Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



08
Oct
13

PusKesMas : Pisang Pencegah Jantung Koroner

Ditemukan … pisang pencegah jantung koroner

Minggu, 6 Oktober 2013 10:02 WIB |

Pewarta: Edy M Ya`kub

Surabaya (ANTARA News) – Tim mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Jurusan Teknologi Pangan (FTP) Universitas Katolik Widya Mandala (WM) Surabaya menemukan pisang mentah memiliki kandungan `pati tahan cerna` yang bermanfaat untuk diet, membantu penderita autis, dan mencegah jantung koroner.

“Caranya, pisang mentah harus diolah menjadi tepung pisang, maka tepung pisang akan memiliki kandungan `pati tahan cerna` dan bersifat bebas gluten,” kata anggota tim mahasiswa WM, William Kusnanto, Minggu.

Didampingi dua rekannya, Christian Liguori dan Witny Widjaja, ia mengatakan kandungan `pati tahan cerna itu baik dikonsumsi oleh mereka yang sedang melakukan diet atau penderita autisme yang harus mengonsumsi makanan bebas gluten.

“Pati tahan cerna adalah pati yang tidak tercerna oleh enzim tubuh dan kemudian tersimpan di usus besar. Pati tahan cerna ini baik bagi orang-orang yang sedang melakukan diet, baik demi kesehatan maupun penampilan,” katanya.

Seperti halnya sayur dan buah-buahan yang menghasilkan serat, pati tahan cerna ini akan difermentasikan oleh bakteri di dalam usus besar dan menghasilkan senyawa asam propionat yang baik bagi tubuh dan berfungsi sebagai pencegah kanker.

“Cara kerjanya seperti obat penurun kolesterol, sehingga pisang mentah dalam bentuk tepung itu akan dapat mencegah terjadinya jantung koroner,” papar Christian menambahkan.

Sementara itu, Witny menambahkan karya ilmiah mereka memaparkan tentang bagaimana mencegah penyakit jantung koroner dengan mengonsumsi makanan yang mengandung pati tahan cerna.

“Fokus kami adalah pisang. Kami sengaja memilih pisang, karena pisang adalah produk pangan lokal yang bisa didapat dengan mudah dan tidak kenal musim, sehingga pisang menjadi alternatif dalam bidang pangan,” katanya.

Apalagi, dari segi harga, pisang bisa dikatakan memiliki harga yang terjangkau bagi banyak kalangan. “Ini juga meningkatkan nilai tambah produk pangan Indonesia yang bisa diekspor. Umumnya, pisang dikenal hanya dalam bentuk selai pisang, keripik pisang, atau pisang goreng. Pisang memang produk asli Indonesia yang kaya manfaat,” katanya.

Agar memiliki kandungan pati yang tinggi, pisang muda diolah terlebih dahulu menjadi tepung pisang. “Jika diolah menjadi tepung pisang, bisa diolah menjadi bahan dasar makanan, misalnya cookies, cake, pasta, atau mungkin mie,” ujarnya tentang jenis makanan yang bisa dihasilkan dari tepung pisang.

Mahasiswa semester 7 yang sedang menyusun skripsi itu menganggap bahwa pisang adalah komoditas hortikultura yang memiliki diversifikasi pangan yang cukup tinggi di Indonesia dan mengandung bioaktif, karena selain mengandung pati tahan cerna ternyata pisang juga mengandung antioksidan.

“Badan Pusat Statistik juga menyatakan pisang menjadi bahan pangan komoditas ekspor yang menyumbang sekitar 30 persen dari total ekspor buah di Indonesia,” katanya.

Terobosan ketiga mahasiswa WM itu membuat mereka menjadi juara 1 dalam “11th National Student Paper Competition” yang diadakan oleh Institut Pertanian Bogor pada 28 September 2013. Mereka mengambil topik “Breakthrough in Food Technology: Banana Against Coronary Heart Disease”.

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2013

BONUS :

“KHASIAT APOTIK HIDUP”

TEMPE: UTK KOLESTROL & MEMPERLAMBAT MENOPAUSE

TOMAT: MENTAH (VIT A+E) UTK RAMBUT RONTOK;
TOMAT: MATANG (ZAT LYCOPEN) UTK KANKER PAYUDARA & KANKER PROSTAT

NANAS: UTK KANKER PARU2 & KEPUTIHAN (TENGAHNYA JGN DIBUANG)

KIWI (VIT C-70X DR JERUK) + ANGGUR
HIJAU: UTK MELANGSINGKAN TUBUH

PENDERITA ASAM URAT: JGN MINUM KALDU DAGING

BUAH NAGA PUTIH: UTK KOLESTROL & DIABETES
BUAH NAGA MERAH: UTK GINJAL
BUAH NAGA KUNING (LUARNYA): UTK PENCERNAAN
BUAH NAGA BIRU DR BRAZIL: UTK PARU2

LEMON KUNING (DIMINUM PAGI): UTK MAAG & MELANGSINGKAN TUBUH.
LEMON KUNING (DIMINUM MALAM): UTK LUTUT & MIGREN.
LEMON+MADU: UTK RADANG TENGGOROKAN

ALPUKAT: UTK KOLESTROL

BAKTERI DLM TUBUH: MUTUAL 20%, PATOGEN 30%, NETRAL 50%.
KALAU POLA MAKAN BENAR, YG NETRAL IKUT KE YG MUTUAL.
KALAU TIDAK BENAR, YG NETRAL IKUT KE PATOGEN.

MAKANAN DR HEWAN DARAT KAKI 4: HRS DIMAKAN SIANG, JK DIMAKAN MLM LDL NAIK

MAKANAN DR IKAN: BISA DIMAKAN KAPAN SAJA. LEBIH BAIK YG ADA SISIKNYA KRN ADA ENZIM AKILGLISEROL SBG PENOLAK RACUN

ANGGUR HITAM, JERUK MANDARIN & ALPUKAT: UTK JANTUNG YG TERSUMBAT

45 MG KOPI: UTK OBAT SAKIT KEPALA
360 MG KOPI: MEMPERCEPAT MENOPAUSE & MEROBEK PEMBULUH DARAH.

WORTEL: UTK KANKER USUS KECIL, TAPI BAGI PENDERITA DIABETES PANTANG WORTEL MATANG.

SALMON ATLANTIK & NORWEGIA: UNTUK KESEHATAN MATA

TELOR: TDK BOLEH MENTAH KRN GINJAL AKAN TERBEBANI.….senangnya berbagi….
Salam Negarawan17845,
Pandji R Hadinoto, PKPI Nasionalis Pancasila
GeraKNusa Gerakan Kebudayaan Nusantara
http://www.jakarta45.wordpress.com

02
Oct
13

Perekonomian : Indonesia Hanya Pecundang di KTT APEC

Indonesia Hanya Pecundang di KTT APEC
Senin, 30 September 2013 | 17:46

[JAKARTA] Posisi Indonesia dalam KTT APEC 2013 di Bali hanya sebagai pecundang.

Tidak ada yang bisa dibanggakan, karena Indonesia tidak memiliki daya tahan yang kuat dalam persaingan dunia global, khususnya dalam liberalisasi ekonomi dan investasi.

Justru liberalisasi yang didukung Indonesia itu hanya akan menciptakan ketimpangan, dan Indonesia akan menjadi pecundang. Karena itu, siapa pun presiden terpilih pada Pemilu 2014 nanti,  Indonesia akan tetap dimanfaatkan oleh Amerika Serikat (AS).

“APEC itu peluang dan ancaman. Kita bisa sebagai pecundang atau penantang. Bagi saya, kita pecundang,” kata pengamat politik ekonomi Ichsanudin Noorsy dalam diskusi “APEC dan empat Pilar Bangsa” bersama Ketua FPKB MPR RI,   Lukman Edy dan staf khusus Presiden SBY,  Firmanzah di Gedung MPR RI Jakarta, Senin (30/9).

Ichsanudin mengatakan, dari berbagai indikator, pemerintah Indonesia tidak bisa memainkan peran yang menguntungkan di KTT APEC.

Di kawasan ASEAN saja, kata dia, Indonesia selalu dalam posisi korban, terutama korban Singapura, Malaysia, dan Thailand.

“Buktinya, pada 15 Februari 2005, Presiden SBY meminta perjanjian ekstradisi ke Singapura, tetapi yang didapat adalah jaminan investasi Singapura di Indonesia. Ini bukti kita lemah,” katanya.

Sementara itu, Lukman Edy mengatakan, ada dua kepentingan dalam konteks APEC.

Pertama, negara-negara mendorong liberalisasi perdagangan dan investasi.

Kedua, ada kepentingan yang ingin mengubah kesepakatan dalam APEC itu sendiri, terutama untuk menjaga kepentingan ekonomi dalam negeri setiap negara anggota.

“Dalam konteks ini, Indonesia berada di mana? Kalau menurut saya, Indonesia masuk dalam kepentingan pertama, cenderung mendorong liberalisasi perdagangan,” katanya.

Contohnya, Bogor Goals tak bicara lagi perlindungan dalam negeri, tetapi mendesak liberalisasi perdagangan.

“Fakta memang, sekitar 20 persen ekspor kita ke negara-negara anggota APEC, tetapi hasil akhirnya tetap defisit,” katanya.

Anehnya, kata Lukman Edy, Indonesia tidak pro aktif memperjuangkan liberalisasi sektoral. Justru hal ini lebih disuarakan oleh negara-negara lain.

“Sebenarnya dalam APEC ini, Indonesia mau membela yang mana? Apakah kita masuk kategori negara maju, walau kenyataannya kesenjangan masih tetap ada. Kenapa Indonesia tidak suarakan kesenjangan itu?” katanya.

Lukman berharap, walau Indonesia tidak menyuarakan kesenjangan itu, tetapi memberi dukungan kepada negara-negara berkembang lainnya. Itu yang perlu dilakukan.

“Karena kalau Indonesia mengklaim sebagai negara maju, ini ibarat lebih besar pasak dari tiang. Tetapi itulah yang terjadi,” katanya.

Firmansyah mengatakan, keikutsertaan Indonesia dalam APEC untuk menjalankan amanat konstitusi, yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial.

Apalagi Indonesia sudah dua kali menjadi tuan rumah  KTT APEC, yakni pada 1994 dan 2013 ini.

“Jadi, kita ikut mendorong pengurangan kesenjangan dengan mempercepat pembangunan infrastruktur, karena dana APBN tak mencukupi. Nilai investasi asing khususnya  lima  negara besar (AS, Australia, Jepang, Korsel, dan Singapura) saat ini mencapai Rp 647 triliun. Itu yang menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi dunia,” katanya. [L-8]

02
Oct
13

Legislatif : Citra dan Kinerja Parlemen Memprihatinkan

 
30 September 2013 | 02:13 wib
Citra dan Kinerja Parlemen Memprihatikan
 0
 

 2

JAKARTA, suaramerdeka.com – Citra dan kinerja anggota DPR RI periode 2009-2014 memprihatikan. Sejumlah kasus suap, korupsi, dan tindakan asusila yang melibatkan anggota DPR dinilai publik telah mencoreng wajah parlemen Indonesia. Begitu pula dengan kinerja anggota DPR yang masih jauh dari harapan. Demikian rangkuman dari hasil penelitian Citra dan Evaluasi Kinerja DPR di mata publik yang dilakukan Institute Riset Indonesia (INSIS).

Dalam riset ini diketahui, responden yang menjawab citra DPR tidak baik 38.5 persen, semakin tidak baik 26.1 persen, baik 29,2 persen, semakin baik 1.9 persen, dan tidak menjawab 4.3 persen. Bila diagregatkan maka publik menilai citra DPR tidak baik di atas 50 persen lebih. Ini membahayakan bagi wajah Parlemen Indonesia masa kini dan mendatang,” kata Peneliti INSIS Mochtar W Oetomo, di Jakarta, Minggu (29/9).

Penyebab buruknya citra DPR disebabkan beragam persoalan. 55.3 persen publik menyatakan tidak puas dan sangat tidak puas dengan kapasitas anggota DPR. 79.5 persen publik tidak puas dan sangat tidak puas mengenai moral anggota DPR.  81.4 persen publik menyatakan tidak puas dan sangat tidak puas terhadap komitmen pemberantasan korupsi. 78.3 persen publik menyatakan tidak puas dan sangat tidak puas soal tingkat kehadiran anggota DPR.

Begitu pula dengan kinerja anggota DPR. 77 persen publik menilai kinerja DPR tidak baik dan semakin tidak baik. 48.5 persen publik mengaku tidak puas dan sangat tidak puas soal kinerja DPR dalam membentuk UU. 46.6 persen publik mengaku tidak puas dan sangat tidak puas kinerja DPR dalam membahas APBN. 59.6 persen publik mengaku tidak puas dan sangat tidak puas kinerja DPR dalam pengawasan UU dan APBN. 73.9 persen publik mengaku tidak puas dan sangat tidak puas kinerja DPR dalam menyerap keluhan masyarakat. 60.9 persen publik mengaku tidak puas dan sangat tidak puas kinerja DPR dalam memberikan pendapat atau masukan kepada pemerintah.

Priyo Budi Santoso mendapat penilaian tertinggi dari responden sebagai anggota DPR yang paling aspiratif dan disukai 6.91 persen. Berikutnya secara berturut-turut diikuti Rieke Dyah Pitaloka 6.16 persen, Ganjar Pranowo 5.6 persen, Taufik Kurniawan 4.67 persen, Budiman Sujatmiko 3.92 persne, Mahfudz Siddiq 3.45 persen, Ahmad Muqowam 2.89 persen, Ahmad Muzani 1.86 persen, Eko Hendro Purnomo 1.4 persen, lainnya 40.46 persen, dan tidak menjawab 21.21 persen.

Mochtar W Oetomo mengatakan, munculnya Wakil Ketua DPR itu sebagai anggota DPR paling aspiratif  lantaran kerap memberi komentar positif terhadap sejumlah isu aktual. Salah satu contohnya adalah menemui demontrasi besar kepala desa dan perangkatnya.

‘’Penjelasan Priyo bahwa dia sekadar menyampaikan aspirasi dan tidak berkepentingan apapun, yang dikutip oleh media massa, ternyata dipahami masyarakat’’.

Sekalipun dianggap paling aspiratif, namun Priyo ternyata bukan anggota yang paling dikenal. Ketua DPR Marzuki Alie menjadi anggota DPR yang paling dikenal dengan hasil penelitian 9.43 persen. Diikuti Ruhut Sitompul 8.69 persen, Priyo Budi Santoso 7.57 persen, Hidayat Nur Wahid 6.54 persen, Puan Maharani 6.07 persen, Pramono Anung 5.51 persen, Hajriyanto Thohari 4.48 persen, Fahri Hamzah 3.92 persen, Bambang Soesatyo 3.64 persen, Ahmad Yani 3.27 persen, Tantowi Yahya 2.71 persen, lainnya 24.01 persen, tidak jawab 7.1 persen.

Adapun anggota DPR yang kontroversial Ruhut Sitompul dinilai sebagai anggota DPR yang paling keras/ngotot dalam menyampaikan pendapat 8.22 persen. Diikuti Bambang Soesatyo 3.27 persen, Eva Kusuma Sundari 2.52 persen, Fahri Hamzah 2.52 persen, Sutan Bhatoegana 2.42 persen, Nurul Arifin 2.14 persen, Martin Hutabarat 1.86 persen, Ahmad Yani 1.77 persen, Syarifuddin Suding 1.49 persen, lainnya 58.22 persen, tidak menjawab 15.51 persen.

Popularitas Marzuki tinggi karena sebagai Ketua DPR. Selain itu, intensitas Marzuki muncul di media cukup meningkat. Terutama dalam beberapa bulan terakhir kiprah Marzuki dalam Konvensi Partai Demokrat banyak diberitakan televisi.  ‘’Sebanyak 86.3 persen responden mengenal anggota DPR melalui televisi,’’ kata penelitiInsis.

Survei ini dilakukan pada 17 Agustus hingga 20 September di 34 provinsi. Menggunakan metodologi rambang berjenjang (multistage random sampling). Jumlah responden 1.070 orang. Margin of Error ± 3 persen. Level of Confidence 95 persen. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan pedoman kuesioner.

Peneliti Founding Fathers House (FFH) Dian Permata mengatakan, potret cerminan citra dan kinerja DPR masa datang harus lebih baik dari pada masa kini. Hal ini dilatarbelakangi posisi DPR sebagai lembaga tinggi negara yang memunyai posisi strategis dan punya daya politik tawar yang tinggi. Begitu pula dengan kader-kader yang bakal di duduk di DPR. Harus lebih baik daripada produk saat ini.

“Harus ada kader-kader baru seperti Nurul Arifin, Priyo Budi Santoso, Rieke Dyah Pitaloka, Pramono Anung, Ahmad Yani baru di DPR. Bukan melahirkan produk seperti Nazarrudin, Angelina, maupun Wa Ode.”.

( A Adib / CN19 / SMNetwork )

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Load ads
Baca Juga
02
Oct
13

IpTek : Molekul Cahaya

Pertama Kali, Ilmuwan Berhasil Membuat “Molekul Cahaya”

  • Penulis :
  • Yunanto Wiji Utomo
  • Senin, 30 September 2013 | 20:30 WIB
Ilustrasi : Ilmuwan untuk pertama kali berhasil membuat “molekul cahaya”. | rawrgg.com


KOMPAS.com
 — Partikel cahaya atau foton selalu tidak memiliki perilaku seperti partikel materi. Foton bisa menembus satu sama lain serta tidak berikatan satu sama lain membentuk struktur yang lebih besar. Hal itu selalu diajarkan di setiap kelas fisika dasar.

Namun, kini berbeda. Tim ilmuwan yang dipimpin oleh profesor fisika dari Harvard University, Mikhail Lukin, dan Vladan Vuletic dari MIT, mampu membuat foton bisa berikatan dengan foton lain, menciptakan sebuah “molekul cahaya”. Sebelumnya, hal ini hanya ada dalam angan-angan.

“Apa yang kita lakukan adalah membuat medium khusus di mana foton berinteraksi satu sama lain dengan kuat dan berperilaku seolah-olah memiliki massa dan berikatan satu sama lain membentuk sebuah molekul, ” kata Lukin.

“Ketika foton ini berinteraksi satu sama lain, mereka mendorong dan membelokkan satu sama lain. Fisika yang terjadi pada molekul ini seperti yang ada dalam film (lightsaber dalam Star Wars),” imbuh Lukin seperti dikutip Huffington Post, Jumat (27/9/2013).

Medium diciptakan dengan memompa atom-atom rubidium ke ruang hampa dan mendinginkannya hingga temperatur mendekati nol mutlak. Kemudian, menggunakan laser lemah, ilmuwan menembakkan dua foton cahaya ke awan atom tersebut.

Ketika foton keluar dari sisi lain medium, mereka berikatan seperti sebuah molekul. Hal ini bisa terjadi karena efek Rydberg blockade yang mencegah foton tereksitasi dekat foton lainnya. Dua foton dipaksa untuk bergerak di dalam medium dengan gaya tarik dan dorong tertentu.

“Ini adalah interaksi fotonik yang dijembatani oleh interaksi atomik. Ini membuat foton-foton itu berperilaku seperti sebuah molekul dan ketika mereka keluar dari medium, mereka kemungkinan besar juga berupa molekul daripada sebuah foton,” ungkap Lukin seperti dikutip Physorg, Rabu (25/9/2013).

Keberhasilan ini bisa diaplikasikan pada pengembangan teknologi komputasi kuantum. Dalam komputasi kuantum, setiap bit adalah foton. Tanpa interaksi dua foton, informasi dalam komputasi kuantum tidak dapat dipertukarkan.

Editor : Yunanto Wiji Utomo
02
Oct
13

Kebudayaan : Peradaban Maritim Indonesia

 

MENGUNGKAP BUDAYA LUHUR NUSANTARA

MENUJU PERADABAN MARITIM INDONESIA

 

 

LATAR BELAKANG

Dalam sejarah modern bangsa ini sebagai republik, mungkin baru belakangan ini tema maritim atau kelautan sebagai identitas orisinal atau primordial dari bangsa Indonesia, atau suku-sukubangsa di Nusantara, ramai dibicarakan banyak kalangan, terutama kalangan atas dan menengah. Secara sosial mereka memiliki tingkat pendidikan cukup atau lebih dari cukup. Mereka memiliki kepedulian (concern) dan waktu-lebih untuk memberi perhatian kepada persoalan-persoalan di luar dirinya, persoalan yang menyangkut masyarakat sekitar dan negerinya sendiri.

Cukup ramainya perbincangan di atas mungkin disebabkan oleh setidaknya lima hal. Pertama, masyarakat tampaknya kian bertambah kecewa dengan perkembangan mutakhir kehidupan bangsa ini, terutama karena lemah dan minimnya kerja negara dalam menjalankan amanah rakyat sebagaimana tertuang dalam konstitusi (UUD 45). Sebagian orang melihat kehidupan rakyat tidaklah bergerak pesat menuju ideal-ideal yang dibayangkan oleh ideologi kita, tapi justru mundur atau merusak fundamen kebangsaan yang dipercaya telah dibangun dan disemen dengan kuat oleh ideologi itu.

Kedua, kekecewaan di atas membuat sebagian masyarakat, terutama kelas menengah dan sebagian kaum elit, mempertimbangkan atau meninjau kembali pada pilihan-pilihan sistemik yang kita praksiskan dalam kehidupan bernegara, berpolitik, berekonomi, berhukum, dan seterusnya. Sebuah pertimbangan yang diambil lantaran ketidakpuasan pada cara pemerintah, sebagai pelaksana kerja (eksekutif) negara lebih banyak ditujukan pada kemaslahatan, keuntungan atau penimbunan profit (sosial, politik, ekonomi, kultural) diri mereka sendiri (elit), bukan untuk kesejahteraan umum atau keadilan sosial sebagaimana tersebut dalam sila terakhir dasar negara.

Ketiga, muncul sebuah kesadaran tentang buruknya kerja pemerintah di atas karena terlampau dipengaruhi, didominasi, bahkan dikuasai oleh paradigma bernegara yang diimpor dari luar (oksidental khususnya, seperti negara-negara Eropa Barat dan Amerika Tengah dan Utara). Pengaruh itu sesungguhnya telah ada sejak ratusan tahun lalu namun menjadi sangat kuat dan massif akhir-akhir ini berkat arus keras globalisasi yang memanfaatkan perkembangan canggih teknologi komunikasi, informasi, dan transportasi yang mereka miliki. Notabene, arus keras itu sebenarnya berlandaskan metode berpikir (filsafat dan epsitemologi) yang berkarakter kontinental alias daratan.

Keempat, maka akhirnya, berlandas kesadaran baru tersebut kita “menemukan kembali” realitas historis, geografis hingga ideologis kita –sebagaimana termaktub dalam konstitusi, dasar negara, dan buah pemikiran para founding fathers and mothers—yang sesungguhnya berbasis pada peradaban maritim atau kelautan. Sebuah pilahan, atau katakanlah saudara kembar dari adab kontinental/daratan yang sejak awal mula kebudayaan sudah menjadi mitra tanding (sparring partner), bahkan kompetitor yang berhadap-hadapan secara diametral hampir di seluruh dimensinya.

Akibatnya, kelima, bermunculanlah banyak buah pikiran –dalam bentuk risalah, monografi, jurnal dan buku-buku, juga berbagai kolokium dan simposium—yang mengangkat masalah kemaritiman sebagai identitas yang “tersembunyi” atau “disembunyikan” dari diri kita. Hanya, hampir semua buah pikiran atau wacana itu belum berhasil meneguhkan secara adekuat tentang apa yang disebut dengan (adab) kelautan itu, dengan seluruh dimensi kehidupan yang mengisinya. Data-data masih terasa sumir, bahkan dipertanyakan oleh kalangan ilmiah dalam dan luar negeri, juga analisis atau kesimpulan-kesimpulan tentatif atau hipotesisnya masih disusun secara spekulatif sehingga tampak obskur, eklektik, dan mengambang.

 

MENGUNGKAP ADAB MARITIM

Berdasarkan berbagai hal yang telah dikemukakan di atas, Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) memandang perlu dan berinisiatif menyelenggarakan studi / kajian yang ketat dan serius untuk membahas persoalan-persoalan di atas, khususnya pada persoalan kemaritiman, sehingga bisa dimulai terbitnya buah pikiran (intelektual) yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara akademis maupun historis. Niat tersebut diwujudkan dengan menyelenggarakan semacam serial diskusi di mana akan dibahas beberapa segi atau dimensi utama dari hidup dan adab maritim yang pernah dan masih ada di negeri ini.

Sebuah usaha yang lebih tepat disebut menemukan kembali / menyingkap (rediscovering) Indonesia dalam adab kelautan sebagai identitas primordial atau purbanya, tanpa meninggalkan pengakuan dunia terhadap budaya pertanian nusantara yang telah berkembang demikian canggih pada zamannya. Menguji sejauh mana ia nyata dan ilusifnya, bermanfaat atau tidaknya. Keberanian jiwa, kebersihan hati, dan keterbukaan pikiran menjadi prakondisi yang tak terelakkan harus dimiliki oleh semua kalangan yang terlibat dalam usaha ini.

Berbagai kalangan ahli akan diminta mengisi serial diskusi ini dengan visi dan idenya tentang eksistensi adab maritim di masing-masing bidang kepakarannya, seraya menengarai apakah bidang-bidang itu memang menunjukkan sebuah keunggulan atau justru kelemahan, serta apakah ia bisa dieksplorasi menjadi kekuatan yang mampu menjawab pertanyaan atau persoalan-persoalan kontemporer yang dihadapi negeri ini.

KERANGKA PIKIR

Adalah sebuah fakta, ketika bangsa Eropa mampu menyeberangi lautan “hanya” sejauh 60 mil ke kepulauan Kreta pada 8.000 tahun BP (Before Present), bangsa Nusantara 60.000 tahun BP sudah mengisi benua kosong yang bernama Australia. Pada 35.000 tahun BP, bangsa Nusantara telah menyeberangi samudera (Hindia), yang tentu saja belum ada satu pun bangsa di atas bumi ini dapat melakukannya saat itu, untuk menempati tanah-tanah pinggiran laut di Selatan India, Madagaskar bahkan Afrika bagian Timur Jauh. Sehingga beberapa ahli menengarai, bangsa Zanj (yang menjadi pendahulu dari bangsa Arzania, Zanzibar atau Tanzania) sebenarnya adalah manusia Afro-Indonesia.

            Perjalanan bangsa Eropa menyeberangi lautan bahkan baru dimulai pada akhir abad 15 setelah Spanyol mampu menundukkan Cordoba. Kapal yang digunakan Spanyol yang dipimpin oleh Columbus tahun 1492 hanya memiliki kapasitas sekitar 30 penumpang (Kong Yuanzhi, 2005). Teknologi kapal Eropa ini seperti teknologi kapal Mongol tahun 1292 memiliki kapasitas sekitar 30 penumpang (W.P. Groeneveldt, 2009). Teknologi kapal Eropa dan Mongol ini sangat jauh di bawah teknologi kapal bangsa Kun Lun pada abad ke-3 yang memiliki kapasitas 600 penumpang (Daud Aris Tanudirdjo, 2010). Bangsa Kun Lun adalah bangsa Jawa, karena bangsa Jawa merupakan satu-satunya bangsa yang melakukan kontak perdagangan pertama dengan Cina (W.P. Groeneveldt, 2009), mendahului bangsa lain di Nusantara.

Hal yang sama dengan sebuah sukubangsa Nusantara yang bernama “Lapitan”, di antara Maluku dan kepala burung Papua, sebagai bangsa awal dengan adab maritim yang cukup lanjut, setidaknya ditandai oleh kemampuan mereka melintasi samudera lainnya (Pasifik) untuk terus berlayar ke Timur, puluhan ribu mil, dan menyemaikan benih kebudayaan lokal di kepulauan Fiji, pulau Paskah (pulau paling terpencil di dunia), dan pada akhirnya Hawaii, serta pulau-pulau besar di Selandia Baru.

Tidak heran jika banyak spekulasi -–yang sebenarnya berbasis data cukup kuat—menyatakan bangsa-bangsa pribumi seperti Aborigin (Australia), Maori (Selandia Baru), atau yang ada di kepulauan Polinesia hingga suku bangsa yang membangun Hedgestone di pulau Paskah berasal dari negeri ini (perhatikan: hedgestone yang membuat bingung para ahli hingga hari ini disebut oleh penduduk lokalnya dengan istilah “Matatenga”, sebuah istilah yang dekat sekali dengan berbagai kepercayaan purba di Nusantara).

Semua itu menjadi dasar yang memperkuat beberapa konstatasi dari sebagian arkeolog kelautan yang menyatakan, hingga 2500 BP lautan di dua pertiga dunia dikuasai oleh maskapai-maskapai dari para pelaut Nusantara. Bahkan mungkin lebih dari itu. Mengingat adanya temuan persamaan kebudayaan dalam hal ini musik dan beberapa tanaman pangan antara bangsa Afrika dan Nusantara (Robert Dick-Reid, 2008), juga mengingat bangsa-bangsa Arab dan India dikenal tidak memiliki sejarah pelayaran yang berteknologi tinggi —bahkan ditegaskan oleh para ahli, bangsa Arya yang menguasai India sejak abad 19 sebagai bangsa yang “sama sekali tidak pernah mengenal laut”— bukanlah hal yang spekulatif untuk mengatakan pelayaran atau perantauan para pedagang atau penyebar agama di kedua bangsa besar itu sebenarnya “menumpang” atau “menyewa” jasa maskapai-maskapai yang berasal dari Nusantara (Robert Dick-Reid, 2008). Terlebih sebagaimana informasi kedatangan Portugis awal dari Duarte Barosa (Paul Michel Munoz, 2009) dan Tome Pires (Armando Cortesao, 1967) yang menyebutkan bahwa hingga abad ke-16, Jawa merupakan pedagang utama yang mengelola perdagangan dari Aden hingga Cina. Oleh Duarte Barosa, Jawa juga dicatat memproduksi kapal, senjata, logam mulia, sutera dan mengelola pertanian secara besar-besaran.

Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara, terutama Sumatera dan Jawa dengan Cina juga diakui oleh sejarawan G.R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari jazirah arab dengan para pedagang dari wilayah asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri arab dengan Nusantara pada saat itu. “Keadilan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi”,tulis Tibbetts. Jadi peta perdagangan saat itu, terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China. Aebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M, hanya berbeda 15 tahun setelah Rasullullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasullulah berdagwah terang-terangan kepada bangsa Arab, di sebuah pesisir pantai sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya. Hal ini makin diperkuat, misalnya, oleh bukti-bukti baru yang menunjukkan bagaimana komunitas muslim sudah terbangun sejak masa kerasulan Muhammad saw. Para ahli banyak menegaskan, misal saja, pada tahun 625 kota Barus sudah diisi oleh komunitas muslim dan bangsa-bangsa lain, di bawah perlindungan raja-raja Sriwijaya, (PLPG Sertifikasi Guru Rayon 9 Universitas Negeri Jakarta, 2012),  Kita pun sama tahu bagaiman Raja Sri Indrawarman menulis surat (yang aslinya ada di London) kepada Raja Umar bin Abdul Aziz dari dinasti Muawiyah untuk mengirim ustadz-ustadznya mengajarkan Islam di negeri maritim itu, (Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, 1994). Sang Raja dan anak yang menggantikannya kemudian masuk Islam, walau agama itu tidak bisa menjadi agama negara karena protes yang dilancarkan para biarawan Buddha yang dominan di saat itu. Atau persahabatan antara Yazid bin Muawiyah putra dari pendiri dinasti Muawiyah dengan Jawa (Irawan Djoko Nugroho, 2011).

Semua itu tentu saja bukan data yang obskur untuk mendukung bagaimana pelaut-pelaut Nusantara bukan hanya telah mengembangkan teknologi tinggi dalam dunia pelayaran, lima melineum bahkan lebih dari bangsa Viking yang dibanggakan bangsa Eropa. Bahwa pernyataan Nabi yang menyatakan “belajarlah hingga ke negeri Cina” tentu saja bukan karena Nabi pernah ke Cina. Namun karena ia berdagang di 18 kota bandar (dari 20 kota dagang yang paling sering ia kunjungi), di mana ia berkesempatan bertemu dengan para pedagang dan pelayar Nusantara. Beberapa ahli seperti Mansyur Suryanegara atau Nuchbatuddar memang membuktikan bagaimana para pelaut Indonesia sudah berdagang dengan Nabi sebelum masa kerasulannya. Dan GR Tibbetts (1956) pun menegaskan, “Nusantara adalah tempat singgah para pedagang Arab yang hendak ke Cina sejak abad 5 Masehi (dengan menumpang maskapai pelayaran Nusantara)”. Dalam ripta prasasti atau prasasti yang ditulis di atas daun lontar yaitu Prasasti Nagarakrtagama (1365 M), Arab yang dalam bahasa Jawa Kuno disebut Yawana dicatat sebagai mitra ‘negara sahabat’. Cina dan India (Vijayanagara) bersama Asia Tenggara dan Nusantara dicatat sebagai wilayah yang disatukan dalam kerajaan Majapahit.

Tentu masih cukup banyak data keras (hasil riset berbagai disiplin) yang memper-lihatkan bagaimana di masa lalu, sekurangnya sejak 5.000 tahun BP hingga 1600 M, telah berkembang semacam kebudayaan di berbagai sukubangsa yang mengisi kepulauan terbesar di dunia ini, dengan satu ciri, tanda, atau identitas yang kuat dan melekat pada kelautan. Sebuah kenyataan yang mampu melahirkan satu-satunya suku bangsa dalam sejarah manusia di muka bumi ini yang hidup, berkembang, berbudaya, dan mati seluruh-nya di laut: bangsa Bajau (Bajo, Wajo, dll sebutannya).

Riwayat yang dikisahkan oleh C. Ptolemeus (70 M), yang kemudian dikutip lagi oleh Dennys Lombard (1970), bahwa pada tahun 2100 BP dikirim sebuah kapal ekspedisi raksasa yang berisi penuh hasil bumi dan binatang-binatang khas Nusantara berangkat ke Afrika untuk ditukarkan dengan budak, menandakan adanya tingkat budaya (ekonomi) yang cukup tinggi masa itu di kepulauan ini. Dalam prasasti Garaman 1053 M, para budak ini, misalnya dari Jenggi (Zanzibar), masih dicatat dipekerjakan di Jawa (Ani Triastanti, 2007). Pada tahun 1381 M, Jawa juga dicatat sejarah dinasti Ming masih mempekerjakan budak hitam di kapal menuju Cina (W.P. Groeneveldt, 2009). Hal itu pun menjadi indikasi yang kuat bagaimana cara bahkan sistem hidup bernegara, berpolitik hingga bergaul antar-bangsa (internasional) sudah terbangun dengan baik di negeri ini.

Oleh karena itu, penting sekali bila kita saat ini berusaha untuk mengidentifikasi sedapat mungkin, dimensi-dimensi budaya maritim apa yang dahulu telah berkembang jauh sehingga menempatkan Nusantara menjadi wilayah yang penting bahkan vital dalam arus migrasi manusia di masa purba. Migrasi yang tentu saja juga terjadi dalam dimensi sosial, ekonomi, politik, hukum, kultural, dan seterusnya.

 

DISKUSI PANEL SERIAL

Sebagai ahli waris dari peradaban maritim itu, tentu telah menjadi kewajiban historis kita untuk mengetahui, mendalami, menemukan kembali (rediscovering) kekuatan-kekuatan adab maritim kita, yang barangkali masih cukup liat dan adekuat untuk men-jawab persoalan-persoalan kontemporer sebagaimana pernah dibuktikan nenek moyang kita dahulu. Untuk itulah, serial diskusi yang berbentuk panel ini diselenggarakan untuk sekurangnya memulai proses penyingkapan kembali kenyataan kelautan dalam diri kita. Kenyataan primordial yang ternyata tidak bisa kita lepas, lucuti, dan khianati dengan cara beralih pada adab kontinental/daratan sebagaimana kita pelajari, internalisasi (sejak bayi) dan kita praktikkan saat ini. Kenyataan yang membuat realitas kita cukup menyedihkan karena situasi patetik: menjadi skizofren secara kultural.

Diskusi Panel Serial YSNB ini akan mengupas beberapa tema utama yang berkait dengan kemaritiman itu, dengan sebuah proses yang dimulai dari “identifikasi”, semacam eksplorasi dalam riset, untuk menemukan butir atau dasar-dasar utama tegaknya sebuah disiplin budaya dalam peradaban itu. Tema-tema itu meliputi hal-hal sebagai berikut.

            1.        Nilai-nilai luhur (utama) dalam kebudayaan maritim yang meneguhkan jati diri/esksitensi atau kepribadian seorang manusia.

            2.        Logos atau logika dasar dari cara berpikir manusia/kebudayaan maritim yang berkembang di seantero Nusantara ini (yang mungkin dapat diperbandingkan dengan hal sama yang berkembang di adab kontinental/ oksidental). Mungkin dapat ditelusuri juga kosmologi dan ontologi (untuk memakai istilah filsafat Eropa) budaya maritim. Dan kemudian bagaimana “ilmu” pun berkembang dalam adab ini, yang diseminasi atau model pewarisannya mungkin berbeda dengan dunia ilmu (akademik) dalam sejarah kontinental.

            3.        Teknologi dan ekonomi kelautan serta etos dan etika yang berkembang dalam wira-wira usaha yang pernah ada.

            4.        Hubungan interdependensial (berkait juga dengan kosmologinya) masyarakat maritim dengan dunia di sekitarnya (lingkungan), yang dalam tingkat tertentu juga menyentuh masalah-masalah yang spiritual-transendental. Juga termasuk di dalamnya bagaimana budaya maritim menghadapi potensi SDA-nya, baik untuk kebutuhan dasar hingga kebutuhan energi.

            5.        Sistem kemasyarakatan dalam budaya maritim, yang tidak hanya menyentuh pola relasional antara anggota-anggotanya, tapi juga bagaimana ia menjalankan fungsi-fungsi yang dalam bahasa modern (oksidental) disebut politik, hukum, dsb.

            6.        Ekspresi artistik yang khas dalam budaya maritim tentu saja sangat berbeda dengan apa yang ada dan berkembang di dunia Barat (kontinental), sebagaimana pernah dikonstatasi oleh Denys Lombard bahwa kesenian di Nusantara seluruhnya dicabut dari akarnya oleh seni-seni modern.

            7.        Hubungan mancanegara atau diplomasi internasional, baik dalam dimensi politik, militer, ekonomi, kesenian dan sebagainya yang dahulu pernah berkembang di kerajaan-kerajaan maritim, sejak Salakanegara, Majapahit, Sriwijaya, Pasai hingga Ternate. Benarkah misalnya pola okupasi wilayah yang terjadi pada masa Sriwijaya dan Majapahit serupa dengan kolonialisasi yang dilakukan bangsa-bangsa daratan?

            8.        Bagaimana pula budaya maritim menghadapi perilaku deviatif yang mendestruksi orde sebuah masyarakat (seperti: kriminalitas, pelacuran, madat/narkoba, hingga korupsi) yang dilakukan oleh sebagian masyarakatnya. Adakah ia diterima sebagai “kewajaran” kebudayaan atau dinegasi atau dinafikan secara total sebagaimana terjadi dalam sejarah peradaban Eropa Barat.

            9.        Bagaimana kemudian kebudayaan dari adab maritim itu bersinergi dengan adab “daratan” yang secara alamiah juga dimiliki oleh masyarakat-masyarakat pedalaman di pulau-pulau besar, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi atau Papua. Adakah semacam hibridasi di antara keduanya, sehingga melahirkan sebuah sintesis kebudayaan di belahan/wilayah tertentu kepulauan ini. Setidaknya sebelum invasi kultural terjadi pertama kali oleh bangsa daratan yang diwakili oleh bangsa Arya/India.

          10.        Akhirnya, sebagai sebuah negeri dengan realitas geografisnya yang didominasi laut, Nusantara atau Indonesia di masa kini juga dilimpahi bonus demografis, berupa jumlah penduduk yang cukup besar hingga pada masa kini ia menempati posisi negara kelima terbesar dari jumlah dan kepadatan penduduknya. Bagaimana kultur dan adab maritim menghadapi persoalan kependudukan itu, memproyeksikannya ke masa depan, sebagaimana yang hari ini menjadi tantangan besar karena penggandaan jumlah penduduk semakin pendek rentang waktu yang dibutuhkannya. Apakah ia akan menjadi bonus yang menguntungkan atau justru azab yang mencelakakan?

         11.        Strategi  Teknologi Pertahanan Dan Keamanan Berbasis Maritim.

Sejarah kejayaan kerajaan-kerajaan maritim di Nusantara mulai dari Sriwijaya ,Samodera Pasai hingga Majapahit, Banten atau Gowa dan Ternate, sangat dikenal kemampuannya dalam mempertahankan diri dari infiltrasi kekuatan asing baik yang berasal dari luar (Cina, Portugis, Belanda, dsb), termasuk konflik dengan kerajaan-kerajaan maritim lainnya dikawasan ini. Bagaimana sebebarnya strategi juga teknologi pertahanan dan keamanan yang berbasis pada laut atau perairan terjadi secara praktis dan konseptual pada masa itu.

          12.        Risalah atau rekomendasi apa yang bisa dihasilkan dari proses identifikasi abstrak/intelektual di atas, untuk diajukan kepada bangsa ini, pada pemerintah khususnya, dan pada generasi nanti seharusnya. Mungkin belum bisa didapatkan hasil yang cukup adekuat, namun setidaknya ia menjadi awal yang cukup komprehensif untuk menemukan kembali (rediscovering) setengah dari realitas diri dan hidup kita. Sebuah hasil yang pasti sangat berarti, setidaknya di tengah kerisauan, disorientasi, dislokasi atau “galau” yang terjadi di generasi masa kini.

Narasumber : Yayasan Suluh Nusantara Bakti

20
Sep
13

Keluarga : 7 Hal Yang Diinginkan Istri Anda

Tujuh Hal yang Ingin Didengar Istri Anda

Beberapa bulan lalu, saya menulis di blog saya yang diberi judul ‘25 Hal yang Ingin Didengar Istri Anda’. Tampaknya, itu adalah hal-hal yang ingin diketahui banyak pria. Pada saat yang sama, banyak istri mendambakan kata-kata yang menyemangati dari suami mereka. Hasilnya, tulisan ini dengan cepat menjadi tulisan yang banyak dilihat di situs saya. Kita semua mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan dan kita tahu pernikahan kita akan berjalan baik jika kita tahu apa yang ingin didengar oleh istri kita. Setelah menyadari hal itu, saya memutuskan untuk mencari tahu kata-kata yang paling menyemangati untuk istri Anda. Saya menemukannya dengan bertanya kepada beberapa istri dengan pertanyaan, “Kata-kata apa yang ingin Anda dengar dari suami?” Saya menerima 12 jawaban, dan saya akan berbagi tujuh di antaranya. Inilah kalimat yang ingin didengar istri Anda.
Oleh Jackie Bledsoe Jr

1.    “Beri tahu aku apa yang kau butuhkan.”
“Suami saya menyemangati saya walaupun dia tidak memikirkannya. Dia selalu memberikan kata-kata menguatkan yang berkaitan dengan keberhasilan dalam hidup dan bisnis – kata-kata seperti ‘Kamu pasti bisa,’ ‘Aku yakin kamu bisa,’ ‘Beri tahu aku apa yang kau butuhkan.’ Namun semangat terbaik yang dia berikan bukanlah pengorbanan nonlisan yang dia lakukan untuk keluarga kami setiap hari agar saya bisa mewujudkan impian saya dan mencapai cita-cita saya.” Christine St. Vil dan suaminya Philip telah menikah selama delapan tahun. Christine adalah Pendiri/CEO Moms ‘N Charge™.

2.    “Aku cinta padamu”
Saya tahu itu terdengar klise, namun kata-kata yang paling menenangkan yang keluar dari mulut suami saya adalah ketika dia mengatakan “aku cinta padamu.” Saya juga senang mendengarkan dia mengatakannya kepada putri-putri kami. Tiga kata itu memiliki kemampuan untuk membuat wajah kami cerah. Walaupun suami saya menunjukkan bahwa dia cinta kepada saya dengan tindakannya, kadang-kadang saya perlu mendengarnya dan mendengarnya mengatakan kata-kata itu tidak pernah membosankan.” Krishnann Briscoe dan suaminya, Chris, sudah menikah selama tiga tahun. Blog Krishnann di His Mrs. Her Mr.

3.    “Kamu bisa, Sayang!”
“Saya tahu itu terdengar menggelikan tapi saya suka saat suami saya berkata,’kamu bisa, Sayang!’ Itu adalah kata-kata yang perlu saya dengar kapan pun ketika saya meragukan diri sendiri, dan caranya mengatakan hal itu membuat saya terus merasa fokus dan bersemangat.” Martine Foreman dan suaminya, Sean, sudah menikah selama lima tahun. Blog Martine adalah CandidBelle, dan ia merupakan pendiri sekaligus editor JustDiva.

4.    “Saya bahagia menikah denganmu”
“Saya senang saat suami saya berkata ‘Saya bahagia menikah denganmu.’ Itu membuat saya senang bahwa setelah sekian lama kami bersama dia masih merasa bahagia dan puas dengan pilihan yang dia buat ketika memutuskan untuk menjadikan saya sebagai istrinya. Hal itu membuat saya merasa percaya diri dalam melakukan pekerjaan yang saya lakukan sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu ketika dia menegaskan hal itu.” Lauren Hartmann dan suaminya, Craig, sudah menikah selama 11 tahun. Blog Lauren di The Little Things We Do.

5.    “Pada akhirnya kita selalu saling memiliki”

“Saya senang mendengar suami saya mengatakan hal apa pun namun yang paling saya sukai adalah mendengarkan dia berkata, ‘kamu pasti bisa,’ ‘itulah kenapa saya menikahimu…’ dan ‘pada akhirnya kita selalu saling memiliki.’ Dia sangat ahli membuat saya menyadari hal yang paling penting, yaitu pernikahan saya dan dia membuat saya merasa memiliki kekuatan super, mampu menyelesaikan apa saja!” Donnie Nicole Smith dan suaminya, Che’, sudah menikah selama empat tahun. Blog Donnie di DonnieNicole.com , dan dia merupakan Direktur Eksekutif Donda’s House.

6.    “Aku mengagumi semangatmu”
“Saya suka mendengar suami saya berkata ‘aku cinta padamu,’ ‘kamu cantik apa adanya,’ ‘kamu adalah seorang ibu yang baik,’ dan ‘aku mengagumi semangatmu.’ Dia selalu mengatakan kata-kata itu kepada saya dan itu membuat saya merasa sangat dicintai dan didukung!” Amber L. Wright dan suaminya, Mohammed, sudah menikah selama tujuh tahun. Blog Amber di TalkToAmber.com.

7.    “Itu adalah hal kecil untuk orang yang hebat”
“Setiap kali saya kesulitan menghadapi sesuatu, suami saya selalu berkata ‘itu adalah hal kecil untuk orang yang hebat’, itu adalah kata-kata yang sederhana namun membuat saya merasa saya bisa menguasai dunia.” Tiya Cunningham-Sumter dan suaminya, Ken, sudah menikah selama 15 tahun. Blog Tiya di Not Your Average Advice, dan seorang Certified Life & Relationship Coach di Life Editing.(mu/nh)

BACA JUGA:
Lima kalimat yang bisa menyakiti hati pasangan
10 hal yang tak boleh dilupakan saat sedang bertengkar dengan pasangan
Kapan saatnya melepaskan sebuah hubungan?
Bukan berarti ia selingkuh. Enam alasan si dia terasa menjauh
Tujuh bahaya laten yang mengancam pernikahan Anda
Lima cara hentikan pertengkaran sebelum bertambah buruk

Artikel Terpopuler

20
Sep
13

Ekonomi : Model Manusiawi dan Illahiyah

 

HUMAN ECONOMY vs GOD’S ECONOMY
Consider what our Lord teaches us about servant leadership:?

HUMAN ECONOMY:
1. Pursuit of power and prestige
2. Improve wealth and status of the leader
3. See others as enemies and competitors
4. Motive is to remove or kill opposition
5. The result: THE LEADER IS GLORIFIED ?

GOD’S ECONOMY :
1. Pursuit of love and service to others
2. Improve the welfare of the people
3. See others as brothers who complement
4. Motive is to meet needs and grow the cause
5. The result: GOD IS GLORIFIED

————

EKONOMI MANUSIA VS EKONOMI ALLAH

Pertimbangkan apa yang Allah ajarkan pada kita tentang kepemimpinan hamba (servant leadership) ?

EKONOMI MANUSIA :
1. Mengejar kekuasaan dan prestise
2. Meningkatkan kekayaan dan status sang pemimpin
3. Melihat orang lain sebagai musuh dan pesaing
4. Motivasinya adalah untuk menghapus atau membunuh pesaing/lawan
5. Hasilnya: SANG PEMIMPIN DIMULIAKAN ?

EKONOMI ALLAH :
1. Mengejar kasih dan pelayanan kepada orang lain
2. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat
3. Melihat orang lain sebagai saudara yang melengkapi
4. Motivasinya adalah untuk memenuhi kebutuhan dan berbagi dengan orang lain tentang tujuan/purpose Allah
5. Hasilnya: ALLAH DIMULIAKAN, MASYARAKAT MAKMUR

Best Regards,
Christovita Wiloto
@wilotochristov

http://www.powerpr.co.id
http://www.wiloto.com
http://www.wilotocorp.com
http://www.strategicindonesia.com
http://www.indonesiayoungentrepreneurs.com
http://iye.wiloto.com

20
Sep
13

PusKesMas : Daun Salam Atasi Asam Urat

17 September 2013 | 17:22 wib
Atasi Asam Urat dengan Daun Salam
image

Foto: Wikipedia

DAUN salam atau bahasa latinya Syzygium polyanthum merupakan salah satu jenis rempah-rempah yang sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat. Daun salam sendiri saat ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan pelengkap dan penyedap alami pada masakan karena aromanya yang khas.

Namun ternyata selain menjadi penyedap kuliner daun salam mempunyai banyak khasiat dan manfaat untuk kesehatan:

Menurunkan kadar kolesterol tinggi

Cuci 10-15 lembar daun salam segar, lalu rebus dalam 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sekaligus di malam hari. Lakukan setiap hari.

Mengatasi asam urat

10 lembar daun salam direbus dengan 700 cc air hingga tersisa 200 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat.

Kencing manis

Cuci 7-15 lembar daun salam segar, lalu rebus dalam 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sekaligus sebelum makan. Lakukan sehari 2 kali.

Diare

Cuci 15 lembar daun salam segar. Rebus dalam dua gelas air sampai mendidih selama 15 menit. Tambahkan sedikit garam. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sekaligus

Menurunkan tekanan darah tinggi

Cuci 7-10 lembar daun salam, lalu rebus dalam 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sehari 2 kali, masing-masing setengah gelas.

Kudis, gatal-gatal

Untuk pengobatan luar, cukup ambil daun, kulit, batang, atau akar salam seperlunya. Cuci bersih, lalu giling halus sampai menjad adonan seperti bubur. Balurkan ke tempat yang gatal, kemudian dibalut.

Maag

Cuci bersih 15-20 lembar daun salam segar. Rebus dengan 1/2 liter air sampai mendidih selama 15 menit. Tambahkan gula enau secukupnya. Setelah dingin, minum airnya sebagai teh. Lakukan setiap hari sampai rasa perih dan penuh di lambung hilang.

(Gesti Arma/CN31)

__._,_.___
20
Sep
13

Konstitusi : Pasal-33 UUD45 [1959] Strategik

Ben S. Bernanke yang Chairman dari the Federal Reserve Bank di Amerika dalam disertasi doktoralnya di MIT tentang Great Depression tahun 1929, berpendapat bahwa peran intervensi negara dan bank sentral yang lebih besar penting sebagai solusi strategik atasi krisis ekonomi keuangan saat itu. Intervensi berarti aksi regulasi otoritas keuangan pemerintah seperti yang dilakukannya pada tanggal 18 September 2013 yang lalu yaitu kebijakan stimulus dilanjutkan. Hasilnya sentimen pasar finansial terdampak positif sejuk teduh dan gejolak ekonomi mengecil.
Peran regulasi strategik itu sesungguhnya sudah terpikirkan oleh the founding fathers ketika merumuskan konstitusi pada tahun 1945 dengan mencantumkan Pasal-33, sangat mungkin sekali belajar bercermin dari peristiwa Great Depresion 1929-1933 itu. Dengan kata lain pembiaran terhadap pola ekonomi pasar bebas sudah diantisipasi.
Oleh karena itulah amandemen berwujud Pasal-33 UUD45 (2002) yang dirasakan terbuka kearah orientasi pasar bebas (laissez-faire) yang patuh total pada libertarianisme Adam Smith, seharusnya segera dibatalkan mengacu pragmatisme kebijakan the Fed tanggal 18 September 2013 itu yang berujung manfaat bagi banyak bangsa sedunia. Dengan pemberlakuan kembali Pasal-33 UUD45 (1959) diyakini akan senantiasa terjadi harmonisasi dengan kebijakan2 ekonomi keuangan global sehingga kehidupan ekonomi Indonesia akan lebih terasa ramah bagi warganya sendiri.
Jakarta, 20 September 2013
Pandji R Hadinoto, Nasionalis Pancasila
eMail : pkp17845@gmail.com

Selamat Pagi Sobat2 NasPan45.jpg

Selaku warga Jakarta peduli Penegakan Konstitusi Proklamasi 17845 (PKP45) yang berkearifan lokal (17 butir Jiwa Semangat Nilai2 45 + 8  butir Kepemimpinan Hastabrata + 45 butir Pengamalan Pancasila per Tap MPRRI No. XVIII/1998), bersama ini serukan “Batalkan Pasal-33 UUD45 (2002) dan Berlakukanlah Pasal-33 UUD45 (1959)” bercermin pada hari bersejarah mengenang kepahlawanan warga Djakarta pada Rapat Raksasa di IKADA tanggal 19 September 1945 untuk menegakkan Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945.
Seruan ini dalam rangka turut memperkuat Ketahanan Fundamental Ekonomi Indonesia demi Politik TRISAKTI (Politik Berdaulat, Ekonomi Berdikari, Budaya Berkepribadian) dan Kehidupan Ekonomi Tidak Ganas dalam konteks Strategi 7 Ketahanan Bangsa,  sekaligus terapi atas peristiwa perlambatan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi kesejahteraan rakyat yang kini terjadi.
Semoga seruan kepada seluruh komponen masyarakat, bangsa, negara yang peduli atas kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini mampu menopang kepastian terwujudnya amanat Pembukaan UUD45.
Jakarta, 19 September 2013
Penegak Konstitusi Proklamasi 17845,
Pandji R Hadinoto, Nasionalis Pancasila

11
Sep
13

Patriot : Tionghoa Veteran 45 yang terlupakan

Para Tionghoa Veteran 45 Yang Terlupakan

Monday, 11 February 2013

Viewed 3455 times, 3 times today | 13 Comments |

Iwan Ong Santosa

Bercelana rombeng berlubang, kemeja lusuh, seorang kakek tua berdarah Tionghoa tinggal rumah berdinding gedek yang atapnya bocor di sana-sini tempat air hujan deras mengalir di sudut Kota Tulung Agung, pelosok Jawa Timur. Itulah sosok Oei Hok San (86) Veteran Pejuang Kemerdekaan 1945 mantan Tentara Pelajar (TP) di Kediri Jawa Timur yang terlupakan.

Oei Hok San tinggal di sebuah gubuk yang disewanya di belakang garasi bus Lestari di RT 01 RW 07 di Kelurahan Kedung Waru, Kecamatan Kedung Waru, Jalan Pahlawan Nomor 17 Kota Tulung Agung. Dia menceritakan dengan lirih, betapa di Tulung Agung terdapat 350-an pejuang yang ditembak mati Belanda di dua buah toko dan sebuah gudang. Sebanyak 300 pejuang suku Jawa dan 50 pejuang suku Tionghoa ditembak mati ketika itu.

merah-putih

Semasa perang kemerdekaan 1945-1949 banyak pejuang dari suku Tionghoa yang juga terlibat dalam pertempuran melawan Belanda di garis depan, garis belakang mau pun daerah pendudukan Belanda. Para Veteran tersebut ditemui di berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, Sumatera dan daerah lain di Indonesia.

Ardian Purwoseputro yang aktif membuat dokumenter sejarah di Jawa Timur mengaku di kalangan sesepuh TP dan TRIP Jawa Timur diakui banyak komandan Tionghoa terlibat dalam perjuangan di garis depan di Front Jawa Timur.

Perjuangan di Tulung Agung adalah salah satu contohnya. Oei Hok San menceritakan ayahnya Oei Djing Swan memerintahkan seorang pejuang bernama Tan Bun Yin membalas dendam terhadap seorang Mayor KL (Koninlijk Leger) yang menembak mati Dokter Tan Ping Djiang seorang republiken yang menentang Belanda saat Clash II terjadi tahun 1949. Dokter Tan yang beristerikan seorang perempuan Belanda memerintahkan komandan Belanda memberitahukan H.J. van Mook bahwa Indonesia dan Asia sudah merdeka. “Kasih tahu van Mook, Belanda silahkan mundur dari Indonesia,” kata Hok San menirukan ucapan dokter Tan Ping Djiang.

Akhirnya dokter Tan ditembak mati serdadu Belanda dari Princess Irene Brigade. Selanjutnya, Mayor Belanda yang memerintahkan eksekusi dokter Tan tersebut, ditembak dari jarak dekat di Restoran Baru di dalam Kota Tulung Agung sebelah barat alun-alun oleh seorang pemuda Tan Bun Yin atas suruhan ayah Hok San.

Saat Belanda menduduki Tulung Agung, aksi pembersihan terhadap unsur Republikein berlangsung. Para pemuda Jawa dan Tionghoa yang berjuang, dikumpulkan di Gudang OTB, Toko Perca dan Gudang Kobong. Mereka diberondong peluru tentara Belanda di sana. Tidak sebuah monumen pun didirikan bagi mereka…

Oei Hok San sesudah pengakuan kedaulatan bergabung dengan Batalyon 507-Sikatan. Dia ikut operasi penumpasan RMS di Ambon, pemberantasan DI-TII di Makassar dan Jawa Barat hingga Operasi Mandala-Trikora merebuat Irian Barat.

Pertempuran 10 November

Keberadaan para Tionghoa Veteran 45 juga dapat ditemui di Kota Pahlawan Surabaya. Sebutlah Liauw Thian Moek alias Leo Wenas (89) yang tinggal di Jalan Raya Gubeng. Mantan Anggota BKR itu masih bersemangat menceritakan para Arek Suroboyo berjuang melawan Inggris-Belanda. Pemuda yang kala itu sempat hampir menghancurkan kekuatan Inggris di Gedung Internatio harus mundur mengikuti perintah Bung Karno yang diminta SEAC (South East Asia Command) untuk menjadi mediator. Namun, gencatan senjata yang hanya berlangsung tiga hari, digunakan pihak Inggris mundur ke Tanjung Perak, memperkuat diri dan terjadilah pertempuran berdarah 10 November 1945 dengan korban hampir 10.000 pemuda-pemudi Indonesia.

“Kami bermodal bambu runcing berusaha menjebak serdadu Inggris yang lengah. Pernah satu jip berisi Gurkah terjebak lalu dikerubuti pemuda beramai-ramai. Mereka semua tewas,” kata Liauw Thian Moek.

Ketika itu banyak pemuda-pemudi Tionghoa juga terlibat dalam pertempuran sebagaimana dicatat Pramoedya Ananta Toer dalam Kronik Revolusi Indonesia Jilid I dan juga catatan khusus BM Diah dalam edisi khusus Merdeka mengenang enam bulan kemerdekaan Republik Indonesia bulan Februari 1945. Pramoedya mencatat, siaran radio pejuang Tionghoa di Surabaya mendesak dunia internasional menekan Inggris-Belanda yang melakukan agresi serta tindakan keji di Kota Pahlawan.

Tidak kalah seru cerita Letnan Kolonel (Purn) Ong Tjong Bing alias Daya Sabdo Kasworo (90)   ikut merawat korban pertempuran 10 November 1945 yang dibawa ke Malang. Pria asal Desa Kerebet itu kemudian mengikuti pendidikan tekniker gigi dan dokter gigi lalu bergabung sebagai militer tahun 1953 sebagai pegawai sipil. Dia mulai menyandang pangkat militer sebagai Kapten tahun 1955 di bawah Resimen Infanteri RI-18 Jawa Timur.

Ong Tjong Bing yang sangat Kejawen itu terlibat dalam operasi anti PRII-Permesta, DI-TII hingga Operasi Mandala-Trikora. Dia mengalami dikepung gerombolan DI-TII di Jawa Barat, diminta komandan menggalang masyarakat Tionghoa Pekanbaru saat operasi PRII-Permesta hingga akhirnya diminta mendirikan RS militer di Soekarnopura (Jayapura) dan RS sipil di kota tersebut.

Dia adalah kepala Kesehatan Kodam (Kesdam) Cendrawasih pertama. Menpangad Jenderal Ahmad Yani beserta sejumlah asisten mengenal dia secara pribadi dan selalu mengabulkan permintaan Tjong Bing alias Kasworo. Dia pun turut dalam sejumlah patroli garis depan dan memegang senjata langsung termasuk menghadapi kelompok “Merah” (Komunis) seperti dalam tanggap bencana letusan Gunung Agung di Bali.

Dia berharap generasi muda Tionghoa tidak trauma dengan peristiwa 1965 dan berperan di masyarakat dalam beragam sendi kehidupan dan tidak hanya terlibat di dunia perdagangan belaka. Dia pensiun di tahun 1976 dengan pangkat Letnan Kolonel. Keputusannya menjadi militer tidak pernah disesali oleh pria yang kemudian menjadi ketua Kelenteng di Malang.

Cerita serupa didapat dari keluarga Almarhum Lie Yun Fong atau Ali Sudjianto. Menurut Lie Ie Tjing puteri Ali, ayahnya adalah wartawan Sin Po kelahiran Canton, kini Guangzhou, China tahun 1909 yang mewartakan kemerdekaan RI dalam bahasa Mandarin yang kemudian dikutip oleh BBC. “Dia juga ikut hijrah dari Jakarta ke wilayah pedalaman di Jogjakarta mengikuti pemerintahan Soekarno-Hatta. Dia pernah bekerja bersama sebagai senior dari Adam Malik dan turut ditawan Belanda saat Clash ke-II,” kata Ie Tjing.

Keluarga besar Ie Tjing kini bermukim di Semarang dan mengurus Toko Boma di Jalan Pekojan nomor 50 Semarang peninggalan Lie Yun Fong. Ie Tjing meningat pesan ayahnya agar tidak “aji mumpung”. Semasa Adam Malik menjadi Wakil Presiden, beberapa kali mereka didorong untuk minta fasilitas dari orang nomor dua di Republik Indonesia itu.

“Papi berpesan yang penting Indonesia sudah merdeka. Kita tidak usah mikir fasilitas macam-macam dari pejabat,” kata Ie Tjing.

Sedangkan di Bogor, Serma (Purn) Ong Tjin Siong alias Anton Santoso (89) mantan Komandan Seksi Tentara Pelajar Detasemen 217, Comal, Jawa Tengah masih aktif dalam kegiatan veteran serta mengunjungi Kelenteng Pasar Bogor. Dia menceritakan, ketika itu lazim pemuda Tionghoa terutama di pedesaan dan kota kecil bergabung di Tentara Pelajar atau pun TRIP.

“Kita sering berpatroli. Menjebak Belanda dengan menyodorkan PSK lalu senjata serdadu Belanda kita curi. Selain itu TP juga mengurusi Laskar-Laskar yang bertindak sekehendak hati dan tidak tunduk pada komando militer resmi Republik Indonesia,” ujar Anton Ong.

veteran-tionghoa

Kambing Hitam G30-S PKI

Sayang situasi politik pasca G-30S membuat banyak perwira dan prajurit TNI menjadi korban. Tidak terkecuali banyak prajurit Tionghoa yang dikambing-hitamkan. Pada tahun 1968, Oei Hok San pun meninggalkan kesatuan dan berusaha menyembunyikan identitasnya pernah mengabdi sebagai seorang sersan infanteri di salah satu batalyon kebanggan Kodam Brawijaya itu.

Fitnah dan menjadi korban kambing hitam pasca G-30S memang terjadi terhadap banyak prajurit TNI ketika itu. Kwik Kian Djin (Budi Setiadharma) adik kandung ekonom Kwik Kian Gie yang semasa itu berpangkat Letnan Satu TNI Angkatan Laut dalam satu percakapan di Semarang, Jawa Tengah, mengakui adanya kondisi tidak menentu dan pengkambinghitaman perwira TNI termasuk perwira Tionghoa. Dia malah diminta oleh komandannya untuk tidak kembali ke kesatuan demi keselamatan diri.

Para taruna Akademi Angkatan Udara (AAU) atau Karbol tahun 1965 yang lulus setelah G-30S juga tidak luput dari gonjang-ganjing politik. Angkatan yang disebut sebagai Angkatan Kalipepe itu terpaksa mengeluarkan (memecat) enam orang Karbol Tionghoa. Dalam buku angkatan Alumni AAU 1965 yang salah seorang tokohnya adalah Marsekal (Purn) Rilo Pambudi disebutkan para kadet berdarah Tionghoa tersebut “terlibat”.

Namun, sejatinya hubungan para kadet Tionghoa dengan teman-temannya dari suku lain tetap baik dan akrab hingga kini. Salah satu kadet Tionghoa tersebut kelak menjadi pilot pribadi di keluarga pengusaha rokok Gudang Garam di Kediri. Antonius Lukito putera seorang penerbang alumni AAU 1965 menceritakan para Karbol Angkatan 1965 masih saling menjaga persaudaraan.

Para Veteran Tionghoa itu berjuang seperti rekan-rekannya dari Suku Jawa, Madura, Bali dan lain-lain dengan satu harapan, Indonesia merdeka dan makmur. Indonesia memang sudah merdeka secara fisik tetapi belum lagi makmur.

Oei Hok San yang kehidupannya paling menderita dari para nara sumber tersebut tidak mengharapkan tunjangan dan hak-haknya sebagai Veteran 45 diberikan oleh negara. “Saya cuma berpesan agar ada monumen dibangun untuk menuliskan nama-nama teman-teman pejuang PEMTA. Kasihan mereka dilupakan begitu saja,” kata Hok San yang hidup menggelandang dari satu kelenteng ke kelenteng lain di hari tuanya.

Sungguh ironis nasib para Tionghoa Veteran 45 seperti Oei Hok San dibanding kehidupan para konglomerat Tionghoa pembeli konsesi politik-ekonomi yang bisa menghabiskan jutaan rupiah untuk sekali bersantap di restoran super mewah pada Perayaan Imlek.

Catatan dari Engkong Oei Hok San:

Ada yang tergerak buat monumen kecil di Tulung Agung buat mengenang 300 pejuang Jawa dan 50 pejuang Tionghoa yang dikumpulkan Belanda lalu dieksekusi waktu Clash ke-II? Itu pesan Engkong Oei Hok San, Veteran Tentara Pelajar (TP) Kediri yang kehilangan teman-temannya tersebut. Engkong Hok San hidup di rumah sewaan berdinding bilik dan atapnya bocor di sana-sini. Darah pejuang Jawa dan Tionghoa tumpah agar kita bisa hidup nyaman hari ini. Kamsiah buat Engkong Hok San dan para kawan-kawannya yang sudah gugur buat Merah Putih.

Kiong Hie buat semua. Iwan Ong

Note Redaksi:

Iwan Ong Santosa adalah seorang sahabat yang berkarya sebagai wartawan Kompas. Tulisan ini adalah salah satu liputan khusus dalam Kompas hari Sabtu tanggal 9 Februari 2013 yang dibagikannya kepada Baltyra.com. Sudah menerbitkan beberapa buku yang terspesialisasi seputar dunia militer dan budaya Tionghoa.

Selamat datang dan selamat bergabung! Make yourself at home, ditunggu tulisan-tulisannya yang lain…




Blog Stats

  • 1,999,576 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers