14
Oct
12

Kepemudaan : Tawuran Mahasiswa Akibat Pendidikan Karakter Minim

Tawuran Mahasiswa akibat Pendidikan Karakter Minim

Naomi Siagian | Sabtu, 13 Oktober 2012 – 11:10:13 WIB

:

(dok/ist)
Gejolak muda masih menjadi alasan para mahasiswa melakukan tawuran.

JAKARTA – Tawuran mahasiswa di Makassar yang menyebabkan dua orang tewas menunjukkan, mahasiswa tidak terbiasa menggunakan nalar dalam menghadapi persoalan.

Pendidikan yang diterima mahasiswa tersebut tidak membentuk pola pikir yang kritis. “Mahasiswa itu tidak biasa mengalami proses berpikir untuk mencari solusi yang lebih tepat,” kata pengamat pendidikan Mohammad Abduhzen, Jumat (12/10).

Dia mengatakan, mahasiswa terbiasa mencari solusi atas masalah dengan kekerasan, padahal ada alternatif solusi. Ini terjadi karena mahasiswa tumbuh di lingkungan yang mengedepankan kekerasan, termasuk dari segi sosial politik.

Pendidikan mahasiswa pun mengandung kekerasan. Model pendidikan selama ini tidak menjadikan mahasiswa pandai menggunakan hati dan akalnya dengan baik dalam menyelesaikan masalah.

“Referensi mahasiswa menjawab masalah adalah kekerasan. Mahasiswa kurang terbiasa menggunakan nalar,” katanya.

Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina, Utomo Dananjaya menilai, tawuran merupakan salah satu dampak dari belum berhasilnya proses pendidikan baik di tingkat pendidikan dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi dalam membentuk kepribadian peserta didik.

Padahal, pengertian pendidikan dalam UU sisdiknas adalah membentuk peserta didik memiliki spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia dan keterampilan. “Tapi kepribadian ini belum didapat dalam proses belajar pendidikan kita,” katanya.

Anggota Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) Mansyur Ramli menambahkan, aspek pendidikan karakter akan menjadi pertimbangan BAN PT untuk menilai akreditasi PT maupun prodi.

“Selama ini penilaian akreditasi hanya aspek akademis, ke depan aspek karakter akan masuk,” kata Mansyur. Oleh karena itu, pemerintah atau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dapat memberi sanksi dengan menurunkan akreditasi bagi PT yang tidak mampu mencegah terjadinya kekerasan di kampusnya.

Sementara itu, pascatawuran, aparat dari Polrestabes Makassar yang melakukan penyisiran di Fakultas Teknik serta Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (UNM) menemukan 2,3 kilogram benda yang diduga narkoba jenis sabu serta puluhan senjata tajam.

Kapolrestabes Makassar Kombes Erwin Triwanto mengatakan, paket yang diduga sabu dan telah diamankan itu ditemukan di Sekretariat Mahasiswa Fakultas Seni. Upaya penyisiran ini untuk mengantisipasi bentrokan susulan pascatawuran, Kamis (11/10) lalu.

Erwin mengaku, barang-barang terlarang itu menjadi salah satu indikator latar belakang mahasiswa yang menjadi beringas dan sering terlibat perkelahian. “Senjata tajam, minuman alkohol, serta narkoba menjadi penyebab mahasiswa melupakan kewajibannya, yakni menjadi orang-orang yang terampil sesuai bidang ilmu pendidikannya,” katanya.

Meskipun polisi sudah mengamankan banyak senjata tajam serta narkoba, namun belum diketahui siapa pemilik barang itu karena kampus sudah kosong setelah insiden perkelahian yang mengakibatkan dua mahasiswa fakultas teknik itu meninggal dunia. (Rusdy Embas)

Sumber : Sinar Harapan
Minggu, 14/10/2012 08:26 WIB

PDIP Minta Pancasila Masuk Lagi di Kurikulum untuk Tekan Tawuran

Rois Jajeli – detikNews

Surabaya

Salah satu dari 11 poin hasil dari rapat kerja nasional (Rakernas) II PDI Perjuangan di kota Surabaya yakni mengenai maraknya tawuran dan kekerasan di tingkat horizontal, khususnya tawuran antar pelajar. PDIP meminta agar mata pelajaran Pancasila dimasukkan kembali ke kurikulum pendidikan, mulai sejak SD hingga perguruan tinggi.

“Menyesalkan meluasnya budaya kekerasan dan intoleransi di kalangan terutama pelajar,” kata Puan Maharani saat membacakan hasil rakernas, Sabtu (13/10/2012) malam.

Ketua Panitia Pusat Rakernas II itu juga membacakan hasil rakernas, yakni mendesak pemerintah menjamin terciptanya keamanan dan perlindungan warga negara, dan sedini mungkin melakukan pencegahan terhadap kecenderungan meningkatnya konflik horizontal.

“Mendesak pemerintah untuk memberikan perhatian pada upaya membangun karakter bangsa, yang saat ini semakin jauh dari nilai-nilai Pancasila, sebagaimana ditunjukkan oleh semakin intens dan meluasnya konflik dalam masyarakat, rendahnya kesadaran hukum, tergerusnya solidaritas dan toleransi sosial serta berbagai kecenderungan negatif
lainnya,” katanya.

“Untuk itu, PDI Perjuangan menyerukan dikembalikannya mata ajaran Pancasila dalam kurikulum pendidikan di semua tingkatan, dan menjadi dasar bagi pengembangan pendidikan budi pekerti, serta pendidikan kewargaan,” tuturnya.

(roi/mok)

About these ads

0 Responses to “Kepemudaan : Tawuran Mahasiswa Akibat Pendidikan Karakter Minim”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,210,228 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 121 other followers

%d bloggers like this: