Archive for the 'News' Category



12
Jul
10

Olahraga : Kesebelasan Spanyol Sang Juara Piala Dunia

Spanyol Dapat Dua Gelar Tambahan

lokasi: Home / Berita / Bola / [sumber: Jakartapress.com]

Senin, 12/07/2010 | 07:03 WIB Spanyol Dapat Dua Gelar Tambahan

Setelah sukses merengkuh trophi Piala Dunia untuk kali pertama dalam sejarah persepakbolaan mereka, Spanyol masih mendapatkan dua gelar lagi melalui Iker Casillas yang terpilih menjadi kiper terbaik, serta tim Pair Play.

Dengan demikian, Casillas berhak mendapatkan sarung tangan emas atas penghargaan yang sebelumnya bernama Lev Yashin award tersebut. Kelompok studi teknik [TSG] FIFA telah menjatuhkan pilihan mereka kepada Casillas.

Penjaga gawang Real Madrid itu hanya kebobolan dua gol sepanjang turnamen ini. Gol yang bersarang di gawangnya terjadi ketika dikalahkan Swiss 1-0, serta saat mencatat kemenangan 2-1 atas Cili.

Selain sarung tangan emas, satu gelar lagi yang berhasil didapat Spanyol adalah tim Fair Play. Penilaian untuk mendapatkan gelar ini dilakukan berdasarkan sistem poin komite fair play FIFA. Spanyol mendapatkan poin tertinggi, yakni 889.

Penilai terhadap tim yang mendapat gelar Fair Play tidak hanya berdasarkan performa sebuah tim di atas lapangan, tapi juga di luar lapangan. Walau hanya tim yang lolos ke 16 Besar yang berhak mendapatkan penilaian, FIFA tetap menghitung pengumpulan poin sejak fase penyisihan grup.

Dengan demikian, Spanyol mengulang sukses mereka empat tahun lalu. Hanya saja, Spanyol mendapatkan gelar tim Fair Play bersama Brasil di Piala Dunia 2006.

Spanyol Pesta 36 Jam Nonstop
Pesta besar-besaran sudah siap menyambut skuad Spanyol di Madrid menyambut sukses la Furia Roja merebut trophi Piala Dunia untuk kali pertama. Pesta ini diperkirakan akan berlangsung selama 36 jam nonstop.

Seperti dilansir Yahoo! Sports, Spanyol tidak akan tinggal lebih lama di Afrika Selatan. Mereka sudah segera bertolak ke Madri Minggu malam tak lama usai mengalahkan Belanda 1-0 di pertandingan final Piala Dunia 2010.

Agenda arak-arakan sudah disiapkan untuk menyambut kedatangan tim nasional, Senin [12/7] waktu setempat. Para pemain akan diarak sepanjang jalan di Madrid, dan dilanjutkan bertemu dengan keluarga, petinggi negara, serta anggota federasi sepakbola Spanyol [RFEF].

Pasukan Vicente del Bosque diperkirakan tiba di Bandara Barajas Madrid, Senin siang. Setelah menerima ucapan selamat dari perdana menteri Jose Luis Zapatero, para pemain akan melanjutkan pesta hingga Selasa malam.

“Tidak akan ada orang yang tertidur kali ini. Momen ini sangat spesial, ajaib. Kami akan menikmatinya,” ujar kiper sekaligus kapten tim Iker Casillas.

Usai disambut perdana menteri di Istana Moncloa, mereka selanjutnya diarak menggunakan bus tanpa atap di sepanjang jalanan Madrid yang diperkirakan bakal disesaki ratusan ribu massa.

Bus selanjutnya akan berhenti di Principe Pio, sebuah kawasan perbukitan terkenal di sebelah barat Madrid. Di tempat ini, jumlah massa diperkirakan lebih besar. Trophi Piala Dunia dan pemain akan diperlihatkan di tempat ini.

Setelah itu, pemain akan menjalani jamuan makan di sebuah restoran yang menyajikan makanan tradisional Spanyol bersama keluarga, kerabat, dan rekan terdekat. Pada malam harinya, pesta dilanjutkan di sebuah night club ternama di Madrid, New Garamond. Hanya penerima undangan yang bisa hadir di pesta itu.

Pesta belum berhenti. Para pemain akan bangun di pagi buta untuk tampil di berbagai acara pagi televisi. Selanjutnya sarapan di rumah Casillas. Mereka kemudian menyaksikan rekaman pertandingan, dan menerima kunjungan para sponsor. Setelah itu, pemain pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.

Pesta selama 36 jam nonstop ini diperkirakan menghabiskan biaya hingga $2 juta, yang sebagian besar digunakan untuk biaya keamanan. Kendati demikian, angka itu tidak membuat kerugian. Pengamat ekonomi setempat menilai timbal balik yang akan diterima pemerintah Spanyol jauh lebih besar.

Daftar Juara Piala Dunia
Spanyol akhirnya menjadi kampiun baru di perhetalan akbar sepakbola, Piala Dunia 2010. Gelar tersebut menjadi gelar pertama Spanyol, sekaligus prestasi terbaik mereka dalam keikutsertaan di turnamen empat tahunan ini. Sebelumnya, La Furia Roja meraih prestasi tertinggi sebagai tim terbaik keempat di Piala Dunia 1950.

Sementara bagi Belanda, menjadi runner up bukan pengalaman pertama mereka setelah takluk 1-0 dari Spanyol di Soccer City Stadium, Johannesburg. Sebelumnya mereka juga sempat kalah di dua laga final, yakni di Piala Dunia 1974 dan 1978.

Inilah daftar juara Piala Dunia (PD):
PD 1930 Uruguay – Uruguay
PD 1934 Italia – Italia
PD 1938 Prancis – Italia
PD 1950 Brasil – Uruguay
PD 1954 Swiss – Jerman Barat
PD 1958 Swedia – Brasil
PD 1962 Cili – Brasil
PD 1966 Inggris – Inggris
PD 1970 Meksiko – Brasil
PD 1974 Jerman Barat – Jerman Barat
PD 1978 Argentina – Argentina
PD 1982 Spanyol – Italia
PD 1986 Meksiko – Argentina
PD 1990 Italia – Jerman Barat
PD 1994 Amerika Serikat – Brasil
PD 1998 Prancis – Prancis
PD 2002 Korea Selatan & Jepang – Brasil
PD 2006 Jerman – Italia
PD 2010 Afrika Selatan – Spanyol

(*/Goal)

Senin, 12/07/2010 | 06:26 WIB Bom Meledak Saat Nobar Piala Dunia, 23 Tewas

Spanyol resmi JUARA Piala Dunia 2010

lokasi: Home / Berita / Bola / [sumber: Jakartapress.com]

Senin, 12/07/2010 | 05:58 WIB Spanyol resmi JUARA Piala Dunia 2010

Johannesburg – Spanyol akhirnya menjadi juara baru di Piala Dunia setelah mengalahkan Belanda 1-0 di final. Gol tunggal kemenangan Tim Matador tersebut dicetak oleh Andres Iniesta.

Spanyol untuk pertama kalinya menjadi juara Dunia setelah mengatasi Belanda 1-0 di Soccer City, Johannesburg, Senin (12/7/2010) dinihari WIB. Iniesta memastikan kemenangan Spanyol lewat golnya di saat perpanjangan 2×45 menit.

Sementara Belanda hanya bermain dengan sepuluh pemain setelah John Heitinga mendapatkan kartu kuning kedua di saat perpanjagan waktu kedua. Belanda pun harus menunggu kesempatan lain untuk menjadi juara setelah telah tiga kali ke final.

Pertandingan kedua tim ini sebelumnya berjalan cukup ketat hingga 2×45 menit tidak ada gol yang tercipta. Pertandingan harus dilanjutkan perpanjangan waktu dan Spanyol pun memastikan kemenangannya lewat gol Iniesta.

Akhirnya, bukan David Villa yang menjadi bintang bagi Spanyol, tapi ternyata adalah Andres Iniesta yang mencetak gol kemenangan bagi Tim Matador atas Belanda di laga final Piala Dunia 2010.

Pada laga di Soccer City, Johannesburg, Senin (12/7/2010) dinihari WIB, Iniesta berhasil merobek gawang Belanda saat perpanjangan waktu kedua. Gol pemain Barcelona ini pun memastikan Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2010.

Jalannya Pertandingan
Spanyol mendominasi di awal pertandingan namun pemain belakang Belanda dapat mengatasinya. Ancaman berbahaya Spanyol lahir dari sebuah tendangan bebas Xavi Hernandez dan disundul Ramos namun dapat diblok Maarten Stekelenburg.

Belanda juga sempat punya peluang di menit ke-7, tapi tendangan Dirk Kuyt masih terlalu lemah sehingga dengan mudah bola diamankan Iker Casillas. Spanyol di kembali menekan namun usaha Ramos dan David Villa belum membuahkan gol.

Di menit ke-17, sebuah tekanan datang dari Belanda lewat tendangan bebas Wesley Sneijder namun Casillas dapat menangkap bola dengan baik. Pertandingan ini berlangsung cukup keras hingga menit ke-29 sudah lima kartu kuning keluar.

Kedua tim masih terus mencoba membangun serangan namun bola masih lebih banyak dikuasai Spanyol. Sedangkan sebuah peluang Spanyol lewat tendengan Pedro masih melebar di samping gawang Stekelenburg.

Di akhir babak pertama, Belanda mengancam lewat tendangan Robben namun masih dapat diblok oleh Casillas. Namun tetap tidak ada gol yang tercipta dari Belanda dan skor masih tetap 0-0 hingga turun minum.

Sementara di babak kedua, Belanda dan Spanyol mencoba menekan. Meski demikian serangan-serangn dari kedua tim tidak dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pemain kedua tim sehingga tidak membuahkan hasil.

Pada menit ke-52 sebuah sudah Robben lewat tendangannnya dari luar kotak penalti masih dapat diamankan Casillas. Sedangkan usaha Spanyol lewat tendangan bebas Xavi dari jarak 27 meter masih melenceng dari sasaran.

Pada menit ke-61, sebuah peluang emas dimiliki Belanda. Robben yang sudah berhadapan dengan Casillas, gagal memanfaatkan kesempatan itu sontekannya dapat di blok kaki kiper Spanyol itu dan bola berada di samping gawang.

Namun setelah itu Spanyol beberapa kali melakukan serangan berbahaya. Di mniet ke-68, tendangan dari Jesus Navas gagal dihalau oleh Heitinga. Villa mendapatkan bola dan menendangannya ke arah gawang namun masih dapat dihalau Heitinga.

Spanyol masih terus menghadirkan ancaman setelah tendangan Villa masih dapat diblok Gregory van der Wiel. Sedangkan sundulan Ramos dari hasil sepak pojkk masih berada tipis di atas gawang Belanda.

Pada mniet ke-82, Casillas kembali melakukan penyelamatan dengan mengambil bola dari Robben. Namun hingga akhir babak kedua tetap tidak ada gol tercipta dan kedua tim ini akan melanjutkan laga lewat perpanjangan waktu.

Di perpanjangan waktu 1×15 menit pertama, Spanyol memberikan ancamannya lewat Cecs Fabregas setelah berhadapan dengan Stekelenburg. Sayang sontekannya masih dapat diblok kaki kiper Belanda itu.

Di menit ke-100, Spanyol kembali menyerang lewat Jesus Navas. Tendangan kaki kanannya dari dalam kotak penalti melebar setelah mengenai Van Bronckhorst. Begitu juga dengan usaha Fabregas yang juga masih melebar.

Sementara di 2×15 menit pertahanan Belanda semakin kurang setelah Heitinga dikeluarkan karena mendapat kartu kuning kedua. Ia dianggap telah melakukan pelanggaran kepada Iniesta yang membawa bola mendekati kotak penalti.

Namun, Iniesta akhirnya memastikan kemenangan bagi Spanyol lewat golnya di menit ke-116. Ia yang berada onside, dan Fabregas memberikan operan kepadanya. Satu sontekan kaki kanannya kemudian membuat jala Stekelenburg koyak.

Di menit 116 itu Spanyol akhirnya bisa memecah kebuntuan. Iniesta yang mencetak gol lewat tendangan kerasnya dari dalam kotak penalti, setelah mendapat bola sodoran dari Fabregas.

Tak pelak gol tersebut disambut dengan meriah kubu Spanyol. Semua pemain di bangku cadangan pun mengejar Iniesta dan merayakan golnya di pinggir lapangan.

Belanda yang memiliki waktu kurang lebih empat menit berusaha untuk mengejar ketertinggalan mereka. Akan tetapi, hingga berakhirnya pertandingan, skor 1-0 untuk kemenangan Spanyol tetap bertahan. SPANYOL PUN MENJADI JUARA DUNIA 2010.

Susunan Pemain:
Belanda: 1-Maarten Stekelenburg; 2-Gregory van der Wiel, 3-John Heitinga, 4-Joris Mathijsen, 5-Giovanni van Bronckhorst (15-Edson Braafheid 105); 7-Dirk Kuyt (17-Eljero Elia 71), 6-Mark van Bommel, 10-Wesley Sneijder, 8-Nigel de Jong (23-Rafael van der Vaart 99), 11-Arjen Robben; 9-Robin van Persie.

Spanyol: 1-Iker Casillas; 15-Sergio Ramos, 3-Gerard Pique, 5-Carles Puyol, 11-Joan Capdevila; 14-Xabi Alonso (10-Cesc Fabregas 87), 8-Xavi, 6-Andres Iniesta, 16-Sergio Busquets; 18-Pedro (22-Jesus Navas 60), 7-David Villa (9-Fernando Torres 106).

Amsterdam Hening Massal
Yang namanya kekalahan, wajar jika menyisakan kekecewaan. Ribuan kilometer jauhnya dari Johannesburg, para pendukung Belanda di Amsterdam menyesali kekalahan tim nasionalnya.

Johannesburg dan Amsterdam dipisahkan jarak sampai 9028 kilometer, tapi kabar kekalahan itu sampai dengan cepat. Seketika Andres Iniesta mencetak gol di Soccer City Stadium, pendukung De Oranje pun terhenyak.

Sebanyak 180.000 orang yang memadati Amsterdam Museum Square tiba-tiba mengalami keheningan massal. Padahal nyaris sepanjang pertandingan ratusan ribu orang itu selalu berteriak menyemangati Wesley Sneijder dkk.

“Saya sangat kecewa, tetapi kami tak layak menang. Sangat disayangkan,” ujar Chris Schreve, pria berusia 33 tahun yang sehari-harinya bekerja sebagai marketing manager kepada Reuters.

Puluhan ribu orang pulang dengan tenang ketika wasit Howard Webb akhirnya meniup peluit panjang. Tak ada aksi loncat ke kanal atau pesta sepanjang malam, karena memang tak ada yang harus dirayakan. “Puluhan ribu orang pulang dari Museum Square dengan tenang,” tukas salah seorang petuga kepolisian.

Belanda kalah 0-1 akibat gol Iniesta di menit 116, membuat pasukan Bert van Marwijk itu mengulangi kegagalan para pendahulunya di tahun 1974 dan 1978. Bagi pendukungnya di Amsterdam, kekalahan itu berarti tak akan ada parade perayaan juara pada hari Selasa besok.

Namun demikian, para punggawa ‘Tim Oranye‘ tetap akan mendapatkan sambutan. Rencananya, acara ini juga akan dilakukan di Museum Square.

Spanyol jadi yang ke-8
Keberhasilan Spanyol meraih gelar juara dunia tidak hanya mengukir sejarah bagi negara tersebut. Prestasi itu juga menjadikan mereka negara kedelapan yang jadi juara dunia.

Spanyol menjadi juara usai menundukkan Belanda 1-0 di final yang berlangsung Senin (12/7/2010) dinihari WIB. Ini merupakan kali pertama negara berjuluk La Furia Roja itu menjadi juara dunia.

Sejarah bukan hanya menjadi milik Spanyol, namun juga persepakbolaan dunia. Negeri Matador merupakan negara kedelapan yang berhasil menjadi raja dunia sejak Piala Dunia digulirkan pada 1930. Spanyol menyusul Brasil, Italia, Jerman, Argentina, Uruguay, Inggris, dan Prancis.

Ini juga merupakan kali pertama dunia memiliki “raja” baru sejak terakhir kali Prancis bertahta pada tahun 1998.

Tahun lahirnya juara dunia baru
1-1930: Uruguay (vs Argentina 4-2)
2-1934: Italia (vs Cekoslowakia 2-1)
3-1954: Jerman Barat (vs Hongaria 3-2)
4-1958: Brasil (vs Swedia 5-2)
5-1966: Inggris (vs Jerman Barat 4-2)
6-1978: Argentina (vs Belanda 3-1)
7-1998: Prancis (vs Brasil 3-0)
8-2010: Spanyol (vs Belanda 1-0)

DAFTAR JUARA PIALA DUNIA
Spanyol akhirnya menjadi kampiun baru di perhetalan akbar sepakbola, Piala Dunia 2010. Gelar tersebut menjadi gelar pertama Spanyol, sekaligus prestasi terbaik mereka dalam keikutsertaan di turnamen empat tahunan ini. Sebelumnya, La Furia Roja meraih prestasi tertinggi sebagai tim terbaik keempat di Piala Dunia 1950.

Sementara bagi Belanda, menjadi runner up bukan pengalaman pertama mereka setelah takluk 1-0 dari Spanyol di Soccer City Stadium, Johannesburg. Sebelumnya mereka juga sempat kalah di dua laga final, yakni di Piala Dunia 1974 dan 1978.

Inilah daftar juara Piala Dunia (PD):
PD 1930 Uruguay – Uruguay
PD 1934 Italia – Italia
PD 1938 Prancis – Italia
PD 1950 Brasil – Uruguay
PD 1954 Swiss – Jerman Barat
PD 1958 Swedia – Brasil
PD 1962 Cili – Brasil
PD 1966 Inggris – Inggris
PD 1970 Meksiko – Brasil
PD 1974 Jerman Barat – Jerman Barat
PD 1978 Argentina – Argentina
PD 1982 Spanyol – Italia
PD 1986 Meksiko – Argentina
PD 1990 Italia – Jerman Barat
PD 1994 Amerika Serikat – Brasil
PD 1998 Prancis – Prancis
PD 2002 Korea Selatan & Jepang – Brasil
PD 2006 Jerman – Italia
PD 2010 Afrika Selatan – Spanyol

(*/dtc/tt/Goal)

Ramalan Paul Terbukti, Spanyol Juara Dunia

lokasi: Home / Berita / Bola / [sumber: Jakartapress.com]

Senin, 12/07/2010 | 05:50 WIB Ramalan Paul Terbukti, Spanyol Juara Dunia

Ramalan  Paul Terbukti, Spanyol Juara Dunia
OLEH: ARIEF TURATNO

RAMALAN Si Paul Gurita asal Jerman kembali terbukti benar. Sebelum berlangsung final Piala Dunia (World Cup) Afrika Selatan (Afsel) Senin (12/7) dinihari, Paul meramalkan bahwa Spanyol bakal mengalahkan Belanda di final. Dan Senin dinihari, Paul membuktikan kehebatan ramalannya. Berkat gol Inieasta di babak perpanjangan waktu, harapan Belanda untuk menjadi Juara Dunia kandas sudah. Dan Spanyol berhak mengukir sejarah menjadi salah satu Juara Dunia melengkapi para Juara Dunia yang sudah ada sebelumnya.

Kemenangan Spanyol sangatlah wajar. Karena hampir sepanjang permainan, bola dikuasai para pemain tim Matador. Belanda yang kita harapkan bakal bermain lebih terbuka ternyata hanya mengandalkan serangan balik. Itu pun hanya menempatkan seorang Robbin Van Persie dan Arjen Robben di depan. Khusus untuk Robben malah sering membantu pertahanan. Jadi secara poraktis Belanda hanya mengandalkan Van Persie.

Masuknya Cesch Fabregas menggantikan Xabi Alonso menambah kemampuan Spanyol dalam melakukan serangan. Dan serangan yang bertubi-tubi dilakukan Spanyol akhirnya mulai menunjukan tanda-tanda kemenangan. Diawali pelanggaran yang dilakukan Hetinga terhadap Iniesta yang berbuah kartu kuning kedua untuk pemain Belanda tersebut. Maka pemain belakang Belanda yang cukup handal itu akhirnya harus keluar lapangan.

Tidak adanya Hetinga di barisan belakangan pertahanan Belanda membuat serangan Spanyol semakin leluasa. Malapetaka terjadi setelah Iniesta menerima operan dari Fabregas. Dan mengontrol bola sebentar, dengan ketenangan yang luar biasa. Inieasta berhasil menceploskan bola ke gawang Belanda. Selain kemenangan tersebut menjadikan Spanyol sebagai Negara penyandang gelar Juara Dunia. Gol tunggal yang dicetak Inieasta itu juga melepas pendapat orang bahwa Juara Eropa jarang bisa menjadi Juara Dunia.

Spanyol Senin dinihari ini membuktikan  bahwa anggapan tersebut tidak selalu benar. Karena Spanyol menjadi Juara Dunia seperti yang pernah dicapai Jerman. The Panzer Jerman  tahun 1972 menjadi Juara Eropa. Dua tahun berikutnya Jerman menjadi Juara Dunia (1974). Hal ini sebagaimana ditulis di rubrik jakartapress.com ini sebelumnya bahwa Spanyol membuktikan dirinya mampu mengikuti jejak Jerman. Bravo Spanyol. Bravo Paul Si Gurita! (*)

Hadapi Belanda, Spanyol Pakai Strategi Kalahkan Jerman

lokasi: Home / Berita / Bola / [sumber: Jakartapress.com]

Minggu, 11/07/2010 | 10:19 WIB Hadapi Belanda, Spanyol Pakai Strategi Kalahkan Jerman

Hadapi Belanda, Spanyol Kemungkinan Terapkan Strategi Sama Lawan Jerman
OLEH: ARIEF TURATNO

SEBENTAR lagi final Piala Dunia (World Cup) Afrika Selatan (Afsel) bakal berlangsung. Tim Matador Spanyol bakal berhadapan dengan tim Oranye Belanda sekitar pukul 00.45 WIB Senin (12/7) dinihari. Pertanyaan dan persoalannya adalah siapakah yang bakal memenangkan pertandingan tersebut? Tim Belanda seperti kebanyakan para pengamat sebagai tim yang dinamis, impresif, dan piawai dalam membuat gol. Semua pemain Belanda dinilai mampu mencetak gol dengan kualitas yang tidak jauh berbeda. Belanda juga suka dengan permainan terbuka, seperti diperagakannya selama ini.

Di sektor pertahanan Belanda juga terkenal solid dan rapat. Sehingga dari babak penyisihan sampai dengan final gawang Belanda jarang kebobolan. Dengan kombinasi pertahanan dan penyerangan yang seimbang, Belanda menjadi tim yang tidak mudah dikalahkan. Karena itu banyak pengamat yang menjagokan Belanda bakal menjadi Juara Dunia tahun ini. Benarkah? Kalau saja lawan Belanda bukan tim Matador Spanyol, saya percaya Belanda bakal menjadi Juara Dunia tahun ini. Dan itu sudah dibuktikan Belanda dengan mengalahkan jagoan Amerika Latin, Brasil.

Namun juga harus diketahui, Brasil sekarang, bukan tim Samba beberapa tahun silam. Untuk lolos ke Afsel saja tim asuhan Dunga ini sudah terseok-seok. Bahkan dalam prestasi di saat babak kualifikasi dulu, Brasil kalah mencorong dibanding wakil Amerika Latin lainnya. Brasil hanya beda seurat dengan Argentina yang untuk lolos kualifikasi harus melalui babak paly-off sehingga ada yang menganggap kekalahan Brasil dari Belanda sebagai hal yang wajar, termasuk gagalnya mereka ke partai final. Ini pula yang pernah disinggung legenda sepakbola Brasil, Pele bahwa Dunga kurang mampu meracik tim Samba dengan benar.

Dengan asumsi tadi, maka kekalahan Brasil dari Belanda dianggap bukan sesuatu yang luar biasa, sebagaimana Jerman membantai Argentina 4-0. Karena kedua tim gudangnya pesepakbola handal itu kali ini seperti sedang kehilangan nafsu bermain. Sekarang kembali kepada persoalan Spanyol. Jika Belanda pernah mengalahkan Brasil, maka Spanyol pernah mengalahkan Jerman yang justeru membantai Argentina dengan skore telak. Sementara Belanda sampai ke final setelah mengalahkan Uruguay dengan skore 3-2. Dan Minggu (11/7) dinihari dalam perebutan posisi ketiga Piala Dunia, Jerman mengalahkan Uruguay 3-2.

Jadi, kalau diurut hitung atau logika matematka, mestinya Spanyol akan mampu menaklukan Belanda. Apalagi permainan Belanda sekarang hampir setipe Jerman dengan gaya total football yang dirambu hit dan run –nya Inggris. Jika benar Belanda akan menerapkan strategi semacam itu melawan Spanyol. Saya yakin pelatih Vicente del Bosque akan menarapkan strategi yang sama saat Spanyol menghadapi Jerman. Untuk penggedor Spanyol akan mengerahkan David Villa, Pedro Rodriguez dan Andrea Inieasta dibantu Capdevilla, dan back Sergio Ramos. Namun jika melihat permainan Pedro saat lawan Jerman yang terkesan lebih individual, mungkin saja del Bosque lebih suka menduetkan Villa dengan Fernando El Nino Torres dan menaruh Pedro di bangku cadangan.

Belanda kemungkinan tetap akan mengandalkan Sneijder, Van Persie,  Arjen Robben, dan Dirk Kuyt untuk mencoba membobol gawang Spanyol. Hanya saja mampukah mereka menerobos blockade tengah Spanyol yang dikoordinir Xabi Alonso dan Xavi Hernandes. Kalau pun berhasil lepas, mereka harus menghadapi Carlos Puyol, Sergio Ramor dan Gerard Pique yang tanpa kenal kompromi dalam menghalau lawan. Dan terakhir mereka harus mampu menaklukan Iker kasilas yang sangat handa menjaga gawangnya. Sementara pada waktu yang sama, belanda akan mendapat ancaman dari Villa, Torres maupun Iniesta yang selalu pandai melepaskan diri dari kawalan pertahanan lawan.

Dengan menghitung semua kelemahhan dan kelebihan masing-masing serta track record mereka selama babak penyisihan sampai final, Belanda memang lebih unggul. Hanya saja yang harus kita catat, Spanyol adalah Juara Eropa 2008. Dan hampir sebagian besar klub-klub Spanyol selalu Berjaya saat menghadapi klub-klub Belanda. Padahal kita tahu, tim Spanyol sekarang adalah gabungan para pemain yang  berasal dari klub Barcelona, Real Madrid, Sevilla, Atletico Madrid dan lainnya. Sehingga dengan mempertimbangkan kenyataan tersebut, seharusnya Spanyol yang akan menang. Hanya persoalannya sepakbola selalu mengundang kemisteriusan sendiri. Demikian dengan final Piala Dunia yang akan berlangsung Senin dinihari. Pasti juga akan muncul misteri yang sulit dicerna oleh akal sehat. Akankah ada keajaiban semacam itu dinihari nanti? Kita lihat saja! (*)

11
Jul
10

Ideologi : Pikir dan Pikir Ulang Tentang Pancasila

Pikir dan Pikir Ulang

09 Jul 2010

DALAM bulan Juni, bulan peringatan kelahiran Pancasila, diselenggarakan berbagai acara ritual maupun diskusi Pancasila di banyak tempat. Waktunya kebetulan tepat untuk merespons perkembangan sosial-politik belakangan ini, yang terkesan mengabaikan falsafah dasar negara. Pikiran itu tersirat dalam acara bedah buku pada 30 Juni di Jakarta, yang diselenggarakan Universitas Parahyangan. Diskusi sangat filosofis itu, yang membuat orang berpikir dan berpikir ulang, membedah buku Pancasila, karya Prof Mr Soediman Kartohadiprodjo (1908-1970), salah satu ahli hukum pertama di Indonesia, yang juga mantan hakim, pengacara, dan guru besar bidang hukum.

Diskusi-diskusi mengenai Pancasila semacam itu bukan sekadar untuk bernostalgia. Banyak di antara generasi tua pun belum memahami, apalagi menghayati atau bahkan mengamalkan-nya. Kesemrawutan situasi sosial-politik pada waktu ini adalah bukti. Penataran intensif P-4 semasa Orde Baru rupanya belum memadai untuk bisa diresapi. Ketika dalam acara 30 Juni itu, seseorang dari generasi muda menyatakan ada gap antara yang tua dan yang muda karena kurangnya pembelajaran Pancasila untuk yang muda-muda, jawabannya sederhana yang tua pun masih perlu pembelajaran. Prof Mr Soediman Kartohadiprodjo tergolong sedikit dari ahli-ahli hukum generasi pertama Indonesia yang memberikan perhatian khusus terhadap Pancasila.

Konsensus demi cita-cita Dalam sejarahnya. Pancasila digali dari akar-akar sosio-kultural dan religio-kultural bangsa yang tertanam lama sebelum proklamasi kemerdekaan republik ini. Jika ditinjau dari sisi kebudayaan, titik awalnya bisa diperdebatkan, sesuai dengan penafsiran tentang awal tumbuhnya budaya bangsa. Seorang yang hadir dalam diskusi menyatakan unsur-unsur Pancasila bisa ditelusuri sejak zaman Mahabarata dan Ramayana. Kalau kita bicara tentang unsur-unsur Hinduisme dalam falsafah kita, tentu kedua karya besar itu ada pengaruhnya. Begitu pula peng-islaman Indonesia, yang terjadi kemudian, berpengaruh besar. Semua budaya pendatang-pendatang dari luar memberikan pengaruh masing-masing.

Itulah alasan Bung Karno menolak disebut sebagai pencipta Pancasila. BK menyebut dirinya perumus. Perenungan untuk itu dimulai lama sebelumnya, sejak 1918, setelah tercetus gagasannya untuk membangun bangsa dan negara. Perumusan tentang dasar negara itu ada kaitannya dengan upaya Indonesia mempersiapkan kemerdekaan. Di antara 62 anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang dibentuk pada 28 Mei 1945, tiga tokoh menyampaikan rumusan, yakni Muhamad Yamin, Mr Soepomo, dan Ir Soekarno. Dasar Negara dianggap perlu untuk memberikan gambaran tentang hakikat, dasar, dan tujuan negara. Tanggal l Juni 1945, Ir Soekarno menyampaikan rumusannya tentang lima dasar/asas yang menjadi dasar negara Indonesia merdeka kepada BPUPKI, yang dibelinya nama Pancasila.

Untuk melanjutkan tugas BPUPKI, dibentuk Panitia Sembilan (orang) yang pada 22 Juni 1945menyusun Piagam Jakarta, memuat rumusan Pancasila. Setelah BPUPKI selesai dengan tugasnya, dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPK!) pada 7 Agustus 1945, diketuai Ir Soekarno. Satu perubahan penting oleh sidang PPK1 atas Piagam Jakarta adalah kalimat dalam sila pertama yang berbunyi, Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-peme-luknya dihilangkan. Maka sila pertama kemudian berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Perubahan diadakan demi menjaga persatuan bangsa dan keutuhan wilayah Indonesia. Jadilah Pancasila seperti yang kini kita kenal.

Pendidikan merujuk ke Pancasila

Pendapat Prof Soediman yang seyogianya mendapat perhatian, khususnya mengingat situasi sekarang kita pertama kali belajar ilmu hukum dari Belanda. Hukum seharusnya mengawal dan melindungi keadilan, tetapi mengapa Belanda mengadakan penjajahan? Tentu tidak adil. Situasi sekarang, yang marak dengan mafia hukum, bukankah juga kontradiktif dengan fungsi hukum sebagai pengawal keadilan?

Dalam kaitan ini, penulis antara lain menyatakan dalam bab mengenai pendidikan (hal 190) pendidikan akan memegang peranan sangat penting dalam arti seluas-luasnya. Bukan hanya pendidikan di sekolah-sekolah, melainkan juga di masyarakat umum. Pendidikan akan menjadi alat sangat penting untuk membangun kembali, untuk menggali kembali, isi jiwa bangsa Indonesia yang terpendam bisu dalam jiwanya karena pengaruh Barat. Sambungnya, “Seorang filsuf pendidikan, Prof Robert Ulich, guru besar padauniversitas Harvard (1960, emeritus) pernah mengatakan ..Namun segenap berkah budaya dan ilmu pengetahuan modem, demokrasi, dan hak menentukan nasib sendiri, tidak mampu mencegah krisis luar biasa yang melanda sejarah umat manusia.

Kata Prof Soediman lebih lanjut, “Kiranya kesimpulan Prof Ulich ini patut kita beri perhatian sepenuhnya. Kata-kata tentang adanya krisis dalam kebudayaan Barat, diucapkan orang Barat sendiri, tampaknya mendorong kita, yang sedang membangun negara dan masyarakat, dan merasa kagum seolah-olah ada keagungan dan keunggulan Barat dalam sesuatu yang diperlukan oleh kehidupan manusia, untuk (mengutip BK) think and rethink bagaimana sikap kita tentang semua ini… Apakah Pancasila tidak membawa perubahan fundamental pada pemikiran dalam bidang pendidikan?”

Pancasila memang akan menimbulkan perubahan fundamental pada kepercayaan dan pikiran manusia. Dalam hal ini, demi kemaslahatan masyarakat dan bangsa, apakah falsafah Pancasila dapat diabaikan dalam pendidikan-pen-didikan khusus, misalnya pendidikan ilmu sosial, seperti pendidikan hukum, ekonomi, sosiologi, dan semacamnya? Prof Dr Sri-Edi Swasono, guru besar FEUI yang hadir dalam diskusi 30 Juni sebagai panelis, mengatakan beruntung dengan terbitnya buku Prof Soediman. Menurutnya, “Saya memperoleh landasan dan penegasan yang solid dalam menjabarkan ekonomi Pancasila dan sistem ekonomi Pasal 33 UUD 1945 yang selama ini saya lakukan dan sebar luaskan, dengan paham kekeluargaan (brotherhood) menjadi sukma bagi kehidupan bangsa Indonesia.” Dia menambahkan bahwa kekitaan dalam ber-ekonomi adalah jalan mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

10
Jul
10

Historia : Misteri HUT Kota Jakarta dan Ikan Lele Primadona

Senin, 21 Juni 2010 | 18:15 WIB
Misteri HUT Kota Jakarta

dok/jakarta.go.id

Tanggal 22 Juni dipercaya, diyakini, dirayakan sebagai hari jadi Kota Jakarta. Percaya tidak percaya, setuju tidak setuju, sudah sejak sekitar 60 tahun lalu, tanggal itu selalu dinanti warga karena berbagai keriaan yang digelar dalam rangka dirgahayu kota ini.

Boleh sangat jadi, begitu banyak warga Jakarta yang tidak mengetahui bahwa hari jadi Kota Jakarta itu hingga kini masih kontroversial.Penelitian terhadap kebenaran kapan sebenarnya kota ini lahir tampaknya tak juga dilanjutkan, sehingga 22 Juni masih tetap akan melekat dalam benak warga sebagai hari jadi Kota Jakarta.

Semua ini dimulai dengan SK Dewan Perwakilan Kota Sementara Djakarta Raja pada Februari 1956. Surat itu memutuskan bahawa hari lahir Jakarta adalah 22 Juni 1527. Angka, bulan, dan tahun itu didapat dari hasil penelitian Prof Dr Mr Sukanto dalam buku “Dari Djakarta ke Djajakarta” yang ditulis pada 1954.

Adalah Wali Kota Jakarta Sudiro, bertugas pada 1953-1960, yang kemudian mengamini hasil penelitian Sukanto dan menetapkannya sebagai hari jadi Kota Jakarta.

Sukanto sebenarnya hanya melengkapi penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Prof Dr PA Hussein Djajadiningrat. Hussein-lah, dalam disertasi berjudul Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten, yang pertama kali menetapkan tahun 1527 sebagai tahun kelahiran Jayakarta.

Disertasi itu dipertahankan pada 1913 di Universiteit Leiden, Belanda. Dalam disertasi itu dia menyatakan bahwa Jayakarta berarti volbrachte zege (kemenangan yang selesai), yaitu nama yang diberikan Fatahillah kepada Sunda Kalapa setelah berhasil direbut dari kerajaan Hindu, Kerajaan Pajajaran. Sedangkan Fatahillah adalah ipar Sultan Demak.

Singkat cerita, pada 21 Agustus 1522 Pajajaran dan Portugis membuat perjanjian, yaitu Portugis diizinkan membangun benteng di Sunda Kalapa. Sebuah tugas yang diserahkan ke Francisco de Sa, yang sebelum menuju Teluk Jakarta bertugas menggempur Bintan terlebih dahulu. Begitu tiba di Sunda Kalapa, pasukannya sudah dihadang oleh Fatahillah yang diberi tugas oleh sultan Demak untuk mengislamkan Jawa Barat. Demikian ditulis oleh Nugroho Notosusanto dalam Dua Profesor Bertarung Tentang Hari lahir Jakarta.

Berpegang dari penelitian Hussein itu, Sukanto memperkirakan pertempuran antara Fatahillah dan de Sa terjadi Maret 1527 sehingga nama Jayakarta pastilah muncul setelah itu. Namun ternyata tak ada data kuat yang mendukung tanggal 22 Juni sebagai dimulainya nama Jayakarta. Lantas Sukanto mengambil cara dengan menggunakan perhitungan Jawa yang biasa dipakai untuk keperluan masa panen. Dalam perhitungan itu, satu tahun dibagi ke dalam 12 mangsa, dan mangsa kesatu dimulai pada 22 Juni.

Sukanto menulis, kurang lebih, demikian, “Mengingat mangsa kesatu jatuh pada Juni (bulan panen atau setelah panen), kemungkinan Jayakarta diberikan pada tanggal 1 mangsa kesatu yaitu bulan Juni tanggal 22 tahun 1527. Harinya yang pasti kita tidak dapat menemukannya.”

Hussein menolak teori itu. Menurut sarjana Islamologi ini, Fatahillah akan menggunakan hari raya Islam sebagai cantelan hari lahir Jayakarta, bukan berdasar penanggalan tradisi. Dan hari raya terdekat pada waktu itu adalah Maulid Nabi yaitu 17 Desember 1527.

Perdebatan tentang hari lahir Kota Jakarta terabaikan dengan perkembangan dan pembangunan kota yang makin sibuk dengan jalanan yang semakin macet. Upaya menggali kembali kebenaran tentang kapan hari lahir Kota Jakarta makin tak tersentuh, termasuk berbagai penelitian yang harusnya terus dilakukan demi memenuhi kekosongan bukti sejarah kota ini. Dirgahayu Kota Jakarta! (Pradaningrum Mijarto)

Minggu, 20 Juni 2010 | 13:51 WIB
Ikan Lele Itu Jadi Primadona

wordpress.com

TIBA-TIBA ikan lele “naik daun” sampai harus difestivalkan di Parkir Timur Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, selama dua hari dari 19 hingga 20 Juni 2010. Ada apa yah?

Pada periode tahun 2003 hingga 2005, konsumsi ikan Malaysia mencapai 55,4 kilogram per kapita, Singapura mencapai 37,9 kg per orang.

Konsumsi ikan Jepang saat ini telah mencapai 140 kg per kapita. Sedangkan konsumsi ikan Indonesia, selaku negara kepulauan terbesar di dunia, baru mencapai 30,17 kg per orang.

Tahun 2010, pemerintah menargetkan konsumsi ikan masyarakat mencapai 31,40 kg per kapita.

Demi peningkatan konsumsi ikan tersebut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) selaku Kementerian yang bertanggung jawab atas pemenuhan protein ikan masyarakat di negeri ini melakukan hajatan besar pertama bertajuk “Festival Raya Lele Nusantara”.

Sebanyak dua ton ikan lele hidup disiapkan Direktorat Jenderal (Ditjen) Perikanan Budidaya KKP yang pada akhirnya untuk dikonsumsi masyarakat yang hadir dalam festival yang digelar selama dua hari dari 19 hingga 20 Juni di Parkir Timur Gelora Bung Karno Jakarta.

Pihak panitia menyediakan satu ton lele untuk dimasak pecel lele dan dijual per paket lengkap dengan nasi, sambal, serta lalapan hanya dengan harga Rp 6.000 saja. Sedangkan 600.000 kg lele dijual hidup pada masyarakat yang hadir dengan harga Rp 7.000 per kg.

Harga jual pecel lele maupun lele hidup tersebut jauh lebih murah ketimbang harga dijual di masyarakat yang mencapai harga Rp 12.000 per kg maupun per porsi. Harapannya masyarakat Jabodetabek berbondong-bondong menikmati ikan lele dengan protein tinggi tersebut.

Tidak kurang seorang Ibu Negara, Ani Yudhoyono, hadir membuka festival lele pertama tersebut guna menarik kepedulian masyarakat untuk mengkonsumsi ikan, terutama lele.

“Masalah perlelean ini menyangkut pangan dan kecukupan gizi nasional, untuk mencukupi gizi generasi di masa depan,” ujar dia saat membuka hajatan akbar tersebut.

Ia meminta masyarakat mengubah pola pikir, dan menyadari bahwa ikan adalah makanan baik. Dengan demikian konsumsi ikan pun secara otomatis akan meningkat.

Ia sangat menyayangkan tingkat konsumsi ikan di Indonesia yang kalah dibanding dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. “Dengan geografis yang menunjang harusnya Indonesia lebih tinggi konsumsi ikannya”.

Mudahnya berbudidaya lele membuat ia meminta setiap sungai, embung, situ dapat dimanfaatkan untuk budidaya air tawar.

“Manfaatkan halaman. Tanah sepetak, ikan segentong untuk hidupi keluarga sendiri,” ujar Ani.

Pada akhirnya ia mengharapkan upaya mencapai ketahanan pangan tidak hanya sekedar mencukupi secara kuantitatif tetapi juga secara kualitatif, dengan ketersediaan protein terutama dari ikan.

Semua gemar lele

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad usai mendampingi Ani Yudhoyono membuka festival lele mengungkapkan kegembiraannya bahwa seorang Ibu Negara mau hadir dan menikmati pecel lele bersama-sama masyarakat dengan penyajian kotak, tidak dengan piring.

“Tadinya memang penyajiannya harus dengan piring. Tapi saya sampaikan ke Ibu (Ani Yudhoyono), kalau rakyat makan lele dengan kotak agar lebih merakyat, Ibu baiknya juga dengan kotak, eh ternyata ia tidak keberatan,” ujar Fadel.

Karena itulah menu spesial makan siang semua yang hadir tanpa terkecuali dalam Festival Raya Lele Nusantara tersebut adalah pecel lele yang berada di dalam kotak karton berwana putih dan biru.

Fadel mengatakan produksi ikan bersungut ini belum lah besar di tanah air, baru mencapai 200.000 ton per tahun. Jumlah tersebut dirasa masih sangat kurang guna mencukupi permintaan protein ikan di dalam negeri.

Karena itu, ia mengatakan Kementeriannya telah menargetkan produksi ikan yang berasal dari daratan Afrika ini dapat mencapai satu juta ton pada 2015. Dengan demikian, kesempatan untuk ekspor dapat mulai terbuka.

“Pasar di Jakarta saja masih kekurangan lele, sehingga harus mengambil dari Bogor dan Tangerang. Jika sudah satu juta ton sebagian dapat digunakan untuk mencukupi konsumsi dalam negeri dan sisanya baru diekspor,” kata mantan Gubernur Gorontalo ini.

Dirjen Perikanan Budidaya, Made L Nudjana membenarkan pasokan lele untuk mencukupi permintaan dalam negeri masih kurang. Untuk itu KKP menyiapkan sentra-sentra produksi lele melalui Minapolitan Lele yang saat ini telah disiapkan di Bogor, Boyolali, Gunung Kidul, Pacitan, dan Blitar.

“Ini sentra-sentra besarnya. Seperti Gunung Kidul sekarang baru mampu memproduksi lima ton per hari, nanti dipacu untuk berproduksi 30 ton per hari supaya bisa memasok Yogyakarta yang masih kekurangan,” ujar dia.

Yogyakarta, menurut dia, saat ini dipasok dari tiga tempat, yakni Gunung Kidul, Boyolali, dan Pacitan. Sedangkan Blitar ke depan akan digenjot berproduksi untuk memenuhi permintaan Jawa Timur.

Bersama Direktorat Pemasaran dan Pengolahan Hasil Usaha (P2HP) pihaknya akan mengupayakan agar masyarakat mendapatkan protein ikan lele dengan berbagai macam variasi rasa dan bentuk.

“Masyarakat mungkin baru mengenal pecel lele, sebenarnya variasi olahan lele sudah sangat banyak, karena di Jawa Barat saja tidak kurang 50 jenis makanan menggunakan lele,” ujar dia.

Tekstur daging ikan berbadan licin yang lembut, menurut dia, justru mempermudah pengolahannya. Brownis, berbagai abon, berbagai kerupuk beberapa bentuk olahan tersebut akan membuat semakin banyak kalangan menikmati ikan yang dianggap hanya milik rakyat jelata ini.

Di Yogyakarta, lanjut dia, hanya ikan lele yang per kg mencapai sembilan hingga 10 ekor yang laku untuk pecel lel. Padahal ada pula lele yang per kg terdiri dari lima ekor.

“Solusinya ada dua, yang pertama lele berukuran besar tersebut diolah dengan berbagai variasi dan kedua dimasukan ke kolam pancing,” ujar Made.

Protein terjangkau

Kenapa lele digemari?

Boleh jadi karena ikan berbadan mayoritas hitam ini merupakan ikan dengan harga murah, mudah diolah, dan lezat.

Namun demikian ikan yang mudah dalam pembiakan maupun pembesarannya ini semakin mahal akibat ketergantungan pada pakan pelet yang mahal karena bahan bakunya harus impor.

KKP terus mencari solusi guna menggantikan pelet dengan pakan alternatif yang selain terjangkau juga mengandung protein tinggi. Kacang-kacangan dan daun pepaya menjadi solusi di Yogyakarta. “Umur tiga minggu lele sudah diajarkan makan daun-daunan dan kacang-kacangan, hasilnya bagus walau waktu pembesarannya bertambah satu minggu”.

Namun demikian, hanya dalam hitungan dua bulan satu minggu, dan menggunakan kacangan-kacangan serta daun pepaya menggantikan pelet, maka menghemat penggunaan pelet hingga 50 persen.

Harapannya, pengurangan biaya produksi akan meningkatkan marjin keuntungan sekaligus membuat harga ikan di masyarakat lebih terjangkau.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan produksi lele pada tahun 2014 meningkat sebesar 450 persen, yakni dari 200.000 ton per tahun menjadi 900.000 ton per tahun.

Rata-rata konsumsi lele nasional per kapita tahun 2008 sebesar 0,67 kilogram (kg), sedangkan tahun 2009 meningkat menjadi 2,3 kg per kapita.

Urutan konsumen lele per kapita tertinggi menurut Susenas tahun 2008 adalah Yogyakarta sebesar 1,29 kg per kapita per tahun, diikuti Kepulauan Riau 1,28 kg per kapita per tahun, Riau sebesar 1,26 kg per kapita per tahun, Papua sebesar 1,22 kg per kapita per tahun, DKI Jakarta sebesar 1,17 kg per kapita per tahun, dan Jawa Timur sebesar 1,06 kg per kapita per tahun.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad mengatakan empat hal yang akan dilakukan KKP dari sisi ekonomi untuk menggalakan produksi hingga konsumsi lele.

Hal pertama yang akan diupayakan yakni menggiatkan budidaya lele skala kecil hingga menengah yang disebar di beberapa sentra utama. Kedua, mengupayakan agar memasyarakatkan lele sehingga konsumsi meningkat.

Hal ketiga yang akan KKP upayakan yakni mengembangkan industri atau pengolahan lele. Sedangkan upaya keempat yakni menjadikan lele sebagai sumber pangan yang merambah berbagai kalangan.

“Selama ini lele lebih banyak dinikmati masyarakat kelas bawah. Kita akan membuat lele juga menyentuh kalangan elit negeri ini,” ujar Fadel. (Ant/Virna Puspa Setyorini)

10
Jul
10

IpTek : Jakarta Berpotensi Gempa Besar

Kamis, 24 Juni 2010 | 12:38 WIB
Jakarta Berpotensi Gempa Besar

kaskus.us

Palmerah, Warta Kota

STAF khusus presiden bidang bantuan sosial dan bencana Andi Arief mengatakan gempa besar berpotensi terjadi di wilayah Jakarta mengingat meningkatnya intensitas gempa di sepanjang pantai barat Sumatera.

“Intensitas gempa yang kian meningkat di zona patahan aktif di sepanjang pantai barat Sumatera belakangan ini, memunculkan kekhawatiran bahwa potensi rambatan gempa dapat sewaktu-waktu menuju ke Ibukota,” kata Andi dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (24/6).

Menurutnya, Jakarta pernah terguncang gempa dahsyat, antara lain pada tahun 1699, 1780, 1883, dan 1903.

Dikatakannya, meski kekhawatiran tersebut tidak perlu dibesar-besarkan, pemerintah harus segera membenahi sistem manajemen bencana yang dapat mengantisipasi situasi krisis apabila gempa itu “singgah” di Jakarta.

Untuk itu, Kamis ini Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) mengundang dua pakar manajemen bencana yaitu Professor Antony Saich dan Dr. Arnold Howitt dari Sekolah Ilmu Pemerintahan John F. Kennedy, Universitas Harvard, Amerika Serikat untuk membagi pengetahuan dan pengalamannya.

Kedua ahli ini berpengalaman dalam hal manajemen bencana dan pengelolaan situasi krisis di Amerika Serikat dan Cina.

Keduanya akan berbicara di depan petinggi lembaga-lembaga pemerintah yang terkait dengan bencana, seperti BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), BMKG (Badan Meteorologi dan Geofisika), Badan Geologi ESDM, Badan SAR Nasional, serta akademisi dari perguruan tinggi dan lembaga riset, dalam sebuah sesi diskusi di Istana Presiden.

“China memiliki pengalaman yang baik dalam menangani gempa dan banjir seperti kita. Sementara AS berpengalaman mengelola situasi krisis pada saat badai topan. Pengalaman kedua negara sangat relevan untuk kita jadikan referensi,” kata Soeyanto, Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB).

Menurut Soeyanto, kedua negara tersebut berhasil mengembangkan sistem manajemen bencana yang tangguh, yang bertumpu pada kepemimpinan yang efektif antar lembaga pemerintah yang terkait dengan kebencanaan, serta pembangunan sumberdaya manusia yang mumpuni di bidang kajian bencana.

“Koordinasi menjadi salah kata kunci dalam mengatasi krisis pada saat bencana terjadi, karena pemerintah di pusat dan daerah memiliki bermacam-macam lembaga yang terkait dengan kebencanaan.

Koordinasi yang efektif itu bukan hanya soal kemampuan membangun relasi antar lembaga, tapi yang lebih mendasar adalah bagaimana mendesain relasi dan pembagian kerja yang tepat antar lembaga? kata Dr. Arnold Howitt.

Arnold menegaskan, apabila desain kelembagaan itu sudah tepat, maka pekerjaan rumah berikutnya adalah reformasi birokrasi dalam hal pengembangan sumberdaya manusia.

Ia prihatin karena mendengar bahwa di berbagai provinsi di Indonesia, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) banyak diisi oleh tenaga-tenaga yang tidak memiliki kompetensi di bidang kebencanaan.

Karena itu, ia berpendapat, pengembangan sumberdaya manusia yang mumpuni di bidang kebencanaan adalah pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia yang tak bisa ditunda-ditunda. (Ant/apr)

10
Jul
10

Sejarah : Kekejaman Kolonialis Belanda di Aceh

Siapa Menyelamatkan Anak Kecil Aceh, Menyelamatkan Seluruh Aceh (1)

Lukisan yang menggambarkan tentara Belanda menyerang Masjid Raya di Kutaraja pada Januari 1874.

Tahun 1600, serangan di Nieuwpoort. Siapa yang masih membicarakan Perang Aceh? Siapa yang tahu mengapa Gubernur Jendral Loudon di Batavia (Jakarta) yang otokratis, keras kepala, impulsif dan gigih memulai perang melawan Aceh tahun 1873? Berapa tahun perang ini berlangsung? Siapa yang tahu di sungai mana, di benteng Aceh yang mana, di semak belukar yang mana, di bukit dan gunung yang mana,  di kampung yang terbakar mana serta kebun kelapa yang mana tempat para serdadu Belanda dan Aceh saling melemparkan klewang satu sama lain?

Siapa yang masih ingat nama kampung-kampung di Aceh tempat para pejuang Aceh dapat berleha-leha dengan 70 bidadari yang cantik setelah ’pasifikasi’, ’ekskursi’, ’pendisiplinan’ Belanda? Masih ingatkah kita bagaimana Jendral Köhler, komandan pasukan invasi Belanda tahun 1873, terbunuh di bawah pohon geulumpang dekat Masjid Raya di Kutaraja? Tentang Jendral van der Heijden, alias Kareltje Eénoog, yang bersujud kepada orang-orang Aceh menyatakan terima kasihnya karena dia masih bisa selamat?

Siapa pula yang masih ingat tentang Belanda yang sebelum melancarkan Perang Aceh Kedua mengaktifkan kembali Jendral van Swieten yang sudah pensiun? Siapa yang tidak pernah mendengar bertahun-tahun kemudian, setelah Perang Aceh yang kesekian-kalinya, cerita Jendral Van Heutz tentang para serdadu KNIL yang runtuh semangatnya, namun kemudian terinspirasi oleh pemikiran Snouck Hurgronje, seorang Belanda yang mendalami Islam, maka semangat bertempur para serdadu itu bangkit kembali? Yang dengan tenang mengejar dan membuat kaget orang-orang Aceh di gunung-gunung dengan senjata modern, klewang dan taktik anti-gerilya yang baru.

Van Heutsz yang menangkap orang Aceh yang pemberani dan pecinta kemerdekaan,  pertama-tama kakinya dulu, kemudian lehernya dan dengan hati-hati dipukulnya lalu kemudian mencoba mengambil hati mereka. Terakhir, siapa yang tidak mengenal –saya hanya menyebut satu nama saja sementara ini –  Van Daalen yang kejam, seorang militer yang memandang rendah pribumi.

Pada aksi kontra terorisnya, kekejaman dan kesadisan bukan hanya sesekali tetapi sistematis. Sebagaimana yang ditulis seorang polisi militer dengan nama samaran ’Wekker’ – yang pernah dipermalukan oleh Van Daalen –   pada tahun 1907 melalui 17 artikel di koran ’De Avondpost’ (Koran Malam) yang terbit di Den Haag ,” para tahanan dibunuh (sebagai pelajaran lalu jasad mereka dijajarkan), kaum wanita dan anak-anak ditembak, para pemberi informasi yang ragu-ragu disiksa, para sandera disekap dalam kurungan, rumah tinggal, mesjid dan kampung-kampung dibakar habis.” (1)

Sesudah Van Heutsz diangkat menjadi gubernur jendral bersama dengan  komandan militer Belanda saat itu atas perintah Menteri di Den Haag, maka kritik di parlemen pun mereda. Van Daalen dibebaskan dari segala tuduhan (harusnya diadili dulu oleh pihak yang netral). Angkat topi.

Nama-nama para pemimpin besar Aceh saat itu seperti Tiro, Panglima Polim, Teuku Umar dan istrinya yang penuh semangat perjuangan, Cut Nya Dien, saya rasa tidak perlu dipertanyakan lagi. Ambil contohnya Teuku Umar. Pada awalnya beliau membiarkan dirinya didekati oleh Belanda, mendapat titel yang baik dan ribuan prajurit Aceh di bawah komandonya dilatih dan dipersenjatai oleh Belanda yang ’tidak beragama’. Setelah itu beliau menyeberang ke kubu Aceh, musuh Belanda. Di mata penjajah tindakannya dianggap sebagai sebuah pengkhianatan besar.

Tetapi orang Aceh yang bertelanjang kaki menilainya tidak demikian. Di mata mereka, Belanda terperosok dalam perangkap Teuku Umar. Janda Teuku Umar, Cut Nya Dien, juga mempunyai semangat berjuang yang berkobar. Dengarlah bagaimana beliau mengimbau agar rakyat Aceh berjuang melawan penjajah, ”Rakyatku, orang-orang Aceh, ingatlah ini, jangan pernah lupakan! Mereka menentang Allah dan membakar Mesjid Raya (di Kutaraja)! Jangan pernah lupakan dan jangan pernah memaafkan para kafir Belanda!! Perlawanan Aceh tidak hanya dalam kata-kata.” (2)

Tentu saja di Belanda ada sekitar 44 atau 444 orang Belanda asli, Indo, para pensiunan KNIL di Bronbeek. Belum lagi orang Maluku, anggota Yayasan Kerkhof Pecut, dosen universitas yang muda dan tua, para pelajar asal Aceh, kelompok pecinta literatur Indische Letteren, keturunan para pegawai pemerintah Belanda dan para pengajar sekolah dasar Eropa di Hindia-Belanda, dulu, yang tahu soal Perang Aceh. Kadang mereka malah sangat banyak tahu hingga membuat kita terkejut. Tetapi lebih dari itu saya kira hanya tinggal sejarah. Menyedihkan.

Dari mereka yang menganggap  Perang Aceh sudah mati, kita tidak mendengar lagi kisah tentang perang ini. Logis. Yang lainnya, ”bagi mereka yang menganggap Perang Aceh belum sepenuhnya mati, masih sesekali menulis, bahwa ’peringatan tentang Perang Aceh tampaknya sudah mati, sebuah masa lalu yang sudah mati,” (3)

Mereka tidak menyesalinya sama sekali, karena kita tidak bisa belajar apa-apa lagi dari perang ini, begitu pendapat mereka. Sementara yang setengahnya lagi, para ahli literatur dan sejarawan, dengan fakta-fakta kosong juga telah membuat perang ini seolah-olah mati.

