12
Feb
12

Kepemimpinan : Pemimpin yang Bijaksana

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/02/09/lz4p02-pemimpin-yang-bijaksana

Pemimpin yang Bijaksana

Jumat, 10 Pebruari 2012 04:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Nurul H Maarif MA

Suatu ketika, Rasulullah SAW dengan para sahabatnya hendak memasak kambing. Sebagai komando, beliau dengan cekatan melimpahkan pembagian tugas kerja. Sebagian sahabat menawarkan diri untuk mengerjakan tugas-tugas itu.

Ada yang menawarkan diri untuk menjadi penyembelih kambing dan yang lain siap menguliti. Ada juga yang bersedia memasaknya, sedangkan lainnya lagi siap mengambil air, menyiapkan tungku, dan sebagainya. “Saya sendiri akan mencari dan mengumpulkan kayu bakarnya,” ujar beliau.

Mendengar pernyataan ini, sontak saja para sahabatnya protes terkejut. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah SAW, tidakkah engkau lebih baik duduk-duduk saja dan kami yang mencari kayu bakarnya?” sergah sahabat.

Para sahabat ingin tugas-tugas lapangan biarlah dikerjakan oleh mereka dan Muhammad SAW sebagai pemimpin tak perlu repot-repot turut melakukannya. Barang kali dalam bayangan mereka, komando tidak seharusnya terlibat kerja lapangan. Namun, tampaknya hal ini tidak berlaku bagi Muhammad SAW. “Saya tahu kalian bisa menyelesaikan pekerjaan ini, tapi saya tidak suka diistimewakan. Sesungguhnya Allah SWT tidak suka melihat salah seorang hamba-Nya diistimewakan dari kawan-kawannya,” kata Rasul SAW.

Kisah ini dituliskan oleh Abdul Mun’im al-Hasyimi dalam Akhlak Rasul Menurut Bukhari Muslim, (hal 24-25). Inilah kunci kepemimpinan Rasulullah yang tidak ingin ada pengistimewaan. Sebab, beliau ingin melakukan segala sesuatunya selama perbuatan itu bisa dikerjakan sendiri, termasuk mencari kayu bakar.

Beliau ingin ikut kotor tangannya ketika sahabat yang lain juga kotor tangannya. Beliau ingin berkeringat ketika sahabat yang lain juga berkeringat. Beliau tidak ingin hanya duduk-duduk manis, ongkang-ongkang kaki, tunjuk sana tunjuk sini, perintah sana perintah sini, tanpa ikut terlibat di dalamnya.

Inilah keteladanan agung Nabi Muhammad SAW yang kepemimpinnya tidak dibangun di atas telunjuk dan sabdanya, melainkan dengan keringat dan kebersamaan. Inilah sang teladan sejati, pemimpin yang keringatnya terus mengucur karena tak pernah berhenti melayani umatnya.

Bagi seorang teladan sejati, kepemimpinan tidak melulu urusan dunia. Lebih penting lagi, kepemimpinan menyangkut pertanggungjawaban dengan Allah SWT di akhirat kelak. Karena itu, dalam menentukan kebijakan apa pun, pertimbangan pemimpin tidak seharusnya
duniawi atau politis. Tujuannya, supaya pemimpin benar-benar mampu menegakkan kemaslahatan bagi rakyat, karena semua tindak-tanduknya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT (LPJ yang tentu saja paling berat dan mustahil dimanipulasi).

Itu sebabnya, Nabi Muhammad SAW sedari awal mewanti-wanti melalui sabdanya; “Tiap-tiap kalian adalah pemimpin dan tiap-tiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari).

Pertanyaannya, masih adakah di negeri ini, pemimpin yang keringatnya terus mengucur memikirkan nasib rakyatnya, karena adanya kesadaran bahwa kelak kepemimpinannya akan diaudit oleh Allah SWT? Kita memang butuh pemimpin yang berkeringat untuk memperbaiki negeri ini.
Redaktur: Heri Ruslan

 Rakyat Frustasi

Rakyat Indonesia Frustasi Terhadap SBY

Liputan6.com, Jakarta: Berbagai masalah pelik semakin membuat bangsa terpuruk. Beberapa kalangan menilai, pemimpin yang diharapkan bisa bertindak tegas dan mampu mencari solusi, justru terkesan lembek.

Koordinator Indonext Center Yon Inf. Hotman mengatakan, saat ini rakyat Indonesia frustasi terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kepemimpinan SBY dianggap gagal sehingga melahirkan ketidakpastian hukum dan politik. Menurut Hotman, sejumlah orang yang pernah menjadi Tim Sukses SBY di Pemilu 2004, kecewa atas sikap Presiden.

“Saya memang kecewa atas sikap SBY, tapi saya tak harus menyesalinya. Saat ini saya ingin ada sosok baru sebagai alternatif kepemimpinan nanti,” ucap Hotman dalam diskusi bertajuk “Pemimpin Cerdas, Bangsa Berkualitas” di Kampus Universitas Bung Karno, Jakarta, Kamis (9/2). “Saya kira di antara orang-orang cerdas yang saya temui, Pak Yusril-lah yang paling mungkin memimpin bangsa ini ke depan.”

Sementara pakar hukum Yusril Ihza Mahendra, yang juga menghadiri acara, mengaku merasakan hal serupa. Ia kecewa sikap kurang tegas yang kerap ditunjukkan Presiden Yudhoyono. “Bangsa berkualitas itu, membutuhkan pemimpin yang cerdas, dan berani mengambil keputusan tidak lembek dan peragu,” ujar Hotman.(WIL/AIS)

10 Februari 2012 | 21:42 wib
SBY Dinilai Lepas Tangan soal Krisis Pangan


JAKARTA, suaramerdeka.com -
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan bahwa ketahanan pangan semakin kritis di tengah perubahan iklim dan permasalahan dunia lainnya. Presiden juga meminta semua pihak memperkuat ketahanan pangan nasional. Pernyataan ini disampaikan Presiden pada Jakarta Food Security Summit di Jakarta Convention Center (JCC), Selasa (7/2).

Namun, pernyataan Presiden itu dianggap sebagai upaya pemerintah untuk lepas tangan atas krisis pangan yang melanda Indonesia dewasa ini. Termasuk dengan cara meletakkan krisis pangan sebagai fenomena global.

Demikian dikatakan Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Riza Damanik. “Padahal menurunnya produksi pangan pada dasarnya lebih disebabkan oleh kegagalan pemerintah menjamin terlindunginya lahan pangan dan perikanan, termasuk kesejahteraan petani dan nelayan tradisional,” ujar Riza, Jumat (10/2).

Di sektor perikanan, data FAO (2010) menyebutkan bahwa konsumsi ikan tahunan dunia per kapita mengalami kenaikan drastis selama 6 dekade terakhir. Sementara itu, Riza menambahkan, pemerintah mendorong ekspor dengan menargetkan adanya kenaikan konsumsi ikan rata-rata nasional hingga 40 kg/ kapita/ tahun di 2014.

Namun, di saat bersamaan angka impor ikan terus meningkat. Peningkatan tahun ini, bahkan masih akan meningkat tajam, ungkapnya. Hal ini dibuktikan dengan rencana pemerintah mengimpor garam sebanyak 700 ribu ton hingga Maret 2012, serta masih ditemukannya sayuran dan ikan impor konsumsi di pasar-pasar tradisional di awal tahun 2012.

“KIARA menyayangkan rencana pemerintah untuk kembali membuka impor garam tahun ini. Apalagi, rencana impor dilakukan di saat pemerintah belum memiliki data yang solid terkait berapa sesungguhnya ketersediaan dan kebutuhan garam nasional tahun ini,” tambah Riza.

Riza mengungkapkan, sasalah pangan harus segera dikembalikan ke akarnya. “Di mana harus ada upaya perombakan kebijakan politik pangan yang selama ini berbasis pada korporasi dan pasar, kepada perlindungan kebutuhan domestik dan kesejahteraan petani dan nelayan,” ungkapnya.

( A Adib / CN33 / JBSM )

Kolom

Kejujuran Nabi

Musni Umar – detikNews

Senin, 06/02/2012 19:23 WIB

Bangsa ini Saatnya Meneladani Kejujuran Nabi Muhammad SAW
Jakarta – Indonesia dan umat Islam di seluruh dunia, pada 12 Rabiul Awal 1433 H bertepatan 5 Februari 2012 kembali memperingati Maulid (hari lahir) Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam (SAW). Setiap memperingati Maulid, bangsa Indonesia sepatutnya mengambil pelajaran dan contoh teladan dari sifat-sifat, perilaku dan tutur kata Muhammad SAW.

Salah satu sifatnya yang amat dikagumi sejak remaja, yang kemudian kaum Quraisy memberinya gelar “Al Amiin” (orang yang dipercaya) ialah sifat jujur dan lurus (amanah).
Sifat jujur ini sangat penting digelorakan untuk diamalkan oleh seluruh bangsa Indonesia. Oleh karena, terutama kalangan elitnya cenderung hidup hedonis, dan mengabaikan pentingnya kejujuran.

Selain itu, kehidupan semakin keras dan penuh persaingan, telah membawa kepada sikap pragmatis dengan menanggalkan kejujuran dan menghalalkan segala cara untuk meraih kemewahan dan kesenangan materi.

Di kalangan masyarakat sudah ada pandangan, kalau berperilaku jujur dan lurus akan dijauhi, tidak disukai dan hidupnya susah. Ini harus dicegah dan dihentikan pandangan yang menyesatkan itu.

Muhammad Abduh dalam buku Tafsirnya “Al Manar” membagi tingkatan amanah (jujur) menjadi tiga. Pertama, jujur kepada Allah yaitu menepati janji untuk menaati semua perintah Allah dan meninggalkan laranganNya. Larangan Allah yang berkaitan kejujuran ialah sifat munafik yaitu kalau berbicara ia berbohong, kalau berjanji ia menyalahi janji, dan jika dipercaya ia berkhianat.

Kedua, jujur terhadap sesama manusia, yaitu menjaga sesuatu yang diterima dan menyampaikannya kepada yang berhak menerima. Jujur semacam ini menurut Imam Ar-Razi, mencakup kejujuran para penguasa dan ulama dalam membimbing masyarakat.

Ketiga, jujur kepada diri sendiri. Allah telah membekali manusia dengan akal untuk membedakan yang hak dan batil. Pada tataran ini, banyak manusia yang mengkhianati dirinya dengan mengambil harta bukan miliknya. Inilah yang disebut sekarang korupsi,

Kejujuran Kunci Keselamatan

Setidaknya terdapat tiga alasan mengapa bangsa Indonesia harus meneladani kejujuran Muhammad SAW. Pertama, bangsa Indonesia adalah bangsa panutan. Rakyat selalu melihat ke atas. Kalau para pemimpinnya jujur dan taat, maka rakyatnya akan meniru mereka. Sebaliknya kalau tidak jujur, maka rakyat akan menjadi tidak jujur dan kehilangan panutan.

Akibatnya rakyat meneladani yang mereka lihat di TV dan di lingkungannya. Inilah yang dialami bangsa Indonesia. Maka untuk memperbaiki dan menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia, sudah saatnya para pemimpin di semua tingkatan, para birokrat/pegawai, dan pejabat negara, mencontoh dan meneladani kejujuran Muhammad SAW dan mengamalkan dalam hidup sehari-hari.

Kalau hal itu dilakukan, maka rakyat akan mencontoh kepada para pemimpin dan inilah awal munculnya pemerintah yang bersih. Pemerintah yang bersih, merupakan syarat mutlak terciptanya masyarakat adil dan makmur yang menjadi tujuan Indonesia merdeka.

Kedua, bangsa. Indonesia masih dalam suasana keterpurukan di segala bidang. Salah satu sebabnya pernah diungkapkan oleh Amir Syakib Arsalan dalam bukunya “Limadza Taakharal Muslimuna Wa Taqaddama Ghairuhum? (Mengapa Kaum Muslim mundur dan lainnya maju). Dia menjawab antara lain kaum Muslim mundur lantaran meninggalkan agamanya. Menurut saya, bangsa Indonesia ini mundur dan belum bangkit menuju kemajuan karena kejujuran belum diamalkan.

Bangsa ini seharusnya makmur dan sejahtera karena kekayaan alamnya melimpah, tetapi kejujuran tidak diamalkan, sehingga korupsi merajalela, yang kaya semakin kaya, sementara mayoritas dari bangsa ini masih miskin dan terkebelakang.

Ketiga, Muhammad SAW merupakan manusia paripurna yang patut dijadikan contoh teladan. Tuhan telah menegaskan dalam Al-Qur’an “Wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil’alamaniin” (Dan tidaklah kami utus engkau (Muhammad) kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam).

Penegasan Tuhan itu, semakin mendapat pembenaran secara ilmiah, misalnya seorang ilmuan berkebangsaan Amerika Serikat, Michael H. Hart dalam bukunya yang bertajuk “100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (1992) telah memilih dan menempatkan Muhammad pada ranking pertama dari 100 tokoh paling berpengaruh di dalam sejarah. Dia menyebut Muhammad “supremely successful” in the both religious and secular realms.

Oleh karena itu, bangsa Indonesia sudah saatnya meneladani Muhammad SAW dalam seluruh aspek kehidupannya. Setiap kita memperingati Maulid, seharusnya memetik sifat-sifat dan akhlaknya yang mulia terutama kejujuran yang diperlukan sekarang ini.

Kesimpulan

Dalam suasana memperingati Maulid, bangsa Indonesia sangat penting meneladani dan mengamalkan kejujuran, yang merupakan salah satu sifat Muhammad SAW yang amat penting. Sifat jujur adalah mahkota kehidupan. Ia sangat penting diamalkan karena merupakan kunci untuk meraih kemajuan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Para pemimpin bangsa ini disemua tingkatan, setiap memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, sebaiknya memperbaharui niat, komitmen dan tekad untuk meneladani dan mengamalkan kejujuran Muhammad dalam hidup sehari-hari.

Diharapkan tumbuh semangat dan gerakan hidup jujur di kalangan bangsa Indonesia sebagai solusi untuk memperbaiki segala kekurangan dan kelemahan selama ini.

*) Musni Umar, sosiolog dan Direktur Institute for Social Empowerment and Democracy (INSED).

(vit/vit)

Baca Juga
About these ads

0 Responses to “Kepemimpinan : Pemimpin yang Bijaksana”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,252,117 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: