20
Feb
12

Persatuan : Bertoleransi dalam Beragama

PENEGAK KONSTITUSI PROKLAMASI 1945

Apakah tidak sebaiknya dibiarkan kepada Yang Maha segala Kuasa untuk menentukan dari pada ribut di bumi?

Surah “Al Hujuraat” # 49, Verse # 13

“O mankind! We created you from a single (pair) of a male and a female,
And made you into nations and tribes, that ye may know each other
(Not that ye despise each other). Verily the most honoured of you in the sight
of Allah is (he who is) the most righteous of you. And Allah has full knowledge and is well-acquainted (with all things).”
Oleh : Honriani Nst,S.T.
Judul di atas hampir mirip dengan judul sebuah opini yang terbit di harian ini pada hari Kamis 2 Februari 2012 dengan judul Dilema Bertoleransi dalam Beragama tulisan Bapak Fernando Sihotang. Memang sengaja dibuat mirip, karena tulisan ini untuk menanggapi opini tersebut dengan harapan kita bisa melihat tentang praktek kebebasan beragama dan toleransi beragama yang diagung-agungkan di negara ini sangat jauh dari yang diharapkan dan sangat bersifat diskriminasi baik bagi kalangan minoritas maupun mayoritas, dan bisa menerima secara jujur bahwa pernah ada praktek toleransi beragama yang tinggi dalam sejarah peradaban manusia.
Namun sayang peradaban yang saya maksud sengaja disembunyikan dari generasi bangsa ini, sehingga tidak pernah masuk dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Maka sesuatu yang wajar jika banyak generasi bangsa ini yang tidak familiar dengan peradaban yang saya maksud. Ironisnya lagi, sadar atau tidak sadar praktek toleransi beragama yang diterapkan di negara ini menghambat penganut agama-termasuk agama mayoritas-untuk menjalankan agamanya secara menyeluruh dan sempurna!Dilema Bertoleransi dalam BeragamaYang dapat saya tangkap dari opini Pak Fernando, beliau mulai opininya dengan menceritakan temannya yang emosional menanggapi kasus penyegelan Gereja GKI Yasmin Bogor, berharap pemerintah menyelesaikan kasus tersebut dan di kesempatan lain temannya malah menuntut agar pemerintah membubarkan kepercayaan-kepercayaan yang tidak diakui di Indonesia. (Harian Analisa, 2 Februari 2012).Dua kondisi yang kontradiktif tentang kebebasan beragama jika dilihat dengan kacamata kebebasan beragama perfektif sekuler. Mengapa saya katakan demikian? Karena dalam faham sekuler yang dimaksudkan dengan kebebasan beragama adalah setiap individu boleh beragama dan boleh tidak beragama, bahkan boleh menghina agamanya ataupun agama lain, dan negara dilarang ikut campur dalam urusan agama ini, karena dalam faham sekuler masalah agama termasuk ke dalam masalah privat. Maka jangan heran jika di negara ini pun kita dilarang menyinggung SARA —suku, agama, dan ras—, misalkan dalam suatu perkenalan kurang etis menanyakan agama seseorang.Akhirnya seorang Muslim bisa enggan menunjukkan keislamannya sehingga sesuatu yang wajar banyak wanita Muslim tapi tidak mengenakan pakaian muslimah —jilbab dan kerudung—, begitu juga halnya dengan penganut budha-hanya memakai pakaian khas Buddha di rumah-rumah ibadah saja, namun jika di kehidupan umum mereka pun akan menanggalkan pakaian tersebut, hal sama terjadi juga pada penganut agama yang lain.

Pak Fernando juga menyinggung tentang kebebasan beragama merupakan HAM yang sudah diakui oleh dunia internasional, namun hanya sebatas hitam di atas putih dan prakteknya diabaikan. Pak Fernando pun mengangkat sebuah contoh lunturnya persaudaraan hanya dikarenakan ‘kita berbeda’ dan kesedihan yang mendalam harus dirasakan oleh seorang anak sekolah yang selalu dijauhkan oleh teman-temannya karena agamanya bukan merupakan salah satu dari agama yang diakui.

Dalam hal ini, saya mau menambahkan bahwa praktek toleransi beragama di negara ini bukan hanya menimbulkan rasa kesedihan bagi penganut agama yang tidak diakui di negara ini, bahkan kesedihan yang berkepanjangan akibat tekanan pemerintah dan publik kepada penganut agama yang berusaha menjalankan ajaran agamanya secara menyeluruh dan sempurna.

Pernahkah pembaca menyadari bahwa sangat banyak wanita Muslim yang dihambat untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya hanya karena wanita Muslim tersebut memakai pakaian muslimah?

Suatu saat —awal tahun 2001— saya pernah mengikuti testing di salah satu perusahaan asing (Prancis), saya pun lulus testing tertulis dan akademik dengan nilai tertinggi, tiba saat wawancara salah satu pertanyaan yang diajukan bersediakah saya melepaskan pakaian muslimah saya, karena di perusahaan tersebut tidak menerima karyawan yang berpakaian muslimah.

Dan itu bukanlah satu-satunya pengalaman saya, si kesempatan lain masih di tahun yang sama saya dipanggil oleh perusahaan asing (Amerika Serikat) dan lagi-lagi saat wawancara saya diminta untuk melepaskan pakaian muslimah saya. Bahkan anehnya saat mencantumkan pasfoto di ijazahpun seorang muslimah dipersulit jika pasfotonya memakai pakaian Muslim —kerudung.

Saat saya lulus perguruan tinggi pihak tata usaha pun meminta saya untuk membuat surat pernyataan karena saya mencantumkan pasfoto yang berkerudung, begitu juga halnya saat saya lulus akta mengajar dari salah satu perguruan tinggi Islam. Inikah toleransi beragama? Maka tidak berlebihan jika saya akhirnya mengambil kesimpulan bahwa faham toleransi beragama yang ada saat ini menghambat penganut agama menjalankan agamanya dengan benar, sempurna dan menyeluruh. Bahkan toleransi beragama mengkerdilkan ajaran agama, terutama ajaran agama Islam.

Mari juga kita membuka mata, maraknya pembongkaran mesjid di kota ini dengan alasan pembangunan ataupun ekonomi, pada dasarnya sudah tidak menghargai orang-orang yang beragama! Padahal penduduk kota Medan masih mayoritas penganut agama Islam! Masihkah kita mengagungkan-agungkan toleransi beragama ataupun kebebasan beragama dalam persfektif sekuler ini?

Faham Sekuler dan Kebenaran Mutlak

Pak Fernando juga menyinggung bahwa praktek toleransi beragama di negara ini bersifat ambivalen. Menurut saya, selama prakteknya masih berlandaskan faham sekuler maka toleransi akan selalu bersifat ambivalen. Bahkan hampir semua hal dalam faham sekuler itu bersifat ambivalen. Mengapa bisa demikian? Karena faham sekuler tidak memiliki kebenaran mutlak, kebaikan mutlak, kejahatan mutlak, dan lain sebagainya.

Itu disebabkan sekuler tidak memiliki standar yang jelas. Sebagai contoh standard miskin saja tidak jelas, begitu juga halnya dengan standar kaya. Seseorang bisa dikatakan kaya jika dia memiliki mobil walaupun dengan cara kredit, tapi bisa pula orang tersebut dinilai tidak kaya karena mobilnya masih kredit. Begitu juga halnya dengan standar kebenaran yang saya istilahkan dengan kebenaran mutlak.

Lihat kasus kriminal yang ada di negara ini bingung untuk mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. Sebagai contoh kasus korupsi yang menimpa Nazaruddin, awalnya Nazaruddin dipandang sangat bersalah namun belakangan Nazaruddin seperti pahlawan pembongkar pelaku korupsi di tubuh partainya, demikian juga halnya dengan kasus yang menimpa Antasari, Susno Djuadi, dan lain sebagainya. Akhirnya kebenaran itu sangat tergantung kepada pihak yang berkuasa dan kepentingan penguasa, serta kemahiran insane media memutar balikkan fakta!

Toleransi Beragama dalam Pandangan Islam

Jika ada seseorang yang mengatakan sedang berupaya mengubah negara ini menjadi negara Islam, suatu negara yang memiliki pemerintah yang menerapkan aturan Islam secara menyeluruh dan sempurna, maka komentar pertama adalah bahwa hal itu tidak mungkin terwujud karena negara ini bukan negara Islam.

Komentar berikutnya, jika hal itu terwujud bagaimana dengan nasib rakyat yang tidak beragama Islam, apa mereka akan dipaksa masuk Islam? Komentar konyol berikutnya bahwa tidak mau jika negara ini diubah menjadi negara Islam, karena negara Islam itu merupaka negara yang kejam yang suka memotong tangan orang, merajam orang, mencambuk orang, dan gambaran lain yang menakutkan.

Komentar terakhir ini saya katakan konyol, karena Islam hanya memotong tangan pencuri, hanya merajam pezina dan mencambuk peminum khamar dan pelaku kriminal lainnya. ***

Penulis adalah Anggota DPD I Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Sumut.

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/istiqlal-simbol-toleransi-beragama/

18.02.2012 11:52

Istiqlal

Penulis : Saiful Rizal

(foto:dok/SH)Istiqlal, Simbol Toleransi Beragama

Tidak afdol agaknya jika umat muslim datang ke Jakarta tetapi tidak menyempatkan diri salat di Masjid Istiqlal. Karena itu tidak heran jika pada musim liburan sekolah banyak warga di luar Jakarta menyempatkan diri mengunjungi Masjid Istiqlal. Masjid ini tercatat sebagai masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Namun di balik kemegahan measjid ini, terbesit simbol kerukunan antarumat beraga di negeri ini. Masjid Istiqlal letaknya berhadapan dengan Gereja Katedral; hanya dipisahkan jalan raya yang lebarnya tidak sampai 100 meter.

Bahkan, berdirinya Masjid Istiqlal memiliki sejarah tersendiri tentang bukti nyata kerukunan umat beragama. Frederich Silaban, arsitek yang membuat desain Masjid Istiqlal ternyata beragama Kristen kelahiran Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912.

Ia adalah anak dari pasangan suami istri Jonas Silaban Nariaboru. Frederich adalah salah satu lulusan terbaik dari Academie van Bouwkunst Amsterdam tahun 1950. Selain membuat desain Masjid Istiqlal ia juga merancang kompleks Gelanggang Olahraga Senayan.

Ide untuk mendirikan Masjid Istiqlal bermula pada 1953 dari beberapa ulama. Mereka mencetuskan ide untuk mendirikan masjid megah yang akan menjadi kebanggaan warga Jakarta sebagai Ibu Kota dan juga rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Mereka adalah KH Wahid Hasyim, Menteri Agama RI pertama, yang melontarkan ide pembangunan masjid itu bersama H Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan Ir Sofwan beserta sekitar 200-an orang tokoh Islam pimpinan KH Taufiqorrahman. Ide itu kemudian diwujudkan dengan membentuk Yayasan Masjid Istiqlal.

Pada 7 Desember 1954, didirikan Yayasan Masjid Istiqlal yang diketuai H Tjokroaminoto untuk mewujudkan ide pembangunan masjid nasional tersebut. Gedung Deca Park di Lapangan Merdeka (kini Jalan Medan Merdeka Utara di Taman Museum Nasional) menjadi saksi bisu atas dibentuknya Yayasan Masjid Istiqlal.

Nama Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang berarti ‘merdeka’ sebagai simbol dari rasa syukur bangsa Indonesia atas kemerdekaan yang diberikan oleh Allah SAW. Presiden pertama RI Soekarno menyambut baik ide tersebut dan mendukung berdirinya Yayasan Masjid Istiqlal, lalu membentuk Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal (PPMI).

Penentuan lokasi masjid sempat menimbulkan perdebatan antara Bung Karno dan Bung Hatta yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI.

Bung Karno mengusulkan lokasi di atas bekas benteng Belanda Frederick Hendrik dengan Taman Wilhelmina yang dibangun oleh Gubernur Jenderal van Den Bosch pada 1834 yang terletak di antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral, dan Jalan Veteran.

Sementara itu, Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunan masjid terletak di tengah-tengah umatnya, yaitu di Jalan MH Thamrin yang pada saat itu di sekitarnya banyak dikelilingi kampung. Selain itu, ia juga menganggap pembongkaran benteng Belanda tersebut akan memakan dana yang tidak sedikit.

Namun akhirnya Soekarno memutuskan untuk membangun di lahan bekas benteng Belanda karena di seberangnya telah berdiri Gereja Katedral untuk memperlihatkan kerukunan dan keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia. Setahun sebelumnya, Soekarno menyanggupi untuk membantu pembangunan masjid, bahkan memimpin sendiri penjurian sayembara desain maket masjid.

Setelah melalui beberapa kali sidang, di Istana Negara dan Istana Bogor, dewan juri yang terdiri dari Prof Ir Rooseno, Ir H Djuanda, Prof Ir Suwardi, Hamka, H Abubakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.

Pada 1955, Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal mengadakan sayembara rancangan gambar atau arsitektur Masjid Istiqlal yang jurinya diketuai oleh Presiden Soekarno dengan hadiah berupa uang sebesar Rp 75.000 serta emas murni seberat 75 gram. Sebanyak 27 peserta mengikuti sayembara tersebut.

Setelah melalui proses panjang, akhirnya dewan juri memutuskan lima peserta sebagai pemenangnya. Mereka adalah Frederich Silaban dengan desain yang berjudul “Ketuhanan”, R Utoyo dengan desain berjudul “Istigfar”, Hans Gronewegen dengan desain berjudul “Salam”, tim mahasiswa ITB dengan desain berjudul “Ilham”, tim mahasiswa ITB lainnya yang berjudul “Katulistiwa”, serta dari NV Associatie yang bertemakan “Lima Arab”.

Obama Mampir

Frederich Silaban, arsitek yang ditetapkan sebagai pemenang oleh dewan juri untuk membangun masjid di atas lahan seluas kurang lebih 10 hektare itu adalah seseorang yang beragama Kristen Protestan.

Guna menyempurnakan rancangan Masjid Istiqlal tersebut, Frederich Silaban mempelajari tata cara dan aturan orang muslim melaksanakan salat dan berdoa selama kurang lebih tiga bulan.

Selain itu, ia juga mempelajari banyak pustaka mengenai masjid-masjid di dunia. Akhirnya setelah 17 tahun masa pembangunan masjid tersebut, pada 22 Februari 1978, Presiden Soeharto meresmikan masjid terbesar se-Asia Tenggara ini.

Sejak diresmikan, dua tempat ibadah yang memiliki nilai sejarah bagi bangsa ini menjadi simbol keharmonisan antarumat beragama di Indonesia. Tidak hanya sebuah simbol, nilai toleransi dua tempat ibadah beda agama itu mewujudkan nyata dalam praktik dan saling menopang kegiatan keagamaan masing-masing.

Salah satunya, bila ada kegiatan di salah satu tempat ibadah, mereka biasa berbagi tempat parkir. Selain itu, meskipun di waktu yang bersamaan sedang dilaksanakan kegiatan keagamaan, antartempat ibadah itu tidak saling mengganggu dan terganggu.

Selain selalu ramai dikunjungi umatnya masing-masing, Presiden negara-negara sahabat juga pernah menyempatkan waktu singgah untuk melihat langsung simbol kerukunan beragama di Indonesia.

Bahkan, dalam rangkaian kunjungan ke Indonesia, pada Oktober 2011, Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengunjungi Masjid Istiqlal. Dia tidak berpidato di sana, tapi melihat-lihat masjid terbesar di Asia Tenggara ini.

Dalam kunjungan singkat itu Obama diajak melihat beduk raksasa berukuran 1,5 x 2 meter dipandu oleh imam besar Masjid Istiqlal KH Ali Mustofa Ya`qub. Presiden Obama dan Ibu Negara berada di Masjid Istiqlal kurang lebih 30 menit.

Bila presiden negara tetangga saja mengagumi tingginya toleransi beragama di Indonesia, mengapa kita harus merusaknya dan selalu berupaya mendominasi kelompok lain.

Oleh : Drs. Osberth Sinaga, M.Si.
Habib Riziq pimpinan Front Pembela Islam (FPI) ditolak oleh masyarakat Kalimantan Tengah untuk menginjakkan kaki di Propinsi yang mayoritas orang Dayak tersebut. Sekitar 700 ratusan masyarakat Kalteng sempat menguasai Bandara di Kalteng dan kemudian pesawat yang membawa Habib riziq dialihkan ke Banjarmasin demi kenyamanan.

Apa yang membuat pimpinan FPI ditolak di Kalimantan Tengah? Kita tidak tahu persis. Tetapi ada hal yang bisa kita lihat dari aksi penolakan ini sebagai sebuah pesan. Dikalangan masyarakat Dayak yang menolak kehadiran FPI mereka mengatakan tidak menginginkan FPI hadir di Kalteng dengan alasan kerukunan umat beragama jangan sampai pecah di Kalteng.

Kalteng selama ini hidup rukun, baik Islam dan Kristen serta agama yang lain hidup damai dan berdampingan sebagai satu keluarga besar. Ini menjadi modal dasar dalam pembangunan Kalteng. Mengingat di negara kita konflik sosial sering terjadi hanya karena dipicu oleh hal yang spele. Kalteng menjadi miniatur betapa sesungguhnya kerukunan itu bisa tercapai jika semua menahan diri dan saling menghargai.

Gerakan anarkisme beberapa Ormas menjadi pelajaran yang sangat berharga di negara ini. Betapa hukum kita tidak punya wibawa lagi. Kalau sudah sebuah Ormas lebih hebat dari institusi hukum resmi seperti Polri, TNI, Jaksa ini sangat membayakan kehidupan masyarakat. Ormas bisa saja bertindak sesuai dengan hukum mereka.

Bagaimana menciptakan hukum yang berwibawa agar jangan tunduk pada kepentingan sekelompok orang tentu menjadi PR bagi pemerintah. Untuk itu wibawa negara dengan menegakkan hukum yang tegak harus dilakukan agar tidak terjadi kerusuhan dan konflik mengatasnamakan Ormas.

Aksi penolakan kehadiran Front Pembela Islam (FPI) di Kalimantan Tengah jadi bahasan Rapat Pimpinan Agama dan Organisasi Masyarakat di Kalimantan Tengah, Senin, 13 Februari 2012. “Hasilnya, rapat yang berlangsung di Aula Jayang Tingang, Palangkaraya, itu menghasilkan sejumlah pernyataan penolakan,” kata Achmad Diran, Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, di Palangkaraya, Senin, 13 Februari 2012.

Terlepas daripada itu penolakan Ketua FPI di Kalteng bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Penolakan itu bukan pada aspek sentimen belaka. Tetapi atas dasar menciptakan kerukunan diantara umat yang berbeda. Menurut Diran, pernyataan penolakan itu didasarkan sejumlah hal. Pertama, semua pimpinan agama, pimpinan Ormas dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kalimantan Tengah, menyatakan bahwa penolakan pelantikan FPI tersebut tidak ada kaitannya dengan agama dan suku.

Kedua, agar kejadian itu tidak terulang kembali dan semua pihak wajib bersama-sama menjaga kebersamaan dan ketenteraman serta kerukunan umat beragama dan memelihara tri kerukunan umat beragama sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ketiga, sepakat menyatakan masalah tersebut telah selesai dan semua pihak siap untuk kembali menciptakan kondisi Kalimantan Tengah yang rukun dan damai. Keempat, hindari upaya adu domba dalam masyarakat dan tindak tegas pelakunya sesuai dengan hukum yang berlaku. Kelima, tingkatkan persatuan dan kesatuan dengan semangat huma betang di Bumi Tambun Bungai Bumi Pancasila Kalteng,” kata Achmad Diran.

Pernyataan sikap tersebut, ia mengatakan, dibuat untuk diketahui dan dilaksanakan secara bersama-sama demi keutuhan dan kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Sumber TEMPO: 12 Februari 2012).

Keberlangsungan NKRI sekarang ini dalam pertaruhan. Banyak kasus yang berbau identitas atas nama agama dan suku menguak kepermukaan. Banyak sekelompok orang mengatasnamakan agama memaksakan kehendaknya tanpa mengedepankan dialog dan saling mengharagi kultur yang berbeda.

Potensi konflik mengatasnamakan suku dan agama harus diredam agar jangan pecah menjadi konflik yang bersifat horizontal. Indonesia adalah sebuah negara yang terbentuk atas dasar keberagaman suku, agama dan identitas lainnya. Semua itu disatukan oleh empat pilar berbangsa dan bernegara yang terus disesuaikan oleh pemerintah, DPR, MPR dan juga para rohaniawan. Empat pilar berbangsa tersebut adalah, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan keberagaman.

Jika keempat pilar berbangsa ini dielaborasi dengan kesejahteraan masyarakat maka bisa dipastikan konflik itu kadarnya sangat rendah. Masalahnya adalah kondisi masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, frustrasi yang sangat tinggi, pengangguran, kesenjangan ekonomi, konflik tanah yang selalu berujung pada kemenenagan pemilik modal dan korupsi pejabat membuat masyarakat frustrasi dan bertindak radikal.

Saat yang bersamaan sosialisasi empat pilar kebangsaan hanya pada tingkat wacana dan tidak bisa terlembaga dengan baik dalam bentuk riil yang nyata. Masyarakat banyak membentuk Ormas sebagai tempat mengadu dan melakukan tindakan yang anarkis dengan alasan ketidakmampuan pemerintah. Pada satu sisi bisa kita terima. Tinggal bagaimana pemerintah mampu mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran, serta korupsi agar ormas ini bisa tertib dan menjadi mitra kerja pemerintah. Disatu sisi pimpinan Ormas harus mampu menyadari empat pilar kebangsaan itu harus dijaga. Janganlah memaksakan kehendak kepada orang lain, bahkan cenderung anarkis.

Toleransi harus dijaga, perbedaan adalah anugerah yang harus kita terima. Dengan berbeda potensi banyak terbangun. Penolakan FPI Di Kalteng memberikan kita sebuah pesan bahwa bahwa kedepan semua Ormas harus menjaga empat pilar kebangsaan itu. Pemerintah pun perlu instropeksi diri dengan membangun wibawa. Wibawa bisa terbangun apabila peemrintah mampu menjadi pengayom masyarakat, menegakkan hukum. Dengan demikian kasus penolakan FPI di Kalteng tidak akan terjadi lagi. Mari menjaga pilar kebangsaan untuk keberlangsungan hidup berbangsa.

Penulis adalah Dosen FIS UNIMED Medan/Pimpinan PKMI I Medan.

About these ads

0 Responses to “Persatuan : Bertoleransi dalam Beragama”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,304,256 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 130 other followers

%d bloggers like this: