02
Dec
11

Politik : Papua Bergolak ?

Ada Bintang Kejora di Depan Istana

Fabian Januarius Kuwado | Hertanto Soebijoto | Kamis, 1 Desember 2011 | 14:36 WIB
KOMPAS/FERRY SANTOSO Sejumlah mahasiswa dan pemuda Papua berunjuk rasa di derpan Istana Negara, di Jakarta, Kamis (1/12/2011).

JAKARTA, KOMPAS.com— Perayaan 50 tahun kemerdekaan bangsa Papua Barat, Kamis (1/12/2011), diwarnai aksi unjuk rasa oleh pemuda Papua se-Jawa-Bali di depan Istana Negara, Jakarta Pusat. Beberapa peserta aksi melukiskan bendera Bintang Kejora di wajahnya.

Kami juga ingin mengatakan sudah saatnya rakyat Papua merdeka. Negara di dunia harus mendukung dan mengakui Papua sebagai bagian negara di dunia.
– Frans Tomoki

Dengan membawa spanduk berisi tuntutan dan memakai pakaian tradisional Papua, sekitar 100 orang melakukan tarian sebagai ekspresi perjuangan rakyat Papua selama ini. Dalam selebarannya, aksi tersebut menuntut Presiden SBY untuk mengembalikan kedaulatan Bangsa Papua Barat yang pernah diakui Ir Soekarno melalui Trikora 19 Desember 1961 di Yogyakarta.

Frans Tomoki, juru bicara aksi tersebut, mengatakan, aksi tersebut adalah perayaan 50 tahun kemerdekaan bangsa Papua Barat. “Kami juga ingin mengatakan sudah saatnya rakyat Papua merdeka. Negara di dunia harus mendukung dan mengakui Papua sebgai bagian negara di dunia,” ujarnya.

Aksi tersebut tidak menimbulkan kemacetan dan dijaga ketat oleh petugas kepolisian. Hingga Kamis sore, aksi terus berlanjut dengan meneriakkan yel-yel dan orasi.

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/bintang-kejora-berkibar-di-papua/

01.12.2011 14:30

Bintang Kejora

Penulis : Odeodata H Julia/Lili Sunardi/Ruhut Ambarita/Vidi Batlolone/M Bachtiar Nur

Bintang Kejora Berkibar di Papua

 JAYAPURA – Sejumlah sekolah di Papua, Kamis (1/12) pagi ini diliburkan menyusul perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang jatuh hari ini.

Aktivitas masyarakat juga sepi seperti di pasar tradisional serta sejumlah ruas jalan. Kantor pemerintahan juga memilih tutup. Di Lapangan Timika Indah, Mimika, Papua, peringatan diwarnai dengan tarian waita yang dilakukan ratusan orang.

Terkait hal itu, Kepala Humas Polri, Irjen Saud Usman Nasution di Jakarta, Kamis pagi ini menyebutkan, peringatan HUT ke-50 OPM di Papua pagi ini diwarnai aksi pengibaran bendera Bintang Kejora.

“Kami telah menurunkan dua bendera Bintang Kejora yang dikibarkan di dua tempat terpisah, yakni di Dusun Wandegobak, Distrik Mulia, dan di sekitar perbukitan di ujung Bandara Wamena,” katanya.

Ia mengatakan, sekitar pukul 06.00 WIT ditemukan dan dilihat dari ketinggian, ada bendera yang berkibar dan petugas langsung menurunkan bendera tersebut. Sementara yang di Wamena diketahui pada pukul 01.20.

Sekolah Diliburkan

Beberapa anak sekolah yang sempat ditemui SH pagi ini mengatakan, guru menyuruh mereka belajar di rumah saja karena sudah mau ujian semester. ”Kami disuruh belajar di rumah saja,” kata seorang siswa.

Libur sekolah dimulai dari SD, SMP, dan SMA. Kondisi itu dilakukan karena khawatir situasi tidak aman selama perayaan HUT OPM itu. Selain banyak guru yang tidak datang mengajar, siswa-siswa juga banyak yang tidak berangkat sekolah. Di SMPN 1 Manokwari, hanya lima guru dari 20-an guru yang masuk.

“Siswa juga banyak yang tidak masuk. Tidak sampai setengah dari 788 siswa terdaftar. Orang tua yang mengantar ada yang menunggu di luar sekolah,” kata Ramlan, guru di SMPN 1 Manokwari.

Kondisi yang sama juga terlihat di SMA 1 Manokwari. Siswa berkerumum di halaman sekolah karena guru-guru tidak memberikan pelajaran. Padahal gurunya masuk, meski tidak semuanya masuk sekolah. Sebenarnya, tidak ada perintah untuk libur, namun karena gurunya resah, terpaksa sekolah diliburkan.

Suparno (45), orang tua salah satu siswa di SMPN 3 Manokwari mengaku waswas, tetapi dia tetap mengantarkan anaknya bersekolah karena tidak ada imbauan libur. “Khawatir juga tetapi tidak ada perintah libur dari sekolah, ya saya antar saja dia ke sekolah. Padahal, saya saja tidak ngantor karena kantor tutup,” katanya.

Sementara itu, kondisi dua pasar trasidional di Manokwari, Pasar Wosi, dan Pasar Sanggeng sepi aktivitas. Tidak banyak lapak dan toko yang buka dan pembeli tak banyak terlihat.

Marlina, pedagang di Pasar Wosi mengatakan, sedikit pedagang yang berjualan. Apalagi pedagang dari daerah Masni, Prafi, dan Minyambauw. “Mulai kemarin memang sudah sepi tetapi hari ini sepi sekali,” kata pedagang yang mengaku tidak nyaman dengan situasi ini.

Perayaan HUT OPM akan dipusatkan di Lapangan Borasi dengan aksi doa dan orasi politik. Panitia dan massa peserta perayaan diminta tidak mengibarkan atau membentangkan bendera bintang kejora. Kesepakatan ini telah disepakati Muspida Manokwari dengan elemen masyarakat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Sementara itu, massa yang mengikuti tarian waita di Lapangan Timika Indah, Mimika, Papua mulai berkumpul sejak pukul 08.00 WIT. Mereka sebagian besar datang dari Kwamki Lama dan Kwamki Baru, dan sejumlah satuan permukiman di sekitar Kota Timika.

Massa yang terdiri atas para orang tua, pemuda, dan anak-anak masih terus menggelar tarian waita dan nyanyian-nyanyian dalam bahasa daerah suku Amungme sambil menunggu kedatangan sebagian massa yang masih dalam perjalanan menuju Lapangan Timika Indah.

Mereka juga membawa beberapa spanduk bertuliskan “50 Tahun Emas Kebangkitan Kita Bangsa Papua. Tahun Yubilium Papua 2011″. Dari sejumlah orasi yang disampaikan beberapa pemuda, massa akan menggelar doa bersama memperingati 50 tahun HUT OPM.

Untuk mengamankan acara peringatan HUT OPM, aparat keamanan menurunkan ratusan personel TNI dan Polri bersenjata lengkap. Aparat keamanan tampak bersiaga penuh di panggung Lapangan Timika Indah dan sekitar lokasi itu seperti di Gedung Eme Neme Yauware.

Pengamanan acara peringatan 50 tahun HUT OPM di Timika dipimpin Wakapolda Papua Brigjen Paulus Waterpauw. Tampak pula Komandan Danrem 174 Merauke Kolonel TNI Inf Rahman Wiyadi, Wakil Bupati Mimika H Abdul Muis, dan anggota DPRD Mimika, Wilhelmus Pigai.

Polisi Tewas Terbunuh

Meski berhasil menurunkan bendera Bintang Kejora, pihak kepolisian belum dapat mengetahui siapa yang mengibarkan bendera tersebut. “Kita belum tahu, karena itu kan di gunung. Kita sedang melacak siapa yang mengibarkannya. Itu kan kelihatan dari jauh, sehingga anggota kita berangkat untuk menurunkannya,” ujarnya.

Selain pengibaran bendera tersebut, Saud juga mengungkapkan, satu anggota dari Polres Jayapura tewas terbunuh, setelah sebelumnya tertangkap oleh kelompok yang besenjatakan panah.

Anggota yang tewas tersebut merupakan Bripda Ridwan Napitapulu yang melakukan pengecekan ke lapangan bersama Bripka Dian Budi Santosa atas laporan keresahan masyarakat di salah satu Kampung Berang, Distrik Nimbrokang.

“Setelah ditodong senjata, kedua anggota ini meloncat ke Sungai Niru. Kemudian satu orang selamat dan satu orang ditangkap oleh gerombolan ini dan dibunuh,” jelasnya.

Saat ini, menurutnya, pihaknya masih mengevakuasi korban dan membawanya ke rumah sakit di Jayapura. Selain itu, kini kepolisian juga memburu pelaku dan gerombolan yang sudah membunuh salah satu anggota Polres Jayapura tersebut.

Lebih lanjut Saud mengungkapkan, pihaknya masih melakukan pendekatan dan terus mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan kegiatan seperti biasa, meskipun eskalasi keamanan di Papua meningkat dalam dua hari belakangan.

Jayapura Kondusif

Sementara itu, situasi Kota Jayapura hari ini kondusif. Sejak kemarin siang hingga malam, aparat melaksanakan sweeping, baik terhadap warga sipil maupun anggota TNI, yang dilakukan POM TNI AD, AL, dan AU.

Sementara di PTC Entrop sweeping gabungan dilakukan Polresta Jayapura. Di Sentani, Kabupaten Jayapura, juga dilakukan sweeping gabungan di mana aparat menyita sejumlah benda tajam dari tangan para pengendara.

Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Papua Mayjen TNI Erfi Triassunu mengaku ada peningkatan kewaspadaan menjelang HUT OPM di Papua. Pihaknya mengaku sudah dimintai bantuan personel oleh pihak kepolisian setempat untuk menjaga perkantoran, tempat-tempat perekonomian, dan pusat telekomunikasi.

Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Wachyono mengaku ada penambahan personel Brimob dari Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Kelapa Dua Depok, Jawa Barat. Pasukan tambahan ditempatkan di beberapa daerah yang dianggap rawan.

“Kita dapat perbantuan dari Mabes Polri, satu kompi dari Polda Sulawesi Utara, Kalimantan Timur, dan Kelapa Dua,” jelasnya.

Pasukan yang ditempatkan ada di-stand by-kan di Polda Papua, dan ada juga yang sudah ditempatkan Puncak Jaya, Paniai, untuk membantu di Timika.

Koordinator Pusat Komite Nasional Papua Barat Victor Kogoya kepada SH melalui telepon pagi ini menyerukan kepada rakyat sipil agar bangsa Papua Barat di seluruh Tanah Air tidak panik, takut, dan terprovokasi dengan isu-isu pengibaran bendera sang bintang kejora atau adanya isu perang dan lainnya di seluruh wilayah Papua Barat oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Kami tidak kasih naik bendera (Bintang Kejora), hanya serukan untuk aksi dan berorasi politik,” ujarnya.

Anggota Komisi I DPR Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Helmy Fauzi mengatakan, Komisi I akan mengirimkan tim untuk melakukan dialog langsung dengan warga Papua terkait situasi di Papua belakangan ini dan proses dialog Papua-Jakarta yang tidak kunjung tercipta. “(Berangkat) Awal tahun depan setelah reses,” ujarnya di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu siang.

Ia mengatakan, Komisi I akan mendorong pemerintah di Jakarta untuk segera memulai upaya dialog Papua-Jakarta yang hingga kini belum tercipta. Terkait peringatan HUT OPM hari ini, Helmy mengatakan aparat telah melakukan upaya-upaya antisipatif terhadap gangguan keamanan di Papua.

Direktur Eksekutif Imparsial Poengky Indarti mengatakan, pihaknya meminta pemerintah menyikapi peringatan 1 Desember oleh rakyat Papua tanpa mengedepankan cara-cara kekerasan.

Dia mengatakan, data diperoleh menyebutkan Polri menurunkan 1.600 personel kepolisian untuk pengamanan momentum tersebut, termasuk di antaranya 400 personel Brimob serta aparat intelijen. “Jumlah aparat keamanan yang diturunkan mengantisipasi peringatan 1 Desember terlalu berlebihan,” tukasnya.

Direktur Program Imparsial Al Araf mengingatkan dalam status sipil di Papua, peran TNI pada konteks tugas perbantuan atas dasar keputusan otoritas politik sipil.

Rutinitas tahunan yang telah berkali-kali dilakukan tersebut seharusnya membuat Polri lebih bisa mencermati dan memprediksi langkah-langkah yang perlu dilakukan secara tepat dan terukur, serta tidak menggunakan cara-cara kekerasan.

“Upaya penanganan ini semestinya tetap dan hanya dilakukan oleh aparat kepolisian dengan menjunjung tinggi profesionalitas, proporsionalitas, dan menghormati hak asasi manusia. Polisi harus lebih mengedepankan pendekatan persuasif di lapangan,” ujarnya.

Senada dengan Imparsial, Wakil Direktur Demokrasi untuk Papua (ALDP) Yusman Konoras menilai pengerahan kekuatan untuk pengamanan Papua akan memberi kesan buruk pada pemerintah, yang seharusnya menunjukkan wajah kesejahteraan.

“Aparat keamanan show kekuatan memberikan kesan di masyarakat Papua. Wajah Indonesia sebagai wajah militer dan kekerasan bukan wajah kesejahteraan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Timur Pradopo menegaskan, selama kegiatan tidak melanggar hukum dan ketentuan yang berlaku, pihaknya tetap memberikan tempat bagi kegiatan peringatan OPM. “Saya kira semua kegiatan masyarakat selama tidak melanggar hukum dan ketentuan dilakukan, kita berikan tempat dan tetap menjaga pengamanan acara tersebut,” tandasnya.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, di Bogor, Rabu siang mengatakan, TNI tidak akan menambah jumlah pasukan di Papua terkait HUT OPM. Semua pihak juga diminta tidak melakukan hal yang bisa mencederai persatuan dan kesatuan. “Tidak ada penambahan pasukan atau meningkatkan status keamanan,” ujarnya.(CR-19/Ant)

Ulang Tahun Papua Diwarnai Insiden Penembakan
TIMIKA

Massa mengibarkan bendera Bintang Kejora di depan aparat.

Peringatan hari ulang tahun Papua, 1 Desember kemarin, diwarnai aksi pengibaran bendera Bintang Kejora di beberapa distrik di Papua dan insiden penembakan. Seorang polisi terluka saat mengecek kondisi Kampung Berang Distrik Nimbrokang, Papua, yang diduga sebagai tempat terjadinya aksi pengibaran Bintang Kejora.

Di Lapangan Timika Indah, aksi pengibaran bendera Bintang Kejora dilakukan oleh sekitar 500 warga di hadapan ratusan tentara dan polisi. Drama pengibaran bendera ini diawali dengan tarian adat berupa tarian melingkar dan berputar di atas tanah berpasir.

Begitu bendera itu berkibar, Kepala Kepolisian Resor Mimika Ajun Komisaris Besar Denny Edward Siregar, yang menunggang kendaraan lapis baja, Barracuda, di lokasi kejadian, langsung mendekati tiang bendera itu, tapi warga berusaha menahannya.

Pasukan TNI pun turun mendekati kerumunan orang. Saat itulah tiba-tiba terdengar rentetan tembakan ke udara. Massa pun berlarian, sebagian memungut batu, lalu melempari aparat keamanan. Selama hampir 30 menit situasi tidak terkendali. Aparat menangkap dua warga setempat.

“Saya sudah berusaha menahan mereka (para aktivis Papua) untuk tidak mengibarkan, tapi tidak berhasil,” kata Fr Saul, rohaniwan dari Keuskupan Timika.

Sementara itu, di Perumnas III Abepura, bendera Bintang Kejora sempat mengudara sekitar dua jam, sebelum akhirnya diturunkan polisi.

Menurut juru bicara Kepolisian RI Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution, aksi pengibaran Bintang Kejora dilakukan di beberapa distrik. Di antaranya, di Dusun Wandegobak, Distrik Mulia, Puncak Jaya, dan di ujung Bandara Wamena, Kampung Walangi, Distrik Wamena. “Pelakunya masih kami lacak,” ucapnya.

Selain mengibarkan bendera, ribuan warga memperingati hari ulang tahun Papua di makam Theys Eluay di Sentani, Kabupaten Jayapura. Di makam tokoh pergerakan Papua yang tewas pada 2000 itu, warga menari-nari dan berdoa, lalu membubarkan diri dengan tertib.

Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo mengatakan, dalam pengamanan peringatan hari ulang tahun Papua itu, seorang petugas terluka saat mengecek informasi adanya pengibaran bendera di Kampung Berang, Distrik Nimbrokang, kemarin dinihari.

Menurut Timur, polisi mengirim dua petugas, tapi di tengah jalan mereka dihadang oleh sekitar 15 orang bersenjata panah. Satu orang selamat, tapi satu anggota lainnya (Brigadir Dua Ridwan Napitupulu) terpanah pahanya. Dia masih dirawat di rumah sakit di Jayapura. “Kini situasi Papua sudah terkendali,” ujar Timur.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Joko Suyanto, meminta masyarakat Indonesia, khususnya Papua, tidak mudah terprovokasi oleh berbagai situasi yang terjadi di Papua, termasuk kabar adanya sweeping terhadap warga dan mahasiswa Papua oleh aparat TNI dan kepolisian. ● TJAHJONO EP |

Beredar Isu TNI dan Polri Sweeping Warga dan Mahasiswa Papua
Kamis, 1 Desember 2011 | 11:30

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto (Foto: Antara)Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto (Foto: Antara)

[JAKARTA] Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan(Menko Polhukam) Djoko Suyanto meminta masyarakat khususnya warga Papua untuk tidak mempercayai isu adanya “sweeping” terhadap warga dan mahasiswa Papua oleh aparat TNI dan Polri.

“Tidak benar!! Karena tidak ada perintah ataupun kebijakan seperti itu,” kata Menko Polhukam dalam keterangan persnya yang diterima di Jakarta, Kamis (1/12).

Masyarakat di Provinsi Papua dan Papua Barat diimbau melakukan aktivitas seperti biasa. Aparat keamanan hanya menjaga agar situasi tetap aman sehingga aktivitas masyarakat dapat berjalan dengan baik.

Pemerintah berharap masyarakat agar tidak melakukan tindakan anarkis dan melanggar hukum. Aparat pasti tidak akan bertindak apapun.

“Mari kita jaga dengan baik suasana damai dan ayo membangun Papua!!,” kata Menko Polhukam.

Tanggal 1 Desember oleh sebagian warga masyarakat di Papua dan Papua Barat sebagai hari ulang tahun atau ultah organisasi papua merdeka atau opm. Organisasi ini dilarang karena ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sampai berita ini diturunkan Kamis siang, situasi di kawasan Abepura, Jayapura, ibu kota Provinsi Papua cukup aman dan tenang.

Namun sebaliknya, di Timika, timbul kerusuhan karena sebagian kecil warga Timika berusaha mengibarkan bendera bintang kejora yang dianggap milik opm.

Namun aparat keamanan dari Polda Papua yang dibantu TNI berhasil menyita bendera terlarang tersebut. Bahkan Wakil Kepala Polda Papua Brigadir Jenderal Polisi Paulus Waterpauw menyesalkan upaya segelintir warga yang berusaha mengibarkan bendera bintang kejora tersebut.

Brigjen Waterpauw yang merupakan putra asili Papua kemudian minta warga untuk membubarkan diri dan kembali ke rumahnya masing-masing [Ant/L-9]

Aparat Ditembak dan Dipanah, Bendera Bintang Kejora Berkibar di Papua

Kamis, 1 Desember 2011 | 11:36

Bripda Ridwan Napitapulu terkena panah oleh orang tidak dikenal, Kamis (1/11) pagi. Kini dia dirawat di RS Bhayangkara Polda Papua di Jayapura. [SP/Robertus Isidorus Vanwi] Bripda Ridwan Napitapulu terkena panah oleh orang tidak dikenal, Kamis (1/11) pagi. Kini dia dirawat di RS Bhayangkara Polda Papua di Jayapura. [SP/Robertus Isidorus Vanwi]

[JAYAPURA] Puncak peringatan hari kemerdekaan rakyat Papua, Kamis (1/12), diwarnai aksi pengibaran bendera Bintang Kejora, serta penembakan secara sporadis, yang melukai sejumlah aparat kepolisian.

Seorang anggota Polres Jayapura, Brigadir Ridwan Napitapulu, mengalami luka parah setelah dipanah orang tak dikenal, saat sedang melakukan tugas patroli di Kampung Beraf , Distrik Nimboran, Kamis ( 1/11) pagi.

Ridwan yang berpatroli bersama rekannya Bripka Budi Santoso, tiba-tiba diserang orang tak dikenal, saat melewati jalanan yang sepi. Napitapulu, terkena panah di bagian dada, dan kini dalam kondisi kritis di RS Bhayangkara Polda Papua di Jayapura.

Kapolda Papua, Irjen Irjen Bigman Tobing, Kamis siang menjenguk korban di rumah sakit itu, namun tak memberi keterangan kepada wartawan. Para wartawan juga dilarang mendekati area rumah sakit. “Maaf wartawan di luar saja,” kata petugas polisi.

Komandan Koditm (Dandim) 1701 Letkol Inf Rano Tilaar, membenarkan ada anggota polisi yang terkena panah. “Tapi lebih baik tanyakan ke pihak kepolisian saja,” ujarnya.

Pada Kamis pagi, sekitar pukul 07.40 WIT, bendera Bintang Kejora, yang menjadi simbol kemerdekaan rakyat Papua, dilaporkan berkibar di kampung Wandenggobak, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya.

Namun, bendera tersebut kemudian diturunkan kelompok bersenjata sekitar pukul 07.45 WIT, setelah terjadi kontak senjata antara kelompok bersenjata dengan pasukan Brimob Mabes Polri.

Informasi yang diperoleh SP menyebutkan, saat kontak senjata, seorang anggota Gegana Mabes Polri bernama Bripda Iwan Fransisca, mengalami luka karena karena kena tembak.

Warga Puncak Jaya mengatakan, bendera Bintang Kejora, masih terlihat berkibar namun di tempat yang lebih tinggi, dan hanya bisa dicapai oleh orang-orang tertentu yang memahami medan di wilayah itu.

Sementara itu, di kompleks Perumnas III Waena, Jayapura, terpampang sebuah spanduk bertuliskan We Want Freedom (kami ingin merdeka). Spanduk itu dipasang oleh massa Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Mereka merayakan 1 Desember dengan bernyanyi dan berorasi.

Di Sentani, tepatnya makam Theys Hiyo Eluay, perayaan hari kemerdekaan Papua dirayakan dengan ibadah syukur. Hingga berita ini diturunkan, massa terus berdatangan di makam Theys, dan tampak sekitar 400 orang telah berkumpul. Aktifitas masyarakat di Kota Abepura, juga relatif sepi. Sekolah-sekolah tampak libur. Banyak warga yang memilih tinggal di rumah. [154]

Tuntut Kedaulatan  

Donvito Samartha

02/12/2011 00:13
Liputan6.com, Jakarta:Puluhan warga Papua berunjuk rasa depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (1/12). Massa meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengembalikan kedaulatan bangsa Papua Barat. Menurut mereka, kedaulatan itu pernah diakui mantan Presiden Soekarno melalui Trikora, 19 Desember 1961.Dalam aksi depan Istana Merdeka, pengunjuk rasa mewarnai tubuh bergambar bintang kejora. Aksi ini merupakan peringatan ke-50 tahun kemerdekaan bangsa Papua Barat. Banyaknya kekerasan di tanah Papua hingga menelan korban jiwa, membuat sekelompok warga Papua ngotot memisahkan diri dari Negara Kesatuan RI (NKRI).Massa mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amerika Serikat, Belanda, dan Indonesia mengakui hak kemerdekaan bangsa Papua Barat yang jatuh 1 Desember. Mereka juga mendesak pembubaran negara NKRI yang merupakan boneka buatan Belanda.Pengunjuk rasa menganggap, sejak integrasi Papua pada 1 Mei 1963 lampau melalui United Nations Temporary Excecutive Authority (UNTEA) atau badan sementara buatan PBB, nasib rakyat Papua dihancurkan secara politik setelah digadaikan kembali ke pangkuan ibu pertiwi.(AIS)
                                                                                                  ==========
Papua merdeka

Avatar Redaksi Indonesia
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Suara Papua

Diterbitkan : 1 Desember 2011 – 3:10pm | Oleh Redaksi Indonesia (Foto: dapiiiiit)
Suara Papua Terus Berkumandang
Diarsip dalam:

Kamis (01/12), peringatan hari yang diklaim oleh rakyat Papua sebagai hari kemerdekaan mereka, menghiasi halaman dua surat kabar Belanda terkemuka, de Volkskrant dan Trouw. Artikel dalam de Volkskrant menekankan kronologi sejarah sampai situasi politik terkini di Papua, sementara Trouw menurunkan ulasan wawancara dengan dua orang asal Papua yang saat ini berdomisili di Belanda.

Patroli tank panser memenuhi jalan-jalan utama Jayapura, ibukota propinsi Papua. Ratusan brigade bersenjata diterbangkan dari propinsi lain di Indonesia untuk membantu mengamankan situasi setempat. Ketatnya razia dan pengontrolan makin menguatkan kesan bahwa pemerintah nasional menentang keras setiap bentuk protes “separatis”. Demikian tulis de Volkskrant.

Beberapa hari menjelang 1 Desember, ketegangan di propinsi ini terasa kental, utamanya setelah demonstrasi 19 Oktober berakhir dengan kekerasan. Ketika itu militer Indonesia turun menganiaya para demonstran; tiga orang tewas, puluhan terluka dan tiga ratus rakyat Papua ditangkap.

Kemerdekaan semu
Menarik, de Volkskrant menulis, setiap tanggal 1 Desember rakyat Papua merayakan kemerdekaan yang tidak pernah mereka dapatkan. Kemerdekaan semu.

Saat rakyat Papua mengumandangkan kemerdekaan pada 1 Desember 1961, di atas kertas mereka masihlah warga Belanda. Kemerdekaan baru akan diberikan kemudian. Namun ketika hal itu nyaris terjadi, Indonesia, tanpa ba bi bu muncul dalam cerita.

Amerika Serikat juga sempat menjanjikan Papua referendum. Namun, sambung de Volkskrant, Indonesia telah lebih dulu mendatangkan 1000 orang dan, di bawah tekanan senjata, membiarkan mereka “bermufakat secara bulat” mengenai keinginan Papua bergabung dengan Indonesia.

Sejatinya, bagi kedua pihak, Papua dan Indonesia, 1 Desember 2011 adalah the moment of truth, hari kebenaran. Polisi, perpanjangan pemerintah Indonesia, benar-benar menekankan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir pengibaran bendera Bintang Kejora.

Sementara, “Presiden” Republik Federal Papua Barat, Forkorus Yaboisembut, dari penjara, menghimbau agar rakyat Papua tidak gentar dan tetap “merayakan” kemerdekaan mereka. Demikian de Volkskrant.

Kecewa
Sementara harian Trouw menyorot, di tengah kerasnya perlawanan yang dilancarkan polisi Indonesia, pendukung Papua Merdeka semakin meluas. Fred Korwa dan Vien Sawor adalah salah satunya. Vien (43) lahir di Biak dan beremigrasi ke Belanda tahun 1962.

Fred Korwa (72), bekerja sebagai guru sebelum pindah ke Belanda. Fred mengaku dirinya semakin tahun semakin kecewa dan prihatin terhadap kondisi Papua tiap kali dia “pulang kampung”.

“Sekarang makin banyak yang mendukung kemerdekaan Papua dibandingkan 50 tahun lalu. Perubahan ini sedikit banyak disebabkan karena pemerintah Indonesia yang masih saja membiarkan Papua terbelakang di semua sektor. Tahun 1969, saya dan teman-teman pernah berusaha melobi kemerdekaan Papua di PBB, tapi harus pulang dengan tangan kosong.”

Kepentingan ekonomi
Lepas tangannya banyak pihak internasional adalah kenyataan tragis bagi Papua. Negara seperti Amerika Serikat, Australia dan Belanda juga selalu menjaga jarak aman karena besarnya kepentingan ekonomi mereka di Indonesia.

Undang-undang otonomi khusus bagi Papua yang diberlakukan pemerintah Indonesia tahun 2001 hanyalah bak es pengalih perhatian untuk tangisan anak kecil.

“Rakyat Papua telah kehilangan kepercayaan mereka terhadap niat baik Indonesia. Kami sekarang harus mengandalkan kekuatan kami sendiri,” demikian Vien seperti dikutip Trouw.

Diskusi
Anonymous 1 Desember 2011 – 6:26pm / Danmark

HIDUP ACEH MERDEKA. KITA HARUS BERSATU UNTUK MEMBUBARKAN INDONESIA.

Anonymous 1 Desember 2011 – 6:05pm / Republik Papua barat dan Republik Maluku Selatan

Hidup Papua, hidup RMS. Sekali proklamasi, tetap proklamasi. Indonesia bukanlah negara merdeka dan berdaulat. Ini pembuktian juridis international. Kalau sampai digugat kepengadilan international, maka nama Indonesia menjadi bumerang merusak perhubungan nasional, biletral dan international. Indonesia hanya diakui dalam peran politik saja, namun tidak memiliki kekuatan hukum sebagai satu negara berdaulat mutlak. Itu semua tipu dan pemalsu semua dokument PBB dan negaranya sendiri. Hidup Papua, hidup RMS. Indonesia akan terus mati dan tetap mati untuk selama lamanya. terimakasih.

Anonymous 1 Desember 2011 – 5:56pm / Republik Papua barat dan Republik Maluku Selatan

Hidup Papua, hidup RMS. Sekali proklamasi, tetap proklamasi. Indonesia bukanlah negara merdeka dan berdaulat. Ini pembuktian juridis international. Kalau sampai digugat kepengadilan international, maka nama Indonesia menjadi bumerang merusak perhubungan nasional, biletral dan international. Indonesia hanya diakui dalam peran politik saja, namun tidak memiliki kekuatan hukum sebagai satu negara berdaulat mutlak. Itu semua tipu dan pemalsu semua dokument PBB dan negaranya sendiri. Hidup Papua, hidup RMS. Indonesia akan terus mati dan tetap mati untuk selama lamanya. terimakasih.

mbahpur 1 Desember 2011 – 5:56pm / Indonesia

Vien (43) lahir di Biak dan beremigrasi ke Belanda tahun 1962.
Jadi umurnya Vien sewaktu ke Belanda adalah minus 6. (-6)
Allaaah mbah, itu kan salah ketik. Pasti ini alasannya.

Ternyata yang memepergunakan bahasa Indonesia yang buruk, tidak cuma simbah.
Kata “ba bi bu” meski bisa dimaklumi artinya, tetapi ini bukan bahasa Indonesia yang bagus. Honor wartawan harus di potong.. he he.
Kalau simbah kan tidak ada yang membayar.. Bagaimana mas/mbak kritisi??

Anonymous 1 Desember 2011 – 4:47pm

bravo papua..MERDEKA

=========

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/bintang-kejora-berkibar-di-papua

01.12.2011 14:30

Bintang Kejora

Penulis : Odeodata H Julia/Lili Sunardi/Ruhut Ambarita/Vidi Batlolone/M Bachtiar Nur

Bintang Kejora Berkibar di Papua

(foto:dok/ist)

JAYAPURA – Sejumlah sekolah di Papua, Kamis (1/12) pagi ini diliburkan menyusul perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang jatuh hari ini.

Aktivitas masyarakat juga sepi seperti di pasar tradisional serta sejumlah ruas jalan. Kantor pemerintahan juga memilih tutup. Di Lapangan Timika Indah, Mimika, Papua, peringatan diwarnai dengan tarian waita yang dilakukan ratusan orang.

Terkait hal itu, Kepala Humas Polri, Irjen Saud Usman Nasution di Jakarta, Kamis pagi ini menyebutkan, peringatan HUT ke-50 OPM di Papua pagi ini diwarnai aksi pengibaran bendera Bintang Kejora.

“Kami telah menurunkan dua bendera Bintang Kejora yang dikibarkan di dua tempat terpisah, yakni di Dusun Wandegobak, Distrik Mulia, dan di sekitar perbukitan di ujung Bandara Wamena,” katanya.

Ia mengatakan, sekitar pukul 06.00 WIT ditemukan dan dilihat dari ketinggian, ada bendera yang berkibar dan petugas langsung menurunkan bendera tersebut. Sementara yang di Wamena diketahui pada pukul 01.20.

Sekolah Diliburkan

Beberapa anak sekolah yang sempat ditemui SH pagi ini mengatakan, guru menyuruh mereka belajar di rumah saja karena sudah mau ujian semester. ”Kami disuruh belajar di rumah saja,” kata seorang siswa.

Libur sekolah dimulai dari SD, SMP, dan SMA. Kondisi itu dilakukan karena khawatir situasi tidak aman selama perayaan HUT OPM itu. Selain banyak guru yang tidak datang mengajar, siswa-siswa juga banyak yang tidak berangkat sekolah. Di SMPN 1 Manokwari, hanya lima guru dari 20-an guru yang masuk.

“Siswa juga banyak yang tidak masuk. Tidak sampai setengah dari 788 siswa terdaftar. Orang tua yang mengantar ada yang menunggu di luar sekolah,” kata Ramlan, guru di SMPN 1 Manokwari.

Kondisi yang sama juga terlihat di SMA 1 Manokwari. Siswa berkerumum di halaman sekolah karena guru-guru tidak memberikan pelajaran. Padahal gurunya masuk, meski tidak semuanya masuk sekolah. Sebenarnya, tidak ada perintah untuk libur, namun karena gurunya resah, terpaksa sekolah diliburkan.

Suparno (45), orang tua salah satu siswa di SMPN 3 Manokwari mengaku waswas, tetapi dia tetap mengantarkan anaknya bersekolah karena tidak ada imbauan libur. “Khawatir juga tetapi tidak ada perintah libur dari sekolah, ya saya antar saja dia ke sekolah. Padahal, saya saja tidak ngantor karena kantor tutup,” katanya.

Sementara itu, kondisi dua pasar trasidional di Manokwari, Pasar Wosi, dan Pasar Sanggeng sepi aktivitas. Tidak banyak lapak dan toko yang buka dan pembeli tak banyak terlihat.

Marlina, pedagang di Pasar Wosi mengatakan, sedikit pedagang yang berjualan. Apalagi pedagang dari daerah Masni, Prafi, dan Minyambauw. “Mulai kemarin memang sudah sepi tetapi hari ini sepi sekali,” kata pedagang yang mengaku tidak nyaman dengan situasi ini.

Perayaan HUT OPM akan dipusatkan di Lapangan Borasi dengan aksi doa dan orasi politik. Panitia dan massa peserta perayaan diminta tidak mengibarkan atau membentangkan bendera bintang kejora. Kesepakatan ini telah disepakati Muspida Manokwari dengan elemen masyarakat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Sementara itu, massa yang mengikuti tarian waita di Lapangan Timika Indah, Mimika, Papua mulai berkumpul sejak pukul 08.00 WIT. Mereka sebagian besar datang dari Kwamki Lama dan Kwamki Baru, dan sejumlah satuan permukiman di sekitar Kota Timika.

Massa yang terdiri atas para orang tua, pemuda, dan anak-anak masih terus menggelar tarian waita dan nyanyian-nyanyian dalam bahasa daerah suku Amungme sambil menunggu kedatangan sebagian massa yang masih dalam perjalanan menuju Lapangan Timika Indah.

Mereka juga membawa beberapa spanduk bertuliskan “50 Tahun Emas Kebangkitan Kita Bangsa Papua. Tahun Yubilium Papua 2011″. Dari sejumlah orasi yang disampaikan beberapa pemuda, massa akan menggelar doa bersama memperingati 50 tahun HUT OPM.

Untuk mengamankan acara peringatan HUT OPM, aparat keamanan menurunkan ratusan personel TNI dan Polri bersenjata lengkap. Aparat keamanan tampak bersiaga penuh di panggung Lapangan Timika Indah dan sekitar lokasi itu seperti di Gedung Eme Neme Yauware.

Pengamanan acara peringatan 50 tahun HUT OPM di Timika dipimpin Wakapolda Papua Brigjen Paulus Waterpauw. Tampak pula Komandan Danrem 174 Merauke Kolonel TNI Inf Rahman Wiyadi, Wakil Bupati Mimika H Abdul Muis, dan anggota DPRD Mimika, Wilhelmus Pigai.

Polisi Tewas Terbunuh

Meski berhasil menurunkan bendera Bintang Kejora, pihak kepolisian belum dapat mengetahui siapa yang mengibarkan bendera tersebut. “Kita belum tahu, karena itu kan di gunung. Kita sedang melacak siapa yang mengibarkannya. Itu kan kelihatan dari jauh, sehingga anggota kita berangkat untuk menurunkannya,” ujarnya.

Selain pengibaran bendera tersebut, Saud juga mengungkapkan, satu anggota dari Polres Jayapura tewas terbunuh, setelah sebelumnya tertangkap oleh kelompok yang besenjatakan panah.

Anggota yang tewas tersebut merupakan Bripda Ridwan Napitapulu yang melakukan pengecekan ke lapangan bersama Bripka Dian Budi Santosa atas laporan keresahan masyarakat di salah satu Kampung Berang, Distrik Nimbrokang.

“Setelah ditodong senjata, kedua anggota ini meloncat ke Sungai Niru. Kemudian satu orang selamat dan satu orang ditangkap oleh gerombolan ini dan dibunuh,” jelasnya.

Saat ini, menurutnya, pihaknya masih mengevakuasi korban dan membawanya ke rumah sakit di Jayapura. Selain itu, kini kepolisian juga memburu pelaku dan gerombolan yang sudah membunuh salah satu anggota Polres Jayapura tersebut.

Lebih lanjut Saud mengungkapkan, pihaknya masih melakukan pendekatan dan terus mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan kegiatan seperti biasa, meskipun eskalasi keamanan di Papua meningkat dalam dua hari belakangan.

Jayapura Kondusif

Sementara itu, situasi Kota Jayapura hari ini kondusif. Sejak kemarin siang hingga malam, aparat melaksanakan sweeping, baik terhadap warga sipil maupun anggota TNI, yang dilakukan POM TNI AD, AL, dan AU.

Sementara di PTC Entrop sweeping gabungan dilakukan Polresta Jayapura. Di Sentani, Kabupaten Jayapura, juga dilakukan sweeping gabungan di mana aparat menyita sejumlah benda tajam dari tangan para pengendara.

Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Papua Mayjen TNI Erfi Triassunu mengaku ada peningkatan kewaspadaan menjelang HUT OPM di Papua. Pihaknya mengaku sudah dimintai bantuan personel oleh pihak kepolisian setempat untuk menjaga perkantoran, tempat-tempat perekonomian, dan pusat telekomunikasi.

Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Wachyono mengaku ada penambahan personel Brimob dari Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Kelapa Dua Depok, Jawa Barat. Pasukan tambahan ditempatkan di beberapa daerah yang dianggap rawan.

“Kita dapat perbantuan dari Mabes Polri, satu kompi dari Polda Sulawesi Utara, Kalimantan Timur, dan Kelapa Dua,” jelasnya.

Pasukan yang ditempatkan ada di-stand by-kan di Polda Papua, dan ada juga yang sudah ditempatkan Puncak Jaya, Paniai, untuk membantu di Timika.

Koordinator Pusat Komite Nasional Papua Barat Victor Kogoya kepada SH melalui telepon pagi ini menyerukan kepada rakyat sipil agar bangsa Papua Barat di seluruh Tanah Air tidak panik, takut, dan terprovokasi dengan isu-isu pengibaran bendera sang bintang kejora atau adanya isu perang dan lainnya di seluruh wilayah Papua Barat oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Kami tidak kasih naik bendera (Bintang Kejora), hanya serukan untuk aksi dan berorasi politik,” ujarnya.

Anggota Komisi I DPR Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Helmy Fauzi mengatakan, Komisi I akan mengirimkan tim untuk melakukan dialog langsung dengan warga Papua terkait situasi di Papua belakangan ini dan proses dialog Papua-Jakarta yang tidak kunjung tercipta. “(Berangkat) Awal tahun depan setelah reses,” ujarnya di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu siang.

Ia mengatakan, Komisi I akan mendorong pemerintah di Jakarta untuk segera memulai upaya dialog Papua-Jakarta yang hingga kini belum tercipta. Terkait peringatan HUT OPM hari ini, Helmy mengatakan aparat telah melakukan upaya-upaya antisipatif terhadap gangguan keamanan di Papua.

Direktur Eksekutif Imparsial Poengky Indarti mengatakan, pihaknya meminta pemerintah menyikapi peringatan 1 Desember oleh rakyat Papua tanpa mengedepankan cara-cara kekerasan.

Dia mengatakan, data diperoleh menyebutkan Polri menurunkan 1.600 personel kepolisian untuk pengamanan momentum tersebut, termasuk di antaranya 400 personel Brimob serta aparat intelijen. “Jumlah aparat keamanan yang diturunkan mengantisipasi peringatan 1 Desember terlalu berlebihan,” tukasnya.

Direktur Program Imparsial Al Araf mengingatkan dalam status sipil di Papua, peran TNI pada konteks tugas perbantuan atas dasar keputusan otoritas politik sipil.

Rutinitas tahunan yang telah berkali-kali dilakukan tersebut seharusnya membuat Polri lebih bisa mencermati dan memprediksi langkah-langkah yang perlu dilakukan secara tepat dan terukur, serta tidak menggunakan cara-cara kekerasan.

“Upaya penanganan ini semestinya tetap dan hanya dilakukan oleh aparat kepolisian dengan menjunjung tinggi profesionalitas, proporsionalitas, dan menghormati hak asasi manusia. Polisi harus lebih mengedepankan pendekatan persuasif di lapangan,” ujarnya.

Senada dengan Imparsial, Wakil Direktur Demokrasi untuk Papua (ALDP) Yusman Konoras menilai pengerahan kekuatan untuk pengamanan Papua akan memberi kesan buruk pada pemerintah, yang seharusnya menunjukkan wajah kesejahteraan.

“Aparat keamanan show kekuatan memberikan kesan di masyarakat Papua. Wajah Indonesia sebagai wajah militer dan kekerasan bukan wajah kesejahteraan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Timur Pradopo menegaskan, selama kegiatan tidak melanggar hukum dan ketentuan yang berlaku, pihaknya tetap memberikan tempat bagi kegiatan peringatan OPM. “Saya kira semua kegiatan masyarakat selama tidak melanggar hukum dan ketentuan dilakukan, kita berikan tempat dan tetap menjaga pengamanan acara tersebut,” tandasnya.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, di Bogor, Rabu siang mengatakan, TNI tidak akan menambah jumlah pasukan di Papua terkait HUT OPM. Semua pihak juga diminta tidak melakukan hal yang bisa mencederai persatuan dan kesatuan. “Tidak ada penambahan pasukan atau meningkatkan status keamanan,” ujarnya.(CR-19/Ant)

EksporPapuaNonMigas

AntaraAntara
Ekspor Papua Hampir Seluruhnya Berupa Non Migas

Jayapura (ANTARA) – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, Djarot Soetanto mengatakan, nilai ekspor Papua pada September 2011 adalah sebesar 416,86 juta dolar dimana hampir seluruhnya berupa ekspor non migas yang mencapai 416,85 juta dolar.

Selain ekspor non migas, pada September 2011 juga tercatat adanya ekspor migas berupa pelumas senilai 4,24 ribu dolar yang ditunjukan ke Papua Nugini.

“Kenaikan ekspor Papua dipicu oleh naiknya nilai ekspor Konsentrat Tembaga (HS26) akibat naiknya volume dan rata-rata harga ekspor HS26 sebesar 20,05 persen dan 3,29,” kata Djarot Soetanto, di Jayapura, Jumat.

Menurut dia, meskipun ekspor Papua pada September mengalami peningkatan, namun secara kumulatif nilainya justru turun 6,25 persen dibanding total ekspor kumulatif Januari- September 2011.

“Penurunan tersebut disebabkan oleh turunnya nilai ekspor HS26 sebesar 4,69. Selain itu juga karena turunnya nilai ekspor golongan barang lainnya terutama ikan dan hewan air lainnya (HS03) yang turun hingga 53,06 persen,” jelasnya.

Dia mengatakan, pada September 2011 nilai ekspor ke negara tujuan utama naik 13,68 persen dibandingkan nilainya pada bulan sebelumnya menjadi 54,23 juta dolar.

“Kenaikan tersebut didorong oleh naiknya ekspor ke Cina berupa Konsetrat Tembaga (HS26), beragam ikan laut beku, dan kayu lapis,” katanya.

Sementara, ekspor ke negara lainnya juga naik signidikan dari hanya 8,19 juta dolar pada Agustus 2011 menjadi 42,01 juta dolar pada September 2011.

Menurut dia, peningkatan tersebut disebabkan oleh adanya ekspor HS26 ke Swiss senilai 34,51 juta dolar.

“Ekspor tersebut adalah ekspor HS26 yang pertama dalam periode empat tahun ini karena ekspor konsentrat tembaga ke Swiss terakhir tercatat adalah di tahun 2007,” ujarnya.

Pada kumulatif Januari-September 2011 nilai ekspor ke negara tujuan utama turun 2,64 persen dibandingkan nilainya pada Januari-September 2010 menjadi 3.261,18 juta dolar.

Djarot katakan, penurunan tersebut erat kaitannya dengan turunnya nilai ekspor HS26 karena lebih dari 95 persen komoditi yang diekspor ke negara utama adalah konsentrat tembaga.

“Ekspor ke negara lainnya turun signifikan sebesar 54,14 persen menjadi hanya 115,75 juta dolar. Hal tersebut utamanya dipicu oleh turunnya ekspor berbagai jenis kayu lapis ke Timur Tengah dan tidak adanya ekspor minyak sawit mentah ke Malaysia seperti halnya di tahun 2010,” katanya.

About these ads

0 Responses to “Politik : Papua Bergolak ?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,248,173 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: