http://jakarta45.files.wordpress.com/2011/10/komite-nasional-pancasila.png?w=655

 

QS : Majelis Benteng Pancasila [29 Juni 2009]

Pandji R. Hadinoto / majelis45@yahoo.com

  1. AN-NAML 027:032 Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis (ku)”.
  1. AL-MUJADILAH 058:011 Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu : “Berlapang-lapanglah dalam majelis“, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
  1. AN-NISA 004:078 Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan [319], mereka mengatakan : “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan : “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah : “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan [320] sedikitpun ?
  1. ASY-SU’ARA 026:129 dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia) ?
  1. AL-AHZAB 033:026 Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan [1211].
  1. AL-HASYR 059:002 Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama [1464]. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka;
  1. PANCASILA = LIMA DASAR NEGARA

7.1         ALI-IMRAN 003:125 Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.

7.2         AL-KAHFI 018:022 Nanti (ada orang yang akan) mengatakan [878] (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan : “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan : “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”. Katakanlah : “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.

7.3         AL-ANKABUT 029:014 Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.

7.4         AL-MUJADILAH 058:007 Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi ? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

7.5         AL-MA’ARIJ 070:004 Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun [1511].

7.6         AL-BAQARAH 002:127 Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa) : “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

7.7         AL-A’RAF 007:052 Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami [546]; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

7.8         AT-TAUBAH 009:108 Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.

7.9         AT-TAUBAH 009:109 Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam ? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

7.10      YUSUF 012:010 Seseorang di antara mereka berkata : “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat.”

7.11      YUSUF 012:015 Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia), dan (di waktu dia sudah dalam sumur) kami wahyukan kepada Yusuf : “Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi.”

7.12      AL-QASAS 028:027 Berkatalah dia (Syuaib) : “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”.

7.13      AS-SAFFAT 037:064 Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dari dasar neraka Jahim.

7.14      YUSUF 012:055 Berkata Yusuf : “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”

Press Release 1 Juni 2009

MAJELIS BENTENG PANCASILA

tentang

Kebangkitan Jiwa Benteng PANCASILA

Dalam rangka penegakkan dan pengawalan Amanat Konstitusi Undang Undang Dasar 1945 (Lembaran Negara Republik Indonesia No. 75, 1959) Bab XII Pertahanan Negara Pasal-30 ayat (1) Tiap-tiap warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan Negara, yang belum pernah dinyatakan tidak berlaku, maka kami yang bertanda tangan dibawah ini selaku Benteng-benteng Pancasila ketika mencermati situasi dan kondisi Kebangsaan dan Kenegaraan tahun 2009 yang penuh dengan dinamika berdemokrasi, berkeyakinan untuk lebih meneguhkan Politik Ketahanan dan Pertahanan Indonesia khususnya memperhatikan sebagai berikut :

Dialog Lintas Generasi 80 Tahun Soempah Pemoeda 2008 bertempat di Auditorium LPMJ (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Jakarta), Pulogadung  yang telah memberikan bekal bagi capaian Indonesia Digdaya 2045 tentang keberadaan 7 strategi kebijakan dasar sebagai sumber kehancuran bangsa Indonesia meliputi

(1).Memperlemah Negara Kesatuan Republik Indonesia, (2).Menghapus Ideologi Pancasila, (3).Menempatkan Uang sebagai Dewa, (4).Menghapus Rasa Cinta Tanah Air, (5).Menciptakan Sistem Multi Partai, (6).Menumbuhkan Sekulerisme, (7).Membentuk Tata Dunia Baru [Tahun 2015 Indonesia Pecah, ISBN 978-979-15527-1-4].

Dan mencermati ungkapan tahun 2015 sebagai sasaran akhir konspirator, maka itu berarti selang 7 tahun setelah tahun 2008, atau ketika 70 Tahun Indonesia Merdeka,

Sehingga menjadi tepat sekali ungkapan bahwa 7 Resolusi Sumpah Pemuda 2008 (7RSP2008) adalah bentuk benteng strategik terhadap skenario global itu, sekaligus bentuk solusi bagi situasi dan kondisi sebagaimana hasil jajag pendapat tentang “Soempah Pemoeda”, Semangat Luntur [Kompas, Senin, 27 Oktober 2008], yakni :

(1).Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, (2).Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, (3).Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbahasa persatuan, bahasa Indonesia, (4).Kami putra dan putri Indonesia mengaku berideologi yang satu, Pancasila, (5).Kami putra dan putri Indonesia mengaku berkonstitusi yang satu, Undang-Undang Dasar 1945, (6).Kami putra dan putri Indonesia mengaku bernegara yang satu, Negara Kesatuan Republik Indonesia, (7).Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbendera persatuan bangsa, Bendera Merah Putih.

Artinya, 7 RSP2008 itu dapat diberlakukan sebagai perkuatan Pondasi Rumah NKRI dan sekaligus bekal bagi Presiden ke-7 NKRI, agar supaya tidak mudah digoyah oleh kekuatan2 “soft war” pihak konspirator.

Adapun penangkal taktis operasional lainnya yang penting adalah dengan melalui pemberdayaan Strategi Ketahanan Bangsa (StraHanSa) dalam hidup keseharian bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yakni

(1).Keagamaan Tidak Rawan, (2).Ideologi Tidak Retak, (3). Sosial Politik Tidak Resah, (4).Sosial Ekonomi Tidak Ganas, (5).Sosial Budaya Tidak Pudar, (6).HanKamNas Tidak Lengah, (7).Ekologi (Lingkungan) Tidak Gersang

terutama ketika mewaspadai 7 Penyebab 2015 Indonesia Pecah yaitu :

(1).Siklus Tujuh Abad, 70 Tahun, (2).Kehilangan Figur Pemersatu, (3).Pertengkaran Sesama Anak Bangsa, (4).Konspirasi Global, (5).Nusantara bukan Indonesia, (6).Jayakarta bukan Jakarta, (7).Kalah PilPres 2014 bikin Negara Baru [ISBN 978-9797-15527-1-4].

Oleh karena itulah, kami berseru agar supaya Kebangkitan Jiwa Benteng Pancasila digelorakan bagi keberdayaan Persatuan Indonesia sesuai amanat sila ke-3 PANCASILA sebagai “soft power” atau kekuatan penangkal yang handal bagi NKRI menghadapi ragam ancaman, gangguan, hambatan, tantangan ketika mengarungi politik globalisasi dan dampak ikutan yang muncul di ranah nusantara ini sendiri.

Jakarta Selatan, 1 Juni 2009

  1. Pandji R Hadinoto / BarPETA / HP : 0817 983 4545
  2. WS Hendrawan Sinbo / LKPN45
  3. La Ode Azis Bonea / HIPMIKINDO
  4. Taufik Tongano / HIPMIKINDO
  5. Oti Setiawan Sribudi / Cendekiawan Marhaenis
  6. R Urip Kamarullah / Cendekiawan Marhaenis
  7. Johnny Warokka / Cendekiawan Marhaenis
  8. Fx Sapto W Samudro / Bawana
  9. Bambang Noorsena / Bawana

Majelis Benteng PANCASILA

Seminar Pendidikan & Nasionalisme / Museum Kebangkitan Nasional / 18 Juni 2009

Kebangkitan Jiwa Benteng PANCASILA 2009

Pandji R. Hadinoto / www.pkpi.co.cc / HP : 0817 983 4545 / eMail : majelis45@yahoo.com

  1. Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908 dan kenangan pada Hari Kelahiran PANCASILA 1 Juni 1945 yang tiap tahun berbeda waktu 11 (sebelas) hari kalender saja, dalam konteks HarKitNas ke-101 tahun [20 Mei 2009] yang berciri global survival of the fittest dimana terbukti bahwa Indonesia masih memiliki angka pertumbuhan positif ke-3 setelah China dan India (Chindia), menunjukkan tingkat kekenyalan Ketahanan Bangsa yang cukup dapat menebalkan kepercayaan diri, walaupun hal itu dipercaya lebih banyak akibat gerakan dinamika Ekonomi Rakyat itu sendiri. Namun demikian hal itu juga menumbuhkan keyakinan akan pentingnya jiwa Kebangkitan lain semisal semangat Indonesia Bermartabat 2009-2014 selain Indonesia Kreatif 2009.

Dalam kerangka pemahaman itulah, berangkat dari ungkapan Benteng PANCASILA saat Debat Antar ParPol di Pro3 RRI pada 23 Maret 2009 malam, lalu dirasakan penting pengguliran berlanjut antara lain dalam Pidato Ketua Umum PKPI saat Rapimnas 26 April 2009, Permufakatan Benteng PANCASILA tentang Lawan Kejahatan Konstitusional 12 Mei 2009, dikedepankannya Jiwa Benteng PANCASILA di TVRI saat peringati HarKitNas 20 Mei 2009 jam 6.00 – 6.15 wib, press release Majelis Benteng PANCASILA 1 Juni 2009, dan kini di Seminar Pendidikan dan Nasionalisme, Museum Kebangkitan Nasional. Adapun Strategi Umum daripada Majelis Benteng PANCASILA adalah turut menyemai dan menumbuhkan  jiwa Benteng PANCASILA di hati sanubari tiap anak bangsa Indonesia.

  1. BUNG KARNO pada Pidato 1 Juni 1945 perkenalkan PANCASILA yang terdiri atas :

(1)   Kebangsaan Indonesia; (2) Internasionalisme atau Perikemanusiaan; (3) Mufakat atau Demokrasi; (4) Kesejahteraan Sosial; (5) Ketuhanan Yang Maha Esa

Jiwa PANCASILA yang kemudian tertuang di Pemboekaan Oendang Oendang Dasar 18 Agustus 1945 [Berita Repoeblik Indonesia Tahoen II No. 7, 15 Febroeari 1946] adalah (1) Ketuhanan Yang Maha Esa, (2) Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, (3) Persatuan Indonesia, (4) Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan / Perwakilan, (5) Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan catatan :

Baik Mukadimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat [Keputusan Presiden RIS 31 Januari 1950 Nr.48, LN 50-3, 6 Februari 1950] maupun Mukadimah Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia [Undang-undang 15 Agustus 1950 No. 7, LN 50-56, 15 Agustus 1950, Penjelasan TLN 37], tercantum pengakuan Ketuhanan Yang Maha Esa, Perikemanusiaan, Kebangsaan, Kerakyatan dan Keadilan Sosial

BUNG KARNO, baik pada Kursus ke-2 tentang PANCASILA, 16 Juni 1958 di Istana Negara maupun pada Kongres Rakyat Jawa Timur 24 September 1955, menekankan bahwa PANCASILA itu ialah (1) Ketuhanan Yang Maha Esa, (2) Kebangsaan, (3) Perikemanusiaan, (4) Kedaulatan Rakyat, (5) Keadilan Sosial.

Baik Lembaran Negara Republik Indonesia No. 75, 1959 tentang Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 150 Tahun 1959, Dekrit Presiden Republik Indonesia / Panglima Tertinggi Angkatan Perang tentang Kembali Kepada Undang-Undang Dasar 1945, maupun Risalah Rapat Paripurna ke-5 Sidang Tahunan MPR Tahun 2002 Sebagai Naskah Perbantuan Dan Kompilasi Tanpa Ada Opini, 10 Agustus 2002, mencantumkan jiwa atau batang tubuh PANCASILA yakni (1) Ketuhanan Yang Maha Esa, (2) Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, (3) Persatuan Indonesia, (4) Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan / Perwakilan, (5) Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sebagaimana juga Butir-butir PANCASILA, Nilai dan Norma yang terkandung dalam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan PANCASILA (Eka Presetya Pancakarsa) sesuai dengan Ketetapan No. II/MPR/1978 tanggal 22 Maret 1978.

  1. Riwayat Jiwa PANCASILA Pra 1 Juni 1945

Seperti dapat disimak dari www.jakarta45.wordpress.com [lembar 123 Tatanilai Kearifan Lokal Nusantara], maka batang tubuh atau jiwa PANCASILA dapat ditemui pula di

3.1. Ajaran Lima Pintu Utama dari Prabu Liman Senjaya Kusumah, negara Galuh Pakuan, 1545 M yakni (1) Semiaji (cerminan Kemanusiaan), (2) Bratasena (cerminan Persatuan), (3) Harjuna (cerminan Keadilan), (4) Nakula (cerminan Kerakyatan), (5) Sadewa (cerminan Ketuhanan), dan

3.2. Lima Bangunan Utama dari Prabu Susuk Tunggal, negara Soenda, 1345 M ialah (1) Bima Resi / Sadewa (pengaturan Tatacara & Pelaksanaan Keagamaan), (2) Punta Dewa / Bratasena (pengaturan Persatuan & Kesatuan Rakyat), (3) Narayana / Sri Kresna (pengaturan tegaknya Peri Kemanusiaan), (4) Madura / Kakak Sri Kresna (pengaturan hak2 Kerakyatan), (5) Suradipati / Harjuna (pengaturan Keamanan, Kesejahteraan, Keadilan).

Kedua tersebut diatas merujuk keterangan tertulis dari Bapak Mohamad K. Soeseno, Barisan Marhaenis Indonesia, Majalaya. Dan dengan adanya semacam keteraturan waktu yaitu 1345, 1545 dan 1945 maka hal itu kemudian dapat memandu kita menggunakan tahun 2045 sebagai tonggak (milestone) sejarah kiprah PANCASILA dimasa depan.

3.3 DASHA SHILA pada kitab Sutasoma [era Majapahit], berisi (1) Janganlah menyakiti perasaan orang, (2) Janganlah menjatuhkan hukuman yang tidak adil, (3) Janganlah menjarah harta rakyatmu, (4) Janganlah menunda kebaikan terhadap mereka yang kurang beruntung, (5) Mengabdilah kepada mereka yang sadar, (6) Janganlah menjadi sombong, walau banyak orang menghormatimu, (7) Janganlah menjatuhkan hukuman mati, kecuali menjadi tuntutan keadilan, (8) Adalah yang terbaik, jika kau tidak takut mati, (9) Dan bersabar dalam keadaan susah, (10) Adalah yang terbaik jika kau berjiwa besar dan memberi tanpa pilih kasih. Dan pemaknaan terhadap jiwa PANCASILA adalah bahwa butir (1) merupakan landasan untuk berdemokrasi, dimana kepentingan rakyat banyaklah yang utama, dengan catatan bahwa suara terbanyak bukan berarti kepentingan rakyat banyak. Maka butir (1) ini harus dijiwai oleh butir (2) yang merupakan asas keadilan, dimana asas keadilan ini digunakan sebagai sarana untuk mencapai yang tercantum di butir (3) dan butir (4) yakni kemakmuran dan kesejahteraan. Adapun butir2 (5), (6), (7) dan (9) berkaitan dengan keagamaan. Keagamaan disini bukan hanya sekedar beragama (ritual) tetapi merupakan esensi dari beragama, dan esensi beragama ini akan tercermin dari tingkah laku. Kemudian butir terakhir (10) adalah berkaitan dengan kemanusiaan. Sehingga pemaknaan DASHA SHILA dapat disarikan menjadi (1) Demokrasi demi terwujudnya (2) Keadilan, Kesejahteraan/Kemakmuran bagi semua, (3) Keagamaan demi terwujudnya (4) Manusia yang berperikemanusiaan, dan (5) asas kebangsaan adalah sebagai ruang (tempat) untuk mewujudkan hal-hal diatas, sebagai satu bangsa yakni bangsa Indonesia [Dana, Politikana, 15 April 2009].

  1. Jiwa PANCASILA bersemangat Al Qur’an

Sebagaimana bisa dipahami dari www.nusakalapa.wordpress.com] khususnya lembar Penjelasan Hubungan PANCASILA dan ayat-ayat Al Qur’an [Lampiran-1], maka dapat disimpulkan bahwa jiwa PANCASILA itu adalah seharusnya keseharian bagi kehidupan umat ketika mengemban Firman-Firman Allah Yang Maha Kuasa.

  1. Jiwa PANCASILA adalah MAQASID SYARIAH [Adiwarman A Karim, Imam al Syathibi, kitab al Muwafaqat] yakni (1) Melindungi agama (Ps – Ketuhanan Yang Maha Esa), (2) Melindungi jiwa (Ps – Perikemanusiaan yang adil dan beradab), (3) Melindungi keutuhan keluarga besar (Ps – Persatuan Indonesia), (4) Melindungi akal pendapat (Ps – Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, (5) Melindungi hak atas harta (Ps – Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).

 

  1. Ancaman Hambatan Gangguan Tantangan

Tahun 2012 ditandai oleh praduga Pergantian Peradaban Dunia, [Mencairnya Methane

Hydrates = Kiamat ???, www.suprememastertv.com], [Kiamat 2012, Lawrence E. Joseph,

ISBN 978-979-22-4054-2] dan dugaan aktivitas matahari meningkat pada tahun 2012

berdampak banjir besar di dunia [BPPT]

Tahun 2014, 2019 dan 2029 Ancaman Asteroid ke Bumi yang menyebabkan terjadinya

bencana alam dahsyat [Ramalan Paling Mengguncangkan Abad Ini, Oktober 2015, Jaber

Bolushi, ISBN 978-979-16777-8-7]

  1. PANCASILA Penerang Perdamaian Dunia

Bapak La Ode Amunu Ahmad Muhammad Nur Kaimuddin dari Dusun Tanjung Yainuelo, Desa Sepa, Amahai, Maluku Tengah, pada tanggal 13 Nopember 1989 telah menerima petunjuk Kalam Allah Ta’ala “Kalau kamu jadi dukun, sesaat nanti kamu dukung dunia. Sekarang kamu jadi tukang urut, sesaat nanti kamu urus dunia”, dalam bukunya Pelita Penerang Dunia, Amanat Tuhan Terhadap Umat Manusia Sedunia, Ikatan Pendukung Perjalanan Sejarah Dunia, Garuda Pancasila Sakti, menyatakan bahwa Lima Sinar Cahaya itu adalah (1) Cahaya Putih, (2) Cahaya Kuning, (3) Cahaya Hijau, (4) Cahaya Merah, (5) Cahaya Hitam. Lima Sinar Cahaya itu disebut pula sebagai PANCASILA, adalah Cahaya Ilahi (Nur Allah) yang merupakan kebesaran dan kemuliaan Allah dan merupakan satu kesatuan yang utuh tidak terpisahkan [Bersatu Menuju Perdamaian, Ikatan Pendukung Perjalanan Sejarah Dunia, Garuda Pancasila Sakti].

Dengan catatan :

BUNG KARNO mengedepankan istilah LEITSTAR atau Bintang Kepemimpinan bagi sosok PANCASILA ini [Kursus ke-2 tentang PANCASILA, 16 Juni 1958 di Istana Negara]

  1. Sikap Dasar Anak Bangsa

Seharusnya tidak perlu lagi ada keraguan dalam pemikiran bahwa PANCASILA sebagai sumber daripada sumber kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara adalah Rakhmat Allah Yang Maha Kuasa bagi masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Apalagi seperti terungkap pula pada ADIOS KAPITALISME [Kompas, 12 Pebruari 2009], maka keruntuhan ekonomi negara Amerika sejak tengah tahun 2008 sesungguhnya menjadi pertanda kemenangan bagi PANCASILA sebagai pilihan terbaik anak bangsa untuk saatnya melakukan pelurusan atau restorasi daripada kehidupan dan kelembagan politik, ekonomi, sosial budaya Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagaimana juga telah diutarakan oleh Kembali ke Kekuatan Modal Sendiri [Kompas, 11 Pebruari 2009].

  1. Saran Tindak Kebangsaan & Rekomendasi :

Proyeksikan masa depan bangsa dan negara dengan senantiasa ber JASMERAH (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) disertai bekal penilaian situasi dan kondisi masa kini, menuju strategi Indonesia Digdaya 2045, antara lain segera lakukan sebagai berikut [PANCASILA Penghela Indonesia Digdaya 2045, Diskusi Cendekiawan Marhaenis, Gedung DHN45, 19 Pebruari 2009] :

9.1 penjabaran wacana sebagaimana tertuang pada Agenda PT7 (Politika Triple-7) [Citizen

Journalism, Politik Triple 7 bagi Presiden ke-7 RI, www.inilah.com, 12 Juni 2009]

9.2 penyesuaian atau restorasi terhadap Risalah Rapat Paripurna ke-5 Sidang Tahunan

MPR Tahun 2002 Sebagai Naskah Perbantuan Dan Kompilasi Tanpa Ada Opini,

sebagaimana jiwa, semangat dan nilai-nilai PANCASILA yang terkandung pada

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945

9.3 perkuatan geopoleksosbudhankam bagi penguatan keberadaan NKRI berkerangka

dasar PANCASILA

9.4 penggalangan jiwa, semangat dan nilai2 Tulus Ikhlas dalam mengemban PANCASILA,

merujuk 7 (tujuh) kata kunci Tulus Ikhlas QS

9.5 pembangunan Politik Kemuliaan demi Peradaban Indonesia, merujuk 7 (tujuh) kata

kunci Kemuliaan QS

9.6 pemasyarakatan Tiga Pilar Kenegarawanan yang terdiri dari Tiga Pilar Kebangsaan,

Tiga Pilar Kepemimpinan Amanah dan Tiga Pilar Kejuangan TRISAKTI

9.7 pembentukan harmoni kelembagaan antara dinamika kenegaraan (state) dengan

dinamika kemasyarakatan (civil society) dan dinamika pasar (market)

Ke-7 upaya Menuju Indonesia Digdaya 2045 tersebut diatas dimaksudkan pula bagi Kemuliaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, seperti juga Firman-Firman Allah Yang Maha Kuasa di 7 (tujuh) ayat2 Al Qur’an sebagai berikut : (1) AL-ANBIYA 021:010 Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya ? (2) FATIR 035:010 Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik [1250] dan amal yang saleh dinaikkan-Nya [1251]. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur. (3) AZ-ZUKHRUF 043:044 Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggung-jawaban. (4) AR-RAHMAN 055:027 Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (5) AL-QADR 097:001 Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan [1594]. (6) AL-QADR 097:002 Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? (7) AL-QADR 097:003 Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

Rekomendasi Deklarasi Bulaksumur tentang Kongres PANCASILA, 1 Juni 2009 :

Satu, bahwa Pancasila merupakan sistem filsafat terbaik yang dimiliki Bangsa Indonesia sebagai dasar dan acuan bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika dan oleh karenanya, segenap komponen Bangsa Indonesia wajib menjujung tinggi, menjaga dan mengaktualisasikan Pancasila.

Dua, Pancasila adalah sistem nilai fundamental yang harus dijadikan dasar dan acuan oleh Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas pokoknya melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan atas kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, dalam rangka mewujudkan visi bangsa yakni Indonesia yang sungguh-sungguh merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Tiga, Pancasila adalah dasar negara, oleh karenanya Pancasila harus dijadikan sumber nilai utama dan sekaligus tolok ukur moral bagi penyelenggara negara dan pembentukan peraturan perundangan-undangan.

Empat, Pemerintah harus bertanggung jawab untuk memelihara, mengembangkan, dan mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, baik dalam bidang ekonomi, sosial, politik, hukum, kebudayaan maupun aspek-aspek kehidupan lainnya.

Lima, Negara harus bertanggung jawab untuk senantiasa membudayakan Pancasila melalui pendidikan Pancasila di semua lingkungan lingkungan dan tingkatan secara sadar, terencana dan terlembaga.

SERUAN :

Dengan demikian, setelah mencermati bersama ke-9 (Sembilan) subjudul diatas, maka diserukan kepada hadirin, kiranya berkenan bekerjasama turut menggelorakan Kebangkitan Jiwa Benteng Pancasila di segenap komponen masyarakat dan anak bangsa Indonesia dengan memperhatikan pula pesan BUNG KARNO tentang sikap Kepemimpinan TRIMURTI yang artinya dipersatukan di dalam tindakanmu sebagai pemimpin [Kursus ke-2 tentang PANCASILA, 16 Juni 1958 di Istana Negara] disertai langkah-langkah (1) kemampuan melukiskan cita-cita, (2) membangun keyakinan dan (3) membangkitkan satu kehendak, kemauan bergerak menuju kearah cita-cita itu, dalam hal ini 7 Cita Politik Indonesia [Lampiran-2], sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945.

HARAPAN :

Adalah keyakinan tersendiri bahwa Kebangkitan Jiwa Benteng PANCASILA secara merata dan terstruktur dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas sampai Rote pada ujung-ujungnya dapat memperkuat Politik Ketahanan dan Pertahanan Indonesia. Ketahanan terkait Soft Power, Smart Power, Love Power, sedangkan Pertahanan menyangkut Hard Power, sekaligus menebarkan ulang gagasan dr Soetomo, pendiri Boedi Oetomo tentang INDONESIA MULIA.

Akhirul kata, upaya revitalisasi Museum Kebangkitan Nasional d/h gedung STOVIA ini sebagai salah satu Pusat Pendidikan Masyarakat atau Community College Center of Excellence adalah patut diberikan dukungan sebagaimana mestinya.

Jakarta Selatan, 14 Juni 2009

(*) www.pkpi.co.cc / HP : 0817 983 4545 / eMail : majelis45@yahoo.com / Fax : 021 769 2992

Camkanlah 7 Cita Politik Indonesia

Menyambut kehadiran Presiden ke-7 NKRI, kiranya cukup bijak pula memahami lebih baik Pembukaan UUD 1945 yang tersusun dalam 4 (empat) alinea, yang menurut hemat penulis sebenarnya dapat dikonstruksikan dalam 7 (tujuh) bagian yang bisa disebut sebagai Cita Politik Indonesia yakni :

(1) Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan Perikemanusiaan dan Perikeadilan; (2) Kemerdekaan Negara Indonesia yang Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur; Pemerintahan Negara Indonesia yang (3) Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, (4) Memajukan kesejahteraan umum; (5) Mencerdaskan kehidupan bangsa, (6) Ikut melaksanakan Ketertiban Dunia yang berdasarkan Kemerdekaan, Perdamaian Abadi dan Keadilan sosial; (7) Susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dan saat ini dikenali pula ada 7 (tujuh) Lembaga Tinggi Negara yaitu (1) MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat), (2) DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), (3) DPD (Dewan Perwakilan Daerah), (4) Presiden, (5) MA (Mahkamah Agung), (6) MK (Mahkamah Konstitusi), (7) BPK (Badan Pemeriksa Keuangan).

Sementara itu UU ParPol menyatakan a.l. bahwa ParPol berkewajiban melakukan pendidikan politik dan menyalurkan aspirasi politik. Oleh karena itulah, bilamana ParPol dalam tubuh negara dapat diibaratkan sebagai darah dalam tubuh manusia, maka ParPol bertugas mentransportasi aspirasi politik rakyat (terutama terkait ke-7 Cita Politik termaksud diatas) kepada misalnya ke-7 Lembaga Tinggi Negara tersebut diatas melalui saluran demokrasi, layaknya darah mentransportasi sari makanan / minuman, vitamin, protein dlsb kepada 7 (tujuh) organ tubuh manusia seperti otak, jantung, paru, hati, ginjal, limpa, pancaindera, dlsb melalui saluran darah. Artinya, bilamana saluran demokrasi terganggu dan/atau malah tersumbat maka dapat dipastikan muncul beragam penyakit masyarakat yang dalam tingkatan yang serius berakibat fatal bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, layaknya saluran darah terganggu dan/atau malah tersumbat (dalam hal ini seperti plak2 di dinding saluran darah dampak lemak tidak jenuh) maka dapat dipastikan muncul beragam penyakit yang bisa kronis dan berakibat fatal bagi kehidupan manusia.

Dalam pengertian itulah, maka dapat dipahami bahwa perawatan kesehatan tubuh negara layaknya perawatan kesehatan tubuh manusia juga, artinya perawatan kesehatan kehidupan demokrasi misalnya berupa pemberdayaan peranserta pemenuhan hak setiap warga negara dalam memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan seperti melalui Pemilihan Umum adalah penting dilakukan mengingat aspirasi ke-7 Cita Politik diatas adalah strategik untuk senantiasa dikiprahkan dalam kehidupan se-hari2. Sehingga bilamana Pemilihan Umum itu tidak diperansertai oleh bagian masyarakat yang lazim disebut GolPut (baik karena alasan administratif maupun pragmatis ataupun ideologis) maka dapat dipastikan GolPut tadi tidak turut serta menyumbangkan peran terbaiknya dalam upaya membangun kehidupan pemerintahan demokratis yang dinamis, kreatif dan konstruktif bagi perkembangan politik kenegaraan terutama dalam rangka kehidupan sosial politik agar tidak meresah.

Namun, kalaupun tidak dapat terhindarkan karena berbagai alasan yang teknis maupun manusiawi, masih dalam kerangka Cita Politik termaksud diatas, sesungguhnya bagian masyarakat itu masih dapat diharapkan berdayaguna bagi kepentingan politik kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan, dalam kiprah strategi ketahanan bangsa lainnya seperti kehidupan sosial ekonomi agar tidak mengganas, kehidupan sosial budaya agar tidak memudar dan kehidupan sosial ekologis tidak menggersang.

Oleh karena itulah, organisasi2 terstruktur kemasyarakatan nonParPol seperti Organisasi2 Kemasyarakatan, Organisasi2 Kemahasiswaan, Organisasi2 Kepemudaan, Lembaga2 Swadaya Masyarakat patut diharapkan dapat mengambil peran lebih pro-aktif melakukan pemberdayaan masyarakat GolPut ini, termasuk pembangunan sadar politik kebangsaan dan cinta tanah air, melalui ragam program pengembangan masyarakat. Karena pembangunan kemasyarakatan dan kebangsaan juga berujung dukungan positif bagi kehidupan kenegaraan. Dengan kata lain, ketidakikutsertaan membangun perangkat pejabat publik penyelenggara pemerintahan bukan berarti tertutup peluang peranserta sebagian masyarakat itu bagi pembangunan sadar kehidupan kenegaraan. Apalagi APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) dan APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) seringkali semakin dirasakan terbatas, sehingga memang perlu pengembangan aturan struktural yang dapat disepakati bersama tentang peranserta anggaran lain non-pemerintah atau swasta dan/atau swadaya masyarakat pada pemberdayaan masyarakat.

Bagaimanapun, keberdayaan segenap komponen bangsa kini adalah tepat manfaat bagi gerakan semesta kebersamaan, solidaritas atau kesetiakawanan guna atasi dampak krisis ekonomi keuangan global, dan itu tidak cukup dengan pengadaan stimulus ekonomi semata apalagi berpuas diri dengan pertumbuhan ekonomi positif ketiga 4.4 % yang diduga banyak ahli ekonomi justru 60% adalah buah kerja Ekonomi Rakyat (bukan Ekonomi Kerakyatan buah kebijakan pemerintah), namun kedepan perlu pula keserentakan berpasangan dengan sosialisasi lebih intensif ke-7 Cita Politik termaksud diatas, demi perkuatan faktor2 Persatuan dan Kesatuan Bangsa, berpola Pembangunan Karakter & Pekerti Insani guna pemenuhan Strategi 7 Ketahanan Bangsa.

Jakarta, 15 Juni 2009

Pandji R Hadinoto / www.pkpi.co.cc / HP : 0817 983 4545

Batu Pentagonal

Kamis, 17 September 2009 06:35 WIB | Artikel | Spektrum |

Jafar M. Sidik

Menerawangi Indonesia Tua di Gunung Padang
gunung padang (antara/jafar)

Cianjur (ANTARA News) – Pertanyaan mengenai apakah orang-orang Nusantara, Sunda khususnya, merupakan bangsa tua di dunia, kerap terbersit dari pikiran banyak orang begitu mengunjungi situs megalitik Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Cianjur, Jawa Barat.

“Nenek kakek kami bercerita bahwa pada malam-malam tertentu di atas bukit sana, sering terdengar suara-suara musikal dan tempat itu menjadi terang benderang. Kami lalu menamai bukit ini dengan Gunung Padang (gunung terang),” kata Yuda Buntar, salah seorang pengelola situs purbakala itu kepada ANTARA, awal pekan ini.

Nenek moyang Yuda dan orang-orang sekitar Gunung Padang tak menyebutnya sebagai situs purbakala. Yang mereka tahu tempat itu keramat, sampai kemudian pada 1979 tiga warga kampung itu melaporkan situs tepat di puncak bukit tersebut, ke otoritas purbakala di Cianjur.

Segera daerah itu ditetapkan sebagai cagar budaya untuk bukti keluhuran kebudayaan lokal dan ketinggian peradaban asli Indonesia, khususnya orang-orang yang sekarang mendiami Tatar Pasundan.

Para arkeolog percaya bahwa Situs Megalitik Gunung Padang adalah situs megalitik terbesar di Asia Tenggara.

Situs itu diperkirakan dibangun kira-kira 2.000 tahun sebelum Masehi atau sekitar 2.400 tahun sebelum kerajaan Nusantara pertama berdiri di Kutai, Kalimantan, atau kira-kira 2.800 tahun sebelum Candi Borobudur dibangun.

Melihat susunan batu dan pemilihan panorama lingkungan sekitar situs, siapa pun akan takjub pada betapa tingginya kebudayaan Nusantara purba.

Sumber material bangunan dan kualitasnya yang terpilih, serta orientasinya pada simbol-simbol keilahian khas era purbakala, seperti gunung dan samudera, membuat pengunjung menerawang bahwa betapa agung dan berperspektifnya peradaban purba Nusantara.

Tegak lurus dari situs, berdiri Gunung Gede yang sejak Kerajaan Pajajaran sudah dianggap sakral, atau jangan-jangan masyarakat Pajajaran hanya mewarisi tradisi kuno puak megalitik.

Jika dicermati lebih dalam, situs berisi serakan batu hitam bermotif itu, ternyata memuatkan keteraturan geometris, selain pesan kebijaksanaan kosmis yang tinggi, sebelum agama-agama modern masuk ke Nusantara.

