Posts Tagged ‘Agricultural

27
Feb
14

Pertanian : Teknologi Kesuburan Tanah

Berita Terkini
Kamis, 27-02-2014 15:20

Unsoed Temukan Teknologi Pertanian Kesuburan Tanah


Ali Zum Mashar

Ali Zum Mashar

PESATNEWS – Teknologi ini dilindungi  International dan Nasional Patent sebagai karya besar dari seorang penemu muda Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Dr.Ir.Ali Zum Mashar,M.A,M.S.,ID dalam membuat trobosan dalam mengatasi permasalahan “levelling off” produktivitas hasil pertanian pangan dan penurunan kesuburan lahan dengan cara hayati yang terbukti spektakuler hasilnya.

Berkat ketekunannya dalam menciptakan dan menerapkan karya penemuan yang sangat bermanfaat bagi pembangunan pertanian tersebut, dan atas keberhasilannya mengimplementasikan ke dalam industri Bioteknologi modern seperti dalam menghasilkan pupuk hayati, Probiotik Agent, Biopestisida, dan Bioregulator  of Soil untuk pembangunan pertanian yang maju dan berkelanjutan penemu mendapatkan anugerah yang diberikan dari Presiden R.I. yaitu KALYANAKRETYA yaitu sebagai Ilmuwan nasional yang unggul dan berjasa besar bagi Negara di bidang teknologi pertanian dan agro industri atas karyanya yang bermanfaat, terbukti dan terterapkan.

Penemuan teknologi ini berhubungan dengan proses teknologi hayati dan fingger printing mikroorganisme yang “di-mutan-kan” dan dikonsorsiumkan dari 18 strain mikroba unggul bermanfaat.  Disain industri Bioteknologi yang diciptakan, teknik, proses, dan komposisinya yang sedemikian rupa  mampu “men-sinergi-kan” mikroorganisme unggul berguna dari alam ke dalam larutan inhibitor sehingga mikroba mati suri di dalam kemasan yang mudah diaktifkan kembali hanya dengan menambahkan gula dan urea untuk digunakan.

Dengan demikian, sangat efektif dan cepat dalam mengatasi pencemaran, netralisir dan peningkatan kesuburan tanah, kualitas air dan lingkungan, memacu petumbuhan dan produksi tanaman pangan dan ternak.  Produk ramu dari penemuan ini  telah di komersialisasi  untuk tujuan pembangunan pertanian berkelanjutan yang dikenal dengan merek pupuk hayati Bio P 2000 Z dan turunan-turunannya.

Aplikasi pupuk hayati Bio P 2000 Z ini untuk pertanian telah terbukti efektif meningkatkan pH air dan tanah  secara alamiah tanpa penambahan kapur maupun dolomit seperti pada tanah gambut dan sulfat masam dari pH 3,1 menjadi pH 5,5 sampai pH 6,5 dalam waktu 45 hari sampai 120 hari setelah aplikasi disaping mampu meredam racun tanah dan merubah tanah tersebut menjadi sesuai untuk pertanian produktif.

Pupuk Bio P 2000 Z signifikan pula dalam meningkatkan kesuburan tanah marginal dalam waktu yang relatif singkat seperti pada tanah gambut, pasir (kuarsa), PMK, sulfat masam dan tanah berbatu kapur di pegunungan kapur sehingga menjadi gembur dan subur untuk usaha pertanian.

?????????????????????????????????????????????

 

 

 

 

 

 

 

Dengan mengaktifkan proses keseimbangan mikrobiologi, yang akan terjadi  pada tanah adalah mikroba dari pupuk ini membentuk bahan organik yang hidup, dinamis, dan berkesetimbangan di dalam tanah untuk memperkaya/meningkat bahan organik mikro yang komplek.  Oleh jenis mikroba  khusus yang lain menghasilkan sekresi bahan bio aktif  dan mineral aktif seperti bio phosfat, kalium aktif dan mineral penting lain, melakukan penguraian kembali  secara gradual bahan organik komplek seperti lignin dan selulosa menjadi nutrisi dan energi bagi tanaman dan mikroba.

Kecanggihan dalam formulasi konsorsium  mikroba ini mampu membuat perimbangan di dalam setiap satu ml terdapat 2 – 5 x 1010 sel mikroba, termasuk mutan mikroba unggul yang mampu melakukan fiksasi N secara simbiotik maupun bebas, berfotosintesis untuk menghasilkan energi bagi mikroba lainnya dan sinergi yang saling menguntungkan bagi tanaman, tanah dan mikroba.

Kesetaraan manfaat  pupuk mikroba hayati ini jika telah diaktifkan di dalam tanah setiap satu liternya akan setara dengan manfaat fisik pemberian  pupuk kimia 150 – 200 kg pupuk Urea, 40 – 50 kg pupuk phosfat alam dan 30 – 40 pupuk Kalium disamping akan memperkaya tanah dengan bahan organik dan unsur hara mikro lain  yang juga disintesisnya.

Sifat  dan cara kerja ramuan mikroba hasil penemuan ini  adalah  mengatur keseimbangan  mikro-ekologi di sekeliling tanaman budidaya, membuat biofabrikasi hara di tanah dan permukaan tanaman, menghasilkan zat Bio Aktif  yang  memacu terjadinya “perforasi” pada sel/jaringan  tanaman sebagai proses untuk menyederhanakan penyerapan nutrisi dan energi sehingga  memacu pertumbuhan dan produksi maksimal tanaman atau ternak budidaya.

Manfaat untuk budidaya pada tanaman pangan  seperti pada kedelai mampu meningkatkan produksi rata-rata sampai 300 %; di tingkat lapangan (petani) yaitu 3,5 – 4,5 ton/ha dari rata-rata 1,2 ton/ha (di Indonesia).

Dalam laboratorium telah dibuktikan bahwa pemacuan dengan penyemprotan yang intensif dengan mikroba-mikroba ini menghasilkan tanaman kedelai lokal nasional, introduksi (seperti edamame yang berbiji besar) menjadi tertinggi mencapai  2,85 meter – 4,50 meter dengan kelebatan buah polong normal 2.300 – 2.800 polong  per tanaman;  bahkan dalam percobaan yang terakhir menghasilkan polong sebanyak 3.027 polong per tanaman.

Dibanding dengan normal tanaman kedelai umumnya yang hanya tinggi 70 cm dengan  40- 80 polong per tanaman, maka secara matematis bisa di taksir potensi produksi atas peningkatan  produksi yang terjadi adalah 20 sampai  30 kali lipat hasil panen kedelai normal atau setara dengan 20 – 45,5 ton/ha ose biji kedelai kering.

Untuk mencapai hasil maksimal tersebut cara aplikasi  Bio P 2000 Z di dalam riset adalah dengan mengaplikasikan  secara rutin  dengan cara penyemprotan dan penyiraman 3 (tiga) hari sekali, cukup air (tanah lembab) dan tanaman betul-betul di jaga agar  bebas dari gangguan serangan hama dan penyakit penghambat pertumbuhan.

Atas manfaat yang luar biasa dari pupuk penemuan baru ini, oleh DPR R.I. diputuskan sebagai produk unggulan Nasional yang saat ini mulai dimanfaatkan oleh Departemen Pertanian R.I. untuk upaya-upaya meningkatkan produktivitas dalam mencapai kemandirian pangan.

Dibuktikan pula bahwa Peningkatan yang signifikan terjadi juga pada tanaman pangan lain seperti pada jagung di lapangan mampu meningkat sampai 18 ton/ha dari normal 8 ton/ha, padi hibrida long ping  dapat panen 14 ton/ha dan juga pada kacang-tanah, tanaman buah seperti jeruk, durian, sawit, dan lainya sehingga dianjurkan dan direkomendasikan untuk pertanian organik.

Cara menggunakannya sangat mudah yaitu dengan cara mengencerkan di dalam larutan air yang diberi gula sukrosa dan urea, lalu disemprotkan/disiramkan ke tanah dan seluruh bagian tanaman. Mengaktifkan bahan microbial di atas dengan cara fermentasi juga dengan menambahkan sukrosa dan urea sebagai aktivatornya dalam media air 100 – 200 kali dari larutan murni Bio P 2000 Z yang dipakai.

Disamping cara fermentasi yang umum dipakai petani sekarang dengan pemberian Pro Bio N maupun SUPER JET  sebagai nutrisi instan mikroba  Bio P 2000 Z yang dapat digunakan untuk cara aplikasi langsung tanpa  fermentasi.  Kandungan bahan  aktif pupuk hayati Bio P 2000 Z adalah: Bio Agent, Bio Aktif dan Bio Plus yang bisa aktif di permukaan tanaman dan di dalam tanah yang lembab.

Produk teknologi Bio P 2000 Z ini telah dikomersialisasikan  sejak tahun  2000.  Industri pupuk ini telah dibangun dalam skala besar sebagai Industri Bioteknologi yang terbesar di Asia.  Kapasitas terpasang pabrik adalah 10.000 liter per hari dalam bentuk konsentrat  sel  mikroba  yang dipatenkan.  Kapasitas ini dapat memberikan manfaat di lapangan setera dengan 2.000 ton produksi Urea per hari atau 40.000 ton produksi Urea per bulan  atau 480.000 ton per tahun bila diaplikasikan untuk  pertanian.

Sebagai teknologi hasil penemuan unggulan peneliti bidang Bioteknologi hayati Indonesia patut dijadikan kebanggaan nasional.  Apalagi  penemunya adalah peneliti muda selalu berusaha memberikan karya-karya terbaiknya untuk kemajuan masyarakat dan Negara.  Penemu menyampaikan masih banyak karya-karyanya yang hendak diwujudkan dalam industri nasional setelah  dipatenkan.

Beberapa penemuan barunya dibidang mikrobiologi adalah Strain mikroba pemecah limbah minyak bumi dan untuk bio pertisida yang sudah diteliti sampai DNA analyzer akan segera dipatenkan;  galur-galur kedelai mutasi dan persilangan yang memiliki potensi unggul produktivitas  sebanyak lebih dari 30 galur baru kedelai calon varietas  unggul produksi, tahan kekeringan, dan berumur relative pendek  yang sedang dalam proses multiplikasi dan seleksi.  Langkah-langkah penemuan lain yang hampir selesai. (gun)

Foto 2

Editor : zafira

05
Dec
13

Kepemimpinan : Pertanian Indonesia Warisan Dunia

Indonesia Rintis Sistem Pertaniannya Jadi Warisan Dunia

 

Beijing (Antara) – Indonesia kini sedang merintis pelestarian sistem pertanian tradisionalnya, untuk menjadi salah satu warisan penting sistem pertanian global (Globally Important Agricultural Heritage System/GIAHS), kata Asisten Deputi Urusan Pemberdayaan Masyarakat Kemenko Kesra Pamuji Lestari.

Ditemui Antara di Beijing, Kamis, Pamuji Lestari mengatakan pihaknya telah bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor untuk menyusun wilayah pertanian mana saja yang akan dijadikan “site” GIAHS di Indonesia.

“Ada lima wilayah yang kami jajaki yakni Karangasem (Bali), Samarinda (Kaltim), Kulonprogo (Yogyakarta), Lampung, Makassar (Sulsel). Masing-masing daerah memiliki potensi agrikultur berbeda seperti Kulonprogo dengan kapulaga, Lampung dengan kopinya, dan sebagainya,” kata Pamuji.

Kelima wilayah itu, lanjut dia, akan didiskusikan kembali dengan kementerian teknis lainnya seperti Kementerian Pertanian, Perikananan dan Kelautan serta Kementerian Kehutanan.

“Siapa tahu mereka memiliki masukan atau wilayah lain yang juga berpotensi sistem agrikulturnya, dijadikan warisan dunia,” katanya.

Upaya Indonesia untuk menjadikan sistem agrikulturnya sebagai warisan penting dunia, juga mendorong pembangunan agrikultur yang ramah lingkungan, sesuai potensi daerahnya, sekaligus menjamin terwujudnya ketahanan pangan nasional dan juga dunia.

“Kehidupan petani, nelayan dan lainnya yang terlibat langsung dalam agrikultur juga terangkat, lebih dihargai, termasuk UMKM, karena sektor yang mereka garap sudah menjadi warisan dunia yang mau tidak mau harus kontinu dilakukan, dikembangkan secara profesional tanpa meninggalkan tradisi, ramah lingkungan sesuai karakter serta potensi agrikultur masing-masing daerah,” tutur Pamuji.

Organisasi Pangan Dunia (FAO) dengan 185 negara anggota kini telah menetapkan 26 negara yang telah berhasil menjadikan sistem pertanian sebagai warisan penting dunia, termasuk Jepang dan China.

Indonesia kini menjadi salah satu dari 14 negara berpotensi untuk ditetapkan sebagai negara dengan sistem agrikultur yang penting sebagai warisan dunia.

“Untuk itulah kami melakukan kunjungan ke China untuk melihat langsung bagaimana mereka membangun sistem agrikulturnya menjadi salah satu warisan penting dunia,” kata Pamuji.

Untuk melindungi dan mendukung sistem agrikultur di dunia, pada 2002 FAO berinisiatif melakukan konservasi sistem pertanian sebagai warisan penting dunia.

 

GIAHS mempromosikan pemahaman publik, kesadaran, pengakuan nasional dan internasional tentang warisan sistem pertanian sekaligus menjaga nilai sosial, budaya, ekonomi dan lingkungan.

Dengan inisiatif GIAHS, semua pemangku kepentingan juga dituntut untuk menumbuhkan pendekatan terpadu antara sistem agrikultur berkelanjutan dengan pembangunan pedesaan, kampung nelayan, sesuai potensi, nilai sosial budaya ekonomi masing-masing daerah dan ramah lingkungan serta produk yang dihasilkan tidak saja berdaya guna bagi masyarakat setempat tetapi juga penting bagi dunia.(rr)

 

 

19
Oct
13

Pertanian : Ironi Negeri Agraris

Ironi Negeri Agraris

Tajuk Rencana | Kamis, 17 Oktober 2013 – 11:40 WIB

: 168

 


(dok/antara)
Ilustrasi.
Merosotnya jumlah keluarga petani disertai dengan meningkatnya angka kemiskinan di pedesaan.

 

Indonesia tampaknya sudah tak layak menyebut diri sebagai negeri agraris. Bukan semata fakta bahwa negeri ini terus-menerus melakukan impor beras yang dipatok sebagai sumber pangan utama rakyat, tapi juga karena fakta bahwa jumlah petani di negeri ini terus berkurang.

Hasil sensus pertanian tahun 2013 menunjukkan, jumlah rumah tangga petani menurun dari 31,17 juta rumah tangga pada 2003 menjadi 26,13 juta rumah tangga pada 2013. Jadi dalam 10 tahun, kita kehilangan 5,07 juta rumah tangga petani.

Apa arti penurunan ini? Badan Pusat Statistik menyebut “hilangnya” para petani karena mereka beralih profesi ke sektor lain, seperti perdagangan atau perindustrian. Menurut Kepala BPS, Suryamin, ini bukan fakta mengkhawatirkan karena kemajuan sebuah bangsa bisa dilihat dari tren pergeseran penduduknya dari sektor usaha pangan yang primer ke sektor jasa yang lebih sekunder. Benarkah?

Kekhawatiran memang tidak perlu terjadi jika penurunan jumlah petani ini seiring dengan meningkatnya angka kesejahteraan di pedesaan. Namun data BPS menunjukkan hal sebaliknya. Merosotnya jumlah keluarga petani ini disertai dengan meningkatnya angka kemiskinan di pedesaan.

Data BPS menyebut, tahun ini saja terdapat 18,48 juta jiwa penduduk miskin pedesaan. Ini lebih besar dari jumlah penduduk miskin kota sebesar 10,65 juta jiwa. Jumlah ini akan bertambah seiring dengan adanya konversi alih lahan. Angka konversi lahan sendiri sebesar 100.000 hektare (ha) per tahun.

Data-data ini membuat kita perlu khawatir terhadap eksistensi kita sebagai negara agraris. Kebingungan seorang ahli pertanian China beberapa waktu lalu yang tidak paham bagaimana Indonesia bisa impor gula padahal memiliki lahan perkebunan yang cukup besar, mestinya melecut kita untuk melakukan instropeksi. Apa yang salah dan apa yang belum atau tidak pernah kita lakukan?

Bisa saja kita menyalahkan faktor musim yang membuat produksi pertanian turun sehingga membuat keluarga petani beramai-ramai pandah “profesi” sebagai buruh di kota atau makelar perkebunan atau pedagang kecil yang modalnya didapat dari jualan lahan pertanian.

Namun tentu saja faktor musim tidak bisa dipakai sebagai “pembenaran” untuk merosotnya produksi pertanian kita.

Kita harus punya kekritisan, sekaligus kearifan, untuk melihat bahwa selain faktor musim, merosotnya produksi pertanian kita juga dipicu oleh cekaknya modal petani, kepemilikan lahan yang sempit, minimnya penguasaan teknologi pertanian, dan distribusi hasil pertanian yang kacau balau, baik karena kondisi geografis yang tidak ditunjang infrastruktur memadai maupun karena iklim usaha yang tidak berpihak pada petani kecil.

Faktor-faktor inilah yang mestinya bisa kita benahi dengan mendayagunakan sumber daya yang ada dan menelurkan berbagai kebijakan pertanian yang komprehensif dan tidak tambal sulam.

Namun syarat untuk sampai ke sini adalah keberpihakan terhadap para petani, fokus pada target kedaulatan pangan, kemampuan memahami situasi secara objektif dan tahu persis apa yang bisa menggerakkan seluruh daya upaya ke target tersebut. Jika tidak, kita akan terus-menerus diombang-ombing dalam ketidaktentuan dan gampang menyalahkan hal-hal di luar lingkup kemampuan kita.

Akan menjadi sangat ironis bahwa setelah mencapai usia 68 tahun merdeka, kita malah terseret sebagai negara pengimpor pangan dan makin jauh dari kedaulatan pangan.

Di saat negara-negara lain mulai menguatkan produksi dalam negeri mereka untuk memasuki gelanggang pasar bebas, kita malah berlomba “menelanjangi” seluruh kedaulatan kita dari sektor pangan hingga energi.

Sumber : Sinar Harapan
30
Dec
12

IpTek : Pranata Mangsa, Prinsip Kearifan Lokal (PKL) Nusantara

PRANATA MANGSA DAN CANDRA NYA

BERDASARKAN PERHITUNGAN KALENDER JAWA KUNO

9 Januari 2011

mgs

1.  Mangsa Kasa/Sura :

Candrane : Sotya murca saking embanan. Sotya =mutiara, murca = hilang. Pindhane mutiara coplok saka embane. Akeh godhong padha rontok, wit-witan padha ngarang. Awal mangsa ketiga.

Umure : 41 dina. 22 Juni – 1 Agustus.

2. Mangsa Karo :

Candrane : Bantala rengka.Bantala = lemah, rengka = pecah. Lemah-lemah padha nela.Mangsane paceklik larang pangan.

Umure : 23 dina. 2 Agustus – 24 Agustus.

3. MangsaKatelu:

Candrane : Suta manut ing bapa. Suta = anak. Pindhane anak manut marang bapake. Pungkasane mangsa ketiga. Lung-lungan, bangsane gadung, wi, gembili padha mrambat.
Umure : 24 dina. 25 Agustus – 17 September

4. Mangsa Kapat :

Candrane : Waspa kumembeng jroning kalbu. Waspa = eluh, kumembeng = kembeng, kebak, kalbu = ati. Pindhane eluh kebak ing jerone ati. Sumber padha garing.Awal mangsa labuh.

Umure : 25 dina. 18 Sptember – 12 Oktober.

5. Mangsa Kalima:

Candrane: Pancuran mas sumawur ing jagat. Mas pindane udan. Wiwit ana udan.

Para among tani wiwit padha nggarap sawah.

Umure : 27 dina. 13 Oktober – 8 Nopember.

6. Mangsa Kanem :

Candrane : Rasa mulya kasucian. Pindhane mulya-mulya rasa kang suci. Woh-wohan bangsane pelem lsp wiwit padha awoh. Pungkasane mangsa labuh. Udan wiwit

akeh lan deres.

Umure : 43 dina. 9 Nopember – 21 Desember.

7. Mangsa Kapitu :

Candrane : Wisa kentir ing maruta. Wisa = racun, penyakit; kentir = keli, katut ; maruta = angin. Pindhane : Penyakit akeh, akeh wong lara.

Umure : 43 dina. 22 Desember – 2 Pebruari.

8. Mangsa Kawolu :

Candrane : Anjrah jroning kayun. Anjrah = sumebar, warata; kayun = karep, kapti. Pindhane akeh pangarep-arep. Para among tani padha ngarep-arep asile tanduran. Wit pari padha mbledug.

Umure: 26 dina. 3Pebruari – 28 Pebruari.

9. Mangsa Kasanga :

Candrane : Wedharing wacana mulya. Wedhar = wetu; wacana = pangandikan, swara, uni; mulya = mulia, endah. Pindhane akeh swara kang keprungu endah, kepenak. Garengpung padha muni, gangsir padha ngethir, jangkrik padha ngerik.

Umure: 25dina. 1 Maret – 25 Maret.

10.  Mangsa Kasepuluh/Kasadasa :

Candrane : Gedhong mineb jroning kalbu. Pindhane akeh kewan padha meteng. Kucing padha gandhik.Manuk padha ngendhog.

Umure : 24 dina. 26 Maret – 18 April.

11.  Mangsa Dhesta :

Candrane : Sotya sinarawedi. Sotya = mutiara; sinarawedi = banget ditresnani (?). Pindhane kaya mutyara kang banget ditresnani. Mangsane manuk ngloloh anake. Mangsa mareng.

Umure : 23 dina. 19 April – 11 Mei.

12.  Mangsa Sada :

Candrane : Tirta sah saking sasana. Tirta = banyu; sah = ilang; sasana = panggonan. Pindhane wong-wong ora kringeten jalaran mangsa bedhidhing (adhem). Akhir mangsa mareng.

Umure : 41 dina. 12 Mei – 21 Juni.

Membaca Pranata Mangsa

Posted by usthof on 2 Januari 2011

JAUH sebelum Hindu menjamah Nusantara, nenek moyang kita telah berhasil mengembangkan suatu teknik penanggalan dalam dunia pertanian. Teknik itu bernama Pranata Mangsa yang berarti Pedoman Musim. Diwariskan dari generasi ke generasi secara oral, diperkirakan teknik ini sudah berusia dua milenium. Baru pada 1856, Sri Susuhunan Pakubuwana VII mengodifikasikan secara rapi teknik tradisional ini dalam sebuah buku. Judulnya tegas: Pranata Mangsa.

Pranata Mangsa tergolong penemuan brilian. Kompleksitasnya tak kalah bobot dari sistem penanggalan yang ditemukan bangsa Mesir Kuno, China, Maya, dan Burma. Lebih-lebih jika dibandingkan dengan model Farming Almanac ala Amerika, Pranata Mangsa jauh lebih maju. Di dalam Pranata Mangsa, tulis Daldjoeni, terdapat pertalian yang mengagumkan antara aspek-aspeknya yang bersifat kosmografis, bioklimatologis yang mendasari kehidupan sosial-ekonomi dan sosial-budaya masyarakat…Pranata Mangsa mencerminkan ontologi menurut konsepsi Jawa serta akhetip alam pikiran Jawa yang dilukiskan dalam berbagai lambang yang berupa watak-watak Mangsa dalam peristilahan kosmologis yang mencerminkan harmoni antara manusia, kosmos, dan realitas (Penanggalan Pertanian Jawa Pranata Mangsa, tanpa tahun, halaman 5-6).

Buku yang ditulis Sindhunata ini adalah refleksi yang menarasikan Pranata Mangsa sebagai sebuah kekayaan tak terpermanai dalam khazanah agrikultur Nusantara. Buku ini sangat berwarna karena digenapi dengan aneka lukisan tematik dan kisah-kisah rakyat yang hidup dalam masyarakat agraris.

Siklus Penanggalan

Dalam siklus satu tahun (365 hari), terdapat 12 mangsa dengan simbol berbeda-beda. Dua belas mangsa itu adalah: Kasa (bintang Sapigumarah), Karo (Tagih), Katelu (Lumbung), Kapat (Jarandawuk), Kalima (Banyakangkrem), Kanem (Gotongmayit), Kapitu (Bimasekti), Kawolu (Wulanjarangurum), Kasanga (Wuluh), Kasapuluh (Waluku), Dhesta (Lumbung), dan Saddha (Tagih).

Letak masing-masing mangsa bisa diketahui dengan membagi satu tahun dalam empat mangsa utama, yakni: mangsa terang (82 hari), semplah (99 hari), udan (86 hari), dan pengarep-arep (98 hari).

Terdapat pula empat mangsa utama lain yang simetris dengan pembagian ini: mangsa katiga (88 hari), labuh (95 hari), rendheng (94 hari), mareng (88 hari).

Nama tiap mangsa sesungguhnya dibuat berdasarkan watak masing-masing. Watak mangsa Kawolu, misalnya, yang berbunyi anjrah jroning kayun (sesuatu yang merebak dalam kehendak). Pada mangsa ini kondisi meteorologis sinar matahari 67%, lengas udara 80 %, dan curah hujan 371,8 mm. Kucing-kucing memasuki musim kawin. Hujan yang turun membasahi bumi menjadi tabungan pengairan kelak saat kemarau.

Sementara mangsa Saddha dengan watak tirta sah saking sasana (air lenyap dari tempatnya) menandai kedatangan musim kemarau. Bahkan, tiap mangsa juga memiliki dewa masing-masing. Nama-nama dewa seperti Wisnu, Sambu, Rudra, Yomo, Metri, hingga Gana menjadi tanda bahwa tiap mangsa memiliki pola kehidupan, kekuasaan, dan wewenang yang berbeda.

Pranata Mangsa menjadi pedoman bagi petani dalam mengolah tanaman. Mulai pilihan jenis tanaman yang sesuai, hingga patokan periode menanam, membajak sawah, sampai memanen. Misalnya saat mangsa Katiga, ketika pohon bambu, gadung, temu, dan kunyit sedang tumbuh, pada masa inilah tanaman palawija mulai dipetik. Contoh lainnya, waktu yang baik untuk menanam padi dimulai adalah pada mangsa Kapitu, bersamaan dengan turun air hujan.

Periode-periode musim itu secara teratur mengalami perulangan setiap tahun. Dengan mengamati kemunculan rasi-rasi bintang yang berubah dari waktu ke waktu, petani memiliki patokan untuk menentukan awal dan akhir dari sebuah mangsa. Panjang bayangan pada siang hari juga menjadi patokan. Petani bahkan mesti peka merasakan arah desir dan gerakan angin karena udara juga mengalami penyesuaian terhadap perjalanan matahari sepanjang tahun.

Dengan demikian, Pranata Mangsa pada dasarnya bukanlah mitos atau takhayul. Ia justru merupakan abstraksi ilmiah karena disusun berdasar pengamatan yang seksama terhadap watak dan perilaku alam (empiris).

Bukti penghitungan ilmiah itu terlihat dalam penentuan permulaan mangsa Kasa yang terjadi pada saat matahari berada di zenith garis balik utara Bumi (tropic of Cancer, 22 Juni). Sementara mangsa Kapitu dimulai pada 22 Desember saat matahari ada di zenith garis balik selatan bumi (tropic of capricorn).

Kedaulatan Agrikultur

Dengan Pranata Mangsa, dunia pertanian di Jawa pernah mengalami kemajuan pesat. Kesejahteraan meningkat sehingga dunia kesenian pun bergairah. Banyak bentuk kesenian yang sangat berkaitan dengan pertanian seperti, Wiwit, yakni upacara tradisi yang menandai dimulai panen padi hingga Merti Bumi atau bersih desa yang disertai dengan seni Gejog Lesung. Pagelaran Wayang juga banyak menampilkan legenda-legenda seperti Dewi Sri dan Saddana. Bahkan, Pranata Mangsa juga sangat menopang kebesaran kerajan Mataram Lama, Pajang, dan Mataram Islam. Tak hanya untuk bertani, Pranata Mangsa juga menjadi pedoman untuk menjalankan kegiatan perdagangan, pemerintahan, dan bahkan militer.

Pranata Mangsa pada dasarnya merefleksikan sikap hidup petani yang manyatu dengan alam (manunggal atau nyawiji). Alam bukanlah lawan yang harus ditaklukkan, bukan pula objek garapan yang diperas habis-habisan, juga bukan barang mati yang bisa diperlakukan sesuka hati. Alam tak lain adalah teman yang dicintai. Sikap hidup menyatu dengan alam itu membuat petani memahami watak dan perilaku alam. Kegembiraan alam adalah kegembiraan manusia. Kesedihannya adalah kesedihan manusia juga. Demikian pula sebaliknya.

Saya pernah belajar dari Mbah Slamet dan Mbah Murdjiyo, dua sosok petani organik yang masih menghayati Pranata Mangsa dalam aktivitas pertanian mereka. Keduanya sama-sama mengeluh bahwa Pranata Mangsa semakin ditinggalkan bukan hanya lantaran kecenderungan mekanistis di kalangan petani sekarang, namun juga pemanasan global yang membuat iklim dan cuaca jadi tak menentu.

Generasi petani sekarang barangkali sudah sangat asing dengan Pranata Mangsa. Tanpa bermaksud melakukan generalisasi, pudarnya Pranata Mangsa di kalangan petani menandakan betapa kodrat agrikultur bangsa ini sudah kian tergerogoti. Yang dimaksud agrikultur bukan sekadar bercocok-tanam, melainkan keseluruhan sikap mental, pendirian jiwa, pandangan hidup, dan tata laksana yang terpateri dalam keseharian petani.

Dalam ancaman global warming, Pranata Mangsa memang kian kehilangan relevansi. Biar bagaimanapun, Pranata Mangsa menandakan bahwa bangsa ini pernah berdaulat secara agrikultur. Agaknya kedaulatan semacam inilah yang mestinya menghidupi kembali dalam masa depan agraris bangsa ini.

Judul : Ana Dina Ana Upa, Pranata Mangsa
Penulis : Sindhunata
Penerbit : Bentara Budaya, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : 162 halaman
Suara Merdeka, 05-10-2008

Pranata Mangsa dan Petani Jawa

Pranata mangsa merupakan sebuah sistem penanggalan tentang penentuan musim yang dijadikan pedoman masyarakat tani pada zaman dulu. Pranotomongso berasal dari kata Pranoto dan Mongso. Mongso artinya musim. Pranotomongso merupakan bagian dari perhitungan Petangan Jawi yang juga menghitung baik buruk yang dilukiskan dalam lambang dan watak  suatu hari, tanggal, bulan, tahun, wuku, pranotomongso.

Dalam lintasan sejarahnya, pranatamangsa sangat akrab dengan kehidupan pertanian terutama bagi masyarakat jawa pada masa lalu, pratanamangsa telah menjadi sebuah pedoman dalam bercocok tanam jauh sebelum masuknya agama hindu. Kalender Pranotomongso ini sudah diberlakukan oleh masyarakat Jawa sebelum Hindu datang di pulau Jawa. Kemudian dibakukan oleh Sri Paku Buwono VII (raja kerajaan Surakarta) pada tahun 1855 M. Pada saat itu Raja memberi patokan bagi para petani agar mempunyai hasil panen yang baik. Ini dilakukan untuk menguatkan sistem penanggalan yang mengatur tata kerja dalam ruang dan waktu bagi masyarakat tani untuk mengikuti peredaran musim dari waktu ke waktu. Sebagaimana paparan N. Daldjoeni dalam bukunya “Penanggalan Pertanian Jawa Pratanamangsa”.

Penanggalan Pranotomongso ini didasarkan pada penanggalan Syamsiyah. Selain digunakan sebagai pedoman kaum petani, Pranotomongso juga merupakan perhitungan yang membawakan watak atau pengaruh kehidupan manusia seperti halnya perhitungan-perhitungan Jawa lain-lainnya. Dalam penanggalan masehi diketahui umur hari dalam setahun adalah sekitar 365/366 hari, dengan sistem peredaran bumi yang mengelilingi pada bidang ekliptika sebesar 23 derajat akhirnya mempengaruhi pembagian musim dalam ruang-ruang tertentu di bumi.

Kalender Pranotomongso dihitung berdasarkan perjalanan Matahari yang pada zaman dahulu digunakan oleh orang-orang di tanah Jawa sebagai patokan untuk mengetahui musim. Jumlah bulan pada kalender ini ada 12, yaitu Kaso, “Sotyo murco saking embanan” (mutiara lepas dari pengikatnya), Musim daun-daun gugur pohon-pohon jadi gundul. Karo, “Bantolo Rengko” (tanah retak), Musim tanah jadi gersang dan retak-retak. Katigo, “Suto manut ing bopo”. Musim pucuk tanaman menjalar pada rambatan. Kapat, “Waspo kumembeng jroning kalbu”. Musim sumber-sumber jadi kering. Kalimo, Pancuran emas sumawur ing jagad”. Mulai musim hujan. Kanem, “Roso mulyo kasucian”. Musim pohon-pohon mulai berbuah. Kapitu, “Wiso kenter ing maruto”. Musim bertiupnya angin yang mengandung bias (penyakit). Kawolu, “Anjrah jroning kayun”. Musim kucing kawin, padi mulai berubah, banyak uret. Kasongo,“Wedaring wono mulyo”. Musim jangkrik, gasir, gareng poung, (banyak orang bicara berlebih-lebihan). Kasepuluh, “Gedong mineb jroning kalbu”. Musim binatang-binatang hamil. Dastho, “Sotyo sinoro wedi”. Musim burung-burung menyuapi anaknya. Sodo, “Tirto sah saking sasono” (air pergi dari tempatnya). Musim dingin, orang jarang berkeringat karena teramat dingin.

Pada mulanya, Pranotomongso hanya mempunyai 10 mongso. Sesudah mongso kesepuluh tanggal 18 April, orang menunggu saat dimulainya mongso yang pertama (kasa atau kartika) yakni tanggal 22 Juni. Masa menunggu itu cukup lama, sehingga akhirnya ditetapkan sebagai mongso yang kesebelas (destha atau padawana) dan mongso yang kedua belas (sadha atau asuji). Sehingga satu tahun menjadi genap 12 mongso. Hari pertama mongso kesatu dimulai pada 22 Juni.

Dengan catatan itu dapat diketahui dalam penanggalan Pranotomongso pada bulan Desember-Januari-Pebruari adalah musim badai, hujan, banjir, dan longsor. Dan ketentuan ini mendekati dengan situasi alam zaman sekarang ini. Selanjutnya pada musim berikutnya yaitu Kawolu yang bertepatan pada tanggal 2/3 Pebruari – 1/2 Maret, adalah bulan untuk bersiap-siaga ataupun waspada menghadapi penyakit tanaman maupun wabah bagi manusia dan hewan. seperti dampak akibat terjadinya banjir, badai dan longsor. Yaitu penyakit, kelaparan dan sebagainya akan melanda di daerah tersebut. Hal itu apabila dicermati ternyata masuk akal juga. Manusia, binatang dan tanaman belum siap mempertahankan diri dari serangan hama penyakit akibat terjadinya gejala alam tersebut. Dalam keadaan lemah kuman dan penyakit sangat mudah untuk menyerang.

Sedangkan para nelayan, yang biasanya melaut sambil membaca alam dengan melihat letak bintang yang kemudian dijadikan patokan ketika mereka melaut. Masih juga diterapkan oleh nelayan di Indonesia. Mereka mengetahui pada bulan-bulan berapa saat yang baik melaut sehingga mereka bisa mendapatkan ikan banyak. Begitu pula sebaliknya, mereka juga mengetahui kapan waktu untuk tidak melaut karena berbahaya dan tidak akan menghasilkan apa-apa. Dan pada saat-saat itulah mereka gunakan waktu untuk beraktivitas yang lain, seperti memperbaiki jaring, perahu, rumah dan sebagainya.

Selama ribuan tahun nenek moyang telah menghafalkan pola musim, iklim dan fenomena alam lainnya. Sehingga mereka dapat membuat kalender tahunan bukan berdasarkan kalender Syamsiah (Masehi) atau kalender Komariah (Hijrah/lslam) tetapi berdasarkan kejadian-kejadian alam yaitu seperti musim penghujan, kemarau, musim berbunga, dan letak bintang di jagat raya, serta pengaruh bulan purnama terhadap pasang surutnya air laut, akan tetapi perlu diketahui bahwa pola perhitungan dan data-data yang digunakan dalan penentuan penanggalan tersebut adalah masih bersifat tradisional. Serta kondisi  alam sekarang ini pun berbeda dengan kondisi alam zaman dulu. Nenek moyang dulu mengambil rumus pranotomongso dengan cara melihat kebiasaan kejadian-kejadian alam pada masa itu. Dan untuk saat ini kejadian tersebut sudah tidak beraturan, dan sulit untuk dirumuskan kapan kejadian tersebut akan terjadi.

Kejadian alam untuk musim hujan pada bulan Desembaer-Januari-Februari itu bukan musim hujan yang selalu tetap dan bersifat statis. Apabila dilihat kejadian hujan di negara ini, maka akan merasa bahwa seolah-olah hujan itu turun dengan sendirinya dan susah untuk diprediksi musimnya. Padahal dulunya, musim hujan itu pada bulan Oktober sampai bulan Maret. Sedangkan musim kemarau itu dimulai dari bulan April sampai bulan September.

Namun sayang dalam perjalanannya dengan kondisi itu pranata mangsa semakin tergerus oleh perkembangan zaman. Masyarakat terutama para petani sudah perlahan mulai menanggalkan sistem waktu dalam bertani ini.

56 Pranata Mangsa


Kanggo ngadhepi kahanan apa wae, leluhur Jawa duweni petung kang cacahe akeh banget. Titikane warna-warna, ana kang  sesambungan karo wektu, neptu dina utawa pasaran, lan gumelare alam. Ana ing tlatah padesan,


Puspåwarnå – ᭙

http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTOr6_0Ny1OcSFreiD5-eIIGrz0mLF_-PTJIz_TdvzNw160I4GK

56 Pranata Mangsa


Kanggo ngadhepi kahanan apa wae, leluhur Jawa duweni petung kang cacahe akeh banget. Titikane warna-warna, ana kang  sesambungan karo wektu, neptu dina utawa pasaran, lan gumelare alam. Ana ing tlatah padesan, supaya anggone padha jejodhowan lestari, slamet, bagya, lan mulya, mapanake bab petung dadi perangan kang wigati. Petung ngenani sangat akad nikah lan ijab kobul, dipilih supaya ngedohi dina taliwangke lan sampar wangke. Ngelmu ngenani petung  ora bisa pisah tumrap  manungsa Jawa. Ngelmu petung wis nyawiji karo siklus panguripane manungsa Jawa. Petung dadi piranti kanggo ngadhepi kahanan lan prekara kang ana. Ana ing budaya Jawa, ngelmu petung malebu ana ing ranah kawaskithan Jawa. Babagan petung ana kang nembungi wis dadi kearifan lokal (local wisdom) tumrap manungsa Jawa. Karana iku, petung diugemi dadi paugeran utawa pranatan. Petung wus dadi pandam pandoming panguripan. Kalebu ana ing kene, petung utawa pranatan ngenani lumakuning dina lan gilir gumantining mangsa.

Ana ing ulah tetanen, tinemu peranganing mangsa kang sinebut mangsa rendheng, wareng, ketiga, lan mangsa labuh kanggo ngadhepi tekane udan. Pranata mangsa utawa paugeran ngenani obahing mangsa wus lumaku pirang-pirang abad. Methik saka Serat Centhini, minangka buku babon ngenani primbon Jawa, babagan pranata mangsa tinemu ana ing buku jilid VI. Isine caket lan raket karo penanggalan Jawa. Wewaton katrangan utawa cathetan kang ana, paugeran utawa pranatan ngenani mangsa banjur dibiwarakake  dening  Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan (ISKS) Pakubuwono VII. Aturan ngenani pranata mangsa nganggo dhasar akehe banyu lan kali, kahanan palemahan, lumakune angin, anane watak kewan lan tetaneman, kang sinebut fenologi. Mindeng kahanan wektu iku, tebaning panguripan agraris utawa ulah tetanen jembar banget. Babagan industri lan ulah dagang durung ngrembaka.

Pranata mangsa dikepyakake ana ing tanggal 22 Juni 1856. Pangajabe, supaya bisa dadi gujengan tumrap kridhaning ulah tetanen ing wektu iku. Pranata mangsa kaperang cacah rolas, yaiku: kasa, karo, katelu, kapat, kalima, kanem, kapitu, kawolu, kasanga, kasepuluh, desta lan sada. Lumakune saben mangsa wiwit mangsa kasa tumeka mangsa dhesta ora padha, umure ana sing 41 dina, 23 dina, 24 dina, 25 dina, lan sapanunggalane. Saben mangsa ditembungi duwe ciri utawa pepindhan kang ora padha. Tuladhane, ana ing mangsa Kasa kawiwitan tanggal 22 Juni (umure 41 dina), tumapak mangsa ketiga, pepindhane kaya ‘sotya murca saka ngembanan’, amarga akeh angin lan gegodhongan padha rontog. Mangsa Karo kawiwitan tanggal 2 Agustus (umure 23 dina) duweni sesebutan ‘bantala rengka’, amarga akeh lemah kang nela-nela amarga ora ana banyu. Mangsa Kalima kawiwitan tanggal 14 Oktober (umure 27 dina), pepindhane ‘pancuran sumawur ing jagad’, amarga wiwit ana udan lan akeh sendhang utawa sumber padha lumintu banyune.

Mangsa Kawolu kawiwitan tanggal 4 Februari (umure 26 dina) duweni watak utawa pepindhan ‘anjrah jroning kayun’, amarga pari utawa tetaneman wiwit ijo, usume kucing padha kawin. Peranganing mangsa duweni ciri utawa pepindhan kang maneka warna.

Tumapak  ing jaman wektu iki, lahan kanggo pekarangan, pemukiman, pertanian, lan perkebunan, ngalami owah-owahan gedhe. Lahan pertanian akeh kang owah kadhesek anane  pabrik-pabrik lan usaha industri liyane. Bancana lan prahara alam kadhang kala nemahi lan nrajang ing saben tlatah. Kali wis ilang kedhunge, pasar wus ilang kumandhange. Bumi saya panas, swasana alam ngalami owah-owahan kang ngedab-edabi. Akeh udan salah mangsa amarga anane ‘pemanasan global’. Pranata mangsa tinggalane leluhur, kadhang kala ana kang trep karo kahanan, nanging uga ana perangan kang cengkah karo kanyatan.


Déníng : Sutadi
Pangarsa Pêrsatuan Pêdalangan Indonesia Komisariat Jawa Têngah

01
Oct
12

Pertanian : Ciri Khas Bangsa Indonesia

Usep Setiawan* | Senin, 24 September 2012 – 15:32:12 WIB(dok/ist)

Pertanian merupakan salah satu ciri khas yang dimiliki bangsa Indonesia.

Ketika kita merayakan Hari Tani Nasional 24 September 2012, nasib petani tetap tak menentu. Sebagian besar petani tetap tak punya tanah dan berpenghasilan rendah. Kemiskinan dan ketidakadilan tetap merata di desa-desa. Petani tetap minim perlindungan dan lemah daya.

Di tengah minimnya perhatian negara terhadap petani, secercah harapan baru memancar. Dewan Perwakilan Rakyat (Komisi IV) tengah menyusun RUU tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Inisiatif ini terasa istimewa dan sejenak mengundang apresiasi.

Namun, setelah membaca draf naskah akademik dan RUU tersebut, penulis menemukan sejumlah substansi kritis. Betapa naskah akademik dan RUU yang ada terasa kental nuansa ekonomi-politik pertanian yang liberal dan kapitalistik.

Substansi RUU ini juga belum mencerminkan masalah-masalah pokok yang dihadapi petani. RUU ini juga tak menempatkan konflik agraria sebagai masalah pokok dan tak cukup kuat menunjukkan ketimpangan penguasaan alat produksi. Tak digambarkan ketidakadilan proses produksi dan distribusi hasil pertanian. Tak ada uraian butir-butir “hak asasi petani”.

Lebih jauh, tak dijelaskan peta jalan (road map) perlindungan dan pemberdayaan petani yang dimaksud. Tidak pula dipastikan posisi dan peran dari organisasi tani dan peran berbagai pihak dalam perlindungan dan pemberdayaan petani.

Yang fatal, naskah akademik dan RUU ini sama sekali tak menempatkan pembaruan (reforma) agraria sebagaisolusi utama penumpas ketakterlindungan dan ketakberdayaan petani.

Berdayakan Petani

Agenda legislasi ini penting bagi petani Indonesia. Untuk menyempurnakannya, penulis mengajukan sejumlah saran substansial. Pertama-tama perlu dipetakan ulang seluruh masalah pokok yang dihadapi petani Indonesia. Kenapa selama ini petani tak terlindungi dan tak berdaya?

Dalam hal pilihan ekonomi-politik pertanian, segi keadilan sosial yang dikandung Pancasila mestilah jadi obor pemandu. Semangat kebangsaan dan kerakyatan dalam pengelolaan agraria menurut UUD 1945 jadi landasan konstitusional, dengan memaknai Indonesia sebagai bangsa besar bercorak agraris.

Masalah-masalah pokok yang dihadapi petani perlu diuraikan utuh. Masalah yang terdapat di hulu perlu dikenali, seperti pemilikan tanah, modal dan faktor-faktor produksi utama. Di tengah (bibit, pupuk, teknologi, dan sarana produksi lain), serta di hilir seperti pengemasan dan pemasaran produk pertanian. Ketiganya perlu dikaji dan dicarikan solusi utuh.

Realitas konflik agraria dan sengketa pertanahan serta ketimpangan pemilikan dan penguasaan tanah (lahan pertanian) sebagai alat produksi perlu jadi perhatian khusus. Konflik dan ketimpangan yang mengalir sepanjang sejarah bangsa, mendesak ditangani dan dituntaskan.

Sebab-sebab konflik dan ketimpangan pemilikan/penguasaan tanah pertanian tak lepas dari politik agraria (khususnya: pertanian) yang tak memihak petani. Diperlukan solusi mendasar dan komprehensif guna menangani konflik dan mengurangi ketimpangan ini.

Ketidakadilan proses produksi dan distribusi hasil pertanian masih kuat menjepit petani. Untuk itu diperlukan penataan produksi pertanian dan pola distribusi baru yang lebih menjamin keadilan dan kesejahteraan petani sebagai produsen sekaligus konsumen.

Peta jalan perlindungan dan pemberdayaan petani perlu disusun sistematis dan utuh. Perencanaan perlindungan dan pemberdayaan petani mestilah matang dan menyentuh semua masalah serta solusi mendasar. Perlindungan dan pemberdayaan petani dilakukan partisipatif, demokratis dan konsisten. Monitoring dan evaluasi perlu dilakukan objektif dan cermat.

Selama ini perjanjian internasional di bidang pertanian telah menjadikan petani Indonesia makin tak terlindungi dan kian tuna-daya. Diperlukan peninjauan ulang (renegosiasi) atasnya agar adil. Petani dan organisasi tani perlu ditempatkan sebagai motor utama perubahan nasib petani. Pemerintah jadi regulator dan fasilitator perlindungan dan pemberdayaan petani.

Yang tak boleh luput, seluruh upaya ini haruslah menyentuh jantung dan akar persoalan sekaligus solusinya. Pelaksanaan pembaruan agraria sejati merupakan fondasinya. Selain penataan pemilikan/penguasaan tanah (landreform), mendesak dikembangkan pembangkitan ekonomi di lapangan pembaruan agraria, melalui koperasi tani atau badan usaha milik petani.

RUU ini perlu mengakomodasi aspirasi substansial dari kalangan petani di lapangan. Perlu digencarkan konsultasi publik dengan kelompok atau organisasi tani sejati yang bergerak di berbagai wilayah.

Niat dan kemauan politik untuk melindungi dan memberdayakan petani perlu diapresiasi. Selebihnya, substansi legislasi hendaknya memampukan petani berdiri di atas kakinya sendiri. Jika petani berdaya, niscaya bangsa dan negara berjaya. Selamat Hari Tani Nasional 2012.

*Penulis adalah Ketua Dewan Nasional Konsorsium Pembaruan Agraria.

30
May
12

IndoHeritage : Subak Bali Dikagumi Dunia

Subak Dikagumi Dunia, Terabaikan di Bali

Cinta Malem Ginting | Senin, 28 Mei 2012 – 14:46:20 WIB


(dok/antara)Banyak sawah beralih fungsi, bahkan terkesan terabaikan.

DENPASAR- Nama Subak kini mencuat di dunia internasional, menyusul adanya keputusan dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) yang menetapkan Subak sebagai warisan budaya dunia.

Begitu besar perhatian dunia terhadap subak karena memang tidak ada di negara manapun kecuali Indonesia, khususnya Bali. Namun keberadaan Subak di Bali terkesan terabaikan. Pasalnya, banyak subak di Bali sudah “punah” karena banyaknya lahan persawahan atau pertanian yang beralih fungsi. Selain itu perhatian pemerintah daerah (pemda) di Bali terhadap subak dinilai masih minim.

“Sekarang ini sudah banyak subak yang punah, seiring dengan banyaknya lahan pertanian atau sawah yang beralih fungsi. Di Denpasar saja sudah hampir tidak ada lagi subak,” ujar Ketua Grup Riset Sistem Subak, Wayan Windia dalam suatu percakapan dengan SH, Rabu (23/5), di Denpasar.

Subak adalah organisasi tradisional di Bali yang mengatur tentang sistem pengairan sawah. Menurut Wayan Sutama yang juga Ketua Kelompok Subak Lodtunduh, Desa Singekerta, Ubud-Gianyar-Bali ini, sistem subak yang dikelola petani ini sudah dikenal di Bali sejak puluhan tahun lalu dan keberadaannya sudah ada turun-temurun.

Baik Wayan Windia yang juga Ketua Badan Penjaminan Mutu Universitas Udayana (Unud) Denpasar itu maupun Wayan Sutama, merasa sangat gembira dengan adanya penetapan dari UNESCO terhadap subak di Bali tersebut. Hal ini karena Windia telah lama menantikan turunnya keputusan dari UNESCO tersebut. “Sebagai orang yang ikut merancang proposalnya tentu saya sangat gembira. Keputusan ini sudah kita tunggu 12 tahun,” tutur Windia yang juga Guru Besar di Unud.

Dengan adanya penetapan ini Windia mengharapkan pemda di Bali terbuka pikirannya agar mengayomi subak tersebut untuk menjadi subak abadi. “Subak sebagai warisan budaya Bali ada potensi abadi kalau pemda concern. Selama ini perhatian pemda terhadap subak dan pertanian belum cukup. Terbukti dari alih fungsi sawah di Bali lebih dari 1.000 hektare per tahun,” paparnya.

Untungkan Petani

Wayan Windia membenarkan secara materi Bali tidak memperoleh apa-apa dengan penetapan ini, karena di dunia sekarang ini ada sekitar 600 warisan budaya dunia. UNESCO hanya memberi stempel dan image terhadap budaya subak ini. “Tanggung jawab subak tetap ada pada masyarakat di Bali, sedangkan UNESCO hanya memberi stempel dan image,” ujarnya

Dalam hal ini, menurut Wayan Windia, yang terpenting adalah harus dibuat kondisi agar petani merasa senang dan menguntungkan sebagai petani. Dengan demikian, pertanian dan subak di Bali akan tetap abadi. Sekarang ini, di Bali ada sekitar 1.599 subak yang kondisinya terpinggirkan. “Subak sekarang seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Hidup segan, mati tak mau,” kata dia.

Sutama berharap agar pemda mau berperan aktif dalam melestarikan keberadaan subak. “Kami berharap pemda mau membantu dalam upaya pelestarian subak, sehingga tetap ada sepanjang masa,” ujarnya.

Melalui sistem subak ini, menurut Sutama, sistem pengairan sawah bisa diatur dengan baik sehingga tidak ada terjadi “bentrokan” antarpetani karena berebut air untuk sawahnya. “Melalui subak sudah diatur mengenai pembagian air ke setiap bidang sawah. Kalau ada anggota kelompok subak yang ‘nakal’ dalam pengaturan air, melalui subak bisa ditegur dan diberikan sanksi,” ujar Sutama.

Ia mengakui organisasi subak yang dipimpinnya dengan beranggotakan 69 petani dan luas lahan sekitar 30 hektare, selama ini sering mendapatkan bantuan dari Pemda Gianyar. “Perhatian dari Pemda Gianyar selalu ada jika subak kami meminta bantuan,” tuturnya.

Bantuan ini, umumnya diperlukan kelompok subak untuk biaya perbaikan jalan dan pembuatan saluran air. “Kami sangat berharap sekali agar subak ini bisa dilestarikan dengan ditetapkannya sebagai warisan budaya dunia,” tandas Sutama.

(Sinar Harapan)

BERITA TERKAIT

 

28
Jan
10

Pertanian : Food Estate Menyegarkan

Suara Pembaruan

ZOOM2010-01-28“Food Estate” Segarkan Sektor Pertanian Nasional

Mukhamad Najib

Salah satu program unggulan untuk menjaga ketahanan pangan yang akan dilakukan oleh Menteri Pertanian adalah mengembangkan Food Estate. Beberapa pengamat pertanian mengkritik kebijakan ini, bahkan ada yang menuduhnya sebagia bagian dari agenda neolib di Indonesia.

Kekhawatiran dari kebijakan Food Estate ini adalah bahwa pengembangan model Food Estate skala besar dianggap berpotensi menggeser pola pertanian nasional dari peasant-based dan family-based food production menjadi corporate-based food production. Kondisi ini dikhawatirkan justru akan melemahkan kedaulatan pangan nasional. Kekhawatiran lain adalah mengenai dampak lingkungan yang ditimbulkan, mengingat Food Estate ini kemungkinan akan dilakukan dengan cara “membabat” hutan untuk menciptakan lahan-lahan pertanian baru.

Pertanyaannya adalah benarkah kebijakan ini sama sekali tidak berarti apa-apa untuk keberlanjutan masa depan pertanian dan ketahanan pangan di Indonesia? Benarkah kebijakan ini begitu membahayakannya, sehingga harus segera dihentikan? Saya ingin mencoba melihat Food Estate dari perspektif yang lain.

Selama ini, petani mendapat mandat yang tidak ringan, karena mereka diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dasar dari seluruh rakyat Indonesia. Mereka dituntut untuk terus meningkatkan produktivitasnya setiap waktu. Akan tetapi besarnya mandat yang diberikan kepada petani ini sama sekali tidak sebanding dengan insentif yang diperoleh petani. Khususnya insentif kesejahteraan.

Selama ini petani Indonesia selalu berhadapan dengan situasi yang tidak pernah menguntungkan. Pada saat suplai pangan berlebih maka harga akan jatuh dan petani merugi. Ketika suplai berkurang, harga naik, namun kenaikan ini lebih banyak dinikmati para tengkulak dan pedagang. Belum sempat petani menikmati keuntungan akibat kenaikan harga, produk impor segera didatangkan untuk “menstabilkan” harga atau pupuk segera menghilang sehingga petani harus mengeluarkan biaya produksi yang lebih tinggi.

Sesungguhnya, membebankan ketahanan pangan berkelanjutkan hanya kepada petani saat ini sangatlah berat. Jika kita lihat kondisi petani Indonesia saat ini, 56,5% dari 25,4 juta keluarga petani yang ada di Indonesia ternyata adalah petani gurem, yang memiliki lahan kurang dari 0,5 Ha. Padahal, untuk sekadar survive petani minimal harus memiliki lahan 1 Ha. Maka tidak heran, bahwa hampir 60% dari petani Indonesia adalah masuk dalam kategori miskin (pendapatan di bawah $US 2 per hari). Bagaimana mungkin petani yang miskin akan menjadi penyangga utama penyedia pangan untuk seluruh rakyat Indonesia?

Perbaikan hidup dan kesejahteraan petani tentu harus sangat diperhatikan. Petani-petani gurem yang terus berjuang mengelola lahan-lahan sempitnya harus terus memperoleh dukungan yang memadai untuk bisa tetap berproduksi dan meningkatkan produksi setiap waktu. Namun begitu, ketahanan pangan nasional tidak boleh hanya dibebankan kepada petani kecil. Semua komponen masyarakat, dari mulai pemerintah, akademisi sampai pengusaha harus terlibat dalam upaya penciptaan ketahanan pangan tersebut. Dalam kerangka inilah para pemilik modal perlu “dituntut” jika tidak bisa dihimbau untuk terjun ke sektor pertanian. Kebijakan Food Estate memberi kesempatan kepada para pemilik modal untuk terlibat dalam upaya menjaga ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Regenerasi Sumber Daya

Salah satu masalah mendasar dalam dunia pertanian kita saat ini adalah makin berkurangnya generasi “cerdas” yang mau terjun ke dunia pertanian. Anak-anak petani yang dapat mengakses pendidikan dengan lebih baik, cenderung tidak mau kembali ke desanya untuk melanjutkan dan mengembangkan pertanian. Jika dilihat dari struktur usia, 76 % petani Indonesia berusia 25-54 tahun, sementara mereka yang berusia di bawah 25 tahun hanya 2.2 % dan sisanya lebih dari 21% berusia di atas 55%. Sementara dari sisi pendidikan, hampir 80% hanya tamat sekolah dasar.

Hilangnya minat generasi muda cerdas terdidik dari dunia pertanian Indonesia akan menyulitkan dunia pertanian dalam melaksanakan mandat menjaga ketahanan pangan yang berkelanjutan. Karena tidak akan ada lagi generasi baru petani yang memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengatasi berbagai persoalan pertanian yang semakin kompleks.

Sulitnya melakukan kaderisasi petani “cerdas” selama ini antara lain disebabkan image tentang dunia pertanian yang tertinggal dan terbelakang. Setiap kali anak-anak petani pergi ke sekolah tinggi, yang tertanam di benak mereka bukan bagaimana kembali dan memperbaiki pertanian mereka, melainkan bagaimana dengan ilmu yang diperoleh mereka bisa meninggalkan dunia pertanian. Dalam konteks ini, kehadiran Food Estate akan membawa gambaran baru mengenai dunia pertanian. Karena mereka akan datang dengan pengetahuan baru, pendekatan baru dan teknologi baru dalam mengembangkan dunia pertanian. Dan ini akan mendorong minat generasi baru petani untuk terjun di dalamnya.

Pertanian model Food Estate saat ini juga mulai berkembang di Jepang. Banyak perusahaan besar, baik perusahaan perbankan maupun konstruksi di Jepang yang mulai terjun ke dunia pertanian. Mereka sadar betul bahwa tanggung jawab masa depan sangat tergantung pada ketersediaan pangan yang berkelanjutan secara mandiri, sehingga mereka mau melakukan investasi dan ekspansi ke dunia pertanian.

Kehadiran perusahaan-perusahaan besar di dunia pertanian ini sama sekali tidak membunuh petani-petani yang sudah ada, justru menggairahkan semangat anak-anak muda di Jepang untuk terjun ke dunia pertanian. Kehadiran Food Estate di Jepang memberikan dampak yang signifikan pada image tentang dunia pertanian. Pertanian kini mulai menjadi trend di kalangan anak muda karena telah menjadi profesi yang bergengsi.

Kehadiran Food Estate di Indonesia juga berpotensi untuk merubah citra dunia pertanian Indonesia. Food Estate dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda untuk terjun dan mengelola pertanian dengan pendekatan manajemen modern yang berorientasi bisnis. Lebih jauh, Food Estate juga bisa menjadi semacam “learning center” bagi petani kecil untuk belajar bagaimana menjadikan lahan mereka bukan sekedar lahan bercocok tanam, melainkan sebagai lahan bisnis yang menguntungkan. Dengan demikian kehadiran Food Estate juga dapat menjadi sarana untuk melakukan regenerasi sumber daya manusia pertanian yang lebih kompetitif.

Yang Perlu di Perhatikan

Untuk menjawab kekhawatiran beberapa pengamat dan kritikus, tentu pemerintah harus benar-benar memperhatikan orientasi dan implementasi kebijakan Food Estate ini agar tidak berdampak negatif pada petani dan dunia pertanian. Dalam hal ini pemerintah harus memastikan bahwa Food Estate bukanlah bersifat substitusi terhadap keberadaan petani saat ini. Sehingga Food Estate sama sekali tidak boleh didirikan di atas lahan-lahan pertanian rakyat. Dalam persoalan harga produk, pemerintah perlu memikirkan kebijakan yang dapat menghindarkan terjadinya persaingan yang saling membunuh antara petani rakyat dan Food Estate.

Pemerintah juga perlu memperhatikan mengenai bencana yang mungkin terjadi jika Food Estate ini dikembangkan dengan cara membabat hutan. Oleh karenanya analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) perlu dilakukan secara ketat. “Tragedi” proyek satu juta hektar lahan gambut yang pernah terjadi pada jaman orde baru hendaknya tidak boleh terulang lagi.

Jika beberapa dampak negatif yang mungkin muncul dapat disadari dan dapat diantisipasi sejak dini, maka Food Estate sesungguhnya dapat menyegarkan pertanian Indonesia. Semoga.

Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi Manaje men, Institut Pertanian Bogor dan Mahasiswa S3 The University of Tokyo




Blog Stats

  • 2,301,354 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 129 other followers