Archive Page 53

03
Dec
13

Kepengusahaan : Manajemen dengan 3 Musuh

Manajemen dengan Tiga Musuh Baru

Senin, 02 Desember 2013

Para direksi BUMN kini menghadapi ujian alam: menghadapi gejolak ekonomi. Terutama ketika dolar mencapai Rp 12.000 seperti yang terjadi sejak pekan lalu. Semangat untuk maju yang sudah dibangun menggebu-gebu, kini harus berhadapan dengan jurang.

 

Risiko-risiko perusahaan kini menganga di depan mata. Dalam menghadapi situasi seperti ini, semangat saja tidak lagi cukup. Antusias dan integritas saja tidak memadai. Harus ada plus plusnya.

 

Kini fokus direksi tidak hanya bagaimana maju, tapi juga bagaimana tidak berhenti di tempat, tidak mundur, dan lebih-lebih tidak hancur. Kalau fokus di masa normal adalah bagaimana bisa maju, di masa gejolak ekonomi seperti sekarang ini fokusnya bercabang-cabang: efisiensi, kreatif, inovatif, dan siap-siap memotong kegiatan, memotong anggaran, dan memotong perencanaan.

 

Tugas direksi BUMN lebih berat daripada direksi perusahaan swasta. BUMN mengemban misi untuk ikut menjadi benteng ketahanan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan martabat bangsa. Direksi BUMN tidak boleh hanya memikirkan keselamatan perusahaan, tapi juga keselamatan ekonomi secara keseluruhan.

 

Lebih-lebih lagi gejolak ekonomi ini terjadi pada tahun politik. Tugas direksi menghindari tekanan politik juga harus dikedepankan.

 

Saya ingat waktu saya masih menjadi CEO perusahaan swasta. Tiga kali saya mengalami krisis. Tapi, saya berprinsip bahwa kita tidak boleh kalah oleh krisis. Tidak boleh menyerah kepada krisis.

 

Para direksi BUMN yang ada sekarang umumnya belum pernah memimpin perusahaan di masa krisis. Kecuali yang pernah menjadi direksi pada 2008. Maka, saya minta direksi BUMN segera mendiskusikan kondisi perusahaan masing-masing dalam kaitannya dengan gejolak ekonomi sekarang ini. Saya akan mengikuti dari dekat bagaimana setiap direksi menyikapi gejolak ini.

 

Saya akan memberikan penghargaan khusus kepada direksi yang secara gemilang berhasil mengemudikan perusahaan masing-masing di jalan yang bergelombang ini. Tidak akan ada lagi pelampung bagi kapal yang terbawa gelombang. Tidak akan ada injeksi modal dari negara dengan alasan krisis.

 

Musuh pertama untuk bisa selamat adalah ketidakkompakan. Dalam suasana seperti sekarang ini direksi harus merupakan satu tim yang solid. Tidak boleh ada direksi yang melobi sana-sini untuk bisa jadi Dirut, misalnya.

 

Musuh kedua adalah rakus. Direksi tidak boleh menambah-nambah fasilitas untuk diri sendiri. Kalau bisa, justru mengurangi fasilitas. Pada rapat-rapat direksi tidak perlu makanan. Bukan untuk penghematan (tidak seberapa), tapi untuk menciptakan solidaritas kepada seluruh lapisan di perusahaan. Solidaritas diperlukan untuk membina kekompakan.

 

Musuh ketiga adalah tidak peduli pada detail. Direksi tidak boleh lagi hanya tahu yang besar-besar. Mereka harus tahu persoalan detail hingga tetek bengeknya. Dengan demikian, titik-titik yang menyimpan dan menyembunyikan bahaya bisa segera diketahui. Lebih baik tahu tetek daripada tiba-tiba terkena bengeknya.

 

Tentu masih banyak musuh lainnya. Tapi, saya percaya direksi BUMN sudah ahli teori manajemen krisis. Krisis ini bukan tidak bisa dilewati dengan gagah. Percayalah, “mendung tidak akan berada di satu tempat terus-menerus”.

 

Mungkin, dengan gejolak ini ekonomi hanya akan tumbuh 5,6 persen. Tapi, itu jangan diartikan bahwa kita hanya bisa tumbuh 5,6 persen. Ingat: angka 5,6 persen adalah angka rata-rata. Berarti, ada yang tumbuh di atas itu dan ada yang tumbuh di bawah itu. Pasti ada yang minus dan ada yang plus.

 

Kalau begitu, tinggal tekad kita: pilih tumbuh yang di bawah itu atau yang di atas itu!

 

Tentu saya tidak bisa menerima sikap direksi yang memilih angka rata-rata, apalagi yang di bawah rata-rata. Lebih lagi yang harus minus. Di tengah krisis pun kita tetap punya kesempatan untuk tumbuh tinggi. Itu yang akan membedakan mana jagoan dan mana pecundang.

 

Gejolak ekonomi ini sungguh ujian seleksi yang nyata bagi siapa saja. Siapa yang hebat dan siapa yang ternyata biasa-biasa saja. Dalam keadaan normal sering kita tidak bisa membedakan orang-orang yang hebat-hebat itu dari orang-orang yang biasa-biasa saja.

 

Kini kita akan bisa melihat siapa yang benar-benar hebat!

 

Dahlan Iskan, Menteri BUMN

 

Sumber:

http://dahlaniskan.wordpress.com/2013/12/02/manajemen-dengan-tiga-musuh-baru/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”
03
Dec
13

Kebudayaan : Dirham Cerbon, Pertama di Jawa

Keraton Cirebon Pamerkan ‘Dirham Pertama di Tanah Jawa’

Laporan Wartawan Tribun Jabar Ida Romlah

TRIBUNNEWS.COM, CIREBON – Srimanganti dan Lunjuk, menjadi tempat pameran benda pusaka dalam gelaran Gelar Cipta Seni Keraton Nusantara (GCSKN) 2013 di Keraton Kasepuhan Cirebon. Bangunan tersebut pun disulap layaknya museum.

Meski ada 20 kesultanan dan kerajaan yang ikut serta dalam GCSKN 2013, tak semua peserta ikut memamerkan benda pusakanya. Hanya beberapa yang memamerkan, di antaranya Kesultanan Kasepuhan Cirebon, Kerajaan Ternate, Sumedang Larang, dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Selain dari kesultanan dan kerajaan, pameran juga diisi oleh aneka produk kerajinan dari Cirebon. Sebut saja kerajinan topeng, ukir kuningan, dan lukisan kaca. Semua merupakan karya seniman Cirebon.

Di antara benda pusaka kesultanan dan kerajaan yang mencuri perhatian pengunjung adalah koin dinar dirham yang dipamerkan Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Terlihat beberapa buah koin dinar dan dirham dipajang di atas meja. Dalam koin tersebut terdapat lambang dan tulisan Kasultanan Kasepuhan Cirebon serta tahun Hijriah pembuatan koin.

Sultan Sepuh XIV Kesultanan Kasepuhan Cirebon, PRA Arief Natadiningrat, mengatakan, koin dinar dirham Kesultanan Kasepuhan merupakan dinar dirham yang resmi diakui dan digunakan. Koin dinar tersebut terbuat dari emas berkadar 91,7 persen dengan berat 4,25 gram, sedangkan koin dirham terbuat dari perak murni seberat 2,975 gram.

“Koin dinar dirham ini digunakan untuk membayar zakat, infak, sedekah, dan mahar,” ujar Sultan Sepuh, Sabtu (30/11/2013).

Sekadar mengingatkan, ketika Putra Mahkota Sultan Kasepuhan, PR Luqman Zulkaedin, menikah pada 11 November 2013, digunakan koin dinar sebagai mahar atau maskawin. Ketika itu, putra mahkota menyerahkan 3 keping koin dinar, emas 14 gram perhiasan, dan seperangkat alat salat kepada sang istri.

Menurut Sultan Sepuh, penggunaan koin dinar dirham di lingkungan keraton berawal ketika Pangeran Cakrabuana bersama adiknya, Nyi Mas Rarasantang, pergi menunaikan ibadah haji. Ketika berada di Mekah, keduanya bertemu dengan patih utusan sultan Mesir. Sang patih pun meminang Nyi Mas Rarasantang untuk Sultan Maulana Syarif Abdullah.

Selepas berhaji, Pangeran Cakrabuana dan Nyi Mas Rarasantang dibawa ke Mesir. Nyi Mas Rarasantang pun membina rumah tangga dengan Sultan Mesir hingga akhirnya lahir bayi laki-laki bernama Syarif Hidayatullah. Setelah dewasa, Syarif Hidayatullah hijrah ke tanah Jawa, dan dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Sementara itu, ketika Pangeran Cakrabuana meninggalkan Mesir, ia dibekali pesangon sebesar 1.000 dirham perak oleh Sultan Mesir. “Bisa jadi koin dirham tersebut yang pertama kali masuk ke Cirebon dan tanah Jawa,” kata Sultan Sepuh.

Dari kisah itulah, selanjutnya, dinar dirham di Kesultanan Cirebon sempat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, seiring zaman, koin dinar dirham sempat tak digunakan di lingkungan keraton karena bangsa Indonesia memiliki mata uang rupiah untuk transaksi jual-beli. Barulah beberapa tahun ke belakang, dinar dirham dihidupkan kembali.

Koin dinar dirham mampu mencuri perhatian pengunjung pameran benda pusaka dalam helaran GCSKN 2013 karena kesultanan dan kerajaan lain rata-rata memamerkan benda pusaka dalam foto. Hanya Kesultanan Kasepuhan dan Sumedang Larang yang langsung membawa benda pusaka.

Sumedang Larang membawa pakaian kebesaran kerajaan. Pakaian itu pun dipamerkan dalam patung yang menyerupai raja dan permaisurinya.

20 Sultan dan Raja Nusantara Kumpul di Cirebon

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ida Romlah

TRIBUNNEWS.COM, CIREBON – Sebanyak 20 sultan dan raja se-Nusantara dijadwalkan berkumpul di Cirebon, Sabtu (30/11/2013) hingga Minggu (1/12/2013). Mereka akan menghadiri Gelar Cipta Seni Keraton Nusantara (GCSKN) 2013 di Keraton Kasepuhan, panggung budaya Radiant, dan Hotel Grage.

Sultan Sepuh XIV Kesultanan Kasepuhan Cirebon, PRA Arief Natadiningrat mengatakan, GCSKN merupakan acara tahunan yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

“Intinya untuk melestarikan kesenian yang lahir dan berkembang di lingkungan keraton di Nusantara, termasuk dinamikanya,” ujar Sultan Sepuh saat jumpa pers.

Acara, kata Sultan Sepuh, terdiri dari pagelaran seni keraton di mana setiap keraton menampilkan satu sampai dua tarian. Selain itu, ada pameran benda pusaka, dan sarasehan para sultan dan raja se-Nusantara.

Beberapa raja dan sultan dijadwalkan mulai tiba di Cirebon Jumat (29/11/2013), dan beberapa lagi Sabtu (30/11/2013). Raja dan sultan yang tiba hari ini rata-rata berasal dari daerah jauh. Sebab, pembukaan GCSKN akan dilakukan pukul 10.00 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M Nuh. (Roh)

02
Dec
13

Kenegarawanan : Pribadi Kepemimpinan Pemangku Indonesia

Ketidakpastian ekonomi Indonesia ikutan berekor dari krisis ekonomi global buktikan bahwa amanat Trisakti Bung Karno yaitu Ekonomi Berdikari masih jauh api dari panggang bahkan dari sudut kajian Strategi Ketahanan Bangsa diindikasi semakin ganas. Begitu juga amanat Trisakti lainnya yaitu Politik Berdaulat juga masih diindikasi resah tersebab ketergantungan politik tataniaga luar negeri misal impor Bahan Bakar Minyak yang ternyata penyebab dominan daripada kasus defisit berjalan neraca keuangan negara. Dalam hal ini, selain upaya teknis penguatan antisipasif berupa pembangunan 3 kilang minyak, energi terbarukan, batubara dan gas untuk pembangkit listrik negara, pengendalian konsumsi BBM dlsb, maka menurut hemat Dewan Pakar PKPI, diperlukan juga pembekalan intensif bagi pemangku Indonesia seperti penatanegara khususnya sektor Energi untuk dikuatkan etos kerjanya terutama etos terkait Pribadi Kepemimpinan Pemangku Indonesia, seperti ikhwal penguasaan dan penghayatan daripada 123 Karakter Negarawan [www.jakarta45.wordpress.com].
Pola Corporate Sosial Responsibility dapat menunjang agenda2 pembekalan Pribadi Kepemimpinan Pemangku Indonesia ini guna memperbesar faktor keunggulan kelolaan bermasyarakat, berbangsa, bernegara yang diproyeksi berujung nilai tambah ekonomi juga. Upaya2 pembudayaan Pribadi Kepemimpinan Pemangku Indonesia ini menguatkan amanat Trisakti Budaya Berkepribadian sebagai tradisi kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan secara berkelanjutan.
Jakarta 1 Desember 2013

Pandji R Hadinoto, Dewan Pakar PKPI
28
Nov
13

Ketenagakerjaan : Etos Pancasila (ePan)

Indonesia termasuk kategori Fragile-5 yaitu lima negara yang sensitif terhadap dampak tiap dinamika kebijakan otoritas keuangan The FED yang kuasa kendali Dolar Amerika, demikian dikatakan Muhammad Chatib Basri yang Menteri Keuangan RI saat paparan di Kompas 100 CEO Forum, JCC 27 Nopember 2013. Dari situasi dan kondisi tersebut maka dugaan terbesar dampak negatif tahun 2014 adalah terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi global termasuk lokal di indonesia bila kebijakan The FED bersifat korektif terhadap tata keuangan domestik Amerika. Namun kerugian melemahnya pertumbuhan ekonomi ini sebenarnya dapat menjadi peluang konsolidasi bagi Indonesia perkuat jatidiri anak bangsanya termasuk Pekerja dengan pembekalan semisal ideologi negara Pancasila dengan maksud dan tujuan meningkatkan sikap kejuangan guna kokohkan etos daya kerja yang pada gilirannya dapat meningkatkan produktifitas kerja dan kualitas daya saing yang memang berkorelasi perbaikan seperti bagi kinerja ekonomi produksi pabrikan.
Selewat 2014, perbaikan etos kerja ini dapat mendorong unjuk kerja lebih tinggi sehingga biaya produksi mengecil yang berarti dapat digunakan untuk menurunkan harga jual produksi atau meningkatkan pengembangan produk2 lain yang berdaya guna bagi publik. Ruang gerak konsolidasi 2014 itu seharusnya tidak terganggu oleh hirukpikuk Pemilu 2014 asalkan kontestasi legislatif dan presiden itu berlangsung luber dan jurdil tanpa kreasikan masalah2 delegitimasi hasil Pemilu yang memicu konflik akibat persoalan2 seperti DPT, GolPut, ketentuan2 yang multi tafsir seperti kasus halal bihalal, manipulasi suara, transparansi penghitungan suara atau IT. PKPI sebagai penyandang nama sila ke-5 dan ke-3 Pancasila akan tetap peduli kiprahi Politik Kebangsaan Pancasila Indonesia termasuk bagi pemantapan kejuangan para Pekerja (Buruh, Petani, Nelayan) yang merupakan ujung tombak stabilitas produksi ekonomi berdasarkan karakter Pancasila sebagai kekuatan kearifan lokal Indonesia sendiri. Oleh karena itu program Politik Kejuangan Pekerja Indonesia sebagai upaya rekayasa sosial konstruktif adalah realistik siap dilakukan PKPI disaat kepemimpinan pemerintahan mungkin sedang menurun kiprahnya tersebab kontestasi Pemilu 2004. Penguatan kejuangan pekerja melalui penguatan ideologi negara dapat dirujuk juga dari negara2 di Asia yang dalam selang waktu yang sama dari tahun 1960an dan kini faktanya lebih unggul ekonomi pabrikannya ketimbang Indonesia.
Semoga tulisan diatas ini inspiratif bagi para Negarawan di lembaga2 kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan Indonesia.
Jakarta 28 Nopember 2013
Poros Kebangsaan Pancasila Indonesia,
Pandji R Hadinoto, Dewan Pakar PKPI
Salam Negarawan 17845,
Pandji R Hadinoto, PKPI Nasionalis Pancasila
CaLeg DPRRI Jkt-2 (JakPus-JakSel-LN) No. 2
http://www.jakarta45.wordpress.com

26
Nov
13

Kenegarawanan : Politik Kuliner Prioritas Indonesia (PKPI)

Politik Ketersediaan Pangan Indonesia kini terindikasi kuat selalu disikapi pemangku kebijakan publik sebagai fungsi linier daripada kebutuhan pangan berdasarkan pertumbuhan populasi, kecenderungan pilihan mayoritas jenis pangan yang kemudian berdampak lanjut keturunan seperti ketersediaan pakan, lahan, tataniaga dan prasarana, yang kesemuanya itu kelak melibatkan peningkatan kebutuhan modal kerja yang significant baik keuangan maupun sumber2 daya manusia berikut perangkat sistim aturan praktek kelolaan dst.
Implikasi sikap linier konsekutif itu kemudian adalah ketidaktersediaan karena alasan berbagai keterbatasan, ketidakselarasan dan kesenjangan, sehingga berpotensi Indeks Biaya Hidup fluktuatif dan bahkan bisa meningkat drastis yang berakibat ketidakterjangkauan, ketidakseimbangan bahkan seringkali berujung dirasakan publik sebagai ketidakadilan sosial yang menyimpangi amanat Sila-5 Pancasila.
Fenomena meroketnya Indeks Biaya Hidup ini terbukti memunculkan konflik hubungan kerja antara pengusaha dengan pekerja sebagaimana kini meluas terjadi yang berpotensi menurunkan produktivitas pabrikan dan kemudian berlanjut terganggunya pendapatan negara.
Dalam pengertian itulah, sikap fuzzy logic melalui pemberdayaan peran rekayasa sosial dalam hal sektor pangan ini adalah rekayasa kuliner menjadi strategik.
Melalui kerekayasaan kuliner prioritas dapat dikendalikan baik pola penyediaan hulu bahan baku pangan maupun pola peyediaan hilir pangan siap saji.
Oleh karena itulah, direkomendasikan adanya perangkat Politik Kuliner Prioritas Indonesia sebagai upaya rekayasa pangan nasional komprehensif berdomain sumber bahan baku pangan daratan dan kelautan/kemaritiman sebagai strength point pembangunan berwawasan Nusantara per Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957, menuju kearah Indonesia Jaya 2045.
Jakarta, 26 Nopember 2013
Poros Kebangsaan Pancasila Indonesia,
Pandji R Hadinoto, pkp17845@gmail.com
Dewan Pakar PKPI
Salam Negarawan 17845,
Pandji R Hadinoto, PKPI Nasionalis Pancasila
CaLeg DPRRI Jkt-2 (JakPus-JakSel-LN) No. 2
http://www.jakarta45.wordpress.com

26
Nov
13

Sejarah : Harta Karun Nazi di Gunung Pangrango

Ada harta karun Nazi di kaki gunung Pangrango?

 

MERDEKA.COM. Cerita perkebunan teh Cikopo Bogor tinggal cerita. Dulu dari kawasan Mega Mendung ini dihasilkan teh kualitas terbaik yang diekspor ke Eropa.

Perkebunan teh seluas 900 hektare ini milik Emil dan Theodor Hellferich, dua orang Jerman. Mereka membelinya tahun 1914.

Perkebunan teh di kaki Gunung Pangrango ini juga jadi saksi bisu aktivitas tentara Jerman dan Nazi di Bogor. Para awak kapal selam U-Boat menjadikan perkebunan teh Cikopo sebagai tempat peristirahatan. Pengelola kebun teh sangat memanjakan para awak kapal U-Boat dengan makanan enak.

Tahun 1940 Jerman menguasai Belanda. Sebagai balasan, pemerintah Belanda di Hindia menangkapi orang-orang Jerman di sini. Termasuk orang-orang Jerman di perkebunan Cikopo.

Rupanya ada cerita menarik selain makam tentara Jerman di kaki Gunung Pangrango ini.

“Saya ingat ada cerita sebelum pergi orang-orang Jerman itu mengubur emas dan harta. Diletakan di dekat pohon jeruk,” kata Munir (75), seorang warga Cikopo.

Munir lahir dan besar di perkebunan Cikopo. Ayahnya buruh perkebunan teh, ibunya pembantu para bos perkebunan.

Menurut Munir harta karun itu tak pernah terungkap. Dia tidak mengetahui apa pernah ditemukan atau tidak. Informasi yang dikumpulkan, lokasi harta karun itu tak begitu jauh dari makam para tentara Jerman.

“Dulu ditanam di dekat kantor Jerman di sini. Dulu ada yang pernah cari dengan alat, tapi tidak ketemu,” kata Munir.

Dia menduga jika benar ada, harta karun itu cukup banyak. Kebun Teh Cikopo dulu perkebunan besar dengan ratusan buruh dan pabrik pengolahan sendiri. Keuntungan perkebunan pun cukup besar.

Kini tak ada yang tersisa di perkebunan teh Cikopo. Seandainya makam pahlawan tentara Jerman tak diurus oleh Kedutaan Besar Jerman, pasti akan hilang juga.

Tak ada sepucuk pohon teh yang tersisa di sini. Semua lahan sudah dikuasai orang Jakarta. Dibuat vila atau ditanami palawija.

“Kalau orang sini cuma dibayar buat jaga aja,” kata Munir.

Perkebunan ini pernah dikuasai Jerman, lalu Belanda, lalu Jepang. Dikembalikan lagi oleh Jepang pada Jerman dan akhirnya dinasionalisasi. Kebun teh ini dijarah tahun 1998 oleh warga dan dikapling-kapling. Namun karena tak ada uang, mereka menjual hak garap ini pada orang-orang kaya dari Jakarta.

Mereka tak pernah menjadi tuan di tanah kelahiran mereka sendiri.

Sumber: Merdeka.com

 

21
Nov
13

Perbankan : Tragedi Bank Century

JK: Bank Century Bukan Gagal Berdampak Sistemik

 

Jakarta (Antara) – Wakil Presiden Indonesia periode 2004-2009 Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan bahwa Bank Century saat itu bukan bank gagal berdampak sistemik yang dapat membahayakan perekonomian Indonesia.

“Ibu Sri Mulyani dan Boediono semua sepakat dan menjelaskan bahwa tidak ada krisis ekonomi. Tidak ada itu. Semua aman. Satu persatu. Tapi, beberapa jam kemudian mereka rapat di (kementerian) Keuangan dan subuh (21 November 2008) memutuskan adanya gagal sistemik satu bank yang membahayakan,” katanya di Gedung KPK, Jakarta, Kamis.

Setelah diperiksa sebagai saksi dalam kasus Bank Century, JK menceritakan dirinya menerima laporan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Gubernur Bank Indonesia Boediono yang menjabat saat itu pada tanggal 20 November 2008 sore hari dalam sebuah rapat.

“Saya nggak tahu kenapa (rapatnya) malam-malam. Tapi yang aneh sebenarnya bahwa ada bank gagal. Gagalnya Rp630-an miliar tapi lewat tiga hari dibayarnya Rp2,5 triliun. Aneh-lah,” tambahnya.

Kalla menyampaikan bahwa saat itu dia menjadi pihak yang bertanggung jawab menjalankan pemerintahan karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sedang dalam kunjungan ke luar negeri, tetapi dalam rapat putusan terkait status Bank Century, Kalla tidak diberitahu dan dilibatkan.

Setelah itu, Kalla diberitahu bahwa sudah ada rapat dan pengucuran uang pada 25 November 2008 malam oleh Menteri Keuangan saat itu Sri Mulyani dan Gubernur Bank Indonesia Boediono.

Tidak transparannya pengucuran “bailout” Bank Century ini, lanjut Kalla mulai dari penetapan bank gagal berdampak sistemik sampai pengucuran bailout yang membengkak karena yang Kalla tahu Bank Century bermasalah karena dirampok oleh pembeli.

Pada rapat yang terjadi tanggal 20 November 2008, ia memerintahkan agar tangkap pembelinya.

“Nggak ada bank gagal, gagalnya karena dirampok. Dilaporkan ke saya bahwa masalah bank itu (Bank Century karena perampokan),” jelas Kalla yang diperiksa KPK selama hampir dua jam.

Pada rapat KSSK 20-21 November 2008 yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pengganti Undang-Undang (Perpu) No 4 Tahun 2008 pada 15 Oktober 2008 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Sri Mulyani berperan sebagai Ketua merangkap anggota dan Boediono sebagai anggota. Dari rapat KSSK ditetapkan bahwa Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Pada 21 November 2008, Komite Stabilitas Sistem Keuangan yang diketuai Sri Mulyani Indrawati memutuskan memberikan dana talangan atau “bailout” kepada Bank Century. Atas keputusan itu, Lembaga Penjamin Simpanan mengambil alih dan berubah menjadi Bank Mutiara.

Bank Century mendapatkan dana talangan hingga Rp6,7 triliun pada 2008 meski pada awalnya tidak memenuhi syarat karena tidak memenuhi kriteria karena rasio kecukupan modal (CAR) yang hanya 2,02 persen, padahal berdasarkan aturan batas CAR untuk mendapatkan FPJP adalah 8 persen.

Kucuran dana segar kepada Bank Century dilakukan secara bertahap, tahap pertama bank tersebut menerima Rp2,7 triliun pada 23 November 2008. Tahap kedua, pada 5 Desember 2008 sebesar Rp2,2 triliun, tahap ketiga pada 3 Februari 2009 sebesar Rp1,1 triliun dan tahap keempat pada 24 Juli 2009 sebesar Rp630 miliar sehingga total dana talangan adalah mencapai Rp6,7 triliun.

Audit Badan Pemeriksa Keuangan atas Century menyimpulkan adanya ketidaktegasan Bank Indonesia terhadap bank milik Robert Tantular tersebut karena diduga mengubah peraturan yang dibuat sendiri agar Century bisa mendapat FPJP yaitu mengubah Peraturan Bank Indonesia (BPI) No 10/26/PBI/2008 mengenai persyaratan pemberian FPJP dari semula dengan CAR 8 persen menjadi CAR positif.(tp)

 

Berita Lainnya


Blog Stats

  • 2,306,868 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 130 other followers