Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



26
Jul
09

PilPres 2009 : Presiden Terpilih Tunggu Sidang MK

REPUBLIKA, Minggu, 26 Juli 2009 pukul 01:53:00

Presiden Terpilih

KPU yakin tidak akan ada pemungutan suara ulang

JAKARTA — Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Abdul Hafiz Anshary mengatakan, penetapan pasangan capres dan cawapres terpilih akan dilakukan setelah selesai masa sidang sengketa pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK).

Pada Sabtu (25/7), KPU hanya menetapkan hasil rekapitulasi suara pilpres nasional. “Sekarang ini, hanya penetapan resmi hasil pilpres, sedangkan penetapan pasangan calon terpilih nanti setelah masa sidang sengketa di MK selesai,” kata Hafiz di kantor KPU, Jakarta, kemarin.

Penghitungan KPU di 33 provinsi menghasilkan kemenangan untuk pasangan SBY-Boediono dengan 73.874.562 atau 60,80 persen suara; pasangan Megawati-Prabowo dengan 32.548.105 suara atau 26,79 persen; serta pasangan JK-Wiranto sebanyak 15.081.814 suara atau 12,41 persen. Suara sah sebanyak 121.504.481 dan suara tidak sah sebanyak 6.479.174.

Berita acara rekapitulasi itu ditetapkan dalam keputusan KPU Nomor 265/KPTS/KPU/2009. Acara ini dihadiri dua pasang capres dan cawapres, yakni SBY-Boediono dan JK-Wiranto. Sedangkan, Megawati-Prabowo berhalangan hadir dan diwakili tim kampanye bidang hukum, Gayus Lumbuun.

SBY-Boediono dan JK-Wiranto menerima berkas hasil resmi pilpres dari ketua KPU. Sedangkan, Gayus Lumbuun tidak bersedia menerima berkas tersebut. “Penetapan calon terpilih paling lambat dilakukan 30 hari sebelum pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih pada 20 Oktober 2009,” kata Hafiz.

KPU sebenarnya bisa menetapkan hasil rekapitulasi suara nasional hasil pilpres, kemudian langsung menetapkan pasangan calon terpilih. Namun, menurut Hafiz, KPU harus menghargai sidang sengketa hasil pilpres di MK.

Pengajuan gugatan sengketa tersebut bisa diajukan ke MK pada 3×24 jam setelah penetapan hasil pilpres. Kemudian, MK melakukan sidang gugatan hasil pilpres selama 14 hari kerja. Setelah masa sidang itu, KPU berencana melakukan penetapan calon terpilih.

Menurut Gayus, tim Mega-Prabowo siap melaporkan kecurangan pilpres ke MK pada Selasa (28/7). Laporan akan disertai bukti pelanggaran. “Kami menyatakan tidak menerima penetapan hasil pilpres ini,” katanya.

Gayus menilai, KPU tidak menghargai proses hukum yang akan dijalani oleh pasangan calon. Menurutnya, pihaknya masih memiliki waktu mengumpulkan data dan menyampaikan keberatan, namun KPU malah menetapkan lebih awal. “Pemilu yang tidak taat perundang-undangan harus dihentikan,” tegasnya.

Jadwal rapat pleno penetapan hasil pilpres adalah 25-27 Juli 2009. Namun, KPU menetapkan hasil pilpres lebih awal pada 25 Juli 2009 ini. Hasil pilpres yang ditetapkan lebih awal ini, kata Gayus, tidak memberi kesempatan bagi pasangan calon untuk mengumpulkan berbagai bukti kecurangan. Hal itu menjadi alasan utama tim Mega-Prabowo menolak penetapan dan menandatangani berita acara.

Juru bicara tim JK-Wiranto, Yuddy Chrisnandi, menyatakan, kedatangan JK-Wiranto di KPU tidak otomatis menandakan menerima hasil rekapitulasi pilpres. Kedatangan JK-Wiranto lebih ditekankan sebagai bentuk penghargaan kepada para pemilihnya. Selain itu, tindakan ini juga sebagai penghargaan terhadap proses demokrasi.

Pasangan JK-Wiranto akan menggunakan salinan rekapitulasi yang didapatkan sebagai bukti baru yang akan diajukan kepada MK. “Kami datang hanya untuk mendapatkan salinan rekapitulasi. Dengan salinan itu, sebagai bukti untuk tambahan data diserahkan ke MK,” papar Yudhy.

Pendaftaran gugatan
Menyusul penetapan hasil pilpres, MK mulai membuka pendaftaran sengketa. Menurut Wakil Ketua MK, Abdul Mukhtie Fadjar, pasangan calon yang keberatan diberi waktu 3X24 jam sejak pengumuman KPU untuk mendaftarkan gugatannya. Pendaftaran sengketa hasil pilpres akan ditutup pada Selasa (28/7) pukul 10.00 WIB.

MK juga akan tetap menerima pendaftaran permohonan sengketa hasil perselisihan Pemilihan Presiden 2009 yang berkaitan dengan daftar pemilih tetap. “Permohonan akan kita terima dan periksa,” kata Mukhtie di Jakarta, Sabtu (25/7).

Meski tim kampanye Mega-Prabowo sudah siap untuk melayangkan gugatan hasil pilpres ke MK, KPU yakin tidak akan ada pemungutan suara ulang dalam pilpres. Alasannya, KPU kabupaten/kota dan provinsi sudah melakukan pemungutan dan penghitungan suara sesuai ketentuan. “Tidak akan ada pemungutan suara ulang,” kata Abdul Hafiz Anshary. ikh/ant

26
Jul
09

Hendropriyono, Sang Doktor Filsafat

REPUBLIKA Minggu, 26 Juli 2009 pukul 01:49:00

Sang Doktor Filsafat

Inilah buah manis dari kerja kerasnya selama sekitar 3,5 tahun.

Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruang di lantai lima Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu pagi (25/7). Pria yang menjadi pusat perhatian itu tampak tersenyum lebar.
Pria itu, mantan kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal TNI (Purn) Abdullah Mahmud Hendropriyono, resmi menyandang predikat doktor ilmu filsafat.

Di depan tim penguji yang terdiri atas Prof Dr R Soejadi, Prof Dr Syamsulhadi, Prof Dr Ahmad Syafii Maarif, Prof Koento Wibisono, dan Prof Mukhtasar Syamsuddin, Hendro berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Terorisme dalam Kajian Filsafat Analitika: Relevansinya dengan Ketahanan Nasional.

Bahkan, Hendro pun berhasil meraih predikat cumlaude. ”Saat ini, Allah telah memberikan kedudukan yang tertinggi bagi saudara, yaitu lulus dari pendidikan tertinggi dengan gelar cumlaude secara total,” kata Prof Kaelan, promotornya, dalam pesan singkat usai ujian terbuka.

Dengan wajah berseri, pria kelahiran Yogyakarta, 7 Mei 1945, ini mengaku tidak menduga bakal mendapatkan predikat cumlaude. ”Predikat cumlaude itu tidak pernah saya sangka-sangka. Saya berpikir, bisa lulus saja sudah cukup.”

Untuk Hendro, inilah buah manis dari kerja kerasnya selama sekitar 3,5 tahun. Bermula dari sidang yang dimulai pada pukul 10.00 hari itu, Hendro harus mempertahankan disertasinya selama satu jam lebih. Sepanjang waktu itu, Hendro menjelaskan gamblang segala hal tentang terorisme.

Berawal dari fakta bahwa hingga saat ini belum ada definisi yang jelas tentang apa itu terorisme, Hendro mengaku tergelitik untuk membahas masalah terorisme tersebut dalam dunia akademis melalui pendekatan filsafat analitik atau bahasa.

Menurut dia, bahasa yang digunakan dalam terorisme ternyata terbelah atas dua tata permainan bahasa, yaitu mengancam dan berdoa yang digunakan sekaligus. Tata permainan bahasa yang terbelah dalam terorisme tersebut menunjukkan bahwa para teroris memiliki kepribadian yang terbelah atau split personality. ”Para pelaku terorisme juga mengalami kegalatan kategori, yaitu ketidakmampuan untuk membedakan pengetahuannya sehingga mengakibatkan subjek dan objek terorisme menjadi tak terbatas,” paparnya.

Maka, dalam disertasinya tersebut, Hendro memberi saran agar filsafat juga memperluas objeknya dalam studi tentang manusia, yaitu terkait dengan manusia yang mengalami kegalatan kategori atau manusia yang mengalami kepribadian yang terbelah. ”Itu layak dilakukan karena subjek terorisme mempunyai kondisi kejiwaan yang memungkinkan berkembangnya fisik, emosi, dan intelektual secara optimal karena mereka adalah orang normal, bukan orang gila,” tandasnya.

Diakuinya, berdasarkan fakta historis yang bisa direkamnya sejak menjadi kepala BIN, ternyata terorisme itu sama dengan jimat yang dimiliki tokoh pewayangan Indonesia, Raden Narasoma, yaitu Candra Birawa. ”Jadi, ibarat pepatah, patah tumbuh hilang berganti. Itulah terorisme. Begitu pula yang ada di Indonesia, terorisme itu timbul tenggelam karena yang kita atasi hanya kaki-kakinya yang juga terdapat di seluruh dunia. Sementara itu, otaknya tidak ada di negeri ini,” ujar Hendro.

Soekarno
Sepanjang sidang yang turut dihadiri beberapa tokoh nasional, di antaranya Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Dr Meutia Hatta, mantan ketua DPR RI Dr Akbar Tandjung, Fadel Muhammad, serta Sutiyoso, Hendro tak terlihat tegang. Bahkan, sesekali lulusan Akademi Militer Nasional Magelang tahun 1967 ini menjawab pertanyaan tim penguji dengan gurauan.

Seperti ketika Prof Dr Ahmad Syafii Maarif menanyakan persepsi orang yang mengaitkan terorisme dengan Islam. ”Tolong jawab dengan singkat,” ujar Syafii.

Hendro menjawab, ”Singkatnya, mereka tidak paham Islam.” Dan, tepuk tangan pun membahana. Setelah mereda, Hendro pun melanjutkan jawabannya dengan memberi ‘versi panjang’ dari pertanyaan Syafii.

Hendro pun mengakui, satu hal yang turut memotivasinya meraih gelar doktor di Fakultas Filsafat UGM adalah kenyataan bahwa mantan presiden Soekarno adalah juga doktor filsafat lulusan UGM. ”Bahkan, beliau adalah doktor filsafat pertama lulusan UGM dan sekarang saya adalah doktor ke-51,” lanjutnya.

Dengan gelar ini, Hendro menjadi doktor ke-1.089 yang diluluskan UGM dan menjadi doktor ke-51 dari Fakultas Filsafat UGM. Kesuksesan Hendro ini pun disambut gembira oleh sang promotor, Prof Kaelan, yang mengenang kegigihan peraih gelar kehormatan Veteran Pembela Republik Indonesia ini. ”Dia pernah dua kali melakukan bimbingan tengah malam,” ujar Kaelan.

Sedangkan, Hendro mengenang kehangatan civitas akademika UGM. ”Saya merasa beruntung bisa kuliah di UGM karena sikap kekeluargaannya,” ungkap dia.

Gelar doktor tampaknya menjadi puncak dari catatan panjang pendidikan  pria yang juga mahir menembak ini. Hendro tercatat telah mendapatkan gelar sarjana hukum, sarjana ekonomi, sarjana teknik industri, hingga menempuh pendidikan pascasarjana di Filipina.

Akan tetapi, ternyata, mantan presiden Soekarno bukanlah satu-satunya motivasinya. Diam-diam, Hendro menyimpan motivasi lain untuk gelar doktornya ini. ”Saya sengaja mengikuti banyak kuliah bukan untuk memajang banyak gelar di depan dan belakang nama saya, tetapi agar anak-anak saya bosan mengikuti upacara wisuda saya,” kata Hendro yang turut didampingi sang istri dan ketiga anaknya. yli/ant

26
Jul
09

Publikasi Aljazeera Soal Lapindo

Aljazeera Publikasikan Dokumen Rahasia PT. Medco Soal Lapindo
Al Faqir Ilmi, NASIONAL-LIST, 23 Juli 2009
Dokumen rahasia terkait semburan lumpur Lapindo, yang ditujukan untuk kepentingan PT. Medco Energi itu kini muncul di website Aljazeera versi bahasa Inggris. Terdapat dua dokumen yang dipublikasikan oleh Aljazeera.

Dokumen pertama berjudul “PRELIMINARY REPORT on the FACTORS and CAUSES IN THE LOSS OF WELL BANJAR PANJI-1” yang dikeluarkan oleh Simon Wilson C.Eng. M.Sc. D.I.C Petroleum Consultant. Dokumen kedua berjudul “Causation Factors for the Banjar Panji No. 1 Blowout” yang dikeluarkan oleh Neal Adams Services.

Akankah dokumen rahasia itu menjadi pukulan bagi pihak-pihak yang menyatakan bahwa semburan lumpur Lapindo disebabkan oleh bencana alam?

Selengkapnya dokumen tersebut dapat dilihat di :

1. http://english. aljazeera. net/mritems/Document s/2009/6/17/20096171512106 57572TriTech_Lukman_ report_-_ East_Java_Well_Blow- out_Assessment_-_Preliminary_ Report_Document.pdf

2. http://english. aljazeera. net/mritems/Document s/2009/6/17/20096171518169 79683Final%20Report% 20Sidoarjo% 20Neil%20Adams. pdf

26
Jul
09

Benteng Pancasila : Penawar Benturan Kaum Fundamentalis vs Kaum Demokratis

Diperlukan UU Intelijen

Minggu, 26 Juli 2009 | 03:02 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS – Terorisme terjadi akibat benturan dua filsafat universal dunia, yakni demokrasi yang tidak dilaksanakan secara etis dan fundamentalisme. Selama keduanya belum berubah ke arah yang lebih baik dan menyatu, tindak terorisme akan terus ada.

Hal ini dikemukakan Jenderal TNI (Purn) Dr Ir Drs AM Hendropriyono SH SE MBA MH di depan tim promotor dan penguji Program Pascasarjana Ilmu Filsafat Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Sabtu (25/7). Bertindak sebagai promotor Prof Dr Kaelan MS serta Ko-promotor Prof Dr Lasiyo MA MM dan Prof Dr Djoko Suryo MA.

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu mempertahankan disertasi tentang ”Terorisme dalam Kajian Filsafat Analitika: Relevansinya dengan Ketahanan Nasional”. Ia dinyatakan lulus dan memperoleh gelar doktor bidang filsafat dengan predikat cum laude.

Menurut Hendropriyono, semua tindak terorisme, termasuk di Indonesia saat ini, adalah implementasi cara berpikir para pelakunya, yang ia sebut memiliki kepribadian rancu dan terbelah (split personality). Terorisme sendiri terjadi akibat ideologi, bukan oleh kepentingan. ”Apa yang bisa menghentikan (terorisme) adalah dengan menghentikan cara berpikir seorang yang berkepribadian terbelah. Kalau itu berhenti, teroris berhenti.”

Yang dimaksud dengan demokrasi tidak etis, menurut Hendropriyono, adalah ulah negara yang meneriakkan demokrasi, tetapi cara yang mereka tempuh tidak pas, yakni menyerang bangsa lain. Sementara di kutub yang lain, kaum fundamentalis memiliki pandangan bahwa demokrasi adalah pikiran orang tolol. Kaum fundamentalis ini tidak mau pikirannya disamakan dengan kaum demokratis.

Bentuk terorisme pun terus berkembang, tidak linear, dan makin mematikan. Jika sebelumnya mereka membunuh dengan senjata api, kini sudah memakai bom. Tidak menutup kemungkinan, ke depan mereka akan memakai perangkat yang lebih canggih, termasuk nuklir. Semua ini sesuai dengan perkembangan zaman yang terus berubah.

Di sinilah, menurut lulusan Akademi Militer tahun 1967 dan Australian Intelligence Course Woodside 1971 ini, pentingnya ideologi Pancasila sebagai benteng untuk mengantisipasi pengaruh kedua filsafat universal yang saling berbenturan tersebut. ”Jadi, relevansi kajian terorisme dan ketahanan nasional adalah bagaimana kita merevitalisasi Pancasila. Selama ini, Pancasila dengan semena-mena ditolak. Penolakan secara terbuka tidak, tetapi kita sudah merasakan adanya penolakan itu,” ujarnya.

UU Intelijen

Kepada wartawan, Hendropriyono mengemukakan pentingnya undang-undang intelijen untuk menjaga masyarakat dari perbuatan teror. Menurut dia, masyarakat tidak perlu takut atau khawatir bahwa UU ini akan disalahgunakan, misalnya melakukan penangkapan secara membabi buta. ”UU intelijen harus mengatur apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh aparat inteligen. Jangan ditakuti soal UU inteligen. Apa pun UU yang melindungi rakyat harus didukung. Jika dikhawatirkan akan disalahgunakan, sebaiknya tulis saja satu pasal di dalamnya untuk mencegah itu,” katanya.

Terus merekrut

Mantan anggota Jemaah Islamiyah, Nasir Abas, yang juga hadir dalam sidang terbuka, menduga Noordin M Top saat ini masih terus melakukan pengaderan dan merekrut anggota- anggota baru.

”Saya kira Noordin tidak pernah berhenti merekrut, sebelum tertangkap. Orang- orang muda baru yang memang memiliki pandangan mendukung Noordin, apalagi isu-isu global masih terus ada,” ujarnya.

Menurut Nasir, modus yang digunakan Noordin dalam setiap melakukan aksi selalu sama, kecuali bom JW Marriott dan Ritz- Carlton pekan lalu yang dilakukan dari dalam hotel. Teknik pengeboman juga masih sama, yaitu menggunakan seseorang untuk melakukan bunuh diri.

Disinggung mengenai pemicu tindak terorisme terbaru, menurut Nasir, dimungkinkan Noordin dan kawan-kawan bermaksud merespons kebijakan terbaru Amerika Serikat. AS di bawah kepemimpinan Barack Obama hendak menarik pasukan dari Irak, tetapi di satu sisi menambah pasukan di Afganistan. Bahkan, AS bermaksud menghabisi Taliban. (WER)

26
Jul
09

PilPres 2009 : Koreksi Pemilu 2009, Wajib !

26/07/09 15:59
Koreksi Pemilu 2009, Wajib!
R Ferdian Andi R
Ray Rangkuti
[inilah.com /Dokumen]

INILAH.COM, Jakarta – Upaya hukum pasangan capres/cawapres seperti Mega-Prabowo dan JK-Wiranto harus dimaknai sebagai upaya koreksi. Karena, keganjilan dalam Pemilu 2009 menjadi preseden buruk dalam proses konsolidasi demokrasi ke depan.

Upaya penegakan hukum acap kali dipandang keliru oleh sebagian orang. Tuduhan tidak puas, tidak legowo serta tidak siap kalah atas proses politik selalu membayangi pihak yang menggugat hasil pemilu melalui jalur hukum. Padahal, di atas semua itu, meluruskan proses politik seperti pemilu mutlak dilakukan, apapun kondisinya.

Kisruh Pemilu 2009 yang disebut-sebut paling buruk dalam sejarah penyelengaraan pemilu didominasi kisruh Daftar Pemilih Tetap (PDT). Dugaan DPT ganda serta fiktif membayangi Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden.

Belum lagi, tidak masuknya warga negara yang seharusnya memiliki hak memilih. KPU sendiri menyebut terdapat 20 juta warga negara yang tidak tercantum di DPT dalam pemilu legsilatif.

Menurut Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) Ray Rangkuti, Pemilu 2009 hanya mendapat nilai di bawah lima alias tidak naik kelas di bandingkan Pemilu 2004 lima tahun lalu.

“Kalau saya memberi nilai, pelaksanaan Pilpres 2009 itu di bawah angka 5, di bawah rata-rata. Jadi tidak naik kelas,” ujarnya dalam diskusi ‘Menjelang penetapan hasil pilpres’ di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (24/7).

Pemilu 2009 juga merupakan yang paling rendah partisipasi pemilihnya dalam sejarah pemilu di Indonesia yaitu sebesar 70,96% (pemilu legislatif) dan 72,56% (pemilu presiden). Angka warga negara yang mengunakan hak politik itu paling rendah dibandingkan sebelumnya mulai dari Pemilu 1955 hingga 2004.

Karut-marut DPT diperparah dengan sikap KPU. Seperti perubahan DPT H-2 jelang pencontrengan. Padahal dalam UU disebut selambat-lambatnya perubahan DPT dilakukan 30 hari sebelum pelaksanaan pencontrengan.

Tudingan KPU tidak netral pun mencuat. Spanduk sosialisasi dari KPU yang mengarahkan publik untuk mencontreng nomor urut dua juga sulit terbantahkan.

Sikap KPU yang ‘bandel’ terhadap putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang UU Pemilu Legislatif juga menjadi bukti, KPU rendah dalam pemahaman konstitusi. Apalagi, beberapa anggota KPU menyebut keputusan MK tak lebih dari makalah seminar.

“KPU sekarang genit. Saya punya partner kerja seperti presiden, jaksa agung, menteri kehakiman, menteri dalam negeri, atau kapolri, dan mereka selalu menyatakan siap melaksanakan keputusan MK. Tapi, ini (KPU) satu-satunya lembaga yang mempunyai tugas publik dan berani mempersoalkan keputusan MK. KPU ini yang paling hebat,” nilai Mahfud, Ketua MK, mengomentari sikap KPU dalam merespons setiap keputusan lembaga itu.

Koreksi pelaksanaan Pemilu 2009 ini wajib dan mutlak dilakukan sebagai upaya pembenahan prosedur demokrasi. Karena, demokrasi tidak sekadar mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Demokrasi adalah manifestasi dari nilai kejujuran dan keadilan yang harus selalu ditegakkan.

Sehingga upaya hukum Mega-Prabowo dan JK-Wiranto harus dimaknai sebagai sebuah koreksi proses demokrasi. Karena, jika tidak ada koreksi saat ini, demokrasi Indonesia baik melalui pilkada, pemilihan legislatif, dan pemilihan presiden terancam hanya menjadi rutinitas saja yang tak memiliki makna. [E1]

26
Jul
09

Wisata Sejarah Budaya Kota

Kota Toea

Wisata budaya (cultural tourism) kini semakin mendapat tempat di hati wisatawan. Budaya selalu menjadi obyek wisata utama di seantero dunia. Namun sekitar tiga dasawarsa lalu, tren wisata budaya mulai terpecah, wisatawan mulai tertarik juga pada hasil peninggalan masa lampau yang menempel pada dinding-dinding bangunan di kota bersejarah, kota tua pada setiap negara yang mereka kunjungi. Tren wisata itu diberi nama heritage tourism atau cultural heritage tourism.

Heritage, atau warisan berupa berbagai peninggalan dalam segala bentuk, penting bukan hanya sebagai sebuah identitas kota dan negara tapi juga bernilai ekonomi serta memberi dampak sosial. Budaya merekatkan manusia untuk mencipta saling pengertian yang membawa pada kedamaian dan keharmonisan. Wisata heritage pada akhirnya juga membantu memelihara dan melestarikan heritage/warisan itu sendiri.

Di dalam setiap kota tua masih lekat menempel sejarah sang kota, perjalanan hidup kota berabad lalu masih bisa terbaca hingga detik ini melalui bangunan tua, jalur kereta api, jembatan, kanal, kuliner, folklore, tradisi dan segala yang masih terus dilestarikan.

Kerutan di wajah sebuah kota tua, yang terpelihara apik, menjadi begitu menarik dan merangsang wisatawan untuk datang, tak sekadar menjenguk, mengenang, tapi juga mencoba memahami mengapa sebuah peristiwa terjadi pada satu kurun waktu. Kemudian, bisa kekaguman yang muncul atau dalam kisah tertentu, berharap kejadian buruk di masa lalu tak terulang kembali.

Warisan yang ada di setiap kota di dunia memiliki arti penting yang berbeda bagi penduduk kota itu sendiri, penduduk di negara di mana sebuah kota berada, atau bahkan bagi dunia.

Arti sebuah warisan bisa positif atau negatif. Warisan masa lalu, tak selalu berupa kejayaan yang membanggakan bagi generasi di masa kini namun seringkali juga mendatangkan rasa malu, kebencian, seperti pada masa kelam Jerman dan Eropa pada umumnya ketika Hitler berlagak menjadi Tuhan dan membantai orang Yahudi. Begitu banyak warga Jerman ingin melupakan warisan yang ditinggalkan Hitler. Tapi bagaimanapun, orang tak bisa melupakan sejarah mereka, baik yang membanggakan maupun yang memilukan.

Auschwitz atau Oswiescim yang masuk dalam World Heritage Sites UNESCO adalah salah satu peninggalan yang dilestarikan. Warga dunia ternyata lebih banyak yang memilih untuk tidak melupakan sejarah terkelam manusia di abad 20 melalui kamp pembantaian Yahudi di Polandia ini. Melalui Auschwitz, dunia diingatkan agar lakon ini tak pernah lagi dipentaskan pada panggung dunia manapun.

Berlin masih menyimpan reruntuhan tembok, perlambang runtuhnya komunisme, yang dihancurkan pada 1989. Gerbang Brandenburg menanti wisatawan yang ingin menatap pintu gerbang pertanda damai dari Raja Frederik William II dari Prussia dan dibangun oleh Carl Langhans yang kini jadi landmark Berlin – bahkan Eropa. di Koln berdiri tegak Katedral Koln atau Kõlner Dom sebagai tengara kota yang dibangun di sekitar abad 12.

Kota tertua di Belanda, Maastricht, yang sudah ada sejak zaman Romawi dan sempat hanya menjadi kota kecil di ujung Selatan Belanda, kini bersinar sebagai kota budaya dengan peninggalan dari abad 12 yang masih bisa dilihat, tembok kota, gerbang kota, dan benteng.

Sebagai kota benteng, Maastricht mempertahankan warisan itu hingga kini. Sejak 1992, di mana Maastricht menjadi kota kelahiran Uni Eropa lewat Perjanjian Maastricht (The Treaty of Maastricht), kota ini makin berkilap sebagai kota tujuan turis mancanegara. Pemerintah setempat sadar betul, koceknya makin gemuk dengan kedatangan turis. Goa, St Pietersberg Cave, yang sudah ada sejak sebelum Masehi pun masih terawat lengkap dengan peninggalan sketsa dan lukisan di dinding. Di masa Hitler, goa ini menjadi tempat persembunyian.

Intinya, mereka melek heritage. Warisan berabad silam dilestarikan bukan hanya demi memenuhi rasa penasaran para turis tapi juga demi pengembangan heritage itu sendiri.

Di beberapa negara seperti Inggris, Skotlandia, Australia, dan Amerika Serikat, tur hantu pun digelar. Biasanya mereka menyasar bangunan tua.

Dari Asia, Korea Selatan penuh dengan kuil yang dibangun bahkan sejak sebelum Masehi. Kota bersejarah Gyeongju, Kuil Bulguksa, dan pertapaan Seokguram Grotto semua masuk dalam daftar World Heritage Sites UNESCO. Kawasan Gyeongju sudah ada sejak tahun 57 sebelum Masehi. Gyeongju adalah bekas ibukota Kerajaan Silla yang sudah berkembang sejak awal milenium. Tak pelak, peninggalan arkeologi di kawasan ini mengambil lahan yang cukup luas, sekitar 1.300 km2. Sedangkan Kuil Bulguksa, kuil penganut Buddha, dibangun juga pada masa Kerajaan Silla pada sekitar tahun 580-an. Seokguram Grotto adalah salah satu bagian dari kompleks Kuil Bulguksa yang mulai didirikan pada tahun 742.

Bicara soal Korea Selatan, sekitar dua pekan lalu seorang rekan lama dari Seoul melempar surat elektronik ke Warta Kota. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar, lantas mulailah diskusi tentang wisata heritage. Kemudian dia menulis, “Pemerintah Seoul sedang membangun kafe di jembatan Sungai Han. Bayangkan, secangkir kopi sambil memandang Sungai Han dan air mancur menari. Kalau malam, waaaaah… romantis. Dan ini dibikin untuk menarik turis.”

Menarik turis berarti menyedot uang dari kocek para turis agar masuk ke Seoul. Sebuah upaya dan kemauan luar biasa dari pemerintah Seoul untuk mewujudkan janji mereka pada dunia, menampilakan Seoul sebagai Soul of Asia.

Bergerak ke negara tetangga Indonesia, Malaysia, ada Malaka yang tahun lalu masuk dalam daftar World Heritage Sites. Intinya, semua berlomba memelihara dan melestarikan warisan terpenting mereka sekaligus mengelolanya dengan baik.

Pada akhirnya memang, nilai ekonomi heritage begitu terasa langsung bagi kota dan penduduknya. Kafe, restoran, hotel, toko suvenir, pedagang tradisional semua terkena dampak berputarnya uang. Selain itu, keberlangsungan sebuah kota -lengkap dengan peninggalan sejarah dan budaya- terjaga bagi generasi selanjutnya.

Lantas, apa kabar Jakarta? Di usia yang menjelang 500 tahun, dalam rentang waktu yang kurang dari 20 tahun ke depan, Jakarta masih saja berantakan. Sudahkah Jakarta menciptakan citranya sebagaimana kota-kota lain di dekatnya?

Kawasan bersejarah Jakarta yang sedang dalam proses dihidupkan kembali kini terkesan dhedhel dhuwel. Mandek bukan hanya karena masalah pembangunan fisik, dan pembenahan ulang -karena dalam waktu dua tahun sudah babak belur lagi sehingga harus tambal sulam- tapi juga karena tak jelas arah revitalisasi itu. Terlalu banyak kepentingan, terlalu banyak cakap, minim tindakan.

Padahal, potensi kawasan bersejarah/kota tua Jakarta tak terkatakan. Tengok saja sejarah kota ini. Bermula dari Sunda Kelapa di seputar abad 12 kemudian berganti nama menjadi Jayakarta pada 1527, berubah lagi menjadi Batavia pada 1619 di masa VOC, dan terakhir Jakarta pada 1942.

Sejarah panjang itu bermula di kawasan yang kini disebut kawasan lama atau kawasan bersejarah atau kota tua. Seluruh kawasan tempat di mana Batavia berawal ini ditetapkan sebagai situs dan dilindungi oleh SK Gubernur DKI Jakarta No 475/1993 mengenai bangunan cagar budaya di DKI Jakarta yang harus dilestarikan.

Menurut Candrian Attahiyat, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua, sesuai Peraturan Gubernur No 34 Tahun 2006 tentang penguasaan, perencanaan, penataan kota tua, luas kawasan bersejarah atau kota tua Jakarta adalah 846 hektar. Batas sebelah Selatan adalah Gedung Arsip, batas Utara adalah Kampung Luar Batang, batas Timur Kampung Bandan, dan batas Barat di Jembatan Lima.

Di kawasan itu saja ada lebih dari 200 bangunan tua yang dimiliki BUMN, DKI Jakarta, swasta, dan perseorangan. Kondisinya? Lebih banyak yang menunggu ajal.

Selain empat museum milik DKI Jakarta, Museum Sejarah Jakarta yang menempati bekas gedung balai kota di masa Batavia; Museum Wayang; Museum Seni Rupa dan Keramik; dan Museum Bahari, kawasan ini juga memiliki dua museum perbankan, Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia.

Di seputaran bekas pusat Batavia, ada bangunan Stasiun Jakarta Kota atau Beos yang pembangunannya kelar pada 1929. Menyusur kanal membayangkan awal abad 19 di mana kawasan Kali Besar tenar sebagai pusat bisnis, bisa jadi alternatif lain. Bangunan-bangunan tua di sisi kiri dan kanan kanal menjadi saksi sebagain sejarah Jakarta.

Lebih ke Utara, ada sisa tembok Batavia, ada pula kampung yang seharusnya tetap lestari sebagai Kampung Tugu. Kampung ini masuk sebagai kawasan yang dilestarikan dalam SK Gubernur DKI No 475/1993. Disebut demikian karena, menurut Adolf Heuken, penulis sejarah Jakarta, di kawasan ini ditemukan Prasasti Tugu – peninggalan arkeologis tertua yang membuktikan pengaruh Hindu di Jawa Barat.

Di kampung ini pula para mardijkers – tahanan yang sudah dibebaskan, dimerdekakan oleh Belanda – tinggal. Mereka kebanyakan keturunan Portugis.

Gereja Tugu yang pertama kali dibangun pada 1670-an, masih berdiri di sana. Kampung ini juga menyimpan warisan kuliner seperti dendeng tugu dan pindang srani tugu yang semua sudah punah bersama punahnya Kampung Tugu. Kampung yang harusnya lestari seperti apa adanya, kini hanya menyisakan keroncong tugu. Selebihnya, kini kawasan itu jadi tempat antrean truk konteiner.

Untuk menyasar wisata kuliner, kota tua masih memiliki kawasan yang paling beken. Kawasan itu tak lain adalah Pancoran, Glodok. Ingin ke pulau, bergeser sedikit ke Teluk Jakarta ada Kepulauan Seribu dengan Taman Arkeologi Pulau Onrust – pulau yang sibuk/tak pernah istirahat – yang terdiri atas Pulau Onrust, Cipir, Kelor, dan Bidadari.

Tentu saja Indonesia tak hanya punya Jakarta. Kota-kota lain di Pulau Jawa seperti Banten, Cirebon, Bandung, Yogyakarta, Semarang hingga kota-kota di luar Pulau Jawa menyimpan warisan tersendiri.

Yang perlu diingat bahwa bahkan dari segelas bir, secangkit kopi atau teh, sepotong es krim, semangkuk soto, atau patahan tembok tua, kita bisa kembali ke ratusan bahkan ribuan tahun lalu.

Preserving our past, building our future… Mulailah detik ini.

26
Jul
09

Wisata Kota : Yuk, ke Pekan Wisata Monas dan Jakarnaval

Yuk, ke Pekan Wisata Monas dan Jakarnaval
Angkutan penumpang wisata khusus Taman Monumen Nasional (Monas) melintas di halaman Monas, Jakarta. Sebanyak dua unit kereta wisata berkapasitas 36 penumpang beroperasi dari pukul 08.15 WIB sampai 17.30 setiap hari, dan gratis khusus Sabtu dan Minggu.
Kamis, 25 Juni 2009 | 17:21 WIB

UNTUK pertama kalinya Monas menggelar acara Pekan Wisata Monas pada Sabtu (27/6) dan Minggu (28/6). Acara ini digelar tentu juga terkait dalam rangkaian HUT ke-482 Jakarta sekaligus juga dalam upaya memberi acara tambahan bagi pengunjung yang mengantre untuk naik ke tugu Monas.

Jika biasanya loket untuk membeli tiket naik ke puncak Monas tutup pada pukul 17.00 maka pada dua hari tersebut loket baru akan ditutup pada pukul 19.00. “Kenapa kita tutup jam 7 malam karena itu saja pengunjung nantinya baru akan habis jam 10 atau 11 malam,” kata Ketua UPT Monas IM Rini Hariyani.

Acara di Monas tak lantas mengangkat budaya Betawai seutuhnya, pasalnya Monas tak hanya milik warga Jakarta tapi juga Indonesia sehingga atraksi kesenian yang ditampilkan pun akan berbau nusantara. Atraksi itu seperti kulintang, kesenian dari Sanggar Satrio Budoyo dari Yogyakarta yang terdiri atas dagelan, jogetan dengan musik tradisional akan mulai pukul 16.00 hingga sekitar pukul 19.00.

“Itu tadi untuk hari Sabtu. Untuk hari Minggu kami tampilkan gamelan dan Gambang Kromong. Mereka akan tampil di pelataran Monas di dekat orang mengantre untuk naik ke puncak Monas,” lanjut Rini. Acara ini baru uji coba sekali ini  supaya warga bisa menikmati Jakarta di waktu malam dari puncak Monas. Selain itu atraksi air mancur menari juga diharapkan bisa menarik warga.

“Kami akan lihat animo masyarakat, kami harapkan acara ini bisa jadi acara tahunan,” tandas mantan Kepala UPT Museum Wayang ini.

Selain Pekan Wisata Monas, di hari Minggu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan  (Disparbud) DKI  juga akan digelar acara tahunan Jakarnaval. Jalan Sudirman hingga Jalan MH Thamrin kembali menjadi pusat kegiatan ini mulai pukul 15.30 hingga pukul 18.00. Acara ini berbarengan dengan Hari Bebas Kendaraan Bermotor mulai pukul 06.00-14.00 namun khusus Minggu (28/6)  akan diperpanjang hingga pukul 18.00.

Arak-arakan terdiri antara lain atas komunitas sepeda ontel, Bike To Work, Vespa, dan mobil hias.  Rute peserta karnaval adalah dari Jalan Medan Merdeka Selatan (depan Balaikota DKI) menuju Jalan MH Thamrin ke arah Bundaran HI. Untuk pejalan kaki finis di Jalan Imam Bonjol sementara kendaraan hias akan dilanjutkan ke Semanggi.

Di depan Hotel Mandarin akan ada panggung Betawi yang menampilkan Komedi Betawi (Kombet). Kombet ini biasanya tampil di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Syaiful Amri, sutradara Kombet, menyatakan, dirinya akan berupaya agar  warga bisa menikmati komedi yang ia tampilkan. “Ini tantangan buat saya bagaimana sebuah aksi panggung Kombet bisa dinikmati warga yang berseliweran di jalan. Bagaimana mereka bisa diam dan menikmati aksi panggung ini,” tegas Syaiful yang baru saja menampilkan Kombet di Mal of Indonesia dengan lakon “Si Pitung” dalam rangka pekan budaya dan seni Walikotamadya Jakarta Utara.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

26
Jul
09

Wisata Sejarah : Koran Pertama di Batavia, Bertahan Dua Tahun

Koran Pertama di Batavia, Bertahan Dua Tahun
Jumat, 17 Juli 2009 | 11:15 WIB

KOMPAS.com — Pada mulanya adalah Benyamin Haris yang menerbitkan surat kabar pertama di Boston, Amerika, tahun 1690. Pada masa itu, kawasan tersebut masih jadi jajahan Inggris. Gaung penerbitan surat kabar yang sudah dikenal bangsa Eropa sejak abad ke-17 itu sampai juga ke Batavia. Izin menerbitkan surat kabar kala itu tak mudah sebab penguasa VOC alergi terhadap kritik atau sekadar komentar. Soal penguasa yang alergi kritik rupanya masih saja terbawa hingga di abad milenium ini.

Willem Baron van Imhoff, Gubernur Jenderal VOC periode 1743-1750, tak hanya membangun gedung Toko Merah, Academi de Marine, mendirikan masyarakat candu di Batavia, tetapi juga memperkenalkan warga Batavia dengan yang namanya surat kabar. Izin terbit surat kabar itu baru diberikan setelah sekitar lima bulan diajukan: 7 Agustus 1744 diajukan, izin terbit baru keluar Februari 1745. Sifat penguasa VOC yang enggan pada kritik menjadi salah satu alasan Imhoff ogah-ogahan menerbitkan izin. Padahal, isi surat kabar yang pertama kali terbit itu hanya memuat aneka berita tentang kapal dagang VOC, mutasi pejabat, berita perkawinan, kelahiran, dan kematian. Pembacanya juga terbatas pada masyarakat Belanda sendiri.

Bataviasche Nouvelles, begitu nama koran itu. Dari hanya berisi pengumuman, koran ini kemudian berkembang cepat menjadi koran yang berisi kritik terhadap perbudakan di Batavia dan perilaku penguasa VOC. Tepat pada 20 Juni 1746, demikian dicatat dalam buku Toko Merah: Saksi Kejayaan Batavia Lama di Tepi Muara Ciliwung oleh Thomas B Ataladjar, koran pertama ini dibredel. Kiprah Imhoff  yang berusia pendek, meninggal pada tahun 1750 ketika ia masih menjabat sebagai gubernur jenderal, baru dilanjutkan 30 tahun kemudian. Verdu Nieuws meneruskan Bataviasche Nouvelles dalam bentuk surat kabar mingguan yang berisi iklan.

Koran lain, Al Juab, muncul di tahun 1795 yang berisi tentang agama Islam. Namun, koran ini tak bertahan lama. Koran berbahasa Melayu, dan merupakan koran pertama untuk umum ini, mati pada 1824. Pengganti surat kabar ini adalah Bianglala yang kemudian berganti nama menjadi Bintang Johar.

Sementara itu, nasib Verdu Nieuws atau Surat Lelang berganti nama menjadi Bataviasche Koloniale Courant di masa Daendels. Di masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles (1811-1816), terbit surat kabar Java Gouvernment Gazette yang kemudian berganti nama menjadi Bataviasche Courant di saat Batavia kembali ke tangan Belanda. Koran ini terus hidup dan berganti nama menjadi Javasche Courant pada 1827. Di zaman Jepang, 1942, koran ini berganti nama menjadi Ken Po. Pada tahun 1852 muncul pula koran Java Bode yang bertahan hingga 1958.

Tahun 1870 hingga 1886 di Batavia ada surat kabar Bintang Barat yang terbit dua kali seminggu. Koran ini menjadi harian hingga 1889. Pada perkembangan selanjutnya, orang Tionghoa dan Belanda berperan penting dalam penerbitan surat kabar.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

26
Jul
09

Wisata Sejarah : Jakarta Utara Siap Canangkan Obyek Wisata Pesisir

Jakarta Utara Siap Canangkan Obyek Wisata Pesisir
Masjid yang terletak di tepi pantai Marunda, Jakarta Utara, ini dibangun sekitarnya abad 18. Tiang penopang mesjid, yang disebut soko guru, bergaya Eropa.
Selasa, 14 Juli 2009 | 13:13 WIB

JARINGAN Kota Pusaka Indonesia (JKPI) akan berkumpul di The Batavia Hotel, Jakarta Utara, besok, Rabu (15/7), dalam rangka pra-kongres Kongres JKPI. Sekitar 40 wali kota dari seluruh Indonesia akan berkumpul memantapkan program dan mengesahkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang kemudian akan dibawa ke Kongres JKPI pertama di Sawah Lunto 25 Oktober mendatang.

Kali ini Wali Kota Jakarta Utara dan Jakarta Barat menjadi OC. Diharapkan kota-kota di Indonesia yang punya potensi pusaka untuk dilestarikan dan dijual akan memenuhi undangan pra-kongres tersebut. Pra-kongres ini merupakan kelanjutan dari pertemuan di Solo tahun lalu.

Dalam rangka melestarikan dan menjual pusaka kota, Jakarta Utara sudah menyiapkan program jalur destinasi wisata pesisir Jakarta Utara (Jakut). “Tanggal 26 Juli kami akan canangkan, kami harapkan Pak Gubernur yang mencanangkan jalur destinasi wisata pesisir Jakarta Utara,” tandas Nani Ophir, Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara, Jumat (10/7).

Pencanangan atau lebih tepatnya sosialisasi jalur wisata di Jakut ini menjadi titik awal pembenahan dan penataan berbagai kawasan pusaka di Jakut. Misalnya di Kampung Tugu, Marunda (tumah si Pitung dan Masjid Al Alam). “Tahun ini kami akan tata dan benahi lingkungan kawasan Tugu dan Marunda. Untuk kawasan tugu, radius 600 m tidak boleh ada kontainer lewat karena akan merusak lingkungan, termasuk jalan. Di Marunda, nanti kami bikin padepokan Pitung. Kemudian atraksi juga harus digelar rutin,” paparnya.

Upaya penataan lingkungan kawasan Marunda dan Tugu harusnya tak hanya tanggung jawab Kotamadya Jakut atau Pemprov DKI tapi juga seluruh pihak terkait di kawasan itu. “Selain bangunan, kami juga mengangkat budaya, kebiasaan, kesenian di sana. Misalnya di Tugu, selain gereja, lonceng, kami bisa jual musiknya, alat musiknya, makanannya, banyak yang bisa kami gali dan kemudian kami lestarikan dan kami jual,” kata Nani lagi.

Kekayaan pusaka di Jakut memang tak terbilang. Yang sudah biasa terdengar antara lain Museum Bahari, Menara Syahbandar, Sunda Kelapa, Pasar Ikan, Gedung Galangan VOC, Masjid Luar Batang, Kampung Bandan, Stasiun Tanjung Priok, Ancol, Tembok VOC, Marunda, Kampung Tugu, Tete Jongker. Tentu itu belum semua. Juga belum termasuk pusaka tak benda berupa makanan, kebiasaan, kesenian, dan lain-lain.
PRA

26
Jul
09

Wisata Sejarah : Napak Tilas Jalur Kereta Api Tertua

Napak Tilas Jalur Kereta Api Tertua

Inilah tampang peron Stasiun Samarang. Perhatikan besi melingkar d kiri atas. Kondisi sekarang, peron sudah jadi petak-petak rumah warga. Besi lengkung yang di sisi dalan sudah tidak ada, yang tersisa hanya beberapa besi di sisi luar
Jumat, 24 Juli 2009 | 12:32 WIB

KOMPAS.com — Menelusuri jejak sejarah sebuah kota tentu tak akan lepas dari keberadaan alat transportasi kota itu sendiri. Keberadaan jalur kereta api, misalnya. Di Jawa, jalur kereta api mulai dibangun oleh Nederlandsche-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) atau Maskapai KA Hindia Belanda pada 1864. Keberadaan jalur kereta api di Jawa menjadikan Indonesia sebagai negeri tertua kedua di Asia, setelah India, dalam soal jalur kereta api. Lokasi stasiun pertama di Nusantara memang masih diperdebatkan, antara Samarang dan Kemidjen. Keduanya di Semarang, Jawa Tengah.

Deddy Herlambang dari Indonesian Railway Preservation Society (IRPS)—komunitas pencinta kereta api—menegaskan, setelah melalui penelitian, ditemukan bahwa Samarang adalah stasiun tertua di Indonesia yang menghubungkan Semarang-Tanggung (Samarang-Tangoeng).

Kondisi Stasiun Samarang, yang diresmikan pada 10 Agustus 1867 di area bernama Spoorland atau Tambaksari ini, tak ubahnya kampung padat penduduk. Mbah Lan (81) adalah salah satu saksi sejarah perjalanan bekas stasiun pertama ini. “Ini sudah ndak dipakai sejak 1914. Saya ke sini tahun 1948 sudah jadi rumah-rumah pegawai kereta api,” ujarnya.

Yang menakjubkan, menjelajah kampung Spoorland ini, kita akan melihat rangka bangunan yang masih begitu gagah. Meski beberapa bagian sudah dibongkar, tapi kayu jati asli bentang kuda-kuda 8 meter tanpa sambungan, besi penyangga selasar juga masih asli, dan penampang masuknya udara dan sinar di tembok bagian atas masih terlihat. Kemudian, di antara rumah ini pula, terdeteksi bekas peron. Tampak jelas bangunan ini mengalami penurunan. “Kawasan ini tenggelam 2-3 meter,” ungkap Deddy.

Penemuan Stasiun Samarang di awal 2009 oleh IRPS ini tentu masih diperdebatkan pihak PT KA. Namun, IRPS tak sembarang memutuskan, mereka bergerak secara ilmiah dengan pendanaan swadaya. Dalam penelusuran tersebut, IRPS beberapa kali menyambangi kawasan Kemijen dan Tambaksari sekaligus menyusur para tetua mantan karyawan kereta api. Namun, hasilnya nihil. Asumsi mereka, jika bangunan telah dibongkar atau tenggelam, fondasinya tentu masih ada.

“Akhirnya kami nemu peta kuno, ada koordinatnya. Terus kami analisis pakai (peta) Google. Soalnya, kondisinya kan beda, dari peta kuno dan existing. Kami bawa GPS ke lokasi, kami temukan di kawasan Spoorland. Untuk mengetahui di mana letak bekas stasiun itu, untungnya ada Mbah Lan yang bisa menunjukkan bangunan yang sudah dibuat petak-petak untuk hunian penduduk,” ujar Deddy.

Meski Mbah Lan yang kini berusia sekitar 81 tahun tak tahu-menahu perihal keberadaan Stasiun Samarang sebagai stasiun pertama di Indonesia, IRPS langsung menetapkan bangunan yang kini dihuni warga itu adalah bekas stasiun dari tahun 1867. “Bentuknya memang sudah tidak terlihat, tapi dari foto-foto lama yang kami cari, stasiun ini terlihat megah,” tambah Deddy.

Selain itu, lokasi stasiun ini memang tak jauh dari Pelabuhan Tanjung Emas. Belanda membangun jalur kereta api dan stasiun tak lain juga sebagai alat transportasi pengiriman barang dari dan ke pelabuhan.

Maka, informasi yang menyatakan bahwa Stasiun Kemidjen adalah stasiun pertama di Indonesia bisa dikatakan tak lagi berlaku. Meski besar kemungkinan pihak PT KA belum mengakui, dari pengalaman Warta Kota berkutat mencari referensi tentang stasiun pertama di Indonesia, Stasiun Kemidjen, tak ditemukan. Hampir semua buku, dalam referensi Belanda maupun Inggris, menyebutkan bahwa Stasiun Samarang sebagai stasiun yang menghubungkan Samarang-Tangoeng (Semarang-Tanggung) yang mulai beroperasi pada 10 Agustus 1867. Nama Stasiun Kemidjen sulit ditemukan.

Jika memang temuan IRPS ini masih meragukan di mata penguasa atau pihak lain yang terkait dengan keberdaan jalur kereta api, tentu ada baiknya penelitian lebih mendalam segera digelar. Dengan begitu, warga tak lagi dibikin bingung antara Samarang dan Kemidjen.

Batavia Noord
Setelah bicara soal Samarang, lantas bagaimana dengan Batavia? Kapan dan di mana stasiun pertama di Batavia? Dalam beberapa referensi tertulis, NIS membangun Batavia Noord (Batavia Utara), jalur kereta api pertama yang melayani jalur Klein Boom dari sekitaran Sunda Kelapa-Gambir (Koningsplein), pada 1871.

Jalur Batavia-Buitenzorg (Bogor) dimulai 1873. Lokasi Batavia Noord ada di belakang Museum Sejarah Jakarta (MSJ) kini. Tentu, sudah tak berbekas. Nama Beos berasal dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (Maskapai KA Batavia Timur). Namun, ada pula yang mengaitkan Beos dengan Batavia En Omstreken (Batavia dan sekitarnya).

Batavia Zuid (Batavia Selatan) muncul tak lama kemudian, masih oleh NIS, sebelum akhirnya dijual kepada perusahaan kereta api negara atau Staatssporwegen (SS) pada periode akhir abad ke-19. Jalur Batavia-Buitenzorg menyusul kemudian dibeli SS. Stasiun Batavia Zuid ini kemudian dibangun kembali pada tahun 1926 oleh FJL Ghijsels menjadi Stasiun Jakarta Kota, seperti yang sekarang ini ada.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto




Blog Stats

  • 2,104,601 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 114 other followers