Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



26
Jul
09

Wisata Sejarah : Napak Tilas Jalur Kereta Api Tertua

Napak Tilas Jalur Kereta Api Tertua

Inilah tampang peron Stasiun Samarang. Perhatikan besi melingkar d kiri atas. Kondisi sekarang, peron sudah jadi petak-petak rumah warga. Besi lengkung yang di sisi dalan sudah tidak ada, yang tersisa hanya beberapa besi di sisi luar
Jumat, 24 Juli 2009 | 12:32 WIB

KOMPAS.com — Menelusuri jejak sejarah sebuah kota tentu tak akan lepas dari keberadaan alat transportasi kota itu sendiri. Keberadaan jalur kereta api, misalnya. Di Jawa, jalur kereta api mulai dibangun oleh Nederlandsche-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) atau Maskapai KA Hindia Belanda pada 1864. Keberadaan jalur kereta api di Jawa menjadikan Indonesia sebagai negeri tertua kedua di Asia, setelah India, dalam soal jalur kereta api. Lokasi stasiun pertama di Nusantara memang masih diperdebatkan, antara Samarang dan Kemidjen. Keduanya di Semarang, Jawa Tengah.

Deddy Herlambang dari Indonesian Railway Preservation Society (IRPS)—komunitas pencinta kereta api—menegaskan, setelah melalui penelitian, ditemukan bahwa Samarang adalah stasiun tertua di Indonesia yang menghubungkan Semarang-Tanggung (Samarang-Tangoeng).

Kondisi Stasiun Samarang, yang diresmikan pada 10 Agustus 1867 di area bernama Spoorland atau Tambaksari ini, tak ubahnya kampung padat penduduk. Mbah Lan (81) adalah salah satu saksi sejarah perjalanan bekas stasiun pertama ini. “Ini sudah ndak dipakai sejak 1914. Saya ke sini tahun 1948 sudah jadi rumah-rumah pegawai kereta api,” ujarnya.

Yang menakjubkan, menjelajah kampung Spoorland ini, kita akan melihat rangka bangunan yang masih begitu gagah. Meski beberapa bagian sudah dibongkar, tapi kayu jati asli bentang kuda-kuda 8 meter tanpa sambungan, besi penyangga selasar juga masih asli, dan penampang masuknya udara dan sinar di tembok bagian atas masih terlihat. Kemudian, di antara rumah ini pula, terdeteksi bekas peron. Tampak jelas bangunan ini mengalami penurunan. “Kawasan ini tenggelam 2-3 meter,” ungkap Deddy.

Penemuan Stasiun Samarang di awal 2009 oleh IRPS ini tentu masih diperdebatkan pihak PT KA. Namun, IRPS tak sembarang memutuskan, mereka bergerak secara ilmiah dengan pendanaan swadaya. Dalam penelusuran tersebut, IRPS beberapa kali menyambangi kawasan Kemijen dan Tambaksari sekaligus menyusur para tetua mantan karyawan kereta api. Namun, hasilnya nihil. Asumsi mereka, jika bangunan telah dibongkar atau tenggelam, fondasinya tentu masih ada.

“Akhirnya kami nemu peta kuno, ada koordinatnya. Terus kami analisis pakai (peta) Google. Soalnya, kondisinya kan beda, dari peta kuno dan existing. Kami bawa GPS ke lokasi, kami temukan di kawasan Spoorland. Untuk mengetahui di mana letak bekas stasiun itu, untungnya ada Mbah Lan yang bisa menunjukkan bangunan yang sudah dibuat petak-petak untuk hunian penduduk,” ujar Deddy.

Meski Mbah Lan yang kini berusia sekitar 81 tahun tak tahu-menahu perihal keberadaan Stasiun Samarang sebagai stasiun pertama di Indonesia, IRPS langsung menetapkan bangunan yang kini dihuni warga itu adalah bekas stasiun dari tahun 1867. “Bentuknya memang sudah tidak terlihat, tapi dari foto-foto lama yang kami cari, stasiun ini terlihat megah,” tambah Deddy.

Selain itu, lokasi stasiun ini memang tak jauh dari Pelabuhan Tanjung Emas. Belanda membangun jalur kereta api dan stasiun tak lain juga sebagai alat transportasi pengiriman barang dari dan ke pelabuhan.

Maka, informasi yang menyatakan bahwa Stasiun Kemidjen adalah stasiun pertama di Indonesia bisa dikatakan tak lagi berlaku. Meski besar kemungkinan pihak PT KA belum mengakui, dari pengalaman Warta Kota berkutat mencari referensi tentang stasiun pertama di Indonesia, Stasiun Kemidjen, tak ditemukan. Hampir semua buku, dalam referensi Belanda maupun Inggris, menyebutkan bahwa Stasiun Samarang sebagai stasiun yang menghubungkan Samarang-Tangoeng (Semarang-Tanggung) yang mulai beroperasi pada 10 Agustus 1867. Nama Stasiun Kemidjen sulit ditemukan.

Jika memang temuan IRPS ini masih meragukan di mata penguasa atau pihak lain yang terkait dengan keberdaan jalur kereta api, tentu ada baiknya penelitian lebih mendalam segera digelar. Dengan begitu, warga tak lagi dibikin bingung antara Samarang dan Kemidjen.

Batavia Noord
Setelah bicara soal Samarang, lantas bagaimana dengan Batavia? Kapan dan di mana stasiun pertama di Batavia? Dalam beberapa referensi tertulis, NIS membangun Batavia Noord (Batavia Utara), jalur kereta api pertama yang melayani jalur Klein Boom dari sekitaran Sunda Kelapa-Gambir (Koningsplein), pada 1871.

Jalur Batavia-Buitenzorg (Bogor) dimulai 1873. Lokasi Batavia Noord ada di belakang Museum Sejarah Jakarta (MSJ) kini. Tentu, sudah tak berbekas. Nama Beos berasal dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (Maskapai KA Batavia Timur). Namun, ada pula yang mengaitkan Beos dengan Batavia En Omstreken (Batavia dan sekitarnya).

Batavia Zuid (Batavia Selatan) muncul tak lama kemudian, masih oleh NIS, sebelum akhirnya dijual kepada perusahaan kereta api negara atau Staatssporwegen (SS) pada periode akhir abad ke-19. Jalur Batavia-Buitenzorg menyusul kemudian dibeli SS. Stasiun Batavia Zuid ini kemudian dibangun kembali pada tahun 1926 oleh FJL Ghijsels menjadi Stasiun Jakarta Kota, seperti yang sekarang ini ada.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

26
Jul
09

Wisata Sejarah : Plesir ke Makam Pembesar Tionghoa di Batavia

Plesir ke Makam Pembesar Tionghoa di Batavia
Makam kapitan China pertama di Batavia, Souw Beng Kong, di sebuah gang sempit di kawasan Mangga Dua, Jakarta setelah dipugar
Rabu, 24 Juni 2009 | 11:42 WIB

USIA Jakarta merangkak terus, Senin (22/6) tepat 482 tahun usia Jakarta. Artinya, kita sudah harus mempersiapkan HUT ke-483. Demikian selanjutnya hingga mencapai angka lima abad.  Rancangan apa yang sudah terpikir oleh pemerintah pusat dan Pemprov DKI untuk Jakarta di usia setengah milenium, tak perlu dipusingkan. Sebab barangkali mereka tak punya program yang jelas dan pasti bahkan untuk jangka lima tahun ke depan. Pasalnya, seringkali bukan program yang mereka bikin tapi proyek yang dijadikan program.

Bagi pembaca yang sedang berencana membuat jadwal liburan bagi putra/putri, keponakan, adik, atau diri sendiri, barangkali menggali dan memahami peran besar orang Tionghoa dalam membangun Batavia bisa jadi alternatif yang tak sekadar mengisi liburan. Kenyataan membuktikan keberadaan Batavia tak bisa lepas dari peranan orang Tionghoa. Sebut saja Souw Beng Kong, Khouw Kim An, Phoa Beng Gan, Nie Ho Kong. Mereka adalah pembesar Tionghoa yang punya andil besar di Batavia.

Komunitas Sahabat Museum akan menggelar acara Plesiran Tempo Doeloe yang kali ini mengangkat tema “Aandeel Orang Tionghoa Bangoen Batavia” pada Minggu 28 Juni 2009. Menurut Ketua Komunitas Sahabat Museum Ade Purnama, kegiatan ini digelar dalam rangka HUT Jakarta untuk mengingatkan bahwa Jakarta tak bisa melupakan andil orang Tionghoa dalam pembangunan Batavia hingga Jakarta sekarang ini.

Souw Beng Kong tiba di Banten pada 1604. Ketika Beng Kong kemudian berjaya di Banten, kemasyurannya terdengar hingga telinga Jan Pieterszoon Coen yang menaklukkan Jayakarta pada 1619 dan mulai membangun kota baru bernama Batavia. Coen perlu orang untuk membangun Batavia, maka Beng Kong pun diminta membawa warga Tionghoa dari Banten ke Batavia. Maka kemudian Beng Kong pun mendapat gelar kapiten karena dinilai berjasa oleh Coen.

Makam kapiten pertama Tionghoa di Batavia ini beruntung segera bisa ditemukan di kawasan padat penduduk. Lokasi makam ada di antara permukiman padat di kawasan Mangga Dua, bernama gang Taruna di Jalan Pangeran Jayakarta. Makam itu berasal dari tahun 1644, saat Beng Kong wafat. Di tahun 1929, Mayor Tionghoa Khow Kim An – pemilik Gedung Candra Naya – memugar makam Beng Kong. Khow Kim An juga yang menambahkan dua nisan, berbahasa Belanda dan China.

Beruntung kemudian makam ini ditemukan lagi dan dikonservasi di bawah pantauan Wastu Zhong. Kini makam itu sudah diusulkan jadi benda cagar budaya dan akan dikembangkan menjadi Taman Wisata Sejarah Kota Tua Batavia.

Bicara soal Khouw Kim An akan mengingatkan kita pada sebuah bangunan Tionghoa yang terkurung bangunan modern di Jalan Gajah Mada. Betul sekali, Candra Naya. Meski bangunan utama, di bawah bangunan modern itu, sudah diperbaiki namun belum juga difungsikan. Sementara itu, bangunan di sisi kiri dan kanan belum juga dikembalikan. Beberapa waktu lalu Naniek Widayati Priyomarsono, dosen arsitektur Universitas Tarumanegara, yang ikut menangani konservasi Candra Naya mengatakan, rekonstruksi paviliun kiri dan kanan masih kesulitan mencari kontraktor yang ahli konservasi.

Candra Naya adalah bagian yang tersisa dari tiga gedung besar di Jalan Gajah Mada (Molenvliet West) berarsitektur Tionghoa kuno. Bekas gedung Tiong Hoa Siang Hwee (Kamar Dagang Tionghoa) kini dijadikan gedung SMUN 2; bekas gedung Kedutaan Besar China yang kini telah rata dengan tanah; dan Candra Naya (Sin Ming Hui).

Gedung ini didirikan pada 1807 oleh Khouw Tian Sek (Khouw Teng Sek) dan dilanjutkan putranya, Khouw Tjeng Tjoan, pada 1867. Dari  Khouw Tjeng Tjoan, bangunan ini diwariskan kepada putranya, Khouw Kim An, yang belakangan menjadi Majoor der Chineezen (1910-1918 dan 1927-1942). Makamnya juga termasuk dalam rangkaian yang akan dikunjungi.

Dalam acara plesiran itu, Ade menyebutkan, empat nara sumber akan ikut untuk memberi penjelasan di tiap tempat yang akan didatangi.  Mereka adalah Wastu Zhong, konservator makam Souw Beng Kong; Mona Lohanda, penulis buku Kapitan China di Batavia yang juga memahami sejarah keberadaan orang Tionghoa di Batavia; Naniek Widayati penulis buku Rumah Mayor China yang juga terlibat langsung dalam konservasi Candra Naya; serta Lilie Suratminto yang mafhum benar tentang perjalanan VOC.

Untuk ikut dalam wisata sejarah ini peserta dipungut biaya Rp 150.000/orang. “Kami akan menggunakan bus AC Big Bird, dari pukul 08.00 sampai sekitar pukul 17.00. Kami mulai kumpul di Parkir Timur Senayan pukul 07.00,” katanya. Untuk mendaftar, lanjut Ade, calon peserta tinggal mendaftar ke adep@cbn.net.id.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

26
Jul
09

Wisata Sejarah : PT KA dan PemKot Solo Hidupkan Wisata Sejarah

PT KA dan Pemkot Solo Hidupkan Wisata Sejarah

Stasiun Kerata Api Purwosari, Solo. Pemkot Solo akan mengembangkan wisata kereta api dan jalur Purwosari- Solo sepanjang sekitar 6 km akan dilayani kereta uap.
Rabu, 8 Juli 2009 | 17:28 WIB

KOMPAS.com — Menjelang HUT ke-64 Kereta Api pada 28 September, Kantor Pusat Pelestarian Benda dan Aset PT KA merencanakan peluncuran wisata kereta api, kerja sama antara PT KA dan Taman Wisata Candi pada 22 September. Selain peluncuran program wisata, PT KA juga merencanakan konservasi pada aset berupa bangunan serta kawasan. Semua ini dalam rangka program “Save Our Heritage”.

Wisata kereta api memanfaatkan kereta Yogya-Solo, Prameks (Prambanan Ekspres), yang melewati beberapa stasiun tua hingga mendekati kompleks Candi Prambanan. Wisata ini memang menyasar pengguna kereta api dari luar Yogyakarta, yang turun di Stasiun Tugu. Stasiun yang oleh Statspoorweg (SS) diresmikan penggunaannya pada 1886 dan kini berada di jantung kota Yogyakarta, Malioboro.

Kereta api bertarif Rp 7.000 ini, dari Stasiun Tugu, melewati beberapa stasiun, seperti Lempuyangan dan Brambanan, yang diresmikan bersamaan dengan peresmian kereta api di Buitenzorg (Bogor) di tahun 1873 oleh Nederlands Indische Spoorweg (NIS) Maatschappij.

Stasiun Brambanan yang hancur akibat gempa di tahun 2006 kemudian dibangun kembali, tetapi tak beroperasi. Namun, September nanti, stasiun kembali beroperasi. “Wisatawan yang akan ke Candi Prambanan turun di Brambanan. Di sana bus PT Taman Wisata Candi sudah menunggu,” ujar Kepala Kantor Pusat Pelestarian Benda dan Aset PT KA Ella Ubaidi, yang juga diamini Kadaop VI Yogyakarta Rustam Harahap, di Stasiun Tugu, Yogyakarta, “Naik Prameks lebih cepat daripada naik mobil.”

Soal rencana konservasi aset PT KA di Yogya, Rustam Harahap menegaskan, bangunan tua dan kawasannya diharapkan bisa segera dikonservasi sehingga bisa digunakan untuk pengembangan ekonomi. Program ini bekerja sama dengan Laretna Adishakti, penggagas Jogja Heritage Society, dan Deddy Herlambang dari Indonesian Railway Preservation Society (IRPS).

Upaya tersebut juga akan disinambungkan dengan rencana wisata kereta Purwosari-Solo sepanjang sekitar 6 km menggunakan kereta uap. Pemerintah Kota Solo sudah merencanakan ini setidaknya setahun lalu. Upaya itu tentu untuk menggiatkan dunia pariwisata dan mewujudkan Solo sebagai kota pusaka. Kota ini masih memiliki jalur kereta api aktif di tengah kota, di jalan Slamet Riyadi. Tiap pagi dan sore ada kereta api uap yang melintas persis di depan Rumah Dinas Wali Kota Solo.

Bersama PT KA, perwujudan Solo masa lampau ini diharapkan akan segera terjadi. PT KA akan meminjamkan lokomotif milik mereka yang kini ada di Ambarawa. Dalam pertemuan dengan PT KA, khususnya Daop VI DI Yogyakarta dan Kantor Pusat Pelestarian Benda dan Aset PT KA awal pekan ini, Joko Widodo atau Jokowi menyatakan, “Jalur kereta uap ini untuk meningkatkan industri kreatif Solo. Kami bisa menghubungkan dengan batik kami di Kampung Laweyan, Loji Gandrung, keraton, dan lain-lain. Jadi saya berharap bisa segera jalan.”

Jalur kereta api di tengah kota itu kini selalu dilewati kereta api feeder yang melintas setiap pukul 08.00 pagi dan 16.00 sore. Biasanya mengangkut penumpang, dari Stasiun Purwosari ke Wonogiri dan sebaliknya, dalam dua gerbong saja. Keberadaan jalur kereta di tengah kota ini sungguh menjadi penampilan yang menakjubkan bagi warga Jakarta yang sudah memendam dalam-dalam jalur bekas trem mereka.

Rumah dinas wali kota pun begitu unik, sebuah bangunan kolonial yang masih utuh yang di masa Belanda dijadikan sebagai kediaman pejabat Belanda dan biasa digunakan sebagai tempat pesta dansa bangsa Eropa dan bangsawan Jawa. Nama Loji Gandrung itu bisa diartikan sebagai “gedung/bangunan cinta”.

Kesungguhan Wali Kota Solo ini nampaknya patut dicontoh. Sebagai pemimpin kota pusaka yang masuk dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), Joko Widodo barangkali bisa disejajarkan dengan Wali Kota Sawahlunto Amran Noor yang juga sudah berbuat, bertindak, dan tak hanya berencana, bicara, berteori. Akankah Pemerintah Kota Jakarta Utara dan Barat mampu memberi hal yang sudah ditampilkan kota pusaka lain yang bukan ibu kota? Kita tunggu saja.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

26
Jul
09

Ketua MK : Tanpa Tanda Tangan Kubu Yang Kalah, Tetap Sah

Hasil Pilpres

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Moh. Mahfud MD.
Sabtu, 25 Juli 2009 | 17:24 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Lukas Adi Prasetya

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menegaskan bahwa hasil perolehan suara Pilpres 2009 yang diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) tetap sah, walau tak disetujui dan tak ditandatangani kubu yang kalah, yakni Jusuf Kalla-Wiranto dan Megawati Prabowo.

“Tugas KPU hanya mengumumkan dan KPU sudah menjalankannya. Hasil itu tetap sah, bahkan jika pihak yang menang pun tak mau tanda tangan,” ujar Mahfud seusai menjadi dewan penguji disertasi program doktor di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Sabtu (25/7) sore.

“Sampai hari ini, belum ada keberatan tertulis dari dua kubu itu yang disampaikan ke MK. Waktunya kan 3 x 24 jam. Jadi, ya kita tunggu saja. Dari sisi MK, kami sudah membentuk tim satuan tugas untuk menghadapi tuntutan mereka,” katanya.

Terhadap keberatan dari kubu yang kalah dalam pilpres, menurut Mahfud, adalah hal yang wajar. Namun, ia mengingatkan bahwa apa yang terjadi di pentas politik negeri ini, berikut perilaku elite politiknya, disaksikan oleh masyarakat.

Sementara itu, menyikapi putusan MA yang membatalkan tata cara penghitungan kursi anggota legislatif tahap II yang dilakukan KPU, MK tidak akan mencampuri. “Wilayah MA dan MK berbeda,” ucapnya.

Menyinggung kemungkinan penggunaan kartu tanda penduduk (KTP) dalam pilpres mendatang, Mahfud tidak bisa memastikan. “Itu nanti saja. Sekarang, yang perlu dibenahi kan bahwa DPT harus cermat. Kalau DPT beres, kan tak perlu dipakai KTP seperti pilpres kemarin,” katanya.

26
Jul
09

PilPres 2009 : Yudhoyono Presiden Terpilih

Hasil Resmi Pilpres 2009
Yudhoyono Presiden Terpilih

Susilo Bambang Yudhoyono & Jusuf Kalla (Yahoo! News/AP Photo/Dita Alangkara)GATRA, Jakarta, 25 Juli 2009 15:52
Susilo Bambang Yudhoyono kembali terpilih sebagai presiden RI periode 2009-2014 bersama pasangannya, Boediono, sebagai wakil presiden RI.

Penetapan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI periode lima tahun mendatang itu diputuskan dalam Rapat Pleno Terbuka Komisi Pemilihan Umum (KPU) Tentang Penetapan Hasil Rekapitulasi Penghitungan Suara Pilpres 2009, di Jakarta, Sabtu (25/7).

Hadir dalam acara itu Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary beserta jajarannya, pimpinan dan anggota Bawaslu, dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono (SBY-Boediono) dan Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win), serta sejumlah anggota tim kampanye.

Pasangan Megawati Soekarnoputri- Prabowo Subianto (Mega-Pro) tidak hadir dan diwakili koordinator tim hukum mereka, Gayus Lumbuun.

Hasil rekapitulasi penghitungan suara KPU menunjukkan pasangan SBY-Boediono meraih suara tertinggi dengan 73.874.562 suara atau 60,80%, diikuti Mega-Pro dengan 32.548.105 suara atau 26,79%, dan pasangan JK-Win dengan 15.081.814 suara atau 12,41%.

Perolehan suara itu berasal dari 121.504.481 suara sah dari 176.367.056 pemilih yang terdaftar. Jumlah itu termasuk pemilih dengan menggunakan kartu tanda penduduk sebanyak 382.393 orang. Sementara pemilih yang tidak menggunakan haknya mencapai 49.212.158 orang atau 27,77%.

SBY-Boeiono unggul di 28 provinsi dan JK-Win menang di empat provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Maluku Utara. Sedangkan Mega-Pro hanya unggul di Provinsi Bali.

Dengan hasil suara sekitar 60%, ditambah dengan keputusan Mahkamah Agung tentang penghitungan kursi DPR yang berujung pada penambahan kursi bagi Partai Demokrat di legislatif, diyakini kedudukan pemerintahan SBY-Boediono akan sangat kuat.

Dalam pidatonya di kediaman pribadinya di Cikeas, Yudhoyono menyampaikan terimakasih kepada rakyat Indonesia yang telah menunjukkan kematangan berpolitik, serta seluruh pihak terkait seperti Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilu beserta jajarannya.

Dalam pidato yang dihadiri pasangannya, calon wakil presiden Boediono dan seluruh pimpinan partai politik pendukungnya, Yudhoyono menyampaikan terimakasih pula karena seluruh rangkaian Pemilu 2009 dapat berjalan demokratis, aman, dan tertib. “Saya menyampaikan pula terimakasih kepada Kepolisian Republik Indonesia yang telah bekerja dengan baik mengawal pelaksanaan pemilu (pemilihan umum) 2009, hingga dapat berjalan aman, dan tertib,” katanya.

Yudhoyono menilai, pemilu 2009 dibandingkan pemilu di Indonesia beberapa tahun silam adalah pemilu yang demokratis.

“Dalam pemilu 2009, sistem perundang-undangan memberikan peluang untuk pihak-pihak yang tidak puas untuk melakukan protes atau pengaduannya. Saya berharap protes dan aduan itu disampaikan secara terhormat, menjunjung nilai demokratis dan sesuai koridor hukum, kepada pihak-pihak yang berwenang,” paparnya.

Yudhoyono mengemukakan, seperti pasangan kandidat presiden dan kandidat wakil presiden lainnya, pihaknya juga menemukan beberapa pelanggaran yang terjadi selama pemilihan presiden 2009. dan telah menyalurkannya kepada pihak terkait seperti KPU dan Bawaslu, untuk ditindaklanjuti dan pihak lain untuk dijadikan masukan, bahan evaluasi agar tidak terulang lagi pada pemilu mendatang.

Pihaknya juga memberikan masukan kepada parlemen tentang kemungkinan perubahan pada sistem perundangan agar pelaksanaan pemilu mendatang lebih demokratis. “Karena itu, saya mengajak semua pihak untuk menuntaskan seluruh rangkaian Pemilu 2009, sehingga benar-benar dapat mewujudkan harapan seluruh rakyat Indonesia, untuk menjadi lebih baik. [EL, Ant]

__._,_.___
26
Jul
09

PilPres 2009 : Kemenangan SBY Diuji

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono berbincang dengan capres Jusuf Kalla sebelum acara penetapan hasil rekapitulasi suara Pemilu Presiden 2009 di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta, Sabtu (25/7). Dalam rapat yang tidak dihadiri pasangan Megawati-Prabowo itu, KPU menetapkan pasangan SBY-Boediono mendapat 73.874.562 suara, pasangan Megawati-Prabowo 32.548.105 suara, dan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto 15.081.814 suara.

Kemenangan SBY Diuji

Minggu, 26 Juli 2009 | 03:04 WIB

Jakarta, Kompas – Keputusan Komisi Pemilihan Umum yang menetapkan pasangan calon presiden dan wakil presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono sebagai pengumpul suara terbanyak masih harus diuji.

Kedua pasang capres-cawapres yang menolak menandatangani hasil rekapitulasi penghitungan suara pemilu presiden sudah bersiap mengajukan gugatan sengketa hasil pemilu ke Mahkamah Konstitusi.

Penetapan hasil rekapitulasi penghitungan suara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 yang dilakukan KPU, Sabtu (25/7), di kantor KPU, Jakarta, menempatkan Yudhoyono-Boediono sebagai pasangan capres-cawapres dengan perolehan suara terbesar, yaitu 73.874.562 suara atau 60,80 persen. Pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto mendapat 32.548.105 suara (26,79 persen) dan pasangan M Jusuf Kalla-Wiranto memperoleh 15.081.814 suara (12,41 persen).

Rapat pleno KPU penetapan dan pengumuman hasil rekapitulasi pilpres itu hanya dihadiri pasangan Yudhoyono-Boediono dan Kalla-Wiranto. Sementara pasangan Megawati-Prabowo tak hadir dan hanya diwakili tim kampanye.

Dalam keputusan KPU yang dibacakan Sekretaris Jenderal KPU Suripto Bambang Setyadi, keputusan tentang hasil pilpres masih dapat diubah setelah mendapat keputusan dari MK.

Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary mengatakan, pasangan capres-cawapres yang hendak mengajukan gugatan hasil penghitungan suara ke MK memiliki waktu 3 x 24 jam sejak putusan tersebut ditetapkan KPU.

Ditolak

Saat KPU hendak menyerahkan salinan keputusan penetapan hasil pilpres, Koordinator Advokasi Tim Kampanye Megawati-Prabowo, Gayus Lumbuun, menolaknya karena penyelenggaraan pemilu dinilai tidak sesuai dengan undang-undang. ”Selasa (28/7) akan kami serahkan gugatan ke MK,” katanya.

Wakil Ketua Tim Kampanye Kalla-Wiranto, Burhanuddin Napitupulu, juga mengatakan, tim JK-Win akan mengajukan gugatan serupa ke MK. Meski datang dalam acara penetapan hasil pilpres dan menerima salinan keputusan, tim mereka menolak menandatangani berita acara rekapitulasi penghitungan suara pilpres Kamis lalu.

Menanggapi penolakan tim Megawati-Prabowo untuk menerima salinan putusan itu, Hafiz mengaku menghormati sikap mereka karena itu adalah hak mereka. Namun, KPU telah menjalankan kewajibannya. KPU akan mengirimkan salinan putusan itu ke tim kampanye Megawati-Prabowo langsung.

Hafiz kembali menegaskan, penolakan yang dilakukan dua pasang capres-cawapres atas hasil rekapitulasi pilpres tidak akan mengurangi legalitas hasil pilpres.

KPU dinilai gagal

Ketua Badan Pengawas Pemilu Nur Hidayat Sardini menilai KPU gagal mengelola pemilih dan pendaftaran pemilih pilpres. KPU dinilai tak memiliki standar pokok politik dalam pemutakhiran daftar pemilih tetap (DPT) pilpres dan mengubah-ubah jadwal pemutakhiran dan penetapan DPT. Akibatnya, KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota tidak optimal dalam memutakhirkan DPT dan terdapat beberapa versi DPT.

Anggota Bawaslu, Bambang Eka Cahya Widada, menambahkan, Bawaslu menghargai setiap upaya untuk mengakomodasi suara rakyat. Namun, cara itu harus dilakukan dengan landasan hukum yang jelas.

Perubahan DPT pada 6 Juli dan berubah lagi sesuai kondisi riil saat pemungutan suara dinilai tak memiliki payung hukum apa pun. KPU menyalahartikan makna rekomendasi Panitia Pengawas Pemilu dalam Pasal 31 dan 32 UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pilpres. Rekomendasi pengubahan DPT itu hanya dapat dilakukan dalam proses pemutakhiran, bukan setelah DPT sebenarnya ditetapkan.

Lengkapi gugatan

Wakil Presiden yang juga capres Muhammad Jusuf Kalla menegaskan, kehadirannya bersama Wiranto saat penetapan rekapitulasi perolehan suara hasil pilpres bukan untuk mengesahkan rekapitulasi.

Selain untuk menghormati proses demokrasi, kehadirannya juga untuk melengkapi persyaratan bagi dasar gugatan ke MK. ”Kami bukan mengesahkan. Kami hargai demokrasi. Kalau saya dan Pak Wiranto tidak datang, bagaimana saya bisa mengambil salinan putusan KPU sebagai dasar gugatan ke MK? Apa yang akan menjadi dasar saya menggugat persoalan pilpres kemarin?” ujar Kalla saat berbincang- bincang dengan pers di kediaman dinasnya, Sabtu siang.

Menurut Kalla, sikapnya tak berubah. ”Sikap kami tetap dengan tidak menandatangani berita acara rekapitulasi hasil pilpres kemarin. Ini pembelajaran demokrasi bagi kita di masa datang apabila ingin melaksanakan pemilu atau pilpres kembali.”

Kalla juga mengatakan bahwa kedatangannya untuk menjaga tali silaturahim. ”Saya harus menjaga tali silaturahim. Karena saya bersama Presiden selalu bertemu jika menjalankan pemerintahan,” katanya.

Juru bicara Tim kampanye JK-Win, Yuddy Chrisnandi, berharap dengan berbagai bukti yang akan diajukan pasangan JK-Win dan Mega-Prabowo, MK akan mengambil keputusan yang berbeda dan terbaik bagi bangsa.

”Bukti yang paling kuat adalah pelanggaran bersifat masif daftar pemilih tetap ganda yang kami temukan saat penyisiran di KPU. Angkanya itu 20 juta jiwa yang tidak diperbaiki oleh KPU sampai dengan pelaksanaan pilpres 8 Juli lalu,” ujarnya.

SBY akui kekurangan

Mewakili SBY-Boediono bersama seluruh tim kampanye, Susilo Bambang Yudhoyono memahami dan dapat menerima adanya kekurangan dan kecurangan pemilu (voting irregularities). Kekurangan dan kecurangan itu bukan khas Indonesia yang perlu dikoreksi dan diselesaikan lewat mekanisme demokrasi yang telah disepakati.

”Yang namanya irregularities dalam election tidak selalu kecurangan, tetapi bagaimanapun harus dikoreksi dan diselesaikan secara baik,” ujar Yudhoyono didampingi Boediono dan anggota tim suksesnya di pendapa Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Sabtu.

Yudhoyono dapat menerima kekurangan Pilpres 2009 setelah mempelajari pemilu di AS, India, dan Brasil yang kompleksitas, jumlah pemilih, dan sebaran geografinya mirip dengan Indonesia. ”Irregularities itu tidak khas Indonesia,” ujarnya.

Namun, karena semangat untuk makin memperbaiki sistem, aturan, dan mengurangi penyimpangan dan pelanggaran yang menjadikannya juga sebagai korban, SBY-Boediono bersama tim akan menyampaikan aduan, masukan, dan rekomendasi kepada pihak-pihak terkait.

”Atas nama tim SBY-Boediono, saya mengajak semua pihak untuk terus mengawal dan menuntaskan proses Pemilu 2009 agar semuanya berlangsung baik dan kemudian bangsa ini bersatu kembali untuk melanjutkan pembangunan lima tahun mendatang,” ujarnya.

Yudhoyono menilai, dibandingkan dengan pemilu sebelumnya dan pemilu di banyak negara, Pemilu 2009 pada hakikatnya berjalan secara damai dan demokratis. Untuk pihak-pihak yang tidak menerima, Yudhoyono mempersilakan mengajukan protes dan aduan.

Secara terpisah, Ketua Bidang Politik Partai Demokrat Anas Urbaningrum menyatakan, hasil Pilpres 2009 mesti disikapi secara demokratis, dewasa, dan sportif. Keberanian untuk berkompetisi dan mengejar kemenangan perlu dikawinkan dengan kemampuan menerima kekalahan dengan legowo.

Anas mengatakan, ”Bukan dengan defisit sportivitas. Kalah menang adalah konsekuensi dari keberanian berkompetisi.”

Menurut Anas, penerimaan ataupun penolakan atas hasil pilpres merupakan hak setiap pasangan calon. Selemah apa pun alasannya dan seganjil apa pun dalihnya, termasuk menolak berkas hasil rekapitulasi KPU, tim kampanye pasangan SBY-Boediono maupun Partai Demokrat tetap menghormatinya.

(MZW/DIK/HAR/INU)

26
Jul
09

Wisata Sejarah : Yogya-Solo dengan Prameks

Wisata Sejarah Yogya-Solo dengan Prameks

Kereta Prameks (Prambanan Ekspres) yang melayani rute Jogyakarta – Solo. Kereta bertarif Rp 7.000 ini melewati beberapa stasiun tua hingga mendekati kompleks Candi Prambanan.
Kamis, 9 Juli 2009 | 12:12 WIB

KOMPAS.com — Kereta Rel Diesel (KRD) Prambanan Ekspres (Prameks) perlahan masuk Stasiun Tugu. Dari sini, kereta api ini melanjutkan perjalanan hingga Stasiun Solo Balapan. Dengan kecepatan rata-rata sekitar 100 km/jam, kereta komuter ini jadi kebanggaan warga kedua kota yang bersebelahan ini. Dengan tiket Rp 7.000, perjalanan Yogya-Solo (dan sebaliknya), yang jika ditempuh dengan kendaraan roda empat menghabiskan waktu sekitar 2 jam, hanya perlu sekitar 45 menit.

Duduk di ruang masinis membuat pemandangan lebih luas. Meninggalkan Stasiun Tugu, tak lama kereta masuk ke Stasiun Lempuyangan. Stasiun tua yang dari sisi ukuran terbilang kecil ini kini sudah dibenahi. Usia stasiun ini sedikit lebih tua dari Stasiun Tugu. Stasiun Lempuyangan diresmikan 2 Maret 1872 dan menjadi awal keberadaan kereta api di Yogyakarta. Sekitar 14 tahun kemudian, barulah Stasiun Tugu hadir.

Kereta api Prameks beroperasi sepuluh kali pergi-pulang dan berhenti di stasiun-stasiun berikut: Stasiun Wates, Lempuyangan, Klaten, Purwosari, Solo Balapan, dan Solo Jebres. Semula KA Prameks Solo-Yogya PP (sudah ada sejak 1994) menggunakan KA Senja Utama Solo. Kereta api ini hanya beroperasi dua kali sehari.

Lama-kelamaan, warga merasa sangat memerlukan kereta komuter ini dengan jadwal yang lebih banyak. Akhirnya, menggunakan kereta rel diesel, kereta komuter ini memenuhi jadwal lima kali PP setiap hari. Rangkaian sepuh itu akhirnya harus diganti dengan rangkaian yang lebih baru, maka pada 2006 rangkaian Prameks diperbarui dengan menggunakan kereta rel diesel eletrik (KRDE). Jadwal keberangkatan pun menjadi tujuh kali PP dan kemudian 10 kali PP. Itu belum jadwal ke jurusan lain di luar Solo, seperti ke Kutoarjo.

Dari salah satu blog penggemar kereta kuno, disebutkan, kereta komuter Solo-Yogyakarta PP sebetulnya sudah ada sejak tahun 1960-an hingga 1970-an. Kereta itu bernama Kuda Putih. Kondisinya seperti si Bon Bon, yang sudah dikonservasi dan dipamerkan di Stasiun Tanjungpriok, sebelum tersentuh “paramedik.”

Kembali ke Prameks di masa kini, perjalanan Stasiun Tugu-Solo Balapan menawarkan pemandangan yang berbeda dengan pemandangan di jalur KRL Bogor-Jakarta. Pegunungan, hamparan sawah, menganga di depan mata. Ijo royo royo. Sepanjang jalur kereta ini pun kondisinya relatif bersih, enak dipandang. Kereta ini melewati beberapa stasiun, baik stasiun baru, maupun lama. Dengan kereta api inilah, rencana wisata sejarah Yogyakarta kerja sama antara PT KA dan PT Taman Wisata Candi, digelar mulai September mendatang.

Jika kini kereta ini tak berhenti di Stasiun Brambanan, maka begitu wisata sejarah dimulai, kereta ini akan kembali berhenti di stasiun tua yang hancur akibat gempa 2006. Stasiun ini kini sudah dibangun kembali, tetapi belum beroperasi. Dari sini, calon pengunjung Candi Prambanan akan diangkut bus menuju lokasi.

Selain pemandangan pegunungan, sawah, Candi Boko, dekat Candi Prambanan, penumpang juga bisa menyaksikan bagaimana perkebunan tembakau di Srowot, Klaten, ditutup dengan semacam kain putih sebagai pengaman. Barangkali yang nantinya harus dipikirkan adalah pemandu dwibahasa. Pemandu ini harus bisa menjelaskan kepada penumpang, yang memang tujuannya berwisata, tentang kisah apa saja yang ada di sepanjang jalur yang dilewati.

Tentu, itu termasuk menceritakan kisah stasiun yang dilalui dan sejarah serta kekayaan kawasan yang dilewati, seperti misalnya, Manajer Operasi Daerah Operasi VI Yogyakarta Sutrisno, yang bisa menceritakan, tembakau dari Srowot selama ini melanglang buana hingga ke Eropa dan Amerika, tetapi tak mampir ke perusahaan rokok di Indonesia. Tak terasa, stasiun tujuan, Solo Balapan, sudah di depan mata. Perjalanan pendek ini harus diakhiri di stasiun yang dibangun oleh Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij pada 1873, tertua setelah Stasiun Semarang, Tawang.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

26
Jul
09

Wisata Kuliner : Goyang Lidah ala Es Goyang dan Serabi Betawi

Goyang Lidah ala Es Goyang dan Serabi Betawi
Kamis, 16 Juli 2009 | 12:28 WIB

SIAPA tak ingat es goyang? Siapa tak kangen kepada es unik ini? Ya, es goyang -atau ada pula yang menyebutnya sebagai es lilin- memang bikin kangen. Disebut es lilin karena bentuknya panjang menyerupai lilin, meski sebetulnya es ini berbentuk batangan. Disebut es goyang karena proses pembuatannya memang harus digoyang-goyang.

Sayang, es zaman lampau ini sekarang tak mudah ditemukan. Jenis es ini kalah oleh serbuan es krim modern yang tak hanya memenuhi pasar swalayan, tapi juga meramaikan jalan di perumahan hingga pasar malam di lapangan besar semacam Monas.

Jika di masa lalu pedagang es goyang hanya menyediakan satu atau dua rasa. Kini pedagang menawarkan beberapa rasa plus lelehan cokelat. Ada juga pedagang yang menambah topping berupa remukan kacang tanah goreng.

Kini pembeli bisa memilih rasa cokelat, stroberi, durian, nangka, kacang hitam, kacang hijau, atau lainnya. Tentu bahan utama tetaplah santan yang kemudian dicampur dengan berbagai macam rasa tadi. Ukuran es ini pun berubah. Jika dulu bentuk es ini kotak memanjang, kini bentuknya agak sedikit mirip es krim modern. Bedanya tentu saja bahan, rasa, proses pembuatan, proses penjualan, dan pemasarannya.

Pemasaran es goyang rata-rata masih menggunakan cara kuno, yakni dari mulut ke mulut, karena penjual es ini jarang yang mangkal. Kalaupun mangkal, bisa ditebak, cari saja di sekolah-sekolah. Contohnya, pedagang es goyang yang mangkal di Sekolah Theresia, Menteng, Jakarta Pusat. Pedagang lain juga kebanyakan mangkal di sekolah-sekolah, pada jam sekolah. Selepas itu mereka akan berkeliling.

Sebatang es goyang bisa ditukar dengan uang Rp 1.500. Tak puas sebatang, wajar. Di lidah, rasa itu bikin penasaran. Apalagi jika sebelum membeli, konsumen melihat proses pembuatannya. Makin penasaran.

Adalah M Junaedi yang biasa berdagang es goyang di daerah Jembatan Besi, Jakarta Barat. Perjalanan panjang dilaluinya sejak tahun 1974, saat ia memulai usaha ini. Setiap hari, pukul 07.00-12.00, gerobaknya parkir di depan Sekolah Setia Kawan, Jembatan Besi. ”Abis itu keliling,” ujar Junaedi.

Serabi betawi
Penganan zaman lampau lainnya adalah serabi. Kebalikan dari es yang dingin, penganan ringan ini lebih enak disajikan panas-panas. Serabi bisa disebut camilan, tapi bisa juga disebut sebagai makanan untuk sarapan.

Makanan ini terbuat dari tepung beras campur santan, dibakar pada tempat yang terbuat dari tanah liat, berbentuk menyerupai penggorengan namun dalam ukuran yang jauh lebih kecil, dan lebih afdol jika menggunakan arang. Setelah matang, dimakan dengan kuah gula jawa bercampur santan.

Kini ada begitu banyak jenis serabi. Tetapi serabi yang kita singgung di sini adalah serabi tradisional yang kini sungguh sulit ditemukan di Jakarta. Kata orang, serabi jenis ini merupakan serabi ala Cirebon. Biasanya, makanan ini dijual pagi hari dan tanpa diberi topping apa pun.

Warta Kota beberapa kali menunggu pedagang serabi tradisional ini di kawasan Tanah Abang. Tepatnya di Jalan Kebon Jati. Hasilnya nihil. Akhirnya Warta Kota memutuskan menengok ke Kramatjati. Persis di depan pagar RS Sukanto, pernah ada pedagang yang dimaksud. Pedagang serabi yang masih menggunakan arang. Sayangnya, kini pedagang itu memilih pulang kampung. Sebagai pengganti, ada Tomi, pedagang serabi di kawasan itu juga. Hanya saja posisinya ada sebelum RS. Meski menggunakan wajan mungil dari  tanah liat untuk membakar serabi, ia menggunakan kompor, bukan arang.

Jenis serabi yang dijual pun beragam. Mengikuti selera. Ada yang diberi pisang, cokelat, bahkan oncom. Harga satu pasang serabi Rp 3.000. ”Tapi ini serabi ala betawi, gulanya encer, enggak seperti serabi jawa yang gulanya agak kental,” tegas Tomi yang berdagang serabi tiap hari. Tekstur kue serabi ini cukup padat. Campuran santannya memang tak terlalu kental, tapi kuah gula santannya pas.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

26
Jul
09

Wisata Kuliner : Melepas Rindu di Warung Nasi Kapau

Melepas Rindu di Warung Nasi Kapau
Rabu, 22 Juli 2009 | 13:57 WIB

Sepotong Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, setiap kali Ramadan berubah bak pasar malam. Sudah puluhan tahun pinggiran jalan yang tak jauh dari perempatan menuju Kampung Melayu, Senen, Kwitang, dan Cempaka Putih itu memberi warna tersendiri di situ. Meski sebetulnya sejak siang kawasan itu ramai, tapi menjelang petang keriuhan bertambah. Sinar lampu berjajar di sepotong jalan itu, seperti memanggil-manggil orang yang kebetulan lewat. Mereka yang rindu kampung halaman atau sekadar teringat cita rasa salah satu makanan khas Padang pun rela menghentikan langkah.

Keberadaan sederet warung nasi kapau di pinggir jalan yang hanya sepelemparan batu dari bioskop tua Grand itu bisa jadi biasa saja bagi orang yang setiap hari lalu lalang di sana. Tapi tidak demikian bagi mereka yang punya ikatan batin dengan menu-menu yang tersedia di situ. Di luar Ramadan, deretan warung itu siap menerima pengunjung 24 jam setiap hari. Selama Ramadan, warung-warung itu rata-rata baru buka pukul 14.00 hingga sahur menjelang.

Suasana malam rasanya lebih pas untuk warung-warung di tempat tersebut. Pasalnya, selain kesibukan di siang hari yang makin mereda, sinar lampu yang muncrat dari kedai-kedai itu pun menyedot perhatian orang. Orang jadi lebih ngeh dengan keberadaan mereka ketika sore mulai beranjak pergi.

Adalah Hj Nasir, istri Nasir, yang sudah mulai berdagang di sana sejak tahun 1970-an. Warungnya yang bernama Nasi Kapau Sabana Bana ada di antara deretan warung yang ada. Sudah jadi kebiasaan pula, selama Ramadan, tempat itu menambah riuh jalan ketika tiba waktu berbuka dan sahur.

Berbagai penganan buka puasa juga tersedia. Lebih spesial lagi karena kudapan yang ada di tempat itu semua khas Ranah Minang. Sebut saja bubur kampiun, lemang tapai, atau es tebak (es campur khas Minang). Bubur kampiun adalah campuran kolak pisang, bubur sumsum, candil, ketan putih, dan sarikaya telur, yang kemudian diguyur gula merah cair.

Sarikaya telur yang dimaksud adalah adonan telur bebek, ayam, gula aren, santan, dan pandan. Beraroma campuran manis dan wangi, tentu saja menggoda untuk dicicipi. Lemang tapai tak lain adalah ketan yang diberi santan kemudian dibakar selama dua jam. Uniknya ketan ini dimasukkan ke dalam bambu. Dimakan bersama tape ketan hitam. Sementara es tebak adalah es campur dengan isi utama tebak, semacam cendol yang terbuat dari beras. Tebak berwarna putih dan lebih panjang dan tebal serta tidak lembek.

Menurut Hj Nasir, ada cerita di balik nama bubur ‘kampiun’. “Dulu penjual bubur ini di pacuan kuda, Bukitinggi. Iklannya kira-kira bunyinya: kalau makan bubur ini jadi juara, kampiun, gitu,” katanya. Jadilah nama kampiun melekat hingga sekarang.

Banyak menu
Selain tiga makanan khas tadi, di warung itu digelar lebih dari 20 menu khas Minang. Bebek cabai hijau, telur ikan, dendeng basah cabai hijau, gulai kepala kakap, rendang sambal hijau, adalah sedikit dari menu khas yang siap menggenapi kerinduan Anda pada kampung halaman. Soal rasa, semua pantas dicoba. Tapi andalan di warung ini, ya, yang disebut di awal tadi, yakni bebek cabai hijau, dendeng basah cabai hijau, sup tulang iga, dan telur ikan.

“Di sini juga ada ikan bilis, ikan air tawar. Belum tentu di restoran-restoran besar ada,” ujar M Ali, putra Hj Nasir. Ikan bilis itu kecil-kecil kemudian digoreng kering atau diberi sambal. Semua itu bisa dibeli tanpa menguras kocek. Dengan Rp 8.000-Rp 20.000 bisa kenyang dan puas. Harga yang dibayar terutama tergantung lauk yang dimakan.

Di sana juga dijual rendang merah, rendang yang tidak dimasak terlalu lama. Rendang model ini agak jarang ditemukan karena kebanyakan rendang dimasak hingga berwarna gelap.

Meski warung-warung di kawasan itu ‘hanya’ warung tenda, pembeli tak perlu takut tak kebagian tempat, sebab tempatnya cukup luas. Kursi panjang dipasang berjajar menemani meja panjang. Calon pembeli juga bebas memilih warung mana yang akan didatangi di sepotong jalan itu, sebab tiap warung punya menu khasnya sendiri.

Tapi, menurut Hj Nasir, soal nama Nasi Kapau Sabana Bana, punya arti tersendiri. Maksudnya? “Ini yang sebenar-benarnya. Sabana bana itu sebenar-benarnya. Kita memang yang pertama jual nasi kapau di sini,” tandasnya. Pembeli yang ingin membawa pulang lauk juga banyak. Biasanya untuk sahur. Tapi untuk makan besar setelah buka puasa juga tak sedikit.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

26
Jul
09

Wisata Kuliner : Pecel Madiun Tak Berpincuk di Cikini

Pecel Madiun Tak Berpincuk di Cikini

Warta Kota/Pradaningrum‘);” border=”0″ height=”52″ hspace=”2″ width=”70″>Warta Kota/Pradaningrum‘);” border=”0″ height=”52″ hspace=”2″ width=”70″>

Pecel Madiun
Kamis, 23 Juli 2009 | 13:57 WIB

KOMPAS.com — Menyusuri Jalan Gondangdia Lama yang kemudian berganti nama menjadi Jalan RP Soeroso, bahkan hingga ke lorong di bawah jalur kereta api, Jalan Cikini IV, mata akan disuguhi berjenis kedai makan di kiri dan kanan jalan. Dari sekian banyak warung, hanya segelintir yang melegenda. Ironisnya, ketika warga Jabodetabek sedang keranjingan icip-icip makanan, khususnya makanan di kedai-kedai lawas, Art and Curio, warung makanan khas Eropa, tutup beberapa tahun lalu. Si pemilik warung menjual tempat itu.

Peminat dan penikmat makanan ala Eropa, seperti steak kuno milik Art and Curio, pasti kecewa. Namun, barangkali kekecewaan itu bisa dialihkan ke makanan tradisional lain yang bertebaran di sekitar kawasan itu. Seperti misalnya, warung yang lebih mirip rumah, persis di samping warung mi legendaris, Mi Gondangdia. Pada pagar halaman terpancang dua penanda dalam ukuran yang terbilang mungil, Sate Ponorogo dan Pecel Madiun.

Jangan salah masuk ke sisi kiri. Pilihlah pintu masuk ke dalam rumah. Masuk ke warung ini memang bagaikan bertamu ke rumah seseorang. Pasalnya, warung ini memang semula rumah kediaman, dan masih berbentuk rumah, yang kemudian berubah fungsi menjadi warung. Suasana Jawa cukup terasa dengan hiasan beberapa wayang di dinding tembok.

Seperti yang tertulis pada penanda di pagar luar, menu andalan di sini memang pecel madiun dan sate ponorogo. Tapi masih ada satu andalan lagi, rawon. Tiga menu inilah yang paling sering diserbu pengunjung. Warung ini buka sejak pukul 08.00 hingga 17.00, Senin-Sabtu, dan memang menyasar pekerja kantoran. Seusai makan siang, sekitar pukul 14.00, biasanya lauk-lauk itu sudah ludes. Yang tersisa menu lain, seperti sop, empal, tahu, dan tempe bacem.

Beruntung, Warta Kota masih bisa mencoba ketiga menu andalan itu. Plus jus stroberi yang terasa begitu jujur, segar, manis tak terlalu manis, dan asam tak terlalu asam. Pecel madiun datang tak berpincuk. Pecel ini dihidangkan dalam piring yang dilapisi daun pisang. Nasi yang tak terlalu penuh disandingkan dengan dedaunan, seperti daun pepaya, daun singkong, taoge, kemangi, kenikir, irisan timun, kecipir berlumur bumbu kacang. Tak lupa peyek kacang. Buat mereka yang tak terlalu doyan pedas, jangan lupa pesan bumbu sedang. Jika tidak, perut Anda bisa langsung panas dan nafsu makan pun lenyap.

“Aslinya pecel Madiun itu pedes, memang. Tapi kan enggak semua bisa makan pedes, jadi kami bikin yang sedang. Biasanya juga ada jeroan, goreng-gorengan, tapi kami enggak mau pakai itu. Kami pengen yang sehat aja, jadi daun-daunan aja,” ujar Irna HN Hadi Soewito, si pemilik. Menurut dia, jika sedang musim, pete cina dan kembang turi pun ditambahkan dalam pecel.

Satu piring pecel madiun yang dibanderol Rp 15.000 lumayan penuh mengisi perut. Jika isi kantong memungkinkan, bisa ditambah seporsi sate ponorogo. Daging ayam yang digunakan untuk sate ini harus ayam kampung. Kenapa? Supaya rasanya empuk dan tak banyak lemak seperti kebanyakan daging ayam negeri. “Cara motongnya juga beda. Jadi ayam harus digantung, diiris-irisnya ya sambil digantung itu. Makanya daging sate bentuknya agak gepeng,” ungkap Irna.

Seporsi sate ponorogo, Rp 20.000, bisa pilih daging saja atau campur (dengan ati ampela dan kulit). Bumbu kacangnya sangat halus. Yang pasti, dagingnya tak bercampur gombyor lemak.

Ada cerita di balik rawon yang dijual di sini. Rawon di sini begitu kental. Menurut Irna, ketika awal membuka warung pada tahun 2000, garasi diubah menjadi warung dengan hanya tiga meja. Menu hanya pecel madiun. “Karena dulu rumah itu dikontrakkan, terus habis masa kontraknya. Suami saya bilang, sayang kalau enggak digunakan. Akhirnya dari tiga meja, kami bikin banyak meja di dalam rumah. Bongkar-bongkar sedikit. Menunya juga kami tambah, ada rawon dan sate ponorogo,” lanjutnya, pada awal dagang itu ada satu pelanggan yang tiap pagi pasti pesan makanan di tempat itu.

“Ketika kami tanya, siapa orangnya, ternyata Ibu Hartini Soekarno (almarhum). Terus saya komunikasi lewat surat yang saya titipkan pada saat Ibu Har pesan makanan. Saya minta dikritik kalau ada yang kurang. Kemudian, beliau kritik soal rawon. Katanya kurang mantap. Terus saya dikasih resep. Jadi itu resep Bu Har,” papar Ibu empat putra ini.

Irna menjelaskan, rawon di Jawa Timur ada dua macam, bening dan yang tidak bening. Namun, karena mengetahui keluak (pucung) sebagai bahan utama rawon ternyata banyak diekspor ke luar negeri, dia bertanya-tanya kenapa. “Ternyata dalam keluak ada kandungan yang digunakan sebagai obat hepatitis B. Lantas karena saya ingin makanan yang saya jual itu menyehatkan, ya, saya biar aja rawon di tempat saya dibikin sangat kental. Kan sekalian untuk obat,” begitu imbuhnya.

Menulis sambil jualan
Istri Hadi Soewito ini ternyata bukan penggemar masak memasak di dapur. Namun, jangan tanya kalau soal “memasak” buku. Sudah 30-an buku diracik. Mantan wartawati majalah Sarinah ini memang lebih getol menulis buku, khususnya sejarah. “Saya itu enggak pintar masak. Senangnya nulis. Saya bikin buku tentang peristiwa Ikada,” ujar jebolan Fakultas Sejarah dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI) ini.

Selain menulis buku, Irna HN Hadi Soewito juga sempat mengajar di Fakultas Sastra UI. “Saya jual pecel sambil nulis,” kata nenek 11 cucu ini.

Keponakannyalah yang seharusnya bertanggung jawab pada soal masak memasak dan menjual masakannya. Tapi karena kemudian si keponakan sakit, maka mau tak mau Irna harus mengambil alih. Meski tak doyan memasak, saraf perasanya kuat dan mampu merasakan apa yang kurang pada masakan yang dicecap. Kemudian sang mertua di Ponorogo pun mewariskan resep agar bumbu pecel menjadi sedap dan tak asam.

Ke Muntilan pun dia jalani demi menemukan ulekan dan lesung dari kayu dan batu. Komunikasi dengan pelanggan selalu dilakukan demi menjaga mutu dan rasa masakan. “Jadi bisa dibilang makanan ini semua selera pelanggan. Semua bahan juga harus benar-benar segar setiap hari,” begitu mantan penyiar Universitaria di RRI Yogyakarta, tahun 1958 ini menegaskan.

Saking getolnya menulis, perempuan yang awalnya dipanggil Hani karena nama aslinya Irna Hani Nastuti ini sempat jatuh sakit karena kurang makan. “Soalnya saya kalau sedang menulis lupa makan. Semua juga heran, kamu itu punya rumah makan tapi kok kurang makan,” lanjutnya, soal nama Hani, karena terdengar terlalu Belanda, maka nama panggilannya pun berubah menjadi Irna.

Yang selalu pasti, Irna selalu bakal bersemangat jika diajak bicara soal sejarah. Khususnya sejarah yang sudah banyak dilupakan atau diselewengkan. Monggo… Asal jangan sampai pecel madiun ala mertua, sate ponorogo, dan rawon Bu Har kemudian bernasib seperti resto kuno dengan menu kuno yang akhirnya mengalah pada zaman.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto




Blog Stats

  • 2,097,830 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 113 other followers