Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



09
Sep
09

Lingkungan : Melawan Dampak El Nino

REPUBLIKA, Sabtu, 05 September 2009 pukul 01:18:00

Melawan El Nino

Suparmono
(mantan dirjen Pengairan Departemen Pekerjaan Umum)

Kepala Pusat Pengelolaan Risiko dan Peluang Iklim di Asia Tenggara dan Pasifik Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Rizaldi Boer, mengungkapkan, indikator munculnya El Nino sudah terlihat. Boer menjelaskan, suhu di kawasan Pasifik telah mengalami kenaikan lebih dari 0,5 derajat celcius (Republika, 31 Juli 2009).
Bagi umat Islam, adanya ancaman bencana alam, krisis pangan, maupun krisis ekonomi sudah diketahui dari peringatan Allah SWT: Dan Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, serta kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan dan gembirakanlah orang-orang yang sabar (Al Baqarah:155).

Jangan lupa, dampak El Nino 1997-1998 mampu merusak 380 ribu hektare tanaman padi atau lahannya tidak bisa ditanami. Dengan anjloknya hasil panen periode Oktober 1997-Maret 1998, sementara dunia dilanda krisis moneter, harga beras kita melonjak sampai 300 persen. Guna menjamin ketahanan pangan, ketika itu pemerintah terpaksa mengimpor 5 juta ton beras dengan harga yang sangat mahal.

Menurut prediksi Menteri Pertanian Anton Apriyantono, El Nino 2009 akan mengakibatkan 10 ribu-35 ribu hektare lahan padi mengalami puso (mati). Produksi beras 2009 diperkirakan akan turun, walaupun sedikit atau setidaknya sama dengan 2008. Tetapi, seberapa besar daya kekuatan El Nino tidak bisa diprediksikan. Maka, ramalan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa El Nino 2009-2010 dampaknya akan lunak perlu disikapi secara arif dan bijaksana agar kita tidak kecolongan, yakni dengan mengambil langkah antisipasi yang benar dan tepat.

Langkah antisipasi
Pemerintah tengah mengambil langkah antisipasi dampak El Nino 2009-2010. Antara lain : (1) Menjamin ketahanan pangan dengan menyiapkan dana siaga khusus stabilitas harga pangan. Untuk itu, menurut Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi, pemerintah akan menyiapkan dana Rp 2-3 triliun dari anggaran 2010; (2) Memberikan bantuan langsung kepada petani berdasarkan data masukan dari Pendataan Usaha Tani (PUT) 2009; (3) Menjaga ketersediaan air bersih.

Dalam pandangan penulis, langkah-langkah antisipasi tersebut masih berparadigma reaktif-defensif. Jika El Nino terjadi, penyediaan dana cadangan ketahanan pangan Rp 2-3 triliun tidak akan cukup untuk menampung biaya impor 750 ribu ton gabah (500 ribu ton beras), sebab tidak mustahil harganya bakal melonjak 100 persen-300 persen. Apalagi, pemerintah harus melanjutkan program beras bersubsidi untuk 17,5 juta rumah tangga sasaran (RTS), dengan jumlah 15 kg per rumah tangga selama 12 bulan.

Seperti kita ketahui, beras sebagai pasokan pangan utama bagi penduduk Indonesia. Sedangkan padi, merupakan jenis tanaman pangan yang sangat boros air dibandingkan jenis tanaman pangan lainnya. Oleh sebab itu, proses produksi beras sangat ditentukan oleh pola hujan.

Karena El Nino akan menyebabkan musim kemarau menjadi lebih lama, musim hujan akan mundur 1-2 bulan sehingga para petani akan menghadapi masa paceklik yang panjang. Dampaknya, para petani–terutama buruh tani, terancam rawan pangan karena lambatnya masa tanam rendeng (hujan) pada 2009-2010.

Para petani bahkan terancam mengalami puso saat musim tanam gadu (kemarau) 2010. Jumlah petani yang tidak bisa berproduksi diperkirakan sekitar 300 ribu orang, dengan asumsi rata-rata petani memiliki lahan 0,3 hektare. Mereka ini layak menerima subsidi dana pendapatan sehingga datanya harus akurat.

Ketika permulaan masa tanam gadu 2010, ketersediaan air untuk pengairan sawah diperkirakan sudah menipis. Karena itu, para petani harus melakukan langkah antisipasi dengan menggunakan sistem terapan. Yang terpenting, mempercepat pelaksanaan masa tanam gadu 2010. Dengan demikian, petani bisa mengejar ketersediaan air untuk masa tanam gadu pada akhir musim tanam rendeng.

Para petani bisa mengejar ketersediaan air untuk masa tanam gadu di akhir musim tanam rendeng. Seluruh hasil produksi harus segera ditampung di Bulog sebagai cadangan pangan, di mana untuk cadangan beras 2010 minimal 1,5 juta ton. Dengan kecukupan cadangan pangan, kita bisa terhindar dari situasi terjebak impor pangan yang harganya melambung.

Ketidakmampuan mengantisipasi dampak El Nino, terutama karena belum ada strategi dan langkah antisipasi yang konseptual, terencana, dan terkoordinasi. Bahkan, harus diingat, efektivitas antisipasi dampak dan penanggulangan El Nino sangat bergantung pada pengelolaan serta pemanfaatan informasi tentang prediksi maupun kejadian anomali iklim, yang membutuhkan pendekatan partisipatif.

Kebutuhan pendekatan partisipatif dalam mengatasi masalah kehidupan umat manusia ini sudah diisyaratkan di dalam Alquran: Dan bertolong-tolonganlah kamu di atas berbuat kebajikan dan takwa dan janganlah kamu bertolong-tolongan di atas berbuat dosa dan pelanggaran (QS Al-Ma`idah : 2).

Upaya untuk mengantisipasi dampak El Nino, harus diawali dengan membangun persamaan persepsi, harmonisasi, dan koordinasi, serta komunikasi yang efektif antarlembaga dalam penataan ruang, manajemen perencanaan, dan operasionalisasi pertanian. Khususnya, pada penetapan pola dan musim tanam serta pengelolaan sumber daya air. Lebih-lebih tahun 2010 pemerintah perlu meminimalisasi impor pangan, sekaligus mengoptimalkan swasembada dengan menjamin ketersediaan air.

Upaya tersebut di atas harus disinergikan dengan pendekatan partisipatif masyarakat. Untuk itu, perlu dibudidayakan tanaman dengan metode irigasi tetes seperti yang disarankan Ir Agus Nugroho Setiawan dari UGM, yakni pada budi daya tanaman yang tahan garam maupun lahan kering, dengan pemakaian air yang lebih sedikit. Caranya, air diteteskan tepat pada tanaman sehingga air yang terpakai jauh lebih efektif.

Langkah optimalisasi operasi bendungan memang harus dilakukan. Namun, masalahnya, optimalisasi operasi bendungan belum bisa berbuat banyak sebab kapasitas bendungan-bendungan kita hanya untuk operasi satu musim. Maka itu, pemerintah harus menjaga dan memastikan bahwa embung-embung, dam, dan bendungan air dapat berfungsi dengan baik.

Gerakan Hemat Air (GHA) perlu terus-menerus memotivasi masyarakat agar memerhatikan ketersediaan air. Artinya, pemakaian air harus hemat dan hati-hati agar tidak terjadi krisis air bersih. Langkah menyiapkan ketersediaan air bersih hendaknya memacu seluruh jajaran pemda untuk menyediakan tangki air bersih, terutama di daerah-daerah yang kesulitan air bersih

09
Sep
09

Religius : Lailatul Qadar

REPUBLIKA, Jumat, 04 September 2009 pukul 01:19:00

Lailatul Qadar

Mashudi Umar
(Redaktur Majalah Risalah NU Jakarta)

Sang waktu terus bergulir, tak terasa bahwa puasa kita telah memasuki lebih dari sepuluh hari pada bulan ini, di mana kaum Muslimin di seluruh dunia, akan segera berada di bagian akhir bulan Ramadhan yang penuh rahmat, berkah, dan ampunan Allah SWT. Pada sepertiga bulan terakhir, yaitu sepuluh terakhir bulan suci ini, ada satu malam yang selalu di tunggu umat Muslim, yaitu lailatul qadar, adalah suatu malam yang menurut Alquran ‘lebih baik dari seribu bulan’ (lailatul qadr khair min alfi syahr).

Kaum Muslimin pada malam-malam terakhir Ramadhan ini, harus lebih memperdalam penghayatan spiritual keislaman, di samping juga menyucikan harta dengan amal sosial berupa zakat. Sehingga, tujuan shiyam (puasa) sebagai instrumen pengembangan kesadaran menemukan tujuannya, yaitu ‘takwa’, sebagaimana firman Allah, la’allakum tattaqun (agar supaya menjadi orang yang bertakwa).

Takwa sering diartikan dan dipahami secara peyoratif (lebih rendah), yaitu takut kepada Tuhan. Fazlur Rahman, guru besar asal Pakistan, meluruskan makna hakiki dari kata takwa sebagai hadirnya kapasitas melindungi diri dari konsekuensi perbuatan jahat atau berbahaya (QS 52:27, 40:9, 76:11). Dalam tingkatan tertinggi, takwa menggambarkan seluruh kepribadian manusia yang terpadu, sejenis stabilitas karakter yang terbentuk setelah elemen positif mengkristal dalam jiwa seseorang.

Pada hari kesepuluh ke atas pada bulan Ramadhan ini, Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa-doa kita dan berjanji akan membebaskan kita dari dosa-dosa dan api neraka. Berarti ini merupakan kesempatan baik untuk berlomba-lomba meningkatkan ibadah kita (fastabiqul khairat) di tengah kemelut perekonomian dan politik bangsa ini yang sedang karut-marut. Hal ini sesuai dengan Sabda Nabi Muhammad SAW: ”Bulan Ramadhan adalah bulan yang awalnya penuh rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah kebebasan dari neraka. (HR Ibnu Huzaimah)
Pada titik krusial ini, Allah mengirim ‘bonus istimewa’ bagi orang-orang yang giat berpuasa dan bermunajat kepada-Nya. Kita tahu, konstruksi puasa pada bulan suci ini adalah pengejawantahan artikulasi kesalehan dalam Islam yang bercabang dua; Pertama, puasa mengandung kesalehan individual yang mewajibkan pelaku puasa untuk melakukan sikap empati terhadap derita kaum papa, yakni dengan menahan nafsu makan dan minum serta seks dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya sang surya. Kedua, artikulasi sikap aktif orang berpuasa mewujud dalam bentuk sedekah wajib (zakat mal maupun fitrah) maupun sunah yang diseyogiakan mengisi hari-hari bulan Ramadhan.

Lailatul qadar adalah malam yang agung di antara sekian malam pada bulan suci Ramadhan. Tidak disebutkan kapankah malam itu terjadi, sebagaimana Allah berfirman, Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan (lailatul qadar) itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS Al-Qadar 97: 1-5).

Di mana para malaikat dan roh suci dan Malaikat Jibril turun ke bumi menyampaikan keberkahan dari Allah untuk umat manusia yang dikehendaki-Nya. Lailatul qadar bagi bangsa ini menjadi santunan rahmat sehingga kita mampu bangkit kembali di tengah keputusasaan, perpecahan, dan kekerasan antarumat. Belum lagi soal ekonomi dan politik yang tidak pernah menguntungkan rakyat kecil, saatnya kita untuk berbenah diri dan berlomba-lomba berbuat kebajikan untuk mendapatkan malam kemuliaan itu. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Alquran, serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih.

Itu sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan ini adalah bulan penyucian jiwa, dan itu pula sebabnya sehingga ia diduga oleh Rasul datang pada sepuluh malam terakhir. Karena itu, diharapkan jiwa manusia yang berpuasa selama 20 hari sebelumnya telah mencapai satu tingkat kesadaran dan kesucian yang memungkinkan malam mulia itu berkenan mampir menemuinya, dan itu pula sebabnya Rasul SAW menganjurkan sekaligus mempraktikkan iktikaf (berdiam diri dan merenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Diriwayatkan dari Abu Dawud, Nabi Muhammad SAW pernah ditanya tentang lailatul qadar, lalu beliau menjawab, lailatul qadar ada pada setiap bulan Ramadhan.

Hadis tersebut diperkuat oleh Ibnu Umar, Rasulullah bersabda: Siapa mencari malam lailatul qadar, carilah pada hari ke-27.

Di Indonesia, oleh para jamaah Thareqat Mu’tabarah menjadikan malam 27 ini sebagai malam paling istimewa untuk bertobat, berzikir, bersedekah, dan istighatsah. Istilah ini, umum dikenal dengan ‘malam pitulikuran’ sebagai malam paling istimewa.

Namun, ada banyak penjelasan mengenai tanda-tanda datangnya lailatul qadar itu. Di antara tanda-tandanya adalah, pertama, pada hari itu matahari bersinar tidak terlalu panas dengan cuaca sangat sejuk, sebagaimana hadis Riwayat Muslim.
Kedua, pada malam harinya langit tampak bersih, tidak tampak awan sedikit pun, suasana tenang dan sunyi, tidak dingin dan tidak panas. Hal ini berdasarkan riwayat Imam Ahmad dalam Kitab Mu’jam at-Thabari al-Kabir disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: Malam lailatul qadar itu langit bersih, udara tidak dingin atau panas, langit tidak berawan, tidak ada hujan, bintang tidak tampak, dan pada siang harinya matahari bersinar tidak begitu panas.

Dengan tidak diketahuinya secara pasti kapan malam istimewa itu turun, diharapkan justru makin memotivasi kita untuk meraihnya tidak sekadar pada sepuluh hari terakhir, tapi sebulan penuh lamanya kita gunakan untuk berbakti kepada Tuhan. Sehingga pada bulan-bulan yang lain (selain bulan Ramadhan), sifat kebajikan sosial, berkata jujur, dan tidak melakukan korupsi mampu diimplementasikan pada aktivitas kita sehari-hari, baik terhadap diri sendiri, keluarga, kolega, saudara, kawan maupun lawan, dan antarumat yang lain.

Sehingga, kita dapat berkata bahwa tanda yang paling jelas tentang kehadiran lailatul qadar bagi seseorang (abdullah) adalah kedamaian, ketenangan, dan kesejahteraan jiwa.

Dengan demikian, meraih lailatul qadar bukanlah sesuatu yang mustahil karena ia tak menunjuk kepada peristiwa masa depan. Lailatul qadar juga tak menunjuk pada even masa lalu yang hanya terjadi sekali pada masa Rasul menerima wahyu Ilahi. Ia akan menyertai umat manusia yang haus pencerahan rohani pada hari-hari akhir bulan suci. Semoga malam mulia itu berkenan mampir menemui kita untuk bangkit menemukan Indonesia baru sekaligus memberikan tanda-tanda bahwa rakyat akan segera sejahtera, makmur, dan bermartabat, sebagaimana cita-cita dalam Alquran, baldatun thayyibatun warabbul ghafur. Mudah-mudahan. Wallahu a’lam bis shawab

Lailatul Qadar

By Badruddin Hsubky
Senin, 07 September 2009 pukul 12:11:00 <!–


Lailatul QadarWORDPRESS.COM/ILUSTRASI

Lailatul qadar, sering juga disebut Malam Kemuliaan. Inilah malam turunnya takdir Allah yang baik bagi hamba-Nya. Ibadah di malam mulia ini lebih baik dari beribadah seribu bulan (Q. S. 87: 2). Pada malam lailatul qadar para malaikat dan Jibril berdesakan turun ke bumi membawa segala urusan yang baik. Rizki, ilmu pengetahuan, kebahagiaan, keberkahan, dan sebagainya diberikan kepada hamba-hambaNya yang beribadah di malam yang mulia ini (Q. S. 87: 3 dan 89: 16). ”Di saat lailatul qadar,” sabda Nabi SAW, ”Jibril dan malaikat yang lainnya turun ke bumi, seraya memohon ampunan dan keselamatan bagi setiap hamba Allah yang beribadah di malam lailatul qadar.” Karena kemuliaannya, banyak orang Islam yang lalu menantikan lailatul qadar, dengan berbagai kegiatan ibadah. Keadaan ini akan bertambah khusuk bila tiba sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Mereka bersandar pada hadis Nabi riwayat Aisyah ra: ”Jika telah datang sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, Rasulullah SAW lebih mempererat ibadahnya, dan beliau membangunkan seluruh keluarganya.”

Hadis di atas memotivasi umat Islam agar bertambah giat beribadah. Terlihat, di berbagai masjid, umat Islam khusuk beribadah, ada yang tadarus Alquran, salat tarawih, salat malam, mengkaji ilmu-ilmu keislaman serta berbagai kegiatan ibadah lainnya. Ini karena Rasulullah SAW telah memberi gambaran bahwa untuk mendapatkan lailatul qadar harus beribadah secara sungguh-sungguh di bulan yang penuh berkah ini. Minimal ada dua syarat untuk mendapatkan malam lailatul qadar. Pertama, fal yastajibu li, hendaknya memenuhi segala ketentuan-ketentuan Allah dan menjauhi berbagai larangan-Nya secara konsekuen dan konsisten. Kedua, fal yu’minu bi, memantapkan keyakinan kepada Allah atas segala janji-janji-Nya.

Dua kriteria di atas merupakan syarat akan dipenuhinya segala permohonan. Firman-Nya, ”Aku akan mengambulkan permohonan orang-orang yang berdoa, bila mereka memohon kepadaKU.” (Q. S. 2: 186). Lalu, apa hikmah dari malam lailatul qadar? Orang yang mendapat lailatul qadar, dalam hidupnya akan senantiasa mendapat bimbingan dan petunjuk ke jalan lurus, al-shirath al-mustaqim. Artinya, ia akan mendapat aspirasi dan inspirasi untuk menatap hidup masa mendatang yang lebih baik. Kita amat kerap berikrar: Tunjukilah kami jalan lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka (Q. S. 1: 5-7). Petunjuk jalan yang lurus itu akan tersingkap di saat tiba lailatul qadar. Semoga. ahi

09
Sep
09

Keuangan : Moral Keuangan Syariah

REPUBLIKA, Kamis, 03 September 2009 pukul 01:06:00

MoralKeuanganSyariah

Didin Hafidhuddin
(Direktur Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor)

Upaya untuk lebih memahami filosofi dan kinerja dari Lembaga Keuangan Syariah (LKS) harus dianggap sebagai suatu keniscayaan dan kebutuhan. Keunggulan-keunggulan kompetitif dan komparatif yang dimiliki LKS harus terus-menerus digali dan diimplementasikan dalam tatanan praktik LKS. Kesalahan dan kekurangan yang masih berlangsung harus semakin diminimalisasi. Upaya purifikasi (pemurnian) seyogianya menjadi agenda utama para insan LKS. Berikut ini disajikan keunggulan-keunggulan kompetitif sekaligus ciri khusus dari LKS.

Paling tidak ada tiga ciri khusus yang membedakan secara nyata antara Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dengan Lembaga Keuangan Konvensional (LKK) (Beik, 2006).
Pertama, lembaga keuangan syariah beroperasi dengan berlandaskan pada prinsip risk-bearing. Artinya, lembaga keuangan syariah berani menanggung risiko dalam menghadapi ketidakpastian usaha, karena klausul dalam syariah menyatakan ‘tidak ada keuntungan tanpa risiko’. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS Luqman [31] ayat 34: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Indikatornya adalah bahwa lembaga keuangan syariah tidak pernah memberikan jaminan keuntungan yang pasti, berbeda dengan lembaga keuangan konvensional yang memberikan jaminan dalam bentuk suku bunga dengan persentase yang tetap. Lembaga keuangan syariah hanya memberikan expected rate of return (perkiraan keuntungan) kepada nasabahnya. Yang menarik adalah, meski lembaga keuangan syariah memiliki tingkat risiko dan ketidakpastian yang lebih besar, hingga saat ini belum pernah terjadi lembaga keuangan syariah yang mengalami kebangkrutan dan kegagalan. Berbeda dengan lembaga keuangan konvensional yang sering mengalami kegagalan dan kebangkrutan, yang salah satu contohnya adalah hancurnya tatanan lembaga keuangan Indonesia ketika terjadi krisis moneter 1997.

Ciri yang kedua adalah adanya dimensi moral dalam konsep lembaga keuangan syariah, di mana hal tersebut tidak akan pernah ditemukan dalam konsep lembaga keuangan konvensional. Lembaga Keuangan Syariah tidak akan pernah mungkin mau membiayai proyek-proyek bisnis yang melanggar syariat meskipun sangat menggiurkan dan menguntungkan. Berbeda dengan lembaga keuangan konvensional yang tidak pernah memedulikan persoalan halal haramnya. Ciri yang ketiga adalah lembaga keuangan syariah lebih menekankan pada peningkatan produktivitas. Lembaga keuangan syariah adalah lembaga keuangan yang menekankan konsep asset & production based system (sistem berbasis aset dan produksi) sebagai ide utamanya. Mudharabah dan musyarakah adalah cerminan utama dari ide tersebut.

Ada beberapa kelebihan pola pembiayaan mudharabah dan musyarakah ini. Pertama, kedua pola tersebut adalah manifestasi dari prinsip risk-profit sharing, yang merupakan ‘inti utama’ sistem lembaga keuangan syariah. Kedua, mudharabah dan musyarakah merupakan model pembiayaan investasi yang memiliki dampak nyata terhadap pengembangan sektor riil dan tingkat produktivitas masyarakat sehingga memiliki potensi untuk mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan.

Ketiga, konsep mudharabah dan musyarakah akan menggiring perubahan perilaku para pelaku ekonomi ke arah yang lebih baik dan lebih produktif. Para depositor akan memiliki kepedulian yang lebih terhadap dana yang disimpannya. Pada lembaga keuangan konvensional, nasabah kurang peduli terhadap dana depositonya karena dijanjikan menerima suku bunga yang tetap. Tetapi, dengan adanya konsep mudharabah, ia akan menghadapi risiko kerugian sehingga ia akan dengan cermat membandingkan expected rate of return yang ditawarkan lembaga keuangan syariah dan suku bunga yang ditawarkan lembaga keuangan konvensional. Nasabah pun menjadi lebih peduli dengan kondisi kesehatan suatu lembaga keuangan. Jika tingkat pengembalian lembaga keuangan syariah tinggi, ia akan mengetahui bahwa kondisi lembaga keuangan tersebut sehat. Sebaliknya, jika terjadi penurunan, ia pun dapat mengetahui bahwa lembaga keuangan tersebut sedang menghadapi masalah. Hal ini tidak terjadi pada sistem lembaga keuangan konvensional. Nasabah tidak mengetahui apakah lembaga keuangan ini berada dalam kondisi sehat atau tidak karena ia menerima sejumlah bunga yang telah ditetapkan sebelumnya.

Kalangan investor akan terdorong untuk lebih berani melakukan inovasi dan mengerjakan proyek-proyek bisnis yang berisiko. Kreativitas bisnis akan tumbuh dan berkembang. Jika perusahaan mengalami kerugian, kerugian tersebut akan ditanggung bank seluruhnya jika menggunakan pola mudharabah, dan ditanggung bersama-sama jika menggunakan pola musyarakah. Neraca keuangan perusahaan pun akan lebih stabil karena aset dan kewajiban akan bergerak secara bersama-sama. Sementara pada sistem konvensional, jika diharuskan membayar sejumlah bunga kepada lembaga keuangan tanpa lembaga keuangan tersebut peduli apakah bisnisnya mengalami keuntungan atau kerugian.

Bagi kalangan lembaga keuangan sendiri akan menjadi lebih hati-hati di dalam menyalurkan pembiayaannya karena menghadapi risiko kerugian. Lembaga keuangan akan berhati-hati di dalam mengevaluasi setiap proyek, termasuk meneliti dengan saksama latar belakang calon investor yang akan dibiayai, apakah bisa dipercaya atau tidak. Bagi perekonomian secara keseluruhan, sistem mudharabah dan musyarakah akan mengurangi kemungkinan terjadinya krisis keuangan dan resesi ekonomi akibat stabilnya sektor riil dan sektor moneter (Beik, 2006).

Sektor riil dan sektor keuangan/moneter akan bergerak secara seimbang. Hal tersebut karena bagi hasil atau return pada sektor keuangan sangat bergantung pada kinerja sektor riil. Jika sektor riil meningkat, bagi hasil keuangan akan meningkat pula. Sebaliknya, jika sektor riil mengalami penurunan kinerja, bagi hasil untuk sektor keuangan akan menurun pula. Hal yang sama tidak akan ditemukan pada sistem konvensional. Dengan sistem bunga, kondisi sektor keuangan/moneter tidak secara otomatis mencerminkan kondisi sektor riil karena bunga atau return pada sektor keuangan tidak ditentukan oleh kinerja sektor riil. Inilah yang menjadi penyebab mengapa di suatu negara sering kali terjadi membaiknya kondisi makro ekonomi, tetapi tidak otomatis mencerminkan baiknya kondisi di sektor riil. Dengan demikian, jelaslah bahwa sistem bagi hasil merupakan instrumen yang dapat menstabilkan dan menyeimbangkan sektor riil dan sektor moneter secara otomatis (Beik dan Hafidhuddin, 2006). Wallahu A’lam bi ash-Shawab.

09
Sep
09

Politik : Oposisi atau Megang Posisi

REPUBLIKA, Rabu, 09 September 2009 pukul 01:31:00

Oposisi/MegangPosisi

Oleh: Mohammad Yasin Kara
(Sekretaris Fraksi PAN DPR RI)

Judul artikel ini barangkali pas untuk menggambarkan tarik ulur kepentingan politik antara partai politik yang selama ini menegaskan dirinya sebagai partai oposisi dan pembela kepentingan rakyat, namun setelah kalah dalam pemilu presiden dan wakil presiden tiba-tiba menegaskan untuk bergabung dengan partai pemenang pemilu yang kini tengah berkuasa di pemerintahan.

Sebagaimana ramai diberitakan berbagai media massa belakangan ini, tema oposisi versus partai pemegang posisi di pemerintahan ini menarik didiskusikan terkait langsung dengan peran partai politik sebagai medium artikulasi dalam menyuarakan kepentingan masyarakat.

Pun sebagai fungsi agregasi di mana partai politik menjadi wahana rekrutmen kepemimpinan nasional dan penyerapan aspirasi masyarakat. Sementara dalam konteks demokratisasi dan pendidikan politik bagi kehidupan masyarakat luas, jika partai politik secara mayoritas bergabung dengan partai penguasa, ini pertanda akan matinya fungsi kontrol dalam tata laksana pemerintahan.

Jelas ini adalah fenomena transaksi politik yang membahayakan bagi proses demokratisasi, pendidikan politik, dan pembangunan nasional di negeri ini. Bagaimana tidak, transaksi politik untuk ‘bagi-bagi’ kekuasaan ini seperti diberitakan berbagai media massa belakangan ini ternyata merambah ke lembaga legislatif, yaitu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang secara substansial berfungsi sebagai legislasi, anggaran, dan kontrol atas kekuasaan. Dengan demikian, artinya, jika semua partai politik telah bergabung dengan partai penguasa atas dasar bagi-bagi kekuasaan atau kepentingan bisnis politik lainnya, kekuasaan bisa berjalan tanpa ada kontrol menuju pemerintahan otoriter konstitusional.

Satu pemerintahan otoriter, tetapi menjadi sah karena secara politik didukung oleh lembaga legislasi/DPR. Aspek inilah sesungguhnya yang sangat berbahaya. Dan, dalam konteks ini praktis fungsi DPR kembali semata menjadi tukang stempel berbagai kebijakan pemerintah tanpa ada pertimbangan apakah kebijakan itu berdampak positif bagi proses pembangunan dan pemberdayaan masyarakat atau tidak sebagaimana dalam pemerintahan otoriter Orde Baru.

Ditilik dari kacamata teori politik dan kekuasaan transaksi politik seperti ini terlihat tidak ada masalah. Karena, memang ranah politik dan kekuasaan itu berada dalam mainstream abu-abu. Kata kuncinya, tidak ada teman dan juga musuh abadi dalam politik, tetapi yang abadi adalah kepentingan.

Oleh sebab itu, betapa pun PDI Perjuangan kerap kali menegaskan dirinya sebagai partai oposisi dan menjadi rival politik Partai Demokrat dalam pemilu presiden dan wakil presiden tempo lalu, tetapi tidak juga merasa ‘malu’ untuk bergabung dengan partai pemenang yang kini tengah berkuasa itu. Pasalnya, tidak ada lawan yang abadi dalam politik, tetapi yang abadi adalah kepentingan itu sendiri. Oleh sebab itu, prinsipnya: menjadi oposisi  yesmegang posisi juga  yes . Hal serupa juga akan terjadi dengan Partai Golkar, apabila dalam munasnya nanti yang menang sebagai ketua umumnya adalah pro partai penguasa.

Namun, jika dilihat dalam perspektif etika politik, transaksi politik demikian ini sejatinya menjadi fenomena sosial yang tidak etis. Pertama, terkait dengan fungsi partai politik yang seharusnya menjadi medium pencerahan bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kedua, membunuh fungsi kontrol Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam kerangka  check and balance .

Dalam tataran teoretis dan praktisnya, manakala satu kekuatan politik telah menyatu dalam poros kekuasaan tanpa ada institusi yang berfungsi sebagai  term kontrol, yang akan terjadi adalah pemerintahan otoritarianisme dengan segala kemunafikan dan tipu muslihatnya. Oleh sebab itu, fenomena transaksi politik bagi-bagi kekuasaan antara partai partai politik besar pascapemilu presiden dan wakil presiden ini sangatlah berbahaya, bagaikan misteri yang amat menakutkan.

Ketiga, bukankah partai-partai politik dalam kampanyenya tempo lalu telah berjanji kepada para konstituennya untuk membela kepentingan mereka apabila memenangi pemilu dan atau paling tidak jika para wakilnya terpilih menjadi anggota legislatif. Dalam konteks ini, kemudian menjadi sangat ironis ketika beredar berita partai-partai itu kini merapat ke Demokrat sebagai partai penguasa. Pertanyaannya, ada apa di balik transaksi politik bagi-bagi kekuasaan itu?

Yang pasti, fenomena ini layak dicurigai kemungkinan terjadinya tipu muslihat di kemudian hari. Sebagaimana telah kita maklumi bahwa pada setiap transaksi/kompromi politik selalu ada jalan tengah yang hendak dicapai sebagai kompensasi politik yang bisa jadi berpengaruh negatif bagi proses demokratisasi dan juga pembangunan masyarakat di masa depan.

Jika demikian yang terjadi, masyarakat mestinya bisa menilai dan menjadikan fenomena transaksi politik ini sebagai  entry point , titik masuk untuk menilai partai poitik dan pemimpin mana yang memiliki komitmen secara sungguh-sungguh untuk membangun bangsa ini lebih baik dan mana pula yang tidak sebagai tolok ukur pada Pemilu 2014 nanti.

Secara pribadi saya meyayangkan lahirnya transaksi politik bagi-bagi kekuasaan itu. Karena, hal ini bisa menjadi momentum buruk bagi proses pembangunan demokratisasi/pendidikan politik di negeri ini. Pun secara tidak langsung hal ini akan memengaruhi pikiran alam bawah sadar masyarakat.

Masyarakat akan menilai bahwa partai politik kini tak lagi bisa menjadi medium penyerapan aspirasi yang terpercaya. Buktinya, ketika usai pemilu partai politik yang telah didukungnya ternyata kembali pada tabiat politiknya, yakni ‘melacur atas kekuasaan’. Mirip praktik politik pada era pemerintahan otoriter Orde Baru.

Hal demikian ini tentu sangatlah berbahaya bagi proses demokratisasi dan pendidikan politik warga negara di satu sisi, yang akan berakibat pada kian melemahnya fungsi kontrol/pengawasan DPR dalam proses tata laksana pemerintahan pada sisi yang lain.

Benar-benar berbahaya. Bagaimana tidak, secara substansial partai-partai politik kini telah kehilangan fungsinya. Eksistensi partai politik bagaikan bunglon yang selalu berubah sesuai habitatnya. Kalau dalam kampanye pemilu sebuah partai politik berjanji akan memperjuangkan kepentingan masyarakatnya, pascapemilu justru terlihat lebih tegar memperjuangkan komunitasnya. Identitas partai politik kini sangat abu-abu: menjadi oposisi  yes , diminta  megang posisi juga yes.

09
Sep
09

Seni Budaya : Rekonstruksi Budaya Perfilman

REPUBLIKA, Rabu, 09 September 2009 pukul 01:32:00

Budaya Perfilman

Oleh: Prof Dr H Irwan Prayitno MSc Psi
(Ketua Komisi X DPR RI)

Perfilman memiliki peran amat penting untuk membangun peradaban bangsa sebesar Indonesia. Film sebagai karya seni budaya memiliki peran strategis dalam peningkatan ketahanan budaya bangsa dan kesejahteraan masyarakat lahir batin. Bahkan, film juga bisa berfungsi sebagai sarana pencerdasan kehidupan bangsa, pengembangan potensi diri, pembinaan akhlak mulia, dan media komunikasi massa dalam era globalisasi.

Adanya keberpihakan serta perhatian pemerintah dalam mengembangkan dunia perfilman dalam kerangka memajukan budaya bangsa adalah menjadi keniscayaan. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 32 ayat (1) menegaskan, ”Bahwa Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.” Oleh sebab itulah, amanat konstitusi ini harus terwujud secara konkret dalam implementasinya.

Agar bangsa ini mampu bersaing dalam percaturan global dan mencapai kemandirian di masa mendatang, pemerintah bersama masyarakat harus memiliki kesadaran politik (political will ) yang kuat dalam melakukan reformasi dunia perfilman. Keberhasilan reformasi dalam dunia perfilman secara nasional diharapkan akan mampu mendorong keberhasilan di bidang ekonomi, sosial, dan budaya.

Arus globalisasi yang merasuk demikian cepat dalam tatanan kehidupan masyarakat, menuntut dunia perfilman untuk mampu mengembangkan diri secara mandiri, cepat, tepat, dan benar. Selain itu, dunia perfilman juga dituntut untuk meningkatkan kesadaran semakin pentingnya peranan perfilman dalam proses perkembangan sosial, ekonomi, politik, dan budaya di lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara.

Dimilikinya wawasan keunggulan bagi dunia perfilman merupakan hal yang amat menentukan keberhasilan kita, dalam memasuki era globalisasi yang diwarnai oleh persaingan yang ketat antarbangsa. Film tidak bisa hanya dilihat dari sisi seni peran dan unsur komersial semata. Tetapi, kita harus merumuskan strategi baru dalam pengembangan hakikat perfilman, guna menjawab tantangan masa depan dan untuk lebih memajukan dunia perfilman Indonesia. Karena itu, ada beberapa substansi penting yang perlu kami kemukakan, terkait dengan rekonstruksi budaya perfilman Indonesia penting dperhatikan, yaitu:

Pertama, diterapkannya fungsi budaya, pendidikan, hiburan, informasi, pendorong karya kreatif, dan ekonomi dalam Undang-Undang Perfilman yang baru, diharapkan mampu menjawab berbagai permasalahan-permasalahan perfilman yang masih menggelisahkan sebagian masyarakat. Di sini, film tidak hanya sekadar menampilkan aspek hiburan semata, tetapi lebih dalam lagi mesti menonjolkan unsur budaya dan pendidikan. Artinya, telah terjadi terobosan paradigma baru dalam perfilman sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kebudayaan nasional.

Paradigma baru yang menempatkan perfilman ke ranah pendidikan dan budaya tersebut, mesti dipahami sebagai seluruh totalitas aktivitas dan ikhtiar manusia untuk menjawab tantangan kehidupannya, mengelolanya, dan memberi makna kepadanya, serta penyegaran dirinya secara integral. Hakikat perfilman sebagai ranah pendidikan dan budaya juga mesti memperhatikan di dalamnya dimensi kognitif, ekspresif, afektif, normatif, dan etis. Sehingga, perfilman seagai ranah pendidikan dan budaya mampu menghadapi tantangan politik, ekonomi, iptek, dan sosial budaya.

Kedua, untuk meningkatkan upaya memajukan perfilman Indonesia, seluruh proses kegiatan perfilman tidak bisa dilepaskan dari kebebasan berekspresi, berkreasi, berinovasi, dan berkarya. Namun demikian, kegiatan perfilman dan usaha perfilman juga mesti dilakukan dengan tetap memegang prinsip menjunjung tinggi nilai-nilai agama, etika, moral, kesusilaan, dan budaya bangsa. Sehingga, bobot dan kualitas perfilman semakin memiliki keunggulan dan tidak tercerabut dari nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat.

Ketiga, kekhawatiran terhadap praktik monopoli yang selama ini berlangsung dalam industri perfilman, yang menyebabkan ambruknya usaha-usaha perfilman di daerah telah diakomodasi dalam Undang-Undang Perfilman yang baru ini. Penegasan sifat antimonopoli ini dinyatakan  dalam Pasal 12 dan 13. Bahkan, keberpihakan bagi tumbuhnya dunia perfilman nasional dibuka lebar, seperti dinyatakan dalam Pasal 8 ayat (1) yang menegaskan, kegiatan perfilman meliputi: pembuatan film, jasa teknik film, pengedaran film, pertunjukan film, apresiasi film, dan pengarsipan film. Sementara Pasal 10 ayat (1), menegaskan bahwa kegiatan perfilman dan usaha perfilman wajib dilakukan dengan mengutamakan film Indonesia, kecuali pelaku usaha impor film. Undang-undang ini juga memuat asas kemanusiaan, keadilan, manfaat, kebersamaan, kemitraan, dan kebajikan sebagaimana termaktub dalam Pasal 2.

Keempat, Undang-Undang Perfilman yang baru ini telah mengakomodasi berbagai kepentingan dari para pemangku kepentingan dunia perfilman, seperti pemerintah, pemerintah daerah, pelaku kegiatan perfilman, pelaku usaha perfilman, serta masyarakat. Sehingga, masa depan dunia perfilman Indonesia diharapkan dapat lebih produktif dan memiliki mutu yang lebih baik. Perfilman juga diharapkan dapat mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan harkat serta martabat bangsa.

Kehadiran Undang-Undang tentang Perfilman yang telah disahkan dalam Sidang Paripurna DPR RI pada Selasa 8 September 2009 M dan bertepatan dengan 18 Ramadhan 1430 H, diharapkan mampu merekonstruksi budaya perfilman dan mewujudkan kebangkitan serta peningkatan kemajuan perfilman Indonesia, untuk berkembangnya film yang berbasis budaya bangsa yang hidup dan berkesinambungan.

Undang-undang ini sekaligus menjadi payung hukum dan melengkapi arah dan landasan dunia perfilman Indonesia ke depan. Sehingga, dunia perfilman diharapkan makin tertata dengan baik ( good film governance ), makin profesional dan mampu membuat karya seni budaya yang berkualitas dan memiliki peran strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, peningkatan ketahanan budaya, dan kesejahteraan masyarakat lahir batin untuk memperkuat ketahanan nasional.

Undang-Undang Perfilman yang baru ini juga kita harapkan mampu melahirkan perfilman yang cerdas, kreatif, inovatif, dan kompetitif serta lebih maju dan mampu dalam persaingan global, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kesejahteraan umat manusia. Sehingga, film Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan menjadi tamu terhormat di luar negeri.

09
Sep
09

Resonansi : Perang Dingin, Afganistan dan Terorisme (1)

Selasa, 08 September 2009 pukul 01:57:00

Perang & Terorisme (I)

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Resonansi ini akan mencoba membedah topik ini melalui teropong yang lebih komprehensif berdasarkan data mutakhir yang didapat via internet. Kita mulai dari era pasca-PD (Perang Dunia) II. Sebenarnya, baik PD I maupun PD II lahir sepenuhnya dari rahim peradaban Barat sekuler. Begitu juga, apa yang dikenal sebagai PD (Perang Dingin) yang berlangsung dari tahun 1945 sd 1980-an, antara Blok Uni Soviet dan Blok Barat pimpinan Amerika Serikat, adalah kelanjutan belaka dari kompetisi dua kekuatan raksasa itu untuk menguasai dunia. Keduanya adalah pemenang PD II.

Adapun sebagian negara lain adalah korban belaka, baik karena tak berdaya ataupun karena kebodohan para elitenya masing-masing. Di antara korban yang terparah adalah Afghanistan, salah satu negara Muslim yang termiskin di muka bumi. Pada tahun 1979, rezim marxis Afghanistan telah mengundang pasukan Uni Soviet untuk masuk ke sana dalam upaya minta bantuan. Dengan segala senang hati, Uni Soviet malah menduduki negeri itu dalam rangka unjuk gigi kepada Blok Barat. Ujung destruktifnya ternyata sangat panjang, berdarah-darah, hancur-hancuran, perang saudara, dan terorisme. Indonesia yang sama sekali tidak berada di zona panas, malah menjadi korban terorisme, dilakukan oleh mereka yang merasa benar di jalan yang sesat dan salah.

Indonesia yang pernah juga terseret dalam suasana PD pada era Bung Karno and era Soeharto, sejak beberapa tahun yang lalu malah menjadi korban terorisme yang punya kaitan dengan situasi Afghanistan yang sangat menderita itu. Ratusan pemuda Muslim Indonesia bersama pemuda-pemuda dari berbagai negara lain atas nama jihad telah berangkat ke Afghanistan untuk mengusir pasukan ateisme Uni Soviet. Muncullah kemudian nama Usamah bin Ladin, yang sebelum pecah kongsi, semula adalah kader tak langsung CIA (Central Intelligence Agency).

Bin Ladin kemudian mengatakan bahwa terusirnya pasukan Uni Soviet adalah karena bantuan Tuhan, melalui perjuangan pasukan mujahidin yang berasal dari berbagai negara Muslim. Keterlibatan Amerika di Afghanistan, langsung atau via Pakistan, tidak disebut Bin Ladin, padahal sangat nyata, dalam bentuk jutaan dolar, persenjataan, dan pelatihan terhadap gerilya mujahidin. Pakistan di bawah rezim militer Zia al-Haq saat itu telah menjadi sekutu dekat Amerika. Setelah Uni Soviet bubar, Amerika juga mengklaim bahwa berkat bantuannyalah pada akhirnya yang memaksa Uni Soviet hengkang dari Afghanistan. Ujungnya adalah federasi komunis itu harus memasuki museum sejarah.

Pada sisi lain, kita melihat kapitalisme dan demokrasi liberal merayakan kemenangannya atas sistem totalitarisme marxis. Kemenangan ini dikukuhkan antara lain dalam bentuk karya tulis oleh mantan pendukung kelompok neokonservatif Amerika, Francis Fukuyama, dalam buku kontroversialnya <I>The End of History and the Last Man<I> (New York: Avon Books, 1993). Adapun kemudian Fukuyama pada 2004 murtad dari neokon sebagai protes terhadap invasi Amerika atas Iraq adalah masalah lain yang pernah saya tulis juga di harian ini (Lih. <I>Resonansi Republika<I>, 29 Januari 2008, hlm 12).

Berkat latihan keras di sana, para pemuda Muslim ini menjadi sangat militan dengan semangat perang yang super tinggi. Maut telah menjadi tunangan mereka. Para pemuda ini tak sadar telah menjadi korban PD yang sangat menguntungkan Washington, yang kemudian telah menjadi musuh mereka. Bom-bom bunuh diri yang sangat meresahkan Indonesia adalah bagian dari sikap permusuhan itu. Ini adalah di antara ironi sejarah yang sungguh memprihatinkan. Gedung Putih yang cerdik dan licik telah memanfaatkan para pemuda pejuang ini untuk memenangkan PD. Hasilnya sangat spektakuler: Uni Soviet telah dipermalukan sebelum berantakan secara total, diawali oleh gerakan glasnost dan prestroika Gorbachev.

Mirip dengan kegagahan perang Vietnam di bawah pimpinan Ho Chi Minh dan Jenderal Vo Nguyen Giap, pada tahun 1975 Amerika telah dihina dan dipermalukan di sana sebelumnya, tetapi tidak pernah jera. Afghanistan dan Irak digempur dan dibinasakan, demi kerakusan untuk menguasai jalan pipa minyak di kawasan panas itu. Si cerdik dan si licik sering benar mengorbankan si lemah dan tidak siuman. Anda jangan bicara tentang moral penguasa di sini. Itu sia-sia, karena memang telah dibuang jauh, entah ke mana di belantara sekularisme. Jika ada arus balik politik untuk mengadili George W Bush sebagai penjahat perang, cukup masuk akal, dan saya telah mengatakannya jauh sebelum tokoh lintas agama bertemu dengannya di Denpasar pada 22 Oktober 2003.

Pada 15 Februari 1989, berdasarkan Persetujuan Genewa 1988, pasukan Uni Soviet terakhir telah angkat kaki dari Afghanistan, tetapi ironisnya momen ini malah menjadi bagi awal perang saudara di negara kesukuan itu. Jika sebelumnya senjata dibidikkan untuk membunuh dan mengusir pasukan musuh, dalam perang saudara, senjata itu pula yang dipakai untuk membunuh sesama Muslim, apa pun dalih yang digunakan. Bila mengikuti drama dan tragedi Afghanistan ini, air mata saya mengalir tak tertahankan. Beginikah cara Muslim menyelesaikan selisih di antara mereka? Tidakkah mereka mau belajar dari kelampauan yang penuh darah dan dendam akibat sengketa politik sesama elite Muslim di berbagai bagian dunia, dalam lintas sejarah yang panjang?

09
Sep
09

Religius : Renaisans Indonesia

REPUBLIKA, Jumat, 04 September 2009 pukul 01:21:00

Renaisans Indonesia

Oleh: Zaim Uchrowi

Lima tahun lalu saya menerbitkan buku. Judulnya, Menggagas Renaisans Indonesia. Judul itu terpilih karena saya percaya bangsa dan umat ini belum dalam keadaan baik. Kemiskinan masih sangat besar. Akhlak dan perilaku korup masih meluas.

Bangsa dan umat ini perlu berubah secara mendasar agar dapat menjadi benar-benar baik. Untuk itu, perlu Renaisans.

Kata Renaisans merujuk pada gerakan budaya di Eropa abad 14-17 Masehi. Sebelum masa itu, Eropa secara umum masih berada di ‘zaman gelap’. Eropa masih terbelakang ketika peradaban Asia sudah berkembang. Bahkan, ketika Andalusia atau Spanyol menjadi sangat maju karena peran Islam dan Yahudi, Eropa masih relatif ‘primitif’.

Baru setelah berkembang interaksi dengan Andalusia, Renaisans terjadi di Italia, yang berpusat di Florence pada masa kekuasaan keluarga Medici. Secara harfiah, Renaisans berarti ‘lahir kembali’.

Dalam pengertian yang lebih mendalam dapat dimaknai sebagai proses peralihan peradaban dari ‘masa gelap’ menuju ‘masa terang’.

Hal tersebut ditandai dengan penajaman dua sisi berbeda peradaban, yang sebenarnya justru harus menyatu bagai dua sisi sekeping koin. Yakni, sisi rasa dan sisi rasio.

Sisi rasa diwarnai antara lain lewat kelahiran karya-karya besar seni seperti karya Michelangelo. Sedangkan kebangkitan rasio ditandai dengan kebangkitan sains dengan mengadopsi ilmu-ilmu pengetahuan dari masa Yunani yang telah dikembangkan oleh Dunia Islam. Pertemuan rasa-rasio tersimbolkan dengan sangat baik oleh karya-karya Leonardo Da Vinci.

Sejak itulah ilmu pengetahuan dan seni bangkit secara luar biasa. Teknologi dan kemakmuran berkembang pesat, menjadikan Eropa pusat peradaban dunia. Peradaban itu kemudian berkembang di Amerika Serikat hingga sekarang. Sedangkan bangsa-bangsa Muslim, yang sebelumnya menjadi penyebar peradaban dunia, telah menurun hingga menjadi bagian dari pinggiran peradaban. Bagdad, pusat peradaban terpenting di dunia pada masanya, tak pernah bangkit setelah serbuan Hulagu Khan di abad 13.

Kemakmuran India yang dibangun kesultanan Moghul yang mencapai masa keemasannya pada masa Sultan Akbar tak ada lagi. Bahkan, kejayaan Nusantara, yang menurut almarhum Rendra mencapai puncak di zaman Demak, telah begitu surut. Indonesia sekarang memang tak segelap Eropa sebelum Renaisans. Namun, tak pula dapat dikatakan bahwa Indonesia telah terang-benderang. Ada banyak sisi terang yang kita miliki, sebagaimana masih pula banyak sisi gelap yang ada. Hal demikian membuat keadaan sering samar: yang hitam dan putih sering tak terbedakan. Bagi upaya untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat sebaik-baiknya, suasana serbasamar itu tidak menguntungkan. Untuk itulah Renaisans Indonesia diperlukan. Keperluan untuk membuat Renaisans Indonesia terpotret dari berbagai sisi.

Dalam kehidupan sosial, misalnya. Secara umum, banyak aktivitas sosial masih menjadi beban yang memberatkan masyarakat untuk maju. Hubungan sosial masyarakat kita masih sangat kental dengan format paguyuban (gemmeinschaft) sebagaimana masyarakat tradisional, dan masih jauh dari format patembayan (gesselschaft) yang menjadi ciri masyarakat maju. Dalam kehidupan beragama, prinsip sunnatullah atau hukum Tuhan yang mewujud dalam hukum-hukum alam, sangat terabaikan. Hal tersebut menjadikan keberagamaan sebatas semacam tradisi yang dangkal. Jauh dari nilai maknawi hingga tak memiliki daya dorong terhadap kemajuan masyarakat. Kita perlu berani berubah untuk dapat menjadi bangsa dan umat yang benar-benar baik. Kita perlu lebih mengedepankan akal sehat dalam kehidupan sosial dan beragama. Akal sehat itu akan semakin mendapat tempat bila semua bertekad melakukan Renaisans. Selanjutnya, tekad Renaisans itu perlu diaktualisasikan dalam struktur, proses, bahkan juga budaya. Bila demikian, Renaisans tak akan berhenti sebatas gagasan, namun akan mewujud dalam Indonesia yang benar-benar terang. Presiden SBY punya kesempatan besar buat memimpin Renaisans ini.




Blog Stats

  • 2,342,297 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 133 other followers