07
Feb
12

Historia : Kontroversi Piramida Sadahurip Garut Mendunia

Piramida Garut

Indra Subagja – detikNews

Senin, 06/02/2012 16:22 WIB

5 Alasan Mengapa Piramida di Garut Hanya Isapan Jempol
Jakarta - Kabar kemungkinan adanya piramida di Gunung Sadahurip, Garut, ditepis geolog Sujatmiko. Dia meyakini keberadaan piramida hanya isapan jempol. Sujatmiko sudah melakukan penelitian di Sadahurip dan hasilnya, tidak ada piramida.”Barat, timur, selatan, utara diteliti jenis batuan di Sadahurip itu, kajian geologi batuan beku. Artinya bahwa itu suatu gunung yang solid. Jadi hipotesis ditemukan piramida di dalam gunung impossible,” jelas Sujatmiko yang juga menjabat sebagai Sekjen Kelompok Riset Cekungan Bandung dan anggota IAGI, Senin (6/2/2012).Sujatmiko membeberkan setidaknya ada 5 alasan yang membuat piramida di Garut hanyalah isapan jempol. Berikut alasannya:1. Susunan Gunung Sadahurip dari bawah sampai puncak tipe batuan solid, jadi sangat sulit dikatakan ada piramida di dalam gunung itu.2. Untuk membangun suatu piramida seperti Giza, dibutuhkan 200 ribu orang dalam waktu 20 tahun, dengan membawa blok-blok batu sebanyak 2,3 juta ton. Untuk Sadahurip itu impossible, bila bebatuan Sadahurip 6-7 ribu tahun sesuai uji karbon, saat itu Indonesia masih zaman menggunakan alat batu.3. Setiap proyek raksasa yang dikerjakan meninggalkan jejak artefaktual atau sisa-sisa pengerjaan, di Sadahurip tidak ada jejak itu. Ada bekas bebatuan yang katanya mirip tulisan Mesir kuno, namun setelah diteliti itu silica yang terkena pelapukan.4. Bebatuan besar yang ada di Sadahurip, yang katanya diangkut dari Gunung Rahong untuk pembuatan piramida bisa dipatahkan. Semua bisa dijelaskan dengan proses geologi. Bebatuan itu ada karena lava yang mengalir dan masuk ke gunung. Sadahurip merupakan gunung purba.

5. Pintu masuk ke piramida yang disebutkan ternyata hanya goa biasa. Dalamnya hanya beberapa meter dan tidak ditemukan indikasi adanya bebatuan yang dipahat manusia.

“Sebagai ahli geologi soal Sadahurip itu memang penuh kontroversi. Tetapi kita harus sampaikan apa adanya,” jelas Sujatmiko.

Rencananya Selasa (7/2) besok, Staf Khusus bidang Penanggulangan Bencana akan menggelar diskusi terkait Gunung Sadahurip dan Gunung Padang yang ada di Cianjur. Diskusi itu bertema ‘Menguak Tabir Peradaban dan Bencana Katastropik Purba di Nusantara untuk Memperkuat Karakter dan Ketahanan Nasional’. Rencananya, kegiatan itu akan ditayangkan di seluruh dunia.

(ndr/nvt)

Baca Juga

MusikGunungPadang

Nurvita Indarini – detikNews

Teka-Teki Musik di Balik Gunung Padang
Rabu, 08/02/2012 03:18 WIB
Jakarta – Situs purba ditemukan di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Ada banyak cerita dan teka-teki terkait pola peradaban dan budaya masyarakat yang tersimpan di sana. Salah satunya teka-teki tentang musik.

Peneliti dari Bandung Fe Institute menemukan di sudut belakang bagian timur undak pertama situs Gunung Padang ada sejumlah batu yang tersusun sedemikian rupa. Dengan memukulnya akan terdengar suara nyaring berfrekuensi tinggi bagaikan nada-nada.

“Bebatuan tersebut seolah menjadi sebuah alat musik litofonik purba. Tapi berbeda dengan berbagai artefak litofonik warisan megalitik yang juga ditemukan di banyak negara di kawasan Asia Tenggara, ukuran dari artefak ini jauh lebih besar dimensinya,” ujar peneliti Bandung Fe Institute, Hokky Situngkir.

Hal itu disampaikan dia dalam diskusi bertajuk ‘Menguak tabir peradaban dan bencana katastropik purba di nusantara untuk memperkuat karakter dan ketahanan nasional’ di Gedung Krida Bakti, Jl Veteran, Jakarta, Selasa (7/2/2012).

Dengan menggunakan analisis fast fourier transform, Hokky dkk memetakan nada-nada yang dicurigai sampel frekuensinya ke tangga nada barat dan ditunjukkan pengerucutan pada empat nada yakni ‘f’-‘g’-‘d’-‘a’. Menurut dia, mayoritas batuan yang disampling tidak menghasilkan bunyi yang frekuensinya dapat diklaim sebagai ‘nada’ tertentu.

“Namun ada dua kelompok batuan yang menghasilkan nada dengan frekuensi relatif tinggi, dalam interval 2683Hz-5171Hz. Dua kelompok batuan ini terdapat di teras pertama dan teras kedua,” terangnya.

Tangga nada dalam pengelompokan batuan itu lazim digunakan dalam musikologi modern. Disampaikan Hokky, fakta ini menunjukkan bahwa sangat mungkin tradisi megalitik di situs Gunung Padang telah mengenal instrumen musik.

“Dari sisi urutan nada-nada yang diperoleh memang belum sempurna untuk dapat dikategorikan sebagai pentatonic scale ataupun heptatonic scale. Ada dugaan nada-nada yang hilang tersebut kemungkinan ada di batuan yang sebagian terpendam tanah di sekitar batuan yang menghasilkan frekuensi tinggi tersebut,” tuturnya.

Soal musik ini masih menjadi teka-teki, apakah batu yang jadi sumber bunyi itu merupakan artefak litofon yang telah ditemukan di banyak tradisi megalitik lainnya. Jika memang batuan ini dijadikan alat musik. Maka peradaban yang memangunnya telah mengenal pola orkestrasi atau permainan musik dengan berkelompok.

“Mengapa di situs tersebut perlu ada sumber bunyi?” ucap Hokky mempertanyakan.

Apalagi kawasan situs ini memiliki ketinggian 983-989 dia atas permukaan laut atau relatif jauh lebih tinggi dari kawasan sekitarnya. Hokky dkk menduga, bukan tidak mungkin bunyi-bunyian dari batu itu dijadikan sebagai pemberi aba-aba atau informasi di kawasan bawah situs dengan tipe punden berundak itu.

“Pertanyaan lebih lanjut, siapakah yang membangun situs megalitikum itu. Dan adakah manusia yang hidup di belahan barat Pulau Jawa kini memiliki keterkaitan dengan pembangunan situs megalitikum itu,” Hokky mempertanyakan.

(nvt/did)

Baca Juga

Tidak cari Piramida

Nurvita Indarini – detikNews

Selasa, 07/02/2012 10:25 WIB

Andi Arief : Peneliti Katastropik Purba Tidak Mencari Piramida Garut
Jakarta - Belakangan mencuat kehebohan terkait keberadaan ‘harta karun’ berbentuk piramida ribuan tahun di dalam Gunung Sadahurip, Garut, Jawa Barat. Bahkan kabar beredar, ada tim yang sengaja dibentuk untuk mencari piramida itu.Staf Khusus Kepresidenan bidang Bencana Alam, Andi Arief, menegaskan Tim Bencana Katastropik Purba yang dibentuk tahun 2011 bukan untuk mencari piramida. Namun tim ini mencari data bencana di masa lalu.

“Ada simpang siur di luar, kita tidak cari piramida, tapi cari data kegempaan,” ujar Andi dalam diskusi bertajuk ‘Menguak tabir peradaban dan bencana katastropik purba di nusantara untuk memperkuat karakter dan ketahanan nasional’ di Gedung Krida Bakti, Jl Veteran, Jakarta, Selasa (7/2/2012).

Jika dalam penelitian itu ada fakta tertentu yang ditemukan, maka akan diteruskan ke instansi terkait.
“Jadi cari bencana di masa lalu, nanti apakah berhubungan dengan temuan itu, serahkan ke ahli,” ucap Andi.

Tim ini dibentuk pada 2011 lalu berdasar minat dan hobi para peneliti kebencanaan. Yang diteliti tim ini adalah terkait unsur peradaban dan bencana.

Penelitian yang dilakukan Tim BKP bukan pada sumber bencana langsung, tapi pada peninggalan purba. Selain itu tim juga akan mencari pusat peradaban di masa kerajaan seperti Majapahit, Sriwijaya, Sunda dan Galuh yang belum ketahuan.

(nvt/lia)

Baca Juga

Gunung Padang

Nurvita Indarini – detikNews

Selasa, 07/02/2012 12:51 WIB

Gunung Padang & Misteri 2500 SM
Jakarta - Gunung Padang yang terletak di Campaka, Cianjur, Jawa Barat, menyimpan misteri yang terkubur sejak 2500 SM. Sebab di sana ada situs yang menjadi saksi bisu kehidupan di masa lalu.”Diperkirakan dibangun pada 2500 SM dan dibangun dengan lokasi yang diperkirakan penuh pertimbangan, sehingga cocok sekali. Situs ini terletak di tengah kebun teh,” ujar mantan Ketua Himpunan Arsitek Jawa Barat, Dr Pon Purajatnika, dalam diskusi bertajuk ‘Menguak tabir peradaban dan bencana katastropik purba di nusantara untuk memperkuat karakter dan ketahanan nasional’ di Gedung Krida Bakti, Jl Veteran, Jakarta, Selasa (7/2/2012).Di gunung tersebut terdapat bongkahan batu yang tersusun teratur, sehingga diduga kuat tidak mungkin dibuat sendiri oleh alam. Ada anak tangga yang begitu menanjak, serupa punden berundak.

“Ini menunjukkan tatanan sosial. Ada singgasana untuk pimpinan. Ada untuk cerdik cendekia dan sebagainya,” ujar Pon.

Sisa-sisa bangunan purba itu bisa bertahan dari dulu hingga sekarang menunjukkan adanya kearifan lokal masyarakat yang membangunnya. Mereka tahu bagaimana membangun bangunan yang besar lagi kuat.

“Ada turap dan tangga. Mereka arif dalam membuat konstruksi. Ada lapisan pasir penahan gaya lateral,” tambah dia.

Menurut Pon, bangunan ini bisa jadi lebih tua dari piramid Machu Picchu di Peru yang dibangun sekitar tahun 1450 SM. “Ada teknologi yang sama dengan Machu Picchu. Jangan-jangan mereka meniru kita ha ha,” kata Pon bercanda.

Situs ini penting, karena ada misteri di sana. Sebab dari sana bisa dipelajari soal perbintangan, bentuk bangunan, sistem pengairan, pertanian. Juga ada bencana purba apa yang pernah terjadi di sana. Serta bagaimana manusia yang dulu hidup di gunung itu punah.

(nvt/lia)

Baca Juga
About these ads

0 Responses to “Historia : Kontroversi Piramida Sadahurip Garut Mendunia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,208,926 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 121 other followers

%d bloggers like this: