Archive Page 53

20
Sep
13

Ekonomi : Model Manusiawi dan Illahiyah

 

HUMAN ECONOMY vs GOD’S ECONOMY
Consider what our Lord teaches us about servant leadership:?

HUMAN ECONOMY:
1. Pursuit of power and prestige
2. Improve wealth and status of the leader
3. See others as enemies and competitors
4. Motive is to remove or kill opposition
5. The result: THE LEADER IS GLORIFIED ?

GOD’S ECONOMY :
1. Pursuit of love and service to others
2. Improve the welfare of the people
3. See others as brothers who complement
4. Motive is to meet needs and grow the cause
5. The result: GOD IS GLORIFIED

————

EKONOMI MANUSIA VS EKONOMI ALLAH

Pertimbangkan apa yang Allah ajarkan pada kita tentang kepemimpinan hamba (servant leadership) ?

EKONOMI MANUSIA :
1. Mengejar kekuasaan dan prestise
2. Meningkatkan kekayaan dan status sang pemimpin
3. Melihat orang lain sebagai musuh dan pesaing
4. Motivasinya adalah untuk menghapus atau membunuh pesaing/lawan
5. Hasilnya: SANG PEMIMPIN DIMULIAKAN ?

EKONOMI ALLAH :
1. Mengejar kasih dan pelayanan kepada orang lain
2. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat
3. Melihat orang lain sebagai saudara yang melengkapi
4. Motivasinya adalah untuk memenuhi kebutuhan dan berbagi dengan orang lain tentang tujuan/purpose Allah
5. Hasilnya: ALLAH DIMULIAKAN, MASYARAKAT MAKMUR

Best Regards,
Christovita Wiloto
@wilotochristov

http://www.powerpr.co.id
http://www.wiloto.com
http://www.wilotocorp.com
http://www.strategicindonesia.com
http://www.indonesiayoungentrepreneurs.com
http://iye.wiloto.com

20
Sep
13

PusKesMas : Daun Salam Atasi Asam Urat

17 September 2013 | 17:22 wib
Atasi Asam Urat dengan Daun Salam
image

Foto: Wikipedia

DAUN salam atau bahasa latinya Syzygium polyanthum merupakan salah satu jenis rempah-rempah yang sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat. Daun salam sendiri saat ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan pelengkap dan penyedap alami pada masakan karena aromanya yang khas.

Namun ternyata selain menjadi penyedap kuliner daun salam mempunyai banyak khasiat dan manfaat untuk kesehatan:

Menurunkan kadar kolesterol tinggi

Cuci 10-15 lembar daun salam segar, lalu rebus dalam 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sekaligus di malam hari. Lakukan setiap hari.

Mengatasi asam urat

10 lembar daun salam direbus dengan 700 cc air hingga tersisa 200 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat.

Kencing manis

Cuci 7-15 lembar daun salam segar, lalu rebus dalam 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sekaligus sebelum makan. Lakukan sehari 2 kali.

Diare

Cuci 15 lembar daun salam segar. Rebus dalam dua gelas air sampai mendidih selama 15 menit. Tambahkan sedikit garam. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sekaligus

Menurunkan tekanan darah tinggi

Cuci 7-10 lembar daun salam, lalu rebus dalam 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sehari 2 kali, masing-masing setengah gelas.

Kudis, gatal-gatal

Untuk pengobatan luar, cukup ambil daun, kulit, batang, atau akar salam seperlunya. Cuci bersih, lalu giling halus sampai menjad adonan seperti bubur. Balurkan ke tempat yang gatal, kemudian dibalut.

Maag

Cuci bersih 15-20 lembar daun salam segar. Rebus dengan 1/2 liter air sampai mendidih selama 15 menit. Tambahkan gula enau secukupnya. Setelah dingin, minum airnya sebagai teh. Lakukan setiap hari sampai rasa perih dan penuh di lambung hilang.

(Gesti Arma/CN31)

__._,_.___
20
Sep
13

Konstitusi : Pasal-33 UUD45 [1959] Strategik

Ben S. Bernanke yang Chairman dari the Federal Reserve Bank di Amerika dalam disertasi doktoralnya di MIT tentang Great Depression tahun 1929, berpendapat bahwa peran intervensi negara dan bank sentral yang lebih besar penting sebagai solusi strategik atasi krisis ekonomi keuangan saat itu. Intervensi berarti aksi regulasi otoritas keuangan pemerintah seperti yang dilakukannya pada tanggal 18 September 2013 yang lalu yaitu kebijakan stimulus dilanjutkan. Hasilnya sentimen pasar finansial terdampak positif sejuk teduh dan gejolak ekonomi mengecil.
Peran regulasi strategik itu sesungguhnya sudah terpikirkan oleh the founding fathers ketika merumuskan konstitusi pada tahun 1945 dengan mencantumkan Pasal-33, sangat mungkin sekali belajar bercermin dari peristiwa Great Depresion 1929-1933 itu. Dengan kata lain pembiaran terhadap pola ekonomi pasar bebas sudah diantisipasi.
Oleh karena itulah amandemen berwujud Pasal-33 UUD45 (2002) yang dirasakan terbuka kearah orientasi pasar bebas (laissez-faire) yang patuh total pada libertarianisme Adam Smith, seharusnya segera dibatalkan mengacu pragmatisme kebijakan the Fed tanggal 18 September 2013 itu yang berujung manfaat bagi banyak bangsa sedunia. Dengan pemberlakuan kembali Pasal-33 UUD45 (1959) diyakini akan senantiasa terjadi harmonisasi dengan kebijakan2 ekonomi keuangan global sehingga kehidupan ekonomi Indonesia akan lebih terasa ramah bagi warganya sendiri.
Jakarta, 20 September 2013
Pandji R Hadinoto, Nasionalis Pancasila
eMail : pkp17845@gmail.com

Selamat Pagi Sobat2 NasPan45.jpg

Selaku warga Jakarta peduli Penegakan Konstitusi Proklamasi 17845 (PKP45) yang berkearifan lokal (17 butir Jiwa Semangat Nilai2 45 + 8  butir Kepemimpinan Hastabrata + 45 butir Pengamalan Pancasila per Tap MPRRI No. XVIII/1998), bersama ini serukan “Batalkan Pasal-33 UUD45 (2002) dan Berlakukanlah Pasal-33 UUD45 (1959)” bercermin pada hari bersejarah mengenang kepahlawanan warga Djakarta pada Rapat Raksasa di IKADA tanggal 19 September 1945 untuk menegakkan Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945.
Seruan ini dalam rangka turut memperkuat Ketahanan Fundamental Ekonomi Indonesia demi Politik TRISAKTI (Politik Berdaulat, Ekonomi Berdikari, Budaya Berkepribadian) dan Kehidupan Ekonomi Tidak Ganas dalam konteks Strategi 7 Ketahanan Bangsa,  sekaligus terapi atas peristiwa perlambatan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi kesejahteraan rakyat yang kini terjadi.
Semoga seruan kepada seluruh komponen masyarakat, bangsa, negara yang peduli atas kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini mampu menopang kepastian terwujudnya amanat Pembukaan UUD45.
Jakarta, 19 September 2013
Penegak Konstitusi Proklamasi 17845,
Pandji R Hadinoto, Nasionalis Pancasila

11
Sep
13

Patriot : Tionghoa Veteran 45 yang terlupakan

Para Tionghoa Veteran 45 Yang Terlupakan

Monday, 11 February 2013

Viewed 3455 times, 3 times today | 13 Comments |

Iwan Ong Santosa

Bercelana rombeng berlubang, kemeja lusuh, seorang kakek tua berdarah Tionghoa tinggal rumah berdinding gedek yang atapnya bocor di sana-sini tempat air hujan deras mengalir di sudut Kota Tulung Agung, pelosok Jawa Timur. Itulah sosok Oei Hok San (86) Veteran Pejuang Kemerdekaan 1945 mantan Tentara Pelajar (TP) di Kediri Jawa Timur yang terlupakan.

Oei Hok San tinggal di sebuah gubuk yang disewanya di belakang garasi bus Lestari di RT 01 RW 07 di Kelurahan Kedung Waru, Kecamatan Kedung Waru, Jalan Pahlawan Nomor 17 Kota Tulung Agung. Dia menceritakan dengan lirih, betapa di Tulung Agung terdapat 350-an pejuang yang ditembak mati Belanda di dua buah toko dan sebuah gudang. Sebanyak 300 pejuang suku Jawa dan 50 pejuang suku Tionghoa ditembak mati ketika itu.

merah-putih

Semasa perang kemerdekaan 1945-1949 banyak pejuang dari suku Tionghoa yang juga terlibat dalam pertempuran melawan Belanda di garis depan, garis belakang mau pun daerah pendudukan Belanda. Para Veteran tersebut ditemui di berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, Sumatera dan daerah lain di Indonesia.

Ardian Purwoseputro yang aktif membuat dokumenter sejarah di Jawa Timur mengaku di kalangan sesepuh TP dan TRIP Jawa Timur diakui banyak komandan Tionghoa terlibat dalam perjuangan di garis depan di Front Jawa Timur.

Perjuangan di Tulung Agung adalah salah satu contohnya. Oei Hok San menceritakan ayahnya Oei Djing Swan memerintahkan seorang pejuang bernama Tan Bun Yin membalas dendam terhadap seorang Mayor KL (Koninlijk Leger) yang menembak mati Dokter Tan Ping Djiang seorang republiken yang menentang Belanda saat Clash II terjadi tahun 1949. Dokter Tan yang beristerikan seorang perempuan Belanda memerintahkan komandan Belanda memberitahukan H.J. van Mook bahwa Indonesia dan Asia sudah merdeka. “Kasih tahu van Mook, Belanda silahkan mundur dari Indonesia,” kata Hok San menirukan ucapan dokter Tan Ping Djiang.

Akhirnya dokter Tan ditembak mati serdadu Belanda dari Princess Irene Brigade. Selanjutnya, Mayor Belanda yang memerintahkan eksekusi dokter Tan tersebut, ditembak dari jarak dekat di Restoran Baru di dalam Kota Tulung Agung sebelah barat alun-alun oleh seorang pemuda Tan Bun Yin atas suruhan ayah Hok San.

Saat Belanda menduduki Tulung Agung, aksi pembersihan terhadap unsur Republikein berlangsung. Para pemuda Jawa dan Tionghoa yang berjuang, dikumpulkan di Gudang OTB, Toko Perca dan Gudang Kobong. Mereka diberondong peluru tentara Belanda di sana. Tidak sebuah monumen pun didirikan bagi mereka…

Oei Hok San sesudah pengakuan kedaulatan bergabung dengan Batalyon 507-Sikatan. Dia ikut operasi penumpasan RMS di Ambon, pemberantasan DI-TII di Makassar dan Jawa Barat hingga Operasi Mandala-Trikora merebuat Irian Barat.

Pertempuran 10 November

Keberadaan para Tionghoa Veteran 45 juga dapat ditemui di Kota Pahlawan Surabaya. Sebutlah Liauw Thian Moek alias Leo Wenas (89) yang tinggal di Jalan Raya Gubeng. Mantan Anggota BKR itu masih bersemangat menceritakan para Arek Suroboyo berjuang melawan Inggris-Belanda. Pemuda yang kala itu sempat hampir menghancurkan kekuatan Inggris di Gedung Internatio harus mundur mengikuti perintah Bung Karno yang diminta SEAC (South East Asia Command) untuk menjadi mediator. Namun, gencatan senjata yang hanya berlangsung tiga hari, digunakan pihak Inggris mundur ke Tanjung Perak, memperkuat diri dan terjadilah pertempuran berdarah 10 November 1945 dengan korban hampir 10.000 pemuda-pemudi Indonesia.

“Kami bermodal bambu runcing berusaha menjebak serdadu Inggris yang lengah. Pernah satu jip berisi Gurkah terjebak lalu dikerubuti pemuda beramai-ramai. Mereka semua tewas,” kata Liauw Thian Moek.

Ketika itu banyak pemuda-pemudi Tionghoa juga terlibat dalam pertempuran sebagaimana dicatat Pramoedya Ananta Toer dalam Kronik Revolusi Indonesia Jilid I dan juga catatan khusus BM Diah dalam edisi khusus Merdeka mengenang enam bulan kemerdekaan Republik Indonesia bulan Februari 1945. Pramoedya mencatat, siaran radio pejuang Tionghoa di Surabaya mendesak dunia internasional menekan Inggris-Belanda yang melakukan agresi serta tindakan keji di Kota Pahlawan.

Tidak kalah seru cerita Letnan Kolonel (Purn) Ong Tjong Bing alias Daya Sabdo Kasworo (90)   ikut merawat korban pertempuran 10 November 1945 yang dibawa ke Malang. Pria asal Desa Kerebet itu kemudian mengikuti pendidikan tekniker gigi dan dokter gigi lalu bergabung sebagai militer tahun 1953 sebagai pegawai sipil. Dia mulai menyandang pangkat militer sebagai Kapten tahun 1955 di bawah Resimen Infanteri RI-18 Jawa Timur.

Ong Tjong Bing yang sangat Kejawen itu terlibat dalam operasi anti PRII-Permesta, DI-TII hingga Operasi Mandala-Trikora. Dia mengalami dikepung gerombolan DI-TII di Jawa Barat, diminta komandan menggalang masyarakat Tionghoa Pekanbaru saat operasi PRII-Permesta hingga akhirnya diminta mendirikan RS militer di Soekarnopura (Jayapura) dan RS sipil di kota tersebut.

Dia adalah kepala Kesehatan Kodam (Kesdam) Cendrawasih pertama. Menpangad Jenderal Ahmad Yani beserta sejumlah asisten mengenal dia secara pribadi dan selalu mengabulkan permintaan Tjong Bing alias Kasworo. Dia pun turut dalam sejumlah patroli garis depan dan memegang senjata langsung termasuk menghadapi kelompok “Merah” (Komunis) seperti dalam tanggap bencana letusan Gunung Agung di Bali.

Dia berharap generasi muda Tionghoa tidak trauma dengan peristiwa 1965 dan berperan di masyarakat dalam beragam sendi kehidupan dan tidak hanya terlibat di dunia perdagangan belaka. Dia pensiun di tahun 1976 dengan pangkat Letnan Kolonel. Keputusannya menjadi militer tidak pernah disesali oleh pria yang kemudian menjadi ketua Kelenteng di Malang.

Cerita serupa didapat dari keluarga Almarhum Lie Yun Fong atau Ali Sudjianto. Menurut Lie Ie Tjing puteri Ali, ayahnya adalah wartawan Sin Po kelahiran Canton, kini Guangzhou, China tahun 1909 yang mewartakan kemerdekaan RI dalam bahasa Mandarin yang kemudian dikutip oleh BBC. “Dia juga ikut hijrah dari Jakarta ke wilayah pedalaman di Jogjakarta mengikuti pemerintahan Soekarno-Hatta. Dia pernah bekerja bersama sebagai senior dari Adam Malik dan turut ditawan Belanda saat Clash ke-II,” kata Ie Tjing.

Keluarga besar Ie Tjing kini bermukim di Semarang dan mengurus Toko Boma di Jalan Pekojan nomor 50 Semarang peninggalan Lie Yun Fong. Ie Tjing meningat pesan ayahnya agar tidak “aji mumpung”. Semasa Adam Malik menjadi Wakil Presiden, beberapa kali mereka didorong untuk minta fasilitas dari orang nomor dua di Republik Indonesia itu.

“Papi berpesan yang penting Indonesia sudah merdeka. Kita tidak usah mikir fasilitas macam-macam dari pejabat,” kata Ie Tjing.

Sedangkan di Bogor, Serma (Purn) Ong Tjin Siong alias Anton Santoso (89) mantan Komandan Seksi Tentara Pelajar Detasemen 217, Comal, Jawa Tengah masih aktif dalam kegiatan veteran serta mengunjungi Kelenteng Pasar Bogor. Dia menceritakan, ketika itu lazim pemuda Tionghoa terutama di pedesaan dan kota kecil bergabung di Tentara Pelajar atau pun TRIP.

“Kita sering berpatroli. Menjebak Belanda dengan menyodorkan PSK lalu senjata serdadu Belanda kita curi. Selain itu TP juga mengurusi Laskar-Laskar yang bertindak sekehendak hati dan tidak tunduk pada komando militer resmi Republik Indonesia,” ujar Anton Ong.

veteran-tionghoa

Kambing Hitam G30-S PKI

Sayang situasi politik pasca G-30S membuat banyak perwira dan prajurit TNI menjadi korban. Tidak terkecuali banyak prajurit Tionghoa yang dikambing-hitamkan. Pada tahun 1968, Oei Hok San pun meninggalkan kesatuan dan berusaha menyembunyikan identitasnya pernah mengabdi sebagai seorang sersan infanteri di salah satu batalyon kebanggan Kodam Brawijaya itu.

Fitnah dan menjadi korban kambing hitam pasca G-30S memang terjadi terhadap banyak prajurit TNI ketika itu. Kwik Kian Djin (Budi Setiadharma) adik kandung ekonom Kwik Kian Gie yang semasa itu berpangkat Letnan Satu TNI Angkatan Laut dalam satu percakapan di Semarang, Jawa Tengah, mengakui adanya kondisi tidak menentu dan pengkambinghitaman perwira TNI termasuk perwira Tionghoa. Dia malah diminta oleh komandannya untuk tidak kembali ke kesatuan demi keselamatan diri.

Para taruna Akademi Angkatan Udara (AAU) atau Karbol tahun 1965 yang lulus setelah G-30S juga tidak luput dari gonjang-ganjing politik. Angkatan yang disebut sebagai Angkatan Kalipepe itu terpaksa mengeluarkan (memecat) enam orang Karbol Tionghoa. Dalam buku angkatan Alumni AAU 1965 yang salah seorang tokohnya adalah Marsekal (Purn) Rilo Pambudi disebutkan para kadet berdarah Tionghoa tersebut “terlibat”.

Namun, sejatinya hubungan para kadet Tionghoa dengan teman-temannya dari suku lain tetap baik dan akrab hingga kini. Salah satu kadet Tionghoa tersebut kelak menjadi pilot pribadi di keluarga pengusaha rokok Gudang Garam di Kediri. Antonius Lukito putera seorang penerbang alumni AAU 1965 menceritakan para Karbol Angkatan 1965 masih saling menjaga persaudaraan.

Para Veteran Tionghoa itu berjuang seperti rekan-rekannya dari Suku Jawa, Madura, Bali dan lain-lain dengan satu harapan, Indonesia merdeka dan makmur. Indonesia memang sudah merdeka secara fisik tetapi belum lagi makmur.

Oei Hok San yang kehidupannya paling menderita dari para nara sumber tersebut tidak mengharapkan tunjangan dan hak-haknya sebagai Veteran 45 diberikan oleh negara. “Saya cuma berpesan agar ada monumen dibangun untuk menuliskan nama-nama teman-teman pejuang PEMTA. Kasihan mereka dilupakan begitu saja,” kata Hok San yang hidup menggelandang dari satu kelenteng ke kelenteng lain di hari tuanya.

Sungguh ironis nasib para Tionghoa Veteran 45 seperti Oei Hok San dibanding kehidupan para konglomerat Tionghoa pembeli konsesi politik-ekonomi yang bisa menghabiskan jutaan rupiah untuk sekali bersantap di restoran super mewah pada Perayaan Imlek.

Catatan dari Engkong Oei Hok San:

Ada yang tergerak buat monumen kecil di Tulung Agung buat mengenang 300 pejuang Jawa dan 50 pejuang Tionghoa yang dikumpulkan Belanda lalu dieksekusi waktu Clash ke-II? Itu pesan Engkong Oei Hok San, Veteran Tentara Pelajar (TP) Kediri yang kehilangan teman-temannya tersebut. Engkong Hok San hidup di rumah sewaan berdinding bilik dan atapnya bocor di sana-sini. Darah pejuang Jawa dan Tionghoa tumpah agar kita bisa hidup nyaman hari ini. Kamsiah buat Engkong Hok San dan para kawan-kawannya yang sudah gugur buat Merah Putih.

Kiong Hie buat semua. Iwan Ong

Note Redaksi:

Iwan Ong Santosa adalah seorang sahabat yang berkarya sebagai wartawan Kompas. Tulisan ini adalah salah satu liputan khusus dalam Kompas hari Sabtu tanggal 9 Februari 2013 yang dibagikannya kepada Baltyra.com. Sudah menerbitkan beberapa buku yang terspesialisasi seputar dunia militer dan budaya Tionghoa.

Selamat datang dan selamat bergabung! Make yourself at home, ditunggu tulisan-tulisannya yang lain…

11
Sep
13

MiGas : Mafia Hulu ke Hilir

Mafia Migas Membentang dari Hulu ke Hilir

Sigit Wibowo | Senin, 09 September 2013 – 15:35:22 WIB


(dok/antara)
Sejumlah penyidik KPK memperlihatkan barang bukti uang dugaan suap terhadap Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini di Gedung KPK Jakarta, Ra
Rakyat Indonesia seperti tikus mati di lumbung padi.

Korupsi di sektor minyak dan gas (migas) memang telah berlangsung selama lebih dari empat dekade atau sejak Soekarno didongkel dari kekuasaan oleh Soeharto yang ditopang Amerika Serikat (AS).

Indonesia lalu dipersembahkan kepada perusahaan-perusahaan multinasional atas jasa-jasanya memberikan kontribusi dalam menggusur pemerintahan nasionalis Soekarno yang dinilai anti-Barat.

Tak mengherankan sejak era Soeharto perusahaan-perusahaan migas asing seperti Chevron, ExxonMobil, Total, British Petroleum (BP), dan lain-lain bisa mengekspolorasi migas Indonesia secara leluasa. Pemerintah Soeharto hanya memungut upeti dalam bentuk kepemilikan saham atau suap kepada keluarga Cendana guna memperlancar bisnisnya.

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad paham akan masalah nyata yang dihadapi bangsa Indonesia. Maka pernyataannya yang secara berani dan terbuka saat memberikan pembekalan mengenai potensi korupsi dalam Rakernas III PDIP di Ecovention, Jakarta, akhir minggu ini menunjukkan Ketua KPK merupakan sosok calon pemimpin yang pro-rakyat dan menjadi harapan bangsa ke depan.

Samad berbicara sekitar 1,5 jam menjelaskan mengenai berbagai potensi korupsi yang sangat mungkin terjadi karena perselingkuhan kekuasaan politik bekerja sama dengan perusahaan migas, baik asing maupun domestik.

Untuk itu perlu perbaikan secara menyeluruh di sektor-sektor strategis yang saat ini masih dikuasai oleh perusahaan asing dan merugikan negara. Samad juga menyatakan berdasarkan hasil kajian KPK, 50 persen perusahaan di sektor migas dan batu bara tidak membayar pajak. “Pembagiannya seharusnya 60 persen untuk Indonesia, 40 persen asing,” ujar Samad.

Indonesia memiliki 45 blok eksplorasi migas dan pertambangan. Hasil dari blok tersebut sangatlah besar. Misalnya eksplorasi minyak di blok Mahakam menghasilkan Rp 120 triliun per tahun, ditambah Rp 145 triliun dari blok Madura tiap tahun maka penduduk Indonesia sebenarnya tidak boleh ada yang miskin.

Jadi amat ironis jika saat ini ada 50 persen penduduk Indonesia hidup dari US$ 2 per hari. “Sebanyak 45 Blok eksplorasi migas kalau beroperasi semua mendapat Rp 7.200 triliun. Dalam catatan migas tahun 2013, minimal pendapatan Rp 20.000 triliun per tahun. Saya mencoba membagi dengan 241 juta penduduk Indonesia. Setiap orang dapat Rp 20 juta, sehingga tak ada yang miskin,” kata Abraham.

Peneliti Institute for Global Justice (IGJ) Salamuddin Daeng menyatakan, akibat korupsi yang dilakukan mafia migas, rakyat Indonesia Indonesia ibarat tikus mati di lumbung padi. Konsesi blok migas kian meluas, bagaikan lubang tikus di tengah sawah, mencapai puluhan ribu sumur migas, namun produksi merosot karena tikus-tikus menggerogoti produksi minyak nasional.

Pengamat intelijen John Mempi menyatakan ada pihak yang menikmati untung besar dari impor bahan bakar minyak (BBM), yakni elite penguasa.

Ia mengutip sumber dari Badan Intelijen Negara (BIN), jumlah pembelian BBM dan minyak mentah melalui anak usaha Pertamina di Singapura yakni Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) sebesar Rp 33 triliun per bulan. Jumlah keuntungan Rp 12 triliun masuk ke kas Petral dan Rp 4 triliun masuk ke kantong seorang makelar yang bernama Reza Chalid.

Mempi menjelaskan, Petral merupakan anak perusahaan Pertamina yang berhubungan dengan perusahaan minyak swasta Indonesia yang membeli minyak yang diolah oleh kilang-kilang Pertamina. Dari 840.000 barel per hari produksi nasional, 40 persen diekspor.

Selanjutnya untuk memenuhi kebutuhan nasional 700.000-800.000 barel per hari diimpor kembali. Kegiatan impor dan ekspor minyak ini menjadi lahan bisnis yang sangat menguntungkan bagi jaringan mafia minyak bekerja sama dengan penguasa korup.

Pertamina Diabaikan

Koordinator Eksekutif Gerakan Nasionalisasi Migas (GNM) Muslim Arbi mendesak KPK bertindak secara nyata dalam memberantas mafia migas yang ada dari hulu sampai hilir.

Indikasi adanya kejahatan menggadaikan kekayaan sumber daya alam minyak dan gas bumi (migas) dilakukan pemerintah saat ini. Dalam catatan GNM, usai Sidang APEC di Santiago Chili pada 20-21 November 2004, setelah pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) George Walker Bush dan Presiden SBY selanjutnya blok Cepu diserahkan kepada ExxonMobil.

Direktur Utama PT Pertamina Widya Purnama yang gigih dan secara tegas mengatakan Pertamina mampu mengelola dan menjadi operator Blok Cepu, pada 8 Maret 2006 dicopot dan diganti oleh Arie Soemarno. Beberapa hari usai persetujuan blok Cepu dikelola ExxonMobil, Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice pada 14 Maret 2006 berkunjung ke Indonesia

Selanjutnya, Perdana Menteri Inggris David Cameron menerima kunjungan Presiden SBY ke Downing Street, London, pada 2 November 2012 dan perusahaan Inggris BP dihadiahi proyek pembangunan gas alam cair (LNG) sebesar US$ 12 miliar.

Sebelum penandatangan proyek ini, Ratu Inggris Elezabeth II memberi penghargaan Knight Grand Cross in the Order of Bath atau dikenal sebagai Anugrah Kesatria Salib kepada Presiden SBY di Istana Buckingham, London, pada 31 Oktober 2012. Hal ini berarti menganulir kesiapan Pertamina melaksanakan pembangunan kilang LNG Train-3 Blok Tangguh karena konsesi diserahkan kepada BP Plc lewat anak usahanya BP Indonesia.

Muslim Arbi mengungkapkan isu migas yang sedang memanas adalah akan berakhirnya kontrak Total E&P Indonesie milik Prancis yang bermitra dengan Inpex Coporation asal Jepang di blok Mahakam pada 31 Maret 2017. Kendati Pertamina sejak Juni 2008 dan tahun 2011 telah menyampaikan proposal pengajuan untuk mengelola sekaligus menjadi operator Blok Mahakam pasca 2017, namun ini dianggap sebelah mata oleh pemerintah.

Pejabat-pejabat Prancis mulai dari Perdana Menteri Prancis Francois Fillon, Menteri Perdagangan Luar Negeri Prancis Nicole Bricq, dan Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius datang ke Indonesia agar memperpanjang kontrak Total di blok Mahakam.

Namun keberadaan mafia migas dari hulu ke hilir yang ditopang kekuasaan ini dibantah oleh Partai Demokrat yang merupakan partai penguasa. Ketua DPP Partai Demokrat, Didi Irawadi Syamsudin, membantah berbagai tuduhan yang menyatakan bahwa pemerintah sengaja membiarkan korupsi dan praktik mafia migas.

Ia juga menolak bahwa korupsi sektor migas menguntungkan Partai Demokrat. “Tidak ada, rakyat Indonesia tidak ada yang diuntungkan oleh korupsi di sektor migas ini. Rakyat Indonesia dirugikan, termasuk Partai Demokrat dan semua. Apalagi Partai Demokrat sangat dirugikan dengan kejadian ini, karena ini kan bagian dari oknum kekuasaan yang menyalahgunakan kekuasaannya,” kata Didi.

Ia juga membantah bahwa pemerintah, dalam hal ini Partai Demokrat yang menguasai pos Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sengaja membiarkan korupsi terjadi karena menguntungkan mereka.

“Pemerintah tidak pernah membiarkan. Itu adalah pihak-pihak tertentu yang membuat masalah, yang tentu harus ditindak. Kalau sistem pengelolaan migas di Indonesia ternyata memberikan peluang korupsi, ya sistemnya harus diperbaiki, ini yang paling utama. Sistem diperbaiki sehingga memperkecil celah terjadinya penyalahgunaan,” kata Didi. (CR-39)

Sumber : Sinar Harapan
Proyek CBM Pertamina-Sugico ‘Bermasalah’

Jakarta, Aktual.co — Proyek gas metana batubara (coalbed methane/CBM) antara Sugico Group dengan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) diduga bermasalah. Bahkan, PT Pertamina (Persero) sebagai induk usaha PHE sempat meminta agar proyek kerja sama tersebut dihentikan sementara.

Dalam dokumen yang diterima Aktual.co terungkap, pada 5 Desember 2012, Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina M Afdal Bahaudin pernah mengeluarkan surat dengan nomor surat 245/R00000/2012-SO perihal penghentian pembahasan kerja sama dengan Sugico Group (kerja sama di bidang CBM).

Dalam suratnya Afdal menulis, “Terkait dengan penawaran kerja sama di bidang CBM dari Sugico Group, maka dengan ini disampaikan bahwa tindak lanjut pengembangan kerja sama di bidang CBM dengan Sugico tersebut akan dilakukan di tingkat korporat. Sehingga pembahasan kerja sama antara PHE dan Sugico Group agar diberhentikan sementara sambil menunggu penyelesaian pembahasan kerja sama tersebut di Direktorat Perencanaan Investasi & Manajemen Risiko, PT Pertamina.”

Dokumen lain yang diperoleh Aktual.co dengan judul ‘Risalah Rapat Direksi’ No RRD-59/C00000/2013-SO tanggal 25 Maret 2013, mengungkapkan, Sugico Group melalui unit usahanya, PT Sugico Graha, berniat menjadi operator dan melakukan pengalihan participating interest (PI) di Pertamina kepada Sugico Graha di lima blok PSC CBM.

Kelima blok CBM itu adalah, Muara Enim 1, Muara Enim 3, Air Benakat 1, Air Benakat 2, dan Air Benakat 3. Semula, Sugico di kelima blok tersebut ‘hanya’ memiliki eksisting masing-masing 35% saham (Muara Enim 1), 27% (Muara Enim 3), 20,5% (Air Benakat 1), 30,3% (Air Benakat 2), dan 26,5% (Air Benakat 3).

Adapun usulan peningkatan PI yang diminta Sugico adalah meningkat menjadi masing-masing sebesar 49% di kelima blok CBM tersebut. “Sugico akan meng-carry Firm Commitment selama tiga tahun di lima blok CBM yang diusulkan,” tulis dokumen tersebut. Pihak Sugico pun berjanji akan melakukan percepatan pengembangan lapangan CBM dari fase eksplorasi menjadi fase produksi. Anehnya, Sugico tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk menambah PI tersebut.

Ironisnya, semua jajaran direksi Pertamina meneken surat persetujuan pengalihan PI tersebut. Direksi mengeluarkan tiga keputusan. Pertama, menyetujui untuk melakukan kerja sama percepatan pengembangan wilayah kerja (WK) CBM dengan Sugico Graha dengan empat aset WK CBM, yakni Muara Enim 1, Muara Enim 3, Air Benakat 1, dan Air Benakat 2.

Kedua, menyetujui untuk melepas operatorship dan penurunan PI pada empat aset WK CBM, yakni yakni Muara Enim 1, Muara Enim 3, Air Benakat 1, dan Air Benakat 2. Ketiga, menyetujui untuk lanjut ke tahap negosiasi dengan Sugico Graha atas pengalihan operatorship dan pengalihan PI.

Jajaran direksi Pertamina yang meneken keputusan tersebut adalah, Karen Agustiawan (direktur utama), M Afdal Bahaudin (direktur Perencanaan Investasi & Manajemen Risiko), Muhamad Husen (direktur hulu), Chrisna Damayanto (direktur Pengolahan), Hanung Budya (direktur Pemasaran dan Niaga), Hari Karyuliarto (direktur Gas), Luhur Budi Djatmiko (direktur Umum), Evita M Tagor (direktur SDM), dan Andri T Hidayat (direktur Keuangan).

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan, pihaknya merasa aneh dengan adanya keputusan tersebut. “Ini jelas aneh, PI berkurang tapi kok tidak ada uang yang masuk ke Pertamina? Implementasi yang ditawarkan Sugico dalam bentuk apa? Kalau hanya mempercepat fase dari eksplorasi ke produksi itu hal biasa,” kata Pri Agung di Jakarta, Selasa (10/9).

Pri Agung menilai, pihak Pertamina harus membuat kesepakatan yang jelas dengan Sugico agar dikemudian hari publik tidak menilai bahwa Pertamina memberikan PI keempat WK CBM kepada Sugico secara gratis.

Hingga berita ini diturunkan, Aktual.co belum memperoleh konfirmasi berita tersebut dari pihak Pertamina. Juru bicara Pertamina Ali Mundakir ketika coba dihubungi Aktual.co sedang rapat. “Mas maaf saya sedang rapat, nanti saya hubungi,” kata Ali.

Proyek CBM Pertamina-Sugico Bernilai Rp 62,82 Triliun

Harga gas (gas price) blok gas metana batubara (coalbed methane/CBM) yang dikerja samakan antara PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dengan PT Sugico Graha sekitar USD 5 per Mcf. Hal itu terungkap dalam dokumen ‘Risalah Rapat Direksi’ No RRD 59/C00000/2013-SO tertanggal 25 Maret 2013.

Dalam dokumen itu tertulis berbagai item menyangkut soal latar belakang, risiko, dan mitigasi proyek kerja sama tersebut. Anehnya, meskipun di dalam kerja sama itu Sugico disetujui menambah saham (participating interest/PI) menjadi masing-masing sebesar 49% di empat blok CBM, yakni Muara Enim 1, Muara Enim 3, Air Benakat 1, dan Air Benakat 2, namun di dalam asumsi keekonomian tertulis bagian kontraktor (contractor share) hanya sebesar 45%.

Dokumen itu juga mengungkapkan bahwa belanja modal (capital expenditure/capex) untuk mengelola keempat blok CBM tersebut mencapai USD 5.636.962.855, atau setara Rp 62,82 triliun (kurs Rp 11.145). Itu belum ditambah capex blok Air Benakat 3 sebesar USD 934.721.949, setara Rp 10,42 triliun, yang ‘belum dioperatori’ Sugico. Rinciannya, Muara Enim 1 USD 1.942.040.613, Muara Enim 3 USD 1.931.021.726, Air Benakat 1 USD 882.625.898, Air Benakat 2 USD 881.274.618, dan Air Benakat 3 USD 934.721.949.

Berikut profil lapangan CBM yang dikerja samakan antara PHE dengan Sugico;
Muara Enim 1 :
–    Berlokasi di Muara Enim dan Prabumulih, Sumatera Selatan dan berada di stratigraphy Sandstone,
Claystone, dan Coal.
–    Perhitungan gas in place Muara Enim 1 berada pada volume sebesar 3,95 Tcf dengan rumus Kim’s Formula
(Gas in Place estimation).
Muara Enim 3 :
–    Berlokasi di Muara Enim, Ogan Komering, dan Prabumulih, Sumatera Selatan dan berada di stratigraphy
Sandstone, Claystone, dan Coal.
–    Perhitungan gas in place Muara Enim 3 berada pada volume sebesar 5,20 Tcf dengan rumus Kim’s Formula
(Gas in Place estimation).
Air Benakat 1 :
–    Berlokasi di Muara Kelingi dan Lahat, Sumatera Selatan dan berada di stratigraphy Sandstone, Claystone,
dan Coal.
–    Perhitungan gas in place Air Benakat 1 berada pada volume sebesar 1,54 Tcf dengan rumus Kim’s Formula
(Gas in Place estimation).
Air Benakat 2 :
–    Berlokasi di Muara Kelingi, Musi Banyu Asin, dan Muara Enim, Sumatera Selatan dan berada di
stratigraphy Sandstone, Claystone, dan Coal serta formasi talang akar.
–    Perhitungan gas in place Air Benakat 2 berada pada volume sebesar 1,64 Tcf dengan rumus Kim’s Formula
(Gas in Place estimation).
Air Benakat 3 (Sugico Non-operator, tidak terjadi perubahan PI) :
–    Berlokasi di Muara Enim dan Prabumulih, Sumatera Selatan dan berada di stratigraphy Sandstone,
Claystone, dan Coal.
–    Perhitungan gas in place Air Benakat 3 berada pada volume sebesar 3,98 Tcf dengan rumus Kim’s Formula
(Gas in Place estimation).

09 September 2013 | 02:21 wib

PBNU Ingatkan Potensi Bahaya

atas

Penguasaan Aset Bangsa


WONOSOBO, suaramerdeka.com
– Rapat Pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2013 di Pondok Pesantren Universitas Sains Al Quran (UNSIQ), Wonosobo, Jawa Tengah, secara resmi ditutup pada Minggu (8/9/2013).

Di sektor ekonomi PBNU mengingatkan adanya potensi bahaya atas penguasaan aset bangsa yang sangat terbatas. Beberapa aspek menjadi penilaian Komisi Rekomendasi Rapat Pleno PBNU 2013 dalam putusannya di sektor ekonomi, antara lain penguasaan aset hanya oleh 20% konglomerat di Indonesia.

“PBNU memiliki kewajiban moral mengingatkan tentang kondisi ini, karena jika dibiarkan akan mempertajam kesenjangan sosial, yang kaya semakin kaya, dan yang miskin akan terus miskin. Bahaya lebih jauh yang harus diantisipasi adalah kemungkinan adanya kecemburuan berujung anarkisme,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam jumpa pers seusai penutupan Rapat Pleno.

PBNU melihat penguasaan aset bangsa terjadi tidak hanya pada sumber daya alam. Implementasi program liberalisasi di Indonesia berupa perdagangan bebas telah mendorong masuknya retail asing secara langsung. “Jika ini terus dibiarkan, pelaku ekonomi di bawah, yang mayoritas adalah orang-orang NU akan terbunuh. Atas kondisi ini PBNU mendesak Pemerintah segera menata ulang dan menghentikan masuknya retail asing hingga ke desa-desa, serta sesegera mungkin melakukan penguatan perdagangan dan distribusi dalam rangka pengembangan ekonomi kerakyatan,” tambah Kiai Said.

Rapat Pleno PBNU 2013 juga merekomendasikan dilakukannya perubahan orientasi pembangunan ekonomi agar sesuai dengan semangat Pasal 33 UUD 1945. Pembangunan ekonomi nasional hendaknya berpijak pada sumberdaya yang ada di tanah air sendiri, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, permodalan serta teknologi.

Selain itu, sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 33 UUD 1945, PBNU juga mengingatkan jika seluruh sumber daya alam harus dimiliki, dikuasai, dan dikelola oleh negara secara tegas. Sektor ekonomi strategis yang lain seperti energi, pangan dan hutan, juga harus dikuasai oleh negara dengan mempertahankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ada.

Sementara menyikapi ancaman krisin ekonomi, yang mana kondisi ini dinilai terus berulang, PBNU meminta Pemerintah segera membangkitkan usaha nasional, terutama industrialisasi sektor pertanian dan manufaktur yang banyak menyerap tenaga kerja, agar terjadi perkembangan ekonomi berkualitas. Bank Indonesia juga tak lepas dari bahasan di Rapat Pleno PBNU 2013.

Sebagai bank sentral yang didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan perbankkan nasional serta pengelola fiskal, diminta berkonsentrasi dan bekerjasama untuk pengembangan sektor riil dan produktif, tidak semata bertugas menjaga keseimbangan nilai tukar rupiah. PBNU menilai orientasi kebijakan moneter selama ini sangat menguras devisa negara, karena semata hanya digunakan untuk mengatasi nilai tukar dan inflasi.

“Seluruh hasil rekomendasi ini, seperti rekomendasi-rekomendasi yang dihasilkan PBNU di forum lain, akan kami sampaikan ke seluruh lembaga penyelenggara negara. PBNU sebagai civil society hanya bisa member masukan, pelaksanaan kami kembalikan ke negara,” pungkas Kiai Said.

( A Adib / CN34 / SMNetwork )

__._,_.___
__._,_.___
06
Sep
13

Kenegarawanan : Mr World President

Selamat Pagi Sobat2 NasPan45.jpg

Kontroversi Miss World yang komoditi impor demikian juga Konvensi Partai, lebih baik prakarsai produk lokal berjudul Mr World President, pesertanya diutamakan bacapres2 2014, presiden incumbent juga boleh ikut kok, sekaligus mengangkat harkat anak bangsa potensial jadi Presiden kelas dunia sehingga martabat Indonesia meningkat dimata dunia.
Kontes ini pasti bernilai komersial tinggi dan bankable karena penuhi syarat2 brandity, generousity & connectivity namun tetap berkearifan lokal karena bersyaratkan juga mengusung pesan2 tatanilai kebangsaan seperti 17845 (17 butir Jiwa Semangat Nilai2 45 + 8 butir Kepemimpinan Hastabrata + 45 butir Pengamalan Pancasila per Tap MPR No. XVIII/1998).

Salam 17845,
Pandji R Hadinoto, PKPI Nasionalis Pancasila
GeraKNusa Gerakan Kebudayaan Nusantara
http://www.jakarta45.wordpress.com

Selamat Pagi Sobat2 GeraKNusa.jpg

06
Sep
13

IpTek : Gunung Berapi Terbesar

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)

Gunung Berapi Terbesar di Tata Surya Ditemukan

Paris (AFP/Antara) – Para ahli geologi pada Kamis mengumumkan bahwa mereka menemukan sebuah gunung berapi raksasa yang merupakan gunung berapi terbesar di dunia dan bahkan menyaingi yang terbesar di Tata Surya.

Dinamai Tamu Massif, gunung itu adalah bagian dari Shatsky Rise, sebuah dataran tinggi dasar Pasifik yang terletak sekitar 1.600 kilometer dari Jepang timur, kata mereka.

Gunung itu terdiri dari satu kubah bulat yang besar dalam bentuk sebuah perisai, terbentuk dari lava yang mengeras dari sebuah letusan sekitar 144 juta tahun yang lalu. Tamu Massif memiliki luas 310.000 kilometer persegi – sama dengan luas Britania dan Irlandia digabungkan – dan landai di atasnya pada ketinggian sekitar 3,5 kilometer di atas dasar laut.

“Tamu Massif adalah gunung berapi terbesar di dunia yang pernah ditemukan,” lapor para arkeolog dalam jurnal Nature Geoscience.

Luasnya, “…hampir sama dengan Kepulauan Britania atau Olympus Mons di Mars, yang dianggap sebagai gunung berapi terbesar di Tata Surya.”

Mereka menambahkan: “Walaupun Olympus Mons terlihat besar karena tingginya lebih dari 20 kilometer, volumenya hanya sekitar 25 persen lebih besar.”

Para peneliti samudera sampai sekarang menduga bahwa Tamu Massif adalah sebuah sistem besar dari beberapa gunung berapi, suatu jenis yang ada di sekitar belasan lokasi di seluruh Bumi.(mu/ik)




Blog Stats

  • 2,250,080 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers