Archive for September, 2012



13
Sep
12

Pidana : Membuat Bangkrut Koruptor

Membuat Bangkrut Koruptor

Selasa, 11 September 2012 | 22:56 WIB

NIAT Komisi Pemberantasan Korupsi memakai ketentuan perampasan harta hasil korupsi dalam kasus suap yang menyeret Angelina Sondakh adalah langkah maju. Selama ini jaksa Komisi hanya menuntut hukuman pidana dan denda bagi para terdakwa korupsi. Akibatnya, selain hukuman bui yang sering begitu ringan hingga melukai perasaan publik, nilai hukuman denda yang dikenakan juga jauh lebih kecil dibanding uang negara yang mereka tilap.

Angelina Sondakh didakwa menerima suap sebesar Rp 35 miliar dalam pembangunan Wisma Atlet di Palembang. Jika dia dituntut menggunakan Pasal 12 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi, memang ancaman hukumannya bisa sampai seumur hidup. Tapi tetap ada pilihan hukuman minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun. Masalahnya, belum pernah ada terdakwa korupsi divonis hukuman maksimal. Bahkan, kalaupun hukuman denda dikenakan maksimal, besarnya cuma Rp 1 miliar–tak sampai sepersepuluh dari uang yang didakwa telah ia tilap.

Dengan hitung-hitungan seperti itu, pantas saja para koruptor tak jera. Jika terbukti korupsi Rp 35 miliar, dendanya cuma Rp 1 miliar. Hukuman penjara pun tak akan terasa berat. Koruptor berpeluang bebas setelah menjalani sepertiga dari masa hukumannya. Fakta bahwa belum ada koruptor divonis dengan hukuman penjara maksimal jelaslah makin membuat orang tak takut menilap uang negara.

Sebaliknya, jika pasal tambahan, yaitu pasal 18, digunakan dalam kasus Angelina, duit suap dari Grup Permai bisa disita jika hakim mengabulkan permintaan jaksa itu. Pemakaian pasal hukuman tambahan ini diharapkan membuat calon-calon koruptor berpikir ulang sebelum berani menggangsir uang negara. Memang tak ada jaminan bahwa hukuman berat otomatis menurunkan kejahatan korupsi yang makin menggila. Tapi, paling tidak, Komisi telah berani melangkah lebih maju.

Angelina akan menjadi terdakwa pertama yang diajukan Komisi ke pengadilan memakai pasal ini. Lebih baik telat ketimbang tak menggunakannya sama sekali. Sebab, sesungguhnya Komisi telah tertinggal dibanding polisi atau jaksa dalam “bermanuver” memakai pasal dakwaan untuk menjerat koruptor secara maksimal.

Kejaksaan Agung sudah jauh melangkah dengan memakai Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang dalam mendakwa dua pegawai Direktorat Pajak: Bahasyim Assyifie dan Dhana Widyatmika. Itu juga langkah Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia ketika mendakwa Gayus Tambunan. Memakai undang-undang ini memungkinkan hakim menghukum para terdakwa untuk menyerahkan harta kekayaan yang diduga diperoleh dengan cara ilegal selama menjadi pegawai Pajak.

Komisi baru akan menerapkan beleid pencucian uang terhadap Muhammad Nazaruddin, terdakwa utama kasus suap Wisma Atlet yang juga kolega Angelina di Partai Demokrat. Korupsi adalah pidana asal pencucian uang. Dengan undang-undang ini, hukuman terhadap pelakunya menyeluruh, bukan hanya satu kasus korupsi yang membuatnya berurusan dengan pengadilan.

Dengan ancaman hukuman yang lebih berat, kita berharap Komisi Pemberantasan Korupsi benar-benar menjadikan dirinya lembaga yang ditakuti para koruptor. Kita sudah muak melihat koruptor hidup senang di dalam penjara, melenggang bebas setelah menerima sekian kali remisi, lalu kembali hidup normal. Korupsi adalah kejahatan luar biasa. Buatlah para koruptor jera dengan hukuman yang paling mereka takuti: menjadi jatuh bangkrut.

Rabu, 12 Sep 2012 00:01 WIB

Darimanakah Kita Memulai Pemberantasan Korupsi?

Oleh : Rigop Darmiko.
Darimanakah kita memulai pemberantasan korupsi? Pertanyaan ini mungkin terasa asing di tengah berbagai penangkapan dan proses peradilan koruptor-koruptor oleh KPK. Bukankah kita telah memiliki KPK yang sudah menunjukkan berbagai prestasi dengan menangkap dan memproses berbagai kasus korupsi. Bahkan KPK ingin menyiapkan penjara khusus koruptor. Tidak hanya itu, belakangan hangat diperbincangkan tentang pemiskinan terhadap para koruptor. Tak tanggung-tanggung beberapa elemen dan kelompok masyarakat mengajukan adanya hukuman mati atau tembak di tempat saat seseorang tertangkap basah melakukan korupsi.
Kalau begitu sekali lagi kita ulang pertanyaannya, darimanakah kita memulai pemberantasan korupsi? Pertanyaan ini tentu kedengaran menjadi sangat apatis ketika berbagai kasus korupsi di negeri ini banyak diungkap. Tetapi pertanyaan ini akan menjadi pertanyaan yang sangat relevan jika lebih dulu kita kembali bertanya, apakah dan siapakah koruptor itu? Pertanyaan apa dan siapa ini kiranya perlu kita urai lebih dulu untuk menjawab pertanyaan darimana yang kita ajukan di awal tadi.

Mari memulai sebuah contoh sederhana di lingkungan petani. Sekelompok orang yang membentuk kelompok tani berhak atas bantuan pertanian. Karena itu mereka mengadakan sebuah program bekerjasama dengan petugas penyuluh tani dan badan pengawas pertanian. Pertama, ketua kelompok tani harus memotong beberapa ratus ribu dari sejumlah uang yang menjadi hak setiap anggota kelompok tani sebagai imbalan jasa. Kedua, potongan ini demi pemberian kepada badan pengawas dan penyuluh yang telah membantu mencairkan dana kelompok tani.

Para pengawas dan penyuluh secara sengaja memotong dari setiap dana proyek ini karena mereka harus memberi kepada koordinator. Koordinator merasa wajib memberi kepada pejabat di badan/dinas. Kepala badan/ dinas harus mempunyai sumber-sumber pemasukan ini karena mereka harus memberi setoran kepada kepala daerah. Selain itu mereka juga harus mengelola berbagai dana secara fiktif karena mereka harus siap memberi kepada setiap LSM yang datang meliput ke kantor badan/dinas. Mereka juga harus mengelola keuangan secara “bijaksana” karena adanya setoran-setoran yang tidak tertulis kepada pimpinan yang lebih tinggi. Tentu kita dapat uraikan lebih jauh hingga ke pusat pemerintahan.

Mari kita ambil sebuah contoh di bidang lain. Kepala sekolah harus memotong sebahagian dana BOS yang diterimanya karena dia harus mengembalikan uangnya yang pernah diberikannya kepada kepala sekolah ketika dia dipilih sebagai kepala sekolah. Selain itu kepala sekolah bekerja sama dengan bendahara sekolah harus memotong berbagai tunjangan dan gaji guru untuk setoran-setoran tanda jasa kepada dinas pendidikan. Sebelum kita urai ke atas, kita tentu tahu darimana akhirnya guru mengembalikan uang yang seharusnya diperolehnya, yakni ke bawahnya. Kepala Dinas pendidikan harus mengelola dana-dana dengan “bijaksana” karena mereka harus memberikan setoran-setoran tidak tertulis kepada kepala daerah yang telah memilihnya. Selain itu mereka harus terus terjerat berbagai LSM yang sengaja datang untuk mendapat cipratan dana. Dan ke atas tentu kita dapat teruskan bagaimana dana-dana itu dapat cair hingga di pusat pemerintahan.

Pengertian sederhana dari “bijaksana” mengelola keuangan adalah dengan membuat penambahan-penambahan harga barang dalam pengadaan barang. Maka tidak heran jika dalam sebuah laporan kita dapat melihat harga sebuah print yang seyogyanya 450 ribu menjadi 3 hingga 4 juta per unit di sebuah kantor pemerintahan.

Kalau begitu apa itu korupsi dan siapakah itu koruptor. Korupsi sudah menjadi sebuah dosa yang terstruktur dan sistematis. Kondisi masyarakat yang kian pragmatis individualis sesungguhnya hanya sedang menunggu kesempatan untuk pada akhirnya dapat melakukan korupsi. Pola hidup konsumtif dan hedonis telah memaksa masyarakat untuk mendapat uang sebanyak-banyaknya tanpa dikuti kerja keras. Telah menjadi lazim dan lumrah bahwa pejabat negara itu kaya. Maka tidak heran banyak masyarakat yang sangat kecewa karena tidak adanya penerimaan CPNS. CPNS menjadi salah satu cara termudah untuk menaikkan taraf hidup. Menjadi PNS menjadi kesempatan untuk tidak banyak pekerjaan gaji terjamin dan sedapat mungkin menjadi pejabat untuk mendapat berbagai kesempatan mengelola proyek.

Menaikkan Gaji

Pemerintah dengan alasan pencegahan korupsi menaikkan gaji para pegawai setinggi-tingginya tanpa adanya evaluasi kinerja. Bahkan seorang kepala BUMN merasa berhak mendapat gaji yang sedemikian tinggi yang diambil dari pajak pendapatan masyarakat yang hanya cukup makan setiap harinya. Badan pengawas seakan menjadi ladang basah karena para pengawas berkesempatan mendapat sapi-sapi perahan dari dinas-dinas di pemerintahan. Dinas pengawasan menjadi lahan basah karena berkesempatan mendapat sapi-sapi perahan di sektor-sektor swasta.

Apakah itu korupsi dan siapakah itu koruptor? Mari melihat secara nyata dan menyeluruh. Dengan demikian kita masih relevan bertanya darimanakah kita memulai pemberantasan korupsi. Penangkapan koruptor oleh KPK dan proses hukum oleh pengadilan Tipikor tidak serta merta menjadi sebuah jawaban bagi pemberantasan korupsi. Beberapa kasus yang di ungkap oleh KPK tidak ubahnya sebagai gincu penegakan hukum di Indonesia.

Pemberantasan korupsi belum menyentuh kepada itikad baik penyelenggara negara untuk menaikkan moral dan martabat bangsa. Hal ini dapat kita lihat beberapa kasus yang terkuak hanya berakhir pada pemeran tambahan bukan aktor utama. KPK nampaknya belum mampu mengungkap kasus-kasus korupsi secara menyeluruh dan membongkar tindakan korupsi yang sistemik. KPK masih hanya sebatas mengungkap kasuistik atau personal. Sehingga seorang yang mencoba meniup pluit seperti Susno segera menjadi tersangka dan di hukum hingga berbagai dugaan kasus yang dicoba di dengungkannya hilang entah ke mana.

Korupsi yang terstruktur dan sistemik tidak dapat diselesaikan dengan pengungkapan berbagai kasus secra kasuistik dan personal. Pengungkapan tindak korupsi secara kasuistik dan personal hanya akan mengaminkan kemerosotan moral bangsa yang secara perlahan tapi pasti akan mengubur bangsa ini sebagai bangsa yang lumpuh. Jika KPK masih terus mengungkap berbagai kasus korupsi sebatas kasuistik atau personal tidak sampai kepada sistem maka KPK sedang membangun payung perlindungan korupsi yang secara merata.

Darimanakah kita memulai pemberantasan korupsi? Pertanyaan ini bukan hanya kita ajukan bagi pemerintah selaku penyelenggara negara tetapi juga bagi kita. Sebagai langkah konkrit maka yang pertama dapat dimulai dari keluarga-keluarga. Pendidikan keluarga akan sangat efektif melahirkan orang-orang yang idealis.

Mereka akan menjadi masyarakat yang bersih sehingga dengan lantang dapat menyuarakan kebenaran. Tentu juga akan lebih efektif jika pemberantasan korupsi di mulai dari tindak tegas pemimpin negara.

Nampaknya para elit politik dan para pemimpin negara menjadi susah bergerak dan bertindak memberantas korupsi karena terlanjur terlibat dalam transaksi politik yang sarat korupsi.

Karenanya bagi pemimpin-pemimpin dan elit yang masih ideal dan sungguh-sungguh bekerja dengan integritas harus berani menyuarakan kebenaran dengan demikian masyarakat akan semakin mengenal siapakah kelak pemimpin yang layak memimpin bangsa ini menjadi bangsa yang beradab dan menjadi pusat peradaban dunia bagi pembangunan moralitas manusia. ***

Penulis adalah penulis lepas, tinggal di Rantauprapat

13
Sep
12

Perekonomian : Kembangkan Ekonomi Khas Indonesia

Ekonomi Khas Indonesia Harus Dikembangkan

TRIBUNnews.comOleh arif wicaksono | TRIBUNnews.com

 

Laporan Wartawan Tribun Jakarta, Arif Wicaksono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Firmansyah, menyerukan agar para ekonom Indonesia bersatu untuk merumuskan indikator-indikator ekonomi yang khas dan berakar pada kondisi perekonomian Indonesia.

Menurut Firmansyah, sudah waktunya para ekonom Indonesia merumuskan indikator kesejahteraan yang bersumber dari kondisi khas ekonomi Indonesia.

Indikator ekonomi yang berasal dari barat tidak selalu sesuai dalam menggambarkan keadaan khas Indonesia.

“Indikator kesejahteraan antardaerah di Indonesia pun berbeda-beda. Orang Madura belum sejahtera kalau belum naik haji, walau pun gajinya tinggi. Orang Sumatera Barat belum sejahtera kalau tidak punya kerbau 10 ekor. Kita harus merumuskan platform baru,” kata mantan dekan Fakultas Ekonomi UI tersebut di Jakarta, Selasa (11/8/2012).

Menurut Firmansyah, kalau memakai kacamata metodologi ekonomi barat, sektor informal digambarkan sebagai underground economy, ekonomi bawah tanah atau ekonomi gelap yang harus dibasmi. Contoh lain yang Firman kemukakan adalah perihal sektor informal.

“Paradigma Barat menganggap justru ekonomi informal itu harus dihapuskan karena merugikan. Soalnya mereka tidak membayar pajak sehingga dianggap mengurangi penerimaan negara,” jelasnya.

Padahal, tambahnya, di Indonesia sektor informal itu justru memegang peranan kunci.

“Sebagian besar perkantoran di Indonesia dikelilingi oleh pedagang sektor informal. Para pegawai bisa menabung karena makan siang mereka disediakan oleh sektor informal yang harganya terjangkau.”

“Setiap ada apartemen dibangun, pasti karena didukung oleh sektor informal. Jangan-jangan sektor informal tersebutlah yang mensubsidi sektor formal,” jelasnya.

Oleh karena itu, menurutnya, cara pandang terhadap sektor informal harus bijaksana ala Indonesia, tidak mengikuti pemikiran Barat.

“Itu sebabnya Pemerintah mendorong agar alokasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) semakin diperbanyak,” pungkasnya.

11
Sep
12

Kemiliteran : Politik Militer Pasukan KNIL

Pengaruh Karakter Suku dalam Organisasi Pasukan KNIL

Oleh: Yohanes Apriano Fernandez | 25 February 2012 | 04:02 WIB

Anda tahu suku apa saja yang digunakan oleh KNIL (Koninkiljke Nederlandsche Indische Leger) dalam menumpas berbagai perlawanan di tanah air? Rata-rata hampir semua suku di Nusantara menjadi bagian dari pasukan KNIL, namun persentasenya berbeda-beda. Hal ini merupakan salah satu politik Devide et Impera Belanda dalam melemahkan perlawanan di tanah air. Selain itu, pasukan Belanda yang sebelumnya bertugas menggempur perlawanan di daerah banyak yang gugur akibat terbunuh atau menderita sakit  kolera, sehingga prajurit pribumi diharapkan lebih tahan terhadap penyakit tropis. Belanda juga tidak perlu mendatangkan prajurit Belanda dalam jumlah banyak karena akan memboroskan anggaran.
Komposisi Prajurit Pribumi dalam Pasukan KNIL

Pengumuman Perekrutan Prajurit KNIL (Sumber/engelfriet.net)
Menurut catatan Capt. R.P. Suyono dalam bukunya yang berjudul Peperangan Kerajaan di Nusantara terbitan Grasindo, sejak terbentuk (tahun 1830) pasukan KNIL sangat kekurangan prajurit karena rata-rata kebutuhannya adalah 2.000 per tahun, namun prajurit Belanda yang dikirm ke Hindia Belanda rata-rata hanya 1500 hingga 1600 per tahun. Selisih 500 orang merupakan hal urgent mengingat sebagian pasukan yang dikirim juga gugur dalam menjalankan tugas sehingga kebutuhan prajurit semakin membengkak. Tentu saja hal ini tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk menaklukan daerah-daerah yang belum dikuasai –pada abad 19 daerah kekuasaan Hindia Belanda masih kecil– serta menumpas pemberontakan di daerah-daerah yang bergejolak.
Melihat perbandingan antara jumlah prajurit dan kebutuhan yang tidak seimbang maka perekrutan prajurit pribumi merupakan satu-satunya solusi. Perekrutan ini memberikan kemenangan pihak kompeni terhadap berbagai perlawanan di tanah air, terbukti prajurit Ambon, Manado dan Jawa berhasil menumpas perlawanan di Bali  pada tahun 1860. Seiring makin masifnya perekrutan parajurit pribumi serta bergabungnya anak-anak prajurit KNIL yang lahir di tangsi maka jumlah prajurit pribumi di dalam pasukan KNIL meningkat dari tahun ke tahun.
Suyono mencatat pada tahun 1916, jumlah prajurit KNIL terdiri dari 17.854 orang Jawa, 1.792 orang Sunda, 151 orang Madura, 36 orang bugis –menurut Maulwi Saelan (mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa), orang bugis dan Makasar jarang dijadikan prajurit KNIL karena tingkat kesetiaan yang rendah– dan 1.066 orang Melayu. Adapun orang Ambon yang berjumlah 3.519 orang, orang Manado 5.925 dan 59 orang Alfuru. Jumlah pasukan pribumi ini dilengkapi dengan 8.649 orang Eropa sehingga kekuatan pasukan KNIL menjadi kuat terutama pada awal abad ke 20 hingga sebelum Perang Dunia (PD) II. Komposisi suku dalam pasukan KNIL ini sangat dinamis dari tahun ke tahun namun rata-rata orang Jawa tetap memiliki jumlah prajurit terbanyak karena bisa mencapai 50 %. Orang Sunda 5 %, Manado 15 % dan justru orang Ambon hanya mencapai 12 %. Sisanya adalah suku Timor 4 % dan suku-suku lain seperti Aceh, Batak, Madura dan Bugis masing-masing 1 %.
Komposisi kesukuan yang memiliki sifat dan karakter berbeda ini ternyata juga berpengaruh pada organisasi berperang pasukan KNIL. Hal ini terbukti dari penempatan prajurit ke dalam empat Kompi yang berbeda dalam satu batalyon infanteri. Kompi pertama adalah gabungan orang Eropa dan Manado yang difungsikan berhadapan langsung dengan musuh, menyerang, menembak dan membuat lubang perlindungan. Mereka juga bertugas untuk menghitung kekuatan musuh dengan mengintai. Kompi kedua yang terdiri dari orang Ambon dan Timor merupakan pasukan penggempur yang bertugas melibas musuh namun harus segera ditarik kembali sebelum semuanya hancur. Setelah ditarik maka fungsi kompi ketiga dan keempat yang terdiri dari orang Sunda dan Jawa yaitu melakukan pendudukan dan meciptakan perdamaian. Tugas terakhir ini diberikan kapada prajurit Jawa dan Sunda karena mereka memiliki sifat tenang dan mampu menahan diri.
Diskriminasi Dalam Pasukan KNIL
Belanda selalu senang menciptakan segregasi antara satu kelompok dan kelompok yang lainnya termasuk antar Para Prajurit KNIL yang berdarah Ambon (Sumber/engelfriet.net
suku di dalam pasukan KNIL. Segregasi yang diciptakan berupa diskriminasi dalam bentuk penggajian dan fasilitas. Orang Jawa yang merupakan mayoritas ternyata tidak serta merta dihargai oleh Belanda, justru merekalah yang mengalami perlakuan diskriminasi.
Jika ada penghargaan medali kuning untuk keberanian dan kesetiaan (Voor Moed en Trouw) maka prajurit Ambon dan Manado akan mendapatkan tambahan gaji f10,9 (gulden), sedangkan prajurit Sunda dan Jawa hanya mendapat f6,39. Hal ini juga berlaku dalam berbagai fasilitas termasuk tingkat kelas jika bepergian. Sebelum tahun 1905 prajurit Jawa tidak mendapatkan fasilitas sepatu karena keunggulan berperang dianggap tidak sebaik prajurit Ambon dan Manado. Prajurit Jawa yang cenderung nrimo dengan perlakukan ini menyebabkan selalu mengalami diskriminasi.
Nasib prajurit Jawa mengalami perbaikan setelah diprotes oleh J. van der Weiden –menantu Jendral van Heutsz (komandan pasukan Belanda yang berhasil menaklukkan Aceh)– yang mengatakan bahwa prajurit Jawa juga gagah berani –selain prajurit Aceh– terbukti dari perang Jawa yang sangat sulit dihentikan Belanda. Orang Belandalah yang berpikiran bahwa prajurit Jawa lebih lemah sehingga mendapatkan perlakuan diskriminasi.
Kekuatan pasukan KNIL mengalami penurunan setelah Perang Dunia II berakhir dan Belanda ingin menguasai kembali Indonesia dengan melancarkan Agresi Militer I dan II. Sebagian besar pasukan KNIL –antara lain A.H Nasution, Urip Sumoharjo, Alex Kawilarang dan yang lainnya– pada masa ini sudah terpengaruh ide revolusi dan kemerdekaan sehingga mereka berjuang untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

09
Sep
12

Prasarana : 6 Mega Proyek Infrastruktur di DKI Jakarta

http://jakarta45.files.wordpress.com/2011/12/jakarta-452.png?w=637&h=609&h=609

Ini Dia 6 Mega Proyek Infrastruktur di DKI Jakarta

Zulfi Suhendra – detikfinance
Minggu, 09/09/2012 12:28 WIB
Browser anda tidak mendukung iFrame

Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall
Jakarta - DKI Jakarta memiliki 6 proyek infrastruktur yang targetnya akan dibangun secara bertahap mulai 2013. Secara total investasi yang diperlukan sekitar Rp 442 triliun.Demikian dikutip dari Sekretariat Negara, Minggu (9/9/2012). Proyek-proyek infrastruktur itu antaralain:1. Proyek Mass Rapid Transit (MRT) dengan total investasi Rp 103 triliun yang terdiri dari tahap I Lebak Bulus hingga Bundaran HI Rp 23 triliun, dan ruas Balaraja hingga Cikarang sekitar Rp 70 triliun hingga Rp 80 triliun.Untuk membangun konstruksi jalur kereta tersebut dilakukan melalui dana dari pemerintah provinsi dengan bantuan pinjaman dari JICA. Setelah konstruksi dibangun, maka pemerintah akan membuka tender operasional kepada pihak swasta untuk pengoperasian proyek tersebut.

MRT merupakan transportasi berbasis rel yang paling memungkinkan dilakukan di Jakarta. Proyek monorel yang sudah dimulai pada era gubernur sebelumnya sulit dilanjutkan karena masalah pendanaan. Sebagai gantinya akan ada transportasi busway layang.

Pembangunan koridor selatan-utara dari Lebak Bulus hingga Kampung Bandan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama menghubungkan Lebak Bulus-Bundaran HI sepanjang 15,7 km dengan 13 stasiun, yaitu tujuh stasiun layang dan enam stasiun bawah tanah.

Proyek pertama ini ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2016. Adapun tahap kedua akan melanjutkan jalur selatan-ytara dari Bundaran HI ke Kampung Bandan sepanjang 8,1 kilometer yang ditargetkan beroperasi 2018.

2. Pembangunan infrastruktur 6 ruas jalan tol sepanjang 75 km dengan investasi sekitar Rp 40 triliun hingga Rp 45 triliun.

Pemerintah telah mendapatkan pemenang tender yakni konsorsium PT Jakarta Tollroad Development (JTD). Saat ini sedang dalam proses negosiasi investasi. Ditargetkan proses konstruksi bisa dilaksanakan pada 2013 mendatang. Proyek enam ruas jalan tol yang melingkar di dalam ibu kota DKI Jakarta tersebut akan dilengkapi dengan bus Transjakarta express.

3. Proyek Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall di sepanjang pantai utara Jakarta dengan total investasi mencapai Rp 200 triliun. Proyek ini mencegah kawasan pesisir Jakarta tenggelam oleh air laut akibat terus turunnya permukaan tanah di Jakarta.

Selain itu Jakarta juga tengah mengembangkan pembangunan infrastruktur di Teluk Jakarta dengan besaran investasi mencapai Rp 200 triliun yang diperkirakan akan memakan waktu 10 tahun.

4. Proyek pengembangan air minum melalui pipanisasi Jatiluhur senilai Rp 4 triliun. Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Jatiluhur, akan dibangun untuk meningkatkan ketersediaan air baku di Jakarta, tender rencananya akan dibuka pada 2013 mendatang. Untuk tahap pertama diproyeksikan dapat selesai pada 2015 dengan membawa air baku 5000 liter per detik.

5. Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Ali Sadikin di Marunda dengan total investasi Rp 50 triliun

6. Pengembangan Pengolahan Air Limbah (sewage) dari 2,2% menjadi 22,5% dengan nilai investasi Rp 40 triliun.

(hen/hen)

Baca Juga

Bulan Ini Terbit Aturan Mobil Mewah di DKI ‘Haram’ Minum Bensin Premium

Rista Rama Dhany – detikfinance
Minggu, 09/09/2012 16:39 WIB

Jakarta - Siap-siap bagi pemilik mobil mewah yang hingga saat ini gemar isi mobilnya dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) Subsidi, pasalnya September ini Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) akan mengeluarkan larangan mobil mewah di DKI Jakarta membeli BBM bersubsidi.Direktur BBM BPH Migas, Djoko Iswanto mengatakan pada September 2012 BPH Migas akan segera mengeluarkan aturan baru yakni melarang setiap mobil mewah untuk membeli BBM bersubsid khususnya premium.

“Akan segera keluar aturan pelarangan mobil mewah beli BBM bersubsidi khususnya premium, paling cepat September ini sudah keluar dan berlaku,” kata Djoko ketika dihubungi Minggu (9/9/2012).

Dikatakan Djoko, aturan tersebut akan berlaku secara bertahap dan daerah yang pertama kali diberlakukan adalah DKI Jakarta karena kuota BBM subsidi di Jakarta makin menipis dan tiap bulan konsumsinya selalu over kuota.

“Diberlakukan bertahap, awalnya di DKI Jakarta dulu karena kuotanya makin menipis dan sering jebol, dasar aturan ini tidak lain Peraturan Presiden nomor 15 tahun 2012, sebagai salah satu program penghematan BBM subsidi yang awalnya untuk kendaraan dinas Pemerintah, BUMN dan BUMD pada 1 Juli 2012 dan 1 September 2012 untuk kendaraan Perkebunan dan Pertambangan, selanjutnya untuk mobil mewah,” jelas Djoko.

Djoko menambahkan pada Rabu (12/9/2012) nanti akan mengundang Pertamina dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) untuk memberi masukan merek mobil apa saja yang dimasukan dalam kategori mewah.

“Rabu nanti kita akan undang Pertamina dan Gaikindo untuk membeli masukan mobil apa saja yang dikategorikan mewah,” ucapnya.

Ditambahkan Djoko, dengan metode menggunakan merek yang dilarang membeli BBM bersubsidi dianggap relatif lebih mudah dari pada harus berdasarkan centimeter cubik (CC)/kapasitas mesin karena akan menyulitkan petugas SPBU dilapangan.

“Waktu BBM akan dinaikan beberapa waktu lalu, kami sudah hampir selesai membuat aturan pembatasan BBM subsidi melalui cc yakni 1.500 cc- 2.000 cc dilarang pakai BBM subsidi, tapi itu sukar dilapangan khususnya bagi petugas SPBU sebagai ujung tombak pelaksanaan aturan tersebut, dengan berdasarkan merek akan sangat mudah membedakan ini mobil Alphard, Camry, BMW, Mercy, dan mobil-mobil mewah lainnya,” jelasnya lagi.

Dikatakan Djoko hingga sampai saat ini masih banyak ditemukan mobil-mobil kelas mewah masih mengisi premium Ron 88 yang diketahui berkualitas rendah dibandingkan Pertamax cs.

“Sampai sekarangkan masih banyak itu mobil mewah pakai premium, padahal itu bisa merusak mesin mobil mereka sendiri, kan mobil-mobil produksi diatas 2006 sudah direkomendasikan menggunakan bahan bakar ramah lingkungan (unleaded) atau beroktan di atas RON 90. termasuk Avanza dan Innova, tapi kedua kendaraan tersebut tidak kami masukan dalam kategori mobil yang akan dilarang beli BBM subsidi,” tandasnya.

(rrd/hen)

Baca Juga
08
Sep
12

Peradaban : JaWa = Jaga WibaWa

Gerakan Renaissance Jawa

“Sekar Jagad”

“HONG ILAHENG, SEKARING BAWANA LANGGENG”

           

“….. Demikian juga selain mengenai masalah kibijaksanaan, tahu sebelum mendapatkan pengajaran serta mengenai segala hal tentang ilmu kesaktian, bisa menghilang serta tampak seperti yang aku ceritakan kepadamu tadi.  Sebab di hamparan bentangan bumi dan dibawah langit yang mendapatkan ijin untuk memperlihatkan kebijaksanaan, kesaktian yang luar biasa, hanyalah Engkau beserta sanak keluargamu. “

            “Jadi kelebihan orang-orang di barat daya negeri Hindi tersebut, hanya sebatas kemampuan manusia biasa.  Adapun yang menguasai Negara, raja atau pembesar di negeri Hindi dan seterusnya serta pulau-pulau di tenggara negeri Hindi, secara turun-temurun tidak ada lain, semua itu berasal dari silsilahmu serta silsilah para dewa keluargamu.”  (Paramayoga Ranggawarsita, Otto Sukatno Cr.)

 * * *
Pendahuluan

            Dalam rangka mengajak banyak pihak mendirikan Yayasan Sekar Jagad, maka penulis mewacanakan perlunya Gerakan Renaissance Jawa.  Merupakan kegiatan untuk mengkaji, meneliti, merekonstruksi kembali dan merevitalisasi budaya dan peradaban Jawa.

Sejarah panjang Jawa dalam berinteraksi dengan budaya dan peradaban dari luar tanpa disadari telah menjadikan manusia Jawa masa kini sebagai manusia gamang, “gojag-gajêg” merasa asing dengan budaya dan peradabannya sendiri.  Bahkan tidak sedikit yang menganggap budaya dan peradabannya sangat primitif bernuansa klenik dan tahayul.  Kenyataan yang menyakitkan, namun harus diterima dengan lapang dada.  Masalahnya Jawa memang tidak memiliki ‘sistim’ yang teroganisir dalam rangka mempertahankan nilai-nilai budaya dan peradabannya.  Tidak pula memiliki sistim pembelajaran dari generasi ke generasi berikut dengan penataan yang terstrategi.  Semua dibiarkan berjalan secara alamiah semata.  Hanya naluri (ôtôt bayu) Jawa yang pada kenyataannya masih mampu membuat budaya dan peradaban Jawa bertahan hingga saat ini.

Sesungguhnya banyak para lajêr Jawa yang memiliki perhatian dan telah melakukan kegiatan-kegiatan untuk kebangkitan budaya dan peradaban Jawa.  Namun sejauh ini belum terbentuk organisasi dan tersusun suatu ‘Perencanaan Program’ yang memadai.  Kenyataan yang ada justru menunjukkan cerai berainya para penggiat ke-Jawa-an tersebut.  Egoisme perorangan maupun kelompok mengemuka sehingga tidak ada kesatuan visi maupun misi dalam upaya membangkitkan budaya dan peradaban Jawa.

Luasnya cakupan budaya dan peradaban Jawa merupakan salah satu kendala banyak pihak yang berusaha membangkitkan budaya dan peradaban Jawa.  Kemudian soal pendanaan menjadi kendala berikutnya sehingga memandekkan kegiatan yang diadakan.

Bertolak dari data-data sebagaimana disebutkan, maka wacana renaissance Jawa oleh Yayasan Sekar Jagad ini digulirkan.  Bahwa gerakan ini merupakan kesadaran dan keinginan seluas-luasnya masyarakat Jawa sendiri.  Maka strategi awalnya berupa upaya-upaya membangun kesadaran masyarakat Jawa untuk memahami ke-Jawa-annya sendiri. Untuk itu diperlukan jabaran atau definisi ‘Jawa’ yang rasional mencakup:

1.   Siapakah wông Jawa ?

2.   Definisi dan pengertian ke-Jawa-an (budaya dan peradaban Jawa)

3.   Nilai-nilai (values) ke-Jawa-an (budaya dan peradaban Jawa)

4.   Nilai-nilai budaya dan peradaban Jawa yang mau dihidupkan kembali, dipertahankan dan dikembangkan serta ‘kebersinggungan’ (hybrid interconectedness)-nya dengan budaya dan peradaban lain, terutama budaya dan peradaban Barat.

5.   Nilai-nilai utama filosofi Jawa yang akan dikontribusikan ke dalam nilai-nilai ke-Indonesia-an

6.   Alur proses untuk No. 4 dan No. 5

7.   Aliran (flow) untuk No. 6 melalui wahana/means apa ?

8.   Program tindak lanjut, perbaikan dan pengembangan yang berkelanjutan

Delapan ‘kerangka acuan selisik’ tersebut di atas memerlukan ‘sumbang saran’ atau ‘curah gagas’ dari para pihak dengan kapasitas keahlian/keilmuan masing-masing yang kemudian dirangkum dalam suatu ‘musyawarah bersama’ guna menyusun ‘Rencana Program Renaissance Jawa’ yang paripurna.

Tulisan berikut merupakan ‘pembuka’ untuk bisa kiranya mendapatkan respon para pihak.  Sehingga dengan demikian bisa semakin mendalam selisik bersama yang kita adakan terhadap delapan hal acuan dimaksud.

Merasa diri belum memadai dalam banyak hal, maka penulis mohon maaf sekiranya ‘sajian pemancing’ ini kurang mengena.  Kiranya baru sebatas inilah pemikiran yang dimiliki penulis dalam rangka ikut mengabdikan ‘kawruh’ kepada upaya renaissance Jawa.

Sumangga, swuhn.

Siapakah wông Jawa ?

Banyak pendapat (teori) untuk menelusuri asal-usul orang Jawa.  Ada yang berdasar kajian ilmiah dan ada pula yang berdasar mitologi dan dongeng-dongeng.  Diantaranya bisa disajikan:

1.   Teori yang selama ini didoktrinkan dan diajarkan kepada kita, bahwa wông Jawa itu termasuk “Ras Melayu” yang cikal bakalnya berasal dari tempat yang dinamakan “Hindia Belakang”.  Ras Melayu menyebar ke Nusantara karena terdesak oleh migrasi Ras Arya dan Ras Mongolia dari arah pedalaman Asia Daratan.  Teori migrasi yang menyebutkan nenek moyang wông Jawa (Nusantara) dari Hindia Belakang ini berpijak dari asumsi bahwa Ras Arya, Ras Kaukasus dan Ras Mongolia adalah “Ras Manusia” yang lebih dulu beradab dibanding ras-ras manusia lainnya di dunia ini.  Maka bila didasarkan kepada teori ini, Jawa dianggap belum memiliki budaya dan peradaban.

2.   Berdasarkan ‘dongeng ngayawara’ yang dikemas sebagai ‘ramalan Jayabaya’, maka orang Jawa adalah kumpulan orang-orang dari Asia Daratan yang dikirimkan ke P. Jawa atas perintah ‘Kaisar Rum’ yang memprihatinkan keadaan P Jawa yang tidak berpenghuni.  Teori awur-awuran ini justru banyak diyakini orang Jawa sendiri.  Termasuk mempercayai gunung Tidar (di Magelang) sebagai ‘pantek’ (tiang pancang) yang memaku pulau Jawa agar tenang dan bisa dihuni manusia.

3.   Menurut cerita kakawin (Mataram Kuno – Majapahit) dan serat-serat kapujanggan (Mataram Kartosuro – Surakarta), maka orang Jawa jelata adalah penjilmaan dari para binatang dan lelembut, sementara para raja-rajanya anak keturunan dewa yang merupakan keturunan Bathara Guru (Sang Hyang Jagadnata).

4.   Berdasar teori anthropologi menyatakan bahwa ‘homo sapiens’ (manusia baru) berdatangan ke Jawa dari Mongolia dan Asia Daratan lainnya.  Migrasi besar-besaran terjadi ketika jaman es mencair.

5.   Temuan arkeologi berupa fosil manusia purba di Sangiran dan Mojokerto membuktikan bahwa jutaan tahun yang lalu Jawa sudah dihuni mahluk ciptaan Tuhan.  Namun sampai saat ini belum bisa dibuktikan adanya evolusi manusia purba menjadi manusia baru (homo sapiens).

6.   Berdasar ciri-ciri fisik orang Jawa, maka menunjukkan bahwa orang Jawa merupakan hasil asimilasi berbagai ras dan etnis. Mongolia, Melayu, Melanesia, bahkan Negrito ada jejak ciri fisiknya pada wông Jawa.

Semua teori asal-usul nenek moyang orang Jawa tersebut kenyataannya masih relatif. Maka kemudian definisi untuk orang Jawa adalah yang menggunakan bahasa Jawa.  Berdasar definisi ini, menarik untuk dikemukan definisi bahasa :

Bahasa adalah kesatuan perkataan dan sistem penggunaannya yang umum dalam pergaulan antar anggota suatu masyarakat atau bangsa dengan kesamaan letak geografi atau kesamaan budaya dan tradisi. Dengan demikian, selain memiliki fungsi utama sebagai wahana berkomunikasi, bahasa juga memiliki peran sebagai alat ekspresi budaya yang mencerminkan bangsa penggunanya.” [1]

Bertolak dari definisi bahasa tersebut di atas, maka bahasa Jawa merupakan ekspresi budaya Jawa.  Dengan demikian yang disebut wông Jawa asumsinya adalah yang terampil menggunakan bahasa Jawa lisan dan tulisan serta kental dengan aras budaya Jawa itu sendiri.  Asumsi ini memang belum sepenuhnya bisa dijadikan definisi Jawa, namun bisa digunakan untuk melanjutkan selisik terhadap ke-Jawa-an.

Ke-Jawa-an (Budaya dan Peradaban Jawa) 

Menelisik makna ke-Jawa-an atau budaya dan peradaban Jawa, maka perlu diawali dengan merekonstruksi pandangan hidup (filosofi) Jawa.  Sementara dalam perjalanan sejarahnya, Jawa banyak mengalami transformasi budaya yang menghasilkan sinkretisme dan berdampak kepada perubahan ‘pandangan hidup’ Jawa.  Namun demikian banyak unsur-unsur budaya yang bisa dijejaki sebagai budaya asli Jawa.  Dalam hal ini hasil penelitian Prof. Brandes (1889) bisa dijadikan rujukan untuk menelisik lembih lanjut.  10 (sepuluh) unsur budaya asli Jawa yang dinyatakan Prof. Brandes adalah :

1.

Pertanian beririgasi

6.

Batik

2.

Pelayaran

7.

Metrum

3.

Perbintangan

8.

Pengecoran logam

4.

Wayang

9.

Mata uang

5.

Gamelan

10.

Sistem pemerintahan yang teratur

(Brandes, 1889).

Berdasar hasil penelitian dan selisik Prof. Brandes tersebut maka bisa diambil asumsi bahwa Jawa telah beradab sejak jaman sebelum masuknya budaya dan peradaban dari luar.  Beberapa unsur budaya yang disebut Prof. Brandes ada yang dimiliki oleh etnis-etnis lain di Nusantara dan daratan Asia, namun ada pula yang khas Jawa.  Dengan demikian pendapat yang menyatakan bahwa budaya dan peradaban Jawa hasil turunan dari Asia daratan (Hindia Belakang) tidak seluruhnya benar.  Justru sebaliknya, kemungkinan besar Asia Daratan yang menerima sebaran budaya dan peradaban dari Jawa.  Landasan berpikirnya tentang unsur budaya pelayaran dan perbintangan menunjukkan sebagai bangsa bahari yang jelas tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa Asia daratan.  Demikian pula tentang budaya pertanian beririgasi (persawahan padi) nampaknya memang berasal dari Jawa.  Hal ini kita serahkan kajiannya kepada para ahlinya.

Selisik para peneliti lain menyatakan bahwa masyarakat Jawa mempunyai pandangan tentang ‘yang ada’ merupakan ‘kesatuan tunggal  semesta’[2] yang terhubungkan secara  ‘kosmis-magis’ antara ‘jagad gêdhé’ (alam semesta) dan ‘jagad cilik’ (manusia).  Pijakannya bertolak dari ‘kawruh sangkan paran’ dan ‘memayu hayuning bawana’.

Dari kedua kawruh Jawa tersebut bisa kita rumuskan aras/dasar filosofi Jawa :

  1. Kesadaran ber-Tuhan

Artinya bahwa filosofi Jawa menyatakan adanya Tuhan sebagai Kang Murbeng Alam (Penguasa Alam Semesta).  Pernyataan dalam ‘kawruh sangkan paran’ : semua yang ada berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan lagi.

  1. Kesadaran Semesta

Merupakan ekspresi kesadaran adanya hubungan kosmis-magis manusia dengan alam semesta.  Wujud ekspresinya berupa pandangan Jawa tentang ‘Bapa Angkasa’ dan ‘Ibu Bumi’.  Sebuah pemahaman khasanah spiritual tentang unsur-unsur penyangga ‘uripe manungsa’.

Yang menjadi persoalan, tidak ikut disebut Prof. Brandes tentang bahasa Jawa (lisan dan tulis).  Menilik unsur-unsur yang disebut, logikanya terekspresikan melalui bahasa (lisan dan tulis).  Pada umumnya penelitian dan penelisikan tentang budaya dan peradaban Jawa jaman kuno melalui peninggalan arkeologis (prasasti) yang menggunakan bahasa Sanskerta dengan aksara Dewanagari dan bahasa Kawi (Jawa Kuno) dengan aksara Jawa Kuno.  Padahal penggunaan bahasa dan aksara tersebut mencakup geografis yang lebih luas dari geografi komunitas Jawa asli.

Berdasar kenyataan tersebut di atas, maka diteorikan adanya perubahan bahasa pada masyarakat Jawa.  Bahasa lisan dari bahasa Jawa Kuno ke bahasa ‘Jawa Baru’.  Sementara bahasa tulis, dari aksara Dewanagari ke Aksara Jawa Kuno kemudian ke aksara Carakan (ha na ca ra ka).  Namun wacana yang demikian ini terasa belum pas.  Masalahnya sangat sulit merubah bahasa sehari-hari seluruh masyarakat, sementara bahasa ‘Jawa Baru’ kenyataannya digunakan oleh masyarakat Jawa sampai ke pelosok-pelosok desa.  Kenyataan ini bisa melahirkan pendapat bahwa bahasa  ‘Jawa Baru’ justru merupakan bahasa Jawa asli.  Sementara bahasa Sanskerta dan bahasa Jawa Kuno adalah bahasa resmi (lingua franca, bahasa persatuan) yang diberlakukan oleh pemerintah kerajaan-kerajaan yang menguasai Jawa.  Posisinya sama dengan bahasa Indonesia yang berlaku di NKRI sekarang ini.

Atas dasar teori yang menyatakan bahwa sumber peradaban manusia dari ras Kaukasus dan Arya, maka menurut teori tersebut peradaban Nusantara “harus” berasal dari ras-ras unggul tersebut.  Oleh karena itu, jejak arkeologi Hindu dan Buddha di Nusantara dijadikan bukti untuk mendukung argumen teori tersebut.  Peradaban Nusantara (termasuk Jawa) adalah “turunan” dari India.  Nusantara dianggap sebagai “zero zone” peradaban dan kebudayaan manusia.

Dulunya para pencetus teori “peradaban manusia berasal dari Asia Daratan” tersebut menganggap bahwa semua peradaban di Asia Tenggara dan Nusantara bersumber dari India yang dianggap tempat lahirnya agama Hindu dan Buddha.  Dengan demikian, kemampuan membuat tempat peribadatan kedua agama tersebut juga berasal atau turunan dari India.  Menyebar sampai ke Jawa melalui India Belakang (Asia Tenggara).  Sehingga kemampuan Jawa membuat candi-candi Hindu maupun Buddha “diturun” dari Thailand dan Kamboja.  Karena di kedua negeri itulah terdapat peninggalan arkeologi candi-candi mirip dengan yang di Jawa.  Namun terbukti kemudian, bahwa yang membuat Angkor-Watt di Kamboja justru seniman pemahat dan pematung yang didatangkan dari Jawa.  Maka artinya adalah: bahwa bangsa Jawa waktu itu lebih memahami peradaban Hindu dan Buddha sehingga lebih mampu mempersonifikasikan “dewa Hindu” dan “sesembahan Buddha” dalam bentuk patung-patung dibanding bangsa Khmer (Kamboja), Thai, dan sekitarnya.  Dengan kata lain, atas dasar keahlian membuat candi dan patung telah terbukti bahwa Jawa (Nusantara) yang menyebarkan dan menurunkan “peradaban”-nya kepada bangsa-bangsa Asia Tenggara.  Dengan demikian, bahwa Jawa adalah “zero zone” peradaban dan budaya sudah terbantah.

Dalam kisah para Nabi di Timur Tengah, ada dikisahkan bahwa cara melaksanakan ritual agamanya Nabi Sulaiman (King Solomon) di kuil menggunakan pembakaran “dupa” yang didatangkan dari negeri Timur.  Ketika kita ketahui bahwa dupa untuk keperluan ritual itu dibuat dari serbuk kayu cendana dan getah pohon damar (gaharu, kemenyan), maka sangat jelas bahwa keduanya berasal dari Nusantara pula.

Para pedagang yang memasok dupa itupun sampai ke negeri Nabi Sulaiman dengan menggunakan perahu.  Maka kita boleh bertanya-tanya adakah umat nabi Sulaiman mengenal dan bisa membuat perahu?  Kalau memang kenal dan bisa membuat, maka akan tercantum dalam kitab-kitab peninggalan mereka, Taurat maupun Zabur.  Ternyata tidak ada diskripsi tentang perahu pada kitab-kitab kuno bangsa Yahudi tersebut.  Barangkali cuma pada kisah Nabi Nuh ada keterangan pembuatan perahu. Itupun sangat tidak masuk akal ceriteranya.  Bagaimana mungkin memasukkan semua jenis binatang yang ada di dunia ini dalam satu perahu, kecuali perahunya itu ya planet bumi ini sendiri.

Dengan merunut kisah di jaman Nabi Sulaiman, maka bisa disimpulkan bahwa untuk kepentingan peribadatannya, umat Sulaiman memerlukan sarana (dupa) dari negeri Timur.  Bukan umat Sulaiman yang mendatangi negeri Timur, tetapi para pedagang dari negeri Timur yang berdatangan ke negeri Sulaiman.  Maka dengan demikian, yang menguasai perdagangan antar bangsa melalui laut (samudera) di jaman Nabi Sulaiman itu adalah orang dari Negeri Timur.  Dan negeri tersebut sudah maju tingkat peradabannya hingga mengenal perdagangan lintas samudera dengan dagangan yang sangat nylênèh, dupa atau bahan pembuat dupa.  Selisik kita dengan ilmu pengetahuan, akan menemukan bahwa bangsa bahari yang memiliki sumber bahan pembuat dupa (kayu cendana dan getah damar) adalah bangsa Nusantara.

Ritual agama di jaman Nabi Sulaiman ada di kuil dengan menggunakan pembakaran dupa.  Pertanyaannya, murni “karya cipta” manusia di tempat itu?  Perintah “Tuhan”? Atau “turunan” dari bangsa lain yang sudah lebih dahulu mengenal dupa?

Dalam hal ini, penulis berpendapat (subyektif) yang paling mungkin ritual umat Sulaiman adalah “turunan” dari bangsa lain yang sudah lebih dahulu mengenal dupa.  Dan bangsa yang lebih dahulu mengenal dupa dari bahan sampai pemanfaatannya untuk ritual menyembah “Sesembahan” adalah bangsa Nusantara.  Ketika lebih mendalam kita selisik, maka ketemulah bangsa yang menurunkan tatacara menyembah dengan dupa dan menggunakan kuil peribadatan adalah bangsa Jawa.  Karena, semegah-megahnya kuil untuk melakukan pemujaan adalah candi yang berserakan adanya di Jawa.

Dalam kisah King Solomon dan Princes Sheba, dikisahkan bahwa raja (penguasa) negeri Timur adalah seorang wanita.  Maka bisa kita selisik pula di negeri atau bangsa mana yang memiliki jejak sejarah menempatkan wanita sebagai penguasa.  Maka akan kita ketemukan bahwa negeri dan bangsa itu adalah Nusantara juga.  Di Nusantara, banyak kisah (meskipun berupa dongeng rakyat) yang menceritakan adanya para perempuan penguasa merangkap saudagar besar perniagaan samudera tersebut.  Cerita rakyat itu ada di Sumatera (Melayu Kuno, Aceh Kuno, Pagaruyung), Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Di Jawa, yang terdeteksi dengan ilmu sejarah, ada Puteri Shima (Kalingga), Pramuda Wardani (Mataram Kuno), Tribuwana Tungga Dewi (Majapahit).  Kemudian di jaman mulai masuknya agama Islam (abad 11), banyak disebut bahwa pada waktu itu saudagar-saudagar “perniagaan laut” adalah para Nyai Ageng.  Ada disebut nama-nama: Nyai Ageng Plembang, Nyai Ageng Serang, Nyai Ageng Giri, Nyai Ageng Cirebon, Nyai Ageng Malaya, dlsb.

Di Jawa diketemukan fosil manusia purba.  Maka artinya, Jawa sudah dihuni mahluk “titah Tuhan” sejak jutaan tahun yang lalu.  Maka teori yang mengatakan bahwa Jawa sebelumnya pulau kosong yang kemudian perlu diisi dengan mendatangkan penduduknya dari berbagai negeri Asia atas perintah Raja Rum, adalah teori yang sulit diterima akal, dan bermuatan politik penyebaran agama.

Sesungguhnya bahwa teori nenek moyang orang Nusantara imigran dari Asia Daratan meragukan.  Lebih meragukan lagi ketika kita berpikir tentang sarana transportasi untuk migrasi itu sendiri.  Kalau berjalan kaki, mungkinkah? Kalau menggunakan perahu, apakah orang Asia Daratan memiliki ‘peradaban bahari’ hingga mampu membuat perahu besar untuk mengarungi samudera?  Memang ada wacana yang menyebutkan relief perahu yang ada di dinding candi Borobudur merupakan perahu-perahu nenek moyang Jawa dari Hindia Belakang.  Namun kemudian banyak para ahli anthropologi dan arkeologi dunia tidak mempercayai itu.  Mereka cenderung berpendapat bahwa perahu Borobudur itu memang perahu aslinya wông Jawa yang digunakan untuk menjelajah dunia.  Dan hal itu terus dilakukan upaya-upaya pembuktiannya sampai saat ini.

Yang paling mungkin, Jawa adalah hasil migrasi bangsa-bangsa dari kepulauan Nusantara sendiri.  Artinya, Jawa adalah perpaduan umat manusia dari seluruh Nusantara.  Dimungkinkan bahwa di jaman kuno pulau Jawa dianggap sebagai ‘pulau suci’ bagi bangsa-bangsa di Nusantara.  Alasannya pulau Jawa banyak gunung berapi, dan yang terpenting bahwa di bumi Jawa begitu banyak peninggalan candi-candi tempat beribadah umat Hindu dan Buddha.

Meski pendapat ini miskin bukti, namun ketika menilik ragam ujud fisik orang-orang Jawa, nampaknya bisa mewakili semua ciri-ciri fisik etnis dan sub etnis yang ada di Nusantara dan Asia Tenggara.  Oleh karena itu, bisa diperkirakan bahwa wông Jawa yang ada sekarang ini merupakan hasil asimilasi dari banyak suku yang mendiami kepulauan Nusantara.  Mereka berdatangan ke Jawa (tempat suci) dan kemudian mukim, berbaur dan meleburkan diri menjadi suku Jawa.

Peradaban Jawa adalah intisari Peradaban Nusantara

Diteorikan bahwa peradaban Jawa adalah “turunan” dari India.  Alasannya, agama Hindu dan Buddha di Jawa berasal dari India.  Namun kalau kita kembalikan bahwa kenyataan bangsa-bangsa Asia Daratan sama sekali tidak mengenal perahu, maka memunculkan keraguan akan kebenarannya.  Di India sama sekali tidak kita dapatkan diskripsi adanya perahu.  Untuk mencapai ke Alengka (Srilangka) dari daratan India tidak ada sedikitpun disinggung tentang perahu dalam kitab paling kuno India, Ramayana.  Maka bandingkan dengan kitab kuno dari Bugis (I La Galigo) yang menyebutkan Sawerigading anak Guru memiliki cita-cita mengarungi dunia dengan perahunya.

Perenungan saya kemudian menemukan pendapat bahwa bukan Nusantara yang didatangi peradaban Asia Daratan, tetapi sebaliknya daratan Asia yang disebari peradaban Nusantara. Penyebaran peradaban ini terjadi jauh sebelum lahirnya agama Hindu dan Buddha di India.  Apalagi di waktu akhir-akhir ini masih terjadi proses penelitian para arkeolog dunia tentang ‘Lemurian Antlantis’, pusat peradaban umat manusia di dunia di jaman kuno.  Konon pula ditengarai keberadaan ‘Lemurian Atlantis’ itu di sekitar Laut Cina Selatan.  Diduga pula bahwa Jawa di masa peradaban Lemurian Atlantis tersebut sebagai tempat yang disucikan.

Kita boleh percaya dan meyakini agama Hindu dan Buddha berasal dari India.  Namun kalau tentang “budaya dan peradaban” Jawa “turunan” India, belum tentu benar.  Dalam banyak hal unsur budaya Jawa dengan India memang ada kemiripan.  Namun itu bukan berarti budaya Jawa ‘turunan’ dari India.  Prof. Brandes (1889) dalam penelitiannya telah menyatakan ada 10 (sepuluh) unsur budaya asli Jawa.

Bahkan ketika memberikan kursus Pancasila (1957) di Istana, Bung Karno dalam mengutip hasil penelitian Prof. Brandes tersebut menambah dengan tulisan ‘ha-na-ca-ra-ka’ sudah dipakai oleh orang Jawa di jaman kuno.  Demikian pula pernyataan Ki Kalamwadi (nama samaran pujangga pengarang Serat Darmagandhul dan Gatholoco) yang menyatakan huruf Jawa ‘ha-na-ca-ra-ka’ bukan karyacipta Ajisaka yang berasal dari India (Gujarat), tetapi asli ciptaan Hyang Nurcahya (cikal bakal raja Jawa).

Saya merenungkan nama “Sawerigading” (Srigading) dan “Guru” yang disebut dalam kitab kuno Bugis, La Galigo tersebut.  Ternyata nama itu tidak asing bagi telinga hampir seluruh bangsa-bangsa di Nusantara.  Batak, Minangkabau, Kubu, Palembang, Dayak, Toraja, Baduy, Sunda Kawitan, Jawa, Bali dan masih banyak lagi wilayah lain di Nusantara ini, memiliki mitologi yang memposisikan “Guru” adalah “nenek moyang” atau “cikal bakal” nenek-moyang pada masing-masing etnis itu. Apa maknanya?

Atas dasar kesamaan posisi “Guru” pada kepercayaan (mitologi) bangsa-bangsa Nusantara, maka sejak jaman kuno sebelum masuknya agama Hindu dan Buddha, Nusantara sudah satu peradaban.  Yang kemudian perlu dicari adalah “pusat peradaban” yang bisa menyatukan Nusantara di jaman kuno itu.  Perenungan subyektif saya menemukan bahwa pusatnya ada di Jawa.  Dasar pemikiran saya dengan pendekatan konsep kepercayaan (teologi dan mitologi) Jawa adalah yang “terang benderang” dan sangat jelas serta mudah dipahami.

Dengan asumsi bahwa pusat peradaban Nusantara di jaman kuno adalah Jawa, maka sesungguhnya peradaban Jawa adalah inti-sarinya seluruh peradaban Nusantara.  Kalau kemudian peradaban kuno tersebut musnah adalah mungkin sekali.  Jawa kenyataannya berada tepat di atas pertemuan lempeng kulit bumi yang terus menerus bergerak dan bertumbukan.  Terakhir dampak tumbukan tersebut berupa bencana besar di Aceh.  Maka sangat mungkin bahwa di jaman kuno, ribuan tahun yang lalu, Jawa tertimpa bencana yang lebih besar dari yang menimpa Aceh baru-baru ini.  Saking besarnya bencana tsunami yang melanda Jawa hingga menyapu bersih seluruh peradaban yang ada.  Yang tersisa tinggal bangunan candi-candi yang memang kokoh kuat.  Perhatikan saja, bahwa candi-candi di Jawa yang masih utuh kenyataannya berada di tempat yang tinggi.  Juga rata-rata di pedalaman pulau, bukan yang ada di pesisir.  Kenyataan ini saja sudah bisa untuk menggugat teori yang menyatakan peradaban Jawa “turunan” dari India.  Kalau memang benar berasal dari luar, maka yang berkembang pasti yang ada di pesisir.  Jejak penyebarannya juga bisa dirunut dari pulau-pulau sebelah utara Jawa (Sumatra) menuju India sana.  Kenyataannya?  Di Sumatra tak ada jejak peninggalan semenonjol Jawa.  Kenyataan ini menunjukkan hanya ada dua kemungkinan.  Kemungkinan pertama peradaban India sampai ke Jawa dengan disebarkan melalui angkasa (terbang) oleh dewa-dewa sebagaimana mitos yang dikarang para empu jaman Kahuripan yang diteruskan para pujangga Keraton Surakarta.  Kemungkinan kedua, bahwa India justru menerima sebaran peradaban dari Jawa.  Mana yang lebih mungkin merupakan tantangan bagi “manusia berpikir” untuk menelaah lebih mendalam.

Dengan mewacanakan bahwa peradaban Jawa adalah intisari peradaban Nusantara bukan dimaksudkan untuk merendahkan peradaban Nusantara yang lain saat ini.  Namun lebih mengutamakan bahwa sejak jaman kuna Nusantara sebenarnya satu peradaban dengan pusatnya di Jawa.  Kenyataannya, saat ini Jawa yang hanya 6% luas daratan Indonesia dihuni 63% populasi penduduk Indonesia.  Permasalahannya, bahwa peradaban Jawa yang diasumsikan unggul di jaman kuno itu sudah runtuh dan pudar. Penyebab keruntuhannya bencana alam.  Kemungkinan besar tsunami yang lebih besar puluhan atau ratusan kali dibanding yang terjadi di Aceh.

Peradaban Jawa adalah Peradaban Semesta

Jawa pernah menjadi pusat peradaban umat manusia di masa kejayaan agama Buddha.  Hal itu dibuktikan dengan adanya catatan perjalanan para pendeta Buddha dari Tiongkok.  Kisahnya sekitar abad 3-7 Masehi, sejaman dengan lahirnya Islam di Arab.  Maka silahkan membandingkan makna isi kisahnya.  Menurut “hadis” (?), nabi Muhammad SAW mengatakan: “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina!”.  Padahal sejaman dengan lahirnya “hadis” tersebut, justru para pendeta agama Buddha dari Tiongkok berguru agama (Buddha) kepada para “pendeta besar” Jawa.  Salah satu “pendeta besar” Jawa itu Jnanabadra.

Lebih mencengangkan lagi, bahwa sesungguhnya para pendeta Cina tersebut tujuannya berguru ke India yang dianggap sebagai sumber agama Buddha.  Namun kenyataannya mereka hanya sebentar di India dan lebih lama di Jawa dalam berguru tersebut.  Bahkan terbukti pula bahwa para pendeta Cina tersebut dalam perjalanannya menumpang perahu-perahu dari Nusantara.

Selisik sejarah tersebut menunjukkan bahwa agama Buddha di Jawa memiliki “kualitas lebih’ dibanding Tiongkok maupun India sendiri.  Hal ini secara tidak langsung membuktikan pula ‘keunggulan budaya dan peradaban manusia’ di Jawa, yaitu adanya ‘tempat berguru’ (universitas) agama Buddha yang dikenal sampai Tiongkok.

Merupakan misteri yang sampai saat ini belum terkuak, bahwa di Jawa ada candi untuk manembahnya umat Hindu dan umat Buddha, sementara di India tidak ada.

Dalam pidato Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, Bung Karno menyebut bahwa sebelumnya Nusantara pernah memiliki  “Negara Bangsa” yaitu di jaman Sriwijaya dan Majapahit.  Kalau kita bisa merunut adanya nama “Guru” atau “Bethara Guru” yang dianggap sebagai cikal-bakal seluruh raja-raja di Nusantara, barangkali di jaman jauh sebelum Sriwijaya, Nusantara juga pernah memiliki “Negara Bangsa”.

Demikian pula ketika Bung Karno menyebutkan “Berke-Tuhan-an yang lebih luas dan mendalam ….”, kiranya adalah konsep ber-Tuhan-nya Nusantara yang dengan jelas diwakili pandangan Jawa dengan istilah “tan kênâ kinâyâ ngâpâ”. Konsep berke-Tuhan-an yang didiskripsikan Jawa (Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Wisesa) itulah yang kemudian diistilahkan dalam bahasa Indonesia “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan kiranya lebih universal pengertiannya baik verbal maupun substansial.

Adanya Tuhan yang melingkupi seluruh semesta alam yang “tan kênâ kinâyângâpâ” merupakan “konsep teologi” yang sangat kuat menjaga ke Maha Esaan Tuhan dari campur tangan pendapat manusia.  Konsep ber-Tuhan yang demikian sudah pasti lahir dari budaya dan peradaban semesta, universal dan bisa dipahami seluruh umat manusia di dunia.

Pijakan dasar falsafah (pandangan hidup) Jawa adalah aras kereligiusan, kesemestaan dan keberadaban manusia. Aras kereligiusan diekspresikan dengan “Kawruh Sangkan Paraning Dumadi”.  Merupakan konsep religius yang universal.  Bahwa semua titah dumadi berasal dari Tuhan (yang tan kênâ kinâyângâpâ) dan kepada-Nya kembali (menuju paran).  Kesadaran semesta atau konsep kesemestaan diekspresikan dalam mitologi-mitologi Jawa, diantaranya tentang “bâpâ angkâsâ” dan “ibu bumi”, “marmati”, “sêdulur papat kalimâ pancêr” dan  “sêdulur tunggal dinâ kelairan”.  Lebih mendalam lagi dengan konsep sistim manunggal (panunggalan) antara “jagad cilik” (mikro kosmos, manusia) dengan “jagad gêdhé” (makro kosmos, alam semesta).  Keberadaban manusia merupakan ajaran wajib menurut Jawa yang ditegaskan dalam kalimat “mèlu mêmayu hayuning bawânâ”.

Konsep “Falsafah Jawa” atau “Kawruh Kejawen” yang ber-‘aras’-kan “kereligiusan-kesemestaan-keberadaban” melahirkan banyak tradisi budaya Jawa yang berkaitan dengan “urip” (hidup) dan segala prosesinya.  Intinya, diawali bahwa kelahiran bayi (anak manusia) adalah “sabdaning Gusti”, maka pandangan Jawa menganggap bahwa urusan seks merupakan bagian dari “sabda Tuhan” tersebut.

Untuk itu marilah kita renungkan betapa rumitnya tata-cara adat Jawa dalam upacara pengantin.  Kerumitan itu merupakan ekspresi pandangan Jawa tentang hakekat perkawinan.  Fokusnya bukan legalitas hubungan seks antari lelaki dengan perempuan, tetapi lebih tertuju kepada hakekat ‘penciptaan’ manusia baru (anak).    Bahwa sesungguhnya terjadinya pembuahan sel telur perempuan oleh sperma laki-laki adalah kehendak Tuhan menciptakan manusia baru.  Maka sakral nilainya.  Renungkan pula betapa banyak dan rumitnya tradisi Jawa mengiringi perkembangan janin dalam kandungan ibu.  Termasuk tradisi Jawa dalam menyambut kelahiran bayi.  Ada brôkôhan kemudian sêlapanan dan seterusnya.  Yang tidak boleh dilupakan bahwa Jawa memandang air ketuban, ari-ari (placenta) dan pusêr bayi sebagai “saudara” si bayi dan dimuliakan.  Pada peradaban lain barangkali organ-organ itu dianggap sampah dan tidak bermakna.

Pandangan Jawa, seks adalah sakral maka ikut dijadikan penghias  (relief) tempat peribadatan.  Lihat saja relief di kaki candi Borobudur maupun yang lebih jelas di candi Sukuh.  Banyak yang menganggap relief itu porno.  Tetapi bagi mereka yang “berpikir” tidaklah gampang menjastifikasi demikian.  Bayangkan saja sudah ratusan tahun yang lalu, perkara seks begitu jelas digambarkan dalam bentuk ukiran (relief) batu dengan terang-terangan.  Termasuk pula gambaran janin dalam kandungan ibu.  Maka sangat aneh kalau dianggap porno.  Sebaliknya justru sebuah pembelajaran  atau pendidikan tentang makna hidup, bukan ?

Boleh kita berangan-angan, seandainya pandangan Jawa yang menganggap seks sebagai kesakralan (sabda Tuhan) bisa menjadi pandangan umat manusia sedunia, kira-kira bagaimana moralitas umat manusia sedunia?


Wông Jawa Masa Kini

            Stigma panjang yang sudah berlaku di tengah masyarakat Indonesia adalah anggapan bahwa Jawa menjajah unsur-unsur Indonesia yang lain.  Wacana yang demikian ini menjadikan banyak orang Jawa menjadi ragu-ragu untuk eksis dengan kepribadian Jawa.  Maka akibatnya menghambat aliran persembahan nilai-nilai kebaikan Jawa untuk membangun Indonesia.  Bahkan banyak pihak yang kemudian beranggapan bahwa Jawa merupakan penyebab ketertinggalan Indonesia dalam kancah dunia.

Selanjutnya, Jawa diindentikkan dengan keprimitifan yang penuh klenik, tahayul dan gugon tuhon.  Akibat seriusnya adalah Jawa merasa “under estimated” sehingga tidak mampu memberikan suatu persembahan “tata peradaban”-nya kepada Indonesia.  Sikap Jawa menjadi enggan ikut berperanan membangun Indonesia.  Kemudian yang terjadi, menyerahkan bangunan Indonesia kepada sistim multi kultur dan peradaban yang tidak memiliki kultur (budaya) dan peradaban “pêmômông”.  Maka terbentuk komunitas-komunitas unsur Indonesia yang secara ideologis berafiliasi kepada kultur dan peradaban asing. Padahal kultur dan peradaban asing yang “diturun” tersebut ditempat asalnya saling berbenturan dalam konflik panjang yang tidak jelas penyebab konfliknya itu sendiri.  Barangkali, mungkin, bahwa penyebab utama konflik panjang tersebut berpangkal tolak pada karakter bangsa-bangsa dimana peradaban asing tersebut lahir adalah karakter “bar-bar”.  Menyerang bangsa lain, mengalahkan dan menjajah kemudian menjadikan bangsa yang dikalahkan dan dijajah tersebut sebagai budak dan pemuas nafsu birahi.  Pertanyaannya, beradabkah karakter yang demikian ?

Kita semua merdeka untuk memikirkan kemudian menarik kesimpulan bagaimana karakter bangsa-bangsa yang merasa “beradab”: Eropa, Semit (Yahudi, Arab), Persia, India (Arya), Mongolia, Cina dan Jepang.  Mereka adalah kaum ekspansionis, penjarah dan penjajah.  Silahkan menelisik bagaimana sepak terjang bangsa-bangsa tersebut ketika berekspansi ke wilayah lain di dunia.

Semenjak runtuhnya Majapahit, maka Nusantara termasuk Jawa merupakan wilayah yang diincar oleh bangsa-bangsa berkarakter “bar-bar” tersebut.  Mereka berusaha menguasai Nusantara dengan segala cara.  Secara intensif menggarap Nusantara untuk mereka jadikan protektorat.  Adalah garapan “mental-ideologi” yang kemudian berdampak besar kepada karakter bangsa Nusantara.  Sedemikian rupa hebat hasil garapan tersebut hingga ada pujangga Jawa (menyamarkan diri dengan nama Ki Kalamwadi, abad 19 M.) menyebut orang Jawa masa kini (setelah digarap mental ideologinya) sebagai “Jawan Rab Iriban”.  Artinya, orang Jawa yang berkeinginan menjadi orang Arab dan hasilnya cuma mirip.  Jawa yang sudah tidak memiliki kedaulatan spirituil.  Jawa yang lebih bangga seandainya dianggap Arab, memakai nama Arab, berpenampilan layaknya orang Arab dan bahkan senang meskipun sekedar menjadi budaknya Arab.

Wacana ini bukan saya maksudkan untuk menggugat Islam sebagai agama yang dipeluk mayoritas wông Jawa.  Namun lebih saya tujukan kepada wông Jawa muslim yang oleh kepatuhannya terhadap agama Islam menjadi tanpa sadar “membudakkan diri” kepada bangsa Arab.  Sedemikian rupa membudakkan dirinya sampai kehilangan “kedaulatan spirituil” hingga lupa akan jatidiri bangsanya yang lebih beradab.

Peringatan akan kehilangan kedaulatan spirituil bagi wông Jawa tersebut sudah diwacanakan oleh Ki Kalamwadi dalam tulisan: “Serat Darmagandhul” di abad 19 Masehi.  Sedemikian tertekannya Ki Pujangga tersebut memikirkan Jawa yang pelan-pelan terbudakkan secara spirituil kepada bangsa Arab, hingga beliau menulis kitab yang sangat “keras” dan melanggar etika Jawa sendiri.  Dalam kitab tulisannya, Ki Kalamwadi memposisikan Prabu Brawijaya sebagai penyebab awal keterpurukan Jawa.  Inilah yang saya nilai sebagai keberanian yang luar biasa dari Ki Kalamwadi tersebut.  Menjastifikasi raja sebagai penyebab kehancuran “tata peradaban” masih dianggap tabu dalam jaman “feodalisme Jawa”.

Meskipun kemungkinan analisa Ki Kalamwadi itu benar adanya, namun dianggap melanggar kesantunan Jawa yang berlaku di masa itu.  Oleh karena itu, wacana Ki Kalamwadi dianggap pemberontakan terhadap kekuasaan raja.  Dan bukunya dilarang beredar di tengah masyarakat.  Kalau kemudian ada salinan yang beredar, maka hanya terbatas sebarannya.

Meskipun kita boleh meragukan kebenaran tulisan Ki Kalamwadi dalam Serat Darmagandhul, namun ada statemen beliau yang menarik untuk dikaji.  Statemen Ki Pujangga tersebut oleh banyak kalangan “Kejawen” dianggap sebagai ramalan.  Untuk itu saya kutipkan sebagai berikut :

  1. a.  Tan wis yèn sirâ wuwusâ, balik mangké sirâ kang ingsun tari, kang dadi kêkêncênganmu, miwah bênêranirâ, rèhning uwis kêbanjur ngandikaningsun, sun masuk agama Islam, sinêksènan lan si Sahid.
  2. b.  Tan kênâ mangsuli sabdâ, ingsun wirang ginuyu bumi langit, Ki Sabdâpalôn umatur, padukâ lampahânâ, kulâ pamit késah ing sapurug-purug, Sri Naréndrâ angandikâ, sirâ lungâ maring ngêndi.
  3. c.   Sabdâpalôn aturirâ, datan késah amanggèn wôntên ngriki, mung nêtêpi nami ulun, nami Ki Lurah Sêmar, kula nglimput saliring samar kang wujud, angléla ampungan padhang, dèn èngêt Sang Nâtâ bénjing.
  4. d.  Yèn wôntên manusâ Jâwâ, Jawi anganggé mâtâ siji, nami sêpuh gaman kawruh, niku mômôngan-kulâ, tiyang Jawan sun-wruhké bênêr lan luput, sigrâ têdhak Sri Naréndrâ, arsâ ngrangkul dèn inggati.
  5. e.   Palônsabdâ Génggôngnâyâ, samyâ musnâ kadhung Sri Nârâpati, kalangkung pangungunipun, njêthung anênggak waspâ, angandikâ hé Sahid kawruhanamu, ing bésuk nagri Blambangan, aran nagri Banyu-wangi.
  6. f.    Yâ têngêranirâ, Nâyâgénggông bali mring tanah Jawi, anggâwâ mômônganipun, mâtâ siji kang wignyâ, wani lungguh anjajari maring ingsun, tan wruh asal sobat kênal, yèn nakal binuwang têbih.
  7. g.  Tyasirâ angkârâ murkâ, kumêt lomâ krênah pitênah dadi, dânâ kawruh dânâ laku, mrih arjâ tanah Jâwâ, Sabdâpalôn isih ânâ sabrang nglimput, têngêrané iki sêndhang, banyuné yèn mari wangi.
  8. h.  Wông Jâwâ ganti agâmâ, akèh tinggal agâmâ Islam bénjing, aganti agâmâ kawruh, Sunan Kali turirâ, yèn makatên utaminirâ Sang Prabu, kulâ prayôgi mbêktâ, toyâ wangi sêndhang niki.

Kutipan tersebut termuat dalam pupuh Pangkur (pada 55 – 62), menceriterakan Kaki Sabdapalon (dan Nayagenggong) memilih pisah dengan Prabu Brawijaya, momongannya. Secara ringkas bisa saya terjemahkan :

Prabu Brawijaya sudah menyatakan diri masuk agama Islam hingga disesalkan oleh pamomongnya, Sabdapalon dan Nayagenggong.   Dalam pada (bait) sebelumnya, Ki Sabdapalon “nguman-uman” (menyalahkan dengan kata-kata) keputusan momongannya berganti agama tersebut.  Maka sang raja merasa risih dan memutus panguman-umannya Sabdapalon (tan wis yèn sirâ wuwus).  Kemudian balik bertanya akan kesetiaan abdinya itu untuk mengikuti jejaknya.  Sabdapalon menjawab bahwa tidak bersedia masuk Islam dan pamit untuk berpisah. Ditanya mau pergi kemana? Jawab Sabdapalon tidak kemana-mana tetap berada di tempat ini (Jawa), memenuhi tugasnya sebagai Semar yang melingkupi semua kegaiban dari semua wujud, berada di balik terang.  Sabdapalon memberi pesan kepada Brawijaya: “kalau suatu saat di kemudian hari akan ada orang Jawa-Jawi bermata satu (tercerahkan batinnya) memakai nama tua bersenjatakan kawruh (ilmu pengetahuan) itu adalah momongan Ki Sabdapalon, dan melalui orang-orang (Jâwâ-Jawi, jamak) tersebut Ki Sabdapalon akan mengajarkan dan menunjukkan benar dan salah kepada orang-orang Jawa yang sudah kehilangan kedaulatan spirituilnya (Jawan)”.  Seketika Prabu Brawijaya mendekati Ki Sabdapalon untuk dipeluk.  Namun Ki Sabdapalon menghindar dan musnâ (hilang dari penglihatan, menjadi gaib).  Prabu Brawijaya keheranan dan tercenung sedih menahan tangis.  Dan kemudian berucap kepada Sahid (Sunan Kalijaga) : “He Sahid ! Besuk negeri Blambangan akan bernama Banyuwangi, jika air sendang ini sudah hilang bau wanginya, maka sebagai pertanda kedatangan kembali Nayagenggong dan diamat-amati Sabdapalon dari luar (manca) ke Jawa membawa momongannya yang tercerahkan batinnya, mumpuni pengetahuannya (wignyâ), berani duduk setara denganku, tidak mempersoalkan asal sahabat yang dikenal, kalau nakal dibuang (disingkiri), wataknya: keras angkara murka, kikir (perhitungan) juga dermawan, semua perbuatan dilakoni termasuk memfitnah.  Mendanakan ilmu dan laku untuk membuat tanah Jawa raharja (tenteram). Di saat itu nanti banyak orang Jawa meninggalkan agama Islam pindah ke “agama kawruh” (agama yang rasional, ada yang menafsirkan sebagai Kawruh Kasampurnan).  Sunan Kalijaga menjawab: “kalau begitu kebenarannya, maka sebaiknya saya mengambil air sendang ini dan saya bawa.“

Nukilan kisah yang diwacanakan Ki Kalamwadi tersebut kiranya bisa ditafsirkan macam-macam.  Termasuk menganggapnya sebagai ramalan.  Saya lebih cenderung untuk menganggap sebagai analisa mendalamnya Ki Kalamwadi akan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada orang Jawa. Maka beliau pesankan untuk waspada dengan cara memasukkan sebagai “ucapan” Sabdapalon ketika memilih berpisah dengan Brawijaya yang pindah agama.  Pesan itu berbunyi: “Bahwa sesungguhnya, nanti akan banyak orang Jawa yang tercerahkan batinnya dan berani melakukan upaya-upaya untuk bangkit kembali”.

Bahwa kemudian pesan Ki Kalamwadi tersebut diyakini sebagai ramalan justru positif maknanya.  Setidaknya dengan tersebarnya ramalan akan terjadinya “kebangkitan kembali Jawa” telah memelihara “pertahanan spirituil” orang Jawa untuk tidak mau begitu saja dicuci otaknya. Kalau toh kemudian penjaga “pesan” tersebut lebih banyak pada para penekun Kejawen (Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa) memang menjadi keharusan sejarah.  Pada komunitas manusia yang budaya dan peradabannya terkooptasi budaya lain akan selalu memiliki obsesi “kebangkitan kembali”.  Posisinya mirip kaum muslimin Syiah yang mempercayai ramalan akan turunnya “Imam Mahdi” yang keturunan Nabi Muhammad.

Kesimpulannya, bahwa wông Jawa saat ini rata-rata sudah kehilangan “kedaulatan spirituil”.  Bahkan untuk “menjejaki” kejatidiriannya sendiri sudah tidak mampu.  Namun ada sebagian diantara yang seperti itu masih memelihara “harapan” untuk kembali menemukan kembali kejatidirian Jawa.

Relevansi Renaissance Jawa untuk Indonesia

Banyak para sejawat yang mempertanyakan relevansi gerakan kebangkitan peradaban Jawa dengan kepentingan kebangsaan Indonesia.  Sebuah pertanyaan yang menantang bagi lajêr Jawa yang sekaligus sebagai warga bangsa Indonesia. Permasalahan munculnya pertanyaan tersebut ada pada kekawatiran terhadap kemungkinan memperkuat stigma bahwa Jawa menjajah unsur-unsur Indonesia yang lain.

Munculnya pendapat yang menyatakan bahwa Jawa menjajah (mengkooptasi) unsur Indonesia yang lain adalah kegagalan kita, bangsa Indonesia dalam mengimplementasikan cita-cita luhur diberdirikannya Indonesia. Kegagalan tersebut menunjukkan bahwa kurang disosialisasikannya Wawasan Kebangsaan Indonesia dan internalisasi nilai-nilai Pancasila.  Dengan kata lain, bahwa wacana kemerdekaan lebih berat fokusnya untuk berebut “kue”-nya, bukan upaya mengisi kemerdekaan itu sendiri.  Maka makna menjadi Indonesia sebagai “peleburan” masih pada aras “penggabungan” unsur-unsur. Artinya masih butuh waktu untuk mewujudkan cita-cita luhur diberdirikannya Indonesia.

Stigma “Jawa menjajah unsur Indonesia yang lain” menjadikan tersendatnya kontribusi Jawa kepada Indonesia.  Padahal nilai-nilai budi luhur Jawa sesungguhnya dibutuhkan untuk membangun karakter bangsa Indonesia.  Kondisinya diperparah dengan “aktivitas politik agama” yang menjadikan budaya dan peradaban Jawa sebagai “rival” ajaran agama.

Menjadikan budaya dan peradaban Jawa sebagai rival ajaran agama mengakibatkan semakin terpinggirkannya nilai-nilai budi luhur Jawa. Maka nilai-nilai luhur Pancasila yang dianggap pengejawantahan Falsafah Hidup Jawa ikut terpinggirkan.  Akibat selanjutnya, persatuan Indonesia yang dibangun dengan aras ajaran agama menjadi “persatuan semu”, rapuh dan rawan perpecahan. Masalahnya, bahwa fanatisme agama selalu mengancam persatuan yang dibangun.  Fanatisme agama menjadikan umat agama siap menjadi ‘pasukan perang’ yang bisa digerakkan untuk berebut kekuasaan yang sejatinya sekedar berebut rejeki pengisi perut.

            Renaissance Jawa pada dasarnya adalah merupakan upaya menggugah kesadaran Jawa akan nilai-nilai budi luhurnya yang bisa dipersembahkan kepada Indonesia.  Persembahan Jawa tersebut akan sangat besar pengaruhnya untuk “ndandani” keadaan yang amburadul (bosah-basèh, jw.) sekarang ini.

Eksistensi sebuah bangsa yang dibangun dari multi-kultur pada kenyataannya lebih ditentukan oleh ‘pilihan ideologi’ yang mampu mengakomodir perbedaan kultur dan peradaban masing-masing unsur yang membangun bangsa itu sendiri.  Semakin universal ideologi yang dipilih dan diberlakukan sebagai dasar kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, maka akan semakin ulet ketahanan bangsa tersebut dalam menerima arus besar “benturan antar peradaban” yang terjadi setelah era Perang Dingin selesai.

Ideologi Neo-Liberalisme saat ini mendominasi dunia.  Kiranya tidak ada negara atau bangsa di dunia ini yang mampu menahan gempuran ideologi neo-liberalisme tersebut.  Karena pijakan ideologi tersebut adalah sekularisme dan kebebasan umat manusia untuk eksis di dunia.  Sebuah pijakan mendasar yang lintas ruang dan waktu.  Ujung tombak ideologi ini adalah ilmu pengetahuan dan teknologi serta sistim demokrasi.  Maka tanpa direkayasa pun akan menyebar dengan sendirinya ke seluruh dunia.  Bahwa kemudian neo-liberalisme dijadikan kendaraan kepentingan politik dan ekonomi negara-negara kuat (kapitalis dan imperialis) untuk menguasai negara-negara lain adalah persoalan yang berbeda.

Atas pengaruh paham sekularisme, demokrasi dan kemerdekaan untuk eksis, maka kemudian mendorong umat manusia untuk lebih mengoperasionalkan “daya kemanusiaannya”.  Salah satu “daya kemanusiaan” itu adalah berpikir.  “No limit” untuk kemampuan berpikir manusia, begitulah semboyan sekularisme dan liberalisme.  Ide ini berseberangan dengan doktrin agama yang mengajarkan “manusia terbatas akalnya”.  Maka terjadi perbenturan antara doktrin agama dengan paham sekularisme dan neo-loberalisme tersebut.

Pada aras kemerdekaan berpikir manusia, maka semua doktrin (ajaran) agama dituntut untuk rasionil hingga “manusia berpikir” bisa mengerti dan mau tunduk menjalankan ajaran agama tersebut. Manakala proses pencerdasan bangsa telah berjalan dengan baik, maka rakyat “berpikir” akan menjadi mayoritas.  Dan gugatan terhadap “kemapanan” yang tidak adil dan tidak masuk akal akan marak.  Termasuk gugatan terhadap kemapanan doktrin-doktrin agama yang dianggap tidak rasionil.  Begitulah yang terjadi di semua bangsa yang ada di dunia ini.

Pengaruh neo-liberalisme pada seluruh umat manusia di dunia sedemikian rupa intensif merasuki batin manusia.  Akibatnya terjadi keguncangan peradaban di semua tatanan yang sudah mapan sebelumnya. Pada tahapan inilah sebenarnya manusia banyak yang mengalami gegar budaya.  Di satu pihak dituntut untuk menyesuaikan diri dengan perubahan peradaban, di pihak lain masih terikat oleh tata peradaban aslinya.

Kita ketahui bahwa banyak kelompok komunitas atas dasar agama melakukan perlawanan terhadap arus sekularisme dan neo-liberalisme tersebut.  Ada yang dengan cara melakukan penyesuaian-penyesuaian, namun ada pula yang kemudian mengambil jalan kekerasan dengan teror bom bunuh diri yang lebih memperparah peradaban manusia. Maksudnya menunjukkan patriotisme perlawanan terhadap dominasi neo-liberalisme, tetapi yang terjadi justru pengungkapan “kesekaratan” paham (ideologi) keagamaan yang dimiliki.

Eksistensi nilai-nilai paham keagamaan yang semestinya penuh kedamaian telah dihancurkan sendiri oleh kepentingan politik kekuasaan sebagian umatnya.  Melawan dengan kekerasan atas pengaruh liberalisme adalah resiko yang harus dilakukan para pihak yang menggunakan agama sebagai kendaraan politiknya.  Sebabnya, arus liberalisme yang merasuki batin umat dengan sendirinya akan mengeroposkan legitimasi elite agama yang bersangkutan.

Kepentingan mempertahankan kekuasaan, yang selama ini dinikmati dengan nyaman oleh para elite agama, inilah yang kemudian melahirkan ajakan melawan arus liberalisme dengan kekerasan tersebut.  Umat agama yang lugu-lugu diberdayakan sebagai kekuatan pendukung aliran politik para elit agama tersebut.  Strateginya memanfaatkan fanatisme umat dalam membela agamanya. Umat yang lugu telah dijadikan “pasukan berani mati” membela “agama”.  Oleh karena itu, perlawanan terhadap sekularisme dan liberalisme menjadi bias menuju perbenturan (konflik) antar umat agama.  Bahkan kemudian antar umat dalam satu agama itu sendiri.  Mêmêlas !

Sekularisme dan liberalisme merupakan paham yang mengintervensi batin dan pemikiran umat manusia.  Menjadi liar ganas ketika kemudian dijadikan paham oleh manusia-manusia yang tidak memiliki kesadaran religius, kesemestaan dan keberadabaan umat manusia.  Kesadaran religius dalam hal ini tidak cukup untuk sekedar diwakili dengan memeluk agama.  Namun lebih tepat sebagai kesadaran berke-Tuhan-an yang mendalam dan luas.  Kesadaran kesemestaan dimaksudkan sebagai kesadaran akan ke-‘mahluk’-an manusia yang posisi tempatnya sangatlah kecil di Jagad Raya ini.  Sedangkan kesadaran keberadaban umat manusia adalah kesadaran sebagai mahluk hidup yang memiliki kemampuan berpikir membedakan benar-salah, baik-buruk, budi luhur-budi asôr.

Pada umat manusia yang memiliki kesadaran religius, kesemestaan dan keberadaban umat manusia, sekularisme dan liberalisme akan menjadi jinak dan akan menjadi sumberdaya yang hebat untuk membangun peradaban luhur manusia yang tujuannya adalah kesejahteraan umat manusia di seluruh dunia.  Kiranya wacana keluhuran peradaban yang mensejahterakan umat manusia di dunia adalah cita-cita universal umat manusia sendiri.

Indonesia yang mengklaim diri sebagai bangsa yang religius akan mengalami situasi “genting” ketika mulai marak gugatan-gugatan atas “kemapanan semu” yang ada.  Baik itu kemapanan semu pemerintahan dan aturan kemasyarakatan.  Semua dituntut untuk adil dan rasionil. Dan aras religius sebagai karakter dasar bangsa Indonesia akan menuntut universalnya semua ajaran agama secara obyektif.  Kemapanan para elite agama yang “jumud” akan tergugat dengan sendirinya.

Saat ini Indonesia sedang berusaha bangkit dari keterpurukan.  Namun terkendala banyak masalah pada warga bangsanya sendiri.  Persatuan bangsa telah terkoyak oleh berbagai konflik SARA.  Demikian pula moral bangsa menurun hingga ke titik nadir oleh maraknya KKN hingga ke tingkat akar rumput.  Pragmatisme “Pôkôké Kanthông Isi” telah merasuki pikiran hampir merata di seluruh warga bangsa Indonesia sendiri.  Etika moral yang berpijak pada aras budi luhur sudah dilupakan.

Kondisi Indonesia yang memprihatinkan tersebut mau tidak mau mengusik nurani sebagian warga bangsa yang masih memiliki rasa cinta kepada negara dan bangsanya.  Maka kemudian bermunculan statemen-statemen dari banyak kalangan untuk mengajak memperbaiki keadaan.  Namun kenyataannya bisa kita saksikan pula bahwa belum ada tindakan nyata untuk melaksanakan statemen dan gagasan-gagasan tersebut.

Barangkali ada keseriusan pemerintah melakukan penertiban di segala bidang dan memberantas tindak pidana korupsi.  Namun kiranya belum cukup memadai kalau tidak didukung adanya “gerakan” di tengah masyarakat untuk membangun kembali perilaku budi luhur.

Dalam rangka ikut serta menggerakkan masyarakat membangun perilaku budi luhur tersebut maka membangkitkan peradaban Jawa menjadi relevan.  Alasannya, bahwa peradaban, tata peradaban dan kebudayaan Jawa sarat dengan nilai-nilai budi luhur yang dibutuhkan.

Bukan untuk menafikan peradaban dan kebudayaan unsur-unsur Indonesia yang lain kalau fokus utama “Gerakan Sekar Jagad” pada kebangkitan peradaban Jawa.  Masalah utama adalah belum terbangunnya peradaban Indonesia secara nyata meskipun sudah diwasiatkan pada Pembukaan UUD 1945.  Sejauh ini, bangunan peradaban Indonesia masih merupakan himpunan berbagai peradaban unsur bangsa.  Upaya menyatukan dengan nilai-nilai Pancasila masih belum berjalan mulus.

Untuk membangun masyarakat Pancasilais, maka tata peradaban Jawa dan kebudayaannya sangat diperlukan.  Terutama untuk memelihara norma-norma yang penuh toleransi dari banyak perbedaan yang ada.  Pengalaman panjang Jawa dalam mensinergikan berbagai peradaban menjadi modal yang bisa dipersembahkan kepada Indonesia.

Sebagaimana Bung Karno menyebut bahwa ringkasan Pancasila menjadi Ekasila adalah “gotongroyong”, sedangkan kata “gotong-royong” itu sendiri adalah kosa-kata bahasa Jawa.  Maka sudah dengan sendirinya yang mengerti makna dan mampu mendiskripsikan “gotong-royong” dengan lengkap dan mendalam adalah “Jawa”.  Yaitu: hidup bersama dengan nyaman, tenteram dan damai “tâtâ têntrêm kêrtâ raharjâ”.  Kiranya mudah dipahami, bahwa sesungguhnya manusia dalam hidup bersama di dunia ini adalah untuk kepentingan kesejahteraan bersama.


Gerakan Memulihkan Kehayuan

            Menurut pandangan Jawa, maka keterpurukan Indonesia saat ini merupakan tanda bahwa ke-hayu-an semesta sedang mengalami ganggu-an.  Hubungan semua unsur semesta terganggu keharmonisannya.  Maka dibutuhkan upaya-upaya mengembalikan keharmonisan semesta ter-sebut.  Dalam peradaban dan budaya Jawa banyak ditemukan cara-cara atau upaya memulihkan keselarasan semesta tersebut.

Sebagai contoh gangguan keselarasan tersebut ketika pada suatu lingkup kecil pemukiman ada anak (bayi) yang menangis pada malam hari.  Keharmonisan malam menjadi terganggu oleh tangis bayi tersebut.  Maka pada peradaban dan budaya Jawa, untuk mengatasi hal tersebut, ditembangkan “Kidung Sontrèng” Kinanthi Céngkôk Mangu.  Maka pelan-pelan tangis bayi akan mereda dan suasana kembali selaras hayu lagi.  “Kidung Sontrèng” tersebut adalah “Sastrâ Gêndhing” atau “Mantra Swara” gubahan genius Jawa di jaman Pajajaran yang kemudian diberi warna Islam di jaman Demak.

Di Indonesia banyak didapati budaya asli daerah yang bisa disebut sebagai “mantra swara” tersebut.  Maka perlu digerakkan laku budaya yang berhubungan dengan upaya mengembalikan (memulihkan) keselarasan alam tersebut.  Pada masyarakat Jawa perlu digerakkan berdirinya banyak paguyuban yang kemudian diarahkan untuk bisa melaksanakan “mantra swara Jawa”.  Mantra Swara dalam bentuk tembang berupa “Sêrat Kidungan”, sedang pada ritual gamelan diantaranya berupa “Gêndhing Gadhung Mlathi” dan “Ki Layu Nêdhêng”.

Mengumandangkan “mantra swara” yang terus menerus akan menjadikan unsur-unsur semesta terpengaruh untuk kembali kepada “susunan” yang hayu secara mistis.  Maka nuansanya akan mempengaruhi jiwa-jiwa manusia untuk secara “inner” kembali kepada jati dirinya yang beradab.

Dalam rangka memulihkan ke-hayu-an semesta Jawa dan Indonesia, maka perlu dibangun komunitas yang mampu melaksanakan gerakannya.  Komunitas tersebut hendaknya memiliki cita-cita yang sama, membangun Jawa sebagai ”sekaring jagad” untuk ikut mewujudkan Indonesia sebagai ”Tamansari Dunia”.

Bahwa wacana ini pada aras spirituil, maka perlu dilandasi pengertian bahwa di dalam jiwa setiap warga bangsa Indonesia sesungguhnya telah tertanam wiji (benih) Spirituil Kebangsaan Indonesia secara alami.  Benih spirituil tersebut dalam keadaan bersifat defensif.  Dengan “mantra swara” yang tepat, maka benih spirituil yang bersemayam tersebut bisa digugah untuk menggelora sebagaimana kekuatan “kundalini” yang terbangunkan.  Geloranya sedemikian besar sehingga, kadang-kadang, membuat yang disemayami terguncang seperti “kêsurupan”.  Maka dengan diberi aras ke-hayu-an semesta hasil laku budaya “mantra swara” akan memberikan ruang untuk bergeloranya benih spirituil kebangsaan Indonesia tersebut.  Bergelora kemudian beresonansi dengan benih spirituil yang ada di jiwa seluruh rakyat Indonesia.  Maka ke-hayu-an Indonesia dengan sendirinya akan tercapai dan menghantarkan pada kejayaan.

Demikian semoga bermanfaat.  Swuhn.

* * *  KSM  2005  * * *

 


 

Ki Sondong Mandali adalah nama lain dari Totok Djoko Winarto

Kelahiran Klaten, Jum’at Wage, tanggal 11 Mei 1951.

Pendidikan SD dan SMP di Klaten, SMA kelas I & II di SMA Negeri II Medan, Sumatra Utara, kelas III  di SMA Negeri I Klaten.  Tamat Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam tahun 1969.

Alamat            : Jl. Keruing II No. 111, Banyumanik – Semarang 50263

Tilp. (024) 7477292; HP: 08157611019; 081390478229

e-mail : kisondongmandali@yahoo.com


[1]       Tim Perumus Kurikulum Bahasa Indonesia untuk SMK, Dikmenjur – Diknas, 2003.

[2]   Istilah dari penulis (KSM).

 

FALSAFAH ORANG JAWA

Yang dimaksud orang Jawa oleh Magnis-Suseno adalah orang yang bahasa ibunya bahasa Jawa dan merupakan penduduk asli bagian tengah da timur pulau Jawa.
Berdasarkan golongan sosial, menurut sosiolog Koentjaraningrat, orang Jawa diklasifikasi menjadi 2 (dua) yaitu:

1. Wong cilik (orang kecil) terdiri dari petani dan mereka yang berpendapatan rendah.
2. Kaum Priyayi terdiri dari pegawai dan orang-orang intelektual
3. Kaum Ningrat gaya hidupnya tidak jauh dari kaum priyayi

Selain dibedakan golongan sosial, orang Jawa juga dibedakan atas dasar keagamaan dalam dua kelompok yaitu:

1. Jawa Kejawen yang sering disebut abangan yang dalam kesadaran dan cara hidupnya ditentukan oleh tradisi Jawa pra-Islam. Kaum priyayi tradisional hampir seluruhnya dianggap Jawa Kejawen, walaupun mereka secara resmi mengaku Islam

2. Santri yang memahami dirinya sebagai Islam atau orientasinya yang kuat terhadap agama Islam dan berusaha untuk hidup menurut ajaran Islam

Alam pikiran dan pandangan hidup orang Jawa

Orang Jawa percaya bahwa Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan karena sebelumnya semuanya terjadi di dunia ini Tuhanlah yang pertama kali ada. Pusat yang dimakusd disini dalam pengertian ini adalah yang dapat memebrikan penghidupan, kesimbangan, dan kestabilan, yang dapat juga memberi kehidupan dan penghubung dengan dunia atas.

Pandangan orang Jawa yang demikian biasa disebut Kawula lan Gusti, yaitu pandangan yang beranggapan bahwa kewajiban moral manusia adalah mencapai harmoni dengan kekuatan terakhir dan pada kesatuan terakhir itulah manusia menyerahkan diri secara total selaku kawula (hamba)terhadap Gustinya(SangPencipta).

Sebagian besar orang Jawa termasuk dalam golongan bukan muslim santri yaitu yang mencampurkan beberapa konsep dan cara berpikir Islam dengan pandangan asli mengenai alam kodrati dan alam adikodrati.

Pandangan hidup merupakan suatu abstraksi dari pengalaman hidup. Pandangan hidup adalah sebuah pengaturan mental dari pengalaman hidup yang kemudian dapat mengembangkan suatu sikap terhadap hidup.

Ciri pandangan hidup orang Jawa adalah realitas yang mengarah kepada pembentukan kesatuan numinus antara alam nyata, masyarakat, dan alam adikodrati yang dianggap keramat. Orang Jawa bahwa kehidupan mereka telah ada garisnya, mereka hanya menjalankan saja.

Dasar kepercayaan Jawa atau Javanisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini pada hakekatnya adalah satu atau merupakan kesatuan hidup. Javanisme memandang kehidupan manusia selalu terpaut erat dalam kosmos alam raya. Dengan demikian kehidupan manusia merupakan suatu perjalanan yang penuh dengan pengalaman-pengalaman yang religius.

Alam pikiran orang Jawa merumuskan kehidupan manusia berada dalam dua kosmos (alam) yaitu makrokosmos dan mikrokosmos. Makrokosmos dalam pikiran orang Jawa adalah sikap dan pandangan hidup terhadap alam semesta yang mengandung kekuatan supranatural da penuh dengan hal-hal yang bersifat misterius.

Sedangkan mikrokosmos dalam pikiran orang Jawa adalah sikap dan pandangan hidup terhadap dunia nyata. Tujuan utama dalam hidup adalah mencari serta menciptakan keselarasan atau keseimbangan antara kehidupan makrokosmos dan mikrokosmos.

Dalam makrokosmos pusat alam semesta adalah Tuhan. Alam semesta memiliki hirarki yang ditujukan dengan adanya jenjang alam kehidupan orang Jawa dan adanya tingkatan dunia yang semakin sempurna (dunia atas-dunia manusia-dunia bawah). Alam semesta terdiri dari empat arah utama ditambah satu pusat yaitu Tuhan yang mempersatukan dan memberi keseimbangan.

Sikap dan pandangan tehadap dunia nyata (mikrokosmos) adalah tercermin pada kehidupan manusia dengan lingkungannya, susunan manusia dalam masyarakat, tata kehidupan manusia sehari-hari dan segala sesuatu yang nampak oleh mata. Dalam mengahdapi kehidupan manusia yang baik dan benar didunia ini tergantung pada kekuatan batin dan jiwanya.

Bagi orang Jawa, pusat di dunia ada pada raja dan karaton, Tuhan adalah pusat makrokosmos sedangkan raja adalah perwujudan Tuhan di dunia sehingga dalam
dirinya terdapat keseimbangan berbagai kekuatan alam. Jadi raja adalah pusat komunitas di dunia seperti halnya raja menjadi mikrokosmos dari Tuhan dengan karaton sebagai kediaman raja . karaton merupakan pusat keramat kerajaan dan bersemayamnya raja karena raja merupakan sumber kekuatan-kekuatan kosmis yang mengalir ke daerah dan membawa ketentraman, keadilan dan kesuburan

Kegiatan religius orang Jawa Kejawen

Menurut kamus bahasa Inggris istilah kejawen adalah Javanism, Javaneseness; yang merupakan suatu cap deskriptif bagi unsur-unsur kebudayaan Jawa yang dianggap sebagai hakikat Jawa dan yang mendefinisikannya sebagai suatu kategori khas. Javanisme yaitu agama besarta pandangan hidup orang. Javanisme yaitu agama besarta pandangan hidup orang Jawa yang menekankan ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan, sikap nrima terhadap segala peristiwa yang terjadi sambil menempatkan individu di bawah masyarakat dan masyarakat dibawah semesta alam.

Kemungkinan unsur-unsur ini berasal dari masa Hindu-Budha dalam sejarah Jawa yang berbaur dalam suatu filsafat, yaitu sistem khusus dari dasar bagi perilaku kehidupan. Sistem pemikiran Javanisme adalah lengkap pada dirinya, yang berisikan kosmologi, mitologi, seperangkat konsepsi yang pada hakikatnya bersifat mistik dan sebagainya yang anthropologi Jawa tersendiri, yaitu suatu sistem gagasan mengenai sifat dasar manusia dan masyarakat yang pada gilirannya menerangkan etika, tradisi, dan gaya Jawa. Singkatnya Javanisme memberikan suatu alam pemikiran secara umum sebagai suatu badan pengetahuan yang menyeluruh, yang dipergunakan untuk menafsirkan kehidupan sebagimana adanya dan rupanya. Jadi kejawen bukanlah suatu kategori keagamaan, tetapi menunjukkan kepada suatu etika dan gaya hidup yang diilhami oleh cara berpikir Javanisme.

Sebagian besar dari masyarakat Jawa adalah Jawa Kejawen atau Islam abangan, dalam hal ini mereka tidak menjalani kewajiban-kewajiban agama Islam secara utuh misalnya tidak melakukan sembayang lima waktu, tidak ke mesjid dan ada juga yang tidak berpuasa di saat bulan Ramadhan. Dasar pandangan mereka adalah pendapat bahwa tatanan alam dan masyarakat sudah ditentukan dalam segala seginya. Mereka menganggap bahwa pokok kehidupan dan status dirinya sudah ditetapkan, nasibnya sudah ditentukan sebelumnya jadi mereka harus menaggung kesulitanhidupnya dengan sabar.

Anggapan-anggapan mereka itu berhubungan erat dengan kepercayaan mereka pada bimbingan adikodrati dan bantuan dari roh nenek moyang yang seperti Tuhan sehingga menimbulkan perasaan keagamaan dan rasa aman
Kejawen dapat diungkapkan dengan baik oleh mereka yang mengerti tentang rahasia kebudayaan Jawa, dan bahwa kejawen ini sering sekali diwakili yang paling baik oleh golongan elite priyayi lama dan keturunan-keturunannya yang menegaskan adalah bahwa kesadaran akan budaya sendiri merupakan gejala yang tersebar luas dikalangan orang Jawa. Kesadaran akan budaya ini sering kali menjadi sumber kebanggaan dan identitas kultural.

Orang-orang inilah yang memelihara warisan budaya Jawa sevara mendalam sebagai kejawen.

Pemahaman orang Jawa Kejawen ditentukan oleh kepercayaan mereka pada pelbagai macam roh-roh yang tidak kelihatan yang dapat menimbulkan bahaya seperti kecelakaan atau penyakit apabila mereka dibuat marah atau penganutnya tidak hati-hati. Untuk melindungi semuanya itu, orang Jawa kejawen memberi sesajen atau caos dahar yang dipercaya dapat mengelakkan kejadian-kejadian yang tidak diinginkan dan mempertahankan batin dalam keadaan tenang. Sesajen yang digunakan biasanya terdiri dari nasi dan aneka makanan lain, daun-daun bunga serta kemenyan.

Contoh kegiatan religius dalam masyarakat Jawa, khususnya orang Jawa Kejawen adalah puasa atau siam. Orang Jawa Kejawen mempunyai kebiasaan berpuasa pada hari-hari tertentu misalnya Senin-Kamis atau pada hari lahir, semuanya itu merupakan asal mula dari tirakat. Dengan tirakat orang dapat menjadi lebih kuat rohaninya dan kelak akan mendapat manfaat. Orang Jawa kejawen menganggap bertapa adalah suatu hal yang cukup penting.

Dalam kesusastraan kuno orang Jawa, orang yang berabad-abad bertapa dianggap sebagai orang keramat karena dengan bertapa orang dapat menjalankan kehidupan yang ketat ini dengan disiplin tinggi serta mampu manahan hawa nafsu sehingga tujuan-tujuan yang penting dapat tercapai. Kegiatan orang Jawa kejawen yang lainnya adalah meditasi atau semedi.

Menurut Koentjaraningrat, meditasi atau semedi biasanya dilakukan bersama-sama dengan tapabrata (bertapa) dan dilakukan pada tempat-tempat yang dianggap keramat misalnya di gunung, makam keramat, ruang yang dikeramatkan dan sebagainya. Pada umumnya orang melakukan meditasi adalah untuk mendekatkan atau menyatukan diri dengan Tuhan.

Spiritualitas Jawa

Sejak jaman awal kehidupan Jawa (masa pra Hindu-Buddha), masyarakat Jawa telah memiliki sikap spiritual tersendiri. Telah disepakati di kalangan sejarawan bahwa, pada jaman jawa kuno, masyarakat Jawa menganut kepercayaan animisme-dinamisme. Yang terjadi sebenarnya adalah: masyarakat Jawa saat itu telah memiliki kepercayaan akan adanya kekuatan yang bersifat: tak terlihat (gaib), besar, dan menakjubkan. Mereka menaruh harapan agar mendapat perlindungan, dan juga berharap agar tidak diganggu kekuatan gaib lain yang jahat (roh-roh jahat) (Alisyahbana, 1977).

Hindu dan Buddha masuk ke pulau Jawa dengan membawa konsep baru tentang kekuatan-kekuatan gaib. Kerajaan-kerajaan yang berdiri memunculkan figur raja-raja yang dipercaya sebagai dewa atau titisan dewa. Maka berkembanglah budaya untuk patuh pada raja, karena raja diposisikan sebagai `imam’ yang berperan sebagai pembawa esensi kedewataan di dunia (Simuh, 1999). Selain itu berkembang pula sarana komunikasi langsung dengan Tuhan (Sang Pemilik Kekuatan), yaitu dengan laku spiritual khusus seperti semedi, tapa, dan pasa (berpuasa).

Jaman kerajaan Jawa-Islam membawa pengaruh besar pada masyarakat, dengan dimulainya proses peralihan keyakinan dari Hindu-Buddha ke Islam. Anggapan bahwa raja adalah `Imam’ dan agama ageming aji-lah yang turut menyebabkan beralihnya agama masyarakat karena beralihnya agama raja, disamping peran aktif para ulama masa itu. Para penyebar Islam –para wali dan guru-guru tarekat- memperkenalkan Islam yang bercorak tasawuf.

Pandangan hidup masyarakat Jawa sebelumnya yang bersifat mistik (mysticism) dapat sejalan, untuk kemudian mengakui Islam-tasawuf sebagai keyakinan mereka.

Spiritual Islam Jawa, yaitu dengan warna tasawuf (Islam sufi), berkembang juga karena peran sastrawan Jawa yang telah beragama Islam. Ciri pelaksanaan tasawuf yang menekankan pada berbagai latihan spiritual, seperti dzikir dan puasa, berulang kali disampaikan dalam karya-karya sastra. Petikan serat Wedhatama karya K.G.A.A. Mangku Negara IV:

Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Lekase lawan kas, tegese kas nyamkosani. Setya budya pangekese dur angkara (Pupuh Pucung, bait I)

Artinya:

Ngelmu (ilmu) itu hanya dapat dicapai dengan laku (mujahadah), dimulai dengan niat yang teguh, arti kas menjadikan sentosa. Iman yang teguh untuk mengatasi segala godaan rintangan dan kejahatan.(Mengadeg, 1975).

Di sini ngelmu lebih dekat dengan ajaran tasawuf, yaitu ilmu hakikat / ilmu batin, karena dijalani dengan mujahadah / laku spiritual yang berat (Simuh, 1999). Dalam masyarakat Jawa, laku spiritual yang sering dilakukan adalah dengan tapa, yang hampir selalu dibarengi dengan pasa (berpuasa).

Puasa dalam Masyarakat Jawa

Pada saat ini terdapat bermacam-macam jenis puasa dalam masyarakat Jawa. Ada yang sejalan dengan fiqih Islam, namun banyak juga yang merupakan ajaran guru-guru kebatinan ataupun warisan jaman Hindu-Buddha. Kata pasa (puasa) hampir dapat dipertukarkan dengan kata tapa (bertapa), karena pelaksanaan tapa (hampir) selalu dibarengi pasa.

Di antara macam-macam tapa / pasa, beberapa dituliskan di bawah ini:

Jenis:
Metode:
pasa di bulan pasa (ramadhan)
sama dengan puasa wajib dalam bulan ramadhan. Sebelumnya, akhir bulan ruwah (sya’ban ) dilakukan mandi suci dengan mencuci rambut

tapa mutih (a)
hanya makan nasi selama 7 hari berturut-turut

tapa mutih (b)
berpantang makan garam, selama 3 hari atau 7 hari

tapa ngrowot
hanya makan sayur selama 7 hari 7 malam

tapa pati geni
berpantang makan makanan yang dimasak memakai api (geni) selama sehari-semalam

tapa ngebleng
tidak makan dan tidak tidur selama 3 hari 3 malam

tapa ngrame
siap berkorban /menolong siapa saja dan kapan saja

tapa ngéli
menghanyutkan diri di air (éli = hanyut)

tapa mendem
menyembunyikan diri (mendem)

tapa kungkum
menenggelamkan diri dalam air

tapa nggantung
menggantung di pohon

dan masih banyak lagi jenis lainnya seperti tapa ngidang, tapa brata, dll.
Untuk memahami makna puasa menurut budaya Jawa, perlu diingat beberapa hal.

Pertama, dalam menjalani laku spiritual puasa, tata caranya berdasarkan panduan guru-guru kebatinan, ataupun lahir dari hasil penemuan sendiri para pelakunya. Sedangkan untuk mengetahui sumber panduan guru-guru kebatinan, kita harus melacak tata cara keyakinan pra Islam-Jawa.

Kedua, ritual puasa ini sendiri bernuansa tasawuf / mistik. Sehingga penjelasannya pun memakai sudut pandang mistis dengan mengutamakan rasa dan mengesampingkan akal / nalar. Ketiga, dalam budaya mistik Jawa terdapat etika guruisme, di mana murid melakukan taklid buta pada Sang Guru tanpa menonjolkan kebebasan untuk bertanya. Oleh karena itu, interpretasi laku spiritual puasa dalam budaya Jawa tidak dilakukan secara khusus terhadap satu jenis puasa, melainkan secara umum

Sebagai penutup, dapatlah kiranya dituliskan interpretasi laku spiritual puasa dalam budaya Jawa yaitu:

1. Puasa sebagai simbol keprihatinan dan praktek asketik.
Ciri laku spiritual tapa dan pasa adalah menikmati yang tidak enak dan tidak menikmati yang enak, gembira dalam keprihatinan. Diharapkan setelah menjalani laku ini, tidak akan mudah tergoda dengan daya tarik dunia dan terbentuk pandangan spiritual yang transenden. Sehingga dapat juga dikatakan bahwa pasa bertujuan untuk penyucian batin dan mencapai kesempurnaan ruh.

2. Puasa sebagai sarana penguatan batin
Dalam hal ini pasa dan tapa merupakan bentuk latihan untuk menguatkan batin. Batin akan menjadi kuat setelah adanya pengekangan nafsu dunia secara konsisten dan terarah. Tujuannya adalah untuk mendapat kesaktian, mampu berkomunikasi dengan yang gaib-gaib: Tuhan ataupun makhluk halus.

Interperetasi pertama dan kedua di atas acapkali berada dalam satu pemaknaan saja. Hal ini karena pandangan mistik yang menjiwainya, dan berlaku umum dalam dunia tasawuf. Dikatakan oleh Sayyid Husein Nasr, “Jalan mistik sebagaimana lahir dalam bentuk tasawuf adalah salah satu jalan di mana manusia berusaha mematikan hawa nafsunya di dalam rangka supaya lahir kembali di dalam Ilahi dan oleh karenanya mengalami persatuan dengan Yang Benar” (Nasr, 2000)

3. Puasa sebagai ibadah.
Bagi orang Jawa yang menjalankan syariat Islam. puasa seperti ini dijalankan dalam hukum-hukum fiqihnya. Islam yang disadari adalah Islam dalam bentuk syariat, dan kebanyakan hidup di daerah santri dan kauman.

Orang Jawa percaya bahwa Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan karena sebelum semuanya terjadi di dunia ini Tuhanlah yang pertama kali ada. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta beserta isinya tetapi juga bertindak sebagai pengatur, karena segala sesuatunya bergerak menurut rencana dan atas ijin serta kehendakNYA.

Pusat yang dimaksud dalam pengertian ini adalah sumber yang dapat memberikan penghidupan, keseimbangan dan kestabilan, yang dapat juga memberi kehidupan dan penghubung individu dengan dunia atas. Pandangan orang Jawa yang demikian biasa disebut Manunggaling Kawula Lan Gusti, yaitu pandangan yang beranggapan bahwa kewajiban moral manusia adalah mencapai harmoni dengan kekuatan terakhir dan pada kesatuan terakhir, yaitu manusia menyerahkan dirinya selaku kawula terhadap Gustinya.

Puncak gunung dalam kebudayaan Jawa dianggap suatu tempat yang tinggi dan paling dekat dengan dunia diatas, karena pada awalnya dipercayai bahwa roh nenek moyang tinggal di gunung-gunung.

Sebagian besar orang Jawa termasuk dalam golongan yang telah berusaha mencampurkan beberapa konsep dan cara berpikir islam, dengan pandangan asli mengenai alam kodrati ( dunia ini ) dan alam adikodrati ( alam gaib atau supranatural )

Ciri pandangan hidup orang Jawa adalah realitas yang mengarah kepada pembentukan kesatuan Numinus antara alam nyata, masyarakat dan alam adikodrati yang dianggap keramat. Alam adalah ungkapan kekuasaan yang menentukan kehidupan. Orang Jawa percaya bahwa kehidupan mereka telah ada garisnya, mereka hanya menjalankan saja.

Dasar kepercayaan Jawa atau Javanisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini pada hakekatnya adalah satu, atau merupakan kesatuan hidup. Javanisme memandang kehidupan manusia selalu terpaut erat dalam kosmos alam raya. Dengan demikian kehidupan manusia merupakan suatu perjalanan yang penuh dengan pengalaman-pengalaman yang religius.

Alam pikiran orang Jawa merumuskan kehidupan manusia berada dalam dua kosmos ( alam ) yaitu makrokosmos dan mikrokosmos.

Faktor Jawa dalam Politik Indonesia

 

Pembicara dalam diskusi tsb:

 Romo Prof. Dr. Frans Von Magnis Suseno,

Brigjen TNI (Purn) Dr Saafroedin Bahar,

Harry Tjan Silalahi (CSIS).

Institut  Peradaban sangat mengharapkan kedatangan dan partisipasi Anda pada diskusi tersebut.

 Atas nama Institut Peradaban:

 Prof. Dr. Jimly Asshidiqie,SH

Prof Dr. Salim Said,MA MAIA.
Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, dua tokoh utama perjuangan nasional, Sukarno dan Mohammad Hatta, dipilih menduduki kursi kepemimpinan negara. Sukarno sebagai Presiden dan Hatta sebagai wakil. Kepemimpinan Dwitunggal yang berasal dari Jawa (Sukarno) dan Sumatra (Hatta) waktu itu dan untuk waktu lama dipandang oleh banyak orang sebagai sekali gus mewakili Jawa (Sukarno) dan luar Jawa (Hatta).

Keretakan Dwitunggal yang diikuti dengan pengunduran diri  Hatta dari jabatan Wakil Presiden 1956 kebetulan diikuti dengan pemberontakan daerah (PRRi) pada tahun 1958. Waktu itu dan mungkin hingga kini banyak yang menafsirakn perkembangan tragis demikian sebagai salah satu akibat dari sudah tidak diwakilinya suara-suara luar Jawa dalam pusat kekuasaan Republik Indonesia. Pemerintah di Jakarta dianggap memusatkan perhatian dalam membangun pulau Jawa dan menterlantarkan daerah luar Jawa yang merupakan penghasil devisa utama Indonesia.

Setelah Gestapu, Sukarno digantikan oleh Soeharto. Kalau Presiden pertama Indonesia mendapatkan pendidikan tinggi dan mengembangkan pikiran berdasarkan pemikiran dan konsep politik Barat, Soeharto berlatar pendidikan domestik seadanya. Maka tidaklah mengherankan jika referensi Soeharto terbatas dan bersumber hanya pada  ajaran-ajaran etika dan dan politik Jawa yang diperolehnya dalam perjalanan hidupnya selama tumbuh di Jawa Tengah. Maka masa kepemimpinan Soeharto yang otoriter  adalah juga masa ketika secara budaya Indonesia mengalami ”Jawanisasi.” Klau pada masa Sukarno kosa kata  wacana politik Indonesia banyak berasal dari literature Barat yang menjadi acuan Sukarno dan generasinya, maka pada masa Soeharto politik Indonesia dipenuhi dengan jargon-jargon  yang bersumber padai khasanah pemikiran  dan gagasan kekuasaan  Jawa. Fenomona terakhir inilah barangkali yang mendorong Ben Anderson dari Cornell University untuk menulis esei yang berjudul The idea of Power in Javanese Culture.

 

Pada masa pasca Orde Baru, dalam pemilihan Presiden secara langsung, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih sebagai Presiden dengan Mohammad Jusuf Kalla (JK) sebagai wakilnya. Pada masa itu orang teringat pada Dwitunggal Sukarno- Hatta yang masing-masing mewakili dua bagian Indonesia, Jawa dan Luar Jawa. Tapi pada periode kedua kepemimpinan SBY beliau memilih Dr. Budiono sebagai wakilnya. Karena soliditas Indonesia sudah jauh lebih maju dibanding kondisi pertengahan tahun limapuluhan, maka tidak terjadi hal yang dramatis sebagai akibat tampilnya dua orang dari etnis Jawa sebagai pemimpin tertinggi Indonesia.

Menarik untuk diingat bahwa di masa kepresidenan Sukarno tidak pernah ada wacana mengenai Presiden Indonesia berikutnya adalah orang Jawa. Ini berbeda denga masa Soeharto. Pada masa Orde Baru , meski tidak secara terbuka, komunitas politik Indonesia berbicara mengenai Presiden Indonesia berikutnya adalah orang Jawa, seorang Jenderal dan Islam Jawa (Maksudnya Abangan). Adalah JK sebagai Wakil Presiden yang kemudian secara terbuka menyebut Presiden Indonesia haruslah orang Jawa, dan orang luar Jawa hanya akan jadi Wakil Presiden. Dan wacana politik Indonesia sejak itu seperti telah dipatok oleh pernyataan JK tersebut.

Pertanyaan menarik yang timbul dari fenomena ini adalah:

Selain faktor jumlah (etnis Jawa adalah penduduk mayoritas Indonesia) apakah budaya Jawa memang merupakan satu-satunya budaya di antara berbagai budaya lokal Indonesia  yang sempat mengembangkan konsep kekuasaan dan tata pengelolaan pemerintahan  sehingga mereka yang berlatarkan etnis dan budaya Jawa secara konsepsional dan tradisional  memang lebih siap memimpin Indonesia?

Setelah kemerdekaan Indonesia hampir mencapai usia 70 tahun, apakah memang soal pasangan Jawa dan non Jawa sebagai pemimpin Indonesia sudah tidak menjadi soal lagi dan karena itu tidak relevan lagi dibicarakan?

Apakah orang Jawa yang mayoritas sudah siap secara budaya menerima Presiden yang berasal dari etnis  luar Jawa? Jika belum siap, apa kira-kira penyebab ketidaksiapan tersebut?

Selama 32 tahun Indonesia dipimpin oleh Soeharto yang menguasai Indonesia terutama berdasarkan konsep kekuasan Jawa. Pelajaran apa yang kita dapatkan dari pengalaman tersebut? Karkono Kamajaya, seorang Javanolog dari Jakarta, dalam sebuah ceramahnya di Taman Ismail Marzuki lebih 10 tahun silam, mengatakan demokrasi tidak dikenal dalam budaya politik Jawa. Konsekuensinya tidak usah heran kalau Soeharto memimpin Indonesia layaknya seorang Raja Jawa.

Bagaimana orang di luar Jawa melihat konsep kekuasaan Jawa serta pengelolaan politik Indonesia yang sangat dipengaruhi budaya politik dan kekuasaan Jawa tersebut?

05
Sep
12

Kepribadian : Hal-hal Kecil Wanita Yang Disukai Laki-laki dan bahaya Bubble Tea

6 Hal Kecil dari Wanita yang Disukai Laki-laki

Yahoo! SHEOleh Matt Schneiderman | Yahoo! SHE

Anda mungkin akan terkejut dengan hal-hal yang tidak bisa ditolak pria dari wanita, dan beberapa di antaranya adalah yang wanita pikir akan membuat para pria menjauh. Inilah mengapa kebiasaan berikut (dan lain-lain) dapat digunakan untuk menarik pria:

1. Dia menyukai Anda saat Anda makan banyak.
Para pria menyukai wanita yang suka makan — bukan wanita yang mengatakan bahwa mereka tidak lapar tapi kemudian sibuk mencomot makanan sepanjang malam.

Selain sikap yang menunjukkan bahwa Anda tidak terobsesi dengan berat badan Anda, antusiasme semacam itu juga cenderung diterjemahkan ke hal lain — termasuk urusan ranjang. “Seorang wanita dengan nafsu makan yang baik cenderung memiliki nafsu yang sehat pada semua hal, dan kasih sayang merupakan bagian dari itu,” jelas Barton Goldsmith, Ph.D., penulis buku “Emotional Fitness for Couples: 10 Minutes a Day to a Better Relationship”.

2. Sesekali ia menyukai kemarahan Anda.
Anda mungkin khawatir sikap seperti ini tidaklah anggun, namun terkadang umpatan atau berteriak-teriak pada saat yang tak terduga dapat menjadi rangsangan yang kuat. “Mendengar seorang wanita yang mengumpat dapat memberikan seorang pria kejutan adrenalin,” jelas Ian Kerner, Ph.D., penulis  You’re Not That Into Him Either and DSI: Date Scene Investigation. “Pria menyukai wanita yang keras dan tegas, dan selama ia tidak berbicara terlalu jauh, itu adalah hal yang positif.”

3. Ia menyukai bahwa Anda bukanlah orang yang terlalu rapi.
Percaya atau tidak, para pria yang melihat produk rambut, aksesoris dan barang-barang berantakan di meja rias Anda dengan anehnya dapat membuat mereka terpukau. “Aku menyukai jika istriku membuat lebih banyak kekacauan dari yang aku lakukan,” kata Ziad (31) dari Durham, NC.

“Ketika dia memasak, makanan tercecer di mana-mana. Hal itu menunjukkan bahwa ia orang yang riang, dan mengingatkanku untuk menikmati momen daripada mengkhawatirkan konsekuensinya. Pikiran santai itu juga terbawa ke dalam lemari akhir pekan Anda.

“Pria menyukai  seorang wanita yang tidak berusaha terlalu keras,” jelas Dr. Kerner. “Kebanyakan pria berpikir bahwa celana boxer dan kaos tua di rumah Anda adalah pemandangan yang paling menarik.” Jadi jangan menghabiskan berjam-jam hanya untuk memilih pakaian kencan yang sempurna atau berdandan, karena pria menyukai Anda apa adanya — dalam kenyamanan Anda yang sedikit ceroboh.

4. Dia menyukai lemak berlebih Anda.
Tentu, Anda pernah mendengar bahwa pria menyukai wanita yang seksi, tapi bagaimana dengan kelebihan berat badan Anda yang sudah berusaha Anda hilangkan di pusat kebugaran? Ada kesempatan baik bahwa pria Anda menyukai para wanita yang tidak bertubuh seksi.

Tanyalah kepada Nick yang berusia 26 tahun, “Pacarku berolahraga secara teratur, tapi aku rasa lemak yang ada di pahanya adalah sesuatu yang seksi karena hal itu menunjukkan bahwa ia tidak sempurna.” Tentu, bentuk lemak berlebih Anda dapat membuat pria merasa sedikit lebih baik tentang perut buncitnya, namun ada juga alasan biologis mengapa pria seperti itu.

Psikolog di University of Texas mengatakan bahwa pria  paling tertarik dengan wanita yang memiliki lekuk tubuh seperti jam pasir — terlepas dari berat badan mereka. Mereka berteori bahwa pria secara tidak sadar mencari tipe tubuh seperti itu karena itu menandakan bahwa wanita itu mampu melahirkan dengan baik.

5. Dia tertarik pada pengetahuan Anda akan sesuatu yang Anda sukai.
Seorang pria akan terpesona oleh apa pun yang membuat Anda sangat antusias — terlepas dari apakah ia memiliki minat yang sama atau tidak. “Ini bukan tentang kecerdasan seseorang, namun tentang bagaimana Anda antusias terhadap sesuatu,” kata Mira Kirshenbaum, penulis “The Weekend Marriage”.

“Hal tersebut merupakan hal yang penting untuknya, bukan sekadar hal yang dilakukan untuk membuat pria terkesan.” Hal tersebut bisa merupakan antusiasme untuk subjek seperti kebudayaan zaman prasejarah, atau antusiasme Anda untuk belajar bahasa Prancis.

Ia mungkin tidak terlalu mengerti tentang itu dan mungkin tidak ingin berdiskusi tentang hal itu sepanjang malam, tapi ia pasti menghargai bahwa Anda seorang wanita yang cerdas, dan yang berpikir untuk dirinya sendiri dan tidak memaksakan agar minatnya cocok dengan pasangan.

Minat anda Anda juga menjadi pendorong dari apa yang Dr Kerner sebut sebagai proses ekspansi diri. “Semakin Anda memperluas sebagai seorang pribadi,” ia menjelaskan, “semakin luas hubungan yang terbina.”

6. Dia suka usapan lembut di kepala dari Anda.
Jangan salah paham. Pria menyukai saat Anda meraba-raba zona sensitif seksual mereka. Tapi itu bukan satu-satunya jenis sentuhan yang mereka inginkan. Adam (28), dari Roanoke, Virginia, mengaku: “Aku suka ketika istriku mengelus kepalaku di malam hari.” Manis, ya, tetapi itu juga membuat perasaanku sangat baik.

Kulit kepala adalah bagian yang sering diabaikan. Dan sentuhan lembut di mana saja dapat menimbulkan efek yang sama, karena sentuhan tersebut menyebabkan tubuh pria menghasilkan vasopressin, hormon yang memberikan efek santai yang juga menambah rasa sayang. Adakah efek lain yang positif? Memulai segala jenis kontak fisik dapat membuat pasangan Anda merasa bahwa anda menginginkannya seperti halnya dia menginginkan Anda juga — dan bahwa Anda benar-benar peduli padanya.

BACA JUGA:

7 kebiasaan istri yang membuat suami kesal
10 sifat wanita yang menarik di mata pria
8 hal yang dicari pria dari wanita idamannya
4 sikap wanita yang sering merusak hubungan
Tujuh alasan pria putuskan hubungan cinta

Artikel Terpopuler

Ups, Bubble Tea Berbahaya ?

ghiboo.comOleh Innes | ghiboo.com – Kam, 6 Sep 2012 17:03 WIB

Related Content

Ghiboo.com - Jika diperhatikan, blended ice tea atau coffee yang ditambahkan bubble hitam, sedang marak-maraknya dijual di mal atau pusat pembelanjaan.
Sayangnya, penelitian terbaru dari peneliti University Hospital Aachen menunjukkan bahwa bubble atau bola-bola kecil berwarna hitam dalam minuman bubble ice tea bersifat karsinogen (racun).
Para peneliti Jerman mengingatkan pecinta bubble tea bahwa bola-bola hitam yang terbuat dari tepung tapioka ini diduga mengandung polychlorinated biphenyls (PCB), seperti stirena, asetofenon dan zat brominated.
Menurut peneliti sekaligus ilmuwan Manfred Moller, sebenarnya zat-zat berbahaya tersebut tidak boleh dimasukkan kedalam makanan sedikitpun.
PCB yang terdapat dalam makanan terbukti menyebabkan kanker serta menimbulkan berbagai efek kesehatan lainnya yang merugikan pada sistem kekebalan tubuh, sistem reproduksi, sistem saraf dan sistem endokrin, bahkan risiko tersedak pada anak-anak.

Untuk berita terbaru, ikuti Yahoo! Indonesia di Twitter dan Facebook

Artikel Pilihan Redaksi

  • 4 Kebiasaan Anti Hipertensistory
    4 Kebiasaan Anti Hipertensi
  • Waspadai Pria Seperti Ini!story
    Waspadai Pria Seperti Ini!
  • -story
    Tetap Sehat Meski Begadang
  • We don't need an alarm clock...story
    Lima Cara Mengatur Waktu Anda
  • piggy bankstory
    5 Hal Tentang Uang yang Tidak Perlu Diketahui Anak
  • Tas Sampah dari Louis Vuittonstory
    Tas Sampah dari Louis Vuitton
05
Sep
12

Kenegarawanan : Keteladanan dari Istana dan Dukun Politik

http://jakarta45.files.wordpress.com/2011/12/jakarta-452.png?w=637&h=609&h=609

Keteladanan dari Istana
Selasa, 04 September 2012 00:00 WIB
MENTERIyang berasal dari partai politik menjadi duri bagi pemerintah. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat kementerian yang dipimpin menteri dari parpol berpotensi besar menyelewengkan kekuasaan yang berujung pada penyimpangan keuangan negara.Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas memberi peringatan keras kepada para menteri asal parpol. KPK tentu tidak sembarang bicara. Hari-hari ini sejumlah pejabat dari kementerian yang dipimpin partai politik berurusan dengan KPK. Ada Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Agama, serta Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.Potensi penyelewengan di kementerian yang dipimpin parpol terjadi karena para menteri tidak bisa melepaskan diri dari kepentingan politik.Ada wilayah abu-abu yang menjadi arena bermain antara kepentingan politik dan kepentingan kementerian sebagai institusi negara.

Berulang kali melalui forum ini kita ingatkan agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menindak tegas para menteri dari partai politik yang lebih banyak mengerjakan agenda partai daripada agenda pemerintah. Presiden tidak boleh hanya mengeluh mengenai kinerja para pembantunya, tetapi harus mempunyai keberanian menindak mereka. Presiden akan menuai akibat jika pemerintahan berlangsung tidak efektif karena ulah para menteri dari partai politik.

Sudah kerap kali Presiden memberikan teguran keras kepada menteri dari parpol. Dalam rapat kabinet paripurna pada pertengahan Juli (19/7), lagi-lagi Presiden Yudhoyono mengingatkan menteri dari parpol jika tidak bisa membagi waktu dan harus menyukseskan tugas politik sebagai pemimpin partai, sebaiknya mengundurkan diri secara baik-baik.

Namun, tidak ada satu pun menteri dari parpol yang mundur. Mereka seolah memberi isyarat mampu memisahkan kepentingan parpol dan kementerian.

Mengharapkan menteri dari parpol mengakui kelemahan kemudian mundur secara sukarela merupakan harapan yang sia-sia. Justru Presiden yang harus mempunyai pilihan, mengefektifkan pemerintahan atau sekadar memuaskan nafsu berkuasa koalisi.

Dalam setiap sisi kehidupan bernegara dibutuhkan keteladanan. Keteladanan istana itulah yang ditunggu KPK. KPK meminta Presiden Yudhoyono memberi contoh dengan mengundurkan diri dari jabatan di Partai Demokrat. Dengan demikian, Presiden leluasa menindak tegas para menteri yang masih merangkap jabatan di partai politik.

Dalam sistem presidensial seharusnya Presiden dan menteri melepaskan segala atribut kepartaian. Alasannya Presiden tidak hanya sebagai kepala pemerintahan, tetapi juga kepala negara. Sebagai kepala negara, Presiden tidak boleh disekat dalam kamar-kamar parpol karena tindakannya bisa dianggap hanya menguntungkan parpol tertentu.

Demikian juga para menteri. Dalam sistem presidensial semestinya para menteri terdiri dari para teknokrat. Mereka para ahli yang hanya mengabdi kepada kepentingan khalayak, bukan mengemas program partai menjadi seolah-olah kepentingan rakyat.

Dukun Politik dan Pilkada

Matdon* | Selasa, 04 September 2012 – 15:11:52 WIB

:

(dok/ist)
Pilkada sudah marak diwarnai dengan politik uang.

Paranormal atau praktik supranatural, atau perdukunan, adalah istilah yang sulit dijelaskan secara ilmiah dan rasional, walaupun kemudian ada yang membedakan antara paranormal, supranatural, dan dukun.

Namun definisi itu tidak penting lagi, karena yang lebih penting tapi sering terabaikan dalam dunia politik adalah hadirnya banyak dukun yang memghampiri dan “ikut campur” memengaruhi kebijakan roda politik di negeri ini.

Sejumlah provinsi di Tanah Air sedang dan akan menggelar pemilihan kepala daerah (pilkada). Spanduk-spanduk dan baliho kampanye para bakal calon (balon) sudah berserakan di sudut-sudut kota.

Tentulah dukun-dukun profesional sudah mulai ramai dikunjungi. Nasihat dan jampi-jampi para dukun ini akan menjadi awal karier politik mereka. Mudah-mudahan para calon gubernur tidak mendatangi dukun, sebab jika ini terjadi, berarti mereka telah berupaya menodai demokrasi dan merusak nilai-nilai agama yang akan berpengaruh buruk kepada kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bayangkan, jika nanti seorang gubernur adalah hasil dari penerawangan dukun (meski secara kasat mata tetap melalui pencoblosan pilkada), bayangkan pemimpin warga Jabar dipimpin oleh orang yang percaya pada kekuatan “gaib” dukun.

Sungguh pemimpin yang tidak percaya diri, kemusyrikan politik semacam ini akan menjadi ancaman serius bagi upaya pembersihan akidah umat. Padahal percaya pada partai politik sudah mampu merusak akidah seseorang, apalagi percaya pada dukun.

Saya teringat kisah nyata seorang calon bupati di Provinsi Jawa Barat yang mendatangi dukun, meminta nasihat, dan “pandangan” masa depan soal kepemimpinan dirinya.

Dengan yakin si dukun memberi petuah bahwa dia akan menjadi bupati jika berpasangan dengan si A dari partai anu. Menurut sang dukun, orang itu akan datang tepat ketika calon bupati pulang dari rumah dukun.

Ketika pulang dan sampai di rumah, ternyata yang dikatakan sang dukun benar, orang itu sudah berada di rumahnya.

Dengan dialog seadanya serta “keyakinan politis” orang itu menjadikan si A wakil bupati. Hingga kini konon mereka menjadi bupati dan wakilnya. Saya tidak tahu apakah dalam perjalanan kepemimpinan mereka benar-benar mulus sesuai keinginan warganya atau tidak.

Ini sebuah fakta bahwa menggunakan jasa dukun untuk memuluskan pemilihan kepala daerah saat ini sudah bukan rahasia lagi. Paling tidak hal ini juga disampaikan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar. “Praktik mistik dan dukun laris di pilkada,” Umar mengatakan hal itu pada Januari 2012.

Dukun Politik

Sebenarnya ada dukun lain yang memengaruhi politik di negeri ini, yakni dukun politik. Dukun politik ada tiga jenis. Pertama, dukun politik berjenis pengamat politik. Kedua, dukun politik jenis hasil survei. Ketiga, dukun politik jenis kiai/ulama/tokoh masyarakat.

Lihatlah para pengamat politik di tv-tv atau koran. Sama halnya dengan pengamat sepak bola, mereka begitu hebat mengumbar opini. Pengamatan para pengamat politik ini luar biasa. Mereka bisa mengatakan “Jika si A berpasangan dengan si B maka kejadiannya akan seperti ini, nah jika si X jadi dengan si Y maka akan menjadi begitu”.

Keyakinan itu terus meluncur, orasi politik yang memakai logika dan seabrek teori dikeluarkan. Pendapat dan pengamatan mereka inilah kemudian yang akan menjadi “dukun” bagi calon pemimpin yang merasa diuntungkan. Pengamatan politik mereka dipercayai sebagai sebuah doa dan dukungan yang akan memuluskan salah satu calon. Inilah kemusyrikan politik itu.

Lalu dukun politik jenis survei. Hasil sebuah survei yang dilakukan oleh lembaga tertentu (entah survei bayaran calon atau bukan) menjadi instrumen efektif untuk melihat opini publik. Sebuah riset survei pilkada biasanya digunakan sebagai alat oleh calon pemimpin dalam memahami dukungan terhadap dirinya, dan tentu saja untuk mendengus isu-isu aktual dari lawan politiknya.

Hasil survei selalu akan menjadi bahan perumusan strategi pemenangan yang efektif dan efisien bagi calon wali kota, gubernur, bahkan presiden. Dukun politik jenis survei ini menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir, terutama saat memasuki pilkada. Para calon pemimpin akan “menyembah” hasil survei dan bahkan menjadikannya “Tuhan” ketika terbukti ia menang.

Ketiga, dukun politik jenis kiai/ulama/tokoh masyarakat. Ini sudah dilakukan sejak zaman Orde Baru (Orba), karena disadari atau tidak keberhasilan seseorang atau partai politik harus memiliki dukungan massa yang banyak, dan itu berada pada tokoh berbasis massa di pondok pesantren.

Kiai sebagai tokoh masyarakat sering kali menjadi lahan sasaran empuk para politikus dalam membangun basis dukungan politik karena dianggap memiliki kemampuan luar biasa dalam menggerakkan masyarakat.

Sejak Orba, suara kiai dan santri menjadi rebutan dalam pemilu dan masih berlangsung hingga hari ini, bahkan tidak jarang partai politik menjadikan kiai dan tokoh masyarakat pada jajaran pengurus partai, untuk kemudian akhirnya ada juga kiai yang menjadi ketua partai politik.

Dengan memakai jasa kiai untuk ceramah dan memberi fatwa di depan jemaahnya yang diselipi ayat-ayat suci dan hadis, tentu ini merupakan bekal moral yang tak ternilai harganya bagi calon gubernur. Fatwa seorang kiai diyakini akan mampu mengiring umat ke bilik suara dan memilih nama yang disebut-sebut oleh kiai sebagai orang yang amanah.

Masih ingat pada musim kampanye pemilu 1977, Kiai Bisyri Syamsuri, seorang kiai sekaligus ketua Majelis Pertimbangan Partai PPP memberi fatwa bahwa setiap muslim diharuskan memilih PPP. Saya yakin masih banyak contoh peristiwa yang sudah dan akan terjadi.

Fenomena inilah yang membuat kiai dan pesantren serta komunitas/organisasi keagamaan terus diyakini para politikus dan calon pemimpin, dan seolah-olah dukun politik selalu segar dan mampu memberikan celah bagi kesuksesan politik. Akhirnya dalam dunia politik, semua menjadi sah. Wallahu a’lam bissawab.

*Penulis adalah budayawan, tinggal di Bandung.

05
Sep
12

IndoGreenWay : Tanaman Hias Pengusir Nyamuk

Tanaman Hias Pengusir Nyamuk

Oleh famega | Rumah – Sel, 4 Sep 2012

RumahCom — Di musim kemarau yang berkepanjangan seperti saat ini, rumah makin rentan serbuan nyamuk. Selain mengganggu tidur, nyamuk juga membawa aneka penyakit, seperti demam berdarah, chikungunya, dan malaria.
Akan tetapi, mengusir nyamuk dengan obat anti-nyamuk berbahan kimia sangat riskan, terutama bagi mereka yang memiliki anak kecil di rumah. Untuk itu, Anda dapat menggunakan beberapa tanaman yang memiliki kemampuan mengusir nyamuk. Selain aman bagi kesehatan dan lingkungan, ternyata tumbuhan ini juga indah dijadikan penghias ruangan.

Lavender
Tanaman asal Pegunungan Alpen, Swiss, ini memang sudah dikenal sebagai bahan baku lotion anti-nyamuk. Tanaman berbunga ungu ini tidak disukai nyamuk karena mengandung zat linalool dan lynalyl acetate. Untuk menghindari gigitan nyamuk, cukup gosokkan bunga lavender ke tubuh.

Tak hanya sebagai pengusir nyamuk, kandungan minyak atsiri dalam lavender juga sering digunakan untuk terapi aroma. Lavender dapat ditanam di dalam pot. Jika perlu, masukkan pot berisi lavender ke dalam kamar agar nyamuk enggan datang.

Zodia
Tanaman asli Papua ini termasuk famili Rutaceae, yang mengandung zat evodiamine dan rutaecarpine yang berfungsi sebagai penghalau nyamuk yang mampu bertahan selama 6 jam. Masyarakat Papua biasa menggosokkan daun ini pada tubuh sebelum masuk hutan untuk menghindari serangga.

Untuk menghindari serbuan nyamuk ke dalam rumah, letakkan zodia di titik akses masuknya angin ke dalam ruangan — bisa juga diletakkan dekat kipas angin. Embusan angin akan membuat aroma zodia tersebar ke seluruh ruangan dan mengusir nyamuk. Tetapi hindari meletakkan zodia di ruangan sempit dengan sirkulasi udara terbatas, karena aroma zodia bisa membuat pening.
Geranium (Pelargonium Hortorum)
Geranium alias Tapak Dara atau pelargonium, mengandung geraniol dan sitronelol yang dapat mengusir nyamuk. Tanam geranium di dalam pot dan letakkan di tempat yang terkena embusan angin. Saat daun-daun Geranium bergesekan, aromanya akan tercium dan membuat nyamuk pergi.

Sebuah penelitian menunjukkan, ekstrak geranium radula mampu menolak nyamuk aedes aegypti. Hanya dengan mengoleskan ekstrak tumbuhan ini pada bagian tubuh, nyamuk penyebab demam berdarah tersebut kabur. Hebatnya, ekstrak geranium juga tidak menimbulkan iritasi kulit.
Rosemary
Rosemary menghasilkan bau seperti aroma minyak telon yang tidak disukai nyamuk. Tamanan ini tumbuh baik di bawah sinar matahari, tetapi saat diperlukan Rosemary bisa letakkan di dekat jendela. Untuk pemanfaatannya, gosokkan daunnya yang berbentuk jarum pada kulit.

Serai
Mungkin tak banyak yang tahu jika tanaman yang sering digunakan sebagai bumbu masak ini mampu membunuh nyamuk, karena mengandung zat geraniol dan sitronelal. Lantaran kandungannya tersebut, tumbuhan yang masuk jenis rumput-rumputan ini mulai digunakan sebagai bahan lotion anti-nyamuk.
Citrosa Mosquito
Tumbuhan asal Negeri Kincir Angin ini memiliki aroma seperti lemon yang pekat sehingga tidak disukai serangga. Citrosa Mosquito sangat menyukai sinar matahari dan tidak memerlukan perawatan khusus. Tetapi tanaman ini sulit ditemukan di pasar.

Marigold (Bunga Tai Kotok)
Tumbuhan dengan bunga semarak: kuning, merah, dan jingga ini banyak ditemukan di Indonesia dan lebih dikenal dengan nama bunga tai kotok. Marigold memiliki dua jenis, yakni tagetes erecta dan tagetes patula.

Baunya yang tidak enak ternyata bisa mengusir nyamuk. Dengan bunga yang indah, tak ada salahnya jika marigold dipajang di salah satu sudut ruangan rumah.

Akar Wangi

Akar wangi dapat mengeluarkan aroma menyengat yang tidak disukai dan mampu membunuh nyamuk aedes aegypti. Ekstrak akar wangi teruji dapat mengendalikan nyamuk aedes aegypti dan anopheles aconitus. Untuk mengusir nyamuk dari rumah, tanam tumbuhan ini di pekarangan rumah dan rasakan faedahnya.

Anto Erawan

47 Resep IndoGreenWay

www.hdindonesia.com/gabung.asp?id=indogreenway


REFERENSI DARI KITAB-KITAB SUCI

TENTANG PRODUK PERLEBAHAN

AL-QUR’AN

Q.S An-Nahl ayat 68-69

(68) Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah “Buatlah sarang2 di bukit2, di pohon2 kayu, dan di tempat yang dibikin manusia”

(69) Kemudian makanlah dari tiap2 (macam) buah2an dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (MADU) yang ber-macam2 warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar2 terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang2 yang memikirkannya.

TRI PITAKA

Dalam ajaran agama Buddha ada 5 jenis obat yang bisa dikonsumsi oleh para bhikkhu setelah makan siang, salah satunya adalah MADU.

VINAYA PITAKA, Mahavagga VI.208 15-10

Beberapa jenis obat yang dipakai oleh bhikku yang sakit adalah…MADU

Dalam Artharvaveda XII.3.44

MADU dicampur dengan mentega yang dijernihkan (disajikan kepada tamu menyehatkan)

Dalam Artharvaveda II.3.1

Minumlah ghee (mentega yang dimurnikan), MADU dan susu baik untuk kesehatan.

ALKITAB

Dalam Amsal 16 : 24

Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang MADU, manis bagi hati dan obat bagi tulang2.

Dalam Amsal 24 : 13

Anakku, makanlah MADU, sebab itu baik dan tetesan MADU manis untuk langit2 mulutmu.

AYURVEDA

Ayurveda atau “ilmu tentang kehidupan” yang berakar dari budaya India yang menggabungkan konsep alami dan herbal untuk penyembuhan penyakit dan telah dipraktekkan 4000 tahun Sebelum Masehi.

Ayurveda mempunyai bagian penting yaitu Rasayana yang secara sederhana berarti sesuatu yang mengembalikan orang ke keadaan muda secara fisik dan mental.

Di berbagai ramuan Rasayana yang 100% terdiri dari bahan alami, MADU merupakan komponen yang penting. Disebutkan bahwa Rasayana disiapkan dengan MADU dan ghee (mentega yang dimurnikan) karena potensi dan preservasi herbal secara permanen terikat pada MADU dan ghee.

http://citizennews.suaramerdeka.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1528

Meniru Lebah

Ditulis Oleh Aminuddin bin Halimi
22-01-2012,
Terkadang orang beragama Islam tetapi tidak tahu apa itu Islam. Dan tidak pernah menanyakan dirinya “Aku ini Islam kebetulan (beneran) atau sungguh-sungguh”. Lalu, Islam yang sungguh-sungguh itu seperti apa? Apa hanya menjalani hidup ini seperti apa adanya, bak air mengalir? Padahal ia diberi kebebasan memilih dan diberi akal lagi, yang maha dahsyat.Jika ia mau berpikir lebih jauh, ia tidak mau kalah kedudukannya dari binatang, apalagi lebih rendah posisinya dari hewan yang tidak berakal. Sungguh amat tidak pantas. Padahal ada binatang yang baik yang dapat dijadikan contoh oleh manusia, yaitu lebah. Lebah, karena kebaikannya, diabadikan di dalam Alqur’an sebagai salah satu nama surat, yaitu surat “An-Nahl”.

Lebah tidak mau makan kecuali memakan makanan yang baik-baik, yaitu sari-sari bunga yang harum dari tumbuh-tumbuhan yang berserakan di muka bumi. Orang-orang yang ingin selamat, sehat, bahagia dan berumur panjang, dalam hal ini umat Islam, tentu tidak mau mengkonsumsi kecuali makanan yang halal, bergizi dan baik.

Persoalan makanan yang amat vital bagi kesehatan tubuh, sudah tidak menjadi perhatian bagi berbagai kalangan.  Kalangan anak-anak lebih menyukai makanan instan, mie instan, pop mie, chikky, makanan ringan produk pabrik yang dikemas indah-indah dan menarik. Sementara tidak menyukai sayuran dan buah-buahan.

Kalangan pemuda dan remaja lebih menyukai makanan produk luar, agar kelihatan keren, di KFC, CFC, Donking Donut, Make Donald, atau mie ayam, bakso yang mangkal di pinggir-pinggir jalan yang kebersihannya belum tentu terjamin. Demikian pula aspek halal dan haram masih perlu diteliti. Ada isu bahwa bakso dicampur dengan formalin, atau daging babi, atau daging tikus.

Di kalangan orang-orang tua yang sudah mulai rentan dengan berbagai penyakit, semestinya mereka harus lebih berhati-hati, tetapi tidak jarang mereka memilih makanan yang enak-enak, kepiting, swike, seafoods, sate kambing, merokok, minum kopi, minum minuman keras, yang jelas-jelas membahayakan kesehatan mereka.

Lebah beterbangan menjelajahi alam tumbuh-tunbuhan dan hutan belantara dengan ketajaman mata, telinga dan hidung. Ia memilih singgah di tempat-indah dan harum bersama kupu-kupu dan kumbang. Dengan kebebasannya, seharusnya orang Islam memilih tempat tinggal yang baik, lingkungan orang-orang baik, lingkungan bersih, indah dan harum. Mencari rizki di tempat-tempat yang baik, melalui etika yang baik, bukan di lokasi yang remang-remang, kotor, apalagi gelap. Belajar dan mendidik anaknya juga di sekolah-sekolah yang Islami dan favorit. Berolahraga di tempat-tempat yang bersih dari maksiat.

Demikian pula berlibur dan bergaul, selektif mencari tempat wisata yang steril dari kemaksiatan. Tidak boleh keliru dalam memilih teman atau kawan, apalagi teman hidup (jodoh) untuk sepanjang hayat. Sebab tidak sedikit orang kaya jatuh miskin dan orang mulia jatuh hina karena bergaul dengan orang-orang buruk, orang-orang jahat yang senantiasa mencari mangsa.

Ketika lebah singgah di cabang atau ranting pohon, ia tidak sampai sempal atau putus cabang dan ranting pohon itu. Orang Islam, ketika mengunjungi suatu tempat yang gersang atau yang ramai, ia tidak  membuat onar  dan resah tempat yang dikunjunginya. Justru sebaliknya memberi kesejukan, kenyamanan dan kemanfaatan kepada sebesar-besar umat sesuai missi Islam “Rahmatan lil Alamin”.

Lebah melalui madu yang dihasilkannya, menyimpan makanan untuk persiapan hari esok bagi kawan-kawan atau komunitas lebah, di samping untuk pengobatan makhluk lain bernama manusia. Orang Islam kalau tidak mau kalah dengan lebah harus beramal jariyah untuk kemanfaatan generasi yang lebih luas. Misalnya : menanam pohon jati untuk keturunan yang akan datang, menanam investasi untuk kegiatan-kegiatan ibadah atau jihad di jalan Allah, menyediakan lahan luas untuk pembangunan pondok pesantren, pendidikan bermutu, dll. Artinya, umat Islam itu harus visioner, memiliki visi ke depan yang jelas dan panjang, untuk kemajuan bangsa dan umat manusia di masa yang akan datang.

Alquran menyatakan bahwa lebah beterbangan menjelajahi flora dan fauna dengan penuh kerendahan. Meskipun lebah mempunyai senjata ampuh berupa sengatan yang luar biasa. Lebah tidak lantas semena-mena menyengat semua makhluk yang dijumpainya. Ia tidak sombong, tidak dumeh. Tidak seperti manusia, pandai silat sedikit, sudah suka mengajak bertarung dan bertengkar, membuat geng-geng, lalu tawuran. Alangkah indah dan nikmatnya hidup ini, manakala manusia dengan sesama manusia berkawan, bergaul, bekerja sama, saling membantu dengan penuh kerendahan, saling menghargai dan saling menghormati.

Komunitas lebah sebagai sebuah organisasi besar amat mengagumkan dan sangat menakjubkan, belum pernah mendengar lebah bertengkar dengan lebah. Lebah mengadakan demontrasi menuntuk hak sama tentang madu. Pembagian tugas yang begitu rapi, tidak pernah dilanggar atau berebutan. Ada yang bertugas menjadi tentara, sebagai benteng pengamanan. Ada yang bertugas mencari makanan, ada yang bertugas membuat rumah dan ada yang bertugas melanjutkan keturunan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ternyata lebah lebih cerdik daripada manusia.

www.hdindonesia.com/gabung.asp?id=indogreenway


Opini 19 Pakar HD

Persembahan Bagi Kesehatan Masyarakat

Profil 19 Produk IndoGreenWay

Subhanallah, Inilah Mukjizat Lebah Madu

Jumat, 08 Juni 2012, 10:58 WIB
.
Subhanallah, Inilah Mukjizat Lebah Madu
Lebah madu

REPUBLIKA.CO.ID, ”Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.” (QS. An-Nahl, 16:68)

Tahukah Anda lebah madu membuat tempat penyimpanan madu dengan bentuk heksagonal? Menurut Harun Yahya, heksagonal merupakan sebuah bentuk penyimpanan yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk geometris lain.

Lebah, kata dia, menggunakan bentuk yang memungkinkan mereka menyimpan madu dalam jumlah maksimal dengan menggunakan material yang paling sedikit.

”Para ahli matematika merasa kagum ketika mengetahui perhitungan lebah yang sangat cermat,” ujar cendekiawan Muslim bernama asli Adnan Oktar ini.

Aspek lain yang mengagumkan adalah cara komunikasi antar-lebah yang sulit untuk dipercaya. Setelah menemukan sumber makanan, lebah pemadu yang bertugas mencari bunga untuk pembuatan madu terbang lurus ke sarangnya.

Menurut Harun, lebah pemadu memberitahu lebah-lebah yang lain arah sudut dan jarak sumber makanan dari sarang dengan sebuah tarian khusus.

Setelah memperhatikan dengan seksama isyarat gerak dalam tarian tersebut, akhirnya lebah-lebah yang lainnya mengetahui posisi sumber makanan tersebut dan mampu menemukannya tanpa kesulitan.

Lebah menggunakan cara yang sangat menarik ketika membangun sarang. Mereka memulai membangun sel-sel tempat penyimpanan madu dari sudut-sudut yang berbeda, seterusnya hingga pada akhirnya mereka bertemu di tengah.

Setelah pekerjaan usai, tidak nampak adanya ketidakserasian ataupun tambal sulam pada sel-sel tersebut. Manusia tak mampu membuat perancangan yang sempurna ini tanpa perhitungan geometris yang rumit; akan tetapi lebah melakukannya dengan sangat mudah.

Fenomena ini membuktikan bahwa lebah diberi petunjuk melalui “ilham” dari Allah swt sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 68 di atas.

Sejak jutaan tahun yang lalu lebah telah menghasilkan madu sepuluh kali lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Satu-satunya alasan mengapa binatang yang melakukan segala perhitungan secara terinci ini memproduksi madu secara berlebihan adalah agar manusia dapat memperoleh manfaat dari madu yang mengandung “obat bagi manusia” tersebut.

Allah menyatakan tugas lebah ini dalam Alquran:

‘Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl, 16: 69)

Tahukah Anda tentang manfaat madu sebagai salah satu sumber makanan yang Allah sediakan untuk manusia melalui serangga yang mungil ini?

Madu tersusun atas beberapa molekul gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, potasium, sodium, klorin, sulfur, besi dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas madu bunga dan serbuk sari yang dikonsumsi lebah.

Di samping itu di dalam madu terdapat pula tembaga, yodium dan seng dalam jumlah yang kecil, juga beberapa jenis hormon.

Sebagaimana firman Allah, madu adalah “obat yang menyembuhkan bagi manusia”. Fakta ilmiah ini telah dibenarkan oleh para ilmuwan yang bertemu pada Konferensi Apikultur Sedunia (World Apiculture Conference) yang diselenggarakan pada tanggal 20-26 September 1993 di Cina. Dalam konferensi tersebut didiskusikan pengobatan dengan menggunakan ramuan yang berasal dari madu.

Para ilmuwan Amerika mengatakan bahwa madu, royal jelly, serbuk sari dan propolis (getah lebah) dapat mengobati berbagai penyakit. Seorang dokter asal Rumania mengatakan bahwa ia mencoba menggunakan madu untuk mengobati pasien katarak, dan 2002 dari 2094 pasiennya sembuh sama sekali.

Para dokter asal Polandia juga mengatakan dalam konferensi tersebut bahwa getah lebah (bee resin) dapat membantu menyembuhkan banyak penyakit seperti bawasir, penyakit kulit, penyakit ginekologis dan berbagai penyakit lainnya.

Redaktur: Heri Ruslan
Sumber: harunyahya.com

Alamat Kontak : 0817 983 4545

Odol Minyak Kelapa, Kenapa Tidak?

Albertina S.C. | Senin, 03 September 2012 – 17:18:52 WIB


(Dok/telegraph.co.uk)Minyak kelapa mampu melawan kerusakan gigi dan berpeluang menjadi pasta gigi dan obat kumur.

JAKARTA – Lupakan odol mint, sebentar lagi Anda dapat merawat gigi dengan pasta dan obat kumur berbahan dasar minyak kelapa.

Para ilmuwan menemukan bahwa minyak kelapa yang dicampur dengan enzim pencernaan ampuh membunuh kuman-kuman perkasa di mulut. Modifikasi minyak kelapa dan enzim pencernaan ini antara lain menyerang Streptococcus mutan, mikroba penghasil asam yang menjadi penyebab utama kerusakan gigi, seperti dilaporkan Telegraph, Senin (3/9).

Peneliti menindaklanjuti studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa sebagian susu yang dibuat dengan S. mutan lebih kecil kemungkinannya menempel di email gigi.

Para ilumwan akan menggelar studi lanjutan untuk melihat bagaimana minyak kelapa berinteraksi dengan bakteri pada tingkat molekuler. Juga mengkaji mikroba dan jamur jenis apa lagi yang mungkin bisa dibasmi oleh minyak kelapa.

Dalam presentasi pada pertemuan musim gugur Society for General Microbiology di Universitas Warwick, peneliti mengatakan, tes sudah menunjukkan bahwa enzim yang diberi minyak kelapa berbahaya bagi jamur Candida albicans, penyebab sariawan.

Dr. Damien Brady, peneliti utama dari Institute of Technology di Athlone Republik Irlandia, mengatakan: “Karies gigi merupakan masalah kesehatan terabaikan yang mempengaruhi 60% sampai 90% anak-anak dan sebagian besar orang dewasa di negara-negara industri.”

Dan, lanjut Brady, memasukkan enzim yang dimodifikasi minyak kelapa bakal menjadi produk kesehatan gigi alternatif yang menarik untuk bahan kimia tambahan, terutama karena bekerja pada konsentrasi yang relatif rendah juga. “Dengan meningkatnya resistensi antibiotik, adalah penting bagi kita mengalihkan perhatian kita pada cara-cara baru untuk memerangi mikroba infeksi.”

Dia menambahkan: “Data kami menunjukkan bahwa produk-produk dari proses pencernaan manusia menunjukkan aktivitas antimikroba. Ini dapat berimplikasi tentang bagaimana bakteri menjajah sel yang melapisi saluran pencernaan dan untuk kesehatan usus secara keseluruhan.”

(Telegraph)

05
Sep
12

IndoHeritage : Seni Budaya Jawa

Seni Budaya Jawa

Kebudayaan Jawa merupakan salah satu sosok kebudayaan yang tua. Kebudayaan Jawa mengakar di Jawa Tengah bermula dari kebudayaan nenek moyang yang bermukim di tepian Sungai Bengawan Solo pada ribuan tahun sebelum Masehi. Fosil manusia Jawa purba yang kini menghuni Museum Sangiran di Kabupaten Sragen, merupakan saksi sejarah, betapa tuanya bumi Jawa Tengah sebagai kawasan pemukiman yang dengan sendirinya merupakan suatu kawasan budaya. Dari kebudayaan purba itulah kemudian tumbuh dan berkembang sosok kebudayaan Jawa klasik yang hingga kini terus bergerak menuju kebudayaan Indonesia.

Kata klasik ini berasal dari kata Clacius, yaitu nama orang yang telah berhasil menciptakan karya sastra yang mempunyai “nilai tinggi”. Maka karya sastra yang tinggi nilainya hasil karya Clacius itu dinamakan “Clacici”. Padahal Clacici adalah golongan ningrat/bangsawan, sedangkan Clacius termasuk golongan ningrat, oleh karena itu hasil karya seni yang mempunyai nilai tinggi disebut “seni klasik”.

Bengawan Solo bukan hanya terkenal dengan lagu ciptaan Gesang akan tetapi lebih daripada itu lembahnya terkenal sebagai tempat dimana banyak sekali diketemukan fosil dan peninggalan awal sejarah kehidupan di atas bumi ini.

Pada tahun 1891 Eugene Dubois menemukan sisa-sisa manusia purba yang diberi nama “Phitecanthropus Erectus” di daerah Trinil, Ngawi Karesidenan Madiun. Ternyata fosil-fosil itu lebih purba (tua) dan lebih primitif daripada fosil-fosil Neanderthal yang ditemukan di Eropa sebelumnya. Penggalian-penggalian diteruskan hingga pada sekitar tahun 1930-1931 ditemukan lagi fosil manusia di Ngandong dan di Kedung brubus daerah Sangiran. Fosil ini lebih tua dari yang ditemukan di Jerman maupun di Peking.

Berbeda dengan penemuan di bagian dunia lain, penemuan fosil-fosil pulau Jawa didapat pada semua lapisan Pleistoceen dan tidak hanya pada satu lapisan saja. Hingga nampak jelas perkembangan manusia sejak dari bentuk `keorangan’nya yang mula-mula (homonide), sedang dari bagian lain di dunia penemuan-penemuan itu tidak memberi gambaran yang sedemikian lengkap. Manusia purba itu diperkirakan hidup dalam kelompok-kelompok kecil bahkan mungkin dalam keluarga-keluarga yang terdiri dari enam shingga duabelas individu. Mereka hidup berburu binatang di sepanjang lembah-lembah sungai. Cara hidup seperti ini agaknya tetap berlangsung selama satu juta tahun.

Kemudian diketemukan sisa-sisa artefak yang terdiri dari alat-alat kapak batu di sebuah situs di dekat desa Pacitan, dalam lapisan bumi yang berdasarkan data geologi diperkirakan berumur 800.00 tahun dan diasosiasikan dengan fosil Pithecanthropus yang telah berevolusi lebih jauh. Dengan demikian diperkirakan bahwa sejak paling sedikit 800.000 tahun yang lalu para pemburu di pulau Jawa sudah memiliki suatu kebudayaan.

Manusia dan kebudayaan merupakan suatu kesatuan yang erat sekali. Kedua-duanya tidak mungkin dipisahkan. Ada manusia ada kebudayaan, tidak akan ada kebudayaan jika tidak ada pendukungnya, yaitu manusia. Akan tetapi manusia itu hidupnya tidak berapa lama, ia lalu mati. Maka untuk melangsungkan kebudayaan, pendukungnya harus lebih dari satu orang, bahkan harus lebih dari satu turunan. Jadi harus diteruskan kepada anak cucu keturunan selanjutnya.

Kebudayaan Jawa klasik yang keagungannya diakui oleh dunia internasional dapat dilihat pada sejumlah warisan sejarah yang berupa candi, stupa, bahasa, sastra, kesenian dan adat istiadat. Candi Borobudur di dekat Magelang, candi Mendut, candi Pawon, Candi Prambanan di dekat Klaten, candi Dieng, candi Gedongsongo dan candi Sukuh merupakan warisan kebudayaan masa silam yang tak ternilai harganya. Teks-teks sastra yang terpahat di batu-batu prasasti, tergores di daun lontar dan tertulis di kitab-kitab merupakan khasanah sastra Jawa klasik yang hingga kini tidak habis-habisnya dikaji para ilmuwan.

Ada pula warisan kebudayaan yang bermutu tinggi dalam wujud seni tari, seni musik, seni rupa, seni pedalangan,seni bangunan (arsitektur), seni busana, adat istiadat, dsbnya.

Masyarakat Jawa Tengah sebagai ahli waris kebudayaan Jawa klasik bukanlah masyarakat yang homogen atau sewarna, melainkan sebuah masyarakat besar yang mekar dalam keanekaragaman budaya. Hal itu tercermin pada tumbuhnya wilayah-wilayah budaya yang pada pokoknya terdiri atas wilayah budaya Negarigung, wilayah budaya Banyumasan dan wilayah budaya Pesisiran.

Wilayah budaya Negarigung yang mencakup daerah Surakarta – Yogyakarta dan sekitarnya merupakan wilayah budaya yang bergayutan dengan tradisikraton(Surakarta dan Yogyakarta). Wilayah budaya Banyumasan menjangkau daerah Banyumas, Kedu dan Bagelen.

Sedangkan wilayah budaya pesisiran meliputi daerah Pantai Utara Jawa Tengah yang memanjang dari Timur ke Barat.
Keragaman budaya tersebut merupakan kondisi dasar yang menguntungkan bagi mekarnya kreatifitas cipta, ras dan karsa yang terwujud pada sikap budaya.

Di daerah Jawa Tengah segala macam bidang seni tumbuh dan berkembang dengan baik, dan hal ini dapat kita saksikan pada peninggalan-peninggalan yang ada sekarang.

Provinsi Jawa Tengah yang merupakan satu dari sepuluh DTW (Daerah Tujuan Wisata) di Indonesia dapat dengan mudah dijangkau dari segala penjuru, baik darat, laut maupun udara. Provinsi ini telah melewati sejarah yang panjang, dari jaman purba hingga sekarang.

Dalam usaha memperkenalkan daerah Jawa Tengah yang kaya budaya dan potensi alamnya, Provinsi Jawa Tengah sebagaimana provinsi-provinsi lain di Indonesia, mempunyai anjungan daerah di Taman Mini “Indonesia Indah” yang juga disebut “Anjungan Jawa Tengah”. Anjungan Jawa Tengah Taman Mini “Indonesia Indah” merupakan “show window” dari daerah Jawa Tengah.

Anjungan Jawa Tengah di Taman Mini “Indonesia Indah” dibangun untuk membawakan wajah budaya dan pembangunan Jawa Tengah pada umunya. Bangunan induk beserta bangunan lain di seputarnya secara keseluruhan merupakan kompleks perumahan yang dinamakan “Padepokan Jawa Tengah”, yang berarsitektur Jawa asli.
Bangunan induknya berupa “Pendopo Agung”, tiruan dari Pendopo Agung Istana Mangkunegaran di Surakarta, yang diakui sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa. Propinsi Jawa Tengah juga terkenal dengan sebutan “The Island of Temples”, karena memang di Jawa Tengah bertebaran candi-candi. Miniatur dari candi Borobudur, Prambanan dan Mendut ditampilkan pula di Padepokan Jawa Tengah. Padepokan Jawa Tengah juga merupakan tempat untuk mengenal seni bangunan Jawa yang tidak hanya berupa bangunan rumah tempat tinggal tetapi juga seni bangunan peninggalan dari jaman Sanjayawangça dan Syailendrawangça.
Pendopo Agung yang berbentuk “Joglo Trajumas” itu berkesan anggun karena atapnya yang luas dengan ditopang 4 (empat) Soko guru (tiang pokok), 12 (dua belas) Soko Goco dan 20 (dua puluh) Soko Rowo. Kesemuanya membuat penampilan bangunan itu berkesan momot, artinya berkemampuan menampung segala hal, sesuai dengan fungsinya sebagai tempat menerima tamu. Bangunan Pendopo Agung ini masih dihubungkan dengan ruang Pringgitan, yang aslinya sebagai tempat pertunjukan ringgit atau wayang kulit. Pringgitan ini berarsitektur Limas. Bangunan lain adalah bentuk-bentuk rumah adat “Joglo Tajuk Mangkurat”, “Joglo Pangrawit Apitan” dan rumah bercorak “Doro Gepak”.
Sesuai dengan fungsinya Anjungan Jawa Tengah selalu mempergelarkan kesenia-kesenian daerah yang secara tetap didatangkan dari Kabupaten-kabupaten / Kotamadya di Provinsi Jawa Tengah di samping pergelaran kesenian dari sanggar-sanggar yang ada di Ibukota, dengan tidak meninggalkan keadiluhungan nilai-nilai budaya Jawa yang hingga kini masih tampak mewarnai berbagai aspek seni budaya itu sendiri, adat-istiadat dan tata cara kehidupan masyarakat Jawa Tengah.
Bangunan Joglo Pangrawit Apitan di Anjungan Jawa Tengah TMII terletak bersebelahan dengan sebuah panggung terbuka yang berlatar belakang sebuah bukit dengan bangunan Makara terbuat dari batu cadas hitam bertuliskan kata-kata “Ojo Dumeh” dalam huruf Jawa berukuran besar. Perkataan Ojo Dumeh mempunyai makna yang dalam, sebab artinya, “Jangan Sombong”, sebuah anjuran untuk senantiasa mampu mengendalikan diri, justru di saat seseorang merasa mempunyai keberhasilan. Di panggung inilah pengunjung dapat menyaksikan pergelaran acara khusus Anjungan yang biasanya merupakan acara-acara pilihan.
ADAT ISTIADAT JAWA ( Manusia Jawa sejak dalam kandungan sampai wafat )
Lahir Dan Mendewasakan Anak
Mupu, artinya memungut anak, yang secara magis diharapkan dapat menyebabkan hamilnya si Ibu yang memungut anak, jika setelah sekian waktu dirasa belum mempunyai anak juga atau akhirnya tidak mempunyai anak. Orang Jawa cenderung memungut anak dari sentono (masih ada hubungan keluarga), agar diketahui keturunan dari siapa dan dapat diprediksi perangainya kelak yang tidak banyak menyimpang dari orang tuanya.
Syarat sebelum mengambil keputusan mupu anak, diusahakan agar mencari pisang raja sesisir yang buahnya hanya satu, sebab menurut gugon tuhon (takhayul yang berlaku) jika pisang ini dimakan akan nuwuhaken (menyebabkan) jadinya anak pada wanita yang memakannya. Anhinga, bisa dimungkinkan hamil, dan tidak harus memungut anak.
Pada saat si Ibu hamil, jika mukanya tidak kelihatan bersih dan secantik biasanya, disimpulkan bahwa anaknya adalah laki-laki, dan demikian sebaliknya jika anaknya perempuan.
Sedangkan di saat kehamilan berusia 7 (tujuh) bulan, diadakan hajatan nujuhbulan atau mitoni. Disiapkanlah sebuah kelapa gading yang digambari wayang dewa Kamajaya dan dewi Kamaratih(supaya si bayi seperti Kamajaya jika laki-laki dan seperti Kamaratih jika perempuan), kluban/gudangan/uraban (taoge, kacang panjang, bayem, wortel, kelapa parut yang dibumbui, dan lauk tambahan lainnya untuk makan nasi),dan rujak buah.
Disaat para Ibu makan rujak, jika pedas maka dipastikan bayinya nanti laki-laki. Sedangkan saat di cek perut si Ibu ternyata si bayi senang nendang-nendang, maka itu tanda bayi laki-laki.
Lalu para Ibu mulai memandikan yang mitoni disebut tingkeban, didahului Ibu tertua, dengan air kembang setaman (air yang ditaburi mawar, melati, kenanga dan kantil), dimana yang mitoni berganti kain sampai 7 (tujuh) kali. Setelah selesai baru makan nasi urab, yang jika terasa pedas maka si bayi diperkirakan laki-laki.
Kepercayaan orang Jawa bahwa anak pertama sebaiknya laki-laki, agar bisa mendem jero lan mikul duwur (menjunjung derajat orang tuanya jika ia memiliki kedudukan baik di dalam masyarakat). Dan untuk memperkuat keinginan itu, biasanya si calon Bapak selalu berdo’a memohon kepada Tuhan.
Slametan pertama berhubung lahirnya bayi dinamakan brokohan, yang terdiri dari nasi tumpeng dikitari uraban berbumbu pedas tanda si bayi laki-laki) dan ikan asin goreng tepung, jajanan pasar berupa ubi rebus, singkong, jagung, kacang dan lain-lain, bubur merah-putih, sayur lodeh kluwih/timbul agar linuwih (kalau sudah besar terpandang). Ketika bayi berusia 5 (lima) hari dilakukan slametan sepasaran, dengan jenis makanan sama dengan brokohan. Bedanya dalam sepasaran rambut si bayi di potong sedikit dengan gunting dan bayi diberi nama, misalnya bernama Kent Risky Yuwono.
Saat diteliti di almanak Jawa tentang wukunya, ternyata Kent Risky Yuwono berwuku tolu, yakni wuku ke-5 dari rangkaian wuku yang berjumlah 30 (tiga puluh). Menurut wuku tolu maka Kent Risky Yuwono berdewa Batara Bayu, ramah-tamah walau bisa berkeras hati, berpandangan luas, cekatan dalam menjalankan tugas serta ahli di bidang pekerjaannya, kuat bergadang hingga pagi, pemberani, banyak rejekinya, dermawan, terkadang suka pujian dan sanjungan yang berhubungan dengan kekayaannya.
Slametan selapanan yaitu saat bayi berusia 35 (tiga puluh lima) hari, yang pada pokoknya sama dengan acara sepasaran. Hanya saja disini rambut bayi dipotong habis, maksudnya agar rambut tumbuh lebat. Setelah ini, setiap 35 (tiga puluh lima) hari berikutnya diadakan acara peringatan yang sama saja dengan acara selapanan sebelumnya, termasuk nasi tumpeng dengan irisan telur ayam rebus dan bubur merah-putih.
Peringatan tedak-siten/tujuhlapanan atau 245 (dua ratus empat puluh lima) hari sedikit istimewa, karena untuk pertama kali kaki si bayi diinjakkan ke atas tanah. Untuk itu diperlukan kurungan ayam yang dihiasi sesuai selera. Jika bayinya laki-laki, maka di dalam kurungan juga diberi mainan anak-anak dan alat tulis menulis serta lain-lainnya (jika si bayi ambil pensil maka ia akan menjadi pengarang, jika ambil buku berarti suka membaca, jika ambil kalung emas maka ia akan kaya raya, dan sebagainya) dan tangga dari batang pohon tebu untuk dinaiki si bayi tapi dengan pertolongan orang tuanya. Kemudian setelah itu si Ibu melakukan sawuran duwit (menebar uang receh) yang diperebutkan para tamu dan anak-anak yang hadir agar memperoleh berkah dari upacara tedak siten.
Setelah si anak berusia menjelang sewindu atau 8 (delapan) tahun, belum juga mempunyai adik, maka perlu dilakukan upacara mengadakan wayang kulit yang biasa acara semacam ini dinamakan ngruwat agar bebas dari marabahaya Biasanya tentang cerita Kresno Gugah yang dilanjutkan dengan cerita Murwakala.
Saat menjelang remaja, tiba waktunya ditetaki/khitan/sunat. Setibanya di tempat sunat (dokter atau dukun/bong), sang Ibu menggendong si anak ke dalam ruangan seraya mengucapkan kalimat: laramu tak sandang kabeh (sakitmu saya tanggung semua).
Orang Jawa kuno sejak dulu terbiasa menghitung dan memperingati usianya dalam satuan windu, yaitu setiap 8 (delapan) tahun. Peristiwa ini dinamakan windon, dimana untuk windu pertama atau sewindu, diperingati dengan mengadakan slametan bubur merah-putih dan nasi tumpeng yang diberi 8 (delapan) telur ayam rebus sebagai lambang usia. Tapi peringatan harus dilakukan sehari atau 2 (dua) hari setelah hari kelahiran, yang diyakini agar usia lebih panjang. Kemudian saat peringatan 2 (dua) windu, si anak sudah dianggap remaja/perjaka atau jaka, suaranya ngagor-agori (memberat). Saat berusia 32 (tiga puluh dua ) tahun yang biasanya sudah kawin dan mempunyai anak, hari lahirnya dirayakan karena ia sudah hidup selama 4 (empat) windu, maka acaranya dinamakan tumbuk alit (ulang tahun kecil). Sedangkan ulang tahun yang ke 62 (enam puluh dua) tahun disebut tumbuk ageng.
aat dewasa, banyak congkok atau kasarnya disebut calo calon isteri, yang membawa cerita dan foto gadis. Tapi si anak dan orang tuanya mempunyai banyak pertimbangan yang antara lain: jangan mbokongi (menulang-punggungi sebab keluarga si gadis lebih kaya) walau ayu dan luwes karena perlu mikir praja (gengsi), jangan kawin dengan sanak-famili walau untuk nggatuake balung apisah (menghubungkan kembali tulang-tulang terpisah/mempererat persaudaraan) dan bergaya priyayi karena seandainya cerai bisa terjadi pula perpecahan keluarga, kalaupun seorang ndoro (bangsawan) tapi jangan terlalu tinggi jenjang kebangsawanannya atau setara dengan si anak serta sederhana dan menarik hati. Lagi pula si laki-laki sebaiknya harus gandrung kapirangu (tergila-gila/cinta).
Melamar
Bapak dari anak laki-laki membuat surat lamaran, yang jika disetujui maka biasanya keluarga perempuan membalas surat sekaligus mengundang kedatangan keluarga laki-laki guna mematangkan pembicaraan mengenai lamaran dan jika perlu sekaligus merancang segala sesuatu tentang perkawinan.
Setelah ditentukan hari kedatangan, keluarga laki-laki berkunjung ke keluarga perempuan dengan sekedar membawa peningset, tanda pengikat guna meresmikan adanya lamaran dimaksud. Sedangkan peningsetnya yaitu 6 (enam) kain batik halus bermotif lereng yang mana tiga buah berlatar hitam dan tiga buah sisanya berlatar putih, 6 (enam) potong bahan kebaya zijdelinnen dan voal berwarna dasar aneka, serta 6 (enam) selendang pelangi berbagai warna dan 2 (dua) cincin emas berinisial huruf depan panggilan calon pengantin berukuran jari pelamar dan yang dilamar (kelak dipakai pada hari perkawinan). Peningset diletakkan di atas nampan dengan barang-barang tersebut dalam kondisi tertutup.
Orang yang pertama kali mengawinkan anak perempuannya dinamakan mantu sapisanan atau mbuka kawah, sedang mantu anak bungsu dinamakan mantu regil atau tumplak punjen.
Perkawinan
rang Jawa khususnya Solo, yang repot dalam perkawinan adalah pada pihak wanitanya, sedangkan pihak laki-laki biasanya cukup memberikan sejumlah uang guna membantu pengeluaran yang dikeluarkan pihak perempuan, di luar terkadang ada pemberian sejumlah perhiasan, perabot rumah maupun rumahnya sendiri. Selain itu saat acara ngunduh (acara setelah perkawinan dimana yang membuat acara pihak laki-laki untuk memboyong isteri ke rumahnya), biaya dan pelaksana adalah pihak laki-laki, walau biasanya sederhana.
Dalam perkawinan harus dicari hari “baik”, maka perlu dimintakan pertimbangan dari ahli hitungan hari “baik” berdasarkan patokan Primbon Jawa. Setelah diketemukan hari baiknya, maka sebulan sebelum akad nikah, secara fisik calon pengantin perempuan disiapkan untuk menjalani hidup perkawinan, dengan diurut dan diberi jamu oleh ahlinya. Ini dikenal dengan istilah diulik, yaitu mulai dengan pengurutan perut untuk menempatkan rahim dalam posisi tepat agar dalam persetubuhan pertama dapat diperoleh keturunan, sampai dengan minum jamu Jawa yang akan membikin tubuh ideal dan singset.
Selanjutnya dilakukan upacara pasang tarub (erat hubungannya dengan takhayul) dan biasanya di rumah sendiri (kebiasaan di gedung baru mulai tahun 50-an), dari bahan bambu serta gedek/bilik dan atap rumbia yang di masa sekarang diganti tiang kayu atau besi dan kain terpal. Dahulu pasang tarub dikerjakan secara gotong-royong, tidak seperti sekarang. Dan lagi pula karena perkawinan ada di gedung, maka pasang tarub hanya sebagai simbolis berupa anyaman daun kelapa yang disisipkan dibawah genting. Dalam upacara pasang tarub yang terpenting adalah sesaji. Sebelum pasang tarub harus diadakan kenduri untuk sejumlah orang yang ganjil hitungannya (3 – 9 orang). Do’a oleh Pak Kaum dimaksudkan agar hajat di rumah ini selamat, yang bersamaan dengan ini ditaburkan pula kembang setaman, bunga rampai di empat penjuru halaman rumah, kamar mandi, dapur dan pendaringan (tempat menyimpan beras), serta di perempatan dan jembatan paling dekat dengan rumah. Diletakkan pula sesaji satu ekor ayam panggang di atas genting rumah. Bersamaan itu pula rumah dihiasi janur, di depan pintu masuk di pasang batang-batang tebu, daun alang-alang dan opo-opo, daun beringin dan lain-lainnya, yang bermakna agar tidak terjadi masalah sewaktu acara berlangsung. Di kiri kanan pintu digantungkan buah kelapa dan disandarkan pohon pisang raja lengkap dengan tandannya, perlambang status raja.
Siraman (pemandian) dilakukan sehari sebelum akad nikah, dilakukan oleh Ibu-ibu yang sudah berumur serta sudah mantu dan atau lebih bagus lagi jika sudah sukses dalam hidup, disiramkan dari atas kepala si calon pengantin dengan air bunga seraya ucapan “semoga selamat di dalam hidupnya”. Seusai upacara siraman, makan bersama berupa nasi dengan sayur tumpang (rebusan sayur taoge serta irisan kol dan kacang panjang yang disiram bumbu terbuat dari tempe dan tempe busuk yang dihancurkan hingga jadi saus serta diberi santan, salam, laos serta daun jeruk purut yang dicampuri irisan pete dan krupuk kulit), dengan pelengkap sosis dan krupuk udang.
Midodareni adalah malam sebelum akad nikah, yang terkadang saat ini dijadikan satu dengan upacara temu. Pada malam midodareni sanak saudara dan para tetangga dekat datang sambil bercakap-cakap dan main kartu sampai hampir tengah malam, dengan sajian nasi liwet (nasi gurih karena campuran santan, opor ayam, sambel goreng, lalab timun dan kerupuk).
Upacara akad nikah, harus sesuai sangat (waktu/saat yang baik yang telah dihitung berdasarkan Primbon Jawa) dan Ibu-Ibu kedua calon pengantin tidak memakai subang/giwang (untuk memperlihatkan keprihatinan mereka sehubungan dengan peristiwa ngentasake/mengawinkan anak, yang sekarang jarang diindahkan yang mungkin karena malu). Biasanya acara di pagi hari, sehingga harus disediakan kopi susu dan sepotong kue serta nasi lodopindang (nasi lodeh dengan potongan kol, wortel, buncis, seledri dan kapri bercampur brongkos berupa bumbu rawon tapi pakai santan) yang dilengkapi krupuk kulit dan sosis. Disaat sedang sarapan, Penghulu beserta stafnya datang, ikut sarapan dan setelah selesai langsung dilakukan upacara akad nikah.
Walau akad nikah adalah sah secara hukum, tetapi dalam kenyataannya masih banyak perhatian orang terpusat pada upacara temu, yang terkadang menganggap sebagai bagian terpenting dari perayaan perkawinan. Padahal sebetulnya peristiwa terpenting bagi calon pengantin adalah saat pemasangan cincin kawin, yang setelah itu Penghulu menyatakan bahwa mereka sah sebagai suami-isteri. Temu adalah upacara adat dan bisa berbeda walau tak seberapa besar untuk setiap daerah tertentu, misalnya gaya Solo dan gaya Yogya.
Misalnya dalam gaya Solo, di hari “H”nya, di sore hari. Tamu yang datang paling awal biasanya sanak-saudara dekat, agar jika tuan rumah kerepotan bisa dibantu. Lalu tamu-tamu lainnya, yang putri langsung duduk bersila di krobongan, dengan lantai permadani dan tumpukan bantal-bantal (biasanya bagi keluarga mampu), sedang yang laki-laki duduk di kursi yang tersusun berjajar di Pendopo (sekarang ini laki-laki dan perempuan bercampur di Pendopo semuanya). Para penabuh gamelan tanpa berhenti memainkan gending Kebogiro, yang sekitar 15 (lima belas) menit menjelang kedatangan pengantin laki-laki dimainkan gending Monggang. Tapi saat pengantin beserta pengiring sudah memasuki halaman rumah/gedung, gending berhenti, dan para tamu biasanya tahu bahwa pengantin datang. Lalu tiba di pendopo, ia disambut dan dituntun/digandeng dan diiringi para orang-tua masih sejawat orang tuanya yang terpilih
Sementara itu, pengantin perempuan yang sebelumnya sudah dirias dukun nganten (rambut digelung dengan gelungan pasangan, dahi dan alis di kerik rambutnya, dsb.nya) untuk akad nikah, dirias selengkapnya lagi di dalam kamar rias. Lalu setelah siap, ia dituntun/digandeng ke pendopo oleh dua orang Ibu yang sudah punya anak dan pernah mantu, ditemukan dengan pengantin laki-laki (waktu diatur yaitu saat pengantin pria tiba di rumah/gedung, pengantin perempuan pun juga sudah siap keluar dari kamar rias), dengan iringan gending Kodokngorek. Sedangkan pengantin laki-laki dituntun ke arah krobongan.
Ketika mereka sudah berjarak sekitar 2 (dua) meter, mereka saling melempar dengan daun sirih yang dilipat dan diikat dengan benang, yang siapa saja melempar lebih kena ke tubuh diartikan bahwa dalam hidup perkawinannya akan menang selalu. Lalu yang laki-laki mendekati si wanita yang berdiri di sisi sebuah baskom isi air bercampur bunga. Di depan baskom di lantai terletak telur ayam, yang harus diinjak si laki-laki sampai pecah, dan setelah itu kakinya dibasuh dengan air bunga oleh si wanita sambil berjongkok. Kemudian mereka berjajar, segera Ibu si wanita menyelimutkan slindur/selendang yang dibawanya ke pundak kedua pengantin sambil berucap: Anakku siji saiki dadi loro (anakku satu sekarang menjadi dua). Selanjutnya mereka dituntun ke krobongan, dimana ayah dari pengantin perempuan menanti sambil duduk bersila, duduk di pangkuan sang ayah sambil ditanya isterinya: Abot endi Pak? (berat mana Pak ?), yang dijawab sang suami: Pada dene (sama saja). Selesai tanya jawab, mereka berdiri, si laki-laki duduk sebelah kanan dan si perempuan sebelah kiri, dimana si dukun pengantin membawa masuk sehelai tikar kecil berisi harta (emas, intan, berlian) dan uang pemberian pengantin laki-laki yang dituangkan ke tangan pengantin perempuan yang telah memegang saputangan terbuka, dan disaksikan oleh para tamu secara terbuka. Inilah yang disebut kacar-kucur.
Guna lambang kerukunan di dalam hidup, dilakukan suap-menyuap makanan antara pengantin. Bersamaan dengan ini, makanan untuk tamu diedarkan (sekarang dengan cara prasmanan) berurutan satu persatu oleh pelayan. Setelah itu, dilakukan acara ngabekten (melakukan sembah) kepada orang tua pengantin perempuan dan tilik nganten (kehadiran orang tua laki-laki ke rumah/gedung setelah acara temu selesai yang langsung duduk dikrobongan dan disembah kedua pengantin).
Lalu setelah itu dilakukan kata sambutan ucapan terima kasih kepada para tamu dan mohon do’a restu, yang kemudian dilanjutkan dengan acara hiburan berupa suara gending-gending dari gamelan, misalnya gending ladrang wahana, lalu tayuban bagi jamannya yang senang acara itu, dsb.nya.
Mati/Wafat
Demikian, sepasang pengantin itu akan mempunyai anak, menjadi dewasa, kemudian mempunyai cucu dan meninggal dunia. Yang menarik tapi mengundang kontraversi, adalah saat manusia mati. Sebab bagi orang Jawa yang masih tebal kejawaannya, orang meninggal selalu didandani berpakaian lengkap dengan kerisnya (ini sulit diterima bagi orang yang mendalam keislamannya), juga bandosa (alat pemikul mayat dari kayu) yang digunakan secara permanen, lalu terbela (peti mayat yang dikubur bersama-sama dengan mayatnya).
Sebelum mayat diberangkatkan ke alat pengangkut (mobil misalnya), terlebih dahulu dilakukan brobosan (jalan sambil jongkok melewati bawah mayat) dari keluarga tertua sampai dengan termuda.
Sedangkan meskipun slametan orang mati, mulai geblak (waktu matinya), pendak siji (setahun pertama), pendak loro (tahun kedua) sampai dengan nyewu (seribu hari/3 tahun) macamnya sama saja, yaitu sego-asahan dan segowuduk, tapi saat nyewu biasanya ditambah dengan memotong kambing untuk disate dan gule.
Nyewu dianggap slametan terakhir dengan nyawa/roh seseorang yang wafat sejauh-jauhnya dan menurut kepercayaan, nyawa itu hanya akan datang menjenguk keluarga pada setiap malam takbiran, dan rumah dibersihkan agar nyawa nenek moyang atau orang tuanya yang telah mendahului ke alam baka akan merasa senang melihat kehidupan keturunannya bahagia dan teratur rapi. Itulah, mengapa orang Jawa begitu giat memperbaiki dan membersihkan rumah menjelang hari Idul fitri yang dalam bahasa Jawanya Bakdan atau Lebaran dari kata pokok bubar yang berarti selesai berpuasanya.
Bibit-Bobot-Bebet
Fatwa leluhur tersebut bermaksud agar orangtua malaksanakan pemilihan yang seksama akan calon menantunya atau bagi yang berkepentingan memilih calon teman hidupnya. Pemilihan ini jangan dianggap sebagai budaya pilih-pilih kasih, tapi sebenarnya lebih kepada kecocokan multi dimensi antara sepasang anak manusia. Kriteria yang dimaksud yaitu: Bibit: yang berarti biji/benih. Bebet: yang berarti jenis/tipe. Bobot: yang berarti nilai/kekuatan.
Untuk memilih menantu pria atau wanita, memilih suami atau isteri oleh yang berkepentingan, sebaiknya memilih yang berasal dari benih (bibit) yang baik, dari jenis (bebet) yang unggul dan yang nilai (bobot) yang berat.
Fatwa itu mengandung anjuran pula, janganlah orang hanya semata-mata memandang lahiriyah yang terlihat berupa kecantikan dan harta kekayaan. Pemilihan yang hanya berdasarkan wujud lahiriah dan harta benda dapat melupakan tujuan “ngudi tuwuh” mendapatkan keturunan yang baik, saleh, berbudi luhur, cerdas, sehat wal afiat, dsb.
Cinta, Waspada, Dan Pertunangan
Peribahasa mengatakan: “cinta itu buta”. Berpedoman, bahwa hidup suami isteri itu mengandung cita-cita luhur yaitu mendapatkan keturunan yang baik, maka janganlah menuruti kata peribahasa tersebut. Pada hakekatnya peribahasa itu sendiri pun mengandung “peringatan”. Memperingtkan, agar supaya dalam bercinta tidak buta mata hati, mata kepala, dan pikiran.
Cinta kasih yang berhubungan erat dengan cita-cita justru harus diliputi oleh waspada dalam hati dan pikiran. Waspada akan tingkah kelakuan satu sama lain dan waspada akan penggoda di dalam hatinya sendiri.
Kewaspadaan itu menghendaki pengamatan dan penghayatan satu sama lain mengenai sikap dan pendirian terhadap hal-hal yang penting yang sudah pasti dijumpai dalam hidup antara lain soal keluarga, agama, kemasyarakatan, dan sebagainya.
Perbedaan sikap dan pendirian terhadap hal-hal yang penting (prinsip) seperti diatas, niscaya akan mengakibatkan kesukaran dikemudian hari. Persesuaian haruslah timbul dari keyakinan dan tidak dengan membohongi diri sendiri, misalnya dengan berjanji atau memberi berkesanggupan dengan sumpah lisan atau tulisan, pernikahan di muka kantor pencatatan sipil, dan lain sebagainya tetapi di dalam hati masih ada keraguan.
Pertunangan dengan atau tanpa tukar cincin adalah usaha untuk mendekatkan pria dan wanita yang menjalin kisah dan hendak hidup sebagai suami isteri. Pertunangan tidak boleh diartikan lalu boleh bergaul sebebas-bebasnya hingga perbuatan sebagai suami isteri. Dalam hal itu calon isteri haruslah teguh hati, mencegah jangan sampai terjamah kehormatannya. Ingatlah, bahwa calon suami atau istri itu bukan atau belum suami atau istrinya.
Sekali terjadi peristiwa dan sang wanita hamil tidak mustahil menjadi persoalan sebagai pangkal persengketaan. Kalau sang pria ingkar, pertunangan putus, sang wanita menjadi korban.
Upacara Tradisional Maleman Klaten

Terletak di alun alun kota Klaten dan monumen Juang 45 Klaten
Luas kawasan 1 ha
Diadakan Tiap malam tanggal 21 bulan Romadhon sampai dengan Idul Fitri
Bentuknya Pasar Malam
Sifat Rutin tiap tiap tahun
Jumlah pengunjung ± 25.000 orang

Legenda :
Alkisah pada bulan bulan romadhon adalah merupakan bulan suci, bulan yang penuh rahmat dan barokah bagi umat Islam, upacara ini konon kisahnya bermula di sekitar Masjid Mlinjon, pada malam 21 bulan romadhon, menurut keyakinan kaum muslimin adalah malam turunnya : Lailatulqodar yang artinya malam yang lebih baik dari seribu malam.

Malam itu malam yang penuh selamat sejahtera sampai terbit fajar. Pada malam malam itu Masjid Mlinjon dipenuhi oleh kaum muslimin untuk menunaikan sholat tarawih yang diteruskan dengan tadarusan Al Quran sampai larut malam menjelang suhur, bagi masyarakat umum ikut menghormati malam bahagia itu dengan jalan jalan atau cegah lek sampai larut malam bahkan ada yang sampai terbit matahari dengan harapan agar mendapat Lailatulqodar. Disekitar Masjid Mlinjon itu banyak orang yang berjualan, mendirikan stand kerajinan, mainan anak anak maka lokasi tersebut menjadi ramai.

Maka keramaian tanggal malam 21 Romadhon merupakan tradisi tiap tiap tahun diadakan. Pada suatu ketika Sinuhun Paku Buwono ke X berkenan sholat tarawih di Masjid Mlinjon serta menyaksikan adanya keramaian tersebut dan alun alun Klaten dekat nDalem Kadipaten (sekarang gedung RSPD). Upacara tradisional Maleman di alun alun ini berjalan baik, bahkan dari tahun ke tahun semakin berkembang keramaiannya. Upacara tradisional Maleman di alun alun Klaten berjalan rutip tiap tiap tahun yang dimulai dari tanggal 12 Romadhon sampai dengan Hari Raya Idhul Fitri yang diteruskan dengan Upacara Syawalan di Jimbung.

Catatan :

Begini Pak Panji, Jawa itu jelas ada di Kamus bahasa Jawa Kuna, yang ternyata tersusun dari tembung Jawa Kuna “ja” + “wa”.

Salah satu arti “ja” adalah lahir, atau muncul (timbul). Sedangkan “wa” adalah cerah”. Dengan demikian kalau dibaca mengikuti kaidah sengkala, maka Jawa berarti kecerahan yang muncul atau kecerahan yang dilahirkan.

Oleh karena itu, orangtua selalu menasehati agar saudara tua bisa mengerti keadaan adiknya yang masih kecil, karena adiknya “durung Jawa” (belum mengerti). Seseorang yang pelit disebut “gak Jawa” (tidak menjalankan darma). Apabila kita memberitahu orang agar tidak “melakukan sesuatu” tetapi orang itu tetap mau melakukannya, maka biasanya dikatakan kepadanya “ya, wis, yen ana apa-apane aku ora weruh Jawane”. Artinya, kalau terjadi sesuatu pada dirimu, saya tak peduli lagi.

Itulah Jawa makna aslinya, sehingga timbul kosa kata ora Jawa, durung Jawa, sing Jawa marang adhimu, ora weruih Jawane, dan lain-lainnya.

Tabik,

chodjim

03
Sep
12

Bencana Alam : 15 Gunung Api Waspada Lima Siaga

15 Gunung Api Waspada Lima Siaga

AntaraAntara

Jakarta (ANTARA) – Dari 68 gunung api yang diamati di Indonesia, sebanyak 15 gunung api berstatus waspada atau berada pada level II dan lima lainnya berstatus siaga di level III.

“Sebanyak 20 gunung api di Indonesia ada lima berstatus siaga, 15 status waspada. Semua gunung tersebut adalah gunung api tipe A dari 68 gunung yang diamati,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Senin.

Kelima gunung api berstatus siaga tersebut yaitu Gunung Soputan di Minahasa Selatan Provinsi Sulawesi Utara, Gunung Lokon di Tomohon, Sulawesi Utara, Gunung Karangetang Sulawesi Utara, Gunung Gamnokora di Halmahera Utara, Maluku Utara dan Gunung Ijen di Jawa Timur.

Sementara 15 gunung yang berstatus Waspada adalah Gunung Seulawah di Aceh, Gunung Sinabung di Karo, Sumatera Utara, Gunung Talang di Solok, Sumatera Barat, Gunung Kaba di Bengkulu, Gunung Kerinci di Jambi.

Selain itu gunung api yang berstatus waspada lainnya adalah Gunung Anak Krakatau di Lampung, Gunung Papandayan di Garut dan Tangkuban Perahu di Jawa Barat, Gunung Bromo di Jawa Timur.

Selanjutnya Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, Gunung Batur di Bali, Gunung Rinjani di Lombok NTB, Gunung Sangeang Api di Bima NTB, Gunung Rokatenda di Flores, NTT, Gunung Egon di Sikka, NTT.

Terkait banyaknya gunung api aktif yang mengalami peningkatan status tersebut, masyarakat dimbau tetap waspada dan menghadapi segala kemungkinan dengan tenang.

Di samping itu juga mendapatkan informasi dari otoritas resmi seperti BNPB, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Pemda-pemda setempat dan BPBD setempat.

“Kami mengimbau agar broadcast dan sosial media untuk mengacu pada sumber-sumber resmi dan tidak membuat sms, broadcast yang bisa menimbulkan keresahan,” tambah dia.

Untuk gunung api, penentuan status dan arahan mitigasinya akan ditentukan oleh PVMBG setelah berkoordinasi dengan BNPB dan BPBD atau Pemda setempat. (ar)




Blog Stats

  • 2,005,216 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers