
7 Platform “45” Kaum Nasionalis 45
Mengantisipasi keprihatinan bahwa Indonesia Rapuh dan Perlu Reideologisasi [Kompas 9 Desember 2008], maka diluncurkanlah 7 Platform “45” Kaum Nasionalis 45 sebagai berikut :
Satu :
Al Qur’an Surah-45 Al Jaatsiyah (Yang Berlutut), yang mengutarakan tentang Al Qur’an yang diturunkan Allah, Pencipta dan Pengatur semesta alam. Sesungguhnya segala macam kejadian yang terdapat pada alam dapat dijadikan bukti bagi adanya Allah, kecelakaan yang besarlah bagi orang yang tidak mempercayai dan mensyukuri ni’mat Allah, segala puji hanya untuk Allah saja, Keagungan hanyalah Kepunyaan Allah.
Dua :
Lima Bangunan Utama Kerajaan SOENDA [1345] yaitu (2.1) Bangunan Bima Resi untuk musyawarah Keagamaan, (2.2) Bangunan Punta Dewa untuk musyawarah Persatuan dan Kesatuan Rakyat dan Wilayah Teritorial, (2.3) Bangunan Narayana tempat musyawarah menjaga hak-hak Kemanusiaan Rakyat sebagai manusia yang bermartabat, (2.4) Bangunan Madura tempat Musyawarah Mufakat para tokoh masyarakat, (2.5) Bangunan Suradipati tempat musyawarah Keamanan, Kesejahteraan dan Keadilan
Tiga :
Ajaran Lima Pintu Utama Kerajaan GALUH PAKUAN [1545] yakni (3.1) Semiaji bermakna Kemanusiaan, (3.2) Bratasena bermakna Persatuan, (3.3) Harjuna bermakna Keadilan, (3.4) Nakula bermakna Kerakyatan, (3.5) Sadewa bermakna Ketuhanan
Empat :
PANCASILA [1945] ialah (4.1) Ketuhanan Yang Maha Esa, (4.2) Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, (4.3) Persatuan Indonesia, (4.4) Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan, (4.5) Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia [TAP No. II/MPR/1978]
Lima :
Proklamasi Indonesia Merdeka [17 Agustus 1945]
Enam :
Undang Undang Dasar 1945
Tujuh :
Jiwa, Semangat, Nilai-nilai 45 dengan Nilai Operasional (7.1) Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, (7.2) Jiwa dan Semangat Merdeka, (7.3) Nasionalisme, (7.4) Patriotisme, (7.5) Rasa Harga Diri sebagai bangsa yang merdeka, (7.6) Pantang mundur dan tidak kenal menyerah, (7.7) Persatuan dan Kesatuan, (7.8) Anti Penjajah dan Penjajahan, (7.9) Percaya kepada diri sendiri dan atau percaya kepada kekuatan dan kemampuan sendiri, (7.10) Percaya kepada Hari Depan yang gemilang dari bangsanya, (7.11) Idealisme Kejuangan yang tinggi, (7.12) Berani, rela dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan negara, (7.13) Kepahlawanan, (7.14) Sepi ing pamrih rame ing gawe, (7.15) Kesetiakawanan, senasib sepenanggungan dan Kebersamaan, (7.16) Disiplin yang tinggi, (7.17) Ulet dan Tabah menghadapi segala macam ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan.
Dengan kebulatan tekad menuju Indonesia Digdaya 2045
Jakarta, 9 Desember 2008
Pandji R. Hadinoto / HP : 0817 983 4545, www.frontnas45.co.cc
Diskusi Buku
Indonesia Rapuh dan Perlu Reideologisasi
Selasa, 9 Desember 2008 | 01:15 WIB
BANDUNG, KOMPAS – Di balik kontroversi yang mencuat setelah mantan Wakil Presiden Adam Malik disebut sebagai agen biro intelijen Amerika Serikat (CIA) dalam buku Tom Weiner yang berjudul Membongkar Kegagalan CIA, tersirat kerapuhan bangsa Indonesia dan ketidakjelasan ideologi bangsa. Kebenaran pernyataan buku itu pun semestinya tak lagi perlu diperdebatkan.
Kesimpulan itu terungkap dalam diskusi yang diselenggarakan Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jawa Barat, Sabtu (6/12) di Bandung.
”Hadirnya buku itu seharusnya tidak membuat kita terjebak dalam pembunuhan karakter dan kemudian menghujat pihak lain. Sebab, buku itu justru menunjukkan betapa setiap orang di negeri ini bisa menjadi antek siapa pun, baik dia sadari maupun tidak,” kata Kepala Pusat Penelitian Kebijakan Publik dan Pengembangan Wilayah Lemlit Unpad Dede Mariana.
Hal itu membawa kesadaran bahwa negeri ini begitu rapuh dan mudah diintervensi oleh pihak asing melalui berbagai macam cara, baik intelijen militer, pendidikan, ekonomi, politik, maupun kehidupan sosial-budaya.
Kerapuhan itu, kata Dede, antara lain disebabkan tidak adanya kejelasan ideologi bangsa. ”Tidak jelas apakah ideologi negeri ini Pancasila, Islam, Sosialisme, atau paham lainnya. Hal itu menjadikan ketidakajekan berpijak dan ketidakjelasan tujuan,” katanya.
Ketidakjelasan ideologi itu pun mengaburkan antara kawan dan lawan. ”Anehnya, orang-orang Indonesia yang dulunya bersekolah di AS kini justru menjadi corong utama menentang negara itu, kemudian di manakah lawan dan siapakah kawan?” tutur Ketua DPP HTI Farid Wadjdi.
Pengajar Ilmu Pemerintahan FISIP Unpad, Muradi, mengatakan, praktik intelijen begitu halusnya, bahkan menyusup melalui lembaga-lembaga donor di bidang penelitian dan pendidikan. Siapa pun dengan demikian bisa menjadi ”agen” asing tanpa disadari.
Praktik intelijen pun, lanjutnya, bisa dua arah. Dalam kasus Adam Malik, misalnya, tidak bisa langsung disimpulkan bahwa ia adalah agen CIA. Sebab, kemungkinan pada zamannya terdapat kebutuhan untuk memanfaatkan pihak asing demi mencapai cita- cita.
”Persoalannya, siapa memanfaatkan siapa selalu tidak jelas dalam dunia intelijen. Karenanya, benar atau tidaknya tulisan Tom Weiner menjadi tidak terlalu relevan diperdebatkan,” ujar Muradi.
Buku itu juga menyadarkan tentang lemahnya dunia intelijen Indonesia. ”Militer Indonesia yang aktif melakukan praktik intelijen nyatanya lebih sibuk dengan urusan ekstrem kanan dan ekstrem kiri di dalam negeri. Mereka asyik menyelidiki bangsa sendiri, sementara buta dengan kekuatan asing yang mengancam,” tutur mantan Kepala Biro Humas Departemen Dalam Negeri Kolonel (Purn) Herman Ibrahim.
Pada akhirnya, reideologisasi bangsa adalah solusi untuk keluar dari kerapuhan. Pemimpin negara yang tegas dan memegang teguh ideologi negara Pancasila, kata Herman, adalah panutan dan langkah awal reideologisasi.(REK)

0 Responses to “Front Nasionalis45”