Contohnya adalah Menke de Groot. Untuk merehabilitasi nama Kapten Borel yang memimpin Pasukan Hindia-Belanda dan membebaskan tuduhan terhadap Jendral Swieten, pemimpin KNIL yang dituduh bersalah melakukan pembakaran dan pembunuhan massal, maka pada tahun 2009 beliau menulis sebuah buku tebal tentang Perang Aceh Kedua membahas kedua pemimpin tersebut (4).

Bagaimana orang dapat percaya padanya, diperlukan penjelasan. ’Hati-hati dengan pendapat sembrono orang-orang seperti Multatuli dengan pemikiran filantropisnya yang menyesatkan tentang Perang Aceh’, demikian serunya. Sayang sekali bahwa de Groot dalam buku edisi cetak ulangnya hanya menyebut ’lembaga militer’dalam Perang Aceh Kedua. Padahal Perang Aceh Pertama, Ketiga dan Keempat sama sekali tidak identik dengan Perang Aceh Kedua.

Akan sangat menarik sekali jika de Groot menempatkan Perang Aceh ’nya’ dalam konteks kolonial, dengan sudut pandang saat itu dan sudut pandang saat ini. Sayang sekali beliau tidak menangkap kesempatan itu.

Berbagai lagu rakyat Belanda menunjukkan bagaimana pada saat terjadinya Perang Aceh kita melihat diri kita sendiri sebagai penjajah Belanda yang beradab dan  Aceh yang barbar, serta bagaimana beruntungnya saat itu bagi Aceh karena kita ingin ’menciptakan perdamaian’ di sana.

Paasman mencatat, banyak tentang lagu-lagu tersebut adalah lagu untuk membangkitkan semangat, lagu tentang keadilan, lagu tentang polisi militer, lagu perpisahan, lagu peringatan, lagu tentang pahlawan, lagu jalanan, lagu cinta mendayu-dayu dan lagu-lagu kabaret (5).. Contohnya lagu Militair Atchinlied karya P Haagsma,

“Naar Atchin, de Kraton! Daar zetelt het kwaad.

Schuilt ontrouw, broeit zeeroof en smeulde verraad;

Roeit uit dat geboredsel, verneder die klant;

Met Nederlands driekleur ‘beschaving’geplant.” (6)

Ke Aceh, Kerajaan! Disanalah bersarangnya kejahatan.

Sembunyikan kepalsuan, sarang bajak laut dan penuh pengkhianatan;

Teriakilah kekacauan itu, permalukanlah;

Dengan ’peradaban’Belanda tiga warna.

Setiap pembunuh muda menyanyikan lagu jalanan yang populer ini,

En Teuku Oemar, die moet hangen;

Aan een touw, aan een touw,

Teuku Oemar en zjn vrouw. (7)

Dan Teuku Umar, harus digantung;

Dengan tali, dengan tali,

Teuku Umar dan istrinya.

Para pahlawan Hindia-Belanda yang gagah berani pun tak dilupakan,

Wie kent er niet die brave zielen

Die aan het verre Atjehstrand

Al voor de eer van Nederland vielen

‘t Rood, Wit, Blauw in hun verstijfde hand?

We zullen hunnen assche eeren, wreken,

En waar ik ga of sta of zit, zal ik hun naam met eerbied spreken

Want dat waren jongens van Jan de Witt. (8)

Siapa yang tidak kenal jiwa-jiwa yang berani

Yang berjuang di pantai Aceh yang jauh

Gugur demi kehormatan Belanda

Warna merah, putih dan biru di tangan mereka yang sudah kaku?

Kita akan menghormati dan membela jasad mereka,

Dimanapun aku berada, berdiri atau duduk, aku akan menyebut nama mereka dengan penuh hormat.

Karena mereka adalah para pemuda Jan de Witt.

Kumpulan puisi yang sesungguhnya untuk orang dewasa. Puisi bertema kepahlawanan yang benar-benar khas Belanda, termasuk lagu pengantar tidur tentang Perang Aceh, sejauh yang saya tahu belum pernah ditulis.

Tahun 1600, serangan di Nieuwpoort. Siapa yang masih membicarakan Perang Aceh? Siapa yang tahu mengapa Gubernur Jendral Loudon di Batavia (Jakarta) yang otokratis, keras kepala, impulsif dan gigih memulai perang melawan Aceh tahun 1873? Berapa tahun perang ini berlangsung? Siapa yang tahu di sungai mana, di benteng Aceh yang mana, di semak belukar yang mana, di bukit dan gunung yang mana,  di kampung yang terbakar mana serta kebun kelapa yang mana tempat para serdadu Belanda dan Aceh saling melemparkan klewang satu sama lain?

Siapa yang masih ingat nama kampung-kampung di Aceh tempat para pejuang Aceh dapat berleha-leha dengan 70 bidadari yang cantik setelah ’pasifikasi’, ’ekskursi’, ’pendisiplinan’ Belanda? Masih ingatkah kita bagaimana Jendral Köhler, komandan pasukan invasi Belanda tahun 1873, terbunuh di bawah pohon geulumpang dekat Mesjid Raya di Kutaraja? Tentang Jendral van der Heijden, alias Kareltje Eénoog, yang bersujud kepada orang-orang Aceh menyatakan terima kasihnya karena dia masih bisa selamat?

Siapa pula yang masih ingat tentang Belanda yang sebelum melancarkan Perang Aceh Kedua mengaktifkan kembali Jendral van Swieten yang sudah pensiun? Siapa yang tidak pernah mendengar bertahun-tahun kemudian, setelah Perang Aceh yang kesekian-kalinya, cerita Jendral Van Heutz tentang para serdadu KNIL yang runtuh semangatnya, namun kemudian terinspirasi oleh pemikiran Snouck Hurgronje, seorang Belanda yang mendalami Islam, maka semangat bertempur para serdadu itu bangkit kembali? Yang dengan tenang mengejar dan membuat kaget orang-orang Aceh di gunung-gunung dengan senjata modern, klewang dan taktik anti-gerilya yang baru.

Van Heutsz yang menangkap orang Aceh yang pemberani dan pecinta kemerdekaan,  pertama-tama kakinya dulu, kemudian lehernya dan dengan hati-hati dipukulnya lalu kemudian mencoba mengambil hati mereka. Terakhir, siapa yang tidak mengenal –saya hanya menyebut satu nama saja sementara ini –  Van Daalen yang kejam, seorang militer yang memandang rendah pribumi.

Pada aksi kontra terorisnya, kekejaman dan kesadisan bukan hanya sesekali tetapi sistematis. Sebagaimana yang ditulis seorang polisi militer dengan nama samaran ’Wekker’ – yang pernah dipermalukan oleh Van Daalen –   pada tahun 1907 melalui 17 artikel di koran ’De Avondpost’ (Koran Malam) yang terbit di Den Haag ,” para tahanan dibunuh (sebagai pelajaran lalu jasad mereka dijajarkan), kaum wanita dan anak-anak ditembak, para pemberi informasi yang ragu-ragu disiksa, para sandera disekap dalam kurungan, rumah tinggal, mesjid dan kampung-kampung dibakar habis.” (1)

Sesudah Van Heutsz diangkat menjadi gubernur jendral bersama dengan  komandan militer Belanda saat itu atas perintah Menteri di Den Haag, maka kritik di parlemen pun mereda. Van Daalen dibebaskan dari segala tuduhan (harusnya diadili dulu oleh pihak yang netral). Angkat topi.

Nama-nama para pemimpin besar Aceh saat itu seperti Tiro, Panglima Polim, Teuku Umar dan istrinya yang penuh semangat perjuangan, Cut Nya Dien, saya rasa tidak perlu dipertanyakan lagi. Ambil contohnya Teuku Umar. Pada awalnya beliau membiarkan dirinya didekati oleh Belanda, mendapat titel yang baik dan ribuan prajurit Aceh di bawah komandonya dilatih dan dipersenjatai oleh Belanda yang ’tidak beragama’. Setelah itu beliau menyeberang ke kubu Aceh, musuh Belanda. Di mata penjajah tindakannya dianggap sebagai sebuah pengkhianatan besar.

Siapa Menyelamatkan Anak Kecil Aceh, Menyelamatkan Seluruh Aceh (2)

Artikel Terkait:


Pembantaian 14 Juni 1904 saat pasukan Belanda menaklukkan Kampung Kuto Reh, Aceh. Pasukan dipimpin van Daalen. Sebanyak 313 pria Aceh, 189 perempuan, dan 59 anak-anak tewas. Hanya satu bocah lelaki yang selamat dalam pembantaian itu.

Selasa, 6 Juli 2010 | 11:30 WIB

Tentu saja ada juga suara-suara yang kritis tentang Perang Aceh, di antaranya dari Multatuli yang sudah kita kenal, yang tanpa basa-basi menulis sebuah surat  ‘kepada Raja’ sebagai berikut, ”Gubernur Jendral Anda (James Loudon-Red) saat ini berada pada posisi untuk memaksakan kehendaknya dengan mengumandangkan perang pada Sultan Aceh, dengan alasan yang dibuat-buat, seolah-olah sebagai suatu tindakan yang wajar dilakukan, dengan tuntutan agar Sultan Aceh menyerahkan kedaulatannya. Hal ini sama sekali tidak terhormat, tidak bermartabat, tidak dapat dipahami.” (9)

Saya juga sudah menyebut tentang ’Wekker’, seorang polisi menulis 17 artikel kritis di koran Den Haag ’De Avondpost’. Artikel-artikel yang menimbulkan keresahan di Belanda, setidaknya di parlemen. Namun persoalan ini dianggap tidak ada dan tidak dicari pemecahannya. Para penulis seperti Zentgraff sebelum Perang Dunia Kedua (10) dan van ’t Veer (11) dan Bossenbroek (12) tidak menghargai keterlibatan KNIL dalam Perang Aceh. Salah satu kutipannya, ”Kampung Kuto Reh yang diserang, 11 Juni 1904. Dua Belanda tewas. Aceh kehilangan 313 pria, 189 wanita, 59 anak-anak.

Komandan Van Daalen memerintahkan agar jenazah yang bergelimpangan difoto. Seorang Letnan bernama Colijn yang beragama Kristen menulis kepada istrinya dalam Bahasa Belanda sehari-hari, ”Pekerjaan yang tidak menyenangkan tetapi tidak ada pilihan lain. Para serdadu berpesta menghujani mereka dengan bayonet.”.

Setelah tahun 1945 muncul perhatian dari berbagai pihak tentang Perang Aceh. Misalnya Madelon Székely-Lulofs yang menulis roman tentang pejuang Aceh Cut Nya Dien (14). Atau roman yang menggugah berjudul Wisselkind yang terbit tahun 1998 yang ditulis Basha Fabers (15). Paul van ’t Veers dengan karyanya yang menawan berjudul  De Atjeh-oorlog (Perang Aceh) tahun 1869 (16). Atau buku De verbeelding van een koloniale oorlog (Gambaran sebuah perang kolonial) tahun 2001 yang disusun oleh Liesbeth Dolk (17) berisi tulisan sepuluh penulis yang menggambarkan Aceh melalui pers, literatur, seni dan film.

Ingatan tentang Perang Aceh sesudah 2001 tidak berhenti begitu saja, oleh sebab itu perlu ditelaah aktualisasinya. Pada tahun 2004 muncul skripsi doktoral yang tidak begitu dikenal yang ditulis oleh Lucia Hogervorst, van etnocentrisme naar cultuurrelativisme (18) (Dari Etnosentrisme ke Relativitas Budaya). Isinya mengenai pendapat umum di Belanda setelah tahun 1945 tentang sejarah kolonial. Beliau mendasarkan penelitiannya antara lain pada buku sejarah di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama pada tahun 1950-an, 70-an dan 90-an tentang Perang Aceh.

Setelah itu ia mengukuhkan pendapatnya sekali lagi melalui tulisannya De (niet te) vergeten oorlog in Atjeh (Perang di Aceh yang (tidak untuk) Dilupakan) melalui penerbitan khusus pada tahun 2010 untuk memperingati ’65 tahun berakhirnya Perang Dunia Kedua’(19). Pendidikan Protestan pada tahun 1950-an menceritakan kisah tentang seorang Sultan Aceh (seorang bangsawan yang berdaulat – Red) yang tidak mau tunduk pada Pemerintah Belanda dan masyarakat Aceh yang dipandang sebagai para bajak laut yang beringas, oleh sebab itu mereka harus dikoreksi.

Maka anggapan ‘harus dikoreksi’ inilah yang menjadi alasan mengapa Belanda menduduki Aceh (‘menduduki’ bagi Aceh sama dengan menyerang dan menjajah- Red). Buku sejarah di sekolah Katolik nyaris tidak memberi informasi tentang Perang Aceh itu sendiri tetapi menceritakan ratusan kali tentang Pendeta Verbraak yang bertahun-tahun bertugas menangani ‘jiwa-jiwa damai para pemberani’.

Buku itu memuji perjuangan para serdadu Pasukan Hindia-Belanda yang pemberani. Dengan perjuangan berat para serdadu Belanda berhasil mengembalikan ketentraman di Aceh sementara orang Aceh sendiri ’sesekali’ masih melawan Belanda (‘mengembalikan ketentraman’seolah-olah Aceh yang pribumi sudah secara sah menjadi bagian dari Kerajaan Belanda- Red).

Tetapi murid sekolah sebenarnya tidak belajar bagaimana Belanda selama bertahun-tahun menjadi bagian dari petualangan keserakahan, bersaing dan berseteru dengan sesama negara Eropa lain untuk mencari keuntungan dan kekayaan di belahan dunia lain yang jauh dan belum dikenal. Orang Belanda yang baik harus mencari keuntungan, bukan dengan jalan kebaikan tetapi dengan menimbulkan banyak kerusakan. Maka Aceh pun menjadi korban dari keserakahan itu.

Kepada rakyat Belanda dikatakan bahwa pendudukan dilakukan untuk mengakhiri bajak laut di Aceh. Kepada Amerika dan negara Eropa lain menurut kabar burung (yang tidak diuji kebenarannya) dikatakan bahwa tindakan itu dilakukan untuk mempersiapkan kesepakatan yang menguntungkan dengan Sultan Aceh  dan untuk mengambil alih wilayah kekuasaannya.

Maka Gubernur Jendral di Batavia secara tergesa mengumumkan perang dengan Sultan Aceh dan mendaratlah pasukan ekspedisi Belanda pada tanggal 8 April 1873 di Aceh. Tetapi ketika Jendral Belanda, Köhler, yang berkuasa tewas terbunuh di bawah pohon geulumpang dekat Masjid Raya di Kutaraja maka tewas pula kekuasaannya dan ekspedisi pertama itu pun gagal.

Pada tahun 1874 terjadilah Perang Aceh Kedua di bawah pimpinan Jendral van Swieten yang pensiun namun diaktifkan kembali. Ketika kerajaan milik Sultan Aceh diduduki, dengan penuh kemenangan beliau mengirim pesan ke Belanda ‘kerajaan sudah kita duduki’, tetapi yang sebenarnya terjadi adalah kerajaan itu kosong melompong dan burung-burung pun beterbangan dari dalamnya.

Sesudah itu diikuti oleh tahun-tahun penuh kritik terbuka dari para bawahan di antara yang menonjol adalah Kapten Borel. Muncul lagi seorang jenderal baru, kali ini dengan taktik pertahanan 16 benteng di sekitar Kutaraja. Mereka bertahan selama bertahun-tahun dengan cara bersembunyi di benteng-benteng tersebut, demikian menurut Snouck Hurgronje.

Kemudian muncul Jendral Karel van der Heijden, alias Kareltje Eénoog (Karel Bermata Satu), setelah beliau kehilangan satu matanya dalam peperangan. Taktiknya adalah ‘hukuman sebagai pelajaran’, dengan kata lain ribuan orang Aceh dibunuh dan ratusan kampung di Aceh habis dibakar, tetapi kemenangan perang tetap tidak tercapai. Kemudian diikuti  oleh  Jendral Van Heutsz yang kali ini mendapat giliran. Terinspirasi oleh visi spesialis Islam asal Belanda, Snouck Hurgronje, beliau menjalankan taktik aksi kontra gerilya yang bergerak ofensif secara berkala ke pedalaman Aceh yang bergunung-gunung,  yang untuk beberapa waktu lamanya belum terjamah manusia.

Siapa Menyelamatkan Anak Kecil Aceh, Menyelamatkan Seluruh Aceh (3)

Rabu, 7 Juli 2010 | 13:03 WIB

Pembantaian 14 Juni 1904 saat pasukan Belanda menaklukkan Kampung Kuto Reh, Aceh. Pasukan dipimpin van Daalen. Sebanyak 313 pria Aceh, 189 perempuan, dan 59 anak-anak tewas. Hanya satu bocah lelaki yang selamat dalam pembantaian itu.

Anda bisa membayangkan Van Heutsz, dengan tangan di belakang, perut buncit, memberi kesan sebagai seorang militer superior yang arogan. Tetapi di bawah kepemimpinan penerus Van Heutsz, yaitu Van Daalen, baru terjadi perubahan. Selama ‘ekspedisi’nya ke pedalaman Gayo dan Alas, semua isi kampung dibunuh. Van Daalen dan pasukannya memerintahkan agar apa yang mereka lakukan diabadikan melalui foto, dengan penuh kebanggaan, yaitu tumpukan mayat dengan seorang anak lelaki yang kebetulan selamat dari huru-hara itu disampingnya.

Para pejabat Belanda yang dipermalukan oleh Van Daalen menulis secara anonim kenyataan yang mencengangkan itu di koran-koran Belanda. Para anggota Parlemen yang terkejut (di antaranya Victor de Stuers) mengkritik bahwa ’Pemerintah menyebutnya ekskursi, tetapi saya menyebutnya sejarah pembunuhan’. Koran Het Volk menulis pada tanggal 17 Juli 1904 ‘sebuah negara yang beradab dan berperikemanusiaan tidak seharusnya menyanjung seseorang (Van Heutsz) yang telah menumpahkan darah’.

Maka dalam sekejap berubahlah gambaran tentang negara Belanda yang beradab yang bukan melancarkan perang melainkan pasifikasi dan mengembalikan ketenangan serta menegakkan peraturan, menjadi negara Belanda yang berkhianat, tidak dapat dipercaya, terbius oleh opium dan seks. Tiba-tiba orang-orang Belanda bukan pahlawan lagi melainkan para pembunuh massal.

Sejak tahun 1970-an buku-buku sejarah tidak lagi menampilkan kisah-kisah kepahlawanan melainkan informasi berdasarkan fakta yang ditulis secara singkat, contohnya ’setelah perjuangan berdarah selama bertahun-tahun maka Aceh berhasil dikuasai. Banyak korban pribumi yang jatuh’. Pada tahun 1990-an ditulis demikian ’hingga tahun 1900 orang Belanda hanya ingin mencari untung di Indonesia.

Lalu pada tahun 1873 orang Belanda ingin menguasai Aceh karena di sana banyak sumber minyak dan gas sehingga orang Belanda harus melancarkan perang. Orang Aceh melakukan perlawanan’ (yang benar adalah orang Aceh yang pecinta kemerdekaan ingin tetap merdeka, maka dengan segala kekuatan mereka menolak agresi Belanda. Itu berbeda artinya dengan melakukan perlawanan- Red).

Ketika akhirnya orang Aceh berhenti melawan, hal itu bukan menyerah seperti yang dipikirkan Belanda, tetapi mereka ’mencuri’ waktu untuk kelak bersama-sama dapat bangkit lagi dan mengusir Belanda dari Kutaraja sesaat sebelum Jepang menyerang Aceh pada bulan Maret 1942. Sebagaimana yang dicatat sejarah.

Pameran Van heldendaad tot schandvlek – het Nederlands koloniaal verleden in de geschiedenisboekjes (Dari tindakan patriotik menjadi noda yang memalukan –  Penjajahan Belanda di masa lalu dalam buku sejarah) di Museum Pendidikan Nasional di Rotterdam tahun 2005 mendapat inspirasi dari skripsi doktoral Lucia Hogervorst. Pameran yang sama pada tahun 2006 digelar di Museum Bronbeek di Arnhem dengan menggunakan judul Het Nederlands koloniaal verleden in de geschiedenisboekjes (Pejajahan Belanda di Masa Lalu dalam Buku Sejarah).

Judul Van heldendaad tot schandvlek (Dari tindakan patriotik menjadi noda yang memalukan) tampaknya tidak dapat diterima di Arnhem karena dianggap terlalu peka untuk para pejuang Bronbeek. Kepekaan yang sama juga tercermin melalui komentar-komentar pers tentang pameran di Rotterdam seperti dalam koran NRC dan Nederlands Dagblad yang berkiblat Protestan

Bagaimana di Aceh? Pada awalnya Aceh bersikap antusias setelah Perang Dunia Kedua dengan dinyatakannya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Tetapi tak lama kemudian Aceh segera menyadari munculnya kolonialisme Jakarta. Maka dimulai lagi perjuangan kemerdekaan yang sengit selama bertahun-tahun. Tiba-tiba terjadi tsunami tahun 2004, sebuah tragedi di luar batas kemanusiaan.

Tetapi Perang Kolonial Belanda di Aceh tampaknya berhasil bertahan dari bencana itu.  Puisi-puisi kepahlawanan masih ditemukan (20). Contoh yang menarik misalnya Hikayat Perang Sabil dari Abad ke-19. Hikayat bercerita tentang perang mempertahan diri yang terjadi di Aceh melawan penjajah Belanda yang agresif dan dengan cepat menarik simpati orang Aceh yang beragama Islam. Pesan Hikayat yang kuat sangat sesuai dengan jiwa perjuangan rakyat Aceh.

Hikayat menyerukan agar rakyat Aceh melancarkan perang jihad melawan orang Belanda yang tidak beragama. Di bawah kekuasaan Belanda yang tidak beragama maka rakyat Aceh tidak dapat lagi menjalankan keyakinan mereka. Pembunuhan dan kematian akan terjadi di mana-mana. Keyakinan mereka, Islam, akan diancam oleh penjajah. Adat istiadat mereka juga akan dilarang. Belum lagi persoalan perilaku para serdadu Belanda yang tidak bermoral, pemerkosaan dan lain-lain.

Setiap orang Aceh, setiap pria dan wanita dan anak-anak dengan demikian harus berpartisipasi dalam perjuangan melawan penjajah. Perang melawan Belanda adalah perang seluruh rakyat. Imbalannya, surga. Jika tidak berpartisipasi maka hukumannya adalah api neraka. Satu hari bertempur melawan Belanda mendapat pahala jauh lebih besar daripada seribu hari naik haji di Mekah. Jihad adalah cara kematian yang terindah. Karena setiap orang ikut bertempur maka sulit untuk memisahkan para pejuang dengan yang bukan pejuang.

Tetapi ketika orang-orang Belanda setelah perang selama 30 atau 40 tahun menjadi semakin kuat dan tampaknya dekat dengan kemenangan, maka Aceh menyerahkan diri pada Belanda, namun dengan syarat bahwa orang-orang Belanda pertama-tama harus mengakui Islam sebagai agama mereka. Jika Aceh menyerahkan diri, tidak berarti sebagaimana yang kita pahami sebelumnya bahwa mereka juga rela dikuasai. Penyerahan diri itu hanya merupakan taktik untuk membenahi kekuatan.

Siapa Menyelamatkan Anak Kecil Aceh, Menyelamatkan Seluruh Aceh (4) Artikel Terkait:

repro-Nico Vinkrepro-Nico Vink

Gerbang Kehormatan dari Taman Pemakaman Peutjoet di Kutaraja, Banda Aceh. Ini adalah pemakaman militer Tentara Kolonial Belanda (KNIL) terbesar di Aceh. Sebanyak 2.200 nama tentara Belanda/Eropa, Ambon, Menado, Jawa terbunuh dalam masa Perang Aceh. Pohon besar yang ada dalam gambar, dari sebelum 1942, sudah tak ada sejak tsunami 2004.

Ini sebagian dari puisi kepahlawanan Aceh yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda:

Daarom, teungkoes, weest niet nalatig.

Volbrengt de godsdienstplichten, o broeders.

O, vrienden, er is geen enkele goede daad,

Die het oorlogvoeren overtreft.

De Heilige Oorlog is u als plicht opgelegd,

Begrijpt dat goed, o broeders!

Eerst komt de geloofsbelijdenis, dan de sembahjang

(dagelijks 5x bidden-Red),

Ten derde het oorlogvoeren tegen de Hollanders.(21)

Oleh sebab itu, tengku, jangan tidak peduli

Kerjakanlah kewajiban beragama, o saudaraku

Oh, kawan, tidak ada satu pun kebaikan,

Yang melebihi perjuangan dalam peperangan

Perang jihad adalah kewajibanmu

Pahamilah hal itu, o saudaraku!

Pertama membaca syahadat, kemudian shalat,

Ketiga berperang melawan Belanda.

Sementara Teuku Ibrahim Lamnga bertempur melawan Belanda, sang istri, Cut Nya Dien, menyanyikan lagu pengantar tidur untuk bayi mereka:

Hé, mijn kleine jongen, mijn beminde zoon, je bent een man,

Je vader, je grootvader zijn ook mannen, toon je manlijkheid,

De Christenhonden willen ons land bezetten,

Zij willen onze godsdienst inruilen coor hun godsdienst,

De godsdienst van de christenhonden.

Verdedig de rechten van ons Atjenees volk,

Verdedig onze godsdienst, de Islamitische godsdienst.

O, mijn zoon, volg de voetsporen van je vader,

Teuku Ibarhim Lamnga, nu hij niet thuis is.

Denk maar niet dat je vader met z’n vrienden op stap is

Om de komst van de Christenhonden te vieren,

Hij is op weg om hen te verjagen uit het land Atjeh. (22)

Hai, anak lelakiku, anak lelaki kesayanganku, kau seorang lelaki,

Ayahmu, kakekmu juga laki-laki, tunjukkan keperkasaanmu,

Anjing-anjing Kristen ingin menguasai negara kita,

Mereka ingin menukar agama kita dengan agama mereka,

Agama para anjing Kristen.

Belalah hak rakyat Aceh,

Belalah agama kita, agama Islam.

O, anak lelakiku, ikutilah jejak ayahmu,

Teuku Ibrahim Lamnga, yang sekarang tidak di rumah,

Jangan kira ayahmu sedang bersenang-senang dengan temannya,

Untuk merayakan kedatangan para anjing Kristen,

Beliau pergi untuk mengusir mereka dari tanah Aceh.

Sampai sekarang hikayat masih tetap aktif dihidupkan. Pada tahun 2007 terbit versi kartun kisah hikayat untuk anak-anak sekolah di Aceh. Sampai sekarang para ibu juga masih menyanyikan lagu pengantar tidur untuk bayi-bayi mereka.  Lagu-lagu dodaidi mengajarkan pada anak-anak Aceh agar kelak harus membantu para pejuang Aceh. Ini salah satu lagu dodaidi:

Tiada Tuhan selain Allah

Rasul telah berpulang

Kembali ke pangkuan Allah

Beliau meninggalkan Al Qur’an untuk kita

Do idi ku doda idang

Tali layang-layang di udara telah putus

Jadilah anak yang kuat, oh Banta Seudang

Ikutlah bertempur dalam peperangan, selamatkan Aceh. (23)

Apakah Perang Aceh yang di Aceh disebut sebagai Perang Penjajahan Belanda masih diingat? Mehmet Ozay membantu saya pada Januari 2010 mewawancarai lebih dari 25 murid sekolah, mahasiswa dan dosen di Banda Aceh (24). Bagaimana mereka mengenang Perang Aceh?

”Jakarta” tidak pernah mempunyai perhatian terhadap sejarah daerah, tetapi memusatkan perhatian hanya pada sejarah Jawa dan hanya mengakui pahlawan-pahlawan nasional yang di dalamnya termasuk Teuku Umar dan Cut Nya Dien. Bagi ”Jakarta”, Aceh merupakan hal yang peka. Generasi muda Aceh tidak diperkenankan untuk menjadi patriot Aceh.

Oleh sebab itu seberapa jauh pelajaran tentang Perang Penjajahan Belanda diberikan di sekolah di Aceh sangat bergantung pada pengajarnya. Sejak penandatanganan Kesepakatan Helsinki antara Aceh dan ’Jakarta’ tahun 2005 maka ketertarikan secara terbuka di Aceh terhadap Perang Penjajahan Belanda semakin meningkat. Para kakek tanpa rasa takut dapat menceritakan kembali kisah perjuangan mereka kepada cucu-cucu. Para pengajar sekolah dasar dan sekolah menengah menceritakan dalam pelajaran sejarah bagaimana rakyat Aceh dengan gagah berani melawan penjajah Belanda hanya dengan bersenjatakan bambu, rencong dan klewang.

Di sekolah menengah atas, tugas mata pelajaran Imperialisme dan Kolonialisme di Indonesia merujuk pada  perang tersebut. Di tingkat universitas di jurusan sejarah diperbandingkan visi para sejarawan Aceh dengan visi para sejarawan Belanda.  Bagaimana Jendral Belanda Köhler pada Perang Aceh Pertama tahun 1873 dibunuh oleh rakyat Aceh di bawah pohon geulumpang dekat Mesjid Raya di Kutaraja sangat populer untuk dibahas.

Dan bagaimana Teuku Umar mengelabui Belanda juga dengan sendirinya berada dalam urutan teratas pembahasan. Mereka selalu memandang ahli Islam asal Belanda bernama Snouck Hurgronje dengan pengetahuannya tentang Aceh sebagai pengkhianat. Sebagaimana Belanda mengenal Van Heutsz, para murid dan mahasiswa Aceh juga mengenal para pahlawan mereka.

Mereka telah melihat pameran foto tentang Perang Belanda di Museum Aceh dan mereka juga mengenal Hikayat Perang Sabil. Dan dengan wisata sekolah ke Makam Belanda Kerkhof di Banda Aceh, makam militer Belanda terbesar di Aceh tempat bersemayam sekitar 2.200 militer KNIL, mereka melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Perang Belanda di Aceh bagi Belanda sendiri bukan hal yang ringan.

Di makam ini mereka juga melihat nama-nama asal Ambon, Menado dan Jawa yang menjadi bukti betapa kreatifnya Belanda untuk saling mengadu domba orang Indonesia antara satu dengan lainnya. Sementara Jawa sudah beberapa ratus tahun menjadi jajahan Belanda, maka Aceh setelah 70 tahun berperang sebenarnya belum benar-benar berhasil dikuasai oleh Belanda.

Hal ini sampai sekarang masih diceritakan oleh orang Aceh dengan penuh kebanggaan. Pastilah bukan tanpa sebab bahwa orang Aceh masih mengingat Perang Penjajahan Belanda yang terjadi antara 70 hingga 140 tahun yang lalu di samping tragedi tsunami tahun 2004. Kursus tambahan bagi para pengajar tentang perang tersebut akan dilakukan di masa depan dan sebuah pameran foto besar-besaran pada tahun 2011 tentang perang tersebut juga sedang dalam tahap persiapan.

Siapa Menyelamatkan Anak Kecil Aceh, Menyelamatkan Seluruh Aceh (5-selesai)

Artikel Terkait:

Sabtu, 10 Juli 2010 | 17:01 WIB

Makam massal dari tujuh tentara Belanda/Eropa dan 16 tentara KNIL asal Ambon, Menado dan Jawa di Bakongan (Aceh Barat). Mereka tewas dalam serangan klewang pada 12 Agustus 1905.

Perang Dunia Kedua dan pembunuhan Yahudi oleh Nazi memang sudah selayaknya mendapat tempat dalam pendidikan sekolah kita di Belanda. Kedua subyek sejarah tersebut beruntung mendapat tempat yang dominan dalam otak generasi muda kita. Tetapi hal itu juga sayangnya menimbulkan beberapa dampak negatif. Kapasitas otak relatif kecil dan kita khawatir tidak ada tempat lagi untuk subyek sejarah yang penting seperti Perang Aceh yang berlangsung selama 30, 40 atau bahkan 70 tahun. Juga terlalu sedikit, sangat sedikit perhatian yang diberikan para dosen untuk episode yang sangat berarti ini dalam sejarah kita.

Akibatnya adalah ingatan yang semakin terpinggirkan tentang perang ini. Hal ini diperburuk oleh banyaknya monumen kenangan dan peringatan di negara kita tentang Perang Dunia Kedua namun sangat sedikit sekali tentang Perang Aceh. Monumen dan tempat-tempat bersejarah di Aceh buat kita jauh letaknya dan dengan demikian juga tidak mudah untuk dikunjungi secara massal dari negara kita.

Begitu banyak monumen bertema Perang Dunia Kedua  namun  monumen Perang Aceh sampai sekarang nyaris tidak mendapat perhatian. Tampaknya ada kecenderungan kuat bahwa kecintaan kita pada kemerdekaan hanya berlaku untuk diri kita sendiri. Orang lain selalu salah dan harus merasa malu jika mereka mengancam dan merebut kemerdekaan kita, tetapi jika kita merampas kemerdekaan orang lain (misalnya rakyat Aceh), maka kita dengan sendirinya segera menerapkan standar keadilan yang berbeda atau kita mengalihkan perhatian ke arah lain.

Untungnya hal itu akan segera berakhir karena sejak tahun ini perubahan akan terjadi. Sekarang Komite 4 & 5 Mei (Komite di Belanda untuk memperingati Hari Kemerdekaan Belanda dari Pendudukan Jerman) bukan hanya memikirkan tentang kemerdekaan kita tetapi juga kemerdekaan semua orang di seluruh dunia.  Juga rakyat Aceh sekarang (dan juga pada masa lalu jika boleh saya tambahkan).

Bicara tentang monumen, kita pernah memiliki monumen Van Heutsz di Amsterdam. Tetapi karena Van Heutsz merupakan simbol perdebatan (Peter van Zonneveld telah merumuskannya dengan baik) (25), maka nama monumen tersebut diganti menjadi Monumen Indïe-Nederland (Indonesia-Belanda) dan berubah maknanya menjadi kenang-kenangan tentang hubungan antara Belanda dan Indonesia pada masa kolonial.

Tetapi monumen itu tidak terfokus pada Perang Aceh. Juga ketika monumen itu masih bernama Monumen Van Heutsz,  nyaris tidak seorang pun yang tahu bahwa itu adalah monumen Aceh milik kita. Van Heutsz adalah komandan militer di Aceh dan Gubernur Aceh antara tahun 1890-1904. Perang Aceh dimulai tahun 1873 dan berlangsung hingga 1942 (ada berbagai pendapat tentang hal ini).

Jadi ada Perang Aceh sebelum dan sesudah Van Heutsz. Sekitar empat atau lima Perang Aceh seluruhnya, setiap kali dengan komandan militer yang berbeda. Sudah saatnya dibangun sebuah monumen yang khusus untuk memperingati Perang Aceh, yang dimulai sejak invasi di Aceh tahun 1873 dan berakhir dengan perlawanan seluruh rakyat Aceh hingga keluarnya Belanda dari Aceh tahun 1942. Sebuah monumen tentang agresi dan pendudukan Belanda serta pembebasan Aceh.

Sebuah monumen yang menggambarkan sisi kemanusiaan dan kebiadaban Belanda dan Aceh yang terjadi selama masa itu. Kisah-kisah dalam buku sejarah juga harus lebih kaya, lebih menarik, lebih menghanyutkan, lebih komunikatif. Tentang Aceh dan Perang Aceh harus disediakan bukan lagi dana melainkan kreativitas yang informatif. Harus ada film atau serial televisi yang menarik tentang Perang Aceh  yang sungguh-sungguh menggambarkan daerah dan rakyatnya, yang menggambarkan Aceh seratus tahun yang lalu sebagaimana aslinya.

Otentik. Menampilkan bukan hanya orang Belanda tetapi juga para serdadu KNIL asal Ambon, Menado dan Jawa, para pejuang Aceh serta wanita dan anak-anak. Jadi bukan semacam tokoh karikatur pemberani yang diromantisasi ala Filipina sebagaimana film NCRV tahun 1996. Aceh dan Perang Aceh harus dihidupkan kembali. Untungnya pada tahun 2009 het Indisch Herinneringscentrum (Lembaga untuk memperingati sejarah tentang Indonesia) atau disebut juga IHCB di Bronbeek dibuka. Pertengahan Agustus 2010 akan diselenggarakan  pameran berjudul Het verhaal van Indië (Kisah tentang Indonesia) di Bronbeek.

Artinya setelah esai ini selesai ditulis. Apakah IHCB  menampilkan kisah Perang Aceh dengan baik dan pameran tersebut berhasil, saya tidak dapat menjawabnya saat ini, tetapi saya harap akan demikian. Maka cukup banyak hal besar yang masih bisa dilakukan. Salah satunya tentu saja masih harus kita tunggu bagaimana seorang ilmuwan NIOD (Lembaga Dokumentasi Perang Belanda) bernama Elly Touwen-Nouwsma (26) yang mencintai ’kebaikan KNIL’ (dan para pahlawannya) (27) menyebut monumen KNIL, sebuah patung dada Van Heutsz dari perunggu, sebuah bangku dengan plakat bertuliskan Jendral van der Heijden (atau Kareltje Eénoog) dan patung tentang Perang Aceh di Taman Bronbeek untuk menggambarkan ’bagaimana seorang Aceh diancam akan dibunuh oleh seorang prajurit KNIL (yang heroik-Red)’.

Jika Elly-Touwen-Bouwsma  merasa gelisah, maka saya ingin menenangkan beliau. Patung yang sebaliknya juga ada. Patung penembak kanon Belanda yang gagah berani namun tidak terkenal yang pada peperangan di Mesjid Raya di Kutaraja digorok lehernya (oleh seorang pejuang Aceh) hingga jatuh dari tangga dan tewas di tangan teman-temannya (28). Tidak ada yang menentang sanjungan setinggi langit terhadap para jendral Belanda dan para serdadu mereka yang heroik dan berusaha menciptakan ketentraman dan kedamaian, juga tidak ada yang menentang Monumen Van Heutsz yang bombastis di Amsterdam, yang diresmikan dengan penuh keartistikan.

Jika saja di seberang bekas Monumen Van Heutsz ke arah Amsterdams Lyceum (Sekolah Menengah Amsterdam) di Valeriusplein sebuah tempat disediakan untuk sebuah monumen yang mencerminkan harapan, misalnya patung seorang anak lelaki Aceh yang duduk di bawah kerindangan bambu sebagai satu-satunya orang yang selamat ketika pembantaian terjadi di kampungnya di Kuto Rèh tahun 1904. Disebelahnya patung seorang serdadu KNIL yang besar dan tinggi sebagai latar belakang, mendongak, yaitu komandan KNIL Van Daalen yang memandang rendah pribumi. Terinspirasi oleh foto saat itu yang terkenal (29). Amsterdam, masyarakat Amsterdam, Belanda, niatkanlah bahwa patung tentang harapan itu akan dibangun. Siapa yang menyelamatkan seorang anak lelaki Aceh, maka menyelamatkan juga seluruh Aceh (30).

Kita juga seharusnya bersikap jelas dan tidak terlambat menyadari bahwa kita masih bisa belajar banyak dari Perang Aceh. Belajar untuk tidak tergesa-gesa dan melakukan persiapan yang baik sebelum memulai perang. Belajar untuk memeriksa kebenaran dari berita yang kita terima (Irak hingga Aceh!) Ancaman yang muncul tidak harus selalu diselesaikan melalui perang (Aceh yang di seberang lautan hingga bajak laut Somalia).

Bahwa orang lain juga mempunyai hak kemerdekaan yang sama dengan kita. Bahwa kita, orang Belanda, menggunakan standar keadilan ganda dalam usaha untuk menguasai dan menjajah bangsa lain sebagaimana halnya musuh dan lawan-lawan kita (Belanda melawan Aceh tahun 1873 hingga Nazi-Jerman melawan Belanda tahun 1940)-(31). Dan sejak serangan Belanda ke Aceh tahun 1873, terutama sejak tahun 1890-an ketika Snouck Hurgronje dan muridnya yang militer yaitu Van Heutsz terlibat maka semakin jelas bagi pihak Belanda bahwa bertempur dan meraih kemenangan di Aceh adalah sesuatu yang khusus, lebih daripada menyerang musuh di lapangan terbuka.

Usaha lebih diarahkan untuk bagaimana caranya mendapat dukungan dari masyarakat lokal, pegawai pemerintah dan para pemimpin spiritual. Untuk mempersempit ruang gerak para pejuang Aceh. Untuk diakui bahwa mereka telah melindungi masyarakat setempat. Untuk membantu tugas-tugas kepemerintahan. Untuk membangun jembatan dan jalan-jalan, untuk memperbaiki kampung-kampung, untuk membantu para petani, membangun mesjid dan ruang-ruang pertemuan masyarakat.

Setelah Irak dan Afghanistan kini Departemen Pertahanan Belanda mengeluarkan buku panduan doktrin baru yang diterbitkan dengan penuh kebanggaan, padahal pelajaran berharga yang sama sudah lama ada. Pengalaman 70 tahun Perang Aceh tidak berarti apa-apa bagi Departemen Pertahanan.

Sekarang akhir ’Periode Pemerintahan Beatrix’ semakin mendekat, maka saya ingin menyerukan hal ini pada Sang Ratu: Ratu, akan sangat indah sekali jika kita bisa berbaik kembali dengan rakyat Aceh, yang sudah berperang dengan kita begitu lama di masa lalu. Pada tahun 1873 kita mengumandangkan perang pada Aceh. Tetapi perdamaian dengan Aceh tidak pernah tercapai. Tidak pernah. Kini tiba waktunya untuk menyatakan penyesalan kepada Aceh. Permintaan maaf sejujur-jujurnya dari hati yang terdalam. Ingatan akan Perang Aceh sama sekali belum mati.

(Ditulis oleh Nico Vink, diterjemahkan oleh Hasti Tarekat)

Daftar Rujukan

Basry, Muhamad Hasan, Perang Kolonial Belanda di Aceh, Banda Aceh,  1990

Bossenbroek, Martin, Geweld als therapie, dalam: Liesbeth Dolk (red.), Atjeh, De verbeelding van een koloniale  oorlog, Penerbit Bert Bakker, Amsterdam 2001

Blokker, Jan, Veel geleerd, niets onthouden, dalam: NRC Handelsblad, 4 September 2009

Blokker, Jan, Nog altijd de oorlog van Lou de Jong, dalam: NRC Handelsblad, 14 Mei 2010

Bruinsma J.F.D., De verovering van Atjeh’s Grote Mesigit, 1889

De Groot, Menke, Onze vestiging in Atjeh, Drogredenen zijn geen waarheid, van G.F.W. Borel, Penerbit

Eburon Delft, 2009

Hadi, Amirul, Exploring the Acehnese Conception of War and Peace, A Study of Hikayat Prang Sabi, makalah yang dipresentasikan pada First International Conference of Aceh and Indian Ocean Studies, Banda Aceh, 24-27  Pebruari 2007

Hogervorst, Lucie, Van etnocentrisme naar cultuurrelativisme, skripsi doktoral, Rotterdam, 2004

Hogervorst, Lucie, De (niet te) vergeten oorlog in Atjeh, dalam: Penerbitan Khusus 65 jaar na de Tweede

Wereldoorlog, 2010

Langeveld, Herman, Dit leven van krachtig handelen.  Hendrikus Colijn 1869-1944, Deel 1: 1869-1933,

Atjeh,  Penerbit Balans, 1998

Marzuki, Marlina, Dodaidi, More than songs of lullaby, Lhokseumawe State Polytechnic, 2009

Paasman, Bert, Wij gaan naar Atchin toe, dalam: Liesbeth Dolk (red.), Atjeh, De verbeelding van een koloniale  oorlog, Penerbit Bert Bakker, Amsterdam 2001

Rep, Jelte, Atjeh, Atjeh!, Penerbit de Prom, Baarn 1996

Székely-Lulofs, Madelon, Tjoet Nja Din, Amsterdam 1948, ’s-Gravenhage 1985

Touwen-Bouwsma, Elly, Het Bronbeekpark, dalam: Madelon de Keizer en Marije Plomp  (red.), Een open

zenuw. Hoe wij ons de Tweede Wereldoorlog herinneren,Penerbit Bert Bakker, Amsterdam, 2010

Van ’t Veer, Paul, De Atjeh-oorlog, Penerbit de Arbeiderspers, 1969

Vink, Nico, Verbannen uit Indië (1936-1945), Penerbit Walburg Pers, 2007

Vink, Nico en Mehmet Ozay, Wat weten Atjehers van de Hollandse Koloniale Oorlog in

Atjeh?, Januari 2010, penelitian yang belum diterbitkan.

Wekker, Hoe beschaafd Nederland in de twintigste eeuw vrede en orde schept op Atjeh, 17 artikel

dalam De Avondpost, Oktober 1907

Zentgraaff, H.C., Atjeh, Batavia, 1938

Zonneveld, van, Peter, De Van Heutsz-mythe, dalam: Liesbeth Dolk (red.), Atjeh, De  verbeelding van een koloniale oorlog, Penerbit  Bert Bakker, Amsterdam, 2001

Catatan

(1)   Wekker 1907                                   (12) Bossenbroek 2001                           (23) Marzuki 2009

(2)   Székely-Lulofs 1948/1985              (13) Langeveld 1998                               (24) Vink en Ozay 2010

(3)   Blokker 2009                                   (14) Székely-Lulofs 1948/1985              (25) Van Zonneveld 2001 hal. 139-154

(4)   de Groot 2009                                 (15) Faber 1988                                      (26) Touwen-Bouwens 2010 hal. 105

(5)   Paasman 2001 hal. 159/160             (16) Van ’t Veer 1969                             (27) Blokker 2010

(6)   Paasman 2001 hal. 51                      (17) Dolk 2001                                       (28) de Groot 2009 hal. 24

(7)   Paasman 2001 hal. 56                      (18) Hogervorst 2004                                     Basry 1990 hal. 99

(8)   Paasman 2001 hal. 63                      (19) Hogervorst   2010                                   Bruinsma 1889 hal. 59

(9)   Van ’t Veer 1969 hal. 39                 (20) Hadi 2007                                        (29) Bossenbroek 2001 hal. 21

(10) Zentgraaff 1938 hal. 190                 (21) Zentgraaff  1938 hal. 245                        Basry 1990 hal. 190

(11)Van ’t Veer 1969 hal.256 (22)Rep 1996 hal. 5 (30) geïnspireerd op de Talmud (31) Vink 2007 hal. 163

Nico Vink

(Surabaya 1928), pengemudi kapal Java-China-Japan Lijn, drs. ekonomi (Amsterdam 1954), ekonomi lalu lintas (Bergen/Noorwegen), KLM (Asia), biro iklan Nijgh/Rotterdam dan KVH/Amsterdam, dosen HEAO (Den Haag), disertasi Macht en Kultuur in Marketing (Tilburg, 1986), dosen Fakultas Obyek Indutrial/Teknik  Universitas Delft, dosen tamu di Kopenhagen, Trondheim dan Oslo, Lódz/Polen, Tokaj/Japan, AGSIM (Phoenix USA), penulis buku  Verbannen uit Indie (1936-1945) Walburg Pers Zutphen, 2007.

10
Jul
10

Puskesmas : Kecemasan Perburuk Sakit Jantung

Sabtu, 10 Juli 2010 | 10:15 WIB
Kecemasan Diduga Perburuk Pasien Sakit Jantung

wordpress.com

KECEMASAN meningkatkan kemungkinan pasien sakit jantung untuk mengalami serangan jantung, stroke, atau gagal jantung.

Kaitan antara kecemasan dan peristiwa semacam itu tak dapat dijelaskan oleh prilaku kesehatan seperti merokok, parahnya penyakit, atau faktor biologi seperti tingkat hormon atau denyut jantung, demikian temuan Dr Elisabeth J Marten dari Tilburg University, Belanda, dan rekan-rekannya.

“Ini sangat mengejutkan,” kata Martens kepada Reuters Health melalui surat elektronik yang dilansir Antara Sabtu (10/7). “Langkah berikutnya ialah menemukan bagaimana gangguan kecemasan mengakibatkan hasil buruk saluran darah dan jantung.”

Orang yang memiliki kecemasan umum mengalami ketegangan dan kekhawatiran kronis yang berlebihan. Kondisi tersebut secara khusus diobati dengan pengobatan dan jenis tertentu terapi konsultasi.

Martens dan timnya sebelumnya telah menemukan hubungan antara depresi dan resiko serangan jantung, stroke dan gangguan lain pembuluh darah dan jantung pada kelompok pasien yang sama.

Semuanya ikut dalam Studi Jiwa dan Jantung, penyelidikan mengenai hubungan antara gangguan psikologis dan sakit jantung dan pembuluh darah pada 1.024 pasien sakit jantung California.

Martens dan rekannya mendapati bahwa prilaku kesehatan yang buruk –terutama kurang gerak secara fisik– sangat menjelaskan mengapa pasien yang mengalami depresi mengakibatkan kondisi yang lebih buruk.

Karena kecemasan berkaitan erat dengan depresi, para peneliti memutuskan untuk meneliti apakah kecemasan secara umum juga memberi hasil berupa gangguan.

Analisis mereka meliputi 1.015 pasien, 106 di antara mereka memiliki gangguan kecemasan umum. Semuanya memiliki sakit jantung dan pembuluh darah yang stabil, yang berarti mereka memiliki bukti mengenai alirah darah yang buruk di jantung mereka, tapi penyakit mereka tak bertambah parah.

Selama masa enam tahun, 371 peserta studi mengalami sakit jantung dan pembuluh darah, serangan jantung, stroke gagal jantung atau bahkan kematian. Hampir 10 persen peserta yang memiliki gangguan kecemasan umum mengalami peristiwa yang berkaitan dengan jantung dalam waktu satu tahun, dibandingkan dengan sebanyak tujuh persen mereka yang tak memiliki gangguan.

Setelah para peneliti itu memperhitungkan puluhan faktor yang mungkin menjelaskan mengapa pasien yang cemas menghadapi resiko lebih besar, seperti depresi, kegiatan fisik, apakah –atau tidak– mereka mengonsumsi obat yang diresepkan, dan radang, hubungan tersebut masih tetap ada, dan gangguan kecemasan meningkatkan resiko sampai 74 persen.

Di dalam dokumen hasil penelitian mereka di Archives of General Psychiatry, Martens dan timnya mengusulkan sedikit penjelasan yang mungkin bagi kaitan itu; peningkatan hormon “perkelahian-atau-terbang” akibat kecemasan mungkin menjadi salah satu faktor, kata mereka, meskipun pasien yang cemas juga mungkin saja kurang mencari perawatan pencegahan.

Untuk saat ini, kata Martens, keberadaan gangguan kecemasan pada pasien sakit jantung dapat digunakan untuk mengingatkan mereka yang menghadapi resiko sangat tinggi.

“Evaluasi dan pengobatan kecemasan juga mungkin dipertimbangkan sebagai bagian dari penanganan menyeluruh semua pasien ’coronary heart disease’ (CHD),” tambahnya. “Gangguan kecemasan umum terjadi dan dapat diobati serta dapat menjadi faktor resiko yang dapat diubah pada pasien CHD (sakit jantung koroner).” (apr)

Jumat, 9 Juli 2010 | 09:43 WIB
Tai Chi, Qigong Tawarkan Manfaat Kesehatan

Ilustrasi senam pagi — nursyifa.hypermart.net

Los Angeles, Kamis

BEBERAPA peneliti AS telah mendapati bahwa berlatih Tai Chi dan Qigong memberi manfaat besar kesehatan mental dan fisik.

Para peneliti di Arizona State University College of Nursing dan Healthcare Innovation mengkaji 77 pemeriksaan acak yang dipantau mengenai Tai Chi atau Qigong yang disiarkan antara 1993 dan 2007 dan meliputi sebanyak 6.410 peserta.

Kajian tersebut memberi “dasar bukti yang lebih kuat” bahwa Tai Chi dan Qigong menawarkan manfaat dalam masalah kesehatan tulang, kebugaran pernafasan dan jantung, fungsi fisik, keseimbangan, kualitas hidup, pencegahan orang terjatuh dan kesehatan mental, kata para peneliti itu di satu siaran pers yang disiarkan oleh HealthDay News, Kamis (8/7).

“Kami memandang (temuan ini) sebagai memajukan pemahaman mengenai potensi Qigong dan Tai Chi, dengan penekanan pada kombinasi bukti pada seluruh praktek ini,” kata penulis bersama kajian tersebut Linda Larkey.

“Tai Chi dan Qigong memiliki banyak manfaat kesehatan sehingga mesti dipandang sebagai prioritas tinggi ketik orang memilih olah raga yang akan dijalani,” kata profesor di Center for Integrative Medicine di University of California, Irvine, Shin Lin di dalam siaran pers tersebut.

Lin, yang tak terlibat di dalam kajian itu, menjelaskan bahwa Qigong adalah “istilah yang sangat umum untuk menggambarkan olah raga yang akan meningkatkan aliran atau keseimbangan qi.”

Istilah Qigong menggabungkan “qi (chi)”, atau energi, dan “gong”, atau kegiatan atau olah raga. Tai Chi adalah bentuk yang lebih khusus dari olah raga yang memusatkan perhatian pada rangkaian 24 sampai 108 gerakan.

Di dalam I-Ching (“Kitab Perubahan”), istilah Tai chi berarti “puncak yang agung” dan juga diartikan “kosmos”. Dalam karya klasik Wang Zong Yue, “Treatise on Tai chi chuan”, dijelaskan, “Tai chi lahir dari kehampaan; menghasilkan gerak dan ketenangan, dan merupakan induk dari Yin (energi negatif/dingin) dan Yang (energi positif/panas). Ketika bergerak, energi terpisah; ketika tenang, ia menyatu.” (Ant/apr)

Kamis, 8 Juli 2010 | 19:12 WIB
Stress Lebih Dominan Picu Gangguan Lambung

blogspot.com

Palmerah, Warta Kota

FAKTOR stres yang mempengaruhi pola makan dinilai dominan memicu timbulnya gangguan lambung dibandingkan karena masalah lain di perut.

“Gangguan lambung bisa karena aktivitas padat yang mengakibatkan timbulkan stress” kata dokter Sri Sukmaniah dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, di Jakarta, Kamis (8/7).

Dalam pencanangan Gerakan Lambung Sehat Indonesia yang digagas PT Kalbe Farma Tbk didukung Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Sri Sukmaniah mengatakan bahwa pola makan teratur sangat penting untuk menjaga kesehatan lambung.

Sri Sukmaniah mengatakan untuk bekerja tubuh membutuhkan energi namun karena aktivitas yang sibuk menjadi alasan sehingga tidak sempat makan. Tubuh yang kekurangan pasokan akibatnya energi cadangan dikuras sehingga mengakibatkan kelelahan lebih cepat, lebih berat serta berkepanjangan.

Sri mengingatkan agar tidak melewatkan waktu makan untuk menjaga cadangan energi tubuh dan mencegah kelelahan yang berat. Selain itu tidak membiarkan lambung kosong terlalu lama mencegah timbulnya mual, perih dan kembung.

Kecenderungan “balas dendam” pada waktu makan berikutnya juga berbahaya bagi kesehatan dan makan tidak teratur juga dapat mengakibatkan gangguan metabolisme.

Sarapan juga sangat penting sebab berdasarkan penelitian bagi yang tidak pernah sarapan konsentrasi belajar berkurang dan kemampuan kognitif terganggu karena sel-sel dalam tubuh butuh energi untuk otak berpikir, belajar, berkonsentrasi dan mengingat.

Perlu dijaga adalah pola makan sehat dan berkualitas yaitu jadwal makan teratur, jumlah makanan sesuai dengan kebutuhan tubuh, jenis makanan beragam serta minimal lima porsi sayur dan buah.

Sedangkan komposisi makanan yang seimbang yaitu karbohidrat mencapai 50-60 persen, protein 10-15 persen, lemak 20-30 persen, vitamin dan mineral, sukup serat serta cukup minum.

Solusi bagi yang sudah menderita maag adalah konsumsi obat teratur dari golongan antasida untuk meredakan hiperasiditas asam lambung.

Solusi lain yang diberikan yaitu makan yang teratur dan tidak tergesa-gesa, menghindari makanan yang merangsang asam lambung seperti pedas, asam dan bersoda serta alkohol. Mengatur kegiatan sehari-hari dan cukup istirahat juga diperlukan untuk menjaga kesehatan lambung. (Ant/apr)

Kamis, 8 Juli 2010 | 16:42 WIB
Lima dari 10 Orang Alami Maag

blogspot.com

Kebayoran Baru, Warta Kota

Masih besarnya jumlah penderita maag di Indonesia menjadi perhatian para tenaga medis. Berdasarkan survei yang dilakukan PT Kalbe Farma, pasien yang memiliki masalah maag mencapai 60 persen atau lima dari 10 orang mengalami gangguan pencernaan.

“Penderita sakit maag setiap tahun terus meningkat. Dan banyak diderita oleh profesional muda yang sebagian besar disebabkan oleh stress,” ujar Widjanarko Lokadjaja, Sales & Marketing Director PT. Kalbe Farma dalam jumpa pers “Pencanangan Gerakan Lambung Sehat Indonesia” di Bulungan, Kebayoran Baru, Kamis (8/7).

Stress yang dialami profesional muda tidak lepas dari tekanan kerja yang semakin tinggi. Akhirnya, konsumsi makanan dan gaya hidup yang dijalani sehari-hari menyebabkan nutrisi yang masuk kecil dan akhirnya mengganggu kondisi lambungnya.

Kebiasaan yang salah inilah yang ingin menyebabkan jumlah penderita sakit maag terus bertambah. Bahkan, jika dibiarkan, bisa menyebabkan masalah kesehatan seperti kanker lambung yang akan membawa kematian pada penderitanya.

Untuk memberikan pemahaman yang benar, maka PT Kalbe Farma melalui produknya, Promag menggelar kampanye Gerakan Lambung Sehat Indonesia. Kampanye ini akam dilakukan dalam beberapa program.

Yang pertama, program edukasi melalui media massa. Kalbe Farma telah melakukan promosi program ini di televisi tiga kali dalam satu hari. Pilihan tiga kali itu adalah menyesuaikan waktu makan yang tepat sesuai program kampanye ini.

Kedua, menggelar acara di 40 kota se-Indonesia. Jakarta menjadi kota pertama digelarnya program Gerakan Lambung Sehat Indonesia.

Acara akan dilaksanakan pada tanggal 18 Juli 2010 di Lapangan Blok S, Jakarta Selatan. Kota berikutnya yang akan disinggahi antara lain Tangerang, Banten, Cianjur, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Medan, Makassar, juga Lampung.

Program berikutnya adalah mencetak motivator di 40 kota se-Indonesia. Motivator ini akan dipilih dari orang-orang yang memiliki kontribusi yang baik bagi masyarakat.

Mereka yang sudah dipilih di setiap kecamatan kemudian akan diuji untuk melihat kemampuannya tentang kesehatan terutama yang berkaitan dengan maag. Calon motivator ini juga diminta membuat rencana kerja berkaitan dengan program ini.

Motivator yang terpilih akan melakukan edukasi kepada masyarakat tentang kesehatan pencernaan. Kalbe Farma akan mengawasi seluruh program kerja yang dijalankan seluruh motivator terpilih.

Melalui kampanye ini, diharapkan bisa mendorong masyarakat untuk lebih menjaga kesehatan lambungnya melalui kebiasaan mengkonsumsi makanan sehat dan menerapkan pola hidup sehat.

Edukasi dalam kampanye ini diharapkan bisa membantu masyarakat lebih mengetahui cara mudah menjaga kesehatan lambung sehingga mampu memelihara fungsi kerja organ lambung. (Dewi Pratiwi)

10
Jul
10

Sejarah : Bandoeng Laoetan Api 24 Maret 1946

Bandung Lautan Api

Peristiwa Bandung Lautan Api adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung, provinsi Jawa Barat pada bulan Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk[rujukan?] membakar rumah dan harta benda mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda menguasai kota tersebut. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan, pada tanggal 24 Maret 1946.[rujukan?] Kol. Abdoel Haris Nasoetion selaku Komandan Divisi III, mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan untuk meninggalkan Kota Bandung.[rujukan?] Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota dan malam itu pembakaran kota berlangsung. Selanjutnya TRI melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini mengilhami lagu Halo, Halo Bandung yang nama penciptanya masih diperdebatkan.

Beberapa tahun kemudian, lagu “Halo-Halo Bandung” ditulis untuk melambangkan emosi mereka, seiring janji akan kembali ke kota tercinta, yang telah menjadi lautan api.

Ultimatum agar Tentara Republik Indonesia (TRI) meninggalkan kota dan rakyat, melahirkan politik “bumihangus”. Rakyat tidak rela Kota Bandung dimanfaatkan oleh musuh. Mereka mengungsi ke arah selatan bersama para pejuang. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan, pada tanggal 24 Maret 1946.

Kolonel Abdul Haris Nasution selaku Komandan Divisi III, mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan rakyat untuk meninggalkan Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota.

Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakannya lagi. Di sana-sini asap hitam mengepul membubung tinggi di udara. Semua listrik mati. Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat pabrik mesiu yang besar milik Sekutu. TRI bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Untuk itu diutuslah pemuda Muhammad Toha dan Ramdan. Kedua pemuda itu berhasil meledakkan gudang tersebut dengan granat tangan. Gudang besar itu meledak dan terbakar, tetapi kedua pemuda itu pun ikut terbakar di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan maka pada jam 21.00 itu juga ikut keluar kota. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api masih membubung membakar kota. Dan Bandung pun berubah menjadi lautan api.

Pembumihangusan Bandung tersebut merupakan tindakan yang tepat, karena kekuatan TRI dan rakyat tidak akan sanggup melawan pihak musuh yang berkekuatan besar. Selanjutnya TRI bersama rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini melahirkan lagu “Halo-Halo Bandung” yang bersemangat membakar daya juang rakyat Indonesia.

Bandung Lautan Api kemudian menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembakaran itu. Banyak yang bertanya-tanya darimana istilah ini berawal. Almarhum Jenderal Besar A.H Nasution teringat saat melakukan pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, untuk memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris.

   Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.” Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air”
   A.H Nasution, 1 Mei 1997

Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.

Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul Bandoeng Djadi Laoetan Api. Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi Bandoeng Laoetan Api.

Peristiwa Bandung Lautan Api

Surat Kabar De Waarheid sebagaimana dikutif Soeara Merdeka Bandung (Juli 1946) memberitahukan bahwa di Downingstreer 10. London, pada awal tahun 1946, Inggris menjanjikan penarikan pasukannya dari Jawa Barat dan menyerahlan Jawa Barat kepada Belanda, yang selanjutnya akan menggunakan sebagai basis militer untuk menghadapi Republik Indonesia.
Kesepakatn dua sekutu Inggris dan NICA (Nederlands Indie Civil Administration) Belanda itu memunculkan perlawanan heroic dari masyarakat dan pemuda pejuang di Bandung, ketika tentara Inggris dan NICA melakukan serangan militer ke Bandung. Tentara sekutu berusaha untuk menguasai Bandung, meskipun harus melanggar hasil perundingan dengan Republik Indonesia.
Agresi militer Inggris dan NICA Belanda  pun memicu tindakan pembumihangusan kota oleh para pejuang dan masyarakat Bandung.

Warga Bandung cinta kotanya yang indah, tetapi lebih cinta kemerdekaan….

Sekarang Bandung telah menjadi lautan api …………………………..
Mari, Bung … Bangun … Kembali ……

Tentara Sekutu dan NICA Belanda, yang menguasai wilayah Bandung Utara (wilayah di utara jalan kereta api yang membelah kota Bandung dari timur ke baratt), memberikan ultimatum (23` Maret 1946) supaya Tentara Republik Indonesia (TRI) mundur sejauh 11 km dari pusat kota (wilayah di selatan jalan kereta api dikuasai TRI) paling lambat pada tengah malam tanggal 24 Maret 1946. Tuntutan itu disetujui Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta, padahal Markas Besar di Yogyakarta telah memerintahkan TRI untuk mempertahankan setiap jengkal tanah Bandung. TRI dan masyarakat Bandung memutuskan untuk mundur ke selatan, tetapi sambil membumihanguskan Kota Bandung agar pihak musuh tidak dapat memanfaatkannya.
Pada siang tanggal 24 Maret 1946, TRI dan masyarakat mulai mengosongkan Bandung Selatan dan mengungsi ke selatan kota. Pembakaran diawali pada pukul 21.00 di Indisch Restaurant di utara Alun-alun (BRI Tower sekarang). Para pejuan dan masyarakat membakari bangunan penting di sekitar jalan kerata api dari Ujung Berung hingga Cimahi. Bersamaan dengan itu, TRI melakukan serangan ke wilayah utara sebagai “upacara” pengunduran diri dari Bandung, yang diiringi kobaran api sepanjang 12 km dari timur ke barat Bandung membara bak lautan api dan langit memerah mengobarkan semangat juang. Tekad untuk merebut kembali Bandung muncul di dalam hati setiap pejuang.
Sejarah heroic itu tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia sebagai peristiwa Bandung Lautan Api (BLA). Lagu Halo-halo Bandung ciptaan Ismail Marzuki menjadi lagi perjuangan pada saat itu. Akhirnya, NICA Belanda berhasil menguasai Jawa Barat sepenuhnya melalui Perjanjian Renville (17 Januari 1948) yang menekan Pemerintah Republik Indonesia untuk mengosongkan Jawa barat dari seluruh pasukan tentara Indonesia, menyusul kegagalan agresi militer 20 Juli – 4 Agustus 1947. NICA melanggar`gencatan senjata dan terus menggempur basis pertahanan tentara Indonesia hingga Januari 1948. Pasukan Indonesia (Divisi Sliwangi) terpaksa hijrah ke Jawa Tengah pada`tanggal 1 – 22 Pebruari 1948.
Sumber : Album Bandoeng Tempo Doeloe
08
Jul
10

IpTek : Pesawat bertenaga surya terbang 26 jam

Kamis, 08/07/2010 04:50 WIB
Pesawat bertenaga surya terbang 26 jam
BBCIndonesia.com – detikNews

solar impulse

Satu pesawat eksperimental bertenaga surya mendarat di Swiss setelah berhasil mengudara selama sekitar 26 jam tanpa menggunakan setetes pun bahan bakar.

Tenaga pesawat yang diberi nama Solar Impulse itu berasal dari sinar matahari yang disimpan di bagian sayap.

Mekanisme penyimpanan tenaga tersebut memungkinkan pesawat tetap terbang meski hari gelap.

Ukuran sayap Solar Impulse sama panjang dengan pesawat konvensional namun tenaganya tak lebih dari ukuran tenaga untuk sepeda motor.

Pesawat ini hanya bisa mengangkut satu pilot namun tim perancang berharap kombinasi pemakaian energi terbarukan dan bahan yang super ringan bia merevolusi industri transportasi.

(bbc/bbc)

08
Jul
10

Energi : TDL Naik Ancam Sektor Padat Karya Rugi Besar

TDL Naik Ancam Sektor Padat Karya Rugi Besar

lokasi: Home / Berita / Ekonomi / [sumber: Jakartapress.com]

Kamis, 08/07/2010 | 15:53 WIB TDL Naik Ancam Sektor Padat Karya Rugi Besar

Jakarta – Menteri Perindustrian(Menperin) MS Hidayat mengungkapkan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) dipastikan akan menghantam sektor padat karya. Sektor ini bakal mengalami kerugian atau terkena injury. “Seperti yang saya sampaikan ada perhitungan yang bisa membuat beberapa industri kalau memakai format (TDL) yang sekarang diterapkan akan terkena injury,” kata Hidayat di kantornya, Jakarta, Kamis (8/7/2010).

Ia mengingatkan, sektor labour insentif industry seperti tekstil akan paling terkena imbas. Sebelumnya pihak sektor tekstil berharap tarif daya max dan multiguna bisa dihapus namun kenyataannya tak sesuai harapan. “Saya sudah sampaikan secara tertulis ke Presiden. Tapi kan sekali diputuskan, saya harus siap,” ungkap Menperin.

Meski begitu, Menperin Hidayat menyatakan tetap akan menjaga pertumbuhan industri. Di antaranya soal tingkat suku bunga yang bisa yang lebih lunak agar menjadi penyeimbang dari kenaikan TDL.

Pengusaha Ramai-ramai Minta Penundaan Kenaikan TDL
Kalangan pengusaha ramai-ramai meminta pemerintah menunda kenaikan tarif dasar listrik (TDL) hingga ada kejelasan mengenai perhitungan tarif listrik yang baru. “Pemerintah jangan naikkan ini dulu, paling tidak ditunda dan didetailkan karena saya lihat pemerintah seperti lari-lari ketemu kita,” ujar Ketua Umum asosiasi pengusaha Indonesia (Apindo), Sofyan Wanadi dalam konferensi pers yang dihadiri belasan asosiasi industri di kantor Apindo, Jakarta, Kamis (8/7).

Sofyan menyatakan, kenaikan tarif dasar listrik per 1 Juli dinilai akan memberatkan industri besar dan kecil di dalam negeri serta dapat menurunkan daya saing industri terhadap negara lain. Hal ini dikarenakan kenaikan TDL yang awalnya dijanjikan 10%-15%, ternyata berubah menjadi di kisaran 11-80%.

“Kalau kita tidak bisa saingan dengan  barang impor maka akhirnya industri tidak bisa tahan lalu gulung tikar lalu kemudian bisa saja PHK. Atau bisa jadi pengusaha memilih menjadi pedagang yang mengimpor barang-barang dari luar karena biaya produksinya lebih murah dari pada di sini,” ungkapnya.

Dengan kenaikan TDL yang tidak sesuai janji tersebut, para pengusaha tidak bisa merealisasikan janjinya untuk tidak menaikkan harga barang pasca kenaikan TDL ini. Padahal mereka mengaku tidak ingin menaikkan harga. “Kita ingin membantu supaya harga puasa dan lebaran barang tidak naik tapi ternyata janji pemerintah soal kenaikan TDL ini tidak bisa dipenuhi,” jelasnya.

Sofyan berharap pemerintah harus memberikan jaminan bahwa industri tidak lagi dibebankan dengan tarif multiguna, daya max plus, business to business, termasuk kebijakan SKB 5 Menteri. “Memang pemerintah berjanji akan menghilangkannya, cuma kita tahu bahwa ini semua belum tentu disetujui parlemen. Kami minta sekaligus kalau TDL dinaikkan, tarif-tarif lainnya dihilangkan,” ungkap Sofyan.

Hal ini diamini oleh perwakilan dari asosiasi kaca lembaran, Washington Purba. Ia menilai, kenaikan TDL memang harus ditunda karena masih kurangnya sosialisasi yang dilakukan pemerintah kepada pengusaha. “Kalau bisa ditunda karena sosialisasinya belum pas,” ujarnya.

Bagi industri kaca sendiri, kenaikan tarif dasar listrik per 1 Juli mencapai 35 persen. Menurut dia, mau tidak mau kenaikan TDL tersebut tidak bisa ditolak, mengingat saat ini kegiatan produksi kaca lembaran memakan waktu selama 12 jam tanpa berhenti. “Tidak boleh berhenti, kalau berhenti lebih dari 15 menit maka produksi harus dimulai dari awal,” paparnya.

Ia juga khawatir kenaikan TDL ini akan diikuti dengan kenaikan gas dan energi lainnya. Padahal gas merupakan sumber energi yang paling banyak dipakai oleh kalangan industri.

Ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Erwin Aksa juga berpendapat sama, Bahkan ia meminta pemerintah menunda kenaikan TDL hingga adanya revisi terhadap tarif yang sudah berlaku mulai 1 Juli itu. “Kita tunda sampai akan ada revisi dan pengusaha supaya diberi kejelasan seperti apa rencana billing PLN,” kata dia.

Erwin juga menilai, kenaikan TDL seharusnya tidak perlu terjadi sebegitu besar asalkan tingkat efisiensi dalam produksi listrik PLN di tingkatkan. “Kami lihat persoalan terjadi di listrik ada ketidakefisienan dari PLN sendiri.  Segala macam ketidakefisienan PLN  kenapa kita terus yang tanggung? Lama-lama tidak tahan juga,” tambahnya.

Pengusaha: Pemerintah Langgar Janji Soal Kenaikan TDL
Kalangan pengusaha menilai pemerintah telah melanggar janjinya soal skema kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Awalnya kenaikan TDL dijanjikan di kisaran 10-15%, namun ternyata kenaikan TDL bisa 11-80% tergantung jenis industrinya. “Kita apa yang dijanjikan pemerintah tidak terjadi awal tahun dijanjikan listrik tidak naik. Namun setelah itu, Menkeu bilang listrik dinaikan. Akhirnya, kita negosiasi  dan  disepakati dinaikan rata-rata 10-15%, tapi kenyataannya tidak seperti itu karena kenaikannya di atas itu,” ujar Ketua Umum Apindo, Sofyan Wanadi.

Pemerintah juga menjanjikan kenaikan itu akan dikompensasi penghapusan tarif daya max dan multiguna namun kenyataannya tidak seperti itu karena pemerintah tetap mengizinkan PLN untuk menetapkan tarif beban puncak. “Setelah keluarnya keputusan menteri energi, ternyata kenaikannya jadi tinggi sekali. Kenaikannya di macam-macam sektor, misalnya, tekstil  30-80%, ritel naik 70-80%, komestik 11-13%, perhotelan 37%, gelas 35%,” papar dia.

Tidak hanya industri besar, kenaikan ini juga telah membuat tarif listrik untuk industri kecil menengah (IKM) dan Usaha Kecil Menengah (UKM) dari Rp 439 per KWh menjadi Rp 800 per KWh. “Ini tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan pemerintah ke pengusaha tidak sesuai,” ungkap Ketua Umum Apindo.

Dengan kondisi ini, kalangan pengusaha tidak menjamin kenaikan TDL tidak akan diikuti dengan kenaikan harga barang-barang lainnya. “Kita ingin membantu supaya harga puasa dan lebaran barang tidak naik tapi ternyata janji ini tidak bisa dipenuhi. Tentu kita inginkan keputusan ini ditunda,” jelas Sofyan Wanandi.

Ketua Forum Komunikasi Asosiasi Nasional, Franky Sibarani juga menyayangkan sikap pemerintah yang melanggar janjinya. “Kami merasa dipermainkan karena apa yang disampaikan pemerintah kepada kami, tidak sama dalam realisasinya,” ungkapnya.

Menteri ESDM Bantah Langgar Skema Kenaikan TDL
Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh mengaku tidak melanggar janji kepada kalangan industri soal skema kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Pengusaha menuding pemerintah melanggar janji, karena kenaikan listrik industri bisa mencpai di atas 15%. “Pemerintah tidak mungkin punya niat melanggar janji. Bahwa kalau realisasinya ada yang tidak sependapat, itu nanti yang kita bicarakan,” ungkap Darwin di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (8/7).

Menurut dia, memang tidak ada kesepakatan antara pemerintah dengan para pelaku usaha serta masyarakat. Namun ia berjanji akan terus mensosialisasikan mekanisme kenaikan tersebut kepada seluruh elemen masyarakat. “Pada dasarnya nggak ada kesepakatan pemerintah sama pengusaha atau anggota masyarakat tapi ada komunikasi, ada tukar pendapat sehingga kita mencapai cara pandang
yang sama bahwa kita membutuhkan listrik yang terus meningkat yang 3.000 Megawatt per tahun dan ini membutuhkan investasi,” jelasnya.

Ia memperkirakan peningkatan konsumsi listrik secara nasional sekitar 7,5%-9%. Sedangkan kemampuan peningkatan kapasitas listrik per tahun hanya 3,5-4%. “Namun kemampuan investasi dari anggaran negara itu antara lain dengan membagi beban bersama melalui peningkatan TDL,” katanya.

Namun Darwin menyakini kenaikan TDL tetap tidak akan mengganggu daya saing industri. “Karena berdasarkan hasil studi dari konsorsium 6 perguruan tinggi, daya saing TDL sampai saat ini dengan dinaikkan masih cukup baik terhadap negara-negara tetangga,” paparnya.

Seperti diketahui, sebelum kenaikan TDL pemerintah berjanji akan menghapuskan tarif plus-plus seperti tarif daya max dan multiguna. Namun ternyata pemerintah mengizinkan PT PLN (Persero) untuk menerapkan tarif beban puncak kepada kalangan industri yang bertujuan menekan pemakaian listrik saat beban puncak. “Hal ini sudah disepakati dalam skema kenaikan TDL per 1 juli lalu,” ujar Direktur Manajemen Bisnis dan Risiko PLN Murtaqi Syamsuddin.

Menurut Murtaqi, penerapan tarif tersebut berfungsi untuk membatasi melonjaknya pemakaian listrik oleh industri pada saat beban puncak antara pukul 17.00-22.00 WIB. “Jadi ini beda dengan daya max yang tarifnya 4 kali lipat dari tarif di luar beban puncak. Namun tarif sekarang sekitar maka 1,4-2 kali lipat dari tarif di luar beban puncak. Pemerintah minta PLN tentukan berapa koefisiennya, tapi kami belum tentukan berapa dari koefisien 1,4-2,” jelas Murtaqi.

Untuk itu, lanjut Murtaqi, pihaknya akan gencar mensosialisasikan penerapan tarif ini kepada para pelaku industri termasuk mekanisme perhitungan kenaikan TDL. Menurutnya, sosialisasi tersebut telah dilakukan sejak kenaikan TDL diumumkan pemerintah hingga akhir bulan ini kepada seluruh pelaku industri yang berada di Jakarta maupun ke daerah-daerah. “Memang ada beda pemahaman pada saat sebelum TDL diumumkan dengan setelah dikeluarkan. Mungkin asumsi mereka TDL akan seperti ini,” ungkapnya.

Selain menjelaskan soal mekanisme perhitungan TDL yang baru, petugas PLN juga akan membantu menghitung potensi tambahan pembayaran rekening setiap bulannya. “Setelah sosialisasi selesai, kami tetap membuka help desk di setiap kantor PLN untuk membantu menerangkan soal kenaikan TDL ini,” jelasnya. (*/dtc/ida/tin)

Makassar & Medan Tolak Kenaikan TDL

lokasi: Home / Berita / Ekonomi / [sumber: Jakartapress.com]

Kamis, 08/07/2010 | 15:47 WIB Makassar & Medan Tolak Kenaikan TDL

Makassar – Sekitar 300 orang dari Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Kota Makassar mendatangi kantor Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel). Mereka mendesak pemerintah pusat membatalkan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL). Massa SRMI tiba di kantor Gubernur Sulsel, Jl Urip Sumoharjo, Makassar, dengan berjalan kaki, Kamis (8/7/2010).

Sebelumnya, mereka menggelar mimbar bebas di bawah Fly Over Urip Sumoharjo. Selain menuntut pembatalan kenaikan TDL, massa SRMI juga mendesak pemerintah menambah subsidi pendidikan bagi rakyat miskin dan membatalkan rencana penghapusan subsidi BBM bagi rakyat miskin dan kelas menengah.

Para demonstran yang didominasi kalangan ibu-ibu itu membawa obor dan jerigen. Hal ini sebagai simbol pemerintahan SBY-Boediono telah mencekik hidup rakyat miskin di seluruh Indonesia. Aksi unjuk rasa ini juga diikuti oleh puluhan anak-anak yang memakai seragam sekolah.

Ketua SRMI Kota Makassar, Firdaus, meminta pemerintah serius mengurus hak-hak warganya yang hidup di bawah taraf kewajaran. Pemerintah Sulsel, lanjut Firdaus, sebagai perwakilan pemerintahan SBY-Boediono, harus peduli dengan penderitaan rakyat miskin di daerahnya. Salah satunya dengan fokus pada pemanfaatan APBN hanya untuk program sektor sosial dan sektor produktif yang membuka lapangan kerja.

“Selain itu kami juga mengkritisi sistem pendataan dalam sensus penduduk yang baru saja dilakukan BPS. Kami tahu sistem sensusnya itu rusak, makanya kami meminta kriteria kemiskinan itu harus diubah,” kata Firdaus. Meski aksi ini berlangsung aman dan tertib, puluhan petugas kepolisian dan Satpol PP tetap memberi pengawalan ketat. Mereka memblokir pintu masuk kantor Gubernur Sulsel.

Aksi Tolak Kenaikan TDL di Medan
Puluhan orang yang mengatasnamakan Serikat Rakyat Miskin Indonesia (RSMI) Sumatera Utara (Sumut) berdemo ke Kantor Gubernur Sumut di Jl. Diponegoro Medan, Kamis (8/7/2010) siang. Mereka mendesak pemerintah segera meninjau ulang kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang diberlakukan sejak 1 Juli 2010 lalu. Sebelumnya, massa SRMI menggelar aksi long march dari Lapangan Merdeka, Jl.Balai Kota menuju Kantor Gubernur Sumut di Jl. Diponegoro Medan, Kamis (8/7/2010).

Aksi demonstrasi ini didahului long march sekitar dua kilometer dari Lapangan Merdeka, Jl. Balai Kota. Sambil membawa poster dan spanduk kecaman, massa menyatakan kenaikan TDL akan memperparah kondisi ekonomi rakyat yang kini kian terpuruk. Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) SRMI Sumut, Rahmad Dian Harahap menyatakan, kenaikan TDL hanya akan menambah catatan panjang warga miskin di Indonesia.

“Pemerintah harus mengkaji ulang kenaikan TDL. Kenaikan TDL membuat rakyat semakin kesulitan memenuhi kebutuhannya. Layaknya pemerintah mengalokasikan APBN untuk program sosial dan sektor produktif, bukan malah mengeluarkan kebijakan yang membuat rakyat makin terpuruk,” sebut Harahap.

Salah seorang ibu yang ikut dalam unjukrasa, Helmi Tanjung (49), sempat jatuh lemas saat aksi berlangsung. Warga Jl. Langgar Ujung ini tidak kuasa menahan kesedihan karena kesulitan membiayai delapan anaknya. “Saya hanya tukang cuci. Suaminya saya jual kerupuk keliling. Bagaimana kami membiayai pendidikan anak, jika beban makin berat” kata Helmi sambil terisak.

Helmi juga mengatakan anak keempatnya, Rida Asmarani yang kini duduk di kelas 1 MTs terancam tidak naik ke kelas bila tidak melunasi uang sekolah. “Kalau rekening listrik naik, bagaimana kami bisa menyisihkan uang untuk sekolah anak,” ucap Helmi.

Aksi puluhan pelaku UKM dari kawasan Jl. Bromo Medan ini tidak mendapat tanggapan sebagaimana diharapkan. Meski telah menggelar aksi selama dua jam, tidak seorang pejabat yang bersedia menemui mereka hingga massa membubarkan diri. (*/dtc/dh/tin)

SBY Bikin Warga Miskin Makin Terpuruk

lokasi: Home / Berita / FOKUS / [sumber: Jakartapress.com]

Kamis, 08/07/2010 | 17:02 WIB SBY Bikin Warga Miskin Makin Terpuruk

Magelang – Pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai tidak ada kemajuan. SBY lebih sibuk membangun citra dan membiarkan negara dikuasai oleh orang-orang kaya. Sementara warga miskin makin hidup sengsara dan susah. Pendidikan semakin mahal, biaya kesehatan makin melambung, TDL naik, dan kenaikan barang-barang yang semakin membuat warga kelas bawah makinterpuruk.

Ungkapan warga miskin yang hidupnya semakin sengsara disampaikan oleh ratusan warga miskin di Kabupaten Magelang (Jateng). Ratusan warga miskin yang menamakan diri Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Kabupaten Magelang melakukan unjuk rasa di depan kantor Pemkab setempat, Kamis (8/7). Mereka tak lupa mengajak anak-anaknya yang masih remaja, dan bahkan ada yang masih balita.

Aksi diawali long march dari Lapangan Drh Soepardi sekitar 500 meter dari kompleks Sekretariat Daerah (Setda) Magelang. Massa  berjalan kaki sambil membawa sejumlah spanduk dan poster berisi tuntutan. Antara lain, “harga melambung rakyat bingung”, “Pendidikan gratis SD-kuliah Yes”, “Jamkesmas gratis 100%”, serta “tolak kenaikan TDL”, ‘Ingat Rakyate payah, Negarane Bubrah’, Harga Melambung, Rakyate Bingung’.

Koordinator aksi, Wahyu Sukmahadi, terus berorasi menuntut pemenuhan hak-hak dasar warga miskin. Mereka masuk halaman kompleks Setda dan berkumpul di depan Pendapa drh Soepardi yang dijaga puluhan aparat kepolisian.

Disebutkan Wahyu, salah satu tuntutan SRMI adalah diberlakukannya program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) yang menggratiskan biaya berobat 100% bagi warga miskin. “Kalau hanya 50 persen masih memberatkan, karena warga miskin tidak memiliki cukup uang untuk membayar biaya pengobatan di rumah sakit,” ujarnya.

Dikatakan Wahyu, banyak warga miskin mengalami kesulitan memperoleh pelayanan kesehatan gratis. Mereka merasa dipersulit petugas saat mengurusnya di rumah sakit. “Alasannya, obat harus beli sendiri, kamar untuk kelas tiga habis, dan alasan lain,” jelasnya.

Wahyu mengingatkan, meski Pemkab telah menyiapkan dana Rp 3,7 miliar, namun rencana menggratiskan 100% biaya pengobatan belum terwujud karena terganjal Perbup 47/2009 tentang Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin.

Karena itu, dia mendesak bupati segera mengeluarkan Perbup 47/2009. Kemudian menerbitkan perbup baru yang bisa dijadikan pedoman dalam pelaksanaan program pelayanan kesehatan gratis bagi warga miskin.

Wahyu menambahkan, kenaikan tarif dasar listrik (TDL) juga berpengaruh terhadap kenaikan harga barang yang semakin melambung, sementara pendapatan warga miskin cenderung turun atau stagnan. Dampak lanjutan dari kenaikan TDL, kemungkinan akan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal. (Py)

TDL Naik, Industri Rambut Kurangi Jam Lembur

lokasi: Home / Berita / Ekonomi / [sumber: Jakartapress.com]

Kamis, 08/07/2010 | 16:56 WIB TDL Naik, Industri Rambut Kurangi Jam Lembur

Purbalingga – Menyusul kebijakan pemerintah yang menaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), sejumlah perusahaan yang bergerak dalam produksi rambut palsu (wig) dan bulu mata palsu di Kabupaten Purbalingga (Jateng) mulai melakukan efisiensi penggunaan listrik. Langkah efisieinsi itu dilakukan untuk menekan biaya operasional akibat kenaikan tarif . Langkah efisiensi diantaranya melakukan penghematan dengan menggunakan listrik seperlunya dan mengurangi jam lembur.

Kabupaten Purbalingga merupakan sentra nomor dua dunia setelah Guangzo dalam industri rambut palsu (wig) dan bulu mata palsu. Tercatat ada 19 Perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) asal Korea dan Jepang dengan jumlah karywan sekitar 36 ribu bekerja pada sektor rambut. Dampak kenaikan TDL membuat was-was para karyawan karena takut terkena imbas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Purbalingga Saryono mengatakan, efisiensi tersebut merupakan jalan yang terbaik dalam menyikapi kenaikan TDL. Pasalnya, sejumlah perusahaan baik perusahaan rambut palsu, bulu mata palsu, kayu dan lainnya tidak dapat menaikkan harga jual produksi secara serta merta.
”Para pengusaha tidak dapat meningkatkan harga jual produksi karena sudah terikat kontrak tahunan dengan buyer,” kata Saryono yang juga Direktur PT Tiga Putra Abadi Perkasa, salah satu perusahaan rambut.

Saryono menyayangkan, kebijakan kenaikan TDL itu dilakukan pada pertengahan tahun sehingga tidak dapat memberikan peluang bagi para pengusaha untuk menyesuaikan harga jual produksi akibat naiknya biaya operasional. ”Kenaikan TDL ini akan menjadi salah satu faktor yang akan kami perhitungkan dalam menentukan harga kepada buyer di awal tahun mendatang,” katanya.

Saryono menambahkan, meski terpengaruh dengan kenaikan TDL, sejumlah perusahaan di Purbalingga khususnya perusahaan yang bergerak dalam produksi rambut palsu dan bulu mata palsu tersebut tidak akan melakukan efisiensi atau pengurangan tenaga kerja. Pasalnya, pengaruh kenaikan TDL tersebut tidak signifikan. “Sebulannya kami membayar biaya listrik Rp 5 jutaan. Kalau kenaikannya sebesar 18 persen, biaya listrik tersebut naik menjadi Rp 5,9 juta,” tambahnya.

Pengurangan karyawan tersebut juga tidak dilakukan karena perusahaan juga dituntut memenuhi target produksi. Selama ini order atau pesanan produksi terhadap produksi rambut palsu maupun bulu mata palsu tersebut sedang mengalami peningkatan.

Hal yang sama juga diungkapkan  Manajer PT Milan Kaligondang, Supandowo Irianto Tomo. Ia mengatakan, kenaikan TDL tersebut  mempengaruhi kenaikan biaya listrik setiap bulannya. Pasalnya perusahaan tersebut membutuhkan listrik untuk mendukung penerangan ruangan produksi bagi karyawannya. Namun, kenaikan TDL itu tak akan berpengaruh terhadap pengurangan karyawannya. (Py)

TDL Naik, Industri Kecil di Bali Terancam Berguguran

lokasi: Home / Berita / Ekonomi / [sumber: Jakartapress.com]

Rabu, 07/07/2010 | 21:39 WIB TDL Naik, Industri Kecil di Bali Terancam Berguguran

Denpasar – Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) mengancam industri kecil di Bali. Sebanyak 150 ribu industri rumahan ini terancam bangkrut akibat kenaikan TDL mulai 1 Juli 2010. Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Kadin Bali Bidang Energi dan Sumber Daya Anak Agung Alit Wiraputra pada acara Kunjungan DPD RI dengan Gubernur Bali Made Mangku Pastika di kantor Gubernur Bali, Denpasar, Rabu (7/7/2010).

Alit Wiraputra mengatakan di Bali terdapat sebanyak 150 ribu industri kecil. Industri rumah tangga ini bergerak di bidang kerajinan, olahan makanan, pembuatan pura, dan tenun. Industri ini dalam berproduksi mengkonsumsi 90 persen listrik.

Industri kecil bakal kesulitan karena terjadi kenaikan pada bahan baku, tenaga kerja, dan transportasi. “Industri rumah tangga ini hanya dalam tiga bulan ke depan akan rontok dan berguguran menyusul kenaikan TDL,” katanya.

Kenaikan TDL tidak cuma mengancam kebangkrutan pada usaha kecil, tapi juga mengancam terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK). Diperkirakan, akan terjadi PHK terhadap 400-500 ribu tenaga kerja.

Namun, kenaikan TDL tidak akan berpengaruh buruk terhadap industri pariwisata di Bali. Pasalnya, beban biaya akibat kenaikan TDL akan dibebankan kepada konsumen.
“Yang paling berdampak adalah industri kecil yang memasok kebutuhan ke hotel-hotel,” katanya.

Agar industri kecil tetap berproduksi, Ia berharap pemerintah Bali maupun PLN memberikan dispensasi kepada industri. “Kami meminta keringanan agar industri bisa bertahan,” katanya.

PLN Masih Boleh Terapkan Tarif Beban Puncak Industri
Kalangan industri nampaknya belum bisa bernafas lega. Meskipun tarif daya max dan multiguna dihapuskan pasca kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), namun pemerintah mengizinkan PT PLN (Persero) untuk menerapkan tarif beban puncak kepada kalangan industri yang bertujuan menekan pemakaian listrik saat beban puncak. “Hal ini sudah disepakati dalam skema kenaikan TDL per 1 juli lalu,” ujar Direktur Manajemen Bisnis dan Risiko PLN Murtaqi Syamsuddin di sela kunjungan jajaran direksi PLN ke Mataram, NTB, Rabu (7/7).

Menurut Murtaqi, penerapan tarif tersebut berfungsi untuk membatasi melonjaknya pemakaian listrik oleh industri pada saat beban puncak antara pukul 17.00-22.00 WIB. “Jadi ini beda dengan daya max yang tarifnya 4 kali lipat dari tarif di luar beban puncak. Namun tarif sekarang sekitar maka 1,4-2 kali lipat dari tarif di luar beban puncak. Pemerintah minta PLN tentukan berapa koefisiennya, tapi kami belum tentukan berapa dari koefisien 1,4-2,” jelas Murtaqi.

Untuk itu, lanjut Murtaqi, pihaknya akan gencar mensosialisasikan penerapan tarif ini kepada para pelaku industri termasuk mekanisme perhitungan kenaikan TDL. Menurutnya, sosialisasi tersebut telah dilakukan sejak kenaikan TDL diumumkan pemerintah hingga akhir bulan ini kepada seluruh pelaku industri yang berada di Jakarta maupun ke daerah-daerah. “Memang ada beda pemahaman pada saat sebelum TDL diumumkan dengan setelah dikeluarkan. Mungkin asumsi mereka TDL akan seperti ini,” ungkapnya.

Selain menjelaskan soal mekanisme perhitungan TDL yang baru, petugas PLN juga akan membantu menghitung potensi tambahan pembayaran rekening setiap bulannya. “Setelah sosialisasi selesai, kami tetap membuka help desk di setiap kantor PLN untuk membantu menerangkan soal kenaikan TDL ini,” jelasnya. (*/dtc/db)

PLN Ingkar Janji Kepada Pengusaha

lokasi: Home / Berita / Ekonomi / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 06/07/2010 | 15:54 WIB PLN Ingkar Janji Kepada Pengusaha

Jakarta -Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengatakan, beberapa asosiasi pengusaha mengajukan keluhan terkait kenaikan tarif dasar listrik yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal. “Tadinya pengusaha bersedia mentolerir kenaikan itu dengan catatan tarif daya max dan multiguna dihapus,” katanya, Selasa (6/7/2010).

Namun ternyata  PLN tidak menghapus tarif daya maksimun dan multiguna. Jika demikian maka kenaikan TDL ini akan dirasa berat bagi kalangan industri. Padahal sejak lama Hidayat mengaku telah  mengusulkan PLN mengubah kebijakan mereka soal tarif.

Menurut Hidayat,  persoalan ini akan dibicarakan dengan Wakil Presiden Boediono pada rapat siang ini. Ia juga berencana meminta konfirmasi dari PLN. “Nanti mau kita konfirmasi katanya daya max dihapus tetapi di tingkat koefisien 1,4 sampai 2,2,” jelas Menperin.

Hidayat menekankan, perlunya kesepakatan antara pengusaha dan PLN. Sebab dalam rangka meningkatkan daya saing berapa pun tingkat kenaikan TDL bisa ditolerir asal proporsional.

Jika dipaksakan menaikkan tarif dasar listrik untuk kalangan industri, Hidayat mensinyalir kenaikan yang tidak besar kemudian dimanfaatkan untuk menaikkan harga. Padahal ini akan memukul produsen sendiri karena produk mereka akan menjadi lebih mahal.

Saat ini industri mampu mentolerir kenaikan listrik sampai maksimal 20 persen. Namun ini bisa mengancam industri yang sifatnya padat karya. Beberapa industri bahkan mengancam akan melakukan pemutusan hubungan kerja. (*/Tempo/red)

08
Jul
10

Ketuhanan Yang Maha Esa : Lafal Allah di Aceh

Lafal Allah di Aceh
Lafal Allah di Aceh
Lafal Allah di Aceh

Sebuah keajaiban yang melambangkan kebesaran Allah terlihat di Google Earth. Lafal Allah tersebut berada dekat perbatasan Aceh-Sumut. Lafal Allah tersebut terlihat di Google Earth koordinat latitude 3 derajat 48’39.81″N dan longitude 97 derajat 46’17.01″E. (Google Earth)

Update : Rabu, 07/07/2010 | 14:57 WIB



Blog Stats

  • 2,105,017 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 114 other followers