Posts Tagged ‘Agricultural

30
May
12

IndoHeritage : Subak Bali Dikagumi Dunia

Subak Dikagumi Dunia, Terabaikan di Bali

Cinta Malem Ginting | Senin, 28 Mei 2012 – 14:46:20 WIB


(dok/antara)Banyak sawah beralih fungsi, bahkan terkesan terabaikan.

DENPASAR- Nama Subak kini mencuat di dunia internasional, menyusul adanya keputusan dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) yang menetapkan Subak sebagai warisan budaya dunia.

Begitu besar perhatian dunia terhadap subak karena memang tidak ada di negara manapun kecuali Indonesia, khususnya Bali. Namun keberadaan Subak di Bali terkesan terabaikan. Pasalnya, banyak subak di Bali sudah “punah” karena banyaknya lahan persawahan atau pertanian yang beralih fungsi. Selain itu perhatian pemerintah daerah (pemda) di Bali terhadap subak dinilai masih minim.

“Sekarang ini sudah banyak subak yang punah, seiring dengan banyaknya lahan pertanian atau sawah yang beralih fungsi. Di Denpasar saja sudah hampir tidak ada lagi subak,” ujar Ketua Grup Riset Sistem Subak, Wayan Windia dalam suatu percakapan dengan SH, Rabu (23/5), di Denpasar.

Subak adalah organisasi tradisional di Bali yang mengatur tentang sistem pengairan sawah. Menurut Wayan Sutama yang juga Ketua Kelompok Subak Lodtunduh, Desa Singekerta, Ubud-Gianyar-Bali ini, sistem subak yang dikelola petani ini sudah dikenal di Bali sejak puluhan tahun lalu dan keberadaannya sudah ada turun-temurun.

Baik Wayan Windia yang juga Ketua Badan Penjaminan Mutu Universitas Udayana (Unud) Denpasar itu maupun Wayan Sutama, merasa sangat gembira dengan adanya penetapan dari UNESCO terhadap subak di Bali tersebut. Hal ini karena Windia telah lama menantikan turunnya keputusan dari UNESCO tersebut. “Sebagai orang yang ikut merancang proposalnya tentu saya sangat gembira. Keputusan ini sudah kita tunggu 12 tahun,” tutur Windia yang juga Guru Besar di Unud.

Dengan adanya penetapan ini Windia mengharapkan pemda di Bali terbuka pikirannya agar mengayomi subak tersebut untuk menjadi subak abadi. “Subak sebagai warisan budaya Bali ada potensi abadi kalau pemda concern. Selama ini perhatian pemda terhadap subak dan pertanian belum cukup. Terbukti dari alih fungsi sawah di Bali lebih dari 1.000 hektare per tahun,” paparnya.

Untungkan Petani

Wayan Windia membenarkan secara materi Bali tidak memperoleh apa-apa dengan penetapan ini, karena di dunia sekarang ini ada sekitar 600 warisan budaya dunia. UNESCO hanya memberi stempel dan image terhadap budaya subak ini. “Tanggung jawab subak tetap ada pada masyarakat di Bali, sedangkan UNESCO hanya memberi stempel dan image,” ujarnya

Dalam hal ini, menurut Wayan Windia, yang terpenting adalah harus dibuat kondisi agar petani merasa senang dan menguntungkan sebagai petani. Dengan demikian, pertanian dan subak di Bali akan tetap abadi. Sekarang ini, di Bali ada sekitar 1.599 subak yang kondisinya terpinggirkan. “Subak sekarang seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Hidup segan, mati tak mau,” kata dia.

Sutama berharap agar pemda mau berperan aktif dalam melestarikan keberadaan subak. “Kami berharap pemda mau membantu dalam upaya pelestarian subak, sehingga tetap ada sepanjang masa,” ujarnya.

Melalui sistem subak ini, menurut Sutama, sistem pengairan sawah bisa diatur dengan baik sehingga tidak ada terjadi “bentrokan” antarpetani karena berebut air untuk sawahnya. “Melalui subak sudah diatur mengenai pembagian air ke setiap bidang sawah. Kalau ada anggota kelompok subak yang ‘nakal’ dalam pengaturan air, melalui subak bisa ditegur dan diberikan sanksi,” ujar Sutama.

Ia mengakui organisasi subak yang dipimpinnya dengan beranggotakan 69 petani dan luas lahan sekitar 30 hektare, selama ini sering mendapatkan bantuan dari Pemda Gianyar. “Perhatian dari Pemda Gianyar selalu ada jika subak kami meminta bantuan,” tuturnya.

Bantuan ini, umumnya diperlukan kelompok subak untuk biaya perbaikan jalan dan pembuatan saluran air. “Kami sangat berharap sekali agar subak ini bisa dilestarikan dengan ditetapkannya sebagai warisan budaya dunia,” tandas Sutama.

(Sinar Harapan)

BERITA TERKAIT

 

28
Jan
10

Pertanian : Food Estate Menyegarkan

Suara Pembaruan

ZOOM2010-01-28“Food Estate” Segarkan Sektor Pertanian Nasional

Mukhamad Najib

Salah satu program unggulan untuk menjaga ketahanan pangan yang akan dilakukan oleh Menteri Pertanian adalah mengembangkan Food Estate. Beberapa pengamat pertanian mengkritik kebijakan ini, bahkan ada yang menuduhnya sebagia bagian dari agenda neolib di Indonesia.

Kekhawatiran dari kebijakan Food Estate ini adalah bahwa pengembangan model Food Estate skala besar dianggap berpotensi menggeser pola pertanian nasional dari peasant-based dan family-based food production menjadi corporate-based food production. Kondisi ini dikhawatirkan justru akan melemahkan kedaulatan pangan nasional. Kekhawatiran lain adalah mengenai dampak lingkungan yang ditimbulkan, mengingat Food Estate ini kemungkinan akan dilakukan dengan cara “membabat” hutan untuk menciptakan lahan-lahan pertanian baru.

Pertanyaannya adalah benarkah kebijakan ini sama sekali tidak berarti apa-apa untuk keberlanjutan masa depan pertanian dan ketahanan pangan di Indonesia? Benarkah kebijakan ini begitu membahayakannya, sehingga harus segera dihentikan? Saya ingin mencoba melihat Food Estate dari perspektif yang lain.

Selama ini, petani mendapat mandat yang tidak ringan, karena mereka diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dasar dari seluruh rakyat Indonesia. Mereka dituntut untuk terus meningkatkan produktivitasnya setiap waktu. Akan tetapi besarnya mandat yang diberikan kepada petani ini sama sekali tidak sebanding dengan insentif yang diperoleh petani. Khususnya insentif kesejahteraan.

Selama ini petani Indonesia selalu berhadapan dengan situasi yang tidak pernah menguntungkan. Pada saat suplai pangan berlebih maka harga akan jatuh dan petani merugi. Ketika suplai berkurang, harga naik, namun kenaikan ini lebih banyak dinikmati para tengkulak dan pedagang. Belum sempat petani menikmati keuntungan akibat kenaikan harga, produk impor segera didatangkan untuk “menstabilkan” harga atau pupuk segera menghilang sehingga petani harus mengeluarkan biaya produksi yang lebih tinggi.

Sesungguhnya, membebankan ketahanan pangan berkelanjutkan hanya kepada petani saat ini sangatlah berat. Jika kita lihat kondisi petani Indonesia saat ini, 56,5% dari 25,4 juta keluarga petani yang ada di Indonesia ternyata adalah petani gurem, yang memiliki lahan kurang dari 0,5 Ha. Padahal, untuk sekadar survive petani minimal harus memiliki lahan 1 Ha. Maka tidak heran, bahwa hampir 60% dari petani Indonesia adalah masuk dalam kategori miskin (pendapatan di bawah $US 2 per hari). Bagaimana mungkin petani yang miskin akan menjadi penyangga utama penyedia pangan untuk seluruh rakyat Indonesia?

Perbaikan hidup dan kesejahteraan petani tentu harus sangat diperhatikan. Petani-petani gurem yang terus berjuang mengelola lahan-lahan sempitnya harus terus memperoleh dukungan yang memadai untuk bisa tetap berproduksi dan meningkatkan produksi setiap waktu. Namun begitu, ketahanan pangan nasional tidak boleh hanya dibebankan kepada petani kecil. Semua komponen masyarakat, dari mulai pemerintah, akademisi sampai pengusaha harus terlibat dalam upaya penciptaan ketahanan pangan tersebut. Dalam kerangka inilah para pemilik modal perlu “dituntut” jika tidak bisa dihimbau untuk terjun ke sektor pertanian. Kebijakan Food Estate memberi kesempatan kepada para pemilik modal untuk terlibat dalam upaya menjaga ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Regenerasi Sumber Daya

Salah satu masalah mendasar dalam dunia pertanian kita saat ini adalah makin berkurangnya generasi “cerdas” yang mau terjun ke dunia pertanian. Anak-anak petani yang dapat mengakses pendidikan dengan lebih baik, cenderung tidak mau kembali ke desanya untuk melanjutkan dan mengembangkan pertanian. Jika dilihat dari struktur usia, 76 % petani Indonesia berusia 25-54 tahun, sementara mereka yang berusia di bawah 25 tahun hanya 2.2 % dan sisanya lebih dari 21% berusia di atas 55%. Sementara dari sisi pendidikan, hampir 80% hanya tamat sekolah dasar.

Hilangnya minat generasi muda cerdas terdidik dari dunia pertanian Indonesia akan menyulitkan dunia pertanian dalam melaksanakan mandat menjaga ketahanan pangan yang berkelanjutan. Karena tidak akan ada lagi generasi baru petani yang memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengatasi berbagai persoalan pertanian yang semakin kompleks.

Sulitnya melakukan kaderisasi petani “cerdas” selama ini antara lain disebabkan image tentang dunia pertanian yang tertinggal dan terbelakang. Setiap kali anak-anak petani pergi ke sekolah tinggi, yang tertanam di benak mereka bukan bagaimana kembali dan memperbaiki pertanian mereka, melainkan bagaimana dengan ilmu yang diperoleh mereka bisa meninggalkan dunia pertanian. Dalam konteks ini, kehadiran Food Estate akan membawa gambaran baru mengenai dunia pertanian. Karena mereka akan datang dengan pengetahuan baru, pendekatan baru dan teknologi baru dalam mengembangkan dunia pertanian. Dan ini akan mendorong minat generasi baru petani untuk terjun di dalamnya.

Pertanian model Food Estate saat ini juga mulai berkembang di Jepang. Banyak perusahaan besar, baik perusahaan perbankan maupun konstruksi di Jepang yang mulai terjun ke dunia pertanian. Mereka sadar betul bahwa tanggung jawab masa depan sangat tergantung pada ketersediaan pangan yang berkelanjutan secara mandiri, sehingga mereka mau melakukan investasi dan ekspansi ke dunia pertanian.

Kehadiran perusahaan-perusahaan besar di dunia pertanian ini sama sekali tidak membunuh petani-petani yang sudah ada, justru menggairahkan semangat anak-anak muda di Jepang untuk terjun ke dunia pertanian. Kehadiran Food Estate di Jepang memberikan dampak yang signifikan pada image tentang dunia pertanian. Pertanian kini mulai menjadi trend di kalangan anak muda karena telah menjadi profesi yang bergengsi.

Kehadiran Food Estate di Indonesia juga berpotensi untuk merubah citra dunia pertanian Indonesia. Food Estate dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda untuk terjun dan mengelola pertanian dengan pendekatan manajemen modern yang berorientasi bisnis. Lebih jauh, Food Estate juga bisa menjadi semacam “learning center” bagi petani kecil untuk belajar bagaimana menjadikan lahan mereka bukan sekedar lahan bercocok tanam, melainkan sebagai lahan bisnis yang menguntungkan. Dengan demikian kehadiran Food Estate juga dapat menjadi sarana untuk melakukan regenerasi sumber daya manusia pertanian yang lebih kompetitif.

Yang Perlu di Perhatikan

Untuk menjawab kekhawatiran beberapa pengamat dan kritikus, tentu pemerintah harus benar-benar memperhatikan orientasi dan implementasi kebijakan Food Estate ini agar tidak berdampak negatif pada petani dan dunia pertanian. Dalam hal ini pemerintah harus memastikan bahwa Food Estate bukanlah bersifat substitusi terhadap keberadaan petani saat ini. Sehingga Food Estate sama sekali tidak boleh didirikan di atas lahan-lahan pertanian rakyat. Dalam persoalan harga produk, pemerintah perlu memikirkan kebijakan yang dapat menghindarkan terjadinya persaingan yang saling membunuh antara petani rakyat dan Food Estate.

Pemerintah juga perlu memperhatikan mengenai bencana yang mungkin terjadi jika Food Estate ini dikembangkan dengan cara membabat hutan. Oleh karenanya analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) perlu dilakukan secara ketat. “Tragedi” proyek satu juta hektar lahan gambut yang pernah terjadi pada jaman orde baru hendaknya tidak boleh terulang lagi.

Jika beberapa dampak negatif yang mungkin muncul dapat disadari dan dapat diantisipasi sejak dini, maka Food Estate sesungguhnya dapat menyegarkan pertanian Indonesia. Semoga.

Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi Manaje men, Institut Pertanian Bogor dan Mahasiswa S3 The University of Tokyo

13
Jan
10

Pertanian : Food Estate Siap Dikembangkan

Suara Pembaruan

ZOOM2010-01-12Empat Perusahaan Siap Kembangkan “Food Estate”
[JAKARTA] Empat perusahaan nasional, yakni Medco, Wilmar, Bangun Cipta, dan Mekasindo telah mengajukan diri untuk mengembangkan pertanian tanaman pangan skala luas di sejumlah lokasi dalam program Food Estate. Program ini dicanangkan pemerintah untuk memperkuat produksi pangan strategis dan bisa mengekspor.

Dirjen Pengelolaan Lahan dan Air Kementerian Pertanian, Hilman Manan, di Jakarta, Senin (11/1) mengatakan, pemerintah menyiapkan lahan telantar (idle) untuk pertanian di beberapa daerah. Di Merauke saja disiapkan 1,6 juta hektare (ha), yang berasal dari areal penggunaan lain (APL) seluas 585.000 ha, hutan konversi produksi (HKP), dan lahan transmigrasi.

Untuk memperlancar pro-gram dan menjamin keberlanjutan usaha, kata Hilman, sedang disiapkan peraturan pemerintah (PP) terkait investasi pangan dalam skala besar. PP yang ditargetkan selesai akhir Januari 2010 ini mencakup PP Penguasaan Pangan Skala Luas, PP Kawasan Ekonomi Khusus, dan PP Lahan Telantar.

Food Estate, katanya, merupakan bagian dari program 100 hari Menteri Pertanian, namun belum bisa dijalankan jika PP yang mendukungnya belum ada. Tiga instansi yang terlibat dalam pembuatan PP itu adalah Kementerian Koordinasi Perekonomian, Kementerian Pertanian, dan Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Hilman menjelaskan, PP Penguasaan Pangan yang akan dikeluarkan Ditjen Tanaman Pangan merupakan turunan dari Undang-Undang (UU) No 12/1992 tentang Budidaya Tanaman. Sedangkan ,PP Kawasan Ekonomi Khusus yang dibuat Kemenko Perekonomian adalah turunan dari UU No 39/2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus.

Swasembada dan Ekspor

Jenis komoditas strategis yang akan dikembangkan dalam program ini, antara lain padi, jagung, tebu, kedelai, dan peternakan. Sedangkan, konsep investasi pangan ditargetkan untuk mencapai swasembada dan ketahanan pangan, setelah itu untuk ekspor. Itulah sebabnya, kata Hilman, dalam Food Estate dibutuhkan investasi swasta, terutama dari dalam negeri.

Dia mengemukakan, untuk menjalankan usaha tersebut, kemungkinan akan diterapkan pola inti plasma, kemitraan, atau sepenuhnya inti. Sedangkan. pembagian saham investasi telah diatur dalam UU No 41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, yakni 51% pemerintah daerah dan 49% investor.

Upaya pemerintah mendorong Food Estate tersebut dinilai Serikat Petani Indo-nesia (SPI) hanya memberikan kemudahan pada pemodal asing untuk mengelola lahan di Indonesia, bahkan memilikinya. Food Estate merupakan bentuk feodalisme terhadap petani dan menjadikan para petani sebagai buruh bagi pemodal.

Dari sisi pemasukan, pro-gram tersebut akan membe- ri keuntungan besar bagi pemerintah. Namun, secara tidak langsung telah melemahkan kemandirian petani In-donesia.

Untuk itu, pemerintah harus menolak penerapan Food Estate agar petani tidak di- rugikan terus. [S-26/H-12]

02
Nov
09

Ekonomi Pertanian : Penyumbatan Birokrasi

Penyumbatan Birokrasi

KOMPAS, Senin, 2 November 2009 | 02:46 WIB

Oleh Gatot Irianto

Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu II, Kamar Dagang dan Industri Indonesia, pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota mengadakan pertemuan puncak pada 29-30 Oktober 2009.

Targetnya, pertumbuhan 2010 di atas 6,3 persen dan akhir 2014 perekonomian Indonesia tumbuh lebih dari 7,0 persen. Tahun 2020 terjadi swasembada semua kebutuhan pangan domestik dan ekspor secara simultan sebagai implementasi visi pemerintah memberi makan dunia.

Investasi swasta (88 persen) menjadi keniscayaan karena kemampuan investasi pemerintah pusat melalui APBN hanya 8,0 persen dan APBD 4,0 persen. Syarat dasarnya, penghapusan sumbatan birokrasi di segala lini. Penyumbatan utama terjadi pada penyediaan lahan untuk usaha. Tumpang tindih izin penggunaan lahan dalam sektor maupun antarsektor terjadi di banyak tempat akibat skala tata ruang terlalu kecil dan berbeda, benturan kewenangan dan kepentingan antara pusat dan daerah, benturan interes parpol maupun dunia usaha. Pertanyaannya, bagaimana mengakselerasi sumbatan? Diperlukan pemimpin dan pengusaha dengan keberanian luar biasa, memaksa dan mendobrak penyumbat birokrasi demi kepentingan bangsa.

Kemampuan memaksa

Benturan dan tabrakan kepentingan akan terjadi dengan adanya sumbatan. Penyumbatan birokrasi bisa terjadi karena dirancang atau kesalahan koordinasi sehingga ketidakpastian usaha dan batas keuntungan amat rendah. Berdasarkan fakta lapangan, penyempitan terjadi jika dan hanya jika presiden dan jajarannya tega dan berani membongkar sumbatan birokrasi sebagaimana sering disampaikan pengusaha maupun media.

Kata berani dan tega merupakan refleksi ekspektasi tinggi masyarakat atas keluarnya tekanan dan hukuman nyata presiden terhadap mafia, broker lahan dan perizinan lahan yang selama ini bergentayangan di birokrasi pemerintah, pengusaha, dan di jalanan.

Ploting terbuka atas lahan baru dengan dukungan infrastruktur menjadi kunci utama dan pintu masuk nyata dalam menghapus sumbatan birokrasi dan biaya tinggi. Daya juang pengusaha nasional dan daerah juga harus tinggi, berani mengambil risiko, tidak merengek, mengeluh, dan menuntut fasilitas lebih.

Terlalu banyak pengorbanan masyarakat terhadap pengusaha nasional, mulai monopoli impor gandum hingga bea masuk. Namun, tengoklah, adakah keberpihakan pengusaha terigu terhadap pengembangan tepung lokal sebagai bahan substitusi? Hanya bangsa primitif dan terbelakang yang selalu mengeluh dan meminta fasilitas berlebihan.

Kini ujian pemerintah dan pengusaha adalah bagaimana menghimpun kemampuan guna menghapus sumbatan birokrasi agar menghasilkan pertumbuhan dahsyat sekaligus mendorong pemerataan dan kesejahteraan yang selama ini dinikmati segelintir orang.

Arus utama publik

Teladan nyata dalam menghapus penyumbatan birokrasi lainnya adalah melawan arus utama publik menuju swasembada daging sapi dan buah berkelanjutan. Menghentikan impor daging sapi, bakalan, buah, dan benih hortikultura secara bijak melalui karantina dan persyaratan kesehatan, seperti dilakukan Australia atas buah dan makanan Indonesia, dapat digunakan sebagai latihan. Permintaan impor ketan menjelang hari raya dengan segala argumen pembenarnya dapat dijadikan teladannya.

Argumennya, meski kebutuhan ketan amat tinggi saat Lebaran, tetapi dalam sejarah tidak pernah ada orang mati karena tidak mengonsumsi ketan. Sebaliknya, di dalam negeri, petani ketan menikmati harga amat baik. Analog dengan ketan, penurunan/penghentian impor daging sapi dan buah hortikultura akan memacu produksi buah lokal karena ada insentif harga.

Dipastikan investor Indonesia, yang selama ini membangun peternakan di Australia dan Selandia Baru, akan membawa pulang modal dan mengembangkan sapi di Indonesia. Pasti ada gejolak nasional dan internasional, tetapi tak perlu takut. Kita perlu belajar dari Kuba, Libya, dan Iran yang tanggung menghadapi embargo dengan mendayagunakan sumber daya lokal.

Indonesia mampu memenuhi kebutuhan daging sapi dan buah buahan secara mandiri. Pemerintah dan Kadin dapat memberi argumentasi kepada importir buah dan daging yang selama ini menikmati rezeki nomplok sehingga tidak ingin menanamkan investasinya di Tanah Air.

Mengubah paradigma pengambil kebijakan dan pengusaha merupakan keharusan. Memanfaatkan pendekatan masa depan dengan teknologi maju untuk menyelesaikan persoalan daging dan buah merupakan teladan. Jeruk keprok dapat diproduksi jutaan batang dalam waktu singkat dengan somatic embryogenesis, bukan dengan penyambungan atau mata tempel yang memakan waktu, biaya, dan tenaga. Demikian juga pengembangan sapi kembar memungkinkan pertumbuhan populasi ternak naik minimal 25 persen per tahun apabila dilakukan serius.

Kini, teknologi itu tersedia di Balitbang Pertanian, menunggu investor. Penggunaan pendekatan masa lalu untuk menyelesaikan masalah saat ini dan masa depan, seperti dilakukan, harus dihentikan karena terbukti tidak dapat menyelesaikan masalah.

Gatot Irianto Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

27
Oct
09

Irigasi : Revolusi Pertanian di Era Islam

Revolusi Pertanian

By Republika Newsroom
Selasa, 27 Oktober 2009 pukul 09:40:00
Menengok Revolusi Pertanian di Era Islam

 

Menengok Revolusi Pertanian di Era Islam

Negeri-negeri Islam berkembang pesat dan memiliki masyarakat makmur dari hasil pertanian.

Lahan pertanian telah lama menjadi karib umat Islam. Dalam konteks ini, umat Islam tak sekadar mengolah lahan. Namun, mereka juga mengenalkan sistem dan cara pengolahan lahan pertanian secara lebih modern. Termasuk, cara tanam dan penggunaan irigasi.

Bahkan, pada awal abad ke-9, sistem pertanian modern menjadi pusat kehidupan ekonomi dan organisasi di negeri-negeri Muslim. Pertanian di Timur Dekat, Afrika Utara, dan Spanyol, didukung sistem pertanian yang maju.

Sebab, praktik pertanian di sana telah menggunakan irigasi yang baik dan pengetahuan yang sangat memadai. Fakta ini menunjukkan bahwa metode pertanian yang dipraktikkan merupakan metode paling maju di dunia.

Umat Islam memiliki kuda-kuda terbaik, ternak domba, dan kemampuan membudidayakan kebun buah-buahan dan sayuran. Mereka tahu bagaimana cara membasmi serangga dan menggunakan pupuk dengan dosis yang tepat.

Selain itu, mereka juga telah memiliki kecakapan dalam mencangkok pohon dan tanaman untuk menghasilkan varietas baru. Tak heran jika kemudian lahir varietas tanaman yang unggul dan menambahkan keragaman tanaman yang ada.

Sejumlah jenis tanaman yang sebelumnya tak dikenal, juga diperkenalkan oleh umat Islam. Pohon jeruk, misalnya, dibawa umat Islam dari India ke Arab sebelum abad ke-10. Pohon ini kemudian diperkenalkan ke wilayah lainnya.

Pada akhirnya, pohon jeruk ini juga dikenal di Suriah, Asia Kecil, Palestina, Mesir, dan Spanyol. Berawal dari Spanyol, lalu pohon jeruk tersebut menyebar ke seluruh wilayah yang ada di Eropa Selatan.

Budidaya tebu dan pemurnian gula juga disebarkan oleh orang-orang Arab Muslim dari India melalui Timur Dekat, kemudian dibawa tentara Salib ke negara-negara Eropa. Kapas pertama kali dibudidayakan di Eropa oleh bangsa Arab.

Pencapaian umat Muslim dalam bidang pertanian mampu pula diwujudkan di tanah Arab, yang sebagian besar merupakan lahan kering. Ini terwujud dengan menggunakan sistem irigasi yang terorganisasi dengan baik.

Khalifah sebagai pemimpin pemerintahan, membiayai pemeliharaan kanal-kanal besar demi kepentingan pertanian. Sungai Efrat dialirkan ke Mesopotamia, sedangkan air dari Tigris dialirkan ke Persia.

Tak hanya itu, pemerintahan Islam juga membangun sebuah kanal besar yang menghubungkan dua sungai di Baghdad. Kekhalifahan Abbasiyah merupakan dinasti yang memelopori pengeringan rawa-rawa agar digunakan untuk pertanian.

Saat memerintah, mereka pun merehabilitasi desa-desa yang hancur dan memperbaiki ladang yang mengering. Pada abad ke-10, di bawah kepemimpinan pangeran-pangeran Samanid, daerah antara Bukhara dan Samarkand, Uzbekistan berkembang pesat.

Tak heran jika kemudian, daerah tersebut ditetapkan sebagai salah satu dari empat surga dunia. Tiga wilayah lainnya adalah Persia Selatan, Irak Selatan, dan kawasan yang ada di sekitar Damaskus, Suriah.

Berdasarkan catatan sejarah dan komentar para ilmuwan termasuk dari Barat, sistem pertanian pada era Spanyol Muslim merupakan sistem pertanian yang paling kompleks dan paling ilmiah, yang pernah disusun oleh kecerdikan manusia.

Hal ini terjadi karena kaum Muslim memperkenalkan banyak perubahan. Salah satu bukti, pada masa itu seluruh Eropa hancur di bawah perbudakan, namun tanah di bawah kekuasaan Islam mengalami kemajuan pesat di bidang pertanian.

Salah seorang cendekiawan berkebangsaan Inggris, Joseph McCabe, mengungkapkan, di bawah kendali Muslim Arab, perkebunan di Andalusia jarang dikerjakan oleh budak. Tapi, perkebunan dikerjakan oleh para petani sendiri.

Di sepanjang Sungai Guadalquivir, juga terdapat 12 ribu desa yang berkecukupan, bahkan makmur. Revolusi pertanian Islam telah diawali pada abad ke-7. Negeri-negeri Islam berkembang pesat dan memiliki masyarakat makmur dari hasil pertanian.

Para ahli geografi awal mengungkapkan, terdapat 360 desa di Fayyum, sebuah provinsi di selatan Kairo, Mesir, yang masing-masing dapat menyediakan kebutuhan makanan bagi penduduk seluruh Mesir setiap hari.

Di sisi lain, terdapat 12 ribu desa di sepanjang Guadalquivir, Spanyol, yang memiliki lahan pertanian subur. Ada pula 200 desa di sepanjang Sungai Tigris, Irak, yang pertaniannya juga maju.

Bukti lain, yang menunjukkan kemajuan umat Islam di bidang pertanian, yakni adanya sebuah sensus yang dilakukan pada abad ke-8 di Mesir. Dalam sensus itu, dari 10 ribu desa di Mesir, tak ada desa yang memiliki bajak kurang dari 500 unit.

Wilayah-wilayah yang kemudian berada di bawah kekuasaan pemerintah Islam, juga mengalami perubahan ke arah kemajuan yang drastis. Banyak wilayah yang sebelumnya tak maju, namun di bawah pemerintah Islam, kemajuan kemudian terwujud.

Pada masa pra-Islam, Mediteranian kuno pada umumnya hanya bisa memanen tanaman saat musim dingin. Itu pun, satu bidang lahan hanya mampu menghasilkan satu jenis tanaman setiap tahunnya.

Namun, datangnya Islam ke sana membuat segalanya berubah. Sebab, Muslim yang datang ke wilayah itu

memperkenalkan berbagai macam tanaman baru. Dengan demikian, garapan pertanian pun kian beragam. Seorang ahli agronomi Andalusia, seperti Al-Tignarî yang berasal dari Granada, membuat referensi tentang tanaman-tanaman yang memberikan kontribusi besar bagi peningkatan pertanian yang cukup signifikan.

Salah seorang orientalis dari Prancis, Baron Carra de Vaux, bahkan menyebutkan, sejumlah tumbuhan dan hewan yang berasal dari Timur dibawa ke Spanyol oleh umat Islam. Tumbuhan dan hewan itu, kata dia, digunakan untuk beragam kebutuhan. Jadi, tak hanya untuk keperluan pertanian maupun peternakan, tapi tumbuhan dan hewan itu digunakan juga untuk keperluan pengembangan perkebunan, status kemewahan, perdagangan, dan seni.

De Vaux membuat sebuah daftar. Tumbuhan dan hewan itu adalah tulip, bakung, narcissi, lili, melati, mawar, persik, plum, domba, kambing, kucing Anggora, ayam Persia, sutra, dan katun. Salah satu tanaman penting yang diperkenalkan oleh umat Islam di Spanyol adalah tebu. Sedangkan kapas, mulai dibudidayakan di Andalusia pada akhir abad ke-11. Andalusia kemudian mampu berswasembada kapas.

Bahkan kemudian, para petani di Andalusia mampu mengekspor kapas hingga ke luar negeri. Di sisi lain, pengenalan tanaman baru kelak melahirkan sistem pertanian yang kompleks. Termasuk, pembangunan irigasi. Semula sebidang lahan hanya menghasilkan sekali panen satu macam tanaman per tahun. Namun, dengan makin beragamnya tanaman dan adanya irigasi, petani mampu panen tiga atau lebih tanaman per tahun.

Dengan produksi pertanian yang semacam ini, penduduk kosmopolitan di kota-kota Islam, termasuk yang ada di Spanyol, mampu memenuhi kotanya dengan beragam produk buah dan sayuran yang sebelumnya tak dikenal di Eropa.

Paling tidak, ada beberapa faktor penyebab revolusi pertanian Islam yang akhirnya sampai ke Spanyol. Yaitu, pengenalan tanaman baru oleh umat Islam, penggunaan irigasi yang intensif, dan penggunaan serta pengolahan tanah yang lebih baik.

Selain itu, faktor lain yang juga sangat menentukan adalah banyaknya karya ilmiah, yang memperkenalkan inovasi pertanian dan ilmu pengetahuan tentang pertanian.


Mereka yang Berjasa

Kemajuan pertanian di wilayah Islam, termasuk di Spanyol, tentu tak lepas dari kontribusi ahli pertanian Muslim. Mereka menyumbangkan pemikiran-pemikirannya dalam buku-buku tentang pertanian. Karya mereka menjadi panduan dalam pengembangan pertanian kala itu.

Abu’l Khair, seorang ahli pertanian di Spanyol pada abad ke-12, misalnya, menulis Kitab Al-Filaha yang berisi tentang hal ihwal pertanian. Dalam kitabnya itu, ia menuliskan empat cara untuk menampung air hujan dan membuat perairan buatan.

Khair menegaskan perlunya penggunaan air hujan untuk membantu proses reproduksi pohon zaitun dengan cara stek. Ia juga menguraikan tentang proses pembuatan gula yang sebelumnya telah diungkapkan ilmuwan lainnya, Ibn Al-Awwam.

Proses pembuatan gula diawali dengan memanen tanaman tebu yang telah dewasa. Lalu, tebu-tebu tersebut dipotong menjadi potongan-potongan kecil yang kemudian dihancurkan dengan cara dimasukkan ke dalam alat penekan.

Setelah itu, ekstrak tebu direbus dalam jangka waktu tertentu lalu hasilnya disaring. Hasil saringan ekstrak tebu itu dimasak lagi sampai tinggal seperempat bagian dari jumlah semula. Kemudian, ekstrak tebu yang terakhir ini dituangkan ke dalam cetakan tanah liat.

Ekstrak tebu yang dimasukkan ke dalam cetakan-cetakan berbentuk khusus itu, disimpan di tempat teduh hingga mengeras atau mengkristal. Langkah selanjutnya, gula dikeluarkan dari cetakan dan dikeringkan di tempat yang teduh.

Gula tersebut digunakan untuk pemanis minuman maupun sebagai bahan campuran membuat makanan atau kue-kue yang sangat lezat. Di sisi lain, sisi tanaman tebu tak dibuang sia-sia. Namun, dijadikan makanan kuda, sebagai sumber kekuatan dan energi.

Ada pula ahli pertanian dari Damaskus Suriah, Riyad al-Din al-Ghazzi al-Amiri (935/1529). Dia menulis sebuah buku tentang pertanian yang perinci. Secara umum, para penulis Arab kuno menuliskan tentang pertanian dalam berbagai subjek.

Di antaranya, soal jenis lahan pertanian dan pilihan tanah, pupuk kandang dan pupuk lain, alat pertanian dan karya budidaya, sumur, mata air, saluran irigasi, tanaman, pembibitan, penanaman, pemangkasan, dan pencangkokan buah.

Mereka juga membahas soal budidaya serealia, kacang-kacangan, sayuran, bunga, umbi-umbian, dan tanaman untuk parfum. Pun, tentang tumbuhan dan hewan beracun serta pengawetan buah.  dya/taq

26
Oct
09

Khazanah : Menengok Revolusi Pertanian

REPUBLIKA, Jumat, 23 Oktober 2009 pukul 01:49:00

Revolusi Pertanian

Negeri-negeri Islam berkembang pesat dan memiliki masyarakat makmur dari hasil pertanian.

Lahan pertanian telah lama menjadi karib umat Islam. Dalam konteks ini, umat Islam tak sekadar mengolah lahan. Namun, mereka juga mengenalkan sistem dan cara pengolahan lahan pertanian secara lebih modern. Termasuk, cara tanam dan penggunaan irigasi.

Bahkan, pada awal abad ke-9, sistem pertanian modern menjadi pusat kehidupan ekonomi dan organisasi di negeri-negeri Muslim. Pertanian di Timur Dekat, Afrika Utara, dan Spanyol, didukung sistem pertanian yang maju.

Sebab, praktik pertanian di sana telah menggunakan irigasi yang baik dan pengetahuan yang sangat memadai. Fakta ini menunjukkan bahwa metode pertanian yang dipraktikkan merupakan metode paling maju di dunia.

Umat Islam memiliki kuda-kuda terbaik, ternak domba, dan kemampuan membudidayakan kebun buah-buahan dan sayuran. Mereka tahu bagaimana cara membasmi serangga dan menggunakan pupuk dengan dosis yang tepat.

Selain itu, mereka juga telah memiliki kecakapan dalam mencangkok pohon dan tanaman untuk menghasilkan varietas baru. Tak heran jika kemudian lahir varietas tanaman yang unggul dan menambahkan keragaman tanaman yang ada.

Sejumlah jenis tanaman yang sebelumnya tak dikenal, juga diperkenalkan oleh umat Islam. Pohon jeruk, misalnya, dibawa umat Islam dari India ke Arab sebelum abad ke-10. Pohon ini kemudian diperkenalkan ke wilayah lainnya.

Pada akhirnya, pohon jeruk ini juga dikenal di Suriah, Asia Kecil, Palestina, Mesir, dan Spanyol. Berawal dari Spanyol, lalu pohon jeruk tersebut menyebar ke seluruh wilayah yang ada di Eropa Selatan.

Budidaya tebu dan pemurnian gula juga disebarkan oleh orang-orang Arab Muslim dari India melalui Timur Dekat, kemudian dibawa tentara Salib ke negara-negara Eropa. Kapas pertama kali dibudidayakan di Eropa oleh bangsa Arab.

Pencapaian umat Muslim dalam bidang pertanian mampu pula diwujudkan di tanah Arab, yang sebagian besar merupakan lahan kering. Ini terwujud dengan menggunakan sistem irigasi yang terorganisasi dengan baik.

Khalifah sebagai pemimpin pemerintahan, membiayai pemeliharaan kanal-kanal besar demi kepentingan pertanian. Sungai Efrat dialirkan ke Mesopotamia, sedangkan air dari Tigris dialirkan ke Persia.

Tak hanya itu, pemerintahan Islam juga membangun sebuah kanal besar yang menghubungkan dua sungai di Baghdad. Kekhalifahan Abbasiyah merupakan dinasti yang memelopori pengeringan rawa-rawa agar digunakan untuk pertanian.

Saat memerintah, mereka pun merehabilitasi desa-desa yang hancur dan memperbaiki ladang yang mengering. Pada abad ke-10, di bawah kepemimpinan pangeran-pangeran Samanid, daerah antara Bukhara dan Samarkand, Uzbekistan berkembang pesat.

Tak heran jika kemudian, daerah tersebut ditetapkan sebagai salah satu dari empat surga dunia. Tiga wilayah lainnya adalah Persia Selatan, Irak Selatan, dan kawasan yang ada di sekitar Damaskus, Suriah.

Berdasarkan catatan sejarah dan komentar para ilmuwan termasuk dari Barat, sistem pertanian pada era Spanyol Muslim merupakan sistem pertanian yang paling kompleks dan paling ilmiah, yang pernah disusun oleh kecerdikan manusia.

Hal ini terjadi karena kaum Muslim memperkenalkan banyak perubahan. Salah satu bukti, pada masa itu seluruh Eropa hancur di bawah perbudakan, namun tanah di bawah kekuasaan Islam mengalami kemajuan pesat di bidang pertanian.

Salah seorang cendekiawan berkebangsaan Inggris, Joseph McCabe, mengungkapkan, di bawah kendali Muslim Arab, perkebunan di Andalusia jarang dikerjakan oleh budak. Tapi, perkebunan dikerjakan oleh para petani sendiri.

Di sepanjang Sungai Guadalquivir, juga terdapat 12 ribu desa yang berkecukupan, bahkan makmur. Revolusi pertanian Islam telah diawali pada abad ke-7. Negeri-negeri Islam berkembang pesat dan memiliki masyarakat makmur dari hasil pertanian.

Para ahli geografi awal mengungkapkan, terdapat 360 desa di Fayyum, sebuah provinsi di selatan Kairo, Mesir, yang masing-masing dapat menyediakan kebutuhan makanan bagi penduduk seluruh Mesir setiap hari.

Di sisi lain, terdapat 12 ribu desa di sepanjang Guadalquivir, Spanyol, yang memiliki lahan pertanian subur. Ada pula 200 desa di sepanjang Sungai Tigris, Irak, yang pertaniannya juga maju.

Bukti lain, yang menunjukkan kemajuan umat Islam di bidang pertanian, yakni adanya sebuah sensus yang dilakukan pada abad ke-8 di Mesir. Dalam sensus itu, dari 10 ribu desa di Mesir, tak ada desa yang memiliki bajak kurang dari 500 unit.

Wilayah-wilayah yang kemudian berada di bawah kekuasaan pemerintah Islam, juga mengalami perubahan ke arah kemajuan yang drastis. Banyak wilayah yang sebelumnya tak maju, namun di bawah pemerintah Islam, kemajuan kemudian terwujud.

Pada masa pra-Islam, Mediteranian kuno pada umumnya hanya bisa memanen tanaman saat musim dingin. Itu pun, satu bidang lahan hanya mampu menghasilkan satu jenis tanaman setiap tahunnya.

Namun, datangnya Islam ke sana membuat segalanya berubah. Sebab, Muslim yang datang ke wilayah itu memperkenalkan berbagai macam tanaman baru. Dengan demikian, garapan pertanian pun kian beragam.

Seorang ahli agronomi Andalusia, seperti Al-Tignarî yang berasal dari Granada, membuat referensi tentang tanaman-tanaman yang memberikan kontribusi besar bagi peningkatan pertanian yang cukup signifikan.

Salah seorang orientalis dari Prancis, Baron Carra de Vaux, bahkan menyebutkan, sejumlah tumbuhan dan hewan yang berasal dari Timur dibawa ke Spanyol oleh umat Islam. Tumbuhan dan hewan itu, kata dia, digunakan untuk beragam kebutuhan.

Jadi, tak hanya untuk keperluan pertanian maupun peternakan, tapi tumbuhan dan hewan itu digunakan juga untuk keperluan pengembangan perkebunan, status kemewahan, perdagangan, dan seni.

De Vaux membuat sebuah daftar. Tumbuhan dan hewan itu adalah tulip, bakung, narcissi, lili, melati, mawar, persik, plum, domba, kambing, kucing Anggora, ayam Persia, sutra, dan katun.
Salah satu tanaman penting yang diperkenalkan oleh umat Islam di Spanyol adalah tebu. Sedangkan kapas, mulai dibudidayakan di Andalusia pada akhir abad ke-11. Andalusia kemudian mampu berswasembada kapas.

Bahkan kemudian, para petani di Andalusia mampu mengekspor kapas hingga ke luar negeri. Di sisi lain, pengenalan tanaman baru kelak melahirkan sistem pertanian yang kompleks. Termasuk, pembangunan irigasi. Semula sebidang lahan hanya menghasilkan sekali panen satu macam tanaman per tahun. Namun, dengan makin beragamnya tanaman dan adanya irigasi, petani mampu panen tiga atau lebih tanaman per tahun.

Dengan produksi pertanian yang semacam ini, penduduk kosmopolitan di kota-kota Islam, termasuk yang ada di Spanyol, mampu memenuhi kotanya dengan beragam produk buah dan sayuran yang sebelumnya tak dikenal di Eropa.

Paling tidak, ada beberapa faktor penyebab revolusi pertanian Islam yang akhirnya sampai ke Spanyol. Yaitu, pengenalan tanaman baru oleh umat Islam, penggunaan irigasi yang intensif, dan penggunaan serta pengolahan tanah yang lebih baik.

Selain itu, faktor lain yang juga sangat menentukan adalah banyaknya karya ilmiah, yang memperkenalkan inovasi pertanian dan ilmu pengetahuan tentang pertanian. n dyah ratna meta novia


Mereka yang Berjasa

Kemajuan pertanian di wilayah Islam, termasuk di Spanyol, tentu tak lepas dari kontribusi ahli pertanian Muslim. Mereka menyumbangkan pemikiran-pemikirannya dalam buku-buku tentang pertanian. Karya mereka menjadi panduan dalam pengembangan pertanian kala itu.

Abu’l Khair, seorang ahli pertanian di Spanyol pada abad ke-12, misalnya, menulis Kitab <I>Al-Filaha<I> yang berisi tentang hal ihwal pertanian. Dalam kitabnya itu, ia menuliskan empat cara untuk menampung air hujan dan membuat perairan buatan.

Khair menegaskan perlunya penggunaan air hujan untuk membantu proses reproduksi pohon zaitun dengan cara stek. Ia juga menguraikan tentang proses pembuatan gula yang sebelumnya telah diungkapkan ilmuwan lainnya, Ibn Al-Awwam.

Proses pembuatan gula diawali dengan memanen tanaman tebu yang telah dewasa. Lalu, tebu-tebu tersebut dipotong menjadi potongan-potongan kecil yang kemudian dihancurkan dengan cara dimasukkan ke dalam alat penekan.

Setelah itu, ekstrak tebu direbus dalam jangka waktu tertentu lalu hasilnya disaring. Hasil saringan ekstrak tebu itu dimasak lagi sampai tinggal seperempat bagian dari jumlah semula. Kemudian, ekstrak tebu yang terakhir ini dituangkan ke dalam cetakan tanah liat.

Ekstrak tebu yang dimasukkan ke dalam cetakan-cetakan berbentuk khusus itu, disimpan di tempat teduh hingga mengeras atau mengkristal. Langkah selanjutnya, gula dikeluarkan dari cetakan dan dikeringkan di tempat yang teduh.

Gula tersebut digunakan untuk pemanis minuman maupun sebagai bahan campuran membuat makanan atau kue-kue yang sangat lezat. Di sisi lain, sisi tanaman tebu tak dibuang sia-sia. Namun, dijadikan makanan kuda, sebagai sumber kekuatan dan energi.

Ada pula ahli pertanian dari Damaskus Suriah, Riyad al-Din al-Ghazzi al-Amiri (935/1529). Dia menulis sebuah buku tentang pertanian yang perinci. Secara umum, para penulis Arab kuno menuliskan tentang pertanian dalam berbagai subjek.

Di antaranya, soal jenis lahan pertanian dan pilihan tanah, pupuk kandang dan pupuk lain, alat pertanian dan karya budidaya, sumur, mata air, saluran irigasi, tanaman, pembibitan, penanaman, pemangkasan, dan pencangkokan buah.

Mereka juga membahas soal budidaya serealia, kacang-kacangan, sayuran, bunga, umbi-umbian, dan tanaman untuk parfum. Pun, tentang tumbuhan dan hewan beracun serta pengawetan buah.  dya

24
Oct
09

Pertanian : Lahan Akan Diaudit

SUARA PEMBARUAN DAILY, 23 Oktober 2009


LahanPertanianDiaudit

[JAKARTA] Lahan pertanian, terutama persawahan, akan diaudit dalam 2,5 bulan ini untuk mendapatkan angka yang akurat. Hal ini berkaitan dengan arah kebijakan pertanian ke depan. Luas lahan persawahan sejak lama tidak bergeser dari angka tujuh juta hektare (ha), padahal sawah yang beralih fungsi mencapai 100.000 ha per tahun.

“Pertambahan luas lahan sawah hanya sedikit, tidak sebanding dengan yang dialihfungsikan untuk keperluan lain di luar pertanian,” ujar Menteri Pertanian Suswono seusai serah-terima jabatan dari Anton Apriyantono, di Jakarta, Kamis (22/10).

Selama ini, papar Suswono, luas lahan pertanian menjadi acuan berbagai kebijakan, antara lain pengembangan benih dan pupuk, penanganan pascapanen, dan produksi padi, ataupun beras. Dia menegaskan, kebijakan bisa meleset jika data awal tidak akurat. Audit lahan pertanian akan melibatkan berbagai tenaga ahli.

Menurutnya, pencapaian swasembada beras pada 2008 dan 2009 merupakan keberhasilan Departemen Pertanian dalam meningkatkan produktivitas lahan persawahan. Dia berharap, produktivitas dapat ditingkatkan dengan pengembangan teknologi, efisiensi, benih unggul, dan pendampingan terus-menerus pada petani.

Tambah Lahan

Berkaitan dengan kebijakan pertanian ke depan, Suswono menyatakan, akan melanjutkan program yang sudah dijalankan menteri sebelumnya, sambil menunggu arahan presiden dalam Program Kerja 100 Hari Kabinet. Hal ini, katanya, agar semua program bisa dipadukan dengan instansi lainnya.

Suswono juga berjanji akan berupaya menambah lahan garapan petani sawah, yang saat ini rata-rata hanya 0,3 ha. Luas lahan yang sempit ini mengakibatkan petani sulit meningkatkan kesejahteraannya. Menurutnya, harus ada peningkatan status dan luas lahan garapan petani, antara lain dengan reforma agraria.

“Harus ada peningkatan lahan garapan, walaupun bukan berarti memiliki lahan sendiri. Lahan garapan idealnya dua hektare per petani. Kita harus bekerja sama dengan berbagai pihak, khususnya Badan Pertanahan Nasional dan pemerintah daerah,” tuturnya.

Selain itu, tegasnya, nilai tambah komoditas pertanian juga harus ditingkatkan, dan industri pascapanen harus banyak dibangun. Selama ini, ungkapnya, produk pertanian yang dijual dan diekspor ke-banyakan dalam bentuk primer, sehingga tidak bernilai tambah dan menumbuhkan industri pengolahan. [S-26]

11
Oct
09

Pertanian : Kedaulatan Pangan Perlu Dukungan Politik

Kedaulatan Pangan Perlu Dukungan Politik

Minggu, 11 Oktober 2009 | 03:31 WIB

Yogyakarta, KOMPAS – Kedaulatan pangan tidak akan tercapai selama persoalan pangan hanya dianggap sebagai urusan Departemen Pertanian. Persoalan pangan mestinya ditangani lembaga setingkat kementerian koordinator yang memiliki dukungan politik kuat.

Guru besar sosial ekonomi industri pertanian Universitas Gadjah Mada, M Maksum, mengatakan, selama ini Dewan Ketahanan Pangan (DKP) hanya menjadi badan kecil di bawah Departemen Pertanian. Padahal, menjamin ketersediaan pangan merupakan persoalan besar yang melibatkan banyak pihak.

”Bubarkan saja DKP. Masalah pangan seharusnya ditangani lembaga setingkat kementerian koordinator sehingga punya kekuatan. Lalu, orientasi harusnya ke kedaulatan, bukan hanya ketahanan pangan,” ujarnya, saat menjadi pembahas dalam seminar nasional bertema ”Kebijakan Umum Ketahanan Pangan”, Sabtu (10/10) di Yogyakarta. Seminar diadakan dalam rangka memeringati Hari Pangan Sedunia Nasional XXIX.

Kebijakan pembangunan saat ini, lanjut Maksum, lebih mementingkan industri manufaktur nonagro dan menganaktirikan sektor pertanian. Pemerintah cenderung memberi subsidi berlebih untuk barang-barang impor yang mendukung kepentingan industri.

”Banyak sumber tepung alternatif lokal, tapi selama harga tepung gandum dimurah-murahkan, produk pangan lokal tidak akan bisa muncul,” katanya.

Dwi Astuti, dari Kelompok Kerja Khusus DKP Nasional, pada kesempatan serupa mengatakan, ketahanan pangan selama ini hanya dimaknai sebagai manajemen ketersediaan pangan. Akibatnya, saat terjadi kekurangan, pangan impor menjadi pilihan utama, tanpa melihat potensi pangan lain di daerah. Ini berbeda dengan konsep kedaulatan pangan yang mengasumsikan negara punya hak penuh untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri tanpa didikte pihak lain. ”Apalagi saat ini ketahanan pangan hanya difokuskan pada lima komoditas makanan sehingga makanan lain terabaikan,” katanya.

Sementara itu, Kepala DKP Departemen Pertanian Ahmad Suryana menjelaskan, kebijakan umum ketahanan pangan memang difokuskan pada lima komoditas, yakni beras, kedelai, jagung, tebu, dan daging sapi. Tahun ini, sebagian target pemenuhan ketersediaan pangan sudah tercapai, terutama untuk komoditas beras.

”Tapi, sekarang sudah ada keputusan presiden tentang diversifikasi pangan berbasis pangan lokal. Aturan tersebut bisa dipakai untuk mempercepat diversifikasi pangan,” ujarnya. (ARA)

03
Oct
09

Pertanian : Papua Akan Jadi Lumbung Asia

PRODUKSI PANGAN
Papua Akan Jadi Lumbung Asia

Sabtu, 3 Oktober 2009 | 04:09 WIB

Jakarta, Kompas – Indonesia mendapatkan dukungan Jepang untuk menjadikan Papua sebagai lumbung pangan Asia karena salah satu wilayahnya, yakni Merauke, dinyatakan tepat dijadikan sebagai lahan baru pengembangan pertanian pangan dengan luas awal 500.000 hektar. Jepang bersedia membantu menyediakan atau mencarikan anggaran untuk membangun pelabuhan laut di Merauke senilai 250 juta dollar AS atau Rp 2,5 triliun agar kawasan itu dapat diakses secara maksimal.

Deputi Bidang Koordinasi Pertanian dan Kelautan Menko Perekonomian Bayu Krisnamurthi mengungkapkan hal tersebut di Jakarta, Jumat (2/10), saat memaparkan hasil pertemuan tingkat dunia bertema ”Promoting Responsible International Investment in Agriculture” di New York, Amerika Serikat, 23 September 2009.

Dalam pertemuan itu, Indonesia diundang Pemerintah Jepang karena dinilai memiliki potensi pengembangan pangan dan sudah memiliki kebijakan ketahanan pangan secara serius dalam beberapa tahun terakhir ini. Investasi pangan diarahkan ke negara yang memiliki lahan dan kecukupan air sehingga Indonesia dinyatakan layak untuk menjadi lumbung pangan.

Bayu menyebutkan, pihak Jepang sudah mengidentifikasi tiga wilayah yang dianggap layak untuk dijadikan sasaran investasi pangan, yaitu Papua, Sulawesi, dan Kalimantan. Sulawesi memiliki kelemahan karena jumlah lahannya lebih sedikit dibanding Papua. Adapun Kalimantan terbatas karena sudah padat.

Atas dasar itu, pilihan utama diarahkan ke Merauke. Kawasan ini memiliki lahan yang siap dijadikan wilayah pengembangan pangan seluas 3 juta hektar. Namun, pada tahap awal pemerintah hanya menyiapkan 500.000 hektar.

Dengan 500.000 hektar itu, produksi beras minimal 3 juta ton per tahun. Saat ini, sudah ada beberapa perusahaan swasta yang mencoba berinvestasi pangan di sana, yaitu Medco, Kelompok Sinar Mas, Wilmar, dan PT Bangun Cipta Sarana, tetapi masih terbatas pada lahan 3.000-5.000 hektar.

”Kalau ingin mengembangkan Merauke, perlu ada pelabuhan. Dana yang dibutuhkan 250 juta dollar AS. Perusahaan Jepang, Mitsubishi, bersedia mendorong promosi Papua sebagai lumbung pangan Asia,” ujar Bayu.

Bayu mengatakan, investasi pangan tidak mudah karena harus memikirkan ketersediaan lahan, kecukupan air, dan potensi konflik dengan petani kecil. Namun, Indonesia memperkirakan, khusus untuk membangun infrastruktur pertanian dibutuhkan dana 10 miliar dollar AS atau Rp 100 triliun. (OIN)

 

19
Sep
09

Pertanian : Masuk Sektor Strategis

Pertanian Masuk Sektor Strategis

Sabtu, 19 September 2009 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas – Pertanian merupakan salah satu sektor sangat strategis dalam mendukung pembangunan ekonomi. Karena menjadi gantungan hidup lebih dari 100 juta penduduk Indonesia.

Menurut guru besar Ilmu Ekonomi Institut Pertanian Bogor, Hermanto Siregar, Jumat (18/9) di Bogor, Jawa Barat, selain menyerap lebih dari 44 persen total angkatan kerja, sektor pertanian juga penting dalam penyediaan pangan bangsa.

”Negara belum bisa dikatakan berdaulat kalau belum berdaulat atas pangan,” kata Hermanto.

Karena sifatnya yang strategis, sektor pertanian hendaknya ditangani profesional dan jauh dari kepentingan jangka pendek. Selain sektor pertanian, dalam bidang ekonomi sektor strategis lainnya adalah Departemen Keuangan dan Departemen Perindustrian. Departemen Perindustrian sangat strategis meningkatkan nilai tambah produk.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelumnya mengatakan, selaku kepala pemerintahan yang dipilih rakyat, ia tidak akan memilih tokoh dan orang di kalangan partai politik untuk menempati jabatan penting dan strategis dalam kabinet mendatang (Kompas, 18/9).

Harapan agar sektor pertanian ditangani serius juga datang dari Forum Pangan dan Pertanian Indonesia. Forum, antara lain, beranggotakan praktisi perunggasan, peternak sapi-kerbau, pengusaha hortikultura, petani kedelai, ataupun organisasi tani.

Menurut Ketua Perhimpunan Sapi Kerbau Indonesia Teguh Boediyana, kabinet mendatang harus dapat dipertanggungjawabkan, baik kinerja kelembagaannya maupun perseorangan.

”Harus ada reevaluasi terkait berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan pemerintah untuk pertanian dan apa capaiannya,” katanya. Swasembada sapi, misalnya. Semula ditargetkan 2010, tetapi kini mundur tahun 2014.

Sekretaris Jenderal Dewan Jagung Nasional Maxdeyul Sola mengatakan, dalam era otonomi sekarang menteri pertanian tidak punya tangan yang bisa menjangkau ke daerah. ”Kalau menterinya tidak profesional, akan lebih parah lagi,” katanya.

Ketua Dewan Hortikultura Nasional yang juga Ketua Dewan Kedelai Nasional Benny A Kusbini menyatakan, Presiden tidak bisa lagi main-main menentukan Menteri Pertanian mendatang. ”Menteri Pertanian harusnya memiliki kredibilitas tinggi, negarawan, dan mampu menjalankan apa yang sudah digariskan pemerintah,” katanya. (MAS)




Blog Stats

  • 1,269,499 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers