Posts Tagged ‘Arts & Culture



05
Sep
09

Seni Budaya : Malaysia Salahkan Discovery Channel

Soal Tari Pendet, Malaysia Salahkan Discovery Channel
Jumat, 4 September 2009 | 15:16 WIB

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com — Pemerintah Malaysia menyalahkan jaringan televisi kabel Discovery Channel atas penggunaan Tari Pendet dari Bali dalam iklan promosi pariwisata negeri itu belum lama ini.

Kemunculan iklan promosi itu telah memicu kemarahan di Indonesia. Ratusan orang berunjuk rasa di berbagai tempat, termasuk di Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta dan menuduh Malaysia mencuri Tari Pendet.

Menteri Kebudayaan Malaysia Rais Yatim, Jumat (4/9), mengatakan, kesalahan telah dilakukan oleh Discovery Channel yang memproduksi video klip berdurasi 30 detik untuk mempromosikan secara serial keunikan Malaysia. Secara terpisah, jaringan Discovery untuk Asia Pasifik mengatakan, pihaknya menyesal telah menggunakan video klip tarian Bali itu.

Menurut Discovery, gambar itu bersumber dari pihak ketiga yang independen. “Klip promosi itu telah dihilangkan,” demikian pernyataan tertulis Discovery, seraya menambahkan bahwa, “Sama sekali tidak ada maksud untuk menimbulkan terjadinya kesalahpahaman atau pun masalah.”

Rais Yatim menegaskan, video klip itu tidak ada kaitan dengan produser film di Malaysia dan tidak perlu bertengkar di depan umum tentang hal itu atau menjadi emosional.

Pada tahun 2007, Indonesia pernah mengancam akan menuntut Malaysia karena menggunakan lagu dan tarian tradisional Indonesia dalam kampanye pariwisatanya. Kedua negara lalu duduk bersama untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia Jero Wacik, Jumat, mengatakan, minggu lalu dia telah menulis surat protes kepada Malaysia. Jero Wacik mengatakan, tindakan Malaysia tersebut mencederai kesepakatan bersama tahun 2007 untuk menghargai warisan budaya masing-masing negara. Menurut dia, Malaysia telah berjanji untuk menegur rumah produksi yang memproduksi video klip itu.


EGP
Sumber : AP

04
Sep
09

Seni Budaya : Artefak Baru The Beatles

Artefak Baru The Beatles

KOMPAS, Jumat, 4 September 2009 | 04:22 WIB

Budiarto Shambazy

Tanggal 9 September mendatang The Beatles merilis seluruh 13 album resmi yang untuk pertama kalinya di-remastered secara digital yang bertajuk The Beatles. Anda dapat menikmati mutu suara yang jauh lebih baik dibandingkan dengan mendengarkan album-album mereka versi piringan hitam yang mendesis atau yang versi CD yang dirilis tahun 1987 yang terlalu steril.

Menurut seorang ahli sejarah The Beatles, Matt Hurwitz, penggemar pasti akan terpuaskan mendengarkan box set baru ini. ”Mereka yang pendengarannya kurang sensitif dan yang terbiasa mendengarkan MP3, misalnya, akan menikmati kualitas suara yang drastis. Kita akan mendengarkan mutu rekaman yang paling dekat dengan versi stereo dan mono yang diproduksi tahun 1960-an,” kata Hurwitz.

Seorang pakar The Beatles lainnya, Martin Lewis, menyebutkan rilis ini mengakhiri sebuah penantian panjang. ”Tak sedikit pencinta The Beatles merasa frustrasi karena Apple, label mereka, bereaksi amat lambat terhadap tuntutan pasar. Untungnya box set ini disajikan secara pas, tidak terlalu mewah, seperti yang dirilis The Who atau Elvis Presley, misalnya,” kata Lewis.

Untuk box set versi mono ada 10 album (dalam 12 CD) dalam bentuk replika CD yang berbentuk piringan hitam (PH), tetapi seukuran CD. Anda tak akan mendapatkan Yellow Submarine, Abbey Road, dan Let It Be karena ketiga album ini sudah tak direkam dalam versi mono lagi. Lagi pula, Apple tidak akan menjual box set mono ini secara terpisah (ketengan) karena nilai kolektabilitasnya yang tinggi.

”Ini langkah yang cerdik karena penggemar yang ingin mendengarkan versi mono pasti mau memiliki semua album. Versi mono ini untuk penggemar fanatik seperti saya yang ingin mendengarkan The Beatles seperti dulu. Kami belum punya pemutar PH stereo tahun 1963. Itu sebabnya mereka merilis versi mono, kami akhirnya bisa menikmati kembali masa manis saat itu,” tambah Hurwitz.

Salah satu contohnya, menurut Hurwitz yang sudah mendengarkan box set ini, bunyi cabikan bas Paul McCartney saat koda lagu ”Sgt Pepper’s Lonely Hearts Club Band (Reprise)”. Suara bas itu ”terpendam” di versi PH karena sengaja ditekan untuk mencegah jarum pemutar meloncat-loncat. Di versi CD suara itu nyaris tak terdengar. Nah, di versi mono keaslian cabikan bas merek Hofner milik McCartney terdengar amat jelas.

Keaslian paket PH ketika dijual tahun 1960-an, seperti bungkus dalam pelat atau aspek-aspek artistik lainnya, tetap dipertahankan. Khusus untuk versi mono ini dirilis pula edisi terbatas yang dinomori sampai 10.000 keping. Untuk box set versi stereo terdapat 13 album studio serta album Past Masters (1988) dan juga disajikan dalam bentuk replika CD. Dan, untuk kedua jenis box set tersebut ada bonus-bonus berupa dokumenter dalam bentuk multimedia yang dapat dimainkan di komputer Anda.

Perjuangan pemindahan lagu- lagu The Beatles dalam format analog ke digital ini dimulai empat tahun lalu oleh sejumlah teknisi studio di Abbey Road. Sekalipun pita-pita master itu masih sempurna meski lem yang mengikat simpul-simpul pita sudah mengering sehingga segmen-segmen di dalam pita mulai terpisah. ”Kami agak frustrasi ketika mendengarkan pita rekam album ’Please Please Me’, agak susah mengeditnya,” ujar seorang teknisi, Guy Massey.

Setelah proses pemindahan selesai, para teknisi menghapus bunyi-bunyi yang mengganggu sehingga digital files bersih. ”Beberapa teknisi berkeras bunyi- bunyi itu dipertahankan demi keaslian rekaman. Saya tak setuju. Bunyi-bunyi itu masuk ke pita karena kelemahan teknologi tahun 1960-an. Kami bertugas memperbaikinya,” kata teknisi lainnya, Allan Rouse. Misalnya, ada bunyi kursi berderit saat akhir nomor ”A Day in the Life”. ”Jika teknologi saat itu sudah memadai, The Beatles pasti membuang bunyi yang mengganggu itu,” lanjutnya.

Para teknisi jarang memanfaatkan apa yang di dalam teknologi studio rekaman disebut limiting, yang bertujuan membuat volume akhir rekaman terdengar lebih keras. Hanya lima dari 525 menit musik The Beatles yang volumenya terpaksa dibuat lunak (denoising technology). Artinya, penggemar bisa menikmati alunan suara yang lebih subtil, cerah, hangat, dan terinci.

Artefak dan bubar

Pasar mencium rekaman baru The Beatles ini akan laris manis seperti pisang goreng, setidaknya mengulang fenomena penjualan dan popularitas album Love yang dirilis Desember 2006. Love kumpulan montase lagu-lagu The Beatles yang dirangkai oleh produser legendaris mereka, George Martin, dan anaknya, Giles Martin. Love merupakan judul pertunjukan sirkus modern oleh Cirque du Soleil yang sukses besar saat dipentaskan tiap hari di Las Vegas, Amerika Serikat.

Love ternyata meroket ke urutan album pertama di Inggris.

Dan, album The Beatles yang dirilis pada 9 September ini pasti mengulang sukses Love. Padahal, bisnis musik global sedang mencapai titik nadir dalam 20 tahun terakhir. Label kehilangan keuntungan dan artis, penjualan CD terus menurun akibat pembajakan dan digitalisasi ala iTunes, dan artis pun tinggal mengandalkan konser sebagai sumber penghasilan utama.

Hanya artis-artis teratas yang mengandalkan penjualan album dan, ironisnya, dua artis teratas tersebut sudah tidak berkarya lagi: Michael Jackson dan The Beatles. Sampai saat ini Jackson menjual lebih dari 750 juta keping (PH, CD, dan kaset), diikuti The Beatles yang lebih dari 300 juta keping. Bedanya, seperti diungkapkan jajak pendapat CNN belum lama ini, The Beatles lebih populer di berbagai tingkatan usia dibandingkan dengan Jackson.

The Beatles populer setidaknya di tiga generasi. Remaja tahun 1960-an dan 1970-an membeli PH The Beatles, anak-anak mereka yang lahir di atas tahun 1970-an menikmati musik The Beatles melalui format CD. Cucu-cucu mereka yang lahir di atas tahun 1990-an memilih format iTunes. Semua membutuhkan artefak The Beatles untuk dinikmati, disimpan, dan dikenang sampai akhir zaman. Artefak itulah yang tetap akan dikejar oleh generasi pertama dan kedua.

Dan, karisma John Lennon, McCartney, George Harrison, serta Ringo Starr memang mendukung. Berbagai institusi selama puluhan tahun terakhir menobatkan Lennon sebagai vokalis dan duet Lennon/McCartney sebagai komposer/penulis lirik terbaik dalam sejarah musik. Jangan dilupakan juga, masing-masing mencatat prestasi lumayan sebagai artis solo sampai Lennon dan Harrison tutup usia dan sampai saat ini yang dilakukan McCartney serta Starr.

Ada 13 album resmi The Beatles selama berkarier: Please Please Me (1963), With The Beatles (1963), A Hard Day’s Night (1964), Beatles For Sale (1964), Help! (1965), Rubber Soul (1965), Revolver (1966), Sgt Pepper’s Lonely Hearts Club Band (1967), Magical Mystery Tour (1967), The Beatles (The White Album) (1968), Yellow Submarine (1969), Abbey Road (1969), dan Let It Be (1970). Ini belum termasuk kompilasi, single, EP (extended play) yang diterbitkan di mancanegara, dan bootlegs.

Secara musikal, The Beatles terbagi atas empat periode: periode poppish sampai album Rubber Soul, periode transisi ketika mereka memproduksi Revolver, periode psikedelik saat merilis Sgt Pepper’s serta Magical, dan periode rock sejak The White Album sampai Let It Be. Sebetulnya, album terakhir mereka adalah Abbey Road karena Let It Be, yang dirilis setahun setelah Abbey Road, diproduksi sejak akhir 1968 sampai sekitar medio 1969.

Terlalu banyak sudah buku yang mengulas berbagai aspek sejarah The Beatles, termasuk mengapa mereka sampai bubar. Tanda-tanda keretakan sudah terjadi sejak manajer legendaris yang menyatukan mereka, Brian Epstein, tutup usia tahun 1967. The Beatles seperti anak-anak ayam kehilangan induk karena tak satu pun menguasai manajemen bisnis musik. Tak heran aspek bisnis menjadi salah satu sumber keretakan.

Sumber kedua, kehadiran Yoko Ono yang dominan saat proses pembuatan The White Album. Ono diizinkan masuk ke studio saat The Beatles merekam, hal tabu yang tak berani dilanggar siapa pun. Sumber ketiga, keputusan Starr mengundurkan diri saat pembuatan The White Album dan Harrison saat pembuatan Let It Be. Meski mereka dibujuk bergabung kembali, harmoni sudah terganggu.

Dan, sumber terakhir adalah kesadaran bahwa mereka harus bubar karena The Beatles justru membatasi ruang gerak kreativitas masing-masing. Pengakuan ini memang datang belakangan, namun benar adanya. Jika masih bersama The Beatles, Lennon belum tentu menghasilkan ”Imagine”, Harrison juga belum tentu menulis ”My Sweet Lord”, dan McCartney mungkin kehilangan potensi sebagai multiinstrumentalis sekaligus produser andal. (AP/USA Today)

03
Sep
09

Nasionalisme : Tari Saman Menggetarkan Festival World Culture

Tari Saman Menggetarkan Festival World Culture
Tarian Saman

Kamis, 3 September 2009 | 02:27 WIB

LONDON, KOMPAS.com–Tari Saman dari Aceh atau yang dikenal dengan “seribu tangan” mendapatkan sambutan hangat dari penonton dengan tepukan tangan dan decakan kagum saat tampil di panggung utama Festival Kebudayaan Dunia yang diselenggarakan di Dublin akhir pekan ini.

Festival yang digelar selama dua menampilkan berbagai kesenian dan budaya dari berbagai suku bangsa yang berada di Irlandia, ujar jurubicara KBRI London Novan Ivanhoe Saleh kepada koresponden Antara London, Rabu.

Dikatakannya persiapan penampilan para penari amatir Indonesia dilakukan jauh jauh hari dan pelatih tari Saman Meutia Verayanti yang berasal dari Aceh dan menetap di London khusus didatang ke Dublin.

Meutia, siswa Indonesia di London khusus didatangkan KBRI London dalam rangka mendukung kegiatan masyarakat Indonesia yang berada di Dublin, ujar Novan Ivanhoe Saleh.

Menurut Nova, KBRI London yang wilayah kerjanya juga mencakup Irlandia mendukung kegiatan yang dikenal dengan Dublin`s Laya Festival, DLR Festival Budaya Dunia, guna mempromosikan dan memperkenalkan Indonesia kepada warga Irlandia.

Dikatakannya sebanyak 10 penari menyemarakan pesta rakyat di Republik Irlandia itu pada acara World Culture Festival yang menurut panitia tarian dari Indonesia termasuk tari yang rumit.

Disebutkan Tari Saman merupakan tarian mengisahkan epik kebaikan melawan kejahatan. “Saman” yang paling populer di Aceh dan menjadi terkenal di luar negeri yang disebut dengan “Seribu tangan”.

Tahun lalu, salah satu tarian yang dipertunjukkan warga Indonesia pada festival ini adalah tari Kecak asal Bali. Acara ini, juga dijadikan ajang pertemuan dalam memperingati HUT RI bagi warga Indonesia di Irlandia, ujarnya.

Menurut Abdul Mudjib, salah satu siswa Indonesia yang tampil dalam grup tari Saman tersebut, saat ini sekitar 200 an warga Indonesia menetap di Irlandia. Sebagian besar mereka bekerja di sektor perhotelan.

Sumber : Ant

03
Sep
09

Seni Budaya : Terang Bulan, saduran lagu Prancis karya Pierre-Jean de Beranger

‘Terang Bulan’

detikcom

detikcom – Selasa, September 1
‘Terang Bulan’ Saduran Lagu Prancis Karya Pierre-Jean de Beranger

Benarkah lagu ‘Terang Bulan’ diciptakan oleh musisi Indonesia Syamsul Bachri? Belum jelas benar. Namun menurut data yang dimiliki Remy Silado, lagu tersebut jelas-jelas bukan milik Indonesia karena dikarang oleh musisi Prancis Pierre-Jean de Béranger.

Menurut pengamat musik senior itu, lagu berjudul ‘Terang Bulan’ itu memang sangat populer di Indonesia. Namun lagu yang disebut Remy sebagai lagu rakyat zaman dulu itu bukanlah diciptakan oleh orang Indonesia.

“Lagu ini sudah ada di awal abad 19, penciptanya orang Prancis bernama Pierre-Jean de Béranger,” kata Remy saat berbincang dengan detikcom, Senin (31/8/2009).

Namun sayang, Remy enggan memberitahu apa judul lagu ciptaan Béranger itu. Remy hanya menceritakan, lagu ciptaan musisi Prancis yang hidup pada 1780-1857 itu kemudian disadur oleh orang Indonesia dengan judul ‘Terang Bulan’. Namun Remy mengaku tidak mengetahui siapa penyadur lagu tersebut.

“Yang menyadur tidak jelas siapa, tapi yang jelas lagu itu sudah ada tahun 1815,” kata Remy.

Remy mengaku memiliki data-data yang membuktikan soal sejarah lagu tersebut. “Buktinya tersedia, saya mengetahuinya. Bahkan bukti terakhir itu baru dicetak tahun 2006 dengan judul Het Natsionale volks Lied artinya lagu rakyat karangan Pierre-Jean de Béranger,” kata Remy.

Sebelumnya Aden Bachri mengklaim, lagu ‘Terang Bulan’ adalah karya ayahnya, Syamsul Bachri. Lagu tersebut pertama kali direkam pada tahun 1957. Namun menurut Aden, lagu tersebut telah diciptakan oleh ayahnya sebelum tahun 1942.

03
Sep
09

Seni Budaya : Ramadan, Batik Tulis Pamekasan Melonjak 200%

Kamis, 03/09/2009 09:01 WIB

Batik Tulis Pamekasan

Ardi Yanuar – detikRamadan
Gambar
Pembatik Madura (Ardi Yanuar)

Pamekasan -Batik tulis khas Madura masih memelihara motif flora dan fauna. Pada hari-hari tertentu, lembaran kain batik tulis khas Madura ini sering digunakan sebagai parcel para kolega. Seperti Ramadan kali ini order batik khas Madura ini melonjak hingga 200 persen.

Di sejumlah butik di Pasar Batik Pamekasan, harga lembaran kain batik berbahan sutra kelas menengah, rata-rata dilepas seharga Rp 500 ribu. Untuk batik sutra kelas super dilepas dalam kisaran harga Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta.

Seperti yang ditekuni para perajin batik tulis di Desa Klampar, Pamekasan. Mereka tetap memilih motif flora fauna. Mereka konsisten dan tak terpengaruh dengan motif kontemporer yang belakangan lebih popular di kalangan kaum muda.

Motif fauna yang dipilih para perajin batik tulis, digambarkan seperti dedaunan, dan bunga-bungaan. Sedangkan motif fauna ditorehkan seperti kepala, sayap dan ekor ayam. Motif flora dan fauna itu direfleksikan menjadi motif Segar Jagat, Kenari, Jago Kluruk, Mata Ikan, dan motif Sabat.

Motif flora dan fauna terawat dengan baik, lantaran para perajin batik tulis ini secara turun temurun bermukim di kawasan pertanian. Masih terawatnya motif batik Madura yang lekat dengan flora dan fauna, boleh jadi karena budaya warisan leluhurnya. Indikasinya, lembaran batik tulis ini digarap sebuah keluarga besar. Mereka terdiri dari nenek, anak bahkan cucu.

Tiga generasi kerja bareng dalam satu pondok, membatik dengan satu tungku berisi cairan malam. Seperti yang dilakukan pada keluarga nenek Maryam (76) ini. Maryam dibantu oleh Suhimah (45), anaknya. Begitu pula Suhimah (23), anak Suhimah yang tak lain cucu Maryam, juga bergabung membatik dalam satu pondok.

“Kami telah membatik sejak Indonesia belum merdeka,” ujar Mbah Maryam, saat ditemui di bengkel kerja miliknya yang mirip dengan musala bambu, Kamis (3/9/2009).

Cara membatik seperti itulah, yang menjadikan motif flora dan fauna tetap terpelihara dengan baik sebagai motif batik tulis khas Madura. Membatik bersama keluarga besar, tak hanya dilakukan keluarga Maryam. Puluhan keluarga di Desa Klampar melakukan pekerjaan yang sama. Para pembatik ini menggarap seluruh proses pembatikan.

Usai pembatikan, lembaran kain ini masuk proses pewarnaan. Tiga warna primer, menjadi pilihan favorit kalangan pembatik. Yaitu, warna merah, hijau dan kuning. Setelah pewarnaan, lembaran kain batik ini masuk pada tahap pelorotan atau membersihkan cairan malam yang memadat dan menempel di lembaran kain.

Proses pelorotan ini, dilakukan dengan cara mencelupkan kain ke dalam drum berisi air panas di atas tungku api kayu bakar. Terakhir, lembaran kain batik ini dibilas dengan air bersih lalu dijemur.

Menurut Ahmadi, tak ada kendala yang ditemui selama bergelut dengan usaha batik tulis. Pemasarannya mudah. Kain batik buah karya pengrajin asal Desa Klampar ini, diborong kalangan pedagang batik di Kota Pamekasan.

Ahmadi mengatakan, para pembatik di Desa Klampar ini, tak jarang mendapat order dari pemodal yang memesan batik kain sutra. Bahan kain sutranya dipasok pemodal, sedangkan pengrajin tinggal membatiknya.

“Para pemodal itu kebanyakan para pemilik butik,” kata Ahmadi. Baik yang membuka gerai di Pasar Batik di Jalan Jokotole, maupun pemilik butik di Kota Surabaya dan Yogyakarta.

Menurut Ahmadi, saat hari normal penjualan batik tulis karya pembatik Desa Klampar mencapai 800 kodi per bulan. “Insya Allah, selama bulan puasa ini kami mendapat order hampir 2.000 ribu kodi,” urai Ahmadi.

Naiknya order dan pesanan batik tulis ini, memberi harapan bagi ratusan keluarga pembatik di Desa Klampar. Mereka optimis, Lebaran tahun ini merekapun bisa merayakan dengan penghasilan berlebih.

Ahmadi menjamin tidak ada kenaikan harga saat banyak order seperti sekarang ini. “Kami tidak menaikkan harga. Apalagi, seluruh bahan membatik tidak mengalami kenaikan lantaran kurs dollar relatif stabil,” kata Ahmadi menutup obrolan.

(fat/nwk)

Baca Juga:

02
Sep
09

Seni Budaya : Soekarno yang Minta Terang Bulan Diserahkan ke Malaysia ?

“Terang Bulan”

By Republika Newsroom
Rabu, 02 September 2009 pukul 21:28:00

Soekarno yang Minta "Terang Bulan" Diserahkan ke MalaysiaANTARAPENCIPTA TERANG BULAN. Soebroto, teman Saiful Bahri dan pemain Orkes Studio Djakarta didampingi Aden Bahri Jr, anak Saiful, menyatakan bahwa lagu ‘Terang Bulan’ ciptaan Saiful Bahri.

SOLO–Ahli waris pencipta lagu “Terang Bulan”, Aden Bahri, mengungkapkan, Presiden Soekarno meminta ayahnya, Saiful Bahri, untuk menyerahkan lagu “Terang Bulan” kepada Malaysia.”Mantan Presiden Soekarno meminta penyerahan lagu itu pada awal 1960-an,” kata Aden Bahri di Solo, Jateng, Rabu.

Hal tersebut, lanjutnya, dikuatkan berdasarkan keterangan salah seorang saksi kejadian tersebut yang juga merupakan teman satu grup ayahnya di Orkes Studio Djakarta, Soebroto.”Pak Broto yang berada di lokasi kejadian saat itu mengakui hal yang sama,” katanya.

Mengenai tuntutan pihak keluarga Saiful Bahri, dia mengatakan, pihak keluarga meminta Pemerintah Indonesia untuk membantu keluarga dalam melindungi lagu “Terang Bulan”, yang juga menjadi salah satu aset budaya Indonesia.
“Pemerintah harus lebih tegas dan bersikap lebih keras dalam melindungi seluruh aset budaya Indonesia, termasuk lagu yang diciptakan ayah saya,” kata Aden Bahri yang sekarang tinggal di Jakarta.

Sementara itu, mantan anggota Orkes Studio Djakarta, Soebroto mengatakan, mantan Presiden Soekarno meminta Saiful Bahri untuk menyerahkan lagu “Terang Bulan” antara 1961 hingga 1962, “Seingat saya saat itu adalah perayaan HUT Republik Indonesia,”.

Dia mengatakan, kalimat yang diucapkan Soekarno ketika itu, “Ful, kasih saja lagu itu ke Malaysia. Mereka belum punya lagu kebangsaan,”.”Saat itu yang menjadi saksi tidak hanya saya, tetapi banyak. Dr. Johannes Leimena menjadi saksi yang masih saya ingat,” katanya.

Akan tetapi, lanjutnya, dia sudah tidak ingat siapa lagi yang menjadi saksi kejadian tersebut.”Yang jelas, pesan Soekarno sangat jelas terdengar karena saya hanya berjarak sepuluh meter dari pembicaraan antara Soekarno dan Saiful Bahri,” kata Soebroto.

Pernyataan yang disampaikan Soebroto tersebut saat ini belum dapat dibuktikan kebenarannya dan dihadapkan dengan catatan sejarah yang menunjukkan bahwa kemerdekaan Malaysia terjadi pada 31 Agustus 1957.

Menanggapi pengakuan tersebut, Kepala Lokananta, Ruktiningsih mengatakan, perusahaan rekaman Lokananta menyerahkan rekaman lagu “Terang Bulan” yang sudah digandakan. “Kami berharap rekaman lagu tersebut dapat dipergunakan oleh Aden untuk mengurus hak-haknya sesuai dengan pengakuannya sebagai ahli waris pencipta lagu tersebut,” katanya.

Dia mengatakan, hingga saat ini Lokananta yang menjadi perusahaan yang merekam dan menggandakan lagu “Terang Bulan” tidak memiliki catatan mengenai pencipta lagu tersebut.”Jika pengakuan pihak ahli waris terbukti, kami akan mencatat nama Saiful Bahri ke dalam data pencipta lagu yang ada di perusahaan ini,” kata Ruktiningsih. ant/kpo

02
Sep
09

Seni Budaya : Promosi Budaya Bisa Mencegah Klaim Asing

SENI BUDAYA
Promosi Budaya Bisa Mencegah Klaim Asing

Rabu, 2 September 2009 | 03:51 WIB

Jakarta, Kompas – Pengenalan kekayaan budaya tradisional tidak sebatas mengirim misi kebudayaan ke luar negeri. Lebih dari itu, promosi budaya melalui multimedia merupakan langkah efektif untuk memperkenalkan kekayaan seni budaya ke dunia internasional.

Guru besar hak kekayaan intelektual (HKI) Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang juga Ketua Akademi HKI Indonesia, Agus Sardjono, mengatakan hal itu di Jakarta, Selasa (1/9).

Menurut Agus, kepemilikan basis data mengenai seni budaya tradisional diperlukan untuk menghindarkan klaim asing. Namun, strategi pengenalan budaya lebih dari persoalan basis data.

”Harus ada strategi dan langkah nyata supaya seni budaya tradisional itu tidak mandek, tidak kehilangan audiens, dikenal dunia, dan tidak ketinggalan zaman,” kata Agus.

Ia mencontohkan, terkait seni budaya tradisional, Indonesia patut berterima kasih kepada Amerika Serikat yang mengenalkan gamelan kepada khalayak dunia.

”Yang dikhawatirkan, Indonesia hanya bisa memprotes klaim asing, tetapi tidak punya strategi dan langkah nyata pengembangan seni budaya,” ujarnya.

Ditargetkan awal 2011

Hingga saat ini upaya perlindungan terhadap hak cipta pengetahuan dan ekspresi budaya tradisional terus diupayakan. Melalui forum Genetic Resources Traditional Knowledge and Folklore (GRTKF) tahun 2009 di Geneva, Swiss, ditargetkan perlindungan hukum internasional itu dicapai pada tahun 2011.

Forum GRTKF ini bertujuan mencapai kompromi perlindungan HKI berupa hak cipta atas pengetahuan dan ekspresi budaya tradisional (folklor) yang berkembang di setiap negara.

”Ada risiko traktat yang dihasilkan hanya disepakati oleh negara-negara berkembang di Asia dan Afrika, tanpa kesepakatan negara-negara Barat,” kata Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Departemen Luar Negeri Havas Oegroseno.

Negara-negara berkembang di Asia dan Afrika yang memiliki banyak pengetahuan dan ekspresi budaya tradisional meminta supaya pemanfaatannya oleh negara-negara lain, termasuk negara-negara maju, memerhatikan aturan main hak cipta. Namun, negara maju memiliki pandangan berbeda. Mereka berpandangan, pengetahuan dan ekspresi budaya tradisional sebagai karya komunal yang tidak bisa diindividualisasikan dan memiliki hak cipta.

Negara-negara berkembang di Asia dan Afrika bersepakat, pada awal tahun 2011 mereka akan memutuskan traktat internasional untuk menghargai pengetahuan dan ekspresi budaya tradisional sebagai bagian kekayaan intelektual yang harus memiliki hak cipta.

Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Andy Noorsaman Soomeng mengatakan, selama belum ada traktat internasional untuk perlindungan pengetahuan dan ekspresi budaya tradisional, kesalahan seperti yang dilakukan Malaysia belum ada sanksi hukumnya. (GSA/NAW)




Blog Stats

  • 2,302,679 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 130 other followers