05
May
12

Historia : Menunda Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Bersembunyi dari Pasukan Nazi Jerman

Avatar Joss Wibisono
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Menunda Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Diterbitkan : 4 Mei 2012 – 3:30pm | Oleh Joss Wibisono (http://www.ondergedokenalsannefrank.nl)

Bagi orang Belanda 4 Mei adalah Dodenherdenking. Itulah saat Belanda mengenang mereka yang berkorban bagi pembebasan negeri kincir angin dari pendudukan Nazi Jerman selama Perang Dunia Kedua.

Di antara mereka yang tewas akibat ulah Nazi ada nama-nama seperti Irawan Soejono, Sidartawan atau Moen Soendaroe. Jelas bukan nama-nama Belanda. Adakah orang-orang Indonesia ini berkorban bagi pembebasan Belanda? Bagaimana dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia?

Organisasi kerukunan
Ketika pada tanggal 10 Mei 1940 Belanda diduduki Jerman dan Ratu Wilhelmina serta pemerintahan Perdana Menteri Dirk Jan de Geer mengungsi ke London, Belanda memasuki apa yang disebut bezettingsjaren, alias tahun-tahun pendudukan Nazi Jerman. Rakyat Belanda hidup dalam penjajahan yang berlangsung selama lima tahun.

Waktu itu juga banyak orang Indonesia, resminya warga Hindia, yang menetap di Belanda. Mereka bisa bergabung pada dua organisasi Indonesia di Belanda, Roepi singkatan Roekoen Peladjar Indonesia dan PI Perhimpoenan Indonesia. Yang pertama lebih merupakan organisasi kerukunan, sedangkan Perhimpoenan Indonesia adalah organisasi politik. Sebelum Perang Dunia Kedua PI dekat dengan partai komunis Belanda, mereka juga tidak terlalu menonjol karena itu tidak menarik banyak orang.

Sejarawan Belanda Harry Poeze menunjuk bahwa pada akhirya Perhimpoenan Indonesia membuka diri dan lebih bergeser pada kalangan sosial demokrat, SDAP. Ini menyusul terbentuknya volksfront atau front rakyat yaitu persekutuan kalangan kiri untuk menghadapi fasisme yang mulai bercokol di Jerman. Ketika merayakan 30 tahun berdirinya, PI mengundang pembicara utama seorang tokoh partai buruh Belanda.

Herman Keppy yang meneliti perlawanan warga asal Hindia di Belanda menegaskan bahwa para mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Belanda sangat sadar atas perkembangan dunia. Dalam penerbitan PI tertera bahwa mereka tetap memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tetapi fasisme mengancam, jadi diputuskan untuk memihak sekutu melawan fasisme. Jadi terlebih dahulu mengalahkan fasisme, setelah itu baru memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Dengan luapan emosi Herman Keppy menjelaskan betapa tajam analisa orang Indonesia waktu itu. Banyak orang Belanda yang tidak sadar ancaman fasisme. Tapi orang Indonesia lain. Mereka sudah tahu dari awal, bahkan ikut dalam perang saudara di Spanyol yang bergejolak dari tahun 1936-1939.

Tidak berhak
PI sempat mengeluarkan pernyataan yang mengecam keputusan pemerintah Belanda dan Ratu Wilhelmina hengkang ke London. Dalam pernyataan yang ditandatangani oleh Setiadjit, salah satu pengurus PI, tertera bahwa dengan kaburnya pemerintah Belanda, maka Indonesia memperoleh status baru. Indonesia harus diperintah oleh bangsa Indonesia sendiri. Belanda sudah tidak berhak lagi memerintah Indonesia.

Bagaimanapun pendudukan Jerman pada akhirnya juga berdampak bagi orang-orang Indonesia yang waktu itu bermukim di Belanda. Hubungan dengan Indonesia terputus, sehingga kiriman uang terhenti. Kuliah juga terhenti, karena pemogokan tenaga pengajar. Cepat atau lambat, orang Indonesia di Belanda akhirnya terlibat juga dalam perlawanan terhadap pendudukan Jerman yang mereka alami sendiri.

Perlawanan yang paling sederhana adalah ikut menyebarkan pamflet-pamflet gelap, berisi berita-berita perang, misalnya bagaimana dari hari ke hari Jerman makin terdesak. Dalam pamflet itu juga tertera kabar berita yang diperoleh dari tanah air. Di Amsterdam misalnya ada keluarga Indonesia yang memiliki mesin stensil, mesin cetak sederhana yang digunakan untuk menggandakan pamflet-pamflet itu.

Kerja paksa
Kemudian banyak pula orang Indonesia yang membantu kalangan yang bersembunyi. Bukan hanya menyediakan tempat persembunyian, tapi juga menyediakan makanan bagi mereka yang bersembunyi.
Banyak kalangan bersembunyi untuk menghindari panggilan kerja paksa di Jerman, apa yang dalam bahasa Jerman disebut sebagai Arbeiteinsatz. Yang paling menonjol adalah orang-orang Indonesia yang mengangkat senjata, menjadi militer sukarelawan dan melancarkan aksi sabotase terhadap Nazi Jerman.

Alhasil, dalam kesibukan perlawanan terhadap pendudukan Jerman ini, perjuangan bagi kemerdekaan Indonesia mereka tunda dulu. Ini semacam kesepakatan tak terucap di kalangan orang Indonesia di Belanda. Perjuangan kemerdekaan Indonesia baru akan dilanjutkan kalau Belanda terbebas dari pendudukan Jerman.

Tapi tidak sedikit yang harus membayar mahal kegiatan bawah tanah mereka. Irawan Soejono misalnya tewas ditembak Nazi ketika mengangkut mesin stensil di Stasiun Leiden. Moen Soendaroe dan Sidartawan tewas di kamp konsentrasi Nazi. Sejarawan Belanda Harry Poeze menyebut semasa Perang Dunia Kedua itu, paling sedikit delapan orang Indonesia tewas.

Tidaklah mengherankan kalau Belanda menghargai langkah berani orang Indonesia ini dengan, misalnya, memberi nama jalan Irawan Soejonostraat di kawasan Osdorp, Amsterdam barat.

Ketika akhirnya Nazi Jerman bertekuk lutut, bagaimana perjuangan kemerdekaan Indonesia dilanjutkan? Ikuti bagian kedua, pekan depan.

About these ads

0 Responses to “Historia : Menunda Perjuangan Kemerdekaan Indonesia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,004,737 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers

%d bloggers like this: