Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



05
Sep
09

Hikmah : Menuju Kepemimpinan Diri

REPUBLIKA, Kamis, 03 September 2009 pukul 00:29:00

Kepemimpinan Diri

Oleh Achmad Fauzi

Tidak semua manusia memiliki jabatan atau menyandang status sebagai pemimpin. Namun, di sisi Allah SWT, setiap manusia tetaplah seorang pemimpin yang diamanahkan untuk mengelola potensi diri, sumber daya, waktu, dan hidupnya.
Allah SWT bahkan telah mengangkat manusia sebagai khalifah di bumi. Pentingnya kesadaran ini, disabdakan Rasulullah SAW, ”Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”

Kesadaran akan eksistensi diri dan kesadaran akan siapa dirinya yang sebenarnya, akan membantu dalam proses identifikasi dan pembentukan jati diri. Ini pada akhirnya akan berpengaruh pada pembentukan karakter dan kepribadian, juga pada pola manajemen diri dan kehidupan.

Mereka yang meyadari bahwa dirinya pemimpin, maka dalam pengelolaan dan penetapan tujuan hidup senantiasa dicanangkan dengan target dan keluhuran jiwa pemimpin. Prinsip yang dibangun, keyakinan yang terpatri, jalan hidup, akan dipola dan dirancang bagai seorang pemimpin yang sedang membangun kesuksesan.

Harga diri dan kepercayaan dirinya akan dibentuk semulia dan sekuat karakter pemimpin. Parameter hidupnya akan diukur dengan kepribadian dan pola kehidupan seorang pemimpin. Hasilnya, tata nilai, kualitas, dan prestasi dari waktu, amalan, pekerjaan, serta hidupnya, akan lebih tinggi dan mulia daripada yang tidak menyadarinya sebagai pemimpin.

Penyadaran akan ini telah digelorakan para sahabat dan ulama salaf. Imam Syafii dalam syairnya mengungkapkan, ”Cita-citaku adalah cita-cita seorang raja (pemimpin). Jiwaku adalah jiwa merdeka yang sangat benci terhadap kehinaan.”
Umar bin Khatab pun, memohon dalam doanya, ”Ya Allah, jadikanlah kami termasuk para pemimpin yang bertakwa.”

Bila kesadaran ini terbentuk, manusia akan membina diri agar kapasitas dan kapabalitasnya memenuhi spesifikasi seorang pemimpin. Mereka akan memenuhinya dengan kesadaran, pemahaman, dan keseriusan yang kuat, mendidik dan membekali diri dengan wahyu Ilahi, ilmu yang luas dan jasad yang kuat.

Proses kepemimpinan pada diri terlihat dari pengarahan, pengelolaan, dan pengendalian potensi dan sumber daya yang dimiliki. Bila didayagunakan untuk menaati Allah SWT, itulah jiwa pemimpin sejati, karena sukses mempertanggungjawabkan amanah kepercayaan itu.

Namun, bila diserahkan pada syahwat, setan, dan orientasi dunia, dirinya telah menjadi budak. Karena bukan dirinya yang mengendalikan, tapi ada pihak lain yang mengendalikan. ”Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (QS Annahl [16]: 100).

05
Sep
09

Hikmah : Puasa dan Pengawasan Tuhan

REPUBLIKA, Jumat, 04 September 2009 pukul 01:45:00

Puasa dan Tuhan

Oleh A Ilyas Ismail

Ibadah puasa dimaksudkan, antara lain, untuk menumbuhkan kesadaran ketuhanan, yaitu kesadaran bahwa Allah SWT hadir, melihat, dan menyaksikan semua prilaku kita. Kesadaran inilah yang membuat seseorang malu dan tak mau berbuat dosa.
”Seorang tidak mungkin mencuri atau melakukan kejahatan, sedangkan ia beriman kepada Allah dalam arti menyadari kehadiran dan pengawasan-Nya.” (HR Muslim).

Pengawasan Tuhan ini bersifat absolut; lahir dan batin. Tak ada sesuatu kecuali di bawah kontrol dan pengawasan-Nya. Dalam Alquran, Allah SWT disebut sebagai pengawas manusia (QS an-Nisaa [4]: 1), bahkan pengawas segala perkara. ”Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.”(QS Al-Ahzab [33]: 52).

Dalam ajaran kerohanian Islam, kesadaran yang tinggi tentang adanya pengawasan Allah SWT itu dinamai muraqabah. Muraqabah dimaknai sebagai kemampuan memusatkan pikiran dan perhatian menuju Allah SWT semata. Kedudukan muraqabah menjadi penting, karena tanpa muraqabah, derajat takwa yang menjadi tujuan akhir puasa tidak mungkin bisa dicapai.

Imam Qusyairi, dalam bukunya yang termasyhur, Risalah al-Qusyairiyah, menuturkan, tiga keutamaan dari kesadaran adanya pengawasan Tuhan (muraqabah) itu.

Pertama, muraqabah mendorong manusia melakukan evaluasi dan introspeksi diri (mahasabat al-nafs). Kata Qusyairi, orang yang menyadari Allah SWT mengawasi laku perbuatannya, ia pasti akan menghitung-hitung dan mengkalkulasi kebaikan dan terutama keburukan serta dosa-dosanya.

Kedua, muraqabah meningkatkan rasa takut kepada Allah SWT (makhafat Allah). Nabi Yusuf selamat dari godaan Zulaikha, karena kesadaran (muraqabah) ini. ”Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan dosa) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andai kata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. (QS Yusuf [12]: 24).

Ketiga, sebagai kelanjutan logis dari dua keutamaan terdahulu, muraqabah, kata Qusyairi, dapat mendorong manusia meningkatkan amal kebaikan (shalih al-a’mal). Sufi lain al-Sarraj, pengarang kitab al-Luma’, menambahkan satu keutamaan lain dari muraqabah, yaitu perasaan dekat dengaan Allah SWT (hal al-qurb).

Perasaan dekat ini akan mempertebal pengharapan atau optimisme (al-raja’), dan selanjutnya optimisme memperbesar peluang terkabulnya doa. Inilah makna firman Allah SWT, ”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS Albaqarah [2]: 186).

05
Sep
09

Hikmah : Musibah Pelebur Dosa

REPUBLIKA, Sabtu, 05 September 2009 pukul 01:43:00

Musibah Pelebur Dosa

Oleh Nurjannah Suharjo

Dalam sebuah hadis disebutkan, kelak pada hari kiamat akan didatangkan seorang penduduk dunia yang paling mendapatkan nikmat dari penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam neraka dengan sekali celupan.

Kemudian ditanya, ”Wahai anak keturunan Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan? Apakah kamu pernah mendapatkan kenikmatan?” Ia menjawab, ”Tidak, demi Allah, wahai Tuhanku.”

Lantas didatangkan seorang yang paling menderita di dunia dari penduduk surga, lalu ia dicelupkan ke dalam surga sekali celupan. Lantas ditanya, ”Wahai anak keturunan Adam, pernahkah kamu melihat penderitaan? Pernahkah kamu merasakan kesengsaraan?”

Ia pun menjawab, ”Tidak demi Allah, wahai Tuhanku. Tidak pernah aku mengalami penderitaan dan tidak pernah melihat kesengsaraan.” (HR Muslim).

Secara kasat mata, ada segolongan manusia yang menderita secara fisik karena baru saja ditimpa bencana serta kehilangan harta benda yang dimiliki. Tapi, bagi manusia beriman, cobaan fisik seperti itu tak membuatnya sakit berkepanjangan.
Musibah yang menimpa tidak menjadikannya berputus asa dari karunia-Nya. Ujian yang diterima justru dijawab dengan tetap beribadah kepada-Nya, bahkan semakin mendekatkan diri kepada-Nya.

Dengan sikap tawakal dan sabar, insya Allah, dia tak akan merasakan sakitnya musibah ketika hidup di dunia, karena Allah SWT menggantinya dengan kenikmatan tiada tara. Sebagai balasan atas keimanannya kepada Yang Mahakuasa, dia akan tetap dapat bertahan di tengah cobaan hidup yang bertubi-tubi.

Kadar iman dan takwa mendorongnya untuk mengatakan kepada Sang Pencipta, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, ”Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” (QS Albaqarah [2]: 156).

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menyebutkan, orang-orang beriman ketika tertimpa musibah dan cobaan, akan berusaha mengobati sendiri. Caranya, pertama, menyadari sepenuhnya dunia adalah tempatnya ujian, petaka, dan musibah.

Kedua, melihat sekelilingnya bahwa masih banyak musibah lain yang jauh lebih besar dari musibah yang menimpa orang lain. Ketiga, menyerahkan kepada Allah SWT seraya mengharap pahala atas musibah yang menimpanya, serta meminta ganti yang lebih baik hanya kepada-Nya.

Keempat, meyakini bahwa cobaan dan musibah sebagai pelebur dari dosa-dosanya yang telah lalu. Rasululah SAW bersabda, ”Senantiasa cobaan menimpa laki-laki dan perempuan yang beriman pada tubuhnya, harta, dan anaknya, sehingga ia berjumpa dengan Allah SWT dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).

05
Sep
09

Perbankan : Soal Century Tinggal Meletus [WaPres]

Wapres : Soal Century

By Republika Newsroom
Jumat, 04 September 2009 pukul 19:01:00

Wapres: Soal Century Tinggal MeletusANTARA
MASALAH CENTURY. Wapres menjawab sejumlah pertanyaan seputar kasus Bank Century di kantor wapres, Jakarta, Jumat (4/9). Menurut wapres tindakan memerintahkan kepolisian menangkap bos Bank Century Robert Tantular untuk menghindari permasalahan berkembang s
JAKARTA–Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengatakan soal bank Century tinggal tunggu meletusnya saja karena merupakan kasus pengelapan uang. “Ini penggelapan (uang). Ini sebenarnya tinggal menunggu meletus,” kata Wapres M Jusuf Kalla usai sholat Jumat di Jakarta, Jumat.

Sebelumnya wartawan menanyakan soal kasus bank Century, namun Wapres terus menghindar. Menurut Wapres pihaknya tidak mau mengkomentari hal tersebut. Namun ketika ditanyakan pembicaraannya saat menerima PBNU, Wapres menjelaskan bahwa kasus bank Century sebenarnya kasus pidana murni. Yakni adanya pengelapan uang nasabah oleh pemilik bank.

