Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



06
Sep
09

Perbankan : Suntikan Dana Century Tindak Pidana Hukum dan Politik ?

Suntikan Dana Century Tindak Pidana Hukum dan Politik?
Pengunjuk rasa yang tergabung dalam Forum Nasabah Bank Century menggelar aksi damai di tengah kepesimistisan akan kembalinya uang mereka, Jumat (4/9) di Kantor Bank Century, Senayan, Jakarta. Dari sekitar 250 nasabah Bank Century yang menjadi korban reksadana Antaboga, kali ini hanya sekitar 20 orang yang berunjuk rasa. Mereka berharap setidaknya uang mereka dapat kembali walaupun secara bertahap.

Minggu, 6 September 2009 | 15:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Tindakan Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang juga Menko Perekonomian Sri Mulyani disinyalir merupakan tindakan pidana yang meliputi dua aspek, yaitu politik dan hukum.

“Secara politik, ada kaitannya dengan pengambilan keputusan di level pemerintah yang kurang tepat dalam pemberian dana bail out ke Century. Sedangkan secara hukum, kita masih menunggu hasil pemeriksaan BPK lebih jelas ada tidaknya campur tangan dari Sri Mulyani,” ungkap anggota Komisi XI DPR Natsir Mansyur, dalam konferensi pers, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Minggu, (6/9).

Dijelaskan Natsir, pada 23 november 2008 dikucurkan dana Rp 2,776 triliun BI untuk CAR delapan persen dibutuhkan Rp 2,655 triliun, dalam peraturan LPS dapat menambahkan modal sehingga CAR 10 persen yaitu Rp 2,776 triliun.

Selanjutnya, tanggal 5 desember 2008 dikucurkan Rp 2,201 triliun untuk memenuhi ketentuan tingkat kesehatan bank. “Jelas-jelas sudah dinyatakan sebagai bank gagal kok masih diberi tambahan Rp 4,9 triliun. Ini sudah tindakan pidana,” imbuhnya.

Kemudian, lanjut Natsir, pada 3 Februari 2009 sebesar Rp 1,155 triliun untuk menutup kebutuhan CAR berdasarkan hasil assessmen BI atas perhitungan Direksi Bank Century.

Lalu pada 21 Juli 2009, ditambahkan lagi Rp 0,63 triliun untuk menutup kebutuhan CAR berdasarkan hasil assessemen BI atas hasil audit kantor akuntan publik.

“Tambahan Rp1,7 triliun juga datang dari pemerintah untuk bailout Century. Bayangkan, sudah berapa besar dana yang keluar demi bank gagal tersebut,” ujarnya.

Ia juga mensinyalir adanya rekayasa dalam penaikkan dana Century, untuk melengkapi minus tiga persen dinaikkan 8 persen. “Untuk hal itu kita tunggu saja pemeriksaan dari BPK,” tandasnya.

C11-09

Sri Mulyani Didesak Mundur
Sri Mulyani Indrawati

Minggu, 6 September 2009 | 13:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Komisi XI, Natsir Mansyur, mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menonaktifkan Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang juga dijabat oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Pasalnya, Century, yang dinilai sebagai bank gagal, masih disuntikkan dana hingga Rp 4 triliun lebih.

“Lebih bagus Ketua KSSK yang juga dijabat oleh Menteri Keuangan harus dinonaktifkan dan hanya satu orang yang bisa, yaitu Pak Presiden,” ujar anggota Komisi XI DPR, Natsir Mansyur, saat konferensi pers di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Minggu (6/9).

Menurut Mansyur, dalam Perppu JPSK Pasal 1 angka 9 menyebutkan bahwa bank gagal adalah bank yang mengalami kesulitan keuangan dan membahayakan kelangsungan usahanya serta kondisinya sudah tidak dapat lagi disehatkan oleh Bank Indonesia sebagaimana kewenangan yang dimilikinya.

“Di situ sudah jelas, ada dua bank yang kinerjanya sangat jelek, bank Century dan bank IFI. Menteri sudah kecolongan bank IFI, tapi kok tetap mengucurkan Bank Century dengan dana yang besar. Itu sudah tindakan pidana,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kucuran dana yang diberikan pada bank Century tidak sesuai dengan tujuan penyehatan. Pada tanggal 20 November 2008, pemerintah mengucurkan Rp 632 miliar, hanya untuk menaikkan capital adequacy ratio (CAR) Bank Century.

“Semula disepakati Rp 632 miliar untuk menaikkan CAR Century dari negatif 3,53 persen naik menjadi delapan persen, tapi apa benar CAR-nya sekarang delapan persen, jangan-jangan hanya rekayasa,” pungkasnya.

C11-09

06
Sep
09

Khazanah : Imam an-Nasa’i, Figure Ulama Hadis Sejati

Imam an-Nasa’i

By Republika Newsroom
Rabu, 19 Agustus 2009 pukul 08:48:00

Imam an-Nasa'i, Figur Ulama Hadis Sejati

Ia sangat cermat dan teliti dalam meriwayatkan hadis yang bersumber dari Rasulullah SAW.

Imam an-Nasa’i yang memiliki nama lengkap Abu Abdirrahman Ahmad bin Syuaib bin Ali bin Bahar bin Sinan bin Dinar an-Nasa’i adalah seorang ulama hadis terkenal. Kitabnya termasuk kitab hadis yang enam, yaitu Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan Nasa’i. Keenam kitab hadis ini dikenal karena ketinggian sumber periwayatannya (sanad) maupun kandungan beritanya (matan).

Dilahirkan di satu desa yang bernama Nasa’ di daerah Khurasan pada tahun 215 H, an-Nasa’i tumbuh dan berkembang di desa kelahirannya. Ia menghafal Alquran di Madrasah yang ada di Nasa’. Imam an-Nasa’i juga banyak menyerap berbagai disiplin ilmu keagamaan dari para ulama di daerahnya.

Saat remaja, seiring dengan peningkatan kapasitas intelektualnya, anm-Nasa’i mulai gemar melakukan lawatan ilmiah ke berbagai penjuru dunia guna memburu ilmu-ilmu keagamaan, terutama disiplin ilmu hadis.
Belum genap usia 15 tahun, an-Nasa’i sudah mengembara ke berbagai wilayah Islam, seperti Mesir, Hijaz, Iraq, Syam, Khurasan, dan wilayah Jazirah Arab lainnya. Kemampuan intelektual Imam an-Nasai menjadi kian matang dalam masa pengembaraannya.

Dalam masa pengembaraannya ini, ia banyak mempelajari ilmu hadis dari kalangan ulama ahli hadis ternama. Para gurunya tercatat antara lain Qutaibah bin Sa`id, Ishaq bin Ibrahim, Ishaq bin Rahawaih, al-Harits bin Miskin, Ali bin Kasyram, Imam Abu Dawud (penyusun Sunan Abi Dawud), serta Imam Abu Isa al-Tirmidzi (penyusun al-Jami`/Sunan al-Tirmidzi).

Seperti para pendahulunya Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan Imam Tirmidzi, Imam an-Nasa’i juga tercatat mempunyai banyak murid. Diantara murid-murid yang setia mendengarkan fatwa-fatwa dan ceramah-ceramahnya adalah Abu al-Qasim al-Thabarani (pengarang tiga buku kitab Mu’jam), Abu Ja’far al-Thahawi, al-Hasan bin al-Khadir al-Suyuti, Muhammad bin Muawiyah bin al-Ahmar al-Andalusi, Abu Nashr al-Dalaby, dan Abu Bakr bin Ahmad al-Sunni. Nama yang disebut terakhir, disamping sebagai murid juga tercatat sebagai penyambung lidah Imam an-Nasa’i dalam meriwayatkan kitab Sunan an-Nasa’i.

Cermat dan teliti
Sudah menjadi rahasia umum di kalangan peminat kajian hadis dan ilmu hadis, para imam hadis merupakan sosok yang memiliki ketekunan dan keuletan yang patut diteladani. Dalam masa ketekunannya inilah, para imam hadis kerap kali menghasilkan karya tulis yang berkualitas tinggi.

Demikian juga dengan Imam an-Nasa’i. Sejumlah karyanya sangat populer. Seperti al-Sunan al-Kubra, al-Sunan al-Sughra (kitab ini merupakan bentuk perampingan dari kitab al-Sunan al-Kubra),  al-Khashais, Fadhail al-Shahabah, dan  al-Manasik. Menurut sebuah keterangan yang diberikan oleh Imam Ibn al-Atsir al-Jazairi dalam kitabnya  Jami’ al-Ushul, kitab ini disusun berdasarkan pandangan-pandangan fikih mazhab Syafii.

Sebagai seorang ulama hadis, Imam an-Nasa’i merupakan figur yang cermat dan teliti dalam meneliti dan menyeleksi para periwayat hadis. Ia menetapkan syarat-syarat tertentu dalam proses penyeleksian hadis-hadis yang diterimanya. bahkan, para ulama yang hidup pada masanya, banyak memberikan sanjungan pada an-Nasa’i. Menurut mereka, Imam an-Nasa’i adalah figur ulama hadis yang tangguh, kuat, kaya hafalanya, rujukan para ulama, dan memilki karya-karya monumental.

Abu Ali an-Naisapuri, salah satu diantara ulama tersebut, pernah mengatakan, ”Orang yang meriwayatkan hadis kepada kami adalah seorang imam hadis yang telah diakui oleh para ulama, ia bernama Abu Abd al-Rahman an-Nasa’i.”Lebih jauh lagi Imam an-Naisapuri mengatakan, ”Syarat-syarat yang ditetapkan an-Nasai dalam menilai para periwayat hadis lebih ketat dan keras ketimbang syarat-syarat yang digunakan Muslim bin al-Hajjaj.”

Kecermatan dan ketelitian Imam an-Nasa’i dalam menyeleksi hadis-hadis tampak dalam karyanya. Salah satunya adalah kitab  al-Sunan al-Sughra. Banyak ulama berkomentar bahwa kedudukan kitab  al-Sunan al-Sughra di bawah derajat  Shahih al-Bukhari dan  Shahih Muslim.

Karena hadis-hadis yang termuat di dalam kitab  al-Sunan al-Sughra merupakan hadis-hadis pilihan yang telah diseleksi dengan super ketat, maka kitab ini juga dinamakan  al-Mujtaba. Pengertian  al-Mujtaba bersinonim dengan  al-Mukhtar (yang terpilih), karena memang kitab ini berisi hadis-hadis pilihan, hadis-hadis hasil seleksi dari kitab sebelumnya,  al-Sunan al-Kubra.

Disamping  al-Mujtaba, dalam salah satu riwayat, kitab ini juga dinamakan dengan  al-Mujtana. Pada masanya, kitab ini terkenal dengan sebutan  al-Mujtaba, sehingga nama  al-Sunan al-Sughra seperti tenggelam ditelan keharuman nama  al-Mujtaba. Dari  al-Mujtaba inilah kemudian kitab ini kondang dengan sebutan Sunan an-Nasa’i, hingga sekarang.

Namun sebelum disebut dengan Sunan an-Nasa’i, kitab ini dikenal dengan  al-Sunan al-Kubra. Setelah tuntas menulis kitab ini, ia menghadiahkan kitab ini kepada Walikota Ramlah sebagai tanda penghormatan.Sang Walikota kemudian bertanya kepada an-Nasa’i, ”Apakah kitab ini seluruhnya berisi hadis sahih?” Beliau menjawab dengan kejujuran, ”Ada yang sahih, hasan, dan adapula yang hampir serupa dengannya”.

Kemudian sang Walikota berkata kembali, ”Kalau demikian halnya, maka pisahkanlah hadis yang sahih-sahih saja”. Atas permintaan Walikota ini, Nasa’i lalu menyeleksi dengan ketat semua hadis yang telah tertuang dalam kitab  al-Sunan al-Kubra. Dan akhirnya, Nasa’i berhasil melakukan perampingan terhadap  al-Sunan al-Kubra, sehingga menjadi  al-Sunan al-Sughra.

Juga Pakar dalam Ilmu Fikih

Imam an-Nasa’i tidak hanya ahli dalam bidang hadis dan ilmu hadis, namun juga mumpuni dalam bidang fikih. Ad-Daruquthni pernah mengatakan, An-nasa’i adalah salah seorang Syaikh di Mesir yang paling ahli dalam bidang fikih pada masanya dan paling mengetahui tentang hadis dan para rawinya.

Al-Hakim Abu Abdullah berkata, ”Pendapat-pendapat Abu Abd al-Rahman mengenai fikih yang diambil dari hadis terlampau banyak untuk dapat kita kemukakan seluruhnya. Siapa yang menelaah dan mengkaji kitab Sunan an-Nasa’i, ia akan terpesona dengan keindahan dan kebagusan kata-katanya.”

Inilah kesaksian dan pengakuan yang disampaikan oleh dua imam besar yang telah mengakui keutamaan dan kepemimpinan Imam an-Nasa’i dalam bidang fikih. Hal ini semakin meyakinkan orang akan kedudukannya sebagai hakim.

Khusus dalam bidang fikih ini, menurut Ibn al-Atsir, an-Nasa’i tidak bisa diidentifikasi dalam hal mazhabnya jika dilihat dalam struktur mazhab yang empat. Akan tetapi, pengikut Imam Syafii mengklaim bahwa an-Nasa’i menganut mazhab Syafii. Hal ini mungkin disebabkan oleh domisili tetapnya di Mesir yang mayoritas penduduknya menganut mazhab Syafii, dan menerima pelajaran dari imam-imam bermazhab Syafii serta mendengarkan pelajaran dari mereka.

Karena Imam an-Nasa’i cukup lama tinggal di Mesir, sementara Imam Syafii juga lama menyebarkan pandangan-pandangan fikihnya di Mesir (setelah kepindahannya dari Baghdad). Walaupun antara keduanya tidak pernah bertemu, menurut Ibn al-Atsir, karena an-Nasa’i baru lahir 11 tahun setelah Imam Syafii wafat. Namun demikian, hal itu tak menutup kemungkinan banyak pandangan-pandangan fikih mazhab Syafii yang diserapnya melalui murid-murid Imam Syafii yang tinggal di Mesir.

Pandangan fikih Imam Syafii lebih tersebar di Mesir ketimbang di Baghdad. Hal ini lebih membuka peluang bagi Imam an-Nasa’i untuk bersinggungan dengan pandangan fikih Syafii.Pandangan fikih Imam Syafii di Mesir ini kemudian dikenal dengan  qaul jadid (pandangan baru). Karenanya, menurut Ibn al-Atsir, pandangan fikih Imam an-Nasa’i lebih didominasi pandangan baru  (qaul jadid) yang berkembang di Mesir ketimbang pandangan klasik  (qaul qadim) yang berkembang di Baghdad.

Imam an-Nasa’i baru berhijrah dari Mesir ke Damsyik setahun menjelang kewafatannya pada tahun 303 H/915M. Mengenai tempat wafatnya beliau, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ad-Daruqutni mengatakan, an-Nasa’i wafat di Makkah dan dikebumikan diantara Shafa dan Marwah. Pendapat yang senada dikemukakan oleh Abdullah bin Mandah dari Hamzah al-`Uqbi al-Mishri.

Sementara ulama yang lain, seperti Imam al-Dzahabi, menolak pendapat tersebut. Ia mengatakan, Imam an-Nasa`i meninggal di Ramlah, suatu daerah di Palestina. Pendapat ini didukung oleh Ibn Yunus, Abu Ja`far al-Thahawi (murid an-Nasa`i) dan Abu Bakar al-Naqatah.Menurut pandangan terakhir ini jasad Imam an-Nasa’i dikebumikan di Bait al-Maqdis, Palestina. dia/taq/berbagai sumber

06
Sep
09

Khazanah : Rahasia di Balik Penemuan Kacamata

PenemuanKacamata

By Republika Newsroom
Kamis, 30 April 2009 pukul 11:43:00

Rahasia di Balik Penemuan Kacamata

Kacamata merupakan salah satu penemuan terpenting dalam sejarah kehidupan umat manusia. Setiap peradaban mengklaim sebagai penemu kacamata. Akibatnya, asal-usul kacamata pun cenderung tak jelas dari mana dan kapan ditemukan.

Lutfallah Gari, seorang peneliti  sejarah sains dan teknologi Islam dari Arab Saudi mencoba menelusuri rahasia penemuan kacamata secara mendalam. Ia mencoba membedah sejumlah sumber asli dan meneliti literatur tambahan. Investigasi yang dilakukannya itu membuahkan sebuah titik terang. Ia menemukan fakta bahwa peradaban Muslim di era keemasan memiliki peran penting dalam menemukan alat bantu baca dan lihat itu.

Lewat tulisannya bertajuk The Invention of Spectacles between the East and the West, Lutfallah mengungkapkan, peradaban Barat  kerap mengklaim sebegai penemu kacamata. Padahal, jauh sebelum masyarakat Barat mengenal kacamata, peradaban Islam telah menemukannya. Menurut dia, dunia Barat  telah membuat sejarah penemuan kacamata yang kenyataannya hanyalah sebuah mitos dan kebohongan belaka.

”Mereka sengaja membuat sejarah bahwa kacamata itu muncul saat Etnosentrisme,” papar Lutfallah. Menurut dia,  sebelum peradaban manusia mengenal kacamata, para ilmuwan tdari berbagai peradaban telah menemukan lensa.  Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya kaca.

Lensa juga dikenal pada beberapa peradaban seperti Romawi, Yunani, Hellenistik dan Islam. Berdasarkan bukti yang ada, lensa-lensa pada saat itu tidak digunakan untuk magnification (perbesaran), tapi untuk pembakaran. Caranya dengan memusatkan cahaya matahari pada fokus lensa/titik api lensa.

Oleh karena itu, mereka menyebutnya dengan nama umum “pembakaran kaca/burning mirrors”. ”Hal ini juga tercantum dalam beberapa literatur yang dikarang  sarjana Muslim pada era peradaban Islam,” tutur Lutfallah. Menurut dia,  fisikawan Muslim legendaris, Ibnu al-Haitham (965 M-1039 M), dalam karyanya bertajuk Kitab al-Manazir (tentang optik) telah mempelajarai masalah perbesaran benda dan pembiasan cahaya.

Ibnu al-Haitam mempelajari pembiasan cahaya melewati sebuah permukaan tanpa warna seperti kaca, udara dan air. “Bentuk-bentuk benda yang terlihat tampak menyimpang ketika terus melihat benda tanpa warna”. Ini merupakan bentuk permukaan seharusnya benda tanpa warna,” tutur al-Haitham seperti dikutip Lutfallah.

Inilah salah satu fakta yang menunjukkan betapa ilmuwan Muslim Arab pada abadke-11 itu telah mengenali kekayaan perbesaran gambar melalui permukaan tanpa warna. Namun,  al-Haitham belum mengetahui  aplikasi yang penting dalam fenomena ini. Buah pikir yang dicetuskan Ibnu al-Haitham itu merupakan hal yang paling pertama dalam bidang lensa.

Paling tidak, peradaban Islam telah mengenal dan menemukan lensa lebih awal tiga ratus tahun dibandingkan Masyarakat Eropa. Menurut Lutfallah, penemuan kacamata dalam peradaban Islam terungkap dalam puisi-puisi karya  Ibnu al-Hamdis (1055 M- 1133 M). Dia menulis sebuah syair yang menggambarkan tentang kacamata. Syair itu ditulis  sekitar200 tahun,  sebelum masyarakat Barat menemukan kacamata. Ibnu al-Hamdis menggambarkan kacamata lewat syairnya antara lain sebagai berikut:

”Benda bening menunjukkan tulisan dalam sebuah buku untuk mata, benda bening seperti air, tapi benda ini merupakan batu. Benda itu meninggalkan bekas kebasahan di pipi, basah seperti sebuah gambar sungai yang terbentuk dari keringatnya,” tutur al-Hamdis.

Al-Hamdis melanjutkan, ”Ini seperti seorang yang manusia yang pintar, yang menerjemahkan sebuah sandi-sandi kamera yang sulit diterjemahkan. Ini juga sebuah pengobatan yang baik bagi orang tua yang lemah penglihatannya, dan orang tua menulis kecil dalam mata mereka.”

Syair al-Hamids itu telah mematahkan klaim peradaban Barat sebagai penemu kacamata pertama.  Pada puisi ketiga, penyair Muslim legendaris itu mengatakan, “Benda ini tembus cahaya (kaca) untuk mata dan menunjukkan tulisan dalam buku, tapi ini batang tubuhnya terbuat dari batu (rock)”.

Selanjutnya dalam dua puisi, al-Hamids menyebutkan bahwa kacamata merupakan alat  pengobatan yang terbaik bagi orang tua yang menderita cacat/memiliki penglihatan yang lemah. Dengan menggunakan kacamata, papar al-Hamdis, seseorang akan melihat garis pembesaran.

Dalam puisi keempatnya, al-Hamdis mencoba menjelaskan dan menggambarkan kacamata sebagai berikut: “Ini akan meninggalkan tanda di pipi, seperti sebuah sungai”. Menurut penelitian Lutfallah, penggunaan kacamata mulai meluas di dunia Islam pada abad ke-13 M. Fakta itu terungkap dalam lukisan, buku sejarah, kaligrafi dan syair.

Dalam salah satu syairnya, Ahmad al-Attar al-Masri telah menyebutkan kacamata. “Usia ua datang setelah muda, saya pernah mempunyai penglihatan yang kuat, dan sekarang mata saya terbuat dari kaca.” Sementara itu,sSejarawan al-Sakhawi, mengungkapkan,  tentang seorang kaligrafer Sharaf Ibnu Amir al-Mardini (wafat tahun 1447 M). “Dia meninggal pada usia melewati 100 tahun; dia pernah memiliki pikiran sehat dan dia melanjutkan menulis tanpa cermin/kaca. “Sebuah cermin disini rupanya seperti lensa,” papar al-Sakhawi.

Fakta lain yang mampu membuktikan bahwa peradaban Islam telah lebih dulu menemukan kacamata adalah pencapaian dokter Muslim dalam ophtalmologi, ilmu tentang mata.   Dalam karanya tentang ophtalmologi, Julius Hirschberg , menyebutkan, dokter spesialis mata Muslim tak menyebutkan kacamata.  ”Namun itu tak berarti bahwa peradaban Islam tak mengenal kacamata,” tegas Lutfallah. desy susilawati

Eropa dan Penemuan Kacamata

Pada abad ke-13 M, sarjana Inggris, Roger Bacon (1214 M – 1294 M), menulis tentang kaca pembesar dan menjelaskan bagaimana membesarkan benda menggunakan sepotong kaca. “Untuk alasan ini, alat-alat ini sangat bermanfaat untuk orang-orang tua dan orang-orang yang memiliki kelamahan pada penglihatan, alat ini disediakan untuk mereka agar bisa melihat benda yang kecil, jika itu cukup diperbesar,” jelas Roger Bacon.

Beberapa sejarawan ilmu pengetahuan menyebutkan Bacon telah mengadopsi ilmu pengetahuannya dari ilmuwan Muslim, Ibnu al-Haitam. Bacon terpengaruh dengan kitab yang ditulis  al-Haitham berjudul Ktab al-Manazir Kitab tentang Optik. Kitab karya al-Haitham itu ternyata telah  diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

Ide pembesaran dengan bentuk kaca telah dicetuskan jauh sebelumnya oleh al-Haitham. Namun, sayangnya dari beberapa bukti yang ada, penggunaan kaca pembesar untuk membaca pertama disebutkan dalam bukunya Bacon.

Julius Hirschberg, sejarawan ophthalmologi (ilmu pengobatan mata), menyebutkan dalam bukunya, bahwa perbesaran batu diawali dengan penemuan kaca pembesar dan barulah kacamata tahun 1300 atau abad ke-13 M. “Ibnu al-Haitham hanya melakukan penelitian mengenai pembesaran pada abad ke – 11 M,” cetusnya Hirschberg.

Kacamata pertama disebutkan dalam buku pengobatan di Eropa pada abad ke-14 M. Bernard Gordon, Profesor pengobatan di Universitas Montpellier di selatan Perancis, mengatakan di tahun 1305 M tentang tetes mata (obat mata) sebagai alternatif bagi orang-orang tua yang tidak menggunakan kacamata.

Tahun 1353 M, Guy de Chauliac menyebutkan jenis obat mata lain untuk menyembuhkan mata, dia mengatakan lebih baik menggunakan kacamata jika obat mata tidak berfungsi.

Selain para ilmuwan di atas, adapula tiga cerita yang berbeda disebutkan oleh sarjana Italia, Redi (wafat tahun 1697). Cerita pertama, disebutkan dalam manuskrip Redi tahun 1299 M. Disebutkan dalam pembukaan bahwa pengarang adalah orang yang sudah tua dan tidak bisa membaca tanpa kacamata, yang ditemukan pada zamannya.

Cerita kedua, juga diceritakan oleh Redi, menunjukkan bahwa kacamata disebutkan dalam sebuah pidato yang jelas tahun 1305 M, dimana pembicara mengatakan bahwa perlatan ini ditemukan tidak lebih cepat dari 20 tahun sebelum pidato tersebut diungkapkan.

Cerita ketiga, menyebutkan bahwa biarawan (the monk) Alexander dari Spina (sebelah timur Itali) belajar bagaimana menggunakan kacamata. Dia wafat tahun 1313 M.

Akhirnya tiga versi cerita berbeda tersebut menyebarluas, karena banyak buku lain yang mengadopsi cerita-cerita yang disebutkan Redi setelah dia wafat. Namun, beberapa sejarahwan ilmu pengetahuan mengatakan bahwa Redi telah membuat cerita bohong dan mereka tidak percaya.

Bahkan, dalam buku Julius Hirschberg, juga disebutkan tentang cerita Redi itu, ditulis antara tahun 1899 dan 1918 di Jerman dan banyak informasi yang sudah tua dan banyak yang diperbaharui. Buku tersebut kemudian diterjemahkan (tanpa revisi) ke dalam bahasa Inggris dan dipublikasikan tahun 1985. Hasilnya, cerita Redi menyebar di Inggris, artikel penelitian itu ditolak kebenaran ceritanya dan ini ditolak Julius Hirschberg.

Beberapa cerita bohong lain juga ditulis oleh seorang jurnalis di pertengahan abad ke 19 M. Dia mengklaim Roger Bacon merupakan penemu kacamata seperti. Bahkan ia juga menyebutkan bahwa biarawan (the Monk) Alexander juga telah diajarkan Roger Bacon bagaimana menggunakan kacamata. Kabar ini tentu saja dengan cepat menyebar.

Kebohongan lain juga terlihat pada sebuah nisan. Seorang pengarang menunjukkan bahwa sebuah nisan di kuburan Nasrani yang berada di gereja, tertulis sebuah kalimat, “disini beristirahat Florence, penemu kacamata, Tuhan mengampuni dosanya, tahun 1317″. Masih banyak cerita atau mitos lainnya tentang penemu dan pembuatan kacamata di Eropa. Semua mengklaim sebagai penemu pertama alat bantu baca dan melihat itu. she/taq

06
Sep
09

Dialog Jumat : Mari Perbanyak Bersyukur

REPUBLIKA, Jumat, 04 September 2009 pukul 01:19:00

Perbanyak Bersyukur

TAKLIM

Seorang yang bersyukur akan bertambah takwa dan selalu merasa dekat dengan Allah SWT.

Setiap detik yang dilalui manusia dalam hidupnya tidak pernah lepas dari nikmat dan karunia Allah SWT. Nikmat Allah SWT sangatlah besar dan banyak, hingga tidak ada yang mampu menghitungnya.

Manusia diberikan nikmat pendengaran, penglihatan, penciuman, rezeki yang halal, dan masih banyak lagi. Hal itu merupakan bukti kecintaan Allah SWT kepada umat-Nya.

Oleh sebab itu, Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Ulum Sawangan Depok KH Anwar Hidayat, mengajak umat senantiasa bersyukur karena diberikan nikmat yang sangat luar biasa. Umat juga memperoleh kekuatan iman, Islam, takwa dan kesehatan yang merupakan karunia terbesar.

”Kita harus syukuri semua itu, terlebih nikmat sehat, sebab tidak sedikit dari saudara-saudara kita maupun tetangga kita yang tergeletak di rumah sakit, tidak berdaya,” paparnya, beberapa waktu lalu.

Akibat gangguan kesehatan, banyak yang tidak bisa menikmati suasana puasa Ramadhan. Ada pula yang tertimpa musibah, sehingga tidak dapat menjalankan ibadah di bulan suci dengan khusyu.

”Banyak yang tidak bisa menikmati indahnya Ramadhan ini. Maka bagi yang sehat, harus bersyukur bisa beribadah dengan baik,” kata Kiai Anwar.

Bersyukur, lanjutnya, sangat dianjurkan sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Ibrahim, ”Lain syakartum la-azidannakum walain kafartum inna azaabi lasyadid” (Jika engkau bersyukur pasti akan Kami tambah. Tapi jika engkau kufur, sesungguhnya siksaKu amat pedih).”

Tibanya bulan Ramadhan pun menjadi momentum tepat memperbanyak amal ibadah, termasuk mensyukuri nikmat Allah SWT. Dengan begitu, akan panen pahala nanti di akherat sebagai hasil amal ibadah dan bersyukur di dunia saat ini.

Pentingnya memperbanyak bersyukur selama bulan Ramadhan juga diungkapkan pimpinan Pondok Pesantren Arafah Ciawi Bogor Jawa Barat KH Anwar Sanusi. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW ”Al imanu nisfani, fanisfusysyukri wanisfussobri (Iman itu limapuluh persen, limapuluh persen. Yang lima puluh persen syukur dan yang lima puluh persen sabar,” jelasnya.

Lantas apakah yang dimaksud lima puluh persen yang bersyukur? Itulah salah satu ciri hamba Allah yang akan mendapatkan martabat, kebesaran dan kemuliaan. Ciri utamanya terletak pada masyarakat yang selalu bersyukur kehadirat Allah.

”Jadi, bila suatu bangsa pandai bersyukur, bangsa itu akan menjadi bangsa yang besar. Kalau rumah tangga pandai bersyukur, maka akan menjadi rumah tangga yang sakinah. Dan kalau orang pandai bersyukur, dia akan menjadi orang yang bertakwa dan dekat dengan Allah SWT,” tegas Kiai Anwar Sanusi.

Dan bulan Ramadhan, merupakan bulan yang paling indah. Di bulan inilah, segala amal dilipat gandakan pahalanya, bahkan bernafas pun bernilai zikir kepada Allah.

”Terlebih kalau kita isi bukan hanya dengan sabar, tapi juga dengan syukur. Dua-duanya di bulan Ramadhan bisa terjangkau,” papar dia.

Imam al Ghazali mengemukakan, syukur merupakan salah satu maqam yang lebih tinggi dari sabar, khauf (takut) kepada Allah SWT dan lainnya.

Adapun bersyukur di bulan Ramadhan bukan hanya mengatakan kata-kata alhamdulillah semata. Akan tetapi, melalui amal perbuatan seperti menyantuni fakir miskin, anak-anak yatim, dan menolong orang-orang yang sedang kesulitan.

Maka itu, Kiai Anwar Sanusi mengajak seluruh komponen umat Islam untuk mensyukuri bulan suci Ramadhan. Sudah sepatutnya bulan Ramadhan diisi dengan amal-amal saleh maupun segala aktivitas bermanfaat untuk mencapai ridha Allah SWT.  dam

06
Sep
09

Dialog Jumat : Bukti Cinta Allah

REPUBLIKA, Jumat, 04 September 2009 pukul 01:24:00

Bukti Cinta Allah

SILATURAHIM


Ciri orang yang ber takwa adalah takut terhadap dosa.

Allah SWT sangat cinta kepada umat-Nya. Rasa cinta Allah ini bisa kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Antara lain melalui kemudahan, nikmat sehat yang dirasakan, seperti kemampuan mata yang bisa melihat, telinga yang bisa mendengar, mulut yang bisa berbicara dan banyak hal lain. Ini hanyalah segelintir dari bukti cinta Allah terhadap makhluk-makhluk-Nya.

Karena itu, wajar jika hamba menumbuhkan rasa cinta terhadap penciptanya yaitu Allah SWT. Bulan Ramadhan ini merupakan momentum yang pas untuk menunjukkan rasa cinta kepada Sang Khalik. Bahkan, hanya dengan bergembira menyambut datang nya bulan suci Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya dari api neraka. Untuk itu, umat Islam harus memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai bulan untuk membakar dosadosa yang telah dilakukan.

Lantas, bagaimana cara menunjukkan rasa cinta kepada Allah SWT? Ustadz Hadi (Aa Hadi) membeberkan caranya, yaitu dengan menjadi orang yang bertakwa. Ciri orang yang bertakwa adalah takut terhadap dosa.

“Untuk itu, jagalah mata dari melihat hal-hal yang diharamkan. Jagalah mulut dengan tidak melakukan ghibah. Harus mampu menjadi orang yang mampu mengendalikan diri, maka Allah akan membukakan jalan-Nya,” ungkap Aa Hadi.

Selain itu, untuk menumbuhkkan rasa cinta terhadap Allah SWT, kaum Muslimin harus melaksanakan shaum (puasa) di bulan Ramadhan dan melakukan tarawih dengan benar. “Jadilah pribadi yang bisa memberikan manfaat bagi sekitarnya,” imbuh suami artis Cece Kirani itu.

Hal ini diungkapkan oleh Aa Hadi ketika mengisi Pengajian Harmoni di bilangan Dharmawangsa, Jakarta, beberapa waktu lalu. Pengajian ini juga direkam oleh stasiun TVRI untuk ditayangkan selama bulan Ramadhan 1430 H dengan topik yang berbe dabeda.

Menurut Ketua Pengajian Harmoni, Merry Pramono kegiatan pengajian ini rutin dilakukan di rumahnya. Seperti bulan Ramadhan sebelumnya, pihaknya juga melakukan buka puasa bersama anak yatim. “Kami memberikan santunan kepada anak yatim dengan menyiapkan paket di mana para anggota pengajian bisa berpartisipasi di dalamnya,” kata Merry Pramono. mth

06
Sep
09

Dialog Jumat : Hadiah Terbaik dari Allah SWT

REPUBLIKA, Jumat, 04 September 2009 pukul 01:27:00

HadiahTerbaikAllahSWT

REHAL

Allah berfirman dalam Alquran, ”Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan sampaikan salam penghormatan  kepadanya.” (QS Al-Ahzab (33): 56)

Ayat di atas menegaskan pentingnya dan keutamaan shalawat. Karena itu kaum Muslimin dianjurkan untuk bershalawat untuk Nabi setiap hari. Tiada amalan lain yang begitu agung, sampai-sampai Allah SWT sendiri juga melakukannya (bershalawat kepada Nabi).

Dalam buku ini ditegaskan bahwa shalawat merupakan hadiah terbaik  dari Allah SWT kepada umat manusia. Dengan bershalawat, maka kita bisa memetik begitu banyak berkah dan manfaat yang berlimpah, seperti membuat doa-doa kita terkabul dan menghapus dosa-dosa kita; pelindung dari api neraka dan izin masuk surga; memberatkan timbangan amal kita di hari kiamat; penghapus kemiskinan; penyejuk di alam kubur dan di akhirat serta mendatangkan syafaat bagi kita.

”Shalawat merupakan zikir terbaik untuk meraih  berbagai kebutuhan hidup, mengobati berbagai penyakit dan melenyapkan penderitaan.” (hlm 17)

Dalam salah satu hadisnya Rasulullah SAW menegaskan, ”Bacaan shalawat kalian kepadaku akan menjadikan terpenuhinya berbagai kebutuhan kalian, dan membuat Allah SWT ridha kepada kalian, dan menyucikan berbagai amalan kalian.”

Tak heran bila penulis menegaskan, ”Marilah kita mengasuransikan diri kita dengan bershalawat, dan kita jadikan shalawat sebagai sahabat kita, sehingga doa kita mustajab.” ika

Judul buku: Dahsyatnya Shalawat
Penulis: Ali Kamseh-i Qazwaini
Penerbit: Zahra
Cetakan: I, 2009
Tebal: 268 hlm

Konsep Cinta Ilahiyah

Orang lebih mengenal Ibnu Qayyim sebagai ahli fikih dan hadis terkemuka. Namun dalam karyanya yang satu ini, sang ulama besar yang hidup di abad 13-14 itu tanpa sungkan bicara soal cinta. Tentu bukan cinta sembarang cinta.

Dalam buku yang aslinya berjudul Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin ini Ibnu Qayyim mampu memotret realitas yang ada di masyarakat dalam kaitannya dengan cinta. Di dalamnya dibahas tuntas hal ihwal ‘cinta’,  termasuk hukum-hukumnya, kaitan-kaitannya, kebenarannya, kerusakannya, penyakitnya, keburukannya,  sebab-sebabnya, penghalangnya, berbagai  tafsir tentangnya, hadis-hadis Nabi, masalah-masalah fiqih, atsar salaf, serta syair dan berbagai fenomena alam. Namun ia tetap menempatkan agama sebagai batas dalam hubungan antara manusia lain jenis itu.

Inti buku ini adalah sebuah pengajaran tentang nilai-nilai cinta yang yang agung, yang suci, yang ada dalam setiap jiwa manusia. Dan karena sifatnya yang agung dan suci itulah, maka sudah semestinya ‘cinta’  dijauhkan dari syahwat yang terlarang, yang hanya akan merusak keagungan  dan kesucian cinta itu sendiri.

Maka ia menawarkan konsep nikah sebagai jalan keluar dari kepungan syahwat terhadap cinta, serta sabar bagi  yang belum mampu menikah. Sebuah tawaran syar’i seperti yang diajarkan Rasulullah SAW.

Melalui buku ini, Ibnu Qayyim menawarkan  konsep cinta ilahiyah, cinta yang berjalan di atas hukum-hukum Tuhan, bukan cinta rendahan kaum hedonis yang mencuri kata cinta guna menutupi syahwat binatang mereka. Sebuah buku yang, seperti ditegaskan oleh Ibnu Qayyim sendiri, perlu dibaca oleh siapa saja. ika

Judul buku: Taman Para Pecinta
Penulis: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
Penerbit: Khatulistiwa Press
Cetakan: I, 2009
Tebal: xii+503 hlm

06
Sep
09

Dialog Jumat : Menahan Diri dari Menggunjing

REPUBLIKA, Jumat, 04 September 2009 pukul 01:30:00

TahanDiriMenggunjing

TUNTUNAN

Bergunjing dikhawatirkan dapat memutus silaturahim antar sahabat.

Menggunjing seolah telah menjadi sesuatu yang lumrah di sebagian masyarakat. Hampir dalam setiap kesempatan, bergunjing mengenai orang lain, amatlah disukai. Bahkan, terasa kurang seru sebuah obrolan bila tanpa dibumbui tema yang satu ini.

Belum lagi di layar kaca, juga marak acara berformat gosip atau ngerumpi, sebutan lain dari menggunjing. Tayangan semacam itu justru sangat populer. Akhirnya, aktivitas tersebut tumbuh seperti tren, di kota maupun di desa.

Sejatinya, Islam menaruh perhatian besar pada masalah ini. Bergunjing, dalam bahasa Arab adalah ghibah, merupakan salah satu perbuatan yang dilarang. Allah SWT mengibaratkannya sebagai sesuatu yang kotor, seperti tertera dalam Alquran surat al Hujurat ayat 12.

Adapun ghibah, mengutip dari situs wikipedia, berarti menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seseorang yang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik mengenai jasmaninya, agama, kekayaannya, hatinya, akhlaknya, bentuk lahiriahnya dan lainnya.

Caranya bisa bermacam-macam. Antara lain membeberkan aib, meniru tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang digunjingkan dengan maksud mengolok-oloknya.

Oleh karena itu, ungkap Dr Muhammad Ali al Hasyimi dalam bukunya The Ideal Muslim, seorang Muslim sejati tidaklah menyebarkan gosip yang penuh kebencian. Sebab dia mengetahui jika melakukan perbuatan itu akan menempatkannya pada kelompok orang-orang jahat.

”Bergunjing dikhawatirkan dapat menimbulkan kesulitan pada diri orang lain dan memutus tali silaturahim di antara sahabat,” paparnya.

Dalam pandangan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, menggunjing hukumnya haram dan termasuk dosa besar. Baik aib yang digunjingkan itu benar-benar ada pada diri seseorang maupun tidak ada.

Ketentuan tersebut berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW ketika beliau ditanya tentang menggunjing. ”Engkau membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang dibencinya”.

Lebih lanjut Nabi SAW menjelaskan, jika yang dibicarakan memang terdapat pada orang tersebut, maka hal itu termasuk menggunjing (ghibah), dan jika yang digunjingkan itu tidaklah benar, maka yang membicarakannya telah berdusta.

Memerangi pergunjingan

Nabi kemudian menegaskan, siapa yang suka bergosip penuh kebencian, suka mencari-cari kesalahan orang lain, maka dirinya akan dijauhkan dari pintu surga.

Sebaliknya, seperti disampaikan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Munajjid dalam kitab Muharramat Istahana Bihan Naas, wajib bagi orang yang hadir dalam pembicaraan yang sedang menggunjingkan orang lain, untuk mencegah kemungkaran dan membela saudaranya yang digunjingkan.

Ini sesuai anjuran Nabi. ”Barangsiapa yang melindungi kehormatan saudaranya dari fitnah, maka akan menjadi haknya bahwa Allah akan melindunginya dari api neraka.” (HR Ahmad)

Dr Muhammad Ali menambahkan, seorang Muslim hendaknya dapat memerangi pergunjingan di manapun berada. Dengan begitu, ia akan melindungi saudara Muslimnya dari orang yang bergosip atasnya.

”Selain itu, dia juga menolak hal-hal buruk yang orang lain katakan,” paparnya lagi.

Hal ini diperkuat oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali. Menurutnya,  seperti halnya diharamkan ber-ghibah, diharamkan juga mendengarkan dan mendiamkan perbuatan itu.

”Wajib hukumnya membantah orang yang melakukannya,” demikian Syaikh Salim dalam kitab Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah (Ensiklopedi Larangan menurut Alquran dan Sunnah). yus




Blog Stats

  • 2,210,678 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 121 other followers