Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



06
Sep
09

Seni Budaya : Sesama Penyolong Jangan Saling Mendahului

Indonesia-Malaysia
Sesama Penyolong Jangan Saling Mendahului

KOMPAS, Minggu, 6 September 2009 | 03:00 WIB

Remy Sylado

Kompas ikut membikin ramai klaim-klaiman Indonesia terhadap Malaysia, mencantumkan judul lagu ”Terang Bulan” sebagai ciptaan orang Indonesia.

Sebelumnya beberapa brodkas TV stel yakin mencocokkan lagu kebangsaan Malaysia ”Negaraku” dengan lagu ”Terang Bulan”. Malahan seseorang yang mengaku anak Sjaiful Bachri, pemusik Indonesia yang pernah ”lari” ke Malaysia, sebagai pencipta ”Terang Bulan”.

Salah satu, jika bukan satu-satunya media pers Indonesia pada 1957 yang memuat berita tentang ”Terang Bulan” menjadi lagu kebangsaan Malaysia adalah majalah Musika No 1 Th I September 1957. Majalah yang dipimpin Wienaktoe itu menurunkan berita berjudul ”Negaraku” sebagai berikut: ”Melodi lagu ’Terang Bulan’ jang kesohor itu achirnja dengan resmi diterima sebagai lagu kebangsaan Malaya pada hari kemerdekaan tanggal 31 Agustus 1957 j.l. dengan diberi nama dan tekst baru ’Negaraku’. Pihak RRI dan Pemerintah Indonesia untuk menjatakan penghargaannja, telah melarang diputar dan dimainkan atau diperdengarkan melodi tsb pada setiap kedjadian biasa”.

Kalau kita membaca Het Nationale Volkslied oleh Margreet Fogteloo & Bert Wikie (AW Bruna Uitgevers BV Utrecht), jelas diuraikan bahwa ”Negaraku” yang dulu di Indonesia dikenal sebagai ”Terang Bulan” adalah ciptaan orang Perancis bernama Pierre Jean de Béranger (1780- 1857).

Siapa sebenarnya orang ini? Ensiklopedia pertama yang terbit setelah Indonesia merdeka, Ensiklopedia Indonesia, 1954, oleh TS Mulia dan KAH Hidding mencatat nama Pierre Jean de Béranger sebagai pencipta sejumlah lagu rakyat (Pr chanson populaire, Ing. folk song, Bld, volkslied). Di antara ciptaannya yang terkenal di Indonesia sejak zaman penjajahan Perancis di sini, Februari-Agustus 1811, sampai digegaskannya Bandung sebagai Parijs van Java, 1925, adalah Chansons morales et autres, Chansons nouvelles, Chansons inédites.

Selama itu, pengaruh kebudayaan Perancis di Indonesia, jadi bukan di Malaysia, memang besar. Di Manado, yang sekarang disebut katrili, dan merupakan kesenian tradisional, berasal dari kata bahasa Perancis quadrille. Lalu, di Bandung, teater tradisional longser merupakan serapan kata bahasa Perancis, aba-aba seorang sutradara mengucapkan kata longer untuk bergerak lalu. Dan, jangan lupa kereta sado di Batavia berasal dari bahasa Perancis dos à dos, artinya duduk saling memunggung.

Tetapi, di antara tokoh-tokoh seni Perancis yang pernah lama mukim di Indonesia, bukan Malaysia, adalah penyair terkemuka perkusor Simbolisme abad ke-19, Arthur Rimbaud. Pada 1876 penyair ini tinggal di Salatiga sebagai serdadu batalion I infanteri. Tentang dirinya di Salatiga bisa dibaca dalam Het Koninklijk Negerrlands-Indisch Leger 1830- 1950 oleh Zwitzer & Heshusius (Staatsuitvegerij ’s-Gravenhage).

Salah seorang sahabat Rimbaud, René du Bois, bahkan menetap di lereng gunung Ungaran sampai tua, dan termasuk yang dikunjungi Mata Hari (Margareha Geertruide Zelle) sang ’polyglot harlot’ yang dieksekusi mati oleh otoritas Perancis pada Perang Dunia I sebagai mata-mata.

Maunya, dengan sekelumit gambaran ini, jangan sampai gairah klaim-klaiman Indonesia terhadap Malaysia lantas melupakan peribahasa ”semut di seberang laut tampak gajah di depan mata tak tampak”. Sebab, kita juga punya kebiasaan nyolong.

Sebagai pembuka ingatan, perhatikan dua lagu yang dianggap memiliki pathos kebangsaan, yaitu lirik ”Dari barat sampai ke timur berjajar pulau-pulau”, dan ”Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati”. Yang pertama mengingatkan lagu Perancis ciptaan Rouget de Lisle. Memang hanya bagian depan, bagian yang sama dimanfaatkan Beatles juga.

Tetapi yang kedua, ”Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati”, adalah 100% pencurian atas lagu gereja ”What a Friend We Have in Jesus”. Tidak tahu apa ilusi grup musik perempuan asal Surabaya, Dara Puspita, pada 1960-an menyanyikannya menjadi ”Ibu Pertiwi sedang bersusah”. Lagu himne ini aslinya diciptakan oleh Horatius Bonar pada lirik dan Charles Crozat Converse pada musik, dan dicatat hak ciptanya pada 1876 lewat Biglow & Main.

Harapannya, dalam klaim- klaiman yang sedang panas sekarang ini, jangan pula melahirkan pemeo baru ”Sesama pencuri jangan saling mendahului”. Sebab, ujungnya kalau urusan marah-marah ini dibeberkan dengan kasus-kasus plagiat yang ternyata tidak sepi di Indonesia, malunya harus ditanggung bersama.

Sekadar contoh lain untuk mengingatkan itu, pada 1971 Markas Besar Angkatan Darat, ditandatangani oleh Brigjen Soerjadi, telah membuat malu memberi piagam kepada Ismail Marzuki sebagai komponis yang disebut mencipta lagu ”Auld Lang Syne”. Periksa Lagu-Lagu Pilihan Ismail Marzuki, oleh WS Suwito, Titik Terang, Jakarta. Tentu saja ini ngawur yang menyedihkan. Lagu ”Auld Lang Syne” itu nyanyian tradisional Skot yang digubah oleh Robert Burn dan dicatat penciptaannya melalui Preston & Son, London, 1799.

Sebelum itu, Ismail Marzuki disebut juga sebagai pencipta lagu ”Als die orchideeën bleien” dan ”Panon Hideung”. Padahal, lagu yang pertama, yang kemudian berlirik bahasa Indonesia ”Bunga anggrek mulai timbul”, adalah ciptaan Belloni, pemimpin orkes Concordia Respavae Crescunt, yang dinyanyikan oleh Miss Lie pada 1922.

Yang kedua, ”Panon Hideung” adalah lagu tradisional Rusia, diaransemen di Amerika oleh Harry Horlick & Gregory Stone dan masuk hak cipta pada 1926 di bawah Carl Fischer, Inc, lalu diperkenalkan di Indonesia, melalui Bandung pada tahun yang sama oleh pemusik Rusia bernama Varvolomeyev.

Termasuk Presiden RI Soekarno, pada 1961 membuat kesalahan memberikan Piagam Widjajakusuma kepada Ismail Marzuki, yang menyebut dalam piagam itu bahwa lagu ”Hallo- hallo Bandung” adalah ciptaan Ismail Marzuki. Padahal, lagu itu aslinya ciptaan seorang prajurit Siliwangi bernama Lumban Tobing yang dinyanyikan bersama peleton Bataknya dari long march Yogya-Bandung di zaman revolusi. Tentang kematiannya bisa dilihat lukisannya di Museum Siliwangi, Jl Lembong, Bandung.

Lagu ”Hallo-hallo Bandung” ciptaan Lumban Tobing ini hanya sama judul, tapi beda melodi dan lirik dengan lagu Belanda nyanyian Willy Derby pada 1929 ketika radio NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep Maatschappij) beroperasi di Bandung versi baru rekaman ini dinyanyikan lagi oleh Wieteke van Dort di TV Belanda dalam De Stratemakeropzeeshow, 1972, dan dicetak teksnya pada 1992 dalam De Wduwe van Indië.

Nah, ”Terang Bulan” juga tersua dalam De Wduwe van Indië dalam dua teks, yaitu bahasa Indonesia gaya KNIL dan bahasa Belanda. Kita baca teks yang pertama saja:

Terang boelan

terang boelan di kali

Boewaja timboel

katanja lah mati

Djangan pertjaja

orang lelaki

Brani soempa

dia takoet mati.

Asal saja teks lama di atas tidak jadi ejekan kepada kita, Indon, sebagai ”brani soempa, dia takoet mati”. Kalau ada tuduhan begitu, rasanya elok diingat teriakan Bung Karno dulu, ”Ganyang Malaysia!”

Remy Sylado Pengamat Musik, Novelis, Dramawan

06
Sep
09

Perdagangan : Tenggelamnya Indonesia Incorporated

Tenggelamnya “Indonesia Incorporated”

KOMPAS, Minggu, 6 September 2009 | 03:35 WIB

Simon Saragih

Kritik sering membuat pemerintah menjadi berang. Kita jadi bertanya, apakah kritik itu tidak disukai karena memang tidak tepat. Atau apakah hal itu menunjukkan ”telinga tipis”? Jika Indonesia ingin memaksimalkan potensi, jelas kritik harus dianggap sebagai pendorong atau katakanlah penghardik, dan bukan untuk ditakuti.

Demikian juga soal perdagangan internasional, terlalu banyak hal yang diajukan, atau katakanlah kritik. Dalam perundingan internasional, soal liberalisasi, soal tuntutan agar akses pasar di negara maju dibuka, Indonesia tidak ketinggalan.

Bersama Menteri Perdagangan India Anand Sharma dan Menteri Luar Negeri Brasil Celso Amorim, Menteri Perdagangan RI Mari Pangestu tergolong sebagai kampiun pembela kepentingan negara berkembang. Sebagai Ketua G-33, kumpulan negara-negara berkembang yang mendobrak ketidakadilan perdagangan internasional, Mari Pangestu telah memiliki nama tersendiri. Apakah kemampuan perundingan di tingkat internasional memadai?

Di dalam kiprah perdagangan dunia, Indonesia tergolong lumayan, dengan berada di posisi ke-31 sebagai eksportir dunia dengan nilai ekspor 138,8 miliar dollar AS pada 2008. Ini adalah data berdasarkan catatan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Namun, jika komposisi ekspor Indonesia dibedah, dengan mudah bisa disimpulkan bahwa Indonesia pada umumnya mengandalkan endowment factor. Indonesia lebih mengandalkan faktor kekayaan alam, seperti minyak dan gas. Di sektor pertanian, Indonesia lebih mengandalkan kesuburan lahan, seperti perkebunan sawit.

Adakah ekspor lain yang bernilai tambah tinggi? Jelas banyak jenisnya, seperti elektronik, tekstil, komponen komputer, dan mebel. Namun, porsinya tidak banyak dan tidak terlalu menonjol.

Mengapa ini terjadi?

Indonesia pernah gencar mengampanyekan Indonesia Incorporated. Ini meniru Japan Incorporated yang mengharumkan nama dan produk-produk Jepang di dunia. Kombinasi antara pembinaan pengusaha skala menengah dan kecil, pendanaan perbankan, pengadaan prasarana pelabuhan, jalan raya, kawasan industri, pelatihan, riset, dan pengembangan, serta trading house membuat Jepang merajai pasar di mana-mana.

Malaysia pun meniru keberhasilan ini, dan kini membuat Malaysia berada di urutan ke-20 sebagai eksportir terbesar dunia, dengan nilai ekspor 195,7 miliar dollar AS, juga pada 2008 berdasarkan data WTO. Ini sebuah prestasi Malaysia, yang sebagian murid-muridnya pernah dididik para guru asal Indonesia, terus melambung dari sisi perdagangan dunia.

Keberadaan infrastruktur jalan, pelabuhan kaliber internasional, pengembangan sektor pertanian, yang tidak saja di sektor hulu tetapi juga sektor hilir, membuat Malaysia menjadi sebuah negara industri baru berbasis pertanian. Ini melengkapi kebijakan industrialisasi dan jasa-jasa yang juga mengalami kemajuan di Malaysia.

Adakah Indonesia sudah melakukan itu? Apakah ada kesadaran dan implementasi dari Indonesia Incorporated yang dicanangkan dekade 1990-an itu?

Kita harus meragukan ini. Jangankan mengekspor, untuk memenuhi kebutuhan pangan domestik saja, Indonesia harus sering bergantung pada impor pangan.

Sangat disayangkan, keberadaan jumlah penduduk dan keberadaan kekayaan alam hanya dibiarkan begitu saja tanpa ada sentuhan kebijakan yang memadai, agar Indonesia memiliki produk unggulan, yang bahkan bisa diekspor dalam jumlah signifikan.

Dengan ekspor, akan banyak tercipta kegiatan ekonomi, mulai dari produksi, packaging, armada, jasa keuangan, jasa asuransi, dan berbagai efek lain yang ditimbulkan kegiatan ekspor.

Dengan ekspor, Hongkong, Singapura, Taiwan, dan kini China, semakin merajai pasar ekspor dunia. Warga punya harga diri dengan kebangkitan ekonomi, dan salah satunya akibat keunggulan produk-produk untuk diekspor.

Siapa yang harus melakukan kebijakan yang menata industri sehingga Indonesia bisa mencapai prestasi seperti itu? Berbagai pengalaman di dunia menunjukkan, peran pemerintah sebagai fasilitator amat dibutuhkan dalam hal ini. Peranan pemerintah seperti inilah yang lenyap dan membuat Indonesia Incorporated menjadi tenggelam.

Menurut Mari Pangestu, sebenarnya ada banyak potensi yang bisa diraih dalam ekspor. Beberapa produk Indonesia sudah memasuki pasar.

Wakil Perwakilan Tetap RI di WTO Erwidodo mengatakan, produk-produk Indonesia telah memasuki pasar nontradisional. Dari tahun ke tahun, ekspor Indonesia terus meningkat.

Namun, jika dibandingkan dengan kesempatan dan potensi Indonesia, hal ini tetap tidak seberapa. Terbukti, jutaan warga Indonesia terpaksa eksodus ke luar negeri untuk mencari pekerjaan. Negaranya tidak mampu memberi lapangan kerja sehingga banyak yang rela pergi ke luar negeri dengan segala derita yang sudah sering menghiasi media massa.

Dengan jumlah penduduk 240 juta jiwa, ekspor senilai 138 miliar tidak begitu signifikan menampung kesempatan kerja.

Di sinilah peran pemerintahan Indonesia, dengan susunan kabinet baru, harus menjadikan potensi ekspor sebagai salah satu prioritas dalam bekerja.

Keandalan para diplomat perdagangan RI, khususnya di WTO, harus dilengkapi dengan keandalan para penyusun kebijakan di sektor pertanian, keuangan, dan perindustrian. Adalah saatnya meninggalkan pola lama, yaitu para anggota kabinet disusun berdasarkan bagi-bagi jatah untuk partai, dengan mengabaikan kepentingan Indonesia di dalam percaturan ekspor.

Jajaran kabinet baru sebaiknya meninggalkan pola penempatan orang-orang, yang pada akhirnya hanya akan berperan sebagai ”para pencari rente ekonomi untuk keuntungan ekonomi bagi diri sendiri dan kelompoknya”.

Perdagangan adalah salah satu cara untuk menjual produk-produk, yang menciptakan lapangan kerja, yang dampaknya akan luar biasa. Ini adalah salah satu cara untuk mengatasi kemiskinan, yang melilit lebih dari 100 juta warga Indonesia.

Apakah nasib mereka yang miskin menjadi lenyap dan tak menjadi perhatian dengan keberadaan gedung-gedung pencakar di Jakarta? Apakah kemilau Jakarta membuat kita lalai bahwa di luar Jakarta ada banyak warga yang memerlukan pemerintah kuat? Apakah kemilau Jakarta membuat kita tidak lagi memerlukan Indonesia Incorporated? Hanya waktu yang akan membuktikan, apakah Indonesia Incorporated tetap tenggelam.

06
Sep
09

Pemerintahan : Sultan HB Otomatis Gubernur DIY

Kompas/Wawan H Prabowo
Warga yang menjadi bagian dari Gerakan Semesta Rakyat Jogja (Gentaraja) mengikuti unjuk rasa “Jogja Menggugat” di depan Gedung Agung Yogyakarta, Sabtu (5/9). Aksi ini digelar untuk memperingati Maklumat 5 September 1945 Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII, tentang bergabungnya Kerajaan Nyayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Paku Alam ke dalam NKRI.

Sultan HB Otomatis Gubernur DIY

Minggu, 6 September 2009 | 03:41 WIB

Yogyakarta, Kompas – Ribuan warga Yogyakarta, Sabtu (5/9), berunjuk rasa menuntut penetapan secara otomatis Sultan Hamengku Buwono sebagai gubernur dan Paku Alam sebagai wakil gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Penetapan ini agar dimasukkan dalam Undang-Undang Keistimewaan DI Yogyakarta. Mereka tegas menolak pemilihan gubernur/wakil gubernur secara langsung.

”Selesaikan Undang-Undang Keistimewaan DIY September 2009 ini dengan penetapan Sultan Hamengku Buwono (HB) sebagai gubernur sekaligus kepala daerah dan Adipati Paku Alam (PA) sebagai wakil gubernur sekaligus wakil kepala daerah,” ujar Sunyoto, Ketua Gerakan Semesta Rakyat Jogja (Gentaraja), saat membacakan sikap warga DIY dalam aksi ”Jogja Menggugat”.

Aksi Gentaraja digelar bertepatan peringatan Maklumat 5 September 1945 Sultan HB IX dan PA VIII tentang bergabungnya Kerajaan Nyayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Paku Alam ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam maklumat ini, Sultan dan PA menyatakan, Yogyakarta adalah daerah istimewa dari Indonesia, tetap memegang pemerintahan Yogyakarta, serta bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

Unjuk rasa di depan Gedung Agung itu dihadiri beberapa anggota Panitia Kerja RUUK DIY-DPR, seperti Ida Fauziah (ketua panja), Ferry Mursyidan Baldan, dan Jamaludin Karim.

Ida Fauziah optimistis RUUK bakal selesai dibahas periode ini meski sampai kini masih ada perbedaan dalam melihat konstruksi keistimewaan DIY antara pemerintah dan DPR. Perbedaan ini akan diselesaikan dalam lobi, hari Minggu ini. ”Menurut kami, substansi keistimewaan DIY adalah melekatnya Sultan HB sebagai gubernur,” katanya.

Ferry mengungkapkan, penetapan gubernur/wakil gubernur DIY adalah bagian dari penghormatan atas sejarah dan sumbangsih masyarakat DIY bagi RI. ”Peristiwa 5 September 1945 itu bukan peristiwa politik, tetapi itu sebuah peristiwa yang muncul karena keikhlasan,” katanya.

Dalam kuliah umum Majelis Guru Besar Universitas Gadjah Mada, R Sudomo Sunaryo, pelaku sejarah dan mantan Asisten Wilayah Daerah I DIY, mengatakan, amanat 5 September 1945 yang menegakkan keistimewaan Yogyakarta adalah bagian dari proses sejarah berdirinya NKRI. Status keistimewaan Yogyakarta pada waktu itu menjadi dasar komitmen Yogya untuk berjuang habis-habisan bagi tegaknya NKRI.

”Jika sekarang keistimewaan Yogya akan dihapuskan, itu bukan hanya pengingkaran terhadap ijab kabul yang telah dilakukan,” katanya.

Dalam forum itu, Bupati Bantul Idham Samawi menegaskan, DPR dan pemerintah jangan sampai salah menerjemahkan aspirasi masyarakat Yogyakarta. ”Kalau keliru, bisa jadi ontran-ontran. Jadi sesuatu yang akan mencederai dan kami rakyat Yogyakarta tidak ingin dicederai,” katanya. (RWN/WER)

06
Sep
09

Kesehatan : Delapan Manfaat Diet Sayuran

8ManfaatDietSayuran

Irni Diniati

05/09/2009 16:36 | Diet

Liputan6.com, New Delhi: Mengatur pola makan dengan memperbanyak mengonsumsi sayuran memang diketahui sebagai cara hidup yang sehat. Bahkan walaupun hanya dikonsumsi sekali dalam seminggu. Berikut beberapa manfaat mengonsumsi sayuran seperti dilansir The Times of India:

1. Detoksifikasi
Sayuran seperti labu, bayam, atau kubis mengandung serat yang dapat mengeluarkan racun dari tubuh. Diet yang hanya dengan telur, ikan, dan daging domba tidak cukup memenuhi kebutuhan serat kita.

2. Agar tulang lebih kuat
Terlalu banyak mengonsumsi daging dapat mengakibatkan kadar protein berlebihan yang dapat mengganggu ginjal. Akibatnya, penyerapan kalsium terganggu dan memaksa tubuh mengambil kalsium dari tulang. Namun pada para vegetarian, hal ini jarang terjadi.

3. Cukup karbohidrat
Diet nonvegetarian dapat mengakibatkan kita kekurangan sumber karbohidrat. Kekurangan karbohidrat ini dapat memicu ketosis, di mana tubuh mulai menggunakan lemat (bukan karbohidrat) sebagai sumber energi.

4. Memudahkan pencernaan
Karbohidrat kompleks pada makanan vegetarian dicerna secara berangsur-angsur dan teratur sehingga menyediakan sumber glukosa tetap. Sebaliknya, daging yang kaya lemak dan protein sulit untuk dicerna.

5. Kulit sehat
Mengonsumsi sayuran dari akar tanaman seperti wortel dan lobak, tomat, serta labu dapat membersihkan noda di wajah. Selain itu, jambu klutuk, apel, pir, dan buah persik yang dimakan bersama dengan kulitnya, bisa menghasilkan kulit yang bersinar.

6. Mengatur berat badan
Menghindari daging adalah cara paling sederhana untuk mengurangi masukan lemak. Sebaliknya, memakan gandum, polong-polongan (buncis), sayuran, kacang-kacangan, dan buah-buahan bisa menurunkan kadar kolesterol, tekanan darah, dan obesitas.

7. Melindungi gigi
Gigi geraham kita lebih cocok mengunyah padi-padian dan sayuran dari pada memotong daging. Pencernaan dimulai dari air liur yang hanya bisa mencerna karbohidrat kompleks yang terdapat pada makanan dari tumbuhan.

8. Sumber Phytonutrient
Diabetes, kanker, penyakit ginjal, stroke, dan tulang keropos bisa dicegah dengan asupan phytonutient atau nutrisi yang berfungsi mengaktifkan proses pembakaran lemak dalam tubuh, memperlambat proses penuaan dini, serta mengandung antioksidan. Bahan-bahan ini hanya terkandung di sayuran.(DIO)

06
Sep
09

Bencana Alam : Gempa dengan Varietas Baru di Selatan Jawa

Sabtu, 05/09/2009 09:41 WIB
Gempa dengan Varietas Baru di Selatan Jawa
Dr Irwan Meilano – suaraPembaca


Jakarta – Pada tanggal 2 September 2009 terjadi gempa dengan magnitude 7.3 (SR) atau 7.0 (Mw) selatan Jawa Barat. Lokasi sumber berjarak 200 km Barat Laut dari lokasi gempa tsunami pada Juli 2006. Getaran gempa dapat dirasakan sampai area yang cukip jauh (Bandung, Jakarta, dan beberapa kota di Jawa Tengah) dari sumbernya.

Mekanisme gempa Jawa Selatan yaitu sesar menaik (thrust) dengan sudut kemiringan 50 derajat. Dengan arah bidang sumber gempa sebesar 55 derajat dari utara. Luas dari bidang gempa yaitu 45 x 20 km dengan pergeseran pada bidang gempa sebesar 1.2 m. Gempa ini tidak menghasilkan tsunami walaupun mekanismenya adalah sesar menaik karena kedalaman sumber gempa yang cukup dalam 50 km.

Karakterisasi gempa pada tanggal 2 September 2009 ini memiliki karakter yang berbeda dengan gempa tsunami Juli 2006 (gempa Pangandaran). Sebagai akibat dari tunjaman lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Asia maka terkumpul energi pada bidang kontak tersebut.

Gempa Pangandaran dan juga gempa besar lainnya yang pernah terjadi di selatan Jawa (misal gempa-tsunami Pacitan 1994) juga terjadi pada bidang kontak antar lempeng (interplate earthquake). Tetapi, gempa pada tahun 2009 ini memiliki karakter yang berbeda dan mungkin merupakan varietas baru dari kegempaan di Jawa. Yaitu, gempa di dalam lempeng (intraplate) dan bukan pada bidang kontak lempeng. Gempa ini sangat penting untuk dipelajari karena memiliki implikasi tektonik serta mitigasi bencana gempa di Jawa Barat.

Mengapa gempa ini dikategorikan sebagai gempa di dalam bidang subduksi (intraplate)
dikarenakan:

Pertama, sudut arah dari tunjaman lempeng. Sudut arah ketika lempeng Indo-Australia menghujam lempeng Asia pada umumnya di selatan Jawa yaitu sebesar 110 derajat. Dan, kegempaan besar dengan mekanisme sesar menaik di wilayah selatan Jawa juga memiliki sudut arah kira-kira 110 derajat.

Sedangkan gempa ini memiliki sudut arah yang tidak sejajar dengan arah dari tunjaman lempeng, dan juga juga dengan gempa pada umumnya pada wilayah ini. Sudut arah dari gempa ini yaitu sebesar 50 derajat.

Kedua, kemiringan bidang gempa. Kemirangan bidang gempa dengan mekanisme sesar naik (thrust) di selatan Jawa pada umumnya mengikuti suatu jalur yang diberi nama sebagai benioff zone. Dan, rata-rata sudut kemiringannya yaitu 20 derajat atau lebih kecil. Tergantung pada lokasinya. Tetapi, gempa pada 2 September 2009 ini memiliki kemiringan sebesar 55 derajat sehingga memotong bidang lempeng.

Dapat disimpulkan bahwa gempa pada 2 September 2009 memiliki pola yang berbeda dengan gempa besar yang pernah tercatat di selatan Jawa. Walaupun gempa ini masih terdapat pada zona subduksi tetapi tidak berlokasi pada bidang kontak antar lempeng (interplate). Gempa ini terjadi di dalam lempeng sendiri (intraplate earthquake).

Studi mengenai gempa ini sangatlah penting karena sangat mungkin bahwa kejadian gempa ini  membawa pesan bahwa Pulau Jawa berpotensi untuk mengalami gempa di dalam lempeng (intraplate) di masa mendatang.

Dr Irwan Meilano
Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung.

(msh/msh)

06
Sep
09

Perbankan : Petisi Keprihatinan Kasus Century

“samiaji” <samiaji@free.fr>, nasional-list, 4 September 2009
Quote: — JK kembali menegaskan bahwa kasus Century murni kriminal, karena itu perampokan.
[ Sabtu, 05 September 2009 ]
Demokrat Tolak Tanda Tangani Petisi
Keprihatinan Kasus Century

JAKARTA – Setelah ditemukan fakta bahwa deposan kakap mendapatkan bunga simpanan tak wajar (jauh lebih tinggi daripada suku bunga standar), polemik kasus Bank Century semakin panas.

Dugaan penyimpangan di balik suntikan dana bailout Rp 6,7 triliun oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) langsung disorot sejumlah anggota DPR. Kemarin (4/9), mereka bahkan menyampaikan pernyataan sikap keprihatinan terhadap kasus tersebut di gedung DPR.

Pernyataan sikap itu ditandatangani sekitar 25 anggota DPR dari seluruh fraksi. ”Kecuali Fraksi Demokrat. Mereka tidak mau menandatangani, ” kata anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa Effendy Choirie di gedung DPR.

Dalam pernyataan sikap tersebut, dia juga didampingi Happy Bone Zulkarnaen dari Fraksi Golkar. Effendy mengaku tidak tahu jelas alasan Fraksi Demokrat tidak membubuhkan tanda tangan. Padahal, mereka sudah menjelaskan bahwa kasus Bank Century itu tidak langsung berhubungan dengan SBY atau Demokrat. ”Kami mencoba memahamkan bahwa ini soal rakyat. Bukan soal SBY,” tegasnya.

Para wakil rakyat tersebut menilai kasus itu sebagai penyalahgunaan uang rakyat oleh pemerintah. Jumlah dana yang digunakan terlalu besar untuk menyelamatkan segelintir orang saja. Padahal, dana itu bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rakyat yang lebih banyak. ”Ini tragedi nasional,” ujarnya.

Kasus tersebut, kata Effendy, sebenarnya bisa diseret lebih serius oleh DPR. Yakni, mengajukan hak angket atau interpelasi. ”Bank Indonesia bisa dipanggil ke sini (DPR, Red). Siapa pun yang terlibat bisa dipanggil ke sini. Tapi, karena prosesnya bermacam-macam, kami hanya bisa menyatakan prihatin,” ungkapnya.

Karena itu, kata Effendy, DPR mendesak agar tindakan hukum kasus bailout Bank Century itu bisa rampung sebelum Lebaran. Dengan demikian, ada kepastian mengenai siapa yang bertanggung jawab atas penyalahgunaan uang rakyat tersebut. ”Ini harus ada tindakan hukum. Kasus ini sudah ceto welo-welo (sangat jelas, Red) merugikan rakyat. Harus selesai sebelum Lebaran atau paling lama sebelum kabinet terbentuk,” tegasnya.

Bagaimana dengan isu aliran dana deposan Bank Century ke parpol? Effendy mengaku mendapat informasi adanya deposan kakap Bank Century yang mengalirkan dana ke parpol. ”Tapi, itu nantilah. Kita bahas yang ini dulu,” ungkap mantan ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa tersebut.

Menurut dia, setidaknya ada empat indikator ketidakberesan bailout Bank Century. Pertama, payung hukum yang digunakan BI dan pemerintah dalam mengucurkan dana penyertaan modal ke Bank Century adalah Perpu No 4/2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK). Padahal, perpu yang diajukan pemerintah pada 15 Agustus 2008 tersebut ditolak DPR pada 18 Desember 2008.

Alasannya, selain mengancam kepentingan negara, perpu tersebut tidak urgen. ”Perpu itu juga mendorong terjadinya BLBI jilid kedua karena pelaku sektor perbankan ceroboh,” jelasnya.

Kedua, pemerintah dinilai tidak terbuka kepada DPR mengenai besarnya dana bailout Bank Century. Angka yang disepakati pemerintah, kata Effendy, adalah Rp 1,3 triliun. Namun, LPS ternyata mengucurkan dana penyertaan modal ke Bank Century hingga Rp 6,7 triliun.

Ketiga, pengambilalihan kasus Bank Century tersebut tidak disertai kondisi yang membenarkan. Di antaranya, adanya ancaman rush alias penarikan dana secara besar-besaran. Terakhir, indikasi yang jelas adalah penyehatan Bank Century dilakukan secara tertutup. Tanpa disertai informasi tentang daftar nasabah atau pihak ketiga yang layak dijamin LPS. ”Itu rentan memicu korupsi dalam pencairan dana nasabah,” tegasnya.

Pada saat bersamaan, Kejaksaan Agung menyatakan terus mengawasi setiap perkembangan audit dana bailout oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). ”Kejaksaan juga memonitor perkembangan itu,” kata Jaksa Agung Hendarman Supandji di Kejagung kemarin.

Dia meminta secara khusus kepada Jaksa Agung Muda (JAM) Intelijen Iskamto dan JAM Pidana Khusus Marwan Effendy untuk memonitor perkembangan audit pengucuran dana tersebut. Terutama jika ada indikasi korupsi dalam kasus itu. ”Seumpama kasus itu diserahkan ke kejaksaan, kami siap. Kalau ditangani KPK, silakan,” tuturnya.

Mantan JAM Pidsus itu menyatakan sudah berkoordinasi dengan kepolisian dalam menangani kasus Century terkait penggelapan nasabah. Salah satu yang sudah disidangkan adalah pemegang saham Robert Tantular.

Bagaimana dengan aset Robert di luar negeri? Hendarman meminta penyidik kepolisian mengusut karena uang itu merupakan hasil kejahatan. Namun, dia menyatakan belum ada koordinasi soal pencucian uang. ”Sikap kejaksaan baru memonitor,” katanya. Berdasar informasi dari PPATK, aset Robert di luar negeri mencapai Rp 11 triliun.

Di tempat terpisah, Wakil Presiden Jusuf Kalla membantah telah mengintervensi penanganan Bank Century. Instruksi kepada Kapolri agar menangkap Komisaris Utama Bank Century Robert Tantular merupakan bagian dari tugas sebagai kepala pemerintahan untuk bertindak preventif mencegah kerugian nasabah.

”Siapa bilang intervensi? Apa yang salah? Saya kan pejabat presiden. Memerintah Kapolri berarti melaksanakan tugas, bukan intervensi,’ ‘ tegasnya setelah salat Jumat di Istana Wakil Presiden kemarin.

Wartawan sebelumnya meminta komentar tentang tudingan Robert dalam sidang yang menyebutkan bahwa pemerintah telah mengintervensi. Perintah kepada Polri agar menahan Robert dan lima direksi Century adalah tindakan preventif mencegah persoalan tersebut melebar, sehingga merugikan nasabah.

”Krisis (finansial) bisa terjadi kapan saja. Waktu itu tinggal meletus saja sebenarnya. Karena itu (tindakan pencegahan), harus keras,” katanya.

JK kembali menegaskan bahwa kasus Century murni kriminal, bukan bagian dari krisis ekonomi. Karena itu, dalam pertemuan dengan sejumlah pimpinan Nahdlatul Ulama (NU), dia menegaskan sejak awal menolak bailout untuk Century.

”Wapres bilang sejak awal menolak bailout karena itu perampokan. Beliau juga mengatakan, NU tanya, berarti NU peduli,” ungkap Ketua PB NU Said Agil Siraj.

Dalam pertemuan tersebut, JK juga mengungkapkan bahwa kasus itu ibarat kotak pandora. Bila kasus Century terungkap, akibatnya akan sangat panjang. ”Akan melebar ke mana, kami tidak tahu,” jelas Said.

Meski demikian, JK enggan berkomentar tentang dugaan keterlibatan kelompok di Bank Indonesia yang diduga memengaruhi pembengkakan dana penyelamatan hingga 10 kali lipat. Dia juga enggan menanggapi pernyataan Said Agil.

”Saya kira nggak usah saya (komentar). Saya mendoakan saja supaya (kasus ini) tidak merugikan rakyat,” ujarnya. (aga/fal/noe/ iro)

06
Sep
09

Al Qur’an : Memiliki Empat Keistimewaan

Al Quran Memiliki Empat Keistimewaan

Minggu, 6 September 2009 | 00:34 WIB

SERANG, KOMPAS.com–Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Serang, Banten, KH Mahmudi mengatakan, Al Quran sebagai pedoman hidup umat Islam memiliki 4 keistimewaan.

“Pertama, Al Quran ditulis dengan menggunakan bahasa Arab. Kedua, dengan hanya membaca Al-Quran seorang muslim sudah mendapatkan pahala, apalagi memahami sekaligus mengamalkannya, ” kata Mahmudi di Serang, Jumat.

Pernyataan Ketua MUI Kota Serang tersebut terkait dengan peringatan Nuzulul Quran yang jatuh setiap hari ke-17 Ramadhan. Pada tahun ini, yang akan terjadi terjadi pada Senin (7/9) malam.

“Jika diartikan ke beberapa bahasa di dunia Al Quran itu fleksibel. Keempat, jika dibaca dengan cara dilantunkan maka Al Quran menghasilkan nada yang merdu,” katanya.

Ia juga menjelaskan,substansi Al Quran juga mengandung makna yang tak terhingga. Mahmudi menuturkan, hari ke-17 Ramadhan adalah saat pertama kali Nabi Muhammad menerima wahyu Allah SWT selaku nabi. Al-Quran memuat segala sesuatu tentang dunia dan akhirat.

“Seorang muslim yang menjadikan Al Quran sebagai pedoman hidup niscaya akan selamat di dunia dan akhirat,” kata pimpinan Pondok Pesantren Al-Mubarok, Kota Serang ini.

Mahmudi mengungkapkan, terkait pengamalan nilai-nilai Al Quran dalam kehidupan sehari-hari, Mahmudi mengakui masih lemah. Indikasinya, sebagian besar umat hanya sanggup membaca materi Al Quran, akan tetapi sedikit sekali dari mereka yang memahami.

Oleh karena itu dirinya mengusulkan, perlunya ada pelatihan membaca dan memahami Al Quran pada kurukulum pendidikan umum, mulai dari SD hingga perguruan tinggi.

“Hal ini untuk menanamkan pengetahuan sejak dini. Kalau di lembaga pendidikan agama, seperti ponpes atau majelis taklim pembelajaran Al Quran sudah sangat intensif,” kata Mahmudi.

Di tempat terpisah, Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Serang Muhyi Mohas mengajak semua elemen warga menghayati makna Al Quran.

“Terlebih di bulan Ramadhan, membaca Al-Quran mempunyai amal dan makna tersendiri. Ayat yang pertama kali diterima Muhammad adalah iqra (bacalah). Itu jangan dimaknai secara harafiah. Baca itu artinya membaca kehidupan, alam, gejala sosial, hingga perubahan. Umat Islam intinya harus cerdas. Diminta untuk rajin membaca,” tukas Muhyi.

Sumber : Ant




Blog Stats

  • 2,186,768 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 120 other followers