“Sebenarnya, ini bisa terjadi kapan saja,” kata Wapres. Wapres juga membantah jika perintah penangkapan Robert Tantular yang diberikannya kepada Kapolri dinilai sebagai bentuk intervensi.”Apa yang salah. Saya pemerintah. Memerintah Kapolri itu bagian dari tugas pemerintah,” kata Wapres.

Sebelumnya kepada pengurus PBNU Wapres menilai kasus bank Century akan panjang dan melebar kemana-mana.
“Wapres tadi bilang kasus bank Century kalau dibuka akan panjang dan melebar kemana-mana,” kata Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Agil Sirajd usai bertemu Wapres M Jusuf Kalla.

Namun ketika ditanyakan apa yang dimaksud dengan akan panjang dan melebar-kemana, Said mengaku Wapres tidak meneruskan dan tidak memberikan penjelasan.”Wah apa itu (melebar kemana-mana) saya tak tahu. Wapres juga tidak menjelaskan Keheranan kita, hari gini masih ada kasus seperti itu,” kata Said Agil.

Said menjelaskan dalam pertemuan dengan Wapres tersebut, PBNU mempertanyakan soal kasus bank Century. Menurut Said Agil, Wapres memberikan penjelasan mengenai masalah tersebut.”Wapres mengatakan sejak awal mengenai bank Century beliau tak mau ada ‘bailout’, karena ini perampokan,” kata Said Agil.

Karena itu tambah Said, Wapres akan tetap pada pendiriannya tidak akan menyetujui adanya ‘bailout’ untuk bank Century.”NU akan terus merespon dan mendorong siapa saja yang ingin mengungkap kebenaran dalam kasus bank Century. Bahasanya amar ma’ruf nahi mungkar,” kata Said Agil.

Said mengatakan dalam pertemuan tersebut Wapres menilai PBNU masih memiliki kepedulian terhadap bangsa karena mempertanyakan masalah bank Century.ant/kpo

Menkeu & Century

By Republika Newsroom
Sabtu, 05 September 2009 pukul 07:58:00

LONDON–Menteri Keuangan sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sektor Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan keputusan untuk menyelamatkan Bank Century pada 21 November lalu diambil ketika kondisi perbankan Indonesia dan dunia sedang mendapat tekanan berat akibat krisis ekonomi global, dan tidak bisa dinilai berdasarkan keadaan sekarang.

Dalam penjelasan kepada BBC di London, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati lebih lanjut mengatakan, berdasarkan perhitungan saat itu, penyelamatan Bank Century memakan biaya 683 milyar rupiah, sedangkan apabila bank tersebut dibiarkan mati, pemerintah harus mengeluarkan biaya lebih dari 5 triliun rupiah.

Namun ternyata hingga sekarang pemerintah lewat Lembaga Penjamin Simpanan telah mengucurkan dana sebesar 6,76 triliun rupiah bagi Bank Century. ahi

Sabtu, 05 September 2009 pukul 01:58:00

Century, Rakyat Rugi

LPS dinilai melanggar prinsip-prinsip asuransi.

JAKARTA — Ibarat bom waktu, kasus bailout Bank Century tinggal menunggu ledakan yang bisa menyebar luas. Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengatakan, bila diungkap, kasus ini bisa melebar ke mana-mana, dalam arti tidak sekadar murni masalah perbankan.

Pernyataan itu disampaikan Wapres saat menerima kunjungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Kantor Wapres, Jakarta, Jumat (4/9). NU merasa terusik dengan kasus Century yang mendapat talangan Rp 6,7 triliun oleh negara, sehingga menanyakan langsung masalah itu kepada Wapres.

”Kami terperanjat,” kata Ketua PBNU KH Said Agil Siradj, seusai bertemu Wapres. ”Wapres bilang, kalau itu diungkap akan melebar ke mana-mana.”

Said mengaku tidak tahu maksud pernyataan Wapres tersebut. Ketika diminta memperjelas perkataan melebar ke mana-mana itu, dia tidak bisa menjelaskannya. Pengurus PBNU pun dalam pertemuan itu tidak meminta penjelasan lebih lanjut dari pernyataan itu kepada Wapres.

Kedatangan PBNU ke Kantor Wapres untuk melaporkan rencana Muktamar ke-32 PBNU yang akan digelar di Makassar, pada 25-31 Januari 2010. Menyikapi kasus Bank Century, Said mendukung pengungkapan kasus ini secara tuntas.
”Kebenaran harus tetap diungkap, apa pun risikonya,” ia menegaskan.

Soal komentar melebar itu, Wapres tidak mau menjelaskannya lagi. Wapres hanya meminta doa kepada pengurus NU agar kasus ini jangan merugikan rakyat. ”Tidak usahlah, nanti dikira saya macam-macam,” kilahnya. Hanya saja, Kalla mengingatkan, tanpa penanganan yang baik, kasus ini sebenarnya tinggal tunggu waktunya saja untuk meletus.

Sebelumnya, sejumlah pengamat dan anggota DPR menduga aliran dana Bank Century masuk juga untuk kegiatan politik parpol. Juga, bailout dilakukan hanya untuk melindungi sejumlah deposan besar yang menguasai Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Century.

Senyum Boediono
Wapres terpilih, Boediono, yang menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI) saat bailout dilakukan, tidak memberikan komentar ditanya masalah Bank Century ini. Ia hanya menjawab ‘baik’ ketika ditanya kabarnya seusai menunaikan shalat Jumat di Masjid BI.

Dengan pengawalan ketat, Boediono pun sekadar memberikan senyum kepada para wartawan yang sengaja menunggunya. Mantan Menko Perekonomian itu langsung memasuki mobilnya, meninggalkan tempat itu.

Di Gedung DPR, puluhan anggota dewan menandatangani sikap keprihatinan atas masalah kucuran dana talangan pemerintah untuk Bank Century. DPR menilai telah terjadi penyalahgunaan uang negara dalam kasus tersebut.
”Ini harusnya diinterpelasi bahkan angket. Namun, masa kerja DPR sekarang tinggal sebentar lagi,” kata anggota Komisi I DPR, Effendi Choirie, kemarin.

Ekonomi Indef, Iman Sugema, berpendapat, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melanggar prinsip-prinsip asuransi terkait suntikan dana Bank Century. Bahkan, kata dia, LPS bisa dikenakan pasal memperkaya orang lain, karena menggunakan uang kepada yang tak berhak.

Tugas LPS sebenarnya, papar Iman, menjamin para penyimpan yang memenuhi kategori penjaminan, yakni Rp 2 miliar ke bawah. “Kalau ini di-bailout, berarti semuanya di-bailout, kan.”

Melakukan bailout pada setiap nasabah, jelas Iman, berarti menjamin nasabah-nasabah kakap di dalamnya. “Ini yang dimaksud melanggar prinsip-prinsip asuransi.”  djo/dri/c88

ANGKA SEPUTAR CENTURY

80%
Jumlah deposan kelas kakap di Bank Century

65.000
Jumlah nasabah Bank Century
(0,1 persen total nasabah Indonesia)

Rp 750 M
Pinjaman antarbank milik Bank Century

”Ini harusnya diinterpelasi atau angket”
Effendi Choirie
Komisi I DPR

Sumber: LPS/Liputan

05
Sep
09

Wisata Sejarah : Menapaki Jejak Majapahit di Kajar, Lasem

KOMPAS/ALBERTUS HENDRIYO WIDI
Masyarakat Sejarawan Indonesia Rembang dan guru-guru Sejarah di Kabupaten Rembang mengunjungi lingga kajar di Desa Kajar, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (15/8). Lingga kajar merupakan salah satu peninggalan Majapahit ketika

Menapaki Jejak Majapahit di Kajar, Lasem

KOMPAS, Sabtu, 5 September 2009 | 03:23 WIB

Suwito (17), warga Desa Kajar, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, tidak pernah tahu secara detail kisah sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit di Gunung Kajar, Pegunungan Lasem. Paling-paling siswa sebuah sekolah negeri di Lasem itu sebatas tahu nama dan letak lokasi peninggalan-peninggalan.

”Bapak dan Ibu tidak pernah cerita. Dahulu Kakek pernah cerita waktu saya masih kecil, tetapi sekarang sudah lupa. Di sekolah pun, sejarah lokal kurang mendapat perhatian,” kata Suwito yang turut menyaksikan kegiatan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Kabupaten Rembang menyusuri jejak-jejak Majapahit di Desa Kajar, Sabtu (15/8).

Desa Kajar terletak di lereng Gunung Kajar, salah satu bagian dari Pegunungan Lasem. Dari kota tua Lasem atau jalan pantai utara Lasem, desa dengan sumber air yang melimpah itu berjarak sekitar 7 kilometer ke arah selatan.

Desa Kajar mempunyai empat peninggalan Kerajaan Majapahit. Peninggalan itu berupa batu tapak kaki Raja Majapahit yang dikenal dengan watu tapak, goa tinatah, kursi kajar, dan lingga kajar. Peninggalan itu tidak mengumpul di satu tempat, tetapi tersebar di sejumlah titik Gunung Kajar.

Kisah di balik peninggalan itu tidak terlepas dari sejarah Kadipaten Lasem pada masa Kerajaan Majapahit. Berdasarkan laporan ”Rekonstruksi Sejarah Kadipaten Lasem” garapan MSI Kabupaten Rembang, Kadipaten Lasem muncul setelah Tribuwana Wijayatunggadewi membentuk Dewan Pertimbangan Agung atau Bathara Sapta Prabu pada 1351.

Salah satu anggota Dewan Pertimbangan Agung adalah Dyah Duhitendu Dewi, adik kandung Hayam Wuruk. Setelah menikah dengan anggota Dewan Pertimbangan Agung yang lain, Rajasawardana, Dewi Indu tinggal dan menjadi penguasa di Lasem dengan gelar Putri Indu Dewi Purnamawulan, yang kemudian dikenal sebagai Bhre Lasem.

Dalam Nagarakertagama dan Tafsir Sejarahnya karya Slamet Mulyana, kisah Dewi Indu dan Rajasawardana tercatat di terjemahan Negarakertagama Pupuh V dan VI. Dalam Pupuh V Ayat 1 disebutkan, ”Adinda Baginda raja di Wilwatikta: Puteri jelita, bersemayam di Lasem Puteri jelita Daha, cantik ternama Indudewi Puteri Wijayarajasa”.

Begitu pula dalam Pupuh VI Ayat 1, ”Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana Laki tangkas rani Lasem bagai raja daerah Matahun Bergelar Rajasawardana sangat bagus lagi putus dalam naya Raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala”.

Dalam pupuh yang sama pada Ayat 3 disebutkan, ”Bhre Lasem Menurunkan puteri jelita Nagarawardani Bersemayam sebagai permaisuri pangeran di Wirabumi Rani Pajang menurunkan Bhre Mataram Sri Wikramawardana Bagaikan titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra”.

Kawruh ajaran

Sejarawan Lasem, Slamet Widjaya, mengatakan, Lasem, khususnya Desa Kajar, merupakan salah satu daerah terpenting Kerajaan Majapahit. Desa Kajar merupakan tempat memberikan pengetahuan serta ajaran agama dan moral kepada para pejabat, panglima, dan prajurit Kerajaan Majapahit.

”Kajar merupakan kependekan dari ’ka’ yang berarti kaweruh (pengetahuan) dan ’jar’ yang berarti ajaran,” kata Slamet.

Menurut dia, bukan hal yang mengherankan jika pada 1354 Hayam Wuruk berkunjung ke Lasem dan Desa Kajar. Untuk mengenang kunjungan itu sekaligus sebagai prasasti tanda daerah kekuasaan Majapahit, Bhre Lasem membuat ukiran telapak kaki Hayam Wuruk di sebuah batu andesit di lereng Gunung Kajar.

Hingga kini, ukiran telapak kaki itu masih ada dan warga Desa Kajar meyakini ukiran itu sebagai bekas telapak kaki Hayam Wuruk. Warga kerap menyebut batu telapak kaki itu sebagai watu tapak.

Peninggalan-peninggalan lain Majapahit, seperti goa tinatah, kursi kajar, dan lingga kajar, juga menunjukkan peran penting Desa Kajar selama Majapahit berkuasa. Goa tinatah merupakan dua goa yang terletak di Gunung Kajar.

Goa pertama merupakan tempat menyepi pejabat atau panglima Majapahit. Goa itu hanya muat untuk satu orang. Goa kedua merupakan tempat para prajurit yang dibawa pejabat atau panglima Majapahit itu berjaga-jaga. Goa kedua itu dapat memuat sekitar 15 orang.

Setelah menyepi selama beberapa waktu di goa tinatah, pejabat atau panglima Majapahit itu disucikan dengan air Kajar. Dia duduk di sebongkah batu yang mirip kursi. Warga kerap menyebut kursi itu sebagai kursi kajar.

Selain itu, untuk menghargai Desa Kajar sebagai tempat yang membawa kesuburan bagi daerah lain karena banyak sumber mata air, Bhre Lasem membuat lingga berhuruf palawa di dekat lingga pada zaman batu dan salah satu mata air Kajar.

”Lantaran tidak terawat, huruf palawa di lingga itu sulit dibaca lagi. Begitu pula peninggalan-peninggalan Majapahit lain, misalnya kajar kursi, juga tidak terperhatikan. Batu itu tidak lagi menyerupai kursi karena telah hancur sebagian,” kata Ketua Umum MSI Kabupaten Rembang Edi Winarno.

Pelestarian sejarah

Untuk melestarikan situs Majapahit di Desa Kajar, Lasem, MSI berupaya mengajak warga sekitar dan guru turut menjaga situs sesuai dengan peran mereka masing-masing. Sebagai langkah awal, MSI menapak tilas peninggalan-peninggalan itu bersama 100 guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Sejarah di Rembang. ”Kami berupaya memperkenalkan studi sejarah lokal berbasis realitas kepada para guru. Harapannya, mereka dapat menerapkan metode itu kepada murid-muridnya,” kata Edi.

Selain itu, lanjutnya, MSI berupaya mendokumentasikan situs sejarah Majapahit tersebut. Dokumentasi itu merupakan salah satu materi rekomendasi MSI kepada Pemerintah Kabupaten Rembang.

MSI berharap Pemkab Rembang menjadikan situs Majapahit di Lasem sebagai laboratorium sejarah. Situs itu dapat pula menjadi tempat wisata penyusuran jejak-jejak peninggalan Majapahit di Lasem.

”Selama ini, tidak banyak masyarakat yang tahu bahwa di Lasem ada peninggalan Majapahit. Pemkab pun selama ini kurang memedulikan aset sejarah dan wisata itu sehingga benda-benda di situs itu banyak yang tidak terawat,” ujarnya. (HEN)

05
Sep
09

Seni Budaya : Kroncong Bermetamorfosis Menjadi Conglung, Congdut dan Congrock

THEODORE KS
“Kroncong Protol” Bondan Prakoso dan keroncong dalam beat latin yang sudah bermetamorfosis di antara keroncong asli.

Keroncong
Bermetamorfosis Menjadi Conglung, Congdut, dan Congrock

KOMPAS, Sabtu, 5 September 2009 | 03:24 WIB

Di antara ingar-bingar repetisi perselingkuhan lagu-lagu ribuan grup industri musik belakangan ini, saya teringat ketika diminta memberikan masukan oleh panitia A Mild Live Soundrenaline tahun 2006 dan 2007. Ketika itu saya mohon diselipkan lagu atau irama keroncong di atas panggung festival musik terbesar dan yang selalu hadir sejak tahun 2002 itu. THEODORE KS

Memang belum terdengar irama keroncong di A Mild Live Soundrenaline, tapi syukurlah hadir CD dan RBT keroncong rasa hip-hop dan rock dalam ”Kroncong Protol” dari album Unity Bondan Prakoso dan Fede2Black produksi Sony-BMG (2007), yang, menurut saya, merupakan sebuah karya langka dari pemusik angkatan Funky Kopral, grup musik di mana sebelumnya Bondan Prakoso pemetik gitar bas. Dan, tahun ini muncul ”keroncong in latin beat” dalam irama cha-cha, rumba, salsa, mambo, dan bosanova.

Pakem

Bagi komunitas musik keroncong, apa yang dilakukan Bondan dan melatinkan keroncong bisa jadi dianggap nakal. Pencipta lagu keroncong asli keberatan dengan lagu-lagu keroncong disco reggae, seperti ”Dinda Bestari”, ”Telomoyo”, ”Dewi Murni”, ”Gambang Semarang”, ”Bandar Jakarta”, serta ”Jembatan Merah” yang dinyanyikan Rama Aiphama dan ”meledak” hingga 100.000 kaset awal tahun 1996. Dan Mbah Surip yang menjelang akhir hayatnya sempat populer dengan musik reggae pernah menjadi juara menyanyi keroncong bersama Bram Titaley dalam Lomba Keroncong Jabotabek Tempo Doeloe tahun 1980.

Keroncong rock (congrock) ”Bengawan Solo” yang dibawakan grup musik Gen’s 21 tahun 2007 juga dianggap keluar dari pakem. Padahal, Oslan Husein sudah membawakan ”Bengawan Solo” dengan musik rock ’n roll dan gaya menyanyi Elvis Presley tahun 1959, seperti yang dicatat Krishna Sen dan David T Hill dalam buku Media, Budaya, dan Politik di Indonesia (Victoria, Oxford University Press, 2000). Kedua profesor Universitas Murdoch, Australia, itu menyebut keroncong sebagai musik pop Indonesia pada masa itu.

Kalau dulu disebut orkes, kelompok musik sekarang menyebut dirinya grup musik keroncong, seperti Gema Nada Mahardhika yang manggung di Restoran Inggil, Malang, setiap Sabtu malam, sebagai wisata budaya keroncong, tidak hanya membawakan keroncong mainstream, tetapi juga keroncong fusion jazz sebagai umpan untuk mengail penonton muda.

Sebenarnya, keroncong tidak pernah jauh dari anak muda. Grup The Step, Rollies, C’Blues, Trenchem, dan Peels merekam sejumlah lagu berirama keroncong. Bahkan Idris Sardi dengan bangga mengisahkan bagaimana Eka Sapta berkeroncong ria di studio rekaman dan panggung pertengahan tahun 1960-an. Tentu saja saat itu Idris yang lahir pada 1938 masih muda. Koes Bersaudara dan Koes Plus menghasilkan banyak lagu keroncong baru, seperti ”Kroncong Saputangan” hingga ”Keroncong Asli” ciptaan Murry. Tonny Koeswoyo mengikuti saran ayahnya, Koeswoyo Senior, agar melestarikan keroncong.

Usaha merangkul anak muda juga pernah dilakukan Direktur TVRI Ishadi SK, MSc dengan Gema Keroncong dengan menampilkan Elfa’s Big Orchestra tahun 1992. Acara yang cukup bagus itu tetap saja menuai kritik karena dianggap memaksa mengeroncongkan lagu-lagu Barat. Dua tahun kemudian, dari Yogyakarta, Djaduk G Ferianto bersama kelompoknya, Musik Katebe (Kelompok Taman Budaya) Yogyakarta, meluncurkan lagu-lagu keroncong kreatif dalam album Model dan Ngetrend produksi PT Gema Nada Pertiwi Jakarta.

Djaduk merasa selama ini ada semacam kemandekan dalam musik keroncong yang cenderung berhenti pada bentuk-bentuknya yang klasik, yakni langgam dan stambul. Akibatnya, musik keroncong sekadar menjadi musik nostalgia. Jadi, jangan heran kalau penggemar musik ini terbatas pada kalangan orang tua.

Keroncong funky

Kemudian Djaduk kembali ke pakem, yakni menggunakan nama orkes keroncong (OK) untuk grup barunya, Sinten Reman, tahun 1999, kelanjutan dari grup keroncong Sukar Maju (1981) dan Katebe (1992). Namun, musik OK Sinten Remen tetap saja nakal khas Djaduk, dengan memberikan napas baru yang aktual dalam keusangan, segar dalam kesederhanaan. Ditambah Butet Kartaredjasa, jadilah keroncong funky plus gerr… gerr… gerr….

Kefunkyan keroncong menggejala, seperti Kornchonk Chaos. Mereka bermusik dengan alat musik keroncong, tapi tidak memainkan lagu keroncong asli, hingga diberi nama ”kornchonk” ditambah ”chaos”, maksudnya keroncong yang tampil beda. Mereka hadir tahun 2001 karena melihat banyak anak muda yang lupa budaya sendiri. Anggotanya adalah mahasiswa Institut Kesenian Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sebanyak 11 lagu karya mereka dikemas dalam sebuah album berjudul Ini Baru Musik Asick, yang memang asyik dan lirik grup keroncong indie ini juga mengundang gelak tawa pendengarnya.

ISI memang gudang prestasi musik. Tahun 2004 hadir keroncong alternatif. Grup Sri Redjeki bermain musik keroncong, tidak seperti keroncong umumnya, baik lirik maupun perlengkapan musik. Liriknya menggunakan kata-kata pelesetan yang humor hingga pelesetan porno. Alat musiknya ada tamborin dan kendang, yang membuat mahasiswa anggota grup musik ini bisa berimprovisasi.

Taman Budaya Surakarta pernah menggelar musik eksperimen Calung Pring Sedhapur, grup keroncong calung (conglung), memadukan dua cabang musik yang menggunakan instrumen musik Barat akustik, ditambah instrumen dari bambu. Dari Surabaya ada Congdut Irama Bama pimpinan Soelistiohadi yang sering muncul di layar TVRI Jawa Timur tahun 2003 hingga pertengahan tahun 2005.

Suara khas keroncong Sundari Soekotjo diiringi musik ska dalam album Breaking The Roots. Lagu ”Indonesia Raya” juga menarik dibawakan dengan iringan musik keroncong. Nyak Ina Raseuki yang dikenal luas sebagai Ubiet membentuk grup keroncong dengan anggota pemusik pop dan jazz. Sementara Komunitas Penikmat Keroncong anggotanya banyak yang masih muda. Dan ada Repoeblik Kerontjong Indonesia di Bandung yang memperingati 10 tahun grup Keroncong Merah Putih. Kemudian Mbelgedez Band yang mengeroncongkan lagu daerah, langgam, blues, hingga dangdut. Djarum Super Rendezvoices pada awal Agustus 2009 di Kaliurang menampilkan berbagai musik yang berbeda, seperti Kramat Pamekasan asal Jawa Timur yang membawakan perkusi kontemporer tradisional, Saharadja (Bali), Tataloe Perkusi (Bandung), Ki Ageng Ganjur, serta grup keroncong Congrock 17 asal Semarang yang berdiri sejak tahun 1980.

Sebenarnya, keroncong ada di mana-mana, juga populer di Malaysia, antara lain kiprah Hetty Koes Endang pada tahun 1990-an. Salah satu pengagumnya, Julie Sudiro, penyanyi kawakan Malaysia, juga ikut merekam album keroncong. Akhir tahun 2008, kelompok keroncong dari Malaysia, Yayasan Warisan Johor, ikut Festival Keroncong Internasional di Solo.

Jadi, harap waspada agar nanti kita tidak mati gaya dan langkah ketika keroncong yang bermetamorfosis di negeri jiran menjadi kupu-kupu bersayap warna-warni dan terbang ke sana-sini sebagai keroncong Malaysia.

Theodore KS Penulis Masalah Industri Musik

05
Sep
09

Bentara Budaya : Menakar Ulang Realitas Kebudayaan Bali

Bentara Budaya
Menakar Ulang Realitas Kebudayaan Bali

KOMPAS, Sabtu, 5 September 2009 | 03:24 WIB

Putu Fajar Arcana

Realitas kebudayaan Bali menunjukkan perkembangan etnosentris yang sangat kuat. Orientasi pertumbuhan itu secara sistematis didorong oleh pendesakan jargon pariwisata budaya pada tahun 1970-an. Kecenderungan ini membuat kebudayaan Bali hanya dipandang dari sisi-sisi materialistis dan membunuh kemungkinan kebudayaan sebagai wahana transformasi nilai.

Di tengah kondisi itu, kehadiran lembaga semacam Bentara Budaya Bali (Bentara Bali) diharapkan mampu memainkan peran untuk melakukan telaah-telaah yang kritis. Bentara Bali bisa melakukan presentasi-presentasi kultural secara berkesinambungan yang menawarkan perspektif alternatif terhadap kebudayaan Bali. Bentara Bali yang berlokasi di Jalan Prof DR IB Mantra, Ketewel, Gianyar, akan melakukan soft opening pada Rabu (9/9) ditandai oleh Pameran Ilustrasi Cerpen Kompas 2008 serta presentasi puluhan penari pendet dan penampilan gitaris I Wayan Balawan.

Pemikir kebudayaan asal Perancis yang menetap di Bali, Jean Couteau, Jumat, mengatakan, sangatlah berbahaya jika arah pengembangan kebudayaan yang etnosentris dibiarkan terus-menerus berlangsung. ”Orang Bali tidak menyadari bahwa mereka didikte oleh kepentingan-kepentingan global dan nasional yang sangat sistematis. Dan dalam waktu 10-20 tahun ke depan, itu sangat merugikan,” kata Jean.

Sebagai entitas kultural, tambah Jean, Bali merasa besar di dalam tempurung kebudayaan. Orang Bali tidak pernah memiliki peran penting dalam menentukan arah kebudayaannya sendiri. ”Mereka hanya menjadi komoditas dari kebijakan yang telah dirumuskan dari jauh,” kata Jean.

Dalam kacamata mantan Rektor ISI Denpasar I Wayan Dibia, sudah sejak lama orientasi kebudayaan Bali hanya untuk memenuhi kuantitas produksi. Oleh sebab itu, ajang seperti Pesta Kesenian Bali secara terus-menerus mendorong kemunculan kelompok-kelompok kesenian serta penciptaan karya-karya baru. Celakanya, ”Dorongan itu tidak diikuti oleh kesadaran pada pengembangan fungsi-fungsi ritual dan ideologis dari seni dan kebudayaan,” kata Dibia.

Kehadiran pariwisata justru menjadi paradoks tak berkesudahan. Satu sisi industri ini mendorong ”kelestarian” kesenian, pada sisi lainnya mendorong pendangkalan terhadap nilai. ”Orientasi pelaku seni pada kemegahan dan kemewahan. Mereka melupakan fungsi kebudayaan sebagai pencerah. Nilai- nilai pencerahan itu tidak mungkin ditransformasi dari kesenian yang hanya mementingkan kemegahan,” ujar Dibia.

Peran penting

Dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana yang kini sedang mengajar di School of Languages and Comparative Cultural Studies di Brisbane, Australia, Darma Putra, berpendapat, sudah sejak lama Bali dilanda kekosongan laboratorium kebudayaan. Tahun 1970-an, katanya, harus diakui sebagai era perumusan dan penerjemahan keinginan untuk membangun sendi-sendi kebudayaan Bali.

”Tetapi, setelah era itu berlalu, kebudayaan Bali tidak pernah terevaluasi. Seluruh ruang ekspresi kebudayaan sudah menua dan tidak ada upaya melakukan revitalisasi atau bahkan sekadar renovasi,” ujar Darma lewat surat elektronik.

Ia berharap kehadiran Bentara Bali bisa mengisi ruang kosong yang selama ini sangat didambakan. ”Bentara bisa menjadi ruang baru bagi aktivitas kesenian dan kebudayaan dan sekaligus memberi tawaran lain dalam cara berekspresi,” katanya.

Dalam pikiran Jean Couteau, Bali sesungguhnya beruntung karena tidak ada satu pulau atau entitas kebudayaan lain yang begitu banyak diwacanakan. Kajian-kajian antropologis, sosiologis, agama, kebudayaan, kesenian, dan bahkan kuliner di Bali sudah dilakukan pada masa kolonialisme. ”Itu sebenarnya keberuntungan. Sayangnya, sampai sekarang belum terlihat kesadaran bersama untuk mencoba cara pandang alternatif terhadap kebudayaan mereka sendiri,” ujar Jean.

Apa pun alasannya, dominasi kapital dalam wujud pariwisata, kata Darma dan Jean, harus segera memperoleh perimbangan. Dan perimbangan itu dibutuhkan sebagai cara baru untuk mengartikulasikan kebudayaan. Di dalamnya pertemuan antara tradisi sebagai akar perajut kebudayaan Bali dengan kebudayaan urban yang dibawa oleh arus globalisasi dapat bersinergi tanpa saling memusuhi. Oleh sebab itu, seni-seni kontemporer yang sejauh ini justru ”termarjinalisasi” dalam pewacanaan kebudayaan di Bali, lantaran cara pandang yang keliru, mendapatkan tempat semestinya.

Di situlah Bentara Bali bekerja. Ia bekerja dalam medan kebudayaan yang unik, di mana proses perjumpaan dan pergulatan antara nilai lama dan baru menampilkan sosoknya secara jelas. ”Boleh saja berpretensi sebagai jembatan antara tradisi dan kontemporer, tetapi yang tetap harus dimainkan, menumbuhkan sikap-sikap eksperimentatif untuk mencari kemungkinan nilai-nilai baru. Karena kebudayaan tidak boleh berhenti, ia sesuatu yang bergerak terus dan oleh karena itu selalu melakukan interpretasi terhadap nilai sebelumnya,” ujar Darma.

Dengan begitu, realitas kebudayaan menjadi sesuatu yang nisbi dan bukan artefak arkeologis yang beku. Interpretasi tidak saja bisa dilakukan dengan pengkajian secara akademis, tetapi juga presentasi dalam bentuk pameran, pementasan, dan workshop. Bentara Bali berharap terus berada pada garis itu.

Fasilitas

Kehadiran Bentara Bali melengkapi Bentara Budaya Yogyakarta yang berdiri sejak tahun 1982 dan kemudian disusul Bentara Budaya Jakarta tahun 1986. Teristimewa Bentara Bali dilengkapi dengan panggung terbuka yang mampu menampung 150-200 orang dengan panggung utama berukuran 9 meter x 5 meter serta panggung kecil berukuran 2,4 meter x 5 meter. Selain itu, institusi kebudayaan di bawah Kelompok Kompas Gramedia di Bali, ini memiliki ruang pamer 14,4 meter x 27 meter atau terluas di antara ruang pamer dua Bentara di Yogyakarta maupun Jakarta.




Blog Stats

  • 2,154,473 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 118 other followers