14
Sep
12

Lingkungan : Mangrove pelindung pesisir pantai

7 September 2012

Laporan:

Mangrove melindungi pemukiman pesisir terhadap gelombang angin

Ede, Belanda – Sebuah laporan terbaru oleh The Nature Conservancy dan Wetlands International membuktikan bahwa hutan mangrove melindungi pemukiman pesisir terhadap dan gelombang angin ekstrem. Hutan mangrove dengan ketebalan mangrove minimal 100 meter mengurangi tinggi gelombang sebanyak 66% sehingga dapat mencegah banjir dan kerusakan infrastruktur pesisir. Dengan semakin banyaknya pemukiman pesisir di Indonesia yang rentan terhadap dampak dari gelombang, organisasi-organisasi ini mengatakan pengelolaan mangrove perlu diperhatikan dan masuk dalam kebijakan adaptasi perubahan iklim dan upaya pengurangan risiko bencana untuk daerah pesisir di seluruh dunia.

Populasi penduduk di daerah pesisir sangat rentan terhadap dampak dari peristiwa ekstrim seperti badai dan angin topan. Lahan basah pesisir seperti hutan mangrove sangat berkontribusi pada keamanan, ketahanan pangan dan pendapatan puluhan juta orang di seluruh daerah tropis, termasuk di Indonesia. Laporan terbaru dari oleh LSM Internasional The Nature Conservancy (TNC) dan Wetlands International (WI) menyatukan penelitian ilmiah terbaru dari para ahli konstruksi dan ekologi mengenai perlindungan pantai terhadap gelombang angin. Laporan ini menyimpulkan bahwa “mangrove dengan ketebalam minimual 100 meter dapat mengurangi ketinggian gelombang angin: tinggi gelombang dapat berkurang antara 13 sampai 66%”.

Penulis Anna McIvor (TNC): “Gelombang paling cepat berkurang ketika mereka melewati hambatan dengan kepadatan yang lebih besar. Ini berarti bahwa mangrove dengan akar napas meredam gelombang di perairan dangkal lebih cepat daripada mangrove yang tidak memiliki akar napas”. Dia menambahkan bahwa “pada kedalaman air yang lebih besar, gelombang dapat melewati akar napas, tapi kemudian cabang-cabang yang lebih rendah memiliki fungsi yang sama.” Laporan ini menguraikan bahwa kemiringan pantai dan ketinggian gelombang juga mempengaruhi tingkat pengurangan gelombang oleh mangrove.

Walaupun sabuk mangrove yang sempit masih dapat mengurangi pengaruh gelombang angin, namun untuk perlindungan terhadap gelombang badai dibutuhkan area mangrove yang lebih besar. Selain itu, hutan mangrove menyediakan banyak servis ekosistem penting lainnya, seperti kayu, sumber pangan, daerah perlindungan untuk perikanan dan penyerapan karbon, sehingga habitat mangrove yang luas harus dipertahankan atau dipulihkan dilokasi yang masih memungkinkan.

Wetlands International telah memiliki lebih dari satu dekade pengalaman dalam melindungi dan memulihkan hutan mangrove di Indonesia. Direktur Wetlands International Indonesia Program Nyoman Suryadiputra telah melihat langsung kesimpulan dari laporan ini: ” desa-desa pesisir di Aceh dan Jawa Tengah sekarang mendapatkan perlindungan yang lebih besar karena mangrove yang kita restorasi bersama”.

Mangrove untuk perlindungan pesisir

Untuk memperkuat peran hutan mangrove untuk perlindungan di pesisir, hutan mangrove harus dikelola dengan tepat. Laporan ini menunjukan bahwa ahli konstruksi pesisir sudah mulai melakukan pemodelan bagaimana gelombang mengalir melalui mangrove untuk memahami tingkat perlindungan yang diberikan dan bagaimana untuk meningkatkan peran tersebut. Pengelolaan yang tepat meliputi perlindungan kawasan mangrove yang masih alami, dan restorasi atau penanaman mangrove di daerah terdegradasi atau rusak, di mana kondisi setempat telah terbukti dapat mendukung pembentukan bibit mangrove baru. Laporan ini lebih lanjut menunjukkan bahwa hutan mangrove yang lebat, termasuk spesies dengan akar napas dapat memberikan tingkat perlindungan tertinggi terhadap gelombang angin.

Wetlands International Indonesia Program saat ini bekerja di provinsi Nusa Tenggara dan Jawa untuk mengembangkan daerah buffer hijau mangrove untuk melindungi wilayah pesisir.Bersama masyarakat setempat saat ini telah lebih dari setengah juta pohon mangrove ditaman. “Mangrove adalah cara terbaik dan termurah untuk melindungi wilayah pesisir. Kita perlu melindungi dan memulihkan infrastruktur alami seperti ini di seluruh Indonesia” himbau Nyoman Suryadiputra.

Penelitian lebih lanjut

Dengan adanya bukti bahwa mangrove dapat meredam gelombang angin, Anna McIvor mengatakan masih ada kebutuhan mendesak untuk lebih memahami peran ekosistem dalam perlindungan pesisir seperti terhadap tsunami, kenaikan muka laut dan erosi. Dengan laporan teknis pertama ini, The Nature Conservancy dan Wetlands International akan meluncurkan serangkaian makalah teknis yang akan membahas topik-topik tersebut.

Contact:

Vera Coelho

Communications and Advocacy Officer

Vera.coelho@wetlands.orgFemke Tonneijck

Mangrove Capital Project Manager

Femke.tonneijck@wetlands.orgTel.

+31 318 660910NOTES:

Report details:

McIvor, A.L., Möller, I., Spencer, T. and Spalding. M. (2012) Reduction of wind and swell waves by mangroves. Natural Coastal Protection Series: Report 1. Cambridge Coastal Research Unit Working Paper 40. Published by The Nature Conservancy and Wetlands International. 27 pages. ISSN 2050-7941.

URL:

http://www.naturalcoastalprotection.org/documents/reduction-of-wind-and-swell-waves-by-mangrovesMangrove work by Wetlands InternationaI:

http://www.wetlands.org/Whatwedo/Mangrovesforcoastalresilience/tabid/174/Default.aspxMangrove work by TNC:

http://coastalresilience.org/Ringkasan Eksekutif

Populasi penduduk di daerah pesisir sangat rentan terhadap dampak dari peristiwa ekstrim seperti badai dan angin topan, dan tekanan-tekanan tersebut dapat diperburuk oleh pengaruh perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut. Ekosistem pesisir seperti hutan mangrove semakin sering dipromosikan dan digunakan sebagai alat dalam strategi pertahanan pesisir. Namun, masih ada kebutuhan mendesak untuk lebih memahami bagaimana peran ekosistem dalam perlindungan pantai. Laporan ini berfokus pada hutan mangrove dan peran mereka dalam mengurangi dampak angin dan gelombang. Hutan mangrove biasanya ditemukan di pantai dengan energi gelombang yang kecil, tetapi mangrove terkadang terkena gelombang besar pada waktu badai, topan dan periode angin kencang. Gelombang besar dapat menyebabkan banjir dan kerusakan infrastruktur pesisir. Dengan mengurangi energi dan tinggi gelombang, mangrove berpotensi berpotensi dapat mengurangi kerusakan akibat gelombang tersebut.

Semua bukti menunjukkan bahwa mangrove dapat mengurangi ketinggian gelombang: tinggi gelombang dapat dikurangi antara 13 sampai 66% dengan ketebalan mangrove 100 m. Tingkat pengurangan tertinggi tinggi gelombang per satuan jarak terjadi dekat tepi mangrove, dimana gelombang memulai perjalanannya melalui mangrove.

Terdapat sejumlah karakteristik mangrove yang mempengaruhi laju pengurangan tinggi gelombang persatuan jarak, terutama struktur fisik dari pohon. Gelombang semakin cepat berkurang ketika melewati kepadatan hambatan yang lebih besar . Bakau dengan akar napas akan menipiskan gelombang di perairan dangkal lebih cepat daripada mangrove yang tidak memiliki akar napas. Pada kedalaman air yang lebih besar, gelombang dapat melewati di atas akar udara, tetapi cabang-cabang yang rendah dapat berfungsi yang sama dengan akar napas. Kemiringan pantai dan ketinggian gelombang juga mempengaruhi tingkat pengurangan gelombang melalui mangrove.

Untuk memahami tingkat perlindungan yang diberikan oleh hutan mangrove, dan untuk merencanakan bagaimana untuk meningkatkan tingkat perlindungan tersebut, perjalanan gelombang melalui mangrove telah dimodelkan secara numerik menggunakan pemodelan gelombang standar yang digunakan oleh para insinyur pesisir disebut SWAN (Simulasi WAvesNearshore) (Suzuki et al., 2011), serta model yang dikembangkan khusus untuk gelombang di hutan bakau disebut WAPROMAN (WAvePROpagation di Hutan Mangrove) (Vo-Luong dan Massel, 2008). Model ini dapat memprediksi tingkat atenuasi gelombang dengan memasukan karakteristik mangrove, parameter gelombang dan informasi batimetri lokal dan topografi. Sebuah model statistik juga telah dikembangkan untuk mengeksplorasi hubungan antara beberapa standar pengukuran hutan (tinggi pohon, kerapatan pohon dan penutupan kanopi) dan atenuasi gelombang dengan jarak (Bao, 2011). Model ini telah mampu memprediksi pengurangan gelombang dalam mangrove di Vietnam di mana model ini dikembangkan, dan dapat digunakan untuk menentukan lebar sabuk mangrove yang diperlukan untuk memberikan tingkat standar perlindungan dari gelombang.

Walaupun, ada konfirmasi umum bahwa mangrove dapat meredam gelombang, namun penelitian telah difokuskan pada gelombang kecil (tinggi gelombang <70 cm), dan ada kebutuhan untuk mengukur redaman angin dan gelombang lebih besar terkait dengan kedalaman air yang lebih besar, yang mungkin terjadi selama badai. Lebih banyak dataset juga dibutuhkan untuk menguji validitas model yang ada untuk kondisi gelombang yang berbeda dan di daerah dengan berbagai jenis hutan mangrove dan topografi yang berbeda.

About these ads

0 Responses to “Lingkungan : Mangrove pelindung pesisir pantai”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,185,377 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 120 other followers

%d bloggers like this: