08
Sep
12

Peradaban : JaWa = Jaga WibaWa

Gerakan Renaissance Jawa

“Sekar Jagad”

“HONG ILAHENG, SEKARING BAWANA LANGGENG”

           

“….. Demikian juga selain mengenai masalah kibijaksanaan, tahu sebelum mendapatkan pengajaran serta mengenai segala hal tentang ilmu kesaktian, bisa menghilang serta tampak seperti yang aku ceritakan kepadamu tadi.  Sebab di hamparan bentangan bumi dan dibawah langit yang mendapatkan ijin untuk memperlihatkan kebijaksanaan, kesaktian yang luar biasa, hanyalah Engkau beserta sanak keluargamu. “

            “Jadi kelebihan orang-orang di barat daya negeri Hindi tersebut, hanya sebatas kemampuan manusia biasa.  Adapun yang menguasai Negara, raja atau pembesar di negeri Hindi dan seterusnya serta pulau-pulau di tenggara negeri Hindi, secara turun-temurun tidak ada lain, semua itu berasal dari silsilahmu serta silsilah para dewa keluargamu.”  (Paramayoga Ranggawarsita, Otto Sukatno Cr.)

 * * *
Pendahuluan

            Dalam rangka mengajak banyak pihak mendirikan Yayasan Sekar Jagad, maka penulis mewacanakan perlunya Gerakan Renaissance Jawa.  Merupakan kegiatan untuk mengkaji, meneliti, merekonstruksi kembali dan merevitalisasi budaya dan peradaban Jawa.

Sejarah panjang Jawa dalam berinteraksi dengan budaya dan peradaban dari luar tanpa disadari telah menjadikan manusia Jawa masa kini sebagai manusia gamang, “gojag-gajêg” merasa asing dengan budaya dan peradabannya sendiri.  Bahkan tidak sedikit yang menganggap budaya dan peradabannya sangat primitif bernuansa klenik dan tahayul.  Kenyataan yang menyakitkan, namun harus diterima dengan lapang dada.  Masalahnya Jawa memang tidak memiliki ‘sistim’ yang teroganisir dalam rangka mempertahankan nilai-nilai budaya dan peradabannya.  Tidak pula memiliki sistim pembelajaran dari generasi ke generasi berikut dengan penataan yang terstrategi.  Semua dibiarkan berjalan secara alamiah semata.  Hanya naluri (ôtôt bayu) Jawa yang pada kenyataannya masih mampu membuat budaya dan peradaban Jawa bertahan hingga saat ini.

Sesungguhnya banyak para lajêr Jawa yang memiliki perhatian dan telah melakukan kegiatan-kegiatan untuk kebangkitan budaya dan peradaban Jawa.  Namun sejauh ini belum terbentuk organisasi dan tersusun suatu ‘Perencanaan Program’ yang memadai.  Kenyataan yang ada justru menunjukkan cerai berainya para penggiat ke-Jawa-an tersebut.  Egoisme perorangan maupun kelompok mengemuka sehingga tidak ada kesatuan visi maupun misi dalam upaya membangkitkan budaya dan peradaban Jawa.

Luasnya cakupan budaya dan peradaban Jawa merupakan salah satu kendala banyak pihak yang berusaha membangkitkan budaya dan peradaban Jawa.  Kemudian soal pendanaan menjadi kendala berikutnya sehingga memandekkan kegiatan yang diadakan.

Bertolak dari data-data sebagaimana disebutkan, maka wacana renaissance Jawa oleh Yayasan Sekar Jagad ini digulirkan.  Bahwa gerakan ini merupakan kesadaran dan keinginan seluas-luasnya masyarakat Jawa sendiri.  Maka strategi awalnya berupa upaya-upaya membangun kesadaran masyarakat Jawa untuk memahami ke-Jawa-annya sendiri. Untuk itu diperlukan jabaran atau definisi ‘Jawa’ yang rasional mencakup:

1.   Siapakah wông Jawa ?

2.   Definisi dan pengertian ke-Jawa-an (budaya dan peradaban Jawa)

3.   Nilai-nilai (values) ke-Jawa-an (budaya dan peradaban Jawa)

4.   Nilai-nilai budaya dan peradaban Jawa yang mau dihidupkan kembali, dipertahankan dan dikembangkan serta ‘kebersinggungan’ (hybrid interconectedness)-nya dengan budaya dan peradaban lain, terutama budaya dan peradaban Barat.

5.   Nilai-nilai utama filosofi Jawa yang akan dikontribusikan ke dalam nilai-nilai ke-Indonesia-an

6.   Alur proses untuk No. 4 dan No. 5

7.   Aliran (flow) untuk No. 6 melalui wahana/means apa ?

8.   Program tindak lanjut, perbaikan dan pengembangan yang berkelanjutan

Delapan ‘kerangka acuan selisik’ tersebut di atas memerlukan ‘sumbang saran’ atau ‘curah gagas’ dari para pihak dengan kapasitas keahlian/keilmuan masing-masing yang kemudian dirangkum dalam suatu ‘musyawarah bersama’ guna menyusun ‘Rencana Program Renaissance Jawa’ yang paripurna.

Tulisan berikut merupakan ‘pembuka’ untuk bisa kiranya mendapatkan respon para pihak.  Sehingga dengan demikian bisa semakin mendalam selisik bersama yang kita adakan terhadap delapan hal acuan dimaksud.

Merasa diri belum memadai dalam banyak hal, maka penulis mohon maaf sekiranya ‘sajian pemancing’ ini kurang mengena.  Kiranya baru sebatas inilah pemikiran yang dimiliki penulis dalam rangka ikut mengabdikan ‘kawruh’ kepada upaya renaissance Jawa.

Sumangga, swuhn.

Siapakah wông Jawa ?

Banyak pendapat (teori) untuk menelusuri asal-usul orang Jawa.  Ada yang berdasar kajian ilmiah dan ada pula yang berdasar mitologi dan dongeng-dongeng.  Diantaranya bisa disajikan:

1.   Teori yang selama ini didoktrinkan dan diajarkan kepada kita, bahwa wông Jawa itu termasuk “Ras Melayu” yang cikal bakalnya berasal dari tempat yang dinamakan “Hindia Belakang”.  Ras Melayu menyebar ke Nusantara karena terdesak oleh migrasi Ras Arya dan Ras Mongolia dari arah pedalaman Asia Daratan.  Teori migrasi yang menyebutkan nenek moyang wông Jawa (Nusantara) dari Hindia Belakang ini berpijak dari asumsi bahwa Ras Arya, Ras Kaukasus dan Ras Mongolia adalah “Ras Manusia” yang lebih dulu beradab dibanding ras-ras manusia lainnya di dunia ini.  Maka bila didasarkan kepada teori ini, Jawa dianggap belum memiliki budaya dan peradaban.

2.   Berdasarkan ‘dongeng ngayawara’ yang dikemas sebagai ‘ramalan Jayabaya’, maka orang Jawa adalah kumpulan orang-orang dari Asia Daratan yang dikirimkan ke P. Jawa atas perintah ‘Kaisar Rum’ yang memprihatinkan keadaan P Jawa yang tidak berpenghuni.  Teori awur-awuran ini justru banyak diyakini orang Jawa sendiri.  Termasuk mempercayai gunung Tidar (di Magelang) sebagai ‘pantek’ (tiang pancang) yang memaku pulau Jawa agar tenang dan bisa dihuni manusia.

3.   Menurut cerita kakawin (Mataram Kuno – Majapahit) dan serat-serat kapujanggan (Mataram Kartosuro – Surakarta), maka orang Jawa jelata adalah penjilmaan dari para binatang dan lelembut, sementara para raja-rajanya anak keturunan dewa yang merupakan keturunan Bathara Guru (Sang Hyang Jagadnata).

4.   Berdasar teori anthropologi menyatakan bahwa ‘homo sapiens’ (manusia baru) berdatangan ke Jawa dari Mongolia dan Asia Daratan lainnya.  Migrasi besar-besaran terjadi ketika jaman es mencair.

5.   Temuan arkeologi berupa fosil manusia purba di Sangiran dan Mojokerto membuktikan bahwa jutaan tahun yang lalu Jawa sudah dihuni mahluk ciptaan Tuhan.  Namun sampai saat ini belum bisa dibuktikan adanya evolusi manusia purba menjadi manusia baru (homo sapiens).

6.   Berdasar ciri-ciri fisik orang Jawa, maka menunjukkan bahwa orang Jawa merupakan hasil asimilasi berbagai ras dan etnis. Mongolia, Melayu, Melanesia, bahkan Negrito ada jejak ciri fisiknya pada wông Jawa.

Semua teori asal-usul nenek moyang orang Jawa tersebut kenyataannya masih relatif. Maka kemudian definisi untuk orang Jawa adalah yang menggunakan bahasa Jawa.  Berdasar definisi ini, menarik untuk dikemukan definisi bahasa :

Bahasa adalah kesatuan perkataan dan sistem penggunaannya yang umum dalam pergaulan antar anggota suatu masyarakat atau bangsa dengan kesamaan letak geografi atau kesamaan budaya dan tradisi. Dengan demikian, selain memiliki fungsi utama sebagai wahana berkomunikasi, bahasa juga memiliki peran sebagai alat ekspresi budaya yang mencerminkan bangsa penggunanya.” [1]

Bertolak dari definisi bahasa tersebut di atas, maka bahasa Jawa merupakan ekspresi budaya Jawa.  Dengan demikian yang disebut wông Jawa asumsinya adalah yang terampil menggunakan bahasa Jawa lisan dan tulisan serta kental dengan aras budaya Jawa itu sendiri.  Asumsi ini memang belum sepenuhnya bisa dijadikan definisi Jawa, namun bisa digunakan untuk melanjutkan selisik terhadap ke-Jawa-an.

Ke-Jawa-an (Budaya dan Peradaban Jawa) 

Menelisik makna ke-Jawa-an atau budaya dan peradaban Jawa, maka perlu diawali dengan merekonstruksi pandangan hidup (filosofi) Jawa.  Sementara dalam perjalanan sejarahnya, Jawa banyak mengalami transformasi budaya yang menghasilkan sinkretisme dan berdampak kepada perubahan ‘pandangan hidup’ Jawa.  Namun demikian banyak unsur-unsur budaya yang bisa dijejaki sebagai budaya asli Jawa.  Dalam hal ini hasil penelitian Prof. Brandes (1889) bisa dijadikan rujukan untuk menelisik lembih lanjut.  10 (sepuluh) unsur budaya asli Jawa yang dinyatakan Prof. Brandes adalah :

1.

Pertanian beririgasi

6.

Batik

2.

Pelayaran

7.

Metrum

3.

Perbintangan

8.

Pengecoran logam

4.

Wayang

9.

Mata uang

5.

Gamelan

10.

Sistem pemerintahan yang teratur

(Brandes, 1889).

Berdasar hasil penelitian dan selisik Prof. Brandes tersebut maka bisa diambil asumsi bahwa Jawa telah beradab sejak jaman sebelum masuknya budaya dan peradaban dari luar.  Beberapa unsur budaya yang disebut Prof. Brandes ada yang dimiliki oleh etnis-etnis lain di Nusantara dan daratan Asia, namun ada pula yang khas Jawa.  Dengan demikian pendapat yang menyatakan bahwa budaya dan peradaban Jawa hasil turunan dari Asia daratan (Hindia Belakang) tidak seluruhnya benar.  Justru sebaliknya, kemungkinan besar Asia Daratan yang menerima sebaran budaya dan peradaban dari Jawa.  Landasan berpikirnya tentang unsur budaya pelayaran dan perbintangan menunjukkan sebagai bangsa bahari yang jelas tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa Asia daratan.  Demikian pula tentang budaya pertanian beririgasi (persawahan padi) nampaknya memang berasal dari Jawa.  Hal ini kita serahkan kajiannya kepada para ahlinya.

Selisik para peneliti lain menyatakan bahwa masyarakat Jawa mempunyai pandangan tentang ‘yang ada’ merupakan ‘kesatuan tunggal  semesta’[2] yang terhubungkan secara  ‘kosmis-magis’ antara ‘jagad gêdhé’ (alam semesta) dan ‘jagad cilik’ (manusia).  Pijakannya bertolak dari ‘kawruh sangkan paran’ dan ‘memayu hayuning bawana’.

Dari kedua kawruh Jawa tersebut bisa kita rumuskan aras/dasar filosofi Jawa :

  1. Kesadaran ber-Tuhan

Artinya bahwa filosofi Jawa menyatakan adanya Tuhan sebagai Kang Murbeng Alam (Penguasa Alam Semesta).  Pernyataan dalam ‘kawruh sangkan paran’ : semua yang ada berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan lagi.

  1. Kesadaran Semesta

Merupakan ekspresi kesadaran adanya hubungan kosmis-magis manusia dengan alam semesta.  Wujud ekspresinya berupa pandangan Jawa tentang ‘Bapa Angkasa’ dan ‘Ibu Bumi’.  Sebuah pemahaman khasanah spiritual tentang unsur-unsur penyangga ‘uripe manungsa’.

Yang menjadi persoalan, tidak ikut disebut Prof. Brandes tentang bahasa Jawa (lisan dan tulis).  Menilik unsur-unsur yang disebut, logikanya terekspresikan melalui bahasa (lisan dan tulis).  Pada umumnya penelitian dan penelisikan tentang budaya dan peradaban Jawa jaman kuno melalui peninggalan arkeologis (prasasti) yang menggunakan bahasa Sanskerta dengan aksara Dewanagari dan bahasa Kawi (Jawa Kuno) dengan aksara Jawa Kuno.  Padahal penggunaan bahasa dan aksara tersebut mencakup geografis yang lebih luas dari geografi komunitas Jawa asli.

Berdasar kenyataan tersebut di atas, maka diteorikan adanya perubahan bahasa pada masyarakat Jawa.  Bahasa lisan dari bahasa Jawa Kuno ke bahasa ‘Jawa Baru’.  Sementara bahasa tulis, dari aksara Dewanagari ke Aksara Jawa Kuno kemudian ke aksara Carakan (ha na ca ra ka).  Namun wacana yang demikian ini terasa belum pas.  Masalahnya sangat sulit merubah bahasa sehari-hari seluruh masyarakat, sementara bahasa ‘Jawa Baru’ kenyataannya digunakan oleh masyarakat Jawa sampai ke pelosok-pelosok desa.  Kenyataan ini bisa melahirkan pendapat bahwa bahasa  ‘Jawa Baru’ justru merupakan bahasa Jawa asli.  Sementara bahasa Sanskerta dan bahasa Jawa Kuno adalah bahasa resmi (lingua franca, bahasa persatuan) yang diberlakukan oleh pemerintah kerajaan-kerajaan yang menguasai Jawa.  Posisinya sama dengan bahasa Indonesia yang berlaku di NKRI sekarang ini.

Atas dasar teori yang menyatakan bahwa sumber peradaban manusia dari ras Kaukasus dan Arya, maka menurut teori tersebut peradaban Nusantara “harus” berasal dari ras-ras unggul tersebut.  Oleh karena itu, jejak arkeologi Hindu dan Buddha di Nusantara dijadikan bukti untuk mendukung argumen teori tersebut.  Peradaban Nusantara (termasuk Jawa) adalah “turunan” dari India.  Nusantara dianggap sebagai “zero zone” peradaban dan kebudayaan manusia.

Dulunya para pencetus teori “peradaban manusia berasal dari Asia Daratan” tersebut menganggap bahwa semua peradaban di Asia Tenggara dan Nusantara bersumber dari India yang dianggap tempat lahirnya agama Hindu dan Buddha.  Dengan demikian, kemampuan membuat tempat peribadatan kedua agama tersebut juga berasal atau turunan dari India.  Menyebar sampai ke Jawa melalui India Belakang (Asia Tenggara).  Sehingga kemampuan Jawa membuat candi-candi Hindu maupun Buddha “diturun” dari Thailand dan Kamboja.  Karena di kedua negeri itulah terdapat peninggalan arkeologi candi-candi mirip dengan yang di Jawa.  Namun terbukti kemudian, bahwa yang membuat Angkor-Watt di Kamboja justru seniman pemahat dan pematung yang didatangkan dari Jawa.  Maka artinya adalah: bahwa bangsa Jawa waktu itu lebih memahami peradaban Hindu dan Buddha sehingga lebih mampu mempersonifikasikan “dewa Hindu” dan “sesembahan Buddha” dalam bentuk patung-patung dibanding bangsa Khmer (Kamboja), Thai, dan sekitarnya.  Dengan kata lain, atas dasar keahlian membuat candi dan patung telah terbukti bahwa Jawa (Nusantara) yang menyebarkan dan menurunkan “peradaban”-nya kepada bangsa-bangsa Asia Tenggara.  Dengan demikian, bahwa Jawa adalah “zero zone” peradaban dan budaya sudah terbantah.

Dalam kisah para Nabi di Timur Tengah, ada dikisahkan bahwa cara melaksanakan ritual agamanya Nabi Sulaiman (King Solomon) di kuil menggunakan pembakaran “dupa” yang didatangkan dari negeri Timur.  Ketika kita ketahui bahwa dupa untuk keperluan ritual itu dibuat dari serbuk kayu cendana dan getah pohon damar (gaharu, kemenyan), maka sangat jelas bahwa keduanya berasal dari Nusantara pula.

Para pedagang yang memasok dupa itupun sampai ke negeri Nabi Sulaiman dengan menggunakan perahu.  Maka kita boleh bertanya-tanya adakah umat nabi Sulaiman mengenal dan bisa membuat perahu?  Kalau memang kenal dan bisa membuat, maka akan tercantum dalam kitab-kitab peninggalan mereka, Taurat maupun Zabur.  Ternyata tidak ada diskripsi tentang perahu pada kitab-kitab kuno bangsa Yahudi tersebut.  Barangkali cuma pada kisah Nabi Nuh ada keterangan pembuatan perahu. Itupun sangat tidak masuk akal ceriteranya.  Bagaimana mungkin memasukkan semua jenis binatang yang ada di dunia ini dalam satu perahu, kecuali perahunya itu ya planet bumi ini sendiri.

Dengan merunut kisah di jaman Nabi Sulaiman, maka bisa disimpulkan bahwa untuk kepentingan peribadatannya, umat Sulaiman memerlukan sarana (dupa) dari negeri Timur.  Bukan umat Sulaiman yang mendatangi negeri Timur, tetapi para pedagang dari negeri Timur yang berdatangan ke negeri Sulaiman.  Maka dengan demikian, yang menguasai perdagangan antar bangsa melalui laut (samudera) di jaman Nabi Sulaiman itu adalah orang dari Negeri Timur.  Dan negeri tersebut sudah maju tingkat peradabannya hingga mengenal perdagangan lintas samudera dengan dagangan yang sangat nylênèh, dupa atau bahan pembuat dupa.  Selisik kita dengan ilmu pengetahuan, akan menemukan bahwa bangsa bahari yang memiliki sumber bahan pembuat dupa (kayu cendana dan getah damar) adalah bangsa Nusantara.

Ritual agama di jaman Nabi Sulaiman ada di kuil dengan menggunakan pembakaran dupa.  Pertanyaannya, murni “karya cipta” manusia di tempat itu?  Perintah “Tuhan”? Atau “turunan” dari bangsa lain yang sudah lebih dahulu mengenal dupa?

Dalam hal ini, penulis berpendapat (subyektif) yang paling mungkin ritual umat Sulaiman adalah “turunan” dari bangsa lain yang sudah lebih dahulu mengenal dupa.  Dan bangsa yang lebih dahulu mengenal dupa dari bahan sampai pemanfaatannya untuk ritual menyembah “Sesembahan” adalah bangsa Nusantara.  Ketika lebih mendalam kita selisik, maka ketemulah bangsa yang menurunkan tatacara menyembah dengan dupa dan menggunakan kuil peribadatan adalah bangsa Jawa.  Karena, semegah-megahnya kuil untuk melakukan pemujaan adalah candi yang berserakan adanya di Jawa.

Dalam kisah King Solomon dan Princes Sheba, dikisahkan bahwa raja (penguasa) negeri Timur adalah seorang wanita.  Maka bisa kita selisik pula di negeri atau bangsa mana yang memiliki jejak sejarah menempatkan wanita sebagai penguasa.  Maka akan kita ketemukan bahwa negeri dan bangsa itu adalah Nusantara juga.  Di Nusantara, banyak kisah (meskipun berupa dongeng rakyat) yang menceritakan adanya para perempuan penguasa merangkap saudagar besar perniagaan samudera tersebut.  Cerita rakyat itu ada di Sumatera (Melayu Kuno, Aceh Kuno, Pagaruyung), Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Di Jawa, yang terdeteksi dengan ilmu sejarah, ada Puteri Shima (Kalingga), Pramuda Wardani (Mataram Kuno), Tribuwana Tungga Dewi (Majapahit).  Kemudian di jaman mulai masuknya agama Islam (abad 11), banyak disebut bahwa pada waktu itu saudagar-saudagar “perniagaan laut” adalah para Nyai Ageng.  Ada disebut nama-nama: Nyai Ageng Plembang, Nyai Ageng Serang, Nyai Ageng Giri, Nyai Ageng Cirebon, Nyai Ageng Malaya, dlsb.

Di Jawa diketemukan fosil manusia purba.  Maka artinya, Jawa sudah dihuni mahluk “titah Tuhan” sejak jutaan tahun yang lalu.  Maka teori yang mengatakan bahwa Jawa sebelumnya pulau kosong yang kemudian perlu diisi dengan mendatangkan penduduknya dari berbagai negeri Asia atas perintah Raja Rum, adalah teori yang sulit diterima akal, dan bermuatan politik penyebaran agama.

Sesungguhnya bahwa teori nenek moyang orang Nusantara imigran dari Asia Daratan meragukan.  Lebih meragukan lagi ketika kita berpikir tentang sarana transportasi untuk migrasi itu sendiri.  Kalau berjalan kaki, mungkinkah? Kalau menggunakan perahu, apakah orang Asia Daratan memiliki ‘peradaban bahari’ hingga mampu membuat perahu besar untuk mengarungi samudera?  Memang ada wacana yang menyebutkan relief perahu yang ada di dinding candi Borobudur merupakan perahu-perahu nenek moyang Jawa dari Hindia Belakang.  Namun kemudian banyak para ahli anthropologi dan arkeologi dunia tidak mempercayai itu.  Mereka cenderung berpendapat bahwa perahu Borobudur itu memang perahu aslinya wông Jawa yang digunakan untuk menjelajah dunia.  Dan hal itu terus dilakukan upaya-upaya pembuktiannya sampai saat ini.

Yang paling mungkin, Jawa adalah hasil migrasi bangsa-bangsa dari kepulauan Nusantara sendiri.  Artinya, Jawa adalah perpaduan umat manusia dari seluruh Nusantara.  Dimungkinkan bahwa di jaman kuno pulau Jawa dianggap sebagai ‘pulau suci’ bagi bangsa-bangsa di Nusantara.  Alasannya pulau Jawa banyak gunung berapi, dan yang terpenting bahwa di bumi Jawa begitu banyak peninggalan candi-candi tempat beribadah umat Hindu dan Buddha.

Meski pendapat ini miskin bukti, namun ketika menilik ragam ujud fisik orang-orang Jawa, nampaknya bisa mewakili semua ciri-ciri fisik etnis dan sub etnis yang ada di Nusantara dan Asia Tenggara.  Oleh karena itu, bisa diperkirakan bahwa wông Jawa yang ada sekarang ini merupakan hasil asimilasi dari banyak suku yang mendiami kepulauan Nusantara.  Mereka berdatangan ke Jawa (tempat suci) dan kemudian mukim, berbaur dan meleburkan diri menjadi suku Jawa.

Peradaban Jawa adalah intisari Peradaban Nusantara

Diteorikan bahwa peradaban Jawa adalah “turunan” dari India.  Alasannya, agama Hindu dan Buddha di Jawa berasal dari India.  Namun kalau kita kembalikan bahwa kenyataan bangsa-bangsa Asia Daratan sama sekali tidak mengenal perahu, maka memunculkan keraguan akan kebenarannya.  Di India sama sekali tidak kita dapatkan diskripsi adanya perahu.  Untuk mencapai ke Alengka (Srilangka) dari daratan India tidak ada sedikitpun disinggung tentang perahu dalam kitab paling kuno India, Ramayana.  Maka bandingkan dengan kitab kuno dari Bugis (I La Galigo) yang menyebutkan Sawerigading anak Guru memiliki cita-cita mengarungi dunia dengan perahunya.

Perenungan saya kemudian menemukan pendapat bahwa bukan Nusantara yang didatangi peradaban Asia Daratan, tetapi sebaliknya daratan Asia yang disebari peradaban Nusantara. Penyebaran peradaban ini terjadi jauh sebelum lahirnya agama Hindu dan Buddha di India.  Apalagi di waktu akhir-akhir ini masih terjadi proses penelitian para arkeolog dunia tentang ‘Lemurian Antlantis’, pusat peradaban umat manusia di dunia di jaman kuno.  Konon pula ditengarai keberadaan ‘Lemurian Atlantis’ itu di sekitar Laut Cina Selatan.  Diduga pula bahwa Jawa di masa peradaban Lemurian Atlantis tersebut sebagai tempat yang disucikan.

Kita boleh percaya dan meyakini agama Hindu dan Buddha berasal dari India.  Namun kalau tentang “budaya dan peradaban” Jawa “turunan” India, belum tentu benar.  Dalam banyak hal unsur budaya Jawa dengan India memang ada kemiripan.  Namun itu bukan berarti budaya Jawa ‘turunan’ dari India.  Prof. Brandes (1889) dalam penelitiannya telah menyatakan ada 10 (sepuluh) unsur budaya asli Jawa.

Bahkan ketika memberikan kursus Pancasila (1957) di Istana, Bung Karno dalam mengutip hasil penelitian Prof. Brandes tersebut menambah dengan tulisan ‘ha-na-ca-ra-ka’ sudah dipakai oleh orang Jawa di jaman kuno.  Demikian pula pernyataan Ki Kalamwadi (nama samaran pujangga pengarang Serat Darmagandhul dan Gatholoco) yang menyatakan huruf Jawa ‘ha-na-ca-ra-ka’ bukan karyacipta Ajisaka yang berasal dari India (Gujarat), tetapi asli ciptaan Hyang Nurcahya (cikal bakal raja Jawa).

Saya merenungkan nama “Sawerigading” (Srigading) dan “Guru” yang disebut dalam kitab kuno Bugis, La Galigo tersebut.  Ternyata nama itu tidak asing bagi telinga hampir seluruh bangsa-bangsa di Nusantara.  Batak, Minangkabau, Kubu, Palembang, Dayak, Toraja, Baduy, Sunda Kawitan, Jawa, Bali dan masih banyak lagi wilayah lain di Nusantara ini, memiliki mitologi yang memposisikan “Guru” adalah “nenek moyang” atau “cikal bakal” nenek-moyang pada masing-masing etnis itu. Apa maknanya?

Atas dasar kesamaan posisi “Guru” pada kepercayaan (mitologi) bangsa-bangsa Nusantara, maka sejak jaman kuno sebelum masuknya agama Hindu dan Buddha, Nusantara sudah satu peradaban.  Yang kemudian perlu dicari adalah “pusat peradaban” yang bisa menyatukan Nusantara di jaman kuno itu.  Perenungan subyektif saya menemukan bahwa pusatnya ada di Jawa.  Dasar pemikiran saya dengan pendekatan konsep kepercayaan (teologi dan mitologi) Jawa adalah yang “terang benderang” dan sangat jelas serta mudah dipahami.

Dengan asumsi bahwa pusat peradaban Nusantara di jaman kuno adalah Jawa, maka sesungguhnya peradaban Jawa adalah inti-sarinya seluruh peradaban Nusantara.  Kalau kemudian peradaban kuno tersebut musnah adalah mungkin sekali.  Jawa kenyataannya berada tepat di atas pertemuan lempeng kulit bumi yang terus menerus bergerak dan bertumbukan.  Terakhir dampak tumbukan tersebut berupa bencana besar di Aceh.  Maka sangat mungkin bahwa di jaman kuno, ribuan tahun yang lalu, Jawa tertimpa bencana yang lebih besar dari yang menimpa Aceh baru-baru ini.  Saking besarnya bencana tsunami yang melanda Jawa hingga menyapu bersih seluruh peradaban yang ada.  Yang tersisa tinggal bangunan candi-candi yang memang kokoh kuat.  Perhatikan saja, bahwa candi-candi di Jawa yang masih utuh kenyataannya berada di tempat yang tinggi.  Juga rata-rata di pedalaman pulau, bukan yang ada di pesisir.  Kenyataan ini saja sudah bisa untuk menggugat teori yang menyatakan peradaban Jawa “turunan” dari India.  Kalau memang benar berasal dari luar, maka yang berkembang pasti yang ada di pesisir.  Jejak penyebarannya juga bisa dirunut dari pulau-pulau sebelah utara Jawa (Sumatra) menuju India sana.  Kenyataannya?  Di Sumatra tak ada jejak peninggalan semenonjol Jawa.  Kenyataan ini menunjukkan hanya ada dua kemungkinan.  Kemungkinan pertama peradaban India sampai ke Jawa dengan disebarkan melalui angkasa (terbang) oleh dewa-dewa sebagaimana mitos yang dikarang para empu jaman Kahuripan yang diteruskan para pujangga Keraton Surakarta.  Kemungkinan kedua, bahwa India justru menerima sebaran peradaban dari Jawa.  Mana yang lebih mungkin merupakan tantangan bagi “manusia berpikir” untuk menelaah lebih mendalam.

Dengan mewacanakan bahwa peradaban Jawa adalah intisari peradaban Nusantara bukan dimaksudkan untuk merendahkan peradaban Nusantara yang lain saat ini.  Namun lebih mengutamakan bahwa sejak jaman kuna Nusantara sebenarnya satu peradaban dengan pusatnya di Jawa.  Kenyataannya, saat ini Jawa yang hanya 6% luas daratan Indonesia dihuni 63% populasi penduduk Indonesia.  Permasalahannya, bahwa peradaban Jawa yang diasumsikan unggul di jaman kuno itu sudah runtuh dan pudar. Penyebab keruntuhannya bencana alam.  Kemungkinan besar tsunami yang lebih besar puluhan atau ratusan kali dibanding yang terjadi di Aceh.

Peradaban Jawa adalah Peradaban Semesta

Jawa pernah menjadi pusat peradaban umat manusia di masa kejayaan agama Buddha.  Hal itu dibuktikan dengan adanya catatan perjalanan para pendeta Buddha dari Tiongkok.  Kisahnya sekitar abad 3-7 Masehi, sejaman dengan lahirnya Islam di Arab.  Maka silahkan membandingkan makna isi kisahnya.  Menurut “hadis” (?), nabi Muhammad SAW mengatakan: “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina!”.  Padahal sejaman dengan lahirnya “hadis” tersebut, justru para pendeta agama Buddha dari Tiongkok berguru agama (Buddha) kepada para “pendeta besar” Jawa.  Salah satu “pendeta besar” Jawa itu Jnanabadra.

Lebih mencengangkan lagi, bahwa sesungguhnya para pendeta Cina tersebut tujuannya berguru ke India yang dianggap sebagai sumber agama Buddha.  Namun kenyataannya mereka hanya sebentar di India dan lebih lama di Jawa dalam berguru tersebut.  Bahkan terbukti pula bahwa para pendeta Cina tersebut dalam perjalanannya menumpang perahu-perahu dari Nusantara.

Selisik sejarah tersebut menunjukkan bahwa agama Buddha di Jawa memiliki “kualitas lebih’ dibanding Tiongkok maupun India sendiri.  Hal ini secara tidak langsung membuktikan pula ‘keunggulan budaya dan peradaban manusia’ di Jawa, yaitu adanya ‘tempat berguru’ (universitas) agama Buddha yang dikenal sampai Tiongkok.

Merupakan misteri yang sampai saat ini belum terkuak, bahwa di Jawa ada candi untuk manembahnya umat Hindu dan umat Buddha, sementara di India tidak ada.

Dalam pidato Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, Bung Karno menyebut bahwa sebelumnya Nusantara pernah memiliki  “Negara Bangsa” yaitu di jaman Sriwijaya dan Majapahit.  Kalau kita bisa merunut adanya nama “Guru” atau “Bethara Guru” yang dianggap sebagai cikal-bakal seluruh raja-raja di Nusantara, barangkali di jaman jauh sebelum Sriwijaya, Nusantara juga pernah memiliki “Negara Bangsa”.

Demikian pula ketika Bung Karno menyebutkan “Berke-Tuhan-an yang lebih luas dan mendalam ….”, kiranya adalah konsep ber-Tuhan-nya Nusantara yang dengan jelas diwakili pandangan Jawa dengan istilah “tan kênâ kinâyâ ngâpâ”. Konsep berke-Tuhan-an yang didiskripsikan Jawa (Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Wisesa) itulah yang kemudian diistilahkan dalam bahasa Indonesia “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan kiranya lebih universal pengertiannya baik verbal maupun substansial.

Adanya Tuhan yang melingkupi seluruh semesta alam yang “tan kênâ kinâyângâpâ” merupakan “konsep teologi” yang sangat kuat menjaga ke Maha Esaan Tuhan dari campur tangan pendapat manusia.  Konsep ber-Tuhan yang demikian sudah pasti lahir dari budaya dan peradaban semesta, universal dan bisa dipahami seluruh umat manusia di dunia.

Pijakan dasar falsafah (pandangan hidup) Jawa adalah aras kereligiusan, kesemestaan dan keberadaban manusia. Aras kereligiusan diekspresikan dengan “Kawruh Sangkan Paraning Dumadi”.  Merupakan konsep religius yang universal.  Bahwa semua titah dumadi berasal dari Tuhan (yang tan kênâ kinâyângâpâ) dan kepada-Nya kembali (menuju paran).  Kesadaran semesta atau konsep kesemestaan diekspresikan dalam mitologi-mitologi Jawa, diantaranya tentang “bâpâ angkâsâ” dan “ibu bumi”, “marmati”, “sêdulur papat kalimâ pancêr” dan  “sêdulur tunggal dinâ kelairan”.  Lebih mendalam lagi dengan konsep sistim manunggal (panunggalan) antara “jagad cilik” (mikro kosmos, manusia) dengan “jagad gêdhé” (makro kosmos, alam semesta).  Keberadaban manusia merupakan ajaran wajib menurut Jawa yang ditegaskan dalam kalimat “mèlu mêmayu hayuning bawânâ”.

Konsep “Falsafah Jawa” atau “Kawruh Kejawen” yang ber-‘aras’-kan “kereligiusan-kesemestaan-keberadaban” melahirkan banyak tradisi budaya Jawa yang berkaitan dengan “urip” (hidup) dan segala prosesinya.  Intinya, diawali bahwa kelahiran bayi (anak manusia) adalah “sabdaning Gusti”, maka pandangan Jawa menganggap bahwa urusan seks merupakan bagian dari “sabda Tuhan” tersebut.

Untuk itu marilah kita renungkan betapa rumitnya tata-cara adat Jawa dalam upacara pengantin.  Kerumitan itu merupakan ekspresi pandangan Jawa tentang hakekat perkawinan.  Fokusnya bukan legalitas hubungan seks antari lelaki dengan perempuan, tetapi lebih tertuju kepada hakekat ‘penciptaan’ manusia baru (anak).    Bahwa sesungguhnya terjadinya pembuahan sel telur perempuan oleh sperma laki-laki adalah kehendak Tuhan menciptakan manusia baru.  Maka sakral nilainya.  Renungkan pula betapa banyak dan rumitnya tradisi Jawa mengiringi perkembangan janin dalam kandungan ibu.  Termasuk tradisi Jawa dalam menyambut kelahiran bayi.  Ada brôkôhan kemudian sêlapanan dan seterusnya.  Yang tidak boleh dilupakan bahwa Jawa memandang air ketuban, ari-ari (placenta) dan pusêr bayi sebagai “saudara” si bayi dan dimuliakan.  Pada peradaban lain barangkali organ-organ itu dianggap sampah dan tidak bermakna.

Pandangan Jawa, seks adalah sakral maka ikut dijadikan penghias  (relief) tempat peribadatan.  Lihat saja relief di kaki candi Borobudur maupun yang lebih jelas di candi Sukuh.  Banyak yang menganggap relief itu porno.  Tetapi bagi mereka yang “berpikir” tidaklah gampang menjastifikasi demikian.  Bayangkan saja sudah ratusan tahun yang lalu, perkara seks begitu jelas digambarkan dalam bentuk ukiran (relief) batu dengan terang-terangan.  Termasuk pula gambaran janin dalam kandungan ibu.  Maka sangat aneh kalau dianggap porno.  Sebaliknya justru sebuah pembelajaran  atau pendidikan tentang makna hidup, bukan ?

Boleh kita berangan-angan, seandainya pandangan Jawa yang menganggap seks sebagai kesakralan (sabda Tuhan) bisa menjadi pandangan umat manusia sedunia, kira-kira bagaimana moralitas umat manusia sedunia?


Wông Jawa Masa Kini

            Stigma panjang yang sudah berlaku di tengah masyarakat Indonesia adalah anggapan bahwa Jawa menjajah unsur-unsur Indonesia yang lain.  Wacana yang demikian ini menjadikan banyak orang Jawa menjadi ragu-ragu untuk eksis dengan kepribadian Jawa.  Maka akibatnya menghambat aliran persembahan nilai-nilai kebaikan Jawa untuk membangun Indonesia.  Bahkan banyak pihak yang kemudian beranggapan bahwa Jawa merupakan penyebab ketertinggalan Indonesia dalam kancah dunia.

Selanjutnya, Jawa diindentikkan dengan keprimitifan yang penuh klenik, tahayul dan gugon tuhon.  Akibat seriusnya adalah Jawa merasa “under estimated” sehingga tidak mampu memberikan suatu persembahan “tata peradaban”-nya kepada Indonesia.  Sikap Jawa menjadi enggan ikut berperanan membangun Indonesia.  Kemudian yang terjadi, menyerahkan bangunan Indonesia kepada sistim multi kultur dan peradaban yang tidak memiliki kultur (budaya) dan peradaban “pêmômông”.  Maka terbentuk komunitas-komunitas unsur Indonesia yang secara ideologis berafiliasi kepada kultur dan peradaban asing. Padahal kultur dan peradaban asing yang “diturun” tersebut ditempat asalnya saling berbenturan dalam konflik panjang yang tidak jelas penyebab konfliknya itu sendiri.  Barangkali, mungkin, bahwa penyebab utama konflik panjang tersebut berpangkal tolak pada karakter bangsa-bangsa dimana peradaban asing tersebut lahir adalah karakter “bar-bar”.  Menyerang bangsa lain, mengalahkan dan menjajah kemudian menjadikan bangsa yang dikalahkan dan dijajah tersebut sebagai budak dan pemuas nafsu birahi.  Pertanyaannya, beradabkah karakter yang demikian ?

Kita semua merdeka untuk memikirkan kemudian menarik kesimpulan bagaimana karakter bangsa-bangsa yang merasa “beradab”: Eropa, Semit (Yahudi, Arab), Persia, India (Arya), Mongolia, Cina dan Jepang.  Mereka adalah kaum ekspansionis, penjarah dan penjajah.  Silahkan menelisik bagaimana sepak terjang bangsa-bangsa tersebut ketika berekspansi ke wilayah lain di dunia.

Semenjak runtuhnya Majapahit, maka Nusantara termasuk Jawa merupakan wilayah yang diincar oleh bangsa-bangsa berkarakter “bar-bar” tersebut.  Mereka berusaha menguasai Nusantara dengan segala cara.  Secara intensif menggarap Nusantara untuk mereka jadikan protektorat.  Adalah garapan “mental-ideologi” yang kemudian berdampak besar kepada karakter bangsa Nusantara.  Sedemikian rupa hebat hasil garapan tersebut hingga ada pujangga Jawa (menyamarkan diri dengan nama Ki Kalamwadi, abad 19 M.) menyebut orang Jawa masa kini (setelah digarap mental ideologinya) sebagai “Jawan Rab Iriban”.  Artinya, orang Jawa yang berkeinginan menjadi orang Arab dan hasilnya cuma mirip.  Jawa yang sudah tidak memiliki kedaulatan spirituil.  Jawa yang lebih bangga seandainya dianggap Arab, memakai nama Arab, berpenampilan layaknya orang Arab dan bahkan senang meskipun sekedar menjadi budaknya Arab.

Wacana ini bukan saya maksudkan untuk menggugat Islam sebagai agama yang dipeluk mayoritas wông Jawa.  Namun lebih saya tujukan kepada wông Jawa muslim yang oleh kepatuhannya terhadap agama Islam menjadi tanpa sadar “membudakkan diri” kepada bangsa Arab.  Sedemikian rupa membudakkan dirinya sampai kehilangan “kedaulatan spirituil” hingga lupa akan jatidiri bangsanya yang lebih beradab.

Peringatan akan kehilangan kedaulatan spirituil bagi wông Jawa tersebut sudah diwacanakan oleh Ki Kalamwadi dalam tulisan: “Serat Darmagandhul” di abad 19 Masehi.  Sedemikian tertekannya Ki Pujangga tersebut memikirkan Jawa yang pelan-pelan terbudakkan secara spirituil kepada bangsa Arab, hingga beliau menulis kitab yang sangat “keras” dan melanggar etika Jawa sendiri.  Dalam kitab tulisannya, Ki Kalamwadi memposisikan Prabu Brawijaya sebagai penyebab awal keterpurukan Jawa.  Inilah yang saya nilai sebagai keberanian yang luar biasa dari Ki Kalamwadi tersebut.  Menjastifikasi raja sebagai penyebab kehancuran “tata peradaban” masih dianggap tabu dalam jaman “feodalisme Jawa”.

Meskipun kemungkinan analisa Ki Kalamwadi itu benar adanya, namun dianggap melanggar kesantunan Jawa yang berlaku di masa itu.  Oleh karena itu, wacana Ki Kalamwadi dianggap pemberontakan terhadap kekuasaan raja.  Dan bukunya dilarang beredar di tengah masyarakat.  Kalau kemudian ada salinan yang beredar, maka hanya terbatas sebarannya.

Meskipun kita boleh meragukan kebenaran tulisan Ki Kalamwadi dalam Serat Darmagandhul, namun ada statemen beliau yang menarik untuk dikaji.  Statemen Ki Pujangga tersebut oleh banyak kalangan “Kejawen” dianggap sebagai ramalan.  Untuk itu saya kutipkan sebagai berikut :

  1. a.  Tan wis yèn sirâ wuwusâ, balik mangké sirâ kang ingsun tari, kang dadi kêkêncênganmu, miwah bênêranirâ, rèhning uwis kêbanjur ngandikaningsun, sun masuk agama Islam, sinêksènan lan si Sahid.
  2. b.  Tan kênâ mangsuli sabdâ, ingsun wirang ginuyu bumi langit, Ki Sabdâpalôn umatur, padukâ lampahânâ, kulâ pamit késah ing sapurug-purug, Sri Naréndrâ angandikâ, sirâ lungâ maring ngêndi.
  3. c.   Sabdâpalôn aturirâ, datan késah amanggèn wôntên ngriki, mung nêtêpi nami ulun, nami Ki Lurah Sêmar, kula nglimput saliring samar kang wujud, angléla ampungan padhang, dèn èngêt Sang Nâtâ bénjing.
  4. d.  Yèn wôntên manusâ Jâwâ, Jawi anganggé mâtâ siji, nami sêpuh gaman kawruh, niku mômôngan-kulâ, tiyang Jawan sun-wruhké bênêr lan luput, sigrâ têdhak Sri Naréndrâ, arsâ ngrangkul dèn inggati.
  5. e.   Palônsabdâ Génggôngnâyâ, samyâ musnâ kadhung Sri Nârâpati, kalangkung pangungunipun, njêthung anênggak waspâ, angandikâ hé Sahid kawruhanamu, ing bésuk nagri Blambangan, aran nagri Banyu-wangi.
  6. f.    Yâ têngêranirâ, Nâyâgénggông bali mring tanah Jawi, anggâwâ mômônganipun, mâtâ siji kang wignyâ, wani lungguh anjajari maring ingsun, tan wruh asal sobat kênal, yèn nakal binuwang têbih.
  7. g.  Tyasirâ angkârâ murkâ, kumêt lomâ krênah pitênah dadi, dânâ kawruh dânâ laku, mrih arjâ tanah Jâwâ, Sabdâpalôn isih ânâ sabrang nglimput, têngêrané iki sêndhang, banyuné yèn mari wangi.
  8. h.  Wông Jâwâ ganti agâmâ, akèh tinggal agâmâ Islam bénjing, aganti agâmâ kawruh, Sunan Kali turirâ, yèn makatên utaminirâ Sang Prabu, kulâ prayôgi mbêktâ, toyâ wangi sêndhang niki.

Kutipan tersebut termuat dalam pupuh Pangkur (pada 55 – 62), menceriterakan Kaki Sabdapalon (dan Nayagenggong) memilih pisah dengan Prabu Brawijaya, momongannya. Secara ringkas bisa saya terjemahkan :

Prabu Brawijaya sudah menyatakan diri masuk agama Islam hingga disesalkan oleh pamomongnya, Sabdapalon dan Nayagenggong.   Dalam pada (bait) sebelumnya, Ki Sabdapalon “nguman-uman” (menyalahkan dengan kata-kata) keputusan momongannya berganti agama tersebut.  Maka sang raja merasa risih dan memutus panguman-umannya Sabdapalon (tan wis yèn sirâ wuwus).  Kemudian balik bertanya akan kesetiaan abdinya itu untuk mengikuti jejaknya.  Sabdapalon menjawab bahwa tidak bersedia masuk Islam dan pamit untuk berpisah. Ditanya mau pergi kemana? Jawab Sabdapalon tidak kemana-mana tetap berada di tempat ini (Jawa), memenuhi tugasnya sebagai Semar yang melingkupi semua kegaiban dari semua wujud, berada di balik terang.  Sabdapalon memberi pesan kepada Brawijaya: “kalau suatu saat di kemudian hari akan ada orang Jawa-Jawi bermata satu (tercerahkan batinnya) memakai nama tua bersenjatakan kawruh (ilmu pengetahuan) itu adalah momongan Ki Sabdapalon, dan melalui orang-orang (Jâwâ-Jawi, jamak) tersebut Ki Sabdapalon akan mengajarkan dan menunjukkan benar dan salah kepada orang-orang Jawa yang sudah kehilangan kedaulatan spirituilnya (Jawan)”.  Seketika Prabu Brawijaya mendekati Ki Sabdapalon untuk dipeluk.  Namun Ki Sabdapalon menghindar dan musnâ (hilang dari penglihatan, menjadi gaib).  Prabu Brawijaya keheranan dan tercenung sedih menahan tangis.  Dan kemudian berucap kepada Sahid (Sunan Kalijaga) : “He Sahid ! Besuk negeri Blambangan akan bernama Banyuwangi, jika air sendang ini sudah hilang bau wanginya, maka sebagai pertanda kedatangan kembali Nayagenggong dan diamat-amati Sabdapalon dari luar (manca) ke Jawa membawa momongannya yang tercerahkan batinnya, mumpuni pengetahuannya (wignyâ), berani duduk setara denganku, tidak mempersoalkan asal sahabat yang dikenal, kalau nakal dibuang (disingkiri), wataknya: keras angkara murka, kikir (perhitungan) juga dermawan, semua perbuatan dilakoni termasuk memfitnah.  Mendanakan ilmu dan laku untuk membuat tanah Jawa raharja (tenteram). Di saat itu nanti banyak orang Jawa meninggalkan agama Islam pindah ke “agama kawruh” (agama yang rasional, ada yang menafsirkan sebagai Kawruh Kasampurnan).  Sunan Kalijaga menjawab: “kalau begitu kebenarannya, maka sebaiknya saya mengambil air sendang ini dan saya bawa.“

Nukilan kisah yang diwacanakan Ki Kalamwadi tersebut kiranya bisa ditafsirkan macam-macam.  Termasuk menganggapnya sebagai ramalan.  Saya lebih cenderung untuk menganggap sebagai analisa mendalamnya Ki Kalamwadi akan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada orang Jawa. Maka beliau pesankan untuk waspada dengan cara memasukkan sebagai “ucapan” Sabdapalon ketika memilih berpisah dengan Brawijaya yang pindah agama.  Pesan itu berbunyi: “Bahwa sesungguhnya, nanti akan banyak orang Jawa yang tercerahkan batinnya dan berani melakukan upaya-upaya untuk bangkit kembali”.

Bahwa kemudian pesan Ki Kalamwadi tersebut diyakini sebagai ramalan justru positif maknanya.  Setidaknya dengan tersebarnya ramalan akan terjadinya “kebangkitan kembali Jawa” telah memelihara “pertahanan spirituil” orang Jawa untuk tidak mau begitu saja dicuci otaknya. Kalau toh kemudian penjaga “pesan” tersebut lebih banyak pada para penekun Kejawen (Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa) memang menjadi keharusan sejarah.  Pada komunitas manusia yang budaya dan peradabannya terkooptasi budaya lain akan selalu memiliki obsesi “kebangkitan kembali”.  Posisinya mirip kaum muslimin Syiah yang mempercayai ramalan akan turunnya “Imam Mahdi” yang keturunan Nabi Muhammad.

Kesimpulannya, bahwa wông Jawa saat ini rata-rata sudah kehilangan “kedaulatan spirituil”.  Bahkan untuk “menjejaki” kejatidiriannya sendiri sudah tidak mampu.  Namun ada sebagian diantara yang seperti itu masih memelihara “harapan” untuk kembali menemukan kembali kejatidirian Jawa.

Relevansi Renaissance Jawa untuk Indonesia

Banyak para sejawat yang mempertanyakan relevansi gerakan kebangkitan peradaban Jawa dengan kepentingan kebangsaan Indonesia.  Sebuah pertanyaan yang menantang bagi lajêr Jawa yang sekaligus sebagai warga bangsa Indonesia. Permasalahan munculnya pertanyaan tersebut ada pada kekawatiran terhadap kemungkinan memperkuat stigma bahwa Jawa menjajah unsur-unsur Indonesia yang lain.

Munculnya pendapat yang menyatakan bahwa Jawa menjajah (mengkooptasi) unsur Indonesia yang lain adalah kegagalan kita, bangsa Indonesia dalam mengimplementasikan cita-cita luhur diberdirikannya Indonesia. Kegagalan tersebut menunjukkan bahwa kurang disosialisasikannya Wawasan Kebangsaan Indonesia dan internalisasi nilai-nilai Pancasila.  Dengan kata lain, bahwa wacana kemerdekaan lebih berat fokusnya untuk berebut “kue”-nya, bukan upaya mengisi kemerdekaan itu sendiri.  Maka makna menjadi Indonesia sebagai “peleburan” masih pada aras “penggabungan” unsur-unsur. Artinya masih butuh waktu untuk mewujudkan cita-cita luhur diberdirikannya Indonesia.

Stigma “Jawa menjajah unsur Indonesia yang lain” menjadikan tersendatnya kontribusi Jawa kepada Indonesia.  Padahal nilai-nilai budi luhur Jawa sesungguhnya dibutuhkan untuk membangun karakter bangsa Indonesia.  Kondisinya diperparah dengan “aktivitas politik agama” yang menjadikan budaya dan peradaban Jawa sebagai “rival” ajaran agama.

Menjadikan budaya dan peradaban Jawa sebagai rival ajaran agama mengakibatkan semakin terpinggirkannya nilai-nilai budi luhur Jawa. Maka nilai-nilai luhur Pancasila yang dianggap pengejawantahan Falsafah Hidup Jawa ikut terpinggirkan.  Akibat selanjutnya, persatuan Indonesia yang dibangun dengan aras ajaran agama menjadi “persatuan semu”, rapuh dan rawan perpecahan. Masalahnya, bahwa fanatisme agama selalu mengancam persatuan yang dibangun.  Fanatisme agama menjadikan umat agama siap menjadi ‘pasukan perang’ yang bisa digerakkan untuk berebut kekuasaan yang sejatinya sekedar berebut rejeki pengisi perut.

            Renaissance Jawa pada dasarnya adalah merupakan upaya menggugah kesadaran Jawa akan nilai-nilai budi luhurnya yang bisa dipersembahkan kepada Indonesia.  Persembahan Jawa tersebut akan sangat besar pengaruhnya untuk “ndandani” keadaan yang amburadul (bosah-basèh, jw.) sekarang ini.

Eksistensi sebuah bangsa yang dibangun dari multi-kultur pada kenyataannya lebih ditentukan oleh ‘pilihan ideologi’ yang mampu mengakomodir perbedaan kultur dan peradaban masing-masing unsur yang membangun bangsa itu sendiri.  Semakin universal ideologi yang dipilih dan diberlakukan sebagai dasar kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, maka akan semakin ulet ketahanan bangsa tersebut dalam menerima arus besar “benturan antar peradaban” yang terjadi setelah era Perang Dingin selesai.

Ideologi Neo-Liberalisme saat ini mendominasi dunia.  Kiranya tidak ada negara atau bangsa di dunia ini yang mampu menahan gempuran ideologi neo-liberalisme tersebut.  Karena pijakan ideologi tersebut adalah sekularisme dan kebebasan umat manusia untuk eksis di dunia.  Sebuah pijakan mendasar yang lintas ruang dan waktu.  Ujung tombak ideologi ini adalah ilmu pengetahuan dan teknologi serta sistim demokrasi.  Maka tanpa direkayasa pun akan menyebar dengan sendirinya ke seluruh dunia.  Bahwa kemudian neo-liberalisme dijadikan kendaraan kepentingan politik dan ekonomi negara-negara kuat (kapitalis dan imperialis) untuk menguasai negara-negara lain adalah persoalan yang berbeda.

Atas pengaruh paham sekularisme, demokrasi dan kemerdekaan untuk eksis, maka kemudian mendorong umat manusia untuk lebih mengoperasionalkan “daya kemanusiaannya”.  Salah satu “daya kemanusiaan” itu adalah berpikir.  “No limit” untuk kemampuan berpikir manusia, begitulah semboyan sekularisme dan liberalisme.  Ide ini berseberangan dengan doktrin agama yang mengajarkan “manusia terbatas akalnya”.  Maka terjadi perbenturan antara doktrin agama dengan paham sekularisme dan neo-loberalisme tersebut.

Pada aras kemerdekaan berpikir manusia, maka semua doktrin (ajaran) agama dituntut untuk rasionil hingga “manusia berpikir” bisa mengerti dan mau tunduk menjalankan ajaran agama tersebut. Manakala proses pencerdasan bangsa telah berjalan dengan baik, maka rakyat “berpikir” akan menjadi mayoritas.  Dan gugatan terhadap “kemapanan” yang tidak adil dan tidak masuk akal akan marak.  Termasuk gugatan terhadap kemapanan doktrin-doktrin agama yang dianggap tidak rasionil.  Begitulah yang terjadi di semua bangsa yang ada di dunia ini.

Pengaruh neo-liberalisme pada seluruh umat manusia di dunia sedemikian rupa intensif merasuki batin manusia.  Akibatnya terjadi keguncangan peradaban di semua tatanan yang sudah mapan sebelumnya. Pada tahapan inilah sebenarnya manusia banyak yang mengalami gegar budaya.  Di satu pihak dituntut untuk menyesuaikan diri dengan perubahan peradaban, di pihak lain masih terikat oleh tata peradaban aslinya.

Kita ketahui bahwa banyak kelompok komunitas atas dasar agama melakukan perlawanan terhadap arus sekularisme dan neo-liberalisme tersebut.  Ada yang dengan cara melakukan penyesuaian-penyesuaian, namun ada pula yang kemudian mengambil jalan kekerasan dengan teror bom bunuh diri yang lebih memperparah peradaban manusia. Maksudnya menunjukkan patriotisme perlawanan terhadap dominasi neo-liberalisme, tetapi yang terjadi justru pengungkapan “kesekaratan” paham (ideologi) keagamaan yang dimiliki.

Eksistensi nilai-nilai paham keagamaan yang semestinya penuh kedamaian telah dihancurkan sendiri oleh kepentingan politik kekuasaan sebagian umatnya.  Melawan dengan kekerasan atas pengaruh liberalisme adalah resiko yang harus dilakukan para pihak yang menggunakan agama sebagai kendaraan politiknya.  Sebabnya, arus liberalisme yang merasuki batin umat dengan sendirinya akan mengeroposkan legitimasi elite agama yang bersangkutan.

Kepentingan mempertahankan kekuasaan, yang selama ini dinikmati dengan nyaman oleh para elite agama, inilah yang kemudian melahirkan ajakan melawan arus liberalisme dengan kekerasan tersebut.  Umat agama yang lugu-lugu diberdayakan sebagai kekuatan pendukung aliran politik para elit agama tersebut.  Strateginya memanfaatkan fanatisme umat dalam membela agamanya. Umat yang lugu telah dijadikan “pasukan berani mati” membela “agama”.  Oleh karena itu, perlawanan terhadap sekularisme dan liberalisme menjadi bias menuju perbenturan (konflik) antar umat agama.  Bahkan kemudian antar umat dalam satu agama itu sendiri.  Mêmêlas !

Sekularisme dan liberalisme merupakan paham yang mengintervensi batin dan pemikiran umat manusia.  Menjadi liar ganas ketika kemudian dijadikan paham oleh manusia-manusia yang tidak memiliki kesadaran religius, kesemestaan dan keberadabaan umat manusia.  Kesadaran religius dalam hal ini tidak cukup untuk sekedar diwakili dengan memeluk agama.  Namun lebih tepat sebagai kesadaran berke-Tuhan-an yang mendalam dan luas.  Kesadaran kesemestaan dimaksudkan sebagai kesadaran akan ke-‘mahluk’-an manusia yang posisi tempatnya sangatlah kecil di Jagad Raya ini.  Sedangkan kesadaran keberadaban umat manusia adalah kesadaran sebagai mahluk hidup yang memiliki kemampuan berpikir membedakan benar-salah, baik-buruk, budi luhur-budi asôr.

Pada umat manusia yang memiliki kesadaran religius, kesemestaan dan keberadaban umat manusia, sekularisme dan liberalisme akan menjadi jinak dan akan menjadi sumberdaya yang hebat untuk membangun peradaban luhur manusia yang tujuannya adalah kesejahteraan umat manusia di seluruh dunia.  Kiranya wacana keluhuran peradaban yang mensejahterakan umat manusia di dunia adalah cita-cita universal umat manusia sendiri.

Indonesia yang mengklaim diri sebagai bangsa yang religius akan mengalami situasi “genting” ketika mulai marak gugatan-gugatan atas “kemapanan semu” yang ada.  Baik itu kemapanan semu pemerintahan dan aturan kemasyarakatan.  Semua dituntut untuk adil dan rasionil. Dan aras religius sebagai karakter dasar bangsa Indonesia akan menuntut universalnya semua ajaran agama secara obyektif.  Kemapanan para elite agama yang “jumud” akan tergugat dengan sendirinya.

Saat ini Indonesia sedang berusaha bangkit dari keterpurukan.  Namun terkendala banyak masalah pada warga bangsanya sendiri.  Persatuan bangsa telah terkoyak oleh berbagai konflik SARA.  Demikian pula moral bangsa menurun hingga ke titik nadir oleh maraknya KKN hingga ke tingkat akar rumput.  Pragmatisme “Pôkôké Kanthông Isi” telah merasuki pikiran hampir merata di seluruh warga bangsa Indonesia sendiri.  Etika moral yang berpijak pada aras budi luhur sudah dilupakan.

Kondisi Indonesia yang memprihatinkan tersebut mau tidak mau mengusik nurani sebagian warga bangsa yang masih memiliki rasa cinta kepada negara dan bangsanya.  Maka kemudian bermunculan statemen-statemen dari banyak kalangan untuk mengajak memperbaiki keadaan.  Namun kenyataannya bisa kita saksikan pula bahwa belum ada tindakan nyata untuk melaksanakan statemen dan gagasan-gagasan tersebut.

Barangkali ada keseriusan pemerintah melakukan penertiban di segala bidang dan memberantas tindak pidana korupsi.  Namun kiranya belum cukup memadai kalau tidak didukung adanya “gerakan” di tengah masyarakat untuk membangun kembali perilaku budi luhur.

Dalam rangka ikut serta menggerakkan masyarakat membangun perilaku budi luhur tersebut maka membangkitkan peradaban Jawa menjadi relevan.  Alasannya, bahwa peradaban, tata peradaban dan kebudayaan Jawa sarat dengan nilai-nilai budi luhur yang dibutuhkan.

Bukan untuk menafikan peradaban dan kebudayaan unsur-unsur Indonesia yang lain kalau fokus utama “Gerakan Sekar Jagad” pada kebangkitan peradaban Jawa.  Masalah utama adalah belum terbangunnya peradaban Indonesia secara nyata meskipun sudah diwasiatkan pada Pembukaan UUD 1945.  Sejauh ini, bangunan peradaban Indonesia masih merupakan himpunan berbagai peradaban unsur bangsa.  Upaya menyatukan dengan nilai-nilai Pancasila masih belum berjalan mulus.

Untuk membangun masyarakat Pancasilais, maka tata peradaban Jawa dan kebudayaannya sangat diperlukan.  Terutama untuk memelihara norma-norma yang penuh toleransi dari banyak perbedaan yang ada.  Pengalaman panjang Jawa dalam mensinergikan berbagai peradaban menjadi modal yang bisa dipersembahkan kepada Indonesia.

Sebagaimana Bung Karno menyebut bahwa ringkasan Pancasila menjadi Ekasila adalah “gotongroyong”, sedangkan kata “gotong-royong” itu sendiri adalah kosa-kata bahasa Jawa.  Maka sudah dengan sendirinya yang mengerti makna dan mampu mendiskripsikan “gotong-royong” dengan lengkap dan mendalam adalah “Jawa”.  Yaitu: hidup bersama dengan nyaman, tenteram dan damai “tâtâ têntrêm kêrtâ raharjâ”.  Kiranya mudah dipahami, bahwa sesungguhnya manusia dalam hidup bersama di dunia ini adalah untuk kepentingan kesejahteraan bersama.


Gerakan Memulihkan Kehayuan

            Menurut pandangan Jawa, maka keterpurukan Indonesia saat ini merupakan tanda bahwa ke-hayu-an semesta sedang mengalami ganggu-an.  Hubungan semua unsur semesta terganggu keharmonisannya.  Maka dibutuhkan upaya-upaya mengembalikan keharmonisan semesta ter-sebut.  Dalam peradaban dan budaya Jawa banyak ditemukan cara-cara atau upaya memulihkan keselarasan semesta tersebut.

Sebagai contoh gangguan keselarasan tersebut ketika pada suatu lingkup kecil pemukiman ada anak (bayi) yang menangis pada malam hari.  Keharmonisan malam menjadi terganggu oleh tangis bayi tersebut.  Maka pada peradaban dan budaya Jawa, untuk mengatasi hal tersebut, ditembangkan “Kidung Sontrèng” Kinanthi Céngkôk Mangu.  Maka pelan-pelan tangis bayi akan mereda dan suasana kembali selaras hayu lagi.  “Kidung Sontrèng” tersebut adalah “Sastrâ Gêndhing” atau “Mantra Swara” gubahan genius Jawa di jaman Pajajaran yang kemudian diberi warna Islam di jaman Demak.

Di Indonesia banyak didapati budaya asli daerah yang bisa disebut sebagai “mantra swara” tersebut.  Maka perlu digerakkan laku budaya yang berhubungan dengan upaya mengembalikan (memulihkan) keselarasan alam tersebut.  Pada masyarakat Jawa perlu digerakkan berdirinya banyak paguyuban yang kemudian diarahkan untuk bisa melaksanakan “mantra swara Jawa”.  Mantra Swara dalam bentuk tembang berupa “Sêrat Kidungan”, sedang pada ritual gamelan diantaranya berupa “Gêndhing Gadhung Mlathi” dan “Ki Layu Nêdhêng”.

Mengumandangkan “mantra swara” yang terus menerus akan menjadikan unsur-unsur semesta terpengaruh untuk kembali kepada “susunan” yang hayu secara mistis.  Maka nuansanya akan mempengaruhi jiwa-jiwa manusia untuk secara “inner” kembali kepada jati dirinya yang beradab.

Dalam rangka memulihkan ke-hayu-an semesta Jawa dan Indonesia, maka perlu dibangun komunitas yang mampu melaksanakan gerakannya.  Komunitas tersebut hendaknya memiliki cita-cita yang sama, membangun Jawa sebagai ”sekaring jagad” untuk ikut mewujudkan Indonesia sebagai ”Tamansari Dunia”.

Bahwa wacana ini pada aras spirituil, maka perlu dilandasi pengertian bahwa di dalam jiwa setiap warga bangsa Indonesia sesungguhnya telah tertanam wiji (benih) Spirituil Kebangsaan Indonesia secara alami.  Benih spirituil tersebut dalam keadaan bersifat defensif.  Dengan “mantra swara” yang tepat, maka benih spirituil yang bersemayam tersebut bisa digugah untuk menggelora sebagaimana kekuatan “kundalini” yang terbangunkan.  Geloranya sedemikian besar sehingga, kadang-kadang, membuat yang disemayami terguncang seperti “kêsurupan”.  Maka dengan diberi aras ke-hayu-an semesta hasil laku budaya “mantra swara” akan memberikan ruang untuk bergeloranya benih spirituil kebangsaan Indonesia tersebut.  Bergelora kemudian beresonansi dengan benih spirituil yang ada di jiwa seluruh rakyat Indonesia.  Maka ke-hayu-an Indonesia dengan sendirinya akan tercapai dan menghantarkan pada kejayaan.

Demikian semoga bermanfaat.  Swuhn.

* * *  KSM  2005  * * *

 


 

Ki Sondong Mandali adalah nama lain dari Totok Djoko Winarto

Kelahiran Klaten, Jum’at Wage, tanggal 11 Mei 1951.

Pendidikan SD dan SMP di Klaten, SMA kelas I & II di SMA Negeri II Medan, Sumatra Utara, kelas III  di SMA Negeri I Klaten.  Tamat Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam tahun 1969.

Alamat            : Jl. Keruing II No. 111, Banyumanik – Semarang 50263

Tilp. (024) 7477292; HP: 08157611019; 081390478229

e-mail : kisondongmandali@yahoo.com


[1]       Tim Perumus Kurikulum Bahasa Indonesia untuk SMK, Dikmenjur – Diknas, 2003.

[2]   Istilah dari penulis (KSM).

 

FALSAFAH ORANG JAWA

Yang dimaksud orang Jawa oleh Magnis-Suseno adalah orang yang bahasa ibunya bahasa Jawa dan merupakan penduduk asli bagian tengah da timur pulau Jawa.
Berdasarkan golongan sosial, menurut sosiolog Koentjaraningrat, orang Jawa diklasifikasi menjadi 2 (dua) yaitu:

1. Wong cilik (orang kecil) terdiri dari petani dan mereka yang berpendapatan rendah.
2. Kaum Priyayi terdiri dari pegawai dan orang-orang intelektual
3. Kaum Ningrat gaya hidupnya tidak jauh dari kaum priyayi

Selain dibedakan golongan sosial, orang Jawa juga dibedakan atas dasar keagamaan dalam dua kelompok yaitu:

1. Jawa Kejawen yang sering disebut abangan yang dalam kesadaran dan cara hidupnya ditentukan oleh tradisi Jawa pra-Islam. Kaum priyayi tradisional hampir seluruhnya dianggap Jawa Kejawen, walaupun mereka secara resmi mengaku Islam

2. Santri yang memahami dirinya sebagai Islam atau orientasinya yang kuat terhadap agama Islam dan berusaha untuk hidup menurut ajaran Islam

Alam pikiran dan pandangan hidup orang Jawa

Orang Jawa percaya bahwa Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan karena sebelumnya semuanya terjadi di dunia ini Tuhanlah yang pertama kali ada. Pusat yang dimakusd disini dalam pengertian ini adalah yang dapat memebrikan penghidupan, kesimbangan, dan kestabilan, yang dapat juga memberi kehidupan dan penghubung dengan dunia atas.

Pandangan orang Jawa yang demikian biasa disebut Kawula lan Gusti, yaitu pandangan yang beranggapan bahwa kewajiban moral manusia adalah mencapai harmoni dengan kekuatan terakhir dan pada kesatuan terakhir itulah manusia menyerahkan diri secara total selaku kawula (hamba)terhadap Gustinya(SangPencipta).

Sebagian besar orang Jawa termasuk dalam golongan bukan muslim santri yaitu yang mencampurkan beberapa konsep dan cara berpikir Islam dengan pandangan asli mengenai alam kodrati dan alam adikodrati.

Pandangan hidup merupakan suatu abstraksi dari pengalaman hidup. Pandangan hidup adalah sebuah pengaturan mental dari pengalaman hidup yang kemudian dapat mengembangkan suatu sikap terhadap hidup.

Ciri pandangan hidup orang Jawa adalah realitas yang mengarah kepada pembentukan kesatuan numinus antara alam nyata, masyarakat, dan alam adikodrati yang dianggap keramat. Orang Jawa bahwa kehidupan mereka telah ada garisnya, mereka hanya menjalankan saja.

Dasar kepercayaan Jawa atau Javanisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini pada hakekatnya adalah satu atau merupakan kesatuan hidup. Javanisme memandang kehidupan manusia selalu terpaut erat dalam kosmos alam raya. Dengan demikian kehidupan manusia merupakan suatu perjalanan yang penuh dengan pengalaman-pengalaman yang religius.

Alam pikiran orang Jawa merumuskan kehidupan manusia berada dalam dua kosmos (alam) yaitu makrokosmos dan mikrokosmos. Makrokosmos dalam pikiran orang Jawa adalah sikap dan pandangan hidup terhadap alam semesta yang mengandung kekuatan supranatural da penuh dengan hal-hal yang bersifat misterius.

Sedangkan mikrokosmos dalam pikiran orang Jawa adalah sikap dan pandangan hidup terhadap dunia nyata. Tujuan utama dalam hidup adalah mencari serta menciptakan keselarasan atau keseimbangan antara kehidupan makrokosmos dan mikrokosmos.

Dalam makrokosmos pusat alam semesta adalah Tuhan. Alam semesta memiliki hirarki yang ditujukan dengan adanya jenjang alam kehidupan orang Jawa dan adanya tingkatan dunia yang semakin sempurna (dunia atas-dunia manusia-dunia bawah). Alam semesta terdiri dari empat arah utama ditambah satu pusat yaitu Tuhan yang mempersatukan dan memberi keseimbangan.

Sikap dan pandangan tehadap dunia nyata (mikrokosmos) adalah tercermin pada kehidupan manusia dengan lingkungannya, susunan manusia dalam masyarakat, tata kehidupan manusia sehari-hari dan segala sesuatu yang nampak oleh mata. Dalam mengahdapi kehidupan manusia yang baik dan benar didunia ini tergantung pada kekuatan batin dan jiwanya.

Bagi orang Jawa, pusat di dunia ada pada raja dan karaton, Tuhan adalah pusat makrokosmos sedangkan raja adalah perwujudan Tuhan di dunia sehingga dalam
dirinya terdapat keseimbangan berbagai kekuatan alam. Jadi raja adalah pusat komunitas di dunia seperti halnya raja menjadi mikrokosmos dari Tuhan dengan karaton sebagai kediaman raja . karaton merupakan pusat keramat kerajaan dan bersemayamnya raja karena raja merupakan sumber kekuatan-kekuatan kosmis yang mengalir ke daerah dan membawa ketentraman, keadilan dan kesuburan

Kegiatan religius orang Jawa Kejawen

Menurut kamus bahasa Inggris istilah kejawen adalah Javanism, Javaneseness; yang merupakan suatu cap deskriptif bagi unsur-unsur kebudayaan Jawa yang dianggap sebagai hakikat Jawa dan yang mendefinisikannya sebagai suatu kategori khas. Javanisme yaitu agama besarta pandangan hidup orang. Javanisme yaitu agama besarta pandangan hidup orang Jawa yang menekankan ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan, sikap nrima terhadap segala peristiwa yang terjadi sambil menempatkan individu di bawah masyarakat dan masyarakat dibawah semesta alam.

Kemungkinan unsur-unsur ini berasal dari masa Hindu-Budha dalam sejarah Jawa yang berbaur dalam suatu filsafat, yaitu sistem khusus dari dasar bagi perilaku kehidupan. Sistem pemikiran Javanisme adalah lengkap pada dirinya, yang berisikan kosmologi, mitologi, seperangkat konsepsi yang pada hakikatnya bersifat mistik dan sebagainya yang anthropologi Jawa tersendiri, yaitu suatu sistem gagasan mengenai sifat dasar manusia dan masyarakat yang pada gilirannya menerangkan etika, tradisi, dan gaya Jawa. Singkatnya Javanisme memberikan suatu alam pemikiran secara umum sebagai suatu badan pengetahuan yang menyeluruh, yang dipergunakan untuk menafsirkan kehidupan sebagimana adanya dan rupanya. Jadi kejawen bukanlah suatu kategori keagamaan, tetapi menunjukkan kepada suatu etika dan gaya hidup yang diilhami oleh cara berpikir Javanisme.

Sebagian besar dari masyarakat Jawa adalah Jawa Kejawen atau Islam abangan, dalam hal ini mereka tidak menjalani kewajiban-kewajiban agama Islam secara utuh misalnya tidak melakukan sembayang lima waktu, tidak ke mesjid dan ada juga yang tidak berpuasa di saat bulan Ramadhan. Dasar pandangan mereka adalah pendapat bahwa tatanan alam dan masyarakat sudah ditentukan dalam segala seginya. Mereka menganggap bahwa pokok kehidupan dan status dirinya sudah ditetapkan, nasibnya sudah ditentukan sebelumnya jadi mereka harus menaggung kesulitanhidupnya dengan sabar.

Anggapan-anggapan mereka itu berhubungan erat dengan kepercayaan mereka pada bimbingan adikodrati dan bantuan dari roh nenek moyang yang seperti Tuhan sehingga menimbulkan perasaan keagamaan dan rasa aman
Kejawen dapat diungkapkan dengan baik oleh mereka yang mengerti tentang rahasia kebudayaan Jawa, dan bahwa kejawen ini sering sekali diwakili yang paling baik oleh golongan elite priyayi lama dan keturunan-keturunannya yang menegaskan adalah bahwa kesadaran akan budaya sendiri merupakan gejala yang tersebar luas dikalangan orang Jawa. Kesadaran akan budaya ini sering kali menjadi sumber kebanggaan dan identitas kultural.

Orang-orang inilah yang memelihara warisan budaya Jawa sevara mendalam sebagai kejawen.

Pemahaman orang Jawa Kejawen ditentukan oleh kepercayaan mereka pada pelbagai macam roh-roh yang tidak kelihatan yang dapat menimbulkan bahaya seperti kecelakaan atau penyakit apabila mereka dibuat marah atau penganutnya tidak hati-hati. Untuk melindungi semuanya itu, orang Jawa kejawen memberi sesajen atau caos dahar yang dipercaya dapat mengelakkan kejadian-kejadian yang tidak diinginkan dan mempertahankan batin dalam keadaan tenang. Sesajen yang digunakan biasanya terdiri dari nasi dan aneka makanan lain, daun-daun bunga serta kemenyan.

Contoh kegiatan religius dalam masyarakat Jawa, khususnya orang Jawa Kejawen adalah puasa atau siam. Orang Jawa Kejawen mempunyai kebiasaan berpuasa pada hari-hari tertentu misalnya Senin-Kamis atau pada hari lahir, semuanya itu merupakan asal mula dari tirakat. Dengan tirakat orang dapat menjadi lebih kuat rohaninya dan kelak akan mendapat manfaat. Orang Jawa kejawen menganggap bertapa adalah suatu hal yang cukup penting.

Dalam kesusastraan kuno orang Jawa, orang yang berabad-abad bertapa dianggap sebagai orang keramat karena dengan bertapa orang dapat menjalankan kehidupan yang ketat ini dengan disiplin tinggi serta mampu manahan hawa nafsu sehingga tujuan-tujuan yang penting dapat tercapai. Kegiatan orang Jawa kejawen yang lainnya adalah meditasi atau semedi.

Menurut Koentjaraningrat, meditasi atau semedi biasanya dilakukan bersama-sama dengan tapabrata (bertapa) dan dilakukan pada tempat-tempat yang dianggap keramat misalnya di gunung, makam keramat, ruang yang dikeramatkan dan sebagainya. Pada umumnya orang melakukan meditasi adalah untuk mendekatkan atau menyatukan diri dengan Tuhan.

Spiritualitas Jawa

Sejak jaman awal kehidupan Jawa (masa pra Hindu-Buddha), masyarakat Jawa telah memiliki sikap spiritual tersendiri. Telah disepakati di kalangan sejarawan bahwa, pada jaman jawa kuno, masyarakat Jawa menganut kepercayaan animisme-dinamisme. Yang terjadi sebenarnya adalah: masyarakat Jawa saat itu telah memiliki kepercayaan akan adanya kekuatan yang bersifat: tak terlihat (gaib), besar, dan menakjubkan. Mereka menaruh harapan agar mendapat perlindungan, dan juga berharap agar tidak diganggu kekuatan gaib lain yang jahat (roh-roh jahat) (Alisyahbana, 1977).

Hindu dan Buddha masuk ke pulau Jawa dengan membawa konsep baru tentang kekuatan-kekuatan gaib. Kerajaan-kerajaan yang berdiri memunculkan figur raja-raja yang dipercaya sebagai dewa atau titisan dewa. Maka berkembanglah budaya untuk patuh pada raja, karena raja diposisikan sebagai `imam’ yang berperan sebagai pembawa esensi kedewataan di dunia (Simuh, 1999). Selain itu berkembang pula sarana komunikasi langsung dengan Tuhan (Sang Pemilik Kekuatan), yaitu dengan laku spiritual khusus seperti semedi, tapa, dan pasa (berpuasa).

Jaman kerajaan Jawa-Islam membawa pengaruh besar pada masyarakat, dengan dimulainya proses peralihan keyakinan dari Hindu-Buddha ke Islam. Anggapan bahwa raja adalah `Imam’ dan agama ageming aji-lah yang turut menyebabkan beralihnya agama masyarakat karena beralihnya agama raja, disamping peran aktif para ulama masa itu. Para penyebar Islam –para wali dan guru-guru tarekat- memperkenalkan Islam yang bercorak tasawuf.

Pandangan hidup masyarakat Jawa sebelumnya yang bersifat mistik (mysticism) dapat sejalan, untuk kemudian mengakui Islam-tasawuf sebagai keyakinan mereka.

Spiritual Islam Jawa, yaitu dengan warna tasawuf (Islam sufi), berkembang juga karena peran sastrawan Jawa yang telah beragama Islam. Ciri pelaksanaan tasawuf yang menekankan pada berbagai latihan spiritual, seperti dzikir dan puasa, berulang kali disampaikan dalam karya-karya sastra. Petikan serat Wedhatama karya K.G.A.A. Mangku Negara IV:

Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Lekase lawan kas, tegese kas nyamkosani. Setya budya pangekese dur angkara (Pupuh Pucung, bait I)

Artinya:

Ngelmu (ilmu) itu hanya dapat dicapai dengan laku (mujahadah), dimulai dengan niat yang teguh, arti kas menjadikan sentosa. Iman yang teguh untuk mengatasi segala godaan rintangan dan kejahatan.(Mengadeg, 1975).

Di sini ngelmu lebih dekat dengan ajaran tasawuf, yaitu ilmu hakikat / ilmu batin, karena dijalani dengan mujahadah / laku spiritual yang berat (Simuh, 1999). Dalam masyarakat Jawa, laku spiritual yang sering dilakukan adalah dengan tapa, yang hampir selalu dibarengi dengan pasa (berpuasa).

Puasa dalam Masyarakat Jawa

Pada saat ini terdapat bermacam-macam jenis puasa dalam masyarakat Jawa. Ada yang sejalan dengan fiqih Islam, namun banyak juga yang merupakan ajaran guru-guru kebatinan ataupun warisan jaman Hindu-Buddha. Kata pasa (puasa) hampir dapat dipertukarkan dengan kata tapa (bertapa), karena pelaksanaan tapa (hampir) selalu dibarengi pasa.

Di antara macam-macam tapa / pasa, beberapa dituliskan di bawah ini:

Jenis:
Metode:
pasa di bulan pasa (ramadhan)
sama dengan puasa wajib dalam bulan ramadhan. Sebelumnya, akhir bulan ruwah (sya’ban ) dilakukan mandi suci dengan mencuci rambut

tapa mutih (a)
hanya makan nasi selama 7 hari berturut-turut

tapa mutih (b)
berpantang makan garam, selama 3 hari atau 7 hari

tapa ngrowot
hanya makan sayur selama 7 hari 7 malam

tapa pati geni
berpantang makan makanan yang dimasak memakai api (geni) selama sehari-semalam

tapa ngebleng
tidak makan dan tidak tidur selama 3 hari 3 malam

tapa ngrame
siap berkorban /menolong siapa saja dan kapan saja

tapa ngéli
menghanyutkan diri di air (éli = hanyut)

tapa mendem
menyembunyikan diri (mendem)

tapa kungkum
menenggelamkan diri dalam air

tapa nggantung
menggantung di pohon

dan masih banyak lagi jenis lainnya seperti tapa ngidang, tapa brata, dll.
Untuk memahami makna puasa menurut budaya Jawa, perlu diingat beberapa hal.

Pertama, dalam menjalani laku spiritual puasa, tata caranya berdasarkan panduan guru-guru kebatinan, ataupun lahir dari hasil penemuan sendiri para pelakunya. Sedangkan untuk mengetahui sumber panduan guru-guru kebatinan, kita harus melacak tata cara keyakinan pra Islam-Jawa.

Kedua, ritual puasa ini sendiri bernuansa tasawuf / mistik. Sehingga penjelasannya pun memakai sudut pandang mistis dengan mengutamakan rasa dan mengesampingkan akal / nalar. Ketiga, dalam budaya mistik Jawa terdapat etika guruisme, di mana murid melakukan taklid buta pada Sang Guru tanpa menonjolkan kebebasan untuk bertanya. Oleh karena itu, interpretasi laku spiritual puasa dalam budaya Jawa tidak dilakukan secara khusus terhadap satu jenis puasa, melainkan secara umum

Sebagai penutup, dapatlah kiranya dituliskan interpretasi laku spiritual puasa dalam budaya Jawa yaitu:

1. Puasa sebagai simbol keprihatinan dan praktek asketik.
Ciri laku spiritual tapa dan pasa adalah menikmati yang tidak enak dan tidak menikmati yang enak, gembira dalam keprihatinan. Diharapkan setelah menjalani laku ini, tidak akan mudah tergoda dengan daya tarik dunia dan terbentuk pandangan spiritual yang transenden. Sehingga dapat juga dikatakan bahwa pasa bertujuan untuk penyucian batin dan mencapai kesempurnaan ruh.

2. Puasa sebagai sarana penguatan batin
Dalam hal ini pasa dan tapa merupakan bentuk latihan untuk menguatkan batin. Batin akan menjadi kuat setelah adanya pengekangan nafsu dunia secara konsisten dan terarah. Tujuannya adalah untuk mendapat kesaktian, mampu berkomunikasi dengan yang gaib-gaib: Tuhan ataupun makhluk halus.

Interperetasi pertama dan kedua di atas acapkali berada dalam satu pemaknaan saja. Hal ini karena pandangan mistik yang menjiwainya, dan berlaku umum dalam dunia tasawuf. Dikatakan oleh Sayyid Husein Nasr, “Jalan mistik sebagaimana lahir dalam bentuk tasawuf adalah salah satu jalan di mana manusia berusaha mematikan hawa nafsunya di dalam rangka supaya lahir kembali di dalam Ilahi dan oleh karenanya mengalami persatuan dengan Yang Benar” (Nasr, 2000)

3. Puasa sebagai ibadah.
Bagi orang Jawa yang menjalankan syariat Islam. puasa seperti ini dijalankan dalam hukum-hukum fiqihnya. Islam yang disadari adalah Islam dalam bentuk syariat, dan kebanyakan hidup di daerah santri dan kauman.

Orang Jawa percaya bahwa Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan karena sebelum semuanya terjadi di dunia ini Tuhanlah yang pertama kali ada. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta beserta isinya tetapi juga bertindak sebagai pengatur, karena segala sesuatunya bergerak menurut rencana dan atas ijin serta kehendakNYA.

Pusat yang dimaksud dalam pengertian ini adalah sumber yang dapat memberikan penghidupan, keseimbangan dan kestabilan, yang dapat juga memberi kehidupan dan penghubung individu dengan dunia atas. Pandangan orang Jawa yang demikian biasa disebut Manunggaling Kawula Lan Gusti, yaitu pandangan yang beranggapan bahwa kewajiban moral manusia adalah mencapai harmoni dengan kekuatan terakhir dan pada kesatuan terakhir, yaitu manusia menyerahkan dirinya selaku kawula terhadap Gustinya.

Puncak gunung dalam kebudayaan Jawa dianggap suatu tempat yang tinggi dan paling dekat dengan dunia diatas, karena pada awalnya dipercayai bahwa roh nenek moyang tinggal di gunung-gunung.

Sebagian besar orang Jawa termasuk dalam golongan yang telah berusaha mencampurkan beberapa konsep dan cara berpikir islam, dengan pandangan asli mengenai alam kodrati ( dunia ini ) dan alam adikodrati ( alam gaib atau supranatural )

Ciri pandangan hidup orang Jawa adalah realitas yang mengarah kepada pembentukan kesatuan Numinus antara alam nyata, masyarakat dan alam adikodrati yang dianggap keramat. Alam adalah ungkapan kekuasaan yang menentukan kehidupan. Orang Jawa percaya bahwa kehidupan mereka telah ada garisnya, mereka hanya menjalankan saja.

Dasar kepercayaan Jawa atau Javanisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini pada hakekatnya adalah satu, atau merupakan kesatuan hidup. Javanisme memandang kehidupan manusia selalu terpaut erat dalam kosmos alam raya. Dengan demikian kehidupan manusia merupakan suatu perjalanan yang penuh dengan pengalaman-pengalaman yang religius.

Alam pikiran orang Jawa merumuskan kehidupan manusia berada dalam dua kosmos ( alam ) yaitu makrokosmos dan mikrokosmos.

Faktor Jawa dalam Politik Indonesia

 

Pembicara dalam diskusi tsb:

 Romo Prof. Dr. Frans Von Magnis Suseno,

Brigjen TNI (Purn) Dr Saafroedin Bahar,

Harry Tjan Silalahi (CSIS).

Institut  Peradaban sangat mengharapkan kedatangan dan partisipasi Anda pada diskusi tersebut.

 Atas nama Institut Peradaban:

 Prof. Dr. Jimly Asshidiqie,SH

Prof Dr. Salim Said,MA MAIA.
Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, dua tokoh utama perjuangan nasional, Sukarno dan Mohammad Hatta, dipilih menduduki kursi kepemimpinan negara. Sukarno sebagai Presiden dan Hatta sebagai wakil. Kepemimpinan Dwitunggal yang berasal dari Jawa (Sukarno) dan Sumatra (Hatta) waktu itu dan untuk waktu lama dipandang oleh banyak orang sebagai sekali gus mewakili Jawa (Sukarno) dan luar Jawa (Hatta).

Keretakan Dwitunggal yang diikuti dengan pengunduran diri  Hatta dari jabatan Wakil Presiden 1956 kebetulan diikuti dengan pemberontakan daerah (PRRi) pada tahun 1958. Waktu itu dan mungkin hingga kini banyak yang menafsirakn perkembangan tragis demikian sebagai salah satu akibat dari sudah tidak diwakilinya suara-suara luar Jawa dalam pusat kekuasaan Republik Indonesia. Pemerintah di Jakarta dianggap memusatkan perhatian dalam membangun pulau Jawa dan menterlantarkan daerah luar Jawa yang merupakan penghasil devisa utama Indonesia.

Setelah Gestapu, Sukarno digantikan oleh Soeharto. Kalau Presiden pertama Indonesia mendapatkan pendidikan tinggi dan mengembangkan pikiran berdasarkan pemikiran dan konsep politik Barat, Soeharto berlatar pendidikan domestik seadanya. Maka tidaklah mengherankan jika referensi Soeharto terbatas dan bersumber hanya pada  ajaran-ajaran etika dan dan politik Jawa yang diperolehnya dalam perjalanan hidupnya selama tumbuh di Jawa Tengah. Maka masa kepemimpinan Soeharto yang otoriter  adalah juga masa ketika secara budaya Indonesia mengalami ”Jawanisasi.” Klau pada masa Sukarno kosa kata  wacana politik Indonesia banyak berasal dari literature Barat yang menjadi acuan Sukarno dan generasinya, maka pada masa Soeharto politik Indonesia dipenuhi dengan jargon-jargon  yang bersumber padai khasanah pemikiran  dan gagasan kekuasaan  Jawa. Fenomona terakhir inilah barangkali yang mendorong Ben Anderson dari Cornell University untuk menulis esei yang berjudul The idea of Power in Javanese Culture.

 

Pada masa pasca Orde Baru, dalam pemilihan Presiden secara langsung, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih sebagai Presiden dengan Mohammad Jusuf Kalla (JK) sebagai wakilnya. Pada masa itu orang teringat pada Dwitunggal Sukarno- Hatta yang masing-masing mewakili dua bagian Indonesia, Jawa dan Luar Jawa. Tapi pada periode kedua kepemimpinan SBY beliau memilih Dr. Budiono sebagai wakilnya. Karena soliditas Indonesia sudah jauh lebih maju dibanding kondisi pertengahan tahun limapuluhan, maka tidak terjadi hal yang dramatis sebagai akibat tampilnya dua orang dari etnis Jawa sebagai pemimpin tertinggi Indonesia.

Menarik untuk diingat bahwa di masa kepresidenan Sukarno tidak pernah ada wacana mengenai Presiden Indonesia berikutnya adalah orang Jawa. Ini berbeda denga masa Soeharto. Pada masa Orde Baru , meski tidak secara terbuka, komunitas politik Indonesia berbicara mengenai Presiden Indonesia berikutnya adalah orang Jawa, seorang Jenderal dan Islam Jawa (Maksudnya Abangan). Adalah JK sebagai Wakil Presiden yang kemudian secara terbuka menyebut Presiden Indonesia haruslah orang Jawa, dan orang luar Jawa hanya akan jadi Wakil Presiden. Dan wacana politik Indonesia sejak itu seperti telah dipatok oleh pernyataan JK tersebut.

Pertanyaan menarik yang timbul dari fenomena ini adalah:

Selain faktor jumlah (etnis Jawa adalah penduduk mayoritas Indonesia) apakah budaya Jawa memang merupakan satu-satunya budaya di antara berbagai budaya lokal Indonesia  yang sempat mengembangkan konsep kekuasaan dan tata pengelolaan pemerintahan  sehingga mereka yang berlatarkan etnis dan budaya Jawa secara konsepsional dan tradisional  memang lebih siap memimpin Indonesia?

Setelah kemerdekaan Indonesia hampir mencapai usia 70 tahun, apakah memang soal pasangan Jawa dan non Jawa sebagai pemimpin Indonesia sudah tidak menjadi soal lagi dan karena itu tidak relevan lagi dibicarakan?

Apakah orang Jawa yang mayoritas sudah siap secara budaya menerima Presiden yang berasal dari etnis  luar Jawa? Jika belum siap, apa kira-kira penyebab ketidaksiapan tersebut?

Selama 32 tahun Indonesia dipimpin oleh Soeharto yang menguasai Indonesia terutama berdasarkan konsep kekuasan Jawa. Pelajaran apa yang kita dapatkan dari pengalaman tersebut? Karkono Kamajaya, seorang Javanolog dari Jakarta, dalam sebuah ceramahnya di Taman Ismail Marzuki lebih 10 tahun silam, mengatakan demokrasi tidak dikenal dalam budaya politik Jawa. Konsekuensinya tidak usah heran kalau Soeharto memimpin Indonesia layaknya seorang Raja Jawa.

Bagaimana orang di luar Jawa melihat konsep kekuasaan Jawa serta pengelolaan politik Indonesia yang sangat dipengaruhi budaya politik dan kekuasaan Jawa tersebut?

About these ads

0 Responses to “Peradaban : JaWa = Jaga WibaWa”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,252,012 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: