14
May
12

Kedirgantaraan : Penyebab Malapetaka Sukhoi Superjet 100

http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/05/13/ArticleHtmls/KOMUNIKASI-ATC-PILOT-KUNCI-PETAKA-SUKHOI-13052012001021.shtml?Mode=0

KOMUNIKASI ATC-PILOT KUNCI PETAKA SUKHOI
JAKARTA ­

“Mungkin soal bahasa, karena bahasanya Rusia.”

Komunikasi antara petugas di menara pemandu lalu lintas udara atau air traffic control (ATC) dan pilot diduga kuat menjadi kunci penyebab jatuhnya Sukhoi Superjet 100 RA-36801 di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Penasihat Federasi Pilot Indonesia, Manotar Napitupulu, menduga Sukhoi menabrak tebing gunung akibat menurunkan ketinggian di luar daerah aman. “Kuncinya adalah komunikasi antara pilot dan petugas di ATC SoekarnoHatta,“ kata dia kemarin.

Pilot Sukhoi asal Rusia bernama Alexandr Yablontsev, pada menit ke-21 setelah lepas landas pada pukul 14.12 Rabu lalu, dalam kontak terakhir meminta izin turun dari ketinggian 10 ribu kaki ke 6.000 kaki. Menara pemandu lalu lintas udara (ATC) Bandara Soekarno-Hatta mengizinkan pilot menurunkan ketinggian karena pesawat sedang berada di atas kawasan Pangkalan Udara Atang Sanjaya, Bogor. Kawasan tersebut memang aman hingga radius 25 mil. “Ada radius maksimal yang harus ditaati,“ kata Manotar.

Problem komunikasi ini juga menjadi perhatian Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Hery Bakti. Ia tak mau berspekulasi tentang penyebab jatuhnya Sukhoi, dan menyerahkannya kepada hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Namun ia menyatakan faktor bahasa punya andil. “Mungkin soal bahasa, karena bahasanya Rusia,“ kata dia.

Manotar curiga ada selisih waktu antara permintaan dari pesawat dan pemberian izin dari petugas ATC. Bisa jadi, kata dia, pilot turun mendahului konfirmasi dari ATC. Atau sebaliknya, izin turun diberikan setelah Sukhoi keluar dari wilayah aman dan berakibat kecelakaan. Itu sebabnya, kata dia, komunikasi ATCpilot harus aktif.“Pilot tidak bisa begitu saja mengandalkan ATC, begitu juga sebaliknya,“ kata dia.

Artinya, kata dia, jika pilot meminta turun, seharusnya ATC menanyakan bagaimana pandangan visual dari pilot.
Menurut Manotar, jika pilot melihat kejanggalan, seharusnya dia memberi tahu ATC agar dipandu mencari tempat aman.
Sebelumnya, Ketua KNKT Tatang Kurniadi menyatakan telah memegang dokumen percakapan antara pilot dan ATC.
Namun ia belum bisa menjelaskan isinya.“Nantilah.“

Sukhoi Superjet 100 RA 36801 berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma untuk terbang demo pada pukul 14.12, Rabu, 9 Mei lalu. Pesawat hilang kontak sekitar pukul 14.33. Saat hilang, pesawat ada di daerah Gunung Salak, perbatasan Kabupaten Bogor dengan Sukabumi, Jawa Barat. Pesawat mengangkut 37 penumpang dan 8 kru Sukhoi warga negara Rusia. Dari 37 penumpang, 35 adalah warga negara Indonesia, satu orang Prancis, dan seorang lagi dari Amerika Serikat.

SYAILENDRA | ANGGA SUKMA WIJAYA | SUNUDYANTORO

Bom Waktu di Atas Bandara Soekarno-Hatta
| Hertanto Soebijoto | Sabtu, 19 November 2011 | 12:53 WIB
Dib

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Ilustrasi: Sejumlah pesawat bersiap untuk berangkat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Rabu (2/2/2011).
Oleh Chappy Hakim
JAKARTA, KOMPAS.com – Sudah sejak 16 April 2007 peringkat penerbangan Indonesia masuk dalam kategori dua. Artinya, mengacu pada standar regulasi International Civil Aviation Organization, penerbangan Indonesia tidak memenuhi syarat keselamatan terbang internasional.
Penjelasan dalam bahasa aslinya berbunyi: “… does not comply with International safety standard set by ICAO. Lacks Laws or Regulations necessary to oversee air carriers in accordance with minimum International Safety Standard, or that is civil aviation authority is deficient in one or more areas, such as technical expertise, trained personnel, record keeping or inspection procedures.”
Pemerintah sebagai pemegang otoritas penerbangan nasional memang berupaya menaikkan kembali peringkat penerbangan Indonesia ke kategori satu. Salah satunya dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.
Dalam UU ini dijelaskan, ada beberapa tindak lanjut yang harus dilakukan dalam batas waktu paling lama dua tahun. Beberapa di antaranya tentang pembentukan Mahkamah Penerbangan; meletakkan posisi Komite Nasional Keselamatan Transportasi langsung di bawah presiden; menyempurnakan lembaga sertifikasi kelaikan udara; dan membentuk lembaga atau institusi penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan.
Mungkin yang sangat urgen direalisasikan terkait dengan lembaga pelayanan navigasi penerbangan. Sebab, hal ini langsung berhubungan dengan keselamatan terbang dan pengaturan lalu lintas udara. Saat ini terdapat sedikitnya lima institusi penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan (air traffic control services/ATS), masing-masing berada di bawah Angkasa Pura 1, Angkasa Pura 2, Kementerian Perhubungan, TNI, dan Otorita Batam.
Dari pengorganisasian saja dapat disimpulkan betapa penyelenggaraan pelayanan lalu lintas udara masih jauh dari standar keselamatan yang harus dipenuhi. Perlu segera dibenahi Khusus ATS, keadaannya jauh dari memadai untuk dapat melindungi keamanan terbang jutaan penumpang yang berseliweran di udara, terutama di atas Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Belum lagi begitu banyak penerbangan yang sering tertunda keberangkatan dan kedatangannya hanya karena kondisi ATS yang kita miliki.
Para pilot senior—bahkan termasuk direktur operasi maskapai penerbangan terbesar di negeri ini—mengutarakan, kondisi ATS di Soekarno-Hatta sekarang jika tak segera dibenahi tidak hanya akan selalu menyebabkan banyak penerbangan tertunda. Lebih dari itu, sudah berpotensi memberikan peluang terjadi tabrakan di udara.
Gangguan akibat kondisi ATS ini sudah begitu kerap terjadi. Kejadian paling akhir dialami pada 10 November 2011. Penyebabnya tidak hanya karena kondisi infrastruktur penunjang ATS, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dan prosedur operasi standar. Peralatan vital pengatur lalu lintas udara—yang berwujud unit pelayanan sistem otomatis lalu lintas udara—di Jakarta umurnya sudah tua.
Sesuai ketentuan yang berlaku, peralatan itu sudah memasuki usia yang harus diremajakan. Unit yang berkemampuan melayani gerakan dari 500 pesawat yang tinggal landas dan mendarat dalam satu hari itu kini dipaksa melayani hampir 2.000 gerakan pesawat per hari. SDM untuk melayani penerbangan yang demikian padat seharusnya paling tidak 400 orang, sedangkan yang tersedia tak lebih dari 160 orang.
Situasi ini diperburuk lagi dengan fasilitas pendidikan SDM ATS yang sangat terbatas. Dari sumber yang layak dipercaya, untuk pelatihan ATS ternyata mereka tak punya simulator untuk berlatih. Merujuk regulasi internasional yang berlaku, Bandara Soekarno-Hatta tak akan mampu melayani penerbangan 24 jam. SDM di jajaran ATS sekarang ini sudah bekerja dengan kapasitas yang hampir 200 persen dari kesiapan yang dimiliki.
Demikian pula prosedur operasi standar yang diberlakukan untuk pesawat yang akan mendarat dan tinggal landas belum dapat diperbarui sesuai kepadatan lalu lintas saat ini. Semua itu menyebabkan situasi dan kondisi penerbangan di atas Soekarno-Hatta—terutama pada jam-jam sibuk, pagi dan petang—menjadi “panas”. Komunikasi radio antarpilot dengan operator pengatur lalu lintas udara ataupun ground control jadi begitu ramai dan sibuk. Belum lagi beberapa frekuensi radio yang kerap berbunyi keresek-keresek.
Hasilnya, stres tinggi diderita oleh para pilot, terlebih para operator pengatur lalu lintas udara dan di darat. Untungnya, kalau boleh menggunakan istilah ini, para penumpang umumnya tidak tahu apa yang tengah terjadi. Mereka merasa nyaman saat mendarat dan tinggal landas di Soekarno-Hatta walaupun pada jam-jam sibuk. Mereka tak menyadari, sebenarnya mereka tengah duduk di atas “bom waktu” yang bisa saja setiap saat meledak.
Marilah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing agar kejadian fatal dari peluang yang ada kini tidak terjadi. Chappy Hakim Pencinta Penerbangan, Chairman CSE Aviation
Analisis
12-05-2012
Untuk sebuah Joy Flight, Kenapa Diarahkan ke Rute Yang Terkenal Angker?
Penulis : Rifky Pradana, Kontributor The Global Review

Aleksandr Yablontsev, pilot Sukhoi Superjet 100 menurut record ternyata 3 kali lakukan kontak dengan Petugas ATC (Air Traffic Control) Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Salah satunya adalah saat Kontak Terakhir yang dilakukannya saat Minta Izin untuk turun dari 10.000 ke 6000 kaki, dan Minta Izin untuk Orbit ke Kanan.
ATC izinkan Permintaan Turun Ketinggian dan Orbit ke Kanan itu dikarenakan masih dalam pantauan ATC dan masih aman dari gangguan gunung.
Namun, seperti diketahui bersama, tak berselang lama, pesawat itu menabrak tebing di Gunung Salak.
Perihal permintaan turun dari 10.000 feet ke 6.000 feet yang sudah atas seizin dari ATC (Air Traffic Control) pada saat 12 menit sesudah pesawat mengudara itu juga telah diakui oleh Herry Bhakti S, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub RI, maupun oleh Mulya Abdi, Deputi Senior General Manager Bandara Internasional Soekarno Hatta sekaligus General Manager ATC.
Jika melihat posisi tebing yang ditabrak oleh Pesawat Shukoi Super Jet 100, sementara dapat ditarik kesimpulan bahwa arah gerak pesawat tidak sejajar dengan Gunung Salak, akan tetapi lurus mengarah ke Gunung Salak. Dan, sebagaimana diketahui arah terbang pesawat dalam gerak normalnya selalu dalam vektor gerak yang garis lurus dimana jika ada setiap belokan yang sebesar berapa pun derajatnya, maka pilot harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari petugas ATC.
Maka, petugas ATC saat menyetujui penurunan ketinggian jelajah ke 6.000 feet itu apakah di layar radar tak terlihat posisi dan vektor arah gerak pesawat itu sedang menuju ke arah mana ?.
Apakah saat itu petugas ATC saat menyetujui penurunan ketinggian jelajah ke 6.000 feet itu, di layar radar juga sama sekali tak terlihat bahwa posisi pesawat sedang berada / mengarah ke arah Gunung Salak yang setinggi sekitar 7.000 feet ?.
Pertanyaan lainnya yang tak kalah pentingnya, jika merunut sejarah kecelakaan pesawat di Gunung Salak, memang rute itu adalah rute angker yang sudah memakan banyak korban pesawat jatuh dan menabrak tebing gunung. Lalu, mengapa untuk sebuah penerbangan bertemakan ‘Joy Flight’ dari sebuah pesawat komersial sipil yang sedang membawa puluhan penumpang sipil itu koq diberikan rute yang rawan dan berbahaya ?.
Hal lainnya, terkait dengan kemungkinan terjadinyanya ‘mis-komunikasi’ dan ‘mis-interprestasi’ memang sangat dimungkinkan.
Chappy Hakim, mantan KASAU, di Surat Kabar Harian Kompas pada bulan Nopember tahun 2011 pernah menulis dengan judul “Bom Waktu di Atas Bandara Soekarno-Hatta“ yang mengungkap bahwa sudah sejak 16 April 2007 peringkat penerbangan Indonesia masuk dalam kategori dua, yang artinya, jika mengacu pada standar regulasi ICAO (International Civil Aviation Organization) maka penerbangan Indonesia tidak memenuhi syarat keselamatan terbang internasional.
Didalam tulisannya itu disampaikan bahwa peralatan vital pengatur lalu lintas udara -yang berwujud unit pelayanan sistem otomatis lalu lintas udara- di Jakarta umurnya sudah tua.
Situasi itu, tulisnya, juga diperburuk lagi dengan SDM di jajaran ATS sekarang ini sudah bekerja dengan kapasitas yang hampir 200 persen dari kesiapan yang dimiliki, serta fasilitas pendidikan SDM ATS yang sangat terbatas.
Hal itu jika tak segera dibenahi, bisa berpotensi membuka peluang terjadi tabrakan di udara.
Ternyata tak berapa lama, tak lebih dari setahun sejak peringatannya soal itu, terjadi malapetaka ‘joyflight’ Sukhoi Super Jet 100 yang berakhir tidak ‘joy”, namun tragedi yang menewaskan seluruh penumpang dan krunya, lebih dari 40 orang warganegara Indonesia dan 8 orang warganegara Rusia.
Chappy Hakim, terkait dengan tragedi itu sempat mempertanyakan keputusan petugas ATC (Air Traffic Controller) Soekarno Hatta Cengkareng yang mengizinkan Sukhoi Superjet 100 terbang rendah hingga 6.000 kaki dari sebelumnya 10.000 kaki, padahal ada obstacle gunung Salak setinggi 7.152 feet.
Berkait dengan itu, ada beberapa kalangan yang kemudian berspekulasi bahwa jangan-jangan Tragedi Sukhoi di Gunung Salak ini menyerupai dengan Tragedi Garuda di Sibolangit.
Sebagaimana diketahui, kesimpulan ‘resmi’ yang dirilis sebagai penyebab dari Tragedi pesawat Garuda di Sibolangit itu adalah adanya Mis-Komunikasi antara Pilot dengan Petugas ATC.
ATC : GIA 152, turn right heading 046 report established localizer
GIA 152 : Turn right heading 040 GIA 152 check established.
ATC : Turning right sir.
GIA 152 : Roger 152.
ATC : 152 Confirm you’re making turning left now?
GIA 152 : We are turning right now.
ATC : 152 OK you continue turning left now.
GIA 152 : A (pause) confirm turning left? We are starting turning right now.
ATC : OK (pause) OK.
ATC : GIA 152 continue turn right heading 015.
GIA 152 : (scream) Allahu Akbar ! (Translation: God is great!)
Dan pesawat pun menghantam tebing, dimana ratusan nyawa penumpangnya terenggut sebagai korbannya.
Jadi ?, menurut pendapat anda, dalam hal ini, siapa yang kemungkinan bersalah dan berandil besar dalam tewasnya 40-an nyawa manusia itu ?, Pilot Sukhoi Rusia kah ?, atau, Petugas ATC Indonesia kah ?.
Catatan Kaki :
Motif Persaingan Bisnis dibalik Tragedi Sukhoi
Keteledoran Tak Sengaja atau Kesengajaan Sabotase ?
Republik Simpang Siur
Bom Waktu di Atas Bandara Soekarno-Hatta
Perlu Dipertanyakan soal Izin Terbang 6.000 Kaki
Catatan Kontak antara Pilot dengan Menara Kontrol ATC

Wagub Jabar: Pesawat Jangan Terbang di Kawasan Gunung Salak

TRIBUNnews.comTRIBUNnews.com

Laporan Wartawan Tribun Jakarta, Ferro Maulana

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf berharap agar para jenazah korban meninggal Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak dapat dimakamkan secara layak seperti jenazah yang meninggal secara normal.

” Pasti sangat berduka sekali yahh apalagi terjadinya di Bogor Jawa Barat namun kita berharap semua korban dapat dimakamkan secara layak apapun yah. Karena enggak punya data berapa sih, Bagi keluarga korban kami ucapkan belasungkawa sebesar-besarnya,” katanya di Lobby Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya No. 73 Jakarta Pusat, Senin (14/5/2012).

Dede Yusuf berharap jangan ada tragedi jatuhnya Sukhoi untuk kedua kalinya, jangan sampai kembali timbulnya korban jiwa kecelakaan pesawat. Dede juga mengimbau agar maskapai penerbangan tidak melewati 3 pegunungan yaitu Salak-Halimun-Pangrango yang menurutnya jalur berbahaya untuk melintasnya pesawat terbang karena membentuk medan magnet yang dapat merusak komunikasi pesawat.

” Tetapi perlu tekankan untuk semua penerbangan memang wilayah itu kalau perlu jangan dilewatin. Banyak pesawat yang jatuh disana. Kami secara ilmiah sih belum tapi ada gunung Halimun yang paling gede, Salak dan Pangrango. Penerbangan ini membuat sebuah rules menghindari daerah itulah kira-kira . Ini saja Sukhoi yang super canggih seperti itu,” terang Dede.

Tidak hanya penerbangan bahkan orang yang naik gunungpun juga sering tersesat jika melewati area tersebut.

“Yang mana para orang-orang yang mau naik gunung pun banyak yang hilang disana, GPSnya atau apa. Saya lihat kemarin wartawan juga ada yang ikut juga gitukan,” katanya.

Pemda Jabar menurut Dede sudah cepat dan tanggap darurat menangani kecelakaan pesawat Sukhoi. ” Sekarang Tim kita udah ada disana, baik Gegana kita, Pak Gubernur juga sudah menyiapkan dukungan yah baik itu materiil atau dukungan prasarana untuk ada disana, semua tim juga ada disana,” katanya.

*Silakan klik di Sini untuk update berita: Pesawat Sukhoi Jatuh

Berita Lainnya

Perempuan Cantik dan Perempuan Tua di Gunung Salak

TEMPO.COTEMPO.CO – Min, 13 Mei 2012

Konten Terkait

  • Perempuan Cantik dan Perempuan Tua di Gunung SalakLihat FotoPerempuan Cantik dan Perempuan Tua di Gunung Salak

TEMPO.CO, Jakarta – Sejumlah pendaki dan tim SAR yang ikut dalam pencarian Pesawat Sukhoi di Gunung Salak mempunyai pengalaman cerita magis. Mulai dari melanggar larangan memetik bunga hingga mimpi bersenggama dengan perempuan cantik.

Seorang yang tergabung dalam sebuah regu pada tim yang pertama kali diterjunkan ke Gunung Salak menceritakan pengalamannya saat berada pada ketinggian 1.700 kaki, pos terakhir tak jauh dari titik kordinat pesawat jatuh, Sabtu dinihari, 12 Mei. Ia dan sekitar sembilan anggota regu lainnya bermimpi aneh saat sedang tertidur.

“Kami mimpi basah secara bersamaan,” kata dia.

Anehnya, dia melanjutkan, mimpi seluruh anggota regu cukup identik. Awalnya mereka bermimpi disambut seorang wanita cantik pada sebuah rumah di puncak gunung tersebut. “Perempuan itu menyuguhi kami air minum,” kata dia bercerita.

Tak lama berselang, mereka langsung diminta untuk istirahat. Tetapi di dalam rumah, ternyata ada banyak perempuan yang tak kalah cantiknya dengan yang menyambutnya tadi. Setelah itu, para perempuan itu mencumbu mereka selayaknya suami istri.

Namun ia mengaku tak heran dengan peristiwa tersebut karena Gunung Salak terkenal dengan kisah magisnya. “Yah, kami memaklumi saja.”

Cerita lain dari seorang pendaki yang pernah menjelajahi Gunung Salak. Kini ia bergabung dengan tim SAR sebagai sukarelawan pencari korban Sukhoi. Menjelang pendakian, ia banyak berkonsultasi dengan masyarakat yang berada di sekitar gunung tersebut. “Banyak pantangannya,” ujarnya.

Ia mengaku pernah menghiraukan pantangan penduduk untuk tidak mengambil bunga anggrek saat mendaki beberapa bulan lalu ke Gunung Salak. Maklum, kata dia, di sana banyak anggrek berbagai jenis yang cukup indah.

Tapi apa yang terjadi. Timnya tersesat saat ingin pulang. Sepanjang hari mereka hanya berputar di puncak Salak secara berulang sampai malam hari.

Anggrek itu pun di simpan di salah satu tempat, timnya kemudian shalat Isya. Setelah salat timnya kembali melanjutkan perjalanan pulang. “Ternyata jalan pulang hanya ditutupi ranting padahal kami sudah beberapa kali lewat di depan ranting itu,” ujarnya seraya menggeleng kepala.

Ia juga mengaku bertemu seorang nenek-nenek berusia sekitar 80 tahun di puncak gunung tersebut. Perempuan tua yang sudah bungkuk itu berjalan sendirian di sebuah padang dengan hanya memakai pakaian tipis.

“Kami tanya mau ke mana Nek, dia bilang hanya jalan-jalan,” kata dia menirukan pernyataan nenek tersebut.

Saat ditanyai di mana tempat tinggalnya, wanita tua itu hanya menjawab,”Di sini Nak.” Nenek itu menolak di antar ke kaki gunung. Pendaki ini melanjutkan, perempuan tua itu lalu bilang, “Saya senang di sini karena ramai bila malam, mereka sering kasih saya makan,” tanpa menyebutkan siapa mereka yang dimaksud.

Yang mengherankan lagi, kata pendaki itu, si Nenek berbahasa Jawa kental, padahal mayoritas masyarakat di kaki gunung berbahasa Sunda. “Kami pun meninggalkan nenek itu sendirian,” ujarnya.

TRI SUHARMAN

Berita Pilihan:


ATC Membantah Terbang di Indonesia Seperti Neraka

Berita Lainnya

foto

Petugas memeriksa pesawat Sukhoi di bandara Halim sebelum lepas landas meninggalkan bandara Halim Perdanakusumah. sergeydolya.livejournal.com

Selasa, 15 Mei 2012 | 07:23 WIB

Ternyata Sukhoi yang Jatuh Itu Pesawat Pengganti

TEMPO.CO, Jakarta – Pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak, Rabu 9 Mei 2012 pekan lalu, diduga berbeda dengan yang sebelumnya telah didaftarkan untuk demonstrasi terbang di Indonesia. Izin yang diberikan Kementerian Perhubungan adalah untuk Sukhoi yang melakukan demonstrasi terbang di Kazakhstan dan Pakistan bernomor 97005, sedangkan pesawat yang jatuh di Indonesia bernomor 97004.

Seperti disampaikan kantor berita AFP, pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak tidak dipersiapkan untuk tur ke Jakarta. Pesawat naas itu adalah pengganti Sukhoi Superjet yang langsung dipulangkan ke Moskow, setelah menyelesaikan tur penerbangan promosi di Kazakhstan.

“Pesawat yang jatuh itu tidak sama dengan yang digunakan dalam penerbangan promosi pertama di Kazakhstan,” kata juru bicara Sukhoi Civil Aircraft, Olga Kayukova, seperti dikutip AFP Senin 14 Mei 2012 kemarin.

Sebelumnya, surat kabar Rusia, Moskovskiy Komsomolets and Kommersant, juga melaporkan bahwa Sukhoi mengganti pesawat di tengah-tengah muhibah. Mengutip Kayukova, koran itu menyebut bahwa model pertama bernomor registrasi 97005, “Akan menjalani serangkai tes.”

Tapi Kayukova tidak memberikan perincian pemulangan tersebut. Namun Kayukova memastikan model kedua dengan nomor registrasi 97004 itu, “Dalam kondisi teknik yang sempurna sebelum penerbangan.”

Konsultan bisnis PT Trimarga Rekatama, Sunaryo, mengaku tidak mengetahui soal penggantian pesawat Sukhoi itu. “Saya tidak tahu informasi itu,” katanya saat dihubungi Tempo tadi malam. “Seingat saya, nomor belakang pesawat yang diregistrasi adalah 05,” ujarnya.

Superjet 100 berseri 97005 memiliki rekam jejak yang panjang. Di antaranya pernah mendarat di Bandara Farnborough, Inggris, pada 19 Juli 2010, dipamerkan di Paris Air Show di Le Bourget pada Juni 2011, dan mendarat di atas landasan bersalju di Zhukovsky, Moskow, pada 27 Februari lalu. Di situs Sukhoi Civil Aircraft, pesawat model 97004 yang jatuh di Gunung Salak diberi keterangan written-off, sedangkan model 97005 dengan keterangan active. Model 97004 ini berumur lebih tua, karena dikirim pada 25 Juli 2009, sedangkan 97005 dikirim pada 4 Februari 2010.

DODY | WAYAN AGUS PURNOMO

Berita Terkait:
Ternyata, Ini Sebab ELT Sukhoi Tak Terdeteksi
ELT Sukhoi Ditemukan Jauh dari Bangkai Pesawat
Korban Sukhoi Hanya Bisa Diidentifikasi Lewat DNA
Analis: Jika Pilot yang Salah, Rusia ‘Selamat’ 
Sukhoi Menabrak Setelah Menembus Kumulonimbus
Polisi: YS, Penyebar Foto Hoax Korban Sukhoi

Terpopuler

Kisah Pengalaman Terbang Bersama Sukhoi

TEMPO.COTEMPO.CO

Konten Terkait

  • Kisah Pengalaman Terbang Bersama Sukhoi  Lihat FotoKisah Pengalaman Terbang Bersama Sukhoi

TEMPO.CO , Jakarta:Bagi Tengku Burhanuddin, terbang dengan pesawat biasa saja. Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) ini sudah kerap terbang sehingga paham kondisi pesawat baik atau tidak. “Penerbangan (Sukhoi) kemarin itu bagus-bagus saja, enak,” kata Burhanuddin, penumpang Sukhoi Superjet 100 pada penerbangan gembira pertama Rabu, 9 Mei 2012.

Burhanuddin mengatakan para penumpang diberikan nomor tempat duduk dan dipersilakan naik pesawat. Namun karena pesawat tidak penuh, ada peserta terbang gembira yang menentukan tempat duduknya sendiri, tak mengikuti nomor kursi. Burhanuddin memperkirakan ada sekitar 50 orang dalam penerbangan pertama itu.

Para awak kabin kemudian memberikan petunjuk penggunaan alat keamanan seperti sabuk pengaman. Tak ada instruksi atau pertanyaan khusus dari para awak pesawat. “Setelah itu kami terbang, pesawat climbing ke atas agak cepat tetapi bagus,” kata Burhanuddin ketika dihubungi Tempo, Selasa, 15 Mei 2012.

Dalam penerbangan itu seingat Burhanuddin sempat ada awan tebal dan pesawat masuk melewati awan tersebut. Ketika itu terasa sedikit ada guncangan, namun masih normal. “Agak gedek-gedek tetapi ya biasa saja. Kalau ada orang tidak biasa naik pesawat mungkin sudah pikirannya macam-macam,” kata Burhanuddin.

Setelah melalui awan, ketinggian pesawat sempat dinaikkan, setelah itu pesawat turun lagi dan mendarat. Burhanuddin yang duduk di sisi dekat jendela mengaku tak terlalu hapal rute penerbangan karena banyak awan. Namun dia mengatakan ketika terbang agak rendah, pemandangan yang terlihat adalah perkotaan.

BERNADETTE CHRISTINA

Berita Terkait

Sudah 27 Kantong Korban Sukhoi Dikirim ke Halim 

Rusia Pernah Alami Musibah Serupa Sukhoi

Juni, ATC Bakal Pisah dengan Bandara 

Indonesia Ngotot Periksa Kotak Hitam Sukhoi

Ternyata Sukhoi yang Jatuh Itu Pesawat Pengganti

Untuk berita terbaru, ikuti Yahoo! Indonesia di Twitter dan Facebook

Berita Lainnya

Ada Perbedaan Frekuensi Sinyal Sukhoi dengan Terminal Penerima

Penulis : Donny Andhika AM
Senin, 14 Mei 2012 17:01 WIB

JAKARTA–MICOM: Lamanya waktu penemuan lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 ternyata dipengaruhi frekuensi pemancar sinyal lokasi atau emergency locator transmitter (ELT) di pesawat berbeda dengan frekuensi penerima (receiver) yang dimiliki Basarnas.

Menurut Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Daryatmo, ELT Sukhoi menggunakan frekuensi lama sehingga sinyalnya mengalami gangguan saat diterima satelit. SSJ 100, kata Daryatmo, menggunakan frekuensi 121.5, 203 MHz. Sedangkan, gelombang receiver atau penerima berada di frekuensi 121.5, 406 MHz.

“ELT frekuensi 121.5 dan 203 (MHz) tidak memancarkan sinyal,” kata Daryatmo, saat jumpa pers di bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (14/5).

Namun, ia tidak mengetahui dengan pasti bagaimana kondisi ELT tersebut. Apakah ELT memang mengalami kerusakan atau tidak.

Pada saat itu, Basarnas tidak dapat langsung menangkap sinyal yang semestinya dikeluarkan alat tersebut seperti biasanya, pada saat terjadi kondisi luar biasa seperti jatuh atau tabrakan. Basarnas sendiri sempat mempertanyakan sinyal ELT yang tidak terdeteksi itu.

Sebelumnya, juru bicara Basarnas Gagah Prakoso mengungkapkan seharusnya setiap pesawat komersial seperti Sukhoi memancarkan ELT jika terjadi kecelakaan.

“Sukhoi tidak memancarkan sinyal, mengapa di era teknologi serbacepat dan canggih seperti ini?” ungkap Gagah di Bandara Halim Perdanakusuma, Kamis (9/5) lalu.

Bahkan, Gagah sempat mengungkapkan dua satelit di Singapura dan Australia sebagai back up untuk mendeteksi sinyal pesawat jatuh tidak berhasil mendeteksi sinyal SSJ 100 tersebut.

Sementara itu Ketua Sub-Komite Penelitian Kecelakaan Transportasi Udara KNKT, Masruri, mengatakan pihaknya belum mau memastikan perbedaan frekuensi sinyal tersebut. Pasalnya, KNKT belum memeriksa secara langsung. “ELT yang ditanyakan itu saya belum lihat, jadi saya belum bisa komentar,” kata Masruri, saat ditemui. (OX/OL-10)

Parasut Itu Ada, Kenapa Laporan Anggota Kopassus Dibantah?

1337131427993853507

Pesawat Sukhoi Superjet 100/Kompasiana (KOMPAS.com/AFP/NATALIA KOLESNIKOVA)
Kemelut berita tentang parasut yang ditemukan oleh Sertu Abdul Haris dan enam anggotanya saat melakukan pencarian korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet di Gunung Salak akhirnya terjawab sudah. Sertu Haris melaporkan saat menuruni jurang dengan kemiringan sudut 85 derajat bermodalkan tali, telah menemukan Jasad yang tergantung di pohon dengan parasut. Penulis terkejut dan kita semua juga terkejut. mulailah berkembang bermacam-macam spekulasi berita. Penulis membuat artikel dengan judul “pilot Sukhoi Pakai Prarasut? Ada Hijacking” (http://hankam.kompasiana.com/2012/05/13 )
Banyak yang membantah kalau  ditemukan parasut pada saat pencarian korban. Penulis percaya info tersebut bahwa keterangan Sertu Haris sebagai anggota pasukan elit yang dibanggakan informasinya tidak salah. Salah satu syarat menjadi anggota Kopassus adalah sudah mengikuti Separkoad (Sekolah Para dan Komando TNI AD), artinya dia juga penerjun. Nah, disitulah asumsi penulis mengatakan bahwa Haris faham dan bisa membedakan yang namanya parasut dengan perlengkapan terbang lainnya. Penjelasan Sertu Abdul Haris dapat disimak dari video ini (di menit 2.16) http://www.youtube.com/watch?v=fnMM25ZPg94 . Aneh, itulah yang kita rasakan, bahwa informasi kecil itu akan menjadi sangat penting dalam penyelidikan kecelakaan pesawat terbang.
Memang setelah menemukan jasad yang diduganya penerbang pesawat para anggorta Kopassus jelas dengan susah payah menurunkan dari pohon dan melepaskan dari parasut yang katanya menggantung. Setelah itu jenazah di angkat dan digeser ke posko dengan susah payah, hingga sempat menginap semalam di perjalanan dan baru keesokan harinya ketujuh anggota itu sampai ke Posko. Pembantahan soal parasut juga terjadi di RS Polri, tidak ada jenazah pakai parasut. Secara logika, para anggota Kopassus tadi tidak mungkin membawa jenazah serta parasutnya. Tugas mereka melakukan evakuasi korban, dan lagipula, pada lereng yang demikian terjal, siapa yang berfikir untuk menyelamatkan parasut  yang juga berat. Disitulah logika berfikirnya. Bagi mereka yang pernah mengikuti latihan gunung hutan pasti bisa merasakan betapa beratnya medan sangat terjal  dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. Nafas sampai di leher dan kaki serasa mau putus, itu yang penulis rasakan saat mengikuti Introduction Latihan Komando Paskhasau.
Penjelasan soal adanya parasut yang mengembang di lokasi jatuhnya Sukhoi SSJ100 dibenarkan dan dijelaskan oleh Ketua KNKT Rusia, Serge Korostiev, yang mengatakan parasut memang menyatu dengan peralatan untuk bertahan hidup (survival kit), yang disimpan pesawat bersama peralatan lainnya.”Parasut berada di dalam satu boks kontainer yang merupakan survival kit kalau pesawat harus mendarat secara darurat,” kata Korostiev melalui penerjemah saat jumpa pers di Bandara Halim Perdanakusuma, Selasa (15/5).
Survival kit itu berisi minuman, makanan dan peralatan obat. “Adanya ledakan, banyak spare part pesawat banyak jatuh dari tempat kecelakaan dan parasut secara otomatis terbuka,” katanya. Dia menjelaskan bahwa parasut itu bukanlah alat untuk menyelamatkan diri pilot seperti yang ada di pesawat tempur. ”Parasut ada, tapi bukan untuk pilot meloncat dari pesawat, bukan untuk eject seperti di kursi pilot. Tapi sebagai survival kit.” demikian penjelasannya.
Kini kita menjadi jelas bahwa SSJ100 tersebut memang dilengkapi dengan parasut, berarti informasi dari Sertu Abdul Haris benar adanya. Hanya yang belum jelas dan perlu penjelasan bagaimana parasut terpasang ketubuh pilot itu. Yang jelas parasut dengan survival kit terlempar saat terjadi impact dan mungkin terlempar bersama-sama dengan pilot, atau pilot sudah memakai parasut sebelum terjadinya impact. Itulah misteri yang belum terjawab, dan ini penting sekali nilai  informasi intelijennya.
Apa yang terpenting dari kasus ini? Pimpinan team penyelamat selain melakukan evakuasi juga sebaiknya memberikan pembekalan kepada anggota team apa yang harus dikerjakan, kalau bisa dengan bukti foto. Setiap informasi yang dikumpulkan oleh team lapangan diterima dan menjadi fakta oleh analis. Bisa saja terjadi sebuah kecelakaan karena sebuah pembajakan dan pesawat ditabrakkan ke gunung oleh pembajak. Peristiwa 911 adalah pelajaran yang sangat berharga dan mungkin saja itu terjadi disini. Juga kemungkinan lain adanya sabotase. Jangan dikesampingkan kemungkinan-kemungkinan ekstrim seperti ini.
Dari penjelasan Marsda TNI (Purn) Soenaryo, perwakilan PT Trimarga pada acara Indonesia Lawyers Club, TV One malam in (15/5) mengatakan saat ditanya oleh Pak Karni Ilyas, apakah sebagai agen Sukhoi mengetahui apa kegiatan crew pada malam sebelum penerbangan. Dijelaskannya bahwa PT Trimarga saja tidak mengetahui di hotel mana crew menginap, dan tidak tahu apa kegiatan crew malam itu. Dikatakannya rahasia. Nah, apakah informasi tersebut tidak berharga? Mengapa pihak Rusia merahasiakan penginapan crew dan rombongannya kepada agennya sekalipun. Aneh bukan? Apakah mereka merasa ada ancaman? Apakah hanya sekedar kehati-hatian.
Ini adalah proyek prestise bangsa Rusia, merupakan kebangkitan investasi dan pembangunan industri penerbangan pesawat komersial yang proyeknya berharga milyaran dollar. Ini bukan sebuah proyek kecil, tetapi proyek raksasa dan merupakan masa depan sebuah negara.  Tidak semua pihak menyukai kesuksesan kecermelangan proyek Sukhoi Superjet 100 ini. Kita semua faham, apakah tidak mungkin ada tangan-tangan jahil dan berlumuran darah yang berusaha menggagalkannya. Kenapa di Indonesia? Tolong diukur, apakah sistem sekuriti penerbangan dan bandara sudah memadai? Sangat mungkin sesuatu digarap di Indonesia karena sense of security kita lemah.
Olah karena itu, jangan dibantah dahulu penemuan team yang berada di lapangan. Setiap informasi sekecil apapun sebaiknya dijadikan fakta, hargai anggota team yang sudah demikian berat dan berkorban tenaga serta daya dalam operasi penyelamatan itu. Bagi yang tidak faham sebaiknya jangan memberikan pendapatnya, terlebih di media elektronik, lebih-lebih main bantah. Rasanya tidak cukup penyelidikan hanya dibebankan kepada KNKT semata, sebaiknya dengan adanya indikasi yang tidak wajar, libatkan Badan Intelijen, baik BIN, Bais TNI ataupun Intelijen Polri, agar penyelidikan lebih komprehensif. Karena apabila nanti terbukti kecelakaan disebabkan karena sesuatu yang ekstrim, bangsa Indonesia juag yang akan malu. Nah, black box yang sudah ditemukan malam tadi mudah-mudahan akan menjawab semua misteri ini.  Semoga bermanfaat.
Prayitno Ramelan ( www.ramalanintelijen.net )

0 Responses to “Kedirgantaraan : Penyebab Malapetaka Sukhoi Superjet 100”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,004,721 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers

%d bloggers like this: