12
Aug
12

Hikmah : Ramadhan dan Keadilan

Ramadhan dan Keadilan

Minggu, 12 Agustus 2012, 09:30 WIB
Ramadhan dan Keadilan
Seorang anak Pakistan berdoa diantara deretan piring berisi buah yang disumbangkan untuk jamaah yang hendak berbuka puasa di sebuah masjid di Karachi, Pakistan, Sabtu (21/7). (Shakil Adil/AP)

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Erman Suparno

Setiap Ramadhan, para ulama, kiai, ustaz, mubaligh, baik melalui panggung, majelis taklim, televisi, radio, maupun media lainnya, tak henti-hentinya menyampaikan kepada jamaah dan umat akan firman Allah tentang kewajiban berpuasa yang terdapat dalam surah al-Baqarah [2] ayat 183.

Ayat tersebut sangat penting karena menjadi landasan teologis bagi umat dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Selain merupakan salah satu rukun Islam, puasa Ramadhan juga mengandung misi ketuhanan yang sangat memengaruhi kualitas ibadah (ritual) dan juga misi sosial yang didesain Allah.

Sebagai sebuah bentuk ibadah, sudah pasti pelaksanaan puasa Ramadhan memiliki kualifikasi fikhiyah ter tentu. Meski sifat pelaksanaannya adalah wajib, dengan segala kasih sayang-Nya, Allah tidak lupa menyiapkan beberapa kemudahan untuk orang-orang tertentu dalam melaksanakan ibadah puasa. Hal yang sama kita temukan pada hampir semua kewajiban keagamaan, termasuk dalam ibadah shalat, haji, zakat, serta ibadah lainnya. Semua ibadah dalam Islam memiliki pesan moral dan sosial yang kental.

Dalam surah al-Baqarah [2]: 183 dijelaskan, puasa Ramadhan harus mewujudkan orang-orang yang bertakwa. Dalam konteks sosial, orang-orang bertakwa adalah mereka yang mampu berlaku adil dan terus menjaga dirinya selalu berada pada derajat tersebut. Sebab, keadilan merupakan konsekuensi logis dari ketakwaan seseorang. Tidak dikatakan bertakwa seseorang itu apabila ia belum bisa berlaku adil terhadap semua. Islam mengamanatkan pentingnya menegakkan keadilan.

Sebagai pranata Tuhan di dunia, agama hadir untuk membebaskan manusia dari kondisi-kondisi sosial yang tidak berkeadilan. Islam menolak seluruh bentuk tirani, hegemoni, dominasi, atau eksploitasi dalam segala sisi kehidupan. “Berlaku adillah karena itu lebih dekat kepada takwa.” (QS al- Maidah [5]: 8). Jadi, mereka yang berpuasa Ramadhan, harus berlaku adil agar mencapai derajat takwa.

Ketika menyaksikan seorang perempuan menghardik pembantunya pada siang Ramadhan, Rasulullah SAW memanggil perempuan itu dan menyuruhnya makan. Ia menolak karena tengah berpuasa. Tetapi Rasulullah dengan tegas mengatakan, bagaimana mungkin ia berpuasa sementara ia tak berlaku adil, menghardik dengan kata-kata kasar.

Menghardik hanya mungkin dilakukan oleh yang kuat terhadap yang lemah. Puasa, menurut Rasulullah, disebut rusak karena mengabaikan pesan keadilan. Dan, disebut tidak berpuasa seseorang jika tidak bisa berlaku adil. Adil adalah tangga terdekat menuju takwa.

Sangat mungkin seseorang mampu memenuhi semua kualifikasi syariat dalam melaksanakan sebuah ibadah, tetapi pahalanya mungkin tertahan karena pesan sosialnya tidak tertunaikan dengan benar. Alquran mengajak umat Islam menjadi pembela bagi kelompok tertindas serta golongan yang lemah dan dilemahkan.

Redaktur: Heri Ruslan

Memakan Harta Hasil Korupsi, Inilah Akibatnya

Minggu, 12 Agustus 2012, 05:37 WIB
Tahta Aidilla/Republika
Memakan Harta Hasil Korupsi, Inilah Akibatnya
Mural anti korupsi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Hanna Putra Lc
Secuil makanan yang haram akan mengendap dalam perut seseorang. Ia akan tumbuh bersama daging dan darah. Tubuh manusia manapun yang tumbuh berkembang dan yang haram, maka nerakalah yang paling layak untuknya.

Para salafus shaleh tahu benar dari mana mereka makan rasa mereka menjadi bersih, badan menjadi sehat, hati bersinar. Ketika makanan dan minuman orang-orang terkemudian rusak, cahaya petunjuk dalam hati mereka menjadi redup.

Dalam sebuh hadits Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang hamba makan makanan lebih baik daripada ia makan makanan dari hasil usaha tangannya sendiri, dan sungguh Nabi Daud AS makan makanan dari hasil usaha tangannya sendiri.”

Nabi Zakaria AS adalah seorang tukang kayu, Nabi Daud seorang tukang pandai besi, Nabi Muhammad dan beberapa nabi lain SAW pernah menggembala kambing.

Islam menyeru kepada usaha dan mencari rizki, tetapi dari pintu-pintu yang dihalalkan. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih baik.” (QS. Al-lsra’, 34).

Dalam ayat lain Allah SWT juga berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara dzalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa’, 10).

Semakna dengan ayat tersebut Allah juga berfirman, “Dan janganlah sebahagian kamu makan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu ke hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 188).

Selain itu, harta haram dari riba juga mendapat ancaman. Sebagaimana firman Allah SWT, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran tekanan penyakit gila.” (QS. Al-Baqarah, 275).

Demikian juga harta yang didapat dari hasil korupsi dan sogokan. Rasulullah SAW bersabda, “Allah melaknat orang yang menyogok dan yang disogok.”

Ibnul Qayyim AJ-Jauzi mengisahkan kepada kita dalam Shaidul Khatir bahwa ia makan makanan syubhat, hatinya kemudian berubah dan gelap untuk beberapa lama. Oleh karena itu. karena kesucian hati para salaf merasakan perubahan pada hati mereka.

Orang yang tidak mempedulikan kehalalan makanan dan minuman yang masuk melalui tenggorokannya sudah pasti akan menjadikannya berperilaku yang haram pula. Karena setiap darah dan daging yang memproduksi energinya berasal dari yang haram, tentu energi yang dia hasilkan akan menjurus kepada yang haram pula.

Sebagian mereka minum minuman keras dan yang memabukkan dengan segala macam dan jenisnya. Mereka ini sama sekali tidak akan merasakan lezatnya ibadah dan manisnya ketaatan kepada Allah. Mereka akan hidup dalam keadaan gundah, cemas, tak dapat merasakan kebahagiaan, dan tidak mempunyai waktu saat doanya dikabulkan Allah.

Oleh karena itu, orang yang tidak membuat perutnya berpuasa, maka ia seakan-akan tidak berpuasa. Orang yang berpuasa dari yang haram, berhati-hati dalam makanan dan minuman ia akan masuk surga.

Sumber: 30 Renungan Ramadhan, Oleh ‘Aidh Abdullah Al-Qarni.

Redaktur: Heri Ruslan

Inilah Ganjaran Pemakan Makanan Haram

Minggu, 12 Agustus 2012, 05:15 WIB
Antara/Jafkhairi
Inilah Ganjaran Pemakan Makanan Haram
Petugas memperlihatkan bahan makanan berbahaya berupa boraks dan pewarna tekstil untuk makanan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hannan Putra Lc

Makanan, baik halal maupun haram mempunyai pengaruh atas kehidupan, perilaku, dan akhlak manusia.

Oleh sebab itu Allah menyuruh para rasul-Nya seraya berfirman, “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik- baik dan kerjakanlah amal shaleh.” (QS. Al-Mu’minun, 51).

Selain itu, Allah SWT juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya saja Kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah, 172).

Makanan yang baik adalah makanan yang dihalalkan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang beriman yang dituturkan oleh Rasulullah SAW.

Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa Rasulullah menyebut seorang laki-laki yang rambutnya acak-acakan karena menempuh perjalanan panjang, tangannya menadah ke langit, tetapi makanannya makanan haram, minumannya minuman haram, dan bersantap dengan yang haram, bagaimana mungkin doanya dikabulkan.

Lelaki ini ialah seorang hamba yang banyak beribadah kepada Allah, tetapi ia bermaksiat dalam makanan, tidak bertakwa kepada Allah dalam hal makanan dan minuman.

Bagaimana mungkin bisa dikatakan perut berpuasa padahal ia berbuka dengan yang haram, makanan yang diperoleh dari jalan riba, usaha haram, menipu, makan harta anak yatim, dan marah.

Sungguh, rasa telah rusak manakala makanan dan minuman telah rusak, hati mengeras bagai batu manakala makanan dan minuman busuk, cahaya meredup manakala makanan telah kehilangan sifat halalnya.

Diriwayatkan dari Abu Bakar RA, suatu hari ia bersantap makanan. Setelah itu, bertanya kepada pelayannya, “dari makanan ini?” Si pelayan menjawab, “Dari hasil praktik perdukunan yang pernah saya lakukan dahulu pada waktu jahiliyah.”

Mendengar ucapan pelayannya itu, spontan Abu Bakar memasukkan tangannya ke dalam mulutnya. Ia berusaha mengeluarkan makanan yang baru ia santap untuk segera keluar dari perutnya. Abu Bakar sangat kewalahan, karena perutnya sangat lapar dan baru diisi dengan makanan.

Redaktur: Heri Ruslan

Tradisi Iktikaf Akhir Ramadhan

Sabtu, 11 Agustus 2012, 01:01 WIB
Republika/Edy Yusuf
Tradisi Iktikaf Akhir Ramadhan
Iktikaf di masjid.

Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

Sesungguhnya iktikaf bukan merupakan ibadah khusus di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Iktikaf (berdiam diri di Masjid dengan menyibukkan beribadah kepada Allah SWT) dapat dilakukan setiap waktu dan kesempatan baik oleh seorang Muslim maupun Muslimah termasuk anak-anak yang telah mencapai umur baligh (dewasa).

iktikaf hukumnya sunah muakkadah dan wajib dilakukan di masjid, bukan di tempat lain seperti rumah atau semacamnya. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT, “Dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan sujud.” (QS. Al-Baqarah: 125).

Adapun banyaknya orang yang melakukan iktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan didasarkan pada sunah Rasulullah SAW yang senantiasa meningkatkan kualitas maupun kuantitas ibadahnya pada sepuluh hari terakhir tersebut.

Di sepuluh hari terakhir itu Rasulullah SAW menambah jumlah qiyamul lail-nya, memperbanyak shalawat, dzikir, istighfar, tahmid, takbir dan tahlil kepada Allah SWT serta membaca Alquran, disamping melakukan iktikaf di masjid sebanyak sepuluh hari dalam rangka mencari Lailatul Qadar dan mengharap pahala serta ridha Allah SWT. Pada Ramadhan terakhir menjelang wafat, Rasulullah SAW melakukan iktikaf sebanyak dua puluh hari.

Dari Abu Hurairah RA, “Adalah Rasulullah SAW yang senantiasa melakukan iktikaf sebanyak sepuluh hari pada setiap Ramadhan. Pada Ramadhan di mana beliau wafat, Rasulullah SAW melakukan iktikaf sebanyak dua puluh hari.” (HR. Bukhari).

Iktikaf sendiri menurut para ulama dapat dilakukan dalam waktu sesaat seperti satu, dua jam atau lebih, baik pada waktu siang maupun malam. Yang terpenting dalam kegiatan iktikaf tersebut adalah seseorang berada di masjid dan tinggal di dalamnya karena hal itu merupakan rukun iktikaf; menyibukkan diri dengan ibadah dan pendekatan kepada Allah SWT; serta mulut maupun hatinya hanya disibukkan dengan kebaikan dan jauh dari kesibukan duniawi.

Namun, disunahkan iktikaf dilakukan paling sedikitnya sehari-semalam, karena Rasulullah SAW dan para sahabatnya tidak pernah melakukan iktikaf kecuali sedikitnya dalam waktu sehari-semalam.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan iktikaf sebagaimana dikatakan oleh Aisyah dalam riwayat Abu Daud antara lain seseorang yang beriktikaf hendaknya tidak sakit, tidak melihat jenazah, tidak mencium suami/istrinya, dan tidak keluar dari masjid untuk kebutuhan yang tidak penting. Sedangkan utamanya, iktikaf dilakukan dalam keadaan berpuasa dan di tiga masjid utama Islam, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsha.

Mereka yang berkesempatan melakukan umrah di sepuluh terakhir bulan Ramadhan memiliki keutamaan tempat, waktu, situasi/kondisi, dan momentum karena dapat melakukan iktikaf di Masjidil Haram/Nabawi/Al Aqsha, pada bulan Ramadhan, dalam kondisi berpuasa, serta pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan, dapat kita bayangkan betapa mudah Allah SWT mengabulkan doa-doanya.

Namun, Rahmat Allah sangatlah luas dan tidak pernah memaksa di luar batas kemampuan kita masing-masing, sehingga kita yang belum dan tidak memiliki kesempatan untuk datang ke Masjidil Haram, pelaksanaan iktikaf di sepuluh terakhir bulan Ramadhan tetap merupakan momentum yang baik sebab keutamaan ibadah dan dikabulkannya doa terletak pada detik-detik terakhir saat ibadah usai dilaksanakan. Wallahua’lam.

Redaktur: Chairul Akhmad
About these ads

0 Responses to “Hikmah : Ramadhan dan Keadilan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,006,241 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers

%d bloggers like this: