09
Jan
13

Bisnis : Investasi Kayu Jabon

Apa Itu Jabon?

Apa Itu Pohon Jabon?

Apa itu pohon Pohon Jabon?, Tahukah anda Jabon? Jabon adalah tanaman kayu yang saat ini sedanf trend, ddngan tingat kebutuhan kayu didunia yang terus meningkat, sedangkan kondisi hutan indonesia yang semakin kritis, saat ini Pohon Jabon menjadi salah satu solusi bagi industri perkayuan untuk mengatasi kendala bahan baku yang semakin habis.

Pohon jabon atau Anthocephalus cadamba adalah tanaman kayu penghijauan yang pertumbuhanya tercepat di dunia, dengan pertumbuhan rata-rata dengan diameter 10 cm per tahun dan dapat mencapai ketingian 25 m dan dapat dipanen pada usia 5 tahun dengan volume kayu +0,9 m3/pohon dan kayu jabon jika dijual dapat mencapai +Rp.1.000.000,-/pohon tergantung besar kecilnya kayu.

Pohon Jabon merupakan tanaman kayu yang cukup populer, dan cocok sebagai bahan baku furniture, kayu lapis, pulp, kertas, mainan anak-anak, hingga batang korek api juga memerlukan kayu jabon ini. Selain itu permintaan ekspor kayu jabon pun terus meningkat, maka tidak heran jika harga kayu jabon dari tahun ke tahun terus melonjak.

Siasat bisnis baru investasi kayu jabon

Merdeka.comMerdeka.com 

MERDEKA.COM,Masyarakat boleh saja meributkan bisnis investasi kayu jabon, apakah terindikasi money game atau tidak. Namun bagi Hendrayana, Manajer dan Penanggung Jawab Sistem di PT Global Media Nusantara (GMN), pemilik program I-GIST (International Green Investment System), meyakini bisnis itu aman. Sebab, menurut dia, perusahaannya tidak pernah mengelola dana investasi laiknya manajer keuangan.“Kami mengalokasikan uang investasi langsung ke lapangan. Untuk mengelola bibit kayu jabon, menyiapkan lahan, memupuk, merawat, dan menjaga keamanan bibit. Jadi lebih tepatnya, kami ini menjual jasa pengelolaan tanaman kayu jabon,” kata dia ketika dihubungi merdeka.com kemarin melalui telepon selulernya.Selama ini, kata dia, GMN melalui paket program I-GIST hanya murni menjual produk satu paket pengelolaan bibit kayu jabon plus lahan. Perusahaan juga memberikan tanda terima berupa sertifikat pengelolaan. Jadi, kata dia, uang investasi tidak hanya diputar-putar sedemikian rupa seperti perusahaan investasi pada umumnya, melainkan langsung disalurkan sesuai amanat pembeli.Bagaimana dengan sistem Multi Level Marketing (MLM)? Menurut dia, itu hanya salah satu cara untuk mendongkrak penjualan. Investor boleh menjadi investor aktif dengan ikut mencari investor baru, boleh juga tidak atau menjadi investor pasif. Bagi investor yang bisa mengajak orang mendapat komisi, bukan bonus.

Penanggung jawab lahan, Dadan, mengatakan hal serupa. Menurut dia, produk bibit kayu jabon selama ini hasil budidaya sendiri. Sebab perusahaan memiliki target lima tahun panen sehingga bibit harus seragam, yakni diambil dari induk pohon langsung berusia 42 tahun. Harga bibit juga bervariasi, tergantung jarak pengiriman. Misalnya di Garut, Jawa Barat, harga satu bibit hanya Rp 1.750.

Sementara di Serang, Provinsi Banten, kata dia, harganya hanya Rp 1.500. Berbeda lagi dengan harga bibit di Sumedang dan Sumbawa, rata-rata harganya Rp 2.000. Karena GMN menjual bibit dalam bentuk paket, lengkap dengan lahan dan pengelolaan, harganya lebih mahal antara Rp 150 ribu hingga 160 ribu satu biji.

Perhitungannya, 65 persen dari harga buat rencana pemasaran, sisanya 35 persen untuk biaya penanaman; pencarian lahan, legalitas, pemasangan kamera, infrastruktur, perawatan dan pemeliharaan selama lima tahun. Namun GMN menjual harga paketan. Misalnya untuk harga paket Rp 500 ribu, investor hanya mendapat dua bibit. Paket Rp 8 juta, investor mendapat 52 bibit, paket Rp 10 juta mendapat 67 bibit, dan paket Rp 71 juta mendapat 469 bibit.

Hingga kini, kata dia, perusahaan sudah menanam bibit jabon di lahan seluas 200 hektar. Lahan itu tersebar di Cianjur 16 hektar, Wado 50 hektar, Leles 50 hektar, kemudian Sumbawa Barat 15 hektar, Awasagara 50 hektar, Singajaya 100 hektar, dan terakhir Banten 13 hektar. Setiap hektar ditanami 1.200 bibit. ”Sekarang sudah 90 hektar lahan tertanami,” katanya.

Sumber: Merdeka.com

Berita Lainnya

Pohon jabon, dulu murah sekarang mahal

Merdeka.comMerdeka.com 

MERDEKA.COM,Berbicara masalah nilai harga kayu untuk bahan furnitur, jelas jati menempati urutan teratas. Menurut R. Rahardian, pengamat agrobisnis, kayu jati memiliki tingkatan dan kelasnya tersendiri. Kayu jati Indonesia adalah salah satu yang terbaik di dunia. Dia menilai ada penguji khusus menilai kualitas sebuah kayu jati.

Meski begitu, bisnis investasi agrobisnis banyak berkembang saat ini justru meninggalkan kayu jati sebagai bahan jualan. Rata-rata perusahaan investasi menawarkan penanaman pohon jabon atau sengon untuk ditawarkan kepada pemilik dana.

Bergesernya pilihan itu, menurut Rahardian, karena masa panen pohon jati butuh waktu lama, bisa sepuluh tahun lebih. Masa tunggu panen itu bisa membuat investor kelamaan menunggu. “Tapi sekarang kebutuhan kayu makin tinggi, pohon apapun laku. Lihat saja pohon kapuk ringan kaya gitu masih bisa dijual,” kata Rahardian kepada merdeka.com saat ditemui di kantornya, kawasan Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Kamis pekan lalu.

Maka tidak mengherankan, tawaran investasi penanaman pohon, meski bukan jati akan tetap laku. Lihat saja pohon jabon atau sengon. Bagi Rahardian, sebelum 1980-an, pohon jabon dan sengon nyaris tidak memiliki harga sama sekali.

Namun, hal itu berubah, sejak awal 1980-an kebutuhan kayu makin meningkat dari Korea Selatan dan Jepang sebagai bahan bangunan ringan. Maka tidak mengherankan hal itu membuat nilai jual dan minat masyarakat kepada kedua jenis kayu itu terbuka lebar. “Dua jenis kayu itu kualitasnya di bawah jati, tapi pohon sengon lebih bagus dari kayu jabon,” ujar Rahardi.

Rahardi masih tidak percaya dengan sistem investasi menawarkan keuntungan berlipat dari investasi penanaman jenis pohon itu. Selain tidak ada kepastian hukum, menurut dia, harga investasi setiap pohon jabon ditawarkan terlalu mahal. Rahardi menuturkan harga bibit jabon dijual petani saat ini masih berkisar di bawah lima ribuan.

Bahkan, Rahadi merekomendasikan, jika ingin investasi lebih jelas kenapa tidak ikut serta program Perum Perhutani yang jelas-jelas butuh modal. Kalaupun alasan bisnisnya untuk mengurangi pemanasan global, Rahardi memprotes hal itu. Dia menilai, kalau ingin benar-benar tanam pohon untuk lingkungan kenapa harus jenis pohon memang untuk ditebang.

“Kalau seperti itu niatnya terus apa bedanya dengan tanam singkong, panen, kemudian tanam lagi atau sebaliknya,” kata Rahardian lebih lanjut. Dia menilai alasan ikut berpartisipasi mengurangi pemanasan global hanya alasan bisnis saja, bukan atas dasar pamrih.

Pendapat berbeda dikemukakan Abdullah Syam, tim ahli PT. Global Media Nusantara (GMN). Pohon jabon ditawarkan pihaknya berbeda dengan jabon biasanya. Jabon dia kelola adalah jabon dari hasil penelitian cukup lama. Jenis jabon itu memiliki kualitas tahan terhadap serangan hama dan dijamin tidak bengkok.

Mahalnya harga pohon jabon dia kelola wajar karena masuk dalam satu paket investasi: tanam, perawatan, hingga panen. Selain itu, menurut Abdullah, jenis pohon jabon itu akan terus dikembangkan. Dia mengatakan sudah berbicara dengan seorang peneliti lulusan Jerman yang juga paham tentang bagaimana mengembangkan pohon jabon.

Mengenai sistem bisnis dijalankan PT. GMN, Abdullah juga staf ahli dari Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi di Kementerian Kehutanan mengaku tidak tahu begitu detail. Dia diangkat sebagai penasihat perusahaan untuk mengurusi bidang teknis penanganan jabon, mulai dari menyeleksi, menanam, merawat, hingga panen.

“Sejak diminta sebagai penasihat dalam ke bisnis ini, saya bilang ke PT. GMN, bukan hal teknis yang memajukan bisnis, tapi kejujuran, kerja keras, dan transparansi akan membuat sukses,” ujar Abdullah saat dihubungi merdeka.com kemarin melalui telepon selulernya.

Meski penanaman pertama baru berumur setahun lebih dan perusahaan memanen. Abdullah yakin hasilnya bakal banyak diminati. Bahkan saat ini, dia mengaku sudah ada satu pejabat dari Karawang memesan pohon telah ditanam. “Yang pasti perusahaan kayu lapis akan membutuhkan jenis kayu ini.”

Sumber: Merdeka.com


0 Responses to “Bisnis : Investasi Kayu Jabon”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,338,720 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 132 other followers

%d bloggers like this: