21
Feb
13

Kebudayaan : Hari Bahasa Ibu Internasional (HABIBI)

GerakNusa

Setiap 21 Februari masyarakat internasional merayakan Hari Bahasa Ibu Internasional atau International Mother Language Day. Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional ditetapkan oleh UNESCO (badan PBB tentang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan) pada 21 Februari 1999 sebagai upaya pelestarian bahasa daerah yang terancam punah karena ditinggalkan penuturnya. Bahasa daerah ditinggalkan penuturnya akibat globalisasi dan perkembangan teknologi.

Pada 2008 jumlah bahasa di dunia 6.912. Dari sejumlah itu, Indonesia menduduki peringkat kedua (741 bahasa) setelah Papua New Guinea (820 bahasa). Sebagian besar dari 741 bahasa itu adalah bahasa daerah dan yang paling banyak penuturnya adalah bahasa Jawa. Dalam Summer Institute of Linguistics 2006 disebutkan tentang peringkat bahasa dengan jumlah penutur terbanyak di Indonesia.

Peringkat tersebut menunjukkan bahasa Jawa 75,6 juta penutur, bahasa Sunda 27 juta penutur, bahasa Indonesia 17,1 juta penutur (140 juta penutur sebagai bahasa kedua), bahasa Madura 13,7 juta penutur, bahasa Minangkabau 6,5 juta penutur, bahasa Batak 6,2 juta penutur, bahasa Bali 3,8 juta penutur, bahasa Bugis kurang dari 4 juta penutur, bahasa Aceh 3 juta penutur, bahasa Betawi/Kreol 2,7 juta penutur, bahasa Sasak 2,1 juta penutur, bahasa Makassar 2 juta penutur, bahasa Lampung kurang dari 1,5 juta penutur dan bahasa Rejang kurang dari 1 juta penutur.

Bahasa Jawa memang paling banyak penuturnya karena masyarakat Indonesia kebanyakan suku Jawa. Bahkan, di Suriname, bahasa Jawa masih tetap digunakan. Walaupun bahasa Jawa tidak terancam punah, tetapi jika tidak dilestarikan, lambat-laun juga akan punah. Salah satu indikatornya adalah semakin banyaknya keluarga (terutama pasangan muda) yang tidak menguasai bahasa Jawa dalam pergaulan sehari-hari sehingga tidak mengajarkannya kepada putra-putri mereka.

Bahasa daerah yang tidak dilestarikan dikhawatirkan akan punah. Berdasarkan hasil penelitian guru besar Fakultas Sastra UNS, Edi Subroto, sedikitnya 700 bahasa daerah bisa punah dalam waktu tak terlalu lama. Menurut Direktur Jenderal UNESCO, Koichiri Matsuura, pelestarian bahasa daerah perlu dilakukan di Indonesia karena 741 dari 6.912 bahasa ibu di dunia terdapat di Indonesia. Upaya pelestarian bahasa daerah sebagai bahasa ibu harus benar-benar diupayakan karena potensi kepunahan bahasa-bahasa daerah terjadi sangat cepat (Stephen A Wurm: 2001).

Menurut Arief Rachman, kepunahan bahasa daerah di Indonesia di antaranya ditunjukkan data satu dari 50 bahasa daerah di Kalimantan terancam punah, dua dari 13 bahasa daerah di Sumatra terancam punah dan satu bahasa sudah punah. Di Jawa tidak ada bahasa daerah yang terancam punah. Sementara di Sulawesi, 36 dari 110 bahasa daerah terancam punah dan satu bahasa sudah punah. Di Maluku, 22 dari 80 bahasa daerah terancam punah dan 11 bahasa sudah punah.

Di Flores, Timor, Bima dan Sumbawa, delapan dari 50 bahasa daerah terancam punah. Di Papua dan Halmahera, 56 dari 271 bahasa daerah terancam punah. Tetapi, di Papua, sembilan bahasa dinyatakan telah punah, 32 bahasa segera punah dan 208 bahasa terancam punah.

Berdasarkan hasil penelitian Arief Rachman, kondisi tersebut diperparah dengan 72,5% siswa di beberapa SMA di Jakarta tidak menggunakan bahasa daerah untuk komunikasi dalam keluarga karena kebanyakan orangtua menganggapnya tidak penting. Bahasa yang berkembang di sana adalah bahasa prokem dan asing supaya dianggap modern.

Itulah yang menjadi hal penting dan mendasar dari peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional. Jika bukan kita, siapa lagi yang akan peduli dengan bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Perlu diingat bahwa sifat dari bahasa adalah universal (menerima masukan atau serapan dari bahasa lain) dan diversity (tertutup/tidak mau menerima serapan dari bahasa lain) sehingga ditinggalkan atau penuturnya sangat sedikit, contohnya adalah bahasa Kawi. Saat ini jarang generasi muda yang bisa berbahasa Kawi. Bahasa Jawa secara umum saja tidak bisa apalagi bahasa Kawi.

 

Akuisisi Bahasa

Kepentingan lain dari peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional adalah peran seorang ibu dalam mendidik anak untuk menguasai bahasa. Bahasa yang dikuasai ibu tentu akan diajarkan kepada putra-putrinya. Jadi, jika ibu tidak menguasai bahasa daerah, anak yang notabene sebagai generasi penerus juga tidak akan menguasainya.

Penguasaan bahasa pertama kali oleh anak disebut pemerolehan atau akuisisi bahasa. Hitam-putihnya bahasa pertama anak sangat tergantung dari kompetensi bahasa ibunya. Ada tiga teori pemerolehan bahasa. Pertama, mentalistik yakni setiap anak yang lahir ke dunia memiliki kemampuan berbahasa. Chomsky dan Miller (1957) menyatakan sejak lahir anak memiliki alat untuk berbahasa yang disebut language acquisition device (LAD) yang berfungsi memungkinkan anak memeroleh bahasa ibunya.

Pada masa ini, ujaran-ujaran anak tergantung dari apa yang didengarnya dan biasanya berbentuk tahap ujaran satu kata atau holofrasis. Pada tahap ini, bahasa ibu sangat berperan dan penguasaan bahasa oleh anak diperoleh secara alamiah. Anak selalu menirukan bahasa-bahasa di sekelilingnya, terutama ibunya. Kalau yang keluar dari mulut ibunya berupa kata-kata yang baik, anak juga akan berkata baik, demikian pula sebaliknya.

Kedua, kognitif yaitu turunan dari mentalistik. Penguasaan bahasa anak merupakan hasil proses kognitif yang terus berkembang. Jean Piaget (1954) menyatakan bahasa bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkan salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif.

Ketiga, behavioristik yaitu anak yang lahir tidak membawa kompetensi berbahasa, tetapi lingkunganlah yang akan memengaruhi bahasa anak. Pengetahuan dan keterampilan berbahasa anak diperoleh secara sengaja dari pengalaman dan proses belajar di sekolah. Banyak kasus anak yang bahasa pertamanya bahasa Indonesia, sedangkan bahasa keduanya justru bahasa Jawa/ daerah. Bahasa Jawa/ daerah diperoleh di sekolah hanya sebagai tuntutan kurikulum muatan lokal sehingga lambat-laun bahasa Jawa/daerah pasti juga akan punah.

Kesadaran dan penguasaan bahasa daerah sebagai bahasa ibu perlu tertanam kuat di hati anak/generasi muda sehingga dengan sendirinya akan tumbuh rasa bangga menggunakan dan memelihara bahasa daerah. Ada beberapa upaya revitalisasi, pelestarian dan pengembangan bahasa daerah. Di antaranya pendokumentasian bahasa ibu, penyusunan kamus bahasa ibu, memasukkan dan memopulerkan kata-kata dalam bahasa ibu ke dalam bahasa Indonesia, penyusunan modul bahasa daerah, pembelajaran bahasa daerah yang komunikatif di sekolah dan melakukan kreativitas dalam penggunaan bahasa.

Jika hal-hal tersebut bisa terlaksana dengan baik, bahasa daerah tetap akan lestari dan hidup di masyarakat. Diperlukan kerja sama yang baik antara berbagai pihak, terutama pemerintah dan masyarakat untuk menjaga dan melestarikan eksistensi bahasa ibu sebagai bahasa  daerah, baik dalam bidang hukum, pendidikan, sosial-budaya, perekonomian, maupun komunikasi terutama media.

 

Selamat Hari Bahasa Ibu Internasional!

Sumber : Solopos.

Gambar sisip 1

Gambar sisip 2

Gambar sisip 3

Gambar sisip 4

Gambar sisip 5

Gambar sisip 6

Catatan Tentang Teks Georgian :

გჭირდებათ სასწრაფო კრედიტი?
გსურთ, რათა ბოლო მოეღოს თქვენი ფინანსური კრიზისი?
ჩვენ რეპუტაციის სესხის მომსახურების ვაძლევთ სესხი ადამიანები, რომლებიც საჭიროებენ ბიზნეს სესხი, ავტო სესხი და სტუდენტური სესხი 2% საპროცენტო განაკვეთი. ჩვენ დაარწმუნა თქვენ უკეთესი სესხის მომსახურების გარანტიას. დაგვიკავშირდეთ: info2@scitylenders.tk

შენიშვნა: ყველა ელ იგზავნება ამ წერილს: info2@scitylenders.tk

“Apakah Anda membutuhkan pinjaman mendesak?
Apakah Anda ingin mengakhiri krisis keuangan Anda?
Kami memiliki reputasi memberikan orang pinjaman pembayaran pinjaman yang membutuhkan pinjaman bisnis, pinjaman mobil dan pinjaman mahasiswa tingkat bunga 2%. Kami yakin Anda adalah jaminan terbaik untuk layanan pinjaman. Kontak: info2@scitylenders.tk

Catatan: Semua email yang dikirimkan ke email ini: info2@scitylenders.tk

 

Data dari Teks tersebut diatas adalah :

- Aksara / Bahasa Georgia dari Republik Georgian (Pecahan Rusia – USSR).

- Font yang digunakan adalah : Sylfaen.ttf

- Sylfaen.ttf tersebut sudah Unicode dan O/S Windows sudah memasukkan kedalam perangkat O/S-nya.

- Tanpa meng-install Font Sylfaen.ttf kita sudah otomatis bisa menulis / membaca aksara / bahasa Georgia.

- Model2 transliterasi dari Aksara Tradisional didunia yang dapat yang dapat saling bertatap muka (interface) dengan aksara Tradisional Dunia lainnya adalah yang dijadikan ancas tujuan para pengembang perangkat keras dan lunak.

Secara konsep disebut dengan Multi Scribe atau Uni Scribe yang kemungkinan tidak lama lagi menjadi piranti yang dapat digunakan untuk Public Domain, Google Translate sudah merintis / memulainya.

- Suatu saat nanti kita misalnya dapat menulis Carakan yang otomatis dapat diterjemahkan misalnya ke bahasa Arab / Jepang / Cina / Korea dlsb. secara otomatis.

Namun syaratnya sudah harus terregistrasi di Unicode (Carakan – sudah, meskipun tidak lengkap), dan ada pengembang yang berkenan memasukkan kedalam O/S-nya (Carakan belum ada Pengembang yang berminat).

http://www.wardhanahendra.blogspot.com | @_hendrawardhana

0inShare

HL | 21 February 2013 | 11:35

13614273451435187692Ilustrasi/Admin (Ajie Nugroho)

Hampir setiap hari telinga ini mendengarkan suara-suara keras mahasiswa baru di ruang sebelah. Suara-suara yang selalu memunculkan bunyi-bunyian “bro-bro-bro”. Awalnya saya suka menyimpan senyum ketika mendengarnya. Terdengar lucu tapi akhirnya entah karena mulai terganggu dengan suara kerasnya atau terusik dengan bunyi-bunyian bahasa mereka itu, saya kerap ingin keluar untuk meminta mereka tutup mulut. Tentu saya selalu mengurungkan niat itu. Apa daya, bagi mereka menggunakan bahasa “gaul” adalah hak. Bagi mereka menggunakan bahasa-bahasa aneh seperti itu adalah bagian dari penunjang dan penunjuk eksistensi diri meski tanpa disadari mereka justru sedang perlahan membunuh jati diri.

Tak banyak yang sadar jika hari ini, 21 Februari adalah Hari Bahasa Ibu Sedunia. Hari Bahasa Ibu Sedunia adalah peringatan yang ditetapkan oleh UNESCO sejak tahun 1999. UNESCO memandang pentingnya setiap bangsa menanamkan kesadaran pendidikan bahasa ibu kepada generasi penerusnya. Di sisi lain, UNESCO menangkap keprihatinan dunia yang terus kehilangan bahasa-bahasa ibunya. UNESCO memperkirakan sekitar 3000 bahasa akan punah di akhir abad ini. Hanya separuh dari jumlah bahasa yang dituturkan oleh penduduk dunia saat ini yang masih akan eksis pada 2100 nanti. National Geographic merinci lagi bahwa ada 1 bahasa ibu di dunia yang punah setiap 14 hari. Di banyak tempat di dunia, bahasa ibu sedang berjalan menuju ke kepunahannya.

Apakah itu termasuk bahasa-bahasa daerah di Indonesia? Sayang sekali iya. Bahkan Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang memiliki kerentanan besar terkait kepunahan bahasa ibu masyarakatnya. Ratusan bahasa ibu masyarakat penduduk Indonesia semakin kehilangan penutur.

13614195171507600957

Sebaran & jumlah bahasa daerah di Indonesia yang beresiko dan terancam punah (sumber : http://www.endangeredlanguages.com/#/5/-0.742/-229.285/0/100000/0/low/mid/high/unknown)

 

Lalu adakah bahasa daerah di Indonesia yang sudah tak lagi memiliki penutur alias punah?. Data UNESCO memaparkan ada 12 bahasa daerah di Indonesia yang telah punah yakni Hukumina, Kayeli, Liliali, Mapia, Moksela, Naka’ela, Nila, Palumata, Piru, Tandia, Te’un, Tobada’. Jumlah ini diyakini lebih sedikit dari yang sebenarnya karena ada banyak bahasa daerah yang tidak terdokumentasikan.

Bagaimana dengan bahasa Jawa ?. Penutur bahasa Jawa masih boleh merasa lega karena bahasa Jawa menjadi 1 dari 20 bahasa paling eksis di dunia saat ini. Tapi tak ada artinya eksistensi sebuah bahasa Ibu bagi sebuah bangsa jika di saat yang sama, bahasa-bahasa lainnya menghilang.
1361420089739728911

Sebaran & jumlah bahasa daerah di Indonesia yang hanya menyisakan penutur 1-100 orang (sumber : http://www.unesco.org/culture/languages-atlas/index.php?hl=en&page=atlasmap)

 

Di samping bahasa-bahasa daerah yang sudah punah, tak kurang ada 47 bahasa daerah di Indonesia yang terancam punah dengan jumlah penutur hanya tersisa 1-100 orang. Bahasa Ibu yang merupakan bahasa lokal Maluku Utara hanya menyisakan 10 penutur di tahun 1997 dan kini patut diduga sudah punah. Sementara Bahasa Longiku (Kalimantan) diketahui hanya memiliki 4 penutur di tahun 2000, Bahasa Lom (Sumatera) menyisakan 10 orang penutur pada tahun 2000. Di Sulawesi bahasa Budong-Budong hanya tinggal dituturkan oleh 50 orang. Sementara bahasa Nusa Laut pada tahun 1987 penuturnya tinggal berjumlah 10 orang. Di Papua Bahasa Mansim atau Borai menyisakan 5 penutur di tahun 2007.  Bahasa Dusner diketahui hanya memiliki penutur berjumlah 20 orang di tahun 2000.

1361419884194154835412 bahasa daerah di Indonesia diyakini telah punah (sumber : http://www.unesco.org/culture/languages-atlas/index.php?hl=en&page=atlasmap).

Tak hanya catatan UNESCO yang menunjukkan betapa rentannya bahasa-bahasa Ibu di Indonesia. Endangered Language Project mengidentifikasi ada banyak bahasa daerah di Indonesia yang terancam kelestariannya. Pulau Bali yang kehidupan masyarakatnya sangat kental dengan budaya ternyata menyimpan bahaya hilangnya salah satu bahasa ibunya. Bahasa Katakolok teridentifikasi sangat terancam punah karena tinggal memiliki 48 penutur di Bali.

Bahasa Enggano di Sumatera dan bahasa Punan Merah di Kalimantan juga mengalami nasib serupa. Sementara di Sulawesi beberapa bahasa seperti Gorontalo, Waru, Bahousai dan Taje memiliki penutur tak lebih dari 500 bahkan beberapa di antaranya tinggal dituturkan oleh 200 orang.

Di wilayah timur, Indonesia perlu segera mengambil tindakan nyata untuk menyelamatkan banyak bahasa daerah. Di Indonesia timur terdapat bahasa Kao penuturnya tinggal berjumlah 400 orang dan bahasa Salas yang sangat terancam punah karena hanya dituturkan oleh 50 orang. Sementara bahasa Loun lebih kritis lagi karena penuturnya diketahui tinggal berjumlah 20 orang. Ketiganya adalah bagian dari belasan bahasa di kepulauan Maluku yang terancam kelestariannya.

13614202971695006876Indonesia Timur memiliki banyak bahasa ibu yang terancam eksistensinya (sumber : http://www.endangeredlanguages.com/#/5/-0.742/-229.285/0/100000/0/low/mid/high/unknown)

Sementara itu di Papua terdapat banyak bahasa ibu yang terancam punah. Bahasa Duriankere atau Esaro diduga tinggal memiliki penutur berjumlah 30 orang. Sementara Liki tinggal dituturkan oleh 11 orang. Kehu menyisakan 25 penutur dan Iresim 70 penutur. Beberapa bahasa seperti Taworta, Demisa, Burmesu dan Warkay-Bipim meski masih memiliki penutur berjumlah ratusan tetapi dianggap rentang karena kecenderungan masyarakat penuturnya diprediksi terus berkurang.

Lalu apa yang membuat banyak bahasa Ibu kehilangan penuturnya ?. Globalisasi dan pembangunan yang menepikan kearifan lokal diyakini menjadi penyebab terbesar hilangnya suara-suara indah itu. Arus globalisasi mendorong banyak orang mengganti bahasa ibunya dengan bahasa lain yang dianggap lebih kekinian.

Apa yang menimpa beberapa bahasa ibu di Indonesia dan di dunia tak ubahnya seperti ancaman eksistensi yang dialami oleh Bahasa Indonesia saat ini. Atas nama globalisasi banyak manusia Indonesia mengganti begitu saja bahasanya dengan bahasa Internasional. Di sisi lain Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan kerap dipaksakan sebagai bahasa yang harus dituturkan sehari-hari oleh masyarakat di seluruh penjuru negeri hingga diam-diam menyingkirkan bahasa-bahasa daerah.

“Kreativitas” generasi muda saat ini dalam membentuk bahasanya sendiri ditambah gegar budaya membuat mereka secara tak sadar membunuh bahasanya sendiri. Mereka yang gemar mengutip dan menuturkan bahasa-bahasa Korea misalnya, disadari atau tidak sedang menghajar bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa ibu nusantara lainnya. Tanpa disadari mereka sedang membunuh jati dirinya sendiri. Keprihatinan ini bertambah jika mengingat pemerintah yang seharusnya memiliki daya justru gamang dan kerap kehilangan orientasi dalam pembangunan budaya.

Memang bukan hanya Indonesia yang kehilangan dan mungkin akan terus kehilangan banyak bahasa ibunya. Hampir seluruh negara memiliki masalah serupa. Tapi di Indonesia dari setiap bahasa yang punah kita tak hanya kehilangan suara-suara indah. Indonesia akan mengalami kerugian dan kehilangan yang lebih besar karena punahnya bahasa daerah turut membawa musnah segala warisan budaya, nilai-nilai kemanusian dan ilmu pengetahuan. Hilangnya bahasa daerah tak hanya akan membuat Indonesia kehilangan cerita tentang asal-usulnya tapi juga membuat generasi-generasi selanjutnya tak mewarisi jati diri Indonesia.

Pada dasarnya kehilangan bahasa daerah sama artinya dengan kehilangan spesies-spesies yang ada di bumi. Punahnya bahasa membuat kita akan kehilangan banyak cerita indah tentang dunia.

Hal yang menyedihkan ketika ada orang Indonesia yang harus menempuh pendidikan lanjut tentang bahasa Jawa dan Maluku lalu ia harus terbang ke Belanda untuk bisa memahami sejarah bahasa ibunya sendiri. Sayapun kerap bercermin pada diri sendiri. Saya memang masih kerap menggunakan bahasa ibu dalam percakapan sehari-hari. Saya memang masih fasih berbahasa Jawa, tapi jika harus berdiskusi dengan para orang tua Jawa, saya lebih sering terdiam tak bersuara.

About these ads

0 Responses to “Kebudayaan : Hari Bahasa Ibu Internasional (HABIBI)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,246,275 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: