24
Mar
12

Politik : Kontroversi Kenaikan Harga BBM

http://jakarta45.files.wordpress.com/2012/03/garuda-1.jpg?w=655

Demo Mahasiswa

Muhamad Arif – detikNews

Sabtu, 24/03/2012 03:36 WIB

Demo Mahasiswa Tolak BBM Akan Dipusatkan di DPR pada 27-29 Maret
Jakarta Rencana pemerintah yang akan menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) per tanggal 1 April 2012, banyak menuai kritik. Bila opsi kenaikkan ini tetap dilanjutkan pemerintah, ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa seluruh Indonesia (BEM SI) akan menggelar demonstrasi besar-besaran.”Kita akan turun minggu depan antara tanggal 27-30 Maret. Sekitar seribuan dari BEM berbagai wilayah. Kita akan mengawal terus, kita lihat dinamika dilapangannya seperti apa nanti,” ujar Koordinator Pusat BEM SI, Tantri, kepada detikcom, Jumat (2/3/2012).Diagendakan bahwa hari Selasa (27/3) akan ada rapat paripurna di DPR yang salah satu agendanya merencanakan kenaikan harga BBM. Pada saat itu para mahasiswa akan berdemonstrasi di depan gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta. Lebih lanjut Tantri mengatakan pada Rabu (28/3) dan Kamis (29/3) demonstrasi juga akan dipustakan di DPR.”Hari Rabu-Kamis menggelar aksi demo dari BEM se-Jabodetabek dan BEM perwakilan wilayah Indonesia. Demo kita pusatkan di DPR,” tutupnya.Rencananya pemerintah akan menaikkan harga BBM jenis premium dan solar pada 1 April mendatang Kisaran kenaikan harga antara Rp 500 – Rp 1.500 per liter. Saat ini pemerintah tengah menggodok empat jenis kompensasi atas kenaikan harga BBM. Empat jenis kompensasi itu adalah bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM), penambahan subsidi siswa miskin, penambahan jumlah penyaluran beras miskin dan subsidi pengelola angkutan masyarakat/desa. (rif/mpr)
Baca Juga

Kamis, 22 Mar 2012 – 09:25:50 WIBKomentar : 0
Kategori: Opini

Oleh : Kwik Kian Gie

Pengamat Ekonomi

PENGANTARDalam paparan ini saya memberlakukan penyederhanaan atau simplifikasi dengan maksud untuk memperoleh gambaran yang sangat jelas tentang esensinya saja.Maka saya mengasumsikan bahwa semua minyak mentah Indonesia dijadikan satu jenis BBM saja, yaitu bensin Premium. Metode ini sering digunakan untuk memperoleh gambaran tentang esensi atau inti permasalahannya. Metode ini dikenal dengan istilah method of decreasing abstraction, terutama kalau dilanjutkan dengan penyempurnaan dengan cara memasukkan semua detil dari data dan kenyataan, yang dikenal dengan istilah putting the flesh on the bones.Cara perhitungan yang saya lakukan dan dijadikan dasar untuk paparan hari ini ternyata 99% sama dengan perhitungan oleh Pemerintah yang tentunya sangat mendetil dan akurat.Dengan data dan asumsi yang sama, Pemerintah mencantumkan kelebihan uang tunai sebesar Rp. 96,8 trilyun, dan saya tiba pada kelebihan uang tunai sebesar Rp. 97,955 trilyun.


PERMASALAHAN

Kepada masyarakat diberikan gambaran bahwa  setiap kali harga minyak mentah di pasar internasional meningkat, dengan sendirinya pemerintah harus mengeluarkan uang esktra, dengan istilah “untuk membayar subsidi BBM yang membengkak”.

Harga minyak mentah di pasar internasional selalu meningkat. Sebabnya karena minyak mentah adalah fosil yang tidak terbarui (not renewable). Setiap kali minyak mentah diangkat ke permukaan bumi, persediaan minyak di dalam perut bumi berkurang. Pemakaian (konsumsi) minyak bumi sebagai bahan baku BBM meningkat terus, sehingga permintaan yang meningkat terus berlangsung bersamaan dengan berkurangnya cadangan minyak di dalam perut bumi. Hal ini membuat bahwa permintaan senantiasa meningkat sedangkan berbarengan dengan itu, penawarannya senantiasa menyusut.

Sejak lama para pemimpin dan cendekiawan Indonesia berhasil di “brainwash” dengan sebuah doktrin yang mengatakan : “Semua minyak mentah yang dibutuhkan oleh penduduk Indonesia harus dinilai dengan harga internasional, walaupun kita mempunyai minyak mentah sendiri.” Dengan kata lain, bangsa Indonesia yang mempunyai minyak harus membayar minyak ini dengan harga internasional.

Harga BBM yang dikenakan pada rakyat Indonesia tidak selalu sama dengan ekivalen harga minyak mentahnya. Bilamana harga BBM lebih rendah dibandingkan dengan ekivalen harga minyak mentahnya di pasar internasional, dikatakan bahwa pemerintah merugi, memberi subsidi untuk perbedaan harga ini. Lantas dikatakan bahwa “subsidi” sama dengan uang tunai yang harus dikeluarkan oleh pemerintah, sedangkan pemerintah tidak memilikinya. Maka APBN akan jebol, dan untuk menghindarinya, harga BBM harus dinaikkan.

Pikiran tersebut adalah pikiran yang sesat, ditinjau dari sudut teori kalkulasi harga pokok dengan metode apapun juga. Penyesatannya dapat dituangkan dalam angka-angka sebagai berikut.

Harga bensin premium yang Rp. 4.500 per liter sekarang ini ekivalen dengan harga minyak mentah sebesar US$ 69,50 per barrel. Harga yang berlaku US$ 105 per barrel. Lantas dikatakan bahwa pemerintah merugi US$ 35,50 per barrel. Dalam rupiah, pemerintah merugi sebesar US$ 35,50 x Rp. 9.000 = Rp. 319.500 per barrel. Ini sama dengan Rp. 2009, 43 per liter (Rp. 319.500 : 159). Karena konsumsi BBM Indonesia sebanyak 63 milyar liter per tahun, dikatakan bahwa kerugiannya 63 milyar x Rp. 2009,43 = Rp. 126,59 trilyun per tahun. Maka kalau harga bensin premium dipertahankan sebesar Rp. 4.500 per liter, pemerintah merugi atau memberi subsidi sebesar Rp. 126,59 trilyun. Uang ini tidak dimiliki, sehingga APBN akan jebol.

Pikiran yang didasarkan atas perhitungan di atas sangat menyesatkan, karena sama sekali tidak memperhitunkan kenyataan bahwa bangsa Indonesia memiliki minyak mentah sendiri di dalam perut buminya.

Pengadaan BBM oleh Pertamina berlangsung atas perintah dari Pemerintah. Pertamina diperintahkan untuk mengadakan 63 milyar liter bensin premium setiap tahunnya, yang harus dijual dengan harga Rp. 4.500 per liter. Maka perolehan Pertamina atas hasil penjualan bensin premium sebesar 63.000.000.000 liter x Rp. 4.500 = Rp. 283,5 trilyun.

Pertamina disuruh membeli dari:

Pemerintah               37,7808  milyar  liter    dengan harga  Rp. 5.944/liter    =     Rp. 224,5691tr
Pasar internasional    25,2192  milyar  liter    dengan harga  Rp. 5.944/liter    =     Rp. 149,903 tr

Jumlahnya                63       milyar liter    dengan harga  Rp. 5.944/liter        =     Rp. 374,4721 tr

Biaya LRT                 63       milyar liter @Rp. 566                                               Rp.   35,658 tr

Jumlah Pengeluaran Pertamina                                                                          Rp. 410,13 tr

Hasil Penjualan Pertamina    63 milyar liter @ Rp. 4.500                                        Rp. 283,5 tr

PERTAMINA DEFISIT/TEKOR/KEKURANGAN TUNAI                                                   Rp. 126,63 tr.
=============

Tabel di atas menunjukkan bahwa setelah menurut dengan patuh apa saja yang diperintahkan oleh Pemerintah, Pertamina kekurangan uang tunai sebesar Rp. 126,63 trilyun.

Pemerintah menambal defisit tersebut dengan membayar tunai sebesar Rp. 126,63 trilyun yang katanya membuat jebolnya APBN, karena uang ini tidak dimiliki oleh Pemerintah.

Ini jelas bohong di siang hari bolong. Kita lihat baris paling atas dari Tabel dengan huruf tebal (bold), bahwa Pemerintah menerima hasil penjualan minyak mentah kepada Pertamina sebesar Rp. 224,569 trilyun. Jumlah penerimaan oleh Pemerintah ini tidak pernah disebut-sebut. Yang ditonjol-tonjolkan hanya tekornya Pertamina sebesar Rp. 126,63 trilyun yang harus ditomboki oleh Pemerintah.

Kalau jumlah penerimaan Pemerintah dari Pertamina ini tidak disembunyikan, maka hasilnya adalah:

•    Pemerintah menerima dari Pertamina sejumlah             Rp. 224,569 trilyun

•    Pemerintah menomboki tekornya Pertamina sejumlah    (Rp. 126,63 trilyun)

•    Per saldo Pemerintah kelebihan uang tunai sejumlah     Rp. 97,939 trilyun
===============

TEMPATNYA DALAM APBN

Kalau memang ada kelebihan uang tunai dalam Kas Pemerintah, di mana dapat kita temukan dalam APBN 2012 ?

Di halaman 1 yang saya lampirkan, yaitu yang dirinci ke dalam :

•    Pos “DBH (Dana Bagi Hasil) sejumlah             Rp. 45,3 trilyun
•    Pos “Net Migas” sejumlah                              Rp. 51,5 trilyun

•    Jumlahnya                                                  Rp. 96,8 trilyun
=============

Perbedaan dengan perhitungan saya sejumlah Rp. 1,1 trilyun disebabkan karena Pemerintah menghitungnya dengan data lengkap yang mendetil.

Saya menghitungngya dengan penyederhanaan/simplifikasi guna memperoleh esensi perhitungan bahwa Pemerintah melakukan kehohongan publik. Bedanya toh ternyata sama sekali tidak signifikan, yaitu sebesar Rp. 1,1 trilyun atau 1,14 % saja.

“SUBSIDI” BUKAN PENGELUARAN UANG TUNAI

Dalam pembicaraan tentang BBM, kata “subsidi BBM” yang paling banyak dipakai. Kebanyakan dari elit bangsa kita, baik yang ada di dalam pemerintahan maupun yang di luar mempunyai pengertian yang sama ketika mereka mengucapkan kata “subsidi BBM”.

Ketika mulut mengucapkan dua kata “subsidi BBM”, otaknya mengatakan “perbedaan antara harga minyak mentah internasional dengan harga yang dikenakan kepada bangsa Indonesia.” Ketika mulut mengucapkan “Subsidi bensin premium sebesar Rp. 2.009 per liter”, otaknya berpikir : “Harga minyak mentah USD 105 per barrel setara dengan dengan Rp. 6.509 per liter bensin premium, sedangkan harga bensin premium hanya Rp. 4.500 per liter”.

Mengapa para elit itu berpikir bahwa harga minyak mentah yang milik kita sendiri harus ditentukan oleh mekanisme pasar yang dikoordinasikan oleh NYMEX di New York ?

Karena mereka sudah di brain wash bahwa harga adalah yang berlaku di pasar internasional pada saat mengucapkan harga yang bersangkutan. Maka karena sekarang ini harga minyak mentah yang ditentukan dan diumumkan oleh NYMEX sebesar USD 105 per barrel atau setara dengan bensin premium seharga Rp. 6.509 per liter, dan harga yang diberlakukan untuk bangsa Indonesia sebesar Rp. 4.500 per liter, mereka teriak : “Pemerintah merugi sebesar Rp. 2.009 per liter”. Karena konsumsi bangsa Indonesia sebanyak 63 milyar liter per tahun, maka Pertamina merugi Rp. 126,567 trilyun per tahun.

Selisih ini disebut “subsidi”, dan lebih konyol lagi, karena lantas mengatakan bahwa “subsidi” ini sama dengan uang tunai yang harus dikeluarkan”. Bahwa ini tidak benar telah dijelaskan.

UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2001 TENTANG MINYAK DAN GAS BUMI

Pikiran hasil brain washing tersebut berakar dalam UU nomor 22 tahun 2001. Pasal 28 ayat 2 berbunyi : “Harga bahan bakar minyak dan gas bumi diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang sehat dan wajar”. Ini berarti bahwa rakyat harus membayar minyak yang miliknya sendiri dengan harga yang ditentukan oleh NYMEX di New York. Kalau harganya lebih rendah dikatakan merugi, harus mengeluarkan tunai yang tidak dimiliki dan membuat APBN jebol.

Seperti yang baru saya katakan tadi pikiran seperti itu tidak benar. Yang benar yalah pengeluaran uang tunai untuk pemompaan minyak sampai ke atas muka bumi (lifting) ditambah dengan pengilangan sampai menjadi BBM (refining) ditambah dengan pengangkutan sampai ke pompa-pompa bensin (transporting), seluruhnya sebesar USD 10 per barrel. Dengan kurs yang 1 USD = Rp. 9.000, uang tunai yang dikeluarkan untuk menghasilkan 1 liter premium sebesar Rp. 566.

BAGAIMANA UUD HARUS DITAFSIRKAN TENTANG KEBIJAKAN MINYAK ?

Menurut UUD kita harga BBM tidak boleh ditentukan oleh siapapun juga kecuali oleh hikmah kebijaksanaan yang sesuai dengan kepatutan, daya beli masyarakat dan nilai strategisnya bagi sektor-sektor kehidupan ekonomi lainnya. Mengapa ? Karena BBM termasuk dalam “Barang yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak”.

PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI

Itulah sebabnya Mahkamah Konstitusi menyatakan pasal 28 ayat (2) dari UU nomor 22 tahun 2001 tentang Migas bertentangan dengan UUD RI. Putusannya bernomor 002/PUU-I/2003 yang berbunyi : “Harga bahan bakar minyak dan gas bumi diserahkan pada persaingan usaha yang sehat dan wajar dari Undang-Undang nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi bertentangan dengan Undang-Undang dasar Republik Indonesia.”

Peraturan Pemerintah Nomor 36 tahun 2004 pasal 72 ayat (1)

Brain washing begitu berhasilnya , sehingga Putusan MK ini disikapi dengan Peraturan Pemerintah nomor 36 Tahun 2004. Pasal 72 ayat (1) berbunyi : “Harga bahan bakar minyak dan gas bumi, kecuali gas bumi untuk rumah tangga dan pelanggan kecil, diserahkan pada persaingan usaha yang wajar, sehat dan transparan.”

Ini benar-benar keterlaluan, karena UUD dan MK dilecehkan dengan PP.

Jelas Pemerintah telah berpikir, berucap dan bertinak yang bertentangan dengan UUD kita dalam kebijakannya tentang BBM. Toh tidak ada konsekwensinya apa-apa. Toh Pemerintah akan memberlakukannya dengan merujuk pada Undang-Undang yang telah dinyatakan bertentangan dengan Konstitusi.

APA MAKSUD DAN DAMPAK DARI MEMPERTAHANKAN BERLAKUNYA UU NO. 22 TAHUN 2001 ?

Maksudnya jelas, yaitu supaya mendarah daging pada rakyat Indonesia bahwa mereka harus membayar harga BBM (bensin) dengan harga yang ditentukan oleh NYMEX. Bahkan setiap hari harga BBM harus bergejolak sesuai dengan fluktuasi harga minyak mentah yang diumumkan oleh NYMEX setiap beberapa menit sekali.

Harian Kompas tanggal 17 Mei 2008 memuat pernyataan Menko Boediono (yang sekarang menjabat Wakil Presiden) yang berbunyi : “Pemerintah akan menyamakan harga bahan bakar minyak atau BBM untuk umum di dalam negeri dengan harga minyak di pasar internasional secara bertahap mulai tahun 2008……..dan Pemerintah ingin mengarahkan kebijakan harga BBM pada mekanisme penyesuaian otomatis dengan harga dunia.”

Harian Indopos tanggal 3 Juli 2008 mengutip Presiden SBY yang mengatakan :”Jika harga minyak USD 150 per barrel, subsidi BBM dan listrik yang harus ditanggung APBN Rp. 320 trilyun.” “Kalau (harga minyak) USD 160, gila lagi. Kita akan keluarkan (subsidi) Rp. 254 trilyun hanya untuk BBM.”

Jelas bahwa Presiden SBY sudah teryakinkan bahwa yang dikatakan dengan subsidi memang sama dengan uang tunai yang harus dikeluarkan. Hal yang sama sekali tidak benar, seperti yang diuraikan di atas tadi.

SHELL SUDAH MENJALANKAN HARGA BBM NAIK TURUN OTOMATIS DENGAN NAIK TURUNNYA HARGA MINYAK DI PASAR INTERNASIONAL

Barang siapa membeli bensin dari pompa Shell akan mengalami bahwa harga naik turun. Pada tanggal 18 Maret 2012 harga bensin super Shell Rp. 9.550 per liter.

Harga Rp. 9.550 dikurangi dengan biaya LTR sebesar Rp. 566 = Rp. 8.984 per liter. Dengan kurs 1 USD = Rp. 9.000, harga ini setara dengan harga minyak mentah USD 0,9982 per liter atau USD 159 minyak mentah per barrel. Harga minyak mentah di pasar internasional USD 105 per barrel. Shell mengambil untung dari rakyat Indonesia sebesar USD 54 per barrel atau USD 0,34 per liter,  yang sama dengan Rp. 3.057 per liternya. Ini kalau minyak mentahnya dibeli dari pasar internasional dengan harga USD 105 per barrel. Tetapi kalau minyak mentahnya berasal dari bagiannya dari kontrak bagi hasil, bayangkan berapa untungnya !!

PEMERINTAH BERANGGAPAN BAHWA PENENTUAN HARGA BBM KEPADA RAKYATNYA SENDIRI HARUS SAMA DENGAN YANG DILAKUKAN OLEH SHELL

Sekarang menjadi lebih jelas lagi bahwa Pemerintah merasa dan berpendapat (sadar atau tidak sadar) bahwa Pemerintah harus mengambil untung yang sama besarnya dengan keuntungan yang diraih oleh Shell dari rakyat Indonesia, bukan menutup defisit BBM dalam APBN, karena defisitnya tidak ada. Sebaliknya, yang ada surplus atau kelebihan uang tunai.

BENSIN PERTAMAX DARI PERTAMINA SUDAH MEMBERI UNTUNG SANGAT BESAR KEPADA PERTAMINA

Harga bensin Pertamax Rp. 9.650 per liter. Dikurangi dengan biaya LTR sebesar Rp. 566 menjadi setara dengan harga minyak mentah sebesar Rp. 9.084/liter. Dengan kurs 1 USD = Rp. 9.000, per liternya menjadi USD 1,0093, dan per barrel (x 159) menjadi USD 160,48. Untuk bensin Pertamax, Pertamina sudah mengambil untung sebesar USD 55,48 per barrelnya.

Nampaknya Pemerintah tidak rela kalau untuk bensin premium keuntungannya tidak sebesar ini juga.

MENGAPA RAKYAT MARAH ?

Kita saksikan mulai maraknya demonstrasi menolak kenaikan harga bensin premium. Bukan hanya karena kenaikan yang akan diberlakukan oleh Pemerintah memang sangat memberatkan, tetapi juga karena rakyat dengan cara pikir dan bahasanya sendiri mengerti bahwa yang dikatakan oleh Pemerintah tidak benar.

Banyak yang menanyakan kepada saya : Kita punya minyak di bawah perut bumi kita. Kenapa kok menjadi sedih kalau harganya meningkat ? Orang punya barang yang harganya naik kan seharusnya lebih senang ?

Dalam hal minyak dan bensin, dengan kenaikan harga di pasar internasional bukankah kita harus berkata : “Untunglah kita punyak minyak sendiri, sehingga harus mengimpor sedikit saja.”

ADAKAH NEGARA YANG MENJUAL BENSINNYA ATAS DASAR KEBIJAKANNYA SENDIRI, TIDAK OLEH NYMEX ?

Ada. Fuad Bawazir mengirimkan sms kepada saya dengan data tentang negara-negara yang menjual bensinnya dengan harga yang ditetapkannya sendiri, yaitu :

•    Venezuela       : Rp. 585/liter
•    Turkmenistan  : Rp. 936/liter
•    Nigeria            : Rp. 1.170/liter
•    Iran                : Rp. 1.287/liter
•    Arab Saudi       : Rp. 1.404/liter
•    Lybia               : Rp. 1.636/liter
•    Kuwait              : Rp. 2.457/liter
•    Qatar               : Rp. 2.575/liter
•    Bahrain            : Rp. 3.159/liter
•    Uni Emirat Arab : Rp. 4.300/liter

 KESIMPULAN

Kesimpulan dari paparan kami yalah :

1.    Pemerintah telah melanggar UUD RI

2.    Pemerintah telah mengatakan hal yang tidak benar kepada rakyatnya, karena mengatakan mengeluarkan uang tunai sebesar Rp. 126 tr, sedangkan kenyataannya kelebihan uang tunai sebesar Rp. 97,955 trilyun.

3.    Dengan menaikkan premium menjadi Rp. 6.000 per liter, Pemerintah ingin memperoleh kelebihan yang lebih besar lagi, yaitu sebesar Rp. 192,455 trilyun.

4.    Pertamina sudah mengambil keuntungan besar dari rakyat Indonesia dalam hal bensin Pertamax dan Pertamax Plus. Nampaknya tidak rela hanya memperoleh kelebihan uang tunai sebesar Rp. 97,955 trilyun dari rakyatnya. Maunya sebesar Rp. 192,455 trilyun dengan cara menaikkan harga bensin premium menjadi Rp. 6.000 per liter.

5.    Pemerintah menuruti (comply) dengan aspirasi UU no. 22 tahun 2001 yang menghendaki supaya rakyat Indonesia merasa dan berpikir bahwa dengan sendirinya kita harus membayar bensin dengan harga dunia, agar dengan demikian semua perusahaan minyak asing bisa memperoleh laba dengan menjual bensin di Indonesia, yang notabene minyak mentahnya dari Indonesia sendiri.

Bukankah Shell, Petronas, Chevron sudah mempunyai pompa-pompa bensin ?

Materi ini disampaikan dalam seminar di Institut Bisnis dan Informtika Indonesia (IBII) pada tanggal 21 Maret 2012

http://tamanhaikumiryanti.blogspot.com/
Information about Coup d’etat ’65click: http://www.progind.net/  

Ekonomi
Harga BBM Naik, 35 Juta Buruh Terancam Jatuh Miskin
Penulis : Daniel Wesly Rudolf
Jumat, 23 Maret 2012 22:36 WIB
Harga BBM Naik 35 Juta Buruh Terancam Jatuh Miskin
Ilustrasi–MI/Tiyok/ip
JAKARTA–MICOM:Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI)menyatakan kehidupan buruh akan semakin sulit apabila kenaikan harga BBM terjadi.“Kita (buruh) harus menutup akses jalan tol untuk meminta kenaikan upah yang cuma sekitar 10%. Namun, kenaikan upah itu jadi tidak berarti karena kenaikan harga BBM,” ujar Sekretaris Jendral KSPI, Muhammad Rusdi melalui telepon, Jumat (23/3).Rusdi mengungkapkan bahwa kenaikan harga BBM akan sangat menekan kesejahteraan buruh. Sebab kenaikan BBM sebesar 35% itu tidak hanya meningkatkan beban ongkos transportasi tetapi juga biaya kebutuhan makanan pokok, dan biaya sewa rumah.”Adanya kenaikan BBM kan bukan hanya ongkos transportasi yang naik, tetapi juga biaya rumah dan sembako juga otomatis naik. Daya beli buruh akan semakin turun,” ujarnya.

Dampak kenaikan BBM lebih besar, lanjut Rusdi, adalah saat industri mengalami gulung tikar atau kolaps sebagai akibat penurunan daya beli masyarakat. Akibatnya, terjadi PHK.

“Sekitar 35 juta buruh formal terancam jatuh miskin akibat rencana kenaikan harga BBM,” tuturnya.

Menurut Rusdi, buruh pada dasarnya meminta penghidupan yang layak seperti yang tertuang dalam Undang-Undang. Dan apabila upah buruh belum mencapai kelayakan, pemerintah harus memberikan jaminan sosial seperti kesehatan, pensiun, perumahan.

“Tapi itu hingga saat ini belum terjadi. Kami minta pemerintah mengkaji ulang rencana kenaikan harga BBM. Kami (buruh) akan mengawal proses pembahasan APBN-P 2012. Karena di sana nantinya akan jadi akar masalah,” ucapnya. (WR/OL-9)

TERKAIT

Ekonomi
Harga BBM Naik, Gaji Buruh Tergerus 20%
Penulis : Daniel Wesly Rudolf
Jumat, 23 Maret 2012 19:14 WIB
Harga BBM Naik Gaji Buruh Tergerus 20
Ilustrasi–MI/Tiyok/ip
JAKARTA–MICOM:Jelang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), harga-harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Kenaikan harga tersebut akan semakin menyengsarakan buruh karena tidak sebanding dengan kenaikan upah.Demikian diungkapkan Ketua Majelis Pengawas Organisasi Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (MPO KSBSI), Rekson Silaban, saat dihubungi Jumat (23/3). “Sudah bisa dipastikan, kenaikan harga BBM akan merugikan buruh. Sebab, tentu saja berdampak pada kenaikan harga-harga kebutuhan pokok lainnya,” ujar Rekson yang tengah menghadiri rapat ILO di Geneva, Swiss.Rekson memaparkan, dari hitungan serikat buruh, lanjutnya, harga-harga kebutuhan pokok diperkirakan akan naik sekitar 10%-15%. Ditambah dengan kemungkinan tingkat inflasi nasional tahun ini 6,5%, maka implikasinya akan menguras pendapatan buruh pada kisaran 18%-20%.

Sedangkan apabila dibandingkan dengan kenaikan upah minimum buruh tahun 2012, lanjutnya, kenaikan rata-rata secara nasional hanya 10,27%. Artinya, kenaikan upah buruh menjadi tidak berguna karena kenaikan harga BBM dan dampak yang ditimbulkannya.

“Artinya, kehidupan buruh akan memburuk akibat menurunnya daya beli sebesar 10%,” tuturnya. (WR/OL-9)

++++
Ekonomi
Aduh, Harga Elpiji 12 Kg Capai Rp120 Ribu
Jumat, 23 Maret 2012 16:39 WIB
ANTARA/Irwansyah Putra/rj

PANGKALPINANG–MICOM: Harga elpiji di Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung (Babel), naik menjadi Rp120 ribu per tabung (satuan isi 12 kilogram) dari harga sebelumnya Rp115 ribu per tabung.

“Dalam sepekan terakhir pasokan dan persediaan gas berkurang, sementara permintaan elpiji untuk kebutuhan memasak masyarakat cukup tinggi,” ujar A Men, salah seorang pedagang eceran gas elpiji di Pangkalpinang, Jumat (23/3).

Ia menjelaskan, pasokan elpiji mulai tersendat semenjak maraknya aksi unjuk rasa masyarakat menolak penaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Kami kurang tahu pasti, penyebab kenaikan elpiji namun harga elpiji mulai merangkak naik semenjak maraknya aksi unjuk rasa penolakan kenaikan BBM di Pulau Jawa dan Sumatra,” ujarnya.

Ia mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan elpiji masyarakat, para pedagang hanya mengandalkan pasokan dari luar daerah, karena belum ada stasiun isi ulang elpiji. Sehingga perkembangan harga gas berdasarkan pasokan dan permintaan masyarakat. “Kami hanya mengikuti perkembangan pasar, apabila pasokan gas terbatas yang diiringi permintaan tinggi, maka dengan sendirinya harga gas naik,” ujarnya. (Ant/OL-9)

Senin, 26 Maret 2012 | 19:32 WIB

Megawati & BBM

Dua Sisi Megawati Soal Harga BBM

TEMPO.CO, Jakarta-Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri secara langsung pernah mengutarakan pendapatnya mengenai rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak. Pada peringatan Hari Ulang Tahun PDI Perjuangan di Lenteng Agung, Jakarta, Selasa 10 Januari 2012, Presiden ke-5 ini menyatakan langkah paling realistis bagi pemerintah adalah menaikkan harga bahan bakar minyak.

“Tapi harus dilihat dari realitas internasional, karena masalah energi benar-benar menyentuh rakyat,” Mega menambahkan. Ia menyebutkan ketegangan di Selat Hormuz antara Iran dengan AS  perlu diperhatikan pemerintah karena bisa terkait dengan harga BBM Indonesia.

Ia mengkritik rencana konversi BBM ke gas yang masih setengah-setengah. Jika pemerintah memang serius, kata Megawati, maka hal itu perlu disosilisasikan dengan baik kepada masyarakat. “Jangan masyarakat dijadikan percobaan,” kata dia.

Tapi Ahad 25 Maret 2012 lalu, pernyataan Megawati ini tak sepenuhnya dilaksanakan pengurus PDI Perjuangan. Setidaknya itu dinyatakan anggota Komisi VII DPR Fraksi PDI Perjuangan, Dewi Aryani disela acara diskusi di kantor Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Menurut Dewi, Megawati menginstruksikan anggota partainya turun ke jalan menolak rencana menaikkan harga bahan bakar minyak.

“Bu Mega sudah memberikan instruksi kepada kader-kader melalui surat,” kata Dewi. “Mungkin ribuan bahkan puluhan ribu kader akan ikut pada 27 dan 29 Maret ini.”


ANANDA PUTRI | DIMAS SIREGAR

Berita Terkait
Dua Sisi Kenaikan Harga BBM

Hitungan Pendapatan Minyak Versi BP Migas

Partai Koalisi Setujui Kenaikan Harga BBM

Ini Alasan Pemerintah Menaikkan Harga BBM

Menteri Agus: Kenaikan BBM Itu Harga Mati

Agus Marto Berkukuh Cabut Pasal Pembatas Harga BBM

Buka Toko di Indonesia, IKEA Gandeng Hero

Harga Tak Naik, Konsumsi BBM Bisa Membengkak

Buntu, Pembahasan APBNP Dilakukan Antar Pemimpin

Badan Anggaran Sepakati Dua Opsi Subsidi Energi

About these ads

0 Responses to “Politik : Kontroversi Kenaikan Harga BBM”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,098,725 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 113 other followers

%d bloggers like this: