19
Feb
12

Transpor : Biaya Tersembunyi Beli Pesawat

Biaya Tersembunyi

Oleh Isyana Artharini | Newsroom Blog – Kam, 16 Feb 2012
Melihat Biaya Tersembunyi Dalam Membeli Pesawat

Dalam rencana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membeli pesawat kepresidenan, Sekretariat Negara sudah mengajukan jawaban.

Alasan yang mereka ajukan adalah dengan membeli pesawat kepresidenan, meski seharga Rp 814 miliar, negara akan menghemat lebih banyak jika dibandingkan dengan menyewa pesawat seperti yang sudah dilakukan selama ini. Tepatnya lebih murah $ 32,136 juta (Rp 289,63 miliar) daripada biaya sewa pesawat kepresidenan selama lima tahun.

Kami menanyakan pada pembaca Yahoo! Indonesia apakah argumen bahwa membeli lebih menghemat daripada menyewa bisa menjadi pemakluman yang dapat diterima. Banyak yang menyatakan pembelian pesawat kepresidenan tetap tidak bisa masuk di akal. Alasannya, jika membeli dianggap lebih hemat, apakah Sekretariat Negara sudah menghitung biaya perawatan yang akan muncul berbarengan dengan semakin tua usia pesawat?

Salah satu pembaca, Wong Ndeso di Jakarta menulis, “Bukannya kalau membeli selalu dihitung modal beserta bunganya, ditambah dengan biaya operasionalnya, ditambah dengan biaya perawatan termasuk perawatan berbasis kalender yang harus dilakukan walaupun pesawat tidak dipakai? Sedangkan benefitnya adalah pemakaian pesawat yang paling hanya beberapa kali saja dalam sebulan ditambah pendapatan senilai harga jual pesawat jika kelak tidak dipakai lagi.”

Selain itu, ia juga menambahkan, “Jika menyewa dari Garuda yang merupakan BUMN bukankah berarti memberi tambahan pemasukan kepada Garuda yang merupakan BUMN yang berarti kembali kepada negara?”

Komentar dari Wong Ndeso ini terpilih menjadi komentar favorit karena mendapat 25 suara dari pembaca dan 23 balasan.

Pembaca lain, REDzone dari Jakarta juga mengkritisi hitung-hitungan untung rugi yang diajukan oleh Sekretariat Negara. “Dengan menyewa, negara tidak direpotkan dengan maintenance pesawat, gaji pilot, gaji pelayan. Presiden cuma tinggal duduk dengan nyaman di kursi di mana uang sewa akan kembali ke negara (jika yang disewa adalah pesawat maskapai dalam negeri). Dengan membeli, negara akan direpotkan dengan persoalan maintenance, gaji pilot dan crew pesawat, sewa hanggar parkir pesawat.”

Javku menyoroti kerugian yang muncul dari membeli pesawat daripada menyewa, terutama bagi BUMN yang selama ini menyewakan pesawat. “Menyewa pesawatnya ke BUMN, artinya duitnya keluar dari kantong kiri ke kantong kanan. Jadi kalau menyewa sebenarnya nggak ada kerugian, karena ujungnya itu duit balik lagi buat keuntungan BUMN yg disewa pesawatnya. Justru dengan beli kita kehilangan devisa dengan bayar ke perusahaan luar.”

Selain biaya perawatan pesawat, Javku juga melihat akan muncul biaya pesawat saat idle, “karena pesawat kepresidenan ini pastinya bakal banyak menganggur di hanggar, jadi secara cost tidak efisien karena tidak digunakan secara komersial.” Ia lebih melihat pesawat kepresidenan sebagai urusan gengsi semata.

Pembaca Juspa di Jakarta melihat pesawat ini akan lebih sering membuat Presiden jalan-jalan ke luar negeri dan ini, menurut dia, tidak akan bermanfaat banyak bagi masyarakat Indonesia. “Selama ini diplomasi selalu gagal kok,” katanya soal perjalanan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke luar negeri.

Tumpulnya diplomasi Indonesia dalam pertemuan-pertemuan antarnegara juga menjadi perhatian Jinjer di Jakarta. “Diplomasi juga hasilnya tidak menguntungkan RI, malah merugikan. Buat apa? Sama saja mempermudah pihak asing mengeruk kekayaan negara.”

Roel di Jakarta menyodorkan sudut pandang lain. “Seharusnya tolak ukurnya bukanlah Indonesia harus punya pesawat kepresidenan tapi sebenarnya seberapa sering Presiden akan mengadakan kunjungan ke luar negeri? Kalau keluar negerinya Presiden beserta menteri-menteri dan kolega-koleganya hanya untuk show of force bahwa kami dari Indonesia sudah pakai pesawat sendiri, ini tidak ada manfaatnya buat rakyat Indonesia karena merupakan pemborosan.”

Prioritas, menurut Roel, lebih harus diletakkan pemerintah pada upaya membangun pabrik untuk mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi beserta produk turunannya dan bisa dipasarkan ke luar negeri. “Nah kalau seperti ini barulah namanya Presiden beserta menteri-menterinya bekerja untuk rakyat. Menghutang barang mati artinya sama dengan menghutang barang yang tdk menghasilkan uang.”

Meski begitu, tampaknya gengsi menjadi pertimbangan bagi mereka yang pro dengan rencana pembelian pesawat kepresidenan. Raffi Jimly di Bandung, misalnya. “Presiden sebagai simbol Negara, Indonesia yang kaya raya, fasilitas presidennya juga harus baik. Ini menyangkut harga diri bangsa lho. Nggak malu apa tiap kepala negara kita kunjungan kerja ke luar negeri sewa pesawat melulu yang pastinya standar keamanan dan fasilitasnya jauh berbeda dengan pesawat khusus kepresidenan? Setidaknya bisa sedikit memberikan kepercayaan buat negara asing bahwa negara kita kuat dari segi ekonomi.”

Mieke Ls di Jakarta juga menyatakan, “Siapa yang akan jadi presiden berikutnya akan menjadi gampang untuk bernegosiasi dengan negara manapun karena negara kita tidak bisa disepelekan.”

Ada beberapa pembaca yang juga menggunakan kata ‘kebanggaan’ dalam komentarnya mendukung pembelian pesawat. ArdhieCOM di Palembang mengatakan, “Kalau saya, bangga punya negara yang bisa beli pesawat, yang penting prosesnya transparan dan kalau pun ada ketimpangan kita serahkan saja ke pihak berwenang.”

Atau kata Kong di Jakarta, “Perlu kita ketahui Indonesia adalah negara besar dan di kemudian hari akan semakin besar pula pengaruhnya di dunia ini. Oleh karena itu dituntut seorang kepala negara yang memiliki mobilitas sangat tinggi dan efisiensi waktu pula, kalau hanya mengandalkan pesawat sewaan dapat dipastikan akan banyak membuang-buang waktu dalam perjalanan dinas tanpa bisa berbuat apa-apa.”

Sementara Sammy di Jakarta bertanya, “Apakah harus selalu traveling? Apakah harus punya pesawat agar dihargai? Apakah sudah mengefektifkan gaya manajemen? Apakah dengan adanya pesawat tidak akan lebih sering traveling, terutama keluarga presiden?”

Pertanyaan yang paling penting di situ adalah, kenapa pesawat harus menjadi alasan untuk punya kebanggaan? Bukankah seharusnya kita bangga pada hal-hal yang mendasar dari sebuah negara, seperti kesejahteraan ekonomi yang merata, adilnya penegakan hukum, serta rendahnya angka korupsi? Kenapa kebanggaan itu harus kita beli dan bukannya kita ciptakan?

Beberapa pembaca lain menyarankan agar perdebatan tidak terjebak dengan opsi membeli atau menyewa, tapi malah membuat sendiri.

Seperti kata Dewi di Jakarta, “PT DI itu buat apa dong? Cuma praktik bikin pesawat mainan?” Ada juga Tunggal di Jakarta yang menulis komentar, “Adalah akan lebih “bernilai nasional” kalau PT DI mendapat tugas membuat pesawat kepresidenan yang canggih, handal, efisien. Selanjutnya juga mungkin ada RI-001 dan RI-002 yang memberikan kehandalan berpergian tinggi, kalau yang satu ngadat masih ada yang satu lagi, sehingga tidak mengganggu kelancaran tugas presiden.”


1 Response to “Transpor : Biaya Tersembunyi Beli Pesawat”


  1. February 20, 2012 at 6:28 am

    Saya setuju Presiden mempunyai Pesawat Kepresidenan RI 1. Indonesia sangat luas, malah menurut saya setiap propinsipun Pantas Pemerintah Tersebut memiliki Pesawat juga Jelicopter.

    Mengapa tidak??? Apa karena masih banyaknya masyarakat Miskin dan anak putus Sekolah Hingga seperti terjadi Pemborosan dengan membeki Pesawat negara,? INgat saudaraku, Presiden adalah Kepala Negara RI negara yang terbentan dari sabang hingga Merauke. begitu juga dengan daerqah tk II yang masih belon bisa ditempuh lewat darat hingga pantas saja gubernur ada Heli.

    Banyak Pengusaha di Indonesia memiliki Jet pribadi maoah lebij dari satu. siapa dia?? mereka para manusia yang mendapat berbagai fasilitas dari negara hingga mereka cukup banyak uang, dan sanggup memeliki pesawat sendiri. mengapa kita protes dan menghujat krena pembelian pesawat untuk negara khusus untuk presiden???

    Terlalu banyak orang indonesia ini yang tingggi sekolah hingga banyak lulusan universitas dalam atau luar negeri jadi penghancur dan pengkhianat bansa. yang bermuka dua malah tiga, oandainya hanya membuat teory penghancuran moral bangsa.

    hampir di semua disiplin ilmu beramai ramai menghancurkan mental Nasionalisme menjadi anarkisme. seperti yang sering dipertontonkan di televisi saat saat ini. jampir seluruh indonesia bergejolak. hampir semua sisebabkan karena dikorbankan oleh orang yamg ingin kekuasaan. negara macam apa ini????

    Kepada bapak P{residen RI

    Hari ini anda adalah President RI, ketegasan dan sikap serta keputusan anda adalah mutlak. anda dipilij\h rakyat bukan DPR atasan anda. rakyat yang tak ada partai semua memilih anda dengan harapan anda menjadi nakhoda kapal yang telah pecah ini bisa sempurna kembali. salah arah kapal akan hancur dan tenggelam.
    jangan korbankan penumpang hanya karena kepentingan segelintir orang krn akan mengakibatkan kapal jadi karam.

    Bapak bapak Raja Media
    Janganlah lagi Membuka AIB orang, karena akibatnya sangat membahayakan, itu sebab di haramkan oleh allah swt. jangan anda para wartawan2 kebablasan seper anda luoa sebagai ummat tuhan, berfijirlah yang jernih, akibat anda2 kebablasan bukan tidak mungkin akan terjadi kebinasaan dan kehancuran dan persatuan. hati2 saudaraku walaupun itu kenyataan dan kenenaran anda ungkapkan.

    Kepada saudara ku yang berpendidikan dan berjanatan

    Sepertinya sudah tidak ada lagi yang namanya rasa Patriotisme dan Nasionalis di dalam darah seluruh elemen bangsa ini. Semua hanya mementingkan diri dan kelompoknya sendiri. hingga hilangnya rasa empati seperti orang yang sudah hilanfg hati s4ebelum mati.
    Atasan tidak ada lagi yang memikirkan bawqahannyam ini terjadi di senua lini kehidupan. kesejahteraan hanya untuk yang memikiki kekuasaan ayau jabatan. anak buah hanya gaji nggak cukup makan.
    hati hati tuan tuan para komandan komandan yang asik dengan kekuasaan . jangan sampai mereka tak tahan,. sudah banyak yang mengelujkan rasa kekecwaan karena terlalu sering melihat kebihingan.

    Ingat Saudara saudara tidak ada yang namanya pengentasan lemiskinan didunia ini, semua berpasang pasangan Kaya Miskin susah senang jahat baik. begitu seterusnya. tak akan pernah bisa bersatu.

    semoga bangsa ini terus bersatu seperti arti binneka tunggal ika.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 1,269,499 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers