Archive for May, 2012

30
May
12

IndoGreenWay : Agar Denyut Jantung Tetap Seirama

foto

Foto ilustrasi. Dok: StockXpert

Selasa, 29 Mei 2012 | 04:17 WIB

Agar Denyut Jantung Tetap Seirama

TEMPO.CO , Jakarta-Ritme detak jantung yang tidak beraturan dapat menjadi penyebab awal timbulnya stroke. Fibrilasi atrium merupakan gangguan irama jantung (aritmia) yang paling umum ditemui dan diderita siapa pun tanpa batas usia.

Pada pasien fibrilasi atrium, denyut jantungnya tidak teratur. Hal ini membuat mereka rentan mengalami penggumpalan di dalam pembuluh darah. Bagaimana supaya denyut jantung tetap seirama?

1. Cukupi kebutuhan magnesium.
Perempuan minimal mengkonsumsi 320 miligram magnesium dan laki-laki 420 miligram.

2. Perbanyak konsumsi gandum.
National Institute of Health menjelaskan bahwa makanan yang mengandung gandum dapat memenuhi kebutuhan magnesium dan menurunkan kolesterol.

3. Perbanyak memakan sayuran hijau gelap.
Selain kaya magnesium, sayuran hijau gelap mengandung zat besi serta serat yang berguna bagi kesehatan jantung.

4. Perbanyak konsumsi kacang-kacangan.
Setidaknya, kacang-kacangan dikonsumsi dua kali seminggu sebagai pengganti daging.

5. Periksakan kadar magnesium Anda secara berkala.
Beberapa orang yang terdeteksi kekurangan magnesium memerlukan mineral yang harus secepatnya ditangani dokter karena diberikan melalui intravena.

LIVESTRONG.COM | CHETA NILAWATY

Berita lain:
Jumlah Perokok Muda Kian Meningkat

Bagaimana Cara Menjadi Ibu Tunggal Tahan Kesepian

8 Sekuel Pagelaran Penuh Drama Kebaya

Langsing, 8 Cara Hindari Makan Jelang Tidur

Tips Posisi Duduk yang Benar

Lady Gaga: Hati Saya Hancur Tak Jadi Konser di Jakarta
Agar Terima Lady Gaga, FPI Ditawari ”Mobil”

Skandal ”Vatileaks” Guncang Vatikan

 

47 Resep IndoGreenWay

www.hdindonesia.com/gabung.asp?id=indogreenway


REFERENSI DARI KITAB-KITAB SUCI

TENTANG PRODUK PERLEBAHAN

AL-QUR’AN

Q.S An-Nahl ayat 68-69

(68) Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah “Buatlah sarang2 di bukit2, di pohon2 kayu, dan di tempat yang dibikin manusia”

(69) Kemudian makanlah dari tiap2 (macam) buah2an dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (MADU) yang ber-macam2 warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar2 terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang2 yang memikirkannya.

TRI PITAKA

Dalam ajaran agama Buddha ada 5 jenis obat yang bisa dikonsumsi oleh para bhikkhu setelah makan siang, salah satunya adalah MADU.

VINAYA PITAKA, Mahavagga VI.208 15-10

Beberapa jenis obat yang dipakai oleh bhikku yang sakit adalah…MADU

Dalam Artharvaveda XII.3.44

MADU dicampur dengan mentega yang dijernihkan (disajikan kepada tamu menyehatkan)

Dalam Artharvaveda II.3.1

Minumlah ghee (mentega yang dimurnikan), MADU dan susu baik untuk kesehatan.

ALKITAB

Dalam Amsal 16 : 24

Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang MADU, manis bagi hati dan obat bagi tulang2.

Dalam Amsal 24 : 13

Anakku, makanlah MADU, sebab itu baik dan tetesan MADU manis untuk langit2 mulutmu.

AYURVEDA

Ayurveda atau “ilmu tentang kehidupan” yang berakar dari budaya India yang menggabungkan konsep alami dan herbal untuk penyembuhan penyakit dan telah dipraktekkan 4000 tahun Sebelum Masehi.

Ayurveda mempunyai bagian penting yaitu Rasayana yang secara sederhana berarti sesuatu yang mengembalikan orang ke keadaan muda secara fisik dan mental.

Di berbagai ramuan Rasayana yang 100% terdiri dari bahan alami, MADU merupakan komponen yang penting. Disebutkan bahwa Rasayana disiapkan dengan MADU dan ghee (mentega yang dimurnikan) karena potensi dan preservasi herbal secara permanen terikat pada MADU dan ghee.

http://citizennews.suaramerdeka.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1528

Meniru Lebah

Ditulis Oleh Aminuddin bin Halimi
22-01-2012,
Terkadang orang beragama Islam tetapi tidak tahu apa itu Islam. Dan tidak pernah menanyakan dirinya “Aku ini Islam kebetulan (beneran) atau sungguh-sungguh”. Lalu, Islam yang sungguh-sungguh itu seperti apa? Apa hanya menjalani hidup ini seperti apa adanya, bak air mengalir? Padahal ia diberi kebebasan memilih dan diberi akal lagi, yang maha dahsyat.Jika ia mau berpikir lebih jauh, ia tidak mau kalah kedudukannya dari binatang, apalagi lebih rendah posisinya dari hewan yang tidak berakal. Sungguh amat tidak pantas. Padahal ada binatang yang baik yang dapat dijadikan contoh oleh manusia, yaitu lebah. Lebah, karena kebaikannya, diabadikan di dalam Alqur’an sebagai salah satu nama surat, yaitu surat “An-Nahl”.

Lebah tidak mau makan kecuali memakan makanan yang baik-baik, yaitu sari-sari bunga yang harum dari tumbuh-tumbuhan yang berserakan di muka bumi. Orang-orang yang ingin selamat, sehat, bahagia dan berumur panjang, dalam hal ini umat Islam, tentu tidak mau mengkonsumsi kecuali makanan yang halal, bergizi dan baik.

Persoalan makanan yang amat vital bagi kesehatan tubuh, sudah tidak menjadi perhatian bagi berbagai kalangan.  Kalangan anak-anak lebih menyukai makanan instan, mie instan, pop mie, chikky, makanan ringan produk pabrik yang dikemas indah-indah dan menarik. Sementara tidak menyukai sayuran dan buah-buahan.

Kalangan pemuda dan remaja lebih menyukai makanan produk luar, agar kelihatan keren, di KFC, CFC, Donking Donut, Make Donald, atau mie ayam, bakso yang mangkal di pinggir-pinggir jalan yang kebersihannya belum tentu terjamin. Demikian pula aspek halal dan haram masih perlu diteliti. Ada isu bahwa bakso dicampur dengan formalin, atau daging babi, atau daging tikus.

Di kalangan orang-orang tua yang sudah mulai rentan dengan berbagai penyakit, semestinya mereka harus lebih berhati-hati, tetapi tidak jarang mereka memilih makanan yang enak-enak, kepiting, swike, seafoods, sate kambing, merokok, minum kopi, minum minuman keras, yang jelas-jelas membahayakan kesehatan mereka.

Lebah beterbangan menjelajahi alam tumbuh-tunbuhan dan hutan belantara dengan ketajaman mata, telinga dan hidung. Ia memilih singgah di tempat-indah dan harum bersama kupu-kupu dan kumbang. Dengan kebebasannya, seharusnya orang Islam memilih tempat tinggal yang baik, lingkungan orang-orang baik, lingkungan bersih, indah dan harum. Mencari rizki di tempat-tempat yang baik, melalui etika yang baik, bukan di lokasi yang remang-remang, kotor, apalagi gelap. Belajar dan mendidik anaknya juga di sekolah-sekolah yang Islami dan favorit. Berolahraga di tempat-tempat yang bersih dari maksiat.

Demikian pula berlibur dan bergaul, selektif mencari tempat wisata yang steril dari kemaksiatan. Tidak boleh keliru dalam memilih teman atau kawan, apalagi teman hidup (jodoh) untuk sepanjang hayat. Sebab tidak sedikit orang kaya jatuh miskin dan orang mulia jatuh hina karena bergaul dengan orang-orang buruk, orang-orang jahat yang senantiasa mencari mangsa.

Ketika lebah singgah di cabang atau ranting pohon, ia tidak sampai sempal atau putus cabang dan ranting pohon itu. Orang Islam, ketika mengunjungi suatu tempat yang gersang atau yang ramai, ia tidak  membuat onar  dan resah tempat yang dikunjunginya. Justru sebaliknya memberi kesejukan, kenyamanan dan kemanfaatan kepada sebesar-besar umat sesuai missi Islam “Rahmatan lil Alamin”.

Lebah melalui madu yang dihasilkannya, menyimpan makanan untuk persiapan hari esok bagi kawan-kawan atau komunitas lebah, di samping untuk pengobatan makhluk lain bernama manusia. Orang Islam kalau tidak mau kalah dengan lebah harus beramal jariyah untuk kemanfaatan generasi yang lebih luas. Misalnya : menanam pohon jati untuk keturunan yang akan datang, menanam investasi untuk kegiatan-kegiatan ibadah atau jihad di jalan Allah, menyediakan lahan luas untuk pembangunan pondok pesantren, pendidikan bermutu, dll. Artinya, umat Islam itu harus visioner, memiliki visi ke depan yang jelas dan panjang, untuk kemajuan bangsa dan umat manusia di masa yang akan datang.

Alquran menyatakan bahwa lebah beterbangan menjelajahi flora dan fauna dengan penuh kerendahan. Meskipun lebah mempunyai senjata ampuh berupa sengatan yang luar biasa. Lebah tidak lantas semena-mena menyengat semua makhluk yang dijumpainya. Ia tidak sombong, tidak dumeh. Tidak seperti manusia, pandai silat sedikit, sudah suka mengajak bertarung dan bertengkar, membuat geng-geng, lalu tawuran. Alangkah indah dan nikmatnya hidup ini, manakala manusia dengan sesama manusia berkawan, bergaul, bekerja sama, saling membantu dengan penuh kerendahan, saling menghargai dan saling menghormati.

Komunitas lebah sebagai sebuah organisasi besar amat mengagumkan dan sangat menakjubkan, belum pernah mendengar lebah bertengkar dengan lebah. Lebah mengadakan demontrasi menuntuk hak sama tentang madu. Pembagian tugas yang begitu rapi, tidak pernah dilanggar atau berebutan. Ada yang bertugas menjadi tentara, sebagai benteng pengamanan. Ada yang bertugas mencari makanan, ada yang bertugas membuat rumah dan ada yang bertugas melanjutkan keturunan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ternyata lebah lebih cerdik daripada manusia.

www.hdindonesia.com/gabung.asp?id=indogreenway


Opini 19 Pakar HD

Persembahan Bagi Kesehatan Masyarakat

Profil 19 Produk IndoGreenWay

 

30
May
12

Peradaban : Tri Hita Karana Bali Retak ?

27 Mei 2012 | BP

”Tri Hita Karana” Retak

PERUBAHAN perilaku masyarakat yang begitu drastis, menjurus ke degradasi moral sangat memprihatinkan berbagai kalangan akhir-akhir ini. Kekejaman manusia kian meningkat. Tidak hanya terhadap sesama, juga pada lingkungan termasuk tumbuh-tumbuhan dan binatang. Hubungan mereka dengan Tuhan jadi semakin renggang karena alasan sibuk, kendati dalam pembuatan sesajen saat upacara keagamaan tampak kesan jor-joran. Begitu pendapat Ida Pedanda Gde Made Gunung dalam acara dharma wacana di Balai Banjar Tampak Gangsul, Senin (21/5) lalu.
Keharmonisan masyarakat tidak berlangsung seperti dulu, kata Pedanda, karena masing-masing orang bertindak dan berucap tidak sesuai porsinya. Padahal para leluhur kita mewariskan sejenis masakan sebagai analoginya dan adonan seperti itu hanya dijumpai di Bali, tambahnya. Lawar adalah penganan yang dimaksud. Masakan spesifik Bali itu akan terasa lezat bila masing-masing bumbu dan bahannya tidak saling melebihi atau mengurangi. Padahal lawar berisi nyaris semua jenis bumbu yang mengandung berbagai macam rasa, manis, pahit, sepet, asin dan pedas. Bahkan yang berbau busuk seperti terasi, juga dibutuhkan untuk penyedap rasa, asalkan tidak dimasukkan secara berlebihan. Pun bahan-bahannya, ada daging mentah, daging yang telah digodok, sayur nangka dan merica hijau mentah. Jadi, suguhan lawar sejatinya, bukan buat konsumsi lidah dan perut semata, namun ada makna filosofi yang terkandung di dalamnya untuk dicerna otak, yakni keharmonisan, tutur Rubag.
Tidak hanya lawar, juga gamelan mencirikan keharmonisan dan keindahan. Irama atau melodi yang mampu dihasilkan gender belum terdengar indah dan menarik tanpa diikuti, riyong, cengceng, kempur, jublag, jegog, gong, kempluk dan kendang. Masing-masing instrumen tersebut menyumbang keindahan, apalagi ditambah penyacah sebagai pemanis. Keras dan lembutnya pukulan masing-masing instrumen tergantung tabuh yang dimainkan, membuatnya terdengar harmonis di telinga. Akan kedengaran aneh bila sebuah instrumen dipukul keras padahal seharusnya lembut. Itu akan membuat tabuh uwug dan ditertawai penonton. Gotong royong, toleransi dan kebersamaan adalah filosofi gamelan. Leluhur kita memang luar biasa dalam menciptakan artefak-artefak kebudayaan dan gamelan merupakan salah satu dari sepuluh warisan asli Indonesia, yang tidak dimiliki bangsa lain di dunia. Kalau saja orang Bali merenungkan kembali semua peninggalan leluhur, terutama lawar dan gamelan ini, keprihatinan seperti yang dilontarkan Pedanda Gunung tidak akan terjadi, kata Purwacita.
Benar, segala sesuatu yang diciptakan para leluhur kita merupakan simbol-simbol keharmonisan. Sayang, kita sering munafik bahkan kadang-kadang menjelek-jelekkan yang tradisional karena terbius modernitas. Banyak orang seakan alergi atau benci pada yang busuk, semisal terasi yang dikatakan Rubag tadi, namun doyan makan rujak atau tahu campur. Padahal kedua adonan itu tidak akan enak tanpa terasi sebagai penyumbang rasa di dalamnya. Bahkan terkait ikhwal degradasi moral, banyak orang memperebutkan yang di dalam Sarasamuscaya dimetaforakan sebagai lembah dalam yang licin berbau busuk. Coba baca di koran dan media elektronik belakangan ini! Banyak kasus perceraian, selingkuh, pelecehan seksual, pelacuran tingkat tinggi dan rendah, pemerkosaan akibat kegandrungan pada yang berbau kurang sedap itu. Celakanya, orang terhormat yang berjulukan wakil rakyat pun diisukan mengabadikan kebusukannya lewat video dan jadi tontonan publik. Rasa malu benar-benar telah tanggal dari cantolannya di hati makhluk tersempurna ciptaan Tuhan ini, ujar Smarajana.
Satu hal yang membuatku cemas adalah gampangnya orang mencabut nyawa sesamanya dewasa ini. Ironisnya itu sering terjadi di tempat orang-orang yang mencari kesenangan. Kafe adalah tempat kumaksud, yang jumlahnya kini konon ratusan di sekitar Denpasar dan Badung. Di tempat seperti itu keselamatan fisik dan nyawa orang mudah terancam. Padahal kebanyakan pengunjung kafe bertujuan untuk menghibur diri. Menenggak berbagai minuman beralkohol, ditemani cewek-cewek berpenampilan menor untuk memandu lagu dan melantai. Nah, ketika berdansa-dansi itulah keributan sering meletus. Baik karena saling senggol, saling pandang atau memang sudah ada bibit sentimen sebelumnya. Begitu seringnya terjadi peristiwa berdarah yang di antaranya merenggut nyawa, bagiku, kafe bukan lagi sebagai tempat hiburan, tapi gelanggang adu nyawa, komentar Sumerta.
Aneh, dalam laporan Bali Post, Selasa (22/5), konon retribusi kafe-kafe yang menjamur di sekitar Denpasar terhadap Pendapat Asli Daerah (PAD) nihil. Namun belasan nyawa sudah melayang, juga puluhan yang luka berat akibat perkelahian dengan senjata tajam maupun senjata api di tempat seperti itu. Kok aparat yang berkompeten seakan membiarkan peristiwa demi peristiwa terjadi ya? Belum lagi meningkatnya pengidap HIV di Bali, ditengarai akibat menyebarnya kafe-kafe hingga ke pelosok desa. Kalau menyimak kejadian pembunuhan di sebuah kafe Denpasar Barat baru-baru ini, yang lantaran utang-piutang korban dibantai seperti bukan manusia, aku jadi curiga pada unsur niskala. Itu terkait kata Pedanda Gunung, yang mengatakan bahwa kini banyak bencana alam terjadi sebagai balasan alam terhadap manusia yang berlaku kejam padanya. Tanah longsor, banjir, gempa, tsunami dan rabies. Jangan-jangan orang yang diduga tewas diserang kera gila di sebuah sungai di Nongan Karangasem karena balas dendam akibat tatanan Tri Hita Karana mengalami keretakan, kata Rubag.
Tetapi kera gila itu sudah berhasil ditembak mati setelah diburu berhari-hari oleh masyarakat dibantu aparat. Senin (14/5) dia berhasil membunuh manusia dengan beberapa gigitan di sekujur tubuh terparah di leher. Sabtu (19/5) dia berhasil dibunuh aparat dengan sebutir timah panas. Jadi skornya 1 : 1. Malah Bupati Karangasem menginstruksikan Dinas Peternakan untuk mengeliminasi satwa kera di sekitar Sungai Jenah, Desa Nongan Kecamatan Rendang. Mungkin dia belum puas dengan skor impas itu. Keruan saja perintah yang terdengar hingga ke DPRD Bali itu mendapat reaksi keras dari wakil rakyat. Instruksi Bupati Karangasem tersebut dianggap bertentangan dengan konsep Tri Hita Karana. Seharusnya, kata wakil rakyat itu, tindakan mengeliminasi dikoordinasikan dengan masyarakat, yang mungkin punya pantangan untuk membunuh kera. Argumen wakil rakyat itu agak mirip dengan sinyalemenmu tentang Tri Hita Karana. Lalu, unsur niskala macam apa yang kamu curigai melatari pembunuhan di kafe-kafe? tanya Darsana di akhir paparannya.
Menurut Pedanda Gunung, kita gampang membunuh apa saja untuk hal-hal yang kita anggap praktis dan ekonomis. Membuang sampah ke got dan kali sehingga menimbulkan kemampetan dan banjir saat hujan. Bahkan ada sungai yang terbunuh karena permukaannya rata dengan daratan akibat sampah yang tertimbun bertahun-tahun berubah jadi tanah. Nah, ladang dan sawah pun dibunuh, lalu di atasnya didirikan berbagai jenis bangunan. Bahkan kebanyakan kafe dibangun di atas tanah yang dulunya sawah atau ladang. Padahal di tempat-tempat seperti itu sebelumnya ada palinggih, yang dibangun sebagai tempat atman atau makhluk-makhluk astral yang menunggu tempat itu. Bahkan untuk sekumpulan sawah ada Pura Subak yang kini nyaris tidak ada yang memelihara, bahkan ada yang dieliminasi karena di sekitar tempat suci itu lahannya tidak lagi sawah, melainkan perumahan. Malah banyak di antara penghuninya adalah penganut keyakinan berbeda. Aku curiga roh atau atman, yang juga disebut makhluk astral itu kini menuntut balas. Bukan hanya di kafe-kafe, di tempat lain pun urusan sepele bisa berkembang jadi masalah besar. Simak kasus pengusiran beberapa keluarga dari tempat kelahirannya yang terjadi di beberapa tempat di Bali! Ini semua akibat ulah manusia yang meretakkan tatanan Tri Hita Karana dan melupakan filosofi lawar dan gamelan. Semoga manusia Bali cepat sadar, tandas Rubag. (aridus)
30
May
12

IpTek : Teknologi Militer vs Pesawat Komersial Sukhoi Superjet 100

1337131427993853507

Pesawat Sukhoi Superjet 100/Kompasiana (KOMPAS.com/AFP/NATALIA KOLESNIKOVA)

 

Intelijen Militer Rusia Tuduh AS Sabotase Sukhoi Superjet 100

Dahono Fitrianto | Agus Mulyadi |

Kamis, 24 Mei 2012 | 18:46 PM

MOSKWA, KOMPAS.com — Dinas intelijen militer Rusia menduga jatuhnya pesawat penumpang Sukhoi Superjet 100 (SSJ100) di Indonesia dua pekan lalu disebabkan sabotase Amerika Serikat.

Pihak Rusia saat ini masih menyelidiki kemungkinan pihak AS menggunakan alat pengacak sinyal untuk mengacaukan penerbangan pesawat tersebut.

Dugaan tersebut muncul dalam artikel “Apakah Orang Amerika Terlibat dalam Kecelakaan Superjet?” yang dimuat tabloid Komsomolskaya Pravda di Rusia, Kamis (24/5/2012).

Menurut artikel itu, perusahaan-perusahaan dirgantara di AS punya kepentingan agar Sukhoi Superjet 100 gagal.

“Kami menyelidiki teori bahwa itu adalah sebuah sabotase industrial,” tutur seorang pejabat GRU, dinas intelijen militer luar negeri Rusia, kepada tabloid tersebut.

Menurut pejabat yang tak disebutkan namanya itu, GRU sudah lama memantau aktivitas Angkatan Udara AS (USAF) di bandar udara di Jakarta. Tidak disebutkan bandara mana yang dimaksud pejabat tersebut.

“Kami tahu mereka memiliki teknologi spesial yang bisa mengacak sinyal dari darat atau menyebabkan sistem pembacaan data di pesawat tak berfungsi. Mungkin inilah masalah sesungguhnya pada peristiwa itu,” tutur pejabat tersebut.

Pesawat Sukhoi Superjet 100 jatuh menabrak dinding tebing di Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/5/2012) lalu, saat melakukan penerbangan peragaan dalam rangka tur promosi. Kecelakaan itu menewaskan 45 orang di dalam pesawat, termasuk seorang warga negara AS.

Sukhoi Superjet 100 adalah pesawat penumpang pertama rancangan asli Rusia sejak Uni Soviet runtuh dan diharapkan menjadi awal kebangkitan industri penerbangan sipil di negara itu.

Kantor berita Agence France Presse (AFP) menyebut Rusia punya kebiasaan menyalahkan negara lain atas berbagai musibah atau kecelakaan besar yang terjadi di Rusia.

Pada Agustus 2000, saat kapal selam nuklir Kursk milik AL Rusia tenggelam di Laut Barents, seorang komandan AL Rusia menyalahkan AL AS hanya karena waktu itu ada beberapa kapal perang AS di sekitar lokasi latihan militer yang melibatkan Kursk.

Kemudian, tahun lalu, mantan Kepala Badan Luar Angkasa Rusia Yury Kotev kembali menyalahkan AS sebagai penyebab kegagalan penerbangan wahana luar angkasa Phobos Grunt yang sedianya akan menuju Bulan. Menurut Kotev, pancaran radar AS membuat wahana itu gagal.

Kompas.com http://bit.ly/KuajUA

Intelijen Rusia Tuduh AS Sabotase Sukhoi

Jum’at, 25 Mei 2012 – 09:09 wib


Foto: RIA Novosti
enlarge this image

JAKARTA – Teori sabotase yang menyebabkan jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 (SSJ-100) di Gunung Salak,Kabupaten Bogor, masih menjadi salah satu fokus penyelidikan kecelakaan tersebut di Rusia.

Agen intelijen Negeri Beruang Merah dilaporkan tengah menyelidiki kemungkinan militer Amerika Serikat (AS) turut andil menjatuhkan pesawat komersial itu saat melakukan penerbangan demonstrasi (joy flight),9 Mei lalu. Mengutip sumber di badan intelijen militer Rusia,GRU, tabloid Komsomolskaya Pravda kemarin melaporkan, intervensi dari sebuah markas angkatan udara AS di dekat Jakarta telah menyebabkan perlengkapan di pesawat rusak hingga berujung pada tragedi yang menewaskan 45 orang.

Namun, dalam artikel “Apakah Orang Amerika Terlibat dalam Kecelakaan Superjet?” itu tidak disebutkan lokasi persis markas angkatan udara dimaksud. “Kami tahu mereka punya peralatan khusus yang dapat memotong komunikasi antara pesawat dan kontrol darat atau mengintervensi parameter di pesawat.Misalnya,pesawat terbang di satu ketinggian,tapi setelah adanya intervensi dari darat, peralatan di pesawat memperlihatkan angka lain,” ujar seorang jenderal di GRU kepada tabloid tersebut seperti dikutip The Moscow Times.

Klaim tersebut muncul menyusul spekulasi kecelakaan SSJ-100 terjadi akibat sabotase industri. “Pertanyaan utamanya, mengapa kontrol darat menyetujui permintaan untuk mengurangi ketinggian,” papar sumber di Sukhoi kepada Komsomolskaya Pravda.“Mungkin, dia tidak melihat bahwa pesawat itu langsung menuju gunung.

Di sisi lain, kita tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa ini adalah sabotase industri yang disengaja untuk menendang pesawat kita dari pasar.” Menurut seorang pejabat keselamatan pilot di Bandara Domodedovo, Moskow,ketika pesawat terbang menuju gunung, seharusnya mode otomatis yang memandu pesawat menghindari hambatan menyala. SSJ-100 hilang kontak setelah meninggalkan Bandara Halim Perdanakusumah pada penerbangannya yang kedua pukul 14.00 WIB.

Pesawat berdimensipanjang26,44meteritu akhirnya diketahui jatuh dan hancur setelah menabrak tebing Gunung Salak. Air Traffic Control (ATC) Bandara Soekarno Hatta sebelumnya mengakui telah memberikan izin kepada SSJ- 100 untuk turun dari ketinggian 10.000 kaki ke 6.000 kaki. Salah satu pertimbangannya, saat izin diberikan, Sukhoi berada di area aman.

Kantor berita Agence France Presse (AFP) menyebut Rusia punya kebiasaan menyalahkan negara lain atas berbagai musibah atau kecelakaan besar yang terjadi di Rusia. Pada Agustus 2000, saat kapal selam nuklir Kursk milik Angkatan Laut (AL) Rusia tenggelam di Laut Barents, seorang komandan AL Rusia menyalahkan AL AS hanya karena waktu itu ada beberapa kapal perang AS di sekitar lokasi pelatihan militer yang melibatkan Kursk. (Alvin/Koran SI) (abe)

Intelijen Rusia Tuduh AS Sabotase Sukhoi – m.okezone.com http://bit.ly/LHJ0HA

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

30
May
12

IndoHeritage : Subak Bali Dikagumi Dunia

Subak Dikagumi Dunia, Terabaikan di Bali

Cinta Malem Ginting | Senin, 28 Mei 2012 – 14:46:20 WIB


(dok/antara)Banyak sawah beralih fungsi, bahkan terkesan terabaikan.

DENPASAR- Nama Subak kini mencuat di dunia internasional, menyusul adanya keputusan dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) yang menetapkan Subak sebagai warisan budaya dunia.

Begitu besar perhatian dunia terhadap subak karena memang tidak ada di negara manapun kecuali Indonesia, khususnya Bali. Namun keberadaan Subak di Bali terkesan terabaikan. Pasalnya, banyak subak di Bali sudah “punah” karena banyaknya lahan persawahan atau pertanian yang beralih fungsi. Selain itu perhatian pemerintah daerah (pemda) di Bali terhadap subak dinilai masih minim.

“Sekarang ini sudah banyak subak yang punah, seiring dengan banyaknya lahan pertanian atau sawah yang beralih fungsi. Di Denpasar saja sudah hampir tidak ada lagi subak,” ujar Ketua Grup Riset Sistem Subak, Wayan Windia dalam suatu percakapan dengan SH, Rabu (23/5), di Denpasar.

Subak adalah organisasi tradisional di Bali yang mengatur tentang sistem pengairan sawah. Menurut Wayan Sutama yang juga Ketua Kelompok Subak Lodtunduh, Desa Singekerta, Ubud-Gianyar-Bali ini, sistem subak yang dikelola petani ini sudah dikenal di Bali sejak puluhan tahun lalu dan keberadaannya sudah ada turun-temurun.

Baik Wayan Windia yang juga Ketua Badan Penjaminan Mutu Universitas Udayana (Unud) Denpasar itu maupun Wayan Sutama, merasa sangat gembira dengan adanya penetapan dari UNESCO terhadap subak di Bali tersebut. Hal ini karena Windia telah lama menantikan turunnya keputusan dari UNESCO tersebut. “Sebagai orang yang ikut merancang proposalnya tentu saya sangat gembira. Keputusan ini sudah kita tunggu 12 tahun,” tutur Windia yang juga Guru Besar di Unud.

Dengan adanya penetapan ini Windia mengharapkan pemda di Bali terbuka pikirannya agar mengayomi subak tersebut untuk menjadi subak abadi. “Subak sebagai warisan budaya Bali ada potensi abadi kalau pemda concern. Selama ini perhatian pemda terhadap subak dan pertanian belum cukup. Terbukti dari alih fungsi sawah di Bali lebih dari 1.000 hektare per tahun,” paparnya.

Untungkan Petani

Wayan Windia membenarkan secara materi Bali tidak memperoleh apa-apa dengan penetapan ini, karena di dunia sekarang ini ada sekitar 600 warisan budaya dunia. UNESCO hanya memberi stempel dan image terhadap budaya subak ini. “Tanggung jawab subak tetap ada pada masyarakat di Bali, sedangkan UNESCO hanya memberi stempel dan image,” ujarnya

Dalam hal ini, menurut Wayan Windia, yang terpenting adalah harus dibuat kondisi agar petani merasa senang dan menguntungkan sebagai petani. Dengan demikian, pertanian dan subak di Bali akan tetap abadi. Sekarang ini, di Bali ada sekitar 1.599 subak yang kondisinya terpinggirkan. “Subak sekarang seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Hidup segan, mati tak mau,” kata dia.

Sutama berharap agar pemda mau berperan aktif dalam melestarikan keberadaan subak. “Kami berharap pemda mau membantu dalam upaya pelestarian subak, sehingga tetap ada sepanjang masa,” ujarnya.

Melalui sistem subak ini, menurut Sutama, sistem pengairan sawah bisa diatur dengan baik sehingga tidak ada terjadi “bentrokan” antarpetani karena berebut air untuk sawahnya. “Melalui subak sudah diatur mengenai pembagian air ke setiap bidang sawah. Kalau ada anggota kelompok subak yang ‘nakal’ dalam pengaturan air, melalui subak bisa ditegur dan diberikan sanksi,” ujar Sutama.

Ia mengakui organisasi subak yang dipimpinnya dengan beranggotakan 69 petani dan luas lahan sekitar 30 hektare, selama ini sering mendapatkan bantuan dari Pemda Gianyar. “Perhatian dari Pemda Gianyar selalu ada jika subak kami meminta bantuan,” tuturnya.

Bantuan ini, umumnya diperlukan kelompok subak untuk biaya perbaikan jalan dan pembuatan saluran air. “Kami sangat berharap sekali agar subak ini bisa dilestarikan dengan ditetapkannya sebagai warisan budaya dunia,” tandas Sutama.

(Sinar Harapan)

BERITA TERKAIT

 

30
May
12

Kenegarawanan : Membangun Kembali Pax Majapaita

Pax Majapaita

M Mustaqim – detikNews

Senin, 28/05/2012 17:47 WIB

Jakarta Konon, di belahan bumi Nusantara, pernah ada sebuah kerajaan yang besar dan kuat. Luas teritori kerajaan tersebut meliputi seluruh wilayah nusantara ditambah negeri jiran Malaysia, Singapura bahkan sampai Miyanmar. Kerajaan ini, mempunyai kekuatan pertahanan yang kuat, baik pertahanan maritim maupun bertahanan darat. Pada masa keemasannya, rakyat dapat hidup dengan sejahtera, dengan berbagai gelimpahan hasil kekayaan alam yang melimpah. Inilah kerajaan terbesar di Nusantara yang orang menyebutnya dengan nama Majapahit.Dalam tanah warisan Majapahit inilah kita hidup, tumbuh dan berkembang. Kita, bangsa Indonesia adalah keturunan kerajaan besar yang mempunyai semangat besar untuk menaklukkan dunia. Namun di tanah ini juga, hari ini kita terpuruk. Alam yang kaya raya ini tidak mampu lagi menjadikan kita kenyang dan berdaya. Masih banyak dari kita yang belum bisa menikmati bentangan kekayaan alam yang melimpah. Bahkan untuk bekerja saja, penduduk bangsa ini harus ‘mengungsi’ ke negara lain, demi untuk mendapatkan kesejahteraan.

Jika mengikuti filsafat orang Jawa, maka kita ini sudah punya trah bangsa besar. Setidaknya hal ini sebagai legitimasi dan pemantik semangat untuk membangun kebesaran tersebut. Sejarah telah mencatat bahwa di wilayah Nusantara ini pernah berdiri kerajaan besar yang punya semangat ekspansif dan membangun peradaban. Selain Majapahit, sejarah mengenal Sriwijaya sebagai kerajaan maritim yang secara ekonomi dan politik sangat kuat. Bahkan, jika mengikuti tesisnya Dr Santos, di Nusantara ini pulalah peradaban besar dunia tinggal.

Peradaban Atlantik, merupakan peradaban manusia yang sangat maju pada zamannya. Hal ini dapat dijumpai pada catatan seorang filosof terkenal, Plato. Di mana dalam catatan tersebut, disebutkan bahwa terdapat peradaban manusia yang sangat maju, baik pengetahuan maupun teknologinya. Nah, Dr Santoslah yang kemudian mensinyalir dalam risetnya tersebut, bahwa atlantik yang hebat itu terletak di kepulauan Nusantara, negara Indonesia tepatnya pada saat ini.

Melalui balungan orang besar inilah, sudah saatnya kita membangkitkan kembali kebesaran tersebut. Atlatik, Sriwijaya, Majapahit, Demak adalah sederet mata rantai yang saling terkait dalam akan membentuk ikatan peradaban. Dengan penyiapan diri yang matang untuk menjadi bangsa yang besar dan kuat, kita akan mampu mewujudkan kebesaran tersebut. Meskipun kita tidak tau kapan itu akan terjadi.

Menjadi Negara Besar

Sebagai bangsa, kita berhak bermimpi, dengan disertai kerja keras untuk mewujudkannya. Bangsa yang besar pada hakekatnya adalah bangsa yang mampu mewujudkan mimpi-mimpinya. Sejarah telah menorehkan bukti, bahwa Amerika dulu adalah bangsa Indian ‘katrok’ yang terjajah oleh Inggris. Namun melalui mimpi dan kerja keras rakyatnya, sekarang ini Amerika telah menjadi bangsa besar, Negara adikuasa yang mempunyai bargaining power yang kuat dalam kancah percaturan dunia. Amerika saat ini merealisasikan mimpinya menjadi Pax Americana, imperium Amerika yang mampu menguasai dunia.

Contoh berikutnya adalah Jepang. Pada saat Perang Dunia (PD) II, Jepang merupakan negara yang terkoyak akibat kekalahan dalam perang. Dua kota besarnya di bom atom, hingga sampai kini kota tersebut menjadi kota mati. Namun dengan mimpi dan kerja kerasnya, saat ini Jepang menjadi Negara maju dan kaya di asia bahkan di dunia. Industrinya menjadi produk pasaran di seluruh penjuru dunia. Pax Japanica menjadi mimpi Jepang untuk menaklukkan dan menghegemoni dunia internasional.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang punya akar sejarah menjadi bangsa besar. Majapahit adalah kerajaan Nusantara yang mempinyai visi untuk menguasai dunia. Sejarah telah menorehkan tinta emasnya, bahwa nusantara dulu pernah menjadi Negara ekspansionis di kawasan Asia Tenggara. Sebagaimana yang pernah digambarkan oleh Pramudya Ananta Toer dalam novel ‘Arus Balik’-nya, bahwa pada suatu masa, bangsa selatan pernah menjadi sebuah sumber peradaban di Asia.

Majapahit adalah kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi ini. Kapal-kapalnya, muatannya, manusianya, amal dan perbuatannya, cita-citanya – semua itulah arus selatan ke utara Hal ini yang setidaknya mampu menjadi spirit bangsa ini, bahwa semua bangsa, siapapun dia berhak untuk menjadi bangsa yang besar dan berdaulat.

Gambaran ini setidaknya memberikan bukti, bahwa Majapahit, nenek moyang kita pernah menjadi kerajaan besar yang menguasai perdagangan di Asia. Hal ini bisa tercapai karena adanya mimpi dan kerja keras oleh para pemimpinnya. Patih Gajah Mada adalah sosok yang memberikan ‘pembenaran’ bagaimana mimpi dan kerja keras tersebut. Melalui Sumpah ‘Amukti Palapa’-nya, Sang Patih mempunyai mimpi untuk menaklukkan seluruh wilayah Nusantara. Dengan kerja keras dan tirakat nya, yakni dia tidak akan makan buah palapa sebelum mampu mewujudkan mimpi tersebut. Riyadloh ini adalah usaha riil, yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa kita zaman dahulu. Sehingga Majapahit pada saat itu mampu menaklukkan bangsa-bangsa dan kerajaan–kerajaan sekitar, untuk mewujudkan Pax Majapahita, sebuah imperium majapahit yang besar.

Hal ini tampaknya kontras bila kita bandingkan pada pemimpin kita saat ini. Pemimpin kita tampaknya tidak mempunyai mimpi dan kerja keras menjadi bangsa yang besar. Sehingga bangsa ini selalu menjadi bangsa kerdil, bagai katak dalam tempurung. Semangat Majapahit melalui Gajah Mada, harus menjadi spirit kita untuk membangun kembali kejayaan yang pernah hilang. Dan bila itu mampu kita lakukan, bukannya tidak mungkin, ke depan kita akan menjadi bangsa besar yang berpengaruh dalam kancah dunia. Pax Majapahita adalah mimpi kita, yang kita yakin suatu saat akan terwujud.

*) Muhamad Mustaqim adalah dosen STAIN Kudus, aktif di kajian sosial pada The Conge Institute Kudus.

(vit/vit)

Baca Juga
30
May
12

Politik Narkoba : Kontroversi Grasi Presiden bagi Corby

7 Ahli Hukum Pertanyakan Grasi Corby

Andi Saputra – detikNews

Kamis, 31/05/2012 05:52 WIB

Jakarta Pemberian grasi kepada terpidana narkoba asal Australia, Schapelle Corby oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terus menuai kontroversi. Banyak pihak mempertanyakan grasi terhadap pembawa ganja seberat 4,2 kg itu apakah sudah memenuhi rasa keadilan masyarakat atau belum.

Berikut pendapat para ahli hukum atas grasi Corby dalam catatan detikcom, Rabu (31/5/2012):

1. Prof Mahfud MD
Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta yang juga Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mempertanyakan persoalan komitmen dan moral.

“Itu sah kewenangan presiden. Cuma persoalannya bukan konstitusi. Ada persoalan komitmen, moral keadilan dan sebagainya. Di luar sah tidak sah. Seumpamanya saya yang mengeluarkan (grasi), saya tidak akan mengeluarkan. Karena narkoba itu sungguh bahaya,” kata Mahfud MD usai acara peluncuran buku “Negeri Mafia, Republik Koruptor’ di Manggala Wanabakti, Jakarta, Jumat (25/5) lalu.

2. Prof Hikmahanto Juwana
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana dengan tegas menyatakan Presiden SBY yang memberikan grasi terhadap terpidana narkoba, Schapelle Corby, berpotensi melanggar sumpah presiden.

“Pemberian grasi kepada Corby berpotensi melanggar sumpah presiden untuk menjalankan undang-undang dan peraturan pelaksanaanya selurus-lurusnya,” ujar Hikmahanto, Minggu (27/5) lalu.

3. Prof Soetandyo Wignyosoebroto
Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Soetandyo Wignyosoebroto mempertanyakan apakah grasi terhadap Corby sebagai diberikan Presiden SBY sebagai kepala negara atau sebagai kepala pemerintahan.

Menurut penyabet penghargaan HAM Yap Thiam Hiem 2011 ini, presiden tidak boleh menggunakan alasan soft diplomacy dengan negara Australia. Sebab soft diplomacy merupakan kewenangan kepala pemerintahan.

“Kalau alasannya seperti itu, kan berbahaya. Soft diplomacy itu kan politik. Tidak boleh grasi diberikan dengan alasan itu. Kalau benar seperti itu, Presiden SBY bermuka dua,” tandas Soetandyo.

4. Prof Jimly Asshiddiqie
Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia (UI) yang juga mantan Ketua MK, Jimly Asshiddiqie menyatakan grasi tidak lagi hak prerogratif presiden. Sebab hak tersebut warisan raja. Oleh karenanya dia meminta Presiden SBY menjelaskan ke publik.

“Tidak tepat lagi disebut hak prerogatif, itu zaman raja-raja. Hak prerogatif itu kan mutlak. Tidak cocok dipakai lagi istilah itu, sekarang check and balances. Mungkin kurang penjelasan pemerintah. Saya rasa pemerintah harus menjelaskan lagi,” kata Jimly, Rabu (30/5) kemarin.

5. Prof Gayus Lumbuun
Guru Besar Hukum Administrasi Negara (HAN) Universitas Krisna Dwipayana, Jakarta yang juga hakim agung, Gayus Lumbuun menyatakan grasi merupakan keputusan pejabat pemerintah yang bisa digugat ke pengadilan. Oleh karenanya untuk membenarkan kebenaran grasi tersebut bisa dibuktikan lewat pengadilan yang bersih.

“Diperlukan fair trial pada gugatan di PTUN walaupun pengadilan itu di bawah MA,” kata Gayus dalam pesan pendek kepada detikcom, Rabu (30/5) kemarin.

6. Prof Yusril Ihza Mahendra
Guru Besar Hukum Tata Negara UI yang juga mantan Menteri Kehakiman dan HAM, Yusril menyatakan langkah Presiden SBY memberikan grasi kepada Corby, memecahkan rekor sepanjang Indonesia merdeka. Sebab selama Indonesia berdiri, baru kali ini seorang presiden memberikan remisi kepada terpidana narkotika.

“Saya heran, mengapa Presiden Indonesia begitu lemah menghadapi permintaan Pemerintah Australia sehingga dengan mudahnya mengampuni napi narkotika yang dapat memberikan dampak buruk bagi harkat dan martabat bangsa,” ujar mantan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) ini.

7. Dr Akil Mochtar
Doktor hukum pidana yang juga hakim konstitusi, Akil Mochtar secara pribadi tidak sepakat dengan pemberian grasi kepada Corby. Kebijakan presiden dalam pemberian grasi tersebut juga dinilai bisa digugat.

“Menurut saya pribadi, Corby itu tidak layak mendapat grasi,” ujar Akil usai mengikuti acara Kongres Pancasila di Kompleks DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (30/5) kemarin.

(asp/mok)

Baca Juga

 

Hikmahanto: Soal Grasi Corby, SBY Berpotensi Langgar Sumpah Presiden

Ramdhan Muhaimin – detikNews

Senin, 28/05/2012 03:31 WIB

Jakarta, Kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan grasi terhadap terpidana narkoba, Schapelle Corby, berpotensi melanggar sumpah presiden. Sebab salah satu isi sumpah presiden adalah mematuhi segala undang-undang dan peraturan, termasuk konvensi internasional.”Pemberian grasi kepada Corby berpotensi melanggar sumpah presiden untuk menjalankan undang-undang dan peraturan pelaksanaanya selurus-lurusnya,” ujar Guru Besar Hukum Internasional UI, Hikmahanto Juwana dalam siaran pers yang diterima detikcom, Minggu (27/5/2012).Hikmahanti menjelaskan sejak tahun 1997, Indonesia telah meratifikasi United Nations Convention Againts Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances tahun 1988 dengan UU No 7 tahun 1997.Konvensi yang melabel kejahatan perdagangan obat narkotika dan bahan psikotropika sebagai kejahatan serius tersebut menentukan dalam Pasal 3 ayat 6 bahwa pemerintah harus memastikan pengenaan sanksi yang maksimum. Dalam pasal 3 ayat 7 juga mewanti-wanti agar narapidana jenis kejahatan ini bila hendak dibebaskan lebih awal, semisal melalui grasi, atau pembebasan bersyarat harus mempertimbangkan bahwa kejahatan perdagangan narkoba merupakan kejahatan serius.”Menjadi pertanyaan, apakah presiden ketika mengabulkan grasi kepada Corby telah memperhatikan UU 7/1997. Bila memang sudah memperhatikan, apakah ada kepentingan yang lebih besar dari Indonesia kepada Australia sehingga pemberian grasi dianggap sepadan dengan kepentingan nasional,” cetusnya.Dua pertanyaan ini, menurut Hikmahanto harus dijawab pemerintah. Presiden bisa memberi jawaban secara terbuka melalui media massa atau menunggu ketika Gerakan Nasional Anti-Narkotika (Granat) mengajukan gugatan ke PTUN.Menurut Hikmahanto, gugatan Granat ke PTUN bisa jadi penyelamat bagi presiden untuk tidak melanggar sumpahnya. Pemerintah dapat menyerahkan pada putusan hakim apakah pemberian grasi Corby telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan rasa keadilan atau tidak.

Bila PTUN memutuskan bahwa pemberian grasi tidak sesuai dengan peraturan perudang-undangan utamanya UU No 7/1997, maka menurut Hikhamanto putusan tersebut bisa dijadikan dasar oleh pemerintah Indonesia kepada pemerintah Australia bahwa pemberian grasi urung diberikan pada Corby.

“Presiden pun dengan adanya proses di PTUN dapat terhindar dari sumpah jabatan yang diucapkan,” pungkasnya.

(rmd/rmd)

Baca Juga

Hakim MK: Corby Tak Layak Dapat Grasi, Kebijakan Presiden Bisa Digugat

Mega Putra Ratya – detikNews

Rabu, 30/05/2012 14:10 WIB

Jakarta Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar secara pribadi tidak sepakat dengan pemberian grasi kepada terpidana narkoba, Schapelle Corby. Kebijakan presiden dalam pemberian grasi tersebut juga dinilai bisa digugat.”Menurut saya pribadi, Corby itu tidak layak mendapat grasi,” ujar Akil usai mengikuti acara Kongres Pancasila di Kompleks DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (30/5/2012).Akil menceritakan ketika dirinya menjadi wakil ketua komisi III DPR pernah melakukan kunjungan ke LP Kerobokan, Bali.Saat itu, kata Akil, Corby tidak mau menemui sejumlah anggota dewan yang sedang berkunjung ke sana tanpa alasan yang jelas.”Dia dapat fasilitas khusus. Kedua, dia tidak menghargai. Pertemuan antar napi itu, dia nggak mau ketemu kita. Artinya dalam perspektif itu, dia sangat tidak layak mendapat grasi. Grasi itu kan harus berkelakuan baik dan sebagainya. Ini dia tidak menghargai hukum Indonesia,” jelasnya.”Saya bisa ketemu dengan 3 terpidana mati teroris itu. Padahal, mereka diisolasi secara khusus. Itu masih akomodatif menerima kita. Corby tuh nggak mau ketemu kita, lari ke sana ke mari. Dipanggil petugas untuk ketemu kita malah nggak mau,” tuturnya.

Alasan lain Corby tidak layak mendapat grasi, menurut Akil, tidak konsistennya pemerintah dalam menangani kejahatan extraordinary crime dan transnational crime.

“Konsistensi kita penting, bahwa dalam kejahatan transnational crime itu, harus tidak bisa diberika remisi atau grasi. Kejahatan itu sudah melintasi antar negara. Itu juga masuk kejahatan kemanusian, karena semua orang bisa kena narkoba, mau bangsa Australia, Amerika, Indonesia, India, bisa kena,” ungkapnya.

Akil juga tidak sependapat dengan alasan pemerintah dalam mengeluarkan grasi itu untuk perlindungan WNI di luar negeri. Menurutnya, tidak ada kaitan sama sekali pemberian grasi Corby dengan perlindungan WNI di luar negeri.

“Menurut saya sesuatu hal yang tidak ada kaitannya langsung, kenapa, itu bisa diselesaikan dengan berbagai cara, hubungan diplomatik kita kan menghargai kedaulatan bangsa lain, kemudian ada UU timbal balik masalah pidana, itu bisa dilakukan dengan tahapan-tahapan,” paparnya.

“Kalau mau dikatakan itu dilakukan atas warga kita pelaku kejahatan di Australia, itu kan pelaku kejahatan biasa, buka extraordinary crime, paling nelayan-nelayan yang melewati perbatasan, itu soal kecil dibanding narkotika, oleh karena itu wajar saja ada interpelasi,” kata Akil.

Apakah kebijakan grasi tersebut bisa digugat? “Kalau itu bisa saja tapi kalau hasilnya itu soal nanti. Di negara demokrasi ini apa yang tidak bisa,” jawab Akil.

(mpr/aan)

Baca Juga

MA: Grasi Corby Hak Prerogatif Presiden

Salmah Muslimah – detikNews

Rabu, 30/05/2012 12:21 WIB

Hatta Ali (rachman/detikcom)
Jakarta Keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan grasi kepada Schapelle Corby menuai polemik. Menurut Mahkamah Agung (MA) grasi ini merupakan hak prerogatif yang dimiliki presiden yang tertuang dalam UUD 1945.”Itu memang kewenangan presiden, prerogatif presiden,” kata Ketua MA Hatta Ali kepada wartawan usai melantik Ketua Muda Pengawasan MA Timur Manurung di gedung MA, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (30/5/2012).Posisi MA dalam pemberian grasi bersifat pasif. Sebab pertimbangan MA bisa diamini oleh presiden atau ‘dibuang ke tong sampah’. Hal prerogatif ini sesuai Pasal 14 UUD 1945 yang berbunyi presiden memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung.”Grasi yang diberikan oleh presiden memang merupakan kewenangan presiden. Dan MA sudah memberikan pendapat
hukum. Masalah diterima atau diditolak adalah kewenangan presiden,” tambah Hatta.Terkait kasus Corby, menurut Hatta, MA telah memberikan pendapat hukum sejak 2 tahun lalu. Namun baru diputuskan oleh Presiden SBY baru-baru ini.

“Ya kita sudah memberikan satu pendapat dan itu tahun 2010, sudah lama. Dan Keppresnya baru turun pada bulan ini. Jadi hampir 2 tahun, sejak pengusulan dari MA. Berarti hampir 2 tahun baru turun,” papar Hatta.

Corby sebelumnya divonis hukuman penjara selama 20 tahun dan denda sebesar Rp 100 juta. Dia kedapatan membawa 4,2 kilogram marijuana oleh imigrasi dan polisi di Bandara Ngurah Rai pada 8 Oktober 2004. Lalu, dia mendapat grasi berupa pengurangan hukuman 5 tahun penjara.

Berdasarkan hitung-hitungan sisa hukuman Corby, pengajuan pembebasan bersyarat bisa dilakukan pada 3 September 2012. Namun, ada sejumlah syarat-syarat yang harus ditempuh, seperti jaminan dari pihak terkait, hingga bagaimana kelakuannya selama di tahanan.

(asp/nrl)

Baca Juga

Grasi Corby Berbuah Interpelasi

Seorang Corby mampu memanaskan dan mendinginkan hubungan dua negara. Padahal ia adalah seorang narapidana kasus narkotika, yang menjadi musuh masyarakat di setiap negara.

Itulah sosok wanita asal Australia bernama lengkap Chapelle Leigh Corby. Ia dipenjara di Indonesia lantaran kedapatan membawa 4 kg ganja saat memasuki Pulau Bali beberapa tahun lalu.

Tiba-tiba Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan grasi (pemotongan masa tahanan) hingga 5 tahun kepada Corby. Si Ratu Mariyuana berumur 34 tahun itu pun menjadi buah bibir di Indonesia dan Australia.

Kontan saja, keputusan presiden itu menuai protes berbagai pihak. Pasalnya, kejahatan kasus narkoba termasuk dalam kategori kejahatan kelas kakap yang tak terampuni, lantaran bisa merusak moral generasi muda.

Ironisnya, baru saja Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia mengeluarkan moratorium remisi bagi napi dalam kasus korupsi dan narkoba. Karena itu, keputusan presiden yang memberikan grasi selama lima tahun kepada Corby dinilai kontraproduktif dengan kebijakan Menteri Hukham tentang pengetatan pemberian remisi dan pembebasan bersyarat, yang berlaku bagi terpidana kasus korupsi, terorisme dan narkoba.

Tak pelak, urusan si Corby ini bergulir ke ramah politik. Tak pelak, urusan si Corby ini bergulir ke ramah politik. Sejumlah anggota parlemen berencana menggalang pengajuan hak konstitusionalnya dengan bertanya atas kebijakan presiden.

Kebijakan pemerintahan SBY di bidang hukum ini akhirnya berujung pada proses pengajuan hak interpelasi oleh Anggota Dewan. Anggota Komisi Hukum DPR dari Fraksi Partai Hanura Sarifuddin Suding mengatakan, pihaknya telah melakukan mobilisasi dukungan lintas fraksi untuk mengajukan hak interpelasi.

“Ini suatu hal yang mendasar tentang pemberian grasi dan ini catatan hitam. Jangan kemudian ada hak yang menghancurkan bangsa,” ungkap Suding kepada wartawan di Jakarta, Senin (28/5/2012).

Suding meminta secara langsung kepada Presiden SBY untuk menjelaskan pemberian grasi kepada Corby. Ia beralasan, grasi merupakan kewenangan presiden, bukan Menteri Hukum dan HAM. “Keputusan akhir ada di presiden,” ujarnya.

Sementara Wakil Ketua Komisi Hukum DPR Nasir Djamil mengatakan, pihaknya akan memanggil Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin terkait kebijakan Presiden SBY memberikan grasi kepada terpidana Corby asal Australia.

Menurutnya, meski grasi merupakan hak konstitusional presiden, namun harus mendapat persetujuan dari Mahkamah Agung (MA). “Di sini ada ruang untuk mengajukan interpelasi,” ujar Nasir.

Persyaratan hak interpelasi kepada pemerintah sekurang-kurangnya diajukan oleh 25 anggota DPR terkait kebijakan pemerintah yang dianggap perlu dipertanyakan parlemen.

Sejak era reformasi, parlemen kerap melakukan pengajuan hak interpelasi. Di era Presiden SBY ini sejumlah kebijakan berujung interpelasi DPR.

Kini, giliran Corby, terpidana narkoba yang mendapat fasilitas grasi menjadi pemantik interpelasi. (HP)

Tuesday, 29 May 2012 05:20

Jakarta - Gerakan Anti-Narkotika (Granat) menilai, langkah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan grasi kepada terpidana kasus narkotika asal negara Australia, Schapelle L Corby, akan menjadi preseden buruk pada penegakan hukum Indonesia di mata dunia.

“Ini (pemberian grasi kepada Corby, Red.) akan menjadi preseden buruk terhadap hukum negeri ini,” nilai Ketua Granat, Henry Yosodiningrat, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (24/5).

Selain menjadi preseden buruk, tegas Henry, kebijakan itu merupakan sikap ketidakonsistenan SBY dan sangat memalukan bangsa Indonesia, sehingga untuk menegakkan kembali kehormatan Indonesia di mata dunia, harus menuntut SBY agar membatalkannya.

Menurutnya, karena Corby diberikan grasi, mungkin besok atau lusa, sejumlah terpidana kasus narkotika dari berbagai negara yang tengah menjalani hukuman di Indonesia akan meminta hal yang sama kepada Presiden SBY.

“Mau dikasih seperti Corby. Kalau ga dikasih, lho ko Corby saja dapat, kenapa ga dikasih. Besok yang tindak pidana narkoba, Corby saja yang warga negara asing dikasih, ko saya tidak pak de, apa bedanya?” ucapnya mempertanyakan.

Dikatakan Henry, ia  pernah bertanya kepada Menkumham, Denny Indrayana, mengapa Presiden SBY memberikan grasi kepada terpidana narkotika yang menjadi musuh besar selain korupsi dan pencucian uang.

“Denny bilang, karena sebetulnya pemerintah Australia sudah melakukan hal seperti ini duluan, yakni membebaskan tahanan anak-anak,” kata Hendry, menirukan ucapan Denny.

Mendapat jawaban seperti itu, Hendy menegaskan, pertama, pembebasan anak-anak oleh pemerintah Australia, kasusnya  berbeda dengan kasus yang dilakukan Corby. Pasalnya, menurut hukum negara itu, memang anak-anak harus bebas.

“Kedua, atas desakan masyarakat Australia, nelayan-nelayan yang tertangkap diekstradisi saja dan diadili di negaranya karena merepotkan, mereka ga mau ngasih makan. Jadi berbeda dengan Corby, sodara-sodara kita yang ditahan di sana bukan pelaku tindak kejahatan seperti Corby, belum atau tidak ada putusan yang menyatakan mereka bersalah,” bebernya.

Dituturkan Henry, sesuai pengakuan Denny, keputusan Presiden SBY memberikan grasi kepada Corby bukan karena atas tekanan pemerintah Australia. Meski demikian, ada pembicaraan antara pemerintah Indonesia dengan Australia, namun tidak secara spesifik membahas grasi Corby.

“Kalau begitu, SBY saja yang kegenitan, memberikan grasi ke Corby,” pungkasnya. [IS]

Grasi Corby Bukti Kebingungan dan Kelemahan RI

Tuesday, 29 May 2012 05:15

Jakarta - Grasi berupa pemotongan lima tahun masa hukumban yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada terpidana kasus narkoba kelahiran Brisbane Australia, Schapelle Leigh Corby, 34 tahun, sangat membingungkan.

“Harusnya, kan didahului dengan ikatan perjanjian saling menguntungkan atau untuk pertukaran kepentingan yang tepat antar kedua belah pihak, sehingga tidak menunjukkan kebingungan maupun kelemahan RI terhadap grasi tersebut,” kata Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan, di Jakarta, Kamis (24/5).

Karena tanpa diawali ikatan perjanjian, Syahganda menilai, keputusan orang nomor satu negeri ini menyimpan misteri latar belakang penerbitan keputusan tersebut.

“Dalam kesempatan Sidang Kabinet pada 2011, Menkopolhukam Joko Suyanto menyatakan, Presiden SBY tidak akan mengampuni para terpidana kasus terorisme, narkoba, dan korupsi, kecuali atas pertimbangan kemanusiaan dan khusus bagi yang berusia di atas 70 tahun. Nah, untuk Corby yang masih muda ini, alasan sebenarnya apa,” ucap kandidat doktor ilmu kesejahteraan sosial Universitas Indonesia ini.

Terlebih, sejak tertangkap basah di Bandara Ngurah Rai, Bali, 8 Oktober 2004, Corby menyelundupkan 4,2 kilogram narkoba jenis ganja atau mariyuana. Saat penyidikan dan persidangan mantan pelajar kecantikan dan anak kandung Michael Corby itu, pernah terseret kasus peredaran ganja pada awal 1970-an yang tak pernah diakui, hingga akhirnya diganjar 20 tahun kurungan penjara.

“Karenanya, kasus grasi Corby ini terbilang aneh, sekaligus hanya mempertontonkan kebingungan RI di hadapan rakyatnya serta di mata negara lain yang bersikap keras dalam menghukum kejahatan narkoba,” tegasnya.

Sikap melempem pemerintahan SBY dalam menangani kasus Corby, akan semakin memperparah ketidakberdayaan RI dalam memberantas kejahatan internasional di bidang narkotika dan sejenisnya.

“Itu karena kita selalu mudah membungkuk pada tekanan pihak tertentu, yang kemudian membuat sikap politik ataupun penegakan hukum jadi kacau-balau, serta sekadar dijadikan olok-olokan berbagai pihak,” pungkasnya. [IS]

Jimly: Presiden Harus Jelaskan Kembali Alasan Pemberian Grasi Corby

Mega Putra Ratya – detikNews

Rabu, 30/05/2012 15:13 WIB

Jakarta, Polemik pemberian grasi kepada terpidana narkoba, Schapelle Corby, oleh presiden belum berakhir. Presiden diminta untuk menjelaskan kembali kepada publik mengenai alasan pemberian grasi tersebut.”Mungkin kurang penjelasan pemerintah. Saya rasa pemerintah harus menjelaskan lagi,” ujar Mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie di sela-sela acara Kongres Pancasila di kompleks DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (30/5/2012).

Jimly mengatakan saat ini tidak tepat menggunakan istilah hak prerogatif presiden dalam konteks pemberian grasi tersebut. Sebab istilah itu dipakai pada waktu lampau dalam zaman kerajaan. Saat ini hak itu sebut kewenangan presiden.

“Tidak tepat lagi disebut hak prerogatif, itu zaman raja-raja. Hak prerogatif itu kan mutlak. Tidak cocok dipakai lagi istilah itu, sekarang check and balances,” paparnya.

Menurut Jimly, kebijakan grasi tersebut secara konstitusional adalah hak kewenangan presiden. Namun hanya dapat diberikan dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung (MA).

“Nah pertimbangan MA itu mutlak harus ada, tapi substansinya tidak mutlak mengikat, bisa saja presiden punya pendapat berbeda dengan pertimbangan MA, prosedurnya mutlak ada pertimbangan MA,” ungkapnya.

Presiden perlu meminta pertimbangan MA sebab di lembaga itu lah perkara diputuskan. Meski begitu, presiden juga harus melihat apakah kebijakan grasi tersebut bisa diterima oleh publik atau tidak.

“Publik berhak tahu apa pertimbangannya. Salah satunya dengan cara interpelasi ya boleh saja. Nanti interpelasi tentu dijawab oleh pemerintah. Nanti dijelakan pertimbangannya. Biar rakyat menilai masuk akal atau tidak. Orang akan membandingkan antara inkonsistensi politik grasi dengan pemberian grasi,” ungkapnya.

Jimly sendiri tidak tahu persis apa alasan presiden mengeluarkan pemberian grasi tersebut. Menurutnya hal yang wajar jika banyak pertanyaan masyarakat mengenai alasan pemberian grasi tersebut.

“Wajar kalau orang banyak tanya. Kok tidak nyambung, tidak konsisten. Ini soal penjelasan saja. Seandainya tidak ada masalah inkonsistensi tak apa, tapi kan ada banyak pertanyaan. Kalau di mata publik dirasa cukup, tidak akan dilanjutkan di DPR interpelasinya,” paparnya.

Apakah kebijakan tersebut dapat digugat?

“Apa yang dirugikan dalam keputusan itu? Kalau ada yang merasa dirugikan bisa saja dilihat di pengadilan. Memang tidak lazim karena itu kewenangan presiden, secara legal tidak masalah, kalau soal politik iya,” tutupnya.

(mpr/rmd)

30
May
12

Politik Energi : Uji Material UU No. 4 / 2012

MK Gelar Sidang Pasal Kenaikan Harga BBM

Andi Saputra – detikNews

Senin, 28/05/2012 09:45 WIB

Demo tolak kenaikan harga BBM (rengga/detikcom)
Jakarta Masih ingat geger demonstrasi kenaikan harga bahan bakar minyak di kompleks DPR akhir Maret lalu? Pasal 7 ayat 6a UU APBN Perbaikan 2012 yang memicu protes akan diadili di Mahkamah Konstitusi (MK), apakah sesuai konstitusi atau inkonstitusional.

“Ya, nanti ada sidang tersebut,” kata salah seorang kuasa hukum pemohon, Habibburakhman, saat berbincang dengan detikcom, Senin (28/5/2012).

Menurut jadwal yang dilansir website MK, pasal tersebut telah tertuang menjadi UU No 4/2012. Sidang yang digelar pukul 14.00 WIB ini diajukan dalam dua pemohon perkara yaitu Komarudin dan Muhammad Hafidz serta Ahmad Daryoko, Muhammad Irzan Zulpakar, Mukhtar Guntur Kilat dan lain-lain.

“Agenda sidang yaitu panel pemeriksaan pendahuluan,” tulis MK.

Seperti diketahui, pada 31 Maret dinihari lalu, DPR menyepakati penambahan ayat pada pasal 7 ayat 6. Dengan penambahan penjelasan di ayat 6 huruf a itu, pemerintah bisa menaikkan maupun menurunkan harga BBM dengan syarat tertentu.

Voting yang digelar di ruang rapat paripurna gedung DPR dilakukan dengan 2 opsi, yaitu opsi pertama tidak ada perubahan apa pun dalam pasal 7 ayat 6 UU APBN 2012 yang isinya tidak memperbolehkan pemerintah menaikkan harga BBM pada tahun ini.

Opsi kedua menerima penambahan pasal 7 ayat 6a yang isinya adalah memperbolehkan pemerintah mengubah harga BBM jika harga minyak mentah (Indonesia Crude Price/ICP) mengalami kenaikan atau penurunan rata-rata 15% dalam waktu 6 bulan.

Voting menetapkan hasil yaitu 356 anggota DPR menyetujui opsi kedua dan 82 anggota DPR menyetujui opsi pertama.

(asp/nrl)

Baca Juga



Blog Stats

  • 2,340,804 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 132 other followers