Archive for August, 2012

28
Aug
12

Kenegarawanan : Pembodohan Demokrasi lebih buruk drpd Penjajahan

http://jakarta45.files.wordpress.com/2011/10/komite-nasional-pancasila.png?w=655

27 Agustus 2012 | BP

Pembodohan dalam Demokrasi Lebih Buruk daripada Penjajahan

”Harus dikatakan bahwa berbedaan sosial, budaya dan politik di Indonesia itu sudah merupakan fakta sosial yang tidak bisa diingkari dari kaca mata apa pun. Politik harus menyesuaikan diri dengan kenyataan demikian. Cara terbaik untuk berhasil memenangkan pilihan politik, tidak lain dengan berada di atas berbagai keragaman itu. Ideologi nasionalisme, landasan Pancasila sebenarnya merupakan kemenangan awal dari lembaga politik yang hendak berlomba di Indonesia.””Kampanye negatif seperti menyudutkan etnik tertentu, membakar permukiman (kalaupun itu berkorelasi) miskin, tidak boleh terjadi dalam pemilihan umum tingkat apa pun. Di samping menyalahi asas demokrasi, hal ini sungguh menyalahi hak asasi manusia. Keragaman bukan saja menjadi fakta sosial di Indonesia, akan tetapi juga fakta politik.”Oleh I Nyoman Susila
Sebagai sebuah informasi, isu tentang adanya kampanye negatif terhadap etnis dan suku tertentu menjelang pilkada putaran kedua DKI Jakarta, dan isu berkaitnya kebakaran berbagai rumah kumuh di DKI Jakarta dengan hasil pilkada putaran pertama, sungguh mencengangkan. Apabila informasi tersebut sampai masuk ke ranah pikiran masyarakat luas, ini adalah sebuah pembodohan.

Isu, betapa pun hal itu masih belum terbukti, telah mampu membentuk sebuah struktur pendapat para warga dan kemudian menghasilkan berbagai pemikiran. Secara negatif, itu akan memancing para politisi yang berlatar belakang kotor untuk mempraktikkan hal demikian. Akan tetapi, sebaliknya apabila hal itu dicerna oleh politisi yang mempunyai pikiran positif, akan mendorong mengecam tindakan tersebut dan memungkinkan orang seperti ini mundur dari dunia politik.

Bukan tidak mungkin mereka mundur karena benci dengan cara berpolitik banci, pengecut dan kekanak-kanakan demikian. Sungguh sayang apabila politisi yang berpikiran positif demikian justru mundur, karena politisi-politisi seperti ini sesungguhnya diperlukan oleh Indonesia yang menghendaki perubahan sosial.

Kalaupun misalnya isu tersebut benar, ini bukanlah strategi baik untuk memenangkan sebuah pemilihan umum dan bukan pula cara baik untuk membungkam lawan. Sebab, dalam tataran demokrasi di zaman kebebasan informasi seperti sekarang, rakyat akan mampu mengolah informasi itu melalui ruang-ruang publik yang tersedia. Jadi upaya menyudutkan lawan dengan cara-cara kotor, justru akan berbanding lurus dengan kegagalan. Melalui ruang publik, warga akan mendiskusikan logika, kebenaran, etika, moralitas, pertanggungjawaban, sopan santun dari cara-cara negatif itu, sehingga pada akhirnya melahirkan sebuah sintesis kekalahan. Akan ada pendapat yang mendekati kebenaran bahwa pihak tertentulah melakukan kampanye negatif itu, sehingga pihak itu akan ditinggalkan oleh warga. Warung, tanah lapang, media sosial twitter, internet dan sejenisnya secara otomatis akan dipakai sebagai media komunikasi sosial masyarakat. Media-media seperti ini tidak akan pernah mati, meskipun digerebek berkali-kali semata-mata hanya karena mereka mendiskusikan kebenaran. Orde Baru telah membuktikan betapa gagalnya mereka menyebar intel dan memata-matai diskusi tentang kebebasan di masa lalu, karena terbukti berbagai diskusi tersebut terus berlanjut dan akhirnya meruntuhkan Orde Baru sendiri.

Karena itulah, cara-cara kampanye negatif seperti menyudutkan etnik tertentu, membakar permukiman (kalaupun itu berkorelasi) miskin, tidak boleh terjadi dalam pemilihan umum tingkat apa pun. Di samping menyalahi asas demokrasi, hal ini sungguh menyalahi hak asasi manusia. Keragaman bukan saja menjadi fakta sosial di Indonesia, akan tetapi juga fakta politik. Berbagai suku hidup subur di Indonesia, jauh sebelum negara Indonesia terbentuk. Penjajah Belanda saja, juga penjajah Jepang, mengakui hal itu, dan tidak mengungkatangkitnya. Bahkan para penjajah ini mendapatkan pengetahuan berharga yang luar biasa dengan mempelajari berbagai kulturnya dan mendapatkan pengetahuan antropologi mahabesar dari keragaman tersebut.

Anak-cucu negara penjajah itu pada akhirnya mempunyai pengetahuan tinggi tentang pengetahuan sosial yang bermanfaat bagi pengembangan negaranya sendiri. Orang Belanda sangat memahami bagaimana kultur masyarakat Jawa, Bali, Tionghoa, pedesaan Indonesia dan sebagainya. Apabila komponen warga kita sendiri kemudian mengingkari keragaman tersebut dengan menebar berbagai ancaman melalui video, maka jangan marah apabila dipandang justru moralnya lebih buruk daripada para penjajah.

Aliran politik Indonesia juga sangat beragam. Secara teoretik, ada beberapa aliran politik seperti sosialisme, komunis, nasionalis, orientasi agama Islam, Kristen, demokrasi bahkan sampai tradisionalisme yang berpaham santri-abangan. Inilah yang menjadi gambaran dasar politik yang dipakai oleh masyarakat Indonesia. Saat ini aliran-aliran politik tersebut tidak terlalu jauh berbeda dan masih hidup di masyarakat. Ideologi mempunyai jangkauan yang lebih luas dibanding nilai. Apabila satu keyakinan dianut oleh seorang individu, dan nilai dianut oleh sebuah kelompok, maka pemeluk ideologi merupakan gabungan kelompok-kelompok yang lebih luas. Ideologi politik itu di samping dianut oleh gabungan kelompok yang lebih luas, juga melalui proses perenungan yang panjang sehingga mempunyai alasan bagi kelompok untuk memakainya.

Upaya negatif untuk mengingkari ideologi itu, apalagi menyudutkannya secara kasar, justru akan mendapatkan perlawanan dari para penganutnya yang menyebar dari berbagai kelompok. Manusia ketika telah berada di dalam kelompok, rasa takutnya akan berkurang untuk melakukan perlawanan. Dengan demikian, cara-cara negatif untuk mengatasinya justru akan menimbulkan bentrokan dan konflik. Fenomena ini pasti akan merugikan negara.

Harus dikatakan bahwa berbedaan sosial, budaya dan politik di Indonesia itu sudah merupakan fakta sosial yang tidak bisa diingkari dari kacamata apa pun. Politik harus menyesuaikan diri dengan kenyataan demikian. Cara terbaik untuk berhasil memenangkan pilihan politik, tidak lain dengan berada di atas berbagai keragaman itu. Ideologi nasionalisme, landasan Pancasila sebenarnya merupakan kemenangan awal dari lembaga politik yang hendak berlomba di Indonesia. Persoalan kedua yang menentukan kemenangan adalah strategi pendekatan kepada massa. Stategi ini, lagi-lagi harus berlandaskan keadilan, dalam arti tidak memihak kepada satu golongan mana pun. Maka strategi yang paling tepat dilakukan oleh lembaga politik yang ingin memenangkan hati rakyat (memenangkan pemilu salah satu contohnya), tidak lain menerapkan pembangunan yang merakyat, yang bisa disentuh oleh seluruh lapisan masyarakat. Ini bisa dilakukan pada tingkat nasional, provinsi, kabupaten, dan sudah jelas konstituens politik.

Di zaman sekarang, secara nasional Indonesia memerlukan pertumbuhan ekonomi yang merata. Maka tema paling cocok sudah tentu pemerataan perekonomian, tidak hanya memusat di kota saja. Hal demikian sudah pasti pula pada tingkat provinsi.

Fakta sosial yang ada di Jakarta adalah begitu beragamnya kondisi masyarakat, baik dari sisi sosial maupun ekonomi. Derasnya globalisasi dengan pembangunan kapitalisnya, membuat komposisi masyarakat miskin di Jakarta tumbuh pesat. Strategi kampanye yang mampu memenangkan hati rakyat adalah mereka yang benar-benar menerapkan asas keadilan sosial, bukan yang kapitalistik. Siapa pun yang menerapkan strategi seperti ini pasti akan memenangkan hati rakyat. Jadi, kemenangan itu jangan diingkari, apalagi disudutnya dengan cara-cara brutal. Ini adalah pembodohan yang lebih kejam daripada penjajahan.

Penulis, analis pilkada, melakukan riset sosial tentang pendapat masyarakat akar rumput. Tinggal di Kabupaten Badung

26
Aug
12

Ideologi : Selamatkan Pasal 33 UUD 1945

http://jakarta45.files.wordpress.com/2011/12/jakarta-452.png?w=637&h=609&h=609

Selamatkan Pasal 33 UUD 45

Lebih spesifik, pada pidato di HIPKI Sumatera Barat 18 April 1979 Bung Hatta menegaskan “…keputusan-keputusan ekonomi untuk rakyat banyak sesuai cita-cita UUD 1945 tidak berdasarkan mekanisme pasar seperti pada ekonomi liberal…” UU Migas yang dibela Radjagukguk jelas liberalistik mengacu pada mekanisme pasar.
Kemudian dalam Pidato pada Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) 15 Juni 1979, Bung Hatta menegaskan pula: “…pemerintah membangun dari atas, melaksanakan yang besar-besar seperti membangun tenaga listrik, penyediaan air minum, menggali saluran pengairan, membuat jalan perhubungan guna lancarnya jalan ekonomi, menyelenggarakan berbagai macam produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak – apa yang disebut dalam bahasa Inggris public-utilities, diusahakan oleh pemerintah.
Tetapi, pemimpin perusahaan diberikan kepada tenaga yang cakap… apabila tidak terdapat atau belum terdapat di antara bangsa sendiri, disewa manajemen asing, dengan syarat bahwa selama ia memimpin perusahaan negara, ia mendidik gantinya dari orang Indonesia sendiri… Di mana perlu orang asing dan kapital asing diikutsertakan… di bawah penilikan pemerintah dan dalam bidang dan syarat yang ditentukan pula oleh pemerintah”.
Jelas peranan pemerintah adalah untuk menyelamatkan kepentingan rakyat dan negara, “cabang-cabang produksi yang penting bagi negara” dan yang “menguasai” hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya “dikuasai oleh negara” untuk “sebesar-besar kemakmuran rakyat”.
Demikianlah perekonomian imperatif harus “disusun” (Ayat 1 Pasal 33), tidak dibiarkan tersusun sendiri sesuai dengan selera dan kehendak pasar bebas. Ini pun sekarang sesuai dengan kehendak zaman kontemporer yang menghendaki the end of laissez-faire, perlu berakhirnya pasar bebas (Polanyi, Baran, Galbraith, J Robinson, Tinbergen, Kaldor, Myrdal, Singer, Seers, Sen, Streeten, Kuttner, Giddens, Etzioni, Akerlof, JW Smith, Williams, Stiglitz, dst).
Mohammad Hatta memang bukan seorang yang antiasing, tidak pula antimodal asing, tetapi itu bukan berarti pandangan Hatta yang dikutipnya itu terlepas dari cita-cita nasional, yaitu bahwa investasi asing maupun pinjaman luar negeri harus mampu meningkatkan kemandirian nasional.
Tentang Ayat 2 Pasal 33 UUD 1945 “Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara”. Penjelasan dari Bung Hatta bahwa “menguasai” tidak harus menjadi “ondernemer”, sama sekali tidak berarti untuk mengingkari Doktrin Demokrasi Ekonomi”.
The global rule of the game yang berlaku adalah bahwa “menguasai” haruslah dengan “memiliki”. Subject matter Pasal 33 adalah “menguasai”, apabila penguasaan tidak bisa dilakukan tanpa pemilikan, maka haruslah pemerintah “memilikinya”, minimal 51 persen ke arah indonesianisasi demi menyelamatkan kepentingan dan kedaulatan negara.
Yang “vital-strategis” harus dimiliki sepenuhnya oleh negara. Lebih tegas lagi, baik Bung Hatta atau Bung Karno sudah menggariskan bahwa investasi asing dan investor asing tidak boleh mempredominasi (beheersen) ataupun mendominasi (overheersen) ekonomi nasional kita.
Mengenai open door policy dalam pelaksanaan Undang-Undang Penanaman Modal Asing No 1 1967 telah dikritik oleh Bung Hatta pada rapat Panitia Lima 11 Maret. (1) ekonom-ekonom Bappenas didikan Amerika hanya mau mengekor ekonom-ekonom Amerika; (2) mengapa konsesi-konsesi antara lain hutan tanpa batas; (3) mengapa pabrik baja dan semen diserahkan kepada swasta; (4) mengapa pabrik pupuk mau dibatasi untuk menguntungkan importir; (5) mengapa DPR lumpuh kurang tanggap menjaga soal pajak dan perjanjian-perjanjian dengan swasta asing untuk bidang “vital-strategis”.
Kemudian di dalam Seminar Penjabaran Pasal 33 pada 6-7 Oktober 1977 Bung Hatta mengakhiri pidatonya dengan kata-kata: “…Pada masa yang akhir ini negara kita masih berdasar Pancasila dan UUD 1945, tetapi politik perekonomian negara di bawah pengaruh teknokrat kita sekarang, sering kali liberalisme dipakai jadi pedoman. Berbagai barang yang penting bagi penghidupan rakyat tidak menjadi monopoli pemerintah, tetapi dimonopoli orang-orang China…”
Mengapa Undang-Undang No 1/1967 diteken Presiden Soekarno padahal Bung Karno baru bilang “go to hell with your aid” dan keluar dari keanggotaan PBB? Barangkali Presiden Soekarno mencoba realistis.
Toh Pasal 4, 5 dan 6 dalam undang-undang itu masih menegaskan bidang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak (Pasal 33) yang secara eksplisit dinyatakan tertutup bagi modal asing, meliputi pelabuhan, produksi, transmisi dan distribusi listrik untuk umum, telekomunikasi, pelayaran, air minum, kereta api umum, tenaga atom dan media massa. Inilah penolakan tegas terhadap neoliberalisme.
Ada pula “the invisible hands” alias tangan-tangan yang tak tampak atau “tangan ajaib”, jauh-jauh hari telah merencanakan mengubah Pasal 33 UUD 1945, bahkan dengan kenekadan luar biasa berantisipasi dan yakin (self-fulfuling prophecy) bahwa Pasal 33 UUD 1945 pasti berhasil mereka gusur.
Sejak tahap masih disusun sebagai RUU Migas telah dipersiapkan jauh-jauh hari dan sudah mereka cantumkan dalam konsiderannya, dan tertulis “Mengingat: …Pasal 33 Ayat (2) dan (3) Undang-Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah dengan Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945; …”. Padahal, kita tahu bahwa Pasal 33 Ayat (2) dan (3) UUD 1945 telah gagal mereka ubah, tetap utuh sebagai aslinya.
Ketika amendemen diputuskan dan menolak perubahan antara lain berkat perjuangan mati-hidup saya dan kawan-kawan saat itu selaku anggota MPR, mereka lupa menyesuaikan kembali konsideran yang penuh kerakusan imajinasi dan mimpi. Akibatnya UU Migas konsiderannya tidak valid atau sepenuhnya keliru sebagai rechtsidee. Jadi, UU Migas secara otomatis batal demi hukum.
Untuk jelasnya, Pasal 33 dan Hatta mendudukkan rakyat pada posisi “sentral-substansial” dalam sistem ekonomi Indonesia. Sebaiknya sistem ekonomi neoliberalisme (akibat hegemoni akademis yang dipelihara di kampus-kampus kita) telah menempatkan peran kapital mengungguli harkat manusia, mereduksi kedudukan rakyat menjadi “marginal-residual”.
Itulah kapitalisme dan neoliberalisme, manusia bebas tampil dalam bentuk rakus-materialistiknya, jauh dari sosok homo-sosius, homo-humanus dan homo-religius. Pembangunan diwajarkan menggusur orang miskin, bukan menggusur kemiskinan.
Sri Edi Swasono
Guru Besar Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia
SINAR HARAPAN, 23 Agustus 2012

Kembali ke Jalan Lurus (1)

Mulai ramai dibicarakan di mana-mana agar kita segera kembali ke jalan lurus, jalan Pancasila. Orang-orang pengemban nasionalisme mulai muak dengan liberalisme dan liberalisasi ekonomi yang dipelihara di negeri ini.
Dalam berbagai pembicaraan publik, mereka bisa tunjuk hidung siapa saja oknum-oknum liberalis, kampus-kampus mana saja yang menjadi benteng liberalisme, bahkan menteri-menteri yang mana saja yang tergolong kawanan kapitalisme global, siapa saja komprador-komprador Konsensus Washington yang tidak memiliki semangat nasionalisme.
Apabila 5 Juli 1959 kita catat sebagai puncak tekad bangsa ini kembali ke cita-cita Proklamasi Kemerdekaan berupa Dekrit Presiden Kembali ke UUD 1945, maka pada 5 Juli 2012 adalah deklarasi “kembali ke Pancasila”, yang diprakarsai antara lain oleh Forum Komunikasi (Foko) TNI dan Polri, Jalan Lurus, Barisan Nasional (Barnas), Nusantara Institut, Jatidiri Bangsa, Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), Dewan Harian Nasional (DHN) 1945, dan lain-lainnya.
Selain tokoh-tokoh nasional, purnawirawan TNI/Polri, tak ketinggalan tokoh-tokoh kampus, dan pemuda nasionalis, numplek hari itu di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), mendeklarasikan Gerakan Pemantapan Pancasila (GPP). Pembina GPP adalah Try Sutrisno dan Sekretaris Saiful Sulun.
Kita berontak terhadap penjajahan Belanda tidak terlepas dari penolakan terhadap sistem ekonomi liberal yang membentuk kapitalisme dan penindasan kolonial. Mohammad Hatta ketika diangkat menjadi pemimpin Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda (1926) pidato inagurasinya berjudul “Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen” (Bangunan Ekonomi Dunia dan Pertentangan Kekuasaan) mengutuk tajam liberalisme, kapitalisme dan imperialisme.
Digambarkannya dalam pidato itu bakal pecahnya perang di Pasifik antara Timur dan Barat, yang ternyata benar-benar terjadi 16 tahun kemudian pada 1942.
Kemudian dalam pembelaan (pleidooi)-nya di Pengadilan Den Haag 9 Maret 1928 Hatta yang saat itu berusia 25 tahun telah menolak liberalisme, kapitalisme dan imperialisme, bahkan mengatakan di depan Hakim “lebih baik Indonesia tenggelam ke dasar lautan daripada menjadi embel-embel bangsa lain”.
Antara tahun 1931-1934 penolakan itu dalam artikel-artikelnya, “Pengaroeh Koloniaal Kapitaal di Indonesia”, dalam Daulat Ra’jat, 20 November 1931 dan artikel-artikel berikutnya “Pendirian Kita” (Daulat Ra’jat, 10 September 1932).
“Krisis Dunia dan Nasib Ra’jat Indonesia” (Daulat Ra’jat, 20 September 1932), “Ekonomi Ra’jat” (Daulat Ra’jat, 20 November 1933), dan yang paling monumental artikelnya yang berjudul “Ekonomi Ra’jat dalam Bahaja” (Daulat Ra’jat, 10 Juni 1934). Kesemuanya menggambarkan keganasan kapitalisme yang menghancurkan ekonomi rakyat di Hindia Belanda.
Sepulangnya dari Negeri Belanda akhir 1932 tidak lama Hatta bebas bergerak, ia ditangkap dan masuk Penjara Glodok pada 1933 selama hampir satu tahun. Kemudian Hatta langsung dibuang ke Boven Digoel, Tanah Merah, tempat pembuangan yang paling kejam dan mengerikan.
Di dalam Penjara Glodok itu ia menulis buku Krisis Ekonomi dan Kapitalisme (dicetak 1934), di situ ditegaskan oleh Hatta penolakannya terhadap sistem pasar-bebas sebagai lahan hidupnya liberalisme ekonomi.
Ia menegaskan “…teori Adam Smith berdasar kepada perumpamaan homo economicus, yakni orang ekonomi, yang mengetahui keperluannya yang setinggi-tingginya, yang mengetahui kedudukan pasar, yang pandai berhitung secara ekonomi dan rasional… sebab itu dalam praktik laisser-faire stelsel – persaingan merdeka – tidak bersua maksimum kemakmuran yang diutamakan oleh Adam Smith… Ia memperbesar mana yang kuat, menghancurkan mana yang lemah…”. Apa yang dikemukakan Hatta tahun 1934 ini kiranya merupakan embrio Pasal 33 UUD 1945 yang menolak pasar bebas.
Liberalisme berubah lebih ganas dan predatorik menjadi neoliberalisme bersamaan dengan intensnya globalisasi rakus. Memang ada pendapat lain yang menganggap neoliberalisme adalah neo-Post-Keynesian yang tidak strukturalistik.
Neoliberalisme ibarat istilah baru sebagaimana globalisasi juga istilah baru dalam kamus bahasa Inggris. Pandangan Hatta adalah strukturalisme, pemikiran ekonomi yang mengungkap, mengusut dan berupaya mengatasi ketimpangan-ketimpangan struktural.
Saat ini, kaum neoliberalis dan pembela-pembelanya makin terang-terangan mengabaikan Pancasila dan UUD 1945, khususnya Pasal 33-nya. Saya ikut membela Serikat Pekerja PLN sebagai Saksi di Mahkamah Konstitusi berkaitan dengan permohonan judicial review menolak UU No 30/2009 agar terhadap PLN tidak dilakukan unbundling lalu bisa dipakai “bancaan” (ramai-ramai dijarah) melalui privatisasi.
Saksi pihak pemerintah Prof Radjagukguk membela UU No 30/2009 mengutipkan bahwa Bung Hatta tidak berkeberatan adanya kerja sama dengan investor asing, tidak pula antipinjaman luar negeri. Demikian pula di harian nasional terkemuka ada iklan anonim yang membela liberalisme, mengungkapkan: “Bung Hatta antikapitalisme, tetapi tidak antikapital…jadi Bung Hatta tidak anti-investasi asing.”
Lalu apa hebatnya kutipan pandangan Bung Hatta oleh Radjagukguk ini untuk membela privatisasi yang kemudian nanti pasti menjadi awal asingisasi. Semua orang terpelajar toh sudah tahu bahwa Bung Hatta, juga Bung Karno bukanlah xenophobic, tidak antiasing.
Pandangan Prof Radjagukguk yang mencuat dari kacamata liberalnya diulang lagi dalam sebuah harian nasional tanggal 27 Juli, katanya “…Bung Hatta tidak antiasing, jadi Pasal 33 tidak antiasing…jadi UU Migas No 22/2001 tidak bertentangan dengan UUD 1945.” Bukan main, doktrin Demokrasi Ekonomi yang dikandung dalam Pasal 33 UUD 1945 direduksi dan dipelintir habis-habisan dari konteks Demokrasi Ekonomi.
Bung Hatta mengartikan Demokrasi Ekonomi sebagai: “… Tidak seorang atau satu golongan kecil yang menguasai penghidupan orang banyak, melainkan keperluan dan kemauan orang banyak harus menjadi pedoman …” Inilah titik tolak doktrin ekonomi nasional Indonesia – anti-individualisme, liberalisme dan kapitalisme.
Ditegaskan pula dalam Penjelasan Pasal 33 UUD 1945 bahwa arti Demokrasi Ekonomi lebih lanjut adalah “kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran orang-seorang, sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama (mutualism, pen.) berdasar atas asas kekeluargaan (brotherhood, pen.)…”. (Penjelasan UUD 1945 asli tetap berlaku pada pasal-pasal atau ayat-ayat yang tidak diamendemen pada UUD 2002 – Maria Farida, Anggota Hakim Mahkamah Konstitusi.)
Sri-Edi Swasono
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
SINAR HARAPAN, 22 Agustus 2012
25
Aug
12

IndoGreenWay : Kerupuk Daun Bambu SLEMAN, Yogyakarta

Kerupuk dari daun bambu olahan mahasiswa KKN Posdaya UNY.

(suaramerdeka.com/ Bambang Unjianto)

DAUN bambu yang kerap dijadikan obat-obatan di Negeri Tirai Bambu hanya berakhir sebagai limbah di Indonesia. Padahal daun bambu termasuk salah satu antioksidan yang juga mengandung berbagai senyawa yang berguna untuk menurunkan kadar lemak darah dan kolesterol.

“Maka tidak aneh kalau orang-orang China menggunakan daun bambu sebagai obat berbagai penyakit, mulai dari batuk sampai penyakit jantung dan kanker,” kata Ayu Siti Rohmah dalam pelatihan pembuatan kerupuk dari daun bambu di Desa Plaosan Tlogoadi Mlati Sleman.

Pelatihan itu digagas oleh mahasiswa KKN Posdaya UNY unit 64 dalam rangka memotivasi kewirausahaan bagi para ibu di dusun setempat.

Pembuatan kerupuk pun terbilang sederhana. Bahan-bahan yang diperlukan antara lain adalah tepung tapioka 500 gr, tepung terigu 100 gr, garam 25 gr, gula pasir 35 gr, bawang putih 35 gr, kapur sirih satu sendok makan, dan 350 ml air.

Daun bambu muda direbus untuk membersikan bulunya, kemudian digiling dengan campuran tepung tapioka, tepung terigu, garam, gula pasir, bawang putih, kapur sirih, dan air.

Adonan diaduk hingga menjadi kalis dan tidak lengket di tangan. Selanjutnya, adonan dicetak secara merata pada besek lalu dikukus sampai benar-benar matang hingga warna adonan menjadi hijau bening.

Adonan yang sudah matang, kemudian dianginkan kurang lebih 12 jam. Setelah mengeras dipotong tipis-tipis dengan ketebalan kurang lebih 2 cm dan dikeringan di bawah sinar matahari.

Ketua KKN Posdaya UNY unit 64 dusun Plaosan, Ahmad Dzati Romi berharap pelatihan itu dapat memberikan nilai tambah bagi para ibu rumah tangga di Dusun Plaosan untuk mengisi waktu luang.

“Dari sini kami juga berharap pelatihan ini dapat memicu kreatifitas para ibu untuk memanfaatkan bahan alam yang ada di sekitarnya,” katanya.

(Bambang Unjianto/CN33)

47 Resep IndoGreenWay

www.hdindonesia.com/gabung.asp?id=indogreenway


REFERENSI DARI KITAB-KITAB SUCI

TENTANG PRODUK PERLEBAHAN

AL-QUR’AN

Q.S An-Nahl ayat 68-69

(68) Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah “Buatlah sarang2 di bukit2, di pohon2 kayu, dan di tempat yang dibikin manusia”

(69) Kemudian makanlah dari tiap2 (macam) buah2an dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (MADU) yang ber-macam2 warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar2 terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang2 yang memikirkannya.

TRI PITAKA

Dalam ajaran agama Buddha ada 5 jenis obat yang bisa dikonsumsi oleh para bhikkhu setelah makan siang, salah satunya adalah MADU.

VINAYA PITAKA, Mahavagga VI.208 15-10

Beberapa jenis obat yang dipakai oleh bhikku yang sakit adalah…MADU

Dalam Artharvaveda XII.3.44

MADU dicampur dengan mentega yang dijernihkan (disajikan kepada tamu menyehatkan)

Dalam Artharvaveda II.3.1

Minumlah ghee (mentega yang dimurnikan), MADU dan susu baik untuk kesehatan.

ALKITAB

Dalam Amsal 16 : 24

Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang MADU, manis bagi hati dan obat bagi tulang2.

Dalam Amsal 24 : 13

Anakku, makanlah MADU, sebab itu baik dan tetesan MADU manis untuk langit2 mulutmu.

AYURVEDA

Ayurveda atau “ilmu tentang kehidupan” yang berakar dari budaya India yang menggabungkan konsep alami dan herbal untuk penyembuhan penyakit dan telah dipraktekkan 4000 tahun Sebelum Masehi.

Ayurveda mempunyai bagian penting yaitu Rasayana yang secara sederhana berarti sesuatu yang mengembalikan orang ke keadaan muda secara fisik dan mental.

Di berbagai ramuan Rasayana yang 100% terdiri dari bahan alami, MADU merupakan komponen yang penting. Disebutkan bahwa Rasayana disiapkan dengan MADU dan ghee (mentega yang dimurnikan) karena potensi dan preservasi herbal secara permanen terikat pada MADU dan ghee.

http://citizennews.suaramerdeka.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1528

Meniru Lebah

Ditulis Oleh Aminuddin bin Halimi
22-01-2012,
Terkadang orang beragama Islam tetapi tidak tahu apa itu Islam. Dan tidak pernah menanyakan dirinya “Aku ini Islam kebetulan (beneran) atau sungguh-sungguh”. Lalu, Islam yang sungguh-sungguh itu seperti apa? Apa hanya menjalani hidup ini seperti apa adanya, bak air mengalir? Padahal ia diberi kebebasan memilih dan diberi akal lagi, yang maha dahsyat.Jika ia mau berpikir lebih jauh, ia tidak mau kalah kedudukannya dari binatang, apalagi lebih rendah posisinya dari hewan yang tidak berakal. Sungguh amat tidak pantas. Padahal ada binatang yang baik yang dapat dijadikan contoh oleh manusia, yaitu lebah. Lebah, karena kebaikannya, diabadikan di dalam Alqur’an sebagai salah satu nama surat, yaitu surat “An-Nahl”.

Lebah tidak mau makan kecuali memakan makanan yang baik-baik, yaitu sari-sari bunga yang harum dari tumbuh-tumbuhan yang berserakan di muka bumi. Orang-orang yang ingin selamat, sehat, bahagia dan berumur panjang, dalam hal ini umat Islam, tentu tidak mau mengkonsumsi kecuali makanan yang halal, bergizi dan baik.

Persoalan makanan yang amat vital bagi kesehatan tubuh, sudah tidak menjadi perhatian bagi berbagai kalangan.  Kalangan anak-anak lebih menyukai makanan instan, mie instan, pop mie, chikky, makanan ringan produk pabrik yang dikemas indah-indah dan menarik. Sementara tidak menyukai sayuran dan buah-buahan.

Kalangan pemuda dan remaja lebih menyukai makanan produk luar, agar kelihatan keren, di KFC, CFC, Donking Donut, Make Donald, atau mie ayam, bakso yang mangkal di pinggir-pinggir jalan yang kebersihannya belum tentu terjamin. Demikian pula aspek halal dan haram masih perlu diteliti. Ada isu bahwa bakso dicampur dengan formalin, atau daging babi, atau daging tikus.

Di kalangan orang-orang tua yang sudah mulai rentan dengan berbagai penyakit, semestinya mereka harus lebih berhati-hati, tetapi tidak jarang mereka memilih makanan yang enak-enak, kepiting, swike, seafoods, sate kambing, merokok, minum kopi, minum minuman keras, yang jelas-jelas membahayakan kesehatan mereka.

Lebah beterbangan menjelajahi alam tumbuh-tunbuhan dan hutan belantara dengan ketajaman mata, telinga dan hidung. Ia memilih singgah di tempat-indah dan harum bersama kupu-kupu dan kumbang. Dengan kebebasannya, seharusnya orang Islam memilih tempat tinggal yang baik, lingkungan orang-orang baik, lingkungan bersih, indah dan harum. Mencari rizki di tempat-tempat yang baik, melalui etika yang baik, bukan di lokasi yang remang-remang, kotor, apalagi gelap. Belajar dan mendidik anaknya juga di sekolah-sekolah yang Islami dan favorit. Berolahraga di tempat-tempat yang bersih dari maksiat.

Demikian pula berlibur dan bergaul, selektif mencari tempat wisata yang steril dari kemaksiatan. Tidak boleh keliru dalam memilih teman atau kawan, apalagi teman hidup (jodoh) untuk sepanjang hayat. Sebab tidak sedikit orang kaya jatuh miskin dan orang mulia jatuh hina karena bergaul dengan orang-orang buruk, orang-orang jahat yang senantiasa mencari mangsa.

Ketika lebah singgah di cabang atau ranting pohon, ia tidak sampai sempal atau putus cabang dan ranting pohon itu. Orang Islam, ketika mengunjungi suatu tempat yang gersang atau yang ramai, ia tidak  membuat onar  dan resah tempat yang dikunjunginya. Justru sebaliknya memberi kesejukan, kenyamanan dan kemanfaatan kepada sebesar-besar umat sesuai missi Islam “Rahmatan lil Alamin”.

Lebah melalui madu yang dihasilkannya, menyimpan makanan untuk persiapan hari esok bagi kawan-kawan atau komunitas lebah, di samping untuk pengobatan makhluk lain bernama manusia. Orang Islam kalau tidak mau kalah dengan lebah harus beramal jariyah untuk kemanfaatan generasi yang lebih luas. Misalnya : menanam pohon jati untuk keturunan yang akan datang, menanam investasi untuk kegiatan-kegiatan ibadah atau jihad di jalan Allah, menyediakan lahan luas untuk pembangunan pondok pesantren, pendidikan bermutu, dll. Artinya, umat Islam itu harus visioner, memiliki visi ke depan yang jelas dan panjang, untuk kemajuan bangsa dan umat manusia di masa yang akan datang.

Alquran menyatakan bahwa lebah beterbangan menjelajahi flora dan fauna dengan penuh kerendahan. Meskipun lebah mempunyai senjata ampuh berupa sengatan yang luar biasa. Lebah tidak lantas semena-mena menyengat semua makhluk yang dijumpainya. Ia tidak sombong, tidak dumeh. Tidak seperti manusia, pandai silat sedikit, sudah suka mengajak bertarung dan bertengkar, membuat geng-geng, lalu tawuran. Alangkah indah dan nikmatnya hidup ini, manakala manusia dengan sesama manusia berkawan, bergaul, bekerja sama, saling membantu dengan penuh kerendahan, saling menghargai dan saling menghormati.

Komunitas lebah sebagai sebuah organisasi besar amat mengagumkan dan sangat menakjubkan, belum pernah mendengar lebah bertengkar dengan lebah. Lebah mengadakan demontrasi menuntuk hak sama tentang madu. Pembagian tugas yang begitu rapi, tidak pernah dilanggar atau berebutan. Ada yang bertugas menjadi tentara, sebagai benteng pengamanan. Ada yang bertugas mencari makanan, ada yang bertugas membuat rumah dan ada yang bertugas melanjutkan keturunan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ternyata lebah lebih cerdik daripada manusia.

www.hdindonesia.com/gabung.asp?id=indogreenway


Opini 19 Pakar HD

Persembahan Bagi Kesehatan Masyarakat

Profil 19 Produk IndoGreenWay

 

Subhanallah, Inilah Mukjizat Lebah Madu

Jumat, 08 Juni 2012, 10:58 WIB
.
Subhanallah, Inilah Mukjizat Lebah Madu
Lebah madu

REPUBLIKA.CO.ID, ”Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.” (QS. An-Nahl, 16:68)

Tahukah Anda lebah madu membuat tempat penyimpanan madu dengan bentuk heksagonal? Menurut Harun Yahya, heksagonal merupakan sebuah bentuk penyimpanan yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk geometris lain.

Lebah, kata dia, menggunakan bentuk yang memungkinkan mereka menyimpan madu dalam jumlah maksimal dengan menggunakan material yang paling sedikit.

”Para ahli matematika merasa kagum ketika mengetahui perhitungan lebah yang sangat cermat,” ujar cendekiawan Muslim bernama asli Adnan Oktar ini.

Aspek lain yang mengagumkan adalah cara komunikasi antar-lebah yang sulit untuk dipercaya. Setelah menemukan sumber makanan, lebah pemadu yang bertugas mencari bunga untuk pembuatan madu terbang lurus ke sarangnya.

Menurut Harun, lebah pemadu memberitahu lebah-lebah yang lain arah sudut dan jarak sumber makanan dari sarang dengan sebuah tarian khusus.

Setelah memperhatikan dengan seksama isyarat gerak dalam tarian tersebut, akhirnya lebah-lebah yang lainnya mengetahui posisi sumber makanan tersebut dan mampu menemukannya tanpa kesulitan.

Lebah menggunakan cara yang sangat menarik ketika membangun sarang. Mereka memulai membangun sel-sel tempat penyimpanan madu dari sudut-sudut yang berbeda, seterusnya hingga pada akhirnya mereka bertemu di tengah.

Setelah pekerjaan usai, tidak nampak adanya ketidakserasian ataupun tambal sulam pada sel-sel tersebut. Manusia tak mampu membuat perancangan yang sempurna ini tanpa perhitungan geometris yang rumit; akan tetapi lebah melakukannya dengan sangat mudah.

Fenomena ini membuktikan bahwa lebah diberi petunjuk melalui “ilham” dari Allah swt sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 68 di atas.

Sejak jutaan tahun yang lalu lebah telah menghasilkan madu sepuluh kali lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Satu-satunya alasan mengapa binatang yang melakukan segala perhitungan secara terinci ini memproduksi madu secara berlebihan adalah agar manusia dapat memperoleh manfaat dari madu yang mengandung “obat bagi manusia” tersebut.

Allah menyatakan tugas lebah ini dalam Alquran:

‘Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl, 16: 69)

Tahukah Anda tentang manfaat madu sebagai salah satu sumber makanan yang Allah sediakan untuk manusia melalui serangga yang mungil ini?

Madu tersusun atas beberapa molekul gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, potasium, sodium, klorin, sulfur, besi dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas madu bunga dan serbuk sari yang dikonsumsi lebah.

Di samping itu di dalam madu terdapat pula tembaga, yodium dan seng dalam jumlah yang kecil, juga beberapa jenis hormon.

Sebagaimana firman Allah, madu adalah “obat yang menyembuhkan bagi manusia”. Fakta ilmiah ini telah dibenarkan oleh para ilmuwan yang bertemu pada Konferensi Apikultur Sedunia (World Apiculture Conference) yang diselenggarakan pada tanggal 20-26 September 1993 di Cina. Dalam konferensi tersebut didiskusikan pengobatan dengan menggunakan ramuan yang berasal dari madu.

Para ilmuwan Amerika mengatakan bahwa madu, royal jelly, serbuk sari dan propolis (getah lebah) dapat mengobati berbagai penyakit. Seorang dokter asal Rumania mengatakan bahwa ia mencoba menggunakan madu untuk mengobati pasien katarak, dan 2002 dari 2094 pasiennya sembuh sama sekali.

Para dokter asal Polandia juga mengatakan dalam konferensi tersebut bahwa getah lebah (bee resin) dapat membantu menyembuhkan banyak penyakit seperti bawasir, penyakit kulit, penyakit ginekologis dan berbagai penyakit lainnya.

Redaktur: Heri Ruslan
Sumber: harunyahya.com

Alamat Kontak : 0817 983 4545

25
Aug
12

Etika : 7 Bahasa Tubuh yang Harus Dihindari

Bahasa Tubuh yang Harus Dihindari

ghiboo.comOleh Cosmopolitan | ghiboo.com – Sen, 20 Agu 2012 23:30 WIB

Ghiboo.com – Untuk menciptakan impresi yang baik, dalam pergaulan maupun di tempat kerja, ada gestur-gestur tertentu yang perlu Anda hindari:

1. Menyentuh wajah.
Selain bisa membuat jerawatan, tindakan ini menunjukkan Anda tak percaya diri, dan bisa mengganggu perhatian lawan bicara.

 
2. Menghalangi dada
Jangan memegang gelas (atau apa pun) di depan dada saat berbicara dengan orang lain. Anda akan terlihat defensif.

 

 

3. Tatapan kosong.
Biasanya, kalau sudah bosan dengan apa yang dibicarakan orang lain, otomatis kita akan melamun dengan tatapan mata menerawang. Untuk menjaga perasaan si lawan bicara, biasakanlah untuk mengontrol mata dan wajah Anda, at least sampai menemukan ide untuk menghentikan obrolan.

4. Mengepal.
Posisi telapak tangan yang mengepal adalah tanda bahwa orang tersebut sedang
marah, frustasi, atau tidak setuju.

5. Membungkuk.
Tubuh membungkuk menandakan Anda tak memiliki ketertarikan dengan apa pun yang terjadi di depan Anda (termasuk saat sedang meeting!). Duduklah dengan tegak dan tunjukkan bahwa Anda terlibat dan tertarik dengan apapun yang sedang dibahas.

6. Mengetukkan jari.
Tak ada yang lebih menunjukkan kebosanan selain mengetuk-ngetukkan jemari di atas meja. Well, untuk menghindari itu Anda bisa menggosok-gosok tengkuk, serta menghadapkan badan dan kaki membelakangi meja.

7. Menguap.
Untuk mencegah reaksi alami tubuh ini mungkin bukan pekerjaan mudah, ya? Tapi usahakanlah untuk menahannya, karena menguap biasanya mengindikasikan kelelahan dan rasa bosan.

(Majalah Cosmopolitan edisi Juli 2012)

 

BACA JUGA:

6 kesalahan yang merusak kencan pertama
7 cara menonjol di tengah keramaian
Bahasa tubuh yang harus dihindari saat wawancara kerja
Bahasa tubuh wanita saat sedang menggoda pria
Mencari tahu saat lawan bicara sedang berbohong
Membaca arti bahasa tubuh pria pada pasangannya

25
Aug
12

Hukum : Gugatan Arbitrase G to B (Government to Business)

GUGATAN ARBITRASE

Menkumham jadi pengacara negara lawan Churchill

Oleh Asep Munazat Zatnika – Jumat, 24 Agustus 2012 | 19:26 WIB
Menkumham jadi pengacara negara lawan Churchill

JAKARTA. Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin mengaku telah ditunjuk sebagai pengacara negara dalam kasus sengketa dengan Churchill Mining Plc. Amir akan bertindak sebagai koordinator pengacara negara dalam kasus tersebut.

Untuk menghadapi gugatan tersebut, Amir mengaku sudah memiliki strategi tertentu. Namun, dia belum mengungkapkan strategi tersebut.

Yang jelas, dia mengaku sudah melayangkan surat keberatan kepada International Centre for Settlement of Investment Disputed (ICSID), Singapura, tempat gugatan itu disidangkan.

Dalam surat keberatan tersebut, Amir mempertanyakan mengapa ICSID begitu mudah mendaftarkan permohonan Churchil, walaupun tanpa dukungan bukti yg memadai. Namun, surat itu hingga kini belum ditanggapi oleh pihak ICSID.

Sengketa ini berawal dari tudingan Churcill terhadap pemerintah Indonesia yang telah melakukan pencabutan ijin lahan tambang batubara di Kalimantan Timur, secara sepihak. Lahan Ttmbang tersebut sebelumnya dikuasai oleh perusahaan PT Ridlatama, salah satu anak usaha Churcill di Indonesia.

Dalam gugatannya, Churcill menuntut ganti rugi kepada pemerintah senilai US$ 2 miliar. Namun, pemerintah telah membantah tudingan Churcill tersebut.

Pemerintah juga saat ini masih mengkaji calon arbiter, yang akan ditunjuk untuk menyelenggarakan proses arbitrase tersebut.

23
Aug
12

Energi : Harga BBM Venezuela = 1/4 Harga Indonesia

Harga BBM Venezuela Hanya Seperempat Harga Indonesia

KapanlagiOleh Editor KapanLagi.com, Otomotif | Kapanlagi

Konten Terkait

  • Harga BBM Venezuela Hanya Seperempat Harga IndonesiaLihat Foto
  • Harga BBM Venezuela Hanya Seperempat Harga Indonesia

Otosia.com – Harga bahan bakar minyak (BBM) di Venezuela ternyata termurah sedunia, dalam kurun waktu dua tahun ini. Data terbaru ‘This is Money’ menyebutkan bahwa harga BBM di sana berkisar Rp. 1.200.

Namun sayang, harga yang spesial itu malah menyuburkan bisnis penyelundupan BBM, bahkan melebihi transaksi narkoba. Hal itu bisa dimaklumi, mengingat negara tetangga mereka, Colombia, mematok harga 40 kali lipat lebih mahal daripada Venezuela.

Data terbaru yang dikutip Mailonline menyebutkan bahwa penduduk Venezuela menganggap BBM adalah hak azasi mereka sejak lahir. Alhasil, kenaikan harga di tahun 80-an berbuah kerusuhan di ibukota, Caracas, dan menjadi kenaikan harga yang terakhir kalinya.

Sementara itu, beberapa negara dengan harga BBM terendah lainnya adalah Mesir (Rp. 1.350); Saudi Arabia (Rp. 1.500); Qatar (1.800); Bahrain dan Libya (Rp. 2.250); Turkmenistan, Kuwait dan Algeria (Rp. 2.550); dan terakhir Iran (3.150). (kpl/bun)

23
Aug
12

Kepemimpinan : Moral Bangsa Kunci Negara Maju

http://jakarta45.files.wordpress.com/2011/10/komite-nasional-pancasila.png?w=655

Minggu, 19/08/2012 09:36 WIB

Di Hadapan SBY, Khatib Salat Id Bicara Soal Moral Bangsa

Mega Putra Ratya – detikNews

Jakarta – Persoalan moral bangsa menjadi persoalan yang sangat penting dan menentukan. Sebab kebesaran dan kekokohan bangsa terletak pada akhlak dan moral bangsanya.

Demikian disampaikan Khatib Sholat Id Masjid Istiqlal, Prof DR H Muhibbin MA, Minggu (19/8/2012).

“Selama moral suatu bangsa itu tinggi dan mulia serta terjaga dengan baik, maka bangsa tersebut akan tetap koko, disegani dan mulia di mata bangsa lain,” papar rektor IAIN Wali Songo Semarang ini.

Tetapi sebaliknya, lanjut Muhibbin, kalau akhlak tidak lagi diindahkan dan kerusakan telah merebak dimana-mana maka akan lemah dan bahkan hancurlah bangsa tersebut.

“Kita semuanya tahu bahwa Rasullah Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT kepada umat ini dengan fungsi utamanya untuk menyelamatkan dan memperbaiki akhlak mereka,” tuturnya.

Muhibbin juga menyampaikan hikmah puasa. Satu bulan lamanya umat Islam menjalankan ibadah puasa dengan segala romantikanya, menaruh harapan akan menjadi manusia yang luhur. Yakni manusia suci dan mempunyai sifat terpuji. Dengan menjalani ibadah puasa didasari iman yang benar dan kokoh, tentunya tidak ada satupun tujuan dan pengharapan selain keridlaan Allah SWT semata.

Umat Islam, lanjutnya, harus menunjukkan kepada siapapun juga bawah puasa Ramadhan yang dilaksanakan telah benar-benar memberikan dampak positif. Yakni dengan menjadi pribadi yang taqwa dan terhiasi oleh sifat-sifat yang terpuji seperti taat hukum, sabar, tabah, tangguh, berdisiplin tinggi, kreatif, mempunyai etos kerja tinggi, peka terhadap lingkungam, berbudi luhur baik, santun dan jauh dari sifat sombong, suka pamer, hidup dehonis serta sifat jelek lainnya.

“Hikmah puasa sangat luar biasa dan menguntungkan bagi umat manusia. Salah satu hikmah puasa adalah bahwa dengannya akan diperoleh sifat baik dan kasih kepada umat manusia,” ucap Muhibbin.

Pajak dan Hari Kemenangan

Senin, 20 Agustus 2012 08:21 WIB |

(ANTARA/Ardiansyah Indra Kumala)
Jakarta (ANTARA News) – Hari Raya Idul Fitri telah tiba, hari kemenangan di mana kita kembali kepada fitrah dan jati diri sebagai hamba Allah SWT yang patuh kepada-Nya.
Kembali kepada fitrah berarti kembali kepada naluri kemanusiaan yang bersih dan kembali dari segala kepentingan duniawi.
Idul Fitri harus menjadi ajang tasyakur, refleksi diri untuk kembali mendekatkan diri pada Allah SWT. Idul Fitri harus menjadi momen untuk mengasah kepekaan sosial dan melakukan evaluasi diri pada ibadah puasa yang telah dikerjakan.
Apakah puasa yang kita lakukan telah memberi makna, atau hanya sekedar puasa menahan lapar dan dahaga saja.
Pahala puasa tidak tergantung seberapa jauh kita lapar atau haus melainkan tergantung pada apakah kita menjalankannya dengan iman kepada Allah serta penuh introspeksi atau tidak.
Idul Fitri akan menjadi sempurna apabila kita dapat meningkatkan kesalehan sosial kita yaitu rasa empati terhadap mereka yang kurang beruntung secara ekonomi dan sosial serta berbagi kebahagiaan kepada orang lain.
Selama puasa Ramadhan kita diajak merasakan kelaparan, kesusahan dan penderitaan kaum tidak mampu.
Oleh sebab itu pada akhir Ramadhan, umat Islam diwajibkan membayarkan zakat fitrah dan zakat mal atau pun membayar shodaqoh.
Agama mengajarkan kepada manusia untuk tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa. Agama juga mengajarkan bahwa dalam harta yang kita miliki terdapat hak fakir miskin, hak orang yang meminta-minta, dan hak orang yang tidak mendapatkan bagian.
Terdapat banyak saluran untuk menyampaikan kepedulian sosial kepada sesama. Agama mengajarkannya dalam bentuk zakat, infaq maupun shodaqoh. Saluran lainnya, dalam hal ini diatur oleh negara, adalah dalam bentuk pajak.
Perlu direnungkan bahwa pajak sesungguhnya juga merupakan ibadah kepada Allah demi kemaslahatan bersama.
Dalam banyak hal pajak merupakan bentuk aktualisasi strategis dari sedekah atau kesetiakawanan sejati bagi sesama, karena uang pajak dimanfaatkan seluruhnya untuk kepentingan masyarakat.
Bagi yang lemah, apa pun agama, keyakinan, dan warna kulitnya, pasti sudah mendapatkan manfaat pajak yang disalurkan dalam bentuk program-program pengentasan kemiskinan seperti Jamkesmas dan Bantuan Sosial.
Selain sebagai sumber pendapatan negara, pajak juga berfungsi untuk mewujudkan keadilan sosial, yaitu dengan cara melakukan distribusi kesejahteraan.
Hal ini dilaksanakan dengan menerapkan tarif progresif bagi masyarakat yang berpenghasilan besar dan membebaskan pajak bagi yang kurang mampu. Kemudian uang pajak akan dimanfaatkan dalam prioritas-prioritas anggaran bagi pembangunan yang berpihak kepada kepentingan rakyat.
Dengan semakin banyak rakyat yang membayar pajak dengan benar, semakin banyak uang yang dimanfaatkan untuk pembangunan. Pada akhirnya, semua pihak akan merasakan “kemenangan” seperti halnya kemenangan pribadi di hari yang suci.
Masyarakat yang merasakan kemenangan akan menjadikan negaranya maju dan bermartabat seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa.
Mari kita sempurnakan Idul Fitri kita dengan meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama agar kemenangan Idul Fitri dapat dirasakan seluruh umat.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H, mohon maaf lahir dan batin.

COPYRIGHT © 2012

Ujian dari Kemenangan

Senin, 20 Agustus 2012 00:00 WIB

SELAIN permohonan maaf, selamat kemenangan menjadi kata lazim di hari Lebaran. Menang dan Idul Fitri memang sejatinya bagai dua sisi mata uang.

Seperti yang selalu disampaikan para ulama, Idul Fitri bermakna kembali ke fitrah atau yang dalam bahasa kita bisa diartikan sebagai asal kejadian atau sesuatu yang suci juga benar.

Di kehidupan dunia yang sulit luput dari dosa, keberhasilan kembali suci tentulah sebuah kemenangan besar. Layaknya semua kemenangan, perayaan menjadi sesuatu yang wajar untuk meluapkan kegembiraan dan bersyukur. Namun di Tanah Air, perayaan itu tidak jarang terlihat sebagai suka cita yang memuaskan nafsu.

Suguhan berlimpah serta pernik dan perangkat baru seolah menjadi keharusan. Lebaran bagaikan panggung untuk pamer kesuksesan dan kekayaan kepada kerabat. Nilai-nilai warisan Ramadhan pun luntur hanya sehari setelah ia berlalu.

Memang bagian tersulit dari segala kemenangan ialah mempertahankannya. Lihat saja ajang Olimpiade, di mana kemenangan hal yang diperebutkan.

Manusia tercepat Usain Bolt dan raja kolam renang Michael Phelps pun dihujani keraguan oleh orang banyak meski empat tahun sebelumnya telah panen emas dan langganan mencetak rekor dunia.

Kemenangan para pencetak sejarah itu masih selalu diikuti dengan tuntutan untuk mempertahankannya.

Meski tanpa bukti catatan waktu dan medali, kemenangan dari perjuangan mengarungi Ramadhan tentulah memiliki beban lebih besar. Terlebih tanggung jawab kemenangan spiritual itu harus dibuktikan kepada Sang Pemilik Alam Raya.

Ujian sesungguhnya bagi para pemenang Ramadhan akan menghampar selama 11 bulan ke depan. Mampukah menahan nafsu ketika tidak ada larangan untuk memuaskannya? Akankah kita berbesar hati dan ikhlas untuk berbagi, bersabar dan memaafkan tanpa ganjaran pahala berlipat seperti yang dijanjikan saat Ramadhan?

Bukan saja untuk kemuliaan dan jalan surga bagi diri sendiri, sesungguhnya memang nilai-nilai itulah pula yang dibutuhkan bangsa dan negara ini. Ketika godaan kekuasaan dan celah korupsi ada di mana saja, kekuatan iman yang ditempa saat bulan mulia seharusnya menjadi benteng yang lebih kuat dari ancaman jeruji besi.

Saat perbedaan kultur, keyakinan dan ras mencuat di tengah isu sosial, bekal latihan kelapangan hati seharusnya bisa menjadikan kita menerima dan melihat sisi positif dari keberagaman.

Kita semestinya menolak kekerasan. Kita semestinya mencintai perdamaian serta silaturahmi sebagaimana nilai-nilai itu dijunjung dalam Ramadhan.

Saat kemenangan dan kekalahan menjadi hal lumrah dalam kehidupan sehari-hari hingga panggung politik, maka bukan caci maki dan saling serang yang akan dikedepankan. Kebesaran jiwa untuk mengakui keunggulan lawan dan juga tekad untuk menjadi lebih baik semestinya bukan hal yang berat untuk bangsa ini.

Kita semestinya mudah terketuk ketika ketimpangan ekonomi dan sosial muncul di hadapan kita. Seperti yang tergambar dari kegiatan buka bersama maupun sahur keliling, berbagi pada mereka yang kekurangan tentunya menjadi hal yang selalu dirindukan para umat Nabi Muhammad SAW.

Tidak kurang pula, memperjuangkan hak kaum tertindas menjadi hal yang dicintai para muslim hingga para pemimpinnya.

Dengan semua kualitas itulah kita merayakan Lebaran.

Sabtu, 18/08/2012 01:54 WIB

Pilgub DKI Pertarungan Figur, Koalisi Besar Bukan Jaminan

Elvan Dany Sutrisno – detikNews
FOTO: Foto: detikcom
Jakarta – Menghadapi putaran kedua Pilgub DKI, Fauzi Bowo (Foke) panen dukungan dari banyak parpol besar. Namun Pilgub DKI adalah pertarungan figur, bukan sekedar pertarungan mesin partai.

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) Husin Yazid memandang Pilgub DKI adalah pertarungan figur. Peran partai tidak terlalu dominan dalam pemenangan Pilgub DKI. Karenanya meskipun didukung koalisi besar, tak serta-merta menjamin kemenangan Foke atas Joko Widodo (Jokowi) dalam babak kedua Pilgub DKI usai lebaran nanti.

Menjelang putaran dua, Puskaptis telah melakukan survei untuk membaca peta persaingan. Ada beberapa hal yang menarik dalam hasil survei yang baru akan dirilis setelah lebaran tersebut. Saat ditanyakan pada pemilih Golkar dan PPP, ternyata pilihannya masih begitu cair. Hal tersebut menunjukkan pemilih punya arah politik sendiri, tak mudah disetir elit partainya.

“Hati-hati bagi para tim sukses. Sekarang pertarungan figur,” ingat Husin, melalui siaran pers, Sabtu (18/8/2012).

Hasil survei tersebut menunjukkan hanya 25 persen konstituen partai yang mengikuti pilihan atau anjuran elit partainya. Sementara 75 persen pemilih akan memilih sesuai hati nuraninya.

“Bisa jadi koalisi besar itu hanya pepesan kosong,” kata Husin.

Seperti diketahui menjelang putaran dua Pilgub DKI, pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli berhasil mendapatkan dukungan baru dari PPP, Golkar dan PKS. Namun konstituen PKS diyakini tidak patuh terhadap sikap partainya, terbukti dengan kekalahan Hidayat Nurwahid di putaran pertama Pilgub DKI.

“Belum lagi pemilih Faisal Basri yang sangat mungkin beralih ke Jokowi,” ujarnya.

Selain melakukan survei terhadap kecenderungan pemilih, dilakukan juga survei menyangkut kampanye SARA yang digulirkan belakangan ini. Ternyata hanya 10 persen pemilih yang terpengaruh dengan isu SARA.

“Putaran dua Pilgub DKI juga adalah pertarungan antara figur populis melawan figur elitis. Jokowi yang informal, non birokrasi melawan Foke yang prosedural, formal dan birokratis,” tegasnya.




Blog Stats

  • 2,252,553 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers