21
Nov
11

Politik : Papua dan Pangkalan Militer Darwin

tp://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/bulletin/sby-bela-militer-di-papua

SBY Bela Militer di Papua

Diterbitkan 19 November 2011 – 8:51pm

JAKARTA (Reuters) – Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono hari Sabtu (19/11) membela tindakan militer Indonesia di propinsi terpencil Papua, mengikuti tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan pembunuhan tiga orang baru-baru ini.

Tiga orang tewas pada 19 Oktober saat polisi dan militer berusaha membubarkan pertemuan politik di Abepura, sebuah sub-distrik Papua, sebuah provinsi yang kaya sumber daya namun terbelakang dimana marak terjadi pemberontakan separatis dan kehadiran militer berat.

Komisi HAM nasional pemerintah menemukan bukti kuat tindakan berlebihan yang menyebabkan pelanggaran hak asasi.

Human Rights Watch dan kelompok hak asasi lainnya telah meminta Presiden AS Barack Obama untuk menyinggung masalah ini ketika ia menemui Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono di Bali selama KTT Asia Timur.

Tapi Yudhoyono mengatakan Sabtu (19/11) terdapat akuntabilitas. Personil militer yang melakukan kejahatan akan diselidiki.

Yudhoyono mengatakan Papua tidak secara khusus dibahas dalam pertemuannya dengan Obama di Bali.

http://berita.liputan6.com/read/363888/kalangan-dpr-tolak-pangkalan-militer-as-di-darwin

Militer AS di Darwin

Riski Adam

Kalangan DPR Tolak Pangkalan Militer AS di Darwin

20/11/2011 18:36
Liputan6.com, Jakarta:Kalangan DPR menolak rencana penempatan pangkalan militer-militer Amerika Serikat di Darwin, Australia. Pangkalan militer dinilai dapat mengancam stabilitas keamanan kawasan.Pangkalan militer ini diduga terkait kepentingan Negeri Adidaya atas basis sumberdaya mereka di Freeport yang digoyang tuntutan masyarakat atas rasa keadilan yang selama ini tak dirasakan, terutama bagi masyarakat setempat, Papua. Demikian diungkapkan anggota Komisi I DPR Syahfan Badri Sampurno melalui siaran pers kepada liputan6.com di Jakarta, Ahad (20/11).Syahfan menuturkan, pembangunan pangkalan militer di sebuah kawasan yang selama ini cukup stabil dinilai sangat mencurigakan. “Jelas sekali kepentingan Amerika Serikat dan Indonesia serta negara-negara ASEAN harus menolak pangkalan militer di Darwin ini,” tegas Syahfan.Ia meminta pimpinan DPR segera mengambil sikap untuk menolak dan mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera menegaskan sikap penolakan. “Dikhawatirkan bila pemerintah tidak menyikapi ini sebagai ancaman, maka sinyalemen hibah F-16 sebagai bagian dari upaya pembungkaman akan mendapat pembenaran,” ujar Syahfan.Sinyalemen ini menurut Syahfan sukar untuk dihindari. Sebab ia meyakini tak ada makan siang gratis di balik hibah pesawat tempur bekas. Indonesia, lanjut Syahfan, patut merasa terancam dengan kehadiran pangkalan militer di Darwin. “Hampir di setiap negara di mana AS mendirikan pangkalan, di sana akan ada ancaman stabilitas keamanan dan yang menderita nantinya adalah rakyat juga.”Dalam hal ini Syahfan juga menyayangkan sikap Australia sebagai negara tetangga dekat yang tak menenggang kepentingan Indonesia. Menurut dia, Australia seringkali mengambil langkah diplomasi yang tak elegan sebagai negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Indonesia. Melalui Komisi I, ia akan meminta penjelasan pemerintah khususnya Menteri Luar Negeri tentang sikap resmi pemerintah.”Di forum itu, kami (DPR) akan meminta pemerintah menolak kehadiran pangkalan militer tersebut dan menjawab situasi ini dengan langkah-langkah yang firm,” tandasnya. Ia juga berharap pemerintah mampu menunjukkan wibawa dan menjaga kepentingan serta kedaulatan Negara Kesatuan RI (NKRI).(AIS)ttp://www.gatra.com/internasional/usa/4960-berebut-pengaruh-di-asia-tenggara

Berebut Pengaruh

Minggu, 20 November 2011 09:01
Berebut Pengaruh di Asia Tenggara

Selama dua hari rangkaian pertemuan para pemimpin ASEAN dan mitra wicaranya di Bali itu, Obama dan Wen Jiabao tampak menjadi pusat perhatian banyak pekerja media karena rivalitas AS dan China dalam berebut pengaruh di kawasan Asia Tenggara di tengah isu Laut China Selatan dan kehadiran 2.500 marinir AS di Darwin, Australia.

Terkait sengketa Laut China Selatan, para pemimpin ASEAN dalam Pernyataan Ketua KTT ASEAN ke-19 menegaskan pentingnya Deklarasi Prilaku Para Pihak di Laut China Selatan yang telah ditandatangani ASEAN dan China Juli lalu.

Deklarasi itu sendiri disebut para pemimpin ASEAN sebagai jalan pembuka bagi terbangunnya komitmen bersama untuk menjaga keamanan, stabilitas, dan saling percaya serta penyelesaian damai sesuai dengan hukum laut internasional atas wilayah yang disengketakan China, Taiwan, Filipina, Vietnam, Malaysia dan Brunei Darussalam itu.

Dalam masalah penempatan 2.500 personel marinir AS di Darwin yang disambut baik Jepang dan Filipina itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, ia telah mendapat jaminan dari Presiden Barack Obama dan PM Australia Julia Gillard bahwa kehadiran mereka tidak dimaksudkan untuk mengganggu negara-negara tetangga Australia.

Presiden Yudhoyono dalam konferensi pers usai penutupan KTT ASEAN ke-19 dan KTT Asia Timur ke-6 itu mengatakan, garansi Obama dan Gillard disampaikan dalam pertemuan Jumat malam.

“Saya bertemu Presiden Obama tadi malam (Jumat), beliau menyampaikan kepada saya secara resmi bahwa tidak ada niat apa pun untuk dianggap mengganggu negara-negara tetangga Australia. Saya mendapatkan garansi itu. Demikian juga dengan PM Gillard tadi saya bertemu dan beliau juga menyampaikan hal yang sama, sama sekali tidak ada niatan apa pun untuk menganggu siapa pun,” ujar presiden. (HP, Ant)

islam.com/news/indonesiana/2011/11/18/16731/mau-pisah-dari-nkri-papua-minta-obama-intervensi-pemerintah-sby/

Mau Pisah dari NKRI, Papua Minta Obama Intervensi Pemerintah SBY
Jum’at, 18 Nov 2011

Mau Pisah dari NKRI, Papua Minta Obama Intervensi Pemerintah SBY

MANOKWARI (voa-islam.com) – Obama Datang Papua Senang. Kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia dimanfaatkan oleh separatis Papua Barat untuk memisahkan diri dari NKRI. Mereka berharap pada Obama agar mendukung kemerdekaan Papua Barat dengan mengintervensi Pemerintah RI.

Bersamaan dengan kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia, ribuan orang yang tergabung dalam Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan Dewan Rakyat Papua menggelar unjuk rasa besar-besaran di Manokwari, Papua Barat, hari Kamis (17/11).

Para pengunjuk rasa yang mengarah ke kantor DPRD Papua Barat itu menyerukan pemisahan Papua dari Indonesia dan membawa petisi berisi pernyataan rakyat.

Tokoh masyarakat dan gereja Papua Barat, ML Wanma, mengatakan isi petisi itu antara lain mempertegas pernyataan kemerdekaan Papua.

“Papua sudah merdeka sejak Kongres Rakyat Papua III di Jayapura sekaligus telah terbentuk pemerintahan transisi,” kata Wanma.

“Kedua, karena kami sudah merdeka maka kami menolak semua jenis tawaran pemerintah Jakarta,” tambah dia.

Selain itu, lanjut Wanma, dengan pernyataan kemerdekaan ini maka mereka tidak lagi memikirkan opsi referendum.

Petisi itu kemudian diserahkan kepada DPRD Papua Barat yang diharapkan meneruskannya ke pemerintah pusat di Jakarta.

Selain menyampaikan petisi untuk pemerintah Indonesia, para pengunjuk rasa juga meminta Obama memberikan dukungan penuh untuk kemerdekaan Papua.

“Saya sudah menyurati kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta dan pihak kedutaan merasa senang karena kami mempercayai Presiden Obama,” ujar Wanma. “Rakyat Papua meminta Obama menggunakan pengaruhnya untuk mendesak Jakarta mengambil langkah nyata untuk menyelesaikan masalah di sini,” tambahnya.

Saat ditanya apakah muncul kekhawatiran pemerintah akan menanggapi dengan keras pernyataan kemerdekaan ini, Wanma mengatakan dirinya hanya berharap masyarakat sudah siap dengan konsekuensinya.

“Saya tidak tahu apakah kami siap menghadapi militer Indonesia. Kami dengan TNI sudah menambah dua batalion di Papua Barat,” ujar rohaniwan ini.

“Tapi saya kira menyelesaikan masalah Papua dengan menggunakan kekuatan militer bukan solusi yang tepat,” tegas Wanma.

Situasi politik Papua memanas setelah aparat keamanan membubarkan Kongres Rakyat Papua III di Jayapura, pertengahan Oktober lalu.

Pemerintah sejauh ini berupaya mengedepankan dialog untuk menyelesaikan masalah di provinsi paling timur itu.

Selain itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah membentuk Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) yang diharap bisa mempercepat penyelesaian masalah Papua. [taz, up/bbc]

Sabtu, 19 November 2011 00:04
Obama ke Bali, Pangkalan Militer Berdiri
Obama dan Gilard di Pangkalan Militer Australia [CNN]

Presiden Amerika Serikat Barack Obama mendarat di Bali, untuk menghadiri KTT ke-19 ASEAN dan KTT ke-6 Asia Timur. Obama, yang datang tanpa didampingi istrinya, Michelle, menumpang pesawat kepresidenan Air Force One dari Australia, dan mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai, Kamis petang (17/11), pukul 18.30 Wita.Selain menghadiri KTT ke-19 ASEAN dan KTT ke-6 Asia Timur, Obama juga melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku tuan rumah, guna membicarakan kerja sama bisnis antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Pertemuan bilateral Obama-Yudhoyono sebagai mitra ASEAN di kawasan Pasifik itu adalah untuk yang kedua kalinya sejak kunjungan Presiden ke-44 AS itu ke Indonesia pada November 2010. Saat itu, kedua negara membahas kerja sama menyeluruh antara Indonesia dan AS.

Kedatangan Obama untuk kedua kalinya ke Indonesia ini, mengundang berbagai reaksi, termasuk dikaitkannya dengan rencana diaktifkannya pangkalan militer di Australia pada 2012.

AS berencana menempatkan 2500 personel Marinir (USMC) di Robertson Barracks, pangkalan udara Australia yang berada di Darwin.

Seorang politisi PDIP memprediksi, AS bermaksud membendung Cina agar tidak menjadi negara memiliki hegemoni tunggal di wilayah ini, khususnya mengamankan kepentingan ekonomi dan kepentingan sekutu-sekutu tradisionalnya, seperti Jepang,  Korea Selatan, negara-negara Asia Tenggara, dan Australia.

Sebelum ke Bali, Presiden Obama dan Perdana Menteri Australia Julia Gilard, menurut laporan harian Sydney Morning Herald, bertemu di pangkalan udara Darwin, Australia.

Obama mengatakan kepada parlemen Australia, Kamis (17/11), bahwa AS dan Australia adalah satu kekuatan di Pasifik, dan akan selalu demikian.

Menurutnya, kawasan ini akan mempunyai peranan dalam penciptaan pekerjaan dan kesempatan bagi rakyat Amerika dan menekankan bahwa setiap pengurangan dalam anggaran pertahanan Amerika tidak akan dilakukan dengan merugikan bagian dunia itu.

Presiden Amerika itu berpidato di hadapan parlemen Australia pada hari kedua kunjungan di negara tersebut. Hari Rabu (16/11), Obama dan Gillard mengumumkan persetujuan untuk penempatan pasukan Amerika di wilayah Australia.

Cina segera bereaksi atas pengumuman di Canberra itu, dengan mengatakan bahwa penempatan pasukan Amerika di Australia sebagai tidak wajar, dan hendaknya dibicarakan dengan masyarakat internasional.

Dalam pidatonya, Obama menampik hal itu. Menurutnya, tidak ada yang tidak wajar dalam rencana itu. Obama mengatakan, kehadiran pasukan Amerika akan memberi kesempatan baru untuk melatih sekutu-sekutu dan mitra Amerika, serta menanggapi berbagai tantangan, termasuk krisis kemanusiaan dan pertolongan bencana.

Minyak Laut Timor

Sementara itu, pengamat hukum internasional dari Universitas Nusa Cendana Kupang, DW Tadeus, menilai, AS memiliki kepentingan besar atas minyak di Laut Timor, sehingga memandang penting untuk membangun pangkalan militer di Darwin, Australia.

“Selain untuk menjaga stabilitas politik dan keamanan di kawasan ASEAN, AS juga berkepentingan atas cadangan minyak di Laut Timor, untuk kebutuhan dunia di masa datang, setelah gagal menaklukkan negara-negara minyak di kawasan Timur Tengah,” kata Tadeus kepada Antara.

Mayor Jenderal Angkatan Udara AS Michael Keltz, sebagaimana dikutip CNN (16/11), mengungkapkan, Presiden Obama tidak hanya menempatkan pasukan Marinirnya di Australia Utara, tetapi juga telah menyiagakan armada pesawat tempur tercanggih, F-22 Raptor dan pesawat transport C-17, untuk mengantisipasi gangguan keamanan bagi kepentingan AS di Asia Pasifik.

Selama ini, pasukan Marinir AS ditempatkan di pangkalan AS di Pulau Okinawa, Jepang, dan Guam –sekitar 2.000 kilometer utara Papua Nugini.

Menyikapi hal ini, Indonesia dan negara-negara ASEAN, sudah selayaknya bermain pintar, agar tidak terjebak dalam salah satu kepentingan, baik AS maupun Cina.

Lebih jauh lagi, Politisi Partai Golkar, Tantowi Yahya, kepada RMOL, menyatakan tentang kemungkinan dimanfaatkannya fasilitas militer AS ini, dengan menjalin kerja sama latihan militer RI-AS di wilayah Indonesia.

“Sebaliknya manfaat ekonomi dan militer dari keberadaaan tersebut harus mulai dipikirkan,” ujar anggota Komisi I DPR RI ini. [TMA, Ant]

==========

http://www.gatra.com/internasional/asia-pasifik/4923-beijing-imbau-as-hormati-hak-hak-cina-di-asia-timur

Sabtu, 19 November 2011 00:04
Beijing Imbau AS Hormati Hak-hak Cina di Asia Timur

Beijing – Kementerian Luar Negeri Cina pada Jum`at (18/11) mengatakan, Beijing menghormati kepentingan-kepentingan sah Amerika Serikat (AS) di Asia Timur dan menyerukan Washington menghormati hak-hak Cina.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Liu Weimin, memberikan komentar itu dalam satu takilmat reguler, setelah pernyataan-pernyataan Presiden AS Barack Obama, yang berniat akan meningkatkan pengaruh di kawasan itu.

Presiden Obama, Kamis (17/11), mengatakan bahwa militer AS akan memperluas perannya di Asia-Pasifik, kendati anggarannya berkurang.

AS, kata Presiden Obama, “tetap berada di sini” sebagai satu kekuatan Pasifik. [EL, Ant]

Minggu, 20/11/2011 23:59 WIB

Penambahan Pasukan

Moksa Hutasoit – detikNews
Penambahan Pasukan AS di Australia Patut Dipertanyakan

Jakarta - Amerika Serikat (AS) bakal menambah jumlah pasukan mereka di pangkalan militernya di Australia. Rencana itu sendiri menimbulkan banyak pertanyaan.Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, mempertanyakan maksud tanggap darurat ke negara-negara ASEAN yang dijadikan alasan Amerika dalam penambahan pasukannya.

“Pertama adalah apa yang dimaksud dengan keadaan darurat? Apakah suatu keadaan yang dikarenakan bencana atau darurat karena ada konflik bersenjata di kawasan?” tutur Hikmahanto dalam keterangannya yang diterima redaksi detikcom, Minggu (20/11/2011).

Jika ingin membantu bencana, Hikmahanto mempertanyakan, mengapa justru pasukan marinir yang ditempatkan di sana. Pasukan ini, dinilai memiliki kemampuan yang spesial.

“Apakah ini mengindikasikan darurat yang dimaksud adalah darurat konflik bersenjata?” lanjut Hikmahanto.

Jika benar tujuan penempatan pasukan itu untuk tanggap darurat, apa juga bisa dilakukan oleh pemerintahan berikutnya. Saat Amerika di bawah kendali Partai Republik, mempunyai kebijakan yang sangat agresif dalam konflik bersenjata. Demikian pula Partai Konservatif di Australia yang lebih senang mengidentikkan Australia dengan Barat daripada Asia.

“Ini semua mengindikasikan apa yang dijanjikan hari ini bukan berarti akan tetap dipegang di masa mendatang,” kata Hikmahanto.

“Di sini, Indonesia perlu khawatir dan waspada atas langkah kebijakan yang diambil oleh AS dan difasilitasi oleh Indonesia. Di samping Indonesia patut khawatir kawasan Asia Tenggara sebagai ladang konflik bersenjata antar negara-negara besar, Indonesia perlu khawatir ketika pemerintah harus melakukan penumpasan terhadap kelompok separatis bersenjata,” bebernya.

Sebelumnya, Presiden AS Barack Obama dan PM Australia Julia Gillard mengumumkan rencana untuk meningkatkan peran militer AS di Asia Pasifik. Langkah yang dilakukan dengan menempatkan 2.500 pasukan marinir AS di Darwin.
(mok/nvc)

About these ads

1 Response to “Politik : Papua dan Pangkalan Militer Darwin”


  1. 1 leonead
    November 15, 2012 at 11:44 pm

    Indonesia seharusnya sudah tau, papua adalah bagian dari negara-negara pasifik dan papua adalah wilayah darurat konfik bersenjata. bukan hanya itu saja, indonesia juga tercatat sebagai negara yang tingkat pelanggaran ham terbesar di dunia terhadap rakyat asli papua yang menyebabkan rakyat papua selalu teriak akan hak azasinya. konflik papua tidak perna mau diselesaikan oleh indonesia malah indonesia mepelihara pelanggaran ham subur dengan baik. waspada saatnya untuk dipanennya. jika konfik di papua terus memanas maka pangkalan AS akan menjadi multifungsi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,247,874 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: