Archive for the 'Dokumen Bersejarah' Category



17
Oct
09

Ideologi : Dinamika Dunia Islam

Dinamika Dunia Islam

KOMPAS, Sabtu, 17 Oktober 2009 | 02:51 WIB

Oleh Komaruddin Hidayat

Meminjam istilah Mahmud Jabiry, ada tiga ideologi yang menjadi sumber dinamika sejarah Islam, yaitu kabilah, ganimah, dan akidah.

Sejak masa pra-Islam hingga kini, semangat, ideologi, dan identitas kabilah, suku, dan etnis masih kental dan memiliki peran signifikan dalam dinamika sosial dunia Islam. Jika ada pandangan kehadiran Islam seharusnya menghilangkan ideologi kabilahisme dan semua umat Islam menjadi suatu komunitas seiman yang disebut ummah, pertanyaannya, mengapa kabilahisme-dinastiisme masih kuat?

Bukankah nama kerajaan Arab Saudi, misalnya, adalah bukti negara itu milik keluarga Ibnu Saud? Juga negara tetangganya, seperti Jordania, Maroko, atau negara teluk, semua membenarkan, kabilahisme tidak hilang meski Islam lahir dan berkembang di kawasan Timur Tengah.

Demi harga diri dan solidaritas kabilahnya, masyarakat Arab pra-Islam siap berperang sebelum kedua pihak imbang korbannya atau berdamai dengan tebusan unta yang banyak. Jadi, di Timur Tengah, hingga hari ini selalu terlibat peperangan, jangan segera ditafsirkan perang membela agama. Siapa tahu, yang menonjol adalah semangat kabilahisme.

Adapun arti harfiah ganimah adalah harta rampasan, keuntungan dari peperangan. Dalam sejarah Islam, mereka yang ikut berperang tidak semuanya dimotivasi agama, tetapi menginginkan harta rampasan. Bahkan, godaan untuk mengumpulkan ganimah ini pernah terjadi semasa Rasulullah dalam perang Uhud sehingga tentara Islam kalah perang karena beberapa pos strategis untuk menghadang musuh ditinggalkan, karena ingin berebut harta rampasan.

Perpaduan spirit membela kabilah dan mengejar ganimah, dibalut dengan misi keagamaan (akidah), juga secara nyata ditunjukkan oleh imperialisme dan kapitalisme Barat pada abad lalu yang memperluas daerah koloni sambil menyebarkan agama. Namun, yang kini cukup menonjol adalah motivasi ganimah dan samar-samar didukung sentimen nasionalisme (neo-kabilah) dan keyakinan agama (akidah).

Agresi Israel di Palestina mungkin merupakan contoh sempurna perpaduan militansi kabilah dan ganimah, minus akidah sebab agama Yahudi hanya dipeluk eksklusif berdasarkan keturunan darah. Begitu pun keterlibatan Amerika Serikat mungkin lebih dimotivasi kepentingan nasionalis dan ekonomi, spirit membela supremasi kabilah dan mengejar ganimah.

Radikalisme akidah

Meski jumlahnya kecil, dalam sejarah Islam ada sekelompok gerakan radikal yang dimotivasi keyakinan agama atau akidah, seperti kelompok Khawarij. Selain lahir dalam situasi konflik, mereka memahami dalil-dalil agama secara harfiah. Epistemologi agama yang mereka bangun dan pahami selalu bersifat konfliktual sehingga secara mental selalu merasa dalam bahaya dan siap mati untuk perang melawan musuh yang berbeda agama.

Dapat bayangkan, betapa militannya jika ketiga ideologi itu menyatu. Berperang membela etnis, ditopang semangat mempertahankan sumber ekonomi, disublimasi jargon jihad perang suci membela agama Tuhan, maka laskar jihad Islam sama sekali tidak gentar mati meski hanya bersenjata pedang, panah, ketepel, atau bom molotov. Bahkan dengan bom bunuh diri pun.

Namun, memasuki era baru di mana pergaulan dunia kian mengarah pada ”kekamian” dan ”kekitaan”, memahami agama secara rigid dan harfiah sulit dipertahankan. Kini kian menguat kesadaran global bahwa kita semua bersaudara, karena hidup ”bersaudara”, apa pun asal etnis dan keyakinan agamanya.

Semua harus bertanggung jawab menciptakan perdamaian, kesejahteraan, dan menjaga lingkungan sehat. Melampiaskan naluri primitif untuk saling menghancurkan hanya akan menghancurkan kita. Rumah-rumah etnis, bangsa, dan negara mutlak diperlukan sebagai tempat kita lahir, tumbuh, meneruskan regenerasi serta membangun kehidupan sosial.

Jika internal dunia Islam saja tidak mampu mengatur dan memberdayakan ideologi kabilah, ganimah, dan akidah untuk memajukan diri, sulit diharapkan peran dan kontribusinya dalam membangun peradaban pada tingkal global. Yang kemudian terjadi dinasti-dinasti dan negara-negara Muslim itu bertengkar berebut ganimah sehingga kekuatan kapitalisme Barat dengan mudah masuk ikut kenduri bahkan memperoleh bagian lebih besar.

Tengoklah, lebih dari separuh sumber minyak bumi yang diperlukan dunia ada di wilayah negara Muslim. Namun, karena mereka tidak mampu keluar dari kendala primordialisme sejarah lamanya, sulit tampil menjadi pemimpin dunia.

Fenomena ini juga terjadi di Indonesia. Jika desentralisasi tidak dilaksanakan hati-hati, akan memperkuat identitas kabilah dan berebut ganimah yang menggerogoti kohesi berbangsa dan bernegara. Keadaan diperparah eksklusivisme akidah, baik melalui perda-perda syariah maupun munculnya teroris yang mengaku membela Islam, tetapi justru menciptakan masalah bagi umat Islam sendiri.

Jika setiap kabupaten menerapkan perda syariah, di wilayah lain akan muncul perda-perda syariah yang berakar pada agama-agama di Indonesia. Apa jadinya bangsa ini jika semangat etnis kedaerahan (kabilah) dipadu eksklusivisme menguasai sumber ekonomi (ganimah), lalu dipagari perda syariah (akidah) yang belum tentu cocok bagi masyarakat Indonesia yang majemuk?

Secara antropologis, Islam lahir dan terbentuk pada lingkungan masyarakat padang pasir yang memiliki tradisi perang antarsuku, antara lain untuk memperebutkan sumber air, padang rumput, dan mempertahankan supremasi suku. Tradisi perang ini tidak berhenti meski berbagai agama lahir di situ, misalnya Yahudi, Nasrani, dan Islam. Karena itu, banyak ayat Al Quran yang merekam dan merespons tradisi konflik ini sehingga secara sepintas wacana Al Quran adalah menciptakan garis tegas hitam dan putih, mukmin melawan kafir. Di antara dikotomi mukmin dan kafir ini, ada komunitas abu-abu, yaitu ahlul kitab. Mereka beriman kepada Allah dan nabi sebelum Muhammad, tetapi mengingkari kenabian Muhammad. Maka, mereka disebut ahlul kitab.

Lagi-lagi, menurut Al Quran, sebagian mereka menolak kenabian Muhammad karena disebabkan eksklusivisme dan kesombongan kabilah. Ada perasaan gengsi, mengapa mereka menjadi pengikut Muhammad keturunan Hajar, seorang budak berkulit hitam, istri Nabi Ibrahim. Jadi, rupanya nalar itu tidak selalu menang dalam memperjuangkan kebenaran ketika diinterupsi oleh kepentingan kelompok dan kepentingan ekonomi.

Komaruddin Hidayat Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

17
Oct
09

Demokrasi Indonesia Suram

Demokrasi Indonesia Suram
Parlemen seperti Orde Baru

Sabtu, 17 Oktober 2009 | 03:44 WIB

Jakarta, Kompas – Indonesia bisa memasuki masa suram demokrasi. Setidaknya ada lima peristiwa yang mengindikasikan masa suram itu bakal terjadi.

Demikian pengamatan Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia Ray Rangkuti, yang juga mantan aktivis mahasiswa 98, dalam diskusi bertema ”Meneropong Sikap Kritis Parlemen” di ruang wartawan DPR, Jumat (16/10).

Pertama, Pemilu 2009 merupakan pemilu terburuk dari tiga pemilu di era reformasi. Sedemikian buruknya pelaksanaan pemilu, bahkan DPR, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Mahkamah Konstitusi, dan beberapa elemen masyarakat sipil mengkritik keras dan meminta anggota KPU berhenti.

Kedua, hukum telah mulai dipermainkan kembali oleh kekuasaan. Penetapan aktivis Indonesia Corruption Watch sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik adalah indikasi terakhir. Hal ini tidak banyak terjadi pada era BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri.

”Catatan kami, sudah 17-18 aktivis dikenakan dakwaan pencemaran nama baik,” ungkap Ray.

Indikasi ketiga, praktik korupsi mulai dimanjakan kembali dengan lemahnya Komisi Pemberantasan Korupsi. Keempat, ada upaya untuk melaksanakan demokrasi tanpa oposisi. Kelima, visi-misi DPR akan lebih banyak menyuarakan pemerintah.

Masa jabatan presiden

Ray bahkan khawatir kondisi ini akan bisa mendorong Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Taufik Kiemas serta didukung Tentara Nasional Indonesia dan lembaga polling dapat mengadakan referendum untuk memberlakukan kembali Undang-Undang Dasar 1945 naskah asli dengan tujuan memperpanjang masa jabatannya.

Pengamat politik dari Universitas Hasanuddin, Adi Suryadi Culla, juga berpandangan bahwa periode 2009-2014 sangat krusial. Dengan dikuasainya kursi di DPR mencapai 75 persen, pemerintah menjadi mayoritas ekstrem di parlemen. ”Ini bisa mengarah seperti di era Orde Baru,” katanya.

”Sikap PDI-P yang menjadi oposisi sesungguhnya bisa membongkar struktur lama itu,” ujarnya.

Kekhawatiran berlebihan

Sementara itu, anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Bengkulu, Bambang Soeroso, berpandangan kekhawatiran Ray itu berlebihan. ”Apa kata dunia kalau kita kembali ke UUD 1945. Lebih fatal lagi DPD tidak ada lagi,” katanya.

Bambang menegaskan, anggota DPD, sebagai orang yang independen, tidak pernah takut mengkritisi pemerintah. Namun, banyak pandangan kritis DPD tidak terekspos di media massa.

Berbeda dengan Bambang, anggota DPR dari Partai Hanura, Syarifuddin Sudding, justru mulai merasakan adanya gejala yang mengarah kembali ke era Orde Baru. (sut)

17
Oct
09

Lingkungan : Green Property Plus

Konsep “Green Property Plus” Pikat Pembeli
Sabtu, 17 Oktober 2009 | 16:54 WIB

KOMPAS.com - Strategi jualan rumah sekarang ini tak cukup cuma mengandalkan lokasi, lokasi, dan lokasi. Itu sebabnya, banyak pengembang yang mulai menambahkan embel-embel untuk memikat calon pembeli.

Yang belakangan gencar dipakai perusahaan properti sebagai tema dagangan adalah konsep kawasan berwawasan lingkungan hijau alias green property. Tapi, bagi Paramount Serpong yang baru meluncurkan kluster baru bertajuk il Rosa pada Kamis (10/10) pekan lalu, konsep green property saja belum cukup.

Makanya, pengembang perumahan di kawasan Gading Serpong Tangerang ini memberikan sentuhan anyar pada proyek gres mereka tersebut, yakni hamparan bunga mawar di setiap sudut kluster.

Tidak heran kalau Paramount Serpong memberi nama il Rosa pada kluster terbarunya itu. Dalam bahasa Italia il Rosa berarti mawar. Tentu, bukan tanpa alasan Paramount Serpong memilih mawar sebagai tema jualan mereka.

“Karena mawar itu melambangkan cinta. Harapan kami akan terwujud cinta atau keakraban antar penghuni di il Rosa,” kata Chief Executive Officer (CEO) Paramount Serpong Tanto Kurniawan.

Meski mengusung konsep yang melankolis, bukan berarti Paramount Serpong tak melirik tanaman perdu lain di il Rosa. Untuk menyejukkan hunian, sejumlah pohon besar ditanam, seperti palem. Sebab, Tanto mengatakan, sebanyak 60% lahan di il Rosa yang memiliki total luas 1,9 hektare digunakan untuk taman, fasilitas umum (fasum), dan jalan.

PT Modernland Realty Tbk tak mau kalah. Pengembang Modern Hill yang terletak di daerah Pondok Cabe, Tangerang Selatan, ini juga tak sekadar mengusung konsep green property semata. Lewat kluster barunya yang bernama Green Tranquility, “Pembangunan rumah di sini kami sesuaikan dengan kontur alam yang terasering atau bertingkat-tingkat,” ujar Direktur Pemasaran Modernland Realty Ronny E. Mongkar.

Terpaksa mengundi

Dengan begitu, Green Tranquility mampu menciptakan suasana resor di pinggiran kota Jakarta. Ronny menyebutnya dengan konsep resort home. Jadi, “Kalau habis pulang kantor stres, bisa kembali segar ketika sampai rumah,” kata dia.

Adapun Bogor Nirwana Residence menerapkan konsep green property dengan menanam pepohonan langka yang menjadi ciri khas daerah Bogor. Contoh, Palm Pritchardia, palem ekor tupai, kupu-kupu merah dan pohon sosis. Lalu, batavia, kaliandra, serta kedondong laut.

Chief Marketing Officer (CMO) Bogor Nirwana Residence Jo Eddy Raspati bilang, dengan mempertahankan keaslian wilayah serta menanam pepohonan yang khas, penghuni akan merasa nyaman.

“Kami memanfaatkan kontur tanah dengan menggunakan teknologi up and down slope sehingga seluruhnya memang dibuat alami meski konstruksi rumah menjadi lebih mahal,” ujar dia.

Menurut pengamat properti dari Century 21 Pertiwi Ali Hanafia Lijaya, fenomena green property belum lama bergulir. Persisnya, “Sejak isu pemanasan global, tapi sekarang isu itu sudah mulai dikemas dengan adanya tema-tema,” kata dia.

Dan, cara ini terbukti manjur menggaet pembeli. Tanto mengungkapkan, peminat il Rosa membludak hingga 82 orang. Padahal jumlah rumah yang ditawarkan cuma 72 unit. “Terpaksa kami mengecewakan sebagian calon pembeli karena kami akan melakukan pengundian,” ujar Tanto. (Kontan/Anastasia Lilin Yuliantina)
 

Editor: acandra

  • Wujudkan Green Property, Pengembang Gaet P…
  • Konsep “Green Property Plus” Pik…
  • Asyik… Ada Fasilitas KPR buat TKI
  • Awas Bahan Kimia Mengancam di Rumah
  • IMB Saat Renovasi, Perlukah?
  • Minimalkan Korban Gempa, Pemda Perlu Perke…
  • Paramount Serpong Rilis Kluster Anyar
  • Membuat Rumah Aman
  • Meneropong Serpong dengan Kantong Pas-pasa…
  • Mau Bangun Rumah Tahan Gempa? Manfaatkanla..
  • 17
    Oct
    09

    Wisata Sejarah : Patal Senayan, Tak Sekedar Nama

    Patal Senayan, Tak Sekadar Nama
    Jumat, 16 Oktober 2009 | 11:27 WIB

    NAMA Patal Senayan boleh jadi tidak berarti apapun bagi sebagian warga Jakarta dan sekitarnya, khususnya mereka yang baru jadi warga Jakarta atau warga Jakarta “generasi MTV”.  Buat mereka, mendengar dan menyebutkan nama Patal Senayan, seperti mendengar dan menyebutkan nama Rawa Mangun, Kebayoran. Depok. Padahal nama Patal Senayan berawal dari sebuah Pabriteks (Pabrik Tekstil) Senayan yang menghasilkan benang dengan nama Patal (Pabrik Pemintalan) Senayan.

    Pabrik ini berdiri berdasarkan Instruksi Presiden RI 1965 dan mempunyai kapasitas produksi 30.000 mata pintal. Pada 1967 Patal Senayan dan pabrik sejenis dilebur menjadi suatu perusahaan negara dengan nama PN Industri Sandang Patal Senayan. Mulai tahun 1970 perusahaan ini telah memperkenalkan proses pembuatan benang campuran seperti sintetis rayon atau sintetis kapas untuk memenuhi permintaan pabrik tenun.
       
    Meski pada 1973 nama Patal Senayan diubah menjadi Pabrik Tekstil Senayan  namun di benak banyak warga yang sudah sejak lahir berada di Jakarta, nama Patal Senayan tak tergantikan. Melekat hingga sekarang meski lokasi pabrik kini sudah berubah menjadi apartemen, town house.

    Dalam hasil penelitian Dinas Museum dan Sejarah DKI tahun 1992 disebutkan, pembangunan gedung Patal Senayan dimulai tahun 1960 yaitu dengan kegiatan survei dan pembelian tanah. Pembangunan konstruksi dimulai setahun kemudian.

    Selanjutnya, selama dua tahun, 1962-1964 pembangunanh ini macet. Menteri Koordinator Perindustrian Rakyat akhirnya membentuk  Komando Operasi Proyek- proyek Sandang (KOPROSON) pada 1965. Tahun itu pula pemasangan mesin pemintal dari Jepang, dimulai dan selesai sekitar akhir 1965 dengan produksi 60.000 mata pintal.

    Pabrik ini akhirnya dipindah ke Karawang di tahun 1993. Tak hanya pabrik tapi juga seluruh kompleks Patal Senayan diruislag ke PT Indosandang City milik Salim Grup untuk kemudian diruislag lagi. Kawasan Patal Senayan kini mencakup area yang sangat luas di Jakarta Selatan.

    Bicara soal pabrik tekstil di Indonesia, sudah dimulai sejak masa kolonial. Dalam buku Identitas dan Postkolonialitas di Indonesia, Budi Susanto menjabarkan, ketika pasar tekstil di Eropa mulai jenuh, maka industri tekstil di Belanda yang berpusat di Twente terpaksa merelokasi pabrik-pabriknya ke Hindia Belanda. Dengan tenaga kerja terampil nan murah, Jawa Barat muncul sebagai sentra industri tekstil baru. Pada tahun 1937 jumlah pabrik tekstil di Hindia Belanda mencapai 123 pabrik, dari sebelumnya hanya 90 saja.    
    WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

    16
    Oct
    09

    Bencana Alam : Gempa 6,4 SR, Ujung Kulon, Banten

    Jumat, 16/10/2009 20:39 WIB
    Gempa 6,4 SR
    6 Rumah dan 1 Sekolah Rusak di Kecamatan Sumur

    Aprizal Rahmatullah – detikNews


     

    Jakarta – Gempa berkekuatan 6,4 Skala Richter (SR) yang berpusat di sebelah barat Ujung Kulon, Banten menyebabkan beberapa rumah rusak. Di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten, 6 rumah dan 1 sekolah mengalami retak-retak.

    “6 rumah penduduk retak dan jebol. Ada juga SMA 16 Sumur 3 ruangannya retak,” kata Kapolsek Sumur AKP M Yusuf kepada detikcom, Jumat (16/10/2009).

    Kecamatan Sumur adalah daerah paling dekat dengan Ujung Kulon. Lokasinya paling ujung dari Kabupaten Pandeglang.

    Menurut Yusuf, getaran gempa sangat terasa sekali di Kecamatan Sumur. Saat kejadian, warga banyak yang panik dan berhamburan ke luar rumah untuk mencari tempat perlindungan.

    “Tapi mereka akhirnya kembali tenang ke rumahnya masing-masing,” ungkapnya.

    Yusuf menjelaskan, hingga saat ini pihak kepolisian belum mendapat laporan tentang adanya korban akibat gempa. “Nihil, mudah-mudahan tidak ada,” tandasnya.

    Sebelumnya, gempa 6,4 SR terjadi di sebelah barat Ujung Kulon, Banten. Gempa ini terasa hingga Jakarta, Bandung, Bogor hingga Sukabumi.

    (ape/ape)

    Gempa 6,4 Sr 

    Gempa Berkekuatan 6,4 SR Guncang Beberapa Daerah

    Antara – Sabtu, Oktober 17

    Jakarta (ANTARA) – Gempa berkekuatan 6,4 Skala Richter dirasakan di beberapa daerah di Lampung dan Banten pada Jumat pukul 16:52 WIB.

    Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di beberapa tempat yakni 42 kilometer Barat Laut Ujung Kulon (Banten), 128 km Barat Daya Kalianda (Lampung), 137 kilometer Barat Daya Merak (Banten), 151 kilometer Barat Daya Tanjung Karang (Lampung) dan 186 kilometer Barat Daya Metro (Lampung).

    Gempa yang berpusat di Ujung Kulon terasa di Jakarta pada III-IV Modified Mercally Intensity (MMI), Ujung Kulon IV-V MMI, Sukabumi III-IV MMI, Banten III-IV MMI, Cisarua III-IV MMI dan Depok II-III MMI.

    Getaran gempa membuat orang-orang yang bekerja di bangunan tinggi di Jakarta keluar dari gedung dan berkerumun di halaman depan gedung.

    Sebagian panik. “Aduh, gempa ya! Bagaimana ini,” kata seorang ibu yang ketika ada getaran gempa berada di lantai 20 Wisma ANTARA, Jakarta Pusat, sambil tergopoh-gopoh turun di melalui tangga darurat.

    Pekerja yang berkantor gedung tinggi lain di Jakarta Pusat dan kawasan Kuningan pun sebagian besar juga turun dan berkumpul di halaman gedung sampai getaran gempa tak lagi terasa.

    Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman menyarankan, orang-orang yang berada di dalam gedung bertingkat ketika gempa berusaha mencari bagian bangunan yang konstruksinya kuat.

    “Sebaiknya berlindung dengan merapat ke bagian bangunan yang strukturnya kuat. Yang paling kuat adalah konstruksi lift. Selain itu dinding atau tiang yang besar. Hindari berada di tengah ruangan tanpa penyangga,” katanya saat memberikan sambutan pada halal bil halal anggota Gabungan Pengusaha Jamu di Hotel Sahid Jakarta, Kamis (15/10) malam.

    GEMPA UJUNG KULON
    Potensi Gempa Besar Terkurangi

    Sabtu, 17 Oktober 2009 | 03:22 WIB

    Jakarta, Kompas – Gempa tektonik yang berpusat di Ujung Kulon, Jumat (16/10) sore, mengurangi risiko terjadinya gempa besar setelah gempa Tasikmalaya, 4 September, dan Padang, 30 September. Gempa yang terjadi kemarin sore pada pukul 16.52 berkekuatan 6,4 skala Richter dan berpusat 42 kilometer barat laut Ujung Kulon, Provinsi Banten. Pusat gempa di laut dengan kedalaman sekitar 10 kilometer.

    ”Dari sifat kedangkalan pusat gempa tersebut, diperkirakan sebagai rangkaian gerak Sesar Sumatera. Gempa tersebut diharapkan mengurangi potensi gempa besar berikutnya karena energi Sesar Sumatera telah terlepas sebagian,” kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Mineral Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Yusuf Surachman, Jumat.

    Sejumlah ahli mengkhawatirkan, gempa berkekuatan hingga 8,9 skala Richter masih berpotensi terjadi di wilayah Sumatera, setelah terjadi gempa di Padang. Namun, beberapa gempa yang terjadi di jalur Sesar Sumatera akhir-akhir ini diharapkan mereduksi energi potensi gempa yang lebih besar.

    Kepala Pusat Gempa dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Fauzi mengatakan, pusat gempa tepatnya berada di 6,79 Lintang Selatan dan 105,1 Bujur Timur.

    ”Episentrum ini berada di zona subduksi atau penunjaman lempeng Indo-Australia terhadap Eurasia,” kata Fauzi.

    Intensitas gempa ini dirasakan di Ujung Kulon dalam skala 4 MMI hingga 5 MMI (modified mercally intensity). Sementara kegempaan dengan intensitas 3-4 MMI dirasakan penduduk di Lampung, Banten, dan Jakarta. Adapun di Depok dan Bandung intensitas gempa 2-3 MMI.

    Gempa susulan muncul pada pukul 17.01, tetapi kekuatannya jauh berkurang, hanya 4,9 skala Richter.

    Aktivitas tinggi

    Seperti halnya pesisir barat Sumatera, daerah laut selatan Pulau Jawa tergolong memiliki aktivitas kegempaan yang tinggi. Hal ini terjadi akibat desakan lempeng Indo-Australia yang relatif kuat, 5 hingga 7 sentimeter per tahun. ”Bagian selatan Selat Sunda juga dilewati terusan Sesar Semangko,” kata Yusuf.

    Secara terpisah, guru besar dan ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung, Sri Widiyantoro, mengatakan, meskipun gempa tersebut mendekati Pulau Jawa, sistem ini tidak menyambung dengan sesar yang terdekat, yaitu Sesar Cimandir yang terbentang mulai dari sekitar Sukabumi.

    ”Sejauh ini, untuk memprediksi potensi gempa berikutnya memang masih belum bisa dilakukan,” kata Widiyantoro.

    Gempa yang dirasakan di Jakarta juga membuat panik sejumlah warga. Karyawan di sejumlah perkantoran di Jakarta langsung keluar meninggalkan gedung begitu terasa guncangan.

    Hal serupa dilakukan warga di Sukabumi, Bandung, dan Lampung. Warga yang berada di dalam rumah dengan panik segera keluar rumah.

    Di Kabupaten Serang dan Pandeglang, Provinsi Banten, kerasnya guncangan gempa terlihat dari goyangan tiang listrik. Kabel-kabel yang membentang antartiang listrik pun turut bergoyang-goyang cukup lama.

    Kepala Kepolisian Sektor Sumur, Pandeglang, Ajun Komisaris M Yusuf menuturkan, beberapa saat setelah gempa terjadi, ia terus mengumpulkan informasi dari para kepala desa mengenai laporan dampak gempa.

    Hingga pukul 18.00, pihaknya belum mendapat laporan adanya kerusakan rumah atau korban jiwa di tujuh desa yang masuk wilayahnya.

    ”Kami terus memonitor dampak gempa yang terjadi sore tadi,” ujar M Yusuf. (YUN/NAW/CAS/HLN/THY)

     

    Negara dan Korban Bencana

    KOMPAS, Sabtu, 17 Oktober 2009 | 02:52 WIB

    Oleh Paulinus Yan Olla

    Gempa yang mengguncang Sumatera Barat menelan lebih dari 1.000 korban. Namun, upaya membantu korban berjalan lamban dan tidak sistematis (Kompas, 12/10).

    Korban mempertanyakan tanggung jawab para pengambil kebijakan publik dan kehadiran negara di tengah mereka.

    Berita bencana alam datang susul-menyusul dari Jawa Barat, Sumatera Barat, Jambi, Vietnam, Filipina, Jepang, dan Italia. Kenyataan itu tidak sepatutnya menjadi alasan untuk meremehkan, melalaikan, atau melihat derita korban sebagai hal lumrah. Bencana alam datang tak terduga, tetapi upaya pertolongan menampakkan kualitas dan intensitas tanggung jawab setiap pemerintahan.

    Tanah longsor yang menghantam Messina, Italia selatan, menewaskan 26 korban. Pemerintah Italia segera mengumumkan hari berkabung nasional, diiringi upacara penguburan para korban secara kenegaraan dan ditayangkan di TV secara nasional (Corriere della Sera, 8/8). Pemerintah Italia juga berjanji membangun rumah bagi para korban, serupa dengan korban gempa wilayah L’Aquila yang kini setiap pekan menerima dari pemerintahnya 300-400 rumah siap pakai.

    Gambaran berbeda

    Apa yang terjadi di lembah Gunung Tigo memperlihatkan gambaran berbeda. Keputusan dan kerelaan keluarga korban untuk membiarkan lokasi bencana menjadi kuburan massal menimbulkan rasa gundah. Ia menampakkan ketidakberdayaan, ketidaksiapan negara menghadapi bencana. Para korban yang selamat masih didera derita batin karena sanak keluarganya yang meninggal dikuburkan dengan cara tidak lazim sesuai adat dan agama (Kompas, 7/10). Harapan keluarga untuk sebuah penguburan secara layak dijawab dengan kebijakan pragmatis, parsial, dan absen kepekaan akan nilai kemanusiaan. Solidaritas negara dengan korban terkesan seakan absen.

    Lembah Gunung Tigo perlu menjadi peringatan bahwa bangsa ini perlu lebih banyak belajar bertanggung jawab. Alih-alih mengumumkan kabung nasional, para wakil rakyat justru terbenam dalam pesta pelantikan mewah, elite partai politik berebutan kursi kekuasaan dengan hamburan uang seratus juta hingga satu miliar rupiah per satu suara. Yang kita saksikan di lembah Gunung Tigo adalah bangsa yang kehilangan visi.

    Problem besar bangsa ini adalah kecenderungan untuk segera mengaitkan bencana alam dengan ”kutukan Tuhan” atau menerimanya sebagai nasib yang tak terelakkan. Sikap yang kemudian tumbuh menghadapi bencana adalah kepasrahan akan nasib serta minimnya inisiatif. Di sini berkembang secara tak disadari sikap deterministis yang meremehkan serta mengabaikan kemampuan manusia membuat pilihan dalam tindakannya.

    Visi moral

    Dalam kehidupan bangsa ini, kiranya masih absen apa yang disebut Sacks sebagai ”visi moral”, yang berfungsi bagai kompas pemandu arah tingkah laku saat situasi yang dihadapi (baca: bencana) seakan tak terkendali. Dalam visi moral itu, ada ide dasar ”tanggung jawab”.

    Sikap pasif, serba menerima, diubah dengan mengundang manusia menggunakan kemampuan memilihnya untuk membangun masa depan. Kemampuan memilih dan bertanggung jawab secara moral atas tindakannya menjadi pandangan atas hakikat manusia yang diyakini dalam agama Yahudi, Kristen, maupun Islam (Jonathan Sacks, The Dignity of Difference, 2007). Dalam alur pemikiran demikian, manusia (negara) tidak seharusnya membiarkan rakyatnya menerima nasib di tengah bencana yang menimpa. Dengan segala sumber yang dimilikinya, negara mempunyai kemampuan untuk memilih dan mewujudkan tanggung jawabnya terhadap para korban bencana.

    Proses evakuasi yang lambat, distribusi bantuan yang tidak merata, data korban simpang siur, kepanikan dan ketidaksiapan aparat di lapangan memperlihatkan betapa lemahnya sistem perencanaan penanganan korban bencana di negeri ini. Dinantikan respons politis yang komprehensif dan urgen, tetapi tidak hanya reaktif agar negeri rawan bencana ini tidak gagap setiap menghadapi bencana.

    Bencana alam akan selalu terjadi, tetapi negara sebesar Indonesia seharusnya tidak dikuasai sikap deterministis. Perlu diusir cara pemikiran yang meremehkan kemampuan manusia sebagai makhluk yang dapat memilih karena ia merupakan hasil dari apa yang diputuskannya. Pemerintah tidak perlu kehilangan kendali dan tanggung jawab atas akibat bencana yang terjadi.

    Keberpihakan pada para korban seharusnya tampak dalam kemampuan pemerintah melakukan pilihan-pilihan cerdas, memerangi sikap pasif, mati rasa atau cuci tangan di hadapan derita warganya. Hiruk pikuk pembentukan kabinet hendaknya tidak meninggalkan para korban bencana seakan yatim piatu!

    Paulinus Yan Olla MSF Rohaniwan; Lulusan Program Doktoral Universitas Pontificio Istituto di Spiritualità Teresianum, Roma; Bekerja dalam Dewan Kongregasi MSF di Roma, Italia

    16
    Oct
    09

    Kenegaraan : Kabinet Pancasila dan Legislasi Pancasila Heavy

    Kabinet Pancasila

    Demikianlah tersurat rekomendasi bapak Daoed Joesoef [Pancasila Untuk Apa Lagi, Suara Pembaruan, 16 Oktober 2009] yang patut dijadikan landasan pola pikir eksekutif bagi terbentuknya kinerja penyelengaraan Negara saat ini ketika menghadapi ancaman situasi global seperti krisis energi dan pangan dunia yang berangsur mengarusutama.

    Sejalan dengan termaksud diatas, maka sebenarnya pada 14 Oktober 2009 saat temu silahturahim kebangsaan bersama Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang dengan berbagai pemuka masyarakat ibukota seperti bapak Tri Sutrisno, bapak Amin Aryoso, bapak Sulastomo, dlsb, bertempat di resto Pulau Dua, Senayan, telah pula disampaikan perihal 5 (lima) usulan rancangan pokok-pokok addendum UUD45 bagi penyelenggara legislatif, yang bersemangatkan mengutamakan Pancasila yaitu agar supaya Butir-butir Pancasila, Nilai dan Norma yang terkandung dalam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Eka Prasetya Pancakarsa) sesuai dengan Ketetapan No. II/MPR/1978 tanggal 22 Maret 1978, dimasukkan kedalam Batang Tubuh. Seiring dengan hal ini, juga diusulkan agar supaya kriteria “Kegentingan Luar Biasa” berkaitan dengan diskresi Presiden dalam penerbitan PerPPU dapat diatur di tingkat Konstitusi Tertulis dengan maksud agar Presidential Heavy dapat diseimbangkan, tidak mengulang kontroversi sebagaimana pasca penerbitan PerPPU Pimpinan Plt KPK yang sampai saat ini masih mengidap perbedaan pendapat yang cukup menajam diantara para pakar politik dan hukum, sehingga cepat atau lambat berkemampuan menggoyahkan upaya2 penguatan Indeks Persepsi Korupsi Indonesia (IPKI) skala dunia, yang pada gilirannya dapat pula menggoyang baik sila ke-3 maupun sila ke-5 Pancasila. Demikian pula, pokok politik hukum tentang Perlindungan Hukum bagi penggiat Anti Korupsi termasuk Peniup Suling, dan penggiat HAM, diusulkan dapat segera diatur di tingkat Konstitusi Tertulis guna menghindari munculnya fenomena dugaan Pencemaran Nama Baik sebagaimana kini marak terjadi. Selanjutnya adalah tentang keberadaan Otoritas Perbatasan dan Pengawal Pantai (Coast Guard) guna menangkal berlanjutnya masalah pergeseran tapal batas Negara, illegal lodging, illegal trading, illegal fishing, kehadiran infiltrasi fisik kekuatan asing yang secara strategis taktis dianggap dapat potensial membahayakan Persatuan Indonesia (Sila ke-3 Pancasila). Last but not least, ikhwal peranan Moral Review oleh Masyarakat Madani patut pula diatur di tingkat Konstitusi Tertulis, disamping Judicial Review oleh Mahkamah Konstitusi dan Political Review oleh Dewan Perwakilan Rakyat, terutama ketika berkaitan dengan dugaan Tindak Pidana Ideologi & Politik Kebangsaan Kenegaraan, guna perkuatan sila ke-3 Pancasila.

    Jakarta, 17 Oktober 2009

    Komite, Politik Pelurusan Konstitusi Republik Indonesia (PPKRI)

    Pandji R Hadinoto / HP : 0817 983 4545 / indocounsellor@yahoo.com

    16
    Oct
    09

    Bencana Alam : Rentetan Gempa Akan Serang Sumatera 30 Tahun

    Rentetan Gempa Akan Serang Sumatera 30 Tahun
    Jumat, 16 Oktober 2009 | 14:43 WIB

    SINGAPURA, KOMPAS.com –  Rentetan gempa bumi diperkirakan akan menyerang Pulau Sumatera dalam waktu 30 tahun ini dan klimaknya memicu tsunami. Pakar gempa menyatakan, gempa dahsyat yang diprediksi akan terjadi akan jauh lebih kuat daripada gempa bumi 7,6 skala richter (SR) di Padang beberapa waktu lalu.

    Hal tersebut dikatakan Kepala Observatorium Bumi Singapura, Kerry Sieh, yang selama ini menjadi salah satu pakar gempa yang intensif meneliti kegempaan Sumatera.

    Dia mengatakan, gempa besar berikutnya akan berlangsung lebih dari enam kali lipat gempa berkekuatan 7,6 SR melanda Sumatera Barat, pada 30 September, yang meratakan kota Padang.

    “Kami memperkirakan kekuatannya sekitar 8,8, bisa dikatakan lebih atau kurang 0,1 (skala magnitud),” ujar Sieh, profesor Amerika pada sebuah presentasi di Universitas Teknologi Nanyang, baru-baru ini.

    Dia mengatakan, jika gempa Sumatera bulan lalu berlangsung sekitar 45 detik, gempa tersebut bisa berlangsung selama 5 menit.

    Dikatakan, berdasarkan sejarah gempa bumi dari analisis geologis yang mempelajari lapisan terumbu karang dari daerah sekitar, gempa bulan lalu hanyalah sebuah awal. Seperti tekanan di bawah patahan yang menggulung lonjakan, Sieh mengatakan gempa akhir-akhir ini memiliki efek yang sangat kecil dalam mengurangi desakan yang akan melepaskan energi yang terpendam dalam 30 tahun mendatang.

    “Jika kamu mempunyai anak, kamu perlu mengajarkan bahwa anak tersebut akan mengalami gempa bumi dan tsunami,” tambahnya.


    M14-09




    Blog Stats

    • 2,154,980 hits

    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Join 118 other followers