dekade lalu. Sedangkan di barat, ekosistem ini telah dibangun sejak lama dan kita telah mengetahui beberapa nama besar dan wilayah penting seperti Silicon Valley, New York, London, Paris, dan lainnya. Siapa yang tahu Asia? Benua ini sangat besar, dan sulit untuk memutuskan di mana harus memulai mempelajari benua ini. Jadi, kami bertemu dan berbincang dengan blogger, investor, dan entrepreneur di seluruh Asia untuk meminta mereka berbagi sedikit tentang ekosistem startup di kota dan negara mereka masing-masing. Dan berikut adalah 11 ekosistem startup di seluruh Asia.

1. Singapura.
2. Tokyo, Jepang.
3. Beijing, dan Shanghai, China.
4. Kuala Lumpur, Malaysia.
5. Taipei, Taiwan.
6. Hong Kong, China.
7. Seoul, Korea Selatan.
8. Jakarta, Indonesia.
9. Bangkok, Thailand.
10. Hanoi dan kota Ho Chi Minh, Vietnam.
11. Manila, Filipina.
12. India.
13. Pakistan.
14. Kontributor.

Singapura

singapore-680x382Darius Cheung: Singapura adalah tujuan pertama di Asia bagi sebagian besar orang barat. Negara ini sering disebut sebagai tempat terbaik untuk hidup di dunia dan diperkirakan akan menyalip Swiss sebagai negara pinggir laut terkaya pada tahun 2020. Dengan kata lain, Singapura adalah negara kaya dan mempunyai infrastruktur bagus termasuk sistem pemerintahan, hukum, dan keuangan yang stabil, bersih, dan efisien, ditambah lagi dengan adanya jaringan transportasi dan IT yang solid, tenaga kerja yang terdidik, masyarakat multikultural yang mampu berbahasa Inggris, dan masih banyak lagi. Meski Singapura mempunyai populasi kecil yaitu hanya lima juta orang, negara ini memiliki tingkat penetrasi internet, mobile, dan smartphone yang kuat, dengan memiliki ARPU sebesar USD 40, dan pasar e-commerce yang bernilai USD 2 miliar dan terus bertumbuh.

Singapura mungkin memiliki ekosistem startup yang paling berkembang di Asia, dengan munculnya banyak startup pada berbagai tahap. Negara ini juga mempunyai akselerator yang sangat aktif seperti JFDI dan banyak pendanaan awal dialirkan sebagai bagian dari skema pendanaan NRF TIS dari pemerintah. Selain itu, ada banyak angel investor seperti co-founder Skype Toivo Annus (yang telah berinvestasi di startup Singapura seperti Coda, Luxola, Redmart, Referral Candy, ADZ, dan Garena).

Singapura adalah titik berkumpulnya startup di Asia dan menjadi launchpad bagi entrepreneur lokal dan juga entrepreneur asing untuk membangun bisnis di negara ini. Singapura memiliki banyak perusahaan lokal (SGCarMart, HungryGoWhere, dll) dan internasional (JobsCentral, Brandtology, TenCube, dll.) yang sudah exit dalam beberapa tahun terakhir, dan juga perusahaan yang sedang berkembang seperti PropertyGuru dan Reebonz.

Meskipun demikian, potensi Singapura sebagai pusat startup di Asia Tenggara terancam oleh aturan imigrasi yang ketat, birokrasi pemerintahan yang terlalu tegas, dan xenophobia yang dialami masyarakatnya. Apalagi dengan munculnya kota-kota terdekat dengan talenta dan pasar domestik yang besar, Singapura harus lebih agresif dan berani mengambil risiko untuk memperkuat posisinya sebagai kota startup.

Tokyo, Jepang

tokyoAnh-Minh Do: Jepang merupakan salah satu pasar yang cukup ‘dewasa’ dan berpengaruh di kawasan ini. Pusat segala aktivitasnya berada di Tokyo. Tapi masa dimana perusahaan besar seperti Hitachi, Sony, Fujitsu, and Panasonic muncul sebagai bintang baru telah berlalu, dan sekarang banyak muncul perusahaan baru seperti GREE, DeNA, dan Rakuten yang mulai berpengaruh dan bergerak secara global. Kalau kalian ingin mendapatkan gambaran singkat ekosistem startup Jepang, silakan kunjungi situs rekan kami di TheBridge dan Anda akan melihat ekosistem bisnis, VC, dan inkubator yang segar.

Selain kesuksesan besar dari startupnya, sistem pendidikan di Jepang sangat mendukung, dengan adanya inkubator seperti Open Network Lab. Anda dapat melihat daftar lengkap inkubator dan akselerator di Jepang di sini.

Di sisi lain, masalah yang dihadapi startup Jepang cukup sulit: kultur yang berisiko rendah, harga sewa yang mahal, dan ekosistem yang kecil. Tapi terlepas dari hal ini, Jepang mendapat kesuksesan besar dan pemerintahnya sangat mendukung startup dengan membantu menyediakan inkubator yang jumlahnya sekitar 300 di seluruh negara ini.

Beijing dan Shanghai, China

beijing-680x382Steven Millward: China mungkin mempunyai industri web yang mapan, tapi negara tersebut masih sulit dijamah untuk startup China. Tidak seperti Singapura, pemerintah China kurang mendukung ekosistem startup, dan terdapat banyak perusahaan web di sana yang dengan mudah dan cepat bisa meniru produk utama para startup. Bahkan, lebih besar kemungkinan startup Anda ditiru daripada diakuisisi. Saat ini, aplikasi pemesanan taksi sedang bermunculan – tapi kemudian otoritas mulai mengatur atau bahkan melarang aplikasi ini di beberapa kota. Apa lagi yang startup bisa lakukan? Tidak ada.

Sisi baiknya, ada ekosistem startup yang luar biasa mulai dari startup tahap ide hingga yang sudah memiliki pendanaan besar. Acara startup seperti Startup Weekend dan Barcamp sangat sering diselenggarakan di kota seperti Beijing, Shenzhen, dan Shanghai. Akan bagus jika kompetisi startup juga diselenggarakan (seperti TechCrunch Disrupt atau acara Startup Asia kami) untuk memberi startup lokal dorongan visibilitas, seperti dorongan finansial untuk pemenang. Acara tahunan GMIC Beijing sudah melakukan hal ini, tapi lebih banyak presentasi dan kompetisi tentunya akan semakin bagus.

Terkait pendanaan, banyak pihak yang tertarik untuk melakukan investasi di China. Bidang e-commerce tampaknya mendapat ketertarikan yang terbesar, dengan banyaknya perusahaan seperti Sequoia Ventures, GGV Capital, hingga Bluerun Ventures dari California tertarik pada e-store yang inovatif. Ranah sosial menjadi area yang paling sulit – sulit untuk dimonetasi tapi mudah untuk ditiru – bagi semua orang (kecuali beberapa orang yang beruntung). Dengan nilai e-commerce di China yang mencapai USD 177 miliar pada tahun 2013, tidak heran jika banyak startup yang ingin mencoba ranah bisnis negara ini.

Terkait inkubasi dan akselerasi, Innovation Works yang didirikan oleh Lee Kaifu adalah yang terbesar, dengan menginkubasi lebih dari 50 startup yang diperkirakan berharga senilai lebih dari USD 600 juta.

Innovation Works dapat memberikan pendanaan seri A dan juga pendanaan tahap awal. Selain itu, ada Tisiwi di Hangzhou, dan Chinaccelerator di Dalian.

Kuala Lumpur, Malaysia

kuala-lumpurToni Yew: Dengan adanya usaha yang dilakukan pemerintah Malaysia di bawah Barisan Nasional untuk bersama-sama mendorong Malaysia sebagai negara yang memiliki pendapatan tinggi, teknologi akan berperan penting di Economic Transformation Program (ETP) yang dicanangkan oleh PM keenam Malaysia, Najib Razak.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, startup telah menerima bantuan pendanaan yang tersedia melalui banyak skema yang dibuat oleh agensi pemerintahan dan juga VC swasta. Salah satu contohnya adalah dana Cradle, dimana bantuan disediakan melalui dana komersialisasi yang disalurkan ke program technopreneur program mentor. Ada juga program untuk UKM yang menyediakan dana yang cocok, selain dana tahap tahap awal yang konvensional.

Selain dana tahap awal yang konvensional, kompetisi developer juga dibuat, dimana teknopreneur akan beradu satu sama lain dan ide dan konsep yang menang akan menerima dana dan kontrak dari perusahaan teknologi tertentu. Pada dasarnya, kompetisi ini mirip dengan hackathon plus inkubasi. Kompetisi ini dilakukan dengan banyak universitas yang menyediakan fasilitas bagi startup yang berminat. Dulunya, korporasi dan perusahaan telekomunikasilah yang menyelenggarakan acara ini.

Salah satu dari banyak startup sukses terbaru di Malaysia adalah TeratoTech yang memenangkan banyak penghargaan untuk desain dan spesialisasi aplikasi mobile untuk iOS dan Android.

Secara keseluruhan, ekosistem startup di negara ini cukup menjanjikan dengan bantuan yang tersedia bagi teknopreneur yang ingin menjadikan Malaysia sebagai tempat masa depannya.

Taipei, Taiwan

taipei-680x147Jamie C. Lin: Taipei merupakan salah satu ekosistem startup yang paling menggeliat di Asia. Ada mailing list Startup Digest Taipei dimana orang-orang membuat post tentang acara startup, dan Anda melihat workshop, forum, dan meetup diadakan di sepanjang minggu. Di Stop by Meet yang diselenggarakan oleh majalah Business Next, atau TO Mixer oleh TechOrange, dua dari acara startup terkenal di Taipei, Anda bisa melihat ratusan founder yang dengan semangat bertukar ide startup mereka. Acara demo juga sering diselenggarakan. IDEAS Show yang diselenggarakan oleh Institute of Information Industry dan Meet Conference oleh Business Next diadakan tiap tahun dan diikuti oleh puluhan startup.

Sementara startup internet yang lebih sukses seperti Lativ, Gamesofa, Mayuki, PubGame, i-Part, dan Bahamut menjalankan bisnis mereka dengan puluhan hingga ratusan karyawan dan menghasilkan angka penjualan senilai puluhan juta dolar, startup kecil memulai perusahaannya hanya dengan beberapa founder di co-working space atau akselerator startup. IEH adalah co -working space terkemuka di negara ini dengan menampung lebih dari 20 startup, sedangkan akselerator AppWorks menampung lebih dari 50 startup.

Terkait investasi, investor yang aktif adalah CyberAgent Ventures, AppWorks Ventures, CID Group, dan TMI Holdings. Para VC lokal mengalirkan dana hampir USD 100 juta untuk ekosistem teknologi di negara ini setiap tahunnya, mendanai 30 sampai 50 startup mulai dari pendanaan tahap awal hingga pendanaan pada tahap pra-IPO.

Peraturan terkait perusahaan dan keamanan yang tidak diperbaharui, kurangnya pemahaman pemerintah Taiwan terhadap bisnis berbasis internet, dan kegagalan mengenali web sebagai platform industri penting dan strategis bisa menghambat startup lokal dan para founder.

Di Taiwan, layanan solusi pembayaran pihak ketiga yang sebanding dengan PayPal atau Alipay belum bisa dioperasikan, dan ini dapat menghambat kemampuan e-commerce dan industri konten digital untuk mengumpulkan uang dan juga melindungi penjual dan pembeli dari penipuan. Pemerintah Taiwan juga mewajibkan tujuh hari kebijakan pengembalian untuk e-commerce dan produk konten digital yang dijual oleh retailer online. Tujuh hari mungkin terlalu lama untuk game mobile atau e-book yang akan “dicoba” sebelum calon pembeli memutuskan apakah mereka ingin mengembalikannya, tapi mungkin terlalu pendek untuk produk fisik – seperti Zappos yang menawarkan 360 hari pengembalian untuk sepatu yang dijualnya. Aturan yang kaku seperti ini menunjukkan kurangnya pemahaman pemerintah Taiwan terhadap bisnis berbasis internet. Dan di Taiwan, sebagian besar founder startup berurusan dengan pemerintah daerah terkait berbagai masalah, yang akhirnya memperlambat perkembangan startup di Taiwan.

Hong Kong, China

hong-kong-680x453Rafael Wong Chi Hao dan Casey Lau: Menurut Forbes, Hong Kong dinilai sebagai salah satu dari empat pusat dunia teknologi yang layak untuk diamati setelah Silicon Valley dan New York. Terlepas dari kurangnya ekosistem startup di Hongkong, fokus ekonomi Hong Kong yang cenderung ke industri tradisional seperti real estate, kurangnya investor teknologi, dan kurangnya bakat ilmu komputer dari lulusan universitas lokal, budaya startup Hong Kong sedang memanas.

Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, co-working space seperti CoCoon, The Hive Hong Kong, The Good Lab, dan BootHK bermunculan untuk memfasilitasi pakar teknologi asing. Inkubator startup seperti Startup Weekend, AcceleratorHK, Make A Difference Venture Fellows Program, the Hong Kong Science and Technology Park Incubation Program, dan StartupsHK mencoba membawa Hong Kong menuju arah yang tepat dalam mempromosikan entrepreneurship.

Selanjutnya, tentu saja, Hong Kong harus mengembangkan ekosistem entrepreneurship yang sehat untuk ditinggali startup dan investor, dengan demikian industri startup akan tumbuh secara alami. Jadi pertanyaan besarnya adalah ‘bagaimana’?

Seoul, Korea Selatan

seoul-680x382John Kim: ekosistem startup Korea Selatan telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa dalam lima tahun terakhir, tidak hanya bagi perusahaan tapi juga akselerator dan VC. Melihat sekilas ekosistem startup di negara ini, ada dua alasan utama yang mendorong pertumbuhan tersebut.

Pertama, bermunculannya startup yang sukses telah menarik perhatian masyarakat dan menginspirasi entrepreneur muda. Forbes membuat daftar orang terkaya di Korea, dan daftar tersebut kebanyakan didominasi oleh founder perusahaan game miliaran dollar. Perusahaan seperti TicketMonster, Kakao (pembuat KakaoTalk) dan Coupang telah menunjukkan kekuatan tidak hanya dalam segi finansial, tapi juga menembus segmen masyarakat yang lebih luas dengan produk mereka. Tahun lalu, pengaruh komunitas startup semakin melekat di benak publik ketika Ahn Chul Soo, pendiri perusahaan anti-virus Ahnlab, ingin menduduki kursi tertinggi pemerintahan.

Kedua, pemerintah Korea telah menunjukkan dukungan yang luar biasa kepada komunitas startup, sebuah tren yang tampaknya akan terus berlanjut setelah pemilihan presiden baru-baru ini. Ahn pada akhirnya kalah, dan Korea memilih presiden perempuan pertamanya, Park Geun Hye, yang berjanji meningkatkan pendanaan perusahaan dalam kampanyenya.

Takut gagal dan karakteristik budaya lain di perusahaan Korea bisa menjadi hambatan untuk berkembang secara global, dan ini menjadi tantangan bagi startup Korea. Tapi konglomerat seperti Samsung, perusahaan game seperti Nexon, dan band K-pop seperti Big Bang telah mengalami hambatan serupa sebelum akhirnya berhasil memperkenalkan nama Korea di seluruh dunia. Dengan adanya startup yang sukses dan dukungan dari pemerintah, kita bisa melihat hal yang sama juga akan terjadi pada para founder startup.

Jakarta, Indonesia

jakarta-680x300Aulia “Ollie” Halimatussadiah: Ketika saya berada di konferensi teknologi, seseorang bertanya apakah startup saya telah menghasilkan uang. Saya menjawab, “Tentu. Jika tidak, saya tidak akan bisa membiayainya!” Hal ini juga menjelaskan bahwa di Indonesia, masih banyak startup yang mandiri. Kami menggunakan uang pribadi sebagai pendanaan awal, lalu kami membangun startup dan harus menghasilkan uang dari hari pertama untuk bertahan. Tidak ada dana dari pemerintah untuk startup, jadi startup di Indonesia kebanyakan praktis, seperti e-commerce, travel, dan logistik. Inovasi adalah sesuatu yang kami pikirkan belakangan.

Pada tahun 2010, sekitar sekitar 30 founder startup berkumpul di Starbucks untuk mendiskusikan startup mereka dan secara mengejutkan ini adalah momentum paling penting bagi ekosistem startup di Indonesia. Pertemuan ini menjadi reguler dengan topik yang spesifik; karena dimulai dari Twitter, organisasi ini diberi nama #StartupLokal. Natali Ardianto, Nuniek Tirta dan saya sendiri mengorganisir pertemuan ini setiap bulannya. Sekarang ada lebih dari 200 orang yang hadir di tiap meetup dan ribuan orang berlangganan ke mailing list kami.

Ini adalah saat yang bagus bagi startup di Indonesia karena secara politik negara ini stabil dan kebebasan berpendapatnya dijunjung tinggi, taraf hidup masyarakat kelas menengah mulai meningkat (45 juta orang di Indonesia mempunyai daya beli yang tinggi), tingkat penetrasi mobile yang sangat tinggi (orang Indonesia rata-rata memiliki lebih dari dua handphone); kami juga punya pengguna Facebook dan Twitter yang aktif. Aset terpenting kami adalah lebih dari 60 persen dari 240 juta penduduk Indonesia berumur di bawah 35 tahun dengan rata-rata berusia 28 tahun dan tersebar di lebih dari 17.000 pulau di Indonesia. Ini adalah negara yang mempunyai banyak ruang untuk dijelajahi dan banyak masalah untuk dipecahkan, yang berarti banyak kesempatan bagi para entrepreneur.

Semakin banyak investor dari seluruh dunia datang ke Indonesia dan juga semakin banyak inkubator tersedia, dan mereka siap untuk berinvestasi. Tapi kebanyakan dari mereka menemui kesulitan untuk menemukan startup yang mempunyai mimpi satu juta dolar. Jadi, PR bagi startup di Indonesia sekarang adalah mengubah pola pikir yang biasa, bermimpi tinggi, dan berpikir global.

Sudah ada beberapa investor di Indonesia saat ini, seperti Merah Putih Incubator, GDP Venture, East Ventures, GREE Ventures, Grupara, Ideosource, dan CyberAgent Ventures.

Bangkok, Thailand

bangkok-680x510Prathan Thananart: Ledakan ekosistem startup di Bangkok tahun lalu dapat dikarakteristikkan dengan tiga tren yang berkaitan. Pertama adalah momentum yang dibangun oleh acara teknologi sejak beberapa tahun terakhir melalui BarCamp, Mobile Monday, dan Startup Weekend. Event dan cerita sukses ini dibagikan oleh entrepreneur lokal maupun asing.

Kedua, mulai bermunculannya co-working space menarik untuk diamati. Saat ini ada beberapa co-working space yang bagus di seluruh bangkok, dan mereka membantu menghubungkan entrepreneur dengan developer dan freelancer di industri ini.

Yang terakhir, munculnya VC dan kelompok angel bisnis, termasuk ekspansi dari perusahaan yang berbasis di negara Asia lain. Salah satu yang paling menonjol adalah InVent milik Intouch yang juga mengoperasikan perusahaan telekomunikasi terbesar di Thailand, dan Ardent Capital milik investor Ensogo yang dijual ke LivingSocial.

Kelemahan ekosistem startup di negara ini adalah kurangnya keberagaman. Terakhir saya cek ada lebih dari 10 perusahaan bersaing dalam aplikasi loyalti, dan tiruan group buying yang tak terhitung jumlahnya. Seiring semakin dewasanya ekosistem di negara ini, sebagian energi tersebut akan disalurkan ke ranah yang kurang mendapat perhatian. Sebagaimana Tel Aviv, yang terkenal dengan kemacetan lalu lintas, melahirkan Waze, sebuah aplikasi navigator dengan data lalu lintas yang di-crowdsource.

Bangkok adalah rumah bagi jutaan pemilik smartphone dan lebih dari 18 juta pengguna media sosial dari pengguna web yang berjumlah 25 juta. Dan seiring tumbuhnya generasi digital native yakni populasi yang lebih muda, pasti akan ada banyak ide baru terkait bagaimana orang-orang berbelanja, bepergian, dan tetap terhubung.

Hanoi dan kota Ho Chi Minh, Vietnam

hanoi-680x381Anh Minh-Do: Saya sudah sering menulis tentang Hanoi dan kota Ho Chi Minh, tapi mari kita lihat ekosistem startup Vietnam secara umum. DFJ Vina Capital dan IDG Ventures tampaknya akan perlahan-lahan menarik diri dari startup teknologi dan mengganti strategi mereka menjadi lebih seperti inkubator, sementara CyberAgent Ventures, perusahaan VC asal Jepang baru yang sangat aktif di negara ini, telah membuat beberapa investasi yang menarik.

Maju ke arah global belum menjadi rencana startup Vietnam sampai saat ini. Tentu saja, beberapa startup menengah seperti Appota dan GHN berencana ke luar pasar domestik di masa depan. Mereka memusatkan sebagian besar kekuatan mereka pada pengembangan model bisnis yang kuat di negara ini. Ironisnya, model startup yang umum di Vietnam adalah model yang bersubsidi, dimana sebuah perusahaan teknologi akan mengambil kontrak asing untuk membiayai operasi mereka dan kemudian membangun tim produk dengan pendapatannya. Hal ini membuat startup tidak perlu mencari dana dari investor, tetapi terkadang hal ini bisa menghambat inovasi produk yang sesungguhnya.

Poin-poin tersebut menggarisbawahi kunci ekosistem startup di Vietnam yang berpusat di Hanoi dan kota Ho Chi Minh City, kisah sukses yang praktis dan menjual akan berguna untuk mendorong pertumbuhan di masa depan.

Manila, Filipina

manila-680x355Tidak ada hal yang lebih menarik daripada menjadikan produk atau layanan teknologi Anda sebagai startup di Filipina.

Munculnya investor tahap awal termasuk Kickstart yang telah berinvestasi di enam startup dengan nilai pendanaan mulai dari USD 30.000 sampai USD 120.000; Kickstart secara total telah berinvestasi di 17 startup; juga terdapat Launchgarage yang merupakan kolaborasi antara Kickstart dengan Jay Fajardo dari Proudcloud. Ada juga Ideaspace yang telah berinvestasi di 10 startup dengan nilai pendanaan masing-masing USD 12.500. Kemudian ada SeedAsia yang merupakan pemain baru dalam ranah ini dan sedang menargetkan beberapa startup di negara ini.

Beberapa perusahaan telah mencari pendanaan secara global untuk beroperasi di Manila. Beberapa di antaranya adalah Kalibbr dan Payroll Hero serta beberapa perusahaan dari Silicon Valley yang berkeliaran di Manila.

Ada juga komunitas yang aktif di Facebook seperti StartupPH, ditambah dengan beberapa meetup seperti Roofcamp, Open Coffee Wednesday, Founder’s Drink, dan MobileMonday – dan acara ini diselenggarakan hampir setiap bulan. Ada juga berbagai acara startup seperti Startup Weekend, AngelHack, dan developer bootcamp yang diselenggarakan hampir tiap minggu untuk setiap bahasa yang tersedia di web dari Globe Labs untuk Developer Network SMART. Kedua perusahaan ini memberikan pelatihan gratis dan kamp-kamp pendidikan pada praktek dan entrepreneurship terbaik.

Dengan populasi stabil yang mendekati 100 juta dan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan kelas menengah, Filipina mungkin adalah pasar dengan penduduk berbahasa Inggris terbesar di Asia selain India! Ketahanan ekonomi Filipina selama krisis keuangan tahun 1997 dan 2008 adalah bukti bahwa negara ini punya fundamental yang luar biasa, dan pada akhirnya muncul sebagai tiga peningkatan di peringkat investasi oleh JCRA, S&P, dan Fitch.

Tapi ada tantangan besar. Seperti kebanyakan pasar Asia, terdapat kesenjangan antara investor tahap awal dan seri A di Filipina yang membatasi jumlah exit.

Visibilitas e-commerce masih berada dalam tahap awal karena perlunya menjembatani transisi dari uang kertas ke kartu kredit ke e-payment online – kurang dari 10 persen dari total penduduk memiliki kartu kredit. Pemerintah masih mengatur semua bisnis e-commerce dengan proses birokrasi rumit yang sama sekali tidak business friendly bagi para pengusaha atau investor.

Hal ini mungkin terjadi karena ekosistem startup Filipina cenderung masih sangat muda. Keberhasilan perusahaan yang baru diinkubasi juga akan sangat menentukan kredibilitas pasar Filipina untuk bersaing secara global (atau di kawasan Asia Tenggara).

Meskipun demikian, masa depan Filipina terlihat cerah dengan munculnya tokoh-tokoh besar lokal yang memasuki ekosistem startup, kembalinya talenta Filipina untuk berpartisipasi baik dalam ekosistem startup maupun dalam membangun produk yang bisa membantu memecahkan tantangan pasar yang mereka layani! Filipina adalah negara yang memiliki ekonomi yang tumbuh menggeliat dimana inovasi dan tantangan sosial berpadu melalui teknologi.

India

india-680x364Mukund Mohan: Satu hal yang mengejutkan kebanyakan orang asing tentang ekosistem startup di India adalah betapa beragamnya ekosistem startup di negara ini. Entrepreneur di negara ini rata-rata berusia mulai dari 21 tahun dan masih berkuliah hingga eksekutif berusia 61 tahun. Rata-rata entrepreneur teknologi India adalah pria berusia 30 tahun ke atas, dengan beberapa latar belakang teknologi, meskipun tidak harus dalam pengembangan produk, berfokus pada membangun sebuah produk yang sebagian besar mencoba untuk memecahkan masalah lokal (India).

Rata-rata sekitar 970 entitas produk teknologi lahir setiap tahun di India dan hanya sekitar 380 yang benar-benar membangun entitasnya sebagai perusahaan. Tingkat mortalitasnya cukup tinggi, dengan lebih dari 60 persen dari “entitas” melakukan pivot atau akan dibiarkan terbengkalai dalam waktu 12 sampai 18 bulan. Setiap tahunnya, terdapat jumlah kelahiran yang sama untuk entitas layanan (konsultasi) di ranah teknologi, tapi mereka cenderung bertahan lebih lama.

Startup di India bervariasi, 61 persen di antaranya berorientasi bisnis dan sekitar 39 persen berfokus pada aplikasi konsumen seperti aplikasi mobile, jejaring sosial, dan e-commerce. Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi peningkatan besar di ranah e-commerce. Berkat pengguna internet yang bertumbuh (sekitar 100 juta orang, dengan 15 juta aktif membeli barang dan jasa secara online), tingginya penetrasi broadband (lebih dari 10 juta koneksi) dan meningkatnya jumlah handphone (lebih dari 800 juta koneksi). Tidak ada waktu yang lebih baik untuk memulai perusahaan teknologi di India daripada sekarang.

Keadaan ekosistem investor juga meningkat. Dari sekitar 43 VC aktif pada tahun 2006, yang berinvestasi di sekitar 73 perusahaan setiap tahunnya, saat ini ada lebih dari 80 jaringan angel investor, seed fund, akselerator dan dana tahap awal, dan lebih dari 153 perusahaan mendapatkan beberapa bentuk pendanaan institusional setiap tahun .

Ada tiga tantangan utama yang dihadapi ekosistem teknologi India yang tidak bisa diperbaiki dalam waktu singkat. Yang pertama adalah kurangnya exit, kedua adalah kurangnya angel investor dan mentor, dan ketiga adalah sifat takut mengambil risiko yang melekat pada masyarakat kelas menengah India.

Rasa optimis dalam diri saya mengatakan bahwa masalah tersebut, meskipun struktural, akan berubah selama lima sampai sepuluh tahun ke depan dan relatif mudah untuk dipecahkan mengingat sifat dinamis yang dimiliki para pengusaha India.

Didorong oleh keberhasilan orang India di Silicon Valley dan fakta bahwa mereka membangun 43 persen dari semua produk startup di wilayah Bay, saya benar-benar yakin bahwa metrik dan tren akan bertumbuh 300 persen hingga 500 persen untuk startup dan kisah sukses akan mulai bermunculan dalam lima tahun ke depan.

Pakistan

pakistan-karachiEkosistem startup di Pakistan menggeliat sejak tahun 2012. Lahore, Karachi, dan Islamabad, tiga kota terbesar disana, telah menjadi rumah bagi startup di Pakistan dan entrepreneur muda untuk meluncurkan proyek-proyek menarik.

Sebelumnya, startup Pakistan telah mulai menarik perhatian dengan memenangkan beragam kompetisi yang diselenggarakan di tahun 2010 dan 2011. Tim dari Pakistan memenangkan tujuh medali perak di Asia Pacific ICT Awards 2010 yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, dan pada tahun 2011 berhasil membawa pulang dua medali emas pada kategori e-logistics dan e-health, dan juga 5 medali perak.

Pada tahun 2012, universitas seperti LUMS memantik semangat para entrepreneur muda dengan menyelenggarakan Startup Weekend untuk pertama kalinya di tahun 2012 dan 2013. Hal ini dimaksudkan untuk memotivasi mereka untuk maju ke depan dan menunjukkan bakat mereka kepada dunia.

Perusahaan seperti Microsoft dan Google juga tertarik akan kawasan ini. Microsoft menyelenggarakan Windows Phone Hackathon di Lahore awal tahun ini.

Disamping itu, pemerintah Pakistan sangat mendukung siswa dan entrepreneur muda. Dengan inkubator teknologi seperti Plan9 dan beragam kesempatan pendanaan dari P@SHa dan PITB – entrepreneur sekarang punya kesempatan pendanaan yang lebih baik dibanding dulu.

Kekuatan: Kita bisa menyimpulkan bahwa startup di Pakistan mempunyai masa depan yang cerah dan ada banyak organisasi lokal yang mendukung entrepreneur web potensial. Startups.pk berisi banyak startup yang diluncurkan di Pakistan. Kebanyakan populasi di Pakistan berisi anak muda dengan 70 persen berusia di bawah 30 tahun!


Kontributor

Terima kasih banyak kepada para kontributor yang telah membagikan gambaran tentang ekosistem startup mereka:

Darius Cheung dulunya adalah founder TenCube dan seorang investor di JFDI, TIS Funds Neoteny Labs, dan Golden Gate Ventures.

Tony Yew adalah blogger dan secretary general dari Blog House Malaysia.

Prathan Thananart adalah seorang entrepreneur startup yang membangun Page365.

John Kim adalah Managing Partner di Amasia Associates dan juga Board Director di Choson Exchange.

Rafael Wong Chi Hao adalah seorang event organizer dan blogger berbasis di Hong Kong, yang juga sering terlibat di berbagai acara seperti TEDxHongKong.

Casey Lau adalah community developer dan juga katalis Soft Layer di Hongkong.

Aulia “Ollie” Halimatussadiah adalah penulis 25 buku yang juga merupakan co-founder toko buku online Kutukutubuku dan platform self-publishing online pertama di Indonesia, NulisBuku.

Mukund Mohan adalah CEO-in-residence di Microsoft Accelerator. Ia membangun dan menjual BuzzGain kepada Meltwater pada Januari 2010. Sebelumnya ia membangun dan menjual dua startup Silicon Valley.

Mohsin Khawaja adalah seorang marketer internet. Tahun ini ia berpartisipasi di LUMS startup weekend 2013 dan membuat startup bernama TravelPakistan yang bertujuan untuk mempromosikan pariwisata lokal dan internasional di Pakistan.

 

19
Oct
13

Sejarah : Situs Gunung Padang berusia lebih dari 10000 SM

Riset Geologi Menguak Fakta Mencengangkan tentang Gunung Padang

 

  • Penulis :
  • Yunanto Wiji Utomo
  • Rabu, 16 Oktober 2013 | 19:49 WIB

 

Batu situs Megalitikum Gunung Padang yang dikelilingi keindahan alam pegunungan di kawasan Cianjur, Jawa Barat, Jumat (15/3/2013). Gunung padang merupakan situs pra-sejarah peninggalan Megalitikum yang berupa punden berundak yang terdiri dari susunan batuan andesit yang umurnya diperkirakan jauh lebih tua daripada piramida mesir sekitar 10.000 tahun sebelum masehi. | KOMPAS IMAGES/ANDREAN KRISTIANTO

 

Sebelumnya, telah diduga bahwa Gunung Padang menyimpan bangunan tua. Bangunan tersebut berupa punden berundak, lebih besar dan lebih tua dari piramida Giza di Mesir. Riset ini, menurut tim, membuktikan bahwa bangunan yang dimaksud itu benar-benar ada.

Danny Hilman Natawidjaja, geolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang termasuk dalam tim riset, mengungkapkan, temuan tersebut dibuat berdasarkan analisis georadar, geolistrik, pengeboran, serta tomografi yang dilakukan hingga Juli 2013.

Pada dasarnya metode tomografi adalah pemindaian dengan menggunakan bantuan gelombang suara. Lewat cara ini, tim bisa mengetahui karakteristik lapisan batuan serta struktur buatan yang mungkin ada di dalam tanah.

“Prinsipnya, tomografi menganalisis berdasarkan kecepatan rambat suara. Kalau di zona yang padat, suara akan bergerak cepat. Sementara kalau di daerah yang kosong atau tidak padat, suara bergerak lebih lambat,” kata Danny.

Berdasarkan analisis tomografi, tim menemukan adanya zona dengan kecepatan rambat suara yang sangat lambat. Keberadaan zona tersebut, menurut Danny dan tim, menunjukkan adanya rongga di bawah situs Gunung Padang.

“Jadi memang dari tomografi terlihat ada rongga dan dinding-dindingnya,” kata Danny saat dihubungi Kompas.com, Rabu (16/10/2013). Rongga itulah yang kemudian dikatakan sebagai ruangan dari bangunan buatan manusia.

Hasil pengeboran, analisis geolistrik, dan georadar memperkuat hasil analisis tomografi. Pada pengeboran hingga kedalaman 10 meter, tim menjumpai water loss, di mana ketika dibor, air langsung mengalir dan meresap di dalam tanah.

“Biasanya, kalau dibor, air akan keluar kembali, tetapi ini tidak. Air langsung menghilang. Nah, ini menunjukkan kalau memang air mengalir ke suatu tempat, menunjukkan adanya ruangan di bawahnya,” papar Danny.

Danny yang juga banyak meneliti tentang kegempaan di Sumatera dan Jawa Barat menjelaskan, volume air yang hilang mencapai 32.000 liter. Ia memperkirakan, air mengalir ke ruangan yang volumenya mencapai 32 meter kubik.

Selama penelitian geologis, Danny dan tim juga menemukan lapisan tanah di antara lapisan batuan dan dikatakan bukan merupakan hasil pelapukan. Tanah sengaja dikumpulkan sebagai lapisan bangunan.

“Kalau hasil pelapukan, tanahnya biasanya ada gradasi. Ada yang sudah lapuk sempurna sampai yang belum lapuk. Kalau ini tidak. Seragam. Jadi lapisan tanah itu bukan hasil pelapukan,” urai Danny.

Dari pengeboran di beberapa titik, tim mengambil sampel karbon. Analisis karbon mengungkap bangunan yang dideteksi dengan analisis geologi itu diperkirakan berasal dari masa 9.000 SM atau bahkan lebih tua.

Menanggapi temuan tersebut, Awang Harun Satyana, geolog senior dari ESDM, mengungkapkan bahwa metode dan hasil penelitian mungkin sudah tepat. “Tapi, hasil itu multitafsir. Satu data, geolog bisa menafsirkan berbeda-beda,” katanya.

Awang menuturkan, adanya zona dengan kecepatan suara rendah serta water loss yang besar tidak selalu menunjukkan adanya ruangan buatan manusia, bisa saja hanya petunjuk akan fenomena alam tertentu.

Wilayah Gunung Padang adalah zona vulkanik. Batuan terbentuk dari lava. Dalam prosesnya, sangat lazim pembekuan batuan tidak seragam. Hasil tomografi bisa merujuk pada lava yang belum benar-benar membeku.

Di sisi lain, bisa jadi zona dengan kecepatan suara rendah memang sebuah ruangan. Namun, belum tentu ruangan itu buatan manusia. “Jadi bisa saja itu hanya sebuah gua. Itu kan alami,” jelas Awang.

Sementara water loss tidak selalu terjadi karena adanya rongga di bawah permukaan. Water loss besar bisa terjadi bila batuan bersifat porous (memiliki pori-pori besar dan banyak) sehingga air mudah “hilang”.

Ali Akbar, arkeolog dari Universitas Indonesia yang menjadi pemimpin tim riset, mengatakan bahwa pihaknya akan terus meneliti lagi. Penanggalan karbon juga menjadi fokus utama riset. Tim akan memastikan bahwa penanggalan tepat karena angka hasil penanggalan di luar dugaan.

 

Editor : Wisnubrata

 

02
Oct
13

Kebudayaan : Peradaban Maritim Indonesia

 

MENGUNGKAP BUDAYA LUHUR NUSANTARA

MENUJU PERADABAN MARITIM INDONESIA

 

 

LATAR BELAKANG

Dalam sejarah modern bangsa ini sebagai republik, mungkin baru belakangan ini tema maritim atau kelautan sebagai identitas orisinal atau primordial dari bangsa Indonesia, atau suku-sukubangsa di Nusantara, ramai dibicarakan banyak kalangan, terutama kalangan atas dan menengah. Secara sosial mereka memiliki tingkat pendidikan cukup atau lebih dari cukup. Mereka memiliki kepedulian (concern) dan waktu-lebih untuk memberi perhatian kepada persoalan-persoalan di luar dirinya, persoalan yang menyangkut masyarakat sekitar dan negerinya sendiri.

Cukup ramainya perbincangan di atas mungkin disebabkan oleh setidaknya lima hal. Pertama, masyarakat tampaknya kian bertambah kecewa dengan perkembangan mutakhir kehidupan bangsa ini, terutama karena lemah dan minimnya kerja negara dalam menjalankan amanah rakyat sebagaimana tertuang dalam konstitusi (UUD 45). Sebagian orang melihat kehidupan rakyat tidaklah bergerak pesat menuju ideal-ideal yang dibayangkan oleh ideologi kita, tapi justru mundur atau merusak fundamen kebangsaan yang dipercaya telah dibangun dan disemen dengan kuat oleh ideologi itu.

Kedua, kekecewaan di atas membuat sebagian masyarakat, terutama kelas menengah dan sebagian kaum elit, mempertimbangkan atau meninjau kembali pada pilihan-pilihan sistemik yang kita praksiskan dalam kehidupan bernegara, berpolitik, berekonomi, berhukum, dan seterusnya. Sebuah pertimbangan yang diambil lantaran ketidakpuasan pada cara pemerintah, sebagai pelaksana kerja (eksekutif) negara lebih banyak ditujukan pada kemaslahatan, keuntungan atau penimbunan profit (sosial, politik, ekonomi, kultural) diri mereka sendiri (elit), bukan untuk kesejahteraan umum atau keadilan sosial sebagaimana tersebut dalam sila terakhir dasar negara.

Ketiga, muncul sebuah kesadaran tentang buruknya kerja pemerintah di atas karena terlampau dipengaruhi, didominasi, bahkan dikuasai oleh paradigma bernegara yang diimpor dari luar (oksidental khususnya, seperti negara-negara Eropa Barat dan Amerika Tengah dan Utara). Pengaruh itu sesungguhnya telah ada sejak ratusan tahun lalu namun menjadi sangat kuat dan massif akhir-akhir ini berkat arus keras globalisasi yang memanfaatkan perkembangan canggih teknologi komunikasi, informasi, dan transportasi yang mereka miliki. Notabene, arus keras itu sebenarnya berlandaskan metode berpikir (filsafat dan epsitemologi) yang berkarakter kontinental alias daratan.

Keempat, maka akhirnya, berlandas kesadaran baru tersebut kita “menemukan kembali” realitas historis, geografis hingga ideologis kita –sebagaimana termaktub dalam konstitusi, dasar negara, dan buah pemikiran para founding fathers and mothers—yang sesungguhnya berbasis pada peradaban maritim atau kelautan. Sebuah pilahan, atau katakanlah saudara kembar dari adab kontinental/daratan yang sejak awal mula kebudayaan sudah menjadi mitra tanding (sparring partner), bahkan kompetitor yang berhadap-hadapan secara diametral hampir di seluruh dimensinya.

Akibatnya, kelima, bermunculanlah banyak buah pikiran –dalam bentuk risalah, monografi, jurnal dan buku-buku, juga berbagai kolokium dan simposium—yang mengangkat masalah kemaritiman sebagai identitas yang “tersembunyi” atau “disembunyikan” dari diri kita. Hanya, hampir semua buah pikiran atau wacana itu belum berhasil meneguhkan secara adekuat tentang apa yang disebut dengan (adab) kelautan itu, dengan seluruh dimensi kehidupan yang mengisinya. Data-data masih terasa sumir, bahkan dipertanyakan oleh kalangan ilmiah dalam dan luar negeri, juga analisis atau kesimpulan-kesimpulan tentatif atau hipotesisnya masih disusun secara spekulatif sehingga tampak obskur, eklektik, dan mengambang.

 

MENGUNGKAP ADAB MARITIM

Berdasarkan berbagai hal yang telah dikemukakan di atas, Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) memandang perlu dan berinisiatif menyelenggarakan studi / kajian yang ketat dan serius untuk membahas persoalan-persoalan di atas, khususnya pada persoalan kemaritiman, sehingga bisa dimulai terbitnya buah pikiran (intelektual) yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara akademis maupun historis. Niat tersebut diwujudkan dengan menyelenggarakan semacam serial diskusi di mana akan dibahas beberapa segi atau dimensi utama dari hidup dan adab maritim yang pernah dan masih ada di negeri ini.

Sebuah usaha yang lebih tepat disebut menemukan kembali / menyingkap (rediscovering) Indonesia dalam adab kelautan sebagai identitas primordial atau purbanya, tanpa meninggalkan pengakuan dunia terhadap budaya pertanian nusantara yang telah berkembang demikian canggih pada zamannya. Menguji sejauh mana ia nyata dan ilusifnya, bermanfaat atau tidaknya. Keberanian jiwa, kebersihan hati, dan keterbukaan pikiran menjadi prakondisi yang tak terelakkan harus dimiliki oleh semua kalangan yang terlibat dalam usaha ini.

Berbagai kalangan ahli akan diminta mengisi serial diskusi ini dengan visi dan idenya tentang eksistensi adab maritim di masing-masing bidang kepakarannya, seraya menengarai apakah bidang-bidang itu memang menunjukkan sebuah keunggulan atau justru kelemahan, serta apakah ia bisa dieksplorasi menjadi kekuatan yang mampu menjawab pertanyaan atau persoalan-persoalan kontemporer yang dihadapi negeri ini.

KERANGKA PIKIR

Adalah sebuah fakta, ketika bangsa Eropa mampu menyeberangi lautan “hanya” sejauh 60 mil ke kepulauan Kreta pada 8.000 tahun BP (Before Present), bangsa Nusantara 60.000 tahun BP sudah mengisi benua kosong yang bernama Australia. Pada 35.000 tahun BP, bangsa Nusantara telah menyeberangi samudera (Hindia), yang tentu saja belum ada satu pun bangsa di atas bumi ini dapat melakukannya saat itu, untuk menempati tanah-tanah pinggiran laut di Selatan India, Madagaskar bahkan Afrika bagian Timur Jauh. Sehingga beberapa ahli menengarai, bangsa Zanj (yang menjadi pendahulu dari bangsa Arzania, Zanzibar atau Tanzania) sebenarnya adalah manusia Afro-Indonesia.

            Perjalanan bangsa Eropa menyeberangi lautan bahkan baru dimulai pada akhir abad 15 setelah Spanyol mampu menundukkan Cordoba. Kapal yang digunakan Spanyol yang dipimpin oleh Columbus tahun 1492 hanya memiliki kapasitas sekitar 30 penumpang (Kong Yuanzhi, 2005). Teknologi kapal Eropa ini seperti teknologi kapal Mongol tahun 1292 memiliki kapasitas sekitar 30 penumpang (W.P. Groeneveldt, 2009). Teknologi kapal Eropa dan Mongol ini sangat jauh di bawah teknologi kapal bangsa Kun Lun pada abad ke-3 yang memiliki kapasitas 600 penumpang (Daud Aris Tanudirdjo, 2010). Bangsa Kun Lun adalah bangsa Jawa, karena bangsa Jawa merupakan satu-satunya bangsa yang melakukan kontak perdagangan pertama dengan Cina (W.P. Groeneveldt, 2009), mendahului bangsa lain di Nusantara.

Hal yang sama dengan sebuah sukubangsa Nusantara yang bernama “Lapitan”, di antara Maluku dan kepala burung Papua, sebagai bangsa awal dengan adab maritim yang cukup lanjut, setidaknya ditandai oleh kemampuan mereka melintasi samudera lainnya (Pasifik) untuk terus berlayar ke Timur, puluhan ribu mil, dan menyemaikan benih kebudayaan lokal di kepulauan Fiji, pulau Paskah (pulau paling terpencil di dunia), dan pada akhirnya Hawaii, serta pulau-pulau besar di Selandia Baru.

Tidak heran jika banyak spekulasi -–yang sebenarnya berbasis data cukup kuat—menyatakan bangsa-bangsa pribumi seperti Aborigin (Australia), Maori (Selandia Baru), atau yang ada di kepulauan Polinesia hingga suku bangsa yang membangun Hedgestone di pulau Paskah berasal dari negeri ini (perhatikan: hedgestone yang membuat bingung para ahli hingga hari ini disebut oleh penduduk lokalnya dengan istilah “Matatenga”, sebuah istilah yang dekat sekali dengan berbagai kepercayaan purba di Nusantara).

Semua itu menjadi dasar yang memperkuat beberapa konstatasi dari sebagian arkeolog kelautan yang menyatakan, hingga 2500 BP lautan di dua pertiga dunia dikuasai oleh maskapai-maskapai dari para pelaut Nusantara. Bahkan mungkin lebih dari itu. Mengingat adanya temuan persamaan kebudayaan dalam hal ini musik dan beberapa tanaman pangan antara bangsa Afrika dan Nusantara (Robert Dick-Reid, 2008), juga mengingat bangsa-bangsa Arab dan India dikenal tidak memiliki sejarah pelayaran yang berteknologi tinggi —bahkan ditegaskan oleh para ahli, bangsa Arya yang menguasai India sejak abad 19 sebagai bangsa yang “sama sekali tidak pernah mengenal laut”— bukanlah hal yang spekulatif untuk mengatakan pelayaran atau perantauan para pedagang atau penyebar agama di kedua bangsa besar itu sebenarnya “menumpang” atau “menyewa” jasa maskapai-maskapai yang berasal dari Nusantara (Robert Dick-Reid, 2008). Terlebih sebagaimana informasi kedatangan Portugis awal dari Duarte Barosa (Paul Michel Munoz, 2009) dan Tome Pires (Armando Cortesao, 1967) yang menyebutkan bahwa hingga abad ke-16, Jawa merupakan pedagang utama yang mengelola perdagangan dari Aden hingga Cina. Oleh Duarte Barosa, Jawa juga dicatat memproduksi kapal, senjata, logam mulia, sutera dan mengelola pertanian secara besar-besaran.

Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara, terutama Sumatera dan Jawa dengan Cina juga diakui oleh sejarawan G.R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari jazirah arab dengan para pedagang dari wilayah asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri arab dengan Nusantara pada saat itu. “Keadilan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi”,tulis Tibbetts. Jadi peta perdagangan saat itu, terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China. Aebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M, hanya berbeda 15 tahun setelah Rasullullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasullulah berdagwah terang-terangan kepada bangsa Arab, di sebuah pesisir pantai sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya. Hal ini makin diperkuat, misalnya, oleh bukti-bukti baru yang menunjukkan bagaimana komunitas muslim sudah terbangun sejak masa kerasulan Muhammad saw. Para ahli banyak menegaskan, misal saja, pada tahun 625 kota Barus sudah diisi oleh komunitas muslim dan bangsa-bangsa lain, di bawah perlindungan raja-raja Sriwijaya, (PLPG Sertifikasi Guru Rayon 9 Universitas Negeri Jakarta, 2012),  Kita pun sama tahu bagaiman Raja Sri Indrawarman menulis surat (yang aslinya ada di London) kepada Raja Umar bin Abdul Aziz dari dinasti Muawiyah untuk mengirim ustadz-ustadznya mengajarkan Islam di negeri maritim itu, (Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, 1994). Sang Raja dan anak yang menggantikannya kemudian masuk Islam, walau agama itu tidak bisa menjadi agama negara karena protes yang dilancarkan para biarawan Buddha yang dominan di saat itu. Atau persahabatan antara Yazid bin Muawiyah putra dari pendiri dinasti Muawiyah dengan Jawa (Irawan Djoko Nugroho, 2011).

Semua itu tentu saja bukan data yang obskur untuk mendukung bagaimana pelaut-pelaut Nusantara bukan hanya telah mengembangkan teknologi tinggi dalam dunia pelayaran, lima melineum bahkan lebih dari bangsa Viking yang dibanggakan bangsa Eropa. Bahwa pernyataan Nabi yang menyatakan “belajarlah hingga ke negeri Cina” tentu saja bukan karena Nabi pernah ke Cina. Namun karena ia berdagang di 18 kota bandar (dari 20 kota dagang yang paling sering ia kunjungi), di mana ia berkesempatan bertemu dengan para pedagang dan pelayar Nusantara. Beberapa ahli seperti Mansyur Suryanegara atau Nuchbatuddar memang membuktikan bagaimana para pelaut Indonesia sudah berdagang dengan Nabi sebelum masa kerasulannya. Dan GR Tibbetts (1956) pun menegaskan, “Nusantara adalah tempat singgah para pedagang Arab yang hendak ke Cina sejak abad 5 Masehi (dengan menumpang maskapai pelayaran Nusantara)”. Dalam ripta prasasti atau prasasti yang ditulis di atas daun lontar yaitu Prasasti Nagarakrtagama (1365 M), Arab yang dalam bahasa Jawa Kuno disebut Yawana dicatat sebagai mitra ‘negara sahabat’. Cina dan India (Vijayanagara) bersama Asia Tenggara dan Nusantara dicatat sebagai wilayah yang disatukan dalam kerajaan Majapahit.

Tentu masih cukup banyak data keras (hasil riset berbagai disiplin) yang memper-lihatkan bagaimana di masa lalu, sekurangnya sejak 5.000 tahun BP hingga 1600 M, telah berkembang semacam kebudayaan di berbagai sukubangsa yang mengisi kepulauan terbesar di dunia ini, dengan satu ciri, tanda, atau identitas yang kuat dan melekat pada kelautan. Sebuah kenyataan yang mampu melahirkan satu-satunya suku bangsa dalam sejarah manusia di muka bumi ini yang hidup, berkembang, berbudaya, dan mati seluruh-nya di laut: bangsa Bajau (Bajo, Wajo, dll sebutannya).

Riwayat yang dikisahkan oleh C. Ptolemeus (70 M), yang kemudian dikutip lagi oleh Dennys Lombard (1970), bahwa pada tahun 2100 BP dikirim sebuah kapal ekspedisi raksasa yang berisi penuh hasil bumi dan binatang-binatang khas Nusantara berangkat ke Afrika untuk ditukarkan dengan budak, menandakan adanya tingkat budaya (ekonomi) yang cukup tinggi masa itu di kepulauan ini. Dalam prasasti Garaman 1053 M, para budak ini, misalnya dari Jenggi (Zanzibar), masih dicatat dipekerjakan di Jawa (Ani Triastanti, 2007). Pada tahun 1381 M, Jawa juga dicatat sejarah dinasti Ming masih mempekerjakan budak hitam di kapal menuju Cina (W.P. Groeneveldt, 2009). Hal itu pun menjadi indikasi yang kuat bagaimana cara bahkan sistem hidup bernegara, berpolitik hingga bergaul antar-bangsa (internasional) sudah terbangun dengan baik di negeri ini.

Oleh karena itu, penting sekali bila kita saat ini berusaha untuk mengidentifikasi sedapat mungkin, dimensi-dimensi budaya maritim apa yang dahulu telah berkembang jauh sehingga menempatkan Nusantara menjadi wilayah yang penting bahkan vital dalam arus migrasi manusia di masa purba. Migrasi yang tentu saja juga terjadi dalam dimensi sosial, ekonomi, politik, hukum, kultural, dan seterusnya.

 

DISKUSI PANEL SERIAL

Sebagai ahli waris dari peradaban maritim itu, tentu telah menjadi kewajiban historis kita untuk mengetahui, mendalami, menemukan kembali (rediscovering) kekuatan-kekuatan adab maritim kita, yang barangkali masih cukup liat dan adekuat untuk men-jawab persoalan-persoalan kontemporer sebagaimana pernah dibuktikan nenek moyang kita dahulu. Untuk itulah, serial diskusi yang berbentuk panel ini diselenggarakan untuk sekurangnya memulai proses penyingkapan kembali kenyataan kelautan dalam diri kita. Kenyataan primordial yang ternyata tidak bisa kita lepas, lucuti, dan khianati dengan cara beralih pada adab kontinental/daratan sebagaimana kita pelajari, internalisasi (sejak bayi) dan kita praktikkan saat ini. Kenyataan yang membuat realitas kita cukup menyedihkan karena situasi patetik: menjadi skizofren secara kultural.

Diskusi Panel Serial YSNB ini akan mengupas beberapa tema utama yang berkait dengan kemaritiman itu, dengan sebuah proses yang dimulai dari “identifikasi”, semacam eksplorasi dalam riset, untuk menemukan butir atau dasar-dasar utama tegaknya sebuah disiplin budaya dalam peradaban itu. Tema-tema itu meliputi hal-hal sebagai berikut.

            1.        Nilai-nilai luhur (utama) dalam kebudayaan maritim yang meneguhkan jati diri/esksitensi atau kepribadian seorang manusia.

            2.        Logos atau logika dasar dari cara berpikir manusia/kebudayaan maritim yang berkembang di seantero Nusantara ini (yang mungkin dapat diperbandingkan dengan hal sama yang berkembang di adab kontinental/ oksidental). Mungkin dapat ditelusuri juga kosmologi dan ontologi (untuk memakai istilah filsafat Eropa) budaya maritim. Dan kemudian bagaimana “ilmu” pun berkembang dalam adab ini, yang diseminasi atau model pewarisannya mungkin berbeda dengan dunia ilmu (akademik) dalam sejarah kontinental.

            3.        Teknologi dan ekonomi kelautan serta etos dan etika yang berkembang dalam wira-wira usaha yang pernah ada.

            4.        Hubungan interdependensial (berkait juga dengan kosmologinya) masyarakat maritim dengan dunia di sekitarnya (lingkungan), yang dalam tingkat tertentu juga menyentuh masalah-masalah yang spiritual-transendental. Juga termasuk di dalamnya bagaimana budaya maritim menghadapi potensi SDA-nya, baik untuk kebutuhan dasar hingga kebutuhan energi.

            5.        Sistem kemasyarakatan dalam budaya maritim, yang tidak hanya menyentuh pola relasional antara anggota-anggotanya, tapi juga bagaimana ia menjalankan fungsi-fungsi yang dalam bahasa modern (oksidental) disebut politik, hukum, dsb.

            6.        Ekspresi artistik yang khas dalam budaya maritim tentu saja sangat berbeda dengan apa yang ada dan berkembang di dunia Barat (kontinental), sebagaimana pernah dikonstatasi oleh Denys Lombard bahwa kesenian di Nusantara seluruhnya dicabut dari akarnya oleh seni-seni modern.

            7.        Hubungan mancanegara atau diplomasi internasional, baik dalam dimensi politik, militer, ekonomi, kesenian dan sebagainya yang dahulu pernah berkembang di kerajaan-kerajaan maritim, sejak Salakanegara, Majapahit, Sriwijaya, Pasai hingga Ternate. Benarkah misalnya pola okupasi wilayah yang terjadi pada masa Sriwijaya dan Majapahit serupa dengan kolonialisasi yang dilakukan bangsa-bangsa daratan?

            8.        Bagaimana pula budaya maritim menghadapi perilaku deviatif yang mendestruksi orde sebuah masyarakat (seperti: kriminalitas, pelacuran, madat/narkoba, hingga korupsi) yang dilakukan oleh sebagian masyarakatnya. Adakah ia diterima sebagai “kewajaran” kebudayaan atau dinegasi atau dinafikan secara total sebagaimana terjadi dalam sejarah peradaban Eropa Barat.

            9.        Bagaimana kemudian kebudayaan dari adab maritim itu bersinergi dengan adab “daratan” yang secara alamiah juga dimiliki oleh masyarakat-masyarakat pedalaman di pulau-pulau besar, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi atau Papua. Adakah semacam hibridasi di antara keduanya, sehingga melahirkan sebuah sintesis kebudayaan di belahan/wilayah tertentu kepulauan ini. Setidaknya sebelum invasi kultural terjadi pertama kali oleh bangsa daratan yang diwakili oleh bangsa Arya/India.

          10.        Akhirnya, sebagai sebuah negeri dengan realitas geografisnya yang didominasi laut, Nusantara atau Indonesia di masa kini juga dilimpahi bonus demografis, berupa jumlah penduduk yang cukup besar hingga pada masa kini ia menempati posisi negara kelima terbesar dari jumlah dan kepadatan penduduknya. Bagaimana kultur dan adab maritim menghadapi persoalan kependudukan itu, memproyeksikannya ke masa depan, sebagaimana yang hari ini menjadi tantangan besar karena penggandaan jumlah penduduk semakin pendek rentang waktu yang dibutuhkannya. Apakah ia akan menjadi bonus yang menguntungkan atau justru azab yang mencelakakan?

         11.        Strategi  Teknologi Pertahanan Dan Keamanan Berbasis Maritim.

Sejarah kejayaan kerajaan-kerajaan maritim di Nusantara mulai dari Sriwijaya ,Samodera Pasai hingga Majapahit, Banten atau Gowa dan Ternate, sangat dikenal kemampuannya dalam mempertahankan diri dari infiltrasi kekuatan asing baik yang berasal dari luar (Cina, Portugis, Belanda, dsb), termasuk konflik dengan kerajaan-kerajaan maritim lainnya dikawasan ini. Bagaimana sebebarnya strategi juga teknologi pertahanan dan keamanan yang berbasis pada laut atau perairan terjadi secara praktis dan konseptual pada masa itu.

          12.        Risalah atau rekomendasi apa yang bisa dihasilkan dari proses identifikasi abstrak/intelektual di atas, untuk diajukan kepada bangsa ini, pada pemerintah khususnya, dan pada generasi nanti seharusnya. Mungkin belum bisa didapatkan hasil yang cukup adekuat, namun setidaknya ia menjadi awal yang cukup komprehensif untuk menemukan kembali (rediscovering) setengah dari realitas diri dan hidup kita. Sebuah hasil yang pasti sangat berarti, setidaknya di tengah kerisauan, disorientasi, dislokasi atau “galau” yang terjadi di generasi masa kini.

Narasumber : Yayasan Suluh Nusantara Bakti

31
Jul
13

Peradaban : Republik Laskar

Republik Laskar

Pada masa revolusi, milisi atau paramiliter sering mengatasnamakan revolusi. Pada masa Orde Baru, nama Pancasila dan “NKRI Harga Mati” yang digunakan. Pada masa reformasi, banyak yang membawa-bawa nama Islam.

Apa persamaannya? Milisi atau paramiliter di tiga masa itu sama-sama (walau tak selalu) didirikan atau dibentuk militer, dipersenjatai atau mempersenjatai diri, dan akhirnya cenderung kebal hukum.

Legitimasi “moral” yang mereka miliki, atas nama revolusi atau Pancasila atau Islam, membuat mereka memiliki kewibawaan yang meneror.

Tentu saja ada banyak kategori milisi. Ada yang memang dibentuk sebagai pasukan cadangan resmi tentara yang biasanya direkrut lewat wajib militer. Tetapi yang ingin saya bicarakan kali ini kebanyakan adalah milisi yang “tidak resmi” atau bukan dibentuk oleh negara. Kendati, seperti yang akan saya tunjukkan, “resmi” atau “tidak resmi” sering kali jadi perkara sumir di Indonesia

Di Indonesia, istilah “laskar” sebenarnya lebih populer ketimbang sebutan “milisi”. Istilah “laskar” itu juga lebih lentur untuk mengakomodasi tendensi-tendensi militeristik yang tidak terang-terangan menenteng senjata api.

Istilah “laskar” ini sudah populer sejak masa revolusi. Saat itu, hampir di setiap kota terdapat laskar yang dibentuk secara organis, biasanya oleh para pemimpin lokal yang berpengaruh. Di Bandung ada Barisang Tangan Merah, Barisan Merah Putih, dll. Di sekitar Jakarta ada Laskar Hitam, Laskar Ubel-ubel, dll. Hal yang sama terjadi di kota-kota lain, terutama kota-kota besar yang jadi kancah utama revolusi.

Ada juga laskar-laskar yang dibentuk dengan skala yang lebih serius, terutama oleh organisasi-organisasi politik utama saat itu. Partai Sosialis yang dibentuk Amir Sjarifuddin, misalnya, punya organisasi pemuda bernama Pesindo yang sangat kuat, berdisiplin dan juga bersenjata lengkap (terutama karena Amir dua kali menjabat sebagai Menteri Pertahanan).

Tidak semua laskar ini punya disiplin dalam mematuhi perintah pemerintah RI. Sangat banyak dan sangat biasa laskar-laskar itu bergerak semaunya, saling bertempur satu sama lain. Dan atas nama revolusi, banyak sekali rakyat Indonesia sendiri yang menjadi korban keganasan mereka.

Hampir semua literatur yang membahas fase revolusi (1945-1949) tak pernah absen menyebut keberadaan laskar-laskar milisi ini. Tak hanya buku hasil sejarah, karya-karya sastra terbaik Indonesia juga banyak mengabadikan hal ini. Sebut saja: “Burung-burung Manyar” Romo Mangun, “Senja di Jakarta” Mochtar Lubis atau “Percikan Revolusi + Subuh” Pramoedya Ananta Toer.

Pada masa kepemimpinan Sukarno di era Demokrasi Terpimpin, milisi-milisi ini banyak dibentuk oleh partai-partai politik saat itu — melanjutkan yang memang sudah terjadi pada masa revolusi. Beberapa di antaranya bahkan memang sudah berdiri sejak masa revolusi.

Milisi di era Sukarno semakin menguat setelah Indonesia mengkampanyekan konfrontasi melawan Malaysia. Banyak sekali pemuda yang direkrut atau bahkan sukarela mendaftarkan diri untuk dilatih dan dikirim ke perbatasan Malaysia di Kalimantan.

Menjelang peristiwa berdarah 30 September 1965, Partai Komunis Indonesia bahkan gigih berupaya menggolkan Angkatan ke-5 di mana buruh dan tani akan dipersenjatai.

Puncak dari fase ini dimulai dengan terbunuhnya para jenderal di Lubang Buaya. Kebetulan di sekitar itu ada lokasi pelatihan militer Angkatan ke-5 yang terutama menggunakan fasilitas dan pelatihan dari Angkatan Udara yang saat itu memang dekat dengan PKI.

Setelah itu, dimulailah pembantaian ratusan ribu bahkan jutaan orang yang diduga PKI (“diduga”, karena memang tidak melalui proses peradilan). Militer Indonesia tentu saja menjadi bagian terpenting pembantaian ini — atau penumpasan dalam istilah resmi Orde Baru. Tapi selain militer, milisi adalah ujung tombak pembantaian orang-orang yang diduga PKI ini.

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, misalnya, Banser dan GP Anshor menjadi salah satu pelaku pembantaian, tentu saja dengan restu dan sokongan dari para kyai. Di Bali, milisi-milisi yang dilatih dan disokong tentara, terutama dari sayap Partai Nasional Indonesia, juga melakukan hal yang sama.

Seperti di Jawa Timur, mereka melakukannya dengan sokongan spiritual dari pemimpin Hindu di sana. Sedihnya, banyak dari mereka kemudian balik dibantai oleh tentara yang ingin menghilangkan jejak keterlibatan.

Pemuda Pancasila juga melakukannya. Seperti yang bisa kita saksikan lewat film luar biasa “The Act of Killing”, mereka dengan buas memburu dan membantai orang yang diduga PKI di Medan.

Di tempat lain, hal serupa terjadi. Dengan sokongan dan kepastian kebal hukum yang diberikan tentara, milisi-milisi ini dengan buas memburu dan membantai siapa saja yang diduga PKI. Bukan sekali-dua terjadi salah eksekusi. Atau, bahkan, itu sebenarnya bukan salah eksekusi, tapi memang disengaja dengan membawa-bawa urusan pribadi ke “urusan nasional” ini.

Dalih yang dipakai adalah menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila, juga dalih bahwa melawan musuh negara berarti juga musuh agama. Nasionalisme dan agama, pada fase ini, benar-benar menjadi kombinasi mematikan yang tidak alang kepalang buasnya.

Pada masa Orde Baru, milisi-milisi ini banyak yang kemudian “bersalin rupa” menjadi lebih lembut, tidak terang-terangan lagi mengeksekusi dan membantai. Yang mereka lakukan selanjutnya, guna menghidupi diri sendiri, adalah memeras sampai menjadi beking usaha-usaha ilegal.

Lagi-lagi Anda hanya perlu menonton film “The Act of Killing” untuk melihat bagaimana Pemuda Pancasila dengan terang-terangan memalak toko-toko orang Cina di Medan.

Tapi Orde Baru juga melakukan hal serupa seperti yang terjadi di era Sukarno. Negara membentuk milisi di wilayah-wilayah konflik seperti Irian Jaya, Timor Timur dan juga Aceh. Nama-nama sangar seperti Eurico Guterres sampai Hercules adalah alumni generasi ini. Hercules, misalnya, “dibawa” oleh Prabowo (yang kini hendak jadi presiden) ke Jakarta dan sejak itulah namanya mencuat dalam dunia gangster ibu kota.

Memasuki era reformasi, kebiasaan buruk negara dan tentara dalam membentuk milisi, baik resmi maupun tidak, terus berlanjut.

Pam Swakarsa, misalnya, muncul di era kepemimpinan Habibie dan saat Wiranto (yang juga hendak jadi presiden) menjabat sebagai menteri pertahanan. Front Pembela Islam [FPI] lahir dari perkembangan terbaru saat itu ketika Pam Swakarsa dibentuk untuk melawan kekuatan kritis yang menolak kepemimpinan Habibie.

Tapi FPI bukan satu-satunya. Muncul juga Gerakan Pemuda Ka’bah yang di Jogja banyak melakukan razia seperti halnya FPI. Ada juga Laskar Jihad yang dikirim ke tengah konflik di Ambon. Belum lagi kemunculan organisasi paramiliter bentukan partai-partai politik. Atau bahkan organisasi-organisasi yang berdasarkan afiliasi kedaerahan.

FPI adalah anak kandung tradisi panjang negara yang doyan membentuk, memelihara atau membiarkan lahirnya milisi, paramiliter, laskar-laskar dan organisasi-organisasi yang doyan meneror. Sebab, apa pun dalihnya, demi revolusi atau demi Pancasila atau demi Islam, semuanya dicirikan oleh hal yang sama: kekerasan.

Dan di hadapan tradisi panjang seperti itu, apa yang bisa kita harapkan dari seorang presiden yang rajin mengetwit?

Berita Lainnya

  • Ombudsman Rekomendasikan Pemecatan Kalapas
  • Usai Tabrak Pohon, Mutmainah Terjepit Angkot
    mampu menjadikan republik ini bebas dari korupsi. sama saja seperti memberi barang kepada tangan kera.
    Republik Para Koruptor

    Moh Yamin | Senin, 29 Juli 2013 – 16:42:22 WIB

    : 126

    (Dok/new-pakistan.com)
    Ketidakseriusan SBY dalam memberantas korupsi sudah mengarah pada suasana chaos.
    Peneliti Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Rimawan Pradityo menyebut ada ketidakadilan penjatuhan hukuman kepada koruptor. Berdasarkan penelitiannya terhadap 1.365 putusan kasus korupsi sejak 2001 hingga 2012, banyak hukuman untuk koruptor tidak sebanding dengan kerugian negara yang diakibatkannya. Menurut Rimawan, dari semua kasus dalam penelitian itu, nilai kerugian negara secara eksplisit akibat korupsi tercatat Rp 168,19 triliun. Namun, hukuman finansial yang dibebankan kepada koruptor hanya Rp 15,09 triliun atau 8,97 persen. Selain itu, para koruptor hanya dihukum rata-rata 64,77 persen dari tuntutan jaksa (Media Indonesia, 25/07).

    Oleh karenanya, uang rakyat benar-benar terus dihabisi para elite negeri ini yang sudah tidak memiliki hati nurani kerakyatan dan kebangsaan. Bila kas negara seharusnya dipergunakan sebesar-besar untuk kemakmuran rakyat di jagat negeri ini dari Sabang sampai Merauke, ternyata uang negara tersebut dialirkan ke pundi-pundi para pejabat negara. Ironisnya, banyak elite negeri kita selalu berkelit bila disebut telah menghabiskan uang rakyat tersebut. Dengan segala macam retorika politik, mereka kemudian mencoba lari dari kenyataan politik tersebut.

    Imbasnya, negara pun berada dalam kondisi sekarat. Rakyat pun demikian. Apabila mereka harus mendapatkan bantuan kesejahteraan dalam bentuk multi-pembangunan demi masa depan yang lebih baik, itu pun merupakan sebuah kemustahilan. Persoalannya kemudian adalah mengapa kebiasaan memakan uang rakyat atau korupsi sedemikian terus melanda bangsa ini? Apa yang membuat elite negeri ini sangat rakus, serakah dan tamak, tidak memedulikan kepentingan bangsa di atas segala-galanya? Padahal, mereka sudah digaji oleh rakyat, mendapatkan banyak fasilitas supermewah dan sejenisnya. Itulah sebuah persoalan mendasar yang kemudian menjadikan bangsa ini tidak bisa maju. Kemajuan bangsa dalam segala aspek kehidupan mengalami kemandekan sangat luar biasa.

    Ketika uang negara hanya dihabiskan oleh sejumlah kelompok tertentu yang memiliki tujuan kerdil dan sempit, ini pun akan merugikan bangsa dan negara. Segala bentuk program yang dimuarakan demi peningkatan kehidupan bangsa yang lebih dinamis dan konstruktif ke depan kemudian ibarat menegakkan benang basah. Menuju bangsa yang benar-benar maju pun sangat tidak mungkin terjadi. Justru, keterbelakangan kehidupan bangsa dalam segala aspek menjadi sebuah realitas tak terbantahkan. Kemiskinan ekonomi yang merata di tengah kehidupan rakyat menjadi sebuah keniscayaan. Mereka dipastikan sangat susah menikmati hidup. Banyak anak negeri kemudian harus menderita gizi buruk sebab tidak memperoleh pelayanan kesehatan dan lain seterusnya.

    Mentalitas
    Diakui maupun tidak, sesungguhnya perilaku elite negeri ini yang sangat mementingkan perut diri sendiri merupakan sebuah akar persoalannya. Mentalitas yang mereka bangun, bentuk dan jalankan adalah bagaimana memperkaya diri sendiri dan golongan, sedangkan memikirkan persoalan rakyat diabaikan dengan sedemikian rupa. Tidak ada kepedulian politik sangat tinggi dalam memperjuangkan hak hidup rakyat di atas segala-galanya. Segala persoalan kepentingan politik yang menyangkut kekuasaan dan jabatan bagi diri sendiri dan kelompoknya sangat dominan terjadi. Ada satu sikap politik destruktif untuk membunuh hajat hidup orang banyak yang seharusnya wajib menjadi prioritas program di antara yang lain untuk dikerjakan. Atas kondisi sedemikian, di sinilah letak kemunculan praktik korupsi yang sangat rentan terjadi.

    Elite negeri pun saling melakukan konspirasi politik bagaimana harus menguras habis uang rakyat. Segala bentuk program yang dilakukan demi pembangunan kemudian direkayasa dengan sedemikian rupa. Penggelembungan (mark up) dana pun dilakukan dengan sedemikian cantik, rapi dan sistematis. Bahkan, sejumlah pihak di luar pemerintahan pun bisa ikut serta dalam mark up dana selama itu menguntungkan banyak pihak yang terlibat di dalamnya. Ini merupakan sebuah ironisitas. Ternyata, apa yang selama ini dikerjakan para pejabat kita hanyalah mencari keuntungan politik sepihak. Upaya dan komitmen diri agar bisa menyelamatkan bangsa dari keterbelakangan kemudian gagal dijalankan dengan sedemikian rupa. Ada sebuah ketidakseriusan politik yang digelar ketika menunaikan tanggung jawab dan wewenangnya sebagai pejabat negara.
    Akhirnya, rakyat pun menjadi pihak yang sangat dirugikan. Rakyat semakin hidup miskin dan terus-menerus berada dalam lubang penderitaan hidup, sedangkan elite negeri kita dan para kroninya kian hidup kaya. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah mengapa para koruptor sangat susah diringkus dan dipenjara? Sekali lagi, itu sangat berada di pundak nakhoda kapal, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), apakah ia berani dan tegas dalam menindak para koruptor? Realitas politik membuktikan, SBY sebetulnya sudah mengalami kemunduran volume kehendak dan kemauan politik dalam upaya pemberantasan korupsi.
    Dalam jilid pertama pemerintahannya, masyarakat sangat memberikan acungan jempol atas prestasi yang telah dicapainya, walaupun di sana sini masih membutuhkan banyak perbaikan. Di jilid kedua pemerintahannya saat ini, SBY secara telanjang bulat menunjukkan bahwa ia sangat lamban dan lembek dalam melakukan pemberantasan korupsi guna menjebloskan para koruptor ke jeruji penjara. Mengadili para koruptor sangat tidak serius dan tidak memiliki semangat antikorupsi yang berapi-api.

    Dentang Perubahan
    Kini bola liar mengenai mandeknya pengusutan tuntas atas segala bentuk korupsi yang telah memakan uang rakyat dengan jumlah sangat besar tersebut sudah masuk ke seluruh lini publik, tidak hanya kalangan elite lapis atas, namun juga di akar rumput. Persoalan mengenai ketidakseriusan SBY dalam memberantas korupsi sudah mengarah pada suasana chaos. Ada wacana yang berkembang di tengah masyarakat bahwa pemerintahan SBY sudah tidak dapat dipercaya guna melakukan pemberantasan korupsi. Stigma buruk pemerintahan SBY yang justru memberikan perlindungan kepada para koruptor kemudian menjadi satu wacana baru.

    Apakah SBY sangat peka terhadap wacana politik tersebut? Inilah tantangan baru SBY yang harus segera dijawabnya. Secara tegas, sebagai seorang presiden yang mendapat mandat politik untuk kedua kalinya, ia harus mampu menjadikan republik ini bebas dari korupsi. Sekecil apa pun tindakan korupsi harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Rakyat jangan sampai dikecewakan. Apabila Perdana Menteri China Zou Ronji pernah bertutur akan menyediakan 100 peti mati bagi para koruptor dan salah satu peti mati tersebut diperuntukkan bagi dirinya sendiri andaikan dia tersangkut tindakan korupsi, maka semangat antikorupsi sedemikian sangat penting dijalankan di negeri ini.

    Penulis adalah dosen dan peneliti di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.

    Sumber : Sinar Harapan
01
May
13

Aksara Nusantara : Tambahan Tentang Hanacaraka

KARTU NAMA 4545 2(2)
Aksara Jawa (Bali, Sunda, Madura, Lombok) ini jelas merupakan kreasi manusia Jawa, sehingga urutan bunyi dalam penempatan aksara mengandung makna perjalanan hidup atau proses penyempurnaan kehidupan.
hana caraka (ada utusan)
data(ng) sawala (datang untuk bertengkar)
padha jayanya (sama-sama jayanya)
maga bathanga (menjadi bangkai)
Makna ini jika dilihat dari segi akibat orang bertengkar. Tetapi bila membacanya dibalik seperti surya atau candra sengkala, maka dimulai melalui jalan (maga, marga)  mbathang, hasilnya adalah sama-sama jayanya. Bila semua menang, maka data sawala alias tak ada pertentangan, dan akhirnya hana caraka alias terwujudlam manusia sebagai utusan Hyang.
Aksara permulaan ha dang akhir nga, bisa dibunyikan “hong..”, yang senada dengan bunyi aum (Om…, atau Ong dalam bahasa Punjabi). Bunyi Hong adalah proses alfa-omega, awal dan akhir, di alam keberadaan ini. Ini menunjukkan bahwa manusia Jawa punya kreasi yang luar biasa. Namun, manusia Jawa kalau sudah nJawani, tak ingin dikenal atau diketahui lagi “siapa-nya”.
Ini berbeda dengan Panini, seorang siswa Weda (Rig Veda) pada abad V sM. Dia menganalisis bahasa Sanskerta secara gramatikanya, yang hasilnya adalah gramatika paling lengkap yang tertua di dunia ini. Dari sini Panini bisa mengangkat budaya Hindia menjadi pusat budaya dunia, sehingga bahasa-bahasa Indo-Arya (Indo-Iran), dan bahasa Semit dianggap turunan dari bahasa Sanskerta (bahasa agung, dewata, sempurna), lalu dipaksakan pula bahwa bahasa Melanisia juga turunannya.
Tetapi, kalau kita memperhatikan penulisannya, Sanskerta yang ditulis dengan aksara Dewanagari, Punjabi, Gurka, Gujarat, Benggali dan semua yang ada di anak benua India, bersifat menggantung; dan ini lain dengan corak Jawa yang cuma 20 aksara dan berdiri di atas garis. Demi penyempurnaan huruf Jawa, diberi aksara pasangan yang juga 20, lalu atas kreasi Jawa yang tak mau dikenal, dibuatkan 8 aksara Murdha yang sekaligus ada 8 aksara pasangannya.
Ayo… kita telusuri kembali makna Jawa untuk membangkitkan kualitas unggul kembali.
Pamit dulu, untuk mengajar di Bekasi. Nanti malam baru kembali.
Suwun,
Achmad Chodjim
Tambahan informasi bab Hanacaraka. seperti tersebut dibawah ini.
Nuwun;

Ki Demang

Gambar sisip 1
12
Apr
13

Peradaban : Korupsi di Indonesia Sudah Sangat Parah

LHKPN:

Korupsi di Indonesia Sudah Sangat Parah

Kamis, 11 April 2013 – 08:33:34 WIB


(Foto:dok/addictinginfo.org)
Ilustrasi.
Pemprov Sulsel dijadikan sebagai “pilot project” pencegahan korupsi.

MAKASSAR – Direktur Utama Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Cahya Harefa menyatakan jika korupsi di Indonesia sudah memasuki kejahatan luar biasa dan membutuhkan penanganan yang serius.

“Korupsi di Indonesia sangat parah, sudah menjadi kejahatan luar biasa. Korupsi juga telah merambah dari tingkat kebijakan dan ruang lingkupnya juga makin luas,” tegasnya dalam acara pencanangan pembangunan zona integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) di Makassar, Rabu (10/4).

Ia mengatakan, korupsi yang terjadi di Indonesia sudah merambah pada semua sektor mulai dari bidang pendidikan, kehutanan hingga tataran ketahanan pangan. Dampak dari korupsi itu bisa dirasakan dalam jangka pendek dan jangka panjang.

“Korupsi ini harusnya menjadi musuh dari setiap orang karena dampaknya dirasakan mulai dari jangka pendek hingga jangka panjang dan tidak tanggung-tanggung hampir di semua sektor terjadi kejahatan, mulai dari pendidikan, kehutanan hingga ketahanan pangan,” katanya.

Cahya mengatakan, korupsi yang mengakibatkan kerugian negara tidak pernah dibenarkan dalam bentuk apapun. Untuk mencapai hasil yang baik, dibutuhkan proses yang baik. Maka dari itu, Pemprov Sulsel bisa menjadi proyek percontohan bagi KPK dalam hal pencegahan korupsi.

Dengan dijadikannya Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sebagai “pilot project” pencegahan korupsi, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo kemudian mencanangkan pembangunan zona integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) yang akan diterapkan di 24 kabupaten/kota se-Sulsel.

“Agenda ini sangat penting, tentunya kami berkomitmen untuk menghadirkan proses pemerintahan yang baik dan jauh dari praktek-praktek yang mengarah korupsi,” tegas Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo.

Pencanangan WBK dan WBBM dilakukan di Hotel Sahid, yang ditandatangani langsung oleh Bupati dan Wali Kota serta Wakil Bupati se-Sulsel, disaksikan Menteri Pemberdayaan dan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Aswar Abubakar, Dirut LHKPN KPK RI Cahya Harefa.

Sejumlah Bupati, Wali Kota dan Wakil Bupati menandatangi piagam perencanaan zona integritas menuju WBK dan WBBM serta setuju melakukan pencegah tindakan korupsi di pemerintahan daerah.

Syahrul mengatakan pencanangan yang dilakukan Pemprov Sulsel sebagai bentuk tindak lanjut dari Peraturan Menteri Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 60 tahun 2012 tentang pedoman pembangunan zona integritas menuju WBK dan WBBM di lingkungan Pemerintah Daerah.

Menurut dia, pencanangan zona integritas itu sangat penting dan strategis karena dapat memberi penegasan terhadap komitmen bersama untuk membangun integritas sehingga percegahan terhadap tindakan dan pratek korupsi dalam penyelenggaraan pemerintahan bisa diantisipasi.

Apalagi hal tersebut juga masuk dalam agenda 100 hari kerja dirinya sebagai Gubernur Sulsel di periode kedua ini. Dirinya bertekad selama kepemimpinannya tidak terjadi praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) hingga seterusnya.

Sumber : Ant
Asep Hendro Mengaku Beberapa Kali Dimintai Uang oleh Pegawai Pajak
Penulis : Icha Rastika | Kamis, 11 April 2013 | 08:27 WIB
Asep Hendro Mengaku Beberapa Kali Dimintai Uang oleh Pegawai PajakIcha RastikaPenyidik KPK menggiring pria yang diduga ditangkap tangan ke Gedung KPK, Jakarta, Selasa (9/4/2013).

JAKARTA, KOMPAS.com – Pebalap era 90-an Asep Hendro yang juga pemilik brand Asep Hendra Racing Sport (AHRS) mengaku beberapa kali dimintai uang oleh pegawai pajak Pargono Riyadi. Asep sempat tertangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Pargono dan tiga orang lainnya. Namun, Asep dibebaskan karena dianggap tidak terindikasi melakukan tindak pidana korupsi.

“Saya memang beberapa kali dimintakan duit oleh dia (Pargono), padahal saya sudah mengurus pajak sesuai aturan,” kata Asep, saat meninggalkan Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Kamis (11/4/2013) dini hari.

Asep juga membenarkan kalau dirinya menjadi korban pemerasan oleh Pargono. Dia pun bersyukur dibebaskan penyidik KPK setelah diperiksa seharian. Sementara Asep dan tiga orang lainnya dibebaskan, Pargono ditetapkan KPK sebagai tersangka.

Penyidik pegawai negeri sipil di Direktorat Jenderal Pajak ini diduga melakukan penyalahgunaan wewenang dengan memeras wajib pajak, yakni Asep. Juru Bicara KPK Johan Budi mengungkapkan, Pargono diduga memeras Asep dengan mengatakan kalau pembayaran pajak pribadi yang dilakukan Asep bermasalah.

“Jadi AH (Asep Hendro) ini mengaku sudah melakukan pembayaran pajak sesuai dengan yang ditentukan tetapi diduga PR ini memeras seolah-olah pembayaran pajak yang dilakukan oleh AH ini bermasalah sehingga harus membayar sesuatu besaran kepada PR (Pargono Riyadi)” ungkap Johan.

Kini, KPK menahan Pargono di Rumah Tahanan Jakarta Timur yang berlokasi di basement Gedung KPK, Kuningan, Jakarta. Pargono ke luar Gedung KPK dan dibawa dengan mobil tahanan sekitar pukul 23.59 WIB. Saat memasuki mobil tahanan, Pargono yang tampak mengenakan baju putih tahanan KPK ini bungkam.

Berita terkait kasus ini dapat diikuti dalam topik:
KPK Tangkap Pegawai Pajak

Editor :
Inggried Dwi Wedhaswary
Suap Pajak, KPK Tangkap 4 Orang

Diamanty Meiliana | Rabu, 10 April 2013 – 14:41:22 WIB


(dok/antara)
Seorang wajib pajak Asep Hendro (kiri) dan penyidik pajak golongan 4A/B Pargono Riyadi digiring petugas saat tiba di Gedung KPK Jakarta, Selasa (9/4).
“Commitment fee” pengurusan pajak AHRS diduga mencapai Rp 600 juta.

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (10/4) dini hari, kembali menangkap satu orang lagi terkait kasus dugaan suap pegawai Direktorat Jenderal Pajak.

Pria yang mengenakan jaket kulit warna gelap dan membawa satu tas selempang dibawa masuk ke gedung KPK di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, oleh penyidik sekitar pukul 00.30 WIB.

Pria itu diketahui bernama Wawan, karyawan Asep Hendro Racing Sport (AHRS), perusahaan penjualan otomotif. Dia ditangkap di Bandung, Jawa Barat (Jabar).

Dengan demikian, hingga pagi ini KPK telah menangkap empat orang yang diduga melakukan transaksi serah terima uang terkait pengurusan pajak. Keempatnya kini dalam pemeriksaan 1 x 24 jam sebelum ditentukan menjadi tersangka atau dilepas.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Fuad Rahmany kepada SH di Jakarta, Rabu pagi ini, menyatakan pihaknya segera memecat pegawai pajak yang terlibat dalam kasus tersebut. “Yang pasti yang bersangkutan segera kami pecat. Sudah tertangkap tangan terima Rp 125 juta, mau apalagi,” ujarnya.

Terpisah, Juru Bicara KPK Johan Budi di Jakarta, Rabu pagi ini, mengatakan, proses pemeriksaan masih berlangsung sehingga belum ada keputusan apakah keempatnya ditahan atau tidak. Dia mengakui satu pelaku baru bernama Wawan berhasil dibekuk di Bandung, Jawa Barat (Jabar), pada Rabu dini hari. Wawan diketahui sebagai manajer di perusahaan AHRS.

Sebelumnya, KPK telah menangkap satu penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Pusat (Kanwil DJP Jakpus) bernama Pargono Riyadi dalam operasi tangkap tangan, Selasa (9/4) sore. Pargono menerima uang Rp 125 juta dari kurir bernama Rukimin Tjahyono alias Andreas.

Andreas diduga mewakili Asep Hendro, pengusaha otomotif AHRS. Pargono selaku PPNS dengan golongan IVB diduga memeras Asep selaku wajib pajak. Menurut informasi yang dikumpulkan, commitment fee dalam pengurusan pajak Asep bernilai total hingga Rp 600 juta.

“Diduga pemberian itu terkait dengan upaya pengurusan pajak pribadi. Masih dikembangkan sejauh mana, apakah ini suap apakah ini pemerasan. Status yang masih ditangkap adalah terperiksa. KPK punya waktu 1 x 24 jam untuk menentukan apakah bukti-bukti tadi sudah cukup kuat untuk menetapkan status hukumnya,” kata Johan.

Johan menegaskan pihaknya belum memutuskan apakah kasus ini dilimpahkan ke aparat penegak hukum lainnya atau ditangani sendiri. Meski begitu, menurut Johan, KPK bisa menangani tindak pidana korupsi yang dilakukan penyidik PNS.

Penangkapan kembali pegawai pajak dalam kasus korupsi dinilai masih lemahnya pengawasan oleh Ditjen Pajak. Menurutnya, kerja sama KPK dengan Ditjen Pajak sebatas pengawasan dan perluasan pelaporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN).

Apalagi yang tertangkap adalah penyidik PNS pada Ditjen Pajak yang seharusnya bekerja mengawasi perilaku menyimpang pegawai pajak. Seperti diketahui, Ditjen Pajak memiliki direktorat kepatuhan internal dan transformasi sumber daya (KITSDA).

“Kerja sama KPK dengan Ditjen Pajak kan di perluasan pelaporan LHKPN dan pengawasan bersama KITSDA. Pengawasan belum sepenuhnya berhasil. Padahal remunerasi sudah tinggi,” katanya.

Tiga tim penyidik diturunkan untuk menangkap pelaku transaksi serah terima uang tersebut. Satu tim menangkap Pargono dan Andreas di Lorong Selatan Stasiun Kereta Gambir, Jakarta Pusat. Uang dalam transaksi tersebut tersimpan dalam kantong plastik kresek berwarna putih. Satu tim menangkap Asep di kediaman sekaligus kantornya yang beralamat di Jalan Tole Iskandar 162, Depok, Jabar.

Andreas, kata Johan, melakukan perlawanan sehingga dipakaikan borgol ketika tiba di kantor KPK sekitar pukul 17.20 WIB. Pargono tiba selang lima menit setelahnya. Sementara itu Asep tiba pukul 18.01 WIB.

Potensi Penyelewengan

Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Fuad Rahmany kepada SH di Jakarta, Rabu pagi ini, mengakui pihaknya sampai saat ini masih banyak menerima laporan soal dugaan penyuapan yang melibatkan pegawai pajak. Laporan tidak hanya masuk ke Ditjen Pajak, tetapi juga beberapa di antaranya langsung dilaporkan ke KPK.

Ia menyatakan, kendati program pembersihan di instansinya terus digalakkan, potensi penyelewengan yang dilakukan anak buahnya akan selalu ada.

“Pegawai pajak itu jumlahnya 30.000-an. Jangan berharap mereka jadi malaikat semua. Potensi menerima suap akan terus ada dan polanya selalu akan begini. Kami sendiri senang nangkap yang begini-begini. Laporan ke kami pun banyak, walaupun kami tak selalu bisa membuktikannya,” katanya.

Fuad mengungkapkan, minggu lalu saja, pihaknya baru menangkap pegawai pajak di kantor pajak Semarang, Jawa Tengah, yang menerima suap dari wajib pajak senilai Rp 50 juta.

“Dengan surpervisi dari KPK, kami menangkap yang bersangkutan saat ambil uang di ATM. Kasus suap yang melibatkan pegawai pajak dan pengusaha memang selalu terjadi. Karena itu pengusaha yang seperti ini harus juga dibersihkan agar tak ada lagi yang berani nyuap,” tuturnya.

Terkait dengan kasus tangkap tangan oleh KPK atas dugaan suap yang melibatkan pegawai pajak Pragono Riady, Fuad memberikan apresiasi yang tinggi kepada KPK. Menurutnya, kasus ini murni inisiatif KPK.

Pihaknya baru diinformasikan KPK sesaat sebelum melakukan penangkapan. Fuad pun menyerahkan lanjutan sepenuhnya kasus ini ke KPK. Ia hanya berkomiten untuk membantu kerja KPK, jika komisi antirasuah itu membutuhkan keterangan lain dari Ditjen Pajak.

Saat dimintai komentarnya soal kasus ini, Sekjen Asosiasi Pembayar Pajak Indonesia (APPI) Sasmito Hadinagoro menanggapi dingin. Menurutnya, kasus seperti ini sudah tidak aneh lagi. Menurutnya, kasus-kasus yang melibatkan pemain kelas teri ini kerap hanya digunakan untuk mengalihkan isu-isu besar saat ini.

“Jangan terbawa isu bodoh. Pegawai pajak kelas teri ini nekat tetap korupsi karena miskin keteladanan. Koruspi yang besar-besar justru dilindungi. Jangan-jangan yang besar-besar itu malah menjadi ATM para penegak hukum,” tuturnya.(Faisal Rachman)

 

Sumber : Sinar Harapan
09
Jan
13

Peradaban : Sejarah Sunda

Sabtu, 24 September 2011

Sejarah Peradaban Sunda

Sebenarnyan, Sunda bukanlah nama suatu suku melainkan adalah Agama pada masa dahulu yang arti dari kata-kata Sunda adalah:

“su” artinya adalah abadi atau sejati
“na”artinya adalah api
“da”artinya besar atau agung

Jadi makna dari Sunda adalah “api abadi yang agung(yaitu MATAHARI”

Sebenarnya Agama Sunda telah tertebar luas di seluruh dunia dan Agama Sunda adalah agama tertua di antara semua Agama sejak islam,kristen, DLL ada

Agama Sunda sudah di lupakan. Sunda adalah Dewa Cahaya Matahari itu Abadi yang selalu menyinari kita semua. Agama Sunda yang mengajari penghormatan bendera, DLL
Sejak Agama Sunda telah tak ada Sunda Sijadikan

GUNUNG GEDE BITU ATAU TELAGA BEDAH ADALAH TERUNGKAPNYA RAHASIA
█▀▀║█▀█║█▀║█▀█║█▀▄║█▀█
▀▀█║█║█║█▀║█║█║█║█║█▄█
▀▀▀║▀▀▀║▀▀║▀║▀║▀▀║║▀║▀
█▀▀║█║║║█▀█║█▀█║█▀█║█
█║█║█║║║█║█║█▀█║█▄█║█
▀▀▀║▀▀▀║▀▀▀║▀▀▀║▀║▀║▀▀▀
▀▀█║█▀█║█║▀▀█
█▀▀║█║█║█║▀▀█
▀▀▀║▀▀▀║▀║▀▀▀
PERHATIKAN TRISULAKATA DENGAN 9 HURUF YG TDK SALING MENGHILANGKAN
INSOEN~DIA (Hubungan Diri Dengan Tuhan)
INI~SOENDA (Kehidupan Ini Namanya Sunda)
IN~DONESIA (Dalam Kelimpahan Rahmat Tuhan)
█║█▀█║█▀▀║█▀█║█▀║█▀█║█▀▄║█║█▀█
█║█║█║▀▀█║█║█║█▀║█║█║█║█║█║█▄█
▀║▀║▀║▀▀▀║▀▀▀║▀▀║▀║▀║▀▀║║▀║▀║▀
█║█▀█║█║█▀▀║█▀█║█▀║█▀█║█▀▄║█▀█
█║█║█║█║▀▀█║█║█║█▀║█║█║█║█║█▄█
▀║▀║▀║▀║▀▀▀║▀▀▀║▀▀║▀║▀║▀▀║║▀║▀
█║█▀█║█▀▄║█▀█║█▀█║█▀║█▀▀║█║█▀█
█║█║█║█║█║█║█║█║█║█▀║▀▀█║█║█▄█
▀║▀║▀║▀▀║║▀▀▀║▀║▀║▀▀║▀▀▀║▀║▀║▀
Sunda sesungguhnya Global BUKAN ETNIS, Etnis berasal dari kata Et~Nusa atau Pulau
Tidak pernah ada Pulau Sunda, Karena Sunda NAMA DUNIA.
SUNDA MILIK KITA SEMUA, Berpusat di PARAHYANGAN TENGAH,
Disebut juga SUNDAPURA SURALAYA.
SUNDA ADALAH FITRAH DAN JANGAN COBA DIPUNGKIRI
KARENA SELURUH ASET DUNIA MILIK SUNDA
(Sumber: Buku Sunda Menbedah Zaman, Karangan: Mandalajati Niskala berikut
penjelasan dlm Cuplikan Buka SANG PEMBAHARU DUNIA DI ABAD 21 dari berbagai sumber lainnya)

::EMBAH JAMBRONG

24
Dec
12

Peradaban : Selamat Natal Menurut Al Qur’an

Subject: [padhang-mbulan] Quraish Shihab: Selamat Natal Menurut Al-Qur’an

 

POLITIK JEMBATAN EMAS PANCASILA

Pandji R Hadinoto / Komite Nasionalis Pancasila

Selamat Natal Menurut Al-Qur’an


Oleh: Dr. M. Quraish Shihab

Sakit perut menjelang persalinan, memaksa Maryam bersandar ke pohon kurma. Ingin rasanya beliau mati, bahkan tidak pernah hidup sama sekali. Tetapi Malaikat Jibril datang menghibur: “Ada anak sungai di bawahmu, goyangkan pangkal pohon kurma ke arahmu, makan, minum, dan senangkan hatimu. Kalau ada yang datang katakan: “Aku bernazar tidak bicara.”

“Hai Maryam, engkau melakukan yang amat buruk. Ayahmu bukan penjahat, ibumu pun bukan pezina”, demikian kecaman kaumnya, ketika melihat bayi di gendongannya.

Tetapi Maryam terdiam. Beliau hanya menunjuk bayinya. Dan ketika itu bercakaplah sang bayi menjelaskan jati dirinya sebagai hamba Allah yang diberi Al-Kitab, shalat, berzakat, serta mengabdi kepada ibunya. Kemudian sang bayi berdoa: “Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan pada hari ketika aku dibangkitkan hidup kembali.”

Itu cuplikan kisah Natal dari Al-Quran Surah Maryam ayat 34. Dengan demikian, Al-Quran mengabadikan dan merestui ucapan selamat Natal pertama dari dan untuk Nabi mulia itu, Isa a.s.

Terlarangkah mengucapkan salam semacam itu? Bukankah Al-Quran telah memberikan contoh? Bukankah ada juga salam yang tertuju kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, keluarga Ilyas, serta para nabi lainnya? Setiap Muslim harus percaya kepada Isa a.s. seperti penjelasan ayat di atas, juga harus percaya kepada Muhammad saw., karena keduanya adalah hamba dan utusan Allah. Kita mohonkan curahan shalawat dan salam untuk mereka berdua sebagaimana kita mohonkan untuk seluruh nabi dan rasul. Tidak bolehkah kita merayakan hari lahir (natal) Isa a.s.? Bukankah Nabi saw. juga merayakan hari keselamatan Musa a.s. dari gangguan Fir’aun dengan berpuasa ‘Asyura, seraya bersabda, “Kita lebih wajar merayakannya daripada orang Yahudi pengikut Musa a.s.”

Bukankah, para Nabi bersaudara hanya ibunya yang berbeda? Seperti disabda-kan Nabi Muhammad saw.: Bukan-kah seluruh umat bersaudara? Apa salahnya kita bergembira dan menyambut kegembiraan saudara kita dalam batas kemampuan kita, atau batas yang digariskan oleh anutan kita? Demikian lebih kurang pandangan satu pendapat.

Banyak persoalan yang berkaitan dengan kehidupan Al-Masih yang dijelaskan oleh sejarah atau agama dan telah disepakati, sehingga harus diterima. Tetapi, ada juga yang tidak dibenarkan atau diperselisihkan. Di sini, kita berhenti untuk merujuk kepercayaan kita.

Isa a.s. datang mermbawa kasih, “Kasihilah seterumu dan doakan yang menganiayamu.” Muhammad saw. datang membawa rahmat, “Rahmatilah yang di dunia, niscaya yang di langit merahmatimu.” Manusia adalah fokus ajaran keduanya; karena itu, keduanya bangga dengan kemanusiaan.

Isa menunjuk dirinya sebagai anak manusia, sedangkan Muhammad saw. diperintahkan oleh Allah untuk berkata: “Aku manusia seperti kamu. Keduanya datang membebaskan manusia dari kemiskinan ruhani, kebodohan, dan belenggu penindasan. Ketika orang-orang mengira bahwa anak Jailrus yang sakit telah mati, Al-Masih yang menyembuhkannya meluruskan kekeli-ruan mereka dengan berkata, “Dia tidak mati, tetapi tidur.” Dan ketika terjadi gerhana pada hari wafatnya putra Muhammad, orang berkata: Matahari mengalami gerhana karena kematiannya. Muhammad saw. lalu menegur, “Matahari tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehahiran seorang.” Keduanya datang mem-bebaskan manusia baik yang kecil, lemah, dan tertindas, dhuâfaâ dan al-mustadhâ’affin dalam istilah Al-Quran.

Bukankah ini satu dari sekian titik temu antara Muhammad dan Al-Masih? Bukankah ini sebagian dari kandungan Kalimat Sawaâ (Kata Sepakat) yang ditawarkan Al-Quran kepada penganut Kristen (dan Yahudi (QS 3:64)? Kalau demikian, apa salahnya meng-ucapkan selamat natal, selama akidah masih dapat dipelihara dan selama ucapan itu sejalan dengan apa yang dimaksud oleh Al-Quran sendiri yang telah mengabadikan selamat natal itu?

Itulah antara lain alasan yang membenar-kan seorang Muslim mengucapkan selamat atau menghadiri upacara Natal yang bukan ritual. Di sisi lain, marilah kita menggunakan kacamata yang melarangnya.

Agama, sebelum negara, menuntut agar kerukunan umat dipelihara. Karena-nya salah, bahkan dosa, bila kerukunan dikorbankan atas nama agama. Tetapi, juga salah serta dosa pula, bila kesucian akidah ternodai oleh atau atas nama kerukunan.

Teks keagamaan yang berkaitan dengan akidah sangat jelas, dan tidak juga rinci. Itu semula untuk menghindari kerancuan dan kesalahpahaman. Bahkan Al-Q!uran tidak menggunakan satu kata yang mungkin dapat menimbulkan kesalah-pahaman, sampai dapat terjamin bahwa kata atau kalimat itu, tidak disalah-pahami. Kata “Allah”, misalnya, tidak digunakan oleh Al-Quran, ketika pengertian semantiknya yang dipahami masyarakat jahiliah belum sesuai dengan yang dikehendaki Islam.

Kata yang digunakan sebagai ganti ketika itu adalah Rabbuka (Tuhanmu, hai Muhammad). Demikian terlihat pada wahyu pertama hingga surah Al-Ikhlas. Nabi saw. sering menguji pemahaman umat tentang Tuhan. Beliau tidak sekalipun bertanya, “Di mana Tuhan?” Tertolak riwayat yang menggunakan redaksi itu karena ia menimbulkan kesan keberadaan Tuhan pada satu tempat, hal yang mustahil bagi-Nya dan mustahil pula diucapkan oleh Nabi. Dengan alasan serupa, para ulama bangsa kita enggan mengguna-kan kata “adaâ” bagi Tuhan, tetapi “wujud” Tuhan.

Natalan, walaupun berkaitan dengan Isa Al-Masih, manusia agung lagi suci itu, namun ia dirayakan oleh umat Kristen yang pandangannya terhadap Al-Masih berbeda dengan pandangan Islam. Nah, mengucapkan “Selamat Natal” atau menghadiri perayaannya dapat menimbulkan kesalahpahaman dan dapat mengantar kepada pengaburan akidah. Ini dapat dipahami sebagai pengakuan akan ketuhanan Al-Masih, satu keyakinan yang secara mutlak bertentangan dengan akidah Islam. Dengan kacamata itu, lahir larangan dan fatwa haram itu, sampai-sampai ada yang beranggapan jangankan ucapan selamat, aktivitas apa pun yang berkaitan dengan Natal tidak dibenarkan, sampai pada jual beli untuk keperluan Natal.

Adakah kacamata lain? Mungkin!

Seperti terlihat, larangan ini muncul dalam rangka upaya memelihara akidah. Karena, kekhawatiran kerancuan pemahaman, agaknya lebih banyak ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan kabur akidahnya. Nah, kalau demikian, jika ada seseorang yang ketika mengucapkannya tetap murni akidahnya atau mengucapkannya sesuai dengan kandungan “Selamat Natal” Qurani, kemudian mempertimbangkan kondisi dan situasi di mana hal itu diucapkan, sehingga tidak menimbulkan kerancuan akidah baik bagi dirinya ataupun Muslim yang lain, maka agaknya tidak beralasan adanya larangan itu. Adakah yang berwewenang melarang seorang membaca atau mengucapkan dan menghayati satu ayat Al-Quran?

Dalam rangka interaksi sosial dan keharmonisan hubungan, Al-Quran memperkenalkan satu bentuk redaksi, di mana lawan bicara memahaminya sesuai dengan pandangan atau keyakinannya, tetapi bukan seperti yang dimaksud oleh pengucapnya. Karena, si pengucap sendiri mengucapkan dan memahami redaksi itu sesuai dengan pandangan dan keyakinannya. Salah satu contoh yang dikemukakan adalah ayat-ayat yang tercantum dalam QS 34:24-25. Kalaupun non Muslim memahami ucapan “Selamat Natal” sesuai dengan keyakinannya, maka biarlah demikian, karena Muslim yang memahami akidah-nya akan meng-ucapkannya sesuai dengan garis ke-yakinannya. Memang, kearifan dibutuh-kan dalam rangka interaksi sosial.

Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan itu, bila ia ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai akidahnya. Tetapi, tidak juga salah mereka yang membolehkannya, selama pengucapnya bersikap arif bijaksana dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan.

Dostojeivsky (1821-1881), pengarang Rusia kenamaan, pernah berimajinasi tentang kedatangan kembali Al-Masih. Sebagian umat Islam pun percaya akan kedatangannya kembali. Terlepas dari penilaian terhadap imajinasi dan kepercayaan itu, kita dapat memastikan bahwa jika benar beliau datang, seluruh umat berkewajiban menyambut dan mendukungnya, dan pada saat kehadir-annya itu pasti banyak hal yang akan beliau luruskan. Bukan saja sikap dan ucapan umatnya, tetapi juga sikap dan ucapan umat Muhammad saw. Salam sejahtera semoga tercurah kepada beliau, pada hari Natalnya, hari wafat dan hari kebangkitannya nanti.

Menag: Ucapan Natal, Tak Soal

AntaraAntara 

Jakarta (ANTARA) -Menteri Agama Suryadharma Ali menyatakan, bagi seorang umat Islam menyampaikan ucapan selamat kepada kalangan umat Nasrani yang merayakan Natal tak menjadi persoalan dan itu merupakan hal biasa.

Pernyataan Menag itu menjawab pertanyaan wartawan terkait dengan adanya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang disampaikan KH Ma`ruf Amin bahwa menyampaikan ucapan selamat Natal kepada umat Nasrani yang sedang merayakan hari Natal disebut sebagai perbuatan haram.

Di tengah berlangsungnya Konferensi Internasional tentang Fatwa Tahun 2012 di Jakarta, Senin, Menag menjelaskan bahwa hal itu tak menjadi persoalan karena disampaikan di luar kontek ritual. Bukan ketika disampaikan dalam suasana ritual Natal.

Pendapat berbeda antara MUI dan Kemenag itu, menurut dia, bisa saja terjadi. Hal itu dilatarbelakangi oleh referensi hukum yang berbeda-beda. Sumber hukum Islam adalah Al Qur`an, Sunnah, dan pendapat para ulama.

Pihaknya harus menghormati adanya perbedaan tersebut. Tetapi bagi Suryadharma Ali menyampaikan ucapan seperti itu tidaknya menjadi persoalan.

Terlebih “Indonesia yang pluralistik, perlu membangun semangat toleransi”.

“Ini kan bukan ritual,” kata Suryadharma Ali.

Di sisi lain ia menjelaskan bahwa selama ini ucapan tersebut tak menjadi persoalan. Ketika umat Hindu merayakan hari besarnya, banyak umat Islam pun menyampaikan ucapan selamat. Demikian pula saat Buddha dan Kong Hu Cu. Tak ada persoalan di situ. Semua itu menggambarkan semangat toleransi dan Indonesia yang terikat dalam kebinekaan.(tp)

Berita Lainnya

Ketua FPI : Tokoh Islam Yang Ucapkan Natal Jerumuskan Umat

TRIBUNnews.comOleh Hasanudin Aco | TRIBUNnews.com 

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq menilai sikap beberapa tokoh Islam di Indonesia yang memberi ucapan Natal kepada Umat Kristiani jelas-jelas menjerumuskan umat Islam.

“Sikap Tokoh Islam yang mengikuti Natal jelas bisa menjerumuskan umat,” kata Rizieq dikutip Tribunnews.com, Senin (24/12/2012), dari opini Habib Rizieq di situs FPI.

Menurut dia tidak ada alasan bagi tokoh Islam untuk menghalalkan Natal dengan dalih asal aqidah kuat.

“Bahkan ketokohan mereka semestinya membuat mereka lebih hati-hati dalam bersikap, karena mereka adalah teladan yang akan diikuti umat yang kebanyakan beraqidahkan lemah,” kata Rizieq.

Dikatakan belakangan ini tampil sejumlah “Tokoh Islam” yang menggulirkan “Fatwa” bahwa Natal Bersama bagi umat Islam hukumnya boleh dengan menyampaikan sejumlah argumentasi yang dinilainya tidak lepas dari manipulasi hujjah dan korupsi dalil.

“Fatwa Kontroversial mereka tersebut sangat digandrungi oleh kaum Sepilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme), bahkan dijadikan Rujukan Utama hingga kini. Fatwa aneh tersebut telah menebar syubhat yang melahirkan fitnah di tengah umat Islam,” kata dia.

Berita Lainnya

Khutbah Imam Khomeini Menyambut Natal

Bismillahir Rahmanir Rahim

Saya mengucapkan selamat hari lahir Isa Al-Masih bagi semua bangsa yang tertindas di dunia, pengikut Masihi dan juga kaum Nasrani. Pada Isa al Masih semuanya adalah mukzijat. Satu mukjizat, beliau lahir dari ibu yang perawan. Satu mukjizat, beliau berbicara dalam buaian. Satu mukjizat, beliau membawa kedamaian, penyembuhan dan spiritualitas bagi manusia. Semuanya adalah mukjizat, dan semua anbiya’ adalah mukjizat, dan semuanya datang untuk membentuk manusia. Semua menginginkan manusia berjalan di jalan lurus Ilahi, semua menginginkan agar manusia hidup dalam lingkungan damai, sejahtera dan bersaudara.
Ini adalah misi Petugas Ilahi untuk membawa manusia dari dunia ini menuju ke dunia yang tinggi, yang juga merupakan tugas para ruhaniawan di setiap bangsa, ruhaniawan Masihi atau Nasrani, ruhaniawan Muslim dan ruhaniawan Yahudi, semua ruhaniawan. Tugas itu mengikuti misi para nabi. Dari merekalah tugas mentarbiyah (mendidik) manusia dan agar mendapatkan kedamaian dan ketentraman bagi setiap manusia. Para ruhaniawan lah yang menjadi frontier untuk berada di dalam organ anbiya’ yaitu wahyu Ilahi. Para ruhaniawan memiliki tugas lebih dari pada setiap tugas yang dimilki orang awam. Satu tanggung jawab Ilahi. Ruhaniawan bertanggung jawab di hadapan para nabi dan juga Allah. Mereka bertanggung jawab untuk menyampaikan pelajaran para nabi kepada masyarakat, membimbing tangan masyarakat dan menyelamatkan mereka dari semua derita ini.

PESAN NATAL IMAM KHOMEINI

Bismillahir Rahmanir Rahim

Saya mengucapkan selamat hari lahir Isa Al Masih bagi semua bangsa yang tertindas di dunia, pengikut Masihi dan juga kaum Nasrani. Pada Isa al Masih semuanya adalah mukzijat. Satu mukjizat, beliau lahir dari ibu yang perawan. Satu mukjizat, beliau berbicara dalam buaian. Satu mukjizat, beliau membawa kedamaian, penyembuhan dan spiritualitas bagi manusia. Semuanya adalah mukjizat, dan semua anbiya adalah mukjizat, dan semuanya datang untuk membentuk manusia. Semua menginginkan manusia berjalan di jalan lurus Ilahi, semua menginginkan agar manusia hidup dalam lingkungan damai, sejahtera dan bersaudara.

16
Dec
12

Peradaban : Neoliberalisme Melanggar HAM !

POLITIK JEMBATAN EMAS PANCASILA

Neoliberalisme Itu Melanggar HAM !

Senin, 10 Desember 2012 | Editorial Berdikari Online

Pada bulan Oktober 2009, Amnesti Internasional mendeklarasikan bahwa “kemiskinan adalah krisis Hak Azasi Manusia (HAM) terburuk di dunia.” Namun, pada saat yang bersamaan, sistem ekonomi neoliberalisme—atas desakan lembaga-lembaga kapitalis global dan negeri-negeri imperialis—membawa malapetaka bagi sebagian besar rakyat di dunia. Neoliberalisme menumpuk kekayaan di tangan segelintir orang, namun menyengsarakan mayoritas rakyat.
Sebuah data menyebutkan, total kekayaan tiga orang terkaya di dunia itu lebih besar dari Produk Domestik Bruto (PDB) 48 negara miskin di dunia. Data lain menyebutkan, 10% populasi dunia mengontrol 84% aset. Sebaliknya, 50% populasi termiskin di dunia hanya mengontrol 1%. Hampir 3 miliar orang—hampir separuh dari populasi dunia—hidup dengan pendapatan di bawah 2 dollar AS. Lalu, dari 4 milyar orang yang hidup di negera berkembang, hampir sepertiga tidak bisa mengakses air bersih, seperlima tidak cukup asupan kalori. Dan 2 milyar orang—sepertiga dari penduduk dunia—menderita anemia.
Di Indonesia, kesenjangan dan ketidakadilan akibat penerapan neoliberalisme tidak kurang menyedihkan. Data Biro Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, tingkat kesenjangan ekonomi pada 2011 menjadi 0,41. Padahal, pada tahun 2005, gini rasio Indonesia masih 0,33.
Data lain memperlihatkan, total pendapatan 20 persen masyarakat terkaya meningkat dari 42,07 persen (2004) menjadi 48,42 persen (2011). Sebaliknya, total pendapatan 40 persen masyarakat termiskin menurun dari 20,8 persen (2004) menjadi 16,85 persen (2011).
Data yang dilansir Perkumpulan Prakarsa juga mengungkapkan, kekayaan 40 orang terkaya Indonesia sebesar Rp680 Triliun (71,3 miliar USD) atau setara dengan 10,33% PDB. Katanya, nilai kekayaan dari 40 ribu orang itu setara dengan kekayaan 60% penduduk atau 140 juta orang. Data lain menyebutkan, 50 persen kekayaan ekonomi Indonesia hanya dikuasai oleh 50 orang.
Pertama, neoliberalisme menyingkirkan rakyat dari faktor-faktor produksi.  Ini ditandai dengan dominasi korporasi dalam hal penguasaan dan pemanfaatan tanah, yang menyebabkan mayoritas rakyat kehilangan akses terhadap tanah. Neoliberalisme juga menghancurkan usaha kecil dan produsen kecil lainnya. Ini mengarah pada proses pemiskinan secara massif.
Kedua, neoliberalisme menurunkan standar hidup rakyat melalui kebijakan politik upah murah, pasar tenaga kerja yang fleksibel, penghapusan subsidi sosial, dan lain-lain. Akibatnya, mayoritas rakyat tidak bisa mengakses kebutuhan dasarnya, seperti perumahan, air bersih, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.
Ketiga, neoliberalisme menyerahkan layanan dasar rakyat, seperti air bersih, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain, kepada mekanisme pasar. Layanan dasar rakyat itu telah diubah menjadi komoditi yang diperjual-belikan.
Tak jarang terjadi, proses ekspansi kapital itu disertai tindakan kekerasan. Kita mencatat banyaknya kasus pelanggaran HAM terkait proses pengamanan kapital ini, seperti kekerasan dan penembakan petani, pembubaran dan penyerangan aksi mogok pekerja, dan penggusuran paksa rakyat miskin kota.
Human Right Watch (HRW) dan KONTRAS mencatat adanya peningkatan kasus pelanggaran HAM dalam kurun waktu 2011-2012 ini, yakni mencapai 600 kasus. Padahal, periode sebelumnya (2010-2011) terdapat 250 kasus. Artinya, ada peningkatan 100% lebih hanya dalam setahunan lebih.
Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) juga mengakui adanya penambahan signifikan pelaporan masyarakat terkait pelanggaran HAM dalam beberapa tahun terakhir. Catatan Komnas HAM menyebutkan, pada 2008, jumlah pengaduan yang diterima sebanyak 4.843 kasus, pada 2009 (5.853), pada 2010 (6.437), pada 2011 (6.358), dan pada 2012 (kurun waktu Januari-Juni) terdapat 2.847 kasus.
Seiring dengan proses itu, untuk mengamankan ekspansi dan proses penumpukan kekayaan di segelintir korporasi, ruang-ruang demokrasi dan kebebasan berpendapat telah dipersempit. Kita mencatat kehadiran UU maupun RUU yang berpotensi mengancam hak politik rakyat, seperti UU No 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara, UU nomor 7 tahun 2012 tentang penanganan konflik sosial, RUU Keamanan Nasional, dan RUU Ormas.
Di samping itu, berbagai kasus pelanggaran HAM di masa lalu, seperti kasus 1965/1966, Penembakan Misterius (Petrus), penculikan aktivis tahun 1998, tragedi Trisakti dan Semanggi I/II, kasus 27 Juli 1996, dan masih banyak lagi, masih menumpuk di meja Presiden SBY. Rezim neoliberal sekarang ini, yang dikomandoi oleh SBY dan Boediono, tidak punya itikad baik sama sekali untuk menuntaskan berbagai kasus pelanggaran HAM berat tersebut.
Anda dapat menanggapi Editorial ini di: redaksiberdikari@yahoo.com




Blog Stats

  • 2,097,596 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 113 other followers