Geometri ujung batu dan pahatan ribuan batu besar dibuat sedemikian teratur rata-rata berbentuk pentagonal. Simbol “lima” ini mirip dengan tangga nada musik sunda pentatonis, da mi na ti na.

Keajaiban-keajaiban itu membuat orang takjub, khususnya para pengunjung situs. Banyak yang menyebut situs ini satu teater musikal purba, sekaligus kompleks peribadatan purba.

“Obelix harus ke sini,” kata seorang pengunjung dari Universitas Padjadjaran, Bandung, seperti tertulis dalam buku tamu kesan dan pesan setelah mengunjungi situs megalitik Gunung Padang.

Obelix adalah salah satu tokoh dari duet Asterix-Obelix dalam komik “Petualangan Asterix” karya Rene Goscinny dari Prancis, yang mengisahkan para ksatria Galia, Prancis awal, di era Romawi kuno.

Poligonal

Untuk mencapai situs, seseorang harus menapaki dulu 468 anak tangga batu endesit yang direkonstruksi, begitu bukit itu ditetapkan sebagai cagar budaya. Tangga batunya pun dibuat dengan hitungan matematis, dengan bilangan lima terlihat dominan.

Kalau Babylonia menganggap sakral angka 11 atau Romawi Kuno dengan angka 7, maka di Gunung Padang, bangsa kuno Nusantara yang mendiami tanah Pasundan ini “memuja” bilangan lima.

Di pelataran undak pertama, pemandangan menakjubkan terhampar dari seluruh konstruksi situs yang disusun dari kolom-kolom batu berdimensi kebanyakan segi lima, dengan permukaannya yang halus.

Batu-batu itu dipasang melintang sebagai tangga dari kaki bukit sampai pintu masuk situs. Di puncak bukit, pada pelataran pertama, pintu gerbangnya diapit kolom batu berdiri.

Sejumlah pakar menilai batu-batu itu tidak dibuat manusia, melainkan hasil proses geologis ketika aliran magma membeku, seperti terbentuknya retakan-retakan poligonal ketika lumpur mengering.

Proses serupa membentuk situs tanggasegi enam raksasa di Giant Causeway, Irlandia atau Borger-Odoorn di Belanda. Semuanya terjadi saat proses pendinginan lava menjadi batuan beku yang umumnya berjenis batu andesit.

Gunung Padang sendiri diperkirakan terbentuk dari hasil pembekuan magma, sisa gunung api purba era Pleistosen Awal, 21 juta tahun lalu.

Para pakar menilai, gunung itu adalah sumber alamiah kolom batu penyusun konstruksi situs, terbukti dari berserakannya kolom-kolom batu alamiah yang bukan dari reruntuhan situs yang banyak ditemukan di kaki Gunung Padang.

“Memang, batu-batu sejenis bisa dengan mudah digali dari kaki Gunung Padang ini,” kata Yuda, seraya menunjuk tumpukan batu andesit berbalut tanah merah di seberang jalan dan dekat dapur rumahnya.

Namun, masyarakat setempat percaya, seperti dituturkan Ahmad Zaenuddin, salah seorang pengelola situs sekaligus pelaku konstruksi situs megalitik Gunung Padang, batu-batu andesit di lokasi situs terlebih dahulu diukir di satu tempat yang kini disebut Kampung Ukir.

Kemudian, dicuci di satu empang yang tempatnya sekarang disebut Kampung Empang yang hingga kini terhampar serakan sisa-sisa ukiran batu purba. Kedua kampung berada sekitar 500 meter arah tenggara Situs Megalitik Gunung Padang.

Batu-batu andesit sendiri hanya ditemui di sekitar Gunung Padang. “Begitu menyeberangi Kali Cikuta dan Kali Cipanggulaan, tak ada lagi batu-batu besi seperti itu,” kata Zaenudin.

Kaki Cikuta dan Kali Cipanggulaan adalah dua sungai kecil yang mengapit situs Gunung Padang yang telah dicatat arkeolog Belanda, N.J. Krom, pada 1914.

Gunung Padang sendiri bukan satu-satunya kompleks tradisi megalitik. Masih ada peninggalan tradisi megalitik sekitar Cianjur di Ciranjang, Pacet, Cikalong Wetan dan Cibeber.

Yang pasti, situs megalitik Gunung Padang yang dapat ditempuh dalam waktu 45 menit dari kota Cianjur itu adalah yang paling menakjubkan dan paling agung.

Sayang, satu kilometer menuju lokasi, kondisi jalan menuju situs amat buruk, di samping penunjuk arah situs yang tak jelas. Lain dari itu, Situs Megalitik Gunung Padang tampaknya harus lebih dirawat dan dilindungi lagi. (*)

COPYRIGHT © 2009


2 Responses to “QS : Majelis Benteng Pancasila”


  1. August 6, 2009 at 10:06 am

    Shodaqollohuladzim….

  2. 2 fath81
    April 2, 2010 at 12:01 am

    wong golek duwittttttttttttttt


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 2,250,504 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: