Jumat, 20/05/2011 19:30 WIB
Ciputra: Pemerintah Kita Memang Tak Diajarkan Entrepreneur
Ade Irawan – detikFinance

Jakarta – Indonesia akan menjadi negara maju jika mengembangkan wirausaha (entrepreneur). Presiden harus mendukung negara Indonesia menjadi negara pengusaha.
“Entah dia (presiden) dari mana, tapi dia harus menyokong program entrepreneur,” kata Ciputra ketika ditemui di salah satu mal di daerah Kuningan, Jumat (20/5/2011).
Untuk mewujudkan negara pengusaha, menurut Ciputra, perlu juga dukungan dari berbagai pihak yang juga terkait dengan pemerintahan, seperti gubernur, bupati ,dan aparat terkait. Namun, perlu juga seorang pengusaha sebagai pelaksana program ini.
“Yang melaksanakan ini harusnya entrepreneur. Nah ini nggak ada, kurang. Pemerintah masih kurang, akademisi masih kurang, bisnis masih kurang,” jelasnya.
Ciputra menjelaskan, sampai sekarang Indonesia hanya memiliki sekitar 400.000 pengusaha atau hanya 0,18% dari jumlah peduduk Indonesia. Padahal untuk dikatakan sebagai negara maju, perlu mencapai angka 2% untuk pengusaha di sebuah negara.
“Kita 2% cukuplah. Minimum negara maju 2%. Kejar dulu yang 2% ini,” imbuhnya.
Jika dibandingkan dengan negara maju lain, Ciputra menilai, Indonesia jelas tertinggal jauh. Singapura sebanyak 7% penduduknya adalah pengusaha yang mampu memberikan pendapatan karyawan disana 15 kali lebih besar dari Indonesia.
“Singapura 7%. Makanya pendapatan dia 15 kali lebih besar. Gaji dia 15 kali dari Anda,” candanya sambil menunjuk seorang wartawan.
Lebih lanjut Ciputra menjelaskan, jika negara ini menjadi negara pengusaha, pemerintah tidak perlu pusing-pusing lagi memikirkan rumah murah untuk masyrakat yang kurang mampu.
“Negara ini mau jadi negara entrepreneur pasti dapat diatasi masyarakat yang ingin punya rumah,” pungkasnya.
Bahkan Ciputra juga mengaitkan antara masalah wirausaha dengan kecelakaan Merpati. Menurutnya apabila Indonesia menjadi negara pengusaha tidak akan ada kasus kecelakaan pesawat seperti kecelakaan Merpati.
“Kalau pemerintah entrepreneur tidak ada tuh Merpati jatuh. Sudah jatuh baru bingung siapa yang tandatangani kontrak,” guraunya
Ciputra juga bersikap bijak dengan meminta jangan langsung menyalahkan pemerintah karena pemerintah memang tidak memiliki jiwa sebagai seorang pengusaha.
“Jangan mengambinghitamkan perintah dulu. Pemerintah kita memang tidak diajarkan entrepreneur, bagaimana you salahkan dia?,” ungkapnya.
Menurutnya seharusnya pengusaha mulai masuk sebagai jajaran pemerintah agar pemerintahan di Indonesia dapat lebih baik. Ciputra mencontohkan pengusaha yang telah masuk ke jajaran pemerintah adalah Menteri Kelautan dan Perikanan.
“Contoh yang entrepreneur itu Fadel Muhammad (menteri kelautan dan perikanan),” jelasnya.
(ade/hen)
Rabu, 09/03/2011 13:50 WIB
Ciputra: Jakarta Butuh Jalan 3 Lapis untuk Atasi Kemacetan
Whery Enggo Prayogi – detikFinance
Jakarta – Pengusaha kawakan properti Ciputra ikut angkat bicara soal kemacetan di DKI Jakarta yang sudah sangat parah. Menurut Ciputra untuk mengntisipasi kemacetan di ibukota salah satu caranya membangun jalan 3 lapis.
“Permasalahan kita adalah traffic. Untuk itu kita harus bangun 3 lapis lalu lintas,” kata Ciputra dalam Young Developer Forum Meet Ciputra, di Balai Kartini, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (9/3/2011).
Entah serius atau tidak, namun ia menyebutkan idenya itu dengan mengusulkan agar satu lapisan di bawah tanah sebagai jaringan mass rapid transport (MRT).
“Kita bisa bikin jaringan laba-laba,” tutur Ciputra.
Sementara untuk lalu lintas jalan raya, dipakai sebagai lalu lintas jalur lambat. Sedangkan untuk lapis ketiga yaitu pembangunan jalan layang dua lajur.
“Kalau itu bisa terwujud, bisa teratasi,” paparnya.
Ciputra juga mengatakan kedepannya pembangunan jalan layang bisa dimanfaatkan untuk lalu lintas loading dan unloading layaknya kota-kota besar dunia lainnya.
“Elevated road dua jalur ini, nanti ada gedung atur loading, tanpa harus ke bawah. Ini sudah dilakukan di Hongkong. Juga Kanada, yang ada tempat parkir di dalam tanah,” tegas Ciputra.
Dalam hal tantangan pengembangan kota dalam bisnis properti, Ciputra juga menyebutkan tren properti di Indonesia ke depan tidak melulu ‘Back to The City‘. Konsep ‘You Can Go Out The City’ bisa menjadi pilihan pengembang muda.
Menurutnya kunci pengembangan hunian di kawasan suburban adalah akses menuju ibukota. Rumusan Ciputra adalah, lokasi hunian jangan sampai lebih jauh dari 30 mil atau maksimum dapat ditempuh dengan waktu 1 jam.
“Bangun liat lokasi. Situasinya seperti apa? Bisa luar kota atau dalam kota. Luar kota, harus bangun simpul-simpul MRT, atau dalam 1/2 jam sudah tiba. Kalau lebih lama, buat apa bangun kondominium, nggak akan laku,” imbuhnya
(wep/hen)
Jumat, 20/05/2011 08:47 WIB
Grace, Sosok di Balik Puluhan Hektar Hamparan Sawah Bali ![]()
Andi Saputra – detikNews

Jakarta – Pernah melihat hamparan sawah menghijau Bali di kartu pos? Sebagian mengenal foto tersebut berasal dari Ubud, sebagian lagi mengenalnya dari Jatiluwih. Namun sedikit yang mengenal sosok di balik kelestarian padi yang di tanam secara tradisional ini. Di balik hamparan sawah itu ada Grace M Tarjoto.
Bagi kaum petani di Desa Jatiluwih, Penebel, Tabanan, Grace memberikan perubahan besar, khususnya bagi petani beras merah di Banjar Gunung Sari ini. Kini, beras merah organik Jatiluwih sudah dikenal di mancanegara seperti Filipina, Finlandia, Singapura, Dubai, dan Amerika Serikat. Berkat perjuangan Grace, beras merah Jatiluwih go international.
“Kalau pakai pestisida maka akan merusak alam. Kalau Jatiluwih alamnya rusak seperti airnya tidak bersih lagi akan berefek terhadap Nusa Dua. Karena seluruh hotel di Nusa Dua menggunakan air dari sini,” kata sarjana kimia ini saat berbincang dengan detikcom di tengah-tengah sawah miliknya.
Ditemani nasi goreng merah dan teh beras merah, Grace memulai cerita mengapa dia bersama kelompok petaninya menanam padi beras merah organik di atas lahan seluas 103 hektar ini. “Saya ingin para petani di Desa Jatiluwih tahu bahwa mereka sebenarnya memiliki sumber pendapatan yang cukup menjanjikan dari beras merah yang mereka hasilkan. Alam yang subur di Desa Jatiluwih merupakan modal besar bagi petani. Inilah yang perlu mereka pahami,” jelasnya.
Di bawah hawa sejuk pegunungan, dia menjelaskan kepada detikcom bahwa tak ada jalan lain kecuali dengan menjadi petani dengan memberikan pemahaman cara memproduksi beras merah yang baik dan benar kepada petani Jatiluwih.
“Menanam padi hingga panen, memproses (menggiling, dll), mengemas hingga memasarkan, dilakukan bersama-sama para petani. Cara ini terbukti efektif. Petani sekarang sudah lebih paham,” ujar Grace yang bersuami ahli mesin industri ini.
Grace memang serius menekuni profesinya sebagai wanita petani. Meski banyak para sahabat dan keluarga menyangsikan keseriusannya menjadi petani, namun perempuan berusia 53 tahun ini tetap kukuh menjalani hidup sebagai wanita petani beras merah Jatiluwih.
Menurut Grace, petani di Indonesia masih terpinggirkan, belum mendapat fasilitas atau kemudahan dari pemerintah seperti halnya petani di negara-negara lain, seperti Malaysia atau Filipina yang pemerintahnya sangat proaktif. Petani diberikan hak guna pakai lahan yang disediakan pemerintah.
“Di Indonesia, petani menanam padi di lahannya sendiri yang tak seberapa luasnya hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, itu pun terkadang tak cukup,” tutur Grace.
Atas usahanya, apresiasi datang dari kalangan pejabat tinggi, orang-orang terkenal dalam dan luar negeri. Bahkan tak sedikit yang datang ke Desa Jatiluwih melihat langsung produksi beras merah yang layak dikonsumsi dan sudah diteliti IRRI (International Rice Research Institute) ini.
Bukti kepeduliannya terhadap petani, Grace tak hanya membeli beras milik petani di atas HPP (Harga Pembelian Pemerintah) tetapi juga mendirikan usaha penyosohan (penggilingan) beras. Adanya usaha ini, diharapkan bisa memberikan kontribusi positif kepada petani sehingga keberadaan beras merah Jatiluwih bisa tetap dipertahankan dan dilestarikan.
“Padi yang ada di Jatiluwih ternyata padi lokal jenis langka yang harus dilestarikan, sementara beras merahnya yang dikenal dengan nama beras dewa atau beras cendana ini mampu bersaing dengan beras merah dari Australia dan India karena teksturnya padat dan memiliki aroma harum. Selain itu, kandungan gizi, mineral serta vitaminnya lebih lengkap daripada beras merah dari negara lain. Khasiatnya bagi kesehatan pun sudah nyata. Beras merah mampu menetralkan tekanan darah, menurunkan kolesterol, obat diabetes serta dipercaya bisa mengobati kanker,” papar Grace sambil memperlihatkan idenya dalam sebuah laptop.
Beras merah produksi Grace, tak sebatas berbentuk beras (fragrant red rice) tetapi juga berbentuk olahan seperti kopi (red rice coffee) dan teh (red rice tea) yang direspons sangat baik oleh masyarakat dunia. Bahkan mantan Presiden Filipina Fidel Ramos pun, dibuat kepincut dan fanatik mengonsumsi produk-produk CV Jatiluwih milik perempuan yang aktif di berbagai organisasi sosial ini.
Kini, atas usaha Grace, Jatiluwih tidak hanya dikenal sebagai lahan pertanian, sawah ini pun kini menjadi ikon pariwisata. Ratusan turis manca negara mendatangi Jatiluwih, 2 jam dari Denpasar hanya untuk sekedar melihat hamparan sawah atau bermain sepeda di jalanan. Sebagian lagi asik berfoto-foto atau menghabiskan waktu berlama-lama di puluhan tempat makan tradisional sambil merasakan sejuknya hawa pegunungan.
“Sebaiknya datang sebelum pukul 15.00 WIB, agar tidak tertutup kabut,” ucap Grace memberikan tips bagi yang ingin berwisata.
(asp/vit)










Recent Comments